Welcome to topmdi - ebook collection
Jilid 91
-
105
Jilid 091 MURID-MURIDNYA itu
mengangguk. Namun kemudian mereka menyadari, bahwa mereka akan dapat
mengalami nasib yang sama. Anak-anak muda dari Bajra Seta itu
dapat membunuhnya jika mereka menghendaki. Tetapi ternyata Mahisa
Murti berkata: “Kematian gurumu adalah tebu san bagi nyawamu.
Kuburkan gurumu baik-baik. Kemudian terserah apa yang akan kau
lakukan. Apakah kau akan menyusul aku ke padepokan Bajra Seta atau
kalian akan kembali ke padepokanmu sendiri. Tetapi kalian harus
berjanji bahwa kalian tidak akan mengusik orang-orang padukuhan yang
tidak ber sedia membantumu. Seandainya mereka melakukannya waktu
itu, maka itu tidak ada artinya sama sekali. Justrumungkin kalian
pun sudah terbunuh pula.” “Kamimengerti,” jawab seorang diantara
mereka. “Sekarang, lakukanlah. Kubur guru kalian dengan baik,” desis
Mahisa Murti. Kedelapan orang itu pun telah melakukan apa yang
dikatakan oleh Mahisa Murti, sementara Mahisa Murti dan
saudara-saudaranya telah bergeser menjauh. Namun Mahisa Murti memang
memerlukan waktu untuk beristirahat. Ia perlu memperbaiki keadaan
tubuhnya yang bagaikan menjadi remuk itu. Karena itulah, maka mereka
telah memilih untuk beristirahat di tanggul parit yang airnya
mengalir deras dan bening. Mahisa Murti yang tulang-tulangnya
serasa menjadi retak itu telah membasahi tubuhnya. Kakinya,
tangannya dan mukanya, sehingga terasa badannyamenjadi agak segar.
Sambil duduk bersandar sebatang pohon yang tumbuh di tanggul parit
itu, Mahisa Murti telah beristirahat sepenuhnya. Kakiny a yang
terjulur, tangannya yang bersilang, memberinya kesempaatan untuk
melepa skan diri dari segala macam ketegangan, sementara matanya
sedikit terpejam. Mahisa Pukat sempatmeramu obat yang dapat
membantu meningkatkan daya tahan tubuh Mahisa Murti. Sehingga
setelah ia minum obat itu meski pun dengan air parit yang disaring
di atas daun lumbu dengan kainyang memang sudah tersedia bersama
obat -obat yang dibawanya, maka keadaan Mahisa Murtimenjadi
berangsur baik. Tetapi Mahisa Murti tidak segera meneruskan
perjalanan. Tetapi Mahisa Murtimasih ingin beristirahat beberapa
lama. Sementara itu, kedelapan murid mPu Rangkut yang lemah itu
telah dengan susah payah menggali sebuah lubang untuk mengubur guru
mereka. Perasaan yang pahit benar-benar telah mencengkam
jantungmereka. Ketika delapan orang itu selesai, maka mereka masih
mendapatkan Mahisa Murti beristirahat di pinggir parit yang berair
bening. Dengan ragu-ragu delapan orang itu mendekat. “Kalian akan
mencuci kaki dan tangan?,” bertanya Mahisa Pukat. “Ya anakmuda,”
jawab seorang diantaramereka. “Jangan terlalu dekat,” berkata
Wantilari kemudian. Kedelapan orang itu pun kemudian telah turun ke
parit untuk mencuci tangan dan kaki. Namun yang penting bagi mereka
bukannya sekedar mencuci tangan dan kaki. Tetapi mereka ingin minta
diri kepada Mahisa Murti dan saudara-saudaranya jika memangmereka
delapan orang itu diampuni. “Pergilah,” berkata Mahisa Murti dengan
nada yangmasih lemah, “tetapi ingat. Jangan melakukan kesalahan
lagi. Mungkin sikap kami orang-orng Bajra Seta pada kesempatan lain
akan berbeda.” “Kami berjanji,” jawab yang tertua diantara
mereka, “apalagi kini kami tidak lagi mempunyai seorang guru yang
dapat menjadi tumpuan perlindungan bagi kami. Maka kami tidak akan
berani berbuat apa -apa. Kami pun menyadari, bahwa orang yang mampu
mengalahkan guru kami, tentu orang yang memiliki ilmu lebih
baik dari guru. Sudah tentu kami tidak akanmampu berbuat apa pun
juga.” “Pergilah kepada saudara-saudara seperguruanmu. Jika ada
diantara mereka yang mendendam kepada orang-orang Bajra Seta,
kamimenunggu.” Orang yang tertua diantara mereka menyahut: “Tentu
tidak Ki Sanak. Jika kami menceriterakan apa yang terjadi, tentu
kami akan mengatakan pula per soalan yang telah melibatkan kami dan
guru dalam pertentangan ini.” “Tetapi kematian seorang guru
kadang-kadang telah membakar perasaan seseorang sehingga kehilangan
penalaran. Apa pun yang kalian ceriterakan, mungkin justru
akan menambah kemarahanmereka,” sahut Mahisa Murti. “Seandainya
demikian, maka kami tidak akan termasuk diantaramereka,” berkata
orang yang tertua diantaramereka. “Kau akan berkata lain jika kau
sudah berada diantara saudara-saudara seperguruanmu,” desis Mahisa
Pukat. Tetapi orang itu menggeleng. Katanya: “Tidak. Bukan karena
kami orang yang tiba -tiba menjadi baik dan tahu berterima kasih.
Tetapi kami tahu pasti, bahwa melawan kalian akan sama artinya
dengan membunuh diri. Karena itu, maka kami akanmemilih
untukmenghindar.” “Bagaimana jika saudara-saudara seperguruanmu
memaksamu?,” bertanyaMahisa Pukat pula. “Kami akan terpaksa ikut.
Tetapi kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami tahu, bahwa Bajra Seta
tidak akan dapat ditembus. Ketika guru masih ada dan kalian belum
kami temui di medan, kami sudah mengalami kesulitan menembus
pertahanan padepokan Bajra Seta. Apalagi sekarang,” jawab orang itu.
“Mudah-mudahan mereka sempat berpikir seperti kalian,” berkata
Mahisa Pukat. Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya:
“Kami akan mencoba berbuat sebaik-baikny a agar mereka sempat
berpikir dan mengerti apa yangmereka hadapi.” “Terima kasih,”
desisMahisa Pukat. Delapan orang itu pun kemudian telah minta diri
untuk kembali ke perguruan mereka. Mereka pun berjanji untuk tidak
menakut-nakuti lagi orang-orang padukuhan dan tidak lagimemfitnah
nama baik perguruan Bajra Seta. “Baiklah,” berkata Mahisa Murti
dengan nada dalam: “aku percaya kepada kalian.” Sejenak kemudian,
maka delapan orang itu pun telah meninggalkan Mahisa Murti dan
saudara-saudaranya. Mahisa Murti sendiri masih duduk bersandar
sebatang pohon di pinggir parityang mengalir deras dan bening. Namun
setelah meneguk obat, maka rasa sakitnya pun menjadi berkurangmeski
pun ia sadar, bahwa obat itu belum berarti peny embuhan.
>>> Tanpa menunggu jawaban dari kawan-kawannya, seorang
diantara mereka telah berlari menemui Mahendra. Orang itu. memberi
laporan terperinci tentang apa yang dilihatnya. “Lima orang.
Seorang diantaranya masih kanak-kanak,” berkata orang itu kemudian.
“Jika mereka berniat buruk, mereka tentu tidak mengajak
kanak-kanak,” jawab Mahendra. “Tetapi kemungkinan lain dapat
terjadi,” berkata orang yangmelaporkan itu. Mahendra yang tua
itu dapat mengerti. Belum lama padepokan mereka telah mendapat
serangan. Karena itu, maka orang -orang Bajra Seta itumenjadi sangat
berhati-hati. Karena itu, maka Mahendra pun kemudian berkata:
“Baiklah. Aku akan pergi ke panggungan di belakang dinding di dekat
pintu gerbang itu. Sejenak kemudian, maka Mahendra pun telah berada
di tempat para pengawas itu. Dilihatnya lima orang yang berjalan
semakinmendekat. Mahendra itu pun kemudian telah menggosok matanya.
Seakan-akan ia tidak percaya kepada penglihatannya. Karena itu, ia
pun berkata sambil melangkah turun dari tempat itu: “Aku akan
melihat, siapakahmereka itu.” Dengan tergesa-gesa Mahendra telah
pergi ke pintu gerbang dan langsung memerintahkan membuka pintu
gerbang itu. Demikian pintu gerbang terbuka, maka Mahendra telah
menghambur keluar. Kelima orang itu menjadi semakin dekat. Mereka
pun telah mempercepat langkah mereka, sehingga kemudian mereka
sampai di tempat yang lebih terbuka di muka pintu gerbang.
“He, jadi kalian telah kembali,” Mahendra hampir berteriak. Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat menjadi tidak sabar lagi. Mereka pun kemudian
berlari-lari ke arah orang berdiri di depan pintu gerbang serta
memanggilmereka. Beberapa orang penghuni padepokan itu pun menyusul
Mahendra keluar dari padepokan. Namun mereka pun segera mengenali,
dua dari kelima orang yang datang itu. Demikian mereka sampai
ke depan Mahendra,maka kedua orang anakmuda diantara kelima orang
itu segera berjongkok. Namun Mahendra pun telah menarik mereka
berdiri dan memeluk kedua anakmuda itu bersama-sama. “Aku
mengucapkan selamat datang kepada kalian,” berkata Mahendra. “Ayah,”
desis Mahisa Murti. Suaranya bagaikan tersumbat di ker ongkongan.
“Aku sudah sangat lama menunggu kalian,” berkata Mahendra.
“Kamimohon maaf,” sahut Mahisa Murti. “Marilah. Kitamasuk,” ajak
Mahendra. Mahisa Pukat pun kemudian berkata: “Kami datang ber sama
tiga orang saudara kami. Dua orang kami anggap sebagai adik kami,
seorang kami anggap sebagai paman kami.” “Merekalah yang
kalian cari selama ini?,” bertanya Mahendra. “Kami tidak tahu ayah,”
jawab Mahisa Murti, “rasa-rasanya kami belum puas. Tetapi kami sudah
sangat lama meninggalkan padepokan ini, sehingga kami memutuskan
untuk segera kembali. Namun agaknya anak itu memiliki sedikit
harapan.” Mahendra mengangguk-angguk. Ia pun kemudian melangkah
mendekati ketiga orang yang baru-dikenalnya itu sambil
berkata: “Marilah Ki Sanak. Aku persilahkan kalian memasuki
padepokan kami.” Mahisa Pukat pun kemudian berkata: “ Ini adalah
ayahku.” Mahisa Semu,Wantilan dan Mahisa Amping pun kemudian telah
mengangguk hormat. Hampir berbareng mereka menjawab: “Terima kasih.”
Mahendra pun telah mengajak ketiga orang itu bersamasama dengan
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki padepokannya. Sementara itu
para penghuni padepokan yang melihat kedatangan kedua orang anak
muda itu menjadi ramai. Beberapa orang telah berdesakan untuk
memberikan pernyataan hati mereka yang tulus, bahwa mereka
sangat gembira ataskedatangan kedua putera Mahendra itu. “Kalian
terlalu lama pergi,” berkata seseorang. “Ki Mahendra selalu berharap
kalian segera kembali. Ada banyak hal yang nampaknya
mengganggu perasaannya. Apalagi barubaru ini telah terjadi serangan
atas padepokan ini.” “Sekarang kami telah kembali,” sahut Mahisa
Murti. Demikianlah, kedatangan kedua orang anak muda itu disambut
dengan gembira oleh orang-orang padepokan itu. Orang-orang yang
berada diatas panggung yang mula-mula melihat Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat telah datang pula menemui keduanya. Mereka ternyata
minta maaf, bahwa mereka tidak segera dapat mengenali Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat. “Jaraknya terlalu jauh untuk dapat melihat
wajah-wajah mereka,” berkata orang yang bertugas itu. Lalu
katanya: “Baru kemudian, setelah mereka menjadi dekat, kami dapat
mengenalinya. Mungkin bahwa karena mereka berlima itu juga
berpengaruh, kenapa kami t idak segera sampai kepada dugaan mereka
berdua kembali. Ternyata mereka memang benar-benar telah kembali.”
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah
diajak pergi ke bangunan induk padepokan itu ber sama Mahendra,
sementara orang yang bertugas itu pun kembali ke tempat
tugasmereka. Di pendapa, Mahendra telah menyambut kedua orang
anaknya dan tiga orang yang datang bersamanya dengan gembira.
Namun di wajah orang itu nampak bayangan kemuramanyang
kadang-kadang ingin disembuny ikan. Hampir diluar sadarnya Mahisa
Pukat telah bertanya: “Ayah nampak terlalu tua “ Mahendra tertawa.
Katanya: “Bukan nampak terlalu tua. Akumemang sudah tua.” “Maksudku,
lebih tua dari umur ay ah yang sebenarnya,” berkata Mahisa Pukat
pula. Tetapi Mahendra menggelengkan kepalanya. Kemuraman itu
kembalimembayang diwajarinya. Bahkan Mahendra tidak lagi berhasil
meny embunyikannya lagi. “Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya
sekarang,” berkata Mahendra: “tetapi sulit bagiku untuk bertahan.”
Kedua orang anaknya itu pun termangu-mangu. Namun kemudian Mahisa
Murti pun mendesak: “Ay ah. Aku kira ay ah tidak usah menahan diri
terlalu lama. Mungkin lebih baik jika ay ah segera mengatakannya.
Ada dua keuntungan yang kita dapatkan jika ay ah berkata
sekarang juga. Ayah sendiri tidak merasa terlalu berat membawa
beban, sedangkan kami pun tidak lagi menjadi berdebar-debar,
sehingga rasa-rasanya tulang-tulang iga kamimenjadi retak.” Mahendra
mengangguk-angguk. Namun ia tidak segera mengatakannya karena
seorang cantrik telah menghidangkan minuman dan makanan. Baru
kemudian, setelah meneguk minuman hangat dan makan beberapa
potongmakanan, Mahendra berkata: “Anakanakku. Ternyata bahwa kalian
tidak akan sempat lagi bertemu dengan pamanmu Mahisa Agni
danWitantra.” Kedua anak muda itu menjadi tegang. Meski pun belum
dikatakannya, namun keduanya segera tanggap. Justru karena Mahisa
Agni danWitantra sudah terlalu tua. Karena itu, maka Mahisa Murti
pun kemudian bertanya dengan nada tertahan: “Apakah keduanya telah
tidak ada? “ “Ya,” jawab Mahendra: “hampir bersamaan. Hanya ber
selisih dua pekan saja. Pamanmu Mahisa Agni telah meninggal lebih
dahulu. Baru kemudian pamanmu Witantra. Namun yang hampir sama pada
keduanya, wajah tua mereka nampak ter senyum. Keduanya seakan-akan
hanya sedang tertidur ny enyak. Pemberitahuan itu memang menghentak
jantung kedua orang anak muda itu. Hampir di luar sadarnya Mahisa
Murti bertanya: “Apakah kakang Mahisa Bungalan sudah tahu? “ “ Ia
datang pada saatnya,” jawab Mahendra, “tetapi tidak seorang
punyang tahu dimana kalian berdua. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat menundukkan kepalanya, sebenarnyalah mereka telah melakukan
pengembaraan tanpa diketahui arahnya. Seandainya terjadi sesuatu di
perjalanan, maka ayah dan kakakmereka hanya dapatmenunggu sampai
waktu yang tidak akan pernahmereka jumpai. Tetapi kini mereka telah
kembali. Namun ada yang telah hilang sehingga mereka tidak
akan pernah bertemu lagi. Orang-orang yang sangatmereka hormati.
Mahisa Agni dan Witantra adalah orang -orang yang memiliki
ilmu yang sangat tinggi. Namun ilmu mereka, betapa pun
tingginya tidak akan pernah dapat melindungi mereka dari
jangkauanmaut. “Sudahlah,” berkata Mahendra kemudian, “maut akan
menjemput siapa saja pada waktunya. Aku kira yang terjadi ataskedua
pamanmu itu adalahyang terbaik bagimereka.” Mahisa Murti dan
Mahisa Pukatmengangguk-angguk. Sementara itu, Mahisa Semu,Wantilan
dan Mahisa Amping mencoba untuk ikut dapat merasakan suasana itu.
Tetapi karena mereka belum pernah bertemu dengan orang2 yang bernama
Mahisa Agni danWitantra,makamereka tidak dapat membayangkan betapa
dalamnya kepedihan hati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dalam suasana
yang masih dibayangi oleh berita duka itu, maka Mahendra pun
bertanya, apa saja yang telah dilakukan oleh anak-anaknya. Namun
jawaban Mahisa Murti cukup singkat: “Kami menjalani laku Tapa
Ngrame, ayah.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Bagus
anak-anakku. Bagiku laku yang paling baik adalah laku yang
telah kalian jalani selain laku yang khusus memang harus
dijalani untuk satu kepentingan, khususnya dalam menimba ilmu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk2 kecil. Ternyata ay ahnya
telahmembenarkan pilihan mereka. Apalagi ketika Mahisa Murti dari
Mahisa Pukat berganti-ganti menceriterakan penglaman mereka secara
singkat. “Jika kami menceriterakan semuanya, maka akan memerlukan
waktu lebih dari tiga hari tiga malam,” berkata Mahisa Pukat
kemudian." Mahisa Murti memandanginya sejenak. Namun ia pun berkata
pula: “Memang banyak sekali yang ingin aku sampaikan kepada ay
ah.” Mahendra mengangguk2. Sementara itu, perhatiannya mulai tertuju
kepada sepasang pedang yang ada pada Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Meski pun serba sedikit hal itu sudah diceriterakan, namun
agaknya ay ahnya masih memerlukan beberapa penjela san. “Kami akan
menceriterakannya secara khusus ayah,” berkata Mahisa Murti.
Mahendra mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa anakanaknya itu sudah
letih bercerita dan menjawab pertanyaanpertanyaan. Karena itu, maka
Mahendra pun berkata: “Baiklah. Sekarang kalian membersihkan diri.
Kemudian beristirahatlah sebaik-baikny a sementara para cantrik
menyediakan makan bagi kalian.” Kelima orang itu pun kemudian telah
membersihkan diri. Mereka benar-benar merasa letih ju stru setelah
mereka sampai ke padepokan Bajra Seta. Rasa -rasanya kaki mereka
menjadi semakin berat. Sejenak kemudian, maka kelima orang itu telah
selesai berbenah diri. Mereka berlima ber sama Mahendra dan
orangorang yang ikut memimpin padepokan itu telah bersiap-siap
untukmakan ber sama sambil mengucap syukur kepada Yang Maha Agung,
bahwa pemimpin-pemimpin mereka telah tiba dari pengembaraan.
“Anak-anak,” berkata Mahendra setelah mereka selesai makan:
“Orang-orang yang hadir akan menjadi saksi bahwa aku telah
mengembalikan pimpinan padepokan yang kau titipkan kepadaku
ini.” Tetapi Mahisa Murti menggeleng sambil berkata: “Jangan
sekarang ayah. Kami masih harus mempersiapkan diri kami
sebaik-baiknya. Baru kelak setelah kami siap, kami akan menerima
pimpinan itu.” Mahendra mengangguk-angguk. Ia mengerti alasan
anaknya. Karena itu,maka ia pun bertanya: “Berapa hari kau
memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri ?” bertanya Mahendra..
“Paling sedikit sepekan ayah,” jawab Mahisa Murti. Mahendra
mengangguk-angguk. Namun ia sama sekali tidak merasa ragu untuk
menyerahkan pimpinan itu kepada anakanaknya. Apalagi padepokan itu
memang didirikan atas kehendak anak-anaknya. Demikianlah,maka selama
lima hari yang diminta, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
mengajak Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping untuk melihat-lihat
isi padepokan. Mereka telah dibawa ke sanggar terbuka dibagian
belakang dari halaman padepokanyang sangat luas itu. “Meny
enangkan sekali,” teriak Mahisa Amping sambil
berlari-larimengelilingi sanggar itu. “Di sudut yang lain, masih
terdapat sanggar tertutup,” berkata Mahisa Murti kepada Mahisa Semu,
Wantilan dan Mahisa Amping. “Menarik sekali. Aku akan banyak
mendapat kesempatan untuk berlatih. Jika tidak di sanggar terbuka
ini, aku dapat berlatih di sanggar tertutup.,” desis Mahisa Amping.
Mahisa Murti tersenyum. Katanya: “Ya, kita akan dapat
mempergunakannya. Tetapi sanggar itu dipergunakan oleh banyak orang.
Seluruh isi padepokan ini berlatih di sanggar terbuka atau
tertutup.” “Tetapi sanggar ini pada suatu saat kosong seperti ini,”
berkata Mahisa Amping. “Untuk hari-hari tertentu. Dihari lain,
sanggar ini selalu penuh,” jawab Mahisa Murti. Tetapi katanya
selanjutnya: “Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak akan
mendapat kesempatan. Sanggar ini cukup luas sehingga sekelompok
orang dapat latihan bersama-sama. Mahisa Amping mengangguk-angguk.
Tetapi ia masih berdesis: “Tetapi kita lebih senang berlatih tanpa
dilihat orang lain.” Mahisa Murti tertawa. Katanya: “Baiklah. Kita
akan sekalisekali berlatih untuk meningkatkan kemampuan kita. Bukan
untukmenjadi tontonan.” Demikianlah, dalam lima hari rasa-rasanya
isi padepokan itu belum mampu dilihat secara keseluruhan. Tetapi
segala sesuatunya yang paling penting telah diketahuinya.
Namun dalam pada itu, Mahendra telahmemanggilmereka dan bertanya:
“Apakah kalian sudah cukup beristirahat, kemudian sudah siap
untukmenerima kembali kepemimpinan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
atas padepokan itu.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling
berpandangan sejenak, sementara Mahendra berkata: “Kalian seharusnya
mengerti, terutama menyadari, bahwa kalianlah yang telah
mendirikan padepokan ini.” “Ya ayah,” jawab Mahisa Murti. “Karena
itu, kalian harus menerima kembali pertanggungjawaban kalian
yang telah mendirikan sebagai padepokan, untuk mengatur dan
membimbing para cantrik yang jumlahnya cukup besar.” “Kami mengerti
ay ah,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. “Jadi
kalian sudah siap?,” bertanya Mahendra. “Siap atau belum siap,
tetapi segala sesuatunya merupakan usaha yang sebaik-baiknya
yang telah kami lakukan,” jawab Mahisa Murti. “Bagus. Jika
demikian, sore nanti kita akan mengadakan pertemuan khusus bagi para
pemimpin padepokan ini. Aku akan meny erahkan kembali kembali
kekuasaan atas padepokan itu kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.”
“Tetapi ketika aku menyerahkan pimpinan kepada ay ah, bukankah tidak
ada upacara sama sekali ?,” bertanya Mahisa Pukat. “Ya. Tetapi kali
ini memang agak lain,“ jawab Mahendra yang untuk sementara memimpin
padepokan itu. Mahisa Murti tidak dapat menolak rencana ayahnya.
Ayahnya ingin meny erahkan kembali pimpinan padepokan itu di hadapan
para penghuni padepokan. Para cantrik dan ketiga orang yang
datang bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi yang
penting bagi Mahendra tentu bukan upacara peny erahan itu sendiri.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata menangkap maksud ay ahnya itu
dari sisi yang lebih dalam. Ay ah mereka inginmemberikan
tekanan kepada kedua anaknya, bahwa mereka harus lebih banyak
berbuat bagi perguruan itu serta mempertanggung -jawabkannya. Dengan
upacara itu ay ah mereka ingin mengatakan: “Kalian adalah pemimpin
dari padepokan dan sekaligus perguruan Bajra Seta.” Demikianlah,
maka menjelang matahari turun ke balik bukit, orang-orang seisi
padepokan itu telah berkumpul. Bukan hanya beberapa orang pembantu
Mahendra memimpin padepokan itu, tetapi ternyata semua orang telah
diminta untuk hadir di halaman depan padepokan itu. Tetapi ternyata
para cantrik juga telah menyiapkan makanan dan minuman dalam
pertemuan itu. Beberapa ekor ay am telah dikorbankan. Sementara itu,
dapur padepokan itu pun telahmenjadi sibuk. Upacara peny erahan itu
sendiri tidak berlangsung terlalu lama. Namun Mahendra sempat
berbicara di hadapan para penghuni padepokan itu: “Sejak saat ini,
maka pimpinan padepokan sekaligus perguruan Bajra Seta ada di tangan
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.” Orang-orang yangmenghadiri pertemuan
kecil itu bertepuk tangan. Sementara itu jantung Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat terasa bergejolak. Seperti yang sudah mereka duga
sebelumnya, upacara yang dibuat oleh ay ahnya itu adalah
sekedar tekanan jiwani bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk
lebih banyak berbuat dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab
terhadap padepokan dan perguruan yang mereka dirikan. Meski pun
tidak terucapkan, namun ayahnya itu ingin berkata kepada keduanya:
“Kalian tidak sekedar bermainmain.” Demikianlah upacara itu
berlangsung dengan lancar dan meriah. Semua orang merasa gembira,
bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah kembali di tengah-tengah
mereka. Sejak saat itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan melakukan
tugasmereka sebagai pemimpin padepokan itu. Mahisa Semu, Wantilan
dan Mahisa Amping memperhatikan upacara itu dengan saksama. Namun
dengan demikian mereka menyadari bahwa untuk selanjutnya Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat tidak hanya memperhatikan mereka bertiga,
tetapi juga orang-orang lain di padepokan itu. Mahisa Amping
justrumenjadi gelisah. Apakah sepertiyang dikatakan Mahisa
Murti sebelumnya bahwa ia akan dapat mempergunakan sanggar itu tanpa
orang lain? Sementara pertemuan itu menjadi semakin riuh serta
makanan dan minuman sudah dibagikan. Mahisa Amping merasa bahwa
dunianya menjadi semakin sepi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
seakan-akan tidakmemperhatikannya lagi. Tetapi ketika ia melihat
Mahisa Semu dan Wantilan yang duduk sedikit terpisah dari
orang -orang padepokan itu, karena mereka memang belum begitu akrab
dengan mereka, Mahisa Amping pun merasa bahwa ia masih mempunyai
setidaktidaknya dua orang kakak dan paman yang akan
memperhatikannya. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
ikut pula bergembira bersama seisi padepokan itu. Namun disamping
itu, keduanya pun merasa bahwa mereka harus lebih menyadari
kedudukanmereka. Ternyata pertemuan itu berlangsung sampai malam
hari. Menjelang tengah malam, maka Mahendra baru menyatakan bahwa
pertemuan itu sudah selesai. Malam itu, Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat memang agak melupakan Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping,
sehingga keduanya tidak melihat ketiga orang itu telah kembali ke
dalam biliknya. Di hari berikutnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
mulai dengan tugasny a yang sibuk. Meski pun ia tidak lagi
melupakan Mahisa Amping, namun sudah tentu sikapnya menjadi agak
berbeda. Di perjalanan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dibebani
oleh tugas-tugas yang mengikatnya sebagaimana di dalam padepokan
itu. Tetapi yang memperhatikan anak itu lebih banyak adalah justru
Mahendra. Mahendra yang telah meletakkan tugasnya, mempunyai banyak
waktu yang luang, sehingga justru dipergunakan untukmenemani
anak itu. Dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat Mahendra telah
mendengar beberapa hal tentang kelebihan anak itumeski pun tidak
selalu demikian. Kadang-kadang kelebihan itu tidak tampak sama
sekali. Namun tiba -tiba saja ada sesuatu yang tidak dapat
dimengerti tampak pada anak itu. Karena itu maka Mahendra pun ingin
mengetahui lebih banyak lagi tentang anak itu. Sedangkan Mahisa Semu
dan Wantilan pun mendapatkan beberapa kesempatan langsung dari
Mahendra meski pun tidak terlepas dari bimbingan Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat dalam keterbatasannya. Perhatian Mahendra kepadanya,
membuat Mahisa Amping menjadi berminat kembali terhadap masa
depannya. Hampir sa ja Mahisa Amping merasa tidak berarti apa -apa
lagi. Ia sudah mulai bertanya, untuk apa ia datang ke padepokan itu.
Apalagi kemudian ia menyadari, bahwa ia tidak lagi dapat berlatih
bersungguh-sungguh dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Apalagi
mempergunakan sanggar terbuka atau sanggar tertutup tanpa orang
lain. “Mereka sekarang lebih memperhatikan orang-orang padepokan ini
daripada aku,” berkata Mahisa Amping di dalam hatinya. Namun, selagi
sikapnya mulai berubah sehingga ia tidak lagi memperhatikan
latihan-latihan dan ilmu kanuragan, Mahendra mulaimemperhatikannya.
“Amping,” berkata Mahendra pada suatu pagi, “kenapa kau masih duduk
saja di situ? “ Mahisa Amping mengerutkan keningnya. Dengan nada
rendah iamenjawab: “Kepalaku agak pusing.” Mahendra tersenyum. Ia
pun duduk di sebelah anak itu. Dengan penuh pengertian ia bertanya:
“Apakah kau tidak ingin latihan di sanggar terbuka pagi ini? “
“Bukankah sanggar itu baru dipakai?,” bertanya anak itu pula. “Kau
dapat latihan di tempat lain. Apakah latihan itu harus dilakukan di
sanggar?,” desak Mahendra. Mahisa Amping memperhatikan Mahendra itu
sejenak. Namun ia pun berkata: “Kakang Mahisa Murti dan kakang
Mahisa Pukatmasih sibuk. Bahkan selalu sibuk dalam latihanlatihan
dengan seluruh isi padepokan ini. Mungkin Mahisa Amping tidak akan
pernah mendapat kesempatan lagi.” Mahendra tertawa. Katanya: “Kau
sudah menjadi semakin besar. Kau harus dapatmeningkatkan kemampuanmu
sendiri. Kau harus mulai mencoba untuk tidak tergantung kepada orang
lain.” “Tetapi apa arti seorang yang berguru kepada orang
lain?,” bertanya anak itu dengan jujur. Mahendra justru tertarik
sekali kepada keterbukaan hati anak itu. Karena itu,maka ia pun
menjawab: “Seseorang yang berguru kepada orang lain harus membuka
diri menerima pewarisan ilmu dari orang yang menjadi, gurunya.
Tetapi ia pun harus menjalani laku yang berat. Patuh dan tunduk
kepada gurunya, mendengarkan semua petunjuknya dan mencobamelakukan
semua perintahnya.” “Apakah dengan demikian seseorang yang
berguru tidak akan pernah dapat hidup tanpa tergantung kepada orang
lain, meski pun orang itu adalah gurunya?,” bertanya anak itu.
Mahendra menggelengkan kepalanya. Ia pun tertawa semakin panjang.
Katanya: “ Jangan mengambil kesimpulan seperti itu. Di saat
seseorang berguru, maka gurunya harus mengajarnya mandiri. Selangkah
demi selangkah. Namun akhirnya, seseorang memang harus tidak
bergantung lagi kepada orang lain. Tetapi aku tidak bermaksud bahwa
tibatiba saja seseorang harus lepas dari ketergantungan. Terutama
dalam meningkatkan ilmunya. Jika tadi aku katakan kepadamu bahwa kau
sudah semakin besar dan sebaiknya dapat meningkatkan ilmumu adalah
karena keterbatasan waktu dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dalam
keterbatasan waktu itu, kau jangan kehilangan waktu untuk sekedar
menunggu. Kau dapat mengisi waktumu untuk berlatih tanpa salah
seorang dari kedua kakakmu itu.” Mahisa Amping termangu-mangu.
Tetapi sebenarnya ia memang merasa kecewa. Mungkin ia dapat berlatih
sendiri, tetapi dengan demikian,maka ilmunya tidak akan dapat cepat
meningkat. Atau setidak-tidaknya merambat dengan wajar. Tanpa
bimbingan seseorang maka ilmunya akan meningkat dengan sangat
lamban. Mahisa Semu dan Wantilan, yang juga kehilangan banyak
kesempatan untuk berlatih langsung bersama Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat, berusaha untuk membaur dengan para cantrik dan berlatih
bersama dengan mereka. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu,
Mahendra memberikan beberapa petunjuk dan latihan secara khusus.
Mahisa Amping mula-mula kurang berminat ketika Mahendra membawanya
ke sanggar tertutup sambil berkata: “Berlatihlah. Aku akanmelihat,
apa yang telah kau pelajari.” Mahisa Amping memang tidak menolak.
Tetapi ia melakukan dengan setengah hati. Ketika Mahendra minta anak
itu mulai menunjukkan kemampuan ilmunya, maka Mahisa Amping pun
telah melakukannya. Tetapi tidak sepenuhnya. Tidak ada kesan
kesungguhan dan tidak ada tekanan pada setiap unsur geraknya.
Mahendra mengetahui hal itu. Karena itu, maka ia pun merasa
berkewajiban untuk membangunkan anak itu dari kemalasannya karena ia
merasa kecewa akan dirinya sendiri. Dengan nada lembut Mahendra
berkata: “Marilah. Kita berlatih bersama.” Mahisa Amping sama sekali
tidak tahu tingkat kemampuan Mahendra. Ia memang mengetahui bahwa
selama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pergi, Mahendra, ay ah kedua
orang anak muda itulah yang menggantikannya. Tetapi baginya ia
bukan ukuran kemampuan dan tingkat ilmu dari orang tua itu. Menurut
pendapat Mahisa Amping, Mahendra adalah seorang tua yang memiliki
pengalaman yang luas, tetapi tidak memiliki kemampuan ilmu seperti
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, karena bagi anak itu, Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat adalah orang yang memiliki ilmu tanpa tanding.
Apalagi melihat ujud wadagnya. Mahendra sudah terlalu tua untuk
mendukung ilmu yang tinggi. Karena itu, ketika Mahendra mengajaknya
berlatih bersama maka Mahisa Amping hanyamengangguk saja
tanpa,merubah sikap dan ungkapan ilmu kanuraganyang telah
dipelajarinya. Mula-mula Mahendra mengikuti saja sebagaimana
dilakukan Mahisa Amping. Namun kemudian Mahendra mulai menyentuh
tubuh anak itu. Bahkan kemudian, sentuhan tangannya punmulai terasa
sakit. Mahisa Ampingmengerutkan keningnya. Perasaan sakit itu datang
beberapa kali sehingga Mahisa Amping mulai sadar, bahwa ia harus
lebih bersungguh-sungguh dalam latihan itu, agar kulitnya
tidakmenjadi semakin biru lembab. Tetapi meski pun Mahisa Amping
kemudian bersungguhsungguh, namun ia sama sekali tidakmampu mengelak
ketika serangan Mahendra yang tua itu datang semakin cepat.
Tangannya pun semakin sering mengenainya. Semakin lama semakin
sakit. Mahisa Amping menjadi marah ketika tangan Mahendra menampar
keningnya, sehingga kepala anak itu menjadi pening. Namun bagaimana
pun juga, Mahisa Amping tidakmampu menyentuh tubuh Mahendra yang
tua,yang nampaknya hanya bergeser setapak-setapak. Tetapi
akhirnya Mahisa Ampingmenjadi sangat letih tanpa berhasil meny entuh
tubuh orang tua itu. Dengan nafas yang terengah-engah Mahisa Amping
berdiri sambil menekan pinggangnya dengan kedua tangannya. Namun
Mahendra masih belum selesai. Ia ingin meyakinkan anak itu, bahwa ia
pun akan dapat memberikan tuntunan kanuragan sebagaimana Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu, ketika Mahisa Amping yang
kecil itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu, maka Mahendra pun tidak
lagi menyerangnya. Tetapi Mahendra telah melakukan semacam latihan
seorang diri dengan mengungkapkan unsur-unsur
gerakyangmemangmengejutkan bagi Mahisa Amping. Bahkan kemudian
Mahendra telah mempergunakan tonggak tonggak yang ditanam
tegak dengan ketinggian yang berbeda. Kemudian meniti tali-tali yang
bergayutan di bagian atas sanggar, sementara itu, beberapa kali
Mahendra telah menunjukkan unsur-unsur gerak yang tidak masuk
di akal anak itu. Bahkan kemudian Mahendra telah menggapai sebatang
tongkat besi dan sekaligus dengan kekuatan yang diluar
penalarannya,membengkokkannya sampai kedua ujung dan pangkalnya
bertemu. Mahisa Amping berdiri bagaikan membeku. Ia sama sekali
tidak mengerti bagaimana mungkin hal seperti itu dapat terjadi.
Tetapi matanya telah melihatnya bahwa hal itu memang terjadi.
Beberapa saat kemudian, maka Mahendra itu pun telah menghentikan
latihan-latihan yang sangat menarik bagi Mahisa Amping itu.
Demikian Mahendra berhenti melakukan latihan yang diluar
penalaran anak itu,maka Mahisa Amping pun tiba-tiba sa ja telah
berlutut dan berkata: “Luar biasa. Aku tidak y akin akan
penglihatanku sendiri.” Mahendra tersenyum. Katanya: “Bukan apa-apa.
Hanya sebuah latihan untuk mengingat kembali da sar-dasar ilmu gerak
sebagaimana aku pelajari ketika akumasih anak-anak.” “Aku tidak
dapatmengerti bagaimana hal itu dapat terjadi,” desis Mahisa Amping.
Sambil menarik Mahisa Amping untuk berdiri Mahendra berkata: “Kau
pun dapatmempelajarinya.” “Aku?,”mata anak itu terbelalak. Mahendra
tertawa. Jawabnya: “Tentu. Kau sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat semasamasih kanak-kanak.” “Apakah Ki Mahendra yang
mengajarnya?,” bertanya anak itu. “Ya. Anak-anakku adalah
murid-muridku kecuali seorang yangmendapat guru yang lain,”
jawab Mahendra. Mahisa Amping termangu-mangu. Dengan nada ragu ia
bertanya: “Apakah aku dapat belajar juga? “ Mahendra tertawa.
Katanya: “Kau. akan belajar pada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Tetapi jika keduanya sibuk, maka aku akan dapatmembantunya.” Wajah
anak itu menjadi cerah. Ia melihat harapan baru setelah Mahisa Murti
dan Mahisa Pukatmenjadi terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya sehingga
tidak lagimempunyai banyak waktu untuk membimbingnya, meski pun bagi
para cantrik, Mahisa Amping termasukmurid yang lebih banyakmendapat
kesempatan. “Baiklah,” berkata Mahendra, “agaknya latihanmu sudah
cukup hari ini. Besok kita akan mengadakan latihan lagi jika sanggar
ini tidak terpakai.” Tetapi sebelum keduanya keluar dari sanggar,
pintu sanggar telah terbuka. Mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat berdiri diluar pintu. “Apakah Amping ada disini?,” bertanya
Mahisa Murti. Mahendra tersenyum. Sambilmenjuk Mahisa Amping
yang masih berada di dalam sanggar ia berkata: “ Ia ada
disini. Aku melihat bagaimana ia bermain-main.” Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat melangkah masuk. Dilihatnya anak itu telah nampak
letih, sehingga karena itu, maka keduanya mengurungkan niatnya untuk
berlatih ber sama anak itu. “Kau baru saja berlatih?,” bertanya
Mahisa Murti. “Aku membawanya ke sanggar,“ Mahendralah yang
menjawab, “aku ingin mengisi waktunya selagi anak itu menunggu
kalian.” “Kami sedang sibuk,” jawab Mahisa Pukat. “Aku mengerti.
Itulah sebabnya aku mewakilimu,” jawab Mahendra. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat masih akan menjelaskan. Tetapi Mahendra telah berkata:
“Amping. Kau dapat pergi ke pakiwan. Mandi dan kemudian berbenah
diri.” Mahisa Amping pun kemudian meninggalkan sanggar itu pergi ke
pakiwan. Demikian anak itu keluar dari sanggar, maka Mahendra pun
berkata: “Ia telahmenjadi semakinmaju.” “Tetapi kami mempunyai
kesibukan yang lain kecuali membina anak itu,” berkata Mahisa
Pukat. “Aku tahu. Bukankah aku tidak menyalahkanmu? Aku hanya
mengisi waktunya yang luang. Aku melihat anak itu duduk
termenung. Katanya kepalanya merasa pening. Lalu aku ajak anak itu
ke sanggar. Kegembiraannya segera timbul. Dan ia tidakmerasa pening
lagi,” jawab Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatmengangguk-angguk kecil. Namun Mahisa Murti masih juga berkata:
“Aku sama sekali tidak melupakan anak itu ayah. Tetapi bukankah aku
harus menyelesaikan semua kewajibanku di padepokan dan perguruan
ini? “Berapa kali sudah aku katakan, bahwa aku tidak menyalahkan
kalian. Tetapi barangkali perlu aku peringatkan, untuk apa kalian
pergi meninggalkan padepokan ini untuk waktu yang lama sehingga
kalian tidak sempat melihat keadaan terakhir kedua pamanmu?,”
bertanya ayahnya. Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Tetapi
pertanyaan ayahnya itu telah menyentuh perasaan keduanya. Keduanya
meninggalkan padepokan itu untuk mendapatkan satu dua orang
yang akan ditempanya menjadi salah seorang dari inti kekuatan
padepokan itu. Keduanya ingin mendapatkan bahan yang masih dapat
dianggap murni, sehingga dapat mereka bentuk sesuai dengan keinginan
mereka bagi kepentingan perguruan Bajra Seta. Karena kedua anakmuda
itu masih berdiam diri,maka Ma - hendra pun berkata: “Tetapi jangan
cemas. Kalian dapat melakukan tugas kalian sebaik-baiknya. Aku
dapatmembantu mengurus anak itu.” “Tetapi ....,” Mahisa Murtimenjadi
ragu-ragu. “ Ingat, bukankah aku juga yangmeletakkan dasar ilmu bagi
kalian,” potong Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmengangguk
kecil. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata: “Tetapi ay ah
sekarang sudah terlalu tua untuk tetap berada di sanggar.” Mahendra
tertawa. Katanya: “Kau juga sudah tahu, bahwa belum terlalu lama
padepokan ini telah mendapat serangan dari sekelompok orang dari
sebuah perguruan yang dipimpin oleh seorang yang bernama mPu
Santi dari perguruan Lawang Tunggal. Dan aku masih sempat
bersama-sama dengan seluruh isi padepokan ini untuk melawan dan
mengusir mereka.” “mPu Santi ataumPu Rangkut?,” bertanyaMahisa
Murti. “mPu Santi,” jawab Mahendra. “Bukankah kalian yang
berceritera bahwa kalian telah bertemu dengan mPu Rangkut yang
agaknyamemiliki ilmu lebih baik daimPu Santi.” “Ya, ya,” Mahisa
Murti mengangguk-angguk. Ayahnya memang pernah berceritera
tentangmPu Santi. “Nah,” berkata Mahendra: “dengan demikian maka
kalian tentu akan dapat mempercayai aku untuk secara khusus
mempersiapkan anak itu. Pada saatnya kalian akan dapat membentuknya
menjadi seorang yang memiliki ilmu dan kemampuan sebagimana
kalian harapkan. Tetapi aku juga minta perhatian kalian kepada
Mahisa Semu. Jika kalian tidak berkeberatan, aku akan
mempersiapkannya pula meski pun dengan cara yang agak berbeda dengan
Mahisa Amping. Namun pada saatnya keduanya akan dapat menjadi
seorang yang memiliki ilmu yang baik dan mampu membantumu
memimpin padepokan ini, karena pada dasarnya Mahisa Semu punmasih
belummemiliki landasan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata: “Jika
hal itu memang ayah kehendaki, maka kami akan mengucapkan terima
kasih.” “Aku akan melakukannya sejauh dapat aku jangkau,” berkata
Mahendra, “selanjutnya adalah kewajibanmu. Sementara itu Wantilan
dapat kau tempatkan sesuai dengan keadaannya. Namun ia telah
menunjukkan tekadnya yang besar meny ertaimu sampai ke padepokan
ini.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil sambil menjawab
hampir bersamaan: “Ya ay ah.” “Nah, sejak sekarang, biarlah aku
menangani Mahisa Amping dan Mahisa Semu, sementara kau dapat
mengatur padepokan ini sehingga kau tidak akan tenggelam dalam
kesibukanyang tidak terbatas.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling
berpandangan sejenak. Baru kemudian Mahisa Murti berkata: “Baiklah
ay ah. Jika ay ahmasih berniat untuk berada di sanggar.” “Jika aku
meninggalkan sanggar, aku akan menjadi semakin cepat kehilangan
gairah hidup ini dan menjadi pikun,” jawab Mahendra sambil
tersenyum. Lalu katanya kemudian: “Tetapi untuk selanjutnya anak itu
tetap menjadi tanggung jawabmu.” “Ya ay ah,” jawab Mahisa Murti dan
Manisa Pukat hampir ber samaan. Demikianlah, sejak itu, Mahisa
Amping menjadi bergairah kembali.Harapannya yang pudar, tiba-tiba
telah menyala lagi. Ia sadar, bahwa Mahendra adalah seorang yang
berilmu sangat tinggi. Meski pun Mahendra lebih banyak berlandaskan
satu jalur ilmunya Bajra Geni, namun Mahendra benar-benar telah
sampai ke puncak tataran ilmunya itu. Bagi Mahisa Amping yang
kecil itu, sama sekali tidak pernah diperhatikannya, darimana
Mahendra mewarisi ilmunya. Yang ia ketahui adalah, bahwa Mahendra
memiliki ilmu yang jarang ada bandingnya sebagaimana Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat. Apakah ilmunya itu ilmu yang dahsy at yang
disebut Bajra Geni atau ilmu yang lain, namun yang
penting bagi Mahisa Amping, ilmunya akan dapat meningkat lebih
cepat. Tetapi sebagaimana dilakukan atas anak-anaknya sendiri,
Mahendra tidak saja mengajarkan ilmu kepada Mahisa Amping dan Mahisa
Semu. Tetapi disamping ilmu, keduanya juga selalu mendapat tuntutan
meniti jalan kehidupan yang dianggapnya baik. Sikap dan pandangan
hidup yang ber sih dan mewarnai ilmuriya dengan kesadaran akan
sumber hidupnya. Ilmu adalah ibarat ujung tombak yang sangat tajam.
Tergantung kepada tangan yang memegangnya, untuk apa ujung
yang sangat tajam itu dipergunakan. Di tangan yang baik ujung tombak
yang tajam itu akan dapat menjadi pelindung yang menjaga
keseimbangan dan kejernihan kehidupan dan menimbulkan ketenteraman.
Tetapi di tangan yang hitam, ujung tombak itu akan dapat mengguncang
ketenangan dan kedamaian. Namun dengan demikian,maka Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat dapat lebih banyakmemperhatikan tugas-tugasnya yang
lain. Meski pun sekali-sekali keduanya ikut pula berada di dalam
sanggar ber sama Mahisa Amping dan Mahisa Semu, bahkan dengan
Wantilan pula, namun tanggung jawab kedua anakmuda itu jauh lebih
ringan. Sementara itu Mahendra dan Mahisa Semu pun tidak merasa
kehadirannya di padepokan itu sia -sia. Ternyata seperti yang sering
dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa Mahisa Amping
adalah anak yang memang memiliki kelebihan dari anak kebanyakan. Apa
yang diajarkan oleh Mahendra, anak itu dengan cepat dapat
menyerapnya. Unsur-unsur gerak yang paling dasar dengan cepat
dikuasainya seluruhnya. Bahkan kemudian Mahisa Amping telah mulai
dengan mempelajari unsur-unsur gerak yang lebih rumit. Bahkan dalam
umurnya yang masih sangat muda itu. Mahendra telah
memperkenalkannya dengan tenaga cadangan di dalam dirinya. Namun
berbeda dengan ketajaman daya tangkap serta ingatannya, Mahisa
Amping tidak terlalu cepatmemahami dan mengungkapkan tenaga cadangan
di dalam dirinya. “ Ia masih terlalu anak-anak,” setiap kali
Mahendra telah mengendorkan kekecewaannya jika Mahisa Amping sulit
untukmengikuti petunjuk-petunjuknya serta memahami laku
untukmembangunkan tenaga cadangannya itu. Sementara itu, Mahisa Semu
pun telah mengalami banyak kemajuan pula. Dengan rajin ia mengikuti
semua petunjuk dan tuntunan Mahendra. Bahkan dalam saat-saat yang
memungkinkan, Mahisa Semu telah mempergunakan waktu sebaik-baiknya,
meski pun ia harus berlatih sendiri. Ia tidak merajuk seperti Mahisa
Amping. Namun justru berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Apalagi
Mahisa Semu merasa bahwa ia sudah lebih tua dari Mahisa Amping,
sehingga seharusnya ia dapat lebih banyak mengambil kesempatan
untukmenempa diri. Dalam pada itu, kedatangan Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat telah membuat padepokan Bajra Seta itu menjadi lebih
hidup. Hubungan mereka dengan padukuhan di sekitarnya tetap
dipelihara dengan baik, sehingga kehadiran padepokan dan perguruan
Bajra Seta itu juga mempunyai arti bagi padukuhan di sekitarnya,
terutama dalam usaha para petani untuk meningkatkan hasil sawah
mereka. Bahkan beberapa padukuhan telah dengan sengaja mengirimkan
anak-anak muda mereka untuk ikut serta mempelajari
kemungkinankemungkinan yang lebih baik dalam hal mengolah
sawah mereka, sehingga dalam waktu yang [terhitung tidak
terlalu lama sebagaimana para cantrik, telah dapat mereka pergunakan
di padukuhanmerekamasing-masing. Sementara itu, padepokan Bajra Seta
juga mengembangkan lahan dan sawah bagi keperluan padepokan. Sawah
yang memang digarap oleh para cantrik untuk menghasilkan pangan bagi
seisi padepokan. Para cantrik dengan rajin mengatur susunan jalur
air yang ternyata tidak hanya bermanfaat bagi sawah dan lahan
para cantrik itu sendiri, namun ternyata juga berarti bagi
pa-dukuhan di sekitarnya. Dari hari ke hari, Padepokan Bajra Seta
nampak menjadi semakin berkembang. Bukan dalam jumlah murid yang
ingin belajar dan menjadi cantrik di padepokan itu saja, tetapi
tataran kecerdasan dan kehidupan di padepokan itu pun menjadi
semakin meningkat. Sawah garapan para penghuni padepokan itu pun
menjadi semakin luas. Atas ijin Ki Buyut yang memimpin lingkungan
itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membuka tanah
pertanian baru. Beberapa puluh bahu lingkungan hutan yang
pepat telah dibuka, tanpa menimbulkan kerusakan keseimbangan pada
hutan itu, karena luas tanah yang terbuka itu terhitung kecil
dibandingkan dengan luas hutan itu sendiri. Namun akibat dari
perluasan tanah pertanian itu adalah kerja keras untuk menaikkan air
dari sungai-sungai untuk mengaliri tanah pertanian yang baru
itu, sehingga parit-parit pun telah digalimenyusuri kotak-kotak
sawahyang baru itu. Dengan demikian maka padepokan Bajra Seta
telah menjadi padepokan yang berarti bukan saja dalam olah
kanuragan, tetapi juga ketrampilan di beberapa bidang kehidupan.
Karena di samping pertanian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga
mengusahakan peternakan dan meski pun hanya untukmemenuhi kebutuhan
sendiri, padepokan itu pun telah membuat belumbang-belumbang
untukmemelihara ikan air. Karena itu,maka seakan-akan padepokan
Bajra Seta telah, memiliki segala macam usaha untuk memenuhi
kebutuhan sendiri. Bahkan hasilny a yang berlebih telah dapat
disalurkan untuk dijual ke pasar-pasar terdekat sehingga hasilnya
dapat untukmembeli kebutuhan-kebutuhan,yang lain. Dalam
perkembangannya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
mengembangkan bengkel-bengkel pande besi dan berusaha mencukupi
kebutuhan alat-alat pertanian sendiri. Bahkan pande-pande besi dari
padepokan Bajra Seta itu telah belajar untuk membuat senjata sendiri
dan bahkan mengembangkannya sehingga alat-alat dan senjata yang
dibuatnya adalah termasuk benda -benda pertanian dan senjata yang
baik. Seperti, yang dirintis sejak padepokan itu didirikan,
maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan kesempatan
kepada anak-anak muda di padukuhanpadukuhan terdekat untuk
mempelajari berbagai macam ketrampilan di padepokan itu tanpamenjadi
cantrik. Pagi-pagi mereka-datang untuk mempelajari salah satu
ketrampilan di padepokan itu. Bertani, pande besi, any aman bambu
atau membuat alat-alat bambu dan kayu. Di sore hari mereka pulang
kembali ke rumahmerekamasing-masing. Namun dengan demikian, maka
hubungan, padepokan itu dengan padukuhan-padukuhan di sekitarnya
menjadi semakin akrab. Bahkan tidak terpisahkan lagi. Padepokan itu
seakanakan merupakan satu padukuhan yang besar dan lengkap
memiliki apa saja yang dibutuhkan dalam kehidupan. Disamping
kesejahteraan hidup para penghuni padepokan yang selalu
meningkat,maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mengetrapkan
paugeran yang mapan bagi para cantriknya. Latihan-latihan
selalu berlangsung pada saat yang ditentukan dengan tataran-tataran
yang telah tersusun. Beberapa orang telah ditunjuk
untukmembantu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menuntun peningkatan
ilmu dari para cantrik dari tataran di bawahnya. Lima orang pembantu
terpenting dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapatkan
kepercayaan untuk memimpin seisi padepokan itu. Mereka telah
dipersiapkan untukmenjadi orang yang akan dapatmewakili Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat menangani, persoalan-persoalan ke dalam dan
keluar padepokan. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat tidak pernah melupakan niat yang terkandung di dalam
dada mereka membawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping ke padepokan itu.
Sementara itu, Mahendra telah benar-benar menyiapkan kedua -duanya
dengan sebaik-baiknya. Namun karena Mahisa Amping masih terlalu
muda, sehingga Mahendra memang lebih banyak memberikan perhatiannya
kepadanya. Sedangkan Amping sendiri ternyata dengan sangat tekun
mematuhi segenap ketentuan yang ditetapkan oleh Mahendra. Anak
itu bangun pagi-pagi sekali. Melakukan latihan-latihan ringan serta
berlari-lari di sekitar padepokan. Bahkan kadangkadang sampai ke
jarak yang agak jauh. Ketika matahari terbit, maka Mahisa Amping
sempat beristirahat sejenak untuk mengeringkan keringat. Sejenak
kemudian ia harusmandi dan ber siap untukmelakukan latihan-latihan
berikutnya. Dengan demikian, maka dari hari ke hari, Mahisa Amping
telah meningkatkan kemampuannya. Perlahan-lahan Mahisa Amping telah
melakukan latihan membuka diri untuk mengangkat kekuatan cadangan
yang terdalam sehingga ia pada saatnya akan mampu memanfaatkan
tenaga cadangan di dalam dirinya dengan kekuatanyang cukup besar.
Jika ia tetap rajin berlatih,maka ia pun akan
denganmudahmengetrapkan kekuatannya itu untukmendukung ilmunya
yang berkembang. Ternyata Mahendra semakin lama semakin mampu
melihat kelebihan Mahisa Amping. anak itu ternyata memiliki
ketajaman penglihatan batinnya sehingga jika diasah, akan dapat
menjadi landasan kemampuan yang sangat berarti bagi hidupnya.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bekerja keras
untuk membangun perguruannya. Sekali-sekali ter -bersit pula
keinginannya untuk melihat kembali lintasan perjalanannya. Beberapa
kali ia berjanji kepada orang-orang yang pernah dikunjunginya, bahwa
ia akan datang kembali pada suatu saat untuk melihat keadaan.
Kadang-kadang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengancam pula
beberapa orang yang sebelumnya bertingkah laku tidak
sewajarnya dengan mengatakan, bahwa pada suatu saat ia akan kembali
untuk melihat, apakah orang itu benar-benar telah merubah tingkah
lakunya. Tetapi ketika ia sudah berada ditengah-tengah perguruannya,
maka kesempatan itu nampaknya sulit untuk didapatkannya. Apalagi
Mahendra tiba -tiba saja telah menjadi terlalu tua untukmemimpin
sebuah padepokan. Sebenarnyalah sepeninggal orang-orang terdekat
yang umurnya tidak terpaut banyak dari umurnya, Mahendra
memang merasa bahwa saat-saat seperti itu akan segera datang pula
menjemputnya. Karena itu, maka Mahendra seakan-akan telah
menempatkan diri diambang pintu untuk menunggu saat itu benar-benar
datang kepadanya. Untunglah bahwa tiba-t iba telah hadir Mahisa
Amping dan Mahisa Semu. Bukan saja kedua orang anakmuda itu merasa
mendapatkan kesempatan cukup, tetapi mereka merupakan dor ongan bagi
Mahendra untuk tetap melakukan sesuatu sehingga di masa -masa
terakhir, ia tidak merasa kehilangan arti bagi hidupnya. Dengan
demikian, maka Mahendra yang merasa dirinya telah menjadi
terlalu tua itu, sempat mengisi sisa -sisa hidupnya dengan
kesibukanyangmemberinya kegembiraan. Seperti Mahisa Semu dan Mahisa
Amping, maka Mahendra- pun disetiap hari harus banyak melakukan
kegiatan sebelum memasuki sanggar. Mengikuti kedua orang anak muda
itu, Mahendra harus berlari-lari pula didini hari. Mendaki
tebing-tebing yang tinggi dan sekali-sekali menuruni lereng
-lereng terjal. Berlari-larimelintasi pematang-pematang sawah dan
tanggul-tanggul parit. Namun dengan demikian, Mahendra merasa
dirinya tidak lagi tinggalmenunggu hari-hari terakhirnya. Mahisa
Semu dan Mahisa Amping, yang mendapat tuntunan olah kanuragan
secara khusus dengan cara yang berbeda itu, dari hari kehari
meningkat semakin mapan. Mahisa Amping selain meningkatkan ilmu
kanuragannya, maka oleh Mahendra telah diusahakan pula untuk
mengasah ketajaman penglihatan batinnya disamping memelihara budi
pekertinya. Sementara itu, Mahisa Semu yang lebih tua dari
Mahisa Amping telah mendapatkan kemungkinan yang lain bagi ilmunya.
Pada umurnya, Mahisa Semu mulai mendapat tuntunan khusus untuk
membangunnya tenaga dalamnya. Ju stru disaat wadagnya berkembang,
maka ilmu itu menjadi sangat berarti baginya. Mahisa Semu
seakan-akan telah mampu membangunkan tenaga berlipat ganda dari
tenaga wadagnya karena kemampuannya mengangkat tenaga cadangan
didalam dirinya. Sekali-sekali Mahendra telah membawa Mahisa Semu ke
lereng -lereng pegunungan. Dengan keras Mahisa Semu telah melatih
tangannya untuk menghantam batu-batu padas. Dengan tenaga cadangan
didalam dirinya,maka Mahisa Semu mulai dapatmemecahkan batu-batu
padasyang masihmuda. “Pada suatu saat, anak itu akan mendapat
warisan ilmu yang jarang ada duanya. Bajra Geni,“ berkata Mahendra
didalam hatinya. Namun Mahendra sendiri tidak akan mewariskan ilmu
itu kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ia hanya akan
mempersiapkannya. Semuanya terserah kepada Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat, karena mungkin ada beberapa hal yang mencegahnya untuk
menurunkan ilmu itu. Námun sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat masih belum berniat untuk sampai kepada satu keputusan untuk
menjadikan Mahisa Amping dan juga Mahisa Semu pewaris ilmu Bajra
Geni. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih menunggu kesempatan lain
bagi mereka dimasa -masa mendatang, karena merekamenyadari, bahwa
pada suatu saat mereka akan berkeluarga dan mempunyai anak.
Anak-anak mereka itu adalah pewarisyang paling baik dan paling
berhak menerima ilmu puncak perguruanmereka, Bajra Geni. Tetapi
keduanya tidak akan ingkar, bahwa Mahisa Amping dan Mahisa Semu
telah dibentuk oleh Mahendra atas persetujuan mereka untuk dapat
ikut memimpin padepokan itu. Mereka diharapkanmemiliki kelebihan
ilmu dariyang lain karena kemampuan da sar yang ada
didalam diri mereka. Sehingga dengan demikian, maka keduanya akan
menjadi orang-orang kuat dimasa datang bagi padepokannya itu. Pada
saat-saat tertentu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menilai
peningkatan kemampuan Mahisa Amping dan Mahisa Semu yangmeniti ke t
ingkat yang tinggimelalui jalan yangmemang berbeda meski pun dengan
landasan ilmu yang sama. Mahendra berusaha untukmeny esuaikan
tingkat umur dan kemampuan dasar,yang ada pada anak-anak itu
sendiri. Sementara padepokan Bajra Seta berkembang pesat, maka
Singasari pun menjadi semakin melejit diatas cakrawala. Para
pemimpin di Singasari benar -benar mampu mempergunakan landasan
modal yang ada bagi pengembangan masa mendatang. Apa yang
pernah dilakukan oleh Mahisa Agni danWitantra ternyata menjadi
sangat berarti bagi pertumbuhan Singasari selanjutnya. Para
pemimpinnya, termasuk Sri Maharaja Singasari ternyata masih
mempergunakan beberapa gagasan Mahisa Agni danWitantra yang
terpenting. Peningkatan kesejahteraan hidup rakyat Singasari telah
membuat Singasari menjadi semakin tenang dan damai. Jarang sekali
terjadi benturan kekerasan dan kejahatan. Setiap orang mendapat
kesempatan untuk bekerja dengan tenang di bidang yang
dikuasainya. Sawah-sawah yang terbentang sampai ke kaki
pegunungan nampak hijau subur. Di bagian lain, hutan yang luas
meliputi ngarai dan kaki bukit. Meny elimuti gunung dan lembah.
Namun dalam pada itu, api yang sudah padam di Kediri
mulaimenjilat kembali. Justru keadaanyang menjadi semakin tenang,
telah memberi kesempatan beberapa orang memikirkan hubungan antara
Kediri dan Singasari. Beberapa orang justru mulaimerasa, betapa
tidak mampu lagi untuk menyatakan diri sebagai satu negara
yang besar. Beberapa orang yang memiliki pengaruh di Kediri
terlanjur berpendapat, bahwa orang-orang Kediri mempunyai beberapa
kelebihan dari Tumapel yang kemudian menyatakan diri sebagai
satu kerajaan yang bernama Singasari dan menelan kekuasaan
Kediri ke dalamnya, sehingga Kediri kemudian berada dibawah kuasa
Singasari. Dalam gejolak yang terjadi sebelumnya, ketika Singasari
bekerja keras mengangkat derajat kesejahteraan hidup rakyatnya,
persoalan hubungan antara Kediri dan Singasari telah dilupakan.
Tetapi setelah masa sulit terlampaui, persoalan itu kembalimuncul.
Tetapi gejolak itu justru terjadi di lapisan di bawah permukaan.
Secara resmi Kediri tidak merubah sikapnya. Pimpinan pemerintahan di
Kediri masih tetap berpegang pada perjanjian dan ikatanyang
ada. Setelah luka -luka di tubuh para pewaris pemerintahan di Kediri
terasa mulai sembuh, setelah terjadi perselisihan pendapat antara
mereka yang tetap berpegang kepada ikatan yang ada di antara
Kediri dan Singasari dengan mereka yang ingin mengembalikan
masa-masa kejay aan Kediri sebelum Tumapel bangkit, ternyata
persoalan yang sama mulai timbul kembali. Dengan demikian,
maka ketenangan yang meliputi Singasari termasuk Kediri, mulai
nampak gelisah. Sekali-sekali mulai terjadi keributan antara
orang-orang yang merindukan masa kejayaan Kediri dengan orang-orang
Singasari. Orangorang Kediri yang masih saja merasa derajatnya
lebih tinggi, kadang -kadang telah melakukan tindakan yang
tidak sewajarnya atas orang -orang Singasari. Tetapi orang-orang
Singasari yang kemudian merasa lebih berhak memerintah berdasarkan
kekuasaan Singasari yang meliputi Kediri, tidak mau direndahkan.
Sehingga dengan demikian maka kadang-kadang benturan kekerasan tidak
dapat dihindarkan lagi. Pimpinan pemerintahan di Singasari dan
Kediri memang sudah berusaha untuk meredakan pertentangan yang
timbul itu. Tetapi ternyata bahwa sangat sulit untuk merubah sikap
dan pandangan hidup kedua belah pihak, sehingga benturanbenturan
kekerasan itumasih saja sering terjadi. Namun yang -lebih parah
adalah usaha orang-orang yang justru ingin memanfaatkan
perselisihan yang sering timbul itu. Mereka yang semula tidak lagi
tertarik kepada pekerjaannya, bagaikan harimau tidur yang dikejutkan
oleh seekor kijang yang berlari disisiny a. Tiba -tiba saja
timbul niat mereka untuk menyelinap diantara perselisihan yang
timbul di beberapa tempat itu. Mereka yang bagaikan harimau
terbangun itu mulaimengaum dan menerkam kesaha-kemari untuk
mendapatkan mangsa sebanyak-banyaknya. Seperti sekelompok orang yang
mencari harta karun yang bertebaran di Kediri dan Singasari,
mereka menyapu orang -orang yang berhasil mengumpulkan
kekayaan di saat-saat yang tenang. Para pedagang yang
melintas hilir mudik diantara Kediri dan daerah Singasari lainnya
diluar Kediri, bagaikan dihempaskan ke dalam mimpi buruk ketika
mereka menghadapi keny ataan, kelompok-kelompok penyamun telah
tumbuh di beberapa tempat. Set iap kali terdengar ungkapan kebencian
dari orang-orang Singasari terhadap orang-orang Kediri. Tetapi
sebaliknya satu saat mereka meneriakkan kutuk dan umpatan kepada
orangorang Singasari. Orang-orang itu ternyata telah mempertajam
kebencian orang-orang Kediri dan Singasari. Orang-orang Singasari
mulai menuduh orang-orang Kediri membuat kerusuhan, sementara
orang-orang Kediri menganggap orang-orang Singasari diluar Kediri
telahmembuat keonaran. Bagaimana pun juga para pemimpin Singasari
dan Kediri mengusahakan agar hal tersebut tidak menjalar, namun yang
terjadi justru sebalikny a. Dengan demikian maka baik Singasari dan
Kediri harus menurunkan prajurit-prajuritnya untuk mengawasi keadaan
yangmenjadi semakin buruk itu. Suasana di Singasari dan Kediri
bagaikan saat-saat senja yang menjadi semakin gelap. Setelah
matahari memanjat langit sampai ke puncak kecerahan, maka matahari
itu telah menjadi semakin menurun sehingga akhirnya telah menjenguk
ke balik pegunungan. Dan senja pun menjadi semakin suram. Demikian
pula langit di Singasari. Benturan-benturan kekerasan terjadi di
beberapa tempat yang berada justru di batas kekuasaan Kediri
yang telah menjadi bagian dari kekuasaan Singasari. Bahkan
kadangkadang terjadi jauh di luar batas lingkungan kekuasaan Kediri.
Para prajurit Singasari dan Kediri memang banyak mendapat kesulitan
karena peristiwa-peristiwa yang terasa su sul menyusul. Setiap
kali terjadi benturan kekerasan,maka yang terasa adalah benturan
antara Kediri dan Singasari. Namun setiap kali tentu diikuti dengan
peristiwa lain. Perampokan, peny amun dan
kejahatan-kejahatanyang lain. Para pemimpin Singasari dan
Kediri ternyata tanggap akan keadaan itu. Mereka segera menyatakan
kepada orang-orang yang terutama berada di perbatasan, bahwa mereka
telah menjadi korban tingkah laku para penjahat yang ingin mendapat
kesempatan justru pada saat-saat yang menjadi semakin keruh.
Tetapimereka adalah bagian darimereka yang justru dengan sengaja
membuat kekeruhan itu. Mahisa Bungalan yang berkuasa di Pakuwon
Sangling tidak dapat membiarkan hal seperti itu terjadi. Bahkan
Mahisa Bungalan telah bersikap keras terhadap para penjahat yang
menyelubungi tingkah laku mereka dengan kemelut yang justru sedang
terjadi antara Kediri dan Singasari. Namun tindakan keras Mahisa
Bungalan itu mempunyai akibat yang luas. Ketika Mahisa Bungalan
berhasil menghancurkan sekelompok perampok yang mengacaukan
lingkungan Pakuwon Sangling,maka sisa-sisa perampok yang
sempatmelarikan diri telahmendendam Akuwu Sangling yang bernama
Mahisa Bungalan itu. “Kita tidak akan dapat menghancurkan Sangling,”
berkata salah seorang dari para pemimpin perampok yang sudah
hampirmusna itu. “Memang,” jawab kawannya, “kita harus menerima keny
ataan ini. Kelompok kita sudah dilumatkan.” “Apakah kita menerima
hal ini dengan tanpa berbuat apaapa?,” bertanya seorang yang
lain. “Apa yang dapat kita lakukan?,” bertanya kawan-kawannya. “Aku
tahu kita tidak mempunyai kekuatan lagi. Tetapi kita dapat
menghubungi beberapa orang kawan yang lain. Beberapa kelompok yang
sejalan dengan kita, akan bersedia membantu kita dengan senang
hati,” geram orang yang berusahamembakar dendam kawan-kawannya.
“Beberapa kelompok yang dapat kita kumpulkan. Berapa kuatnya
kelompok kita yang baru itu untuk menghadapi Pakuwon
Sangling,” bertanya seorang diantara mereka. “Kita tidak akan
menggempur Sangling,” jawab orang yang mendendam itu. “Lalu
apa yang akan kita lakukan?,” bertanya seorang kawannya. “Aku tahu,
Akuwu Sanglingmempunyai dua orang saudara muda yang berada di sebuah
padepokan,” jawab orang itu, “padepokanyang meny ebut dirinya Bajra
Seta.” “Maksudmu?,” bertanya kawannya. “Kita membalas sakit hati
kita. Kita tidak mungkin menggempur Sangling. Tetapi kita akan mampu
menghancurkan padepokan itu. Akuwu Sangling tentu akan merasa sakit
pula hatinya, jika kedua orang adiknya kita binasakan,” jawab
orang-itu. Para perampok itu termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang
diantara kawan-kawannya bertanya: “Apa keuntungan kita dengan meny
erang padepokan itu?Apakah padepokan itu mempunyai harta benda
yang cukup banyak? “ “Aku tidak tahu,” jawab orang itu,
“tetapi yang penting kita membalas dendam karena hati kita
sudah disakiti. Beberapa orang kawan kita telah terbunuh. Kita akan
membalas dendam denganmembunuh saudara-saudara Akuwu Sangling itu.”
Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Namun seorang diantara mereka
tiba-tiba berkata: “Aku setuju. Kita harusmembalas sakit hati kita.”
Ternyata yang lain pun kemudian telah menyetujui pula rencana
itu. Mereka akan mengumpulkan kawan-kawan mereka sebanyak-banyaknya
untuk menghancurkan sebuah padepokan yang bernama Padepokan Bajra
Seta. Padepokan yang dipimpin oleh dua orang saudara muda Mahisa
Bungalan, Akuwu Sängling. Para perampok yang tersisa dan
menjadi sakit hati itu telah menghubungi beberapa kelompok
yang lain. Ada diantara kelompok-kelompok itu yang sudah
turun lagi ke arena pekerjaan mereka yang sudah beberapa lama
mereka tinggalkan. Tetapi ada pula kelompok yang masih
ragu-ragu untukmemulainya. Namun ternyata bahwa hubungan diantara
mereka telah membangkitkan niat mereka untuk terjun kembali ke dalam
duniamereka yang kelam itu. “Kita memerlukan pemanasan,” berkata
salah seorang pemimpin kelompok yang dihubungi oleh para
perampok yang sakit hati itu. Karena itu, ket ika datang ajakan
untuk menyerang sebuah padepokan yang kurang dikenal, maka
para perampok itu merasa mendapat sa saran untukmemanaskan
darahmereka. “Jika senjata kami telah basah oleh darah,maka kami
tidak akan ragu-ragu lagi. Senjata kami akan sekali lagi dan sekali
lagi minum darah yang hangat,” berkata salah seorang pemimpin
kelompok perampok yang sudah cukup lama tidak turun medan
perburuan. Karena itulah, maka para-perampok itu dalam waktu singkat
telah mendapat banyak kawan untuk melakukan rencana mereka itu.
Membalas dendam sakit hati yang ditimbulkan oleh Akuwu Sangling.
“Saudara laki-laki Akuwu Sangling itu harus dibunuh. Kita akan
membawa mayatnya dan akan kita lemparkan ke halaman Pakuwon Sangling
agar Akuwu melihatnya dan merasa bersalah. Untuk selanjutnya ia
tidak akan melakukan kesombongan itu sekali lagi,” berkata seseorang
yang merasa kehilangan beberapa orang kawannya yang terbunuh.
Para perampok yang telah bergabung itu kemudian mulai
mengadakan pengamatan atas-sebuah padepokan yang memang agak jauh
dari Sangling. Mereka mulai mengamati kekuatan yang ada di padepokan
itu. Beberapa orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang
kebanyakan. Tetapi karena orang-orang padepokan itu bukan orang
yang sombong,makamereka lebih banyakmerendahkan dirinya.
Ketika ada diantara mereka yang pergi ke pasar dan berbicara
dengan para perampok dalam tugas sandinya,maka orang-orang padepokan
itu selalu merendahkan diri. Namun sikapmerendah itu telah
menumbuhkan gambaran yang salah dari antara para perampok itu atas
kekuatan yang ada di padepokan. Meski pun jumlah orang yang mereka
ketahui hampir mendekati jumlah yang sebenarnya, namun perkiraan
mereka tentang kemampuan orang-orang padepokan itulahyang salah.
Sebenarnyalah sejak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kembali,maka
latihan-latihan selalu dilakukan pada saat -saat yang sudah
ditentukan. Orang -orang yang sudah terlalu lama tidak menempa diri,
karena Mahendra yang sudah menjadi semakin tua dan tidak lagi
mempunyai banyak waktu untuk melakukan latihan-latihan bagi para
penghuni padepokan itu, telah membangkitkan kemauan mereka kembali.
Dengan tekun mereka selalu mengikuti latihan-latihan yang
diberikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahkan yang
diberikan oleh saudara-saudara seperguruan yang lebih tua yang telah
mendapat latihan-latihan khusus untuk itu. Dengan demikian,maka
hampir setiap orang di padepokan itu telah berhasil meningkatkan
kemampuan mereka. Apalagi orang-orang khusus yang akan
mendapat tugas membantu kepemimpinan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
sebelum orang yang benar-benar akan mendapat tugas untuk itu
hadir di tengah-tengahmereka. Bahkan Mahisa Amping yang masih
kanak-kanak itu pun telah memiliki ilmu yang memadai untukmelindungi
dirinya sendiri. Demikian pula Mahisa Semu. Mereka juga telah
memiliki kemampuan untukmembangunkan tenaga cadangan didalam dirinya
mereka sehingga kekuatan mereka seakanakan telah menjadi berlipat
ganda. Sementara itu, para perampok yang telah mengenali
kekuatan di padepokan itu telah memperhitungkan, bahwa kekuatan
mereka telah berlebihan. Mereka yakin bahwa mereka bersama dengan
kelompok-kelompok perampok dan penyamun serta perguruan yang
berlandaskan ajaran ilmu hitam akan dapat menggulung padepokan Bajra
Seta. Membunuh dua orang saudara Mahisa Bungalan dan membawa mayat
mereka ke Pakuwon Sangling agar Akuwu Sangling menyadari, bahwa apa
yang telah dilakukannya atas para penjahat, telahmembuat para
penjahat itu sakit hati. Dari hari ke hari, maka persiapan pun
menjadi semakin matang. Beberapa orang yang ditugaskan, telah
mulai mengamati tingkah laku dan kebia saan-kebiasaan yang ada di
padepokan itu dan sekitarnya. Mengamati orang-orangnya dan kebiasaan
yangmereka lakukan. Akhirnya, para penjahat itu telah sampai pada
satu keputusan untuk benar-benarmeny erang padepokan itu. “Tiga hari
lagi, kita akan meny erang dan menghancurkan padepokan itu. Kedua
saudara Mahisa Bungalan itu jangan sampai sempatmeloloskan diri.
Mereka berdua harus dibunuh dan mayatnya harus dibawa ke Sangling.
Baru jika Akuwu Sangling terpukul oleh kematian kedua orang
saudaranya itu, maka apa yang kita lakukan itu dapat dianggap
berhasil. Sebaliknya meski pun kita mampu membunuh saudarasaudara
Akuwu Sangling, namun Akuwu itu tidak tahu bahwa kedua adiknya itu
mati dalam hubungan dengan langkahlangkah yang diambilnya terhadap
para penjahat, maka pekerjaanmereka itu sia-sia.” “Yang terpenting
buat kita adalah, bahwa Mahisa Bungalan menjadi tersiksa oleh
kematian kedua adiknya. Dalam keadaan yang demikian, kita akan
mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu,” desis pemimpin perampok
yang mendendam itu. Dengan demikian, maka padepokan Bajra Seta itu
telah mendapat pengamatanyang sangat ketat.Hampir setiap orang
yang keluar dari padepokan,mendapat pengamatan ketat. Orang-orang
yang merasa sakit hati dan mendendam kepada Mahisa Bungalan
selaku Akuwu Sangling benar-benar tidak ingin melepaskan Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu ketika Mahisa Murti pergi ke
padukuhan sebelah untuk satu keperluan, maka beberapa orang telah
mengikutinya dari kejauhan dan mengawasiny a, apakah ia kembali ke
padepokannya atau tidak. Namun ternyata tidak lama kemudian, Mahisa
Murti telah kembali memasuki regol halaman padepokannya. “Sebaiknya
kita tidak terlalu lama menunggu,” berkata salah seorang diantara
mereka yang mengamati padepokan itu. “Ya,” sahut yang lain,
“jika mereka mengetahuinya, maka mungkin sekali kedua orang anakmuda
itumelarikan diri.” “ Itu adalah tugas kita,” berkata orang yang
pertama. “Jika keduanya berusaha melarikan diri karena mereka
mengetahui bahwa kita telah siap untuk meny erang padepokan mereka,
makamereka berdua haruskita tangkap hidup ataumati.” “Lebih baik
jika hidup. Kita akan dapat membuat Mahisa Bungalan itu semakin
sakit hati,” desis kawannya. “Tetapi tentu tidak mudah dapat
menangkap mereka hidup-hidup karenamereka tentu akan tetapmelawan,”
jawab orang yang pertama. Kawanya hanya mengangguk-angguk
saja. Namun dalam pada itu, dua orang cantrik telah menjadi curiga
atas kehadiran beberapa orang yang dengan diam-diam se-lalu
mengawasi padepokan mereka. Karena itu, maka seperti orang-orang itu
mengawasi padepokan dengan diamdiam, maka para cantrik itu pun
melakukan hal yang sama atasmereka. Ternyata para cantrik itu
menjadi curiga. Sikap orangorang itu benar-benar tidak wajar. Ketika
hal itu dilaporkan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,maka ia pun
segera teringkat kepada orang-orang yang memusuhinya. Padepokan
palsu, yang dipimpin oleh orangorang- yang mengaku dari padepokan
Nagateleng. Bahkan seorang di-antara mereka telah mengaku sebagai
Kiai Nagateleng itu sendiri, sementara Kiai Nagateleng telah tidak
ada. Selain itu maka mungkin sekali orang yang meny ebut
dirinya mPu Kanthi itu pun tentu mendendam mereka pula. Selain mPu
Rangkut telah terbunuh,maka ia seolah-olah telah mampu menghancurkan
keberanian delapan orang pengikutnya. Tetapi banyak hal dapat
terjadi. Namun yang dilihat oleh para cantrik itu hanya beberapa
orang yang mengamati padepokan mereka dengan sikap yang -sangat
mencurigakan. Karena itu pula maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah mengundang para pemimpin padepokan Bajra Seta untuk
membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
“Tidak ada tanda-tanda akan ada serangan lagi,” berkata salah
seorang diantara para cantrik yang telah mendapat
latihan-latihan khusus. “Kita tidak merasa bermusuhan dengan
siapapun. mPu Kanthi telah tidak mempunyai kekuatan lagi setelah
kegagalannya. Orang -orangnya banyak yang menjadi korban, sementara
itu, sekelompok yang lain, justru telah bertemu dan dikalahkan
oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bahkan orang yang disebut
bernama mPu Rangkut telah terbunuh pula. “Mungkin ia berhubungan
dengan orang lain,” berkata cantrik yang lain lagi, “ia telah
meny eret sebuah atau lebih padepokan lain untuk ikut
sertamembalaskan dendamnya.” Cantrik yang pertama itu pun
mengangguk-angguk. Katanya: “Memang mungkin. Tetapi siapa pun yang
telah melakukannya, kita harus tetap berhati-hati. Mungkin kita
tidak merasa mempunyai lawan. Tetapi orang lain mungkin mempunyai
sikap yang tidak dapat kita mengerti telah memusuhi kita.
Mungkin justru karena sikap iri hati atau sikap lain yang tidak
terungkap sebagai sikap bermusuhan. Namun tiba -tiba saja mereka
telah mengambil sikap yang lebih kasar. Meny erang padepokan
kita sepertiyang pernah terjadi.” Yang lain mengangguk-angguk.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sependapat. Bahkan Mahendra yang
ikut mendengarkan pembicaraan itu punmengiakannya pula. “Jika
demikian, awasi orang-orang yang mencurigakan itu. Selanjutnya kita
harus bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Kita sama sekali tidak
mempunyai keterangan tentang orang-orang itu, juga seandainya ada
sekelompok orang yang memusuhi kita,” berkata Mahisa Murti pula.
Para cantrik itu pun mengangguk-angguk. Mereka telah mendapat
isyarat, bahwa mereka harus bersiap untuk menghadapi segala
kemungkinan yang dapat terjadi atas padepokan itu. Di hari
berikutnya, ketiga orang cantrik berusaha dengan sengaja untuk
melihat sendiri orang -orang yang mengamati padepokannya itu,
memang telah melihat tiga orang yang duduk dibawah sebatang pohon
yang rindangmemandang ke arah padepokannya di tempat
yang agak jauh dan lebih rendah. Dari percakapan mereka, maka
cantrik itu sempat mendengar bahwa besok padepokan itu akan
dihancurkan. “Sebenarnya sayang juga,” berkata seorang
diantara ketiga orang itu, “tetapi apa boleh buat. Padepokan itu
memang tidak mempunyai arti apa-apa bagi kita. Yang harus kita ingat
adalah pesan para pemimpin kita, dua orang adik Mahisa Bungalan itu
tidak boleh meloloskan diri. Apa pun yang terjadi, keduanya harus
jatuh ke tangan kita. Hidup atau mati.” Cantrik itu memang menjadi
berdebar-debar. Namun ia sempat mendengar, bahwa besok padepokan itu
akan diserang. Bagi cantrik itu, keterangan itu sudah cukup
memberikan peringatan, bahwa padepokan Bajra Seta memang harus ber
siap-siapmenghadapi segala kemungkinan. Tanpa mengetahui alasannya
yang pasti, maka cantrik itu pun segera melaporkannya kepada Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. “Untunglah kau tidak tertangkap oleh
mereka,” berkata Mahisa Murti. “Kenapa kau hanya seorang diri?,”
bertanya Mahisa Pukat. “Lebih aman seorang diri,” jawab cantrik itu,
“jika tertangkap, aku tidak membawa orang lain dalam malapetaka itu.
Tetapi apakah dengan bekal ilmuku, aku tidak mampu melarikan diri
dari ketiga orang itu? Aku tidak berbicara tentang kemampuanku untuk
mengalahkan mereka, karena aku tidak tahu landasan kemampuanmereka
bertiga.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertawa. Sementara orang itu
berkata: “Tidak ada alasan yang dapat aku tangkap dari pembicaraan
mereka.Namun mereka mengatakan bahwa yang terpenting bukan untuk
menghancurkan padepokan itu. Tetapi dendam mereka kepada adik Mahisa
Bungalan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak.
Sementara cantrik itu menirukan apa yang didengarnya dari
ketiga orang dibawah pohonyang rindang itu. Kedua anak muda
itu mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah. Ternyata ada sangkut
pautnya dengan kakang Mahisa Bungalan. Tetapi sudah tentu tidak ada
waktu untuk berbicara dengan kakang Akuwu Sangling. Jika kita
menghubunginya,maka kita akan terlambat jika benar mereka akan
menyerang besok.” “Menurut pendengaranku memang demikian,” jawab
cantrik itu. Memang satu per soalan yang rumit. Para pemimpin
padepokan Bajra Seta tidak mendapat keterangan sama sekali tentang
kekuatan lawan. Sementara itu, lawan mereka tentu sudah sempat
mengukur kekuatan padepokan Bajra Seta, sehingga mereka akan
dapatmemperhitungkan kekuatan yang akan mereka bawa. “Agaknya bukan
kekuatan mPu Kanthi,” desis Mahisa Murti. “Agaknya bukan, karena
mereka mengkaitkan gerakan mereka dengan kakang Mahisa Bungalan,”
sahut Mahisa Pukat. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya
kemudian: “Kita harus bersiap-siap sejak sekarang. Kita akan
bertahan di dalam dinding padepokan justru karena kita tidak
mengetahui kekuatan mereka.” Ternyata Mahisa Pukat juga sependapat.
Adalah sangat berbahaya jika mereka turun keluar dinding halaman
padepokan. Mereka akan dapat terhisap oleh kekuatan yang tidakmereka
ketahui sebelumnya. Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah memanggil para cantrik yang telah dianggap cukup dewasa
ilmunya. Dengan jelas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
menguraikan rencana mereka justru karena para cantrik telah melihat
sikap yangmencurigakan dari orang-orang yang tidak dikenal.
Sedangkan seorang cantrik yang secara khusus sempat mengikuti
pembicaraan pendek tiga orang yang mencurigakanmendapat keterangan
bahwa besok akan datang serangan ataspadepokan itu. “Kita sama
sekali t idak mempunyai gambaran tentang orang-orang yang akan
datang meny erang. Baik jumlahnya mau pun tingkat kemampuan mereka,”
berkata Mahisa Murti, “karena itu, kita harusmeny iapkan kemampuan
tertinggi yang dapat kita bangunkan disini.” “Kita siapkan
pertahanan pada dinding padepokan kita,” Mahisa Pukat meneruskan
keterangan Mahisa Murti, “kita siapkan senjata jarak jauh. Kemudian,
kita harus membagi kekuatan. Kita tidak tahu apakah mereka akan meny
erang dengan pengepung seluruh padepokan ini, atau mereka akan
datang dari satu dua arah saja. Kita harus membut rencana yang ter
susun. Apa yang akan kita kerjakan jika mereka datang dan
mengepung seluruh padepokan, dan apa yang akan kita lakukan
jika mereka datang dari satu atau dua arah. Para cantrik itu
mengangguk-angguk. Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
menunjuk sepuluh orang cantik untuk bersama-sama menyusun rencana
pertahanan dan kemudian sekaligus memimpin para cantrik yang lain.
Menjelang malam, rencana sudah tersu sun rapi. Kepada para cantrik
yang dianggap cukup berbekal ilmu, telah diperintahkan untuk
berkumpul. Mereka menerima tanggung jawab masing-masing. Berapa
orang cantrik yang harus mereka pimpin. Setiap orang tahu
pasti apa yang harus dikerjakan. Namun mereka pun harus dengan cepat
mengambil keputusan didalam setiap perubahan keadaan. “Jika malam
turun, semua harus sudah berada di tempat mereka masing-masing,”
berkata Mahisa Murti. Lalu katanya pula: “beberapa orang khusus akan
melihat keadaan di luar padepokan. Mereka akan masuk kembali dengan
isy arat sandi tertentu, tidak melalui regol padepokan. Tetapi
mereka akan memanjat tali dari belakang. Mudah2an dari mereka kita
mendapatkan sedikit gambaran, apa yang sedang kita hadapi sekarang.
Demikianlah, ketika pertemuan itu dibubarkan,maka para cantrik pun
telah sibuk dengan tugasmereka masing-masing. Sementara itu, Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat telah menemui ayahnya pula. Mahendra
mendengarkan keterangan kedua orang anaknya sambil
mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia pun kemudian berkata:
“Agaknya mereka bukan orang -orang yang pernah meny erang padepokan
ini. Tetapi mereka agaknya mempunyai hubungan dengan kakak kalian,
Mahisa Bungalan. Ternyata ketiga orang itu telahmeny ebut-ny ebut
namanya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara
Mahendra berkata selanjutnya: “Memang tidak ada pilihan lain bagi
kalian selain meny iapkan kekuatan dan kemampuan setinggi-tingginya
karena kita tidak tahu, seberapa besar kekuatan dan kemampuan lawan.
Agaknya para cantrik harus berusaha menahan kekuatan itu sebelum
mereka mencapai dinding padepokan.” “Dengan senjata jarak jauh
maksud ayah?,” bertanya Mahisa Pukat. “Ya,” jawab Mahendra, “panah
dan lembing.” “Kami sudah berusaha mempersiapkan sebanyakbanyaknya.
Bahkan bandil dan bebatuan di atas panggungan di belakang dinding
padepokan. Kita memperhitungkan, bahwa orang -orang itu tentu akan
berusaha memanjat dinding. Mungkin dengan tali, mungkin dengan
tanggatangga, bambu. Mungkin pula mereka membawa alat yang cukup
besar untuk memecahkan dinding atau pintu gerbang padepokan,”
berkata Mahisa Pukat selanjutnya. “Menurut pendapatku, kalian sudah
benar. Dengan demikian jika kekuatan yang ada di padepokan ini, maka
para cantrik harus memanfaatkan senjata jarak jauh itu
sebaikbaiknya,” berkata Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatmengangguk-angguk pula. “Nah,” berkata Mahendra: “kau harus
melihat persiapan para cantrik sekarang.” “Baik ay ah,” jawab Mahisa
Murti. “Bawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping ber samamu,” berkata
Mahendra pula, “mereka harusmelihat persiapan itu. Satu
pengalamanyang tentu sangatmenarik bagimereka.” Seperti yang
dikatakan oleh ayahnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
mengelilingi dinding padepokan. Bukan saja Mahisa Semu dan Mahisa
Amping yang dibawanya, tetapi dua orang cantrikyang terpilih
bersamaWantilan pula. “Kita tidak tahu apakah kekuatan kita cukup
memadai paman,” berkata Mahisa Murti kepadaWantilan. “Aku belum
pernah melihat sebuah padepokan yang memiliki kekuatan sebesar
ini. Dengan jumlah cantrik yang sangat besar,” desisWantilan.
“Tetapi bukankah paman tahu, bukan semuanya yang ada di padepokan
ini menyatakan diri menjadi cantrik. Mereka sebagian adalah
anak-anak padukuhan di sekitar tempat ini yang ikut belajar disini.
Bahkan ada diantara mereka yang sengaja dikirim oleh orang tuanya
atau oleh Ki Bekel di padukuhannya untuk menyadap pengetahuan bukan
saja kanuragan, tetapi juga mengenal pertanian, pemeliharaan ternak,
pande besi dan kemampuan-kemampuan lain yang kamimiliki.” “Meski pun
mereka tidak menyatakan diri sebagai cantrik di padepokan ini,
tetapi ada ikatan antara padepokan ini dengan mereka. Bahkan dengan
padukuhan mereka,” berkata Wantilan. Lalu katanya: “Hal itu tampak
jelas seperti sekarang ini. Ternyata tanpa diminta mereka telah
menyatakan diri untuk ikutmempertahankan padepokan ini dari
kemungkinan yang paling buruk.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
mengangguk kecil. Sebenarnyalah anak-anak muda yang telah
dikirimkan oleh beberapa padukuhan danyang lain atas
kehendakmereka atau keluarga mereka telah bersedia untuk dengan suka
rela ikut mempertahankan padepokan itu ketika mereka mendengar
kemungkinan buruk bakal terjadi. Mereka ju stru telah memasuki
padepokan itu dan tidak keluar kembali sehari sejak berita tentang
kehadiran orang -orang yang tidak dikenal itu terdengar di
padepokan. Namun dengan demikian, anak-anak muda itu sebagian sempat
dilihat oleh orang-orang yang mendapat tugas untuk mengamati
padepokan itu, sehingga telah diperhitungkan sebagai kekuatanyang
ada di padepokan itu. Ketika malam menjadi semakin larut, maka
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersama beberapa orang yang
mengiringinya telah sempat menyaksikan seluruh kekuatan yang ada di
padepokan itu dalam kesiagaan penuh. Namun Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat juga menganjurkan, agar mereka meny empatkan diri untuk
beristirahat bergantian, karena besok agaknya mereka harus bekerja
keras untuk mempertahankan padepokanmereka. Apalagi ketika lewat
tengah malam, dua orang pengamat telah datang untuk melaporkan.
Kekuatan yang besar telah berada di pategalan di sebelah
padukuhan yang terletak di arah depan padepokan. Sedang kekuatan
yang lain,memencar dalam kelompok-kelompok kecil di arah sisi
sebelah kiri dan kanan dari padepokan mereka. “Apakah-mereka akan
meny erang dari tiga arah,” desis Mahisa Pukat. “Apakah kalian tidak
melihat kesatuan diarah belakang padepokan ini?,” bertanya Mahisa
Murti. Para cantrik yang bertugas mengamati keadaan itu menggeleng
sambilmenjawab: “Tidak. Kami tidakmelihat ada pa sukan diarah
belakang padepokan. Kami sudah memutari padepokan ini dengan
hati-hati.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk.
Namun mereka pun kemudian telah membagi diri untuk memberikan
petunjuk-petunjuk bagi seluruh pa sukan yang ada di belakang dinding
padepokan itu. Sementara itu mereka telah minta agar Mahisa Amping,
Mahisa Semu dan Wantilan untuk beristirahat. “Besok kalian akan
terlibat langsung,” berkata Mahisa Murti. Demikianlah, selain yang
bertugas, maka seluruh kekuatan yang ada di padepokan itu telah
beristirahat sebaik-baiknya. Namun dalam pada itu, berpuluh-puluh
ikat anak panah telah berada diatas panggungan. Demikian pula
lembing dan senjata-senjata jarak jauh yang lain pun telah
disediakan. Pa ser, bandil dan bahkan tombak-tombak panjang untuk
menyambut lawanyang berhasil memanjat dinding. Namun dalam
pada itu, diatas pintu gerbang pun telah ber siap kelompok khusus.
Meski pun mereka masih juga sempat beristirahat, tetapi mereka siap
menghadapi kemungkinanyang paling buruk sekalipun. Hanya
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sajalah yang hampir semalam
suntuk tidak tidur sama sekali. Menjelang dini keduanya sempat
memejamkan mata sejenak. Namun mereka pun segera terbangun ketika
mereka mendapat laporan, bahwa di depan padepokan terdapat pa sukan
yang telah ber siap. Mereka telah menyalakan obor -obor minyak dan
oncor jarak. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera pergi ke
panggungan di atas regol padepokan. Sementara itu, diperintahkannya
semua cantrik untuk segera makan,minum dan memeriksa
senjata-senjatamereka. Dari atas panggungan di atas regol padepokan,
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang melihat beberapa puluh obor.
Tetapi tidak terlalu dekat di hadapan regol padepokan mereka. “Masih
ada waktu,” berkata Mahisa Murti kepada seorang cantrik yang ada di
sebelahnya: “biarlah mereka makan dan minum secukupnya. Jika obor
-obor itu mulai bergerak, kita akan memberi tanda.” Ternyata seperti
yang dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, pa sukan itu
tidak segera bergerak. Nampaknya mereka masih mengatur diri dan
pemimpinnya masih memberikan beberapa perintah untukmereka.
Sementara itu, para cantrik yang telah selesai makan, minum dan
berbenah diri, telah menempatkan dirinya sesuai dengan rencana.
Mereka telah ber siap di atas panggungan dengan busur di tangan.
Sementara yang lain telah bersiapsiap untuk melontarkan lembing,
memutar bandil dan yang lain lagi menggenggam tangkai tombak
panjang. Sementara itu di lambungmereka tergantung pedang yang masih
ada di dalam sarungnya. Beberapa saat kemudian, maka obor -obor itu
pun mulai bergerak. Namun sama sekali tidak nampak obor yang berada
di arah kiri dan kanan padepokan itu. Agaknya mereka memang tidak
mempergunakan obor atau oncor-oncor biji jarak. Mereka dengan
diam-diam merangkak mendekati dinding padepokan. Namun para cantrik
telah siap bertahan dari seranganserangan yang datang dari
manapun. Bahkan dibagian belakang padepokan pun mendapat pengawasan
cukup ketat oleh beberapa orang cantrik, meski pun menurut
keterangan para pengawas, tidak ada pasukan lawan di belakang
padepokan. Tidak ada tanda-tanda apa pun yang dapat didengar
oleh para cantrik di panggungan, di belakang dinding padepokan.
Mereka hanya melihat obor -obor yangmulai bergerak.Namun mereka pun
y akin, bahwa pasukan di sisi sebelah kiri dan kanan juga mulai
bergerak pula. Beberapa saat kemudian,maka langit pun mulai dibayang
i sinarmatahari pagi. Keremangan fajar pun tetalimenguak dan
pagimenjadi semakin terang. Pada saat yang demikian itulah,
maka para cantrik mulai melihat pa sukan yang bergerak
mendekati padepokan. Memang dari tiga arah sebagaimana dilaporkan
oleh para pengawas. Sedangkan para cantrik yang berjaga-jaga di
bagian belakang padepokan memang tidak melihat pasukan yang
datangmendekat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di
panggungan diatas regol halaman padepokan pun segera memberikan
beberapa isy arat kepada para cantrik yang telah ber siap
sepenuhnya. Sementara itu Mahendra pun telah berada di panggungan
itu pula bersama Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Sedangkan Wantilan
telah menyatu dengan para cantrikyang bertugasdi atas regol
itu. “Kami akan berada di sebelah meny ebelah regol ini ayah,”
berkata Mahisa Murti: “kami mohon ayah memegang pimpinan di sini.”
Mahendra tidak menolak. Ia pun telah bersiap untuk bertempur. Meski
pun ia sudah terhitung tua, tetapi ia masih memiliki tenaga dan
kemampuan untuk berbuat sesuatu. Mahisa Amping dan Mahisa Semu
memang menjadi berdebar-debar. Mereka akan benar -benar berada di
medan perang. Beberapa saat kemudian, maka pasukan lawan yang
menjadi semakin dekat itu telah berhenti. Menurut pengamatan mereka
yang ada di padepokan, jumlah mereka memang lebih banyak dari
para cantrikyang bertahan. Tetapi para cantrik sama sekali tidak
menjadi gentar. Mereka memiliki beberapa kesempatan yang lebih
baik dari lawanmereka yang lebih banyak itu. Para cantrik itu
berada di belakang dinding padepokan, sehingga mereka terlindung.
Sementara itu mereka hanya bertahan dan tidak meny erang dengan
berusahameloncati dinding. Dengan demikian, maka mereka akan dapat
lebih leluasa menyerang lawan-lawan mereka dengan senjata jarak jauh
dari padamereka yang berada diluar padepokan. Sementara itu, ketika
pa sukan yang berada diluar dinding padepokan itu berhenti, maka
lima orang telah berjalan ke arah dinding padepokan dan berhenti
pula beberapa langkah dari regol. Mahendra yang berada di atas
regol menyadari, bahwa kelima orang itu adalah pemimpin dari pasukan
yang datang menyerang padepokan itu. Karena Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat masing-masing berada di sebelah-meny ebelah regol, maka
Mahendralah yang telah menerima para pemimpin pa
sukanyangmenyerang itu. Dengan lantang salah seorang diantara kelima
orang itu telah berteriak: “He, siapakah pemimpin padepokan ini? “
Mahendra termangu-mangu sejenak. Ia bukan pemimpin yang sebenarnya.
Tetapi karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berada di atas
regol, maka akhirnya Mahendralah yangmenjawab: “Akulah pemimpin
padepokan ini “ Mahisa Murti dan Mahisa Pukatyang ada disebelahmeny
ebelah regol mendengar pula pertanyaan itu. Mereka sama sekali tidak
berkeberatan mendengar jawaban ayahnya yang mengaku sebagai pimpinan
padepokan itu, karena ayahnya tentu tidak akan melakukan sesuatu
yang dapat menyulitkan keadaan padepokan itu. “Bagus,” Orang
yang berada didepan regol itu berteriak: “jika demikian, aku
minta kau serahkan dua orang anakmuda yangmengaku diantara mereka
para pemimpin padepokan ini bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,
adik Akuwu Sangling yang bernama Mahisa Bungalan.” Mahendra
termangu-mangu sejenak. Namun ia pun bertanya: “Apa salah mereka ?
Mereka tidak pernah berbuat jahat kepada siapa pun juga.” “Mungkin.
Tetapi nasibnyalah yang buruk. Serahkan keduanya kepada kami, atau
padepokan ini akan kami lumatkan menjadi debu,” jawab orang itu.
“Ya. Tetapi apa salah mereka terhadap kalian dan apa hubungan
mereka,meski pun mereka adiknya, dengan Akuwu Sangling dalam hal
ini,” bertanya Mahendra. “Ketahuilah, Akuwu Sangling telah melakukan
kejahatan besar terhadap kawan-kawan kami. Adalah kebetulan bahwa
kawan-kawan kami tinggal di Sangling. Dengan sewenangwenang Akuwu
Sangling telah memperlakukan kawan-kawan kami dengan tidak adil.
Bahkan lebih jatuh banyak korban diantara kawan-kawan kami,” berkata
orang itu. “Jika demikian kenapa kalian tidak menuntut Akuwu
Sangling. Kenapa kalian tidak pergi ke Sangling dan minta keadilan.
Kenapa kalian justru pergi ke padepokan ini?,” bertanya Mahendra.
“Kami akan menangkap adik Akuwu Sangling itu. Kami akan membawanya
ke Sangling, hidup atau mati. Kami ingin membalas sakit hati kami
terhadap Akuwu Sangling itu,” jawab orang itu. Mahendra
mengangguk-angguk. Katanya: “Jadi persoalannya bukan persoalan
kalian dengan kedua adik Akuwu Sangling itu. Tetapi per soalan
kalian dengan Akuwu Sangling itu sendiri,” berkata Mahendra. “Ya.
Tetapi kedua orang anak muda itu akan menjadi satu alat
untukmembalas sakit hati kami. Karena itu, serahkan saja kedua orang
anakmuda itu. Padepokanmu akan selamat. Aku akan melupakan padepokan
ini untuk selama -lamanya dan tidak akan datang lagimengganggu,”
berkata orang itu. “Ki Sanak,” berkata Mahendra, “padepokan ini akan
melindungi setiap anggotanya dari kebengisan siapa pun juga,
termasuk kalian semuanya. Sudah tentu bahwa kami tidak akan
menyerahkan kedua orang anggota padepokan kami. Keduanya adalah
orang-orang yang justru sangat berarti bagi kami. Keduanya sudah
melewati masa pendadaran mereka sebagai cantrik werda di padepokan
ini, sehingga keduanya berhak menyandang gelar Putut. Karena itu,
sudah tentu bahwa kami tidak akan meny erahkanmereka.” “Ki Sanak,”
berkata orang di depan regol itu, “dengan demikian kau hanya
kehilangan dua orang Putut. Tetapi jika kau tidakmaumendengarkan aku
danmelakukan perlawanan, maka kau tidak hanya akan kehilangan dua
orang Putut. Tetapi kau akan kehilangan semuanya. Kedua Putut itu
akan mati, para jejanggan dan cantrik pun akan mati. Demikian pula
kau dan seluruh padepokanmu akan lumatmenjadi abu.” “Menarik sekali.
Bukankah itu lebih baik daripada aku telah berkhianat kepada kedua
orang Pututku sendiri?,” desis Mahendra. “Kau memang bodoh. Kau
korbankan nyawamu untuk kedua orang adik Mahisa Bungalan dari
Sangling itu. Mereka tidak akan berarti apa -apa bagimu,” teriak
orang yang berdiri didepan regol itu. Tetapi jawaban Mahendra
mengejutkan: “Aku adalah ay ah mereka “ Orang-orang yang berada di
depan regol itu pun menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang
diantara mereka berkata lantang: “Kebetulan sekali. Jika kau ayah
anak-anak muda itu,maka berarti kau juga ayah Akuwu Sangling.” “Ya
“jawab Mahendra, “aku adalah ayah Mahisa Bungalan.” “Jika demikian,
kami akan meny eret mayatmu dan mayat kedua anakmu itu di sepanjang
jalan-jalan di Pakuwon Sangling. Seluruh rakyat Sangling akan
melihat apa yang telah terjadi. Akuwu Sangling akan pingsan
karenanya dan akhirnya ia akanmati penuh peny esalan,” geram orang
itu. “Kau kira anakku itu cengeng? Jika ia tahu ayah dan
saudara-saudaranya mati membela kebenaran, maka ia tidak akan
menitikkan air mata, apalagi pingsan dan mati karena sedih dan
menyesal. Tetapi anakku itu akan merasa bangga karenanya. Ia akan
membuat candi untuk memperingati dan menghormati ay ahnya dan
saudara-saudaranya yang terbunuh oleh orang-orang jahat.”
Mahendra berhenti sejenak. Lalu ia telah bertanya: “Siapakah kalian,
he? Semakin tinggi matahari, semakin nampak tampang-tampang kalian.
Memang tidak selamanya, ujud lahiriah mewakili sikap batin. Tetapi
karena kalian semuanya memberikan kesan kasar dan liar,maka aku
dapat menduga, bahwa kalian adalah sekelompok perampok, penyamun,
penjahat dan barangkali orang-orang yang melarikan diri dari kejaran
para prajurit Sangling.” “Tutupmulutmu,” teriak dua orang yang
berdiri diregol itu hampir bersamaan, sementara yang lain telah
menggeretakkan giginya denganmarah. “Bagus,” berkata seorang
diantara mereka, “jika demikian maka kau memang harus mati. Kedua
anakmu harus mati. Padepokan ini akanmenjadi karang abang. Semua
cantrik dan orang-orang yang ada di padepokan ini akan mati.
Tetapi jika kalian bertigameny erahkan diri,maka yang lain
akan selamat. Atau karena kesadaran para cantrik, dengan suka rela
menangkap dan menyerahkan kepada kami ketiga orang itu, yang lain
akan diampuni.” Mahendra tertawa. Katanya: “Begitu mudahnya kalian
menyelesaikan persoalan kalian Ki Sanak. Sekarang, lakukan apa yang
ingin kalian lakukan. Kami sudah siap. Siapakah di antara kita yang
akan hancur menjadi debu lebih dahulu. Kami atau kalian.” “Setan tua
yang tidak tahu diri. Kau kira kau siapa he? berapa jumlah
cantrik-cantrikmu ? Kau adalah seorang pemimpin padepokan yang
mementingkan diri sendiri. Kau sama sekali bukan seorang
pemimpinyang ber sedia berkorban untuk murid-muridmu. Jika kau
menyerah, maka namamu akan tetap diingat oleh para muridmu, karena
kau sudah mengorbankan diri untuk keselamatan mereka. Dengan
pengorbananmu, maka murid-muridku akan terlepas dari maut dan
kehancuran.” “Biarlah aku tidakmendapatkan pujian dari siapa pun
juga. Biarlah aku segera dilupakan. Kalian tidak usaha menganggap
kami yang ada di padepokan ini kanak-kanak yang dapat
ditakut-takuti, dan dibujuk dengan janji-janji dan dapat dikelabui
dengan puji-pujian,” jawab Mahendra, “bersiaplah dan lakukan apa
yang akan kau lakukan, atau kalian memang hanya inginmenggertak kami
tanpa berani berbuat apa-apa.” “ Iblis pikun,” teriak seorang
diantara mereka: “bersiaplah untukmati. Biarlah padepokanmu menjadi
abu.” Mahendra tidak menjawab lagi. Dipandanginya orangorang itu
yang kemudian dengan marah meninggalkan regol dan kembali ke pasukan
mereka. Beberapa saat orang-orang itu berbicara dengan para pemimpin
yang lain. Nampaknya mereka memang menemukan kesepakatan.
Menghancurkan padepokan itu sampai lumat. Dengan demikian, maka
pemimpin tertinggi pasukan yang siap meny erang itu telah
memberikan isyarat. Kemudian sebuah kentongan kecil telah berbuny i
disambut oleh kentongan kecil yang lain dari para pemimpin
yang ada disebelah kiri dan kanan padepokan. Nampaknya aba-aba
terakhir telah diberikan, sehingga orang-orang dalam pasukan itu
telah benar-benar bersiap untukmeny erang. Mereka memang membawa
beberapa buah tangga. Tali berkait dan beberapa perlengkapan lain,
seperti senjatasenjata jarak jauh untukmelindungi orang-orangmereka
yang akan memanjat tali atau tangga yang akan mereka sandarkan
pada dinding padepokan itu. Namun tidak ada diantara mereka
yang membawa alat untuk dengan paksa membuka regol halaman.
Namun beberapa orang yang telah dipersiapkan untukmerusak
regol adalah beberapa orang pilihan dengan ber senjatakan kapak.
Demikian aba-aba itu merata, maka pa sukan itu dengan langkah pasti
telah bergerak maju. Beberapa orang diantara mereka telah bersiap
dengan busur dan anak panah. Mereka didampingi oleh orang -orang
bersenjata pedang dan perisai. Mereka siap melindungi kawan-kawan
mereka yang akan melontarkan anak panah mereka. Dengan perisai dan
pedang, mereka akan dapatmenangkis serangan-serangan anak panah dari
atas panggung dibelakang dinding padepokan. Demikian pasukan peny
erang itu mendekat, maka tali-tali busur diatas panggungan pun mulai
ditarik. Busur-busur yang besar dengan anak panah yang
besar-besar pula, yang sebelumnya jarang dipergunakan. Namun dalam
pada itu, orang-orang yang meny erang padepokan itupun telah
ber siap dengan perisai-perisai mereka. Dengan hati-hati mereka
melangkah maju dibaris paling depan. Demikian mereka menjadi semakin
dekat maka di atas pang-gungan terdengar aba-aba. Sejenak kemudian,
maka anak panah pun mulai berhamburan. Beberapa orang yang
berperisai dengan cepat telah melindungi diriny a dengan
perisai-perisai itu. Bahkan bukan hanya dirinya, tetapi
kawan-kawannya yang ada di belakangnya, telah berlindung pula.
Beberapa orang dengan trampil telah menangkis serangan anak panah
itu tanpa mempergunakan perisai. Tetapi dengan memutar pedangnya
melindungi tubuhnya. Namun orang-orang yang berada diatas
panggungan pun bukannya sekedar membabi-buta melemparkan anah panah.
Satu dua orang memang dengan sengaja memancing agar orang-orang yang
datang menyerang itu mengangkat perisaiperisai mereka. Namun orang
yang lain telah membidikkan anak panahnya dengan sungguh-sungguh
selagi orang itu berusahamenghalaukan anak panahyang lain.
Meski pun demikian ternyata bahwa orang-orang yang menyerang
padepokan itu cukup trampil. Mereka dengan cepat mampu mengatasi
kesulitan karena anak panah yang terhambur. Tetapi demikian banyak
anak panah yang dilontarkan dari atas dinding padepokan,
sehingga gerak pasukan yang menyerang padepokan itu memang
terhambat. Bahkan satu dua orang benar-benar telah terluka karena
ujung anak panah itu. Namun arus pasukan itu benar-benar telah
menggetarkan dinding padepokan. Derap langkah mereka terasa
seakan-akan mengguncang dinding itu. Sedangkan beberapa orang yang
khusus telah bergerak menuju ke regol dengan kapak di tangan. Mereka
ternyata benar-benar orang-orang pilihan. Dengan kapak mereka mampu
menangkis anah panah yang meluncur dari atas regol halaman itu.
Beberapa saat kemudian maka pasukan yang meny erang padepokan dari
tiga arah itu memang telah menjadi semakin dekat. Mereka telah
bersiap-siap mempergunakan tali dan tangga-tangga, bambu yang
mereka bawa. Sementara itu, beberapa orang yang lain telah
melindungi kawan-kawan mereka yang ber siap-siap untukmemanjat
dengan anak panah pula. Namun, kedudukan mereka yang berada di
belakang dinding padepokan memang lebih baik. Mereka mempunyai
kesempatan untuk berlindung saat -saat mereka memasang anak panah
dan merentang busur. Dengan demikian, maka sebelum terjadi benturan
antara kedua belah pihak, maka orang-orang yang meny erang padepokan
itu memang telah berkurang meski pun tidak terlalu banyak. Beberapa
orang telah terluka dan harus dibawa keluar dari jangkauan anak
panah orang-orang padepokan. Dalam pada itu, ternyata beberapa orang
pilihan telah berada di depan regol. Justru karena mereka telah
berada di regol,maka sulit bagi orang-orang yang berada di
panggungan untukmeny erangnya dengan anak panah. Sementara itu,
orang-orang itu telah berusaha merusak pintu regol dengan
kapak-kapak mereka yang besar. Mereka telah memotong tali-tali
pengikat kayu pada regol halaman itu. Memecah dan berusaha memotong
bagian-bagian dari pintu regol yang tertutup rapat. Namun dalam pada
itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap dengan beberapa
orang cantrik pilihan di belakang pintu regol. Mereka memang
memperhitungkan kemungkinan seperti itu terjadi. Karena itu, maka
demikian mereka melihat beberapa orang mampu menembus hujan anak
panah dari atas regol padepokan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah bergerak turun untuk menghadapi mereka demikianmereka berhasil
memecahkankan regol itu. Tetapi di bagian lain, para cantrik masih
saja mempergunakan busur dan anak panah. Satu-satumasih jatuh korban
karena anak panah yang besar telah rnenusuk tubuh mereka.
Namun ketika orang-orang itu menjadi demikian dekat dengan dinding
padepokan, maka para cantrik telah mempergunakan lembing-lembing
bambu yang mereka lontarkan dari atas panggungan. Bahkan ketika satu
dua orang diantara mereka yang menyerang itu mencapai dinding
padepokan, maka batu-batu yang telah mereka persiapkan telah
mereka lemparkan pula. Ternyata usaha para cantrik itu benar-benar
mampu menghambat serangan lawan dan bahkan korban pun semakin banyak
berjatuhan. Tetapi serangan itu bagaikan gelombang yang
beruntunmenerjang dinding pantai. Namun akhirnya, orang-orang yang
meny erang padepokan itu benar-benar telah berhasil merusak pintu
gerbang. Beberapa potong kayu berpatahan dan terlepas dari
ikatannya. Dengan suara yang berderak-derak,maka satu-satu
kayu yang menjadi bagian dari pintu gerbang itu pun terlepas dan
jatuh ber serakan. Dengan demikian, maka orang-orang yang
terpilih itu pun telah menghambur masuk ke halaman padepokan sambil
berteriak-teriakmengerikan. Tetapi demikian kaki mereka menginjak
halaman, maka mereka pun harus berloncatan menghindari serangan anak
panahyang dimuntahkan dari bu sur-busurnya. Ternyata serangan
para cantrik yang bersiap di belakang itu lebih berbahaya dari
serangan-serangan yang datang dari atas panggungan di belakang
dinding. Para cantrik itu benar-benar telah membidik sasaran dengan
sungguh-sungguh. Sehingga dengan demikian, maka anak panah yang
terlepas sebagian benar-benar telahmenembuskulit dan daging.
Lubang-lubang disela-sela perisai telah dibidik dengan tajamnya.
Demikian anak panah terlepas, maka anak panah itu benar-benar
menyusup di sela -sela perisai. Tetapi karena perisai itu
seakan-akan selalu bergerak,maka kadang-kadang anak panah itu telah
tertahan dibibir perisai. Meski pun demikian, korban pun telah
berjatuhan. Para cantrik benar-benar untuk mengurangi jumlah lawan
sebanyak-banyaknya tanpa niat membunuh dan membantai mereka. Tetapi
jika kematian itu menerkam lawan-lawan para cantrik, itu semata
-mata adalah akibat dari kekejaman peperangan. Namun orang-orang
yang telah berhasilmemasuki halaman padepokan itu dengan cepat
berusaha memencar. Mereka berusaha untuk memperluas garis benturan,
sehingga orangorang yang lain akan dapatmemasuki halaman itu
pula. Arus pasukan yang datang dari luar memang tidak
terbendung lagi. Para cantrik yangmempergunakan busur dan anak
panah, harus meletakkan busur mereka. Sementara mereka ber siap
untuk menarik pedang -pedang mereka dari sarungnya,maka para cantrik
yang bersenjata tombak pendek, telah meloncatmeny ongsong
pasukanyang datangmeny erang itu. Meski pun korban telah jatuh,
namun jumlah para peny erang itu masih lebih banyak daripada para
cantrik yang mempertahankan padepokan itu. Beberapa kelompok
penjahat, perampok dan penyamun telah bergabung dengan segala
kekuatanyang ada pada mereka. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
bersama dengan para cantrik yang siap di belakang regol
yang pecah itu pun telah terlibat langsung dalam pertempuran
yang sengit. Sementara itu Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah
diperintahkan untuk berada di bangunan induk padepokan bersama
beberapa orang cantrik yang merupakan kekuatan cadangan bila
diperlukan. Mahendra masih berada diatas regol. Ber sama beberapa
orang prajurit Mahendra telah mempergunakan busur dan anak panah,
meny erang para perampok, peny amun dan penjahat-penjahat yang
lain itu dari panggungan dengan anak panah. Ternyata Mahendra masih
tetap seorang pembidik yang baik. Hampir setiap anak panahnya
yang terlepas, dapat mengenai sasarannya dengan tepat sebagaimana
dikehendaki. Sementara itu, ketika pintu gerbang sudah dipecahkan,
serta kelompok-kelompok yang ada di bagian depan padepokan telah
sebagian besar memasuki padepokan, maka pa sukan yang ada
disisi kiri dan kanan pun mulai berusaha untuk meny erang dan
memasuki padepokan dengan tanggatangga dan tali. Mereka telah dengan
sengaja mengikat para cantrik itu dalam pertempuran, agar mereka
tidak sempat membantu para cantrik yang bertahan di sisi depan
padepokan itu. Namun usaha untuk memasuki padepokan itu memang
sulit. Beberapa buah tangga yang dipa sang pada dinding padepokan
itu telah didor ong sehingga roboh. Tali-tali pun telah diputus
dengan pedang. Tetapi meski pun mereka tidak dengan mudah memasuki
padepokan dengan meloncati dinding, namun mereka sudah berhasil
mengikat perhatian para cantrik untuk tidak turun ke halaman dan
ikut serta dalam pertempuran yang semakin sengit. Pertempuran
di halaman padepokan itu pun telah mengalir ke segala penjuru.
Beberapa kelompok kecil para perampok dan penyamun itu memang
berusaha untuk mencapai bangunan induk padepokan itu. Mereka mengira
bahwa di bangunan induk itu terdapat kekay aan padepokan itu. Tetapi
beberapa kelompok yang lain, yang telah mencapai dinding di sisi
kiri dan kanan, telah berusaha untukmembuka pintu-pintu butulan.
Gerbang yang tidak begitu besar di sebelah menyebelah telah
terbuka pula, sehingga orang-orang yang ada di luar dinding pun
dapat dengan cepat memasuki padepokan itu, meski pun harus jatuh
korban yang agak banyak. Para cantrik yangmasih berada diatas
regol butulan itu, meski pun jumlahnya tidak banyak, namun mereka
mampumembidikkan anak panahmereka ke punggung orangorang yang
sedang berdesakanmemasuki regol padepokan. Tetapi serangan-serangan
itu tidak membendung arus pa sukanyangmeluapmemasuki halaman. Yang
terjadi kemudian adalah pertempuran di halaman padepokan itu. Para
cantrik yang jumlahnya lebih kecil itu berusaha
untukmemanfaatkan keadaan sebaik-baikny a. Saatsaat kelemahan
orang-orang yang meny erang padepokan itu telah dipergunakan
sebaik-baiknya. Tetapi kemudian segera terasa bahwa para peny erang
itu adalah orang-orang yang kasar, bahkan buas dan liar. Bukan
sa ja karena mereka berteriak-teriak tidak menentu, namun mereka
juga melakukan tindakan yang licik tanpa menghormati harga
dirimereka sendiri. Namun para cantrik sama sekali tidak gentar
menghadapi mereka. Bahkan anak-anak muda dari padepokan-padepokan
yang sedang menyadap ilmu di padepokan itu pun telah bertempur
dengan berani. Karena itu, maka pertempuran di halaman padepokan itu
pun telah berlangsung pula dengan sengitnya. Para cantrik yang
berada di atas panggungan telah berloncatan turun. Mereka langsung
melibatkan diri ke dalam pertempuran. Dalam perang brubuh yang
terjadi kemudian, maka kemampuan pribadi setiap orang menjadi sangat
penting dan bahkanmenentukan. Untunglah bahwa para cantrik telah
ditempa dalam olah kanuragan. Meski pun para cantrik itu juga mampu
untuk bertempur dalam gelar karena serba sedikit mereka, sudah
mendapatkan tuntunan, namun mereka selalu ditilik pula
kemampuanmereka secara pribadi. Bahkan anak-anak muda dari padukuhan
tetangga yang menimba ilmu apa pun di padepokan itu, telah
menerima pula bimbingan olah kanuragan. Mereka telah berlatih untuk
menguasai beberapa unsur gerak yang terpenting serta ilmu olah
senjata. Karena itu, maka ketika mereka harus berhadapan dengan para
perampok, peny amun dan penjahat-penjahat yang lain, para
cantrik itu tidak segera terdesak. Para perampok, penyamun dan
penjahat-penjahat itu hanya sekedar mengandalkan kekuatan dan
keberanian saja tanpa membekali diri dengan ilmu yang cukup
baik. Meski pun ada juga diantara mereka yang memiliki
beberapa kelebihan dari orang kebanyakan. Dalam pertempuran yang
semakin seru itu, beberapa orang cantrik masih tetap berada diatas
panggungan dengan busur dan anak panah. Mereka adalah justru para
cantrik yang memiliki kemampuan bidik yang tinggi. Dalam pertempuran
yang sengit itu, mereka masih juga sempat membidik lawan yang
sedikit renggang dari para cantrik yang bertempur melawanmereka.
Ternyata bahwa satu dua bidikan mereka cukup berhasil. Mereka masih
juga mampu melukai para perampok, penyamun dan penjahat yang
sama sekali tidak sempat memperhatikan mereka karena pertempuran
yang dihadapinya. Tetapi para penjahat yang ada di halaman itu
segera menyadari. Mereka pun telah berusaha untuk mengenyahkan para
cantrik itu. Beberapa diantara mereka masih juga mempunyai bu sur
dan anak panah. Namun kesempatan mereka menjadi sangat terbatas
karena pertempuran yang riuh. Namun dalam pada itu, maka pertempuran
pun seakanakan telah mengalir keseluruh halaman padepokan.
Orangorang yang meny erang padepokan itu telah mencari
kesempatan untuk menembus pertahanan para cantrik dan menyerbu ke
bangunan induk. Tetapi tidak mudah bagi mereka untuk dapat meny
erang halaman padepokan dan mencapai bangunan induk. Para cantrik
yang bertahan tidak melepa skan mereka dan tidak
membiarkanmerekamelepa skan diri dari arena pertempuran. Namun
dengan demikian, maka pertempuran pun benarbenar menjadi semakin
garang. Orang -orang yang meny erang padepokan itu justru semakin
bernafsu untuk menggapai bangunan induk padepokan itu. Tetapi
sejalan dengan itu, maka para cantrik pun menjadi semakin marah dan
berusaha bertahan sekuat-kuatnya. Beberapa orang perampok yang
memiliki kelebihan telah berusaha menembus pertahanan para cantrik
dan memberi jalan kepada kawan-kawan mereka. Namun para cantrik
terpilih serta mereka yang dianggap memiliki ilmu tertinggi,
telah menempatkan diri untuk melawan orang-orang yang memiliki ilmu
yang lebih tinggi dari kawan-kawannya itu. Tetapi jumlah yang
lebih banyak dari para perampok, penyamun dan penjahat itu memang
berpengaruh.Hentakanhentakan yang kerasmemang mampu mendesak para
cantrik semakin jauh dari pintu gerbang yang telah pecah itu,
mendekati bangunan induk padepokan. Meski pun sementara itu,masih
ada para cantrik yang mempergunakan anak panah dan bu sur, berusaha
mengurangi jumlah orang-orang yang datangmeny erang. Mahendra
sendiri masih berada diatas regol padepokan. Dengan busur dan anak
panah yang khusus, Mahendra telah menyerang orang-orang
yang berusaha mendesak para cantrik ke arah bangunan induk.
Set iap kali anak panahnya terlepas dari busurnya, maka seorang
diantara mereka yang menyerang padepokan itu telah jatuh. Tetapi
Mahendra tidak dapat terlalu sering melepaskan anak panahnya. Setiap
kali pertempuran menjadi kacau sehingga Mahendra tidak berani
melepaskan anak panahnya agar tidak ju stru mengenai para cantrik
sendiri. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
terlibat dalam pertempuran pula. Ketika mereka melihat bahwa para
cantrik ternyata telah terdesak, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
pun telah membagi diri. Mereka berusaha untuk membendung arus para
penjahat yang bergerak dari sisi kiri dan sisi kanan, sementara para
cantrik terpilih akan berada di tengah-tengah,membendung arus para
penjahatyangmemasuki regol induk. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
mempunyai perhitungan, jika kekuatan yang seakan-akan meny
erang lambung itu dilumpuhkan,maka pasukan induk para cantrik itu
tidak akan mengalami kesulitan membendung aruspara peny erang.
Sebenarnyalah, kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di sisi
sebelah kiri dan sisi sebelah kanan itu sangat berpengaruh. Dalam
waktu singkat, keduanya telah berhasil mengacaukan pa sukan para
peny erang. Para penjahat yang berhasil dihimpun dan meny
erang padepokan itu memang menjadi heran melihat anak muda yang
memiliki ilmu yang sangat tinggi. Di sisi sebelah kiri Mahisa
Murti telah menimbulkan banyak kesulitan kepada para penjahat.
Jumlah mereka yang lebih banyak dari para cantrik yang
bertahan ternyata tidak mampu menahan desakan para cantrik
yang terasa semakin lama menjadi semakin berat. Mahisa Murti
sendiri telah menghisap beberapa orang lawan ber sama -sama. Bahkan
meski pun lima orang mengepungnya, namun kelima orang itu tidak
berdaya untukmembendung desakan Mahisa Murti. Sementara itu, para
cantrik pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk
mengimbangi serangan orang orang yang telah meny erang dan
memasuki padepokan itu. Ternyata keberhasilan mereka memasuki
halaman padepokan yang disambut dengan sorak yang bagaikan
meruntuhkan langit itu tidak memberikan kemungkinan yang lebih baik.
Pasukan yang ada disay ap kiri itu benar-benar sulit untuk
bergerak maju. Betapa pun orang-orang yang datang menyerbu itu
berusaha, namun mereka telah tertahan oleh senjata para
cantrikyang berputaranmengerikan. Para cantrik yang
merasa jumlahnya lebih sedikit itu, benar-benar telah berusaha
sejauh dapat mereka lakukan untuk mengatasi kekuatan lawan. Mereka
tidak lagi mengekang diri sehingga ujung senjata mereka telah
menyentuh dan mengoy akkan tubuh lawan. Namun bukan berarti bahwa
tidak seorang pun diantara para cantrik yang menjadi korban.
Beberapa orang telah terluka. Dan bahkan ada yang benar -benar
telah gugur dalam pertempuran itu. Disisi sebelah kanan Mahisa Pukat
pun telah menggetarkan jantung orang-orang yang telah meny
erang padepokan itu. Mereka memangmerasa heran, bahwa anakmuda itu
mampu melakukan sesuatu diluar penalaranmereka. Apalagi ketika
seorang cantrik yang dikenal dengan baik oleh Mahisa Pukat telah
terdorong beberapa langkah surut. Mahisa Pukat melihat sendiri,
betapa ujung tombak pendek seorang lawannya terhunjam di dada
cantrik itu. Beberapa langkah lawannya mendorong ujung tombaknya
sehingga tembus sampai ke punggung. Baru kemudian, sambil berteriak
nyaring orang itu telah menghentakkan tombaknya dari dada cantrik
yangmalang itu. Cantrik yang terdorong beberapa langkah surut
itu sama sekali, tidak sempat mengeluh. Karena itu, maka demikian
ujung tombak itu lepa s dari dadanya, maka cantrik itu pun telah
terjatuh di tanah. Agaknya lawannya yang telah membunuh
cantrik itu masih belum puas. Dengan biadab ia telah mengangkat
tombaknya. Cantrik yang telah terbaring di halaman padepokan itu
masih akan dikenainya lagi, sehingga dadanya tentu akan terkoyakkoy
ak. Mahisa Pukat tidak membiarkan ujung tombak itu sekali lagi
menembus dada cantrik yang sudah terbaring diam. Dengan
loncatan panjang, maka ujung pedang Mahisa Pukat telah memukul
tombak pendek itu. Demikian kerasnya sehingga tombak itu telah
terlepas dan terpelanting dari tangannya. MahisaPukat telah
mengayunkan pedangnya. Tetapi ia pun telah menahannya. Lawannya
yang sudah tidak bersenjata itu seakan-akan tidak tahu apa
yang telah terjadi dan yang kemudian akan terjadi dengan dirinya.
Karena itu,maka Mahisa Pukat pun telah berteriak: “Ambil tombakmu.
Lawan aku.” Orang yang kehilangan tombaknya itu merasa heran.
Namun dengan demikian ia merasa berpengharapan lagi. Dengan tangkas
ia telah meloncat untuk mengambil tombaknya. Dengan wajah yang
merah membara ia telah meloncat kembalimendekati anakmuda yang
sangat sombong itu. “Kau akan meny esal, bahwa kau telah membiarkan
aku mengambil tombakku kembali. Dengan demikianmaka kaulah yang akan
terbunuh di peperangan ini,” geram orang itu. Tetapi Mahisa Pukat
sama sekali tidak menjawab. Dengan wajah yang tegang dan
pandangan mata menyala Mahisa Pukat telahmulaimenggerakkan
pedangnya. Lawannya mulai ragu -ragu ketika ia sempat melihat daun
pedang Mahisa Pukat. Daun pedang itu seakan-akan telah bercahaya
kehijau-hijauan. Namun kemudian orang itu pun berteriak untuk
membangkitkan keberaniannya sendiri: “Berlututlah anak yang sombong.
Aku akan menusuk jantungmu lewat tengkukmu.” Mahisa Pukat masih
tidak menjawab. Tetapi ujung pedangnya telah bergetar. Bahkan
beberapa kali mematuk ke arah tubuh orang yang telah membunuh
seorang cantrik di hadapan hidungnya. Beberapa saat kemudian orang
itu telah meloncat sambil menyerang. Tangan kanannya memegang hampir
di pangkal tangkai tombaknya, sedangkan tangan kirimemegang hampir
di tengah-tengah panjang tangkai tombak pendekny a itu. Demikian ia
meloncat, maka ujung tombaknya itu telah terjulur dengan
cepatmengarah ke jantung. Namun Mahisa Pukat telah ber siap
sepenuhnya. Ia tidak berbuat banyak. Dengan tangkasnya ia
memiringkan tubuhnya sambil bergeser selangkah ke
samping.
Jilid 092 TETAPI kemarahannya kepada
orang itu telah benar-benar membakar jantung. Kematian seorang
cantriknya dan keganasan orang itu telahmenentukan nasibnya sendiri.
Demikian ujung tombak itu lewat tanpa meny entuh tubuhnya, maka
Mahisa Pukat pun telah merendahkan dirinya. Ujung pedangnya telah
menggapai lambung orang yang bergeser mengikuti arah ujung
tombaknya. Orang itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa Mahisa Pukat
yang masih muda itu mampu bergerak demikian cepatnya. Karena itu,
maka ia tidak dapat berbuat banyak ketika ujung pedangMahisa
Pukatmeny entuhnya. Orang itu masih berusaha untuk meloncat surut.
Namun Iambungnya telah tergores oleh ujung pedang anakmuda yang
garang itu. Meskipun lukanya tidak terlalu dalam, tetapi goresan
pedang itu telah menguak kulitnya dan darahpun mulaimengalir. Orang
itupun menjadi semakin marah. Dengan garangnya ia memutar tombaknya.
Namun Mahisa Pukat tidak lagi menunggu orang itu meny erang. Dengan
cepat Mahisa Pukat meloncat sambilmengayunkan pedangnya mendatar.
Orang itu bergeser sambil menyilangkan tangkai tombaknya untuk
menangkis serangan anak muda itu. Tetapi Mahisa Pukat pun telah
menggeliat. Pedangnya berputar sekali di atas kepalanya. Dengan
cepat sekali arah pedang itupun berubah. Pedang itu tidak lagi
bergerak dalam ayunan mendatar, tetapi sebuah serangan yang
kuat telah terjulur mematuk kearah dada lawannya. Lawannya memang
tidak sempat berbuat sesuatu. Ujung pedang itu benar-benar telah
menggapai dadanya menghunjam sampai ke jantung. Dalam waktu
yang pendek, setelah ia menikam seorang cantrik dengan ujung
tombaknya, maka ia sendiri telah tertikam oleh ujung pedang.
Tubuhnya jatuh terbanting di tanah tanpa mampu mengeluh lagi.
Sementara itu pertempuranmasih berkobar di mana-mana. Para cantrik
telah bertempur dengan sekuat tenaga serta kemampuan mereka. Senjata
mereka berputaran dan berbenturan dengan serunya. Bunga api
berloncatan di udara menghambur ke segala arah. Matahari memanjat
semakin tinggi, sehingga ketika matahari sampai ke puncak, maka
pertemuran pun menjadi semakin keras. Tangan-tangan yang telah
basah oleh keringat menjadi semakin garangmengayun-ayunkan senjata.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah semakin mendesak
lawan-lawan mereka. Para cantrik yang ada di sisi sebelah kiri dan
di sisi sebelah kanan, semakin lama semakin mapan sehingga
orang-orang yang meny erang padepokan itu justru semakin
terdesakmundur. Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di
sisi sebelah kiri dan sebelah kanan itu tidak mampu sama sekali
membantu kawan-kawannya yang datang dari regol induk padepokan
itu. Bahkan mereka yang semula menggapai regol butulan
untukmembuka dari dalam, justu telah terperangkap dalam pertempuran
di lambung itu. Sementara itu, pa sukanyang berada di
tengah-tengah telah mengalami kesulitan pula untuk bergerak. Para
cantrik terpilih memimpin kawan-kawannya menghadang orang-orang yang
menyerang itu dengan beraninya. Beberapa orang cantrik pilihan
sempatmembuat lawan-lawannya kebingungan. Beberapa orang perampok
dan peny amun yang ditakuti di padang perburuanmereka, tidak terlalu
banyak dapat berbuat menghadapi cantrik-cantrik tertua. Kelebihan
ilmu mereka, masih dapat diimbangi oleh para cantrik itu. Sementara
itu, Mahendra di atas regol padepokan masih sempat bermain-main
dengan busurnya. Ia ternyata telah mengambil tempat yang
dianggapnya paling baik untuk membidik. Setiap kali seorang diantara
mereka yang menyerang padepokan itu telah jatuh oleh anak panah yang
menembus dari punggungnya sampai ke jantung. Ternyata beberapa orang
diantara para perampok dan penyamun itu berpendapat, bahwa Mahendra
dan para cantrik yang berada di panggungan itu harus dihalau turun.
Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka yang merasa
memiliki ilmu melampaui kawan-kawannya telah bergeser dari arena
pertempuran mendekati tangga panggungan di atas regol induk.
Serangan-serangan anak panah dari atas panggungan itu dengan
tangkasnya telah ditangkis. Pedang, golok dan senjatasenjata lainnya
di tangan para perampok itu berputaran melindungi tubuhmereka.
Tetapi satu dari antara orang-orang yang mempergunakan busur itu
ternyata memiliki kemampuan yang luar bia sa. Ju stru orang
yang tertua diantara mereka. Orang yang dimaksud adalah
Mahendra. Anak panah yang meluncur dari busur Mahendra sama
sekali tidak dapat ditangkis. Anak panah itu seakah-akan mampu
menembus putáran senjata lawan betapa pun cepatnya. Bahkan jika
terjadi benturan, maka senjata lawannya seakan-akan telah terpcntal
dan bahkan ada diantara senjata mereka yang justru terjatuh.
Namun, karena jumlah orang-orang itu cukup banyak, maka mereka
sempat berlari lari naik ke atas tangga panggunganmeskipun satu dua
roboh di tanah. Akhirnya Mahendra menyadari, bahwa ia tidak dapat
membunuh semua orang yang memanjat tangga panggungan di atas
regol itu dengan anak panahnya. Mereka akan mendesakmaju danmereka
akan segeramenyerangnya. Di saat -saat terakhir, seorang diantara
orang-orang yang naik keatas tangga itu memang terpelanting
jatuh. Tetapi orang-orang yang ada di belakangnya telah mendesak
maju demikian dekatnya, sehingga senjatanya hampir menggapai tubuh
Mahendra. Mahendra sempat menangkis ujung senjata itu dengan
busurnya. Namun untuk melawan beberapa ujung senjata ia lebih
baikmempergunakan pedangnya. Tetapi Mahendra yang sudah
semakin tua itu tidak sendiri. Ada beberapa orang cantrik yang
meny ertainya. Karena itu, maka Mahendra pun tidak sendiri melawan
orang -orang yang menyerang padepokan itu. Sejenak kemudian, telah
terjadi pertempuran diantara para cantrik yang ada di
panggungan itu bersama dengan Mahendra, melawan beberapa orang
yang berusaha menghentikan serangan-serangan mereka dengan
busur dan anak panah. Beberapa saat lamanya, orang -orang yang
menyerang itu mampu bertahan. Namun ternyata bahwa seorang demi
seorang diantara mereka telah terluka dan bahkan terlempar jatuh.
Mahendra yang tua itu sebagaimana dikatakannya, ia masih
mampumelindungi dirinya sendiri. Dengan demikian, maka orang-orang
yang meny erang Mahendra dan para cantrik di panggungan itupun telah
terdesak turun. Mahendra sendiri dan para cantrik-memang tidak ingin
lebih lama lagi berada di panggungan. Mereka pun telah memburu
orang-orang yang kemudian harus turun dari panggungan itu. Mereka
sadar, jika mereka masih saja menyerang, maka mereka akan habis
sampai orang yang terakhir. Tetapi demikianmereka sampai di halaman,
Mahendra dan para cantrik telah berloncatan pula, sehingga
pertempuran pun telah terjadi lagi dengan sengitnya. Tetapi di
halaman, orang-orang yangmenyerang padepokan itu sempatmendapat
bantuan dari beberapa orang kawannya. Dengan demikian, maka para
peny erang.itu tidak lagi sempat maju. Beberapa orang diantara
mereka mulaimencari jalan untuk mencapai bangunan induk. Mereka
agaknya tidak ingin didahului oleh kawan-kawannya yang lain
yang ternyata berasal dari kelompok yang berbeda. Meskipun mereka
ber sama-sama meny erang padepokan itu dan berusaha
menghancurkannya, namun diantaramereka telah timbul pula semacam
pacuan untuk lebih dahulu menguasai bangunan yang menjadi tempat
peny impanan harta benda milik padepokan itu. Yangmereka duga
menjadi tempat peny impanan itu adalah bangunan induk padepokan itu.
Bangunan yang terbesar dan menghadap langsung ke halaman depan
yang luas serta pintu gerbang indukyang telah berhasil
mereka pecahkan. Namun agaknya tidak terlalu mudah untuk menembus
pertahanan para cantrik. Tetapi orang-orang itu masih juga mempunyai
akal yang licik. Mereka tidak menghiraukan lagi kawan-kawannya
sendiri yang bertempur mempertaruhkan nyawa mereka. Beberapa orang
diantara mereka benar-benar telah menjadi korban. Dengan saling
memberikan isyarat, maka beberapa orang diantara mereka telah
berlari- keluar dari arena. Menyusup diantara orang-orang yang
sedang sibuk bertempur dan dengan melingkari medan yang
garang, mereka berlari-lari menuju ke bangunan induk padepokan itu.
Beberapa orang justru diantara kawan-kawan mereka sendiri
berteriak-teriak mengumpat. Tetapi mereka tidak menghiraukannya,
sementara kawan-kawannya yang lain tidak lagi mampu melepaskan diri
dari tekanan para cantrik yangmenyadari, bahwa beberapa orang telah
berhasil lolos. Tetapi para cantrik itu tidakmengejarmereka.
Seakan-akan orang-orang itu mereka biarkan saja menyerang dan
menguasai bangunan induk padepokan, sementara kawankawan mereka yang
mereka akan kehilangan kesempatan untuk ikutmenguasai harta benda
padepokan itu mengumpatumpat kasar. Beberapa orang yang
bertempur di paling depan sempat melihat dengan jelas,
kawan-kawannya yang ternyata telah berbuat licik. Sementara itu,
orang-orang yang menyerang dari sisi kiri dan kanan pun benar-benar
telah tertahan. Mereka tidak dapat menembus pertahanan para cantrik
dan bahkan merekalahyang telah terdesakmundur. Dalam pada itu,
beberapa orang yang kemudian hampir mencapai pendapa bangunan induk
itu telah terkejut. Dan dalam bangunan itu berloncatan beberapa
orang cantrik untuk meny ongsong mereka. Dari dalam bangunan induk,
mereka telah melihat, beberapa orang berlari-lari langsungmenuju ke
bangunan induk itu sehingga mereka tidak dapat tinggal diam.
Beberapa orang cantrik yang bertugas di bangunan induk sekaligus
merupakan tenaga cadangan itupun telah meny ongsong para penjahat
yang telah dengan licik meninggalkan kawan-kawan mereka. Namun
ternyata bahwa merekapun telah disongsong oleh ujung-ujung senjata.
Dengan demikian, maka mereka tidak akan dapat menghindarkan diri
lagi dari benturan kekerasan. Para cantrik yang berada di
bangunan induk itupun segera menyerang orang-orang yang telah
mendekati bangunan induk. Dengan tenaga yang masih ada segara mereka
berloncatan dengan senjata yang terayun-ay un. Tetapi para cantrik
itu tidak kehilangan kewaspadaan. Tidak semua orang telah turun meny
ongsong orang-orang yang datang menyerang. Tetapi beberapa
orang diantara mereka masih tetap berada di ruang depan bangunan
induk itu. Namun jumlah para cantrik yang turun itu ternyata
sudah cukup untuk menahan gerak maju beberapa orang yang menyelinap
dengan licik untuk menggapai bangunan induk itu. Mahisa Amping yang
juga ada di bangunan induk itu hampir saja berlari keluar ikut meny
ongsong lawan-lawan mereka. Tetapi Mahisa Semu sempat menangkap
tangannya sambil bertanya: “Kau akan kemana?” “Bukankah bangunan
induk ini mendapat serangan?” bertanya Mahisa Amping. “Kau mendengar
pesan yang diberikan kepada cantrikyang diserahi dan
bertanggung jawab atas bangunan induk ini?” Mahisa Semu bertanya
pula. “Ya,” jawab Mahisa Amping. “Apa katanya?” bertanya Mahisa Semu
selanjutnya. “Hanya beberapa orang cantrik yang ditunjuk,” jawab
Mahisa Amping. “Nah, kita tidak ditunjuk oleh pimpinan para cantrik
itu. Karena itu, kita harus tetap disini bersama beberapa orang
cantrik Iainnya yang tidak ditunjuk,” berkata Mahisa Semu.
“Tetapi diluar ada perang. Apakah kita sampai hati untuk duduk
berdiam diri disini?” bertanya anak itu. “Amping,” berkata Mahisa
Semu, “kita harusmembiasakan diri sejak semula untuk patuh kepada
perintah. Oleh kakang Mahisa Murti dan kakang Mahisa Pukat kita
diserahkan kepada pimpinan para cantrik itu disini. Kita harus
patuh. Perintah pimpinan para cantrik itu sama dengan perintah
kakang Mahisa Murti dan kakangMahisa Pukat.” Mahisa Amping
mengangguk-angguk kecil. Tetapi hatinya masih saja tetap bergejolak.
Apalagi ketika ia mendengar teriakan-teriakan yang bagaikan
mengguncang langit. Ra sarasanya ia inginmeloncatmenghambur turun.
Tetapi Mahisa Semu mengamatinya dengan ketat. Sementara itu,
beberapa orang cantrikmasih saja berjaga-jaga di dalam ruangan itu.
“Mereka dapat memasuki ruangan ini lewat banyak jalan,” berkata
Mahisa Semu, “karena itu, maka kita harus berjagajaga disini.”
Mahisa Amping mengangguk-angguk. Ia memang melihat diantara para
cantrik yang masih ada di bangunan induk itu mengawasi butulan pintu
samping. Mereka membiarkan pintu itu sebagian terbuka untuk dapat
melihat langsung, jika ada orang yang mendekati bangunan induk
itu dari belakang. Sementara itu satu dua orang cantrik dari pintu
butulan dibelakang dapur dapat melihat halaman di belakang bangunan
induk itu. Selain mereka yang ada di bangunan induk, maka para
cantrik masih juga ada,meskipun hanya beberapa orang saja, berada di
panggungan yang menghadap ke arah belakang. Namun pengawasan mereka
tidak hanya keluar dinding padepokan, tetapi ada diantara mereka
yang mengamati halaman dan kebun dibagian belakang padepokan
itu. Namun nampaknya orang-orang yang meny erang padepokan itu tidak
mempunyai orang yang cukup untuk memasuki padepokan itu dari empat
arah. Sementara mereka hanya memilih tiga arah itupun jumlah mereka
masih belum menggetarkan Jantung para cantrik meskipun terhitung
jauh lebih banyak dari para cantrikyang ada di padepokan itu. Tetapi
setelah kekuatan mereka berbenturan, orang-orang yang meny erang
padepokan itu benar-benar tidak dapat bergerak maju lebih jauh
lebih. Mereka harus bertempur dengan mengerahkan kekuatan dan
kemampuan mereka di halaman. Yang menyerang dari samping pun telah
tertahan pula. Demikian pula yang menyerang dari arah depan.
Mahendra yang telah berada di halaman telah melibatkan diri
dalam pertempuran pula. Tetapi Mahendra justru berada di belakang
orang-orang yang meny erang padepokan itu, yang gerak majunya
tertahan oleh para cantrik. Ber sama beberapa orang cantrik,
Mahendra telah membuat satu medan pertempuran tersendiri. Meskipun
yang dilakukan oleh Mahendra itu bukan hasil perenungannya setelah
mengamati medan dengan saksama, bahkan seakan-akan hanya sekedar
membuat lawannya sedikit kebingungan, namun akibatnya memang sangat
parah bagi lawannya.Orang-orang yang meny erang padepokan itu
benarbenar menjadi bingung. Seakan-akan mereka telah ditikam dari
depan dan dari belakang. Rasa -rasanya bagaikan dua ujung tombak
telah melekat di dada dan di punggung. Sementara itu pa sukan yang
datang dari sisi kiri.dan kanan masing-masing sudah tidak berday a
sama sekali. Mereka telah mulai terdesak mundur menuju ke pintu
butulan yang telah berhasil mereka buka sehingga pasukan mereka
sempatmasuk dengan cepat dari tiga arah. Tetapi setelah bertempur di
halaman padepokan itu, maka segala sesuatunya seakan-akan telah
berubah. Orang-orang yang datang menyerbu itu ternyata sama
sekali tidak berhasil membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ke
Pakuwon Sangling. Sementara itu, orang -orang yang sangat tamak
itupun tidak berhasil mendapatkan kekayaan padepokan itu, yang
mereka sangka disimpan di bangunan induk, karena tidak seorangpun
diantara para perampok dan penjahat itu yang sempat memasuki
bangunan induk padepokan Bajra Seta itu. Beberapa orang pemimpin
dari kelompok-kelompok perampok, peny amun dan penjahat-penjahat
yang merasa sangat ditakuti orang di tempat-tempat lain,
memangmenjadi sangat marah. Tetapi mereka tidak dapat berbuat
apa-apa. Ternyata bukan hanya di Sangling mereka kehilangan
kesempatan untuk membalas dendam. Tetapi di padepokan yang mereka
anggap terpencil dan lemah itu, mereka tidak mampu melepaskan dendam
mereka. Apalagi membuat Akuwu Sangling menjadi sakit hati karena
kehilangan kedua orang adiknya, sehingga meny esali perbuatannya
atau bahkan menjadi sakit danmeninggal. Namun para pemimpin itu
harus melihat kenyataan. Para cantrik itu ternyata bukan hanya mampu
menggusur sawah dan ladang mereka atau menanami pategalan yang
kering sehingga dapat menghasilkan. Tetapi mereka mampu juga
bermain-main dengan senjata tanpa canggung sama sekali. Yang masih
saja gelisah adalah Mahisa Amping. Meskipun masih kanak-kanak,
tetapi ia merasa telah berlatih dengan sungguh-sungguh di setiap
hari, sehingga ia merasa bahwa ia memiliki kemampuan yang cukup
untuk turun ke medan. Namun Mahisa Semu tetap pada pendiriannya.
Mahisa Amping tidak boleh turun kemedan. Sebenarnyalah, bahwa Mahisa
Ampingmemang tidak perlu turun ke medan. Dalam waktu yang
pendek, orang-orang licik yang ingin meny ergap bangunan induk
padepokan Bajra Seta itu telah terdesak. Tetapi kelicikan mereka
ternyata tidak tanggung -tanggung. Mereka setelah merasa gagal sama
sekali uratuk memasuki bangunan induk padepokan Bajra Seta, maka
sekali lagi. mereka tidak menghiraukan lagi kawan-kawan mereka.
Dengan serta merta, maka beberapa orang yang masih hidup
diantara mereka, serta tidak terluka ditubuhnya, telah meloncat
berlari meninggalkan para cantrik. Tetapi mereka tidak berlari
kembali ke induk pasukannya, tetapi mereka melarikan diri langsung
ke pintu gerbang butulan. Para cantrik memang mengejar mereka.
Tetapi mereka sempat untuk lobos lewat pintu gerbang butulan. Para
cantrik, yang mengejar mereka, harus berpikir ulang untuk mengejar
terus. Orang-orang itu segera meloncat ke pematang sawah, dan
berlarimemencar di ataspematang yang membagi bulakyang luas
itumenjadi kotak-kotak kecil. Dalam pada itu,melihat beberapa orang
kawannya berlarilari, maka jantung mereka pun menjadi berdebaran.
Semula mereka menjadi gelisah, bahwa mereka tidak akan mendapat
bagian jika bangunan induk di padepokan itu berhasil dicapai oleh
beberapa orang diantara mereka. Orang-orang itu tentu akan dengan
cepat merampok harta benda yang ada di bangunan induk itu.
Namun ternyata mereka tidak dapat meny entuh lantai bangunan induk
itu. Beberapa korban jatuh dan orang-orang tamak itupunyang tersisa
telah berlari tunggang-langgang. Untuk beberapa saat pertempuran
masih berlangsung. Namur kemudian ketidak-imbangan pun menjadi
semakin jelas. Para cantrik telah mendesak dengan seluruh kemampuan
yang ada sehingga orang-orang yang datang menyerang itu semakin lama
menjadi semakin menjauhi bangunan-bangunan yang ada di barak itu.
Bangunan-bangunan yang tentu tidak akan tertepas dari
pengawasan para cantrik. “Seandainya kami sempatmendekati tempat
peny impanan harta benda, maka tempat itupun tentu dijaga kuat-kuat,
sehingga kami tidak akan dapat menembusnya,” berkata beberapa orang
yang semula juga berpendapat untuk sampai ke bangunan induk. Tetapi
mereka benar-benar tidak mempunyai kemampuan untukmelakukannya.
Beberapa orang pemimpin kelompok memang telah menyesal bahwa mereka
telah melibatkan diri ke dalam pa sukan itu, sehingga dengan
demikian mereka telah banyak sekali kehilangan. Kehilangan waktu,
kehilangan harga diri dan kehilangan kepercayaan kepada diri
sendiri. Tetapi hal itu sudah terlanjur terjadi. Mereka tidak akan
dapat mengulang lagi. Yang harusmereka pikirkan, apa yang
harusmereka lakukan dalam keadaan terjepit itu. Beberapa orang
yang telah melarikan diri itu agaknya dapat menjadi pancingan
sikap kawan-kawannya. Karena itu ketika orang-orang yangmenyerang
padepokan itu benar-benar telah kehilangan kesempatan,maka beberapa
orang pemimpin telah memilih kesempatan sebagaimana telah dilakukan
oleh beberapa orang diantara mereka. Dengan demikian, maka beberapa
orang telah berlari-lari menuju ke regol. Ya regol samping bahkan
kemudian regol induk, tentu menjadi berjejal kembali. Mereka bukan
orangorang yangmeny erang padepokan itu dan berusaha memecah
pintu.Namun mereka tidak berhasil melakukannya. Para cantrik tidak
membiarkan orang-orang itu lari begitu sa ja. Karena itu, maka
beberapa orang diantara mereka telah meninggalkan pertempuran dan
berlari-lari menuju ke pintu gerbang untuk mencegah para perampok
itu begitu saja meninggalkan padepokan. Tetapi ternyata bahwa tidak
mudah untukmencegah u saha untuk melarikan diri, sebagaimana tidak
mudah bagi para perampok untukmeninggalkan halaman. Tetapi karena
para perampok itu tidak mendengarkan peringatan dari para cantrik,
maka para cantrik yang tidak dapat mencegah para penjahat itu
melarikan diri, telah berlari-lari ke panggungan. “Jangan lari,”
teriak para cantrik sambil mengacukan busur dan anak panah. Tetapi
orang-orang yang melarikan diri itu tidak mempedulikan lagi.
Dalam kebimbangan dan tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan
maka para cantrik yang berada di atas panggungan itupun telah
menyerang lagi lawan-lawan mereka dari atas panggungan. Arus para
penjahat yang melarikan diri itu memang sulit untuk dibendung.
Satu dua orang diantara mereka telah jatuh dengan luka di punggung.
Namun anak panahyang menancap di punggung itu akan dapat menembus
sampai ke jantung pula. Demikianlah,maka akhirnya pertempuran itupun
mereda. Beberapa orang penjahat telah tertangkap hidup-hidup.
Sementara yang lain telah terbunuh di peperangan atau terluka parah
sehingga tidak mempunyai kesempatan lagi untukmelarikan diri. Para
cantrik memang tidak mengejar lawan-lawan mereka yangmelarikan diri
tercerai-cerai. Meskipun ada usaha untuk menangkapmereka
sebanyak-banyaknya, namun sudah tentu dalam keterbatasannya.
Demikianlah, maka para cantrik itu justru menjadi sibuk untuk
mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terbunuh dan yang terluka.
Ternyata jumlah korban diantara para cantik terasa cukup banyak
pula. Bahkan juga anak-anakmuda yang dikirim oleh padukuhan
masing-masing untuk menambah ilmu di padepokan itu tanpa menyatakan
menjadi cantrik. Namun kedudukanmerasa tidak berbeda dari para
cantrik. Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di
bangunan induk pula. Dengan tegas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah menjatuhkan perintah-perintah untuk mengumpulkan kawan-kawan
mereka, terutama yang terluka di pendapa bangunan induk. Sementara
itu, orang-orang yang telah menyerbu padepokan itu yang
terluka dikumpulkan di serambi gandok sebelah kiri. Untukmempercepat
pekerjaan itu,maka orang -orang yang menyerah dan tertangkap
telah dipekerjakan pula di bawah pengawasanyang ketat. “Kami
terpaksa mengikat kaki-kaki kalian,” berkata para cantrik yang
mengikat kaki para tawanan dengan tambangtambang sabut kalapa.
Meskipun ikatan itu tidak terlalu pendek, namun dengan demikian,
mereka tidak leluasa lagi bergerak dan berlari. Bahkan para cantrik
pun telahmempekerjakanmereka pula untukmembawa dan mengubur
kawan-kawan mereka sendiri. Beriringan tubuh-tubuh yang telah
membeku itu dibawa ke sebuah kuburan agak jauh dari padepokan.
Kuburan yang berada di lereng bukit kecil dan terpisah. Para cantrik
yang memiliki pengetahuan pengobatan pun telah sibuk pula
mengobati kawan-kawan mereka yang terluka. Juga mengobati
lawan-lawan mereka yang terluka. Namun Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatmasih belum tahu, apa yang akan dilakukan oleh padepokan itu
terhadap para tawanan. Apakah mereka akan tetap ditawan, dihukum
berat atau dilepaskan saja dengan sebelumnya diberikan
pengarahanyangmapan kepada mereka. Ketika hal itu mereka tanyakan
kepada Mahendra, maka Mahendrapun berkata: “Kita pikirkan nanti.
Beberapa saat yang lalu ketika terjadi per selisihan antara
padepokan, maka aku tidak berbuat banyak ketika merekamelarikan
diri. Tetapi karena kali ini yang menyerang adalah orang-orang
yang menilik ujudnya, adalah orang-orang yang kasar, bahkan
satu dua diantara mereka telah memberikan pengakuan bahwa mereka
adalah perampok-perampok, perlu ada pertimbangan lain. Jika mereka
dibiarkan saja, apakah itu bukan berarti bahwa mereka mendapat
kesempatan lagi untuk melakukan kejahatan bahkan membalas dendam
kepada orang-orang yang tidak bersalah sama sekali?” “Bagaimana jika
kita memberikan laporan kepada Akuwu Sangling. Menurut pendapatku,
sesuai dengan yang mereka katakan saatmereka mulaimenyerang,maka apa
yang mereka lakukan itu ada hubungannya dengan dendam mereka kepada
kakang Mahisa Bungalan,” berkata Mahisa Murti. “Ya,” sahut Mahisa
Pukat, “kita tidak perlu membawa mereka ke Sangling. Kita dapat
mengirimkan utusan ke Sangling dan mengatakan apa yang sesungguhnya
terjadi disini.” Mahendra mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah. Aku
sependapat. Kita dapat mengirimkan empat cantrik berkuda untuk pergi
ke Sangling besok pagi.” Tetapi ampat orang cantrik itu tidak akan
berangkat pada hari itu. Langit sudah mulai menjadi suram karena
matahari sudah bertengger di punggung bukit. Sesaat lagi, maka senja
pun akan segera turun. Para cantrik dari padepokan Bajra Seta itu
telah menyelesaikan tugasmereka dengan menyelenggarakan tubuh
saudara- saudara mereka, demikian pula mayat orang-orang yang meny
erbu padepokan itu pun telah selesai dikuburkan. Namun masih juga
ada satu dua orang yang terluka berat, akhirnya tidak rrimpu untuk
bertahan hidup. Malam itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
menunjuk empat orang cantrik yang akan pergi berkuda menghadap Akuwu
Sangling. Cantrik itu akan memberikan laporan tentang apa yang telah
terjadi di padepokan Bajra Seta. Mungkin Akuwu Sang-ling akan dapat
memberitahukan, apa yang pernah terjadi di Sangling. “Satu dua orang
memberikan pengakuan, bahwa yang terjadi di padepokan Bajra
Seta adalah dendam yang tidak dapat mereka salurkan atas
Pakuwon Sangling. Karena itu, mereka ingin menangkap dan membunuh
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, kemudian membuangmayatmereka di
daerah Sangling. Dengan demikian, Akuwu Sangling akan terkejut. dan
hatinya menjadi sangat pedih. Sementara para penjahat itu akan
memberitahukan, bahwa yang membunuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
adalah beberapa kelompok penjahat yang pernah dihancurkan oleh
prajurit Pakuwon Sangling atas perintah Sang Akuwu,” berkata
Mahendra kepada keempat orang utusan itu. “Tetapimereka telah
gagal.” Keempat orang yang akan pergi ke Sangling itu mengangguk.
Mereka mengerti apa yang harus mereka katakan selengkapnya.
Cantrik itu harusmenyampaikan kabar keselamatan kepada Akuwu
Sangling, kemudian mohon pertimbangan apa yang sebaiknya dilakukan.
Malam itu, keempat orang itupun telah menyiapkan segalagalanya.
Merekapun telah memerlukan beristirahat sepenuhnya, agar di keesokan
harinya mereka dapat berangkat sebelum fajar. Sementara itu, para
tawanan pun telah ditempatkan di satu tempat yang mudah untuk
diawasi. Pintu-pintu cukup kuat untuk menahan mereka. Dinding, atap
dan segala sisi padepokan itu diawasi dengan saksama. Meskipun
tawanan itu tidak banyak, namun cukup untuk disadap keterangannya
tentang niat mereka meny erang padepokan serta hubungan mereka
dengan Pakuwon Sangling yangmasih harusdicari kebenarannya. Mahendra
memang berharap Mahisa Bungalan akan ber sedia datang. Tetapi ia
tidak berpesan akan hal itu kepada para cantrik. Terserah kepada
Mahisa Bungalan sendiri, karena Mahendra juga menyadari, betapa
sibuknya Akuwu Sangling dengan tugas-tugasnya. Pagi-pagi benar,
keempat cantrik yang mendapat perintah untuk pergi ke Sangling
itupun telah bersiap. Mahendramasih berpesan sekali lagi, apa
yang harus mereka katakan kepada Akuwu Sangling. Menjelang
matahari terbit, maka keempat orang itupun telah meluncur di atas
punggung kuda mereka menuju ke Sangling. Satu perjalanan yang cukup
panjang. Sementara itu, di hari itu, masih juga ada seorang cantrik
yang tidak dapat bertahan lagi. Namun cantrik itu masih sempat
memberikan beberapa pesan yang dimintanya disampaikan kepada
keluarganya. “Kematianku tidak perlu ditangisi,” berkata cantrik
itu, “aku telah berbuat sebaik-baiknya bagi padepokan ini. Aku
punmereka bahwa hidupku telah berarti.” Mahisa Murti dan Marisa
Pukat hanya dapatmenundukkan kepalanya. Cantrik itu masih sangat
muda. Tetapi ia harus meninggalkan semuanya yang dika sihinya.
Namun ia merasa cukup bahagia karena ia menganggap bahwa hidupnya
telah berarti. Kematiannya bukannya kematian yang sia-sia. Ia telah
mengorbankan nyawanya untuk sesuatu yang dijunjungnya di atas
dasar key akinannya. Dalam pada itu, padepokan Bajra Seta memang
benarbenar berduka cita atas gugurnya beberapa orang cantrik.
Sementara yang lain masih juga berbaring karena lukalukanya. Di hari
berikutnya, maka padepokan Bajra Seta telah berbenah diri. Pintu
-pintu yang rusak telah diperbaiki, terutama pintu gerbang induk.
Para cantrik telah bekerja keras untukmembuat pintu danmemasangnya
sekaligus. Sementara itu, Maliisa Amping setiap kali telah
menyatakan kekecewaannya bahwa tidak mengalami pertempuran.
Sebenarnya anak itu telah merasa bersiap untuk turun ke medan.
Tetapi Mahisa Semu selalu mencegahnya. “Kakangmu Mahisa Semu benar,”
berkata Mahisa Murti, “kau masih terlalu kecil. Kau tahu, bahwa
diantara para cantrik yang benar-benar terbunuh. Kau tidak
dapat menganggap pertempuran seperti itu sebagi satu latihan.
Pertempuran itu adalah pertempuran yang keras, ganas dan kasar. Jika
kau kelak menjadi lebih besar, maka kau akan dapat mulai mengenal
pertempuran yang sebenarnya. Itupun sedikit demi sedikit.” “Tetapi
bukankah aku sudah selalu berlatih?,” bertanya Mahisa Amping.
“Betapapun banyaknya kau menghirup ilmu, tetapi tenaga da sarmumasih
belum mendukung. Juga wadagmu.” Mahisa Amping termangu-mangu
sejenak. Namun iapun menyadari, bahwa ia masih terlalu kecil. Mahisa
Amping ia sempat memperbandingkan tubuhnya dengan tubuh orangorang
yang berdiri di sekitarnya. Ia masih jauh lebih pendek.
Tangannya jauh lebih kecil. Jari-jarinya pun masih terlalu pendek.
Sementara itu, karena tenaga dasarnya masih terlalu lemah, betapa
pun ia mampu membangunkan tenaga cadangan di dalam dirinya, tetapi
batas kemampuan tenaga da sarnya masih belum dapat memberikan tenaga
yang besar yang akan dapat dipergunakan untuk turun benar-benar ke
dalam pertempuranyang sengit. Sebenarnyalah, karena para
penjahat yang meny erbu ke padepokan itu bukan orang-orang
yang berilmu sangat tinggi, agaknya Mahisa Amping akan mampu
melindungi dirinya sendiri jika ia terjun ke medan. Tetapi
bagaimanapun juga, kemungkinan buruk itu akan lebih banyak dapat
terjadi atas dirinya. Karena itu, maka rasa-rasanya Mahisa Amping
itu tidak sabar lagi untukmenjadi besar. Seandainya mungkin,maka ia
ingin mempercepat pertumbuhan wadagnya, sehingga ia akan segeramampu
ikut serta berbuat sesuatu bagi padepokan itu. Tetapi tidak
seorangpun yang mampu mempercepat pertumbuhan dirinya
secarawadag. Namun dalam pada itu, perist iwa itu telah mendor ong
Mahisa Amping untuk lebih giat berlatih, agar pada suatu saat ia
tidak mengecewakan orang-orang yang telah membantu mengembangkan
ilmunya. Dalam pada itu, maka padepokan Bajra Seta itupun telah
menjadi tenang kembali. Gejolak yang pernah terjadi, lambat
laun bagaikan hilang dihembus angin. Orang-orang tua dari para
cantrik yang terpaksa menjadi korban telah datang dengan hati
yang pedih. Namun mereka sadari, bahwa maut itu akan datang
menjemput anaknya di manapun anaknya itu berada. Demikian pula orang
tua anak-anak muda yang ikut meningkatkan ilmu mereka di berbagai
bidang dari padukuhan di sekitarnya yang kehilangan anak-anak
mereka. Semuanya yang harus terjadimemang harus terjadi.
Latihan-latihan pun telah dimulai kembali. Sementara sawah dan kebun
serta pategalan tetap mendapat perhatian sepenuhnya. Para cantrik
dan anak-anak muda dari padukuhan di sebelah meny ebelah itu mulai
bekerja keras untukmeningkatkan kesejahteraan hidup seisi padepokan
itu. Di sudut belakang padepokan itu, tiga tungku perapian pande
besipun telahmenyala kembali. Namun dalam pada itu, seisi padepokan
itu telah menunggu utusanyang mereka kirimkan ke Sangling. Mereka
ingin mendengar tanggapan dari Mahisa Bungalan tentang orang-orang
yang telah mereka tangkap danmereka simpan di padepokan itu. Namun
baru pada hari kelima, sebuah iring-iringan berpacu mendekati
padepokan Bajra Seta. Ternyata bahwa laporan itu telah menarik
perhatian Mahisa Bungalan sebagai Akuwu di Sangling. Tetapi ia masih
harus meny erahkan pimpinan Pakuwonnya kepada beberapa orang
kepercayaannya. Baru kemudian Akuwu Sangling itu dapat meninggalkan
istananya. Kedatangan Akuwu Sangling, di padepokan Bajra Seta dengan
sekelompok pengawal itu telah disambut dengan gembira oleh Mahendra,
kedua adiknya dan bahkan para cantrik. Ada diantara para cantrik
yang pernah mengenai Mahisa Bungalan, tetapi ada pula para cantrik
yang belum pernahmelihatnya sama sekali. Sejenak kemudian,
maka Akuwu Sangling itupun telah diterima oleh para pemimpin
padepokan itu di pendapa bangunan induk. Yang pertama-tama
ditanyakan oleh Akuwu Sangling adalah pengembaraan Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat. “Jadi kalian belum lama kembali ke padepokan ini?”
bertanya Mahisa Bungalan. “Ya kakang,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat hampir berbareng. “Jadi kalian biarkan ayah kita bekerja keras
untuk memimpin padepokan ini, dan bahkan harus mempertahankan
padepokan ini dari serangan-serangan yang menaruh dengki?,” bertanya
Mahisa Bungalan pula. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab.
Tetapi kepala mereka tertunduk dalam-dalam. Namun, dari para cantrik
yang datang ke Sangling Mahisa Bungalan pun telah mendengar
pula, bahwa kedua anakmuda itu ilmunya menjadi semakin tinggi.
Mereka datang bersama dengan tiga orang yang semula tidak dikenal
sama sekali. Seorang diantaranya adalah kanak-kanak. Tetapi ternyata
Mahisa Bungalan tidak bertanya lebih lanjut tentang perjalanan kedua
adiknya. Yang ditanyakan kemudian adalah keterangan yang lebih jelas
tentang orangorang yang telah menyerang padepokan itu dan
telah menyebut-ny ebut namanya pula. Mahendralah yang
memberikan keterangan tentang mereka. Namun kemudian katanya:
“Nanti, sebaiknya kau dapat berbicara dengan mereka yang
tertangkap. Sebagian darimereka terluka parah.” Mahisa Bungalan
mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah ay ah. Aku tidak tergesa-gesa.
Aku mempunyai waktu yang cukup. Tetapi aku akan mempergunakannya
sepekan saja disini. Rasa -rasanya sudah terlalu lama bagiku.”
Mahendra menyadari, bahwa Mahisa Bungalan dapat saja mengatur berapa
hari ia akan pergi. Tetapi Mahendra pun mengerti, bahwa tanggung
jawabnya sebagai Akuwu lah yang mendorongnya cepat kembali. Karena
itu,maka katanya: “Jika yang sepekan itu sudah kau anggap
cukup,maka terserah sajalah kepadamu.” Sebagaimana dikatakannya
kepada ay ah dan saudarasaudaranya maka Mahisa Bungalan telah
menyiapkan rencana yang disusunnya sesuai dengan rencananya untuk
tinggal di padepokan itu sepekan saja, karena yang sepekan itu
rasarasanyamemang sudah terlalu lama. Dalam rencananya yang
sepekan, Mahisa Bungalan memang ingin mempergunakan sedikit waktunya
untuk melihat tingkat kemampuan kedua adiknya. Tetapi dihari-hari
pertama, Mahisa Bungalan telah sibuk dengan orang-oranyang
tertawan. Mahisa Bungalan berbicara denganmereka berganti-ganti.
Seorang demi seorang. Sekali-kali suaranya lembut kebapaan. Namun
kesempatan lain Mahisa Bungalan telahmembentak dan mengancam. Tetapi
pada hariyang ketiga, semuanya sudah jelas. Mahisa Bungalan
telah mampu mengingat kembali apa yang telah terjadi sehingga
orang-orang itu berusaha untuk melepaskan dendamnya atasperguruan
Bajra Seta itu. “Mereka adalah orang-orang yang terusir dari
Sangling,” berkata Mahisa Bungalan, “mereka masih beruntung, bahwa
lehernya tidak dipenggal disini. Mereka di Sangling telah membuat
banyak keresahan. Bahkan mereka benar-benar telah melakukan
pembunuhan. Sementara itu, jika berhasil, merekapun akan membunuh
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat disini. Untunglah bahwa hal itu tidak
terjadi sehingga rencana mereka untuk membuat aku menjadi sakit hati
telah gagal. Bahkan kalian yang disini berhasil menangkap
meskipun hanya, beberapa orang. Diantara mereka adalah orang-orang
yang terluka.” “Mereka adalah perampok-perampok yang tidak memiliki
bekal yang cukup untuk pekerjaan mereka,” jawab Mahisa Murti. “ Itu
adalah mereka yang nampak. Mereka yang telah datang ke
padepokan ini. Tetapi aku y akin bahwa di atas mereka ada
orang-orang yang memang berilmu tinggi. Merekalah yang tentu
mengendalikan orang-orang yang datang menyerbu itu dengan maksud
yang kurang kami ketahui, selain balas dendam.”
“Berhati-hatilah untuk seterusnya,” berkata Mahisa Bungalan.
“Apalagi nampaknya mereka tidak terdiri dari orang-orang yang lemah
hati. Mereka tentu akan mengadukan keadaan yang mereka alami
disini kepada orang yang sangat berpengaruh atas mereka. Apalagi
yang datang bukan hanya dari satu kelompok, tetapi beberapa
kelompok. Jika ada diantara mereka yang berguru kepada orang-orang
berilmu tinggi, maka mereka tentu akan berusaha memancing agar
guru-guru mereka mau melibatkan diri kedalam perselisihan ini.”
“Tetapi apakah mereka sangat berbahaya ?” bertanya Mahisa Murti.
“Mereka tentu lebih berbahaya dari orang-orang ini,” jawab Mahisa
Bungalan. Namun katanya kemudian: “Tetapi peristiwa ini juga
memperingatkan aku untuk meningkatkan kesiagaan. Jika mereka
benar-benar menjadi gila, maka mungkin mereka akan langsungmeny
erang Sangling. Setidaktidaknya mereka akan dapatmembuat kekacauan
di Sangling. Kekalahan mereka di padepokan ini, tentu menumbuh
dendam dan kebencian kepada kita semuanya. Bagi orangorang
yang utuh kesadarannya tentu akan melihat apa yang telah
terjadi atas diri mereka dan kawan-kawan mereka. Tetapi bagi orang
yang tidak berkesempatan menilai dirinya sendiri, tentu akan
berpikiran lain. Mereka tentu hanya dibayangi oleh dendam dan
kebencian semata-mata, sehingga dengan demikian maka langkah-langkah
yang mereka ambil pun sama buramnya dengan jiwamereka sendiri.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka pun memang
sudah berpikir, orang-orang yang mereka kalahkan itu mempunyai dua
pilihan. Jera atau bahkan malahan semakin mendendam sehingga
mendorong mereka mengambil langkah-langkah baru yang tentu
akan menjadi lebih keras dan barangkali lebih kasar dari yang
pernahmereka lakukan. Namun baik Mahisa Bungalan, maupun adiknya
berkesimpulan bahwa mereka harusmenjadi semakin berhatihati dan
mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi.
Sementara itu, selagi Mahisa Bungalan masih ada waktu, maka ber
sama-sama dengan ay ahnya, mereka ingin melihat perkembangan ilmu
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “ Ilmu kami?” Mahisa
Murtimemangmerasa heran. Mereka merasa dirinya seperti kanak-kanak
yang sedang berusaha untuk menyadap ilmu sebagaimana dilakukan
oleh Mahisa Amping, sehingga kakaknya ingin melihat tingkat
kemampuan ilmunya itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukatyang
telah sanggup mendirikan satu perguruan yang diberinya nama Bajra
Seta itu tidak dapat mengelak ketika kakaknya mempersilahkan mereka
untuk pergi ke sanggar. Dengan kelengkapan yang dimilikinya,maka
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah mempersiapkan diri
sebaikbaiknya. Keduanya telah membawa sepasang pedang. Yang satu ada
pada Mahisa Murti sedang yang lain ada pada Mahisa Pukat.
Mahisa Bungalan terkejut, melihat sepa sang pedang itu. Selama ini
ia berada di padepokan itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak
pernah membawanya keluar dari bilik mereka, apalagi dengan sengaja
menunjukkan kepada Mahisa Bungalan. “Dari mana kau dapatkan senjata
kalian itu?” bertanya Mahisa Bungalan. Dengan singkat Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat menceriterakan asal-usul pedang itu. Juga beberapa
kali mereka harus bertempur mempertahankannya. Beberapa orang
yang berilmu telah menginginkan sepasang pedang yang disebut
oleh pembuatnya sebagai sepa sang keris itu. “Apakah aku boleh
melihat daun pedangmu?” bertanya Mahisa Bungalan. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat sama sekali tidak berkeberatan. Keduanya telah mencabut
senjata mereka dari sarungnya. “Luar biasa,” desis Mahisa Bungalan,
“sepasang senjata itu memang luar bia sa. Tentu banyak orang
yang telah menginginkannya. Syukurlah jika kalian berdua
sempat mempertahankannya.” “Beberapa kali kami mengalami kesulitan.
Tetapi Yang Maha Agung ternyata masih melindungi kami berdua,” desis
Mahisa Murti. Mahisa Bungalanmengangguk-angguk kecil. Katanya: “Jika
demikian, aku telah dapat menduga tingkat kemampuan kalian. Rasa
-rasanya aku tidak perlu melihatnya lagi, karena yang dapat kau
tunjukkan di dalam sanggar tentu hanya sebagian kecil dari kemampuan
kalian.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak.
Namun Mahisa Bungalan ternyata masih bertanya kepada ayahnya:
“Tetapimungkin ayah berpendirian lain?” Mahendra menggeleng.
Katanya: “Tidak. Aku juga sudah yakin akan tingkat kemampuannya. Ia
telah ditempa oleh pengembaraannya yang panjang. Selain
beberapa orang sempat mendapat pertolongannya, karena kedua adikmu
itu telah menjalani laku Tapa Ngrame, maka pengalaman yang dipetikny
a cukup berharga bagi bekal hidupnya kemudian.” Ternyata bahwa
Mahisa Bungalan telah membatalkan keinginannya untuk melihat
kemampuan kedua adiknya didalam sanggar. Kedua pusaka yang
mampu dipertahankannya itu telahmemberikan gambaran kepadanya, bahwa
kedua adiknya memang telah mencapai satu tataran ilmu yang
tinggi. Keduanya memang pantas untukmemimpin sebuah padepokan
sekaligus sebuah perguruanyang diberinya nama Bajra Seta.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Bungalan masih merasa cemas jika pada
suatu saat ayahnya menjadi semakin tua dan tidak mampu lagi membantu
kedua adiknya memimpin padepokanyang telah mereka dirikan itu.
Selama itu, ayahnya masih dapat berbuat banyak bagi kepentingan
padepokan dan perguruan Bajra Seta. Namun ayahnya tentu tidak akan
dapat seterusnya membayangi kepemimpinan kedua adiknya, sehingga
kedua adiknya itu pada suatu saat harus dapat berdiri sendiri tanpa
ayahnya. Namun ternyata bahwa kedua adiknya telah memiliki kemampuan
dan ilmu yang cukup tinggi, sehingga ia tidak lagi perlu merasa
cemas akan masa depan padepokan itu. Sebenarnyalah sebuah Perguruan
dengan padepokan bagi Mahisa Bungalan bukanlah barang mainan. Kedua
adiknya harus bertanggung jawab atas padepokan yang telah
didirikannya. Apalagi Mahisa Bungalan melihat, bahwa di padepokan
itu terdapat cantrikyang cukup banyak. Juga anakanak muda yang
tidak dengan sepenuhnya menjadi penghuni padepokan itu. Mereka
semata-mata berniat untukmenyadap berbagai macam ilmu yang akan
dapat mereka pergunakan untuk membuat padukuhan mereka masing-masing
menjadi lebih baik. Hari itu Mahisa Bungalan sempat beristirahat
sepenuhnya. Yang dilakukannya sekedar melihat Mahisa Amping dan
Mahisa Semu berlatih dibawah bimbingan Mahendra sendiri. Ternyata
Mahisa Bungalan menjadi kagum melihat anak itu menguasai unsur-unsur
gerak yang sudah menjadi semakin rumit. Bahkan tenaga anak itu
sudah jauh lebih besar dari tenaga anak-anak sebayanya. Bahkan
Mahisa Amping telah dapat melakukan tata gerak yang sulit dimengerti
dibandingkan dengan tingkat umurnya. Dengan berbisik Mahisa Bungalan
telah bertanya kepada ay ahnya: “Apakah ayah sudah menilik akibat
dari latihanlatihanyang terlalu berat itu?” “Aku selalu
mengikuti perkembangan pribadiny a, tubuh dan peredaran darahnya.
Aku juga selalu menilik bagian dalam tubuhnya yang masih kecil itu.
Tetapi menurut penilaianku, tidak ada akibat yang buruk
yang terjadi atas anak itu selama ia mengikuti latihan-latihan
yang berat. Demikian pula Mahisa Semu. Keduanya akan disiapkan
menjadi orang-orang yang memiliki kelebihan di padepokan ini
beberapa tahun lagi, sehingga padepokan ini tidak sekedar tergantung
kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” jawab Mahendra. Mahisa
Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi apa yang dikatakan oleh
ayahnya itu tentu juga berlaku bagi Pakuwon Sangling. Ia harus dapat
membentuk kekuatan yang dipersiapkan bagimasa depan Pakuwonnya.
Tetapi bagi Mahisa Bungalan, masa depan Sangling akan berada di
tangan keturunannya. Sekali ia berhasil memasuki satu mata rantai
yang pernah terputus, maka ia akan menjadi ujung dari
serangkaianmata rantai bagimasamendatang. “Aku harusmempersiapkan
keturunanku untuk menerima warisan, bukan saja kedudukan, tetapi
juga tanggung jawab. Keseimbangan antara hak dan kewajibannya,”
berkata Mahisa Bungalan di dalamhatinya. Sementara itu, Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat memang belum dapat berbicara tentang keturunan
karena mereka masih belum beristeri. Tiba -tiba saja Mahisa Bungalan
ingin berbicara dengan ay ahnya tentang hari depan kedua adiknya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada suatu saat tentu akan
melangsungkan pernikahannya. Tetapi Mahisa Bungalan masih menunda
pertanyaannya. Ia masih melihat bagaimana Mahisa Amping berlatih.
Ketika anak itu sampai pada puncak kemampuannya, maka Mahisa
Bungalan benar-benar menjadi heran. Anak itu mampu menunjukkan dasar
ilmu yang kokoh dari ilmu yang dikembangkan oleh perguruan Bajra
Seta. “Aku mengenal sebagian dari unsur gerak dari ilmu yang
mendasari ilmu anak itu. Tetapi da sar-da sar ilmu itu Sudah
berkembang dan nampak beberapa unsur yang sama sekali baru dan
asing bagiku,” berkata Mahisa Bungalan kepada ay ahnya. “Kedua
adikmu telah menyusun satu rangkaian ilmu dari yang paling da sar,
sampai pada tataran pertama yang memberikan warna tersendiri. Tetapi
seperti kau katakan, kau tentu mengenal beberapa unsur gerak
daripadanya, karena ilmu itu memang bersumber utama dari ilmu yang
dikuasai oleh kedua adikmu saat ia mulai belajar olah kanuragan,”
jawab ay ahnya. “Tetapi apakah dengan demikian kemampuan susunan
gerak dasar yang baru itu sudah cukup teruji?” bertanya Mahisa
Bungalan pula. “Sudah,” jawab Mahendra, “dalam pengembaraan, kedua
adikmu sempat mengenyam satu susunan ilmu sebagaimana kau lihat pada
anak itu. Memang segala sesuatunya masih dalam tingkat mula. Tetapi
kedua adikmu dan aku telah mengadakan beberapa penilikan khusus.
llmu itu sesuai bagi anak itu. Bahkan bagi dua orang yang datang
bersama kedua adikmu itu. Di padepokan ini, segala sesuatunya baru
sempat dipelajari di sanggar dengan memperhatikan segala macam
akibatnya.” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya: “Syukurlah
bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sekedar melakukan sesuatu
yang menurut pikirannya baru tanpamenilai pikiran barunya
itu.” “Akulah yang lebih banyak menangani anak itu,” berkata
Mahendra, “tetapi menurut pendapatku, apa yang dipelajari anak
itu tidak akan menimbulkan akibat buruk atasnya. Anak itu bukan
sekedar hadir disini sebagai bahan percobaan. Tetapi apa yang
baru itu benar-benar sudah diperhitungkan.” Mahisa Bungalan
mengangguk-angguk. Namun dari kemampuan anak itu terbersit satu
yang cerah bagi susunan ilmu perguruan Bajra Seta itu. Dalam
pada itu, Mahisa Semu juga mampu menunjukkan kelebihannya. Dengan
landasan ilmu yang disadapny a dari Mahendra, Mahisa Murti dan
Mahisa Pukatyang seakan-akan sedang menyusun satu pola susunan
dan tataran ilmu bagi perguruan Bajra Seta. “Aku mengucapkan selamat
ayah,” berkata Akuwu Sangling. Mahendra tersenyum. Katanya: “Jika
kelak terbukti, bahwa kedua anak itu benar-benar memiliki kemampuan
lebih dari yang lain dengan landasan ilmu perguruan Bajra Seta, maka
kau dapatmemanfaatkannya bagi Pakuwon Sangling.” “Ya ayah,” jawab
Mahisa Bungalan, seorang yang memiliki sumber ilmu bukan saja dari
Mahendra, tetapi juga dari Mahisa Agni bahkan sampai ke inti ilmu
Gundala Sasra. Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun kemudian
percaya, bahwa hari-hari yang semakin buram bagi Mahendra yang
tua itu, tidak akan berpengaruh atas perguruan Bajra Seta. Kedua
adiknya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, benarbenar telah memiliki
bekal yang cukup untuk berdiri sendiri. Apalagi di hari-hari
tuanya, Mahendra masih sempat bersamasama dengan kedua adiknya itu
menyusun satu pola bagi bagi perguruanyang didirikan. “Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat tidak sekedar menuruti kemauannya saja dengan
mendirikan perguruan ini,” berkata Mahisa Bungalan di hatinya, “ia
benar-benar telah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga perguruan
ini benar-benar dapat disebut sebagai satu perguruan.” Pada hari
berikutnya, maka Mahisa Bungalan telah menentukan untuk membawa
beberapa orang tawanan terpenting diantara orang-orang yang
mendendamnya itu. Yang lain, Mahisa Bungalan menganjurkan agar
dilepaskan sa ja meskipun dengan ancaman-ancaman yang keras
jika mereka masih juga melakukan lagi kejahatan, meskipun
kemungkinan untuk itu tipis sekali. “Tetapi orang-orang yang
berbahaya diantara mereka akan aku bawa ke Sangling. Terpaksa dengan
tangan terikat. Aku tidak mau kehilangan mereka di perjalanan karena
dengan demikian akibatnya akan menjadi buruk sekali.” Ketika segala
sesuatunya telah disiapkan, maka Mahisa Bungalan pun telah siap pula
untukmeninggalkan padepokan itu. Esok pagi-pagi sebelummatahari
terbit, ia akan berangkat ber sama para pengawalnya kembali ke
Sangling sambil membawa beberapa orang perampokyang tertawan.
Malam ini, Mahisa Bungalan masih berkesempatan untuk
berbincang-bincang dengan ayah dan adik-adiknya. Tetapi sebelum
malam larut, Mahendra telah berkata: “Beristirahatlah. Besok kau
akanmenempuh perjalanan.” Mahisa Bungalan memang memasuki bilikny a
dan berbaring di pembaringan. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
justrumelangkahmengelilingi padepokannya. Di depan bilikWantilan,
Mahisa Semu dan Mahisa Amping, keduanya berhenti dan perlahan-lahan
mengetuk pintu bilik itu. Ternyata yang ada di dalam bilik itu masih
belum tidur. Karena itu, maka sejenak kemudian telah terdengar
langkah kakimenuju ke pintu. “Marilah,” Wantilanlah yang telah
membuka pintunya, “masuklah.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun
telah duduk di dalam ruanganyang tidak terlalu luas itu. Memang
tidak ada persoalan khusus yang akan mereka bicarakan. Tiba-tiba
saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berbincang-bincang tentang apa
saja denganWantilan, Mahisa Semu danMahisa Amping. Namun dalam pada
itu, ternyata Mahisa Bungalan telah keluar dari biliknya. la memang
menunggu.satu kesempatan untuk berbicara dengan Mahendra tanpa
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Kenapa kau belum juga beristirahat?”
bertanya ayahnya. “Aku ingin berbicara dengan ay ah tentang Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat,” jawab Mahisa Bungalan. “Apa yang penting
kau bicarakan?” bertanya ayahnya. “Ayah,” desis Mahisa Bungalan,
“kedua adikku telah dewasa. Bahkan lewat dewasa. Apakah menurut
pertimbangan ay ah, keduanya tidak sepantasnya segeramenikah?” “Ah,”
desah ayahnya, “itu lagikah yang ingin kau bicarakan?”
“Nampaknya keduanya tidak akan dapat mencari jodoh mereka sendiri.
Keduanya sangat mementingkan kehidupan yang khusus berhubungan
dengan olah kanuragan. Keduanya tiba -tiba saja telah terikat oleh
sebuah padepokan dan perguruan,” desis Mahisa Bungalan kemudian.
“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?,” bertanya ay ahnya. “Jika
ayahmengijinkan, aku inginmempertemukan Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat dengan gadis-gadis yang pantas untuk mereka jadikan
isteri-isteri mereka,” jawab Mahisa Bungalan. “Apakah itu perlu?,”
ayahnya justru bertanya, “dahulu, aku tidak pernah mempertemukan kau
dengan gadis yang manapun. Namun akhirnya kau juga mendapatkan
seorang isteri.” “Tetapi persoalannya jadi berbeda ay ah,” jawab
Mahisa Bungalan. “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak
memikirkan diri mereka sendiri. Mereka tidak sempat memperhatikan
kecantikan dan kelembutan seorang perempuan. Mereka setiap hari
berhubungan dengan sanggar, senjata dan orang-orang yangmemerlukan
bantuannya. Tanpa dor ongan dari orang lain, maka keduanya akan
kehilangan gairah untukmenempuh kehidupanyang sewajarnya.”
“Atau katakan saja keduanya belum menginginkannya. Jika saat itu
sudah datang,maka keduanya akan dengan sendirinya memperhatikan
seorang perempuan. Kami, di padepokan ini bukannya terpisah mutlak
dengan dunia di sekitar kita. Anakanak padukuhan banyak yang
ada di padepokan ini tanpa terikat untuk menjadi cantrik disini.
Pada saat yang lain, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga sering pergi
ke padukuhan-padukuhan itu untuk bermacam-macam keperluan, karena
padepokan ini belum dapat mencukupi segala macam kebutuhannya. Dari
keperluan sehari-hari yang paling sederhana sampai yang paling
rumit, padepokan ini masih banyakyang belum
dapatmemenuhinya,meskipun kita sudah berusaha. Karena itu, maka
hubungan antara padepokan ini dengan padukuhan-padukuhan di
sekitarnya dapat berkembang dengan baik.” “Tetapi hubungan antara
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan orang-orang padepokan itu masih
dalam rangka peningkatan ilmunya. Bukan, maksudku bukan itu, Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat tidak boleh tenggelam dalam ilmu bercocok
tanam, ilmu perbintangan, sejarah dan tugasnya yang lain-lain lagi.
Mereka tidak boleh berpikir terus tentang kehidupan masa mendatang.
Bagaimana bentuknya, ujudnya dan segalamacam persoalan yang dapat
timbul. Tetapi mereka juga harus hidup wajar seperti orang lain.
Anak-anak muda yang sebay a dengan mereka, telah dikurniai beberapa
orang anak,” berkata Mahisa Bungalan. “Mahisa Bungalan,” berkata
Mahendra kemudian, “baiklah. Aku sependapat. Tetapi sudah tentu
mereka akan dapat memutuskan mana yang terbaik bagi diriny a
sendiri. Aku tidak dapatmenjanjikan apa-apa.” Mahisa Bungalan hanya
dapat mengangguk-angguk saja. Namun didalam hati ia masih mengharap
bahwa masih akan ada pembicaraan lagi. Namun mereka ayahnya telah
berkata: “Beristirahatlah.” Mahisa Bunglan menarik nafas panjang. Ia
mengerti maksud ayahnya. Sebagaimana ayahnya ber sikap kepadanya,
maka agaknya demikian pula sikapnya kepada Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Namun demikian, Mahisa Bungalan itu masih berkata: “Ayah. Aku
adalah Akuwu di Sangling. Aku kira aku akan dapatmembantu Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat jika mereka benar-benar ingin memasuki satu
dunia yang lebih lengkap. Perkawinan.” “Tetapi ingat Mahisa
Bungalan. Keduanya hidup di sebuah padepokan seperti ini. Keduanya
bukan orang yang hidup di satu lingkungan yang ramai
sebagaimana Sangling. Jika keduanya berhubungan dengan gadis-gadis
yang terbia sa hidup dalam lingkungan yang ramai,maka
padepokan seperti ini akanmenjadi dunia yang mengungkungnya dalam
kesepian dan keterasingan. Kau tentu dapat melihat perbedaan yang
sangat jauh dari kehidupan di Sangling dan kehidupan di padepokan
ini,” jawab Mahendra. Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam.
Sambil mengangguk-angguk ia berkata: “Aku mengerti ay ah. Tetapi
apakah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar akan menghabiskan
seluruh umurnya di padepokan ini? Apakah mereka tidak pernah
memikirkan kemungkinan untuk hidup di tempat yang lebih balk
lagi? Di Sangling keduanya tentu akan dihormati. Mereka akan
mendapat tempat yang mapan. Bahkan jika mereka menghendaki di Lemah
Warah pun mereka akan dapat mendapat kedudukan yang pantas.
Sedangkan apa yang mereka dapatkan di padepokan ini?” “Apakah
menurut pendapatmu, kedudukan mereka di padepokan ini kurang
pantas?,” justru Mahendralah yang bertanya. “Menurut pendapatku
ayah,” jawab Mahisa Bungalan, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan
dapatmemberikan arti yang lebih besar dan hidup mereka jika mereka
berada di tempat yang lebih ramai dari tempat ini. Tempat yang
lebih banyak dihuni orang. Hubungan yang lebih luas serta
persoalan-persoalan yang lebih yang menyangkut segi-segi
kehidupanyang lebih berharga bagi sesama.” “Jangan salah menafsirkan
sikap kedua adikmu Mahisa Bungalan. Kedua adikmu disini pun dapat
memberikan arti dari hidupnya, bahkan lebih besar dari di
tempat-tempat yang ramai. Di tempat-tempat yang ramai itu
telah banyak orangorang yang dapat memberikan isi dari putaran
kehidupan. Tetapi disini tidak. Jarang sekali orang-orang yang
dapat mendorong untuk meningkatkan tataran kehidupan dari
orang-orang padukuhan. Jika tidak ada orang-orang yang rela
menyerahkan pengabdian seperti kedua orang adikmu, maka tataran
kehidupan di padukuhan-padukuhan itu tidak akan berubah, atau
katakan, perubahan itu akan datang sangat lambat.” Mahisa Bungalan
mengangguk-angguk. la mengerti sepenuhnya keterangan ayahnya. Namun
rasa-rasanya ia masih juga berharap bahwa adiknya tidak terbenam
dalam kehidupan yang terasa sempit itu. Dunia terasa tidak lagi
sampai ke cakrawala. Tetapi terbatas pada dinding dinding padepokan
itu saja. Namun sekali lagi Mahendra berkata: “Sudahlah Mahisa
Bungalan, beristirahatlah. Bagaimanapun juga, aku besok akan
berbicara dengan kedua adikmu. Aku tahu, bahwa kau sendiri tidak
dapat mengatakannya kepada keduanya karena kau tidak ingin terjadi
salah paham. Tetapi aku yang mengerti perasaanmu tetapi juga
mengerti perasaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan mencoba untuk
mencari titik-titik temu dari pendapatmu itu dengan sikap kedua
adikmu.” “Sekarang, tidurlah. Adikmu tentu masih melihat-lihat
padepokan ini sebagaimana sering dilakukannya pada malam hari,”
berkata ayahnya kemudian. Mahisa Bungalan pun kemudian kembali ke
biliknya sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmemasuki bangunan
induk itu. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada
di bilik Wantilan, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat mencoba untuk memancing tanggapan mereka terhadap ayah
mereka, Mahendra yang telah membimbing terutama Mahisa Amping dan
Mahisa Semu, justru lebih banyak dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Kami merasa sangat berterima kasih,” jawab Mahisa Semu. “Aku dahulu
jugamulai sebagaimana kalian mulai,” berkata Mahisa Murti. “Aku
berharap bahwa aku dan Amping tidak mengecewakannya,” berkata Mahisa
Semu pula. “Tentu tidak,” jawab Mahisa Pukat, “ayah menganggap
kalian telah berbuat sebaik-baiknya. Ayah berharap bahwa dalam waktu
yang direncanakan, kalian telah memasuki tataran-tataran yang
telah disusunnya. Namun agaknya ay ah tidak akan kecewa karena
sampai saat ini, kalian telah menunjukkan kemampuan kalian mengikuti
rencana ay ah itu.” Keduanya mengangguk-angguk. Sementara Mahisa
Murti bertanya kepada Wantilan: “Bagaimana dengan paman Wantilan?”
“Aku telah mendapatkan jauh lebih banyak dari yang aku
harapkan saat aku minta untuk pergi bersama kalian,” jawab Wantilan.
Mahisa Murti tersenyum. Katanya: “Mudah-mudahan paman akanmendapat
lebih banyak lagi di tempat ini.” “Aku y akin akan hal itu,”
jawabWantilan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Mereka sempat berbicara untuk beberapa lama sebelum Mahisa Murti dan
Mahisa Pukatmeninggalkan bilikmereka. Ketika Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat sampai ke bangunan induk, maka baik Mahendra, maupun Mahisa
Bungalan telah tidak ada di ruang dalam. Mereka telah berada di
bilik masing-masing. Dua orang cantrik yang duduk di pendapa
mengatakan, bahwa bangunan induk itu memang sudah menjadi sepi.
“Kalian bertugas disini?” bertanya Mahisa Murti. “Ya,” jawab salah
seorang dari kedua cantrik itu, “sampai menjelang dini.” Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Menjelang dini kedua orang
cantrik itu akan digantikan oleh dua orang cantrik yang lain,
sehingga kedua orang itu akan sempat beristirahatmenjelang pagi
hari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri pun kemudian telah
bersiap-siap untuk beristirahat pula. Namun keduanya masih sempat
pergi untuk melihat para tawanan yang telah dipersiapkan untuk
dibawa oleh Mahisa Bungalan esok pagi. Tetapi Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat sama sekali tidak ingin mengganggu mereka sehingga
karena itu,maka ia tidak segeramendekat. Dari jarakyang agak
jauh keduanyamelihat bangunanyang dipergunakan untukmenawan
mereka adalah bangunan yang kokoh. Sementara itu, beberapa orang
pengawal berada di depan bangunan itu. Bukan sekedar para cantrik,
tetapi diantara mereka terdapat tiga orang prajurit pengawal Mahisa
Bungalan. Namun ternyata mereka telah menjadi lengah. Para tawanan
yang menyadari bahwa esok mereka akan dibawa ke Sangling,makamereka
telah berusaha untuk berbuat sesuatu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
yang berada di sela-sela pohon perdu di longkangan dua barak
yang berdekatan tidak terlalu jauh dari bangunan yang
dipergunakan untuk menawan para penjahat yang akan dibawa ke
Sangling itu tiba -tiba saja melihat atap bangunan itu
bergerak-gerak. Meskipun malam menjadi gelap, tetapi karena Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat sudah lama berada di kegelapan, serta
kemampuan pandang mereka yang sangat tajam, maka mereka pun
telah melihat atas di bagian belakang barak itu bergerak-gerak.
Mahisa Murti yang melihat sebuah kepala tersembul dari antara atap
ijuk dari bangunan itu, telah menggamit Mahisa Pukatyang
sedangmemperhatikannya juga. Namun kemudian Mahisa Murti itu
berbisik, “Kau pergi ke sebelah longkangan itu. Kita harus menjaga
dari beberapa arah agarmereka tidak lari ke luar.” “Aku beritahukan
kakang Mahisa Bungalan,” desis Mahisa Pukat. “Tidak ada waktu lagi,”
jawab Mahisa Murti. Mahisa Pukat tidak membantah. lapun kemudian
telah menyusup diantara gerumbul-gerumbul perdu, untuk mengambil
arahyang lain dari Mahisa Murti. Namun keduanya juga tidak sempat
memberi isyarat apapun kepada para cantrik dan prajurit Sangling
yang berada di depan barak itu sambil minum-minuman hangat dan
berkelakar untuk menjaga agar mereka tidak menjadi kantuk. Namun
mereka sama sekali tidak mengira bahwa para tawanan itu sempat
menemukan kelemahan dari barak yang kokoh kuat itu. Yaitu pada
atapnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatyang mengamati barak itu dari
tempat yang berbeda telah melihat seorang diantara mereka telah
keluar dan dengan sangat berhati-hati merayap di atas atap. Sejenak
kemudian seorang kawannya telah merayap pula keluar dari atap itu.
Mahisa Murtimenjadi cemas, bahwa jika mereka semuanya yang ada di
dalam barak itu merangkak keluar, maka berdua dengan Mahisa Pukat,
ia akan mengalami kesulitan untuk menangkap mereka. Kecuali membunuh
mereka dari jarak jauh tanpa ampun. Namun jika hal itu dilakukan,
maka keinginan kakaknya untukmenyadap keterangan dari mereka akan
menjadi urung. Karena itu, maka sebelum orang-orang yang
tertawan itu berlari-larian ke sana kemari dan bahkan mungkin ada
diantara mereka yang sempat meloncat keluar dinding padepokan, maka
Mahisa Murti telah menempuh jalan yang lebih baik. Karena itu, maka
iapun telah merangkak ke sudut barak tersebut. Dengan serta merta
Mahisa Murti telah memukul sebuah kentongan kecil untuk memberi isy
arat kepada setiap orang yang bertugas agar berhati-hati. Untuk
tidak mengejutkan para catrik yang tertidur lelap, maka bunyi
kentongan itupun justru dengan nada dara muluk namun patah di
tengah. Irama itu diulang sampai beberapa kali. Para petugas dan
para prajurit Sangling yang ada di bangunan yang kokoh itupun
mendengar suara kentongan yang aneh itu. Namun dengan
demikian,mereka seakan-akan telah diperingatkan alas tugas-tugasnya.
“Kita meronda,” berkata salah seorang dari prajurit itu. Tiga orang
prajurit Sangling itupun telah memberitahukan kepada para cantrik,
bahwa mereka akan meronda. “Aku ingin mendapatkan sumber suara
kentongan kecil itu.” “Dekat. Nampaknya dari barak di sebelah,”
jawab seorang dari para cantrikyang bertugas itu. Kentongan
kecil itu memang tidak dipukul terlalu keras. Suaranya
tidakmengumandang di seluruh padepokan.Namun terdengar dari barak
tempat para tawanan itumelarikan diri. Dalam pada itu, para tawanan
yang mendengar suara kentongan itupun terkejut. Iramanya yang aneh
memang sangat meragukan. Kesannya seperti anak-anak yang sedang
bermain-main. Namun bagaimanapun juga, mereka merasa bahwa ada orang
yang telahmelihat Mereka keluar dari atap barak itu. Dengan
demikian,maka orang-orang yang telah keluar dari atap barak tawanan
itupun dengan cepat berusaha untuk meloncat turun. Namun Mahisa
Pukat ternyata bergerak cepat pula. Ia sudah menunggu jika ada
diantara mereka yangmeloncat dari atap. Sementara itu, para cantrik
dan prajurit Sangling yang ada dibagian depan barak itu telah
mulai bergerak. Dua orang kesebelah kiri dan dua orang kesebelah
kanan. Mahisa Murtilahyang kemudian mendekati dua orang
yang bergerak ke kiri itu, sehingga kedua orang itu terkejut.
Dengan serta merta keduanya telah merundukkan tombaknya ke arah dada
Mahisa Murti. Namun Mahisa Murti dengan cepat berkata: “Cepat. Pergi
kc belakang barak. Beberapa orang telah keluar dari atap. Jangan
timbulkan keributan agar tidak membuat padepokan inimenjadi gempar.”
Kedua orang itu terkejut. Dengan serta merta merekapun berlari ke
belakang barak. Mereka dengan segera memandangi atap barak itu untuk
mencari orang yang dikatakan oleh Mahisa Murti. “Disini,” tiba -tiba
mereka mendengar suara. Ternyata Mahisa Pukat telah siap di tempat
yang lebih dekat lagi dari barak para tawanan itu. Untuk
beberapa saat para tawanan yang ada di atas atap itu menjadi
bingung. Sementara itu, Mahisa Murti telah membuka pintu barak dan
bersama beberapa orang telah memasuki barak itu. Beberapa orang
memang telah ber siap-siap untuk memanjat. Tetapi kehadiran para
cantrik dan prajurit ber senjata itu telahmengejutkanmereka. Ada
diantara mereka yang telah bersiap untuk melawan. Namun Ujung-ujung
tombak para cantrik dan prajurit telah mengurungkan niatmereka. Yang
sudah terlanjur keluar dari atap ternyata semuanya enam orang.
Semuanya adalah mereka yang dipersiapkan untuk dibawa ke
Sangling esok pagi. Namun dalam pada itu, tanpa menimbulkan
keributan di seluruh padepokan, maka beberapa orang cantrik yang
lain telah bergerak mengepung barak itu. Seorang cantrik telah
memberitahukan kepada para cantrikyang sedang bertugas di
regol agar mereka menjadi berhati-hati dan mengajak empat orang
diantara mereka untuk membantu menangkap orangorang yang
telahmelarikan diri. Memang tidak terdengar isyarat apapun.
Kentongan kecil Mahisa Murti tidakmembangunkan para cantrik dan
prajurit yang telah tertidur. Mereka yang sedang terbangun pun
tidak begitu menanggapi suara kentongan yang tidak memberikan isy
arat apa-apa. Bahkan seorang cantrik telah bergeramang: “Siapa
yang bermain-main dengan kentongan malam-malam begini?” Tetapi
cantrik itupun segera telah tertidur lagi. Dengan demikian, maka
seluruhnya ada lima belas orang cantrik dan prajurityang ada
di sekitar barak itu. Empat orang diantara mereka bersama dengan
Mahisa Murti tengah mengikat para tawananyang masih ada didalam
barak. Selain mereka yang akan dibawa oleh Mahisa Bungalan, maka
para tawanan yang dianggap berbahaya oleh Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat dan tidak akan dilepaskan bersama-sama tawananyang
lain, ada pula didalam barak itu. Sementara itu, sebelas orang
cantrik yang lain bersama Mahisa Pukat telah mengepung barak
itu. Tetapi sebagian besar dari antara para cantrik itu memang
berada dibagian belakang dari barakyang telah dikoy akkan
atapnya itu. “Meny erahlah,” perintah Mahisa Pukat, “kami masih ber
sabar dan berusaha untuk tidak membangunkan seisi padepokan ini.
Jika mereka terbangun,maka para cantrik dan prajurit Sangling yang
marah itu akan berbuat apa saja untuk menumpahkan kemarahan mereka
ataskalian.” Enam orang yang telah berada diluar barak lewat atap
itu termangu-mangu. Mereka tidak dapat memandang jelas ke arah
longkangan di sekitar barak itu. Halamanyang agak luas di
sebelah barak itu ditumbuhi pohon-pohon perdu yang membuat halaman
itumenjadi tidak jelas. Keenam tawanan itu kemudian menyadari, bahwa
mereka tidak mengenalmedan itu dengan baik, sehingga mereka akan
dapat menjadi bingung. Jika mereka nekat melompat turun, makamereka
tentu akan diburu seperti orangmemburu tupai. Beberapa saat
orang-orang itu masih termangu-mangu. Sementara mereka mendengar
bahwa barak itupun telah dibuka dan beberapa orang cantrik atati
prajurit telah masuk ke dalamnya. Sementara itu, Mahisa Pukat telah
sekali lagi berkata kepada orang-orang yang ada di atas atap:
“Meny erahlah sebelum keadaan berubah.” Keenam orang yang
berhasil keluar dari barak dan bertengger di atas atap itu memang
tidakmempunyai pilihan. Jika mereka tidak mau mengerti akan keadaan
yang mereka hadapi, maka mereka benar -benar akan dibinasakan dengan
cara yang sangat pahit. Karena itu, maka seorang diantara mereka,
mewakili kawan-kawannya berkata: “Baiklah. Kamimenyerah.”
“Meloncatlah,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Orang-orang itu memang
ragu-ragu untuk meloncat dari atap. Namun Mahisa Pukat telah
membentak: “Meloncatlah. Atau barak itu akan kami bakar sehingga
kalian akan ikut menjadi abu.” Betapapun mereka ragu-ragu, namun
mereka memang harus meloncat ketika dua orang cantrik yang
berdiri di sebelah meny ebelah Mahisa Pukat dengan sengaja
menunjukkan busur dan anak panah. Bagaimanapun juga Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat berusaha untuk tidakmembangunkan para cantrik
yang tidak bertugas, namun ternyata satu dua orang telah
mendengar keributan itu. Meskipun suara keributan itu kemudian
terdiam dan tidak lagi berkelanjutan, tetapi beberapa orang cantrik
telah keluar dari barakmereka. Akhirnya, berita tentang orang-orang
yang akan melarikan diri itupun segera tersebar. Beberapa
orang cantrik tertua telah tergesa -gesa pergi ke barak para
tawanan. Mahendra yang kemudian juga terbangun, bersama Mahisa
Bungalan telah pergi ke barak itu juga. Namun pada saat yang
demikian, pada saat padepokan itu bagaikan terbangun, keenam orang
itu telah berada di dalam barak itu sebagaimana semula. Meskipun
demikian, para cantrik dan prajurit yang bertugas ketika
ditanya oleh Mahisa Bungalan, tidak dapat ingkar lagi. Terutama para
prajurit. Mereka menunduk dalamdalam saat mata Mahisa Bungalan
bagaikan memancarkan api. Pemimpin prajurit yang bertugas
berjaga-jaga itupun segera dimintamemberikan laporan. “Kalian tahu
apa jadiny a jika tidak ada kedua adikku itu?” bertanya Mahisa
Bungalan. Namun Mahisa Bungalan masih menahan diri untuk tidak
memberikan hukuman kepada prajurit yang menjadi lengah dan
tidak mengetahui bahwa enam orang tawanan mereka telah lobs. Dalam
pada itu, maka akibat dari usaha keenam orang itu untuk. lari, maka
para tawanan pun telah diikat pula kaki dan tangannya.
Sedangkanyang telah berhasil keluar lewat lubang yang dibuat
di atap itu, telah diikat kaki dan tangannya yang kemudian diikat
pula pada tiang. “Kalian jangan mencoba sekali lagi,” berkata Mahisa
Bungalan, “kalian sebaiknya mengucapkan sy ukur bahwa kalian jatuh
ke tangan kedua orang adikku. Jika kalian jatuh ke tangan para
prajurit di Sangling,maka keadaan kalian tentu akan berbeda.” Keenam
orang yang berusaha untukmelarikan diri itu tidak menjawab.
Namun Mahisa Bungalan berkat selanjutnya: “Aku besok hanya akan
membawa enam orang itu saja. Mereka pantasuntuk ditempatkan di
tempatyang paling keras, karena mereka telah berusaha
untukmelarikan diri.” Keenam orang itu saling berpandangan sejenak.
Seorang kawannya yang menurut rencana di keesokan harinya akan
dibawa pula ke Sangling ternyata telah dibatalkan, karena orang itu
tidak berniat untuk melarikan diri, meskipun kemungkinan lain dapat
terjadi. Sejak saat itu, ternyata padepokan itu tidak tertidur lagi.
Para cantrik, para prajurit dan para pemimpin padepokan itu menjadi
sulit untuk tidur karena peristiwa itu. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat justru telah memerintahkan para cantrikyang bertugas tidak
hanya berada di depan barak itu saja. Tetapi mereka harusmembagi
daerah pengawasan. Setiap kali hanya dengan meronda berkeliling
ternyata masih belummencukupi. Sementara itu, Mahisa Bungalan justru
telah memerintahkan pa sukannya untuk berkemas. Besok, di dini
harimereka benar-benar akanmeninggalkan padepokan itu. Namun dengan
demikian maka dapur pun telah menjadi sibuk pula. Lebih awal dari
rencananya. Menjelang-fajar, segala sesuatunya memang sudah bersiap.
Para prajurit dan para tawanan. Sementara itu mereka telah
mendapatkan tujuh ekor kuda. Ternyata hanya enam saja yang akan
dipakai oleh para tawanan. Para petugas di dapur pun kemudian telah
memberikan makan dan minum kepada para tawanan yang akan
dibawa oleh Mahisa Bungalan, sementara para prajurit telah makan
pula di dapur. “Kau akan berangkat lebih awal?” bertanya Mahendra.
“Hanya berselisih waktu beberapa saat,” jawab Mahisa Bungalan,
“namun mumpungmataharimasih dalam dibawah cakrawala. Kami akan
kembali ke Sangling.” Mahisa Bungalan pun telah minta diri pula
kepada Mahisa Amping yang juga terbangun, Mahisa Semu,
Wantilan dan semuanya yang telahmengerumuninya. Sejenak
kemudian, maka para prajurit yang membawa enam orang itumulai
bergerak. Seperti dikatakan oleh Mahisa Bungalan, maka keenam orang
itu telah diperlakukan dengan keras. Sambil berkuda, tangan mereka
telah terikat. Sikap para prajurit Sangling memang tidak sama
sebagaimana sikap para cantrik padepokan Bajra Seta. Sikap para
prajurit itu. lebih tegas dan lebih keras. Demikian pula sikap
Mahisa Bungalan. Berbeda sekali dengan sikap Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Keenam orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka mulai
bertanya di dalam hati, seandainyamereka tidak melarikan diri,
apakah sikap para prajurit Sangling akan berbeda? Tetapi hal itu
sudah terlanjur dilakukannya. Mereka telah mencoba untukmelarikan
diri dan gagal. Usaha melarikan diri yang gagal itu ternyata telah
menguntungkan seorang kawannya yang batal dibawa ke Sangling.Orang
itu bukannya tidak akan melarikan diri. Iapun ikut dalam usaha
melarikan diri itu. Tetapi karena ia mendapat giliran terakhir, maka
ia belum sempat memanjat dan keluar dari lubang yang telah berhasil
dibuat pada atap barak itu. Bahkan bukan hanya ketujuh orang itu
Baja. Tetapi kelima orang yang akan tetap menjadi tawanan
padepokan itupun sebenarnya juga akan ikut pulamelarikan diri.
Demikianlah dalam keremangan pagi, iring-iringan itu berjalan dengan
cepat. Mereka menyusuri jalan-jalan bulak yang panjang dan pendek.
Di beberapa padukuhan yangmasih gelap, iring-iringan itu telah
mengejutkan orang-orang yang berada di gardu. Tetapi para
peronda itu tidak berani menghentikan orang-orang berkuda itu.
Apalagi mereka melihat, enam orang diantara orang-orang berkuda itu
terikat tangannya. Mahisa Bungalan yang berkuda di paling
depan tidak menghiraukan orang -orang yang berada di gardu
memandang iring-iringannya dengan penuh pertanyaan. Dan bahkan
sebagian dari mereka menjadi camas. Namun tidak seorang pun diantara
para per onda itu yang menegur iring-iringan itu atau mempertanyakan
orang-orang yang terikat diantara mereka. Ketika matahari
mulaimembayangmenjelang terbit, maka iring-iringan itu sudah menjadi
semakin jauh. Iring-iringan itu mulai berpapasan dengan orang-orang
yang pergi ke pasar. Orang-orang yang membawa barang-barang
dagangan di atas kepala dan perempuan-perempuan yang menggendong
bakul, telah menepi ket ika mereka melihat iring-iringan itu
berjalan cepat. Orang-orang itu hanya dapat saling bertanya tentang
orang-orang berkuda yang terikat tangan mereka diantara
orang-orang lainyang mengiringinya. Sementara itu, di padepokan
Bajra Seta, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menempatkan dan
mengatur kembali para tawanan yang tertinggal. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat yang langsung menangani orang-orang yang berusaha
melarikan diri itu akhirnya mendapat keterangan, bahwa sebenarnya
semua tawanan yang ada di barak itu akan melarikan diri. Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat justru mendapat keyakinan bahwa kesimpulan
mereka benar. Lima orang diantara orang-orang yang dianggapnya
berbahaya itu, memang orang-orang yang berbahaya ditambah
dengan seorang yang tidak jadi dibawa ke Sangling. Mereka
berenam akan ditempatkan di sebuah barak yang khusus yang akan
dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Namun sementara itu, mereka
telah dipindahkan ke sebuah barakyang tidak terlalu besar. Namun
tangan dan kakimereka masih saja harus terikat baik-baik. Meskipun
tidak segarang Mahisa Bungalan, namun Mahisa Pukat telah berkata
kepada orang-orang yang ternyata juga merencanakan untukmelarikan
diri itu. “Siapa yang mencoba untuk sekali lagi melarikan diri, maka
akibatnya akan sangat disesali. Kami dapat berbuat apa saja atas
kalian tanpa ada keterikatan atas paugeran apapun. Berbeda dengan
para prajurit. Mereka harus bertindak berdasarkan pada tugas dan
wewenangmereka.” Tidak ada orang yang menjawab. Tetapi wajah-wajah
mereka rasa -rasanya sudah menjadi sekeras batu. Namun dengan
demikian maka para cantrik padepokan itupun benarbenar tidak boleh
lengah menghadapimereka. Ketika kemudian matahari terbit dan
memanjat langit semakin tinggi, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah memanggil tawanan-tawanan mereka yang dianggap tidak
herbahaya. Kepada orang-orang itu Mahisa Murti berkata: “Kami akan
melihat dalam beberapa hari ini. Jika kalian benar-benar menjadi
baik sebagaimana kami harapkan, maka kami akan membuat
pertimbangan-pertimbangan baru terhadap kalian. Mungkin kami
tidakmengirimkan kalian ke Sangling, tetapi ke Singasari. Bahkan
mungkin ada pilihan lain yang lebih baik bagi kalian.” Orang-orang
itu memang masih bertanya-tanya. Setelah peristiwa usaha melarikan
diri itu, apakah mereka masih akan diperlakukan dengan wajar atau
mereka akan mendapat tekanan lebih berat lagi. Namun Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat telah mengambil keputusan, orang-orang yang akan
dilepaskan itu akan dilihat lagi dengan cara mereka. Orang-orang itu
akan dipekerjakan di sawah dan ladang untuk beberapa hari. Hasil
dari pengamatan mereka akan menentukan keputusan atasmereka itu.
Dalam pada itu, selagi orang-orang yang tertawan mendapat
kesempatan bekerja di sawah dan ladang di bawah pengawasan para
cantrik,maka di antara mereka yang terluka pun telah mendapat
perawatan dengan baik. Perlahan-lahan luka-luka mereka pun menjadi
semakin sembuh. Beberapa orang yang telah menjadi semakin baik
itu, telah dapat ikut membantu bekerja apa saja di kebun dan di
pategalan di belakang barak. 'Ternyata sikap para cantrik
benar-benar telah mempengaruhi mereka. Sikap yang baik dan
ramah, telah meluluhkan kekerasan hati mereka. Orang di antara
mereka yang telah sembuh dari luka-luka mereka telah menyatakan
untuk tetap tinggal di padepokan itu apabila diperkenankan. “Kalian
tidak dapat berada di padepokan ini,” berkata Mahisa Murti, “tetapi
kalian dapat ikut dalam berbagaimacam tuntunan yang diselenggarakan
di padepokan ini sebagaimana anak-anakmuda di padukuhan-padukuhan
sebelah. “Tetapi di mana kami akan tinggal?” bertanya orang-orang
itu. “Jika kalian memang berkeras untuk melakukannya, maka biarlah
aku berbicara dengan Ki Buyut. Jika Ki Buyut berkenan memberikan
sebidang tanah buat kalian, maka kalian akan dapat tinggal. Kalian
dapat menggarap sawah untuk hidup kalian sehari-hari. Sementara itu
kalian ikut belajar meningkatkan kemampuan kalian untuk menggarap
tanah kalian itu,” berkata Mahisa Murti. Ternyata mereka bersedia
melakukannya. Sehingga karena itu, maka Ki Buyut telah memberikan
sebidang tanah yang berada di sebuah padang perdu yang luas. “Tetapi
padang perdu itu bukan tanah yang subur,” berkata Mahisa Pukat
kemudian setelah mendapat persetujuan Ki Buyut. Orang-orang itu
memang agak menjadi kecewa. Namun Mahisa Pukat berkata: “Kalian
berniat bekerja keras atau tidak?” “Ya,” jawabmereka hampir
berbareng. “Jika demikian,maka kalian harus berusaha menaikkan air
dari Kali Rangkut itu ke tanah yang kalian dapatkan. Kali
Rungkut memang sebuah sungai yang tidak begitu besar. Tetapi jika
kalian berhasil menaikkan airnya, maka kalian akan mendapatkan satu
keuntungan yang sangat besar. Seluruh tanah yang kalian dapatkan
dari Ki Buyut itu akan dapat kalian airi. Dengan demikian,maka tanah
itu tidak lagi akan menjadi tanahyang tandus,” berkata Mahisa
Pukat. Ternyata orang-orang itu dengan hati melakukannya. Bahkan
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengijinkan orang-orang
yang dianggap sebagai orang-orang yang dianggap sebagai
orang-orang yang berbahaya untuk membantu mereka bersama-sama
beberapa orang cantrik yang sekaligus mengawasi mereka membangun
sebuah bendungan. Kali Rangkutmemang bukan sungaiyang besar.
Karena itu, pekerjaan untukmembendung sungai itupun bukan pekerjaan
yang sangat besar.Namun jika mereka berhasil, maka air dari sungai
itu akan dapat mengalir ke padang perdu yang akan dijadikan
tanah persawahan. Dengan air itu, maka padang perdu itu tentu akan
dapat menjadi tanah per sawahan yang subur. Sementara mereka dapat
mengambil pupuk dari kandang-kandang yang ada di
padukuhan-padukuhan serta sampah dari hutanyang dapat ditanam
di lubang-lubang yang dibuat di padang perdu itu, sehingga pada
suatu saat, padang perdu itu siap untuk ditanami. Namun ternyata di
antara orang-orang yang tertawan itu masih saja ada yang
merasa dirinya memiliki kemampuan yang tinggi,melampaui para cantrik
terpenting di padepokan itu. “Jika aku ingin,” berkata orang
yang batal dibawa ke Sangling, “aku tentu dengan mudah dapat
melarikan diri dalam keadaan seperti ini. Dua tiga cantrik yang akan
mencegahkan akan dapatmudah aku binasakan.” “Kenapa tidak kau
lakukan?” bertanya seorang di antara mereka yang berusaha untuk
mencari jalan kehidupan yang lebih baik daripada merampok atau
menjadi seorang penyamun. “Aku masih ingat akan keadaan kalian,”
bertanya orang yang telahmeny ombongkan diriny a itu. “Apa
hubungannya dengan kami?” bertanya yang lain. “Jika seorang saja di
antara kita yangmelarikan diri, maka yang tinggal akan hancur.
Kepala kalian akan dipecahkan oleh orang-orang padepokan yang
gila itu. Tanpa belas kasihan,” berkata orang itu. “Tetapi yang
pernah berusaha melarikan diri namun tertangkap itu, ternyata tidak
dihancurkan,” jawab seorang di antara mendengarkannya. “Di sini,”
jawab orang itu, “di Sangling mereka akan menjadi jeladren. Tetapi
agaknya mereka masih merasa segan untuk membawaku, karena dengan
demikian mereka akan menghadapi kemungkinan buruk setiap saat.
Terutama di perjalanan, karena aku memang memiliki sifat yang
kadangkadang dengan tiba-tiba meledak.” “Apa yang akan kau lakukan,”
bertanya kawannya “Tentu saja menunggu kesempatan untuk melarikan
diri. Sebaiknya kalian tidak berubah sikap. Kalian adalah
penjahatpenjahat yang sudah banyak dikenal. Karena itu,
habiskan umur kalian dalam dunia kejahatan seperti aku.” “Kau telah
berputus-asa,” sahut suara seorang yang sudah lebih tua. Tetapi
orang itu tertawa. Katanya: “Bukan aku yang berputus asa.
Tetapi kalian. Kalian yang sudah kehilangan da sar berpijak,
sehingga berniat untuk berubah sikap. Tetapi kita dilahirkan
untukmenjadi penjahat. Aku terima kodrat ini dengan dada tengadah.”
“Jadi kenapa kau meny erah? Kenapa kau tidak berbuat sesuatu agar
kau tidak menjadi tawanan waktu itu. Atau lebih baikmati dimedan?”
bertanya orang tua itu. Orang yangmasih saja meny ombongkan dirinya
itu tertawa semakin keras, sehingga beberapa orang lain dan beberapa
orang cantrik berpaling kepadanya. Sejenak orang itu terdiam. Namun
kemudian ia berkata: “Aku terpancing oleh keadaan saat itu. Aku juga
mencoba untuk tidak membuat para cantrik dan seisi padepokan semakin
kehilangan pengendalian diri dan berbuat sewenangwenang.” Yang lain
tidak merasa perlu untuk mendengarkan lagi. Mereka lebih menekuni
pekerjaan mereka daripada mendengar pembicaraanyang sama
sekali tidak berarti itu. “Kalian tidak mau mendengar aku?”
tiba-tiba orang itu menggeram. Tidak seorang yang bertubuh tinggi
tegapmenjawab. “Kau akan meny esal,” berkata orang itu selanjutnya,
”kesempatan ini harus kita pergunakan sebaik-baiknya. Kita akan
melarikan diri bersama-sama. Jangan hanya aku, meskipun aku mampu
melakukannya. Karena dengan demikian, kepergianku seorang diri itu
akan membawa malapetaka bagi kalian.” “Aku tidakmau,” bentak orang
bertubuh tinggi tegap itu. “Kau belum mengenal aku,” orang yang
membual itu mendekatinya. Sambil memegang pundaknya ia berkata
selanjutnya, “Jangan memaksa aku untuk menghancurkan lengan dan
kakimu.” Tetapi orang itu justru menggeram: “Kita sama-sama pernah
tinggal di dalam kekelaman kuasa setan. Jika kau memang ingin
berkelahi, marilah kita berkelahi. Aku tidak peduli apakah salah
seorang diantara kita akan mati di sawah ini.” “ Iblis kau,” orang
itumenjadimarah kau beranimenantang aku. “ Itulah kesalahanmu
yang terbesar. Kau mengira bahwa tidak ada orang yang berani
menantangmu. Sekarang, aku tantang kau. Tidak boleh seorangpun
yang memisah sampai kita berhenti sendiri apapun akibatnya,”
jawab orang yang tinggi kekar. Orang yang sombong itu
termangu-mangu sejenak. Ia harus melihat keny ataan itu. Tubuh orang
itu sangat besar dibanding dengan tubuhnya sendiri. Apalagi sikapny
a yang sudah mengeras Karena itu, maka iapun kemudian berkata:
“Aku bukan seorang yang bodoh seperti kau. Aku masih memerlukan
tenagaku untuk melarikan diri. Aku tidak mau terjebak kedunguan
seperti kau. Bahkan aku menganjurkan agar kalian semua ber sedia
melarikan diri bersamaku. Kita akan berlarilarian terpencar sehingga
para cantrik akan menjadi bingung.” “Tidak,” geram orang yang
bertubuh tinggi besar itu. “Aku akan mengajak mereka yang
memiliki kemampuan berpikir,” berkata orang itu, ”bukan kau.” Orang
yang bertubuh tinggi besar itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat
berbuat apa -apa ketika orang yang menghembuskan usaha untuk
melarikan diri berpaling daripadanya, dan bahkan kemudian
telahmelangkah pergi. Di tempat lain ia juga berbicara dengan dua
orang diantara mereka yang tertawan. Iapun telah mengajak
orang-orang itu melarikan diri. “Kita rnelakukan ber sama-sama.
Setidak-tidaknya lima orang diantara kita. Jika kita berpencar, maka
usaha para cantrik untuk menangkap kami tentu menjadi semakin
sulit,” berkata orang itu. Kedua orang itupun merasa
berkeberatan.Namun orang itu tiba -tiba telah mengancam: “Jika kau
berdua tidak mau melarikan diri, maka kalian akan aku bunuh dalam
bilik tahanan.” Kedua orang itu termangu-mangu. Mereka memang bukan
orang yang memiliki keberanian untukmenghadapi ancaman seperti
itu. “Bawa dua orang lagi,” geram orang itu, “atau kalian akan
mengalami siksaan yang tidak ada henti-hentinya sepanjang kita masih
berkumpul di satu bilik.” Kedua orang itumemangmerasa takut terhadap
orang yang mengajaknya melarikan diri itu. Tetapi mereka pun
tidak berani untuk dengan serta merta berlari berpencar. Di tempat
itu banyak para cantrikyang akan dapatmengejarmereka. Seorang dari
kedua orang itu berniat untukmelaporkan diri kepada para cantrik.
Tetapi hal itupun tidak berani melakukannya. Dalam keragu-raguan itu
orang yang mengajaknya lari itu berkata: “Cepat, ajak dua
orang lagi sebelum aku berubah pikiran. Karena aku pun dapat
membunuhmu tidak usah menunggu sampai kerja kita ini selesai hdri
ini.” Kedua orang yang termangu-mangu itu hampir saja melakukan
perintahnya. Mencari dua orang yang akan diajaknya melarikan diri.
Namun seorang diantara mereka ternyata telah sempat berpikir. Karena
itu, ketika kawannya telah siap untuk mendekati kawannya yang
lainyang juga bekerja di tempat itu tetapi agak terpisah, maka
orang yang sempat berpikir itu telah mencegahnya. “Kenapa?,”
bertanya kawannya. “Kita masing-masing tidak akan dapat melawannya.
Tetapi bagaimana jika kita berdua?,” desis orang yang sempat
berpikir itu. Kawannya termangu-mangu. Tetapi ketika sekilas ia
melihat orang yang mengajak melarikan diri itu, ternyata
tengkuknya telah meremang. Orang yangmengajaknya lari itu
rasa-rasanya memandanginya dengan sorot mata hantu yang mengerikan.
“Kau takut?,” bertanya kawannya. “Ya,” jawab orang yang
tengkuknya meremang itu. “Kita harus membuat agar kita berkelahi
disini. Tetapi ingat. Kita harus berdua. Jika kita sendiri-sendiri,
kita akan segera dapat dikalahkan. Tetapi jika kita berdua, maka
kita akan sempat bertahan beberapa lama, sehingga para cantrik akan
ikut campur sebelum kita mati,” jawab kawannya yang berniat
untukmelawan. Kawannya masih ragu-ragu. Sementara itu, orang itu
melanglah mendekat sambil berkata: “Kenapa kalian belum pergi kepada
mereka. Jika kita terlalu lama berdiam diri tanpa berbuat apa-apa,
para cantrik itu akanmemperhatikan kita.” Tetapi orang yang berniat
untukmelawan itu berkata tanpa menghiraukan kawannya lagi. “Aku
memang berusaha menarik perhatian para cantrik. Aku tidak ingin
melarikan diri.” “Setan kau,” geram orang itu “kau tahu apa
yang dapat terjadi atasmu?” “Kami berdua akan melawan. Para
cantrik tentu akan ikut campur. Dan kau akan diadili dengan cara
yang khusus,” jawab orang yang menolakmelarikan diri itu.
Orang itu memang menjadi sangat marah. Tanpa berkata apapun lagi,
maka iapun telah meny erang dengan garangnya. Jari-jarinya
yang mengembang telah langsung menerkam leher orang yang
menolaknya itu. Orang yang menolak untuk melarikan diri itu
memang telah bersiaga. Tetapi ternyata bahwa ia tidak sepenuhnya
mampu membebaskan diri. Ia memang sempat menahan tangan orang itu
sehingga tidak mencengkam lehernya dan memutuskan jalur
pernafasannya. Tetapi dorongan yang sangat kuat telah mendesaknya
beberapa langkah surut dan bahkan orang itu telah jatuh terlentang.
Kesempatan itu tidak disia -siakan oleh orang yang marah itu.
Sekali lagi ia menerkam lawannya yang memang tidak mampu lagi
untukmenghindar. Namun orang yang semula masih ragu-ragu itu,
hampir diluar sadarnya telah melibatkan diri. Kakinya terayun dengan
kerasnya menghantam tubuh orang yang telah menjatuhkan dirinya untuk
menerkam orang yang menolak ajakannya untukmelarikan diri itu.
Serangan kaki itu demikian kerasnya, sehingga ia telah terpental
selangkah dan jatuh berguling.Namun dengan cepat ia telah bangkit
berdiri dan siap untukmeny erang lagi. Tetapi pada saat itu, orang
yang hampir saja dicekiknya itupun telah bangkit pula dan
berdiri tegak disamping kawannya. Bahkan ia masih sempat berkata
“Kita sama-sama pernah menjadi penjahat.” Namun dalam pada itu, para
cantrik yang terkejut melihat peristiwa yang terjadi dengan
cepat itu, segera tanggap akan keadaan. Mereka segera berlari-lari
mendekati. Namun demikian para cantrik itu masih tetap berhati-hati
sehingga beberapa orang yang lain masih tetap mengawasi para
tawananyang tengah berada di tempat itu. “Apa yang terjadi?,”
bertanya seorang cantrik. “Orang itu memaksa aku dan kawanku
melarikan diri. Bahkan aku harus mengajak dua orang lagi ber sama
kami,” jawab orang yang menolak pergi itu. “Omong kosong,” jawab
orang yang mengajak melarikan diri itu, “keduanya telah menghinakan.
Mereka mengatakan bahwa aku pengecut. Enam kawanku telah melarikan
diri. Kenapa aku tidak. Aku merasa sangat tersinggung karena aku
memang tidak ingin melarikan diri.” “Tidak,” teriak orang yang
semula ragu-ragu untuk melawan, “orang itu memang ingin mengajak
kami melarikan diri.” “Jangan mengigau,” berkata orang itu, “aku
tidak gila. Aku tahu bahwa saat seperti ini bukan saatnya untuk
melarikan diri. Melarikan diri pada saat seperti ini, sama saja
artinya dengan membunuh diri. Nah, kalian tidak akan dapat memfitnah
aku dengan alasan itu.” Para cantrik yang berdiri mengelilinginya
memangmerasa ragu. Namun orang yang bertubuh tinggi kekar dan juga
tidak ber sedia melarikan diri itu tiba-tiba telah meny ibak dan
melangkah mendekat sambil berkata: “Orang ini memang ingin melarikan
diri. sejak di barak itu ia juga sudah. merencanakan untuk ikut
melarikan diri. Tetapi ia terlambat karena para cantrik dan prajurit
segeramemasuki barak.” “Setan kau. Kenapa kau turut campur? Kau sama
sekali tidak mengetahui persoalannya. Aku, meskipun seorang tawanan
juga mempunyai harga diri sehingga aku tidak mau dihinakan dengan
cara yang sangatmenyakitkan.” Tetapi pernyataan orang yang
bertubuh tinggi tegar itu nampaknya agak meyakinkan para cantrik,
sehingga seorang diantara mereka melangkah maju sambil berkata:
“Sebaiknya kau berterus terang.” “Semua orang akan memfitnah aku.
Apakah kalian percaya?” orang yang akanmelarikan diri itu
justru bertanya. “Aku yang bertanya kepadamu. Bukan kau yang
bertanya kepadaku,” geram cantrik itu. “Aku sudah menjawab,” berkata
orang itu, “terserah kepadamu. Apakah kau percaya atau tidak.”
Seorang cantrik yang masih sangat muda menjadi sangat marah.
Tetapi ketika ia melangkah maju, kawannya telah mencegahnya.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang ternyata
juga melihat kejadian itu, telah mendekat pula. Dengan nada rendah
Mahisa Murti bertanya: “Apa yang telah terjadi disini?” Seorang
cantrik telah mencoba menjelaskan persoalannya. Namun orang yang
akan melarikan diri itu telah memotong: ”Semua itu fitnah. Aku belum
gila untuk melarikan diri di siang hari dan di bawah pengawasan para
cantrik.” Tetapi orang yang diajak melarikan diri menyahut:
“Orang itu mengharapkan lima orang diantara kami akan melarikan
diri. Kami akan berpencar. Dengan demikian orang itu berharap bahwa
ia akan dapat meloloskan diri meskipun keempat orang yang lain akan
tertangkap lagi.” Tiba -tiba saja Mahisa Murti berkata: “Aku percaya
kepadamu.Orang ini akanmelarikan diri.” Orang itu menggeram. Namun
tiba-tiba ia bergeser selangkah surut sambil berkata: “Balk. Aku
akan mengakui, bahwa aku memang akan melarikan diri. Tangkaplah jika
kalian ingin menangkap aku. Bunuhlah jika kalian ingin membunuh aku.
Tetapi sebelumnya aku ingin tahu, apakah benar orang -orang Bajra
Seta itu memiliki kemampuan yang tinggi atau karena jumlahnya
sajalah yang terlalu banyak untuk dilawan. Seandainya ada
seorang saja diantara para cantrik yangmampu melawan aku,maka aku
akan berjongkok sambil menundukkan kepalaku dan menyerahkan leherku
untuk dibantai di hadapan kalian dan para tawananyang lain.”
Mahisa Pukat menjadi marah. Tetapi Mahisa Murti menggamitnya ketika
Mahisa Pukatmelangkah maju. Bahkan tiba -tiba saja Mahisa Murti
berkata “Mahisa Semu akan menyelesaikannya.” Mahisa Pukat menarik
nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian
telahmengangguk-anggukmengiakan. Dengan demikian maka sejenak
kemudian Mahisa Semu telah berada di dalam lingkaran. Namun agaknya
Mahisa Semu masih belum begitu jela s apa yang terjadi. Baru
kemudian ia mengangguk-angguk ketika Mahisa Pukat memberinya
penjelasan. “la menantang salah seorang cantrik dari padepokan Bajra
Seta. Ia ingin tahu, apakah ada salah seorang cantrik yang dapat
mengalahkannya. Karena itu, terserah kepadamu. Kau kami anggap
cantrik yang masih muda. Jika melawan kau orang itu sudah tidak
dapat mengimbangi, apalagi melawan para cantrikyang lebih tua
darimu.” Mahisa Semu mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah. Jika
demikian,marilah. Kita akan mencoba siapakah diantara kita yang
lebih baik. Aku berjanji, jika kau dapatmengalahkan aku maka kau
akan mendapatkan pengampunan.” Wajah orang itu menjadi cerah.
Katanya “Benar katamu? “Aku mohon para pemimpin padepokan ini meny
etujui,” berkata Mahisa Semu. “Aku setuju,” jawab Mahisa Murti.
Demikianlah kedua orang itupun telah berdiri saling berhadapan.
Mahisa Semu memang masih jauh lebih muda dari orang itu. Namun
selama ia berada di padepokan itu, ia telah mendapat penanganan
khusus dari Mahendra sendiri di bawah pengawasan Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat. Sejenak kemudian kedua orang itu telah mempersiapkan
diri. Orang yang melarikan diri itu telah memastikan dirinya
untuk dibebaskan dari padepokan itu. Ia merasa bahwa ia bukannya
sejenis penjahat-penjahat kecil yang hanya mampu mencuri ayam atau
itik di kandang. Tetapi ia adalah seorang perampok dan penyamun
yang ditakuti. Sedangkan cantrik yang ditunjuk untuk
melawannya adalah cantrik yang masih sangat muda, sehingga ia
merasa bahwa ia tidak akan mendapatkan kesulitan
untukmengalahkannya. Orang itu nampaknya memang ingin menunggu.
Ketika Mahisa Semu bergeser orang itupun hanya bergeser pula.
Sekali-sekali tangannya bergerak. Tetapi tidak untuk menyerang.
Mahisa Semu memang merasakan bahwa sikap orang itu sangat
merendahkannya. Orang itu menganggap bahwa Mahisa Semu yang muda itu
tidak akan mampu berbuat apaapa. Namun ju stru karena itu, maka
Mahisa Semu menjadi sangat berhati-hatimenghadapinya. Beberapa saat
keduanya hanya saling bergeser sambil mengamati gerak-gerik lawan.
Tetapi tidak seorang pun yang segera mulai meny erang. Bahkan
sekali-sekali nampak orang yang akan melarikan diriny a itu
tersenyummenyakitkan hati. Mahisa Semu memang tidak telaten. Tetapi
ia memperhitungkan kemungkinan yang paling tepat untuk membuat orang
itu terkejut dan terbangun. Sebenarnyalah, ketika Mahisa Semu telah
menganggap waktunya tepat, justru pada saat orang itu bergeser, maka
iapun telah meloncat menyerang. Serangan yang tidak bia sa
dilakukan. Dengan kecepatan yang tinggi, kaki Mahisa Semu
yang terbuka telah meluncur menangkap dan menjepit tubuh
lawannya. Ketika. Mahisa Semu kemudian memutar tubuhnya dengan
sekuat tenaganya, maka lawannya itupun bagaikan baling-baling yang
berputar pada por osnya. Dengan kerasny a orang itu jatuh terguling.
Sementara itu dengan cepat Mahisa Semu melepa skan kakinya dan
meloncat bangkit. Kelebihannya waktu sekejap telah memberikan
kesempatan sekali lagi. Demikian lawannya itu melenting berdiri,maka
kaki Mahisa Semu telah terjulur lurusmengarah ke dada orang itu.
Orang itu memang tidak mendapat kesempatan untuk menghindar, bahkan
menangkis serangan itu. Karena itu, maka Mahisa Semu telah berhasil
mengenai sa sarannya dengan kekuatanyang sangat besar.
Terdengar orang itu mengaduh tertahan.Namun sekali lagi ia
terlempar. Bukan sekedar diputar oleh jepitan kaki anak yangmasih
terlalu muda itu. Tetapi serangan kaki di dadanya itu rasa-rasanya
telahmeretakkan tulang-tulang iganya. Ketika orang itu meloncat
bangkit, maka iapun telah ber siaga sepenuhnya. Namun ternyata
Mahisa Semu tidak memburunya. Anak muda itu berdiri saja di atas
kedua kakinya yang merenggangmemandangi lawannya yang berdiri
tegak pula serta bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun
bagaimana pun juga orang itu tidak dapat menyembuny ikan dadanya
yang terasa sangat sakit. Nafa snya menjadi terengah-engah
bagaikan tersumbat di tenggorokan. Tetapi hatinya serasa terbakar
ketika ia melihat justru anak muda itulah yang kemudian
tertawa sambil berkata: “Marilah Ki Sanak. Bangkitlah. Bukankah kita
sudah saling bertaruh. Jika kau menang kau dapat pergi dengan bebas
ke mana pun kau suka. Tetapi jika kau kalah, kau sudah
mempertaruhkan lehermu.” Orang itu mengeram. Matanya menjadi merah
menyala. Giginya gemeretak sementara terdengar ia berkata: “Kau
curang. Kaumencari kesempatan saat aku lengah.” “Adalah seorang yang
memiliki ilmu dan kemampuanyang baik pernah menjadi Iengah di
pertempuran?” Mahisa Semu justru bertanya. “Kaumemang anak iblis,”
orang itu hampir berteriak. Tetapi dengan tenang anak yang
masih sangat muda itu menjawab: “Apakah kaumengetahui ciri-ciri anak
iblis?” Orang itu menjadi sangat marah. Karena itu, tanpa dapat
mengendalikan dirinya lagi, maka ia pun. telah meloncat menyerang
Mahisa Semu. Serangan orang itu memang mengejutkan. Tetapi Mahisa
Semu yang sengaja mengungkit kemarahan lawannya telah ber siap
sepenuhnya. Karena itu, maka ketika serangan itu benar-benar datang,
Mahisa Semumasih sempatmenghindar. Tetapi lawannya tidak memberinya
kesempatan. Ia pun dengan cepat memburunya. Orang itu ingin menebus
kelengahannya dengan meny elesaikan lawannya yang masih sangatmuda
itu secepatnya. Namun yang terjadi adalah di luar kehendaknya.
Setelah bertempur beberapa lamanya, orang itu ternyata masih belum
dapat menundukkan Mahisa Semu. Dengan tangkasnya anak muda itu
berloncatan menghindari serangan-serangan yang datang beruntun.
Sekali-sekali menangkisnya namun kemudian dengan cepat ia membalas
serangan-serangan itu dengan serangan-seranganyang tidak kalah
berbahayanya. Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi semakin
lama semakin sengit. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmenyaksikan
pertempuran itu dengan segenap perhatian. Keduanya justru ingin
tahu, apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Semu jika ia benar-benar
membentur kekuatanyang cukup besar. Namun anak yang masih terlalu
muda itu tidak mengecewakan. Beberapa kali Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat menjadi berdebar-debar. Namun keduanya menarik nafas lega.
Meskipun demikian, kemungkinan yang buruk masih saja dapat
terjadi. Ia masih belum tahu, day a tahan siapakah yang lebih
tinggi. Jika salah seorang dari keduanya, tenaganya mulai susut
lebih dahulu, maka keadaannya akan menjadi gawat. Namun Mahisa Semu
memiliki ketangkasan bergerak lebih dari lawannya. Karena itu, maka
setiap kali serangan anak muda itulah yang mengenai lawannya.
Namun jika sekali tangan lawannya meny entuh tubuhnya, maka Mahisa
Semu memang harusmengakui kekuatan lawannya. Ketika tangan lawannya
yang kuat sempat mengenai pundaknya maka Mahisa Semu memang
seakan-akan telah diputar. Dalam kegoncangan keseimbangan lawannya
ia telah menyerang dengan kakinya yang terjulur ke samping. Mahisa
Semu memang kehilangan kesempatan berusaha untuk menghindar atau
menangkis, sementara keseimbangannya sedang goyah. Namun Mahisa Semu
tidak ingin tubuhnya dikenai lagi serangan lawannya itu. Karena itu,
maka Mahisa Semu pun justru telah menjatuhkan dirinya tepat pada
saat kaki lawannya menggapainya. Dengan demikian, maka MahisaSemu
telah terhindar dari serangan lawannya itu. Bahkan setelah berguling
sekali, maka dengan sigapnya Mahisa Semu telah bangkit dan berdiri
tegak di ataskedua kakinya yang renggang. Ketika lawannya itu
kemudian meloncat menyerangnya, maka Mahisa Semu telah bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Dengan demikian, maka Mahisa Semu
telah dengan cepat pula bergeser menghindar. Demikianlah,
pertempuran antara kedua orang 'itupun menjadi semakin lama semakin
sengit. Keduanya bergantiganti menyerang. Orang yang akan melarikan
diri itu adalah orang yang memiliki pengalaman yang luas
sekali. Ia telah mengalami berpuluh bahkan beratus kali perkelahian
dan pertempuran. Telah berapa jiwa yang pernah melayang karena
kekuatan dan kemampuannya. Jari-jarinya yang kokoh dan kakinya
yang kuat, telah membuatnya menjadi orang yang sangat
ditakuti. Apalagi jika orang itu sempat memegang senjata. Mahisa
Semu memang masih terlalu muda bagi lawannya itu. Pengalamannya pun
belum begitu luas. Tetapi ia sudah ditempa dalam latihan-latihan
yang keras, sehingga landasan ilmunya menjadi semakin kokoh.
Menghadapi lawannya yang kuat dan cukup berpengalaman. Mahisa Semu
memang harus berhati-hati. Tetapi ia tidak perlu merasa berkecil
hati. Mahisa Semu cukupmemiliki bekal untukmelawannya. Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat kadang-kadang memang menjadi tegang. Sekali-sekali
Mahisa Semu memang nampak terdesak. Tetapi setelah berloncatan
beberapa saat, Mahisa Semu segera menemukan kesempatan
untukmengatasinya. Meskipun Mahisa Semu tidak dengan serta merta
dapat mengalahkan lawannya, namun ternyata bahwa ia mempunyai
kesempatan lebih baik dengan kekayaan unsur-unsur gerak yang
dimilikiny a, sehingga ia tidak semata-mata berdasarkan kepada
kekuatan kewadagannya saja. Ternyata beberapa saat kemudian,
kelebihan Mahisa Semu mulai nampak. Setelah keduanya memeras
keringat, serta mengerahkan tenaga dan kemampuan mereka, maka
kelebihan daya tahan Mahisa Semu nampak semakin jelas. Agaknya orang
yang akan melarikan diri itu telah mengerahkan segenap tenaga dan
kemampuannya, bahkan dengan memaksakan diri untuk dapat dengan cepat
mengalahkan lawannya yang masih muda itu. Namun ternyata ia tidak
berhasil. Karena itu, maka justru tenaga dan kekuatanyalah
yang semakin lama menjadi semakin menyusut. Betapapun tipisny
a, tetapi terasa oleh Mahisa Semu, bahwa lawannya telah sampai ke
batas kekuatannya. Namun nampaknya lawannya masih belum mengakui
keadaannya. Ternyata ia masih menunjukkan kegarangannya. Tangannya
menjadi semakin cepat bergerak. Jari-jarinya mengembang dan dengan
berteriak keras, orang-orang itu telah menerkam Mahisa Semu seperti
seekor harimau yang lapar. Mahisa Semu memang agak terkejut melihat
serangan itu. Unsur gerak yang dihadapinya memang berubah dan dengan
begitu tiba-t iba menunjukkan satu jenis ilmu dengan unsur gerakyang
sangat garang. Namun Mahisa Semu yang terlatih itu tidak segera
kehilangan akal. Ia melihat jari-jari yang mengembang itu. Karena
itu, maka dengan sigapnya Mahisa Semu telah meloncat menghindarinya.
Tetapi ia bukan saja menghindar. Ketika jari-jari itu hampir saja
menyambar keningnya, Mahisa Semu justru telah berputar
sambilmengayunkan kakinya. Satu serangan yang tiba -tiba pula. Kaki
yang terayun dalam putaran itu, justru telah menyambar tengkuk
lawannya. Demikian kerasnya, sehingga lawannya itu jatuh
terjerembab. Mahisa Semu tidak memburunya. Ketika lawannya itu
melenting berdiri, maka Mahisa Semu justru memberinya kesempatan
untukmemperbaiki keadaannya. Tetapi tenaga orang itu benar-benar
telah susut. Tulangtulangnya terasa sakit dan kulitnya pun telah
terkelupas di beberapa bagian anggauta tubuhnya. Bahkan darah telah
mulaimengembun di luka -lukanya itu. Namun orang itu sama sekali
tidak berniat meny erah. Ia menganggap bahwa diriny a tentu akan
mati. Seandainya ia menyerah maka para cantrik akan menuntut taruhan
yang telah diucapkannya. Ia harusmerelakan kepalanya dipenggal.
Karena itu, maka daripada ia mati sambil menundukkan kepalanya, maka
ia akan menjadi lebih berharga jika ia mati dalam pertempuran itu.
Dengan demikian, maka orang itu benar-benar telah memaksa diri
untukmengerahkan sisa-sisa tenaganya. Sementara itu, ternyata Mahisa
Semu masih tetap tegar. Meskipun ia juga mengerahkan tenaga dan
kemampuannya, tetapi day a tahan tubuhnya ternyata jauh lebih baik
dari lawannya yang pertahanannya seakan-akan telah menjadi
semakin rapuh. Dengan demikian, maka Mahisa Semu menjadi semakin
sering mampu mengenai tubuh lawannya. Bahkan kadangkadang telah
membuat lawannya seakan-akan kehilangan pijakan. Namun lawannya itu
tidak segera menyatakan kekalahannya. Ia masih saja berusaha
untukmelawan dengan sisa tenaganya. Meskipun beberapa kali ia
terdorong surut. Bahkan kadang-kadang terbanting jatuh. Namun sama
sekali tidak timbul niatnya untukmenyerah. Betapapun kuat day a
tahan tubuh Mahisa Semu, namun iapun merasa bahwa pada suatu saat
tentu akan sampai pada batasnya. Dengan demikian, maka ia harus
menyelesaikan lawannya sebelum tenaganya sendirimenjadi su sut.
Apalagi beberapa kali tubuhnya pun sudah dikenai oleh lawannya.
Beberapa bagian tubuhnya telah merasa ny eri. Bahkan
tulang-tulangnya punmerasa sakit. Karena itu, maka pada saat
kekuatannya masih utuh, Mahisa Semu inginmemaksa lawannya
itumenyerah. Tetapi usahanya sama sekali tidak berhasil. Betapapun
juga lawannya terdesak, tetapimasih tetapmelawan. Kesabaran Mahisa
Semu semakin lama menjadi semakin tipis. Sementara itu lawannya
telah menjadi hampir tidak berday a. Namun ketika Mahisa Semu
memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya untuk meny erah, maka
orang itu justrumengumpatinya. Mahisa Semu hampir kehilangan seluruh
kesabarannya. Namun tiba -tiba ia sadar, bahwa tidak pantas baginya
untuk membunuh orang yang telah menjadi tidak berdaya sama sekali.
Dengan demikian, maka Mahisa Semu tidak lagi berniat membunuhnya.
Tetapi ia hanya ingin merendahkan harga diri lawannya yang
sombong dan tidakmaumelihat kenyataan itu. Karena itu,maka
serangan-serangan Mahisa Semu tiba-tiba telah mengendor. Ia tidak
lagi garang dengan seranganserangannya yang berbahaya. Bahkan
seakan-akan tenaganya punmenjadi semakin susut. Lawannya yang
melihat keadaan itu, rasa-rasanya keberaniannyamenjadi
semakinmenyala di dalam dadanya. Ia yang sudah bertekad mati. akan
membawa anak muda itu ber samanya. Dengan sisa tenaganya, maka
perlawanannya yang sudah hampir terhenti sama sekali itu
menjadi bertenaga kembali meskipun hanya merupakan hentakan-hentakan
sekejap. Namun hentakan-hentakan itu sama sekali tidak berarti
apaapa bagi Mahisa Semu. Meskipun demikian orang-orang yang
menyaksikan pertempuran itu sempat menjadi cemas melihat perlawanan
Mahisa Semu yang jugamenurun dengan cepat. Tetapi Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat melihat, bahwa sebenarnya tenaga Mahisa Semu masih
cukup besar untuk dengan cepat meny elesaikan pertempuran itu jika
dikehendakinya. Namun agaknya Mahisa Semu memang telah merubah
sikapnya. Ia tidak ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu.
Apalagi denganmembunuh lawannya. Dalam pertempuran dengan sisa-sisa
tenaga yang ada, maka lawan Mahisa Semu itu menjadi semakin sulit.
Bahkan bukan lagimengatasi serangan-serangan Mahisa Semu, karena
untuk selanjutnya seakan-akan Mahisa Semu tidak lagi pernah
menyerangnya. Tetapi lawannya itu mengalami kesulitan karena
usahanya untuk memeras sisa -sisa tenaga yang ada padanya.
Sehingga beberapa saat kemudian, maka tenaganya bagaikan telah
terkuras habis. Untuk berdiri tegak saja, rasarasanya orang itu
sudah tidak sanggup lagi. Jika sekali lagi ia menghentakkan sisa
tenaganya dan meny erang Mahisa Semu, maka jika serangannya tidak
mengenai sasarannya, maka tubuh itu menjadi terhuyung-huyung
terseret oleh ay unan tenaganya sendiri. Dalam keadaan yang
demikian, sentuhan tangan Mahisa Semu yang lemah sekalipun telah
dapat mendor ongnya sehingga jatuh tertelungkup. “Bangun ataumeny
erah,” geram Mahisa Semu. Orang itu benar-benar telah kehilangan
pengamatan diri. Sekali lagi ia mengumpat habis-habisan. Tetapi ia
mengalami kesulitan untuk bangkit. Namun orang itupun ternyata
berhasil berdiri. Dengan sor ot mata yang bagaikan membara, ia
memandang Mahisa Semu yang tersenyum sambil bergerak-gerak di
hadapannya. “Marilah,” tantang Mahisa Semu, “jika kau memang sudah
menjadi ketakutan, meny erah sajalah. Kau akan dituntut
untukmemenuhi janjimu.” Orang itu tidak menjawab. Tetapi sekali lagi
ia menghentakkan tenaganya untuk menyerang dengan jarijarinya yang
mengembang. Seakan-akan orang itu ingin menerkam mulut Mahisa Semu
yang baru saja mengancamnya. Tetapi tangannya tidak meny entuh
sesuatu. Bahkan sekali lagi tubuhnya telah diguncang oleh berat
badannya sendiri serta sisa kekuatannya yang memang sudah menjadi
semakin kering yang dihentakkannya untukmeny erang lawannya
yang masih muda itu. Mahisa Semu sama sekali tidak membalas. Ia
hanya bergeser sedikit ke samping dan membiarkan lawannya itu
terhuyung-huyung dan jatuh terjerembab. “Kenapa kau tidakmeny erah
saja he?,” teriak Mahisa Semu. “Aku koy akkan mulutmu,” geram orang
itu sambil berusaha untuk berdiri. “Meny erahlah,” bentak Mahisa
Semu. Tetapi orang itu justru telah bangkit dan berdiri pada
lututnya. Mahisa Semu sama sekali tidak menyerangnya. Tetapi ia
menunggu orang itu bangkit. Bahkan Mahisa Semu yang sebenarnya
hampir kehilangan kesabaran itu harusmenahan diri. Ia mempunyai cara
ter sendiri untuk menaklukkan lawannya yang keraskepala itu.
Karena lawannya masih berdiri pada lututnya, maka Mahisa Semu pun
berkata lantang: “Meny erahlah. Atau bangkitlah. Kita bertaruh. Jika
kau menang, maka kau dapat pergi ke mana kau suka. Tetapi jika kau
kalah, kau harus menepati janjimu pula. Semua orangmendengar apa
yang kau katakan itu.” Orang itu menggeram. Tetapi ia tetap tidakmau
mengakui kekalahannya. Karena itu, maka ia masih berusaha untuk
berdiri tegak. Betapa sulitnya akhirnya orang itu telah berdiri
pula. Sementara Mahisa Semu mendekatinya sambil berkata “Apakah
kitamasih akan bertempur terus?” “Tutupmulutmu,” bentak orang itu.
“Apakah kaumasih mampu?” bertanyaMahisa Semu pula. “Aku akan
membunuhmu,” orang itu berteriak. “Kau tahu arti kata-katamu?
Membunuh?,” bertanya Mahisa Semu pula. “Kubunuh kau. Kubunuh,” orang
itu berteriak-teriak seperti orang yang kehilangan ingatan.
Dengan serta merta orang itu telah melangkah meny erang Mahisa Semu.
Namun tenaganya sudah tidakmendukung lagi, sehingga orang itu pun
telah terhuyung-huyung dan jatuh berguling. “Kaumasih
belummenyerah?,” bertanya Mahisa Semu. Orang itu masih berusaha
untuk bangkit. Denganmemaksa diri ia memang masih dapat bangkit
berdiri. Hanya beberapa saat, karena sekali lagi ia terhuyung-huyung
dan jatuh terduduk. “Marilah,” berkata Mahisa Semu “jika kau
belummeny erah, bangkitlah. Kita akan bertempur terus sampai
matahari tenggelam. Bahkan sampai matahari terbit di hari
berikutnya. Atau, kau menyerah.” “Bunuh aku, bunuh aku,” orang itu
tiba-tiba berteriak, “kenapa kau tidakmaumembunuhku?” “Tentu t
idak,” jawab Mahisa Semu, “aku akan memenggal lehermu jika kau sudah
meny erah seperti taruhan kita. Tetapi jika kau menang, kau boleh
pergi ke mana saja kau kehendaki.” “Bunuh aku. Penggal leherku,”
teriak orang itu sambil terduduk di tanah. “Bangkit. Kita bertempur
terus. Bukankah kau belum menyerah kalah?,”Mahisa Semu pun
berteriak. “Anak iblis. Penggal leherku,” orang itu menjadi seperti
orang gila. Tetapi jawab Mahisa Semu: “Hanya jika kau sudah
menyerah, Aku akanmemenggal lehermu.” “Setan kau, iblis. Baik, baik.
aku meny erah. Penggal leherku,” orang itumasih saja berteriak.
Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Baiklah. Jika kau
sudah meny erah, maka aku akan segera mengambil keputusan.” “Penggal
leherku. Aku akan menelungkup di tanah,“ geram orang itu. “Kau
akumaafkan, karena kau sudahmeny erah. Kau bukan seorang yang
berilmu tinggi untuk ditakuti sehingga harus dibunuh. Aku biarkan
kau hidup untukmendapat kesempatan merenungi dirimu sendiri,
siapakah kau itu. Biarlah kau mengerti arti tantanganmu terhadap
salah seorang cantrik dari padepokan ini, sehingga kau tidak lagi
merasa dirimu seorang yang tidak terkalahkan,” jawab Mahisa
Semu. “Tidak, bunuh aku. Bunuh aku. Kau akan menjadi pengecut jika
kau tidak beranimembunuh aku,”minta orang itu. “Kaulah yang
pengecut karena kau tidak berani melihat keny ataan bahwa dirimu,
kau yang merasa berilmu setinggi langit, yang berani menantang salah
seorang cantrik padepokan ini, yang dengan berani ingin melarikan
diri, ternyata tidak lebih berbahaya dari seekor cacing tanah,”
geram Mahisa Semu. “Jangan hinakan aku seperti itu. Seharusnya kau
membunuhku jika kau menganggap aku bersalah,” berkata orang itu.
“Untuk apa membunuhmu dengan mengotori tanganku? Jika kau cukup
berharga untuk dibunuh, maka aku akan membunuhmu,” jawab Mahisa
Semu. “Bunuh aku, bunuh aku,” orang itu telah berteriak-teriak
benar-benar seperti orang gila. Mahisa Semu yang marah masih akan
membuat hati orang itu semakin sakit. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat mendekatinya. Keduanya telah membimbing Mahisa Semu
untukmembawanyamenjauhi orang itu. Tetapi Mahisa Semu masih berkata
lantang. “Kalau kau ingin mati,matilah. Tidak pantas aku membunuh
orang yang lemah dan tidak berdaya.” “Sudahlah,” berkata Mahisa
Murti, “jangan kau hancurkan perasaannya setelah kau remukkan
tulang-tulangnya. Ia sudah mengaku kalah danmeny erah.” Tetapi
Mahisa Semu menjawab: “Ia membuat hatiku bagaikan terbakar. Ia
tidakmaumengakui kekalahannya.” “Tetapi ia sudahmeny erah,” sahut
Mahisa Pukat. Mahisa Semu memang terdiam. Tetapi jantungnya terasa
bergejolak ketika ia mendengar orang itu berteriak: “Pengecut.
Kenapa kau tidak beranimembunuhku.” Hampir saja Mahisa Semu meloncat
kembali. Bagaimanapun juga ia mencoba mempergunakan penalarannya,
tetapi hatinya benar-benar telah terbakar. Tetapi Mahisa Murti masih
membimbingnya dan membawanya menyingkir. Katanya: “Ketahanan tubuhmu
memang mengagumkan. Tidak sia -sia kau berlatih dengan tekun. Namun
kau pun harusmelatih ketahanan jiwamu. Kau tidak boleh mudah
kehilangan akal. Jiwamu tidak boleh cepat terguncang karena
kata-kata yang kau anggap menusuk jantungmu.” Mahisa
Semumenundukkan kepalanya. “Kau memangmasih terlalu muda,” berkata
Mahisa Pukat, “namun kau harus berlatih. Aku juga sedang melatih
diri untuk tidak mudah hanyut dalam arus perasaan. Kita harus selalu
mencari keseimbangan antara perasaan dan penalaran, karena jika
keduanya tidak seimbang dan berat sebelah,maka sikap kitapunmenjadi
tidak seimbang pula.” Mahisa Semu masih menundukkan kepalanya. Ia
tidak menjawab sama sekali. Tetapi ia memang mulai berpikir tentang
sikapnya terhadap lawannya yang telah dikalahkannya. Tetapi apakah
memang lebih baik membunuhnya sehingga persoalannya menjadi selesai
dan tuntas? pertanyaan itu memang tumbuh di dalam hatinya. Namun
Mahisa Semu pun selalu teringat akan pesan Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat, bahkan Mahendra yang Iebih banyak membentuknya bahwa
tidak sebaiknya membunuh lawanyang sudah tidak berdaya.
0oo0dw0oo0
Jilid 093 SEMENTARA ITU, maka para
cantrik pun telah membawa tawanan yang masih saja berteriak-teriak
minta dibunuh itu kembali ke bilik tahanannya. Namun para cantrik
itu tidak mau membuat kesalahan. Meski pun orang itu nampaknya sudah
sangat lemah, tetapi para cantrik masih juga mengikatnya pada
pembaringannya. Apalagi orang itu bagaikan menjadi gila dan
berteriak-teriak tanpa dapat dijinakkan lagi. Namun Mahendra
yang kemudian mendapat laporan tentang orang itu berkata:
“Biarkan saja ia berteriak-teriak. Pada satu saat penalarannya akan
bekerja kembali, sehingga ia akan terdiam dengan sendirinya. Bahkan
ia akan sempat membuat pertimbangan-pertimbangan tentang peristiwa
yang baru saja dialaminya.” Nampaknya akibat dari peristiwa itu
justru membuat para tawanan yang lain semakin menyadari kekecilan
diri mereka. Orang yang dianggap memiliki kelebihan dari yang lain
itu, ternyata telah dikalahkan oleh seorang yang masih sangat muda.
Dalam pada itu, ketika malam turun, serta para tawanan telah
ditempatkan di tempat mereka masing-masing, Mahendra sempat
memanggil Wantilan, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Diantara mereka
hadir pula Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan nada dalam Mahendra
berkata terutama kepada Mahisa Semu: “Ternyata bahwa kemampuanmu
telah meningkat sampai ke tataran yang semakin baik. Kau telah mampu
menghadapi seorang yang telah mendapat pengalaman yang sangat
luas di dunia kejahatan. Orang itu tentu telah pernah bertempur
dengan berpuluh orang. Bahkan mungkin telah membunuh banyak orang
pula. Dan kau ternyata mampumengatasiny a.” Mahisa Semu
hanyamenundukkan kepalanya saja. “Tetapi dengan demikian, maka meski
pun aku tidak menyaksikannya, tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
sempat melihat pula kekurangan-kekuranganmu,” berkata Mahendra lebih
lanjut. “Karena itu, maka aku pun mengetahui pula, di sisi mana kau
harus lebih meningkatkan ilmumu, selama ini selain Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat, aku telah ikut pula meningkatkan kemampuanmu.” Mahisa
Semu mengangguk kecil. Ia justru sangat berterima kasih, bahwa
Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat melihat
kekurangan-kekurangannya, karena dengan demikianmaka
kekurangan-kekurangan itu akan dapat diisi. Tetapi Mahendra itu pun
berkata: “Selain kekurangankekurangan dalam olah kanuragan, kau
masih mempunyai kekurangan dalam olah kajiwan.” Mahisa Semu menarik
nafas dalam-dalam. Setelah ia sempat merenung, maka ia pun telah
melihat betapa jiwanya terguncang menghadapi sikap orang itu. Meski
pun ia masih juga sempatmengingat pesan agar ia tidak membunuh orang
yang sudah tidak berdaya, namun Mahisa Semu itu seakanakan tidak
dapat lagi menguasai dirinya menghadapi sikap lawannya yang
keraskepala itu. “Nah,” berkata Mahendra kemudian, “untuk
selanjutnya kau perlu melakukan latihan-latihan yang lebih
banyak. Kau tingkatkan ilmu kanuragan, namun sekaligus kau harus
menempa jiwamu agar tidak cepat terguncang.” Mahisa Semu mengangguk.
Ia tidak dapat berdiam diri sa ja. Karena itu, maka ia pun telah
mengangguk sambil berdesis: “Aku akan melakukan apa pun yang baik
bagi diriku dan bagi padepokan ini.” “Bagus,” berkata Mahendra, “aku
yakin bahwa dalamwaktu singkat semuanya akan segera teratasi.”
Ternyata peristiwa itu telah memberikan satu pengalaman tersendiri
bagi Mahisa Semu. Ia telah melihat satu sikap dari seorang
yang menjadi putus asa namun dibebani oleh harga dirinya yang
sangat tinggi. Tetapi Mahisa Semu pun telah mendapatkan pengalaman
dalam olah kanuragan. Beberapa kali ia telah dikenai
serangan-serangan lawannya yang keras dan kasar itu, sehingga Mahisa
Semu mampu melihat langsung kelemahankelemahannya. Untunglah bahwa
Mahendra telah memberikan tuntunan kepadanya sehingga ia mampu
berlatih sebaik-baiknya. Dengan demikian maka day a tahan tubuhnya
pun telah menjadi semakin meningkat dan meningkat. Ketika ia
kemudian dihadapkan kepada seorang penjahat yang telah
berpengalaman,maka ia sama sekali tidakmengecewakan. Demikianlah,
maka para cantrik itu pun dihari-hari berikutnya ber sama
orang-orang yang untuk sementara masih disebut tahanan itu telah
bekerja dengan keras untuk membuka tanah pertanian dan menaikkan air
dari Kali Rangkut. Dengan air itu, maka tanah yang dibuka itu akan
menjadi tanah persawahan yang cukup baik, yang akan dapat
dipergunakan sebagai landasan satu kehidupan baru ditempat yang
tidak terlalu jauh dari padepokan Bajra Seta itu. Dalam waktu
yang tidak terlalu lama, maka parit-parit induk pun telah
siap. Sementara itu, brunjung-brunjung bambu telah diisi dengan
batu. Satu-satu brunjung-brunjung bambu itu telah diletakkan
menyilang Kali Rangkut yang tidak begitu besar itu. Para
cantrik dan orang-orang yang ingin membuka daerah hunian yang baru
itu telah menutup lubang-lubang diantara batu-batu dengan tanah dan
slangkrang dedaunan dan ranting -ranting kecil. Dengan demikian,maka
air pun perlahan-lahan mulai naik sejalan dengan semakin tinggi
bendungan yang sedang dibangun itu. Sehingga akhirnya, maka
bendungan itu pun telah mencapai bibir tanggulyang tidak
begitu tinggi. Dalam kerja yang terakhir itu, maka hampir
semua cantrik di padepokan Bajra Seta telah menyaksikannya kecuali
beberapa orang yang bertugas berjaga-jaga atas segala macam
kemungkinanyang dapat terjadi. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan
bahkan Mahendra pun ikut pula menyaksikannya pula. Air yang
semakin tinggi itu masih dipisahkan oleh tanggul setebal lima enam
langkah dari parit induk yang siap menampung air yang akan
tumpah. Demikian air mencapai ketinggian yang diharapkan, maka
beberapa orang telah menggali sebuah parit kecil pada tanah
yangmemisahkan permukaan air itu dengan parit induk. Parit itu tidak
terlalu lebar dan tidak dalam. Tetapi air mulai bergerak seperti
kepala seekor ular yang menjalar mengikuti arah parit kecil itu.
Sehingga pada suatu saat,maka kepala ular yang menjalar
menyusuri parit itu, tumpah kedalam parit indukyang telah
disiapkan. Para cantrik dan orang-orang yang tertawan di
padepokan Bajra Seta itu ber sorak bagaikan meruntuhkan langit.
Mereka berteriak-teriak kegirangan sambil bertepuk tangan. Air di
Kal Rangkut mulai naik dan masuk ke dalam parit induk. Tanpa digali
lagi, maka parit kecil yang menghubungkan permukaan Kali Rangkut
dengan parit induk itu semakin lama menjadi semakin besar, meski pun
pada suatu saat, sebelum lebar dan dalamnya sama seperti parit
induk, parit penghubung itu tidak lagi bertambah lebar dan
dalam.Namun arus air cukup besar mengalir lewat parit induk itu.
Beberapa orang justru berlari-larimengikuti ujung air yang
mengalir di susukan itu sampai beberapa puluh langkah sambil
bertepuk tangan. Dua orang cantrik yang berlari dengan
kencang, telah membuka mulut parit yang lebih kecil yang terletak di
pangkal tanah per sawahan itu. Ketika air kemudian mengalir di parit
itu, maka keduanya pun telah membuka pematang kotak sawah yang
pertama disudut belahan parit itu. Keduanya bersorak-sorak
kegirangan, sehingga yang lain, yangmasih berada di bendungan sempat
berpaling. Beberapa orang berlari-lari mendekat dan ikut bersorak
pula ketika air menjalar memasuki kotak sawah itu dan mulai menebar
disela-sela butir tanahyang kering. Ternyata usaha para
cantrik dan orang-orang yang ditawan di padepokan Bajra Seta
itu berhasil. Dengan demikian,maka orang-orang yang semula
hidup dalam dunia yang kelam itu mulai berpengharapan, bahwa mereka
akan dapat hidup sebagaimana orang kebanyakan. Dalam pada itu,
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berjanji pula atas persetujuan
Ki Buyut untukmembagi tanah itu sesuai dengan kebutuhan mereka,
sehingga mereka akan dapat hidup dalam lingkungan Kabuyutan itu
sebagai warga yang lain tanpa harus selalu dicurigai lagi. Meski pun
ada diantara mereka yang masih harus selalu mendapat pengawasan.
Namun kawan-kawan mereka yang benar-benar telah menyadari tatanan
hidup baru akan dapat mengawasi mereka. Jika mereka melakukan
sesuatu yang tidak pantas, maka kawan-kawan mereka itu akan dapat
bertindak. Apabila mereka tidak sanggup, maka orang-orang
padepokanlahyang akanmelakukannya. Dengan demikian, maka sebuah
padukuhan telah tumbuh. Orang-orang yang semula hidup dalam dunia
yang gelap itu telah mulai dengan satu kehidupan baru. Meski
pun semula padukuhan itu hanya berisi sekelompok orang laki-laki,
namun perlahan-lahan padukuhan itu tentu akan tumbuh menjadi
padukuhan sebagaimana padukuhan kebanyakan, karena Ki Buyut sendiri
dengan penuh pengertian telah menerima kehadiran padukuhan yang baru
itu dengan sadar sepenuhnya apa saja yang berada di dalam
padukuhan itu. Sementara itu, orang-orang padukuhan yang baru
itu sendiri dengan penuh kesadaran atas keadaan mereka, maka mereka
telah menyusun satu kekuatan diantara mereka untuk menjaga padukuhan
mereka yang baru dari kemungkinankemungkinan buruk. Bekas
kawan-kawan mereka pada suatu saat tentu akan mengetahui apa yang
telahmereka lakukan. Tetapi mereka tidak cemas. Mereka telah
menemukan kawan-kawan yang semula tidak berasal dari satu
kelompok namunyangmerasa bahwa mereka telah memasuki satu dunia baru
yang sama, sehingga mereka telah membangunkan satu ujud
kesetia -kawananyang tinggi. Apalagi orang-orang padepokan
Bajra Seta yang bersikap sangat baik kepada mereka. Dalam keadaan
terpaksa, maka bukan saja para cantrik, tetapi tentu juga para
pemimpin padepokan itu akan bersedia membantu mereka. Sementara itu,
selain meningkatkan perkembangan padukuhan baru itu, maka para
penghuninya, yang pada umumnya telah meningkatkan pula kemampuannya.
Mahisa Murti dan Mahisa Semu sendiri telah menangani mereka dibantu
oleh beberapa orang cantrik terbaik. Namun dalam perkembangan
kemampuan olah kanuragan mereka, maka orang-orang yang ada di
padukuhanyang baru itu harus tetap menjadi orang-orang baru
dalam tatanan hidup dan pergaulan yang wajar. Di padepokan itu
sendiri, Mahendra dengan sungguhsungguh telah menempa Mahisa Amping
dan Mahisa Semu. Keduanya tumbuh dan berkembang dengan baik. Namun
karena tingkat umur mereka yang berbeda, maka langkahlangkah
yang diambil oleh Mahendra untuk meningkatkan ilmu mereka pun
telah berbeda. Dalam waktu-waktu tertentu, maka Mahisa Amping telah
diberi kesempatan untuk melakukan latihan dengan para cantrik.
Bahkan para cantrik yang telah memiliki tataran kemampuanyang cukup.
Ternyata bahwa Mahisa Amping yang kecil itu telah menunjukkan
kelebihan yang menggembirakan bagi Mahendra. Bagaimana pun juga,maka
anak itu agaknya akan menjadi seorangmuridyang baik. Namun
bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, kesibukannya untukmembentuk
padepokannya menjadi sebuah padepokan yang besar, masih belum
memberikan kesempatan sepenuhnya untukmenangani anak itu. Tetapi
baik Mahisa Amping, mau pun Mahisa Semu tidak lagimerasa dirinya sia
-sia berada di tempat itu. Justru karena di padepokan itu ada
Mahendra. Meski pun Mahendra sudah menjadi semakin tua, tetapi ia
masih mampu menangani kedua orang yang berbeda tingkat umurnya
itu. Sedangkan Wantilan yang berbaur dengan para cantrik,
telah merasa mendapat satu tempat yang baik. Perlahan-lahan ia telah
berhasil meny esuaikan diri dengan perguruan Bajra Seta. Meski pun
ia mempunyai landasan ilmu yang berbeda, namun ia mampu
mengembangkannya dengan baik di dalam satu lingkungan perguruan yang
sumber ilmunya memang berbeda. Namun dengan petunjuk dan tuntunan
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meski pun hanya dalam waktu-waktu
tertentu, maka rasa -rasanya ilmunya telah lebur dalam kesatuan ilmu
dengan para cantrik dari perguruan Bajra Seta itu. Dari hari ke
hari, nampak bahwa padepokan dan perguruan Bajra Seta berkembang
dengan bark. Sebagai satu wadah untuk menimba ilmu kanuragan mau pun
berbagai macam ilmu yang lain. Bahkan pengaruhnya meluas
sampai ke padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu. Anak-anak
muda bergantian masih saja datang ke padepokan Bajra Seta untuk
menyadap berbagai macam ilmu. Meski pun dengan demikian
kemampuanyang mereka dapatkan tidakmendalam sebagaimana para
cantrik, tetapi bagi anak-anak muda itu sudah cukup besar manfaatnya
untuk mengembangkan padukuhanmasing-masing. Tetapi diantara
anak-anakmuda yang dengan bekerja keras berusaha meningkatkan
padukuhan mereka masing-masing, masih juga ada anak-anak muda yang
sama sekali tidak menghiraukannya. Karena itu, maka dari
padukuhanpadukuhan yang terdekat sekali pun masih ada pula
anakanak muda yang tidak tahu, apakah isi sebenarnya dari padepokan
Bajra Seta itu. Sehingga mereka memang merasa heran, bahwa ada juga
kawan-kawan mereka sepadukuhan yang setiap hari datang ke padepokan
itu. Sebenarnyalah usaha Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sia
-sia. Perguruan dan sekaligus padepokan Bajra Seta, namanya menjadi
semakin banyak dikenal. Anak-anak muda dari daerahyang jauh
pun datang untuk berguru di perguruan Bajra Seta yang sedangmekar
itu. Sementara itu padukuhan yang baru tumbuh itu nampaknya
akan segera berkembang menjadi seperti padukuhan-padukuhan
yang lain. Beberapa orang penghuninya telah berani mengambil
keluarga mereka dari tempat yang jauh meski pun pada umumnya
masih dilakukan dengan diam-diam. Beberapa orang telah membawa
isteri mereka dan anakanak mereka. Namun memang ada diantara mereka
yang belum beristeri. Sedangkan beberapa orang yang dianggap
berbahaya, ternyata masih juga berada di padepokan. Orang yang telah
berkelahi dengan Mahisa Semu telah menjadi pulih kembali. Tubuhnya
telah menjadi kuat dan tidak nampak beka s-bekas kekalahannya. Baik
pada wadagnya mau pun pada jiwanya, karena ia masih saja menunjukkan
sifat-sifat yang buruk. Kata-katanya bahkan selalu menyakiti hati
para cantrik yang bertugas, sehingga para cantrik itu semakin
lama menjadi semakin membencinya. Namun pada itu, para cantrik itu
pun menjadi terbiasa melihat sikapnya dan mendengar kata-katanya,
sehingga akhirnya para cantrik itu menganggapnya sebagai orang gila
saja. Meski pun demikian, setiap kali orang itu masih saja membuat
keributan dan menimbulkan kegaduhan. Beberapa orang cantrik
kadang-kadang tidak dapat menahan diri sehingga mereka menyakiti
orang itu. Tetapi orang itu sama sekali tidakmenjadi jera. Jika hal
itu disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka kedua
orang anak muda itu selalu berkata: “Biarkan saja orang itu
mengigau. Pada suatu saat, ia akan berhenti dengan sendiriny a.”
“Tetapi kadang-kadang telinga ini tidak lagi dapat menampungnya,”
berkata salah seorang cantrik. “Kita wajib bersyukur, bahwa diantara
sekian banyak tawanan hanya seorang saja yang seakan-akan
telah kehilangan dirinya dan menjadi sangat berbahaya,” jawab Mahisa
Murti. Para cantrik hanya dapatmengangguk-angguk saja. Sementara
itu, seperti yang memang sudah diperhitungkan sebelumnya, akhirnya
kawan-kawan dari orang-orang yang membuka padukuhan itu mengetahui
apa yang mereka lakukan. Beberapa orang
diantaramerekamenganggap, bahwa orang-orang itu adalah pengkhianat.
Justru saat mereka memerlukan kekuatan yang besar, kawan-kawan
mereka itu telah berbuat bagi kepentingan mereka pribadi. Hal itu
telah menyalahi paugeran dari setiap kelompok kejahatan. Mereka yang
sudah mencebur masuk ke dalamnya, tidak akan dapat lagi keluar dalam
keadaan hidup. Karena itu, maka orang-orang yang ada di
padepokan itu harusmati. Namun seperti yang sudah dilakukan
sejak semula, maka orng -orang yang telah membuka padukuhan itu
selalu ber siaga sepenuhnya. Mereka telah membangun gardu-gardu di
setiapmulut lorong sertamembuat regol-regol dengan pintu yang kuat.
Orang-orang yang belum berkeluarga dengan suka rela menyatakan diri
untuk setiapmalam berada di gardu-gardu. “Lebih senang tidur di
gardu,” berkata seorang anakmuda, “diantara mereka ada teman
berbincang. Ada teman bergurau dan di malam-malamyang dingin
sempat merebus jagung. Di rumah seorang diri terasa malamnya
bertambah dingin.” Selain kesiagaan yang tinggi, sejak semula,
orang-orang di padukuhan yang baru itu setiap hari telah
meningkatkan kemampuan mereka dengan cara yang lebih teratur dari
caracara yang mereka tempuh sebelumnya. Sebagai orang-orang yang
hidup dalam dunia yang gelap, mereka meningkatkan ilmu mereka
dengan cara yang kasar dan hanya mereka lakukan di sela -sela
kesibukanmerekamelakukan kejahatan. Tetapi di padukuhan itu, setiap
hari mereka bergantian masuk ke padepokan. Sebagian diantara mereka
pagi hari, kemudian siang hari, sore hari dan ada diantara mereka
yang memilih melakukannya di malam hari. Namun mereka menyadari,
bahwa ilmu itu akan dapat melindungi mereka sendiri serta keluarga
mereka, sehingga mereka telah melakukannya dengan tekun. Hal itulah
yang kurang diperhitungkan oleh bekas kawankawanmereka yang menjadi
sakit hati. Yang ada pada jantung mereka adalah dendamyangmembara.
Karena itu, maka pada satu saat, beberapa kelompok diantaramerelah
berkumpul. Namun tidak semua pemimpin kelompok menghiraukan
kawan-kawan mereka yang mereka anggap berkhianat. Ada beberapa
orang pemimpin kelompok yang menjadi tidak peduli lagi. Bahkan
ada yang berterus terang, tidak lagi mempunyai orang
yang cukup untukmelakukan balas dendam seperti itu. “Jika kita
bergabung, maka jumlah kita akan menjadi banyak. Sehingga kita tidak
akan mungkin gagal,” jawab seorang pemimpin kelompok yang
mendendam sampai ke tulang sungsum. “Meski pun kita berhasil, tetapi
apa yang kita dapatkan? Kepuasan? Sementara itu diantara
kawan-kawanku yang sedikit itu ada pula yang mati, terluka
parah dan tertangkap jawab seorang pemimpin kelompok yang
lain.” “Siapa yang akan menangkap kawan-kawan kita itu? Kita
akan memusnahkan mereka. Semua orang akan mati. Dan rasa-rasanya
dada ini akan menjadi lapang,” jawab pemimpin kelompok yang
sangatmendendam. Tetapi orang yang merasa kelompoknya semakin kecil
itu masih saja berkeberatan. Katanya: “Kami tidak ikut. Bagaimana
pun juga kami t idak akan mengorbankan orangorang kami untuk hal-hal
yang tidak memberikan arti langsung pada kehidupan kami.”
“Baiklah,” berkata orang yang mendendam, “kami hanya minta agar
kalian mengetahui, bahwa kami akan membinasakan semua orang dalam
padukuhan yang baru itu. Jika orang-orang kalian ikut binasa, jangan
salahkan kami.” “Tidak. Kami tidak merasa berkeberatan. Kami hanya
tidak ingin anggauta kami semakin menyusut lagi,” jawab seorang
diantara para pemimpin dari kelompok-kelompok yang kecil. Akhirnya
orang-orang yang berkumpul itu memutuskan, bahwa segala sesuatunya
diserahkan kepada para pemimpin kelompok masing-masing. Apakah
mereka akan ikut dalam satu hentakkan balas dendam atau tidak. Meski
pun demikian, ternyata kelompok-kelompok yang mendendam cukup
banyak. Mereka akan dapat mengumpulkan banyak orang untuk
menghancurkan sebuah padukuhanyang baru tumbuh. “Mereka harus
merasa meny esal,” geram seorang pemimpinyang mendendam itu. Dengan
demikian maka mereka pun telah membuat janji diantara mereka.
Hari-hari yang ditentukan untukmelakukan kegiatan itu. Dalam
pada itu, para pemimpin dari orang-orang yang mendendam itu
pun telah memperhitungkan kemungkinankemungkinan yang dapat
timbul dari padepokan yang tidak terlalu jauh dari padukuhan
tersebut. “Kita harus bergerak cepat,” berkata salah seorang dari
antara pemimpin itu, “sebelum bantuan datang, maka padukuhan itu
harus sudah hancur. Bahkan seandainya bantuan itu datang dengan
cepat, jumlah mereka tentu tidak akan memadai, sehingga kita akan
dapat menghancurkan bantuan itu pula.” Dengan demikian maka bantuan
dari padepokan itu tidak akan terlalu banyak berpengaruh.
Orang-orang yang mendendam itu akan berpacu denganwaktu.
Demikianlah, ketika saatnya telah tiba, maka beberapa kelompok orang
telah berkumpul. Jumlah mereka ternyata menjadi besar sebagaimana
saat mereka meny erang padepokan Bajra Seta. Agaknya
kelompok-kelompok yang besar dari para penjahat itu justru menjadi
semakin besar, sehingga nampaknya ketenangan hidup pun akan menjadi
semakin sempit. “Kita akan bergerak di malam hari. Menjelang fajar
kita akan memasuki padukuhan itu. Menghancurkan segala isinya dan
membunuh semua orang. Kemudian, kita akan menghilang dengan cepat,”
berkata seorang diantara para pemimpinyang mendendam itu. Sementara
itu, para pemimpin kelompok yang mendendam itu telah mengancam agar
niat itu tidak bocor. Dengan garang para pemimpin itu mengancam:
“Jika ada pengkhianat diantara kita, maka nasibny a akan menjadi
semakin buruk. Orang itu akan mati dengan cara yang paling tidak
disukainya.” Karena itu, maka tidak seorang pun yang berniat
untuk berkhianat. Mereka yang tidak ingin ikut serta, merasa lebih
baik tidak melibatkan diri sama sekali. Apalagi untuk berkhianat.
Pada hari yang sudah ditentukan, maka orang-orang yang telah
berhimpun itu pun mulai bergerak mendekati padukuhan yang baru
tumbuh itu. Mereka dengan sangat berhati-hati telah melintasi
jalan-jalan bulak yang panjang. Mereka sejauh dapat mereka lakukan
berusaha untuk menghindari padukuhan-padukuhan. Namun demikian, ada
juga beberapa orang petani yang sedang mengairi sawahnya di
malam hari sempat melihat iring-iringan panjang itu. Ketiga orang
itu kemudian kembali ke padukuhannya dan menceriterakannya kepada
anak-anak muda yang ada di gardu,maka mereka pun sependapat,
bahwa orang-orang itu tentumenuju ke padukuhanyang baru itu.
“Aku mengenal orang-orang yang tinggal di padukuhan itu,” berkata
salah seorang anak muda, “meski pun mereka beka s penjahat yang
pernah tertangkap saat mereka menyerang padepokan Bajra Seta, namun
mereka telah menjadi baik.” “Nampaknya iring-iringan yang
bergerak di malam hari itu memang menuju ke padukuhan itu,” berkata
seorang petani yang melihatnya saat ia sedang memanfaatkan air yang
mengalir dimalam hari. “Aku akan pergi ke padukuhan itu,” berkata
seorang diantara anak-anak muda itu, “kasihan mereka jika tidak
mengetahui bahwa bahaya sedang merangkap untuk menerkammereka.”
Akhirnya, sembilan orang anakmuda telah ke padukuhan yang akan
menjadi sasaran serangan dari para perampok, penyamun dan
penjahat-penjahatyang lain itu. Ternyata di padukuhan-padukuhan
yang dilewati, anakanakmuda itu mendapat banyak kawan. Lebih
dari dua puluh orang yang dengan diam-diam telah pergi ke padukuhan
yang baru tumbuh itu. Dengan bekal pengenalan medan yang lebih baik,
serta latihan-latihan kanuragan yang mereka dapatkan dari para
cantrik di padepokan Bajra Seta,maka mereka telah mencapai padukuhan
yang mereka maksud lewat jalan pintas tanpa diketahui oleh
para penjahat yang juga merayap semakin dekat itu. Kehadiran
anak-anak muda itu memang sangat mengejutkan. Para penghuni
padukuhan itu yang berada di gardu menyangka bahwa anak-anak
muda justru akan menyerangmereka. Namun dengan cepat seorang
diantaramereka mengangkat kedua tangannya sambil berkata: “Tunggu.
Kami datang denganmaksud baik.” Orang-orang yang ada di gardu
itu termangu-mangu. Mereka masih belumy akin bahwa anak-anakmuda itu
berniat baik. Tetapi beberapa orang diantara anak-anak muda itu
telah bergerak maju. Ternyata mereka dapat mengenali anak-anak muda
itu ketika mereka menjadi semakin dekat dengan obor yang dipasang di
sebelah gardu itu. “Apa yang telah terjadi?,” bertanya salah
seorang diantara mereka yang mengenali anak-anakmuda itu. Anak muda
yang paling berpengaruh diantara kawankawannya telah maju
semakin dekat. Dengan singkat diceriterakannya apa yang telah
diIihatnya, bahwa sebuah iring-iringanyang panjang
telahmendatangi padukuhan itu. “Siapakahmereka?,” bertanya orang
yang ada di gardu itu. “Kami tidak tahu. Tetapi kami
mencemaskannya jika mereka berniat buruk,” jawab salah seorang dari
anak-anak muda itu. Orang-orang yang ada di gardu itu berpikir
cepat. Seorang diantara mereka berkata: “harus segera memberikan
isyarat, agar kawan-kawan kita ber siap.” Tetapi kawannyamencegahnya
sambil berkata: “Tidak. Jika kita bunyikan kentongan, maka
orang-orang yang berniat buruk itu tahu bahwa kami disini
telah bersiap untukmelawan mereka, sehingga mereka menjadi sangat
berhati-hati. Tetapi sebaiknya kita bersiap dengan diam-diam. Kita
sergap mereka jika mereka memang berniat buruk. Dengan demikian maka
mereka akan kehilangan beberapa saat terpenting sebelum pertempuran
terjadi. Kita harus benar-benar memanfaatkan saat yang pendek itu.”
Ternyata yang lain pun setuju. Sementara anakmuda yang
memimpin kawan-kawannya itu berkata: “Kami datang untuk membantu
kalian.” “Terima kasih,” jawab beberapa orang hampir berbareng.
Demikianlah, sejenak kemudian, maka orang-orang yang berada di gardu
itu telah berlari-larian untuk mengetuk pintu setiap rumah, sehingga
dalam waktu yang singkat, setiap lakilaki telah bersiap. Dalam
waktu yang singkat itu pula orang yang memimpin padukuhan itu telah
mengatur, apa yang sebaiknya mereka lakukan untuk mengatasi bahaya
yang sebentar lagi akan datang. “Kita sebaiknya tidak menunggu
didalam padukuhan,” berkata pemimpin dari mereka yang
menghuni, padukuhan itu, seorang yang pernah menjadi hantu
yang sangat ditakuti di bulakbulak panjang. Seorang penyamun
yang namanya dapat membuat seseorang menjadi pingsan. Namun yang
ternyata ia telah mendapatkan terang di hatinya sehingga kelakuannya
itu pun telah berubah, justru setelah ia tertangkap oleh para
cantrik dari padepokan Bajra Seta. Kawan-kawannya pun sependapat.
Mereka akan meny ongsong orang-orang yang meny erang padukuhan
itu dan bertempur di luar padukuhan. “Tetapi kita harus meninggalkan
sekelompok kecil kawankawan kita sebagai kekuatan cadangan. Juga
untukmengatasi kesulitan jika ada diantara mereka yang sempat
menerobos masuk ke dalam padukuhan,” berkata pemimin padukuhan itu.
Dengan cepat, ia mengatur kawan-kawannya dan menempatkan mereka di
tempat yang paling sesuai untuk menahan arus serangan. Sedangkan
delapan orang telah ditempatkan di sudut-sudut padukuhan untuk
mengamati lingkaran di seputar padepokan itu di segala arah.
Sementara itu malam pun bergerak terus. Ternyata orangorang
yang akan meny erang padukuhan itu tidak langsung menusuk ke
dalam padukuhan. Mereka memang merencanakan untuk meny erang
padukuhan itu menjelang fajar. Karena itu,maka ketika mereka menjadi
semakin dekat, makamereka justru telah berhenti untuk beristirahat.
“Kita menunggu disini sampai cahaya fajar mulai nampak,” berkata
pemimpin dari orang-orang yang mendendam itu. Lalu katanya:
“Ada beberapa saat untuk beristirahat. Menjelang fajar orang-orang
padukuhan itu akan terkejut. Tetapi mereka tidak akan sempat berbuat
apa-apa kecuali menyesali pengkhianatan mereka.” Orang-orang yang
sudah berada di depan hidung padukuhan itu pun telah menebar di
jalan bulak. Mereka berbaring di mana saja tanpa menghiraukan tubuh
mereka akan menjadi kotor karenanya. Diatas rerumputan kering.
Diatas tanah berdebu atau di mana saja. Namun mereka sama sekali t
idak menduga, bahwa pada saat itu, orang-orang padukuhan yang
mereka anggap tidak tahu menahu tentang rencana kedatangan mereka
itu pun telah bersiap pula sepenuhnya. Mereka telah merangkakmaju
justru mendekati tempat orang-orang yang akan meny erang itu
beristirahat. Para pemimpin kelompok-kelompok kecil telah tahu
benar, apa yang harusmereka lakukanmenghadapi lawan mereka
itu. Demikianlah, dini hari di padukuhan itu seakan-akan tidak
terusik. Anak-anak masih tidur ny enyak. Namun ibu-ibu merekalah
yang menjadi sangat gelisah. Jika suami-suami mereka dan
anak-anak muda yang jumlahnya tidak terlalu banyak di padukuhan itu
tidak mampu bertahan, maka mereka pun akan menjadi korban. Sementara
itu, para penghuni padepokan itu pun telah menunggu di balik pohon
perdu yang tumbuh di tanggul parit kecil yang meny ilang jalan
bulak yang menuju ke padukuhan. Mereka memperhitungkan, bahwa
orang-orang yang akan menyerang padukuhan mereka akan datangmelalui
jalan itu. Meski pun demikian, orang yang dianggap pemimpin di
padepokan itu telah menempatkan beberapa orang di arah yang lain,
sehingga apabila perhitungan mereka salah, maka orang-orang yang
mengamati keadaan itu harusmemberikan isy arat. Tetapi ketika dua
orang diantara mereka merangkak maju menyusuri pepohonan di pinggir
jalan, maka mereka pun sempat melihat dalam keremangan dini hari,
beberapa orang yang berjalan hilir mudik. Nampaknya orang-orang yang
sedang bertugas sementara kawan-kawannya sedang beristirahat.
“Apakah orang -orang yang dikabarkan akan meny erang padukuhan itu
telah berada disitu?,” desis seorang diantara para pengawas itu.
Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak berani mendekat.
Mungkin mereka akan dapat terjebak dan tidak sempatmemberi isyarat,
sehingga akhirnya orang-orang itu dapat memeras keterangan dari
mulut mereka, bahwa kedatanganmereka telah diketahui. Karena itu,
maka kedua orang itu justru merangkak surut dan memberikan laporan
kepada orang yang dianggap pemimpin dari padepokan itu, bahwa
dihadapan mereka terdapat beberapa orang yang tidakmereka
kenal. “Berapa jumlahnya?,” bertanya pemimpin padukuhan itu. “Kami
tidak dapat melihat dengan jela s. Kami hanya melihat beberapa orang
berjalan hilir mudik. Agaknya mereka adalah orang-orang yang
sedang berjaga-jaga diantara sepa sukanyang sedang
beristirahat,” jawab pengawas itu. Pemimpin kelompok itu
mengangguk-angguk. Katanya: “Mereka tentu menunggu fajar, saat
yang mereka perhitungkan untukmenyerang.” Tetapi pemimpin dari
padukuhan itu t idakmembuang satu kesempatan. Beranting
diperintahkannya orang-orangnya mendekat. “Setiap saat terdengar
isyarat,maka kita harusmeny erang. Kapan pun juga,” berkata pemimpin
dari padukuhan itu. Semua orang memang telah bersiap. Bagaimana pun
juga mereka memangmenjadi berdebar-debar. Meski pun mereka adalah
orang-orang yang telah berpengalaman, namun mereka menyadari, bahwa
yang mereka hadapi adalah juga orangorang yang
berpengalaman. Tetapi orang-orang padukuhan itu serta sekelompok
anak muda yang telah membantu mereka, mempunyai beberapa
kelebihan. Mereka bukan saja berpengalaman bertempur, tetapi mereka
pun memiliki landasan kemampuan olah kanuraganyang mereka sadap dari
padepokan Bajra Seta. Sementara itu, langit pun menjadi semakin
cerah. Orangorang yang menunggu fajar itu pun mulai
bersiap-siap. Dua orang pengawas dari padukuhan melihat orang-orang
yang semula terbaring dimana pun juga itu mulai bangkit. Sebagian
dari mereka masih sempat menggeliat. Sedang yang lain bangkit
berdiri untukmencucimuka di parit yang mengalir di pinggir jalan
itu. Para pengawasmenganggap bahwa waktunya telah datang. Karena
itu, seorang diantara mereka pun telah merayap mundur untuk
menyampaikan laporan kepada pemimpin padukuhan itu. “Bagus,” berkata
pemimpin padukuhan itu, “kita tidak akan menunggumereka benar -benar
bersiap. Karena itu, maka ia pun telah memberikan isyarat dengan
melemparkan batu-batu kerikil kepada kawan-kawannya di sebelahmeny
ebelahnya. Isy arat itu pun segera dilanjutkan beranting. Untuk
meyakinkan bahwa kawan-kawannya telah menerima isyarat itu, maka
kawan-kawannya pun telah melemparkan kerikil pula kepada pemimpin
padepokan itu. Sejenak kemudian,maka orang-orang padukuhan itu mulai
bergeser mendekat. Meski pun langitmulai terang, tetapi hari masih
cukup gelap. Tananam di sawah, serta batang-batang perdu di tanggul
parit sedikit menghalangi pandangan orangorang yang menunggu fajar
itu. Tetapi hampir saja orang-orang padukuhan itu terlambat. Ketika
mereka mendekati jalan tempat orang-orang itu beristirahat,maka
telah terdengar para pemimpin kelompokkelompok yang mendendam itu
mulai meneriakkan aba-aba untuk bersiap-siap. “Sebelum fajar kita
bergerak. Padukuhan yang akan menjadi sa saran kita adalah
padukuhan di depan hidung kita itu.“ Orang-orang itu pun mulai
bersiap-siap. Sebagian dari mereka masih sibukmencucimuka di parit
kecil itu. Pada saat yang demikian, maka tiba -tiba saja
terdengar teriakan aba-aba mengoy ak sepinya pagi. Sebelum mereka
menyadari apa yang terjadi, beberapa orang telah berloncatan ke atas
tanggul parit, kemudian meloncat menerkam mereka dengan senjata di
tangan. Orang-orang yang tiba -tiba saja muncul dari kegelapan itu
memang sangat mengejutkan. Dari jarak yang terhitung pendek,
orang-orang yang bagaikan bangkit dari dalam bumi itu telah
menggapaimereka denganujung senjata. Beberapa orang sama sekali
tidak mempunyai kesempatan untuk berhuat sesuatu. Tiba -tiba saja
ketika mereka sadar, maka tubuhnya telah dikoy ak oleh senjata
lawannya. Pada hentakkan pertama, beberapa orang telah menjadi
korban. Mereka adalah orang-orang yang sangat malang. Tanpa dapat
berbuat sesuatu, maka senjata telah menusuk tubuhmereka. Beberapa
orang langsung terkapar di tanggul dan di pinggir jalan. Ada yang
terbunuh, tetapi ada yang hanya terluka. Bahkan ada diantara
mereka yang terluka, berpura-pura mati, sehingga ujung pedang
lawannya tidakmenukik sekali lagi ke jantungmereka. Tetapi sejenak
kemudian, maka orang-orang yang semula berniatmeny erang padukuhan
itu telah terlibat sepenuhnya ke dalam pertempuran. Ternyata tusukan
orang-orang padukuhan itu telah mampu melukai pasukan yang
telah siap untukmeny erang padukuhan itu. Ketika orang-orang yang
meny erang padukuhan itu menyadari apa yang terjadi, maka
keadaan telah menjadi semakin buruk. Tetapi beberapa orang
pemimpinnya menyadari keadaan telah berteriak nyaring untuk
membangunkan orang-orang yang masih terkantuk-kantuk. “Jangan
serahkan lehermu. Marilah, kita harus bangkit,” teriak seorang
pemimpin. “Orang -orang itu dengan licik telah menyerang kita begitu
tiba -tiba. Mereka sama sekali tidak bertempur sebagaimana seorang
laki-laki.” Tetapi pemimpin padukuhan itu berkata pula: “Jangan
biarkan orang-orang itu mengotori padukuhan kita. Apalagi dengan
darahnya. Karena itu, kita harus bertahan dan bertempur disini.”
Dengan demikian maka pertempuran itu pun dengan cepat telah menjadi
semakin panas. Orang-orang yang datang itu telah membawa
dendamyang membara. Sementara itu, orangorang padukuhan itu sama
sekali tidak ingin hidup mereka dibayangbayangi terus oleh
kelompok-kelompok orang yang merasa pernahmenjadi sumber
kemampuanmereka. Ternyata bahwa sergapan yang dilakukan oleh
orang-orang padukuhan itu menjadi sangat berarti. Dalam keadaan yang
tiba -tiba itu orang-orang padukuhan seakan-akan telah berhasil
membuat kemampuan pasukan yang meny erang denganmereka yang
harusbertahanmenjadi seimbang. Karena itulah, maka pertempuran
yang terjadi kemudian pun ternyata menjadi sangat sengit.
Kedua belah pihak saling mendesak dan saling bertahan.Orang-orang
yangmendendam itu benar -benar seperti orang yang kerasukan iblis.
Sebaliknya mereka yang bertahan menjadi seperti harimau yang
terluka. Beberapa orang peny amunyang ada di dalam
pasukanyang datang menyerang telah berteriak-teriak mengancam.
Tetapi mereka yang bertahan ternyata sama sekali tidak menjadi
gentar. Bahkan pemimpin padukuhan itu berteriak: “Aku adalah peny
amun terbesar pada masanya. Dan kini aku masih tetap yang
terbesar. Terbesar peny esalanku atas tingkah laku dan cara hidupnya
masa lalu.” “Persetan dengan kau,” geram salah seorang pemimpin dari
pa sukanyang datangmenyerang itu. Sementara pertempuran berlangsung
dengan sengitnya, maka para pemimpin dari kelompok-kelompok yang
menyerang itu pun seakan-akan tengah mencari orang-orang yang mereka
kenal dan pernah berada di dalam gerombolannya. Mereka mencari
sampan dendam yang mereka anggap tepat, sesuai dengan keinginan
mereka datang ke tempat itu. Tetapi orang yang bertahan pun sulit
untuk dapat disibakkan. Dalam pada itu, ternyata jumlah orang-orang
yang menyerang padukuhan itu masih lebih banyak, meski pun pada
singgungan pertama, beberapa orang diantara mereka langsung terkapar
jatuh. Dengan demikian, maka jumlah yang lebih besar itu memang
mempengaruhi imbangan kekuatan antara kedua belah pihak. Namun
ternyata orang-orang padukuhan itu memiliki kelebihan. Selain mereka
mempunyai da sar yang sama selama mereka bertualang di dunia
kejahatan, maka orang-orang padukuhan itu telah mendapat tuntunan
cukup dalam pertempuran bersama-sama. Perang gelar dan bermain
dengan berbagai jenis senjata. Karena itulah, maka orang-orang
padukuhan itu nampaknya menjadi lebih mapan dari lawan-lawan mereka.
Apalagi orang-orang padukuhan itu telah menjadi lebih
banyakmengenalimedan pertempuran. Ternyata baik para peny erang mau
pun orang-orang padukuhan itu sama sekali tidak memasang gelar di
dalam pertempuran itu. Gelar yang paling sederhana pun tidak. Mereka
telah membiarkan orang -orang dari pihak masingmasing bertempur
sesuai dengan bekal dan kemampuan mereka masing-masing. Dengan
demikian,maka pertempuran itu pun seakan-akan telah terpecah menjadi
beberapa putaran arena pertempuran. Namun dengan demikian maka
kelebihan dari para penghuni padukuhan itu pun menjadi semakin
memberikan arti bagi dalam pertempuranyang menjadi kasar itu.
Sementara itu, lebih dari dua puluh orang anak-anakmuda dari
padukuhan-padukuhan tetangga yang dengan suka rela telah
membantu orang-orang padukuhan itu, karena mereka tahu, bahwa orang
-orang yang tinggal di padukuhan itu sedang dalam satu masa
yang sulit. Mereka sedangmeniti satu masa peralihan
untukmenemukan satu dunia yang lebih baik dari yang pernahmereka
tempuh semula. Anak-anakmuda itu adalah anak-anakmuda yang memiliki
bekal kemampuan yang juga mereka sadap dari padepokan Bajra
Seta. Sehingga dengan bekal kemampuan mereka,maka anak-anakmuda itu
telah bertempur dengan garangnya pala. Namun pertempuran itu semakin
lama menjadi semakin kasar. Ketika orang-orang yang menyerang
padukuhan itu tidak lagi mengekang maka mereka mulai bertempur
dengan cara yang terbiasa mereka lakukan. Ternyata cara-cara itu
telah memancing orang-orang padukuhan yang pernah hidup dalam dunia
yang sama, untuk bertempur semakin kasar pula. Namun ternyata bahwa
kelebihan mereka dalam olah kanuragan telah membuat orang-orang yang
meny erang padukuhan itu mengalami banyak kesulitan. Dalam tatanan
gerak yang keras dan kasar, maka bekal yang mereka
peroleh dari Padepokan Bajra Seta menjadi semakin terasa menekan
bagi orang-orang yang menyerang padukuhan itu. Unsur-unsur gerak
yang lebih rumit yang mengandung berbagai kemungkinan
dengan sa saran yang terpilih atas tubuh lawannya, yang
dilakukan dengan keras benar-benar telah mengguncangkan pertahanan
lawan-lawanmereka. Dalam kekalutan itu, maka seorang dari antara
penghuni padepokan itu memberikan pertimbangan kemungkinan
membunyikan isyarat bagi Padepokan Bajra Seta. Mereka tentu akan
segera mengirimkan bantuan untuk mengusir orang-orang yang
datangmeny erang itu. Tetapi pemimpin padukuhan itu berkata: “Kita
harus berusaha dan berlatih dengan sungguh-sungguh untuk mampu
berdiri sendiri. Kita tidak akan selamanya menjadi tanggungan orang
lain. Karena itu,maka kita harus mencoba mengatasi kesulitan ini
sendiri.” Orang itu ternyata dapat mengerti. Karena itu, maka ia
tidak lagi mendesak. Tetapi ia pun segera meloncat turun ke medan
pertempuran sambil memutar senjatanya. Sebuah teriakan yang
keras darimulutnya terlontar meninggi seakanakan menggapai langit.
Demikianlah, pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Ternyata
bahwa orang -orang padukuhan itu bukanlah kelinci yang
denganmudah dapat ditundukkan serta menyerahkan lehernya untuk
dibantai sebagai pengkhianat terhadap kawan-kawan mereka yang pernah
bersama-sama menjelajahi padukuhan-padukuhan untuk merampok atau
bulak-bulak panjang untuk menyamun serta melakukan
kejahatan-kejahatanyang lain. Dalam pada itu, para penjahat yang
mendendam dan kemudianmeny erang padukuhan itu memang
terkejutmelihat perlawanan para penghuni padukuhan itu. Sejak mereka
disergap dengan tiba -tiba dan kemudian harus bertempur dengan
mengerahkan segenap kekuatan yang ada, orangorang yang meny
erang itu merasa bahwa mereka telah salah hitung. Mereka mengira
bahwa orang -orang padukuhan itu sama sekali t idak mempunyai
kekuatan lagi. Mereka yang telah meninggalkan kebiasaan mereka
menjelajahi sasaran kejahatan mereka dan hidup menjadi petani,
disangkanya tidak lagi mempunyai keberanian untuk menghadapi
ujungujung senjata. Namun ternyata mereka justru telah meny ergap
lebih dahulu dan kemudian menekanmereka dengan kekuatan yang
benar-benar di luar dugaan. Apalagi orang-orang padukuhan yang
merasa hidupnya selalu terancam itu, tidak selunak para cantrik di
padepokan. Ujung-ujung senjata mereka benar-benar menghunjam sampai
ke jantung. Tidak ada usaha untuk menghindari kematian, justru
karena orang -orang padukuhan itu merasa dirinya lebih lemah. Korban
pun semakin lama menjadi semakin banyak. Yang terbanyak justru dari
mereka yang datang meny erang padukuhan itu. Sementara
orang-orang padukuhan yang telah melakukan latihan dengan
baik, serta anak-anak muda yang memiliki dasar ilmu kanuragan
itu,masih sempat berpikir dan berusaha untuk melindungi diri mereka
berbareng dengan usahamereka untukmenundukkan lawannya. Yang terjadi
adalah satu kenyataan. Orang -orang yang menyerang padukuhan
itu untuk melepaskan dendamnya, ternyata sama sekali tidak mampu
berbuat sesuatu. Mereka terpaksa menyerahkan korban dari antara para
penjahat yang dianggapmemiliki keberanianyang tinggi. Ketika
matahari menjadi semakin tinggi, maka keny ataan itu benar-benar
telah dibentangkan di hadapan mereka yang sedang bertempur itu.
Darah telahmembasahi jalan bulak dan tanah persawahan,mengalir di
pematang dan menitik di daun padi. Orang-orang yang mendendam
itu mengumpat tidak ada habis-habisny a. Mereka ternyata tidak
berhasil membantai orang-orang yang mereka anggap pengkhianat itu.
Bahkan justru kawan-kawanmerekalahyang sudah terbantai di arena.
Tanpa para cantrik, maka orang-orang padukuhan itu ternyata masih
juga dijangkiti oleh kebiasaan mereka jika keringat apalagi darah
telah mengalir. Senjata mereka tentu menggapai sampai ke pusat
lawannya. Dengan demikian maka kedua belah pihak telah menjadi
semakin garang. Korban pun berjatuhan. Namun karena orang-orang
padukuhan itu mempunyai bekal yang lebih lengkap, maka mereka
memiliki kesempatan lebih baik untuk tetap hidup dari pada
orang-orang yang datangmeny erang. Karena itu, maka semakin lama
semakin nampak bahwa pa sukan yang menyerang padukuhan itu pun
susut lebih cepat. Dengan demikian, maka orang-orang yang meny erang
padukuhan itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Betapa pun mereka
berusaha menghentakkan kekuatan dan kemampuan yang ada di
dalam pasukan mereka, tetapi mereka benar-benar t idak mampu
mengimbangi orang-orang padukuhan yang ingin mereka hancurkan
karena dendam yang selalu menyengat perasaan mereka. Apalagi jika
mereka mendengar bahwa usaha untuk membangun sebuah padukuhan telah
berhasil. Perasaan dendam, benci dan iri telah membakar
jantungmereka. Namun mereka membentur keny ataan, bahwamereka tidak
akan mampu berbuat apa -apa. Bahkan semakin lama korban
diantaramereka akanmenjadi semakin banyak jatuh. Karena itu, maka
pemimpin yang mendapat kepercayaan untuk memimpin pasukan itu
dalam keseluruhan tidak mempunyai pilihan lain. Dengan hati
yang sangat sakit,maka ia pun telah memberikan isy arat agar
seluruh pa sukan itu menarik diri. Perintah itu memang menimbulkan
tanggapan yang berbeda. Ada diantara mereka yang tidak
mau melihat keny ataan. Mereka menganggap bahwa pada akhirnya mereka
akan dapatmenghancurkan pa sukanyang disusun oleh orangorang
padukuhan itu. Tetapi sebagian besar dari mereka menyadari, perintah
itu adalah satu-satunya kemungkinan yang dapat mereka tempuh jika
mereka tidak ingin membunuh diri. Karena itulah maka ketika isy arat
itu diperdengarkan sekali lagi, maka orang-orang yang meny
erang padukuhan itu menjadi yakin, bahwa mereka memang harusmenarik
diri. Sejenak kemudian,maka medan pertempuran itu bagaikan
bergetar.Orang-orang yang meny erang padukuhan itu sedang
menghentakkan kekuatan mereka. Dengan demikian, maka mereka akan
mendapat ancang-ancang untukmelarikan diri. Ternyata bahwa demikian
kesempatan terbuka, orangorang yang meny erang padukuhan itu pun
segera ditarik mundur. Mereka pun segera menghambur meninggalkan
medan. Mereka dengan sengaja telah berlari bercerai berai, sehingga
dengan demikian maka orang-orang padepokan itu memangmenjadi
bingung. Kemana mereka harusmengejar. Beberapa puluh langkah
orang-orang padukuhan itu berusaha mengejar. Tetapi akhirnya
pengejaran itu mereka hentikan setelah orang-orang yang meny
erang padukuhan itu bertebaran ke segala penjuru,menjelajahi
kotak-kotak sawah, meniti pematang danmenginjak-injak tanaman.
Beberapa saat kemudian, orang-orang padukuhan itu serta anak-anak
muda yang membantu mereka telah berkumpul. Beberapa orang korban
memang telah jatuh. Bahkan ada pula diantara anak-anak muda yang
telah membantu padukuhan itu, bahkan telah memberikan isyarat bahwa
padukuhan itu akan mendapat serangan. Berkali-kali pemimpin
padukuhan itu mengucapkan terima kasih. Tanpa bantuan mereka, serta
tanpa isy arat sebelumnya bahwa padukuhan itu akan diserang, maka
padukuhan itu tentu sudah hancur. Mereka tentu sudah dibantai oleh
orangorang yang mendendam danmenganggapmereka berkhianat. Meski pun
sebelum pertempuran itu terjadi t idak ada peringatan dan tidak ada
pembicaraan sama sekali, tetapi orang-orang padukuhan itu tahu pasti
apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang datang itu.
Beberapa saat kemudian,maka orang-orang padukuhan itu pun telah
berusaha untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang menjadi korban.
Hampir pasti, bahwa yang terluka telah tidak bernafas lagi.
Orang-orang yang meny erang padukuhan itu memang tidak pernah merasa
ragu-ragu untuk membunuh. Namun ketika hal itu disadari oleh
orang-orang padukuhan itu, maka mereka pun telah melakukan hal yang
sama sebagaimana dahulu selalu mereka lakukan. Mereka hampir tidak
pernah meninggalkan dan membiarkan korban-korban mereka untuk tetap
hidup betapa mereka menangis dan meminta. Hanya karena keajaiban
sajalah bahwa orang dapat tetap hidup setelah bertemu dengan mereka.
Apakah itu di bulak-bulak panjang, di jalan-jalan atau di rumah
mereka yang dirampok. “Ada beberapa orang yang masih hidup
berkata salah seorang penghuni padukuhan itu. “Kenapa kau masih
harus bertanya jawab seorang yang bertubuh gemuk,” kawan-kawan
kita telah mereka bantai dengan keji. Kenapa orang-orang yang
terluka itu tidak diakhiri saja sama sekali. Tetapi mereka terkejut
ketika mereka mendengar jawaban bukan dari kawan-kawan mereka yang
ada disekitarnya. Katanya: “Kenapa kalian masih tetap hidup meski
pun ada diantara kalian yang terluka saat kalian ditangkap di
padepokan?” Orang-orang itu berpaling. Ternyata mereka melihat
Mahisa Pukat berdiri tegak sambil memandangi wajah-wajah yang tegang
itu. Orang-orang itu menjadi gelisah. Tetapi mereka hanya
dapatmenundukkan kepalanya saja. Ternyata Mahisa Pukatmelangkah
terus. Ia hanya berhenti sejenakmemandangi orang -orang yang
terbaring diam. Ada di antara mereka yang memang masih hidup.
Tetapi lukanya sudah menjadi sangat parah. Sementara itu di tempat
lain Mahisa Murti hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Hampir
semua orang yang terbaring sudah tidak bernyawa lagi. Baik
orang-orang yang menyerang padukuhan itu, mau pun orang -orang dari
padukuhan itu sendiri, ternyata tidak lagi mampu mengekang diri.
“Pertempuranyang mengerikan,” desis Mahisa Murti. Sejenak kemudian
baik Mahisa Murti mau pun Mahisa Pukat telah menemui pimpinan
padukuhan itu. Kedua orang pemimpin dari padepokan yang sedang
mekar, Bajra Seta, merasa berkeberatan dengan cara mereka bertempur.
“Kami tidak mempunyai pilihan lain,” jawab pemimpin padukuhan itu.
“Bahwa kalian harus mempertahankan padukuhan kalian itu, tentu.
Tetapi cara kalian bertempur itulahyang kurang aku setujui,”
berkata Mahisa Murti, “kenapa kau terpancing oleh lawanmu untuk
bertempur dengan kasar. Apakah kau merasa perlu untuk membunuh orang
sebanyak-banyaknya dalam pertempuran itu? Seharusny a kalian minta
bantuan para cantrik. Kalian akan dapatmengusir lawan dari padukuhan
ini tanpa harus bertempur dengan salingmembantai.” Pemimpin kelompok
itu tidak menjawab. Meski pun ia mengangguk-angguk, tetapi ia merasa
sulit untuk membayangkan bagaimana pertempuran cara itu terjadi.
Namun akhirnya ia pun mengerti apa yang dimaksud oleh Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak bertanya lebih
lanjut. Mereka hanya mengelilingi arena pertempuran itu. Kemudian
meninggalkan orang-orang padukuhan itu sibuk dengan orang-orang
yang terbunuh dan satu dua yang terluka parah. Namun pada
malam harinya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah datang ke
padukuhan yang baru saja mendapat serangan itu. Dengan panjang lebar
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjelaskan, bahwa perang bukanlah
sekedar membunuh dan hilangnya rasa perikemanusiaan. Meski pun hal
seperti itu sulit untuk dihindari. Orang-orang padukuhan itu
termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka memang harusmengakui, bahwa
merekamasih belum dapat mengekang diri mereka sehingga dalam
pertempuran yang baru saja terjadi, mereka masih juga diwarnai
dengan sifat-sifatmereka sebelumnya. “Sudahlah,” berkata Mahisa
Murti kemudian, “apa yang terjadi adalah satu peringatan bagi
kalian. Adalah kebetulan bahwa lawan kalian adalah orang-orang
yang kasar dan bahkan buas, sehingga kalian telah terpancing
untuk melakukannya. Tetapi untuk selanjutnya kalian harus
menempatkan diri kalian sebagaimana sikap seseorang yang berakal
budi.” Pemimpin padukuhan itu memang sempat minta maaf kepada Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Dengan nada rendah ia berkata: “Kami
ternyata masih juga dibayang i oleh sifat-sifat kami dari hidup
kamiyang terdahulu.” “ Ingatlah,” berkata Mahisa Murti kemudian,
“kalian yang dahulu, maksudku hidup kalian yang lama,
telah mati. Telah dikuburkan. Kalian harus berada dalam satu dunia
yang baru, karena kalian adalah orang baru yang dilahirkan kembali
dengan sifat-sifatyang harus baru sama sekali.” Sementara itu,
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyempatkan diri secara khusus
berterima kasih kepada anak-anak muda yang telah membantu padukuhan
itu mempertahankan diriny a. Bahkan mereka telah dengan suka rela
melibatkan diri sejak pertempuran belum dimulai. Di hari berikutnya
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat diikuti oleh pemimpin padukuhan itu
serta beberapa orang yang lain telah memerlukan mendatangi orang tua
dari tiga orang korban yang terbunuh di medan pertempuran itu.
Sambil menyerahkan tubuh dari korban yang telah gugur itu,
mereka mengucapkan terima kasihyang tidak terhingga besarnya.
“Mereka telah gugur untuk satu perjuangan yang luhur,” berkata
Mahisa Murti, “ada satu pesan tersendiri dari perjuangan mereka,
karena sebenarnyalah mereka telah berusaha meny elamatkan sebuah
padukuhan dari kehancuran mutlak. Tanpa bantuan mereka maka
padukuhan itu tentu sudah menjadi debu.” Orang tua ketiga orang
korban itu, terutama ibu-ibumereka memang menangis. Tetapi mereka
dapat mengerti arti dari pengorbanan anak-anak muda itu. Mereka
dapat membayangkan tanpa pengorbanan mereka, maka yang terjadi
adalah pembantaian yang mengerikan. Padukuhan itu tentu masih
tertidur lelap ketika bahaya itu menerkam menjelang fajar. Tetapi
karena jasa anak-anakmereka serta beberapa orang kawannyamaka hal
itu akhirnya dapat dihindari. Mengorbankan diri untuk keselamatan
orang lain memang sangat mahal harganya. Hanya kasih yang
tulus terhadap sesama maka seseorang ber sedia mengorbankan jiwanya
bagi keselamatan orang lain, tanpa pamrih selain keselamatan itu
sendiri. Karena itu, maka ketiga orang anak muda itu memang pantas
untuk mendapat penghormatan yang tinggi. Mereka memang tidak
mendapatkan penghormatan dari sepasukan prajurit yang datang
dari Singasari atau Sangling atau Lemah Warah. Tidak pula dari
Kediri. Yang menghormatinya hanyalah tetangga-tetangganya saja yang
mengetahui apa yang telah terjadi. Namun penghormatan itu tidak
kalah nilainya dengan penghormatanyang mana pun juga, karena
diberikan oleh orang-orang itu dengan hati yang bersih,
yang menjadi saksi atas pengorbanan yang telah diberikan
oleh anak-anak muda yang telah gugur itu. Dengan demikian maka di
padukuhan-padukuhan yang lain- pun telah timbul pula suasana
berkabung sebagaimana padukuhan yang menjadi sasaran utama dari peny
erangan yang didor ong oleh perasaan dendam. Yang sebenarnya
dilandasi pula oleh perasaan dengki, bahwa orang -orang yang semula
hidup bersama mereka dalam kegelapan, telahmampu mengangkat dirinya
dan hidup, dalam satu suasana yang jauh lebih baik. Namun peristiwa
itu telah menjadi cambuk bagi orangorang yang tinggal di padukuhan
baru itu. Mereka harus lebih ber siap menghadapi
kemungkinan-kemungkinan buruk seperti itu di saatyang lain. Dengan
demikian, maka para penghuni padukuhan itu menjadi semakin
meningkatkan kesiagaan mereka. Anak-anak mudanya menjadi lebih giat
melakukan latihan-latihan yang diberikan oleh para cantrik yang
terpilih. Beberapa orang remaja yang mendekati usia dewasanya telah
pula ditempa untuk menjadi anak muda yang perkasa. Bahkan anak-anak
pun telah mulai dengan pengenalan pada unsur -unsur dasar olah
kanuragan. Jika mereka kelak tumbuh menjadi remaja dan apalagi
dewasa,makamereka akan dapatmenjadi benteng yang kokoh dari
padukuhan mereka. Tetapi yang terpenting adalah meningkatkan
ketahanan padukuhan itu dalam waktu yang singkat. Setiap saat
orangorang yangmendendam dan mendengki itu datang lagi,maka mereka
tidak akanmengecewakan. Namun setiap kali Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat berkata: “Perang berbeda dengan pembantaian. Meski pun tujuan
akhir dari perangmemang kemenangan, tetapi nilai kemenangan itu
jangan dikotori oleh tindakan-tindakan yang dapat menyinggung
kesadaran kemanusiaanyang paling dalam.” Sementara itu,
ternyata kelompok-kelompok yang berusaha untuk menghancurkan
padukuhan yang baru itu, telah saling menuduh bahwa kelompok
yang lain tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Meski pun
hal itu tidak dilontarkan dengan terbuka, namun masing -masing
kelompok merasa bahwa telah timbul perasaan saling mencurigai
yang tajam diantaramereka. Nampaknya persoalan yang
timbul diantara mereka itu merupakan pertanda baik bagi padukuhan
yang semakin berkembang itu. Sebab dengan demikian, maka kemungkinan
mereka untuk datang dalam kelompok yang besar menjadi semakin kecil.
Sementara padepokan Bajra Seta berkembang semakin pesat,maka telah
terjadi satu peristiwa yangmengejutkan bagi padepokan itu. Ternyata
telah datang utusan dari istana Singasari, Sri Maharaja telah
memanggil Mahendra untuk menghadap. Seorang perwira prajurit
Singasari yang datang bersama sekelompok pengawalnya telah
menyampaikan perintah itu dengan membawa pertanda kuasa Sri
Maharaja. Sebuah tunggul yang berwarna keemasan berbentuk kelopak
bunga, dengan kelebet segi tiga dengan lukisan sepa sang naga ular
yang salingmembelit. “Kenapa aku harusmenghadap?” bertanya Mahendra,
“aku sudah semakin tua. Apa yang dapat aku lakukan dalam keadaan
pikun seperti ini?” “Kami hanyalah utusan yang memanggul perintah
Sri Maharaja,” jawab perwira yang memimpin sekelompok utusan itu.
Mahendra mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menolak perintah itu.
Dengan rendah hati Mahendra berkata: “Baiklah. Aku akanmenghadap Sri
Maharaja di Singasari. Tetapimohon disampaikan sebelumnya, bahwa
Mahendra sudah menjadi pikun.” “Kita pergi ber sama -sama Ki
Mahendra,”minta perwira itu. Tetapi Mahendra menggeleng. Katanya:
“Aku akan menyusul kemudian. Silahkan angger mendahului. Aku masih
akan ikut membenahi padepokan ini meski pun kedua orang anakku masih
akan tinggal disini dan memimpin padepokan ini.” “Ki Mahendra
memerlukan waktu berapa hari? Kami ber sedia untuk menunggu sampai
Ki Mahendra selesai membenahi padepokan ini,” berkata perwira yang
memimpin utusanyang menjemput Mahendra itu. “Kenapa aku harus pergi
bersama kalian?,” bertanya Mahendra. “Perintah Sri Maharaja. Aku
kembali bersama ki Mahendra,” jawab perwira itu: “jadi sampai kapan
pun sebelum Ki Mahendra dapat berangkat ke Singasari, kami masih
akan menunggu. Jika kami kembali Iebih dahulu,maka akan terjadi dua
kemungkinan. Kami dihukum karena tidak menjalankan perintah, atau Ki
Mahendra yang dianggap menolak perintah.” Mahendra menarik nafas
dalam-dalam. Ia memang tidak dapat mengingkari perintah itu. Ia
harus pergi ke Singasari ber sama para prajurit. Mungkin tidak ada
yang penting. Mungkin Sri Maharaja sekedar merasa kehilangan Mahisa
Agni dan Witantra. Kemudian memanggilnya untuk sekedar berbincang
karena Sri Maharaja tahu, bahwa isadalah saudara muda seperguruan
Witantra dan seorang yang dekat dengan Mahisa Agni. “Tetapi aku
tidak lebih dari seorang pedagang wesi aji dan batu akik,
sekali-sekali permata yang memang mahal harganya,” berkata
Mahendra didalam hatinya. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab:
“Baiklah Ki Sanak. Jika itu perintah Sri Maharaja, maka aku tidak
akan menentangnya. Aku merasa bahwa aku mempunyai kewajiban
untukmematuhinya.” “Terima kasih Ki Mahendra,” jawab perwira itu,
“tetapi dengan demikian maka kami mohon mendapat tempat untuk
tinggal selama beberapa harimenunggu Ki Mahendra.” “Tentu Ki Sanak,”
jawab Mahendra, “tetapi mohon diketahui, bahwa tempatnya terlalu
sederhana.” “Kami, para prajurit, dapat tinggal di manapun. Bahkan
seandainya kami harus berada di longkangan-longkangan sekali pun,”
jawab perwira yang membawa pertanda kekuasaan dari Sri Maharaja di
Singasari itu. Kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Mahendra telah
minta untukmeny ediakan barak khusus bagi penginapan para prajurit
dari Singasari itu. Dalam pada itu, dalam pertemuan yang sangat
khusus, Mahendra telah minta diri kepada Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. “Aku harus memenuhi perintah Sri Maharaja. Aku tidak tahu
berapa hari aku harus berada di Singasari. Mungkin satu dua hari.
Tetapi mungkin agak lama. Aku pun tidak tahu untuk apa aku harus
pergi ke Singasari. Mungkin untuk sesuatu yang penting. Tetapi
mungkin sekedar mengisi kekosongan sepeninggal kakang Mahisa Agni
dan kakang Witantra,” berkata Mahendra kemudian. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat hanya dapatmenganggukangguk saja, sementara Mahendra
telah memberikan pesan kepada mereka tentang padepokan Bajra Seta
yang telah mereka dirikan. “Jangan sia -siakan Padepokan
yang telah berkembang dengan baik ini,” berkata Mahendra,
“selain daripada itu, maka kalian berdua jangan tenggelam dalam
kesibukan yang berlarut-larut, sehingga kalian tidak sempat
meningkatkan ilmu kalian sendiri. Kau sudah tidak lagi mempunyai
seorang yang secara khusus menuntun kalian untuk meningkatkan ilmu
kalian. Karena itu, kalian harus mampu menguasai diri sendiri serta
dengan sungguh-sungguh berusaha meningkatkan dan mengembangkan ilmu
kalian. Beruntunglah kalian karena kalian telah mendapat tuntunan
dari beberapa orang yang berilmu sangat tinggi, serta kalian
telah mendapatkan pusaka yang jarang ada duanya. Bekal itu
harus kalian kembangkan sebaik-baiknya sehingga kalian tidak akan
hanya sekedar berpijak pada apa yang kau miliki sekarang.
Mungkin kakangmu Mahisa Bungalan tidak mempunyai kesempatan untuk
itu. Ia terlalu sibuk dengan tugas-tugasny a, sehingga karena itu,
ia tidak dapat setiap kali berada di sanggarnya.” Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat hanya dapatmenganggukangguk sertamengiakannya. Namun
Mahendra juga berpesan tentang anak-anak yang telah terlanjur
dibawa ke padepokan itu. “Kau tidak boleh menelantarkan Mahisa Semu
dan Mahisa Amping. Keduanya telah kau bawa kemari. Karena itu, maka
kau mempunyai kewajiban untuk membesarkan mereka. Bukan hanya
tubuhnya, tetapi juga ilmunya. Bukankah pada suatu saat kau
memerlukan orang-orang baru yang pantas untuk ikut memimpin
padepokan ini? Aku tahu bahwa keduanya tidak akan dapat menjadi
wadah segala macam isi yang ada di dalam dirimu, karena kau tentu
masih berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat
terjadi. Mungkin anak-anak kalian atau anak Mahisa Bungalan yang
pantas mewarisi semua kemampuan dan ilmu kalian. Tetapi dengan
tuntunan yang baik, lahir dan batin, kedua anak itu akan dapat
ikut serta menciptakan satu suasana yang memungkinkan orang-orang
yang masih bakal lahir untuk menggantikan puncak dari
kepemimpinan padepokan ini. Namun tidak mustahil bahwa kau
memerlukan sosok perantara.Nah, Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan
dapat melakukannya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja
menganggukangguk. Ia menyadari sepenuhnya apa yang dikatakan oleh ay
ahnya itu, sehingga dengan demikian, maka mereka pun telah berjanji
kepada diri sendiri untuk melakukan dengan sebaik-baiknya tugas itu.
Merekalah yang telah membawa anak-anak itu ke padepokan itu
dengan niat agar pada suatu saat mereka tidak akan kehilangan jalur
peningkatan dan pengembangan atas padepokan Bajra Seta itu.” “Tetapi
aku masih belum akan berangkat besok,” berkata Mahendra, “aku akan
berangkat dua hari lagi. Aku ingin pergi dengan hati yang tenang,
karena sebenarnyalah aku ragu-ragu apakah aku akan dapat kembali
lagi ke padepokan ini atau tidak.” Wajah Mahisa Pukat menjadi
tegang. Dengan nada tinggi Mahisa Murti bertanya: “Kenapa ay ah
ragu-ragu untuk dapat kembali? Apakah ada sesuatu yang dapat
menahan ay ah pulang ke padepokan ini?” “Tidak karena kekuatan
lainyang dapatmenahanku. Tetapi bukankah aku sudah tua?,”
Mahendra justru bertanya. “Tetapi, pada saatnya ayah akan pulang.
Jika ayah ber sedia kembali ke padepokan ini kami mengucapkan terima
ka sih. Atau barangkali ay ah berniat pulang ke rumah. Tetapi ke
mana pun ay ah akan pergi, maka ayah akan dapat melakukannya,”
berkata Mahisa Pukat. “Aku mengerti,” jawab Mahendra, “mudah-mudahan
aku akan dapatmelihat padepokan ini lagi.” Di hari berikutnya
Mahendra memang mulai berkemas. Dipanggilnya Mahisa Semu dan Mahisa
Amping. Dengan singkat Mahendra memberitahukan kepada mereka, bahwa
ia akan pergi ke Singasari. “Kenapa Ki Mahendra harus pergi?”
bertanya Mahisa Amping. “Aku tidak tahu Sri Maharaja telah
memanggilku,” jawab Mahendra. “Bukankah Ki Mahendra tidak berbuat
kesalahan?” bertanya Mahisa Semu. “Tidak,” jawab Mahendra, “jika aku
dipanggil ke Singasari itu bukan berarti satu hukuman. Saudara tua
seperguruanku dahulu juga mengabdi di istana. Tetapi ia telah tidak
ada ber sama seorang sahabatnya. Mungkin aku dipanggil untuk mengisi
kekosongan di istana. Mungkin diperlukan orangorang tua untuk dapat
diajak berbincang-bincang.” Mahisa Semu mengangguk-angguk. Katanya:
“Jika demikian, bukankah Ki Mahendra dapat saja setiap saat
meninggalkan istana. Kemudian kembali lagi.” “Ya,” jawab Mahendra,
“tetapi tenagaku yang telah menjadi rapuh tidak akanmungkin
melakukannya. Aku sekarang cepat menjadi letih.” Mahisa Semu tidak
bertanya lebih banyak lagi, sementara Mahisa Amping merasa sangat
kehilangan dengan kepergian Mahendra. Justru karena Mahisa Amping
sadar sepenuhnya bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan menjadi
terlalu sibuk. Dengan demikian maka perkembangan ilmunya pun akan
menjadi tersendat kembali. Tetapi Mahisa Amping memang tidak dapat
menyalahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Semakin bertambah
umurnya, anak itu semakin menyadari, bahwa ia bukan orang yang
terpenting di padepokan itu. Ia hanya merupakan bagian kecil dari
seluruh isi padepokanyang semakin besar itu. Mahendra memang
selalu memberitahukan kepada Mahisa Amping dan Mahisa Semu, bahwa
mereka adalah bagian dari keseluruhan sehinggamereka harusmampu
luluh didalamnya, -Keduanya tidak boleh menyalah-artikan,
seolah-olah bumi beredar di sekitar diri mereka. Sehingga segala
sesuatunya mereka pandang dari sudut pandangan mereka saja dan
merasa seakan-akan mereka adalah segala-galanya, sehingga apa
yang ada di sekitarnya harus tunduk kepadamereka. Demikianlah
pada hari-hari terakhir Mahendra berada di dalam barak itu, ia masih
sempat memberikan petunjukpetunjukyang sangat berarti bagi
keduanya. Dengan demikian maka bagi keduanya, seakan-akan pintu
telah terbuka. Mereka akan dengan mudah dapat mengembangkan dan
meningkatkan apa yang telahmerekamiliki. Selain kedua orang
anak muda itu, Mahendra juga memberikan banyak pesan kepada para
cantrik dan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri. Terakhir
Mahendra telah mengumpulkan semua orang di padepokan itu. Bahkan
orang-orang yang selalu berhubungan dengan padepokan itu.
Anak-anakmuda dari padukuhan-padukuhan sebelum dan isi padukuhan
baru yang telah dihuni oleh orang -orang yang kembali dari
jalanyang sesat. Ternyata bahwa apa yang dilakukan oleh Mahendra itu
mempunyai pengaruh yang luas. Bukan sekedar pernyataan perpisahan.
Tetapi pernyataan perwira yang memimpin sekelompok prajurit
yang datang menjemput Mahendra ke padepokan itu,merupakan satu
pengakuan dari Sri Maharaja di Singasari terhadap padepokan itu.
Sehingga dengan demikianmaka kedudukan padepokan itumenjadi sangat
kuat dan orang-orang di sekitarnya menjadi semakin menghormatinya.
Mahendra memang berharap bahwa dengan caranya, pengakuan itu menjadi
semakin tersebar. Orang-orang yang berniat buruk terhadap padepokan
itu pun akan membuat perhitungan kembali, karena memusuhi padepokan
Bajra Seta, sama artinya denganmemusuhi Singasari yang besar.
Demikianlah akhirnya, Mahendra telah minta diri kepada seisi
padepokan itu. Ia masih memperingatkan kemungkinankemungkinan buruk
dapat terjadi. Namun kepada prajurit ia minta untuk membawa seorang
diantara para tawanan yang masih saja berhati batu. Namun orang yang
masih saja mengumpat-umpat itu akhirnya meny esal bahwa ia harus
ikut ke Singasari. Bukan sekedar dibawa ke Sangling. “Kau akan
mendapat tempat yang baik di Singasari,” berkata seorang prajurit
kepadanya. Semula tawanan itu masih ber sikap kasar. Kepada prajurit
itu ia mengumpat-urrpat. Namun ternyata prajurit itu tidak ber sikap
seperti para cantrik yang membiarkannya. Demikian ia mengumpatinya,
maka tangan prajurit Singasari itu telah menyambar pipinya. Demikian
kerasny a sehingga tawanan itu mengaduh kesakitan. Prajurit itu
memang tidak melakukannya dengan sematamata. Bahkan berdesis ia
berkata: “Jika kau lakukan sekali lagi, aku cekik kau. Tidak sampai
mati. Tetapi setengah mati sa ja, karena aku tidak
wenangmembunuhmu.” Tawanan itu meny eringai kesakitan. Ketika
prajurit yang lain lewat ia pun berteriak: “Tolong.” Prajurit
itu mendekat. Sambil memandangi kawannya ia bertanya: “Kenapa?”
“Prajurit itu memukul pipiku. Sakit sekali,” jawab tawanan itu.
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian bertanya:
“Lalu apa yang kau ingini?” “Perlakuanyang baik,” jawab
tawanan itu. Diluar dugaan. Prajurit itu menangkap tengkuknya dan
membenturkan dahinya ke lantai. Katanya: “Apa lagi?,” Tawanan itu
terdiam. Dipandanginya kedua orang prajurit itu dari ujung rambutnya
sampai ke ujung kakinya. Namun ia masih saja berdiam diri.
Prajurityang kedua itu kemudian berkata: “Nah, aku sudah tahu
apa yang kau lakukan disini. Manja dan terlalu diperlakukan dengan
lunak saat-saat kau menarik perhatian para cantrik. Tetapi kau tidak
dapat menjadi manja kepada para prajurit. Apalagi mengingat bahwa
kau telah diperlakukan terlalu baik, namun masih juga belum sembuh
sementara orang lain telah hidup dalam sebuah padepokan yang
tenang.” Tawanan itu menggeram. Tetapi ia tidak dapatmengulangi
tingkah lakunya. Ketika kedua orang prajurit itu pergi, dan ia
sekali lagi mencoba bermanja-manja dengan prajurit yang lain, maka
giginya justru berdarah. Prajurit itu dengan tinjunya telah
memukulmulutnya. Demikian para prajurit meninggalkannya, maka
tawanan itu tiba-tiba telah menangis. Ia benar-benar telahmeny esal.
Ia mengira bahwa dengan sikapnya itu, ia akan dapat menakutnakuti
para cantrik sehingga ia mendapat perlakuan baik. Namun ternyata
akhirnya ia jatuh ke tangan prajurit Singasari yang keras seperti
batu. Ketika Mahendra kemudian telah siap untuk berangkat, maka
orang itu pun telah dipersiapkan pula. Baginya juga disediakan
seekor kuda. Namun tangannya akan diikat meski pun masih
memungkinkan memegang kendali. Pinggangnya juga akan diikat dan
dengan tali yang panjang, pinggangnya itu akan dihubungkan dengan
seekor kuda yang lain, yang ditunggangi oleh seorang prajurit.
Kepada prajurit yang mengikat tanggannya orang itu berkata: “Kenapa
harus diikat. Aku tidak akan Iari. Dengan diikat aku sulit
untukmemegang kendali.” Prajurit yang mengikatnya berdesis
perlahan: “Jangan ribut.Nanti lehermu aku ikat.” “Aku minta lepaskan
tali pengikatnya,” minta orang itu dengan sengaja agar
Mahendramendengarnya. Mahendra memang mendengarnya. Ia pun berpaling
dan bertanya kepada tawanan itu: “Apakah kau ingin tanganmu tidak
diikat?” “Ya,” jawab tawanan itu. Prajurit yang mengikatnya memang
menjadi berdebardebar. Tanpa diikat tangannya, maka orang itu akan
dapat melarikan diri. Keduanya akan dapat dihentakkan dan berlari
keluar dari iring-iringan. Namun jawab Mahendra: “Nanti setelah kita
sampai di Singasari,maka ikatan tanganmu itu akan dilepaskan.” “Aku
berkeberatan,” geram orang itu. “Kau keberatan tanganmu diikat?,”
bertanya Mahendra pula. Tawanan itu ragu-ragu. Dipandanginya sor ot
mata Mahendra. Namun Mahendra itu berkata: “Kau sudah terlalu lama
memuakkan kami, orang-orang padepokan. Sekarang, kau akan dibawa ke
Singasari untukmendapatkan angin baru. Mungkin kau lebih senang
diperlakukan seperti itu, karena kebaikan para cantrik kau
sia-siakan. Kau agaknya mendapat kepuasanyang tinggi dengan
berlaku kasar dan tidak wajar.” Tawanan itu menggeretakkan giginy a.
Katanya: “Aku minta, lepaskan ikatan tanganku.” Mahendra t iba-tiba
saja meninggalkannya, sementara prajurit yang mengikat tangannya itu
berkata: “Aku akan mengikat lehermu. Jika kaumeronta, dan jatuh dari
punggung kudamu,maka kau akan langsung ter seret oleh kuda
yang lain dengan taliyang terikat pada pinggang dan
leherrhu.” “Jangan, jangan,” orang itu hampir berteriak. Prajurit
itu berkata perlahan-lahan sekali ditelinganya: “Apakah kaumasih
mempunyai hak berkata jangan?” Tawanan itu pun benar-benar
menyadari, bahwa ia akan memasuki satu dunia yang penuh
kegelapan. Di Singasari, maka ia akan segera menjadi ikan kering
yang dijemur diteriknya panasmatahari. Tetapi ia tidak dapat
menarik semua yang pernah dilakukannya sehingga ia tidak jadi dibawa
ke Singasari. Semua yang telah terjadi tidak dapat
diingkarinya. Demikianlah, maka pada saat yang telah
ditentukan, Mahendra diiringi oleh para prajurit dari Singasari
telah meninggalkan padepokan itu. Rasa -rasanya jantung Mahendra
juga berdebaran. Namun Mahendra tidak menunjuk perasaannya itu di
wajahnya. Ia meninggalkan regol padepokan sambil terseny um dan
dengan wajah tengadah, betapa pun sebenarnya terasa berat berpisah
dengan anakanaknya pada hari-hari terakhir dari hidupnya. Tetapi ia
memang tidak dapat menolak perintah Sri Maharaja meski pun
seandainya di Singasari ia sama sekali tidak berarti apaapa. Sejenak
kemudian,maka iring-iringan prajurit itu pun telah menjadi semakin
jauh. Mahendra yang sudah menjadi semakin tua masih nampak tegar
diatas punggung kuda. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengantar
ayahnya sampai keluar regol padepokan. Demikian pula Mahisa Amping
dan Mahisa Semu serta beberapa orang yang lain. Baru setelah
iring-iringan itu menjadi jauh, mereka telah kembali memasuki regol
padepokan. Pintu pun kemudian telah ditutup pula. Beberapa saat
kemudian, padepokan menjadi sepi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
masih memikirkan kepergian ay ahnya yang sudah tua. Mereka
tidak curiga bahwa prajurit yang menjemput ayahnya itu bukan
sebenarnya prajurit Singasari. Keduanya yakin benar bahwa
prajurit-prajurit dengan segala macam pertanda serta tunggul beserta
kelebetnya telah meyakinkannya. Namun yang mereka pikirkan adalah,
untuk apa ay ahnya diperintahkan masuk ke istana. “Apakah sekedar
untuk mengisi kekosongan sepeninggal pamanMahisa Agni danWitantra,”
desis Mahisa Murti. “Mudah-mudahan ay ah mempunyai arti di
Singasari,” gumam Mahisa Pukat pula. Namun akhirnya keduanya
menyadari, bahwa mereka tidak sebaiknya memikirkan kepergian ay ah
mereka. Tetapi mereka harus segera kembali kepada keny ataanyang
mereka hadapi di padepokan itu. Tugas dan tanggung jawab mereka
menjadi semakin berat, justru setelah Mahendra meninggalkan
padepokan itu. Selain beberapa persoalan yang ditangani Mahendra
akan menjadi tugas mereka pula, maka mereka tidak lagi mempunyai
seorang yang selalu diminta pendapatnya. Terutama apabila
mereka menghadapi persoalan-persoalanyang meragukan. Namun
sepeninggal Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
harusdapatmengambil keputusan sendiri. Di hari pertama sepeninggal
Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai mengambil alih
tugasnya dalam hubungannya dengan peningkatan ilmu Mahisa Amping dan
Mahisa Semu. Seperti yang telah diduga sebelumnya, maka Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat melakukannya setekun Mahendra
sendiri karena kedua orang anakmuda itu mempunyai tugasyang cukup
banyak. Namun memenuhi pesan Mahendra, maka meski pun hanya sebentar
tetapi keduanya selalumendapat waktu khusus dari Mahisa Murti
danMahisa Pukat. Tetapi seperti dipesan oleh Mahendra, kedua orang
anak itu tidak semata-mata menggantungkan diri mereka kepada Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi dengan petunjukpetunjuk terakhir
yang diberikan oleh Mahendra,maka kedua orang anak muda itu
mampu meningkatkan ilmu mereka masing-maing. Mahisa Amping
yang kecil itu pun mampu melakukannya dengan sebaik-baiknya.
Dalam pada itu, kepergian Mahendra dijemput oleh sekelompok prajurit
Singasari memang memberikan kesan yang baik bagi padepokan Bajra
Seta. Seperti yang diharapkan, maka orang-orang yangmengenal
padepokan itu menganggap bahwa hal itu merupakan pengakuan dari
Singasari, atas kelebihan padepokan dan perguruan Bajra Seta. Namun
kepergian Mahendra telah mempunyai akibat yang lain pula.
Beberapa orang menganggap kepergian Mahendra telah memperlemah
kedudukan padepokan dan perguruan Bajra Seta. Tanpa Mahendra,
perguruan itu akan menjadi kerdil karena tidak ada orang yang
memiliki kelebihan, yang akan dapat membuat para murid di padepokan
itu menjadi orang-orang yang berarti. “Kedua anak Mahendra itu
tentu tidak akan sama seperti ay ahnya,” berkata seseorang
yang mulai menilai padepokan dan perguruan Bajra Seta. “Tetapi
kedua anak muda itu juga berilmu tinggi,” jawab yang lain. “Tetapi
seberapa tinggi? Itulah yang penting. Semua orang tahu siapa
Mahendra. Pedagang wesi aji yang dikenal oleh banyak orang dari
banyak negeriyang selalu dikunjunginya. Ia sama sekali tidak
takutmenghadapi perampok dan peny amun di perjalanan, karena ilmunya
adalah ilmu yang benar-benar tuntas,” berkata orang yang
pertama. Namun kawannya menggeleng. Katanya: “Aku tidak berani
menilai kemampuan kedua anak muda itu. Nampaknya kita tidakmempunyai
bahan dan perbandingan.” Orang-orang itu mengangguk-angguk. Memang
tidak ada bahan dan perbandingan yang dapat dipergunakan untuk
menilai kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun seorang
diantara orang-orang itu berkata: “Kecuali salah seorang atau
keduanya ditantang untuk berkelahi.” Yang lain tertawa. Seorang
diantara mereka berkata: “Ah. Kita bukan orang yang mempertaruhkan
hidup kita sekedar untuk menjajagi kemampuan orang lain. Aku hanya
sekedar memperbincangkan kemampuan kedua anak Mahendra. Tetapi sudah
tentu sama sekali tidak bermaksudmenjajagi.” Ketika pembicaraan
seperti itu terjadi di sebuah kedai yang sebenarnya sudah agak
jauh dari padepokan Bajra Seta, seorang yang berbutuh tinggi
kekar berkata: “Aku ingin menjajagi kemampuan orang-orang Bajra
Seta.” Yang lain memang terdiam. Mereka tahu, orang itu adalah
seorang prajurit sandi dari Kediri. Prajurit sandiyang memang kurang
berusaha merahasiakan diri. Tetapi kadang-kadang ia bangga dengan
kedudukannya sebagai prajurit sandi. Tetapi ada juga orang
yang tidak dikenal justru menyahut: “Bukan orang-orang Bajra
Seta. Tetapi anak Mahendra.” “Ya,” jawab prajurit sandi dari Kediri
yang bertugas untuk mengamati kekuatan yang terpendam dari
Singasari, “aku justru ingin tahu kemampuan anak Mahendra.”
Orang-orang yang ada di kedai itu memang lebih baik berdiam diri.
Kediri bagi mereka memang memberikan tekanan yang berbeda. Meski pun
Kediri juga berada di bawah naungan kuasa Singasari, tetapi orang
-orang Kediri kadangkadang terlalu dengan sengaja menunjukkan sikap
kurang senang terhadap kepemimpinan Singasari serta orang-orang yang
berhubungan dengan istana Singasari. Demikian juga sikap prajurit
sandi Kediri itu terhadap padepokan Bajra Seta yang diperbincangkan
orang itu. Karena tidak ada orang yangmenyahut,maka tiba-tiba saja
ia bertanya tanpa ditujukan kepada seseorang: “Di mana letak
padepokan Bajra Seta?” Orang-orang yang membicarakan kekuatan
padepokan Bajra Seta tanpa Mahendra itu sebenarnya tidak berniat
buruk. Bahkan ada yang membicarakannya dengan nada kecemasan,
bahwa padepokan itu akan mengalami kesulitan sepeninggal Mahendra.
Meski pun sebagian terbesar dari orang-orang yang mendengar
kepergian Mahendra itu menganggap bahwa padepokan Bajra Seta
benar-benar sudah mendapat pengakuan sebagai sebuah padepokan
yang pantas diteladani. Karena itu, tidak seorang pun
yang dengan serta merta menunjukkan dimana letak Bajra Seta
itu. Tetapi bagi petugas sandi Kediri itu, usaha menjajagi
kekuatan-kekuatan di Singasari akan sangat penting artinya. Meski
pun hal seperti itu sebenarnya satu langkah rahasia yang dilakukan
oleh Kediri sebagai satu penjajagan, namun orang yang terlalu
sombong dan terlalu yakin akan dirinya sendiri itu justru
melakukannya dengan kebanggaan yang dijajakannya. Namun akhirnya ia
menemukan juga orang yang mau menunjukkan letak padepokan Bajra
Seta. Orang yang tidak dikenal itu telah berbicara lagi: “Aku
tahu letak padepokan Bajra Seta.” “Bagus,” berkata orang bertubuh
raksasa itu, “kau dapat membantu aku menunjukkan letak padepokan
itu?” “Tentu,” jawab orang yang tidak dikenal itu. Orang-orang yang
lain yang akan di kedai itu saling berpandangan. Namun seorang
yang sudah agak tua, yang tidak senangmelihat sikap orang
yang tidak dikenal itu ju stru bertanya: “Apakah keuntunganmu
jika terjadi semacam benturan kekerasan hanya sekedar ingin tahu
apakah di padepokan itu ada orang berilmu tinggi atau tidak?
Bukankah kita juga sudah mendengar bahwa Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat yang sekarang memimpin padepokan itu adalah anakanakmuda
yang berilmu tinggi?” “Katanya memang demikian,” jawab orang
yang tidak dikenal itu, “karena itu, jika ada orang yang ingin
menjajaginya, apakah salahnya? Jika kita ingin menjajaginya, maka
kita dapat datang menemui Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta
langsung menantang mereka berperang tanding. Tetapi karena keduanya
nampaknya tidak pernah berpisah, maka yang disebut perang
tanding adalah bertempur melawan mereka berdua.” “Aku tidak
berkeberatan,” jawab orang bertubuh raksasa itu. “Tetapi memang
harus dipertimbangkan baik-baik. Kedua anak itu telah mendapatkan
sepa sang pusaka yang tidak ada duanya,” berkata orang yang
tidak dikenal itu. Orang bertubuh raksasa itu tertawa. Katanya: “Apa
artinya pusaka? Pu saka adalah benda yang dibuat oleh manusia.
Bukankah dengan demikian manusia itu sendiri mempunyai nilai yang
jauh lebih tinggi dari pusaka buatannya itu?” Orang yang tidak
dikenal itumengangguk-angguk. Katanya: “Aku akanmenunjukkan letak
Bajra Seta,” ia berhenti sejenak, lalu katanya berterus terang: “Aku
mendendam kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sadar atau tidak
sadar, mereka telahmembunuh saudara seperguruanku.” “Siapakah
saudara seperguruanmu?,” bertanya seseorang. “Sudah terlalu banyak
orang yang dibunuh oleh anak-anak muda itu, sehingga andaikata
aku meny ebutnya, ia hanya satu diantara yang terlalu banyak
itu.” Tidak ada yang bertanya lagi. Orang-orang di kedai itu memang
tidak ingin melibatkan diri jika benar-benar terjadi sesuatu. Karena
itu, maka mereka lebik baik diam dan tidak mencampuri persoalan
kedua orang itu. Orang yang bertubuh raksasa itu dan orang
yang tidak dikenal oleh mereka. Sebenarnyalah bahwa kedua
orang itu benar -benar ingin menghubungi padepokan Bajra Seta. Orang
yang dikenal sebagai prajurit sandi dari Kediri itu memang
berniat untuk menjajagi kemampuan pimpinan padepokan Bajra Seta yang
tertinggal, setelah Mahendra pergi ke Singasari. Orang-orang
yang ada di kedai itu justru telah berharap agar keduanya
cepatmeninggalkan kedai itu. Padepokan Bajra Seta masih cukup jauh
dari tempat itu. Mereka merasa lega, bahwa beberapa saat kemudian
keduanya telah meninggalkan kedai itu menuju ke padepokan Bajra
Seta. Padepokan yang semakin mekar dan dikagumi banyak orang. Bahkan
diakui sebagai satu padepokan yang langsung dikenal oleh Sri
Maharaja di Singasari. Hari itu, orang yang bertubuh raksasa itu
masih belum menghubungi orang-orang dari padepokan Bajra Seta. Ia
memang bermaksud memasuki padepokan itu di hari berikutnya. “Kau
akan menjadi saksi,” berkata orang bertubuh raksasa itu. “Baik,”
jawab orang yang tidak dikenalnya itu, ”jika kau berhasil
mengalahkan kedua orang anak muda yang memimpin padepokan itu, maka
aku akan merasa bahwa dendamku telah terbalas. Aku harap kau akan
bertanding sampai tuntas.” “Aku tidak pernah bertanding seperti
anak-anak main binten. Jika aku sudahmemasuki arena perang
tanding,maka lawan-lawanku akan keluar dari arena tinggal namanya
saja.” berkata orang itu. Orang yang tidak dikenalnya itu
mengangguk-angguk. Ia memang y akin bahwa orang itu memiliki
kekuatan dan kemampuan yang sangat besar. Tetapi ia masih
memperingatkan: “Tetapi hati-hati dengan anak Mahendra itu.” “ Ia
tidak akan lebih baik dari orang-orang lain yang telah aku bunuh di
arena. Aku tidak berkeberatan jika keduanya akan maju bersama-sama,”
jawab orang bertubuh raksasa dari Kediri itu. Seperti yangmereka
rencanakan, di hari berikutnya, setelah keduanya bermalam di sebuah
gubug kecil di tengah-tengah sawah, maka mereka telah memasuki pintu
gerbang padepokan. Di pintu gerbang keduanya telah menyatakan kepada
cantrik yang bertugas, bahwa keduanya ingin bertemu dan berbicara
dengan pimpinan padepokan itu. Padepokan Bajra Seta memang bukan
padepokan yang tertutup. Karena itu, kedua orang itu sama
sekali tidak mengalami kesulitan untuk bertemu dengan pemimpin
padepokan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menerima kedua orang
itu dengan baik. Kedua anakmuda itu sama sekali tidak menyangka
bahwamereka akan berhadapan dengan seseorang yangmenantangnya perang
tanding. “Kenapa? jawab Mahisa Murti, ”bukankah kami dan padepokan
ini tidak pernahmengganggu Ki Sanak?” “Memang tidak,” jawab orang
bertubuh raksasa itu, “tetapi penampilan padepokan ini
sangatmenyakitkan hati. Sombong dan seakan-akan tidak ada kekuatan
dan kemampuan yang mampumengimbangi kemampuan para pemimpinnya.”
“Kami tidak mengertimaksud Ki Sanak. Jika kami disebut sombong, apa
yang pernah kami lakukan sehingga ada prasangka semacam itu,” jawab
Mahisa Murti. “Apa pun jawaban kalian, tetapi aku tahu bahwa kalian
merasa tidak terkalahkan. Aku datang ber sama seorang kawanku
yang telah kau lukai hatinya. Seorang saudara seperguruannya
telah kau bunuh,” berkata petugas sandi itu. “Jika akumembunuh,
tentu ada alasannya. Tetapi siapakah saudara seperguruannya?”
bertanya Mahisa Murti. “Kau tidak akan ingat siapa saudara
seperguruanku itu,” jawab orang yang tidak dikenal itu, “satu
diantara korban kalianyang tidak terhitung selama pengembaraan
kalian.” “Aku tidakmengertimaksud kalian,” jawab Mahisa Murti.
“Sudahlah,” berkata orang bertubuh raksasa itu, “aku adalah petugas
sandi dari Kediri. Aku memang berniat menjajagi kemampuan kalian
disini. Karena itu, aku tantang kalian berdua sekaligus untuk
berperang tanding. Perang tanding itu Baru diketahui siapa
yangmenang dan siapa yang kalah jika salah satu pihak sudah mati.
Karena itu, maka apakah aku yangmati atau kalian berdua yang mati.”
“Satu persoalan yang aneh,” desis Mahisa Pukat, “satu hal yang
tidak dapat dimengerti. Kita tidak pernah mempunyai persoalan apa
pun juga. Tiba -tiba kau menantang perang dengan cara yang paling
keras. Apa sebenarnya yang kau kehendaki?” “Menghancurkan
kesombongan padepokan ini hanya karena Mahendra dipanggil oleh Sri
Maharaja Singasari,” jawab orang itu. “Kami juga pernah menjadi
petugas sandi dari Kediri,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi kami tidak
pernah melakukan tindakan sekadar itu. Bukankah apa yang kau
lakukan itu tidak masuk akal?” “Aku tidak peduli,” jawab orang
bertubuh raksasa itu, “kawanku juga ingin membalas dendam.” Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat masih saja termangumangu. Tetapi orang
bertubuh raksasa itu berkata: “Kita tidak perlumempertimbangkan
apakahyang kita lakukan itu masuk akal atau tidak. Aku hanya
ingin tahu, seberapa jauh kebenaran berita tentang padepokan dan
perguruan Bajra Seta yang dengan sombong telah menyatakan diri
sebagai sebuah padepokan dan perguruan terbaik hanya karena Mahendra
dipanggil ke Singasari.” “Jika kami berkeberatan?,” bertanya Mahisa
Murti. “Terserah kepada kalian. Namun aku punya mulut. Kawanku ini
menjadi saksi, bahwa perguruan Bajra Seta dipimpin oleh seorang
pengecut sepeninggal Mahendra,” jawab orang itu, “bahkan kawanku
yang menjadi saksi sekarang setelah ia kehilangan saudara
seperguruannya akan berkata bahwa pemimpin perguruan Bajra Seta sama
sekali tidak berani mengakui bahwa mereka telah membunuh banyak
orang karena ketakutan.” “Satu cara yang baik untuk memancing
pertempuran,” berkata Mahisa Pukat yang menjadi kehabisan
kesabaran, “baiklah. Pancinganmu mengena. Aku terima tantanganmu.”
“Kalian berdua boleh bertempur berpasangan jika kalian kehendaki.
Dua orang anak Mahendra mungkin akan dapat menyamai Mahendra,”
berkata orang itu. “Aku akan bertempur sendiri,” jawab Mahisa Pukat.
“Aku sudah menduga. Tetapi baiklah. Kau akan meny esal akan
kesombonganmu. Tetapi aku tidak berkeberatan saudaramu berdiri di
batas arena. Begitu kau hampir mati, saudaramu datangmembantu,”
desis orang itu. Darah Mahisa Pukat memang sudah mendidih. Tetapi ia
sadar, bahwa menghadapi siapa pun juga, ia t idak boleh kehilangan
akal, sehingga pikirannya akan menjadi kabur. Dengan menahan gejolak
perasaannya Mahisa Pukat pun berkata: “Biarlah para
cantrikmenyiapkan arena.” Demikianlahmaka Mahisa Pukat pun telah
memerintahkan para cantrik untuk memasang gawar lawe. Kemudian ia
pun mempersilahkan petugas sandi dari Kediri sebagaimana
pengakuannya itu turun ke halaman. Sejenak kemudian kedua orang itu
telah berada di arena. Orang bertubuh raksasa itu telah meletakkan
senjatanya, sebuah pedang yang besar dan berat di pinggir arena.
Sementara itu Mahisa Pukatmemasuki arena tanpa membawa senjata
apapun. Namun Mahisa Murti yang ada di luar arena telah
membawa sepasang pedangnya yang bukan pedang kebanyakan itu.
Beberapa saat kemudian keduanya telah bersiap. Dengan nada rendah
Mahisa Pukat mempersilahkan orang yang ingin membalas dendam itu
untuk berada di dalam gawar arena. “Marilah,” berkata Mahisa Pukat,
“bukankah kau berniat menjadi saksi.” “Aku disini,” berkata orang
itu. Ia masih berada di luar gawar, tetapi ia berada tepat ditepi
arena,melekat pada gawar laweyang terpasang. Mahisa Murti
berdiri tidak terlalu jauh dari orang itu. Namun ia tidak menjadi
lengah. Mungkin orang itu dapat berbuat curang justru pada
saatyang gawat. Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya
telah berhadapan. Orang yang mengaku petugas sandi dari Kediri
itu berkata: “Bersiaplah. Kau akan mati lumat hari ini. Apakah kau
tidak ingin mengajak saudaramu untuk bersama-sama mati?” “Tidak,”
jawab Mahisa Pukat, “jika aku mati, biarlah ada orang yang
sempatmenangisi aku.” “ Iblis kau,” geram orang itu. “Sayang, tidak
ada orang Kediri yang ada disini. Jika ada seorang pun yang melihat
apa yang lakukan,maka kau tentu akan dihukummati,” desisMahisa
Pukat. Orang itu tertawa. Dengan nada tinggi ia bertanya: “Kau mulai
ketakutan?” Tetapi Mahisa Pukat menjawab: “Tidak. Aku sama sekali
tidakmenjadi ketakutan. Tetapi kami, orang -orang padepokan ini tahu
pasti sikap orang-orang Kediri.” “Marilah kita mulai, apakah kau
sudah siap?,” bertanya orang bertubuh raksasa itu. “Aku sudah siap.
Tetapi aku masih ingin berkata bahwa bukan kebiasaan orang -orang
Kediri itu meny ombongkan dirinya seperti yang kau lakukan. Apakah
benar kau orang Kediri?” bertanya Mahisa Pukat. Orang itu ternyata
tidak ingin menjawab. Ia pun sudah ber siap sambil berkata: “Aku
akan mulai. Dalam waktu sepenginang, kau sudah akanmenjadimayat. Ter
serah kepada saudaramu apa ia ingin mati juga atau tidak. Jika ia
ingin turun ke gelanggang aku akan menunggunya.” “Bicaralah tentang
apa saja selagi kau sempat,” berkata Mahisa Pukat, “sebentar lagi
mulutmu akan terkatub rapat,” jawab Mahisa Pukat. Raksasa itu
menggeram. Ia mulai melangkah maju mendekati Mahisa Pukat. Namun
Mahisa Pukat bergeser menyamping. Orang itu tidak menjadi ragu-ragu
sama sekali. Ia melangkah ke mana saja Mahisa Pukat bergeser tanpa
melindungi dirinya dengan sikap apapun. Ia berjalan saja selangkah
demi selangkah. Mahisa Pukatmemangmerasa harus sangat berhati-hati.
Orang itu tentu merasa terlalu kuat, atau bahkan memiliki ilmu
kebal. Akhirnya Mahisa Pukatmemang terdesak ke sudut arena. Ia tidak
dapat bergeser lagi tanpa menyentuh gawar lawe yang terentang di
sekeliling arena itu. Para cantrik memang menjadi berdebar-debar.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya sehingga dahinya nampak menjadi
tegang. Wantilan termangu-mangu di sebelah Mahisa Semu dan bahkan
Mahisa Amping yang juga berada di pinggir arena nampakmenjadi
gelisah. Ketika orang itu masih juga mendesak maju, maka Mahisa
Pukat tidak berniat untuk bergeser lagi. Dengan sigapnya ia pun
telah meloncatmenyerang orang itu dengan kakinya tepat mengenai
dadanya. Orang itu memang tidak menghindar sama sekali. Juga tidak
menangkis. Ia ingin menunjukkan betapa kuatnya tubuhnya yang seperti
raksasa itu, serta betapa tingginya day a tahannya. Tetapi ternyata
Mahisa Pukat yang telah mengerahkan kekuatan cadangan didalam
dirinya itu, benar-benar diluar dugaannya. Kekuatan serangan kakinya
benar-benar telah mengguncang pertahanan orang itu, sehingga orang
bertubuh raksasa itu telah terlempar dan terbanting jatuh. Orang
bertubuh raksasa itu sendiri terkejut. Tidak seorang pun pernah
menggoyahkan pertahanannya. Namun pada tendangan pertama, anak muda
itu telah dapat menjatuhkannya. Raksasa itu sengaja berguling dua
kali. Namun kemudian ia telah melenting berdiri. Tetapi yang
dilakukannya sudah terlanjur membuat Mahisa Pukat menjadi muak.
Karena itu, demikian orang itu berdiri tegak Mahisa Pukat justru
telahmeluncur sambilmenjatuhkan dirinya. Kedua kakinya mengembang
dan dengan sigapnya menjepit kedua kaki raksasa yang baru saja
tegak itu. Dengan sekuat tenaga Mahisa Pukat memutar tubuhnya,
sehingga kedua kakinya yang menjepit kedua kaki lawannya telah
berputar pula. Sekali lagi orang bertubuh raksasa itu terputar dan
terbanting jatuh. Hampir saja kepalanya justru membentur tanahyang
keras di halaman padepokan itu. Mahisa Pukat memang melepa skannya.
Dengan cepat ia bangkit, sementara lawannya berusaha untuk membuat
jarak dengan berguling beberapa kali. Baru kemudian ia meloncat
bangkit. Mahisa Pukat ingin melihat akibat serangan-serangannya.
Karena itu, ia tidakmemburu orang bertubuh raksasa itu. Orang
yang mengaku petugas sandi dari Kediri itu menyeringai menahan
sakit di punggungnya. Namun juga day a tahannya memang luar biasa.
Beberapa saat kemudian, maka ia telah dapatmengesampingkan perasaan
sakitnya. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun bagaimana
pun juga, serangan-serangan Mahisa Pukat yang datang beruntun itu
telah menyakiti orang bertubuh raksasa itu. Meski pun orang itu
mampu mengkesampingkannya, namun jika tubuhnya yang kesakitan itu
tersentuh serangan lagi,maka perasaan sakitnya tentu akan terasa
kembali. Sejenak kemudian, orang yangmengaku petugas sandi dari
kediri itu pun menggeram: “Ternyata kau mempunyai kemampuan yang
cukup, anak muda. Tetapi bagaimana pun juga, kau akan mati di arena
ini. Justru karena kau sudah menyakiti aku,maka kematianmu
akanmenjadi lebih cepat.” Mahisa Pukat justru tidak menghiraukannya.
Ia memanfaatkan kesempatan itu. Ketika raksasa itu seakanakan baru
mengigau, maka Mahisa Pukat telah meloncat dengan cepatnya.
Tangannya pun telah terjulur lurus mengarah ke dada. Orang itu
memang terkejut. Dengan cepat ia bergeser ke samping.Namun Mahisa
Pukat telahmemperhitungkannya. Ia justru berputar satu lingkaran
penuh. Kakinyalahyang terayun mendatar saat tubuhnya sedikit
terangkat. Satu tendangan yang keras telah mengenai kening
lawannya. Orang bertubuh raksasa itu terhuyung-huyung surut. Tetapi
ia berusaha dengan sekuat tenaganya untuk tidak kehilangan
keseimbangan dan jatuh terbanting lagi. Orang itumemang tetap tegak
berdiri. Tetapi Mahisa Pukat yang berhati-hati tidak memburu dan
menyerangnya dengan sertamerta. Orang itu menggeram marah. Wajahnya
menjadi tegang. Dengan nada berat ia berkata: “Kau akan meny esali
tingkah lakumu. Kau akan mati dengan caraku.” Mahisa Pukat telah
siap menghadapi segala kemungkinan. Namun ia telah rnelihat, betapa
raksasa itu memiliki daya tahan tubuh yang sangat tinggi. Orang itu
ternyata tidak untuk seterusnya membiarkannya mendapat serangan
terus menerus. Namun di pertempuran selanjutnya, raksasa itu pun
telahmeny erang pula. Betapa pun tinggi daya tahan orang itu, tetapi
dadanya sekali-sekali terasa sesak, sementara kepalanya menjadi
pening. Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin seru.
Kedua belah pihak telah semakin meningkatkan ilmu mereka sehingga
serangan telah disambut dengan serangan. Orang bertubuh raksasa itu
benar-benar menjadi sangat garang ketika beberapa kali lagi ia masih
juga dikenai serangan Mahisa Pukat. Namun ketika sekali ia mengenai
Mahisa Pukat di pundaknya dengan tangannya, maka rasarasanya tulang
tulang anakmuda itu telah berpatahan. Mahisa Pukatlah yang
harus meloncat mengambil jarak. Untunglah bahwa Mahisa Pukat pun
memiliki day a tahan yang sangat tinggi. Beberapa saat kemudian,
perlahan-lahan perasaan sakit itu dapat dikuasainya dan bahkan
diabaikannya. Tetapi dengan demikianmaka Mahisa Pukat harusmenjadi
lebih berhati-hati. Sementara itu, orang bertubuh raksasa itu
melangkah satusatu mendekati Mahisa Pukat. Sikapnya sebagaimana
dilakukannya saat mereka mulai bertempur. Orang itu menduga, bahwa
Mahisa Pukat tidak lagi berbahaya setelah pundaknya tersentuh
tangannya. Tetapi tulang-tulang Mahisa Pukat tidak benar-benar
berpatahan. Sejenak kemudian, Mahisa Pukat telah siap menghadapi
lawannya yang garang itu. Karena itu, ketika lawannya menjadi
semakin dekat, maka Mahisa Pukat telah membuka serangan.
Dikerahkannya segenap kekuatan yang dibangun pada landasan
tenaga cadangan di dalam dirinya. Dengan hentakkan yang sangat
kuat, kaki Mahisa Pukat telah terjulur lurus mengarah ke lambung.
Orang yang bertubuh raksasa itu sama sekali tidak menghindar
dan tidak pula menangkis serangan itu. Tetapi sekila sMahisa
Pukatmelihat satu ungkapan kemampuan yang tersimpan di dalam diri
lawannya itu. Sebenarnyalah ketika kaki Mahisa Pukat mengenai
lambung lawannya, ia memangmelihat lawannya itumenahan sakit. Namun
hanya sekejap. Kemudian perasaan sakit itu bagaikan leny ap begitu
saja dariwajahnya. Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Orang
bertubuh raksasa itu masih saja melangkah mendekat, sementara Mahisa
Pukat justru bergeser surut. “Kesombonganmu telah membunuhmu
anakmuda,” geram orang bertubuh raksasa itu. Mahisa Murti
termangu-mangu melihat sikap Mahisa Pukat. Sementara itu Wantilan,
Mahisa Semu dan Mahisa Amping menjadi gelisah. Demikian pula para
cantrik yang menyaksikan pertempuran itu. Ketika Mahisa Murti
berpaling ke arah orang yangmengaku kawan petugas sandi dari Kediri
itu, serta yang merasa mendendam karena saudara seperguruannya
terbunuh, nampak betapa wajah orang itumenjadi sangat senang.
Sejenak kemudian, pertempuran pun berlangsung kembali dengan cepat.
Beberapa kali Mahisa Pukat sempat mengenai lawannya, tetapi lawannya
seakan- akan memang menjadi kebal. Bahkan ketika Mahisa Pukat lengah
sesaat, tangan orang bertubuh raksasa itu tepatmengenai dadanya.
Mahisa Pukat seakan-akan telah terlempar beberapa langkah surut dan
jatuh menimpa gawar lawe yang mengelilingi arena diantara para
cantrik yang melingkari arena itu. Tetapi Mahisa Pukat masih
dapat bangkit dengan cepat. Dadanya memang terasa sesak. Seakan-akan
nafasnya tersumbat di kerongkongan. Beberapa saat ia berdiri tegak.
Dengan beberapa tarikan nafas serta pengetrapan tingkat tertinggi
daya tahannya,maka nafasnya seakan-akan telahmenjadi pulih kembali.
Namun pertempuran itu memang telah mencemaskan para cantrik
padepokan Bajra Seta itu. Ketika orang yang mengaku petugas sandi
dari Kediri dan bertubuh raksasa itu melangkah mendekatinya lagi,
Mahisa Pukat telahmempersiapkan dirinya untuk bertempur kembali.
Tetapi kekuatan orang itu memang t idak dapat diimbangi oleh Mahisa
Pukatmeski pun ia telah membangunkan tenaga cadangan di dalam
dirinya. Bahkan sekali lagi Mahisa Pukat telah terlempar jatuh. Ia
tidak lagi dapat meny embunyikan perasaan sakit di punggungnya.
Karena itulah,maka Mahisa Pukat tidak ingin membiarkan dirinya
dihancurkan oleh orang bertubuh raksasa itu. Beberapa saat Mahisa
Pukat membuat pertimbangan. Apakah ia akan menghisap tenaga lawannya
itu, atau sekaligus menghancurkannya dengan ilmu yang diwarisinya
dari ay ahnya, Bajra Geni. Tetapi Mahisa Pukatmasih menghormati
jabatan orang itu, sehingga ia memang tidak ingin membunuhnya. Ia
ingin orang itu tetap hidup, tetapi mau tidak mau harus mengakui
kelebihannya. Jika hal itu dibawanya dan disampaikannya kepada orang
-orang Kediri, maka Kediri harus menilai kembali rencana-rencananya
meski pun Mahisa Pukat tahu, bahwa sikap bermusuhan dari Kediri itu
hanya dikendalikan oleh beberapa orang saja. Karena itu, maka Mahisa
Pukat telah mengetrapkan ilmunya yang tidak dengan serta merta
menghentikan perlawanan lawannya, meski pun ia tidak segera yakin
akan dapatmenghentikan perlawanannya. Dengan demikian, maka
pertempuran itu pun telah berlangsung selanjutnya. Semakin sengit.
Mahisa Pukat berusaha untuk bergerak semakin cepat. Beberapa kali ia
mampu mengenai tubuh lawannya meski pun hanya sekedar menyentuhnya.
Tetapi ketika ia membentur serangan lawannya, maka Mahisa Pukat
telah terlempar sekali lagi sampai keluar gawar. Namun Mahisa Pukat
masih juga bangkit dan memasuki kembali arena pertempuran itu.
Dengan demikian, maka pertempuran itu pun berlangsung lagi dengan
sengitnya. Namun orang bertubuh raksasa itu sempatmenjadi heran
melihat ketahanan tubuh anakmuda itu. Beberapa kali ia telah
terlempar sampai keluar gawar tali lawe.Namun ia masih juga bangkit
dan bertempur lagi. Dengan demikian maka orang bertubuh raksasa itu
tidak mau meny ia-ny iakan waktu. Ia pun ingin dengan cepat
mengalahkan lawannya sehingga kemenangannya akan menjadi lebih
berarti. Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan ilmunya pula.
Ilmu yang sudah jarang ada duanya. Demikian ilmu itu mulai
ditrapkan, maka Mahisa Pukat mulai merasakan kelainan pada tubuh
lawannya. Kulit dan dagingnya menjadi semakin lama semakin keras.
Bahkan menjadi seperti batu padas. Setiap kali ia berhasil mengenai
tubuh lawannya, maka tulang-tulangnya sendirilah yang serasa akan
berpatahan. Orang bertubuh raksasa itu semakin lama semakin mendesak
Mahisa Pukat yang menjadi gelisah. Ia mulai raguragu apakah ilmunya
mampu menembus pertahanan lawannya dan menghisap kekuatan dan
kemampuan ilmunya. Bahkan untuk beberapa lama lawannya justru
menjadi semakin lama semakin keras. Bukan saja seperti batu padas,
tetapi kemudian menjadi seperti batu hitam . Orang itu semakin
membiarkan diriny a terbuka. Ia tidak pernah berusaha menghindar
atau menangkis serangan Mahisa Pukat. Ilmunya memang berbeda dengan
ilmu kebal. Tetapi kekerasan tubuhnya telah melindunginya
sebagaimana ilmu kebal. “ Ilmu yang jarang ada bandingnya,”
desis Mahisa Pukat di dalam hatinya. Tetapi Mahisa Pukat merasa
bahwa ia pernah bertempur dengan ilmu semacam itu. Pada saat -saat
ia semakin terdesak, maka Mahisa Pukat telah merencanakan untuk
mempergunakan ilmunya yang diharapkannya akan dapat meny elesaikan
lawannya. Namun bagaimana pun juga Mahisa Pukat justru menjadi ragu.
Apakah ilmu Bajra Geniny a akanmampu mengoyak kekerasan tubuh orang
itu yang seakan-akan telah berubah menjadi batu hitam itu.
Namun dalam keragu -raguan itu, Mahisa Pukatmasih tetap
mempergunakan ilmunya untuk menghisap tenaga lawannya yang tubuhnya
telahmengeras. Tetapi orang itu masih saja tidakmenghiraukan
seranganserangan Mahisa Pukat. Beberapa kali Mahisa Pukat dapat
mengenai tubuh orang itu. Tetapi seperti yang terdahulu,
tulang-tulangnya sendirilahyang menjadi sakit. Dalam keadaan
yang demikian, maka Mahisa Pukat mencoba untuk semakin
seringmenyentuh lawannya. Sekali ia mencoba menggenggam pergelaran
tangan lawannya, menariknya dan membantingnya. Tetapi ia tidak
berhasil. Bahkan tangan yang lain dari raksasa itu telah menangkap
pundak Mahisa Pukat. Dengan kekuatan raksasa Mahisa Pukat telah
diputarnya dan sebelum Mahisa Pukat sempat menghindar, kedua tangan
raksasa itu telah mengimpitnya melekat ke dadanya. Mahisa Pukat
meronta. Tetapi orang itu memang terlalu kuat. Himpitan batu hitam
itu terasa semakin keras menjepit tubuhnya, sehingga nafasnya terasa
semakin lama semakin sesak. Tulang-tulangnya gemeretak seakan-akan
telah diremukkan oleh himpitan batu hitam itu. Mahisa Murti yang
melihat hal itu hampir saja tidak dapat menguasai diri. Hampir saja
ia telah meloncat memasuki arena. Demikian pula Wantilan, Mahisa
Semu dan bahkan Mahisa Amping dan para cantrik. Sementara itu, orang
yang mengakumendendam kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu
punmenjadi sangat tegang. Mahisa Pukat sendiri memang tidak akan
mampu melepaskan diri dari himpitan kekuatan itu. Ia pun tidak
sempat melepaskan kekuatan ilmu Bajra Geni karena tubuhnya yang
justru telah terhimpit itu. Satu-satunya ilmu yang masih
ditrapkannya adalah ilmunya untuk menghisap kekuatan lawannya.
Tetapi Mahisa Pukat merasa seakan-akan sesaat lagi tubuhnya telah
akan diremukkan oleh orang bertubuh raksasa itu. Sekilas Mahisa
Pukat memang agak menyesal, kenapa ia tidak menghancurkan orang itu
dengan ilmu Bajra Geni. Baik yang langsung dibenturkan ke tubuhnya
atau dengan kekuatan ilmu yang dapatmelontarkan kekuatan
ilmunya itu dari jarak yang cukup sehingga orang itu tidak dapat
menggapainya. Pada saat ia masih berusaha untuk tidak membunuh,
ternyata tubuhnya sendiri telah hampir diremukkannya. Namun pada
saat-saat terakhir, di mana Mahisa Pukat masih sempat memandang
saudaranya sekilas, serta melihat wajah yang cemas itu, himpitan
batu hitam itu justru mulai mengendor. Dalam keadaan yang
gawat itu ternyata Mahisa Pukat masih mampu berpikir menghentakkan
satu-satunya ilmu yang masih dapat dipergunakannya itu. Justru
sentuhan tubuhnya yang rapat dengan tubuh lawannya, membuat
ilmunya lebih cepat bekerja. Terasa oleh Mahisa Pukat bahwa lawannya
yang bertubuh raksasa itu berusaha menghentak-hentakkan
kekuatannya. Ia berusaha untuk menghimpit dan meremukkan
tulang-tulang Mahisa Pukat sertamematahkan tulang belakangnya. Namun
usaha itu sia-sia. Ketika kemudian Mahisa Pukat dengan sisa
kekuatannya mengembangkan tangannya yang terhimpit bersama tubuhnya,
maka orang itu tidak mampu lagimempertahankan himpitannya. Karena
itu, maka sejenak kemudian, tangannya pun terlepa s dan Mahisa Pukat
terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Hampir saja ia jatuh
terlentang. Namun ia masih mampu bertahan dan kemudian bahkan
berdiri tegak.” Dengan serta merta terdengar sorak para cantrik.
Bahkan Mahisa Amping sempat menjerit-jerit kegirangan melihat Mahisa
Pukatmampumelepaskan dirinya. Orang bertubuh raksasa itu menggeram.
Ia merasa tentu ada sesuatu yang tidak wajar. Ia sendiri menjadi
bingung, kenapa tenaganya tidak lagi mampu mempertahankan himpitan
tangannya atas tubuh anakmuda yang sudah hampir mati lemas itu.
Sementara itu Mahisa Pukat telah pulih kembali. Dengan tegar Mahisa
Pukat telah menunggunya untuk melanjutkan pertempuran. “Anak iblis
kau,” geram orang bertubuh raksasa itu, “seharusny a kau sudahmati.”
“Tetapi seperti yang kau lihat. Aku tidak,” jawab Mahisa
Pukat. Orang yang mengaku sandi dari Kediri itu menggeram.
Namun ia pun telah melangkah maju mendekati Mahisa dengan geram ia
telah bersiap untuk mencengkam Mahisa Pukat dan meremasnya menjadi
debu. Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Ia tahu bahwa kekuatan
orang itu sudah tidak memadai lagi. Karena itu, maka ia pun telah
membuat perhitunganyang mapan. Ia sama sekali tidak menghindar
ketika raksasa itu menerkamnya. Ia memperhitungkan bahwa sentuhan
tangan raksasa itu dengan tubuhnya akan sangatmenguntungkan ilmunya.
Karena Mahisa Pukat tidak menghindar, maka kedua telapak tangan
orang itu dengan serta merta telah menggapai lehernya. Mahisa Pukat
sudah memperhitungkan, bahwa serangan orang itu tentu ke arah bagian
tubuhnya yang dianggapnya lemah. Namun ia sudah siap untuk
melawannya. Tenaganya tidak akan mampu untuk mencekiknya dalam arti
yang sesungguhnya. Ketika kedua tangan orang itu mencengkam leher
Mahisa Pukat, maka Mahisa Pukat telah menangkap pergelangan
tangannya. Dengan perhitungan yangmatang dihentakkannya ilmunya
sekali lagi menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya. Tubuh yang
semula menjadi sekeras batu itu benar-benar telah kehilangan
kekuatannya. Sebenarnya Mahisa Pukat dengan mudah dapat mengibaskan
kedua tangan orang itu dari lehernya, tetapi ia masih membiarkannya
sehingga tubuh itu menjadi benar -benar lemah dan tidak bertenaga.
Karena itu,maka demikian Mahisa Pukatmelangkah surut, maka orang itu
tidak lagi mampu menahan berat badannya sendiri, sehingga ia
terjerembab jatuh. Sekali lagi terdengar orang-orang yang berdiri di
pinggir arena ber sorak. Demikian kerasnya sehingga langit bagaikan
akan runtuh. Dengan sudah payah orang itu memang bangkit berdiri.
Namun tubuhnya seakan-akan sudah tidak bertenaga lagi. “Kaumemang
anak iblis,” geram orang itu. “Meny erahlah,” desis Mahisa Pukat.
“Setan, aku bunuh kau,” orang itu mencoba berteriak. Mahisa Pukat
termangu-mangu sejenak. Tetapi sepertiyang selalu ia katakan
kepada para cantrik bahwa tidak sepantasnya membunuh orang
yang sudah tidak berday a sama sekali itu. Betapa pun
kemarahan mendidih didadanya, namun Mahisa Pukat memang tidak ingin
membunuhnya. Apalagi sejak semula ia tidak ingin membunuh seorang
prajurit sandi dari Kediri. Karena itu, ketika orang itu masih
mempunyai tenaga tersisa di dalam tubuhnya,maka Mahisa Pukat berkata
kepada kawan orang bertubuh raksasa itu: “Bawa kawanmu pergi sebelum
aku berubah pikiran. Dengan mudah aku dapat membunuhnya. Tetapi aku
tidak inginmelakukannya.” “Kenapa tidak kau lakukan itu?,” bertanya
kawannya. “Aku bukan pembunuh orang-orang yang tidak berday
a,” jawab Mahisa Pukat. “Kau akan meny esal,” sahut kawan dari
prajurit sandi itu, “jika kau tidakmembunuhnya sekarang, pada
kesempatan lain kaulahyang akan dibunuhnya.” “Aku akan menghadapinya
kapan saja,” jawab Mahisa Pukat dengan lantang. Namun kemudian ia
pun membentak: “bawa orang itu pergi.” Kawannya termangu-mangu.
Sebenarnyalah bahwa sikap Mahisa Pukat sangatmenjengkelkannya.
Bahkan Mahisa Pukat itu bertanya: “Atau kau ingin memasuki arena dan
membuktikan kekalahan kawanmu?” Orang itu tidak menjawab. Ia pun
kemudian mencoba memapah kawannya yang menjadi sangat lemah itu
sambil berkata: “Kau benar-benar akan menyesal, bahwa kau tidak
membunuhnya.” “Diamlah,” geram Mahisa Pukat, “atau kau yang harus
aku bunuh sekarang selagi kau masih mampu melakukan perlawanan?”
Orang itumelihat wajah Mahisa Pukatmembara.Namun ia masih menjawab:
“Baiklah. Aku pergi sekarang. Aku akan membawanya. Tetapi ingat
kata-kataku. Kami akan kembali dan membunuh kalian berdua.” Mahisa
Pukat tidak menjawab. Tetapi ia masih saja berusaha untuk tidak
kehilangan akal. Karena itu, Mahisa Pukat itu hanya menggeram saja
ketika ia melihat orang yang mendendam padepokan itu karena saudara
seperguruannya terbunuh melangkah pergi sambil memapah orang
bertubuh raksa sa itu. Nampaknya tubuh raksasa itu memang terlalu
berat baginya. Namun ia terpaksa memapahnya pergi. Meski pun lambat,
namun beberapa saat kemudian, keduanya telah menjadi semakin jauh
dari padepokan Bajra Seta. Ketika orang bertubuh raksasa itu sempat
memperhatikan keadaan di sekelilingnya, maka ia pun bertanya: “Kita
akan pergi ke mana?” “Kita akan mencari tempat untuk beristirahat.
Kita akan memasuki hutan itu,” berkata orang yang memapahnya. Orang
bertubuh raksa sa itu tidak menjawab. Ia ikut saja dengan sisa
tenaga yang tinggal. Beberapa saat kemudian, maka mereka pun telah
memasuki hutan yang tidak terlalu luas. Namun hutan itu cukup
buas. Ma sih banyak binatang buas berkeliaran di hutan itu.
Sedangkan binatang-binatang yang lain pun berkeliaran di sepanjang
rawa-rawa dan sebuah sungai yang mengalir di hutan itu. Bahkan di
sungai dan rawa-rawa itu pun masih juga tinggal binatang pemakan
daging yang garang. Buaya. Untuk beberapa saat keduanya beristirahat
di sejuknya angin yang menyusup di sela-sela pepohonan hutan.
Namun kemudian orang yang mengaku mendendam kepada anakanak Mahendra
itu berkata dengan suara gemetar: “Aku tidak mempunyai pilihan
lain.” Orang bertubuh raksasa itu terkejut. Ia melihat orang
yang mendendam anak-anak Mahendra itumencabut kerisny a. “Apa
yang akan kau lakukan?,” bertanya orang bertubuh raksasa itu
“Aku mendapat tugas untuk membunuhmu,” jawab orang itu “Kenapa? Dan
siapa kau sebenarnya?,” bertanya orang yang sudah tidak
berdaya itu. “Sebenarnya aku tidak sampai hati melakukannya. Tetapi
karena ini perintah,maka aku harusmelakukannya,” berkata orang itu
pula. “Tetapi tunggu,” minta orang bertubuh raksasaa itu, “apa
sebabnya hal itu haruskau lakukan?” “Bukankah aku berhadapan dengan
prajurit sandi dengan tanda sandinya Lintang Kemukus?” bertanya
orang itu. “Ya,” jawab orang bertubuh raksasa itu. “Kau telah
terlalu banyakmelakukan kesalahan. Kau tidak dapat lagi dipercaya.
Sementara itu terlalu banyak pula yang sudah kau ketahui tentang
tugas-tugas prajurit sandi Kediri di daerah Singasari,” berkata
orang itu. “Aku tidak tahu yang kau maksud,” desis orang
bertubuh raksasa itu. “Kau telah melanggar sumpahmu sebagai prajurit
sandi. Kau telah dengan sengaja menyatakan dirimu sebagai prajurit
sandi Kediri. Kau telah dengan terbuka berusaha menjajagi tataran
kemampuan orang-orang Singasari. Kau pernah membunuh tiga orang
prajurit Singasari yang sedangmeronda sekedar untuk menunjukkan
bahwa kau adalah orang yang tidak terkalahkan, meski pun sesudah itu
kau harus mencari daerah baru untuk melakukan tugas-tugasmu
yang telah kau nodai sendiri. Di daerah yang baru kau telah
melakukan kesalahan yang sama. Bahkan kau belum mendapat
persetujuan dari pimpinanmu untuk bergerak di daerah yang baru itu.
Karena itu, maka kau dianggap ju stru membahayakan kedudukan
beberapa orang Pangeran di Kediri yang memberikan tugas
kepadamu. Karena mereka adalah orang-orang yang mempersiapkan
diri untuk pada suatu saat bangkitmelawan Singasari,” berkata orang
itu pula. “Siapa kau?,” bertanya orang bertubuh raksasa itu. “Aku
adalah seorang prajurit sandi dengan pertanda tugasku yang
tentu kau kenal?,” berkata orang itu sambil mengambil sebuah lencana
dari kantong ikat pinggangnya. “Kecubung ungu,” desis orang bertubuh
raksasa itu: “jadi kaukah itu?” “Ya. Aku menerima tugas langsung
dari Pangeran yang menjadi Panglima dari gerakan ini dengan
gelar sandinya Pangeran Anom. Tidak seorang pun pernah mengenalnya
kecuali aku. Dan aku pulalah yang membawa perintah mencarimu,”
berkata orang yang disebut kecubung Ungu. “Kenapa kau dor ong
aku untuk bertempur melawan anakanak Mahendra?” bertanya orang
bertubuh raksasa itu. “Agar kau tenang di saat-saat terakhirmu,
baiklah aku berterus terang. Aku mendapat perintah untukmembunuhmu.
Tetapi aku merasa bahwa aku tidak akan mampu melakukannya. Karena
itu aku hanya dapat membayangimu dan menjebakmu dengan sifat-sifat
sombongmu sendiri agar kau dapat dibunuhnya. Anak-anak Mahendra
adalah anakanakmuda yang berilmu sangat tinggi. Tetapi ternyata ia
tidak mau membunuhmu dan membiarkan kau hidup. Tetapi kau sudah
tidak berdaya, sehingga aku akan dapatmembunuhmu,” jawab Kecubung
Ungu. “Setan kau,” geram orang bertubuh raksasa itu. “Maaf Lintang
Johar. Bukankah kau sudah beberapa lama menunggu dan mencari
kesempatan untuk bertemu dan membunuh Kecubung Ungu? Tetapi kau
ternyata terlalu dungu,” desis orang itu. “Kau yang terlalu licik.
Tetapi kau adalah pengecut yang paling besar,” geram raksasa
itu. Orang yang disebut Kecubung Ungu itu tersenyum. Katanya: “Aku
memang harus licik. Aku menyadari, bahwa ilmuku belum tentu akan
dapat membunuhmu. Aku tahu kau memiliki kekebalan tubuh meski pun
bentuknya agak lain dengan ilmu kebal. Karena itu, aku mencoba
meminjam tangan Mahisa Murti atau Mahisa Pukat untukmembunuhmu.
Selain aku tidak perlu memeras tenaga,maka tangannya pun tidak akan
ternoda oleh darahmu. Tetapi anak-anakmuda itu ternyata anak-anak
keparat yang yang malas. Nah, bukankah kelicikanku ada
juga gunanya.” “Kau harus berlaku jantan. Beri aku kesempatan
beberapa saat sehingga kekuatanku tumbuh kembali,” geram orang
bertubuh raksasa itu. “Alangkah bodohnya aku,” jawab Kecubung Ungu,
“kau yang sudah terlalu lama menunggu kesempatan untuk membunuhku,
tentu akan sangat berterima kasih jika aku memberimu waktu. Tidak Ki
Sanak. Aku harusmembunuhmu. Licik atau tidak licik. Aku dapat meny
elesaikan tugasku. Kelicikan yang kau sebut-sebut sebenarnya
adalah akal yang cerdik yang harus dimiliki setiap petugas
sandi.” Orang bertubuh raksasa yang bergelar sandi Lintang Johar itu
menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai kesempatan untuk melawan
kawannya yang mendapat perintah untuk mem bunuhnya, karena ia
dianggap tidak berguna lagi. Selangkah demi selangkah orang itu
mendekati Lintang Johar yang hanya dapat mengumpat-umpat.
Namun tangannya seakan-akan tidak lagi mampu bergerak apalagi
menangkis serangan orang yang akanmembunuhnya itu. Namun dalam pada
itu, ketika orang itu menjadi semakin dekat, terdengar suara dari
balik pepohonan hutan: “Jadi, inikah sasaran akhir dendammu karena
saudara seperguruanmu terbunuh?” Orang itu terkejut. Ketika ia
berpaling, dilihatnya Mahisa Murti berdiri termangu-mangu. Beberapa
langkah di sebelahnya, Mahisa Pukat bergeser mendekat. “Kalianmemang
keparat,” geram orang itu. “Aku sependapat dengan orang yang kau
sebut Lintang Johar itu,” berkata Mahisa Murti, “beri kesempatan
kepadanya untukmemulihkan kekuatannya.” Tetapi orang yang disebut
dengan gelar sandi Kecubung Ungu itu menggeram: “Aku akan
membunuhnya, justru sebelum kekuatannya mulai tumbuh. Aku memang
ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang telah
membantu aku melakukan tugasku.” “Aku akan melindunginya sampai
kekuatannya pulih kembali,” berkata Mahisa Murti, “kemudian terserah
kepadamu, Apakah kau masih berniat membunuhnya, atau membiarkan
dirimu dibunuhnya.” Tetapi orang itu menggeleng. Katanya: “Kau tidak
akan dapatmenghalangi aku.” “Jika kau merasa tidak dapat
membunuhnya, sedangkan aku dapat mengalahkannya, apakah kau tidak
dapat mengambil kesimpulan akibat dari perbenturan kekerasan
diantara kita?” berkata Mahisa Pukat. “Mungkin. Tetapi aku memiliki
kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang itu. Aku tidak
berkepentingan dengan kalian. Aku tidak mendapat perintah untuk
membunuhmu,” jawab orang itu. Lalu katanya pula: “Karena itu, aku
tidak perlumeny ombongkan diri untukmelawan kalian.” “Tetapi kami
sudah bertekad untukmelindungi orang yang lemah itu,” berkata
Mahisa Pukat. “Aku akan membunuhnya,” jawab orang itu. “Nah, meski
pun kita t idak mempunyai kepentingan apa pun sebelumnya, ternyata
akhirnya kita mempunyai kepentingan yang berlawanan. Kau akan
membunuhnya dan aku akanmelindunginya,” berkata Mahisa Murti. “Jika
demikian apa boleh buat,” jawab orang itu, “namun ingat. Mungkin
ilmuku kalah dari ilmumu. Tetapi di tanganku tergenggam pusaka yang
tidak ada duanya di dunia ini.” “Apa pun yang kau genggam,”
jawab Mahisa Murti, “aku jugamempunyai senjata.” Orang itu
termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia bergeser mendekati orang
lemah itu. Mahisa Murtilah yang meloncat mencegahnya. Namun dengan
garangnya orang itu telah meny erangnya. Begitu tiba-tiba. Dengan
demikian maka pertempuran telah terjadi. Ternyata orang itu memiliki
kecepatan bergerak yang luar bia sa. Mahisa Murti yang melawannya
segera mengetehui, bahwa orang itu memiliki kemampuan memperingan
tubuhnya. Meski pun demikian, t ingkat lima Mahisa Murti yang
memang lebih tinggi, mampu mengimbanginya. Ia mampu mengatasi
kecepatan gerak itu sehingga serangan-serangan orang itu tidak
segera mengenai
sasarannya.
Jilid 094 TETAPI kecepatan gerak
orang itu seakan-akan semakin bertambah-tambah. Nampaknya orang itu
tidak ingin berlama-lama. Ia ingin dengan cepatmengakhiri
pertempuran itu dan kemudianmembunuh orang bertubuh raksasa itu.
Sebenarnyalah orang itu memangmemiliki kecepatan gerak yang luas.
Bahkan rasa-rasanya orang itu bertempur dengan jarak
loncatan-loncatan yang panjang, sehingga kadang kadang Mahisa
Murtimemang terlambat. Namun kemantapan gerak Mahisa Murti kadang
-kadang membuat orang itu terdesak. Tetapi dalam pada itu, Mahisa
Murti pun mulai mencoba menilai kemampuan orang itu seutuhnya. Satu
pertanyaan telah bergejolak di hati Mahisa Murti, kenapa orang itu
merasa tidak sanggupmembunuh orang bertubuh raksasa itu. Namun ia
telah berani melawan Mahisa Murti meskipun ia tahu bahwa orang
bertubuh raksasa itu telah dikalahkan oleh Mahisa Pukat. Sementara
orang itu belummengetahui dengan pa sti, apakah kemampuan Mahisa
Pukat melampaui kemampuan Mahisa Murti. Namun sebenarnyalah, apa
yang diduga oleh Mahisa Murti. Orang itu sama sekali tidak ingin
bertempur sampai tuntas. Hanya nampaknya saja ia ingin dengan cepat
menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi ketika Mahisa Murti sempat
didesaknya beberapa langkah, maka orang itu pun telah
meloncatmenjauh dan bahkan kemudian hilangmenyusup di antara
pepohonan hutan. Mahisa Murti memang mencoba memburunya. Namun orang
itu bergerak cepat sekali, sehingga beberapa saat kemudian ia pun
telah kehilangan jejak. Mahisa Murti memang kecewa telah kehilangan
lawannya menyusup ke dalam lebatnya hutan. Ia pun tidak dapat
mencegahnya dengan serangannya pada jarak jauh dengan
menghentikannya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian telah
melangkah kembali ke tempatnya semula. Namun ia menjadi terkejut
ketika ia melihat Mahisa Pukat berjongkok di dekat orang yang
bertubuh raksasa yang mengaku sebagai petugas sandi dariKediri itu.
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia pun telah menunjuk sebuah
benda kecil yangmelekat di pipi orang itu. Ketika Mahisa Murti
kemudian berjongkok pula di sisi orang itu, maka ia pun melihat,
bahwa benda kecil yang melekat di pipi orang itu adalah pa ser kecil
yang jarumnya tentu beracun keras sekali. “ Ia telah mati,”
desisMahisa Murti. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Begitu
cepatnya ia melakukannya. Aku juga terlambatmelihat.” “Orang
itumemang sangat licik,” berkata Mahisa Murti. “Tetapi ia
menganggapnya sebagai satu kecerdikan. Ternyata ia sama sekali tidak
meny esali sebutan bahwa ia dianggap seorang yang licik,”
jawab Mahisa Pukat. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya,
“Bagaimana dengan orang ini?” “Kita akanmenguburkannya,” sahut
Mahisa Pukat. Namun mereka tidak mempunyai alat yang cukup baik
untukmenggali tanahyang lembab di hutan itu kecuali sebilah
pisau belati yang terselip di ikat pinggang raksasa itu.
Karena itu,maka dengan lubang yang sempit dan dangkal, maka mayat
itu pun kemudian telah ditimbun dengan batubatu yang besar agar
tidakmenjadi sasaran binatang buas. Baru kemudian keduanya
meninggalkan tempat itu dan kembali ke padepokan. Mahisa Semu dan
Mahisa Amping yang meny ongsongnya segera bertanya tentang usaha
mereka mengamati tingkah laku orang-orang yang baru saja
meninggalkan padepokan itu. Mahisa Murti sempat menceriterakan
dengan singkat. Namun katanya kemudian, “Aku akan ke pakiwan.”
Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membersihkan diri
mereka sebelum mereka memasuki bangunan induk padepokanmereka. Namun
dalam pada itu, usaha mereka mengamati kedua orang yang memang
dianggap agak menarik perhatian itu telah memberikan sedikit
gambaran tentang sikap Kediri. Set idaknya-tidaknya beberapa orang
bangsawan di Kediri. Sebagaimana yang mereka ketahui sebelumnya,
bahwa Kediri tidak pernah merasa pantas untuk berada di bawah
kepemimpinan Singasari. Hampir di setiap masa pemerintahan di Kediri
terjadi pergolakan. Beberapa orang di antara para pemimpin Kediri
selalu berusaha untukmembuat persoalan dengan Singasari.
Setidak-tidaknya mereka berusaha untukmenjajagi kekuatan Singasari.
“Apakah hal ini perlu dilaporkan?” bertanya Mahisa Pukat. Tetapi
Mahisa Murti menggeleng sambil berkata, “belum sekarang. Kita harus
melihat perkembangan lebih luas. Jika kita laporkan sekarang, maka
mungkin Singasari akan terlalu awalmelakukan tindakan yang kurang
sesuai dengan langkahlangkahyang telah diambil oleh Kediri.” Mahisa
Pukat mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Bagaimana jika
hal ini kita sampaikan kepada ay ah?” “Ayah sebagai apa?” bertanya
Mahisa Murti. “Ya. Kita sampai sekarang tidak mengetahui, apa
yang terjadi dengan ayah di Singasari,” desis Mahisa Pukat.
“Kita akan mencari kesempatan yang paling baik untuk pergi ke
Singasari. Kita memang perlu mengetahui, apa yang terjadi atas ayah
di Singasari,” berkata Mahisa Murti, “tetapi sudah tentu kita harus
mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan
padepokan kita ini jika kitameninggalkannya.” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita memang tidak dapat begitu saja
meninggalkan padepokan dan perguruan ini.” Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat memang sepakat untuk pergi ke Singasari. Tetapi mereka pun
sepakat untuk tidak dengan serta merta meninggalkan padepokan serta
perguruannya. *** Namun dalam pada itu petugas sandi dari Kediri
yang mendapat tugas untuk membunuh kawannya sendiri tanpa
dikenali oleh sa sarannya, telah keluar dari hutan yang lebat dan
menemui kawannya yang lain untuk memberitahukan hasil
tugasnya. “Tetapi anak-anak muda di padepokan itu ternyata memang
berilmu sangat tinggi. Aku tidak mengetahui bahwa keduanyamengikuti
aku danmendengar apa yang aku katakan kepada Lintang Johar. Aku kira
tidak seorang pun yang mendengar kecuali petugas yang dungu
tetapi sombong itu. Aku telah mengatakan alasan kenapa ia harus
dibunuh. Aku menganggap bahwa semuanya itu akan dibawanya mati tanpa
ada orang lain yang akan mengetahuinya. Tetapi ternyata aku
keliru. Kedua anak muda itu mendengar dan mereka hadir untuk
melindungi Lintang Johar. Untunglah bahwa sedikit ilmuku mampu untuk
mengelabui anak-anak muda itu. Aku sempatmelemparkan paser beracun
sangat tajam sebelum aku harusmelarikan diri. Jika aku bertempur
terus,maka aku pun tentu akan mati pula, meskipun nampaknya
anak-anakmuda itu tidak begitu bernafsu membunuh lawan-lawannya.”
Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Ternyata hal ini akan
dapat menjadi gawat. Mungkin kedua orang anak muda itu akan sampai
juga ke Singasari. Apalagi Mahendra telah berada di Singasari pula.”
“Jadi?” bertanya Kecubung Ungu. “Keduanya harus dihancurkan. Lebih
baik dengan seluruh padepokannya,” berkata kawannya. “Kita membawa
sepasukan prajurit Kediri?” bertanya Kecubung Ungu. “Ternyata kau
juga dungu,” jawab kawannya. Lalu katanya, “jangan libatkan prajurit
Kediri.” “Lalu?” bertanya Kecubung Ungu. “Mulai kapan kau menjadi
prajurit sandi. Kau cukup cerdik meskipun licik, meminjam tangan
orang lain untuk membunuh Lintang Johar. Tetapi kau kehilangan akal
menghadapi anak-anakmuda itu,” berkata kawannya. “Mungkin akalku
sudah habis sekarang,” jawab Kecubung Ungu. Kawannya terseny um.
Katanya, “Kita gerakkan sebuah perguruan yang memadai. Jika terjadi
benturan, maka persoalannya adalah persoalan antara perguruan. Orang
lain tidak akanmenarik gariske Kediri.” Orang yang mempergunakan
pertanda Kecubung Ungu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau memang
selalu lebih cerdik.” “Kau harus lebih memperhatikan segala segi
kemungkinan,” berkata kawannya. “Baik. Pikiranmu cemerlang. Kita
gerakkan sebuah perguruan. Mungkin Kediri harus mengeluarkan uang,
untuk itu dan setumpuk janji-janji,” berkata Kecubung Ungu. “Ya.
Kita akan minta salah seorang yang cukup berpengalaman untuk
melakukannya. Kita tidak boleh terlambat. Sebelum kedua orang anak
muda itu memberikan laporan,” berkata kawannya. “Siapakah yang
pantas untukmembujuk sebuah perguruan yang meyakinkan untuk
menyerang perguruan Bajra Seta? Alasannya dapat saja dibuat-buat.
Tetapi yang penting perguruan itu harusmeyakinkan,” berkata prajurit
sandi yang memperkenalkan gelar Kecubung Ungu. “Kita minta Akuwu
Kuda Paningal dari Pakuwon Sangotan. Aku mengenalnya dengan baik dan
aku y akin bahwa Akuwu Kuda Paningal akan dapat bekerja sama dengan
baik untuk kepentingan ini,” berkata kawannya. “Terserah kepadamu.
Tetapi laporan tentang tugas-tugas sandi itu harus dipotong sebelum
kedua anak muda itu pergi ke Singasari,” berkata kawannya. “Seorang
di antara kita harusmengawasi mereka,” berkata Kecubung Ungu, “tentu
bukan aku, karena aku telah dikenal bukan saja oleh kedua orang itu.
Tetapi para cantrik pun telah mengenal aku pula.” “Baiklah,” berkata
kawannya, “kita akan bekerja sebaikbaiknya agar tugas ini dapat
berjalan dengan baik. Kita tidak boleh gagal. Meskipun lawan kita
terlalu berat. Kita harus melawan orang-orang Kediri yang lemah hati
dan terbius oleh sikap baik orang-orang Singasari dan kemudian
Singasari sendiri. Tetapi orang -orang Kediri sudah semakin banyak
yang bangkit. Jika rencana sebelumnya pernah gagal, itu karena
beberapa orangmenjadi ragu-ragu.” Orang yang berciri sandi
Kecubung Ungu itu menganggukangguk. Sementara kawannya berkata lebih
lanjut, “Aku akan mencari orang yang akan dapat mengawasi dengan
baik padepokan dan perguruan Bajra Seta. Sementara itu, kita akan
mempersiapkan rencana yang besar itu.” Dengan demikian, maka
kedua orang itu pun dengan tergesa -gesa telah melakukan
langkah-langkah yangmenurut pendapat mereka akan berarti bagi
rencana besar beberapa orang pemimpin dariKediri. Yang mereka
lakukan pertama-tama adalah menemui Sang Akuwu Kuda Paningal.
Seorang Akuwu yang akan bersedia membantu mereka memotong hubungan
antara padepokan Bajra Sela dengan Singasari. Namun sementara itu,
dua orang prajurit sandi yang lain telah mendapat perintah
untuk mengamati keadaan padepokan itu. Mereka ditugaskan
untukmengamati terutama kedua orang anak muda yang memimpin
padepokan Bajra Seta. “Mereka tidak akan begitu saja pergi,” berkata
petugas sandi yang akan berhubungan dengan Akuwu Kuda Paninggal.
“Mereka harus memperhitungkan berbagai segi jika mereka akan
meninggalkan padepokannya, karena mereka adalah pemimpinyang
bertanggung jawab.” Sementara itu, ternyata Akuwu Kuda Paningal,
sebagaimana diperhitungkan bersedia membantu kedua petugas sandi
itu. Ia sependapat bahwa memang sebaiknya tidak perlu menarik
langsung jalur ke Kediri. Orang-orang yang y akin akan tujuan
perjuangan mereka, maka orang itu tentu akan bersedia menanggung
akibat dari setiap langkah yangmereka ambil tanpa harumenarik
gariske Kediri. Demikianlah, maka Akuwu Kuda Paningal telah
mempersilahkan kedua orang petugas sandi itu tinggal di Pakuwon.
Akuwu sendiri telah memanggil dua orang pemimpin dari dua buah
perguruan yang terbaik di Pakuwon itu. “Aku tidak y akin bahwa
satu perguruan akan dapat berhasil. Karena itu, agar tidak usah
mengulang lagi, aku akan menggerakkan dua perguruan yang besar
yang sudah jelas berdiri di sisi kita.” berkata Akuwu Kuda
Paningal. “ Itu tentu lebih baik Akuwu,” berkata petugas sandi itu,
“dengan demikian Bajra Seta akan benar-benar dihancurkan sehingga
mereka tidak akan memberikan laporan ke Singasari apa yang telah
mereka dengar. Karena jika hal ini didengar oleh Singasari dan
mereka mulai melakukan persiapan yang sebenarnya,maka kita justru
akan terpukul.” Ketika kedua Pemimpin padepokan itu telah menghadap,
maka Akuwu pun telah memberitahukan, bahwa Akuwu akan
mintamerekamelakukan tugasyang sangat berat. “Dua buah padepokan aku
kira cukup memadai,” berkata Akuwu Kuda Paningal. Empu Angin, salah
seorang pemimpin dari kedua perguruan itu dengan serta merta
berkata, “Serahkan kepada perguruan kami. Kami akan menghancurkan
padepokan itu dan menumpas segala isinya.” Tetapi Empu Pitrang,
pemimpin yang seorang lagi berkata lebih lantang, “Serahkan
kepadaku. Aku akan memimpin dengan bijaksana dan bertanggung jawab.
Kedua orang anak muda itu akan aku tangkap hidup atau mati.” Akuwu
Kuda Paningal ter senyum. Katanya, “Aku memang menjadi bangga bahwa
kalian menyatakan kesediaan kalian. Tetapi tentu saja hanya seorang
di antara kalian yang akan memimpin.” “Serahkan kepadaku Sang
Akuwu,” berkata Empu Angin. “Akuwu tidak akan pernah melupakan
kemampuanku,” sahut Empu Pitrang dengan serta merta. “Ya, y a,”
jawab Akuwu Kuda Paningal, “aku akan memilih seorang di antara
kalian. Bukan soal apa -apa. Aku y akin akan kemampuan kalian
masing-masing. Kalian berilmu tinggi sehingga sulit untuk
mengimbangi kemampuan masingmasing. Karena itu akan memilih kalian
berdasarkan atas umur kalian. Empu Angin tentu lebih tua dari Empu
Pitrang. Karena itu, maka aku minta Empu Angin akan memimpin tugas
ini. Aku sama sekali tidak merendahkan Empu Pitrang. Tetapi seperti
yang aku katakan, aku hanya mengingat umur kalian.” Empu
Pitrang mengangguk kecil. Katanya, “Apa boleh buat.” “Nah. Kalian
akan menjalankan tugas yang aku bebankan kepada kalian. Ingat,
tugas ini adalah tugasnegara. Karena itu, siapa yang tidak
melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka akibatnya akan tidak
menyenangkan. Bersama kalian, aku akan mengirim sekelompok petugas
sandi untuk mengamati apa yang terjadi dan akan selalu
memberikan laporan kepadaku,” berkata Akuwu Kuda Paningal. Kedua
orang pemimpin padepokan itu mengangguk. Empu Angin dengan nada
tinggi berkata, “Aku akan menjunjung segala tugas dengan
sebaik-baiknya.” “Nah,” berkata Akuwu Kuda Paningal, “biarlah
petugas sandi dari Kediri yang akan menyertai kalian memberikan
sedikit gambaran tentang tugaskalian.” Prajurit sandi yang
bergelar sandi Kecubung Ungu itu pun segera memberitahukan tentang
medan yang akan mereka hadapi. Tentang perguruan Bajra Seta
dan tentang para pemimpinnya yang sangat berwibawa dan berilmu
tinggi. “Kau sengaja menakut-nakuti kami,” berkata Empu Angin sambil
tertawa. “Tidak,” jawabKecubung Ungu. “Ataumerendahkan kami,” sahut
Empu Pitrang. “Juga tidak. Tetapi apakah kalian ingin aku mengatakan
yang tidak sebenarnya, sehingga kalian tidak dapat menilai
kekuatanyang sebenarnya akan kalian hadapi? Kepura-puraan
seperti itulah yang sering menghancurkan kita sebelum kita
mulai dengan satu tugas yang besar,” sahut Kecubung Ungu, “Aku
adalah seorang prajurit. Aku tahu bagaimana bersikap menghadapi
kekuatan lawan.” “Baiklah,” berkata Empu Angin, “kami berterima ka
sih atas keteranganyang kau berikan.” Namun dalam pada itu, Akuwu
Kuda Paningal telah bertanya kepada Empu Angin, “Apakah petugas
sandi itu sebaiknya meny ertai kalian ke padepokan Bajra Seta? Orang
itu pernah langsung berada di dalam padepokan itu dan karena itu, ia
mampu berceritera tentang isi dari padepokan itu.” “Mungkin sebagai
petunjuk jalan,” berkata Empu Angin, “dengan kehadirannya,maka kami
tidak perlu mencari-cari di mana letak padepokan Bajra Seta.”
“Baiklah,” berkata Akuwu Kuda Paningal, “ia akan menyertaimu. Kau
dapat berbicara tentang banyak hal dengan petugas sandi itu. Ia tahu
benar garis-garis keinginan para pemimpin di Kediri. Meskipun aku
juga pernah berbicara langsung dengan mereka, namun petugas sandi
itu adalah pengemban perintahmereka langsung.” “Kami sama sekali
tidak berkeberatan. Tetapi kami tidak mau dicampuri, cara yang
akan kami ambil untuk menghancurkan padepokan itu,” jawab Empu
Angin. Akuwu Kuda Paningal mengangguk-angguk. Katanya kepada
Kecubung Ungu, “Kau mendengar langsung dari orang-orang yang
akan memimpin pa sukan menuju ke padepokan dan perguruan Bajra Seta.
Lakukan sebagaimana persetujuan kita kali ini.” Demikianlah, maka
kedua orang pemimpin padepokan itu telah mempersiapkan diri.
Mempersiapkan orang-orangnya yang terpilih. Para cantrik dibawah
pimpinan beberapa orang Putut yangmemiliki ilmu yang mencuat lebih
tinggi dari para cantrik yang lain. Pada hari yang sudah ditentukan,
dua hari setelah perintah Akuwu jatuh, maka kedua pa sukan itu pun
telah berangkat dari Pakuwon Sangotan. Petugas sandi dari Kediri
yang mendapat gelar sandi Kecubung Ungu itu telah meny ertai mereka
sebagai petunjuk jalan. Namun sebagaimana diminta oleh para pemimpin
dari kedua padepokan yang terlibat petugas sandi itu tidak boleh
mencampuri kepemimpinan Empu Angin dan Empu Pitrang atas para putut
dan cantrik mereka masing-masing. Perjalanan yang ditempuh oleh
pasukan itu tidak satu perjalanan panjang. Mereka semula berusaha
untuk tidak menimbulkan persoalan di perjalanan. Sehingga tidak ada
berita yang akan menjalar mendahului pa sukan itu sampai ke
padepokan. Namun Empu Angin pun berkata, “Apa salahnya jika mereka
tahu bahwa kita akan datang? Biarlah mereka bersiap dan berbenah
diri. Namun mereka akan segera kami hancurkan. Bukahkah menurut
Kecubung Ungu jumlah kita cukup besar dan menurut perkiraannya lebih
banyak dari orang-orang Bajra Seta? “Apakah mereka tidak akan
sempatminta bantuan kepada Singasari,misalnya?” bertanya seorang
putut. “Tentu tidak. Jaraknya terlalu jauh. Untuk mendapat bantuan
dari Singasari diperlukan waktu lebih dari dua hari. Seandainya
seorang cantrik berkuda berangkat ke Singsari, maka prajurit berkuda
Singasari akan datang setelah padepokan itu menjadi karang abang.
Aku memang ingin membakar seluruh padepokan itu dan memusnahkan
segala isiny a,” jawab Empu Angin. Pututnya mengerutkan keningnya.
Wajahnya membayangkan keragu-raguan. Namun Empu Angin berkata,
“Persoalannya adalah persoalan yang cukup gawat. Jika
persoalannya hanya menyangkut padepokan kita dengan padepokan Bajra
Seta saja,maka aku tidak akan sampai sejauh itu. Tetapi persoalannya
adalah persoalan yang sangat gawat karena taruhannya adalah Kediri
dengan isiny a.” Putut itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak
bertanya lebih lanjut. Demikian perjalanan mereka pun semakin lama
menjadi semakin mendekati padepokan Bajra Seta. Seperti yang
dikatakan oleh Empu Angin, mereka sama sekali tidak perlu cemas
bahwa orang-orang Bajra Seta akan mengetahui kedatanganmereka.
Mereka itu, maka tanpa raguragu, pa sukan yang datang dari dua
padepokan itu pun telah membuat perkemahan untuk bermalam di tempat
yang terbuka. Mereka sama sekali tidak berusaha mencari tempat
yang terlindung atau tidak banyak dilihat orang. “Mereka tidak
tahu siapa kita dan seandainya tahu pun, kita tidak berkeberatan,”
berkata Empu Angin, “besok kita akan meneruskan perjalanan. Kita
sudah tidak terlalu jauh lagi. Kita besok akan membuat perkemahan
pula di sekitar padepokan itu. Baru hari berikutnya kita akan
menghancurkan padepokan Bajra Seta. Beberapa orang putut dan cantrik
mencoba untuk memberikan beberapa peringatan tentang bahaya yang
mungkin akan meny ergap mereka. Bagaimana pun juga padepokan Bajra
Seta adalah padepokanyang besar. Tetapi Empu Angin dan Empu
Pitrang menjadi terlalu yakin akan diri mereka sendiri, sehingga
mereka agak mengesampingkan bahaya sebagaimana dikatakan oleh putut
dan cantrik itu. “Meny enangkan sekali untuk memberi kesempatan
kepada para penghuni padepokan Bajra Seta untuk menjadi cemas dan
ketakutan,” berkata Empu Angin. Kehadiran sebuah pa sukan yang besar
memang telah menarik perhatian orang-orang padukuhan. Karena
itu,maka beberapa orang anak muda telah berusaha untuk melihat
sendiri perkemahan itu,meskipun dari kejauhan. Sebenarnyalah mereka
melihat satu daerah yang luas yang diperuntukkan bagi
perkemahan itu. Di beberapa tempat nampak beberapa orang berkerumun
sambil membuat perapian. “Satu pasukan yang besar,” berkata seorang
anak muda kepada kawannya, yang bersama-sama melihat
perkemahan itu dari sebuah bukit kecil t idak terlalu jauh dari
padukuhan mereka. “Apakah mereka mendendam kepada orang-orang
yang telah membuat padukuhan baru itu sebagaimana yang terjadi
beberapa saatyang lalu?” desis kawannya. “Mungkin. Tetapi pa
sukan itu terlalu besar. Jika padukuhan itu tidak minta bantuan
padepokan Bajra Seta, maka padukuhan itu tidak akan mampu bertahan,”
berkata anak muda yang pertama. “Tetapi beberapa waktu yang
lalu, mereka mampu mengusir orang-orang yang menyerang padukuhan
itu,” sahut yang lain. “Pa sukan yang datang saat itu tidak sebesar
sekarang ini. Lihat, berapa kelompok di antara mereka membuat
perapian. Yang lain berserakan dimana-mana,” berkata anakmuda yang
pertama. “Jadi, apa yang sebaikny a kita lakukan?” bertanya
kawannya. “Kita sampaikan hal ini kepada orang-orang di padukuhan
baru itu dan sekaligus ke padepokan,” jawab anakmuda yang pertama.
Demikianlah, bersama-sama dengan beberapa orang anak muda yang lain
mereka telah pergi ke padukuhan baru yang dihuni oleh orang-orang
yang semula merupakan tawanan di padepokan Bajra Seta, namun yang
benar-benar telah menyadari kesesatan jalan hidup mereka dan
berusaha untuk meniti jalan kembali. Bahkan di sepanjang perjalanan,
mereka telah memberitahukan kepada padukuhan-padukuhan yangmereka
lewati. Beberapa padukuhan ternyata telah menaruh perhatian yang
sangat besar terhadap peristiwa itu. Apalagi padukuhanpadukuhan yang
telah mengirimkan anak-anak mudanya untuk belajar ke padepokan Bajra
Seta. Tetapi agaknya persoalannya masih belum jelas, sehingga mereka
tidak segera mengambil langkah-langkah tertentu. Seorang yang
berpengaruh atas anak-anak muda di padukuhan-ny a berkata, “Kita
tidak dapat berbuat apa -apa malam ini. Besok pagi-pagi kita akan
pergi ke padepokan.” Namun dalam pada itu, beberapa anak muda telah
menempuh perjalanan dimalam hari. Mereka telah mendatangi padukuhan
baru yang beberapa saat sebelumnya telah membuat serangan dari
orang-orang yangmendendam. “Mungkin mereka yang terusir dari
pertempuran saat itu datang lagi membawa kawan-kawan mereka,”
berkata anak muda itu kepada orang-orang padukuhan baru itu. Orang
yang dianggap pemimpin dari padukuhan baru itu menarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Kenapa mereka masih sa ja mengganggu kami di
sini. Sebenarnya kami dapat menempuh jalan kita masing-masing. Kami
tidak pernah mengganggu mereka, hendaknya mereka juga tidak
mengganggu kami.” Anak-anakmuda itu hanya dapatmengangguk-angguk
saja. Namun pemimpin padukuhan baru itu berkata, “Ketika mereka meny
erang beberapa waktu yang lampau sementara kami mencoba menghadapi
mereka dengan kekuatan kami sendiri, pemimpin padepokan Bajra Seta
telah meny esalkan hal itu. Korban ternyata cukup banyak yang jatuh.
Sementara kami saat itu juga tidak terkendali lagi.” “Yang datang
kali ini jumlah cukup besar,” berkata anak muda itu, “karena itu,
maka sebaiknya hal ini disampaikan kepada padepokan Bajra Seta.”
“Kami sependapat,” jawab pemimpin padukuhan itu, “agar kami tidak
dianggap melakukan kesalahan lagi jika kami menghadapimereka
sendiri.” “Agaknya jumlahnya pun sama sekali tidak seimbang,”
berkata anakmuda yang mewakili kawan-kawanmereka itu.
Demikianlah,maka anak-anak muda itu pun telah pergi ke padepokan
bersama dengan beberapa orang padukuhan. Mereka telah bertemu
langsung dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Apakah kalian dapat
melihat langsung ke perkemahan itu?” bertanyaMahisa Murti. “Ya,”
jawab anak muda yang melihat perkemahan itu dari bukit kecil
didekat padukuhannya. “Terima kasih atas pemberitahuan ini,” berkata
Mahisa Murti, “nampaknya mereka terlalu yakin akan kekuatan mereka.
Tetapi kami belum dapat mengatakan apa-apa. Namun kami tahu, bahwa
kami harus mempersiapkan diri. Jika mereka berkepentingan dengan
padepokan kami, maka besok mereka tentu akan maju lagi semakin
dekat,” berkata Mahisa Murti. Lalu katanya pula, “Namun kami harus
sudah ber siap-siap sejak sekarang. Demikian pula padukuhan baru
itu. Jika besok kita dapat mengetahui sasaran utama dari pa
sukanyang besar itu,maka kita akan dapatmempersiapkan diri
baik-baiknya. Apakah padepokan ini atau padukuhan itu.” Demikianlah,
maka anak-anak muda itu pun telah minta diri. “Kami akan kembali ke
padukuhan kami dan ikut bersiapsiap pula.” Mahisa Murti ter senyum.
Katanya, “Terima kasih. Tetapi jika yang datang itu
orang-orang yang membawa dendam, kalian harus sangat berhati-hati.”
Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan segala
kesulitan dapat di atasi oleh padepokan ini.” Sepeninggal anak-anak
muda itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmemangmemberikan
perintah-perintah kepada para cantrik. Mereka harus bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan. Menurut perhitungan sekelompok orang
yang tidak diketahui dengan jelas itu tentu tidak akan datang ke
padepokan malam itu. Tetapi bagaimanapun juga segalanya harus diper
siapkan dengan sebaik-baiknya. “Lipatkan jumlah para cantrik yang
berada di panggungan pengawasan. Sehingga mereka dapat berjaga-jaga
bergantian,” perintah Mahisa Murti. Sementara itu, semua penjagaan
pun semakin ditingkatkan. Pintu-pintu butulan mendapat pengawasan,
baik dari panggungan di belakang dinding padepokan, maupun dari
dalam padepokan. Apalagi pintu gerbang padepokan itu. Selain
padepokan itu, maka di padukuhan baru itu pun telah terjadi
persiapan yangmelibatkan hampir semua orang laki-laki. Bahkan mereka
yang rambutnya telah berwarna rangkap, namun masih mampu
memegang senjata dengan kokoh, telah ikut pula berjaga-jaga. “Tetapi
kita jangan terpancing untuk menghamburkan tenaga tanpa arti,”
berkata pemimpin padukuhan itu, “sebagian dari kita harus sempat
beristirahat bergantian. Meskipun harus tidur di gardu-gardu.”
Dengan demikian maka suasana di padepokan dan di padukuhan baru itu
memang menjadi agak tegang. Tetapi dengan hati yang mantap
penghuninya telah bersedia menghadapi segala kemungkinan untuk meny
elamatkan padepokan dan padukuhan mereka yang letaknya memang
tidak begitu jauh itu. Seperti yang diperhitungkan, maka malam itu
memang tidak terjadi sesuatu. Ternyata orang-orang yang
berkemah itu tidur dengan ny enyak semalam suntuk kecuali yang
bertugas berjaga-jaga. Mereka membuat perapian untuk menghangatkan
badan mereka. Bahkan beberapa orang di antara mereka telah sempat
mengambil ketela pohon yang ditanam di pategalan di dekat
tempatmereka berkemah. Pagi-pagi orang-orang itu pun tidak
bergegasmeninggalkan perkemahan mereka dan melanjutkan perjalanan.
Tetapi dengan seenaknya mereka menunggu makanan mereka dipersiapkan
oleh para petugas yang memang khusus untuk itu. Baru setelah
matahari naik, pasukan itu mulai bergerak meneruskan
perjalananmereka. “Kita sudah tidak begitu jauh lagi,” berkata
petugas sandi dari Kediri yangmempunyai gelar sandi Kecubung Ungu.
“Apakah tengah hari kita akan sampai,” bertanya Empu Angin. “Tengah
hari kita akan sampai,” jawab Kecubung Ungu. “Bagus,” jawab Empu
Angin, “ada kesempatan untuk melihat-lihat padepokan itu sebelum
kita menghancurkannya.” “Maksudmu?” bertanya Kecubung Ungu.
“Melihat-lihat,” jawab Empu Angin. Kecubung Ungu tidak bertanya
lagi. Ia mencoba mengerti maksud Empu Angin. Namun ia pun menangkap
sikap yang akan dapatmerugikan diri sendiri. Baik Empu Angin maupun
Empu Pitrang terlalu y akin akan kemampuan diri dan kelebihan
kekuatan para cantrik padepokan mereka masingmasing, sehingga dengan
demikian mereka telah merendahkan kekuatan padepokan Bajra Seta.
Tetapi Kecubung Ungu tidak merasa perlu untuk berkalikali memberikan
peringatan. Ia sudah pernah memberitahukan kelebihan para pemimpin
padepokan Bajra Seta. Dan iamenganggap bahwa itu sudah cukup.
Seperti yang mereka perhitungkan, maka mereka mendekati
padepokan menjelangmatahari sampai ke puncak. Beberapa orang di
antara mereka mendapat perintah untuk mencari tempat
berkemahyang paling baik. “ Ingat, besok pagi-pagi sebelum
matahari terbit kita akan bergerak. Kita akan menyerang mereka dan
menghancurkannya,” berkata Empu Angin kepada orang yang mendapat
perintah untuk mencari tempat berkemah, “karena itu, tempat berkemah
itu jangan terlalu jauh dari padepokan. Sore nanti aku sendiri akan
melihat-lihat padepokan itu sambil memperingatkan agar padepokan
Bajra Seta bersiapsiapmenghadapi sergapan kami esok pagi-pagi.”
Kecubung Ungu seakan-akan tidak peduli lagi terhadap sikap Empu
Angin itu. Meskipun sebenarnya ia menjadi cemas. Dalam pada itu,
sudah dipersiapkan sejak malam harinya, anak-anak muda dari beberapa
padukuhan. Demikian matahari terbit mereka telah pergi ke padepokan
untuk mencari keterangan tentang kemungkinan yang bakal terjadi.
Tetapi mereka sekaligus telah minta diri karena mungkin mereka tidak
akan kembali lebih dahulu menjelang pertempuranyang dapat saja
terjadi setiap saat. Sebelum tengah hari, anak-anak muda itu
memasuki padepokan. Beberapa saat lebih dahulu dari kehadiran pa
sukanyang akanmeny erang padepokan itu. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat telah menerima mereka dengan baik. Tetapi setiap kali kedua
anak muda itu selalu memperingatkan bahwa mereka belum tahu siapakah
yang bakal datang. “Kita harus sangat berhati-hati,” pesan Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Ternyata beberapa saat kemudian, Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat laporan, bahwa sebuah pasukan
yang kuat telah berkemah tidak jauh dari padepokan itu. “Mereka
telah datang,” berkata Mahisa Murti. Diperintahkannya beberapa orang
cantrik untuk mengamati orang-orang itu. Namun ia selalu berpesan,
“berhati-hatilah. Kita tidak tahu, siapakah mereka dan kita pun
belum dapat menduga, sejauh manakah kemampuan mereka. Baik secara
pribadimaupun sebagai satu kesatuan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
pun telah memberikan perintah lewat dua orang cantrik kepada
orang-orang yang tinggal di padukuhan agar ber siap sepenuhnya.
Mereka harus siap untuk bergerak dengan cepat. Namun mereka pun
harus memberikan isyarat jika justru mereka yang menjadi sasaran.
“Menilik perkemahan yang mereka buat, mereka nampaknya
berkepentingan dengan padepokan ini,” berkata cantrik yangmemberikan
laporan. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian
berdesis kepada Mahisa Pukat, “Nampaknya ada hubungannya dengan
petugas sandi yang terlepas itu. Ia benar-benar ingin memotong
laporanyang mungkin akan kita sampaikan tentang sikap beberapa orang
pemimpin di Kediri.” “Apakah pasukan itu pasukan Kediri yang tidak
mengenakan kelengkapan dan pertanda keprajuritan?” desis Mahisa
Pukat. “Memangmungkin. Tetapimungkin juga tidak. Nampaknya Kediri
atau katakanlah beberapa orang pemimpin Kediri tentu akan berusaha
untuk mencuci tangan seandainya langkahlangkahyang diambil ini
gagal,” sahut Mahisa Murti. Mahisa Pukatmengangguk-angguk. Namun ia
sadar, bahwa pa sukan itu tentu pasukan yang kuat, karena
mendukung satu usaha yang besar,menghapus jejak dari satu
sikap yang ada di Kediri.” Namun Mahisa Murti masih menunggu laporan
orangorangnya yang diperintahkannya untuk mengamati pasukan
yang sedang berkemah itu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat telah menyusun semua kekuatan yang ada di padepokannya.
Kedua anakmuda itu tidak dapatmenganggap kehadiran pasukan itu
sebagaimana pa sukan dari penjahat yang inginmembalasdendam beberapa
saatyang lalu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga tidak
dapat menggantungkan keselamatan padepokannya kepada orang lain.
Mereka harus tampil sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, karena
mereka tidak akan dapat minta bantuan kepada Pakuwon Sangling atau
ke Singsari. Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat merasa bahwa hubungan mereka yang akrab
dengan padukuhan di sekitarnya telah memberikan banyak arti bagi
padepokannya. Dalam keadaan yang gawat, ternyata padukuhan-padukuhan
yang merasa pernah mendapat bantuan dalam ujud apa pun juga
dari padepokan Bajra Seta, telah ikut berusaha memperingan beban
padepokan itu. Namun sebenarnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmerasa
sangat gelisah dengan anak-anak muda itu. Jika yang datang
adalah sepasukan prajurit Kediri dengan tataran kemampuan yang
tinggi, maka anak-anak muda itu harus mendapat sandaran kekuatan
dari para cantrik yang terlatih. Demikian pula sekelompok
cantrik yang masih baru, yang baru mengenal dasar-da sar olah
kanuragan. Sementara itu, orang-orang yang tinggal di
padukuhanyang baru telah menghim pun kekuatan pula. Meskipun
tidak terlalu besar, namun mereka yakin bahwa bantuan mereka akan
berarti bagi padepokan Bajra Seta.Namun merekamasih mencari cara
yang paling baikyang dapatmereka pergunakan. Ketika dua
orang di antara orang-orang padukuhan yang baru itu datang ke
padepokan untuk mendapatkan perintahperinlah, maka Mahisa Murti
berpesan kepada mereka, “bersiap sajalah sebaik-baiknya. Nanti
malam, aku akan memberikan petunjuk apa yang harus kalian lakukan.
Sementara ini kami sedang berusahamenilai keadaan.” Sebenarnyalah
padukuhan itu sudah bersiap. Berbagai macam senjata telah di
tempatkan di tempat yang paling mapan. Baik untuk dipergunakan
maupun untuk dibawa ke padepokan. Mereka mempunyai beberapa ikat
senjata cadangan. Namun mereka pun telah menyiapkan busur dan anak
panah. Mungkin senjata jarak jauh itu akan berarti bagi mereka.
Namun dalam pada itu, di sore hari, para petugas yang
mengamati keadaan di panggungan di belakang dinding padepokan
terkejut ketika mereka melihat sekelompok orang yangmendekati
dinding padepokan. Mereka memang berhenti agak jauh. Namun dengan
tenangnya mereka berjalan hilir mudik di arah pintu gerbang
padepokan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mendapat
laporan segera naik keatas pintu gerbang. Mereka melihat orang-orang
itu yang nampaknya sedang menilai kekuatan dinding dan pintu gerbang
padepokan itu. “Mereka tentu bagian dari orang-orang yang
berkemah itu,” berkata cantrik yang telah mengamati tempat
orang-orang yang berkemah tidak jauh dari padepokan itu. “Jika
demikian, aku akan turun dan menemui mereka,” berkata Mahisa Murti.
Para cantrik termangu-mangu sejenak. Mereka menyadari, bahwa langkah
itu sangat berbahaya bagi kedua pemimpin mereka. Namun Mahisa Murti
berkata, “Mereka juga hanya sekelompok kecil. Aku juga akan membawa
beberapa orang cantrik.” Demikianlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah bersiapsiap untuk keluar dari regol padepokannya. Mahisa Semu
telah dibawanya pula bersama Wantilan. Namun Mahisa Amping tidak
diijinkan ikut keluar regol padepokan. “Kau melihat saja dari atas
pintu gerbang,” berkata Mahisa Murti. Sejenak kemudian, maka pintu
gerbang padepokan itu terbuka. Orang-orang yang sedang
melihat-lihat dan dengan sengaja menunjukkan satu sikap yang terlalu
y akin akan kemampuan diri, telah terkejut. Apalagi ketika mereka
melihat beberapa orang keluar dari padepokan. Tidak lebih banyak
dari orang-orang yang dibawanya. Empu Angin memandang sekelompok
orang itu dengan mata yang tidak berkedip. Sementara Empu Pitrang
berdesis, “Alangkah sombongnya mereka.” “Mereka masih terlalu muda
untuk menghadapi bahaya yang sebenarnya sebagaimana sekarang ini,”
berkata Empu Angin, “ seperti kanak-kahakyang tidak tahu,
betapa panasnya bara.” “Aku ingin menangkap mereka sekarang,”
berkata Empu Pitrang. “Jangan tergesa -gesa. Kita tidakmembawa
kekuatan cukup. Jika para cantrik itu menghambur keluar, kita akan
mengalami kesulitan.” cegah Empu Angin. “Sementara itu kita panggil
orang-orang kita,” jawab Empu Pitrang. “Mereka belum siap, karena
mereka baru akan bergerak besok pagi-pagi,” jawab Empu Angin pula.
Empu Pitrang tidak berkata lebih lanjut. Namun terdengar giginya
gemeretak. Sikap para pemimpin padepokan itu benarbenar telahmeny
inggung perasaannya. “Seharusnya mereka tidak berani keluar dari
gerbang padepokannya,” geram Empu Pitrang kemudian. Namun dalam pada
itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menjadi semakin dekat.
Dengan tanpa ragu -ragu, maka kedua anakmuda ber sama beberapa orang
cantrik itu berhenti hanya beberapa langkah saja di hadapan Empu
Angin dan Empu Pitrang. “Luar biasa,” desis Empu Angin. “Apa yang
luar biasa?” bertanya Mahisa Murti. “Ternyata kalian adalah
anak-anak muda yang sangat berani,” berkata Empu Angin selanjutnya.
“Kenapa?” bertanyaMahisa Murti. “Kalian memang terlalu sombong. Kau
kira pada saat seperti ini kami tidak dapat membunuh kalian?”
bertanya Empu Angin. Namun jawab Mahisa Murti benar-benar
mengejutkan. Katanya, “Tidak. Kalian tidak dapat membunuh kami.
Tetapi jika kami mau, kamilah yang akan dapat membunuh kalian.
Kami dapat mengerahkan seluruh kekuatan di padepokan ini langsung
meny erang kalian. Betapa pun tinggi ilmu kalian, namun kalian tidak
akan mampu melawan.Nah, tanpa kalian, apakah artinya pasukanmu
diperkemahan itu? Tetapi kami bukan orang yang licik, yangmeny erang
justru kalian sedang dalam puncak kelemahan.” “Setan kau,” geram
Empu Pitrang, “jika saja aku tidak mengingat harga diri, maka kalian
akan menjadi lumat sekarang ini.” “Sebenarnya apa yang kalian maui?”
Mahisa Murti mendahului Mahisa Pukatyang telah bergeser maju.
Mahisa Pukat hanya dapat menarik nafas panjang untuk mengendapkan
hatinya yang bergejolak. “Anak-anak muda,” berkata Empu Angin,
“Aku datang untuk melihat-lihat padepokanmu. Aku pun datang untuk
memberitahukan kepadamu, bahwa besok kami akan memasuki padepokanmu
dan membakar segala isinya. Membunuh segala penghuninya. Maaf, hal
ini terpaksa kami lakukan, karena kami merasa wajib untuk melakukan.
Kecuali jika kalian memang orang-orang yang sangat licik dan
pengecut, sehingga kalian akan lari mengungsi malam nanti. Kami
tidak akan berkeberatan. Tetapi kami akan menutup semua jalan dari
dan menuju ke padepokan ini.” Tanggapan anak-anak muda itu pun
sangat mengejutkan Empu Angin dan Empu Pitrang. Kedua anak muda itu
tetap tenang tanpa menunjukkan kegelisahan dan gejolak perasaannya.
Seakan-akan yang dikatakan oleh Empu Angin itu tidak lebih sebuah
desah angin didedaunan. “Kau dengar kata-kataku anakmuda?” bentak
Empu Angin yangmenjadimarah. “Aku mendengar,” jawab Mahisa Murti,
“tetapi belum saatnya membacakan dongeng bagi anak-anak menjelang
tidur. Nanti jika matahari terbenam dan wajah sepi bocah telah
sampai, ulangi dongeng itu. Anak-anak akan segera tertidur ny
enyak.” Empu Pitrang hampir tidak dapat menguasai diri. Tetapi
ketika ia bergerak,Mahisa Pukat pun telah bergerak pula. Namun
ternyata Empu Angin masih dapat menahan diri. Dengan nada mengancam
ia berkata, “Baiklah. Aku akan kembali ke perkemahan. Tetapi ingat,
besok pagi-pagi sekali aku sudah datang lagi untuk menghancurkan
padepokanmu. Membakar semua bangunan yang ada dan membunuh semua
orang di dalamnya.” Tetapi Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Selamat
sore Ki Sanak. Besok pagi-pagi kami menunggu kehadiranmu. Sebaiknya
jangan terlalu pagi agar kami sempat makan dan minum.” Jantung Empu
Pitrang memang akan pecah mendengar kata-kata yang sangat
menyakitkan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa -apa karena Empu
Angin ju stru mengajaknya pergi. Di sepanjang jalan kembli ke
perkemahan Empu Pitrang mengumpat-umpat sejadi-jadiny a. Seakan-akan
tidak ada kata-kata kotor lagi yang dapat diucapkan untuk
melepaskan kemarahannya yang bagaikan menyumbat jalur
pernafasannya. Tetapi Empu Angin berkata, “besok aku ingin menangkap
anak-anak itu hidup-hidup. Mereka tentu akan dapatmenjadi
permainanyang meny enangkan sekali.” “Ya. Aku setuju,” berkata Empu
Pitrang, “aku memerlukan mereka.” Sementara itu, Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat yangmasih berada di luar dinding padepokannya telah
memerintahkan orang-orang padukuhan baru itu untuk bersiap-siap.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmelihat, betapa pasukan yang
datang itu merupakan pasukanyang sangat berbahaya. Beberapa
orang cantrik terpilih telah diperintahkan pula untuk mengamati
keadaan dan memberikan laporan terusmenerus tidak usah menunggu
perkembangan apa pun yang terjadi. Sejenak kemudian, maka Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat telah berbicara dengan sungguh-sungguh
bersama beberapa orang cantrik tertua, Wantilan dan Mahisa Semu.
Kemudian menyusul pula pemimpin dari padukuhan baru yang tumbuh
semakin subur itu. Beberapa orang pemimpin kelompok anakanak muda
dari padukuhan-padukuhan yang ada di padepokan itu telah
diajak berbicara pula. Namun perintahyang keluar dari bilik
pembicaraan adalah, semua orang harus segera beristirahat. Mereka
supay a makan lebih awal dan kemudian tidur barang sejenak. “Kita
harus bersiap-siap di tengah malam,” para pemimpin kelompok dari
para cantrik itumemberikan perintah. Para cantrik itu pun menduga,
bahwa orang-orang yang sedang berkemah itu dapat saja bergerak
di tengah malam. Karena itu, maka mereka harus berhati-hati. Mereka
harus mempergunakanwaktu sebaik-baiknya untuk beristirahat. Namun
dalam pada itu, di sebuah bangsal para pemimpin padepokan itu masih
berunding dengan sungguh-sungguh. Bahkan beberapa saat kemudian,
mereka telah berpindah ke sanggar terbuka. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat telah memberikan beberapa petunjuk dan peragaan, apa yang
harus mereka lakukan. Bahkan ketika hari menjadi gelap, mereka telah
memasang obor-obor untukmenerangi sanggar terbuka itu. “Semua
pemimpin kelompok harus memahami,” berkata Mahisa Murti, “kita
memiliki satu kelebihan. Kita lebih menguasai medan dari mereka.
Sementara itu, para cantrik yang mengamati mereka telah dapat
memberikan laporan lebih terperinci. Agaknya mereka dengan sengaja
membiarkan perkemahan mereka diawasi. Namun ingat, setelah gelap,
mereka pun tentu akan mengawasi semua jalan menuju ke padepokan ini.
Mereka tidak akan membiarkan kita mengungsi meninggalkan padepokan
ini. Tetapi sekali lagi. Kita lebihmenguasaimedan.” Ketika segalanya
sudah jelas, maka pertemuan itu pun telah dibubarkan. Para pemimpin
kelompok kemudian kembali ke kelompok mereka masing-masing. Namun
mereka tidak memberitahukan apa pun juga kepada para cantrik.
Apalagi sebagian dari mereka telah berbaring di pembaringan untuk
secepatnya beristirahat. Demikian pula anak-anakmuda yang datang
dari padukuhan-padukuhan. Mereka telah mendapat tempat khususuntuk
bermalam. Menjelang tengah malam, maka para pemimpin kelompok telah
berbenah diri. Sejenak kemudian, maka mereka pun telah mempersiapkan
kelompok masing-masing.Mereka harus ber siap untuk bertempur
menghadapi lawan yang harus dianggapmempunyai kekuatanyang sangat
besar. Selagi kelompok-kelompok itu bersiap, maka sekelompok cantrik
terpilih telah bersiap untuk menjalankan tugasnya. Tetapi mereka
tidak segera berangkat meninggalkan padepokan itu lebih dahulu. Baru
ketika semuanya sudah siap,maka perintah pun telah diberikan
berantai. Ternyata para cantrik akan keluar dari padepokan. Mereka
akan menempuh jalan yang berada di luar jangkauan pengawasan
orang -orang yang ada di perkemahan. Meskipun demikian, namun
beberapa orang akan bertugas untukmendahului setiap jalur jalan
yang akan ditempuh oleh para cantrik itu. Namun perintah itu
pun belum jelas benar. Para pemimpin kelompok baru mengumpulkan dan
mengatur kelompokkelompokmerekamasing- masing. Malam pun menjadi
semakin dalam. Tengah malam pun telah dilewati. Ketika isy arat
terakhir telah diberikan, maka beberapa orang pengamat khusus telah
keluar dari padepokan. Mereka tidak keluar regol depan. Tetapi
mereka mempergunakan, tali turun dari bagian belakang padepokan.
Sejenak kemudian maka mereka pun telah meny ebar. Mereka melihat
keadaan di sekitar padepokan dengan sebaikbaiknya. Mereka meyakinkan
diri bahwa jalan-jalanyang akan ditempuh oleh para cantrik
tidak ada dalam jangkauan pengamatan orang-orang perkemahan.
Kelebihan para cantrik denganmenguasaimedan lebih baik dan orang
-orang di perkemahan memungkinkan para cantrik yang mengamati
keadaan itu melihat lingkungan dengan tuntas. Mereka dapat
mengetahui di mana orang-orang yang datang dan mengancam padepokan
mereka itu melakukan pengamatan. Seperti yang diperhitungkan, hanya
jalan-jalan yang cukup pantas untuk dilalui sebuah iring-iringan
sajalah yangmereka amati. Mereka tidak mengamati jalan-jalan setapak
atau bahkan pematang-pematang sawah dan lorong -lorong pategalan.
Dalam waktu yang ditentukan, maka para pengamat itu telah kembali
dan memberikan isyarat kepada para pemimpin padepokan itu untuk
mulai dengan sebuah tindakan yang sudah diperhitungkan masak-masak.
Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka sebuah regol butulan telah
terbuka. Sekelompok kecil cantrik telah keluar dari pintu butulan
itu. Sementara itu, kelompok-kelompok yang lain telah keluar pula
lewat tiga pintu butulan. Malam itu para cantrik telahmenempuh
sebuah perjalanan pendek. Tetapi mereka memang tidak melalui jalan
sewajarnya. Mereka justru telah melalui jalan-jalan setapak dan
lorong-lor ong di antara pategalan. Sementara itu, di depan setiap
kelompok yang menempuh jalan berbeda telah berjalan lebih dahulu dua
orang cantrik yang harusmengamati keadaan. Ketika para cantrik itu
sampai di tempat masing-masing, barulah mereka tahu apa yang
harus mereka lakukan. Di hadapan mereka nampak perkemahan
orang-orang yang telah berniat untuk menghancurkan padepokan
dan perguruan Bajra Seta. Ternyata para cantrik dari padepokan itu
justru telah berada di seputar perkemahan orang-orang itu itu
meskipun pada jarak yang masih belum terlalu dekat, sehingga belum
sampai pada tangkapan pengamatan para petugasmereka. Demikian mereka
berada di tempat yang telah ditentukan, maka para pemimpin
kelompok telah memberikan beberapa petunjuk kepada mereka, apa
yang harusmereka lakukan. “Yang akan bergerak lebih dahulu
adalah sekelompok cantrik yang telah terpilih,” berkata
seorang pemimpin kelompok, “jika mereka berhasil, maka giliran
yang kemudian adalah kita.” Dengan demikian beberapa saat
lamanya para cantrik itu menunggu. Sementara itu, beberapa orang
cantrik yang dipimpin oleh Mahisa Semu telah merayap mendekati
perkemahan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan sengaja telah
melepaskan Mahisa Semu yang sudah cukup lama ditempa. Sebelum
di padepokan itu, ia sudah mengalami latihan-latihan yang berat di
sepanjang perjalanan, sehingga sekaligusmenimba pengalaman.
“Hati-hati,” pesan Mahisa Murti, “kalian memiliki pengenalan
atasmedan jauh lebih baik darimereka.” Mahisa Semu mengangguk.
Katanya, “Aku mohon kakang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta para
cantrik berdoa untuk kami.” Mahisa Murti menepuk bahu anak muda itu.
Katanya, “’Tentu. Setiap kali kita semuanya berdoa untuk keselamatan
kita.” Sejenak kemudian Mahisa Semu telah bergerak bersama sepuluh
orang cantrik pilihan. Tugas mereka mengacaukan perkemahan itu. Jika
mungkin mereka harus membakar tempat per sediaan makan dan
perlengkapan mereka, yang sudah dapat diketahui tempatnya oleh
orang-orang yang mengamati perkemahan itu dengan saksama. Sebelas
orang telah merangkak mendekati perkemahan. Mereka membawa beberapa
buah obor minyak serta beberapa ikat blarak kering. Beberapa kampil
biji jarak yang akan dilemparkan di tempat api yang
sudahmenyala. Dengan sangat hati-hati sebelas orang itu berhasil
mendekati perkemahan. Mereka berputar ke arah belakang perkemahan
mendekati tempat persediaan bahan makanan dan perlengkapan. Beberapa
saat lagi, para petugas di dapur itu tentu sudah akan terbangun.
Mereka harus menyiapkan makan bagi para cantrik kedua padepokan yang
akan menyerang padepokan Bajra Seta itu. Demikian mereka berada di
belakang sebuah gubug kecil tempat mereka menyimpan bahan makanan
dan perlengkapan, maka para cantrik itu pun telah membuat api.
Dengan batu titikan dan seonggok amput aren. Dengan cepat mereka
harusmeniup api yang sepeletik itu sehingga menjadi besar. Seorang
harus melindungi api itu sehingga tidak nampak dari lingkungan di
sekitarnya. Baru ketika api itu mulaimenyala dan membakar sebuah
obor blarakmaka oborobor minyak pun dengan cepat pula menyala.
Beberapa onggok blarak yang diletakkan di belakang gubug kecil itu
pun dengan cepat terbakar. Sementara itu, sekampil biji jarak kering
telah dilemparkan pada nyala apiyang mulaimenjilat. Tetapi ny ala
api obor belarak itu tentu akan dengan cepat surut. Namun sebelum
api itu surut, maka biji jarak yang dilempar itu pun telah mulai
menyala. Demikian pula gubug kecil itu. Namun api itu pun dengan
cepat diketahui pula. Beberapa orang yang bertugaspun
berlari-larian sambil berteriak-teriak. Namun beberapa orang cantrik
yang lain telah mendapat tugas mereka masing-masing. Empat
orang di antara mereka dengan tangkas telah melepa skan anak panah
dari busur mereka. Para petugasyang sedang berjaga-jaga itu
pun tidak sempat berteriak lagi, ketika anak panah para cantrik dari
Bajra Seta itu mengenai dadamereka. Meskipun demikian beberapa orang
yang lain pun segera telah berlari-larian pula mendekat, namun
beberapa anak panah yang menyusul telah sempat memberikan waktu bagi
api yang menyala itu membakar gubug kecil dan kemudian menjilat
segala isinya. Tetapi perkemahan itu pun kemudian telah terbangun.
Semua orang telah bangkit dan bergegas pergi ke tempat api yang
menyala semakin besar. Onggokan-onggokan belarak, ranting-ranting
kecil yang diambil dari persediaan di perkemahan itu sendiri,
beberapa kampil biji jarak yang telah kering, obor-obor minyak yang
dilemparkan pula ke gubug kecil itu dan gubug kecil itu sendiri
yang terbuat dari kayu, bambu dan batang ilalang, telahmembuat
api itu dengan cepat menjilat bagaikan ingin menggapai langit,
meskipun api itu tidak akan bertahan lama.Namun jika kemudian api
itu surut, maka semua per sediaan bahan makanan dan perlengkapan
bagi orang-orang yang sedang berkemah itu telah habis. Tidak
ada yang akan dapatmereka makan. Minum pun mereka akan minum air
yang harusmereka lakukan. Demikian api menyala semakin besar,
maka pasukan para cantrik dari padepokan Bajra Seta, anak-anak muda
dari beberapa padukuhan dan orang-orang padukuhan baru itu pun mulai
bergeser mendekat. Tetapi mereka belum mendapat isy arat untuk
bergerak. Sementara itu, orang-orang Bajra Seta yang telah berhasil
membakar segala per sediaan bahan makan dan perlengkapan itu- pun
telah berhasil meloloskan diri. Sebagaimana dikatakan oleh Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat, bahwa mereka mengenal medan jauh lebih baik,
telah membuat mereka mampu melepaskan diri dari kejaran orang-orang
yang ada di perkemahan itu. Empu Angin dan Empu Pitrang hanya dapat
mengumpatumpat saja. Dengan nada tinggi Empu Angin berkata hampir
berteriak, “besok, pagi-pagi benar kita balas sakit hati kita.” Para
cantrik dari perguruan yang dipimpin oleh Empu Angin dan Empu
Pitrang itu memang hanya dapat meny esali kelengahan para petugas,
terutama para petugas di dapur. Seorang cantrik hampir tidak dapat
menguasai dirinya dan menyerang pemimpin darimereka yang
berjaga-jaga di dapur malam itu. Untunglah beberapa orang kawannya
sempat meleraimereka. Dalam pada itu, Empu Angin berteriak pula,
“Lupakan persediaan makanan yang terbakar itu. Besok kita akan
mengambil per sediaan makanan yang lebih banyak dan lebih baik di
padepokan. Kita tentu tidak akan pernah kelaparan. Apalagi di
sekitar tempat itu terdapat banyak padukuhanpadukuhan yang akan
dapat memberikan beras lebih banyak dari yang kita perlukan.”
Pernyataan Empu Angin itu memang dapat membuat para
cantriknyamenjadi tenang. Sementara itu, petugas sandi Kediri yang
ada di dalam perkemahan itu pulamenjadi semakiny akin akan kemampuan
para pemimpin padepokan Bajra Seta. Tanpa per sediaan makanan
meskipun hanya untuk esok pagi, kekuatan pasukan yang dipimpin Empu
Angin dan Empu Pitrang itu tidak akan memiliki ke kuatan utuh. Jika
besok pertempuran terjadi, menjelang tengah hari, para cantrik
yang dipimpin oleh Empu Angin dan Empu Pitrang itu tentu sudah
mulai dipengaruhi oleh perasaan lapar mereka. Mungkin perasaan lapar
itu sendiri akan dapat dilupakan jika mereka menghadapi senjata
terhunus. Namun kekuatan mereka tidak akan mampu bertahan lebih lama
lagi jika keringat telahmengalir. Tetapi petugas sandi dari Kediri
itu telah menjadi kecewa atas tanggapan kedua orang pemimpin dari pa
sukan yang akan menyerang padepokan Bajra Seta itu. Karena itu,maka
ia pun justru telah kembali ke pembaringan. Ketika keadaan sudah
menjadi tenang serta api pun mulai su sut, para cantrik telah
mencari tempat untuk berbaring lagi meskipun waktunya telah hampir
habis. Namun rasa-rasanya malam-malam yang dingin itu telah membuat
mata mereka melekat kembali. Beberapa saat kemudian, perkemahan itu
telah menjadi sepi kembali. Tetapi para petugas telah mendapat
perintah untuk lebih berhati-hati. Beberapa saat lagi, para penjaga
itu harus sudah membangunkan semua orang di perkemahan itu. Karena
tidak ada lagi yang akan dimasak dan dimakan pagi itu, maka para
petugas yang seharusnya berada di dapur, harus ikut bersama
para cantrik yang lain menghancurkan pertahanan padepokan
Bajra Seta. Sekaligus mereka akan mendapatkan bahan makanan untuk
persediaan mereka selama berada di padepokan itu. Untuk
menghilangkan kejengkelan dan kemarahan, maka para cantrik dibawah
pimpinan Empu Angin dan Empu Pitrang itu telah dibiarkan tertidur
kembali. Menjelang fajar mereka akan dengan cepat dapat
mempersiapkan diri, karena mereka tidak perlu lagi menunggu makanan
dan minuman mereka. Saat itulah yang ditunggu oleh Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Suasana di padepokan itu telah diwarnai
dengan kecemasan, kemarahan dan dendam. Tetapi Empu Angin dan Empu
Pitrang sendiri sama sekali tidak ingin tertidur kembali. Mereka
meny esali apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak dapat menghukum
siapa pun karena dengan demikian hanya akan mengurangi kekuatan pa
sukan itu sendiri. Namun sudah terbersit di kepala mereka, jika
mereka telah berhasilmenduduki padepokan dan merebut segala
persediaan makan dari perbekalan,maka yang ber salah tentu
akan diusut kembali dan hukuman pun tidak akan dapat dihindarkan.
Sementara itu, Empu Angin dan Empu Pitrang memang membiarkan orang
-orangnya tertidur. Mereka harus melupakan kebakaran yang
baru-saja terjadi serta akibatnya. Nanti, demikian mereka bangun,
maka mereka pun harus segera bersiap dan menyerang padepokan Bajra
Seta. mPu Angin dan Empu Pitrang tidak mempersiapkan peralatan apa
pun untukmemecahkan pintu gerbang. Mereka juga tidak membawa tampar
dan tali apa pun untuk memanjat. Keduanya telahmemutuskan
untukmembakar saja dinding padepokan, terutama pintu-pintunya. Pintu
gerbang dan pintu butulan. Yang mereka persiapkan adalah ranting dan
kayu-kayu kering,minyak yang tersisa serta semua oncor dan obor,
serta blarak. Mereka ingin membalas kebakaran yang telah terjadi di
perkemahan itu. Empu Angin dan Empu Pitrang telah mempersiapkan
kelompok-kelompok yang harus melindungi kawan-kawannya yang membakar
dinding yang paling lemah serta pintu-pintunya. Mereka telah
dipersiapkan dengan busur dan anak panah serta lembing-lembing yang
tajam. Menjelang pagi,maka semua orang di perkemahan itu telah
dibangunkan. Dengan cepat mereka ber siap. Tidak ada makanan dan
tidak ada minuman hangat. Semua per sediaan dan peralatan telah
terbakar. Dengan singkat Empu Angin dan Empu Pitrang telah
memberikan perintah-perintah. Beberapa orang Putut yang memiliki
kemampuan lebih tinggi dari para cantrik segera tanggap. Beberapa
orang cantrik telah ditunjuk untuk membawa kayu-kayu kering,
belarak, ilalang kering, minyak yangmasih tersisa serta semua obor
dan oncor. Beberapa saat kemudian, maka pasukan itu telah mulai
bergerak. Pa sukanyang telah dibekali dengan kejengkelan dan
kecewa, karena sama sekali tidak ada per sediaan makan dan minum.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberikan isyarat
kepada para cantrik, anak-anak muda yang bergabung dengan pasukannya
serta orang-orang yang berada di padukuhan yang baru itu. Mereka
harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Justru saat pasukan lawan
itumulai bergerak. Sebenarnyalah, ketika iring-iringan itu lepas
dari perkemahan dan merayap di sepanjang jalan menuju ke
padepokan,maka perintah Mahisa Murti pun telah dijatuhkan. Para
cantrik, anak-anakmuda dari beberapa padukuhan yang ber sama
denganmereka serta para penghuni padukuhan yang baru, dengan serta
merta telah meny erang iring-iringan yang sama sekali tidak mengira
bahwa serangan yang tiba -tiba itu akan datang. Para
petugasyang mengamati keadaan pun telah berada di dalam
iring-iringan itu pula, sehingga mereka tidak melihat kedatangan pa
sukan yang tiba -tiba saja telah menyerang. Medan pertempuran
yang terjadi memang menjadi panjang. Mahisa Murti memang
menghendaki hal yang demikian. Sementara itu, para cantriknya telah
mempersiapkan serangan dengan cara yang tidak diperhitungkan sama
sekali oleh pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang, yang
jumlahnya memang lebih besar dari pa sukan yang dipimpin langsung
oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu. Ketika pa sukan Empu Angin
dan Empu Pitrang terkejut mendapat serangan yang tiba -tiba serta
dengan serta merta ber siap menghadapi mereka, maka dari sisi
yang lain, beberapa orang cantrik yang bertugas telah meny
erang iringiringanyang panjang itu dengan busur dan anak
panah. Beberapa orang di dalam iring-iringan itu tidak sempat
berbuat sesuatu. Punggung mereka tiba -tiba saja telah tertembus
anak panah. Hampir berbareng, mereka yang terkena anak panah itu pun
telah terjatuh di tanah sambil berteriak kesakitan. Bahkan ada di
antara mereka yang justru tidak sempat berteriak lagi. Dalam
keadaan yang demikian,maka pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang
memang menjadi bingung. Mereka benar-benar tidak mengira bahwa
mereka akan menghadapi serangan yang membingungkan itu. Empu Angin
dan Empu Pitrang yang telah merendahkan orangorang padepokan Bajra
Seta, tidak sempat meny esali diri. Keadaan telah menjadi sangat
rumit. Empu Angin yang berusaha untukmengatasi keadaan telah
berteriak, “jangan hiraukan orang-orang licik yang menyerang kalian
dengan anak panah dari belakang. Jumlah mereka tidak banyak,
yang berperisai harus berusaha melindungi diri dan
kawan-kawannya. Sementara seluruh pa sukan harusmenghadapi serangan
dari induk pasukan.” Sebenarnyalah para Putut telah meneriakkan
perintah itu sambung bersambung sampai ke ujung. Dengan geram para
cantrik itu pun telah berlari-larian meny ongsong serangan dari
induk pa sukan yang dipimpin langsung oleh Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat. Namun beberapa orang telah berusaha melindungi
kawankawannya dengan perisai. Sementara para cantrik yang
dipersiapkan oleh Empu Angin dan Empu Pitrangmelindungi
kawan-kawannya yang akan membakar pintu gerbang telah mempergunakan
anak panah dan busur mereka untuk melawan serangan yang datang
dari belakang, meskipun mereka harus bergerak mundur mengikuti gerak
seluruh pa sukan. Tetapi dengan demikian, maka lontaran anak panah
dari pa sukan Empu Angin dan Empu Pitrang itu mampu menyusut tekanan
para cantrik dari perguruan Bajra Seta. Sebenarnyalah yang terjadi
itu telah menggetarkan jantung Empu Angin dan Empu Pitrang. Ternyata
anak-anak muda yang ditemuinya di muka pintu gerbang padepokan Bajra
Seta bukan hanya mampu berbicara dengan sombong dan bahkan membual
untuk menutupi kelemahannya. Mereka ternyata memiliki keberanian
yang luar biasa yang tidak diperkirakan sama sekali
sebelumnya. Bahkan Empu Angin dan Empu Pitrang pun mulai
mempertimbangkan pendapat prajurit sandi dari Kediri yang semula
dianggapnya tidak lebih dari sikap sangat berhati-hati. Menghadapi
serangan yang tiba -tiba dan tidak diperhitungkan sama sekali
itu, Empu Angin dan Empu Pitrang hanya dapatmeny esuaikan diri.
Ternyata para cantrik dari padepokan Bajra Sela dalam keremangan
fajar telah sempatmenyusun gelar yangmelebar. Empu Angin dan Empu
Pitrang sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk bertempur di
tempat terbuka. Mereka sejak semula telah mempersiapkan diri untuk
mengepung sebuah padepokan dan menghancurkannya. Terakhir kedua
pemimpin itu sepakat untuk membakar pintu gerbang padepokan Bajra
Seta yang terbuat dari kayu yang tebal. Namun Empu Angin dan
Empu Pitrang memperhitungkan bahwa pintu itu akan dapat dibakarnya
ber sama panggungan di atasnya. Demikian pula pintu-pintu gerbang
butulanyang lebih kecil. Tetapi justru orang-orang padepokan itulah
yang telah ke luar dari sarang mereka dan meny erang pasukan
yang sedang merayap dalam bentanganyang melebar. Empu Angin
dan Empu Pitrang memang berusaha menyusut bentangan itu.
Satu-satunya gelar yang dapat dipersiapkan dalam waktu dekat
adalah gelar Emprit Neba. Gelar yang memang paling sesuai dengan
sifat dan watak para cantrik kedua padepokan itu. Keras dan ka sar.
Terlalu percaya kepada diri sendiri dan kemampuanmereka secara
pribadi. Empu Angin dan Empu Pitrang berharap bahwa benturan yang
akan terjadi, tentu akan merusak gelar lawan serta memancing mereka
untuk bertempur dalam lingkaranlingkaran pertemuran yang
terpecah-pecah. Sehingga akan terjadi perang brubuh. Dalam keadaan
yang demikian, maka para cantrikyang melontarkan anak panah dari
belakang tidak akan berani menyerang mereka lagi, karena para
cantrik itu tidak akan mau memikul akibat bahwa anak panah mereka
akan mengenai kawan-kawanmereka sendiri. Demikianlah, maka Empu
Angin dan Empu Pitrang pun telah meneriakkan aba-aba kepada seluruh
pasukannya untuk menyerang para cantrik dari perguruan Bajra Seta
dengan gelar Emprit Neba. Dengan demikian,maka seluruh kekuatan
pasukan itu pun telah berlari-larian sambil mengacu-acukan senjata
mereka menyerang para cantrik dari perguruan Bajra Seta yang
memasang gelarWulan Tumanggal. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang
melihat serangan itu pun dengan segera telah memberikan aba -aba
untuk mengisi gelar Wulan Punanggal itu dengan gelar yang
lain. Gelar Jurang Grawah, justru pada saat lawan mempergunakan
Gelar Emprit Neba. Sementara itu, ketika pa sukan Empu Angin dan
Empu Pitrang berlari-larian meny erang, maka para cantrik yang
mempergunakan busur dan anak panah telahmempergunakan saat
yang pendek itu untukmengurangi jumlah lawan mereka. Beberapa
orangmemang jatuh tertelungkup ketika punggung mereka tertusuk anak
panah. Ketika kedua pa sukan itu berbenturan, maka langit pun
menjadi semakin terang. Kedua belah pihak menjadi semakin jelas,
siapa-siapa yang mereka hadapi. Sebuah perguruan yang harusmembela
diri melawan dua perguruanyang cukup besar di bawah pimpinan
Empu angin dan Empu Pitrang. Beruntunglah perguruan Bajra Seta bahwa
anak-anakmuda dari beberapa perguruan telah membantu mereka
mempertahankan perguruan dan padepokan Bajra Seta. Demikian pula
orang-orang yang telahmembangunkan sebuah padukuhan baru. Meskipun
jumlah mereka tidak begitu banyak, tetapi mereka adalah orang-orang
yang memiliki pengalaman yang luas ditambah dengan pengetahuan
olah kanuragan yang lebih mapan, sehingga dengan demikian, mereka
adalah orang -orang yang tangguh menghadapi keadaanyang betapa pun
sulitnya. Ternyata Empu Angin dan Empu Pitrang yang langsung turun
di arena pertempuran itu, sama sekali tidak mengekang diri. Tanpa
ampun, orang-orang yang menghalangi geraknya telah
dilumpuhkannya. Tetapi mereka tidak terlalu lama berkesempatan untuk
membantai lawan-lawannya. Dengan segera Mahisa Murti telah
menghadapi Empu Angin, sementara Mahisa Pukat telah berada di
hadapan Empu Pitrang. Meskipun kedua orang pemimpin padepokan
yang menyerang perguruan Bajra Seta itu telah melihat keny
ataan, ketangkasan berpikir dan menentukan sikap dari dari para
pemimpin perguruan Bajra Seta, namun melihat kehadiran anak-anak
muda itu, keduanya masih saja menganggap mereka masih kanak-kanak.
Karena itu, ketika Mahisa Murti berdiri tegak di hadapan Empu
Angin,maka Empu Angin itu pun berkata, “sayang . Kau ternyata
harusmati muda. Tetapi yang terjadi itu adalah buah dari biji yang
pernah kau taburkan. Jika kau tidak dengan sombong mengganggu orang
lain, maka kami tidak akan datangmengadilimu sekarang ini.” “Aku
tidak tahu apa yang kau katakan. Aku tidak mengerti yang kau
maksud dengan ceriteramu itu,” jawab Mahisa Murti. “Jika demikian,
sebaiknya kau mati dalam kedunguanmu. Mungkin kau akan merasa lebih
berbahagia karena jika kau mengerti, betapa dungunya kau, maka kau
tentu akan menyesal,” berkata Empu Angin. Mahisa Murti memang tidak
mengerti maksud Empu Angin. Karena itu maka ia pun tidak menjawab.
Tetapi ia sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untukmelawannya.
Sementara itu Empu Pitrang yang lebih garang dari Empu Angin
telah ber siap pula menghancurkan Mahisa Pukat. Dengan kasar ia
membentak, “Kau anak iblis, meny erahlah. Kau akan mendapat jalan
kematian yang terbaik. Tetapi jika kau ingin melawan aku,maka
kau akan meny esal di saat -saat terakhir dari hidupmu.” Mahisa
Pukat memang tersinggung mendengar kata-kata itu. Dengan lantang
pula ia menjawab, “Kenapa bukan kau sa ja yang berlutut di hadapanku
sambil menunduk? Aku akan memenggal lehermu sepertimemenggal batang
pisang.” Empu Pitrang itu menggeretakkan giginya. Dengan garangnya
ia pun meloncat meny erang Mahisa Pukat. Senjatanya, sebuah tombak
pendek telah berputar dan menyambar dalam ayunan mendatar. Namun
ketika Mahisa Pukatmeloncat surut, ujung tombak itu telah
mengejarnya. Tetapi Mahisa Pukat cukup tangkas untuk menghindari
kejaranujung tombak itu. Sejenak kemudian, maka pertempuran pun
telah menjadi semakin sengit. Para cantrik dari perguruan Bajra Seta
telah mengetrapkan gelar Jurang Grawah dengan baik. Ketika benturan
antara kedua pa sukan terjadi, maka lapisan pertama dari gelar Wulan
Tumanggal pasukan perguruan Bajra Seta telah terbuka. Demikian
beberapa orang lawan menyusup masuk, maka lapisan pertama itu telah
menutup kembali. Sementara itu, maka para cantrik dalam gelar Emprit
Neba yang ter serap dalam gelar Jurang Grawah harusmenghadapi lawan
pada lapisan berikutnya yang dengan tiba -tiba saja
menyerangmereka. Ketika matahari kemudian memanjat semakin
tinggi,maka pertempuran pun menjadi semakin seru. Ternyata di saat
benturan kedua pasukan terjadi, para cantrik dari perguruan Empu
Angin dan Empu Pitrang telah banyak susut. Kecuali serangan anak
panah para cantrik dari arah yang ber seberangan induk pasukannya,
maka sergapan yang tibatiba dari pasukan Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat, telah sempat menguasai kesempatan-kesempatan pertama
dalam pertempuran itu. Selanjutnya gelar tangkap pada pasukan dari
perguruan Bajra Seta telah membingungkan lawan-lawan mereka pula.
Empu Angin dan Empu Pitrang benar-benar tidakmengira bahwa
pasukannya yang dianggapnya cukup tangguh itu akan mengalami
kesulitan menghadapi perguruan Bajra Seta yang dipimpin oleh
anak-anakmuda. Tetapi Empu Angin dan Empu Pitrang masih mempunyai
satu key akinan bahwa kemenangan terakhir akan ada pada mereka.
“Jika anak ini telah kehilangan kemampuannya untuk melawan, maka
cantrik-cantriknya akan dengan cepat dapat dibinasakannya,” berkata
Empu Angin di dalam hatinya. Namun ia masih juga ingin menangkap
Mahisa Murti hiduphidup jikamungkin. “Jika aku dapatmenangkapnya
hidup-hidup, maka anak itu akan dapat menjadi permainan yang
menyenangkan,” berkata Empu Angin di dalamhatinya. Sementara itu
Empu Angin ternyata masih belum mempergunakan senjatanya. Ia masih
berusaha untuk mengalahkan lawannya, tetapi tidakmembunuhnya. Tetapi
ternyata Mahisa Murti bukan anak muda yang dengan mudah dapat
dikuasainya. Bahkan karena Empu Angin masih belum bersenjata, Mahisa
Murti pun masih belummempergunakan senjatanya pula. Dengan
tangkasnya Empu Angin berloncatan meny erang Mahisa Murti. Semakin
lama semakin cepat. Ayunan tangannya rasa-rasanyamenjadi semakin
berat pula. “Kenapa kau tidak mempergunakan senjatamu?” bertanya
Empu Angin. Jawaban Mahisa Murti memang membuat telinganya menjadi
merah. Katanya, “Tanganku lebih tajam dari pedangku.He, kenapa kau
juga tidak bersenjata?” mPu Angin mengeram. Namun serangannya pun
menjadi semakin garang. Tangannya bergerak berputaran. Namun
kemudian menebas dengan cepatnya. Jari-jarinya yang lurus
merapat,mematuk ke arah lambung. Namun dengan tangkas Mahisa Murti
berloncatan menghindari serangan-serangan itu. Bahkan tiba -tiba
saja dengan gerak berputar kakinya terayun menyambar ke arah kening.
Jika mereka berhasil, maka day a tahan orang-orang yang
menyerang padepokan Bajra Seta itu tentu akan dengan cepat su sut.
Namun sebenarnyalah, bahwa jumlah pasukan yang menyerang
perguruan Bajra Seta itu memang cepat susut. Dalam laku tangkap
Jurang Grawah, setiap kali cantrik dari perguruanyang dipimpin
oleh Empu Angin dan Empu Pitrang itu hilang seorang demi seorang.
Tetapi sementara itu, beberapa orang Putut dalam pa sukan yang meny
erang perguruan Bajra Seta itu memang memiliki kelebihan dari para
cantrik kebanyakan. Cantrik-cantrik terpilih sajalah yang
harus melawan mereka agar Putut-putut yang bagaikan mengamuk itu
tertahan. Jika seorang cantrik tidak mampu menahannya, maka dua
orang cantrik dari perguruan Bajra Seta ikan
bersama-samamenghadapimereka. Sementara itu, seorang di antara para
Putut yang memiliki ilmu yang mulai mapan masih saja bertempur
melawan Mahisa Semu. Ternyata bahwa ilmu yang telah diwarisi
oleh Mahisa Semu telah cukup dipergunakannya sebagai bekal
untukmenghadapi pertempuranyang sesungguhnya. Dengan ilmu pedangnya
yang mapan,maka Mahisa Semu telah menghadapinya dengan darah
yang hampir mendidih. Tongkat baja yang dipergunakannya
sebagai senjata telah terayun-ayun mengerikan. Namun pedang Mahisa
Semu pun bergerak cepat sekali. Beberapa kali benturan telah
terjadi. Meskipun menghantam tongkat baja yang keras, namun pedang
Mahisa Semu sama sekali tidak menjadi cacat, karena pedangnya itu
pun telah dibuat dari besi baja pilihan. Pertempuran antara keduanya
memang menjadi semakin sengit. Putut itu semakin lama menjadi
semakin marah. Ia tidak dengan cepat menguasai lawannya yang masih
sangat muda itu. Bahkan sekali-sekali ia justrumulai terdesak surut.
“Anak iblis,” Putut itumenggeram. “Kenapa?” bertanya Mahisa Semu,
“apakah kau mulai letih?” “Tutup mulutmu,” bentak Putut itu, “atau
aku akan mengoy akannya.” “Kau tidak usah terlalu bernafsu,” berkata
Mahisa Semu, “nikmati saja kenyataan yang kau hadapi. Bukankah
kita memiliki kesempatanyang sama?” “Aku bunuh kau dengan caraku,”
geram Putut itu sambil menghentakkan tongkat bajanya. “Kau atau
aku,” sahut Mahisa Semu, “semuanya tergantung sekali kepada Yang
Maha Agung.” Putut itu berusaha untuk memaksakan kemampuannya
mengakhiri perlawanan Mahisa Semu yang masih sangat muda itu.
Namun Mahisa Semu justru memanfaatkan kemarahan Putut itu untuk
memancingnya mengerahkan kekuatannya. Namun ketangkasan permainan
pedang Mahisa Semu memang sulit untuk di atasi. Meskipun Putut itu
kemudian telah sampai pada tataran tertinggi dari ilmunya. Di induk
pasukan Empu Angin masih bertempur melawan Mahisa Murti dengan
sengitnya. Keduanya adalah orangorang yangmemiliki kelebihan
yang bahkan di luar penalaran orang kebanyakan. Empu Anginyang
mampu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi itu,
ternyata tidak mampu melampaui tataran kemampuan Mahisa Murti. Namun
Empu Angin adalah bukan orang kebanyakan. Di saat yang paling
gawat, maka ia pun telah mengerahkan kemampuannya yang
tertinggi. Tetapi, Mahisa Murti pun telah meningkatkan kemampuannya
pula sehingga mampu mengimbangi kecepatan gerak Empu Angin. Dengan
demikian maka pertempuran di antara mereka masih saja berlangsung
dengan sengitnya. Dalam keadaan yang semakin sulit bagi
pasukannya,maka Empu Angin tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus
dengan secepatnya menghancurkan lawannya yang masih muda itu
dan menolong seluruh pasukannya yang semakin terjepit. Empu
Angin mengerti bahwa satu-satu orangnya terjebak dalam gelar Jurang
grawah yang merupakan gelar rangkapan dari gelar Wulan Tumanggal
yang semakin mencengkam. Kedua ujung gelar itu rasa-rasanya
menjadi semakin menjepit pa sukan Empu Angin dan Empu Pitrang
yang memilih gelar Emprit Neba. Ternyata Empu Angin masih
memiliki ilmu simpananyang mendebarkan. Sebagai seorang yang
dikagumi dan dihormati oleh seisi padepokannya, maka Empu Angin
tidak akan membiarkan dirinya dikalahkan hanya oleh seorang anak
muda. Karena itu,maka sejenak kemudian, Empu Angin telah
mengetrapkan ilmu simpanannya. Ketika Empu Angin itu semakin
terdesak oleh kesulitan atas seluruh pasukannya, maka Empu Angin
telah melontarkan ilmu pamungkasny a. Mahisa Murtiyang melihat Empu
Angin itu berdiri tegak di atas kedua kakinya, kemudian mengangkat
tangan kanannya, telah mempersiapkan diri pula menghadapi lontaran
ilmu yang sudah diduganya. Sebenarnyalah, dari telapak tangan Empu
Angin itu telah meloncat lidah api, yang menyambar ke arah lawannya
bagaikan petir kecil yang meloncat menyambar dengan dahsy
atnya. Mahisa Murti yang telah ber siapmenghadapi kemungkinan
ini telah meloncat menghindar. Loncatan lidah api yang meskipun
nampaknya hanya seleret kecil itu ternyata telah mengejutkannya.
Lidah api yang tidak mengenainya itu telah menyentuh tanah dan
sebuah ledakan telah terjadi. Segumpal tanal bagaikan dilempar ke
udara dan runtuh menghambur di sekitarnya. Beberapa orang yang
sedang bertempur di sekitarnya telah menyibak. Bukan saja
orang-orang padepokan Bajra Seta, tetapi juga para cantrik dari
padepokan Empu Angin sendiri. “Dari iblis mana kau mendapat
kemampuan bergerak begitu cepat,” geram Empu Angin. Lalu katanya,
“Tetapi bagaimanapun juga kaumampu menghindar, namun akhirnya
petirku akan menyambar kepalamu hingga pecah.” Mahisa Murti yang
telah melenting berdiri termangumangu sejenak. Ia sadar, bahwa lidah
api itu benar-benar akan dapat membakar tubuhnya dan barangkali
memecahkan kepalanya sepertiyang dikatakan oleh Empu Angin
itu. Namun sebelum hal itu terjadi, maka Mahisa Murti tentu akan
berusahamencegahnya. Dalam pada itu, maka Mahisa Murti itu pun
kemudian berkata, “Ki Sanak. Apakah yang sebenarnya dapat kau
lakukan. Meskipun kau berilmu rangkap tujuh, namun orangorangmu
sudah menjadi semakin tidak berdaya. Jika kau mau melihat kenyataan,
maka aku kira, kita masih mempunyai kesempatan untuk berbicara.”
Tetapi Empu Angin sama sekali t idak mendengarkannya. Sekali lagi ia
mengangkat tangannya dan seleret lidah api telah meloncatmenyambar.
Namun Mahisa Murti pun cukup tangkas. Dengan kecepatan yang sangat
tinggi, ia pun telah meloncat dan berguling di tanah. Kemudian
melenting berdiri. Namun sekali lagi tanah tempat Mahisa Murti
semula berpijak bagaikan meledak dan menghamburkan gumpalangumpalan
tanah ke udara. Para cantrik dari Padepokan Empu Angin yang
semula telah berputus a sa telah bangkit kembali. Meskipun jumlah
mereka telah jauh berkurang, namun bahwa pemimpin mereka telah
melepaskan ilmu simpanannya, telah membuat para cantrik itu
berpengharapan. Menurut pengertian mereka tidak ada orang yang
mampu melepa skan diri dari serangan ilmu Empu Angin itu. Menurut
pengalaman para cantrik, yang terlontar dari tangan Empu Angin itu
adalah inti dari arus angin yang dahsy at yang menggumpal
menyatu memadat menjadi lidah api yangmenggetarkan. Namun para
cantrik yang sempat menyaksikan lontaran ilmu Empu Angin itu pun
terkejut. Ternyata pimpinan padepokan Bajra Seta itu mampu
menghindarkan diri dari sambaran kekuatan ilmu Empu Angin itu.
Meskipun kemudian Empu Angin mengulanginya, tetapi ilmu yang
dahsy at itu ternyata tidakmeny entuh sa sarannya. Empu Angin
sendirimenjadi semakinmarah.Namun justru karena itu, maka ia menjadi
semakin tergesa -gesa melontarkan ilmunya sehingga bidikannya pun
menjadi semakin kurang terarah. Sementara itu, medan pertempuran itu
pun benar-benar telah dikuasai oleh para cantrik, dari padepokan
Bajra Seta, anak-anak muda padukuhan di sekitarnya dan orang-orang
yang tinggal di padukuhan baru. Para cantrik dari dua padepokanyang
meny erang padepokan Bajra Seta itu ternyata tidak berdaya lagi.
Bukan saja untuk menghancurkan padepokan Bajra Seta, bahkan untuk
melindungi diri sendiri pun nampaknyamereka sudahmengalami
kesulitan. Namun para penghuni padukuhan baru itu pun ternyata telah
terkendali. Tidak seperti saat mereka bertempur melawan orang-orang
yang mendendam kepada mereka. Ber sama para cantrik dari
padepokan Bajra Seta maka mereka telah berusaha untuk mengekang diri
sejauh dapat mereka lakukan. Sementara itu, Mahisa Pukat yang
bertempur melawan Empu Pitrang telah berusaha memperingatkan pula,
bahwa orang-orangnya telah tidak berdaya lagi. “Jika kau dan
saudaramu itu terbunuh, maka para cantrik dari perguruan Bajra Seta
pun tidak akan berarti apa-apa lagi. Dalam waktu sekejap, mereka
akan segera kami bantai sampai orang yang terakhir,” berkata
Empu Pitrang. “Nampaknya kau sempat mengigau meskipun kau tidak
tidur,” berkata Mahisa Pukat. Empu Pitrang yang merasa ter
singgung telah melompat sanibil menebas dengan ujung senjatanya.
Tetapi Mahisa Pukat dengan tangkas bergeser surut. “Kau pun akan
segera mati,” geram Empu Pitrang, “saudaramu tidak akan berumur
sampai sepenginang lagi. Apalagi Empu Angin telah melepaskan ilmu
pamungkasnya. Saudaramu tentu akan segera menjadi lumat.” Demikian
kata -kata itu selesai, terdengar ledakkan ilmu Empu Anginyang
melontarkan debu berhamburan. Sementara Mahisa Murti masih berdiri
tegak beberapa langkah dari ledakan tanahyangmenghambur itu. “Nah,
lihat,” berkata Mahisa Pukat, “ saudarakumasih tetap tegar.” “Tetapi
kau tidak akan dapat bertahan,” geram Empu Pitrang. Mahisa Pukat pun
telah dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap gerak lawannya
yang menurut perhitungannya tentu akan segera sampai pada ilmu
pamungkasny a, sebagaimana Empu Angin. Sebenarnyalah bahwa Empu
Pitrang pun telah mempertimbangkan untuk membunuh saja anak muda itu
dengan ilmu pamungkasny a. Agaknya sulit baginya untuk berusaha
menangkap anak itu hidup-hidup. Sebagaimana Empu Angin pun telah
melontarkan ilmu tertinggi yang dimilikinya tanpa mempertimbangkan
lagi usaha untuk menangkapnya hidup-hidup. Karena itu, ketika Empu
Pitrang mendapat kesempatan, maka ia pun telah mengacukan tombaknya
ke arah Mahisa Pukat. Dengan satu hentakan ilmu,maka tombak itu
seakanakan telah meny emburkan api yang mematuk ke arah tubuh Mahisa
Pukat. Mahisa Pukat yang telah bersedia menghadapi serangan itu pun
dengan serta merta telah meloncatmenghindar, sehingga api yang
meluncur itu tidakmengenainya. Namun Mahisa Pukat pun mengetahui,
betapa dahsy atnya serangan itu. Jika api yang menyembur dan
meluncur cepat itu mengenainya, maka tubuhnya tentu akan menjadi
hangus terbakar. Namun, dalam keadaanyang gawat itu Mahisa
Pukatmasih mampu menilai bahwa serangan Empu Angin nampaknya lebih
berbahaya dari serangan Empu Pitrang. Untuk beberapa saat Mahisa
Pukat masih berusaha mengatasi ilmu itu dengan kemampuan ilmu
pedangnya. Jika serangan itu datang, maka Mahisa Pukat telah
meloncat melenting untuk menghindar. Namun tiba-tiba saja ia telah
meloncat meny erang dengan pedangnya yang terjulur panjang. Tetapi
ternyata sulit juga bagi Mahisa Pukat untuk menggapai orang itu
dengan ujung pedangnya. Sementara itu, pertempuran pun sudah menjadi
semakin pa sti. Keseimbangannya telah banyak berubah. Mahisa Semu
yang bertempur melawan seorang Putut ternyata menunjukkan kemampuan
ilmu pedangnya yang tinggi. Dengan demikian,maka disaat-saat
terakhir, Mahisa Semu telah berhasil mendesak lawannya sehingga pada
suatu saat, Putut itu tidak lagi mampu mengelakkan serangan Mahisa
Semu. Ketika pedang Mahisa Semu terayun dengan deras menyilang, maka
ujung pedang itu telah meny entuh dada lawannya. Kulit Putut itu pun
telah terkoyak karenanya. Sebuah luka telahmenganga. Namun Putut itu
ternyata memiliki daya tahan yang sangat kuat. Meskipun dari lukanya
darah telah mengalir, namun ia masih bertempur dengan sengitnya.
“Meny erahlah,” berkata Mahisa Semu, “atau kau akan kehabisan
darah.” “Persetan,” geram Putut itu, “aku akan memenggal lehermu.”
Tetapi ternyata bahwa Mahisa Semu bergerak jauh lebih cepat dari
Putut itu. Mulutnya belum lagi terkatub, ujung pedang Mahisa Semu
telah menggapai tubuh itu. Meskipun Putut itu meloncat mengelak,
tetapi pundaknya masih juga tergores sehingga terluka. Putut itu
mengumpat semakin kasar. Namun serangan Mahisa Semumenjadi
semakinmenekan pula. Namun Mahisa Semu masih juga memperingatkannya
kembali, “Ma sih ada kesempatan untukmeny erah.” Tetapi orang itu
sama sekali tidakmau menyerah. Ia ingin mempergunakan saat Mahisa
Semu memperingatkannya itu. Dengan serta merta ia meloncat sambil
menebas dengan pedangnyamendatar ke arah leher. Jika pedang itu
dapat mengenai sasarannya,maka Mahisa Semu benar-benar akan
kehilangan kepalanya. Serangan itu ternyata disertai dengan
hentakkan kekuatannya yang tersisa. Meledak dan begitu
tiba-tiba. Namun Mahisa Semu yang telah bersiaga sepenuhnya
itu melihat kedatangan serangan itu. Karena itu, dengan tangkasnya,
hampir di luar sadarnya, anak muda itu telah mengelak sambil
merendah. Namun tangannya telah menjulurkan pedangnya justru meny
ongsong loncatan tubuh lawannya yang mengayunkan senjatanya. Yang
terdengar adalah jerit kesakitan. Ujung pedang Mahisa Semu
yang teracu lurus ke depan itu telah menghunjam ke tubuh Putut
itu justru karena dorongan tubuh Putut itu sendiri. Mahisa Semu pun
kemudian dengan tangkasnya meloncat bangkit sambilmenarik pedangnya.
Sejenak Putut itu terhuyung-huyung. Namun kemudian iapun telah
terjatuh seperti sebatang pohon pisang. Tidak bertenaga sama sekali.
Mahisa Semu termangu-mangu sejenak. Ujung pedangnya ternyata
sempatmenembus dada orang itu sampai ke jantung. Ketika pedang itu
ditarik, maka tubuh itu sudah tidak bernyawa lagi. Sementara itu,
maka pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang benar-benar sudah tidak
mampu lagi mempertahankan dirinya. Karena itu, maka beberapa orang
dengan licik justru berusaha untukmenghindari pertempuran. Mereka
justru menjauhi para cantrik dan lawan-lawan mereka yang lain.
Bahkan kemudian,mereka menjadi putusa sa. Namun ternyata mereka
masih mencoba untuk menunggu sambil berusaha meny elamatkan diri
mereka. Jika saja Empu Angin dan Empu Pitrang berhasil, maka dalam
keadaan yang gawat sekalipun, mereka akan dengan cepat dapat menyapu
lawan-lawanmereka. Tetapi yang terjadi tidak seperti yang
dikehendaki. Para cantrik Bajra Seta justru semakin menguasai medan
yang mereka kenal dengan baik itu. Gelar Wulan Tumanggal
rasa-rasanya menjadi semakin menjepit mereka. Orang-orang yang
berusaha menghindari benturan kemampuan dengan para cantrik Bajra
Seta dan ber sembunyi di belakang kawan-kawan mereka yang
masih mempunyai keberanian untuk bertempur, tidak mendapat tempat
lagi. Karena itu, maka di luar kehendak mereka, maka mereka berusaha
untuk tetap hidup dengan mempertahankan diri mereka masing-masing.
“Meny erah sajalah,” berkata para cantrik yang telah menguasaimedan.
Memang ada di antara mereka yang berpendapat, lebih baik menyerah
daripada jantung mereka ditembus oleh ujung senjata. Tetapi hal itu
sama sekali tidak dikehendaki oleh Empu Angin maupun Empu Pitrang.
Dengan lantang Empu Angin berteriak, “Siapa yang berkhianat akan aku
bunuh bersama orang-orang dari padepokan Bajra Seta.” Namun untuk
membunuh seorang lawannya yang masih muda, Empu Angin
tidakmampu melakukannya. Serangannya dengan sambaran petir yang
mendebarkan jantung itu tidak mampu mengenai sa sarannya. Semakin
menghentak-hentak kemarahan di dadanya, serta semakin gelisah Empu
Angin karena keadaan pasukannya, maka serangannya justru menjadi
semakin jauh dari sasaran. Tetapi Empu Angin benar-benar tidak mau
berhenti. Semakin lama serangannya menjadi semakin sering. Bahkan
kemudian serangannya datang susul menyusul tidak hentihentinya.
Betapa pun Mahisa Murti memiliki kemampuan untuk menghindari
serangan itu, namun jika sambaran lidah api yang meloncat dari
tangannya itu datang beruntun, susul menyusul,maka Mahisa Murti pun
mengalami kesulitan pula. Ia harus meloncat, berguling, melenting
berdiri dan menjatuhkan dirinya lagi. Sementara itu nampaknya Empu
Angin itu sama sekali tidak berniat untukmeny erah meskipun pa
sukannya benar-benar telah dihancurkan. Karena itu, maka Mahisa
Murti pun tidak lagi memperpanjang kesempatan lagi bagi Empu Angin.
Ia sudah cukup lama menunggu, namun justru serangan-serangannya sa
jalahyang menjadi semakin deras datang susul-menyusul. Dengan
demikian, maka Mahisa Murti pun akhirnya sampai kepada satu
keputusan untukmenghentikan seranganserangan itu. Sementara Empu
Angin masih aja menyerang dengan sengitnya, maka Mahisa Murti masih
mencoba untuk sekali lagi berteriak, “Empu. Kau sudah kehabisan
kekuatan. Meny erahlah.” Namun Empu Angin telah menjawab dengan
lontaran ilmunya yang garang. Serangan lidah api yang meluncur
dari telapak tangannya. Mahisa Murti masih juga harus meloncat
menghindari serangan itu dengan kecepatanyang sangat tinggi. Namun
serangan itu merupakan serangan yang terakhir. Mahisa Murti
benar-benar tidak memberi kesempatan lagi kepada Empu Angin yang
menganggap bahwa anak muda itu hanya mampu berloncatan menghindari
seranganserangannya. Ketika kemudian Empu Angin meny erangnya sekali
lagi, Mahisa Murti tidak berusaha untukmenghindarinya. Tetapi ia
telah membalas serangan itu dengan serangan pula. Ketika Mahisa
Murti kemudian juga mengangkat tangannya, maka ilmunya pun telah
meloncat meluncur menyambar serangan Empu Anginyang menyambar ke
arahnya. Dengan demikian, dua kekuatan ilmu telah saling berbenturan
dengan dahsyatnya di udara. Namun yang getarannya telah memental
kembali memukul ke arah sumbernya. Mahisa Murtimemang terdor ong
selangkah surut. Dadanya terasa dihentak oleh kekuatan yang
besar, sehingga terasa menjadi sesak. Namun Mahisa Murti dengan
cepat berusaha mengatasinya dengan daya tahan tubuhnya yang sangat
tinggi. Sementara itu, yang terjadi pada Empu Angin adalah
bencana yang mengakhiri bukan saja perlawanannya, tetapi juga
hidupnya. Dengan kerasnya Empu Angin telah terhempas beberapa
langkah surut. Kemudian seakan-akan telah terbanting jatuh berguling
beberapa kali. Ia hanya dapat menggeliat. Namun kemudian, nafasny a
pun telah terputus di ker ongkongan. Kematian Empu Angin adalah satu
pukulan yang sangat pahit bagi Empu Pitrang. Meskipun ia masih
melawan dengan tombak pendeknya dan dengan ilmunya yang garang,
namun Mahisa Pukat ternyata tidak dapat ditundukkannya. Semburan api
dari senjatanya sama sekali tidak mampu mematahkan perlawanan Mahisa
Pukat dengan ilmu pedangnya. Bahkan semakin lama ujung pedang itu
menjadi semakin dekat berterbangan seperti seekor ny amuk di
telinganya. Mahisa Pukat mempergunakan setiap kesempatan untuk
meloncat mengurangi jarak. Meskipun setiap kali Empu Pitrang
berusaha menjauh dan meny erang dengan semburan api dari ujung
senjatanya, namun ia memang tidak dapat mengatasi kemampuan ilmu
pedang lawannya yang masih muda itu. Demikian serangan apinya
meluncur lepas dari sa saran, maka Mahisa Pukat telah meloncat dan
meny erang dengan ujung pedangnya. Beberapa kali Mahisa Pukat
berhasil menekan Empu Pitrang sehingga tidak sempat mempergunakan
ilmunya. Namun pada kesempatan lain, ia masih mampu melepaskan diri
dari libatan pedang Mahisa Pukat dan kembali meny erang dengan
ilmunya yang mendenbarkan itu. Namun Mahisa Pukatmasih mempunyai
keyakinan, bahwa ia akan mampu menghentikan perlawanan itu dengan
ilmu pedangnya saja, tanpa ilmu pamungkasnya. Tetapi ternyata usaha
Mahisa Pukat tidak segera berhasil. Meskipun dalam keadaan yang
sulit, namun Empu Pitrang masih juga mampu melepaskan ilmunya
yang akan dapat membakar tubuh Mahisa Pukat. Sementara itu
pertempuran yang sebenarnya sudah hampir berhenti sama sekali. Hanya
sekelompok orang yang seakanakan berniat untuk membunuh dirinya
sajalah yang masih memberikan perlawanan. Terutama para
pengikut Empu Pitrang. Seperti Empu Angin,maka Empu Pitrang sama
sekali tidak menghiraukan ketika Mahisa Pukat memberinya peringatan
untukmeny erah. Sehingga karena itu,maka Mahisa Pukat pun menjadi
jemu untuk bertempur terusberlama-lama. Dengan demikian maka Mahisa
Pukat telah merubah niatnya untuk menundukkan lawannya dengan ilmu
pedangnya. Selain memerlukan waktu yang panjang,maka jika ia lengah
sedikit saja, maka ilmu lawannya akan dapat membakarnya. Karena itu,
maka ketika beberapa kali serangan Empu Pitrang harus dihindari
dengan loncatan-loncatan panjang serta sekali-sekali menjatuhkan
diri dan berguling di tanah, maka Mahisa Pukat pun kemudian telah
mengetrapkan ilmunya yang palingmenggetarkan. Dengan tangkas Mahisa
Pukat mengelakkan serangan terakhir Empu Pitrang yang meluncur
ke arahnya. Mahisa Pukat yang menjatuhkan dirinya itu berguling
sekali. Namun tanpa bangkit lagi, diacukannya ujung pedangnya,
mengarah ke tubuh Empu Pitrang. Seberkas sinar yang kehijau-hijauan
telah meluncur dari ujung pedang itu menyambar ke arah lawannya.
Empu Pitrang melihat serangan itu. Namun, dengan menengadahkan
dadanya Empu Pitrang tidak berniat menghindar. Bahkan dengan
hentakkanyang dilandasi dengan segenap kekuatannya yang tersisa
serta kemampuannya pada puncak ilmunya, Empu Pitrang membentur
serangan itu dengan ilmunya pula. Api yang merah meny embur dari
ujung senjatanyameny ongsong serangan Mahisa Pukat. Kedua kekuatan
ilmu itu pun berbenturan, Empu Pitrang bahkan Sempat berteriak
dengan kerasny a, “Kau akanmenjadi lumat karenanya.” Mahisa Pukat
masih bertiarap sambil mengacukan ujung pedangnya. Dilihatnya
sekejap kemudian benturan yang dahsy at telah terjadi, ia pun
merasakan getaran dari benturan itu seakan-akan telah
terpentalmenghantam dirinya sendiri. Namun dengan kekuatan day a
tahannya, Mahisa Pukat tetap tidak tergeser dari tempatnya, meskipun
nafasnya menjadi sesak. Tetapi sementara itu, terdengar teriakan
yang bagaikan menghentak langit, Empu Pitrang yang marah,
dendam dan kecewa itu telah terlempar beberapa langkah surut. Namun
getaranyang membentur dadanya seakan-akan telah meremas jantung.
Ternyata Empu Pitrang pun tidak mampu bertahan. Dadanya seakan-akan
telahmenjadi hangus. Karena itu,maka seperti Empu Angin, maka Empu
Pitrang pun kemudian terbaring diam. Jantungnya yang terbakar
tidak lagi berdetak di dadanya. Dengan demikian maka pertempuran pun
telah berhenti. Satu dua orang cantrik kedua orang yang terbunuh
itu,masih sa ja dengan mengamuk sejadi-jadiny a, justru dengan tekad
untukmati bersama-sama gurumereka. Namun sejenak kemudian, maka
pertempuran itu pun benar-benar telah berhenti. Beberapa orang
justru tertawan. Namun dalam keadaan yang terakhir, justru
ketegangan mencengkam di saat-saat kedua pemimpin padepokan yang
menyerang perguruan Bajra Seta itu terbunuh, disamping orang-orang
yang sengaja membunuh diri untuk membela kematian pemimpin
mereka, ternyata ada juga di antara para cantrik yang sempat
melarikan diri. Di antara mereka yang hilang dari pertempuran adalah
petugas sandi dari Kediri yang disebut Kecubung Ungu. Ternyata
petugas sandi itu memang licin. Ia masih mampu melepaskan diri dari
tangan para cantrik di padepokan Bajra Seta itu. Apalagi ia memang
sudah memperhitungkan, bahwa kesombongan Empu Angin dan Empu Pitrang
akan meny eret mereka ke dalam kesulitan. Bahkan kemusnahan. Dalam
pertempuran itu, ternyata beberapa korbanmemang telah jatuh. Seperti
yang terdahulu,maka di antara anak-anak muda yang dengan
suka-rela membantu padepokan Bajra Seta itu pun telah jatuh korban
pula. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat menundukkan kepala
mereka. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata, “Apa yang
dapat aku katakan kepada keluarga mereka yang gugur? Dahulu aku
pernah mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas
pengorbanan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan itu. Apakah
sekarang aku cukup mengulangi pernyataan terima kasih itu? Sementara
itu, keluargamereka benar -benar telah gugur di padepokan ini?”
“Kita saling memerlukan,” berkata salah seorang di antara pemimpin
anak-anak muda dari padukuhan itu, “karena itu, maka kitamemang
salingmembantu dan saling berkorban.” “Pengorbanan apa yang
pernah kami berikan kepada kalian?” desisMahisa Murti. “Kami
mendapat banyak sekali ilmu dan pengetahuan dari padepokan ini
meskipun kami tidak menyatakan diri sebagai cantrik dari perguruan
Bajra Seta. Tetapi kamimerasa bahwa kami adalah keluarga dari
padepokan Bajra Seta. Sehingga dengan demikian kami memang wajib
untuk ikut mempertahankannya.” Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi
pengertian semacam itu telah didengarnya sejak semula, mereka ikut
dalam kegiatan padepokan Bajra Seta. Tetapi sudah tentu tidak harus
dibayar dengan jiwamereka. Untunglah bahwa sebagian besar korban di
antara anakanak muda dari padukuhan-padukuhan itu hanya terluka.
Namun ada juga yang ternyata telah gugur di pertempuran. Meskipun
hanya tiga orang. Sedangkan yang terluka cukup parah empat
orang, sedangkan yang terluka ringan terdapat duabelas orang. Jumlah
cantrik padepokan yang menjadi korban memang lebih banyak.
Tetapi itu adalah memang tanggung jawab mereka untukmempertahankan
perguruanmereka. Dengan wajah murung Mahisa Murti itu berdesis di
telinga Mahisa Pukat, “ Jika hal seperti ini sering terjadi, maka
orangorang padukuhan di sekitar padepokan ini akan mengutuk
kehadiran padepokan ini, karena setiap saat ada saja
anakanakmudamereka yang terbunuh.” “Kita harus berusaha bahwa
jika terjadi benturan kekuatan diwaktu-waktumendatang, kita tidak
usahmembiarkan anakanak muda itu berada di padepokan,” berkata
Mahisa Pukat, “kita berterima kasih atas kesediaan mereka. Tetapi
mereka tidak seharusnya gugur dalam pertempuran seperti ini. Mereka
masih muda sehingga mereka merupakan harapan bagi keluarga mereka.
Agak berbeda dengan keadaan kita yang memang telah bulat meny
erahkan diri bagi sebuah perguruan.” Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Namun sekali lagi ia harus menemui orang tua anak-anak muda
yang menjadi korban. Yang gugur,maupunyang luka-luka.
Sementara itu, para cantrik pun menjadi sibuk. Mereka
harusmengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka dan yang
telah gugur. Demikian pula orang-orang yang tinggal di
padukuhanyang baru itu. Selain itu, para cantrik pun harus
mengurus orang-orang yang meny erah. Tetapi juga di antara lawan
mereka yang terbunuh dan terluka. Hari itu seisi padepokan memang
menjadi sibuk. Baru menjelang tengah malam kesibukan mereka
berkurang. Namun mereka masih harus mengawasi para tawanan yang
hampir kelaparan, sekaligusmeny ediakan makan dan minum buatmereka.
“Jika mereka sempat makan sebelum bertempur, mungkin tenaga mereka
akan jauh lebih besar dari yang kita hadapi hari ini,” berkata salah
seorang cantrik yang ikut membakar persediaan makanan dan perbekalan
pasukan yang hendak menyerang padepokan Bajra Seta itu. “Ya,
terutama setelah matahari mencapai puncak langit,” jawab kawannya.
Sebenarnyalah bahwa tanpa persediaan makan dan minum menjelang
pasukan itu berangkat ke medan, ternyata pengaruhnya cukup besar
bagi ketahanan pasukan. Namun dalam pada itu, ketika sebagian besar
dari para cantrik beristirahat, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
tengah membicarakan per soalan yang mereka hadapi. Keduanya
menyadari, bahwa kehadiran pasukan itu tentu ada hubungannya dengan
pendengaran mereka atas sikap Kediri sebagaimana dikatakan oleh
petugas sandi yang akan membunuh kawannya sendiri itu. “Kita tidak
dapat cukup bahan dari orang-orang yang tertawan,” berkata
Mahisa Pukat, “yang mereka ketahui adalah pemimpin mereka
masing-masing. Empu Angin dan Empu Pitrang. Selebihnyamereka tidak
tahu apa-apa.” “Ya. Meskipun satu dua di antara mereka sadar atau
tidak sadar telah mengatakan hubungan antara serangan mereka dengan
sikap Kediri. Tetapi yang mereka ketahui memang terlalu
sedikit,” jawab Mahisa Murti. “Sekarang, bagaimana sikap kita
selanjutnya? Apakah kita tidak akan melaporkan hal ini kepada
Singasari. Tetapi jika kita pergi ke Singasari, bagaimana dengan
padepokan ini sepeninggal kita? Atau seorang dari kita pergi ke
Singasari, yang lainmenunggui padepokan ini,” berkataMahisa Pukat.
“Mungkin itu adalah satu-satunya jalan,” jawab Mahisa Murti, “salah
seorang dari kita pergi ke Singasari.” “Baiklah,” desis Mahisa
Pukat, “biarlah aku pergi ke Singasari. Kau tinggal di sini,
menyelesaikan persoalan yang sedang kita hadapi. Namun jika terjadi
sesuatu, padepokan ini tidak kosong sama sekali.” Mahisa
Murtimengangguk-angguk. Katanya, “berapa orang kau perlukan untuk
meny ertaimu dalam perjalanan ke Singasari?” “Aku hanya memerlukan
Mahisa Semu. Biarlah ia ikut pergi ke Singasari. Sementara paman
Wantilan dapat kau jadikan kawan berbincang-bincang di Samping para
cantrik yang sudah dianggap memiliki wawasan yang cukup luas,”
jawab Mahisa Pukat. Mahisa Murti termangu-mangu. Rasa -rasanya
memang sulit untukmelepas Mahisa Pukat hanya dengan Mahisa Semu
pergi ke Singasari justru dalam keadaanyang gawat itu. Namun
agaknya Mahisa Pukat sudah membulatkan hati untuk melakukannya. Ia
menolak ketika Mahisa Murti menawarkan beberapa orang cantrik
terpilih untuk meny ertai perjalanannya. “Semakin banyak orang akan
semakin menarik perhatian,” jawab Mahisa Pukat. Namun akhirnya
Mahisa Murti berkata, “Sebaiknya kau membawa sepa sang pedang kita.
Jika sepasang pedang itu menyatu,maka kekuatannya akan bertambah.
Demikian pula jika kau pergunakan sebagai pintu lontaran ilmumu.”
Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata,
“Kau memerlukannya. Agaknya padepokan ini masih saja diintai oleh
kekuatan-kekuatan yang tidak kita ketahui sebelumnya.” Mahisa Murti
menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Pukat berkata, “Agaknya
di perjalanan aku akan lebih aman daripada kau yang tinggal di
padepokan.” Mahisa Murtimemang tidakmemaksa Mahisa Pukat untuk
membawa sepasang pedang. Agaknya Mahisa Pukat merasa bahwa ia cukup
membawa sebuah saja dari sepasang pedang itu. Akhirnya kedua
anakmuda itu memutuskan bahwa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu akan
pergi ke Singasari berselang sehari setelah segala sesuatunya
diselesaikan. Sebenarnyalah dihari yang sudah ditentukan Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu pun telah siap untuk berangkat. Bukan saja
siap dengan segala macam bekal yang diperlukan. Tetapi juga
siap untukmelakukan tugasmereka sebaik-baiknya. Satu hal yang
jarang terjadi bahwa Mahisa pukat akan melakukan tugasnya tanpa
Mahisa Murti. Demikian pula sebaliknya. Namun keduanya sadar, bahwa
mereka tidak akan dapat selalu bersama-sama. Pada suatu saat maka
mereka memang harus melakukan tugas yang berbeda meskipun
untuk kepentingan bersama. Mahisa Semu memang merasa bangga, bahwa
ia mendapat kepercayaan untuk ber sama-sama dengan Mahisa Pukat
melakukan tugas yang penting. Namun Mahisa Semu pun sadar, bahwa ia
harus ikut bertanggung jawab agar tugasnya dapat berhasil dengan
baik. Sebelum matahari terbit, maka keduanya telah meninggalkan
padepokan. Mahisa Murti, Wantilan dan para cantrikmelepaskanmereka
sampai ke regol. Dalam keremangan pagi keduanya berpacu menembus
kabutyang turun perlahan-lahan menjelangmatahari terbit di
sebelah Timur. Demikian keduanya hilang dari pandangan mereka
yang berdiri diregol padepokan,maka pintu gerbang padepokan
itu pun telah ditutup kembali. Mereka yang tinggal di
padepokan hanya dapat berdoa, semoga perjalanan Mahisa Pukat dan
Mahisa Semumendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Sementara
itu, kedua orang anakmuda yang meninggalkan gerbang padepokan itu
meluncur seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka berpacu
disepanjang jalan, meskipun tidak terlalu kencang agar kuda mereka
tidak cepat menjadi letih. Namun demikian,maka keduanya telah
memilih jalanyang tidak terlalu ramai agar perjalanan mereka
tidak banyak mendapat hambatan. Mereka menyadari sepenuhnya, bahwa
mereka akan menempuh jalanyang panjang. Disaat Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu berpacu di atas punggung kudanya, maka Mahisa Murti
masih saja sibuk dengan para cantrik yang terluka. Bahkan anak-anak
muda padukuhan di sekitar padepokan itu yang terluka masih pula di
rawat di padepokan itu agar mereka mendapat pengobatan yang baik dan
teratur. Sedangkan di antara mereka yang terluka adalah para cantrik
dari kedua padepokan yang telah menyerang padepokan Bajra Seta
itu. Namun Mahisa Murti berharap, bahwa para tawanan itu akan dapat
bersikap lebih baik dari para tawanan yang terdahulu, yang
terdiri dari para penjahat yang mendendam. Sedangkan para
penjahat itu pun ternyata mampu dijinakkannya. Sehingga karena itu,
maka Mahisa Murti pun berharap bahwa para cantrik itu pun akan dapat
dijinakkannya pula. *** Ketika kemudian mataharimenjadi semakin
tinggi, Mahisa Pukat telah menjadi semakin jauh. Mereka telah berada
di lingkungan yang tidak banyak mereka kenal. Namun Mahisa Pukat
sebagai pengembara tidak akan menjadi bingung dan kehilangan arah.
Ditengah hari saat matahari ada dipuncak langit, maka keduanya telah
beristirahat disebuah kedai yang cukup besar di sudut sebuah
pasar yang ramai. Meskipun matahari sudah tepat berada di atas
kepala, tetapi masih saja ada orang yang keluarmasuk pasar itu.
Tetapi semakin lama memangmenjadi semakin jarang. Orang-orang
yang berjualan pun mulai membenahi barang -barang dagangannya.
Namun demikian kedai itu masih banyak dikunjungi orang. Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu ternyata mendapat kedai yang pelay anannya cukup
baik. Kuda mereka pun mendapatkan minum air jernih dan mendapat
rumput yang segar. Tetapi selagimereka menegukminuman hangat yang
telah dihidangkan oleh pelayan kedai itu serta mulai menyuapi mulut
mereka dengan nasi yang masih hangat pula, mereka dikejutkan oleh
kedatangan beberapa orang yang memasuki kedai itu. Seorang
anakmuda dengan pakaian yang lebih baik dari orang kebanyakan
diiringi oleh tiga orang pengawalnya. Sikap anak muda itu juga
menunjukkan bahwa ia memiliki kelebihan dari orang kebanyakan.
Sebenarnyalah beberapa orang yang sudah ada di kedai itu serentak
bangkit berdiri sambilmembungkuk hormat. Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu yang tidak mau menimbulkan per soalan telah bangkit pula
sebagaimana orang lain sertamembungkuk hormat pula. Tanpa
menghiraukan orang-orang yang menghormatinya, anak muda itu pun
telah mengambil tempat ditengah-tengah ber sama ketiga orang
pengawalnya. Dengan tergopoh-gopoh pelayan kedai itu mendekatinya
menunggu perintah anak muda itu. Yang memberikan pesanan kepada
pelay an itu ternyata bukan anak itu sendiri. Tetapi seorang di
antara para pengawalnya berkata, “Bukankah kau sudah terbiasa dengan
kesenangannya? Nah, berikan semangkuk wedang asem. Ingat, jangan
terlalu asam. Gulanya gula aren. Bukan gula kelapa. Mengerti.”
“Ya,ya Ki Sanak,” jawab pelay an itu. “Kemudian tiga mangkuk wedang
sere untuk kami bertiga,” berkata orang itu pula. “Ya. Ya Ki Sanak.
Tetapi apakah aku juga harus menyediakan makan?” bertanya pelayan
itu. Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian
bertanya, “Apakah anakmas ingin makan?” “Ya,” jawab anakmuda itu
pendek. Orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian kepada pelayan
kedai itu, “Ya. Seperti bia sanya. Nasi hangat. Jangan diberi sayur
atau laukyang pedas.” “Daging ayam yang basah atau
yang kering?” bertanya pelayan itu. “Kau sudah tahu
kebiasaannya,” desis pengawal itu. “Jeroan basah,” berkata pelay an
itu. “Nah, ternyata kau masih mengingatnya,” jawab pengawal itu.
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sempat memperhatikan sejenak. Tetapi
tidak ada masalah apa pun yang terjadi. Anak muda yang
nampaknya terhormat itu pun tidak berbuat apaapa kecuali duduk diam
menunggu pesannya. Para pengawalnya tidak menunjukkan sikap yang
menarik perhatian. Seorang dari antara para pengawal itu berpesan
minuman dan makanan secarawajar. Sementara itu pengawalnya itu pun
berkata, “jangan lupa. Kami pun ingin makan. Tiga mangkuk nasi
dengan sambal. Dendeng ragi dan lalapan. Ingat?” “Ya. Ya Ki Sanak,”
pelay an itu mengangguk-angguk. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak
memperhatikan mereka lagi. Bia sa saja. Tidak ada yangmenarik
perhatian. Orang-orang lain yang ada di kedai itu pun nampaknya
tidak memberikan perhatian khusus kecuali saat anak muda itu masuk.
Mereka berdiri danmenghormat. Termasuk Mahisa Pukat. Tetapi yang
menarik perhatian Mahisa Pukat justru orangorang yang ada di kedai
itu satu-satu telah meninggalkan tempat dudukmereka. Seorang demi
seorang telah membayar makanan dan minuman mereka untuk seterusny a
bangkit berdiri dan melangkah keluar lewat pintu samping. Bahkan
kemudian kedai itu menjadi hampir kosong karenanya. Dua orang yang
telah berhenti di depan pintu pun mengurungkan niatnyauntukmasuk.
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yangmasih makan itu pun saling
berpandangan sejenak. Namun karena mereka tidak tahu kenapa hal itu
terjadi, maka mereka masih saja melanjutkan makan dan minum. Sesaat
kemudian, maka pelayan kedai itu pun telah menghidangkan pesanan
anak muda dengan ketiga pengawalnya. Minuman dan makan. Mereka
nikmati pesanan mereka itu tanpamenghiraukan keadaan di sekitarnya.
Anak muda itu ternyata bukan anak muda yang banyak tingkah. Ia
terima saja minuman danmakanyang dihidangkan oleh pelay an kedai
itu. Nampaknya pelay an itu pun telah terbiasa dengan kesukaan
anakmuda itu. Namun yang Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menjadi heran,
pelay an itu kemudian telah menghidangkan minuman pula kepada mereka
tanpa diminta. Tetapi sebelum Mahisa Pukat dan Mahisa Semu bertanya,
pelayan itu telah berbisik, “Akan terjadi kerusuhan di sekitar
tempat ini.” “Kenapa?” desis Mahisa Pukat. “Anak muda itu datang
untuk memenuhi tantangan sekelompok anakmuda yang lain,” jawab
pelayan itu. “Siapakah anak muda itu?” bertanya Mahisa Semu
perlahan-lahan. “Putera Ki Buyut,” jawab pelay an itu. Lalu katanya
pula sambil memungutmangkuk-mangkuk yang kotor, “Lawannya anak muda
saudagar yang kaya dari Kabuyutan sebelah. Daerah ini adalah daerah
perbatasan.” “Apakah soalnya?” bertanya Mahisa Semu. “Kedua-duanya
masih muda. Kedua-duanya mencintai gadis yang sama. Tanpa
sepengetahuan gadis itu, mereka bertaruh di perbatasan ini,” jawab
pelayan itu, “karena itu orang-orang lain memilih telahmenyingkir.”
Mahisa Pukat masih ingin bertanya lagi. Tetapi pelay an itu sudah
menjadi gelisah. Dengan cepat ia benahi mangkukmangkuk kotor dan
bahkan mangkuk minuman kedua anak muda itu meskipun masih belum
dihabiskan. Tetapi mereka sudah digantiminumanyang baru. Namun
dalam pada itu, Mahisa Pukat berbisik di telinga Mahisa Semu,
“Apakahmereka hanya berempat?” Mahisa Semu justru ingin melihat apa
yang telah terjadi. Karena itumaka katanya, “Kita duduk saja di
sini.” Ternyata Mahisa Pukat mengangguk kecil. Namun dalam pada itu,
salah seorang pengawal anak muda itu tiba -tiba saja berkata, “Yang
dikatakan oleh pelay an kedai itu memang benar anak-anakmuda.”
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu terkejut. Ternyata orang itu mengerti
apa yang diberitahukan oleh Pelay an itu. Ketika Mahisa Murti
dan Mahisa Semu memandang pelayanyang membawa mangkuk-mangkuk kotor
itu, nampak bahwa pelay an itu pun terkejut. Tetapi pengawal anak
muda itu berkata, “Meskipun aku tidak mendengar apa yang
kalian bicarakan, tetapi menilik sikap kalian, maka aku tahu bahwa
pelayan itu memberitahukan, bahwa kami sedang menunggu orang yang
menantang kami. Agaknya pelay an itu juga minta kalian meninggalkan
tempat ini agar kalian tidak terlibat.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
tidak menjawab. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Jika
kalian tidak ingin mengalami kesulitan, sebaiknya kalian memang
menyingkir.Orang-orang yangmenantang kami adalah orangorang yang
kadang -kadang tidak sempat berpikir panjang. Karena itu, aku pun
sependapat dengan pelayan itu, tinggalkan tempat ini jika kalian
sudah merasa cukup makan dan minum.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
justru mendjapat kesan yang baik pada orang-orang itu. Anak muda itu
memang agaknya tidak peduli kepada keadaan di sekitarnya. Tetapi
mungkin karena ia terlalu manja atau sedikit sombong. Tetapi ia
bukan orang yang sering membuat kesulitan pada orang lain. Karena
itu, maka Mahisa Pukat pun menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi
perkenankan kami menghabiskan minuman kami.” “Silahkan. Kami memang
tidak mengusir kalian,” jawab pengawal itu, “tetapi kami tidak mau
meny eret kalian dalam kesulitan karena kalian tidak tahu menahu per
soalan yang sedang kami hadapi.” “Terima kasih Ki Sanak,” jawab
Mahisa Pukat. Di luar dugaan, anak muda itu justru telah bangkit dan
melangkah mendekati Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan ia pun
telah duduk bersamamereka. “Sebenarnya aku tidakmenghendaki peny
elesaian cara ini,” berkata anakmuda itu. “Apa yang terjadi?”
di luar sadarnya Mahisa Pukat telah bertanya. “Persoalan yang
sebenarnya memalukan. Seorang gadis. Tetapi aku pun merasa malu jika
tantangannya tidak aku terima. Ia menantang aku berkelahi. Siapa
yang kalah harus minggir,” jawab anak muda itu. Lalu katanya,
“Tetapi jika hal ini diketahui gadis yang sama-sama kami
cintai itu,maka aku justru menduga, bahwa gadis itu akan
meninggalkan kami berdua.” “Sebaiknya kau abaikan saja tantangan
itu,” berkata Mahisa Pukat. “Mereka akan menghina aku. Bukan saja
aku, tetapi seluruh anakmuda di Kabuyutanku, karena aku adalah anak
Ki Buyut yang dianggap mewakili semua anak-anak muda di seluruh
Kabuyutan.” Mahisa Pukatmengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat
melihat kemungkinan lain kecualimenerima tantangan itu. Namun dalam
pada itu, seorang pengawalnya telah mendekatinya sambil berkata,
“Marilah. Duduklah di sana agar anak-anakmuda itu tidak terlibat.”
Anakmuda itumenarik nafas dalam-dalam. Katanya sambil bangkit
berdiri, “Hati-hatilah. Tetapi sebaiknya kau menyingkir.” “Terima
kasih. Nanti jika minumku habis,” jawab Mahisa Pukat. Anak muda itu
tidak menghiraukannya lagi. Tetapi ia kembali duduk di tengah-tengah
kedai itu. Diteguknya minumannya yang masih tersisa. Namun
kemudian ia duduk sa ja sambilmemandang kekejauhan. Tetapi mereka
terkejut ketika tiba -tiba muncul dari pintu samping seorang
bertubuh tinggi tegapmembawa tongkat baja yang kehitam-hitaman.
“Ternyata kau datang,” geramnya. Anak muda itu berpaling. Dahinya
berkerut. Katanya, “Di mana anak itu?” “ Ia ada di sebelah. Ia sudah
menunggu,” jawab orang bertubuh tinggi tegap itu. Anak muda itu
tidakmenunggu lagi. Ia pun segera bangkit dan melangkah keluar kedai
itu lewat pintu samping. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah
beringsut pula. Mereka membayar makanan dan minuman mereka. “Kalian
akan kemana?” bertanya pelayan kedai itu. “Melihat,” jawab Mahisa
Pukat. “Jangan. Lebih baik kau meny ingkir saja. Kau jangan mainmain
dengan persoalan seperti ini. Mungkin anak Ki Buyut itu tidak
berbuat apa -apa atas kalian. Tetapi para pengawal anak saudagar itu
sering berbuat aneh-aneh di sini,” jawab pelay an itu. Tetapi Mahisa
Pukatmenjawab, “Terima kasih. Tetapi kami ingin melihat apa yang
terjadi. Kamimemang tidak akan ikut campur.” Pelay an itu
tidakmencegah mereka lagi. Sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
telah masih di dalam kedai, tetapi di depan pintu samping. Ternyata
seseorang telah memindahkan kuda mereka ke sebelah lain. Agaknya
tempat itu akan dipergunakan untuk melakukan perkelahian antara
kedua orang anakmuda. Ternyata yang disebut anak saudagar kay
a itu memang seorang yang berwajah keras. Juga masih muda.
Sambil tersenyum ia melangkah ke tengah-tengah halaman samping yang
agak luas. “Ternyata kau juga laki-laki,” katanya. Anak Ki Buyut itu
tidak menjawab. Ia masih berdiri saja memandangi anakmuda
yangmenantangnya itu. “He, kau sudah menjadi tuli atau bisu?” geram
anak Ki Saudagar itu. Anak Ki Buy ut itu tidakmenyahut. Namun justru
karena itu,maka anak saudagar itu menjadi marah dan berkata, “Baik.
Kalau kau tidak dapat lagi mengatakan sepatah kata pun, maka kau
akan meny esal, karena kau tidak dapat memberikan pesan apa pun juga
kepada pengawal-pengawalmu.” Anak Ki Buyutmasih tetap berdiam diri.
Namun tiba -tiba ia ber siaga menghadapi segala kemungkinan. Satu
kakinya maju setengah langkah. Kedua tangannya bersilang di depan
dadanya sambil sedikitmerendah pada lututnya. “Anak iblis,” geram
anak saudagar kay a di Kabuyutan sebelah, “kau kira kuasa ayahmu
dapatmenolongmu?” Anak Ki Buyut itu justru maju selangkah sambil
mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sikap itu membuat anak saudagar
kaya itu gelisah. Namun kemudian tiba -tiba anak saudagar itu telah
menyerang dengan kakinya. Tetapi anak Ki Buyut sudah siap menghadapi
segala kemungkinan. Karena itu ketika serangan itu datang, maka anak
Ki Buyut itu dengan cepat dapat mengingkarinya. Bahkan ia t idak
saja bergeser menyamping. Namun tiba-tiba sa ja ia meloncat maju
sambil mengayunkan tangannya mendatar ke samping. Tetapi anak
saudagar itu pun telah,mampumengelak pula. Dengan demikian,maka
perkelahian di antara kedua orang anak muda itu dengan cepat telah
berkembang. Keduanya mengerahkan kemampuan masing-masing. Semakin
cepat perkelahian itu berlangsung,maka yang menang akan merasa
semakin dihormati oleh anak-anak muda dari kedua Kabuyutan itu.
Namun siapakah yang menang dan siapakah yang kalah masih
belum nampak jelas. Keduanyamasih salingmeny erang dan
salingmenghindar. Tiga orang pengawal anak Ki Buyut memperhatikan
perkelahian itu dengan seksama. Sementara itu sesuai dengan
tantangan anak saudagar itu, pengawal anak saudagar itu juga tiga
orang. Termasuk seorang yang bertubuh raksasa. Sejenak
keduanya tenggelam dalam perkelahian yang sengit. Keduanya
masih muda. Keduanya memiliki bekal ilmu yang mapan sehingga dengan
demikian maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit.
Dalam kekalutan gerak,maka masing -masing telah mampu mengenai tubuh
lawannya.Namun pukulan sisi telapak tangan anak Ki Buyut itu telah
mampu menggoy ahkan pertahanan anak Ki Saudagar, sehingga hampir
saja anak Ki Saudagar itu jatuh terjerembab.Namun ternyata ia cukup
tangkas. Ia ju stru telah menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa
kali. Tetapi dengan tangkas pula ia pun telahmelenting bangkit
berdiri. Anak Ki Buyut ternyata telah memburunya. Tetapi lawannya
sudah siapmenghadapinya. Pertempuran pun telah berlanjut. Keduanya
benar-benar mengerahkan segenap kemampuan mereka. Dengan penuh
kebencian masing-masing telah berusaha untuk memenangkan perkelahian
itu. Tetapi semakin lama ternyata ketahanan tubuh anak Ki Buyut itu
nampak lebih baik. Keduanya yang memiliki kemampuan yang
seimbang itu, telah terpengaruh oleh kelebihan daya tahan tubuh anak
Ki Buy ut itu. Karena itu, maka keseimbangan perkelahian itu pun
telah berubah. Jika semula keduanya saling meny erang dan saling
mempertahankan diri dengan seimbang, lambat laun maka anak Ki
Saudagar itu mulai bergeser beberapa langkah surut. Day a tahan anak
Ki Buy ut bukan saja mampu mengatasi perasaan sakit dan lelah, namun
juga mampu bertahan untuk berkelahi dengan kekuatan dan tenaga
yang hampir tidak berubah. Keringat yang mengalir dari
tubuhnya tidak mempengaruhi kekuatan dan kemampuannya. Karena itu,
ketika ketahanan tubuh lawannya mulaimengendor, kekuatan dan
kemampuan anak Ki Buyut itu seakan-akan telah meningkat. Anak Ki
Saudagar itu sempat mengumpat-umpat. Namun tiba -tiba saja suaranya
terputus. Ternyata bibirnya telah tersentuh tangan anak Ki Buyut
yang menyerangnya dengan tiba -tiba. Untunglah bahwa sentuhan itu
tidak mengakibatkan giginya berpatahan,meskipun terasa sedikit
sakit. Para pengawal anak Ki Saudagar dan pengawal anak Ki Buyut
yang masing-masing berjumlah tiga orang memang menjadi tegang.
Tetapi setiap kali ketiga orang pengawal anak Ki Buyut itu bersorak
kegirangan jika tangan anak Ki Buyut itu mengenai tubuh lawannya.
Ketiga orang pengawal anak Ki Saudagar pun berbuat pula demikian.
Tetapi sorak yang menghentak semakin lama semakin sering
dilakukan oleh anak Ki Buy ut. Ketiga orang pengawal anak Ki
Saudagar itu menjadi cemas. Mereka tidak dapat membiarkan momongan
mereka kalah. Karena jika demikian, akibatnya akan buruk sekali bagi
mereka. Ki Saudagar tentu akan menjadi sangatmarah. “Kenapa aku
tidak berbuat sesuatu,” berkata pengawal anak Ki
Saudagar.
Jilid 095 KARENA itu, maka orang
bertubuh tinggi tegap itu pun berkata: “Aku tidak mempunyai pilihan
lain. Aku harus mengakhiri kesombongan anak-anak itu.” Orang yang
bertubuh tinggi tegap itu pun kemudian telah memberi isyarat kepada
kawan-kawannya. Ia akan bertindak untuk membantu momongannya. Ia
tidak peduli apa yang akan dikatakah oleh anak Ki Buyut itu serta
para pengawalnya. “Jika para pengawal anak Ki Buyut itu akan ikut
campur, kalian dapat meny elesaikan mereka dengan caramu,” berkata
orang yang bertubuh tinggi tegap itu. Tanpa menghiraukan
apa-apa lagi, maka orang yang bertubuh tinggi tegap itu telah
meloncat memasuki arena. Ia langsung melangkah ke arah kedua orang
anak muda yang sedang berkelahi itu. Tetapi ternyata seorang dari
para pengawal anak Ki Buyut itu telah melihatnya. Ia pun segera
berlari mencegah orang yang bertubuh tinggi besar itu. “Kita tidak
akan ikut campur," berkata pengawal anak Ki Buyut. “Persetan,” geram
orang yang bertubuh tinggi tegap itu “Minggir. Atau kau yang
akan aku lumpuhkan lebih dahulu.” “Kau kira aku membiarkan kakiku
kau patahkan?,” bertanya pengawal anak Ki Buyut itu. Orang yang
bertubuh tinggi tegap itu tidak menjawab. Ia langsungmengayunkan
tangannya meny erang pengawal anak Ki Buyut itu. Namun pengawal anak
Ki Buy ut yang lebih kecil itu ternyata cukup tangkas. Dengan
sigapnya ia telah mengelakkan serangan itu. Bahkan dengan cepat
sekali ia telah membalas serangan itu dengan ay unan tangannya,
memukul ke arah dada. Orang yang bertubuh tinggi itu masih
sempat bergeser surut. Namun lawannya yang lebih kecil itu
tidak melepaskannya, dengan cepat ia memburunya. Dengan satu
loncatan melingkar, kakinya telah terayun menghantam dada orang itu.
Serangan kaki itu cukup keras, sementara orang yang bertubuh
tinggi itu tidak sempat menghindar. Karena itu, ketika kaki pengawal
anak Ki Buy ut itu mengenai dadanya, maka orang yang bertubuh
tinggi itu telah terdorong beberapa langkah surut. Orang itu memang
tidak terjatuh. Bahkan ia masih mampu menguasai keseimbangannya.
Namun bahwa tubuhnya telah dikenai oleh serangan lawannya itu,
membuatnyamenjadi sangatmarah. Dengan demikian maka perkelahian
antara kedua pengawal dari kedua orang anak muda yang telah
berkelahi itu pun semakin lama menjadi semakin sengit pula. Bahkan
kemudian kedua orang pengawal yang lain pun telah berkelahi
pula, sehingga delapan orang telah berkelahi di halaman samping
kedai itu. Pemilik kedai itu memang menjadi berdebar-debar. Jika
perkelahian itu meluas, maka kedainya akan dapat menjadi ajang
perkelahian pula. Tetapi pemilik kedai itu berharap bahwa
perkelahian itu akan terbatas dengan delapan orang itu saja. Meski
pun demikian, ia masih saja merasa cemas. Jika terjadi diantara
mereka menjadi korban, maka ia pun tentu akan menjadi sasaran
pertanyaan orang-orang dari kedua Kabuyutanyang bermusuhan
itu. Beberapa saat kemudian, maka ternyata bahwa anak Ki Buyut itu
semakin mendesak lawannya, anak seorang saudagar kaya di Kabuyutan
sebelah. Seorang saudagar kaya yangmempunyai pengaruhyang besar di
Kabuyutannya. Sedang para pengawalnya pun nampaknya lebih baik dari
para pengawal anak saudagar kaya itu, sehingga dua orang dari ketiga
orang pengawal itu berhasil mendesak lawan-lawan mereka pula. Hanya
pengawal yang kebetulan berkelahi melawan orang yang bertubuh
tinggi tegap itu harusmemeras keringat untuk dapat bertahan. Orang
yang bertubuh raksasa itu ternyata memiliki day a
tahanyang sangat besar. Tetapi sementara itu, kedua orang
pengawal anak saudagar kaya itu semakin tidak mempunyai kesempatan
lagi melindungi dirinya. Sebagaimana momongan mereka, maka keduanya
pun semakin sering dikenai oleh serangan lawannya. Bahkan salah
seorang pengawal anak saudagar kay a itu telah terdorong beberapa
langkah surut dan jatuh terbanting di tanah. Tertatih-tatih ia
mencoba berdiri. Namun demikian ia berhasil berdiri, lawannya telah
meloncat dengan cepatnya menghantam dadanya dengan tumit kakinya.
Sekali lagi orang itu jatuh berguling. Meski pun ia masih juga
mencoba berdiri, tetapi ia sudah tidak berdaya lagi. Hanya karena
orang itu takut dianggap tidak membantu momongannya,maka ia masih
mencoba untuk bertahan. Tetapi lawannya sudah tidak menghiraukannya
lagi. Ia justru berlari membantu kawannya yang terdesak oleh orang
yang bertubuh tinggi tegap itu. Melawan dua orang, maka orang yang
bertubuh tinggi tegap itu merasa sangat berat. Beberapa kali
tubuhnya telah dikeaai serangan kedua lawannya itu. Ketika kawannya
yang sudah tidak berdaya itu mencoba mendekatinya untuk membantu,
maka sekali lagi orang itu mendapat serangan di keningnya. Sekali
lagi orang itu terdorong dan tidak berhasil mempertahankan
keseimbangannya lagi. Ia pun kemudian jatuh untuk ketiga kalinya.
Kepalanya yang membentur tanah yang keras, membuatnya sangat pening
dan bahkan kemudian segala-galanya menjadi kekuning-kuningan. Dalam
waktu dekat, maka anak saudagar kaya dan para pengawalnya menjadi
semakin tidak mampu lagi mengatasi kesulitan. Mereka semakin
terdesak dan kehilangan kesempatan. Beberapa kali anak saudagar kaya
itu harus berloncatan mengambil jarak, sehingga arena pertempuran
itu telah bergeser dari tempat semula. Namun anak Ki Buyut itu
mendesak terus. Beberapa kali ia sempat mengenai tubuh lawannya. Dan
bahkan ia pun kemudian bertanya: “Kapan kita menentukan siapa
yang kalah dan siapa yang menang?” “Persetan kau,” geram
lawannya yang menyerangnya denganmengerahkan kemampuannya. Namun
lawannya tidak berhasil mendesaknya. Apalagi pula pengawalnya yang
tinggal dua orang. Yang bertubuh tinggi tegap itu pun harus
berloncatan surut, karena dua orang lawannya membuatnya semakin
bingung. Sementara pengawalnya yang seorang lagi juga tidak dapat
bertahan lebih lama. Dalam keadaan yang demikian, maka mereka
semakin terdesak ke jalan. Mahisa Murti dan Mahisa Semu yang semula
melihat perkelahian itu dari pintu samping, telah berpindah. Mereka
duduk di dekat pintu depan yang lebih lebar, sehingga mereka dapat
menyaksikan pertempuran yang telah bergeser itu dengan jelas.
Sementara itu bukan saja pelayan kedai itu, tetapi juga pemiliknya
telah memperingatkanmereka, agar jangan berada di tempat yang
dapat dilihat oleh anak saudagar kaya serta orang-orangnya.
“Kenapa?” bertanyaMahisa Semu. “Mereka adalah pendendam,” jawab
pemilik kedai itu, “hari ini anak saudagar kaya yang mengandalkan
kekayaannya itu mendapat lawan seimbang. Bahkan nampaknya lebih kuat
daripadanya. Mudah-mudahan ia menjadi jera dan tidak sewenang-wenang
lagi.” “Bagaimana dengan anak Ki Buy ut?,” bertanya Mahisa Semu. “
Ia memang pendiam. Tidak peduli. Tetapi ia bukan orang yang suka
mencampuri persoalan orang lain dan tidak terbia sa membuat orang
lain mengalami kesulitan. Tetapi agaknya karena ia ditantang,maka ia
punmelayaninya.” “Kedai ini terletak di mana? Di daerah Ki Buyut itu
atau daerah Kabuyutan lain sebagaimana saudagar kaya itu?” bertanya
Mahisa Pukat. “Aku masih berada di daerah Ki Buy ut yang
anaknya berkelahi itu. Tetapi jalan itu adalah batasnya. Jika
perkelahian itu bergeser terus, maka mereka akan memasuki Kabuyutan
sebelah,” jawab pemilik kedai itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Sebenarnyalah perkelahian itu bergeser menyeberangi jalan dan
akhirnya terjadi di seberang. Pemilik kedai dan pelayannya
yang tidak berani menyaksikan perkelahian itu dengan terbuka,
sempat melihat lewat beberapa lubang dinding di sudut dapurnya.
Mereka tidak lagi memperingatkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang
nampaknya tidakmenghiraukan peringatan mereka. Dalam pada itu,
ketika keadaan anak saudagar kaya dari Kabuyutan di seberang jalan
itu semakin sulit, tiba -tiba saja telah terdengar sultan nyaring.
Satu isyarat yang mula-mula memang tidak begitu
diketahuimaksudnya. Namun tiba -tiba saja dari balik beberapa
gerumbul perdu di seberang jalan, telah muncul beberapa orang anak
muda yang dengan serta telah berlari-larianmendekati arena.
“Curang,” geram Mahisa Semu. “Ya. Itu sudah diduga,” sahut pemilik
kedai yang melihat perkelahian itu dari celah-celah dinding di
dapurnya. Anak Ki Buyut itu memang agak terkejut. Demikian pula
ketiga orang pengawalnya. Dengan latang anak Ki Buyut itu berkata:
“Aku memang sudah curiga. Tetapi aku menyanggahnya sendiri. Apalagi
per soalan kita adalah persoalan harga diri. Apakah untuk
kepentingan mempertahankan harga diri itu kau ingin mengorbankan
harga diri?” “Persetan dengan harga diri,” geram anak saudagar kaya
itu. “Aku adalah anak seorang Buyut,” berkata anak Ki Buyut itu,
“apakah kau kira ayahku dan seluruh Kabuyutanku akan membiarkan hal
ini terjadi?” “Kabuyutanku juga sudah siap. Kita akan bertempur jika
kau berusaha untuk menggerakkan orang-orangmu. Ay ahku dapatmengupah
orang-orang dari luar Kabuyutan. Tiga orang gegedug yang sekarang
juga hadir merupakan contoh dari orang-orang yang diupah
ayahku itu. Jika ayahmu benarbenar ingin berperang, maka Kabuyutanmu
akan menjadi karang abang,” ancam anak saudagar kaya itu. Tetapi
anak Ki Buy ut itu pun berkata: “Kau kira kami menjadi ketakutan?
Jika kau curang kali ini, maka aku akan benar-benar mengerahkan
anak-anak muda dan para pengawalKabuyutan.” “Kau kira kau mampu
melakukan? Tiga bulan kau akan berbaring di pembaringanmu.
Orang-orangku akan membuatmu jera sampai ke anak cucumu,” teriak
anak saudagar kaya itu. Anak Ki Buy ut itu tidakmempunyai pilihan.
Sebenarnyalah diantara beberapa orang yang muncul dari balik
geromboIan itu, terdapat tiga orang yang bertampang garang.
Meski pun tubuhnya tidak sebesar pengawal anak saudagar kaya yang
bertubuh raksasa itu, namun nampak disorot matanya, bahwa mereka
lebih keras dan kasar. Juga mereka nampaknya memiliki kemampuan
dalam olah kanuragan. Anak Ki Buyut itu memang harus berpikir keras.
Ada dua pilihan yang dapat diambilnya. Melawan dengan
mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan harga diri,
ataumelarikan diri. Sebenarnya anak Ki Buyut itu pun menyadari,
seandainya ia melarikan diri dari arena, ia tidak akan direndahkan
oleh siapa pun karena lawannyalah yang curang. Namun
rasarasanya seorang laki-laki yang menghindar dari kesulitan
namanya akan tetapmenjadi cacat. Karena apa pun yang akan
terjadi, anak Ki Buy ut itu tidak beringsut dari tempatnya.
Sementara itu pemilik kedai itu berteriak tertahan di belakang
lubang dinding: “Lari. Kenapa tidak lari saja?” “Ya,” desis Mahisa
Pukat, “seharusnya ia meny ingkir dari arena. Itu bukan lari. Tetapi
menghindari sikap yang sangat licik.” “Ya. Bukan melarikan
diri. Tetapi menghindari kecurangan,” ulang pemilik kedai itu. Namun
tidak seorang pun diantara orang-orang yang dimaksud
itumendengar. Tetapi ternyata ketiga orang pengawal anak Ki Buyut
itu pun termasuk orang -orang yang berani. Ket ika mereka y
akin bahwa anak Ki Buyut itu tidak akan meninggalkan arena, maka
dengan sertamertamereka pun menyerang lawan-lawan mereka yang masih
saja termangu-mangu. Dengan hentakkan yang tiba -tiba saja,maka
orang yang bertubuh raksaa itu sama sekali tidak mampu
menghindar. Dua orang pengawal Ki Buyut itu ber sama-sama menghantam
dadanya dan lambungnya, sehingga orang yang bertubuh tinggi
besar itu terbungkuk. Namun kemudian pukulan yang terakhir dari
kedua orang itu bersamaan membuat raksasa itu jatuh dan pingsan
karenanya. Demikian pula seorang pengawal yang lain. Ia pun dengan
serta merta telah mendapat serangan yang tidak dapat dihindarinya.
Bahkan dua orang yang telah membuat orang bertubuh tinggi
besar itu pingsan, telah ikut menyerangnya sehingga ia punmenjadi
pingsan pula. Dengan demikian ampat orang itu telah beba s dari
lawanlawannya yang terdahulu. Namun mereka akan berhadapan
dengan lawanyang jauh lebih berat. “Licik. Kau serangmereka
tanpa memberinya peringatan,” geram anak saudagar kaya itu.
“Persetan sahut anak Ki Buyut, “kau bawa sekian banyak orang
termasuk ketiga orang gegedug itu. Apakah itu bukan sikap yang
licik? Curang? Pengecut?” Tetapi anak saudagar kay a itu tertawa.
Katanya: “Kau menjadi ketakutan karenanya. Tetapi sudah terlambat.
Kau akan dilumpuhkan. Juga bukan kau akan terbaring dan memerlukan
pelayanan orang lain. Kau akan dimandikan di pembaringan seperti bay
i. Kau akan disuapi dan jika kau sembuh kelak, kau akan menjadi
cacat. Jika ay ahmu marah, maka perang akan terjadi. Kabuyutanmu
anak hancur lumat.” “Cukup. Kau tidak perlu membual seperti itu. Aku
akan menanggung segala akibat dari sikapku,” bentak anak Ki Buyut.
“Ada satu cara yang dapat kau tempuh,” berkata anak saudagar
kaya itu, “tinggalkan tempat ini dan untuk seterusnya jangan ganggu
gadis itu lagi.” “Kau bukan laki-laki,” geram anak Ki Buyut, “kenapa
kau tidak menantang aku berperang tanding sampai tuntas? Kenapa kau
melibatkan sekian banyak orang untuk per soalan yang sangat pribadi
ini?” “ Itulah kekuasaan uang yang dimiliki oleh keluargaku. Jangan
iri. Ayahku kay a raya dan dapat mengupah orang untuk melakukan hal
seperti ini,” jawab anak saudagar kaya itu. Lalu katanya “Kenapa kau
tidakmelakukannya? Bukankah ay ahmu seorang Buyut yang juga
terhitung kaya?” Mahisa Pukat ternyata tidak dapat menahan diri
lagi. Ketika anak-anak muda yang bermunculan dari balik gerumbul
dengan tiga orang gedebug itu menjadi semakin dekat dan mulai
mengepung anak Ki Buyut dan ketiga orang pengawalnya, maka ia pun
telah menggamit Mahisa Semu. Bahkan Mahisa Pukat langsungmeloncat ke
halaman kedai itu sambil berteriak: “Tidak selamanya uang dapat
menguasai keadaan.” Semua orang berpaling kepadanya. Sementara itu
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah melangkah mendekati mereka yang
sudah siap untuk bertempur lagi itu. Pemilik kedai itu terkejut
bukan buatan. Ternyata kedua orang tamunya itu langsung melibatkan
dirinya dalam pertengkaran itu. “Kami berdua, tanpa kekuasaan uang,
menyatakan memihak kepada anak Ki Buyut,” berkata Mahisa Pukat
sambil melangkah mendekati anak Ki Buy ut dengan tiga orang
pengawalnya yang sudah terkepung. Bahkan dengan tidak menghiraukan
anak-anak muda yang mengepung itu, keduanya justru menyibak
mereka dan masuk ke dalam lingkaran kepungan itu. “Siapa kau?” geram
anak saudagar kaya itu. “Siapa pun aku, kau tidak peduli. Apakah kau
akanmembeli namaku dengan uangmu?” bertanya Mahisa Pukat. “ Iblis
kau geram anak saudagar,kaya itu apakah kau menyadari, apa
yang kau lakukan?” “Tentu. Aku akan merasa berbahagia dapat
membantu orang yang telah diperlakukan dengan curang. Aku tidak
peduli apakah kami akan menang atau kalah,” jawab Mahisa Pukat.
Wajah anak saudagar kaya itu menjadimerah. Selangkah ia maju sambil
berkata: “Kau akan menyesal. Jika aku mengancam akanmembuat anak Ki
Buy ut yang tidak tahu diri itu menjadi cacat, maka aku benar-benar
berniat membunuhmu. Tidak ada orang yang akan menuntut aku disini.
Sekali lagi aku katakan bahwa uang ay ahku akan dapat menyelesaikan
segala-galanya.” “Aku tidak takutmati untukmelakukan apa yang
aku yakini kebenarannya,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi sadari, bahwa
jika akumati,maka tentu ada diantara kalianyang mati. Aku tidak tahu
siapa yang akan mati diantara kalian. Kau,mungkin kau, kau
atau gegedug itu. Ny awaku nilainya sama dengan lima orang diantara
kalian. Demikian pula adikku ini. Karena itu, jika kami berdua mati,
maka sepuluh orang diantara kalian akan mati.” Ternyata ancaman
Mahisa Pukat itu telah menggetarkan jantung anak-anak muda yang
mengepung anak Ki Buyut itu. Namun anak saudagar kaya itu berkata
kepada ketiga orang gegedug itu: “Selesaikan kedua anak itu. Jangan
ragu-ragu. Aku yang bertanggung jawab.” Ketiga orang gegedug itu pun
kemudian telah bergeser mendekati Mahisa Pukat dan Mahisa Semu.
Ternyata mereka benar-benar berniat untuk membunuh keduanya, karena
ketiga orang gegedug itu langsung menggenggam senjata mereka di
tangan. Seorang diantara mereka menggenggam sebuah golok yang
besar. Seorang memegang kapak yang bermata rangkap dan seorang lagi
membawa pedang yang panjang. Namun tiba -tiba saja Mahisa Pukat pun
berkata kepada Mahisa Semu: “Jangan ragu -ragu membunuh mereka
bertiga. Kita akan segera menghilang dari tempat ini, sehingga
mereka tidak akan dapatmenuntut kita.” “Setan alas,” salah seorang
dari ketiga orang gegedug itu mengumpat. Seorang yang bersenjata
kapak yang tajam di kedua sisi itu pun segera meloncat
menyerang Mahisa Pukat. Namun anak muda itu sudah benar -benar
bersiap. Dengan sigapnya ia meloncat menghindar. Namun gegedug yang
membawa golok ttu tidak membiarkannya. Ia pun telah memutar goloknya
pula dan langsungmeny erang. Tetapi Mahisa Pukat benar-benar telah
bersiap. Dengan sigapnya ia berloncatan menghindari
serangan-serangan yang kemudian datang beruntun. Sementara itu,
Mahisa Semu pun telah mengenggam pedangnya pula. Yang kemudian
berdiri berhadapan dengan anak muda itu adalah gegedug yang ber
senjata pedang yang panjang itu. Sejenak kemudian pertempuran antara
kedua anak muda dari perguruan Bajra Seta melawan tiga orang gegedug
itu pun telah berlangsung dengan sengitnya. Ketiga orang gegedug
yangmerasa memiliki kemampuan yang tinggi itu berusaha untuk
dengan secepatnya meny elesaikan kedua orang anak muda itu. Apalagi
dua orang diantaranya bertempurmelawan seorang saja. Tetapi ternyata
bahwa kedua orang itu tidak segera dapat menguasai Mahisa
Pukatyang telah menggenggam pedangnya pula. Pedang yang
terbuat dari besi baja yang seakan-akan bercahaya kehijau-hijauan.
Kedua gegedug itu memang tergetar hatinya melihat daun pedang di
tangan Mahisa Pukat itu. Namun karena mereka merasa memiliki
kemampuan yang sangat mereka banggabanggakan selama ini, maka
mereka pun berusaha dengan cepatmembunuhnya. Mahisa Pukat pun
merasakan kesungguhan kedua orang gegedug itu untuk membunuhnya.
Karena itu, maka Mahisa Pukat pun menjadi semakin marah. Ternyata
pengaruh uang anak muda yang tamak itu telah membuat para
gegedug itu kehilangan kendali sama sekali. Mereka tidak lagi sempat
memikirkan apa yang sedangmereka lakukan itu. Karena itu, maka
Mahisa Pukat pun berniat untuk dengan cepatmenyelesaikan para
gegedug itu. Mereka harusmenebus kedunguan mereka dengan harga
yang sangatmahal, Adalah diluar dugaan bahwa justru Mahisa
Pukatlah yang dengan cepat menguasai kedua orang lawannya.
Pedangnya berputaran dengan cepat, menggapai-gapai. Dalam waktu yang
singkat,maka ujung pedang Mahisa Pukat telah melukai seorang
diantara kedua gegedug itu. Orang yang bersenjata kapak itu pun
telahmengaduh kesakitan ketika luka menganga di pundaknya. Sementara
itu, Mahisa Semu pun telah menunjukkan kemampuannya yang tinggi
dalam ilmu pedang. Ia pun dengan cepat telah menguasai lawannya.
Pedang lawannya yang panjang itu sama sekali tidak mampu mengimbangi
kecepatan gerak pedang Mahisa Semu. Karena itu, maka beberapa saat
kemudian, maka segores luka telah menyilang di dada lawannya. Ketiga
orang yang telah disebut sebagai gegedug itu menjadi sangat
marah pula. Mereka adalah orang-orang yang sangat ditakuti.
Namun menghadapi anak-anak muda itu ternyata mereka tidak
mampumengatasiny a. Sementara itu, lawan Mahisa Pukat yang
seorang lagi, yang ber senjata golok itu pun tidak mampu
menghindar atau menangkis ujung pedang Mahisa Pukat yangmematuk
dengan cepatnya. Karena itu, maka lambungnya tiba -tiba saja telah
terkoyak, sehingga darahnya memancar dari lukanya yang menganga.
Anak Ki Buyut dan ketiga orang pengawalnya justru bagaikan membeku.
Demikian pula anak saudagar kaya serta anak-anakmuda yang mengepung
dan kemudian seakan-akan telah membuat lingkaran pertempuran itu.
Dalam keadaan yang demikian itu, maka anak saudagar kaya itu pun
telah tersentak dari keheranannya. Ia pun segera melihat keadaan
yang tidakmenguntungkan, sehingga karena itu, maka ia pun
segera, berteriak kepada anak-anak muda yangmengepung arena itu:
“Jangan seperti orang-orang yang kehilangan akal. Cepat. Lakukan
tugas kalian. Aku yang bertanggung jawab atas segala-galanya.
Anak-anak muda yang jumlahnya cukup banyak itu masih sa ja
ragu-ragu. Tiga orang gegedug itu ternyata tidak berdaya menghadapi
dua orang anak muda yang tidak mereka kenal yang tiba -tiba
saja telah ikut serta dalam pertempuran itu. Tetapi anak saudagar
kaya itu sekali lagi berteriak: “Cepat. Lakukan. Siapa yang
tidak mendengar perintahku, akan menyesal kelak.” Ancaman itu memang
dapat menggerakkan anak-anak muda itu. Selagi ketiga gegedug itu
masih sempat melawan meski pun dalam kesulitan. Apalagi yang terluka
di lambungnya. Darah semakin lama semakin banyak mengalir, sehingga
akhirnya, orang itu pun telah jatuh terkapar dengan lemahnya. Tiga
orang anakmuda telah membawanya menepi, sementara dua orang
yang lain berlari-lari kembali ke arena, seorang
diantaramereka telahmerawatnya sedapat-dapatnya. Tinggal dua orang
gegedug yang masih ikut dalam pertempuran itu. Namun keduanya sudah
terluka. Tetapi ternyata bahwa keduanya masih berbahaya. Apalagi
kemudian datang anak-anakmudamembantu mereka. Anak Ki Buyut dan tiga
orang pengawalnya pun telah berkelahi lagi. Tetapi lawan-lawan
mereka adalah anak-anak muda yang tidak mempunyai bekal terlalu
banyak dalam olah kanuragan. Meski pun demikian jumlah mereka
yang banyak itu pun telah berpengaruh pula. Beberapa orang
telah membantu kedua orang gegedug yang terluka itu pula.
Namun demikian, anak-anak muda itu tidak dengan cepat mampu
rnenempatkan diri dalam satu kerjasama yang mapan. Bahkan
kadang-kadang kedua gegedug itu justru merasa terganggu oleh
kehadiran mereka. Tetapi kedua gegedug itu tidak berani mengusir
mereka, karena dalam saat-saat tertentu kedua gegedug itu dapat
berlindung di balik senjata anak-anak muda itu untuk beberapa saat.
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memang menjadi raguragu. Mereka tidak
dapatmemperlakukan anak-anakmuda itu sebagai mana kedua orang
gegedug yang masih mereka hadapi: Karena itu,maka tata gerak kedua
anakmuda itu pun menjadi agak ragu-ragu pula. Namun ketika anak-anak
muda itu mulai terasa semakin menekanmereka,maka Mahisa Pukat dan
Mahisa Semumulai menjadi semakin keras pula. Terutama Mahisa Semu.
Dengan demikian, maka pedangnya pun berputaran semakin cepat pula.
Tetapi yang menjadi sa saran utama bagi Mahisa Semumasih juga
gegedug yang sudah dilukainya itu. Namun gegedug itu pun
ternyatamemanfaatkan anak-anak muda itu untuk melindunginya. Tetapi
tiba-tiba saja ia telah meloncatmeny erang dengan garangnya.
Mula-mula Mahisa Semu memang menjadi sedikit mengalami kesulitan.
Namun akhirnya kemudaannyalah yang mulai berbicara dengan bahasa
pedangnya. “Bukan salahku,” berkata Mahisa Semu tiba -tiba.
Lawanlawannya memang menjadi heran mendengar Mahisa Semu itu tiba
-tiba saja telah berkata lantang. Seorang di antara lawan-lawannya
itu sempat bertanya: “Apa yang bukan salahmu? “Saudaraku telah
memperingatkan bahwa aku akan membunuh sedikitnya lima orang jika
kalian tidak menyingkir,” jawab Mahisa Semu. Ancaman itu membuat
anak-anak muda itu ragu-ragu. Tetapi gegedug itu pun berkata:
“Jangan hiraukan katakatanya. Ternyata anak itu sudah mulaimenjadi
ketakutan.” Namun belum lagi kata-kata itu selesai diucapkan, maka
seorang anak muda telah berteriak kesakitan. Ujung pedang Mahisa
Semu telah singgah di lengannya. Meski pun luka itu t idak terlalu
dalam, namun terasa pedihnyameny engat sampai ke tulang. “Sebentar
lagi lehermu,” desis Mahisa Semu. Lawan-lawannya menjadi semakin
gentar melihat darah di lengan kawannya itu. Bahkan kemudian Mahisa
Semu telah mendesak gegedug itu dan memaksanya berloncatan untuk
mengambil jarak. Namun anak-anak muda itu tidak lagi mendesak dan
mengurungnya. Mereka mulai merasa cemas bahwa ujung pedang anak muda
itu akan melukai mereka di leher seperti yang dikatakannya. Mahisa
Semu memang mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepat maka
pedangnya terayun mendatar. Tetapi Mahisa Semu sendiri terkejut
ketika ia melihat sebuah pedang lawannya terlempar jatuh. Sambil
berteriak kesakitan anak muda yang kehilangan senjatanya itu
menggenggam pergelaran tangannya. Ternyata darahmengalir cukup
deras. “Cepat, rawat lukamu teriak Mahisa Semu. Jika terlambat kau
benar -benar akanmati kehabisan darah.” “Aku tidakmaumati,” teriak
anakmuda itu. “ Ikat tanganmu agar darahnya tidakmengalir terlalu
deras Mahisa Semu pun berteriak. Anak muda yang pergelangan
tangannya tersay at pedang itu pun telah berjongkok di luar arena.
Dilepasny a ikat kepalanya untuk mengikat tangannya yang berdarah.
Namun ternyata darah masih saja tetapmengalir. Sementara itu, Mahisa
Semu masih bertempur terus. Karena anak-anak muda yang lain telah
menjadi ragu-ragu, maka Mahisa Semu menjadi semakin berbahaya bagi
gegedug itu. Sehingga akhirnya gegedug yang dibanggakan oleh anak
saudagar yang kay a raya dan yang sudah terluka itu melarikan diri
dari arena tanpamenghiraukan apa pun lagi. Anak saudagar kaya itu
sempat melihatnya berlari. Iapun berteriak dengan lantang: “Jangan
lari. Tunggu.” Tetapi gegedug itu sama sekali tidak berpaling.
Bahkan sejenak kemudian, gegedug yang bertempur melawan Mahisa
Pukat pun telah berlari pula. Mahisa Semu dan Mahisa Pukat memang
tidak memburu gegedug yang melarikan diri itu. Bagi mereka, sikap
itu telah cukupmemberikan bukti bahwa gegedug itu bukan hantu yang
harus ditakuti. Ketika kedua orang gegedug itu melarikan diri,
anak-anak muda itu pun menjadi semakin ragu-ragu. Namun anak
saudagar kaya itu masih berteriak: “Jangan beri mereka kesempatan.
Jumlah kita cukup banyak untukmenghancurkan mereka. Namun teriakan
itu t idak lagi mampu membangkitkan keberanianyang cukup.
Karena itu,maka anak-anakmuda itu masih saja tetap ragu-ragu.
Sementara itu, Mahisa Semu pun berkata kepada lawanlawan yang
mengelilinginya: “Tunggu. Aku akan mengobati kawanmu yang
terluka di pergelangan. Berbahaya sekali jika darahnya tidakmau
pampat. Anak-anak muda yang mendengarnya seakan-akan diluar
sadar telah beringsut meny ibak. Sementara itu Mahisa Semu berjalan
dengan tenangnya mendekati anak muda yang pergelangannya terluka.
“Jangan bunuh aku,” anakmdda itu ketakutan. “Lihat pergelanganmu
yang terluka. Ikat dibagian atas lukanya. Bukan pada lukanya
itu sendiri,” berkata Mahisa Semu. Tetapi darahnya memang banyak
sekali mengalir. Karena itu,makaMahisa Semu punmenjadi cemas. Dari
kantung ikat pinggangnya Mahisa Semu mengambil sebuah bumbung bambu
kecil berisi obat luka yang dibawanya dari padepokan Bajra
Seta. Dengan obat itu yang ditaburkan sedikit pada lukanya,maka
Mahisa Semu berharap bahwa luka itu akan pampat. Ketika obat itu
tertabur diatas lukanya, anak itu memang berteriak. Terasa luka itu
bagaikan disentuh api. Tetapi kemudian darahnya menjadi semakin
pampat, sehingga akhirnya tidak lagimengalir dari luka ifu. “Jangan
banyak bergerak,” berkata Mahisa Semu, ”jika kau gerak-gerakkan
tanganmu ini, maka darah pun akan keluar lagi dan sulit untuk
dipampatkan.” Anakmuda itumengangguk-angguk. “Nah, jangan kau
gantungkan tanganmu. Tekuklah pada sikumu dan pegangi pergelangan
tanganmu. Tetapi jangan sampai terpijit,” pesanMahisa Semu. Demikian
darah di luka anak muda itu pampat, maka Mahisa Semu telah bersiap
pula. Sementara itu, anak saudagar kaya itu masih saja
berteriakteriak. Katanya: “Kenapa kalian diam seperti patung?” “ Ia
sedang mengobati luka kawan kami,” jawab salah seorang. “Jangan
hiraukan. Bunuh selagi ia lengah,” teriak anak saudagar yang
bertempur melawan anak Ki Buyut itu. “Kawan kami akan mati pula
karena darahnya mengalir terus,” teriak anakmuda itu. “Kalau perlu
bunuh sekali anak itu agar tidakmengganggu kalian,” jawab anak
saudagar kay a raya itu. Tidak ada lagi yang berteriak. Tetapi
jawaban itu benarbenar membuat anak-anak muda itu sakit hati.
Sehingga karena itu, maka mereka pun tidak lagi bertempur dengan
sungguh-sungguh. Apalagi Mahisa Semu pun tidak lagi ber
sungguh-sungguh pula. Demikian pula Mahisa Pukat. Ia bertempur tidak
jauh dari anak Ki Buyut dan ketiga orang pengawalnya. Sekali-sekali
Mahisa Pukat telah berloncatan mengurangi tekanan yang dilakukan
oleh anak-anakmuda yang jumlahnyamemang jauh lebih banyak itu atas
anak Ki Buy ut dan ketiga orang pengawalnya. Ketika Mahisa Pukat
merasa bahwa nampaknya anak Ki Buyut dan para pengawalnya mulai
letih, maka ia pun mulai mendesak lawan-lawannya. Dua orang hampir
berbareng telah dilukainya meski pun tidak terlalu dalam. Namun
perasaan pedih yang menggigit itu membuatmereka telah mundur dari
arena. Demikian pula seorang yang lain. Kemudian seorang lagi
dan seorang lagi. Dengan demikian maka anak-anak muda itu menjadi
semakin tidak berday a. Mereka juga merasa ketakutan bahwa pada
suatu saat merekalah yang terluka. Bahkan mungkin lebih parah dari
kawan-kawannya yang lain. Karena itu, maka anak saudagar kaya itu
semakin lama menjadi semakin cemas. Ia sama sekali tidak mengira
bahwa ada dua orang anakmuda yang dengan tiba-t iba saja telah ikut
campur sehingga rencananya menjadi gagal sama sekali. Ia tidak
sempat menyakiti dan bahkan membuat anak Ki Buyut itu menjadi jera.
Bahkan anak itu tentu akan menjadi semakin sombongmenurut penilaian
anak saudagar kaya itu. Tetapi anak saudagar kaya itu memang tidak
dapat berbuat banyak. Anak-anak muda yang dibawanya benar-benar
tidak lagi mampu menguasai ketakutan mereka. Ketika sekali lagi
ujung pedang Mahisa Pukat melukai seorang diantara anak muda
itu,maka yang lain pun telah berloncatan surut. Mahisa Pukat
termangu-mangu sejenak. Sementara anak saudagar kaya yang
bertempur melawan anak Ki Buy ut itu berteriak: “Kenapa kalian
menjadi ketakutan he? Hancurkan mereka.” Tetapi anak-anak muda itu
melihat darah di tubuh beberapa orang kawan mereka sehingga tubuh
mereka pun menjadi gemetar. Seorang diantara kawan mereka duduk
sambilmenangis kesakitan. Seorang lagimerintih tidak putusputusnya.
Ada juga diantara yang telah mengalirkan darah dari tubuhnya
itu masih tetap tegar dan siap untuk bertempur. Tetapi
kawan-kawannyalah yang tidak lagi sanggup berbuat sesuatu. Meski pun
anak saudagar kay a itu beberapa kali mengancam mereka, namun mereka
tetap saja berdiri termangu-mangu meski pun di tangan mereka masih
tergenggam senjata. Yang kemudian terdengar adalah suara Mahisa
Pukat: “Nah, siapa lagi diantara kalian yang ingin menjadi
korban. Mungkin orang berikutnya tidak hanya terluka, tetapi
terbunuh. Aku sebenarnya sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk
membunuh berapa pun aku mau diantara kalian. Tetapi karena aku tidak
ingin melakukannya, maka kalian masih akan tetap hidup. Hanya mereka
yang keras kepala sajalahyang akan aku habisi umurnya.”
Anak-anak muda itu pun menjadi semakin ketakutan, sehingga tidak
lagi ada yang berani memasuki arena pertempuran. Kawan-kawan anak
saudagar yang semula bertempur melawan Ki Buyut bersama pengawalnya
pun telah menarik diri pula dari arena. Demikian pula orang-orang
yang bertempurmelawan Mahisa Semu. Sejenak kemudian, maka Mahisa
Pukat itu pun berkata lantang: “Nah, bukankah sebaikny a yang
berkelahi itu hanya orang-orang yang berkepentingan? Dalam hal ini,
anak Ki Buyut itu dengan anak Ki Saudagar kaya itu? Biarlah mereka
menyelesaikan persoalan pribadi mereka berdua. Yang lain, yang tidak
tahu menahu persoalannya, tidak boleh turut campur. Karena itu,
siapa yang merasa tidak berkepentingan, minggir. Atau akan
berhadapan dengan aku dan saudaraku.” Suasana menjadi tegang.
Anak-anak muda yang ada di tempat itu memang dicengkam oleh
kebimbangan. Namun jika mereka ikut campur, maka mereka memang akan
mengalarni kesulitan. Anak muda yang tidak dikenal itu benar-benar
mampumelakukan sebagaimana dikatakannya. Anak saudagar kaya itu
termangu -mangu sejenak. Ia sadar, bahwa Ia memang tidak akan dapat
memaksa kawankawannya. Namun untuk bertempur sendiri melawan anak Ki
Buyut itu, ia pun menjadi ragu-ragu. Tetapi anak saudagar kay a itu
sadar pula, jika ia menolak berkelahi lagi melawan anak Ki
Buyut,maka Ia akan menjadi bahan ejekan kawan-kawannya. Namun anak
saudagar kaya itu tidak ingkar, bahwa sebelumnya ia benar-benar
tidak mampu mengalahkan anak Ki Buyut itu. Tetapi ia tidak mempunyai
pilihan lain. Ia harus mengulangi perkelahiannya melawan anak Ki
Buyut itu seorang diri. Meski pun ia sudah dikalahkannya, namun ia
berharap bahwa anak Ki Buyut itu telahmenjadi letih. Namun
sebenarnyalah bahwa ia sendirilah yang menjadi letih. Karena
itu, ketika ia benar-benar harus berhadapan dengan anak Ki Buy ut
itu, maka anak saudagar kaya itu hampir-hampir tidak bertenaga lagi.
Karena itu, anak itu pun kemudian memperhitungkan, bahwa ia harus
mempergunakan sisa tenaganya itu sebaikbaiknya. Ternyata ia telah
mengambil satu sikap yang tidak terduga. Anak saudagar kaya itu
telah mempergunakan sisa tenaganya itu untukmelarikan diri. Tanpa
menghiraukan kawan-kawannya, maka anak saudagar kaya itu pun
segerameloncatmelarikan diri. Mahisa Semu sudah siap untuk
menyusulnya. Namun Mahisa Pukat berkata: “Sudahlah. Jangan kau kejar
anak itu. Ia berlari dengan sangat ketakutan. Jika kau masih juga
mengejarnya,maka anak itu akanmati ketakutan.” Mahisa Semu memang
urung meloncat mengejar anak saudagar kaya raya itu. Dalam pada itu,
Mahisa Pukat telah berdiri berhadapan dengan anak-anak muda yang
menjadi ragu-ragu dan cemas akan nasib diri mereka sendiri. Jika
anak muda itu ternyata anak muda yang garang, maka mereka akan
mengalami nasib buruk. Tetapi Mahisa Pukat tidak berbuat apa -apa.
Demikian pula kepada para pengawal anak saudagar kaya itu. Orang
yang bertubuh tinggi tegap yang telah duduk di tanah dengan jantung
yang berdebaran juga tidak mengalami perlakuan yang kasar. Kepada
anak-anak itu ia berkata: “Rawat gegedug yang agak parah itu.
Demikian pula kawan-kawanmu yang terluka. Namun pada kali
lain, kalian jangan menyurukkan diri ke dalam kesulitan seperti ini.
Untunglah aku dan saudaraku lagi sabar, jika kami sedang dalam
genggaman kesulitan hidup, maka sikap kami akan berbeda.” Anak-anak
muda yang masih tinggal itu menjadi sangat gelisah. Tetapi ternyata
bahwa kedua orang anak muda yang tiba -tiba saja telah hadir
danmelibatkan diri itumemang tidak mengambil tindakan apa-apa
sebagaimana mereka katakan. Mereka nampaknya memang bukan
orang-orang yang garang dan kasar sebagaimana gegedug yang
telah mereka kalahkan itu. Dalam pada itu maka sekali lagi Mahisa
Pukat berkata: “Tinggalkan tempat ini. Rawat kawan-kawanmu
yang terluka. Bawa gegedug serta kawan-kawanmu yang luka itu
ke rumah anak saudagar kay a yang tamak tetapi ternyata sangat
licik itu. Aku harap anakmuda itu bertanggung jawab.” Namun tiba
-tiba salah seorang anak muda itu berkata: “Bagaimana jika anak Ki
Saudagar itu justru marah dan menghukum kami.” “Bagaimana mungkin
hal itu dilakukan?” bertanya Mahisa Pukat. “ Ia sangat kerasdan
kasar,” jawab anakmuda yang lain. “Bukankah ia seorang diri? Apakah
seorang diri ia dapat menghukum kalian semuanya?” bertanya Mahisa
Pukat. “ Ia mempunyai uang. Ia dapat mengupah orang untuk menghukum
kami,” sahut anakmuda itu. “Dan kalian diam saja? Membiarkan diri
kalian dihukum? Dicambuk atau diikat di halaman di bawah terik
matahari atau hukuman apa?” bertanya Mahisa Pukat. Anak-anak muda
itu termangu-mangu. Namun kemudian yang lain menjawab: “Pernah
terjadi kawan kami yang dianggapnya bersalah diikat di belakang
seekor kuda yang kemudian berlari-lari di padang rumput.Hanya
beberapa saat. Tetapi tubuhnya telah penuh dengan luka-luka. Ketika
kemudian tali ikatannya dibuka anak itu sudah tidak dapat berdiri.”
“Saat itu apa yang kalian lakukan? Menonton? Atau kalian justru ikut
menghukumnya? Apa? Apa yang kalian lakukan? Kalian semuanya
tentu tidak mencegah hal itu terjadi. Kalian merasa ikut senang
melihat hukuman itu terjadi karena jiwa kalian tidak lebih dari jiwa
budak yang rendah, yang nilainya tidak lebih dari upah yang
pernah kalian terima. Nah, jika sejak hari ini kalian bersatu dan
memantapkan diri menjadi anak muda yang mempunyai harga diri,
maka anak itu tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika ia membentak,
kalian semuanya harusmembentak. Jika anak itu memukul seorang
diantara kalian, maka kalian semuanya memukul. Tetapi jika ada satu
saja diantara kalian yang berkhianat terhadap kawankawan kalian dan
kembali ke jiwa budak yang rendah, maka kalian memang akan kembali
mengalami masa yang buram. Hidup kalian akan selalu di bawah
bayang-bayang anakmuda itu dengan uang dan kekay aannya yang
melimpah.” Anak-anak itu mulai berpikir tentang sikap mereka selama
itu. Mereka seakan-akan memang selalu berada di bawah bayang an uang
anak saudagar kaya itu. Kemudian Mahisa Pukat pun bertanya:
“Bagaimana dengan sikap Ki Buyut?” “Ki Buyut tidak pernah
menunjukkan sikap yang tegas. Yang berkuasa di Kabuyutan kami
agaknya memang bukan Ki Buyut. Tetapi saudagar yang kaya raya
itu,” jawab salah seorang diantaramereka. “Jika demikian,maka kalian
semuanya sebaiknya datang ke rumah Ki Buy ut dan menyampaikan
permohonan agar Ki Buyut ber sedia menjadi pemimpin sejati bagi
Kabuyutan kalian,” berkata Mahisa Pukat. Anak-anakmuda itu
termangu-mangu. Dari wajah mereka Mahisa Pukat dapatmembaca, bahwa
agaknya Ki Buyut sukar untuk merubah sikapnya. Agaknya sudah terlalu
lama Ki Buyut dibayangi oleh kekuasaan uang yang ditaburkan oleh
saudagar kaya itu. “Anak-anak muda,” berkata Mahisa Pukat: “jika
demikian, maka adalah saatnya kalian berbuat sesuatu. Anak-anakmuda
adalah citra masa depan Kabuyutan. Jika kalian mulai sekarang sudah
dibayang i dengan uang,maka kelak, siapa pun yang akan memegang
jabatan di Kabuyutan ini, akan selalu dibayangi oleh kekuasaan uang
itu pula. Karena itu, kalianlah yang harus merubah keadaan. Kalian
wajib menentukan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kehendak
kalian. Jika kalian bersikap tegas dalam persatuan yang kokoh,
maka kalian tentu akan berhasil.” “Kami yang ada disini belum
seluruh kekuatan anak-anak muda Kabuyutan. Mungkin kawan-kawan kami
masih ada yang dapat diperintah dengan uang oleh anak Ki Saudagar
itu,” berkata salah seorang anakmuda. “Kalian harus bertindak cepat.
Demikian kalian nanti kembali ke padukuhan, hubungi kawan-kawan
kalian. Hubungi Ki Buyut dan tentukan langkah-langkah berikutnya.
Jika ternyata masih ada anak-anak muda yangmenjual harga dirinya,
maka kalian dapat memaksa mereka dengan kekerasan. Jika kalian
mengalami kesulitan, maka anak Ki Buyut ini tentu akan ber sedia
membantu kalian,” berkata Mahisa Pukat. “Aku tidak berkeberatan,”
sahut anak Ki Buyut, “aku sebenarnya juga ingin menawarkan bantuan
itu, tetapi aku tidakmendapat kesempatan untuk berbicara.” “Terima
kasih,” beberapa orang anak muda yang semula membantu anak Ki
Saudagar itu berbareng menjawab. Nampaknya mereka mengerti apa yang
sebaiknya mereka lakukan. Namun dalam pada itu, seorang anak muda
yang nampaknya lebih tua dari kawan-kawannya berkata: “Tetapi
ingat. Ki Saudagar itu sendiri adalah seorang yang berilmu tinggi,
Sebagai seorang yang pekerjaannya menempuh perjalanan dari
tempat ke tempat dari Kabuyutan ke Kabuyutan, maka adalah seorang
yang berilmu tinggi.” Mahisa Pukatmengerutkan keningnya. Ia
pun teringat kepada ayahnya, yang juga seorang yang
berjual beli wesi aji, batu -batu akik dan permata yang datang
dari satu tempat ke tempat lain. Ayahnya pun memiliki bekal yang
cukup untuk melindungi dirinya serta barang-barang yang diperjual
belikan itu. “Mungkin Ki Saudagar juga memiliki kemampuan seperti ay
ah,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya. Sementara itu, anak Ki
Buyut itu pun berkata: “Jika Ki Saudagar ikut campur, maka biarlah
ayahku juga ikut campur.” Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun
bagi mereka, baik Ki Saudagar mau pun Ki Buy ut akan dapat menjadi
berbahaya. Untuk waktu yang lama, Ki Buy ut seakanakan memang
bekerja untuk saudagar itu serta mengabaikan kepentingan orang
banyak. Seolah-olah Ki Buyut itu memang hanya mengabdi kepada Ki
Saudagar itu saja. Dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu masih
diombang-ambingkan oleh keragu-raguan mereka terhadap Ki Buyut serta
kekuasaan yang sangat besar dari saudagar yang kaya raya itu,
maka jantung mereka bagaikan berhenti berdetak ketika mereka melihat
tiga orang yang berjalan dengan tergesa-gesa ke arahmereka.
Ketiganya adalah Ki Buyut, saudagar yang kay a raya itu dan di
belakang mereka adalah anak Ki Saudagar yang telah melarikan
diri dari arena. Seorang dari antara anak-anak muda itu berdesis: “
Itu adalah Ki Saudagar serta Ki Buyut sendiri,” “Satu kesempatan,”
berkata Mahisa Pukat, “tentukan siakap dan katakan kepada mereka.”
Tetapi anak-anak muda yang semula nampak lebih berani ber sikap,
justru ketika Ki Buyut dan saudagar kaya itu datang, jantungmereka
menjadi berkerut kembali. Sebelum ketiga orang itu sampai ke bekas
arena pertempuran itu, Ki Saudagar telah berteriak: “Di mana anak
yang sombong, yang telah dengan licik menghina anak-anak muda
sekabuyutan kami.” Tidak seorang pun yang menjawab. Namun
semua orang tahu, bahwa yang dimaksud adalah Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu. Karena itu, maka semua orang telah berpaling ke arah
mereka berdua. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun menyadari, bahwa
mereka berdua akan menjadi pusar kemarahan Ki Saudagar. Tetapi apa
boleh buat. Sebenarnyalah, ketika saudagar kay a itu sudah berdiri
diantara beberapa orang anak muda yang kebingungan itu, maka
anaknya pun berkata: “Kedua orang itulah yang telah menghina
kami ayah.” “Bagus,” berkata Ki Saudagar, “aku harusmembuatmereka
menjadi jera. Aku harus menunjukkan bahwa mereka bukan orang
yang tidak terkalahkan di dunia ini.” “Sama sekali tidak Ki
Saudagar,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “apa yang aku lakukan
disini adalah sekedar membantu anak-anak muda yang mengalami
perlakuan licik dari anakmu dan kawan-kawannya.” “Bohong,” teriak
anak saudagar kaya itu, “ia telahmenghina aku dan kawan-kawanku.”
“Bertanyalah kepada setiap orang,” desisMahisa Pukat. Ki Saudagar
itu pun memandang berkeliling. Tiba -tiba saja ia mendekati seorang
anak muda. Mencengkam pundaknya sambil bertanya: “Siapakah
yang licik dan sombong? Katakan. Anakku atau anak-anakmuda
itu?” Anakmuda yang dicengkam pundaknya itu menjadi sangat
ketakutan. Seandainya saat itu ia dicekik sampai mati, tidak akan
ada orang yang beranimenuntut. Karena itu, ketika cengkaman di
pundaknya itu menjadi semakin keras, ia pun menjawab dengan suara
bergetar: “Yang licik adalah kedua orang anakmuda itu.” Mahisa Pukat
tiba-tiba tertawa. Katanya: “Baiklah. Aku tidak menyalahkan kau. Kau
sudah lama berada di bawah bayang an kuasanya. Kau tentu tidak dapat
dengan serta merta melepaskannya begitu saja.” “Setan kau,” geram Ki
Buyut: “kenapa kau membuat daerahku menjadi kisruh. Tanpa kau
berdua, Kabuyutan ini adalah Kabuyutan yang tenang. Tetapi setelah
kau berdua datang, maka Kabuyutan ini telah menjadi kacau sehingga
nampaknya telah terjadi perkelahian.” “Paman,” berkata anak Ki Buy
ut seberang jalan, “paman jangan berpura-pura. Paman tentu mengenal
aku. Kenapa paman tidak bertanya kepadaku, apa yang telah
terjadi di sini. “Kembalilah ke seberang jalan ngger. Jangan ikut
campur. Aku tidak akan menganggapmu ikut bersalah. Justru karena
akumengenal orang tuamu. Buyut dari Kabuyutan di seberang jalan.”
“Aku akan mendudukkan persoalannya pada keadaan yang
sewajarnya, paman,” berkata anak Ki Buyut itu, “nanti paman akan,
dapat menilai apa yang sesungguhnya telah terjadi disini.” “Kau akan
memfitnah anakku, he,” geram Ki Saudagar. Tetapi anak Ki Buyut itu
menjawab: “Fitnah dan keny ataan itu lain.” Namun dalam pada itu,
saudagar kaya itu pun berkata kepada Ki Buyut: “Usir anak itu Ki Buy
ut. Ia memang anak seorang Buy ut, tetapi bukan Kabuyutan ini. Ia
adalah anak seorang Buyut di Kabuyutan seberang.” “Sekali lagi aku
persilahkan kau pergi ngger,” berkata Ki Buyut. “Paman,” jawab anak
itu: “yang mempunyai persoalan disini adalah aku dan anak Ki
Saudagar itu. Bukan kedua orang anak muda yang paman tuduh
telah mengacaukan keadaan. Yang mula-mula berkelahi adalah aku dan
anak Ki Saudagar itu.” “Cukup,” bentak Ki Saudagar, “jika kau masih
tetap memfitnah anakku, maka aku akan dapat mencekikmu. Aku tidak
takutmeskipun ay ahmu seorang Buyut sekalipun.” “Soalnya bukan takut
atau tidak takut,” jawab anak Ki Buyut itu, “tetapi kita
harusmencari kebenaran. Apakah yang sudah terjadi disini.”
“Tutupmulut. Atau aku akan menyumbatmulutmu dengan batu?,” teriak
saudagar kaya itu. Namun keadaan menjadi semakin tegang, ketika
mereka melihat dan seberang jalan beberapa orang telah berdatangan.
Diantara mereka adalah Ki Buy ut dari Kabuyutan seberang jalan. “Apa
yang terjadi?” bertanya Ki Buy ut, “aku mendapat laporan, bahwa
anakku telah berkelahi disini.” “Ya. Anakmu telah menyerang
anak-anak muda dari Kabuyutan kami,” jawabKi Saudagar. Tetapi anak
Ki Buyut itu berkata: “Bukankah ay ah sudah mengenal Ki Saudagar
ini? Apakah ay ah percaya akan katakatanya?” “Aku bertanya kepadamu,
apakah yang telah terjadi?” bertanya Ki Buyut kepada anaknya. “Aku
telah berkelahi dengan anak Ki Saudagar itu apa pun sebabnya. Tetapi
dengan licik ia meninggalkan arena dan memanggil ayahnya,” jawab
anak Ki Buy ut. “Kenapa kau tidakmemanggil aku?,” bertanya Ki Buyut.
“Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan orang-orang tua. Biarlah
persoalan kami kami selesaikan sendiri,” jawab anak Ki Buyut.
“Tetapi ia sudahmemanggil ayahnya dan Ki Buyut seberang itu pula.
Untung ada yang memberitahukan kepadaku apa yang terjadi disini,”
geram Ki Buy ut itu. “Jadi Ki Buyut berniat untuk melindungi anak Ki
Buyut yang telahmemfitnah anakku he?,” bertanya Ki Saudagar. “Setiap
orang tua anak selalu melindungi anak-anaknya. Dan aku pun akan
berbuat demikian,” jawabKi Buy ut. “Meski pun anakmu bersalah dan
bahkan melakukan kejahatan?,” bertanya Ki Saudagar. “Kalau itu
terbukti, tentu saja tidak. Setiap orang tua akan memberikan sedikit
hukuman kepada anaknya yang ber salah dan bahkan melakukan
kejahatan. Aku pun akan berbuat demikian dan Ki Saudagar pun
sebaiknya berbuat seperti itu pula,” sahut Ki Buy ut. Ki Saudagar
itu pun termangu-mangu. Ia tahu bahwa anaknya memang sering
melakukan kesalahan-kesalahan. Tetapi ia tidak pernah menghukumnya
atau sedikit memberikan pelajaran kepadanya. Bahkan setiap kali Ki
Saudagar itu selalu melindungi anaknya apa pun yang diperbuatnya.
Apalagi Ki Saudagar itu merasa bahwa ia memiliki uang untukmeny
ebarkan pengaruhnya, selebihnya ia pun termasuk. seorang yang
berilmu tinggi. Namun ternyata sejenak kemudian ia pun berkata:
“Anakku adalah seorang anak penurut. Ia tidak pernah berbuat sesuatu
yang dapat mengganggu orang lain. Karena itu, tentu anakmulah yang
mendahului menimbulkan per soalan disini, yang sudah bukan
daerahmu.” “Marilah, kita akan melihat kebenaran,” jawabKi Buyut.
“Aku akan menjadi saksi,” berkata Mahisa Pukat tiba -tiba: “anak Ki
Saudagar itulah yang lebih dahulu menantang. Anak Ki Buyut sedang
makan di kedai itu ber sama kami berdua. Kami memang belum
mengenalnya waktu itu. Namun kami melihat orang yang bertubuh
raksasa itu datang memanggilnya. Maka perkelahian pun terjadi.” “Kau
janganmembual,” bentak anak Ki Saudagar. Namun Mahisa Pukat tidak
menghiraukannya. Katanya: “Tetapi jika kita biarkan anak Ki Saudagar
itu berkelahi melawan anak Ki Buyut, maka anak Ki Saudagar itu akan
kalah. Dan itu terbukti. Anak Ki Saudagar kalah dan melarikan diri
dari arena, tetapi yang kemudian datang bersama ayahnya dan Ki
Buyut.” “Cukup bentak Ki Saudagar, “aku dapat menyumbat mulutmu.”
“Kau kira aku tidak dapat menyumbat mulutmu dengan hulu pedangku ini
he?,” Mahisa Pukat pun membentak. Bahkan kemudian katanya dengan
suara lantang, “kau kira uangmu dan kemampuan ilmumu akan dapat
menyembuny ikan kenyataan? Aku menjai muak melihat tampangmu dan
caramu mengelabui orang lain untuk melindungi anakmu. Untuk
melindungi kesalahan dan kejahatanyang telah dilakukannya.
Tanpa kau sadari kau ajari anakmu menjadi pengecut yang licik
yang tidak akan dapat berdiri diatas key akinan dirinya sendiri.”
“Diam,” saudagar itu berteriak. Kemarahannya sudah memanjat sampai
ubun-ubunnya: “Kau siapa he? Kenapa kau beranimengumpatiku?Agaknya
kau belum tahu siapa aku?” Tetapi Mahisa Pukat pun telah benar-benar
menjadi muak melihat kelicikan saudagar kay a itu. Karena itu, maka
ia pun menjawab tidak kalah lantangnya: “Siapa pun kau, tetapi aku
tidak senang melihat kau dan anakmu yang sangat licik itu memfitnah
orang lain. Aku tahu dan melihat sendiri apa yang terjadi disini.
Karena itu, maka sebelum kau meny esal, ambil anakmu, bahwa ia
pulang dan kau harusmenghukumnya, agar pada kesempatan lain ia tidak
bertindak begitu licik, pengecut dan tidak tahu diri.” Wajah
saudagar kaya itu menjadi merah. Dengan suara yang bergetar menahan
kemarahannya ia berkata: “Kau kira aku hanya dapat mengupah orang
untuk membungkam mulutmu? Tidak. Aku sendiri akan dapat
melakukannya. Jangan meny esal. Orang-orang yang ada di tempat ini
sekarang akan menjadi saksi, bahwa bukan akulah yang telah
memulainya. Tetapi kau. Anak ingusan yang tidak tahu diri. Betapa
pun tinggi ilmumu, tetapi kau yang baru pandai berjalan kemarin sore
telah beranimenghina orang tua.” “Kau lebih dahulumenghina aku,”
geram Mahisa Pukat. “Persetan semuanya. Bersiaplah. Aku akan
menghajarmu agar kau dapat berbuat lebih sopan terhadap orang-orang
tua,” geram saudagar kaya itu. Mahisa Pukat tidak menjawab lagi.
Tetapi ia pun sudah ber siap menghadapi segala kemungkinan.
Sementara itu, ia justru telah menyarungkan pedangnya karena
Saudagar kaya itu tidak bersenjata. Tetapi saudagar itu tidak begitu
memperhatikan pedang Mahisa Pukat. Kemarahannya tidak lagi
memberinya kesempatan untukmemperhatikan apa pun juga, selain wajah
anakmuda yang ingin diremasnya itu. Sejenak kemudian keduanya
telah ber siap. Mahisa Pukat pun menjadi sangat berhati-hati. Ia
sadar, bahwa saudagar itu tentu benar-benar memiliki bekal ilmu
yang tinggi. Karena itu ia tidak akan dapatmenganggapnya
sebagai lawan yang akan sangat mudah diatasiny a. Bahkan
mungkin, ia akan menghadapi kesulitan karena ilmu lawannya
yang lebih tinggi daripadanya. Tetapi Mahisa Pukat memang
tidak ingin membiarkan sikap yang semena-mena itu.
Setidak-tidaknya yang dilakukan itu merupakan satu peringatan,
bahwa tidak semua orang begitu saja tunduk dan pasrah atas segala
langkah yang diambilnya. Saudagar yang marah itu ternyata
tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan garangnya ia mulaimeny erang.
Meski pun saudagar itu juga memperhitungkan kemungkinan bahwa
lawannya yang muda itu mempunyai bekal ilmu, namun menilik
umurnya maka saudagar itu menganggap bahwa ilmunya tentu belum
terlalumatang. Tetapi serangan pertama itu, sama sekali tidak dapat
menyentuh sasarannya. Ketika saudagar itu melihat lawannya yang muda
itu bergeser menghindar, saudagar itu menggeliat menggapai sa saran.
Tetapi anak muda itu dengan cepat pula mampumenghindar lagi. “Anak
iblis,” saudagar itu mengumpat. Tiba-tiba saja ia sudah melompat.
Kakinya terangkat tinggi,mengarah ke dada Mahisa Pukat. Tetapi
Mahisa Pukat telah memiringkan tubuhnya. Dengan tangan kiri ia
menekan kaki yang terjulur itu kesamping. Cukup keras sehingga
saudagar itu terputar setengah lingkaran. Namun dengan itu maka
dengan satu putaran, tangannya telah terayun mendatar menyambar
kening. Memang hampir saja keningnya dapat disentuh oleh serangan
saudagar kaya itu. Tetapi ternyata Mahisa Pukat memang cukup
tangkas. Sambil menarik satu kakinya surut, Mahisa Pukat memiringkan
kepalanya sehingga keningnya luput dari sambaran tangan saudagar
itu. Sementara itu, sebelum saudagar itu siap mengatur serangan
berikutnya, Mahisa Pukatlah yang ju stru menyerangnya. Kaki anak
muda itu berputar menebas lambung. Tetapi saudagar itu pun masih
mampu menghindarinya pula. Namun Mahisa Pukat ju stru memburunya.
Satu loncatan panjang dengan kaki menyamping. Begitu cepat menggapai
dada, sehingga saudagar itu justrumeloncat selangkah surut.
Pertempuran yang baru sejenak itu, membuat saudagar kaya itu
semakin marah. Ternyata anak muda itu memang memiliki bekal ilmu
yang cukup tinggi. Sementara Ki Saudagar bertempur melawan
Mahisa Pukat, Ki Buyut yang menguasai lingkungan arena
perkelahian itu mulai bergeser mendekati arena. Namun Ki Buyut dari
seberang jalan justru berkata: “Sudahlah Ki Buyut. Sebaiknya kita
menjadi penonton yang baik. Jika kita melibatkan diri, maka
akibatnya akan menjadi sangat buruk. Kabuyutan kita akan saling
bermusuhan. Di mana pun orang dari lingkungan Ki Buyut bertemu
dengan orang dari lingkunganku, tentu akan berkelahi. Karena itu,
sebaikny a kita tidak berbuat apa -apa sekarang ini. Kewajiban kita
adalah justru memisahkan mereka yang berkelahi, jika mereka
bersedia.” Ki Buyutmenarik nafas dalam-dalam. Ia mengertimaksud Ki
Buy ut seberang jalan, sehingga karena itu, maka ia pun masih saja
berdiri termangu-mangu. Sementara itu, pertempuran pun semakin lama
menjadi semakin seru. Masing -masing yang menjajagi kemampuan
lawannya, telah mulai meningkatkan ilmunya ke tataran yang semakin
lama menjadi semakin tinggi. Namun saudagar kay a itu pun menjadi
semakin heran pula terhadap lawannya yang masih muda itu. Sebagai
seorang saudagar yang terbiasa berkeliling dari satu ke tempat
yang lain, ia memiliki pengalaman yang luas. Namun di rumahnya
sendiri, tiba-tiba saja telah bertemu dengan seorang anak muda yang
mampu bertahan terhadap ilmunya untuk beberapa lama. Bahkan meski
pun ia mulai meningkatkan ilmunya, anakmuda itu masih jugamampu
mengimbanginya. Ki Saudagar mengumpat kasar. Sementara Mahisa Pukat
telah meningkatkan ilmunya pula sehingga saudagar kay a itu tidak
segera mampumengalahkannya. Dalam pada itu, kedua orang Buyut yang
menyaksikan pertempuran itu pun menjadi berdebar-debar. Mereka
menyadari, bahwa kedua orang yang bertempur itu telahmulai
melepaskan kemampuan ilmu masing-masing. Ki Saudagar tidak sekedar
bertempur dengan kekuatan wadagnya. Tetapi ia mulaimelepa skan
tenaga cadangan di dalam dirinya pula. Namun demikian, anak muda
yang melawannya itu tidak segera terlempar dari arena dan jatuh
terbanting di tanah. Tetapi anak muda itu masih juga selalu
mengimbanginya. Seakan-akan seberapa kekuatan dan kemampuan Ki
Saudagar meningkat, anakmuda itu pun mampumengimbanginya pula. Anak
saudagar kay a serta anak Ki Buyut diseberang jalan itu pun
termangu-mangu pula. Anak saudagar kaya yang terlalu y akin akan
kelebihan ay ahnya sehingga membuatnya menjadi sombong dan sewenang
-wenang didukung oleh kekay aan yang melimpah, menjadi cemas melihat
pertempuran itu. Ia tidak melihat ay ahnya mendesak anak muda itu.
Memburunya, memukulnya habis-habisan sehingga anak itu menjadi
pingsan. Tetapi beberapa kali justru ayahnya harus
berloncatanmenghindari serangan lawannya yang cepat dan berbahaya.
Sehingga dengan demikian maka kedua orang yang bertempur itu pun
nampaknya saling mendesak dan salingmenghindar. Namun bagi Mahisa
Semu, pertempuran itu masih baru berada pada tataran yang paling
bawah. Mahisa Pukatmasih akan dapat meningkatkan kemampuannya
berlapis-lapis jika ia menghendaki. Tetapi saudagar itu pun masih
belum memanjat pada tataran tertinggi dari ilmunya. Ia masih
meningkatkan tataran kemampuan selapis demi selapis, sehingga
demikian, saudagar itu ingin mengetahuinya, sampai lapisan yang
manakah kemampuan anakmuda yang telah beranimenghinanya itu. Namun
lapis demi lapis sudah dilaluinya, anak muda itu masih saja mampu
mengimbanginya. Bahkan anak muda itu semakin lama justrumenjadi
semakin garang. Saudagar itu mulai menjadi gelisah. Ia tidak lagi
dapat menganggap anakmuda itu sebagai anak ingusan. Bahkan ia mulai
cemas bahwa ia akan mengalami kesulitan menghadapinya. “Anak ini
memang aneh,” berkata saudagar itu di dalam hatinya. Dengan
demikian, saudagar itu menjadi tidak sabar lagi. Ia tidak lagi
meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Dalam kegelisahannya, ia
langsung ingin mengetahui, apakah ia akan dapatmengalahkan anakmuda
itu atau tidak. Karena itulah, maka tiba -tiba saja serangan
saudagar itu menghentak mendesak Mahisa Pukat. Beberapa langkah
Mahisa Pukat meloncat surut. Ia tidak siap menghadapi serangan
yang tiba -tiba saja dilontarkan dengan segenap tenaga dan
kemampuan. Bahkan telah mengangkat segenap tenaga di dalam dirinya.
Namun ternyata bahwa saudagar kaya itu masih harus mengumpat. Mahisa
Pukat yang meloncat beberapa langkah surut itu dengan cepat
menyesuaikan dirinya. Ia pun telah meningkatkan ilmunya mengimbangi
kemampuan saudagar itu. Bahkan Mahisa Pukat yang menyadari, bahwa
saudagar itu ingin segera menghabisiny a, maka ia pun telah berusaha
mendesaknya pula. Mahisa Pukat pun ingin dengan cepat menyelesaikan
pertempuran itu. Tetapi ternyata bahwa Mahisa Pukat pun
harusmenghadapi satu kekuatan ilmu yang tinggi. Saudagar yang
menyadari, bahwa kekuatan dan kemampuannya tidak akan mampu
mengatasi lawannya yang muda itu, maka ia pun telah membangunkan
ilmu pamungkasny a. Dengan tangkasny a saudagar itu telah mengambil
jarak. Kemudian berdiri tegak dengan kaki renggang. Kedua tangannya
terjulur ke depan, namun kemudian kedua telapak tangannya pun
dikatubkannya. Saudagar itu pun kemudian maju selangkah demi
selangkah mendekati Mahisa Pukat yang termangu -mangu. Kedua
telapak tangan yang dikatubkannya itu pun kemudian
digerakkannya. Kedua telapak tangan itu saling menggosok
perlahan-lahan. Mahisa Pukat melihat asap tipis mengepul dari antara
kedua tangan saudagar kaya itu. Bahkan kemudian tangan saudagar itu
semakin lama menjadi semakin merah membara. Semua orang yang
melihatnya menjadi berdebar-debar. Anak Ki Buyut itu pun menjadi
gelisah. Anak muda itu turun ke gelanggang sekedar membantunya.
Namun ialah yang kemudian akan mengalami bencana yang paling berat.
Jika tangan yang membawa itu meny entuh tubuhnya,maka bagian tubuh
itu pun akan menjadi hangus karenanya, sebagaimana kulit yang
tersentuh bara api yang pariasnya melampaui bara api tempurung
kelapa. Tetapi anak Ki Buy ut itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia
merasa bahwa ia pun tidak akan dapat menahan ilmu yang mengerikan
itu. Bahkan ay ahnya pun tidak. Satu-satunya cara untuk
mengalahkannya adalah melawan saudagar kay a itu ber sama-sama.
Namun di tempat itu ada pula ki Buyut dari sebelah justru yang
menguasai lingkungan tempat pertempuran itu terjadi. Jika ia ikut
campur dengan beberapa orang yang ada, maka orang-orang
Kabuyutanya pun akan ikut campur pula. Dengan demikian maka anak Ki
Buyut itu menjadi semakin gelisah. Apalagi ia sadar, bahwa ia tidak
dapat berbuat apa-apa sama sekali. Tetapi ternyata pertempuran itu
segera berakhir. Mahisa Semu memang menjadi berdebar-debar pula
melihat tangan yang merah membara. Tetapi ia tidak begitu yakin,
bahwa tangan yang membara itu akan mampu meny entuh tubuh
Mahisa Pukat. Mahisa Pukat sendiri memang tidak menjadi gelisah
melihat ilmu yang menggetarkan itu. Baginya, ilmu itu masih
belum berada di luar kemungkinan untuk melawannya. Namun Mahisa
Pukat masih tidak ingin menghancurkan lawannya dengan ilmunya
yang mampu dilontarkannya dari jarak jauh. Ia pun tidak
mempergunakan ilmu yang dapat menghisap kekuatan ilmu lawannya
yang bertangan bara itu. Karena setiap sentuhan akan berarti
kulitnya yang tersentuh akan menjadi hangus. Karena itu, maka
untuk melawan ilmu lawannya yang kemudian bertangan bara itu
adalah pedangnya. Sesaat kemudian, Mahisa Pukat itu pun telah
menggenggam pedangnya yang berwarna kehijau-hijauan. “Pedangmu akan
luluh menjadi gelali,” geram saudagar kaya itu. Mahisa Pukat memang
menjadi ragu -ragu. Namun ia pun kemudian yakin akan kemampuan
pedangnya. Pedangnya bukan sekedar pedang yang dibuat oleh pande
besi di pinggirpinggir pasar yang barangkali memang akan dapat luluh
terkena bara yang panasny a melampaui bara tempurung kelapa itu.
Tetapi Mahisa Pukat bukan saja pernah menghadapi ilmu seperti itu.
Tetapi bahkan dari orang yang tangannyamembara itu terpancar
panasnya api bagaikan perapian. Namun saudagar kay a itu tidak
memiliki kelengkapan ilmu yang demikian. Ia hanya dapat menjadikan
tangannya merah membara. Dalam pertempuran selanjutnya, dengan
sengaja saudagar kaya itu telah menyentuh ranting-ranting pepohonan
perdu yang tumbuh di sekitar arena pertempuran. Asap pun mengepul
dan ranting-ranting itu menjadi hangusberpatahan. Tetapi Mahisa
Pukat bukan sebangsa ranting perdu. Karena itu maka tangan saudagar
kay a itu tidak dengan serta merta mampu menggapainya sebagaimana ia
menggapai rantingranting perdu itu. Bahkan sejenak kemudian,maka
pedang Mahisa Pukat pun telah berputaran. Semakin cepat semakin
cepat, sehingga menjadi segulung warna kehijauan yang bergerak di
sekitar Ki saudagar itu. Dengan demikian maka pertempuran itu pun
menjadi semakin sengit. Ki Saudagar dengan ilmunya berusaha untuk
benar-benar membunuh Mahisa Pukat. Namun Mahisa Pukat ternyata
memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi, sehingga saudagar kaya
yang tangannya membara itu tidak sempat menyentuhnya. Tetapi
saudagar kaya itu yakin, jika ia berhasil meny entuh pedang Mahisa
Pukat,maka pedang itu tentu akan luluh oleh panasnya bara api pada
tangannya itu. Mahisa Pukat yang y akin pula akan kelebihan
pedangnya, justru telah memberikan kesempatan kepada lawannya untuk
menyentuh pedangnya. Ketika Mahisa Pukat berusaha untuk menggapai
tubuh lawannya dengan ujung pedangnya,maka ia tidak segera menarik
pedangnya yang terjulur itu. Dengan serta merta saudagar kaya itu
telah menjepit daun pedang itu dengan kedua telapak tangannya
yang membara. Demikian kuatnya, sehingga Mahisa Pukat tidak
segera mampumenariknya. Tetapi Mahisa Pukat memang tidak
tergesa-gesa. Ia sama sekali tidak mencemaskan daun pedangnya.
Betapa pun panasnya tangan saudagar yang membara itu, namun
pedangnya sama sekali tidak terpengaruh karenanya. Bahkan sebenarnya
Mahisa Pukat mendapat kesempatan untukmempergunakan ilmunya
untukmenghisap kekuatan Ki Saudagar saat ia berusaha menjepit daun
pedangnya. Tetapi Mahisa Pukat tidak melakukannya. Jika saudagar itu
kehilangan kekuatan dan ilmunya, maka pertempuran pun akan berakhir.
Mahisa Pukat tidak akan mendapat kesempatan untuk berbuat apa pun
juga terhadap saudagar itu jika ia kemudian jatuh di tanah dengan
lemahnya. Karena itu, maka untuk beberapa saat Mahisa Pukat
membiarkan lawannya menjepit daun pedangnya. Namun kemudian ia pun
bertanya: “Apakah kau sudah yakin bahwa tanganmu
tidakmampumeluluhkan baja pedangku. “Persetan kau,” geram saudagar
itu. Demikian ia yakin bahwa pedang anak muda itu tidak luluh oleh
ilmunya,maka dengan serta merta ia pun telah melepaskannya dan
meloncat menyerang tubuh Mahisa Pukat dengan telapak tangannya.
Tetapi Mahisa Pukat pun telah bersiap. Karena itu, maka demikian
pedangnya terlepas, maka ia pun telah menggerakkan ujung pedangnya
itu. Terdengar keluhan tertahan. Saudara kaya itu pun telah
melenting surut beberapa langkah. Ternyata bahwa segores luka
telahmenganga di lengannya sebelah kiri. Saudagar kaya itu kemudian
telah mengumpat kasar. Darah telah mengalir dari lukanya. “Kau akan
meny esal atas kesombonganmu,” katanya kemudian. Tetapi Mahisa Pukat
justru tersenyum sambil berkata: “Nah. Kau telah terluka. Pikirkan
baik-baik apakah kau akan menyerah atau tidak.” Saudagar kaya itu
tidak menjawab. Dengan serta merta ia telah menyerang Mahisa Pukat
pula.Namun seperti seranganserangan sebelumnya, tangannya yang
membara itu sama sekali tidak dapatmeny entuh kulit anakmuda itu.
Sementara itu pedang Mahisa Pukat pun telah berputaran pula semakin
cepat. Betapa pun saudagar kaya itu mempercepat irama
serangan-serangannya, namun ia tidakmampu bergerak lebih cepat
melampaui ujung pedang Mahisa Pukat. Setiap kali, seakan-akan ujung
pedang itu telah menahan tata geraknya. Disaat-saat ia meloncat meny
erang, maka ujung pedang itu selalu menghadang. Bahkan kemudian
mematuk kearah dada saudagar kaya itu, ataumenebas ke arah lehernya.
Beberapa kali saudagar itulah yang hampir saja ter sentuh oleh ujung
senjata lawannya. Tetapi tangannya yang bagaikan membara itu
sama sekali tidak mampu menggapai kulit anak muda itu. Apalagi
setelah ia yakin, bahwa panas ilmunya tidak mampumeluluhkan daun
pedang Mahisa Pukat. Sebenarnyalah saudagar kaya itu semakin lama
semakin terdesak. Mahisa Pukat yang memang menjadi marah atas
tingkah laku saudagar kaya itu sengaja mendesaknya terus. Meskipun
beberapa kali saudagar kay a itu meloncat menghindar, namun ujung
pedang Mahisa Pukat seakan-akan selalu memburunya. Seperti seekor
lalat yang berterbangan. Sekali-sekali hingga ke kulit
saudagar kay a itu. Ki Saudagar berteriak semakin marah, ketika
sekali lagi kulitnya tergores ujung pedang. Tepat pada pundak
kirinya. Sehingga luka itu terasa betapa pedihnya. Sambil memburu
terus Mahisa Pukat masih juga menawarkan agar Saudagar itu meny
erah. Tetapi tawaran itu sama sekali tidak dihiraukannya. Ia tentu
akan merasa sangat terhina, jika saudagar kaya itu, meski pun telah
menghentakkan ilmunya yang dapat membuat tangannya membara, namun
sama sekali tidak berdaya menghadapi seorang anak muda dengan
senjata pedangnya. tetapi satu keny ataan bahwa ia memang tidak
mampu menembus pertahanan Mahisa Pukat dengan putaran pedangnya yang
berwarna kehijau-hijauan itu. Ki Demang dari seberang jalan
yang mengikuti pertempuran menarik nafas dalam-dalam. Katanya:
“Anak muda itu ternyata adalah seorang yang berilmu sangat
tinggi:” Anaknya yangmendengar kata-kata itu berdesis: “Aku tidak
mengira bahwa pada suatu saat aku dapatmelihat orang-orang berilmu
tinggi bertempur denganmengerahkan ilmu mereka.” “Ki Saudagar itu
juga berilmu tinggi. Tetapi anakmuda itu jauh melampauinya.
Nampaknya ia sama sekali tidak mengalami kesulitan, sementara Ki
Saudagar telah mengerahkan ilmunya yang dibanggakannya. Selain bagi
anak muda itu, maka ilmu saudagar itu benar-benar ilmu yang sangat
berbahaya. Jika saudagar kaya itu benar-benar marah, maka bia sanya
telapak tangan dengan ilmu yang demikian itu akan membekas di-dada.
Seakan-akan didada lawannya itu telah dibuat lukisan telapak
tanganyang membara itu, karena kulitnya yang terbakar. Tetapi yang
kini terjadi, adalah kulit saudagar itulah yang dilukisi dengan
goresan-goresan saling menyilang dengan ujung pedang.” Sebenarnyalah
Ki Saudagar itu berteriak marah sekali ketika pedang Mahisa Pukat
menggores dadanya dan meninggalkan goresan meny ilang. Tidak cukup
dalam untuk menghentikan perlawanan Ki Saudagar. Tetapi goresan itu
membuat jantung Ki Saudagar menjadi bagaikan pecah oleh
kemarahanyang menghentak. Tetapi saudagar kaya itu tidak dapat lari
dari kenyataan. Ia tidak dapatmenyalurkan kemarahannya itu lewat
ilmunya. Ia benar-benar tidak mampu meny entuh kulit lawannya yang
masih muda itu. Setiap kali ujung pedang lawannya itu telah
menghadang. Bahkan ketika ia terlanjur meloncatmenerkam ke arah
wajah lawannya, pedang itu hampir saja terhunjam di dadanya. Namun
ia masih sempat menggeliat menghindari ujung pedang yang
tiba-tibamenunggu loncatannya itu. Namun beberapa saat kemudian,
maka sekali lagi ujung pedang lawannya yang muda itu melukainya.
Daging pahanya telah menganga oleh ujung pedang Mahisa Pukat yang
tajamnya melampaui ujung duri landakyang buas. Ki Saudagar itu
meloncat surut. Darah telah melumuri seluruh tubuhnya bercampur
dengan keringat yang bagaikan terperas dari tubuhnya. Tetapi
ia tidak mampu mengalahkan lawannya. Bahkan ia benar-benar tidak
dapat lari dari kenyataan, bahwa tubuhnya telah terluka di beberapa
tempat. Darahnya telah banyak mengalir dan sama sekali tidak ada
harapan untuk dapat memenangkan pertempuran itu. Sementara itu, anak
Ki Saudagar itu beberapa kali telah mengumpat kasar. Tetapi ia pun
harus melihat keny ataan itu pula. Ayahnya yang dibanggakannya itu
ternyata tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi seorang anakmuda
yang begitu sa ja hadir dalam perkelahian itu. Anak muda
yang kebetulan berada di kedai tempat anak Ki Buyut itu juga
singgah untuk menunggunya. Tetapi anak saudagar itu pun tidak dapat
berbuat apa -apa pula. Ia hanya dapat menyaksikan, bagaimana ayahnya
mengalami kesulitan menghadapi anak muda itu. Bahkan kemudian dengan
jantung yang berdebaran ia harus menyaksikan betapa keringat ayahnya
telah bercampur dengan darah. Namun akhirnya, tenaga Ki Saudagar itu
pun menjadi semakin su sut. Bukan karena kekuatan ilmu Mahisa Pukat
yang mampu menghisap kekuatan dan ilmu lawannya, tetapi karena darah
yang semakin banyak mengalir dari lukalukanya. Telapak tangan
saudagar kaya itu masih merah membara. Tetapi semakin lama maka bara
itu pun menjadi semakin pudar. Namun Mahisa Pukat bukan seorang
pembunuhyang tidak berjantung. Ketika ia melihat lawannya
menjadi lemah, ia pun tidak lagi memutar pedangnya. Bahkan kemudian
pedangnya itu pun telahmenunduk pula. Saudagar kaya itu masih
berdiri tegak. Tetapi kemudian diamatinya telapak tangannya
yang memudar, karena tidak ada lagi tenaganya dan tenaga
dalamnya yang mampu mendukung kekuatan ilmunya itu. “Kau t
idakmempunyai kesempatan lagi Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat. Wajah
saudagar kaya itu menjadi pucat. Apalagi ketika ia sempat memandang
telapak tangannya yang tidak lagi semerah bara. Meski pun masih
nampak sisa -sisa kekuatan ilmunya, tetapi tangannya itu tidak lagi
mampu membakar kulit lawannya. Seandainya telapak tangan itu meny
entuh kulit Mahisa Pukat, maka yang terasa tidak lebih panas
dari panasnya sinar matahari saat itu. “Kau tidak dapat
mempergunakan uang dan kekayaanmu untuk menolongmu Ki Sanak,”
berkata Mahisa Pukat kemudian. Jawaban Ki Saudagar itu tidak terduga
oleh Mahisa Pukat dan bahkan oleh orang-orang yang ada di sekitar
arena. Katanya: “Ya. Ki Sanak. Kau benar. Uang dan kekayaänku dalam
keadaan seperti ini tidak dapat menolongku. Tidak dapat meny
elamatkan aku seandainya kau akan membunuhku. Karena itu,maka aku
akan merelakan umurmu kepadamu.” Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Katanya: “Ki Buyut kedua-duanya. Kalian dengar apa yang
dikatakan oleh Ki Saudagar. Ia sudahmenyerah.” Diluar sadar kedua
orang Buyut itu punmengangguk. “ Ia punmengakui bahwa uang dan
kekayaannya tidak akan dapat menolongnya,” berkata Mahisa Pukat
kemudian. Kedua orang Buyut itumengangguk lagi. “Nah, jika demikian,
maka orang yang dapat menyelamatkannya sekarang dari maut
tentu lebih berharga dari uang yang dimilikinya,” berkata
Mahisa Pukat. Kedua orang Buyut itu termangu-mangu. Sementara Mahisa
Pukat bertanya kepada Ki Saudagar: “Bukankah begitu Ki Saudagar?”
Saudagar kaya itu tidak dapat berbuat lain kecuali
menganggukmengiakan. “Baiklah,” berkata Mahisa Pukat: “aku tidak
akan membunuhmu. Tetapi ingat kata-katamu, bahwa kau masih
menghargai nyawamu lebih tinggi dari uang dan harta bendamu. Karena
itu, jika kemudian nyawamu masih tinggal di dalam tubuhmu, kau tidak
boleh lagi menyandarkan hidupmu pada harta Benda dan kekay aanmu,
seakan-akan dengan kekay aanmu kau dapat berbuat apa saja. Gegedug
yang kau upah itu pun tidak dapat meny elesaikan per soalan. Kau
sendiri yang berilmu tinggi, juga tidak dapat berbuat apaapa,
padahal harta dan kekayaanmu tidak dapat dihitung lagi.” Saudagar
itu mengangguk lagi sambil berkata: “Aku mengerti.” “Karena itu
pergunakanlah harta dan kekay aanmu sebaikbaiknya. Ingat, jika kau
sekarang mati, kau tidak akan dapat membawanya,” berkata Mahisa
Pukat pula. “Ya,” desis saudagar kaya itu. “Baiklah,” berkata Mahisa
Pukat. “Ki Buyut dari kedua daerahyang bertetangga inimenjadi
saksi bahwa Ki Saudagar telah merubah sikapnya. Ia tidak lagi
bertumpu kepada kekuatanyang disangkanya tidak dapat dilawan
dari harta dan kekay aannya.” Kedua orang Buyut itu
mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat pun berkata selanjutnya
kepada Ki Saudagar: “Karena itu, kau harus mempergunakan harta
kekayaanmu untuk tujuan yang baik, yang bermanfaat bagi
orang-orang yang didalam hidupnya seakan-akan tidak pernah menikmati
kesenangan sama sekali. Bukan sebaliknya kau pergunakan harta dan
kekayaanmu untuk menyakiti hati sesamamu yang tidakmempunyai harta
dan kekayaan seperti yang kaumiliki.” Ki Saudagar yang
masih dilumuri keringat bercampur darah itu mengangguk. “Nah,”
berkata Mahisa Pukat kepada anak Ki Saudagar itu, “rawat ay ahmu
baik-baik. Ia masih diperlukan oleh keluargamu. Ia masih harus
bekerja untukmenghidupimu.” Anak saudagar kaya itu termangu-mangu.
Ra sa-rasanya harga dirinya benar-benar telah jatuh dan terinjak
sama sekali. Namun ay ahnya itu berkata: “Kau dengar kata-katanya?”
Anaknya itumengangguk. “Bawa aku pulang.Undang anakmuda itu datang
ke rumah kami. Aku ingin menghormati orang yang telah mengalahkan
aku dalam usianya yang masih sangat muda itu,” berkata saudagar kay
a yang menjadi sangat lemah itu. Lukanya yang paling dalam
justru luka di pahanya. Karena luka di dada, di pundak, lengan dan
goresan-goresan lain seakan-akan hanya melukai kulitnya saja meski
pun darahmasih jugamenitik dari luka itu. Anaknya masih saja ragu
-ragu. Namun akhirnya ia pun berkata: “Ki Sanak. Ayahminta kau ber
sedia singgah di rumah kami.” Tetapi Mahisa Pukatmenggeleng sambil
menjawab: “Maaf Ki Sanak. Aku dalam perjalananyang tergesa
-gesa. Karena itu, aku tidak dapat singgah meski pun hanya sebentar.
Aku mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang Ki Sanak
berikan kepadaku.” “Jangan menolak anak muda,” suara Ki Saudagar itu
hampir tidak dapat didengarnya. Namun Mahisa Pukat menjawab: “Kau
memerlukan perawatan segera. Pada kesempatan lain aku akan singgah
ke rumahmu.” Saudagar itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi wajahnya
yang pucat dan lesu itumembayangkan kekecewaan hatinya. Sementara
itu Mahisa Pukat pun berkata: “Bawa ay ahmu pulang segera.
Janganmenunggu sampai terlambat.” Anaknya pun kemudian memapah
saudagar kaya itu. Dua orang dengan sertamerta telah membantunya. Ki
Buyutyang merasa berhutang budi kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
itu pun telah minta kedua anak muda itu singgah. Tetapi ternyata
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu pun dengan terpaksamenolak
permintaan itu. “Kami mohon maaf,” berkata Mahisa Pukat berulang
kali, “yang kami harapkan, bahwa untuk selanjutnya tidak terjadi
sesuatu di Kabuyutan ini. Kedua-duanya. Karena ketenangan dan
kedamaian akan dapat menjadi pangkal peningkatan tataran hidup para
penghuni kedua Kabuyutan” Kedua orang Buyut itu hanya termangu-mangu
saja. Mereka tidak lagi dapat menahan ketika Mahisa Pukat dan Mahisa
Semuminta diri untukmelanjutkan perjalanan. Keduanya kemudian masih
singgah untuk mengambil kuda-kuda mereka. Namun keduanya terkejut
ketika pemilik kedai itu meny ongsong mereka dengan membawa
sebungkus makanan. “Jangan menolak,” berkata pemilik kedai itu,
“sama sekali tidak ada niat untukmengecilkan arti kalian. Tetapi
yang aku lakukan benar-benar timbul karena niat baik. Aku
kagum akan kemampuan kalian berdua. Tetapi lebih kagum lagi,
bagaimana kalian mengakhiri pertentangan yang timbul antara kedua
Kabuyutan itu.” “Sebenarnya Ki Sanak tidak perlu berbuat demikian,”
desis Mahisa Pukat. “Aku mohon maaf. Dan aku mohon, jangan menolak,”
berkata pemilik kedai itu. Mahisa Pukat melihat kejujuran yang
terpancar di mata pemilik kedai itu. Karena itu,maka ia pun kemudian
berkata: “Baiklah Ki Sanak. Aku berterima ka sih atas bekal
yang Ki Sanak berikan kepada kami.” Demikianlah, sejenak
kemudian Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah melanjutkan
perjalanannya. Orangorang yang masih berkumpul itu pun melambaikan
tangan mereka. Demikian pula kedua orang anak muda itu. Sikap Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu telah menimbulkan kekaguman kepada orang-orang
yang menyaksikannya, apa yang telah dilakukannya. Bahkan saudagar
kaya itu pun merasa bahwa sulit baginya untuk menemukan orang-orang
seperti itu lagi. Berilmu tinggi tetapi juga berbudi luhur.
Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berderap semakin
lama semakin jauh. Sehingga akhirnya hilang dari pandangan mata
orang -orang yang telah menyimpan kesan tersendiri kepada mereka.
Mahisa Semu masih juga berpaling. Tetapi ia pun sudah tidakmelihat
lagi tangan-tangan yangmelambai tinggi-tinggi. “Apakah mereka tidak
akan ber selisih lagi?,” bertanya Mahisa Semu. “Setidak-tidaknya
untuk beberapa saat,” jawab Mahisa Pukat: “tetapi aku berharap bahwa
untuk selanjutnya ber selisihan itu tidak akan terjadi lagi. “Aku
memang melihat kesungguhan pada kata-kata saudagar kaya itu,”
berkata Mahisa Semu. “Jika tidak ada iblismelekat lagi di tubuhnya,
ia tentu akan selalu ingat, bahwa ny awanya telah diperpanjang. Ia
sendiri merasa bahwa ia akan mati dalam pertempuran itu. Tetapi
ternyata ia masih tetap hidup. Keadaan itu tentu sempat mempengaruhi
jiwanya sehingga terjadi perubahan sikap yang mendasar,” sahut
Mahisa Pukat. Mahisa Semu mengangguk-angguk kecil. Katanya:
“Bagaimana dengan anaknya?” “Ayahnya akan memberikan petunjuk
kepadanya,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi agaknya sikap anaknya memang
lebih keras dari sikap ayahnyameski pun kesalahan utama tetap ada
pada ay ahnya yangmemanjakannya.” Mahisa Semu mengangguk-angguk. Ia
dapat mengerti keterangan Mahisa Pukat. Ia pun berharap bahwa anak
saudagar kay a itu dapatmenyadari apa yang sebenarnya telah
terjadi. Namun dalam pada itu, Mahisa Semu tiba-tiba berkata: “Kita
mempunyai bekal cukup banyak.” “Pemilik kedai itu ternyata orang
baik,” desis Mahisa Pukat. Mahisa Semu mengangguk-angguk. Sementara
kuda-kuda itu pun berlari mengikuti jalan yang cukup besar
meski pun tidak terlalu ramai. Ketika mereka sudah menempuh jarak
yang agak panjang, makamereka pun segera berhenti untukmemberi
kesempatan kudamereka beristirahat. Sementara itu langitmenjadi
suram. Agaknya mereka tertahan cukup lama untuk mengatasi
perkelahian yang hampir saja membakar dua Kabuyutan yang
bertetangga. “Kita tidak dapat sampai ke Kotaraja,” berkata Mahisa
Pukat. “Kita bermalam di perjalanan?,” bertanya Mahisa Semu. “Ya.
Meski pun jaraknya sudah tidak begitu jauh lagi, biarlah kita
berhenti,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Keduanya pun kemudian
telah berhenti di sebuah banjar padukuhan di padukuhan berikutnya.
Kepada penunggu banjar Mahisa Pukat menyatakan permintaannya apakah
keduanya dapat berhenti dan bermalam di banjar itu. Penunggu banjar
itu ragu -ragu.Namun kemudian orang itu pun berkata: “Baiklah.
Tetapi tempatnya tidak begitu baik.” “Ah,” desis Mahisa Pukat:
“tempat itu sudah jauh dari pantasbagi kami berdua.” Keduanya
kemudian telah mengikat kuda mereka di sebelah banjar padukuhan itu.
Oleh penunggu banjar itu, keduanya mendapat tempat di serambi
sebelah kanan. Tempatnya memang terbuka sehingga angin malam yang
dingin akan berhembusmengipasi tubuh mereka. Namun keduanya memiliki
pengalaman mengembara. Mereka terbiasa tidur di mana pun juga.
Bahkan di tempattempat terbuka. Dengan demikian maka serambi itu
memang cukup pantas bagi keduanya. Apalagi ketika kemudian, setelah
malam meny elimuti padukuhan itu, hujan punmulai turun. Semakin lama
semakin lebat, sehingga keduanyamerasa sangat berterima kasih dapat
berlindung di bawah atap serambi banjar itu. Bahkan atas ijin
penunggu banjar itu,mereka telahmenempatkan kuda mereka dibawah
teritis sehingga sedikit terlindung dari air hujan yang deras., Di
dinginnya malamyang ba sah, penunggu banjar itu telah membawa
ketela rebus kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan ia pun
sempat untuk ikut duduk di serambi itu beberapa lama. Penunggu
banjar itu heran ketika Mahisa Pukat dan Mahisa Semumembuka bekal
yangmereka dapat dari pemilik kedai di tempatyang hampir saja
terbakar oleh permusuhan itu. “Pemilik kedai yang baik,” desis
penunggu banjar ketika ia diberi tahu darimana asal bekalmereka itu.
“Silahkan Ki Sanak,” Mahisa Pukatmempersilahkan. Disamping ketela
rebus yang dibawa oleh penunggu banjar itu, mereka juga menghadapi
sebungkus makanan yang bermacam-macam jenisnya. Menjelang tengah
malam, maka penunggu banjar itu berkata: “Sudahlah Ki Sanak. Kalian
harus beristirahat. Beristirahatlah. Aku juga sudah mulaimengantuk.”
Namun sebelum penunggu banjar itu beranjak dari tempatnya, mereka
mendengar jerit tertahan seorang perempuan. “Apa itu?,” justru
penunggu banjar itu bertanya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
termangu-mangu. Ternyata suara itu terdengar lagi di sela-sela deru
air hujan yang lebat diatasbanjar itu. Ternyata beberapa saat
kemudian, beberapa orang laki-laki telah memasuki halaman banjar itu
dan langsung naik ke pendapa. Mereka telah membawa seorang perempuan
yang nampaknya berusaha untukmelawan. Ketika beberapa orang
laki-laki itu melihat tiga orang di serambi, maka tiba -tiba saja
seorang diantara mereka membentak: “Janganmencampuri persoalan
kami.” Ketiga orang itu memang hanya berdiam diri saja. Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu tidak tahu, apakahyang harusmereka lakukan.
Sementara penunggu banjar itumenjadi bingung. Dalam pada itu,
seorang laki-laki yang lain berkata kepada perempuan itu: “Aku
tidak mau kau tipu lagi. Tunjukkan sekarang, dimana kau simpan
barang-barang itu. “Kau jangan membuat aku semakin marah. Kita
sekarang berada di banjar yang agak jauh dari rumah
orang-orang padukuhan. Orang -orang di serambi itu pun tidak akan
berbuat apa-apa untuk mencegah aku jika aku sudah kehilangan
kesabaran,” bentak laki-laki itu. “Aku tidak bersalah,” perempuan
itu berteriak. Tetapi suaranya hilang ditelan oleh deru
hujanyang lebat. “Kau jangan ingkar. Selama ini aku berikan
apa saja yang kau minta. Ternyata semua yang aku berikan
kepadamu itu kau berikan pula kepada seorang laki-laki. Nah, di mana
rumah orang itu? semua barang-barangku tentu tersimpan disana. Aku
tahu, laki-laki itu t inggal di padukuhan ini. Tetapi yangmana?
“Bohong, semua itu bohong,” teriak perempuan itu pula. “Jika
demikian, di mana perhiasan itu?” Perempuan itu masih saja
berteriak. Perhiasan itu adalah perhiasanku sendiri. Barang -barang
itu barang-barangku sendiri.” “Akumembeli semuanya itu,” jawab
laki-laki itu. “Tetapi barang itu sudah kau berikan kepadaku.
Barangbarang itu telah menjadi milikku. Terserah kepadaku, apakah
barang-barang itu aku jual, atau aku buang ke sungai atau untuk
apapun,” suara perempuan itu meninggi. “Kau tidakmenghargai
pemberianku,” geram laki-laki itu. “ Itu terserah kepadaku,” jawab
perempuan itu. “Kau memang iblis betina. Baik, baik. Jika demikian,
kau tidak boleh pulang ke rumah itu lagi. Rumah itu adalah rumahku.
Sebenarnya aku ingin memberikan rumah itu kepadamu. Tetapi aku
urungkan niatku,” berkata laki-laki yangmarah itu. “Rumah itu sudah
rumahku,” teriak perempuan itu. “ Ingat. Jika kau berani
menginjakkan kakimu di halaman rumah itu, apalagi ber sama-sama
dengan laki-laki itu, maka kau akan aku bunuh bersama-sama dengan
laki-laki itu. Sekarang tunjukkan di mana rumahnya. Aku akan
menyerahkan kau kepadanya,” teriak laki-laki itu. “Tidak. Kau akan
menipuku. Kau akan berbuat jahat kepadanya,” sahut perempuan itu
tidak kalah kerasnya. Lalu katanya: “ Jika kau ingin membunuh, bunuh
aku.” “Aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah iblis betina
seperti kau ini,” jawab laki-laki itu. Lalu katanya kepada
kawan-kawannya: “Kita tinggalkan perempuan itu disini. Ia sudah
berada di banjar padukuhan laki-laki yang diberinya apa yang aku
berikan kepadanya. Aku tidak peduli lagi apa yang akan
dilakukannya.” Demikianlah, maka beberapa orang laki-laki itu telah
meninggalkan banjar itu menyusup dalam hujan yang lebat. Mahisa
Pukat, Mahisa Semu dan penunggu banjar itu benarbenar tidak
mencampuri persoalan mereka. Namun ketika beberapa orang laki-laki
itu telah pergi, sedangkan perempuan itu menangis di pendapa banjar,
maka penunggu banjar itu pun telahmelangkah naik ke pendapa
mendekatinya. “Apa yang sebenarnya telah terjadi?,” bertanya
penunggu banjar itu. “Aku diusirnya dari rumah,” jawab perempuan
itu, “ia menuduhyang bukan-bukan.” “Tetapi apakah benar, bahwa
barang-barang yang dibelinya untukmu kau berikan kepada orang
lain?,” bertanya penunggu banjar itu. “Barang -barang itu sudah
hakku. Terserah kepadaku,” jawab perempuan itu disela -sela isaknya.
“Jangan begitu. Kau menyakiti hatinya. Jika ia memberimu apa saja,
itu tentu ada pamrihnya,” berkata penunggu banjar itu. “ Ia telah
mendapatkan apa yang ia inginkan dariku. Aku telah memberikan
apa yang ia kehendaki,” jawab perempuan itu. “Tetapi tentu
tidak sedangkal itu. Ia tentu memerlukan kesetiaanmu. Apakah ia
beristri yang lain?,” bertanya penunggu banjar itu. “Tidak,” jawab
perempuan itu. “Jika demikian, maka kau adalah satu-satunya
isterinya yang diharapkan setia kepadanya,” berkata penunggu banjar
itu. “Aku belum isterinya,” jawab perempuan itu. “Meski pun belum,
tetapi ia tentu akan memperlakukan kau sebagai isterinya karena ia
memang belum beristri,” berkata penunggu banjar itu. “ Ia tahu bahwa
aku tidak ingin menjadi isterinya. Aku menolak ketika ia mengajak
aku meresmikan perkawinan,” berkata perempuan itu. “Jika demikian,
maka kau memang seorang perempuan yang tidak tahu diri,” geram
penunggu banjar itu: “Nah, jika demikian, pergilah kepada laki-laki
yang kau beri apa yang kau terima dari seorang yang
telah kau peras itu.” Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Katanya
kemudian: “Aku tidak berani. Malam terlalu gelap dan hujan sangat
lebat.” “Sebaiknya kau tidak bermalam di banjar ini,” berkata
penunggu banjar yang menjadi tidak senang kepada perempuan itu. “Aku
takut pergi,” berkata perempuan itu. “Jika demikian, biarlah aku
panggil saja laki-laki itu. Aku tentu mengenalnya jika ia penghuni
padukuhan ini,” berkata penunggu banjar itu pula. “Kau tidak perlu
memanggilnya. Antar saja aku ke rumahnya,” berkata perempuan itu,
“bukankah dengan demikian, kau tidak perlumembawa orang itu kemari.”
“Aku tidak mau mengantarmu. Aku tidak mau berjalan di malam hari
begini dalam keadaan hujan bersamamu,” jawab penunggu banjar itu.
Lalu katanya pula: “Sebut nama laki-laki itu.” Perempuan itu
ragu-ragu. Namun kemudian ia meny ebut nama: “Panangkil. Namanya
Panangkil. “Panangkil?,” penunggu banjar itu terkejut. Tetapi ia
tidak berkata apa-apa lagi. “Ya, kenapa?,” bertanya perempuan itu.
Penunggu banjar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Tidak
apa-apa. Tetapi rumahnya agak jauh.” “Karena itu, bawa aku ke
sana,”minta perempuan itu. “Tidak. Aku tidak mau,” jawab penunggu
banjar itu sekali lagi. Perempuan itu memang menjadi heran, kenapa
penunggu banjar itu lebih senang memanggilnya daripada membawanya
kepada laki-laki itu. Tetapi bagaimana pun juga ia memaksa, tetapi
penunggu banjar itu tetap tidak mau membawanya. Ketika penunggu
banjar itu pergimemanggil laki-laki yang bernama Panangkil
itu, maka ia berpesan kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu: “Jangan
tidur dahulu. Tolong awasi perempuan itu. Aku akanmemanggil orang
yang disebutnya.” Mahisa. Pukat danMahisa Semumengangguk. “Aku akan
menunggumu kembali,” desis Mahisa Pukat. Demikianlah, maka penunggu
banjar itu pun telah mengenakan caping belarak yang lebar dan turun
ke halaman. Malam memang gelap sekali, sehingga sejenak kemudian,
penunggu banjar itu sudah tidak nampak lagi sebelum orang itu keluar
dari regol halaman. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak beranjak dari
tempatnya. Lampu banjar yang berkeredipan memangmampu
menggapai sampai ke serambi. Tetapi perempuan itu tidak dapat
melihat dengan jelas, kedua orang yang berada di serambi itu.
Di pendapa perempuan itu duduk kedinginan. Pakaiannya memang basah
oleh hujan. Tetapi ia tidak beringsut dari tempat duduknya. Dengan
demikian makamereka saling berdiam diri. Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu tidakmenyapanya dan perempuan itu pun tidak berbicara apapun.
Namun justru dengan demikian maka uasana terasa menjadi tegang.
Ternyata mereka memerlukan waktu yang agak lama untuk
menunggu. Baru beberapa saat kemudian, penunggu banjar itu kembali
bersama seorang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap dan kekar.
“Kakang,” perempuan itu bangkit dan dengan tergesa -gesa meny
ongsong itu. Namun nampaknya sikap laki-laki itu dingin sekali,
seperti dinginnyamalam itu yang dibasahi oleh hujanyang lebat.
“Aku telah diusir dari rumahku kakang,” berkata perempuan itu.
“Kenapa?,” bertanya laki-laki itu singkat. “Hubungan diantara kita
sudah diketahuinya. Bahkan ia tahu bahwa barang -barang dan
perhiasan yang diberikan kepadaku telah aku berikan kepadamu,”
jawab perempuan itu. “Lalu, sekarang apa yang kau kehendaki?,”
bertanya lakilaki itu. Perempuan itu memang menjadi heran mendengar
pertanyaan laki-laki yang bertubuh tinggi, tegap dan kekar
itu. Karena itu, maka ia pun justru bertanya: “Kenapa kau bertanya
seperti itu? “Jadi, aku harus bertanya bagaimana?,” laki-laki itu
masih bertanya lagi. Perempuan itu menjadi semakin heran. Maka
katanya: “Aku tidak dapat pulang ke rumahku lagi. Karena itu, maka
aku akan ikut ke rumahmu.” “Ke rumahku?,” laki-laki itu
membelalakkan matanya: “itu tidakmungkin. Isteriku akanmarah.” “Kau
beristri?,” perempuan itu hampirmemekik. “Ya. Kenapa? Kau heran?”
laki-laki itu justru bertanya. “Kau tidak pernah mengatakannya
sebelumnya,” berkata perempuan itu. “Aku tidak menganggap perlu
untuk mengatakan hal itu kepadamu. Aku memang sudah beristri dan
beranak tiga orang. Nah, kau sekarang sudah tahu. Karena itu,
pulanglah. Jangan ganggu keluargaku,” berkata laki-laki itu.
Perempuan itu terkejut mendengar jawaban laki-laki itu. Dengan nada
keheranan ia bertanya: “Maksudmu kau tidak maumenerima aku?” “Sudah
tentu. Aku sudah beristri dan beranak. Aku mencintai isteri dan
anak-anakku. Kau harus mengerti itu,” jawab laki-laki itu. “Tetapi
selama ini kau telah menerima pemberianku. Barang-barang berharga
dan perhiasan. Semua yang aku terima telah aku berikan
kepadamu,” perempuan itu hampir berteriak. “Terima kasih atas
pemberianmu. Isteri dan anak-anakku pun berterima kasih kepadamu,”
berkata laki-laki itu. “Gila. Hanya begitukah tanggapanmu atas
kedatangankusetelah aku diusir dari rumah itu?,” perempuan itu
berteriak semakin keras. “Jadi apa lagi? Kau sudah tidak akan dapat
memberi apaapa lagi kepadaku. Kepada keluarganku,” berkata laki-laki
itu. “Tetapi, jika akumemberikan barang-barang itu kepadamu, tentu
kau tahu maksudku,” perempuan itu menjadi semakin keras berteriak.
Tetapi hujan masih saja tercurah dari langit, sehingga suara
perempuan itu bagaikan hilang ditelan gemuruhnya buny i hujan. “Ya
aku tahu. Dan aku telah memenuhinya. Bukankah itu namanya adil? Aku
memberimu apa yang kau perlukan dan kau memberiku apa yang aku
sekeluarga memerlukannya. Uang dan perhiasan itu. Isteriku berterima
kasih kepadamu,” jawab laki-laki itu. Penunggu banjar itu, bahkan
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, terkejut mendengar jawaban itu.
Seakan-akan sudah diatur sehingga perempuan itu seakan-akan
dihadapkan pada jawabannya sendiri. Ternyata laki-laki itu bersikap
sebagaimana ia bersikap kepada laki-laki yang telah meninggalkannya
di banjar itu. Untuk beberapa saat perempuan itu terbungkam. Namun
kemudian ia pun menangis sambil berteriak: “Kau laki-laki iblis.
Laki-laki tidak tahu diri.” “Terserahlah,” berkata laki-laki itu
masih dalam sikap yang dingin, “mungkin aku iblis atau tidak
tahu diri atau sebutan buruk yang lain, tetapi persoalan diantara
kita sudah selesai. Seperti orang yang berjual beli. Setelah
barang-barangnya diserahkan dan setelah dibayar oleh pihak lain,maka
jual beli itu sah dan selesai.” - Tidak. Kita tidak sedang berjual
beli,” tangis perempuan itu. “Sudahlah. Aku akan pulang. Anak dan
istriku kedinginan di rumah. Hujan justru menjadi semakin lebat,”
berkata lakilaki itu. “Aku tidak mau kau tinggalkan sendiri,” tangis
perempuan itu pula. “Aku tidakmengundangmu kemari,” jawab laki-laki
itu. Namun penunggu banjar itu ternyata tidak dapat berdiam diri
saja. Akhirnya ia pun menengahi: “ Jika kau tidak dapat membawa
perempuan itu pulang, bawalah kemana saja.” “Ke mana?” laki-laki itu
mengerutkan keningnya. “Jangan tinggalkan perempuan itu di banjar
ini,” berkata penunggu banjar itu kemudian. “Aku tidak mempunyai
urusan lagi dengan perempuan itu,” geram laki-laki yang
disebut Penangkil itu. “Apa pun persoalan kalian, tetapi bawa
perempuan itu ke mana saja. Bagaimana pun juga kau lebih
berkepentingan dengan perempuan itu daripada aku,” berkata penunggu
banjar itu. Penangkil itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia
berkata: “Baiklah. Aku akan membawanya kepada bibi di pinggir
padukuhan ini.” “Bibi siapa?” bertanya penunggu banjar itu. “Bibi
Rumi. Ia adalah adik ay ahku yang telah tidak ada,” jawab
Penangkil. “Terserah kepadamu,” berkata penunggu banjar itu. “Aku
minta diri,” desis Penangkil kemudian. Lalu katanya kepada perempuan
itu: “marilah, kita akan pergi ke rumah bibi. Kau akan berada di
sana sampai besok. Kemudian kita akan menentukan sikap.” Perempuan
itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian laki-laki itu telah
menarik tangannya turun ke halaman betapaun lebatnya hujan. Keduanya
ternyata telahmenuju ke arahyang lain dari arah rumah
laki-laki itu, karena keduanyamemang tidak akan pergi ke rumah
laki-laki yang telah menyatakan diriny a beranak dan beristri. Dalam
hujan yang lebat, laki-laki itu telah menarik tangan perempuan
itu sambil berkata: “Cepat. Hujan sangat lebat. Kita dapatmenjadi
sakit karenanya.” Perempuan itu tidakmenjawab. Tetapi ia berusaha
berjalan lebih cepat. Demikianlah, berlari-lari kecil perempuan itu
mengikuti laki-laki yang masih saja menarik tangannya. Tangannya
begitu kuat sehingga ia tidak dapat terlepas dari genggamannya.
“Kita pergi ke mana?” bertanya perempuan itu. “Bukankah sudah aku
katakan, kita pergi ke rumah bibi,” jawab laki-laki itu. Perempuan
itu pun terdiam. Langkahnya menjadi semakin cepat. Dalam hujan
perempuan itu terengah-engah. “Kita berhenti dahulu,”minta perempuan
itu. “Sudah tidak begitu jauh. Nanti kita beristirahat. Kau dapat
meminjam pakaian bibi dan menghangatkan badanmu di depan perapian
sambilmerebusair,” berkata laki-laki itu. Perempuan itu berusaha
untuk tetap berlari-lari kecil meski pun kakinya terasamulai letih.
Beberapa saat kemudian, perempuan itu terkejut. Ia justru berusaha
berhenti sejenak. Meski pun suara hujan masih berbaur dengan suara
angin, namun perempuan itu mendengar deru suara air yangmengalir
deras. “Suara apa itu?” bertanya perempuan itu. “Sungai. Disitu ada
sungai. Rumah bibi memang dekat dengan sebuah sungai. Mungkin sungai
itu menjadi banjir karena hujan yang lebat. Nampaknya di bukit hujan
sudah turun lebih lama sehingga sungai itumenjadi banjir.” Perempuan
itu mulai menjadi ragu-ragu. Namun laki-laki itu menariknya terus.
Semakin lama deru sungai yang memang banjir itu terdengar
semakin jela s. Gelap malam memang menjadi semakin pekat.
Perempuanyang tidak begitu mengenal daerah itu tidak tahu, bahwa di
depan mereka ternyata terdapat sebuah sungai. Tepian sungai itu
tidak landai seperti tempat peny eberanganyang sering dilihatnya.
Tetapi tebing sungai itu cukup curam. Ketika sekali kilat
rnenyambar, maka perempuad itu terkejut. Ia melihat tebing
yang curam menganga. Dibawah nampak sungai yang meski
pun tidak terlalu besar, tetapi airnya sedang banjir. Tentu tidak
seorang punyang akan dapat berenangmenentang arusbanjir itu.
Perempuan itu tiba-tiba telah berusaha untuk meronta. Demikian tiba
-tiba, sehingga tangannya memang terlepas. Dengan serta merta ia
mencoba untuk berlarimenembusgelap dan hujan. Tetapi laki-laki itu
berlari lebih cepat. Dengan segera perempuan itu pun telah
dikuasainya kembali. “Kau akan lari kemana?,” geram laki-laki itu.
“Aku takut,” suara perempuan itu gemetar. “Kau tidak usah takut.
Banjir itu akan menjadi kawanmu yang akrab,” berkata laki-laki itu.
“Maksudmu?” perempuan itumenjadi semakin ketakutan. “Jangan meny
esali perbuatanmu. Kau akan aku lemparkan ke dalam sungai itu,”
jawab laki-laki itu. “Tidak. Tidak. Jangan,” perempuan itu berteriak
sekuatkuatnya. Tetapi suaranya hilang ditelan deru hujan dan banjir.
Laki-laki itu tiba-tiba tertawa. Suara tertawanya seperti suara
tertawa iblis dari neraka. Katanya: “Kau sudah tidak mempunyai
tempat lagi. Laki-laki itu sudah meninggalkanmu. Dan aku tidak
memerlukanmu lagi. Riak banjir itulah yang kemudian akanmemelukmu.”
“Jangan. Jangan. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu,”
tangis perempuan itu. Tetapi laki-laki itu membentaknya kasar:
“Diam. Kau kira aku akan menjadi bela s kasihan melihat wajahmu itu,
he? Wajah iblis betina yang tidak tahu diri. Siapa yang mau
menjadi suamimu? Perempuan laknat yang hanya pantas menjadi
isi neraka. Kau akan merusak keluargaku he? Kau telah memeras
laki-laki itu dan sekarang kau akan menyakiti hati isteriku.”
Perempuan itu menjadi semakin ketakutan. Ra sa-rasanya tangan-tangan
iblis memang sudah mencekiknya ketika tangan-tangan laki-laki itu
memegang lehernya. “Kau boleh memilih. Mati aku cekik kemudian aku
lemparkan ke sungai, atau aku lemparkan kau hidup-hidup, kemudian
mati terbenam ke dalam banjir setelah kepalamu membentur-bentur
tebing.He, pilihyang mana,” suara laki itu benar-benar seperti suara
iblis. “Kasihani aku. Aku mohon ampun. Aku tidak akan mengganggumu.
Biar aku pergi ke mana saja.,” tangis perempuan itumemelas. “Tidak.
Selama kau masih hidup, maka kau tentu masih akan membayangi
keluargaku. Sekarang adalah kesempatan yang paling baik
untukmelemparkanmu ke sungai. Kemudian aku akan pergi ke rumah bibi
untuk minta agar ia membantuku.” Perempuan itu memang hampir pingsan
karenanya. Sementara Panangkil itu berkata selanjutnya: “Besok bibi
akan menjawab setiap pertanyaan, bahwa aku memang telah menitipkan
kau kepadanya. Tetapi kau minta ijin ke pakiwan dan tidak pernah
kembali lagi. Bibi akan mencarimu dan bertanya kepada semua orang
yang dijumpainya. Dengan demikian setiap orang akan mengatakan
bahwa kau telah membunuh diri. Jika kemudian mayatmu
diketemukan,maka semua orang akan memandang tubuhmu sambil berdesis
bahwa perempuan laknat itu telah membunuh diri. Kau telah menuai
benihyang kau tanam sendiri.” “Ampun, ampunkan aku. Aku belum ingin
mati,” tangis perempuan itu. “Cukup. Sekarang pilih. Aku cekik kau
sampai mati, atau aku lemparkan kau ke sungai itu,” geram laki-laki
itu. “Jangan, jangan,” perempuan itu meronta. Tetapi jari-jari
laki-laki itu memang telah mencengkam lehernya. Namun laki-laki itu
berkata: “Aku tidak mau meninggalkan beka s dilehermu. Aku ingin
melemparkan kau saja ke arus banjir.” Perempuan itu kemudian telah
diseretnya ke tebing yang curam. Namun langkah laki-laki itu
terhenti. Ketika sekali lagi kilat menyambar, maka dilihatnya
seorang laki-laki yang lain berdiri tegak dengan mengenakan caping
belarakyang lebar. “Setan, siapa kau?,” geram Panangkil. “
Ingat-ingat. Namaku Mahisa Pukat. Aku adalah orang yang tadi berada
di serambi banjar. Aku memang sedang berteduh. Karena itu aku
mengetahui apa yang kau lakukan. Aku memang sudah curiga
melihat sikapmu. Karena itu, aku telah mengikutimu sampai ke tebing
yang curam itu,” jawab Mahisa Pukat. “Apa yang akan kau lakukan?,”
bertanya Panangkil. “Mencegah pembunuhan ini. Jika kau tidak dapat
menerima perempuan itu,maka biarlah ia pergi ke mana saja ia maui.
Tetapi jangan kau bunuh dengan cara seperti itu,” jawab Mahisa
Pukat. “Buat apa perempuan iblis itu dihidupi? Ia tidak pantas hidup
diantara perempuan di padukuhan ini. Ia telah menghinamartabatnya
sendiri,” jawab laki-laki itu. “Dan kau? Kau telah melakukan hal
yang sama. Kau telah menghina martabat laki-laki. Jika
perempuan itu harus mati menurut pendapatmu, maka kau pun harus
mati, karena kau telah membuat kesalahan yang sama. Kau pun
laknat seperti perempuan itu,” Mahisa Pukat pun menggeram. “Kau
tidak usah ikut campur per soalanku,” teriak laki-laki itu. Tetapi
Mahisa Pukat menjawab dengan nada rendah, “Aku mendengar pembicaraan
kalian. Karena itu, aku merasa terpanggil untuk ikut campur, karena
kau berlaku tidak adil.” “Cukup,” teriak laki-laki itu, “jika kau
tidak mau pergi, maka kau pun akan aku lemparkan ke sungaiyang
banjir itu.” “Kau tidak akan dapat membunuh perempuan itu di hadapan
sedikitnya seorang saksi. Jika aku pergi dan kau tetap melemparkan
perempuan itu, maka aku akan dapat mengatakan kepada orang-orang
padukuhan ini, bahkan kepada Ki Bekel, bahwa kau telah membunuh
perempuan itu,” berkata Mahisa Pukat. Panangkil berpikir sejenak.
Namun kemudian katanya: “Jika demikian,maka kau pun harus dibunuh.”
“Jangan membuat persoalan dengan aku. Sebaiknya lepaskan saja
perempuan itu. Biarkan saja ia pergi kemana ia ingin pergi. Ia sudah
berjanji tidak akanmengganggumu lagi,” berkata Mahisa Pukat. “Tidak.
Aku akan membunuhnya dan membunuhmu pula,” geram laki-laki itu.
Mahisa Pukat justru melangkah maju sambil berkata: “Tidak. Kau tidak
akanmembunuh siapapun.” Adalah diluar dugaan ketika laki-laki itu
tiba -tiba saja telah menyerang Mahisa Pukat. Agar perempuan itu
tidakmelarikan diri,maka perempuan itu telah dipukulnya dengan keras
sekali sehingga perempuan itu menjadi pingsan. Mahisa Pukat memang
sudah bersiaga. Karena itu, maka serangan itu sama sekali tidak
mengejutkannya. Penglihatannya yang tajam melihat bagaimana
laki-laki itu berusaha untuk mendorongnya dengan serangan kaki ke
tebing sungai. Tetapi serangan itu sama sekali tidak meny entuh
sasaran. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat telahmenghindar. Sementara
itu, agar perempuan yang pingsan dalam hujan yang lewat
tidakmembahayakan jiwanya,maka Mahisa Semu telah dengan diam-diam
mengambil perempuan itu dan membawanya ke bawah pepohonan.
Dipangkasnya sebatang pohon pisang untuk melindungi wajah perempuan
itu dari guyuran air yang deras. Namun kemudian Mahisa Pukat
telah melemparkan caping belaraknya yang lebar kepada Mahisa Semu
sambil berkata: “Pakailah.” “Siapa orang itu ?” bertanya Panangkil.
“Aku tidak sendiri di serambi. Kau lihat itu. Biarlah ia menolong
perempuan yang kau pukul sampai pingsan itu,” jawab Mahisa Pukat.
Panangkil benar-benar menjadi marah. Dengan segenap kemampuannya ia
telah meny erang Mahisa Pukat. Namun Mahisa Pukat memang bukan
lawannya. Dalam waktu yang terhitung singkat, laki-laki itu telah
dikenai beberapa kali oleh serangan Mahisa Pukat sehingga beberapa
kali terdengar ia mengaduh. Tetapi laki-laki itu memang keras
kepala. Ia masih saja berusaha melawan Mahisa Pukat. Beberapa kali
ia berusaha menyerangmeski pun justru tubuhnya sendirilah yang
dikenai oleh serangan Mahisa Pukat. “Meny erahlah,” berkata Mahisa
Pukat, “kau akan kami bawa ke banjar ber sama perempuan itu. Per
soalanmu akan menjadi persoalanyang akan diselesaikan oleh Ki
Bekel.” Tidak. Aku tidak mau,” teriak laki-laki itu, “kau dan
perempuan itu harusmati.” Mahisa Pukat menjai tidak telaten. Maka ia
pun telah mendesak laki-laki itu dan dengan cepat berhasil menangkap
tangannya,memutarnya danmemilinnya dengan kuat. Laki-laki itu
berusaha meronta. Tetapi Mahisa Pukat mendorongnya ke tepi tebing
itu sambil berkata: “Lihat, arus banjir itu tidak saja mampu
menghanyutkan perempuan itu. Tetapi kau pun akan hanyut pula.
Kepalamu akanmembenturbentur tebing sebagaimana akan dapat terjadi
pada perempuan itu sebelum kau diseret ke laut.” Wajah Panangkil
menjadi tegang. Ket ika kilat memancar dengan terangnya,maka
Panangkil melihat jela s, banjir yang bergulung -gulung mengalir
deras. Tebing yang curam menganga seperti mulut raksasa yang
siap menelannya. Sedangkan suaranya yang menderu-deru seperti
deru nafas iblisdari dasar neraka.” Panangkil tiba-tiba menjadi
ketakutan. Ketika Mahisa Pukatmendor ongnya lebih dekat,maka
laki-laki itu berteriak: “Jangan-jangan.” “Kau kira aku menjadi
belas kasihan kepadamu,” geram Mahisa Pukat. Laki-laki itu
seakan-akan telah mendengar suaranya sendiri ketika ia hampir saja
melemparkan perempuan itu ke sungai yang sedang banjir itu.
Sementara itu Mahisa Pukat berkata selanjutnya: “Tidak ada
yang akan menangisimu jika mayatmu besok diketemukan,
laki-laki laknat. Kau telah merendahkan martabat seorang laki-laki
dengan memeras perempuan itu. Aku yang juga seorang laki-laki,
merasa telah kau khianati karena martabatku pun tentu akan ikut
goncang.” Mahisa Pukatmendorong laki-laki itu semakin dekat. Sekali
lagi kilat memancar. Dan laki-laki itu menjadi lemah tidak berday a.
Kekuatannya seakan-akan telah terhisap habis oleh perasaan takutyang
mencengkam. Namun Mahisa Pukat membentaknya: “Bangkit. Aku
mendorongmu, atau kau berbuat sebagai seorang laki-laki. Meloncat
sendiri kedalam sungai itu.” Tetapi laki-laki itu justru memohon
sambil menangis: “Ampun. Akumohon ampun.” “Mohon am pun kepada
siapa?,” bertanya Mahisa Pukat. “Kepadamu,” jawab orang itu. “Jika
akumengampunimu, kau mau apa?” bertanya Mahisa Pukat. “Aku akan
melakukan apa pun,” jawab laki-laki itu. Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Mahisa Semu, maka ia melihat
perempuan itu sudah sadar dari pingsannya. Karena itu, maka Mahisa
Pukat pun berkata: “Marilah. Kita pergi ke banjar. Bukan aku yang
akan meny elesaikan per soalan kalian, tetapi Ki Bekel.” “Kau akan
melaporkannya kepada Ki Bekel?,” laki-laki itu menjadi cemas. “Ya.,”
jawab Mahisa Pukat: “karena Ki Bekel adalah pemimpin dari padukulian
ini.” “Jangan,” minta laki-laki itu. “Kau dapat memilih. Persoalan
ini akan aku serahkan kepada Ki Bekel, atau kau terjun ke sungai
yang banjir itu,” geram Mahisa Pukat. Panangkil menjadi
kebingungan. Kedua-duanya tidak menarik baginya. Namun Mahisa Pukat
berkata: “Kau harus memilih salah satu dari kedua pilihan itu.”
Panangkil hanya dapat menundukkan kepalanya. Dengan nada berat ia
berkata: “Aku tidakmau terjun ke sungai itu.” Demikianlah,maka
Panangkil dan perempuan itu pun telah dibawa ke banjar. Penunggu
banjar itulah yang kemudian pergi rumah Ki Bekel untukmengadu.
Ternyata Ki Bekel adalah seorang yang benar-benar bertanggung jawab
atas tugasnya. Meski pun hujan lebat dan malam dinginnya menusuk
tulang, namun Ki Bekel telah pergi ke banjar bersama dua orang
peronda yang ada di gardu di depan rumahnya dari antara lima orang
peronda. Bahkan sempatmengajak Ki Jagabaya bersamanya. Ketika di
banjar ia menerima penjelasan tentang hubungan antara Panangkil dan
perempuan itu serta keputusan Panangkil untuk membunuh perempuan
itu, maka Ki Bekel pun berkata: “Jadi kau masih saja akan
mengacaukan padukuhan kita sendiri, Panangkil. Sudah beberapa kali
kau mendapat peringatan dari Ki Jagabaya. Bahkan pernah orangorang
padukuhan ini hampir saja beramai-ramai membunuhmu karena tingkah
lakumu itu. Sekarang kau telah melakukan satu kesalahan lagi yang
bahkan hampir saja menelan korban jiwa. Apakah sebaiknya kau aku
serahkan saja kepada orang-orang padukuhan. Mumpung sungai itu
sedang banjir? Mungkin kau akan diikat dan dimasukkan ke dalam
sungai itu. Orang-orang sepadukuhan akan melihat kau mencoba untuk
berenang. Jika kau hanyut, maka tali itu akan ditarik. Tetapi
kemudian akan diulur lagi jika sekali lagi mencoba berenang.”
“Jangan Ki Bekel. Akumohon maaf,”minta Panangkil. “Sudah berapa kali
kau minta maaf kepadaku, kepada Ki Jagabaya dan kepada seisi
padukuhan?,” bertanya Ki Bekel. Panangkil tidak menjawab. Tetapi
kepalanya menunduk dalam-dalam. “Aku akan bertanya saja kepada
rakyat padukuhan ini. Apakah mereka masih bersedia memberikan ampun
kepadamu atau tidak. Jika tidak, ter serah kepada mereka,” berkata
Ki Bekel. “Jangan Ki Bekel. Jangan dengan cara itu,” minta
Panangkil. Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya
kepada kedua orang per onda yang menyertainya: “Panggil
isteriny a. Biar ia tahu apa yang dilakukan oleh suaminya.” “Jangan
panggil isteriku, jangan,” minta Panangkil. Tetapi Ki Bekel tetap
pada pendiriannya. Dan kedua orang itu pun segerameninggalkan
banjar. Ketika perempuan itu dengan pakaian yang basah meski pun ia
memakai caping belarak yang besar, sampai ke banjar, maka ia
menjadi heran. Dilihatnya beberapa orang ada di banjar, termasuk
suaminya. Ki Bekellahyang kemudian mengatakan kepada perempuan itu
apa yang telah dilakukan suaminya terhadap perempuan yang telah
berada di banjar itu. Wajah perempuan itu menjadi merah. Tiba -tiba
saja ia telah merehut parang per onda yang memanggilnya. Hampir sa
ja kepala suaminya telah dipecahkannya dengan parang itu. Untunglah
beberapa orang sempatmelerainya. “Biar aku bunuh laki-laki keparat
itu,” perempuan itu berteriak sambil menangis. Namun ketika ia
melihat perempuan yang telah berada di banjar itu, ia pun telah
meronta sambil berteriak pula: “Kaulah sumber dari laknat ini. Kau
pun harusdibunuh.” Perempuan yang hampir saja dilemparkan ke sungai
yang banjir itu menjadi ketakutan. Tetapi ia pasrahkan dirinya
kepada orang-orang yang ada di banjar itu termasuk Ki Bekel.
Sebenarnyalah Ki Bekel telah merampas parang di tangan perempuan
itu. Dengan nada seorang pemimpin ia berkata: Kita ingin
menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Kita bukan keluarga orang
-orang liar yang tidak tahu caranya memecahkan persoalan dengan
nalar.” “la telah berkhianat terhadap keluarganya Ki Bekel,” tangis
isteri Panangkil. Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya: “Aku
mengerti. Tetapi bukankah kau dapat berbicara dengan suamimu?”
“Apakah kata-katanya masih dapat dipercaya?,” bertanya isterinya. Ki
Bekel menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri juga bertanya seperti
itu. Apakah kata-katanya masih dapat dipercaya? Tetapi sebagai
seorang Bekel ia masih juga mencoba untuk mencari jalan yang
terbaik yang dapat ditempuh. Karena itu, maka Ki Bekel itu pun
berkata: “Sekarang, ajak suamimu berbicara dihadapanku. Ia tahu
bahwa aku adalah Bekel dari padukuhan ini. Kata-kata yang diucapkan
dihadapanku, tentu akan mengikat. Bukan hanya aku saja saksiny a.
Tetapi beberapa orang, termasuk Ki Jagabaya.” Perempuan itu
termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya kepada suaminya:
“Sekarang apa niatmu? Mencerai aku atau apa?” “Tidak,” jawab
Panangkil, “aku tidak ingin menceraimu.” “Kau tidak usah berpura
-pura. Jika kau memang sudah jemu beristerikan aku, cerai saja aku.
Aku akan membawa semua anak-anakku. Aku masih akan dapat memberi
mereka makan serta mendidik mereka untukmenjadi orang baik-baik
kelak.” “Tidak. Jangan pergi. Apalagi membawa anak-anak. Aku tidak
dapat berpisah dengan anak-anak,” jawab Panangkil. “Tetapi apakah
kau mengeri, apa yang telah kau lakukan itu?,” bertanya isterinya.
“Aku minta maaf. Aku tidak mempunyai cara lain. Aku sudah tidak
berani mencuri karena ancaman Ki Bekel,” jawab Panangkil. “Kau kira
aku senang jika kaumencuri?,” geram isterinya. “Satu-satunya jalan
adalah memeras orang lain. Aku sama sekali tidak berniat apa pun
juga terhadap perempuan itu selain memeras. Aku ingin mencukupi
kebutuhan keluargaku sehingga dapat hidup pantas,” jawab Panangkil.
“Tidak. Itu sangat memalukan. Besok, apa yang masih ada harus kau
kembalikan kepada perempuan itu. Aku berjanji untuk mengganti semua
barang -barang dan perhiasan yang telah kau terima dan kau jual
untuk menghidupi kami sekeluarga. Aku kira selama ini kau
benar-benar berhasil berdagang wesi aji dan batu-batu bertuah,
sehingga hidup keluarga kita dapat menjadi semakin baik. Ternyata
apa yang kau lakukan adalah perbuatan laknat itu,” teriak perempuan
itu tanpa dapatmengendalikan perasaannya lagi.
“Akumintamaafkepadamu,” jawab Panangkil. “Sudah berapa kali kau
minta maaf kepadaku tetapi masih sa ja kau melakukan kesalahan.
Meski pun kesalahan itu tidak sama, tetapi jiwanya sama -sama satu
pengkhianatan,” geram isterinya. “Kali ini aku berbicara di hadapan
saksi-saksi. Ki Bekel, Ki Jagabaya, anak-anak muda itu dan
yang lain,” sahut Panangkil. Jika aku tidak menepatinya,maka
aku tentu akan menerima hukumanyang paling berat.” Isterinya
termangu -mangu sejenak. Sementara Ki Bekel berkata: “Baiklah,maaf
dan mengaku ber salah. Ia tidak akan melakukannya lagi dikemudian
hari.” Namun isteri Panangkil itu berkata: “Aku ingin mendengar
janjinya sekali lagi.” “Berjanjilah sekali lagi,” minta Ki Bekel.
“Ya. Akumemang berjanji,” jawab laki-laki itu. “Berjanji apa?,”
isterinyamenjerit tinggi. “Aku berjanji untuk tidak mengulangi semua
perbuatanku yang buruk. Tidak mencuri lagi dan tidak memeras,”
berkata Panangkil. “Hanya itu?,” bertanya isteriny a.
“Apalagiyang harus dikatakan?,” bertanya Ki Bekel. “la
berjanji untuk tidak memeras, tetapi ia justru mengawini perempuan
itu,” suaranya agakmenurun. Ki Bekel menarik nafas. Katanya:
“Ucapkan janjimu selengkap-lengkapnya.” Panangkil termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian ia berkata: “Aku tidak akan mencuri, tidak
akan memeras dan tidak akan berhubungan lagi dengan perempuan itu.”
“Nah, Ki Bekel dan Ki Jagabaya menjadi saksi,” desis perempuan itu.
“Nah, sebaiknya kau percaya. Aku akan turut mengawasi. Jika ia masih
bertabiat buruk,maka aku minta kau ikhlaskan suamimu untuk aku
serahkan kepada orang banyak. Hukumannya tidak akan dibatasi dengan
paugeran apa pun juga,” berkata Ki Bekel kemudian. Namun ternyata
perempuan itu ragu-ragu. Ia memang merasa ngeri mendengar ancaman Ki
Bekel itu. Bagaimana pun juga laki-laki jahat itu adalah suaminya.
Baiklah,” berkata Ki Bekel, “sekarang pulanglah dengan membawa
kesaksian kami. Mudah-mudahan keluargamu menjadi semakin
baik.”
Jilid 096 PEREMPUAN yang datang
ke banjar itu dengan diseret oleh beberapa laki-laki itu agaknya
mampu menempatkan dirinya. Ia merasa lebih baik diam saja selama
terjadi pembicaraan antara suami laki-laki itu akan dapat menjadi
mata gelap. Karena itu, maka yang dapat dilakukannya adalah
menunggu suami isteri itu meninggalkan banjar padukuhan.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Panangkil dan isterinya telah
meninggalkan banjar itu. Mereka berjalan begitu saja didalam hujan
yang lebat dengan taping blarak diatas kepala. Setelah keduanya
pergi, maka Ki Bekel mulai berbicara dengan perempuanyang
kedinginan itu. “Nah, sekarang kau bagaimana?” bertanya Ki Bekel.
Perempuan itu termenung sejenak. Namun kemudian ia justru
telahmenangis. “Kenapa kaumenangis lagi?” bertanya Ki Bekel.
Perempuan itu tidak segera menjawab, Namun kemudian sambil mengusap
air matanya ia berkata tidak tahu lagi, apa yang harus aku lakukan.”
“Kau tentu tahu, akibat yang kau sandang ini adalah hasil
perbuatanmu sendiri,” berkata Ki Bekel. Perempuan itu mengangguk.
“Nah, sekarang kau harusmencoba mencari peny elesaian,” berkata Ki
Bekel pula. Tetapi yang terdengar adalah isak tangisnya.
Katanya: “ Laki-laki itu tidak mau lagi menerima aku di rumahnya.
Panangkil ternyata telah menipuku. Aku sudah tidak mempunyai apa-apa
lagi.,” “Apakah kau masih mempunyai orang tua?” bertanya Ki Bekel.
Perempuan itu mengangguk. Tetapi katanya: “ Ayah dan ibuku sudah tua
sekali.” “Tetapi bukankah mereka mempunyai tempat tinggal?,”
bertanya Ki Bekel pula. “Ya. Mereka mempunyai tempa tinggal,” jawab
perempuan itu. “Jika demikian lebih baik kau kembali saja kepada
mereka. Agaknya itu lebih baik daripada kau dilemparkan ke sungai
yang banjir itu,” berkata Ki Bekel pula. Perempuan itu berpikir
sejenak. Tetapi nalarnya benarbenar buntu. Karena itu,masih
sambilmenangais ia berkata: “ Baiklah. Besok aku akan kembali kepada
kedua orang tuaku.” “Baiklah,” berkata Ki Bekel: “cobalah untuk
memperbaharui cara hidupmu. Kau harus jujur menghadapi setiap orang.
Jika kau tidak hidup dalam satu keny ataan sewajarnya, maka kau akan
dapat mengalami per soalan seperti sekarang ini.” “Akumengerti Ki
Bekel,” jawab perempuan itu. Nah. Biarlah kau diijinkan untuk berada
di banjar ini semalam,” berkata Ki Bekel. Lalu katanya kepada
penunggu banjar itu: “Apakah isterimu dapat meminjamkan selembar
pakaiannya kepada perempuanyang kedinginan itu?” “Tetapi,
tetapi biarlah Ki Bekel yang mengatakan kepadanya. Jika aku sendiri
yang mengatakan, maka dapat terjadi salah paham,” jawab penunggu
banjar itu. Ki Bekel tersenyum. Ia mengenal keluarga penunggu banjar
itu. Maka Ki Bekel itu pun berkata: “Baiklah. Biar aku yang
mengatakannya.” Karena Ki Bekel yang mengatakannya, maka
isteri penunggu banjar itu pun tidak berkeberatan untuk meminjamkan
pakaiannya sepengadeg. Beberapa saat kemudian, maka Ki Bekel pun
telah minta diri bersama bebahu yang meny ertainya. Namun kepada
Penunggu banjar itu, Ki Bekel juga menganjurkan agar memberikan
pinjaman pakaian bagi kedua anak muda yang jugamenjadi basah kuyup
itu. Tetapi malam itu, amben di serambi telah dipergunakan oleh
perempuan yang telah merasa kehilangan segala-galanya itu.
Sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Semu terpaksa tidur di pendapa
banjar dengan selembar tikar pandan. Terasa dinginnya memangmeresap
sampai ke sungsum. Namun bagi kedua anak muda itu, tidur di banjar
terasa lebih baik dari pada di tempat terbuka disiram dengan
hujanyang lebat. Namun beberapa saat kemudian hujan pun mulai
reda. Ketika Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sempat tertidur,maka fajar
punmulaimengintip. Namun meski pun hanya sebentar, tetapi kesempatan
itu telah dipergunakan oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sebaik-
baiknya. Ketika matahari terbit, maka perempuan yang tidur di
banjar itu pun telahminta diri. Ketika ia akan berganti dengan
pakaiannya yang masih ba sah, maka isteri pemilik banjar itu
berkata: “Sudahlah, pakai saja pakaianku. Bukan pakaian yang baik
dan mahal. Sekedar untuk menahan dingin. Bawa pakaianmu yang
basah. Mungkin dapat kau keringkan di jalan.” Perempuan itu
mengucapkan terima kasih. Ternyata ia tidak dapat menahan air
matanya, bahwa masih ada orang yang merasa belas kasihan kepadanya,
karena ia merasa betapa dosa telah tertimbun didalam dirinya. Tetapi
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu ternyata masih belum meninggalkan
barak. Mereka telah menjemur pakaiannya lebih dahulu. Apalagi semua
pakaian yang dibawanya, yang memang hanya selembar dan selembar kain
panjang yang dibawanya selain sebuah celana, telah basah.
“Apakah aku diperbolehkan berada di banjar sampai pakaianku kering?”
Penunggu banjar itu tertawa. Katanya: “ Tentu saja. Apalagi kau
telah berbuat sesuatu di padukuhan ini. Kau telah menghindarkan satu
pembunuhan keji. Untuk itu, seisi padukuhan ini tentu akan berterima
kasih kepadamu.” “Terima kasih untuk apa? Kami tidak berbuat apa
-apa. Hanya sekedar melakukan kewajiban,” sahut Mahisa Pukat. Lalu
katanya: “Semoga perempuan itu selamat.” Penunggu banjar itu menarik
nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata: “Ya. Setelah kau
selamatkan semalam, mudah-mudahan ia selamat sampai ke rumah
orangtuanya.” Mahisa Pukatmenangguk kecil Tetapi ia tidakmenjawab.
Dalam pada itu, Mahisa Semulah yang sibuk menjemur pakaiannya.
Sementara penunggu banjar itu berkata: “Anakanak muda. Maaf bahwa
aku tidak dapat berbuat seperti isteriku. Ia dapatmemberikan
sepengadeg pakaiannya kepada perempuan itu, karena ia masih
mempunyai pakaian yang dapat aku berikan kepadanya.” Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu tertawa. Dengan nada tinggi Mahisa Pukat berkata:
“Aku sudah berterima ka sih, bahwa semalam aku tidak kedinginan
dengan mengenakan pakaianyang basah kuyup oleh hujan itu.” Penunggu
banjar itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum
pula. Dan bahkan tertawa. Sambil menunggu, ternyata isteri penunggu
banjar itu telah merebus ketela pohon pula seperti semalam. Karena
itu,maka mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah sempat makan ketela
rebus dan minumwedang jaheyang hangat dengan gula kelapa.
Ketika matahari naik sepenggalah, maka pakaian kedua anak muda itu
pun telah menjadi agak kering. Karena itu, maka mereka pun segera
berganti pakaian. Bahkan mereka sempat mencuci pakaian yang
dipinjamnya dari penunggu banjar itu. “Sudahlah,” berkata penunggu
banjar itu, “kalian tidak usah mencucinya.” Tetapi Mahisa Pukat
menjawab: “Biarlah. Jika matahari terang, pakaian itu akan segera
kering.” Penunggu banjar itu tidak mencegah lagi. Nampaknya kedua
anakmuda itu tidak mau meninggalakan pakaian yang kotor itu begitu
saja setelahmerekamemakainya semalam. Demikianlah,maka beberapa saat
kemudian, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah minta diri. Mereka
akan melanjutkan perjalanan menuju ke Singasari. Mereka akan menemui
Mahendra yang telah lebih dehulu berangkat ber sama para
prajurityang menjemputnya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu berharap
bahwa sebelum gelap mereka sudah akan berada di Kotaraja. Meski pun
mereka berangkat agak siang, tetapi jarak yang harus ditempuh tidak
lagimemerlukanwaktu satu hari penuh. Setelah semalaman hujan turun
dengan lebat,maka hari itu justru terasa cerah. Jalan-jalan masih
basah. Namun langit nampak bersih. Bahkan tidak berawan. “Air di
langit telah habis tercurah semalam,” desis Mahisa Semu. Mahisa
Pukat tertawa. Katanya: “Ya. Tidak ada yang tersisa.” Namun ketika
mereka melalui jalan yang menjelujur di sebelah tanggul sungai
yang banjir, Mahisa Pukat berkata: “Lihat, jika semalam
perempuan itu dilemparkan ke dalam air, mungkin kita akan menemukan
mayatnya tersangkut di akar serumpun bambu yang hampir
dihanyutkan banjir itu.” Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam.
Katanya: “Memangmengerikan.Untunglah kita sempatmencegahnya.”
“Laki-laki itu nampaknya memang tidak dapat dipercaya,” desis Mahisa
Pukat. “Tetapi perempuan itu pun memang perempuan laknat. Ia
mengkhianati seorang laki-laki yang memberi apa saja yang
dimintanya,” desis Mahisa Semu, “tetapi ia terbentur pada sikap
seorang laki-laki laknat pula.” “Satu pantulan sikap yang
menghukumnya,” berkata Mahisa Pukat tetapi penderitaan batinnya
adalah hukuman yang sudah cukup berat.” Mahisa Semu
mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Ia pun justru
merenung tentang perempuan yang hampir saja ditelan oleh banjir
yang sisanya masih nampak. Air sungai itu masih keruh dan
deras. Bahkan masih nampak putaran-putaran meski pun tidak sebesar
semalam. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu telah berpacu di jalan yang semakin rata dan
terpelihara baik. Tetapi lewat tengah hari, kedua anak muda itu
mulaimerasa haus sehingga keduanya telah singgah disebuah kedai di
pinggir jalan. Setelah makan dan minum secukupnya, serta kuda mereka
pun telah mendapatminum serta makan,maka keduanya siap melanjutkan
perjalanan. Tetapi sepintas mereka masih sempat. mendengar dua orang
berkuda yang menambatkan kudanya berbicara diantara mereka. Seorang
diantara mereka berkata: “Singa-sari telah tidak lagi sekuat
sebelumnya. Semakin lama menjadi semakin kehilangan wibawanya.
Justru karena Singasarimerasa terlalu kuat sebelumnya.” Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu tidakmendengar apa yang mereka bicarakan
kemudian. Tetapi pembicaraanyang pendek itu sangatmenarik
perhatianmereka. Sambil meneruskan perjalanan, maka Mahisa Pukat
berkata: “Satu sikap yang perlu diperhatikan oleh Singasari.”
“Mereka menilai Singasari yang mulai surut,” berkata Mahisa
Pukat. “Kita harus menghubungkan dengan kegiatan Kediri sekarang
ini,” desisMahisa Pukat. Mahisa Semu mengangguk-angguk. Kepergian
mereka ke Singasari antara lain juga karena persoalan yang
menyangkut sikap Kediri. Meski pun sikap itu bukan sikap Kediri
seutuhnya, namun per soalannya akan menyangkut hubungan selanjutnya
antara Singasari dan Kediri. Untuk beberapa saat kedua anakmuda itu
terdiam. Mereka seakan-akan sedang menilai keadaan yang nampaknya
menjadi semakin suram. Sementara itu, kuda-kuda mereka pun berpacu
terus menuju ke Singasari. Langit yang ber sih mulai digayuti
awan yang kelabu. Namun keduanya menduga bahwa hujan lama turun.
Bahkan karena angin yang agak kencang dan Selatan, awan itu akan
hanyut ke Utara. Beberapa saat kemudian, kedua anak muda itu
memperlambat derap kuda-kuda mereka. Dari kejauhan mereka melihat
beberapa orang berkuda menuju kearah mereka. Nampaknya sekelompok
prajurit yang sedang meronda. Ketika mereka berpapasan, Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu telah berhenti dan menepi. Mereka memberi
jalan kepada sekelompok orang berkuda yang ternyata memang
prajurit Singasari. Namun pemimpin dari sekelompok prajurit itu
telah memberikan isy arat kepada prajurit -prajuritnya untuk
berhenti. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memang menjadi
termangu-mangu. Sementara pemimpin sekelompok prajurit itu mendekat
sambil bertanya: “Anak-anak muda. Apakah kalian bertemu dengan dua
orang berkuda?.” Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun ia pun
kemudianmenjawab: “Tidak Ki Sanak. Rasa -rasanya kami hari ini tidak
berpapasan dengan dua orang berkuda. Memang ada beberapa kali kami
berpapasan. Tetapi satu-satu. Nampaknya orang-orang padukuhan
yang pulang dari menjual hasil buminya.” “Bukan,” sahut
pemimpin prajurit itu, “bukan itu yang aku maksud. Tetapi dua
orang berkuda seperti kalian yang sedang menempuh perjalanan.”
Tiba -tiba saja Mahisa Pukat teringat kedua orang di kedai itu.
Karena itu,maka katanya: “Ki Sanak. Kami memang tidak berpapasan.
Tetapi di sebuah kedai kami melihat beberapa ekor kuda tertambat.
Apakah mungkin ada diantara mereka itu.” “Kedai yangmana ?” bertanya
pemimpin prajurit itu. “Di pinggir jalan ini. Tidak terlalu jauh,”
jawab Mahisa Pukat. Pemimpin sekelompok prajurit itu termangu-mangu.
Tetapi ia pun kemudian bertanya: “Siapakah anakmuda berdua ini ?”
“Kami datang dan padepokan Bajra Seta. Kami akan menemui seorang
keluarga kami di Kotaraja,” jawab Mahisa Pukat. Pemimpin sekelompok
prajurit itu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian:
“Anak-anakmuda. Aku tidak ingin mengganggu perjalananmu. Tetapi kami
ingin melakukan tugas kami dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan
Singasari. Karena itu, maka aku minta kalian berdua bersedia
menunjukkan kepada kami, dimana letak kedai itu.” “Di pinggir jalan
ini. Tidak terlalu jauh,” jawab Mahisa Pukat. Tetapi prajurit itu
tetap saja berkata: “Kamiminta Ki Sanak tidak berkeberatan membantu
sekelompok prajurit dalam tugasnya.” “Tetapi bagaimanakah nantinya,
jika kedua orang itu kemudian mendendam kami. Berbeda terhadap
karena kalian adalah prajurit.” “Kalian tidak akan diganggu. Apalagi
kami hanya ingin kalian menunjukkan kedai itu. Jika perlu kalian
tidak usah mendekati kedai itu. Apalagimenunjukkan orangnya,”
berkata pemimpin prajurit itu. “Bagaimana mungkin aku dapat
menunjukkan orangnya karena aku belum pernah melihatnya,” jawab
Mahisa Pukat. Namun pemimpin prajurit itu memang agak memaksa.
Katanya: “Aku minta Ki Sanak bersedia membantu prajurit.” Mahisa
Pukat tidak mempunyai pilihan lain. Namun ia masih sempat bertanya:
“Kenapa kalian cari kedua orang itu ?” “Keduanya orang Kediri
yang katanya mencari saudaranya. Tetapi temyata tidak ketemu,”
jawab pemimpin prajurit itu. “Hanya karena kedua orang itu mencari
saudaranya di Kotaraja ? Apakah ada keberatannya jika hal itu
dilakukan ?” bertanya Mahisa Pukat. “Tentu saja tidak. Jika kami
mencarinya tentu ada pertimbangan-pertimbangan lain,” jawab pemimpin
prajurit itu. “Tetapi kenapa baru sekarang. Tidak saat kedua orang
itu masih berada di Kotaraja?” bertanya Mahisa Pukat pula.
“Nampaknya kalian terlalu banyak inginmengerti,” berkata pemimpin
prajurit itu. Namun katanya: “Tetapi baiklah aku menjawabnya. Untuk
terakhir kalinya,” pemimpin prajurit itu terdiam. Namun kemudian
katanya: “Kami baru mendapatkan laporan tentang sikap kedua orang
itu setelah keduanya pergi. Kamimendapat tugas untukmencarinya. Nah,
jelas. Sekarang kalian tidak usah bertanya lagi. Marilah, kita sudah
terlalu banyak kehilangan waktu.” Mahisa Pukat danMahisa Semu tidak
dapatmenolak. Mereka pun kemudian memutar kudanya dan berjalan
seiring dengan para prajurit. Ternyata mereka belum terlalu jauh
dari kedai itu. Karena itu, maka beberapa saat kemudian,maka kedai
itu pun sudah mulai nampak. Sementara itu, orang-orang yang ada
dikedai itu pun telah melihat debu yang mengepul dari kejauhan.
Agaknya mereka dapatmelihat, bahwa yang datang adalah
sekelompok prajurit Singasari. Ketika sekelompok prajurit itu
kemudian berhenti di depan kedai itu, maka pemimpin kelompok itu
bersama dengan dua orang pengiringnya telah memasuki kedai itu. Ia
melihat beberapa orang berada didalam kedai itu. Namun pemimpin
sekelompok prajurit itu agaknyamenjadi ragu-ragu. Karena itu, maka
ia pun telah memanggil seorang prajurit lagi mendekatinya sambil
bertanya: “Yang mana orang yang kaumaksud ?” Prajurit itu memandang
setiap orang yang ada didalam kedai itu. Namun tidak seorang pun
yang dapat dikenalinya. Bahkan prajurit itu kemudian menggeleng
sambil berdesis: “Tidak ada diantaramereka.” Dari pintu samping
pemimpin prajurit itu memangmelihat beberapa ekor kuda yang
tertambat. Namun agaknya kuda orang lain. Bukan orang yang
dimaksud. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun kemudian telah sempat
mengamati kuda yang tertambat. Mereka masih melihat kedua ekor
kuda dari orang-orang yang telah memperbincangkan kemunduran
Singasari. Namun ketika Mahisa Pukat dan Mahisa Semu melihat kedalam
kedai itu, mereka tidakmelihat kedua orang penunggangnya. Tetapi
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak mengatakan sesuatu. Mereka tidak
beranimemberikan keterangan apapun, karena mereka tidak tahu pasti
apakah yang sebenarnya terjadi. Pemimpin prajurit itu telah minta
ijin kepada pemilik kedai untuk melihat-lihat isi kedainya. Bahkan
sampai ke halaman di belakang kedai itu. Namun mereka tidak melihat
orang lain kecuali yang sedangmakan danminum didalam kedai itu.
Ketika mereka yakin bahwa yang mereka cari tidak ada, maka
para prajurit itu pun telah meninggalkan kedai itu. Kepada Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu, pemimpin prajurit itu pun berkata:
“Kamimengucapkan terima kasih anakmuda. Maaf, bahwa kami telah
menghambat perjalanan kalian. Kalian telah berusahamembantu tugas
kami, para prajurit.” Mahisa Pukat pun mengangguk hormat sambil
berkata: “Agaknya itu sudah menjadi kewajiban kami.” Ketika para
prajurit itu melanjutkan perjalanan, Mahisa Semu pun berdesis:
“Meski pun ketika kami diminta untuk melakukan kewajiban ini
kamimerasa agak segan.” Mahisa Pukat tertawa. Katanya: “Kita telah
kehilangan waktu. Tetapi kita kemudian dapat berbangga bahwa kita
sudah membantu para prajurit.” Mahisa Semu pun tertawa pula. Katanya
kemudian: “Beberapa saat lagi, para prajurit itu tentu akan kembali.
Mereka tentu tidak akan melakukan pelacakan tanpa ujung. Jika mereka
sampai di padukuhan itu dan tidak seorang pun dapat memberikan
petunjuk maka mereka tentu akan kembali.” “Ya. Mereka tentu segera
kembali.” Mahisa Pukat berhenti sejenak. Lalu katanya: “Tetapi
rasa-rasanya kuda-kuda itu masih belum berkurang jumlahnya.Namun
kedua orang yang telah berbicara tentang kemunduran Singasari itu
telah tidak ada didalam kedai itu.” Mahisa Semumengangguk-angguk.
Katanya: “Marilah. Kita melanjutkan perjalanan.” Tetapi ketika
mereka sudah siap untuk berangkat, dari pintu kedai itu mereka
melihat seseorang turun dari atap rumah itu. Disusul seorang
lagimeloncat pula. Ketika keduanya melihat Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu, maka seorang diantaranya berkata: “Bukankah kedua orang itu
yang berpapasan dengan kita saat kita datang ?” “Bukan
berpapasan. Saat itu kita menambatkan kuda kita,
keduanyameninggalkan kedai ini,” berkata yang seorang. “Jika
demikian, tentu kedua anak muda itulah yang telah memberitahukan
keberadaan kita disini,” geram orang pertama. “Ya. Tentu keduanya,”
sahutyang lain. Pemilik kedai itu pun tiba-tiba saja telah keluar
pula dari kedainya dan berkata: “Ya. Keduanya adalah anak-anakmuda
yang baru saja keluar dari kedai ini. Mereka kembali dengan membawa
sekelompok prajurit.” “Anak iblis,” geram salah seorang dari kedua
orang itu, “jadi kalian yang telah membawa prajurit-prajurit itu
kemari he ?” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu mulai menyadari, bahwa
orang-orang itu telah menunjuk kepada mereka. Karena itu, maka
Mahisa Pukat pun berkata: “ Itu tidak benar. Kami hanya mengatakan
ada beberapa ekor kuda di kedai ini. Itu pun justru karena mereka
bertanya apakah kami bertemu dengan orang-orang berkuda.” “Omong
kosong,” geram orang itu, “keriapa kau turut campur persoalan orang
lain ?” “Kami tidak sengajamencampurinya.” jawab Mahisa Pukat. “Jadi
apa yang kau lakukan ?” bertanya orang lain. “Kami sekedar
memenuhi perintah para prajurit itu untuk menunjukkan kedai ini,”
jawab Mahisa Pukat. Kedua orang itu menjadi semakin marah. Seorang
diantara mereka pun berkata: “ Jika kau tidak memberikan laporan
tentang kami, maka para prajurit itu tentu tidak akan sampai
kemari.” “Apa yang aku laporkan tentang kalian ? Apakah kalian
melakukan kejahatan disini dan kebetulan aku melihat sehingga aku
memberikan laporan tentang kejahatan kalian ? Aku tidak melihat
apa-apa. Aku melihat kalian berhenti dan masuk ke kedai ini seperti
orang-orang lain. Apa yang kau laporkan ? Apa yang aku
lihat ? Dan apakah yang sebenamya terjadi ? Sikap kalian justru
menimbulkan kecurigaan padaku, bahwa kalian memang melakukan
kejahatan,” jawab Mahisa Pukatyang juga mulaimenjadimarah.
Wajah kedua orang itu menjadi merah. Demikian pula pemilik kedai
itu. Dengan geram seorang diantara kedua orang itu bertanya: “Siapa
sebenarnya kalian berdua ? Petugas sandi atau apa ?” “Aku bukan
apa-apa. Aku sedang pergi ke Singasari untuk mengunjungi ay ahku,”
jawab Mahisa Pukat. “Kalian memang anakanak yang malang.
Justru karena kalian terlalu banyak mencampuri persoalan orang lain
dan karena kalian terlalu banyak tahu tentang kami, maka biarlah
kalian berhenti sampai disini. Biarlah ayahmu menunggu sampai batas
hidupnya karena ia tidak akanmelihatmu lagi.” “Apa artinya ?”
bertanya Mahisa Pukat. “Kau berdua membuat aku marah. Karena
itu,maka kalian harusmati,” berkata orang itu. “Begitu mudahnya
membunuh orang seperti membunuh seekor ay am untuk di jual di kedai
itu,” geram Mahisa Pukat, “kau kira kami ini apa ?” “Jadi kau mau
apa ?” bertanya orang itu, “kami sudah sepakat untukmenghukummu.
Membunuhmu dan mengubur mayatmu di belakang kedai. Orang-orang
yang ada didalam kedai itu tidak akanmembantumu.” “Mereka akan
dapat menjadi saksi perbuatanmu,” desis Mahisa Pukat. “Mereka adalah
kawan-kawanku,” jawab orang itu. Mahisa Pukat termangu-mangu
sejenak. Didalam kedai itu ada lima orang. Pemilik kedai dan dua
orang pembantunya nampaknya adalah pembantu -pembantu orang-orang
itu pula selain kedua orang itu sendiri. Sehingga dengan demikian
semuanya ada sepuluh orang. “Janganmeny esali nasibmu yang
buruk,” berkata orang itu, “marilah, pergilah ke belakang kedai itu.
Kau akan diperlakukan dengan baik. Kami bersama-sama akan membantu
menggali lubang itu. Kemudian kalian berdua berbaring dengan tenang.
Kami akan menempatkan ujung pedang kami di dada kalian, tepat diarah
jantung. Kami berjanji tidak akan menimbulkan kesakitan pada kalian
menjelang kematian kalian.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu benar-benar
ter singgung. Mereka tidak lagi berpikir tentang sepuluh orang. Apa
pun yang terjadi, mereka tidak mau dihinakan begitu saja. Jika
mereka harusmati, maka biarlah mereka mati dengan pedang di tangan.
Dengan gigi yang gemeretak Mahisa Pukatmenjawab: “Jika kalian ingin
mati, matilah. Ny awaku nilai sama dengan lima orang diantara
kalian.” “Anak iblis,” orang itu hampir berteriak, “jadi kau lebih
senangmati dalam penderitaan daripada mati dengan tenang.” “Cukup,”
bentak Mahisa Pukat, “atau kau memang hanya ingin berbicara,
menakut-nakuti kemudian bersembuny i lagi diatap ?” Kedua orang itu
tidakmenunggu lagi. Keduanya pun segera ber siap, sedangkan Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu masih sempatmenambatkan kudanya menepi.
Nampaknya memang tidak ada peny elesaian lain. Kedua orang yang
dicari oleh para prajurit itu benar-benar akan membunuh Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu yang dianggapnya telah melaporkan kehadiran mereka
kepada para prajurit Singasari. Tetapi Mahisa Pukat pun telah
bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.Demikian pula Mahisa
Semu. Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun mulai menempatkan
diri menghadapi Mahisa Pukat dan yang lain Mahisa Semu. Dengan
lantang seorang diantara mereka berteriak sambil menyerang.
“Kaumemilih jalanyang buruk.” Tetapi Mahisa Pukat yang
mendapat serangan itu sudah siap menghadapinya, karena itu maka
dengan tangkas pula ia pun telah menghindar. Bahkan sekaligus meny
erang. Lawannya menggeliat kemudian berputar. Kakiny a terayun
mendatar, namun sama sekali tidak menyentuh Mahisa Pukat yang
merendah sambil menyapu kaki lawannya yang lain. Namun lawannya
cukup tangkas. Dengan satu kakinya ia telah melentingmenghindari
sapuan kaki Mahisa Pukat. Sementara itu Mahisa Semu pun telah
bertempur pula. Ia pun telah berloncatan dengan tangkas pula. Meski
pun anak muda itu baru mulai, tetapi ia sudah cukup mempunyai
pengalaman sehingga ia pun segera meny esuaikan diri dengan
serangan-serangan lawannya yang ternyata juga bukan seorang
yang berilmu tinggi. Dalam waktu yang pendek, baik
Mahisa Pukat mau pun Mahisa Semu telah berhasil menguasai
lawan-lawannya. Bahkan mereka telah mendesak sehingga lawan-lawannya
itu seakan-akan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bergerak.
Mereka setiap kali menjadi bingung menghadapi kecepatan gerak
anak-anakmuda itu. Karena itu, maka kedua orang itu pun segera
memberi isy arat kepada orang-orang yang lain yang ada
di kedai itu untukmembantumereka. “ Ingat,” berkata Mahisa Pukat,
“nyawaku nilainya sama dengan lima orang diantara kalian. Bahkan
lebih. Karena itu, jika kalian ingin membunuh kami berdua, maka
kalian pun akan mati. Atau bahkan kalian semua akan mati, dan kami
berdua akan tetap hidup.” Kedua orang itu berteriak marah. Sementara
kawankawannya, bahkan termasuk pemilik kedai dan dua orang
pembantunya telah mengepung Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan
ternyata mereka semuanya telah mengacungkan senjata mereka masing2.
Beberapa helai pedang, sebuah bindi dan baik pemilik kedai itu mau
pun kedua pembantunya ternyata bersenjata kapak. Agaknya mereka
memang saudara seperguruan y gmembuka kedai itu untuk tujuan
tertentu. “Kau tidak akan dapatmengelak lagi,” geram pemilik kedai
itu, “ sebenarnya aku sudah tidak sabar lagi untuk membunuhmu.
Mungkin kemenangan kecilmu itu membuatmu berbangga. Tetapi
kapak-kapak kami akan mengoy ak leher kalian berdua. Kau tidak usah
bermimpi untuk dapat membunuh kami semua. Jika kau berhasil membunuh
seorang saja diantara kami, maka kau benar2 seorang anakmuda
yang luar bia sa. Aku akan menyembahmu sampai ke anak cucu.”
Mahisa Pukatmengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata:
“Kau akan benar-benar menjadi budakku sampai keanak cucu. Aku tidak
akan hanya membunuh seorang. Tetapi semuanya. Kecuali kau, karena
kau akan menjadi budakku sampai keanak cucumu.” “Anak iblis kau,”
pemilik kedai itu menjadi sangatmarah. Ternyata anak-anak muda itu
sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan keduanya justru menantang
mereka dengan berani. Karena itu, maka pemilik kedai yang tiba
-tiba saja justru mengambil alih pimpinan itu memberi isy arat, agar
orangorang yang mengepung kedua orang anak muda itu bergerak
semakinmerapat. Mahisa Pukat memperhatikan sepuluh orang yang
telah mengepungmereka itu satu persatu.Wajah-wajah yang garang dan
sikap yang kasar. “Ternyata aku berhadapan dengan sekelompok petugas
sandi dari Kediri,” berkata Mahisa Pukat. “Kau boleh mengigau apa
saja menjelang kematianmu,” geram pemilik kedai itu. Mahisa Pukat
tidak menyahut lagi. Ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi
orang-orang yang telah mengepungnya. Demikianlah, sejenak kemudian
bertempuran pun telah terjadi. Pemilik kedai itu telah meny erang
dengan garangnya. Disusul oleh kedua orang pelay annya. Sementara
itu,yang lain masih saja termangu-mangu di sekitar arena
pertempuran itu. Mereka masih menilai apa yang terjadi. Sementara
itu, sebenarnyalah mereka menganggap pemilik kedai dan kedua orang
pelay annya itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi, karena
sebenarnyalah mereka adalah petugas sandi yang mendapat kepercay aan
untuk mengawasi Kotaraja Singasari. Kedai itu tidak lebih dari kedok
yang menyamarkan tempat pertemuan para petugas sandi yang
bertugas mengamati Kotaraja Singaraja. Sedangkan pemilik kedai itu
adalah orang yangmengatur segala-galanya bagi para petugas sandi
itu. Sejenak kemudian, pertempuran pun menjadi semakin sengit.
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah bertempur berpa sangan menghadapi
ketiga orang yang bersenjata kapak itu. Namun Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu tidak membiarkan diri mengalami kesulitan sehingga
mereka pun mempergunakan pedangmereka pula. Pemilik kedai itu memang
sempat terkejutmelihat pedang Mahisa Pukat. Tetapi ia tidak
mempunyai kesempatan untuk menilainya, karena Mahisa Pukat ju stru
telah meny erangnya. Dalam pertempuran itu, Mahisa Pukat sendiri
tidak mengalami kesulitan menghadapi lawan-lawannya. Mahisa Semu pun
masih juga mampu bertahan dalam pertempuran itu, karena
lawan-lawannya baru tiga orang yang bergerak. Dua orang
yang bertempur lebih dahulu telah bergeser menepi dan bahkan
bergantian menyaksikan pertempuran itu. Namun menurut penilaian
Mahisa Pukat, jika yang lain turun pula ke arena, maka Mahisa
Semu akan segera mengalami kesulitan. Tetapi untuk sementara Mahisa
Pukat masih belum mengambil langkah-langkah peny elamatan. Ia masih
berharap bahwa Mahisa Semu akan mampu mengatasi segala kesulitan
yang bakal datang. Sebenamyalah, ketiga orang bersenjata kapak itu
juga tidak mampu menekan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan
sekali-sekali ketiganya harus berloncatan menjauhi kedua orang
anakmuda itu. Pemilik kedai yangmendapat tugas untukmengatur segala
sesuatunya mengenai pengamatan atas Kotaraja itu, ternyata tidak
memiliki cukup kemampuan untuk mengalahkannya anak-anak muda
yang semula dianggapnya tidak banyak berarti itu. Karena itu,
maka pemilik kedai itu pun telah memberikan isy arat kepada semua
orang-orangnya untuk bergerak. “Kita tidak mempunyai banyak waktu,”
berkata pemilik kedai itu. Dengan demikian, maka sepuluh orang itu
pun telah bergerak bersama-sama. Mereka melangkah dengan hati-hati
mendekati pusat lingkaran dengan senjata teracu. “Kita harus dengan
cepatmeny eretnya dan menguburnya di belakang kedai ini,” berkata
pemilik kedai itu, “sebentar lagi, iring-iringan prajurit itu
agaknya akan kembali setelah mereka yakin tidak akanmenemukan apa
yangmereka cari.” Serentak sepuluh orang itu pun bergerak. Namun
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun tidak sekedar menunggu. Dengan
tangkasnya keduanya justru meloncat menyambar orangorang yang
mengepungmereka itu. Dengan demikian maka pertempuran pun segera
telah berlangsung dengan sengitnya. Sepuluh orang yang berusaha
membunuh kedua orang anak muda itu telah mengerahkan segenap
kemampuanmereka. Mereka bukannya orang-orang yang sama sekali
tidak berday a. Itulah sebabnya maka beberapa saat kemudian,maka
Mahisa Semu benar-benar mengalami kesulitan. Betapa pun Mahisa Pukat
mengerahkan segenap kemampuannya, memancing lawan agar perhatian
mereka sebagian terbesar tertuju padanya, namun Mahisa Semu masih
saja mengalami kesulitan. Bahkan sejenak kemudian, ujung pedang
seorang diantara mereka telah meny entuh kulit Mahisa Semu. Memang
tidak menimbulkan luka yang mencemaskan. Tetapi seleret luka itu
telah menitikkan darah. Mahisa Semu mengeram oleh kemarahan
yang mulai memanasi darahnya. Tetapi bagaimana pun juga, ia
harus mengakui keterbatasannya. Bahkan ilmunya masih jauh dari ilmu
yang dimiliki oleh Mahisa Pukat. Kesepuluh orang lawannya,
nampaknya dapat membaca kelemahan kedua orang anakmuda itu. Karena
itu, seranganserangan berikutnya justru lebih banyak ditujukan
kepada Mahisa Semu. Mahisa Pukat pun mengerti perhitungan lawannya.
Karena itu, maka ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali mempercepat
pertempuran itu dengan menundukkan lawanlawannya. Ketika Mahisa Semu
harus berloncatan mengambil jarak untuk menghindari serangan
lawan-lawannya, bahkan tajam kapak pemilik kedai itu juga telah meny
entuh kulit Mahisa Semu,maka Mahisa Pukat telah
benar-benarmenjadimarah. Ia pun kemudian telah melepaskan ilmunya
yang seakanakan ter sembuny i dibalik kemampuannya dalam ilmu
pedang. Mahisa Pukat pun kemudian telah mengetrapkan ilmunya
yangmampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya sehingga dengan
demikianmaka perlawanan mereka pun akan segeramengendor. Sejenak
kemudian, maka Mahisa Pukat pun telah menghentakkan kemampuan ilmu
pedangnya. Sambil berloncatan maka pedangnya bergerak menyambar-ny
ambar, berputar, kemudian berayun menyilang, mematuk dan
sekali-sekali menebaskearah leher. Dengan demikian maka tekanan
terhadap Mahisa Semupun sedikit mengendor. Namun beberapa orang
telah mendapat kesempatan untuk dengan cepat berusaha menyelesaikan
Mahisa Semu lebih dahulu. Mahisa Semu memang harus mengerahkan
tenaga dan kemampuannya untuk menghadapi lawan-lawannya yang
mempunyai perhitunganyang justru semakinmenyulitkannya. Mereka
justru berusaha sejauh mungkin untuk menekan dan menyelesaikan
Mahisa Semu lebih dahulu. Tetapi Mahisa Pukat yang bagaikan
meloncat-loncat berterbangan mengelilingi arena itu memang agak
mempersulit gerak lawan- lawannya. Tetapi hampir semuanya diantara
mereka berpikir, bahwa dengan caranya itu, Mahisa Pukat tidak akan
mampu bertahan untuk waktu yang cukup lama. Beberapa saat
lagi, anakmuda itu tentu akan kehabisan tenaga dan dengan demikian
maka mereka akan dengan mudah meny elesaikannya. “Bahkan mungkin
kami akan dapat menyelesaikan keduaduanya bersamaan,” berkata
pemilik kedai itu dengan para pembantunya yang tanggap telah
memancing agar Mahisa Pukat bergerak lebih banyak. Bahkan ada
diantara mereka yang memancing Mahisa Pukat untuk berloncatan dengan
langkah-langkah panjang. Dengan demikian mereka mengharap agar
Mahisa Pukat dengan cepat kehilangan sebagian besar dari tenaganya.
Mahisa Pukat memang berloncatan dengan langkahlangkah panjang.
Pedangnya menyambar-nyambar. Setiap kali terdengar dentang
senjatanya beradu. Hampir set iap orang diantara sepuluh orang itu,
pernah membenturkan senjatanya dengan pedang Mahisa Pukat. Sementara
itu Mahisa Semu berusaha untuk meny esuaikan diri dengan
langkah-langkah Mahisa Pukatyang panjang dan garang. Sebenarnyalah
Mahisa Pukat memang dengan sengaja membiarkan diriny a terpancing
dengan gerakan-gerakan panjang. Dengan demikian, maka Mahisa Semu
akan mendapat kesempatan bergerak lebih luas, sementara lawannya
yang berjarak jauh, tidak akan menekannya dengan ketat.
Sedangkan Mahisa Pukat telah mendapat kesempatan untukmeny
entuhmereka seorang demi seorang. Beberapa orang diantara kesepuluh
orang itu dengan geramnya telah berusaha untukmenghentikan putaran
pedang Mahisa Pukat. Beberapa kali terjadi benturan-bcnturan yang
keras. Namun Mahisa Pukat sama sekali tidak berminat lagi
untukmelemparkan senjata lawan- lawannya. Meski pun demikian, tetapi
sekali sekali Mahisa Semu memang mengalami kesulitan. Segores luka
lagi telah menyilang di punggungnya. Tidak terlalu dalam, tetapi
memanjangmelintang. Mahisa Pukat benar-benar menjadi cemas. Namun
lukaluka ditubuh Mahisa Semu sama sekali tidak mengurangi tenaga dan
kemampuannya. Ilmu pedangnya masih mepdebarkan lawan-lawannya,
sementara Mahisa Pukat bertempur bagaikan seekor burung sikatan
berburu bilalang. Sepuluh orang yang dengan geramnya
berusahamembunuh kedua orang anakmuda itu menjadi semakin bernafsu
ketika mereka melihat darahyang mengembun ditubuh Mahisa Semu
bercampur dengan keringat. Mereka semakin pasti, bahwa mereka akan
dapat meny elesaikan kedua orang anak muda yang mereka anggap telah
melaporkan kehadiran mereka kepada para prajurit Singasari.
Sebenarnyalah, Mahisa Semu memang menjadi semakin terdesak. Selain
darahnya yang mengalir, tenaganya pun mulai su sut. Apalagi semakin
kuat ia mengerahkan tenaganya,maka darah punmenjadi semakin
derasmengalir dari tubuhnya. “Jangan menyesal anak muda,” geram
pemilik kedai itu, “kalian berdua akanmati dan akan kami kuburkan di
belakang kedai ini. Tetapi karena kalian telah melawan, maka jalan
kematian kalian akan menjadi sangat buruk. Mungkin kalian tidak
pernah membayangkan bahwa kalian akan mati muda dengan cara
yang mengerikan sekali, karena kalian akan merasakan betapa
gelapny a lubang kubur itu. Untuk beberapa saat kalian akan tetap
hidupmeski pun kalian telah ditimbuni dengan tanah dan bebatuan.”
Mahisa Semu dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Namun
Mahisa Pukat justru bergerak lebih cepat lagi. Disentuhnya setiap
ujung pedang lawan-lawannya dan setiap kali sentuhan itu berusaha
diulanginya. Demikianlah, beberapa saat kemudian, ketika keadaan
Mahisa Semu menjadi semakin parah, maka beberapa orang diantara
sepuluh orang itu merasa aneh dengan dirinya sendiri. Mereka tidak
lagi setangkas sebelumnya. Meski pun mereka dapat mengerti bahwa
tenaga mereka akan susut, tetapi tentu tidak akan secepat yang
terjadi. Satu dua orang yang luput dari sentuhan senjata
Mahisa Pukat memang masih tetap garang. Namun Mahisa Semu tidak lagi
merasa betapa beratnya tekanan lawan-lawannya. Ketika tinggal satu
dua orang yang meny erangnya dengan garang, maka Mahisa Semu
masih mampu mengatasinya dengan ilmu pedangnya. Sementara itu,
Mahisa Pukat berusaha untuk meny entuh pula senjata darimereka
yangmasih tetap bertempur dengan garangnya. Mereka yang masih
belum dipengaruhi oleh ilmunya yang mampu meny erap tenaga dan
kemampuan lawan-lawannya. Mula-mula mereka sama sekali t idak
menghiraukan sentuhan-sentuhan pedang Mahisa Pukat. Mereka mengira
bahwa tenaga Mahisa Pukat memang sudah menjadi susut. Karena itu,
maka sentuhan- sentuhan pedangnya tidak lagi menggetarkan senjata
lawannya. Namun yang terjadi kemudian adalah sama sekali tidak
mereka ketahui sebab-sebabnya. Tenaga mereka telah menjadi su sut
dengan cepat. Sehingga dengan demikian,maka sepuluh orang itu
menjadi tidak berbahaya sama sekali bagi Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu. Mahisa Pukat sengaja melepaskan ilmunya dan tidak lagi
berusaha menghisap sisa tenaga yang ada. Tetapi Mahisa Pukat telah
berbisik ditelinga Mahisa Semu - Kita bertahan sampai para prajurit
itu kembali “Ya,” jawab Mahisa Semu. “Apakah luka-lukamu berbahaya?”
bertanya Mahisa Pukat. “Tidak. Hanya terasa menjadi pedih oleh
keringat,” jawab Mahisa Semu “Tenagamumulai susut,” desisMahisa
Pukat. “Bukan karena darah yang mengalir terlalu banyak,” jawab
Mahisa Pukat. Dengan demikian maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
benar-benar hanya sekedar bertahan. Tetapi sepuluh orang itu tidak
lagi terasa garang. Gerak mereka menjadai lamban sekali. Ay unan
senjata mereka tidak lagi menimbulkan desir angin. Karena itu,maka
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak merasa perlu lagi untuk
mengerahkan segenap kemampuan mereka.Namun mereka melayani
lawan-lawanmereka dengan sekedar bergeser menghindar dan
berloncatan. “Jangan lari,” pemilik kedai itumasih berteriak. Mahisa
Pukat justru tertawa sambil menjawab: “Apakah kau akan mampu
mengejar aku? Aku tidak akan lari. Tetapi kau pun tidak akanmampu
menangkap aku.” Pemilik kedai itu menggeram. Rasa -rasanya ia ingin
meloncat, menerkam Mahisa Pukat. Tetapi ketika hal itu dilakukan
justru ia hampir saja jatuh terjerembab. Sepuluh orang itu rasa
-rasanya menjadi kelelahan dan kehilangan tenaga mereka. Karena
itu,makamereka pun telah mengumpat-umpat kasar. Apalagi ketika
mereka melihat debu dikejauhan. Mereka menyadari bahwa para prajurit
itu telah kembali ketika mereka merasa kehilangan jejak buruan
mereka. Dengan lantang Mahisa Pukat berkata: “Mahisa Semu. Tahan
mereka, sehingga tidak seorang pun yang melarikan diri.” Orang-orang
yang bertempur melawan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu
memangmenjadi bingung. Satu dua diantara mereka memang ingin
melarikan diri. Tetapi Mahisa Semu dan Mahisa Pukat selalu berhasil
menahan mereka dan menyeretnya kembali ke arena perkelahian itu.
Agaknya sepuluh orang yang menjadi lemah itu tidak juga mampu untuk
berlari lebih cepat dari jangkauan tangan Mahisa Semu dan Mahisa
Pukat. Ada diantara mereka yang telah melemparkan senjatanya
untuk menyatakan diri tidak terlibat dalam pertempuran itu. Namun
Mahisa Semu akan dapat menunjukkan senjatasenjata yang telah
dilemparkan itu. Dengan demikian, ketika sekelompok prajurit itu
kembali dari perburuan mereka yang gagal, maka mereka heran melihat
apa yang telah terjadi. Pemimpin prajurit itu pun telah
bertanya dengan lantang: “Apa yang terjadi disini?” “Ternyata dugaan
kami benar,” berkata Mahisa Pukat, “mereka telah mendendam kami dan
berusaha untuk membunuh kami berdua.” “Lalu ?” desak pemimpin
sekelompok prajurit itu. “Kami terpaksa melawan,” jawab Mahisa
Pukat. Pemimpin sekelompok prajurit itu termangu-mangu. Ia memang
ragu- ragu untuk mempercayai kata-kata Mahisa Pukat itu. Namun
sebelum ia menyatakan sesuatu, prajurit yang mengenali dua
orang buruan itu pun dengan serta merta berkata: “ Itulahmereka. Dua
orang yang kita cari.” “Kenapa tiba -tiba keduanya ada disini
?” bertanya pemimpin sekelompok prajurit itu. “Mereka bersembuny i
di atap,” jawab Mahisa Pukat, “sementara itu, ternyata pemilik kedai
ini serta orang-orang yang aku kira sedang membeli minuman dan
makanan itu adalah kawan-kawan mereka.” Pemilik kedai itu merasa
tidak ada gunanya untuk membantah. Anakmuda yang seorang itu
telah terluka. Lukaluka itu akan dapat ikut berbicara tentang
dirimereka. Sebenamyalah pemimpin prajurit itu juga melihat luka di
tubuh Mahisa Semu. Karena itu maka ia pun dengan cepat dapat
mengambil kesimpulan bahwa memang telah terjadi pertempuran di depan
kedai itu. Atas permintaan pemimpin prajurit itu, Mahisa Pukat telah
menceritakan apa yang telah terjadi. Ia pun menunjukkan luka-luka di
tubuh Mahisa Semu. “Jadi kalian berhasil mengalahkan sepuluh orang
itu ?” bertanya pemimpin kelompok prajurit itu. “Mungkin hanya satu
kebetulan,” jawab Mahisa Pukat. Namun pemimin prajurit itu melihat
bahwa sepuluh orang itu seakan-akan sudah tidak berday a lagi untuk
meneruskan pertempuran, sementara kedua orang anak muda itu masih
kelihatan tegar,meski pun seorang diantara mereka terluka. Namun
untuk mey akinkan kenyataan yang dihadapinya, pemimpin prajurit itu
pun bertanya: “Siapakah sebenarnya kalian berdua anakmuda.” “Kami
datang dari sebuah padepokan yang jauh. Kami ingin mengunjungi ay
ahku yang telah lebih dahulu pergi ke Singasari,” jawab Mahisa
Pukat. “Siapakah nama ayah kalian. Barangkali aku pernah mengenalnya
atau setidak-tidaknya mendengar namanya ?” bertanya pemimpin
prajurit itu. “Ayahku seorang pedagang keliling. Namanya Mahendra,”
jawab Mahisa Pukat. “Ki Mahendra, adik seperguruan Mahisa Agni
danWitantra yang telah tidak ada lagi ?” bertanya pemimpin prajurit
itu. “Ya. Agaknya itulah ay ahku. adik seperguruan paman Witantra,
bukan paman Mahisa Agni,” jawab Mahisa Pukat. Pemimpin prajurit itu
mengangguk-angguk. Katanya. “Ya. Aku tahu. Ki Mahendra berada di
istana. Aku pun menjadi percaya atas kenyataan yang aku hadapi.
Sepantasnya jika kalian dapat mengalahkan sepuluh orang sekaligus.
Jika saja kalian bukan anak Ki Mahendra,mungkin akumasih bimbang
untukmengakui keny ataanyang terjadi ini.” Mahisa Pukat tidak
menjawab lagi. Namun ia pun berkata: “Terserah orang- orang itu
kepada kalian. Jangan dipaksa untuk terlalu banyak bergerak. Mereka
memang telah kehilangan sebagian dari kekuatan mereka. Karena itu,
maka jika kalian membawanya ke Singasari, kalian tentu memerlukan
waktu y g panjang. Mereka akan berjalan lamban dan barangkali harus
mengerahkan sisa-sisa tenaga yang masih ada.” Pemimpin sekelompok
prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah. Aku akan membawa
mereka ke Singasari. Biarlahmereka membenahi kedainya lebih dahulu.”
“Kami akanmendahului kalian,” berkataMahisa Pukat. “Bagaimana dengan
luka-luka itu ?” bertanya pemimpin prajurit itu. Mahisa Pukat
memandangi Mahisa Semu sejenak. Namun Mahisa Semu pun berkata:
“Tidak apa-apa. Bukankah lukaluka itu hanya sekedar goresan-goresan
kecil ? “Tetapi biarlah darahnya tidak mengalir lagi,” berkata
pemimpin prajurit itu, “aku membawa obat untuk kepentingan
sementara.” Namun Mahisa Pukat pun menyahut: “Baiklah. Bukan karena
lukanya yang parah. Tetapi biarlah tidak menarik perhatian
banyak orang.” Namun kemudian Mahisa Semu tidak sekedar mengobati
luka-luka dengan obat yang dibawanya sendiri. Tetapi ia sempat
pergi ke sumur untuk membersihkan darahnya yang inengotori
tubuhnya,meski pun terasa pedih. Selagi Mahisa Semu membenahi
dirinya, maka Mahisa Pukat sempat menyaksikan para perajurit
yang menawan sepuluh orang buruan. Dua diantara para tawanan
adalah orang yang memang sedangmereka cari. Sedangkanyang
lain, karena mereka terlibat pula,maka mereka pun telah menjadi
tawanan pula. Namun melihat keadaan kesepuluh orang yang sudah
menjadi lemah itu, maka para prajurit merasa tidak perlu mengikat
tangan mereka. Para prajurit membiarkan saja mereka bebas tanpa
terikat tangan dan kakinya. Sepuluh orang itu tidak akan
dapatmelarikan diri apalagimelawan. Beberapa orang prajurit memang
bertanya-tanya didalam hati, apakah yang telah terjadi atas
kesepuluh orang itu sehingga mereka benar-benar telah kehilangan
sebagian besar dari tenagamereka. Tetapi pemimpin para prajurit itu
agaknyamengerti, bahwa keadaan itu tentu ditimbulkan oleh satu
kekuatan yang belum mereka mengertiyang dipancarkan oleh
anak-anakmuda itu. Beberapa saat kemudian, setelah Mahisa Semu
selesai, maka Mahisa Pukat pun telah minta diri kepada para prajurit
Singasari itu untuk mendahului mereka, karena perjalanan para
prajurit itu tentu akan menjadi sangat lamban. Para tawanan itu
tidak akan dapat berjalan cepat, meski pun seandainyamereka dilecut
sekalipun. Demikianlah, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah ber
siap meninggalkan kedai yang telah ditutup itu. Pemimpin
prajurit yang kemudian mengetahui bahwa Mahisa Pukat itu
adalah anak Mahendra, berkata dengan nada rendah, “Kami minta maaf,
bahwa kami telah menghambat perjalanan kalian.” Mahisa Pukat
tersenyum. Katanya: “Sebenarnya semula aku juga merasa segan untuk
kembali sampai ke kedai ini. Tetapi ternyata hal itu ada juga
hasilnya, sehingga apa yang kita lakukan bersama-sama tidak
sia-sia.” “Ya,” desis pemimpin prajurit itu, “tetapi tanpa kalian
kami tidak akan berhasilmelakukan tugas ini.” Mahisa Pukat
tersenyum.Namun ia telah mengajak Mahisa Semu untukmelanjutkan
perjalanan. Mahisa Semu punmasih sempat juga minta diri untuk
kemudian segera berpacu mengikuti derap kaki kuda Mahisa Pukat.
Sementara itu, para prajurit dan sepuluh orang yang tertawan
itu sempat memandangi kedua ekor kuda yang berlarimeninggalkan
kepulan debu yang kelabu. “Nah,” berkata pemimpin prajurit itu, “
sekarang baru kalian tahu dengan siapa kalian berhadapan.” Kesepuluh
orang itu termangu-mangu. Mereka memang tidak tahu siapakah kedua
orang anak muda itu meski pun mereka mendengar pembicaraan antara
pemimpin prajurit itu dengan Mahisa Pukat.Orang-orang yang tertawan
itu memang belum tahu, siapakah Mahendra itu. Namun pemimpin
prajurit itu berkata, “Ketahuilah bahwa anak-anak muda itu adalah
anak Ki Mahendra. Ki Mahendra adalah saudara seperguruan dari
seorang yang bernama Witantra yang pernah berada di Kediri
sebagaimana Mahisa Agni.” Para tawanan itu mulaimerenungkan
kata-kata itu. Mereka mulai dapat membayangkan, bahwa Mahendra tentu
orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka
anaknya pun memiliki ilmu yang tinggi pula sehingga mereka ber
sepuluh tidakmampu sama sekalimenghadapinya. Namun dalam pada itu,
pemimpin prajurit itu pun berkata lantang: “Marilah. Kita pun akan
segera pergi ke Singasari. Beruntunglah kalian menjumpai lawan
sebagaimana kedua orang anak muda itu. Meski pun seandainya mereka
kehendakimereka dapatmembunuh kalian semuanya.” Tetapi tiba -tiba
pemilik kedai itu berkata: “Mereka dan juga kalian tidak
akanmembunuh kami, karena kalianmemerlukan keterangan kami. Namun
satu hal yang perlu kalian ketahui, tidak sepatah kata pun akan
dapat kalian peras dari mulut kami.” Wajah pemimpin prajurit itu
berkerut.Namun kemudian ia pun berkata: “Kami dapat membunuh
beberapa diantara kalian. Kami akan dapat mensisakan satu orang atau
dua orang atau tiga orang. Tetapi jika kami kehendaki kami akan
mensisakan sembilan orang saja. Seorang diantara mereka akan kami
bunuh tanpa senjata dan tidakmeny eret orang yang kesepuluh itu
dibelakang kaki kuda kami.” Pemilik kedai itu menegang sejenak.
Nampaknya ada sesuatu yang ingin diteriakkannya. Namun pemimpin
prajurit itu berkata: “Siapkan tali sabut kelapa itu. Siapkan kuda
yang paling tegar diantara kuda-kuda kita.” “Kuda Ki Lurah sendiri,”
desis seorang prajurit. Pemimpin prajurit itu termangu -mangu
sejenak. Namun kemudian ia pun berdesis: “Ya. Kudaku sendiri.” Wajah
pemilik kedai itu menjadi tegang. Tetapi ia tidak mengulangi lagi
kata-katanya. Nampaknya ia pun menjadi cemas bahwa para prajurit itu
benar-benar akan memperlakukannya dengan kasar. Demikianlah, sejenak
kemudian, maka sepuluh orang tawanan itu telah diperintahkan untuk
berjalan di depan. Kemudian para prajurit yang berkuda itu
mengikutinya di belakang. Mereka berjalan lambat sekali. Para
tawanan yang benarbenar nampak lemah dan hampir tidak bertenaga.
Namun mereka memang terpaksa untukmenempuh jarak yang cukup
jauh. Para prajurit itu sebenarnya memang tidak telaten. Tetapi
mereka tidak dapat memaksa orang-orang itu berjalan lebih cepat
meski pun mereka disakiti sekalipun. Bahkan mereka akan dapat
menjadi pingsan dan justru tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah mendekati pintu
gerbang Kotaraja. Keduanya memang menjadi ragu -ragu. Namun keduanya
pun kemudian telah memasuki pintu gerbang induk Kotaraja Singasari.
Para petugas yang ada di pintu gerbang telah menghentikannya.
Agaknya penjagaan di pintu gerbang itu lebih ketat dari bia sanya.
Meski pun Mahisa Pukat sudah lama tidak melalui pintu gerbang itu,
namun terasa sikap dan tanggapan para petugas terhadap orang- orang
yangmelewati pintu gerbang itu. Namun ternyata Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu telah tertahan di pintu gerbang. Berhubung dengan
laporan tentang dua orang berkuda yang dicurigai, maka
pemimpin prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah menaruh
perhatian terhadap kedua orang anakmuda itu. Meski pun ciri-ciri
yang disebutkan berbeda, tetapi para prajurit itu harus berhati-hati
menghadapi para prajurit sandi yang terbiasa mempergunakan
penyamaran. “Duduklah di gardu,” berkata seorang prajurit, “kalian
harus menjawab beberapa pertanyaan. Jika jawaban kalian tidak
meyakinkan, maka kalian akan dihadapkan kepada prajurit yang
pernah memberikan laporan tentang kehadiran prajurit sandi dari
Kediri.” “Bukankah tidak ada masalah antara Singasari dan Kediri ?”
bertanya Mahisa Pukat. “Kamilah yang akan bertanya kepada kalian.
Bukan sebaliknya,” sahut prajurit itu. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
tidak berniat untuk melakukan tindakan yang dapat menimbulkan per
soalan. Karena itu, maka keduanya melakukan apa yang diperintahkan
oleh para prajurit itu. Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu telah duduk di gardu di sebelah pintu gerbang induk
Singasari. Mereka telah menambatkan kuda-kuda mereka di belakang
gardu itu. Pertanyaan yang pertama, yang dilontarkan oleh
seorang prajurit yang ditugaskan untuk meneliti kedua orang anak
muda itu adalah: “Kalian petugas sandi dan Kediri ? “Bukan,” jawab
Mahisa Pukat. Anak muda itu masih akan memberikan keterangan. Tetapi
prajurit itu memotongnya: “Jawab pertanyaanku saja.” Mahisa Pukat
pun terdiam. “Kenapa kau mengamati keadaan Kotaraja Singasari ?
Bukankah Kediri termasuk wilayah Singasari?” desak prajurit itu.
Mahisa Pukat memang menjadi agak bingung. Namun kemudian ia
menjawab: “Kami tidak mengamati Kotaraja. Kami baru akan memasuki
Kotaraja.” “Kau tidak perlu berbohong. Kami sudah mendapat
keterangan tentang dua orang petugas sandi yang dikirim oleh Kediri.
Sikap itu telah membuat Singasari ju stru memperhatikan perkembangan
Kediri sekarang ini,” berkata prajurit itu. Mahisa Pukat menarik
nafas dalam-dalam. Sulit baginya untukmemberikan penjelasan karena
prajurit itu nampaknya tidak senangmendengar jawaban selain
yang sudah disiapkan di kepalanya. Namun karena itu Mahisa
Pukat justru berkata: “Ternyata tidak hanya dua orang yang telah
dikirim oleh sekelompok orang di Kediri. Tetapi sepuluh orang.”
Prajurit itu terkejut. Tiba -tiba saja ia membentak: “Jadi kau ber
sama dengan sepuluh orang datang ke Kotaraja ?” “Bukan aku,” jawab
Mahisa Pukat. “Kau janganmencoba untukmempermainkan kami,” geram
prajurit itu, “kau tahu bahwa aku dapat membunuh kalian berdua tanpa
persoalan apapun.” “ Itukah yang pantas dilakukan oleh seorang
prajurit ?” bertanya Mahisa Pukat. Wajah prajurit itu menjadi merah.
Tiba-tiba saja ia berteriak-“ Iblis kau. Sebut, siapakah
kawan-kawanmu itu.” Beberapa orang prajurit telah tertarik mendengar
bentakan-bentakan yang keras itu, sehingga beberapa orang
diantaramereka telahmendekat. “Apa katanya ?” bertanya salah seorang
diantaramereka. “ Ia mengaku datang ke Kotaraja bersama dengan
sepuluh orang.” jawab prajurit itu. “Sepuluh orang ?” beberapa
diantara para prajurit itu bertanya hampir berbareng. Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu saling berpandangan sejenak. Namun agaknya Mahisa
Semu pun mengertimaksud Mahisa Pukat. Karena itu,maka ia pun hanya
berdian did saja. Pemimpin prajurit yang bertugas yang
nampaknya mendengar pula pernyataan Mahisa Pukat itu pun telah
melangkah mendekat sambil berkata: “aku minta kau berkata dengan
bersungguh-sungguh. Kau tahu akibatnya jika kau mencoba
mempermainkan kami. Katakan, apakah benar kau datang ber sama
sepuluh orang petugas sandi dan Kediri.” “Bukan kami bersama sepuluh
orang. Tetapi petugas sandi dari Kediri itu ada sepuluh orang.”
jawab Mahisa Pukat. Wajah pemimpin prajurit itu menjadi tegang.
Katanya: “Sekali lagi aku bertanya apakah kau datang bersama sepuluh
orang petugas sandi dari Kediri?” Mahisa Pukat justru menjawab
tegas: “Tidak.” “Kesabaran kami sudah habis. Tetapi kamimasih
mencoba inginmendengar jawabmu,” geram pemimpin kelompok itu. “Aku
dapat menjelaskan. Beri aku waktu untuk berbicara, agar per
soalannyamenjadi jelas,” berkata Mahisa Pukat. “Bukankan kau sudah
berbicara sejak tadi ?” bentak pemimpin prajurit itu. “Aku perlu
kesempatan. Tadi aku sama sekali tidak boleh berbicara. Aku hanya
boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan sa ja. Padahal y g akan aku
jelaskan itu termasuk per soalan yang penting,” jawab Mahisa Pukat.
“Aku tidak sabar,” teriak seorang prajurit, “biarlah aku
mencekikmu.” “Seret anak anak itu ke tengah halaman. Ikat pada
tonggak tonggak kayu itu. Kita akan bertanya kepada mereka dengan
ditangan,” teriakyang lain. Mahisa Semu memang menjadi
gelisah. Tetapi Mahisa Pukat masih nampak tenang-tenang saja. Bahkan
ia berkata: “Dengan siapa sebenarnya aku berhadapan? Dengan prajurit
Singasari? Prajurit Kediri atau berhadapan dengan sekelompok orang
yang tidak terkendali oleh paugeran apa pun juga sehingga dapat
berbuat sesuka hati ?” “Diam kau,” teriak pemimpin prajurit itu.
“Bagaimana aku harus diam ? Kalian harusmendengarkan penjelasanku.
Sepuluh orang petugas sandi dari Kediri itu sudah tertangkap. Akulah
yang menangkap mereka,” Mahisa Pukat pun telah berteriak pula. Para
prajurit itu termangu-mangu sejenak. Bahkan mereka saling
berpandangan. Namun seorang diantara mereka berkata lantang: “Kau
sedangmengigau anak-anakmuda.” “Aku berkata sebenarnya. Tunggulah
kawan-kawanmu yang sedang menggiring sepuluh orang petugas
sandi itu. Sekelompok prajurit berkuda itu akan datang dengan
membawa para tawanan. Bertanyalah kepada mereka, siapakah yang
telah menangkap para petugas sandi itu,” berkata Mahisa Pukat dengan
lantang. Ternyata sikap Mahisa Pukat cukup meyakinkan mereka,
sehingga karena itu, maka pemimpin prajurit itu bertanya: “Apakah
kau tidak berbohong ? Sekelompok prajurit berkuda memang sedang
mengejar para petugas sandi. Tetapi hanya dua orang. Bukan sepuluh.”
“Sudah aku katakan, tidak hanya dua orang. Tetapi sepuluh.” jawab
Mahisa Pukat. “Bohong,” teriak salah seorang prajurit. “Selesaikan
dengan cara yang sesuai dengan sikap seorang prajurit,” geram
prajurityang lain. “Bagaimana menurut pendapatmu cara
yang sesuai dengan sikap seorang prajurit ?” terdengar
seseorang bertanya. Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang
perwira dari pasukan berkuda telah berada didalam pintu gerbang. Dua
dari pasukan berkuda telah berada di dalam pintu gerbang. Dua orang
prajurit yang bertugas hanya memandanginya dengan bingung.
“Apa yang sedang kalian lakukan ?” bertanya perwira prajurit dari pa
sukan berkuda yang memimpin sekelompok prajurit berkuda mencari
jejak dari orang-orang yang disangka petugas sandi dariKediri
itu. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun mengenali perwira yang berada
dipintu gerbang itu. Karena itu, maka keduanya telah melangkah
mendekati: “Dimana para tawanan itu ?” “Bersama pasukan kami,” jawab
pemimpin prajurit berkuda yang masih duduk dipunggung kudanya, “aku
sengaja mendahului mereka. Sebenarnya aku ingin mempersiapkan tempat
bagi sepuluh orang petugas sandi dari Kediri itu,” ia berhenti
sejenak, lalu, “Apa yang terjadi disini ?” “Nah, aku ingin
bertanya,” berkata Mahisa Pukat, “bagaimana jawabmu jika aku berkata
bahwa aku dan adikkulah yang telah menangkap sepuluh petugas
sandi dari Kediri itu.” Perwira itu mengerutkan keningnya, sementara
para prajurit yang bertugas diregol itu termangu-mangu. Bahkan
mereka menjadi tegang ketika mereka melihat perwira yang masih duduk
dipunggung kuda itu terseny um. Kemudian jawabnya: “Ya. Kalian
berdualah yang telah menangkap para tawanan itu. Bahkan seorang
diantara kalian berdua telah terluka meski pun hanya goresan-goresan
tipis ditubuh. Apa sebenarnya yang terjadi.” “Mereka menuduhaku
justru petugas sandi dari Kediri,” jawab Mahisa Pukat. Perwira
prajurit berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian
berkata: “Hanya salah paham saja. Lupakan.” “Tunggu,” berkata
pemimpin prajurit yang bertugas di regol, “jika benar
orang-orang itu sudah menangkap sepuluh petugas sandi
dariKediri,manakah orang-orang itu?” “Sudah aku katakan. Mereka akan
segera datang bersama para prajurit berkuda. Aku mendahului mereka
untuk menyiapkan tempat bagi para tawanan,” jawab pemimpin pa sukan
berkuda itu. “Kenapa kau harus bersusah pay ah menyiapkan tempat
bagi mereka ? Bukankah tempat itu sudah ada. Kau tinggal membawanya
kesana dan menyerahkan para tawanan itu kepada para prajurit yang
bertugas.” “Aku memang akan berbicara dengan para prajurit
yang bertugas,” jawab pemimpin pasukan berkuda yang
memburu petugas sandi itu. “Sebaiknya kau menunggu pa sukanmu dan
sepuluh orang tawanan seperti yang kau katakan itu,” berkata
pemimpin prajurityang bertugas itu. Perwira prajurit berkuda
itu mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia pun bertanya: “Jadi
kau juga mencurigai aku, bahwa aku akan meny elamatkan dua orang
yang kau tuduh petugas sandi dan Kediri ini ? Dengan demikian kau
pun menuduh bahwa aku telah berkhianat dan berpihak kepada Kediri ?
“Tidak sejauh itu,” jawab pemimpin prajurit yang bertugas itu, “aku
hanya ingin berhati-hati dengan tugasku.” “Aku tidak mau kalian
perlakukan seperti itu,” berkata pemimpin prajurit berkuda itu. Lalu
katanya kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, “marilah. Kita masuk ke
Kotaraja. Bukankah kau akan berbicara dengan ay ahmu ?.” “Tunggu,”
potong pemimpin prajurit yang bertugas, “aku minta kalian menunggu
seluruh pasukan berkuda dan sepuluh orang tawanan seperti yang kau
katakan.” “Aku tidak peduli,” jawab perwira prajurit berkuda itu,
“jika kau memaksa aku menunggu mereka, maka pa sukanku akan menahan
kalian dengan tuduhan menghambat tugas yang dibebankan kepada kami,
pasukan berkuda. Jika kalian menolak, maka kita akan bertempur. Aku
tidak peduli apakah aku akan ditangkap karena telah bertempur dengan
sesama prajurit Singasari dan akan diadili. Tetapi akumempunyai
harga diri.” “Kami pun mempunyai harga diri,” jawab prajurit
yang bertugas. Tetapi -perwira pasukan berkuda itu berkata
kepada Mahisa Pukat danMahisa Semu: “Ambil kuda-kuda kalian.”
Keduanya pun kemudian telah mengambil kuda-kuda mereka. Sementara
para prajurit yang bertugas telah bersiap pula. Pemimpinnya pun
kemudian telah memerintahkan orang-orangnya untuk berpencar. Perwira
pasukan berkuda itu pun kemudian berkata kepada Mahisa Pukat: “Kau
tadi dapat mengalahkan sepuluh orang hanya berdua. Sekarang, kita
bertiga. Disini ada kira-kira sepuluh orang prajurit.” “Kalian akan
melawan prajurit yang sedang menjalankan tugasnya ?” bertanya
pemimpin prajurityang bertugas di pintu gerbang itu. Tetapi perwira
prajurit berkuda itu pun bertanya: “Jadi kau juga akan dengan
sengaja menghambat tugasku ?” Kedua belah pihak pun kemudian telah
ber siap. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang juga ter singgung
atas perlakuan para prajurit itu temyata tidak berpikir panjang.
Mereka pun kemudian telah bersiap pula. “Aku adalah perwira dan
pasukan berkuda,” berkata pemimpin sekelompok prajurit berkuda itu,
“aku akan bertempur diatas punggung kuda. Jangan menyesal jika
terjadi sesuatu ataskalian.” Orang-orang yang lalu lalang di
pintu gerbang induk itu semula tidak memperhatikan apa yang
akan terjadi. Mereka mengira bahwa prajurit-prajurit itu sedang
bercakap-cakap seperti bia sa. Atau barangkali sedikit bertengkar
tentang persoalan-persoalan kecil yang terjadi diantara mereka.
Namun kemudian mereka melihat bahwa pertengkaran itu menjadi semakin
bersungguh-sungguh. Apalagi ketika para prajurityang bertugas
dipintu gerbang itumulaimemencar. Namun dalam pada itu, ketika
keadaan menjadi semakin panas, mereka telah melihat iring-iringan
pasukan berkuda di kejauhan. Mereka maju dengan sangat lambat karena
orangorang yang telah mereka tawan tidak dapat berjalan lebih cepat
lagi. Perwira pasukan berkuda yang melihat pasukannya di kejauhan
itu tiba -tiba telah menggerakkan tali kudanya. Demikian tiba-tiba
sehingga kuda itu meloncat dan berpacu dengan kencang. Namun ia
masih sempat berteriak: “Anakanakmuda. Tunggu aku disitu.” Para
prajurityang bertugasmemang terkejut. Mereka tidak sempat
menahan. Sementara perwira itu berpacu dengan cepatmenuju ke
pasukannya yang berjalan lamban. Para prajurit yang bertugas
diregol itu menjadi berdebardebar. Sementara Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu berdiri tegak disisi kuda mereka. Namun mereka tidak berniat
untuk meninggalkan tempat itu. Untuk beberapa saat suasana menjadi
tegang. Beberapa orang prajurityang bertugas itu menjadi
berdebar -debar. Mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan
oleh perwira itu. Apakah ia sekedar berlindung di dalam pasukannya,
atau ia mempunyai niat lain. Beberapa saat kemudian,maka perwira itu
telah sampai ke pa sukannya. Para prajurit yang berada di
regol tidak tahu perintah apa yang diberikannya kepada
prajurit-prajuritnya. Namun sejenak kemudian separo dari prajurit
berkuda itu pun telah meninggalkan pasukannya, berpacu mengiringi
pemimpinnya. Sementara delapan atau sembilan orang yang lain
tetapmengawal sepuluh orang yang sudahmenjadi lemah. Bahkan
mereka seakan-akan tidak mampu lagi untuk meneruskan perjalanan.
Delapan orang prajurit berkuda telah berpacu ke pintu gerbang kota.
Debu yang kelabu mengepul tinggi. Pemimpin prajurit di regol itu
berdiri tegak di depan pintu gerbang yang terbuka lebar. Ia
pun segera tanggap, bahwa pemimpin prajurit berkuda itu akan
mempergunakan kekerasan. Agaknya ia benar-benar ter singgung
mendapat perlakuan dan para prajurit di pintu gerbang. Tetapi
segalanya telah terjadi. Pemimpin prajurit di pintu gerbang itu
harusmempertanggung jawabkannya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun
kemudian sempat juga melihat sekelompok prajurit berkuda berpacu
menuju ke pintu gerbang. “Kesalah-pahaman itu telah berkembang,”
desis Mahisa Pukat. “Aku akan bertanggung jawab,” geram pemimpin
prajurit itu. “Ada seribumacam bentuk pertanggung jawaban,” desis
Mahisa Pukat “Kau tidak usah ikut campur,” bentak pemimpin prajurit
itu. Mahisa Pukat tidak berbicara lagi. Ia memang tidak sebaiknya
mencampuri persoalan para prajurit. Namun dengan demikian Mahisa
Pukat mengetahui bahwa diantara para prajurit kadang-kadang dapat
terjadi salah paham. Apalagi antar kesatuan sehingga dapat
menimbulkan akibat yang justrumerugikan segala pihak. Beberapa saat
kemudian, maka para prajurit dan pa sukan berkuda itu telah memasuki
pintu gerbang tanpa menghiraukan para prajurit yang bertugas.
Ternyata perwira yangmemimpin sekelompok pasukan berkuda itu
seakan-akan tidak melihat para prajurit yang berada di sekitar pintu
gerbang itu. Tetapi pemimpin pa sukan berkuda itu berhenti sejenak
sambil berkata kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. “Marilah. Kita
teruskan perjalanan kita memasuki Kotaraja. Tidak akan ada orang
yang menahan kalian. Nanti, kami antarkan kalian kepada ayah kalian,
Ki Mahendra.” Para prajurit yang berjaga-jaga di pintu gerbang
saling berpandangan sejenak. Pemimpin prajurit berkuda itu sama
sekali tidak menyapa mereka, seakan-akan mereka tidak ada di situ.
Namun pemimpin prajurit yang bertugas diregol itu agaknya juga
menahan. Meski pun ia tersinggung oleh sikap itu, tetapi ia
menyadari, bahwa pemimpin prajurit berkuda itu telah tersinggung
pula oleh sikapnya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu termangu-mangu
sejenak. Tetapi keduanya menarik nafas panjang ketika mereka telah
memasuki Kotaraja bersama sekelompok prajurit berkuda. Tidak terjadi
benturan kekerasan antara kedua kesatuan yang berbeda dan
masing-masingmerasa sedang melakukan tugas mereka. “Ternyata para
pemimpinnya mampu menahan diri,” berkata Mahisa Pukat hampir
berbisik ditelingaMahisa Semu. “Ya. Syukurlah,” sahut Mahisa Semu,
“jika terjadi benturan kekerasan,maka kita berdua akan terlibat.”
“Kita hanya sebagai saksi,” jawab Mahisa Pukat. “Justru karena itu,
kesaksian kita akan dapat tidak menguntungkan bagi salah satu
pihak,” berkata Mahisa Semu. “Ya. Mungkin pihak-pihak yang merasa
kita rugikan akan mendendam kepada kita,” desis Mahisa Pukat.
Keduanya pun terdiam. Mereka telah memasuki Kotaraja tanpa diganggu
lagi oleh para prajurit yang bertugas di pintu gerbang.
“Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka mempunyai kekuasaan,” berkata
pemimpin sekelompok pa sukan berkuda itu, “aku dapat mengerti,
karena itulah yang dapat mereka lakukan.” Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu mengerutkan keningnya. Namun mereka berkata didalam hati: “Para
prajurit di pintu gerbang itu tentu akan berkata lain.” Tetapi
sementara itu Mahisa Pukat sempat bertanya: “Bagaimana dengan para
prajurit yang membawa para tawanan?” “Sudah jela s. Mereka justru
tidak akan diganggu,” jawab pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu.
Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Ia pun yakin, bahwa yang
kemudian menyusul di belakangmereka itu tidak akan mengalami
gangguan apa pun juga. Sementara itu,maka perwira pa sukan berkuda
itu berkata kepada Mahisa Pukat: “Aku akan menghubungi para petugas
yang akan menerima para tawanan. Nanti aku antar kau ke istana.”
“Terima kasih,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi aku tidak perlu
membuatmumenjadi sibuk.” “Tidak. Tidak. Setelah aku meny erahkan
para tawanan tugasku selesai,” berkata pemimpin sekelompok pasukan
berkuda itu. “Kau tidak membuat taporan?” bertanya Mahisa Pukat.
Pemimpin sekelompok pasukan berkuda yang bertugas memburu dua orang
petugas sandi dari Kediri dan ternyata justru berhasil menangkap
sepuluh orang itu terse-ny um, Katanya: “Tentu. Aku harus membuat
laporan kepada Senapati yang memerintahku. Tetapi itu dapat
aku lakukan setelah akumengantarmu ke istana.” “Terima kasih,” jawab
Mahisa Pukat Bertiga diiringi beberapa orang prajurit berkuda mereka
telah menemui perwira yang bertugas di barak tahanan. Pemimpin
pasukan berkuda itu telah memberitahukan, bahwa ia telah membawa
sepuluh orang tahanan. Mereka adalah petugas sandi dariKediri.
“Tetapi bukan oleh pimpinan pemerintahan di Kediri apalagi oleh Sri
Baginda,” berkata perwira pasukan berkuda itu. “Jadi oleh siapa?”
bertanya perwira yang bertugas di barak tahanan itu. “Oleh para
pemimpin termasuk para pangeran yang sejak semula tidak mau
tunduk kepada per setujuan yang telah dibuat antara Kediri dan
Singasari. Mereka merasa bahwa tidak sepantasnya Kediri tunduk
kepada Singasari,” jawab pemimpin pasukan berkuda itu. “Baiklah,”
berkata perwira yang bertugas di barak tahanan, “mereka akan kami
tempatkan di bilikyang khusus.” “Mereka semuanya sepuluh
orang,” berkata pemimpin pa sukan berkuda itu, “letakkan mereka di
dua atau tiga bilik agar mereka tidak sempat membicarakan
rencana-rencana mereka ataumenentukan sikap bersama.” Perwira di
barak tahanan itu mengangguk. Jawabnya: “Baik. Semuanya akan kami
atur.” Pemimpin pasukan berkuda itu pun kemudian telah memerintahkan
para prajurit yang meny ertainya untuk menunggu kawan-kawannya. Ia
sendiri akan pergi ke istana untukmengantarkan kedua orang anakmuda
itu. Demikianlah maka diantar oleh perwira dari pa sukan berkuda itu
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menuju ke istana. Mereka berkuda
menyusuri jalan-jalan kota. Jalan yang sudah agak lama tidak
dilaluinya. Di pintu gerbang samping istana Singasari mereka tidak
menemui kesulitan apapun. Perwira dari pa sukan berkuda itu telah
menemui pemimpin prajurit yang bertugas dan mengatakanmaksud
kunjungan kedua orang anakmuda itu. “Jadi mereka anak-anak Ki
Mahendra,” desis pemimpin prajurityang bertugas itu. “Ya.
Mereka ingin menemui ay ahnya,” jawab perwira dari pa sukan berkuda
itu. Oleh seorang prajurit yang bertugas ketiga orang itu pun
telah diantarkan ke bangsal yang diperuntukkan bagi Mahendra
di halaman belakang istana. Mahendra agak terkejutmelihat kedatangan
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Keduanya serta perwira pasukan berkuda
yang mengantar keduanya pun dipersilahkan masuk ke bangsal
yang memang khusus diperuntukkan bagi Mahendra itu. Namun
perwira prajurit berkuda itu tidak dapat ikut berbincang bersama
mereka. Katanya: “Aku harus memberikan laporan tentang tugasku.
Bahkanmungkin kalian berdua akan mendapat beberapa pertanyaan
tentang para tawanan itu, karena kalian berdualah yang
sebenarnya telah menangkapmereka.” “Bukan kami,” jawab Mahisa Pukat,
“tetapi kalian. Aku kira keterangan yang demikian akan lebih baik
dan tidak akan menyangkut banyak pihak.” Perwira itu tertawa.
Katanya: “Para tawanan itu juga punya mulut. Mereka
dapatmenceriterakan apa yang telah terjadi.” Mahisa Pukat
menarik nafas dalam-dalam. Para tawanan itu memang akan dapat
berceritera tentang peristiwa yang telah terjadi. Bahkan mungkin
dibumbui disana-sini sehingga persoalanmenjadi lain dari peristiwa
yang sebenarnya. Adalah bijaksana pendapat perwira pasukan berkuda
itu, bahwa sepuluh orang itu harus dipisah-pisahkan, sehingga mereka
tidak sempat membuat keterangan palsu yang telah mereka
rancang bersama. Meski pun Mahendra mempersilahkan perwira itu untuk
singgah barang sejenak, namun ia telah minta diri karena ia harus
memberikan laporan segera tentang tugas yang dibebankan kepadanya.
Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah duduk berbincang
dengan Mahendra. Yang ditanyakan pertama sekali adalah keselamatan
penghuni padepokan Bajra Seta. Baru kemudian keperluan Mahisa Pukat
dan Mahisa Semu datang ke Singasari. Mahisa Pukat pun kemudian
telahmenceriterakan apa yang telah terjadi di padepokan Bajra
Seta. Orang-orang yang datang untuk membalas dendam tidak begitu
merisaukan. Namun kemudian hubungannya dengan langkah-langkah yang
telah diambil oleh orang- orang Kediri atau para pengikutnya. “Tentu
bukan karena Sri Baginda di Kediri,” berkata Mahisa Pukat yang
justru pernah bekerja bagi tugas-tugas sandi di Kediri. Mahendra
mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat berkata: “Kami ingin
memberikan peringatan tentang para petugas sandi Kediri yang
tersebar. Ternyata di Kotaraja hal seperti itu juga terjadi dan
sudah dimengerti.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Ya.
Para pernimpin di Singasari telah mengetahui kegiatan seperti itu.
Memang bukan kegiatan dari Sri Baginda di Kediri. Mereka adalah
orang-orang yang selalu tidak puas dengan keadaan yang
berkembang di Kediri sampai saat ini. Bukankah hal seperti ini sudah
berlangsung lama ? Dan kau sendiri ju stru pernah berada di
lingkungan yang sedang bertentangan di Kediri itu sendiri ?” Mahisa
Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya: “Jadi apa
yang akan dilakukan oleh Singasari terhadapmereka. Para
petugas sandi itu ?” “Kita memperlakukan mereka tidak sebagai
prajurit atau petugas sandi Kediri,” jawab Mahendra. “Maksud ay ah ?
Mereka dianggap orang -orang liar atau bahkan pengkhianat ?” Mahisa
Pukatmenjadi cemas. Mahendra, menarik nafas d dalam-dalam. Katanya:
“Tidak sekeras itu. Tetapi mereka bukanlah petugas atau prajurit
dari satu negara yang sedang berperang dengan Singasari.
Kepada para prajurit dan petugas yang meny erah, akan diperlakukan
sesuai dengan sikap seorang kesatria yangmenghadapi lawan yang sudah
tidak berdaya.” “Jadi, bukankah seperti yang aku katakan ?
Para petugas Sandi itu tidakmendapat perlindungan paugeran
sebagaimana seorang prajurit atau petugas satu negara yang
tertangkap meski pun sedang bermusuhan ?” desak Mahisa Pukat.
“Tetapi para prajurit Singasari masih memperlakukan mereka dengan
cukup baik. Namun hukuman yang diberikan kepada mereka adalah
hukuman yang paling sesuai dengan langkah-langkahyang
telahmereka ambil,” jawab Mahendra. “Hukumanmati ?” bertanyaMahisa
Pukat. “Hanya mereka yang bertanggungjawab,” jawab Mahendra, “tetapi
Singasari tidakmudahmenjatuhkan hukuman mati.” Mahisa Pukat
termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak dapat mengatakan apa pun
terhadap kebijaksanaan yang berlaku di Singasari. Namun dalam pada
itu, Mahisa Pukat pun kemudian sempat pula bertanya: “Sementara ini
ayah di Singasari telah berbuat apa saja ? Apakah ay ah ditetapkan
sebagai hamba di istana ini atau kedudukan lain ?” “Ya. Aku telah
menjadi salah seorang hamba diistana ini. Sebagaimana kakang
Witantra dan kakang Mahisa Agni, aku ditugaskan untuk memberikan
pertimbangan-pertimbangan atasbeberapa halyang dianggap penting,”
jawab Mahendra. “Jadi, jika ayah menganggap ada sesuatu yang
penting, ay ah datang menghadap Sri Maharaja ?” bertanya Mahisa
Pukat. Tetapi Mahendra menggeleng. Katanya: “Tidak. Jika Sri
Maharaja menganggap perlu berbicara dengan aku,maka aku
dipanggilnya.” Mahendra berhenti sejenak, lalu, “memang agak berbeda
dengan kakang Mahisa Agni yang telah dianggap keluarga sendiri.
Bahkan Sri Maharaja dalam olah kanuragan telah mendapat tuntunan
antara lain dari kakang Mahisa Agni. Demikian juga
kakangWitantrameski pun jaraknya lebih jauh dari kakang Mahisa Agni.
Dan sekarang, jarakku lebih jauh lagi.” “Barangkali Sri Maharaja
ingin memberikan kedudukan yang terhormat kepadaku, karena aku
adalah orang terdekat dari kakang Mahisa Agni dan kakangWitantra.”
“Jika demikian, apakah tidak lebih baik ay ah berada di padepokan ?”
bertanyaMahisa Pukat. “Aku juga berpikir demikian. Tetapi sudah
tentu tidak dalam waktu dekat. Aku harusmenghormati uluran tangan
Sri Maharaja kepadaku. Mungkin uluran itu akan sampai juga ke
padepokan Bajra Seta. Setidak-tidaknya restu Sri Maharaja akan dapat
mempunyai pengaruh yang besar diantara
perguruan-perguruanyang lain,” jawab Mahendra. “Tetapi
bukankah kita dapatmandiri ? Tanpa bantuan dari siapa pun padepokan
dan perguruan Bajra Seta akan tetap tegar,” jawab Mahisa Pukat. “Aku
percaya. Tetapi apa salahnya kita menerima uluran tangan Sri
Maharaja ? Apakah dengan demikian kita akan merasa terikat oleh
kebaikan hati sehingga kita harus berbuat sesuai dengan yang
dikehendaki oleh Sri Maharaja meski pun seandainya, sekali lagi aku
katakan, seandainya itu bertentangan dengan nurani kita ?” bertanya
ayahnya. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Sementara Mahendra
berkata selanjutnya: “Kita tidak u sah dibayangi oleh perasaan
seperti itu. Jika Sri Maharaja memberikan restu, tentu dengan niat
baik. Kita pun dapat menerimanya dengan baik pula. Seandainya kita
kemudian berbuat bagi Singasari sesuai dengan nurani kita, apakah
kita merasa bersalah ? Kita memang dapat melihat dan berbicara
tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan nurani kita. Tetapi
bukankah tidak semuanya yang dilakukan oleh Sri Maharaja
bertentangan dengan nurani kita?” Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Tetapi ia tidak segera menawab. “Sudahlah,” berkata ayahnya,
“beristirahatlah. Maksud kedatanganmu ke Singasari sudah menjadi
pertanda niat baik yang tumbuh dari hatimu. Bagaimana pun
juga, yang kau sampaikan kepadaku akan dapat menjadi bahan
pertimbangan. Bahkan akar gerakan dari orang-orang Kediri yang
menentang kebijaksanaan Sri Baginda telah menjalar sampai ke
padukuhan-padukuhanyang jauh dariKotaraja.” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Ternyata justru telah terjadi arus yang
berbalik. Mahisa Pukat ternyata tidak membawa keterangan baru bagi
Kotaraja tentang para petugas sandi, tetapi justru membawa berita
bahwa petugas-petugas sandi itu telah sampai di padukuhan-padukuhan
jauh diluar Kotaraja. Namun kedua-duanya memang hal yang
penting untuk diketahui oleh para pemimpin di Singasari. Dalam pada
itu, maka Mahendra pun bertanya kepada anaknya: “Bukankah kau akan
berada di Kotaraja barang dua tiga hari?” “Mahisa Murti sendiri di
padepokan,” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi ia mempunyai banyak kawan,”
desis Mahendra. Mahisa Pukat memang menjadi ragu-ragu. Namun
kemudian katanya: “Baiklah. Aku akan berada di Kotaraja dua atau
selama-lamanya tiga hari.” Namun satu hal yang tidak diketahui oleh
Mahisa Pukat adalah sikap salah seorang prajurit yang berada di
pintu gerbang saat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memasuki Kotaraja.
Prajurit yang merasa dirinya memiliki kelebihan. Ia tidak percaya
bahwa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berhasilmenangkap sepuluh
orang petugas sandi itu. “Hanya sebuah lelucon,” katanya kepada
kawan-kawannya. “Tetapi para prajurit yang menggiring para tawanan
itu juga mengatakan demikian,” jawab pemimpin prajurit yang
bertugas, yang merasa ter singgung oleh sikap perwira pasukan
berkuda itu. Namun seorang kawannya berkata: “Aku percaya bahwa hal
itu terjadi.” “Kenapa?,” bertanya prajurit yang tidak percaya
itu. “Mereka adalah anak Mahendra,” jawab kawannya itu. “Yang
berilmu tinggi adalah Mahendra. Itu pun kita belum pernah nielihat
buktinya, apakah benar ilmu kanuragannya yang tinggi atau sekedar
karena ia memilik pandangan luas tentang pemerintahan sehingga
diangkat menjadi salah seorang penasehat Sri Maharaja,” jawab
prajurit yang tidak percaya itu. “Para prajurit dari pasukan berkuda
itu tentu tidak akan berbohong. Untuk apa mereka mengatakan bahwa
keduanyalah yang telah menangkap sepuluh orang petugas sandi
itu? Bukankah mereka lebih berbangga jika mereka mengatakan bahwa
merekalahyang telah berhasil menangkap para tawanan itu,
justru melampaui tugas yang dibebankan kepada mereka untuk
menangkap hanya dua orang diantara para petugas sandi itu?” sahut
pemimpinnya. “Tentu kita tidak tahu maksud yang ter sembunyi
dibalik tindakan mereka yang tidak kita mengerti itu,” jawab
prajurit yangmasih tidak percaya itu. Namun pemimpin para prajurit
itu berkata: “Sudahlah. Itu bukan persoalan kita. Itu adalah per
soalan antara para prajurit dari pasukan berkuda dengan kedua orang
itu.” Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi prajurityang merasa
dirinya memiliki kelebihan itu bergumam hampir tidak terdengar oleh
kawan-kawannya: “Aku ingin menjajagi kemampuannya.” Seorang kawannya
yang mendengarnya mengerutkan dahinya.Namun ia pun kemudian
tertawa. “Seperti orang yang tidakmempunyai pekerjaan saja. Buat apa
kaumelakukannya? Mencari pujian atau kau ingin dengan cepat naik
pangkat?” “Tidak. Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin menjadi
puas jika aku dapatmengalahkannya,” jawab prajurit itu.
Kawan-kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka tidak segera
menanggapi sikap prajurit yang merasa dengki itu. Bahkan mereka pun
kemudian seakan-akan telah melupakan apa yang sudah terjadi.
Namun dalam pada itu, ketika prajurit yang tidak percaya akan
kemampuan Mahisa Pukat itu mendapat kesempatan untuk beristirahat
beberapa lama di sore hari, maka ia telah menemui seseorang di
Kotaraja. “Apa yang kau ketahui?” bertanya orang itu. “Sepuluh kawan
kita tertangkap,” jawab prajurit yang ternyata adalah salah
seorang dari petugas sandi Kediri. “Aku sudah tahu,” jawab orang
itu, “mereka adalah orangorang yang dungu. Mereka dikalahkan
oleh dua orang saja.” “Kedua anakmuda itu nampaknyamemang berilmu
tinggi. Mereka adalah anak Mahendra,” jawab prajurit itu. “Apakah
keduanya akan tinggal di Kotaraja agak lama?” bertanya orang itu.
“Aku tidak tahu. Tetapi sekarang mereka berada di istana mengunjungi
ayahnya,” jawab prajurit itu. Orang yang ditemuinya itu
termangu-mangu sejenak. Namun katanya: “orang itu harus mendapat
hukumannya. Kenapa ia ikut campur dalam per soalan kita?” “Aku sudah
mengatakan kepada kawan-kawanku di dunia keprajuritan bahwa aku
memang ingin mencoba kemampuan anak-anakmuda itu,” berkata prajurit
itu. “Jebak orang itu. Kita akan membunuhnya,” berkata orang yang
ditemuinya itu. “Kita harusmempunyai satu cara,” berkata prajurit
itu pula. “Bukankah orang itu pada suatu saat akan meninggalkan
Kotaraja kembali ke rumahnya sendiri?” bertanya orang yang
ditemuinya. Prajurit itu mengangguk. Katanya: “Agaknya memang
demikian, tetapi kapan.” “Ternyata kau dungu juga seperti sepuluh
orang yang tertangkap itu,” berkata orang yang
ditemuinya itu. “Kenapa ?” bertanya prajurit itu dengan heran. “Kau
sudah terlanjur menunjukkan sikap terhadap kedua anak Mahendra itu.
Bukankah dengan demikian, jika terjadi sesuatu, kau akan segera
dituduhmelakukannya ?” desis orang yang ditemuinya itu. Prajurit
itumerenung. Katanya: “Tetapi aku sudah terlanjur mengatakannya.
Meski pun demikian, persoalannya bukan persoalan antara Singasari
dan Kediri.” “Memang bukan. Tetapi aku berniat menghabisi kedua
orang itu. Bukan sekedar mencobai dan menyakitinya,” berkata orang
yang ditemuinya itu. Prajurit itu termangu-mangu. Katanya: “Kenapa
harus dibunuh?”- “Jangan bodoh. Bukankah karena mereka, sepuluh
orang kita sudah tertangkap. Untunglah bahwa sepuluh orang itu
termasuk orang- orang yang telah dipisahkan dari kita,
sehingga mereka tidak akan meny ebut nama kita,” berkata orang
yang ditemuinya itu. Prajurit itu termangu-mangu. Namun
kemudian katanya: “Jika kedua orang itu harus dibunuh, maka aku
tidak akan kembali lagi ke lingkungan keprajuritan Singasari.”
“Kedudukanmu memberikan keuntungan kepada kita,” desis orang
yang ditemuinya. “Tetapi keterlanjuranku dapat membahayakan
keselamatanku.” “Ajak saksi. Biar saksi itu melihat bahwa kau tidak
membunuhnya. Tetapi baru kemudian, setelah kau tinggalkan kedua
orang itu dalam keadaan yang buruk, kami akan membunuhnya. Dengan
demikian kau tidak dapat dituduh membunuh kedua orang itu,” orang
itu berhenti sejenak, lalu, “itu kalau kau benar-benar menang atas
keduanya. Tetapi jika kau kalah,maka kami tidak akan dapatmembantumu
jika kau tidak ingin disebut terlibat dalam pembunuhan itu.” “Sampai
kapan kau bertugas di pintu gerbang ?” bertanya orang yang
ditemuinya. “Sepekan. Aku baru mendapatkan dua hari,” jawab prajurit
itu. “Jadi masih ada tiga hari lagi,” desis orang yang
ditemuinya, “aku kira anak itu tidak akan terlalu lama di Kotaraja.
Ingat, jika kau melihat mereka lewat, kau harus mengikutinya dan
ingat, bawa saksi. Kau dapat berterus terang menantangnya. Karena
kau akanmenjadi isyarat, bahwa orang yang harus kami bunuh adalah
orang yang kau ikuti dan kau tantang berkelahi. Menang atau
kalah, bukan soal bagiku, karena kami akan bertindak atas mereka
setelah kau selesai dan meninggalkan orang itu.” Prajurit itu
termangu-mangu. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan. Ia sudah
terlanjur melakukan satu kesalahan. Karena itu,maka ia harus
benar-benar berkelahi. Kalah ataumenang. Sejenak kemudian, prajurit
itu telah berada di tugasnya kembali. Ia masih akan bertugas di
pintu gerbang itu tiga hari lagi. Namun selama itu, ia
harusmengawasi orang-orang yang berlalu lalang di pintu gerbang.
Bahkan ia tidak lagi mempergunakan waktu-waktu istirahatnya untuk
berjalanjalan atau pergi ke mana pun juga, karena ia memang dianggap
belum berkeluarga. Bahkan saat-saat ia mandi pun ia selalu berpesan
kepada kawan-kawannya: “Jika kau lihat kedua anak muda itu, hentikan
mereka. Aku ingin berbicara dengan mereka. Aku benci melihat
kesombongan mereka justru karena prajurit -prajurit berkuda itu
menganggap keduanya sebagai pahlawan.” Kawan-kawannya masih saja
mentertawakannya. Seorang diantara mereka berkata: “Kenapa kau
begitu kasar menaruh perhatian kepada keduanya ? Apakah kau merasa
dirugikan ? Apakah keduanya pernah menyakitimu atau mempunyai
persoalan khusus denganmu ?” “Tubuhku memang tidak disakiti. Tetapi
hatiku yang tersinggung oleh sikap dan perbuatannya,” jawab
prajurit itu. “Bagaimana jika saat anak itu kembali, diiringi pula
oleh prajurit berkuda ?” bertanya kawannya. “Aku akan menantangnya
langsung. Tentu tidak akan ada orang yang turut campur. Kalah
atau menang bukan lagi persoalan bagiku,” jawab prajurit itu.
Kawan-kawannya tidak menghiraukannya lagi. Mereka menganggap
prajurit itu baru mabuk tuak. Namun ternyata Ia ber sungguh-sungguh.
Setiap saat ia tidak ada di pintu gerbang, ia selalu berpesan
wanti-wanti. Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu masih
berada di tempat yang diperuntukkan bagi Mahendra. Selama
kedua anak muda itu berada di Kotaraja, Mahendra memang pernah
dipanggil menghadap secara khusus tidak disaat diadakan pa seban.
Ada beberapa hal yang dibicarakan. Sementara Mahendra memberitahukan
kepada Sri Maharaja, bahwa seorang anaknya dan seorang cantrik
dipadepokannya telah datang untukmemberitahukan apa yang telah
terjadi di padepokannya. “Jadi jaringan itu sudah merambah ke
padukuhan,” desis Sri Maharaja. Mahendra mengangguk hormat
sambilmenjawab: “Hamba Sri Maharaja. Agaknya segolongan pemimpin di
Kediri benar2 inginmenilai Singasari seutuhnya.” “Baiklah,” berkata
Sri Maharaja Singasari, “kita akan menanggapinya. Kita akan
berbicara dengan para pemimpin dan panglima di Singasari.” “Hamba
Sri Maharaja,” sahut Mahendra. “Namun sebaiknya kau dapat memberikan
pesan kepada anakmu agar ia berhati2,” berkata Sri Maharaja pula.
“Hamba Sri Maharaja. Untuk padopokan hamba serta lingkungannya,maka
anak hamba akan dapat berbuat sesuatu. Tetapi bagaimana dengan
daerah2 lain?,” berkata Mahendra kemudian: “tentu Kediri bukan
sajamengamati perkembangan terakhir Singasari. Tetapi juga berusaha
untuk menanamkan pengaruhnya agar sikap mereka mendapat dukungan,
terutama bagi orang2 Kediri dan para Akuwu di Singasari yg mungkin
akan dapatmemberikan dukungan kepada mereka.” Sri Maharaja
mengangguk-angguk. Katanya kemudian: “Persoalannya memang harus
dipecahkan bukan sekedar untuk satu dua tempat. Baiklah paman
Mahendra. Kita akan segeramengadakan pertemuan khusus.” “Ya. Tetapi
bukankah paman Mahendra tidak akan meninggalkan istana?” bertanya
Sri Maharaja. “Tidak. Hamba tidak akan ikut kembali ke padepokan,”
jawab Mahendra. “Kapan anakmu akan kembali ke perguruannya?”
bertanya Sri Maharaja pula. “ Ia akan berada di Singasari tiga hari
tiga malam,” jawab Mahendra. “Baiklah. Padepokanmu akan dapat
menjadi salah satu sumber keterangan. Setiap kali aku akan
memerintahkan penghubung untuk pergi ke padepokan Bajra Seta.
Mungkin ada keteranganyang dapatmenjadi bahan pertimbangan
kami selain bahan-bahan yang tentu akan kami himpun dari para Akuwu,
namun juga dari para petugas sandi,” berkata Sri Maharaja. Namun
katanya kemudian, “Jika anakmu dan cantrik itu akan kembali ke
padepokan, biarlah mereka minta diri kepadaku.” “Hamba Sri
Maharaja,” jawab Mahendra, “hamba akan membawamerekamenghadap.”
Sebenarnyalah sehari kemudian, menjelang hari keberangkatan Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu kembali ke padepokan, mereka telah dibawa oleh
Mahendra untuk menghadap. Sri Maharaja telah memberikan kesempatan
kepada anak Mahendra itu menjelang sore hari dan diterima di serambi
samping. Yang menerima Mahisa Pukat dan Mahisa Semu bukan hanya Sri
Maharja, tetapi juga Ratu Angabaya. Kedua -duanya pernah mengenal
Mahisa Pukat sebelumnya, sehingga mereka dapat berbicara dengan
lancar. Mahisa Semu mash juga ter sendat-sendat ketika satu dua kali
ia harus menjawab pertanyaan Sri Maharaja atau Ratu Angabaya. Namun
semakin lama, ia pun menjadi semakin rancak juga berbicara. “Kenapa
Mahisa Murti tidak kau ajak serta?” bertanya Sri Maharaja. “Ampun
Sri Maharaja, Mahisa Murti harus menunggui padepokan kami. Kami
tidak dapat bersama-sama meninggalkan padepokan itu dalam suasana
seperti ini,” jawab Mahisa Pukat. Sri Maharaja mengangguk-angguk. Ia
mengerti bahwa salah seorang diantara kedua anak Mahendra itu harus
berada di tempat. Kepada Mahisa Pukat, Sri Maharaja juga menyatakan
kesediaannya untuk selalu mengirimkan penghubung. Bukan sa ja antara
Mahendra dan anak-anaknya, tetapi terutama laporan-laporan tentang
kegiatan padepokan itu serta pengamatan mereka terhadap keadaan
lingkungan mereka. Bagaimana pun juga kegiatan segolongan orang-
orang Kediri itu harusmendapat perhatian. Seperti yang
dikatakan oleh Mahendra, maka ternyata Sri Maharaja dan Ratu
Angabaya menaruh perhatian yang besar terhadap perkembangan
padepokan Bajra Seta, sehingga Sri Baginda itu pun berkata: “Pada
saatnya, aku akan mengirimkan sesuatu yang dapatmembantu
mengembangkan padepokan itu. Mungkin alat-alat pertanian, mungkiu
perlengkapan lain yang kalian butuhkan. Sekedar untuk membantu
perkembangan padepokanmu meski pun aku tahu bahwa tanpa bantuanku
padepokanmu akan berkembang dengan baik. Tetapi usahamu menempatkan
orang-orang yang sebelumnya tidak berarti sama sekali bagi kehidupan
orang banyak namun yang akhirnya menyadari kesesatan mereka di
sebuah padukuhan adalah usaha yang sangat baik. Kerenanya
mereka patut juga diberi kelengkapanyangmereka butuhkan.” “Ampun Sri
Maharaja. Hamba atas nama seisi padepokan serta lingkungan kami,
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” jawab Mahisa Pukat.
“Tetapi aku tidak dapat menyertakan bersamamu besok,” berkata Sri
Maharaja kemudian. “Sekali lagi hamba mengucapkan terima kasih,”
jawab Mahisa Pukat yang mempergunakan kesempatan itu untuk
mohon diri pula. “Baiklah,” berkata Sri Maharaja, “tetapi
hati-hatilah. Keadaan berkembang kearahyang tidak kita inginkan.”
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu mengangguk dalam-dalam. Dengan tulus
mereka masih saja mengulangi ucapan terima kasih atas perhatian Sri
Maharaja di Singasari atas padepokan mereka. Demikianlah, maka
bersama Mahendra mereka pun telah meninggalkan serambi samping,
kembali ke tempat yang diperuntukkan bagi Mahendra,masih di
lingkungan istana. Keduanya punmalam itu telah berkemas, karena esok
pagipagi keduanya akan meninggalkan Kota raja kembali ke
padepokanmereka. Ternyata Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak
memperpanjang kehadiran mereka di Kotaraja. Seperti yang sudah
mereka rencanakan maka mereka pun akan benarbenar kembali esok pagi.
“Aku tidak sampai hati meninggalkan Mahisa Murti terlalu lama,”
berkata Mahisa Pukat. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat
mengerti perasaan Mahisa Pukat. Keduanya jarang sekali berpisah.
Karena itu,maka tiga hari tiga malam ditambah perjalanan ke dan dari
Kotaraja, bagi Mahisa Pukat tentu terasa lama sekali. Karena itu,
maka Mahendra t idak menahannya lagi. Di keesokan harinya, Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu benarbenar telahminta diri. Namun rasa-rasanya
ada sesuatu yang menggelisahkan Mahendra. Karena itu maka ia pun
berkata: “Ketika kalian memasuki Kotaraja, kalian telah membawa satu
per soalan. Kalian telah menangkap sepuluh orang petugas sandi dari
Kediri meski pun bukan dari pemerintahan di Kediri. Karena itu
berhati-hatilah. Mungkin kawan-kawan mereka telah mendendam.” Mahisa
Pukat mengangguk hormat. Sambil mencium tangan ayahnya ia berkata:
“Aku mohon dua restu ayah. Aku akan berhati-hati.” Mahendra mengusap
kepala anaknya sambil menjawab: “Aku akan selalu berdoa bagi kalian
berdua dan sisi padepokan.” Mahisa Semu pun kemudian telah mohon
diri pula kepada Mahendra, sementara Mahendra berpesan: “ Jangan
lupa mengobati luka-lukamu meski pun nampaknya sudah sembuh.” “Baik
Ki Mahendra,” jawab Mahisa Semu. Demikianlah maka keduanya pun telah
meninggalkan istana Singasari menyusuri jalan-jalan Kotaraja
yang masih sepi. Matahari masih belum terbit, meski pun langit
telah menjadimerah. Ternyata keduanya tidak ingin singgah ke pasar
yang tentu sudah mulai ramai. Keduanya ingin segera
meninggalkan Kotaraja,memasuki jalan langsung ke padepokanmereka.
Ketika matahari mulai menjenguk cakrawala keduanya telah melintasi
pintu gerbang Kotaraja yang sudah terbuka. Ju stru saat orang
yang menunggunya bertugas dihari terakhir. Karena itu, demikian
prajurit itu melihat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu lewat, maka dengan
serta merta ia telah menghentikannya. “Ada sesuatu yang ingin
aku bicarakan,” berkata prajurit itu. Mahisa Pukat terkejut. Namun
ia pun telah berhenti pula ber sama Mahisa Semu. Keduanya segera
meloncat turun dari punggung kuda mereka. “Ada apa Ki Sanak ?”
bertanya Mahisa Pukat. “Bukankah kalian berdua yang dikatakan oleh
perwira prajurit berkuda itu sebagai orang yang telah
menangkap sepuluh orang prajurit sandi dari Kediri,” bertanya
prajurit itu. “Aku tidak tahu apakah mereka prajurit atau sekedar
orang-orang kebanyakan dalam tugas sandi,” jawab Mahisa Pukat.
“Siapa pun mereka, tetapi aku tidak percaya bahwa kalian berdua
dapat mengalahkan sepuluh orang, apalagi para petugas sandi yang
tentu sudah mendapat latihan khusus,” geram prajurit itu. Mahisa
Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Baiklah. Jika kalian
tidak percaya, tidak mengapa. Lupakan sa ja.” “Tidak mungkin aku
melupakan kesombonganmu saat kau datang bersama perwira pasukan
berkuda itu,” jawab prajurit itu. “Kami tidak datang ber sama
perwira prajurit berkuda itu,” berkata Mahisa Pukat selanjutnya,
“kami berdua datang lebih dahulu, baru perwira itu datang kemudian.”
“Ya, itulahyang aku maksud. Kau kemudianmenjadi sangat sombong
danmenyakitkan hati,” berkata prajurit itu. “Maaf, aku tidak sengaja
berbuat demikian,” balas Mahisa Pukat. Ia tidak terbiasa menahan
diri sejauh itu. Tetapi karena ia tidak ingin berselisih dengan
seorang prajurit,maka Mahisa Pukat itu telahmelakukannya.
“Terlambat,” jawab prajurit itu. “Jadi apakah maksudmu yang
sebenarnya ?” ternyata Mahisa Pukat pun menjadi sulit untuk
terlalumenahan diri. “Aku ingin menjajagi kemampuanmu,” jawab
prajurit itu. Mahisa Pukat menggeram. Ia mencoba menahan diri,
betapa jantungnya seakan-akan hampirmeledak. “Tetapi t idak disini,”
berkata prajurit itu, “tunggulah aku berpakaian sejenak. Kita akan
pergi ke bulak sebelah atau ke kedai yang kau maksudkan. Kita
akan membuktikan, apakah kau seorang pembohong atau tidak.” “Kenapa
sejauh itu ?” berkata Mahisa Pukat, “sebenarnya kau dapatmenghubungi
prajurit berkuda itu danmenanyakan kebenaran berita itu. Bukan
langsungmembuktikannya.” “Kau takut ?” bertanya prajurit itu. Mahisa
Pukatmenarik nafas dalam-dalam. Ia merasa sikap prajurit itu sangat
aneh. Bahkan berlebihan. Namun Mahisa Pukat pun tidak ingin dianggap
ketakutan menghadapi tantangan itu. Sebenarnyalah yang menjadi
heran bukan hanya Mahisa Pukat saja. Bahkan kawan-kawannya pun
menjadi heran. Mungkin saja seseorang tidak percaya bahwa kedua anak
muda itu sudah mengalahkan sepuluh orang. Tetapi buat apa
harusmembuktikannya? Tetapi prajurit itu justru mengajak dua orang
kawannya untukmenjadi saksi. “Lihat, apakah benar orang-orang itu
pantas dipercaya,” berkata prajurit itu. Dua kawannya ternyata tidak
berkeberatan untuk menjadi saksi. Bahkan keduanya memang ingin
melihat apa yang sebenarnya akan terjadi. Pemimpin prajurit
yang bertugas itu pun sebenarnya menganggap sikap prajuritnya
itu berlebihan. Tetapi pemimpin prajurit yang bertugas itu
sendiri memang merasa tersinggung atas sikap pemimpin prajurit
berkuda yang menganggapnya tidak berarti sama sekali. Karena itu,
jika kedua orang anakmuda itumemang orangorang yang dimanjakan
oleh para prajurit berkuda, biarlah mereka tahu bahwa prajuritnya
pun memiliki kelebihan sebagaimana kedua orang anakmuda itu. Dengan
demikian maka pemimpin prajurityang bertugas di hari terakhir
itu telah memberikan ijin kepada ketiga orang prajuritnya untuk
mengikuti kedua orang anak muda itu sampai ke bulak panjang. Ketiga
prajurit itu pun kemudian dengan cepat berpakaian. Mereka berjalan
mengikuti Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang juga berjalan
sambilmenuntut kudanya. Mereka menuju ke bulak panjang yang tidak
begitu banyak dilalui orang. Ketika mereka menjumpai simpangan
kecil, maka mereka telah berbelok mengikuti aliran sebuah parityang
agak besar. Dalam pada itu, dari kejauhan, dua orang yang
ditugaskan untuk mengawasi kedua orang anak muda yang telah
menangkap sekelompok petugas Sandi itu hampir menjadi putus asa.
Setelah berganti- ganti beberapa kali, maka kedua orang yang
bertugas pagi itu melihat dua orang yang membawa kudanya diikuti
oleh tiga orang prajurit dari pintu gerbang Kotaiaja. “
Itulahmereka,” desis seorang diantara keduanya. “Aku hampir menjadi
gila. Tetapi hari ini adalah hari terakhir kita menunggunya. Jika
hari ini keduanya tidak lewat, maka kita menganggap bahwa keduanya
memang tidak akan lewat. Apalagi hari ini adalah tugas prajurit itu
dihari terakhir sehingga isy arat seperti yang dilakukannya
itu tidak akan dapat diberikannya esok atau hari2 selanjutnya,”
sahut kawannya. “Tetapi kita harusmenemukan cara lain. Kedua
anakmuda itu harus kita dapatkan. Keduanya benar-benar telah
menyebabkan sepuluh orang kawan-kawan kita tertangkap. Apakah kita
akan membiarkannya lepas?” berkata orang yang pertama. Kawannya
mengangguk-angguk. “Kedua orang anak muda itu memang sudah berdosa
besar, sehingga mereka memang harusmemikul hukuman atas dosa mereka
itu.” Seperti yang harus dilakukannya,maka kedua orang itu pun telah
melepa skan dua ekor burungmerpati dengan sendaren pada ekornya.
Kedua burung itu akan terbang tinggi dan kembali ke tempat
yang sudah ditentukan. Di tempat itu pulalah beberapa orang
telah bersiapmenunggu isy arat itu. Ketika mereka mendengar suara
sendaren, maka seorang diantara mereka pun telah keluar dan turun ke
halaman. Ternyata yang dilihatnya adalah burung merpati
yang telah dibawa oleh kedua orang yang mengawasi pintu
gerbang Kotaraja. “Akhirnya, setelah kita menjadi jemu terhadap
pekerjaan ini, kita dapat berhasil. Kedua orang itu tentu sudah
keluar dari pintu gerbang Kotaraja, diiringi oleh kawan kita yang
bertugas di lingkungan keprajuritan itu sebagaimana
dijanjikannya,”-berkata orang itu kepada kawan-kawannya yang ada
didalam. “Kita per siapkan sekelompok orang yang dengan pasti
akan dapat membunuh mereka berdua,” berkata seorang yang bertubuh
tinggi tegap seperti raksasa. “Semuanya ada limabelas orang,”
berkata orang kawannya, “ditambah dengan kedua orang yang mendapat
giliran mengawasi pintu gerbang Kotaraja itu.” Jika sepuluh orang
itu tidak mampu bertahan melawan keduanya, maka tujuhbelas orang
tentu akan mampu membunuh keduanya. Jika kita gagal, maka biarlah
kita bersamasama dimusnahkannya. Karena kita memang tidak berharga
sama sekali,” berkata orang yang bertubuh tinggi tegap seperti
raksasa itu. Demikianlah, dengan cepat mereka pun segera berkemas.
Mereka semuanya, lima belas orang, dengan tergesa-gesa telah
meninggalkan rumahyang mereka pergunakan itu,menyusuri pematang
untukmengambil jalan pintas. Kedua orang yang memberikan
isyarat dengan burung merpati itu telah menunggu mereka dan
menunjukkan kemana orang-orang yang mereka cari itu pergi. “Kita
menunggu prajurit itu menyelesaikan tugasnya. Kalah atau menang.
Kita baru akan datang kemudian,” berkata orang bertubuh raksasa itu.
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka harus menjaga agar prajurit
itu tidak terasa terlibat dalam rencana mereka. Saksi-saksi akan
mengatakan, bahwa prajurit itu hanya melakukan penjajagan, kemudian
meninggalkannya. Kalah atau menang. Yang terjadi kemudian, sama
sekali diluar tanggung jawab prajurit itu. Sebenarnyalah bagi
kawan-kawannya yang dilakukan oleh prajurit itu tidak lebih
dari satu isy arat, bahwa orang yang diikuti dan kemudian
ditantangnya untuk bertempur itulah orang-orang yang harus
dimusnahkan. Beberapa saat kemudian,maka prajurit yangmembawa dua
orang saksi itu telah berada di tempat yang dianggap sepi. Jalan
kecil atau lebih tepat di atas tanggul parit, prajurit itu kemudian
berhenti dan menantang Mahisa Pukat dan Mahisa Semu untuk
membuktikan, apakah benar mereka dapat mengalahkan sepuluh orang
yang tentu terlatih baik. “Baiklah. Aku seorang diri. Kalian dapat
bertempur berdua,” berkata prajurit itu. Tetapi Mahisa Pukat
berkata: “Tidak. Aku akan bertempur seorang diri.” “Jangan terlalu
sombong. Aku sebenarnya tidak ingin mematahkan lemermu. Tetapi jika
kau terlalu sombong,maka kau membuat aku menjadi semakin marah,”
berkata prajurit itu. “Terserah saja kepadamu,” berkata Mahisa
Pukat, “kau dapatmarah, jengkel, kecewa atau perasaan apa saja.”
“Cukup,” geram prajurit itu, “jangan memaksa aku kehilangan kendali
sehingga membunuhmu. Aku tidak ingin melakukannya, karena aku hanya
ingin membuktikan kemampuanmu.” Mahisa Pukat pun kemudian segera
bersiap. Ia tidak mau membiarkan Mahisa Semu menghadapi lawannya
itu, sebagaimana diinginkannya. Sambil berbisik Mahisa Pukat
berkata: “Jangan. Mungkin ia benar- benar memiliki ilmu yang
tinggi.” Mahisa Semu tidak memaksa. Sementara prajurit itu berkata:
“Marilah berdua. Sudah aku peringatkan. Jangan terlalu sombong. Kau
akan meny esal nanti.” Mahisa Pukat yang sudah bersiap itu
berkata: “Aku akan segera mulai. Jika kau masih berbicara saja, maka
kau akan kehilangan waktu yang sangat berharga pada serangan
pertama.” “Anak iblis,” prajurit itu mengumpat. Mahisa Pukat tidak
menjawab lagi. Tetapi kakinya mulai bergerak meski pun hanya sekedar
untuk menggelitik lawannya. Sementara itu lawannya pun segera ber
siap pula. Kedua tangannya bergerak dengan cepat. Kakinya
berloncatan dengan tangkasny a. Sekali-sekali meloncat mendekat.
Kemudian melenting menjauh. Tangannya bersilang di dadanya, namun
satu tangannya pun kemudian terjulur dengan telapak tangan
menelungkup dan ibu jari terlipat. Sedangkan tangannya yang
lain bergerak mendatar dan telapak tangannya yang juga
menelungkup berada di depan lengannya. Namun kemudian tangan yang
terjulur itu ditariknya. Dengan satu loncatan kecil prajurit itu
telah merubah sikapnya. Tangannya yang terjulur kemudian
merentang. Seterusny a kedua tangannya pun berputar di depan
dadanya, kemudian sambilmemiringkan tubuhnya kedua tangannya itu ber
silang di depan wajahnya. Satu gerakan yang manis telah melemparkan
prajurit itu langsung melipat kakinya rendahrendah, sehingga
prajurit itu terduduk di tanah. Sebelum lawannya berbuat sesuatu,
prajurit itu telah melenting berdiri sambilmenjulurkan kakinyameny
erang ke arah lawannya. Mahisa Pukat yang berdiri saja sambil
menunggu, dengan sigapnya menghindari serangan itu. Demikian orang
itu kemudian berdiri tegak, maka Mahisa Pukat langsung
meloncatmendekat. Tanpa banyak bergerak, tangannya telah menyusup
diantara pertahanan prajurit yang ternyata sangat rapuh itu. Satu
pukulan yang keras menghantam bagian bawah dadanya, sehingga
serangan itu rasa -rasanya langsung mengenai ulu hati. Prajurit itu
membungkuk sambilmengaduh menahan sakit yang menggigit bagian dalam
tubuhnya. Namun selagi ia terbungkuk, maka Mahisa Pukat telah
mengayunkan tangannya. Dengan sisi telapak tangannya, Mahisa Pukat
telah memukul tengkuk prajurit itu. Tidak dengan sepenuh tenaganya.
Namun ternyata pukulan itu telah mengakhiri perlawanan prajurit yang
belum sempat berbuat sesuatu itu kecuali berloncatan dengan tangan
yang berputaranmelingkar lingkar. Prajurit itu jatuh tertelungkup.
Terdengar ia mengerang kesakitan. Namun ia sudah tidakmampu bangkit
lagi. Kedua orang kawannya yang menjadi saksi dengan tergesa - gesa
mendekatinya. Kemudianmenolongnya untuk bangkit. Orang itu memang
berusaha untuk bangkit. Tetapi ia tidak mampu berdiri tegak sendiri.
Kedua kawannya harus memeganginya danmemapahnya. Bahkan seorang
diantara kedua kawannya sempat bertanya: “Apakah penjajaganmu sudah
selesai atau baru akan mulai? -Orang itu mengerang kesakitan.
Katanya: “Bukankah aku belummati?” “Tentu belum. Kau baru akan mulai
menjajagi kekuatan anak muda yang menangkap sepuluh orang petugas
sandi, tetapi kau tidak percaya. Nah, anak itu sudah siap.
Lakukanlah,” berkata kawannya yang memapahnya. “Jangan gila. Rasa
-rasanya leherku patah, seisi dadaku rontoh- semuanya,” berkata
prajurit itu. Kedua kawannya menarik nafas panjang. Setelah saling
memandang sejenak, maka seorang diantara kedua orang kawannya itu
berkata: “Jadi, kau sudah merasa bahwa kau kalah?” “Anak iblis,”
geram prajurit itu, “ia curang dan licik. Sebelum aku bersiap, ia
sudah menyerang.” “Kaumeny erang lebih dahulu,” berkata kawannya. “
Itulah. Selagi akumeny erang, ia justru memanfaatkan saat seperti
itu,” katanya dengan nafas tertengah-engah. “Nampaknya kau sudah
menjadi gila,” berkata kawannya yang lain. Kemudian ia pun berkata
kepada Mahisa Pukat. “Sudahlah anak muda. Nampaknya ia akan merasa
puas, bahwa ia sudah menuruti hatinya, mencoba menjajagi
kemampuanmu.” “Baiklah Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat, “aku akan
melanjutkan perjalananku. Perjalanankumasih panjang.” “Bawa aku
kembali, cepat,” minta prajurit yang kesakitan itu. Ketiga
orang prajurit itu pun kemudian telah meninggalkan Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu yang berdiri termangumangu. Sambil terseny um Mahisa
Semu berkata: “Kenapa kau menjadi demikian marah kepadanya, sehingga
dalam waktu yang sangat singkat, kau sudahmeny elesaikannya?” “Aku
benci kepada orang yang tidak pernah mempercayai kelebihan
orang lain. Biarlah ia menyadari, bahwa seharusnya ia tidak berbuat
demikian,” jawab Mahisa Pukat sambil memperhatikan ketiga orang
prajurit yang berjalan menjauh. Katanya kemudian, “Nampaknya
kedua orang kawannya itu pun tidak menyetujui sikapnya. Mereka
justru mengejek kawannya yang kesakitan itu.” “Ya. Agaknya
memang demikian,” sahutMahisa Semu. “Sudahlah. Marilah, kita
melanjutkan perjalanan,” ajak Mahisa Pukat tanpamenyadari apa yang
sebenarnya terjadi. Namun prajurit yang dikalahkan oleh Mahisa Pukat
dalam waktu sekejap itu sama sekali tidak mengira, bahwa kemampuan
anak muda itu memang terlalu tinggi. Ia pun sebenarnya merasa malu,
bahwa hanya dalam sekejap, ia sudah tidak mampu berbuat apa -apa
lagi. Sedangkan sebelumnya ia sudah menantang kedua anak muda itu
untuk maju bersama-sama. Namun prajurit itu berkata didalam hati:
“Tetapi kawankawanku tentu lebih dari sepuluh orang akan menunggumu
berdua. Kalian berdua memang harusmati.” Sebenarnyalah, tujuhbelas
orang tengah berjalan menyusuri pematang. Mereka langsung turun ke
bulak panjang,mencegat perjalanan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang
akan kembali ke padepokan Bajra Seta. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
sama sekalimemang tidak menduga bahwa mereka akan menghadapi
kesulitan di perjalanan. Meski pun keduanya memang merasa heran atas
sikap dan tingkah laku prajurit yang mencegatnya untuk
menjajagi kemampuannya itu. Namun keduanya telah dikejutkan oleh
sekelompok orang yang menunggu mereka di pinggir jalan, sebelum
keduanya sampai ke kedai tempat sepuluh orang petugas sandi yang
ditangkapnya itu berkumpul. “Apalagiyang akan terjadi,”
berkataMahisa Pukat. Mahisa Semu pun mengerutkan keningnya.Namun ia
tidak menjawab. “Jika ada jalan simpang, aku memilih melalui jalan
simpang itu,” berkata Mahisa Pukat. “Tetapi mereka akan menuduh kami
ketakutan,” desis Mahisa Semu. “Aku tidak berkeberatan,” berkata
Mahisa Pukat kemudian. Mahisa Semu tidakmenjawab lagi. Tetapi mereka
berdua telah menjadi semakin dekat dengan sekelompok orang
yang berdiri di pinggir jalan itu. “Mudah-mudahan mereka t
idak berkepentingan dengan kita,” berkata Mahisa Pukat kemudian.
Dengan demikian maka kedua orang anak muda yang berkuda itu
semakin lama menjadi semakin dekat dengan kelompok orang yang
nampaknya memang sedang menunggunya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
menjadi yakin, ketika dua orang diantara mereka justru melangkah ke
tengah-tengah jalan sambilmengangkat tanganmereka tinggi-tinggi.
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memang berhenti beberapa langkah dari
kedua orang yang mengangkat tangannya di tengah jalan itu.
“Mendekatlah,” teriak kedua orang yang berdiri di tengah jalan
sambilmengangkat tangannya itu hampir berbareng. Mahisa Murti dan
Mahisa Semu sama sekali tidak beranjak dari tempat kudanya berhenti.
“Cepat, kemarilah,” bentak salah searang dari kedua orang itu.
Tetapi Mahisa Pukat menggeleng lemah sambil menjawab: “Aku
tidakmaumendekat.” “ Ini perintah,” geram orang itu. “Seseorang
hanya dapat memerintah orang-orang yang menjadi bawahannya
atau menempatkan dirinya dibawah pengaruh orang yang memerintahnya.
Sedangkan aku bukan orang dibawah pimpinanmu dan aku tidak sedang
dalam pesona wibawamu,” jawab Mahisa Pukat. “Gila kau,” geram salah
seorang yang mencegat keduanya itu. Mahisa Pukat tidakmenjawab.
Tetapi ia benar -benar tidak maumendekat. Karena itu,maka
orang-orang yang mencegatnya tidakmau kehilangan kedua orang anak
muda itu. Yang oleh isyarat prajurit yang bertugas di regol
adalah anak muda yang telah menangkap sepuluh orang
kawan-kawanmereka. Dengan demikian maka salah seorang diantara
mereka itupun telah memberikan perintah: “Kepung kedua orang anak
muda itu.” Orang-orang itu tidak menunggu perintah berikutnya.
Mereka pun segera memencar mengepung kedua orang anak muda
yang telah diputuskan untuk mendapat hukuman mati itu.
Sebenarnyalah, pemimpin dari orang-orang yang mengepung Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu itu pun melangkah maju sambil berkata:
“Anak-anak muda. Kalian harus menghadapi pengadilan yang akan
memutuskan nasibmu, karena kau telah ikut campur persoalan orang
lain.” “Apakahyang kalianmaksud ?” bertanya Mahisa Pukat. “Kalian
langsung atau tidak langsung telah meny ebabkan sepuluh kawan-kawan
kami ditangkap oleh prajurit Singasari,” berkata pemimpin itu. “Ya,”
Mahisa Pukat tidak ingkar, “keputusan apa yang akan kalian ambil ?”
“Kalian akan dijatuhi hukuman mati. Kalian tidak perlu melawan,
karena hal itu hanya akan menyulitkan masa -masa akhir kalian.
Kalian harus mengikhlaskan ny awa kalian. Jika kalian dengan sikap
seorang laki-laki menghadapi hukuman itu, maka hukuman yang akan
kalian terima adalah hukuman mati dengan cara yang paling
baik. Tetapi jika kalian mencoba melawan,maka nasib kalian
akanmenjadi sangat buruk.” “Kami telah mengalahkan sepuluh orang.
Jumlah kalian tidak terpaut banyak. Karena itu,maka kami berdua pun
akan mengalahkan kalian. Hukuman yang akan kami jatuhkan atas
kalian, adalah sama seperti hukuman yang akan kalian jatuhkan
kepadaku. Jika kalian dengan sikap seorang laki-laki menghadapi
hukuman itu, maka hukuman yang akan kalian terima adalah hukumanmati
dengan cara yang paling baik.” “Cukup,” teriak pemimpin dari
orang -orang yang mengepung kedua orang anak muda itu, “kalian
bukan saja berusaha untuk mengingkari hukuman yang akan kami
jatuhkan. Tetapi kalian dengan sombong telah menghina kami. Karena
itu,maka hukuman bagi kalian adalah hukuman mati dengan melalui
hukuman picis. Kami akan membawa kalian kesarang kami,mengikat pada
sebuah patok kay u yang besar. Setiap orang akan mengiris kulit dan
dagingmu, kemudian membubuhkan garam dan air jeruk. Baru hari ketiga
atau kelima kalian akan benar-benarmati.” Tetapi Mahisa Pukat
tertawa. Katanya: “Kalian jangan bertindak terlalu kejam seperti
itu. Kalian tidak boleh kehilangan dasar-da sar kemanusiaan kalian.”
“Persetan dengan kalian berdua,” geram pemimpin itu. Dengan lantang
ia pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap.
Sebenarnyalah Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menjadi berdebar-debar
juga. Mereka berhadapan dengan sekitar tujuhbelas orang. Satu jumlah
yang cukup banyak. Seandainya sa ja Mahisa Pukat dengan tanpa
peringatan mendahului mereka. Menghadapi mereka dengan kemampuan
ilmunya dilambari pula dengan ilmu yang mereka sadap dari
orang tuanya, dari Akuwu Lemahwarah dan dari beberapa orang lain
termasuk landasan kekuatan yang dapat disalurkan lewat senjatanya,
maka ia akan dapat membantai lawan-lawannya. Tetapi apakah ia sampai
hati untuk berbuat demikian ? Untuk beberapa saat Mahisa Pukat
memang termangumangu. Jika ia sekedar mempergunakan ilmu pedangnya
serta kemampuannya menghisap kekuatan dan tenaga Iawannya, apakah
Mahisa Semu akanmampu bertahan cukup lama ? Selagi Mahisa Pukat
sedang termangu-mangu,maka orangorang yang mengepungnya telah
menjadi semakin rapat. Sementara pemimpin dari orang-orang yang meny
erangnya itu berkita: “Kau hanya dapat meny esali sikap sombongmu.
Tetapi semuanya sudah terlambat. Kau akan menanggung hukumanyang
paling gila yang pernah kami lakukan.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
pun kemudian telah meloncat turun dari kudamereka. Mereka menganggap
bahwa bertempur diatas punggung kuda tentu tidak akan menguntungkan.
Mereka pun akan sangat sulit untuk memaksa.menembuskepungan itu,
karena ujung senjata telah teracu. Karena itu, untuk menghadapi
orang-orang yang mengepungnya, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
akan melawan mereka di atas tanah. Bahkan dengan tidak raguragu
keduanya berjalan ke tepi jalan untuk menambatkan kuda-kuda mereka,
sementara orang-orang yang mengepungnya justru melangkah mundur.
“Jangan biarkan mereka,” teriak pemimpin mereka, “usahakan agar
kalian dapatmenangkapmereka hidup-hidup. Kita akan membuat acara
kematiannya dengan sebaikbaiknya.” “Kalian hanya akan meny iksa
diri,” jawab Mahisa Pukat lantang. Tiba -tiba saja ia mencabut
pedangnya sambil berteriak: “Lihat, apa yang aku pegang.”
Orang-orang yangmengepungnya memangmelihat sebilah pedang yang
berwarna kehijau-hijauan. Namun pemimpin mereka berteriak: “Pedang
yang tidak ada artinya apa-apa. Tidak lebih dari parang
gembala yang sedang mencari kayu dihutan.” Mahisa Pukat memang
tersinggung. Beberapa orang telah mengorbankan nyawanya untuk
merebut pedang yang oleh pembuatnya disebut keris itu. Meski
pun demikian tidak terpikir oleh Mahisa Pukat untuk menghentakkan
ilmunya dengan memutar pedangnya, sehingga orang-orang yang
mengepungnya itu akan dibantainya dengan ilmunya. Namun demikian,
Mahisa Pukat harusmemikirkan Mahisa Semu yang tentu akan
segera mengalami kesulitan jika separo dari orang- orang itu meny
erang Mahisa Semu dan separo menyerang dirinya. Sementara itu
pemimpin sekelompok orang itu pun kemudian berrkata: “Janganmenunggu
lagi. Kita harus segera bergerak.” Orang-orangnya memang segera
bergerak. Tetapi sebelum pertempuran yang sebenarnya terjadi,
maka beberapa orang telah berloncatan dari baik gerumbul-gerumbul
perdu. Agaknya orang-orang yang mengepung Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu, bahkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sendiri menjadi
sangat tegang serta memusatkan perhatian mereka kepada
lawan-lawannya sehingga mereka tidak melihat kehadiran beberapa
orangmendekati arena. Kedatangan orang-orang itu memang mengejutkan.
Yang kemudian berdiri tegak adalah enam orang dalam pakaian
keprajuritan. “Bukankah kau tidak lupa kepadaku?”-bertanya perwira
prajurit berkuda yang bersama Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
memasuki gerbang halaman istana Singasari dan mengantarkannya
menemui ayahnya. Mahisa Pukat tersenyum. Katanya: “Tentu tidak.
Bukankah kita bersama-sama menangkap sepuluh orang petugas sandi
dari Kediri itu ?” “Bukankah kita bersama-sama. Tetapi kau berdua.”
jawab perwira itu sambil tertawa. Mahisa Pukat sempat tertawa Pula.
Katanya: “Sudahlah. Sekarang kita berhadapan lagi dengan sekelompok
petugas sandi dari Kediri.” “Kami sudah merasa curiga. Laporan
tentang tingkah laku prajurit yang berpura-pura menjajagi
ilmumu yang sebenarnya tidak lebih dari sebuah isy arat, membuat
kami harusmengambil langkah-langkah. Ternyata kecurigaan kami itu
beralasan. Kalian telah dihentikan oleh sekelompok orang yang tidak
dikenal, yang tentu kawan-kawan dan para petugas sandi itu,” desis
perwira prajurit berkuda itu. “Cukup,” pemimpin dari orang-orang
yang menghentikan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu berteriak.
“Siapa pun kalian, tetapi jumlah kalian terlalu sedikit untuk
melawan
kami.”
Jilid 097 “KAU SALAH HITUNG,” jawab
perwira itu, “kalian memang dapat menghitung kami berenam dengan
enam orang. Tetapi jika kaumenghitung kedua orang anakmuda itu,
harus kau sebut sepuluh. Karena itu, maka jumlah kita akan menjadi
tidak terpaut banyak. “ Iblis kau,” geram pemimpin dari sekelompok
orang itu. “Sudahlah,” berkata perwira prajurit itu: “pilihlah jalan
yang paling balk. Meny erah sajalah kepada kami. Kami yang akan
memohonkan am pun bagi kalian semua.” “Persetan,” geram pemimpin
dari orang-orang yang telah mencegat perjalananMahisa Pukat
dan Mahisa Semu. “Kau tidak dapat memilih,” berkata perwira dari pa
sukan berkuda itu. Perwira itu termangu-mangu sejenak ketika
mendengar orang itumengumpat kasar. Ternyata orang-orang yang
menghentikan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu tidak menunggu lebih
lama lagi. Sekali lagi pemimpin mereka meneriakkan aba -ba. Maka
serentak orang-orang itu punmulai bergerak. Keenam orang prajurit
dari pasukan berkuda itu pun dengan cepat telah berpencar dan meny
erang sekelompok orang yang jumlahnya jauh lebih banyak itu. Namun
mereka yakin bahwa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu akan dapat
mengalahkan mereka. Setidak-tidaknya sepuluh orang diantaramereka.
Sebenarnyalah pertempuran pun telah terjadi. Tujuh belas orang itu
telah meny erang bersama-sama. Namun prajurit berkuda itu nampaknya
memang mempunyai kelebihan dari prajurit kebanyakan. Karena itu,
maka mereka berenam benar-benar telah mengacaukan kedudukan tujuh
betas orang lawanmereka. Apalagi ketika kemudian Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu telah ikut pula dalam pertempuran itu. Maka pertempuran
itu punmenjadi pertempuranyang sangat sengit. Mahisa Pukat
yang menyadari kedudukannya dalam pertempuran itu, telah
mengetrapkan ilmunya yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan
lawannya dengan sentuhan-sentuhan kewadagan atau benturan-benturan
senjata. Pertempuran itu pun segera berlangsung dengan sengitnya.
Ketika seseorang prajurit dari pasukan berkuda mendekatinya, maka
Mahisa Pukat pun segera bergeser menjauh. Seperti dalam pertempuran
sebelumnya, maka Mahisa Semu pun harusmengerahkan kemampuannya
sehingga anak muda itu tidak dengan cepat hanyut oleh kekuatan ilmu
lawannya. Sementara itu, enam orang prajurit berkuda itu pun telah
memutar senjata mereka dan setiap kali mematuk lurus atau terayun
mendatar, terdengar lawannya mengumpat tidak habis-habisny a.
Pertempuran itu pun kemudian telah menjadi pertempuran yang sangat
garang. Ternyata orang-orang yang mencegat Mahisa Pukat itu
benar-benar inginmembunuh. Mereka tidak lagi dikendalikan oleh
paugeran atau perasaan apapun, selain membunuh kedua orang yang
telah menyebabkan sepuluh orang kawan mereka tertangkap. Tetapi
mereka tidak mengira sama sekali, bahwa enam orang prajurit berkuda
telah datang dan melibatkan diri dalam pertempuran itu. Dalam pada
itu, maka Mahisa Pukat pun telah berusaha sebanyak mungkin meny
entuh senjata lawannya. Ia telah berloncatan dari seorang lawan ke
lawan yang lain. Kemampuannya ilmu pedang telah membantu
usahanya untuk melawan dan meny entuh orang-orang yang akan
membunuhnya itu. Namun orang-orang yang ingin membunuh Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu itu benar -benar orang yang garang. Mereka
menyerang sambil berteriak-teriak, mengumpat, bahkan mengucapkan
ancaman-ancamanyangmengerikan. Tetapi keenam orang prajurit berkuda
itu adalah orangorang yang tangguh. Mereka berpencaran dan
berloncatan sambil, memutar pedang mereka, sementara Mahisa Semu
yang telah mendalami ilmu pedang, berusaha untuk bertahan karena
beberapa orang telah menyerangnya bergantian. Tetapi dalam pada itu,
Mahisa Pukat benar-benar mendebarkan jantung. Bukan saja ilmu
pedangnya. Tetapi kemampuannya bergerak bagaikan bayang anyang
sulit diikuti oleh pandangan mata kewadagan. Sementara itu,
pedangnya yang berwarna kehijauan itu setiap kali berkilat
menyambar. Meny ilaukan. Para prajurit berkuda yang merasa
bahwa lawan mereka lebih banyak telah berusaha untukmengurangi
jumlah lawan mereka. Karena itu, maka dalam benturan-benturan yang
terjadi, ujung-ujung pedang mereka telah pula menggores kulit
lawan-lawanmereka. Tetapi bukan saja mereka melukai lawan-lawan
mereka. Tetapi ada pula diantaramereka yang terluka. Demikian pula
Mahisa Semu. Luka-lukanya yang lama masih belum sembuh benar.
Namun ia telah mengalami lukaluka baru. Beberapa gores senjata lawan
telah membuat kulitnya berdarah. Namun sementara itu, ada beberapa
orang diantara ketujuh-belas orang itu yang terlalu sering
berbenturan senjata dengan Mahisa Pukat. Orang-orang yang demikian
itulah yang lebih dahulu mengalami kesulitan. Tenaganya terasa
dengan cepat susut, sehingga tangan dan kakinya terasa semakin lama
semakin berat. Pemimpin sekelompok orang yang berniat membunuh
Mahisa Pukat itu berteriak-teriakmemberikan aba-aba kepada
orang-orangnya. Ia melihat beberapa orang tidak lagi dengan
sungguh-sungguh bertempur. Seakan-akan mereka menjadi malas dan
segan untukmengangkat senjata-senjata mereka. “Jangan menjadi
seorang pengecut dengan tiba-tiba. Lawanmu bukan hantu. Lawanmu
adalah orang seperti kita yang dapat kita lukai. Lihat, seorang
diantara mereka telah menitikkan darah dari lukanya. Bunuh anak itu
lebih dahulu, kemudian seorang lagi. Baru kemudian kita membunuh
para prajurityang telahmencampuri urusan orang lain.”
“Persetan,” geram pemimpin dari prajurit berkuda itu, “apa
punyang kau katakan, tetapi kalian semua harusmati. - Namun
orang itu tidak sempat berteriak lagi. Dengan derasnya Mahisa Pukat
telah menyerangnya. Tetapi pemimpin dari orang-orang yang ingin
membunuhnya itu telah menangkis serangannya. Bahkan dengan cepat
orang itu berusaha untukmeny erang Mahisa Pukat. Mahisa Pukat sama
sekali tidak menghindar. Tetapi ia berusahamenangkis serangan itu.
Bahkan kemudian memutar pedang dan dengan sigap meloncat sambil
menjulurkan pedangnya lurus-lurus ke arah lambung. Tetapi sekali
lagi lawannya itu sempatmenangkis serangan Mahisa Pukat. Namun dalam
pada itu, seorang yang lain telah meny erang Mahisa Pukat
pula, sehingga Mahisa Pukat harus berloncatan meninggalkan lawannya
itu untukmenghadapi lawannya yang baru. Bahkan dua orang
bersama-sama. Tetapi Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar ketika ia
melihat darah Mahisa Semu mengalir semakin banyak. Meski pun anak
muda itu masih tetap bertahan, tetapi darah yang semakin
banyakmengalir akanmenyulitkannya. Dalam pada itu, beberapa orang
prajurit berkuda yang bertempur berputaran diantara
lawan-lawannya yang jauh lebih banyak itu kadang-kadang memang
merasa heran. Beberapa orang diantara lawan-lawannya justru menjadi
tidak lagi segarang sebelumnya. Sebagaimana Mahisa Semu, yang meski
pun sudah terluka, namun ia pun merasakan bahwa lawan-lawannya
sebagian tidak lagi berbahaya baginya.Orangorang itu tidak lagi
mampu mengejarnya jika ia membuat langkah-langkah panjang. Pemimpin
sekelompok orang yang ingin membunuh Mahisa Pukat pun menjadi heran
terhadap dirinya sendiri. Meski pun demikian iamasih tetap seorang
yang berbahaya. Dalam pada itu, apa yang pernah terjadi, telah
terjadi lagi. Lawan-lawan Mahisa Pukat yang telah mengalami sentuhan
senjata atau kewadagan, apalagi yang sudah beberapa kali, maka
tenaga dan kemampuannya bagaikan telah dihisap, sehingga mereka
telah menjadi lemah dan tidak lagi mampu mengetrapkan ilmunya.
Mereka bahkan menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus
dikerjakan selain tubuh mereka menjadi semakin lama semakin lemah.
Dengan demikian,maka karena yang bertempur kemudian bukan
hanya Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, maka senjata para prajurit telah
dengan mudah menyentuh dan melukai lawan-lawanmereka. Namun demikian
Mahisa Pukat berteriak: “Cukup. Mereka tidak perlu dilukai atau
disakiti. Biarlah mereka meny erah karena mereka tidak akanmampu
lagimelawan.” Sebenarnyalah beberapa orang bahkan telah terduduk
lesu. Yang lain kehilangan keseimbangan, sementara ada diantara
mereka yang terluka, bukan karena tidakmampumengadakan perlawanan,
tetapi sejak mereka baru mulai menghadapi seorang prajurit,mereka
tidakmampumempertahankan diri. Para prajurit terkejut mendengar
teriakan Mahisa Pukat. Namun mereka pun telah berloncatan mundur.
Sementara ketujuh bela s orang yang mencegat Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu itu benar-benar sudah tidak mampu untuk bertahan lebih lama.
Memangmasih ada satu dua orang yangmemiliki day a tahan
tubuhyang lebih kuat dari yang lain. Ada pula yang baru sekali
meny entuh senjata Mahisa Pukat dengan senjata, sehingga kekuatan
dan kemampuannya seakan-akan masih utuh. Tetapi ketika mereka
melihat keadaan ger ombolannya, makamerekamemang tidakmempunyai
pilihan lain. “Meny erahlah,” berkata Mahisa Pukat, “jika tidak,
maka kalian semuanya akan mati. Kalian sudah tidak akan mampu
melawan kami. Satu dua diantara kalian sudah terluka. Yang lain
kehilangan tekad untuk melawan sebagai seorang lakilaki.
Sedangkanyang lain lagimenjadi ketakutan.” Beberapa orang
termangu-mangu. Mereka memang menjadi ngeri melihat ujung-ujung
senjata kedua orang anak muda yang mereka buru dan para prajurit
berkudaa yang tibatiba saja telah datang tanpamembawa kuda. Akhirnya
tujuhbelas orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Pemimpinnya
yang masih nampak utuh, sebenarnyalah sudah mulai diraba oleh
ilmu yang dahsy at itu. Namun justru karena ia sibuk mengatur
orang-orangnya sehingga ia tidak mempunyai banyak kesempatan untuk
membenturkan senjatanya dengan senjata Mahisa Pukat. Baru pada
kesempatan terakhir, ia telah menangkis serangan anakmuda yang
bersenjata pedang berwarna kehijau-hijauan itu. Enam orang prajurit
berkuda itu menjadi heran pula sebagaimana orang-orang yang mencegat
Mahisa Pukat itu. Para prajurit itu juga tidak tahu apa yang telah
terjadi, sebagaimana mereka juga tidak tahu apa yang telah terjadi
pada sepuluh orang yang telah ditangkap sebelumnya. Tetapi mereka
tidak sempat bertanya. Mahisa Pukat berkata: “Tujuhbelas orang itu
akan menjadi tawanan kalian mengenai sepuluh orang yang telah
tertangkap lebih dahulu. Bawa mereka ke Kotaraja. Biarlah
kawan-kawan mereka yang masih kuat dapatmembantu kawan- kawannya.”
“Kaumau apa ?,” bertanya pemimpin prajurit berkuda itu. “Aku akan
meneruskan perjalanan. Bukankah kita belum berada di lingkungan
bahaya perang sehingga kita tidak usah menjadi cemas,” berkataMahisa
Pukat. Pemimpin prajurit berkuda itu menarik nafas dalamdalam.
Tetapi sebenarnyalah ia tidak perlu menjadi cemas sehingga berbuat
sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Demikianlah, Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu masih menunggui sejenak ketika pemimpin sekelompok kecil
prajurit itu mempersiapkan lawan-lawan mereka untukmengatur diri.
Baru kemudianmereka telah dibawa ke istana. Orang-orang istana itu
pun terkejut melihat peristiwa itu sepertimelihat lalat di
sekitarnya. Namun pemimpin prajurit berkuda itu masih juga bertahan
pada tugasny a sehingga jarang sekali ia membuat kesalahan. Karena
itu, maka ia memang mendapatkan kepercayaan yang besar. Juga
terhadap sikapnya kepada orang-orang yang telah mencegat kedua
anakmuda itu. Namun para pemimpinnya percaya bahwa pa sukan berkuda
yang jumlahnya hanya enam itu mampu mengatasi lawan sebanyak
tujuhbelas orang, justru karena bertempur ber sama dengan dua orang
anakmuda itu. Tetapi apa yang, telah terjadi dengan kedua orang anak
muda itu tidak mendapat banyak tanggapan dan keterangan. Yang
penting bagi orang -orang yang mendapat peny erahan para tawanan
itu, tujuhbelas orang lagi diantara mereka yang sedang di buru itu
ternyata datang dengan kedua tangan terikat, kecualimereka
yangmendapat tugas untukmemapah kawannyameski pun tubuhnya
sendirimenjadi sangat lemah. Dalam pada itu, Mahendra yang
mendengar laporan itu pula telah bersukur didalam hati, bahwa kedua
anak dan cantrik itu selamat. Dari pemimpin pasukan berkuda itu,
Mahendramendengar apa yang telah terjadi. Apa pula yang
dilakukan oleh kedua orang anakmuda itu. Mahendra
hanyamengangguk-angguk saja. Ia sadar, bahwa Mahisa Pukat tentu
sudah mempergunakan ilmunya yang mampumenyerap kekuatan dan ilmu
lawannya. Namun peristiwa itu sendiri adalah peristiwa yang
mendebarkan. Jika saja sebelumnya para prajurit berkuda itu tidak
mendapatkan keterangan tentang rencana buruk yang akan mencegat
perjalanan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, maka keduanya belum tentu
akan dapat meloloskan diri. Set idak-tidaknya keadaan Mahisa Semu
tentu akan menjadi sangat sulit. Mungkin saja ia terluka parah atau
bahkan lebih buruk daripada itu. Sementara itu,maka Mahisa Pukat
tentu akan mengerahkan ilmunya untuk melindungi sejumlah kawannya,
karena tanpa berbuat demikian, maka nyawanya sendiri akanmelayang.
Hampir di luar sadarnya Mahendra yang berbicara langsung
dengan pemimpin prajurit berkuda itu berdesis: “Akumengucapkan
terima kasih.” “Aku hanya menjalankan tugas. Ketika kami mendapat
laporan tentang hal itu, maka dengan tergesa -gesa kami menyusul
kedua orang anakmuda itu.” “Apakah rencana mereka dapat kalian
ketahui ?,” bertanya Mahendra. “Tidak tepat seperti itu,” jawab
pemimpin pa sukan berkuda, “yang diberi tahukan kepada kami
oleh petugas dipintu gerbang, bahwa seorang diantara kawan-kawannya
yang bertugas ada yang dengan tanpa dapat dikekang, berniat
untukmenjajagi kemampuan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Itu adalah
satu tindakan yang tidak wajar dilakukan oleh seorang prajurit.
Karena itu, maka kami mempunyai prasangka buruk. Mungkin yang
dilakukan itu hanya sekedar cara atau jika ia benar -benar ingin
melakukannya dengan alasan tertentu, maka langkah itu akan dapat
dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Kami t idak y akin akan apa
yang akan terjadi. Tetapi kami ingin melihat, apakah sebenarnya yang
akan dilakukan oleh prajurit itu. Ternyata bahwa dua orang kami yang
mengamati peristiwa itu melihat ada pihak lain yang mengawasi
keadaan, sehingga kami ju stru mengawasi orang itu. Ketika mereka
melepaskan burung merpati,maka kami pun menyadari apa yang
akan terjadi.” Mahendra pun mengangguk-angguk. Untunglah bahwa
pemimpin prajurit berkuda itu berpikir tangkas ketika ia mendapat
keterangan tentang seorang prajurit yang berniat untuk
menjajagi kemampuan Mahisa Pukat, sehingga kehadirannya meski pun
hanya berenam, namun sudah membatasi per soalan sehingga Mahisa
Pukat tidak perlu melakukan pembunuhan semena-mena. Dalam pada itu,
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah melanjutkan perjalanannya kembali
ke padepokannya.Namun waktumereka telah banyak tersita. Ketika
mereka melewati kedai yang disinggahi saatmereka berangkat, kedai
itu nampaknya kosong sama sekali. “Kita berhenti sejenak, kau perlu
beristirahat,” berkata Mahisa Pukat. “Kenapa disini ?,” bertanya
Mahisa Semu. “Lukamu perlu mendapat perawatan.,” jawab Mahisa Pukat.
Keduanya pun kemudian telah turun di depan kedai yang kosong
itu. Ketika mereka kemudian mendor ong pintunya, ternyata pintunya
juga tidak diselarak. Bahkan apa yang ada di kedai itu masih
juga sama seperti saat kedai itu ditinggalkan. “Tidak ada seorang
pun yang telah masuk kedalam kedai ini,” berkata Mahisa Pukat.
“Sebaiknya kita juga tidak,” berkata Mahisa Semu: “agar kita tidak
dituduh melakukan sesuatu dikedai ini.” “Kedai ini sekarang t idak
bertuan,” berkata Mahisa Pukat. Lalu: “Pemiliknya sudah ditangkap.
Demikian pula orangorang yang pernah berhubungan dengan
pemilik kedai ini.” “Tetapi jika ada orang lain yang tidak
mengetahui persoalannya, kita dikira memasuki tempat yang
tidak semestinya,” desisMahisa Semu. “Jika demikian, kita berada di
luar saja. Didalam justru banyak sekali debu. Makanan sudah tidak
lagi dapat dimakan. Mangkuk-mangkuk berserakan dan lalat pun
berterbangan,” desis Mahisa Pukat. Keduanya pun kemudian telah duduk
di tangga samping kedai itu. Mahisa Pukat telah mengobati luka -luka
Mahisa Semu. Terutama luka- lukanya yang baru. Sambil menunggu
sejenak, serta memberikan kesempatan kudanya beristirahat, Mahisa
Pukat melihat-lihat keadaan di sekeliling kedai itu. Namun tidak ada
sesuatu yang sempat menarik perhatiannya. Kedai itu benar-benar
kosong dan tidak pernah lagi dijamah orang. Baru sejenak kemudian
maka keduanya pun telah bersiapsiap untuk meneruskan perjalanan.
Kuda mereka pun telah tidak lagimerasa lelah, apalagi kuda-kuda itu
barumenempuh sebagian kecil dari perjalananmereka yang panjang.
Demikianlah, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berpacu lagi di atas
punggung kudanya. Namun Mahisa Semu telah nampak lebih ber sih.
Darah tidak lagi nampakmemerah di tubuhnya. Lukanya pun telahmenjadi
pempat pula. Tetapi perjalanan mereka masih cukup panjang, apalagi
mereka telah kehilangan waktu lama. Tetapi Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu tidak berpacu terlalu cepat. Apalagi jika mereka mendekati
padukuhan atau jalan yang banyak dilalui orang. Kudanya
berlari agak lambat agar tidak menarik perhatian orang atau bahkan
menganggu orang -orang lainyang jugamemakai jalan. Demikian
pula ketika mereka sampai di sebuah padukuhan yang cukup besar dan
ramai. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah menarik kekang kuda
mereka. Dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi mereka memasuki
padukuhan yang besar itu. Padukuhan yang mempunyai jalan-jalan
yang agak lebar dan banyak dilalui orang. Di sebelah meny
ebelah jalan, terdapat regol-regol halaman yang cukup baik biar
halamanhalaman yang agak luas. Bahkan terdapat satu dua bangunan
yang di pagi hari tentu dipergunakan sebagai kedai. Namun meski pun
hari telah menjadi semakin sore, masih ada juga satu dua kedai yang
terbuka. “Kita singgah untukmakan,” berkata Mahisa Pukat. Mahisa
Semu pun merasa sangat haus, sehingga ia pun dengan cepatmenyatakan
persetujuannya. Keduanya pun kemudian telah singgah di sebuah kedai
yang tidak terlalu besar.Namun di kedai itu Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu dapat pula membelimakan dan minuman untuk kudamereka. Ternyata
minuman dan makanan di kedai itu cukup baik. Harganya pun tidak
terlalu mahal. Sementara itu kuda mereka pun telahmendapatminum
danmakan secukupnya. Setelahmembayarmakanan dan minuman serta
perawatan kuda-kuda mereka, maka kedua orang anak muda itu pun
segeramelanjutkan perjalanan. Namun ketika mereka sampai di simpang
empat di padukuhan itu, keduanya terkejut sehingga mereka menarik
kekang kuda mereka kuatkuat. Kuda Mahisa Semu bahkan telah meringkik
sambil mengangkat kaki depannya. Hampir saja Mahisa Semu terjatuh.
Untunglah, bahwa tubuhnya seakan-akan telah melekat pada purtggung
kudanya itu. Sementara itu, beberapa orang anak muda berkuda dari
arah samping memotong jalan dengan tiba-tiba saja tanpa memperlambat
laju kuda mereka. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang berhenti
di simpang empatmenjadi berdebar-debar. Sementara itu, beberapa anak
muda yangmemotong jalan itu justru tertawa berkepanjangan. Mereka
seakan-akan telah meny oraki Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang
hampir saja terjatuh dari kudanya. “Anak-anak gila,” Mahisa Semu
menjadi marah. Tetapi Mahisa Pukat berdesis: “Sudahlah. Jangan
hiraukan. Kita meneruskan perjalanan kita yang sudah
terhambat.” Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan
inginmengendapkan gejolak perasaan didadanya. Beberapa orang
yang melihat hal itu pun berhenti termangu-mangu. Seorang yang
sudah separo baya mendekati kedua anak muda itu. Katanya: “Untunglah
tidak terjadi sesuatu ngger.” Mahisa Pukat mengangguk hormat sambil
berkata: “Ya Kiai. Tetapi hati inimasih berdebar-debar.” “Sudahlah.
Jangan berurusan dengan anak-anak bengal itu. Mereka adalah
anak-anak orang kaya di padukuhan yang terhitung besar ini.
Tetapimereka justrumembuat padukuhan inimenjadi selalu kacau,”
berkata orang separo baya itu. “Terima kasih atas peringatan itu
Kiai,” jawab Mahisa Pukat yang kemudian bersama-sama dengan Mahisa
Semu telah minta diri untukmelanjutkan perjalanan. “Justru anak-anak
semacam itu harus mendapat peringatan,” berkata Mahisa Semu.
“Sudahlah,” berkata Mahisa Pukat, “lupakan.” Namun keduanya masih
juga mendengar salah seorang yang berdiri di pinggir jalan berkata:
“Kemarin, dua orang anak yang sedang bermain-main juga ter sentuh
kuda-kuda yang seperti menjadi liar itu. Untunglah luka-lukanya
tidak begitu berat.” Mahisa Semu berpaling. Tetapi Mahisa Pukat
berkata: “Marilah. Para bebahu padukuhan ini tentu akan mengurusnya
.” Tanpa menghiraukan anak-anak muda itu lagi, maka Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu meneruskan perjalanan mereka. Tetapi baru beberapa
langkah kuda mereka bergerak, mereka telah mendengar
teriakan-teriakan anak-anak muda itu lagi. Kemudian derap kaki kuda
mereka. Sebelum Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menentukan sikap,
anak-anak muda itu telah muncul lagi di simpang empat. Mereka
berbelok searah dengan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan kemudian
beberapa orang anak muda itu telahmendahului Mahisa Semu dan Mahisa
Pukat.Namun dua orang diantara mereka sempatmeny entuh kepala Mahisa
Semu disu sul teriakan-teriakan riuh dari anak-anak itu. “He,
kepalamu cukup keras Ki Sanak,” teriak salah seorang dan mereka
sambil berpacu meninggalkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Ternyata
Mahisa Pukat tidak sempat lagi mengekang Mahisa Semu yang menjadi
sangat marah. Tiba-tiba saja Mahisa Semu telah memacu kudanya
pulamenyusul beberapa orang anakmuda yang berkuda itu. Mahisa Pukat
tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya. Bahkan Mahisa Pukat
pun mendengar Mahisa Semu berteriak: “Berhenti kalian anak-anak
setan.” Yang terdengar adalah suara tertawa yang meledak.
Anakanakmuda itu tertawa berkepanjangan. Namun ketika mereka melihat
anakmuda yang dilewatinya sambil disentuh kepalanya itu
berpacu menyusul mereka, maka anak-anak muda itu mulai
memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. “Anak itu menjadi gila,”
teriak seorang diantara mereka. Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun
ketika seorang diantaramereka tertawa,maka yang lain pun tertawa
pula. “Anak itu berlagak sebagai seorang kesatria yang tidakmau
dihinakan dengan disentuh kepalanya,” teriak yang lain.
Kawan-kawannya pun berteriak-teriak tidak menentu. Diantaranya
tertawa semakin keras sementara yang lain ber sorak-sorak. Ternyata
mereka membuat Mahisa Semu menjadi semakin marah. Dengan
menghentakan kendali kudanya, Mahisa Semu berpacu semakin cepat. Di
belakangnya, Mahisa Pukat pun mempercepat lari kudanyamenyusul
Mahisa Semu. Sementara itu, anak-anak muda yang telah
mengganggu Mahisa Semu itu ternyata tidak berniatmelarikan diri.
Tetapi mereka ingin memilih satu tempat yang lebih luas untuk
mempermainkan anakmuda yang mengejarnya itu. Anakmuda yang
berpacu dipaling depan itu pun berteriak: “He, kita pergi ke ara
-ara amba. Kita dapat bermain-main lebih menyenangkan lagi dengan
anak-anak yang tidak tahu diri itu.” Kawan-kawannya pun
berteriak-teriak gembira. Seorang diantara mereka menjerit tinggi:
“Kita sudah lama tidak mendapat permainanyangmenarik seperti ini.”
Yang lain pun menyahut dengan teriakan-teriakan tinggi. Sementara
itu kuda-kuda mereka pun berpacu terus menuju ke sebuah ara -ara
yang luas. Sebuah padang rumput tempat para
gembalamenggembalakan kambingmereka. Ketika sekelompok anak muda di
atas punggung kuda memasuki lapangan rumput itu,maka para gembala
pun telah menggiring kambingmereka menepi. Mereka mengenal anakanak
muda itu, sebagai anak-anak muda yang seakan-akan tidak dapat
diganggu gugat lagi semua tindakan dan tingkah lakunya. Seakan-akan
merekalah yang memiliki padukuhan yang besar itu dengan segala
isiny a. Mereka berbuat apa saja yangmereka sukai tanpamenghiraukan
perasaan orang lain. Demikian anak-anak muda itu berada di ara-ara,
maka mereka pun segera berpencaran, sehingga Mahisa Semu menjadi
agak bingung. Sementara anak-anak muda itu mulai mempermainkannya.
Mula-mula mereka ber sorak-sorak dan berteriak-teriak sambil
berputar-putar. Dalam kebimbangan Mahisa Semu justru berhenti,
sementara Mahisa Pukat telah berada di sampingnya. Dengan gelisah
Mahisa Pukat itu berkata: “Sudahlah. Jangan hiraukan mereka.”
“Mula-mula aku masih dapat menahan diri,” berkata Mahisa Semu,
“tetapi kemudian mereka telah menghinakan aku. Dua orang diantara
mereka telah meraba kepalaku. Apakah aku harus, berdiam diri?”
Mahisa Pukat termangu-mangu. Ia pun melihat dua orang diantara
anak-anak muda itu telah memegang kepala Mahisa Semu. Karena itu,
maka Mahisa Pukat tidak dapat memaksa Mahisa Semu untuk menahan diri
lagi. Mahisa Semu benarbenar telah tersinggung karena perlakuan
anak-anakmuda itu. Sementara itu Mahisa Semu masih berdiam diri di
atas punggung kudanya. Anak-anakmuda itu masih saja berteriakteriak.
Tetapi mereka pun tidak berlari-larian lagi berputaran. Karena
Mahisa Semu berhenti, maka mereka pun telah terhenti pula. Mahisa
Pukat yang melihat Mahisa Semu menahan kemarahannya sehingga
dadanya menjadi sakit, ia pun kemudian berkata: “Jika kau ingin
berbuat sesuatu atas mereka, kejar seorang diantara mereka. Jangan
hiraukan yang lain sampai kaumendapatkannya.” Mahisa Semu
mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba kedua tumitnya telah meny
entuh perut kudanya, sehingga kudanya telah terlonjak. Ketika
kemudian kudanya berlari, maka Mahisa Semu langsungmenuju kearah
seorang diantara anak-anak muda itu. Anak muda yang telah meny
entuh kepalanya dan mentertawakannya. Anak muda itu terkejut. Ia pun
segera menghentakkan kendali kudanya sehingga kudanya pun telah
berlari pula, sementara kawan- kawannya pun mulai bergerak.
Kuda-kuda mereka mulai berlari-larian berputaran dan berpencaran.
Tetapi seperti pesan Mahisa Pukat, maka Mahisa Semu tidak
menghiraukannya lagi. Ia telah mengejar seorang saja diantara
anak-anak muda itu. Kemana kudanya lari, Mahisa Semu selalu
memburunya. Anakmuda itumulaimenjadi cemas. Kawan-kawannya pun
demikian. Karena itu, maka kawan-kawannya telah berusaha mengacaukan
arah kuda Mahisa Semu dengan sekali-sekali memotong jalan. Namun
tekat Mahisa Semu sudah bulat. Ia tidak menghiraukan yang lain. Ia
mengejar seorang saja diantara mereka. Ia mengejar kemana anakmuda
itu memacu kudanya. Berputar, berbelok, berlari kencang dan segala
macam gerak yang lain. Ternyata bahwa kuda Mahisa Semu cukup baik,
sehingga semakin lama sasarannyamenjadi semakin dekat. Tetapi
beberapa saat kemudian, kuda Mahisa Semu telah berhasil menyusul
kuda yang dikejarnya. Dengan tangkasnya Mahisa Semu telah menangkap
kendali kuda yang dikejarnya dan mencoba menariknya. Namun
anak muda di atas punggung kuda itu tidak membiarkannya. Dengan
cemetinya ia telah memukul tangan Mahisa Semu, sehingga Mahisa
Semumanjadi semakin marah. Dengan tidak berpikir panjang maka Mahisa
Semua ju stru telah meloncat dari kudanya, menerkam anak muda
yang menyakitinya itu. Bukan saja menyakiti tubuhnya, tetapi
jugamenyakiti hatinya. Keduanya pun telah terlempar dari kuda mereka
dan jatuh berguling. Ternyata Mahisa Semu yang memiliki
kelenturan tubuh yang terlatih, mampu menempatkan dirinya saat ia
terguling. Namun agaknya lawannya tidak memiliki kelenturan tubuh
sebagaimana Mahisa Semu, sehingga demikian ia jatuh, maka ia pun
telah menyeringai menahan sakit. Ketika Mahisa Semu kemudian
meloncat bangkit, maka anak muda itu hanya dapat menggeliat sambil
mengaduh kesakitan. Namun dalam pada itu, seekor kuda lain telah
menyambar Mahisa Semu. Tetapi anak muda itu sempat meloncat
menghindar. Sekali ia berguling, kemudian meloncat bangkit.
Sementara itu, beberapa ekor kuda yang lain pun telah siap
menyambar pula. Seakan-akan berurutan satu demi satu, sehingga
Mahisa Semu harusberloncatan menghindar. Tetapi ketika salah seorang
yang juga telah meny entuh kepalanya menyambarnya sambil
mengayuhkan semeti kudanya. Maka Mahisa Semu dengan cepat
menangkapnya. Ia memang ter seret beberapa langkah. Tetapi ketika ia
menghentakkan cemeti itu, maka anak muda yang memeganginya telah
terseret pula jatuh dari kudanya. Gerak nalurinya kurang cepat
tanggap, sehingga ia tidakmelepaskan cemetinya itu. Seperti
kawannya, maka demikian ia jatuh, maka punggungnya serasa akan
patah. Karena itu,maka ia pun tidak segera dapat bangkit berdiri.
Kawan-kawannya menjadi sangat heran. Mereka tidak lagi menyambar-ny
ambar dengan kuda mereka. Tetapi orang yang paling berpengaruh
diantara mereka telah memberikan isy arat, agarmereka berhenti dan
turun dari kuda mereka. Sejenak kemudian, lima orang anakmuda telah
mengepung Mahisa Semu, sementara Mahisa Pukat masih duduk saja di
punggung kudanya, Ia memang ingin melihat, apa yang dapat dilakukan
oleh Mahisa Semu. Mahisa Pukatmelihat anak-anak muda yang
nakal itu t idak terlalu berbahaya. Tetapi ia pun sudah ber
siap-siap. Set iap saat diperlukan, ia akan dapat langsung turun ke
arena. Sejenak kemudian, orang yang agaknya mempimpin kawan-kawannya
itu melangkah mendekati Mahisa Semu sambil berkata: “Ternyata kau
anak yang gila. Aku tidak mau kalian menghinakan aku. Kalian telah
meny entuh bagian tubuhkan di atas leherku. Itu satu pertanda bahwa
kalian memangmenantangku,” jawab Mahisa Semu. “Kau terlalu sombong.
Kau mencari kesulitan,” geram anak muda itu. “Bukan aku yang
mendahului. Tetapi apakah keuntungan kain dengan sikapmu menghinakan
orang lain seperti itu?,” bertanya Mahisa Semu. “Kami sudah terbiasa
berbuat apa saja yang kami senangi - jawab anak muda itu, “
orang lain tidak akan pernah berani melawan kami.” “Tetapi aku tidak
takut berhadapan dengan kalian. Kalian telah melakukan satu
perbuatan yang tidak pantas. Kalian mengira bahwa orang lain
tidak akan pernah merasa tersinggung. Atau kalian memang
berpendapat, bahwa kalian akan dapat mengatasi seandainya ada orang
lain yang merasa tersinggung danmenjadimarah?,” bertanya Mahisa
Semu. “Ya, kami tidakmau tunduk kepada kepentingan orang lain. Kami
dapat berbuat apa saja sesuai dengan keinginan kami. Kami justru
akan memukuli orang yang menjadi marah kepada kami.,” jawab
anakmuda itu. Ternyata Mahisa Semu tidak mau berbantah terlalu lama.
Di luar dugaan, tiba-tiba saja ia sudah meloncat maju dan menyerang
anakmuda yang memimpin kawan-kawannya itu. Satu pukulanyang
sangat keras telah menghantam keningnya, sehingga anak muda itu
tidak sempat menghindar dan tidak sempat menangkis serangan itu.
Demikian keningnya dikenai pukulan Mahisa Semu, maka ia pun telah
terlempar jauh. Beberapa kali ia berguling. Keningnya merasa sangat
sakit, sementaramatanyamenjadi berkunang-kunang. Kawan-kawannya
yang melihat serangan itu dengan cepat menanggapi keadaan.
Mereka pun berloncatanmemencar. Namun Mahisa Semu telah siap
menghadapimereka. Sementara itu anak muda yang memimpin
kawankawannya itu sambil meny eringai telah berusaha untuk bangkit.
Ketika ia kemudian berdiri tegak, ternyata kepalanya masih saja
terasa sangat pening. Anak-anakmuda itu sama sekali tidakmengira
bahwa pada suatu saat mereka akan berhadapan dengan seorang anak
muda yang sangat berani. Karena itu, maka mereka tidak segera dapat
memutuskan, apa yang harus mereka lakukan selain berusahamengganggu
kuda Mahisa Semu. Sementara itu, empat orang kawan-kawannya telah
berloncatan meny erang. Sementara pemimpin mereka masih menggeliat.
Namun kemudian anak muda yang menjadi pemimpin diantara mereka
itu pun telah siap untuk turun ke gelanggang. Tetapi dua orang
kawannya yang terjatuh dari kuda itu masih belum sempat berdiri
meski punmereka sudah berusaha. Tetapi punggung mereka rasa-rasanya
bagaikan menjadi retak. Mahisa Semu pun kemudian telah berkelahi
melawan lima orang anak muda. Dengan tangkasnya ia berloncatan.
Meski pun ia baru saja terluka, tetapi Mahisa Semu masih nampak
terlalu garang. Anak-anak muda itu berkelahi dengan mengerahkan
segenap kekuatan dan kemampuan mereka. Dengan kasar mereka meny
erang bergantian. Bahkan pemimpin anak-anak muda yang telah
mampu mengatasi rasa sakit itu berteriak: “Kenapa kawanmu itu tidak
membantumu ? Apakah kalian tidak mempunyai perasaan kesetia -kawanan
atau kalian memang anak-anakmuda yang sombong?” Jawab Mahisa Semu
memang menyakitkan. Katanya: “Ia akan membantu jika akumenghadapi
lawanyang pantas.” “Gila kau anak iblis,” geram pemimpin
anak-anakmuda itu. Namun belum lagi mulutnya terkatub, serangan
Mahisa Semu telah menyambar bibirnya. Jari-jarinya yang
terbuka dan merapat telah menampar mulut anak muda yang sedang
berbicara itu, sehingga tubuhnya terputar ke samping. Anak muda itu
mengaduh. Ketika tangannya meraba bibirnya, terasa cairan hangat
mengalir dari bibirnya yang pecah. Betapa kemarahan membakar
ubun-bunnya. Bibirnya,yang pecah telah membasahi telapak
tangannya dengan darah. Dengan demikian perkelahian itu menjadi
semakin seru. Mahisa Semu berloncatan diantara lawan-lawannya yang
ternyata sebagaimana diduga oleh Mahisa Pukat, bukan lawan yang
berbahaya. Mereka sama sekali tidak terlatih meski pun pada
dasarnyamereka adalah anak-anakmuda yang kuat. Namun dalam
pada itu, Mahisa Semu yang berloncatan telah menyambar mereka
seorang demi seorang dengan sentuhan tangan atau kaki. Seorang
diantara mereka terdorong beberapa langkah surut. Sementara seorang
yang bertubuh kecil dan pendek bagaikan terlempar dan terbanting
jatuh. Namun ia masih sempat untuk bangkit kembali dan ikut pula
dalam perkelahian itu. Tetapi tiba -tiba anak-anak muda itu justru
terkejut ketika melihat darah di tubuh Mahisa Semu. Nampaknya
seranganserangan mereka sama sekali tidak berhasil mengenai anak
muda itu. Tetapi tiba -tiba saja tubuh itu berdarah. Mahisa Semu
semula tidakmenyadari, bahwa luka-lukanya yang telah pempat itu
telah berdarah lagi justru setelah ia terlalu banyak bergerak. Untuk
beberapa saat mereka terheran-heran. Namun kemudian mereka justru
merasa bahwa mereka telah berhasil melukai anak itu tanpamereka
sadari. Karena itu, maka pemimpin dari anak-anak muda itu pun
berteriak: “Lihat. Tubuhnya telah berdarah. Ia akan segera
kehilangan kekuatannya. Ia akan menjadi lemah dan tidak bertenaga
lagi untukmelawan kita.” Kelima orang itu pun seakan-akan telah
mendapatkan satu kesimpulan bahwa mereka akan segera menyelesaikan
pertempuran itu. Tetapi Mahisa Semu pun kemudian menyadari, bahwa
luka-lukanya yang telah pempat seakan-akan telah membuka kembali.
Karena itu,maka kemarahannya pun telah meledak. Karena yang
ada dihadapannya adalah anak-anakmuda yang telah menghinakannya itu,
maka kemarahannya pun telah ditumpahkannya kepada mereka. Sejenak
kemudian, maka Mahisa Semu pun telah mengerahkan segenap kekuatan
dan kemampuannya. Ia ju stru tidak peduli lagi, apakah lukanya akan
berdarah semakin banyak. Namun yang diinginkan adalah meny elesaikan
anakanak bengal itu secepat-cepatnya. Kecuali darahnya yang
mengalir,makamatahari pun menjadi semakin rendah. Namun anak-anak
gembala yang bia sanya sudah pulang, masih ada di ara-ara itu
meski pun dari kejauhan.Hanya satu dua diantara mereka benar-benar
menjadi ketakutan dan berlari-lari pulang. Ceritera anak-anak
gembala itu justru telah berkembang. Beberapa orang ingin melihat
apa yang telah terjadi di ara-ara. Sementara itu, karena
Mahisa Semu telah menghentakkan segenap kekuatan dan kemampuannya,
maka seranganserangannya pun menjadi semakin garang. Anak-anak muda
yang tidak memiliki bekal kanuragan itu memang menjadi bingung.
Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun tiba -tiba saja
seorang diantara mereka telah terlempar beberapa langkah dan jatuh
terbanting. Sementara ia belum sempat bangkit, maka seorang lagi
telah mengaduh. Kaki Mahisa Semu tepat mengenai perutnya, sehingga
anak muda itu terbungkuk kesakitan. Sambilmeloncat kesamping, tangan
Mahisa Semu terayun mendatar menghantam kening seorang lagi diantara
lawan-lawannya. Kelima orang lawan-lawannya benar-benar menjadi
bingung. Pukulan Mahisa Semu datang beruntun. Satu demi satu mereka
jatuh dan sulit untuk dapat bangkit kembali. Pernimpin anak-anakmuda
itu sekali lagi telah terjatuh pula. Namun Mahisa Semu yang
marah itu tidak puas dengan sekedarmenjatuhkanmereka seorang demi
seorang. Kemarahan Mahisa Semu benar -benar sampai ke puncak. Karena
itu ket ika lawan-lawannya berjatuhan, maka ia pun telah meloncat
menerkam mereka seorang demi seorang. Pemimpin anak anak muda itu
ditariknya sehingga bangkit berdiri. Namun sekali ayun tangan Mahisa
Semu telah memukul dagu anakmuda itu. Anakmuda itu terlempar dua
langkah surut dan kemudian jatuh terlentang. Namun Mahisa Semu masih
belum puas. Ia telah menarik anak muda yang lain. Menariknya
berdiri dan memukulnya pula sampai anak muda yang ketujuh. Mereka
yang jatuh terguling dari kudanya dan tidak dapat bangkit lagi itu
pun telah diperlakukan dengan keras oleh Mahisa Semu. Apalagi kedua
orang anak muda yang jatuh dari kudanya itu adalah
anak-anakmuda yang telah meny entuh kepalanya. Anak-anakmuda itu
benar-benar tidakmampu berbuat apa apa lagi. Mereka hanya
dapatmenyeringaimenahan sakit dan mengerang kesakitan. Mahisa semu
itu baru berhentimemukuli anak-anakmuda itu ketika Mahisa Pukat
menggamitnya dan berkata: “Sudahlah Mahisa Semu. Tidak sepantasnya
kau melakukan hal itu. Apalagimatahari sudah hampir tenggelam. Kita
harus melanjutkan perjalanan.” Mahisa Semu menarik nafas
dalam-dalam. Ia melihat ketujuh anak anak muda itu mengerang
kesakitan. Tubuh mereka bagaikan telah diremukkan oleh Mahisa Semu.
Tulang-tulangmereka bagaikan berpatahan. Namun Mahisa Semu pun
menyadari, bahwa ia tidak dapat larut dalam kemarahannya
terus-menerus. Karena itu maka sejenak kemudian Mahisa Semu pun
melangkah surut. Dilihatnya ketujuh orang lawannya itu telah
terbaring diam tanpa dapat berbuat apa-apa lagi selainmengerang
kesakitan. Dari kejauhan para gembala menyaksikan semuanya itu.
Namun mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Apalagi mencarnpuri
persoalan itu. Namun sejenak kemudian, orang-orang yang ada di
ara ara itu terkejut. Mahisa Semu dan Mahisa Pukatmelihat beberapa
orangmendatangimereka:- “Apakah kita akan melayani mereka?,”
bertanya Mahisa Semu. “Kita akan terlalu lama berhenti disini,”
jawab Mahisa Pukat. Mahisa Semu pun kemudian bersiul keras-keras.
Ternyata kudanya yang sudah terbiasa mendengar siulnya telah
berlarilarimendekatinya. Dengan sigapnya Mahisa Semu pun meloncat ke
punggung kudanya. Demikian pula Mahisa Pukat yang masih harus
berlari lebih dahulu beberapa langkah, baru kemudian meloncat ke
punggung kudanya. Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah
menghentakkan kendali kudanya meninggalkan ara-ara itu. “Ki Sanak,”
teriak seseorang dari antara orang-orang yang berdatangan.
Namun Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak menghiraukannya lagi.
Keduanya berderap semakin lama semakin jauh, sementara langit pun
inenjadi semakin gelap. “Darahmumengalir lagi,” desisMahisa Pukat.
“Ya,” sahut Mahisa Semu. “Kita harus berhenti untuk mengobatinya
lagi,” berkata Mahisa Pukat pula. Mahisa Semu tidak menjawab. Namun
mereka masih berpacu terus agar mereka mempunyai jarak yang
cukup. Apalagi jika gelap turun. Seandainya orang-orang padukuhan
terutama orang tua anak-anakmuda itu menyusulnya,mereka tentu akan
sulit untukmencari jejak. Apalagi ketika Mahisa Semu dan Mahisa
Pukat telah mengambil jalan kecil untukmendapat tempat berhenti.
Meski pun dalam kegelapan namun Mahisa Pukat sempat mengobati
luka-luka Mahisa Semu yang berdarah lagi. “Aku sengaja membiarkan
kau berkelahi sendiri,” desis Mahisa Pukat sambilmenaburkan obat di
luka Mahisa Semu. Mahisa Semu memang meny eringai menahan pedih dan
panas pada lukanya yang tersentuh obat itu. Namun Mahisa Semu
mengetahui bahwa obat itu justru telah bekerja di lukanya itu.
Seterusny a keddanya telah beristirahat beberapa saat di kegelapan.
Mereka ternyata sudah malas untuk meneruskan perjalanan sampai
kepadukuhan untuk mencari tempat bermalam. Ternyata mereka lebih
senang bermalam di tempat itu juga. Apalagi t idak jauh dari tempat
itu terdapat sebuah parit yang airnya sangat jernih. Mahisa Semu
yang menengadahkan wajahnya melihat langit pun terang. Tidak
ada awan yang mengalir diudara. Yang nampak adalah bintang2
bergayutan dari cakrawala sampai ke cakrawala. “Nampaknya tidak akan
hujan malam ini,” berkata Mahisa Semu sambilmembaringkan tubuhnya di
atas sebongkah batu hitamyang besar yang banyak terdapat di
tempat itu. “Ya,” sahut Mahisa Pukat yang duduk sambilmenyilangkan
kakinya. Juga di atasbatu yang besar. “Tidurlah. Nanti bergantian,”
desis Mahisa Pukat. “Ya. Aku letih sekali,” sahut Mahisa Semu.
“Terutama karena darahmu yang mengalir cukup banyak. Bukan karena
kau berkelahi dengan anak-anak muda itu,” jawab Mahisa Pukat pula.
Mahisa Semu tidak menjawab. Namun ia pun telah memejamkan matanya.
Udara memang terasa dingin. Apalagi kemudian embun pun mulai
membasahi batu tempat ia berbaring. Tetapi Mahisa Semu itu pun telah
tertidur pula. Mahisa Pukatmasih saja duduk di atas sebongkah batu.
Ia memang tidak ingin tidur. Ia akan berjaga-jaga sampai dini. Jika
Mahisa Semu telah cukup lama tidur, ia hanya ingin tidur seujung
pagi saja sebelum meneruskan perjalanan. Dua ekor kuda terikat pada
sebatang pohon perdu. Nampaknya tidak ada sesuatu yang akan
mengganggu mereka malam itu. Lewat tengah malam, batu tempat Mahisa
Pukat duduk itu pun terasa menjadi ba sah oleh embun. Namun Mahisa
Pukat tidak beranjak dari tempatnya. Ia sudah terbiasa berada di
segala tempat dalam segala suasana. Menjelang dini, Mahisa Pukat
justru terkejut. Pendengarannya yang sangat tajam mendengar
desir lembut. Semakin lama semakin dekat, sehingga ketika desir itu
diyakini langkah seseorang, Mahisa Pukat pun bangkit dan berdiri di
atas batu itu. Katanya tidak terlalu keras: “Marilah. Aku
persilahkan Ki Sanakmendekat.” Sejenak suasana justru menjadi
hening. Namun kemudian, langkah itu terdengar lagi. Bahkan sesosok
tubuh telah muncul dari balik sebongkah batu yang besar. “Ternyata
kau benar-benar berilmu tinggi,” desis orang yang datang itu, “kau
dengar langkahkumendekat.” “Kau kurang berhati-hati,” sahut Mahisa
Pukat, “disini banyak daun kering.” “Baiklah. Aku harus mengakui
kelebihanmu,” jawab orang itu. “Siapakah kau ?,” bertanya Mahisa
Pukat. “Apakah kau mempunyai hubungan dengan anak-anak muda di ara
-ara itu?” Mahisa Pukatmencobamenebak. “Tidak secara langsung,”
jawab orang itu. “Maksudmu ?,” bertanya Mahisa Pukat kemudian. “Aku
adalah orang yang dianggap memiliki ilmu terbaik di padukuhan
itu. Kalian ternyata sudah memukuli anak-anak muda padukuhan kami.
Meski pun aku bukan orang upahan, bahkan aku tidak setuju dengan
tingkah laku mereka, namun aku juga tidak setuju dengan caramu.
Kalian sudah bertindak sendiri dan langsung,” berkata orang itu.
“Jadi apa yang harus kami lakukan ?,” bertanya Mahisa Pukat.
“Jika kau merasa dirugikan, maka kau harus melaporkannya kepada Ki
Bekel. Ki Bekel yang akan menyelesaikan segala persoalan,”
jawab orang itu: “jika tidak demikian, maka wibawa para bebahu
padukuhan akan leny ap.” “Wibawa bebahu padukuhan itu tidak akan
lenyap karena tindakan kami, karena bebahu padukuhan itu sudah tidak
mempunyaiwibawa sejak lama,” jawab Mahisa Pukat. “Kenapa ?,”
bertanya orang itu. “Apa yang dapat dilakukan oleh bebahu padukuhan
terhadap anak- anak muda yang tidak tahu adat itu?. Jika wibawa
bebahu padukuhan itumasih utuh,maka tindakan dan sikap seperti itu
tentu sudah tidak ada lagi,” jawab Mahisa Pukat. Orang itu merenung
sejenak. Namun kemudian katanya: “Ya, Kau benar. Tetapi kau, orang
asing di padukuhan kami, janganmenambah parah kedudukan para bebahu
itu.” “Kami tidak mempunyai pilihan lain. Anak-anakmuda itu telah
menghinakan kami. Karena itu, maka kami harus membela harga din
kami,” jawab Mahisa Pukat. “Meski pun wibawa kami sudah lama susut.
Tetapi kami tidak mau orang asing menginjak-injak harga diri kami,”
jawab orang itu. “Jadi bagaimana menurut penilaianmu. Kalian tidak
mau tersinggung, tetapi kalian biarkan anak-anak padukuhan itu
menyinggung harga diri orang lain,” berkata Mahisa Pukat. “Kami
tidak mau timbul kesan orang asing, bahwa padukuhan kami tidak
memiliki kemampuan untuk menjaga harga diri kami. Karena itu, apa
pun alasannya, aku ingin menunjukkan bahwa dipadukuhan kami ada
kekuatan yang dapat menjaga wibawa dan nama baikny a meski pun
kedalam hal itu tidak dapat diberlakukan,” berkata orang itu.
“Bukankah pikiranmu terbalik ? Kalian harusmenegakkan wibawa kalian
kedalam. Dengan sendiriny a wibawa itu akan memancar keluar,” sahut
Mahisa Pukat. “Ki Sanak. Apa pun per soalan yang kau sebut,
maka aku tetap pada pendirianku. Aku ingin membawa kalian berdua
kembali ke padukuhan kami. Kalian berdua harus bertanggung jawab
atas perbuatan kalian. Baru kemudian kami dapat mengadili
danmenghukum orang- orang kami,” berkata orang itu. “Tidak Ki Sanak.
Yang harus kau lakukan adalah menghukum anak-anak bengal itu dan
memaksa mereka untuk tidak melaktikannya lagi agar pada kesempatan
lain bukan kepalamereka yang dipecahkan,” jawab Mahisa Pukat. “Aku
kira aku sudah cukupmemberikan alasan kenapa aku mengikuti jejakmu.
Hampir saja aku kehilangan. Untunglah, bahwa kemampuanku mengikuti
jejak masih juga membawa akumenyusul kalian disini.,” berkata orang
itu. Tetapi Mahisa Pukat menjawab: “Aku pun sudah cukup memberikan
alasan. Aku tidak akan kembali lagi. Aku akan tetapmeneruskan
perjalanan.” >>> Untuk selanjutnya, Mahisa Pukat benar
-benar tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya. Ketika sekali
lagi Mahisa Pukatmeny erangnya dengan ay unan tanganmengenai kening
lawannya,maka lawannya itu pun telah terjatuh lagi. Namun
rasa-rasanya tenaga memang tidak mungkin lagi untuk menopang
keinginannya mempertahankan dirinya dan apalagimemaksa anakmuda itu
kembali ke padukuhan. Karena itu, ketika ia kemudian bangkit, orang
itu sama sekali tidak berusaha untuk berdiri. Ia masih saja duduk di
tanah dengan kepala tunduk. Mahisa Pukat tidak meny erangnya lagi.
Dibiarkannya lawannya itu mengatur pernafasannya sebelum bangkit
berdiri. Tetapi lawannya tidak segera berdiri. Bahkan kemudian
terdengar ia mengeluhmenahan sakit. Untuk beberapa saat lamanya
Mahisa Pukat menunggu. Ketika lawannya itu masih saja duduk, maka ia
pun bertanya: “Bagaimana Ki Sanak. Apakah kita masih akan
melanjutkan lagi ?” “Anak muda,” berkata orang itu dengan nada yang
dalam: “aku harusmengakui bahwa kau memangmemiliki ilmu yang tinggi.
Aku pun menyadari, bahwa apa yang kau lakukan belum sampai ke puncak
kemampuan kalian. Karena itu, mustahil aku dapat memenuhi keinginan
orang-orang padukuhan, agar aku membawa kalian berdua kembali ke
padukuhan. “Jika demikian, biarkan aku pergi,” berkata Mahisa Pukat.
“Baiklah,” berkata orang itu, “tetapi aku akan tidak berarti lagi di
padukuhan. Selama ini hanya akulah yang dapat mengekang orang-orang
tua dari anak-anak yang bengal itu. Tanpa kekangan itu, mereka tentu
akan berbuat jauh lebih buruk lagi.” “Kenapa ?,” bertanya Mahisa
Pukat, “kenapa kau menjadi tidak berarti lagi ? “Aku tidak dapatmeny
elesaikan tugasyangmereka berikan kepadaku. Mereka telah minta
tolong kepadaku untuk membawa kalian berdua kembali ke padukuhan.
Tetapi aku tidak dapat memenuhinya. Mereka tentu menganggap bahwa
selama ini aku hanya sekedar pembual saja yang ternyata tidak dapat
melakukan sesuatu yang berarti bagi mereka,” jawab orang itu.
Lalu katanya pula: “Tetapi itu harus aku terima.” “Tetapi kau
dapatmenunjukkan kelebihanmu.Orang-orang yang tidak menghargaimu
lagi, kau tantang saja untuk berkelahi. Jika tidak ada orang yang
mampu mengalahkanmu, maka kau akan dapat menepuk dada dan berkata
kepada mereka, bahwa kau tetap orang terbaik,” berkata Mahisa Pukat.
“Dan mereka akan mencibirkan sambil memperingatkan kepadaku, bahwa
aku tidakmampu membawa dua orang anak muda kembali ke padukuhan,”
jawab orang itu. “Katakan kepada mereka, bahwa kau tidak berhasil
menyusul kami. Katakan bahwa anak-anak muda itu tidak berhenti
meskipun malam hari. Mereka berjalan terus sepanjangmalam,” sahut
Mahisa Pukat. “Apa pun alasannya, mereka tidak akan lagi menghargai
aku. Setidak-tidaknya penghargaan mereka terhadapku akan su sut.”
jawab orang itu. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ia memandangi
orang itu dengan dahi yang berkerut. Sementara orang itu masih
saja duduk sambilmenundukkan kepalanya. Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Katanya: “Baiklah. Aku dan adikku akan mengikutimu
kembali ke padukuhan. Tetapi ingat, jika kau tidak berhasil
mengendalikan orang-orang padukuhan sehingga mereka akan menghukum
aku, maka aku akan melindungi adikku. Mungkin aku dan adikku akan
membantai orang-orang padukuhanmu berapa pun jumlahnya.” Orang itu
mengangkat wajahnya. Dipandanginya Mahisa Pukat dengan pandangan
kosong. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata lantang: “Kau tidak
percaya?.” Mahisa Pukat tidak menunggu jawaban orang itu. Dengan
serta merta ia pun telah memusatkan nalar budinya. Dengan sigap ia
pun kemudian telah menghentakkan tangannya dengan kedua telapak
tangannya yang terbuka menghadap ke sebuah batu padas di bawah
sebatang pohon. Seleret sinar telah menyambar dari telapak tangan
Mahisa Pukat itu. Batu pada s yang dikenainya seakan-akan
telah meledak dan pecah berserakan. Orang itu terkejut sehingga ia
terlonjak berdiri. Dipandanginya Mahisa Pukat dan batu yang hancur
itu berganti-ganti. Ia seakan-akan tidak percaya kepada
penglihatannya. “Aku hanya ingin mengatakan kepadamu, jika
orang-orang padukuhanmu itu mau menghukumku, maka yang terjadi
adalah seperti batu padas itu. Apalagi seseorang yang terdiri
dari kulit dan daging yang lunak,” geram Mahisa Pukat. Orang
itu tergagap. Katanya: “Baiklah. Jika demikian, aku tidak akan
berani membawa kalian berdua kembali ke padukuhan.” “Sudah aku
katakan. Jika itu kau perlukan, maka kami tidak berkeberatan. Tetapi
jangan perlakukan kami seperti seekor keledai yang dungu,
karena kami akan dapat membunuh seluruh isi padukuhanmu.,” berkata
Mahisa Pukat. “Tetapi apakah aku akan dapatmenguasaimereka ?,” orang
itu justru bertanya. “Jika kau memang mempunyai wibawa yang
cukup, maka kau akan dapatmelakukannya,” jawab Mahisa Pukat. “Orang
itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya dengan nada
rendah: “Sudahlah. Aku akan kembali tanpa kalian. Biarlah kalian
melanjutkan perjalanan kalian tanpa tergaggu.” “Aku akan kembali ke
padukuhanmu,” jawab Mahisa Pukat. Orang itu menunduk. Katanya hampir
tidak dapat dide-ngar oleh orang lain: “Aku tidakmengira sama
sekali.” Tetapi ternyata orang itu tidak dapat melangkah surut.
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah bertekad untuk ikut kembali ke
padukuhan. Mereka ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh
orang-orang padukuhan itu terhadap anakanak muda yang sering
menganggu orang yang lewat di padukuhanmereka. Demikianlah,
maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah mengikuti orang itu kembali
ke padukuhan. Beberapa puluh langkah dari tempat Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu beristirahat, orang itu menambatkan kudanya. Sejenak
kemudian maka ketiga ekor kuda itu telah berpacu kembali ke
padukuhan. Ket ikamereka sampai ke ara-aramaka Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu pun terkejut. Ternyata di araara itu telah berkumpul
banyak orang padukuhan. Beberapa obor telah terpasangmenerangi satu
lingkunganyang luas. Ketika tiga ekor kuda itu memasuki
ara-ara, maka terdengar dengan serta-merta orang-orang padukuhan itu
ber sorak. Agaknya mereka menganggap bahwa orang yang menyusul
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu berhasil membawa kembali kedua
orang anak muda yang mereka kehendaki. Sejenak kemudian,
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berada di tengah ara-ara itu
bersama orang yang membawanya kembali. Serentak orang-orang
padukuhan itu telah mengurung mereka. Sementara anak-anak muda yang
merasa disakiti oleh Mahisa Pukat itu pun berdiri dipaling depan
sambil bertolak pinggang. “Serahkan anak itu kepadaku,” teriak anak
muda yang paling berpengaruh diantaramereka. “Serahkan kepada
kami. Kami akan menghukumnya,” teriakyang lain. Dari antara
orang-orang padukuhan itu telah melangkah mendekat beberapa orang
tua. Seorang diantara mereka berkata: “Anak inikahyang
telahmenyakiti anakku?” Orang yang membawa Mahisa Pukat dan
Mahisa Semu itu memang menjadi berdebar-debar. Namun kemudian
katanya daengan nada tinggi. “Aku memang sudah membawa keduanya
kembali. Tetapi setelah aku bertemu dan berbicara denganmereka,maka
aku telah mendapat kesanyang lain.” “Kesan apa?,” bertanya seorang
laki-laki bertubuh raksasa. “Ternyata bahwa apa yang terjadi
tidak seperti apa yang kalian katakan kepadaku,” jawab orang
itu, “aku sudah terlanjur memaksa mereka kembalimeski pun semula
mereka berkeberatan. Baru kemudian aku tahu bahwa mereka sama sekali
tidak ber salah.” “Siapa yang tidak bersalah? Apakah kau tidak
melihat apa yang terjadi atas anak-anak kita?” bertanya orang
bertubuh raksasa itu. “ Itu disebabkan karena kesalahan mereka
sendiri. Mereka menganggu orang -orang yang sedang lewat. Namun satu
ketika mereka terbentur pada kekuatan yang tidak dapat mereka atasi
-jawab orang itu.” “Omong kosong,” teriak raksasa itu, “aku tidak
percaya. Kau harusberbuat sesuatu.” “Kita harus mendengar yang
sebenarnya terjadi. Bukan sekedar memanjakan anak-anak kita. Apakah
kita harus menutup mata atas apa yang seringmereka lakukan?
Apakah kita harusmembiarkan dan bahkan melindungi tingkah laku
mereka itu? Semakin lama mereka akan menjadi semakin buas,” berkata
orang itu. “Cukup,” bentak orang bertubuh raksasa itu. Namun tiba
-tiba saja orang yang membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu
meloncat turun. Sambil bertolak pinggang ia berkata: “Kau
beranimembentak aku he?” Orang bertubuh raksasa itu termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian ia melangkah surut ketika orang yang
meloncat turun dari kudanya itu melangkahmaju. “Bukan maksudku,”
orang bertubuh raksasa itu menjadi gagap. Sementara itu, orang
yang membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu kembali ke padukuhan
itu pun kembalimeloncat ke punggung kudanya. Kemudian ia pun berkata
lantang: “He orang-orang padukuhan ini. Apakah kalian percaya
sebagaimana dikatakan oleh anak-anak muda ini bahwa mereka telah
diserang dengan licik? Siapakah diantara kalian yangmelihat apa
yang terjadi? Mungkin para gembala. Tetapi mereka takut
mengaku berusaha meredam niat orang-orang padukuhan ini untuk
berbuat sesuatu atas anak-anak kalian. Tetapi yang dilakukan
hari ini sudah keterlaluan,” berkata orang itu. “Apa pun yang
dilakukan, kau wajib melindunginya,” berkata orang kay a yang lain.
“Tidak,” berkata orang itu, “sejak hari ini aku berhenti memberikan
perlindungan kepada anak-anak yang tidak tahu adat itu.
Sesudah sekian lama aku mencoba untuk mengendalikan tingkah laku
mereka. Namun aku tidak berhasil. Nah, sekarang aku akan minta salah
seorang anak muda ini untuk mengatakan apa yang telah
dilakukan oleh anak-anak kalian.” Sebelum seseorang menjawabnya,
maka orang itu segera berpaling kepada Mahisa Pukat sambil berkata:
“Katakan, apa yang telah terjadi ataskalian.” Mahisa Pukat pun
berpaling kepada Mahisa Semu sambil berkata: “Katakan.” Mahisa Semu
menggerakkan kudanya beberapa langkah maju. Kemudian ia pun telah
menceriterakan apa yang telah terjadi. Dengan suara lantang ia
akhirnya berkata: “Aku merasa ter singgung sekali. Karena itu, maka
aku telah melawanmereka berkelahi.” Wajah-wajah pun menjadi tegang.
Seorang diantara orang tua anak- anak muda itu berteriak: “Kau dapat
mengarang ceritera apa saja. Tetapi tidak seorang pun akan percaya
bahwa kau seorang diri dapat menang atas beberapa orang
anak-anakmuda kami.” “Aku berkata sebenarnya. Bahkan tentu ada
beberapa saksi,” jawab Mahisa Semu: “tingkah laku anak-anak muda
yang tidak bertanggungjawab itu sangat menyakitkan hati. Aku
berusaha untukmelupakannya denganmeninggalkan araara ini. Tetapi
orang yang kalian upah itu telah menyusulku dan memaksa kami
berdua untuk kembali. Ara-ara ini telah mengingatkan aku kepada
tingkah laku mereka yang tidak pantas itu. Karena itu, jika kalian
tidak percaya bahwa aku telah mengalahkannya, maka biarlah aku
mencobanya sekali lagi dihadapan hidung kalian.” Orang-orang itu
menjadi ragu -ragu. Namun orang yang telah menyusul agar
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu kembali berkata: “Aku percaya akan
kata-katanya. Aku telah menjajagi kemampuannya. Dan aku tahu benar
kemampuan anak-anak muda yang hanya membanggakan diri dalam
perlindungan orang lain. Bukan karena kemampuannya sendiri. Nah, aku
setuju dengan anak muda itu. Biarlah ia mencoba sekali lagi melawan
anak-anak muda yang telah memperlakukannya tidak sepantasnya itu -
Tetapi yang meloncat turun dari kudanya adalah Mahisa Pukat sambil
berdesis: “Lukamu akan dapat berdarah lagi.” Sebelum Mahisa Semu
berkata sesuatu, Mahisa Pukat telah berteriak: “Marilah. Kita akan
memperlihatkan kebenaran kata-kata kita masing-masing. Aku tantang
anak-anak muda yang berkelompok untukmengganggu orang lain itu
berkelahi disini.” Tetapi anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak.
Meski pun mereka sudah berkumpul dalam satu kelompok dan berdiri di
paling depan. Bahkan ketika sebelumnya mereka bertolak pinggang,maka
tangan-tangan mereka telah terkulai disisi tubuh mereka. “Marilah,”
tantang Mahisa Pukat sekali lagi. Orang yang telah datang sambil
membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu pun berkata: “Nah, marilah.
Buktikan bahwa kalian dapat melindungi diri kalian sendiri. Aku
tidak akan turut campur.” Anak-anak muda itu masih saja termangu
-mangu. Mereka masih ingat apa yang terjadi atas diri mereka. Tubuh
merekapun masih terasa sakit. Bahkan mereka yang terbanting dari
kudanya masih merasakan punggung mereka bagaikanmenjadi patah.
Orang-orang tua mereka pun termangu-mangu. Mereka pun tahu bahwa
anak-anak mereka mengalami luka-luka didalam tubuh mereka. Sementara
orang yang mereka banggakan itu tidak bersedia menolong mereka lagi.
Sementara itu anak muda itu telah menantangnya lagi: “Marilah. Kita
akanmembuktikannya.” Anak-anak muda padukuhan itu yang
biasanya dengan menengadahkan wajah mereka, bahkan sambil tertawa,
mengganggu orang lain, tiba -tiba telah menundukkan kepala mereka.
Tidak ada lagi yang bertolak pinggang. Mereka tidak dapat
ingkar kepada satu kenyataan, apa yang telah terjadi atas dirimereka
sebelumnya. Namun salah seorang dari orang tua mereka tiba-tiba
berteriak kepada orang-orang padukuhan itu: “He, seisi padukuhan.
Apakah kalian akan membiarkan anak-anak kalian dihinakan orang ?
Apakah sama sekali tidak timbul di hati kalian satu sikap yang dapat
menjunjung nama padukuhan kalian ? Jika masih ada sedikit saja
kebanggaankalian atas padukuhan ini, marilah, kita bersama-sama
menangkap kedua orang anak muda itu dan menghukumnya, karena mereka
telah menghinakan anak-anak kita. Anak-anak muda yang kelak akan
menggantikan kedudukan kita semua.” Ara -ara itu menjadi hening.
Beberapa orang memang tersentuh hatinya. Ada semacam dor ongan untuk
berbuat sesuatu bagi kepentingan padukuhan mereka. Sementara itu
orang itu berkata pula untuk mempertajam kata- katanya sebelumnya:
“Apakah kita akan membiarkan padukuhan kita dianggap tidak berday a
sama sekali sehingga orang-orang lain akan datang menginjak-injak
tanpa ada yang dapat mencegahnya?” Satu dua orang mulai
bergerak. Namun dalam pada itu, orang yang telahmenyusul
Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu berkata tidak kalah lantangnya:
“Jika kita berbuat sesuatu, untuk apa sebenarnya? Untuk
mempertahankan harga diri padukuhan ini atau sekedar untuk
memanjakan anak-anak bengal itu?” “Kita akan mempertahankan nama
baik padukuhan ini jika persoalannya memangmenyangkut kepentingan
kita bersama. Tetapi apa yang sebenarnya telah terjadi ?. Bukan saja
hari ini. Tetapi hari-hari sebelumnya ? Apakah kita, seisi padukuhan
ini harus mengabdi kepada beberapa orang anak muda yang tidak mau
mengerti akan tata kehidupan orang banyak dan merasa dirinya dapat
berbuat apa saja karena uang ? Dengar. Aku adalah orang yang
pernah diupah oleh orang-orang kaya itu untukmelindungimereka.
Anak-anak mereka dan wibawa mereka. Tetapi akhirnya aku menjadi muak
melihat tingkah laku anak-anak mereka. Bagaimana pun juga mencoba
mencegahnya, tetapi karena aku adalah orang upahan mereka, maka
kata-kataku tentu akan mereka abaikan begitu saja. Dan sekarang,
mumpung ada orang lain yang berbaik hati untuk memberikan sedikit
tegoran kepada anak-anak muda itu, maka aku hanya dapat menumpang
kepada mereka. Karena itu,maka aku sama sekali tidakmau
membantumereka dalam persoalan ini. Jika kalian, orang-orang
padukuhan ini akan melindungi mereka, lakukan. Tetapi aku tidak.
Bahkan jika terjadi benturan kekuatan antara kalian dengan anak anak
muda ini, aku akan berpihak kepada mereka.” Kata -kata itu memang
mengejutkan. Tetapi kata -kata itu telah memaksa orang-orang
padukuhan itu berpikir. Sementara itu, salah seorang dari orang tua
anak-anak muda itu berteriak: “Jadi kalian akan berkhianat seperti
orang itu yang selama ini telah diupah untukmelindungi
anak-anak kita ? Tidak. Kalian adalah orang-orang padukuhan
yang tahu diri.” “Siapakah yang telah berkhianat?,” bertanya
orang yang menyusul Mahisa Pukat dan Mahisa Semu: “Apakah aku
dapat disebut berkhianat jika aku kemudian menyadari, bahwa apa yang
aku lakukan selama ini tidak berarti sama sekali. He, orang-orang
padukuhanyang baik. Apakah aku boleh bertanya kepada kalian,
apakah kalian tidak tahu apa yang kalian lihat, kalian dengar dan
kalian saksikan sehari-hari t ingkah laku anak-anak muda itu ? Atau
aku harus mengulangi pertanyaanku, kalian masih saja berpura-pura
laku karena anak-anakmuda itu adalah anak orang- orang kay a ?”
Orang-orang padukuhan itu memang menjadi bingung. Sebelum orang tua
anak-anakmuda itu berteriak,maka orang itu telah mendahului:
“Bukankah setiap hari kalian juga mengeluh karena tingkah lakumereka
? Apakah mereka dapat hidup dalam satu lingkaran pergaulan dengan
anak-anak muda padukuhan yang lain ? Dengan para gembala, dengan
anak-anak petanimiskin yang tidak mempunyai kuda seperti
mereka ? Anak-anak kalian,misalny a. Nah, jika demikianlah,
terserah. Langkahmana yang akan kalian ambil.” Penjelasan itu cukup
membuka hati orang-orang padukuhan. Mereka justru melangkah surut
dan menjauhi anak-anakmuda yang bengal itu. Tidak ada yang menjawab.
Tetapimereka masih melangkah beberapa langkah lagimenjauh. Dengan
demikian maka orang yang membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
kembali ke ara-ara itu berkata: “Baiklah jika kalian menyadari
keadaan sepenuhnya. Kalian masih sempat merenungkan apa yang
sebaiknya kalian lakukan. Kedua anak muda itu masih ada disini.
Sebelum mereka pergi, kalian harusmengambil keputusan. Juga anakanak
muda itu, apakah mereka akan membuktikan kata-kata kedua anakmuda
yang lewat berkuda di padukuhan ini. Sekali lagi melawan
mereka berdua atau bahkan seorang saja diantaramereka?” Tidak ada
yang menjawab. Baik anak-anak muda yang bengal itu mau
pun orang tuanya. Karena tidak ada yang menjawab,maka Mahisa Pukat
pun berkata: “Jika tidak ada diantara kalianyang
inginmengulangi lagi, maka aku justru menuntut anak-anak muda yang
telah mengganggu perjalananku diadili.” “Maksudmu ?,” bertanya salah
seorang diantara orang tua anak-anakmuda itu. “Kami berdua telah
dihinakan ketika kami lewat,” jawab Mahisa Pukat: “Nah, hukuman apa
yang paling pantas diberikan kepada mereka ?” Orang-orang
padukuhan itu termangu-mangu. Sementara orang-orang tua dari
anak-anak muda yang bengal itu memangmenjadi berdebar- debar. Karena
tidak ada yang menjawab,maka Mahisa Pukat pun berkata: “Para orang
tua dari anak-anak yang tidak tahu adat itu harus mengambil
sikap. Apa yang akan kalian lakukan ? Kalian adalah
orang-orang yang paling berkepentingan dengan anak-anak kalian.
Memang tidak ada seorang pun dari antara para orang tua yang
tidak ingin melindungi anak-anaknya. Tetapi sudah tentu tidak
seorang pun diantara para orang tua yang ingin anaknya kehilangan
masa depannya. Nah, jika kalian biarkan anak-anak bengal itu berbuat
seperti sekarang, maka mereka adalah anak-anak yang tidak akan dapat
bertanggungjawab atas perbuatannya. Mereka akan menjadi anak-anak
yang tidak akan berarti sama sekali di masa depan. Mereka akan
tersingkir oleh anak-anak orang miskin tetap yang dengan tekun
membentuk dirinya dan mengumpulkan bekal bagimasa depannya.” Tidak
ada seorang pun yang menjawab. Sementara itu, Mahisa
Pukatyang telah berada di punggung kudanya kembali itu
berkata: “Baiklah. Orang-orang tua di padukuhan ini akan dapat
menjelaskan kata-kataku. Atau kalian pun telah mengetahui maksudku.
Karena itu, kali ini aku serahkan hukuman anak-anak bengal itu
kepada orang tua mereka masing-masing. Tetapi aku yang sering
lewat jalan ini jika aku pergi ke Singasari, akan dapat mengikuti
perkembangan dari mereka. Jika mereka masih sering mengganggu orang
lain, membuat onar dan bertindak sewenang -wenang karena mereka
mempunyai uang,maka aku akan bertindak lagi. Aku adalah salah satu
dari per soalan bagimereka yang tidak dapat diselesaikan dengan
uang. Padahal persoalan yang demikian itu akan semakin banyak.
Orang-orang padukuhan ini pun akan menilai kembali apakah kalian
memang dapat membeli harga diri seluruh penghuni padukuhan ini
dengan uang kalian.” Orang-orang itu masih berdiam diri. Sementara
itu Mahisa Pukat pun berkata kepada orang yang membawanya kembali:
“Aku sudah memenuhi keinginanmu, Ki Sanak. Aku sudah kau bawa
kembali kemari. Aku kira per soalanku disini sudah selesai.” Orang
itu mengangguk sambil berkata: “Baiklah. Jika kau akan melanjutkan
perjalananmu, lanjutkanlah. Jika besok atau lusa atau kapan saja kau
lewat jalan ini, kau tidak akan diganggu lagi oleh anak-anak bengal
itu. Orang-orang padukuhan ini pun sudah muak terhadap mereka.
Orangorang padukuhan ini tentu tidak mau lagi diganggu pula
sebagaimana kalian.” Terima kasih,” jawab Mahisa Pukat. Orang itu
pun berdesis perlahan: “Akulah yang harus mengucapkan terima
kasih.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sempat memandangi orang-orang
yang ada di ara-ara. Semuanya menjadi semakin jelas. Obor-obor
justru nampak menjadi semakin buram, karena langitmenjadimerah
kekuning-kuningan. Namun Mahisa Pukat sempat berdesis: “Ternyata aku
tidak sempat beristirahatmalam ini. Aku harus berjalan hilir mudik
semalam suntuk.” “Akumintamaaf,” desis orang itu pula. “Tidak. Tidak
apa -apa. Aku sudah terbiasa berjaga-jaga semalam suntuk.,” sahut
Mahisa Pukat. Sejenak kemudian Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun
telah menghentakkan kendali kudanya. Kudanya pun segera meloncat
berlari. Derapnya terdengar mengguncang ketenangan pagi. Semakin
lama menjadi semakin jauh, sehingga akhirnya hilang dari
pendengaran. Namun matahari mulai melontarkan cahayanya menusuk
langit yang cerah. Ternyata semalam bahkan sampai pagi hujan tidak
turun. Demikianlah, setelah Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, hilang
dari penglihatan, bahkan suara derap kaki kudanya tidak terdengar
lagi, maka orang yang telah membawanya kembali ke ara-ara itu
berkata: “Kita tidak mempunyai persoalan lagi disini. Tetapi apa
yang terjadi disini dapat kita ingat-ingat. Suatu ketika ada
juga orang yang mampu mencambuk anak-anak kita. Selama ini suaraku
tidak lebih dari suara seekor katak dilebatnya hujan sehingga tidak
berday a sama sekali mempengaruhi sikap dan tingkah laku
anak-anakmuda padukuhan ini, khususny a anak orang-orang berada.
Sekarang terserah kepada orang-orang tua mereka. Apakah mereka akan
membiarkan anak-anak mereka mengalami lecutan orang lain yang
lebih parah lagi, atau mereka akan berusaha untuk meluruskan sikap
mereka, kemudian membaurkan mereka diantara anak-anak muda di
padukuhan ini yang jumlahnya lebih banyak dari mereka.“ Orang
itu berhenti sejenak, lalu: “Juga terserah kepada orangorang
padukuhan ini, apakah mereka akan menegor tingkah laku seperti itu,
atau membiarkannya karena dibayangi oleh kekay aan orang tuamereka.
Aku sendiri, sejak sekarang bukan orang upahan lagi.” Orang itu
tidak menunggu pendapat orang lain. Ia pun segera menggerakkan
kekang kudanya dengan berlari-lari kecil kuda itu pun meninggalkan
ara-ara yang menjadi semakin terang. Ny ala obor di beberapa
tempat itu pun sama sekali sudah tidak berdaya lagi. Di
langitmatahari memancar dengan terangnya. Mahisa Pukat dan Mahisa
Semu masih meneruskan perjalanan mereka. Sekali lagi Mahisa Pukat
berkata: “Aku semalam suntuk tidakmemejamkan mata sama sekali.”
“Apakah kita akan beristirahat?,” bertanya Mahisa Semu. “Kita
meneruskan perjalanan. Tetapi kita pun harus mengingat kuda-kuda itu
yang kurang beristirahat pula semalam,” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Semu mengangguk-angguk. Sementara itu mereka tidak lagi
berani memacu kuda mereka, karena jalan menjadi semakin ramai.
“Nampaknya kita mendekati sebuah pasar,” berkata Mahisa Pukat yang
melihat orang yang berjalan hilir mudik dengan
bebanmerekamasing -masing. Sebenarnyalah, beberapa lama lagi mereka
telah sampai ke sebuah pasar yang ramai. Nampaknya kebetulan
hari itu hari pa saran, sehingga pasar itu nampak penuh dengan orang
yang berjual beli. Mahisa Pukat dan Semu sempat singgah sebentar di
sebuah kedai. Selain untuk membeli makanan dan minuman bagi
keduanya, maka kuda-kuda mereka pun agaknya menjadi lapar. Beberapa
saat kemudian, maka keduanya telah melanjutkan perjalanan. Mereka
berharap bahwa hari itu mereka akan sampai ke padepokan mereka yang
sudah beberapa hatimereka tinggalkan. Sebenarnyalah, mereka tidak
menemui hambatan apa pun di sisa perjalanan mereka. Karena itu, maka
menjelang senja, keduanya telah sampai ke lingkungan
padepokanmereka. Ketika keduanya melihat pintu gerbang
padepokanmereka, maka rasa -rasanya dadamerekamenjadi bertambah
lapang. Mereka merasa akan segera memasuki satu lingkungan yang
paling sesuai bagi mereka dan yang akan dapat memberikan
ketenangan dan kedalaman hati. Agaknya orang-orang yang
bertugas telah melihat keduanya mendekati pintu gerbang. Sebelum
mereka mendorong pintu, maka pintu gerbang yang memang sudah terbuka
sedikit itu, bergerak dan terbuka semakin lebar, sehingga kuda
Mahisa Pukat dan kuda Mahisa Semu memasuki pintu gerbang itu.
Beberapa orang cantrik yang ada di padepokan itu telah menyambut
mereka dengan berbagai macam pertanyaan tentang keselamatanmereka di
perjalanan. Mahisa Pukat tidak sempatmenjawabmereka satu persatu.
Tetapi sambil ter senyum ia mengangguk-angguk. Demikian pula Mahisa
Semu. Dua orang cantrik telah menerima kuda-kuda mereka ketika
keduanya meloncat turun. Sementara itu Mahisa Murti pun telah
mendapat pemberitahuan akan kedatangan Mahisa Pukat. Karena itu,
maka ia pun telahmenyambutnya ditangga pendapa bangunan induk.
Sementara Mahisa Amping berlari-lari pula mendapatkan kedua orang
yang dianggap kakaknya itu. Ketika mereka naik tangga pendapa,
maka Mahisa Murti yangmempunyai penglihatan tajam itu bertanya: “Kau
terluka Mahisa Semu ?” Mahisa Semu menarik nafas dalam2. Katanya:
“Hanya sedikit.” “Tetapi kau tidak apa apa ?” bertanya Mahisa Murti
pula. “Tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Mahisa Semu. Ketika mereka
sudah duduk di pendapa, Mahisa Murti sempat mendengarkan laporan
Mahisa Pukat tentang perjalanan mereka. Beberapa hambatan telah
terjadi. Bahkan pertempuran yang semula dirasa tidak seimbang
jumlahnya, sehingga Mahisa Semu telah terluka karenanya. “Dua kali
kami mengalami kesulitan yang mendebarkan,” berkata Mahisa Pukat.
“Syukurlah bahwa kalian selamat,” berkata Mahisa Murti
sambilmengangguk-angguk kecil. Namun kemudian Mahisa Pukatlah
yang bertanya tentang padepokan itu. “Tidak terjadi sesuatu,”
jawab Mahisa Murti, “ semuanya dapat berjalan sebagaimana
seharusnya. “Syukurlah,” berkata Mahisa Pukat yang kemudian juga
menceriterakan tentang gerakan sandi dan sekelompok bangsawan dari
Kediri. “Ternyatamereka telah berada di segala tempat dan tataran
kehidupan. Mereka ada disini, di jalan yang menuju ke
Singasari dan bahkan di Singasari itu sendiri.,” desis Mahisa Pukat.
“Agaknya tentang mereka diperlukan satu kegiatan tersendiri
yang khusus ditujukan kepada mereka,” sahut Mahisa Murti.
Namun nampaknya Mahisa Murti pun menyadari, bahwa Mahisa Pukat tentu
merasa letih. Karena itu, maka katanya: “Baiklah kalian
berbenah,mandi atau apapun, sehingga kalian akan dipeisilahkan
untukmakan dari kemudian beristirahat.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu
memang merasa letih. Ketika mereka mandi, maka makan bagi mereka pun
telah disiapkan. Setelahmakan nasi yang masih hangat,maka Mahisa
Pukat dan Mahisa Semu masih sempat berbicara serba sedikit dengan
Mahisa Murti tentang padepokanmereka. “Mungkin orang-orang Kediri
itu pada suatu saat akan memperhatikan padepokan ini,” berkata
Mahisa Pukat. “Mungkin sekali, Namun selama ini kita masih sempat
berbenah diri sehingga kita akan dapat melayani mereka
sebaik-baiknya,” sahut Mahisa Murti. Namun beberapa saat kemudian,
Mahisa Pukat benarbenar merasa letih dan mengantuk. Karena itu, maka
ia pun segera minta diri untuk masuk ke dalam bilikny a, demikian
pula Mahisa Semu. Mahisa Amping yang belum sempat berbicara
panjang dengan keduanya, mengikuti Mahisa Semu ke pembaringannya.
Dengan ragu- ragu ia bertanya: “Kau terluka?” Mahisa Semu terseny um
sambilmengusap kepala anak itu. Katanya: “Sedikit. Tetapi tidak apa
-apa.” “Kakangmengantuk sekarang?,” bertanya anak itu. “Ya. Semalam
kami hampir tidak tidur. Siang hari kami menempuh perjalanan yang
tersisa. Senja kami baru sampai di sini,” jawab Mahisa Semu. Anak
itu mengangguk-angguk. Katanya: “Jika demikian, besok sajalah kau
berceritera. Kau tentu letih. Tidurlah.” Mahisa Semu tertawa pendek.
Katanya: “Ya. Aku akan tidur. Besok aku akan berceritera panjang
jika kau tidak jemu mendengarnya.” “Tentu tidak. Perjalananmu tentu
menarik. Aku ingin menempuh perjalanan sejauhyang kau tempuh,”
berkata anak itu. “Apakah perjalanan yang pernah kita tempuh kurang
panjang?,” bertanya Mahisa Semu. Mahisa Amping terseny um.Namun ia
pun segeraminta diri keluar dan bilik Mahisa Semu. Sejenak kemudian,
maka Mahisa Semu pun telah memejamkan matanya. Ia benar-benar letih
dan mengantuk sebagaimana Mahisa Pukat, sehingga karena itu,maka
sejenak kemudianmereka pun telah tertidur ny enyak. Hari-hari
berikutnya, maka seisi padepokan itu sempat menikmati hidup tenang.
mereka sempat melakukan kerja yang berarti bagi pedepokan mereka
tanpa terganggu. Orangorang yang tinggal di padukuhan di
sekitar padepokan itu, termasuk padukuhan baru yang dihuni
oleh orang-orang yang semula hidup di jalan sesat itu, ikut serta
merasa hidup mereka menjadi tenang dan mendapat kesempatan untuk
bekerja dengan baik, meningkatkan kemampuan mereka dalam
berbagaimacam bidang, terutama bercocok tanam dan memelihara ternak
bersama-sama dengan para cantrik di padepokan. Kehidupan di
padepokan dan padukuhanpadukuhan di sekitarnya ternyata dapat saling
menguntungkan. Kelebihan penghasilan dari para cantrik dapat dijual
kepada pedagang di padukuhan-padukuhan di sekitarnya yang akan
membawanya ke tempat-tempat yang lebih ramai, bahkan sampai ke
Kotaraja, terutama buahbuahan. Kehidupan yang tenang itu ternyata
telah diusik oleh kehadiran sekelompok prajurit yang
mengiringi tiga buah pedati yang berjalan lambanmenuju ke padepokan
Bajra Seta. Beberapa orang mulai bertanya -tanya, apakah padepokan
yang tenang itu akan mulai bergejolak lagi? Yang hembusan
kegelisahan dan kecemasannya akan sampai ke padukuhanpadukuhan di
sekitarnya? Namun ternyata diantara para prajurit berkuda itu
terdapat Ki Mahendra, yang meski pun sudah nampak semakin tua,
tetapimasih juga tangkas di punggung kudanya. Iring-iringan itu
telah disambut dengan ramah oleh seisi padepokan. Apalagi setelah
mereka tahu, bahwa diantara mereka terdapat Mahendra. Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat pun menyambut mereka dengan tergesa - gesa. Diper
silahkannya ay ahnya dan para prajurit untuk naik ke pendapa. Namun
Mahendra hanya diiringi oleh empat perwira saja yang naik ke
pendapa. Yang lain tetap berada di halaman padepokan. Mereka meny
ebar ke tempat yang sedikit terlindung. Namun atas perintah Mahisa
Murti, maka oleh para cantrikmereka telah dipersilahkan untuk naik
ke serambi gandok kiri dan kanan, duduk di atas tikar yang
dibentangkan di lantai serambi, karena amben-amben bambu yang ada di
serambi tidakmenampungmereka. Namun empat orang tetap berjaga-jaga
di sekitar tiga buah pedati yang berhenti di halaman. Ternyata
Mahendra datang sebagai utusan Sri Maharaja. Sri Maharaja telah
memenuhi janjinya. Dikirimkannya tiga buah pedati yang penuh berisi
alat-alat pertanian dan sejumlah senjata yang dianggap bermutu
tinggi. Namun yang terpenting bukan hanya itu, bukan hanya alat-alat
yang sudah siap untuk dipakai. Tetapi Sri Maharaja telah mengirimkan
alat-alat untuk membuat alat-alat pertanian dan senjata dengan cara
yang lebih baik daripada yang dilakukan oleh para
cantrik di padepokan Bajra Seta. “Ada tiga orang ahli yang akan
tinggal disini beberapa lama,” berkata Mahendra. “Mereka adalah
pande besi kenamaan di istana Singasari. Mereka akan mengajarkan,
bagaimana membuat alat-alat dari besi dan baja yang baik.” Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan isy arat Mahendra
minta seorang perwira prajurit Singasari untukmemanggil ketiga orang
yang dimasukkan. Perwira itu ternyata tanggap. Karena itu,
maka ia pun bergeser turun dari pendapa untuk memanggil ketiganya
dan membawanya naik kependapa pula. “Mereka bertigalah yang aku
maksudkan,” berkata Mahendra yang memperkenalkanmereka. “Kami
mengucapkan terima ka sih kepada Sri Maharaja. Juga kepada para
prajurit yang telah bersedia bersama ayah mengantarkan hadiah dari
Sri Maharaja bagi padepokan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih
kepada ketiga orang yang akan tinggal di padepokan kecil dan
terpencil ini. Dengan demikian para cantrik, terutama yang
selama ini memang sudah menekuni pekerjaan itu, akanmendapat
bimbingan dari tangan-tangan yang memang berwenang,” berkata Mahisa
Murti. Namun ia pun kemudian berkata: “Tetapi aku cemas, apakah
kerasan tinggal di padukuhan seperti ini.” “Kenapa tidak,” jawab mPu
Ananta, orang tertua diantara ketiga orang pande besi itu, ”sebelum
kami dipanggil di istana, kami adalah orang padesan yang barangkali
lebih sepi dan lingkungan ini.” “Terima kasih mPu,” desis Mahisa
Murti sambil mengangguk dalam-dalam. Demikianlah, maka setelah isi
ketiga pedati itu diserahkan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah memerintahkan para cantrik untukmembongkar isiny a dan membawa
ke bangsal khusus yang disiapkan dengan tergesa - gesa. Malam itu,
Mahendra dan para prajurit yang meny ertainya, bermalam di
padepokan. Mereka ditempatkan digandok sebelah menyebelah dan di
pringgitan. Namun justeru karena mereka adalah prajurit, maka tempat
untuk membaringkan tubuh mereka, tidak terlalumenjadi persoalan. Di
hari berikutnya, maka mereka pun telah bersiap-siap untuk kembali ke
Singasari. Menjelangmatahari terbit, semua prajurit telah bersiap.
Mahendra pun telah bersiap pula untuk kembali ke Singasari. “Ketiga
pedati itu juga ditinggalkan disini pula,” berkata Mahendra. “Terima
kasih,” jawab Mahisa Murti, “pedati-pedati itu akan sangat
bermanfaat kami disini. “Peliharalah dengan baik,” pesan ay ahnya.
Setelah makan pagi, maka iring-iringan itu pun meninggalkan
padepokan. Tiga orang diantara mereka, dipimpin oleh mPu Ananta,
tinggal di padepokan untuk membimbing para cantrik yang
mengkhususkan diri sebagai pande besi. Ternyata bahwa ketiga orang
yang tinggal di padepokan itu juga memiliki kemampuan untuk
membuat keris. Namun mereka bukan orang terbaik di istana Singasari,
meski pun mereka termasuk orang terbaik sebagai pande besi. Di hari
berikutnya, kegiatan ketiga orang itu belum dapat dimulai. Hari itu
yang mereka lakukan ber sama para cantrik adalah membenahi dan
memasang alat-alat pande besi yang lebih baik dariyang
dimiliki oleh padepokan itu. Selama t iga hari, alat -alat itu telah
terpasang. Dengan demikian maka, mPu Ananta dan kedua orang kawannya
dapatmulaimemberikan bimbingan kepada para cantrik yang memang sudah
memiliki kemampuan sebagai pande besi. Namun juga memberi kesempatan
kepada mereka yang belum mengenalnya sama sekali. Hari demi hari
dilalui dengan kesibukan yangmeningkat di padepokan itu. Bukan saja
para cantrik yang mempelajari keterampilan seorang pande besi.
Tetapi justru karena padepokan itu telah menerima alat-alat yang
sudah slap untuk dipergunakan pula, maka para cantrik pun menjadi
semakin rajin bekerja di sawah. Mereka mempunyai cangkul, sabit,
parang dan bajak yang baru dan lebih baik, sehingga dengan
gembira mereka pergi ke sawah. Sementara itu, para cantrik
yangmemiliki kemampuan sebagai undhagi pun telah bekerja Iebih keras
dengan alat-alat mereka yang baru. Mereka telah berusaha untuk
mempercantik padepokan mereka dan membangun bangsal yang baru dan
lebih pantas dipergunakan sebagai bangsal peny impanan barang-barang
berharga bagi padepokan itu termasuk senjata. Peningkatan kerja di
padepokan itu berpengaruh pula terhadap lingkungan di seputarnya.
Alat-alat yang ada di padepokan itu menjadi sangat menarik. Apalagi
ketika orangorang dari padukuhan di sekitarnya mendapat satu dua
alatalat pertanian yang sudah mulai dihasilkan oleh para cantrik di
bawah bimbingan ketiga orangmPu dari Singasari itu. Lingkungan hidup
di seputar padepokan itu memang menjadi semakin ramai. Peningkatan
kemampuan orangorang padukuhan di sekitarnya berarti pula
peningkatan kesejahteraanmereka.Hasil sawah punmeningkat.
Pekerjaanpekerjaan yang lain pun dapat dilakukan dengan lebih
baik. Bahkan telah tumbuh lingkungan-lingkungan pemukiman yang baru,
yangmemang dibuka oleh Ki Buyut bagi keluarga Kabuyutanyang
berkembang dengan pesat itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang
ingin, bahwa kehadiran padepokan itu akan berarti bukan saja bagi
lingkungan sempit di seputar dinding padepokan. Tetapi juga
lingkungan luasdi sekitarnya. Namun yang lebih menggembirakan
bagi padepokan itu, selalu alat-alat pertanian dan alat -alat untuk
mengerjakan kayu dan batu,maka para cantrik di padepokan itu pun
telah dapat menghasilkan sejenis senjata yang lebih baik dari
senjata yang pernahmereka hasilkan sebelumnya. Senjata yang
dibuat dengan tuntunan para ahli dari Singasari itu menghasilkan
senjata yang lebih ringan, namun lebih keras dan hat. Para ahli itu
telah memberikan ajaran tentang mencampur logam yang terbaik
untuk membuat senjata.Hasilnya ternyata sangatmemuaskan. Sebilah
pedang yang sama besarnya, sama kuatnya dan sama tajamnya, ternyata
bobotnya lebih ringan dari pedagang yang mereka miliki sebelumnya.
Demikian pula jenis-jenis senjata yang lain. Mata tombak, canggah,
trisula dan bahkan bindi-bindi kecil. Para ahli itu pun mengajarkan
bagaimana membuat anak panah yang paling baik. Berat bedornya
dibandingkan dengan tubuh dan bulu anak panah itu. Kemudian
bagaimana membuat busur yang kuat dan lebih lentur. Dengan
demikian,maka para cantrik di padepokan itu pun telah berharap untuk
mendapatkan jenis-jenis senjata yang lebih baik itu disamping
alat-alat yang mampu meningkatkan kesejahteraan hidupmereka. Dalam
waktu tiga bulan, maka para cantrik yang mempelajari tentang
cara-cara terbaik membuat senjata dengan hasil yang lebih baik dari
yang mereka hasilkan itu, telah mendapat kemajuanyang sangat pesat.
Mereka pun telah mendapat berbagai macam petunjuk untuk
mengembangkan ketrampilan mereka sehingga apabila mereka benar-benar
tekun, maka mereka kelak akan dapat menjadi pande besi yang cukup
baik. Dengan demikian, maka padepokan itu menghadapi satu
perkembangan yang berganda. Jika mereka telah mampu mengembangkan
beberapa jenis senjata,maka tentu dituntut untuk meny esuaikan diri
dengan jenis-jenis senjata mereka yang baru. Mereka harus mampu
mengembangkan ilmu yang telah mereka pelajari, sehinga senjata yang
baru itu akan mampu meningkatkan ketrampilan mereka dalam olah
kanuragan dan bermain senjata. Di hari-hari berikutnya, maka para
ahli itu telah mencoba melepaskan para cantrik untuk melakukan
sendiri. Mereka memilih, menakar perbandingan dan mengerjakan
sendiri beberapa jenis senjata.Hasilny a ternyata sangatmemuaskan.
Sementara itu,mereka pun telah mampumembuat alat-alat pertanian dan
alat-alat untuk mengerjakan kayu lebih baik dari yang mereka buat
sebelumnya. Sebagaimana peningkatan jenis senjata yang
menuntut peny esuaian kemampuan para cantrik, maka demikian pula
dituntut peningkatan kemampuan penggunaan alat -alat pertanian dan
alat-alat untukmengerjakan kayu. Setelah empat bulan lewat, maka
para ahli dari Singasari yang dipimpin oleh mPu Ananta itu
menganggap bahwa para cantrik itu telah memiliki kemampuan
yang memadai untuk melakukan kerja sendiri tanpa pengawasan
mereka Iagi. Sehingga kehadiran ketiga orang itu di padepokan tidak
diperlukan lagi. Meski pun demikian ketiga orang itu masih saja
tetap berada di padepokan karena menurut pembicaraan mereka dengan
Mahendra, jika saatnya dianggap cukup, sekelompok prajurit
akanmenjemputmereka. Sementara itu, ketiga orang itu masih sempat
menyelesaikan, bagaimana para cantrik berusaha menyesuaikan diri
dengan pembaharuan yang terjadi di barak mereka. Para undagimerasa
bahwa pekerjaan merekamenjadi semakin baik, sementara waktu pun
dapat dihemat. Apa yang dapat mereka lakukan sepekan dengan alat-
alatmereka yang lama, maka dengan alat-alat mereka yang baru,
para undagi dapatmelakukannya dala tiga hari saja. Di bidang lain,
ketiga orang itu sempat menyaksikan, bagaimana Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat berada di dalam sanggar mereka untuk beberapa hari.
Mereka mencoba mengenali jenis-jenis senjata yang dapat dibuat oleh
para cantrik. Pedang yang nampaknya cukup panjang dan besar,
ternyata bobotnya tidak seberapa berat. Sementara itu, kelenturannya
dan kekuatannya ternyata tidak kalah dengan pedang yang mempunyai
ukuran yang sama namun jauh lebih berat dari pedang dengan campuran
logamyang diberitahukan oleh para ahli dari Singasari itu.
Juga cara menempa, memanasi dan mencelupnya kedalam cairan yang
khusus membuat senjata- senjata itu menjadi jauh lebih baik. Dengan
tekun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mempelajari segala jenis
senjata yang dapat dihasilkan para cantrik. Bagaimana mereka
meny esuaikan berat, besar dan panjang senjata- senjata itu.
Seberapa kekuatan mata senjata itu serta hulu dan tangkainya.
Demikian kedua orang anak muda itu mengetahui watak dari
berjenis-jenis senjata yang ada itu, maka Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat memutuskan untuk memberikan latihanlatihan khusus bagi
para cantrik dalam olah senjata dengan landasan kemampuanyang
telahmerekamiliki. “Tetapi tiga orang ahli dari Istana Singasari itu
tidak dapat menunggui latihan-latihanyang akan dilakukan
secara khusus oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, karena sebelum
latihanlatihan itu dimulai, sekelompok prajurit telah datang
menjemputmereka. Dengan berat hati seisi padepokan itu telah melepas
ketiganya di satu pagi yang cerah. Setelah para prajurit itu
bermalam semalam, maka dikeesokan harinya, mereka telah ber
siap-siap untuk kembali ke Singasari bersama ketiga orang Mpu yang
telah banyak memberikan tuntunan kepada para cantrik di padepokan
itu. Tuntunan bukan sekedar mempergunakan alat-alat yang
dibawa dari Singasari, tetapi juga tentang pengetahuan mengenai
bahan yang mereka pergunakan untuk membuat alat-alat
pertanian, alat-alat untukmengerjakan pekerjaan kayu dan bahkan
senjata. Tetapi ketiga orang mPu itu memang harus kembali ke
Singasari. Mereka sudah terlalu lama berada di padepokan itu,
sehingga keluarga mereka tentu sudahmenunggu. Karena itu, maka para
penghuni padepokan itu memang harusmelepaskan ketiga orangmPu
yang dipimpin oleh mPu Ananta itu kembali ke Singasari. Namun
mereka telah meninggalkan ilmu yang sangat berarti bagi
padepokan itu, bahkan bagi padukuhan- padukuhan disekitarnya.
Sepeninggal para mPu itu, maka para cantrik justru semakin menekuni
pekerjaan mereka. Mereka tidak boleh kehilangan jejak sehingga
hasilnya akan kurangmemuaskan. Namun dengan ketekunan yang
tinggi, maka para cantrik itu benar- benar telah menguasai ilmu yang
diajarkan oleh para mPu dari Singasari itu. Meski pun mereka masih
jauh dari kematangan ilmu mereka sebagaimana ketiga orangmPu itu,
tetapi pengetahuan para cantrikyang mengkhususkan diri pada
pekerjaan pande besi itu telah cukupmemadai. Bahkan mPu Ananta itu
pernah berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat: “ Jika perlu,
kalian dapat mengirimkan dua atau tiga orang yang terbaik
diantara para cantrik yang menekuni dan benar- benar berminta dalam
pekerjaannya sebagai pande besi, untuk lebih memperdalam ilmunya
barang satu dua tahun di Singasari.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
memang tertarik pada tawaran itu. Tetapi mereka harus benar-benar
memilih. Satu dua tahun adalah waktu yang lama bagi mereka yang
tidak benar-benar berminat pada satu pekerjaan. Namun tentu
dirasakan kurang bagi mereka yang benar-benar ingin menguasai satu
jenis ilmu yang penting bagi kehidupan dan kesejahteraan
sesamanya. Sepeninggal para mPu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah benar-benar mempersiapkan satu latihan khusus bagi para
cantrik. Mereka selain harus membiasakan diri dengan alat-alat yang
baru bagai para cantrik yang bekerja di sawah, undhagi dan
pekerjaan- pekerjaanyang lain,maka para cantrik itu semuanya harus
mulai mengenali jenis-jenis senjata yang baru. Karena itu, maka di
padepokan itu telah disusun urutan latihan khusus bagi para cantrik
untuk mengenali senjatasenjata itu. Sekelompok demi sekelompok telah
mendapat latihan dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun secara
khusus Mahisa Semu dan Mahisa Amping mendapat perhatian tersendiri
di samping Wantilan. Wantilan yang ternyata memang mempunyai sedikit
kelebihan dari para cantrik, termasuk seorang yang mendapat
perhatian lebih banyak dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Set iap
hari, maka para cantrik bergantian telah mendapat petunjuk tentang
senjata -senjata yang baru yang telah dapat dibuat sendiri
oleh para cantrik. Meski pun pada da sarnya ilmu tidak berubah,
tetapi mereka wajib meny esuaikan diri dengan watak senjatamereka
yang baru. Para cantrik pun dengan tekun mengikuti petunjukpetunjuk
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan sungguhsungguh mereka
mempergunakan setiap kesempatan untuk benar-benar menguasainya.
Dalam waktu beberapa bulan,maka para cantrik itu benarbenar telah
mengenal dan menguasai watak senjata -senjata mereka yang
baru. Ketika mereka kemudian meningkatkan ilmu mereka,maka mereka
pun telah terbiasa berlatih dengan senjata-senjata barumereka. Pada
kesempatan tersendiri, Mahisa Amping dan Mahisa Semu pun telah
berlatih dengan sungguh-sungguh. Didalam sanggar anak muda itu bukan
saja sekedar mengenali senjata mereka, tetapi mereka pun telah
meningkatkan ilmu mereka sebagaimana yang mereka lakukan sebelumnya.
BahkanWantilan pun telah benar-benar menguasai senjata dari jenis
yang dipilihnya. Wantilan kemudian lebih senang mempergunakan
senjata yang berbeda. Trisula bertangkai pendek saja. Ternyata
setelah berlatih dengan sungguhsungguh, Wantilan lebih sesuai
mempergunakan trisula daripada pedang. Kekuatan kewadagannya
yang berkembang, serta kemampuannya membangkitkan tenaga
dalamnya yang semakin tinggi, membuatnya menjadi seorang yang sangat
kuat. Meski pun demikian, baik Mahisa Semu, Mahisa Amping, Wantilan
mau pun para cantrik, harus juga memiliki ketrampilan dan kemampuan
mempergunakan senjata apa sa ja untuk melawan jenis senjata apa
saja. Itulah sebabnya disamping mematangkan kemampuan dengan
mempergunakan senjata yang dipilihnya,mereka pun berlatih
dengan jenis senjata yang berganti-ganti. “Dengan demikian maka
seisi padepokan Bajar Seta itu pada dasarnya mampu mempergunakan
segala jenis senjata untuk melawan segala jenis senjata pula. Namun
mereka masing-masing mempunyai kemantapan yang berbeda -beda. Mahisa
Semu masih saja merasa mapan jika ia mempergunakan pedang. Semenara
Mahisa Amping yang kecil itu nampaknya mulai senang
mempergunakan pedang rangkap. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
masih akan melihat perkembangannya lebih lanjut. Para cantrik pun
ternyata memiliki kemantapannya sendiri. Sekelompok tetap
mempergunakan pedang. Namun yang lain mulaimencoba dengan
jenis senjata yang lain. Beberapa orang merasa pada puncak
kemampuannya dalam olah senjata jika ia memegang sebatang tombak
pendek. Namun ada yang lebih sesuaimempergunakan trisula
sebagaimanaWantilan. Namun pada dasarnya, kemampuan para cantrik
dengan jenis jenis senjatanya yang baru menjadi semakin
meningkat. Sementara latihan-latihanyang terbiasa mereka lakukan,
tidak pernah terhenti, sebagaimana kerja mereka sehari-hari di
sawah, ladang, di kolam ikan dan kerja -kerja yang lain.
Dengan demikian, maka perdagangan yang terjadi kemudian dengan
padukuhan-padukuhan disekitarnya menjadi semakin meningkat pula.
Hasil yang dibuahkan oleh padepokan itu ternyata dapat disalurkan
lewat para pedagang di padukuhan padukuhan disekitarnya. Bukan hanya
hasil bumi, hasil kolam kolam ikan dan ternak. Tetapi juga sedikit
alat-alat pertanian. Karena itu, maka wajah padepokan Bajra Seta pun
menjadi semakin terang. Segala segi kehidupan didalam padepokan itu
telah meningkat. Demikian pula padukuhan-padukuhan di sekitarnya,
seakan-akan telahmendapat getarannya pula. Namun ternyata bahwa
peningkatan kesejahteraan padepokan itu telahmenjadi sorotan
beberapa pihak. Ternyata ada diantara mereka yang mengetahui, bahwa
perkembangan yang pesat dari padepokan Bajra Seta itu dimulai sejak
padepokan itu mendapat tuntunan dari beberapa orang mPu istana
Singasariyang menguasai ilmu pande besi. Dari hari ke hari, maka
usaha-usaha beberapa pihak untuk mengambil keuntungan dari keadaan
padepokan itu menjadi semakin meningkat pula. Yang mula-mula menjadi
tujuan mereka adalah menguasai orang-orang yang telah mendapat
tuntunan dari paramPu Istana Singasari.. Segala usaha pun mulai
dilakukan. Seorang Buyut dari Kabuyutan Bumagara ternyata merasa iri
atas perkembangan sebuah padepokan dan padukuhan-padukuhan
disekitarnya yang termasuk dalam Kabuyutan Sadresa. Dengan segala
cara, akhirnya Ki Buyut Bumiagara dapat berhubungan dengan salah
seorang cantrik yang pernah mendapat tuntunan darimPu Ananta.
Mula-mula memang tidak ada keinginan apa pun yang diutarakan
oleh Ki Buy ut. Ketika mereka sempat bertemu, saat cantrik itu pergi
ke pasar di sebuah padukuhan terdekat, Ki Buyut hanya memujinya
sebagai salah seorang cantrik yang terbaik. “Bukankah Ki Sanak
mendapat tuntunan langsung dari paramPu yang datang dari
Singasari itu?,” bertanya Ki Buyut. “Ya,” jawab cantrik itu. “Ki
Sanak tentu seorang yang memiliki kepandaian yang sangat
tinggi,” berkata Ki Buyut sambil menunjuk beberapa pande besi
yang berada di pinggir pasar itu yang sedang sibuk mengerjakan
pekerjaannya. Lalu katanya pula: “Tidak seperti para pande besi
itu.- “Tidak jauh berbeda,” jawab cantrik itu. “Dengan kemampuan
para cantrik serta alat-alat yang dihasilkan, maka pande-pande
besi itu dalam waktu singkat akan kehilangan pekerjaanmereka.,”
berkata Ki Buyut. “Tidak,” jawab cantrik itu, “kami tidak akan mampu
membuat alat-alat pertanian dan alat -alat yang lain mencukupi
kebutuhan seluruh Kabuyutan Sadresa. Apalagi Kabuyutan yang
lain. Bahwa apa yang kami buat mempengaruhi hasil pekerjaan para
pande besi memang terjadi. Mereka mulaimeniru bentuk
alat-alatyang kami buat. Itu justru baik, karena meski pun
hanya bentuknya, namun manfaatnya telah menjadi lebih tinggi dari
alat-alat yang lama.” “Apakah mereka tidak dapat membuat bukan sa
ja,bentuknya tetapi juga kekuatan dan kegunaannya menyamai
alat-alatyang kalian buat?,” bertanya Ki Buyut. “Tentu tidak,” jawab
cantrik itu, “dibutuhkan peningkatan ketrampilan dan juga
bahan-bahan yang dipergunakan. Selain itu juga alat-alatnya
untukmembuat alat-alat itu. Ki Buyut mengangguk-angguk. Ia memang
tidak terlalu banyak bertanya. Tetapi ia terlalu banyakmemuji. Namun
pada kesempatan lain, Ki Buyut mulai melangkah lebih maju. Ia
mempersilahkan cantrik itu singgah di rumahnya. “0, jadi Ki Sanak
datang dari Kabuyutan Bumiagara,” jawab orang itu. “0, Aku mohon
maaf Ki Buy ut. Mungkin sikapku kurang pantas,” jawab cantrik itu.
“Tidak. Tidak ada yang kurang pantas.,” jawab Ki Buyut: “aku adalah
salah seorang pengagummu. Karena itu, aku minta Ki Sanak mau singgah
di rumahku barang sebentar. Bukankah Bumiagara tidak terlalu jauh.”
Cantrik itu mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata:
“Bumiagara terhitung jauh dari padepokan kami Ki Buyut.” “Tidak,”
jawab Ki Buyut, “aku sering datang ke pasar padukuhan ini yang
letaknya tidak jauh dari padepokanmu.” “Memang pa sar ini tidak jauh
dari pedepokanku. Tetapi yang aku maksud adalah Bumiagara,” jawab
cantrik itu pula. Ki Buy ut tersenyum. Katanya: “Sudah aku katakan.
Tidak terlalu jauh. Aku sering datang ke pasar ini tanpa merasa
letih. Bukankah tinggal selangkah lagi, aku akan sampai ke
padepokanmu. “Tetapi Ki Buyut naik kuda,” jawab cantrik itu. Ki
Buyut mengangguk-angguk. Katanya: “Besok, di hari pa saran aku akan
membawa seekor kuda buatmu. Aku sendiri akan menjemputmu ke pasar
ini. Tetapi sudah tentu kau tidak usah minta ijin kepada siapapun.
Aku tahu, kau tentu tidak akan diijinkan. Bukankah tenagamu diperas
di padepokan itu ?- “Tidak,” jawab cantrik itu, “sebagaimana Ki
Buyut lihat, saat -saat seperti ini aku masih dapat melihat-lihat
keadaan pa sar ini.” “Tentu kau bertugas untuk membuat penilaian
tentang hasil para pande besi dipasar ini,” desis Ki Buyut sambil
tersenyum. Cantrik itu tersenyum pula. “Nah, ingat. Besok dihari
pasaran, aku akan datang dengan membawa seekor kuda. Setelah kau
berada di Bumiagara sehari, maka kau dapat pulang ke padepokan
dengan membawa kuda itu pula. Kau dapat memilikinya untuk
selanjutnya,” berkata Ki Buyut. Lalu katanya: “Nah, baru kemudian
kau dapat berceritera tentang perjalananmu ke Bumiagara setelah kau
pulang. Mungkin kau dimarahi. Tetapi tentu tidak akan menyulitkan
kedudukanmu, karena kau sangat diperlukan di padepokan.” Cantrik itu
termangu-mangu. Namun Ki Buyut itu telah memberikan sekantung kecil
uang kepadanya. “Jangan menolak. Bukan apa -apa. Sekedar ungkapan
rasa kekagumanku kepadamu.,” berkata Ki Buyut. Cantrik itu memang
ragu-ragu. Namun akhirnya uang itu pun diterimanya juga. Sambil
berjalan pulang cantrik itu terseny um sendiri. Ia mempunyai uang
banyak. Uang yang hampir tidak pernah dilihatnya sejumlah yang
diberikan oleh Ki Buyut kepadanya. Dan sepekan lagi ia akan
mendapatkan seekor kuda. “Apa salahnya,” berkata cantrik itu: “aku
tidak merugikan padepokan Bajra Seta. Bahkan kekagumannya kepadaku
dan beberapa orang kawanku yang telah mampu membuat peralatan
dan senjata yang lebih baik, akan mengangkat derajad padepokan
Bajra Seta.” Namun ada sesuatu yang menggelisahkannya. Ia
tidak boleh mengatakan hal itu kepada siapapun. Bahkan ia tidak
dibenarkan untuk minta ijin meninggalkan padepokannya barang sehari.
“Tak apalah,” berkata catrik itu kepada diri sendiri, “ seperti
dikatakan oleh Ki Buyut, bahwa aku tidak akan mendapat kesulitan,
karena tenagaku memang dibutuhkan. Hanya beberapa orang saja di
padepokan itu yang mampu membuat peralatan dan senjata yang lebih
baik dari yang pernah dibuat sebelumnya.” Dengan demikian maka
cantrik itu pun berketetapan hati untuk tidak mengatakannya kepada
siapa pun juga. Ia juga tidak mengatakan kepada kawan-kawannya
yang mempunyai kemampuan sebagaimana diriny a. Dengan demikian
maka mereka akan ikut pula untuk mendapatkan pujian dan barangkali
uang sehingga ia bukan orang satu-satunya yang akan diterima dengan
penuh kekaguman di Kabuyutan Bumiagara. Apalagi setelah ia menerima
uang dari Ki Buyut. Maka cantrik itu menjadi semakin berdiam diri
agar persoalannya tidak diketahui oleh orang lain. Dalam pada itu,
maka selama sepekan cantrik itu menunggu. Ra sa- rasanya ia
memangmenjadi gelisah. Tetapi ia tetap bertahan untuk tidak
mengatakannya kepada siapa pun bahwa ia telah berhubungan dengan Ki
Buy ut Bumiagara. Pada hari yang dijanjikan,maka cantrik itu telah
minta ijin untukmelihat-lihat pa sar. Seperti yang dilakukan
sebelumnya ia memang membuat penilaian terhadap kerja para pande
besi. Dengan demikian,maka beberapa orang pande besi telah
mengenalnya dengan akrab. Selagi ia melihat-lihat pekerjaan para
pande besi itu,maka sepertiyang dijanjikan. Ki Buyut pun
telahmenemuinya. “Bukankah aku benar-benar datang ?,” desis Ki
Buyut. “Ya Ki Buyut,” jawab cantrik itu, “aku sudah siap. Apakah Ki
Buyutmembawa seekor kuda sepertiyang Ki Buyut katakan ?”
“Tentu,” jawab Ki Buyut.: “Kuda itu ada diluar. Aku titipkan dikedai
yang paling ujung. Kedai yang paling besar. Kita akan singgah
dikedai itu. Makan dan kemudian meneruskan perjalanan.” Cantrik itu
mengangguk. Ketika Ki Buyut kemudian keluar dari pasar, maka cantrik
itu pun mengikutinya. Mereka memang pergi ke sebuah kedai
sebagaimana dikatakannya. Kedai yang paling ujung dan yang
paling besar diantara beberapa kedai diluar pa sar itu. Beberapa
saat mereka makan dan minum. Namun kemudian telah datang pula dua
orang kawan Ki Buyut. Dengan nada rendah Ki Buyut berkata: “Mereka
adalah bebahu padukuhan.” Ki Buyut tertawa. Katanya: “Bebahu
padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara.” Kedua orang bebahu itu pun
tertawa juga. Sedangkan cantrik yang semula mengerutkan keningnya
itu pun kemudian juga tertawa bersamamereka. Demikianlah,maka
cantrik itu telah mendapat kesempatan untukmakan dan minummakanan
dan minuman yang paling baik yang terdapat di kedai yang
terbesar di sebelah pa sar itu. Baru kemudian setelah perutnya
terasa kenyang , Ki Buyut itu mengajaknya mulai dengan perjalanan ke
Kabuyutan Bumiagara. Ketika mereka mencapai jarak yang agak panjang,
maka dua orang ternyata telah menunggu, sehingga iring-iringan itu
menjadi empat orang dari Bumiagara ditambah dengan seorang cantrik.
Perjalanan yang terasa panjang itu memang melelahkan. Apalagi
cantrik itu tidak terbiasa bepergian jauh di atas punggung kuda.
Meski pun beberapa kali ia berkesempatan menunggang kuda, namun
tidak menempuh jarak yang panjang sebagaimana ditempuhnya saat itu.
Di perjalanan mereka terpaksa berhenti untuk memberi kesempatan
kepada kuda -kuda untuk minum dan makan rumput segar. Namun cantrik
itu pun sebenarnyalah memerlukan istirahat jauh sebelumnya. Tetapi
ia agak segan untuk mengatakan bahwa ia merasa lebih dan mulai
merasa sakit. Menjelang matahari turun merendah, barulah mereka
memasuki padukuhan induk. Cantrik itu nampak menjadi cemasdan
bertanya: “Apakah aku hari ini dapat kembali ke padepokan sebeleum
malam?” Ki Buyut menggelengkan kepalanya sambil menjawab: “Tentu
tidak. Kau lihat matahari telah turun. Jika kau duduk sepenginang
saja di Bumiagara,maka matahari akan menjadi semakin rendah.
Bagaimana pun kencangnya kau memacu kudamu, kau tentu akan kemalaman
di perjalanan.- “Aku akan dapat dihukum,” desis cantrik itu, “aku
meninggalkan tugasku terlalu lama tanpa diketahui kemana aku pergi.”
“Kau tidak akan dihukum,” jawab Ki Buyut, “percayalah. Kau termasuk
orang yang sangat diperlukan.” “Tetapi tidak akan dihukum,” jawab Ki
Buyut, “percayalah. Kau termasuk orang yang sangat diperlukan.”
“Tetapi jika aku tidak pulang hari ini,” desis cantrik itu. “Kau
tidak hanya tidak pulang hari ini. Tetapi kau tidak akan pernah
pulang ke padepokanmu sampai kapanpun.,” jawab Ki Buyut.
“Apamaksudmu?,” bertanya cantrik itu mulai curiga. Namun mereka
telah memasuki pintu gerbang halaman Kabuyutan Bumiagara. “Kau akan
menjadi penghuni Kabuyutan ini,” berkata Ki Buyut. Wajahnya tiba
-tiba saja telah berubah. Ia bukan lagi seorang yang ramah dan
selalu tersenyum. Tetapi wajahnya menjadi gelap dan keras. Cantrik
itu mulai menyadari, bahwa ia telah terjebak oleh sikap dan
kata-kata yang akrab dan ramah. Bahkan ia semakin menyesal ketika ia
menyadari uang yang telah diterimanya dan Ki Buyut Bumiagara. Karena
itu,maka tiba-tiba cantrik itu telah menghentakkan kendali kudanya.
Demikian kudanya melonjak, maka ia pun telah berusaha memutar
kudanya dan berlari ke arah regol halaman. Namun dengan cepat dua
orang pengawal Kademangan itu telah menutup pintu sehingga cantrik
itu harusmenghentikan kudanya pula. “Kau tidak akan dapat lari,”
berkata Ki Buyut sambil tertawa. Tetapi diluar dugaan. Cantrik itu
melompat dari kudanya dan dengan serta merta meny erang para
pengawal yang menutup pintu gerbang itu. Cantrik dari padepokan
Bajra Seta itu adalah orang yang terlatih dalam olah
kanuragan. Dalam keadaan yang terjepit, maka ia tidakmempunyai
banyak pertimbangan. Meski pun ia tidak ingin membunuh, namun
canyrik itu telah menyerang di tempatyang berbahaya. Keempat
jari-jarinya yang mengembang merapat, telah menusuk diarah ulu
hati seorang diantara kedua pengawal itu. Terdengar teriakan
kesakitan. Namun kemudian terdiam. Pengawal itu telah jatuh dan
pingsan seketika. Sementara itu ketika kawannya akan membantunya,
maka tumit cantrik itu telah menghantam dadanya, sehingga orang itu
itu terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Orang
itu telah menggeliat kesakitan sambil merintih. Dadanya serasa
menjadi sesak. Para pengawal yang lain, termasuk Ki Buy ut dan
keempat orang yang berkuda bersamanya menjemput cantrik itu segera
berlari memburu. Namun canrik itu telah sempat membuka pintu dan
lari keluar. Ki Buy ut dengan sangat marah berteriak nyaring:
“Cepat. Kejar cantrik yang menjadi gila itu. Tangkap
hidup-hidup. Kecuali jika kalian tidak mungkin menangkapnya
hiduphidup, maka ia akan mati.” Beberapa orang memang mengejarnya.
Namun cantrik itu telah meloncati dinding halaman di rumah seberang.
Dan masuk ke kebunyang ditanami berhagaimacam pepohonan.
“Kepung padukuhan induk ini rapat-rapat,” teriak Ki Buyut. Sementara
itu, kentongan pun telah berbunyi. Nadanya tiba -tiba saja menjadi
titir, seakan-akan ada perampokan atau pembunuhan. Padukuhan induk
Bumiagara menjadi ribut. Suara kentonganmembuat seisi padukuhan
menjadi cemas. Beberapa orang laki-laki telah mencari senjata
seadanya. Tetapi mereka ragu-ragu untukmelangkah keluar pintu meski
pun harimasih terang. Tetapi ketika mereka mendengar nama-nama
mereka dipanggil oleh tetangga-tetangga mereka, maka mereka pun
segera keluar sambil berpesan kepada isteri dan anak-anak mereka
yang dengan segera masuk ke dalam rumah mereka setelah
mendengar kentong dengan nada titir, agar ber hatihati. Set iap
laki-laki padukuhan itu telah mendengar perintah dari Ki Buyut untuk
mengepung padukuhan. Mereka pun segera berusaha melakukannya.
Berkelompok -kelompok mereka berusaha untuk keluar dan mengawasi
dinding padukuhan. Tetapi tiga orang diantara mereka segera
berteriak memanggil kawan-kawan mereka. Mereka menemukan tiga orang
tetangga mereka terbaring pingsan. “ Iblis terkutuk,” geram salah
seorang bebahu yang hadir di halaman Ki Buyut saat cantrik
itumelarikan diri. Dengan diketemukannya tiga orang yang
pingsan itu,maka para bebahu dan Ki Buyut pun mendapat laporan,
bahwa cantrik yang mereka cari telah berhasil keluar dari padukuhan
itu. Mereka justru telah membuat tiga orangmenjadi pingsan. “Orang
itu sangat berbahaya,” geram Ki Buyut: “buny ikan isy arat terus
agar padukuhan-padukuhan yang lain juga membunyikannya. Kirim
penghubung berkuda ke padukuhan terdekat dan kemudian beranting,
memberitahukan tentang iblisyangmelarikan diri itu.” Demikianlah
sejenak kemudian dua orang berkuda telah berpacu menuju ke padukuhan
terdekat untukmenyampaikan perintah Ki Buyut kepada Ki Bekel. Tetapi
kedua orang penghubung berkuda itu tidak pernah sampai ke padukuhan
sebelah. Keduanya telah menjadi pingsan ditengah bulak. Sementara
kuda mereka pun telah dilarikan oleh cantrik yangmerasa terjebak
itu. Namun bunyi kentongan memang lebih cepat merambat. Tanpa
mengetahui apa yang telah terjadi, maka dipadukuhanpadukuhan
yang lain pun telah terdengar suara kentongan. Padukuhan berikutnya
dan berikutnya. Akhirnya cantrik itu justru telah meninggalkan
kudanya. Ia merasa lebih aman untuk berlari-lari di atas pematang
dan menyusuri jalan-jalan setapak di tengah-tengah pategalan.
Apalagi . ketika matahari telah bertengger lekat di punggung bukit.
Langit punmenjadimerah dan senja pun segera turun. Ki Buyut
mengumpat-umpat. Apalagi ketika ia kemudian mendapat laporan, dua
penghubungnya telah pingsan di tengah-tengah bulak. Ketika keduanya
sadar,maka keduanya tidak dapat menceriteiakan apa yang telah
terjadi atas diri mereka. Mereka hanya merasa seakan-akan mereka
terlempar dari punggung kudanya dan jatuh di tanah, sehingga mereka
tidak sadarkan diri. “Cantrik itu menjadi gila,” geram Ki Buyut
yangmasih saja memerintahkan isy arat kentongan untuk berbunyi
terus. Dua orang yang lain telah diperintahkan untuk
menghubungi padukuhan sebelah. “Cantrik itu tentu sudah pergi,”
berkata Ki Buyut: “pergilah. Cepat.” Penghubung itu dapatmencapai
tujuan dan menyampaikan perintah Ki Buyut kepada Ki Bekel. Demikian
padukuhan itu telah mengirimkan dua orang penghubungnya untuk
menghubungi padukuhan berikutnya dan berikutnya. Berantingmaka
perintah itu segera tersebar. Namun ketika hari menjadi gelap, maka
keadaan menjadi semakin sulit bagi Ki Buyut untuk menangkap cantrik
itu. Tetapi karena Ki Buyut y akin bahwa cantrik itu masih berada di
Kabuyutan,maka ia telah memerintahkan semua jalan-jalan dijaga.
Terutama jalan gang keluar Kabuyutan. Sementara itu perintah kepada
para pengawal Kabuyutan untuk bersiaga sepenuhnya. Pengawal
yang telah ditentukan dengan cepat telah menuju ke padukuhan
induk dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi cantrik
itu ternyata tidak segera diketemukan. Sementara itu, para pemimpin
padepokan Bajra sudah sejak siang hari menjadi heran bahwa seorang
cantrik yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengolah besi dan
baja telah hilang. Sejak ia menyatakan pergi ke pasar,maka ia tidak
kembali lagi, sementara cantrik itu tidak ada diantara para pande
besi yang sering dihubungi. Tetapi dua diantara pande besi
yang mendengar di sebutsebut nama Ki Buy ut. Katanya: “Cantrik
itu tadi pagi memang ada disini. Ia terbiasa memberikan beberapa
petunjuk dan menilai hasil kerja kami. Tetapi hari ini ia telah
pergi ke kedai ber sama Ki Buyut. “Kedai yang mana ?,”
bertanya seorang cantrik yang mencari kawannya yang belum
kembali itu. “Kami hanya mendengar sekilas pembicaraan mereka,”
jawab salah seorang pande besi: “agaknya kedai yang terbesar
dan terbaik.” Cantrik yang mencari kawannya itu memang
menelusuri sampai ke kedai yang dimaksud. Dan para pelayan dan
pemilik kedai itu cantrik itu mendapat keterangan bahwa telah
disebut-sebut Kabuyutan Bumiagara. Keterangan yang didapat oleh
cantrik itu pun telah disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Ber sama beberapa orang yang dianggap berhubungan dengan
cantrik yang dicari itu mereka pun membicarakan
langkahlangkahyang sebaiknya diambil. “Kita pergi ke Kabuyutan
Bumiagara,” berkata Mahisa Murti. “Jaraknya cukup jauh,” berkata
salah seorang cantrik yang pernah berkunjung ke Kabuyutan itu.
“Kita harus mendapat keterangan tentang cantrik yang hilang
itu,” berkata Mahisa Murti. Demikianlah, maka Mahisa Murti pun telah
memerintahkan beberapa orang cantrik untuk ber siap. Mereka akan
ikut serta ke Bumiagara. Mungkin sesuatu telah terjadi dengan
cantrik itu. Mahisa Semu, bahkan Mahisa Amping dan Wantilan telah
ikut ber sama dengan mereka. Sekelompok cantrik dan padepokan Bajra
Seta telah menuju ke Kabuyutan Bumiagara. Mereka telah mempergunakan
kuda yang tersedia di padepokan. Tidak lebih dan sepuluh ekor kuda.
Namun dari padukuhan terdekat mereka dapat meminjam dua dan di
padukuhanyang satu lagi tiga ekor kuda yang cukup baik.
Lima belas orang telah berpacu menuju ke Kabuyutan Bumiagara.
Diperjalanan Mahisa Murti sempat berkata kepada Mahisa Pukat: “Kita
harus segera menambah jumlah, kuda yang ada di padepokan.
Dalam keadaan tertentu ternyata kita memerlukan kuda.” Ya,” jawab
Mahisa Pukat, “kemajuan di beberapa bidang yang mampu menumbuhkan
kesejahteraan bagi padepokan kita memungkinkan kita menambah jumlah
kuda yang ada di padepokan.” Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Sementara itu,mereka berpacu semakin cepat. Namun Bumiagara memang
cukup jauh. Mereka ternyata kemalaman di perjalanan. Namun mereka
hanya brehenti sejanak untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka
beristirahat dan minum air jernih di sebuah parit di pinggir jalan.
Kemudianmereka telahmelanjutkan perjalanan. Ketika mereka mendekati
Kabuyutan Bumiagara, maka Mahisa Murti telah memberi isy arat kepada
para cantrik untuk berhenti. “Tugu didepan adalah pertanda batas
Kabuyutan Bumiagara.” “Baiklah,” berkata Mahisa Murti: “ sepuluh
orang akan tinggal disini termasuk Mahisa Semu yang akan mengawasi
Mahisa Amping. Mahisa Pukat, paman Wantilan dan dua orang cantrik
akan pergi bersamaku. “Kenapa kita t idak pergi ber sama -sama ?,”
bertanya salah seorang cantrik. “Kita tidak inginmembuat Kabuyutan
inimenjadi gelisah.” “Jika kita bersama-sama memasuki Kabuyutan ini,
maka para penghuninya tentu akan menjadi resah, cemas dan
bahkanmungkin ketakutan,” berkataMahisa Murti. “Tetapi bagaimana
jika terjadi sesuatu ?,” bertanya cantrik itu. “Bukankah kita
membawa panah sendaren ?,” desis Mahisa Murti. Para cantrik itu
punmengangguk-angguk. Karena itu,maka mereka tidak bertanya lagi.
Lima orang, termasuk Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Wantilan, dua orang
cantrikyang pernah datang ke Kabuyutan itu,melanjutkan
perjalanan memasuki Kabuyutan Bumiagara. Namun mereka tidak lupa
meny ediakan panah sendaren yang dapatmenjadi isy arat apabila
diperlukan. Ketika mereka melewati tugu yang didirikan
dipinggir jalan, merka belum melihat kesiagaan orang-orang
Bumiagara. Namun ketika mereka masuk lebih dalam lagi, maka mereka
terkejut. Dalam kegelapan disamping empat ditengah-tengah bulak,
mereka melihat beberapa orang berdiri bukan saja disebelah meny
ebelah jalan, tetapi justru ditengah jalan. Karena itu,makamau
tidakmau, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berkuda dipaling
depan, memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti.
“Siapakah kalian ?,” bertanya salah seorang yang berdiri di
tengah-tengah
jalan.
Jilid 098 ”KAMI INGIN bertemu dengan
Ki Buy ut Bumiagara, Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti. “Untuk apa ?,”
bertanya orang itu pula. “Kami ingin membicarakan tentang satu hal
yang bagi kami, kami anggap penting,” jawab Mahisa Murti.
“Tentang apa ?,” desak orang itu. Mahisa Murti termangu-mangu
sejenak. Namun kemudian katanya: “Tentang jual beli yang ternyata
sampai sekarang masih belum tuntas. Tetapi rasa-rasanya pembicaraan
kami hampirmenemukan titik temu,” jawab Mahisa Murti. Orang itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itu berkata: “ Jangan
sekarang Ki Sanak. Sekarang sudah terlalu malam untuk berbicara
tentang jual beli. Apalagi di kabuyutan ini sedang terjadi sesuatu
yang tidakmenarik. “Apa yang terjadi ?,” bertanya orang itu.
“Perampok. Seseorang telah merampok di Kabuyutan ini. Karena itu
kami harusmenangkapnya. Semua jalan tertutup. Bahkan di
tengah-tengah sawah itu pun terdapat orang-orang kami yang
mengawasi. Ra sa-rasanya setiap pematang tidak terlepa s dari
pengawasan kami,” jawab orang itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti bertanya:
“Hanya seorang ?” “Ya,” jawab orang itu hampir diluar sadarnya.
“Hanya seorang berani merampok di Kabuyutan Bumiagara?,” bertanya
Mahisa Murti pula. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
katanya: “Yang kami ketahui baru seorang. Mungkin lebih dari
seorang. Karena itu,maka kamiminta Ki Sanak kembali saja. Besok
kalian dapat datang lagi kemari untuk bertemu dengan Ki Buyut.”
“Maaf Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti, “persoalannya sangat penting.
Jual beli itu harus selesai malam ini. Besok pagi-pagi segalanya
sudah terlambat.” Tetapi orang itu tetap saja menggelengkan
kepalanya. Katanya: “Tidak. Aku sudah menentukan, bahwa kau tidak
bolehmemasukiKabuyutan Bumiagaramalam ini.” “Jika demikian, aku akan
menunggu disini. Tolong, panggilkan Ki Buyut. Jika kami tidak
bertemu malam ini dengan Ki Buyut,maka Ki Buyut akan menjadi sangat
kecewa. Mungkin ia akan menimpakan kesalahan kepada kalian,” berkata
Mahisa Murti. Orang itu ternyata termangu-mangu. Ia benar-benar
menjadi bimbang. Kata-kata anak muda itu rasa-rasanya sangat sangat
mey akinkan. Seolah-olah ia akan benar-benar bertanggung jawab jika
Ki Buy ut menjadi sangat kecewa karena kelambatan pembicaraan
tentang jual beli. Namun orang itu ternyata tetap teguh pada
pendiriannya. Katanya kepada anak-anakmuda itu: “Aku sudah
mengatakan kepada kalian, bahwa malam ini tidak ada pembicaraan
apapun. Kami sedang berusaha menangkap orang yang sangat berbahaya
bagiKabuyutan kami.” Mahisa Murti, menjadi semakin ingin berbicara
dengan Ki Buyut. Rasa2nya ada hubungannya antara hilangnya seorang
cantrik padepokannya dengan per soalan yang terjadi di
Kabuyutan Bumiagara, justru karena seseorang mendengar bahwa cantrik
yang hilang itu pergi ber sama -sama orang Bumiagara. Bahkan Ki
Buyut Bumiagara sendiri. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata:
“Sekali lagi aku minta, beri aku jalan untuk menemui Ki Buyut
Bumiagara.” Orang itu justru menjadi marah. Katanya: “Kau akan
memaksa ? Apakah kau tidak melihat, bahwa kami, seisi Kabuyutan ini
sudah bersiap malam ini. Jika kau berkeras untuk menemui Ki Buy ut,
maka kesiagaan ini akan dapat beralih sasaran. Kau akan
dapatmenjadi, kambing hitam dari peristiwa yang terjadi di
Bumiagara.” Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam.Namun tiba-tiba sa
ja ia berkata: “Baiklah Ki Sanak. Jika kalian berkeras tidak
memberikan kesempatan aku bertemu dengan Ki Buy ut,maka aku akan
kembali. Tetapi sekali lagi, segala tanggung jawab ada pada kalian.”
“Ya,” jawab orang itu tegas,meski pun sebenarnya ia masih sa ja
ragu-ragu, “aku bertanggung jawab.” “Baik. Katakan, bahwa kami
adalah orang-orang dari padepokan Bajra Seta,” desis Mahisa Murti.
“He,” -tiba -tiba saja orang itu seperti terbangun dari tidur,
“kalian orang-orang Bajra Seta?” “Ya. Kami mempunyai per soalan yang
perlu kami selesaikan dengan Ki Buyut,” jawab Mahisa Murti. Orang
itu justru menjadi bingung. Dengan gagap ia bertanya: “Apa
sebenarnya keperluanmu datang kemari ?” “Kalau aku mengaku orang
dari perguruan Bajra Seta, kau tentu sudah tahu, kenapa kami datang
kemari,” jawab Mhisa Murti. Untuk sesaat orang itu masih bingung. Ia
masih belum tahu apa yang sebaikny a dilakukan. Namun sementara itu
telah terdengar derap tiga ekor kuda mendekati tempat mereka. Tiga
ekor kuda dari arah pedukuhan. Dengan sigapnya ketiga orang
penunggangnya meloncat turun ketika kuda mereka berhenti. Seorang
diantaa mereka dengan serta merta memberikan perintah: “Hati-hati.
Ada yangmemberikan laporan, bahwa orang yang kita cari nampak
menuju ke tempat ini, atau sekitar tempat ini. Jangan beri
kesempatan kepadanya untuk lolos.” Sebenarnyalah cantrik yang diburu
itu hampir menjadi putus a sa. Seakan-akan memang tidak ada jalan
yang dapat ditempuh untuk keluar dari Kabuyutan. Meski pun
dalam malam hari, namun agaknya seluruh Kabuyutan telah dikepung
temu gelang. Tidak ada lubang selembut lubang sarang tikus sekali
pun yang dapat dipergunakan untuk meloloskan diri. Namun ternyata
dari tempatnya bersembunyi, cantrik itu sempat mendengar pembicaraan
antara orang -orang yang berjaga-jaga dengan beberapa orang berkuda.
Semula tidak begitu jelas. Namun ketika ia memberanikan
diri,menyusup di antara pohon jagung yang subur, maka ia dapat
menangkap pembicaraan itu. “Mahisa Murti. Aku kenal suara itu,”
katanya didalam hati. Harapannya pun mulai tumbuh. Apalagi ketika ia
mendengar pengakuan orang-orang yang datang berkuda itu. Mereka
adalah orang-orang Bajra Seta. Cantrik itu berusaha mendekat lagi.
Namun dengan demikian batang jagung pun telah bergoyang .
Orang-orang yang berdiri di pematang, sempat melihatnya meski pun
mereka juga tertarik pada pembicaraan di jalan bulak itu. Karena
itu, maka orang-orang yang ada di pematang itu pun segera bergeser
sambil berteriak: “Orang itu ada disini.” Orang-orang yang ada
di jalan itu pun berpaling. Orang yang datang berkuda dari padukuhan
itu pun berteriak: “Kepung orang itu.” Beberapa orang segera
bergerak. Namun sebelum mereka sempat menemukan orang yang
mereka cari, tiba -tiba orang itu telah meloncat dan berlari
mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “ Ini aku,” berkata cantrik
itu dengan nafas yang terengahengah. Kemudian katanya pula:
“Aku hampir mati kehabisan nafas. Aku telah dikejar-kejar oleh orang
se Kabuyutan.” “Kenapa kau sampai disini?,” bertanyaMahisa Murti.
“Aku telah dijebaknya,” jawab cantrik itu. Mahisa Murti, Mahisa
Pukat, Wantilan dan kedua orang cantrik itu pun segera, berloncatan
turun dari kuda-kuda mereka. Dengan tenang mereka mengikat kuda
-kuda mereka pada batang -batang perdu di pinggir jalan. Namun dalam
pada itu, orang-orang Kabuyutan Butniagara lah yang nampak
gelisah. Orang yang datang berkuda, yang agaknya bebahu Kabuyutan
itu berkata lantang: “Tangkap orang itu.” “Tunggu Ki Sanak,” berkata
Mahisa Murti: “Orang inilah yang akan aku bicarakan dengan Ki Buy
ut. Aku kehilangan orangku yang menurut keterangan yang aku
terima, cantrik padepokan Bajra Seta itu telah dibawa oleh Ki Buyut
Bumiagara.” “Cantrikmu bukan barangmati,” jawab bebahu itu, “jika ia
sampai disini tentu ada sebabnya.” “Ya. Sebab itulah yang akan
aku tanyakan kepada Ki Buyut Bumiagara,” jawab Mahisa Murti.
“Cantrik itu telah menerima upahnya untuk bekerja disini. Tetapi ia
melarikan diri,” jawab bebahu itu. “Omong kosong,” teriak cantrik
itu, “aku tidak pernah merasa menerima upah dan membuat perjanjian
untuk tinggal dan bekerja bagi Kabuyutan Bumiagara. Aku telah
dibujuknya untuk datang ke Kabuyutan ini sekedar untuk
memperkenalkan diri.” “Tetapi kau terima uang pemberian Ki Buyut
itu,” bentak bebahu itu. Tetapi cantrik itu pun membentak:
“pemberian itu tidak didasari ikatan apapun. Menurut Ki Buy ut
sekedar ungkapan kekagumannya kepadaku yang telah mampu memiliki
ilmu yang tinggi di bidangku. Khususnya sebagai pande besi.” “Kau
dapat memutar balikkan lidahmu. Tetapi kau sudah menerima uang itu,”
geram bebahu itu. Sebelum cantrik itu menjawab, Mahisa Murti pun
berkata: “Karena itu, biarlah aku bertemu dengan Ki Buyut untuk
mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi.” Tetapi bebahu
menggeram: “Meny erahlah. Kalian semua akan kami tangkap.” “Tidak Ki
Sanak,” jawab Mahisa Murti, “aku akan berbicara dengan Ki Buy ut
dalam kedudukanyang sama. Bukan sebagai tawanan. Karena itu,
biarlah kami menunggu disini. Ajak Ki Buyut kemari.” “Setan kau,”
geram bebahu itu, “apakah kau tidak melihat orang- orang
kamiyang siapmenangkap kalian?” “Ki Sanak,” berkata Mahisa
Murti: “aku tidak ingin terjadi benturan kekerasan diantara kita.
Kita dapat berbicara dengan baik untuk mendapatkan pemecahan.
Bukankah kita mempunyai kesempatan untuk merenungkan dan mengurai
langkah-langkahyang akan kita ambil?” “Tidak. Ini adalah
daerah Kabuyutan Bumiagara. Kau harus tunduk kepada semua ketentuan
yang berlaku di Bumiagara,” berkata bebahu itu. “Tetapi Bumiagara
berada di daerah Singasari. Segala macam ketentuan dan paugeran
tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dan paugeran yang
berlaku di Singasari. Termasuk Kabuyutan Bumiagara,” berkata Mahisa
Murti. “Kamilahyang mengetahui apa yang terjadi,” jawab bebahu
itu, “hanya kamilah yang dapat menjatuhkan keputusan atas
sesuatu persoalan. Karena itu, maka meny erahlah. Kalian haruskami
tangkap.” Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam.Namun sebelum ia
menjawab, Mahisa Pukat telah menjawab: “Kami tidak ber sedia untuk
meny erah. Kami hanya bersedia untuk berbicara dengan Ki Buyut.
Bahkan jika perlu kami akan menangkap Ki Buyut dan membawatya ke
Singasari, karena ia telah menyalahgunakan jabatanriya untuk
melakukan sesuatu yang tidak sewajarnya dilakukan oleh seorang
Buyut.” Bebahu itu menggeram. Katanya dengan marah: “Kami akan
menangkap kalian. Tetapi jika kalian melawan dan kemudian terjadi
bencana yang paling pahit bagi kalian, jangan salahkan kami.”
“Nah, kau harus mendengarkan kata-katamu sendiri,” berkata Mahisa
Pukat, “kami bukannya orang yang mendahului melakukan kekerasan.
Tetapi kami akan mempertahankan hak dan kebebasan kami.” “Persetan,”
geram orang itu yang kemudian memberikan isy arat kepada
orang-orangnya. “Aku ulangi perintahku tadi. Tangkap orang-orang
itu. Semuanya. Terutama cantrik yang telah mengacaukan Kabuyutan
kita.” Orang-orang itu pun segera bergerak. Orang-orang yang
semula berada di pematangan telah brlari-larian mendekat pula.
Sementara itu, Mahisa Murti yang tidak melihat kemungkinan lain
telah memerintahkan pula kepada cantrik yangmeny ertainya,
untukmelepa skan panah sendaren. Demikian orang-orang padukuhan itu
mulai berkumpul, maka tiga anak panah sendaren telah meluncur ke
udara. Suaranya berdesingmemecahkan sepinyamalam. “Apa yang kau
lakukan ?,” bertanya bebahu Kabuyutan itu. “Aku memanggil para
cantrik yang menyertai perjalanan kami. Karena nampaknya
kalian ingin mempergunakan kekerasan, kami harusbersiap-siap,” jawab
Mahisa Murti. “Nah, bukankah terbukti, bahwa kalian juga bermaksud
mempergunakan kekerasan. Terbukti kalian telah membawa pa sukan,”
berkata bebahu itu. “Aku tidak ingkar. Tetapi kami sudah berusaha
untuk berbuat lebih baik dari mempergunakan kekerasan itu. Kami
telah meninggalkan orang -orang kami diluar perbatasan Kabuyutan
Bumiagara. Sehingga kami tidak ingin memaksakan kehendak kami dengan
kekerasan sejauh kami masih mungkin berbicara dengan baik. Tetapi
karena cara yang lebih baik itu tidak dapat kami tempuh,maka kami
telah memanggil para cantrik,” jawab Mahisa Murti. “Tetapi ingat,
berapa pun kau membawa cantrik dari padepokanmu, namun jumlah kami,
laki-laki di seluruh Kabuyutan, tentu jauh lebih banyak dari jumlah
cantrikmu,” geram bebahu itu. “Aku percaya,” berkata Mahisa Murti,
“tetapi kau pun harus menyadari, bahwa seorang cantrik dari
perguruan Bajra Seta, akan dapat melawan sedikitnya sepuluh orang
penghuni Kabuyutan Bumagara.” “Omong kosong,” geram bebahu itu.
Namun pembicaraan mereka terhenti. Terdengar derap kaki kuda
yang gemuruhmenyusuri jalan itu. Mahisa Semu yang tinggal
bersama para cantrik diluar Kabuyutan telah mendengar suara sendaren
yangmeluncur di udara, justru melampaui tempat mereka menunggu.
Dengan demikian, Mahisa Semu mengerti, bahwa anak panah sendaren itu
tentu dilontarkan dari tempat yang tidak begitu jauh. Mahisa
Semu yang berkuda dipaling depan pun segera memberikan isy arat
kepada iring-iringan itu untuk berhenti setelah ia melihat beberapa
orang berkerumun di tengah dari bahkan di pinggir jalan, di atas
tanggul parit dan di pematang. Demikian mereka berhenti, maka para
penunggang kuda itu pun segera berloncatan turun. Bebahu itu sempat
memperhitungkan para penunggang kuda itu. Sehingga kemudian ia pun
berkata: “Tidak lebih dari sepuluh orang.” “Ya,” jawab Mahisa Murti,
“tidak lebih dan sepuluh orang. Sementara itu kita berenam disini.
Jadi semuanya tidak lebih dan enam bela s orang. Tetapi sudah aku
katakan, bahwa setiap orang akan dapat melawan sepuluh orang
laki-laki dan Kabuyutan Bumiagara.” “Persetan atas bualanmu.
Sekarang meny erahlah. Atau kami akan menghancurkan,” geram bebahu
itu. Mahisa Murti termangu-mangu. Jika terjadi pertemptiran, maka
tentu akan jatuh korban. Namun ia tidak mempunyai jalan untuk
mencegah pertempuran itu. Agaknya orang-orang Bumiagara benar- benar
tidak mau melepaskan cantrik yang telah berhasilmereka jebak untuk
ikut bersama mereka. Namun Mahisa Murti masih mencoba berusaha.
Katanya: “Ki Sanak. Baiklah jika kalian memang berkeberatan untuk
membawa aku kepada Ki Buy ut Bumiagara. Jika demikian, sampaikan
saja salamku. Kami akan kembali ke padepokan Bajra Seta dengan
membawa seorang diantara cantrik kami yang kami ketemukan berada
disini.” “0, begitu mudahnya,” berkata bebahu itu: “kalian
yang ketakutanmelihat kesiaagaan kami begitu saja akan membawa
perampok itu pergi.?” “Sebenarnya alasan kami bukan itu. Kami tidak
ingin jatuh korban terlalu banyak disini. Apalagi di malam hari.
Ayunan senjata tidak begitu terkendali, apakah ujungnya akan sekedar
menyentuh kulit atau menghujam sampai ke jantung,” berkata Mahisa
Murti. “Kau masih juga membual,” berbahu itu pun kemudian berteriak:
“kalian menunggu apa lagi. Tangkapmereka semua. Yang melawan,
terserah kepada kalian. Apakah akan kalian hidupi, atau terpaksa
kalian akhiri kesombongannya,” kemudian terdengar lagi perintahnya
lantang: “Cepat. Lakukan.” Orang-orang itu mulai bergerak lagi.
Sementara itu, dua orang diantara mereka yang datang berkuda
dari padukuhan telah mendapat perintah untuk kembali ke padukuhan
induk dan memberikan laporan tentang orang-orang Bajra Seta yang
datang ke Bumiagara. Jumlahnya hanya sekitar limabelas orang. Ketika
kedua ekor kuda itu berlari ke padukuhan induk, maka orang-orang
Kabuyutan Bumiagara itu mulai menyerang. Sehingga dengan demikian,
maka orang-orang dari padepokan Bajra Seta itu pun mulai
mempertahankan diri. Namun orang-orang dari perguruan Bajra Seta itu
telah mendapat pesan agar mereka berhati-hati dengan senjata mereka
jika terpaksa terjadi kekerasan. Mereka tidak datang untuk membunuh
para penghuni Kabuyutan Bumiagara apa punyang terjadi. Tetapi
lawan mereka memang terlalu banyak. Sudah tentu itu belum merupakan
kekuatan seluruh Kabuyutan, karena orang-orang Kabuyutan itu
tersebarmelingkar. Dalam pada itu, maka para cantrik dari perguruan
Bajra Seta itu pun telah meny ebar. Memang hanya enambelas orang
dengan cantrik yang diketemukan di Kabuyutan itu. Namun yang
enam belas orang itu benar-benar telah menggetarkan orang-orang
Bumiagara. Bahkan seorang anak diantara para cantrik itu telah
membuat orang-orang Bumiagara kebingungan. Dalam benturan yang
terjadi, maka sulit bagi orang-orang perguruan Bajra Seta untuk
menghindarkan diri dari kemungkinan buruk yang terjadi dengan
ujung senjata mereka. Setidak-tidaknya mereka dengan cepat telah
melukai beberapa orang penghuni Kabuyutan itu. Namun para cantrik
memang masih mampu mengendalikan diri. Apalagi ketika ternyata
orang-orang Kabuyutan itu menjadi agak bingung bertempur dalam
gelap. Sementara para cantrik sudah mendapat latihan yang cukup, apa
yang perlu mereka lakukan dalam kegelapan.Mata mereka pun
menjadi lebih tajam dari penglihatan orang2 Kabuyutan Bumiagara
yang tidak terlatih. Dengan demikian, maka setiap kali memang
terdengar seseorang mengaduh kesakitan. Ternyata ujung senjata para
cantrik memang telah menggapai kulit daging orang-orang pedukuhan di
lingkungan Kabuyutan Bumiagara. Bebahu yang memimpin orang-orang
Kabuyutan itu pun segera melihat, bahwa enambelas orang yang
memencar itu telah membuat orang-orang Bumiagara kebingungan dan
bahkan kemudian ketakutan. Orang-orang yang jumlahnya cukup
banyak itu berdesakan mengepung mereka, namun ketika para cantrik
itu bergerak maju, maka orang-orang Kabuyutan itu telah
berdesakanmundur ataumeny ibak. “Janganmenjadi pengecut,” teriak
bebahu itu. Namun suaranya tenggelam dalam desau angin yang
bertiup semakin kencanag. Sementara di langit awan yang hitam
menebar dari ujung cakrawala sampai ke ujung cakrawala. Sementara
itu, orang-orang Kabuyutan yang mencoba mengepung ternyata tidak
mampu untuk tetap berada dalam lingkaran. Ternyata lingkaran itu
tidakmenjadi semakin kecil, justru sebaliknyamenjadi semakin luas.
Para cantrik yang berpegang pada pesan Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat memang tidak menjadi terlalu garang. Mereka seakan-akan hanya
menghentak disaat benturan terjadi. Kemudian mereka membiarkan orang
-orang Bumiagara yang ketakutan itu mengepung mereka dari jarak yang
semakin jauh. Namun sejenak kemudian, telah datang sekelompok
pengawal Kabuyutan, bahkan dengan Ki Buyut sendiri sebagai
pimpinannya. Demikian mereka mendekat,maka Ki Buy ut itu pun segera
berteriak nyaring: “Anak-anak Kabuyutan Bumiagara. Tunjukkan bahwa
kalian adalah putra2 terbaik dari Bumiagara. Orang-orang Bajra Seta
itu telah datang sendiri kemari. Itu agaknya lebih baik daripada
jika kita pergi ke padepokan mereka. Kita. harus menangkap mereka
kali ini. Sebenarnya hanya seorang saja yang telah mengganggu
ketenangan Kabuyutan ini. Tetapi karena kawan-kawannya hadir juga
sekarang ini, maka kita akan menangkap mereka semuanya.” Memang agak
berbeda dengan orang-orang Kabuyutan kebanyakan. Para pengawalmemang
lebih sigap dan tangkas. Beberapa orang pengawal yang memang sudah
ada di tempat itu sebelumnya, yang bukan termasuk pengawal
pilihan yang harus berada di Kabuyutan, dengan cepat bergabung
dengan kawan kawanmereka. Demikian para pengawal itu bergerak,
diantara mereka yang telah datang lebih dahulu sempat memberikan
peringatan kepada kawan kawan mereka, bahwa para cantrik dari
padepokan Bajra Seta itu adalah orang-orang yang berbahaya. Namun
para pengawal terpilih yang datang ber sama-sama Ki Buy ut adalah
para pengawal yang telah menjalani latihan sebelumnya,
sehingga mereka tidakmerasa gentar sama sekali menghadapi para
cantrik dari padepokan Bajra Seta. Karena itu, maka sejenak kemudian
para cantrik itu pun harus ber siaga lagi. Para pengawal itu dengan
cepat telah menempatkan diri dan meny erang para cantrik dari
beberapa jurusan. Sementara itu dibelakang mereka orang2 Bumiagara
telah mulai bergerak lagi danmengepung tempat itu dengan rapat.
Enambelas orang berada dalam kepungan. Tetapi mereka tidak bertahan
sambil berdesak-desakan. Tetapi mereka pun menebar di tempatyang
cukup luas. Sebagian diantara mereka berada di kotak-kotak sawah
diantara batang jagung yang menjadi rusak berserakan. Demikianlah
sejenak kemudian telah terjadi benturan kekuatan. Para pengawal
telah meny erang dengan garangnya. Selain mereka merasa pernah
mendapat latihan yang cukup, mereka pun menyadari bahwa jumlah
mereka lebih banyak dari para cantrikyang hanya enambelas
orang itu. Namun ketika senjata mereka mulai beradu, maka mereka pun
mulai terbangun. Mereka harus membentur keny ataan, bahwa para
cantrik itu memang memiliki kelebihan. Bukan sa ja karena senjata
mereka lebih baik, tetapi kemampuan mereka olah senjata juga jauh
lebih baik, meski pun dibandingkan dengan para pengawal terpilih
sekalipun. Yang kemudian menjadi sandaran mereka adalah jumlah yang
jauh lebih banyak itu, sehinggamerekameny erang dalam gelombang yang
datang beruntun susulmenyusul. Para cantrik yang menahan
serangan itu pun terpaksa mengerahkan kemampuan mereka.
Gelombang-gelombang serangan yang datang susul menyusul,membuat para
cantrik terhentak-hentak. Namun dengan demikian, maka keadaan itu
telah memanaskan hati para cantrik yang masih mencoba menahan diri.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berdiri berjauhan. Mahisa
Murti bersama beberapa orang cantrik menahan serangan dari utara,
sedangkan Mahisa Pukat menghadap ke selatan. Wantilan ada di barat
dan Mahisa Semu ada disisi sebelah timur. Mahisa Amping masih saja
berputar -putar didalam lingkaran para cantrik yang menahan serangan
dari para pengawal yang semakin lama terasa semakin berat. Apalagi
Ki Buyut sendiri selalu saja memberika aba-aba yang dapatmembakar
jantung para pengawal. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
sendiri merasakan tekanan serangan para pengawal itu, sehingga
akhirnyamereka tidak akanmenyalahkan lagi jika para cantrik terpaksa
berusaha untuk mengurangi tekanan itu dengan mengurangi jumlah lawan
mereka. Dengan demikian, maka setiap kali seorang pengawal terpaksa
diusung menjauhi medan. Satu demi satu mereka berjatuhan. Namun
yang lain telah mengisi tempatnya dan hanyut dalam gelombang
serangan-serangan yang semakin deras. Akhirnya ju stru Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat menjadi marah oleh seranganserangan itu.
Apalagi ketika mereka menyadari bahwa satu dua orang cantrik mulai
tersentuh senjata para pengawal sehingga terluka. Pada kesempatan
terakhir Mahisa Murti masih berteriak: “Ki Buyut. Aku masih
memberikan kesempatan para pengawal menarik diri. Tetapi jika
peringatan ini tidak dihiraukan, maka kami akan benar-benar
bertempur sebagaimana kami bertempur melawan orang- orang yang
datang menyerang padepokan kami. Kami terpaksa tidak lagi mengekang
diri sehingga korban akan semakin banyak berjatuhan.” “Gila kau,” Ki
Buyut pun berteriak: “Meny erahlah. Jika tidak, maka sudah
terbayang, bahwa kalian akan mati sampai orang yang terakhir.”
“Jadi Ki Buyut tidak mau mendengarkan peringatanku?,” bertanya
Mahisa Murti. “Persetan dengan kau,” jawab Ki Buyut. Mahisa Murti
tidak mempunyai pilihan lain. Maka ia pun kemudian berkata lantang:
“Baiklah. Jika demikian, maka kami tidak akan bertanggung jawab atas
apa yang akan terjadi kemudian.” Mahisa Murti memang tidak
memberikan perintah kepada para cantrik untuk bertempur semakin
garang. Namun apa yang dikatakannya itu sudah merupakan isy arat
untuk melakukannya. Karena itu,maka sejenak kemudian,maka para
cantrik itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sebelum
tenaga mereka terkuras habis, maka mereka harus berusaha untuk
mengurangi jumlah lawan mereka sebanyakbanyaknya. Jika mungkin tanpa
membunuh mereka. Tetapi jika terjadi kecelakaan, apaboleh buat.
Demikianlah, maka para cantrik itu benar-benar telah memutar
pedangnya, mengibaskan serangan lawan dan kemudian menusukkan
pedangnya. Yang lain menangkis serangan, memutar senjata lawannya
sehingga terlepas, kemudian ayunan mendatar meny entuh dadanya dan
mengoy akkan kulitnya. Namun jika serangan yang datang mendesak dan
berbahaya,maka kadang-kadang sabetan pedang para cantrik itu diikuti
oleh teriakan seorang pengawal dan kemudian terdiam untuk selamanya.
Korban demi korban telah jatuh. Tubuh-tubuh para pengawal telah
dibawa menjauhi medan. Beberapa sosok berjajar dibawah pohon- pohon
yang tumbuh di pinggir jalan. Beberapa orang memang masih merintih
kesakitan. Namun satu dua diantaramereka, sama sekali sudah tidak
bernafas. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin marah,
ketika seorang diantara para cantrik itu melangkah surut, masuk
kedalam lingkaran pertahanan kawan-kawannya. Kemudian terhuyung
-huyung dan jatuh berguling di tanah. Dadanya terluka cukup dalam,
sehingga darah mengalir semakin deras. Mahisa Amping ternyata cukup
tangkas. Ia mengerti apa yang harus dilakukannya. Meski pun ia belum
belajar ber sungguh-sungguh, namun ia mengerti bahwa obat luka di
kantung ikat pinggang cantrik itu harus dengan segera ditaburkannya.
Cantrik itu berdesis menahan pedih. Namun kemudian lukanya terasa
semakin sejuk. Darah pun telah menjadi pempat. Namun Mahisa Amping
menahannya untuk tetap berdiam diri. “Nanti lukamu berdarah lagi.
Hanya jika terpaksa saja kau boleh bangkit,” berkata anak itu.
Ternyata cantrik itu menurut. Ia masih saja berbaring diam didalam
lingkaran pertahanan para cantrik. Namun dalam pada itu, Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin garang. Dengan isy aratmaka
Mahisa Murti telah minta agar Mahisa Pukat pun melepa skan ilmunya,
sehingga keduanya akan menghisap tenaga lawan mereka. Dengan
demikian, maka kekuatan lawan akan susut dengan cepat. Karena hanya
dengan cara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mampu mengurangi
jumlah korban para cantrik tanpa harusmembunuh sebanyak-banyaknya.
Pertempuran di tengah-tengah bulak itu pun berlangsung semakin
sengit. Seorang lagi cantrik padepokan Bajra Seta terdorong jatuh
kedalam lingkaran pertahanan para cantrik itu. Meski pun ia segera
bangkit lagi, tetapi darah telah mengalir dari luka dipundaknya.
Dengan sigap Mahisa Amping telah menahan cantrik itu. Ia pun
kemudian telah menaburkan obat pada luka dipundak itu. Seperti
cantrik yang lebih dahulu terluka,maka luka dipundak itu rasa -
rasanya bagaikan disengat api. Namun kemudian menjadi sejuk dan
dingin. Darah pun telah menjadi pempat dan tidak mengalir lagi.
Tetapi kepada cantrik itu Mahisa Amping pun berkata: “Jangan terlalu
banyak bergerak. Nanti lukamu berdarah lagi.” “Tetapi jumlah mereka
terlalu banyak,” berkata cantrik itu. “Beristirahatlah sebentar.
Nanti jika terpaksa kau dapat membantu. Tetapi tenagamu masih akan
tersisa. Jika kau sejak sekarang bertempur lagi dan darahmu mengalir
terus, maka kau akan benar-benar kehabisan darah.,” berkata Mahisa
Amping. Cantrik yang terluka itu ternyata menurut petunjuk anak itu.
Untuk sementara cantrik itu menunggu sambilmengamati apa yang
terjadi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin cemas. Tetapi
keduanya telah mengetrapkan ilmu mereka yang mampumenghisap kekuatan
dan tenaga lawan. Dengan demikian, maka diluar pengetahuan para
pengawal, mereka telah dengan cepat kehilangan kekuatan dan
kemampuan mereka. Beberapa orang dengan heran merasa seakan-akan
mereka telah dengan cepat kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka.
Beberapa orang dengan heran merasa seakan-akan mereka telah
bertempur sehari semalam tanpa berhenti. Tangan dan kaki mereka
menjadi berat dan sulit diay unkan untukmeny erang para cantrik.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru berloncatan
sambil memutar pedang mereka. Pedang yang berkilat -kilat
memancarkan cahaya kehijau-hijauan. Namun betapa pun kemarahan
mencengkam jantung, tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak
berniatmembantai lawan-lawan mereka. Pedangnya yang berputaran
hanyalah untuk sekedar menyentuh senjata lawan-lawan mereka.
Menangkis serangan dan menghisap kekuatan dan kemampuan mereka.
Tetapi yang terjadi kemudian telah mengejutkan Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat. Para cantrik yang melihat kawankawan mereka
terluka, ternyata menjadi sangat marah. Mereka benar-benar telah
kehilangan kendali, sehingga senjata mereka menjadi garang. Para
cantrik yang kehilangan lapisan-lapisan kekuatan dan
kemampuannya, tidak mampu melawan ketika ujung-ujung pedang telah
terjulur kepada mereka. Karena itu, maka hampir diluar sadarnya,
Mahisa Murti berteriak lantang: “Jangan kehilangan akal. Jaga ujung
senjata kalian. Jangan menjadi seorang pembunuh yang tidak
berjantung.” Suara Mahisa Murti itu memang memberikan sedikit
peringatan kepada para cantrik itu. Mahisa Semu pun berusaha
untukmengekang diri. Demikian pulaWantilan. Sementara itu, para
pengawal memang mulai melihat keny ataan. Kawan-kawan mereka semakin
banyak yang terluka. Bahkan yang terbunuh di pertempuran itu. Para
cantrik ternyata memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan para
pengawal. Apalagi mereka yang senjatanya telah beberapa kali
menyentuh senjata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ki Buyut melihat
kesulitan yang dialami oleh para pengawal. Jumlah mereka masih jauh
lebih banyak. Tetapi mereka seakan-akan tidak mampu mendesak
lingkaran pertahanan para cantrik meski pun ada pula beberapa orang
cantrik yang terluka. Namun kematian demi kematian telah mewarnai
arena itu. Para pengawal ternyata bukan saja kehilangan kekuatan dan
kemampuan mereka, tetapi banyak pula yang kemudian kehilangan
nyawamereka. Teriakan Mahisa Murti memang terdengar aneh di telinga
Ki Buyut Bumiagara. Mahisa Murti itu agaknya berusaha mengendalikan
pembunuhanyang terjadi. Untuk beberapa saat lamanya, pertempuran
masih berlangsung. Para cantrik memangmulai menahan diri ketika
mereka melihat korban semakin banyak diantara para pengawal. Bahkan
ada diantara para korban itu yang masih belum sempat diangkat
dan disingkirkan keluar medan pertempuran. Tetapi Ki Buy ut itu
justru curiga, bahwa perintah itu justru perintah sandi sehingga
yang terjadi adalah sebaliknya. Pemimpin dari para cantrik itu
mungkin saja ju stru memerintahkan untukmembunuh para pengawal.
Namun yang terjadi memang sebagaimana dikatakan oleh Mahisa
Murti. Para cantrikmemang berusahamengekang diri sehinggamereka
tidak lagimenjadi sangat garang. Ki Buy ut memang menjadi ragu-ragu
mengalami perubahan sikap itu. Bahkan Ki Buyut memang mengira bahwa
kemampuan para cantrik sudah menjadi susut. Perintah dari pimpinan
para cantrik itu semata-mata satu usaha untuk mengelabui agar para
pengawal tidak mengetahui, bahwa sebenarnyalah kekuatan para cantrik
menjadi semakin susut. Karena itu, maka Ki Buyut justru telah
memberikan perintah sebaliknya dari Mahisa Murti. Katanya: “Kalian,
para pengawal Bumiagara yang terpilih, harus mampu menyelesaikan
persoalan kecil yang kita hadapi sekarang ini. Tangkap para
cantrik, atau jika mereka melawan, terserah kepada kalian. Tidak
seorang pun berkeberatan jika mereka terbunuh di pertempuran ini.”
Mahisa Murti yang baru saja mengekang para cantriknya terkejut
mendengar perintah itu. Apalagi ketika Ki Buyut berteriak lagi:
“Ternyata para cantrik telah kehabisan tenaga. Sama sekali bukan
karena kebaikan hatimereka agar mereka tidak membunuh para pengawal,
tetapi bahwa mereka sudah tidakmampu lagimelakukannya.” Mendengar
perintah itu, maka tiba -tiba saja Mahisa Pukat berteriak: “Apakah
kami harus membuktikan, bahwa kami masih mampumembunuh kalian
semuanya ?” Teriakan Mahisa Pukat memang terasa menghentak jantung
Ki Buyut. Tetapi ia sama sekali t idak y akin akan katakata Mahisa
Pukat. Meski pun demikian Ki Buyut tidak menanggapinya. Dengan
demikian, maka para pengawal ju stru telah bergerak semakin garang.
Mereka bahkan telah meny erang para cantrik sambil berteriak-teriak.
Namun yang terjadi itu justru memaksa para cantrik untuk
mempertahankan diri dengan mengurangi jumlah lawan. Sementara mereka
yang senjatanya pernah bersentuhan dengan senjata Maliisa Murti dan
Mahisa Pukat tenaganya segeramenjadi susut. Karena itu, maka korban
pun berjatuhan. Benar-benar semakin lama semakin banyak. Para
cantrik yang ada disebelah meny ebelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
seakanakan tidak dapat dikendalikan lagi. Beberapa kali Mahisa Murti
terutama, telah memperingatkan cantrik-cantrik yang ada di sebelah
meny ebelah, agar mereka tidakmenyerang dan membunuh
lawan-lawanmereka yang tidak berdaya. Tetapi hal itu memang sulit
dilakukan. Apalagi ketika para pengawal itumeny erang dalam
jumlahyang terlalu banyak. Korban yang berjatuhan itu memang
membuat para pengawalmenjadi ngeri. Karena itu,maka semakin lama
gerak para pengawal itu pun menjadi semakin surut. Para cantrik yang
sebenarnya mulai berusaha mengurangi korban dipihak lawan,
hatimereka telah terbakar lagi oleh perintah Ki Buyut. Bagaimana pun
juga, Ki Buy ut tidak dapat mengingkari keny ataan. Para pengawalnya
serta orang-orang Kabuyutan itu, sudah terlalu banyak yang menjadi
korban dan terluka parah. Ternyata bahwa ia benar-benar salah
hitung. Perintah pimpinan para cantrik itu benar-benar berusaha
untuk mengekang agar mereka tidak terlalu banyak menimbulkan
kematian. Tetapi segalanya sudah terlanjur terjadi. Namun karena
itu, maka Ki Buyut tidak lagi memberikan perintah kepada para
pengawalnya untuk meny erang ketika para pengawal itu menjadi ragu
-ragu dan bahkan kemudian semakin mengendorkan serangannya. Bahkan
kemudian, serangan-serangan itu terhenti sama sekali. Ketika para
cantrik mulai bergerak maju, Mahisa Murti telah berteriak: “Cukup.
Kita t idak sedang meny erang Kabuyutan Bumiagara. Kita sekedar
mempertahankan hidup kita justru karena mereka menyerang kita.
Persoalan yang sebenarnya adalah, kita mencari seorang diantara kita
yang ternyata memang berada disini. Apa pun yang dilakukannya, kita
berhak untuk mengambilnya. Pada kesempatan lain, aku dan Ki Buyut
dapat berbicara tentang cantrik itu. Jika ia benar-benar bersalah
dan merampok di Kabuyutan ini, maka kita tidak akan segan-segan
bertindak.” Ternyata orang-orang Bumiagara tidak ada yangmenjawab.
Sementara itu Mahisa Murti pun berkata: “Kita kembali ke padepokan.”
Dengan hati-hati orang orang dari padepokan Bajra Seta itu mengambil
kuda-kuda mereka. Ternyata hampir semua cantrik telah terluka, meski
pun hanya segores. Namun semuanya, kecuali Mahisa Murti, Mahisa
Pukat dan Mahisa Amping, telahmenitikkan darah dari luka-lukamereka.
Sejenak kemudian, para cantrik itu telah berada dipunggung kuda
mereka. Namun sebelum mereka pergi, Ki Buyut masih sempat berteriak
dengan penuh dendam: “ Ingat orang-orang Bumiagara. Kau telah
berhutang ny awa disini. Lain kali kami akan datang dan menebus
kekalahan kami. Kalian harus membayar hutang kalian sekaligus dengan
bunganya. Bajra Seta seterusnya hanya akan tinggal sebuah nama.
Padepokan dan perguruan kalian akan hancur. Para cantrik dan
pimpinannya akan tumpas habis sampai orang yang terakhir.” Yang
menjawab adalah Mahisa Pukat: “Kami tahu bahwa itu sekedar ancaman
untuk membuat kami selalu cemas. Datanglah kepada kami dengan jumlah
orang berlipat sepuluh. Kami berjanji bahwa kamilah yang akan
menumpas habis orang-orang Bumiagara tanpa tersisa.” Ki Buyut
menggertakkan giginya. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia
tidak dapat memerintahkan orangorangnya untuk meny erang jika Ki Buy
ut tidak ingin menambah korban. Demikianlah, para cantrik itu pun
segera meninggalkan Kabuyutan Bumiagara. Kuda Mahisa Amping kemudian
berisi dua orang dipunggungnya. Cantrik yang mereka cari terpaksa
ikut serta dipunggung kuda Mahisa Amping, karena ia tidak mempunyai
kuda. Kuda -kuda itu pun kemudian berderap di kegelapan malam. Namun
ketika mereka sudah meny eberangi beberapa bulak, mereka pun telah
berhenti. Mahisa Murti telah memerintahkan semua yang terluka
dan berdarah, harus diobati agar darah yang mengalir dari luka-luka
itu tidak membuatmereka kehilangan terlalu banyak tenaga. Para
cantrik itu pun kemudian telah salingmengobati lukaluka mereka.
Sementara itu Mahisa Murti berkata: “Aku tidak mengira bahwa hari
ini para cantri Bajra Seta harus membunuh begitu banyak pengawal.”
Para cantrik itu pun menundukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh
Mahisa Murti itu memang benar. Mereka telah membunuh sejumlah
pengawal dan melukaiyang lainnya. Namun Mahisa Pukat pun
menyahut: “Kesalahan itu tidak dapat seluruhnya dibebankan kepada
kita.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya: “Ya. Mereka tidak
mau mendengarkan pendapat kita. Namun apa pun sebabnya, kita sudah
membantai para pengawal.” “Bukankahmereka yang memaksa kita
melakukannya? Jika kita tidak berbuat demikian, maka kita semua
telah terbaring diam di Kabuyutan Bumiagara. Bahkan -mungkin tubuh
kita sudah tidak berujud lagi.,” sahut Mahisa Pukat. Mahisa Murti
tidak menjawab lagi. Namun tiba -tiba saja cantrik yang menjadi
sumber per soalan itu telah memeluk kakinya sambilmenangis: “Akulah
yang bersalah. Akulah yang pantasdihukum. Bahkan hukuman mati
sekalipun.” “Sudahlah,” berkata Mahisa Murti, “setelah kita berada
di padepokan, kita akan mendengarkan ceriteramu, kenapa kau berada
di Kabuyutan Bumiagara.” Cantrik itu mencoba menahan desakan peny
esalan yang telah mendorong airmatanyamenitik dari pelupuknya.
Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata: “Apakah kau sudah bukan
seorang laki-laki lagi sehingga kau harus menangis?” Cantrik itu
tidak menjawab. Namun ia memang mencoba menahan tangisnya sehingga
dadanya terasa sesak. Sejenak kemudian,maka Mahisa Murti pun
berkata: “Kita sudah cukup beristirahat serta mengobati luka-luka.
Kudakuda kita pun masih cukup segar untuk melanjutkan perjalanan.”
“Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun telah meneruskan
perjalanan menuju ke padepokan Bajra Seta didalam keremangan
gelapnyamalam. Ketika mereka kemudian telah berada di padekokan,
Mahisa Murti tidak segera mengusut per soalan cantrik itu. Ia
memberikan kesempatan para cantrik untuk beristirahat. Ketika Mahisa
Murti melihat Mahisa Amping, maka ia pun bertanya: “Apakah kau
letih?” “Tidak,” jawab Mahisa Amping. “Kau sudah sempat tidur?,”
bertanya Mahisa Murti pula. “Sudah. Aku sudah tidur ny enyak
sekali,” jawab anak itu. “ Itulah sebabnya maka kau tidak lagi
merasa letih sekarang,” berkataMahisa Murti pula. Mahisa Amping
mengangguk sambil tersenyum. Katanya: “Ya. Aku sempat tidur ny
enyak, sehingga perasaan letih itu telah hilang.” “Jadi sebelum
tidur, kau juga merasa letih?,” bertanya Mahisa Murti. “Tentu,”
jawab anak itu sambilmengerutkan dahinya. Mahisa Murti tersenyum.
Sambilmenepuk bahu anak itu ia bertanya: “Jadi sekarang kau sudah
siapmemasuki sanggar?” “Ya,” jawab "anak itu. “Bagaimana dengan
kakang Mahisa Semu?,” bertanya Mahisa Murti kemudian. “Kakang Mahisa
Semu sedang meny embuhkan lukalukanya. Meski pun lukanya hanya dua
gores kecil, tetapi luka kecil itu terasa menganggunya,” jawab
Mahisa Amping. “Baiklah. Biarlah ia beristirahat dengan baik
sebagaimana pamanWantilan,” desisMahisa Murti. “Luka paman Wantilan
agak lebih banyak. Bahkan luka dipundaknya agak dalam. Ketika tadi
diber sihkan, dari luka itu masih mengalir darah,” jawab Mahisa
Amping, “Tetapi bukankah kemudian telah diobati lagi?,” bertanya
Mahisa Murti pula. “Ya. Bukan saja sekedar obat tabur. Tetapi
pamanWantilan telah minum obat pula,” jawab anak itu. “ Ia akan
segera menjadi baik. Demikian pula para cantrik yang lain,” gumam
Mahisa Murti kemudian. “Apakah kita jadi masuk ke sanggar?,”
bertanya Mahisa Am-ping kemudian. “0,” Mahisa Murti tersenyum:
“besok sajalah. Ma sih ada persoalanyang harusaku tangani.” Mahisa
Amping memang nampak menjadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat memaksa.
Karena itu,maka katanya: “Jika kita tidak pergi ke sanggar, biarlah
aku pergi ke pintu gerbang.” Pergilah. Tetapi hari ini kau jangan
pergi ke mana-mana,” pesan Mahisa Murti. Mahisa Amping pun kemudian
meninggalkannya- untuk pergi, ke pintu gerbang yang dijaga
dengan ketat. Bahkan beberapa orang cantrik berada di
panggunganyang ada di atas pintu gerbang dan di sudut-sudut
dinding padepokan untuk mengamati keadaan Kepada cantrik yang
berjaga-jaga di pintu gerbang Mahisa Amping berkata: “Aku tidak
percaya bahwa mereka benarbenar akan datang.” “Kau jangan kehilangan
kewaspadaan,” desis seorang cantrik. “Aku melihat sendiri, bagaimana
mereka mengalami kesulitan melawan hanya limabelas orang diantara
kita,” desis Mahisa Amping. “Enam belas,” sahut cantrik itu.
“Tidak.Hanya liniabelas,” Mahisa Amping bertahan. “Kau tidak
menghitung seorang diantara kita yang sudah berada di
Kabuyutan Bumiagara?,” bertanya cantrik itu. Mahisa Amping
mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudianmenjawab: “Aku
sudahmemperhitungkannya.” “Bagaimana mungkin limabelas?,” bertanya
cantrik itu. “Ya.,” jawab Mahisa Amping: “aku sendiri tidak ikut
berbuat apa- apa selain membantu mengobati mereka yang terluka.”
Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum
ia mengangguk-angguk: “Ya. Sudah tentu jika kau sendiri tidak
terhitung.” Mahisa Amping pun tersenyum. Katanya: “Nah, Bukan-kah
aku sendiri tidak terhitung.” “Ya. Ya. Ternyata kau juga mampu
menghitung.,” sahut cantrik itu. Namun demikian, para cantrik di
padepokan Bajra Seta sama sekali tidak menjadi lengah. Segala
sesuatu akan dapat terjadi. Sementara itu di Kabuyutan Bumiagara,
suasananya menjadi bagaikan berkabut tebal. Air mata membasahi bumi
Kabuyutan sebagaimana darah yang telah memerah di gumpalan
tanah. Ki Buyut menjadi sangat gelisah karena beberapa orang bebahu
justru telah menyalahkannya. Ki Buyut ternyata telah bertindak
menurut kemauannya sendiri. Betapa ia berniat untuk berbuat sesuatu
bagi Kabuyutannya, namun akibatnya adalah kematian. Sekitar duabelas
orang terbunuh. Yang luka masih lebih banyak lagi. Beberapa orang
tiba -tiba saja seakanakan telah menjadi lumpuh. Ketika Ki Buy ut
menerima beberapa orang bebahu di rumahnya,maka para bebahu itu
dengan tidak langsung telah menuduh Ki Buyutlahyang meny ebabkan
semua itu terjadi. “Kita memang bukan lawan dari sebuah padepokan,”
berkata salah seorang bebahu, “di padepokan, para cantrik setiap
hari berlatih dalam olah kanuragan. Sementara itu, apa yang
dilakukan oleh para pengawal? Seandainyamereka cukup sering
berlatih, siapakah yang telah melatih mereka? kami? Para
bebahu yang juga miskin kemampuan dan ilmu kanuragan? Ki Buyut
sendiri? Kami tahu, Ki Buyut pernah berguru kepada seorang yang
berilmu. Tetapi Ki Buyut sendiri. Sementara orang-orang perguruan
itu semuanya memiliki kemampuan. Akibatnya, anak-anak terbaik dari
Kabuyutan Bumiagara telah terbunuh. Lainnya terluka parah.” Ki Buyut
menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah-wajah para
bebahu, mereka agaknya sependapat bahwa Ki Buyut lah yang telah
melakukan kesalahan. Hanya dua orang bebahu yang ikut merasa
ber salah, karena mereka telah meny etujui dan ikut serta
merencanakan penculikan cantrik yang dianggap memiliki kemampuanyang
tinggi di dalam tugasnya, pande besi. Untuk menebus kesalahannya,Ki
Buyut itu pun berkata: “Jangan cemas. Aku akan pergi ke padepokan
Bajra Seta. Padepokan itu akan aku hancurkan.” “Siapa yang akan
menghancurkan padepokan itu?,” bertanya salah seorang bebahu,
“seluruh laki-laki dari kanakkanak sampai kakek- kakek dikerahkan,
kita tidak akan mampu mengalahkan padepokan dan perguruan Bajra
Seta. Bahkan kita hanya akan meny erahkan leher dan kepala kita.
Untunglah bahwa para pemimpin padepokan itu memiliki kesabaran
yang sangat tinggi, sehingga dalam keadaan yang paling gawat
sekali pun para pemimpinnya masih memperingatkan, agar para cantrik
tidak membunuh membabi buta.” Namun bebahu yang lain segera
menyahut: “Tetapi jika kita masih juga memburu mereka sampai ke
padepokan mereka, maka keadaannya tentu akan berbeda. Mungkin para
cantrik tidak lagi mampu menahan diri, sehingga pimpinan, mereka
akan sulit untukmengendalikan mereka. Nah, jika demikian, maka akan
terjadi apa yang dikatakan oleh salah seorang pemimpin mereka
yang agaknya telah kehilangan kesabaran, bahwa kitalahyang
akan ditumpas sampai habis.” Ki Buy ut menarik nafas dalam-dalam.
Namun kemudian katanya: “ Jadi apa yang kalian kehendaki? “Kita
harus mawas diri,” berkata salah seorang bebahu, “kita harusmengakui
segala kesalahan yang telah kita perbuat, sehingga kita tidak akan
berbuat kesalahanyang sama dimasa mendatang.” Bahkan bebahu
yang lain berkata lebih jelas: “Tentu maksudnya Ki Buyut lah yang
harus minta maaf terutama kepada mereka yang anaknya atau
adikny a atau keluarganya yang lain telah gugur. Sebenarnyalah
mereka tidak sedang membela Kabuyutan ini, tetapi mereka gugur
semata-mata untuk mendukung keinginan Ki Buyut agar disebut seorang
yang telah berhasilmenjunjung tinggi derajad Kabuyutan ini.” Tetapi
Ki Buyut itu berkata: “Tetapi. Kalian tahu, bahwa akumelakukannya
bagiKabuyutan ini. Tidak bagiku sendiri.” “Apa pun tujuannya, tetapi
jalan yang ditempuh adalah jalanyang salah,” jawab
seorang bebahu yang lain. Ki Buyut tidak dapatmenjawab lagi. Jika ia
masih membela diri, maka suasana akan menjadi panas, sehingga
mungkin akan timbul persoalanyang tidak diinginkan di Kabuyutan itu.
Karena itu, maka Ki Buyut itu pun kemudian berkata: “Baiklah. Aku
akan meninjau kembali, apakah yang telah aku lakukan sehingga
menimbulkan korban yang tidak sedikit. Aku akan minta maafkepada
keluarga para korban. Terutama yang telah gugur.” Para bebahu itu
pun menjadi reda. Agaknya Ki Buyut tidak berkeras untuk
mempertahankan tindakannya yang menimbulkanmalapetaka itu. Apalagi
ketika kemudian ternyata bahwa dihari berikutnya Ki Buyut telah
benar-benar datang berkunjung ke rumah keluarga yang
kehilangan anak, adik, atau suaminya atau keluarga yang lain
yang gugur dalam pertempuran melawan para cantrik dari
padepokan Bajra Seta. Bahkan Ki Buyut pun telah berkunjung kepada
keluarga mereka yang terluka berat. Kepada yang gugur
dan terluka berat Ki Buyut telah minta maaf, bahwa karena
langkah-langkah yang diambilnya, maka terpaksa beberapa orang putera
terbaik dari Kabuyutan Bumiagara harusdikorbankan. Namun dalam pada
itu, sebenarnyalah Ki Buyut tidakmau menerima kenyataan itu begitu
saja. Ia memang tidak ingin menambah korban bagi orang-orang
Kabuyutannya. Tetapi ia tidak dapat melupakan dendamnya kepada
padepokan dan perguruan Bajra Seta. Hampir saja ia justru
disingkirkan oleh para bebahu yang menganggapnya ber salah.
Bahkan ia terpaksa datang ke rumah orang- orang yang kehilangan
sanak kadangnya untuk mintamaaf. “Aku telah direndahkan,” berkata Ki
Buyut. Namun dalam pada itu, Ki Buy ut telah mencari jalan lain
untukmenebuskekalahannya. “Jika saja aku pada suatu hari menggiring
para pemimpin padepokan Bajra Seta itu kemari tanpa menitikkan
setetes darah pun dari antara orang-orang Kabuyutan, ini, maka harga
diriku tentu akan segera pulih kembali. Orang-orang Kabuyutan ini
akan membuka matanya dan mereka akan tahu siapakah sebenarnya aku
ini. Ki Buyut dari Bumiagara,” berkata Ki Buyut didalam hatinya.
Karena itu, maka diluar pengetahuan orang-orang Bumiagara, maka Ki
Buyut telah berhubungan dengan gurunya. Ia pun telah menceritakan
apa yang terjadi di Bumiagara. Gurunyamenarik nafas dalam-dalam.
Dengan nada rendah gurunya berkata: “Tidak ada padepokan satu pun
disekitar tempat ini yang akan mampu mengalahkan padepokan
Bajra Seta. Sementara itu padepokan Bajra Seta pun tidak pernah
berbuat sesuatu yang dapat merugikan padepokan yang lain. Para
pemimpinnya justru memberi kesempatan kepada anakanakmuda di
padukuhan sebelahmeny ebelah untukmenimba ilmu dari padepokan itu
tanpa harus menjadi cantrik. Tentu ada sesuatu yang hanya dapat
diketahui oleh para murid perguruan Bajra Seta. Tetapi ternyata
anak-anak muda dari padukuhan di sebelah-meny ebelah telah mendapat
banyak sekali keuntungan dengan kehadiran padepokan itu, sehingga
dalam keadaan yang gawat, anak-anak muda di padukuhanpadukuhan itu
bersedia untuk berbuat apa saja, bahkan mengorbankan dirinya
sebagaimana para cantrik itu sendiri.” Tetapi Ki Buyut itu pun
kemudian berkata: “Tetapi bagaimana guru. Aku sebagai seorang Buyut
yang dipercaya, dituakan dan dianggap orang terbaik di
Bumiagara harus mengalami peristiwa seperti ini. Meski pun aku,
masih dapat bertahan untuk tetap diakui sebagai seorang Buy ut di
Bumiagara, tetapi wibawaku sudah jauh susut. Tetapi jika aku
dapatmembawa para pemimpin padepokan Bajra Seta sebagai tawanan ke
Kabuyutan, maka wibawaku tentu akan pulih kembali. Juga aku sebagai
salah seorang murid dari sebuah perguruan. Orang -orang Bumiagara
tentu akan menghormati perguruanku lebih dariyang
sudah-sudah.” Namun gurunya tetap menggelengkan kepalanya. Katanya:
“Tidak akan ada gunanya. Tidak akan terjadi, bahwa kau akan
dapatmembawa para pemimpin padepokan Bajra Seta sebagai tawanan.”
“Tetapi tanpa berbuat demikian, kuasaku tidak banyak berarti lagi di
Bumiagara,” berkata Ki Buy ut. “Tidak. Jika kau kemudian bekerja
keras untuk meningkatkan kehidupan di Bumiagara, maka namamu akan
pulih kembalimeski pun perlahan-lahan,” berkata gurunya. “Aku mohon
guru. Aku mohon guru membantuku,” berkata Ki Buyut. “Jadi apa yang
kau maksud sebenarnya ? Apakah kau akan mengerahkan orang-orang
Bumiagara meny erang padepokan Bajra Seta, kemudian aku mengerahkan
seisi padepokanku membantumu ? Ingat, kau sudah dianggap membunuh
beberapa orang anakmuda terbaik di Ka-buyutanmu. Jika hal itu kau
lakukan,maka kau akan membunuh lebih banyak lagi. Bahkan dengan
cantrik-cantrik dari padepokanku pula,” jawab gurunya. “Kekuatan
Padepokan Bajra Seta tidak sebesar yang guru duga,” desis Ki Buy ut
Bumiagara. “Aku lebih tahu dari kau,” jawab gurunya, “ selebihnya,
aku tentu tidak akan membantumu karena kau melakukan langkah-langkah
yang keliru. Jika aku membantumu, berarti aku
telahmenjerumuskan kau kedalam perbuatanyang salah.” Ki Buy ut
termangu -mangu sejenak. Ia memang mengenal watak gurunya. Jika ia
berkata tidak, apa pun yang dikatakannya,maka gurunya tentu akan
tetap berkata tidak. Karena itu, maka, Ki Buy ut itu pun tidak
merengek lagi kepada gurunya. Namun ia tidak berhenti sampai disitu,
Dendamnya kepada padepokan dan perguruan Bajra Seta ternyata sampai
ke ubun-ubun. “Apa pun yang harus aku lakukan, maka aku akan tetap
berusaha untuk menghancurkan padepokan Bajra Seta. Membawa para
pemimpinnya dengan tangan terikat dan memperlakukan mereka tidak
lebih dari seekor keledai disini, dihadapan orang-orang Bumiagara,
terutama yang pernah kehilangan sanak kadangnya,” geram Ki Buy ut
didalam hatinya. Ki Buyut Bumiagara tidak lagimemikirkan gurunya.
Ketika kemudian Ki Buyut menyusun rencananya dengan dua orang
saudara seperguruannya, maka Ki Buyut pun tidak menyampaikannya
kepada gurunya pula. Dua orang saudara seperguruannya ternyata ikut
merasa tersinggung karena peristiwa yang terjadi di Bumiagara.
Karena kebetulan keduanya merasa seperguruan serta merupakan saudara
seperguruan yang terdekat dengan Ki Buyut,maka
keduanyamenyatakan ikut serta. “Apa yang dapat kita lakukan
hanya bertiga ?,” berkata Ki Buyut kemudian. “Dua orang saudara
seperguran kita yang lain, tidak ber sedia membantu kita, karena
keduanya sudah mendengar dari guru bahwa guru pun menolak untuk
terlibat dalam persoalan ini. -berkata salah seorang saudara
seperguruannya.” “Aku menjadi sangat kecewa terhadap sikap guru,”
berkata Ki Buyut Bumiagara. “Apa boleh buat,” jawab saudara
seperguruannya. Namun seorang diantara kedua orang saudara
seperguruan Ki Buyut itu pun berkata: “Aku pernah berhubungan dengan
orang-orang Kediri yang tidak puas terhadap keadaan Kediri sekarang.
Mereka memusuhi Singasari. Sementara itu, di kalangan mereka,
padepokan Bajra Seta adalah padepokan yang dimusuhi. Beberapa kali
orang-orang Bajra Seta langsung atau tidak langsung telahmerugikan
kedudukan mereka.” “Maksudmu ?” bertanya Ki Buyut. “Kita menghubungi
mereka. Kita bekerja sama dengan mereka untukmenghancurkan padepokan
Bajra Seta. Mereka mempunyai kekuatan yang besar yang meski
pun tersebar, akan segera dapat dihimpun,” berkata saudara
seperguruannya itu. “Lalu apa yang dapatmemancingmereka
untukmelibatkan diri selain mereka memang menganggap orang -orang
Bajra Seta sebagaimusuhmereka,” bertanya Ki Buyut. “Kau mempunyai
simpanan harta kekayaan yang dapat diper 'gunakan untuk
membiayai rencanamu ?,” bertanya saudara seperguruannya pula. Ki Buy
ut termangu-mangu. Katanya: “Tidak seberapa. Tetapi tentu ada kekay
aan yang besar yang pantas bagi mereka.” “Kekay aan yang
mana ?,” bertanya saudara seperguruannya. “Kekay aan yang ada di
dalam padepokan itu sendiri,” berkata Ki Buyut. Saudara
seperguruannya tertawa. Katanya: “Satu akal yang licik sekali.
Kau memang licik. Tetapi mungkin juga akan mereka sepakati.” Namun
saudaranya yang lain berkata: “Tetapi apakah kita sendiri
tidak memakai kekuatan sama sekali ? Artinya, kita benarbenar hanya
bertiga saja ?” “Aku memang tidak mempunyai kekuatan lagi,” berkata
Ki Buyut. “Kau tidak membawa orang-orang dari Kabuyutanmu?,”
bertanya saudara seperguruannya yang lain. “Aku tidak dapat
berbicara tentang hal ini dengan orangorang Kabuyutanku. Mereka
masih selalu menyalahkan aku. Karena itu aku tempuh jalan ini agar
aku dapat memulihkan wibawaku. Jika aku dapat membawa para pemimpin
Bajra Seta dengan tangan terikat, maka orang-orang Kabuyutanku akan
kembalimempercayai aku sepenuhnya,” jawab Ki Buyut. “Baiklah. Hal
ini akan aku bicarakan dengan dua orang kawanku yang meski pun
bukan saudara bersedia, maka kita akan dapat membawa kekuatan meski
pun tidak sebesar orang-orang Kediri.” Ki Buyut mengangguk-angguk.
Katanya: “Terima kasih. Semakin cepat hal itu dilakukan, akanmenjadi
semakin baik.” Kedua sauadara seperguruannya itu sependapat.
Sehingga karena itu, maka ketiga orang itu pun telah bekerja keras
untukmelaksanakan rencanamereka. Salah seorang saudara seperguruan
Ki Buyut akan menghubungi para petugas sandi Kediri yang berkeliaran
di Singasari dengan dukungan kekuatan sekelompok prajurit yang setia
kepada usaha untuk memulihkan wibawa Kediri sedang seorang
yang lain akan berhubungan dengan dua orang yang dianggapnya
akan dapatmembantunya. “Kali ini padepokan Bajra Seta akan
benar-benar kami hancurkan.,” berkata Ki Buyut didalam hatinya.
Demikianlah, ternyata saudara-saudara seperguruan Ki Buyut itu
berhasil. Orang-orang Kediri telah bersedia membantu Ki Buyut
Bumiagara dengan sepa sukan prajurit Kediri. “Prajurit-prajurit itu
justru akan berbahaya lagi kita,” berkata Ki Buyut. “Tentu tidak.,”
jawab saudara seperguruannya. Apakah mereka semuanya dapat dipercaya
?,” bertanya Ki Buyut. “Tentu,” jawab saudara seperguruannya, “jika
aku tidak yakin mereka dapat dipercaya, maka aku tidak akan
menghubungimereka.” Ki Buyutmengangguk-angguk. Namun yang tidak
mereka ketahui adalah justru guru Ki Buyut menjadi kecewa sekali
terhadap sikap muridnya. Apalagi muridnya telah berhubungan dengan
orang lain yang tingkah lakunya kurang dapat dipertanggung jawabkan,
sehingga justru guru Ki Buy ut itu telah mengadakan peny elidikan
langsung atas titgkah laku Ki Buyut sebagai muridnya. Sebenarnyalah
bahwa Ki Buyut dan orang-orang yang akan bekerja sama untuk
menghancurkan padepokan Bajra Seta sudah siap untukmeny erang
padepokan itu. Orang-orang Bumiagara memang menjadi gelisah.
Kehadiran sekelompok prajurit dan sekelompok lagi orangorang dari
sebuah padepokan yang dipimpin oleh seorang tua yang disebut
mPu Carang Wregu, mula-mula menumbuhkan berbagai pertanyaan. Mereka
menduga bahwa Ki Buyut menjadi sangat marah atas sikap mereka,
karena mereka seakan-akan telah memaksa Ki Buyut untukmerendahkan
diri dan minta maaf kepada beberapa orang Kabuyutan. Kedatangan
orang-orang itu akan dapat dipergunakan oleh Ki Buyut untuk
menghancurkan mereka yang telah berani mengusik kedudukan Ki
Buyut. “Tetapi apakah Ki Buy ut akan sampai hati membantai rakyatnya
sendiri dengan mempergunakan tangan orang lain?,” bertanya seorang
bebahu kepada bebahu yang lain. “Siapa tahu. Ki Buy ut
ternyata adalah seorang pendendam. Mungkin besok atau lusa kita akan
diambil untuk tidak kembali lagi ke tengah-tengah keluarga kita,”
jawab bebahu yang lain itu. “Aku tidak merasa cemas akan hal itu,”
jawab kawannya, “yang aku cemaskan adalah, jika Ki Buy ut
memerintahkan orang-orang Bumiagara untuk meny ertai para prajurit
dan sekelompok orang yang datang dari padepokan yang dipimpin
mPu Carang Wregu, untuk menyerang padepokan Bajra Seta. Karena kita
tahu bahwa isi padepokan itu terlalu kuat untuk dilawan.” Tetapi
seorang lain tiba-tiba telah ikut berbicara: “ Itu kalau kita
sendiri yang melawan padepokan Bajra Seta. Tetapi kita tahu bahwa
sejumlah prajurit itu sudah terlalu kuat untuk sebuah padepokan.
Apalagi kehadiran mPu Carang Wregu. Padepokan yang mana pun
tidak akan mampu bertahan.” Bebahu yang pertama menarik nafas
dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab lagi. Ia mengakui bahwa pasukan
prajurit Kediri itu memang terlalu kuat. Apalagi bersama-sama dengan
para cantrik dari sebuah padepokanyang cukup besar, yang ingin
memiliki alat- alat pande besi sebaik padepokan Bajra Seta yang
telahmenerima alat-alat itu dari Singasari. Tetapi ternyata Ki Buyut
sama sekali tidak memerintahkan agar orang-orang Bumiagara bersiap.
Tetapi ketika Ki Buyut memanggil para bebahu, ia sempat berkata :
“Nah, para bebahu Kabuyutan Bumiagara yang baik hati,
yang jujur dan berbudi luhur, yang telah memaksa aku untuk
merendahkan diri karena aku gagal berusaha untuk meningkatkan
kesejahteraan ini dengan cara yang khusus. Sudah tentu bahwa
kalian tidak akan bertindak seperti itu, bahkan akan menyanjungku
dan berterima kasih sampai meny entuh langit, jika aku berhasil.
Kalian tidak menilai gagasanku serta niat baikku. Yang kalian lihat
hanyalah kegagalanku saja. Seharusnya kalian ikut berprihatin,
membantuku dan berusaha agar rencanaku itu berhasil dengan baik.
Tetapi kalian tidak berbuat demikian. Kalian justru ikut
menghancurkan rencanaku. Bahkan harga diriku. Tetapi sekarang kalian
lihat. Tanpa kalian aku dapat berbuat sesuai dengan rencanaku,
menghancurkan padepokan Bajra Seta, menangkap pemimpinnya dan meny
eretnya kemari.” Tidak seorang pun diantara bebahu Kabuyutan
Bumiagara yang beranimenjawab. Di Kabuyutan dan di empat rumah di
sekitarnya tinggal dua kelompok kekuatan yang cukup besar. Bagi
orang-orang Kabuyutan, prajurit Kediri adalah prajurit yang
pilih tanding. Bahkan menurut penilaian mereka, para cantrik
padepokan Bajra Seta tidak akan mampu mengimbangi seorang prajurit
dengan seorang cantrik. Sementara itu selain para prajurit, masih
ada sekelompok cantrik yang kuat yang akan dapat membantu
menghancurkan orang- orang padepokan Bajra Seta. Sebenarnyalah orang
Bajra Seta tidak mengetahui bahwa di Bumiagara telah terhimpun
kekuatan yang demikian besar untuk menghancurkan padepokan
Bajra Seta. Meski pun mereka masih tetap berhati-hati dan selalu
mengawasi keadaan, namun jika kekuatan itu datang ke padepokan Bajra
Seta,makamereka pasti tidak akan dapatmenahannya. Sementara itu,
mereka tidak terlalu berprasangka buruk terhadap orang-orang
Bumiagara, sehingga padepokan itu tidakmengirimkan seseorang
untukmengamat-amatinya. Dalam pada itu, cantrik yang telah pergi ke
Bumiagara, telah menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Mahisa
Murti, Mahisa Pukat dan dua orang cantrik yang dituakan di padepokan
itu. Ternyata jawaban-jawabannya mey akinkan bahwa cantrik itu
menjawab dengan jujur. Bagaimana pun pertanyaan itu diputar balik,
namun jawabnya sama sekali tidak bergeser dari keterangan cantrik
itu, karena cantrik itu memang berkata sebenarnya. Apa adanya tanpa
ditambah dan dikurangi. Karena itu, pertanyaan siapa pun dan
berbunyi apapun, jawabnya sama sekali t idak berkisar. “Aku percaya
kepadamu,” berkata Mahisa Murti. Dengan demikian maka Mahisa Murti
telah membebaskan cantrik itu dari semua hukuman. Namun ia tetap
diminta untuk tidak mengulangi perbuatannya, karena perbuatannya
ternyata telah mengundang berbagai macam persoalan dan merenggut
korban jiwa pula. Cantrik itu menunduk. Ia memangmerasa sangat
bersalah. Tetapi apa yang dapat dilakukannya untuk menebus
kesalahannya? Dalam pada itu, ketika Ki Buyut Bumiagara telah
bersiap sepenuhnya ber sama prajurit Kediri dan sekelompok cantrik
dari sebuah padepokan yang dipimpin langsung oleh mPu Carang Wregu,
maka guru Ki Buyut itu menjadi sangat berprihatin. Ia sama sekali
tidak dapat meny etujui tindakan muridnya itu. Namun ia tidak
berhasil mencegahnya. Karena itu, guru Ki Buyut itu menjadi bingung
untuk beberapa saat. Ia tidak dapat membiarkan padepokan Bajra Seta
dihancurkan oleh dua kekuatan yang besar, yang telah dihimpun
oleh muridnya itu. Jika benar-benar Bajra Seta diserang oleh
gabungan kekuatan yang telah bersiap-siap itu, maka Bajra Seta
tentu akan pecah betapa pun tingginya ilmu kedua orang pemimpinnya.
Kecuali jumlahnya terpaut banyak, para prajurit memiliki ilmu perang
yang cukup dibantu oleh para cantrik yang mendapat tempaan oleh
kanuragan sebagaimana para cantrik dari padepokan Bajra Seta. Dalam
kebingungannya, maka guru Ki Buy ut itu memutuskan untukmenghentikan
saja langkah-langkah yang dianggapnya jauh meny impang dari
ajaran-ajaran yang pernah diberikan. Karena itu maka guru Ki Buyut
itu justru telah langsung pergi ke Singasari. Ia tahu benar, kepada
siapa ia harusmemberikan laporan tentang tingkah laku muridnya itu,
karena ia pun tahu benar bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah
anak Mahendra. Mahendra yang ditemuinya memang terkejut. Ia
sadar, bahwa kedua anaknya beserta padepokannya ada dalam bahaya.
Sehingga dengan demikian maka ia pun telah berusaha untukmenghadap
Sri Maharaja di Singasari. Ternyata tanggapan Seri Maraja sangat
baik bagi Bajra Seta. Atas perintah Sri Maharaja,maka sekelompok
perjalanan dimalam hari. Satu halyang tidak pernah diperhitungkan
oleh Ki Buyut Bumiagara. Ia sama sekali tidak mengira bahwa gurunya
benar-benar telah tersinggung dengan perbuatannya itu dan mengambil
langkah-langkah tertentu untuk mencegah padepokan Bajra Seta
dihancurkan. Pada hari yang ditentukan, maka pa sukan yang
besar itu pun telah berangkat. Pimpinan tertinggi pasukan itu berada
di tangan Senapati dari Kediri. Senapati yang memimpin sepa
sukan prajurit yang menjadi landasan perjuangan sekelompok
pemimpin di Kediri yang tidak mau tunduk lagi kepada kepemimpinan
Sri Baginda di Kediri. Kedua pa sukan itu menempuh perjalanan disaat
yang hampir sama. Pasukan Bumiagara memang berniat untuk
sampai di sekitar padepokan itu menjelang pagi. Mereka akan
beristirahat sejenak sebelum memukul padepokan Bajra Seta
menjelangmatahari terbit. Ternyata prajurit berkuda Singasari telah
lebih dahulu datang ke padepokan. Ketika pasukan itu mendekati pintu
gerbang, maka seisi padepokan telah terbangun. Para cantrik yang
bertugas terkejut melihat pasukan berkuda datang, sehingga mereka
telah memberikan isy arat kepada seluruh kekuatanyang ada di
padepokan itu untuk bersiaga. Namun Senapati yang memimpin
pasukan berkuda itu telah mengangkat tunggul pertanda utusan Sri
Maharaja di Singasari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat tunggul
itu. Karena itu, maka diperintahkannya untuk membuka pintu gerbang.
Meski pun keduanya cukup berhati-hati. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
diiringi beberapa orang cantrik telah keluar dari pintu gerbang
beberapa langkah untukmenemui Senapati dari prajurit berkuda itu.
Senapati itu pun segera menjelaskan perintah Sri Maharaja yang
diembannya dengan pertanda tunggul kerajaan Singasari serta sebuah
kelebet ciri pa sukan berkuda yang datang itu. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat pun telah mempersilahkan pa sukan berkuda itu memasuki
dinding padepokan tanpa diketahui oleh banyak orang di
padukuhan-padukuhan sekitar padepokan itu, karena mereka datang
disaat-saat orang tidur ny enyak. Setengah bermimpi memang ada
yang mendengar derap sepa sukan berkuda lewat. Namun kemudian
hilang dengan cepat. Beberapa orang peronda pun melihat
iring-iringan prajurit berkuda. Namun tidak seorang pun diantara
mereka sempat bertanya. Tetapi orang-orang yang umurnya sudah
mendekati setengah abad yang melihat iring-iringan itu berkata
kepada anak-anakmuda digardu: “Tunggul kerajaan Singasari.” “Apakah
paman tahu pa sti?,” bertanya seorang anakmuda. “Aku y akin,” jawab
orang tua itu. Sementara itu, pasukan Bumiagara lebih banyak
menghindari jalan- jalan padukuhan. Mereka lebih banyak menyusuri
bulak-bulak dan bahkan memotong jalan lewat sawah dan pategalan.
Mereka tidak mau kehadirannya terlalu cepat diketahui, sehingga
padepokan Bajra Seta sempat ber siap-siap dan memberi isyarat kepada
padukuhanpadukuhan disekitarnya untukmembantunya. Namun dengan
demikian, maka pasukan Bumiagara itu sama sekali tidak menyadari,
bahwa sekelompok prajurit berkuda dari Singasari telah berada di
dalam dinding padepokan Bajra Seta. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat baru mendengar dari Senapati prajurit berkuda dari
Singasari itu bahwa akan ada seranganyang datang dari Bumiagara.
“Kapan ?,” bertanya Mahisa Murti. “Kami tidak tahu pasti. Tetapi
kami mendapat perintah secepatnya berada di padepokan,” jawab
Senapati itu. Dengan demikianmaka Mahisa Murti telah memerintahkan
agar para petugas yang mengawasi keadaan di panggungan pada
dinding padepokan menjadi semakin hati-hati. Mereka harusmemberikan
laporan jika mereka melihat sesuatu yang mencurigakan. Namun
Senapati prajurit Kediri yang memimpin serangan atas padepokan
Bajra Seta itu cukup berhati-hati. Ia menghentikan pa sukannya tidak
terlalu dekat dengan padepokan, sehingga pasukannya tidak segera
terlihat oleh para cantrik meski pun seandainya ada yang meronda
berkeliling padepokan. Tetapi demikian langit menjadi semakin merah,
maka Senapati itu mulai ber siap-siap. Meski pun ia masih membiarkan
pasukannya beristirahat sejenak, namun beberapa orang telah menjadi
sibuk. Diantaramereka bertugas untuk membagikan makanan agar mereka
tidak menjadi kelaparan jika mereka bertempur untuk waktu yang
lama. Tetapi para petugas tidak ada yang membawa minum,
sehingga mereka telah menunjuk sebuah mata air yang diketemukan oleh
salah seorang prajurit sebagai tempat untuk minum. Dinginnya air di
dini hari tidak menjadi soal. Seorang yang memang agak batuk
ternyata lebih senang minum air dari mata air dalam dinginnya malam,
sehingga gatal-gatal dilehernya justru akan hilang. Menjelang pagi,
maka Senapati dari Kediri itu telah mempersiapkan seluruh
pasukannya. Sejenak kemudian, maka diperintahkannya para prajurit
untuk mendckati padepokan itu dari arah depan dan samping sebelah
kanan. Kemudian memerintahkan agar para pengikut mPu Carang Wregu,
meny erang dari nisi sebelah kiri dan dari arah belakang.
“Pertahanan mereka terkuat tentu berada di bagian depan,” berkata
Senapati itu, “Kami akan menghancurkan pintu padepokan itu dan akan
meny erang masuk kedalam dinding padepokan. Kami berharap bahwa
setelah itu, pasukan dari samping kiri dan kanan akan segera masuk
pula. Demikian pula pasukan yang ada di belakang. Pasukan-pasukan
itu akan mengacaukan pertahanan padepokan Bajra Seta, sehingga kita
masing-masing akan dapatmelakukan tugas dan kepentingan kita
sendiri. Kami akan menangkap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,
sementara mPu Carang Wregu akan mengambil alatalat yang bcrnilai
sangat tinggi itu, namun yang bagi kami sama sekali bukan sesuatu
yang baru. - Ki Buyut Bumiagara yang ikut dalam pa sukan
yang menyerang padepokan itu termangu-mangu. Namun sudah tentu
bahwa Kabuyutan Bumiagara juga memerlukan alat-alat pande Besi
itumeski pun hanya sebagian. Tetapi Ki Buyut masih belum
mengatakannya. Bahkan ia sudah merencanakan, jika mPu Carang Wregu
membuat keputusanyang tidak sesuai dengan keinginan Ki Buy
ut,maka apa salahnya jika ia mengabil dengan paksa dengan bantuan
para prajurit Kediri. Demikianlah, maka sebelum matahari terbit,
maka padepokan Bajra Seta itu pun telah dikepung dari segala
penjuru. Para pengawas yang ada dipanggungan pada dinding
padepokan dapat melihat sebagian dari mereka. Karena itu, maka ia
pun segera melaporkan kepada para cantrik yang bertanggung jawab
atas tugaskawan-kawannya di malam itu. Cantrik itu pun segera
membagi tugas. Seorang diantara mereka berlari-larimenemui Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Sedangkan yang lain telah harus membangunkan
semua cantrik yang masih tertidur karena tugas-tugas mereka yang
harusmereka lakukan sampaimalam. Dengan cepat para cantrik pun telah
bersiap. Karena sebelumnya semuanya sudah diatur dengan tertib, maka
pada saat musuh itu benar-benar datang, maka para cantrik tidak
menjadi kebingungan. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
sendirilah yang telah menemui Senapati yang datang dari Singasari.
Setelah keduanya memberi tahukan bahwa padepokan itu sudah
terkepung, maka Senpati itu pun telah menjatuhkan perintah-perintah.
Sekelompok pa sukan berkuda itu pun segera mempersiapkan diri. Namun
karena kuda -kuda mereka itu sudah merupakan bagian dari hidup para
prajurit berkuda itu, maka beberapa orang mendapat perintah untuk
mengamankan kuda-kuda mereka yang berada di kandang yang tidak
terlalu besar sehingga tidak mencukupi untuk menyimpan kuda-kuda
para prajurit, sehingga yang lain hanya diikat pada pepohonan
di kebun padepokan itu. Namun makanan bagi kuda-kuda itu cukup
tersedia di padepokan itu. Demikianlah, maka para prajurit dari
Kediri itu sudah ber siap di dinding halaman bagian depan. Mereka
sama sekali tidak menjadi gaduh ketika mereka mendengar berita bahwa
padepokan itu sudah terkepung. Untunglah bahwa para prajurit itu
sempat beristirahat sejenak setelah para prajurit berkuda menempuh
jarak yang cukup panjang. Namun dalam waktu yang terhitung
singkat, para prajurit itu sudah siapmenghadapi segala kemungkinan.
Ketika pagi menjadi semakin terang,maka nampaknya pa sukan
yang mengepung padepokan itu semakin bergeser maju. Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah berada di panggungan pula.
Mereka melihat dan menilai kekuatan pasukanyang
datangmengepung padepokan itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
mendapatkan kesimpulan bahwa pasukan lawanmemang terlalu kuat.
Hampir di luar sadarnya,maka Mahisa Murti pun berdesis: “Untunglah,
bahwa Singasari telah mengetahui akan hal ini, sehingga mereka
mengirimkan sekelompok prajurit untuk membantu kita. Kita harus
berterima kasih kepada orang yang telah memberikan laporan tentang
serangan yang datang ini,” sahut Mahisa Pukat. “Guru Ki
Buyut,maksudmu?,” bertanya Mahisa Murti. “Ya,” jawab Mahisa Pukat
pendek. Ia tidak sempat berbincang lebih lama lagi, karena pa sukan
yang datang mengepung padepokan itu sudah merayap semakinmendekat.
“Nampaknya mereka akan meny ongsong matahari,” gumam Mahisa Pukat.
Mahisa Murtimengangguk-angguk.Namun mereka melihat bahwa pa sukan
itu telah mempersiapkan alat-alat yang akan mereka pergunakan
untukmerusak pintu. Sementara itu, di bagian belakang dan samping
padepokan itu pun telah terkepung pula. Di bagian belakang, pasukan
yang dipimpin langsung oleh mPu Carang Wregu telah mempersiapkan
tangga-tangga pula. Potongan-potongan kayu telah mereka ikat pada
dua batang bambu yang cukup panjang yang telah mereka sediakan
sebelumnya. Dengan tangga itu mereka berniat untuk memanjat dinding
dan memasuki halaman padepokan. Beberapa buah tangga telah mereka
persiapkan. Sementara itu, beberapa orang cantrik dibawah pimpinan
mPu Carang Wregu itu sudah mempersiapkan busur dan anak panah untuk
melindungi para cantrik yang akan memanjat beberapa buah
tangga itu bersama-sama. Mereka berharap bahwa serangan di pintu
gerbang dan di sisi padepokan akanmenghisap sejumlah cantrik
padepokan Bajra Seta. Dengan demikian, maka pertahanan di bagian
belakang itu tentu tidak akan terlalu kuat. Dalam pada itu, para
prajurit dari pasukan berkuda Singasari masih belum menampakkan
diri. Mereka masih ber siap-siap di dalam dinding padepokan. Namun
mereka menunggu saatyang terbaik untuk tampil. Apalagi jika
prajurit Kediri itu berusaha untuk memecahkan pintu gerbang,
sehingga para prajurit Singasari dari pasukan berkuda itu akan
dapatmenghadapinya langsung. Dari atas panggung kecil, Mahisa Murti
selalu memberikan isy arat kepada para prajurit dari Singasari itu.
Dengan demikian maka Senapati prajurit Singasari itu tahu pasti, apa
yang sedang terjadi di luar padepokan. Para prajurit Kediri dan para
cantrik dibawah pimpinan mPu Carang Wregu juga melihat bahwa para
cantarik dari padepokan Bajra Seta sudah ber siap. Memang ada
semacam keheranan bahwa para cantrik nampaknya suah siap sepenuhnya
menyambut kedatanganmereka. Ketika hal itu dikemukakan oleh salah
seorang prajurit Kediri, maka Senopatinya telah menjawab: “Mungkin
perselisihan yang terjadi antara padepokan ini dengan
Kabuyutan Bumiagara selalu membayangi para pemimpin padepokan ini,
sehinggamereka telah menempatkan beberapa orang petugas yang
-mengawasi itu telah melihat kita mendekati padepokan itu dalam
keremangan fajar. Kesiagaan padepokan ini telah membuat mereka
dengan cepat mempersiapkan dirimenanti kedatangan kita.” “Kita akan
segera mulai. Betapa pun mereka bersiap, tetapi kekuatan mereka
sangat terbatas. Kita tclah berhasil meredam bantuan dari
padukuhan-padukuhan di sekitarnya karena agaknya kehadiran kita
tidak mereka kctahui,” berkata Senopati itu. Namun sementara itu
para cantrik yang berada di atas panggungan di dalam dinding
padepokan telah ber siap dengan busur dan anak panahnya, sebagaimana
sebagian dari prajurit Kediri yang meny impang dari paugeran
keprajuritan itu. Dalam pada itu,maka Senopati pa sukan berkuda
Singasari yang ada di padepokan itu telah mengisyaratkan agar para
cantrik tidak terlalu mencegah para prajurit Kediri yang melawan
perintah Sri Baginda di Kediri itu untuk merusak pintu. “Biarlah
mereka masuk,” pesan Senopati itu. Namun dalam pada itu, para
prajurit Singasari itu pun telah bersiap dibelakang pintu.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian,maka dua orang prajurit Kediri itu
telah melepaskan panah sendaren sebagai isyarat, mereka yang
mengepung padepokan itu akan meny erang ber sama-sama. Ketika
pasukan Kediri dan para cantrik dari padepokan yang dipimpin oleh
mPu Carang Wregu itu mendekat, maka anak panah para cantrik
padepokan Bajra Seta pun mulai meluncur seperti hujan bertaburan di
atas para prajurit Kediri. Meski pun sedikit terhambat, tetapi
pasukan itumaju terus. Mereka telah melindungi diri dengan perisai
atau menangkis anak panah yang meluncur kearah para prajurit,
sehingga akhirnya sekelompok diantara mereka berhasil mencapai pintu
gerbang. “Cepat. Hancurkan saja pintu gerbang itu,” terdengar
perintah bagi para prajurit Kediri yang memang bertugas
untukmemecahkan pintu. Dengan mempergunakan kapak, linggis dan
parang, mereka telah memotong tali temali pada pintu gerbang dan
memecahkan kayu-kayu penguatnya dengan kapak. Sementara itu
kawan-kawan mereka yang tengah memecahkan pintu gerbang itu berusaha
untuk melindungi mereka. Sebagian berusaha untuk melindungi dengan
melontarkan anak panah kepada para cantrik yang ada di
panggungan, sedangkan yang lain melindungi para prajurit yangmerusak
pintu gerbang itu dengan perisai atau menebas serangan anak panah
itu menepi. Namun seperti diisy aratkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat bahwa para cantrik jangan menghentikan sama sekali usaha para
prajurit untukmerusak pintu. Dalam pada itu, dibagian belakang,
beberapa orang cantrik yang dipimpin oleh mPu Carang Wregu berusaha
untuk memanjat dengan tangga-tangga yang panjang. Tetapi di
atas dinding para cantrik berusaha untuk mencegah mereka. Sebagian
tangga-tangga itu telah didorong dan dir obohkan. Namun satu dua
orang yang memanjat sampai ke ujung tangga, telah terlempar jatuh.
mPu Carang Wregu tidak menduga bahwa pertahanan di bagian belakang
padepokan itu pun cukup kuat. Seharusnya, menurut perhitungannya,
para cantrik dari padepokan Bajra Seta itu sebagian besar akan
ditarik ke pintu gerbang utama, karena serangan prajurit Kediri
yang cukup berbahaya. Seorang penghubung mengatakan, bahwa
para prajurit Kediri hampir berhasil memecahkan pintu gerbang,
sehingga dalam waktu dekat para cantrik padepokan Bajra Seta itu
akan terhisap ke halaman depan untuk menahan serangan para prajurit
Kediri. “Seharusnya sebagian dari mereka telah meninggalkan dinding
padepokan bagian belakang ini,” desis mPu Carang Wregu. “ Itulah
kedunguan mereka,” jawab penghubung itu, “jika pintu gerbang itu
pecah,mereka tentu terlambat sehingga para cantrik yang
berusaha menahan arus para prajurit itu akan dibantai oleh para
prajurit dari Kediri. Sementara itu, para cantrik yang ada di bagian
belakang itu barumenyadari bahwa mereka tidak akanmampu bertahan.”
“Tetapi kita akan terlambat,” berkatamPu CarangWregu. “Terlambat apa
?,” bertanya penghubung itu. “Alat-alat itu akan dikuasai oleh para
prajurit,” jawab mPu CarangWregu. “Mereka tidakmemerlukannya. Di
Kediri pun terdapat alatalat seperti itu,” jawab penghubungnya.
“Mungkin orang-orang Kediri itu tidak memerlukannya. Tetapi
Kabuyutan Bumiagara ?” “Bukankah itu soal yang mudah
dipccahkan ? Seandainya alat-alat itu oleh para prajurit diserahkan
kepada Ki Buyut Bumiagara karena mereka sudah menangkap para
pemimpin padepokan Bajra Seta, pada suatu saat kita tentu akan dapat
mengambilnya. Para prajurit itu tidak akan selamanya berada di
Bumiagara. mPu Carang Wregu mengangguk-angguk. Namun sementara itu,
para cantrik yang bertahan di atas panggungan di belakang
dinding padepokan, masih saja berada di tempat mereka. Tidak seorang
pun yang beringsut dari tempat mereka,meski pun pintu gerbang
utama padepokan itu sudah benar-benar mulai pecah. Sebenarnyalah,
para prajurit telah memecahkan pintu gerbang utama padepokan Bajra
Seta. Namun demikian ujung pa sukan mereka menembus memasuki halaman
padepokan, mereka benar-benar terkejut. Di halaman itu telah ber
siap prajurit Singasari. Pertempuran yang sengit pun tidak dapat
dielakkan lagi. Para prajurit Kediri yang terkejut, ternyata
telah kehilangan waktu sekejap saat pasukan mcreka berbenturan.
Justru hanya beberapa langkah di belakang pintu gerbang. Namun
prajurit Kediri yang dibelakang, yang kurang tanggap atas
keadaan yang mereka hadapi, telah mendcsak kawan-kawannya
untuk terusmajumemasuki halaman. Prajurit Singasari memang mengalami
kesulitan untuk membcndung arus pasukan Kediri yang
seakan-akan banjir bandang yang memecahkan bendungan. Karena itu,
maka para prajurit Singasari justru telah mundur dan mengambil
tempat yang lcbih luas di halaman padepokan. Barulah kemudian,
pertempuran yang sebenarnya telah terjadi. Namun dalam pada itu,
para cantrik yang berada di panggungan pun telah meny erang dengan
anak panah dan lembing. Para prajurit Kediri yang sedang bertempur
melawan prajurit Singasari itu memang menjadi agak bingung. Yang
dapat mereka lakukan kemudian adalah menjauhi dinding
padepokan.Namun para prajurit Singasari pun telahmenahan mereka.
Beberapa orang prajurit Kediri berusaha untuk memanjat panggungan
itu pula, untuk menghentikan serangan para cantrik. Tetapi para
cantrik padepokan Bajra Seta memiliki kemampuan seorang prajurit
pula, sehingga usaha untuk menghentikan mereka yang ada di
atas panggung tidak semudahyang mereka duga. Dalam pada itu, maka
pertempuran pun telah meluas pula dihalaman. Para prajurit
Singasarimemang sengaja membuka medan yang lebih luas, agar
prajurit -prajurit Singasari tidak terlalu berjejalan saat mereka
bertempur menghadapi para prajurit Kediri. Namun ternyata prajurit
Kediri itu telah salah pilih. Mereka sama sekali tidakmengira bahwa
didalam padepokan itu telah terdapat prajurit Singasari pula.
Seorang penghubung yang melihat medan itu segera pergi ke
bagian belakang padepokan dan memberikan laporan kepada mPu
CarangWregu. mPu Carang Wregu mengumpat lirih. Dengan geram ia
berkata: “Jadi inilah sebabnya, kenapa para cantrik didinding
belakang padepokan itu tidak bergeser sama sekali. Mereka memang
tidak perlu membantu kawan-kawan mereka yang berada di bagian depan
padepokan ini, karena disana telah hadir prajurit Singasari.” “Jadi
apa yang harus kita lakukan mPu ?,” bertanya salah seorang
Putut. “Kita harus berusaha untuk memecahkan pertahanan dibelakang
atau disisi padepokan. Kita harus berusaha untuk memasuki dinding
padepokan,” jawabmPu CarangWregu. “Bagaimana jika merusak pintu
regol samping ?,” bcrtanya Putut itu. “Bagus. Lakukan,” jawabmPu
CarangWregu. Putut itu pun kemudian telahmenghimpun beberapa orang
secara khusus. Dengan dilindungi oleh beberapa cantrik yang ber
senjata busur dan anak panah, Putut itu telah berusaha
untukmemecahkan pintu regol samping. Dengan cara yang sama
sebagaimana dilakukan oleh para prajurit Kediri, maka regol samping
itu pun sedikit demi sedikit menjadi pecah dan setelah
tali-tcmalinya putus serta beberapa bagian kayunya dipecahkan,
akhirnya pintu itu memang koy ak. Bahkan kemudian, pintu itu pun
telah dirobohkannya. Dalam pada itu, beberapa orang cantrik memang
telah ditarik untuk menahan agar orang-orang yang meny erang
padepokan itu tertahan di sekitar pintu butulan. Karena itu, maka
pertemuan di halaman samping itu pun menjadi semakin lama semakin
sengit. Sebanyak peny erang yang memasuki halaman, maka sebanyak itu
pula para cantrik menahannya. Bahkan sebagian kecil dari para
prajurit singasari pun telah ditarik pula untuk ikut bertahan di
sekitar pintu butulan. Apalagi karena pitu itu terbuka, maka para
peny erang seakan-akan telah dihisap oleh pintu itu. Sehingga karena
itu, maka di bagian belakang padepokan itu menjadi kosong. Dengan
demikian,maka para cantrik yang semula bertahan di dinding belakang
itu pun telah turun pula dan membantu mempertahankan diri terhadap
orang-orang yang telah memasuki halaman samping padepokan itu.
Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Namun
kehadiran para prajurit Singasari di medan pertempuran di halaman
samping itu, telah membuat mPu Carang Wregu menjadi sangat marah.
Para cantriknya telah tertahan dan tidakmampu lagimendesakmaju.
Karena itu, maka mPu Carang Wregu pun kemudian telah langsung terjun
kemedanyang garang itu. Ternyata mPu CarangWregu adalah
seorang yangmemiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah
sebabnya,maka lima orang cantrik harusmenghadapinya. Tetapi kelima
orang cantrik itu menjadi kehilangan kesempatan ketika mPu Carang
Wregu itu mengerahkan kemampuannya serta mempergunakan senjatanya.
Sebilah kerisyang lebih besar dari kebanyakan kerisyang lain. Namun
sebelum ia menghabisi kelima orang cantrik yang seakan-akan
sudah tidak mempunyai kesempatan lagi itu, terdengar seseorang
mencegahnya: “Sebaiknya kau tidak melakukannya.” Sebelum orang itu
berpaling, seseorang telah melompat diantara kelima cantrik
yang terdesak itu. Ternyata tiga diantara para cantrik itu
sekaligus telah kehilangan senjata mereka. Dua orang lain justru
telah terluka. “Siapa kau anakmuda ?,” bertanya mPu CarangWregu.
“Mahisa Murti,” jawab anak muda yang telah memasuki lingkaran
pertempuran itu. “Apakah kau sedang berusaha untuk membunuh diri ?,”
bertanyamPu CarangWregu. Mahisa Murti tidak segera menjawab. Namun
ia masih sempat berbicara dengan kedua orang cantriknya yang
terluka: “Hati-hati dengan lukamu. Luka itu beracun. Apakah kalian
memabwa obat penawar racun ?” Kedua cantrik itu saling berpandangan.
Sementara itu pertempuran telah menjalar di sekitarnya. Tiga orang
cantrik yang kehilangan senjatanya telah berhasil menggapainya dan
bertempur dengan tangkasny a menghadapi para cantrik yang dipimpin
oleh mPu CarangWregu. Namun seperti para cantrik yang lain di
padepokan itu, maka kedua cantrik itu pun membawa obat penangkal
racun meski pun tidak terlalu banyak. “Cepat, taburkan obat itu
keatas luka kalian,” perintah Mahisa Murti. Kedua orang cantrik itu
pun kemudian telah meninggalkan medan untuk mendapatkan kesempatan
menaburkan obat penangkal racun itu pada luka-luka mereka. Obat
yang telah dibuat oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat atas
petunjuk ay ahmereka, Mahendra. mPu Carang Wregu itu pun kemudian
berkata sambil mengacungkan senjatanya: “Kau terlalu y akin akan
kelebihanmu anak muda. Tetapi sudah saatnya kau akan mati.” “Apa pun
yang akan terjadi, aku adalah pemimpin padepokan ini. Aku
harus menghentikanmu sebelum kau menelan korban terlalu banyak,”
geram Mahisa Murti. “Kau masih terlalu muda untuk mati. Tetapi jika
itu yang kau kehendaki, apa boleh buat. Tetapi ada orang lain
yang menginginkanmu hidup-hidup,” berkata mPu Carang Wregu kemudian.
“Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian
bertanya: “Siapa yang menghendaki aku hiduphidup? - “Para prajurit
Kedirimenghendaki pimpinan padepokan ini hidup-hidup. Pimpinan
padepokan ini telah terlalu banyak membuat para petugas sandi dari
Kediri kesulitan. Karena itu, maka para pemimpin padepokan ini harus
mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bukan sekedar mati terbunuh
dipeperangan,” jawabmPu CarangWregu. Menarik sekali untuk berhadapan
dengan para prajurit. Namun seorang saudaraku telah berada di
halaman depan padepokan ini. Ia akan menerima para prajurit dari
Kediri itu ber sama-sama para prajurit Singasari,” jawab Mahisa
Murti. Namun tiba-tiba mPu Carang Wregu tcrtawa. Katanya: “Aku kira
padepokan sebesar padepokan Bajra Seta ini tidak memerlukan bantuan
darimana pun juga. Ternyata isi padepokan ini adalah para pengecut
yang memerlukan bantuan prajurit Singasari.” “Mereka ternyata
datang sendiri Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti, “prajurit Singasari
tahu pasti apa yang dilakukan oleh orang-orang Kediri.
Baikmereka yang sejalan dcngan langkahlangkah Sri Baginda di
Kediri, mau pun para prajurit Kediri yang telah memberontak dan
tidak tunduk kepada Sri Baginda, sehingga membuat langkah-langkah
sendiri sebagaimana para prajurityang datang kemari.” “Kau
tidak perlu membuat penilaian atas Kediri,” berkata mPu CarangWregu
kemudian: “kau tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau
masih terlalu anak-anak untuk berbicara tentang Kediri dan
Singasari.” Tetapi Mahisa Murtilah yang kemudian tcrtawa.
Katanya: ”Sejak aku masih ingusan, aku telah ikut serta membantu
tugas-tugas sandi bagi Kediri. Kau tidak apa -apa?” Tetapi mPu
Carang Wregu kemudian menyahut: “Jangan terlalumcmperbodoh orang
lain anakmuda.” “Baiklah. Aku tidak akan menuntut agar kau percaya.
Namun yang penting bagiku, meny erahlah,” berkata Mahisa Murti
kemudian. “Anak muda,” berkata mPu Carang Wregu: “pertempuran
nampaknya menjadi semakin sengit. Jika kau mati atau menyerah atau
ditangkap hidup-hidup, nampaknya pertempuran akan segera berakhir.”
“Ya. Atau sebaliknya. Jika kau mati, atau menyerah atau tertangkap
hidup-hidup, maka orang -orangmu akan kacau balau. Pertempuran pun
akan segera selesai.” mPu Carang Wregu pun tidak menjawaba lagi.
Tetapi kerisnya yang besar itu sudah mulai mengacu ke dada lawannya.
Katanya: “Aku masih akan mencoba menangkapmu hidup-hidup. Kalau aku
gagal, maka mayatmulah yang akan dibawa ke Kediri untuk
dijadikan pengewan-ewan.” Mahisa Murti menyadari, bahwa senjata mPu
Carang Wregu itu adalah senjata yang sangat berbahaya. Keris
itu adalah keris beracun. Meski pun racun itu sendiri tidak banyak
berarti bagi Mahisa Murti, tetapi goresan-goresannya cukup berbahaya
baginya, karena ujung keris itu demikian tajamnya. Karena itu, maka
Mahisa Murti pun telah menarik senjatanya pula, yang oleh
pembuatnya justru juga disebut keris. Namun Mahisa Murti sendiri
lebih senangmenyebutnya pedang. mPu Carang Wregu memang terkejut
melihat senjata anak muda itu. Besi bajanya adalah besi baja
pilihan. Warnanya yang kehijau-hijauan membuat senjata Mahisa Murti
itu mendebarkan lawannya. Keduanya tidak banyak berbicara lagi.
Tetapi senjata merekalah yang mulai bergerak. Berputaran namun
kemudian mematuk dengan cepat, sementara yang lain tcrayun
menebas ke arah leher. Ketika senjata mereka berbenturan, maka
sepecik bunga api telah berloncatan. Ternyata bahwa senjata-senjata
itu telah terbuat dari besi baja yang sama-sama pilihan. Karena
itu,maka pertempuran diantara mereka selanjutnya menjadi semakin
lama semakin sengit. Kedua senjata itu menjadi semakin sering beradu
dan bunga api pun semakin banyak berhamburan. Dihalaman depan
padepokan Bajra Seta, prajurit Singasari bertempur dengan sengitnya
melawan prajurit Kediri yang tidak sejalan dengan Sri Baginda di
Kediri. Namun prajurit Singasari ternyata cukup tanguh untuk menahan
arus serangan prajurit Kediri, sehingga prajurit Kediri itu tidak
mampu lagi mendesak prajurit Singasari. Jika semula prajurit
Singasari bergerak surut dan memberikan tempat yang lebih luas bagi
prajurit Kediri, semata-mata karena prajurit Singasari memang ingin
bertempur di arena yang tidak berdesakkan. Mahisa Pukat yang
semula berada di halaman depan, ternyata merasa tidak diperlukan
lagi. Karena itu, ia minta Wantilan bersama sekelompok kecil cantrik
untuk tetap ber sama-sama dengan prajurit Singasari. Mungkin ada
sesuatu yang perlu dilakukan. Sementara itu Mahisa Pukat telah
menelusuri dinding padepokan. Ternyata padepokan itu sudah tidak
terkepung lagi. Para prajurit Kediri telah memasuki halaman
padepokan lewat pintu gerbang utama yang memang sudah terbuka,
sementara para cantrik yang dipimpin oleh mPu Carang Wregu telah
berada di dalam dinding padepokan pula setelah mereka memecahkan
pintu regol samping. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah
melingkari padepokan dan memasuki arena pertempuran melawan para
cantrik yang dipimpin oleh mPu Carang Wregu yang telah berada di
halaman samping padepokan. Namun disepanjang dinding halaman, para
cantrik masih juga berjaga-jaga meski pun jumlahnya t idak banyak.
Mereka sekedar mengawasi keadaan, sementara kawan-kawan mereka telah
turun ke gelanggang menghadapi para cantrik yang datang meny erang
padepokan itu. Mahisa Pukat pun kemudian telah bergabung dengan para
cantrik yangmenahan arus serangan dari samping. Sementara itu, di
sisi yang lain darimedan, Mahisa Murti telah bertempur
melawanmPu CarangWregu itu sendiri. Kedatangan Mahisa Pukat memang
sangat berpengaruh. Para cantrik dari padepokan Bajra Seta yang
mulai terdesak oleh para peny eralignya yang jumlahnya memang
lebih banyak, segera bangkit. Mahisa Pukat sendiri kemudian telah
menghisap lawan cukup banyak. Tujuh orang cantrik dari padepokan mPu
Carang Wregu itu telah mengepungnya dibawah pimpinan seorang Putut.
“Tangkap anak itu hidup-hidup,” teriak Putut yang memimpin
sekelompok orang yang mengepung Mahisa Pukat. Mahisa Pukat
termangu-mangu sejenak. Namun sambil memutar pedangnya ia bertanya:
“Untuk apa kalian berusaha menangkap aku hidup-hidup?” “Kau ternyata
memang seorang yang sangatmenarik untuk ditangkap hidup-hidup.
Kau akan dapat menjadi permainan yangmeny enangkan bagi para
prajurit Kediri, karena kau dan padepokanmu sudah terlalu sering
membuat para prajurit Kediri mengalami kesulitan,” jawab Putut itu.
“Kau pura-pura tidak tahu?,” justru Mahisa Pukat pun telah bertanya
pula. “Sudahlah,” potong Putut itu kemudian: “meny erahlah. Aku
tidak akan menyakitimu. Tetapi entah yang akan dilakukan oleh
para prajurit Kediri.” “Adakah kau mengira bahwamasih akan ada
prajurit Kediri yang tersisa menghadapi prajurit Singasari ?,”
bertanya Mahisa Pukat kemudian. “Persetan kau,” geram Putut itu,”
ternyata kau seorang yang sombong tetapi dungu.” Mahisa Pukat
tertawa. Katanya: “Jangan merajuk seperti itu. Jadi kau tidak mau
meny erah ?,” bertaya Putut itu kemudian. “Maaf, aku tidak akan meny
erahkan diri untuk diikat dan dijadikan pengewan-ewan,” jawab Mahisa
Pukat. Putut itu menjadi semakin tersinggung atas sikap Mahisa
Pukat. Karena itu, maka ia pun telah menjatuhkan aba-aba sekali lagi
kepada para cantriknya. “Tangkap anak ini hidup-hidup.” Para cantrik
itu segera berloncatan. Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi
cemas. Ia sengaja tidak memanggil cantrik dari padepokan Bajra Seta
untuk membantunya. Ia berniatmengatasi ketujuh orang lawannya itu
sendiri. Demikianlah, maka Mahisa Pukat pun telah berloncatan dengan
pedang yang berwarna kehijauan itu ditangannya. Set iap kali
maka kepungan itu pun menjadi longgar, karena lawan-lawannya
berloncatan surut. Dalam keadaan seperti itu, disaat para cantrik
dari padepokan Bajra Setamemerlukan dukungan kemampuannya, maka
Mahisa Pukat telah bertempur dengan garangnya. Tenaga cadangan di
dalam dirinya, kemampuannya dalam olah kanuragan serta
ketrampilannya bermain dalam ilmu pedang, telah membuat
lawan-lawannya segera mengalami kesulitan. Satu dua orang lawannya
telah kehilangan senjata mereka yang terlempar dari tangan
mereka. Sementara itu telapak tangan mereka rasa-rasanya bagaikan
telah menyentuh api. Bahkan beberapa saat kemudian, maka seorang
diantara mereka telah terdor ong surut beberapa langkah. Ketika
tangannya meraba lambungnya, maka terasa tangannya telah menyentuh
darahnya yangmengalir dari luka. Orang itu mengumpat. Tetapi lukanya
semakin lama justru menjadi semakin terasa pedih Ketika ia bertekad
untuk kembali memasuki arena, maka seorang kawannya telah mengaduh
tertahan. Pundaknyalah yang telah tergores tajamnya pedang Mahisa
Pukat. Dua orang telah terluka. Sementara dua orang yang
kehilangan senjatanya telah berhasil menemukannya kembali. Sementara
itu Pututyang memimpin sekelompok kecil cantrik dari padepokan mPu
Carang Wregu itu telah mengerahkan kemampuannya pula untukmeny erang
Mahisa Pukat. Tetapi serangan-serangan itu tidak segera berhasil.
Mahisa Pukat ternyata terlalu tangkas bagimereka. Apalagi pedangnya
menjadi sangat berbahaya. Bahkan beberapa saat kemudian, dua orang
telah terlempar dari arena pertempuran karena luka-luka mereka
didada dan di lambung. Luka -luka itu cukup parah, sehingga kedua
orang itu t idak mungkin untuk dapat ikut pula dalam pertempuran
itu. Ternyata kehadiran Mahisa Pukat telah memberikan kemungkinan
baru dari pertempuran itu. Sementara itu, para cantrik dari
padepokan Bajra Seta itu bertempur dengan tangkasnya. Senjata mereka
yang baru, yang tclah berhasil dibuat sendiri oleh para
cantrik yang telah mengkhususkan diri sebagai pande besi,
telah membuat para cantrik itu seakan-akan menjadi semakin tangkas
dan bahkan ilmu mereka seakan-akan telahmeningkat pula. Beberapa
orang cantrik justru sempat memperhatikan senjata di tangan mereka.
Pertempuran itu seakan-akan ju stru merupakan ujian bagi
senjata-senjata yang baru mereka buat. Namun ternyata bahwa
memang terbukti senjata yang baru itu lebih baik dari yang
lama. Bukan raja penggunaannya, tetapi juga kekuatannya dibandingkan
dengan beratnya. Karena itulah,maka para cantrik dari padepokan
Bajra Seta itu seakan-akan memiliki ilmu yang lebih tinggi dari yang
sebenarnya. Para prajurit Singasari yang bertempur di padepokan itu
pun merasa heran atas kemampuan para cantrik. Beberapa orang cantrik
termasuk Wantilan bertempur bersama para prajurit di halaman depan
padepokan. Para prajurit Kediri yang menyerang padepokan itu lama
sekali tidak lebih baik dari para cantrik. Dengan tangkasny a para
cantrik itu bermain pedang. Bahkan mereka mampu bergerak sangat
cepat, Sementara pedangnya terayun-ay unmenggetarkan. Sebelum mereka
mendapatkan jenis pedang yang baru, maka mereka mempergunakan
pedang yang lebih berat namun kekuatan dan ketajamannya tidak lebih
baik dari pedang yangmereka pergunakan saat itu. Mahisa
Pukatyang bertempur diantara para cantrik sempat
memperhatikan, apakah dengan senjata mereka yang baru para
cantrikmampu berbuat lebih baik. Dalam pada itu, Mahisa Murti yang
bertempur melawan mPu Carang Wregu ternyata tidak mempunyai banyak
kesempatan untukmemperhatikan pertempuran di sekitarnya. mPu Carang
Wregu itu ternyata seorang yang berilmu sangat tinggi. Kerisny a
yang besar berputaran dengan dahsy atnya. Beberapa kali keris
itumeny entuh kulit Mahisa Murti. Bahkan goresan luka telahmulai
nampak pada tubuh anakmuda itu. Namun ujung pedang Mahisa Murti pun
telah menggapai tubuh mPu Carang Wregu pula. Titik-titik darah telah
mengembun di kulitnya. Tetapi sementara itu, mPu Carang Wregu pun
berkata sambil tertawa: “Anak muda. Seharusnya kau tidak perlu
mengerahkan tenaga untuk bertempur melawan aku. Goresangoresan luka
itu sudah cukup berbahaya bagimu. Racun pada ujung kerisku akan
membunuhmu. Semakin banyak kau bergerak, semakin cepat racun itu
bekerja. Kau telah memberikan kesempatan kepada cantrikmu untuk
mengobati luka-lukanya yang beracun. Namun kau sendiri sama sekali
tidak mencari kesempatan untuk melakukannya. Karena itu,
menyerahlah. Kau diperlukan oleh para prajurit Kediri. Karena itu,
mereka ingin menangkap kau hidup-hidup.” “Jika racun itu membunuhku,
bagaimana mungkin mereka akan menangkapku hidup-hidup?,” bertanya
Mahisa Murti. “Kau tidak akan mati. Aku akan memberi kesempatan
kepadamu untuk mengobati luka-lukamu. Jika cantrikmu sa ja memiliki
obat penawar racun, maka kau tentu juga mempunyainya,” berkata mPu
CarangWregu itu. Tetapi Mahisa Murti pun menjawab: “Aku tidak akan
mengobati luka-lukaku meski pun aku tahu bahwa kerismu itu
mengandung racun yang tajam. Jika terlambat mengobatinya, maka
kemungkinan untuk hidupmenjadi sangat kecil.” “Jika demikian kenapa
kau tidak meny erah saja agar kau sempat mengobati luka-lukamu,”
bertanya mPu Carang Wregu. “Kau tentu menjadi gelisah bahwa aku akan
mati di pertempuran ini. Jika aku benar-benar mati, maka prajurit
Kediri itu akan menghukummu. Tetapi jika prajurit Kediri itu
ditumpas oleh prajurit Singasari, maka prajurit Singasarilah yang
akan menghukummu,” jawab Mahisa Murti. Tetapi mPu Carang Wregu
justru tertawa. Katanya sambil menyerang: “Kau memang pandai memutar
kata-kata. Tetapi jika aku harusmembunuhmu, apaboleh buat.” Mahisa
Murti harusmelompatmenghindar. Namun ia pun sempat pula berkata:
“Kau pun telah terluka.” mPu Carang Wregu tidak menjawab. Tetapi
serangannya justru melanda Mahisa Murti semakin deras. Kerisnya
berputaran dengan cepat. Namun kemudian terayun mendatar. Menebas
kearah leher dan mematuk ke arah jantung. Goresan-goresan di kulit
Mahisa Murti menjadi semakin banyak. Tetapi demikian pula pada mPu
Carang Wregu itu. Namun mPu Carang Wregu y akin, bahwa perlawanan
Mahisa Murti tidak akan berlangsung lama. Anak muda itu tentu akan
segera dihabisi oleh racunnya yang menyusup ke dalam aliran darah
anakmuda itu. Tetapi dugaan mPu Carang Wregu itu ternyata salah.
Setelah bertempur beberapa saat, namun ternyata bahwa Mahisa Murti
tidak segera kehilangan tenaganya dan kemudian kehilangan
kemampuannya dicengkam oleh racun kerisnya. Bahkan semakin lama anak
muda itu justru bertempur semakin garang. “Anak iblis,” geram mPu
Carang Wregu: “apakah ia mempunyai penawar racun.” Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab: “Sebagaimana
kau lihat Ki Sanak. Aku masih belummati.” “Bagus,” berkata mPu
Carang Wregu: “kau memang anak muda yang luar bia sa. Ternyata
kau memiliki penawar racun sehingga kau tidak tergetar sama sekali
meski pun kulitmu sudah terluka.” “Kenapa kau harus menjadi gelisah
jika kau juga merasa gelisah karena luka-lukamu?,” bertanya Mahisa
Murti. mPu Carang Wregu tidak bertanya lebih lanjut. Namun kemudian
ia telah menghentakkan ilmunya. Segenap. kemampuannya telah
ditumpahkan untuk mengakhiri perlawanan Mahisa Murti. Bukan saja
kemampuannya dalam ilmu olah senjata, tetapi ternyata mPu Carang
Wregu adalah seorang yang memang berilmu tinggi. Ketika kerisny a
yang besar itu berputar semakin cepat, maka Mahisa Murti pun
merasakan, bahwa ayunan kerisnya telah menimbulkan desir angin yang
keras. Sentuhan terasa bagaikan menggores kulit. Bahkan ternyata
kemudian desir angin yangmeny ertai ayunan kerisny a itu semakin
lama terasa menjadi semakin panas. Dengan demikian maka Mahisa Murti
pun sadar, bahwa lawannya telah sampai kepada ilmu puncaknya.
Beberapa saat Mahisa Murti masih bertahan. Dengan tangkasnya ia
berloncatan mengimbangi ilmu lawannya dengan kemampuan ilmu
pedangnya. Sementara pedangnya yang berwarna kehijauan berputaran
dengan cepatnya. Ternyata ilmu lawannya semakin lama menjadi semakin
mapan. Panasyang dilontarkan oleh putaran kerisnya menjadi semakin
tajam. Bahkan sentuhan-sentuhan senjata mereka, seakan-akan telah
mengalirkan getaran panas merambat ke tangan Mahisa Murti. Beberapa
saat kemudian, maka mPu Carang Wregu pun telah mulai mendesak Mahisa
Murti yang tidak dapat mengelakkan sentuhan panas ilmu lawannya.
Apalagi jika ia menangkis serangan mPu Carang Wregu, maka
rasa-rasanya tangannya telahmeny entuh api. Dengan demikian maka
Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain. Ia harus mengerahkan day a
tahannya untuk mengatasi panasyangmeny entuh telapak tangannya.Namun
ia pun telah mengetrapkan ilmunya pula. Sehingga jika terjadi
sentuhan yang menyakitkan, ia akan dapat menghisap kekuatan lawannya
sedikit demi sedikit. Demikianlah, keduanya telah bertempur semakin
sengit. Bentaran kedua senjata yang termasuk senjata pilihan
itu setiap kali telah menimbulkan bunga-bunga api. Bahkan
seakan-akan semakin banyakmemercik kearah Mahisa Murti. Panasny a
pun seolah-olah semakin lama menjadi semakin tajammenggigit
kulitnya. Namun Mahisa Murti harus berjuangmengatasi ra sa pedih dan
panas itu. Ia harusmeny entuh senjata lawannya dengan senjatanya.
Jika ia tidak berhasil, maka ia tidak akan dapat mengatasi mPu
Carang Wregu jika ia tidak mengerahkan kemampuannya untuk
melontarkan kekuatan ilmunya yang apalagi dilandasi dengan Aji Bajra
Geni. Karena itu, maka betapa pun tangannya merasakan sentuhan bara
api, namun Mahisa Murtimasih saja berusaha untukmembenturkan
senjatanya. Namun tiba -tiba saja mPu Carang Wregu itu tertawa.
Katanya: “Anak muda, jika kau mampu menangkal racunku, maka kau pun
akan sia -sia berusaha mengisap ilmuku dengan ilmu licikmu itu. Kau
tidak akan dapat mencuri apa pun daripadaku, karena ilmuku sudah
mengandung day a tangkal terhadap kemungkinan perampokan seperti
itu. Aku mengenali ilmu itu sejak aku berguru, karena musuh guruku
itu memiliki kemampuan ilmu sebagai kau miliki sekarang. Meski pun
demikian aku tetap mengagumimu. Pada umurmu yangmuda itu, kau sudah
menguasai ilmu pencuri itu.Namun sayang, bahwa sejak guruku
mengenalinya, guruku telah bekerja keras untukmencari penangkalnya.
Dan sekarang, aku mampu menutup getaran kekuatan ilmumu yang
menghisap kekuatan dan kemampuanku.” Mahisa Murti hanya dapat
menggeram. Ternyata ia tidak dapat mengetrapkan ilmunya untuk
menggagalkan mPu CarangWregu. “Karena itu, ngger. Meny erahlah. Aku
memang lebih senang dapat menangkapmu hidup-hidup. Seperti
yang kau katakan, aku tidak akan diper salahkan oleh prajurit
Kediri yang memang menghendaki kau ter tangkap hidup-hidup,”
berkatamPu CarangWregu itu kemudian. Namun Mahisa Murti tidak
menjawab. Dengan cepat ia menyerang lawannya. Namun lawanya sudah
bersiap menahan serangannya itu. Ketika mereka bertempur kembali,
maka Mahisa Murti sekali lagimengalami kesulitan. Selain ilmu olah
senjata mPu CarangWregu yang tinggi, ternyata panas ilmunya
pun sangat mempengaruhi pertempuran itu. Ketika sekali lagi ujung
keris mPu Carang Wregu meny entuh kulit lengan Mahisa Murti, maka
yang terasa tidak saja pedihyang menggigit, tetapi panas yang sangat
tajam telah meny engatnya sehingga sakitnya seakan-akan
telahmenghunjam sampai ketulang. Dengan demikian Mahisa Murti pun
semakin lama menjadi semakin sulit. Ia pun kemudian terdesak
beberapa langkah surut. Dengan demikian,maka garis pertempurannya
pun ikut bergeser. Mahisa Murti menggeram. Tetapi ilmunya yang mampu
menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya, ternyata tidak dapat
ditrapkan terhadapmPu CarangWregu. Karena itu, maka Mahisa Murti
harus menghadapi kekuatan dan kemampuan ilmu mPu Carang Wregu
seutuhnya. Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan para cantrik dari
padepokan Bajra Seta masih tetap bertahan. Dengan tangkasnya Mahisa
Pukat mampu bertahan terhadap lawan yang jumlahnya justru
seakan-akan bertambah meski pun setiap kali seorang dan bahkan dua
orang bersama-sama tersingkir darimedan. Namun dengan demikian, maka
beban para cantrik padepokan Bajra Seta menjadi semakin ringan.
Lawan mereka pun semakin lama semakin menyusut. Meski pun para
cantrik itu juga mampu mengurangi jumlah lawan mereka, namun Mahisa
Pukat dapat berbuat lebih cepat. Sementara itu, para prajurit
Singasari telah mulai mendesak lawannya. Sekelompok kecil cantrik
dari padepokan Bajra Seta yang ada di halaman depan itu seakan-akan
tidak lebih dari sekedar saksi, apa yang telah terjadi. Meski pun
mereka juga terlibat dalam pertempuran, namun kekuatan cantrik Bajra
Seta tidak berada di halaman depan. Karena yang berada di halaman
depan para prajurit Singasari telah dapat mengatasi kekuatan
prajurit Kediri yang tidak mau tunduk kepada Sri Baginda di Kediri
itu. Perlahan-lahan prajurit Kediri telah terdesak. Sekelompok
prajurit Singasari telah berusaha untukmenyusup dibelakang pa sukan
Kediri untuk menutup pintu gerbang dengan kekuatan prajurit, agar
para prajurit Kediri tidak sempat melarikan diri. Namun prajurit
Kediri menyadari hal itu. Karena itu,maka mereka pun berusaha untuk
bertahan terhadap sekelompok prajurit yang akan menyusup ke
belakang garis pertahanan mereka itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa
kekuatan prajurit Singasari masih lebih besar dari kekuatan pasukan
Kediri itu. Disisi lain, Mahisa Pukat pun mulai mendesak lawannya.
Namun keadaan Mahisa Murti menjadi semakin sulit. Ujung keris
lawannya seakan-akan menjadi semakin lekat dengan kulitnya. Meski
pun Mahisa Murti memiliki penawar racun, namun luka-lukanya semakin
banyakmengeluarkan darah. Pada saat yang paling sulit, maka Mahisa
Murti memang tidakmempunyai pilihan lain untukmenghancurkan lawannya
itu dari pada dirinya sendiri yangmenjadi korban. Namun dalam pada
itu, mPu Carang Wregu masih saja tertawa sambil berkata: “Kenapa kau
begitu keras kepala anak muda. Jika kau meny erah sekarang, kau
masih mempunyai kesempatan untuk hidup. Meski pun aku tidak tahu,
apa yang akan dilakukan oleh para prajurit Kediri itu atasmu.”
Tetapi Mahisa Murti justru berkata: “Aku ingin memperingatkanmu.
Sebaiknya kaulah yang meny erah. Jika tidak maka kau tidak
akan keluar lagi dari dinding padepokan ini.” “Apakah kau
sedangmengigau? Mungkin karena kau sudah berputus a sa, sehingga
syarafmu mulai terganggu,” berkata orang itu. Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Namun lukalukanya terasa menjadi semakin
pedih. Sementara lawannya justru sejenak kemudian telah
menghentakkan kemampuannya sambil berkata: “Bangunlah jika kau
tertidur. Pandangilah langit di atas dan tundukkanlah wajahmu ke
bumi. Kau akan segera mati.” Agaknya mPu Carang Wregu itu sudah
kehabisan kesabaran. Kerisny a pun berputar semakin cepat. Wajahnya
menjadi tegang, sementara sorot matanya menjadi semakin tajam.
Tetapi Mahisa Murti pun sudah jemumengalami perlakuan yang buruk
itu. Luka-luka terasa semakin pedih. Sementara itu ujung kerismPu
CarangWregu semakinmemburunya kemana ia pergi. Karena itu, maka
Mahisa Murti pun berniat pula untuk menghentikan pertempuran itu.
Jika ia berhasil, maka ia akan menang. Tetapi jika ia gagal, maka ia
akan hancur di padepokannya. Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti pun
telah menghentakkan pedangnya. Tangannya memang terasa panas sekali.
Namun sesaat ia berhasilmendesakmPu CarangWregu melangkah surut.
Tetapi ternyata Mahisa Murti sama sekali tidak mengejarnya. Tetapi
ia justru meloncat mundur. Ia mempergunakan waktu yang sekejap itu
untuk mempersiapkan diri. Memusatkan nalar budinya untuk
membangkitkan ilmunya. Sejenak kemudian, ketika mPu Carang Wregu
siap untuk menyerangnya,maka orang itu pun tertegun. Ia melihat
bahwa anak amuda itu tentu siap untuk melontarkan ilmu yang jenisnya
belum diketahui. “Apakah ia masih mempunyai ilmu yang lain?,”
bertanya mPu CarangWregu didalam hatinya. Sebenarnyalah, Mahisa
Murti yang telah terluka itu tidak lagimengendalikan dirinya.
Dengan serta merta,maka ia telah melontarkan serangan dengan
dahsyatnya. Kedua tangannya memegangi hulu pedangnya yang teracu
kearah lawannya yang memiliki kemampuan untuk menangkal ilmunya yang
mampumenghisap tenaga dan kemampuan lawannya itu. mPu Carang Wregu
terkejut. Ia melihat seleret sinar seakan-akan meluncur dari ujung
pedang yang kehijauhijauan itu. Dengan tangkasny a mPu Carang Wregu
meloncat menghindari patukan sinar itu. Namun sinar itu ternyata
telah menyambar seorang cantriknya sehingga sejenak kemudian telah
terdengar jerit kesakitan. Namun suara itu pun dengan cepat terdiam.
Cantrik itu tidak terkena tepat pada bagian yang berbahaya. Namun
seleret sinar itu hanya menyambar kulit pundaknya.Namun ia
telahmenjadi pingsan. Namun Mahisa Murti yang marah dan
yang telah terluka tidak hanya di satu tempat di tubuhnya,
tetapi sudah di beberapa tempat, tidak mau melepaskan sa sarannya.
Demikian mPu Carang Wregu berdiri tegak, maka serangan kedua Mahisa
Murti telah meluncur dengan derasny a tanpa menghiraukan,
siapakahyang berdiri dibelakangnya. Demikian cepatnya serangan kedua
itu menyambar sa sarannya,maka mPu CarangWregu yang baru saja
tegak itu tidak mampu lagi menghindarinya. Kerisnya yang telah mampu
melukai Mahisa Murti dibeberapa tempat itu tidak mampumenahan
serangan yangmeluncur dengan dahsy atnya itu. Karena itu, maka mPu
Carang Wregu pun telah terdor ong beberapa langkah surut. Ia mencoba
menahan arus serangan itu dengan kerisny a. Tetapi keris itu tidak
berarti apa -apa. Seleret sinar itu justru telah mendorong keris mPu
Carang Wregu dan melemparkannya beberapa langkah dari tubuhnya yang
tcrbanting jatuh. Mahisa Murti termangu-mangu beberapa saat.
Ternyata mPu CarangWregu sudah tidak bergerak sama sekali. Para
Cantrik Bajra Seta yang menyaksikan itu bersorak gemuruh. Sorak itu
ternyata telah sangat berpengaruh bagi para cantrik. Putut yang
bertempur bersama beberapa orang cantrik melawan Mahisa Pukat,
mendengar sorak itu dan mendengar pula bahwamPu CarangWregu telah
terbunuh. Sejenak Putut itu masih melawan. Namun kemudian ia tidak
dapat berbuat lain. Kekuatan tempat mereka bertumpu telah patah,
sehingga karena itu, maka Putut itu harus mengambil tindakan
yang dapat mengurangi korban yang telah jatuh. Karena itu maka
sejenak kemudian telah terdengar isyarat nyaring. Putut itu telah
memerintahkan para cantrik untuk meninggalkan pertempuran. Perintah
dengan isy arat itu tidak perlu diulangi. Para cantrik memang sudah
merasa bahwa mereka tidak akan dapat meneruskan perlawanan tanpa mPu
Carang Wregu. Karena itu, maka mereka pun segera menghambur
meninggalkan arena pertempuran, berdesakkan melalui pintu regol
samping. Namun beberapa orang yang lain dengan tergesa -gesa telah
memanjat tangga panggung. Demikian mereka sampai di atas panggungan,
maka mereka pun segera meloncat keluar, sementara para cantrik Bajra
Seta telah meninggalkan panggungan itu dan bergabung dengan
kawankawannya, bertempurmenahan aruspara peny erang. Beberapa orang
cantrik yang meny erang padepokan itu masih harus bertempur
sambil bergeser mundur. Namun Mahisa Pukat sendiri kemudian
telahmenghentikan seranganserangannya. Anak muda itu tidak sampai
hati untuk menyerang dan apalagimembunuh orang- orang yang
dengan wajah pucat dan ketakutan berusaha untuk meny elamatkan diri.
Karena itu, maka Mahisa Pukat seakan-akan telah memberikan
kesempatan kepada para cantrikyang meny erang padepokannya
untukmelarikan diri. Mahisa Murti yang masih berdiri didekat tubuh
mPu Carang Wreksa yang terbaring tidak beranjak dari tempatnya. Ia
sama sekali tidak memerintahkan untuk mengejar lawanlawan para
cantrik dan padepokan Bajra Seta yang melarikan diri. Namun
para cantrik yang meny erang padepokan itu dibawah pimpinan mPu
Carang Wreksa itu tidak sempat berbuat banyak terhadap kawan- kawan
mereka yang terluka dan apalagi terbunuh di peperangan. Mereka
terpaksa meninggalkan kawan-kawan mereka yang mengerang
kesakitan. Satu dua orang diantaramereka yang terlukamasih
juga berteriak memanggil para cantrik itu agar mereka membawanya
pergi. Tetapi kesempatan untuk melakukannya ternyata tidak ada sama
sekali. Dengan demikian, maka para cantrik yang meny erang
padepokan itu dalam waktu yang singkat telah mengalir keluar dan
hilang dari lingkungan dinding padepokan, kecuali yang terbunuh dan
terluka parah. Mahisa Pukat pun kemudian telah memberikan perintah,
agar. para cantrik itu berkumpul kembali dan membiarkan
lawan-lawanmerekamenghilang. Namun sejenak kemudian Mahisa Pukat itu
pun berkata: “ Ingat. Di halaman depan,masih terjadi pertempuran.”
“Apakah kita harus pergi ke halaman depan,” bertanya beberapa orang
cantrik hampir berbareng. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun
ketika Mahisa Murtimengangguk kecil, maka ia pun berkata lantang:
“Kita akan hadir di halaman depan. Tetapi sebagian dari kalian harus
tinggal. Pintu regol itu rusak dan tidak dapat ditutup kembali.
Adalah tugas mereka yang tertinggal disini untuk menjaganya di
samping menjaga dan merawat para cantrik yang terluka serta yang
telah gugur dipertempuran. Sementara itu, kalian juga harus
mengamati lawan- lawan kalian, serta mengumpulkanmereka yang terluka
parah.” Seorang cantrik yang dianggap tua telah mengatur
kawankawannya. Sebagian dari mereka pergi ke halaman depan,
sementara yang lain tinggal di halaman samping sambil menjaga
regol yang terbuka lebar. “Kedatangan para cantrik itu telahmembuat
prajurit Kediri yang bertempur dihalaman depan menjadi semakin
gelisah. Mereka yang mulai terdesak itu semakin tidak berpengharapan
lagi. Meski pun demikian, namun mereka masih tetap bertahan. Untuk
beberapa saat lamanya mereka masih berusaha untuk menunjukkan
kemampuanmereka. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat-mengamati
keadaan sejenak. Namun kemudian mereka mendapat satu pikiran
yang menurut keduanya akan dapat berarti bagi pertempuran itu.
Karena itu,maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berserta beberapa
orang cantrik justru telah meninggalkan pertempuran yang masih
berlangsung sengit itu dengan meninggalkan sebagian dari para
cantriknya untuk ikut bertempur. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
selain membawa beberapa orang cantrik yang menyertainya juga
mengumpulkan beberapa orang yang lain yang bertugas di
halaman samping padepokan dengap hanya meninggalkan satu dua orang
petugas saja. Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus.
Namun keadaan para prajurit Kediri menjadi semakin sulit. Mereka
semakin terdesak sehingga lingkaran pertempuran pun menjadi semakin
sempit. Mereka tidak lagi mampu bertahan ketika prajurit
Singasarimendesaknya terus. Akhirnya Senapati prajurit Kediri yang
memimpin pa sukan yangmeny erang padepokan itu tidak mempunyai
pilihan lain. Mereka harus menyelamatkan pa sukannya. Jika ia
bertahan menghadapi prajurit Singasari, maka pa sukannya tentu akan
hancur. Senapati itu memang meny esal, bahwa ia terlalu merendahkan
kekuatan padepokan Bajra Seta. Ternyata Singasari tidak tinggal
diam. Bahkan karena itu, maka Senapati itu menyadari, bahwa
Singasari pun memiliki petugas sandi yang mampu mengamati
gerakan-gerakan prajurit Kediri yang menyimpang dari
kebijaksanaan Sri Baginda. Karena itu, maka Senapati itu pun telah
memberikan isy arat kepada pasukannya untuk menarik diri kearah
regol padepokan yang rusak itu. Mereka harus secepatnya
meninggalkan halaman padepokan itu untuk meny elamatkan difi. Dengan
gerakan sepasukan prajurit, maka mereka pun semakin lama menjadi
semakin mendekati regol. Sebagian dari prajurit Kediri itu masih
bertempur untuk menahan desakan maju prajurit Singsari. Namun mereka
sudah mulai bergerak semakin cepatmencari jalan keluar dari halaman
itu. Ketika pasukan itu kemudian sampai ke regol, dan sebagian
diantara mereka sudah siap untuk bergerak, tiba-tiba mereka
terkejut. Ternyata di regol padepokan itu, sekelompok cantrik yang
dipimpin langsung oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah menunggu.
Mereka telah keluar dari regol butulan yang telah dirusak oleh pa
sukan mPu Carang Wregu yang telah terbunuh di pertempuran itu.
Senapati prajurit Kediri itu menjadi kebingungan sesaat. Tetapi
sebagai seorang pemimpin pasukan, maka ia harus segera menemukan
satu keputusan, apa yang harus mereka lakukan.
0oo0dw0oo0
Jilid 099 KARENA ITU, maka Senapati
itu-pun kemudian telah membuat perhitungan. Baginya lebih baik
memecahkan sumbatan regol padepokan itu daripada harus bertahan
terhadap pasukan Singasari. Karena itu,maka ia -pun segera
memerintahkan prajuritnya untuk menembus penjagaan para cantrik di
regol padepokan itu dengan sepenuh kekuatan,meskipun para prajurit
itu juga harus menjaga agar mereka tidak dibantai oleh para prajurit
Singasari. Dengan demikian,maka hentakan kekuatan prajurit Kediri
itu ditujukan kepada para cantrik yang ada di regol padepokan.
Para prajurit Kediri yang setengah putus a sa itu justru
seperti orang yang sedang mabuk. Mereka tidak lagi mampu
berpikir. Yangmereka lakukan seakan-akan sekedarmengikuti perintah
yang diteriakkan oleh pemimpin mereka tanpa memperhitungkan
kemungkinan apa-pun juga. Bahkan para Senapati Kediri yangmenentang
kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri itu telah memberikan pesan
kepada para prajuritnya, bahwa kematian sebenarnya lebih baik
daripada mereka harus ditawan oleh lawan, siapa-pun lawanmereka.
Pengertian itulah yang melandasi sikap mereka, apalagi dalam
keadaan hampir putus asa. Namun karena itulah, maka hentakkan
kekuatan mereka benar-benar mengejutkan. Para cantrik yang ada di
regol yang membendung gerak mundur para prajurit Kediri itu
terkejut. Para prajurit itu sama sekali tidak menghiraukan lagi
senjata yang terjulur. Meskipun mereka juga berusaha menepis
ujungujung senjata, namun mereka lebih mendesak dengan
perisaiperisai atau bahkan dengan dada mereka ujung senjata yang
teracu itu. Dengan demikian, maka sesaat para cantrik itu terdesak.
Mereka memang tidak mengira bahwa mereka akan mendapatkan
seranganmembabi buta seperti itu. Tetapi dengan demikian regol
yang ditutup dengan kekuatan senjata para cantrik itu
seakan-akan menjadi terbuka. Sehingga dengan demikian, maka seperti
bendungan yang koyak,maka air-pun segeramengalir dengan derasny a.
Para prajurit yang berhasil keluar dari regol utama padepokan
itu-pun segeramenghambur berlari bercerai berai. Ketika para cantrik
akan mengejar mereka, Mahisa Murti telah memberikan perintah,
“Jangan hiraukan mereka yang melarikan diri. Tetapi tahan mereka
yang masih ada di dalam regol.” Sebenarnyalah para cantrik itu
mengurungkan niatnya untuk mengejar prajurit Kediri yang melarikan
diri. Namun mereka kembali berusaha untuk menutup regol agar yang
masih ada di dalam tidak dapatmelarikan diri. Dengan demikian, maka
para prajurit itu memang mengalami kesulitan untuk keluar dari
regol. Para cantrik, termasuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidakmau
didorong lagi sehingga para prajurit itu dapat menembus pertahanan
mereka. Meskipun demikian, ternyata satu dua orang prajurit memang
mampu melepa skan diri. Tetapi kemudian regol itu bagaikan telah
tertutupmati, sementara prajurit Singasari-pun telah mendesak mereka
dan berusaha untuk menghancurkan mereka. Sementara itu, Senapati
prajurit Singasari itu masih sempat meneriakkan aba -aba, “Meny
erahlah. Kami masih mempertimbangkan untuk tidakmembunuh para
tawanan.” Para prajurit Kediri memang sudah tidak mempunyai pilihan
lagi. Senapati prajurit Kediri itu-pun benar -benar tidak mempunyai
jalan lain untuk mengakhiri pertempuran itu kecuali menyerah. Jika
pa sukan Kediri itu tidak meny erah, maka mereka akan dapat ditumpas
habis oleh para prajurit Singasari. Karena itu, dengan perhitungan
bahwa beberapa orang di antara mereka telah meloloskan diri sehingga
akan dapat memberikan laporan kepada pimpinan mereka yang
lebih tinggi dari antara para pemimpin Kediri yang tidak mau
tunduk kepada Sri Baginda,maka Senapati dari Kediri itu-pun telah
memerintahkan para prajuritnya untukmeny erah. Dengan demikian maka
pertempuran-pun telah terhenti. Kedua belah pihak telah menahan diri
untuk tidak menggerakkan senjata mereka. Namun Senapati dari
Singasari itu-pun memerintahkan mereka yang meny erah
untukmeletakkan senjata. Tidak ada pilihan lain. Para prajurit
Kediri itu -pun telah meletakkan senjatamereka. Dengan demikian,
maka para prajurit Kediri itu -pun telah menjadi tawanan Singasari.
Mereka harus tunduk kepada segala perintah yang diberikan oleh
Senapati dari Singasari. Sementara senjata-senjata mereka telah
dikumpulkan di salah satu ruangan di dalam padepokan itu. Dengan
peny erahan itu, maka pertempuran di padepokan itu-pun telah
selesai. Para tawanan telah digiring dibawa ke pendapa bangunan
induk padepokan Bajra Seta diawasi oleh para prajurit Singasari.
Sementara itu beberapa orang cantrik telah menjadi sibuk
mengumpulkan mereka yang terluka dan mereka yang gugur di
peperangan. Demikian pula para prajurit Singasari. Sedang para
tawanan-pun telah diperintahkan untuk mengumpulkan kawan-kawan
mereka yang terbunuh dan yang luka sehingga tidakmampu
untuk bangkit dan berjalan sendiri. Namun dalam pada itu, tanpa
diduga oleh mereka yang ada di padepokan Bajra Seta, ternyata
beberapa saat kemudian, telah datang beberapa orang anak muda sambil
membawa beberapa orang prajurit yang dapat mereka tangkap selagi
para prajurit itu melarikan diri. Demikian pula beberapa orang
cantrik yang semula dipimpin oleh Empu Carang Wregu. Mereka datang t
idak pada waktu yang bersamaan, tetapi mereka datang berurutan.
Senapati dari Singasari dan para prajuritnya merasa heran bahwa hal
seperti itu telah terjadi. Demikian pula Senapati Kediri yang
tertawan. Seperti juga para prajurit Kediri yang lain mereka menjadi
berdebar-debar. Jika saja tidak ada seorang-pun di antara mereka
yang lepa s, maka tidak ada orang yang dapat memberikan laporan
tentang keadaan mereka. Ketika anak-anak muda itu diterima oleh
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para perwira dari Singasari, maka
mereka mengatakan, bahwa mereka terlambat menyadari, bahwa padepokan
Bajra Seta telah diserang. “Meskipun demikian,” berkata seorang di
antara anak-anak muda itu, “Kami tetap mempersiapkan diri
untukmenghadapi segala kemungkinan. Dengan hati-hati kami berusaha
mendekati padepokan ini. Kami tidak tahu keseimbangan kekuatan
antara padepokan Bajra Seta dan para peny erangnya. Namun kami
tidakmendengar isyarat apa-pun dari padepokan seandainya padepokan
ini memerlukan bantuan. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja kami
melihat beberapa orangmelarikan diri dari padepokan.” “Apakah kalian
dapat menangkap semua orang?” bertanya Senapati dari Singasari.
“Tidak. Tetapi sebagian besar dari mereka dapat kami tangkap,” jawab
anakmuda itu. Senapati dari Singasari itu menarik nafas dalam-dalam.
Mereka yang lolos itu tentu akan dapat menyampaikan laporan kepada
para pemimpin di Kediri. Tetapi apa boleh buat. Memang sulit untuk
dapat menangkap semua orang tanpa seorang-pun yang meloloskan diri.
Mahisa Murti-pun kemudian telah mengucapkan terima kasih kepada
anak-anak muda itu. Dengan nada dalam ia berkata, “Telah datang
sepasukan prajurit dari Singasari, sehingga kami kali ini tidakminta
bantuan kalian.” Seorang di antara para pemimpin dari anak-anakmuda
itu kemudian berkata, “Sebenarnya kami telah bersiap untuk menyerbu
masuk ke dalam padepokan. Kami menjadi cemas bahwa lawan datang
terlalu banyak, sehingga padepokan Bajra Seta t idak
sempatmembunyikan isy arat.” Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Kami
mempunyai beberapa kentongan. Jika kamimemerlukan,maka kami tentu
akan dapat membunyikannya. Setidak-tidaknya satu di antara beberapa
kentonganyang tersebar dibeberapa tempat.” “Syukurlah,” sahut
anak muda itu, “Apalagi sepa sukan prajurit dari Singasari telah ada
di sini. Tetapi darimana Singasari mengetahui mengetahui bahwa akan
datang serangan hari ini?” “Sebenarnya kami tidak tahu saat yang
tepat. Kami mendapat keterangan dari seseorang, sementara petugas
sandi kami juga mendapatkan keterangan, sehingga
keteranganketerangan itu dapat kami padukan. Kami berkesimpulan
bahwa kami harus datang secepatkan ke padepokan ini. Ternyata kami
datang tepat pada waktunya, sehingga kami hampir saja terlambat.”
jawab Senapati prajurit Singasari itu. “Jika para prajurit Singasari
terlambat, maka penghuni padepokan ini dapat membunyikan isy arat.
Kami, anak-anak muda dari padukuhan di sekitar padepokan ini tentu
akan segeramembantu.” desis anakmuda itu. “Terima kasih,” sahut
Mahisa Murti. Namun dalam pada itu, Senapati dari Singasari itu
bertanya, “Apakah kalian juga memiliki pengalaman bertempur?” “Ya.
Kami beberapa kali telah ikut bertempur. Padepokan ini seakan-akan
merupakan bagian dari Kabuyutan kami. Apalagi kami telah
banyakmenyadap ilmu dari padepokan ini. Bukan saja latihan-latihan
oleh kanuragan, tetapi juga ilmu yang lain. Kami dapat meningkatkan
hasil sawah kami, pategalan kami serta petunjuk tentang perternakan
dan membuat kolam-kolam ikan,” jawab anak muda itu, “Karena itu,maka
kami dan padepokan Bajra Seta memang tidak dapat dipisahkan lagi.
Apalagi padepokan ini-pun telah. beberapa kali menolong meny
elamatkan padukuhan-padukuhan di Kabuyutan kami.” jawab anakmuda
itu. “Lalu apalagi,” desis Mahisa Pukat sambil ter senyum. Tetapi
anak muda itu berkata, “Aku berkata sebenarnya. Singkatnya, kami
berhutang budi terhadap padepokan ini. Dan hutang itu semakin lama
menjadi semakin besar sehingga tidak akanmungkin terbayar lagi.”
Senapati dari Singasari itu mengangguk-angguk. Ia percaya kepada
anak muda itu. Terbukti mereka telah datang dalam kelompok
yang cukup besar. Jika anak-anak muda itu tidak merasa
berhutang budi, maka mereka tidak akan bersedia untuk melakukan
tindakan yang dapat mengancam jiwa mereka sebagaimana
peperanganyang baru saja terjadi. Namun dengan demikian para
prajurit Singsari melihat, bahwa sebenarnyalah padepokan Bajra Seta
telah mampu menggalang kekuatan yang cukup besar. Jika mereka
sempat mengumpulkan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan di
sekeliling padepokan mereka dalam waktu yang cukup, maka akan
dapat disusun satu kekuatanyang sangat besar. Beberapa saat
kemudian, maka anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan itu minta
diri untuk menarik sekelompok pasukannya kembali ke
padukuhan-padukuhan mereka masing-masing. “Hanya beberapa padukuhan
saja yang sempat ikut serta ber sama kami,” berkata salah seorang di
antara para pemimpin mereka. “Terima kasih ataskesediaan kalian
membantu kami,” desis Mahisa Murti. Sepeninggal anak-anak muda itu,
maka para prajurit Singasari telah mengumpulkan para tawanan yang
baru saja diserahkan oleh anak-anakmuda itu. Hari itu juga,maka para
cantrik dari padepokan Barja Seta dan para prajurit yang telah
gugur, serta para peny erang yang telah terbunuh, telah
diselenggarakan sebagaimana seharusnya. Meskipun korban terhitung
kecil, tetapi padepokan Bajra Seta benar-benar telah berkabung untuk
yang kesekian kalinya. Memang setiap kali pertanyaan telah mencuat
dari dasar hati para penghuni padepokan itu, kenapa setiap kali
mereka harusmempertahankan diri. Namun ternyata bahwa persoalan yang
kadang -kadang tidak diduga sebelumnya telah mencengkam padepokan
itu, sehingga akibatnya akan dapat berkepanjangan. Para prajurit
Singasari itu tidak tergesa-gesa meninggalkan padepokan Bajra Seta.
Mereka masih harus mengatur, apa yang akan mereka lakukan dengan
tawanan-tawanan itu. Pada da sarnya para tawanan, terutama para
prajurit Kediri, memang harus dibawa ke Singasari. Tetapi bagaimana
dengan mereka yang terluka, yang tidak mampu melakukan
perjalananyang memang agak panjang. “Biarlah untuk sementara mereka
ada di sini,” berkata Mahisa Murti. Lalu katanya pula, “Kapan-kapan
mereka dapat dijemput. Dalam waktu dua tiga pekan, mereka tentu
sudah menjadi lebih baik, sehingga akan dapat melakukan perjalan ke
Singasari. Namun jika mereka dibiarkan lebih lama lagi, kami juga
tidak berkeberatan.” “Apakah mereka tidak berbahaya?” bertanya
Senapati prajurit Singasari. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak.
Para tawanan itu terdiri dari para prajurit. Namun mereka sama
sekali sudah tidak bersenjata. Apalagimereka telah terluka. Karena
itu, maka Mahisa Murti-pun berkata, “Kami akan berbuat
sebaik-baiknya untuk menjaga mereka agar mereka tidak menjadi
berbahaya. Kami dapat menempatkan mereka setelah mereka menjadi agak
baik, di tempatyang terpisah.” Senapati itu mengangguk-angguk.
Katanya, “Baiklah. Jika demikian kami akan membawa para tawanan yang
mampu menempuh perjalanan ke Singasari. Selebihnya, aku titipkan di
sini. Aku dapat meninggalkan sekelompok prajurit untuk membantu
mengawasi para tawanan, meskipun makan dan minumnya akanmenjadi
beban padepokan Bajra Seta.” Mahisa Murti tertawa. Katanya,
“Seberapa banyaknya makan dan minum bagi sekelompok kecil prajurit.”
Senapati itu-pun tertawa pula. Dengan demikian makamereka sepakat,
para tawananyang terluka akan ditinggalkan di padepokan itu.
Sekelompok prajurit juga akan ditinggalkan untukmembantumenjaga para
tawanan itu. Meskipun mereka terluka, maka para prajurit Kediri itu
memerlukan pengawasan dari para prajurit pula yang sedikit banyak
akan dapat mengenali tingkah laku mereka. Prajurit Singasari itu
setelah bermalam tiga malam di padepokan setelah pertempuran itu
berlangsung, telah meninggalkan padepokan itu denganmembawa para
tawanan, sebagaimana pernah mereka lakukan. Sebuah iring-iringan
yang berjalan lamban, karena para tawanan itu harus berjalan
kakimeskipun para prajurit itu berkuda. Dalam pada itu, para
prajurit yang tinggal, telah mengatur diri bersama-sama dengan
para cantrikmenjaga para tawanan yang ditinggalkan oleh para
prajurit Singasari. Para prajurit itu dalam waktu sebulan akan
kembali mengambil para tawanan yang diperkirakan sudah menjadi
semakin baik dan. bahkan sudah sembuh dari luka-luka mereka. Namun,
selain membantu menjaga para tawanan, maka pemimpin sekelompok
prajurit yang ditinggalkan itu telah menganjurkan, agar padepokan
Bajra Seta dapat membentuk satu kesatuan yang terdiri dari
anak-anak muda di sekitar padepokan itu. “Susunan kesatuan itu
dapatmeniru susunan di lingkungan keprajuritan,” berkata pemimpin
kelompok itu. Lalu katanya pula, “Tetapi hanya susunannya saja.
Ada-pun ikatan kewajibannya tentu saja tidak seperti di lingkungan
keprajuritan. Segalanya dapat dibuat jauh lebih longgar, sehingga
tidak mengganggu kerja dan kehidupan mereka sehari-hari. Namun
dengan ikatan yang longgar itu, segala sesuatunya akan dapat
dilakukan dengan lancar. Khususnya jika terjadi sesuatu, baik atas
padepokan Bajra Seta,mau-pun atas padukuhan-padukuhan di sekitar
padepokan ini, maka kesiagaan itu tentu akan sangatmembantu.” Mahisa
Murti mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat bertanya, “Apakah
maksud Ki Sanak disusun tataran kesatuan di padukuhan-padukuhan?”
“Ya. Disetiap padukuhan terdapat seorang pimpinan yang
bertanggung jawab. Kemudian seluruh kekuatan yang ada
dipadukuhan itu dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil
dengan tataran tugas dan kewajiban yang berbeda. Anak-anak muda di
kumpulkan dalam satu kesatuan. Orangorang yang sudah berkeluarga
tetapi masih muda dan mampu untuk turun ke arena jika diperlukan,
dikelompokkan tersendiri. Kemudian orang-orang yang lebih tua,
yang hanya dipersilahkan untuk tampil dalam keadaan yang
sangat terpaksa. Ma sing-masing dibagi dalam kelompok-kelompok kecil
yang dapat digerakkan di saat -saat yang mendesak,” berkata
pemimpin sekelompok prajurit Singasari itu. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat mengangguk-angguk. “Mereka memang sependapat dengan pemimpin
sekelompok prajurit itu. Tetapi segala sesuatunya juga tergantung
pada anak-anak muda di padukuhan-padukuhan. Bahkan segala sesuatunya
itu harus mendapat per setujuan dari Ki Buyut sendiri.” “Tetapi kami
dapatmencobanya,” berkata Mahisa Pukat. “Ki Buyut seharusnya tidak
akan menolak. Sebab, tatanan itu akan menguntungkan Kabuyutan pula.
Jika terjadi sesuatu di satu padukuhan,maka dengan isy arat
tertentu, padukuhanpadukuhan yang lain akan dengan cepat dapat
membantu. Anak-anakmuda dikirimkan kepadukuhan yang memerlukan,
sementara orang-orang muda dan yang lebih tua dapat
berjaga-jaga di padukuhan masing -masing. Dengan demikian, agaknya
pengamanan Kabuyutan akan dapatmenjadi semakin rancak.” berkata
pemimpin kelompok itu. Lalu katanya, “Sebenarnyalah, bahwa kali ini
kebetulan prajurit Singasari mendapat petunjuk datangnya serangan
atas padepokan ini. Jika tidak, maka dengan ikatan yang disu
sun di setiap padukuhan,maka mereka akan segera dapatmembantu.”
“Ya,” Mahisa Murti-pun mengangguk-angguk pula, “Jumlahnya-pun tentu
akan memadai.” ia berhenti sejenak, lalu katanya, “Tetapi hanya
beberapa padukuhan terdekat sa jalah yang telah banyak
mengirimkan anak-anak mudanya belajar di padepokan ini. Antara lain
dalam olah kanuragan.” “Bukankah padepokan ini dapat menawarkan
kepada Ki Buyut untuk mengirimkan anak-anak muda dari
padukuhanpadukuhan yang lain? Meskipun tidak bersama-sama,
tetapi sekelompok-sekelompok kecil bergantian tentu sudah cukup
baik,” berkata pemimpin sekelompok prajurit itu. Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud pimpinan prajurit Singasari
itu. Jika usaha untuk menyusun tataran kesatuan seperti itu
berhasil, maka padepokan itu serta seluruh Kabuyutan akan menjadi
satu keutuhan kekuatan yang cukup memadai. Bukan saja untuk
bertempur melawan kekuatan-kekuatan yang ingin menghancurkan
padepokan itu, tetapi juga tangan-tangan yang jahat yang ingin
merambah seisi Kabuyutan. Mungkin gerombolangerombolan penjahat yang
membidik sa saran di dalam lingkungan Kabuyutan itu. Bahkan sampai
ke padukuhan yang paling ujung sekali-pun. Ternyata Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat benar-benar ingin mencoba sebagaimana dianjurkan oleh
pemimpin prajurit Singasari yang ditinggalkan di padepokan
itu. Di harihari berikutnya maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
menghubungi Ki Buyut untukmenyatakan rencananya. Seperti yang diduga
oleh pemimpin sekelompok prajurit yang tinggal di padepokan itu, Ki
Buyut menyambut rencana itu dengan senang hati. “Aku meny esali
tingkah laku Buyut Bumiagara itu,” berkata Ki Buyut ketika ia
bertemu dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Seharusnya ia berbuat
lebih baik. Tetapi ia memilih jalanyang kasar itu.” “Kami-pun
sangat menyesal Ki Buy ut,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi apaboleh
buat.” “Ya. Kami dapat mengerti, kenapa angger berdua mengambil
jalan itu, karenamemang tidak ada jalan lain yang dapat kalian
tempuh,” sahut Ki Buyut. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya
menganggukangguk saja. Namun sementara itu, Ki Buy ut telah
menyerahkan rencana yang diajukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat itu untuk dilaksanakan. “Kami akan membentuk sejauh dapat kami
lakukan, karena hal itu akan langsungmenyangkut kedudukan Kabuyutan
ini.” berkata Ki Buyut kemudian. Untuk melaksanakan rencana itu,
maka atas perintah Ki Buyut, para Bekel-pun telah berusaha
untukmembantu sejauh dapatmereka lakukan di
padukuhanmerekamasingmasing. Sementara itu Ki Buyut Bumiagara
menjadi semakin ber sakit hati atas kegagalan yang dialami oleh para
prajurit Kediri dan para cantrik yang dipimpin oleh Empu Carang
Wregu. Bahkan Ki Buy ut Bumiagara itu telah mendendam gurunya pula
yang tidak bersedia membantunya, meskipun gurunyalahyang
telahmenghubungi Singasari. Namun untuk sementara Ki Buyut justru
harus menerima keadaan itu. Ia sudah merasa beruntung, bahwa ia
termasuk salah satu dari antara mereka yang jumlahnya hanya
sedikit, yang berhasil melarikan diri dan tidak tertangkap oleh
anakanak muda yang berusaha untukmembantu padepokan Bajra
Seta. Namun dengan demikian, ia percaya, bahwa kekuatan padepokan
Bajra Seta memang cukup besar. Tanpa para prajurit Singasari-pun
Bajra Seta akan mampu mengerahkan anak-anak muda dari
padukuhan-padukuhan di sekitarnya sebagaimana dikatakan oleh
gurunya. Bahkan Ki Buyut dari Bumiagara itu kemudian selalu
dibayangi oleh kecemasan dan ketakutan. Jika Bajra Seta ingin
membalas dendam, maka mereka akan dapatmeny erang dan menghancurkan
Kabuyutannya. Bukan saja dari padepokan Bajra Seta, tetapi juga
prajuritprajurit Kediri yang dapat saja merasa disurukkan ke
dalam perapian. Bahkan juga padepokan yang dipimpin oleh Empu
CarangWregu. Sementara itu saudara-saudara seperguruannya seakanakan
telah menghilang dan tidak lagi dapat ditemuinya. Apalagi ketika Ki
Buyut Bumiagara mendengar laporan, bahwa padepokan Bajra Seta tengah
membenahi bukan saja kekuatan yang ada di padepokannya, tetapi
kekuatan di seluruh Kabuyutan. Para pengawal telah disusun dalam
kesatuan-kesatuanyang tertib dengan tataran yang mirip
dengan susunan tataran kesatuan dilingkungan keprajuritan. Tetapi
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah melupakan tingkah laku Ki
Buyut dari Bumiagara. Yang dilakukan sebagaimana disarankan oleh
pemimpin sekelompok prajurit Singasari yang tinggal di padepokannya,
sekedar untuk berjaga-jaga. Namun dengan demikian, setiap hari
kelompok-kelompok kecil dari beberapa padukuhanyang agak jauh
dari padepokan itu telah datang pula untuk mendapat tuntutan dalam
olah kanuragan. Namun dalam kenyataannya, mereka tidak sekedar
memperoleh tuntunan dibidang olah kanuragan, tetapi juga di
bidang-bidang yang lain dari segi-segi kehidupan, sebagaimana
anak-anak muda dari padepokanpadepokanyang terdekat. Tetapi tidak
semuanya dapat di tangani oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi
para cantrik yang tertua-pun telah membantuinya. Bahkan Mahisa
Semu dan Wantilan telah diturunkan pula untuk memberikan
latihan-latihan kepada anak-anakmuda itu. Sementara itu Mahisa
Amping-pun telah semakin rajin menempa diri. Anak itu menjadi
semakin merasa bahwa ia tidak dapat lagi semata -mata menggantungkan
diri kepada orang lain untukmengatur waktu dan kesempatan bagi
dirinya sendiri. Apalagi pada saat-saat Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatmempunyai banyak kesibukan. Dalam setiap kesempatan
dipergunakannya untuk berlatih di dalam sanggar. Bahkan
kadang-kadang Mahisa Amping tidak mengenal waktu tenggelam dalam
latihan-latihan yang berat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru
menjadi cemas melihat anak itu. Keduanya justru harus menghambat,
agar Mahisa Ampingmemperhitungkan kemampuanwadagnya. Set iap kali
keduanya memberikan petunjuk-petunjuk Mahisa Amping selalu
mengiyakannya. Ia -pun nampak ber sungguh-sungguh memperhatikan
petunjuk itu. Tetapi jika ia sudah berada di dalam sanggar,maka ia
sudah lupa segalagalanya. Apalagi jika ia berusaha untuk
meningkatkan kemampuan ilmu pedangnya. Ia -pun telah berlatih khusus
dengan luwuknya. Bukan saja dengan pisau belati di tangan. Namun
Mahisa Amping memiliki kemampuan yang tinggi untukmeny erang dengan
pisau belati dari jarak tertentu. Anak itu bahkan telah berusaha
mengembangkan kemampuannya dengan pisau-pisau yang lebih kecil.
Bahkan pisau apa saja. Tangannya menjadi sangat terampil untuk
melontarkannya. Demikian ia meraba sebilah pisau,maka iapun langsung
dapat mengenali keseimbangannya. Jika ia melontarkannya kesasaran,
maka pisau itu tentu akan hinggap. Apalagi pisau belatinya sendiri.
Pisau belati yang dikenalnya dengan baik. Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat memang berharap agar anak itu benar-benar akan menjadi anak
yang bukan saja memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, tetapi
memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Namun juga bertanggung
jawab atas kelebihannya itu. Anak itu selalu menyadari akan dirinya
danm kehadirannya sebagai titah Yang Maha Agung. Sementara Mahisa
Ampingmeningkatkan kemampuannya, maka setiap hari telah datang ke
padokan itu kelompokkelompok kecil dari padukuhan-padukuhan
yang agak jauh. dari padepokan itu. Para Bekel telah
mengirimkan mereka sesuai dengan perintah Ki Buyut yang ingin
membuat rakyatnya lebih baik dari sebelumnya. Bukan saja dalam olah
kanuragan, tetapi juga dibidang -bidang lainnya yang menyangkut
segi-segi kehidupan. Termasuk pengetahuan dan ketrampilan yang
langsung dapat mereka trapkan dalam kehidupanmereka sehari-hari.
Dalam pada itu, kegiatan itu benar-benar telah mencemaskan Ki Buyut
Bumiagara. Beberapa orang bebahu telah memberikan laporan kepadanya,
bahwa padepokan Bajra Seta dan seisi Kabuyutan telah mempersiapkan
diri mereka. Bajra Seta tentu akan segera datang untukmembalas
dendam denganmembawa kekuatanyang sangat besar. “Apakah kalian
melihat tanda-tanda itu?” bertanya Ki Buyut. “Tentu,” jawab bebahu
itu. “Aku sendiri telah memasuki lingkungan Kabuyutan itu. Kegiatan
anak-anak mudanya semakin harimenjadi semakin meningkat.” Ki Buyut
Bumiagara memangmenjadi semakin ketakutan. Set iap kali ia mendapat
laporan tentang padepokan Bajra Seta, maka jantungnya serasa akan
terlepa s. Apalagi ketika pada suatu hari datang dua orang prajurit
Kediri. Rasa -rasanya darahnya sudah tidak mengalir lagi di
tubuhnya. “Ki Buy ut tidak usaha menjadi ketakutan,” berkata salah
seorang di antara kedua prajurit itu, “Aku hanya memberitahukan
bahwa hampir semua prajurit yang kita kirimkan ke padepokan Bajra
Seta telah tertawan. Adalah satu keuntungan bahwa Ki Buyut mampu
meloloskan diri dari tangan para prajurit Singasari dan para cantrik
dari padepokan Bajra Seta.” Mulut Ki Buyut Bumiagara bagaikan telah
membeku. Sementara prajurit itu berkata, “Kami tidak akan
mendendammu. Kami hanya memberitahukan bahwa kekuatan kami telah
dihancurkan mutlak di padepokan Bajra Seta. Kekuatanyang
sebenarnya sangat kami butuhkan.” “Sama sekali bukan niatku untuk
menyurukkan kekuatan Kediri itu kedalam kesulitan. Aku benar-benar
tidak tahu perbandingan kekuatan antara padepokan Bajra Seta dan
kekuatan yang telah kami himpun,” berkata Ki Buyut Bumiagara dengan
suara gemetar. “Kami juga tidak menuduhmu melakukannya. Kami-pun
merasa bahwa kami kurang berhati-hati sehingga kami datang memasuki
sarang ular berbisa,” berkata prajurit itu, “Tetapi kami-pun
menyadari, bahwa jika kalian tidak menghendaki kami melakukannya,
maka kami tidak akan datang ke padepokan Bajra Seta.” “Tetapi, kami
hanya sekedar minta tolong. Bukankah kita mempunyai kepentingan
bersama?” suara Ki Buy ut itu menjadi semakin gegap. “Kepentingan
bersama?” prajurit itu tersenyum. Namun senyumnya itu rasa -rasanya
telah menusuk ke dalam jantung Ki Buyut Bumiagara. Tetapi kedua
orang prajurit itu tidak lama berada di Bumiagara. Keduanya-pun
kemudian minta diri. Seorang di antara mereka berkata, “Jangan
dipikirkan lagi apa yang sudah terjadi. Tetapi pikirkanlah apa
yang akan terjadi. Hatihatilahmengambil sikap.” Wajah Ki Buyut
menjadi pucat. Tetapi ia tidak dapat menjawab apa-pun juga selain
berdiri termangu -mangu sambil memandang kedua orang prajurit
yang melangkah pergi itu. Namun sebenarnyalah, jantung Ki Buy
ut Bumiagara seakan-akan telah terhenti berdenyut ketika seorang di
antara keduanya berpaling sambil terseny um kepadanya. Ki Buyut
Bumiagara tidak tahu pasti, apakah maksud para prajurit itu datang
kepadanya. Apakah benar mereka sekedar ingin memberitahukan
kekalahan mereka atau justru salah satu langkah y g akan
dapatmempunyai akibat buruk baginya dikemudian hari. Namun,
kehadiran prajurit -prajurit Kediri itu dapat membuat Ki Buyut
semakin gelisah, sehingga untuk beberapa malam Ki Buyut itu selalu
dihantui oleh mimpi buruk. Apalagi ketika beberapa hari kemudian,
telah datang pula dua orang prajurit Kediri. Tetapi bukan dua orang
yang pernah datang sebelumnya. Dengan jantung yang berdegupan
Ki Buy ut telah menemui kedua orang prajurit itu. Seperti kedua
orang prajurit yang datang sebelumnya keduanya nampak ramah dan
berwajah cerah. Beberapa saat setelah mereka berbincang-pun tidak
ada tanda-tanda bahwa kedua orang prajurit itu akan mengambil satu
sikap yang dapat mengguncang ketenangan hidup di Kabuyutan
Bumiagara. Namun beberapa saat kemudian, maka salah seorang dari
antara kedua orang prajurit itu berkata, “Ki Buyut. Kedatanganku
kemari, benar-benar tidak ingin mengingatkan apa yang pernah
terjadi. Kegagalan Ki Buy ut menangkap seorang cantrik dari Bajra
Seta di tengah-tengah Kabuyutan ini sendiri, serta kegagalan pa
sukan kami yang pergi ke padepokan Bajra Seta. Namun yang ingin kami
sampaikan adalah justru rencana kami selanjutnya. Tentu Ki Buyut
Bumiagara tahu, bahwa kami, sebagian prajurit Kediri tidak
sependapat dengan sikap Sri Maharaja di Kediri dalam hubungannya
dengan Singasari. Karena itu, maka kami berpendapat, bahwa pada
suatu saat, yang akan terjadi adalah perang antara Kediri dan
Singasari. Namun sebelum perang itu terjadi,maka di Kediri sendiri
akan terjadi pergolakan yang berat. Mungkin masih akan terjadi para
pemimpin Kediri justru berpihak kepada Singasari.” Ki Buy ut hanya
mengangguk-angguk saja, betapa-pun jantungnyamasih saja berdegup
keras. “Nah Ki Buyut,” berkata salah seorang prajurit itu, “Pada
saat itulah kamimemerlukan bantuan Ki Buyut Bumiagara.” “Bantuan apa
yang Ki Sanak maksudkan?” bertanya Ki Buyut dengan suara sendat.
“Tentu bukan bantuan prajurit, karena anak-anak padukuhan ini tentu
belum memiliki ketrampilanyang cukup. Meskipun demikian pada
saat yang paling gawat, kami memang membutuhkan banyak tenaga. Bukan
saja untuk berperang, tetapi untuk membantu peperangan. Misalnya
membawa bahan makanan,membawa senjata cadangan, obatobatan dan
kepentingan-kepentingan perang yang lain. Kawan-kawan kami
yang dapat membantu melakukan hal itu sudah banyakyang
terbunuh di padepokan Bajra Seta. Karena itu, apabila diperlukan,
kami terpaksa minta bantuan Ki Buyut. Jika kelak terjadi perang
antara Kediri dan Singasari, maka kami akan datang untuk minta
beberapa puluh anakanak muda Bumiagara untuk bersama-sama dengan
kami berjuang demi tegaknyawibawa Kediri.” “Tetapi Bumiagara bukan
tlatah Kediri,” jawab Ki Buyut dengan ragu -ragu. Kedua prajurit itu
tertawa. Yang seorang lagi berkata, “Apa peduliku, apakah Bumiagara
termasuk Kediri atau bukan? Bagi kami, apakah anak-anakmuda
Bumiagara itu anak-anak muda Kediri atau Singasari, bukanmenjadi
soal. Yangmenjadi soal bagi kami adalah, bahwa kami kekurangan
tenaga. Bahkan seandainya Bumiagara ini bukan termasuk wilayah
Kediri, namun kami akan menganggap daerah ini tetap daerah Kediri.”
prajurit itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Maksudku, jika daerah
ini daerah Kediri, maka kita akan bersama-sama berjuang. Selain
tenaga, Bumiagara tentu dapat membantu bahan makanan yang
banyaknya akan kami tentukan kemudian. Kabuyutan ini harus meny
erahkan berapa pedati beras dan jagung kepada kami. Namun jika
kamimenganggap bahwa Bumiagara adalah daerah Singasari, maka sudah
tentu kami akan ber sikap bermusuhan. Bumiagara akan kami jadikan
karang abang. Kami dapat membunuh semua isinya, karena kami
bermusuhan. Karena dapatmerampas emas dan harta benda yang berharga
yang ada di padukuhan ini. Dan apa saja yang ingin kami lakukan akan
dapat kami lakukan di daerah musuh kami. Nah, terserah kepada Ki
Buyut, Bumiagara akan berdiri di mana.” Ki Buyut benar-benar menjadi
bingung. Kedua-duanya bukan pilihan yang menarik. Ia memang menjadi
kecewa mengingat akibatyang sangat buruk itu dari satu rencana yang
justru gagal sepenuhnya. Tetapi Ki Buyut tidak berani menentang.
Jika Bumiagara menentang,maka akibatnya tentu sebagaimana dikatakan
oleh prajurit itu. Bumiagara akan menjadi karang abang. Api akan
menari-nari di seluruh Kabuyutan, sementara darah akan berceceran di
jalan- jalan dan di halaman rumah. Maut akan mencengkam seisi
Kabuyutan ini. Salah seorang prajurit yang melihat Ki Buyut
menjadi bingung berkata, “Kami bukannya datang untuk minta
persetujuan. Tetapi kami datang untuk memberitahukan keputusan kami
yang harus dan pa sti kami laksanakan. Kami berharap bahwa
Kabuyutan Bumiagara akan segera menyesuaikan diri, sehingga pada
saatnya seisi Kabuyutan ini tidak akan terkejut lagi.” Ki Buyut
benar -benar kehilangan nalar. Untuk beberapa saat ia justru
terdiam. Tetapi kedua prajurit itu tidak lama tinggal di Kabuyutan
Bumiagara. Dengan sikap yang tetap ramah dan manis
keduanya-pun kemudian minta diri. Sambil membungkuk hormat seorang
di antaranya berkata, “Maaf Ki Buy ut. Jangan salah mengartikan
kata-kata kami. Pada saatnya kami akan datang menjemput anak-anak
muda itu. Selebihnya, kami akan mengambil beras dan jagung sesuai
dengan kebutuhan kami.” Sebelum Ki Buy ut menjawab, prajurit yang
lain-pun berkata, “Aku mengucapkan terima kasih yang
sebesarbesarnya atas kerja sama yang selama ini telah kami
lakukan. Mudah-mudahan pada masa -masa mendatang, kerja sama itu
akan menjadi semakin akrab.” Ki Buyut mulutnya bagaikan membeku.
Tetapi kedua prajurit itu nampaknya memang tidak menunggu jawaban.
Mereka -pun segera meninggalkan Ki Buyut yang berdiri
mematung. Sepeninggal kedua orang prajurit itu, Ki Buyutmembanting
dirinya, duduk di amben bambu di serambi rumahnya. Kepalanya serasa
terbakar oleh per soalan yang sangat menyakitkan itu. Apalagi
tiba-tiba saja Ki Buyut itu teringat, padepokan Bajra Seta-pun telah
meny iapkan pasukan yang besar untuk menghancurkan Kabuyutan
Bumiagara. Mereka datang untuk membalas serangan pa sukan Bumiagara
yang terdiri dari para prajurit Kediri dan padepokan yang dipimpin
oleh Empu Carang Wregu yang justru terbunuh di padepokan Bajra
Seta. Ternyata Ki Buy ut tidak mampu mengatasinya sendiri. Ia - pun
kemudian memanggil para bebahu dan menyampaikan gejolak perasaannya
itu kepada mereka. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Membunuh
diri? Atau apa?” suara Ki Buy ut gemetar oleh getar di dalam
dadanya. Para bebahu itu-pun akhirnya merasa kasihan melihat keadaan
Ki Buyut yang sangat meny esal atas tindakantindakannya. Karena itu,
salah seorang di antara para bebahu itu berkata, “Sebaiknya
kitamengurangi lawan. Kita tidak akan dapat berdiri di antara dua
kekuatan yang besar. Prajuritprajurit Kediri yang memberontak
itu dan yang lain Padepokan Bajra Seta.” “Maksudmu?” bertanya Ki
Buyut. “Nampaknya lebih baik kita meredam permusuhan dengan
Padepokan Bajra Seta,” jawab bebahu itu. “Caranya?” desak Ki Buyut.
“Kita datang menemui pimpinan Padepokan Bajra Seta. Kita mengaku ber
salah dan minta maaf. Permusuhan itu kita anggap saja sudah
berlalu,” berkata bebahu itu. Wajah Ki Buyut menjadi tegang. Dengan
nada tinggi ia bertanya, “Jadi aku haruspergi ke Padepokan Bajra
Seta?” “Ya. Sebaiknya Ki Buy ut menemui pemimpin Padepokan Bajra
Seta yang masih muda itu. Ki Buyut dengan ikhlas harus minta maaf
dan menghapuskan permusuhan. Dengan demikian, kita tidak harus
bersiap-siapmenghadapi dua lawan yang sama-sama sulit untuk
dihadapi. Namun setidaktidaknya kita dapat memusatkan perhatian kita
ke satu arah sa ja,” berkata bebahu itu. Sementara itu bebahu
yang lain berkata, “Aku sependapat. Bahkan aku berharap Ki
Buyut dengan terus terang mengatakan ancaman yang bakal datang dari
prajurit-prajurit Kediri yang memberontak itu, sehingga jika kita
melakukan persiapan-persiapan, Padepokan Bajra Seta tidak menjadi
salah paham.” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Sementara bebahu
yang lain lagi berkata, “Tidak ada cara lain untuk menebus kesalahan
itu. Ki Buyut tidak dapat sekedar meny esal atau kecewa atau
berbagaimacam perasaan yang lain, namun tidak berbuat apa-apa.
Karena itu, permintaan maaf kepada Padepokan Bajra Seta itumerupakan
salah satu ungkapan dari peny esalan itu.” Ki Buyut memang tidak
mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka ia-pun berkata, “Baiklah.
Jika memang tidak ada pilihan lain. Aku akan datang menemui para
pemimpin padepokan itu. Aku akan minta maaf dan berusaha untuk
menghapuskan permusuhan. Mudah-mudahan para pemimpin Padepokan Bajra
Seta ber sedia. Jika tidak, maka harga diriku akan semakin
terinjak-injak.” “Apa artinya harga diri Ki Buyut dibandingkan
dengan kepentingan seluruh Kabuyutan,” berkata bebahu yang mulamula
minta agar Ki Buyut datang ke Padepokan Bajra Seta, “Jika pada
saatnya Kabuyutan ini harus musna oleh prajuritprajurit Kediri
yangmemberontak, apa boleh buat. Kita semua akan mati mempertahankan
kampung halaman kita. Tetapi berbeda dengan keadaan jika kita harus
musna karena kemarahan Padepokan Bajra Seta. Jika para cantrik
padepokan itu serta anak-anak muda seluruh Kabuyutan itu datang
kemari dengan dendam di hati mereka. Meskipun kita mempertahankan
kampung halaman, tetapi kampung halamanyang telah ternoda oleh
ketamakan kita sendiri.” Ki Buyut mengangguk-angguk. “Baiklah. Aku
akan pergi. Bahkan besok aku akan pergi ke Padepokan itu. Pagi-pagi
benar aku akan berangkat, agar malam hari aku sudah berada di
Kabuyutan ini. Itu jika aku tidak ditangkap dan dihukum mati di
padepokan itu.” “Aku y akin hal itu tidak akan terjadi,” berkata
salah seorang bebahu. Lalu katanya, “Para pemimpin padepokan Bajra
Seta dan bahkan para cantriknya bukan pembunuh-pembunuh yang tidak
berjantung.” Ki Buyutmengangguk-angguk pula. Namun ia benar-benar
berniat untuk pergi ke Padepokan Bajra Seta. Ternyata bahwa dua
orang bebanu telah menyatakan diri untuk pergi bersama-sama dengan
Ki Buy ut. Bagaimana-pun juga,mereka tidak sampai hati melepaskan Ki
Buyut pergi ke Padepokan Bajra Seta tanpa seorang kawan-pun.
Seakan-akan Ki Buyut dianggap benar-benar mutlak sebagai seorang
yang harus dijauhi. Demikianlah, pagi-pagi benar Ki Buyut dan dua
orang bebahu telah berangkat menuju ke Padepokan Bajra Seta. Berkuda
mereka bertiga melaju dengan cepat menempuh jalan-jalan padukuhan
dan bulak-bulak persawahan. Ketika matahari kemudian terbit, maka
ketiga orang itu telah jauh dari Kabuyutan Bumiagara. Namun
perjalanan mereka tidak menarik perhatian. Ada beberapa orang lain
yang berkuda menyusuri jalan-jalan yang dilalui oleh Ki Buyut
Bumiagara. Para pedagang dan saudagar yang terbiasa pergi ke pasar
-pasar yang agak jauh sekali-pun. Sementara Ki Buyut dan kedua
orang bebahunya itu-pun hanya mengenakan pakaian sebagaimana dipakai
orang kebanyakan. Ki Buy ut Bumiagara hanya menunduk saja ketika ia
berpapasan dengan seorang saudagar yang nampaknya cukup kaya.
Dikenakannya ikat pinggang, dengan timang emas dan dihiasi dengan
mata berlian. Keris dengan pendok emas dan beberapa butir mata
berlian pada ukirannya. Di belakangnya berkuda dua orang yang
agaknya adalah pengawalnya. Keduaduanya bertubuh tinggi tegap,
berkumismelintang. Saudagar itu sendiri juga sama sekali-tidak
menghiraukan Ki Buyut Bumiagara, karena ia tidak menyangka bahwa
yang berpapasan di perjalanan itu adalah seorang Buyut. Demikianlah,
ketika matahari semakin tinggi di langit, panasnya-pun semakin
terasa gatal di kulit. Bahkan ketika keringatmulaimengalir, terasa
panas itu semakinmenggigit. Kuda Ki Buyut berlari semakin cepat. Dan
jarak-pun menjadi semakin dekat. Namun Ki Buy ut tidak segera pergi
ke Padepokan Bajra Seta. Bersama kedua orang bebahunya, ia telah
singgah di sebuah kedai di dekat pasar. Tetapi tidak di kedai
yang pernah dipergunakannya untuk menemui cantrik dari
Padepokan Bajra Seta yang telah dibujuknya untuk pergi ke Bumiagara.
Di dalam kedai itu, Ki Buyutmemangmendengar kesiagaan
padukuhan-padukuhan se Kabuyutan di sekitar Padepokan Bajra Seta.
Seorang yang berambut putih mengatakan, bahwa anaknya setiap hari
bersama-sama dengan sekelompok anak muda yang lain selalu
pergi ke Padepokan Bajra Seta untuk berlatih olah kanuragan. Jantung
Ki Buy ut memang menjadi berdebar-debar. Kepada salah seorang
bebahunya ia berbisik, “Apakah kedatanganku tidak akan merupakan
langkah membunuh diri?” “Tidak,” jawab salah seorang bebahunya,
“Tanpa key akinan itu, aku tidak akan bersedia mengantar Ki Buyut,
karena apapunmasih belum ingin mati.” Ki Buyut hanya dapat
mengangguk-angguk saja. Baru sejenak kemudian, ketika Ki Buyut sudah
dapat menenangkan hatinya, ketiganya telah meninggalkan kedai itu
menuju ke Padepokan Bajra Seta. Kedatangan mereka di Padepokan itu
memang sangat mengejutkan. Apalagi Ki Buyut tidak menutupi keny
ataan tentang dirinya, bahwa ia adalah Buyut dari Kabuyutan
Bumiagara. “Apa maksud Ki Buy ut datang kemari?” bertanya cantrik
yang bertugas di regol. Karena cantrik itu tahu, apa yang pernah
terjadi antara Padepokan Bajra Seta dengan Kabuyutan Bumiagara
meskipun waktu itu ia tidak ikut ke Bumiagara. “Aku ingin berbicara
dengan pimpinan kalian di Padepokan ini,” jawab Ki Buyut. Cantrik
itu termangu-mangu.Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Kami
persilahkan Ki Buy ut menunggu. Seorang di antara kami
akanmelaporkannya kepada pimpinan kami.” Ketika hal itu disampaikan
kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, keduanyamemang terkejut. “Apa
yang dikehendaknya setelah ia gagal menguasai Padepokan ini?”
bertanya Mahisa Murti. Mahisa Pukat-pun hanya dapat mengerutkan
keningnya, karena ia -pun tidak tahu apa yang mendorong Ki
Buyut itu datang ke padepokan mereka. Namun kedua anak muda itu-pun
berkata kepada cantriknya, “Bawa Ki Buyut naik ke pendapa.” Sejenak
kemudian, maka Ki Buy ut -pun telah diantar naik kependapa bangunan
induk padepokan Bajra Seta bersama kedua orang bebahunya. Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat-pun telah siap menerima mereka meskipun
dengan hati yang berdebar-debar. Setelahmenanyakan keselamatan
perjalanan Ki Buyut serta keadaan Kabuyutan Bumiagara, maka Mahisa
Murti-pun bertanya, “Sebenarnyalah kedatangan Ki Buyut di Padepokan
Bajra Seta sangatmengejutkanku. Apakah ada hal yang sangat penting
sehingga Ki Buyut sendiri memerlukan datang berkunjung ke padepokan
ini?” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan
nada dalam, “Aku datang untuk meny erahkan diri. Bukan saja aku dan
kedua orang bebahu yang datang ber samaku. Tetapi seluruh Kabuyutan
Bumiagara.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan
sejenak. Kemudian dengan nada ragu Mahisa Murti bertanya, “Apakah
yang Ki Buyut maksudkan dengan menyerah? Apakah Ki Buyut
merasakan ada ancaman dari padepokan ini?” Ki Buyutmenarik nafas
dalam-dalam. Katanya, “Aku tahu, setelah serangan yang gagal
atas padepokan ini, maka Padepokan Bajra Seta telah bersiap-siap
untuk membalas seranganmu. Aku tahu, padukuhan-padukuhan di seluruh
Kabuyutan ini telah mengadakan latihan-latihan khusus bagi setiap
orang anak muda. Pada suatu saat, maka Padepokan Bajra Seta dan
Kabuyutan ini akan menyusun kekuatan yang sangat besar. Apalagi jika
prajurit Singasari datangmembantu, maka Kabuyutan Bumiagara
akanmenjadi lumat.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas
dalamdalam. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Ki Buyut telah
salah mengerti. Sama sekali bukan maksud kami untuk membalas dendam.
Bahkan aku dan seisi padepokan ini telah melupakan permusuhan kami
dengan Bumiagara. Karena itu, padepokan ini sama sekali tidak
bermaksud meny erang Bumiagara. Apalagi sekedarmembalasdendam.” Ki
Buy ut termangu-mangu. Namun seakan-akan ia tidak percaya akan
pendengarannya. Mahisa Pukat yangmenangkap kesan di hati Ki Buy ut
itu berkata, “Ki Buyut. Kami sama sekali tidak ingin bermusuhan
dengan Bumiagara. Bahwa kami sudah dapat mempertahankan diri, itu
sudah cukup bagi kami. Apalagi kekuatan utama dari peny erangan itu
adalah prajurit-prajurit Kediri yang tidakmau tunduk kepada
perintah Sri Baginda di Kediri. Prajurit-prajurit yang sudah
memberontak terhadap rajanya.” “Jadi apa yang kalian lakukan selama
ini?” bertanya Ki Buyut Bumiagara. “Kami memang meningkatkan
kemampuan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang ada di
Kabuyutan ini. Hal itu kami lakukan sekedar untukmenjaga diri.
Kamimasih tetap curiga kepada sikap prajurit -prajurit Kediri
yang telah memberontak itu. Pada suatu saat, jika mereka
terdorong menepi oleh prajurit-prajurityang setia kepada Sri
Baginda di Kediri, maka mereka akan dapat mengintai padepokan dan
Kabuyutan ini. Bahkan mungkin Kabuyutan-kabuyutan yang lain. Karena
itu, maka kami telah mempersiapkan diri dari kemungkinan buruk yang
dapat terjadi. Apalagi jika prajurit Singasari tidak sempat membantu
kami. Maka kami harus ber sandar kepada kekuatan kami sendiri,”
jawab Mahisa Pukat. Ki Buyut Bumiagara mengangguk-angguk. Ketika ia
berpaling kepada kedua orang bebahu yang meny ertainya, maka
keduanya-pun mengangguk-angguk pula. Sementara itu Mahisa Murti-pun
berkata, “Ki Buyut. Yakinlah bahwa aku benar-benar tidak berniat
untuk bermusuhan terus dengan Bumiagara. Jika Ki Buyut tidak
menyerang kami, maka kami sama sekali tidak berniat untuk
bertempurmelawan Bumiagara.” “Apa yang akan dapat aku
pergunakan untuk menyerang,” desis Ki Buy ut, “Kekuatan kami tidak
ada sehitamnya kuku dibandingkan dengan kekuatan Padepokan Bajra
Seta dan apalagi bersama-sama dengan kekuatan seluruh Kabuyutan.”
“Jika demikian Ki Buy ut,” berkata Mahisa Murti, “Aku mengatakan
yang sesungguhnya, bahwa kami sudah melupakan apa yang
terjadi. Serangan itu memang melukai hati kami. Apalagi korban telah
jatuh pula di antara kami. Tetapi kami sudah berhasil menangkap
sebagian besar dari prajurit Kediri dan sebagian besar para cantrik
yang mengaku di bawah pimpinan Empu Carang Wregu itu. Juga karena
bantuan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan
ini. Dan itu sudah cukup bagi kami. Mereka yang meny erang itu akan
mendapat hukuman mereka di Singasari. Jika masih ada tawanan yang
akan dibawa kemudian setelahmereka sembuh,maka sisa tugas itulah
yang sedang kami lakukan.” Ki Buyut Bumiagara mengangguk-angguk.
Namun ia -pun kemudian berterus terang kepada Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat, bahwa sebenarnyalah Bumiagara ada dalam ancaman para
prajurit Kediri. Karena itu,maka ia ingin menghapuskan permusuhannya
dengan Bajra Seta agar mereka dapat memusatkan perhatianmereka
kepada para prajurit Kediri itu. “Kami akan diperas habis-habisan.
Tenaga dan bahan makanan,” berkata Ki Buyut Bumiagara, “Karena itu,
kami akan memilih melawan mereka meskipun kami akan dihancurkan sama
sekali.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Hampir
diluar sadarnya Mahisa Murti berkata, “Mungkin orang-orang Kediri
yang memberontak itu ingin menjadikan Bumiagara landasan
untukmeny erang Padepokan Bajra Seta.” Ki Buyut Bumiagara
termangu-mangu. Katanya, “Mereka tidak mengatakan demikian meskipun
mungkin hal itu dapat sa ja terjadi.” “Baiklah,” berkata Mahisa
Murti, “Jika Bumiagara menghendaki, kami akan berusaha membantu.
Kami mempunyai beberapa jenis senjata yang baik, yang
barangkali akan mampu meningkatkan kemampuan perlawanan orangorang
Bumiagara.” “Maksud kalian?” bertanya Ki Buy ut. “Kami akan
memberikan sejumlah senjata kami yang baru kepada Ki Buyut. Bukankah
Ki Buy ut menghendaki sejenis senjata yang baru itu?” bertanya
Mahisa Murti. Ki Buyut Bumiagara dan bahkan juga kedua orang bebahu
yang meny ertainya terkejut mendengar pertanyaan itu. Mereka
seakan-akan tidak percaya kepada pendengarannya. Namun Mahisa Pukat
menjelaskan keterangan Mahisa Murti itu, “Kami mempunyai beberapa
kelebihan senjata yang baru justru karena kami sekarang dapat
membuatnya sendiri. Meskipun sedikit, barangkali kami akan dapat
membantu Kabuyutan Bumiagara agar jika benar -benar terjadi benturan
kekerasan dengan para prajurit Kediri itu, Bumiagara mampu
sedikitnya melindungi diriny a sendiri. Apalagi jika Kabuyutan
Bumiagara dapat berbicara dengan Kabuyutan-kabuyutan di sekitarnya.
Sehingga bersama-sama Bumiagara tentu tidak akan terlalu mudah untuk
ditundukkan. Dengan senjatasenjata yang baik, maka anak-anak
muda Kabuyutan Bumiagara tentu bersedia untuk melatih diri. Karena
kemampuan dalam olah kanuragan itu akan sangat berarti bagi
kepentingan Kabuyutanmereka.” Ki Buyutmengangguk-angguk. Salah
seorang bebahu yang menyertainya ternyata tidak bisa menahan
diri untuk tidak mengatakan perasaannya, “Kami benar-benar terkejut
mendengar tawaran itu. Ketika kami berangkat, kami sudah minta diri
kepada seisi Kabuyutan seandainya kami tidak dapat kembali. Namun
ternyata di sini kami justru mendapat tawaran untuk membawa senjata.
Ternyata bahwa nalar dan budi kami terlalu kotor dibandingkan dengan
nalar dan budi seisi padepokan Bajra Seta. Kami selalu berprasangka
buruk, sementara Padepokan Bajra Seta justru sebalikny a.”
“Sudahlah,” berkata Mahisa Murti, “Besok kami akan menyediakan
senjata-senjata yang kami janjikan. Sebaikny a Ki Buyut atau mungkin
utusannya dapat datang membawa sebuah pedati. Namun aku minta salah
seorang dari antara kalian bertiga ikut bersama pedati itu, karena
kalianlah yang telah kami kenal dengan baik, agar senjata itu tidak
jatuh ke tangan orang yang tidak berhak.” “Kami mengucapkan
terima kasih yang tidak terhingga,” berkata Ki Buy ut, “Besok
aku sendiri akan datang bersama dengan kedua orang bebahu yang
hari ini datang bersamaku.” “Baiklah,” jawab Mahisa Murti, “Hari ini
kami dapat memilih senjata yang paling sesuai bagi anak-anak muda
Bumiagara, namun juga senjata yang telah mencukupi bagi
kebutuhan kami sendiri. Yang aku maksud dengan kami bukannya sekedar
para cantrik di Padepokan Bajra Seta. Tetapi juga anak-anakmuda di
Kabuyutan ini.” Demikianlah setelah dihidangkan minuman dan makanan,
maka Ki Buy ut-pun minta diri. Dengan mantap ia berkata, “Aku akan
pulang. Aku akan berbicara dengan seluruh penghuni Kabuyutan
Bumiagara, bahwa aku masih dapat pulang dengan utuh. Bahkan aku
pulang dengan membawa senjata yang sangat kami butuhkan.” Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat hanya tersenyum saja. Demikianlah Ki Buyut
Bumiagara itu-pun segera meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Ia
menjadi tergesa -gesa, karena ia ingin segera memberitahukan kepada
semua bebahu, semua Bekel dan bahkan semua penghuni Kabuyutan
Bumiagara, tanggapan yang sama sekali tidak terduga dari
pimpinan Padepokan Bajra Seta. Sementara itu, Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat telah memerintahkan para cantrik untuk meny isihkan
beberapa jenis senjata yang dimiliki oleh Padepokan Bajra Seta.
Senjata yang telah mereka buat sendiri atas da sar petunjuk dari
Singasari. Senjata yang termasuk ringan, tetapi memiliki
kekuatan dan ketajaman yang sama dengan senjata -senjata mereka
sebelumnya yang lebih berat. Dengan ditunggui oleh Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat sendiri, para cantrik telah menyisihkan dua
ikat pedang dengan sarungnya, meskipun bukan sarung yang baik,
tetapi memenuhi kebutuhan. Yang penting bagi mereka adalah
pedangnya, bukan sarungnya. Seikat tombak bertangkai pendek. Seikat
kapak yang tajam dikedua sisinya. Sejumlah perisai dan sepuluh buah
kerisberukuran besar. Sebenarnya belum semua anak muda dari
padukuhanpadukuhan di sekitar Padepokan Bajra Seta yang
mendapat bagian jenis senjata-senjata itu. Namun Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat ternyata mempunyai perhitungan lain. Kabuyutan
Bumiagara dan Kabuyutan di sekitarnya agar bangkit dan menempatkan
diri dalam jajaran kekuatan Singasari untukmelawan Kediri, karena
tidak dapat dipungkiri bahwa di Kediri memang terdapat kekuatan yang
menentang kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri. Kekuatan itulah yang
dapatmengancam Singasari dan daerah kuasanya yang luas. Bahkan
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sependapat, bahwa Padepokan Bajra Seta
akan mengirimkan lima orang cantrik terpilih untuk memberikan
latihan menggunakan senjata-senjata yang baru itu. Pemimpin prajurit
Singasari yang ada di padepokan itu sependapat dengan cara
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membuat pagar menghadapi prajurit
Kediri yang menentang kebijaksanaan Rajanya itu. Apalagi jika
Kabuyutan Bumiagara dapat membujuk Kabuyutan di sekitarnya untuk
saling membantu jika terjadi pemerasan yang tentu akan
dilakukan oleh prajurit Kediri jika waktunya dianggap sudah tiba.
Malam itu juga, semua senjata itu-pun telah disiapkan. Dihari
berikutnya Ki Buyut sendiri akan datang untuk mengambil
senjata-senjata itu. Sementara para cantrik yang secara
khususmempelajarinyamasih terus saja membuat yang baru. Sementara
itu Ki Buy ut Bumiagara yang kembali ke Kabuyutan Bumiagara,
tidak sabar menunggu terlalu lama. Karena itu, demikian ia sampai ke
Kabuyutan,maka ia segera memerintahkan untukmenyiapkan pedati. “Aku
akan segera kembali ke Padepokan Bajra Seta,” berkata Ki Buyut.
“Tetapi Ki Buyut harus beristirahat. Besok kita siapkan pedati dan
kelengkapannya. Besok malam kita berangkat sehingga pagi-pagi benar
kita akan sampai ke Padepokan Bajra Seta” berkata bebahu yang
mengiringi. “Baru lusa kita sampai. Bukankah kau dengar, bahwa besok
aku akan kembali?” sahut Ki Buyut. “Tetapi para Pemimpin dari
Padepokan Bajra Seta akan mengetahui bahwa perjalanan dari Bumiagara
memerlukan waktu.” jawab bebahunya. “Bukankah jaraknya tidak terlalu
jauh? Kita tidak boleh menyia-ny iakan kesempatan ini,” jawabKi
Buyut. Ternyata benar perintah Ki Buyut itu benar-benar tidak boleh
tertunda. Malam itu juga telah disiapkan sebuah pedati. “Pedati itu
akan merangkak seperti siput. Agak berbeda dengan kecepatan lari
seekor kuda,” berkata bebahu itu. “Justru itu kita harus cepat-cepat
berangkat,” jawab Ki Buyut, “Jika kita berangkat sekarang, maka
besok siang kita baru sampai. Perjalanan ini akan memerlukan waktu
lipat sepuluh dengan perjalanan berkuda. Bahkan lebih. Seandainya
kita harus bermalam, maka sebaiknya kita bermalam di Padepokan Bajra
Seta besok.” Niat Ki Buy ut itu tidak dapat dicegah. Karena itu,
maka malam itu juga sebuah pedati telah meninggalkan Kabuyutan
Bumiagara dikawal oleh empat orang bebahu dan dua orang yang
dianggap memiliki kemampuan untuk melindungi senjata-senjata
yang bakalmereka bawa dari Padepokan Bajra Seta. Sementara itu
Ki Buyut sendiri memilih untuk berada di dalam pedati, karena
ternyata ia sempat berbaring untuk beristirahat selama perjalanan.
Sebenarnyalah pedati itu berjalan lamban sekali. Bebahu yang berada
di punggung kuda merasa sangat mengantuk sehingga bergantian mereka
tidur di dalam pedati bersama Ki Buyut. Sementara kuda yang tanpa
penunggang telah diikat dan berjalan lamban di belakang pedati.
Meskipun Ki Buyut tergesa -gesa sampai, namun bebahunya terpaksa
minta mereka beristirahat barang sebentar untuk memberi kesempatan
kepada lembu yang menarik pedati dan kuda-kuda mereka beristirahat
pula. Ternyata lewat tengah hari di hari berikutnya mereka baru
sampai ke padepokan Bajra Seta. Mereka harus berhenti sementara itu
senjata-senjata yang telah disiapkan segera dimuat ke dalam pedati.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmempersilahkan Ki Buyut untuk
bermalam di padepokan itu. “Ki Buyut dan para bebahu tentu letih,”
berkata Mahisa Murti. Ki Buyut memang tidak menolak. Tetapi Ki Buyut
sudah mengatakan bahwa menjelang fajar, ia akan meninggalkan
Padepokan Bajra Seta, agar perjalanan mereka tidak terlalu lama.
“Orang-orang Bumiagara sudah menunggu-nunggu,” berkata Ki Buyut.
Sebenarnyalah malam itu Ki Buyut, para bebahu dan pengawal yang meny
ertainya bermalam di Padepokan Bajra Seta. Tetapi sebelum dini
mereka sudah bangun dan bersiapsiap untuk berangkat kembali ke
Bumiagara. Dengan demikian, maka lima orang cantrik yang telah
ditunjuk oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiapsiap pula.
Mereka akan meninggalkan Padepokan Bajra Seta dan akan tinggal di
Bumiagara untuk beberapa lama. Namun mereka tidak berkewajiban untuk
mengajarkan dasar -dasar kemampuan olah kanuragan. Mereka hanya
mendapat tugas untuk memberi petunjuk penggunaan senjata-senjata
itu, meskipun hal itu tidak akan terlepas dari kemampuan olah
kanuragan. Sebenarnyalah, sebelum fajar, setelah makan beberapa
potong makanan dan menghirup minuman hangat, maka Ki Buyut Bumiagara
telah mohon diri untuk kembali ke Bumiagara. Lima orang cantrik dari
Bumiagara diperintahkan untuk mengikuti iring-iringan itu dan bahkan
tinggal di Bumiagara untuk beberapa waktu. Sebenarnyalah Ki Buyut
merasa gembira sekali mendapat perlakuan yang sangat baik, mendapat
senjata dan tuntunan cara penggunaannya, sehingga dengan demikian
maka Bumiagara akan dapatmembangun dirinya untukmelindungi diri
sendiri. Demikianlah, dalam kegelapan menjelang fajar iringiringan
itu berjalan sangat lambat. Para bebahu, pengawal dan para cantrik
justrumerasa letih, berkuda mengikuti perjalanan pedati yang merayap
perlahan-lahan. Sementara itu, Ki Buyut masih juga sempat berbaring
di dalam pedati, di antara senjata-senjata yang dibawanya disisa
malam itu. Ketika matahari terbit, iring-iringan itu memang sudah
agak jauh dari Padepokan Bajra Seta. Namun karena beberapa orang
berkuda mengiringnya, maka pedati itu memang menarik perhatian.
Perjalanan kembali ke Bumiagara itu ternyata lebih lama dari
perjalanan mereka ke Padepokan Bajra Seta. Kecuali pedatinya memang
menjadi lebih berat karena muatan yang cukup banyak, terik matahari
juga terasa menghambat. Beberapa kali mereka harus, berhenti.
Kuda-kuda mereka menjadi haus dan lembu yang menarik pedati itu-pun
menjadi lapar pula. Juga orang-orang yang mengiringi. Keringat yang
mengucur dari tubuh mereka,membuatmereka cepat merasa haus. Karena
itu, ketika matahari turun di sisi Barat langit, mereka berada di
bulak panjang yang masih agak jauh dari Kabuyutan Bumiagara. Namun
mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa ada beberapa orang
yangmemperhatikan pedati yang diiringi oleh beberapa orang berkuda
itu. “Sekitar sepuluh orang,” desis seorang di antara mereka.
“Mereka bukan prajurit,” berkata yang lain, “Tetapi agaknya
pedati itu memang berisi barang berharga sehingga sekitar sepuluh
orang harusmengawalnya.” “Pedati itu akan melewati bulak Larah,”
berkata orang yang pertama. “Aku mengerti maksudmu. Kita
menghubungi kawankawan kita yang tinggal di padukuhan Larah” jawab
yang lain. Orang yang lain lagi berdesis, “Mereka adalah
orang-orang yang dungu. Apakah mereka belum pernah mendengar tentang
padukuhan Larah? Padukuhan tempat tinggal para gegedug, perampok dan
peny amun?” “Marilah. Kita mendahului pedati yang maju sangat
perlahan seperti siput itu. Kita bersiap di bulak Larah, dengan
kawan-kawan kita dari Larah” berkata orang yang pertama.
Demikianlah, maka beberapa orang itu telah berjalan dengan cepat,
mendahului pedati yang diiringi oleh beberapa orang berkuda
yang menjadi letih justru karena berjalan sangat lambat.
Tetapi setiap kali seorang di antara mereka yang merasa sangat letih
ikut naik pedati beberapa saat. Bahkan kadang-kadang Ki Buyut lah
yang naik di punggung kuda. Sais pedati itu justru sering
turun dari pedatinya untuk menggeliat. Bahkan kadang-kadang berjalan
kaki beberapa ratus patok untukmengurangi penat-penat tubuhnya.
Ketika orang-orang itu sempat melampaui pedati yang berjalan
lamban itu,mereka tidak dapatmelihat apa saja yang ada di dalamnya.
Tetapi mereka melihat selembar tikar yang besar menutupimuatannya
yang cukup banyak. Seperti yang mereka rencanakan, maka
orang-orang itupun telahmenuju ke padukuhan Larahyang terletak
tidak jauh dari jalan yang melewati bulak panjang, yang juga
disebut bulak Larah. Ketika orang-orang itu memberitahukan kepada
kawankawannya yang ada di Larah tentang sebuah pedati yang
lewat, maka orang -orang Larah itu-pun segera tanggap. “Berapa orang
dibutuhkan?” bertanya seorang gegedug yang namanya cukup membuat
orangorang padukuhan Larah mengerutkan lehernya. “Mereka dikawal
sekitar sepuluh orang berkuda,” jawab orang yang
datangmengajaknya. “Mereka bukan prajurit?” bertanya gegedug itu
lagi. “Bukan. Menilik pakaiannya mereka bukan prajurit,” jawab orang
yang mengajaknya. “Kemana kira-kira pedati itu akan pergi?” bertanya
gegedug itu selanjutnya. Orang yang datang,mengajaknya itu
menggelang. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi bukankah jalan ini
menuju ke Kabuyutan Bumiagara?” “Kabuyutan sarang pengecut itu?
Melawan lima belas orang pendatang saja mereka sama sekali tidak
mampu mengatasinya,” berkata gegedug itu. “Mungkin mereka justru
menuju ke Bumiagara. Menilik pengawalnya yang banyak, maka
barang-barang yang dibawa itu tentu cukup penting,” sahut
orang yang datang ke padukuhan Larah itu. “Baik. Kita sediakan lima
belas orang. Bukankah itu sudah cukup? Orang-orang kita adalah
orang-orang yang sudah terbiasa memeras darah. Kita mencoba untuk
merampas dengan baik. Tetapi jika mereka bertahan, maka potong saja
leher mereka semuanya. Kita akan mendapatkan kuda, pedati dan
barang-barang yang ada di pedati itu,” berkata gegedug itu
kemudian. Ternyata dalam waktu singkat orang-orang itu sudah siap.
Lima belas orang termasuk orang-orang itu sudah siap. Lima belas
orang termasuk orang-orang yang datang untuk memberitahukan tentang
perjalanan pedati itu. Tetapi mereka tidak akan menyamun pedati itu
di dekat padukuhan mereka sendiri. Tetapi mereka bergerak agak jauh.
Mereka menempatkan diri di sebuah tikungan yang agak menanjak
karena perbukitan yang rendah. Namun tikungan itu merupakan tempat
yang sangat baik untuk merampok orang lewat. Bahkan
kadang-kadang di siang hari-pun perampokan itu dapat terjadi.
Sementara itu, Ki Buyut yang melihat orang-orang yang melewati
pedatinya tidak berkata apa -pun. Namun kemudian ketika ia sadar,
bahwa mereka akan lewat di bulak Larah, maka ia-pun berkata kepada
para bebahu, “Kita sampai ke bulak Larah.” “Tetapi bukankah kita
beberapa kali lewat bulak itu tidak pernah terjadi sesuatu,” berkata
bebahu itu. “Tetapi sekarang kita membawa barang-barang yang
berharga. Aku agak curiga melihat orang-orang yang baru saja
mendahului kita,” berkata Ki Buyut Bumiagara kemudian. Bebahu
yangmeny ertainya ber sama kedua orang pengawal itu-pun segera
menyadari bahwa mereka akan sampai ke tempat yang cukup rawan.
Mereka -pun tahu benar, bahwa ujung bulak Larah adalah sebuah
tikungan yang menanjak lewat sebuah lekuk di perbukitanyang rendah.
Karena itu,makamereka-pun segera bersiap. Salah seorang di antara
para bebahu itu berkata kepada cantrik yang tertua yang meny
ertai mereka, “Kita memasuki bulak yang sepi. Apalagi dimalam
hari.” Cantrik itu mengangguk-angguk. Sementara bebahu itu berkata,
“Biarlah kedua orang pengawal kami berada di belakang kalian. Dua
orang bebahu Bumiagara akan berada di depan pedati. Sementara kami
dan seorang lagi akan berada tepat di belakang pedati di depan
kalian berlima.” Para cantrik itu tidak membantah. Mereka menurut
saja, karena pimpinan perjalanan itu berada di tangan Ki Buyut
sendiri. Demikian mereka memasuki bulak Larah, maka Ki Buyut tidak
lagi lengah. Ia duduk di sebelah sais pedatinya yang menjadi tegang.
Kegelapan dan keseny apan membuat suana memang menjadi gelisah,
justru karena mereka berada di bulak Larah. Dua orang bebahu berkuda
di depan mereka. Jika mereka berkuda terlalu jauh,maka Ki Buy ut
segera memperingatkan mereka, agarmereka sedikit menahan diri.
Semakin dalam mereka menembus gelapnya bulak Larah, maka
jantungmereka serasa berdenyut semakin cepat.Namun hampir sampai ke
ujung bulak mereka tidak mengalami sesuatu. “Padukuhan Larah telah
lewat,” berkata salah seorang bebahu yang berkuda di paling
depan. “Padukuhannya memang sudah. Bukankah padukuhan di sebelah itu
padukuhan Larah? Kita dapat melihat terangnya oncor di regol
padukuhan itu,” sahut Ki Buy ut, “Tetapi kita belum lepas dari bulak
Larahyang panjang itu.” Bebahu yang berkuda di depan itu
mengangguk-angguk. Beberapa puluh langkah lagimereka akan sampai ke
tikungan. Karena itu maka Ki Buyut-pun berkata, “Tikungan itu sering
disebut tikungan hitam. Hati-hatilah. Jangan terlalu jauh mendahului
kami. Siapkan senjatamu.” “Untuk apa?” bertanya bebahu yang di
depan. “Kita harus berhati-hati,” jawab Ki Buy ut. “Tetapi sebelum
kita melihat sesuatu di hadapan kita. Apakah kita harus sudah
menarik pedang,” bertanya bebahu itu. “ Ini perintah. Kau dengar?”
geram Ki Buyutyang firasatnya telah meraba sesuatu yang
tidak wajar di hadapannya. Kedua bebahu yang berkuda di paling depan
itu tidak menyahut. Ternyata bahwa wibawa Ki Buyut masih tetap
tinggi, sehingga keduanya-pun telahmencabut pedangnya. Sikap Ki Buy
ut yang keras itu telah mempengaruhi para bebahu dan para
pengawal yang berkuda di paling belakang. Demikian pula para
cantrik-pun menjadi semakin berhati-hati. Ki Buyut sendiri kemudian
telah berdiri di bagian depan pedati itu, sementara sais pedati yang
memegang tali kendali kedua ekor lembu yang menariknya telah menjadi
berdebardebar pula. Namun sais itu bukan seorang penakut. Sebagai
seorang sais pedati, maka ia dianggap seorang yang memiliki
kekerasan tulang sekeras tulang lembunya. Sais itu-pun telah meny
iapkan sepotong besi di belakangnya. Setiap saat sepotong besi itu
akan dapat dipergunakan. Bahkan untukmelawan pedang sekali-pun.
Sejenak kemudian, maka pedati itu-pun telah memasuki sebuah tikungan
yang menanjak, di sela -sela perbukitan rendah. Di sebelah meny
ebelah jalan terdapat pohon-pohon perdu yang rimbun. Dalam gelapny a
malam, maka pohon perdu itu nampak kehitam-hitaman di antara
bayangan bongkah-bongkah batu padas. Dua orang bebahu yang berkuda
di paling depan itu-pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka
memegang pedang mereka yang telah telanjang. Demikian pula Ki
Buyut Bumiagara. Sementara sais pedati itu masih belum menggenggam
potongan besinya. Tetapi di tangan kanannya ia memegang sebuah
cambukyang besar berjuntai anyaman ijuk yang kuat.
Demikianlah, suasana benar-benar menjadi tegang. Kedua orang bebahu
yang terdepan memperhatikan setiap gerumbul yang ada di
sebelahmenyebelah jalan. Namun salah seorang di antara
keduanyamemangmenjadi curiga. Ia melihat salah sebuah di antara
gerumbul-gerumbul itu bergerak. Karena itu ia berdesis, “Hati-hati.
Aku memang melihat sesuatu.” Kawannya-pun dengan cepat anggap. Ia
-pun segera bergeser menjauhi kawannya. Ia -pun siap menghentakkan
kendali kudanya untuk mengejutkan orang -orang yang jika benar isy
arat kawannya, akan mengganggu perjalananmereka. Ternyata Ki Buy ut
Bumiagara-pun melihat pula sebuah gerumbul yang bergerak.
Karena itu, maka ia -pun telah menyiapkan pedangnya dengan baik.
Dengan tangannya Ki Buyut memberi isy arat kepada sais yang
duduk di sebelah Ki Buyutyang berdiri itu, agar ia -pun ber
siap pula. Di belakang pedati, hampir setiap cantrik telah
melihatnya pula. Karena itu maka mereka-pun justru telahmenjauhi
yang satu dengan yang lain. Cantrik yang berada di paling
belakang telah berdesis kepada kedua orang pengawal Ki Buyut,
“Mereka berada di belakang setiap gerumbul itu.” Para pengawal itu t
idak segera tanggap. Karena itu seorang di antaramereka justru
bertanya, “Mereka siapa?” Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun
kemudian ia menjawab, “Yang dicemaskan oleh Ki Buy ut. Maksudku, di
belakang perdu itu bersembuny i beberapa orang yang mungkin akan
merampok kita. Mereka menyangka bahwa di dalam pedati itu terdapat
harta benda yang sangat berharga.” “Tetapi bukankah
barang-barang yang ada di pedati itu benar-benar berharga?”
bertanya pengawalyang lain. “Ya. Karena itu kita harus
mempertahankannya,” jawab cantrik itu. Kedua orang pengawal itu
mencoba memperhatikan gerumbul-gerumbul perdu di sebelah meny ebelah
jalan dalam kegelapan malam. Namun akhirnya mereka-pun seakan-akan
melihat bayangan yang telah bergerak. Namun sekila s saja.
Lalu hilang. Ki Buy ut dan para bebahu yang ada di depan mengerti,
bahwa di sebelah menyebelah jalan itu bersembuny i beberapa orang.
Namun agaknya mereka menunggu iring-iringan itu masuk ke dalam
kepunganmereka. Karena itu, maka setiap orang dalam iring-iringan
itu-pun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka sadar,
bahwa sebentar lagi, beberapa orang akan berloncatan keluar dari
belakang gerumbul-gerumbul liar itu dengan senjata di tangan.
Sebenarnyalah seperti yang telah mereka perhitungkan. Ketika
iring-iringan itu sudah mulai berbelok dan menanjak disela-sela
perbukitan kecil, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang berteriak.
Meneriakkan aba-aba. Teriakan itu disambut dengan
teriakan-teriakanyang sahut menyahut dari sebelahmenyebelah
jalan. Lima belas orang berloncatan dari balik gerumbul menyerang
orang-orang berkuda yang mengawal pedati itu. Para cantriklah
yang paling sigapmeloncat dari punggungpunggung kuda mereka.
Seorang di antara mereka masih harus menambatkan kendali kuda mereka
pada pedati yang juga telah berhenti. Pada tiang dan jari-jari r
odanya. Sementara empat orang yang lain telah berloncatan meny
ongsong orang-orang yangmeny erang dari lereng-lereng bukit kecil
itu. Para bebahu-pun telah berloncatan turun pula sambil berkata
kepada sais pedati itu, “Tambatkan kuda-kuda itu.” Sais pedati
itu-pun telah berlari-lari menangkap pedati kuda kedua bebahu yang
ada di depan pedati dan mengikat kendali kuda itu pada ujung pasang
lembu yang menarik pedati itu. Sementara Ki Buy ut berkata
sambil meloncat turun, “Jaga lembu dan kuda -kuda itu. Ganjal roda
pedati agar tidak bergerak.” Kedua orang pengawal di paling belakang
ternyata tidak sempat mengikat kuda mereka. Demikian mereka meloncat
turun, mereka harus sudah menangkis serangan-serangan yang
datangmelanda dengan derasny a. Dengan demikian, maka sejenak
kemudian telah terjadi pertempuran antara orang-orang Bumiagara dan
para cantrik padepokan Bajra Seta, melawan para perampok yang ingin
merampasbarang-barang yang dibawa dalam pedati itu. Ketika
pertempuran itu berkobar dengan sengitnya, maka terdengar suara di
antara para perampok itu, “ Jika kalian serahkan barang-barang yang
kalian bawa itu dengan baik, maka kami tidak akan menyakiti kalian.”
Ki Buyut yang marah menjawab dengan keras pula, “Persetan kalian
para perampok. Kalian harus mendapat hukuman atas perbuatan kalian.
Agaknya kalian telah melakukan hal seperti ini beberapa kali.”
“Jangan sombong Ki Sanak,” teriak pemimpin perampok itu, “Kalian
tidak mempunyai kesempatan. Tetapi jika kalian melawan, maka kalian
akan mati, tumpas sampai dengan orang yang terakhir.” “Kami
atau kalianlahyang akan tumpas,” geram Ki Buyut. “Pekerjaan
kami melakukan hal seperti ini. Berkelahi, membunuh dan merampok.
Karena itu, jangan mencoba menakut-nakuti kami, karena hal itu hanya
akan membuat kami tertawa sebelum kami memeras darah kalian sampai
tetes terakhir. Besok di tempat ini, orang-orang yang lewat
akan segera berteriak-teriak karena mereka melihat sosok kalian
yang berceceran di tikungan hitam ini,” teriak pemimpin
perampok itu. “Tetapi kali ini agak berbeda,” jawab Ki Buy ut, “Yang
akan ber serakan di sini adalah mayat kalian. Biarlah orang-orang
Larah besok mengambilmayat kalian danmenguburkannya.” “Setan kau,”
geram pemimpin perampok itu. Kemarahannya telah mendorongnya untuk
meneriakkan perintah, “Bunuh semua orang. Tidak ada ampun bagi
seorang-pun di antaramereka.” Tetapi Ki Buy ut yang marah-pun
berteriak pula, “Bunuh mereka semuanya biarlah kawan-kawan mereka
menjadi jera untukmelakukan perampokan.” Pertempuran-pun segera
meningkat semakin sengit. Kedua belah pihak menjadi marah dan ingin
meny elesaikan lawanlawanmereka dengan cepat. Namun para perampok
itu kurang menyadari, bahwa di antara iring-iringan itu terdapat
lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang memiliki
kemampuan prajurit. Karena itu, maka kelima orang cantrik itu -pun
segera berloncatan sambil memutar pedang mereka di antara beberapa
orang lawan. Sementara itu, Ki Buyut sendiri telah turun ke dalam
pertempuran itu. Dengan tangkasnya ia mengayunkan
senjatanyamenghadapi para perampok yangmenyerangya. Tetapi para
perampok itu memang lebih banyak jumlahnya. Karena itu, maka para
bebahu dari Bumiagara serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta
memang harus bekerja keras mengatasi mereka. Apalagi para perampok
itu telah bertempur dengan keras dan kasar. Mereka berteriak-teriak
dan mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor. Tetapi para cantrik sama
sekali tidak terpengaruh oleh kekerasan dan keka saran para perampok
itu. Mereka mempunyai pengalaman yang lebih baik dari para
bebahu Bumiagara. Bahkan dengan kedua orang pengawal pilihan
yangmeny ertai perjalanan Ki Buyut itu. Meny adari akan hal itu,
maka para cantrik itu telah memencar. Seorang di antaranya telah
berada di depan pedati yang berhenti itu. Seorang di sisi sebelah
kiri. Seorang di kanan dan dua orang Di belakang. Demikianlah,
pertempuran-pun semakin lama menjadi semakin keras dan ka sar. Para
perampok telah kehilangan kesabaran karenamereka tidak segera
menguasai lawan-lawan mereka. Biasanya mereka dengan cepat membantai
orangorang yang mencoba mempertahankan barang-barangmereka. Namun
ternyatamereka tidak dapatmelakukannya saat itu. Pemimpin para
perampok yang terdiri dari seorang gegedug yang ditakuti itu
berteriak semakin keras menggetarkan udaramalamyang gelap,
“Cepat bunuh mereka. Jangan ragu-ragu.” Namun demikian mulutnya
terkatub rapat,maka terdengar salah seorang di antara para perampok
itu berteriak kesakitan sambil mengumpat-umpat dengan kata-kata
yang paling kotor. Sementara itu, segores luka telah meny
ilang di dadanya, sehingga orang itu telah terdorong beberapa
langkah surut. Tetapi kemudian, luka itu tidak menghentikannya.
Bahkan justrumembuat orang itu seperti gila. Ki Buy ut Bumiagara
sendiri ternyata bertempur seperti banteng yang terluka.
Senjata berputaran dengan cepatnya. Sekali terayun mendatar,
kemudianmeny ilang dan berputar di samping tubuhnya. Namun kemudian
mematuk dengan cepatnya mengarah ke dada. Cantrik yang
bertempur di depan pedati itu telah mengikat dua orang lawan. Tetapi
Cantrik itu benar-benar tangkas. Senjata yang dipergunakan
adalah sebilah pedang yang ringan. Tetapi dilihat dari
ujudnya, pedang itu cukup besar dan panjang. Jika benturan terjadi,
maka getar kekuatannya benar-benar telah membuat telapak tangan
lawannya terasa panas. Beberapa saat kemudian, maka para cantrik
justru mulai mendesak lawan-lawan mereka. Bahkan yang bertempur
melawan dua orang pula. Dengan ketangkasan seorang prajurit, maka
mereka telah menunjukkan, bahwa para perampok itu tidak akan mampu
memaksakan kehendak mereka meskipun dengan kekerasan senjata. Bahkan
sekali lagi terdengar seorang di antara para perampok itu
mengumpat-umpat ketika ia terdor ong dan jatuh terlentang dilereng
bukityang rendah itu. Demikian ia meloncat bangkit, maka
tangannya-pun meraba pundaknya yang terasa hangat oleh darahnya yang
mengalir dari luka-lukanya. Tetapi orang itu tidak menghentikan
perlawanannya. Ia - pun justru telah berteriak keras-keras sambil
berlari menyerang seorang yang masih bertempur melawan seorang
kawannya. Perampok yang terluka itu sama sekali tidak mengekang
dirinya lagi. Dengan sepenuh tenaga ia menghambur dan mengayunkan
kapaknya yang besarmengarah ke kepala lawan seorang kawannya yang
nampak agak terdesak. Ternyata yang diserangnya itu adalah
seorang cantrik yang bergerak dengan cepat menghindari
serangannya. Sambil berjongkok cantrik itu telah menjulurkan
pedangnya, seakanakan langsungmenerima tubuh orang yang meny
erangnya itu. Sekali lagi terdengar teriakan kesakitan yang
terlontar oleh kemarahan dan kebencian yang sangat. Namun
sejenak kemudian suara itu leny ap ditelan oleh suara dentang
senjata yang beradu. Sementara itu, ketika cantrikyang berjongkok
itu bangkit sambil menarik pedangnya, maka tubuh perampok itu-pun
telah terguling jatuh. Tetapi orang itu sudah tidak dapat berteriak
lagi untuk selama-lamanya. Dengan demikian maka seorang demi seorang
jumlah perampok itu telah susut. Namun seorang di antara mereka
telah mampu menyusul lingkaran pertempuran itu dan berlari mendekati
pedati yang berhenti itu. Namun ternyata, dengan tidak diduganya,
sais pedati itu telah meloncatmeny erangnya. Tidak dengan sepong
besi yang masih tergolek di dalam pedati, namun dengan sebuah
cambukyang besar dan panjang. Perampok itu dengan cepat bergeser
menghindar. Tetapi cambuk itu seakan-akan telah menggeliat. Sais
yang setiap hari bermain dengan cambuk itu mampu menggerakkan
juntainya yang panjang seperti menggerakkan tangannya sendiri.
Karena itu, maka ujung cambuk yang menggeliat itu ternyata telah
mematuk lengan perampok yang berhasil mendekati pedati itu.
Perampok itu mengaduh tertahan. Namun ketika ujung juntai cambuk itu
dihentakkan sendai pancing, maka sekali lagi orang itu mengaduh
menahan sakit. Bahkan ketika ia meraba lengannya, maka lengannya itu
seakan-akan telah terkoyak. “ Iblis kau,” geram perampok itu, “Kau
sais pedati yang dungu. Kau kira kau mampumelawan aku?” Sais
itu sama sekali tidak menjawab. Ia justru memanfaatkan saat yang
baginya sangat baik itu. Selagi perampok itu mengumpatinya, maka
tanpa mengucapkan sepatah kata-pun, sekali lagi
cambuknyamenggeletar. Perampok itu memang berusaha untuk menghindar.
Cambuk itumemang tidakmembelit lehernya, tetapi ujungnya telah
menggapai dada perampok itu sehingga orang itu-pun telah
berteriakmarah. Namun sais itu tidak memberinya waktu. Dengan cepat
ia memburu. Sekali lagi cambuknya telah meledak. Tetapi lawannya
sempat menggeliat menghindari sambaran ujung cambuk itu. Dengan
demikian maka perampok itu-pun telah mendapatkan waktu untuk
menyiapkan pertempuran berikutnya. Kemarahan yang memuncak telah
membakar jantungnya. Ia telah dilukai oleh seorang sais yang hanya
ber senjata cambuk. Karena itu, maka ia tidak mempunyai keinginan
lain pada saat itu kecualimembunuh sais itu. Sais itu -pun telah
bersiap sepenuhnya. Setapak demi setapak ia bergeser mendekati
pedatinya. Kemudian dengan secepat kilat ia telah mengambil
senjatanya yang lain sepotong besi yang agak panjang.
Sementara itu, di lingkaran pertempuran yangmengelilingi pedati itu,
terdengar lagi teriakan panjang.Umpatan kasar dan bahkan yang tidak
pantas dikatakan. Namun kemudian tubuh itu terguling jatuh. Yang
kemudian terdengar adalah erang kesakitan. Perampok yangmendekati
pedati itu-pun segera melompat menyerang. Ia sadar, bahwa kawannya
telah berkurang seorang lagi. Karena itu, maka ia harus dengan cepat
menguasai pedati itu danmembawanyameninggalkan arena. Namun sais itu
tidak membiarkannya meny entuh pedatinya. Dengan segenap
kemampuannya, maka sais itu telah mempertahankannya dengan sepotong
besi. Tetapi memang ternyata bahwa perampok yang sudah terbiasa
berkelahi dengan senjata, telah membingungkan sa is itu. Beberapa
saat kemudian, maka ia -pun telah terdesak mundur. Bahkan kemudian
tubuhnya bagaikan telah melekat pada pedati yang dipertahankannya
itu. Sais itu memang meny esal telah mengganti cambuknya dengan
sepotong besi. Sebenarnya baginya, cambuk itu akan lebih berarti.
Namunyang kemudian ada di tangannya adalah sepotong besi,
sehingga apa-pun yang terjadi, ia harus mempergunakannya sejauh
dapat dilakukannya. Tetapi akhirnya, sais itu telah terdesak. Ia
tidakmempunyai ruang gerak lagi. Karena itu, maka sais itu-pun hanya
dapat pa srah, apa yang akan terjadi atas diriny a,meskipun ia masih
mencoba untuk bertarung. Ketika senjata perampok itu terangkat saat
sais itu tidak lagimampu berbuat apa-apa,maka sais itu
telahmemejamkan matanya. Ia tidak ingin melihat ujung senjata itu
terayun dan menghunjam kematanya. Tetapi tiba -tiba justru lawannya
itulah yang menjerit ngeri. Ternyata Ki Buyut sempat melihat apa
yang akan terjadi atas diri sais itu. Karena itu,maka Ki Buyut-pun
segera meninggal lawannya dan berusahamenolong sais itu. “Terima
kasih Ki Buyut,” desis Sais itu. Namun Ki Buyut telah berlari lagi
ke arena. Bahkan kemudian Ki Buy ut itu telah bertempur melawan
pemimpin perampok dan seorang pengawalnya. Ki Buyut memang harus
berhati-hati. Kawan pemimpin perampok itu adalah seorang yang
berwajah garang. Bertubuh tinggi dan besar dengan
kumisyangmelintang. Tetapi ternyata di bagian dari pertempuran itu
terdengar lagi pekik kesakitan. Seorang lagi dari antara para
perampok itu terlempar jatuh. Meskipun ia masih dapat berguling
menjauhi arena, namun ia tidak mungkin lagi untuk melanjutkan
perlawanan. Jari-jari tangannya sebelah kanan yang mengenggam
senjatanya telah terbabat oleh pedang seorang cantrik. Pemimpin
perampok itu menggeram. Kemarahannya telah sampai ke puncak
ubun-ubunnya. Ia mengira bahwa para perampok itu tidak akanmengalami
banyak kesulitan. Namun yang terjadi adalah lain. Para
pengawal pedati itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu
yang tinggi. Yang ternyata tidak dapat dihancurkan oleh jumlah
orang yang lebih banyak. Bahkan satu demi satu orang yang mencegat
pedati itu runtuh jatuh ke bumi. Pemimpin perampok itu kemudian
tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertempur berdua melawan Ki
Buyut. Seorang kawannya harus menarik diri dan bertempur melawan
seorang cantrikyang kehilangan lawannya. Karena itu,maka pemimpin
perampok itu tidak akan dapat berbuat banyak. Kawan-kawannya telah
menjadi jauh su sut. Meskipun dua orang bebahu terluka, bahkan Ki
Buyut sendiri. Serta seorang dari antara kedua pengawal itu-pun
terluka cukup parah, justru merekalah yang nampaknya akan
menguasai pertempuran. Tetapi, pemimpin perampok itu cepat tanggap
pada keadaan di sekitarnya. Karena itu, maka ia -pun telah
memberikan isy arat bahwa mereka lebih baik meninggalkan tempat itu
daripada membunuh diri sendiri. Dalam waktu yang sangat singkat,maka
para perampok itu telah mundur dan kemudian berlari bercerai berai
memanjat bukityang rendah itu. Ketika para bebahu dua pengawal
akan mengejar mereka, maka Ki Buyut-pun berteriak, “Cukup. Kita
tidak akan memburu mereka sampai kebukit. Kita tidak akan
meninggalkan pedati ini, sementara kita tidak tahu apa yang ada di
belakang bukit.” Para bebahu dan pengawal itu-pun berhenti pula.
Para cantrik ternyata sependapat dengan Ki Buyut, bahwa mereka tidak
perlu memburu orang-orang yang melarikan diri, karena mereka tidak
tahu apa yang akan mereka hadapi kemudian. Mungkin orang-orang itu
akan memanggil seisi padukuhan Larah yang sebagian besar masih
saling berhubungan darah dan terlibat pula dalam pekerjaanyang
hitam itu. Yang diperintahkan Ki Buyut kemudian adalah, “Kita ber
siap dan meneruskan perjalanan. Kawan-kawan kita yang terluka akan
ikut naik pedati.” “Tetapi bagaimana dengan tubuh-tubuh mereka
yang terbunuh itu Ki Buyut?” bertanya salah seorang bebahu. Ki
Buyut termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Bukannya kami tidak
berjantung. Tetapi kawan-kawan mereka tentu akan segera datang
kembali untuk mengambil tubuh-tubuhyang terbaring itu.” Para
bebahu itu saling berpandangan. Sementara itu seorang di antara para
cantrik berkata, “Tetapi sebaikny a, kita kumpulkan tubuh-tubuh itu
dan kita letakkan di tempat yang tidak terlalu dekat dengan jalan
itu. Namun yang kita yakini akan diketemukan oleh kawan-kawan
mereka.” Ki Buy ut-pun mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian,
“Tetapi cepatlah sedikit. Sebelum seluruh padukuhan Larah
datangmengepung kita.” “Kita akan bertempur meskipun aku sudah
terluka,” berkata bebahu yang terluka itu. “Aku-pun tidak akan
gentar,” berkata Ki Buy ut, “Tetapi bukankah lebih baik jika kita
tidak membunuh lagi?” berkata Ki Buyut. Lalu katanya kemudian, “Aku
telah menyebabkan pembunuhan-pembunuhan terjadi sebelumnya. Aku
tidak mau menambah beban lagi di pundakku. Semakin banyak darah
mengalir, rasa-rasanya aku akan semakin dalam terbenam di dalamnya.”
Bebahu itu tidak menyahut lagi. Namun ber sama dengan kawan-kawannya
dan kedua orang pengawal mereka telah mengumpulkan orang-orang
yang terbunuh dan terluka. Para cantrik-pun tidak membiarkan
mereka bekerja terlalu berat, sehingga kelima orang itu
telahmembantunya. Beberapa saat kemudian, maka beberapa sosok telah
terbaring di antara bebatuan. Di antara masih ada yang merintih
karena luka-lukanya. Para cantrik mencoba untuk menaburkan obat
diatas luka yang parah itu untuk mengurangi aliran darah dari
luka-lukamereka. “Jangan tinggalkan kami,” rintih seseorang yang
terluka parah sehingga tidak mampu ikut menarik diri dari arena
pertempuran. “Kami akan meneruskan perjalanan,” jawab cantrik itu,
“Kawan-kawanmu akan segera datang.” “Tetapi kami yang terluka parah
akan dapat mati di sini,” berkata orang itu. “Tidak. Lukamu sudah
pampat. Setidak-tidaknya darahnya tidak lagi mengalir terlalu
banyak. Kawan-kawanmu dari padukuhan Larah akan segera kembali
mengambilmu dan kawan-kawanmu,” jawab salah seorang cantrik.
“Tolong, panggil mereka,” minta orang yang terluka itu,
“Sebelum akumati.” “Maaf, tidak mungkin Ki Sanak. Jika aku pergi ke
padukuhan Larah, maka akibatnya akan buruk sekali bagiku.
Bagaimana-pun juga aku tidak dapat mengesampingkan pengertian kami
tentang padukuhan Larah. Apalagi peristiwa ini terjadi tidak terlalu
jauh dari Larah. Bukankah bulak ini yang disebut bulak Larah dan
tikungan ini juga sering disebut tingkungan hitam?” “Tetapi jika kau
tinggal kami,maka kami akan mati sia -sia. Tolong panggil keluargaku
di padukuhan itu.” minta orang itu semakinmendesak. “Di padukuhan
Larahmaksudmu?” bertanya cantrik itu. “Ya” jawab orang itu. “Sekali
lagi aku minta maaf. Kami tidak berani memasuki padukuhan itu.
Justru kami harus segera pergi dari tempat ini. Jika tidak, maka
roang-orang Larah akan mengepung tempat ini, dan kami harusmembunuh
lebih banyak lagi. Tahankan sedikit. Kawan-kawanmu akan segera
datang” berkata cantrik itu. Tetapi orang itumasih saja mengerang.
“Kita tidakmempunyai pilihan lain,” berkata Ki Buy ut. Lalu katanya
kepada orang yang terluka itu, “ Ingat apa yang telah terjadi
malam ini. Jika lain kali masih ada orang yang dirampok di sini atau
dimana-pun dan dilakukan oleh orang Larah, maka kami akan datang
dengan pa sukan yang cukup untuk menghancurkan Larah dan
membuat Larah menjadi karang abang. Ingat itu. Kali ini kami masih
menghidupimu, agar kau sempatmengatakan pesanku itu.” Ki Buyut tidak
menunggu lagi. Ia -pun segera meninggalkan orang-orang yang
terbunuh dan terluka dari antara mereka yangmencegat perjalanannya.
Sementara itu, seorang bebahu yang lukanya agak parah telah
ditempatkan di dalam pedati. Demikian pula salah seorang di antara
kedua pengawal. Ki Buyut sendiri sebenarnya juga terluka, tetapi
luka itu tidak berbahaya, sementara Ki Buyut sendiri memang tidak
menghiraukannya. Karena itu, maka Ki Buy ut lah yang kemudian
duduk di punggung kuda. Dua orang yang terluka cukup parah
sudah berada di dalam pedati setelah luka-lukanya menjadi pampat
oleh obat para cantrik. Demikian pula goresan-goresan pada tubuh
orang -orang yang lain, sehingga sama sekali tidak berdarah
lagi. Namun seorang cantrik telah berpesan, “Jangan terlalu banyak
bergerak, agar luka-luka itu tidak berdarah lagi.” Dua orang
yang berada di pedati, duduk sambil ber sandar tiang pedati.
Tubuh mereka terasa sangat lemah oleh lukalukanya. Namun ketika
mereka tersentuh oleh ikatan-ikatan senjata yang berguncang-guncang
di dalam pedati yang kemudian merangkak lagi dengan
lambatnya,maka rasa-rasanya jantung mereka justru berdegup semakin
cepat. Mereka sadar, bahwa mereka telah terluka saat mempertahankan
barang-barang yang sangat berharga itu. Sehingga di sela -sela
perasaan sakit yangmasih menggigit, terber sit perasaan bangga pula.
Demikianlah, maka pedati itu -pun merayap lewat jalan yang
agakmenanjak. Setelah melewati tikungan hitam,maka rasa-rasanya
perjalanan pedati itumenjadi semakin lambat. Tetapi mereka tidak
dapat berbuat banyak. Pedati itu memang sedangmelintasi jalan yang
agak naik. Ki Buyut justru berkuda di paling depan disertai dua
orang bebahu. di belakang pedati itu, berkuda kelima orang cantrik
dari padepokan Bajra Seta. Kemudian baru seorang bebahu dan seorang
pengawal. Malam terasa semakin lama semakin dingin. Namun demikian,
orang- orang berkuda itu justru berkeringat. Bukan sa ja karena
harusmengendalikan kuda-kuda mereka, namun mereka-pun masih saja
merasa sedikit tegang. Ketika seorang pengawal yang berada di
dalam pedati berniat untuk naik di punggung kudanya yang tertambat
di belakang pedati yang berjalan perlahan-lahan itu, maka seorang
cantrik telah mencegahnya. Katanya, “Tetaplah berada di dalam
pedati. Lukamu agak sedikit parah. Biarlah darahnya benar-benar
pampat lebih dahulu, agar tidak mengalir lagi dari luka-lukamu itu.”
Pengawal itu tidak dapatmemaksa. Ia -pun kemudian tetap duduk di
dalam pedati ber sama seorang bebahu yang lukalukanya memang
agak lebih parah dari pengawal itu. Dengan demikian maka perjalanan
selanjutnya berlangsung lambat sebagaimana sebelumnya. Ketika jalan
tidak lagi menanjak,maka pedati itu berjalan sedikit lebih
cepat.Namun perbedaannya tidak banyak. Sementara itu, orang-orang
Larah yang melarikan diri, memang langsung pergi ke padukuhannya.
Beberapa orang sempat mereka siapkan. Bahkan lebih dari limabelas
orang. Namun ketika mereka sampai ke t ikungan hitam,maka pedati dan
para pengawalnya sudah tidak ada. “Kita kejarmereka.” teriak
seseorang. Gegedug yang semula memimpin kawan-kawannya itu berkata,
“Tidak usah.” “Kenapa?” bertanya orang yang berteriak itu.
“Lihat di belakang batu besar itu,” berkata pemimpin itu. Orang yang
berteriak-teriak untuk mengejar itu-pun melihat apa yang ditunjukkan
oleh pemimpinnya itu. Ternyata darahnya-pun tersirap. Ia melihat
beberapa sosok tubuh yang membeku. Namun di antara mereka masih ada
yang tetap hidup danmendapat perawatan dari kawan-kawannya
itu. “Nah, bagaimana?” bertanya gegedug itu. Orang itu
tidakmenjawab. Tetapi ia menyadari, jikamereka memburu, meskipun
mereka tentu akan dapat menyusulnya karena pedati itu berjalan
sangat lamban, namun di antara mereka harus ada yang bersedia
terbujur mati lagi. Bahkan mungkin jauh lebih banyak, sementara
barang-barang berharga itu tidak dapatmerekamiliki. “Jumlah mereka
memang hanya berkisar sepuluh orang,” berkata pemimpinnya itu,
“Tetapi kemampuan mereka sama dengan kemampuan prajurit. Bahkan ada
di antara mereka yang lebih baik lagi.” Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Mereka-pun kemudian mengerti bahwa tidak ada
gunanya menyusul mereka. “Sebaiknya kita rawat kawan-kawan kita
yang terbunuh dan yang terluka parah itu,” berkata
pemimpinmereka. Karena itu,maka mereka tidak lagi berniat
untukmengejar pedati yangmembawa barang-barang yang tidak
diketahuinya, tetapi tentu barang-barang yang sangat berharga. Ki
Buy ut yang melanjutkan perjalanan telah menjadi semakin jauh
dari tikungan hitam. Betapapun lambatnya, maka akhirnya pedati itu
telah mendekati Kabuyutan Bumiagara. Ki Buyut yang berkuda di
paling depan itu telah dapat menarik nafas panjang-panjang. Mereka
akhirnya mampu kembali dengan selamat di Kabuyutan Bumiagara. Karena
itu, ketika iring -iringan itu melintasi sebuah tugu batu sebagai
batas Kabuyutan Bumiagara, maka rasa-rasanya titik-titik
embunmenyiram jantungmereka yang panas. “Kita telah berada di
Bumiagara,” berkata Ki Buyut lantang sehingga para cantrik-pun
ikutmengangguk-angguk gembira. “Kita akan langsungmenuju ke
padukuhan induk,” berkata Ki Buyut. Namun dalam pada itu, selagi
pedati itu berjalan tertatihtatih menuju ke padukuhan induk,
ternyata orang-orang padukuhan Larah telah menentukan tekadny a
untuk mencari jejak dan membalas dendam. Malam itu juga, dua orang
telah ditugaskan untuk menentukan arah pedati dan para pengiringnya.
Mereka harus mengikuti bekas r onda pedati itu sampai kesatu tempat
yang meyakinkan, kemana tujuannya. Dua orang yang dianggapmemiliki
kemampuanyang tinggi serta memiliki ketajaman pengenalan,
jejak telah mendapat tugas untukmelakukannya. “Berhati-hatilah. Kau
tidak boleh tertangkap oleh orangorang itu. Kita memang tidak dapat
menutup keny ataan, bahwa pengawal pedati itu memiliki kemampuan
yang tinggi, sehingga kita, dengan jumlahyang lebih banyak,
tidakmampu mengalahkanmereka,” berkata pemimpin mereka. Dengan
demikian, maka kedua orang itu -pun telah berangkatmenelusuri jejak.
Meskipun di dalam gelap, namun mata mereka cukup tajam mengenali
jejak pedati yang masih baru. Belum ada jejak lain yang dapat
menghapus jejak roda pedati itu. Apalagi ketika keduanya menjadi
semakin dekat dengan Kabuyutan Bumiagara. “Pedati itu pasti menuju
ke Bumiagara,” berkata salah seorang dari keduanya. “Marilah. Kita
akan mengikuti jejak pedati itu sampai ketempatnya berhenti,” desis
yang satu. “Sangat berbahaya,” berkata orang yang pertama. “Kita
harus y akin, dimana pedati itu berhenti dan akan lebih baik jika
melihat pedati itu dibongkar muatannya. Meskipun barangkali kita
tidak dapat mendekat dan apalagi melihat isinya.” “Tetapi dengan
demikian laporan kita menjadi lengkap.” berkata yang lain. Kawannya
tidak menjawab. Jika ia menolak, maka ia akan dapat dituduh
menghambat pekerjaan kawannya, atau bahkan dapat dianggap sebagai
seorang pengecut. Dengan demikian maka kedua orang itu telah
memasuki lingkungan Kabuyutan Bumiagara pula. “Bukankah kita
mempunyai kebiasaan berkeliaran di malam hari?” desis orang yang
pertama. “Ya,” sahutyang lain. “Kita mampu memasuki rumah orang
tanpa diketahui, sehingga kita -pun akan mampu mengikuti jejak
pedati itu sampai dikandangnya,” katanya pula. Kawannya tidak
menjawab. Sementara mereka menjadi semakin dalam memasuki Kabuyutan
Bumiagara. Jika pedati itu lewat melalui jalan padukuhan, maka
keduanya terpaksa melingkari padukuhan itu. Jika mereka menemukan
jejak pedati itu,makamereka telahmelanjutkan perjalanan mereka.
“Jika kita tidak menemukan jejaknya di mulut lorong yang
kedua, berarti pedati itu berhenti di padukuhan ini,” berkata yang
seorang lagi. “Apakah hanya ada dua mulut lor ong? Bagaimana jika
jalan itu bercabang di dalam padukuhan? Atau ada simpang empatnya?”
bertanya kawannya. “Jika kita memasuki padukuhan itu, maka kita akan
mendapatkan jawabnya, sehingga kita akan dapat mengikuti jejak itu
lagi. Tetapi kita akan lebih aman jika kita lebih banyak berjalan
diluar padukuhan. Apalagi jika ada per onda yang duduk digardu
dipinggir jalan itu,” jawab orang yang pertama. “Bukankah sudah
terbiasa bagi kita untuk berjalan menyusup kebun dan halaman?” desis
kawannya. “Bukankah justru akan lebih lama dari perjalanan kita
yang melingkar ini?” sahutyang pertama itu. Kawannya
tidak menjawab lagi. Tetapi keduanya berjalan terus mengikuti jejak
pedati yang ternyata memasuki padukuhan induk. “Sekarang kita
tidak perlu melingkar. Aku y akin, pedati itu berhenti di padukuhan
induk Kabuyutan Bumiagara ini.” berkata orang yang pertama itu.
Keduanya-pun kemudian dengan sangat berhati-hati memasuki pintu
gerbang. Namun mereka-pun dengan segera harus meloncati dinding dan
masuk ke halaman sebelah. Beberapa puluh langkah di hadapan mereka
terdapat sebuah gardu. Dibawah cahaya oncornya yang menyala cukup
terang, mereka melihat beberapa orang duduk berjaga-jaga digardu
itu. Tetapi dengan melewati halaman dan kebun yang gelap,
keduanya memasuki padukuhan induk itu semakin dalam. Keduanya sama
sekali sudah tidak canggung lagi, karena hal seperti itu telahmereka
lakukan beberapa puluh kali. Sekali-sekali keduanya memang mendekati
jalan induk padukuhan dan bahkan kemudian turun ke jalan itu untuk
melihat, apakah mereka masih tetap dapat mengikuti jejak pedati itu.
Sebenarnyalah, akhirnya keduanya melihat sebuah pedati berhenti di
sebuah halaman yang luas. Namun pedati itu sudah terlepas dari
sepasang lembunya. Bahkan tidak ada lagi orang yang sibuk
menurunkan barang-barang dari pedati itu. Yang nampak kemudian,
beberapa orang telah duduk di pendapa sambil minum-minuman panas.
Sementara di serambi gandok, nampaknya ampat orang per onda
berjagajaga sambilminumminuman panaspula. “Kita datang terlambat,
meskipun kita pasti bahwa kita berhasil menemukan pedati itu.
Beberapa ekor kuda masih tertambat di patok- patok bambu itu,”
berkata orang yang pertama. Kawannya menarik nafas dalam-dalam.
Katanya, “Sayang, kita tidak dapatmelihat apa yang termuat dalam
pedati itu.” Namun bagi kedua orang itu, hasil yang dicapainya
ternyata cukupmemuaskan. Mereka tidak saja menemukan arah pedati
itu, tetapi juga di mana pedati itu berhenti. “Kita kembali untuk
memberikan kabar kepada kawankawan kita,” berkata kedua orang itu.
Dengan sangat berhati-hati keduanya meninggalkan halaman rumah Ki
Buy ut Bumiagara. Sedangkan senjatasenjata yang dimuat dalam pedati
itu dengan cepat telah diturunkan dan disimpan di ruang dalam rumah
Ki Buy ut itu. Sementara itu, Ki Buyut telahmemerintahkan rumah itu
harus dijaga dengan baik sebelum senjata-senjata itu habis
dibagibagikan kepada orang-orang yang dianggap paling berhak
menerimanya. Orang-orang Larah yang sebagian mempunyai
kebiasaan buruk, telah mendendam orang-orang Bumiagara yang telah
berhasil menggagalkan rencana mereka untuk merampok barang-barang
yang mereka bawa. Bahkan pemimpip perampok dari Larah itu
berkata, “Aku sendiri akan datang ke Bumiagara. Aku akan merampok
semua isi rumah Buyut Bumiagara itu. Bukankah pekerjaan itu sudah
terlalu sering kita lakukan?” “Tetapi kita harus memperhatikan
kemampuan orangorang Bumiagara. Seputar sepuluh orang di antara
mereka, ternyata tidak dapat kita tundukkan. Padahal kita membawa
lima bela s orang kawan,” berkata kedua orang yangmengikuti jejak
pedati itu sampai ke rumah Ki Buyut Bumiagara. “Orang-orang
Bumiagara tidak berarti apa-apa bagi orangorang Larah. Tentu telah
terjadi kesalahan, kenapa kita lima belas orang tidak dapat
mengalahkan sepuluh orang Bumiagara. Tetapimungkin juga sepuluh
orang itu sendiri dari orang-orang yang paling baik di Kabuyutan
itu, sehingga mereka tidak mempunyai kekuatan lebih dari itu,” geram
pemimpin perampok yang terdiri dari orang-orang Larah itu.
“Memang mungkin,” jawab yang lain, “Tetapi Kabuyutan Bumiagara
cukup besar. Jika kemudian Bumiagara mengumumkan permusuhan dengan
Larah, mungkin kita akan mengalami kesulitan pula.” “Mana mungkin,”
jawab gegeduk yang memimpin para perampok dari Larah itu,
“Setiap laki-laki di Larah mampu mempergunakan senjata. Tentu tidak
demikian dengan orangorang Bumiagara.” “Ya, aku sependapat,” berkata
seorang perampok yang hampir sepanjang umurnya hidup dalam
suasana kekerasan, “Orang-orang Bumiagara tentu terdiri dari para
pengecut. Dalam per selisihannya dengan Padepokan Bajra Seta, mereka
telah bertumpu pada kekuatan orang lain. Prajurit Kediri yang
memberontak dan dari padepokan yang dipimpin oleh Empu
CarangWregu.” Beberapa orang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan
menunggu kesempatan itu. Untuk beberapa saat kita tidak akan berbuat
apa-apa. Tetapi pada suatu hari, tiba -tiba saja kita akan muncul di
halaman rumah Ki Buyut sebagai sekelompok perampok yang akan
mengakhiri kesombongan orang-orang Bumiagara yang telah meny inggung
perasaan orang-orang Larah.” “Tetapi kita harus tahu pasti, apakah
prajurit Kediri itu sudah tidak berada di Kabuyutan Bumiagara?”
berkata salah seorang di antara mereka. “Tidak. Mereka telah pergi.
Bumiagara telah ditinggalkan begitu saja dalam ketakutan menghadapi
ancaman dari beberapa pihak,” berkata gegedug yang memimpin
kawan-kawannya itu. “Tetapi apakah yang dibawa orang-orang
Bumiagara dengan pedati itu? Dan darimana pula?” desis seseorang.
“Aku tidak peduli. Tetapi barang-barang itu tentu barang berharga.
Kita akan mengambilnya di rumah Buyut Bumiagara. Kita tidak perlu
tergesa -gesa. Kita akan mengumpulkan tiga puluh orang dari Larah
ditambah dengan kawan-kawan kita yang terbaik. Kita akan merampok
seluruh padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Jika jumlah kita
sekitar empat puluh orang dengan orang-orang terbaik,maka Bumiagara
tidak akan dapat melawan kita, meskipun isyarat sempat diberikan ke
segenap penjuru Kabuyutan,” berkata gegedug itu, “Seandainya jumlah
mereka tidak terhitung,maka kita tidak akan mendapat kesulitan
untukmelarikan diri. Kita akan memencar, masing-masing dengan lima
sampai tujuh orang. Jika mereka berani memburu, maka kita akan
membantai orang-orang Bumiagara.” Kawannya mengangguk-angguk. Namun
nampaknya gegedug itu memang tidak tergesa-gesa. Ia harus
mengumpulkan sejumlah orang untuk meyakinkan agar Bumiagara dapat
ditundukkan, dikalahkan dan direndahkan harga diriny a sebagaimana
mereka merendahkan harga diri orang-orang Larah dengan menggagalkan
rencana mereka merampok pedati. Namun dalam pada itu, Bumiagara
telah mempunyai rencana tersendiri. Ki Buyut telah memerintahkan
setiap padukuhan untuk meny iapkan anak-anak mudanya. Pada tahap
pertama,masing-masing tidak lebih dari lima orang. Tetapi Ki Buy ut
Bumiagara sama sekali tidak berpikir tentang orang-orang Larah yang
mendendamnya. Jika ia mempersiapkan diri, maka yang
dibayangkan datang menyerang, adalah justru para prajurit Kediri
yang sedang memberontak itu. Karena itu, maka Ki Buy ut-pun berkata,
“Kita harus meningkatkan kemampuan anak-anak muda Bumiagara dengan
diam-diam. Jika para prajurit Kediri mengetahuinya, maka mereka
tentu akan semakin cepat datang untuk menghancurkan Kabuyutan ini.”
Dengan demikian, maka peningkatan kemampuan anakanak Bumiagara
dibagi menjadi beberapa kelompok yang berlatih di sanggar yang
berbeda-beda. Tiga atau empat padukuhan menjadi satu, sehingga
jumlahnya tidak begitu banyak. Setelah segala persiapan dimatangkan,
maka latihanlatihan- pun segera dimulai. Limabelas atau duapuluh
orang anak muda berkumpul di sebuah padukuhan yang ditunjuk.
Pada da sarnya mereka harus tetap dapatmelakukan pekerjaan mereka
sehari-hari. Pagi hari mereka pergi ke sawah. Kemudian lewat tengah
hari mereka sempat beristirahat di rumah beberapa saat. Baru
menjelang sore mereka pergi ke tempat yang telah ditentukan tanap
menarik perhatian orang banyak. Bahkan kadang-kadang mereka pergi ke
padukuhan yang ditunjuk tidak bersama-sama. Demikian pula kegiatan
mereka di tempat-tempat mereka berlatih selalu dilakukan di tempat
yang tertutup. Mereka terbiasa melakukan di rumah Ki Bekel atau
banjar padukuhan bagian belakang yang terlindung oleh dinding
halaman. Yang mula-mula sekali mereka pelajari adalah mempergunakan
berjenis-jenis senjata yang dibawa dari Padepokan Bajra Seta.
Lima orang cantrik yang ikut pergi ke Bumiagara telah di
tempatkan di tempat-tempat latihan. Set iap kali mereka bertukar
tempat, karena setiap cantrik memberikan latihan khusus serta
latihan mempergunakan satu jenis senjata. Kemauan yang besar
serta kesediaan untuk mematuhi segala macam petunjuk, membuat
anak-anak muda Bumiagara dengan cepatmeningkat. Mereka dengan
sungguhsungguh belajar mempergunakan senjata yang berbeda dengan
senjata yang mereka kenal ditempatmereka. Tetapi latihan-latihan
dengan senjata yang dibawa dari Padepokan Bajra Seta itu tidak
mematikan kemampuan mereka mempergunakan senjata-senjata dari jenis
yang lain. Senjata-senjata mereka sendiri. Bahkan para cantrik itu
telah memberikan tuntunan untukmempergunakan senjata apa saja yang
dapat mereka ketemukan. Dari senjata yang paling baik
sebagaimana mereka bawa dari Padepokan Bajra Seta sampai dengan
mempergunakan sepotong kayu yang mereka ketemukan di
pinggir-pinggir jalan atau carang bambu yang mereka patahkan atau
cambuk lembu pedati. Namun ketika mereka sudah meningkat semakin
tinggi, maka cantrik-cantrik itu mulai mengarahkan kepada setiap
orang yang ikut dalam peningkatan itu untuk memilih dan bahkan
mengarahkan anak-anak muda itu untuk memperdalam jenis-jenis senjata
tertentu. Ketika mereka menjadi mapan, maka senjata-senjata
yang mereka bawa dari Padepokan Bajra Seta itu-pun segera
mereka bagi-bagikan. Ada yang lebih mantapmempergunakan pedang, ada
yang lebih mapan bersenjata tombak. Namun ada yangmerasa tenang jika
mereka membawa kapak. Tetapi di samping itu, ternyata ada yang
memilih senjata cambuk.Orang-orang yang memilih ber senjata cambuk
sudah tentu harus membuat cambuk sendiri. Meskipun demikian para
cantrik itu-pun mampu memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana membuat
cambuk yang baik dari janget yang dirangkap tiga. Namun para cantrik
memberikan petunjuk pula, bahwa mereka yang memilih senjata dari
jenis cambuk dan senjata lentur lainnya, juga ber siap dengan
senjata tajam meskipun pendek. Pisau belati atau keris yang juga
harus dipelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, maka di
setiap padukuhan, sedikitnya ada lima orang anak muda yang
memiliki kemampuan yang semakin tinggi. Bukan saja karena
latihan-latihan yang tekun dan ber sungguh-sungguh, tetapi
mereka-pun membiasakan diri untuk meningkatkan kemampuan wadag
mereka. Pagipagi benar, jika mereka pergi kesawah mendahului orang
lain, mereka justru memilih jalan yang agak jauh dan sulit. Mereka
berlari-lari menyusuri tanggul sungai sambil memanggul cangkul,
menuruni tebing dan naik ke bukit-bukit rendah. Baru ketika matahari
terbit mereka sampai disawah. Mereka mempergunakan waktu sedikit
untuk menenangkan pernafasan mereka dan beristirahat digardu. Baru
kemudian, jika orang-orang lain telah datang, anak-anakmuda itu
mulai bekerja di sawah sebagaimana kebia saan mereka sebelumnya.
Ketika anak-anak muda yang lima dari setiap padukuhan itu
sudah menjadi semakin baik, maka setiap orang telah mendapat tugas
untuk memberikan tuntutan secara khusus kepada dua orang kawannya.
Dua orang yang bersedia berlatih dengan sungguh-sungguh. Tetapi
ternyata bahwa senjata yang sempat dibawa ke Bumiagara sangat
terbatas, sehingga yang mendapat bagian hanya anak-anak muda
yang ikut berlatih pada putaran pertama. Namun mereka akan
menjadi tulang punggung kekuatan anak-anakmuda di Bumiagara. Pada
tataran yang semakin meningkat, maka Bumiagara memang
banyakmengalami perubahan. Anak-anak mudanya menjadi semakin yakin
akan diri mereka sendiri. Apalagi setelah kemampuan dari anak-anak
muda yang ikut putaran pertama itu mulaimenjalar, sementara
anak-anakmuda yang ikut pada putaran pertama itu masih terus
berlatih bersama para cantrik untuk semakin meningkatkan kemampuan
mereka. Ketika segala sesuatunya telah menjadi semakin rancak, maka
seorang di antara para cantrik itu telah memilih sepuluh anak muda
yang lain khususny a dari padukuhan induk untuk mengadakan
latihan tersendiri. Bersama dengan lima orang yang lebih dahulu,
maka sepuluh orang di padukuhan induk itu akan menjadi pelindung
padukuhan induk. Demikianlah, dengan diam-diam Kabuyutan Bumiagara
telah berbenah diri. Setelah sebulan meny elenggarakan
latihan-latihan dengan bersungguh-sungguh, maka beberapa orang anak
muda telah benar-benar memiliki kemampuan mempergunakan senjata
dengan baik. Sementara itu, kemampuan mereka-pun seakan-akan telah
menjalar semakin lama semakin luas. Di setiap padukuhan sedikitny a
sudah ada lima orang yang dapat diandalkan. Mereka dengan
mempergunakan senjata khusus yang dibawa dari Padepokan Bajar Seta,
merupakan tulang punggung kekuatan yang ada di setiap
padukuhan. Sedangkan di hari-hari berikutnya, di padukuhan induk,
limabelas orang telah ditempa dengan sungguh-sungguh oleh para
cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Dalam pada itu, Ki Buyut telah
menjadi sedikit tenang menghadapi ancaman para prajurit Kediri yang
memberontak itu. Jika mereka kemudian datang untukmemeras tenaga dan
bahan makanan yang ada di Kabuyutan itu, maka Kabuyutan Bumiagara
akan dapat berbicara pula. Apalagi atas permintaan beberapa orang
bebahu, para cantrik telahmemberikan waktunya pula untukmeningkatkan
kemampuan mereka. Tujuh orang bebahu Kabuyutan yang masih berusia
muda, dan dua orang bebahu di setiap padukuhan. Bahkan ada beberapa
orang bekal yang masih belum terlalu tua, ikut pula meningkatkan
kemampuan mereka. Sementara itu, anak-anak muda yang telah
mendapat latihan khusus telah menjalarkan pengetahuan mereka dalam
olah senjata kepada masing-masing dua orang kawannya. “Seandainya
kami akan ditumpas habis oleh para prajurit yang memberontak
terhadap kepemimpinan Sri Baginda di Kediri itu benar-benar
dilakukan, maka kami tidak akan mati tanpa arti berkata Ki
Buyutyang telahmemiliki sebilah pedang yang besar dan panjang,
namun tidak terlalu berat meskipun kekuatan dan kemampuan
penggunaannya tidak kalah dengan pedang-pedang sebesar itu, namun
beratnya berbaut banyak. Apalagi di setiap hari, kekuatan dan
kemampuan anak-anak muda di Kabuyutan Bumiagara itu semakin
meningkat. Tetapi yang tidak diduga -duga itu ju stru terjadi.
Orangorang Larahyang menyabarkan dirimenunggu, barangkali ada lagi
sebuah pedati yang bakal lewat milik orang-orang Bumiagara, akhirnya
telah sampai ke puncaknya. Beberapa orang tidak lagi ingin menunggu
lebih lama lagi. Apalagi persiapanmereka telah mantap. Sekitar
tigapuluh orang Larah dan sekitarnya dan lima orang gegedug
yang dianggap memiliki ilmu yang t inggi ditambah dengan lima
orang kawan gegedug yang berilmu tinggi itu. “Kita bukan
sekedar membalas dendam. Tetapi kita akan merampok padukuhan Induk
Bumiagara habis-habisan. Ketika seorang di antara kita lewat
padukuhan induk itu,maka orang itu sempat melihat beberapa rumah
yang besar dan terawat baik. Rumah-rumah itu tentu rumah-rumah
orang kaya dan meny impan berbagai macam harta kekayaan yang
nilainya t inggi. Selama ini kita belum pernah melakukan hal seperti
ini. Beramai-ramai memasuki sebuah padukuhan untuk merampok bukan
saja rumah seorang yang kay a raya, tetapi kami akan merampok
seisi padukuhan. Kita akan menghancurkan rumah Ki Buy ut Bumiagara
setelah semua isiny a kita kuras habis,” berkata gegedug yang
memimpin orang-orang Larah. Kawan-kawannya mengangguk-angguk.
Seorang di antara mereka berkata, “Mungkin kita tidak akan menemukan
harta benda yang pantas untuk kita bagikan kepada orang sebanyak
ini. Tetapi aku tidak berkeberatan untuk melakukannya. Nampaknya
memang menarik untuk melakukan satu pekerjaan yang belum
pernah kita lakukan sebelumnya. Bia sanya sekelompok berandal dan
perampok tidakmembawa lebih dari sepuluh orang kawan. Namun kita
tahu, bahwa selain merampok, kalian nampaknya ingin membalas sakit
hati karena usaha kalian untuk merampok pedati lebih dari sebulan
yang lalu itu gagal. Bahkan ada di antara kalian yang terbunuh.
Sementara orang-orang Bumiagara sama sekali tidakmeninggalkan
korban.” “Ya. Kau benar,” sahut pemimpin dari orang-orang Larah,
“Sekali ini kita melakukan kerja rangkap. Kita sudah cukup ber sabar
sehingga waktunya telah sebulan lewat. Ternyata tidak ada lagi
pedati yang lewat dengan membawa barangbarang berharga.”
“Kalianlah yang dungu,” sahut salah seorang gegedug, “Mereka
tidak akanmaumengambil jalan itu lagi.” “Kami sudah
memperhitungkan,” jawab pemimpin orangorang Larah, “Kami sudah
mengamati tiga jalur jalan yang mungkin dilalui. Tetapi kami telah
gagal.” Gegedug itu tertawa. Katanya, “Sekarang kau akan mengambil
sendiri di Bumiagara. Baiklah. Kita akan melakukannya di permulaan
pekan mendatang, setelah bulan leny ap dari langit. Dalam kegelapan
maka kita akan dapat menjadi semakin buas.” “Aku sependapat,”
berkata pemimpin orang Larah, “Aku masih akan mengirim orang untuk
mengamati keadaan di Bumiagara.” Yang lain mengangguk-angguk. Namun
mereka telah sepakat lima hari lagi, mereka akan pergi ke Bumiagara
untuk melepaskan dendammereka. Bagimereka, waktu yang hampir
dua bulan itu tentu sudah cukup lama. Bahkan terlalu lama untuk
menunggu kesempatan membalas dendam kematian kawan-kawan mereka
serta kegagalan mutlak saat mereka berniatmerampas benda -benda
berharga. Namun seorang di antara para gegedug yang siap
membantu itu berkata, “Ma sih belum terlalu lama. Untuk sebuah
dendam karena kematian seorang kawan, sepuluh tahun-pun bukan
hitungan yang lama. Daripada kita tergesagesa melakukannya,
namun hasilnya justru sebaliknya, maka kita lebih baik menunggu
untuk beberapa lama, namun dengan satu key akinan.” Orang yang
memimpin kawan-kawannya dari Larah dan sekitarnya itu-pun
mengangguk-angguk. Katanya, “Selama dua bulan kita mempersiapkan
diri sambil mengamati perkembangan Kabuyutan Bumiagara. Namun
agaknya Bumiagara terlalu lelap dalammimpiyang mengasikkan.” “Besok
mereka akan segera terbangun,” jawab kawannya yang lain.
Sebenarnyalah Bumiagara memang tidak mengira sama sekali, bahwa
Larah akan mencoba untuk membalas dendam dan meny erang bahkan
merampok padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Namun demikian diluar
kehendak mereka mempersiapkan dirimenyambut serangan itu,mereka
telah menempa anak-anak mudanya yang disiapkan untuk menghadapi para
prajurit Kediri. Meskipun dalam waktu dua bulan olah kanuragan,
namun anak-anak muda Bumiagara yang berlatih dengan
sungguhsungguh disetiap hari itu, merupakan peningkatan kemampuan
yang sangat berarti. Mereka telah menguasai senjata mereka
masing-masing. Mengenal berbagai macam cara untukmempertahankan diri
dan meny erang. Selain anak-anak muda itu, maka beberapa orang
bebahu yang pada da sarnya telahmemiliki landasan kemampuan olah
kanuragan, menjadi semakin mapan. Dengan senjata yang mereka terima
dari Padepokan Bajra Seta, maka mereka merupakan orang yang memiliki
ketangkasan yang tinggi dalam olah senjata dari jenis senjata
mereka masing-masing. Kecuali peningkatan kemampuan olah kanuragan,
maka day a tahan anak-anakmuda di Kabuyutan Bumiagara itu-pun telah
meningkat pula. Di dalam sanggar atau dihalaman belakang rumah para
Bekel padukuhan, mereka tidak saja belajar ilmu olah senjata. Tetapi
mereka-pun berusaha untuk meningkatkan day a tahanmereka dengan
latihan-latihan yang berat, namun teratur dengan tuntutan para
cantrik. Diluar latihan-latihan itu, mereka-pun mempergunakan sesaat
pagi hari menjelang bekerja di sawah untuk meningkatkan daya
tahanmereka pula. Sementara itu, beberapa orang anak muda di
hari-hari terakhir melihat orang-orang yang tidak dikenal berjalan
hilir mudik di Kabuyutan Bumiagara, terutama di padukuhan induk.
Meskipun mereka menjadi curiga, tetapi anak-anak muda itu
tidakmengambil tindakan sebelum merekamelaporkannya kepada Ki Buyut
atau salah seorang bebahu Kabuyutan. Ketika seorang
anakmudamenyampaikan hal itu kepada Ki Buyut,maka Ki
Buyut-punmenjadi berdebar-debar. “Apakah nampaknya orang itu seorang
prajurit Kediri?” bertanya Ki Buyut. Anak muda itu menggeleng.
Katanya, “Agaknya orang itu bukan seorang prajurit. Meskipun orang
itu bertubuh tinggi tegap dan kekar, tetapi sikapnya bukan sikap
seorang prajurit.” “Awasi jika ada orang yangmencurigakan. Tetapi
kita tidak perlu tergesa-gesa mengambil tindakan,” berkata Ki Buyut.
Sebenarnyalah di hari berikutnya, seorang anakmuda yang
kebetulan berjalan dengan seorang cantrik Padepokan Bajra Seta
yang ada di Bumiagara itu bertemu lagi dengan orang yang
menarik perhatian. Meskipun jalan induk Kabuyutan Bumiagara
itumemang ramai dilewati orang dari tempat yang lain, namun sikap
orang yang agaknya memperhatikan keadaan sekelilingnya itu
agakmencurigakan. “Kita temui orang itu” berkata anak muda
yang berjalan ber sama seorang cantrik itu. “Jangan,” jawab
cantrik itu, “Seandainya orang itu berniat buruk, kita tidak
dapatmembuktikannya.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun ketika
hal itu dilaporkan kepada Ki Buyut,maka Ki Buy ut menjadi semakin
ber sungguh-sungguhmenanggapinya. “Mungkin orang-orang Larah,”
berkata cantrik itu, “Menilik sikap dan pandanganmatanya yang
kasar.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata,
“Agaknya orang-orang Larah telah mendendam kepada kita.” Karena
itulah, maka Ki Buyut memerintahkan untuk meningkatkan kesiagaan.
“Tidak usah berlebihan. Tetapi gardu-gardu parondan harus terisi.
Alat uatuk memberikan isy arat harus tersedia.” “Namun ada kalanya
kita justru tidak mempergunakan isy arat itu,” berkata Ki Buyut,
“Mungkin kita ingin menjebak seseorang atau sekelompok orang.”
Anak-anakmuda itu -punmengangguk-angguk. Dengan demikian, maka
pengawasan di malam hari menjadi semakin meningkat. Tetapi
yang nampak digardugardu tidak lebih dari beberapa orang anak
muda yang terkantuk-kantuk. Di hari yang telah direncanakan, maka
orang-orang Larah ber sama para gegedug telah berkumpul menjelang
senja. Mereka mempersiapkan segala sesuatunya yang akan mereka bawa
ke Bumiagara, terutama senjata mereka. Senjata bagi mereka akan
dapat berarti nyawa. Dengan dibakar oleh dendam, maka orang-orang
Larah telah berangkat menuju ke Bumiagara ketika malam mulai turun.
Mereka memecah dirimenjadi beberapa kdompok kecil agar perjalanan
mereka tidak menarik perhatian, apabila ada orang yang
kebetulan melihat. Namun beberapa orang di antara mereka sama sekali
tidak berkepentingan dengan dendam orang-orang Larah. Bagimereka,
Bumiagara memang satu sumber yang akan dapat memberikan banyak
kemungkinan. Mungkin uang. Tetapi mungkin juga barangbarang
berharga. Orang-orang Bumiagara memang banyak yangmenjadi saudagar
yang berhasil. Mendekati tengah malam, maka orang-orang Larah
serta beberapa orang gegedug itu telah memasuki Kabuyutan Bumiagara.
Mereka memang memilih mengikuti jalan-jalan bulak dan bahkan
menyusuri pematang dan tanggul-tanggul parit untuk menghindari
padukuhan-padukuhan, langsung menuju ke padukuhan induk Bumiagara.
Namun orang-orang Bumiagara yang berada di gubuggubug disawah
yang memang dipasang oleh para bebahu, sempatmelihatmereka.
Seperti yang sudah direncanakan,maka mereka-pun segera pergi
ke padukuhan terdekat untuk memberitahukan kedatangan
kelompok-kelompok yang tidak mereka kenal sebelumnya. “Tentu bukan
prajurit Kediri,” berkata salah seorang Bekel yang mendengar laporan
itu, “Prajurit Kediri yang memberontak itu tidak akan datang dengan
diam-diam. Mereka tentu akan datang dalam ujud pasukan yang utuh.”
Kesimpulan Ki Bekel adalah, bahwa yang datang itu tentu orang-orang
Larah yang mendendam, sebagaimana diduga sebelumnya. Dengan
demikian,maka Ki Bekel bersama lima orang anak muda yang telah
meningkatkan kemampuan mereka, serta memiliki senjata khusus dari
Padepokan Bajra Seta telah berangkatmeninggalkan padukuhan mereka.
Dengan hati-hati mereka telah menyusuri jalan langsung menuju ke
padukuhan induk. Justru memilih jalan yang akan melintasi
beberapa padukuhan. Jalan yang tentu tidak dipilih oleh
orang-orang Larah dan beberapa orang gegedug itu. Di setiap
padukuhan, Ki Bekel telah memberitahukan, bahwa beberapa kelompok
kecil orang yang tidak dikenal telah menuju ke padukuhan
induk. Padukuhan-padukuhan yang dilewati-pun telah pula menyebar
orang-orangnya untuk memberitahukan pula kepada padukuhanyang
lain, sehingga padukuhan-padukuhan itu telah mengirimkan lima anak
muda terbaiknya ke padukuhan induk. Namun seperti pesan yang
sampai kepada mereka, agar mereka berhati-hati dan menunggu isy arat
untuk memasuki padukuhan
induk.
Jilid100 KARENA itulah, maka ketika
orang-orang Larah dan para gegedug mendekati padukuhan induk, maka
anak-anak mudapun telah berada di belakang mereka pada jarak
beberapa puluh patok. “Kita akan memasuki padukuhan dengan
diam-diam” berkata pemimpin orang-orang Larah itu. Seperti
yang dikehendaki oleh pemimpinnya, maka orangorang Larah
itupun telah memasuki padukuhan induk dengan diam-diam. Mereka
berusaha untuk dapat langsungmenuju ke rumah Ki Buyut Bumiagara.
Namun, ternyata bahwa mereka tidak dapat meny ergap rumah itu
sebagaimana mereka kehendaki. Ternyata didekat re-gol rumah Ki Buyut
terdapat sebuah gardu. Satu dua orang yang pernah melihat-lihat
keadaan rumah Ki Buyut dimalam hari, dapatmeny ingkir dari
pengamatan orang-orang di gardu itu. Namun yang dapat adalah terlalu
banyak orang untuk dapat menghindarkan diri dari penglihatan
orang-orang di gardu itu. Karena itu, maka pemimpin dari orang-orang
Larah itu justru memerintahkan beberapa orangnya untuk menyergap
gardu itu dan membungkam orang-orang yang ada di dalamnya. “Jika
mereka melawan, apaboleh buat” berkata gegedug itu. Baginya nyawa
orangmemang tidak begitu berharga. Sebenarnyalah tiba -tiba saja
lima orang telah muncul didepan gardu itu sambilmengacukan
senjatamereka. Dengan lantang salah seorang darimereka berkata geram
”Kalian tidak akan dapatmelawan kami. Jika kalian mencoba, maka
berarti kalian akan mati. Aku tidak bermain-main. Kematian bagi kami
tidak akanmembekas apa-apa” Anak-anak muda itu memang terkejut.
Mereka ternyata terlalu asik bermain-main untuk mengusir kantuk,
sehingga mereka tidak melihat orang-orang yang sudah mereka
duga sebelumnya itu datang dengan tiba-tiba. Untuk beberapa saat
anak-anak muda itu berdiam diri. Sementara orang yang mengancam itu
berkata ”Berikan senjata!kalian” Anak-anak muda itu termangu-mangu.
Senjata-senjata mereka adalah senjata-senjata yang diterimanya
dari Padepokan Bajra Seta sehingga bagi mereka senjata itu merupakan
senjata yang sangat berarti. Sementara itu, kawan-kawan orang
yang mengancam itu telah memasuki halaman Kabuyutan. Mereka
meloncati dinding halaman dan langsung turun di halaman samping.
Tetapi yang tidak mereka duga, bahwa mereka ternyata telah
berada di belakang gandok tempat para cantrik tinggal selamamereka
berada di Bumiagara. Karena itu,maka para cantrikpun telah
terbangun. Telinga mereka yang tajam, telah menangkap langkah
orang yang tidak hanya satu dua dibelakang gandok itu. “Mereka telah
datang” berkata salah seorang diantara para Cantrik. Karena itu,
dengan tangkasnya, para cantrik itu telah ber benah diri. Mereka
segera menyangkutkan pedang mereka dilambung. Sejenak mereka
mendengarkan derap kaki dibelakang gandok itu dengan saksama. Namun
orang-orang itu telah menebar. “Mereka cukup banyak” desis salah
seorang darimereka. Kelima cantrik itupun segera membuka pintu bilik
mereka dengan sangat berhati-hati. Ternyata belum ada diantara
orang-orang yang datang itu di halaman depan. Karena itu, maka
berlima merekapun segera berlari keluar dan naik ke pendapa. “Kenapa
anak-anak muda yang berada digardu tidak membunyikan isy arat
?” desis para cantrik. Beberapa orang pengawal yang ada di
pringgitan memang terkejutmelihat para cantrik itu. Seorang diantara
para cantrik itu berkata ”Ber siaplah. Mereka telah datang.” “Regol
halaman itu masih tertutup.” jawab pemimpin sekelompok anakmuda yang
ada dipringgitan. “Mereka tidak masuk melalui regol. Tetapi mereka
masuk melalui dinding halaman dibelakang gandok.” jawab cantrik itu.
Anak-anak muda itupun segera bangkit. Senjata mereka pun dengan
cepat telah berada ditangan. Namun cantrik itu berkata ”Kita
tidakmau terlambat. Bunyikan isy arat.” Dua orang diantara anak-anak
muda itu telah meloncat berlari untuk membuny ikan kentongan
yang tergantung diserambi gandok. Namun langkah mereka
terhenti. Ternyata orang-orang yang memasuki halaman samping
dibelakang gandok itu telahmulaimengalir ke halaman. “Bangunan Ki
Buyut” desis salah seorang cantrikyang telah mempersiapkan
diri. Seorang diantara para cantrik itu telah memukul daun pintu
pringgitan. Mula-mula memang hanya perlahan-lahan. Namun ketika
orang-orang yang berada di halaman itu mulai bergerak,maka
ketukan pintu itumenjadi semakin keras. Ki Buyutpun terkejut. Dengan
cepat ia tanggap. Karena itu, maka iapun telahmempersiapkan diri.
Ketika ia berdiri dipintu. Ki Buyut memang ragu-ragu. Karena
itu,maka iapun bertanya ”Siapa diluar.” “Kami, para pengawal Ki Buy
ut.” jawab salah seorang diantara anak-anakmuda itu. Ki Buyutpun
telah membuka pintu. Namun pedangnya telah teracu. “Ada apa ?”
bertanya Ki Buyut yang belum melihat beberapa orang yang bergerak di
halaman. “Mereka telah berada di halaman” jawab pengawal itu.
“Kenapa kalian tidak membuny ikan isyarat ?” bertanya Ki Buyut.
“Kami terlambat. Kentongan itu telah mereka kuasai.” jawab pengawal
itu. “Ada kentongan kecil di longkangan” desis Ki Buyut. Pengawal
itu ragu-ragu, sementara Ki Buyut telah keluar dan berdiri diantara
para cantrik.Orang-orang yang berada di halaman itu mulai
bergerak mendekati pendapa. Sementara yang lain telah berada
diserambi gandok dan selebihnya mencobamengepung rumah itu. Namun
akhirnya pengawal itu masuk kerumah Ki Buyut dan pergi ke pintu
butulan. Seorang anakmuda, yang sehari-harimemang bekerja pada Ki
Buyut bertanya ”Kaumaumencari apa ?” “Kentongan” jawab pengawal itu.
Anak muda yang juga telah bersenjata itupun membawa pengawal
itu ke longkangan. Seorang laki-laki yang sudah separo bay a telah
terbangun pula dan bertanya ”Ada apa ?” “Cepat, bangunkan para
pembantu di rumah ini” berkata anakmuda itu. Pengawal itupun segera
menemukan kentongan kecil yang tergantung dilongkangan. Namun
sebelum ia meng ayunkan pemukul, ia berkata ”Amankan Ny i Buyut dan
keluarga yang lain.” “Mereka tidak ada dirumah. Sejak kemarin mereka
telah diungsikan. Memang tidak ada yang tahu.” jawab anak muda
itu. Pengawal yang sudah memegang pemukul kentongan itu
mengangguk kecil. Namun tangannyapun kemudian telah terayun memukul
kentongan itu dengan nada titir. Orang-orang yang ada di
halaman memang terkejut mendengar suara kentongan itu.Namun suara
itu seakan-akan merupakan perintah bagimereka untuk segerameny
ergap. Ternyata suara kentongan itu juga mengejutkan orangorang
Larah yang mengancam anak-anak muda yang ada digardu diluar
regol rumah Ki Buyut.Namun saatyang sekejap itu telah dimanfaatkan
oleh anak-anak muda yang ada di gardu. Seorang dian-tara mereka
dengan cepat meloncat kesamping sambil menarik pedangnya. Sedangkan
yang lainpun telah bangkit berdiri dilantai gardu yang agak
tinggi itu. Dengan cepat senjata merekapun telah terayun, sementara
seorang diantara mereka telah memukul lampu oncor yang dipasang,
diemper gardu itu, sehingga oncor itupun telah terjatuh hampir
menimpa orang-orang yang sedang mengancam itu. Karena itu,maka
orang-orang yang mengancam anak-anak muda itupun berloncatan surut,
sehingga oncor itu tidak mengenai danmembakar kulitmereka. Namun
dengan demikian,maka anak-anakmuda yang ada digardu itu telah
luput dari tangan mereka. Kegelapan yang tiba -tiba saja mencengkam
setelah oncor itu padam, dipergunakan oleh anak-anak muda itu dengan
sebaikbaiknya, sehingga sejenak kemudian, mereka telah berada diluar
gardu itu. Dengan demikianmaka merekapun telah siap untuk bertempur
melawan orang-orang yangmengancam itu. Tetapi dalam .pada itu,maka
orang-orang yangmeny erang rumah Ki Buy utpun telah mulai meny
erang. Yang ada dipendapa adalah lima orang cantrik, Ki Buyut dan
beberapa orang pengawal. Sementara itu, para pembantu Ki Buyut juga
sudah ber senjata apa saja yang dapatmereka pegang. Parang, linggis
atau kapak pembelah kayu. Namun suara kentongan itu telah terdengar
oleh anak-anak muda yang ada di gardu dimulut lor ong. Apalagi
ketika dalam kegelapan, seorang anak muda yg berada digardu didepan
regol Ki Buyut itupun sempat memukul kentongan pula, sementara
yang lainmulaimemancing pertempuran. Demikianlah, maka
pertempuranpun segera berkobar. Diluar dan didalam halaman rumah Ki
Buyut.Namun agaknya lima orang cantrik Ki Buy ut dan para pengawal
masih terlalu sedikit untuk menghadapi orang-orang yang meny erang
padukuhan induk itu. Karena itu,maka para cantrik dan pengawal
itupun segera terdesakmundur kepringgitan. Sementara itu, beberapa
orang peny erang yang lain berusaha untuk memecahkan pintu seketheng
untukmembungkam suara kentongany g dipukul di longlcangan. Meskipun
kentongan itu kecil, tetapi suaranya justru melengking tinggi
menggetarkan udara malam di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara.
Ternyata pada saat yang demikian, anak-anak muda yang menunggu
isy arat diluar padukuhan telah berlari-lari keregol padukuhan.
Namun kemudian bersama dengan anak-anak muda yang berada di regol,
mereka telah menuju kerumah Ki Buyut. Kedatangan mereka telah
mengejutkan orang-orang Larah dan para gegedug yang telah ada
di halaman rumah itu. Begitu banyak anakmuda yang datang. Namun
orang-orang yang datang menyerang itu menganggap bahwa mereka tidak
lebih dari anak-anak pedesaanyang hanya pandaimenyabit rumput. Namun
setelah senjata mereka mulai beradu, maka anggapan merekapun segera
berubah. Apalagi mereka yang telah bersentuhan dengan para cantrik
yang ada dipendapa. Meskipun semula mereka mampu mendesak para
cantrik dan Ki Buyut kepringgitan, namun mereka tidak dapat
mengingkari, betapa kemampuan para cantrik itu telah mengguncangkan
senjata -senjata mereka. Namun ketika anak-anak muda Bumiagara mulai
memasuki halaman Ki Buy ut,maka keseimbanganpun segera berubah.
Orang-orang Larah itu harus turun lagi dari pendapa untuk melawan
anak-anak muda itu. Bahkan mereka yang sedang berusaha merusak pintu
sekethengpun harus turun pula ke halaman. Seorang diantara mereka
yang meny erang rumah itu telah berusaha memanjat dinding disebelah
seketheng dan masuk ke longkangan. Dengan serta merta ia meny erang
anakmuda yang masih saja membuny ikan kentongan dan bahkan telah
disahut oleh kentongan di gardu-gardu dan rumah-rumah di padukuhan
itu sehingga suaranyamenjadi sangat riuh. Namun orang itu ternyata
bernasib sangat buruk. Anak muda yang memukul kentongan itu memang
meletakkan pemukul kentongannya, namun langsung mencabut pedangnya.
Iapun segera menyambut orang itu sehingga keduanyapun segera
bertempur di longkangan. Namun dua orang pembantu dirumah Ki Buyut
itu telah ikut pula memasuki lingkaran pertempuran. Seorang
diantaranya membawa kapak dan yang lain membawa sepotong besi
yang tajam untukmengupas kelapa. Yangmula -mula melukai orang itu
adalah anakmuda yang ber senjata pedang dan yang telah ditempa
oleh para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Namun kemudian, orang
itu kehilangan keseimbangan ketika ujung pedang anakmuda itu masih
saja memburunya. Dalam keadaan yang demikian, orang itu tidak
sempat mengelakkan pukulan yang mempergunakan sepotong besi pengupas
kelapa itu, sehingga sepotong besi itu telahmengenai punggungnya.
Orang itu mengaduh kesakitan. Tubuhnya langsung jatuh terjerembab.
Pada saat itu orang yang membawa kapak pembelah kayu itu telah
mengangkat kapaknya dan diayunkannya keleher ornag yang belum
sempat bangkit itu. Namun ternyata kapak itu bagaikan didor
ongmenyamping sehingga tidak mengenai sasarannya. Kapak itu
terhunjam dalam-dalam ditanah, hanya sejengkal dari leher orang yang
jatuh terjerembab itu. “Kau tidak perlu membunuhnya” berkata anak
muda itu kepada orang yang telah mengayunkan kapaknya itu. “Tetapi
ia telah meny erang rumah ini” jawab orang yang memegang kapak
itu. “ Ia tidak akan dapat bangkit lagi. Punggungnya tentu sudah
patah” berkata anakmuda itu. Anak muda itu masih ragu-ragu. Namun
pengawal itu berkata ”Betapapun kuatnya tulang-tulangnya, tetapi
dihantam dengan linggis sekuat itu, tentu tidak akan dapat tahan.
Jika tulang punggungnya tidak patah, tentu sudah retak.” Anak muda
itu mengangguk-angguk. Namun iapun segera mengangkat kapaknya dan
melangkah ke seketheng. “Kau akan kemana?” bertanya pengawal itu.
“Aku akan turun ke halaman. Aku ingin turut bertempur” jawab orang
yang membawa kapak itu. “Kemarilah. Kita keluar lewat ruang dalam.
Jangan membunuh diri. Demikian kau keluar lewat seketheng, kepalamu
akan dipenggal putus oleh orang-orang yang sudah berada di
luar seketheng itu. Orang yang membawa kapak itu termangu-mangu.
Namun kemudian iapun telah mengurungkan niatnya. ”Sebaiknya kalian
berjaga-jaga disini. Jika ada orang memanjat dinding di sebelah meny
ebelah seketheng itu, hentikan dengan caramu.” “Bagus” berkata orang
yang membawa kapak ”aku akan menyelesaikanmereka.” “Tetapi kau
jangan bersikap seperti itu. Kau akan terkejut mengalami kenyataan
yang tidak kau duga sebelumnya. Karena itu lebih baik kau bersikap
berhati-hati dan mempergunakan penalaranmu dengan baik. Simpanlah
sedikit gejolak perasaanmu sehingga ada kese imbangan antara
perasaan dan penalaran” berkata pengawal itu. Orang yang membawa
kapak itu mengangguk-angguk. Katanya ”Ya. Akumengerti.” Demikianlah
pengawal itupun segera masuk ke ruang dalam. Sementara itu, di
pendapa telah terjadi pertempuran. Namun pertempuran yang sengit
telah terjadi pula di halaman. Anak-anak muda yang datang dari
padukuhanpadukuhan telah berada di halaman itu pula. Demikian pula
anak-anak muda yang telah ditempa secara khusus oleh para
cantrik serta para bebahu yang telahmeningkatkan ilmunya. Para
gegedug yang ada di halaman, memang tertahan oleh para cantrik
yangmemiliki kemampuan yang lebih tinggi dari anak-anak muda
Bumiagara. Dengan senjata yang mereka buat secara khusus, maka para
cantrik itu seakan-akan memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi
dari kemampuan mereka yang sebenarnya. Namun gegedug yang meny erang
Kabuyutan Bumiagara yang diminta membantu orang-orang Larah itu
adalah orangorang yang telah memiliki pengalaman yang sangat luas.
Karena itu, meskipun dengan susah payah, mereka mampu mengimbangi
para cantrik yang terpilih dari Padepokan Bajra Seta itu.
Dengan demikian, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin
sengit. Anak-anak muda Bumiagara masih sa ja berdatangan. Bahkan
mereka yang masih belum sempat meningkatkan kemampuan telah datang
pula ke halaman. Namun kawan-kawan mereka yang telah memiliki
senjata khusus yang mereka terima dari Padepokan Bajra Seta itu
berusaha untuk menahan mereka agar mereka berjaga-jaga sa ja jika
ada diantara lawan-lawan mereka yang akan melarikan diri.
Orang-orang Larah yang datang untukmenebus kegagalan mereka,
serta melepaskan dendam atas kematian beberapa orang diantara mereka
termasuk yang terluka parah dan menjadi cacat seumur hidupnya, serta
rencana mereka untuk merampok seisi padukuhan induk Kabuyutan
Bumiagara, telah mengerahkan kemampuan mereka. Sebagaimana kebiasaan
mereka, maka mereka telah bertempur dengan garangnya. Bahkan semakin
lama menjadi semakin keras dan kasar. Para gegedug pun telah
menghentakkan kemampuan mereka. Mereka memang tidak mengira bahwa di
Bumiagara ada anak-anak muda yang memiliki kemampuan demikian
tinggi. Mereka tidak tahu bahwa mereka adalah para cantrik dari
Padepokan Bajra Seta. Bahkan juga mereka tidak tahu bahwa diantara
anak-anak muda Bumiagara sendiri dengan senjata yang mereka terima
dari Padepokan Bajra Seta telah mampu bertempur dengan garangnya.
Namun ternyata bahwa orang -orang Larah segera menemui kesulitan.
Anak-anakmuda yang berdatangan telah mendesak maju, sementara
orang-orang Larah dan para gegedug yang datang tidak mampu mendesak
orang-orang yang berada di pendapa. Dengan demikian orang-orang
Larah dan para gegedug itu justru telah terjepit. Para cantrik,
beberapa pengawal dan beberapa orang bebahu yang kemudian juga telah
berdatangan di rumah Ki Buyut telahmendesakmereka dari pendapa.
Sementara anak-anak muda telah mengepung halaman itu dan menekan
orang-orang Larah dari segala penjuru. Orang-orang Larah dan para
gegedug itu memang mulai menjadi gelisah. Namun kegelisahan
orang-orang yang kasar dan bahkan buas itu telah terungkap
dalam sikapmereka. Orang-orang yang meny erang padukuhan induk
Kabuyutan Bumiagara itu memang semakin lama menjadi semakin keras,
kasar dan bahkan buas. Mereka sama sekali tidak lagi berpijak pada
paugeran perang. Apapun yang dapat mereka lakukan telah mereka
lakukan untuk menghalau serangan anak-anak muda yang masih
mereka anggap belum waktunya untuk turun ke medan pertempuran. Namun
ternyata mereka memang mampu. Mereka justru telah mengejutkan
orang-orang Larah dan para gegedug, karena mereka mampumengimbangi
dan bahkan ada diantara mereka yang mendesak lawan mereka. Apalagi
para cantrikyang mendesak lawan-lawannya turun dari pendapa. Namun
dengan demikian maka para gegedug dan orangorang yang merasa telah
terbiasa hidup diantara garangnya tindak kekerasan itu, sama sekali
tidak mau melihat keny ataan, bahwa anak-anak muda Bumiagara mampu
melawan mereka. Mereka juga tidak tahu bahwa ada lima orang cantrik
terpilih dari Perguruan Bajra Seta yang berada di Kabuyutan
itu justru untuk meningkatkan kemampuan anakanak muda di Kabuyutan
itu. Kabuyutan yang pernah minta bantuan beberapa pihak untuk
meny erang Padepokan Bajra Seta itu sendiri Lebih-lebih lagi para
gegedug yang datang dengan dada tengadah serta menyatakan
kesediaan mereka membantu orang-orang Larah, meskipun dengan pamrih,
merampok isi Kabuyutan Bumiagara, khusus di padukuhan induk. Para
gegedug itu telah bertempur dengan garangnya bagaikan orang
kehilangan nalar. Senjata, mereka terayunayun mengerikan. Seorang
diantara mereka membawa canggah yang ujungnya justru berkait
dengan tangkai yang tidak begitu panjang. Kemampuannya mempermainkan
senjatanya yang mengerikan itu, membuat beberapa anak muda
terdesakminggir. Namun seorang cantrik yang melihatnya, segera
meloncat kearahnya dengan membawa tombak pendek ditangannya. Ketika
mulut canggahyang bercabang dua itu hampir menjepit leher
seorang anakmuda,maka dengan tangkasnya cantrik itu telah memukulnya
sehingga ujung canggah itu terangkat. Meskipun mata canggah itu
masih juga meny entuh dan menyambar ikat kepala anak muda itu, namun
kepala anak muda itumasih dapat diselamatkan. Tetapi anak muda itu
justru hanya dapat memejamkan matanya. Ketika ikat kepalanya
terbang, maka rasa-rasanya kepalanyalahyang terlepas dari
lehernya. Tetapi anak muda itu menyadari keadaannya, ketika seorang
kawannya mendorongnya sambil berkata ”Awas. Kau dapat kehilangan
kepalamu jika kau termenung saja seperti itu” Anak muda itu meraba
kepalanya. Ternyata kepalanya masih ada di tempatnya. Hanya ikat
kepalanya sajalah yang terlempar jatuh, sementara rambutnya
yang memanjang terurai kusut. Anak muda itu sempat mengikat
rambutnya. Kemudian dengan menggeretakkan giginya menyerbu ke medan
pertempuran yang menjadi semakin keras dan ka sar. Namun anak muda
yang kepalanya ternyata masih melekat ditubuhnya itu, justru
telah kehilangan rasa takutnya. Senjatanya telah berputar dengan
cepatnya. Sambil berteriak, maka ia telah menyerang salah seorang
perampok dari Larah itu. Sementara itu, gegedug yang kehilangan
korbannya menjadi sangatmarah. Ia merasa berhak untukmendapatkan
gantinya. Anak muda yang membawa tombak itu harus dapat dibunuhnya
dengan senjatanya yang mengerikan itu. Ia harus dapat menjepit
lehernya kemudian memutarnya, sehingga kepala itu akan terlepas dari
lehernya. Tetapi ternyata anak muda yang membawa tombak itu
demikian tangkasny a. Setiap 'kali, senjatanya justru berhasil
ditepismenepi, sehingga sama sekali tidakmampu meny entuh sa saran.
Bahkan semakin lama rasa-rasanya ujung tombak anakmuda itu justru
semakin dekat dengan kulitnya. Denganmenggerammarah, orang itu
telahmenghentakkan kemampuannya. Namun ternyata lawanya juga,masih
mampu mengimbanginya. Bahkan dengan menghentakkan kemampuannya,
orang itu telah kehilangan banyak tenaga tanpamenghasilkan apa -apa.
Di sebelah lain, dua orang anak muda dari Kabuyutan Bumiagara tengah
bertempur dengan seorang gegedug yang bertubuh tinggi berdada bidang
dan berkumis lebat Dikening gegedug itu membekas sebuah luka
memanjang. Sementara didadanya, nampak pula bekas luka bakar
yang kehitam-hitaman. Dengan kasar orang itu mengumpat-umpat
sejadi-jadinya ketika kedua orang anak muda yang melawannya
itu masih sa jamampu bertahan. Namun akhirnya kedua orang anak muda
itupun telah mengalami kesulitan pula. Gegedug itu benar-benar
seorang yang pilih tanding. Meskipun kedua orang anak muda yang
melawanya itu telah mempergunakan senjata yang diterimanya dari
Padepokan Bajra Seta, namun ternyata bahwa kemampuan orang itu
terlalu tinggi bagi anak-anak muda Kabuy jtan Bumiagara. Ketika
kedua orang anak muda itu terdesak, maka seorang telah tampil pula
menghampirinya. Bahkan dengan lantang anak muda itu berkata
”Lepaskan orang ini. Di sebelah pendapamasihmemerlukan bantuanmu”
Kedua orang anak muda itu meloncat mengambil jarak serta mencari
kesempatan untuk berpaling. Ternyata yang datang itu adalah salah
seorang diantara kelima cantrik Padepokan Bajra Seta yang
berada di Bumiagara. Karena itu, maka kedua orang anak muda itupun
segera meninggalkan lawanya yang berteriak marah ”Jangan lari
tikus-tikus kecil yang sombong” “Mereka tidak lari” jawab
cantrik itu ”sudah menjadi kebiasaan kami untuk berganti lawan. Aku
sudah jemu melawan seseorang yang tidak mampu mengimbangi
kemampuanku. Dibiarkannya, senjataku melukainya dibeberapa tempat.
Sehingga dengan demikian aku akan mencobamencari lawanyang
lebih mengasikkan.” “Ternyata kau lebih sombong lagi dari kedua
cucurut itu” geram gegedug itu. Cantrik itu tertawa. Katanya
”Bumiagara memang tempatnya. Sejak kecil kami telah mendapat latihan
untuk meny ombongkan diri, sehingga karena itu, maka kami memiliki
kemampuanyang tinggi.” “Apa gunanya kemampuan yang tinggi sekedar
untuk meny ombongkan diri?” geram orang itu. “Sedikitnya kami
dapatmembuat kau marah” jawab cantrik itu. Orang itu tidak dapat
menahan diri lagi. Gegedug yang bertubuh tinggi dan besar,
serta berkumis lebat itu telah meloncat meny erang. Senjatanya
memang mendebarkan. Sebuah golok yang besar dan berat. Cantrik
itu ternyata cukup tangkas. Dengan cepat pula ia
melentingmenghindari serangan itu. Bahkan pedangnya yang juga
terhitung besar dan panjang dengan cepat bergerak pula. Sejenak
kemudian keduanya telah bertempur dengan sengitnya. Namun gegedug
itu segera mengerahkan kemampuannya untuk mendesak lawannya. Tetapi
ternyata cantrik itu tidak membiarkan dirinya didesak terus-menerus
oleh gegedug yang bertubuh raksasa itu. Dengan tangkasnya
cantrik itu berloncatan sehingga lawannya justru kadangkadangmenjadi
bingung. Gegedug yang lainpun tidak mampu berbuat banyak.
Seorang diantara mereka telah dikurung oleh ampat orang anak-anak
muda, sehingga tidak lagi mampu memamerkan kelebihannya diantara
kawan-kawannya yang lain. Bahkan ampat orang anakmuda itu
telahmembuatnya terlalu sibuk. Dengan demikian, maka orang-orang
Larah dan para gegedug dan kawan-kawannya semakin lama merasa
semakin sulit. Kekasaran mereka telah membuat anak-anak muda
Bumiagara menjadi semakin marah, sehingga mereka tidak lagi
dapatmengekang diri. Beberapa orang Larah telah terluka dan bahkan
diantara para gegedug pun telah ada yang tergores ujung
senjata. Gegedug yang bersenjata canggah, ternyata sulit untuk
mengimbangi kemampuan lawannya. Anak muda yang sebenarnya adalah
seorang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang bersenjata tombak
pendek. Ternyata canggah yang mengerikan itu, tidak dapat bergerak
secepat tombak pendek. Setiap kali seranganserangan gegedug itu
tidak mampu mengenai sasaran. Lawannya dapat berloncatan dengan
tangkasnya, sementara tombak pendeknya berputaran, bergetar, terayun
dart sekalisekali mematuk dengan garangnya. Benturan-benturan yang
terjadi memberikan isyarat kepada gegedug itu, bahwa anak muda yang
menjadi lawannya itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat sangat
besar serta ilmu yang mapan. Namun akhirnya, orang-orang Larah itu
tidak lagi melihat kemungkinan untuk dapat mengalahkan orang-orang
Bumiagara. Ki Buyut Bumiagara dan para bebahu serta anak-anak muda
yang telah mendapat latihan khususmerupakan lawan yang sangat
berat, disamping jumlah mereka yang memang lebih banyak.
Berapapun kuainya dan besarnya kemampuan seorang gegedug, namun
menghadapi ampat orang anakmuda yang terlatih dengan senjata
yang khusus, mereka mengalami kesulitan. Sementara itu para
cantrik ternyata mampu menghadapi beberapa orang Larah sekaligus.
Namun orang-orang Larah itupun tidak lagi melihat kemungkinan untuk
melarikan diri. Mereka melihat cahaya api dibalik dinding halaman
rumah Ki Buyut Bumiagara. Dengan demikian mereka menyadari, bahwa
dibelakang dinding itu terdapat beberapa buah obor yang dipa
sang. Bahkan di belakang dinding halaman samping. Namun ternyata
bukan hanya dinding depan dan samping, bahkan di balik dinding kebun
di belakang pun telah diny alakan obor pula. Obor -obor itu
merupakan isy arat, bahwa halaman rumah Ki Buy ut itu telah dikepung
rapat. Tidak ada lagi lubang yang dapat dipergunakan untuk
meloloskan diri dari tangan Ki Buyut Bumiagara dan rakyatnya
yangmarah. Namun dalam pada itu, Ki Buyut Bumiagara setelah melihat
keseluruhan medan pun telah berteriak nyaring ”Masih ada kesempatan
bagi kalian yang telah datang menyerbu Kabuyutan ini dengan membawa
dendam di hati untukmeny erah.” Tetapi teriakan itu sama sekali
tidak mendapat tanggapan. Para gegedug justru telah mengamuk dengan
garangnya. Namun merekamemang tidak dapat berbuat banyak. Gegedug
yang membawa canggah itu telah terluka didadanya. Darah telah mulai
mengalir dari lukanya itu. Sementara gegedug yang melawan ampat
orang anak muda yang sudah ditempa oleh para cantrik dari Padepokan
Bajra Seta itupun telah tergores pula di lengan dan punggungnya.
Berbeda dengan para gegedug, maka orang-orang Larah sama sekali
telah kehilangan keberanian. Apalagimereka yang ditubuhnya telah
menganga luka yang parah. Bahkan ada dian-tara mereka, sengaja
atau tidak sengaja, telah terbaring dan tidak akan bangkit lagi
untuk selama-lamanya. Karena itu, maka orang-orang Bumiagara
yang semakin lama semakinmenguasaimedan,mampumemilih lawan.
Para cantrik dan bebahu Bumiagara telah mampu membedakan, bahwa
diantara orang-orang yang meny erang itu terdapat orang-orang
berilmu yang pantasmendapat perhatian khusus. Yaitu para
gegedug yang terbiasa merampok, merampas dan membunuh. Karena
itu, maka merekapun telah menempatkan diri untuk melawan orang-orang
yang garang itu. Sedangkan orang-orang Larah yang memang
termasuk juga kawanan perampok dan pencuri, tetapimereka bukan
orang-orang yang ditakuti karena namanya yang bergetar di
bulak-bulak panjang dan tempat-tempat yang sepi. Bahkan
memasuki padukuhanpadukuhanyang dihuni oleh orang-orang yang
kaya 'Tetapi para bebahu dan para cantrik sama sekali tidak gentar
melihat bagaimana mereka bermain senjata. Bahkan gegedug yang
bersenjata canggah itu telah benar-benar terdesak. Canggah
yang dibangga-banggakan itu seakan-akan tidak berarti apa -apa
dihadapan cantrik yang bersenjata tombak itu. Karena setiap kali
tombak pendek itu, mampu mendahului putaran canggah gegedug itu.
Sedangkan yang lainpun hampir tidak mendapat kesempatan lagi. Ruang
gerak mereka menjadi semakin sempit. Meskipun mereka tidak mau
melihat keny ataan yang sama sekali tidak diduga sebelumnya, namun
tubuh mereka memang telah tersentuh oleh senjata. Akibatnya para
bebahu dan para cantrik memang menjadi marah pula. Apalagi dalam
keadaan yang terdesak itu,mereka sama sekali tidak berniat untukmeny
erah. Bahkanmasih juga diantara mereka yang diberi kesempatan untuk
meletakkan senjata, justru telah memanfaatkan kesempatan itu untuk
menyerang. Seorang bebahu, yang kebetulan adalah Ki Jagabaya
terkejut ketika ujung senjata lawannya justru mengenai lengannya
pada saat ia berkata ”Letakkan senjata. Meny erahlah, agar
kaumendapat pengampunan.” Namun kata-katanya patah karena serangan
orang yang diberikan kesempatanmeny erah itu. Karena itu, maka
Ki Jagabaya menjadi sangat marah. Ia tidakmau lagi lengah dan
apalagimenawarkan pengampunan. Dengan garangnya, maka ia telah
bertempur dengan segenap kemampuannya. Kemampuan yang memang
telah dimiliki ditambah dengan latihan-latihanyang keras
dibawah tuntutan para cantrik di Padepokan Bajra Seta. Apalagi
seorang anak muda yang melihat Ki Jagabaya terluka telah
terpancing untuk ikut bertempur ber samanya. Maka lawan Ki Jagabaya
itu tidakmempunyai kesempatan lagi. Gegedung yang telah
menjelajahi bulak-bulak panjang itu ternyata tidak mampu melawan
kegarangan Ki Jagabaya, orang yang mendapat kepercayaan dari
seisi Kabuyutan Bumiagara untuk menjaga ketenteraman dan ketenangan
Kabuyutan. Apalagi Ki Jagabaya telah dibantu oleh seorang anakmuda
yang telahmembatasi ruang gerak gegedug itu. Dengan kemarahan
yangmembakar seisi dadanya, apalagi ketika keringatnya membasahi
lukanya sehingga lukanya terasa sangat pedih, Ki Jagabaya telah meny
erang lawannya tanpa memberinya kesempatan untuk membalas. Dalam
keadaan yang sulit itu, anak muda yang bertempur bersamasama
dengan Ki Jagabaya telah menjulurkan senjatanya, sebatang tombak
pendek kearah dada gegedug itu. Namun ternyata gegedug itu sempat
melihat serangan itu, sehingga dengan tangkasnya ia sempat
menghindar. Sambil bergeser kesamping gegedug itu telah merendahkan
dirinya. Dengan ayunan mendatar ia telah meny erang anak muda itu
ketika tombaknya terjulur tanpa mengenai sa saran. Anak muda itu
mengaduh tertahan. Ujung senjata gegedug itu telah menggores
lambungnya, sehingga kulitnya telah terkoyak memanjang. Ki Jagabaya
melihat sambaran pedang yang mengenai lambung anakmuda itu.
Kemarahannyapun tidak tertahankan lagi. Dengan serta merah ia telah
meloncat sambil menjulurkan senjata lurus-lurus kedada Gegedug
lawannya. Gegedug yang sedang bergerak untuk berdiri tegak itu tidak
sempat menghindar. Ia memang berusaha untuk meloncat. Tetapi Ki
Jagabayapun telah meloncat pula memburunya, sehingga ujung
senjatanya telah menghunjam kedada gegedug itu. Gegedug itu memang
berusaha mengangkat tangannya untukmenangkis serangan itu. Tetapi
sama sekali tidak berarti apa-apa. Ujung senjata Ki Jagabaya sudah
terlanjur terhunjam dalam-dalam. Orang itu terdorong beberapa
langkah mundur. Namun ketika Ki Jagabaya menarik senjatanya, maka
orang itupun telah terhuyung-huyung jatuh terjerembab. Sementara
itu, pemimpin orang-orang Larah itupun menyadari keadaannya.
Tetapimemang tidak ada pilihan lain baginya. Apalagi setelah ia
melihat beberapa orang memang telah menjadi korban dan terbunuh di
pertempuran. Termasuk beberapa orang diantara para gegedug dan
kawankawannya. Karena itu, maka iapun telah dicengkam oleh keny
ataan tentang kekalahan yang diderita oleh orang -orang Larah dan
para gegedug itu. Betapa ia mencoba mengingkarinya, namun yang
terjadi itu telah terjadi. Sementara ia yakin diluar dinding halaman
rumah Ki Buyut orang-orang Bumiagara telah menunggu mereka yang
mencoba melarikan diri. Mungkin yang berdiri diluar dinding itu
tidak lebih dari orang-orang tua yang sudah tidak mampu bertempur
atau justru anak-anak remaja yang baru sekali itu meraba
senjata. Namun mereka justru akan dapatmembunuh diantaramereka yang
melarikan diri dengan semena -mena. Betapapun sakit hatinya
menghadapi kenyataan itu, tetapi ia masih sempat berpikir tentang
orang-orang Larah yang sudah tidak berdaya itu. Karena itu,maka
iapun telah disentuh oleh sisa -sisa naluri kemanusiaannya.
Betapapun juga ia dapat berbuat paling kejam dipertempuran bahkan
disaat-saat ia melakukan pekerjaannya sebagai perampok dan peny
amun, namun baginya masih lebih baik mengusahakan agar kawankawannya
tetap hidup daripada ditumpas dipertempuran itu. Dengan demikian,
betapa pedih dadanya ketika ia terpaksa meneriakkan aba-aba agar
orang-orang Larah itu meny erah. Namun teriakan yang lainpun
segera terdengar ”Pengecut. Kenapa kau ajari orang-orangmumenjadi
licik dan penakut.” Orang itu tidak menjawab. Namun
orang-orangnyapun segera meny erahkan diri. Mereka telah melemparkan
senjatasenjata mereka dan sama sekali tidak melawan, ketika mereka
digiring dikumpulkan didepan gandok sebelah kiri. Tetapi sementara
itu, dua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya masih bertempur.
Sementara seorang gegedug terluka parah dan ternyata dua orang yang
lain tidak lagi dapat tertolong jiwanya. Sambil bertempur dua orang
gegedug dan tiga orang pengikutnya mengumpat-umpat tanpa
menghiraukan lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi.
Bagi mereka menyerah adalah lebih buruk dari mati di pertempuran.
Karena itu, maka kedua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya itu
sama sekali tidak ingin meny erahkan diri. Bahkan sekali lagi salah
seorang dari kedua gegedug itu berteriak ”He orang-orang Larah.
Inikah harapan yang kau janjikan bagi kami? Pengkhianatan ?”
Pemimpin orang-orang Larah itu masih tetap tidak menjawab. Ia memang
merasa bersalah kepada para gegedug itu. Tetapi ia tidak mempunyai
pilihan lain, karena ia tidak maumelihat orang-orang Larah itu
ditumpas habis. Namun yang menjawab adalah Ki Buy ut Bumiagara
”Ternyata nalar mereka masih sempat bergerak. Namun ada juga
diantara mereka, yang barangkali justru bukan orangorang
Larah,yang tidakmampu lagimempergunakan otaknya
sehinggamerekamemilih membunuh diri.” “Kami bukan pengecut seperti
pengkhianat-pengkhianatan itu” teriak gegedug itu. “Mereka bukan
pengkhianat” jawab Ki Buyut ”mereka adalah laki-laki jantan
yang berani mengakui kenyataan. Nah, bukankah kalianmenjadi
ketakutan melihat keny ataan itu.” “Persetan kau tikus-tikus
Bumiagara. Jika kalian inginkan kematian kami, maka kalian harus
mengorbankan sepuluh orang bagi setiap jiwa kami.” teriak gegedug
itu. Tetapi Ki Buyut Bumiagara tertawa. Katanya ”Pada saatsaat
terakhir, kau masih juga berkhayal? Adakah pantas bagi seorang yang
pilih tanding seperti kalian itu masih juga berkhayal tentang sebuah
pertempuran? Tidak Ki Sanak. Mau tidak mau kau harus melihat
kenyataan, bahwa kalian tidak akan dapat banyak berbuat lagi. Karena
itu, sebaiknya, menyerahlah.” Namun kedua orang gegedug yang
masih bertahan itu berteriak keras-keras, sehingga suara mereka
bagaikar menggapai langit. Orang-orang yang ada di halaman itu
terkejut. Namun jantung merekapun segera berdegupan. Teriakan mereka
bagaikan teriakan hantu dari dasar neraka yang paling dalam.
Meskipun demikian, Ki Buyut Bumiagara, para bebahu dan para cantrik
dari Padepokan Bajra Seta yang ada di halaman itu sama sekali tidak
menjadi gentar. Dua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya
yang kemudian telah bertempur dalam satu kelompok kecil itu,
telah terkepung. Ujung-ujung senjata rnereka teracumengarah kepada
kelima orang itu. Kedua orang gegedug itu memang termangu-mangu
sejenak. Mereka melihat ujung pedang, ujung tombak, trisula
bertangkai sepanjang tangkai tombak pendek. Bahkan ada yang
bersenjata kapak dan cambuk. Namun agaknyamereka telah benar-benar
kehilangan akal, sehingga sekali lagi salah seorang gegedug itu
berteriak yang ternyata mereka anggap sebagai aba-aba. Dengan serta
mereka kelima orang itu telah bergerak serentak. Senjata -senjata
mereka mulai terayun, berputar, mematuk dan berusaha menggapai tubuh
orang-orang yang telah mengepungmereka. 'Tetapi usaha mereka
sia -sia. Yang mengepung mereka adalah para cantrik dan para bebahu
yang telah meningkatkan kemampuan mereka bahkan dengan senjata
khusus ditangan mereka. Tetapi kedua orang gegedug dan pengikutnya
itu telah membuktikan sikapnya. Mereka memang memilih mati daripada
meny erah. Sebenarnyalah, orang-orang Bumiagara itu seakan-akan juga
tidak dapat memilih. Karena sikap dan pilihan orangorang yang
terkepung itu sendiri, maka ujung-ujung senjata telah mengoyak-kan
kulit daging mereka, sehingga akhirnya kelima orang itupun menyusul
kawan-kawan mereka yang telah terbunuh dipertempuran.
Memangmengerikan. Kematian yang demikian banyaknya. Sementara
orang-orang Larah duduk dengan gemetar menyaksikan akhir dari
seranganmereka ke Bumiagara. Ki Buyut Bumiagara berdiri
mematungmemandangi tubuh yang terbujur lintang di halaman rumahnya.
Bagaimanapun juga ia merasa ngeri mengenang apa yang telah
terjadi. Sedangkan kemudian ia masih harus melihat tubuh kawan dan
lawanyang terbaringmembeku. Tetapi Ki Buy ut dari Bumiagara itu
tidak dapat memutar waktu kembali. Ia hanya dapat meny esali, apa
yang telah dilakukannya sejak semula ia memilih mempergunakan
kekerasan untukmemenuhi keinginannya. “Seandainya aku tidak mulai
dengan berusaha mengambil seorang cantrik dari Padepokan Bajra Seta
dengan kekerasan. Seandainya aku tidak berhubungan dengan prajurit
Kediri yangmenentang pemerintahannya yang sekarang. Seandainya
aku tidak melakukan itu semua.” keluh Ki Buyut di dalam hatinya.
Tetapi ia tidak dapat memutar waktu kembali. Dengan jantung
yang berdebar debar ia mengenang bahaya yang sebenarnya akan
datang ke Kabuyutan itu. Prajurit-prajurit Kediri yang
pernahmengancamnya. Sekali lagi Ki Buyut memperhatikan tubuh yang
terbaring membeku di halaman rumahnya. Jika prajurit Kediri yang
tidak patuh kepada rajanya itu datang, maka kematiankematian itu
tentu akan terulang lagi. Bahkan tentu lebih mengerikan lagi.
Mungkin seisi Kabuyutan Bumiagara akan ditumpasnya karena Bumiagara
tentu tidak akan dengan patuh menundukkan kepalanya untuk diinjak
oleh prajuritprajurit Kediriyang tidak patuh itu. Ki Buyut
seakan-akan tersadar darimimpi ketika ia melihat kelima orang
cantrik dari padepokan Bajra Seta itu mendekatinya. Bahkan Ki
Jagabaya yang terluka serta para bebahu Kabuyutan itu.
Sementara itu beberapa orang pengawal Kabuyutan masih sibuk dengan
orang-orang padukuhan Larahyang meny erah. Dengan nada datar Ki Buy
ut itupun berkata ”Kumpulkan semua korban pertempuran ini.
“Bagaimana dengan orang-orang yang meny erah?” bertanya
seorang pengawal. Ki Buy ut termangu-mangu sejenak. Lalu katanya
”Kumpulkan pulamereka. Kita akanmemikirkan kemudian.” Ternyata Ki
Buyut benar-benar menjadi letih. Bukan wadag-ny a. ia masih akan
sanggup bertempur beberapa lama lagi. Tetapi nalarnyalah yang
seakan-akan telah menjadi buntu. Karena itu, maka katanya kemudian
”Aku akan berada dipendapa. Aku akanminum.” Para bebahu yang
telah mengenal sifat Ki Buyutpun mengetahui bahwa Ki Buy ut sedang
dibebani oleh pikiran yang rumit, sehingga mereka tidak
mengganggunya lagi. Bahkan seorang pengawal telah pergi ke dapur
untuk menyiapkan minuman bagi Ki Buyut Bumiagara itu. Namun dalam
pada itu, para pengawal Bumiagara telah menjadi sibuk mengumpulkan
kawan-kawan mereka yang terluka di pertempuran. Bahkan mereka yang
telah gugur. Tubuh-tubuh yang mulai membeku itu telah dibawa
naik ke pendapa dan dibaringkannya di pringgitan. Ki Buyut melihat
tubuh-tubuh itu dengan hati yang terasa sangat pahit. Tetapi iapun
menyadari bahwa korban korban itu memang harus diserahkan untuk
kepentingan kampung halaman mereka. Tanah kelahiran.Namun Ki
Buyutpun sadar, bahwa akan jatuh derai air mata para ibu dan
gadis-gadis yang kehilangan kekasihnya dimedan pertempuran. Dalam
pada itu, dibawah pengawasan para pengawal,maka orang”orang Larah
yang menjadi tawanan, harus mengumpulkan kawan-kawan mereka
yang juga terbunuh di peperangan itu. Tetapi bukan sebagai
pahlawan yang mempertahankan martabat Tanah Kelahiran. Mereka adalah
perampok-perampok yang terbunuh karena mereka telah gagal
untukmelakukan pekerjaan mereka. Setelah tugas mereka selesai,
barulah Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu naik juga ke pendapa
dan duduk dihadapan Ki Buy ut yang telah minum minuman panas
beberapa teguk. Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada
rendah ia berdesis ”Lalu kita apakan orang-orang Larah yang tertawan
itu?” “Apa yang baik menurut pendapat Ki Buyut” berkata Ki Jagabaya.
Ki Buyut menganggukangguk kecil. Diluar sadarnya tangannya telah
meraih mangkuk minumannya dan mengangkatnya kebibirnya. Setelah
meneguk minumannya ia berkata ”Kita akan berhubungan dengan Ki Bekel
di Larah.” “Apakah tidak akan terjadi salah paham, sehingga
persoalannya justru akan berkembang menjadi semakin buruk?” sahut Ki
Jagabaya. “Tidak. Ki Bekel di Larah tentu sudah mengetahui sifat dan
kebiasaan orang-orangnya. Ia tentu akan mengerti apa yang telah
terjadi disini, dan iapun tentu akan mengakui cacad dan cela
padukuhannya.” jawabKi Buyut Bumiagara. Ki Jagabaya dan para bebahu
Bumiagara yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat,
bahwa Ki Bekel di Larah seharusnya mengetahui, apa yang telah
terjadi di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara, sehingga ia tidak
akan justrumembuat per soalannya semakin berkembang. “Ku minta Ki
Jagabaya sendiri dan beberapa orang bebahu datang ke Larah dan
mengundang Ki Bekel di Larah untuk menyaksikan apa yang telah
terjadi di sini.” Ki Jagabayamengangguk sambilmenjawab,meskipun agak
ragu. “Baiklah Ki Buy ut. Aku akan pergi bersama dua orang bebahu
dan dua orang cantrik dari padepokan Bajra Seta” Ki Buy ut
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Baiklah Ki Jagabaya,
kau dapatmembawa dua orang bebahu dan bila ber sedia dua orang
cantrik dari padepokan Bajra Seta. Tetapi mereka mewakili anak-anak
mudaBumiagara.” “Aku akan menemui mereka” desis Ki Jagabaya. Namun
kemudian iapun bertanya ”Kapan sebaiknya kami berangkat?” “Tentu
sekarang” jawab Ki Buyut ”segala sesuatunya harus segera menjadi
jela s. Jika tertunda, maka keadaannya tentu akan lain. Mungkin Ki
Bekel di Larah akan mempunyai tanggapanyang berbeda” Ki
Jagabayapun mengangguk-angguk. Jawabnya ”Baiklah. Aku akan segera
berangkat setelah semua persiapan seleseai kami lakukan” Ki Jagabaya
kemudian bersama dua orang bebahu yang ditunjukkan
telahmenemui para cantrik dari padepokan Bajra Seta,
untukmenyampaikan keinginannya mengajak dua orang dari antara para
cantrik itu pergi ke padukuhan Larah untuk mengundang Ki Bekel di
Larah datang dan menyaksikan apa yang telah terjadi di Kabuyutan
Bumiagara. Ternyata para cantrik itu tidak berkeberatan. Mereka
telah menunjuk dua orang diantara mereka untuk pergi bersama Ki
Jagabaya ke Larah. Mereka menyadari, bahwa persoalannya memang
harusdapat diselesaikan dengan tuntas. Demikianlah,maka sejenak
kemudian, lima ekor kuda telah berderapmeninggalkan padukuhan induk
Kabuyutan Larah. Mereka berpacu di dinginnya dini hari menuju ke
Larah yang letaknyamemang agak jauh dari Bumiagara. Ki Jagabaya
memang menjadi berdebar-debar. Kemungkinan salah paham dapat
terjadi. Tetapi bagaimanapun juga persoalannya memang harus
diselesaikan dengan tuntas. Jika hal itu tidak dilakukan,maka
persoalan itu akan tetapmenjadi semacam bara api di dalam sekam.
Ketika matahari mulai naik, maka Ki Jabagaya dengan ampat orang
pengiringnya telah memasuki padukuhan Larah yang letaknya tidak
terlalu jauh dari tikungan yang menanjak di lereng sebuah bukit
kecil yang dibelah oleh jalan yang menuju ke Bumiagara.
Ditempat itu orang -orang Larah pernah gagal merampok orang-orang
Bumiagara yang lewat membawa pedati. Kedatangan kelirmu orang
Bumiagara dirumah Ki Bekel itu telah membuat Ki Bekel menjadi
berdebar-debar. Namun sebenarnyalah bahwa Ki Bekel sudah menduga,
tentu terjadi sesuatu di Bumiagara yang menyangkut
orang-orangnya, karena Ki Bekel tahu pasti, apa saja yang
telah dilakukan oleh sebagian dari orang-orangnya. Namun Ki Bekel
telah menerima kedatangan Ki Jagabaya dan pengiringnya yang
nampak lebih itu dengan ramah, seakan-akan Ki Bekel tidak tahu
apapun juga tentang kemungkinanyang dilakukan oleh
orang-orangnya. Ternyata Ki Bekel memang menunggu, sampai saatnya Ki
Jagabaya berkata ”Ki Bekel. Kedatanganku bukan sekedar
memperkenalkan diri. Tetapi aku memang membawa persoalanyang
barangkali penting Ki Bekel ketahui.” “Persoalan apa Ki Jagabaya?”
bertanya Ki Bekel. “Aku yakin bahwa Ki Bekel telah mengenali dengan
baik sifat dan tabiat orang -orang Padukuhan yang Ki Bekel pimpin.
Karena ternyata mereka mempunyai kebiasaan yang khusus”
berkata Ki Jagabaya. Sambil mengerutkan keningnya Ki Bekel bertanya
”Kebiasaan khusus yang manakah yang Ki Jagabaya maksudkan?” Ki
Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak sempat untuk
melingkar-lingkar berbicara. Karena itu, maka iapun kemudian telah
mengatakan apa yang terjadi di Bumiagara serta peristiwa yang
mendahuluinya. Percobaan perampokan atas barang-barang yang dibawa
oleh orangorang Bumiagara dari Padepokan Bajra Seta Ki Bekel nampak
terkejut dan bertanya ”Benarkah yang kau katakan itu?” ”Sudahlah Ki
Bekel. Sebaiknya kita tidak usah berpurapura. Jika aku datang
kemari, aku bermaksud baik. Aku atas nama Ki Buyut menyatakan, bahwa
Kabuyutan Bumiagara ingin agar persoalan ini cepat selesai dan tidak
berkepanjangan.” Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Keningnya
berkerut semakin dalam. Dengan nada rendah Ki Bekel itupun kemudian
berkata ”Baiklah Ki Jagabaya. Seharusny a aku memang tidak usah
berpura-pura.” “Nah. Jika demikian aku datang atas nama Ki Buyut
Bumiagara untukmengundang Ki Bekel agar ber sedia datang ke
Bumiagara. Ki Bekel akan melihat sendiri apa yang telah terjadi. Ki
Bekel akan bertemu dan berbicara dengan orangorang Bumiagara dan
lebih daripada itu,maka Ki Bekel akan berbicara terutama dengan
orang-orang Larah sendiri.” “Kenapa aku harus datang ke Bumiagara?”
bertanya Ki Bekel. *** Ki Bekel Larah menarik nafas dalam-dalam,
sementara Ki Buyut berkata lebih lanjut ”Agaknya bukan hanya itu.
Tetapi beberapa orang Larahmemang telahmenjadi korban.” “Apaboleh
buat” berkata Ki Bekel. Lalu hampir kepada diri sendiri. ia berkata
”Aku sudah kehilangan wibawaku di padukuhanku sendiri. Mereka tidak
lagi dapat aku kendalikan.” “Tentu ada sebabnya, kenapa hal seperti
itu telah terjadi” berkata Ki Buyut Bumiagara. Ki Bekel
termangu-mangu. Namun kemudian iapun bertanya ”Apakah Ki Buy ut
dapat mengatakan, apakah sebabnya?” “Aku tidak melihat sendiri apa
yang telah kau lakukan. Tetapi aku sudah berbicara dengan lebih dari
lima orangmu yang tertawan. Aku berbicara dengan mereka dalam waktu
yang terpisah. Namun jawaban mereka serupa tentang Ki Bekel. Tetapi
Ki Bekel tidak usah marah kepada mereka. Akupun tidak akan
mengatakan, yang manakah lima orang diantara mereka yang telah
berbicara tentang Ki Bekel itu. Bahkan kawan-kawan mereka yang
lainpun tidak tahu siapakah diantara kawan-kawan mereka yang
telah berbicara dengan aku.” jawabKi Buyut. Ki Bekel memandang Ki
Buyut sekejap. Namun kemudian iapun telahmenundukkan wajahnya sambil
berkata ”Aku tidak akan mendendam kepadamereka. Akupun tahu apa yang
telah mejeka katakan kepada Ki Buyut. Bukankah mereka mengatakan
bahwa pada satu saat akupun seorang perampok seperti mereka. Bahwa
aku seorang yang ditakuti sehingga tidak seorangpun berani menentang
aku di Kabuyutan Sembaga sehingga aku berhasil merebut kedudukan
tertinggi di padukuhan Larah? Namun keadaan sekarang memang sudah
berbeda. Buy ut Sembaga telah diganti oleh anaknya yang tidak silau
melihat kemampuanku, sehingga akulah yang terpaksa mengalah dan
mengikuti petunjuknya, merubah sikap dan kebiasaanku itu.” “Kau
sendiri telah melengkapi ceritera orang-orang Larah yang tertawan
itu Ki Bekel.” desis Ki Buyut. “Apa salahnya?” berkata Ki Bekel
”tanpa aku lengkapi, maka Ki Buyut tentu sudah mengetahui sebagian
besar dari jalan hidupku itu. Bahkan mungkin justru karena
keterangannya kurang lengkap, Ki Buy ut akan mempunyai
pandanganyang jauh lebih buruk dariyang sebenarnya.” Ki
Buy ut mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya ”Kenapa Ki
Bekel yang ditakuti di Sembaga, kemudian setidak-tidaknya di
Larah setelah Ki Buyut di Sembaga berganti orang yang justru
tidak sependapat dengan Ki Bekel. Bukankah dengan dukungan Ki Buyut,
Ki Bekel dapat berbuat banyak untuk menegakkan wibawa Ki Bekel?”
bertanya Ki Buyut. Ki Bekel mengangkat wajahnya. Sekali lagi
dipandangnya wajah Ki Buyut justru dengan pandangan mata yang tajam.
Namun kemudian jawabnya lirih ”Ki Buy ut tentu sudah mengetahui
jawabnya.” “Tetapi aku ingin mendengar dari Ki Bekel sendiri” jawab
Ki Buyut. “ Inikah cara Ki Buyutmenghukumaku?” bertanya Ki Bekel.
”Tidak. Tetapi aku ingin mendapatkan kebenaran jawaban vtfng pernah
aku dengar dari orang-orang yang telaha tertawan itu.” sahut Ki
Buyut. “Baiklah, jika jawabanku akan dapatmemberikan kepuasan kepada
Ki Buyut.” Ki Bekel itupun telah menunduk pula. Katanya ”dalam
beberapa hal aku memang telah menyetujui langkah” langkah mereka.
Namun tidak dalam segala hal. Mereka sama sekali tidak menghubungi
aku ketika mereka berangkat ke Bumiagara.” “Tetapi Ki
Bekelmengetahuinya?” desak Ki Buyut. Ki Bekel tidak menjawab. Tetapi
kepalanya justru menjadi semakinmenunduk. “Baiklah Ki Bekel” berkata
Ki Buy ut kemudian ”jika demikian halnya, maka segala sesuatunya aku
kembalikan kepada Ki Bekel. Apakah Ki Bekel ingin menyelesaikan
persoalan ini dengan baik atau tidak.” “Aku tidak mempunyai pilihan
Ki Buyut. Seharusnya Ki Buyut tidak usah minta pertimbanganku.
Sekarang katakan sa ja apa yang dikehendaki oleh Ki Buyut. Sudah
tentu aku tinggal menjalaninya, karena setiap usaha untuk
menentangnya, berarti aku harus berhadapan dengan dua kekuatan.
Kabuyutan Bumiagara dan Kabuyutan Sembaga sendiri,” jawab Ki Bekel.
“Baiklah” jawab Ki Buyut. Lalu katanya meneruskan ”Jika demikian,
maka aku akan mengambil sikap. Aku percaya kepada Ki Bekel justru
karena Ki Bekel tidak lagi berani menentang kekuasaan Ki Buyut di
Sembaga” “Aku sudah terjepit oleh keadaan” jawab Ki Bekel ” langkah
orang-orang Larah kali ini ternyata akanmembawa perubahan dalam
kehidupanmereka selanjutnya.” “Mudah-mudahan Ki Buyut. Tetapi aku
yakin, bahwa yang dikatakan Ki Bekel itu akan benar-benar
terjadi” desis Ki Buyut. “Mudah-mudahan Ki Buyut” sahut Ki Bekel.
“Jika demikian aku akan menyerahkan orang-orang Larah yang tertawan
itu kepada Ki Bekel. Bawalah mereka. Namun dengan pengertian, bahwa
mereka akan menjadi jera. Ki Bekel yang mereka takuti akan membina
mereka, agar mereka menjadi, orang yang baik” berkata Ki Buyut
kemudian. Sementara itu, Ki Bekelpun telah berada diantara
orangorangnya yang tertawan. Dengan pandangan kosong
orangorang Larah itu mengikuti langkah dan gerak pimpinan
padukuhannya. Mereka sama sekali tidak dapat mengharapkan apapun
juga dari Ki Bekel di Larah, karena mereka menyadari, bahwa Ki Bekel
tidakmembawa kekuatan apapun untuk membebaskan mereka. Seandainya Ki
Bekel datang dengan membawa ancaman, maka merekapun tahu tidak ada
kekuatan yang akan mampu membebaskan mereka dari tangan orang-orang
Bumiagara. Bagi orang-orang Larah itu, maka kekuatan Kabuyutan
Sembaga, meskipun padukuhan Larah itu termasuk Kabuyutan Sembaga.
Ketika Ki Bekel kemudian duduk diantara orang-orang Larah yang
berada diserambi gandok itu, maka suasanapun menjadi hening. Bebahu
yang mengantarkan Ki Bekel itupun kemudian berkata “Silahkan Ki
Bekel. Aku akan kembali ke pendapa .” “Terima kasih Ki Sanak” jawab
Ki Bekel ragu. Bebahu itu memang pergi. Namun Ki Bekel sadar, bahwa
para pengawal Kabuyutan Larah mengawasi mereka dari kejauhan.
Setelah bebahu itu pergi meninggalkan orang-orang Larah itu, maka Ki
Bekelpun segera memecahkan keheningan ”Kalian kali ini ternyata
gagal.” Pemimpin orang-orang Larah yang datang ke Bumiagara itu
menjawab ”Ya.Dan aku sendiri telah terluka .” “Bagaimana dengan para
gegedug ?” bertanya Ki Bekel. “Mereka telah disapu bersih. Ternyata
Kabuyutan Bumiagara mempunyai kekuatan yang sangat besar. Jauh
dari perhitungan kami semula.” “Apa rencana kalian selanjutnya ?”
bertanya Ki Bekel. “Mencari kesempatan untukmembalas dendam.
Betapapun kuatnya Kabuyutan Bumiagara, namun kami akan mencari kawan
dan mempersiapkan diri jauh lebih matang dari sekarang” jawab
pemimpin orang-orang Larah itu. “Bagaimana jika kalian dihukum mati
atau diserahkan kepada para prajurit Singasari ?” bertanya Ki Bekel.
Wajah mereka menjadi tegang. Seorang diantara mereka bertanya
”Apakah benar mereka akan menghukum mati kita atau meny erahkan
kepada para prajurit Singasari ?” “Aku tidak mengatakan demikian.
Aku hanya mendugaduga” berkata Ki Bekel. Pemimpin orang-orang Larah
yang menyerang Kabuyutan Bumiagara itu menarik nafas panjang.
Katanya ”Ki Bekel jangan menakut-nakuti kami. Aku kira mereka tidak
akan berani menjatuhkan hukuman mati atas kami semuanya juga tidak
akan meny erahkan kami kepada para prajurit Singasari, karena dengan
demikian, mereka harus mempertanggung jawabkan kawan-kawan kami
yang telah mereka bunuh disini.” “Mereka akan mempertanggung
jawabkannya. Seandainya disebut bertanggung jawab, maka mereka cukup
membuat laporan apa yang telah terjadi di padukuhan induk Kabuyutan
Bumiagara ini. Mereka tidak akan dianggap ber salah meskipun mereka
telah membunuh beberapa orang gegedug dan juga orang-orang Larah.
Mereka tentu dianggapmembela diri.” Pemimpin orang-orang Larah itu
memangmenjadi gelisah. Untuk beberapa saat ia justru terdiam.
Pernyataan Ki Bekel itu benar-benar membuatnya berdebar-debar. Namun
jantungnya bagaikan terhenti berdenyut ketika ia mendengar Ki Bekel
itu berkata ”Dengarlah. Hukuman yang akan dijatuhkan atas kalian
justru lebih dari hukuman yang aku katakan itu.” Pemimpin dari
orang-orang Larah yang datang ke Bumiagara itu memandang Ki
Bekel dengan wajah yang tegang. Hampir tidak terdengar ia berkata
”Jika kami masih harus menerima hukuman yang lebih berat daripada
diserahkan prajurit Singasari atau hukuman mati, hukuman apakah
yang harus kami jalani ? Dan apakah arti kedatangan Ki bekel
kemari ? Apakah Ki Bekel tidak dapat berbuat apa-pa sama sekali
sehingga akan dapatmemperingan hukuman kami ? Tentu kami tidak akan
melupakan ja sa Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel dapat mengancam
orang-orang Bumiagara dengan kekuatan Kabuyutan Sembaga atau ancaman
apapun yang dapatmemperingan hukuman kami.“ Ki Bekel menggeleng.
Katanya ”Tidak seorangpun yang dapatmemperingan hukuman atas
kalian.” “Hukuman apa yang akan mereka bebankan kepada kami ?
Kerja paksa seumur hidup atau hukuman picis ?” Ki Bekel menggeleng.
Katanya ”Tidak” “Jadi hukuman apa ?” desak orang itu. “Kalian telah
dibeba skan dan diserahkan kepadaku” jawab Ki Bekel. “Dibebaskan ?”
beberapa orang bertanya bersama-sama. “Ya.” jawab Ki Bekel. “Aku
tidak mengerti” desis seorang diantara mereka, nampaknya dalam
keadaan seperti ini Ki Bekel masih bergurau. “Aku tidak bergurau.
Aku berkata sebenarnya. Kalian telah dibebaskan dan diserahkan
kepadaku” jawab Ki Bekel tegas. Orang-orang Larah yang menjadi
tawanan itu termangumangu. Antara percaya dan tidak mereka saling
berpandangan. Namun mereka mendengar lagi Ki Bekel itu berkata
dengan tegas ”Kalian telah dibeba skan. Ki Buy ut di Bumiagara telah
meny erahkan kalian kepadaku. Kalian dengar?” “Apakah artinya itu Ki
Bekel? Apakah Ki Buy ut di Bumiagara menyerahkan pelaksanaan hukuman
atas kami kepada Ki Bekel atau bahkan memberikan kebebasan kepada Ki
Bekel untuk menghukum kami?” bertanya salah seorang dari orang-orang
Larahyang tertawan itu. Ki Bekel memandang orang itu dengan mata
yang redup. Dengan nada alam ia kemudian berkata ”Tidak.
Itulah yang justru membuat aku selalu merenung tentang
kemungkinankemungkinanyang dapat terjadi ataskalian.” “Maksud
Ki Bekel?” bertanya pemimpin orang-orang Larah “Ki Buyut di
Bumiagara telah meny erahkan kalian kepadaku. Tidak ada syarat
hukuman apapun. Tetapi sy aratnya ju stru sangat berat. Bukan bagi
kalian. Tetapi bagi aku” desis Ki Bekel. “Kenapa justru bagi Ki
Bekel?” bertanya pemimpin sekelompok orang-orang Larah yang
berusaha merampok di Kabuyutan Bumiagara itu. “Ki Buyut telah
membebaskan kalian dari segala hukuman dan meny erahkan kalian
kepadaku dengan sy arat, agar orangorang Larah menghentikan
kebiasaan buruk yang selama ini kita lakukan” jawabKi Bekel.
“Kebiasaan buruk?” desis pemimpin sekelompok orangorang Larah itu.
“Ya. Kebiasaan buruk. Merampok, menyamun dan sebagainya” jawab Ki
Bekel. “Kebiasaan buruk” desis pemimpin kelompok orang-orang Larah
itu ”selama ini kita tidakmeny ebutnya demikian.” Tetapi Ki Bekel
dengan cepat menyahut ”Kita memang tidak meny ebutnya demikian.
Tetapi kita tidak berhati batu. Kita tahu apa yang baik dan apa
yang buruk, meskipun kita telah membutakan hati kita.
Sebenarnyalah kita tahu bahwa apa yang sering kita lakukan itu
adalah satu kebiasaan yang buruk.” Orang-orang Larah itu saling
berdiam diri. Namun sebenarnyalah bahwa merekapun mengakui bahwa apa
yang dikatakan oleh Ki Bekel itu benar adanya. Sementara itu, Ki
Bekelpun berkata selanjutnya ”Nah, adalah bebanku kemudian untuk
melaksanakan sy arat yang diberikan oleh Ki Buy ut di Bumiagara
itu.” Orang-orang Larah itu termangu -mangu sejenak. Mereka
menyadari bahwa tugas Ki Bekel memang menjadi terlalu berat. Apalagi
ketika Ki Bekel berkata ”Soalnya bukan hanya menguasai kalian dan
orang-orang Larah yang lain, tetapi kalian telah berhubungan dengan
orang-orang diluar Larah. Orang-orang yang tentu sulit untuk
mengerti seandainya kalian benar-benar berubah. “Apakah kita akan
berubah?” tiba -tiba seorang diantara para tawanan itu bertanya.
“Bukankah kita justru akan mencari kesempatan untuk menebus
kegagalan kita?” bertanya yang lain. ”Kalian jangan berusaha untuk
dengan tergesa -gesa menggali kubur kalian sendiri. Kalian sudah
mengetahui kekuatan Bumiagara yang telah menghancurkan kalian
sekarang ini. Apalagi jika Bumiagara sudah menghimpun seluruh
kekuatannya,maka Larah dan bahkan kekuatan yang akan disusunpun akan
dihancurkannya pula. Apalagi jika Kabuyutan Bumiagara benar-benar
menghubungi Kabuyutan Sembaga. Maka kita tentu akan menjadi lumat”
jawab Ki Bekel. Orang-orang Larah itu mengangguk-angguk. Mereka
menyadari kelemahan mereka. Namun seorang diantara mereka bertanya
”Jadi bagaimana sikap Ki Bekel?” “Aku tidak mempunyai pilihan. Jika
aku tidak ber sedia memenuhi sy arat Ki Buyut Bumiagara, maka kalian
tentu tidak akan diserahkan kepadaku. Karena itu, maka aku telah
menyatakan kesediaanku untuk merubah tatanan hidup dan kehidupan di
padukuhan Larah. Tentu saja aku tidak dapat melakukannya sendiri
tanpa kesediaan kalian untuk membantuku” berkata Ki Bekel itu
kemudian. “Apa yang harus kami lakukan Ki Bekel” bertanya
pemimpin sekelompok orang-orang Larah itu. “Membantu aku.
Menghentikan segala perbuatan buruk.” jawab Ki Bekel. Beberapa orang
saling berpandangan. Namun tidak seorangpunyang menjawab. Namun Ki
Bekel itu bertanya sekali lagi ”Aku ingin bantuan kalian. Apakah
kalian bersedia menghentikan kelakuan buruk kalian untuk seterusnya.
Jawaban kalianlah yang akan aku sampaikan kepada Ki Buyut di
Bumiagara. Jika kalian bersedia menghentikan tingkah laku kalian,
maka kalian benar-benar akan bebas. Jika tidak,maka kita semuanya
akan dihancurkan sama sekali. Bahkan mungkin bersama-sama dengan
kekuatan dari Kabuyutan Sembaga sendiri.” “Tetapi kami tidak berdiri
sendiri” jawab pemimpin kelompok orang-orang Larah itu. Ki Bekel
mengangguk-angguk sambil berkata ”Aku tahu. Karena itu maka sudah
aku katakan, bahwa bebanku akan menjadi sangat berat. Tetapi jika
kita semuanya berani memanggul beban itu,maka aku tidak akan
ragu-ragu.” ”Kematian para gegedug itu tentu akan membawa akibat”
desis pemimpin kelompok orang-orang Larah yang tertawan itu. “Aku
menyadari. Kawan-kawan mereka, para gegedug yang lain tentu
akan menuntut. Jika kalian tidak ber sedia bersama mereka untuk
membalas dendam kepada orang-orang Bumiagara maka mereka justru akan
mendendam kalian.” sahut Ki Bekel. Lalu katanya pula ”Kita memang
harus memilih. Menghentikan tingkah laku kita yang buruk, atau
berpihak kepada para gegedug yang mendendam itu. Tetapi
kitapun harus mampu memperhitungkan keadaan. Siapakah yang lebih
kuat. Para gegedug itu atau Kekuatan Kabuyutan Bumiagara yang
bergabung dengan kekuatan Kabuyutan Sembaga.” “Kita akan benar
-benar menghadap kesulitan” desis pemimpin dari orangorang Larah
yang tertawan itu. “Masih ada satu hal lagi. Jika kalian bersedia
bekerja sama dengan aku, maka persoalan kita dengan Bumiagara sudah
selesai. Tetapi jika kalian tidak bersedia maka kalian tentu akan
menjalani hukuman yang berat. Setelah kalian selesai dengan hukuman
itu, maka kalian akan berhadapan dengan aku dan seluruh Kabuyutan
Sembaga. Kalian tentu tahu, siapakah aku dan kalianpun tentu tahu,
apa saja yang dapat aku lakukan. Apalagi dengan dukungan Ki
Buyut di Sembaga yang sekarang. Kalian tentu tidak akan mampu
berbuat apa-apa meskipun kalian mendapat bantuan dari gegedug
darimanapun juga.” ternyata Ki Bekel jugamengancam. Orang-orang
Larah yang tertawan itu memang tidak dapat lagi memilih.
Mereka tidak akan mampu melawan niat Ki Bekel yg mereka ketahui
memiliki kemampuan jauh lebih besar darimereka semuanya. Karena itu,
maka pemimpin orang-orang Larah itupun kemudian berkata ”Kami
serahkan segala sesuatunya kepada Ki Bekel.” “Jangan berkata begitu”
jawab Ki Bekel ”dengan demikian kau seakan-akan tidak ikut
bertanggung jawab atas keputusan kita bersama. Kau akan dapat
berkata ’Ki Bekellah yang mengambil keputusan.’ Aku minta kau
menjawab dengan tegas. Ya atau tidak. Dengan demikian maka kau ikut
bertanggung jawab atas keputusan kita bersama.” Orang-orang Larah
itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian pemimpin kelompok
itupun berkata ”Baiklah Ki Bekel. Kami sependapat dengan Ki Bekel.”
“Sependapat apa ?” bertanya Ki Buyut. Pemimpin orang-orang Larah
yang tertawan di Bumiagara itupun menjadi termangu-mangu. Sementara
Ki Bekel berkata selanjutnya ”Kau harus berkata dengan tegas”
“Baiklah Ki Bekel. Kami sependapat dengan Ki Bekel. Bahwa kami akan
merubah tingkah laku kami. Bahkan kami akan membantu Ki Bekel untuk
membuat orang -orang Larah bertingkah laku baik.” jawab pemimpin
orang-orang Larah yang tertawan itu. “Bagus” jawab Ki Bekel ”dengan
demikian kita semuanya akan bertanggung jawab terhadap persetujuan
kita. Kita semua akan berusaha agar orang-orang Larah tidak lagi
bertingkah laku buruk seperti sebelumnya. Aku akan memulainya ber
sama kalian. Kemudian orang-orang lain sepadukuhan. Siapa yang
menolak akan dipaksa dengan kekerasan. Agaknya kita memang terbiasa
mempergunakan kekerasan. Namun mudah-mudahan lambat laun akan dapat
berubah.” Orang-orang Larah itu tidakmenjawab lagi. Memang tidak ada
yang lain yang dapat mereka katakan kepada Ki Bekel di Larahyg
sedang dibebani oleh tugasy g berat. “Jika kalian tidak mempunyai
pendapat lain, baiklah aku berbicara lagi dengan Ki Buyut di
Bumiagara” berkata Ki Bekel. Namun katanya kemudian ”Tetapi akibat
dari keputusan ini, kita harus ber siap melakukan apa saja untuk
menghadapi para gegedug atau pengikut-pengikut mereka yangmendendam,
karena beberapa orang yang telah terbunuh disini karena
merekamembantu kalian.” Orang-orang Larah itu tidak menjawab. Tetapi
Ki Bekel tidak menghiraukan lagi. Iapun segera bangkit berdiri dan
melangkahmenuju ke pendapa. Seorang bebahu yang
mempersilahkannya duduk berkata ”Ki Buyut baru masuk keruang dalam,
sedangkan Ki Jagabaya sedang merawat luka-lukanya. Meskipun tidak
parah, tetapi luka-luka itu akan dapat berbahaya jika tidak terawat
dengan baik.” “Aku akan menunggu disini” jawab Ki Bekel. Ki Bekel
ternyata harus bermalam di Kabuyutan Bumiagara semalam. Pagi-pagi
benar Ki Bekel sudahmempersiapkan diri. Demikian pula para tawanan
yang benar-benar telah dibebaskan sebagaimana dikatakan oleh
Ki Bekel. Namun dengan satu sarat yang cukup berat, karena
sarat itu menyangkut sikap dan tingkah lakumereka untuk selanjutnya.
Ketika matahari terbit, maka Ki Bekel telah membawa orang-orangnya
keluar dari Kabuyutan Bumiagara. Dengan ucapan terima kasih yng
berulang kali diucapkan, Ki Bekel minta diri kepada Ki Buyut dan
para bebahu yang mengantarnya sampai ke regol padukuhan induk
Kabuyutan Bumiagara. Iring-iringan orang-orang Bumiagara yang
kembali ke padukuhannya itu memang menarik perhatian banyak orang.
Tetapi demikian iring -iringan itu lewat, maka orang-orang itupun
tidakmenghiraukannya lagi. Tetapi karena orang-orang Larah itu hanya
berjalan kaki, maka Ki Bekel dan pengiringnya yang berkuda harus
dengan telaten mengikutimereka. Namun akhirnya setelah menempuh
perjalanan yang melelahkan, iring-iringan itu akhirnya sampai
pula ke padukuhan Larah. Kedatangan mereka memang sempat
mengejutkan. Beberapa orang yang sempat melihat iring-iringan itu
segera mengikutinya sampai ke rumah Ki Bekel. Namunmereka tidak tahu
apa yang sebenarnya telah terjadi atasmereka. Satu dua
orangmengetahui, bahwa sekelompok orang Larah telah pergi keluar
untuk melakukan pekerjaan mereka sebagaimana seringmereka lakukan.
Tetapi apa yang terjadi kemudian itulah yang menarik perhatian
mereka. Sehingga karena itu, maka mereka pun berusaha untuk segera
dapat mendengar keterangan tentang sekelompok orang yang pulang
bersama Ki Bekel itu. Ternyata Ki Bekel tidak menahan orang-orang
itu terlalu lama di rumahnya. Setelah ia berbicara beberapa patah
kata, mengingatkan sy arat yang telah dibebankan kepada mereka
oleh Ki Buyut di Bumiagara, maka orang-orang Larah itupun segera
diijinkannya pulang kerumah merekamasing-masing. Pada saat mereka
keluar dari regol halaman Ki Bekel, orang-orang Larah yang lain,
yang ingin segera mengetahui apa yang telah terjadi,
telah meny ongsong orang -orang yang nampak letih itu. Bahkan
sebagian darimereka masih nampak ternoda darah pada pakaian mereka.
“Apa yang telah terjadi?” bertanya seseorang kepada seorang
yang telah terluka. “Kami telah dihancurkan” jawab orang itu.
“Tetapi kenapa kalian dapat segera pulang? Apakah Ki Bekel telah
datang menyusul kalian dan minta kalian dibebaskan” bertanya orang
itu pula. Orang yang terluka itu termangu-mangu.Namun kawannya yang
bertanya itu mendesak ”Apakah demikian besar pengaruh Ki Bekel,
sehingga orang -orang Bumiagara tidak berani menahan dan menghukum
kalian jika benar kalian telah dihancurkan?Atau barangkali ada sebab
lain?” “Tidak” jawab orang yang terluka itu ”kami memang
dibebaskan. Bukan karena pengaruh Ki Bekel” “Jadi?” Orang yang
terluka itupun segera menceriterakan syarat yang diberikan oleh Ki
Buy ut di Bumiagara kepada para tawananyang dibebaskannya. Yang
mendengarkan ceritera itu justru mengerutkan keningnya. Dengan nada
dalam ia bertanya ”Kalian bersedia melakukannya?” “Disaat itu, kami
tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi nampaknya Ki Bekel benar-benar
akan melaksanakannya” jawab orang yang terluka itu. “Tetapi
bagaimana dengan para gegedung yang terbunuh itu? Mereka tidak
berdiri sendiri. Dibelakangnya terdapat kekuatan yang akan dapat
mengguncang ketenangan padukuhan Larah” berkata orang yang minta
keterangan itu. Orang yang terluka itupun segera memberikan
keterangan pula tentang berbagai macam kemungkinan seperti yang
dikatakan oleh Ki Bekel. Kawannya itupun menarik nafas dalam-dalam.
Katanya ”Kita akan terjepit oleh kekuatan-kekuatan yang dapat
menghancurkan kita” “ Itu adalah tantangan yang harus kita hadapi”
jawab orang yang terluka itu. Percakapan merekapun terhenti, karena
orang yang terluka itu telah sampai kerumahnya. Namun ia telah
memberikan banyak keterangan kepada kawannya yang telah meny
ongsongnya itu. Sebenarnyalah orang-orang Larahpun menjadi gelisah.
Mereka seakan-akan telah berdiri disimpang jalanyang
keduaduanyamenuju kesarang serigala. Padahalmereka sudah tidak dapat
kembali lagi. Namun nampaknya Ki Bekel tanggap akan kegelisahan
orang-orangnya itu. Karena itulah,maka dihari berikutnya ia telah
memanggil semua anak-anak muda dan laki-laki yang masih memiliki
kemampuan untukmemegang senjata. “Kita harus memilih” berkata Ki
Bekel ”dan aku telah memilih berpihak kepada orang -orang Bumiagara
yang mempunyai kemungkinan yang besar akan menghubungi Kabuyutan
Sembaga. Sehingga dengan demikian, maka kita harusberanimenanggung
akibatnya” “Tetapi para gegedug itu juga memiliki kekuatan
yang sangat besar” berkata salah seorang diantara mereka yang
ada di pertemuan itu. “Kita bersama-sama akan menghadapi mereka.
Jika kita sependapat, maka aku y akin, kita akan memiliki kekuatan
yang lebih besar dari para gegedug itu. Kita akan mampu
mempertahankan diri menghadapi mereka. Jika ternyata kita mengalami
kesulitan, maka kita akan dapat bekerja sama dengan seisi Kabuyutan
Sembaga.” “Tetapi apakah mereka masih mempercayai kita?” bertanya
orang lain. Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah iapun
merasa ragu, apakah Ki Buy ut di Sembaga masih mempercayainya. Namun
kemudian ia menjawab ”Segala sesuatunya tergantung kepada kita. Jika
kita melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, maka Ki Buyut di
Sembaga tentu ber sediamembantu kita.” Ki Bekel berhenti sejenak. Ia
nampak merenung dalam. Baru kemudian ia berkata ”Karena itu, aku
akan dengan segera memberikan laporan kepada Ki Buy ut di Sembaga.
Aku akan melaporkan apa yang telah terjadi dengan sejujurnya.
Aku mengharap bahwa Ki Buy ut akan melihat niat kita yang
jujur itu dan ber sedia membantunya jika kita benar-benar mengalami
kesulitan.” Orang-orang Larah itu hanya dapat mengangguk-angguk sa
ja. Namun salah seorang dari mereka bertanya ”Tetapi
apakahyang kemudian akan kita makan ber sama keluarga kita ?”
Ki Bekel mengerutkan dahinya. Dengan lantang ia menjawab ”Tanah kita
masih luas. Hutan kita membentang dari ujung sampai keujung bahkan
memanjat lereng pegunungan. Asal kita tahu dirimaka sebagian hutan
itu dapat dibuka tanpamenimbulkan akibat buruk. Soalnya, apakah kita
mau bekerja keras atau tidak. Bekerja keras mengolah tanah adalah
jauh lebih baik darimelakukan pekerjaanyang kadangkadang
harusmempertaruhkan ny awa kita. Meskipun secara wadag kita bekerja
keras, tetapi kita akan mendapat ketenangan jiwa. Meskipun kita
menjadi letih, tetapi hidup kita akan tenteram. Kita akan
mendapatkan kedamaian dihati kita. Kita tidak akanmerasa diburu dan
dimusuhi oleh sesama. Dalam keletihan tubuh kita, kita akan dapat
tidur ny enyak diantara keluarga kita.” Orang Larah itupun
mengangguk-angguk. Mereka mengerti arti kata-kata Ki Bekel. Namun
ada pula diantara mereka yang masih saja merasa bahwa kehidupan
mereka akan menjadi lebih buruk dimasa mendatang. Mereka tidak akan
dapat lagi melihat kilauan permata dan mengkilapnya emas yang dapat
mereka rampas dari orang lain. Mereka hanya akan bergulat dengan
lumpur dan batu-batu padas. Namun satu pertanyaan akan timbul.
Apakah benarmereka akan dapat hidup tenang dan tenteram serta
kedamaian hati meskipun wadagmerekamenjadi letih oleh kerja keras.
Ketika pertemuan itu kemudian ditutup oleh Ki Bekel dengan janji
yang sama-sama mereka ucapkan untukmerubah tatanan hidup mereka
serta ber sama -sama menghadapi kemungkinan buruk yang dapat
ditimbulkan oleh para gegedug,maka pertemuan itupun segera
dibubarkan. “Aku akan menghadap Ki Buy ut di Sembaga” berkata Ki
Bekel. Sebenarnyalah, Ki Bekelpun kemudian telah pergi ke Kabuyutan
Sembaga untukmenghadap Ki Buyut. Meskipun Ki Buyut tetap
mencurigainya, namun Ki Bekel telah diterimanya dengan baik. Dengan
jujur Ki Bekel menceriterakan apa yang telah terjadi atas orang
-orangnya di Kabuyutan Bumiagara. Dengan jujur pula Ki Bekel
menyampaikan niat orang-orang Larah untukmerubah tatanan
hidupmereka. “Peristiwa di Bumiagaramerupakan peringatanyang sangat
keras bagi kamiKi Buy ut” berkata Ki Bekel kemudian. Ki Buyut yang
terhitung masih muda itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Ako
sebenarnya sudah jemu memikirkan orang-orang Larah. Aku bahkan sudah
memutuskan untuk tidak peduli lagi, apa saja yang terjadi dan
apa yang diperbuat oleh orang-orang Larah. Bahkan aku sudah
bertekad, jika orangorang Larah melakukan satu kejahatan atas
padukuhan-padukuhan lain di lingkungan Kabuyutan Sembaga, maka
padukuhan Larah akan aku hancurkan sendiri. Tetapi ternyata
orang-orang Larah telah mendapat peringatan langsung dari Yang Maha
Agung dengan lantaran Kabuyutan Bumiagara.” “Agaknya memang demikian
Ki Buy ut. Peringatan itu demikian kerasnya sehingga harus
dikorbankan beberapa orang Larah yang terbunuh di Kabuyutan
Bumiagara. Selain itu beberapa orang gegedug yang bersama-sama kami
datang di Bumiagara malam itu juga terbunuh” berkata Ki Bekel
sambilmenundukkan kepalanya. Ki Buyutmengangguk-angguk. Katanya
”Sokurlah. Mudahmudahan apa yang dikatakan Ki Bekel itu
benar-benar akan mendapat dukungan sepenuhnya dari orang-orang
Larah. Tetapi apakah Ki Bekel telah memperhitungkan kawan-kawan dari
para gegedug yang terbunuh itu ? Jika Ki Bekel menolak untuk
membalas dendam atas orang-orang Bumiagara, maka dendamnya akan
diarahkan kepada orang-orang Larah.” “Ya Ki Buyut.” jawab Ki Bekel
”kami, orang-orang Larah menyadari kemungkinan buruk yang
dapat terjadi. Tetapi kami sudah bertekad untuk menghadapi
kemungkinan itu. Namun jika kami mengalami kesulitan, maka sudah
sepantasnya kami mohon perlindungan kepada Ki Buy ut di Sembaga.” Ki
Buyut mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian katanya dengan nada
rendah ”Segala sesuatunya tergantung kepada orang-orang Larah
sendiri. Jika orang-orang Larah memegang janjinya,maka aku tidak
akan berkeberatan untuk memenuhinya” Ki Bekel menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Terima kasih Ki Buyut. Aku berjanji, bahwa
Larah akan berubah. Leherku akan aku pertaruhkan untuk itu.'- Namun
pembicaraan mereka terputus ketika mereka mendengar derap kaki kuda
yang berhenti didepan regol halaman Kabuyutan Sembaga. Ternyata
tidak hanya seekor kuda. Tetapi tiga ekor kuda. Orang-orang yang ada
di pendapa rumah Ki Buy ut di Sembaga itupun segera bangkit berdiri
untuk meny ongsong orang-orang berkuda yang kemudian menuntun
kuda-kuda mereka memasuki halaman. Ki Bekel di Larah terkejut
melihat orang itu. Orang itu adalah Ki Buyut di Bumiagara bersama
dua orang pengiringnya. Ki Buy ut Bumiagara yang melihat
kehadirana Ki Bekel itupun terseny um sambil berkata ”Ternyata Ki
Bekel telah lebih dahulumenghadapKi Buyut di Sembaga.” “Ya. Ki
Buyut. Aku ingin menyatakan kesungguhan hatiku untuk memenuhi sy
arat yang diberikan oleh Ki Buyut Bumiagara.” Sementara itu Ki
Buyut di Sembaga pun telah mempersilahkan Ki Buyut Bumiagara untuk
naik dan duduk di pendapa ber sama kedua orang pengiringnya. Setelah
saling memperkenalkan diri, maka merekapun mulai berbicara tentang
keperluan Ki Buyut di Bumiagara datang ke Kabuyutan Sembaga. “Adalah
kebetulan bahwa Ki Bekel Larah ada disini” berkata Ki Buyut
Bumiagara. Ki Buyut di Sembaga pun mengangguk-angguk. Dengan
demikian maka iapun segera mengetahui, arah pembicaraan mereka
selanjutnya. “Aku mengucapkan terima kasih atas langkah-langkah
bijaksana yang telah Ki Buy ut ambil” berkata Ki Buyut Sembaga
”mudah-mudahan, dengan demikian orang-orang Larah benar-benar akan
berubah. Selama ini aku telah kehabisan akal untuk mengendalikan
tingkah laku orangorang Larah. Bahkan aku pernah berpikir untuk
menghancurkan sama sekali padukuhan Larah, Namun ternyata bahwa Ki
Buyut Bumiagara dapat membantu kami, orang-orang Sembaga, untuk
merubah sikap dan pandangan hidup orang-orang Larah.” “Hanya satu
kebetulan Ki Buyut” jawab Ki Buyut Bumiagara ”jika aku datang
sekarang ini, maksudku untuk mohon agar Ki Buyut di Sembaga ber
sedia untuk ikut mengawasi tingkah laku orang-orang Larah.” “Aku
akan melakukannya” jawab Ki Buy ut. Lalu katanya ”Bahkan aku sudah
berjanji untuk membantu padukuhan Larah jika kawan-kawan para
gegedug yang terbunuh di Larah mendendam bukan saja kepada
orang -orang Bumiagara, tetapi juga kepada orang -orang Larah yang
tentu akan dianggap berkhianat jika mereka merubah sikap dan
pandangan hidup mereka.” “Sokurlah” jawab Ki Buy ut Bumiagara
”kamipun tentu tidak akan tinggal diam atau membiarkan saja
kesulitan yang akan dialami oleh padukuhan Larah jika para
gegedug itu kemudian benar-benar datang untuk melepaskan dendamnya.
Namun jarak antara Larah dan Bumiagara memang cukup jauh. Lebih
daripada itu Bumiagara sendiri sekarang sedang berada dalam ancaman
sekelompok prajurit Kediri yang tidak mau tunduk kepada Sri Baginda
di Kediri. Mereka telah mencoba untuk memeras Kabuyutan Bumiagara.
Mereka mengancam untuk mengambil padi kami dan bahkan anak-anakmuda
kami.” Ki Buyut Sembaga mengangguk-angguk kecil. Namun nampak di
wajahnya kerut-kerut yang dalam. Dengan nada rendah Ki Buyut Sembaga
itu bertanya ”Untuk apa mereka memeras Kabuyutan Rumiagara?”
Pertanyaan itu memangmembuat dahi Ki Buyut Bumiagara berkeringat.
Bagaimanapun juga perasaan bersalah masih belum dapat dihapuskannya
dari ingatannya. Namun Ki Buy ut Bumiagara itu menjawab ”Aku tidak
tahu pa sti, kenapa para prajurit yang melawan pimpinannya itu
memilih Bumiagara. Agaknya karena Bumiagara termasuk Kabuyutan
yang subur dan memiliki anak-anak muda yang sedikit
banyakmempunyai kemampuan bermain senjata.” “Lalu, bagaimana sikap
Ki Buyut?” bertanya Ki Buyut di Sembaga. “ Itulah sebabnya, kami
merasa sangat terpukul dengan serangan yang dilakukan oleh
orang-orang Larah justru saat kami sedang menyusun kekuatan. Kami
harus melepaskan beberapa anak muda yang gugur dan sebagian lagi
terluka. Namun dengan demikian orang”orang Larah pun telah membentur
Kabuyutan yang telah mempersiapkan diri untuk melawan kekuatan para
prajurit Kediri itu, sehingga orangorang Larah dapat kami tundukkan
dengan cepat. Tetapi sudah tentu kami tidak akan menambah lawan
justru kami berada dalam saat yang gawat. Kami lepaskan
orang-orang Larah dengan janji.” Ki Buyut di Sembaga
mengangguk-angguk. Katanya ”Aku dapat mengerti, bahwa Bumiagara
sedang menghadapi kesulitan. Namun agaknya kami tidak dapat berbuat
apapun juga.” “Aku mengertiKi Buyut” jawab Ki Buy ut di Bumiagara
”aku sudah merasa berterima kasih jika Ki Buyut Sembaga bersedia
mengawasi orang -orang padukuhan Larah. Kami akan mencoba untuk
mengatasi sendiri para prajurit Kediri yang memberontak itu. Aku
tahu bahwa itu adalah tugasyang berat sekali. Namun kami
mempunyai harga diri sehingga apapun yang terjadi kami harus
menunjukkan bahwa kami akan mempertahankan hak kami dengan segenap
kemampuan kami.” “Apakah Ki Buyut sudah menghubungi prajurit
Singasari untukmohon perlindungan?” bertanya Ki Buyut di Larah. “Aku
akan mencobanya. Tetapi apakah Singasari akan mempercayainya.” Ki
Buyut di Sembangapun merenung sejenak. Tetapi kemudian iapun
menjawab ”Apakah ada alasan Singasari untuk tidakmempercayainya ?”
Ki Buy ut di Bumiagara menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak
dapat segera menjawab pertanyaan itu. Yang terbayang adalah justru
apa yang telah dilakukannya. Jika ia menghubungi Singasari, maka
Singasari tentu akan mencari sebab, kenapa Bumiagara y g justru
menjadi sa saran orang2 Kediri y gmemberontak itu. “Jika Singasari
mengetahui, bahwa kami pernah berhubungan dengan orang -orang Kediri
yang memberontak itu, maka Singasari tentu akan mengusutnya lebih
jauh” berkata Ki Buyut itu didalam hatinya. Namun jawaban y g
kemudian diucapkan ”Aku akan mencoba. Ya. Aku harusmencobanya.”
“Mudah-mudahan Ki Buyutmendapat perhatian sehinigga Bumiagara tidak
mengalami kesulitan. Orang-orang Kediri yang tidak tunduk kepada
para pemimpinnya itu tentu mempunyai sikap y g akan dapat membuat
Bumiagara mengalami bencana.”berkata Ki Buyut Sembaga. Pembicaraan
mengenai orang -orang Kediri yang tidak tunduk kepada para
pemimpinnya itui tentumempunyai sikap yang akan dapat membuat
Bumiagara mengalami bencana.” berkata Ki Buyut Sembaga. Pembicaraan
mengenai orang -orang Kediri yang tidak tunduk kepada para
pemimpinnya itu, apalagimereka adalah prajurit, telah membuat Ki Buy
ut Bumiagara menjadi gelisah. Ia tidak ingin berbicara lebih panjang
lagi, karena setiap kali ia meneybut para prajurit Kediri yang
melawan atasannya1 itu, rasa-rasanya jantungnya bagaikan tertusuk
duri. Karena itu, setelah Ki Buy ut mendapat hidangan minum dan
makanan, iapun segera minta diri. “Agaknya apa yang akan aku
sampaikan, telah Ki Buyut ketahui” berkata Ki Buyut Bumiagara
”bahkan kebetulan sekali Ki Bekel di Larah juga ada di sini. Dengan
demkian maka kewajibanku rasa”rasanya memang sudah selesai, sehingga
aku dan para pengiringku akanmohon diri.” “Begitu tergesa -gesa ?”
bertanya Ki Buyut di Sembaga. Sementara Ki Bekel di Larah berkata
”Aku ingin mempersilahkan Ki Buyut bermalam barang semalam di Larah”
“Terima Kasih Ki Bekel” jawab Ki Buy ut Bumiagara ” seperti aku
katakan, bahwa mendung sedang bergantung diatas Kabuyutan Bumiagara.
Aku tidak dapat terlalu lama meninggalkan Kabuyutanku. Sesuatu akan
dapat terjadi setiap saat. Jika kebetulan aku tidak ada di rumah,
sementara prajurit Kediri yg melawan atasannya itu datang, maka
keadaan Kabuyutan Bumiagara akanmenjadi kalut.” Ki Buyut Sembaga dan
Ki Bekel Larah menganggukangguk. Mereka dapat mengerti keberatan Ki
Buyut Bumiagara itu. Demikianlah, maka Ki Bekel dan Ki Buy ut
Sembaga mengantar Ki Buyut Bumiagara dengan pengiringnya sampai ke
regol halaman. Sambil memandang langit Ki Buyut berkata ”Ki Buyut
akan kemalaman diperjalanan.” Ki Buy ut Bumiagarapun memandang
langit. Matahari telah jauh turun ke Barat. Namun katanya ”Ya.
Tetapi aku sudah terbiasa menempuh perjalanan di malam hari.”
Demikianlah maka sejenak kemudian tiga ekor kuda telah berpacu
membelah padukuhan induk Kabuyutan Sembaga langsung menuju ke
Kabuyutan Bumiagara. Disepanjang jalan tidak banyak yang mereka
percakapkan. Hanya sekali-sekali Ki Buy ut berbicara disela-sela
anganangannya yang menerawang menembus dadanya sendiri. Pendapat Ki
Buyut Sembaga memang masuk akal. Agar ia menyampaikan persoalannya
kepada para pemimpin di Singasari.Namun Ki Buyut meragukan
kemungkinan yang justru akan dapat menjeratnya dalam
kesulitan.. Karena itu, maka katanya kepada diri sendiri ”Aku akan
menyelesaikannya sendiri. Jika aku minta pertolongan, maka lebih
baik aku pergi ke Padepokan Bajra Seta yg telah dengan pa sti
berniat membantu Bumiagara, meskipun aku pernah berniatmenghancurkan
Padepokan itu. Apalagi Padepokan itu telah mengirimkan
cantrik-cantriknya disertai dengan segerobag senjata untuk Kabuyutan
Bumiagara. Sambil menganyam angan-angannya Ki Buyut berpacu terus
menuju ke Kabuyutan Bumiagara. Mereka berpacu di kereman-gan senjaj
yang bahkan kemudian gelap malampun telah meny elimuti
jalan-jalan yang dilalui oleh Ki Buyut Bumiagara ber sama
pengiringnya. Namun akhirnya ketiga orang itupun memasuki Kabuyutan
Bumiagara dengan selamat. Mereka tidak mendapat gangguan apapun juga
diperjalanan. Tetapi Ki Buyut harus menghadapi keny ataan yang
mengguncangkan perasaannya ketika ia sampai di rumahnya. Seorang
bebahu yang adadirumahnya, meny ongsongnya dengan
tergesa-gesa. “Ada apa ?” bertanya Ki Buyut yang baru saja meloncat
dari punggung kudanya bersama kedua orang pengiringnya. “Di gandok
ada lima orang yang bermalam” jawab bebahu itu. Ki Buyut mengerutkan
keningnya. Dengan ragu ia bertanya “Siapa ?” “Prajurit-prajurit
Kediri” jawab bebahu itu. “Prajurit Kediri ? Maksudmu prajurit
Kediri yang pernah datang kemari ?” bertanya Ki Buyut. “Ya.
Mereka yang melawan atasan mereka” jawab bebahu itu. Jantung
Ki Buyut bagaikan berhenti. Ia sadar, bahwa prajurit -prajurit itu
tentu datang dengan maksud tertentu sebagaimana pernah mereka
katakan. Jika kemudian terjadi kekerasan, maka Bumiagara benar-benar
belum siap, apalagi setelah baru saja Bumiagara menyerahkan beberapa
orang anak mudanya yang terbaik karena kedatangan orang-orang
Larah dan para gegedug yang ingin merampok padukuhan induk Bumiagara
habis-habisan. Karena itu, maka Ki Buy ut itupun berkata ”Sebaiknya
aku tidak menemui mereka. Aku akan pergi saja sampai mereka
meninggalkan Bumiagara.” “Tetapi Ki Buyut akan pergi ke mana?”
bertanya bebahu itu. “Aku akan ber sembunyi disalah satu padukuhan
di Kabuyutan ini. Setiap kali aku akan menghubungimu lewat seorang
penghubung untuk menanyakan apakah mereka sudah pergi” jawabKi
Buyut. “Tetapi itu tidak meny elesaikan per soalan” sahut bebahu
itu. “Setidak-tidaknya memberi kesempatan kepada para pengawal dan
anak-anakmuda untuk bersiap-siap. Aku akan memimpin langsung
persiapan itu dari tempat persembunyianku” berkata Ki Buy ut dengan
suara bergetar. Karena sebenarnyalah ia menyadari bahwa ber sembunyi
bukan peny elesaian terakhir dari per soalan Kabuyutan Bumiagara
dengan para prajurit Kediri yang tidakmau tunduk kepada
atasannya itu. Bebahu yang ada di Kabuyutan itu tidak dapatmembantah
lagi. Karena itu maka katanya ”Segala sesuatunya terserah kepada Ki
Buyut.” Ki Buy ut memang menjadi ragu -ragu. Namun kemudian iapun
berdesis ”Baiklah. Aku akan pergi. Setidak-tidaknya aku sempat
berpikir dan mempersiapkan diri untuk berbicara denganmereka.” Namun
yang terjadi tidak seperti yang dikehendaki oleh Ki
Buyut. Demikian ia menarik kudanya, maka pintu bilik pringgitan pun
telah terbuka. Dua orang prajurit muncul dari pintu itu. “Selamat
malam Ki Buyut” berkata salah seorang dari prajurit itu. Ki Buy ut
hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menyahut
”Selamatmalam Ki Sanak.” “Kami sudah lebih menunggu Ki Buyut”
berkata prajurit itu ”bahkan kami harus bermalam disini, karena kami
bertekad untuk tidak meninggalkan Kabuyutan ini sebelum kami bertemu
dengan Ki Buyut. “Marilah” berkata Ki Buyut ”silahkan naik ke
pendapa, atau kita akan berbicara besok saja setelah lewatmalam.”
Kedua orang prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun keduanya
berpaling ke dalam bilik. Agaknya mereka ingin mendapat pertimbangan
dari kawan-kawannya yang ada di dalam. Sementara itu Ki
Buyutmasih saja berdiri sambil berharap, agar para prajurit itu
memberinya kesempatan berpikir disisa malam itu sebelum ia berbicara
dengan para prajurit itu. Namun Ki Buy ut pun menarik nafas panjang
ketika salah seorang prajurit itu berkata ”Baiklah. Besok pagi-pagi
saja kita berbicara. Agaknya Ki Buyut masih letih dan perlu
beristirahat. “Terima kasih atas kesempatan ini Ki Sanak. Silahkan
Ki Sanak juga beristirahat” berkata Ki Buyut. Kedua orang prajurit
itupun segera kembali memasuki biliknya di gandok. Sementara Ki
Buyut pun berkata kepada bebahu itu ”Panggil Ki Jagabaya. Masuk ke
serambi samping. Jangan lewat regol depan, tetapi bawalah ia masuk
lewat pintu butulan dinding halaman samping sebelah kiri.” “Ki
Jagabaya juga belum lama meninggalkan pendapa ini” jawab bebahu itu.
“Aku akan berbicara dengannya. Namun sebelum datang kemari, mintalah
Ki Jabagaya menemui para cantrik. Aku inginmendengar pendapatnya”
pesan Ki Buy ut. Bebahu itupun kemudian telah meninggalkan rumah Ki
Buyut, sementara Ki Buy ut pun telah meny erahkan kudanya kepada
pengiringnya yang membawa kuda -kuda itu langsung ke kandang. Ki
Buyut yang naik ke pendapa itu langsung melewati pringgitan.
Beberapa kali ia mengetuk pintu. Demikian pintu dibuka, Ki Buyut pun
segera masuk ke ruang dalam. Namun Ki Buyut itu langsungmenuju ke
serambi samping. Dalam keadaan demikian,maka Ny i Buy ut Bumiagara
tidak dapat banyak berbuat. Namun Ny i Buyut yang gelisah melihat
sikap Ki Buyut itu sempat bertanya ”Apakah Ki Buyut tidak makan
dahulu?” Ki Buy ut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya
”Bawamakan itu ke serambi.” “Biarlah nasi dan say urnya dipanasi
sebentar. Sudah dingin, karena makan Ki Buyut sudah disiapkan sejak
malam turun.” berkata Ny i Buyut. “Tidak usah. Aku akan makan di
serambi” jawabKi Buyut. Sambil menghidangkan makan dan minuman
yang sempat dihangatkan sedikit, Ny . Buyut bertanya ”Ki Buyut
masih nampak gelisah saja. Bukankah para perampok itu sudah berjanji
untuk tidakmelakukannya lagi?” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam.
Ia tidak ingin membuat keluarganya juga gelisah. Karena itu,maka
katanya ”Tidak apa -apa. Aku menunggu Ki Jagabaya. Ada sesuatu yang
harusaku bicarakan.” Seperti biasanya, Ny i Buyut memang tidak
banyak mencampuri persoalan-per soalan suaminya. Namun bagaimanapun
juga sebagai seorang isteri ia merasakan, bahwa Ki Buyutmasih saja
dicengkam oleh kegelisahanyang sangat. Untuk beberapa saat Ny
i Buyut masih sibuk melayani Ki Buyutyang sedangmakan. Tetapi
nasi yang dikunyahnya rasarasanya tidak tertelan. “Aku sudah
kenyang” tiba -tiba saja Ki Buyut meletakkan mangkuk nasiny a.
“Justru dalam kesibukan, Ki Buyut sebaiknya makan cukup banyak”
berkata Ny i Buy ut. Ki Buyut menggelengkan kepalanya. Katanya ”Aku
sudah makan di Kabuyutan Sembaga.” Ny i Buyut tidak dapat
memaksanya. Jika ia mencoba memaksa,maka Ki Buyut justru
dapatmenjadimarah. Karena itu, maka Ny i Buyut itupun segera
menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang masih berisi Namun
sementara itu, Ny i Buyut sempat membangunkan pembantunya untuk
merebus air. “Nampaknya akan ada tamu” bertanya Ny i Buyut.
“Bukankah tamunya bermalam di gandok ?” sahut pembantunya. “Maksudku
tamu yang lain” desis Ny i Buyut. Pembantunya tidak menjawab lagi.
Namun iapun segera mengisi kuali untuk merebus air, sementara apipun
telah dinyalakan oleh Ny i Buyut sebelumnya. “Ny i Buyut telah
merebus air” desis pembantunya kemudian. “Hanya sedikit, untuk Ki
Buy ut” jawabNy i Buyut. Diserambi Ki Buy ut hampir kehilangan
kesabaran menunggu kedatangan Ki Jagabaya. Ny i Buyut setelah
memberikan beberapa pesan kepada pembantunya, telah menemani
suaminya dudukNamun tidak banyakyang mereka percakapkan. Ki Buyut
hanya menjawab pertanyaanpertanyaan isterinya sepatah-sepatah.
Demikianlah, ketika Ki Buy ut tidak sabar lagi menunggu, bebahu yang
diperintahkannya menyusul Ki Jagabaya telah datang melalui pintu
butulan yang tidak diselarak dari dalam Ber sama Ki Buyut
telah datang pula seorang dari antara pan cantrik Padepokan Bajra
Seta yang ada di Kabuyutan Bumiagara. “Aku mewakili
kawan-kawanku” berkata cantrik itu. Lalu katanya pula ”jika kami
datang berlima, maka agaknya akan dapatmenarik perhatian.” “Ya, y
a.” Jawab Ki Buyut ”agaknya memang sudah cukup, karena kaumewakili
para cantrikyang lain.” “Mereka tidak mau berkata apa -apa.
Mereka hanya akan berbicara dengan Ki Buyut. Karena itu, maka mereka
akan menunggu sampai Ki Buyut datang. Kapanpun” jawab Ki Jagabaya.
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya ”Tetapi kita sudah mengetahui,
apa yang akanmereka katakan.” “Ya” sahut Ki Jagabaya ”kami menunggu
perintah Ki Buyut.” “Bagaimana pendapat kalian ? Apakah kita akan
menyerahkan beras dan anak-anak muda kita. Seandainya mereka hanya
menuntut beras berapa pedatipun, mungkin kita akan dapat
memenuhinya. Tetapi jika mereka minta sejumlah anak-anak muda kita,
maka kita tentu akan berkeberatan.” Ki Jagabaya
mengangguk-angguk.Namun cantrik yang ada diantara merekapun bertanya
”Apa yang sebenarnya terjadi di Kabuyutan ini ?” Ki Buyut tidak
dapat ber sembunyi lagi. Iapun telah menceriterakan apa yang
sebenarnya telah terjadi, yang sebagian memang sudah didengarnya.
“Sekarangmereka datang untukmenagih hutang yang telah mereka
berikan.” berkata Ki Buyut kemudian. Cantrik itu mengangguk-angguk.
Dengan ragu iapun kemudian bertanya ”Apa yang akan Ki Buyut lakukan
?” “Sebenarnyalah aku tidak rela. Itulah sebabnya, kami telah ber
siap-siap menempa anak-anakmuda di Bumiagara. Tetapi ternyata bahwa
yang kami hadapi pertama kali adalah orangorang Larah.”
“Tetapi pertempuran dengan orang-orang Larah itu dapat dianggap
sebagai pemanasan” berkata cantrik itu. “Tetapi prajurit Kediri yang
menolak perintah atasannya itu tentu jauh lebih kuat dari orang
-orang Larah. Jauh lebih kuat pula dengan orang -orang Bumiagara.”
berkata Ki Buyut. “Jika demikian, aku akan kembali ke Padepokan
untuk memanggil bantuan agar Bumiagara sempat diselamatkan.” berkata
cantrik itu. “Terlambat” jawab Ki Buyut ”mereka telah berada disini.
Selain kelima orang itu,maka pasukannya tentu sudah berada disekitar
Kabuyutan ini.” Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki
Jagabayapun berkata ”Apapun yang terjadi, kita akan melawan.
Aku akan menghubungi setiap padukuhan, agar mereka bersiap. Kita
kumpulkan semua kekuatan yang ada. Bukan sekedar para pengawal
dan anak-anak mudanya saja. Tetapi semua laki-laki yang masih
sanggup bertempur akan turun ke medan. Mungkin akan terjadi
pembantaian besarbesaran. Tetapi kitamempertahankan harga diri
kita.” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali maka ia
selalu dibayang i oleh perasaan bersalah. Karena itu, maka beberapa
saat Ki Buyut justru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Agaknya Ki
Jagabaya mengerti bahwa ki Buy ut masih saja dihantui oleh
perbuatannya sendiri. Karena itu ' maka Ki Jagabaya pun berkata
”Kita tidak perlu meny esali apa yang telah terjadi. Hal itu t idak
akan menolong keadaan. Kita harus melihat, apa yang sekarang
sedang kita hadapi.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya ”Aku sudah
mencoba. Tetapi sulit bagiku untukmelupakannya.” “Ki Buy ut. Jika
kita selalu berpaling, maka kita tidak akan bergerak maju. Apapun
yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. Bukan sekedar meny
esali masa lalu.” berkata Ki Jagabaya. “Akumengerti” berkata Ki
Buyut. “Bahkan bukan hanya sekedar harga diri. Tetapi kita harus
berbuat apa saja untuk melindungi kampung halaman kita. Apa
yang dilakukan oleh para prajurit yang menolak perintah atasan
mereka itu jauh lebih buruk dari perbuatan orangorang Larah.
Sehingga kitapun harus melayani mereka. Jika harus jatuh korban
yang tidak terhitung jumlahnya, apabolah buat. Bahkan mungkin
seisi padukuhan ini akan mereka bantai. Tetapi kita tidakmati sambil
berpeluk tangan. Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah Ki
Jagabaya. Siapkan seluruh kemampuan yang ada di Kabuyutan ini. Kita
akan melawan sampai orang yang terakhir.” Ki Buyut terhenti sejenak,
lalu katanya kepada cantrik Padepokan Bajra Seta itu ”Tinggalkan
Kabuyutan ini selagi masih sempat. Keluarlah dari Bumiagara agar
kalian tidak ikutmenjadi korban ketamakanku.” Tetapi cantrik itu
menggeleng. Katanya ”Aku sudah terlanjur ada disini. Aku akan tetap
berada disini.” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Kau
seharusnya tidak ikut terlibat.” “Kami sengajamelibatkan diri” jawab
cantrik itu. “Jika demikian, aku hanya dapat mengucapkan terima
kasih. Hutangku bertimbun terhadap Padepokan Bajra Seta. Tetapi
seharusnya kalian tidak usah berkorban dengan mempertaruhkan nyawa.”
berkata Ki Buyut “Jangan pikirkan itu Ki Buy ut” jawab cantrik itu
”aku sudah siapmenghadapi segala kemungkinan.”, “Baiklah. Jika
demikian, bersiaplah. Baru besok aku akan berbicara dengan para
prajurit itu. Mungkin pembicaraan kami akan menemui jalan buntu,
sehingga akan terjadi kekerasan.” Berkata Ki Buy ut dengan wajahy
gmuram. “Baiklah” berkata Ki Jagabaya ”akumohon diri.” Ber sama
cantrik Padepokan Bajra Seta maka Ki Jagabayapun segera meninggalkan
rumah Ki Buy ut. Mereka langsung pergi ke padukuhan-padukuhan untuk
mempersiapkan segenap kekuatan yang dapat dihimpun di Kabuyutan itu.
Ternyata para Bekel di padukuhan-padukuhanpun telah menyediakan diri
untuk memimpin pengawal, anak-anak muda dan bahkan setiap orang yang
masih sanggup turun kemedan. “Aku akan mengumpulkan mereka menjelang
pagi.” berkata para bekel. Namun Ki Jagabaya berpesan agar mereka
tidak membuat penduduk menjadi gelisah, karena segala sesuatunya
masih belum pasti. “Mereka tidak akan menjadi gelisah. Tetapi mereka
justru akan bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang mungkin
harusmereka hadapi” berkata para Bekel. Ki Jagabaya tidak
berkeberatan.Namun ia berpesan ”Tetapi apa yang kalian lakukan
jangan memancing persoalan. Jika kekerasan harus terjadi, bukan kita
yang memulainya.” Ternyata Ki Jagabaya memerlukan waktu yang cukup
lama. Ketika ia sampai kerumahnya,maka haripun menjelang pagi.
Bahkan Ny i Jagabaya telah sibukmenyiapkanmakan pagi. Ki Jagabaya
masih sempat berbaring sejenak. Tetapi matanya tidak mau dipejamkan.
Seakan-akan terbayang diangan-angan-ny a, para prajurit Kediri
yang melawan atasannya itu tengah sibuk membantai orang-orang
Bumiagara. Kadang-kadang Ki Jagabaya memangmeny esali tindakan Ki
Buy ut yang telah menjerumuskan Kabuyutannya kedalam kesulitan.
Bahkan mungkin kemusnahan. Tetapi peny esalan itu tidak akan
menyelesaikan persoalan. Para prajurit Kediri yang menolak tunduk
kepada pimpinannya itu harus dihadapi dengan kekuatan meskipun
akhirnya kekuatan itu akan lebur menjadi debu. Sementara itu, ketika
matahari terbit, maka padukuhanpadukuhan diseluruh Kabuyutan
Bumiagara sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Anak-anak muda
tidak pergi kesawah. Tetapi mereka bersiap-siap dirumah mereka
masing-masing. Jika terdengar isy arat maka merekapun akan
menghambur berkumpul dibanjar. Bukan hanya anak-anak muda dan para
pengawal. Tetapi semua laki-laki yang masih sanggup turun kemedan
pertempuran. Setelahmembenahi diri,maka Ki Jagabayapun segera pergi
ke Kabuyutan. Ketika ia memasuki halaman Kabuyutan, dilihatnya
beberapa orang bebahu sudah berada di pendapa. Namun Ki Jagabaya
belum melihat Ki Buyut dan juga para prajurit Kediriyang
bermalam di rumah Ki Buyut itu. “Mereka baru makan di dalam
biliknya” berkata seorang bebahu yang duduk di pendapa. Ki
Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan heran ia bertanya
”Kenapamerekamakan didalam biliknya ? Bukankah itu tidak biasa ?
Kenapa mereka tidak makan ber sama Ki Buyut diruang dalam ?” “Mereka
minta makan didalam biliknya. Merekalah yang minta makan dan
minum mereka diantar” jawab bebahu yang semalam juga berada di rumah
Ki Buyut itu. “Ki Buyut ada dimana ?” bertanya Ki Jagabaya. “Ki
Buyutmasih ada didalam bersama salah seorang cantrik dari padepokan
Bajra Seta.” jawab bebahu itu. “Hanya seorang ?” bertanya Ki
Jagabaya selanjutnya. “Ya. Yang lain ada diantara para pengawal
yang masih tersebar di padtikuhan induk. Namun set 'jap saat
mereka dapat digerakkan. Sementara Ki Jagabaya pergi ke
padukuhan-padukuhan, para pengawal di padukuhan induk telah
ditangani oleh para cantrik.” jawab bebahu itu pula. Ki Jagabaya
mengangguk-angguk. Iapun telah duduk pula diantara beberapa orang
bebahu yang duduk dipendapa. Baru sejenak kemudian Ki Buyut keluar
dari ruang dalam dan duduk pula diantara para bebahu. Dengan nada
berat ia bertanya ”Apakahmereka belum selesai?” “Nampaknya belum Ki
Buyut” jawab seorang bebahu. “Akulah yang justru menjadi tidak
sabar lagi. Aku ingin segera berbicara dengan mereka.
Kemudianmenentukan sikap dan biarlah terjadi apa yang harus
terjadi.” berkata Ki Buyut. Para bebahu itupun terdiam. Bahkan
kepala merekapun menunduk seakan-akan mereka menghindar dari tatapan
mata Ki Buyutyang tajam. Namun mereka tidak perlu menunggu terlalu
lama. Beberapa saat kemudian, maka lima orang prajurit, lengkap
dengan senjata mereka telah keluar dari dalam biliknya. Seorang
yang bertubuh tinggi dan berdada lebar, mengusap kumisnya
yang tebal sementara mulutnya masih berkumatkumitmengunyah
sisa makananyang ada didalammulutnya. Ki Buyut berserta beberapa
orang bebahu itupun segera bangkit berdirimeny ongsong kelima orang
prajurit dari Kediri yangmenentang kebijaksanaan Sris Baginda di
Kediri itu. Sejenak kemudian, merekapun telah duduk dii pendapa ber
sama Ki Buyutdan para bebahu yang telah lebih dahulu berada di
pendapa. “Agaknya kalian sudah menunggu” berkata prajurit yang
tertua diantaramereka. “Ya. Kami sudah beberapa saatmenunggu” jawab
Ki Buyut. “Kami sedang menikmati hidangan yang Ki Buyut
berikan. Jarang kami menjumpai masakan yang demikian lezatnya,
sehingga kami terpaksa makan terlalu banyak.” “Ah.Hanya seadanya
saja” sahut Ki Buy ut. Para prajurit itu mengangguk-angguk. Sambil
memandang berkeliling prajurit yang tertua diantara mereka
itupun berkata ”Agaknya para bebahu berkumpul disini.” “Hanya
sebagian saja Ki Sanak” jawab Ki Buyut. Kemudian katanya ” semalam
aku belum sempat bertanya, siapakah Ki Sanak berlima dan apakah
keperluan Ki Sanak?” “Aku sudah mengatakan siapakah kami kepada para
bebahu yang ada disini semalam. Tetapi aku memang belum mengatakan,
untuk apa kami datang kemari” jawab prajurit itu. “Ya, mereka telah
mengatakan, siapakah Ki Sanak. Tetapi aku masih ingin mey akinkan
keterangan bebahu Bumiagara itu.” berkata Ki Buy ut kemudian.
“Baiklah. Aku ingin mengulangi keterangan kami tentang diri kami.
Kami adalah prajurit-prajurit Kediri. Kami pernah bekerja bersama
dengan Ki Buyut melawan Padepokan Bajra Seta. Sementara petugas
kamipun pernah datang ke Kabuyutan ini untuk menyampaikan beberapa
pesan dari pimpinan kami.” jawab prajurit itu. Lalu katanya ”Nah,
dengan demikian, bukankah persoalannya menjadi lebih jelas.” “Ya.
Kami ingat. Tetapi silahkan mengatakan, bagaimanakah jela snya tugas
Ki Sanak datang ke Kabuyutan ini.” desis Ki Buyutyang jantungnya
berdetak semakin cepat. “Baiklah. Baiklah. Nampaknya Ki Buy ut
adalah seorang yang sulitmempercayai orang lain atau mungkin seorang
yang harus mendapatkan kepastian sebelum menentukan satu keputusan.”
berkata prajurit yang tertua. Lalu setelah mengambil nafas
panjang iapun berkata ”Ki Buyut. Kami memandang perlu untuk datang
ke Kabuyutan ini pada saat ini. Kami tahu bahwa baru saja Ki Buy ut
mengalami cobaan yang berat karena sekelompok datang ke Kabuyutan
ini pada saat ini. Kami tahu bahwa baru saja Ki Buyut mengalami
cobaan yang berat karena sekelompok perampok telah mencoba
untukmerampok Kabuyutan Bumiagara. Untunglah bahwa Bumiagara telah
siaga. Lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang ada di
Kabuyutan ini telah berusaha untuk meningkatkan kemampuan para
pengawal dan anak-anak muda di Kabuyutan ini. Untuk itu, bukan saja
Bumiagara yang berterima kasih tetapi kamipun sangat berterima
kasih untuk itu. Karena itu, maka setelah peristiwa dengan
orang-orang Larah itu selesai, kamipun dengan segera datang kemari.
Kami ingin menagih janji orang-orang Bumiagara beberapa saat
yang lalu. Kami sekarang memerlukan bahan makanan dan tenaga.
Semula hanya tenaga untuk mengangkut barang-barang dan perbekalan,
karena kamimemang kekurangan tenaga. Tetapi setelah kami ketahui
bahwa anak-anak muda Bumiagara justru memiliki kemampuan sebagaimana
seorang prajurit, maka kami ju stru semakinmemerlukan mereka.”
Jantung Ki Buyut bagaikan berhenti berdeny ut. Ternyata prajurit
Kediri yang tidak patuh kepada atasannya itu tahu benar apa
yang terjadi di Bumiagara. Mereka tahu bahwa orang-orang Larah
telah meny erang Kabuyutan itu. Merekapun tahu bahwa lima orang
cantrik dari Padepokan Bajra Seta ada pula di Kabuyutan itu. Karena
Ki Buyut tidak segera menjawab, maka orang tertua dari antara
orang-orang Kediri itu berkata ”Ki Buy ut tidak usah heran jika aku
tahu banyak hal tentang Kabuyutan ini. Karena itu Ki Buyut tidak
usah berusaha membohongi kami.” Ki Buyutmasih termangumangu sejenak.
Ia memang tidak segera menemukan jawaban atas permintaan orang-orang
Kediri yang tidak tunduk kepada Sri Baginda di Kediri itu. Sementara
itu orang tertua itu masih berkata pula ”Kami tahu apa saja
yang kalian lakukan. Sekarang Ki Buyut tidak dapat berbuat
lain. Ki Buyut hanya dapat memenuhi permintaan kami. Ki Buy ut tidak
dapat mengirimkan orang kemanapun untuk minta bantuan. Para Cantrik
itupun tidak akan dapat meninggalkan Kabuyutan ini, karena Kabuyutan
ini sudah diawasi di segala penjuru.” Ki Buyut Bumiagara kemudian
justru mengangguk-angguk. Katanya ”Apa yang kau katakan benar
Ki Sanak. Juga tentang kelima orang cantrik itu.” “Sokurlah jika Ki
Buy ut tidak berniat untuk ingkar” berkata orang tertua diantara
kelima orang itu ”agaknya per soalan diantara kita akan cepat
selesai.” “Aku ingin mendengar, apa saja yang kau minta dari
Kabuyutan Bumiagara ini Ki Sanak ?” bertanya Ki Buyut. “Menurut
pengetahuanku, Bumiagara terdiri dari delapan padukuhan. Setiap
padukuhan terdiri atas tiga atau ampat padesan sehingga seluruhnya
Kabuyutan Bumiagara terdiri lebih dari duapuluh lima padesan. Jika
dari setiap padesan aku minta lima orang saja,maka akan terkumpul
seratus duapuluh lima orang. Sementara itu Kabuyutan ini mempunyai
padukuhan induk yang lebih padat penduduknya dari padesan yang lain.
Karena itu,maka aku minta seluruhnya seratus lima puluh orang ber
serta seluruh padi yang tersimpan dilumbung Kabuyutan.
Sedangkan setiap orang akan aku minta menurut kerelaan mereka
masing-masing, karena kami bukan orang yang dapat berbuat
sewenang-wenang terhadap orang lain.” Wajah Ki Buy ut menjadi merah.
Ia sadar, bahwa yang dilakukan itu adalah satu pemerasan.
Namun orang-orang Kediri itu tentu benar-benar sudah siaga untuk
memaksakan kehendaknya. Sebelum Ki Buyut menjawab, orang tertua itu
sudah mendahuluinya berkata ”Maaf Ki Buyut. Yang kami ajukan bukan
semacam tawaran yang dapat diterima oleh Ki Buyut atau
barangkali Ki Buyut ingin menawarnya. Yang kami ajukan kepada Ki
Buyut adalah satu halyang sudah pasti harus dipenuhi.” Ki
Buyutmengatupkan giginya rapat-rapat. Sementara para bebahu
yang lainpun telah menahan diri untuk tidak mencampuri
pembicaraan yang membuat darah mereka menjadi panas. “Ki
Sanak” berkata Ki Buyut kemudian ”permintaan kalian tidakmasuk
akal.” “Kenapa ?” bertanya orang tertua diantara kelima orang itu
”kami sudah membuat perhitungan yang cermat. Kami sudah
mempelajari apa saja yang ada di Kabuyutan ini serta apa saja yang
terjadi. Karena itu, permintaan kami sudah kami pertimbangkan
masak-masak. Karena itu, maka tugas.Ki Buyut adalah memenuhi
permintaan kami. Tidak lebih dan tidak kurang. Perlu kami
beritahukan bahwa di padukuhanpadukuhan lainpun kami telah
me-lakukannya pula. Tetapi karena tidak ada per soalan yang
pornah timbul diantara kami dan padukuhan-padukuhan itu, maka kami
hanya minta disediakan bahan makanan dan beberapa orang anak muda
yang akanmembawa bahanmakanan itu ke barak kami. Tidak lebih dari
ampat atau lima orang. Mungkin sebuah pedati dengan dua ekor lembu.
Hanya itu. Tetapi Kabuyutan Bumiagara adalah Kabuyutanyang
telah lama bekerja bersama kami dalam suka dan duka. Karena itu,
maka kami mengajukan permintaan khusus yang agak lain dengan
padukuhan atau Kabuyutanyang lain.” “Kami akanmembicarakannya
Ki Sanak” berkata Ki Buy ut. “Permintaan kami tidak untuk
dibicarakan seperti sudah aku katakan” jawab orang itu. “Maksudku,
tentu harusmenentukan, siapa yang akan pergi ber sama kalian.” sahut
Ki Buyut. “Tidak. Aku minta Ki Buyut memanggil para Bekel sekarang.
Kemudian memerintahkan mereka datang kembali dengan membawa
masing-masing lima orang anak muda. Kemudian akan terkumpul di
halaman Kabuyutan ini seratus limapuluh orang anak muda yang
akan ikut bersama kami. Mungkin lima atau enam pedati padi dan
jagung serta mungkin ada bahan-bahan lain yang dapat Ki Buyut
sumbangkan kepada kami. Kawan seperjuangan Ki Buyut. Ingat. Jangan
berbuat apa -apa yang dapat meretakkan persahabatan kita.
Sebenarnyalah Kabuyutan ini sudah diawasi dari segala sudut. Kami
tinggal bersuit saja untuk menggerakkan pasukan kami jika Ki Buyut
membuat persoalan. Terus-terangnya Kabuyutan ini telah terkepung
rapat.” “ Itukah cara yang ditempuh oleh seorang sahabat ?”
bertanya Ki Buyut. Orang itu tertawa. Katanya ”Apakah kau
tersinggung dengan cara yang kami tempuh ? Apa boleh buat.”
Darah Ki Buyut serasa mendidih didalam jantungnya. Tetapi ia tidak
boleh tergesa-gesa bertindak. Ia memang percaya bahwa Kabuyutan
Bumiagara memang sudah terkepung. “Jika aku tidakmempunyai pilihan
lain, baiklah. Aku harus memanggil para bekel untuk berkumpul
disini.” berkata Ki Buyut kemudian. “Terima kasih ataskesediaan Ki
Buyut” berkata orang itu. “Jika demikian, kami persilahkan kalian
beristirahat di gandok. Kami akan mengatur tugas-tugas kami.”
berkata Ki Buyut. ”Apa salahnya aku berada disini? Apakah aku
mengganggu?” bertanya orang tertua itu. Ki Buyut menarik nafas
dalam-dalam. Namun katanya kemudian ”Baiklah. Jika Ki Sanak memang
ingin menunggui pembagian tugasyang akan kami lakukan.” “Terima
kasih atas persetujuan ini Ki Buyut” berkata orang itu sambil ter
senyum. Ki Buy utpun kemudian berkata kepada Ki Jagabaya dan para
bebahu yang ada dipendapa ”Panggil para Bekel untuk datang kemari.
Aku akan berbicara denganmereka.” Ki Jagabaya termangu-mangu
sejenak. Agaknya ada yang ingin ditanyakan. Tetapi kelima
orang prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada atasannya itumembuat
ragu-ragu. Sementara itu Ki Buyut berkata selanjutnya ”Kita memang
tidak mempunyai pilihan. Tetapi kita tetap pada pendirian kita.”
Dengan dahi berkerut prajurit tertua itu bertanya ”Apa maksud Ki
Buyut ?” ”Sebenarnya sejak semula kami sudah tidak mempunyai
pilihan. Tetapi menurut dugaan kami, tuntutan kalian tidak sejauh
yang kalian berikan sekarang. Namun apa boleh buat. Kita tidak
dapat berbuat lain” jawabKi Buyut. ”Jangan mencoba untuk melakukan
perlawanan meskipun Ki Buyut sudah mempersiapkan anak-anak muda
Bumiagara, karena Ki Buyut tidak boleh mengukur kekuatan kami dengan
kekuatan orang-orang Larah.” berkata orang itu pula. ”Aku tahu”
jawab Ki Buy ut ”karena itu, maka aku perintahkan untuk memanggil
para bekel sebagaimana kau minta.” Ki Jagabaya tidak bertanya apapun
juga. Ia pun kemudian bangkit bersama beberapa orang bebahu yang ada
di pendapa itu. “Kamiminta diri Ki Buyut” berkata Ki Jagabaya.
“Baiklah. Lakukan tugas kalian sebaik-baiknya.” pesan Ki Buyut.
Sejenak kemudian, maka Ki Jagabaya itupun telah meninggalkan halaman
rumah Ki Buyut Bumiagara.Namun ia masih sempat berbicara dengan para
bebahu yang pergi ber samanya untuk memanggil para Bekel ”Apa maksud
Ki Buyut sebenarnya dengan pesan-pesannya ?” “Aku kira Ki Buyut
ingin mengingatkan kita, bahwa kita harus siap melawan, apapun yang
terjadi.” jawab salah seorang bebahu. ”Ya. Aku juga berpendirian
seperti itu” berkata Ki Jagabaya kemudian” seandainya seisi
Kabuyutan ini akan dibantai, apaboleh buat. Kita tidak mau
mengorbankan seratus limapuluh orang anak-anak muda kita. Itu
sesuatu yang gila. Yang tidak masuk akal. Kita akan kehabisan
orang daripada kita kehilangan seratus limapuluh orang anakmuda,
lebih baik kita melawan apapun yang terjadi. Lima atau sepuluh
pedati padi dan jagung bukan soal bagi kami. Tetapi anak-anakmuda
itu.” Para bebahu itupun mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka
berkata ”Kita akan berbicara dengan para Bekel.” Sejenak kemudian
merekapun telah berpisah. Ma singmasing pergi ke padukuhan
yang berbeda untuk memanggil para Bekel. Namun mereka ternyata
telah menetapkan satu sikap yang sama, yang akan mereka
sampaikan kepada para Bekel. Beberapa saat kemudian, maka para
bebahu itupun telah selesai dengan tugas mereka. Mereka semua telah
menghubungi para bekel dengan pesan yang sama. Para Bekel
harus datang ke Kabuyutan namun setelah menyiapkan para pengawal dan
anak-anak mudanya. Bahkan semua laki-laki yang masih sanggup bep
tempur untuk mempertahankan harga diri serta hak Kabuyutan mereka.
Di Kabuyutan, kelima orang prajurit Kediri yang memberontak
itu hampir kehilangan kesabaran mereka. Namun kemudian seorang demi
seorang para Bekelpun berdatangan. ”Aku hampir tidak sabar” berkata
salah seorang dari para prajurit itu. Ki Buyut hanya berdiam diri
saja. Sementara para Bekelpun telah dipersilahkan duduk dipendapa.
Beberapa saat kemudian, para Bekelpun telah berada di pendapa.
Semuanya hadir. Sementara kelima orang cantrik Padepokan Bajra Seta
telah ada di Kabuyutan itu pula, meskipunmereka berada diruang
dalam. “Semua sudah berkumpul” berkata Ki Buyut kepada para prajurit
itu. ”Kaulah yang berkepentingan dengan mereka Ki Buy ut” berkata
prajurityang tertua itu. “Baiklah” sahut Ki Buyut ”aku akan
berbicara dengan mereka.” Orang tertua diantara kelima orang itu ter
senyum. Katanya ”Mudah-mudahan Ki Buy ut tidak menjadi bingung
berbicara dihadapan para Bekel. Tetapi aku yakin bahwa para Bekel
sudah tahu apa yang akan Ki Buyut katakan setelah mereka
melihat aku disini. Tetapi sudah tentu bahwa Ki Buyut tidak akan
salah lidah meskipun Ki Buy ut telah mempersiapkan anak-anak muda
Kabuyutan ini bahkan dengan memanggil lima orang cantrik dari
Padepokan Bajra Seta” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun
wajahnya memang nampak menjadi tegang, karena jantungnya yang
berdegup semakin keras. Sejenak ia bergeser membetulkan letak
duduknya menghadap kepada para Bekel yang juga menunggu perintah Ki
Buy ut dengan tegang. Baru sejenak kemudian Ki Buy ut berkata
”Saudarasaudaraku para Bekel di lingkungan Kabuyutan Bumiagara. Hari
ini kita mendapat lima orang tamu dari Kediri. Mereka adalah
prajurit-prajurit yang pernah bekerja ber sama dengan kita beberapa
saat yang lampau. Kini mereka datang untuk melanjutkan
hubungan diantara kita dengan para prajurit Kediri itu” Ki Buy ut
menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dilanjutkannya ”Namun cara yang
akan ditempuh agak berbeda dengan cara yang pernah kita lakukan.
Karena kerja sama yang sekarang akan kita lakukan sifatnya
memang berbeda dengan cara yang pernah kita lakukan
sebelumnya” Ki Buyutpun kemudianmenguraikan apa yang diminta oleh
para prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada pimpinannya itu.
Mereka memerlukan seratus limapuluh orang dan beberapa pedati beras
dan jagung. Bahkan dengan pedatinya dan dengan lembunya sekaligus.
Para Bekelpun terkejutmendengar permintaan itu. Seorang diantara
mereka dengan serta merta berkata ”Kami tidak merelakannya” Beberapa
orang yang lainpun telah menyatakan sikapnya pula. Bahkan ada
pula yang berteriak ny aring ”Kita menolaknya” Wajah kelima
orang prajurit itulahyang kemudian menjadi tegang. Yang tertua
diantara mereka berkata ”Segala sesuatunya ter serah kepada Ki Buy
ut. Jika Ki Buyut salah lidah,maka Kabuyutan ini akan lumatmenjadi
debu” Ki Buy ut berusaha untuk menenangkan hatinya. Tetapi
kegelisahannya telah membuat suaranya menjadi bergetar ”Saudara
-saudara para Bekel yang memimpin padukuhanpadukuhan di Kabuyutan
Bumiagara. Tegak dan runtuhnya Kabuyutan ini tergantung kepada
kalian dan rakyat Bumiagara. Karena itu, maka aku hanya akan
mendengarkan suara kalianyang mewakili rakyat Bumiagara” Wajah para
prajurit itupiin menjadi semakin tegang. Mereka tidak segera
tahumaksud kata-kata Ki Buy ut itu. Sementara itu para Bekelpun
telah berteriak-teriak dengan riuhnya ”Kamimenolak. Kamimenolak”
Kelima orang prajurit yang berada di pendapa itu bergeser
mendekati Ki Bekel. Seorang diantara mereka berkata ” Ingat Ki Buy
ut. Kami tidak sekedar mengancam atau bahkan mainmain. Apa
yang kami katakan akan kami lakukan. Kami benarbenar telah
siap” Namun kelima orang itu terkejut ketika Ki Buyut kemudian
berkata ”Kabuyutan ini bukan milikku. Kabuyutan ini milik seluruh
rakyat, sehingga aku akan tunduk kepada kehendak mereka sementara
kalian mendengar sendiri apa yang mereka
katakan.”
Jilid101 DENGAN demikian maka aku
tidak dapat berkata lain kecualimenirukan apa yang mereka katakan.
Mereka ternyata menolak permintaan kalian. Maka akupun
harusmenolaknya pula” “Apakah kau sadari sikapmu itu Ki Buy ut?”
bertanya orang tertua diantara para prajurit itu. “Aku sadar
sepenuhnya Ki Sanak. Dengarlah sekali lagi, bahwa aku sekedar
mewakili mereka menyampaikan keputusan mereka. Ternyata mereka telah
menolak. Karena itu,maka akupun harusmenolak pula” “Kau jangan
menjadi gila, Ki Buyut. Kau harus dapat membuat perhitungan bahwa
keputusan itu sama halnya denganmenghancurkan Kabuyutanmu sendiri”
“Apapun yang terjadi Ki Sanak. Permintaanmu memang permintaan
yang gila. Tidak masuk akal dan hanya orangorang yang tidak
waras sajalah yang akan bersedia menerimanya” “Apakah kau
tidak akan menyesal?” bertanya orang tertua itu dengan dahi
berkerut. “Tidak. Aku tidak akan meny esal. Aku tahu pasti apa
yang aku lakukan” jawabKi Bekel. ”Baiklah. Jika Ki Buyut dan
orang-orang Bumiagara sendiri menghendaki hancurnya Kabuyutan ini,
maka aku akan melaksanakannya. Aku akan menghubungi Senapati yang
memimpin pasukan yang sudah siap menghancurkan Kabuyutan ini”
geram orang tertua dari antara kelima orang prajurit itu “Tidak Ki
Sanak” berkata Ki Buyut ”Ki Sanak tidak akan dapat menghubungi
mereka. Kami akan menahan Ki Sanak berlima disini” “Gila” orang
tertua diantara para prajurit itu berteriak denganmarah. “Apaboleh
buat” jawab Ki Buyut ”seandainya Kabuyutan ini akan hancur, biarlah
hancur bersama kita dan kalian berlima. Seperti kami,maka kalianpun
tidak mempunyai pilihan” “Wajah kelima orang itupun menjadi merah
oleh kemarahan yang menghentak jantung mereka. Hampir berbareng
mereka bangkit berdiri sambil berkata ”Ki Buyut, kau jangan
kehilangan akal. Jika aku tidak kembali hari ini, maka besok
pagi-pagi saat matahari terbit, maka Kabuyutan ini akan dihancur
lumatkan. Tidak seorangpun yang akan tinggal hidup.” Tetapi jawaban
Ki Buyut membuat kelima orang itu semakin marah ”Kalian dan kami
memang tidak mempunyai pilihan. Seandainya kami membiarkan kalian
pergi, tetapi kami tidak meny erahkan apa yang kalian minta, maka
Kabuyutan ini juga akan kalian hancurkan. Karena itu lebih baik,
kamimenahan kalian disini. Setidak-tidaknya kami akan dapatmembunuh
lima orang dari antara para prajurit Kediri.” “Tetapi hukuman kalian
akan menjadi semakin berat jika kami tidak kembali hari ini.” geram
prajurityang tertua itu. “Kami, orang-orang Bumiagara tidak
peduli” jawab Ki Buyut. Ketika kelima orang itu hampir
bersama-samamenarik senjatanya,maka Ki Jagabaya, para bebahu dan
para Bekelpun segera bangkit pula. Merekapun segera menarik
senjatasenjatamereka pula. “Jangan bodoh” berkata Ki Buyut ”jika kau
mencoba melawan orang-orang Bumiagara yang sedang marah, maka
akibatnya akan sangat pahit bagi kalian. Mungkin kalian akan dapat
dihukum picis dihalaman Kabuyutan ini sebelum kawan- kawanmu
memasuki halaman rumah ini biarlah mereka melihat tubuh-tubuh kalian
yang terikat pada tiang di halaman ini dengan penuh luka.” “Apakah
kau kira para prajurit Kediri t idak dapat memperlakukan kalian
seperti yang kalian katakan itu ? Kalianpun akan dapat diikat pada
tiang-tiang di halaman. Kepanasan di siang hari dan kedinginan di
malam hari. Sementara itu, setiap prajurit akan melukai kulit kalian
dan membubuhkan garam pada luka itu sampai kalian mati.” geram
prajurityang tertua itu. Namun Ki Buyut berkata ”Kalian telah
mengajar kami pelaksanaan dari hukum picis itu. Karena itu meny
erahlah agar kami tidak perlu melaksanakannya sebagaimana kau
katakan.” “Kami adalah prajurit -prajurit yang terlatih.
Meskipun kami hanya berlima, namun kami akan dapat menghancurkan
kalian semuanya.” teriak prajurit itu. “Kau jangan mencoba
menakut-nakuti kami. Bukankah kau sendiri mengakui, bahwa
anak-anakmuda kami telah berlatih seperti prajurit dan kemampuan
kami setingkat dengan prajurit pula ? Nah, apakah dengan demikian,
kau berlima akan dapat melawan kami, para Bekel dan bebahu Kabuyutan
Bumiagara ?” bertanya Ki Buyut. Kelima orang prajurit itu menjadi
ragu-ragu. Namun di wajah mereka membayang kemarahan yang membakar
jantung. Namun mereka harusmenghadapi kenyataan bahwa dihadapan
mereka berdiri lebih dari lima puluh orang. Para Bekel, Ki Buy ut
dan para bebahu. Kemudian beberapa anak muda yang tiba-tiba sudah
ada di regol halaman Kabuyutan itu. Demikian pula kelima orang
cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Karena itu, maka kelima orang itu
memang merasa tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi lawan yang
demikian banyaknya. Sambil mengacukan pedang yang diterimanya
dari para para cantrik Ki Buyut berkata ”Letakkan senjata kalian.
Jika kalian meny erah maka kalian akan kami perlakukan sebagai
tawanan dengan cara yang baik. Tetapi jika kawan-kawanmu datang
dengan cara yang kasar sebelum kami semuanya akan dibantai
oleh kawan-kawanmu.” Kelima orang prajurit itu memang menjadi
ragu-ragu. Namun kemudian orang yang tertua diantara mereka
meletakkan pedangnya sambil berkata ”Kau akan sangat menyesali
perbuatanmu sekarang ini.” “Sudah aku katakan. Kami akan
mempertahankan kampung halaman kami dengan segenap kemampuan kami,
apapun yang terjadi. Meskipun seandainya kami harus dibantai,
bahkan seisi padukuhan sekalipun, kami sama sekali tidak akanmeny
esal.” jawabKi Buyut. Kelima orang prajurit itu akhirnya harus
meletakkan senjata mereka dihadapan Ki Buyut dan para Bekel dari
Kabuyutan Bumiagara. Betapa sakit hatimereka nampak pada wajah-wajah
mereka yang menjadi merah padam. Namun mereka tidak dapat
mengelak. Agaknya orang-orang Bumiagara itu justru telahmenjadi
putus asa sehingga mereka tidak dapatmembuat perhitungan lagi.
Bahkan condong untuk melakukan bunuh diri ber sama-sama. Demikian
kelima prajurit itu meletakkan senjatanya,maka Ki Buy ut itupun
berkata ”Mereka adalah tawanan kami.” Lalu katanya kepada Ki
Jagabaya ”Tempatkan mereka di bilik gandok itu. Mereka tidak boleh
keluar dan melarikan diri dari bilik tahannya. Kami akan menunggu
sampai kawan-kawan mereka datang.” “Mereka akan membinasakan seisi
padukuhan ini.” geram salah seorang dari para prajurit yang
menentang atasannya itu. Namun Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu
telah mendorong mereka sambil berkata ”Masuklah kedalam bilikmu.
Kalian masih beruntung, bahwa kalian diperlakukan baik di Kabuyutan
ini. Namun jangan menyesal bahwa perlakuan kami akan berubah jika
kawan-kawanmu benarbenar datang danmengganggu ketenangan hidup
kami.” Para prajurit yang tidak tunduk kepada Sri Baginda di Kediri
itu memang terdorong beberapa langkah.Namun orang tertua
diantaramereka masih berkata lantang ” Ingat, jika saat matahari
terbenam aku belum kembali pada kesatuanku, maka besok pagi-pagi
menjelang fajar, padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara ini akan
menjadi karang abang. Segala yang hidup akan dimusnahkan. Segala
macam bangunan akan dihancurkanmenjadi debu. Kabuyutan Bumiagara
tentu hanya tinggal namanya saja, karena bekasnyapun tidak akan
dapat dilihat lagi.” “Cukup Ki Sanak” berkata Ki Buyut ”aku sudah
memperhitungkan bahwa hal seperti itu akan dapat terjadi. Tetapi
sudah tentu kalian t idak akan dapat melihat, karena kalian akan
mengalami kesulitan di akhir hidup kalian menjelang peristiwa yang
mengerikan itu terjadi atas Kabuyutan Bumiagara. Karena itu, kami
persilahkan kalian memasuki dunia antara,menjelang hari-hari
terakhir kalian.” “Kalian menjadi gila karena berputus-asa.” geram
orang yang bertubuh tinggi tegap dan berkumis lebat. “Kau benar.
Kami sedang berputus asa dan sedang ber sama-sama membunuh diri.
Tetapi sudah tentu bersama dengan kalian berlima dan beberapa orang
prajurit yang akan terbunuh dalam pertempuran yang akan terjadi,
betapapun tidak seimbangnya, karena kami akan bertempur tanpa
memperhitungkan hidup dan mati. Namun perkenankanlah aku bertanya,
apakah kawan-kawanmu akan berani berbuat demikian ? Bukankah kalian
sedang membutuhkan banyak tenaga untuk melakukan perlawanan terhadap
Sri Baginda di Kediri ? Apakah kalian akan merelakan kawan-kawan
kalian terbunuh disini ? Ingat, dengan demikian maka kawan-kawan
kalianyang terbunuh disini akanmenjadi tidak berharga sama
sekali bagi perjuangan anda, termasuk kalian berlima. Tentu nilainya
akan berbeda dengan kawan-kawan kalianyang gugur dalam
memperjuangkan cita -citakalian apapun ujudnya.” berkata Ki Buyut.
Wajah para prajurit itu menjadi merah padam. Namun mereka tidak
menjawab lagi. Yang terdengar adalah geram kemarahan dan kebencian.
Sementara itu Ki Jagabaya telah mendor ongmereka untuk melangkah
lagi menuju kebilik yang telah disediakan bagi mereka “Kita
tidak dapat berbicara dengan orang-orang gila” geram orang tertua
diantara para prajurit itu. “Tetapimereka benar-benar akan menyesal”
desisyang lain ”kawan-kawan kita tidak akan sekedar main-main.
Mereka berkata sebenarnya.” “Jangan mencoba mempengaruhi kami dengan
igauan itu” potong Ki Jagabaya yang mengawalmereka. “Kau dapatmeny
ombongkan dirimu sekarang. Tetapi besok kau akan merangkak dibawah
kaki kawan-kawanku untuk mohon pengampunan.” geram oranga tertua
diantara para prajurit itu. “Apapun yang akan aku lakukan, kau
tidak akan melihatnya” jawab Ki Jagabaya. “Setan kau” geram orang
itu. “Tutup mulutmu, atau aku akan menyumbatnya dengan ujung
pedangku ?” bentak Ki Jagabaya ”kau tidak akan dapat berbuat apa-apa
sekarang.” Para prajurit itupun terdiam. Mereka menyadari, bahwa Ki
Jagabaya dan orang-orang Kabuyutan Bumiagara sudah menjadi
putus-asa. Mereka sudah tidak mempunyai harapan lagi apapun yang
mereka lakukan. Sehingga mereka akan dapat berbuat diluar dugaan.
Setelah kelima orang itu dimasukkan kedalam bilik di gandok serta
diselarak dari luar serta dijaga dengan rapat, maka Ki Buyutpun
telah memerintahkan para Bekel untuk mempersiapkan diri
sebaik-baiknya. Kepada para Bekel Ki Buyut berkata ”Kita akan
memusatkan pertahanan kita di beberapa pedesaan di Padukuhan induk,
sebaiknya keluarga para pengawal, bebahu dan bahkan semuanya
diungsikan ke pedesaan-pedesaan di padukuhan induk. Jika yang
dikatakan oleh para prajurit itu benar, maka baru besok pagi para
prajurit yang melawan pemerintahan di Kediri itu akan mulai
bergerak. Kita masih mempunyai waktu hari ini dan malam nanti untuk
mengungsikan isi padukuhan-padukuhan yang lain. Seandainya kita akan
ditumpas, biarlah kita lebur menjadi debu ber sama-sama di padukuhan
induk. Namun dalam ruang yang lebih sempit, maka kita akan
dapat memberikan perlawanan lebih baik.” Dengan demikian para Bekel
itupun segera minta diri. Mereka akan segera mempersiapkan seisi
padukuhannya untuk mengungsi, namun sekaligus untuk mempersiapkan
perlawanan bersama di padukuhan induk itu. Sebenarnyalah padukuhan
induk Kabuyutan Bumiagara menjadi sangat sibuk. Ki Buy ut dan para
bebahu telah memberikan perintah agar setiap orang, setiap keluarga,
ber sedia menerima pengungsi dari padukuhan-padukuhan lain
dilingkungan Kabuyutan Bumiagara. Bukan hanya sanakkadang saja yang
diterima disetiap keluarga, tetapi siapapun yang menyatakan diri
untuk menumpang disetiap keluarga. Para Bekelpun telah memerintahkan
untuk membawa semua isi lumbung dan apapunyangmungkin dibawa. “Masih
ada waktu” berkata para Bekel ”hari ini dan malam nanti. Yang tidak
dapat membawa sekaligus, dapat diulang kemudian satu atau dua kali
sampai menjelang dini malam nanti.” Kesibukan di Kabuyutan Bumiagara
bagaikan sarang semut yang mendapat percikan air. Orang-orang yang
hilir mudik dari satu padukuhan ke padukuhan yang lain untuk
menghubungi sanak kadang yang akan bersama-sama mengungsi ke
padukuhan induk. Yang lain harus hilir mudik dari padukuhan-nya ke
padukuhan induk karena mereka tidak dapat membawa barang-barang
mereka serta bahan pangan sekaligus. Pedatipun beriringan dari satu
padukuhan ke padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara dengan mengangkut
apa saja yang dapat dibawa selain bahan pangan dan pakaian. Di
padukuhan induk para bebahu telah bersiap mengatur arus para
pengungsi di beberapa padesan yang termasuk padukuhan induk. Padesan
yang akan dipertahankan sampai kemungkinanyang terakhir.
Dengan demikian maka daerah Kabuyutan Bumiagara serasa menjadi
sangat sempit. Sementara itu, anak-anakmuda, para pengawal dan
bahkan hampir semua laki-laki telah mempersiapkan diri untuk
mempertahankan harga diri mereka sert kampung halaman meskipunmereka
akanmusna sama sekali. Sementara itu, perwira dari sekelompok
prajurit Kediri yang ada disekitar Kabuyutan Bumiagara itu memang
menunggu kelima orang penghubung yang telah mereka kirim untuk
memeras Kabuyutan Bumiagara yang mereka anggap pernah menjerumuskan
mereka ke Padepokan Bajra Seta. Mereka sama sekali tidak mengira
bahwa Kabuyutan Bumiagara tidak dengan begitu saja meny erahkan apa
yang mereka minta. Seratus limapuluh orang dan lima atau enam pedati
beras dan jatung. Bahkan orang-orang Bumiagara telah dengan
beranimenahan kelima orang penghubung itu. Namun ketika matahari
sudah melewati puncak langit, maka perwira yang memimpin sekelompok
prajurit Kediri yangmenolak tunduk kepada atasan mereka itu mulai
gelisah. “Kenapa mereka belum kembali” berkata perwira itu.
“Orang-orang Bumiagara tentu memerlukan waktu” sahut salah seorang
pembantunya. “Seharusnya mereka telah kembali dengan membawa seratus
limapuluh orang anakmuda dan enam pedatiyang kita minta itu.”
gumam perwira yang memimpin kelompok itu. ”Semalam dan setengah hari
adalah waktu yang cukup panjang. Apalagi anak-anakmuda
Bumiagara telah mengalami latihan-latihan yang cukup baik
sehingga mereka memiliki kemampuan prajurit.” “Apakah ada niat
orang-orang Bumiagara untuk melawan kita?” bertanya seorang
pembantunya yang lain. “Mustahil. Mereka tahu kekuatan kita.
Mereka tentu menyadari bahwa mereka tidak akan mampu melawan kita.
Merekapunmengerti bahwa melawan akan berarti kehancuran mutlak.”
desis perwira itu. Namun kegelisahan itupun memuncak ketika matahari
menjadi semakin rendah. Bahkan ketika malam turun, kelima orang
prajurit itu ternyata belum kembali. “Setan orang-orang Bumiagara”
geram pemimpin sekelompok prajurit Kediri yang melawan
atasannya itu ”jika malam ini kelima orang kawan kita itu tidak
kembali, maka esok pagi-pagi Kabuyutan Bumiagara akan menjadi debu.
Mereka, orang-orang Bumiagara telah menjerumuskan kita ke Padepokan
Bajra Seta sehinggameny ebabkan beberapa kawan kita gugur. Sekarang
mereka menolak dan bahkan menawan kelima orang kawan kita yang lain,
seolah-olah mereka memiliki hak dan kemampuan untuk melakukannya.
Dengan demikian maka mereka tidak akan mendapat pengampunan lagi.
Seluruh Kabuyutan Bumiagara akanmenjadi rata dengan tanah. Semua
yang hidup akan mati dan semua hakmilik yang ada
akanmenjadimilik kita.” Namun dalam pada itu seorang diantara
pembantunya bertanya ”Apakah kita tidak mempertimbangkan, bahwa
dengan demikian kawan-kawan kita akan berkurang lagi. Meskipun kita
dapat menumpas seisi Kabuyutan, namun diantara kita tentu ada yang
gugur. Apalagi kita tahu bahwa para pengawal Kabuyutan dan anak-anak
mudanya memiliki kemampuan prajurit. Meskipun jumlah kita lebih
banyak jika kita mengerahkan semua prajurit yang kita bawa, namun
agaknya orang-orang Bumiagara sudah kehilangan penalarannya. Mereka
akan dapat menjadi liar dan bahkan buaskarenamereka tidak lagi
sempat berpikir.” “Jadi, apakah kita harusmembiarkan kawan-kawan
kita itu tertawan atau bahkan sudah dibunuh oleh mereka ? Jika kita
membiarkannya, maka kebiasaan buruk itu akan berulang. Mereka akan
dengan beraninya menghina dan merendahkan harga diri kita.” sahut
pemimpinnya. Prajurit itumengangguk-angguk. Katanya ”Akumengerti.”
”Nah, jika demikian kita tidakmempunyai pilihan lain. Kita akan
memasuki Kabuyutan Bumiagara besok pagi-pagi benar. Malam ini kita
akan mempersiapkan seluruh pasukan kita. Semakin banyak prajurit
yang datang ke Kabuyutan itu,maka semakin cepat kita meny elesaikan
mereka.” geram pemimpinnya. Sebenarnyalah prajurit Kediri yang
tidak tunduk kepada atasannya itu telah dipersiapkan. Malam itu
jugamereka telah menyusun kekuatan. Mereka akan memasuki Kabuyutan
Bumiagara dari tiga arah. “Kita akan langsungmenuju ke padukuhan
induk. Jika ada perlawanan di padukuhan-padukuhan lain, maka kalian
berhak untuk menghancurkan mereka tanpa ragu-ragu. Kita memang akan
menghancurkan seluruh Kabuyutan yang telah menghina kita itu.”
Ketika para prajurit itu telah berada di tempat mereka
masing-masing, ternyata mereka masih sempat beristirahat beberapa
saat. Mereka masih sempat tidur menjelang dini, karena demikian
matahari terbit, mereka harus sudah mulai bergerakmenuju ke
padukuhan induk. Sementara itu, para pengawal, anak-anakmuda dan
bahkan hampir semua orang laki-laki Kabuyutan Bumiagara telah ber
siap untuk bertempur sampai batas terakhir. Mereka semua sudah
bersiap untuk mati. Bahkan mereka sudah pa srah dan merelakan
seluruh keluarga mereka seandainya seisi Kabuyutan itu benar-benar
akan dibantai. Sementara itu, para pengawal Kabuyutan Bumiagara atas
perintah Ki Jagabaya telah menanam lima buah patok kayu yang kuat di
halaman Kabuyutan. Kelimanya telah dipersiapkan dengan beberapa utas
tali. “Jika para prajurit itu benar2 meny erang, maka kelima orang
prajurit itu akan mati terikat pada patok2 itu” berkata Ki Jagabaya.
Namun katanya kemudian ”Tetapi kita akan membunuh mereka setelah
orang pertamamemasuki halaman rumah ini. Biarlah mereka melihat apa
yang terjadi sebagaimana kita melihat kehancuran Kabuyutan kita.
Meskipun lima orang prajurit itu sama sekali tidak seimbang dengan
seisi Kabuyutan kita, namun kita sudah menunjukkan harga diri kita
sebagai manusia, bukan sekedar cacing tanah yang hanya dapat
menggeliat tanpa memberikan perlawanan apapun juga” Sebenarnyalah
semalam suntuk Kabuyutan Bumiagara dicengkam oleh kegelisahan dan
ketegangan. Namun orangorang Bumiagara memang sudah berbulat hati
untuk melakukan perlawanan. Meskipun demikian, hampir di setiap
rumah, nampak orang-orang yang dicengkam oleh ketegangan itu berdoa.
Perempuan dan kanak”kanak yang sudah tumbuh menjelang remaja.
Mereka masih memohon agar terjadi keajaiban di atas Kabuyutan
Bumiagara. Demikian ketika ay am jantan berkokok untukyang
terakhir kalinya, maka semua laki-laki di Bumiagara yang belum
merasa pikun telah bersiaga. Memang sekali-sekali timbul peny esalan
atas tingkah laku Ki Buy ut yang ternyata akibatnya sangat parah
bagi Kabuyutannya. Namun mereka tidak dapat memutar lajunya
matahari. Mereka harus berdiri meny ongsong waktu mendatang. Karena
mereka tidak akan dapat kembali ke masa lampau, meskipun apa
yang terjadi adalah kelanjutanmasa lampau itu. Ketika
langitmenjadimerah,maka didinding padesanyang termasuk
padukuhan induk, para pengawal telah bersiap dengan busur dan anak
panah. Yang lain lembing bambu yang runcing telah siap untuk di
lemparkan jika lawan mereka datang. Selain itu, maka dipinggang
merekapun tergantung pedang. Sedangkan yang lain telah
mempersiapkan tombak pendek, canggah, kapak dan berbagai jenis
senjata yang lain. Sebenarnyalah saat itu prajurit Kediri yang
melawan atasannya itupun sudah bersiap untuk bergerak. Pemimpin
mereka telah membakar jantung setiap prajurit untukmenjadi marah
pula, sehingga mereka akan dapat berbuat apa saja. Pemimpin itu
telah mengatakan kepada para prajuritnya, bahwa kawan-kawan mereka
agaknya sudah dibunuh oleh orang-orang Bumiagara. Karena itu,
demikian langit menjadi terang oleh lontaran sinar matahari pertama,
tanpa perintah lagi, maka tiga kelompok prajurit telah bergerak dari
tiga arah menuju ke padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Orang-orang
yang mengamati keadaanpun segera melaporkan gerakan itu.
Karena itu, maka pertahanan Kabuyutan Bumiagarapun segerameny
esuaikan diri. Sementara itu, Ki Jagabayapun telah memerintahkan
kepada para pengawal yang ada di Kabuyutan untuk mengeluarkan dan
mengikat kelima orang prajurit yang mereka tahan. Para prajurit itu,
meronta-r onta dan bahkan berusaha untuk melawan. Namun mereka tidak
berdaya menghadapi anak-anak muda Bumiagara yang sedang marah
itu. Karena itu,maka akhirnya mereka berlima telah terikat erat-erat
pada patok-patok yang ditanam kuat-kuat di halaman rumah Ki
Buyut Bumiagara. Sementara itu Ki Buyut sendiri bersama dua orang
cantrik dari Padepokan Bajra Seta telah berada didinding desa yang
diperhitungkan akan berhadapan dengan pasukan induk para prajurit
Kediri yang memberontak terhadap kekuasaan Sri Baginda itu. Adapun
cantrik yang lain telah menyebar ke padesan-padesan yang lain
berbaur dengan para pengawal. Mereka dapat memberikan petunjuk
kepada para pengawal menghadapi keadaanyang gawat. Beberapa saat
kemudian, ketika sinar matahari telah jatuh di atas tanah yang
lembab, maka para prajurit itu telah mendekati padesan di padukuhan
induk. Disepanjang gerakan mereka melintasi padukuhan-padukuhan lain
di Kabuyutan Bumiagara mereka sama sekali tidak menjumpai
perlawanan. Namun ketika mereka mendekati padesan di padukuhan
induk, maka barulah mereka menyadari, bahwa mereka telah ditunggu
oleh orang-orang Bumiagara di dinding padesan. Dengan demikian maka
mereka harus menjadi lebih berhati-hati. Mereka sadar bahwa dibalik
dinding padesan itu, tentu telah siap ujung -ujung senjata
yang akan menyambut mereka jika mereka meloncati dinding atau
memecahkan pintu regol padesan untukmasuk kedalamnya.Namun mereka
tahu pa sti, bahwa yang ada dipadesan itu tidak lebih dari
anak-anakmuda Bumiagara. Dengan demikian,maka para prajurit itu sama
sekali tidak menjadi tegang atau apalagi gentar. Meskipun beberapa
orang mengatakan bahwa anak-anakmuda Bumiagara telah berlatih dengan
sungguh-sungguh sehingga memiliki kemampuan prajurit, namun pada
prajurit itu masih tetap menganggap bahwa mereka masih berada pada
tataran yang lebih rendah dari seorang prajurit yang
sebenarnya. Sehingga dengan demikian,maka yang akan mereka
lakukan di Kabuyutan itu tidak lebih sulit dari menebas rimbunnya
semak-semak ilalang. Sementara itu anak-anak muda Bumiagara memang
menunggu dibalik dinding padesan. Mereka tidak menunjukkan
ujung-ujung anak panah dan lembing. “Tunggu sampai mereka mendekat
dan dapat dijangkau oleh lontaran anak panahmu.” pesan seorang
diantara para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang ada
diantaramereka. Sebenarnyalah anak-anak muda yang siap
mempertahankan Kabuyutan mereka itu dengan jantung yang bergejolak
berusaha untuk tetap menguasai diri. Mereka menunggu hingga para
prajurit itu mendekat,mencapai jarak lontaran anak panahmereka.
Sebenarnyalah para prajurit itu terkejut ketika tiba -tiba saja
mereka mendengar teriakan ny aring. Kemudian seperti hujan anak
panah telah meluncur dari balik dinding padesan itu. Sebenarnyalah
anak panah itu benar-benar anak panah yangmampu menembus kulit
mereka. Karena itu, selagi para prajurit itu masih belum menyadari
apa yang terjadi karena terkejut, maka beberapa anak panah
telah benar-benar menancap di tubuh mereka. Para prajurit itu telah
berteriakmarah. Namun anak panah itu masih saja meluncur dari balik
dinding padesan. Tetapi para prajurit itu telah menyadari keadaan.
Dengan senjata mereka masing-masing, para prajurit itu berusaha
untuk menangkis serangan anak panah itu. Bahkan beberapa orang
prajurit yang berperisai segera maju mendahului
kawan-kawannya. Meskipun demikian, anak panah itu masih saja
meluncur terus. Namun tidak lagi mampu menahan arus serangan para
prajurit Kediri itu. Tetapi para prajurit itu telah terkejut pula
ketika yang meluncur kemudian bukan saja anak panah. Tetapi
juga lembing yang dilontarkan keudara dan jatuh menimpa para
prajurit itu seperti jatuhnya serangan dari langit. Para prajurit
itu mengumpat-umpat. Korban memang sudah jatuh. Namun dengan
demikian maka para prajurit itu menjadi semakin marah dan mendendam.
Ra sa-rasanya mereka benar-benar telah siap untuk membunuh dan
membantai setiap orang yang mereka temui. Siapapun mereka.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, para prajurit itu telah mencapai
dinding padesan.Hampir bersamaan pula dari ketiga jurusan. Sementara
itu, para pengawal, anak-anak muda dan orang-orang Bumiagara
yang lain telah siap pula menerima mereka. Demikian para
prajurit itu meloncati dinding, maka ujung-ujung senjatapun telah
menyambut mereka. Namun prajurit-prajurit Kediri itu adalah prajurit
yang cukup berpengalaman. Karena itu, maka segera terjadi
pertempuran yang sengit. Para prajurit yang
berpengalaman itu telah diterima dengan garangnya pula oleh
orang-orang Bumiagara. Orang-orang yang sudah tidak
berpengharapan lagi. Namun justru karena itu maka mereka telah
bertempur bagaikan harimau luka. Orang-orang Bumiagara yang
berjaga-jaga diregol padesanpun telahmemencar pula. Ternyata tidak
ada seorang prajuritpunyang mencoba menerobosmasuk lewat regol
padesan. Dalam waktu yang singkat, maka pertempuranpun telah terjadi
dengan sengitnya. Kedua belah pihak bertempur dengan garang dan
tanpa mengekang diri sama sekali. Para prajurit Kediri itu mendendam
sampai keujung rambut, sementara orang-orang Bumiagara tidak lagi
mengharapkan akan dapat keluar dari lingkaran pertempuran itu.
Mereka tentu akan mati membela kehormatan dan martabat tanah
kelahirannya. Kampung halamannya yang akan menjadi korban pemerasan
dari sekelompok orang yang telah memberontak terhadap Sri
Baginda di Kediri itu. Di padesan dilingkungan padukuhan induk
Kabuyutan Bumiagara yang menghadap ke arah pasukan induk yang
datang meny erang itu, Ki Buyut sendirilah yang memimpin
orang-orangnya untuk bertahan. Tanpa mengenal gentar Ki Buyut dengan
pedang panjangnya telah bertempur langsung menghadapi para prajurit
Kediri itu. Dengan demikian maka orang-orang Bumiagarapun telah
mengikuti jejaknya. Bersama dua orang cantrik Padepokan Bajra Seta.
Orang-orang Bumiagara itu telah mengamuk seperti orang yang
kehilangan nalar. Mereka sama sekali tidak memikirkan lagi, apakah
mereka akan menang atau kalah. Yang penting bagi orang-orang
Bumiagara adalah mempertahankan harga diri mereka. Sementaramereka
sadar, bahwa mereka akan dihancurkan oleh lawan mereka. Lambat atau
cepat. Dengan demikian maka pertempuranpun telah terjadi dengan
sengitnya, dengan kasar dan bahkan liar. Mereka yang bertempur tidak
mempunyai pikiran lain kecuali membunuh sebanyak-banyaknya. Baik
para prajurit maupun orang-orang Bumiagara. Namun dengan demikian,
segera dapat diketahui bahwa orang-orang Bumiagara segera telah
terdesak. Pemimpin prajurit Kediri yang memasuki sebuah desa di
padukuhan induk yang dipertahankan anak-anakmuda baik yangmenjadi
pengawal atau bukan pengawal bahkan oleh hampir semua laki-laki,
yang dipimpin langsung oleh Ki Buyut bersama dua orang cantrik
telah berteriak ”Meny erahlah. Jika kalian menyerah dan bersedia
memenuhi permintaan kami maka kami akan mempertimbangkan lagi
hukumanyang telah kami jatuhkan terhadap Kabuyutan ini. Tetapi
jika tidak,maka kami akan memusnahkan Kabuyutan ini sehingga yang
tinggal hanyalah namanya saja. Semua yang hidup akan mati. Dan
semua yang berujud akan musnah menjadi debu.” Ternyata Ki Buyut
mendengar teriakan itu. Karena itu iapun menjawab ”Itu lebih baik
bagi kami daripada menyerahkan seratus limapuluh anak muda dari
Kabuyutan ini. Satu jumlahyang tidakmasuk akal sama sekali.”
”Jika demikian, maka kalian akan menyesal.” teriak pemimpin prajurit
itu. “Tidak seorangpun akan meny esal” jawab Ki Buyut ”jika kami
semua terbunuh, maka tidak akan ada yang sempat menyesali
keadaanyang bagaimanapun buruknya.” “Bagus” teriak pemimpin
prajurit yang marah sampai keubun-ubun. Katanya kemudian sambil
menggeretakkan giginya ”nampaknya kalian memang menghendaki
Kabuyutan kalianmusnah.” Tidak terdengar jawaban.Namun
pertempuranpun menjadi semakin garang. Kedua belah pihak benar
-benar seperti orang-orang yang kehilangan akal. Mereka tidak
lagi sempat mempergunakan nalar mereka lagi. Mata mereka seakan-akan
telah menjadi gelap meskipun mereka masih dapat membedakan kawan dan
lawan. Tetapi orang-orang Bumiagara memang tidak mempunyai banyak
kesempatan. Arus serangan prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada
pimpinan mereka itu bagaikan banjar bandang yang tidak terbendung.
Namun dalam pada itu, ketika orangorang Bumiagara sudah sampai ke
puncak keputus-asaannya telah terjadi satu keajaiban yang
tidak pernah diduga sebelumnya. Ketika para prajurit Kediri itu
mendesak oranag-orang Bumiagara semakin ke dalam memasuki
padesan-padesan di padukuhan induk, maka telah terdengar suara
sangkakala yang bergaung diudara. Semakin lama terdengar semakin
mendekati padesan-padesan di padukuhan induk. Dalam pada itu,
beberapa orang prajurit Kediri dan bahkan beberapa orang Bumiagara
sempat melihat apa yang ada diluar padukuhan induk itu. Ketika
didesak oleh keinginan untuk mengetahui suara apa yang bergaung itu,
maka beberapa orang Bumiagara yang sempat menghindari pertempuran
beberapa saat telah memanjat pepohonan. Demikian pula beberapa orang
prajurit dari Kediri itu. Mereka sekedar ingin dapat melihat dari
atas dinding padesan yang memang tidak terlalu tinggi. Ternyata
mereka telah dikejutkan oleh penglihatanmereka. Baik orang-orang
Bumiagara, maupun para prajurit Kediri yang tidak patuh kepada
atasannya itu. Orang-orang Bumiagara tidak tahu pasti apa yang
sebenarnya mereka lihat karena mereka tidak pernah melihat
sebelumnya ciri-ciri khusus dari apa yang mereka lihat. Namun para
prajuti Kediri itulah yang berteriak ”Prajurit Kediri dari pa
sukan berkuda khusus.” Pemimpin prajurit Kediri yang tidak tunduk
kepada Sri Baginda itu terkejut. Hampir diluar sadarnya iapun
bertanya lantang ”Apa yang kau katakan?” “Diluar berbaris pa
sukan berkuda khusus dengan tunggul Turangga Kencana,” jawab
prajurityang sempatmelihat itu. “Janganmengigau” bentak pemimpinnya.
“Akumemangmelihatnya” jawab prajurit itu. Pemimpin prajurit Kediri
yang tidak tunduk kepada pimpinannya menjadi tegang. Namun dalam
pada itu, orangorang Bumiagara yang melihat pa sukan itu masih
belum mengerti arti dari tunggul Turangga Kencana. Mereka juga tidak
mengerti ciri-ciri dari Umbul-umbul dan rontek serta kalebet yang
dibawa pa sukan berkuda itu. Merekapun tidak mengerti, apakah
prajurit yang datang itu kawan atau pihak lain dari para prajurit
yang telah lebih dahulu meny erang Kabuyutan Bumiagara itu.
Beberapa kalimasih terdengar suara sangkakala yang justru
semakinmelekat di dinding padesasn di padukuhan induk itu. Dengan
demikian, maka umbul-umbul, rontek dan kelebet dari pasukan berkuda
itu ujungnya telah nampak dari dalam dinding oleh orang -orang
yang bertempur itu dari kedua belah pihak, sehingga pimpinan
prajuti Kediri itupun telah melihat pula ciri-ciri dari pa sukan
yang datangitu. Apalagi ketika ia sempat melihat tunggul
Turangga Kencana. Maka pemimpin prajurit yang meny erang
Kabuyutan Bumiagara itu percaya, bahwa yang ada diluar dinding
adalah pasukan berkuda khususdari Kediri. Karena itu, maka iapun
dengan tergesa -gesa membawa kedua orang pengawalnya untuk memanjat
dinding untuk berbicara langsung dengan Senapati dari
pasukanyang datang itu. Apakah sebenarnya maksud
kedatanganmereka. Demikian ia berdiri diatas dinding, maka Senapati
dari pa sukan berkuda itu telah mendekatinya sambil bertanya ”Siapa
kau yang nampaknya ingin berbicara dengan aku? Aku adalah
Senapati dari pasukan berkuda ini.” “Apa maksudmu datang kemari?”
bertanya pemimpin prajurit itu. Tetapi Senapati dari pa sukan
berkuda yang disisinya seorang prajurit yang membawa tunggul
Turangga Kencana serta kelebet ciri khusus dari pasukan berkuda itu
masih bertanya ”Siapa kau dan apa kedudukanmu ?” “Aku Senapati
prajurit Kediri” jawab orang itu. “Dari kesatuan apa ? Kenapa kau
tidak menunjukkan ciri kesatuanmu ?” bertanya Senapati dari pasukan
berkuda itu. Pemimpin prajurit Kediri itu termangu-mangu sejenak.
Namun kemudian katanya ”Apa hakmu menanyakan ciri-ciri kesatuan kami
yang tidak berada dalam satu jalur kepemimpinan dengan
kesatuanmu. Panglima pasukan kami tidak tunduk kepada panglima
pasukanmu, karena kami tidak dari kesatuan pasukan berkuda khusus
yang bertunggul Turangga Kencana.” “Karena itu sebut kesatuanmu dan
tunggul ciri pa sukanmu ?” teriak Senapati pasukan berkuda itu.
“Tidak ada gunanya” jawab pemimpin prajurit yang berdiri diatas
dinding itu. “Jika demikian, maka demi nama baik serta citra
prajurit Kediri maka aku perintahkan, atas nama Senapati Agung
prajurit Kediri yang mengemban kebijaksanaan Sri Baginda, agar
kalian meletakkan senjata, karena apa yang kalian lakukan disini
tidak sejalan dengan kebijaksanaannya.” “Kau tidak berhak melakukan
apa-apa disini. Seandainya aku melakukan tindakan yang tidak
sesuai dengan kebijaksanaan Senapati Agung di Kediri, maka itu
adalah tanggung jawabku.” pemimpin prajurit Kediri yang berdiri di
atas dinding itupun berteriak. Lalu katanya pula masih berteriak
”Aku berada di wilayah Singasari.” “Aku datang ber sama beberapa
orang perwira Singasari yangmengesahkan tindakanyang aku
ambil. Karena itu kalian harus tunduk kepada perintah kami atau kami
akan memaksa dengan kekerasan, karena pasukan kami juga bersenjata
seperti kalian.” Senapati itu semakinmenjadimarah. Tetapi pemimpin
prajurit yang menentang perintah Sri Baginda itu nampaknya
juga tidak mau tunduk. Ia memang tidak mempunyai pilihan. Seandainya
ia meny erah, maka ia akan diadili sebagai seorang pengkhianat,
sehingga tidak mustahil bahwa lehernya akan dipertaruhkan. Sedangkan
apa yang telah dilakukannya, nampaknya tidak akan dapat dihentikan
pula. Pertempuran terjadi dengan sangat garangnya. Namun pemimpin
prajurit itu menyadari, jika prajurit Kediri dari pa sukan berkuda
itu turun ke medan, maka keadaannya akan menjadi terbalik sama
sekali. Yang akan bertempur dengan putus asa bukan lagi orang-orang
Bumiagara, tetapi orang -orangnya. Ternyata bahwamimpi buruk itu
akan terjadi. Senapati dari pa sukan berkuda itupun kemudian berkata
”Aku perintahkan sekali lagi. Letakkan senjata kalian dan kalian
harus berkumpul diluar regol padukuhan.” Sebenarnyalah tidak ada
pilihan lain kecuali bersikap seperti orang-orang Bumiagara.
Melakukan perlawanan habishabisan. Karena itu, maka katanya ”Jumlah
kalian tidak seberapa meskipun kalian merasa bahwa prajurit dari pa
sukan berkuda adalah prajurit pilihan. Tetapi itu hanya sebuah mimpi
dari prajurit yang jarang melihat medan. Sekarang, kalian akan
menghadapi pasukan khusus dari kesatuan pengawal perbatasan. Yang
justru sedang mengemban tugasmenyusup dari Singasari memburu
kejahatan. Kalian seharusnya mendukung tugas-tugas kami, bukan
malahan menghambat pelaksanaannya.” “Kalian tidak usah membual. Jika
kalian menjalankan tugas, kalian tentu dapatmenunjukkan pertanda
tugaskalian.” “Persetan” geram pemimpin prajurit yang menentang
kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri. ” Jangan meny esal jika kalian
akan kami hancurkan disini.” Pemimpin prajurit Kediri yang
telah meny erang Bumiagara itu segera memberikan isy arat kepada
kedua orang pengawalnya untuk meny iapkan sebagian dari pasukannya
untuk menghadapi prajurit Kediri dari pasukan berkuda itu,
yangmenurut penglihatannya jumlahnya tidak terlalu banyak. Apalagi
pemimpin prajurit itu menganggap bahwa Senapati dari pasukan berkuda
itu tidakmengetahui bahwa pasukannya telah dibagi menjadi tiga
bagian sementara yang lain telah menyerang dari arahyang
berbeda. Dalam pada itu, Senapati dari pa sukan berkuda itupun
segera memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bersiap. Lima orang
diantaranya diperintahkan untuk menjaga kudakuda mereka yang
ditambatkan di pepohonan diluar padukuhan. Sementara yang lainpun
segera berlari-larian kearah dinding desa yang tidak terlalu
tinggi. Sementara itu sebagian prajurit Kediri yang telah menyerang
Bumiagara telah ditarik untuk meny ongsong prajurit berkuda yang
datangmenyusul itu. Pemimpin prajurit yangmenyerang Bumiagara itu
telahmenempatkan diri untuk menghadapi prajurit Kediri dari pa sukan
berkuda yang dinilainya lebih berbahaya. Namun dalam pada itu,
dengan ditariknya sebagian dari prajurit Kediri yang meny
erang Bumiagara, maka tekanan terhadap pengawal dan anak-anak muda
Bumiagara terasa berkurang. Ki Buy ut dan kedua orang cantrik dari
Padepokan Bajra Seta yang memimpin orang-orang Bumiagara itu merasa
dapat sedikit bernafas. Sementara itu anak-anak mudanya masih
bertempur dengan garangnya. Sejenak kemudian, para prajurit dari pa
sukan berkuda itupun telah meloncati dinding padesan. Demikian
mereka meloncat turun maka lawan mereka telah meny ongsongnya.
Sementara pemimpin prajurit yang meny erang Bumiagara itu berteriak
sengaja untuk mengganggu pemusatan perhatian dan para prajurit
berkuda itu. Katanya ”Kau kira bahwa apa yang kau lakukan itu akan
meny elesaikan persoalan dan menolong orang-orang Bumiagara?
Ketahuilah bahwa pa sukan kami yang besar tidak hanya memasuki
padukuhan induk dari satu jurusan. Seandainya kalian dapat mendesak
kami di medan ini, namun di medan yang lain, Bumiagara akan
dihancurkan dan bahkan dimusnakan. Sementara itu akan datang
gilirannya bahwa kalianpun akan kami musnakan. Pa sukan kami akan
dapat kami panggil ke medan ini setiap saat, karena mereka akan
dengan cepat menyelesaikan tugas mereka membantai orang-orang
Bumiagara.” Namun Senapati yang memimpin prajurit Kediri dari pa
sukan berkuda itu justru tertawa. Katanya ”Petugas-petugas sandi
kami telah mengetahui segala-galanya yang terjadi di
Bumiagara. Kami memang sedang melacak pa sukan Kediri yang telah
melawan kebijaksanaan Senapati Agung di Kediri. Tetapi pada saatnya
kami sadari bahwa pasukan kami terlalu kecil, sementara kami tidak
sempat lagi untuk kembali ke Singasari. Karena itu, maka kami telah
menghubungi Padepokan Bajra Seta yang pada suatu saat juga pernah
berhubungan dengan kawan-kawan kalian. Atau bahkan mungkin ada
diantara kalian yang saat itu berhasil melarikan diri dari
Padepokan Bajra Seta.” Pemimpin prajurit yang meny erang Bajra Seta
itu mengeram. Dengan kemarahan yang menyala didalam dadanya ia
menggeram ”Iblis kau. Apapun yang kau lakukan, kami akan
memusnakan kalian pada saatnya nanti.” Dua kelompok gabungan antara
prajurit berkuda dan para cantrik Padepokan Bajra Seta telah
membantu orang-orang Bumiagara di kedua medan yang lain.
Mereka akan menyelesaikan pertempuran dengan cara mereka. Kedua
orang pemimpin Padepokan Bajra Seta telah berada di kedua medan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membagi diri bersama beberapa
orang cantriknya. Sehingga akhir dari pertempuran ini telah dapat
diduga. Pemimpin prajurit yangmemimpin serangan ke Kabuyutan
Bumiagara itu mehggeretakkan giginy a. Namun sudah tidak ada jalan
kembali. Sementara orang-orang Bumiagara telah bertempur tanpa
kendali. Mereka mengamuk seperti harimau yang terluka. Karena itu,
maka pemimpin prajurit yang melawan kebijaksanaan Senapati Agung di
Kediri itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali bertempur sampai
akhir. Demikianlah maka pertempuranpun telah membakar seluruh
padukuhan induk Bumiagara dan berpusat ditiga medan yang semakin
lama menjadi semakin sengit. Kehadiran prajurit berkuda dan para
cantrik dari Padepokan Bajra Seta telah benar -benar mempengaruhi
keseimbangan. Dengan kehadiran mereka, maka sebagian dari prajurit
Kediri yang melawan pimpinan mereka itu harus meninggalkan
lawanlawan mereka untuk menghadapinya. Mereka yang dengan penuh
dendam berniat membantai orang-orang Bumiagara, ternyata harus
menghadapi lawan yang lain, yang memiliki kemampuan prajurit
pilihan. Kehadiran prajurit Kediri bersama-sama dengan para cantrik
dari Padepokan Bajra Seta itu benar -benar satu keajaiban
Sebagaimana dimohon oleh orang-orang Bumiagara. Ternyata doa mereka
yang ketakutan ditempattempat mereka mengungsi telah didengar oleh
Yang Maha Agung, sehingga telah menggerakkan para prajurit Kediri
dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta untuk turun kemedan
pertempuran. Sebenarnyalah bahwa prajurit Kediri yang meny
erang Kabuyutan Bumiagara itu tidak lagi berpengharapan. Meskipun
untuk beberapa saat mereka mampu bertahan, namun mereka segera
menemui kesulitan ketika mereka mendapat tekanan dari dua sisi
kekuatan yang ternyata sulit untuk ditahan. Namun pemimpin
prajurit yang melawan perintah atasannya itu berkeras untuk
bertempur sampai kemampuan terakhir. Sikap Ki Buy ut Bumiagara yang
putus asa itu telah menyelinap kedalam jantungnya sehingga iapun
telah melakukannya pula. Daripada mengorbankan harga dirinya apalagi
dengan kesadaran bahwa ia akan dibebani tanggung jawab atas
peristiwa di Bumiagara itu serta bayangan hukuman yang akan
disandangnya, maka ia memilih untuk bertempur sampai akhir. “Aku
tidak mau diperas sampai darahku kering untuk mengaku jalur
yang aku anut sampai ke pimpinan tertinggi dari para pemimpin
Kediri yang sadar akan harga dirinya” berkata pemimpin
prajurit itu kepada diri sendiri. Karena itu memilih untukmeny
elesaikan tekadnya sampai sekian. Demikianlah pertempuranpun menjadi
semakin lama semakin garang, keras dan bahkan menjadi buas dan liar.
Orang-orang Bumiagara memang mulai berpengharapan. Tetapi
merek-sudah terlanjur bertempur dengan cara yang sudah mereka mulai
dalam keputusasaan. Sementara itu, prajurit - prajurit Kediri
yang meny erang Bumiagara itupun kemudian telah dihinggapi
perasaan yang sama dengan orang-orang Bumiagara, sehingga
merekapun telah kehilangan kendali perasaan mereka. Sementara itu
dikedua medan yang lain, telah bertempur pula dengan
garangnya, para prajurit Kediri dari pasukan berkuda yang
jumlahnya tidak terlalu banyak bergabung dengan para cantrik
Padepokan Bajra Seta. Mereka memasuki medan dengan jumlah yang
terbatas. Tetapi mereka adalah prajurit pilihan ber sama para
cantrikyang terpilih pula. Prajurit Kediri yang menentang
kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri serta telah meny erang Bumiagara
karena orangorang Bumiagara menolak untuk diperas itu, harus memeras
kemampuan mereka. Meskipun jumlah lawan mereka yang baru tidak
terlalu banyak, tetapi dengan membagi kekuatan, maka para prajurit
Kediri yangmeny erang Bumiagara itu telah mengalami kesulitan. Dalam
pada itu, para pengawal, anak-anakmuda serta lakilaki Bumiagara yang
ikut bertempur menjadi berbesar hati ketika mereka menyadari, bahwa
telah datang sepasukan prajurit dan para cantrik dari Bajra Seta
untuk membantu mereka dapat memperingan beban orang-orang Bumiagara.
Bahkan orang-orang Bumiagara telah berpengharapan lagi. Mereka
mulaimelihat kemungkinanyang lain dari kehancuran dan
kebinasaanyang bakal terjadi di Bumiagara. Namun harapan itu
sama sekali tidak mengendorkan tekad mereka untuk bertempur dengan
sepenuh kemampuan. Ketika sebagian dari lawan mereka harus bertempur
menghadapi para prajurit dan cantrik yang datang membantu mereka,
maka orang-orang Bumiagara itu telah ber sorak gemuruh. Seakan-akan
mereka meneriakkan sorak kemenangan atas lawanmereka,meskipun hal
itu belum terjadi. Para prajurit Kediri yang meny erang
Bumiagara itu mengumpat sejadi-jadiny a. Sambil mengayunkan senjata
mereka, mereka berusaha untuk mendesak terutama orangorang
Bumiagara. Mereka ingin menyelesaikan orang-orang Bumiagara lebih
dahulu, meskipun sebagian dari mereka terpaksa menahan arus serangan
pasukan yang baru datang itu. Ternyata para prajurit Kediri
dari pasukan berkuda dan para cantrik itu mempunyai kekuatan yang
besar meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat berada pula di kedua pasukan itu. Mahisa Murti di satu
medan dan Mahisa Pukat berada dimedanyang lain. Ternyata kedua orang
itu sulit untuk ditahanmeskipun oleh sekelompok orang sekalipun.
Bersama pasukannya keduanya menerobos pertahanan lawan dan berusaha
bergabung dengan orang-orang Bumiagara yang tidak memiliki
pengalaman sebagaimana para prajurit. Mereka hanyamemiliki
keberanian dan tekad untuk mempertahankan harga diri mereka sebagai
orang-orang Bumiagara yang akan diperas oleh para
prajuritprajurit Kediriyang menentang kebijaksanaan Sri Baginda itu.
Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, di medan yg lain
ternyata mempunyai kebijaksanaan yang sama yang ternyata agak
berbeda dengan Senapati prajurit Kediri yang bertempur melawan
pimpinan prajurit yang meny erang Bumiagara itu. Senapati itu
berusaha untuk menjepit lawannya dari dua arah. Pasukannya sendiri
dari satu arah dan orang-orang Bumiagara dari arahyang lain.
Namun akibatnya hampir sama bagi prajurit yang menyerang
Bumiagara itu. Meskipun para prajurit dari pa sukan berkuda itu
tidak berusaha membelah pasukan lawannya dan bergabung dengan
orang-orang Bumiagara sekaligus melindungi mereka, namun dengan
menghisap sebagian dari para prajurit yang menyerang Bumiagara maka
orang-orang Bumiagara itu merasa mendapat kesempatan untukmemberikan
perlawanan. Sebenarnyalah bahwa para prajurit Kediri yang meny erang
Bumiagara itu mengalami kesulitan yang tidak akan dapat mereka
atasi. Pasukan berkuda yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu
bersama-sama dengan para cantrik dari Padepokan serta orang-orang
Bumiagara merupakan kekuatan yang sulit untuk dapat
dikalahkan. Berbeda dengan pasukan induk para prajurit Kediri
yang menyerang Bumiagara, yang mengikuti jejak serta
perintah pimpinannya yang pantang meny erah, maka di medan
yang lain, para prajurit itu mempunyai sikap yang lain. Tanpa
pemimpin mereka yang menjadi putus asa dan tidak
berpengharapan lagi karena ia merasa bertanggung jawab, serta
kemungkinan untuk diperas keterangannya dan bahkan tiang gantungan,
maka prajurit-prajurit itu merasa lebih baik menyerah daripada harus
dibantai oleh orang-orang Bumiagara. Mereka berharap bahwa para
prajurit dari pa sukan berkuda serta para cantrik dari Padepokan
Bajra Seta itu maumelindungimereka. Karena itu, setelah mereka
tidakmelihat lagi kemungkinan lain, maka para prajurit yang diserahi
pimpinan di kedua medan itu menganggap bahwa menyerah dan minta
perlindungan para prajurit pasukan berkuda serta para cantrik adalah
jalany g terbaik. Adalah satu hal yang mereka harapkan bahwa
ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah berteriak ”Ma
sih ada kesempatan untukmeny erah.” Para prajurit yang meny
erang Bumiagara itu semula memang ragu. Namun Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat yg mempunyai kebijaksanaan yang sama itu telah
mengulanginya, sehingga para prajurit itu segera mempergunakan
kesempatan itu sebaik-baiknya. Beberapa orang diantara mereka
langsung melepaskan senjata-senjata mereka. Namun yang lain
sempat mengambil jarak. Yang kemudian menjadi sibuk adalah para
prajurit dari pa sukan berkuda serta para cantrik. Ternyata sulit
sekali bagi mereka untuk menahan arus kemarahan orang-orang
Bumiagara. telah timbul harapan untuk dapat mempertahankan Kabuyutan
mereka, namun darah mereka tidak segera dapat didinginkan. Tangan
mereka yang menggenggam senjata masih saja gemetar sementara jantung
mereka masih tetapmembara. Namun para prajurit dari pa sukan berkuda
dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta berusaha dengan
sungguhsungguh untukmencegah agar tidak terjadi pembantaian atas
orang-orang yang sudahmeny erah itu. Tetapi akhirnya usaha
mereka berhasil. Meskipun para prajurit dari pasukan berkuda serta
para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu harus mengancam
orang-orang Bumiagara. Berbeda dengan kedua medan yang lain,maka
para prajurit yang bertempur di medan yang langsung dipimpin
oleh para Senopati masing-masing, justru tidak dapat dihentikan.
Beberapa kali Senopati prajurit dari pa sukan berkuda itu
meneriakkan kesempatan untuk meny erah. Tetapi pimpinan prajurit
yang meny erang Bumiagara itu sama sekali tidak menghiraukan.
Setiap kali justru meneriakkan perintah kepada para prajuritnya
untukmelawan sampai kemungkinan terakhir. “Bagi seorang prajurit”
teriak pemimpin prajurit yang memberontak itu ”dari pada mati
di tiang gantungan, lebih baikmati di pertempuran dengan pedang
ditangan.” “Tetapi bunuh diri adalah salah satu laku yang
tidak terpuji.” berkata Senopati dari pasukan berkuda itu dengan
lantang ”sebagai seorang laki-laki jantan kalian harus berani
melihat kenyataan. Kalian harusmengakui bahwa kalian tidak akan
dapatmelawan kekuatanyang nyata-nyata kalian hadapi. Jika
kalian ingin berjuang sampaimati, untuk apa sebenarnya kalian
berjuang dengan mempertaruhkan nyawa kalian? Untuk tegaknya Kediri
atau untukmendapatkan sekedar bekal dan harta benda di Kabuyutan
Bumiagara atau untuk melakukan perampokan dan pemerasan di
Kabuyutan- Kabuyutan yang lain? Itukah yang ingin kalian
lakukan sebagai seorang prajurit?” “Jangan terpengaruh oleh
kata-katanya yang mencerminkan kecemasannya setelah melihat
keperkasaan kita” teriak pemimpin prajurityangmelawan perintah itu.
Kadang-kadang memang terbersit keraguan-keraguan dihati para
prajurit yang melawan perintah itu. Namun setiap pimpinannya
meneriakkan perintah-perintah yang membakar jantung
mereka,maka darah merekapun telah mendidih lagi, sehingga senjata
merekapun telah terangkat dan terayun kembali. Namun
lawanmerekamemang lebih kuat dan lebih banyak. Para prajurit dari pa
sukan berkuda itu, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, namun
mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah dari para prajurit yang
memberontak itu. Sementara itu orang-orang Bumiagara yang melawan
dengan darahyang bergelora,merupakan lawanyang cukup
berat. Dengan demikian, maka semakin lama para prajurit itu semakin
mengalami kesulitan. Jumlah merekapun semakin berkurang karena
setiap kali satu dua diantara mereka jatuh terkulai di tanah. Ada
diantara mereka yang terbunuh, namun ada pula yang
terluka parah sehingga tidak mampu bangkit lagi untuk bertempur.
Namun para prajurit itu benar-benar tidak berniat untuk menyerah.
Meskipun jumlah mereka semakin susut, tetapi yang masih hidup telah
memberikan perlawanan tanpa kendali. Seakan-akan mereka udah tidak
mampu lagi berpikir dan membuat perhitungan
ataspertempuranyang terjadi. Senapati dari pa sukan berkuda
itu masih saja setiap kali memperingatkan agar para prajurit
yang memberontak itu menyerah saja. Namun suaranya hilang
ditelan oleh teriakanteriakan pemimpin prajurit yangmemberontak itu
membakar hati para pengikutnya. Sementara pertempuran masih menyala
di medan pertempuran antara kedua pasukan induk itu, maka di kedua
medan yang lain, keadaannya sudah jauh berbeda. Meskipun para
prajurit dari pasukan berkuda dan para cantrik masih harus mengawasi
orang -orang Bumiagara yang mendendam, namun agaknya mereka
benar-benar telah menguasai keadaan. Karena itu, maka para prajurit
dari pasukan berkuda itu telah membagi diri. Sekelompok diantara
mereka telah diperintahkan untuk pergi ke pasukan induk. Perintah
itu semula diberikan oleh perwira yang memimpin pasukan berkuda
yang bertempur ber sama para cantrik yang dipimpin oleh
Mahisa Murti. Namun iapun telah memerintahkan dua orang untuk
menghubungi pasukan di medan yang lain agar memberikan
perintahyang sama. Dengan demikian maka dua kelompok pasukan
berkuda meskipun jumlahnya tidak begitu banyak, tetapi telah
menambah jumlah prajurit dari pasukan berkuda yang bertempur di
medan yang masih dibakar oleh pertemuran yang semakin liar itu.
Dengan putus asa prajurit yang memberontak itu bertempur tanpa
perhitungan lagi. Mereka mengamuk seperti orang-orangmabukyang
kehilangan akal. Namun kedatangan kelompok-kelompok prajurit dari pa
sukan berkuda itu agaknya akan mempercepat peny elesaian. Meskipun
dua kelompok prajurit berkuda itu tidak banyak jumlahnya namun
kehadiran mereka telah menentukan akhir dari pertempuran itu.
Sementara itu pemimpin dari para prajurit yang memberontak itu
telah bertempur tanpa perhitungan lagi. Dengan garangnya ia meny
erang Senapati prajurit berkuda yang ternyata telah ber siap
sepenuhnya untuk menghadapinya. Namun malang bagi Senapati perajurit
yang telah memberontak itu. Ternyata yang dihadapi
kemudian bukan sa ja Senapati dari prajurit berkuda yangmemiliki
kemampuan yang tinggi itu. Dua orang prajurit yang melihat
pertempuran itu telah mencampurinya karena keduanya tidak lagi
berhadapan dengan lawan setelah dua kelompok prajurit dari pa sukan
berkuda dari medan yang lain datang untuk membantu. Dengan demikian,
maka perlawanan pemimpin prajurit yang meny erang dan memeras
Bumiagara itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Ketika ia
menjadi semakin terdesak, serta segores luka telah menyilang
didadanya, iapun berteriak ”Kalian bukan prajurit sejati. Dengan
licik kalian telah bertempur bertiga melawan seorang. Jika kalian
benar-benar prajurit sejati, maka kita akan meny elesaikan persoalan
kita seorang lawan seorang.” “Kita tidak berperang tanding” jawab
Senapati prajurit dari pa sukan berkuda itu. ”Karena itu tidak ada
kewajiban untuk bertempur seorang melawan seorang. Dalam perang
brubuh, maka siapapun boleh berhadapan dengan siapapun. Kenapa kau
tidak memerintahkan prajurit-prajuritmu untuk membantumu sehingga
kita dapat berhadapan seorang melawan seorang” ”Setan kau” geram
pemimpin prajurit yang memberontak itu ”kau kerahkan
prajurit-prajurit dalam jumlah yang lebih besar dari
prajuritku. Sementara itu orang-orang Bumiagara telah menjadi
seperti orang-orang kesurupan” “Jumlah prajuritmu sebenarnya cukup
besar. Tetapi seorang demi seorang telah kehilangan kesempatan untuk
bertempur terus. Karena itu, meny erahlah. Aku masih memberimu
kesempatan” “Persetan. Sudah aku katakan, bahwa aku pantang
menyerah. Kematian nampaknya lebih terhormat daripada menjadi
seorang tawanan yang diikat kaki dan tangannya.” jawab
pemimpin prajurit yangmemberontak itu. Senapati itupun kemudian
telah kehilangan kesabarannya. Karena itu maka iapun telah
meneriakkan perintah ”Siapa yang tidak mau menyerah, tidak ada
pilihan lain lagi kecuali dibinasakan” Perintah itupun seakan-akan
telah mengumandang diseluruh medan pertempuran. Dengan demikian,maka
pertempuran itupun segera sampai kepuncaknya. Para prajurit dari
pasukan berkuda itu seakanakan memang telah kehilangan kesabarannya,
sehingga dengan demikianmaka merekapun benar-benar berniat untuk
menyelesaikan lawan mereka sampai orang yang terakhir jika
mereka memang berkeras untuk tidakmaumeny erah. Sementara itu,
pemimpin dari para prajurit yang memberontak itu benar-benar
tidak mau menyerah. Dengan garang ia melawan ketiga orang prajurit
dari pa sukan berkuda itu. Seorang diantara mereka adalah justru
Senapatinya. Namun pemimpin prajurit yang memberontak itu tidak
dapat bertahan terlalu lama. Segores lagi luka telah mengoyak
lengannya. Kemudian pundaknya dan punggungnya. Tetapi prajurit
yang terluka itu justru menjadi semakin garang. Ia seakan-akan
tidak merasa betapa pedih menggigit kulit dagingnya. Bahkan
sekali-sekali terdengar ia berteriak marah danmengumpat dengan
kasar. Tetapi pada suatu saat, iapun sampai kepada batas kemampuan
wadagnya. Ketika darah semakin banyak mengalir serta tenaganya
bagaikan telah terperas habis, maka iapun menjadi terhuyung-huyung.
Bahkan hampir saja kehilangan kemampuannya untuk berdiri dalam
keseimbangannya. Dalam keadaan yang demikian,maka sambil
menjulurkan, pedangnya, Senapati pa sukan berkuda itu berkata ”Meny
erahlah. Ini kesempatan terakhir bagimu.” Tetapi yang terjadi
memang sangat mengejutkan. Dengan serta merta, serta mempergunakan
tenaga terakhirnya, pemimpin prajurit yang telah memberontak itu
meloncat kearah ujung pedang yang terjulur untuk mengancamnya itu.
Demikian tibatiba sehinggga Senapati dari pasukan berkuda itu tidak
sempatmenarik pedangnya. Karena, itu, maka ujung pedang Senapati
dari pa sukan berkuda itu telah terhunjam didadanya. Masih terdengar
pemimpin prajurit yang memberontak itu berteriak penuh kemarahan dan
kebencian. Suaranya bagaikan menggetarkan seluruh padukuhan induk
Kabuyutan Bumiagara. Namun suara itupun kemudian seakan-akan telah
meluncur naik ke langit dan hilang ditelan mulut-mulut lembahyang
menganga di tepi Kabuyutan itu. Sejenak suasana menjadi
hening.Orang-orang yang sedang bertempur itu seakan-akan telah
membeku sejenak. Namun kemudian merekapun segera sadar dari mimpi
buruk yang telah terjadi itu. Namun ketika pertempuran itu
mulailagi, terdengar suara Senapati itu mengumandang ”Letakkan
senjata. Tidak ada pilihan lagi bagi kalian tanpa pemimpin kalian
itu” Bagi para prajurit Kediri yang memberontak itu, teriakan
Senapati prajurit dari pasukan berkuda itu rasa-rasanya memang
menjadi berbeda. Jika semula teriakan yang selalu disam but
oleh pimpinan mereka itu seakan-akan jsutru membakar jantung mereka,
namun teriakan yang terakhir, setelah pimpinan mereka terbunuh
dipeperangan, suara itu bagaikan ancaman hukumanmati bagimereka yang
tidakmau mendengarnya. Karena itu, maka keberanian yang
menyala dalam keputusasaan itu sekan-akan telahmenjadi redup. Ketika
Senapati itu sekali lagi memberi kesempatan, maka mereka
tidakmenunggu lagi. Berebutan mereka meny erahkan diri kepada para
prajurit dari pasukan berkuda dan ju stru menghindari orang”orang
Bumiagara yang seakan-akan tidak lagimampumenahan diri. Namun
prajurit dari pasukan berkuda itupun tanggap akan keadaan. Apalagi
mereka yang datang dari medan yang lain. Dengan tangkasnya
mereka berusaha untuk menahan agar orang-orang Bumiagara tidak
bertindak diluar kendali. Memang sulit untuk meredakan kemarahan
orang-orang Bumiagara yang semula telah berputus-asa. Mereka
seakanakan bertempur sambilmemejamkan mata mereka. Namun akhirnya
setelah dengan sungguh-sungguh berusaha, prajurit dari pasukan
berkuda itu mampu melerai pertempuran itu meskipun di sana-sini
justru telah terjadi ketegangan antara orang-orang Bumiagara dengan
pasukan berkuda itu sendiri. Namun akhirnya Ki Buyut sendiri telah
memerintahkan agar orang-orang Bumiagara segera menyarungkan senjata
mereka. “Perang telah selesai” berkata Ki Buy ut ”satu keajaiban
telah terjadi. Bumiagara tidak binasa. Kita masih melihat
bangunanyang tegak diatas tanah Bumiagara dan sudah tentu
keluarga kita masih melihat bangunan yg tegak diatas tanah Bumiagara
dan sudah tentu keluarga kita masih selamat di tempat -tempat
pengungsianmereka.” Suara Ki Buyut itu ternyata telah menyentuh
setiap hati orang-orang Bumiagara. Karena itu, maka merekapun telah
mengendorkan deru jantung didalam dada mereka. Beberapa orang telah
menyarungkan senjata mereka meskipun masih ada yang ragu-ragu.
Demikianlah, pertempuran di seluruh medan di Kabuyutan Bumiagara
telah benar-benar selesai. Prajurit Kediri yang memberontak dan
berniat untuk memeras Kabuyutan Bumiagara telah meny erah setelah
mereka mengorbankan kawan-kawan mereka dan bahkan pimpinanmereka.
Yang tersisa diantara mereka harusmerelakan diri mereka menjadi
tawanan. Mereka sadar, bahwa sebagai orang prajurit yang menentang
kebijaksanaan Senapati Agung Kediri, mereka tentu akan mendapat
hukuman yang berat. Namun tanggung jawabmereka sebagian telah
dipikul oleh pimpinan mereka yang telah terbunuh dipeperangan.
Bahkan telah membunuh diriny a sendiri dengan mendor ong dirinya
sendiri keujung pedang lawannya. Meskipun demikian mereka tidak
dapatmelepaskan diri sepenuhnya sertamencuci tangan. Disisa hari
itu, padukuhan induk Bumiagara menjadi sibuk. Bukan lagi terjadi
pertempuran, tetapi mereka tengah mengumpulkan tubuh anak-anak muda,
para pengawal dan bahkan orang-orang yang sudah lebih tua yang gugur
dipeperangan. Mereka juga mengumpulkan orang-orang Bumiagara
yang telah terluka. Demikian pula telah dilakukan oleh para
prajurit Kediri dari pasukan berkuda. Bahkan juga para tawanan
yang dijaga dengan ketat oleh para prajurit dari pa sukan
berkuda. Para prajurit dari pasukan berkuda tidakmenyerahkan
pengawasan para tawanan kepada orang-orang Bumiagara. Namun mereka
lebih percaya kepada para cantrik dari Padepokan Bajra Seta, karena
orang -orang Bumiagara yang masih saja marah itu akan dapat
berbuat sesuatu diluar dugaan terhadap para prajurit yang mereka
anggap hampir saja memusnahkan Kabuyutan mereka. Ternyata tugas itu
tidak dapat dengan cepat diselesaikan. Ketika langit menjadi gelap,
maka obor-oborpun telah dipasang dimana-mana. Juga oncor jarak dan
bahkan oborobor berlarak. Sementara itu di pendapa rumah Ki Buyut,
Senapati dari pa sukan berkuda, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk
dengan beberapa orang bebahu Kabuyutan dan beberapa orang perwira
prajurit dari pa sukan berkuda. Berulang kali Ki Buyut mengucapkan
terima kasih atas kehadiran prajurit dari pasukan berkuda Kediri
serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang telah meny
elamatkan Kabuyutan Bumiagara. Lima orang prajurit Kediri yang
datang untuk memeras Kabuyutan Bumiagara itu masih pada tiang di
halaman kabuyutan. “Yang terjadi adalah satu keajaiban. Kami sama
sekali tidak mengira bahwa kami akan mendapat pertolongan. Kami
sudah berputus a sa dan menduga bahwa esok pagi, matahari yang
terbit tidak akan dapat melihat lagi Kabuyutan Bumiagara tergelar di
muka bumi.Namun ternyata bahwa sampai saat ini Bumiagara masih utuh.
Jika ada korbanyang jatuh, itu adalah tumbal bagi keselamatan
Kabuyutan ini. Bahkan bukan saja orang-orang Bumiagara yang
gugur di pertempuran, tetapi juga para prajurit dari pasukan berkuda
dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta.” berkata Ki Buy ut itu
dengan ber sungguh-sungguh. “ Itu adalah kewajiban kami” berkata
Senapati dari pa sukan berkuda itu. Ki Buyut termangu-mangu. Dengan
nada dalam ia berkata ”Kami sudah berputus asa. Rasa -rasanya tidak
ada yang dapat menolong kami. Kabuyutan ini pasti akan hancur
menjadi debu. Semua yang hidup akan mati dan semua ujud akan
lebur. Hanya keajaiban sajalah yang dapat meny elamatkan
Kabuyutan ini. Keajaiban karya Yang Maha Agung sendiri.”
“Bersukurlah kepada Yang Maha Agung” berkata Mahisa Murti ”Yang
terjadi memang satu keajaiban. Namun, lantaran dari keajaiban ini
adalah kerja keras para petugas sandi dari Kediri bekerja sama
dengan petugas-petugas sandi dari Singasari.” Ki Buyut
menganggukangguk. Sementara itu ia melihat Ki Jagabaya berada di
halaman. Lima orang prajurit Kediri yang datang untuk memeras
Kabuyutan Bumiagara itu masih terikat pada tiang di halaman
Kabuyutan. Sambil berdiri dihadapan mereka Ki Jagabaya berkata ”Nah,
sekarang kalian melihat, bahwa bukan kalian yang menentukan hidup
matinya orang-orang Bumiagara. Yang kau duga akan lenyap ber sama
leny apnya Kabuyutan Bumiagara ternyata tidak terjadi. Meskipun
jatuh korban dari antara orang-orang Bumiagara, bahkan para prajurit
Kediri dan para cantrik Padepokan Bajra Seta, namun sebagian besar
dari kami masih tetap hidup. Sebaliknya prajurit Kediri yang
memberontak itu, termasuk kalian, yang kalian harapkan akan dapat
meratakan Kabuyutan ini dan membawa harta benda yang ada diatasnya
sebagai barang rampasan, hanyalah sekedar sebuahmimpi yang buruk.”
Kelima orang yang terikat itu tidak berani lagi mengangkat wajah
mereka. Mereka tahu apa yang telah terjadi di Bumiagara.
Pasukan Kediri yang datang bersamanya untuk memeras Kabuyutan
itu telah dihancurkanmutlak. Memang masih ada yang hidup diantara
mereka, namun mereka telah menjadi tawanan. Mereka tidak mempunyai
kesempatan lagi untuk bangkit, karenamereka jatuh ketangan para
prajurit Kediri yang tiba-tiba saja datang. “Kalian akan digiring
sebagai tawanan dengan kaki dan tangan terikat menuju ke Kediri.
Jarak yang panjang. Namun itu adalah akibat yang wajar dari
tingkah laku kalian sendiri.” berkata Ki Jagabaya. Kelima orang itu
masih tetap menunduk. Sementara Ki Jagabaya masih berkata
”untunglah, bahwa kami belum melaksanakan ancaman kami untuk
menghukum kalian dengan hukuman picis. Seandainya hal itu kami
laksanakan, maka kalian akan mengalami penderitaanyang sangat.” Yang
terdengar adalah desah yang panjang. Orang-orang itu
memangmerasa ngerimembayangkan hukuman picis yang akan ditrapkan
atas mereka. Karena itu, disamping kegelisahan bahwa mereka akan
menjadi tawanan, ada juga sepercik perasaan sukur, bahwa mereka
tidak mengalami hukuman picis. Ki Buy ut yang menyaksikan
pembicaraan Ki Jagabaya dengan kelima orang yang lebih
banyakmenunduk itu hanya dapat menarik nafas dalam, sementara para
perwira Prajurit Kediri dari pasukan berkuda serta salah seorang
perwira dari Singasari yang meny ertai pasukan itu dapat
menangkap apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Bumiagara atas
mereka. “Merekalah yang telah datang memasuki Kabuyutan untuk
menyampaikan tuntutan mereka dalam usaha mereka memeras Kabuyutan
ini” berkata Ki Buy ut. “Apakah mereka langsung ditangkap ?”
bertanya Senapati pa sukan berkuda itu. “Ya. Kami tidak memberi
kesempatan mereka meninggalkan Kabuyutan” jawabKi Buyut. “ Itukah
sebabnya maka prajurit-prajurit yang memberontak itu
mempergunakan kekerasan ?” bertanya Senapati itu pula. “Ya. Tetapi
kami memang tidak mempunyai pilihan lain” jawab Ki Buy ut ”mereka
telah melakukan pemerasan yang tidak masuk akal. Mereka minta
beberapa pedati beras. Itu tidak membuat kami kehilangan akal. Namun
ketika mereka minta sejumlah anak-anak muda, bahkan tidak
tanggungtanggung, maka kami justru kehilangan akal. Kami berniat
untukmembunuh diri bersama-sama se Kabuyutan.” “Berapa orang yang
diminta ?” bertanya Mahisa Pukat. “Seratus lima puluh” jawabKi
Buyut. “Seratus lima puluh” Mahisa Pukatmengulang. Ki Buy ut
mengangguk, sementara Senapati pa sukan berkuda itu menggelengkan
kepalanya. Katanya ”Memang satu halyang tidakmasuk akal.”
Senapati itupun telah menceriterakan pula bagaimana para petugas
sandi Kediri dan Singasari bekerja keras, sehingga mereka dapat
mengikuti gerak sepa sukan prajurit Kediri. Namun ternyata
perhitungan mereka salah. Pasukan itu terlalu besar untuk langsung
disergap oleh para prajurit Kediri. Sementara itu para petugas sandi
mendapat keterangan tentang hubungan buruk antara prajurit Kediri
yangmemberontak itu dengan Kabuyutan Bumiagara. Karena mereka tidak
sempat lagi menghubungi Kediri maupun Singasari, maka mereka telah
menghubungi Padepokan Bajra Seta atas petunjuk salah seorang perwira
Singasari yang ikut dalam pasukan berkuda dari Kediri itu. Ki
Buy ut mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga ia tidak dapat
ingkar, terutama kepada diri sendiri, bahwa ketamakannya telah
membawa akibat yang panjang dan mengerikan. Keinginannya
mengambil seorang cantrik dari Bumiagara mengakibatkan berbagai
peristiwa yang minta korban jiwa. Bahkan terlalu banyak. Namun
yang sudah terlanjur terjadi itu memang tidak akan dapat dihapuskan
dari keny ataan. Di hari berikutnya, maka Bumiagara telah berbenah
diri. Orang-orang yang mengungsi ke padukuhan induk telah
dianjurkan untuk kembali ke padukuhan masing-masing. Namun ada
diantara mereka yang sudah tidak lengkap lagi. Anak laki-laki
yang diharapkan menjadi lanjaran keluarga mereka, suami yang belum
setahun menikah, kakak atau adik, ternyata tinggallah namanya saja.
Mereka telah gugur dipertempuran untuk mempertahankan harga diri
Kabuyutan Bumiagara serta pemerasan yang tidak masuk akal.
Namun yang gugur itu tidak sebanyak anak-anak muda yang dituntut
oleh prajurit Kediri yang telah memberontak itu. Prajurit Kediri
serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta tidak tergesa-gesa
meninggalkan Kabuyutan itu. Merekamasih diminta untuk ikut berjaga
-jaga. Mungkin masih dapat terjadi sesuatu di Kabuyutan itu. Namun
para petugas sandi dari Kediri telah meyakinkan, bahwa kekuatan para
prajurit yang memberontak itu telah dipatahkan. Bukan hanya di
Kabuyutan Bumiagara, tetapi juga di tempat lain. Bahkan di tlatak
Kediri sendiri. Tetapi Senapati prajurit dari pasukan berkuda itu
berkata ”Tetapi benih perlawanan itumasih belum dapat dileny apkan,”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang ikut mendengarkan
pembicaraan itu mengangguk-angguk. Bahkan seorang petugas sandi dari
Singasari dalam pembicaraan terpisah tanpa diketahui oleh para
pimpinan prajurit Kediri mengatakan, bahwa benih perlawanan itu
masih saja menjadi semacam peletik api didalam sekamnya para
bangsawan Kediri. Didalam istana benih-benih itu masih saja
terdapat, sehingga tidak mustahil bahwa pergolakan itu akan
berkepanjangan. Sementara itu, setelah keadaan menjadi tenang
kembali para perwira dari pa sukan berkuda itu serta para petugas
dari Singasari yang mengikuti usaha penangkapan para prajurit
yang memberontak itu menganggap bahwa tugas mereka sudah selesai.
Karena itu, maka mereka akan segera kembali ke Kediri sambilmembawa
para tawanan. “Kami akan mengantar sampai keperbatasan” berkata
salah seorang perwira dari Singasari ”agar tidak terjadi salah paham
dengan prajurit Singasari jikamereka berpapasan.” Dalam pada itu
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpuh telah minta diri pula setelah
beberapa hari berada di Kabuyutan itu ber sama para prajurit Kediri
dari pasukan berkuda serta beberapa perwira prajurit Singasari yang
meny ertainya. Para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itupun merasa
bahwa tugas merekapun telah selesai pula. Bukan hanya orang-orang
Bumiagara yang mengucapkan terima kasih tidak berkeputusan karena
mereka merasa telah diselamatkan, namun Senapati dari pa sukan
berkuda Kediri itupun mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga.
“Tanpa bantuan Padepokan Bajra Seta, kami tidak akan dapat meny
elesaikan tugas yang dibebankan atas pundak kami” berkata
Senapati dari Kediri itu. “Kamipunmerasa terpanggil untuk tugas ini”
jawab Mahisa Murti ”karena itu,maka kamipun merasa sekedar melakukan
tugas kami. Diminta atau tidak diminta sepanjang kami ketahui.”
Demikianlah, hari itu Bumiagara telah melepaskan para prajurit
Kediri dan beberapa orang Prajurit Singasari serta para cantrik dari
Padepokan Bajra Seta meninggalkan Kabuyutan. Sepeninggal mereka,
maka rasa-rasanya Bumiagara menjadi sepi. Namun kesepian itu telah
menggugah para pengawal dan anak-anak mudanya untuk berjaga-jaga
sepenuhnya. Sementara regol-regolpun mendapat pengawasanyang
bersungguh-sungguh. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatyang telah berada di Padepokannya masih saja membicarakan
benihbenih perlawanan yang ada di Kediri. Rasa -rasanya Kediri
masih saja sulit menerima kenyataan tentang kedudukan Kediri
terhadap Singasari sejak Sri Rajasa berhasil mengalahkan Kediri.
Terutama beberapa orang yang masih sa jamerasa kagum atas
kebesaran Kediri di masa lalu. “Apakah Sri Maharaja di Singasari
sudah mengetahuinya ?” desis Mahisa Pukat. “Agaknya laporan tentu
sudah sampai kepada Sri Maharaja itu. Bahkan mungkin Sri Maharaja
telah melakukan langkahlangkah yang akan dapat mengatasi g
ejolak yang meskipun tidak nampak langsung dipermukaan itu
pada suatu saat akan dapat mengguncang bukan saja hubungan antara
Singasari dan Kediri, tetapi bahkan lebih dari itu.” sahutMahisa
Murti. “Jika kita mendapat kesempatan, kita akan berbicara dengan ay
ah” berkata Mahisa Pukat ”rasa-rasanya tidak bertanggungjawab untuk
tidak ikut memikirkan hal ini meskipun kita bukan orang-orang
yang berwenang.” “Tetapi kita adalah orang Singasari yang
memang mempunyai kewajiban untuk ikut memelihara kelestarian
tegaknya Singasari serta hubungan yang mantap dengan Kediri”
desisMahisa Murti. “Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun bagi
Mahisa Pukat, kewajiban itu tidak .terlalu mengikat. Karena itu
katanya ”Aku sependapat. Tetapi bukankah kita dapat melakukannya
tanpa harus meninggalkan tugas kita di padepokan ini?” “Tentu” jawab
Mahisa Murti ”kita dapat melakukannya sebagaimana kita melakukan
pekerjaan kita sebelumnya. Tetapi kita tidak perlu harus menjadi
petugas sandi di Kediri lagi.” Mahisa Pukat tersenyum. Tetapi ia
mulai membayangkan sebuah pengembaraan lagi. Bahkan mungkin ditlatah
Kediri sebagaimana pernah dilakukannya. Namun dalam pada itu, Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat telah memutuskan untuk memantapkan kedudukan
mereka lebih dahulu. Setidak-tidaknya pengakuan atas kehadiran
padepokan mereka secara luas. Lebih dari itu, Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat merasa berkewajiban untuk ikut serta ber sama-sama
dengan Kabuyutan-kabuyutan disekitar padepokannya untuk menjadikan
lingkungan menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Mudah-mudahan tidak
ada lagi pertentangan dan benturan kekuatan yang banyakmeny ita
tenaga, pikiran, harta benda dan bahkan jiwa” berkata Mahisa Murti.
“Ya. Dengan demikian kita mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu
yang lebih berarti bagi kesejahteraan hidup kita, Padepokan kita dan
sesama kita” sahutMahisa Pukat. Demikianlah,maka di saat-saat
terakhir, Padepokan Bajra Seta telah memperluas hubungannya dengan
padukuhanpadukuhan, Kabuyutan-kabuyutan dan lingkungan yang semakin
luas. Bahkan pengaruh Padepokan Bajra Seta telah meluas sampai ke
Kabuyutan Bumiagara. Kabuyutan Sembaga dan Kabuyutan-kabuyutan lain
yang merasakan manfaatnya berhubungan dengan padepokan Bajra
Seta. Sementara itu lingkungan pengaruh Bajra Seta itupun nampak
menjadi semakin luas. Sawahpun nampak hijau sepanjang musim karena
telah dibangun beberapa buah bendungan dan berpuluh-puluh susukan
dan anak susukan. Beratus-ratus patok parityangmembelah kota -kota
persawahan serta ladang yang semula kering dimusim panas. Dengan
demikian lembahpun menjadi hijau seperti permadani yang
dibentangkan dari cakrawala sampai ke cakrawala. Sedangkan
lereng-lereng bukitpun telah digarap pula, sehingga menjadi hijau
oleh rimbunnya hutan yang memanjat gunung. Padepokan Bajra Seta dan
lingkungan disekitarnyapun sempat merasakan betapa mereka hidup
dalam ketenangan dan ketenteraman serta kedamaian hati. Namun bukan
berarti bahwa mereka tidak mau bekerja keras buat meny ongsong masa
depanyang lebih baik. Sementara itu, di Padepokan Bajra Seta,
para cantrik dengan tenang sempat menempa diri. Mempelajari berbagai
macam ilmu yang akan memberikan arti bagi kehidupan mereka kelak.
Bukan hanya ilmu kanuragan, tetapi juga ilmu yang lain. Mereka
mulai mengenal letak dan tabit bintang-bintang dilangit. Mereka
mengenal watak musim dalam hubungannya dengan jenis-jenis tanaman
yang sesuai. Mereka mengenal jenis serangga yang dapat menjadi kawan
dan lawan dalam bercocok tanam. Dalam keadaan yang demikian,
maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmerasa rindu kepada keluarganya.
Kepada ay ah mereka dan kepada kakakmereka yang telah menjadi
seorang Akuwu. Karena itu, selagi mereka tidak melihat ancaman dan
bahaya atas lingkungan hidup mereka, maka keduanyapun berniat untuk
pergi ke Singasari,menemui ayah mereka yang sudah semakin tua.
Agaknya ay ah mereka sudah malas untuk bepergian jauh, sehingga
karena itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatlah yang sebaiknya
mengunjunginya. “Ada baiknya kita juga berbicara dengan ay ah
tentang Kediri dan perkembangannya” berkata Mahisa Pukat. “Agaknya
kitalah yang justru harus menimba keterangan” sahut Mahisa Murti
”selama ini kita seakan-akan telah terpisah dari para prajurit baik
dari Singasari maupun Kediri, sehingga kita tidak mendapat
keterangan apapun tentang perkembangan terakhir baik di Kediri
maupun di Singasari, atau hubungan antara keduanya” “Kita dapat
menemui perwira prajurit Singasari yang datang ber sama
prajurit Kediri dari pasukan berkuda itu. Nampaknya perwira itu
percaya kepada kita” berkata Mahisa Pukat. ”Ya. Kita dapatmenemuinya
di Singasari. Tetapi kita tidak akan tenggelam kedalam persoalan
itu” “Kita dapat berbincang dengan ayah” desis Mahisa Pukat
kemudian. Demikianlah, keduanya telah merencanakan untuk berkunjung
ke Singasari. Mereka hanya pergi berdua saja tanpa membawa Mahisa
Amping, Mahisa Semu maupun Wantilan. Mereka bertiga justru diminta
untuk ikut serta mengamati perkembangan Padepokan Bajra Seta selama
keduanya pergi. Kepada Mahisa Amping, Mahisa Murti berpesan ”Kau
tidak boleh lupa dengan tanaman di halaman Padepokan kita. Jika para
cantrik lupa atau terlambat menyiram, maka kewajibanmu untuk
mengingatkan mereka. Kau juga harus selalu mengamati sanggar dalam,
agar tidak menjadi kotor dan nampak tidak terpelihara. Semua alat
dan senjata yang ada harus tetap bersih, karena aku tahu,
bahwa kau, Mahisa Semu dan paman Wantilan akan selalu
mempergunakannya” Mahisa Amping mengangguk-angguk sambil menjawab
”Aku akan melakukannya dengan baik kakang” “Kau juga tidak boleh
lupa memberimakan beberapa ekor burung diserambi sanggar itu” desis
Mahisa Pukat. Mahisa Amping, tertawa. Katanya ”Setiap saat aku
mempunyai kesempatan, aku selalu melihat burung-burung itu.” Mahisa
Pukat terseny um sambil menepuk bahu anak itu. Katanya ”Kami tidak
akan terlalu lama berada di Singasari” Tetapi Mahisa Ampinglah yang
kemudian tersenyum. Katanya ”Mungkin kakang tidak terlalu lama
berada di Singasari. Tetapi perjalanan kembali dari Singasari akan
dapat ditempuh dalam waktu yang berbulan-bulan. Bahkanmungkin
bertahon-tahun.- “Tentu tidak” Mahisa Murti terseny um pula” kami
tidak sengaja melakukan pengembaraan. Karena itu, seandainya
tertunda diperjalanan juga tidak akan terlalu lama. “Aku pernah ikut
dalam perjalanan yang pernah kakang lakukan sebelumnya.” Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat tertawa. Dengan nada berat Mahisa Murti
menjawab ”Tetapi kali ini t idak. Kami berusaha untuk tidak terlalu
lama diperjalanan pulang.” Demikianlah, maka setelah mempersiapkan
Padepokan Bajra Seta serta berbenah diri seperlunya,maka Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat itupun telah meninggalkan Padepokan. Menurut
Perhitungannya keadaan sudah menjadi semakin baik. Tata kehidupan di
Padepokan dan sekitarnyapun telah menjadi semakin tenang, sehingga
suasananya memang memungkinkan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
meninggalkan Padepokannya. Tidak ada hambatan apapun disepanjang
perjalanan menuju ke. Singasari. Ketika mereka memasuki lingkungan
istana Singasari, maka merekapun segera diantar menuju ke tempat
tinggal ay ahnya. Ayahnya menerima kedatangan kedua anaknya dengan
gembira sekali. Ia memang sudah agak lama merindukannya, sementara
ia sendiri sudah merasa malas untuk bepergian agak jauh. Setelah
menanyakan keselamatan kedua anaknya serta Padepokan Bajra Seta,
maka Mahendrapun berkata ”Aku mendengar dari Arya Kuda Cemani bahwa
kau berdua baru sa ja terlibat dalam pertempuran melawan sepasukan
prajurit Kediri yang telah memberontak dan berusaha memeras
sebuah Kabuyutan.” ”Siapakah Arya Kuda Cemani itu ayah ?” bertanya
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. “Seorang perwira
dari prajurit sandi di Singasari yang waktu itu mengikuti
gerak prajurit Kediri dari pasukan berkuda di tlatah Singasari.”
jawab Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Namun Mahisa Murtimasih juga bertanya ”Apakah juga yang disebut
Raden KudaWereng ?” “Ya” jawab Mahendra ”Arya Kuda Cemani juga
disebut Raden Kuda Wereng. Seorang perwira prajurit sandi yang
memiliki kemampuan yg sangat tinggi. Arya Kuda Cemani memang
digelari Raden Kuda Wereng. Perwira prajurit sandi itu dianggap
memiliki Aji Panglimunan, sehingga pada saat tertentu ia dapat
menghilang dari pandangan orang kebanyakan.” “Tetapi apakah Arya
Kuda Cemani itu benar -benar dapat menghilang ?” bertanya Mahisa
Pukat. ”Aku tidak tahu. Tetapi Raden Kuda Wereng itu senang
mengenakan pakaian serba hitam. Ia jarang mengenakan perhiasan
yang apalagi berkilat atau bercahaya, sehingga memberikan
kesan bahwa ia adalah orang yang sangat sederhana. Namun
dengan demikian ia tidak mudah terlihat didalam kegelapan atau peny
amaran diantara semak-semak dan pohon-pohon perdu.” jawab Mahendra.
“Jadi tidak mengatakan demikian. Menurut orang banyak, ia memang
memiliki Aji Panglimunan, sehingga ia dapat hilang begitu tiba -tiba
tanpa memerlukan kesempatan untuk ber sembunyi” berkata Mahendra
kemudian. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja menganggukangguk.
Meskipun demikian, keduanya memang masih raguragu karena ayahnyapun
tidakmengatakannya dengan tegas. Namun dalam pada itu ayahnyapun
berkata ”Besok kita akan pergi kerumahnya. ia sudah pernah
membicarakan kalian berdua di medan pertempuran di Kabuyutan
Bumiagara. Arya Kuda Cemani tentu senangmenerima kedatanganmu.”
Demikianlah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat diminta untuk berada di
Singasari untuk beberapa hari. Selain mengunjungi beberapa orang
yang pernah mengenal mereka, maka jika ada kesempatan Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat akan diajak untukmenghadap Sri Maharaja
Singasari. Sebenarnyalah dihari berikutnya, Mahendra telah mengajak
kedua anaknya untuk mengunjungi Arya Kuda Cemani. Seorang Senapati
prajurit sandi yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi.
Namun Mahendra itupun berkata kepada kedua anaknya” Meskipun ia
berilmu tinggi, namun ia adalah seorang pendiam. Tidak banyak
katakatanya. Apalagi ia seorang yang rendah hati. Ia sama
sekali tidak mengagungkan kelebihannya serta kedudukannya. Orang
yang belum mengenalnya tentu menganggapnya sebagai seorang
kebanyakan. ” Itulah sebabny a ia tidak begitu nampakmenonjol
diantara para prajurit-prajurit” berkata Mahisa Murti sambil
mengangguk-angguk. ”Meskipun demikian, terpancar juga wibawanya dari
sikapnya itu.” “Seutuhnya ia seorang yang baik” desis Mahendra.
Demikianlahmaka setelahmelewati jalan-jalan di Kotaraja, maka
merekapun sampai kesebuah rumah yang meskipun tidak terlalu besar
tetapi nampak ber sih dan teratur. Sejak mereka memasuki regol
halaman, mereka sudah melihat, bahwa baik halamannya maupun rumahnya
nampak terpelihara dengan rapi. Beberapa jenis pohon bunga tumbuh di
sudut-sudut halaman. Kembang soka, arum dalu dan ceplok piring.
Disebelah meny ebelah regolpun tumbuh sepa sang pohon kemuning.
Ditempat yang dipagari dekat seketheng sebelah kanan ditanami
sekelompok kembangmelati. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandangi
halaman rumah itu dengan dada yang terasa sejuk dan segar. Keduanya
juga berusaha mengajari cantrikcantrik di Padepokan Bajra Seta untuk
mengatur halaman dengan sebaik-baiknya. Namun ternyata bahwa halaman
rumah Raden Kuda Wereng itu nampak demikian asri sehingga langsung
meny entuh perasaan kedua anakmuda itu. Ketika orang juru taman
melihat kedatangan Mahendra dengan kedua orang anaknya, maka juru
taman itupun dengan tergesa-gesa meny ongsongnya. ”Kami ingin
bertemu dengan Arya Kuda Cemani” berkata Mahendra. “Silahkan naik
kependapa, Ki Sanak” jawab juru taman itu aku akan menyampaikannya
kepada tuanku, Arya Kuda Cemani. “Katakan kepada Arya Kuda Cemani,
bahwa aku adalah Mahendra dengan dua orang anaknya.” pesan Mahendra.
“Baik Ki Sanak” juru taman itu mengangguk hormat. Mahendra dengan
kedua anaknya menunggu beberapa saat dipendapa sebelum kemudian Arya
Kuda Cemani itu keluar dari pintu pringgitan. Kedatangan Mahendra
bersama kedua orang anak lakilakinya ternyata disambut gembira oleh
Arya Kuda Cemani. Dengan nada tinggi ia berkata ”Aku kira, kedua
orang anak muda ini tidak bersedia singgah dirumahku.” “Dengan
senang hati kamimempergunakan kesempatan ini untuk singgah dirumah
ini” jawab Mahisa Murti sambil mengangguk. “Kami belum mempunyai
kesempatan untuk berbicara panjang ketika kami bertemu di Padepokan
Bajra Seta dan selanjutnya langsung menuju ke Kabuyutan Bumiagara.”
berkata Arya Kuda Cemani kemudian. Lalu katanya kepada Mahendra ”Aku
hanya sempat berbicara beberapa kali dengan kdua anak laki-laki Ki
Mahendra. Sehingga agaknya akumasih ingin berbicara lebih panjang
lagi. Ma sih ada beberapa hal yang belum sempat aku katakan kepada
mereka berdua.” “ Itulah sebabnya, aku membawanya kemari. Biarlah
Raden sempat berbicara apa saja yang masih ter sisa.” desis
Mahendra. Raden KudaWereng y g juga bergelar Arya Kuda Cemani itu
tersenyum. Katanya ”Aku telah mendengar banyak tentang Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat. Seorang Senapati, yang pernah berada di Padepokan
Bajra Seta pernah berceritera tentang keduanya. Ternyata dalam
usianya yang masih sangat muda itu, keduamemiliki ilmu yang
sangat tinggi.” “Ah, Raden terlalu memuji mereka. Keduanya
sebenarnya tidakmempunyai kelebihan apa-apa.” sahut Mahendra. “Ki
Mahendra memang seorang yang suka merendahkan diri. Tetapi
sebenarnyalah bahwa kedua anak muda yang memimpin sebuah padepokan
itu memiliki kelebihan yang berjarak sangat jauh dengan anak-anak
muda sebay anya. Meskipun di Kabuyutan Bumiagara aku tidakmelihat
sesuatu yang mencuat dari kemampuan para prajurit, namun banyak
orang yang telah membicarakan kalian berdua terutama ketika
sekelompok prajurit Kediri yang memberontak itu datang ke Padepokan
Bajra Seta yang membuat mereka justru mendendam kepada Kabuyutan
Bumiagara, karena mereka menganggap bahwa Kabuyutan Bumiagara telah
menjerumuskan mereka kedalam bencana. Karena itu, maka mereka datang
kembali ke Bumiagara untuk memeras Kabuyutan itu sehingga menjadi
kering. Namun usaha itupun telah gagal pula, karena para petugas
sandi Kediri yang bekerja sama dengan petugas sandi Singasari dapat
menelusuri jejak para prajurit Kediri yang melawan kebijaksanaan
Senapati Agung mereka. Namun karena ternyata ada yang luput
dari pengamatan para petugas sandi dan baru disadari kemudian, maka
para prajurit Kediri yang memberontak itu datang ke Padepokan
Bajra Seta.” “Padepokan kami juga pernah diselamatkan oleh prajurit
Singasari ketika prajurit Kediri yang memberontak itu datang ke
Padepokan kami.” jawab Mahisa Murti. Raden Kuda Wereng itu tertawa,
katanya ”Sebenarnyalah Padepokan Bajra Seta adalah sebuah padepokan
yang mempunyai banyak kelebihan dari padepokan-padepokan yanc lain.
Bukan hanya pada segi oleh kanuragan, tetapi para cantrik, dari
Padepokan itu mempunyai kelebihan pula dalam ilmu -ilmu yang lain.
Bahkan ilmu perbintangan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukata hanya
tersenyum saja. Namun ketika Mahendra akan menjawab, maka
pembicaraan merekapun telah terputus. Dari pintu pringgitan seorang
gadis keluar sambil membawa hidangan. Minuman hangat dan beberapa
potongma kanan. Diluar sadarnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
memandangi wajah gadis itu dengan tajamnya. Bahkan hampir tidak
berkedip. Namun tiba-tiba keduanya menunduk ketika Raden Kuda Wereng
itu berkata ”Anakku perempuan satu -satunya. Dua anakku yang lain
adalah laki-laki.” Yang menyahut kemudian adalah Mahendra ”Siapakah
namanya?” Raden Kuda Wereng menarik nafas panjang. Iapun kemudian
berkata kepada anak gadisny a ”Pamanmu Mahendra ingin tahu, siapa
namamu.” Tetapi gadis itu justru tersipu-sipu. Bahkan setelah
meletakkan hidangan bagi tamu-tamunya iapun tergesa -gesa
meninggalkan pendapa dan masuk kembali ke ruang dalam. Raden Kuda
Wereng hanya terseny um saja. Namun kemudian katanya ”Anakku memang
pemalu. Ia tidak terbia sa berhubungan dengan orang lain kecuali
keluarganya sendiri. Apalagi ibunya memang lebih senang anak
gadisnya selalu tinggal di rumah.” “Bukankah hal yang wajar
sekali ?” sahut Mahendra ”namun karena aku tidak mempunyai anak
perempuan,maka aku tidak pernah menaruh perhatian berlebihan
terhadap anak-anakku. Apalagi setelahmereka menjadi dewasa.” “Tetapi
Ki Mahendra telah berhasil mengantarkan anakanak Ki Mahendra pada
satu keadaan yang mantap. Mereka menjadi anak-anak yang mapan.
Bukan saja memiliki pengetahuan yang cukup, tetapi mereka juga
dibekali dengan sifat dan watak yang baik.” berkata Raden
KudaWereng. “Raden telahmemuji lagi” desisMahendra. “Bukan sekedar
memuji” jawabRaden KudaWereng ”tetapi bukankah anak laki-laki Ki
Mahendra yang tertua menjadi Akuwu di Sangling dan dua yang
lain telah berhasil mendirikan sebuah padepokanyang terkemuka.
Papokan yang masih muda, dipimpin oleh orang-orang yang masih
sangat muda pula, tetapi nama serta pengaruhnya telah menjadi cukup
luas. Bahkan telah mendapat perhatian khusus dari Sri Maharaja.”
“Tetapi itu bukan satu kelebihan yang pantas mendapat
pujianyang berlebihan” sahut Mahendra. “Sebenarnyalah aku iri
kepada Ki Mahendra” berkata Raden Kuda Wereng ”kedua anakku yang
laki-laki tidak memiliki kelebihan apapun juga. Mereka memang telah
diterima menjadi calon pfajurit. Tetapi apa yang mereka capai tidak
lebih baik dari calon-calon prajurit yang lain. Sebelumnya, ketika
keduanya aku serahkan berguru kepada seorang yang aku anggap
memiliki kemampuan yang tinggi, ternyata tidak memenuhi sebagaimana
aku harapkan. Karena itu mereka aku tarik kembali dan aku masukkan
dalam barak calon prajurit.” “Mereka akan menjadi seorang prajurit
yang baik” berkata Mahendfa kemudian. “Mudah-mudahan.” Raden Kuda
Wereng menganggukangguk ”meskipun mereka tidak menjadi seorang
prajurit pilihan, asal mereka menjadi prajurit yang baik, itu
sudah cukup bagiku.” Sementara itu Mahis Murti dan Mahisa Pukat
tidak dapat langsung ikut berbicara justru karena Raden Kuda Wereng
sedangmemperbandingkan kedua anaknya dengan mereka. Namun beberapa
saat kemudian. Raden KudaWereng telah mengalihkan pembicaraanmereka.
Senapati itu telah bertanya berbagai hal tentang padepokan Bajra
Seta.Namun masih juga sekali-sekali membayangkan kekecewaannya atas
kedua orang anak laki-lakinya. Dalam pada itu, setelah beberapa lama
Mahendra berada di rumah Raden Kuda Wereng, maka iapun telah mohon
diri. Namun bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, rasa-rasanya mereka
baru sesaat saja duduk di pendapa rumah Raden Kuda Wereng. Mereka
mengharap anak gadis Raden Kuda Wereng itu keluar lagi dari ruang
dalam. Apalagi ikutmenemuimereka di pendapa. “Raden Kuda Wereng
tidak meny ebut namanya” berkata kedua orang anakmuda itu di dalam
hatinya. Namun ternyata Raden KudaWereng tidakmelepasmereka pergi.
Katanya ”Sudah saatnya makan siang. Aku ingin menjamu Ki Mahendra
dengan kedua orang anak laki-lakinya makan. Meskipun hanya
seadanya.” Mahendra tidak dapat menolak. Karena itu, maka mereka
telah menunggu hidangan makan yang sedang disiapkan oleh
isterinya. Raden Kuda Werengpun kemudian telah mempersilahkan
tamu-tamunya untuk masuk ke ruang dalam. Sementara itu ternyata
isterinya dan anak gadisnya tengah mempersiapkan makan bagi ketiga
orang tamunya itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas
dalamdalam. Ketika kemudian mereka duduk di ruang dalam itu, maka
merekapun melihat gadis itu dengan sigapnya membantuk ibunya
mengatur mangkuk-mangkuk di atas tikar pandanyang putih.
Ceting nasi dan tenong”tenong kecil berisi lauk pauk serta
mangkuk-mangkukminuman. Beberapa saat kemudian, isteri Raden Kuda
Wereng itu telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk makan. Namun
kemudian katanya ”Tetapi maaf, kami tidak dapat mengantarkan kalian
makan. Silahkan makan apa adanya.” Keduanya memang segera
meninggalkan ruang dalam. Sementara Raden Kuda Werenglah yang
kemudian mempersilahkan ketiganya untukmakan bersamanya. Namun dalam
pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat kesempatan
untuk memperhatikan anak perempuan Raden Kuda Wereng itu lebih
seksama. Menurut penilaian keduanya, gadis itu memang seorang gadis
yang cantik, tangkas dan nampaknya meskipun anak seoran Senapati
yang terpandang di Singasari, namun gadis itu bukan seorang merasa
dirinya lebih terhormat dari orang kebanyakan. “Dengan demikian
ternyata bahwa anak gadis Raden Kuda Wereng itu telah mendapat
perhatian khusus dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sehingga karena
itu, maka setelah keduanya pulang dari rumah Raden Kuda Wereng yang
juga bernama Arya Kuda Cemani maka diluar sadar kedua anak muda itu
telahmempercakapkan gadis itu. Namun Mahisa Pukatpun kemudian
berkata ”Tetapi sampai kita pulang, kita belum tahu nama gadis itu”
Meskipun perhatian Mahisa Murti tertarik pula kepada gadis itu,
tetapi Mahisa Murti tidak begitu terbuka seperti Mahisa Pukat.
Mahisa Murti kadang-kadang hanya terseny um sa ja mendengar Mahisa
Pukat dengan berterus terangmemuji gadis itu. “Kau pernah melihat
gadis secantik itu?” bertanya Mahisa Pukat. Katanya pula ”Sayang, ia
seorang pemalu” Mahisa Murti tersenyum. Katanya ”Gadis itu memang
pemalu. Tetapi bukankah itu wajar sekali? Gadis itu tidak
sepantasnya berbuat lebih dari yang telah dilakukannya” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Katanya ”Nampaknya gadis itu lebih banyak
dikurung didalam rumahnya. Tetapi jika demikian, ia tidak akali
mengenal orang lain kecuali ay ah, ibu dan saudara-saudaranya
sendiri” “ Itu wajar sekali. Tetapi bukan berarti ia tidak mengenal
orang lain. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu gadisgadis yang
dikurung didalam rumahnya dapat berhubungan dengan orang lain. Dalam
keramaian-keramaian atau upacaraupacara yang dapat
dihadirinya. Gadis-gadis itu akan bertemu dan bercanda dengan
kawan-kawannya yang dikenalnya sejak sebelum ia menginjak
dewasa. Kawan-kawan bermain dimasa kanak-kanak” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya ”Jika demikian,
apakah gadis-gadis itu tidak akan pernahmendapat kawan baru selain
kawan-kawan lamanya?” “Kesempatan itu selalu ada” jawab Mahisa
Murti. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya
lagi. Namun dalam kediamannya, Mahisa Pukat masih saja mengenang
gadis anak Raden Kuda Wereng yang disebut-sebutmemilikiAji
Panglimunan itu. Ternyata perhatian anak-anaknya terhadap gadis itu
tidak luput dari perhatian Mahendra. Sebagai orang tua ia mengerti,
bahwa anak-anaknya telah memperhatikan gadis Raden Kuda Wereng
itu.Namun ju stru karena itu, timbul kecemasan dihati Mahendra,
bahwa anaknya kedua-duanya tertarik pada seorang gadis. “Agaknya aku
terlalu berprasangka” berkata Mahendra di dalam hatinya. Namun
justru karena itu, maka Mahendra tidak lagi ingin membawa
anak-anaknya kerumah Raden KudaWereng. Kecuali memperhitungkan kedua
anaknya yang telah dewasa, iapun memperhitungkan derajad Raden Kuda
Wereng, seorang Senapati yang tepandang. Meskipun Mahendra
adalah seorang yang juga dihormati di Singasari karena hubungannya
yang dekat dengan Sri Maharaja, namun ia bukan seorang yang
memiliki kedudukan sebagaimana Mahisa Agni danWitantra semasa
hidupnya. Dengan demikian, Mahendra sama sekali tidak membicarakan
lagi kunjungannya kepada Raden Kuda Wereng. Apalagi berbicara
tentang niat untuk berkunjung lagi. Sebenarnyalah Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat memang berharap bahwa ay ahnya akan mengajaknya lagi
berkunjung. Tetapi ternyata sampai mendekati saat mereka kembali ke
padepokan, ayahnya tidak membawanya lagi mengunjungi Raden Kuda
Wereng. Bahkan seperti yang dikatakan oleh ay ahnya, keduanya
telah dibawa menghadap Sri Baginda ketika merekamendapat kesempatan.
Namun yang tidak disangka-sangka telah terjadi. Arya Kuda Cemani
telah meny elenggarakan satu keramaian kecil. Arya Kuda Cemani yang
merasa sangat bergembira bahwa kedua anaknya yang menjadi
calon prajurit telah benar-benar diterima dan diwisuda menjadi
prajurit telah mengundang beberapa orang sanak kadangnya untuk
menyatakan kegembiraannya itu. Ternyata diantara mereka yang
diundang adalah Mahendra dengan kedua orang anak laki-lakinya yang
sedang berada di Singasari. Mahendra memang menjadi bingung.
Seandainya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mendengar langsung
utusan yangmengundangmereka,maka Mahendra akanmengatakan, bahwa
kedua anaknya sedang bersiap-siap untuk pulang ke Padepokan. Tetapi
ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telahmenyatakan
kesediaan mereka untuk datang. Dengan demikian maha Mahendra
tidakmempunyai alasan untuk tidak datang ke keramaian kecil itu
bersama dengan kedua orang anaknya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
yang ternyata memang menaruh perhatian yang besar sekali atas
undangan itu. Sebenarnyalah, bahwa Mahendra dan kedua anaknya
benar-benar telah datang sekali lagi berkunjung kerumah Arya Kuda
Cemani. Keramaian itu sendiri, meskipun tidak dikunjungi terlalu
banyak orang, namun cukup ramai. Kegembiraan benar-benar meliputi
semua yang hadir dalam pertemuan itu. Ternyata bahwa keramaian itu
telah memperkenalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan gadis Arya
Kuda Cemani. Gadis yang disangkanya pemalu itu, ternyata
pandai juga meny esuaikan dirinya. Bahkan gadis itu cepat menjadi
akrab dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ketika gadis itu
kemudian menghidangkan suguhan bagi para tamu, maka tanpa diminta
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah ikut membantunya disamping
beberapa orang sanak kadang Arya Kuda Cemani yang terdekat.
Kemanakankemanakannya dan beberapa orang tetangga. Meskipun isteri
Arya Kuda Cemani telah mempersilahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
untuk duduk saja diantara para tamu, namun keduanya ternyatamasih
saja tetapmembantu. “Kalian diundang untuk dilayani disini” berkata
gadis itu ”bukan untukmelayani.” Tetapi Mahisa Pukat menjawab ”Apa
salahnya kami membantu ? Tamu ternyata terlalu banyak bagi beberapa
orang sinoman.” Anak perempuan Arya Kuda Cemani hanya ter senyum
saja. Dua orang sepupunya, juga gadis sebay anya, ikut juga
tersenyum tanpamengucapkan sepatah katapun. Sementara itu, Mahendra
duduk tidak terlalu jauh dariArya Kuda Cemani. Ketika hidangan sudah
disuguhkan,maka Arya Kuda Cemani telah menyatakan kepentingannya
mengadakan keramaian kecil itu. ”Meskipun sederhana, kami ingin
mengungkapkan kegembiraan kami.” Arya Kuda Cemani itupun kemudian
telah memanggil kedua anak laki-lakinya untuk dihadapkan kepada
sanakkadang serta orang-orang terdekat yang diundang oleh Arya
Kuda Cemani. “Mereka telahmenjadi prajurit” berkata Arya Kuda Cemani
kemudian dengan bangga. Yang hadir mengangguk-angguk. Sementara itu
Mahendrapun berdesis ”Mereka masih sangatmuda.” “Sebenarnya juga
tidak” jawab Arya Kuda Cemani ”tentu umurmereka tidak jauh dari
anak-anak Ki Mahendra.” Mahendra hanyamengangguk-angguk saja,
sementara Arya Kuda Cemaniminta kedua anaknya duduk diantara para
tamu untukmengantarkan mereka makan ber sama. Ternyata beberapa
kawan dari kedua anak laki-laki Arya Kuda Cemani itu ikut pula dalam
pertemuan itu. Mereka ikut bergembira bersama keluarga Arya Kuda
Cemani. Namun dalam pada itu, ketika para tamu sedangmenikmati
alunan suara gamelan yang ngerangin, seorang diri kawan kedua
anak Arya Kuda Cemani itu berkata ”He, bukankah kau
inginmemperkenalkan kami dengan adik perempuanmu ?” Kedua orang anak
laki-laki Arya Kuda Cemani itu tersenyum. Yang tertua diantara
mereka berkata ”Kau jangan tergesa -gesa. Hidangan masih akan
berlanjut. Baru minuman dan makanan. Nanti kita akan disuguhi makan.
Adikku ikut menghidangkan suguhan itu bersama-sama dengan anak-anak
muda dan gadis-gadisyang lain.” “Aku tahu” jawab kawannya ”aku sudah
melihatnya tadi. Biar saja orang lain menghidangkan suguhan itu.
Bukan adikmu.” Tetapi kakak yang tertua itu berkata ” Itu sudah
menjadi kesenangannya. Duduk sajalah. Kita makan dahulu. Nanti,
setelah makan, aku perkenalkan kau dengan adikku dan gadisgadis
sepupuku itu. Kita masih mempunyai banyak waktu.” “Sesudah makan
pertemuan ini akan bubar. Kami akan kehilangan kesempatan itu.”
“Tidak. Setelah makan, tamu-tamu memang akan bubar. Tetapi
anak-anakmuda dan gadis-gadis itu tentu akan tinggal untuk
memanfaatkan kesempatan ini. Kesempatan yang jarangmereka dapat.
Sementara itu, gamelan itu akan dipukul sepanjangmalam.” jawab anak
Arya Kuda Cemaniyang muda. Tamu-tamunya mengangguk-angguk. Meskipun
mereka agak kecewa tetapimereka tidakmemaksa. Demikianlah, keramaian
kecil itu berlangsung sampai jauh malam. Ternyata orang-orang tua
itu dengan telaten menikmati suara gamelanyang mengalunkan
gending-gending yang kadang-kadang terdengar lembut menyentuh hati.
Namun kemudian menghentak keras sesaat. Tetapi kemudian iramanya
kembalimenurun. Namun akhirnya anak-anakmuda itu tidak sabar.
Katanya ”Kami akan turun dari pendapa. Kami akan berada di serambi
gandok. Ajak adikmu kesana. Juga gadis-gadis yang lain.
Bukankah hidangan sudah semuanya disuguhkan ?” Kedua orang anak Arya
Kuda Cemani tidak dapatmengelak lagi. Makan memang sudah
dihidangkan. Namun nampaknya tamu-tamu masih menikmati irama
gamelan. Tetapi dengan demikian, didapur orang menjadi sibuk lagi
untuk membuat hidangan berikutnya didini hari. Demikianlah, beberapa
orang anak muda yang juga baru diwisuda menjadi prajurit telah turun
dari pendapa dan berkumpul di serambi gandok. Kedua orang anak Arya
Kuda Cemanipun kemudian telah pergi ke dapur. Karena mereka tidak
melihat adik perempuannya maka yang ter-tuapun bertanya ”Sasi
dimana ibu ?” “Untuk apa kau cari adikmu ? Apakah ada yang masih
belummendapat hidangan ?” bertanya ibunya. “Tidak ibu. Beberapa
orang kawanku, yang juga diwisuda ber samaku ingin berkenalan
dengan Sa si dan gadis-gadis yang lain.Hanya berkenalan saja ibu.”
jawab anaknya yang tertua. Ibunya termangu -mangu sejenak.
Namun kemudian katanya ”Anak-anak yang menghidangkan minuman
dan makanan itu sedang beristirahat digladri kanan. Bawa saja
kawan-kawanmu kesana. Jangan ajak adikmu kependapa.” “Mereka sudah
tidak berada di pendapa. Mereka ada di serambi gandok.” jawab
anaknya yang tertua. Namun ibunya tetap berkata ”Bawa saja
kawan-kawanmu masuk ke gladri. Adikmu tidak sendiri disana.” Kedua
orang anak Arya Cemani itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
yang muda berkata ”Marilah. Kita ajak mereka ke gladri. Kita justru
akan dapat lebih bebas berbicara, bergurau atau apa saja tanpa
mengganggu para tamu.” Kedua orang anakmuda itupun kemudian
telahmemanggil kawan-kawannya danmembawanya ke gladri sebelah kanan.
Ternyata di gladri terdapat beberapa orang yang sedang duduk-duduk
sambil bergurau. Mereka adalah anak-anak muda yang telah
membantu menghidangkan suguhan kepada para tamu yang ada di
pendapa. Karena suguhan berikutnya sedang dipersiapkan, maka mereka
mendapat kesempatan untuk beristirahat. Karena mereka terdiri dari
anak-anak muda,maka kelompok kecil itu telahmenjadi riuh. Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat yang ada diantara mereka mula-mula
merasa canggung. Meskipun umur mereka masih terhitungmuda meskipun
agak lebih tua dari anak-anakmuda yang berkumpul itu, namun
pengalaman hidup mereka yang luas serta kedudukan mereka di
Padepokan Bajra Seta telah membuat mereka agak terpisah dari
kehidupan anak-anak muda itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
berusaha untuk dapatmeny esuaikan dirinya. Namun bagi Sasi, keduanya
yang nampak lebih dewasa dari kawan-kawannya itu justru telah
menarik perhatiannya. Sasi yang jarang berhubungan dengan orang lain
selain keluarganya sendiri itu seakan-akan telah menemukan seorang
kawan yang lain dari kawan-kawannya yang pandai bergurau saja.
Namun kedua orang anak Mahendra itu nampak lebih matang dan
kadang-kadang sikapnya memang ber sungguh-sungguh. Karena itu, maka
Sasi merasa betapa kedua orang anak muda itu memiliki wibawa yang
lebih besar dari kawankawannya. Kedatangan kawan-kawan kedua anak
Raden KudaWereng itu menambah gladri itu menjadi semakin ramai. Sa
silah yang memperkenalkan kedua kakaknya kepada kawan-kawannya
yangmasih belummengenalnya. “Kakakku yang tua bernama Kuda Semedi,
sedangkanyang muda namanya Kuda Semeni.” “ Itulah adikku”
berkata Kuda Semedi. Lalu katanya ”Nah, sebaiknya kalian juga
memperkenalkan diri. Biarlah pertemuan kecil ini menjadi tidak kalah
ramainya dengan pertemuan di pendapa. Sebenarnyalah sekelompok kecil
anak-anak muda itu telah meramaikan suasanan di rumah Raden Kuda
Wereng. Gladri itu memang menjadi semakin ramai tanpa mengganggu
para tamu di pendapa. Kawan-kawan kedua anak Arya Kuda Cemani itupun
telah berbaur dengan anakanak muda yang terdiri dari
saudara-saudara Sasi dan kawan-kawannya. Namun dalam pada itu, dalam
suasana yang semakin ramai itu, dalam penglihatan mata hati
Sasi, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah anakanak muda yang
lain dari anak-anakmuda yang ada di gladri itu. Bahkan juga
kedua kakaknya dan kawan-kawannya yang telah ditetapkanmenjadi
prajurit. Karena itu, maka diluar sadarnya, Sasi justru selalu dekat
dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ra sa-rasanya keduanya akan
dapat melindunginya jika sesuatu terjadi atas mereka. Beberapa orang
kawan Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak memperhatikan lagi secara
khusus adik Kuda Semedi dan Kuda Semeni itu, karena mereka telah
berbicara dengan riuhnya diantara anak-anakmuda dan gadis-gadis yang
lain. Tetapi seorang diantara kawan Kuda Semedi dan Kuda Semeni itu
merasa terganggu dengan kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Meskipun ia berusaha untuk mendekati Sasi, namun ternyata Sasi
tidakmenghiraukannya sama sekali. Karena itulah, maka anak muda
itupun berbisik ditelinga Kuda Semedi ”Siapakah kedua orang anakmuda
itu ?” Kuda Semedi menggeleng. Katanya ”Aku belum mengenalnya
sebelumnya. Diantara sanak-kadang sendiri, memang terdapat
tetangga-tetangga kawan Sasi yang belum aku kenal.” Anak muda yang
juga telah diwisuda menjadi prajurit itu berkata ”Kuda Semedi. Terus
terang, aku tertarik kepada adikmu. Aku datang untukmengenalnya
lebih dekat. Beri aku kesempatan.” “Bukankah aku tidak
menghalanginya ?” bertanya Kuda Semedi “Tetapi kedua orang anak muda
itu. Nampaknya keduanya daripada yang lain. Apakah ada hubungan
khusus antara adikmu dengan salah seorang diantaramereka ?” “Tidak.
Tentu tidak, karena aku belum pernah melihat mereka berdua
sebelumnya. Atau, barangkali hubungan itu terjadi selama aku berada
di barak calon prajurit itu.” sahut Kuda Semedi. “Usahakan agar
keduanyameninggalkan gladri ini.” berkata kawan Kuda Semedi itu.
Wajah Kuda Semedi menegang. Katanya ”Bagaimana hal itu dapat aku
lakukan. Aku tidak tahu bagaimana mereka ada disini. Jangan-jangan
aku akan membuat persoalan dengan orang yang kurang aku
kenal.” “Terserah caramu. Tetapi bagaimana usahamu agar Sa si
meninggalkan kedua anak muda itu.” berkata kawan Kuda Semedi itu.
Kuda Semedi memang menjadi agak bingung. Demikian pula Kuda Semeni.
Namun keduanya tidak ingin membuat kawannya itu menjadi kecewa.
Apalagi kawannya itu adalah anak Senapati yangmemimpin barak
barakmereka. Sasi termangu-mangu sejenak. Sementara Kuda Semedipun
berkata ”Mungkin ia seorang Pelay an Dalam. Mungkin sekalisekali Sri
Baginda pernah berbicara dengan orang itu. Dengan demikian ia merasa
seolah-olah Sri Maharaja telah minta nasehat kepadanya. Bahkan ia
berkata kepada orang lain, bahwa ia seorang penasehat Sri Baginda.”
”Entahlah” jawab Sasi ”bertanya kepada ayah. Tetapi anak muda itu
telah mendapat suguhan di pendapa. Dan aku tidak merasa perlu utnuk
mengantarnya ke dapur atau ketempat lain sertamembawa hidangan
khusus kepadanya. Tetapi Kuda Semedi itu berkata ”Tolonglah Sasi.
Kau tahu bahwa kedudukan ku sebagai prajurit tergantung kepada ay
ahnya.” “Jika kau lakukan tugas-tugasmu dengan baik, maka kau tentu
tidak akan mengalami kesulitan dengan kedudukanmu itu.” berkata Sasi
pula ”jika Senapatipun itu mempersulit kedudukanmu karena sikap
anaknya, maka kau dapat mengatakannya kepada ayah. Ayah bukannya
orang yang tidak berkedudukan sama sekali. Apalagi anak muda
itu juga menyangkutkan ayahnya dalam persoalan yang seharusnya
kalian selesaikan sendiri.” “Tetapi hal seperti itu memang sering
terjadi Sa si” berkata Kuda Semeni ”jika kau mau membantu kami
sedikit saja, maka kita tidak usah membawa -bawa nama ayah dalam
persoalanyang kecil ini, Kau mengerti ?” Sasi termangu-mangu. Namun
katanya kemudian ”Aku akan membantumu. Tetapi aku hanya akan
menghidangkan suguhan itu saja. Kemudian kalian berdua mengawaninya
makan. Aku harus menemui saudara-saudara dan kawankawan kita
yang telah membantu menghidangkan suguhan itu.” Kuda Semedi
dan Kuda Semeni saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Kuda
Semedi berkata ”Baiklah. Aku akan mengatakan kepadanya. Kau tunggu
di pintu serambi.” Kuda Semedipun kemudian telah memberi isy arat
kepada kawannya sementara Kuda Semeni telah membawa Sasi keluar
pintu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang termangumangnu melihat
Sasi menunggalkan ruangan itu. Tetapi mereka tidak dapat
mencegahnya. Apalagi anak-anak muda yang duduk disebelah-meny
ebelahnya masih saja berbicara kepadanya tanpa menghiraukan Sa si
yang telah pergi. Demikian pula beberapa orang gadis
saudara-saudara dan kawan-kawan Sasi. Demikianlah, Sasi telah
mempersilahkan Lembu Atak untuk pergi ke serambi belakang dan duduk
di atas tikar pandanyang putihyang bergaris biru, hijau dan
merahs Ketika Sasi pergi ke dapur mengambil hidangan, maka Kuda
Semedipun berkata ”Aku telah mengatakan bahwa kau masih belum
mendapat hidangan, karena itu,maka kau lapar dan inginmakan, tetapi
tidak dilihat orang lain.” “Ternyata kau pandai jugamengelabui
adikmu.” “Tetapi Sasi tidak percaya. Ia sendiri yang telah
menghidangkan makan buatmu di pendapa. Malahan ia berkata bahwa kau
telah menggamitnya.” berkata Kuda Semedi. “Aku tidak sengaja meny
entuhnya, justru saat aku beringsut ketika ia menghidangkan makan.”
jawab Lembu Atak. Namun iapun kemudian bertanya ”Lalu apa lagi
alasanmu yang kau katakan kepada adikmu ?” “Tidak ada. Aku
mengatakan terus-terang, bahwa ia ingin mengenalmu lebih dekat.”
jawabKuda Semedi. “Dan adikmu tidak berkeberatan ?” bertanya Lembu
Atak. “Adikku hanya akan mengambil hidangan buatmu. Kemudian ia
akanmempersilahkanmu makan disinimeskipun ia sudah tahu bahwa kau
sudah makan.” jawabKuda Semedi. “Buat apa aku makan sendiri disini.
Atau barangkali ber sama kalian ?” berkata Lembu Atak sambil
bersungut. “Kita menunggu Sasi. Kita akan melihat, apa yang
akan dilakukannya.” desis Kuda Semedi. Lembu Atak tidakmenyahut
lagi. Ia menunggu Sasi datang membawa hidangan. Langkahnya telah
terdengar memasuki serambi belakang. Sebenarnyalah sejenak kemudian,
Sasi memasuki serambi membawa nampan berisi hidangan. Minuman panas,
nasi dan lauk-pauknya yang kemudian diletakkannya didepan
Lembu Atak. “Marilah, silahkanmakan. Kakakku berdua akan menemani
makan” berkata Sasi sambil bangkit berdiri. “Tunggu” sahut Lembu
atak tanpa malu-malu ”kau duduk sa ja disinimenemani akumakan.” “Aku
masih akan menemui tamu-tamuku yang ada di gladri” jawab Sasi sambil
bergeser menjauh. “Biarlah kakakmu saja menemui tamu-tamu di gladri
itu. Bukankah mereka bukan tamu ? Bukankah mereka adalah saudara
sepupumu atau bahkan tetangga -tetanggamu ?” berkata Lembu Atak
kemudian. “Maaf” berkata Sa si ”aku akan menemui tamu -tamuku
yang jumlahnya jauh lebih banyak dari hanya seorang disini.
Apalagi kedua kakakku ada disini pula. Bukankah kau kawan kedua
kakakku dibarak prajurit ?” Sasi tidak menunggu lagi. Iapun segera
melangkah pergi, sementara Lembu Atak itumemanggil ”Sasi, Sasi.”
Sasi memang menoleh. Bahkan mengangkat tangannya. Tetapi ia tidak
berhenti. Wajah Lembu Atak menjadi merah. Dengan geram ia berkata
kepada Kuda Semedi dan Kuda Semeni ”Kenapa kalian tidak mencegahnya
? Bahkan seakan-akan tidak mempedulikannya ?” “Kami kenal benar
watak gadis itu” jawab Kuda Semedi ”jika ia suah berkata tidak, maka
kami tidak akan dapat memaksanya. Ia termasuk gadisyang
keraskepala.” “Siapakah kedua orang kawannya itu ?” bertanya Lembu
Atak. “Tidak begitu jelas bagiku. Namanya Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Anak Mahendra, yang menurut Sasi, salah seorang penasehat Sri
Maharaja.” jawab Kuda Semedi. “Adikmu telah bermimpi. Atau anak itu
telah membohonginya. Hanya ada beberapa orang penasehat di istana.”
jawab Lembu Atak. ”Aku juga sudah mengatakannya. Tetapi adikku tidak
mau mengerti. Mungkin kawannya itumemang seorang pembual.”
“Mulutnyamemang harus disumbat.” geram Lembu Atak. “Kau mau apa ?
bertanya Kuda Semedi ”apakah kau akan membuat gaduh pertemuan ini ?”
“Tidak” jawab Lembu Atak ”aku belum gila. Ay ahku ada disini pula.
Tetapi bukankah mereka akan pulang setelah pertemuan ini selesai ?
Jika aku akan membuat perhitungan dengan mereka, tentu tidak dirumah
ini dan tentu tidak didepan hidung ayahku. Tetapi di jalan pulang
atau dimana sa ja aku dapatmenemukanmereka.” “Tetapi kau juga harus
memikirkan Sasi ”berkata Kuda Semeni” ia akan menjadi sangat malu
jika terjadi perkelahian karena gadis itu. Seakan-akan telah terjadi
semacam rebutan.” “Kenapa Sa si menjadi malu ? Ia dapat menjadi
bangga, bahwa dirinya telah diperebutkan oleh anak-anak muda dari
lingkungan atas. Bukankah aku anak seorang Senapati ternama di
Singasari ? Aku tidak peduli siapakah kedua anak muda itu.” Kuda
Semedi dan Kuda Semeni saling berpandangan sejenak. Namun Kuda
Semedipun berkata ”Terserahlah kepadamu. Tetapi kami tidak ikut
campur per soalanmu dengan anak-anakmuda itu.” “Jangan cemas. Aku
tidak akan membawa-bawa namamu dan nama keluarga disini. Yang
penting, persoalanku dengan kedua orang anakmuda itu dapat aku
selesaikan dengan cara seorang laki-laki. Mudah-mudahan mereka cukup
jantan untukmenanggapi.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni menarik nafas
dalamdalam. Tetapi Lembu Atak adalah seorang yang juga keras hati.
Apalagi ia sadar sepenuhnya bahwa ay ahnya adalah seorang Senapati
yang memiliki wibawa yang tinggi serta kedudukan yang
kuat. Ia merasa bahwa ia akan dapat ber sandar kepada ayahnya jika
ia mengalami kesulitan karena tingkah lakunya. Dengan demikian maka
Lembu Atak itu telah mengurungkan niatnya untuk makan karena Sasi
tidak mau menemaninya. Karena itu maka iapun berkata kepada Kuda
Semedi dan Kuda Semeni ”Aku akan kembali ke pendapa. Mudah-mudahan
ayah sudah pulang.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak mencegahnya.
Bahkan ketika Kuda Semedi mengantarkan Lembu Atak ke pendapa, Kuda
Semeni telah kembali ke gladri menemui kawan-kawannya yang masih
bergurau bersama anak-anak muda dan gadis-gadis yang membantu
menghidangkan suguhan bagi para tamu. Tetapi ketika mereka
mengetahui bahwa Lembu Atak ada di pendapa, maka merekapun telah
ikut pergi kependapa pula meskipun sebenarnya mereka masih lebih
senang duduk di gladri. Namun demikian mereka berada di pendapa,
ternyata Lembu Atak telah menceriterakan kepada kawan-kawannya itu
tentang kedua orang anak muda yang bernama Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat. Ceriteranya telah ditambah dan dikurangi sehingga
menjadi satu ceritera yang telah menggelitik prajurit-prajurit
muda yang baru saja diwisuda itu. “Apakah mereka tidak tahu,
bahwa kami telah melewati sebuah pendadaran yang berat, sehingga
kami akan dapat membuatnya menjadi meny esal sepanjang umurnya ?”
desis salah seorang diantara para prajuritmuda itu. “Mereka
menganggap Sasi telah menjadi hak mereka, sehingga Sasi tidak boleh
berhubungan dengan siapapun juga.” berkata Lembu Atak ”bahkan Kuda
Semedi dan Kuda Semenipun tidak dapat lagi berbuat sesuatu. Sasi
sendiri sebenarnya tidak menginginkan hal itu. Tetapi gadis itu
menjadi ketakutan.” ”Kuda Semedi dan Kuda Semeni juga ketakutan ?”
bertanya salah seorang diantara prajurit-prajuritmuda itu. “Mereka
sama sekali tidak takut” jawab Lembu Atak sambil memandang Kuda
Semedi dan Kuda Semeniyang telah berada di pendapa pula.
”Tetapi Kuda Semedi dan Kuda Semeni telah mencemaskan keadaan
adiknya jika adikny a sendiri di rumah, karena Kuda Semedi dan Kuda
Semeni akan lebih banyak berada dibarak.” “Bukankah ada ayahnya yang
juga seorang Senapati ?” bertanya kawannya yang lain. “Ayahnya
adalah seorang Senapati dari prajurit sandi, sehingga tugasnya tidak
dapat diperhitungkan waktunya.” jawab Lembu Atak. Lalu katanya pula
”Aku menjadi ka sihan kepadanya.” Kuda Semedi dan Kuda Semenimenjadi
bingung. Tetapi ia tahu pasti maksud Lembu Atak yang membakar
hati kawankawannya agarmereka bersedia membantunya. Namun dengan
demikian keduanya telah membayangkan bahwa akan terjadi perkelahian
diantara anak-anakmuda itu. Seandainya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
tidak berani melayani, maka keduanya tentu akan dibuat jera oleh
Lembu Atak. Namun itu akan dapat menodai nama prajurit -prajurit
muda yang baru saja diwisuda. Tetapi Kuda Semedi dan Kuda
Semenimerasa segan untuk memperingatkan Lembu Atak, karena mereka
tidak ingin kedudukannyamendapat
kesulitan.
Jilid102 KARENA ITU, maka keduanya justru
hanya berdiam diri sa ja tanpa berkata apapun juga. Bahkan keduanya
terkejut ketika tiba -tiba saja Lembu Atak bertanya kepada mereka
”Bukankah begitu? Dengan gagap Kuda Semedi dan Kuda Semeni menjawab
hampir berbareng ”Ya. Begitulah” “Baiklah” berkata seorang kawannya
”kita akan membuat perhitungan. Sebaikny a Kuda Semedi dan Kuda
Semeni tidak ikut campur agar Sasi tidak mengalami kesulitan. Jika
kedua anak muda itu kemudian justru menjadi gila, maka Sasilah yang
akan menjadi sasaran dendamnya.” “Aku akan mencegatnya saat mereka
pulang” berkata Lembu Atak dengan garangnya. “Aku sependapat. Tetapi
apakah mereka hanya berdua sa ja?” bertanya seorang kawannya. “Aku
tidak peduli, dengan siapa saja mereka berjalan pulangmenjelang
fajar nanti. Aku akan menantangnya sebagai seorang laki-laki”
berkata Lembu Atak kemudian. “Seorang lawan seorang?” bertanya
kawannya. “Biarlah mereka berdua. Tetapi jika ternyata mereka
membawa banyak kawan, maka aku memerlukan bantuan kalian” geram
Lembu Atak itu sambil menghentakkan tangannya. Katanya pula ”Aku
akan menghancurkan mereka berdua sehingga mereka tidak akan dapat
mengganggu Sasi lagi dengan cara apapun juga.” Ternyata
kawan-kawannya sependapat. Namun mereka telah minta agar Kuda Semedi
dan Kuda Semeni tidak ikut ber samamereka. Kuda Semedi dan Kuda
Semenimemangmerasa beruntung bahwa mereka tidak akan dilibatkan
dalam perkelahian itu. Namun lembu Atak itu telah minta kepadanya
untuk mendapatkan keterangan jalan manakah yang akan mereka lalui
jika mereka pulang. Sebenarnyalah Lembu Atak telah pulang mendahului
ay ahnya yang masih duduk di pendapa sambil mendengarkan suara
gamelan dan menikmati hidangan panas yang telah disuguhkan untuk
melawan udara yang mulai terasa dingin. Namun ay ah Lembu Atak
itu tidak tahu bahwa anaknya tengah merencanakan satu langkah awal
yang salah bagi seorang prajurit muda yang baru saja diwisuda.
Ia hanya melihat anaknya itu meninggalkan pendapa untuk kedua
kalinya ber sama beberapa orang kawannya. Sementara itu Kuda Semedi
dan Kuda Semeni menjadi bingung, apa yang sebaikny a
dilakukannya. Dengan nada cemas, Kuda Semedi berkata ”Kedua anak
muda itu sama sekali tidak bersalah. Apakah kita akan membiarkan
Lembu Atak mengambil tindakan atas1 mereka, sementara kedua anak
muda itu tidak tahu sama sekali persoalannya.” “Kita akan
memberi-tahukan kepada mereka, agar mereka mengambil jalan lain”
sahut Kuda Semeni. Kakaknya mengangguk-angguk. Katanya ”Satu-satunya
jalan. Marilah kita berbicara dengan anak itu. Mereka baru sa
jamembantumenghidangkan suguhan ber sama Sasi.” Keduanyapun kemudian
pergi ke pringgitan. Namun mereka menjadi ragu-ragu untuk
mengatakannya. Jika Sasi mendengarnya maka ia tentu akan menjadi
sangat marah karean ia akan merasa malu sekali bahwa telah terjadi
keributan karena dirinya yang sehari-hari jarang keluar rumah
sebagaimana diminta oleh ibunya. Bahkan ibu dan ayah merekapun tentu
akan merasa ter sentuh pula akibat peristiwa itu. Bahkan jika
terjadi salah paham, maka ibu dan ay ah mereka akan dapatmenyalahkan
Sasi. Karena itu maka Kuda Semedipun berkata ”Nanti saja. Kita
memperhatikan kapanmereka pulang.” “Kita lihat dahulu ke gadri
sebelah kanan” ajak Kuda Semeni. Keduanyapun kemudian bergeser lagi
langsung masuk melalui pintu pringgitan dan menyelinap ke gadri
sebelah kanan. Ternyata Sa si tidak sedang berada di gadri. Agaknya
Sasi masih sibuk di dapur menghidangkan minuman dan makanan
bagimereka yang ikutmembantu di dapur. “Kebetulan sekali” desis Kuda
Semedi. “Kita bicara kepadanya” sahut Kuda Semeni. “Panggil mereka
kemari. Cepat. Tetapi jangan menarik perhatian orang lain.” berkata
Kuda Semedi kemudian. Kuda Semenipun segera mendekati Mahisa Murti
yang telah kembali duduk ber sama anak-anak muda dan
gadisgadis di gladri. Sambil ter senyum ia berbisik ”Ada sedikit
persoalanyang ingin kami bicarakan.” Mahisa Murti mengerutkan
keningnya. Namun Kuda Semeni segera berakta lebih lanjut ”Tentang
hidangan yang terlampaui.” “O” Mahisa Murti tersenyum.Namun Kuda
Semeni berkata lebih lanjut ”Kita pergi ke dapur.” Mahisa Murtipun
segera bangkit dan mengikut Kuda Semeni. Mahisa Pukat hanya
termangu-mangu saja. Sementara itu seorang anak muda bertanya
”Apakah perlu dibantu?” “Tidak” jawab Kuda Semeni ”hanya untuk
beberapa orang yang sibuk di belakang. Tetapi biarlah saudaramu ikut
pula.” Mahisa Murtimemangmemberikan isy arat kepada Mahisa Pukat
untukmengikutinya. “Ketika mereka sudah berada di luar pintu gladri,
maka Kuda Semedipun berkata ”Disini saja. Kami memang tidak akan
kedapur. Juga tidak berbicara tentang hidangan yang kurang” Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Namun Kuda Semedipun
kemuian telah berkata berterusterang bahwa Lembu Atak akan menunggu
mereka diperjalanan pulang. “Sebaiknya kalian ambil jalan lain.
Kemana kalian akan pulang?Apakah benar kalian akan pulang ke
istana?” bertanya Kuda Semedi. “Ya” jawab Mahisa Murti ”kami sedang
mengunjungi ay ah kamiyang tinggal dibagian belakang istana”
“Siapakah ay ahmu? Apakah benar ay ahmu salah seorang Penasehat Sri
Maharaja di Singasari?” “Bukan” jawab Mahisa Murti ”pamankulah
yang dahulu pernah menjadi Penasehat Sri Maharaja. Tetapi
pamanku telah meninggal beberapa saat yang lalu. Ayahku memang
diminta oleh Sri Maharaja untuk tinggal di istana. Jika sekalisekali
ay ahku diperintahkan untuk menghadapi dan berbincang dengan Sri
Maharaja belum berarti bahwa ayahku adalah Penasehat Sri Maharaja”
“Siapakah nama pamanmu?” bertanya Kuda Semedi. “Mahisa Agni” jawab
Mahisa Murti. “Mahisa Agni yang pernah mendapat tugas mewakili
Sri Baginda di Kediri?” bertanya Kuda Semedi. “Ya. Kemudian pamanku
yang kedua adalah Witantra” jawab Mahisa Pukat. “Juga pernah
mendapat jabatan yang sama di Kediri” desis Kuda Semeni. “Darimana
kau tahu?” bertanyaMahisa Pukat. “Ayah pernah berbicara tentang
kedua orang itu. Ketika kami menjadi calon prajurit, kami mendapat
sedikit pengetahuan tentang orang-orang penting di Singasari” jawab
KudaSemedi. “Baiklah” berkata Mahisa Murti kemudian ”nanti, aku akan
mengambil jalan lain menuju keistana. Mudah-mudahan kami tidak
berjumpa” Kuda Semedi dan Kuda Semenipun mengangguk-angguk. Katanya,
”Hati-hatilah. Kawanku itu adalah anak Senapati yang memimpin
kesatuanku. Aku memang menjadi segan kepadanya” “Terima kasih. Kami
akan berhati-hati” jawab Mahisa Murti. ”Kami memang tidak memiliki
kemampuan untuk berkelahi” “Apakah kau bersama ayahmu?” bertanya
Kuda Semeni “Ya” jawab Mahisa Murti. “Jika ia adik Mahisa Agni dan
Witantra, maka ia adalah seorang yang berilmu sangat tinggi”
Tetapi Mahisa Murti menggeleng. Katanya ”Ayahku memang tidak
sebagaimana kedua pamanku. Ayahku bukan seorang yang berilmu.
Ayahku termasuk seorang yang malas di masa mudanya” “Tetapi bahwa
ayahmu telah dipanggil dan tinggal pula diistana tentu ada kelebihan
apapun pada ayahmu itu” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling
berpandangan sejenak. Namun Mahisa Murtipun berkata ”Sekali lagi
kami mengucapkan terima kasih. Aku nanti akan mengajak ay ah untuk
beralih jalan, agar kami tidak bertemu dengan Lembu Atak” “Baiklah.
Kembalilah ke tempatmu” berkata Kuda Semedi ”tetapi ingat, Sasi
jangan sampai mendengarnya agar ia tidak tersinggung karenanya. Anak
itu tidak tahu apa -apa, sebagaimana kalian berdua juga tidak tahu
apa-apa” Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah
kembali ketempat duduknya. Namun bagaimanapun juga niat Lembu Atak
dan beberapa kawannya itu telah membuat Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatmenjadi berdebar-debar. Pertemuan yang meskipun sederhana namun
meriah itupun masih berlangsung. Gamelan masih juga melagukan
tembang ngerangin. Semakin jauh malam menjelang dini, maka suara
gamelan itumenjadi semakin ngelangut. Namun ketika tengah malam
telah lama lewat, maka para tamupun menjadi letih. Minuman hangat
dan makanan menjelang dini mampu menahan mereka beberapa saat.
Tetapi kemudian, seorang demi seorang telah minta diri meninggalkan
pertemuan itu. Mahendrapun tidak ketinggalan. Iapun kemudian telah
minta diri pula. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dipanggil pula
karena keduanya masih berada di gadri. Sementara itu Kuda Semedi
masih sempat mengingatkannya ”Ambil jalan lain. Karena
sebenarnyalah, demikian marahnya Lembu Atak kepada kalian.” Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat masih sempat minta diri kepada Sasi dan
anak-anakmuda serta gadis-gadisyang ada di gadrai itu. Namun
sejenak kemudian, iapun telah meninggalkan rumah Arya Kuda Cemani
ber sama ayahnya. Diperjalanan kembali ke istana itu Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat telah menceriterakan pesan Kuda Semedi dan Kuda
Semeni. Dengan nada rendah Mahisa Murtipun kemudian berkata
”Sebaiknya kita memangmemilih jalan lain ay ah. Bukan jalanyang bia
sa dilewatimenuju ke istana” “Baiklah” berkata Mahendra ”kita memang
harus mengambil jalan lain. Kita harus menghindari benturan
kekerasan dalam persoalan seperti yang kalian hadapi itu.
Untunglah Kuda Semedi dan Kuda Semeni sempat memberitahukan kepada
kalian.” Seperti yang mereka sepakati maka Mahendra dan kedua orang
anaknya telah memilih jalan yang melingkar. Memang agak jauh, tetapi
dengan demikian maka mereka memperhitungkan tidak akan bertemu
dengan Lembu Atak. Namun dugaan mereka keliru. Ternyata Lembu Atak
tidak menunggu mereka lewat. Tetapi mereka menunggu diujung jalan
padukuhan sehingga ketika mereka berbelok lewat jalan yang
diperhitungkan tidak akan diamati oleh Lembu Atak dan
kawan-kawannya, ternyatamereka keliru. Ternyata Lembu Atak
yang bersembuny i diujung jalan, telah mengikutimereka yang
memilih jalanmelingkar. “Mereka memang bodoh” desis Lembu Atak
kepada seorang kawannya ”mereka memilih jalan yang sepi. Bahkan
lewat bulak meskipun tidak terlalu panjang. Tetapi kita mendapat
kesempatan lebih luas untuk membuat mereka jera di bulak itu tanpa
diganggu oleh orang lain.” “Mereka akan meny esal. Tetapi kenapa
mereka memilih jalan itu” bertanya seorang kawannya ”apakah mereka
mengetahui bahwa kita akan menunggumereka ?” Lembu Atakmengerutkan
keningnya. Katanya ”Tentu Sa si telah menceriterakan apa yang aku
lakukan kepada kedua orang anakmuda itu. Sehinggamerekamenjadi
ketakutan dan memilih jalan yang tidak seharusny a dilalui.
Mereka tentu sudah mengira bahwa aku menjadi marah karena sikap
Sasi. Dan itu membuatmerekamenjadi ketakutan, sehingga mereka telah
memilih jalan lain.” Kawan-kawannya tertawa. Sementara itu Mahendra,
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah hampir memasuki bulak yang sepi
dan jarang dilalui orang dimalam hari. Karena itulah, maka Lembu
Atakpun telah mempercepat langkah mereka, sehingga jarak diantara
mereka dengan Mahendra dan kedua orang anaknyamenjadi semakin
pendek. Namun dalam pada itu, baik Mahendra maupun Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat telah mengetahui bahwa beberapa orang tengah
mengikutinya meskipun jaraknya masih belum terlampau dekat.
Ketajaman pendengaran dan penglihatan mereka telah memungkinkan
mereka mendengar dan melihat dalam keremangan dini hari, beberapa
orang mengendapendapmengikutimereka. “Kita sudah mencoba untuk
menghindari pertengkaran” berkata Mahendra ”tetapi ternyata kita
tidak berhasil. Mereka ternyata cerdik juga, sehingga mereka
sempatmengikuti jalan yang kita anggap aman.” “Apa boleh buat” desis
Mahisa Pukat. “Kita masih akan mencoba menghindari kekerasan” desis
Mahendra ”perkelahian tidak akanmenguntungkan kita.” “Bukan kita
yang mendahuluinya” jawab Mahisa Pukat. “Jadi, apakah anak seorang
Senapati dapat berbuat sekehendak hatinya ? Senapati itu sendiri
tidak boleh berbuat sekehendak hatinya serta menyalah gunakan
jabatannya. Apalagi anaknya.” sahut Mahisa Pukat pula. Ayahnya
menarik nafas dalam-dalam. Anaknyapun masih muda sehingga darahnya
masih hangat sebagaimana anakanakmuda yang mengikutimereka itu.
Dalam pada itu, ketika mereka sudah berada ditengahtengah bulak yang
sepi, maka Lembu Atakpun segera menyusul Mahendra dan kedua orang
anaknya. Dengan keras Lembu Atak berkata ”Berhenti kau anak-anak
yang tidak tahu diri.” Yang pertama berhenti dan berbalik menghadap
ke arah anak-anakmuda yang mengikutinya itu adalah Mahisa Pukat.
Tetapi Mahisa Pukatmasih saja berdiam diri. Lembu Ataklah yang
paling dahulu mendekati ketiga orang yangmenunggunya dengan termangu
-mangu. “Apakah kau bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ?”
bertanya Lembu Atak sambil bertolak pinggang. “Ya” Mahisa Pukatlah
yang menjawab sambil melangkah selangkahmaju ”untuk apa kaumenyusul
kami ?” “Ternyata kau seorang yang sangat sombong” geram Lembu Atak
”Agaknya kau belum mengenal aku atau Sasi telah mengatakan kepadamu
siapa aku ?” “Ya. Aku tahu siapa kau. Tidak ada yang
memberitahukan kepadaku, siapakah kau. Tetapi aku tahu bahwa kau
adalah anak seorang Senapati yangmemimpin kesatuanmu yang juga
kesatuan Kuda Semedi dan Kuda Semeni, kakak Sasi.” jawab Mahisa
Pukat. “Setan kau” Lembu Atak semakin marah melihat sikap Mahisa
Pukat. Namun Mahendra segera melangkah maju sambil berkata ”Keduanya
adalah anak-anakku ngger. Apakah ada persoalan yang perlu
dibicarakan sehingga angger telah menyusul kami bertiga ? Atau
barangkali ada sesuatu yang dapat kami bantu ?” “Kaukah yang bernama
Mahendra dan mengaku penasehat Sri Maharaja di Singasari ?” bertanya
Lembu Atak. “Sama sekali bukan ngger. Aku bukan penasehat Sri
Maharaja di Singasari. Aku tidak lebih dari seorang Pelay an Dalam.”
“Aku sudah menduga bahwa kau tentu seorang Pelay an Dalam.” geram
Lembu Atak. Lalu katanya ”Nah, sekarang aku minta kedua orang anakmu
jangan berani mengganggu Sasi lagi. Gadis itu merasa selalu dibayang
i oleh ketakutan karena tingkah kedua orang anakmu itu” berkata
Lembu Atak pula. “Apa yangmereka lakukan ?” bertanya Mahendra. Wajah
Lembu Atak menjadi tegang. Katanya ”Tanyakan kepada anak-anakmu,
bagaimana iamenakut-nakuti Sasi.” “Anakku baru saja mengenal gadis
itu, jika yang kau maksud adalah anak perempuan Arya Kuda
Cemani.” jawab Mahendra ”adalah mustahil bahwa anak-anakku telah
sempat menakut-nakuti gadis itu.” Lembu Atak memang menjadi agak
bingung. Namun kemudian katanya ”Aku tidak peduli. Yang penting,
kedua anakmu tidak boleh lagimendekati Sasi” “Apakah hakmu melarang
?” tiba -tiba saja Mahisa Pukat yang hampir tidak dapatmenahan
kemarahannya bertanya. ”Persetan kau” geram Lembu Atak ”jika kau
berani bertanya lagi, apalagi dengan kasar seperti itu,maka aku
pilin lehermu sampai patah.” “Sudahlah anak muda” Mahendra berusaha
untuk menengahi ”kau tidak usah memikirkan anak-anakku. Besok atau
lusa,mereka sudah akanmeninggalkan Kotaraja.” “Kemana ?” bertanya
Lembu Atak. “Mereka selama ini tinggal disebuah Padepokan yang
jauh. Jika mereka kembali ke padepokan, maka untuk waktu yang agak
lama mereka tidak akan muncul lagi di Kotaraja ini. Karena itu,
lupakan saja mereka. Mereka tidak akan melihat dan apalagi
bercakap-cakap dengan gadis yang kau sebut Sasi itu.
Lebih-lebihmenakut-nakutinya.” bertanyaMahendra. Lembu Atak
termangu-mangu sejenak. Namun nampaknya sikap Mahisa Pukat
sangatmenjengkelkannya. Anakmuda itu sama sekali tidakmenunjukkan
perasaan takut. Sebenarnyalah Mahisa Pukat biasanya tidak terlalu
mudah tersinggung. Darahnya memang lebih panas dari Mahisa Murti.
Tetapi ia lebih banyak menyadari bahwa pertengkaran sebaiknya
dihindarinya. Apalagi perkelahian, justru karena ilmunya
telahmenjadi semakinmatang. Namun ketika tiba -tiba saja ia
dihadapan pada persoalan seorang gadisyang telah mengetarkan
jantungnya,maka rasarasanya kemarahannya begitumudah tergugah.
Karena itu,maka tidak sebagaimana biasanya ia merendah, maka saat
itu, darahpun terasa cepat menjadi panas. Seperti Lembu Atak, maka
timbul pula niat Mahisa Pukat untuk membuat anakmuda itu menjadi
jera. Karena itu, ketika ay ahnya mengajaknya meninggalkan tempat
itu, hampir diluar sadarnya Mahisa Pukat berkata ”Sasi mempunyai hak
untuk berbuat sesuai dengan nuraninya. Juga dalam hal memilih kawan.
Tetapi jika tadi kau sebut aku menakut-nakutinya maka aku menganggap
bahwa kau telah mencobamemfitnah.” Wajah Lembu Atakmenjadi merah. Ia
hampir melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk pergi bersama
ayahnya. Tetapi kata Mahisa Pukat itu telah membuat telinganya
menjadi panas. Karena itu maka iapun berkata kasar ”Kau ingin
mulutmu aku koy akkan ? Kau harusmenyadari dengan siapa kau
berhadapan. Aku telah mengalami latihan-latihan yang berat sebagai
calon prajurit. Kemudian mengalami pendadaran yang hampir tidak
masuk akal. Tetapi aku dapat melampauinya sehingga aku dapat
diwisuda menjadi seorang prajurit. Nah, jika kau seorang anak yang
sombong,maka kau akan sangatmeny esal.” Tetapi Mahisa Pukat masih
menyahut ”Bukan karena kau seorang prajurit yang memiliki ilmu
yang tinggi yang membuatmu besar kepala. Tetapi kau sadar
sesadar-sadarnya bahwa ayahmu adalah seorang Senapati. Kau akan
selalu ber sandar kepadanya jika kau mengalami kesulitan. Tetapi
nampaknya kau akan kecewa. Jika ayahmu benar-benar seorang Senapati,
maka kau justru akan ditangkapnya sendiri karena tingkahmu ini.”
“Sudahlah” berkata Mahendra memotong ”marilah. Kita tinggalkan
tempat ini.” Namun Lembu Ataklah yang kemudian tidak mau
melepaskannya. Katanya ”Anak itu harus mendapat pelajaran agar ia
menjadi jera. Kecuali jika ia bersedia minta maaf kepadaku.” Tetapi
sebelum Mahendra memerintahkan kepadanya untuk melakukannya, maka
Mahisa Pukat telah mendahului ”Aku tidak merasa bersalah. Kalianlah
yang menyusul kami dan membuat perkara ini. Karena itu, aku
tidak akan minta maaf.” “Sudahlah Pukat, sudahlah” potong Mahendra
”apa salahnya kau mintamaaf dan kita pulang dengan tenang.” “Aku dan
Mahisa Murti tidak bersalah ayah. Kenapa aku harusmintamaaf.” Mahisa
Pukatmasihmengelak. “Murti. Kenapa kau hanya berdiam diri saja ?”
bertanya ay ahnya sementara Mahisa Murti justru menjadi bingung. Ia
tidak dapat menyalahkan Mahisa Pukat meskipun dengan demikian akan
dapatmenghindar, benturan kekerasan. Tetapi harga diri Mahisa Pukat
sebagai seorang laki-laki akan direndahkan. Apalagi landasan
persoalannya adalah tentang seorang gadis. “Apakah kau dapatmembantu
aku, Murti?” desak ayahnya. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam.
Katanya ”Sebaiknya kita saling memaafkan saja. Tidak ada yang
salah diantara kita semuanya. Mungkin hanya sekedar salah paham.
Bagaimanapun juga Sa si adalah seorang pribadi yangmandiri. Biarlah
ia menentukan sikapnya. Sudah tentu tidak dilandasi ketakutan atau
semacam terpaksa untuk menentukan satu sikap. Karena sebenarnyalah
satu kemungkinan bahwa mulai besuk Sa si tidak akan mau bertemu kita
lagi karena yang kita lakukan ini telah menyinggung
perasaannya sebagai seorang gadis.” Sebenarnyalah bahwa Lembu Atak
tersentuh juga oleh kata-kata Mahisa Murti. Mereka yang bertengkar
itu sama sekali tidak mengetahui sikap Sasi yang sebenarnya.
Namun menurut penglihatan Lembu Atak, hubungan Sasi dengan kedua
orang anakmuda itu terlalu akrab sehingga ia tidakmau meninggalkan
mereka dan duduk bersamanya saat Lembu Atak ituminta
dihidangkanmakan khususbaginya. Bahkan hatinya yang sudah mulai
mendingin itu tiba-tiba telah menjadi panas kembali. Katanya dengan
nada tinggi ”Kau jangan mencoba membekukan per soalan ini. Per
soalan yang akan aku selesaikan dengan caraku. Cara seorang
lakilaki.- Dalam pada itu, Mahendra mencoba menengahinya lagi
”Sudahlah ngger. Seperti yang sudah aku katakan, besok atau
lusa anak”anakku itu akan kembali ke padepokannya. Karena itu,
biarlah persoalan yang kalian bicarakan ini dianggap selesai.”
“Tidak” bentak Lembu Atak ”persoalan baru aku anggap selesai jika
anak-anakmu minta maaf kepadaku.” Mahisa Pukatlah yang
menyahut dengan serta -merta ”Kami tidak ber salah. Karena itu, kami
tidak akan mintamaaf.” “Kaumenantang aku ?” geram Lembu Atak.
“Tidak. Tetapi jika terpaksa, aku akan melayani” jawab Mahisa
Pukatyang darahnyamulaimenjadi panas pula. Mahendra menarik nafas
dalam-dalam. Persoalan anakanak muda itu tidak segera dapat
diatasinya. Sementara Mahisa Murti tidakmencegahnya dengan tegas.
Karena itu, maka katanya ”Aku sudah mencoba melerai persoalan yang
timbul diantara kalian. Tetapi ternyata bahwa kalian tidak mau
mendengarkan. Karena itu, ter serah kepada kalian. Aku tidak akan
ikut campur. Per soalan anak-anak muda yang ingin kalian selesaikan
dengan cara anak muda pula meskipun sebenarnya persoalannya sama
sekali tidak jelas dan tidak pantas.” Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatmenyadari bahwa ayahnya tidak sependapat dengan cara yang
mereka tempuh. Tetapi ia juga memaklumi bahwa kedua anaknya sedang
mempertahankan harga diriny a. Meskipun tidak ada Sasi, tetapi
seakan-akan mereka ingin menunjukkan kepada gadis itu, bahwa harga
diri mereka tidak mau direndahkan oleh siapapun juga. Mahendra y g
tidak sependapat dengan apa yang terjadi itu benar-benar akan
meninggalkan tempat itu kembali ke istana. Dibiarkannya kedua orang
anak laki-lakinya menyelesaikan persoalan mereka. Apalagi Mahendra
sudah terlalu bia sa membiarkan anak-anaknya menyelesaikan persoalan
yang mereka hadapi. Bahkan termasuk persoalan yang rumit
sekalipun dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Apalagi persoalan yang
dihadapinya itu sekedar per soalan antara anak-anak muda. Itupun
tidak jelas ujung pangkalnya. Meskipun Mahendra sadar, bahwa
persoalan kecil itu akan dapat membengkak jika Lembu Atak meny eret
ayahnya kedalam persoalan itu. Apalagi jika ia menanggapinya tanpa
menilai kebenarannya lebih dahulu. Lembu Atak sejenak
termangu-mangu. Bahkan ia mengira bahwa Mahendra tentu akan
melaporkan peristiwa itu kepada para prajurit yang bertugas.
Karena itu, maka iapun segera berkata kepada kawan-kawannya ”Cegah
orang itu meninggalkan tempat ini.” Mahendra yang baru
melangkah satu dua langkah memang terkejut. Sebelum ada orang
yang mencegahnya ia sudah melangkah kembali sambil bertanya
”Kenapa aku tidak boleh pergi ?” “Kau akan melaporkan peristiwa ini
sehingga para prajurit akan mencegahnya” jawab Lembu Atak. ' “Tidak.
Aku akan membiarkan kalian meny elesaikan persoalan kalian sendiri.
Sudah aku katakan, aku tidak akan turut campur. Apapunyang terjadi.”
berkata Mahendra. Tetapi Lembu Atakmenyahut dengan kasar ”Persetan.
Kau harus melihat bagaimana anakmu akan menuai tanamannya sendiri.”
Mahendra yang sudah menjadi semakin tua itu menarik nafas
dalam-dalam. Sikap anak muda itu meny inggung perasaannya. Tetapi ia
masih menahan diri. Katanya ”Baiklah. Aku tidak akan pergi. Aku
akanmelihat, apa yang terjadi.” “Bagus” berkata Lembu Atak. Lalu
katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ”Marilah. Aku
persilah-kan kalian berdua bersiap. Aku akan menyelesaikan kalian
berdua ber sama-sama.- Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling
berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata ”Biarlah
aku sendiri yang akan turun ke arena melayanimu. Aku ingin
tahu, apakah seorang prajurit muda yang baru saja diwisuda memiliki
ilmu yang tinggi sehingga dengan sombongnya telah menantang
kami berdua bersama-sama, karena sebenarnyalah aku
sangatmeragukannya.” “Kau terlalu sombong untuk berani menghadapi
aku seorang diri.” geram Lembu Atak. Mahisa Pukat tidak menjawab
lagi. Tetapi iapun segera maju mendekati Lembu Atak yang
terheran-heran. Sikap Mahisa Pukat sangat menyakinkan. Tanpa
ragu-ragu sama sekali meskipun anak muda itu mengetahui, bahwa yang
dihadapirya adalah seorang prajurityang baru saja diwisuda.
“Bersiaplah, aku akan segera mulai” justru Mahisa Pukatlah yang
berkata. “Setan kau” geram Lembu Atak sambilmempersiapkan diri.
Mahisa Pukatlah yang kemudian meny erang Lembu Atak itu lebih
dahulu.Namun demikian serangannya terayun,maka timbullah kesadaran
didalam dirinya, bahwa tidak sepantasnya ia berbuat semena-mena
terhadap anakmuda itu. Karena itu, maka timbullah niat Mahisa Pukat
untuk menjajagi kemampuan lawannya lebih dahulu, serta timbul pula
niatnyauntuk sekedar meny esuaikan diri. Dengan demikian maka
perkelahian antara Mahisa Pukat dan Lembu Atak itupun telah mulai.
Keduanya masih berusaha untuk salingmenjajagi. Lembu Atak sebagai
seorang prajurit yang baru diwisuda setelah menempuh
pendadaran yang berat, merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan dari
orang kebanyakan. Sementara Mahisa Pukat adalah seorang yangmemang
telahy akin akan diriny a. Namun demikian, pada saat-saat
perkelahian itu dimulai, Mahisa Pukat justru mulai dapatmenguasai
dirinya. Meskipun ia tidak pernahmerendahkan lawanyang
bagaimanapun juga, namun Mahisa Pukat juga berniat untuk
mengendalikan dirinya apabila lawannya bukan seorang yang berilmu
tinggi. Sebenarnyalah lawannya adalah seorang anak muda yang
baru saja menempuh pendadaran dan dianggap mampu menyelesaikannya
dengan baik. Namun tidak lebih dari itu. Karena itu, maka Lembu Atak
sebenarnya sama sekali bukan lawan Mahisa Pukat. Mahendra mula-mula
menjadi cemas melihat keseimbangan ilmu kedua orang anak muda yang
sedang berkelahi itu. Meskipun Mahisa Pukat belum menunjukkan
kelebihannya, tetapi Mahendra sudah mengetahui tingkat kemajuan ilmu
anaknya. Namun Mahendra itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia
mulai y akin, bahwa Mahisa Pukat bukannya tidak mampu mengendalikan
dirinya, sehingga anak muda itu tidak bertempur dengan
sungguh-sungguh dan tidak pula mempergunakan ilmunya yang
tinggi. Namun bagi para prajurit muda itu, yang nampak oleh
mata mereka dalam keremangan malam adalah dua orang yang bertempur
dengan sengitnya. Keduanya salingmendesak dan salingmenghindar
sehingga keduanya berloncatan dengan tangkasnya. Para prajuritmuda
itu mengira bahwa kedua anakmuda itu telah bertempur dalam
keseimbangan kemampuan, karena ternyata untuk beberapa lamamasih
belum nampak, siapakah yangmulai terdesak dan kehilangan kesempatan.
Ketika keringat Lembu Atak telah membasahi pakaiannya, maka anak
muda yang baru saja diwisuda menjadi seorang prajurit itu
menjadi semakin gelisah. Kemarahannya seakanakan telahmenjalar
sampai kekepalanya. Namun lawannya itu masih belum mampu
dikuasainya. Bahkan semakin lama rasarasanya justru menjadi semakin
tangkas. Namun pertempuran itu sendiri memang tidak segera selesai.
Mahisa Pukat ternyata dengan sengaja tidak segera mengalahkan Lembu,
Atak meskipun hal itu dapat saja dilakukan. Perkelahian yang
nampaknya seimbang itu memang telah membuat Lembu Atak menjadi
letih. Dengan demikian kemampuannyapun justrumulaimenyusut.
Betapapun ia mengerahkan kemampuannya, namun lawannya masih saja
mampu mengimbanginya. Mahisa Murti dan Mahendra masih saja berdiri
termangumangu menyaksikan bagaimana Mahisa Pukat membiarkan lawannya
masih tetap berkelahi meskipun sebenarnya ia akan dapat dengan cepat
meny elesaikannya. Bahkan menghancurkan sama sekali. Lembu Atak
semakin lama menjadi semakin gelisah. Meskipun sekali dua kali ia
berhasil mengenainya, tetapi lawannya itu telah lebih dari lima
belas kali dikenai serangan Glagah Putih.Namun tidak dengan sepenuh
tenaga. Meskipun demikian serangan-serangan Mahisa Pukat itu telah
menyakitinya. Sedangkan serangan-serangan Lembu Atak yang mengenai
Mahisa Pukat seakan-akan tidak terasa olehnya. Kawan-kawan Lembu
Atak mula-mula masih saja menganggap keduanya berkelahi dalam
keadaan seimbang. Namun semakin lama merekapun mengetahui, bahwa
Lembu Atak berada dalam kesulitan. Mereka juga melihat bahwa
serangan-serangan Lembu Atak yang mengenai lawannya tidak seimbang
dengan serangan-serangan lawannya yang mengenainya. Apalagi ketika
kekuatan Lembu Atak mulai menyusut. Beberapa kali Lembu Atak
terdorong surut. Lembu Atak semakin gelisah pula mengalami kesulitan
yang nampaknya sulit untuk diatasi. Karena itu,maka selagi ia masih
belum kehabisan tenaga,maka ia harusmeny elamatkan harga dirinya.
Karena itu, maka diluar dugaan, tiba-tiba Lembu Atak itu berkata ”
Jangan biarkan anak iblis ini melarikan diri. Ia sudah berusaha
mencari kesempatan itu. Karena itu,maka kalian harus turun untuk
ikut menjaga agar anak itu tidak sempat lari. Awasi juga yang
seorang lagi serta ay ahnya sama sekali.” Kawan Lembu Atak itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sekali lg |gi Lembu Atak
berteriak ”Cepat. Jangan terlambat. Ma suklah ke arena” Beberapa
orang kawannya tidakmenunggu lagi. Merekapun dengan sertamerta turun
kearena. Lima orang bersama-sama, sementara itu empat orang yang
lain menjaga Mahisa Murti dan Mahendra agar tidakmelarikan diri.
Mahisa Pukat memang meloncat surut. Tetapi ia tidak melarikan diri.
Tetapi ia bergeser ketempatyang lebih luas. Mahisa Murti dan ay
ahnya bergeser menepi. Tetapimereka masih tetap berdiam diri
menghadapi segala kemungkinan. Namun sebelum keempat orang itu
berbuat sesuatu, keduanya sama sekali tidak berniat untuk mencampuri
perkelahian antara Mahisa Pukatmelawan enam orang prajuritmuda yang
baru saja diwisuda. Meskipun demikian Mahisa Murti telah
bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Ia tahu bahwa ilmu
Mahisa Pukat terlalu tinggi bagi para prajurit itu seorang demi
seorang. Namun menghadapi enam orang prajuritmuda yang baru lepa s
dari pendadaran tentu akan memaksa Mahisa Pukat untukmerambah ke
ilmu simpanannya. Apalagi seorang diri mengalahkan enam orang
prajurit muda sekaligus, tentu akan sangat menarik perhatian.
Terutama bagi para prajurit itu sendiri, sehingga akan
dapatmenumbuhkan ceritera yang bukan-bukan. Jika ceritera yang
bukan-bukan itu sampai ke telinga ay ah Lembu Atak, maka
persoalannyapun akan berkembang ke arahyang bukan-bukan.
Karena itu, maka Mahisa Murti tidak akan membiarkan Mahisa Pukat
meny elesaikan pertempuran itu seorang diri. Ia harus turun ke
arena.Namun Mahisa Murtimasih menunggu, apakahyang akan akan
terjadi. Sebenarnyalah Mahisa Pukat menjadi semakin marah ketika
enam orang prajurit bertempur bersama melawannya. Karena itu, maka
Mahisa Pukatpun telah bergerak semakin cepat. Seperti yang
diduga oleh Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat telah mempergunakan
tenaga cadangan di dalam dirinya. Dengan tenaga dalam itu, maka ia
menjadi semakin garang. Geraknya bertambah cepat dan kekuatannya
justru meningkat. Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Murti
telah melangkah maju sambil berkata ”Nah, biarlah aku ikut serta
dalam permainan ini.” “Aku dapat meny elesaikannya sendiri” berkata
Mahisa Pukat. Mahisa Murti tidak segera menyahut. Tetapi ia berusaha
untuk menembus kepungan para prajurit muda itu atas Mahisa Pukat.
Baru kemudian iapun berkata ”Kau bukan seorang Senapati prajurit
yang memiliki ilmu sangat tinggi. Kau tidak boleh bertempur
seorang diri” Namun kemudian Mahisa Murti berdesis lemah ”Kita tidak
sedangmenunjukkan bahwa kitamemiliki kelebihan.” Mahisa Pukat
sebenarnya justru menjadi kecewa karena ia tidak menyelesaikan
keenam orang itu seorang diri. Namun ia mulai tanggap maksud Mahisa
Murti. Sehingga karena itu maka iapun tidakmenolak. Mahendra
yang berdiri di luar arena menarik nafas dalamdalam. Ketika ia
melihat Mahisa Murtimemasuki arena,maka iapun segera tanggap pula.
Bahkan ia merasa bersy ukur, bahwa Mahisa Murti tidak membiarkan
Mahisa Pukat, tetapi pikirannyapun sejalan dengan pikiran Mahisa
Murti sekalipun mereka tidak salingmembicarakannya. Demikianlah,
maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur melawan keenam
orang prajurit muda yang baru sa ja diwisuda. Sementara itu
empat orang yang lain ju stru hanya termangu saja menyaksikan
kawan-kawannya bertempur. Bahkan merekapun seakan-akan tidak
teringat lagi, bahwa mereka harus mengawasi ay ah kedua orang anak
muda yang sedang bertempur itu. Lembu Atak yang menjadi sangat marah
itupun kemudian berkata lantang ”Kita tidak usah menaruh bela s ka
sihan kepada anak-anak yang sombong itu. Kita akan
menyelesaikannya danmembuatmereka menjadi jera. Bahkan mereka tidak
akan berani lagi menampakkan diriny a di Kotaraja ini, karena
Kotaraja ini tidak sama seperti hutan belukar sekitar padepokannya.”
Namun Lembu Atak ternyata harus melihat keny ataan. Meskipun mereka
berenam harus berkelahi melawan hanya dua orang, tetapi Lembu Atak
dan kawan-kawannya sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk
mengenai tubuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Lembu Atak sendiri
bersama kedua orang kawannya berkelahi melawan Mahisa Pukat,
sementara tiga orang yang lain melawan Mahisa Murti. Beberapa kali
Lembu Atak melihat kesempatan untuk menyerang Mahisa Pukat. Namun
serangannya ternyata tidak pernah dapatmengenainya, karena Mahisa
Pukat mampu mengelak lebih cepat dari serangan Lembu Atak. Demikian
pula kedua orang kawannya. Bahkan ketika ketiga orang itu menyerang
bersama-sama dari arahyang berbeda,mereka dapat kehilangan
lawanmereka, karena Mahisa Pukat telah meloncat tinggi-tinggi,
sekali berputar di udara, kemudian jatuh tegak pada kedua kakiny a
dibelakang Lembu Atak. Ketiga orang lawan Mahisa Pukatmemang
terkejut.Namun demikian Lembu Atak berputar, maka Mahisa Pukat telah
mempergunakan kesempatan itu. Dengan tangkasny a Mahisa
Pukatmelenting. Satu Kakinya telah melayang dan hinggap di dada
Lembu Atak. Lembu Atak terdorong beberapa langkah surut. Jika saja
kedua kawannya tidak membantunya menahan tubuhnya, maka Lembu Atak
tentu sudah jatuh. Lembu Atak itu menggeram. Kemarahannya sudah
sampai ke ubun-ubun. Namun ia tidak dapat mengelak dari keny ataan,
bahwa anak muda yang dihadapinya itu ternyata anak muda
yang memiliki ilmu yang lebih baik dari para prajurit muda
yang baru saja diwisuda setelah mereka menjalani
pendadaranyang cukup berat. Namun bertiga mereka ternyata tidak
dapat dengan segera mengalahkan anakmu da dari padepokan itu.
Meskipun demikian Lembu Atak yang dadanya menjadi sesak itu
masih belum mau tunduk kepada keny ataan yang dihadapinya itu.
Dengan lantang ia justru berteriak ”Jangan segan-segan bertindak.
Bukanlah ayahku seorang Senapati ? Jika terjadi sesuatu karena kita
melumpuhkan anak-anak itu, biarlah ayahku bertanggung jawab.”
Sebelum kawan-kawannya bergerak lagi, maka terdengar suara Mahisa
Pukat ”Nah, bukankah benar kata-kataku, bahwa Lembu Atak itu telah
bersandar pada jabatan ayahnya ? Bukan ber sandar pada
kepercayaannya kepada diri sendiri ?” “Persetan kau. Kau tidak
usahmencoba untukmeringankan bebanmu yang telah kau letakkan
dipundakmu sendiri.” geram Lembu Atakyang menjadi semakinmarah.
Tetapi Mahisa Pukat justru tertawa berkepanjangan. Demikianlah
perkelahian itu berlangsung semakin lama semakin sengit. Lembu Atak
dan kawan-kawannya telah mengerahkan segenap kemampuan mereka.
Tetapi setiap kali seorang diantara mereka telah terlempar keluar
dari arena. Bahkan salah seorang diantara para prajurit muda yang
bertempur melawan Mahisa Murti telah terdorong dan terlempar kedalam
parityang sedangmengalir di pinggir jalan di tengah bulak itu.
Namun kemudian disu sul oleh Lembu Atakyang bertempur melawan Mahisa
Pukat. Bukan saja jatuh kedalam parit yangmengalir, tetapi ia telah
terlempar kedalam lumpur di kotak sawahyang baru saja diairi.
Dengan demikian maka Lembu Atak benar-benar menjadi seperti orang
mabuk tuak. Sekali lagi ia berteriak kepada kawan-kawannya
yang masih menjagai Mahendra meskipun perhatian mereka
sepenuhnya tertuju kepada mereka yang sedang berkelahi ”Marilah
kalian berempat. Biarkan orang tua bangka itu melarikan diri. Jika
dua orang anaknya dapat kita tangkap dan kita seret ke barak, maka
kita akan dengan mudah dapat menangkap orang tua itu dan membawanya
sama sekali ke barak. Kita dapat mengerahkan anak-anak itu kepada
kawan-kawan kita untuk diadili.” “Apakah kau dan kawan-kawanmu
berhak mengadili seseorang ? Apalagi seseorang yang tidak
bersalah sama sekali ?” bertanya Mahisa Murti sambil berkelahi. Yang
menyahut adalah Mahisa Pukat ”Ayahnyapun tidak berhak karena ada
petugas tersendiri untuk mengadili seseorang.” “Koy
akkanmulutmereka” teriak Lembu Atak. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti
tidak menyahut lagi. Tetapi mereka telah mempersiapkan diri untuk
melawan masing-masing tidak hanya tiga orang. Tetapi lima orang.
Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin lama semakin
seru. Para prajuritmuda itupun telah mengerahkan kemampuan mereka
tanpa ragu -ragu lagi. Dengan kerasmereka meny erang dari segala
jurusan. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar licin
bagaikan belut. Mereka sama sekali tidak mampu rfieny entuh, apalagi
menyakiti dan menangkap keduanya. Meskipun sebenarnya keduanya tidak
ingin memamerkan kelebihan mereka, tetapi mereka tidak dapat
mengelak lagi, karena mereka harus mempertahankan diri mereka dari
serangan masing-masing lima orang. Dengan demikian, maka dengan
sendirinya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harusmenunjukkan kelebihan
mereka agar mereka dapatmelindungi dirimereka dari serangan-serangan
kelima orang lawanmereka. Betapapun kemarahan membakar jantung para
prajurit muda itu, namun mereka benar-benar tidak dapat mengingkari
keny ataan bahwa mereka berlima tidak mampu melawanmereka
seorang-seorang. Semakin lama mereka bertempur, maka semakin sering
Mahisa Murti dan Mahisa Pulkatmampu mengenai lawannya. Namun
sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah
harusmerambah ke dalam ilmunya. Betapapun juga melawan lima orang
prajurit muda yang baru saja mengalami pendadaran adalah satu
perlawanan yang sangat berat. Namun dengan mempergunakan tenaga
dalam serta memasuki kedalaman ilmunya, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat masih mampu mengatasi masing-masing lima orang lawan. Bahkan
beberapa saat kemudian, kelima orang lawan Mahisa Murti dan kelima
orang lawan Mahisa Pukat telah mulai kehilangan sebagian dari
kekuatannya. Ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat, serta
wajah mereka telah menjadi biru pengab,makamereka benar-benar
harusmelihat keny ataan. Beberapa kali Lembu Atak sendiri
terpelanting jatuh. Demikian pula kawan-kawannya. Bahkan seorang
diantara mereka yang berkelahi bersama Lembu Atak telah hampir
menjadi pingsan. Matanya berkunang-kunang dan duniapun rasa-rasanya
telah berputar dan berporos pada dirinya. Sehingga karena itu, ia
harus meny ingkir dari arena perkelahian dan duduk dipinggir, jalan
sambil memijit -mijit keningnya. Sementara itu seorang yang
bertempur melawan Mahisa Murti, telah mengaduh tertahan ketika tumit
Mahisa Murti itu mengenai bibirnya sehingga dari bibir itu telah
mengalir darah. Dengan demikian, maka para prajurit itu mulai
menjadi gelisah, justru karena keseimbangan perkelahian itu.
Betapapun mereka berusaha dengan mengerahkan kemampuan mereka, namun
para prajurit itulah yang selalu dikenai oleh serangan-serangan
Mahisa Murti ddpt Mahisa Pukat. Sementara itu Mahendra menyaksikan
perkelahian itu dengan jantung yang berdebaran. Bagaimanapun
juga segalanya telah terjadi. Bahwa para prajuritmuda itu menjadi
pengab di wajahnya bahkan bibir yang pecah dan berdarah, akan
berarti bahwa persoalan itu tentu akan berkepanjangan. Para pemimpin
kelompok atau para perwira atasan para prajuritmuda yang baru
saja diwisuda itu tentu akan bertanya, kenapa wajahmereka
menjadimerah biru. Namun apaboleh buat. Mahendra tentu tidak akan
dapat berdiam diri jika ayah Lembu Atak itu akan ikut campur.
Seperti yang diperhitungkan oleh Mahendra dan kedua orang anaknya,
maka para prajurit itu mulai menjadi raguragu untuk berkelahi terus.
Bahkan Lembu Atakpun mulai mengambil jarak dari Mahisa Pukat. Mahisa
Pukat dan Mahisa Murtipun mulai menahan diri. Ketika para prajurit
muda itu mulai menjauh, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak
lagimemburumereka. Dengan suara yang bergetar oleh kemarahan
yang membakar jantungnya Lembu Atakpun berkata ”Sayang, langit
mulaimenjadimerah, sehingga kami harus segera kembali ke barak. Jika
saja ada kesempatan, maka kalian bertiga akan kami seret ke barak.”
Ketika Mahisa Pukat akanmenjawab,maka Mahendra telah mendahuluinya
”Kenapa kita tidak melupakan saja apa yang terjadi ?” “Bagaimanapun
juga persoalan ini tidak dapat kami lupakan” sahut Lembu Atak ”aku
akan meny elesaikan kapan sa ja.” Mahendra hanya dapat menarik nafas
ketika Lembu Atak itu berkata kepada kawan-kawannya ”Kita maafkan
mereka kali ini. Kita harus segera kembali ke barak.” Sekali lagi
Mahendra harus berusaha meredakan gejolak perasaan Mahisa Pukat.
Karena itu, ketika Mahisa Pukat masih akan menjawab, Mahendra
berdesis ”Sudahlah. Diamlah.” Mahisa Pukat memang harusmenahan diri.
Tetapi ia tidak berbicara lagi. Sementara itu Lembu Atak telah
mengajak kawankawannya meninggalkan tempat itu. Namun suaranya masih
terasa menyakiti telinga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meskipun
mereka tidak menanggapinya karena Mahendra selalu mencegahnya.
Namun, demikian para prajurit muda itu pergi, Mahendra berkata ”Kau
kira bahwa persoalan ini akan mudah terselesaikan?” Tetapi Mahisa
Pukat menjawab ”Persoalan ini bukan persoalan antara para prajurit
muda dengan kita ay ah, tetapi persoalan ini adalah persoalan
anak-anakmuda.” “Aku tahu” jawab Mahendra ”apakah kau dapat
membedakan antara Mahisa Pukat dan Mahisa Pukat sebagai pemimpin
Padepokan Bajra Seta.” “Orangnya memang tidak ayah. Tetapi
persoalannya dapat. Aku y akin bahwa persoalan ini bukan per soalan
padepokan Bajra Seta” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi apakah Lembu Atak
akan dapat berbuat sebagaimana kau lakukan ?” bertanya ayahnya.
“Bukankah seharusny a Lembu Atak dapat menempatkan dirinya dan tidak
menyangkut kedudukannya ?” desis Mahisa Pukat pula. “Seandainya kau
mendapat kesulitan dengan alasan apapun juga, apakah para cantrik
dari Padepokan Bajra Seta tidak merasa ter sentuh pula ? Meskipun
katakan, bahwa per soalan yang kau hadapi bukan per soalan
Padepokanmu ?” sahut ay ahnya. Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Sebenarnya ia masih akan mengelak, karena ia mempunyai
sikap tersendiri. Tetapi ia tidak mau berbantah dengan ayahnya. Jika
ayahnya menjadimarah,maka persoalannya akan menjadi lain. Dalam pada
itu, maka Mahendrapun kemudian berkata ”Marilah. Kita pulang.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Mereka mengikuti saja
ayahnya yangmelangkah dengan cepat menuju ke Istana. Mahisa Murti
dan lebih-lebih Mahisa Pukat memang menyesal. Tingkah laku mereka
telah membuat ay ahnya yang sudah tua itu menjadi kesal. Karena itu,
maka keduanya sehari-harian hampir tidak berbuat apa-apa selain
dudukduduk diserambi sambil sekali-sekali masih berbincang tentang
sikapmereka. Namun Mahisa Murtipun kemudian berkata ”Sudahlah.
Mudah-mudahan tidak ada kelanjutan dari peristiwa ini.” “Tetapi ay
ah y akin, bahwa masih akan ada persoalan berikutnya” desis Mahisa
Pukat. Ketika mereka kemudian makan bersama ay ah mereka, meskipun
ayahnya nampaknya sudah tidak kesal lagi, namun masih ada juga beka
s-bekas persoalan yang terjadi diantara kedua anaknya dengan para
prajuritmuda itu. “Kita harus siap-siap menghadapi setiap
kemungkinan” berkata ayahnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak
menyahut. Mereka justru menunduk dalam-dalam. Tetapi mereka berharap
bahwa persoalannya tidak lagi berkepanjangan. Namun ternyata bahwa
dugaan Mahendra itu benar-benar terjadimenjelang senja. Wajah
Mahendra menegang. Sambil mengusap keningnya yang basah oleh
keringat,maka iapun berkata ”Raden. Kenapa persoalannya menjadi
berlarut-larut. Sudah tentu kami tidak akan berani melawan Raden.
Apalagi Raden adalah seorang prajurit. Meskipun Raden tidak
bertindak atas nama kedudukan Raden, namun Raden tetap seorang
Senapati.” “Sudah aku katakan, jangan hiraukan siapa aku” jawab
Raden Sawungtuwuh. “Tetapi Raden, ada dua hal yang ingin aku
sampaikan kepada Raden. Pertama, Raden telah bertindak dengan
tergesa -gesa setelah mendengar laporan anak laki-laki Raden
sehingga dengan demikian Raden tidak berusaha melihat kebenaran dari
laporan itu. Kedua, aku mohon Raden menilai kembali keputusan Raden
itu dalam hubungannya dengan nama baik kesatuan Raden sendiri.”
Wajah Raden Sawungtuwuh itu menjadi tegang. Namun katanya ”Kau
jangan terlalu banyak bicara. Aku sudah menentukan satu sikap
sehingga apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab” “Apa
artinya tanggung jawab, Raden ? Jika Raden telah ikut merusak nama
baik kesatuan Raden sendiri, justru Raden adalah seorang Senapati ?
Ketika anak laki-laki Raden melakukan satu kesalahan yang dapat
merusak citra kesatuannya, maka aku masih berpengharapan bahwa Raden
akan dapat meluruskannya sebagai pimpinan kesatuan itu. Tetapi
ketika Raden juga melakukannya, maka aku menjadi semakin cemas.”
“Cukup” potong Raden Sawungtuwuh ”sekarang katakan, aku akan
menghukum anak-anakmu. Apakah kau akan melindungimereka atau tidak
?” “Aku akan memberikan laporan kepada Tumenggung Wreda yang
mungkin akan dapat memberikan jalan keluar dari persoalan ini.”
berkata Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tidak sabar
terhadap sikap ay ahnya. Namun mereka harusmenahan diri. Mereka
telah membuat ay ahnya kecewa dan mereka meny esal karenanya. Karena
itu maka mereka lebih baik berdiam diri menunggu apa yang hendak
dilakukan oleh ay ahnya itu. Raden Sawungtuwuh memang harus berpikir
ulang mendengar bahwa Mahendra akan memberikan laporan kepada
Tumenggung Wreda, Panglima prajurityang berada di Kotaraja,
termasuk kesatuan Raden Sawungtuwuh. Namun kemudian Raden
Sawungtuwuh itu berkata ”Dalam hal ini aku tidak berurusan dengan
Tumenggung Wreda, karena persoalannya adalah per soalan pribadi.”
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Sawungtuwuh
berkata selanjutnya ”Sudahlah. Kita selesaikan per soalan ini
diantara kita. Aku dengar kau mempunyai kedudukanyang penting
didalam istana meskipun belum terlalu lama. Jika kau seorang Pelay
an Dalam, maka kaupun termasuk seorang Pelay an Dalam yang sudah
berkedudukan tinggi karena menurut pengakuan anakanakmu kau sering
dibawa berbincang oleh Sri Maharaja sendiri. Jika kau tidak membual
tentang hal itu, maka aku anggap bahwa kaupun tentu memiliki tataran
keperwiraan seorang prajurit. Karena itu, aku berharap bahwa kau
dapat ber sikap jantan. Kita masing-masing tidak perlu membawa orang
lainmaupun kedudukanmereka dalam hal ini.” Mahendra menarik nafas
dalam-dalam. Sementara ia masih termangu-mangu, Raden Sawungtuwuh
itupun berkata ”Sudahlah. Aku minta diri. Lewat wayah sepi bocah,
aku tunggu kau dibulak yang semalam kau pergunakan untuk
beramai-ramai menyamun anakku meskipun bukan berupa harta benda,
tetapi harga dirinya.” Mahendra memang tidak mempunyai kesempatan
untuk menjawab. Raden Sawungtuwuh dan seorang pengawalnya telah
bangkit dan meninggalkan tempat tinggal Mahendra di bagian belakang
istana itu. Mahendra termangu-mangu sejenak. Ia tidak diberi
kesempatan untukmemilihmenghadapi Raden Sawungtuwuh. Dengan nada
dalam ia berkata kepada kedua orang anaknya ”Kita harus hadir.
Tetapi aku akan mencoba untuk melunakkan hatinya.” Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat tidakmenjawabmeskipun sebenarnya ia tidak sependapat
dengan sikap ayahnya yang terlalu lunak itu. Namun ketiga orang itu
terkejut, karena demikian mereka duduk kembali, mereka melihat
seseorang yang mendekati serambi. Ketika Mahendra kemudian meny
ongsongnya, ternyata orang itu adalah Raden KudaWereng. “Raden”
desis Mahendra. “Aku sudah tahu segala -galanya” desis Arya Kuda
Cemani yang juga disebut Raden KudaWereng itu. Mahendra tertawa
kecil. Katanya ”Aku percaya, karena Raden adalah seorang Senapati
dari prajurit sandi Singasari.” “Ah, kau” desis Arya Kuda Cemani.
“Marilah, silahkan Raden.” Mahendra mempersilahkan Arya Kuda Cemani
itupun kemudian duduk bersama Mahendra dan kedua anaknya. Katanya
kemudian ”Anakanakku telah memberi tahukan kepadaku apa yang
telah terjadi dirumahku. Aku memang sangat meny esal. Aku terlambat
melerai perkelahian di bulak itu. Nampaknya Ki Mahendra juga tidak
berhasil mencegahnya. Namun jsutru karena itu, maka aku telah
menyaksikan seluruhnya apa yang terjadi kemudian.” Mahendra menarik
nafas panjang. Katanya ”Aku memang tidak berhasil mencegahnya,
Raden. Kedua orang anakku ternyata juga keraskepala.” “Mereka juga
anak-anakmuda” desis Raden KudaWereng. “Aku memang menjadi bingung.
Apakah yang sebaiknya aku lakukan. Raden Sawungtuwuh juga
tidak mau mendengarkan keteranganku tentang anaknya.” sahut
Mahendra. “Menurut pendapatku, sebaiknya kalian datang ketempat yang
disebut oleh Raden Sawungtuwuh. Aku akan menjadi saksi apa yang
terjadi. Menurut pendapatku, Raden Sawungtuwuh adalah seorang yang
berpegang teguh pada harga dirinya. Karena itu, maka demikian harga
dirinya tersinggung menurut dongeng anaknya, maka ia langsung
menanggapinya tanpa diteliti lebih dahulu.” “Tetapi apakah Raden
Sawungtuwuh tidak akan mendendam jika kami berusaha
untukmempertahankan diri. ?” bertanya Mahendra. “Aku kira justru
tidak,” jawab Arya Kuda Cemani ”jika Raden Sawungtuwuh itu
kalah,maka ia akan mengaku kalah.” “Mudah-mudahan ia masih tetap
pada sikapnya itu.” desis Mahendra sambilmemandang kedua anaknya
berganti-ganti. Kedua orang anaknya itu tidak berkata apapun juga.
Mereka telahmeny erahkan segala sesuatunya kepada ayahnya. Jika
datang perintah bagi mereka, maka mereka akan melakukannya. Dalam
pada itu maka Arya Kuda Cemani itupun berkata “Baiklah. Aku minta
diri. Aku akan hadir ditempat itu justru setelah kalian mulai dengan
permainan yang mengasikkan itu.” Demikianlah, maka sepeninggal Arya
Kuda Cemani, maka Mahendra itupun kemudian berkata ”Marilah. Kita
bersiapsiap. Sebentar lagi kita akan pergi ke bulak itu. Bukankah
Raden Sawungtuwuh minta agar saat sepi bocah kita sudah ada di bulak
itu ?” Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun mengangguk. Dengan nada
rendah Mahisa Murti berkata ”Apakah ayah benar-benar akan melayani
Raden Sawungtuwuh ?” ”Maksudmu ?” bertanya Mahendra. “Ayah sudah
terlalu tua untukmelayani Senapati itu” desis Mahisa Pukat pula.
“Apakah kalian merasa mampu untuk melayaninya ?” bertanya ayahnya
dengan ragu-ragu. “Persoalan ini adalah per soalan kami” jawab
Mahisa Pukat ”karena itu serahkan saja -kepada kami.” Mahendra
menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Senapati itu tentu akanmerasa
tersinggung.” Mahendra termangu-mangu.Namun katanya kemudian “Tetapi
aku minta kalian melakukannya ber sama -sama. Maksudku, apapun
yang terjadi, kalian akan melayaninya berdua. Dengan demikian,
maka kita sudah mencoba untuk menghormatinya.” Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa
Murtilahyang mengangguk sambil menjawab ”Baik ay ah. Kami akan
melakukannya berdua. Mudah-mudahan dengan demikian Raden Sawungtuwuh
itu tidak ter singgung karenanya.” Mahendra mengangguk kecil
sambilmenjawab ”Bagus. Jika demikian, marilah. Kita akan pergi ke
bulak itu. Kita akan sampai ke bulak itu sesaat sebelum wayah sepi
bocah. Biarlah kita menunggu kedatangan Raden Sawungtuwuh itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun segera berkemas. Sejenak kemudian,
maka mereka bertigapun telah meninggalkan tempat tinggal Mahendra di
bagian belakang istana itu. Kepada petugas diregol belakang istana
Mahendra mengatakan, bahwa mereka akan pergi kesebuah peralatan
kecil di rumah seorang sahabatnya. Sebenarnyalah, ketika mereka
sampai dibulak, saatnya memang sudah mendekatiwayah sepi bocah.
Karena itu,maka mereka tidak menunggu terlalu lama. Beberapa saat
kemudian,maka Raden Sawungtuwuh dan Lembu Atak telah berada ditempat
itu pula. “Ternyata kalian cukup jantan”, desis Raden Sawungtuwuh.
“Tidak Raden” jawab Mahendra ”aku hanya ingin menjelaskan karena
tadi ketika Raden datang ke tempat tinggalku, ada yangmasih belum
sempat aku jelaskan.” “Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi” jawab
Raden Sawungtuwuh dengan nada datar. “Sekarang disini ada angger
Lembu Atak. Raden dapat bertanya kepada angger Lembu Atak,
apakahyang telah terjadi sebenarnya disini.” berkata Mahendra.
Namun dengan serta merta Lembu Atak berkata ”Keteranganku tidak
berubah meskipun aku harus mengulanginya seribu kali. Apakah kau
mengira bahwa aku telah berbohong ? Bukankah kalian menyaksikan apa
yang terjadi bahkan mengalaminya sendiri ? Yang aku sampaikan kepada
ayah adalah sebagaimana terjadi. Sebagaimana kalian alami itu.”
Mahendra menarik nafas panjang. Agaknya memang tidak ada pilihan
lain baginya dan bagi kedua orang anaknya. Namun ia masih mencoba
bertanya ”Tetapi apakah yang kami saksikan dan bahkan yang kami
alami menurut laporanmu kepada Raden Sawungtuwuh sama dengan apa
yang kami saksikan dan kami alami? Seandainya kau bersedia
mengulangi apa yang pernah kau laporkan itu dan sama benar
seperti yang kami saksikan dan kami alami, maka kami
benarbenar akanmintamaaf.” Namun sikap Lembu Atak benar-benar licik
”Ayah. Orangorang ini agaknya ingin memutar balikkan kenyataan yang
terjadi di bulak ini semalam.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam
ketika Raden Sawungtuwuh berkata ”Sudahlah. Jangan banyak berbicara
lagi. Aku akan menghukum kedua orang anakmu. Terserah kepadamu,
apakah kau akan melindunginya atau tidak. Jika kau akan
melindunginya, biarlah anakmu meny ingkir dan kau akan turun ke
arena. Tetapi jika kau merasa terlalu tua,maka kau dapat minta kedua
anakmu membantumu. Bukankah hal itu sudah aku katakan kepadamu?”
Namun jawaban Mahendramemangmengejutkan. Katanya ”Baiklah Raden.
Jika kedua anakku memang ber salah, hukumlah. Aku tidak
akanmelindunginya karena apapun yang akan aku lakukan tidak akan
berarti apa -apa.” “Jadi kau akan membiarkan anakmu menerima hukuman
itu tanpa berbuat sesuatu?” bertanya Raden Sawurigtuwuh. “Aku memang
tidak dapat berbuat sesuatu” jawab Mahendra. “Baiklah” geram Raden
Sawungtuwuh ”jika demikian, aku benar-benar akan menghukum
anak-anakmu, Jika keduanya laki-laki, maka mereka tentu akan
mengakui kesalahan dan menerima hukuman itu.” “Jadi apa yang harus
kami lakukan?” bertanya Mahisa Pukat tiba -tiba. “Masih terbuka
kesempatan baik. Minta maaf kepada Lembu Atak” jawab Sawungtuwuh.
“Kami tidak mau. Dan karena kami tidak bersalah, maka kamipun
tidakmau dihukum” jawab Mahisa Pukat tegas. “Mahendra” berkata Raden
Sawungtuwuh ”apa katamu tentang anak-anakmu itu.” “Sudah aku
katakan. Aku tidak akan melindunginya. Lakukan apa yang Raden ingin
lakukan atas mereka” jawab Mahendra. “Bagus” geram Raden Sawungtuwuh
”nampaknya kalian telah sepakat untuk mempermainkan aku. Bersiaplah.
Aku akan membuat kalianmenjadi jera.” Namun Mahisa Pukat masih
menjawab ”Tetapi ingat Raden. Sudah aku katakan bahwa aku tidak mau
dihukum dan tidak pula bersedia untukminta maaf.” Raden Sawungtuwuh
tidakmenjawab. Namun iapun segera bergeser dan bersiap
untukmenyerang. Lembu Atak memang menjadi tegang. Tetapi ia terlalu
yakin akan kemampuan ay ahnya, seorang Tumenggung dan menjabat
sebagai seorang Senopati prajurit yang disegani di Singasari.
Seperti juga dugaan ayahnya, maka Lembu Atakpun menganggap bahwa
pekerjaan ayahnya itu akan dengan segera selesai. Seperti
direncanakan oleh ayahnya, maka ayahnya akan menguasai kedua orang
anak Mahendra itu dan memaksanya untukmohon maafkepada Lembu Atak.
Dengan paksa dan jika perlu menyakitinya,maka keduanya tentu akan
melakukannya meskipun dengan terpaksa. Bahkan jika ay ahnya juga
ikut campur,maka ay ahnyapun akan dipaksanya minta maaf pula bukan
saja kepada Lembu Atak, tetapi juga kepada Raden Sawungtuwuh itu
sendiri. Dengan gerak sederhana Senapati yang berpengaruh itu
mulaimemancing bertempuran. Meskipun sebenarnya Raden Sawungtuwuh
sendiri merasa bahwa tidak sepantasnya ia bertempur dengan anak-anak
yangmasih ingusan itu karena ia seorang Senapati prajurit Singasari.
Namun anak-anak itu sangatmenjengkelkan, bahkan juga ayahnya. Karena
itu,maka mereka memang perlu mendapat sedikit hukuman agar menjadi
jera. Tetapi Raden Sawungtuwuh ikut terkejut melihat bagaimana kedua
orang anakmuda itu bergeser. Mereka tidak segera terpancing dalam
satu perkelahian. Namun keduanya justru bergeser menyamping. Mahisa
Murti yang tidak banyak berbicara itulah yang kemudian
telah menjulurkan tangannya kearah Raden Sawungtuwuh. Nampaknya,
anak muda itupun tidak bersungguh-sungguh, sebagaimana dilakukan
oleh Raden Sawungtuwuh. “Anak-anak ini memang keras kepala” geram
Raden Sawungtuwuh. Lalu katanya ”Kalian memang harusmendapat
hukumanyang lebih berat dari yang aku rencanakan.” Namun Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan tidak mempedulikannya sama
sekali. Sikap keduanya bahkan nampak meyakinkan dan siap menghadapi
segala kemungkinan. Raden Sawungtuwuh memang tidak sabar lagi.
Jantungnya telah berdetak semakin cepat. Sebagai seorang
Senapati,maka ia tidakmau menjadi bahan permainan anak-anak. “Mereka
benar-benar tidak menyadari, dengan siapa mereka sedang berhadapan”
berkata Senapati itu kepada diri sendiri. Meskipun demikian, melihat
sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Raden Sawungtuwuh memang sudah
menduga, bahwa serba sedikit keduanya tentumemiliki kemampuan. Namun
justru karena itu, maka Raden Sawung tuwuh seorang Senapati prajurit
Singasari yang sudah mempunyai nama dikalangannya ingin segera
menghentikan perlawanan kedua orang anak itu. Dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya Raden Sawungtuwuh ingin menguasai dan memaksa
keduanya untukminta maaf. Jika perlu denganmenyakitinya. Karena itu,
maka tiba -tiba saja Raden Sawungtuwuh itu telah bersiap untuk
sekali loncat, kedua anak muda itu akan terbanting jatuh.
Sayang bahwa sebelumnya Raden Sawungtuwuh belum pernah
mendengar nama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Berbeda dengan Raden
Sawungtuwuh, Arya Kuda Cemani tahu pasti, seberapa tingkat kemampuan
kedua orang anak muda itu. Dengan pengamatannya yang tajam, maka
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat, bahwa Raden Sawungtuwuh telah
ber siap untuk menghentakkan kemampuannya dan sekali
gerak,menghentikan perkelahian itu. Karena itu, keduanyapun segera
bersiap. Mereka tidak ingin dengan serta merta ditundukkan oleh
Senapati itu betapapun tinggi ilmunya. Mahendra memperhatikan kedua
anaknya dan Raden Sawungtuwuh itu berganti-ganti. Namun orang tua
itu menarik nafas dalam-dalam, karena ia tahu, bahwa Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat tanggap akan sikap lawannya. Dengan demikian ketika
Raden Sawungtuwuh itu meloncat sambil mengayunkan tangannya dengan
kecepatan yang hampir tidak kasat mata, maka ia terkejut bukan
buatan. Ia berniat untuk dengan ayunan tangannya itu menghentikan
perlawanan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi ternyata tangannya
tidak meny entuh sasaran sama sekali. Satu pun dari keduanya tidak
sempat dijangkaunya dengan ay unan tangannya itu. Ketika kemudian
Raden Sawungtuwuh itu berdiri tegak memandang kedua lawannya, maka
dilihatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmasih berdiri tegak dan
bersiap sepenuhnya untukmenghadapi segala kemungkinan. Raden
Sawungtuwuh mengangguk-angguk kecil. Dengan nada geram ia berkata
”Jadi dengan modal kecepatan gerak itukah kalian sudah berani
menghina anakku ? Anak seorang Senapati ?” “Ternyata Raden telah
melupakan kesediaan Raden melepas baju SenapatiRaden.” desisMahisa
Murti. “Bagus anakyang sombong. Tetapi janganmeny esal, bahwa
karena ini maka aku akan meningkatkan kemampuan ilmuku, sehingga
sentuhan tanganku akan menjadi semakin berbahaya bagi kalian.” geram
Raden Sawung tuwuh. Mahisa Pukat justru menjadi tidak telaten.
Dengan nada rendah ia berkata ”Marilah Raden. Kami sudah siap
melayani Raden. Meskipun seandainya Raden tidak sekedar meningkatkan
ilmu Raden. Tetapi seandainya sampai kepuncak ilmu sekalipun. “Kau
jangan mengigau. Seandainya kau sadar akan katakatamu itu, maka kau
tentu akan menyesal sepanjang hidupmu.” geram Raden Sawungtuwuh.
“Aku sadar sesadar -sadarnya. Karena itu kami sudah siap
untukmenghadapi Raden apapun akibatnya. Kami berpegang pada satu
pendirian, bahwa kami tidak pernah melakukan kesalahan.” jawab
Mahisa Pukat. Raden Sawungtuwuh tidak dapatmenahan kemarahannya.
Tiba -tiba saja ia telahmeloncatmeny erang. Tidak lagi sekedar
bermain-main. Tetapi Raden Sawungtuwuh telah bersungguhsungguh.
Namun sekali lagi ia terkejut. Kedua anakmuda itu dengan tangkas
telah menghindari serangan-serangannya. Keduanya berloncat dengan
kecepatan yang mampu mengimbangi kecepatan gerak Raden Sawungtuwuh.
Namun dengan demikian kedua anakmuda itu justru telah membakar
jantung Raden Sawungtuwuh yang tidak menduga bahwa ia telah
berhadapan dengan anakmuda yang ternyata memiliki
kemampuanyang jauh diatasdugaannya. Karena itu, maka Raden
Sawungtuwuhpun telah melupakan dengan siapa ia berhadapan. Jika
semula ia hanya ingin sekedar menghukum anak-anak muda yang
dianggap telah menghina anaknya, namun kemudian ternyata ia telah
mendapatkan lawan yangmampu mengimbangi ilmunya yang justru telah
semakin ditingkatkan. Bahkan akhirnya Raden Sawungtuwuhpun lupa,
untuk apa dan dengan siapa ia bertempur. Sehingga karena itu, maka
ilmunya menjadi semakin lama semakinmeningkat pula. Mahendra menarik
nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba sa ja, iapun telah ber siap dan
bergeser selangkah. Namun kemudian ia menarik nafas panjang ketika
ia melihat orang yang tiba -tiba saja berada disampingnya. “Kau
membuat aku terkejut Raden” desis Mahendra. Raden Kuda Wereng
terseny um. Katanya ”Ternyata Ki Mahendra memiliki pendengaran
yang sangat tajam. Ki Mahendra mengetahui bahwa aku dengan
sangat berhati-hatimelangkah mendekat.” “Hanya kebetulan”
desisMahendra. Arya Kuda Cemani yang juga disebut Raden Kuda
Wereng itu menarik nafas dalam-dalam. Senapati yang hampir
selalu berpakaian hitam itu memperhatikan pertempuran itu sambil
berdesis ”Aku sudahmenduga.” “Menduga apa ?” bertanya Mahendra. Arya
Kuda Cemani tersenyum. Katanya ”Aku sudah menduga, bahwa Raden
Sawungtuwuh akan mengalami kesulitan jika ia berniat untuk menghukum
kedua orang anak Ki Mahendra. Tetapi ini akan merupakan satu
pelajaran bagi Raden Sawungtuwuh, seorang Senopati yang
memiliki pengaruh yang cukup besar di Singasari.” Mahendra menarik
nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab. Sementara itu
pertempuran antara Raden Sawungtuwuh melawan Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat tidak lagi mengesankan pertempuran antara seorang yang
ingin menghukum yang lain, karena pertempuran itu nampaknya masih
saja seimbang. Bahkan Raden Sawungtuwuh telah meningkatkan pula
ilmunya sehingga hampir sampai kepuncak kemampuannya. Tetapi Mahisa
Murti dan Mahisa Pukatmasih saja mampu mengimbanginya. Justru
keduanya nampak menjadi semakin tangkas dan sigap. Keduanya
berloncatan seperti anak-anak kijang direrumputan hijau. Sementara
Raden Sawungtuwuh bertempur, Lembu Atak berdiri termangu-mangu.
Namun iapun melihat, bahwa ay ahnya tidak segera dapat menguasai
kedua orang anak muda itu. Sehingga karena itu, maka jantungnya ju
stru menjadi semakin berdebaran. Raden Sawungtuwuh sendiri menjadi
gelisah. Ia mulai meragukan laporan anaknya, bahwa ia telah
berkelahi melawan kedua orang anakmuda itu dan bahkan dibantu oleh
ay ahnya pula. Menurut perhitungannya, jangankan melawan kedua orang
anakmuda itu. Kemampuan anaknya masih jauh lebih rendah dari
kemampuan salah seorang darimereka. Tetapi Raden Sawungtuwuh itu
sudah terlanjur bertempur melawan kedua orang anak muda itu. Bahkan
ia telah meningkatkan ilmunya hampir sampai kepuncak. Namun kedua
orang anak muda itu masih saja mampu mengimbanginya. Kegelisahannya
semakin berubah ketika ia melihat Arya Kuda Cemani ada ditempat itu
pula. Seakan-akan Senapati dari pa sukan sandi itu sengaja datang
untuk melihat, bagaimana ia telah dipermainkan oleh dua orang
anakmuda. Namun kehadiran Arya Kuda Cemani itu ternyata mempunyai
akibat tersendiri. Raden Sawungtuwuh tidakmau kehilangan harga
diriny a dihadapan Arya Kuda Cemani. Apalagi lawannya tidak lebih
dari dua orang anakmuda yang semula hanya berselisih dengan anaknya.
Karena itulah maka Raden Sawungtuwuh telah bertekad untuk
mengalahkan kedua lawannya itu meskipun ia bukan sa ja meningkatkan
ilmunya sampai kepuncak, tetapi jika perlu justrumerambah sampai
keilmu andalannya. Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin
lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak benar -benar telah
bertempur dengan sungguh-sungguh. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun
menyadari, bahwa Raden Sawungtuwuh tidak mau begitu saja mereka
kalahkan. Namun kedua anakmuda yang telah menguasai berbagai
ilmu serta memiliki pengalaman yang luas itu tidak berniat
untuk kalah atau bahkan harus dihukum tanpa melakukan kesalahan.
Namun yang terjadi kemudian, adalah pertempuran antara dua
pihakyang berilmu tinggi. Raden Sawungtuwuh yang gelisah
itu kemudian masih sempat memperingatkan Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Dengan lantang ia berkata ”Anak-anak muda. Kali ini aku
memberikan kesempatan terakhir. Selanjutnya, aku tidak tahu apakah
akibatnya jika aku terpaksa benar -benar bertempur sebagaimana aku
ingin menundukkan lawan tanpa banyak pertimbangan. Karena menurut
penilaianku kalian benarbenar telah menempatkan diri sebagai lawan
yang sebenarnya.” “Maaf Raden” jawab Mahisa Murti ”sebenarnyalah hal
ini kami lakukan, karena kami tidakmau diperlakukan tidak adil. Kami
ingin mempertahankan kebenaran yang kami yakini. Bahkan aku
ingin memperingatkan, bahwa seharusnya Raden juga berbuat
sebagaimana kami lakukan.” Terasa telinga Raden Sawungtuwuh menjadi
panas. Karena itu katanya ”Aku tidak mau mendengar sesorah
kanak-kanak.” Tetapi Mahisa Pukatmasih juga menyahut ”Sayang Raden.
Kedudukan Raden justru telah dikaburkan oleh kenakalan anak Raden.
Sementara Raden sama sekali tidakmeneliti lebih jauh apakah ia
berkata benar atau tidak.” Raden Sawungtuwuh tidakmenjawab.Namun
tiba-t iba saja telah meloncatmeny erang dengan garangnya. Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Ia melihat Raden Sawungtuwuh itu
telah menelangkupkan kedua telapak tangannya. Baru kemudian kedua
tangannya itu menyambarnyambar. Namun yang terasa adalah udara panas
yang bagaikan dihampurkan dari kedua telapak tangan itu. Yang
terkejut bukan hanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mahendra dan
Raden KudaWerengpun terkejut. “Kenapa dengan Raden Sawungtuwuh itu”
desis Raden Kuda Wereng dengan dahi yang berkerut ”ia tidak
pernah kehilangan pengendalian dirinya. Tetapi menghadapi Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat rasa-rasanya ia tidak lagi sempat menilai
langkah-langkahyang diambilnya.” “Mudah-mudahan sikap yang
diambilnya tidak membuat kedua orang anakku juga kehilangan kendali”
desis Mahendra. Namun mereka yang ada di luar arena itupun ikut
merasakan sentuhan udara panasyang berhamburan disekitar Raden
Sawungtuwuhyang marah itu. Ternyata sikap Raden Sawungtuwuh. itu
telah menimbulkan kesan tersendiri bagi Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat, sebagaimana kesan pada Mahendra yang berdiri diluar
arena. Bahkan Arya Kuda Cemanipun berdesis perlahan sekali ”Raden.
Sawungtuwuh memang seorang Senapati yang ber sikap jantan menghadapi
keny ataan seperti kali ini.” “Mudah-mudahan anak-anakku tanggap”
desisMahen-dra. Dalam pada itu,maka Lembu Atak itupun telah
mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Meskipun sendat terdengar
anak muda itu berkata ”Aku minta maaf kepada kalian. Aku memang
berbohong kepada ayah.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling
berpandangan sejenak. Namun kemudian terdengar Mahisa Murtimenjawab
”Baiklah. Kami memaafkan kalian. Mudah-mudahan hal seperti ini tidak
akan terulang lagi.” Lembu Atak hanya menunduk saja. Sementara
Mahisa Pukatmenyambung ”Katakan kepada kawan-kawanmu, bahwa tindakan
mereka kurang bertanggung jawab sebagaimana kau lakukan. Apalagi kau
dan kawan-kawanmu adalah prajurit.” “Akumengerti” jawab Lembu Atak.
Raden Sawungtuwuh yang mendengarnya berkata ”Berapa orang kawanmu
yang bersamamu semalam?” Lembu Atak masih saja ragu-ragu.
Tetapi ayahnya mendesak ”Berapa orang?” ”Sepuluh orang ayah.” jawab
Lembu Atak yang tidak dapat mengelak lagi. Raden Sawungtuwuh
mengangguk-angguk. Katanya ”Nah, agaknya aku baru percaya. Setelah
aku mengalaminya langsung bertempur melawan keduanya, maka kemampuan
mereka tidak dapat diperbandingkan dengan kemampuan kalian. Nanti,
demikian kita sampai di barak, aku akan berbicara dengan kau
danmereka.” Lembu Atak tidak berani membantah. Kepalanya justru
menunduk dalam-dalam. Namun ia sudah membayangkan hukuman yang akan
diterimanya di barak nanti. Meskipun sepuluh orang akan
mengalaminya, namun karena ia yang bertanggung jawab, maka beban
terberat tentu akan dipikulnya. Sementara itu Raden Sawungtuwuh
berkata ”anak-anak muda. Aku akan membawa anakku kembali ke barak.
Kalian ternyata memang tidak bersalah.” Namun Mahisa Murtimasih
menjawab ”Kami juga mohon maaf Raden, karena kami telah
mempergunakan ilmu yang kami kuasai untuk mencoba meredam kemarahan
Raden.” “Aku mengerti anak-anak muda. Tetapi kalian memang berhak
mempergunakannya karena aku juga sudah merambah ke ilmu andalanku“
jawab Raden Sawungtuwuh. Lalu katanya pula ”Akupun merasa bahwa
kekuatan dan kemampuanku telah menyusut. Untunglah bahwa aku segera
menyadari bahwa aku tidak akan mampu melawan ilmu kalian berdua,
sehingga aku segera membebaskan diri dari pertempuran itu.” “Kami
tidakmempunyai pilihan lain” desis Mahisa Murti. “Tetapi aku kira,
dalam satu dua hari, segala-galanya akan menjadi baik lagi. Bukankah
begitu?” bertanya Raden Sawungtuwuh dengan tanpa ragu-ragu. “Ya
Raden. Besok semuanya akan pulih kembali.” jawab Mahisa Murti.
“Mudah-mudahan sebelum itu aku tidak dikirim ke medan perang
dimanapun juga.” berkata Raden Sawungtuwuh pula. Yang menjawab
adalah Arya Kuda Cemani ”Kebetulan Singasari tidak sedang berperang
melawan negeri manapun juga Raden.” “Tetapi bukankah kita sedang
diprihatinkan oleh sebagian prajurit Kediri yang tidak patuh
kepada Sri Baginda di Kediri? Sehingga kelompok-kelompok prajurit
itu seringmembuat kita sibukmengatasinya” sahut Raden Sawungtuwuh.
Arya Kuda .Cemanimengangguk kecil. Katanya ” Iy a. Tetapi saat ini
tidak ada rencana untuk melakukan langkah keprajuritan. Baru saja
sepa sukan prajurit Singasari ikut mengatasi pemberontakan prajurit
Kediri yang jumlahnya cukup besar. Namun dengan bantuan
Padepokan Bajra Seta yang dipimpin oleh angger Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat, pa sukan Kediri itu dapat dijinakkan.” “Siapakah
pemimpin Padepokan Bajra Seta itu?” bertanya Raden Sawungtuwuh.
“Kedua orang anakmuda ini” jawabArya Kuda Cemani. Raden Sawungtuwuh
mengangguk-angguk. Katanya ”Aku pernah mendengar nama Padepokan
Bajra Seta. Bukankah padepokan yang telah mendapat anugerah
pengetahuan tentang pembuatan senjata itu sehingga orang-orang
padepokan itumampumelakukannya?” “Ya. Kedua orang anak muda inilah
pemimpinnya” jawab Arya Kuda Cemani. Raden Sawungtuwuh
mengangguk-angguk. Katanya ”Pantas keduanya memiliki ilmu yang
sangat tinggi. Namun aku tidak mengira bahwa pimpinan Padepokan
Bajra Seta itu masih demikian muda. Apakah bukan Ki Mahendra yang
pantasmemegang kendali kepemimpinan Padepokan itu?” Mahendra
menggeleng. Jawabnya ”Tidak. Merekalah yang mendirikan,
mengurus dan memeliharanya sehingga keberadaannya diakui oleh Sri
Maharaja”. Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah.
Sekali lagi aku minta maaf. Aku akan menyelesaikan persoalan kedalam
atas prajurit-prajuritku.” Demikianlah maka Raden Sawungtuwuh telah
mengajak anaknya untuk kembali ke barak. Namun Lembu Atak yang
terpaksa mengakui bahwa ia telah berbohong, semakin dekat dengan
barak pasukannya menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar, bahwa
ayahnya tentu akanmenghukumnya lebih dari kawan-kawannya yang
terlibat dalam perkelahian itu. Sementara itu, Arya Kuda Cemani yang
masih berdiri termangu-mangu ditempatnya bersama Mahendra, kemudian
telah berkata ”Ia memang seorang Senapatiyang jujur.Namun
sifat dan watak anaknya justru jauh berbeda.” “Kenapa dapat terjadi
seperti itu ?” bertanya Mahendra. Arya Kuda Cemanimenggeleng.
Katanya ”Entahlah. Tetapi anak-anakkupun kadang-kadang mempunyai
tingkah laku yang tidak aku mengerti. Mereka tidak mampu dengan
cepat menangkap ilmu yang diberikan, kepadanya. Bahwa keduanya
dapat diwisuda menjadi seorang prajurit benar-benar telah
membesarkan hatiku. Namun niatku semula mereka akan aku beri bekal
yang cukup dari sebuah perguruan sebelum mereka memasuki
lingkungan keprajuritan.” “Tetapi dilingkungan keprajuritan ilmu
mereka akan meningkat pula” berkata Mahendra. “Ya. Meningkat secara
umum dan khususny a untuk kepentingan gelar perang bagi satu
pasukan. Tetapi secara pribadi akan lebih baik jika mereka mempunyai
bekal yang cukup.” jawabArya Kuda Cemani. “Tetapi apakah setelah
mereka menjadi prajurit, mereka tidak dapat berlatih secara khusus
dibawah tuntunan seorang guru ?” bertanyaMahendra pula. “Memang
mungkin, dengan ijin khusus” jawab Arya Kuda Cemani. Lalu katanya
pula ”Aku terpaksa menempuh cara itu. Aku sendiri yang akan
membimbing mereka untuk beberapa lama. Baru kemudian akan aku
serahkan kepada orang lain.” Mahendra mengangguk-angguk.Namun
kemudian katanya ”Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan Raden
menyaksikan peristiwa yang baru saja terjadi. Mudahmudahan
tidak akan terulang lagi. Apalagi anak-anakku akan segera kembali ke
Padepokan Bajra Seta.” “Kapan mereka akan kembali ?” bertanya Arya
Kuda Cemani. Mahendra tidak dapat segera menjawab. Namun iapun
bertanya kepada kedua anaknya ”Kapan kalian akan kembali ke
Padepokan ?” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan.
Namun kemudian Mahisa Murti menjawab ”Kami memang berdua,.... ....
dialog terputus tapi dari bukunya emang gitu...... .... justru
karena kedua orang anakku sendiri tidak dapat berbuat sebagaimana
dapat kalian lakukan.” Dengan hormat kedua orang anak muda itu
mengangguk. Yang menjawab adalah justru Mahisa Pukat ”Ya Raden. Kami
tentu tidak akan berkeberatan berkunjung kerumah Raden. Kami justru
berbangga terhadap Kuda Semedi dan Kuda Semeni yang dengan
jujur telah memberitahukan rencana Lembu Atak. Kamipun telah
memenuhi pesannya untuk mengambil jalan lain. Namun ternyata bahwa
Lembu Atak sempat mengikuti langkah kami dan mencegat kami ditempat
ini.” “Ya. Aku tidak menghukum mereka karena mereka berkata terus
terang kepadaku, sehingga aku sempatmenyusul kemari demikian para
tamu pergi. Tetapi aku terlambatmeskipun aku masih sempatmelihat
sebagian dari peristiwa itu sendiri.” “Baiklah” berkata Mahendra
”malam telah sampai ke dini. Sebaiknya kita pulang. Kapan-kapan aku
akan berkunjung kerumah Raden.” “Terima kasih” jawab Arya Kuda
Cemani ”aku selalu mengharap kesediaan kalian untuk datang
kerumahku.” Demikianlah, maka Mahendra dan kedua anaknyapun segera
beranjak dari tempatnya. Sementara itu Arya Kuda Cemani pun
melangkah pula kearah yang berbeda. Namun ketika Mahendra
berpaling, maka iapun menggamit kedua orang anaknya ”Orang itu telah
hilang. Kita tidak tahu kemana orang itu pergi.” Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak mengatakan
apa-apa karena mereka takut jika kata-kata mereka didengar oleh
orang yang dianggap dapat melenyapkan diri itu. Namun ketika mereka
sudah memasuki lingkungan istana barulah Mahisa Murti berkata
”Pakaian Arya Kuda Cemani membantunya untuk melenyapkan diri didalam
gelapnyamalam.” “Tetapi seseorang memang pernah memiliki Aji
Panglimunan.” berkata Mahendra. Kedua orang anaknya
mengangguk-angguk, sementara Mahendra berkata selanjutnya ”Sayang,
bahwa kedua anaknya ternyata terlalu lamban. Atau ayahnyalah
yang tidak sabar melihat berkembangan kemampuan anak-anaknya
sehingga ia menganggap bahwa kedua anaknya tidak memiliki ketajaman
dan kecerdasan nalar budi sebagaimana ayahnya.” “Memang mungkin
ayah” sahut Mahisa Murti ”ayahnya terlalu cepat ingin melihat
anaknya berhasil, sehingga tidak mau mengingat kemampuan nalar
budiny a. Akibatnya memang dapat sebagaimana ayah katakan itu.”
Mahendra mengangguk-angguk.Namun katanya kemudian demikian mereka
sampai dirumah dan telah mencuci tangan dan kaki ”Beristirahatlah
disisamalam ini.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab.
Keduanyapun telah pergi ke pembaringan mereka meskipun keduanya
ternyata tidak dapat segera tertidur. Namun keduanya saling berdiam
diri karena keduanya asy ik dengan angan-angannyamasing-masing.
Ternyata dihari berikutnya, baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat
sama sekali tidak menyinggung lagi tentang rencana mereka untuk
kembali ke Padepokan. Seakan-akan mereka telah melupakannya,
sementara Mahendrapun tidak menanyakannya pula. Dihari-hari
selanjutnya, keduanya memang sering berkunjungan kerumah Arya Kuda
Cemani. Kadang-kadang dengan Mahendra. Namun jika hari-hari Kuda
Semedi dan Kuda Semeni ada dirumah, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat telah datang berdua saja untuk mengunjungi kedua orang
prajuritmuda itu. Namun dengan demikian hubungan Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat dengan Sa si menjadi semakin dekat. Sa si yang terbiasa
tinggal dirumah saja, merasa bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah menghilangkan kesepiannya jika kedua anakmuda itu berkunjung
kerumahnya ada atau tidak ada kedua orang kakaknya. Ternyata Arya
Kuda Cemani dan isterinya sama sekali tidak berkeberatanmelihat
pergaulan anak-anaknya dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan
saja Kuda Semedi dan Kuda Semeni, tetapi juga Sasi yang
terbiasa tinggal didalam rumah sa ja. Bahkan ketika hubungan Sasi
dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmenjadi semakin akrab. Namun
dalam pada itu, Mahendralah yang ju stru menjadi gelisah. Sebagai
seorang ayah ia dapat merasakan denyut jantung kedua anak
laki-lakinya. Tetapi rasa -rasanya sudah terlambat. Mahendra melihat
betapa kedua anak laki-lakinya sangat memperhatikan gadis sahabatnya
itu. Jika keduanya berdalih mencari Kuda Semedi dan Kuda Semeni
dirumahnya, maka Mahendrapun tahu, bahwa sebenarnya mereka ingin
bertemu dengan Sasi, karena Kuda Semedi dan Kuda Semeni lebih banyak
berada di baraknya daripada dirumahnya. Tetapi untuk sementara
Mahendra memang tidak dapat berbuat sesuatu. Ia harus mey akinkan
dugaannya. Baru kemudian ia akan memanggil kedua orang anaknya untuk
membicarakan hubungan mereka dengan anak Arya Kuda Cemani itu.
Bahkan didalam hati Mahendra juga meny esalkan kesempatan yang
seakan-akan sengaja diberikan oleh Arya Kuda Cemani. “Mudah-mudahan
hanya sekedar kecemasan seorang tua yang tidakmendasar” berkata
Mahendra kepada diri sendiri. Tetapi jantung Mahendra menjadi
berdebar-debar ketika pada suatu senja, Arya Kuda Cemani itu
datangmenemuinya. Nampaknya memang ada per soalan yang penting
yang ingin dikatakannya kepada Mahendra, karena Arya Kuda
Cemani itu sama sekali tidak menanyakan kedua anak Mahendra.
Biasanya keduanya dipanggilnya untuk bersamasama berbincang. Ketika
Arya Kuda Cemanimulai berbicara dengan sungguhsungguh, maka
Mahendrapun mendengarkannya dengan sungguh-sungguh pula. “Ki
Mahendra” berkata Arya Kuda Cemani ”aku tidak tahu, apakah
pantasatau tidak, bahwa hal ini aku katakan kepada Ki Mahendra.
Namun aku berniat baik, sehingga karena itu, aku telah
mengkesampingkan apakah hal itu pantasatau tidak.” Mahendra menarik
nafas dalam-dalam. Ia sudah mulai meraba, bahwa yang akan
dibicarakan oleh Arya Kuda Cemani adalah persoalan kedua anaknya
dalam hubungannya dengan anak perempuan Arya Kuda Cemani itu. “Ki
Mahendra” berkata Arya Kuda Cemani ”aku sebenarnyalah merasa senang,
bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sering datang kerumahku.
Kadang-kadang mereka dapat bertemu dengan Kuda Semedi dan Kuda
Semeni, tetapi kadang-kadang tidak. Namun karena dirumah ada Sasi,
maka tentu ada orang yang dapatmenemui mereka. Akupun sama
sekali tidak berkeberatan bahwa keduanya sering datang kerumah di
saat-saat yang pantas sebagaimana kunjungan kedua anak Ki Mahendra
kerumahku.” Mahendra mengangguk-angguk. Sementara Arya Kuda Cemani
nampakmenjadi ragu-ragu untuk berkata selanjutnya Namun Mahendra
dengan sengaja berdiam diri. Ia menunggu, apapun yang akan
dikatakan oleh Arya Kuda Cemani. Karena Mahendra berdiam diri saja,
maka Arya Kuda Cemani itupun berkata selanjutnya ”Namun ada satu hal
yang ingin aku sampaikan kepada Ki Mahendra. Justru yang
sering berkunjung ke rumahku itu anak Ki Mahendra berdua. Bagiku
keduanya sama-sama baik, sama-sama berilmu tinggi dan katakan,
keduanya hampir tidak dapat dibedakan. Namun justru karena itulah
aku menjadi khawatir. Ju stru karena keduanya yang hampir tidak
dapat dibedakan itu serta sikap mereka yang hampir tidak dapat
dibedakan terhadap Sa si.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam.
Ternyata apa yang diduganya adalah benar. Bukan hanya dirinya
sajalah yang menjadi cemas, tetapi ternyata Arya Kuda Cemani menjadi
cemaspula. Namun dalam pada itu Arya Kuda Cemani itu berkata ”Tetapi
sebenarnyalah aku tidak tahu, perasaan apakah yang tersimpah di hati
anak-anak muda itu. Mungkin yang aku cemaskan itu sama sekali tidak
beralasan.” Mahendra mengangguk-angguk kecil. Ia dapat mengerti
sepenuhnya alasan Arya Kuda Cemani, bahwa ia telah datang
menemuinya. Sebagai orang tua Arya Kuda Cemani ingin jalan yang
dilewati anaknya dapat rancak dan tidak ter sendatsendat karena
hambatanyang datang kemudian. Tetapi Arya Kuda Cemani telah
mengatakan bahwa ia tidak tahu pa sti perasaan apakah yang
sebenarnya tersimpan didalam hati anak-anakmuda itu. Bahkan Arya
Kuda Cemanipun kemudian berkata ”Aku justru cemas, bahwa perasaanku
ini tidak lebih dari kesombongan yang tidak beralasan sama
sekali, seolah-olah keluargaku adalah pusat dari segala perhatian.”
“Tidak Raden” jawab Mahendra ”aku mengerti sepenuhnya kegelisahan
Raden. Sikap hati-hati seorang ay ah bukan sikap yang salahmenurut
pendapatku.” “Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian Ki
Mahendra. Aku mohon maaf jika apa yang aku katakan itu
menyinggung perasaan Ki Mahendra. Apalagi anak-anak Ki Mahendra.”
berkata Arya Kuda Cemani kemudian. “Baiklah Raden” berkata Mahendra
kemudian ”aku akan membantu Raden sejauh dapat aku lakukan atas
anakanakku.” Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Dengan hati-hati ia
memberikan sedikit gambaran sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
terhadap keluarganya. Bahkan serba sedikit anak-anaknya, Kuda Semedi
dan Kuda Semeni juga pernah menyinggung hubungan adikny a dengan
kedua anak Ki Mahendra itu. “Sudahlah” berkata Arya Kuda Cemani
kemudian ”aku percaya kepada Ki Mahendra, namun perlu aku jelaskan
bahwa aku sama sekali tidak berkeberatan untuk menerima kedua anak
Ki Mahendra itu datang kerumahku. Dan terusterang akupun tidak
berkeberatan jika hubungan itu berlangsung terus. Yang justru aku
sampaikan kepada Ki Mahendra adalah, bahwa keluargaku tidak
dapatmembedakan antara keduanya.” “Akumengerti sepenuhnya Raden”
sahut Mahendra. Demikianlah, maka Arya Kuda Cemani itupun kemudian
telah minta diri. Sementara itu sepeninggal tamunya, maka Mahendra
semakin dililit oleh per soalan kedua orang anak laki-lakinya.
Tetapi ternyata bahwa Mahendra masih belum dapat berbicara langsung
dengan kedua orang anaknya. Ia masih menunggu saat yang paling
tepat,meskipun ia sadar, bahwa ia harus segera meny elesaikan per
soalan itu. Bahkan Mahendra merasa bahwa ia sudah terlambat. Namun
dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti, yang lebih banyak
mempergunakan penalarannya dari Mahisa Pukat, merasa bahwa
hubungannya dengan Sa si memang agal janggal. Sikapny a terhadap
gadis itu tidak berbeda dengan sikap Mahisa Pukat, sehingga akan
dapat menimbulkan persoalan dikemudian hari. Sadar akan kemungkinan
itu, maka Mahisa Murtimulai berpikir untukmencari jalan keluar.
Betapapun gejolak perasaannya, namun Mahisa Murti masih ingin tetap
berdiri diatas nalarnya. Karena itulah, maka justru sebelum ayahnya
mempersoalkan hubungan mereka dengan Sasi, maka Mahisa Murti telah
berbicara dengan Mahisa Pukatmeskipun Mahisa Murti berusaha untuk
mempergunakan bahasa yang lain dari persoalanyang sebenarnya.
Kedatangan Arya Kuda Cemani kerumah ayahnya dan berbicara secara
khusus telah memberikan tekanan kepada niatnya untuk keluar dari
lingkaran yang akan dapat menjeratnya ber samaMahisa Pukat. Ketika
ia mendapat kesempatan, maka Mahisa Murti itupun dengan
sungguh-sungguh telah berkata kepada Mahisa Pukat ”Kita sudah
terlalu lama berada di Singasari. Sebelum kita berangkat, kita sudah
berjanji kepada seisi Padepokan, bahwa kita tidak akan terlalu lama
meninggalkanmereka.” Mahisa Pukat mengerutkan dahinya. Katanya
”Bukankah mereka sejak kita berangkat sudah menganggap bahwa kita
tidak akan dapat segera kembali? Mereka sudah memperkirakan bahwa
kita akan berada di Singasari agak lama.” “Tidak” jawab Mahisa Murti
”menurut perhitunganmereka, kita tidak akan terlalu lama di
Singasari. Tetapi kita akan justru lama diperjalanan.” “Bukankah
akibatnya sama saja” jawab Mahisa Pukat. Mahisa Murtimenarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Tetapi sebaiknya kita segera kembali ke
Padepokan. Bukankah sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai
pimpinan Padepokan bahwa kita sebaiknya selalu ada
ditengah-tengahmereka?” “Ya. Kita akan selalu berada di
tengah-tengah mereka. Tetapi apa salahnya bahwa sekali-sekali kita
berhak untuk meninggalkan Padepokan?” Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Ia tahu benar alasan Mahisa Pukat kenapa ia tidak
segera mau kembali. Menurut gejolak perasaannya, iapun ingin lebih
lama lagi berada di Singasari. Tetapi Mahisa Murti sadar, semakin
lama mereka berada di Singasari, maka belitan persoalan dalam
hubungannya dengan Sa si akan semakin kuat melilit mereka berdua
sehingga sulit untukmengurai kembali. Namun ternyata bahwa Mahisa
Pukat tidak ingin segera meningggalkan Singasari. Mahendra menarik
nafas panjang. Didalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada
Mahisa Murti yang telah membantunya memecahkan persoalan yang
baginya cukup sulit. Namun dalam pada itu, Mahendrapun bertanya
”Kapan kau akan kembali ke Padepokan B ajra Seeta?” “Segera ayah.
Dua atau tiga hari ini.” jawab Mahisa Murti. Mahendra
mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat nampak gelisah. Ia
seakan-akan berdiri dipersimpangan jalan. Ra sa -rasanyamemang sulit
untukmengambil sikap. Apakah ia akan ikut Mahisa Murti kembali ke
Padepokan atau ia akan tetap tinggal di Singasari. Namun keputusan
Mahisa Murti yang pa sti bahwa ia akan kembali seorang diri ke
Padepokan Bajra Seta atau bersama ber sama dengan satu dua orang
prajurit sebagai kawan berbincang telah membantu Mahisa Pukat untuk
mengambil keputusan. Demikianlah maka Mahisa Murtipun dihari
berikutnya telah mulai berbenah diri. Sementara Mahendra yang
mendapat kesempatan berbicara tanpa kehadiran Mahisa Pukat telah
bertanya berterus terang, apakah alasan yang mendorongnya untuk
meninggalkan Mahisa Pukat di Singasari. Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata ”Aku kira ay ah dapat
menangkap perasaanku. Aku dan Mahisa Pukat telah memasuki sebuah
taman yang sama. Karena itu, maka salah seorang diantaara kami
memang harusmenarik diri jika kami tidak ingin saling berbenturan.”
“Aku harus mengucapkan terima kasih atas sikapmu itu Murti. Ternyata
bahwa kau benar-benar telah berpikir dewasa. Namun itu bukan berarti
bahwa kau untuk selanjutnya akan jauh dari seorang perempuan. Karena
telah menjadi garis kehidupan, bahwa seorang laki-laki akan menjadi
sisihan dari seorang perempuan.” “Aku mengerti ayah” jawab Mahisa
Murti ”pada suatu saat tentu akan datang waktunya. Aku harus
berusaha menghapus beka syang tergores dalam sekilas waktu didalam
hidupku ini.” Mahendra telah menepuk bahu anaknya sambil berkata
”Aku yakin bahwa kebesaran jiwamu akan dapat mengatasi kesulitan
perasaanmu.” “Aku mohon restu ayah.” desis Mahisa Murti kemudian.
“Baiklah. Dalam tiga hari ini aku akan minta tiga orang prajurit
yang akan menemanimu dalam perjalanan kembali ke padepokan Bajra
Seta.” berkata ay ahnya. Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi ia
mengangguk kecil. Namun di wajahnya membayang perasaannya yang
tertikam. Mahendra tidak dapat berbuat sesuatu. Namun sebagai
seorang ayah ia tahu, betapa Mahisa Murti telah berusaha
untukmengatasi gejolak perasaannya. Ketika Mahendra kemudian
meninggalkan Mahisa Murti untuk berbicara dengan Panglima Pa sukan
Pengawal agar menugaskan tiga orang prajurit yang dapatmenemani
Mahisa Murti di perjalanan, maka Mahisa Pukat telah berbicara dengan
Mahisa Murti tentang gadis anak Arya Kuda Cemani itu. Ternyata
Mahisa Pukat terlalu sibukmemandang ke dirinya sendiri dalam
hubungannya dengan Sasi, sehingga ia tidak dapatmembaca gejolak
perasaan Mahisa Murti. Karena itu, maka Mahisa Pukat itupun justru
telah minta kepada Mahisa Murti” Sebelum kau kembali ke Padepokan,
tolong aku Murti.” “Apa yang dapat aku bantu?” bertanya Mahisa
Murti. “Kau tentu tahu hubunganku dengan Sasi” desis Mahisa Pukat
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Ya. Aku tahu.
Hubunganmu dengan Sasi telah mengarah pada satu hubungan yang akrab
antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.” ”Kau benar” jawab
Mahisa Pukat ”namun seperti kau ketahui bahwa aku bukanlah seorang
yang dapat mengemukakan perasaanku. Aku lebih berani memasuki
lingkaran api pertempuran daripada harus berbicara kepada seorang
gadis tentang persoalanyang rumit itu.” “Tetapi bukankah kau
sudah sering berbincang dengan Sasi? Atau katakan bahwa hubunganmu
telah menjadi semakin akrab di saat-saat terakhir ini?” bertanya
Mahisa Murti. “Ya. Tetapi yang kami bicarakan adalah soal-soal yang
tidak ada hubungannya dengan gejolak perasaanku. Bukan persoalan
antara seorang laki-laki dan seorang perempuan” jawab MahisaPukat.
“Lalu apa maksudmu dengan pertolonganku?” bertanya Mahisa Murti
kemudian. Mahisa Pukat memang menjadi ragu-ragu. Namun betapapun
berat lidahnya Mahisa Pukat berkata ”Mahisa Murti. Bukankah kau juga
telah bersahabat dengan Sasi? Aku lihat, kaupun sering
berbincang-bincang dan bahkan bergurau dengan gadis itu. Karena itu
maka aku kira kau akan dapat menolongku, menyatakan perasaanku
kepadanya. Aku kira kau tahu yang akumaksudkan.” Jantung Mahisa
Murti serasa semakin cepat dan semakin keras berdentang didalam
dadanya.Hatinya telah terasa pedih bahwa ia harus menekan
perasaannya sendiri dan memberi kesempatan kepada Mahisa Pukat.
Namun ternyata Mahisa Pukat justru minta kepadanya untuk
menyampaikan perasaannya kepada gadis itu. Untuk beberapa saat
Mahisa Murti bagaikan membeku meskipun terasa darahnya semakin cepat
mengalir diseluruh jalur-jalur pembuluh darahnya. Namun dengan
sekuat tenaga Mahisa Murti menahan gejolak perasaannya itu agar
tidak ditangkap oleh adiknya. Dengan demikian maka kesan itu memang
tidak nampak diwajahnya. Denganmenahan hati iapun kemudian menjawab
”Mahisa Pukat. Sebagaimana kau ketahui, sampai saat ini aku jarang
berhubungan dengan seorang gadis. Seperti kau akupun tidak tahu,
bagaimana harusmengatakan kepada Sasi. Selama ini aku berbicara dan
bahkan bergurau sebagaimana aku berbicara dan bergurau dengan
siapapun yang kita kenal. Tanpa menghiraukan apakah ia laki-laki
atau perempuan. Sudah tentu dengan batas-batas kewajaran. Karena
itu, aku ragu-ragu, apakah aku akan dapatmelakukannya.” Mahisa Pukat
justru mendesaknya ”Tetapi tentu ada bedanya jika kau berbicara bagi
orang lain. Seandainya aku memaksa diri untuk mengatakannya, mungkin
akan terucapkan pula. Tetapi jika gadis itu menolak,maka aku akan
kehilangan harga diriku dihadapannya. Tetapi aku akan sempat
mengatur perasaanku jika hal itu aku dengar dari orang lain, tidak
langsung darimulut Sasi.” Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam.
Agaknya ia tidak dapat mengelak lagi. Jika ia tetap menolak, maka
perasaan Mahisa Pukat tentu akan tersinggung. Karena itu betapapun
pahitnya, maka Mahisa Murtipun berkata ”Baiklah Pukat. Aku akan
mencoba untuk mengatakannya kepada Sasi. Namun demikian aku ingin
bertanya kepadamu, apakah kau sudah berpikir masak-masak ? Bukankah
belum cukup lama kau berkenalan dengan gadis itu ?Apakah perasaan
yang tersangkut dihatimu itu sudah kau timbang baik dan buruknya ?
Kau bentangkan dan kau gulung kembali.” Mahisa Pukatmenarik nafas
dalam-dalam. Namun katanya kemudian. ”Sudah. Aku sudah memikirkannya
masak-masak. Sudah tentu aku berharap bahwa kaupun akan segera
mendapatkan pasangan bagi hidupmu, sehingga aku tidak harus
mendahuluimu. Apa salahnya jika kita pada satu saat ber sama-sama
memasuki satu jenjang baru dalam tataran kehidupan kita.” Mahisa
Murti mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tetapi ia masih berusaha
untukmenekan perasaannya yang bergejolak semakin cepat.
“Baiklah Pukat” berkata Mahisa Murti kemudian ”sebelum aku kembali
ke Padepokan Bajra Seta, aku akan menemui dan berbicara dengan Sa
si.” “Terima kasih.” desis Mahisa Pukat ”jika satu saat kau
mengalami kesulitan seperti aku sekarang ini, maka aku tentu akan
menolongmu sebagaimana kau menolong aku sekarang.” Mahisa Murti
menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan inginmengendapkan perasaannya
yang bergejolak. Namun ternyata kemudian Mahisa Murti tidak dapat
membawa beban perasaannya itu seorang diri. Ketika ia mendapat
kesempatan, maka Mahisa Murtipun telah menyatakannya kepada
Mahendra, ayahnya. Mahendra ternyata ter sentuh pula hatinya. Tetapi
ia tidak dapat mencegah Mahisa Pukat. Sehingga karena itu yang
dilakukan oleh Mahendra kemudian adalah membesarkan hati Mahisa
Murti. “Aku percaya bahwa kau akan mampu melakukannya” berkata
Mahendra sambilmenepuk pundak anaknya. Mahisa Murtimengangguk kecil.
Sementara itu Mahendra berkata selanjutnya ”Asal semuanya itu kau
lakukan dengan ikhlas, maka kau tentu akan dapat meletakkan,
sekurang-kurangnya mengurangi beban perasaanmu itu.” “Ya ayah” jawab
Mahisa Murti ”aku akan mencobanya.” Dengan demikian, maka Mahisa
Murtipun berusaha untuk menemui Sasi tanpa Mahisa Pukat sebelum ia
meninggalkan Singasari dan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Ternyata
ketika Mahisa Murti pergi kerumah Arya Kuda Cemani seorang diri,
maka keluarga Sasi merasakan kejanggalan itu. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat seakan-akan tidak pernah berpisah sama sekali. Bukan
saja dirumah, mengunjungi kawan-kawannya, bertamu dan bahkan di
medan-medan pertempuran. Namun sambil tersenyum Mahisa Murti berkata
sebelum Sasi bertanya ”Mahisa Pukat sedang sakit. Tidak terlalu
berat. Kepalanya sajalah yang sedang pening. Ayah sudah
memberikan obat untuknya. Nanti sore ia tentu sudah sembuh.”
“Sokurlah” sahut Sa si, yang kemudian mempersilahkan Mahisa
Murti untuk duduk di serambi gandok. “Ayah sedang tidak ada” berkata
Sasi ”kakang Kuda Semedi dan Kakang Kuda Semeni ada di baraknya.”
“Jadi hanya ibu dan para pembantu saja yang ada dirumah ?”
bertanya Mahisa Murti. “Ya” jawab Sasi ”atau barangkali kau
mempunyai keperluan dengan ayah ?” “Tidak. Tidak. Aku hanya datang
seperti bia sa. Berkunjung” jawab Mahisa Murti dengan sertameita.
Ketika Sa si masuk untuk mengambil minuman, ibunya memang bertanya
kenapaMahisa Murti hanya sendiri saja. “Mahisa Pukat sedang sakit
ibu ?” jawab Sa si. “Sokurlah” desis ibunya. ” Kenapa sokur ?”
bertanya Sasi. “Maksudku bukan karena sebab lain” sahut ibunya.
”Bukan justru karena Mahisa Pukat sakit.” ..... kayaknya ada alenia
yg ga tercetak dibuku aslinya ..... Sasi menjadi gelisah. Wajahnya
nampak menjadi merah. Sementara sikapnyapun terasa kurangmapan.
Karena itu, maka Mahisa Murlipun berkata ”Baiklah Sasi. Aku tidak
dapat memaksamu untuk menjawab pertanyaanku atas nama Mahisa Pukat.
Karena itu, biarlah aku minta diri. Kau dapat mengatur perasaanmu
lebih dahulu. Apalagi persoalan ini bukan persoalan untuk sehari dua
hari. Tetapi untuk selama-lamanya. Jika kau tergesa -gesa mengambil
keputusan dan akhirnya keputusan itu ternyata salah, maka kau akan
meny esal untuk waktu yang berkepanjangan. Karena itu,
pikirkan masak-masak. Mungkin besok atau nantimalam aku datang lagi
untuk minta diri kepada keluargamu bahwa aku akan segera
meninggalkan Singasari. Kau tidak usah memberi jawaban kepadaku
dengan kata-kata. Tetapi kau cukupmemberikan isyarat. Jika isyarat
itu cukupmey akinkan, maka ayahpun akan segerameny elesaikannya.”
Sasi mengusap keringat dikeningnya. Kegelisahannya telah memeras
keringatnya. Bukan saja keningnya menjadi basah, tetapi seluruh
tubuhnyamenjadi basah oleh keringat. Mahisa Murti tidak menunggu
terlalu lama. Iapun segera minta diri sambil berkata ”Aku akan
datang lagi untukminta diri” Sepeninggal Mahisa Murti,maka Sasi
benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak tahu, apa yang harus
dilakukannya. Ia tidak tahu, apakah ia mendengar pernyataan itu dari
Mahisa Pukat atau Mahisa Murti sendiri. Baginy a kedua-duanya
memiliki banyak per samaan. Ternyata orang tua Sasi membaca
kegelisahan perasaan anak gadisny a. Tetapi mereka tidak dapat
segera bertanya langsung tentang kegelisahan itu. Arya Kuda Cemani
ketika pulang dari tugasnya, telah diberitahukan apa yang terjadi
dengan Sasi Sambil menarik nafas dalam-dalam Arya Kuda Cemani itu
berdesis ”Apakah ju stru terjadi salah paham, sehingga kedua anak
muda itu telah saling mendahului untuk menyatakan perasaannya ?”
Ketika ayahnya melihat anak gadisnya merenung sendiri didckat sumur
dan bersandar pada dinding pakiwan, Arya Cemani mendekatinya sambil
bertanya ”Kenapa kau nampak gelisah, Sasi ?” Sasi hanya menunduk
saja. Namun ayahnya mendesaknya ”Apakah tadi Mahisa Murti datang
kemari ?” Sasi hanya menunduk saja. Namun ayahnya mendesaknya
”Apakah tadi Mahisa Murti datang kemari ?” Sasi tidak dapat
berbohong. Karena itu,maka gadis itupun menganggukkan kepalanya.
“Apa yang dikatakannya ?” bertanya ayahnya. Sasi termangu-mangu.
Namun kemudian iapun menjawab ” Ia akan datang lagi nanti ayah. Ia
akan minta diri kembali ke- Padepokannya.” “Kenapa sendiri ?”
bertanya ayahnya pula. Sasi tertegun sejenak. Namun kemudian iapun
menjawab pula ”Hanya Mahisa Murti yang akan kembali ke
Padepokannya. Mahisa Pukat masih akan tinggal beberapa lama lagi di
Kotaraja.” Arya Kuda Cemani menarik nafas dalam-dalam. Ia justru
merasa cemas, bahwa apa yang dikatakannya kepada Mahendra akan
dapat menimbulkan salah paham kepada kedua orang anaknya sehingga
hubungan kedua orang ber saudara itumenjadi retak. Tetapi Arya Kuda
Cemani tidak bertanya lebih jauh. Ia justru bertanya kepada dirinya
sendiri, apakah kata-katanya yang diucapkan kepada Mahendra waktu
itu terlalu kasar ? Atau ada sebab lain sehingga Mahisa Murti harus
kembali kepadepokannya. Yang dapat dilakukan oleh Arya Kuda Cemani
hanya menunggu.Nanti, Mahisa Murti akan datang lagi. Sebenarnyalah
lewat senja Mahisa Murti telah datang lagi kerumah Arya Kuda Cemani.
Tidak sendiri, tetapi bersama ay ahnya, Mahendra. Kedatangannya
telah disambut oleh Arya Kuda Cemani sendiri yangmempersilahkannya
duduk dipringgitan. Seperti telah dikatakan oleh Sasi, maka Mahendra
juga mengatakan bahwa dalam waktu dekat Mahisa Murti akan kembali ke
Padepokan Bajra Seta. “Anak-anakku telah terlalu lama meninggalkan
padepokan itu. Para cantrik akan dapatmenjadi gelisah karenanya.”
“Tetapi angger Mahisa Pukat tidak kembali bersamanya ?” bertanya
Arya Kuda Cemani. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya ” Ia
masih ingin tetap berada di Kotaraja untuk beberapa saat.” Arya Kuda
Cemani mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mendesak lebih jauh untuk
mengetahui alasan sebenarnya, kenapa kedua orang bersaudara itu akan
berpisah. Sementara itu Sasi telah keluar dari pintu pringgitan
sambil membawa minuman hangat dan beberapa jenis makanan. Adalah
satu kesempatan bagi Mahisa Murti untukmengetahui jawaban bagi
Mahisa Pukat. Ketika Sasi meletakkan mangkuk minuman dihadapan
Mahisa Murti, maka Mahisa Murti sempat berdesis ”Bagaimana ?” Sasi
memandangnya sejenak. Baru kemudian ia memenuhi permintaan Mahisa
Murti. Dengan cepat sehingga tidak tertangkap oleh perhatian ay
ahnya, Sasipun mengangguk kecil. Namun demikian ia mengangguk,maka
iapun dengan cepat meninggalkan pringgitan itu. Jantung Mahisa Murti
bagaikan meledak. Ia memang menunggu isyarat itu. Tetapi ketika ia
benar-benar menerima isy arat sebagaimana diharapkan, maka rasa
-rasanya lantai tempat ia duduk itu telah berguncang. Karena itu
maka Mahisa Murti benar-benar harus berjuang untuk bertahan agar ia
tidak kehilangan akal. Saat-saat berikutnya, Mahisa Murti memang
bagaikan tersiksa. Ia seakan-akan tidak mendengar lagi pembicaraan
antara ay ahnya dan Arya Kuda Cemani. Baru kemudian, ketika ayahnya
minta diri, Mahisa Murti sempat menarik nafas dalam-dalam. Ra
sa-rasanya ia sudah akan terbeba s dari penderitaanyang menghimpit
jiwanya itu. Namun ay ahnya masih juga berkata ”Nah, bukankah kau
datang untukminta diri? Agaknya kau belum tentu mendapat kesempatan
lagi datang kemari.” Mahisa Murti yang sedang gelisah itu kemudian
telah memaksa diri untuk minta diri kepada Arya Kuda Cemani. Namun
sementara itu Arya Kuda Cemani telah memanggil Sasi dan ibunya untuk
ikutmenemui Mahisa Murti yang akan segera meninggalkan Kotaraja
kembali ke Padepokan Bajra Seta. ” Mahisa Pukat masih akan tinggal.
Ia ingin mengawani ay ah untuk beberapa lama” berkata Mahisa Murti.
Arya Kuda Cemani atas nama keluarganya tidak dapat mengatakan
apa-apa kecuali ucapan selamat jalan. “Semoga kau selamat sampai ke
Padepokan ngger” berkata Arya Kuda Cemanimewakili keluarganya.
“Terima kasih Raden” jawab Mahisa Murti dengan suara yang bergetar
oleh getar jantung di dadanya. Sasi sendiri tidak mengucapkan
kata-kata apapun juga. Tetapi pandanganmatanyamemangmenjadi say u.
Demikianlah sejenak kemudian Mahendra dan Mahisa Murti pun
meninggalkan rumah Arya Kuda Cemani. Mereka menyusuri jalan
yang gelap yang hanya kadang-kadang disinari oleh
oncor-oncor yang terpasang di regol-regol rumah orang-orang berada.
Namun ketika mereka keluar dari regol padukuhan, maka Mahisa Murti
pun berkata” Ay ah, silahkan ay ah mengambil jalanyang
biasanya kita lalui. Aku akan mengambil jalan lain. “Kau akan lewat
jalan; yagmana?” bertanya Mahendra. “Aku ingin berjalan sendiri”
jawab Mahisa Murti. Mahendra hanya dapatmenarik nafasdalam-dalam.
Tetapi ia memahami perasaan Mahisa Murti. Sehingga karena itu maka
iapun berkata ”Baiklah. Tetapi jangan memaksa aku harusmencarimu.
Kau harus segera berada di rumah pula.” “Tentu tidak akan berselisih
banyak ayah” jawab Mahisa Murti yang ternyata memilih jalan
melalui bulak yang pernah dilaluinya ketika ia dicegat oleh
Lembu Atak. Mahisa Murtipun kemudian telah hilang didalam gelapnya
malam di bulak yang tidak terlalu panjang. Selangkah demi
selangkah kakinya terayun menusuk semakin dalam menghunjam ke
kegelapan. Ketika ia berdiri di tengah-tengah bulak, maka Mahisa
Murti itupun menghentikan langkahnya. Dipandanginya langit yang biru
gelap digayuti oleh bintang gemintang dari cakrawala sampai ke
cakrawala. Mahisa Murtimencoba beberapa kalimenarik nafas dalamdalam
untuk mengendapkan perasaannya. Namun setiap kali perasaannya yang
telah bergejolak itu bagaikan menyala membakar isi dadanya. Tiba
-tiba saja Mahisa Murti berdiri tegak diatas kedua kakinya
yang renggang. Kedua tangannya yang mengepal tinju diangkatnya
setinggi bahunya. Satu teriakan nyaring telah melengking memecahkan
sepinya malam. Geterannya telah terlontar jauh membentur udara
malamyang dingin. Gemanya pun telah ber sahutan dari satu sisi
dan sisi yang lain. Namun suaranya ternyata tidak meny entuh telinga
siapa pun sehingga teriakannya sama sekali tidakmenarik perhatian
seorang pun. Bulak itu memang sepi, sesepi hati Mahisa Murti itu
sendiri. Namun dengan demikian rasa -rasanya beban di dada Mahisa
Murti berkurang. Meskipun masih terasa betapa pahitnya kenyataan
yang harusdihadapi, namun Mahisa Murti telah menemukan kembali
keseimbangan jiwanya. Perlahan-lahan Mahisa Murti melangkah kembali
menyusuri gelapny a malam di tengah-tengah bulak. Baru setelah
jiwanya tenang, Mahisa Murti melihat kunang-kunang yang berkeredipan
di daun-daun padi. Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam. Iapun
kemudian mendengar gemericik air yang mengalir di parit di tepi
jalan yang dilaluinya. Selisih waktu yang diperlukan oleh Mahisa
Murti dengan ay ahnya memang tidak terlalu banyak. Ketika ia
kemudian naik tangga tempat tinggal Mahendra di bagian belakang
istana,maka hatinya tidak lagi terguncang-guncang. Karena itu ketika
kemudian ia berbicara dengan Mahisa Pukat, maka dengan hati
yang tatag ia berkata ”Sasi telah memberikan isyarat itu.”
“Apa katanya?” bertanya Mahisa Pukat tidak sabar. Ia tidak berkata,
apa -apa. Tetapi ia menganggukkan kepalanya yang menurut
tangkapanku, ia telahmengiakannya” jawab Mahisa Murti dengan nada
datar. “Benar begitu?” desak Mahisa Pukat. “Tentu kau harus
mengulanginya. Kau harus meya kinkan dirimu bahwa Sasi tidak
berkeberatan. Tetapi kaupun harus meyakinkan Sasi, bahwa kau
benar-benar menghendakinya.” .... hihi terjadi pemangkasan dari buku
aslinya ga sambung nihh.... Sejenak kemudian Mahisa Murti itupun
telah berhadapan dengan orang yang meny ebut diriny a Sardula Mapan.
Orangorang yang ingin menyaksikan perkelahian itupun telah
melingkar seakan-akan telah membentuk lingkaran arena perang
tanding. Ternyata Sardula Mapan benar-benar merasa ter singgung
melihat sikap Mahisa Murti. Anakmuda itu sama sekali tidak menjadi
cemas atau gelisah. Ia tetap saja tenangmeskipun ia sudah mendapat
keterangan dari pemilik kedai itu pentang seorang yang bernama
Sardula
Mapan
Jilid103 PARA PRAJURIT yang berdiri
di lingkaran arena itulah yang justrumenjadi berdebar-debar.
Meskipunmereka pernah mendengar tentang kelebihan anak muda itu,
namun mereka masih belum dapatmey akinkannya. Sejenak kemudian, maka
orang yang meny ebut dirinya Sardula Mapan itupun berkata”Nah,
aku memberikan kesempatan terakhir, sebelum aku memilin lehermu.”
“Kesempatan apa?” bertanya Mahisa Murti. “Kau memang terlalu sombong
anak muda. Tetapi aku masih tetap dalam pendirianku. Aku tidak akan
membunuhmu. Aku akan membiarkan kau hidup dan berceritera tentang
orang yang bernama Sardula Mapan” geram orang itu. “Aku tidak
akan berjanji apapun” jawab Mahisa Murti ”tetapi jika kau terbunuh
juga, itu bukan salahku.” Sardula Mapan memandang Mahisa Murti
dengan sorot mata yang menyala. Kemarahannya rasa-rasanya telah
membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka iapun mulai bergerakmeny
erang Mahisa Murti. Mahisa Murtiyang telah bersiap sepenuhnya
itupun dengan cepat telah menghindar, sehingga serangan lawannya
tidak menyentuhnya. Namun serangan-serangan berikutnyapun telah
meluncur pula mendesak Mahisa Murti beberapa langkah surut. Ternyata
Mahisa Murti memang masih ingin menjajagi kemampuan lawannya. Karena
itu, maka ia lebih banyak melayani serangan_serangan Sardula Mapan.
Bahkan sekalisekali ia berusaha untuk membentur serangan lawannya
itu meskipun tidak sepenuhnya. Namun bahwa Mahisa Murti beberapa
kali meloncat mundur itu, bagi lawannya, seakan-akan merupakan satu
isy arat bahwa Mahisa Murti berada dalam kesulitan. Meskipun
demikian, Sardula Mapan yang merasa dirinya orang yang
paling ditakuti itupun merasa heran. Meskipun beberapa kali lawannya
yangmasih muda itu terdesak, namun beberapa lama pertempuran itu
terjadi, ia masih belum dapat mengalahkannya. Karena itu, maka
kemarahan Sardula Mapan pun semakin membakar jantungnya. Sehingga
dengan demikian, maka iapun telahmeningkatkan serangan-serangannya.
Lawannya yang masih muda itu memang selalu terdesak.
Sekali-sekali anakmuda itu meloncatmengambil jarak. Tetapi
serangan-serangannya masih belum berhasil mengenai sa sarannya. Anak
muda yang terdesak itu masih saja dengan tangkas mampu menghindari
serangan-serangannya betapapun cepatnya. Namun dalam pada itu,
Mahisa Murti mulai dapat menduga kemampuan lawannya. Meskipun Mahisa
Murti yakin, bahwa ilmu orang yang meny ebut dirinya Sardula
Mapan itumasih akan dapatmeningkat lagi. Demikianlah, maka
pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Mahisa Murti
masih saja nampak terdesak. Tetapi serangan lawannya belum pernah
menyentuhnya. Karena itu, ketika sambil meloncat mengambil jarak,
Mahisa Murti sempat meny entuh pundak Sardula Mapan, maka lawannya
itu terkejut bukan buatan. Sentuhan itu sendiri tidak menyakitinya.
Tetapi bahwa anak muda itu berhasil meny entuhnya, justru saat ia
terdesak telah membuatnya gelisah. “Apa sajayang dapat dilakukan
oleh anak ini?” pertanyaan itu telah semakinmengganggunya. Ketika
Sardula Mapan itu semakin meningkatkan ilmunya bahkan sampai ke
puncaknya, maka Mahisa Murti mulai berusaha untukmelawannya dengan
sungguh-sungguh. Tetapi karena orang itu memang tidak berniat
membunuhnya, meskipun dengan maksud untuk membesarkan namanya, maka
Mahisa Murti pun sama sekali tidak berniat untukmelakukannya pula.
Yang dilakukan oleh Mahisa Murti kemudian adalah berusaha untuk
mengalahkannya. Tetapi tidak untuk membunuh atau menyakitinya
ataumembuatnya cacat. Karena itu,maka Mahisa Murti akan memancingnya
untuk bertempur semakin cepat dan keras. Tanpa mempergunakan ilmunya
untuk menghisap kekuatan dan kemampuan lawan, maka Mahisa Murti
akanmembiarkan lawannya. itu kelelahan dan kehabisan tenaga dengan
sendiriny a, sehingga perlawanannya pun akan terhenti.
Sebenarnyalah, Sardula Mapan yang marah itu tidak menyadari,
bahwa lawannya telah memaksanya untuk mengerahkan segenap
kemampuannya. Dengan loncatanloncatan panjang Mahisa Murti berusaha
menghindari serangan-serangan Sardula Mapan. Namun tiba -tiba saja
Mahisa Murtilah yang meloncat meny erang. Bahkan hampir setiap
serangan Mahisa Murti tidak dapat dihindari atau ditangkis oleh
Sardula Mapan. Ketika pundaknya tersentuh tangan anak muda itu,
Sardula Mapan telah merasa tersinggung. Namun kemudian berturut
-turut serangan Mahisa Murti itu mengenainya. Tidak terlalu keras.
Namun membuatnyamenjadi semakinmarah. Lengannya, dadanya dan bahkan
anak muda itu telah memukul keningnya. Kemarahan sardula Mapan telah
membuatnya menghen tak-hentakkan kemampuannya. Namun serangannya
masih sa ja tidak dapatmeny entuh sasaran. Puncak dari kemarahan
Sardula Mapan adalah serangan Mahisa Murti kemudian. Serangan yang
datangnya begitu cepat. Justru saat anak muda itu seakan-akan
terdesak dan berloncatan surut.Namun tiba -tiba saja ketika Sardula
Mapan memburunya, Mahisa Pukat tidakmenghindar. Tetapi dengan cepat
ia menepis serangan Sardula Mapan itu kesamping. Tangannya
yang terayun cepat itu bagaikan dilemparkan dengan kekuatan
yang sangat besar, sehingga badannya ikut pula berputar.
Kesempatan itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Mahisa Murti.
Ia tidak ingin memukul tengkuk lawannya sehingga patah. Tetapi
dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, maka tangannya telah
menyambar ikat kepala SardulaMapan. Beberapa orangmenyaksikan hal
itu terkejut bukan buatan. Beberapa orang justru tidak dapatmenahan
desah yang tibatiba saja meluncur darimulutmereka. Mengalami
perlakuan itu, maka Sardula Mapan telah meloncat beberapa langkah
surut. Wajahnya menjadi merah padam. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi
oleh kemarahan yang serasa menyumbat dadanya, maka kata-kata yang
meluncur darimulutnya adalah suara yg gagap ”Kau, kau, anak iblis.”
“Ki Sanak” berkata Mahisa Murti ”sekarang yang aku pungut baru
ikat kepalamu. Tetapi jika kau masih saja memaksaku untuk berkelahi
maka pada kesempatan lain, mungkin aku inginmemungut kepalamu.”
“Sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu. Tetapi kau yang tidak tahu
diri itu telah membuat aku merubah keputusanku. Kebaikan hatiku kau
salah gunakan. Kau ju stru telah menghinaku. Kau bukan saja mengenai
tubuhku dengan serangan-seranganmu, tetapi kau telah berani meny
entuh bagian dari kepalaku.” geram orang yang meny ebut dirinya
SardulaMapan itu. Tetapi Mahisa Murti justru tertawa. Katanya
”Kenapa kau masih saja merajuk ? Jika kaumarah,marahlah. Apa saja
yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Tetapi ingat, aku akan melawanmu
habis-habisan.” “Semula aku tidak ingin membunuhmu. Tetapi kemudian
aku telah merubah keputusanku. Aku akan membunuhmu dengan senjataku
yang jarang sekali aku pergunakan.” berkata orang itu dengan
lantang. Mahisa Murti masih saja tertawa. Katanya ”Kau akan
menyakiti dirimu sendiri. Aku ingin menasehatkan agar kau urungkan
niatmu untuk mempergunakan senjatamu. Karena jika kau tarik
senjatamu, maka itu bagiku merupakan satu isy arat agar aku juga
menarik senjataku.” Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia sudah
merasa benar-benar terhina oleh sikap anak muda yang telah
mengambil iakt kepalanya itu langsung dari kepalanya. Karena itu,
sejenak kemudian, orang itupun telah menggenggam sebilah keris
yang besar, yang hampir sebesar dan sepanjang sebilah
pedang. Namun dengan demikian Mahisa Murtipun teringat pula akan
pedangnya yang disebut oleh pemiliknya sebelumnya dengan sebilah
keris. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Senjatanya itu
mempunyai pasangan yang dibawa oleh Mahisa Pukat. Tetapi sepa sang
senjata itu kemudian terpaksa terpisah karena Mahisa Pukat tidak
bersertanya kembali ke padepokan. Dengan demikian, maka kedua orang
itupun telah berhadapan kembali. Sardula Mapan itu sudah tidak
terkekang lagi. Apalagi ketika Mahisa Murtimelemparkan ikat
kepalanya sambil berkata ”Jika kau sayang akan ikat
kepalamu,marilah, aku kembalikan kepadamu.” Orang itu tidak
menghiraukannya. Sama sekali tidak ada usahanya untukmenangkap ikat
kepalanya yang dilemparkan oleh Mahisa Murti. Namun yang
dilakukannya adalah justru meloncat meny erang dengan garangnya.
Kerisny a terjulur lurus langsungmengarah ke dadanya. Tetapi
ternyata Mahisa Murti dengan tangkasnya bergeser sambil menangkis
serangan itu dengan pedangnya. Ketika terdengar suara berdentang,
maka bungampipun telah berhamburan. Orang-orang yang menyaksikan
pertempuran itu menjadi semakin cemas. Tetapi mereka merasa heran,
bahwa anak muda yang nampaknya selalu terdesak itu, justru
telahmampu mengenai lawannya dan bahkan merampas ikat kepalanya.
Sudah tentu hal itu merupakan penghinaan yang sulit dimaafkan
oleh Sardula Mapan. Ternyata bahwa Sardula Mapanpun memiliki
kemampuan ilmu pedang yang tinggi meskipun yang digenggam
sebilah keris. Tetapi ujud keris itu memang hampir sebesar dan
sepanjang pedang. Dalam pertempuran bersenjata itu, Mahisa Murti
masih sa ja nampak terdesak. Namun sekali-sekali sambaran ujung
pedangnya telahmengejutkan Sardula Mapan. Sementara itu, Mahisa
Murti masih tetap memancingnya agar lawannya itu bertempur dengan
mengerahkan tenaga sepenuhnya. Sardula Mapan yang tersinggung
karena Mahisa Murti telah menyambar ikat kepalanya memang telah
terpancing. Dengan loncatan panjang ia berusaha menggapai dan
mengenai tubuh anak muda itu. Bahkan semakin lama semakin garang.
Beberapa kali Mahisa Murti meloncat mundur. Namun demikian Sardula
Mapan mendesaknya semakin jauh maka Mahisa Murtipun tiba -tiba
menghentakkan ilmu pedangnya dan menyerang lawannya dengan kecepatan
yang mengejutkan. Dengan demikianmaka Sardula Mapan itu telah
diguncang oleh cara Mahisa Murti melawannya. Sekali-sekali Sardula
Mapan berhasil mendesak lawannya. Namun tiba -tiba ia
sendirilahyang justru terdesak. Dengan demikian maka Sardula
Mapan telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ketika ia merasa mampu
mendesak lawannya, maka ia ingin dengan cepat mengakhiri pertempuran
itu. Namun lawannya yang muda itu seakanakan justrumenjadi
semakin liat. Bahkan kemudian lawannya itulah yang
mendesaknya, sehingga Sardula Mapan itu juga mengerahkan
kemampuannya untuk bertahan. Sebenarnyalah, semakin lama Sardula
Mapan memang harus memeras tenaga dan kemampuannya. Disatu saat ia
semakin bernafsu untuk segera menang, namun disaat lain ia
mengumpat-umpat karena lawannya telah mendesaknya. Kemarahan Sardula
Mapan menjadi semakin memuncak ketika ujung pedang Mahisa Murti
justru telah meny entuh kulitnya. Segores luka telah tergores
dipundaknya. Tidak terlalu dalam.Namun dari luka itu, darah telah
mengalir. Kepala Sardula Mapan rasa-rasanya hampir meledak oleh
kemarahan yang membakar jantungnya. Darahnya serasa
mendidihmemanasi seluruh kulit dagingnya. Sambil menggeram Sardula
Mapan menyerang semakin garang. Sementara Mahisa Murti melayaninya
dengan tangkasnya,. Karena itulah, maka sebagaimana diperhitungkan
oleh Mahisa Murti, maka tenaga Sardula Mapan memang mulai menjadi su
sut. Mahisa Murti sama sekali tidak mempergunakan ilmunya yang mampu
menghisap tenaga dan kemampuan lawan. Yang dilakukannya sekedar
memaksa Sardula Mapan untuk mengerahkan tenaganya sampai kepuncak
kemampuannya. Demikian kekuatan dan kemampuan Sardula Mapan mulai su
sut, maka Mahisa Murti justru semakin cepat bergerak. Ujung
pedangnya bergerak semakin cepat. Bahkan kemudian seperti seekor
lalat yang berterbangan mengelilingi tubuh SardulaMapan dan sesekali
hinggap dikulitnya. Sardula Mapan sendiri masih belum menyadari,
bahwa tenaga dan dengan sendirinya kemampuannya mulai susut.
Kemarahannyalah yang menghentak-hentaknya untuk memaksakan
diri bertempur semakin garang. Namun akhirnya Sardula Mapan tidak
dapat menghindari keny ataan itu. Tenaganya yang semakin
terkurasmembuatnya semakin kehilangan keseimbangannya. Beberapa kali
Sardula Mapan justru terseret oleh serangan-serangannya sendiri yang
tidakmeny entuh sasaran. Namun Mahisa Murti tidakmemberinya
kesempatan untuk beristirahat. Disaat-saat Sardula Mapan itu
terengah-engah, maka Mahisa Murtilah yang telah menggelitiknya
dengan serangan-serangannya. Sesekali ujung pedangnya meny entuh
kulit lawannya. Hanya sekedar menggores seleret kecil. Namun ketika
keringat meny entuh luka kecil itu, maka perasaan pedihpun telahmeny
engat pula. Sambil mengumpat-umpat Sardula Mapan masih berusaha
melawan. Namun akhirnya ia tidak dapat mengingkari bahwa kekuatannya
sudah hampir habis sama sekali. Beberapa kali ia terhuyung-huyung
hampir kehilangan keseimbangan. Namun Mahisa Murti masih
membiarkannya bertahan untuk tetap berdiri. Pada saat yang demikian
itulah,maka SardulaMapan mulai menyadari sepenuhnya keadaannya. Ia
mulai mengerti, bagaimana anakmuda itu memancingnya sehingga
tenaganya terkuras habis. Ketika Sardula Mapan meny erang dengan
pedang terjulur serta Mahisa Murti begitu saja bergeser kesamping,
maka rasa -rasanya Sardula Mapan itu hampir jatuh terjerembab. Jika
saja saat itu Mahisa Murti menyerangnya,maka habislah sudah
segala-galanya. Tetapi kemarahan Sardula Mapan memang tidak dapat
diredamnya. Yang dilakukan oleh Mahisa Murti benar-benar penghinaan
yang tiada taranya. Karena itu maka iapun kemudian berteriak
”Cepat, selesaikan anak ini” Beberapa orang kawannya mulai bergerak.
Tetapi demikian mereka melangkah maju, maka seorang dari ketiga
orang prajurit yang menyertai Mahisa Murti berkata lantang ”Ki
Sanak. Sebaiknya Ki Sanak tidak u sah turut campur. Biarlah mereka
meny elesaikan permainan dengan adil tanpa dicampuri orang lain.”
“Persetan kau. Sebaikny a kaulah yang tidak usah turut campur.
Kami adalah kawan-kawan Sardula Mapan yang wajib membantunya jika ia
dalam keadaan gawat.” “Bukankah kau dan kawan-kawanmu melihat bahwa
kami datang bersama anak muda itu. Jika kau merasa wajib membantu
kawanmu, maka kami juga merasa berkewajiban untukmelakukannya.”
Kawan-kawan Sardula Mapan memangmenjadi ragu-ragu. Jika saja mereka
memiliki kemampuan seperti anakmuda itu, maka mereka memang akan
kehilangan kesempatan untuk mengalahkannya. Karena itu, untuk sesaat
mereka memang menjadi ragu. Namun agaknya pengaruh Sardula Mapan
terhadap mereka cukup besar. Karena itu,maka ketika Sardula Mapan
itu sekali lagi berteriak,maka mereka tidak dapatmenolak lagi.
Apalagi mereka merasa bahwa jumlah mereka lebih banyak dari jumlah
kawan-kawan anakmuda itu. Dalam waktu singkat, lima orang telah
bersiap. Berenam dengan Sardula Mapan mereka menghadapi Mahisa Murti
dan tiga orang kawannya. Namun sambil tertawa Mahisa Murti berkata
”Kenapa kalian masih berniat untuk berkelahi terus ? Bukankah kita
dapatmenganggap bahwa persoalan kita sudah selesai sampai disini ?”
“Persetan” geram Sardula Mapan ”kau tidak usah berusaha
menyelamatkan diri sesudah dengan sombong kau menghina aku.” “Tetapi
apa yang akan kau lakukan itu justru hanya akan menambah parah
perasaanmu. Kau akan merasa lebih terhina lagi, karena kawan-kawanmu
tidak akan dapat mengalahkan kawan-kawankumeskipun jumlah kalian
lebih banyak.” “Jangan dengarkan” teriak Sardula Mapan ”cepat,
lakukan. Apa lagiyang kalian tunggu ?” Kelima orang itupun
segera bergerak semakin dekat. Tetapi ber samaan dengan itu, tiga
orang prajurit yang meny ertai perjalanan Mahisa Murti telah
melangkah maju pula. Mereka memang tidak mengenakan pakaian
keprajuritan. Tetapi mereka tidakmelupakan senjatamereka. Sejenak
kedua kelompok itupun berhadapan. Namun Sardula Mapan sendiri
seakan-akan telah kehabisan tenaga. Bahkan ditubuhnya terdapat
beberapa gores luka yang meskipun tidak terlalu dalam, namun luka
itu telah menodai pakaiannya dengan darah. Sejenak kawan-kawan
Sardula Mapan itu masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Apalagi
ketika mereka melihat ketiga orang kawan Mahisa Murtiyang
nampakmeyakinkan. “Ki Sanak” berkata Mahisa Murti ”sekali lagi aku
minta, urungkan niat kalian untuk memperluas persoalan yang
sebenarnya tidak terlalu penting ini. Tetapi jika kalian
memaksakannya, maka kami akan dapat kehilangan kesabaran, sehingga
kamipun akan dapat bertindak semakin keras menghadapi kalian. Aku
tahu bahwa kalian bukan orang-orang jahat yang sebenarnya. Tetapi
kalian adalah orang-orang yang terlalu yakin akan kelebihan kalian,
sehingga kalian sering berbuat sewenang-wenang terhadap orane lain.
Karena itu, aku minta hentikan tingkah laku kalian itu sebelum
kalian mengalami kesulitanyang semakin parah.” Sardula Mapan
memang menjadi ragu-ragu. Luka-luka ditubuhnya terasa semakin pedih
meskipun luka-luka itu tidak terlalu parah. Sementara itu ampat
orang yang telah bersiap, berdiri tegak dihadapannya. Sikap
dan tatapan mata mereka yang meyakinkan memang membuat Sardula Mapan
dan kawankawannya harus berpikir kembali apakah mereka akan
meneruskan niatmereka. Sementara itu Mahisa Murtipun berkata ”Nah,
kalian mempunyai kesempatan untukmempertimbangkan sekali lagi niat
kalian. Selanjutnya jika kita sudah mulai lagi dengan
perkelahian,maka aku tidak akan bertanya lagi, apakah kalian akan
menghancurkan diri sendiri atau akan mengambil sikap bijaksana.”
Wajah Sardula Mapan menjadi merah padam, sementara luka-lukanya
terasa semakin pedih, Namun ia memang raguragu untuk memaksa
kawan-kawannya bertempur melawan keempat orang yang nampaknya
memangmemiliki kelebihan. Meskipun jumlah kawan-kawannya lebih
banyak, namun mereka tidak memiliki kemampuan sebagaimana Sardula
Mapan. Sementara itu, ia sama sekali tidak berdaya melawan anak muda
yang sejak semula dikiranya selalu terdesak itu. “ Ia dengan sengaja
mempermainkan aku” berkata Sardula Mapan itu didalam hatinya. Dengan
demikian Sardula Mapan itu tidakmau menambah kekalahannya lagi. Ia
sudah cukup dipermalukan, sehingga nalarnyamasih
sempatmemperhitungkan, bahwa perkelahian berikutnya hanya akan
meyakinkan orang -orang yang menyaksikannya bahwa ia memang tidak
berdaya. Menghadapi anak muda dan kawan-kawannya sama sekali tidak
berarti apa-apa. Sementara sebelumnya Sardula Mapan adalah orang
yang meskipun diantara mereka sama sekali belum pernahmengenalnya
secara pribadi. Karena itu, maka akhirnya Sardula Mapanitu tidak
dapat mengingkari keny ataan yang dihadapinya. Meskipun ia
masih tetap berusaha untukmempertahankan harga dirinya. Dengan
lantang iapun kemudian berkata ”Ternyata aku tidak sampai hati
berbuat lebih jauh. Melihat wajahmu yang masih kekanak-kanakan itu
aku memang merasa ka sihan. Karena itu maka kali ini kalian aku
ampuni. Kalian boleh pergi sekehendak hatimu. Tetapi ingat, jangan
kembali lagi.” Hampir berbareng Mahisa Murti dan ketiga orang
prajurit yang meny ertainya tertawa.Namun Mahisa Murti
kemudian menyahut ”Terima kasih Ki Sanak. Tetapi maaf, aku belum
ingin pergi. Aku masih meninggalkanmangkuk minuman didalam. Demikian
pula kawan-kawanku. Karena itu, kami akan menghabiskannya lebih
dahulu.” “Setan kau. Kau memang tidak tahu diri.” geram Sardula
Mapan. Lalu katanya ”Tetapi ingat, untuk selanjutnya jangan kembali
lagi kemari.” Mahisa Murti masih saja tertawa. Katanya ”Sudahlah Ki
Sanak. Kenapa tidak kita hentikan permusuhan ini. Kau tahu bahwa
ancaman-ancaman semacam itu tidak ada gunanya sama sekali. Aku harap
kau mengetahui bahwa untuk selanjutnya aku akan sering lewat jalan
ini. Aku tinggal di Padepokan Bajra Seta, sementara ay ahku berada
di Kotaraja. nah, bukankah aku akan sering melewati jalan ini ? Aku
akan sering pula singgah di kedai ini dan aku akan selalu bertanya
tentang seseorang yang bernama Sardula Mapan. Apakah ia masih
sering datang kemari atau tidak.” Wajah Sardula Mapan menjadi merah.
Tetapi ia memang tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu,maka
katanya kepada kawan-kawannya ”Kita tinggalkan iblis2 itu. Tidak ada
artinya apa-apa jika kita melayaninya. Aku tidakmempunyaiwaktu.”
Demikianlah, maka Sardula M;man itupun segera melangkah ke kudanya
diikuti oleh kawan-kawannya. Lukalukanya memang tidak terlalu
berbahaya. Namun pakaiannya telah ternoda darahnya y gmenitik dari
luka-lukanya. Tetapi ketika Sardula Mapan itu akan meloncat ke
punggung kudanya, Mahisa Murtimasih berkata ”Baiklah. Aku yang akan
membayar harga makanan dan minuman yang telah kalianmakan dan kalian
minum di kedai ini.” Telinga Sardula Mapan rasa-rasanya seperti
tersengat api. Dengan marah Sardula mapan telah memungut beberapa
keping uang dari kantong ikat-pinggangnya. Sambil melemparkan uang
itu kepada pemilik kedai itu berkata ”Ambil uang itu. Kelebihannya
adalah pertanda kemurahanku.” Pemilik kedai itu hanya termangu
-mangu saja. Sebelum ia mengambil uang itu,maka Sardula Mapan itu
telah meloncat ke punggung kudanya dan dengan menghentakkan
kendalinya, maka kuda yang tegar itupun segera berlari
meninggalkan kedai itu diikuti oleh kawan-kawannya. Mahisa Murti
menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang berkeliling ia berkata
kepada orang-orang yang berdiri termangu-mangu mengelilingi arena
itu ”Ki Sanak. Pertunjukkan sudah selesai. Nah, lupakan apa
yang telah terjadi.” Orang-orang yang termangu-mangu itu
bagaikan terbangun darimimpi. Merekapun satu -satu meninggalkan
lingkaran itu. Namun dihati mereka masih mengembang kekagumannya
kepada anak muda yang telah berhasil mengalahkan Sardula Mapan
yang dikenal sebagai seorang yang tidak terkalahkan
dilingkungannya. Sementara itu Mahisa Murtipun telah mendekati
pemilik kedai yang termangu-mangu sambil berkata ”ambil uang
itu. Hitunglah, apakah sudah cukup atau belum. Jika ternyata masih
kurang, biarlah aku menggenapinya.” Namun seorang prajurit
yangmenyertainya berkata sambil tersenyum ”bukankah kelebihannya
pertanda kemurahan hatinya?” Mahisa Murtipun tertawa, sementara
pemilik kedai itu tengah memungut dan kemudian menghitung uang yang
dilemparkan oleh orang yang menyebut dirinya Sardula Mapan
itu. “Baru separony a” desis pemilik kedai itu. “Baiklah” sahut
Mahisa Murti ”nanti yang separonya lagi biarlah aku yang
menambahinya.” “Tidak usah anak muda” berkata pemilik kedai itu.
Lalu katanya pula ”Apa yang kalian lakukan telah cukup. Aku tidak
mengira bahwa pada suatu saat Sardula Mapan itu dapat dikalahkan
oleh seseorang.” “Apakah ia seringmelakukan pemerasan seperti kali
ini ?” bertanya Mahisa Murti. “Aku baru mengalami kali ini” jawab
pemilik kedai itu ”tetapi aku memang seringmendengar namanya. Ia
termasuk seorang yang berada. Tetapimenurut keterangan yang pernah
aku dengar, ia memang seringmelakukan hal yang aneh-aneh, justru
karena ia merasa-sebagai seorang yang tidak terkalahkan di daerah
ini.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian pemilik kedai
itupun mempersilahkannya ”Marilah anak muda. Bukankah kalian belum
selesaiminum ?- Mahisa Murti dan ketiga orang prajurit itupun masuk
kembali kedalam kedai. Mereka masih ingin menyelesaikan makan dan
minumyang sudahmereka pesan. Sementara itu beberapa orang yang
semula berkerumun di halaman itupun telah meninggalkan kedai itu.
Tetapi ada juga diantara mereka yang masih kembali masuk
kedalam kedai sebagaimana Mahisa Murti dan kawan-kawannya. Untuk
beberapa saat Mahisa Murti dan ketiga orang kawannya duduk di kedai
itu. Namun akhirnya merekapun selesai pula. Namun ketika mereka
membayar minuman dan makanan mereka, pemilik kedai itu menolak uang
yang diberikan oleh Mahisa Murti atas kekurangan Sardula Mapan dan
kawan-kawannya. Seperti yang sudah dikatakannya, maka pemilik kedai
itu berkata pula ”Tidak usah anakmuda. Aku berterima kasih atas
kebaikan hati kalian. Apa yang kajian lakukan telah lebih dari
cukup. Bukan hanya sekedar untuk aku sendiri, tetapi dengan demikian
maka tingkah laku Sardula Mapan itu mudahmudahan dapat berubah,
sehingga ia tidak lagi sering menyulitkan orang lain. Ju stru karena
ia memiliki kelebihan.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya
kemudian. ”Baiklah. Aku akan minta diri. Tetapi seperti yang aku
katakan, bahwa aku tentu akan sering lewat jalan ini.” Pemilik kedai
itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya ”Jadi Ki
Sanak benar-benar akan sering lewat jalan ini? Atau sekedar untuk
menakut-nakuti Sardula Mapan?” “Aku benar-benar akan sering lewat
jalan ini” jawab Mahisa Murti” bukan sekedar menakut-nakuti Sardula
Mapan. Jalan ini menghubungkan tempat tinggalku dan tempat tinggal
orang tuaku.” “Baiklah Ki Sanak” berkata pemilik kedai itu ”aku
mempersilahkan Ki Sanak selalu singgah di kedaiku.” ”Terima kasih”
jawab Mahisa Murti ”agaknya aku tentu akan singgah.” Demikianlah
Mahisa Murti dan ketiga orang prajurit dan ketiga prajurit yangmeny
ertainya segera meninggalkan kedai itu. Beberapa orang yang
berada di kedai itupun saling bergumammembicarakannya. “Aku
mula-mula merasa cemas akan nasibnya” berkata seseorang” aku kira
anak muda itu sekedar terdor ong oleh kesombongannya serta
darahmudanya saja sehingga ia berani menentang Sardula Mapan. Namun
ternyata bahwa ia benarbenar seorang yang berkemampuan sangat
tinggi. Ternyata ia justru telah mempermainkan Sardula Mapan. Bahkan
melukainya. Nampaknya jika anak itu mau membunuhnya, ia tentu akan
dapatmelakukannya.” “Akupun semula merasa cemas” sahut kawannya
”mulamula anak muda itu nampaknya selalu terdesak. Namun ternyata ia
hanya sekedar main-main.” Sementara itu Mahisa Murti tengah berlari
diatas punggung kudanya menuju ke Padepokan Bajra Seta bersama
dengan ketiga orang prajurit yang menyertainya. Disepanjang
perjalanan mereka tidak lagi banyak berbicara. Mahisa Murti yang
untuk beberapa lamanya dapat melupakan per soalan pribadiny a,
ternyata telah disentuh kembali oleh kepahitan perasaannya
sebagaimana ia harus meninggalkan Singasari seorang diri tanpa
Mahisa Pukat. Sejak kanak-kanak ia memang jarang sekali terpisah
dari saudaranya itu. Namun kini ia terpaksa meninggalkannya justru
karena ia tidak ingin mengalami keretakkan. Di perjalanan
selanjutnya Mahisa Murti tidak mengalami hambatan lagi. Namun waktu
telah banyak tersita oleh permainannya dengan Sardula Mapan.
Kehadirannya seorang diri di Padepokannya telahmembuat seisi
Padepokan Bajra Seta merasa heran. Meskipun mereka tidak segera
bertanya, tetapi terasa bahwa kehadiran Mahisa Murti seorang diri
telahmenimbulkan kegelisahan. Bahkan beberapa orang telah saling
berbisik tentang ketiga orang yangmeny ertai Mahisa Murti di
perjalanan itu. Seorang diantara para cantrik berdesis ”Siapakah
mereka bertiga?” Kawannya menggeleng, jawabnya ”Aku tidak tahu.”
Namun berbeda dengan para cantrik yang masih segan menanyakan
kesendirian Mahisa Murti, maka Mahisa Amping ternyata telah
memberanikan diri untuk bertanya ”Dimanakah kakang Mahisa Pukat.
Bukankah tidak terjadi sesuatu atas diriny a?” Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Wajahnya yang muram membuat Mahisa Amping
gelisah. Mahisa Semu dan Wantilan yang juga mendengar pertanyaan
Mahisa Amping itupun ikut menjadi berdebar-debar. Namun ketika
mereka melihat wajah ketiga orang kawan seperjalanan Mahisa Murti,
maka rasa -rasanya memang tidak terjadi sesuatu atas Mahisa Pukat.
NamunWantilanyang sudah lebih tua itu bertanya didalam dirinya
”Apakah keduanya telah ber selisih?” Tetapi Mahisa Murti pun
kemudian telah memberikan penjelasan kepada seisi Padepokan, kenapa
Mahisa Pukat tidak kembali bersamanya meskipun yang dikatakannya
tidak sebagaimana yang telah terjadi. “Mahisa Pukatmasih
mempunyai kepentingan di Singasari. Selain menemani ayah yang
sudah tua, maka masih ada kewajiban yang diembannya. Sementara itu,
padepokan ini tidak boleh terlalu lama kami tinggalkan, sehingga
karena itu, maka aku telah mendahului kembali ke Padepokan. Namun
dengan demikian, aku akan sering mondar-mandir untuk menjenguk ay ah
dan Mahisa Pukat di Singasari.” Barulah seisi Padepokan itu merasa
lega atas penjelasan itu. Meskipun nampaknya penjelasan itu masih
belum tuntas, namun seisi Padepokan telah dapat diyakinkan, bahwa
tidak ada perselisihan antara kedua anak muda yang sebelumnya
belum pernahmereka lihat saling berpisah itu. Dalam pada itu, ketiga
orang prajurit Singasari yang menyertai Mahisa Murti itu
tinggal untuk dua hari di Padepokan. Sebenarnya Mahisa Murti masih
menahannya, namun ketiganya merasa bahwa mereka telah cukup lama
meninggalkan tugasmereka. “Sebenarnya aku kerasan tinggal disini”
berkata salah seorang dari ketiga orang prajurit itu ”disini
kehidupan terasa begitu akrab dengan alam. Padepokan ini rasa
-rasanya berada di bayang an hijaunya lembah dan hijaunya lereng
pegunungan. Tenang dan damai.” Namun Mahisa Murti menyahut ”Tetapi
sekali waktu, Padepokan ini terbakar juga oleh perselisihan dengan
kekerasan. Betapapun kami mencoba untuk menghindarkan diri dari
permusuhan, tetapi kadang-kadang kami masih dipaksa untuk melakukan
kekasaran dan kekerasan. Bahkan yang dapatmenimbulkan korban.”
Ketiga orang prajurit itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka
pun berkata ”Tetapi bukankah kita berhak melindungi diri sendiri?”
Sementara Mahisa Murti membenamkan diri dalam kesibukannya, Mahisa
Pukat masih saja ter seret oleh arus perasaannya. Hubungannya dengan
Sa si menjadi semakin dekat. Apalagi ayah dan ibu Sasi nampaknya
tidak berkeberatan melihat hubungan itu. Meskipun Arya Kuda Cemani
juga ikutmemikirkan kepergianMahisa Murti kembali ke Padepokannya
seorang diri, namun Mahendra telah memberikan penjelasan bahwa tidak
terjadi apa -apa diantara kedua anaknya. “Mahisa Murti telah melepa
skannya dengan ikhlas” berkata Mahendra pada suatu saat kepada Arya
Kuda Cemani. “Jiwanya cukup tegar” desis Arya Kuda Cemani. “Ya.
Sementara itu Mahisa Pukat nampaknya tidak memperhatikan gejolak
perasaan saudaranya. Tetapi itu lebih baik baginya, sehignga ia
tidak usah merasa ber salah” sahut Mahendra. Arya Kuda Cemani
mengangguk-angguk. Katanya sendat ”Aku mohon maaf, bahwa anakku
telah menyakiti hati Mahisa Murti.” “Tetapi bukankah Sa si tidak
sengaja melakukannya? Bahkan ia sama sekali tidak menyadari, apa
yang telah terjadi atas Mahisa Murti. Sebaiknya Sa sipun tidak usah
tahu agar seperti Mahisa Pukat, ia tidak usah ikut merasa bersalah”
jawab Mahendra. Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Namun
kekagumannyapun semakin bertambah. Mahisa Murti bukan sa ja seorang
yang berilmu sangat tinggi. Tetapi hatinya ternyata seluas
lautan tidak bertepi. Namun demikian, harapannya yang tertumpu
kepada Mahisa Pukat juga tidak berubah. Ia berharap agar hubungan
antara anaknya dengan Mahisa Pukat dapatmenjadi semakin akrab
sehingga keduanya akan sampai pada suatu titik temu untukmembangun
hidup kekeluargaan. Meskipun Arya Kuda Cemani tahu, bahwa Mahisa
Pukat tidak lebih dari seorang pemimpin Padepokanyang hidup
jauh dari Kota Raja, namun hidup di padepokan itu akan dapat
memberikan ketenangan jiwa bagi anaknya. Tetapi ibu Sa silah
yang ternyata telah diganggu oleh gambaran kehidupan
yang akan datang bagi Sasi. Ibunya belum pernah mengalami satu
kehidupan lain dari kehidupan yang sedang dijalaninya. Ia tidak
dapat membayangkan, apa yang akan terjadi dengan Sasi jika ia hidup
di dunia yang terpencil, jauh dari keramaian kota. Satu lingkungan
yang sepi, terletak di tengah-tengah bulak yang sangat luas.
Dikejauhan nampak hutan yang masih lebat yang dihuni oleh
binatang-binatang buas. Ketika hal itu disampaikan kepada ay ah
Sasi, maka Arya Kuda Cemani itu justru bertanya ”Bukankah setiap
kali kau menyatakan bahwa kau tidak berkeberatan atas hubungan
antara Mahisa Pukat dan anak kita?” “Pada dasarnya aku memang tidak
berkeberatan. Aku tahu bahwa angger Mahisa Pukat adalah seorang
yang memiliki kemampuan yang tinggi. Seorang yang cerdas dan
baik hati. Tetapi karena itu, apakah angger Mahisa Pukat tidak dapat
menempuh satu kehidupan yang lain dari yang ditempuhnya sekarang?”
“Maksudmu?” bertanya Arya Kuda Cemani. “Anak-anak kita, yang menurut
keterangan ilmunya jauh berada dibawah angger Mahisa Pukat pun dapat
menjadi seorang prajurit. Bukankah dengan demikian, maka angger
Mahisa Pukat akan mendapat kesempatan yang lebih baik untuk
menjadi seorang prajurit pula? Bahkan dengan kedudukanyang
lebih tinggi pula.” Raden Kuda Cemanimenarik nafas dalam-dalam.
Katanya “Aku tidak tahu, apakah angger Mahisa Pukat tertarik atau
tidak untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi jika Sasi menerima
angger Mahisa Pukat, maka ia harus menerima keadaannya seutuhnya.
Mahisa Pukat adalah satu diantara dua orang pemimpin Padepokan Bajra
Seta. Yang seorang lagi adalah angger Mahisa Murti.” “Aku mengerti”
jawab isterinya ”namun jika kemudian Sa si merasa hidupnya tersisih
dari kehidupan yang dijalani sebelumnya, maka ketenangan
hidupnya akan goyah. Sasi memang mempunyai beberapa kemungkinan. Ia
dapat memaksa diri untuk bertahan namun dengan jantung yang semakin
rapuh, atau memberontak sehingga hidup kekeluargaannya akan
terganggu.” “Tetapi bukankah itu baru gambaran orang tua yang cemas
oleh bayangan-bayang an yang dibuatnyaa sendiri?” jawab Arya
Kuda Cemani. “Tetapi kita tidak dapat mengabaikan perasaan Sa si
kemudian. Justru kita harus menilainya sebelum terlambat“ berkata
ibu Sasi dengan sungguh-sungguh. “Jadi maksudmu agar aku
menyampaikan kepada Mahisa Pukat, apakah ia bersedia untuk menjadi
seorang prajurit?” bertanya Arya Kuda Cemani. Isterinya menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi ia ragu-ragu untukmenjawab. Karena
isteriny a tidak segera menjawab, maka Arya Kuda Cemani itupun
berkata ”Baiklah. Aku mengerti. Ada dua cara yang dapat kita tempuh.
Kita minta angger Mahisa Pukat memikirkan kemungkinan untuk menjadi
seorang prajurit atau kita minta agar Sasi memikirkan
kemungkinankemungkinan yang bakal terjadi di kemudian hari.
Namun sudah tentu hal ini baru dapat kitaaa lakukan jika kita sudah
mendapat satu kepa stian bahwa Mahisa Pukat memang berniat untuk
hidup bersama Sasi dan demikian pula sebaliknya. Mudah-mudahan hal
ini tidakmenimbulkan salah paham pada keduanya.” Ibu Sasi itu
mengangguk-angguk kecil. Namun ia masih berkata ”Sebagaimana Sasi,
kita sekarang barumelihat angger Mahisa Pukat sepintas. Katakan,
kita baru melihat kulitnya yang nampaknyamemang halusdan lembut.”
“Aku” jawab Arya Kuda Cemani ”aku sudah melihat isinya. Aku tidak
baru mengenalnya sekarang. Tetapi aku sudah mengenalnya sebelum
keduanya datang ke Singasari. Aku tahu apa yang mereka lakukan di
Kabuyutan Bumiagara. Bagaimana mereka mampu mengekang diri meskipun
mereka dapat berbuat apa saja atas lawan-lawan mereka. Maksudku
keduanya itu adalah angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.” “Tetapi
kita belum tahu sikapnya terhadap seorang perempuan” jawab
isterinya. “Baiklah” berkata Arya Kuda Cemani ”aku akan memenuhi
keinginanmu. Aku akan berbicara dengan Sasi dan angger Mahisa Pukat.
Tetapi sekali lagi. Kita akan menunggu sampai semuanya menjadi
jelas. Jika kita tergesa -gesa, maka Sasi akan dapat mengelakkan
setiap pembicaraan. Apalagi jika anak itu masih meragukan sikap
angger Mahisa Pukat.” Dengan demikian,maka Arya Kuda Cemani merasa
dibebani tanggung jawab atas hari depan anak gadisnya. Tetapi Arya
Kuda Cemani tidak akan ingkar. Meskipun sebenarnya tanggung jawab
itu terletak pada ayah dan ibunya, namun rasa-rasanya per soalan
Sasi dalam hubungannya dengan Mahisa Pukat itu seluruhnya dibebankan
kepadanya. Dalam pada itu, hubungan antara Sa si dan Mahisa Pukat
berlangsung wajar dan bahkan semakin akrab, meskipun masih tetap
dibatasi oleh paugeran yang berlaku. Namun nampaknya pada keduanya
sudah terpahat ikatan yang meskipun belum terucapkan. 0odwo0 Namun
dalam pada itu, ternyata bahwa Lembu Atak sama sekali tidak mau
menerima kenyataan yang telah terjadi atas dirinya. Ia bukan
saja menjadi sakit hati karena kekalahananya, bahkan bersama
sekelompok kawankawannya. Tetapi ia masih mendapat hukuman dari
ayahnya di barak. Meskipun ia mendapat hukuman bersama-sama dengan
kawan-kawannya pula, tetapi hukuman yang diterimanya ternyata adalah
hukumanyang terberat. Karena itu, maka dendamnya telah ditujukan
kepada Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Sasi. “Bagaimanapun juga aku
harus dapat membalas dendam. Meskipun Sa si sama sekali tidak
menghiraukan aku, tetapi dendamku akan aku tumpahkan lewat orang
lain.” berkata Lembu Atak kepada kawan-kawannya. “Apa yang
akan kau lakukan?” bertanya salah seorang kawannya yang
jugamendendam. “Apapun” jawab Lembu Atak ”kita mempunyai banyak
kawan di Kotaraja ini. Sementara itu, Mahisa Murti menurut
pendengaranku telah meninggalkan Kotaraja kembali ke Padepokannya.
Bukankah yang tinggal hanya Mahisa Pukat sa ja.” “Tetapi anak
itu berilmu tinggi. Sebagaimana kau lihat, ia mampu mengimbangi
ayahmu yang kita anggap orang yang tidak terkalahkan itu.” jawab
kawannya. “Omong kosong, kau percaya itu ?” bertanya Lembu Atak.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakannya ?” kawannya justru
bertanya pula kepadanya. “Kau kira ay ah bersungguh-sungguh ? Aku
tahu, ay ah tentu hanya ingin sekedar membuktikan sampai sejauhmana
kedua anak itu memiliki kemampuan. Dengan demikian ayah tahu, bahwa
aku berbohong. Tetapi jika ayah bersungguh-sungguh kedua orang anak
itu tentu-akan menjadi abu.” Kawan-kawannya mendengarkan dengan
penuh perhatian. Meskipun apa yang dikatakan Lembu Atak itu agak
berbeda dengan ceriteranya yang terdahulu, yang menyatakan
bahwa kedua anak muda yang bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu
mampu mengimbangi kemampuan ayahnya, namun kawan-kawannya
tidakmembantahnya. Apalagi ketika Lembu Atak berkata ”Waktu itu aku
sangat kecewa terhadap ayah, sehingga aku menganggap bahwa ay ah
tidak mampu mengalahkan kedua anak muda itu. Tetapi kemudian baru
aku sadar, bahwa sebenarnya ayah memang tidak ingin menghancurkan
keduanya. Ayah hanya ingin mengetahui apakah aku berbohong atau
tidak.” Kawan-kawannya masih saja mengangguk-angguk. Sementara itu
Lembu Atak berkata ”Kita harus menemukan seseorang yang berilmu
tinggi yang dapat kita benturkan dengan Mahisa Pukat. Lebih
baik jika seseorang yang memiliki latar belakang sebuah perguruan,
sehingga saudara-saudara seperguruannya bahkan lebih baik jika
gurunya turut campur.” “Bagaimana hal itu kita lakukan ?” bertanya
kawannya. “Kita perkenalkan orang itu dengan Kuda Semedi dan Kuda
Semeni. Biarlah kedua anak itu memperkenalkan orang yang akan kita
benturkan dengan Mahisa Pukat dengan adiknya, Sasi.” “Apakah Kuda
Semedi dan Kuda Semeni dapat diikut sertakan?” bertanya kawannya.
“Kita seret anak itu kedalam kubu kita atau mereka akan kita
pencilkan di barak ini.” berkata Lembu Atak. Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bertanya ”Bagaimana
jika ay ahmu mengetahui rencana ini dari siapapun juga ?” Wajah
Lembu Atak menegang. Namun kemudian iapun berkata ”Tidak ada
yang berkhianat diantara kita. Tetapi jika ternyata ada, maka
hukumannya adalah hukuman bagi seorang pengkhianat.” Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Meskipun ada diantaramereka yang tidak
sependapat, tetapi pikiran itu tidak dapat diungkapkannya. Namun
sebagian besar dari mereka sependapat dengan Lembu Atak itu. Kecuali
mereka ingin menjadi sahabat terdekat dari Lembu Atak yang kebetulan
adalah anak Senapati dari pa sukan itu, juga karena mereka mendendam
pula kepada Mahisa Pukat. Mereka akan ikut merasa senang jika Mahisa
Pukat hatinya menjadi terluka atau anak itu dihancurkan sama sekali
oleh satu kekuatan yang mampu mengatasi kemampuannya. Dengan
demikian, maka Lembu Atak dan kawan-kawannyapun telah berusaha
untukmenemukan orang yangmereka cari. Namun sebelumnya Lembu Atak
dan kawan-kawannya telah memanggilKuda Semedi dan Kuda Semeni. Kuda
Semedi dan Kuda Semenimemangmenjadi berdebardebar. Mereka menjadi
cemas jika Lembu Atak dan kawankawannya akhirnya mengetahui, bahwa
ia telah memberitahukan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan
rencananya di saat di rumah Kuda Semedi dan Kuda Semeni ada
keramaian kecil. Tetapi dugaan mereka ternyata keliru meskipun
persoalan yang disampaikan kepada mereka tetapmerupakan per soalan
yang sangatmenggelisahkan baginya. “Kau tidak boleh berpihak kepada
Mahisa Pukat” berkata Lembu Atak ”jika kau tetap berpihak kepadanya,
maka kau akan dipencilkan di barak ini. Kau tahu, bahwa kau akan
mengalami perlakuanyang tidak baik.” Kuda Semedi
termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya ”Apa yang
kalian kehendaki?” “Aku inginmembalasdendam kepada Mahisa Pukat.”
“Apakah kau masih mendendam? Bukankah persoalannya telah dianggap
selesai?” bertanya Kuda Semedi. “Siapa yang menganggap persoalan itu
selesai?” bertanya Lembu Atak. “Bukankah ayahmu telah meny elesaikan
persoalan ini?” jawab Kuda Semedi. “Tidak. Ayahku belum
menyelesaikan per soalan ini dengan tuntas. Ay ah hanya ingin
mengetahui apakah yang telah dilakukan oleh Mahisa Pukat” jawab
Lembu Atak ”tetapi semuanya itu tidak penting. Yang penting, aku
inginmembalas dendam kepada Mahisa Pukat. Jangan salah mengerti. Aku
tidak ingin membalas dendam kepada Sasi. Selebihnya akau kasihan
melihat Sasi berhubungan dengan anak Padepokan itu. Jika hubungan
itu terlanjur menjadi semakin jauh,maka Sasi tentu akan meny esal
dikemudian hari. Apakah artinya anak Padepokan seperti Mahisa Pukat
dan Mahisa Murti itu? Betapapun tinggi ilmunya, tetapi mereka
terkurung dalam lingkungan sempit, sepi dan jauh dari keramaian
Kotaraja. Kehidupan yang demikian tentu merupakan kehidupan yang
menjemukkan. Apalagi Mahisa Pukat dari hari ke hari akan selalu
berada di lingkungan para cantriknya.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni
tidak menjawab. Mereka memang merenungi kata-kata Lembu Atak. Namun
merekapua menyadari bahwa anggapan Lembu Atak itu diwarnai oleh
kekecewaan dan dendamnya kepada Mahisa Pukat. Namun demikian Kuda
Semedi dan Kuda Semenimemang tidak dapat mengabaikan ancaman Lembu
Atak, bahwa mereka berdua akan dipencilkan dari antara
kawan-kawannya di barak. Menurut penilaian Kuda Semedi dan Kuda
Semeni, hal itu memang mungkin terjadi justru karena Lembu Atak
adalah anak Senapati prajurit Singasari di barak itu. Namun dalam
pada itu, Lembu Atak itupun berkata ”Pikirkan kalian berdua. Aku
tidak akan memaksa kalian. Tetapi aku ingin kalian mengerti apa yang
sebenarnya sedang terjadi atas Sasi.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni
tidak menjawab. Mereka masih saja berdiam diri ketika Lembu
Atakmengajak kawankawannyameninggalkanmereka berdua. “Satu
pilihanyang rumit” berkata Kuda Semedi kemudian. “Tetapi ibu
juga pernah meny inggung masa depan Sasi. Secara pribadi aku tidak
berkeberatan terhadap hubungan Sasi dengan Mahisa Pukat. Tetapi ibu
pernah meragukan masa depanmereka.” berkata Kuda Semeni. “Tetapi
bukankah ibu tidak berkeberatan terhadap hubungan mereka?” bertanya
Kuda Semeni. “Pada da sarnya memang tidak. Tetapi bagaimana masa
depan Sa si jika hubungan mereka itu sampai pada satu ikatan
perkawinan? Sementara Mahisa Pukat tidak mempunyai pegangan yang
mantap bagi masa depannya. Apakah artinya hidup dalam sebuah
Padepokan yang apalagi terpencil?” desis Kuda Semeni.
“Bukankah itu persoalan mereka berdua?” sahut Kuda Semedi. “Ya.
Itumemang per soalan mereka. Tetapi setidak-tidaknya Sasi sempat
memikirkannya. Ia tidak boleh sekedar silau melihat ujud Mahisa
Pukat. Kekaguman ay ah atas kemampuannya yang tinggi dalam
olah kanuragan. Tetapi apakah itu sudah cukup bagi kehidupan mereka
kelak. Terutama Sasi?” sahut Kuda Semeni. “Jika Sasimenerima masa
depanyang demikian?” bertanya Kuda Semeni. Kuda Semenimenarik
nafas panjang sambil berdesis ”Jika demikian apa boleh buat.” 0odwo0
Ternyata Gemak Langkas adalah memang orang yang sesuai
sebagaimana dikehendaki oleh Lembu Atak, meskipun Lembu Atak sendiri
setiap kali merasa diremehkan oleh Gemak Langkas. Namun setelah
Gemak Langkasmengetahui bahwa Lembu Atak adalah anak Senapati
prajurit yang berpengaruh di Singasari, maka iapun mulai sedikit
menjaga dirinya. Seperti yang direncanakan, maka pada saat
yang dianggap tepat, dua orang kawan Lembu Atak telah mengajak
Gemak Langkas pergi kerumah Kuda Semedi dan Kuda Semeni, ju stru
tanpa Lembu Atak. Karena kehadiran Lembu Atak tentu akan menimbulkan
per soalan bagi Sasi. Kuda Semedi dan Kuda Semeniyang mendapat
kesempatan untuk tinggal dirumah sehari, menerima kedatangan
kawannya dengan senang hati. Meskipun Kuda Semedi sempat berbisik
ditelinga Kuda Semeni ”Keduanya adalah kawankawan rapat Lembu Atak.”
Tetapi selama keduanya berada di rumah Kuda Semedi dan Kuda Semeni,
keduanya sama sekali tidakmeny inggung nama Lembu Atak atau
persoalan-per soalan yang menyangkut kepentingannya. Keduanya
semakin lama menjadi semakin kehilangan kecurigaan mereka, bahwa
kedatangan keduanya itu ada hubungannya dengan Lembut Atak. Kuda
Semedi dan Kuda Semeni semula juga tidak menghiraukan ketika kedua
orang kawannya itu bertanya tentang adiknya, Sasi. “Sasi ada di
belakang” jawab Kuda Semedi. Namun akhirnya Sasi keluar juga untuk
menghidangkan minuman dan makanan. Gadis itu tidak merasa segan
karena diantara tamu-tamu kakaknya itu tidak ada seorang prajurit
yang bernama Lembu Atak. “Duduklah Sasi” minta salah seorang kawan
Kuda Semedi ”kau tentu .belum mengenal kawanku ini. Namanya Gemak
Langkas. Ia adalah anak seorang saudagar kaya yang rumahnya terletak
disebelah Barat Istana.” “Silahkan minum Ki Sanak” Sasi menyahut
singkat. Namun kawan Kuda Semedi itu berkata pula ”Marilah.
Duduklah. Kenapa kau nampaknya berkeberatan ? Bukankah aku tidak
akan menggigitmu.” Sasi memang terseny um. Seny umnya ternyata telah
menggetarkan jantung Gemak Langkas. “Maaf Sasi” desis Gemak Langkas
”mungkin aku telah menakut-nakutimu. Bukan maksudku, karena aku
tidak tahu bahwa disini ada seorang gadis yang tidak aku
bayangkan sebelumnya.” “Ah, tidak” jawab Sa si. “Jika demikian,
duduklah sebentar saja” berkata kawan Kuda Semedi yang satu lagi.
Sasimemangmenjadi bimbang. Ia merasa segan juga untuk tidakmemenuhi
permintaan tamu-tamu kakaknya. Karena itu, maka Sasipun memandang
kakak-kakaknya untuk minta pertimbangan. Ternyata Kuda Semedi dan
Kuda Semenipun merasa tidak enak pula jika mereka tidak menanggapi
permintaan itu. Karena itu, maka Kuda Semedipun kemudian berkata
”Duduklah sebentar Sasi.” Sasipun kemudian duduk disebelah kedua
orang kakaknya dengan kepala tunduk. Ia ju stru merasa bingung,
karena ia tidak tahu apa yang harusdiperbuat. Kawan Kuda Semedi yang
seorang itulah yang kemudian bertanya kepadanya ”Kau sendirikah yang
membuatmakanan itu?” Sasimengangkat wajahnya sedikit. Namun kemudian
iapun menjawab ”Bukan. Ibulahyang membuatnya.” “O” tamunya
mengangguk kecil ”tetapi bukankah kau membantunyamembuatmakanan itu
?” Sasi mengangguk kecil. Katanya ”Hanya membantu sedikit.” “Nah,
jika minuman ini tentu kau yang membuatnya” berkata kawan kakaknya
yang seorang lagi. “Ya.” Sasi mengangguk. ”Minumlah” gadis itu
mempersilahkan tamu-tamunya. Tamu-tamu itupun kemudian telah meneguk
minuman hangat yang dihidangkan oleh Sasi. Dengan menganggukangguk
kecil Gemak Langkas berdesis ”Segar sekali. Aku seringminum wedang
sere. Tetapi tidak sesegar kali ini.” Susi hanyamenunduk saja.
Tetapi ia tidakmenjawab. Ternyata Gemak Langkas pandai juga
berbicara tentang makanan dan minuman, sehingga ia mulai lebih
banyak berbicara. Sekali-sekali ia meny ebut nama Sasi dan memujinya
berkali-kali minumanyang dihidangkannya. Namun hal itu justru
membuat Sasi menjadi gelisah, sehingga iapun kemudian beringsut
sambil berkata ”Maaf. Aku masih harusmembantu ibu didapur.” “Masih
apa lagi yang diper siapkan didapur ?” bertanya salah seorang
kawan kakaknya. “O, tidak ada. Hanya mencuci mangkuk” jawab Sasi.
Dengan demikian maka Sasipun telah meninggalkan tamutamu kakaknya
kembali ke dapur.Namun demikian ia bangkit, Gemak Langkas berkata
”Kapan-kapan aku akan datang lagi Sasi. Wedang seremu tentu akan
membuat aku selalu ingin meneguknya lagi.” Sasi tidak menjawab,
meskipun ia terseny um. Senyum basa -ba si saja. Demikianlah, ketiga
orang tamu itu masih berbincang beberapa lama.Namun kemudian
merekapun telah minta ciri. Sementara itu Sa simasih saja
bersungut-sungut didapur. Ibunya yang melihat Sasi murah
segera bertanya ”Kau kenapa Sasi ? Kenapa dengan kakak-kakakmu ?”
”Tamunya itu ibu” jawab Sa si. “Kenapa dengan tamunya ?” bertanya
ibunya. “Seorang diantaranya nampaknya agak kasar” jawab Sa si.
“Kawan kakak-kakakmu di lingkungan keprajuritan ?” “Bukan ibu.
Tetapi anakmuda itu datang ber sama dengan kedua kawan kakang Kuda
Semedi dan kakang Kuda Semeni.” jawab Sa si. Ibunya menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”sudahlah. Kau jangan terlalu cepatmarah.
Mungkin ia tidak bermaksud buruk. Tetapi karena sifat dan
tabiatnya,maka nampaknya ia bertabiat kasar. Tetapi kau belum
mengenalnya lebih jauh.” “Aku tidak ingin mengenalnya lebih jauh”
jawab Sasi. Ibunya tidak menjawab lagi. Sasipun kemudian telah sibuk
mencuci mangkuk didapur. Ia memang sering melakukannya meskipun ada
juga pembantu dirumahnya. Namun beberapa saat kemudian, Kuda
Semenimencarinya didapuruntukmemanggilnya. “Mereka akan berpamitan
Sasi” berkata Kuda Semeni. “Kenapa kepadaku ? Bukankah mereka itu
tamumu ?” bertanya Sasi sambil ber sungut-sungut. “Mereka ingin
pamit kepadamu. Apa salahnya ?” bertanya Kuda Semeni. “Pergilah Sa
si” desis ibunya ”kau akan dapat dianggapnya sebagai seorang
gadisyang sombong.” Tetapi Sa si justru berkata ”Katakan
kepada tamu-tamumu bahwa Sasi sedang dipingit. Ia tidak boleh keluar
apalagi menemui tamu laki-laki.” “Ah, jangan begitu” potong ibunya
”jika mereka orang yang tidak kami kenal, maka aku akan
melarangmu. Tetapi bukankah mereka kawan-kawan kakak-kakakmu ?”
”Yang seorang bukan” jawab Sa si. “Ay olah Sasi, sebentar saja”
minta Kuda Semeni. Akhirnya Sasi memang tidak dapat menolak. Iapun
kemudianmengikuti kakaknya keluar dari pintu pringgitan. Ketiga
orang tamu itu memang hanya minta diri kepada Sasi. Namun anak muda
yang bernama Gemak Langkas itu ber sikap berlebihan sehingga
Sa si menjadi semakin kurang senang kepadanya. Tetapi seperti
yang pernah dikatakan,maka iapun berkata lagi ”Sasi, aku akan
datang lagi untuk sekedar minum wedang seremu yang segar.
Bukankah kau tidak akanmenolak ?” Sasi justru tidakmenjawab.
Kepalanya justrumenunduk. Demikianlah, sejenak kemudian, maka ketiga
orang tamu Kuda Semedi dan Kuda Semeni itupun meninggalkan halaman
rumah itu. Sementara Sa si telah kembali ke dapur pula. Namun Sasi
menyadari, bahwa anak muda yang bernama Gemak Langkas itu tentu
benar -benar akan kembali mengunjunginya. Karena itu, ketika kedua
kakaknya setelah melepaskan tamunya juga pergi ke dapur, Sa si
langsung berkata ”Kenapa kau perkenalkan aku dengan Gemak Langkas.”
“Aku tidak berniat demikian Sasi” jawab Kuda Semedi ”yang aku
lakukan sebenarnya hanyalah sekedar basa -basi.” “Tetapi ia tentu
akan kembali lagi kemari.” berkata Sa si kemudian. “Tetapi bukankah
kau sudah cukup dewasa, sehingga kau akan dapatmenanggapinya dengan
cara seorang gadis dewasa. Kau dapat menghindarkan dirimu dengan
cara yang baik dari anakmuda itu. Sudah tentu tidak perlu
menyakiti hatinya.” Sasi termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak
menjawab lagi. Meskipun demikian, kedatangan Gemak Langkas telah
membuat hatinya gelisah. Itulah sebabny a, maka ketika Mahisa Pukat
datangmenemuinya, Sasi telah men-ceriterakan perkenalannya dengan
Gemak Langkas. “Menilik sikapnya, Gemak Langkas tentu seorang anak
muda yang kasar. Menurut kakang Kuda Semedi dan kakang Kuda
Semeni, Gemak Langkas termasuk seorang anak yang manja. Namun dengan
demikian,maka ia bukan seorang yang berpribadi. Meskipun ayahnya
seorang saudagar yang kaya raya, namun itu tidakmenjamin bahwa
ia mampumandiri.” Namun Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya ”Kenapa
kau menilaiGemak Langkas sampai sejauh itu ?” Pertanyaan itu
mengejutkan Sa si. Namun kemudian iapun ber sungut-sungut pula ”Kau
justrumentertawakan aku.” “Tidak. Aku tidak mentertawakanmu. Tetapi
seharusnya kau tidak menjadi demikian gelisahnya menanggapi
perkenalan itu.” sahutMahisa Pukat. Sasi termangu-mangu sejenak.
Namun ia sempat berdesis” sahut Mahisa Pukat. ”Sudahlah” berkata
Mahisa Pukat kemudian ”sebaiknya kau bicarakan hal ini dengan kedua
orang kakakmu. Mereka tentu akan membantumu mengatasi kesulitanmu,
jika benar orang itu akan membawa kesulitan atasmu. Bukan berarti
aku tidak ber sedia membantumu. Tetapi bukankah aku sekarangmasih
berdiri diluar batas keluargamu. Meskipun demikian, jika diperlukan,
aku akan melakaukan apa saja yang pantas aku lakukan.” Sasi
menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa mendapat perlindungan dari
Mahisa Pukat sehingga hatinyapun menjadi semakin tatag. Karena itu,
maka sebagaimana pesan Mahisa Pukat, agar Sasi tidak bersikap keras
sehingga akan dapat menimbulkan kesan bahwa Sa si adalah
gadisyang sombong. “Seorang laki-laki yang mempunyai
harga diri berlebihan, mengalami perlakuan yang demikian dari
seorang gadis akan dapatmenimbulkan dendam di hatinya” berkata
Mahisa Pukat kemudian. “Tetapi bagaimana jika anak muda itu tidak
tahu diri?” bertanya Sasi. “Cobalah dengan sikap yang lunak” desis
Mahisa Pukat ”kecuali jika anak muda itu seorang anak muda yang
tidak tahu diri. Jika demikian, kaumemang harus bersikap tegas.”
Sasi mengangguk-angguk. Ia merasa bahwa pesan Mahisa Pukat itu akan
dapat dipergunakannya sebagai pegangan. Apalagi kemudian, ketika
Sasi berbicara dengan ay ah dan ibunya tentang Gemak Langkas, maka
nasehat ay ah dan ibunya ternyata tidak jauh berbeda dengan nasehat
Mahisa Pukat sehingga Sasi punmenjadi semakin tenang. “Aku sudah
mengenal ayah anak yang kau sebut bernama Gemak Langkas itu
meskipun tidak begitu akrab. Ia memang seorang yang kaya raya.
Namun sifatnya memang kurang disenangi oleh kawan-kawannya. Justru
karena ia seorang yang kaya raya, maka ia memang agak sombong.
Tetapi kau tidak perlu cemas tentang ay ah anakmuda itu” berkata
Arya Kuda Cemani. Dengan demikian, maka Sasi memang tidak menolak
kehadiran Gemak Langkas, ketika ia benar-benar telah datang
berkunjung ke rumahnya. Justru ketika kakakkakaknya tidak ada di
rumah. Demikian pula ayahnya. Namun ketika ia minta pertimbangan
ibunya, maka ibunyapun berkata ”Temuilah. Tetapi tidak terlalu lama.
Jika ia masih belum juga pergi, biarlah akumemanggilmu.” Demikianlah
Sasi dengan berat hati telah menemuiGemak Langkas yang datang
seorang diri. Ternyata Gemak Langkas adalah seorang anak muda
yang memang terbuka. Meskipun ia masih belum terlalu sering
berhubungan dengan Sa si, namun seakan-akan ia telah mengenalnya
bertahun-tahun. Iapun segera berceritera tentang dirinya sendiri,
keluarganya dan kekayaannya. “Sasi” berkata Gemak Langkas itu
kemudian ”aku membawa oleh-oleh buatmu. Aku harap kau tidak menolak.
Aku memberikan oleh-oleh ini dengan ikhlas tanpa maksud apa-apa.”
Wajah Sasi menjadi tegang. Sementara itu, Gemak Langkas telah
mengambil sebuah bungkusan kecil dari kantong ikat pinggang kulitnya
yang lebar. Sasi masih saja termangu -mangu. Gemak Langkas pun
sekali lagi mendesaknya ”Terimalah Sasi. Memang tidak seberapa,
tetapi aku akan merasa berbahagia sekali jika kau maumenerimanya.”
Sasi justru menjadi semakin tegang. Tetapi ketika Gemak Langkas
beringsutmaju untukmeny erahkan bungkusan kecil itu, Sasi justru
bergeser mundur. “ Ini bukan apa-apa Sasi” berkata Gemak Langkas
pula. Kemudian sambil membuka bungkusan kecil itu ia berkata
”Lihatlah. Hanya sebuah kalung kecil dengan bandul kecil pula.
Bandul itu memang terbuat dari berlian. Sasi, tetap harganya tidak
seberapa dibandingkan dengan nilai persahabatan kita.” Namun
akhirnya Sa si memberanikan diri untukmenjawab, meski pun ia selalu
ingat akan pesan Mahisa Pukat dan pesan ay ahnya. Ia tidak boleh
bertindak kasar. “Gemak Langkas” berkata Sa si kemudian ”bukan
maksudku untuk menolak kebaikan hatimu. Tetapi aku minta maaf, bahwa
aku tidak dapat menerima pemberianmu. Aku tahu, bahwa kau memang
tidak mempunyai maksud apa -apa. Namun agaknya berat bagiku, sebagai
seorang gadis untuk menerima pemberian seorang anak muda yang baru
saja dikenalnya.” Wajah Gemak Langkas menegang. Bandul kalung
yang diberikannya itu adalah bandul bermata berlianyang
harganya sangat mahal. Demikian pula kalung emas yang cukup besar
itu pun nilainya cukup tinggi. Tetapi Sa si telahmenolaknya. Dengan
sungguh-sungguh Gemak Langkas telah mendesaknya sekali lagi. Sambil
ber singsut mendekat ia berkata ”Sasi. Kenapa kaumenolak? Sudah aku
katakan bahwa benda ini nilainya memang tidak seberapa dibanding
dengan nilai per sahabatan kita. Tetapi kali ini memang hanya ini
yang dapat aku berikan kepadamu. Mudah-mudahan lain kali aku
dapatmembawa oleh-oleh yang lebih baik bagimu, bagi kakakkakakmu dan
bagi ayah dan ibumu. Bahkan ay ahku tentu tidak berkeberatan jika ay
ah sendiri datang dengan membawa oleh-oleh itu.” “Aku mengucapkan
terima kasih yang tidak terhingga, Gemak Langkas. Tetapi aku
mohon maaf, bahwa aku tidak dapat menerima pemberianmu itu. Meskipun
aku tahu bahwa kau memberikan benda itu dengan ikhlas dan tidak
dengan maksud apa -apa.” Wajah Gemak Langkas menjadi semakin tegang.
Rasa - rasanya sia -sia saja ia memaksa Sasi yang nampaknya berhati
keras itu. Namun Gemak Langkas ternyata juga seorang yang cerdik. Ia
sama sekali tidak kelihatan marah. Katanya ”Baiklah Sasi. Jika kau
tidak menyukai benda ini. Aku akan membawanya pulang. Benda ini akan
aku kembalikan kepada ay ah dan ibu agar ayah dan ibu membelikan
oleh-oleh yang lebih berarti bagimu. Nah, aku minta diri Sasi. Lain
kali aku akan datang lagi.” Mulut Sasi justru bagaikan terbungkam.
Karena itu, ia sama sekali tidak menjawab. Namun ketika Gemak
Langkas bangkit dan melangkah turun kehalaman, maka Sasi itupun
telah mengantarnya sampai ke tangga pendapa rumahnya. Demikianlah
Gemak Langkaspun pulang sambil membawa benda yang disebutnya sebagai
oleh-oleh itu. Demikian ia keluar dari regol halaman rumah Arya Kuda
Cemani, maka iapun menggeram sambil memukul telapak tangan kirinya
sendiri dengan tangan kanannya. Dengan geram ia bergumam
”Perempuanyang angkuh. Ayahnya sama sekali bukan seorang yang kay a.
Tetapi ia menolak pemberianku yang sangat berharga itu. Buat apa ia
begitu tinggi menjunjung harga dirinya ?Apakah karena ayahnya
seorang Senapati ?” Namun iapun bergumam pula ”Lain kali aku akan
datang. Aku harusmenaklukkan gadis itu. Betapa tinggi hatinya,
tetapi dengan emas dan berlian, hatinya itu tentu akan luluh.”
Sebenarnya bahwa Gemak Langkas telah bertekad untuk pada suatu
saatmenundukkan Sasi yang dianggapnya seorang gadis yang angkuh itu.
Sementara itu Sa si telah berlari mendapatkan ibunya di dapur.
Ibunya terkejut melihat Sasi mengusap matanya yang merah. Dengan
geram ia berkata ” Ibu, anak muda itu telah menghina aku.” “Apa yang
telah terjadi ?” bertanya ibunya. “ Ia telah membawa oleh-oleh
buatku. Sebuah kalung bermata berlian.Dikiranya aku ini apa ?” sahut
Sasi. “Anakmuda itu akan memberikan kalung bermata berlian ?”
bertanya ibunya. “Ya ibu. Kalung emas dengan bandul emas bermata
berlian. Bukankah berarti ia menganggap aku dapat dibeliny a seharga
kalung dan bandul bermata berlian itu ?” Ibunya menarik nafas
dalam-dalam. Didekatinya Sasi yang duduk diamben panjang
sambil berkali-kali mengusap matanya yang basah. Ternyata Sa
si benar-benar tersinggung oleh tingkah laku Gemak Langkas itu.
Sambil duduk disebelahnya ibu Sa si itu berkata ”Sudahlah Sasi.
Jangan dipikirkan terlalu dalam. Bukankah kau tidak mau menerima
pemberian itu, sehingga kau sama sekali tidak berhutang apapun
kepadanya ?” Sasimengangguk kecil. “Nah, sampaikan hal itu nanti
kepada ay ahmu dan jika kebetulan kedua kakakmu pulang, katakan pula
kepada mereka.” berkata ibunya. Sasimengangguk. Desisnya ”Ya ibu.”
“Nah, sekarang kau tidak usah mengingatnya lagi. Bukankah ia sudah
pergi ?” bertanya ibunya. Sasimengangguk pula. “Nah, kerjakan apa
yang tadi baru kau kerjakan.” berkata ibunya pula. Sasi tidak
menjawab. Namun iapun kemudian telah menyibukkan dirimembantu ibunya
kerja di dapur. Yang ditunggu Sasi selain ay ahnya sebenarnyalah
bukan kedua kakaknya. Tetapi justru Mahisa Pukat. Ia harus
mengatakan kepada anakmuda itu, apa yang telah dilakukan oleh
Gemak Langkas. Ketika lewat tengah hari ayahnya pulang, maka Sasipun
langsung melaporkan perlakuan Gemak Langkas itu kepadanya, sehingga
ibunyapun berkata ”Sasi. Biarlah ay ahmu beristirahat dahulu.”
Tetapi Sa si tidak sabar lagi. Katanya ”Dadaku serasa menjadi sesak,
ibu. Ayah harus segera mengetahuinya.” “Ada apa Sasi ? Nampaknya kau
menjadi sangat gelisah.” bertanya ayahnya. Sasi memang tidak
menunggu lagi. Iapun segera memberitahukan kepada ayahnya, apa yang
telah terjadi dengan Gemak Langkas. Ayahnya mendengarkan laporan
Sasi dengan sungguhsungguh. Sambil menarik nafas panjang ia kemudian
berkata ”Apa yang kau lakukan sudah benar Sasi. Kau memang
tidak boleh menerima pemberian dari siapapun yang bukan
keluarga kita sendiri. Kau sudah cukup dewasa sehingga kau tentu
sudah tahu maksud anak muda itu. Tentu bukannya tidak bermaksud
apa-apa sepertiyang dikatakannya itu.” Sasi mengangguk-angguk.
Ay ah dan ibunya sudah menyatakan sikapnya. Mereka menganggap bahwa
apa yang dilakukan itu sudah benar. Namun masih ada seorang lagi
yang akan diberitahu tentang persoalan itu.Mahisa Pukat. Seperti
yang diharapkannya, maka sore itu Mahisa Pukat memang datang kerumah
Sasi. Seperti biasanya, kadangkadang Arya Kuda Cemani menemuinya
beberapa saat. Baru kemudian Mahisa Pukat itu ditinggalkannya ber
sama Sasi. Meskipun belum dinyatakan secara resmi, namun hubungan
anakmuda itu dengan anaknya sudah diketahui oleh orang tua kedua
belah pihak. Pada kesempatan itu, Arya Kuda Cemani sebagai seorang
tua telah memberitahukan dengan terus terang sikap Gemak Langkas
terhadap anak gadisny a. Dengan nada berat Arya Kuda Cemani itu
berkata ”Seperti ayahnya, anak itu terlalu yakin akan kekay aanyang
melimpah yang dimilikinya. Karena itu, ia menganggap bahwa apapun
akan dapat diselesaikan dengan uangnya.Namun lebih dari itu, Gemak
Langkas adalah seorang anak muda yang berilmu. Ia berguru
kepada seorang pemimpin padepokan yang berpengaruh. Dengan uangnya,
maka gurunyalah yang setiap waktu yang ditentukan datang kepadanya
untukmenuntunnya dalam olah kanuragan.” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Pemberitahuan dari ay ah Sasi itu kepadanya, oleh
Mahisa Pukat dianggap sebagai satu isy arat bahwa Mahisa Pukat harus
berhati-hati. Anak muda yang bernama Gemak Langkas itu akan dapat
bertindak ka sar jika niatnya dihalangi oleh siapapun juga. Sebagai
anak seorang saudara yang kay a, maka semua kemauan Gemak Langkas
biasanya pa sti terpenuhi. Mahisa Pukat yang tanggap akan isy
arat itu mengangguk kecil sambilmenyahut ”Aku akan
berhati-hatiRaden.” “Aku percaya akan kemampuanmu. Tetapi kau
kadangkadang tidak memperhitungkan langkah-langkah licik seseorang.
Karena itu, maka kau harus mulai berhati-hati menghadapi orang
yang tidak kau kenal benar tabiatnya.” Mahisa Pukat mengangguk
dalam-dalam. Meskipun ia tidak menjawab, namun Raden Kuda Wereng itu
tahu pasti, bahwa anakmuda itu memperhatikan setiap kata-katanya.
Ketika kemudian Arya Kuda Cemani yang juga disebut Raden Kuda Wereng
itu meninggalkan Mahisa Pukat dan Sasi berdua, maka Sa si telah
minta kepada Mahisa Pukat agar besok ia bersedia datang sebelum
tengah hari. “Mungkin ia akan datang lagi. Menurut perhitunganku
atas sifat anakmuda itu,maka besok ia akan datang dan membawa benda
yang lebih berharga dari yang dibawanya pagi tadi.” berkata Sasi
kemudian. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Besok
sebelum tengah hari aku akan datang.” Demikianlah, setelah beberapa
saat Mahisa Pukat berada dirumah Sa si, maka iapun telah minta diri.
Bukan saja kepada Sasi, tetapi juga kepada kedua orang tuanya. “Kau
memang harus berhati-hati ngger” berkata Arya Kuda Cemani. “Baiklah
Raden” jawab Mahisa Pukat ”aku akan selalu ingat pesan ini.” “Agar
ayahmu tidak terkejut jika terjadi sesuatu, sebaiknya kaupun
berceritera pula kepada ayahmu, Ki Mahendra” pesan Arya Kuda Cemani.
Mahisa Pukat mengangguk hormat sambil menjawab ”Baiklah. Aku akan
berbicara dengan ayah.” Demikianlah,maka seperti pesan Arya Kuda
Cemani, ketika Mahisa Pukat sampai dirumah, iapun telah menyampaikan
kepada ayahnya, apa yang telah terjadi dirumah Sasi serta
pesan Arya Kuda Cemani kepadanya. Mahendra menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Tetapi bukan berarti bahwa kau harus
menghadapi Gemak Langkas dengan kekerasan. Sejauh dapat diatasi
dengan cara yang baik, maka kau harusmencobanya. Hanya dalam
keadaan terpaksa kau dapatmempergunakan ilmumu untukmelindungi
dirimu. Bukan sekedar untukmenunjukkan kelebihanmu dari Gemak
Langkaskepada Sasi. Itu jika kau mempunyai kelebihan.” Mahisa
Pukatmengangguk sambilmenjawab ”Ya ayah.” “Hati-hatilah dengan
sikapmu. Kau berada ditempat yang bagimu asing disini. Tatanan
kehidupan tentu agak berbeda dengan tatanan kehidupan di Padepokan
Bajra Seta dan sekitarnya.” “Akumengerti ay ah” jawab Mahisa Pukat.
“Baiklah. Jika kau besok akan datang, datanglah. Tetapi sekali lagi
aku pesan, jagalah namamu baik-baik dirumah orang. Kecuali itu, kau
memang harus berhati-hati sebagaimana pesan Raden KudaWereng.” pesan
ayahnya. “Ya ayah” jawab Mahisa Pukat ”aku mengerti. Demikianlah,
maka persoalan Sa si itu telah membuat Mahisa Pukat ikut gelisah.
Bagaimanapun juga ia membayangkan bahwa Gemak Langas akan
mempergunakan kekerasan, sehingga Mahisa Pukat harusmelayaninya.
Tetapi ia memang berpegangan kepada pesan ayahnya, bahwa ia hanya
akan membela diri. Te|apimenurut pengertian Mahisa Pukat bahwa
membela diri itu termasuk membela harga diri Sa si. Dihari
berikutnya, Mahisa Pukat telah berbenah diri saat matahari terbit.
Kegelisahannya nampak pada sikapnya yang seakan-akan berdiri diatas
bara. Sejak selesai makan pagi, maka Mahisa Pukat telah mondar
-mandir saja diserambi depan. Ra sa-rasanya hari berjalan lamban
sekali. Matahari dengan malas merayap kelangit. Sehingga Mahisa
Pukat hampir tidak sabar menunggu matahari mendekati puncaknya,
karena Sasi berpesan agar ia datangmenjelang tengah hari. Ketika
matahari memanjat langit semakin tinggi, Maka Mahisa Pukat tidak
menunggu lebih lama lagi. Iapun segera minta diri kepada ayahnya
untuk segera pergi kerumah Arya Kuda Cemani. Sekali lagi ay ahnya
berpesan, agar Mahisa Pukat berhatihati dan tidak tergesa-gesa
mengambil sikap sebelum dipikirkanmasak-masak. Dengan jantung yang
berdebaran Mahisa Pukat pergi kerumah Sasi sebagaimana diminta oleh
gadis itu. Namun iapun berharap bahwa ia akan benar-benar dapat
bertemu dengan Gemak Langkas. Bahkan kadang-kadang ia berniat untuk
melupakan saja pesan ay ahnya. Ia ingin langsung menantang Gemak
Langkas untuk beradu kemampuan. Namun peringatan ay ahnya itu
ternyata setiap kali seakanakan terngiang di telinganya. Bahwa bukan
menjadi kebiasaannya untuk dengan sengajamencari lawan. Jika
kesadaran itu mulai merayap di hatinya,maka Mahisa Pukatpun menjadi
tenang. Ia tidak lagi berjalan tergesa -gesa menuju kerumah Sasi.
Tetapi ia melangkah dengan sedikit menahan diri sehingga
tidakmenarik perhatian orang. Ketika Mahisa Pukatmemasuki regol
halaman rumah Sasi, maka jantungnya terasa semakin cepat bergetar.
Namun ternyata tidak seorangpun berada di pendapa rumah itu. Karena
itu,maka Mahisa Pukat harusmasuk lewat seketeng kiri sebagaimana
setiap kali dilakukan jika ia berkunjung kerumah itu dan tidak ada
seorangpun yang melihatnya datang. Seorang pembantu rumah itu
yang melihat Mahisa Pukat segera memberitahukannya kepada
Sasi, sehingga sejenak kemudian maka Sasipun telah mempersilahkan
Mahisa Pukat untuk duduk dipendapa. “Apakah aku sudah terlambat?”
bertanya Mahisa Pukat. “Kenapa terlambat?” bertanya Sasi. “Bukankah
kau minta aku datangmenjelang tengah hari?” Mahisa Pukatpun ganti
bertanya. “O” Sasi mengangguk-angguk ”ternyata anak muda itu belum
datang.Mudah-mudahan ia tidak datang” Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Katanya kemudian ”Ya. Mudah-mudahan ia tidak akan
datang untuk seterusnya.” Namun baru saja mulut Mahisa Pukat
terkatub, seekor kuda yang tegar telah memasuki halaman.
Penunggangnya ternyata masih belum turun dari kuda itu. Baru setelah
kuda itu berhenti tepat didepan tangga pendapa, penunggannya
meloncat turun, Sambil menambatkan kudanya, ia berkata nyaring
”Sasi. Aku memenuhi janjiku. Aku datang lagi dengan membawa
oleh-oleh yang lebih berarti dariyang kau tolak itu. Aku harap
kau senangmenerimanya.” Sasi masih duduk dipendapa bersama Mahisa
Pukat. Namun keduanyapun kemudian berdiri dan gelangkah ke tangga.
“Marilah, silahkan naik” Sasi mempersilahkan. Anak muda itu
memandang Mahisa Pukat dengan tajamnya. Sementara itu Mahisa Pukat
mengangguk hormat sambil berkata ”Marilah, silahkan Ki Sanak.” Wajah
Gemak Langkas berkerut. Namun iapun kemudian melangkah naik tanpa
menghiraukan Mahisa Pukat. Anak muda itu langsung melangkah ke t
ikar pandan yang terbentang dipringgitan. Mahisa Pukat menarik nafas
dalam-dalam. Untunglah bahwa pesan ayahnya telah terngiang lagi di
telinganya, sehingga ia tidak dengan tergesa -gesa melakukan
tindakan yang dapatmenimbulkan persoalan. Ketika Gemak Langkas duduk
ditikar yang terbentang itu, maka Sasi dan Mahisa Pukatpun telah
ikut duduk pula. Namun tiba -tiba saja Gemak Langkas berkata ”Sasi,
aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku tidak mempunyai kepentingan
dengan orang lain. Karena itu, maka sebaiknya kita hanya berdua saja
tanpa orang lain.” “Aku tidak tahu maksudmu Gemak Langkas.” jawab
Sasi. “Bukankah sudah jelas? Aku hanya ingin bertemu dengan kau
saja. Tidak dengan orang lain. Karena itu, jika disini ada orang
lain, aku minta orang lain itu meny ingkir saja” berkata Gemak
Langkas tegas. “Jadi maksudmu, aku kau minta untukmengusir tamuku?”
bertanya Sasi “Aku hanya mengatakan, aku hanya ingin bertemu dengan
kau seorang diri. Terserah caramu, aku tidak akan menentukannya”
berkata Gemak Langkas kemudian. Namun Sasi menjawab ”Tidak Gemak
Langkas. Aku tidak dapat mengusir tamuku, siapapun orang itu. Jika
seseorang datang kepadaku dengan maksud baik, maka aku akan
menerimanya dan menemuinya sebagai seorang tamu. Ayah dan ibuku
mengajar aku, agar aku menghormati tamu-tamuku sepanjang ia tidak
berniat berbuat kurang baik”. Wajah Gemak Langkas menjadi merah.
Sementara itu Mahisa Pukat masih berdiam diri. Ia justru tertarik
mendengarkan pembicaraan antara Gemak Langkas dengan Sasi. “Sasi”
berkata Gemak Langkas kemudian ”kau yang mempunyai rumah ini.
Karena itu, kau yang mempunyai wewenang untuk mengusir
sseorang dari rumah ini. Tentu bukan aku. Karena itu sekali lagi aku
minta, biarlah kita berbicara berdua saja. Aku tidak senang ada
orang lain yang tentu hanya akanmengganggu saja” Tetapi sekali lagi
jawaban Sa si mengejutkan ”Gemak Langkas. Memang bukan kewajiban
kami untukmembuat kau senang. Tersereah kepadamu, apakah kau senang
atau tidak. Tetapi aku tidak pantas mengusir seorang tamu yang
datang dengan niat baik kepadaku. Karena itu maka aku juga tidak
mengusirmu seandainya tamuku yang datang lebih dahulu berkata
sebagaimana yang kau katakan.” Telinga Gemak Langkasmemangmenjadi
panas. Bahkan ia seakan2 telah kehilangan kekang atas dirinya.
Karena itu, maka katanya ”Baiklah. Jika kau tidakmau mengusirnya,
aku yang akan mengusir orang itu.” “Kau tidak berhakmelakukannya,
Gemak Langkas. Rumah ini bukan rumahku. Bukankah kau sendiri telah
mengatakannya” desis Sasi. Sejenak Gemak Langkas justru terbungkam.
Namun kemudian katanya ”Aku tidak mau menerima perlakuan ini. Aku
akan pergi saja. Oleh-oleh yang aku bawa akan aku bawa pulang.
Pada kesempatan lain aku akan memberikan kepadamu. Tetapi pada
kesempatan lain pula, aku akan membuat perhitungan dengan orang
ini.” Namun yang dicemaskan Mahisa Pukat itupun memang terjadi.
Ketika disore hari Mahisa Pukat sedang berjalan menuju kerumah Sasi,
maka tiba-tiba saja seekor kuda yang tegar berlari kencang
menyambarnya. Sebenarnya Mahisa Pukat telah berusaha menepi. Namun
kuda itu sengaja berlari menepi pula. Bahkan kemudian tangan
penunggangnya seakan-akan dengan sengaja menyambar kepalanya
demikian kerasnya. Untunglah bahwa Mahisa Pukat selalu berhati-hati
menghadapi kesulitan yang tiba -tiba datang. Ketika ia melihat Gemak
Langkas berada dipunggung kuda yang berlari kencang, maka ia
sudah ber siap menghadapi kemungkinan buruk itu. Karena itu, ketika
kuda itu menyambarnya dengan kecepatan tinggi, maka Mahisa Pukatpun
dengan tangkas pula meloncat menghindar. Dengan kecepatan melampaui
kecepatan lari kuda itu, Mahisa Pukat berhasil meloncat parit
dipinggir jalan itu dan tegak berdiri diatas tanggul diseberang
parit yang cukup lebar itu. Beberapa orang perempuan yangmelihatnya
terpekik kecil. Namun merekapun menarik nafas panjang serta mengusap
dadanya sambil berkata ”Untunglah, anak itu sempat menghindar. Jika
tidak, maka ia akan dapat terlempar jatuh dan terluka. Apalagi jika
kaki kuda itu menginjaknya.” Sementara itu, Gemak Langkasyang
sempat berpaling dan melihat Mahisa Pukat berdiri ditanggul seberang
parit, telah mengumpat kasar. “Kenapa anak iblis itu tidak
terlempar” geramnya. Namun Gemak Langkas tidak kembali. Ia melarikan
kudanya semakin cepat dan hilang dikelok jalan. Mahisa Pukatpun
menarik nafas panjang pula. Bagaimanapun juga terasa debar
jantungnya semakin cepat. Namun iapun kemudian telah melanjutkan
perjalanan menuju kerumah Sasi. Ketika ia menceriterakan peristiwa
itu kepada Sasi, maka Sasipun berkata ”Kau memang harus
berhati-hati. Apalagi ia tidak sendiri.” “Ya” jawab Mahisa Pukat.
Namun katanya pula ”jika ia mempunyai latar belakang kehidupan di
sebuah padepokan, maka akupun seorang penghuni padepokan pula.”
“Tetapi disini kau sendiri” berkata Sasi. “Tentu tidak” jawab Mahisa
Pukat ”jika aku berada di pihak yang benar maka paugeran dan tatanan
yang berlaku akan melindungi aku.” Sasi mengangguk kecil.
Katanya ”Tetapi menghadapi seseorang seperti Gemak Langkas, tatanan
dan paugeran sering terlambatmelindungi seseorang.” “Ya.” sahut
Mahisa Pukat.Namun katanya ”Tetapi aku juga membawa pedang.” Sasi
menarik nafas dalam-dalam. Jika ia terlalu mencemaskan Mahisa Pukat,
maka Mahisa Pukat justru akan dapat ter singgung karenanya. Karena
itu,maka Sasipun tidak lagimempertanyakan apa yang telah terjadi.
Tetapi bagi Mahisa Pukat sendiri, peristiwa itu merupakan peringatan
baginya, agar ia menjadi semakin berhati-hati menghadapi anakmuda
itu. Ketika Mahisa Pukat kemudian minta diri untuk kem bali ketempat
tinggal ayahnya dibagian belakang istana, maka ia minta
Sasimenceriterakan hal itu kepada ay ahnya. “Jika terjadi sesuatu,
maka ay ahmu telah mengetahui persoalanyang sebenarnya.” berkata
Mahisa Pukat. “Aku akan mengatakannya” sahut Sasi. Ketika kemudian
Mahisa Pukat berjalan pulang, maka ia menjadi semakin berhati-hati.
Jika ia berpapasan dengan seorang yang duduk diatas punggung
kuda, maka iapun memperhatikan orang itu dengan baik. Apakah orang
itu Gemak Langkas atau orang lain sekalipun yang memperhatikannya
berlebihan. Jantung Mahisa Pukat memang berdesir ketika ia melihat
Gemak Langkas duduk diatas punggung kudanya. Tetapi kuda itu
berhenti seakan-akan memang menunggunya dipinggir jalan. Mahisa
Pukat tidak dapat berhenti dan melangkah kembali. Apalagi darah
mudanya yang memang cepat menjadi panas jika
persoalannyamenyangkut Sasi. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun
melangkah terus dengan langkahyang pasti. Ketika Mahisa Pukat
melangkah lewat didepan Gemak Langkas yang duduk diatas punggung
kudanya, maka Mahisa Pukat sama sekali tidak menunjukkan perubahan
langkahnya. Ia berjalan saja seakan-akan tidak menghiraukan sama
sekali kehadiran Gemak Langkas itu. Melihat sikap itu hati Gemak
Langkas menjadi semakin panas. Namun iapun masih tetap menahan diri.
Bahkan Gemak Langkas itupun tersenyum sambil berkata ”He, bukankah
kau yang bernama Mahisa Pukat.” Mahisa Pukat memang berhenti. Sambil
berputar kearah Gemak Langkas Mahisa Pukatpunmenjawab. ”Ya. Aku
Mahisa Pukat.”' “Kau yang bertemu dengan aku dirumah Sasi?” bertanya
Gemak Langkas itu pula. “Ya. Kau masih ingat? Aku juga yang
dengan sengaja kau sambar dengan kudamu tadi? Kau masih ingat?”
bertanya Mahisa Pukat. Telinga Gemak Langkas menjadi merah. Tetapi
ia masih menahan diri. Sambil tersenyum ia berkata ”Ya. Aku masih
ingat.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk, katanya ”Nah, sekarang kau
agaknya sengajamenunggu aku. Apamaumu?” “Aku hanya ingin bertanya,
apakah kau memang laki-laki sejati atau sekedar seorang yang
menyandarkan diri para perlindungan orang lain.” Mahisa Pukat justru
tertawa. Katanya ”Aku tahu maksudmu. Kau akan menantang aku? Jadi
kau masih menganggap bahwa untuk mendapatkan seorang gadis, lakilaki
harus berani berkelahi. Tetapi apakah perkelahian itu akan dapat
merubah perasaan seorang gadis ? Jika dua orang anak muda berkelahi,
maka dengan sendiriny a gadis itu akan memilihyangmenang dari
keduanya?” “Satu jawaban dengan permainan kata yang manis”
sahut Gemak Langkas. Namun katanya kemudian ”Aku tidak peduli apakah
Sasi akan memilih kau atau aku atau orang lain. Kalau kau
sudahmati,maka ia tidak akanmemilihmu lagi.” “Jadi kau
akanmembunuhku?” bertanya Mahisa Pukat. “Tidak. Tetapi aku menantang
kau perang tanding. Jika salah seorang dari kita mati, kau atau aku,
itu sudah wajar. Bukan berarti satu pembunuhan,” jawabGemak Langkas.
“ Itukahyang kau kehendaki ?” bertanya Mahisa Pukat. “ya” jawabGemak
Langkas ”kau dapatmembawa dua orang saksi. Aku juga akanmembawa
saksi.” Mahisa Pukat memang menjadi ragu -ragu. Namun iapun
kemudianmenjawab ”Baik. Aku terima tantanganmu.” “Bagus” desis Gemak
Langkas sambil terseny um ”Ternyata kau memang seorang laki-laki.
Nanti malam aku tunggu kau ditanggul Sendang Perbatang. Nanti malam
langit akan diterangi oleh cahaya bulan meskipun sudah lewat
purnama. Tetapi sinarnya masih cukup terang. Di saat bulan terbit,
aku sudah berada di tanggul Sendang Perbatang bersama-sama para
saksi.” “Baik” jawab Mahisa Pukat ”aku belum pernah melihat Sendang
Perbatang. Tetapi aku akan membawa seorang saksi yang akan
dapatmengantarku ke sana.” “Bagus” berkata Gemak Langkas kemudian
”jangan ingkar janji. Aku sudah terlanjur menganggapmu laki-laki
sejati.” Gemak Langkas tidak menunggu jawaban Mahisa Pukat. Iapun
segera memaeuk kudanya meninggalkan Mahisa Pukat yang berdiri
termangu-mangu. Namun akhirnya Mahisa Pukat telah kembali lagi ke
rumah Sasi. Ia telah mengabarkan rencana perang tanding itu kepada
ay ah Sasi. Dengan demikian, maka Arya Kuda Cemani itu mengetahui
apa yang terjadi. “Baiklah” berkata Arya Kuda Cemani ”aku akan
menjadi saksi pula dalam perang tanding itu. Bawa ayahmu. Ia juga
akan dapatmenjadi saksi.” “Tetapi bukankah dapat menimbulkan
prasangka buruk jika aku membawa ay ahku sebagai saksi?” bertanya
Mahisa Pukat. “Aku berani bertaruh, bahwa Gemak Langkas akan membawa
gurunya pula sebagai saksi.” berkata Arya Kuda Cemani. Mahisa
Pukatmengangguk-angguk kecil. Katanya ”Baiklah. Nanti aku
akanmengajak ayah bersamaku.” “Baiklah. Tetapi aku tidak usah pergi
ber samamu dan ay ahmu. Aku akan pergi sendiri. Kita akan bertemu di
tanggul Sendang Perbatang.” berkata ayah Sasi. “Tetapi aku belum
tahu dimana letak Sendang Perbatang.” desis Mahisa Pukat. “Ayahmu
sudah lebih lama berada di sini. Ia tentu sudah tahu dimana letak
Sendang Perbatang.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Namun iapun
kemudian segera minta diri. Langit sudah menjadi muram karena senja
sudah mulai turun. Ketika hal itu kemudian dikatakan kepada ayahnya,
maka Mahendra berkata ”Kau terlalu cepat mengambil keputusan Mahisa
Pukat. Apakah kau tidak dapat menghindari peny elesaian dengan cara
itu ?” “Ra sa-rasanya tidak mungkin lagi ayah, kecuali jika aku
membiarkan diriku dihinakan. Harga diriku direndahkan dibawah
telapak kakinya,” jawab Mahisa Pukat. Mahendra menarik nafas
dalam-dalam. Ia mencoba untuk sekedar mengerti perasaan anaknya.
Kemudaannya memang dapat membuatnya mudah tersinggung. Namun perang
tanding bukanlah sekedar permainan. Perang tanding adalah
pertarungan denganmempertaruhkan nyawanya. Tetapi anaknya sudah
menerima tantangan itu. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak akan
pernahmencabutnya. Mahendra memang tidakmempunyai pilihan lain. Ia
harus pergimeuhat apa yang terjadi dengan anaknya Memang tidak ada
niat Mahendra untuk berbuat licik. Tetapi iapun tidak mau jika
lawannyalahyang berbuat licik. Dengan demikian, maka ketika
malam turun, Mahisa Pukatpun telah mempersiapkan diri lahir dan
batin. Bersama ay ahnya merekapun segera berangkat ke tanggul
Sendang Perbatang. Dilambung Mahisa Pukat tergantung pedang. Seperti
yang dikatakan oleh Arya Kuda Cemani, ternyata Mahendra telah
mengetahui letak Sendang Perbatang, sehingga dengan demikian, mereka
berdua tidak perlu mencarinya. Ketika kemudian bulan terbit, Mahisa
Pukat mengajak ay ahnya berjalan semakin cepat. Mahisa Pukat tidak
segeramenjawab. Tetapi ia benar-benar sudah bersiap menghadapi Gemak
Langkas. Justru karena Mahisa Pukat belum mengetahui tataran
kemampuan Gemak Langkas yang dianggap sebagai seorang anak muda yang
berkemampuan tinggi serta yang masih tetap berada dibawah bimbingan
seorang guru, maka Mahisa Pukatpun menjadi sangat berhati-hati.
Beberapa orang saksi yang datang ber sama Gemak Langkaspun
segera telah turun pula mengelilingi kedua orang anakmuda itu.
Mereka seakan-akan telah menyusun lingkaran yangmembentuk sebuah
arena perang tanding. Mahendra dan Arya Kuda Cemanipun berdiri pula
di lingkaran itu. Namun berjarak beberapa langkah dari para saksi
yang dibawa oleh Gemak Langkas termasuk gurunya dan ay ahnya yang
kaya raya serta orang y g disebut pamannya, yang kebetulan adalah
saudara seperguruan Gemak Langkas. Sedangkan yang lain adalah
prajurit -prajurit muda yang mendendam kepada Mahisa Pukat. Beberapa
saat kemudian maka Gemak Langkaspun berkata ”Mahisa Pukat. Apakah
kau sudah siap ? Kita perguankan waktu sebaik”baiknya. Kita akan
segeramulai. “Aku sudah bersiap sejak aku berangkat dari rumah”
jawab Mahisa Pukat. “Setan kau” Gemak Langkas menggeam” kau memang
terlalu sombong.” Mahisa Pukat kemudian justru berdesis ”Sombong
atau tidak,marilah kita mulai. Bulan sudah semakin tinggi.” Gemak
Langkaspun kemudian bergeser mendekat, sementara Mahisa Pukat
berdiri tegak dengan sebelah kakinya setengah langkah kedepan serta
sedikit merendah pada lututnya. Kedua tangannya terangkat bersusun
didepan dadanya. Gemak Langkas tidak bertanya lagi. Iapun mulai
bergerak. Kakiny a terangkatmemancing gerak lawan, sementara Mahisa
Pukat bergeser kesamping. Dengan cepat Gemak Langkaspun meny erang
pula. Namun Mahisa Pukat masih dapat menghindarinya dengan
gerakgerak sederhana. Namun Mahisa Pukatpun sadar, bahwa Gemak
Langkaspunmasih belum ber sungguh-sungguh. Namun sejenak kemudian,
ternyata Gemak Langkas telah berloncatan dengan cepat. Ia mulai
berusaha men-jajagi kemampuan Mahisa Pukat, sementara Mahisa
Pukatpun berusahamenjajagi kemampuan lawannya. Namun pertempuran itu
telah menjadi semakin lama semakin cepat meskipun keduanya masih
berusaha saling menjajagi. Dalam benturan-benturan yang
kemudian terjadi, maka keduanya mulai menyadari, bahwa lawan mereka
memang memiliki bekal yang cukup tinggi, sehingga keduanyapun
menjadi semakin berhati-hati. Namun keduanya mulai meningkatkan ilmu
mereka masing-masing. Gemak Langkas yang ditunggui oleh ay ah dan
saudara seperguruannya dan bahkan gurunya, hatinya justru berkembang
ketika pertempuran itu menjadi semakin cepat. Bagi Gemak Langkas,
seakan-akan ia mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kepada gurunya
bahwa ia merupakan seorang murid yang baik. Namun setiap kali Gemak
Langkasmeningkatkan ilmunya, Mahisa Pukatpun telah meningkatkan
ilmunya pula, sehingga semakin lama maka pertempuran itupun menjadi
semakin cepat dan semakin keras. Namun Gemak Langkas tidak ingin
dengan cepat mengakhiri pertempuran. Ia ingin menunjukkan kepada
gurunya, bagaimana ia mampu mempermainkan lawannya. Ia berniat untuk
menghancurkan Mahisa Pukat sedikit demi sedikit. “Jika ia akhirnya
terbunuh di perang tanding ini, maka aku tidak dapat dipersalahkan.
Ada beberapa saksi yang hadir disini yang meyakini bahwa
yang terjadi adalah perang tanding. Bukan satu pembunuhan.”
berkata Gemak Langkas didalam hatinya. Sementara itu Mahisa Pukatpun
cukup berhati-hati pula. Iapun sadar, bahwa lawannya ingin
mempermainkannya. Ju stru karena itu, maka Mahisa Pukatpun berniat
melayani niat lawannya. Iapun tidak tergesa -gesa ingin
menyelesaikan perang tanding itu. Namun, karena Gemak Langkas masih
belum merasa mengatasi ilmu lawannya, maka iapun masih saja semakin
meningkatkan ilmunya. Tetapi dalam pada itu, Mahisa Pukatpun telah
meningkatkannya pula. Selapis demi selapis sebagaimana dilakukan
oleh Gemak Langkas. Yang menjadi gelisah lebih dahulu adalah justru
Gemak Langkas. Ketika ilmunya sudah memanjat semakin tinggi, tetapi
rasa-rasanya lawannya masih saja mampu mengimbanginya tanpap
kesulitan. Jika kecepatan gerak Gemak Langkas meningkat, mahisa
Pukatpun telah meningkatkan kecepatan geraknya. Demikian pula
kekuatan dan kemampuan ilmunya. Sehingga seakan-akan apapun yang
dilakukan oleh Gemak Langkas, Mahisa Pukat mampu melakukannya pula.
Dalam pada itu, saudara seperguruan Gemak Langkas dan bahkan
gurunyamenyaksikan pertempuran itu dengan hati yg berdebar-debar.
Demikian pula ayahnya yang semula selalu membanggakan anaknya yang
dianggapnya telah meny erap ilmu yang tinggi dari
perguruannya, karena ay ahnya telah mengeluarkan beay a yang cukup
banyak. Sementara itu, Mahisa Pukat justru mulai dapat menduga
kemampuan lawannya. Meskipun Mahisa Pukat menyadari, bahwa lawannya
belum sampai kepuncak, namun Mahisa Pukat menjadi tidak terlalu
silau melihat kemampuannya meskipun Mahisa Pukatmasih tetap
berhati-hati. Dalam pada itu, ternyata Gemak Langkas justru menjadi
semakin gelisah. Mahisa Pukat itu masih saja mampu mengimbanginya.
Namun dengan demikian maka pertempuran itu semakin lama memang
menjadi semakin cepat. Gemak Langkas semakin berusaha untuk dapat
menekan Mahisa Pukat. Sehingga tanpa disadarinya, maka Gemak Langkas
itu telah mengerahkan segala kemampuannya. Ketika Gemak
Langkasmenghentakkan ilmunya sampai ke tataran tertinggi,maka Mahisa
Pukatmemang terdesak sesaat sebelum ia meny esuaikan ilmunya.
Sekejap Gemak Langkas merasa akan segera dapat mengatasi lawannya.
Namun sejenak kemudian, ternyata Gemak Langkas kembali digelisahkan
oleh kemampuan lawannya. Serangan-serangan Gemak Langkas memang
menjadi semakin lama semakin cepat. Tangannya yang kuat
terayunayun dengan cepatnya sehingga seakan-akan serangan Gemak
Langkas itu datang dari segala arah. Tetapi Mahisa Pukat dengan
tangkas selalu dapat menghindari serangan-serangan itu. Dengan
loncatanloncatan pendek Mahisa Pukat rasa -rasanya hanya sekedar
bergeser saja. Namun kemudian berputar, menggeliat dan melenting t
inggi, sehingga sulit bagi Gemak Langkas untuk dapatmenyentuhnya.
Namun yang tidak terduga sebelumnya itu terjadi. Sebelum Gemak
Langkasmampu mengenai tubuh Mahisa Pukat,maka justru serangan Mahisa
Pukatlah yang telah menyusup diselasela pertahanan Gemak
Langkas. Gemak Langkas terdorong beberapa langkah surut ketika
serangan tumit Mahisa Pukatmengenai lambungnya. Gemak Langkas
mengumpat dengan kasarnya. Perutnya terasa menjadi mual. Namun
kemarahannyapun serasa telah membakar jantungnya sehingga
darahnyapun serasa telah mendidih karenanya. Mahisa Pukat ternyata
tidak memburunya. Seakan-akan ia sengaja memberi kesempatan kepada
Gemak Langkas untuk memperbaiki kedudukannya sebelum pertempuran itu
dilanjutkan. Dengan demikian, maka ayah Gemak Langkas, saudara
seperguruannya dan lebih-lebih adanya gurunya, terkejut pula
karenanya. Mereka tidak mengira bahwa Mahisa Pukat itu mampu
bergerak secepat dan sekuat itu. Ketika mereka melihat Mahisa Pukat
terdesak, mereka sudah memastikan bahwa Gemak Langkas akan segera
dapat mengakhiri pertempuran itu. Namun ternyata bahwa yang
terjadi kemudian adalah sebaliknya. Justru Mahisa Pukatlah yang
telah mengenai lambung Gemak Langkas. “Tetapi itu belum merupakan
akhir dari segala-segalanya” berkata guru Gemak Langkasdidalam
hatinya. Ternyata bahwa lambungnya yang mual dan sakit itu telah
memberinya peringatan, bahwa lawannya memang memiliki ilmu
yang tinggi. Setidak-tidaknya tidak berada dibawah ilmu Gemak
Langkas itu sendiri. Dalam pada itu, Gemak Langkasmemangmenjadi
semakin marah, tetapi juga semakin gelisah. Namun karena itu, maka
Gemak Langkas itupun telah mengerahkan segala-galanya. Puncak dari
ilmu dan kemampuannya. Dengan demikian maka pertempuran itupun
menjadi semakin cepat dan semakin keras. Mahisa Pukatpun telah
meningkatkan ilmunya untuk mengimbangi lawannya. Keduanya salingmeny
erang dan bertahan. Mereka yang menyaksikan pertempuran itupun
menjadi berdebar-debar. Gemak Langkas dalam puncak ilmunya ternyata
masih belum mampu menguasai Mahisa Pukat. Bahkan
serangan-serangannya masih juga belum dapat menembus pertahanan
Mahisa Pukat. Jika sekali-kali serangannya mengena, sama sekali
tidakmenimbulkan akibat apapun bagi lawannya. Mahisa Pukat
seakan-akan hanya sekedar tersentuh tangan atau kaki Gemak Langkas
tanpa hentakkan dan kekuatan sama sekali. Apalagi yang dapat
mendorong dan melumpuhkannya. Sebaliknya, beberapa kali Mahisa Pukat
berhasil mengenai lawannya. Bukan saja tumitnya, tetapi sisi telapak
tangannya yang terayun deras, sempat mengenai pundak Gemak Langkas,
sehingga Gemak Langkas mengaduh tertahan. Namun hampir saja
tangannya kehilangan kekuatan untuk bergerak. Beberapa saat
kemudian, Gemak Langkas benar-benar telah terdesak.
Serangan-serangan Mahisa Pukat semakin seringmengenainya. Sehingga
seluruh tubuh Gemak Langkas itu serasa menjadi-memar dan ny eri.
Dalam keadaan yang demikian, maka dengan cara itu Gemak Langkas
tidak akan mungkin memenangkan perang tanding itu.
Apalagimenghancurkan kesombongan lawannya. Karena itu, sebagaimana
memang telah terpikir sejak ia menantang Mahisa Pukat untuk
berperang tanding, bahwa kemungkinan terburuk dalam perang tanding
adalah salah seorang darimereka akan terbunuh. Karena itu,maka Gemak
Langkaspun telah memutuskan untuk bertempur dengan mempergunakan
senjata. Ia memiliki kemampuan ilmu pedang yang tinggi,
sehingga meskipun dalam pertempuran tanpa senjata ia tidak
dapatmemenangkan perang tanding itu, namun dalam perang tanding
telah dibenarkan pula untuk mempergunakan senjata, sehingga jika
salah seorang dari mereka jantungnya terkoyak, maka lawannya tidak
dapat dianggap sebagai seorang pembunuh. Karena itu, maka Gemak
Langkaspun telah menarik senjatanya. Sebilah pedang panjang. Mahisa
Pukat meloncat selangkah surut. Dipandanginya pedang Gemak Langkas.
Pedang yang bagus. Kilatan cahaya bulan seakan-akan telah terpantul
menyilaukan melampaui terangnya cahaya itu sendiri. “Apa boleh buat”
berkata Gemak Langkas ”jika kau tidak terlalu sombong, maka aku
tidak akan menarik pedangku. Pedang yang terbuat dari baja putih
pilihan yang tajamnya melampaui tujuh kali tajamnya welat pring
wulung.” Mahisa Pukat t idak segera menjawab. Ia memang melihat
pedang Gemak Langkas adalah pedang yang baik. Namun Mahisa Pukat
sama sekali tidak menjadi heran melihat daun pedang yang terbuat
dari baja putih itu. Sementara itu Gemak Langkas pun berkata
”Seandainya kau mengakui kekalahanmu,maka aku tidak akan sampai hati
menarik pedangku. Tetapi karena kau terlalu sombong dan merasa
dirimu mampu mengimbangi ilmuku, maka aku terpaksa menunjukkan
kepadamu kemampuan ilmu pedangku. Jika dengan demikian dadamu
terkoyak dan jantungmu pecah, sama sekali bukan salahku.” Mahisa
Pukatmasih belummenjawab. Ia masih saja berdiri tegak di tempatnya.
Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu
menjadi tegang. Ayah, saudara seperguruan dan guru Gemak Langkas pun
menjadi tegang pula. Mereka y akin, bahwa pedang Gemak
Langkasmerupakan pedang yang jarang ada duanya. Gurunya telah
memberikan pedang itu kepada Gemak Langkas. Namun dengan ditukar
dengan emas dan permata, tentu saja yang sangatmahal. Ketika Gemak
Langkas kemudian menggerakkan pedangnya, maka cahaya bulan yang
memantul pada daun pedang itu nampak berkilat membuat mereka yang
menyaksikan menjadi berdebar-debar. “Bukankah kau tidak tergesa
-gesa Gemak Langkas?” terdengar suara saudara seperguruan Gemak
Langkas yang disebut pamannya itu. ”Kau sempat menunjukkan ilmu
pedangmu kepada lawanmu.” “Ya”jawab Gemak Langkas”aku tidak tergesa
-gesa. Jika luka anak itu menjadi arang kranjang, maka itu sama
sekali bukan salahku.” Mahisa Pukat bergeser maju sambil berkata
”Sejak semula kau masih saja bicara bahwa jika terjadi sesuatu itu
bukan salahmu. Baiklah, apapun yang terjadi kau tidak ber
salah karena terjadi dalam perang tanding. Jika kau matipun kau juga
tidak ber salah, karena hal itu terjadi karena kebodohanmu.” “Setan
kau” geram Gemak Langkas ”tarik pedangmu.” Mahisa Pukat
termangu-mangu sejenak. Dipandanginya lawannya, kemudian orang-orang
yang datang bersamanya. Namun sejenak kemudian maka iapun
telah menarik pedangnya pula. Orang-orang yang berdiri di
seputar arena itu terkejut. Mereka menganggap bahwa pedang Gemak
Langkas adalah pedang yang paling baik yang pernah
mereka lihat. Bahkan mereka mengira bahwa lawan Gemak Langkas itu
akan kehilangan keberanian melihat ujud pedang yang terbuat
dari baja putih itu, apalagi jika pedang itu digerakkan dibawah
sinar cahaya bulan. Namun ketika mereka melihat daun pedang Mahisa
Pukat, maka jantung merekapun berdegup keras. Pedang Mahisa Pukat
yang ditimpa cahaya bulan itu nampak bukan saja memantulkan
sinar bulan yang kekuning-kuningan. Tetapi bahkan pedang itu
bagaikan menyala dengan cahaya yang kehijau-hijauan. “Dari iblis
mana ia mendapat senjata itu” geram guru Gemak Langkas. Pernyataan
itu membuat ayah Gemak Langkas dan saudara seperguruannya menjadi
semakin berdebar-debar. Dengan demikian maka mereka seakan-akan
mendengar desah kecemasan guru Gemak Langkasyang dianggapmemiliki
ilmu yang sangat tinggi itu. Gemak Langkas sendiri tercenung untuk
beberapa saat. Pedang Mahisa Pukat itu membuatnya berdebar-debar.
Namun Gemak Langkas itupun kemudian telah membesarkan hatinya
sendiri. Katanya didalam hati ”Betapapun tinggi nilai sepucuk
senjata, namun orang yang memegangnya jugalahyang menentukan.”
Karena itulah, maka Gemak Langkas itu mulai menggerakkan pedangnya.
Baja putih itu memang berkilatkilat. Tetapi sekedar memantulkan
sinar bulan. Daun pedang itu sendiri t idak bercahaya sama sekali.
Namun sejenak kemudian, kedua orang anak muda itu telah mulai
memutar perang mereka masing-masing. Gemak Langkas yang merasa
memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi, segera mulai menggapai
lawannya dengan ujung pedangnya. Tetapi Mahisa Pukat bergeser
menyamping sambil merundukkan pedangnya pula. Namun sejenak
kemudian, maka kedua ujung senjata itu mulai bersentuhan. Semakin
lama. putaran pedang itupun menjadi semakin cepat. Gemak Langkasyang
merasa memiliki ilmu pedang itupun berusaha untuk segera menembus
pertahanan lawannya. Ia tidak ingin menunda-nunda setiap kesempatan,
karena ia mulai merasa bahwa ia tidak akan dapat mempermainkan
lawannya itu. Namun pertahanan Mahisa Pukat memang terlalu rapat.
Set iap kali Gemak Langkasmelihat kesempatan dan mencoba
mempergunakannya, ternyata pedangnya selalu membentur pedangMahisa
Pukatyang bercahaya kehijau-hijauan itu. Keringat pun mulai
membasahi telapak tangan Gemak Langkas. Namun dengan demikian, maka
darahnya pun menjadi semakin panas. Dengan demikian maka pertempuran
semakin lama menjadi semakin cepat pula. Gemak Langkas semakin
meningkatkan kemampuannya. Berbeda dengan sebelumnya, bahwa ia ingin
menunjukkan kelebihannya atas lawannya dan mengalahkannya
perlahan-lahan, maka ia justeru berusaha untuk secepatnya
menundukkan Mahisa Pukat. Bahkan semakin sulit ia
berusahamengenainya,maka Gemak Langkas pun tidak lagi berpikir
panjang. Dihentakkannya segenap ilmunya dan satu-satunya
keinginannya kemudian adalah membunuh Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa
Pukat bukan seorang yang lebih lemah kemampuannya daripada
Gemak Langkas. Karena itu, maka meskipun Gemak Langkas sudah sampai
ke puncak kemampuannya, namun ternyata bahwa ia tidak dapat memaksa
Mahisa Pukat untuk menyerah. Bahkan semakin lama justru Mahisa
Pukatlah yang lebih banyak menguasai arena. Ketika dengan garangnya
Gemak Langkas meloncat menyerang sambil menjulurkan pedangnya
menusuk lewat celah-celah pertahanan Mahisa Pukat, ternyata Gemak
Langkas itu salah hitung. Mahisa Pukat sama sekali tidak sedang
lengah sehingga pertahanannya menjadi lemah. Demikian serangan itu
datang, maka Mahisa Pukat pun dengan cepat menggeliat. Dengan
tangkas pula Mahisa Pukat menangkis serangan itu dengan sentuhan
menyamping. Gemak Langkas justru terkejut karenanya. Ia tidakmengira
bahwa Mahisa Pukat itu masih mempunyai kesempatan untuk menghindar
dan justru meny entuh senjatanya. Hampir saja senjatanya justru
terlepas. Untunglah, Gemak Langkas sempatmeloncatmengambil jarak.
Namun Mahisa Pukatlah yang kemudian justru memburunya.
Pedangnya yang terjulur bagaikan mampu melihat kemana Gemak
Langkas itu mengelak. Gemak Langkas mengumpat kasar ketika sebuah
goresan telah meny entuh menggores lengannya. Memang tidak terlalu
dalam. Tetapi dari goresan senjata Mahisa Pukat itu, darah telah
mulaimengalir. Para saksi yang dibawa oleh Gemak Langkas
memang menjadi semakin tegang. Saudara seperguruannya dan apalagi
guru dan ayahnya,menjadi cemasmelihat pertempuran itu. Sebagai
seorang yang berilmu, ternyata gurunya melihat kelebihan Mahisa
Pukat atas muridnya itu. Ketika muridnya telah sampai ke puncak
kemampuannya, ternyata bahwa lawannya masih mampumeningkatkan lebih
tinggi lagi. Dengan demikian maka guru Gemak Langkas itupun menjadi
gelisah. Jika Gemak Langkas tidak memenangkan perang tanding itu,
maka ayahnya akan menjadi sangat kecewa. Ia sudah banyak sekali
mengeluarkan uang untuk kepentingan anaknya berguru. Tetapi yang
akan terjadi memang demikian. Gemak Langkas semakin lama memang
menjadi semakin terdesak. Bukan saja lengannya yang tergores luka.
Tetapi kemudian pundaknya juga masih disentuh oleh ujung pedang
Mahisa Pukat yang berwarna kehijauan itu. Pedang yang telah
menggetarkan jantung lawannya. Semakin lama Gemak Langkas menjadi
semakin menyadari, betapa ia menjadi semakin sulit untuk mengimbangi
lawannya. Kegelisahan para saksi yang dibawa Gemak Langkas pun
menjadi semakin memuncak. Para prajurit muda termasuk Lembu Atak pun
menjadi gelisah pula. Mereka ingin melihat Mahisa Pukat dikalahkan
dan kemudian mereka pun akan dapat ikut melepaskan dendam mereka
terhadap Mahisa Pukat. Tetapi mereka melihat bahwa yang terjadi
justru sebaliknya. Gemak Langkas yang nampaknya meyakinkan itu
ternyata tidak mampu mengimbangi kemampuan Mahisa Pukat. Semakin
lama ia justru menjadi semakin terdesak sehingga segores luka telah
meny ilang di dadanya. Mahisa Pukat yang telah dapat menilai
kemampuan lawannya justru menjadi semakin tenang. Ia tidak lagi
berniat untuk berbuat lebih daripada menghentikan perlawanan Gemak
Langkas dan meyakinkan kepada para saksi bahwa ia telah memenangkan
perang tanding itu. Meskipun Gemak Langkas telah mengancam akan
membunuhnya, namun tidak terlintasniat Mahisa Pukat
untukmelakukannya. Mahendra dan Arya Kuda Cemani menarik nafas
dalamdalam. Merekapun sudah mendapatkan satu key akinan bahwa Mahisa
Pukat akan berhasil memenangkan perang tanding itu. Namun guru Gemak
Langkas lah yang jantungnya menjadi bagaikan membara. Ia merasa
dipermalukan oleh Mahisa Pukat dihadapan ayah Gemak Langkas
yang telah banyak memberinya uang dan benda -benda berharga.
Apalagi setiap kali ay ah Gemak Langkas itu selalu berpaling
kepadanya, seakan-akan menuntut atas kegagalan anaknya dalam perang
tanding itu. Karena itu bayangan kekalahan Gemak Langkas yang
menjadi semakin jelas itu telah menggelitik gurunya untuk berbuat
sesuatu meskipun ia tahu bahwa hal itu tidak akan memberikan
kepuasan sepenuhnya kepada ay ah Gemak Langkas. Sekilas ia memandang
Mahendra dan Arya Kuda Cemani. Guru Gemak Langkas itu belum tahu
tataran kemampuan mereka. Namun keduanya bukan orang yang
namanya melejit diantara orang-orang yang disegani di
Singasari. Apalagi diantara para saksi itu hadir pula
prajurit-prajuritmuda dan seorang muridnya yang lain
yang akan dapat mencegah mereka mencampuri per soalannya
dengan Mahisa Pukat. Karena itu sebelum Gemak Langkasmengalami nasib
yang lebih buruk, maka iapun berkata lantang ”Gemak Langkas.
Anak itu mempunyai ilmu iblis. Minggirlah. Aku akan menghancurkan
ilmu iblisny a. Baru kemudian, kau lawan anak itu bertempur dengan
jujur” Lalu katanya kepada para saksi yang lain ”tahanlah jika ada
diantara kedua orang saksi yang dibawa anak itu akan berbuat
curang.” Tetapi ay ah Gemak Langkas itu menggamitnya dan berkata
”Seorang diantara kedua orang saksi itu adalah Arya Kuda Cemaniyang
memiliki Aji Panglimunan.” Guru Gemak Langkas itu mengerutkan
keningnya. Namun ternyata ketajaman telinga Mahendra sempat
mendengarnya meskipun tidak terlalu keras. Karena itu, maka katanya
”Apakah orang-orang tua akan ikut dalam permainan ini?” Tetapi
tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata lantang ”Aku tantang kau, untuk
menggantikan Gemak Langkas. Siapakah kau? Benar kau gurunya?” Guru
Gemak Langkas itu menggeram. Sementara Mahendra berkata ”Jika ia
menginginkan orang-orang tua ikut bermain,maka biarlahyang tua
yangmelayaninya.” Tetapi Mahisa Pukat menggeleng sambil berkata
”Tidak ay ah. Biarlah aku menantangnya untuk berperang tanding.
Biarlah mereka melihat bahwa bukan hanya muridnya, tetapi gurunya.”
“Aku akan memasuki arena” berkata guru Gemak Langkas” siapapun
lawanku.” Arya Kuda Cemani tertawa. Katanya ”Baiklah jika Mahisa
Pukat ingin mencoba kemampuan guru Gemak Langkas itu. Tetapi ingat,
bahwa kamimasih tetap berdiri disini.” Guru Gemak Langkas itu
menggeram. Ia mengertimaksud Arya Kuda Cemani, bahwa iapun akan
dapat berbuat sesuatu jika diperlukan. Namun guru Gemak Langkas itu
sudah tidak dapat merubah niatnya lagi, karena Mahisa Pukat sudah
menantangnya langsung. Karena itu, ia tidak lagi berpikir panjang.
Jika ia sudah dapat meny elesaikan Mahisa Pukat, maka bersama-sama
dengan mereka yang hadir ditempat itu, mereka akan dapat menguasai
kedua orang tua yang datang bersama Mahisa Pukat itu. Namun
Mahendrapun menjadi berdebar-debar juga. Ia memangmeyakini kemampuan
anaknya. Tetapi ia belum tahu tataran kemampuan guru Gemak Langkas
itu. Tetapi Mehendrapun tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Gemak
Langkas yang telah terluka dibeberapa bagian dari tubuhnya itu telah
bergeser menepi ketika gurunya kemudian hadir di arena perang
tanding itu Mahisa Pukat yang menghadapi guru Gemak Langkas
itupun menjadi semakin berhati-hati. Namun sedikit banyak ia sudah
dapatmengenal unsur-unsur gerak dari ilmu yang telah diwarisi
darinya oleh gemak Langkas. Ternyata guru Gemak Langkas itu tidak
mau membuang banyak waktu. Ia ingin menunjukkan kelebihannya
terutama kepada ay ah Gemak Langkas yang telah memberinya
banyak sekali uang dan barang-barang berharga sebagai upahnya
melatih Gemak Langkas dalam olah kanuragan, karena ayah Gemak
Langkas itu ingin sekali anaknya memiliki ilmu yang tinggi. Karena
itu, maka dengan serta merta iapun telah menarik senj atanya pula.
Juga sebilah pedang. Pedang yang tidak dapat terpisah dari dirinya.
Pedang yang mirip dengan pedang yang telah diberikannya kepada Gemak
Langkas. Tanpa banyak berbicara lagi, maka guru Gemak Langk as
itupun segera meny erang Mahisa Pukat.Namun Mahisa Pukat telah ber
siapmenghadapinya. Tetapi Mahisa Pukat masih juga terkejut mendapat
serangan guru Gemak Langkas. Ternyata serangannya datang cepat
sekali. Senjatanya yang berputar, tiba-tiba terjulur mematuk
ke arah jantungnya. Mahisa Pukat pun menggeliat menghindari serangan
itu. Namun serangan yang datang demikian cepatnya itu, ternyata
tidak dapat dihindarinya sepenuhnya. Meskipun ujung pedang itu tidak
menyentuh dadanya, namun ujungnya telah tergores di pundak Mahisa
Pukat. Memang hanya segoreskecil. Namun keringat Mahisa Pukatmembuat
lukanya itumenjadi pedih. Dengan loncatan panjang Mahisa Pukat
mengambil jarak. Ketika lawannya itu memburunya, maka Mahisa
Pukatpun dengan cepat meloncat lagi menjauh. Namun tidak untuk
ketiga kalinya. Demikian lawannya meloncat memburunya, Mahisa Pukat
justru bergeser setapak saja. Namun pedangnya terayun deras sekali
membentur senjata lawannya. Lawannyalah yang kemudian terkejut
telapak tangannya menjadi pedih. Namun pedangnya tidak terlepas dari
tangannya itu. Tetapi untuk selanjutnya Mahisa Pukat yang
telah tergores pundaknya itu tidak membirkan dirinya menjadi sasaran
serangan lawannya. Kesempatan berikutnya dipergunakan
sebaik-baiknya. Pedangnyalah yang terjulur meny erang ke arah
dada
lawannya.
Jilid104 TETAPI dengan tangkas
lawannya menggeliat. Kemudian pedangnya berputar cepat sekali.
Serangan mendatar telah terayun deras sekalimengarah ke leher Mahisa
Pukat. Namun dengan cepat pula Mahisa Pukat merendah, sehingga
pedang lawannya itu terbang diatas kepalanya. Pada saat yang
bersamaan, sambil berjongkok pada satu kakinya pedang Mahisa Pukat
terjulur. Hampir saja pedangnya mampu menusuk bagian bawah ketiak
lawannya, tetapi ternyata lawannya. dengan tangkas meloncat
menghindar. Mahisa Pukat melenting dengan kecepatan yang
sangat tinggi. Pedangnya menyambar dengan derasnya menggapai tubuh
lawannya, sehingga guru Gemak Langkas itu terpaksa meloncat mundur
selangkah. Ketika Mahisa Pukat meloncat lagi sambil menjulurkan
pedangnya, maka lawannya telah menangkisnya dengan pukulanmenyamping
yang keras sekali. Tetapi sekali lagi lawannya terkejut.
Ternyata tenaga Mahisa Pukat telah meningkat dengan cepatnya. Sekali
lagi terasa tangannyamenjadi pedih. Namun guru Gemak Langkas itupun
meningkatkan ilmunya pula. Sehingga dengan demikian maka pertempuran
itupun semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin keras.
Benturan tenaga yang semakin besar serta ay unan pedang
yangmenimbulkan desir anginyang semakin kuat. Mahisa Pukat mulai
memperhatikan desir angin yang timbul oleh ay unan pedang
lawannya. Ra sa-rasanya angin yang menyambarnya berbareng dengan
sambaran daun pedang lawannya menjadi tidak wajar lagi. Angin itu
terasa terlalu keras dan kuat. Bahkan seakan-akan mengandung
duriduri tajam yang menusuk kulitnya, sehingga terasa kulitnya
menjadi pedih. “Orang ini tentu sudah mulai merambah ke ilmu
simpanannya yang tinggi” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya.
Dengan demikian,maka Mahisa Pukatpun semakin berhatihati. Iapun
mulai perlahan-lahan meningkatkan kemampuannya pula. Karena itulah,
maka sentuhan-sentuhan senjata mereka telah semakin mendebarkan
orang-orang yang menjadi saksi dalam perang tanding itu. Bunga api
yang berhamburan membuat jantungmereka berdebaran. Namun
ternyata bahwa guru Gemak Langkas itu tidak dapat segera menguasai
lawannya. Mahisa Pukat yang masih sangatmuda itu semakin lama
seakan-akan menjadi semakin garang. Meskipun ayunan pedang lawannya
seakan-akan telah menghamburkan duri-duri lembut yang tinggi,
masih mampu mengatasi rasa sakit dan pedih yang timbul oleh
sembaran angin pedang lawannya. Kemampuan Mahisa Pukat untuk tetap
bertahan itu telah membuat lawannya mulai gelisah. Namun guru Gemak
Langkas masih belum tuntas. Ilmunya masih mampu berkembang
danmeningkat. Karena itu, angin yang menyapu tubuh Mahisa Pukat
karena ay unan pedang lawannya itu menjadi semakin meningkat pula.
Duri-duri yang tajam itu rasa-rasanya menjadi semakin banyak dan
semakin dalam menusuk kulitnya. Dengan demikian maka Mahisa Pukatpun
semakin lama menjadi semakin sulit untuk mengatasi serangan lawannya
yang semakinmeningkat itu. Karena itu,maka Mahisa Pukat seakan-akan
telah terdesak. Beberapa kali ia berusaha menghindari serangan
lawannya. Bukan saja sabetan pedangnya, tetapi juga desah anginnya.
Sekali-sekali Mahisa Pukat berusaha untukmenghentakkan ilmu
pedangnya. Selangkah dua langkah lawannya memang terdesak mundur.
Namun, demikian pedangnya berputar, maka anginpun berputar pula.
Ujung-ujung duri itu rasarasanya telah berhamburanmenusuk kulitnya.
Mahendra dan Arya Kuda Cemanimemangmenjadi tegang. Tetapi mereka
mengerti, bahwa Mahisa Pukat masih belum mengembangkanmemanjat ke
ilmu-ilmu andalannya. Mahisa Pukat memang masih berusaha untuk
mengatasi ilmu lawannya dengan ilmu pedangnya. Namun ternyata Mahisa
Pukat tidak mampu melakukannya. Guru Gemak Langkasmemang memiliki
ilmu yang cukup tinggi jika hanya dilawan dengan ilmu pedang.
Setelah beberapa kali Mahisa Pukat terdesak,maka ia mulai tidak
sabar lagi. Apalagi ketika ia mendengar prajurit-prajurit muda yang
mendendamnya itu berteriak-teriak dan bahkan ber sorak setiap kali
Mahisa Pukat terdesak dan berdesah menahan pedih yangmenusuk-nusuk
kulitnya. Kemarahan Mahisa Pukat memang tidak terkendali lagi.
Meskipun demikian ia tidak dengan serta merta ingin menghancurkan
lawannya. Ia masih mempunyai beberapa pertimbangan, sehingga Mahisa
Pukat itu berniat untuk membuat lawannya tidak berdaya
tanpamembunuhnya. Karena itu,maka Mahisa Pukat itupun telah
mengetrapkan ilmunya yang dapat menghisap ilmu dan kekuatan lawannya
untuk sementara. Ilmu itu memang tidak segera nampak dengan
sertamerta. Karena itu, setelah Mahisa Pukat mengetrapkan ilmunya,
lawannya masih belum merasakan akibatnya. Guru Gemak Langkas itu
masih saja meny erang dengan garangnya, sehingga Mahisa Pukat masih
harus mengerahkan daya tahannya mengatasi merasa pedih yang
seakan-akan menusuk-nusuk kulitnya. Namun Mahisa Pukat sudah mulai
berusaha untuk tidak selalu menghindari serangan lawannya, tetapi
sekali-sekali ia telah menangkis dan membenturkan pedangnya.
Bagaimanapun juga guru Gemak Langkas itu harus mengakui betapa
tinggi kekuatan Mahisa Pukat.Namun setiap kali Mahisa
Pukatmemangmasih harusmenyeringaimenahan pedih yangmeny engat
kulitnya. Dalam beberapa saat kemudian, guru Gemak Langkas masih
sempat mendesak Mahisa Pukat. Sambaran angin ayunan pedangnya masih
terasa pedih di kulit Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat masih mampu
mengatasiny a dengan ketahanan tubuhnya. Bahkan Mahisa Pukat justru
berusaha untuk setiap kali membenturkan senjatanya betapapun ia
harus berdesah menahan tusukan getaran udara ilmu guru Gemak
Langkasyang semakin tajam itu. Untuk beberapa saat guru Gemak
Langkas masih sempat tersenyum dan berkata ”Aku terpaksa
melakukannya, anak muda. Kau memang keras kepala. Aku harus mengusir
ilmu iblis yang ada didalam dirimu sebelum muridku akan
menyelesaikan perang tanding ini. Kau memang tidak mempunyai pilihan
lain. Dalam keadaan yang paling sulit, maka pedangku akan
membelah dadamu, sehingga iblis yang tersembuny i di dalam dirimu
akan meloncat keluar. Dan kau akan menjadi tidak berday a sama
sekali.” Mahisa Pukat tidakmenjawab. Tetapi ia sadar, bahwa ilmu
lawannya memang sangat berbahaya baginya. Sentuhan getaran udara
karena ayunan pedang itu telah membuat kulit dagingnya terasa pedih.
Apalagi jika pedang itu meny entuh tubuhnya lagi. Keringatyang
membasahi seluruh wajah kulit Mahisa Pukat memangmembuat lukanya
semakin pedih. Namun dalam pada itu, maka Mahisa Pukat pun telah
meningkatkan ilmunya pula. Selapis demi selapis, Mahisa Pukat telah
menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya pada setiap sentuhan
senjata yang terjadi dalam pertempuran itu. Karena itu, maka
betapapun terasa tangannya menjadi pedih oleh getaran udara
yang timbul oleh ayunan pedang lawannya, namun Mahisa Pukat
masih selalu berusaha menangkis setiap serangan demi serangan.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu memang menjadi
semakin tegang. Para prajurit muda dan Gemak Langkas yang
sudah terluka itu sempat bersorak setiap kali Mahisa Pukat harus
berloncatan mundur. Tetapi untukmembuat benturan-benturan senjata
semakin sering terjadi, maka Mahisa Pukat tidak saja menangkis
setiap serangan. Tetapi iapun menjadi semakin sering meny erang.
Serangan yang nampaknya memang tidak berbahaya karena setiap
kali guru Gemak Langkas itu dapatmenangkisnya. Namun yang
tidak wajar mulai terasa pada guru Gemak Langkas. Ternyata sebelum
ia mampu mengoy ak dada anak muda itu, tenaganya mulaimenjadi susut.
Mula-mula guru Gemak Langkas itu tidak segera menyadari. Ia memang
telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk dengan cepat
menguasai lawannya sehingga ia mengira bahwa karena itu tenaganya
mulai susut. Tetapi beberapa saat kemudian, terasa bahwa susutnya
tenaga dan kemampuannya itu melaju terlalu cepat. Sendi-sendi tangan
dan kakinya, bahkan punggungnya terasa seakan-akan mulai dibebani
dengan batu yang semakin lama menjadi semakin berat. Karena
itulah, maka dalam kegelisahannya, guru Gemak Langkas itu telah
menghentakkan sisa tenaga dan kemampuannya. Ia ingin semakin cepat
menyelesaikan lawannya yang ternyata cukup garang itu.
Hetakkan itu memang mengejutkan Mahisa Pukat. Beberapa langkah ia
meloncat surut. Bahkan ujung senjata lawannya itu telah mampu
menyentuh kulit di lambungnya. Perasaan sakit, pedih dan panasmemang
terasa menggigit lukanya itu. Jauh lebih pedih, sakit dan bahkan
lebih panas dari tusukan getaran-getaran udara yang timbul
karena ayunan pedang itu. Hampir saja Mahisa Pukat kehilangan
kendali akalnya. Kemarahannya hampir saja menghentakkan niatnya
untuk menghancurkan lawannya sama sekali. Namun niat itupun
diurungkannya. Ia sudah melihat usahanya mulai berhasil. Tenaga dan
kemampuan lawannya telah menjadi susut, meskipun ia masih mampu
mengejutkannya dengan hentakkan sisa tenaganya. Karena itu, maka
Mahisa Pukat tidak lagi melepaskan ilmunya yang lain. Ia hanya
meningkatkan ilmu yang sudah ditrapkannya itu. Sehingga dengan
demikian, maka hisapan tenaga dan kemampuan lawannya itupun
berlangsung semakin cepat. Guru Gemak Langkas masih mendengar
prajurit -prajurit muda itu ber sorak ketika ia berhasil melukai
lambung Mahisa Pukat. Namun setelah itu,maka keringat dingin pun
mengalir di seluruh tubuhnya. Ia merasa bahwa tenaganya menjadi
semakin cepat susut bahkan pedangnya pun rasa-rasanya menjadi
semakin berat. “Apa yang telah terjadi?” pertanyaan itu semakin
mengguncang jantungnya. Baru kemudian ia menyadari, bahwa ia telah
terper osok ke dalam putaran ilmu yang sangat mendebarkan.
Ilmu yang mampumenghisap tenaga dan kemampuan lawannya. Namun
semuanya sudah terlambat. Mahisa Pukat yang terluka itu justru
meny erangnya seperti hembusan badai. Pedangnya berputar bagaikan
angin pu saran. Sentuhan demi sentuhan telah terjadi. Beberapa kali
guru Gemak Langkas memang berusahamenghindar. Tetapi serangan Mahisa
Pukat datang begitu cepatnya sehingga kadang-kadang dengan terpaksa
guru Gemak Langkas itu harus melindungi dirinya dengan pedangnya.
Dan setiap sentuhan berarti bahwa tenaganyamenjadi semakin susut.
Guru Gemak Langkas itu menjadi semakin gelisah. Tetapi yang terjadi
telah terjadi. Tenaga, ilmu dan kemampuannya telah terhisap semakin
dalam. Tidak ada cara untuk menarik surut waktu. Guru Gemak Langkas
itu hanya dapat meny esali kelengahannya. Kenapa ia tidak sejak
semula menduga bahwa ilmu yang jarang ada duanya itulahyang
dipergunakan oleh anakmuda itu. Memang sama sekali tidak terpikirkan
sebelumnya, bahwa Mahisa Pukat yangmasih muda itu memiliki ilmu yang
sangat rumit. Namun ilmu itu sudah ditrapkan dan tenaga serta
kemampuannya telah terhisap hampir habis. Gemak Langkas, saudara
seperguruannya dan ayahnya menjadi sangat tegangmelihat keadaan guru
Gemak Langkas itu. Bahkan Lembu Atak dan kawan-kawannyapunmen jadi
sangat cemas. Pada saat-saat terakhir mereka melihat guru Gemak
Langkas itu tidak berdaya sama sekali. Ia tidak lagi mampu menyerang
apalagi dengan kecepatan yang sangat tinggi. Rasa -rasanya
guru Gemak Langkas itu tidak lagi kuat mengangkat pedangnya sendiri.
Dalam pada itu, saudara seperguruan Gemak Langkas yang tidak
mengerti apa yang telah terjadi, telah meloncat memasuki gelanggang
sambil bertanya ”Guru apa yang terjadi?” “Jangan” berkata
gurunya yang bahkan berjalanpun menjadi tertatih-tatih.
”ternyata ia memiliki ilmu yang sangat tinggi.” “Tetapi guru
sama sekali tidak terluka” berkata muridnya yang tidakmengerti itu.
“Anak itu tidak melakukannya. Jika ia mau, ia dapat membunuhku
sekarang,” jawab gurunya. “Kenapa hal itu dapat terjadi?”
bertanyamuridnya itu. Guru Gemak Langkas itu tidak menjawab. Namun
ia masih berusaha untuk berdiri tegak sambil bertanya kepada Mahisa
Pukat. ”Apakah kau akan mengakhiri perang tanding ini
denganmembunuhku?” “Bukankah kau berkata sendiri, bahwa jika aku
mau, aku sudah dapat membunuhmu sekarang?” justru Mahisa
Pukatlahyang ganti bertanya. Guru Gemak Langkas itu menarik
nafas panjang. Katanya ”Baiklah aku mengakui kemenanganmu. Aku kalah
dalam perang tanding ini. Kau dapatmelakukan apa saja sekehendak
hatimu atasku.” “Aku hanya ingin pengakuanmu, bahwa kau meny erah”
desis Mahisa Pukat. Ternyata tidak seperti yang diduga
sebelumnya, bahwa orangitu akan mengeraskan hatinya dan menjunjung
harga dirinya sehingga tidak mau mengakui keadaannya, apapun yang
terjadi. Namun orang itu ternyata kemudian menjawab ”Ya. Aku meny
erah. Aku tidak dapat berkata lain, karena keadaanku.” “Guru” Gemak
Langkas dan saudara seperguruannya yang disebut pamannya itu
hampir bersama-sama berdesis. “Memang inilah yang terjadi” jawab
gurunya. Saudara seperguruan Gemak Langkas itupun kemudian berkata
”Kita datang bersama banyak orang. Aku tidak peduli apakah akan
terjadi perang tanding atau tidak. Tetapi guru jangan menyerah. Kita
akan bersama-sama bertempur melawan anak itu” “Tidak ada gunanya”
jawab gurunya ”jangan hanya kalian yang ada disini.
Saudara-saudaramu yang lain kau bawa kemari, tidak akan ada
gunanya.” “Tetapi kami tidak dapat mengorbankan nama guru begitu sa
ja” berkata saudara seperguruan Gemak Langkas itu. “Kau lihat ayah
anak muda itu serta Arya Kuda Cemani?” bertanya gurunya. Saudara
seperguruan Gemak Langkas itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun
menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis ”Apakah kitamenerima
kegagalan ini?” “Ya” jawab gurunya. Ayah Gemak Langkas hanya dapat
menggeram. Ia tidak cahu apa yang harus dilakukan. Ia
benar-benar menjadi kecewa terhadap guru Gemak Langkas itu. Ia
datang ketempat itu untuk melihat betapa tinggi ilmu yang
telah diwarisi oleh anaknya. Namun ternyata bahwa anaknya tidak
berdaya. Bahkan gurunyapun tidak mampu melawan anak muda yang
bernama Mahisa Pukat itu. Dalam pada itu,maka Mahisa Pukatpun
kemudiar berkata dengan nada berat ”Baiklah. Aku tidak ingin membuat
persoalan ini berkepanjangan. Jika kau sudah meny erah, maka aku dan
saksi-saksi yang datang bersamaku akan segera meninggalkan tempat
ini sekarang. Kecuali jika masih ada persoalan lainyang ingin kalian
tumbuhkan disini.” “Tidak” jawab Guru Gemak Langkas itu dengan
sertamerta. Mahisa Pukatpun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
iapun melangkah mendekati ayah dan Arya Kuda Cemani sambil berkata
”Agaknya persoalannya sudah selesai sampai disini” Kedua orang tua
itupun mengangguk. Mahendrapun kemudian berdesis ”Marilah. Kita
kembali. Bertiga mereka meninggalkan tempat itu. Demikianmereka
lepas dari Sendang Perbatang, maka Arya Kuda Cemanipun berkata ”Kau
harus tetap berhati-hati Mahisa Pukat. Aku tidak yakin bahwa guru
Gemak Langkas itu ber sikap jujur. Ia hanya ingin meny elamatkan
dirinya malam ini. Tetapi selanjutnya, kita masih harus
tetapmencurigainya.” “Tetapi nampaknya guru Gemak Langkas itu
berkata dengan sungguh-sungguh” desis Mahisa Pukat. “Mudah-mudahan
ia jujur” sahut Mahendra. Namun katanya kemudian ”Aku mempunyai
pendapat yang sama dengan Raden KudaWereng” Mahisa
Pukatmengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah ay ah. Aku akan
berhati-hati. Memang masih banyak kemungkinan yang dapatmereka
lakukan.” Sambil melangkah menjauh, maka mereka masih saja
berbincang tentang sikap guru Gemak Langkas. Demikian cepatnya ia
mengakui kekalahannya setelah ia dengan licik memasuki arena perang
tanding. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Iapun kemudian sependapat,
bahwa yang dilakukan oleh guru Gemak Langkas itu adalah satu
sikap yang jujur. Dalam pada itu, sepeninggal Mahisa Pukat dan
dua orang yang datang ber samanya sebagai saksi, maka Gemak Langkas
yang telah terluka itu bersama dengan saudara seperguruannya
berusaha menolong gurunyayang menjadi kehilangan tenaganya. Ayah
Gemak Langkas justru berkata dengan nada kurang senang ”Jadi inikah
puncak ilmu yang dimiliki oleh anakku setelah aku meny erahkannya
kepada seorang guru yang aku anggap mumpuni dengan beay a yang
tidak sedikit?” Guru Gemak Langkas itu menarik nafas dalam-dalam
sambil berkata ”Jangankan Gemak Langkas. Akupun dapat dibunuhnya.
Anak itu memiliki ilmu yang sudah jarang ada duanya. Ilmu yang
mampu menghisap tenaga dan ilmu lawannya.” “Tetapi kenapa kami tidak
boleh berbuat sesuatu?” berkata saudara seperguruan Gemak Langkas.
“Tidak ada gunanya” jawab gurunya ”seandainya kita memaksa diri,
maka kita justru akan dibinasakan. Bukan saja oleh Mahisa Pukat,
tetapi juga oleh kedua orang saksi yang menyertainya. Semula aku
mengira bahwa aku dapat mengalahkan Mahisa Pukat, baru kemudian kita
akan melawan kedua orang yang lain. Tetapi ternyata yang
terjadi sama sekali berlainan.” “Dan dengan demikian, maka hancurlah
nama kita” desis ay ah Gemak Langkas. “Tidak” jawab guru Gemak
Langkas ”aku tidak akan berhenti sampai disini. Jika aku dengan
serta merta menyatakan diri menyerah, semata-mata hanya karena aku
memang tidak melihat cara lain untuk membebaskan diri dari tangan
anak muda itu malam ini. Setelah itu, bukankah harimasih panjang?”
“Apa yang akan kita lakukan?” bertanya ayah Gemak Langkas. “Bukan
lagi sekedar persoalan antara Gemak Langkas dan Mahisa Pukat sebagai
anak-anak muda, tetapi persoalannya sudah merambat jauh lebih luas.
Jika aku mendendam, berarti seluruh perguruanku mendendamnya. Seisi
padepokanku merasa tersinggung karenanya. Sehingga dengan demikian,
maka yang akan berhadapan kemudian adalah seluruh padepokanku.
Bukankah Maliisa Pukat juga berasal dari sebuah padepokan? Aku akan
mencari keterangan tentang padepokannya, sehingga pada suatu saat
aku akan menghancurkan padepokannya itu. Meskipun barangkali kita
kita tidak segera dan langsung mengalahkan Mahisa Pukat, tetapi
kehancuran padepokannya akan dapat membuat hatinya menjadi lebih
sakit daripada sekedar kehilangan seorang gadis.” Ayah Gemak Langkas
hanya mengangguk-angguk saja. Namun kemudian ia berkata ”Aku ingin
melihat anak itu menderita karenanya. Aku sependapat dengan rencana
untuk menghancurkan padepokannya itu.” Dengan demikian,maka
orang-orang yang hadir di tanggul Sendang Perbatang itupun
segera bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu. Lembu Atak
mengumpat tidak habis-habisny a. Ia ingin sekali melihat, bagaimana
Mahisa Pukat itu dihancurkan dan dihinakan oleh Gemak Langkas. Namun
yang terjadi justru sebaliknya. Bahkan guru Gemak Langkaspun
telah dikalahkannya pula dihadapan muridmuridnya. Dengan dibantu
oleh muridnya,maka guru Gemak Langkas itu meninggalkan medan perang
tanding yang menghancurkan namanya itu. Prajurit-prajurit muda yang
datang ketempat itupun telah kembali pulamenuju ke barakmereka.
Sejenak kemudian tanggul Sendang Perbatang itu menjadi sepi. Namun
ternyata masih ada seorang yang berdiri didalam kegelapan
dalam pakaiannya yang hitam. Orang itu seakanakan tidak dapat
dilihat denganmata wadag. Ternyata orang itu adalah Arya Kuda Cemani
yang telah memisahkan diri dari Mahendra dan Mahisa Pukat.
Untuk beberapa saat orangitu termangu-mangu. Ia mendengar sebagian
dari pembicaraan guru Gemak Langkas dengan murid”muridnya. Meskipun
t idak seluruhnya, tetapi Arya Kuda Cemani itu mengetahui bahwa guru
Gemak Langkas memang tidak jujur. Arya Kuda Cemani itupun mendengar
serba sedikit per soalan yang diangkat menjadi persoalan
antara dua buah padepokan. Sambil menarik nafas dalam-dalam Arya
Kuda Cemani itu berdesis ”Mahisa Murtilah yang akan terancam.
Sebaiknya Mahisa Murti mengetahui bahwa sebuah perguruan sedang
mengamati perguruan Bajra Seta” Arya Kuda Cemani itu memutuskan
untukmemberitahukan hal itu kepada Mahendra agar Mahendra memberikan
peringatan kepada Mahisa Murti di padepokan Bajra Seta. “Guru Gemak
Langkas itu tentu tidak akan bekerja sendiri” berkata Arya Kuda
Cemani kepada diri sendiri. ”Apalagi jika ay ah Gemak Langkas ikut
campur dengan kekayaannya. Maka perguruan Bajra Seta akan dapat
berhadapan dengan beberapa perguruan yang sebelumnya tidak
dikenalnya.” Di hari berikutnya, maka Arya Kuda Cemani itupun telah
menemui Mahendra di rumahnya. Dengan singkat diceriterakannya, apa
yang telah didengarnya dari orang-orang yang semalam berada di
Sendang Perbatang. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya
”Ternyata persoalannyamenjadi berkepanjangan.” “Kita tidak
dapatmenyalahkan anak-anak atau kita sendiri. Tetapi kita memang
tidak dapat membiarkan sikap mereka, karena sikap itu
dapatmembahayakan anak-anak.” “Baiklah” berkata Mahendra ”biarlah
aku minta bantuan dua tiga orang prajurit untuk pergi ke padepokan
Bajra Seta. Agaknya aku tidak dapat minta agar Mahisa Pukat pergi ke
padepokan. Ia tentu tidak ingin disebutmelarikan diri.” Arya Kuda
Cemani ter senyum. Ia tahu alasan Mahendra yang sebenarnya. Bukan
karena tidak ingin disebut melarikan diri. Tetapi Mahisa Pukat tentu
masih segan meninggalkan Kota Raja. Agaknya iapun merasa tidak dapat
meninggalkan Sasi yang ternyata mendapat banyak perhatian dari
anak-anak muda meskipun Sasi termasuk seorang gadis yang jarang
keluar dari regol halaman rumahnya. Setelah Gemak Langkas, mungkin
Lembu Atak akan menjerat orang lain lagi untuk kepentingan yang
sama. Demikianlah,maka Mahendra telah minta tolong tiga orang
prajurit yang telah mendapat ijin dari pimpinannya. Tiga orang
prajurit yang pernah bersama-sama ke padepokan Bajra Seta dengan
Mahisa Murti ketika Mahisa Murtimeninggalkan Kota Raja tanpa Mahisa
Pukat. Kedatangan ketiga orang prajurit itu di padepokan Bajra Seta
memangmengejutkan Mahisa Murti.Namun ketiga orang prajurit itu
pagi-pagi telah meyakinkan, bahwa tidak terjadi sesuatu yang gawat
di Kota Raja. “Hanya sebuah permainan kecil” berkata salah seorang
dari antara para prajurit itu. “Permainan apa?” namun Mahisa Murti
memang segera ingin tahu berita apa yang mereka bawa. Yang tertua
diantar ketiga orang prajurit itupun kemudian berkata ”Ada satu
peristiwa kecil yang menyangkut padepokan Bajra Seta ini.”
“Peristiwa apa?” desak Mahisa Murti. Dengan singkat prajurit itupun
menceriterakan apa yang telah terjadi sesuai dengan pesan
Mahendra. Meskipun ia tidak dapat memerinci peristiwa itu sampai
persoalan yang sekecil-kecilny a, namun Mahisa Murti cukup tanggap
atas persoalanyang harusdihadapi oleh padepokan Bajra Seta itu.
Sambil mengangguk-angguk Mahisa Murti berkata ”Jadi asap dari api
yang menyala di Kota Raja itu akan sampai ke padepokan ini?”
“Satu kemungkinan” jawab prajurit itu ”karena itu aku datang untuk
membawa pesan agar seisi padepokan ini menjadi berhati-hati.” Mahisa
Murti tersenyum. Katanya ”Terima ka sih atas peringatan ini. Tanpa
peringatan ini, kami akan terkejut karenanya jika benar-benar
terjadi sesuatu.” “Mudah-mudahan memang tidak terjadi sesuatu”
berkata prajurit itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya
”Bagaimana pun juga Mahisa Pukat dan padepokan ini masih juga satu.
Karena itu, maka sentuhan per soalan yang dihadapinya akan menyentuh
padepokan ini pula.” Demikianlah, sejenak kemudian maka para
prajurit itupun telah dijamu oleh Mahisa Murti. Malam itu, para
prajurit itu akan bermalam semalam di padepokan. Nampaknya mereka
kerasan tinggal di padepokan yang mempunyai kesan yang tenteram dan
damai itu. Namun per soalan-persoalan yang terjadi diluar padepokan
itu kadang-kadang telah mengguncangnya, sehingga wajah air yang
bagaikan cermin itupun menjadi beriak karenanya. Tetapi para
prajurit itu sama sekali tidak mencemaskan keberadaan padepokan itu.
Rasa -rasanya padepokan Bajra Seta adalah satu barak prajurit
yang kokoh kuat. Bahkan para penghuni padepokan inimemiliki
kelebihan dari para prajurit, karena para cantrik itumemiliki
pengetahuan dan ketrampilan pula dalam tugas-tugas yang lain
selain tugas-tugas keprajuritan. Mereka memiliki pengetahuan tentang
bercocok tanam. Mereka memiliki pengetahuan untuk berternak. Menjadi
pande besi yang baik terutama yang telah memiliki kemampuan
tinggi dalam pembuatan senjata dengan bahanbahan khusus. Bahkan ada
diantara mereka yang mempelajari ilmu perbintangan dan
kesusasteraan. Bukan saja para penghuni padepokan itu, tetapi juga
anakanak muda di padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu.
Mereka ternyata juga mendapat kesempatan untuk mempelajari olah
kanuragan dan ilmu keprajuritan. Dengan demikian maka Padepokan
Bajra Seta adalah sebuah padepokan yang memiliki ketahanan
yang sangat tinggi. Bahkan mirip dengan sebuah lingkungan
raksasa yang saling dapat memanfaatkan antara padepokan Bajra Seta
dan lingkungan sekitarnya. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa guru
Gemak Langkas tidak tinggal diam. Ia tidak mau mendapat penghinaan
yang sangatmenekan perasaannya itu dihadapan banyak pihak. Karena
itu, maka yang dilakukannya kemudian justru didorong oleh
harga dirinya yang merasa direndahkan. Ber sama Gemak Langkas
yang kebetulan adalah saudara seperguruannya, mereka telah
merencanakan untuk berbuat sesuatu. Dendam Gemak Langkas ternyata
telah berkembang menjadi dendam sebuah padepokan. Bahkan Lembu Atak
dan prajurit -prajurit muda yang membenci dan mendendam Mahisa Pukat
itupun telah ikut membakar nyala api dendam didalam dada Gemak
Langkas. Sebenarnya ayah Gemak Langkas telah memperingatkan anaknya,
agar Gemak Langkasmenghentikan usahanya untuk membalas sakit
hatinya. Tetapi Gemak Langkas ternyata berkeras untuk bekerja ber
sama dengan gurunya mengarahkan dendam mereka kepada sebuah
perguruan yang bernama Perguruan Bajra Seta. “Melihat kemampuan
Mahisa Pukat, maka padepokan itu tentu sebuah padepokan yang
memiliki kemampuan yang tinggi” berkata ayah Gemak Langkas. “Tetapi
apakah aku akan membiarkan namaku, nama guruku dan sudah tentu
perguruanku dicemarkan ?” bertanya Gemak Langkas. Lalu katanya pula
”Lebih dari itu, per soalan yang paling menyakitkan adalah bahwa
Mahisa Pukat yang sombong itu merasa telah memenangkan persoalan
yang berhubungan dengan Sasi.” Tetapi pertanyaan ay ahnya sangat
mengejutkannya ”Apakah itu satu sikap sombong ? Bukankah ia memang
telah mengalahkan kau dan bahkan gurumu dalam perang tanding ?
Beruntunglah kau dan gurumu, bahwa anak itu tidak membunuhmu dan
tidak pula membunuh gurumu meskipun ia dapatmelakukannya.” Wajah
Gemak Langkas menjadi merah. Namun kemudian ia menjawab ”Ayah. Aku
tidak lagi memikirkan alasan-alasan. Aku hanya ingin mencari satu
kepuasan. Jika aku dapat menghancurkan Mahisa Pukat meskipun bukan
wadagnya, aku akan merasa mendapat kepuasan. Jika Padepokan Bajra
Seta dihancurkan,maka Mahisa Pukat akan menjadi sakit hati. Aku
senang melihat hatinya pecah sebagaimana padepokannya.” “Dan ia akan
membalas dendam pula. Kau akan menjadi sa saran dendamnya” berkata
ayahnya. “Jika kami dapat menghancurkan padepokannya, apa artinya
Mahisa Pukat itu bagi kekuatan kami ? Kami ju stru akan memancingnya
danmembinasakannya.” Ayah Gemak Langkasmenarik nafas dalam-dalam.
Agaknya ia tidak lagi dapat menahan niat anaknya itu. Karena itu,
maka jalan satu-satunya untuk menyelamatkannya adalah justru
membantunya, sehingga ia akan mendapat dukungan kekuatan yang
meyakinkan. Tanpa keyakinan itu, maka akibatnya hanya akan semakin
parah bagi anaknya. Karena itu,maka ay ah Gemak Langkas yang kaya
raya itu, memang harus mengalah kepada keinginan anaknya. Namun ia
masih memberinya peringatan ”Gemak Langkas. Ingat, bahwa langkah
yang akan kau ambil itu mempunyai akibat yang jauh. Jika kau
ingin membenturkan padepokanmu dengan padepokan Bajra Seta, maka
harus sudah diperhitungkan, bahwa akan jatuh korban. Maksudku bukan
sekedar orang-orang padepokanmu dan padepokan Bajra Seta akan ada
yang terluka dan menitikkan darah. Tetapi ada diantara mereka yang
akan mati terbunuh dipeperangan. Tidak hanya satu atau dua. Tetapi
mungkin sepuluh atau dua puluh orang dari padepokanmu dan sejumlah
itu pula dari padepokan Bajra Seta. Apalagi jika kalian telah
benar-benar menjadi mabuk karena bau darah. Maka kalian akan
kehilangan kendali diri. Kematian akan menjadi semakin bertambah dan
bahkan mungkin salah satu pihak akan dapat tumpaskarenanya.” Gemak
Langkas memang mendengarkan pesan ayahnya yang terakhir itu. Bahkan
ia sudah mulai memikirkannya. Persoalannya dengan Mahisa Pukat dalam
hubungannya dengan Sasi, akan dapat menimbulkan kematian para
cantrik dari dua padepokan. Mereka sama sekali tidak mengerti
persoalan sebenarnya yang telah membakar permusuhan antara
kedua padepokan itu. Tetapi ketika ia bertemu dengan gurunya, maka
persoalannya menjadi lain. Ternyata gurunya telah membakar hatinya
pula, agar ia meneruskan niatnya untuk menghancurkan padepokan Bajra
Seta. “Apakah kita akan membiarkan nama kita direndahkan ? Para
prajurit muda itu akan berceritera kepada setiap orang bahwa kita
sama sekali t idakmemiliki apapun juga yang dapat kita
pergunakan untuk berbangga diri dengan perguruan kita.” berkata guru
Gemak Langkas. ”Tetapi pertempuran antara dua padepokan akan membawa
banyak kematian” berkata Gemak Langkas. “Aku tahu. Tetapi apa
artinya kematian dibandingkan dengan harga diri kita. Jika malam itu
aku menyerah, bukan berarti bahwa aku takut mati. Seandainya aku
tahu bahwa hatimu lemah,maka aku akan membiarkan dirikumatimalam
itu.” berkata gurunya pula. Lalu katanya selanjutnya ”tetapi aku
masih hidup. Tenaga dan kemampuanku telah pulih kembali. Aku telah
mengetahui pula kekuatan dan kelemahan orang-orang Bajra Seta. Aku
yakin, bahwa hanya satu orang sa jalah yang memiliki kemampuan ilmu
yang dapat menghisap tenaga dan kemampuan lawannya. Orang itu
adalah Mahisa Pukatyang kini berada disini.” Gemak Langkas memang
menjadi ragu-ragu. Ia sadar, bahwa gurunya inginmenebuskekalahannya
dan bahkan saatsaat harga dirinya dihancurkan oleh Mahisa Pukat
dihadapan orang banyak. Apalagi bukan hanya gurunya yang bertekad
seperti itu. Saudara-saudara seperguruannya pun berniat untuk
menegakkan nama dan wibawa gurunya dihadapan banyak orang. Dengan
demikian maka para murid dan bahkan para cantrik dari sebuah
padepokan sudah bertekad untuk membalas dendam. Ra sa -rasanya
memang tidak ada yang dapat mencegah. Ayah Gemak Langkas juga
tidak. Bahkan guru Gemak Langkas itupun pernah menemuinya dan
berkata ”Seisi Padepokan kami telah siap untuk menegakkan harga diri
padepokan kami.” “Aku hanya ingin mengingatkan, jika persoalannya
ber sumber dari Gemak Langkas, aku minta dihentikan sampai sekian
saja.” sahut ayah Gemak Langkas. “Tetapi persoalan itu telah
berkembang” jawab guru Gemak Langkas. Lalu katanya pula ”Mahisa
Pukat telah menghina aku.” “Aku tidak tahu, apakah yang dilakukan
oleh Mahisa Pukat itu harus dicela atau harus dipuji. Jika ia
tidakmembunuhmu, bukankah kau harus berterima kasih kepadanya?” “Aku
tidak mau diperlakukan begitu?” jawab guru Gemak Langkas. “Tetapi
kenapa kau meny erah?” bertanya ayah Gemak Langkas. “Aku ingin hidup
untuk membalas dendam. Jika saat itu aku mati, maka untuk selamanya
namaku akan tetap direndahkan orang,” jawab guru Gemak Langkas. “Dan
keinginanmu terjadi. Kenapa kau merasa terhina?” bertanya ayah Gemak
Langkas. ”Kita harus menganggapnya sebagai satu penghinaan” jawab
guru Gemak Langkas. Ayah Gemak Langkas merasa bahwa ia tidak lagi
mampu mencegahnya lagi. Karena itu, maka segala sesuatunya
diserahkannya kepada guru Gemak Langkas yang memiliki
kekuatanyang cukup besar itu,meskipunmereka masih harus
mengamati kekuatan Padepokan Bajra Seta. Demikianlah, guru Gemak
Langkas yang di lingkungannya dipanggil mPu Damar benar-benar
berniat untuk melakukan pembalasan terhadap Mahisa Pukat yang
sa sarannya ditujukan kepada Padepokannya. Padepokan Bajra Seta.
Karena itulah maka seisi padepokan yang dipimpin oleh mPu Damar
itupun segera bersiap-siap. Gemak Langkas yang tidak tinggal
di Padepokan Ngancas, telah berada di padepokan itu pula. Biasanya
justru gurunya atau orang terpercaya dari Padepokan Ngancas itulah
yang datang ke rumah Gemak Langkas. Tetapi di saat-saat yang
dianggap genting oleh seisi padepokan itu, maka Gemak Langkas memang
telah diminta untuk berada di Padepokan Ngancas ber sama -sama
dengan murid-muridmPu Damar yang sudah ter sebar. Di Padepokan itu
mereka mendapatkan latihan-latihan secara khusus dari mPu Damar
sendiri. Sementara para cantrik yang jumlahnya cukup banyak itupun
telah ditempa pula oleh para murid tertua dari perguruan itu. Bahkan
satu dua diantara murid-murid tertua itu telah membuat
Padepokan-padepokan pula terpencar di beberapa tempat yang berjarak
cukup panjang. Merekalah yang akan menjadi pendukung kekuatan
mPu Damar untuk menghadapi Padepokan Bajra Seta. “Kita mempunyai
beberapa padepokan” berkata mPu Damar ”kita tentu akan
dapatmenggilas Padepokan Bajra Seta yang hanya sebuah Padepokan itu
saja.” Tetapi mPu Damar juga tidak bertindak tergesa-gesa. Ia telah
memerintahkan dua orang muridnya yang terbaik untuk mengetahui
beberapa hal tentang keadaan Padepokan Bajra Seta. Letaknya,
kekuatannya, lingkungannya dan jika mungkin tingkat kemampuan para
cantriknya. “Kita tidak boleh bertindak tanpa perhitungan agar kita
tidak menambah kegagalankegagalan yang pernah kita alami”
berkata guru Gemak Langkas itu. Dengan beberapa perintah dan
pesan-pesan maka kedua orang murid mPu Damar yang dianggap
terbaik telah berangkat menuju ke lingkungan di sekitar Padepokan
Bajra Seta. Tugas itu memang merupakan tugas yang sulit.
Keduanya belummengenal sa saran pengamatan mereka.Namun dengan penuh
kepercayaan akan kemampuan diri, keduanya telah berangkat ke
Padepokan Bajra Seta. Namun mPu Damar telah berpesan ” Ingat. Mahisa
Pukat mempunyai seorang saudara laki-laki bernama Mahisa Murti. Aku
tidak tahu apakah Mahisa Murti juga memiliki kemampuan setingkat
Mahisa Pukat. Namun seandainya demikian, kita tidak usah gentar
menghadapinya. Kita sudah tahu kelemahannya, sehingga kita pun akan
dapat mencari jalan untuk mengatasiny a. Selain satu cara adalah,
kita akan menghadapinya dalam kelompok-kelompok kecil. Kedua orang
murid terbaik mPu Damar itu mengangguk. Mereka mengerti bahwa
gurunya, mPu Damar tidak dapat memenangkan perang tanding melawan
Mahisa Pukat sehingga justru telah membakar dendam di hatinya.
Dengan demikian maka merekapun sadar, bahwa mereka harusmenjadi
sangat berhati-hati, karena yang mereka hadapi adalah sebuah
padepokan yang memiliki pemimpin dengan ilmu yang sangat
tinggi. Tetapi tugas mereka hanyalah sekedar mengetahui apa yang ada
di padepokan Bajra Seta itu, sehingga karena itu, maka keduanya
masih belum perlu untuk membenturkan kemampuan mereka atas
orang-orang padepokan Bajra Seta itu. Dengan bekal beberapa pesan
dari gurunya, mPu Damar, maka kedua orang murid perguruan Ngancas
itu telah berangkat ke padepokan Bajra Seta. Namun sementara itu,
para prajurit yang telah datang menemui Mahisa Murti justru
telah kembali ke Singasari. Sehingga dengan demikian maka Mahisa
Murtipun telah mendapat keterangan tentang kemungkinan buruk yang
dapat datang setiap saatmenerpa Padepokan Bajra Seta itu. Tetapi
setelah beberapa lama Mahisa Murti berada di Padepokan Bajra Seta,
hatinya telah menjadi lebih tenang. Meskipun kadang-kadang masih
terasa gejolak hatinya, namun Mahisa Murti telah mampu
untukmenimbang dengan perasaan dan penalaranyang lebih bening.
Keterangan yang diterima Mahisa Murti tentang dendam Gemak Langkas
kepada Mahisa Pukat yang kemudian berkembang menjadi dendam
padepokan Ngancas terhadap Padepokan Bajra Seta, telah mendorong
Mahisa Murti untuk ber siap-siap. Meskipun Mahisa Murtimerasa lebih
senang jika tidak terjadi sesuatu, namun apa bila serangan itu
benar-benar datang, Padepokan Bajra Seta tidak akan membiarkan
dirinya dihancurkan. Karena itu, maka Mahisa Murti telah
meningkatkan kewaspadaannya. Panggungan di dinding Padepokan telah
diperbaiki, sehingga pengamatan dapat dilakukan dengan lebih baik.
Pintu gerbang Padepokanpun telah diperiksa dengan teliti, agar pintu
gerbang itu tidak mudah untuk dipecahkan. Selaraknya telah dibuat
rangkap, sementara panggungan disebelah-meny ebelahnyapun telah
dipersiapkan pula untukmenghadapi kemungkinanyang paling buruk.
Lebih dari itu, maka secara kewadagan dan kejiwaan, para cantrikpun
telah dipersiapkan pula. Latihan-latihan-pun ditingkatkan sementara
persenjataan para cantrik itu langsung diperiksa oleh Mahisa Murti
sendiri apakah cukupmemadai. Mahisa Semu dan Mahisa Amping secara
khusus telah bertanya kepada Mahisa Murti, apakah yang akan
terjadi di Padepokan itu. “Kalian harus bersiap-siap dengan
sungguh-sungguh” jawab Mahisa Murti. Lalu katanya ”telah terjadi
salah paham antara kakakmu Mahisa Pukat dengan seseorang yang
kebetulan memimpin sebuah padepokan. Mereka mendendam kakakmu Mahisa
Pukat. Namun mereka tidak dapat berbuat banyak di Singasari, karena
para prajurit Singasari akan dapat turut campur. Karena itu, maka
mereka, yang mendendam kakakmu Mahisa Pukat itu telah mengerling ke
padepokan ini. Nampaknya Padepokan ini akan menjadi sa saran dendam
orang yang terlibat dalam kesalah-pahaman dengan kakakmu
Mahisa Pukat itu.” Mahisa Semu dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Namun bagi Mahisa Amping, per soalan yang dihadapi oleh
Padepokan Bajra Seta itu sulit untuk dimengerti. Bajra Seta yang t
idak tahu menahu tentang persoalan y g terjadi di Singasari,
justrumenjadi sa saran dendam sebuah Padepokan. Namun tiba-tiba anak
itu mengerutkan dahinya. Pandangan matanya jauh menyusup menembus
kekejauhan. Seakan-akan diluar sadarnya ia berkata ”Ya, kita memang
harusbersiap” Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian
iapun bertanya ”Kenapa ?” “Mereka agaknya memang akan datang.” jawab
Mahisa Amping. Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam. Mahisa Amping
kadang -kadangmemangmenunjukkan kelebihan pengamatan firasatnya.
Namun Mahisa Amping jarang sekali mengerti, perincian dari
penglihatannya itu. Namun Mahisa Murti seakan-akan telah mendapat
penjelasan, bahwa kemungkinan buruk itu memang akan terjadi atas
Padepokan Bajra Seta, sehingga seisi Padepokan itu memang
harusbersiap-siapmenghadapi kemungkinan itu. Karena itu, maka Mahisa
Murtipun kemudian berkata kepada Mahisa Semu ”tolong, panggil
pamanWantilan.” Beberapa saat kemudian, maka Wantilanpun telah
datang menemui Mahisa Murti. Dengan sungguh-sungguh Mahisa
Murtiminta agarWantilan mempersiapkan para cantrik untuk ber siaga.
“Besok aku akan berbicara dengan para pemimpin kelompok. Tolong
paman Wantilan mempersiapkan pertemuan itu.” “Baiklah” berkata
Wantilan ”besok, saat matahari sepenggalah para pemimpin kelompok
akan berkumpul di pendapa bangunan induk.” “Terima kasih paman”
berkata Mahisa Murti selanjutnya ”nampaknya kita memang tidak boleh
lengah” Sementara para penghuni Padepokan Bajra Seta bersiapsiap,
maka kedua orang cantrik dari Padepokan Ngancas telah berada tidak
terlalu jauh dari Padepokan Bajra Seta. Dengan sangat berhati-hati
keduanya mulai menghimpun keterangan tentang Padepokan yang akan
menjadi sasaran dendam mPu Damar. Namun hal itu telah disadari oleh
Mahisa Murti. Bahwa sebelumnya tentu akan ada pengamatan atas
Padepokannya. Karena itu, maka Mahisa Murti berusaha untuk melihat
kemungkinan itu sendiri. Setiap kali Mahisa Murti telah berada di
padukuhan-padukuhan disekitar Padepokannya. Tetapi Mahisa Murti t
idak mengatakan kepentingannya kepada anak-anakmuda di
padukuhan-padukuhan itu, karena jika demikian maka mereka akan dapat
berbuat sesuatu yang mungkin salah langkah. Anak-anak muda di
padukuhan-padukuhan di sekitarnya yang ingin membantunya akan dapat
salah tunjuk. Mereka dapat dengan serta-merta menuduh orang-orang
yang kebetulan tidak mereka kenal sebagai petugas sandi dari
padepokan yang mengancam Padepokan Bajra Seta. Bahkan mungkin mereka
akan dapat bertindak dengan tergesa -gesa karena darah mudamereka.
Kepada para pemimpin kelompok Padepokan Bajra Seta dalam
pertemuanyang diselenggarakan di Padepokan, Mahisa
Murtimenekankan agar mereka ber siap sepenuhnya. “Tetapi jangan
tergesa -gesa melibatkan anak-anakmuda di luar Padepokan.” pesan
Mahisa Murti. ”Mereka akan dapat bertindak terlalu jauh sebelum
mereka memahami apa yang terjadi sepenuhnya. Sehingga
langkah-langkah yang mereka ambil justru akan dapatmerugikan
persiapan kita.” Dengan demikian maka yang dilakukan oleh para
cantrik itu adalah persiapan-persiapan yang terbatas di
lingkungan dinding padepokanmereka. Sementara itu, Mahisa Murti yang
sering berada di luar padepokan kadang -kadang memang harus menjawab
beberapa pertanyaan yang menyangkut keberadaannya di
padukuhan-padukuhan itu, karena hal seperti itu jarang sekali
dilakukannya. Meskipun Mahisa Murti sering berkunjung kepada
anak-anakmuda diluar Padepokan namun tidak begitu sering seperti
yang dilakukannya dis-aat-saat terakhir.Namun pertanyaan-pertanyaan
itu selalu dijawabnya, bahwa kehadirannya di padukuhan-padukuhan itu
semata-mata karena keinginannya untuk berada lebih dekat dengan
anakanakmuda di padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan. Mahisa
Murti yang kadang-kadang membawa Mahisa Amping bersamanya itu
berusaha untuk dengan cermat mengamati kemungkinan-kemungkinan yang
dapat dilakukan oleh para petugas sandi. Sekali-sekali Mahisa Murti
berada di kedai-kedai yang sebelumnya memang pernah di
kunjungi. Bahkan Mahisa Murti menjadi lebih rajin berada di pasar.
Duduk di antara pande besidan pedagang-pedagang gerabah. Namun untuk
beberapa lama Mahisa Murti tidak melihat orang-orang yang
pantas dicurigainya. Tetapi ketika pada suatu hari ia berada di
sebuah kedai ber sama Mahisa Amping, justru di kedai yang berada
agak jauh dari padepokannya, serta kedai yang sebelumnya belum
pernah dikunjunginya, ditemukannya sesuatu yang pantas
diperhatikan. Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Amping lewat di depan
kedai itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Amping menarik tangannya.
Demikian Mahisa Murti berhenti, maka Mahisa Amping itu berdesis
”Kita singgah sebentar.” Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Sambil
ter senyum ia bertanya ”Apakah kau sudah lapar atau haus? Bukankah
harimasih pagi?” “Tidak” jawab Mahisa Amping ”aku tidak lapar dan
tidak haus. Tetapi aku ingin singgah sebentar.” Mahisa Murti melihat
sesuatu di mata Mahisa Amping. Dahi anak itu berkerut. Bahkan
kemudian tanpa menunggu Mahisa Murti, Mahisa Amping telah melangkah
masuk ke dalam kedai itu. Tetapi Mahisa Murti yang mengenal
anak itu dengan baik, tidak mencegahnya. Iapun segera mengikutinya
dan memasuki kedai itu pula. Pemilik kedai itu memang belum
dikenalnya. Sebaliknya pemilik kedai itupun juga belum mengenalnya.
Namun, demikian Mahisa Murti memasuji kedai itu, maka iapun mendapat
kesan bahwa kedai itu adalah kedai yang terhitung ber sih dan
lengkap. Beberapa tempat duduk memang telah terisi. Di sebuah amben
panjang beberapa orang anakmuda sedangmenghirup minuman panas sambil
berkelakar. Sedangkan di sudut kedai itu duduk dua orang yang lebih
banyak diam dan mengamati keadaan. Mahisa Amping yang mendahului
masuk ke kedai itu langsungmencari tempat duduk, tidak jauh dari
kedua orang yang telah berada di dalam kedai itu. Mahisa Murti
hanyamengikutinya saja. Ia tahu bahwa anak itu melangkah sesuai
dengan tuntutan firasatnya. Sehingga karena itu,maka Mahisa Murti
menduga, bahwa ada sesuatu yang dikenali oleh firasat Mahisa Amping,
namun belum diketahuinya dengan pasti. Beberapa saat kemudian,
setelah keduanya duduk, maka keduanya telah memesan minuman
yang digemari oleh Mahisa Amping.Wedang sere dengan gula aren.
Sambil menunggu minuman, maka Mahisa Amping nampaknya memperhatikan
kedua orang yang telah lebih dahulu berada di kedai itu. Sambil
mengunyah makanan keduanya berbicara perlahan-lahan. Masih tentang
makanan yangmerekamakan. Tetapi kedua orang itu kemudian mulai
memperhatikan Mahisa Amping.Nampaknya Mahisa Amping itu agakmenarik
perhatian mereka. Sikap anak itu yang nampak kekanakkanakan
namun mapan. Bahkan ketika kedua orang itu memandang Mahisa Amping
yang juga sedang mengamati mereka,makaMahisa Amping itu
telahmengangguk hormat. Kedua orang itu tersenyum sambilmengangguk
pula. Bahkan seorang di antara mereka sempat berdesis ”Marilah
ngger, apakah pesananmu belum siap?” Mahisa Amping tersenyum pula.
Tetapi ia justru berpaling kepada Mahisa Murti. Sementara Mahisa
Murtilah yang menjawab ”Nampaknya sedang disiapkan Ki Sanak.” Orang
itu mengangguk-angguk. Ma sih sambil ter senyum seorang diantara
mereka bertanya kepada Mahisa Murti ”Apakah anak ini anak Ki Sanak?”
“Ya” jawab Mahisa Murti ”anakku yang sulung.” “O” orang itu
mengangguk-angguk ”berapakah saudaranya?” Mahisa Murtipun ter senyum
pula. Jawabnya ”Dua.” Mahisa Amping termangu-mangu sejenak. Namun
anak itu ternyata tanggap. Ia tidak mengatakan apa-apa ketika Mahisa
Murtimengakunya sebagai anaknya. Ternyata sejenak kemudian pelay an
kedai itu telah menghidangkan minuman hangat bagi Mahisa Murti dan
Mahisa Amping. Namun Mahisa Amping terkejut ketika salah seorang
diantara kedua orang itu bertanya ”Siapa namamu ngger?” Mahisa
Amping memang menjadi bingung. Jika Mahisa Murti mengatakan bahwa ia
adalah anaknya yang sulung, maka namanya tentu bukanMahisa Amping.
Karena Mahisa Amping tidak segera menjawab, maka Mahisa Murtilah
yang menjawab ”Kenapa kau diam saja? Namanya Lembu Amping Ki
Sanak. Anak ini memang pemalu.” “Nama yang bagus” desis orang itu.
“Rumahmu dimana?” bertanya orang itu pula. Mahisa Ampingmemandang
kepada Mahisa Murti dengan wajah yang agak tegang. Namun Mahisa
Murti berkata ”Jawablah. Kau harusbelajarmenjawab
pertanyaan-pertanyaan.” Mahisa Ampingmemandang kedua orang itu
dengan raguragu. Katanya ”Rumahku, tiga bulak dari tempat ini.
Diseberang bulak panjang dan hutan bambu disebelah.” “O” orang itu
mengangguk-angguk. Tetapi seorang yang lain bertanya lagi
”Hutan bambu Ngerakyang kaumaksud?” “Ya” Mahisa Ampingmengangguk
ragu. “Sudah dekat dengan Padepokan Bajra Seta?”desak orang itu
pula. Namun Mahisa Murtilah yang menjawab ”Masih berjarak beberapa
bulak lagi Ki Sanak. Kami tinggal di padukuhan Ngerak itu. Padukuhan
yang menjadi kepanjangan hutan bambu meskipun diantarai oleh
sebuah padang perdu dan padang rumput.” Mahisa Murti berhenti
sejenak. Lalu iapun bertanya pula ”Tetapi apakah Ki Sanak sudah
pernah pergi ke Ngerak?” Orang itu tersenyum sambil mengangguk ”Ya.
Tetapi hanya sekedar lewat saja.” “Kami persilahkan Ki Sanak
singgah” berkata Mahisa Murti kemudian. “Terima kasih, Ki Sanak”
jawab orang itu. Mahisa Murti yang kemudian sibuk meniup
minuman panasnya agar cepatmenjadi dingin tidak bertanya lagi. Kedua
orang itupun terdiam pula untuk beberapa saat. Untuk beberapa
lamanya, Mahisa Murti dan Mahisa Amping duduk di kedai itu. Mereka
minum dan makan beberapa potong makanan kecil. Namun sekejap-sekejap
Mahisa Murti sempat memandangi kedua orang yang belum
dikenalnya sebelumnya itu. Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Murti
dan Mahisa Amping merasa, bahwa mereka telah cukup lama duduk di
kedai itu. Sementara itu kedua orang yang telah lebih dahulu
berada di kedai itu masih saja duduk sambil sekali-sekali
menghirupminumannya. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Amping terkejut
ketika mereka akan membayar harga minuman dan makanan yang telah
mereka makan salah seorang dari kedua orang itu berkata ”Sudahlah Ki
Sanak. Biarlah kami yang membayarnya.” “Ah” sahut Mahisa Murti
”terima kasih. Biarlah kami memenuhi kewajiban kami.” “Jangan” orang
itu mencegahnya. Bahkan katanya ”Seringseringlah datang kemari. Aku
sering pula berada di kedai ini.” Ketika Mahisa Murti berniat tetap
akan membayar harga minuman dan makanannya, orang itu juga tetap
mencegahnya. Katanya ”Ki Sanak. Jangan menolak. Bukan apa-apa. Aku
senangmelihat anak Ki Sanak ini.” Mahisa Murtimemang tidak dapat
memaksanya.Orang itu akan dapat ter singgung karenanya. Namun
disamping itu, Mahisa Murti memang menaruh perhatian cukup besar
terhadap orang itu. Karena itu,maka Mahisa Murtipun kemudian berkata
”Jika demikian, kami mengucapkan banyak terima kasih Ki Sanak Kami
akan sering datang ke kedai ini.” “Baiklah” berkata orang itu ”pada
suatu saat aku akan singgah ke rumah Ki Sanak.” “Silahkan Ki Sanak.
Silahkan. Kami akan senang sekali menerima kunjungan Ki Sanak.”
jawab Mahisa Murti. Demikianlah keduanyapun kemudian telah
meninggalkan kedai itu. Mahisa Murti mulai merasakan bahwa firasat
Mahisa Amping telah membawanya bertemu dengan orangorang yang
menarik perhatian. Namun dalam pada itu, Mahisa Ampingpun bertanya
”Kakangmembuat aku bingung.” “Tetapi kau sudah berbuat
sebaik-baiknya” jawab Mahisa Murti. “Tetapi apakah kita akan
menemuinya lagi?” bertanya Mahisa Amping. “Ya. Aku berniat bertemu
dengan orang-orang itu lagi” jawab Mahisa Murti. “Tetapi bagaimana
jika mereka benar-benar akan singgah dirumah yang kakang
sebutkan itu?” bertanya Mahisa Am- Ping- Mahisa Murti ter senyum.
Katanya ”Bukankah kita mempunyai banyak sahabat di padukuhan
Ngerak?” “Kita akan mengaku salah seorang dari mereka keluarga kita
atau kita memang akan membuat rumah di Ngerak?” bertanya Mahisa
Amping. Mahisa Murti tertawa. Katanya ”Kita tidak perlu membuat
rumah. Jika kita membuat rumah, maka rumah kita akan nampak baru.
Sehingga dengan demikian,maka mereka akan dapatmenjadi curiga.”
Mahisa Amping mengangguk-angguk. Katanya ”Bukankah aku boleh ikut
tinggal di Ngerak?” Mahisa Murti tertawa semakin keras. Katanya
”Kita tidak akan tinggal di Ngerak. Tetapi kita akan sering berada
di Ngerak. Kita akan berbicara dengan orang -orang Ngerak, terutama
Ki Bekel, bahwa aku adalah penghuni padukuhan Ngerak bersama anakku
sebanyak tiga orang. He, bukankah akumenjawab bahwa anakku tiga
orang?” Mahisa Ampingpun tertawa. Tetapi ia bertanya ”Mana
yang dua lagi?” “Orang itu tidak akan membuktikan, bahwa aku
mempunyai tiga orang anak. Tetapi mudah-mudahan orang itu tidak
benar-benarmencari kita di Ngerak.” berkata Mahisa Murti. “Orang itu
lupa tidak menanyakan nama kakang” berkata Mahisa Amping kemudian.
“Ya. Mungkin mereka sengaja agar tidak terlalu menarik perhatian.
Seakan-akan mereka tidak mempedulikan kita?” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi apakah mereka mempedulikan kita?” bertanya Mahisa Amping
pula. “Ya. Dalam hubungannya dengan Padepokan Bajra Seta. Agaknya
orang itu menaruh perhatian atas Padepokan Bajra Seta.” Mahisa
Amping mengangguk-angguk. Namun ia tidak bertanya lebih jauh.
Demikianlah maka keduanya berjalan semakin jauh dari kedai
yang baru pertama kali itu mereka datangi. Namun mereka berdua
ternyata tidak langsung kembali ke Padepokan. Mereka ternyata telah
pergi ke padukuhan Ngerak untuk bertemu dengan Ki Bekel. Ketika
Mahisa Murti menyatakan dirinya untuk disebut orang Ngerak,maka Ki
Bekelpun menjadi heran. Namun dalam pada itu, Mahisa Murtipun
berpesan. Kepada Ki Bekel yang sudah dikenal dengan baik oleh
Mahisa Murti itupunmengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi
Mahisa Murtiminta agar Ki Bekel tidakmenyatakan hal itu kepada
orang-orang Ngerak. “Kepada mereka Ki Bekel cukupmengatakan
bahwamereka harus menganggap aku orang Ngerak. Jika ada orang asing
yang bertanya tentang aku, maka mereka harus menjawab, bahwa aku
tinggal di Ngerak. Tinggal di rumah Ki Bekel bagian belakang, karena
akumasih sanak kadangnya Ki Bekel.” Ki Bekel mengangguk-angguk.
Katanya ”Baiklah. Agaknya suatu permainan yang sulit bagiku.
Tetapi aku akan mencoba. Meskipun demikian jika ada satu dua orang
yang terlampaui dan tidakmengetahui permainan ini, akuminta
maaf.” ”Jika Ki Bekel memberitahukan kepada seseorang dan minta
orang itu mengatakan kepada orang lain yang ditemuinya, maka dalam
waktu singkat, pesan Ki Bekel itu akan tersebar. Memang agak sulit
untukmengendalikan anakanak. Namun jika orang-orang tua sudah
mengetahuinya, maka agaknya sudah cukup.” Ki Bekel
mengangguk-angguk. Yang sulit baginya adalah justru tanpa mengatakan
per soalan yang sebenarnya kepada orang-orang padukuhan Ngerak.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murtipun berpesan ”Masih ada yang
harus Ki Bekel beritahukan kepada orang-orang Ngerak. Namaku disini
tentu bukan Mahisa Murti. Tetapi Kuda Samekta. Nah, ingat Ki Bekel.
Kuda Samekta. Jadi dirumah Ki Bekel tinggal seorang saudaranya
sekeluarga dengan tiga orang anak, namanya Kuda Samekta. Sedangkan
anaknya yang sulung namanya Lembu Amping.” Ki Bekel ter senyum
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya ”Lebih mudah untuk
menangkap saja orang itu daripada harus bermain demikian rumitnya.”
Mahisa Murtipun tersenyum pula. Katanya ”Mudah-mudahan orang itu
tidak datang kemari. Aku akan berusaha menjumpainya di kedai itu
saja. Yang agak menyulitkan adalah ju stru orang itu telah membayar
minuman dan makanan kami, sehingga jika kami datang lagi kekedai
itu, tentu dikiranya kami sengaja agar minuman dan makanan
kamimereka bay ar pula.” Tetapi Ki Bekel itu menggeleng sambil
berkata ”Tidak. Kapan saja kau bertemu lagi dengan orang itu di
kedai itu, maka kaulah yang membayar harga minuman dan makanan
mereka. Katakan, bahwa ada baiknya untuk bergantian melakukannya.”
Mahisa Murtimengangguk-angguk. Katanya ”Aku setuju Ki Bekel.
Ternyata pendapat Ki Bekel itu cukup bagus.” “Seandainyamereka
tidakmau?” bertanya Mahisa Amping. Mahisa Murtimenarik nafas
dalam-dalam. Tetapi justru Ki Bekel yang menjawab ”Kebetulan.
Biarlah mereka setiap kali membayar hargamakanan danminuman itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Ampingpun tertawa. Namun dalam pada itu,
Mahisa Murtipun menyadari bahwa tugas yang diserahkan kepada Ki
Bekel itu memang cukup rumit. Demikianlah maka Mahisa Murti dan
Mahisa Amping segera minta diri. Mahisa Murti berharap bahwa segala
sesuatunya dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan persoalan
bagi orang-orang padukuhan Ngerak. Namun dengan demikian,maka hampir
setiap hari Mahisa Murti dan Mahisa Amping telah pergi ke padukuhan
Ngerak.Bahkan pada hari yang keempat, keduanya telah pergi
kekedai yang baru sekali mereka kunjungi itu. Tetapi di kedai itu
Mahisa Murti dan Mahisa Amping tidak bertemu dengan kedua orang yang
pernah membayarminuman danmakananmereka. “Kemarin mereka datang
kemari” berkata pemilik kedai itu. Karena kedai itu sedang lengang,
selain Mahisa Murti dan Mahisa Amping hanya ada dua orang pembeli
yang lain,maka pemilik kedai itu sempat berbicara agak panjang
dengan Mahisa Murti dan Mahisa Amping. “Agaknya mereka bukan orang
disekitar tempat ini” berkata pemilik kedai itu. “Tetapi nampaknya
mereka telah melihat -lihat daerah ini” sahut Mahisa Murti.
“Perhatiannya banyak tertuju kepada Padepokan Bajra Seta” berkata
pemilik kedai itu. “O” Mahisa Murtimengangguk-angguk. Katanya ”Aku
juga pernahmelihat padepokan itu.” “Apakah anehnya ?” pemilik kedai
itu justru bertanya ”aku juga sering lewat didekat padepokan itu.
Bukankah tidak ada yang aneh ?” “Ya. Tidak ada yang aneh”
jawab Mahisa Murti yang memperkenalkan diri dengan nama Kuda
Samekta. “Tetapi nampaknya kedua orang itu sangatmemperhatikan
Padepokan Bajra Seta itu.” berkata pemilik kedai itu pula. Lalu
sambungnya ” Ia tertarik kepada bukan saja penghuninya, tetapi juga
nama-nama pemimpinnya. Kemampuannya dan jumlah cantrikyang ada
di padepokan itu.” “Untuk apa ?” bertanya Mahisa Murti. “Hanya ingin
tahu” jawab pemilik kedai itu ”ia mengaku tertarik setelah melihat
Padepokan itu dari dekat. Nampaknya sebuah Padepokanyang besar
dan kuat.” “Apakah Ki Sanak banyak mengetahui tentang Padepokan
Bajra Seta ?”bertanya Mahisa Murti. “Tidak” jawab pemilik kedai itu
”letaknyapun tidak terlalu dekat dari sini. Aku telah menyarankan
jika ingin mengetahui lebih banyak, sebaiknya ia datang saja ke
Padepokan itu dan bertemu dengan pimpinan Padepokan Bajra Seta itu.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya terlalu banyak
agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun keterangan itu sudah cukup
baginya untuk mengambil kesimpulan, bahwa memang ada orang yang
sedang menyelidiki padepokannya, yang tentu ada sangkut
pautnya dengan keterangan yang diberikan oleh para prajurit
yang khusus datang atas permintaan ayahnya. Namun yang mengejutkan
Mahisa Murti adalah justru kehadiran seseorang yang tidak dikenal
oleh para cantrik ke Padepokan Bajra Seta. “Siapa yang
dicarinya ?” bertanya Mahisa Murti. “Pimpinan Padepokan Bajra Seta,
Mahisa Murti” jawab cantrik itu. Mahisa Murti merasa harus
berhati-hati menanggapi kedatangan orang itu. Karena itu,maka
katanya ”Aku sendiri akan menerimanya diregol halaman. ”Namun sekali
lagi Mahisa Murti terkejut. Orang itu memang tidakmenunjukkan ujud
yang meyakinkan sebagai seorang yang memiliki kelebihan. Orang
itu menurut ujudnya tidak lebih dari seorang petani kebanyakanyang
berpakaian serba hitam. “Raden KudaWereng” desisMahisa Murti. Orang
itu terseny um. Katanya ”Kau masih mengenali aku dalam ujudku
seperti ini ngger?” “Tentu” jawab Mahisa Murti ”dalam keadaan apapun
aku akan dapatmengenali Arya Kuda Cemani. Apalagi dalam ujud apapun
Raden selalu memakai pakaianyang serba hitam.” Arya Kuda
Cemani hanya terseny um saja. Sementara itu Mahisa Murtipun
mempersilahkannya memasuki padepokannya. “Sebuah padepokan kecil,
kotor dan miskin” berkata Mahisa Murti. “Kau terlalu merendahkan
diri” jawab Arya Kuda Cemani ”padepokanmu adalah padepokan
yang terhitung besar di tlatah Singasari.” Demikianlah Arya
Kuda Cemani telah diterima dengan gembira oleh Mahisa Murti.
Meskipun kehadirannya masih juga bagaikan menitikkan air diatas
lukanya sehingga terasa pedih, namun Mahisa Murti masih juga sempat
menahan dirinya. Setelah dihidangkan minuman dan makanan, maka Arya
Kuda Cemanipun mengatakan kepentingannya datang ke Padepokan Bajra
Seta itu. “Aku ingin memberikan keterangan serba sedikit” berkata
Arya Kuda Cemani, seorang Senapati dari para petugas sandi di
Singasari ”menurut pengamatan para petugas sandi, maka sudah ada
tiga buah padepokan yang diper siapkan untuk datang ke Padepokan
Bajra Seta.” “Tiga ?” bertanyaMahisa Murti. Arya Kuda Cemani
mengangguk-angguk. Katanya ”Padepokan induk yang dipimpin oleh
mPu Damar, guru Gemak Langkas. Sedangkan kedua padepokan yang lain
adalah padepokan-padepokan yang dipimpin oleh muridmuridmPu
Damar yang telah dianggapmemiliki kemampuan yang cukup.” Mahisa
Murti menarik nafas panjang. Dari para prajurit yang telah datang
lebih dahulu Mahisa Murti sudah mendapatkan beberapa penjelasan. Apa
yang dikatakan oleh Arya Kuda Cemani telah melengkapinya,
sehingga Mahisa Murti telah mendapat gambaran yang utuh
tentang orangorang serta padepokan-padepokanyangmemusuhinya. Mahisa
Murti pun telah mendapat keterangan bagaimana Mahisa Pukatmampu
mengalahkan mPu Damar itu di perang tanding. “mPu Damar tidak
mengira bahwa angger Mahisa Pukat mampu menghisap tenaga dan
kemampuannya. Ia menyadari akan kemampuan ilmu angger Mahisa Pukat
kemudian setelah terlambat” berkata Arya Kuda Cemani. Lalu katanya
”Namun agaknya ia akan menjadi lebih berhati-hati. Ia tentu sudah
memperhitungkan bahwa angger Mahisa Murti juga memiliki ilmu
yang sama.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Dengan demikian ia
memang harusmenjadi sangat berhati-hati menghadapi mPu Damar itu.
Namun Arya Kuda Cemani kemudian mengatakan ”Tetapi tidak mustahil
bahwa mPu Damar akan mengundang kekuatan diluar padepokannya dan
padepokan yang dipimpin oleh murid-muridnya.” “Terima kasih
atas segala keterangan ini Raden” jawab Mahisa Murti ”mudah-mudahan
kami dapatmempertahankan diri darimereka yang berniat buruk
itu.” “Satu hal yang sedang aku usahakan” berkata Raden Kuda Cemani
kemudian ”jika kita tahu, kapan orang-orang itu akan datang, maka
kita akan dapat mempersiapkan penyambutan sebaik-baiknya.” Kepada
Raden Kuda Wereng Mahisa Murti juga memberitahukan tentang kedua
orang yang sedang mengamati padepokannya. Nampaknya mereka
sedang mengumpulkan bahan untuk meyakinkan langkah-langkah yang akan
mereka ambil. Raden Kuda Wereng mengangguk-angguk kecil. Katanya
”Ternyata mereka cukup berhati-hati dengan rencana mereka. Mereka
tidak ingin terjebak sekali lagi sebagaimana yang pernah terjadi di
Sendang Perbatang itu.” “Namun dengan demikian kami disini harus
lebih berhatihatimenghadapimereka” desis Mahisa Murti. “Ya. Aku akan
berusaha mengetahui lebih banyak tentang langkah-langkah yang akan
mereka ambil” berkata Raden KudaWereng. “Terima kasih Raden” desis
Mahisa Murti ”ternyata kami hanya membebani Raden saja.” “Bukankah
itu tugasku?” sahut Raden KudaWereng. Mahisa Murtimengangguk-angguk
kecil. Sementara Raden Kuda Wereng berkata selanjutnya ”jika saja
aku dapat bertemu dengan kedua orang itu.” “Kedua orang yang
sedang mengamati padepokan ini?” bertanya Mahisa Murti. “Ya” jawab
Raden KudaWereng. “Aku tidak selalu dapat menemui mereka” jawab
Mahisa Murti ”tetapi kita dapatmencobanya.” Dengan demikian maka
Raden Kuda Wereng berniat untuk bermalam di padepokan itu agar ia
mendapat kesempatan untuk bertemu dengan dua orang yang sedang
mengamati padepokan Bajra Seta. Di hari berikutnya, maka Mahisa
Murti telah mengajak Raden Kuda Wereng untuk pergi ke padukuhan
Ngerak. Ternyata menurut Ki Bekel, memang ada orang yang
sedang mencari seseorang yangmempunyai tiga orang anak. Seorang
diantara anak-anaknya adalah Lembu Amping. “Untunglah orang
yang ditanya telah mendengar pesan tentang Kuda Samekta dan
anaknya Lembu Amping” berkata Ki Bekel ”tetapi kedua orang itu
ternyata tidakmengenal nama Kuda Samekta. Yang dikenalnya adalah
justru Lembu Amping.” Namun dengan demikian ternyata bahwa kedua
orang itu benar-benar ingin mengenal padepokan Bajra Seta lebih
dalamlagi. “Apa jawab orang itu?” bertanya Mahisa Murti kemudian.
“Seperti pesanmu. Orang yang mendapat pertanyaan tentang kau
dan anakmu itu telah memberitahukan bahwa kau tinggal di rumahku.
Tetapi ternyata ia tidak datang kemari,” jawab Ki Bekel. “Apakah
keduanya telah mencurigai aku?” bertanya Mahisa Murti dengan ragu.
“Entahlah” jawabKi Bekel. “Baiklah” jawab Mahisa Murti ”aku akan
mencarinya di kedai itu. Di tempatmereka seringg singgah.”
Demikianlah berdua dengan Raden Kuda Wereng yang berpakaian
seorang petani kebanyakan keduanya pergi ke kedai yang pernah
dikunjungi oleh Mahisa Murti dan MahisaAmping. Tetapi ternyata
keduanya tidak sedang berada di kedai itu. Ketika hal itu ditanyakan
kepada pemilik kedai, maka pemilik kedai itu menjawab ”Sudah sejak
keduanya datang beberapa hariyang lalu,mereka belum datang
lagi kemari.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Kepada Raden Kuda
Wereng ia berkata ”Mungkin keduanya menganggap bahwa pengamatan
mereka sudah dianggap cukup, sehingga mereka telah kembali ke
Singasari untukmemberikan laporan.” Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Katanya ”Terima kasih Ki Bekel. Selama ini kami ju stru
hanya menggelisahkan rakyat padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan
kami.” “Tidak. Tidak. Padepokan Bajra Seta telah memberikan banyak
sekali kepada kami. Pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang
semakin meningkat. Bahkan juga olah kanuragan” jawabKi Bekel. “Tidak
seberapa Ki Bekel, dibandingkan dengan pengorbanan yang harus kalian
berikan bagi kami.” desis Mahisa Murti. “Tetapi kehidupan kami
menjadi semakin baik sejak Padepokan Bajra Seta berdiri” jawabKi
Bekel. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Bekel
dan para Bekel yang lain selalu bertanya Mahisa Pukat selama
tidak nampak di Padepokan. “Mahisa Pukat bersama ayah di Singasari
untuk sementara” jawab Mahisa Murti ”namun pada suatu saat, ia tentu
akan kembali ke Padepokan Bajra Seta.” Demikianlah, maka para Bekel
di padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta ternyata
dengan cepat telah ber siap pula. Tetapi seperti pesan Mahisa Murti,
para Bekel berusaha untuk tidak menggelisahkan rakyat di padukuhan
mereka. Dalam pada itu, padukuhan yang khusus dibangun oleh
orang-orang yang pernah memusuhi Padepokan Bajra Seta, namun
kemudian justru ditempatkan di padukuhan khusus dan mulai hidup
wajar, telah menyatakan diri siap untuk berbuat apa saja jika Mahisa
Murtimenghendaki. “Kamimempunyai hutang yang tidak dapat dibay
ar dengan apapun kepada Padepokan Bajra Seta. Bahkan dengan ny awa
kami sekalipun. Kamiyang telah diangkat dari kehidupan yang gelap,
merasa telah hadir kembali sebagai manusia yang berarti.” “Terima
kasih” berkata Mahisa Murti ”kesediaan kalian membantu kami,
telahmembesarkan hati kami.” Dengan demikian Mahisa Murtipun menjadi
semakin tenang. Meskipun yang bakal datang mungkin lebih dari
tiga padepokan, tetapi Padepokan Bajra Setapun tidak sendiri. Lebih
dari tujuh padukuhan yang menyatakan kesediaannya membantu.
Dan itu berarti lebih dari kekuatan dua tiga padepokan yang sedang.
Sementara Padepokan Bajra Seta sendiri termasuk padepokan yang
besar. Dengan demikian, maka Mahisa Murti berharap bahwa Padepokan
Bajra Seta dan padukuhan-padukuhan disekitarnya akan dapat mengatasi
jika beberapa padepokan itu benar -benar akan datangmeny erang,
apapun alasannya. Namun Mahisa Murti telah berusaha untuk mencari
jalan yang sebaik-baiknya, agar beban serangan itu terberat tetap
pada Padepokan Bajra Seta. Dalam kesiagaan yang disusun kemudian ber
sama-sama antara para pengawal dan anak-anak muda dari
padukuhanpadukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta, Mahisa Murti
minta agar para pengawal dan anak-anak muda itu tetap berada di
padukuhan masing-masing. Pada saat diperlukan akan dilontarkan isy
arat dari padepokan kearah padukuhan terdekat. Kemudian isy arat itu
akan diteruskan ke padukuhanpadukuhan berikutnya. Isy arat itu
berarti bahwa Padepokan Bajra Seta memerlukan bantuan. “Dengan
demikian maka kalian akan menyerang lawan dari belakang garis
pertempuran. Aku memperhitungkan bahwa beban terberat dari tekanan
lawan akan berada pada para cantrik Padepokan Bajra Seta. Namun
serangan para pengawal dan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan
disekitar Padepokan akan memperingan beban kami.” Demikianlah, maka
segala persiapanpun telah dilakukan. Mahisa Murti memperhitungkan
bahwa kekuatan Padepokan Bajra Seta ber sama anak-anak muda dan para
pengawal padukuhan disekitar Padepokan menjadi cukup besar. Apalagi
anak-anakmuda dan para pengawal itupun pernah mengalami
tempaanyang cukup berat di Padepokan Bajra Seta. Meskipun
tidak seberat para cantrik, namun kemampuan anak-anak muda dan para
pengawal itu cukup memadai. Apalagi mereka inti para pengawal dari
padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta. Dalam masa-masa
kesiagaan itupun anak-anak muda dan para pengawal telah memerlukan
melakukan latihan-latihan lebih banyak dari kebia saan mereka
sehari-hari. Sementara para remaja yang menjadi semakin
mendekati masa mudanyapun mulai menyatakan diri untuk ikut melakukan
latihan-latihan dalam olah kanuragan dan mempergunakan senjata.
Tetapi para pemimpin pengawal telah memperingatkan bahwa para remaja
itu tidak boleh ikut ber sama mereka jika kekerasan itu benar-benar
akan terjadi. “Kalian masih harus mematangkan diri” berkata para
pemimpin pengawal. Betapa para remaja itu menyatakan kesediaannya,
namun mereka tetap tidak diperkenankan ikut. “Jika kalian
benar-benar ingin ikutmelindungi padukuhan kalian,maka kalian tetap
saja berada di padukuhan. Jika ada diantara orang-orang yang ingin
berbuat jahat itu datang ke padukuhan, barulah kalian boleh
melibatkan diri.” pesan para Bekel kepada para remaja. Sementara
itu, ternyata mPu Damar benar-benar telah mempersiapkan diri untuk
pergi ke Padepokan Bajra Setan. Ia telah memerintahkan seseorang
secara khusus mengamati, apakah Mahisa Pukat masih berada di
Singasari atau tidak. Ternyata Mahisa Pukat itu tidak meninggalkan
rumah ay ahnya, sehingga karena itu,maka mPu Damar berpendapat,
bahwa Padepokan Bajra Seta sama sekali tidak mengetahui rencananya
untukmeny erang. Tetapi mPu Damar tidak hanya bergerak sendirian.
Selain Padepokan Ngancas, maka masih ada tiga padepokan lagi yg
bergerak bersamanya. Padepokan yg didirikan oleh murid2 mPu Damar.
Ketika mereka mendapat pemberitahuan, bahwa mereka akan mendapat
kesempatan untuk mencoba ilmu mereka sekaligusmembuktikan kebesaran
Padepokan Ngancas, maka mereka menjadi bergembira. Demikian pula
setiap cantrik dari padepokan2 itu, seakan-akan mereka mendapat
saluran untuk mengalirkan air y g terbendung didalam dirimereka.
Sementara itu mPu Damar tidakmenunggu lebih lama lagi. Ketika segala
persiapan telah disusun rapi, maka mPu Damarpun benar -benar siap
untuk berangkat. Dua orang yg ditugaskan untuk mengamati Padepokan
Bajra Setapun telah memberikan laporan lengkap. Mereka memang tidak
ingkar, bahwa Padepokan Bajra Seta memang sebuah padepokan yg besar.
Tetapi mereka berpendapat, bahwa kekuatany g disusun oleh Padepokan
Ngancas cukup memadai untuk menghancurkan Padepokan Seta. Pada hari
y g telah direncanakan maka para cantrik dari ampat padepokan yg
telah diper siapkan itupun telah berangkat pula. Mereka memilih
berjalan di malam hari untuk menghindarkan diri dari perhatian y g
berlebihan. Merekapuri berharap bahwa Padepokan Bajra Seta tidak
mengetahui lebih dahulu akan kedatangan para cantrik dari Padepokan
Ngancas dan ketiga Padepokanyg lain. Mereka sadar, bahwa semalam
mereka tidak dapat mencapai Padepokan Bajra Seta. Seandainya dini
hari mereka sampai juga, maka mereka tidak sempat beristirahat sama
sekali. Karena itu, maka menurut petunjuk kedua orang yg lebih
dahulu telah mengamati Padepokan Bajra Seta, mereka akan dapat
menunggu dipinggir sebuah hutan y g tidak terlalu lebat. Seandainya
ada juga harimau atau binatang buas y g lain berani mengganggu, maka
binatang-binatang itu tentu akan bernasib malang. Namun demikian
kedua oarng itu masih juga memperingatkan ”Hati-hati dengan ular.
Ditempat itu memang terdapat ular meskipun tidak terlalu banyak.
Tetapi lebih sulitmelawan seekor ular daripada seekor harimau bagi
sekelompok cantrik.” Demikianlah, dengan pesan dan bekal yg cukup,
para cantrik dari ampat padepokan y g tidak terlalu besar itu
bergerakmenuju Padepokan Bajra Seta. Keberangkatan para cantrik dari
keempat padepokan itu tidak luput dari pengamatan Arya Kuda Cemani.
Karena itu, maka ia telah memerintahkan dua orang prajurit sandi
untuk pergi berkuda mendahului para cantrik dari keempat padepokan
yg dipimpin oleh mPu Damar sendiri dari Padepokan Ngancas. Gemak
Langkas y g sebenarnya telah mendapat peringatan dari ay ahnya,
terpaksa berangkat juga karena ia sadar, bahwa ialah yg telah
menyulut api permusuhan antara Padepokan Ngancasdengan Padepokan
Bajra Seta. Kedatangan kedua orang petugas sandi itu telah
menggetarkan Padepokan Bajra Seta. Ternyata Padepokan itu
benar-benar akan mendapat serangan dari kekuatan y g cukup besar.
Mahisa Murtimemang tidak dapat ingkar. Meskipun ia juga menyesali
peristiwa y g bakal terjadi itu, namun sudah tentu bahwa Padepokan
Bajra Seta harusmembela diri sejauh dapat dilakukan. Dengan cepat
pula Mahisa Murti sendiri telah menghubungi beberapa orang bekel
dipadukuhan-padukuhan disekitarnya. Dengan sangat meny esal Mahisa
Murti telah menyeretmereka kedalam benturan kekerasan. “Seperti yg
aku katakan, kami akan mengirimkan isyarat jika kami memerlukan
bantuan dari padukuhan-padukuhan.” berkata Mahisa Murti kepada para
Bekel. Demikianlah, maka segala sesuatunya telah disiapkan
sebaik-baiknya. Para petugas sandi itu juga mengatakan, bahwa mereka
berangkat dari Singasari hampir bersamaan waktunya dengan
keberangkatan para cantrik dari Padepokan Ngancasdan
padepokan-padepokanyang lain. “Kami lebih dahulu datang karena
kami berkuda. Siang ini mereka tentu beristirahat di satu tempat”
berkata salah seorang petugas sandi itu. “Jika demikian, maka
agaknya besok pagi-pagi mereka akan menyerang Padepokan Bajra Seta”
berkata Mahisa Murti. “Aku kira memang demikian. Pada saat matahari
terbit, mereka akan meny erang Padepokan Bajra Seta. Tetapi
sebaiknya sejak malam nanti, segala kemungkinan siap untuk
dihadapi.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Terima
kasih untuk keterangan ini. Mudah-mudahan kami dapatmempertahankan
diri.” “Aku berhasil mengintai kekuatan mereka” berkata salah
seorang petugas itu ”dari segi jumlah, para cantrik yang akan
menyerang Padepokan ini, jumlahnya aku kira lebih banyak, tetapi aku
masih belum tahu akan tingkat kemampuan mereka.” “Kami akan berusaha
sebaik-baiknya” desis Mahisa Murti. Ternyata kedua orang petugas
sandi itu tidak segera kembali ke Singasari. Mereka justru mendapat
tugas untuk mengamati pertempuranyang akan terjadi. Namun justru
karena itu, maka Mahisa Murti telah minta para cantrik untuk
beristirahat sebanyak-banyaknya. Kecuali yang bertugas bergantian,
maka para cantrik itu harus cepat pergi tidur. Namun mereka harus
sudah mempersiapkan segala sesuatunya yang akan
dipergunakannya untuk mempertahankan Padepokan Bajra Seta esok pagi.
“Kalian harus mampu melepaskan ketegangan di jantung kalian agar
kalian dapat tidur nyenyak” berkata Mahisa Murti ”jika tidak,maka
kalian tidak akan sempat beristirahat.” Demikianlah,maka sebagian
besar dari para cantrik itupun segera lelap demikian malam turun.
Sebagian diantara mereka memilih untuk beristirahat dan tidur diatas
panggung dibelakang dinding halaman padepokan, diantara setumpuk
anak panah dan lembing. Sedangkan beberapa orang kawankawannya
bergantian bertugas mengamati lingkungan diluar dinding, karena
tidak mustahil terjadi sesuatu sebelum saat yang diperhitungkan itu
tiba. Padepokan Bajra Seta memang tidakmenunjukkan sesuatu yang lain
dilihat dari luar. Segalanya nampaknya tetap tenang sebagaimana
hari-hari sebelumnya. Ketika malam menjadi semakin dalam,
sebenarnyalah ada beberapa orang yang mengamati padepokan itu dari
kejauhan. Mereka memang tidak melihat persiapan-persiapan apapun
juga. Memang mereka melihat satu dua orang cantrik yang berjaga-jaga
dipanggungan dibelakang dinding halaman. Namun hal itu pernah
dilaporkan juga sebelumnya, sehingga menurut para pengamat itu,
penjagaan yang dilakukan dipanggung -panggung dibelakang dinding itu
adalah tugastugas seharian. Dengan demikian maka Padepokan Ngancas
itu tidak merubah rencana mereka. Sejak malam turun, mereka telah
bergerak meninggalkan hutan tempat mereka beristirahat sambil
bersembuny i. Mereka kemudian telah menebar mengepung Padepokan
Bajra Seta. Mereka tidak lagi merasa perlu untuk bersembuny
i-sembuny i justru karena Padepokan Bajra Seta telah terkepung.
Seandainya orang-orang Bajra Seta melihat kehadiran mereka, maka
yang dapat mereka lakukan tidak lebih dari ber siap-siap
dilingkungan mereka. Meskipun demikian semua kegiatan yang dilakukan
oleh para cantrik dari Padepokan Ngancas dan tiga padepokan lainnya,
dilakukan dengan sangat berhati-hati. Mereka memang berharap bahwa
menjelang fajar mereka akan datang meny erang dengan tiba -tiba dan
mengejutkan orang -orang Padepokan Bajra Seta. Sementara itu,
sebagaimana diperhitungkan oleh Mahisa Murti dan para cantrik dari
Padepokan Bajra Seta, para cantrik dari Padepokan Ngancas dan ketiga
padepokan yang lain itu telah meny iapkan berpuluh-puluh tangga
bambu. Ternyata selama mereka beristirahat dan ber sembunyi di
pinggir hutan, mereka telah menemukan rumpun-rumpun bambu yang dapat
mereka buat tangga-tangga yang siap mereka pergunakan
untukmemanjat dinding Padepokan Bajra Seta. Ketika malam kemudian
menjadi semakin dalam, maka terjadi pergantian para petugas
yang berjaga-jaga di panggungan dibelakang dinding padepokan.
Seorang cantrik yang memimpin penjagaan malam itu telah melaporkan
kepada Mahisa Murti, bahwa para petugas telah mulaimelihat kegiatan
diluar dinding Padepokan Bajra Seta. Namun seperti yang
diperintahkan, maka para cantrik dari Padepokan Bajra Seta
tidakmengambil langkah-langkah apapun selain semakin ber
siagamenghadapi segala kemungkinan. “Baik” berkata Mahisa Murti
”beristirahatlah sebaikbaiknya, agar tenagamu besok utuh kembali.”
Demikianlah, maka Mahisa Murti sendiripun pergi beristirahat pula
meskipun ia berpesan bahwa jika ada sesuatu yang penting, ia
harusdibangunkan. Yang nampak sibuk kemudian adalah dapur Padepokan
Bajra Seta. Para cantrik itu harusmakan lebih dahulu sebelum fajar,
sehingga mereka tidak akan bertempur dengan perut lapar. Berbeda
dengan kegiatan didapur Padepokan Bajra Seta, maka para cantrik dari
Padepokan Ngancas telah mendapat bekal mereka masing-masing. Na si
jagung yang akan dapat bertahan sampai dua atau tiga hari tanpa
dipanasi lagi. Mereka minum dimana saja ada air ber sih. Bahkan
belik-belik kecil dipinggir sungai. Dalam pada itu, maka mPu Damar
yang memimpin langsung keempat Padepokanyang akanmeny
erang Bajra Seta itu telah memberikan pesan-pesan terakhirnya. “Kita
akan menebus harga diri kita yang telah direndahkan oleh
Mahisa Pukat, salah seorang pemimpin dari Padepokan Bajra Seta ini.
Karena Mahisa Pukat berada di istana bersama ay ahnya, maka sa saran
kita, kita arahkan kepada Padepokan Bajra Seta. Dalam waktu yang
tidak terlalu lama, kita tentu akan dapat menguasai seluruh
padepokan ini. Jumlah kita lebih banyak. Kitapun meragukan apakah
para cantrik padepokan Bajra Seta memiliki ilmu yang cukup
baik. Bahkan aku mengira bahwa tidak ada seorangpun dari isi
Padepokan Bajra Seta yang memiliki kemampuan dan ilmu
sebagaimana Mahisa Pukat. Biarlah besok Mahisa Pukat menangis jika
ia mengetahui bahwa Padepokan Bajra Seta telah kita hancur
leburkan.” Para cantrikpun tergetar hatinya, sehingga mereka
berjanji untuk benar-benar menghancurkan Padepokan Bajra Seta yang
sombong itu. Namun demikian,mPu Damar itupunmasih berpesan ”Jika
kalian nanti memasuki Padepokan Bajra Seta, kalian harus tetap
berhati-hati. Meskipun tidak ada seseorang yang memiliki ilmu
setinggi Mahisa Pukat, tetapi kalian sebaiknya menghadapi pemimpin
Padepokan Bajra Seta tidak seorang diri. Aku akan
berusahamenghadapinya. Seandainya aku tidak menemukannya, tetapi
salah seorang dari kalian tiba-tiba berhadapan dengan orang itu,maka
usahakanmenghadapinya dengan kelompok-kelompok kecil. Kalian dapat
melakukannya, karena kalian tidak sedang berperang tanding.”
Demikianlah, waktupun merayap terus. mPu Damar merencanakan untuk
meny erang Padepokan Bajra Seta saat matahari mulaimembayang.mPu
Damar beharap bahwa jika matahari terbit, maka para pengikutnya
sudahmulai berusaha memanjat dinding dengan tangga serta merusakkan
pintu gerbang utama. Karena itu, menjelang fajar, mPu Damar telah
memerintahkan orang-orangnya menempatkan diri diseputar Padepokan
Bajra Seta. Jika kemudian isy arat dilontarkan, makamereka serentak
akan bergerak. Gerak-gerik para pengikutmPu Damar itu tidak luput
dari pengamatan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Meskipun
para cantrik itu tidak melakukan sesuatu, tetapi setiap kali mereka
selalu memberikan laporan tentang para pengikutmPu Damar itu.
Menjelang fajar, maka para cantrik Bajra Setapun telah siap.
perhitungan Mahisa Murti memang tepat. Para peny erang akanmulai
bergerakmenjelangmatahari terbit. Mahisa Murti yang telah bangun dan
berbenah diri telah siap memimpin langsung perlawanan
untukmempertahankan diri. Wantilan telah mendapat perintah untuk
berada di belakang. Mahisa Semu disisi sebelah kiri sedangkan disisi
sebelah kanan diserahkan kepada seorang cantrik yang dimiliki
kepemimpinanyang tinggi. Setelah memberikan beberapa pesan,
serta setelah seisi Padepokan Bajra Seta makan dan minum secukupnya,
maka para cantrik pun mulai menebar ditempat tugas mereka
masing-masing. Mereka yang mendapat tugas naik ke
panggunganpun telah siap di tangga. Sementara para cantrik yang
diper siapkan untukmelindungi pintu gerbang utamapun telah bersiap
pula. Dibelakang pintu gerbang utama, sekelompok cantrik telah siap
bertahan jika pintu gerbang itu terpaksa pecah. “Kita menunggu
isyarat” berkata Mahisa Murti ”pemimpin Padepokan Ngancas itu tentu
akan melontarkan isyarat, apapun ujudnya. Demikian isy arat itu
diberikan,maka mereka tentu akan bergerak.Nah, kitapun akan bergerak
pula.” Para pemimpin kelompok para cantrik di Padepokan Bajra Seta
itupun telah siap pula ditempat masing-masing. Ra sarasanya mereka
menunggu terlalu lama, sementara langitpun menjadi semakin cerah.
Tetapi sebelum cahaya matahari meny entuh ujung langit, maka telah
meluncur dari arah depan Padepokan Bajra Seta panah api yang
naik ke udara. Kemudian beberapa yang lain meluncur ke samping
Padepokan Bajra Seta. Panah api itupun kemudian telah ditanggapi
pula oleh para pengikut mPu Damar yang ada disebelah meny
ebelah Padepokan. Panah api telah meluncur pula ke arah belakang
Padepokan itu. Sekejap kemudian, maka telah terdengar suara gemuruh.
Para pengikut mPu Damar disegala arah itupun telah berteriak-teriak
nyaring. Mereka berlari-larian dengan membawa tangga-tangga bambu
yang telah mereka persiapkan. Para cantrik yang ada
disebelah-menyebelah pintu gerbangpun terkejut pula. Seakan-akan
menguak kegelapan dini, muncul sekelompok orang yang memanggul
sebatang kayu yang besar dengan tali-temali. Kayu yang
seakan-akan bergantung itu telah dipanggul dengan potongan-potongan
bambu dan tali temali mendekati pintu gerbang utama. Namun dalam
pada itu, para cantrik dari Padepokan Bajra Setapun telah bergerak
pula. Dengan tangkasny amereka telah memanjat tangga naik keatas
panggungan yang telah disiapkan. Di panggungan itu telah terdapat
beberapa tumpuk anak panah dan lembing bambu yang siap
dilontarkan. Karena itu, maka para pengikut mPu Damar juga merasa
terkejut ketika tiba -tiba saja panggungan dibelakang dinding
padepokan itu telah penuh dengan para cantrik dengan busur ditangan.
Tetapi arus serangan para pengikut mPu Damar itu bagaikan banjir
bandang yang tidak terbendung. Beberapa orang yang membawa perisai
telah menempatkan diri dipaling depan, melindungi mereka yang
membawa tangga bambu untukmemanjat dinding. Sementara itu, para
pengikut mPu Damar yang membawa busur dan anak panahpun telah
siap pula melontarkan serangan kebelakang dinding untuk melindungi
orang-orang yangmembawa tangga dan kemudian memanjat dinding.
Demikianlah, ketika matahari mulai terbit, pertempuran telah
terjadi. Dari atas dinding padepokan, anak panah mulai meluncur.
Seperti hujan yang semakin lama menjadi semakin deras berterbangan
menyambar orang-orang yang berlarilarian menyerang Padepokan Bajra
Seta. Tetapi dari luar dindingpun anak panah telah meluncur pula.
Meskipun tidak sederas arus anak panah yang datang dari arah
dinding, namun serangan anak panah dari luar itu telah mengganggu
para cantrikyang berada dipanggungan. Sementara itu, para cantrik
Padepokan Ngancas yang lain sibuk melindungi orang-orang yang
memanggul potongan kayu itu. Mereka telah menepis, menangkis dan
melindungi dengan perisai agar orang-orang yang memanggul sepotong
kayu yang besar dan panjang dengan potongan-potongan bambu dan
bergantung pada tali temali itu tidak terkena anak panah dan
lembing. Demikianlah, maka potongan kayu yang besar yang
bergantung pada potongan-potongan bambu yang dipanggul oleh
banyak orang itu telah berada di depan pintu gerbang. Dengan aba-aba
yang melengking tinggi, maka orang-orang yang memanggul kayu
itupun membuat ancang -ancang sejenak. Kemudian merekapun berlari
bersama-sama menuju ke pintu gerbang. Dengan kerasnya orang-orang
itu telah membenturkan sepotong kay u besar dan panjang itu pada
pintu gerbang yang tertutup rapat dengan selarak rangkap itu. Sekali
dua kali, pintu itu seakan-akan tidak tergetar. Namun orang -orang
yangmemanggul kayu itu membenturkan kayunya tidak hanya satu dua
kali. Tetapi berpuluh kali sehingga pintu itupun akhirnya
berguncang. Tetapi sementara para cantrik Padepokan Bajra Seta
menjadi berdebar-debar melihat daun pintu yang besar dan tebal itu
mulai berderak, maka anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan di
sekitar Padepokan sedang berlarilarimendekati Padepokan. Di
bagian-bagian lain dari dinding padepokan itu, para cantrik
Padepokan Bajra Seta telah berjuang dengan sepenuh tenaga dan
kemampuan untuk menahan arus para para peny erang. Satu dua tangga
memang sudah dicoba untuk dipasang. Tetapi dengan bambu-bambu
panjang para cantrik dari Padepokan Bajra Seta telah mendorong
tangga-tangga itu sehingga roboh. Tetapi arus serangan para cantrik
dari Padepokan Ngan-cas dan tiga padepokan yang lain itu
mengalir seperti banjir bandang. Rasa -rasanya sulit bagi para
cantrik padepokan Bajra Seta untukmembendungnya.Hujan panah
seakan-akan tidak berarti sama sekali bagi mereka. Beberapa orang
yang terjatuh, tidak menghalangi arus serangan mereka.
Tanggatanggapun mulai diangkat untuk disandarkan pada dinding
padepokan. Semakin lama semakin banyak. Dengan tombak dan lembing
serta senjata-senjata yang sudah siap ditangan, para cantrik
Padepokan Bajra Seta mencoba menahan gerak maju lawan. Dengan
segenap kemampuan para cantrik itu bertempur. Satu dua orang lawan
terlempar jatuh dengan dada yang koyak. Namun yang lain
mengalir tidak berkeputusan. Pada saat yang gawat itu, maka
tiba-tiba saja terdengar teriakan-teriakan yang memekakan
telinga. Dari segala arah menghambur anak-anak muda dari
padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta. Ternyata
jumlahmereka cukup banyakmeskipun jauh lebih kecil dari jumlah para
cantrik dari keempat Padepokan yang sedangmeny erang padepokan Bajra
Seta. Tetapi kedatangan mereka benar-benar mengejutkan para cantrik
dari keempat padepokan yang sedang meny erang Padepokan Bajra
Seta itu. Dengan demikian maka perhatian para cantrik dari
padepokan-padepokan yang meny erang Bajra Seta itu telah
terbagi. Sebagian darimereka segera berbalik untukmelawan
anak-anakmuda yang datangmeny erang itu. Tekanan mereka terhadap
kekuatan yang ada di atas panggungan di belakang dinding
padepokan memang berkurang. Para cantrik Padepokan Bajra Seta
mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Pada saat para cantrik
yang meny erang itu bimbang mengambil sikap, maka serangan
dari atas dinding pun benar-benar bagaikana tertumpah dari langit.
Tetapi itu tidak berlangsung lama. Sementara para pengikutnya
ragu-ragu,mPu Damar dengan cepat mengambil keputusan. Ia pun
berteriak menjatuhkan perintah setelah melihat jumlah peny erang
yang datang itu ”Tinggalkan padepokan Bajra Seta untuk
sementara. Hancurkan orangorang yang dengan licik menyerang
dari belakang. Jumlah mereka tidak begitu banyak. Mereka akan dapat
dengan cepat dibinasakan. Jika perlu kita menunda serangan kita
terhadap Padepokan Bajra Seta sampai esok.” Perintah itupun telah
diteriakkan beranting. Setiap peniimpin kelompok telah meneriakkan
kembali perintah itu. Sehingga perintah itu bagaikan mengalir
mengelilingi dinding padepokan. Para cantrik yang sudah terlanjur
memasang tangga dan bahkan mulai memanjat telah berloncatan turun.
Sambil berusahamenangkis anak panahyang mengejarmereka,maka
merekapun telah berusaha menjauhi dinding yang digapainya dengan
susah payah. Mereka telah merobohkan tangga -tangga yang sebagian
telahmereka pasang agar tidak ditarik naik oleh para
cantrikyang berada di panggungan. Namun
kebijaksanaanyang diperintahkan oleh mPu Damar itu memang
satu-satunya cara yang paling baik untuk dilakukan pada keadaan
seperti itu. Lebih baik mencurahkan perhatian dan langsung meny
elesaikan salah satu tugas daripada sebagian-sebagian tetapi tidak
segera dapat selesai dengan tuntas. Orang-orang padukuhan yang
menyerang para cantrik dari keempat padepokan itu memang terkejut
ketika mereka melihat, semua orang dalam pasukan lawan itu telah
berbalik menghadapimereka. Sekilas mereka segera menyadari, jika
demikian maka kekuatanmerekapun akan dapat dihancurkan sampai lumat.
Tetapi anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu tidak berlari
meninggalkan arena. Seorang yang memimpin kelompok yang berada
diarah depan padepokan itu berteriak ”Marilah kita bertempur sampai
akhir. Sulungmasuk kedalam perapihan. Meskipun kita akan
leburmenjadi debu, tetapi kita tentu sudah berhasil mengurangi
jumlah mereka sebanyak dapat kita lakukan. Sisa kekuatan mereka
tidak akan dapat mereka pergunakan untuk memasuki padepokan Bajra
Seta, sehingga kematian kita tentu tidak akan sia-sia.” Teriakan itu
telah disambut oleh sorak yang gemuruh bagaikan hendak merobohkan
langit. Bahkan sorak itu merambat kekelompok-kelompok yang ada
di samping padepokan. Ternyata Mahisa Murtipun menjadi cemasmelihat
keadaan itu. mPu Damar benar-benar mengerahkan semua kekuatan yang
dibawanya untuk menghancurkan kelompok-kelompok anak-anak muda dan
orang-orang yang datang dari padukuhan-padukuhan. Meskipun
jumlah mereka cukup banyak, tetapi masih jauh lebih sedikit dari
jumlah para cantrik yang datang meny erang Padepokan Bajra
Seta. Ber sama dengan para cantrik Bajra Setapun nampaknya jumlah
anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu masih berselisih
dibanding dengan para peny erang. ”Tetapi selisih itu tidak banyak”
desisMahisa Murti. Ketika kedua pasukan itu benar-benar hampir
berbenturan, maka Mahisa Murti harus mengambil sikap yang cepat dan
berarti bagi Padepokan dan bagi anak-anak muda dan orang-orang
padukuhan itu. Karena itu, maka tiba -tiba saja Mahisa Murti itupun
telah memberikan perintah ”Semua orang dari Padepokan ini keluar.
Kita bertempur diluar dinding Padepokan. Kita tidak dapat membiarkan
anak-anakmuda dari padukuhan-padukuhan yang datang untuk
membantu kita itu dibantai habis-habisan.” Perintah itupun dengan
cepat menjalar. Semua orang telah meneriakkan aba-aba itu. “Ambil
tali dan pergunakan untuk turun disegala arah dari Padepokan ini”
perintah Mahisa Murti pula. Bahkan kemudian perintahnya pula ”Buka,
pintu gerbang utama. Buka pula gerbang-gerbang butulan.” Perintah
itupun segera dilaksanakan. Para cantrikmemang tidak akan sampai
hati melihat anak-anak muda dan orangorang padukuhan dibantai sampai
habis oleh orang-orang yangmeny erang Padepokan Bajra Seta itu.
Sementara mereka datang untuk sekedar membantu meringankan beban
Padepokan itu. Sejenak kemudian, maka pintu-pintu gerbangpun telah
terbuka. Seperti banjir bandang yang memecahkan bendungan,
maka para cantrikpun menghambur keluar dari padepokan. Yang kemudian
terkejut adalah mPu Damar dan para cantriknya yang telah berbalik
menghadapi orang-orang padukuhan itu. Mereka tidakmengira bahwa para
cantrik dari padepokan Bajra Seta akan keluar dari batas dinding
padepokan. mPu Damar memang tidakmempunyai pilihan lain kecuali
membuka dua medan. Seperti pedang bermata dua, maka pa sukannyapun
harusmenghadapi lawan dari dua arah. Melihat para cantrikmenghambur
keluar,maka anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itupun bersorak
sekali lagi. Gemuruh suaranya sekali lagi bagaikanmengguncang
langit. Sejenak kemudian, maka benturanpun telah terjadi antara pa
sukan mPu Damar dan anak-anak muda serta orang-orang padukuhan.
Sentuhan dua kekuatan itu telah menggetarkan medan. Ternyata
anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu memiliki kemampuan
untuk bertempur. Bahkan ada diantara mereka yang telah
memiliki senjata sebagaimana yang dipergunakan oleh para cantrik
dari Padepokan Bajra Seta. Senjata yang dibuat dengan cara dan bahan
yang khusus. Meskipun senjata itu ujudnya cukup besar dan panjang,
tetapi senjata itu tidak begitu berat sebagaimana ujudnya. Tetapi
kekuatan pedang itu tidak kalah dari pedang yang terbuat dari
baja pilihan yang berat. Pedang-pedang yang khusus itu ternyata
mampu mengejutkan lawan-lawan mereka. Ternyata dengan senjata yang
besar itu, anak-anakmuda dan orang-orang padukuhan itu dapatmemutar
danmempergunakannya dengan terampil. Kekuatan mPu Damar dan
padepokan-padepokan yang mendukungnya memang mampu
menggetarkan dan mendesak anak-anak muda dan orang-orang padukuhan.
Namun hanya sebentar. Ketika para cantrik Padepokan Bajra Seta telah
menyusul mereka, maka kekuatan merekapun segera telah terbagi.
Demikianlah,maka disekitar Padepokan Bajra Seta itupun segera
terjadi perang brubuh. Kedua belah pihak sama sekali tidak
mempergunakan gelar. Mereka lebih banyak bertumpu kepada kemampuan
pribadi, sehingga dengan demikian maka pertempuranpun menjadi
benturan kekuatan disepanjang medan. Namun karena latihan-latihan
yang berat maka para cantrik Bajra Seta masih jugamemikirkan
kemungkinan untuk saling bekerja ber sama dan saling mengisi
disetiap lubanglubang pertempuran. Mereka masih juga mempergunakan
penalaran sehingga dalam keadaan tertentu telah terbentuk
kelompok-kelompok kecil yang bersama-sama mengatasi
kesulitan-kesulitanyang terjadi dimedan pertempuran. Sementara
itu, para cantrik dari Padepokan Ngancas lebih banyak mengandalkan
kemampuan pribadi mereka masingmasing. mPu Damar selalu membanggakan
cantrik-cantriknya yang secara pribadi memiliki kelebihan dari
kawan-kawannya, sehingga karena itu, maka para cantrik itu
seakan-akan telah berlomba untukmenjadi lebih baik dariyang
lain. mPu Damar yang marah itupun kemudian telah meneriakkan
berbagai macam perintah untuk membakar jantung para pengikutnya.
Perintah-perintahnya yang disambut dan diteriakkan ulang oleh para
pemimpin kelompok itupun ternyata mampu didengar oleh para cantrik
yang ada di belakang Padepokan Bajra Seta. Tetapi para cantrik dari
Padepokan Bajra Seta pun tahu apa yang harusmereka lakukan. Mereka
tidakmudah terpengaruh oleh perintah-perintah yang diteriakkan oleh
para cantrik dari Padepokan Ngancasyang menyambung perintah-perintah
dari mPu Damar. Dengan demikian maka pertempuran di sekitar
Padepokan Bajra Seta itupun semakin lama menjadi semakin sengit.
Mahisa Murti yang memperhitungkan bahwa kekuatan utama dari para
peny erang itu akan membebani pertahanan para cantrik dari Padepokan
Bajra Seta, ternyata masih belum seluruhnya sebagaimana diharapkan.
Ma sih ada kelompokkelompok cantrik dari Padepokan Ngancas dan
ketiga padepokan pendukungnya yang masih saja mengarahkan
kekuatan mereka kepada anak-anak muda dan orang-orang
padukuhanyang datangmembantu. Untunglah bahwa anak-anak muda
dan orang-orang padukuhan itu tidak terlalu lemah. Mereka telah
mengalami latihan-latihan yang cukup. Apalagi orang-orang
padukuhan khususyang pernah bertualang di dunia gelap. Ju stru para
cantrik dari Padepokan Ngancas dan ketiga padepokan yang lain
yang kebetulan bertemu dengan orangorang dari padukuhan yang khusus
itulah yang menjadi terkejut. Tiba -tiba saja mereka telah
bertemu dengan orangorang yang bertempur dengan keras. Bahkan
ketika keringat mulai membasahi tangannya, maka seakan-akan kebia
saan mereka di medan pertempuran menjadi kambuh. Mereka menjadi
kasar. Apalagi dengan da sar yang kasar itu mereka telah
mendapat latihan-latihan bagaimana seharusnya mereka mempergunakan
senjata. Sehingga karena itu, dalam kekasaran mereka, maka mereka
adalah orang -orang yang sangat berbahaya bagi lawan-lawanmereka.
Dalam pada itu,maka untuk beberapa langkah,maka anakanakmuda dan
orang-orang padukuhan itu memang terdesak. Tetapi para cantrik telah
memancing sebagian besar kekuatan lawan agar mereka mengarahkan
perlawanan mereka kepada para cantrik dari Padepokan Bajra Seta.
Kelompok-kelompok yang kuat dari para cantrik itu telah
mencoba menusuk memasuki garis pertempuran agar lawanlawan mereka
semakin memperhatikan mereka. Dengan menusuk sedalam-dalamnya ke
belakang garis benturan,maka para cantrik dari Padepokan Ngancas dan
padepokanpadepokan yang mendukungnya memang merasa semakin
terganggu. Karena itu,makamereka tidak dapatmengarahkan perhatian
mereka terbesar pada u saha untukmenumpas anakanak muda dan
orang-orang padepokan yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak.
Tetapi karena para cantrik dari padepokan Ngancas telah memasuki
celah-celah garis pertempuran,maka mereka harus benar-benar membagi
perhatian mereka. Termasuk para cantrik yang berhadapan dengan
anak-anakmuda dan orangorang padukuhan itu. Demikianlah pertempuran
itu semakin lama menjadi semakin sengit. Suara senjata beradu
berdentangan disela-sela teriakan-teriakanyangmembahana. Sementara
itu, Gemak Langkas sendiri berada tidak jauh dari gurunya. Ia
melihat pertempuran garang telah terjadi di mana-mana. Ia melihat
bagaimana pedang mengoy ak dada lawannya dan bagaimana ujung
tombakmenghunjam sampai ke jantung. Tubuh Gemak Langkas menjadi
gemetar karenanya. Ia tidakmengira bahwa perkenalannya dengan Sa si
telahmampu membakar permusuhan yang begitu besar. Meskipun kemudian
persoalannya telah berkembang, tetapi yang melepaskan sepeletik bara
diatas sekam adalah dirinya. Bara itu kemudian telah berkembang
menjadi semakin besar semakin besar, sehingga membakar lumbung.
Tetapi semuanya sudah terjadi. Gurunya sama sekali tidak mau
mendengarkan pendapat ay ahnya. Bahkan gurunya itu mampumempengaruhi
pendapatnya, sehingga ia sendiri telah hanyut ke dalam gejolak yang
telah menimbulkan perang yang mendebarkan jantung itu. Kematian demi
kematian telah terjadi di sekitar Padepokan Bajra Seta. Tetapi Gemak
Langkas telah berada di lidahnya api yang berkobar. Karena itu
ia tidak dapat berbuat lain kecuali harus menyesuaikan dirinya.
Karena itulah, maka Gemak Langkas pun kemudian telah menggenggam
pedangnya. Sambil berteriak nyaring ia telah berlarimemasuki
lingkungan pertempuranyang seru. Sementara itu mPu Damar sendiri
yang melihat serangan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta segera
menempatkan dirinya. Ia langsung membawa beberapa orang cantriknya
yang terbaik untuk melawan kekuatan pasukan induk dari Padepokan
Bajra Seta. Di sisi dan belakang padepokan, pertempuran pun telah
berkobar pula dengan sengitnya. Anak-anak muda dan orangorang
padukuhan memang terdesak pula. Bahkan mereka harus berusaha dengan
cepat menjaga jarak karena lawan datang seperti pasir dihamburkan
dari tepian. Namun Wantilan yang berada di bagian belakang Padepokan
Bajra Seta telah memerintahkan para cantrik untuk lebih cepat
menyusul lawan-lawan mereka yang berusaha untuk menghancurkan
anak-anakmuda dan orangorang padukuhan yang datang membantu. Dengan
demikian maka arus serangan para cantrik dari Padepokan Ngancas dan
para pendukungnya itu telah terhambat. Sebagian besar dari mereka
harus berbalik lagi untuk menghadapi para cantrik dari Padepokan
Bajra Seta yang memburu mereka sambil ber sorak gemuruh.
Dengan demikian maka pertempuranpun telah terjadi dengan sengitnya.
Orang-orang dari Padepokan Ngancas dan para pendukungnya harus
bertempur menghadapi lawan di kedua arahyang berlawanan.
Pemimpin dari salah satu padepokan yang mendukung Padepokan
Ngancas, salah seorang murid mPu Damar yang dianggap sudah memiliki
tingkat ilmu yang cukup,memimpin peny erangan dibagian belakang
Padepokan Ngancas itu. Dengan garangnya ia meneriakkan
perintah-perintah bagi para cantrik untukmenghancurkan lawan mereka
di kedua sisi itu. Wantilan yang melihat kehadirannya, dengan
cepat berusaha untifk langsung menghadapinya. Dimintanya beberapa
orang cantrik menyertainya untuk membuka jalan, agar ia dapat
langsung bertemu dengan pemimpin pasukan lawanyang ada dibelakang
Padepokan Bajra Seta itu. Demikian Wantilan ada didepannya, maka
iapun segera berteriak ”He, kaukah yang memimpin pasukan di
bagian belakang iniyang bertempur seperti harimau terluka?”
Orang itu mengerutkan dahinya. Kemudian iapun bertanya ”Siapa
Kau?Apakah kau sengajamenghadapi aku?” “AkuWantilan, salah seorang
cantrik dari Padepokan Bajra Seta.” jawabWantilan sambilmengangkat
pedangnya. “Bagus” kata pemimpin padepokan itu ”Aku Sanggatama,
salah seorangmurid terpercaya mPu Damar yangmemimpin Padepokan
Sangganala.” “Bagus” jawab Wantilan ”jika demikian, kau dapatmemilih
langkah bagi orang-orangmu. Bertempur terus dan hancur atau minggir
saja.” “Setan kau Wantilan” geram Sanggatama ”kau kira kau siapa he?
Begitu sombongnya kau beranimenghina aku.” Tetapi Wantilan tertawa.
Katanya ”Jangan sakit hati” jawab Wantilan ”kita berada
dipeperangan.” Sanggatama tidak menjawab. Tetapi ia telah menembus
arena langsung menyerang Wantilan yang telah siap menghadapinya.
Bahkan Wantilan masih tertawa sambil meloncatmenghindar ”Bagus,
seranganmu sangat berbahaya.” “Persetan” geram Sanggatama ”Kau
memang terlalu sombong. Jangan meny esali nasibmu bahwa kau tidak
akan keluar dari arena pertempuran ini.” “Kau lihat orang-orangmu
terjepit.” desisWantilan. “Tidak. Pa sukanku adalah tombak bermata
dua. Pangkal dan ujungnya akan menghancurkan lawan.” jawab
Sanggatama. Wantilan tidak menjawab lagi. Ia sudah dapat membuat
lawannya menjadi sangat marah sehingga tidak dapat lagi menahan
gejolak perasaannya. Serangannya datang bagaikan angin pusaran.
Tetapi Sanggatama tidak sempat mempergunakan penalarannya
sebaik-baiknya karena jantungnya bagaikan terbakar. Sejenak kemudian
maka keduanya telah bertempur dengan sengitnya. Sanggatama
yang marah itu meny erang Wantilan dengan segenap
kemampuannya. Ia ingin segera menghabisi lawannya yang sombong
itu. Selain dengan demikian ia dapat mengambil lawan yang lain, maka
para cantrik Padepokan Bajra Seta yang bertempur dibelakang
padepokannya itu akan kehilangan ketegaran jiwani jika pemimpinnya
telah dibunuhnya. Sanggatama memang seorang yang memiliki
kemampuan yang tinggi, namun ia telah berhadapan dengan Wantilan.
Seorang yang telah ditempa secara khusus oleh Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat justru karena ia memiliki jalur penguasaan ilmu
yang keliru sebelumnya. Dengan demikian maka Wantilan adalah
seorang yang memiliki bekal yang cukup untuk menghadapi
murid terpercaya mPu Damar itu. Yang bahkan telah memimpin sebuah
Padepokanyang disebutnya Padepokan Sangganala. Dengan demikian
maka keduanyapun telah bertempur dengan sengitnya. Beberapa orang
cantrik dari kedua padepokan yang sedang bertempur itu,
berusaha untuk menjaga agar pemimpinnya masing-masing agar tidak
mendapat serangan tiba -tiba atau dari belakang. Sambil bertempur
disebelah-meny ebelah, para cantrik itu tetap mengawasi kedua orang
pemimpin yang sedang bertempur dengan sengitnya itu. Sanggatama
memang menjadi semakin marah ketika serangan-serangannya tidak
segera mampu mengakhiri pertempuran itu. Ternyata Wantilan adalah
seorang yang tangkas dan kuat. Ia masih tetap saja mampu mengimbangi
kecepatan gerak dan kekuatan Sanggatama yang semakin meningkat
itu. Namun Wantilanpun harus mengerahkan kemampuannya pula. Murid
terpercaya mPu Damar itumampu bergerak cepat. Kekuatannyapun telah
mengejutkan Wantilan. Namun tidak menjadi gentar karenanya. Pedang
Wantilan adalah pedang yang menurut ujudnya terhitung besar dan
panjang. Tetapi Wantilan merasa bahwa pedangnya tidak terlalu berat.
Apalagi Wantilan yang telah berlatih untuk mempergunakan tenaga
cadangannya serta kemampuan untuk membangunnya membuatnya menjadi
seorang yang membuat lawannya berdebar -debar. Dengan pedangnya itu,
maka jangkauannyapun menjadi cukup panjang, sedangkan kekuatan
tenaga dalamnya membuat ayunan pedang itumelepa skan
kekuatanyang sangat besar. Sanggatama ketika melihat pedang
yang besar itu, merasa bahwa kecepatannya bermain pedang akan
dapatmendahului putaran pedang yang besar itu, sehingga
serangannya akan dapatmenyusupmenggapai tubuhWantilan. Tetapi
Sanggatama menjadi heran melihat putaran pedang Wantilan. Meskipun
pedang itu cukup besar dan panjang, tetapi Wantilan menggerakkannya
dengan tangkas dan cekatan sepertimenggerakkan sebatang lidi saja.
Apalagi ternyata pula bahwa ilmu pedang Wantilan cukup memadai
untukmelawan ilmu pedang Sanggatama. Dengan demikian maka
pertempuran antara Wantilan dan para cantrik Padepokan Bajra Seta
melawan Sanggatama dari Padepokan Sangganala itu semakin lama
menjadi semakin sengit. Sementara itu, anak-anak dan orang-orang
dari padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta yang datang
membantu, telah bertempur pula dengan kerasnya. Kemampuan mereka
bermain senjata, dialasi dengan kebiasaan mereka sehari-hari bekerja
keras di sawah, diladang, dikebun dan di pategalan serta pekerjaan
mereka yang lain telah membuat mereka menjadi orang-orang yang
tangguh dipertempuran. Tenaga mereka cukup besar sementara
ketrampilanmereka ber olah senjata cukup terlatih. Beberapa orang
yang bersenjata kapak yang besar benarbenar membuat
lawan-lawannya berdebar-debar. Kapak itu ditangannya bukan saja
disaat-saat mereka berada di medan perang. Tetapi pekerjaan mereka
sehari-hari sebagai tukang blandong yang seringmemotong dan
membelah pohon-pohon besar sebagai pekerjaan sambilan disamping
bertani, membuat mereka sangat akrab dengan watak kapak-kapak
mereka. Sementara itu, beberapa orang jagal lembu dan kerbau yang
setiap hari bermain-main dengan parang yang tajamnya melampaui pisau
pencukur itupun telah mempermainkan senjatamereka dengan tangkasnya.
Disisi lain, Mahisa Semu yang muda itu telah mengejutkan pula para
cantrik dari Padepokan Ngancas dan para pendukungnya. Mereka
tidakmengira bahwa anakyang masih nampak sangatmuda itu telah
memasukimedan pertempuran dengan putaran senjata yang mendebarkan
jantung. Yang dihadapi oleh Mahisa Semu adalah para cantrik dari
Padepokan Ngancas didukung oleh para cantrik dari Padepokan yang
dipimpin oleh Sawung Tunggul, juga salah seorang murid terpercaya
dari mPu Damar. Sawung Tunggul juga meny ebut perguruannya dengan
perguruan Sawung Tunggulyang berada di Padepokan Sawung
Tunggul. Sawung Tunggul sendiri memang juga masih terhitung muda.
Tetapi tidak semuda Mahisa Semu. Bahkan Sawung Tunggul sedikit lebih
tua dibandingkan dengan Mahisa Murti. Ketika ia bertemu dengan
Mahisa Semu di pertempuran, maka dengan heran ia bertanya ”He,
anakmuda. Kenapa kau bermain-main dipertempuranyang sengit
ini?” “Kaumulaimerendahkan aku” sahut Mahisa Semu. “Aku tidak
berniat merendahkanmu. Tetapi apakah kerjamu di pertempuran ini?”
bertanya Sawung Tunggul. “Aku memang sedang melihat pertempuran ini”
jawab Mahisa Semu ”nampaknya para cantrik dari Padepokan Ngancas
tidakmempunyai banyak kesempatan.” “Mungkin” jawab Sawung Tunggul
”tetapi disini bukan hanya ada para cantrik dari Padepokan Ngancas.”
“Ya. Aku tahu. Ada tiga padepokan yang mendukung Padepokan
Ngancas.” “Antara lain adalah padepokanku. Padepokan Sawung Tunggul,
sama seperti namaku sendiri.” “0” Mahisa Semu mengangguk-angguk.
Sementara Sawung Tunggul bertanya ”Siapa namamu anakmuda?” “Mahisa
Semu” “Apakah kau juga saudaranya Mahisa Murti.” bertanya lawannya
yang mulaimemperhatikan Mahisa Semu. “Ya. Aku adiknya” jawab Mahisa
Semu. Sebenarnyalah Sawung Tunggulmenjadi berdebar-debar. Ternyata
ia telah bertemu dengan saudara Mahisa Murti yang telah didengar
namanya, justru karena saudaranya yang lain, Mahisa Pukat pernah
mengalahkan gurunya, mPu
Damar.
Jilid105 Dalam pada itu, pertempuran pun
masih berlangsung dengan sengitnya. Kedua belah pihakmasih saling
mendesak. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan mereka
yang tersisa. Para cantrik Padepokan Bajra Seta seakan-akan
telah menguasai seluruh medan setelah murid kepercayaan Empu Damar
tersingkir dari arena pertempuran. Para cantrik dari Padepokan
Ngancas dan padepokan-pa sepokan yang mendukungnya sudah tidak
memiliki harapan lagi, sehingga mereka lebih banyakmenghindar dari
pada mempertahankan diri. Selagi di depan Padepokan Bajra Seta itu
masih berlangsung pertempuran sengit, maka Mahisa Amping yang telah
menemui anak-anak muda dan orang-orang dari padukuhan yang bertempur
di sisi kanan, telah berlari pula ke sisi sebelah kiri. Namun,
Mahisa Semu yang memimpin para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu
pun telah menjadi sangat letih. Tetapi ketika ia ditemui Mahisa
Amping yang menyusup medan,maka Mahisa Semu itu sempat terkejut.
“Kenapa kau di sini?” bertanya Mahisa Semu. “Bukankah tugas para
cantrik di medan ini sudah tidak begitu berat lagi?” bertanya Mahisa
Amping. “Ya. Mereka akan dipaksa untukmeny erah. Kenapa?” “Apakah
kakang dapatmengurangi kekuatan di medan ini lagi sebagaimana kakang
lakukan sebelumnya?” bertanya Mahisa Amping agak ragu. “Apa
maksudmu? Apakah keadaan di sisi kanan masih terlalu sulit?”
bertanya Mahisa Semu. “Tidak,” jawab Mahisa Amping, “Tetapi justru
pada pa sukan induk.” Mahisa Semu mengerutkan keningnya. Dengan
cemas ia bertanya, “Bagimana dengan pasukan induk?” “Ma sih belum
nampak bahwa pasukan induk akan dapat menguasai medan. Bahkan kakang
Mahisa Murti masih bertempur dengan sengitnya melawan pemimpin
pasukan yangmeny erang Padepokan ini,” jawab Mahisa Amping. Mahisa
Semu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun segera memerintahkan
kepada seorang cantrik penghubungnya, untuk memerintahkan beberapa
kelompok cantrik bergeser membantu medan di depan Padepokan. Apalagi
ketika Mahisa Semu melihat lawan-lawannya di sisi sebelah kiri itu
sudahmulaimeny erah. Dengan demikian maka beberapa kelompok cantrik
Bajra Setapun telah bergerak. Meskipun mereka sudahmenjadi letih
sebagaimana para cantrik dari kedua belah pihak yang bertempur itu,
namun mereka masih juga berlari-larian melingkari sudut Padepokan
menuju ke pa sukan induk mereka. Kehadiran beberapa kelompok cantrik
Bajra Seta itu sekali lagi telah mengguncang medan. Bahkan kemudian
mereka telah menentukan keseimbangan pertempuran. Para cantrik dari
Padepokan Ngancas yang semula masih berpengharapan, telah menjadi
gelisah. Para cantrik dari sisi sebelah kiri itu langsung memasuki
arena dan menusuk pasukan lawan dari samping. Dengan demikian maka
para cantrik dari Padepokan Ngancas itu seakan-akan telah terkepung.
Di depan mereka para cantrik dari Padepokan Bajra Seta semakin
mendesak. Dari sisi lain, anak-anak muda dan orang-orang padukuhan
yang menekan mereka semakin kuat. Kemudian datang beberapa kelompok
anak-anak muda dan orang-orang padukuhan dari sisi kanan, disusul
kemudian beberapa kelompok cantrik dari sisi kiri. Dalam pada itu,
maka pertempuran antara Mahisa Murti dengan Empu Damar menjadi
semakin sengit. Setiap kali Empu Damar telah melontarkan sejenis
senjatanya ke arah Mahisa Murti. Meskipun senjata itu tidak
mengenainya, namun sambaran anginnya membuat Mahisa Murti semakin
kesakitan. Senjata yang dilemparkan oleh Empu Damar itu
ternyata adalah semacam gelang-gelang baja putih. Senjata yang
sangat berbahaya. Jika senjata itu menyentuh kepala,maka kepala itu
tentu akan pecah. Bahkan gelang-gelang baja putih itu akan dapat
mematahkan tulang-tulang di tubuh lawannya yang dapat dikenainya.
Bahkan tulang lengan sekalipun. Jika senjata itu tidak mengenai
lawan, maka sambaran anginnya telah cukup menyakitinya. Seakan-akan
ratusan duri-duri kecil yang tajam telah mengorek setiap lubang
kulitnya. Dengan demikian maka Empu Damar telah berusaha memaksakan
kemenangan segera atas Mahisa Murti ju stru karena ia mengetahui
bahwa para cantrik dari Padepokan Ngancas telah terdesak, dan bahkan
hampir terhimpit di tengah-tengah kepungan para cantrik dari
Padepokan Bajra Seta serta anak-anak muda dan orang-orang dari
padukuhan di sekitar Padepokan Bajra Seta itu. Karena itu, maka
serangan-serangan Empu Damar pun menjadi semakin cepat pula,
meskipun keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Dengan
lontaran-lontaran senjatanya maka Empu Damar berhasil membatasi
serangan-serangan Mahisa Murti. Ju stru karena Empu Damar telah
mengetahui bahwa Mahisa Murti sebagaimana Mahisa Pukat memiliki
kemampuan untuk menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya.
“Seandainya aku tahu bahwa Mahisa Pukat memiliki ilmu itu,” berkata
Empu Damar di dalam hatinya, “maka aku tidak akan dipermalukannya di
hadapan banyak orang. Di hadapan murid-muridku pula.” Dengan dada
tengadah Empu Damar menekan Mahisa Murti sehingga Mahisa Murti
beberapa kali harus berloncatan surut. Bahkan pada saat-saat
terakhir Empu Damar hampir pa sti, bahwa ia akan dapatmengalahkan
Mahisa Murti. Mahisa Murti yang selalu diburu oleh
senjata-senjata Empu Damar yang dilontarkan dengan kekuatan
yang sangat besar bahkan dibarengi dengan ilmunya pula sehingga
hembusan anginnya telah menyakitinya, akhirnya harusmengambil satu
sikap untuk mengatasiny a. Mahisa Murti tidak dapat membiarkan
dirinya diburu oleh senjata Empu Damar sehingga setiap kali Mahisa
Murti harus berloncatan menghindar dan bahkan
sambilmenyeringaimenahan pedih. Sementara itu, pertempuran di
sekitarnya memangmenjadi semakin sengit. Bahkan beberapa orang
cantrik yang sedang bertempur harusmengalami nasib buruk.
Gelang-gelang baja putih yang dilemparkan oleh Empu Damar
sekali-sekali ju stru mengenai para cantrik. Sekali-sekali justru
cantrik dari Padepokan Ngancas yang sedang bertempur melawan cantrik
dari Padepokan Bajra Seta. Karena itulah, maka Mahisa Murti pun
telah memutuskan untuk menghentikan serangan-serangan Empu Damar
sebelum gelang-gelang itu mematahkan tulang-tulangnya. Apalagi darah
yang mengembun dari lubang -lubang kulitnya telah menjadi
semakin banyak pula. Ketika kemudian gelang-gelang itu menyambarnya
lagi, maka Mahisa Murti harus berloncatan menghindarinya sejauh-jauh
dapat dilakukan, agar hembusan angin yang menyambar tubuhnya tidak
terlalu menyakitinya. Sementara itu, Mahisa Murti sudah tidak
mempunyai kesempatan lagi untuk mendekati lawannya untuk meny
erangnya dengan ujung pedangnya yang berwarna kehijau-hijauan. Pada
saat-saat yang sulit dibawah ancaman lontaran gelang-gelang baja
putih itulah, Mahisa Murti kemudian telah mengerahkan ilmunya
yang lain. Bukan sekedar menghisap tenaga dan kemampuan
lawannya, tetapi ia pun harus menyerangnya. Demikianlah, maka ketika
sebuah gelang baja putih menyambarnya maka Mahisa Murti telah
meloncat ke samping untuk menghindarkan diriny a. Tetapi Mahisa
Murti masih harus menyeringai menahan perasaan pedih yang menggigit.
Bahkan untuk beberapa saat Mahisa Murti harus mengerahkan daya
tahannya untuk mengatasiny a meskipun darah masih saja mengembun
dikulitnya. Tetapi, agaknya Empu Damar tidak memberinya kesempatan.
Sekali lagi gelang-gelang baja itu menyambarnya. Hampir saja senjata
yangmenggetarkan udara itu menyambar keningnya. Namun meskipun
Mahisa Murti sempat menghindari sentuhan senjata itu, namun sambaran
anginnya benar-benar telah menyakitinya. Mahisa Murti berdesah
menahan sakit sambil melenting menjauh. Tetapi angin telah
menyambarnya dan perasaan pedihpun semakin menusuk kulit. Belum lagi
Mahisa Murti sempat memperbaiki kedudukannya, maka sekali lagi Empu
Damar melemparkan gelang-gelang besi bajanya. Gelang-gelang yang
memang tidak begitu besar, tetapi Mahisa Murti menyadari bahwa
gelanggelang itu sangat berbahaya baginya. Karena itu, maka Mahisa
Murti pun tidak mempunyai kesempatan untuk meloncat menghindar. Yang
dapat dilakukannya adalah justrumenjatuhkan dirinya. Gelang-gelang
itu memang tidak mengenainya. Tetapi sambaran angin itu masih saja
menyakitinya. Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Murti
tidak mempunyai pilihan lain. Apalagi ket ika melihat bahwa Empu
Damar sudah mengambil lagi gelang -gelang baja dari kantong ikat
pinggangnya yang besar. Mahisa Murti tidak mau disakiti lagi.
Ia tidak membiarkan darahnya yang mengembun semakin membasahi
kulitnya. Karena itu, maka agaknya memang sudah tiba waktunya Mahisa
Murti berusahamengakhiri pertempuran itu. Dengan cepat Mahisa Murti
yang menyiapkan dirinya, memusatkan nalar budinya. Ia tidak
merasa perlu untuk bangkit lebih dahulu. Namun sambil berbaring di
tanah,maka diacukannya pedangnya ke arah lawannya. Dengan cepat pula
Mahisa Murti telah melepa skan kemampuannya meny erang lawannya dari
jarak jauh, tepat pada saat Empu Damar siap melontarkan senjatanya.
Empu Damar sama sekali tidak mengira bahwa serangan yang dahsy at
itu akan datang. Yang diperhitungkan hanyalah ilmu Mahisa Murti
yang dapat menghisap kekuatan dan tenaga lawan. Karena itu,
Empu Damar menjadi sangat terkejut melihat seleret sinar bagaikan
meluncur dari ujung pedangMahisa Murti. Ternyata serangan Mahisa
Murti datang demikian cepatnya. Sebelum gelang-gelang bajanya
terlepas dari tangannya, maka serangan Mahisa Murti telah
menerpanya. Demikian dahsyatnya, sehingga Empu Damar telah terlempar
beberapa langkah surut. Bahkan rasa-rasanya dadanya telah meledak
sehingga isi dadanya telah rontok karenanya. Empu Damar yang
tidakmenduga akan mendapat serangan yang demikian dahsy atnya, sama
sekali tidak sempat berbuat sesuatu. Ia masih sadar ketika ia
terbanting jatuh. Bahkan sempat mengumpat kasar. Empu Damar sempat
menyadari betapa dahsyatnya ilmu anak muda itu. Selain ilmu yang
jarang ada duanya, yang mampu menghisap tenaga dan kekuatan lawan,
ternyata ia juga memiliki ilmu yang dahsyat dan keras. Namun Empu
Damar sudah tidakmempunyai kesempatan lagi. Lamat-lamat masih
terdengar sorak para cantrik Padepokan Bajra Seta membahana. Ia pun
samar-samarmasih melihat Mahisa Murti dibawah perlindungan para
cantrik melangkahmendekatinya. Tetapi sejenak kemudian, semuanya
menjadi gelap. Jantungnya pun terasa berdetak semakin cepat sehingga
akhirnya, Empu Damar kehilangan segenap kesadarannya. Bahkan
jantungnya pun telah berhenti berdetak pula. Para cantrik dari
Padepokan Ngancas menjadi gelisah. Beberapa orang murid Empu Damar
yang masih bertahan, termasuk Gemak Langkasmemang menjadi bingung.
Mereka tidak dapatmengambil sikap dengan cepat, apalagimengambil
alih pimpinan. Kematian Empu Damar benar-benar telah mengguncang
jiwa mereka, sehinggamereka tidakmampu lagi mengambil sikap apapun
juga. Ju stru karena itu, maka para cantirk dari Padepokan Ngancas
itu benar-benar telah kehilangan pegangan. Sebagian dari mereka
justru bertempur membabi buta. Tetapi sebagian yang lain dengan
serta merta telah melemparkan senjata mereka dan meny erah. Apalagi
kekuatan Bajra Seta di depan padepokannya itu semakin bertambah,
sehingga akhirnya, orang-orang yang menyerang Padepokan Bajra Seta
itu tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Sehingga dengan demikian maka
serangan mereka telah dipatahkan dengan mutlak. Dengan demikian,maka
para pengikut Empu Damar itu di segala medan telah dikuasai. Mereka
berangsur-angsur telah menyerah danmeletakkan senjata mereka. Karena
itu,maka sebelummataharimerendah di kaki langit sebelah barat,maka
pertempuran itu telah dapat diselesaikan. Tetapi bukan berarti bahwa
segala-galanya telah selesai. Ternyata dalam pertempuran itu telah
jatuh korban dari kedua belah pihak. Bahkan anak-anak muda dan orang
-orang dari padukuhan di sekitar Padepokan Bajra Seta. Para cantrik,
anak-anak muda dan orang-orang dari padukuhan sebelah menyebelah
bahkan para pengikut Empu Damar yang menyerah masih harus sibuk
mengumpulkan mereka yang terluka dan bahkan terbunuh di
peperangan. Mahisa Murti memandangi tubuh yang membeku
berjajar di halaman serta para cantrik yang terluka yang
ditempatkan di pendapa bangunan induk Padepokan Bajra Seta dengan
wajahyang sayu. Tidak seorang pun yang mampu mencegah korban
yang berjatuhan di setiap peperangan. Jika peperangan itu
masih berulang, maka tubuh-tubuh yang membeku dan berlumuran darah
masih saja akan berhamburan dimedan. Mahisa Murtimenarik nafas
dalam-dalam ketika dua orang petugas sandi yang telah ikut
terjun di pertempuran itu mendekatinya. Seorang di antara mereka
berkata, “Peperangan selalu berakhir seperti ini.” “Ya,” jawab
Mahisa Murti. Katanya selanjutnya, “Tetapi hal seperti inimasih saja
terulang apapun alasannya.” Kedua orang petugas sandi itu
mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Amping pun telah melangkah
dengan ragu-ragumendekat. Ternyata Mahisa Murti telah mendapat
laporan tentang anak itu darimereka telah dihubunginya. Bahkan
sebelum Mahisa Murti mengatakan sesuatu, Mahisa Amping telah
mendahuluinya, “Maaf kakang. Aku telah melakukannya tanpa seijin
kakang.” Mahisa Murti tersenyum melihat tingkah anak itu. Katanya,
“Baiklah. Kau telah berusaha membantu pertempuran yang telah terjadi
dengan caramu. Kau telah berusaha membagi kekuatan para cantrik
sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, apa yang kau lakukan mempunyai
akibat yang baik bagi Padepokan kita.” Mahisa Murti berhenti
sejenak. Dipandanginya anak yang kemudian menunduk dalam-dalam itu.
Katanya selanjutnya, “Tetapi lain kali berhati-hatilah. Jika kau
menerobos medan, maka hal itu akan sangat berbahaya bagimu.” Mahisa
Amping mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya Kakang. Aku tidak
akanmelakukannya lagi.” “Baiklah,” berkata Mahisa Murti sambil
membelai kepala anak itu, “kau harus berhati-hati bermain-main
dengan peperangan. Kau lihat, betapa ganasny a pertempuran itu. Yang
berjajar di halaman itu adalah mereka yang telah menjadi korban.
Mereka akan segera diangkat ke serambi sebelum besok pagi
dimakamkan. Sedangkan yang ada di pendapa itu adalahmereka
yang terluka parah.” Mahisa Amping mengangguk-angguk kecil. Bukan
untuk pertama kalinya iamelihat akibat dari sebuah peperangan.
Sejenak kemudian maka Mahisa Murti pun berkata kepada kedua orang
petugas sandi dari Singasari itu, “Marilah, kita lihat keadaan
Mahisa Semu dan pamanWantilan.” Mahisa Murti pun kemudian
bersama-sama dengan kedua orang itu sambil menggandeng Mahisa Amping
melihat keadaan Mahisa Semu danWantilan di bilik mereka. Ternyata
keadaan Wantilan lebih buruk dari Mahisa Semu. Mahisa Semu memang
nampak terlalu letih. Kulitnya juga menjadi merah. Meskipun darah
yang mengembun sudah dibersihkan, namun bekas-bekas terpaan
ilmu lawannya masih nampak kemerah-merahan. SedangkanWantilan
benarbenar terdapat luka dikulitnya. Di beberapa bagian kulitnya
menjadi terkelupas. Perasaan pedih masih saja menggigit di beberapa
bagian kulitnya, sehingga Wantilan memerlukan perawatan yang
lebih ber sungguh-sungguh. Dalam pada itu, di antara para pengikut
Empu Damar yang menyerah dan menjadi tawanan adalah Gemak Langkas.
Betapa peny esalan mencengkam jantungnya. Ia melihat sendiri betapa
saudara-saudara seperguruannya terbaring tanpa bernafas lagi. Besok
mereka sudah harus dikembalikan kepangkuan bumi tanpa pernah bangkit
kembali. Sementara yang lain lagi terbaring sambil mengerang
kesakitan karena luka-lukanya yang parah. Mahisa Murti yang
oleh kedua orang petugas sandi diberitahukan, bahwa Gemak Langkas
itulah yangmenjadi api yang kemudian membakar Padepokan Bajra Seta
yang meskipun dapat dipadamkan tetapi telah menelan banyak korban
itu, telah memanggil-ny a untukmenemuinya. Namun, sejak Mahisa Murti
berbicara dengan Gemak Langkas, maka ia telah mendapat kesan bahwa
Gemak Langkas merasa sangat meny esal atas segala peristiwa yang
telah terjadi itu. “Sejak semula, aku dan ay ahku sudah berusaha
mencegah guru untuk melakukan balas dendam,” berkata Gemak Langkas.
“Tetapi kami tidak berhasil. Karena aku merasa bahwa aku adalah
sebab dari persoalan ini, maka aku merasa mempunyai kewajiban untuk
ikut ber sama guru meny erang Padepokan Bajra Seta.” “ Jadi alasan
Empu Damar menyerang padepokan ini hanya dendam semata-mata?”
bertanya Mahisa Murti. Gemak Langkas termangu-mangu. Namun kemudian
ia berkata, “Ternyata tidak. Meskipun tidak berterus-terang, tetapi
guru menganggap bahwa ada sesuatu yang berharga di Padepokan Bajra
Seta. Ada sejenis senjata yang agak lain dari kebanyakan
senjata. Dan itu ternyata dalam pertempuran yang terjadi. Senjata
para cantrik Bajra Seta mempunyai kelebihan dari senjata kami.”
“Hanya karena senjata -senjata itu?” desak Mahisa Murti. Gemak
Langkas terdiam sejenak. Ia memang nampak raguragu. Tetapi kemudian
katanya, “Ada dua keuntungan yang dapat diambil oleh guru. Karena
aku terlibat, serta aku pula sebab utama dari peristiwa ini, maka ay
ahku telah ikut membeayai pasukan Ngancas betapapun ayah merasa
berkeberatan. Selebihnya, guru berpendapat bahwa di Padepokan Bajra
Seta yang besar ini selain senjata tentu terdapat harta benda
yang cukup berharga sehingga akan menguntungkan guru.” Mahisa
Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengira bahwa
di samping alasan yang dikemukakan tentang pembalasan dendam, maka
tentu ter sembunyi kepentingan yang lain. Hal itu dapat dibaca
dari sifat Empu Damar. Bukankah kau seorang murid yang
mendapat perhatian sangat besar dari gurumu karena kau mampu
mengupahnya lebih dari yang lain? Bukankah gurumu setiap saat
yang ditentukan justru datang kepadamu untuk mengajarmu dalam
olah kanuragan karena kau membayar?” Gemak Langkas mengangguk sambil
menjawab, “Ya. Memang demikian. Semakin banyak ayah memberi uang,
semakin sering guru datang kerumah.” “Dengan demikian, maka gurumu
sama sekali tidak ber sandar pada kewajiban seorang guru. Tetapi
yang dilakukan diperhitungkan atas dasar upah semata -mata tanpa
pertanggung-jawaban ataskeberhasilanmurid-muridnya.” “Aku
barumenyadari kemudian,” desisGemak Langkas. “Dan kau sekarang ter
seret dalam arus ketamakan gurumu,” berkata Mahisa Murti kemudian.
“Aku meny esal,” desis Gemak Langkas hampir tidak terdengar. Tetapi
Mahisa Murti percaya bahwa peny esalan itu terlontar dari da sar
hatinya. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain
kecuali mematuhi pesan dari kedua orang petugas sandi dari Singasari
itu. Para tawanan untuk sementara dititipkan kepada Padepokan Bajra
Seta sampai pada saatnya nanti dijemput oleh sepasukan prajurit dari
Singasari. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata. “Aku
percaya kepadamu Gemak Langkas. Tetapi aku tidak dapatmelepaskanmu
dari paugeran.” “Aku tidak akan dapat ingkar,” jawab Gemak Langkas,
“apapun yang harus aku jalani sebagai hukuman atas tingkah
lakuku, akan aku jalani. Bahkan seandainya aku harus dihukum mati.”
“Tidak, kau tidak akan dihukum mati,” jawab Mahisa Murti. “Akulah
yang menyebabkan segala ini terjadi,” jawab Gemak Langkas.
“Tetapi t idak semua kesalahan ada padamu,” desis Mahisa Murti
kemudian, “kesalahan terbesar adalah justru pada gurumu. Ia telah
memanfaatkan persoalan yang kau sulut untukmemuaskan ketamakannya.”
“Terima kasih atas sikapmu. Mudah-mudahan sikap para pemimpin di
Singasari sama seperti sikapmu itu. Aku tidak tahu apa yang
akan dikatakan oleh saudaramu, Mahisa Pukat yang mengalami langsung
benturan kepentingan dengan aku, sehingga per soalannya telah
berkepanjangan dan mungkin kau benar, telah dimanfaatkan oleh guru.”
Sementara itu kedua petugas sandi Singosariyang berada di
Padepokan Bajra Seta setelah minta diri kepada Mahisa Murti,
langsung pulang kembali ke Singosari untuk menghadap dan memberi
laporan kepada pimpinannya y aitu Arya Kuda Cemani. Begitu sampai di
Singosari kedua petugas sandi tersebut langsung menghadap Arya Kuda
Cemani dan melaporkan seluruh kejadian di padepokan Bajra Seta.
Setelah menerima laporan dari kedua petugas sandi tersebut Arya Kuda
Cemani menugaskan keduanya untuk segera menemui Ki Mahendra guna
menyampaikan seluruh peristiwa peny erangan padepokan Bajra Seta
oleh Padepokan Ngancas dan tiga padepokan pendukungnya yang
dipimpin oleh mPu Damar. “Besok pergilah kalian menemui Ki Mahendra
untuk menceritakan seluruh kejadian tersebut” (yg ketikan biru ini
adalah tambahan ku sendiri krn sepertinya ga nyambung ke alenia
berikut ini-Dewi KZ) Kedua petugas sandi itu mengangguk-angguk.
Seorang di antara mereka menjawab, “Baiklah. Kami besok akan
menemuiKi Mahendra di tempat tinggalnya.” Arya Kuda Cemani itu
berpikir sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Biarlah aku besok akan
datang bersamamu menemui Ki Mahendra dan Mahisa Pukat. Lebih baik
mereka mendengar langsung dari kita daripada dari orang lain yang
mungkin sudah ditambah atau dikurangi.” Sebenarnyalah di hari
berikutnya mereka bertiga telah menemui Mahendra dan Mahisa Pukat di
tempat tinggal mereka, di bagian belakang istana Singasari. Dengan
hati-hati Arya Kuda Cemani telah menceriterakan apa yang dilakukan
oleh kedua orang petugasnya itu. “Biarlah mereka menceriterakan apa
yang telah terjadi di Padepokan Bajra Seta,” berkata Arya Kuda
Cemani. Dengan tegang Mahendra dan Mahisa Pukat kemudian
mendengarkan ceritera kedua orang petugas sandi itu. Apa sa ja
yang telah terjadi di Padepokan Bajra Seta. Mahisa Pukat
mendengar peristiwa di padepokan Bajra Seta itu dengan hati yang
tegang. Bahkan kemudian dengan lantang ia bertanya, “Kenapa aku
tidak diberi tahu sebelumnya? Seharusnya aku juga berada di
Padepokan saat itu.” “Maaf ngger,” jawab Arya Kuda Cemani, “ternyata
kami salah menilai kekuatan Padepokan Ngancas. Kami tahu bahwa
Padepokan Ngancas didukung oleh tiga padepokan sekaligus. Tetapi
ternyata jumlah kekuatannya lebih dari yang kami lihat.”
Mahisa Pukat menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat marah
kepada Arya Kuda Cemani. Apalagi yang dilakukan Arya Kuda Cemani
semata-mata karena Arya Kuda Cemani ingin membantu Padepokan Bajra
Seta. Bagaimanapun juga, perbuatan itu dilandasi dengan maksud yang
baik. Mahendra lahyang kemudian berkata, “Kamimengucapkan
terima kasih Raden. Seandainya Raden tidakmemberitahukan kedatangan
beberapa padepokan yang meny erang Padepokan Bajra Seta itu,
keadaannya tentu akanmenjadi lebih buruk.” “Tetapi kami harus minta
maaf kepada Mahisa Murti,” berkata Arya Kuda Cemani, “seharusnya
kami dapat berbuat lebih baik.” Tiba -tiba saja Mahisa Pukat
memotong pembicaraan itu, “Besok aku akan pergi ke Padepokan.”
“Sebaiknya kau pergi besok lusa saja ngger,” minta Arya Kuda Cemani,
“besok lusa aku akan mengirimkan sekelompok prajurit untuk menjemput
para tawanan. Kami tidak dapat membiarkan para tawanan itu menjadi
beban padepokan Bajra Seta.” Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak.
Rasa -rasanya saat itu juga ia ingin terbang ke Padepokan Bajra
Seta. Ia ingin melihat akibat dari pertempuranyang baru saja
terjadi. Tetapi ay ahnya berkata, “Agaknya memang sebaiknya kau
pergi bersama-sama dengan para prajurit itu Pukat. Bukan karena aku
cemaskan kau selama dalam perjalanan. Tetapi agaknya lebih baik kau
tempuh perjalananmu tidak seorang diri.” Mahisa Puakt termangu-mangu
sejenak. Namun ia pun kemudian tidak dapatmenolaknya. Demikianlah,
seperti yang telah direncanakan maka Mahisa Pukat pun telah
pergi ke Padepokan Bajra Seta bersama sekelompok prajurit yang akan
menjemput para tawanan. Dengan jantung yang gemuruh, seperti
derap kaki-kaki kuda para prajurit dalam perjalanan itu, Mahisa
Pukat seakan-akan merasa perjalanan itu terlalu panjang. Namun,
betapapun terasa perjalanan itu terlalu lama,maka akhirnya
iring-iringan itu sampai ke Padepokan Bajra Seta. Mahisa Pukat pun
telah meloncat turun dari kudanya.Oleh perasaan yang
bergejolak di dalam jantungnya, juga oleh perasaan bahwa ia adalah
peny ebab dari pertempuran yang telah terjadi itu maka Mahisa Pukat
pun telah berlarimemeluk saudaranya sambil berdesis, “Maafkan aku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di sini. Para petugas sandi sengaja
tidak memberitahukan peristiwa ini kepadaku.” Mahisa Murti pun harus
mengatur gejolak perasaannya. Baru kemudian ia menjawab, “Segalanya
telah berlalu, Pukat. Ternyata kami mampu bertahan meskipun harus
jatuh korban.” “Seandainya aku tahu,” suara Mahisa Pukatmenjadi
sangat dalam. “Sudahlah,” berkata Mahisa Murti kemudian, “Yang Maha
Agungmasih melindungi padepokan kita.” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk kecil. Sementara itu, Mahisa Murti pun telah
mempersilahkan para prajurit untuk naik kependapa. Namun hanya para
pemimpinnya sajalah yang kemudian naik, sedangkan yang lain berada
di serambi bangunan say ap Padepokan Bajra Seta. Setelah mengucapkan
selamat datang, maka para cantrikpun telah menyuguhkan minuman dan
makanan kepada para prajurit yang datang untuk menjemput para
tawanan di Padepokan Bajra Seta. Namun mereka tidak dapat hari itu
juga kembali ke Singasari. Para prajurit itu harus bermalam di
Padepokan itu. Baru di keesokan harinya mereka akan kembali ke
Singasari. Dalam pada itu,maka Mahisa Pukat pun telahmenanyakan
dimana Mahisa Amping yang masih belum dilihatnya sejak ia datang.
Tetapi sebelum anak itu dipanggil, maka Mahisa Amping sudah berdiri
termangu-mangu dipintu pringgitan bangunan induk Padepokan itu.
“Amping,” panggil Mahisa Pukat, “kemarilah.” Mahisa Amping pun
dengan ragu-ragumendekat. Demikian ia berdiri didekat Mahisa Pukat
duduk, maka tangannya pun telah ditariknya dan anak itu pun
didudukannya di sebelahnya. “Kau tidak apa-apa?” bertanya Mahisa
Pukat. “Aku tidak apa -apa kakang,” jawab anak itu. Tetapi diluar
dugaan anak itu bertanya, “Kemana kakang selama ini? Kenapa baru
sekarang kakang datang?” “Kakakmu mempunyai tugas di Singasari,”
Mahisa Murtilahyang menyahut. Mahisa Pukat menarik nafas
panjang-panjang. Dengan nada rendah ia berkata, “Maafkan aku Amping.
Aku tidak dapat ikutmempertahankan Padepokan ini.” Mahisa Amping
kemudian berkata, “Meskipun aku tidak apa-apa, tetapi beberapa orang
cantrik telah gugur.” “Aku menyesal bahwa aku t idak ada di
padepokan waktu itu,” desisMahisa Pukat. “Sudahlah Amping,” berkata
Mahisa Murti, “kau sebaiknya justru mengatakan bahwa Yang Maha Agung
masih melindungi kita.” Tetapi Mahisa Ampingmasih saja berkata,
“Kakang Mahisa Semu dan pamanWantilan terluka.” “He?” jawab Mahisa
Pukat berkerut dalam. “Tetapi luka mereka tidak parah,” sahut Mahisa
Murti dengan serta merta. “Antarkan aku kepada mereka,” berkata
Mahisa Pukat dengan wajahyang tegang. Mahisa Amping
mengangguk. Tetapi Mahisa Murti pun berkata, “Marilah.” lalu katanya
kepada para pemimpin prajurit yang ada dipendapa, “Silahkan
duduk dahulu Ki Sanak.Marilah, silahkan minuman danmakanannya.”
Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat telah berada di dalam bilik
Mahisa Semu. Mahisa Semu memang terluka. Tetapi tidak terlalu parah.
Bahkan ia sudah nampak tenaganya sebagian besar pulih kembali.
Meskipun demikian, peny esalan semakin mencengkam jantung Mahisa
Pukat. Apalagi ketika kemudian ia melihat keadaan Wantilan
yang nampak lebih parah dari Mahisa Semu. Dengan geram Mahisa
Pukat pun bertanya, “Dimana para tawanan itu?” Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Untuk apa kau
cari para tawanan?” “Aku dengar di antara mereka terdapat Gemak
Langkas.” jawabmahisa Pukat. “Ya,” jawab Mahisa Murti. “Aku ingin
bertemu dan berbicara dengan Gemak Langkas. Ia adalah sumber dari
segala-galanya. Seharusny a ia berani mempertanggung-jawabkan akibat
dari perbuatannya. Aku akan menantangnya untuk berperang tanding”
“Jika kau sudah mampu mengalahkan gurunya. Jika kau benar-benar
menantangnya, artinya sama saja bahwa kau membunuh seorang
yang telah menyerah dan menjadi tawanan.” “Tetapi kau tahu
akibat dari perbuatannya itu. Beberapa orang cantrik telah gugur.
Beberapa orang anak muda dan orang-orang dari padukuhan di
sebelah-meny ebelah padepokan ini telah gugur pula. Bukankah sudah
sepantasnya ia mendapat hukuman yang terberat?” berkata Mahisa
Pukat dengan wajahyang tegang. “Aku sependapat Pukat. Tetapi
siapakah yang berhak menjatuhkan hukuman yang terberat itu?”
bertanya Mahisa Murti. Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun
kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalau saja ketika
pertempuran itu terjadi aku ada di sini.” “Sudahlah Pukat. Kita
semua meny esali apa yang telah terjadi. Tetapi yang telah
terjadi itu tidak akan dapat dirubah lagi. Karena itu, kita harus
menerimanya dengan tabah. Apalagi Yang Maha Agung ternyata masih
melindungi padepokan ini.” Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi yang
terdengar adalah gemeretak giginya. “Marilah,” berkata Mahisa Murti,
“kita temui tamu-tamu kita. Para prajurit dari Singasari yang besok
akan membawa para tawanan itu ke Kotaraja untukmendapatkan
pengadilan.” Mahisa Pukat mengangguk kecil. Tetapi ketika ia
berpaling dan memandang mata Mahisa Amping, maka seakan-akan ia
sedang bercermin dan melihat kesalahannya sendiri sebagai bebanyang
harus dipikulnya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Mahisa
Murti, bahwa yang telah terjadi itu memang telah terjadi. Apapun
sikap dan tanggapannya, namun ia tidak akan dapat merubah keadaan
yang telah lewat itu, kecualimenyesaliny a. Demikianlah, maka Mahisa
Pukat pun ber sama-sama dengan Mahisa Murti telah berada kembali di
pendapa menemui para tamumereka dari Singasari. Beberapa saat
kemudian, Mahisa Murti pun telah mempersilahkan para prajurit dari
Singasari itu untuk beristirahat. Besok pagi-pagi sekali mereka akan
menempuh perjalanan kembali ke Singasari. Sebagian dari para
prajurit memang segera beristirahat ditempat yang sudah
disediakan. Tetapi beberapa orang yang lain masih ingin
berjalan-jalan melihat -lihat padepokan itu dan sekitarnya. Namun
mereka esok hari memang harus berangkat sebelum matahari terbit.
Para tawanan itu tidak menempuh perjalanan berkuda. Tetapimereka
akan berjalan kaki menuju ke Kotaraja. Dalam pada itu, di pendapa
bangunan induk Padepokan Bajra Seta, Mahisa Murti duduk berdua
dengan Mahisa Pukat. Ternyata Mahisa Pukat menjadi bimbang, apakah
besok ia akan kembali ke Singasari atau tidak. Tetapi Mahisa Murti
kemudian berkata, “Pergilah. Sebaiknya kau untuk sementara memang
tetap berada di Kotaraja. Biarlah aku mengurus Padepokan ini.
Percayalah, bahwa aku akan berbuat sebaik-baiknya, sehingga
padepokan ini tidak akan mengalami masa surut. Sementara itu di
Kotaraja kau dapat menemani ayah yang sudah menjadi semakin
tua. Agaknya ayah merasa lebih senang berada di Singasari daripada
berada di Pakuwon Sangling bersama Kakang Mahisa Bungalan.” Mahisa
Pukatmasih saja nampak ragu-ragu. Dengan nada dalam ia pun berkata,
“Peristiwa yang baru saja terjadi membuat aku merasa bersalah, bahwa
aku tidak berada di padepokan.” “Bukan salahmu,” sahut Mahisa Murti,
“seharusny a kau dan kita semuanya berterima kasih dan mengucap
sukur bahwa Yang Maha Agungmasih melindungi kita.” Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Sekilas terbayang wajah Sasi. Mahisa
Pukatmemangmerasa lebih tenang jika ia berada dekat gadis itu.
Tetapi justru karena itu, ia merasa semakin bersalah. Sementara
Mahisa Murti dan para cantrik Padepokan Bajra Seta bertempur
mempertaruhkan ny awa, maka ia sendiri berada di Singasari
semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan untuk
kesenangannya sendiri. Tetapi Mahisa Murti yang melihatnya
bimbang itu pun berkata selanjutnya, “Sudahlah. Jangan terlalu
banyak membuat pertimbangan-pertimbangan. Seandainya ada sesuatu
yang penting,maka biarlah aku memanggilmu.” Mahisa Pukat mengangguk
kecil. Namun ia masih juga berkata, “Rasa -rasanya aku tidak akan
dapat meninggalkan Mahisa Semu dan apalagi pamanWantilanyang
terluka cukup berat.” “Tetapi luka-luka mereka akan segera sembuh,
karena luka-luka mereka hanya terdapat dipermukaan kulit saja,
sebagaimana yang aku alami meskipun tidak sebanyak yang dialami oleh
Mahisa Semu dan apalagi pamanWantilan.” Sementara itu, Mahisa Murti
pun sempat menceriterakan bahwa agaknya Empu Damar yang sudah dapat
dikalahkan oleh Mahisa Pukat itu mampumengenali bahwa Mahisa Murti
pun memiliki kemampuan ilmu untuk menghisap kekuatan dan kemampuan
lawan meskipun hanya untuk sementara, sehingga Empu Damar selalu
berusaha menghindari setiap sentuhan senjata. Bahkan Empu Damar
telahmempergunakan senjata jarak jauh berupa gelang-gelang besi baja
putih. Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk saja. Sementara
Mahisa Murti selalu mendesaknya agar Mahisa Pukat besok kembali ke
Singasari ber sama para prajurit yang akan membawa para tawanan
yang dititipkan di Padepokan Bajra Seta. Akhirnya, Mahisa
Pukat pun dapat mengatasi keraguraguannya. Apalagi setiap kali ia
teringat kepada Sasi. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Besok aku
akan kembali ke Singasari. Biarlah aku berkata sejujurnya, bahwa aku
ingin tetap berada di Singasari untuk sementara bukan saja karena
aku inginmenemani ayah. Tetapi juga karena aku telah terikat karena
kehadiran Sasi di dalam perjalanan hidupku.” Jantung Mahisa Murti
memang berdesir. Tetapi ia berhasil menekan gejolak perasaan yang
hampir sampai kepermukaan dan kemudian mengendapkannya kembali.
Mahisa Murti memang sudah berniat untukmelupakan Sa si sama sekali.
Demikian, sebelum tengah malam, maka padepokan Bajra Seta telah
menjadi sepi. Para prajurit Singasariyang berada di padepokan
itu sudah tidur lelap. Demikian pula Mahisa Pukat telah berada di
atas pembaringannya meskipun ia masih belum tertidur. Yang masih
berjaga-jaga adalah para cantrik yang sedang bertugas. Mereka berada
di regol induk dan regol butulan dan dipanggungan disudut-sudut
dinding padepokan. Sementara itu setiap kali dua orang cantrik telah
meronda berkeliling halaman di sekitar padepokan mereka yang
tertidur ny enyak. Kecuali itu masih ada tiga gardu di kebun
belakang padepokan yang ditunggui oleh beberapa orang cantrik. Malam
itu terasa betapa lengangnya. Yang terdengar hanyalah suara
cengkerik dan bilalang di dedaunan. Dikejauhan terdengar gonggong
anjing liar yang berkeliaran mencarimangsa. Mahisa Pukat
yang tidak segera dapat tidur, akhirnya terlelap juga.
Demikian juga Mahisa Murti. Yang ju stru masih beberapa kali bangkit
duduk di pembaringannya adalah Mahisa Amping. Anak itu tidak tahu
kenapa ia tidak segera dapat tidur seperti bia sanya. Baru ketika
orang-orang yang bertugas di dapur mulai terbangun dan
mempersiapkan makan pagi bagi mereka yang akan berangkat ke
Singasari beserta para tawanan, Mahisa Amping
dapatmemejamkanmatanya. Sementara itu, kesibukan di dapur mirip
saat-saat Padepokan Bajra Seta menghadapi serangan. Para petugas di
dapur memang harus mempersiapkan makan dan minum bagi banyak orang,
termasuk para tawanan. Sebelum matahari terbit, maka nasi pun telah
masak. Sementara itu, para prajurit pun telah mempersiapkan diri.
Demikian pula para tawanan, betapa pun mereka merasa malas untuk
menempuh perjalanan ke Singasari dengan dikawal oleh sepa sukan
prajurit. Di sepanjang jalan mereka akan menjadi tontonan. Sedangkan
setiap orang akan mengetahui bahwa mereka adalah tawanan yang sedang
digiring oleh para prajurit. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain.
Bahkan di Padepokan Bajra Seta mereka telah diperlakukan dengan
baik, mereka telahmerasa berterima kasih. Sebelum mereka mulai
menempuh perjalanan, maka mereka pun telah dibawa ke dapur untuk
menerima makan pagi mereka, sementara para prajurit telah
dipersilahkan makan di pendapa. Nasi yang masih hangat dengan sayur
dan lauk yang masih hangat pula. Sementara para prajurit sedang
makan, maka para cantriklah yang mengawasi para tawanan yang
sedangmakan di sebelah dapur. Sejenak kemudian maka semuanya pun
telah siap di halaman depan Padepokan Bajra Seta. Para prajurit,
para tawanan dan Mahisa Pukat yang akan pergi ber sama para
prajurit itu. Dalam pada itu, meskipun Mahisa Amping belum terlalu
lama tidur, namun ia pun telah berada di halaman itu pula. Bahkan ia
sempatmendekati Mahisa Pukat sambil berkata, “Di sini kakang Mahisa
Murti seorang diri.” Mahisa Pukat mengusap kepala anak itu. Katanya,
“Aku tidak akan selamanya berada di Singasari.” Sementara Mahisa
Murti pun berkata, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa kakakmu Mahisa
Pukat sedang menyelesaikan satu tugas di Singasari? Jika segalanya
sudah selesai,maka kakakmu Mahisa Pukat akan segera kembali.” Anak
itu memejamkan matanya, seolah-olah ia sedang melihat sesuatu. Tidak
dengan mata wadagnya, tetapi dengan mata hatinya. “Apa yang
sedang kau renungkan?” bertanya Mahisa Murti. Anak itu menarik nafas
dalam-dalam. Dipandanginyawajah Mahisa Pukat. Tetapi ia
tidakmengatakan sesuatu. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti berpandangan
sejenak. Anak itu seolah-olah tahu apa yang sebenarnya dilakukan
oleh Mahisa Pukat selama ia berada di Singasari. Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat pun tidak mengatakan sesuatu. Mereka tahu bahwa anak
itu mempunyai kelebihan dengan penglihatan batinnya meskipun
kadang-kadang anak itu tidak tanggap akan maknanya. Tetapi Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat meyakininya, bahwa jika anak itu menjadi
semakin dewasa, maka day a urainya tentu akan menjadi semakin tajam
pula. Sejenak kemudian,maka Mahisa Pukat pun telah minta diri kepada
Mahisa Murti dan para cantrikyang juga berkumpul di sisi
halaman Padepokan Bajra Seta. Demikian pula para pemimpin prajurit
dan bahkan para tawanan. Tanpa diduga, Gemak Langkas telah melangkah
mendekati Mahisa Pukat yang berdiri di sebelah Mahisa Murti,
sehingga tiba -tiba Mahisa Pukatmenjadi tegang. Namun Gemak Langkas
itu kemudian berdesis setelah ia berhenti selangkah di hadapan
Mahisa Pukat, “Aku sudah minta maaf kepada Mahisa Murti yang
juga tersentuh akibat dendam yang menyala di dada guru. Aku
merasa masih berhutang jika aku belum minta maaf kepadamu. Bahwa
yang terjadi ini memang ber sumber dari kesalahanku. Tetapi api
yangmenyala sepeletik kecil itu telah disiram dengan minyak oleh
guru.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Gemak
Langkas berkata selanjutnya, “Aku mohon maaf sedalam-dalamnya serta
aku ingin menyatakan peny esalanku pula. Aku akan patuh mengikuti
segala perintah. Di Singasari aku sudah siap menerima segalamacam
hukumanyang paling pantasdiberikan kepadaku.” “Aku
mempercayainya,” desis Mahisa Murti, “Gurunya telah memanfaatkan api
yang telah dinyalakannya,yang hanya sepeletik kecil itu.
Empu Damar tidak hanya membawa dendamnya kemari. Tetapi
sebenarnyalah bahwa ia ingin merampok Padepokan Bajra Seta. Bahwa
persoalan Gemak Langkas adalah semata-mata satu alasan yang tidak
masuk akal. Bahkan persoalannya itu akan menelan korban yang cukup
banyak.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun diluar
sadarnya, anak muda itu telah memandang wajah Mahisa Amping yang
berkerut. Tetapi kemudian ia berkata kepada Gemak Langkas, “Akupun
percaya kepadamu. Aku memaafkan kesalahanmu. Tetapi aku tidak tahu
bagaimana sikap para Senapati di Singasari.” “Apapun yang akan
ditimpakan atasku, aku tidak menghiraukannya lagi. Bahwa kau telah
memaafkan kesalahanku kepadamu, hatiku telahmenjadi tenang.”
“Hutangmu telah kau lunasi,” desisMahisa Pukat. “Terima kasih,”
jawab Gemak Langkas, “dengan demikian, aku menjadi lebih tabah
menghadapi hukuman apa pun yang akan diberikan kepadaku.” Mahisa
Pukat hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat wajah Gemak
Langkas yang menjadi terang. Anak muda itu benar -benar merasa bahwa
ia tidak mempunyai beban lagi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
menyatakan untukmemaafkan kesalahan-kesalahannya. Dalam pada
itu,maka baik para prajurit Singasarimaupun para tawanan telah siap
untuk berangkat. Para prajurit menempuh perjalanan ke Singasari di
atas punggung kuda masing-masing, sementara para tawanan harus
berjalan kaki. Para pemimpin prajurit Singasari sepakat untuk
membiarkan para tawanan berjalan tanpa terikat tangan apalagi
kakinya. Para prajurit telah mengetahui letak Padepokan-padepokan
mereka sehingga jika mereka melarikan diri,maka
padepokanmerekalahyang akanmenjadi sa saran. Bahkan mungkin para
prajurit terpaksa mengambil langkah-langkahyang lebih
kerasuntukmencegah. Demikianlah, sejenak kemudian maka iring-iringan
dari Padepokan Bajra Seta itu pun mulai bergerak. Para tawanan yang
memandang jalan yang membujur panjang dalam keremangan fajar menjadi
berdebar-debar. Mereka harus berjalan menempuh perjalanan yang jauh
ke Singasari dalam keadaan yang pahit. Meskipun mereka tidak
terikat, tetapi setiap orang akan mentertawakan mereka sebagai
orang-orang yang digiring oleh para prajurit sebagaimana para
penjahat. Sementara itu para prajurit pun merasa malas untuk duduk
di atas punggung kuda, tetapi kudanya merangkak seperti
siputmengikuti iring-iringan para tawanan. Tetapimereka tidak
dapatmengelak, karena mereka sedang menjalankan tugas keprajuritan.
Sepeninggal para prajurit dan para tawanan, Padepokan Bajra Seta
memang terasa menjadi sepi. Apalagi perasaan Mahisa Amping yang
kecil itu. Kepergian Mahisa Pukat membuatnya merasa seakan-akan
kehilangan. Meskipun sebelumnya Mahisa Pukat sudah berada di
Singasari, tetapi ketika Mahisa Pukat kembali hanya untuk sehari,
terasa bahwa kepergiannya memang membuat sesuatu hilang dari
Padepokan Bajra Seta. Apalagi anak itu pun tahu, bahwa sebenarnya
Mahisa Murti pun merasa kehilangan pula. Namun agaknya Mahisa Murti
berusaha untuk menyembuny ikan perasaan itu. Diluar sadarnya, maka
Mahisa Amping kemudian seakanakan telah mengurung diri di dalam
bilik Mahisa Semu dan Wantilan yang terluka. Anak itu menunggui
mereka dan melayani keperluanmereka. Mahisa Murti agaknya
dapatmelihat pula gejolak perasaan anak itu. Namun bagi Mahisa Murti
perasaan itu dalam kadar yang berbeda terdapat pula pada setiap
cantrik di Padepokan Bajra Seta. Karena itu, maka Mahisa Murti
sendiri harus berusaha meny embuny ikan perasaannya itu. Mahisa
Amping jangan sampai melihat lagi bagaimana ia berusaha melarikan
diri dari perasaannya, karena hal itu akan sangat berpengaruh
terhadap perkembangan jiwa anak itu. Karena itu,maka Mahisa Murti
ingin mengisi perasaannya dan juga perasaan para cantrik dengan
langkah-langkah yang berarti. Dipanggilnya setiap pemimpin kelompok
cantrik Padepokan Bajra Seta. Dengan jelas Mahisa Murti menunjukkan
kelemahan para cantrik menghadapi serangan dari lawanyang
jumlahnya lebih besar. “Kita melihat bahwa para cantrik dari
Padepokan Ngancas lebih mementingkan kemampuan mereka secara
pribadi. Aku tidak mengatakan bahwa hal itu lebih baik dari cara
yang kita tempuh. Namun alangkah baiknya, jika kemampuan kita
bertempur dalam kerja sama yang mapan disertai kemampuan secara
pribadi yang lebih tinggi. Meskipun selama ini kita juga
memperhatikan kemampuan para cantrik secara pribadi, tetapi aku y
akin bahwa hal itumasih dapat ditingkatkan.” Dengan demikian, maka
Mahisa Murti telah memerintahkan untuk mempertinggi gelombang
latihan para cantrik Padepokan Bajra Seta. Mahisa Murti juga
memerintahkan untuk menyusun kembali susunan waktu latihan bagi para
cantrik sesuai dengan tataranmereka. “Kita juga harusmengetahui
tataran setiap orang di dalam Padepokan ini. Tataran kemampuan tidak
dapat diukur dengan waktu seberapa lama mereka berada di padepokan
ini. Tetapi sejak pekan mendatang, kita akan menyusun tataran para
cantrik menurut kemampuan mereka. Dengan demikian maka
latihan-latihan berikutnya akan dapat ditata kembali sesuai dengan
pengelompokan para cantrik itu.” berkata Mahisa Murti kemudian. Para
pemimpin kelompok itu pun mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa
kerja itu adalah kerja yang besar bagi Padepokan Bajra Seta.
Mereka harusmenilik orang perorang agar mereka dapat menyusun
pengelompokan yang paling cermat. Demikianlah,maka sejak saat yang
ditentukan, Padepokan Bajra Seta menjadi sibuk. Setiap pemimpin
kelompok harus melihat kembali para cantriknya untukmenempatkan
mereka pada kelompok-kelompok yang tepat. Seorang demi seorang
mereka harusmenunjukkan kemampuanmereka sejauh dapat mereka lakukan.
Dengan demikian,maka seluruh halaman padepokan telah dipergunakan.
Bukan saja sanggar tertutup dan sanggar terbuka. Tetapi juga
disudut-sudut halaman, kebun dan tempat -tempat terbuka lainnya.
Bahkan beberapa kelompok harus melakukannya di luar, karena tidak
ada tempat lagi dilingkungan dinding halaman padepokan. Tetapi, di
sekitar Padepokan Bajra Seta memang terdapat ara-ara yang cukup
luas. Selain tempat untuk menggembala ternak yang terdapat di
padepokan itu, ara-ara itu sengaja dibuat untukmemberikan batas
antara lingkungan padepokan dan lingkungan di sekitarnya. Ara-ara
itu juga memberikan jarak pandang yang cukup bagi isi
padepokan yang sedang mengawasi keadaan di sekitarnya.
Terutama jika ada musuh yangmendatanginya. Namun, ternyata
latihan-latihan itu telah menarik perhatian para penghuni padukuhan
di sekitar padepokan itu. Bahkan beberapa orang telah datang untuk
menanyakan, apakah bahaya masih saja mengancam padepokan itu
sehingga seisi padepokan harusmenempa diri. Mahisa Murti yang
menemui beberapa orang yang datang itu telah menjelaskan
persoalannya. Dengan sungguh-sungguh Mahisa Murti berkata,
“Sepengetahuanku, tidak ada ancaman lagi atas Padepokan ini. Kami
hanya ingin menutup kelemahan-kelemahan yang kami dapati dalam
pertempuran yang baru saja terjadi. Lebih dari itu, kami ingin
mengisi perasaan kehilangan setelah kepergian Mahisa Pukat. Setiap
kali para cantrik mempertanyakannya meskipun setiap kali aku sudah
memberikan jawabnya. Tetapi rasa-rasanya jawabku selalu tidak
memuaskan mereka. Latihan-latihan ini akan merampas segala pemusatan
perhatian serta nalar budi mereka, sehingga mereka tidak akan selalu
teringat kepada kepergian Mahisa Pukat yang memang sudah cukup
lama mengasuhmereka.” Orang-orang padukuhan itu mengangguk-angguk.
Seorang di antara mereka berkata, “Ya. Agaknya Mahisa Pukat telah
terlalu lama pergi.” “Beberapa hari yang lalu, ia datang
kemari bersama para prajurit Singasari yang mengambil para tawanan
itu. Tetapi juga hanya sehari sebagaimana para prajurit,” berkata
Mahisa Murti kemudian. “Apakah Mahisa Pukat sekarang menjadi seorang
prajurit?” bertanya salah seorang darimereka. “Tidak,” jawab Mahisa
Murti, “pada saatnya ia akan kembali ke padepokan ini.” Orang-orang
itu mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka berkata, “Jika
demikian, apakah kami, laki-laki dari padukuhan sebelah menyebelah
diperbolehkan ikut berlatih?” “Bukankah kalian telah melakukan
latihan-latihan keprajuritan meskipun tidak sedalam para prajurit?”
bertanya Mahisa Murti dengan ragu. “Ya. Tetapi apa salahnya
kamimemperdalam kemampuan kami? Dalam keadaan tertentu kami berjanji
untukmembantu padepokan ini sejauh dapat kami lakukan,” berkata
seorang di antara mereka. “Terima kasih. Telah banyak sekali bantuan
yang kalian berikan kepada kami. Bukan saja tenaga,
harta-benda, tetapi lebih dari itu. Kalian telah memberikan
anak-anakmuda yang terbaik dari padukuhan-padukuhan di sekitar
padepokan ini,” jawab Mahisa Murti. Lalu katanya, “Mereka telah
mempertaruhkan nyawamereka.” “Bukankah hal itu kita lakukan timbal
balik?” sahut salah seorang di antara mereka. Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sudah barang tentu kami tidak
merasa berkeberatan sama sekali untuk membantu kalian berlatih
memperdalam kemampuan kalian. Tetapi kami minta waktu sepekan untuk
mengatur dan mempersiapkan tenaga para cantrik agar kami dapat
memenuhi keinginan kalian dengan sebaik-baiknya.” “Kapanpun kami
mendapat kesempatan, kami mengucapkan terima kasih,” berkata salah
seorang dari mereka yang datangmenemui Mahisa Murti itu.
Dengan demikian maka baik Mahisa Murti,maupun orangorang dari
padukuhan telah mengatur persiapan untuk melakukan latihan-latihan.
Mereka telah membentuk kelompok-kelompok sebagaimana para cantrik di
padepokan. Ber sama Mahisa Murtimereka telah mengatur segala macam
ketentuan, pembagian waktu dan tempat bagi mereka yang akan berlatih
di padepokan Bajra Seta. Dengan demikian maka Mahisa Murti harus
meny isihkan tenaga beberapa orang cantrik terbaik untuk memberikan
latihan-latihan kepada anak-anakmuda dan orang-orang yang berniat
untuk meningkatkan kemampuan mereka. Ternyata bahwa latihan-latihan
itu mendapat perhatian yang sangat
besar.
|