[back to topmdi.net]

Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan

Welcome to topmdi - ebook collection 

Jilid 91 - 105

 Jilid 091
MURID-MURIDNYA itu mengangguk. Namun kemudian mereka menyadari, bahwa mereka akan dapat mengalami nasib yang  sama. Anak-anak muda dari Bajra Seta itu dapat membunuhnya jika mereka menghendaki. Tetapi ternyata Mahisa Murti berkata: “Kematian gurumu adalah tebu san bagi nyawamu. Kuburkan gurumu baik-baik. Kemudian terserah apa yang  akan kau lakukan. Apakah kau akan menyusul aku ke padepokan Bajra Seta atau kalian akan kembali ke padepokanmu sendiri. Tetapi kalian harus berjanji bahwa kalian tidak akan mengusik orang-orang padukuhan yang tidak ber sedia membantumu. Seandainya mereka melakukannya waktu itu, maka itu tidak ada artinya sama sekali. Justrumungkin kalian pun sudah terbunuh pula.” “Kamimengerti,” jawab seorang diantara mereka. “Sekarang, lakukanlah. Kubur guru kalian dengan baik,” desis Mahisa Murti. Kedelapan orang itu pun telah melakukan apa yang  dikatakan oleh Mahisa Murti, sementara Mahisa Murti dan saudara-saudaranya telah bergeser menjauh. Namun Mahisa Murti memang memerlukan waktu untuk beristirahat. Ia perlu memperbaiki keadaan tubuhnya yang bagaikan menjadi remuk itu. Karena itulah, maka mereka telah memilih untuk beristirahat di tanggul parit yang airnya mengalir deras dan bening. Mahisa Murti yang  tulang-tulangnya serasa menjadi retak itu telah membasahi tubuhnya. Kakinya, tangannya dan mukanya, sehingga terasa badannyamenjadi agak segar. Sambil duduk bersandar sebatang pohon yang tumbuh di tanggul parit itu, Mahisa Murti telah beristirahat sepenuhnya. Kakiny a yang terjulur, tangannya yang bersilang, memberinya kesempaatan untuk melepa skan diri dari segala macam ketegangan, sementara matanya sedikit terpejam. Mahisa Pukat sempatmeramu obat yang  dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh Mahisa Murti. Sehingga setelah ia minum obat itu meski pun dengan air parit yang disaring di atas daun lumbu dengan kainyang memang sudah tersedia bersama obat -obat yang  dibawanya, maka keadaan Mahisa Murtimenjadi berangsur baik. Tetapi Mahisa Murti tidak segera meneruskan perjalanan. Tetapi Mahisa Murtimasih ingin beristirahat beberapa lama. Sementara itu, kedelapan murid mPu Rangkut yang lemah itu telah dengan susah payah menggali sebuah lubang untuk mengubur guru mereka. Perasaan yang pahit benar-benar telah mencengkam jantungmereka. Ketika delapan orang itu selesai, maka mereka masih mendapatkan Mahisa Murti beristirahat di pinggir parit yang berair bening. Dengan ragu-ragu delapan orang itu mendekat. “Kalian akan mencuci kaki dan tangan?,” bertanya Mahisa Pukat. “Ya anakmuda,” jawab seorang diantaramereka. “Jangan terlalu dekat,” berkata Wantilari kemudian. Kedelapan orang itu pun kemudian telah turun ke parit untuk mencuci tangan dan kaki. Namun yang penting bagi mereka bukannya sekedar mencuci tangan dan kaki. Tetapi mereka ingin minta diri kepada Mahisa Murti dan saudara-saudaranya jika memangmereka delapan orang itu diampuni. “Pergilah,” berkata Mahisa Murti dengan nada yangmasih lemah, “tetapi ingat. Jangan melakukan kesalahan lagi. Mungkin sikap kami orang-orng Bajra Seta pada kesempatan lain akan berbeda.” “Kami berjanji,” jawab yang  tertua diantara mereka, “apalagi kini kami tidak lagi mempunyai seorang guru yang dapat menjadi tumpuan perlindungan bagi kami. Maka kami tidak akan berani berbuat apa -apa. Kami pun menyadari, bahwa orang yang mampu mengalahkan guru kami, tentu orang yang  memiliki ilmu lebih baik dari guru. Sudah tentu kami tidak akanmampu berbuat apa pun juga.” “Pergilah kepada saudara-saudara seperguruanmu. Jika ada diantara mereka yang  mendendam kepada orang-orang Bajra Seta, kamimenunggu.” Orang yang tertua diantara mereka menyahut: “Tentu tidak Ki Sanak. Jika kami menceriterakan apa yang terjadi, tentu kami akan mengatakan pula per soalan yang telah melibatkan kami dan guru dalam pertentangan ini.” “Tetapi kematian seorang guru kadang-kadang telah membakar perasaan seseorang sehingga kehilangan penalaran. Apa pun yang  kalian ceriterakan, mungkin justru akan menambah kemarahanmereka,” sahut Mahisa Murti. “Seandainya demikian, maka kami tidak akan termasuk diantaramereka,” berkata orang yang tertua diantaramereka. “Kau akan berkata lain jika kau sudah berada diantara saudara-saudara seperguruanmu,” desis Mahisa Pukat. Tetapi orang itu menggeleng. Katanya: “Tidak. Bukan karena kami orang yang tiba -tiba menjadi baik dan tahu berterima kasih. Tetapi kami tahu pasti, bahwa melawan kalian akan sama artinya dengan membunuh diri. Karena itu, maka kami akanmemilih untukmenghindar.” “Bagaimana jika saudara-saudara seperguruanmu memaksamu?,” bertanyaMahisa Pukat pula. “Kami akan terpaksa ikut. Tetapi kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami tahu, bahwa Bajra Seta tidak akan dapat ditembus. Ketika guru masih ada dan kalian belum kami temui di medan, kami sudah mengalami kesulitan menembus pertahanan padepokan Bajra Seta. Apalagi sekarang,” jawab orang itu. “Mudah-mudahan mereka sempat berpikir seperti kalian,” berkata Mahisa Pukat. Orang itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya: “Kami akan mencoba berbuat sebaik-baikny a agar mereka sempat berpikir dan mengerti apa yangmereka hadapi.” “Terima kasih,” desisMahisa Pukat. Delapan orang itu pun kemudian telah minta diri untuk kembali ke perguruan mereka. Mereka pun berjanji untuk tidak menakut-nakuti lagi orang-orang padukuhan dan tidak lagimemfitnah nama baik perguruan Bajra Seta. “Baiklah,” berkata Mahisa Murti dengan nada dalam: “aku percaya kepada kalian.” Sejenak kemudian, maka delapan orang itu pun telah meninggalkan Mahisa Murti dan saudara-saudaranya. Mahisa Murti sendiri masih duduk bersandar sebatang pohon di pinggir parityang mengalir deras dan bening. Namun setelah meneguk obat, maka rasa sakitnya pun menjadi berkurangmeski pun ia sadar, bahwa obat itu belum berarti peny embuhan. >>> Tanpa menunggu jawaban dari kawan-kawannya, seorang diantara mereka telah berlari menemui Mahendra. Orang itu. memberi laporan terperinci tentang apa yang  dilihatnya. “Lima orang. Seorang diantaranya masih kanak-kanak,” berkata orang itu kemudian. “Jika mereka berniat buruk, mereka tentu tidak mengajak kanak-kanak,” jawab Mahendra. “Tetapi kemungkinan lain dapat terjadi,” berkata orang yangmelaporkan itu. Mahendra yang  tua itu dapat mengerti. Belum lama padepokan mereka telah mendapat serangan. Karena itu, maka orang -orang Bajra Seta itumenjadi sangat berhati-hati. Karena itu, maka Mahendra pun kemudian berkata: “Baiklah. Aku akan pergi ke panggungan di belakang dinding di dekat pintu gerbang itu. Sejenak kemudian, maka Mahendra pun telah berada di tempat para pengawas itu. Dilihatnya lima orang yang berjalan semakinmendekat. Mahendra itu pun kemudian telah menggosok matanya. Seakan-akan ia tidak percaya kepada penglihatannya. Karena itu, ia pun berkata sambil melangkah turun dari tempat itu: “Aku akan melihat, siapakahmereka itu.” Dengan tergesa-gesa Mahendra telah pergi ke pintu gerbang dan langsung memerintahkan membuka pintu gerbang itu. Demikian pintu gerbang terbuka, maka Mahendra telah menghambur keluar. Kelima orang itu menjadi semakin dekat. Mereka pun telah mempercepat langkah mereka, sehingga kemudian mereka sampai di tempat yang  lebih terbuka di muka pintu gerbang. “He, jadi kalian telah kembali,” Mahendra hampir berteriak. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tidak sabar lagi. Mereka pun kemudian berlari-lari ke arah orang berdiri di depan pintu gerbang serta memanggilmereka. Beberapa orang penghuni padepokan itu pun menyusul Mahendra keluar dari padepokan. Namun mereka pun segera mengenali, dua dari kelima orang yang  datang itu. Demikian mereka sampai ke depan Mahendra,maka kedua orang anakmuda diantara kelima orang itu segera berjongkok. Namun Mahendra pun telah menarik mereka berdiri dan memeluk kedua anakmuda itu bersama-sama. “Aku mengucapkan selamat datang kepada kalian,” berkata Mahendra. “Ayah,” desis Mahisa Murti. Suaranya bagaikan tersumbat di ker ongkongan. “Aku sudah sangat lama menunggu kalian,” berkata Mahendra. “Kamimohon maaf,” sahut Mahisa Murti. “Marilah. Kitamasuk,” ajak Mahendra. Mahisa Pukat pun kemudian berkata: “Kami datang ber sama tiga orang saudara kami. Dua orang kami anggap sebagai adik kami, seorang kami anggap sebagai paman kami.” “Merekalah yang  kalian cari selama ini?,” bertanya Mahendra. “Kami tidak tahu ayah,” jawab Mahisa Murti, “rasa-rasanya kami belum puas. Tetapi kami sudah sangat lama meninggalkan padepokan ini, sehingga kami memutuskan untuk segera kembali. Namun agaknya anak itu memiliki sedikit harapan.” Mahendra mengangguk-angguk. Ia pun kemudian melangkah mendekati ketiga orang yang  baru-dikenalnya itu sambil berkata: “Marilah Ki Sanak. Aku persilahkan kalian memasuki padepokan kami.” Mahisa Pukat pun kemudian berkata: “ Ini adalah ayahku.” Mahisa Semu,Wantilan dan Mahisa Amping pun kemudian telah mengangguk hormat. Hampir berbareng mereka menjawab: “Terima kasih.” Mahendra pun telah mengajak ketiga orang itu bersamasama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki padepokannya. Sementara itu para penghuni padepokan yang melihat kedatangan kedua orang anak muda itu menjadi ramai. Beberapa orang telah berdesakan untuk memberikan pernyataan hati mereka yang  tulus, bahwa mereka sangat gembira ataskedatangan kedua putera Mahendra itu. “Kalian terlalu lama pergi,” berkata seseorang. “Ki Mahendra selalu berharap kalian segera kembali. Ada banyak hal yang  nampaknya mengganggu perasaannya. Apalagi barubaru ini telah terjadi serangan atas padepokan ini.” “Sekarang kami telah kembali,” sahut Mahisa Murti. Demikianlah, kedatangan kedua orang anak muda itu disambut dengan gembira oleh orang-orang padepokan itu. Orang-orang yang berada diatas panggung yang  mula-mula melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah datang pula menemui keduanya. Mereka ternyata minta maaf, bahwa mereka tidak segera dapat mengenali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Jaraknya terlalu jauh untuk dapat melihat wajah-wajah mereka,” berkata orang yang  bertugas itu. Lalu katanya: “Baru kemudian, setelah mereka menjadi dekat, kami dapat mengenalinya. Mungkin bahwa karena mereka berlima itu juga berpengaruh, kenapa kami t idak segera sampai kepada dugaan mereka berdua kembali. Ternyata mereka memang benar-benar telah kembali.” Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah diajak pergi ke bangunan induk padepokan itu ber sama Mahendra, sementara orang yang  bertugas itu pun kembali ke tempat tugasmereka. Di pendapa, Mahendra telah menyambut kedua orang anaknya dan tiga orang yang  datang bersamanya dengan gembira. Namun di wajah orang itu nampak bayangan kemuramanyang  kadang-kadang ingin disembuny ikan. Hampir diluar sadarnya Mahisa Pukat telah bertanya: “Ayah nampak terlalu tua “ Mahendra tertawa. Katanya: “Bukan nampak terlalu tua. Akumemang sudah tua.” “Maksudku, lebih tua dari umur ay ah yang sebenarnya,” berkata Mahisa Pukat pula. Tetapi Mahendra menggelengkan kepalanya. Kemuraman itu kembalimembayang diwajarinya. Bahkan Mahendra tidak lagi berhasil meny embunyikannya lagi. “Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya sekarang,” berkata Mahendra: “tetapi sulit bagiku untuk bertahan.” Kedua orang anaknya itu pun termangu-mangu. Namun kemudian Mahisa Murti pun mendesak: “Ay ah. Aku kira ay ah tidak usah menahan diri terlalu lama. Mungkin lebih baik jika ay ah segera mengatakannya. Ada dua keuntungan yang  kita dapatkan jika ay ah berkata sekarang juga. Ayah sendiri tidak merasa terlalu berat membawa beban, sedangkan kami pun tidak lagi menjadi berdebar-debar, sehingga rasa-rasanya tulang-tulang iga kamimenjadi retak.” Mahendra mengangguk-angguk. Namun ia tidak segera mengatakannya karena seorang cantrik telah menghidangkan minuman dan makanan. Baru kemudian, setelah meneguk minuman hangat dan makan beberapa potongmakanan, Mahendra berkata: “Anakanakku. Ternyata bahwa kalian tidak akan sempat lagi bertemu dengan pamanmu Mahisa Agni danWitantra.” Kedua anak muda itu menjadi tegang. Meski pun belum dikatakannya, namun keduanya segera tanggap. Justru karena Mahisa Agni danWitantra sudah terlalu tua. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian bertanya dengan nada tertahan: “Apakah keduanya telah tidak ada? “ “Ya,” jawab Mahendra: “hampir bersamaan. Hanya ber selisih dua pekan saja. Pamanmu Mahisa Agni telah meninggal lebih dahulu. Baru kemudian pamanmu Witantra. Namun yang hampir sama pada keduanya, wajah tua mereka nampak ter senyum. Keduanya seakan-akan hanya sedang tertidur ny enyak. Pemberitahuan itu memang menghentak jantung kedua orang anak muda itu. Hampir di luar sadarnya Mahisa Murti bertanya: “Apakah kakang Mahisa Bungalan sudah tahu? “ “ Ia datang pada saatnya,” jawab Mahendra, “tetapi tidak seorang punyang  tahu dimana kalian berdua. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menundukkan kepalanya, sebenarnyalah mereka telah melakukan pengembaraan tanpa diketahui arahnya. Seandainya terjadi sesuatu di perjalanan, maka ayah dan kakakmereka hanya dapatmenunggu sampai waktu yang tidak akan pernahmereka jumpai. Tetapi kini mereka telah kembali. Namun ada yang  telah hilang sehingga mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Orang-orang yang sangatmereka hormati. Mahisa Agni dan Witantra adalah orang -orang yang  memiliki ilmu yang  sangat tinggi. Namun ilmu mereka, betapa pun tingginya tidak akan pernah dapat melindungi mereka dari jangkauanmaut. “Sudahlah,” berkata Mahendra kemudian, “maut akan menjemput siapa saja pada waktunya. Aku kira yang terjadi ataskedua pamanmu itu adalahyang  terbaik bagimereka.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmengangguk-angguk. Sementara itu, Mahisa Semu,Wantilan dan Mahisa Amping mencoba untuk ikut dapat merasakan suasana itu. Tetapi karena mereka belum pernah bertemu dengan orang2 yang bernama Mahisa Agni danWitantra,makamereka tidak dapat membayangkan betapa dalamnya kepedihan hati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dalam suasana yang masih dibayangi oleh berita duka itu, maka Mahendra pun bertanya, apa saja yang telah dilakukan oleh anak-anaknya. Namun jawaban Mahisa Murti cukup singkat: “Kami menjalani laku Tapa Ngrame, ayah.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Bagus anak-anakku. Bagiku laku yang  paling baik adalah laku yang telah kalian jalani selain laku yang  khusus memang harus dijalani untuk satu kepentingan, khususnya dalam menimba ilmu.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk2 kecil. Ternyata ay ahnya telahmembenarkan pilihan mereka. Apalagi ketika Mahisa Murti dari Mahisa Pukat berganti-ganti menceriterakan penglaman mereka secara singkat. “Jika kami menceriterakan semuanya, maka akan memerlukan waktu lebih dari tiga hari tiga malam,” berkata Mahisa Pukat kemudian." Mahisa Murti memandanginya sejenak. Namun ia pun berkata pula: “Memang banyak sekali yang  ingin aku sampaikan kepada ay ah.” Mahendra mengangguk2. Sementara itu, perhatiannya mulai tertuju kepada sepasang pedang yang  ada pada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Meski pun serba sedikit hal itu sudah diceriterakan, namun agaknya ay ahnya masih memerlukan beberapa penjela san. “Kami akan menceriterakannya secara khusus ayah,” berkata Mahisa Murti. Mahendra mengangguk-angguk. Ia tahu bahwa anakanaknya itu sudah letih bercerita dan menjawab pertanyaanpertanyaan. Karena itu, maka Mahendra pun berkata: “Baiklah. Sekarang kalian membersihkan diri. Kemudian beristirahatlah sebaik-baikny a sementara para cantrik menyediakan makan bagi kalian.” Kelima orang itu pun kemudian telah membersihkan diri. Mereka benar-benar merasa letih ju stru setelah mereka sampai ke padepokan Bajra Seta. Rasa -rasanya kaki mereka menjadi semakin berat. Sejenak kemudian, maka kelima orang itu telah selesai berbenah diri. Mereka berlima ber sama Mahendra dan orangorang yang  ikut memimpin padepokan itu telah bersiap-siap untukmakan ber sama sambil mengucap syukur kepada Yang Maha Agung, bahwa pemimpin-pemimpin mereka telah tiba dari pengembaraan. “Anak-anak,” berkata Mahendra setelah mereka selesai makan: “Orang-orang yang hadir akan menjadi saksi bahwa aku telah mengembalikan pimpinan padepokan yang  kau titipkan kepadaku ini.” Tetapi Mahisa Murti menggeleng sambil berkata: “Jangan sekarang ayah. Kami masih harus mempersiapkan diri kami sebaik-baiknya. Baru kelak setelah kami siap, kami akan menerima pimpinan itu.” Mahendra mengangguk-angguk. Ia mengerti alasan anaknya. Karena itu,maka ia pun bertanya: “Berapa hari kau memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri ?” bertanya Mahendra.. “Paling sedikit sepekan ayah,” jawab Mahisa Murti. Mahendra mengangguk-angguk. Namun ia sama sekali tidak merasa ragu untuk menyerahkan pimpinan itu kepada anakanaknya. Apalagi padepokan itu memang didirikan atas kehendak anak-anaknya. Demikianlah,maka selama lima hari yang  diminta, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengajak Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping untuk melihat-lihat isi padepokan. Mereka telah dibawa ke sanggar terbuka dibagian belakang dari halaman padepokanyang  sangat luas itu. “Meny enangkan sekali,” teriak Mahisa Amping sambil berlari-larimengelilingi sanggar itu. “Di sudut yang lain, masih terdapat sanggar tertutup,” berkata Mahisa Murti kepada Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping. “Menarik sekali. Aku akan banyak mendapat kesempatan untuk berlatih. Jika tidak di sanggar terbuka ini, aku dapat berlatih di sanggar tertutup.,” desis Mahisa Amping. Mahisa Murti tersenyum. Katanya: “Ya, kita akan dapat mempergunakannya. Tetapi sanggar itu dipergunakan oleh banyak orang. Seluruh isi padepokan ini berlatih di sanggar terbuka atau tertutup.” “Tetapi sanggar ini pada suatu saat kosong seperti ini,” berkata Mahisa Amping. “Untuk hari-hari tertentu. Dihari lain, sanggar ini selalu penuh,” jawab Mahisa Murti. Tetapi katanya selanjutnya: “Tetapi itu bukan berarti bahwa kita tidak akan mendapat kesempatan. Sanggar ini cukup luas sehingga sekelompok orang dapat latihan bersama-sama. Mahisa Amping mengangguk-angguk. Tetapi ia masih berdesis: “Tetapi kita lebih senang berlatih tanpa dilihat orang lain.” Mahisa Murti tertawa. Katanya: “Baiklah. Kita akan sekalisekali berlatih untuk meningkatkan kemampuan kita. Bukan untukmenjadi tontonan.” Demikianlah, dalam lima hari rasa-rasanya isi padepokan itu belum mampu dilihat secara keseluruhan. Tetapi segala sesuatunya yang  paling penting telah diketahuinya. Namun dalam pada itu, Mahendra telahmemanggilmereka dan bertanya: “Apakah kalian sudah cukup beristirahat, kemudian sudah siap untukmenerima kembali kepemimpinan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat atas padepokan itu.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak, sementara Mahendra berkata: “Kalian seharusnya mengerti, terutama menyadari, bahwa kalianlah yang  telah mendirikan padepokan ini.” “Ya ayah,” jawab Mahisa Murti. “Karena itu, kalian harus menerima kembali pertanggungjawaban kalian yang  telah mendirikan sebagai padepokan, untuk mengatur dan membimbing para cantrik yang jumlahnya cukup besar.” “Kami mengerti ay ah,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. “Jadi kalian sudah siap?,” bertanya Mahendra. “Siap atau belum siap, tetapi segala sesuatunya merupakan usaha yang sebaik-baiknya yang  telah kami lakukan,” jawab Mahisa Murti. “Bagus. Jika demikian, sore nanti kita akan mengadakan pertemuan khusus bagi para pemimpin padepokan ini. Aku akan meny erahkan kembali kembali kekuasaan atas padepokan itu kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.” “Tetapi ketika aku menyerahkan pimpinan kepada ay ah, bukankah tidak ada upacara sama sekali ?,” bertanya Mahisa Pukat. “Ya. Tetapi kali ini memang agak lain,“ jawab Mahendra yang untuk sementara memimpin padepokan itu. Mahisa Murti tidak dapat menolak rencana ayahnya. Ayahnya ingin meny erahkan kembali pimpinan padepokan itu di hadapan para penghuni padepokan. Para cantrik dan ketiga orang yang  datang bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi yang  penting bagi Mahendra tentu bukan upacara peny erahan itu sendiri. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata menangkap maksud ay ahnya itu dari sisi yang  lebih dalam. Ay ah mereka inginmemberikan tekanan kepada kedua anaknya, bahwa mereka harus lebih banyak berbuat bagi perguruan itu serta mempertanggung -jawabkannya. Dengan upacara itu ay ah mereka ingin mengatakan: “Kalian adalah pemimpin dari padepokan dan sekaligus perguruan Bajra Seta.” Demikianlah, maka menjelang matahari turun ke balik bukit, orang-orang seisi padepokan itu telah berkumpul. Bukan hanya beberapa orang pembantu Mahendra memimpin padepokan itu, tetapi ternyata semua orang telah diminta untuk hadir di halaman depan padepokan itu. Tetapi ternyata para cantrik juga telah menyiapkan makanan dan minuman dalam pertemuan itu. Beberapa ekor ay am telah dikorbankan. Sementara itu, dapur padepokan itu pun telahmenjadi sibuk. Upacara peny erahan itu sendiri tidak berlangsung terlalu lama. Namun Mahendra sempat berbicara di hadapan para penghuni padepokan itu: “Sejak saat ini, maka pimpinan padepokan sekaligus perguruan Bajra Seta ada di tangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.” Orang-orang yangmenghadiri pertemuan kecil itu bertepuk tangan. Sementara itu jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terasa bergejolak. Seperti yang sudah mereka duga sebelumnya, upacara yang  dibuat oleh ay ahnya itu adalah sekedar tekanan jiwani bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk lebih banyak berbuat dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab terhadap padepokan dan perguruan yang mereka dirikan. Meski pun tidak terucapkan, namun ayahnya itu ingin berkata kepada keduanya: “Kalian tidak sekedar bermainmain.” Demikianlah upacara itu berlangsung dengan lancar dan meriah. Semua orang merasa gembira, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah kembali di tengah-tengah mereka. Sejak saat itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan melakukan tugasmereka sebagai pemimpin padepokan itu. Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping memperhatikan upacara itu dengan saksama. Namun dengan demikian mereka menyadari bahwa untuk selanjutnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak hanya memperhatikan mereka bertiga, tetapi juga orang-orang lain di padepokan itu. Mahisa Amping justrumenjadi gelisah. Apakah sepertiyang  dikatakan Mahisa Murti sebelumnya bahwa ia akan dapat mempergunakan sanggar itu tanpa orang lain? Sementara pertemuan itu menjadi semakin riuh serta makanan dan minuman sudah dibagikan. Mahisa Amping merasa bahwa dunianya menjadi semakin sepi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan tidakmemperhatikannya lagi. Tetapi ketika ia melihat Mahisa Semu dan Wantilan yang  duduk sedikit terpisah dari orang -orang padepokan itu, karena mereka memang belum begitu akrab dengan mereka, Mahisa Amping pun merasa bahwa ia masih mempunyai setidaktidaknya dua orang kakak dan paman yang  akan memperhatikannya. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah ikut pula bergembira bersama seisi padepokan itu. Namun disamping itu, keduanya pun merasa bahwa mereka harus lebih menyadari kedudukanmereka. Ternyata pertemuan itu berlangsung sampai malam hari. Menjelang tengah malam, maka Mahendra baru menyatakan bahwa pertemuan itu sudah selesai. Malam itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang agak melupakan Mahisa Semu, Wantilan dan Mahisa Amping, sehingga keduanya tidak melihat ketiga orang itu telah kembali ke dalam biliknya. Di hari berikutnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai dengan tugasny a yang  sibuk. Meski pun ia tidak lagi melupakan Mahisa Amping, namun sudah tentu sikapnya menjadi agak berbeda. Di perjalanan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dibebani oleh tugas-tugas yang mengikatnya sebagaimana di dalam padepokan itu. Tetapi yang memperhatikan anak itu lebih banyak adalah justru Mahendra. Mahendra yang telah meletakkan tugasnya, mempunyai banyak waktu yang  luang, sehingga justru dipergunakan untukmenemani anak itu. Dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat Mahendra telah mendengar beberapa hal tentang kelebihan anak itumeski pun tidak selalu demikian. Kadang-kadang kelebihan itu tidak tampak sama sekali. Namun tiba -tiba saja ada sesuatu yang tidak dapat dimengerti tampak pada anak itu. Karena itu maka Mahendra pun ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang anak itu. Sedangkan Mahisa Semu dan Wantilan pun mendapatkan beberapa kesempatan langsung dari Mahendra meski pun tidak terlepas dari bimbingan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dalam keterbatasannya. Perhatian Mahendra kepadanya, membuat Mahisa Amping menjadi berminat kembali terhadap masa depannya. Hampir sa ja Mahisa Amping merasa tidak berarti apa -apa lagi. Ia sudah mulai bertanya, untuk apa ia datang ke padepokan itu. Apalagi kemudian ia menyadari, bahwa ia tidak lagi dapat berlatih bersungguh-sungguh dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Apalagi mempergunakan sanggar terbuka atau sanggar tertutup tanpa orang lain. “Mereka sekarang lebih memperhatikan orang-orang padepokan ini daripada aku,” berkata Mahisa Amping di dalam hatinya. Namun, selagi sikapnya mulai berubah sehingga ia tidak lagi memperhatikan latihan-latihan dan ilmu kanuragan, Mahendra mulaimemperhatikannya. “Amping,” berkata Mahendra pada suatu pagi, “kenapa kau masih duduk saja di situ? “ Mahisa Amping mengerutkan keningnya. Dengan nada rendah iamenjawab: “Kepalaku agak pusing.” Mahendra tersenyum. Ia pun duduk di sebelah anak itu. Dengan penuh pengertian ia bertanya: “Apakah kau tidak ingin latihan di sanggar terbuka pagi ini? “ “Bukankah sanggar itu baru dipakai?,” bertanya anak itu pula. “Kau dapat latihan di tempat lain. Apakah latihan itu harus dilakukan di sanggar?,” desak Mahendra. Mahisa Amping memperhatikan Mahendra itu sejenak. Namun ia pun berkata: “Kakang Mahisa Murti dan kakang Mahisa Pukatmasih sibuk. Bahkan selalu sibuk dalam latihanlatihan dengan seluruh isi padepokan ini. Mungkin Mahisa Amping tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi.” Mahendra tertawa. Katanya: “Kau sudah menjadi semakin besar. Kau harus dapatmeningkatkan kemampuanmu sendiri. Kau harus mulai mencoba untuk tidak tergantung kepada orang lain.” “Tetapi apa arti seorang yang  berguru kepada orang lain?,” bertanya anak itu dengan jujur. Mahendra justru tertarik sekali kepada keterbukaan hati anak itu. Karena itu,maka ia pun menjawab: “Seseorang yang berguru kepada orang lain harus membuka diri menerima pewarisan ilmu dari orang yang  menjadi, gurunya. Tetapi ia pun harus menjalani laku yang berat. Patuh dan tunduk kepada gurunya, mendengarkan semua petunjuknya dan mencobamelakukan semua perintahnya.” “Apakah dengan demikian seseorang yang  berguru tidak akan pernah dapat hidup tanpa tergantung kepada orang lain, meski pun orang itu adalah gurunya?,” bertanya anak itu. Mahendra menggelengkan kepalanya. Ia pun tertawa semakin panjang. Katanya: “ Jangan mengambil kesimpulan seperti itu. Di saat seseorang berguru, maka gurunya harus mengajarnya mandiri. Selangkah demi selangkah. Namun akhirnya, seseorang memang harus tidak bergantung lagi kepada orang lain. Tetapi aku tidak bermaksud bahwa tibatiba saja seseorang harus lepas dari ketergantungan. Terutama dalam meningkatkan ilmunya. Jika tadi aku katakan kepadamu bahwa kau sudah semakin besar dan sebaiknya dapat meningkatkan ilmumu adalah karena keterbatasan waktu dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dalam keterbatasan waktu itu, kau jangan kehilangan waktu untuk sekedar menunggu. Kau dapat mengisi waktumu untuk berlatih tanpa salah seorang dari kedua kakakmu itu.” Mahisa Amping termangu-mangu. Tetapi sebenarnya ia memang merasa kecewa. Mungkin ia dapat berlatih sendiri, tetapi dengan demikian,maka ilmunya tidak akan dapat cepat meningkat. Atau setidak-tidaknya merambat dengan wajar. Tanpa bimbingan seseorang maka ilmunya akan meningkat dengan sangat lamban. Mahisa Semu dan Wantilan, yang  juga kehilangan banyak kesempatan untuk berlatih langsung bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, berusaha untuk membaur dengan para cantrik dan berlatih bersama dengan mereka. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu, Mahendra memberikan beberapa petunjuk dan latihan secara khusus. Mahisa Amping mula-mula kurang berminat ketika Mahendra membawanya ke sanggar tertutup sambil berkata: “Berlatihlah. Aku akanmelihat, apa yang telah kau pelajari.” Mahisa Amping memang tidak menolak. Tetapi ia melakukan dengan setengah hati. Ketika Mahendra minta anak itu mulai menunjukkan kemampuan ilmunya, maka Mahisa Amping pun telah melakukannya. Tetapi tidak sepenuhnya. Tidak ada kesan kesungguhan dan tidak ada tekanan pada setiap unsur geraknya. Mahendra mengetahui hal itu. Karena itu, maka ia pun merasa berkewajiban untuk membangunkan anak itu dari kemalasannya karena ia merasa kecewa akan dirinya sendiri. Dengan nada lembut Mahendra berkata: “Marilah. Kita berlatih bersama.” Mahisa Amping sama sekali tidak tahu tingkat kemampuan Mahendra. Ia memang mengetahui bahwa selama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pergi, Mahendra, ay ah kedua orang anak muda itulah yang  menggantikannya. Tetapi baginya ia bukan ukuran kemampuan dan tingkat ilmu dari orang tua itu. Menurut pendapat Mahisa Amping, Mahendra adalah seorang tua yang memiliki pengalaman yang luas, tetapi tidak memiliki kemampuan ilmu seperti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, karena bagi anak itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah orang yang memiliki ilmu tanpa tanding. Apalagi melihat ujud wadagnya. Mahendra sudah terlalu tua untuk mendukung ilmu yang tinggi. Karena itu, ketika Mahendra mengajaknya berlatih bersama maka Mahisa Amping hanyamengangguk saja tanpa,merubah sikap dan ungkapan ilmu kanuraganyang  telah dipelajarinya. Mula-mula Mahendra mengikuti saja sebagaimana dilakukan Mahisa Amping. Namun kemudian Mahendra mulai menyentuh tubuh anak itu. Bahkan kemudian, sentuhan tangannya punmulai terasa sakit. Mahisa Ampingmengerutkan keningnya. Perasaan sakit itu datang beberapa kali sehingga Mahisa Amping mulai sadar, bahwa ia harus lebih bersungguh-sungguh dalam latihan itu, agar kulitnya tidakmenjadi semakin biru lembab. Tetapi meski pun Mahisa Amping kemudian bersungguhsungguh, namun ia sama sekali tidakmampu mengelak ketika serangan Mahendra yang  tua itu datang semakin cepat. Tangannya pun semakin sering mengenainya. Semakin lama semakin sakit. Mahisa Amping menjadi marah ketika tangan Mahendra menampar keningnya, sehingga kepala anak itu menjadi pening. Namun bagaimana pun juga, Mahisa Amping tidakmampu menyentuh tubuh Mahendra yang tua,yang  nampaknya hanya bergeser setapak-setapak. Tetapi akhirnya Mahisa Ampingmenjadi sangat letih tanpa berhasil meny entuh tubuh orang tua itu. Dengan nafas yang terengah-engah Mahisa Amping berdiri sambil menekan pinggangnya dengan kedua tangannya. Namun Mahendra masih belum selesai. Ia ingin meyakinkan anak itu, bahwa ia pun akan dapat memberikan tuntunan kanuragan sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu, ketika Mahisa Amping yang  kecil itu tidak lagi mampu berbuat sesuatu, maka Mahendra pun tidak lagi menyerangnya. Tetapi Mahendra telah melakukan semacam latihan seorang diri dengan mengungkapkan unsur-unsur gerakyangmemangmengejutkan bagi Mahisa Amping. Bahkan kemudian Mahendra telah mempergunakan tonggak tonggak yang  ditanam tegak dengan ketinggian yang berbeda. Kemudian meniti tali-tali yang bergayutan di bagian atas sanggar, sementara itu, beberapa kali Mahendra telah menunjukkan unsur-unsur gerak yang  tidak masuk di akal anak itu. Bahkan kemudian Mahendra telah menggapai sebatang tongkat besi dan sekaligus dengan kekuatan yang diluar penalarannya,membengkokkannya sampai kedua ujung dan pangkalnya bertemu. Mahisa Amping berdiri bagaikan membeku. Ia sama sekali tidak mengerti bagaimana mungkin hal seperti itu dapat terjadi. Tetapi matanya telah melihatnya bahwa hal itu memang terjadi. Beberapa saat kemudian, maka Mahendra itu pun telah menghentikan latihan-latihan yang  sangat menarik bagi Mahisa Amping itu. Demikian Mahendra berhenti melakukan latihan yang  diluar penalaran anak itu,maka Mahisa Amping pun tiba-tiba sa ja telah berlutut dan berkata: “Luar biasa. Aku tidak y akin akan penglihatanku sendiri.” Mahendra tersenyum. Katanya: “Bukan apa-apa. Hanya sebuah latihan untuk mengingat kembali da sar-dasar ilmu gerak sebagaimana aku pelajari ketika akumasih anak-anak.” “Aku tidak dapatmengerti bagaimana hal itu dapat terjadi,” desis Mahisa Amping. Sambil menarik Mahisa Amping untuk berdiri Mahendra berkata: “Kau pun dapatmempelajarinya.” “Aku?,”mata anak itu terbelalak. Mahendra tertawa. Jawabnya: “Tentu. Kau sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat semasamasih kanak-kanak.” “Apakah Ki Mahendra yang mengajarnya?,” bertanya anak itu. “Ya. Anak-anakku adalah murid-muridku kecuali seorang yangmendapat guru yang  lain,” jawab Mahendra. Mahisa Amping termangu-mangu. Dengan nada ragu ia bertanya: “Apakah aku dapat belajar juga? “ Mahendra tertawa. Katanya: “Kau. akan belajar pada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi jika keduanya sibuk, maka aku akan dapatmembantunya.” Wajah anak itu menjadi cerah. Ia melihat harapan baru setelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmenjadi terlalu sibuk dengan tugas-tugasnya sehingga tidak lagimempunyai banyak waktu untuk membimbingnya, meski pun bagi para cantrik, Mahisa Amping termasukmurid yang lebih banyakmendapat kesempatan. “Baiklah,” berkata Mahendra, “agaknya latihanmu sudah cukup hari ini. Besok kita akan mengadakan latihan lagi jika sanggar ini tidak terpakai.” Tetapi sebelum keduanya keluar dari sanggar, pintu sanggar telah terbuka. Mereka melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berdiri diluar pintu. “Apakah Amping ada disini?,” bertanya Mahisa Murti. Mahendra tersenyum. Sambilmenjuk Mahisa Amping yang  masih berada di dalam sanggar ia berkata: “ Ia ada disini. Aku melihat bagaimana ia bermain-main.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melangkah masuk. Dilihatnya anak itu telah nampak letih, sehingga karena itu, maka keduanya mengurungkan niatnya untuk berlatih ber sama anak itu. “Kau baru saja berlatih?,” bertanya Mahisa Murti. “Aku membawanya ke sanggar,“ Mahendralah yang  menjawab, “aku ingin mengisi waktunya selagi anak itu menunggu kalian.” “Kami sedang sibuk,” jawab Mahisa Pukat. “Aku mengerti. Itulah sebabnya aku mewakilimu,” jawab Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih akan menjelaskan. Tetapi Mahendra telah berkata: “Amping. Kau dapat pergi ke pakiwan. Mandi dan kemudian berbenah diri.” Mahisa Amping pun kemudian meninggalkan sanggar itu pergi ke pakiwan. Demikian anak itu keluar dari sanggar, maka Mahendra pun berkata: “Ia telahmenjadi semakinmaju.” “Tetapi kami mempunyai kesibukan yang  lain kecuali membina anak itu,” berkata Mahisa Pukat. “Aku tahu. Bukankah aku tidak menyalahkanmu? Aku hanya mengisi waktunya yang  luang. Aku melihat anak itu duduk termenung. Katanya kepalanya merasa pening. Lalu aku ajak anak itu ke sanggar. Kegembiraannya segera timbul. Dan ia tidakmerasa pening lagi,” jawab Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmengangguk-angguk kecil. Namun Mahisa Murti masih juga berkata: “Aku sama sekali tidak melupakan anak itu ayah. Tetapi bukankah aku harus menyelesaikan semua kewajibanku di padepokan dan perguruan ini? “Berapa kali sudah aku katakan, bahwa aku tidak menyalahkan kalian. Tetapi barangkali perlu aku peringatkan, untuk apa kalian pergi meninggalkan padepokan ini untuk waktu yang lama sehingga kalian tidak sempat melihat keadaan terakhir kedua pamanmu?,” bertanya ayahnya. Kedua anak muda itu termangu-mangu sejenak. Tetapi pertanyaan ayahnya itu telah menyentuh perasaan keduanya. Keduanya meninggalkan padepokan itu untuk mendapatkan satu dua orang yang  akan ditempanya menjadi salah seorang dari inti kekuatan padepokan itu. Keduanya ingin mendapatkan bahan yang masih dapat dianggap murni, sehingga dapat mereka bentuk sesuai dengan keinginan mereka bagi kepentingan perguruan Bajra Seta. Karena kedua anakmuda itu masih berdiam diri,maka Ma - hendra pun berkata: “Tetapi jangan cemas. Kalian dapat melakukan tugas kalian sebaik-baiknya. Aku dapatmembantu mengurus anak itu.” “Tetapi ....,” Mahisa Murtimenjadi ragu-ragu. “ Ingat, bukankah aku juga yangmeletakkan dasar ilmu bagi kalian,” potong Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmengangguk kecil. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata: “Tetapi ay ah sekarang sudah terlalu tua untuk tetap berada di sanggar.” Mahendra tertawa. Katanya: “Kau juga sudah tahu, bahwa belum terlalu lama padepokan ini telah mendapat serangan dari sekelompok orang dari sebuah perguruan yang dipimpin oleh seorang yang  bernama mPu Santi dari perguruan Lawang Tunggal. Dan aku masih sempat bersama-sama dengan seluruh isi padepokan ini untuk melawan dan mengusir mereka.” “mPu Santi ataumPu Rangkut?,” bertanyaMahisa Murti. “mPu Santi,” jawab Mahendra. “Bukankah kalian yang  berceritera bahwa kalian telah bertemu dengan mPu Rangkut yang agaknyamemiliki ilmu lebih baik daimPu Santi.” “Ya, ya,” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ayahnya memang pernah berceritera tentangmPu Santi. “Nah,” berkata Mahendra: “dengan demikian maka kalian tentu akan dapat mempercayai aku untuk secara khusus mempersiapkan anak itu. Pada saatnya kalian akan dapat membentuknya menjadi seorang yang  memiliki ilmu dan kemampuan sebagimana kalian harapkan. Tetapi aku juga minta perhatian kalian kepada Mahisa Semu. Jika kalian tidak berkeberatan, aku akan mempersiapkannya pula meski pun dengan cara yang agak berbeda dengan Mahisa Amping. Namun pada saatnya keduanya akan dapat menjadi seorang yang memiliki ilmu yang  baik dan mampu membantumu memimpin padepokan ini, karena pada dasarnya Mahisa Semu punmasih belummemiliki landasan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata: “Jika hal itu memang ayah kehendaki, maka kami akan mengucapkan terima kasih.” “Aku akan melakukannya sejauh dapat aku jangkau,” berkata Mahendra, “selanjutnya adalah kewajibanmu. Sementara itu Wantilan dapat kau tempatkan sesuai dengan keadaannya. Namun ia telah menunjukkan tekadnya yang besar meny ertaimu sampai ke padepokan ini.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil sambil menjawab hampir bersamaan: “Ya ay ah.” “Nah, sejak sekarang, biarlah aku menangani Mahisa Amping dan Mahisa Semu, sementara kau dapat mengatur padepokan ini sehingga kau tidak akan tenggelam dalam kesibukanyang tidak terbatas.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Baru kemudian Mahisa Murti berkata: “Baiklah ay ah. Jika ay ahmasih berniat untuk berada di sanggar.” “Jika aku meninggalkan sanggar, aku akan menjadi semakin cepat kehilangan gairah hidup ini dan menjadi pikun,” jawab Mahendra sambil tersenyum. Lalu katanya kemudian: “Tetapi untuk selanjutnya anak itu tetap menjadi tanggung jawabmu.” “Ya ay ah,” jawab Mahisa Murti dan Manisa Pukat hampir ber samaan. Demikianlah, sejak itu, Mahisa Amping menjadi bergairah kembali.Harapannya yang pudar, tiba-tiba telah menyala lagi. Ia sadar, bahwa Mahendra adalah seorang yang berilmu sangat tinggi. Meski pun Mahendra lebih banyak berlandaskan satu jalur ilmunya Bajra Geni, namun Mahendra benar-benar telah sampai ke puncak tataran ilmunya itu. Bagi Mahisa Amping yang  kecil itu, sama sekali tidak pernah diperhatikannya, darimana Mahendra mewarisi ilmunya. Yang ia ketahui adalah, bahwa Mahendra memiliki ilmu yang jarang ada bandingnya sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Apakah ilmunya itu ilmu yang  dahsy at yang disebut Bajra Geni atau ilmu yang  lain, namun yang  penting bagi Mahisa Amping, ilmunya akan dapat meningkat lebih cepat. Tetapi sebagaimana dilakukan atas anak-anaknya sendiri, Mahendra tidak saja mengajarkan ilmu kepada Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Tetapi disamping ilmu, keduanya juga selalu mendapat tuntutan meniti jalan kehidupan yang dianggapnya baik. Sikap dan pandangan hidup yang ber sih dan mewarnai ilmuriya dengan kesadaran akan sumber hidupnya. Ilmu adalah ibarat ujung tombak yang sangat tajam. Tergantung kepada tangan yang  memegangnya, untuk apa ujung yang sangat tajam itu dipergunakan. Di tangan yang baik ujung tombak yang tajam itu akan dapat menjadi pelindung yang  menjaga keseimbangan dan kejernihan kehidupan dan menimbulkan ketenteraman. Tetapi di tangan yang hitam, ujung tombak itu akan dapat mengguncang ketenangan dan kedamaian. Namun dengan demikian,maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat lebih banyakmemperhatikan tugas-tugasnya yang lain. Meski pun sekali-sekali keduanya ikut pula berada di dalam sanggar ber sama Mahisa Amping dan Mahisa Semu, bahkan dengan Wantilan pula, namun tanggung jawab kedua anakmuda itu jauh lebih ringan. Sementara itu Mahendra dan Mahisa Semu pun tidak merasa kehadirannya di padepokan itu sia -sia. Ternyata seperti yang sering dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa Mahisa Amping adalah anak yang memang memiliki kelebihan dari anak kebanyakan. Apa yang diajarkan oleh Mahendra, anak itu dengan cepat dapat menyerapnya. Unsur-unsur gerak yang  paling dasar dengan cepat dikuasainya seluruhnya. Bahkan kemudian Mahisa Amping telah mulai dengan mempelajari unsur-unsur gerak yang lebih rumit. Bahkan dalam umurnya yang  masih sangat muda itu. Mahendra telah memperkenalkannya dengan tenaga cadangan di dalam dirinya. Namun berbeda dengan ketajaman daya tangkap serta ingatannya, Mahisa Amping tidak terlalu cepatmemahami dan mengungkapkan tenaga cadangan di dalam dirinya. “ Ia masih terlalu anak-anak,” setiap kali Mahendra telah mengendorkan kekecewaannya jika Mahisa Amping sulit untukmengikuti petunjuk-petunjuknya serta memahami laku untukmembangunkan tenaga cadangannya itu. Sementara itu, Mahisa Semu pun telah mengalami banyak kemajuan pula. Dengan rajin ia mengikuti semua petunjuk dan tuntunan Mahendra. Bahkan dalam saat-saat yang memungkinkan, Mahisa Semu telah mempergunakan waktu sebaik-baiknya, meski pun ia harus berlatih sendiri. Ia tidak merajuk seperti Mahisa Amping. Namun justru berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya. Apalagi Mahisa Semu merasa bahwa ia sudah lebih tua dari Mahisa Amping, sehingga seharusnya ia dapat lebih banyak mengambil kesempatan untukmenempa diri. Dalam pada itu, kedatangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membuat padepokan Bajra Seta itu menjadi lebih hidup. Hubungan mereka dengan padukuhan di sekitarnya tetap dipelihara dengan baik, sehingga kehadiran padepokan dan perguruan Bajra Seta itu juga mempunyai arti bagi padukuhan di sekitarnya, terutama dalam usaha para petani untuk meningkatkan hasil sawah mereka. Bahkan beberapa padukuhan telah dengan sengaja mengirimkan anak-anak muda mereka untuk ikut serta mempelajari kemungkinankemungkinan yang  lebih baik dalam hal mengolah sawah mereka, sehingga dalam waktu yang  [terhitung tidak terlalu lama sebagaimana para cantrik, telah dapat mereka pergunakan di padukuhanmerekamasing-masing. Sementara itu, padepokan Bajra Seta juga mengembangkan lahan dan sawah bagi keperluan padepokan. Sawah yang memang digarap oleh para cantrik untuk menghasilkan pangan bagi seisi padepokan. Para cantrik dengan rajin mengatur susunan jalur air yang  ternyata tidak hanya bermanfaat bagi sawah dan lahan para cantrik itu sendiri, namun ternyata juga berarti bagi pa-dukuhan di sekitarnya. Dari hari ke hari, Padepokan Bajra Seta nampak menjadi semakin berkembang. Bukan dalam jumlah murid yang ingin belajar dan menjadi cantrik di padepokan itu saja, tetapi tataran kecerdasan dan kehidupan di padepokan itu pun menjadi semakin meningkat. Sawah garapan para penghuni padepokan itu pun menjadi semakin luas. Atas ijin Ki Buyut yang memimpin lingkungan itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membuka tanah pertanian baru. Beberapa puluh bahu lingkungan hutan yang  pepat telah dibuka, tanpa menimbulkan kerusakan keseimbangan pada hutan itu, karena luas tanah yang  terbuka itu terhitung kecil dibandingkan dengan luas hutan itu sendiri. Namun akibat dari perluasan tanah pertanian itu adalah kerja keras untuk menaikkan air dari sungai-sungai untuk mengaliri tanah pertanian yang  baru itu, sehingga parit-parit pun telah digalimenyusuri kotak-kotak sawahyang  baru itu. Dengan demikian maka padepokan Bajra Seta telah menjadi padepokan yang berarti bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga ketrampilan di beberapa bidang kehidupan. Karena di samping pertanian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga mengusahakan peternakan dan meski pun hanya untukmemenuhi kebutuhan sendiri, padepokan itu pun telah membuat belumbang-belumbang untukmemelihara ikan air. Karena itu,maka seakan-akan padepokan Bajra Seta telah, memiliki segala macam usaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Bahkan hasilny a yang berlebih telah dapat disalurkan untuk dijual ke pasar-pasar terdekat sehingga hasilnya dapat untukmembeli kebutuhan-kebutuhan,yang  lain. Dalam perkembangannya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengembangkan bengkel-bengkel pande besi dan berusaha mencukupi kebutuhan alat-alat pertanian sendiri. Bahkan pande-pande besi dari padepokan Bajra Seta itu telah belajar untuk membuat senjata sendiri dan bahkan mengembangkannya sehingga alat-alat dan senjata yang dibuatnya adalah termasuk benda -benda pertanian dan senjata yang baik. Seperti, yang  dirintis sejak padepokan itu didirikan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan kesempatan kepada anak-anak muda di padukuhanpadukuhan terdekat untuk mempelajari berbagai macam ketrampilan di padepokan itu tanpamenjadi cantrik. Pagi-pagi mereka-datang untuk mempelajari salah satu ketrampilan di padepokan itu. Bertani, pande besi, any aman bambu atau membuat alat-alat bambu dan kayu. Di sore hari mereka pulang kembali ke rumahmerekamasing-masing. Namun dengan demikian, maka hubungan, padepokan itu dengan padukuhan-padukuhan di sekitarnya menjadi semakin akrab. Bahkan tidak terpisahkan lagi. Padepokan itu seakanakan merupakan satu padukuhan yang  besar dan lengkap memiliki apa saja yang  dibutuhkan dalam kehidupan. Disamping kesejahteraan hidup para penghuni padepokan yang selalu meningkat,maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mengetrapkan paugeran yang  mapan bagi para cantriknya. Latihan-latihan selalu berlangsung pada saat yang ditentukan dengan tataran-tataran yang  telah tersusun. Beberapa orang telah ditunjuk untukmembantu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menuntun peningkatan ilmu dari para cantrik dari tataran di bawahnya. Lima orang pembantu terpenting dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapatkan kepercayaan untuk memimpin seisi padepokan itu. Mereka telah dipersiapkan untukmenjadi orang yang  akan dapatmewakili Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menangani, persoalan-persoalan ke dalam dan keluar padepokan. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak pernah melupakan niat yang  terkandung di dalam dada mereka membawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping ke padepokan itu. Sementara itu, Mahendra telah benar-benar menyiapkan kedua -duanya dengan sebaik-baiknya. Namun karena Mahisa Amping masih terlalu muda, sehingga Mahendra memang lebih banyak memberikan perhatiannya kepadanya. Sedangkan Amping sendiri ternyata dengan sangat tekun mematuhi segenap ketentuan yang  ditetapkan oleh Mahendra. Anak itu bangun pagi-pagi sekali. Melakukan latihan-latihan ringan serta berlari-lari di sekitar padepokan. Bahkan kadangkadang sampai ke jarak yang agak jauh. Ketika matahari terbit, maka Mahisa Amping sempat beristirahat sejenak untuk mengeringkan keringat. Sejenak kemudian ia harusmandi dan ber siap untukmelakukan latihan-latihan berikutnya. Dengan demikian, maka dari hari ke hari, Mahisa Amping telah meningkatkan kemampuannya. Perlahan-lahan Mahisa Amping telah melakukan latihan membuka diri untuk mengangkat kekuatan cadangan yang terdalam sehingga ia pada saatnya akan mampu memanfaatkan tenaga cadangan di dalam dirinya dengan kekuatanyang cukup besar. Jika ia tetap rajin berlatih,maka ia pun akan denganmudahmengetrapkan kekuatannya itu untukmendukung ilmunya yang  berkembang. Ternyata Mahendra semakin lama semakin mampu melihat kelebihan Mahisa Amping. anak itu ternyata memiliki ketajaman penglihatan batinnya sehingga jika diasah, akan dapat menjadi landasan kemampuan yang  sangat berarti bagi hidupnya. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bekerja keras untuk membangun perguruannya. Sekali-sekali ter -bersit pula keinginannya untuk melihat kembali lintasan perjalanannya. Beberapa kali ia berjanji kepada orang-orang yang pernah dikunjunginya, bahwa ia akan datang kembali pada suatu saat untuk melihat keadaan. Kadang-kadang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengancam pula beberapa orang yang  sebelumnya bertingkah laku tidak sewajarnya dengan mengatakan, bahwa pada suatu saat ia akan kembali untuk melihat, apakah orang itu benar-benar telah merubah tingkah lakunya. Tetapi ketika ia sudah berada ditengah-tengah perguruannya, maka kesempatan itu nampaknya sulit untuk didapatkannya. Apalagi Mahendra tiba -tiba saja telah menjadi terlalu tua untukmemimpin sebuah padepokan. Sebenarnyalah sepeninggal orang-orang terdekat yang  umurnya tidak terpaut banyak dari umurnya, Mahendra memang merasa bahwa saat-saat seperti itu akan segera datang pula menjemputnya. Karena itu, maka Mahendra seakan-akan telah menempatkan diri diambang pintu untuk menunggu saat itu benar-benar datang kepadanya. Untunglah bahwa tiba-t iba telah hadir Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Bukan saja kedua orang anakmuda itu merasa mendapatkan kesempatan cukup, tetapi mereka merupakan dor ongan bagi Mahendra untuk tetap melakukan sesuatu sehingga di masa -masa terakhir, ia tidak merasa kehilangan arti bagi hidupnya. Dengan demikian, maka Mahendra yang  merasa dirinya telah menjadi terlalu tua itu, sempat mengisi sisa -sisa hidupnya dengan kesibukanyangmemberinya kegembiraan. Seperti Mahisa Semu dan Mahisa Amping, maka Mahendra- pun disetiap hari harus banyak melakukan kegiatan sebelum memasuki sanggar. Mengikuti kedua orang anak muda itu, Mahendra harus berlari-lari pula didini hari. Mendaki tebing-tebing yang  tinggi dan sekali-sekali menuruni lereng -lereng terjal. Berlari-larimelintasi pematang-pematang sawah dan tanggul-tanggul parit. Namun dengan demikian, Mahendra merasa dirinya tidak lagi tinggalmenunggu hari-hari terakhirnya. Mahisa Semu dan Mahisa Amping, yang  mendapat tuntunan olah kanuragan secara khusus dengan cara yang berbeda itu, dari hari kehari meningkat semakin mapan. Mahisa Amping selain meningkatkan ilmu kanuragannya, maka oleh Mahendra telah diusahakan pula untuk mengasah ketajaman penglihatan batinnya disamping memelihara budi pekertinya. Sementara itu, Mahisa Semu yang  lebih tua dari Mahisa Amping telah mendapatkan kemungkinan yang lain bagi ilmunya. Pada umurnya, Mahisa Semu mulai mendapat tuntunan khusus untuk membangunnya tenaga dalamnya. Ju stru disaat wadagnya berkembang, maka ilmu itu menjadi sangat berarti baginya. Mahisa Semu seakan-akan telah mampu membangunkan tenaga berlipat ganda dari tenaga wadagnya karena kemampuannya mengangkat tenaga cadangan didalam dirinya. Sekali-sekali Mahendra telah membawa Mahisa Semu ke lereng -lereng pegunungan. Dengan keras Mahisa Semu telah melatih tangannya untuk menghantam batu-batu padas. Dengan tenaga cadangan didalam dirinya,maka Mahisa Semu mulai dapatmemecahkan batu-batu padasyang masihmuda. “Pada suatu saat, anak itu akan mendapat warisan ilmu yang jarang ada duanya. Bajra Geni,“ berkata Mahendra didalam hatinya. Namun Mahendra sendiri tidak akan mewariskan ilmu itu kepada Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Ia hanya akan mempersiapkannya. Semuanya terserah kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, karena mungkin ada beberapa hal yang mencegahnya untuk menurunkan ilmu itu. Námun sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum berniat untuk sampai kepada satu keputusan untuk menjadikan Mahisa Amping dan juga Mahisa Semu pewaris ilmu Bajra Geni. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih menunggu kesempatan lain bagi mereka dimasa -masa mendatang, karena merekamenyadari, bahwa pada suatu saat mereka akan berkeluarga dan mempunyai anak. Anak-anak mereka itu adalah pewarisyang  paling baik dan paling berhak menerima ilmu puncak perguruanmereka, Bajra Geni. Tetapi keduanya tidak akan ingkar, bahwa Mahisa Amping dan Mahisa Semu telah dibentuk oleh Mahendra atas persetujuan mereka untuk dapat ikut memimpin padepokan itu. Mereka diharapkanmemiliki kelebihan ilmu dariyang  lain karena kemampuan da sar yang  ada didalam diri mereka. Sehingga dengan demikian, maka keduanya akan menjadi orang-orang kuat dimasa datang bagi padepokannya itu. Pada saat-saat tertentu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menilai peningkatan kemampuan Mahisa Amping dan Mahisa Semu yangmeniti ke t ingkat yang tinggimelalui jalan yangmemang berbeda meski pun dengan landasan ilmu yang sama. Mahendra berusaha untukmeny esuaikan tingkat umur dan kemampuan dasar,yang  ada pada anak-anak itu sendiri. Sementara padepokan Bajra Seta berkembang pesat, maka Singasari pun menjadi semakin melejit diatas cakrawala. Para pemimpin di Singasari benar -benar mampu mempergunakan landasan modal yang  ada bagi pengembangan masa mendatang. Apa yang pernah dilakukan oleh Mahisa Agni danWitantra ternyata menjadi sangat berarti bagi pertumbuhan Singasari selanjutnya. Para pemimpinnya, termasuk Sri Maharaja Singasari ternyata masih mempergunakan beberapa gagasan Mahisa Agni danWitantra yang  terpenting. Peningkatan kesejahteraan hidup rakyat Singasari telah membuat Singasari menjadi semakin tenang dan damai. Jarang sekali terjadi benturan kekerasan dan kejahatan. Setiap orang mendapat kesempatan untuk bekerja dengan tenang di bidang yang  dikuasainya. Sawah-sawah yang  terbentang sampai ke kaki pegunungan nampak hijau subur. Di bagian lain, hutan yang luas meliputi ngarai dan kaki bukit. Meny elimuti gunung dan lembah. Namun dalam pada itu, api yang  sudah padam di Kediri mulaimenjilat kembali. Justru keadaanyang menjadi semakin tenang, telah memberi kesempatan beberapa orang memikirkan hubungan antara Kediri dan Singasari. Beberapa orang justru mulaimerasa, betapa tidak mampu lagi untuk menyatakan diri sebagai satu negara yang  besar. Beberapa orang yang memiliki pengaruh di Kediri terlanjur berpendapat, bahwa orang-orang Kediri mempunyai beberapa kelebihan dari Tumapel yang  kemudian menyatakan diri sebagai satu kerajaan yang  bernama Singasari dan menelan kekuasaan Kediri ke dalamnya, sehingga Kediri kemudian berada dibawah kuasa Singasari. Dalam gejolak yang terjadi sebelumnya, ketika Singasari bekerja keras mengangkat derajat kesejahteraan hidup rakyatnya, persoalan hubungan antara Kediri dan Singasari telah dilupakan. Tetapi setelah masa sulit terlampaui, persoalan itu kembalimuncul. Tetapi gejolak itu justru terjadi di lapisan di bawah permukaan. Secara resmi Kediri tidak merubah sikapnya. Pimpinan pemerintahan di Kediri masih tetap berpegang pada perjanjian dan ikatanyang  ada. Setelah luka -luka di tubuh para pewaris pemerintahan di Kediri terasa mulai sembuh, setelah terjadi perselisihan pendapat antara mereka yang  tetap berpegang kepada ikatan yang ada di antara Kediri dan Singasari dengan mereka yang ingin mengembalikan masa-masa kejay aan Kediri sebelum Tumapel bangkit, ternyata persoalan yang  sama mulai timbul kembali. Dengan demikian, maka ketenangan yang  meliputi Singasari termasuk Kediri, mulai nampak gelisah. Sekali-sekali mulai terjadi keributan antara orang-orang yang merindukan masa kejayaan Kediri dengan orang-orang Singasari. Orangorang Kediri yang  masih saja merasa derajatnya lebih tinggi, kadang -kadang telah melakukan tindakan yang  tidak sewajarnya atas orang -orang Singasari. Tetapi orang-orang Singasari yang kemudian merasa lebih berhak memerintah berdasarkan kekuasaan Singasari yang meliputi Kediri, tidak mau direndahkan. Sehingga dengan demikian maka kadang-kadang benturan kekerasan tidak dapat dihindarkan lagi. Pimpinan pemerintahan di Singasari dan Kediri memang sudah berusaha untuk meredakan pertentangan yang timbul itu. Tetapi ternyata bahwa sangat sulit untuk merubah sikap dan pandangan hidup kedua belah pihak, sehingga benturanbenturan kekerasan itumasih saja sering terjadi. Namun yang -lebih parah adalah usaha orang-orang yang  justru ingin memanfaatkan perselisihan yang sering timbul itu. Mereka yang semula tidak lagi tertarik kepada pekerjaannya, bagaikan harimau tidur yang dikejutkan oleh seekor kijang yang  berlari disisiny a. Tiba -tiba saja timbul niat mereka untuk menyelinap diantara perselisihan yang  timbul di beberapa tempat itu. Mereka yang  bagaikan harimau terbangun itu mulaimengaum dan menerkam kesaha-kemari untuk mendapatkan mangsa sebanyak-banyaknya. Seperti sekelompok orang yang mencari harta karun yang  bertebaran di Kediri dan Singasari, mereka menyapu orang -orang yang  berhasil mengumpulkan kekayaan di saat-saat yang  tenang. Para pedagang yang  melintas hilir mudik diantara Kediri dan daerah Singasari lainnya diluar Kediri, bagaikan dihempaskan ke dalam mimpi buruk ketika mereka menghadapi keny ataan, kelompok-kelompok penyamun telah tumbuh di beberapa tempat. Set iap kali terdengar ungkapan kebencian dari orang-orang Singasari terhadap orang-orang Kediri. Tetapi sebaliknya satu saat mereka meneriakkan kutuk dan umpatan kepada orangorang Singasari. Orang-orang itu ternyata telah mempertajam kebencian orang-orang Kediri dan Singasari. Orang-orang Singasari mulai menuduh orang-orang Kediri membuat kerusuhan, sementara orang-orang Kediri menganggap orang-orang Singasari diluar Kediri telahmembuat keonaran. Bagaimana pun juga para pemimpin Singasari dan Kediri mengusahakan agar hal tersebut tidak menjalar, namun yang terjadi justru sebalikny a. Dengan demikian maka baik Singasari dan Kediri harus menurunkan prajurit-prajuritnya untuk mengawasi keadaan yangmenjadi semakin buruk itu. Suasana di Singasari dan Kediri bagaikan saat-saat senja yang menjadi semakin gelap. Setelah matahari memanjat langit sampai ke puncak kecerahan, maka matahari itu telah menjadi semakin menurun sehingga akhirnya telah menjenguk ke balik pegunungan. Dan senja pun menjadi semakin suram. Demikian pula langit di Singasari. Benturan-benturan kekerasan terjadi di beberapa tempat yang berada justru di batas kekuasaan Kediri yang  telah menjadi bagian dari kekuasaan Singasari. Bahkan kadangkadang terjadi jauh di luar batas lingkungan kekuasaan Kediri. Para prajurit Singasari dan Kediri memang banyak mendapat kesulitan karena peristiwa-peristiwa yang  terasa su sul menyusul. Setiap kali terjadi benturan kekerasan,maka yang terasa adalah benturan antara Kediri dan Singasari. Namun setiap kali tentu diikuti dengan peristiwa lain. Perampokan, peny amun dan kejahatan-kejahatanyang  lain. Para pemimpin Singasari dan Kediri ternyata tanggap akan keadaan itu. Mereka segera menyatakan kepada orang-orang yang terutama berada di perbatasan, bahwa mereka telah menjadi korban tingkah laku para penjahat yang ingin mendapat kesempatan justru pada saat-saat yang  menjadi semakin keruh. Tetapimereka adalah bagian darimereka yang justru dengan sengaja membuat kekeruhan itu. Mahisa Bungalan yang berkuasa di Pakuwon Sangling tidak dapat membiarkan hal seperti itu terjadi. Bahkan Mahisa Bungalan telah bersikap keras terhadap para penjahat yang menyelubungi tingkah laku mereka dengan kemelut yang justru sedang terjadi antara Kediri dan Singasari. Namun tindakan keras Mahisa Bungalan itu mempunyai akibat yang luas. Ketika Mahisa Bungalan berhasil menghancurkan sekelompok perampok yang mengacaukan lingkungan Pakuwon Sangling,maka sisa-sisa perampok yang sempatmelarikan diri telahmendendam Akuwu Sangling yang bernama Mahisa Bungalan itu. “Kita tidak akan dapat menghancurkan Sangling,” berkata salah seorang dari para pemimpin perampok yang  sudah hampirmusna itu. “Memang,” jawab kawannya, “kita harus menerima keny ataan ini. Kelompok kita sudah dilumatkan.” “Apakah kita menerima hal ini dengan tanpa berbuat apaapa?,” bertanya seorang yang  lain. “Apa yang dapat kita lakukan?,” bertanya kawan-kawannya. “Aku tahu kita tidak mempunyai kekuatan lagi. Tetapi kita dapat menghubungi beberapa orang kawan yang lain. Beberapa kelompok yang sejalan dengan kita, akan bersedia membantu kita dengan senang hati,” geram orang yang berusahamembakar dendam kawan-kawannya. “Beberapa kelompok yang  dapat kita kumpulkan. Berapa kuatnya kelompok kita yang  baru itu untuk menghadapi Pakuwon Sangling,” bertanya seorang diantara mereka. “Kita tidak akan menggempur Sangling,” jawab orang yang  mendendam itu. “Lalu apa yang akan kita lakukan?,” bertanya seorang kawannya. “Aku tahu, Akuwu Sanglingmempunyai dua orang saudara muda yang berada di sebuah padepokan,” jawab orang itu, “padepokanyang meny ebut dirinya Bajra Seta.” “Maksudmu?,” bertanya kawannya. “Kita membalas sakit hati kita. Kita tidak mungkin menggempur Sangling. Tetapi kita akan mampu menghancurkan padepokan itu. Akuwu Sangling tentu akan merasa sakit pula hatinya, jika kedua orang adiknya kita binasakan,” jawab orang-itu. Para perampok itu termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang diantara kawan-kawannya bertanya: “Apa keuntungan kita dengan meny erang padepokan itu?Apakah padepokan itu mempunyai harta benda yang  cukup banyak? “ “Aku tidak tahu,” jawab orang itu, “tetapi yang  penting kita membalas dendam karena hati kita sudah disakiti. Beberapa orang kawan kita telah terbunuh. Kita akan membalas dendam denganmembunuh saudara-saudara Akuwu Sangling itu.” Kawan-kawannya termangu-mangu sejenak. Namun seorang diantara mereka tiba-tiba berkata: “Aku setuju. Kita harusmembalas sakit hati kita.” Ternyata yang  lain pun kemudian telah menyetujui pula rencana itu. Mereka akan mengumpulkan kawan-kawan mereka sebanyak-banyaknya untuk menghancurkan sebuah padepokan yang bernama Padepokan Bajra Seta. Padepokan yang dipimpin oleh dua orang saudara muda Mahisa Bungalan, Akuwu Sängling. Para perampok yang  tersisa dan menjadi sakit hati itu telah menghubungi beberapa kelompok yang  lain. Ada diantara kelompok-kelompok itu yang  sudah turun lagi ke arena pekerjaan mereka yang  sudah beberapa lama mereka tinggalkan. Tetapi ada pula kelompok yang  masih ragu-ragu untukmemulainya. Namun ternyata bahwa hubungan diantara mereka telah membangkitkan niat mereka untuk terjun kembali ke dalam duniamereka yang kelam itu. “Kita memerlukan pemanasan,” berkata salah seorang pemimpin kelompok yang  dihubungi oleh para perampok yang sakit hati itu. Karena itu, ket ika datang ajakan untuk menyerang sebuah padepokan yang  kurang dikenal, maka para perampok itu merasa mendapat sa saran untukmemanaskan darahmereka. “Jika senjata kami telah basah oleh darah,maka kami tidak akan ragu-ragu lagi. Senjata kami akan sekali lagi dan sekali lagi minum darah yang hangat,” berkata salah seorang pemimpin kelompok perampok yang  sudah cukup lama tidak turun medan perburuan. Karena itulah, maka para-perampok itu dalam waktu singkat telah mendapat banyak kawan untuk melakukan rencana mereka itu. Membalas dendam sakit hati yang ditimbulkan oleh Akuwu Sangling. “Saudara laki-laki Akuwu Sangling itu harus dibunuh. Kita akan membawa mayatnya dan akan kita lemparkan ke halaman Pakuwon Sangling agar Akuwu melihatnya dan merasa bersalah. Untuk selanjutnya ia tidak akan melakukan kesombongan itu sekali lagi,” berkata seseorang yang  merasa kehilangan beberapa orang kawannya yang terbunuh. Para perampok yang  telah bergabung itu kemudian mulai mengadakan pengamatan atas-sebuah padepokan yang memang agak jauh dari Sangling. Mereka mulai mengamati kekuatan yang ada di padepokan itu. Beberapa orang yang memiliki kelebihan dari orang-orang kebanyakan. Tetapi karena orang-orang padepokan itu bukan orang yang  sombong,makamereka lebih banyakmerendahkan dirinya. Ketika ada diantara mereka yang  pergi ke pasar dan berbicara dengan para perampok dalam tugas sandinya,maka orang-orang padepokan itu selalu merendahkan diri. Namun sikapmerendah itu telah menumbuhkan gambaran yang salah dari antara para perampok itu atas kekuatan yang ada di padepokan. Meski pun jumlah orang yang mereka ketahui hampir mendekati jumlah yang sebenarnya, namun perkiraan mereka tentang kemampuan orang-orang padepokan itulahyang salah. Sebenarnyalah sejak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kembali,maka latihan-latihan selalu dilakukan pada saat -saat yang sudah ditentukan. Orang -orang yang sudah terlalu lama tidak menempa diri, karena Mahendra yang sudah menjadi semakin tua dan tidak lagi mempunyai banyak waktu untuk melakukan latihan-latihan bagi para penghuni padepokan itu, telah membangkitkan kemauan mereka kembali. Dengan tekun mereka selalu mengikuti latihan-latihan yang  diberikan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahkan yang  diberikan oleh saudara-saudara seperguruan yang lebih tua yang telah mendapat latihan-latihan khusus untuk itu. Dengan demikian,maka hampir setiap orang di padepokan itu telah berhasil meningkatkan kemampuan mereka. Apalagi orang-orang khusus yang  akan mendapat tugas membantu kepemimpinan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebelum orang yang  benar-benar akan mendapat tugas untuk itu hadir di tengah-tengahmereka. Bahkan Mahisa Amping yang masih kanak-kanak itu pun telah memiliki ilmu yang memadai untukmelindungi dirinya sendiri. Demikian pula Mahisa Semu. Mereka juga telah memiliki kemampuan untukmembangunkan tenaga cadangan didalam dirinya mereka sehingga kekuatan mereka seakanakan telah menjadi berlipat ganda. Sementara itu, para perampok yang  telah mengenali kekuatan di padepokan itu telah memperhitungkan, bahwa kekuatan mereka telah berlebihan. Mereka yakin bahwa mereka bersama dengan kelompok-kelompok perampok dan penyamun serta perguruan yang berlandaskan ajaran ilmu hitam akan dapat menggulung padepokan Bajra Seta. Membunuh dua orang saudara Mahisa Bungalan dan membawa mayat mereka ke Pakuwon Sangling agar Akuwu Sangling menyadari, bahwa apa yang  telah dilakukannya atas para penjahat, telahmembuat para penjahat itu sakit hati. Dari hari ke hari, maka persiapan pun menjadi semakin matang. Beberapa orang yang  ditugaskan, telah mulai mengamati tingkah laku dan kebia saan-kebiasaan yang ada di padepokan itu dan sekitarnya. Mengamati orang-orangnya dan kebiasaan yangmereka lakukan. Akhirnya, para penjahat itu telah sampai pada satu keputusan untuk benar-benarmeny erang padepokan itu. “Tiga hari lagi, kita akan meny erang dan menghancurkan padepokan itu. Kedua saudara Mahisa Bungalan itu jangan sampai sempatmeloloskan diri. Mereka berdua harus dibunuh dan mayatnya harus dibawa ke Sangling. Baru jika Akuwu Sangling terpukul oleh kematian kedua orang saudaranya itu, maka apa yang  kita lakukan itu dapat dianggap berhasil. Sebaliknya meski pun kita mampu membunuh saudarasaudara Akuwu Sangling, namun Akuwu itu tidak tahu bahwa kedua adiknya itu mati dalam hubungan dengan langkahlangkah yang diambilnya terhadap para penjahat, maka pekerjaanmereka itu sia-sia.” “Yang terpenting buat kita adalah, bahwa Mahisa Bungalan menjadi tersiksa oleh kematian kedua adiknya. Dalam keadaan yang demikian, kita akan mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu,” desis pemimpin perampok yang mendendam itu. Dengan demikian, maka padepokan Bajra Seta itu telah mendapat pengamatanyang  sangat ketat.Hampir setiap orang yang keluar dari padepokan,mendapat pengamatan ketat. Orang-orang yang  merasa sakit hati dan mendendam kepada Mahisa Bungalan selaku Akuwu Sangling benar-benar tidak ingin melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu ketika Mahisa Murti pergi ke padukuhan sebelah untuk satu keperluan, maka beberapa orang telah mengikutinya dari kejauhan dan mengawasiny a, apakah ia kembali ke padepokannya atau tidak. Namun ternyata tidak lama kemudian, Mahisa Murti telah kembali memasuki regol halaman padepokannya. “Sebaiknya kita tidak terlalu lama menunggu,” berkata salah seorang diantara mereka yang mengamati padepokan itu. “Ya,” sahut yang  lain, “jika mereka mengetahuinya, maka mungkin sekali kedua orang anakmuda itumelarikan diri.” “ Itu adalah tugas kita,” berkata orang yang pertama. “Jika keduanya berusaha melarikan diri karena mereka mengetahui bahwa kita telah siap untuk meny erang padepokan mereka, makamereka berdua haruskita tangkap hidup ataumati.” “Lebih baik jika hidup. Kita akan dapat membuat Mahisa Bungalan itu semakin sakit hati,” desis kawannya. “Tetapi tentu tidak mudah dapat menangkap mereka hidup-hidup karenamereka tentu akan tetapmelawan,” jawab orang yang  pertama. Kawanya hanya mengangguk-angguk saja. Namun dalam pada itu, dua orang cantrik telah menjadi curiga atas kehadiran beberapa orang yang dengan diam-diam se-lalu mengawasi padepokan mereka. Karena itu, maka seperti orang-orang itu mengawasi padepokan dengan diamdiam, maka para cantrik itu pun melakukan hal yang  sama atasmereka. Ternyata para cantrik itu menjadi curiga. Sikap orangorang itu benar-benar tidak wajar. Ketika hal itu dilaporkan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,maka ia pun segera teringkat kepada orang-orang yang memusuhinya. Padepokan palsu, yang dipimpin oleh orangorang- yang mengaku dari padepokan Nagateleng. Bahkan seorang di-antara mereka telah mengaku sebagai Kiai Nagateleng itu sendiri, sementara Kiai Nagateleng telah tidak ada. Selain itu maka mungkin sekali orang yang  meny ebut dirinya mPu Kanthi itu pun tentu mendendam mereka pula. Selain mPu Rangkut telah terbunuh,maka ia seolah-olah telah mampu menghancurkan keberanian delapan orang pengikutnya. Tetapi banyak hal dapat terjadi. Namun yang dilihat oleh para cantrik itu hanya beberapa orang yang mengamati padepokan mereka dengan sikap yang -sangat mencurigakan. Karena itu pula maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengundang para pemimpin padepokan Bajra Seta untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang  dapat terjadi. “Tidak ada tanda-tanda akan ada serangan lagi,” berkata salah seorang diantara para cantrik yang  telah mendapat latihan-latihan khusus. “Kita tidak merasa bermusuhan dengan siapapun. mPu Kanthi telah tidak mempunyai kekuatan lagi setelah kegagalannya. Orang -orangnya banyak yang menjadi korban, sementara itu, sekelompok yang  lain, justru telah bertemu dan dikalahkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bahkan orang yang disebut bernama mPu Rangkut telah terbunuh pula. “Mungkin ia berhubungan dengan orang lain,” berkata cantrik yang  lain lagi, “ia telah meny eret sebuah atau lebih padepokan lain untuk ikut sertamembalaskan dendamnya.” Cantrik yang pertama itu pun mengangguk-angguk. Katanya: “Memang mungkin. Tetapi siapa pun yang telah melakukannya, kita harus tetap berhati-hati. Mungkin kita tidak merasa mempunyai lawan. Tetapi orang lain mungkin mempunyai sikap yang  tidak dapat kita mengerti telah memusuhi kita. Mungkin justru karena sikap iri hati atau sikap lain yang tidak terungkap sebagai sikap bermusuhan. Namun tiba -tiba saja mereka telah mengambil sikap yang  lebih kasar. Meny erang padepokan kita sepertiyang  pernah terjadi.” Yang lain mengangguk-angguk. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sependapat. Bahkan Mahendra yang ikut mendengarkan pembicaraan itu punmengiakannya pula. “Jika demikian, awasi orang-orang yang mencurigakan itu. Selanjutnya kita harus bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Kita sama sekali tidak mempunyai keterangan tentang orang-orang itu, juga seandainya ada sekelompok orang yang memusuhi kita,” berkata Mahisa Murti pula. Para cantrik itu pun mengangguk-angguk. Mereka telah mendapat isyarat, bahwa mereka harus bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang  dapat terjadi atas padepokan itu. Di hari berikutnya, ketiga orang cantrik berusaha dengan sengaja untuk melihat sendiri orang -orang yang  mengamati padepokannya itu, memang telah melihat tiga orang yang duduk dibawah sebatang pohon yang  rindangmemandang ke arah padepokannya di tempat yang  agak jauh dan lebih rendah. Dari percakapan mereka, maka cantrik itu sempat mendengar bahwa besok padepokan itu akan dihancurkan. “Sebenarnya sayang  juga,” berkata seorang diantara ketiga orang itu, “tetapi apa boleh buat. Padepokan itu memang tidak mempunyai arti apa-apa bagi kita. Yang harus kita ingat adalah pesan para pemimpin kita, dua orang adik Mahisa Bungalan itu tidak boleh meloloskan diri. Apa pun yang terjadi, keduanya harus jatuh ke tangan kita. Hidup atau mati.” Cantrik itu memang menjadi berdebar-debar. Namun ia sempat mendengar, bahwa besok padepokan itu akan diserang. Bagi cantrik itu, keterangan itu sudah cukup memberikan peringatan, bahwa padepokan Bajra Seta memang harus ber siap-siapmenghadapi segala kemungkinan. Tanpa mengetahui alasannya yang pasti, maka cantrik itu pun segera melaporkannya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Untunglah kau tidak tertangkap oleh mereka,” berkata Mahisa Murti. “Kenapa kau hanya seorang diri?,” bertanya Mahisa Pukat. “Lebih aman seorang diri,” jawab cantrik itu, “jika tertangkap, aku tidak membawa orang lain dalam malapetaka itu. Tetapi apakah dengan bekal ilmuku, aku tidak mampu melarikan diri dari ketiga orang itu? Aku tidak berbicara tentang kemampuanku untuk mengalahkan mereka, karena aku tidak tahu landasan kemampuanmereka bertiga.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertawa. Sementara orang itu berkata: “Tidak ada alasan yang dapat aku tangkap dari pembicaraan mereka.Namun mereka mengatakan bahwa yang terpenting bukan untuk menghancurkan padepokan itu. Tetapi dendam mereka kepada adik Mahisa Bungalan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Sementara cantrik itu menirukan apa yang  didengarnya dari ketiga orang dibawah pohonyang  rindang itu. Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah. Ternyata ada sangkut pautnya dengan kakang Mahisa Bungalan. Tetapi sudah tentu tidak ada waktu untuk berbicara dengan kakang Akuwu Sangling. Jika kita menghubunginya,maka kita akan terlambat jika benar mereka akan menyerang besok.” “Menurut pendengaranku memang demikian,” jawab cantrik itu. Memang satu per soalan yang rumit. Para pemimpin padepokan Bajra Seta tidak mendapat keterangan sama sekali tentang kekuatan lawan. Sementara itu, lawan mereka tentu sudah sempat mengukur kekuatan padepokan Bajra Seta, sehingga mereka akan dapatmemperhitungkan kekuatan yang akan mereka bawa. “Agaknya bukan kekuatan mPu Kanthi,” desis Mahisa Murti. “Agaknya bukan, karena mereka mengkaitkan gerakan mereka dengan kakang Mahisa Bungalan,” sahut Mahisa Pukat. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian: “Kita harus bersiap-siap sejak sekarang. Kita akan bertahan di dalam dinding padepokan justru karena kita tidak mengetahui kekuatan mereka.” Ternyata Mahisa Pukat juga sependapat. Adalah sangat berbahaya jika mereka turun keluar dinding halaman padepokan. Mereka akan dapat terhisap oleh kekuatan yang tidakmereka ketahui sebelumnya. Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memanggil para cantrik yang  telah dianggap cukup dewasa ilmunya. Dengan jelas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menguraikan rencana mereka justru karena para cantrik telah melihat sikap yangmencurigakan dari orang-orang yang  tidak dikenal. Sedangkan seorang cantrik yang secara khusus sempat mengikuti pembicaraan pendek tiga orang yang mencurigakanmendapat keterangan bahwa besok akan datang serangan ataspadepokan itu. “Kita sama sekali t idak mempunyai gambaran tentang orang-orang yang akan datang meny erang. Baik jumlahnya mau pun tingkat kemampuan mereka,” berkata Mahisa Murti, “karena itu, kita harusmeny iapkan kemampuan tertinggi yang dapat kita bangunkan disini.” “Kita siapkan pertahanan pada dinding padepokan kita,” Mahisa Pukat meneruskan keterangan Mahisa Murti, “kita siapkan senjata jarak jauh. Kemudian, kita harus membagi kekuatan. Kita tidak tahu apakah mereka akan meny erang dengan pengepung seluruh padepokan ini, atau mereka akan datang dari satu dua arah saja. Kita harus membut rencana yang ter susun. Apa yang  akan kita kerjakan jika mereka datang dan mengepung seluruh padepokan, dan apa yang  akan kita lakukan jika mereka datang dari satu atau dua arah. Para cantrik itu mengangguk-angguk. Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menunjuk sepuluh orang cantik untuk bersama-sama menyusun rencana pertahanan dan kemudian sekaligus memimpin para cantrik yang lain. Menjelang malam, rencana sudah tersu sun rapi. Kepada para cantrik yang  dianggap cukup berbekal ilmu, telah diperintahkan untuk berkumpul. Mereka menerima tanggung jawab masing-masing. Berapa orang cantrik yang  harus mereka pimpin. Setiap orang tahu pasti apa yang harus dikerjakan. Namun mereka pun harus dengan cepat mengambil keputusan didalam setiap perubahan keadaan. “Jika malam turun, semua harus sudah berada di tempat mereka masing-masing,” berkata Mahisa Murti. Lalu katanya pula: “beberapa orang khusus akan melihat keadaan di luar padepokan. Mereka akan masuk kembali dengan isy arat sandi tertentu, tidak melalui regol padepokan. Tetapi mereka akan memanjat tali dari belakang. Mudah2an dari mereka kita mendapatkan sedikit gambaran, apa yang sedang kita hadapi sekarang. Demikianlah, ketika pertemuan itu dibubarkan,maka para cantrik pun telah sibuk dengan tugasmereka masing-masing. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menemui ayahnya pula. Mahendra mendengarkan keterangan kedua orang anaknya sambil mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia pun kemudian berkata: “Agaknya mereka bukan orang -orang yang pernah meny erang padepokan ini. Tetapi mereka agaknya mempunyai hubungan dengan kakak kalian, Mahisa Bungalan. Ternyata ketiga orang itu telahmeny ebut-ny ebut namanya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara Mahendra berkata selanjutnya: “Memang tidak ada pilihan lain bagi kalian selain meny iapkan kekuatan dan kemampuan setinggi-tingginya karena kita tidak tahu, seberapa besar kekuatan dan kemampuan lawan. Agaknya para cantrik harus berusaha menahan kekuatan itu sebelum mereka mencapai dinding padepokan.” “Dengan senjata jarak jauh maksud ayah?,” bertanya Mahisa Pukat. “Ya,” jawab Mahendra, “panah dan lembing.” “Kami sudah berusaha mempersiapkan sebanyakbanyaknya. Bahkan bandil dan bebatuan di atas panggungan di belakang dinding padepokan. Kita memperhitungkan, bahwa orang -orang itu tentu akan berusaha memanjat dinding. Mungkin dengan tali, mungkin dengan tanggatangga, bambu. Mungkin pula mereka membawa alat yang cukup besar untuk memecahkan dinding atau pintu gerbang padepokan,” berkata Mahisa Pukat selanjutnya. “Menurut pendapatku, kalian sudah benar. Dengan demikian jika kekuatan yang ada di padepokan ini, maka para cantrik harus memanfaatkan senjata jarak jauh itu sebaikbaiknya,” berkata Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmengangguk-angguk pula. “Nah,” berkata Mahendra: “kau harus melihat persiapan para cantrik sekarang.” “Baik ay ah,” jawab Mahisa Murti. “Bawa Mahisa Semu dan Mahisa Amping ber samamu,” berkata Mahendra pula, “mereka harusmelihat persiapan itu. Satu pengalamanyang  tentu sangatmenarik bagimereka.” Seperti yang dikatakan oleh ayahnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengelilingi dinding padepokan. Bukan saja Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang dibawanya, tetapi dua orang cantrikyang terpilih bersamaWantilan pula. “Kita tidak tahu apakah kekuatan kita cukup memadai paman,” berkata Mahisa Murti kepadaWantilan. “Aku belum pernah melihat sebuah padepokan yang  memiliki kekuatan sebesar ini. Dengan jumlah cantrik yang sangat besar,” desisWantilan. “Tetapi bukankah paman tahu, bukan semuanya yang ada di padepokan ini menyatakan diri menjadi cantrik. Mereka sebagian adalah anak-anak padukuhan di sekitar tempat ini yang ikut belajar disini. Bahkan ada diantara mereka yang sengaja dikirim oleh orang tuanya atau oleh Ki Bekel di padukuhannya untuk menyadap pengetahuan bukan saja kanuragan, tetapi juga mengenal pertanian, pemeliharaan ternak, pande besi dan kemampuan-kemampuan lain yang kamimiliki.” “Meski pun mereka tidak menyatakan diri sebagai cantrik di padepokan ini, tetapi ada ikatan antara padepokan ini dengan mereka. Bahkan dengan padukuhan mereka,” berkata Wantilan. Lalu katanya: “Hal itu tampak jelas seperti sekarang ini. Ternyata tanpa diminta mereka telah menyatakan diri untuk ikutmempertahankan padepokan ini dari kemungkinan yang paling buruk.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Sebenarnyalah anak-anak muda yang  telah dikirimkan oleh beberapa padukuhan danyang  lain atas kehendakmereka atau keluarga mereka telah bersedia untuk dengan suka rela ikut mempertahankan padepokan itu ketika mereka mendengar kemungkinan buruk bakal terjadi. Mereka ju stru telah memasuki padepokan itu dan tidak keluar kembali sehari sejak berita tentang kehadiran orang -orang yang tidak dikenal itu terdengar di padepokan. Namun dengan demikian, anak-anak muda itu sebagian sempat dilihat oleh orang-orang yang  mendapat tugas untuk mengamati padepokan itu, sehingga telah diperhitungkan sebagai kekuatanyang ada di padepokan itu. Ketika malam menjadi semakin larut, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersama beberapa orang yang mengiringinya telah sempat menyaksikan seluruh kekuatan yang ada di padepokan itu dalam kesiagaan penuh. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga menganjurkan, agar mereka meny empatkan diri untuk beristirahat bergantian, karena besok agaknya mereka harus bekerja keras untuk mempertahankan padepokanmereka. Apalagi ketika lewat tengah malam, dua orang pengamat telah datang untuk melaporkan. Kekuatan yang  besar telah berada di pategalan di sebelah padukuhan yang terletak di arah depan padepokan. Sedang kekuatan yang lain,memencar dalam kelompok-kelompok kecil di arah sisi sebelah kiri dan kanan dari padepokan mereka. “Apakah-mereka akan meny erang dari tiga arah,” desis Mahisa Pukat. “Apakah kalian tidak melihat kesatuan diarah belakang padepokan ini?,” bertanya Mahisa Murti. Para cantrik yang bertugas mengamati keadaan itu menggeleng sambilmenjawab: “Tidak. Kami tidakmelihat ada pa sukan diarah belakang padepokan. Kami sudah memutari padepokan ini dengan hati-hati.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Namun mereka pun kemudian telah membagi diri untuk memberikan petunjuk-petunjuk bagi seluruh pa sukan yang ada di belakang dinding padepokan itu. Sementara itu mereka telah minta agar Mahisa Amping, Mahisa Semu dan Wantilan untuk beristirahat. “Besok kalian akan terlibat langsung,” berkata Mahisa Murti. Demikianlah, selain yang bertugas, maka seluruh kekuatan yang ada di padepokan itu telah beristirahat sebaik-baiknya. Namun dalam pada itu, berpuluh-puluh ikat anak panah telah berada diatas panggungan. Demikian pula lembing dan senjata-senjata jarak jauh yang lain pun telah disediakan. Pa ser, bandil dan bahkan tombak-tombak panjang untuk menyambut lawanyang  berhasil memanjat dinding. Namun dalam pada itu, diatas pintu gerbang pun telah ber siap kelompok khusus. Meski pun mereka masih juga sempat beristirahat, tetapi mereka siap menghadapi kemungkinanyang  paling buruk sekalipun. Hanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sajalah yang  hampir semalam suntuk tidak tidur sama sekali. Menjelang dini keduanya sempat memejamkan mata sejenak. Namun mereka pun segera terbangun ketika mereka mendapat laporan, bahwa di depan padepokan terdapat pa sukan yang telah ber siap. Mereka telah menyalakan obor -obor minyak dan oncor jarak. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera pergi ke panggungan di atas regol padepokan. Sementara itu, diperintahkannya semua cantrik untuk segera makan,minum dan memeriksa senjata-senjatamereka. Dari atas panggungan di atas regol padepokan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang melihat beberapa puluh obor. Tetapi tidak terlalu dekat di hadapan regol padepokan mereka. “Masih ada waktu,” berkata Mahisa Murti kepada seorang cantrik yang ada di sebelahnya: “biarlah mereka makan dan minum secukupnya. Jika obor -obor itu mulai bergerak, kita akan memberi tanda.” Ternyata seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, pa sukan itu tidak segera bergerak. Nampaknya mereka masih mengatur diri dan pemimpinnya masih memberikan beberapa perintah untukmereka. Sementara itu, para cantrik yang telah selesai makan, minum dan berbenah diri, telah menempatkan dirinya sesuai dengan rencana. Mereka telah ber siap di atas panggungan dengan busur di tangan. Sementara yang lain telah bersiapsiap untuk melontarkan lembing, memutar bandil dan yang lain lagi menggenggam tangkai tombak panjang. Sementara itu di lambungmereka tergantung pedang yang masih ada di dalam sarungnya. Beberapa saat kemudian, maka obor -obor itu pun mulai bergerak. Namun sama sekali tidak nampak obor yang berada di arah kiri dan kanan padepokan itu. Agaknya mereka memang tidak mempergunakan obor atau oncor-oncor biji jarak. Mereka dengan diam-diam merangkak mendekati dinding padepokan. Namun para cantrik telah siap bertahan dari seranganserangan yang  datang dari manapun. Bahkan dibagian belakang padepokan pun mendapat pengawasan cukup ketat oleh beberapa orang cantrik, meski pun menurut keterangan para pengawas, tidak ada pasukan lawan di belakang padepokan. Tidak ada tanda-tanda apa pun yang  dapat didengar oleh para cantrik di panggungan, di belakang dinding padepokan. Mereka hanya melihat obor -obor yangmulai bergerak.Namun mereka pun y akin, bahwa pasukan di sisi sebelah kiri dan kanan juga mulai bergerak pula. Beberapa saat kemudian,maka langit pun mulai dibayang i sinarmatahari pagi. Keremangan fajar pun tetalimenguak dan pagimenjadi semakin terang. Pada saat yang  demikian itulah, maka para cantrik mulai melihat pa sukan yang  bergerak mendekati padepokan. Memang dari tiga arah sebagaimana dilaporkan oleh para pengawas. Sedangkan para cantrik yang berjaga-jaga di bagian belakang padepokan memang tidak melihat pasukan yang datangmendekat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di panggungan diatas regol halaman padepokan pun segera memberikan beberapa isy arat kepada para cantrik yang  telah ber siap sepenuhnya. Sementara itu Mahendra pun telah berada di panggungan itu pula bersama Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Sedangkan Wantilan telah menyatu dengan para cantrikyang  bertugasdi atas regol itu. “Kami akan berada di sebelah meny ebelah regol ini ayah,” berkata Mahisa Murti: “kami mohon ayah memegang pimpinan di sini.” Mahendra tidak menolak. Ia pun telah bersiap untuk bertempur. Meski pun ia sudah terhitung tua, tetapi ia masih memiliki tenaga dan kemampuan untuk berbuat sesuatu. Mahisa Amping dan Mahisa Semu memang menjadi berdebar-debar. Mereka akan benar -benar berada di medan perang. Beberapa saat kemudian, maka pasukan lawan yang  menjadi semakin dekat itu telah berhenti. Menurut pengamatan mereka yang  ada di padepokan, jumlah mereka memang lebih banyak dari para cantrikyang bertahan. Tetapi para cantrik sama sekali tidak menjadi gentar. Mereka memiliki beberapa kesempatan yang  lebih baik dari lawanmereka yang  lebih banyak itu. Para cantrik itu berada di belakang dinding padepokan, sehingga mereka terlindung. Sementara itu mereka hanya bertahan dan tidak meny erang dengan berusahameloncati dinding. Dengan demikian, maka mereka akan dapat lebih leluasa menyerang lawan-lawan mereka dengan senjata jarak jauh dari padamereka yang berada diluar padepokan. Sementara itu, ketika pa sukan yang berada diluar dinding padepokan itu berhenti, maka lima orang telah berjalan ke arah dinding padepokan dan berhenti pula beberapa langkah dari regol. Mahendra yang  berada di atas regol menyadari, bahwa kelima orang itu adalah pemimpin dari pasukan yang  datang menyerang padepokan itu. Karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masing-masing berada di sebelah-meny ebelah regol, maka Mahendralah yang  telah menerima para pemimpin pa sukanyangmenyerang itu. Dengan lantang salah seorang diantara kelima orang itu telah berteriak: “He, siapakah pemimpin padepokan ini? “ Mahendra termangu-mangu sejenak. Ia bukan pemimpin yang sebenarnya. Tetapi karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berada di atas regol, maka akhirnya Mahendralah yangmenjawab: “Akulah pemimpin padepokan ini “ Mahisa Murti dan Mahisa Pukatyang ada disebelahmeny ebelah regol mendengar pula pertanyaan itu. Mereka sama sekali tidak berkeberatan mendengar jawaban ayahnya yang mengaku sebagai pimpinan padepokan itu, karena ayahnya tentu tidak akan melakukan sesuatu yang  dapat menyulitkan keadaan padepokan itu. “Bagus,” Orang yang  berada didepan regol itu berteriak: “jika demikian, aku minta kau serahkan dua orang anakmuda yangmengaku diantara mereka para pemimpin padepokan ini bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, adik Akuwu Sangling yang  bernama Mahisa Bungalan.” Mahendra termangu-mangu sejenak. Namun ia pun bertanya: “Apa salah mereka ? Mereka tidak pernah berbuat jahat kepada siapa pun juga.” “Mungkin. Tetapi nasibnyalah yang buruk. Serahkan keduanya kepada kami, atau padepokan ini akan kami lumatkan menjadi debu,” jawab orang itu. “Ya. Tetapi apa salah mereka terhadap kalian dan apa hubungan mereka,meski pun mereka adiknya, dengan Akuwu Sangling dalam hal ini,” bertanya Mahendra. “Ketahuilah, Akuwu Sangling telah melakukan kejahatan besar terhadap kawan-kawan kami. Adalah kebetulan bahwa kawan-kawan kami tinggal di Sangling. Dengan sewenangwenang Akuwu Sangling telah memperlakukan kawan-kawan kami dengan tidak adil. Bahkan lebih jatuh banyak korban diantara kawan-kawan kami,” berkata orang itu. “Jika demikian kenapa kalian tidak menuntut Akuwu Sangling. Kenapa kalian tidak pergi ke Sangling dan minta keadilan. Kenapa kalian justru pergi ke padepokan ini?,” bertanya Mahendra. “Kami akan menangkap adik Akuwu Sangling itu. Kami akan membawanya ke Sangling, hidup atau mati. Kami ingin membalas sakit hati kami terhadap Akuwu Sangling itu,” jawab orang itu. Mahendra mengangguk-angguk. Katanya: “Jadi persoalannya bukan persoalan kalian dengan kedua adik Akuwu Sangling itu. Tetapi per soalan kalian dengan Akuwu Sangling itu sendiri,” berkata Mahendra. “Ya. Tetapi kedua orang anak muda itu akan menjadi satu alat untukmembalas sakit hati kami. Karena itu, serahkan saja kedua orang anakmuda itu. Padepokanmu akan selamat. Aku akan melupakan padepokan ini untuk selama -lamanya dan tidak akan datang lagimengganggu,” berkata orang itu. “Ki Sanak,” berkata Mahendra, “padepokan ini akan melindungi setiap anggotanya dari kebengisan siapa pun juga, termasuk kalian semuanya. Sudah tentu bahwa kami tidak akan menyerahkan kedua orang anggota padepokan kami. Keduanya adalah orang-orang yang justru sangat berarti bagi kami. Keduanya sudah melewati masa pendadaran mereka sebagai cantrik werda di padepokan ini, sehingga keduanya berhak menyandang gelar Putut. Karena itu, sudah tentu bahwa kami tidak akan meny erahkanmereka.” “Ki Sanak,” berkata orang di depan regol itu, “dengan demikian kau hanya kehilangan dua orang Putut. Tetapi jika kau tidakmaumendengarkan aku danmelakukan perlawanan, maka kau tidak hanya akan kehilangan dua orang Putut. Tetapi kau akan kehilangan semuanya. Kedua Putut itu akan mati, para jejanggan dan cantrik pun akan mati. Demikian pula kau dan seluruh padepokanmu akan lumatmenjadi abu.” “Menarik sekali. Bukankah itu lebih baik daripada aku telah berkhianat kepada kedua orang Pututku sendiri?,” desis Mahendra. “Kau memang bodoh. Kau korbankan nyawamu untuk kedua orang adik Mahisa Bungalan dari Sangling itu. Mereka tidak akan berarti apa -apa bagimu,” teriak orang yang berdiri didepan regol itu. Tetapi jawaban Mahendra mengejutkan: “Aku adalah ay ah mereka “ Orang-orang yang berada di depan regol itu pun menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi seorang diantara mereka berkata lantang: “Kebetulan sekali. Jika kau ayah anak-anak muda itu,maka berarti kau juga ayah Akuwu Sangling.” “Ya “jawab Mahendra, “aku adalah ayah Mahisa Bungalan.” “Jika demikian, kami akan meny eret mayatmu dan mayat kedua anakmu itu di sepanjang jalan-jalan di Pakuwon Sangling. Seluruh rakyat Sangling akan melihat apa yang  telah terjadi. Akuwu Sangling akan pingsan karenanya dan akhirnya ia akanmati penuh peny esalan,” geram orang itu. “Kau kira anakku itu cengeng? Jika ia tahu ayah dan saudara-saudaranya mati membela kebenaran, maka ia tidak akan menitikkan air mata, apalagi pingsan dan mati karena sedih dan menyesal. Tetapi anakku itu akan merasa bangga karenanya. Ia akan membuat candi untuk memperingati dan menghormati ay ahnya dan saudara-saudaranya yang  terbunuh oleh orang-orang jahat.” Mahendra berhenti sejenak. Lalu ia telah bertanya: “Siapakah kalian, he? Semakin tinggi matahari, semakin nampak tampang-tampang kalian. Memang tidak selamanya, ujud lahiriah mewakili sikap batin. Tetapi karena kalian semuanya memberikan kesan kasar dan liar,maka aku dapat menduga, bahwa kalian adalah sekelompok perampok, penyamun, penjahat dan barangkali orang-orang yang melarikan diri dari kejaran para prajurit Sangling.” “Tutupmulutmu,” teriak dua orang yang berdiri diregol itu hampir bersamaan, sementara yang lain telah menggeretakkan giginya denganmarah. “Bagus,” berkata seorang diantara mereka, “jika demikian maka kau memang harus mati. Kedua anakmu harus mati. Padepokan ini akanmenjadi karang abang. Semua cantrik dan orang-orang yang  ada di padepokan ini akan mati. Tetapi jika kalian bertigameny erahkan diri,maka yang  lain akan selamat. Atau karena kesadaran para cantrik, dengan suka rela menangkap dan menyerahkan kepada kami ketiga orang itu, yang lain akan diampuni.” Mahendra tertawa. Katanya: “Begitu mudahnya kalian menyelesaikan persoalan kalian Ki Sanak. Sekarang, lakukan apa yang ingin kalian lakukan. Kami sudah siap. Siapakah di antara kita yang akan hancur menjadi debu lebih dahulu. Kami atau kalian.” “Setan tua yang  tidak tahu diri. Kau kira kau siapa he? berapa jumlah cantrik-cantrikmu ? Kau adalah seorang pemimpin padepokan yang  mementingkan diri sendiri. Kau sama sekali bukan seorang pemimpinyang  ber sedia berkorban untuk murid-muridmu. Jika kau menyerah, maka namamu akan tetap diingat oleh para muridmu, karena kau sudah mengorbankan diri untuk keselamatan mereka. Dengan pengorbananmu, maka murid-muridku akan terlepas dari maut dan kehancuran.” “Biarlah aku tidakmendapatkan pujian dari siapa pun juga. Biarlah aku segera dilupakan. Kalian tidak usaha menganggap kami yang  ada di padepokan ini kanak-kanak yang dapat ditakut-takuti, dan dibujuk dengan janji-janji dan dapat dikelabui dengan puji-pujian,” jawab Mahendra, “bersiaplah dan lakukan apa yang akan kau lakukan, atau kalian memang hanya inginmenggertak kami tanpa berani berbuat apa-apa.” “ Iblis pikun,” teriak seorang diantara mereka: “bersiaplah untukmati. Biarlah padepokanmu menjadi abu.” Mahendra tidak menjawab lagi. Dipandanginya orangorang itu yang kemudian dengan marah meninggalkan regol dan kembali ke pasukan mereka. Beberapa saat orang-orang itu berbicara dengan para pemimpin yang  lain. Nampaknya mereka memang menemukan kesepakatan. Menghancurkan padepokan itu sampai lumat. Dengan demikian, maka pemimpin tertinggi pasukan yang  siap meny erang itu telah memberikan isyarat. Kemudian sebuah kentongan kecil telah berbuny i disambut oleh kentongan kecil yang  lain dari para pemimpin yang ada disebelah kiri dan kanan padepokan. Nampaknya aba-aba terakhir telah diberikan, sehingga orang-orang dalam pasukan itu telah benar-benar bersiap untukmeny erang. Mereka memang membawa beberapa buah tangga. Tali berkait dan beberapa perlengkapan lain, seperti senjatasenjata jarak jauh untukmelindungi orang-orangmereka yang akan memanjat tali atau tangga yang  akan mereka sandarkan pada dinding padepokan itu. Namun tidak ada diantara mereka yang  membawa alat untuk dengan paksa membuka regol halaman. Namun beberapa orang yang  telah dipersiapkan untukmerusak regol adalah beberapa orang pilihan dengan ber senjatakan kapak. Demikian aba-aba itu merata, maka pa sukan itu dengan langkah pasti telah bergerak maju. Beberapa orang diantara mereka telah bersiap dengan busur dan anak panah. Mereka didampingi oleh orang -orang bersenjata pedang dan perisai. Mereka siap melindungi kawan-kawan mereka yang akan melontarkan anak panah mereka. Dengan perisai dan pedang, mereka akan dapatmenangkis serangan-serangan anak panah dari atas panggung dibelakang dinding padepokan. Demikian pasukan peny erang itu mendekat, maka tali-tali busur diatas panggungan pun mulai ditarik. Busur-busur yang besar dengan anak panah yang  besar-besar pula, yang sebelumnya jarang dipergunakan. Namun dalam pada itu, orang-orang yang  meny erang padepokan itupun telah ber siap dengan perisai-perisai mereka. Dengan hati-hati mereka melangkah maju dibaris paling depan. Demikian mereka menjadi semakin dekat maka di atas pang-gungan terdengar aba-aba. Sejenak kemudian, maka anak panah pun mulai berhamburan. Beberapa orang yang  berperisai dengan cepat telah melindungi diriny a dengan perisai-perisai itu. Bahkan bukan hanya dirinya, tetapi kawan-kawannya yang ada di belakangnya, telah berlindung pula. Beberapa orang dengan trampil telah menangkis serangan anak panah itu tanpa mempergunakan perisai. Tetapi dengan memutar pedangnya melindungi tubuhnya. Namun orang-orang yang  berada diatas panggungan pun bukannya sekedar membabi-buta melemparkan anah panah. Satu dua orang memang dengan sengaja memancing agar orang-orang yang datang menyerang itu mengangkat perisaiperisai mereka. Namun orang yang lain telah membidikkan anak panahnya dengan sungguh-sungguh selagi orang itu berusahamenghalaukan anak panahyang  lain. Meski pun demikian ternyata bahwa orang-orang yang  menyerang padepokan itu cukup trampil. Mereka dengan cepat mampu mengatasi kesulitan karena anak panah yang terhambur. Tetapi demikian banyak anak panah yang  dilontarkan dari atas dinding padepokan, sehingga gerak pasukan yang menyerang padepokan itu memang terhambat. Bahkan satu dua orang benar-benar telah terluka karena ujung anak panah itu. Namun arus pasukan itu benar-benar telah menggetarkan dinding padepokan. Derap langkah mereka terasa seakan-akan mengguncang dinding itu. Sedangkan beberapa orang yang khusus telah bergerak menuju ke regol dengan kapak di tangan. Mereka ternyata benar-benar orang-orang pilihan. Dengan kapak mereka mampu menangkis anah panah yang meluncur dari atas regol halaman itu. Beberapa saat kemudian maka pasukan yang meny erang padepokan dari tiga arah itu memang telah menjadi semakin dekat. Mereka telah bersiap-siap mempergunakan tali dan tangga-tangga, bambu yang  mereka bawa. Sementara itu, beberapa orang yang  lain telah melindungi kawan-kawan mereka yang  ber siap-siap untukmemanjat dengan anak panah pula. Namun, kedudukan mereka yang berada di belakang dinding padepokan memang lebih baik. Mereka mempunyai kesempatan untuk berlindung saat -saat mereka memasang anak panah dan merentang busur. Dengan demikian, maka sebelum terjadi benturan antara kedua belah pihak, maka orang-orang yang meny erang padepokan itu memang telah berkurang meski pun tidak terlalu banyak. Beberapa orang telah terluka dan harus dibawa keluar dari jangkauan anak panah orang-orang padepokan. Dalam pada itu, ternyata beberapa orang pilihan telah berada di depan regol. Justru karena mereka telah berada di regol,maka sulit bagi orang-orang yang berada di panggungan untukmeny erangnya dengan anak panah. Sementara itu, orang-orang itu telah berusaha merusak pintu regol dengan kapak-kapak mereka yang  besar. Mereka telah memotong tali-tali pengikat kayu pada regol halaman itu. Memecah dan berusaha memotong bagian-bagian dari pintu regol yang tertutup rapat. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap dengan beberapa orang cantrik pilihan di belakang pintu regol. Mereka memang memperhitungkan kemungkinan seperti itu terjadi. Karena itu, maka demikian mereka melihat beberapa orang mampu menembus hujan anak panah dari atas regol padepokan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bergerak turun untuk menghadapi mereka demikianmereka berhasil memecahkankan regol itu. Tetapi di bagian lain, para cantrik masih saja mempergunakan busur dan anak panah. Satu-satumasih jatuh korban karena anak panah yang  besar telah rnenusuk tubuh mereka. Namun ketika orang-orang itu menjadi demikian dekat dengan dinding padepokan, maka para cantrik telah mempergunakan lembing-lembing bambu yang mereka lontarkan dari atas panggungan. Bahkan ketika satu dua orang diantara mereka yang  menyerang itu mencapai dinding padepokan, maka batu-batu yang  telah mereka persiapkan telah mereka lemparkan pula. Ternyata usaha para cantrik itu benar-benar mampu menghambat serangan lawan dan bahkan korban pun semakin banyak berjatuhan. Tetapi serangan itu bagaikan gelombang yang beruntunmenerjang dinding pantai. Namun akhirnya, orang-orang yang meny erang padepokan itu benar-benar telah berhasil merusak pintu gerbang. Beberapa potong kayu berpatahan dan terlepas dari ikatannya. Dengan suara yang  berderak-derak,maka satu-satu kayu yang menjadi bagian dari pintu gerbang itu pun terlepas dan jatuh ber serakan. Dengan demikian, maka orang-orang yang  terpilih itu pun telah menghambur masuk ke halaman padepokan sambil berteriak-teriakmengerikan. Tetapi demikian kaki mereka menginjak halaman, maka mereka pun harus berloncatan menghindari serangan anak panahyang  dimuntahkan dari bu sur-busurnya. Ternyata serangan para cantrik yang bersiap di belakang itu lebih berbahaya dari serangan-serangan yang datang dari atas panggungan di belakang dinding. Para cantrik itu benar-benar telah membidik sasaran dengan sungguh-sungguh. Sehingga dengan demikian, maka anak panah yang terlepas sebagian benar-benar telahmenembuskulit dan daging. Lubang-lubang disela-sela perisai telah dibidik dengan tajamnya. Demikian anak panah terlepas, maka anak panah itu benar-benar menyusup di sela -sela perisai. Tetapi karena perisai itu seakan-akan selalu bergerak,maka kadang-kadang anak panah itu telah tertahan dibibir perisai. Meski pun demikian, korban pun telah berjatuhan. Para cantrik benar-benar untuk mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya tanpa niat membunuh dan membantai mereka. Tetapi jika kematian itu menerkam lawan-lawan para cantrik, itu semata -mata adalah akibat dari kekejaman peperangan. Namun orang-orang yang telah berhasilmemasuki halaman padepokan itu dengan cepat berusaha memencar. Mereka berusaha untuk memperluas garis benturan, sehingga orangorang yang  lain akan dapatmemasuki halaman itu pula. Arus pasukan yang  datang dari luar memang tidak terbendung lagi. Para cantrik yangmempergunakan busur dan anak panah, harus meletakkan busur mereka. Sementara mereka ber siap untuk menarik pedang -pedang mereka dari sarungnya,maka para cantrik yang bersenjata tombak pendek, telah meloncatmeny ongsong pasukanyang datangmeny erang itu. Meski pun korban telah jatuh, namun jumlah para peny erang itu masih lebih banyak daripada para cantrik yang mempertahankan padepokan itu. Beberapa kelompok penjahat, perampok dan penyamun telah bergabung dengan segala kekuatanyang  ada pada mereka. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bersama dengan para cantrik yang  siap di belakang regol yang  pecah itu pun telah terlibat langsung dalam pertempuran yang sengit. Sementara itu Mahisa Semu dan Mahisa Amping telah diperintahkan untuk berada di bangunan induk padepokan bersama beberapa orang cantrik yang  merupakan kekuatan cadangan bila diperlukan. Mahendra masih berada diatas regol. Ber sama beberapa orang prajurit Mahendra telah mempergunakan busur dan anak panah, meny erang para perampok, peny amun dan penjahat-penjahat yang  lain itu dari panggungan dengan anak panah. Ternyata Mahendra masih tetap seorang pembidik yang  baik. Hampir setiap anak panahnya yang terlepas, dapat mengenai sasarannya dengan tepat sebagaimana dikehendaki. Sementara itu, ketika pintu gerbang sudah dipecahkan, serta kelompok-kelompok yang ada di bagian depan padepokan telah sebagian besar memasuki padepokan, maka pa sukan yang  ada disisi kiri dan kanan pun mulai berusaha untuk meny erang dan memasuki padepokan dengan tanggatangga dan tali. Mereka telah dengan sengaja mengikat para cantrik itu dalam pertempuran, agar mereka tidak sempat membantu para cantrik yang bertahan di sisi depan padepokan itu. Namun usaha untuk memasuki padepokan itu memang sulit. Beberapa buah tangga yang dipa sang pada dinding padepokan itu telah didor ong sehingga roboh. Tali-tali pun telah diputus dengan pedang. Tetapi meski pun mereka tidak dengan mudah memasuki padepokan dengan meloncati dinding, namun mereka sudah berhasil mengikat perhatian para cantrik untuk tidak turun ke halaman dan ikut serta dalam pertempuran yang  semakin sengit. Pertempuran di halaman padepokan itu pun telah mengalir ke segala penjuru. Beberapa kelompok kecil para perampok dan penyamun itu memang berusaha untuk mencapai bangunan induk padepokan itu. Mereka mengira bahwa di bangunan induk itu terdapat kekay aan padepokan itu. Tetapi beberapa kelompok yang lain, yang telah mencapai dinding di sisi kiri dan kanan, telah berusaha untukmembuka pintu-pintu butulan. Gerbang yang  tidak begitu besar di sebelah menyebelah telah terbuka pula, sehingga orang-orang yang ada di luar dinding pun dapat dengan cepat memasuki padepokan itu, meski pun harus jatuh korban yang  agak banyak. Para cantrik yangmasih berada diatas regol butulan itu, meski pun jumlahnya tidak banyak, namun mereka mampumembidikkan anak panahmereka ke punggung orangorang yang  sedang berdesakanmemasuki regol padepokan. Tetapi serangan-serangan itu tidak membendung arus pa sukanyangmeluapmemasuki halaman. Yang terjadi kemudian adalah pertempuran di halaman padepokan itu. Para cantrik yang  jumlahnya lebih kecil itu berusaha untukmemanfaatkan keadaan sebaik-baikny a. Saatsaat kelemahan orang-orang yang meny erang padepokan itu telah dipergunakan sebaik-baiknya. Tetapi kemudian segera terasa bahwa para peny erang itu adalah orang-orang yang  kasar, bahkan buas dan liar. Bukan sa ja karena mereka berteriak-teriak tidak menentu, namun mereka juga melakukan tindakan yang  licik tanpa menghormati harga dirimereka sendiri. Namun para cantrik sama sekali tidak gentar menghadapi mereka. Bahkan anak-anak muda dari padepokan-padepokan yang sedang menyadap ilmu di padepokan itu pun telah bertempur dengan berani. Karena itu, maka pertempuran di halaman padepokan itu pun telah berlangsung pula dengan sengitnya. Para cantrik yang berada di atas panggungan telah berloncatan turun. Mereka langsung melibatkan diri ke dalam pertempuran. Dalam perang brubuh yang terjadi kemudian, maka kemampuan pribadi setiap orang menjadi sangat penting dan bahkanmenentukan. Untunglah bahwa para cantrik telah ditempa dalam olah kanuragan. Meski pun para cantrik itu juga mampu untuk bertempur dalam gelar karena serba sedikit mereka, sudah mendapatkan tuntunan, namun mereka selalu ditilik pula kemampuanmereka secara pribadi. Bahkan anak-anak muda dari padukuhan tetangga yang  menimba ilmu apa pun di padepokan itu, telah menerima pula bimbingan olah kanuragan. Mereka telah berlatih untuk menguasai beberapa unsur gerak yang  terpenting serta ilmu olah senjata. Karena itu, maka ketika mereka harus berhadapan dengan para perampok, peny amun dan penjahat-penjahat yang  lain, para cantrik itu tidak segera terdesak. Para perampok, penyamun dan penjahat-penjahat itu hanya sekedar mengandalkan kekuatan dan keberanian saja tanpa membekali diri dengan ilmu yang  cukup baik. Meski pun ada juga diantara mereka yang  memiliki beberapa kelebihan dari orang kebanyakan. Dalam pertempuran yang semakin seru itu, beberapa orang cantrik masih tetap berada diatas panggungan dengan busur dan anak panah. Mereka adalah justru para cantrik yang memiliki kemampuan bidik yang tinggi. Dalam pertempuran yang sengit itu, mereka masih juga sempat membidik lawan yang sedikit renggang dari para cantrik yang bertempur melawanmereka. Ternyata bahwa satu dua bidikan mereka cukup berhasil. Mereka masih juga mampu melukai para perampok, penyamun dan penjahat yang  sama sekali tidak sempat memperhatikan mereka karena pertempuran yang dihadapinya. Tetapi para penjahat yang  ada di halaman itu segera menyadari. Mereka pun telah berusaha untuk mengenyahkan para cantrik itu. Beberapa diantara mereka masih juga mempunyai bu sur dan anak panah. Namun kesempatan mereka menjadi sangat terbatas karena pertempuran yang riuh. Namun dalam pada itu, maka pertempuran pun seakanakan telah mengalir keseluruh halaman padepokan. Orangorang yang  meny erang padepokan itu telah mencari kesempatan untuk menembus pertahanan para cantrik dan menyerbu ke bangunan induk. Tetapi tidak mudah bagi mereka untuk dapat meny erang halaman padepokan dan mencapai bangunan induk. Para cantrik yang  bertahan tidak melepa skan mereka dan tidak membiarkanmerekamelepa skan diri dari arena pertempuran. Namun dengan demikian, maka pertempuran pun benarbenar menjadi semakin garang. Orang -orang yang meny erang padepokan itu justru semakin bernafsu untuk menggapai bangunan induk padepokan itu. Tetapi sejalan dengan itu, maka para cantrik pun menjadi semakin marah dan berusaha bertahan sekuat-kuatnya. Beberapa orang perampok yang  memiliki kelebihan telah berusaha menembus pertahanan para cantrik dan memberi jalan kepada kawan-kawan mereka. Namun para cantrik terpilih serta mereka yang  dianggap memiliki ilmu tertinggi, telah menempatkan diri untuk melawan orang-orang yang memiliki ilmu yang lebih tinggi dari kawan-kawannya itu. Tetapi jumlah yang  lebih banyak dari para perampok, penyamun dan penjahat itu memang berpengaruh.Hentakanhentakan yang kerasmemang mampu mendesak para cantrik semakin jauh dari pintu gerbang yang  telah pecah itu, mendekati bangunan induk padepokan. Meski pun sementara itu,masih ada para cantrik yang mempergunakan anak panah dan bu sur, berusaha mengurangi jumlah orang-orang yang datangmeny erang. Mahendra sendiri masih berada diatas regol padepokan. Dengan busur dan anak panah yang  khusus, Mahendra telah menyerang orang-orang yang  berusaha mendesak para cantrik ke arah bangunan induk. Set iap kali anak panahnya terlepas dari busurnya, maka seorang diantara mereka yang menyerang padepokan itu telah jatuh. Tetapi Mahendra tidak dapat terlalu sering melepaskan anak panahnya. Setiap kali pertempuran menjadi kacau sehingga Mahendra tidak berani melepaskan anak panahnya agar tidak ju stru mengenai para cantrik sendiri. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah terlibat dalam pertempuran pula. Ketika mereka melihat bahwa para cantrik ternyata telah terdesak, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah membagi diri. Mereka berusaha untuk membendung arus para penjahat yang bergerak dari sisi kiri dan sisi kanan, sementara para cantrik terpilih akan berada di tengah-tengah,membendung arus para penjahatyangmemasuki regol induk. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mempunyai perhitungan, jika kekuatan yang  seakan-akan meny erang lambung itu dilumpuhkan,maka pasukan induk para cantrik itu tidak akan mengalami kesulitan membendung aruspara peny erang. Sebenarnyalah, kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di sisi sebelah kiri dan sisi sebelah kanan itu sangat berpengaruh. Dalam waktu singkat, keduanya telah berhasil mengacaukan pa sukan para peny erang. Para penjahat yang  berhasil dihimpun dan meny erang padepokan itu memang menjadi heran melihat anak muda yang memiliki ilmu yang  sangat tinggi. Di sisi sebelah kiri Mahisa Murti telah menimbulkan banyak kesulitan kepada para penjahat. Jumlah mereka yang lebih banyak dari para cantrik yang  bertahan ternyata tidak mampu menahan desakan para cantrik yang  terasa semakin lama menjadi semakin berat. Mahisa Murti sendiri telah menghisap beberapa orang lawan ber sama -sama. Bahkan meski pun lima orang mengepungnya, namun kelima orang itu tidak berdaya untukmembendung desakan Mahisa Murti. Sementara itu, para cantrik pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mengimbangi serangan orang orang yang  telah meny erang dan memasuki padepokan itu. Ternyata keberhasilan mereka memasuki halaman padepokan yang  disambut dengan sorak yang bagaikan meruntuhkan langit itu tidak memberikan kemungkinan yang lebih baik. Pasukan yang  ada disay ap kiri itu benar-benar sulit untuk bergerak maju. Betapa pun orang-orang yang datang menyerbu itu berusaha, namun mereka telah tertahan oleh senjata para cantrikyang  berputaranmengerikan. Para cantrik yang  merasa jumlahnya lebih sedikit itu, benar-benar telah berusaha sejauh dapat mereka lakukan untuk mengatasi kekuatan lawan. Mereka tidak lagi mengekang diri sehingga ujung senjata mereka telah menyentuh dan mengoy akkan tubuh lawan. Namun bukan berarti bahwa tidak seorang pun diantara para cantrik yang  menjadi korban. Beberapa orang telah terluka. Dan bahkan ada yang  benar -benar telah gugur dalam pertempuran itu. Disisi sebelah kanan Mahisa Pukat pun telah menggetarkan jantung orang-orang yang  telah meny erang padepokan itu. Mereka memangmerasa heran, bahwa anakmuda itu mampu melakukan sesuatu diluar penalaranmereka. Apalagi ketika seorang cantrik yang dikenal dengan baik oleh Mahisa Pukat telah terdorong beberapa langkah surut. Mahisa Pukat melihat sendiri, betapa ujung tombak pendek seorang lawannya terhunjam di dada cantrik itu. Beberapa langkah lawannya mendorong ujung tombaknya sehingga tembus sampai ke punggung. Baru kemudian, sambil berteriak nyaring orang itu telah menghentakkan tombaknya dari dada cantrik yangmalang itu. Cantrik yang  terdorong beberapa langkah surut itu sama sekali, tidak sempat mengeluh. Karena itu, maka demikian ujung tombak itu lepa s dari dadanya, maka cantrik itu pun telah terjatuh di tanah. Agaknya lawannya yang  telah membunuh cantrik itu masih belum puas. Dengan biadab ia telah mengangkat tombaknya. Cantrik yang telah terbaring di halaman padepokan itu masih akan dikenainya lagi, sehingga dadanya tentu akan terkoyakkoy ak. Mahisa Pukat tidak membiarkan ujung tombak itu sekali lagi menembus dada cantrik yang  sudah terbaring diam. Dengan loncatan panjang, maka ujung pedang Mahisa Pukat telah memukul tombak pendek itu. Demikian kerasnya sehingga tombak itu telah terlepas dan terpelanting dari tangannya. MahisaPukat telah mengayunkan pedangnya. Tetapi ia pun telah menahannya. Lawannya yang  sudah tidak bersenjata itu seakan-akan tidak tahu apa yang telah terjadi dan yang kemudian akan terjadi dengan dirinya. Karena itu,maka Mahisa Pukat pun telah berteriak: “Ambil tombakmu. Lawan aku.” Orang yang  kehilangan tombaknya itu merasa heran. Namun dengan demikian ia merasa berpengharapan lagi. Dengan tangkas ia telah meloncat untuk mengambil tombaknya. Dengan wajah yang  merah membara ia telah meloncat kembalimendekati anakmuda yang sangat sombong itu. “Kau akan meny esal, bahwa kau telah membiarkan aku mengambil tombakku kembali. Dengan demikianmaka kaulah yang akan terbunuh di peperangan ini,” geram orang itu. Tetapi Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Dengan wajah yang  tegang dan pandangan mata menyala Mahisa Pukat telahmulaimenggerakkan pedangnya. Lawannya mulai ragu -ragu ketika ia sempat melihat daun pedang Mahisa Pukat. Daun pedang itu seakan-akan telah bercahaya kehijau-hijauan. Namun kemudian orang itu pun berteriak untuk membangkitkan keberaniannya sendiri: “Berlututlah anak yang sombong. Aku akan menusuk jantungmu lewat tengkukmu.” Mahisa Pukat masih tidak menjawab. Tetapi ujung pedangnya telah bergetar. Bahkan beberapa kali mematuk ke arah tubuh orang yang  telah membunuh seorang cantrik di hadapan hidungnya. Beberapa saat kemudian orang itu telah meloncat sambil menyerang. Tangan kanannya memegang hampir di pangkal tangkai tombaknya, sedangkan tangan kirimemegang hampir di tengah-tengah panjang tangkai tombak pendekny a itu. Demikian ia meloncat, maka ujung tombaknya itu telah terjulur dengan cepatmengarah ke jantung. Namun Mahisa Pukat telah ber siap sepenuhnya. Ia tidak berbuat banyak. Dengan tangkasnya ia memiringkan tubuhnya sambil bergeser selangkah ke samping.


Jilid 092
TETAPI kemarahannya kepada orang itu telah benar-benar membakar jantung. Kematian seorang cantriknya dan keganasan orang itu telahmenentukan nasibnya sendiri. Demikian ujung tombak itu lewat tanpa meny entuh tubuhnya, maka Mahisa Pukat pun telah merendahkan dirinya. Ujung pedangnya telah menggapai lambung orang yang bergeser mengikuti arah ujung tombaknya. Orang itu terkejut. Ia tidak mengira bahwa Mahisa Pukat yang masih muda itu mampu bergerak demikian cepatnya. Karena itu, maka ia tidak dapat berbuat banyak ketika ujung pedangMahisa Pukatmeny entuhnya. Orang itu masih berusaha untuk meloncat surut. Namun Iambungnya telah tergores oleh ujung pedang anakmuda yang garang itu. Meskipun lukanya tidak terlalu dalam, tetapi goresan pedang itu telah menguak kulitnya dan darahpun mulaimengalir. Orang itupun menjadi semakin marah. Dengan garangnya ia memutar tombaknya. Namun Mahisa Pukat tidak lagi menunggu orang itu meny erang. Dengan cepat Mahisa Pukat meloncat sambilmengayunkan pedangnya mendatar. Orang itu bergeser sambil menyilangkan tangkai tombaknya untuk menangkis serangan anak muda itu. Tetapi Mahisa Pukat pun telah menggeliat. Pedangnya berputar sekali di atas kepalanya. Dengan cepat sekali arah pedang itupun berubah. Pedang itu tidak lagi bergerak dalam ayunan mendatar, tetapi sebuah serangan yang  kuat telah terjulur mematuk kearah dada lawannya. Lawannya memang tidak sempat berbuat sesuatu. Ujung pedang itu benar-benar telah menggapai dadanya menghunjam sampai ke jantung. Dalam waktu yang  pendek, setelah ia menikam seorang cantrik dengan ujung tombaknya, maka ia sendiri telah tertikam oleh ujung pedang. Tubuhnya jatuh terbanting di tanah tanpa mampu mengeluh lagi. Sementara itu pertempuranmasih berkobar di mana-mana. Para cantrik telah bertempur dengan sekuat tenaga serta kemampuan mereka. Senjata mereka berputaran dan berbenturan dengan serunya. Bunga api berloncatan di udara menghambur ke segala arah. Matahari memanjat semakin tinggi, sehingga ketika matahari sampai ke puncak, maka pertemuran pun menjadi semakin keras. Tangan-tangan yang  telah basah oleh keringat menjadi semakin garangmengayun-ayunkan senjata. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah semakin mendesak lawan-lawan mereka. Para cantrik yang ada di sisi sebelah kiri dan di sisi sebelah kanan, semakin lama semakin mapan sehingga orang-orang yang meny erang padepokan itu justru semakin terdesakmundur. Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di sisi sebelah kiri dan sebelah kanan itu tidak mampu sama sekali membantu kawan-kawannya yang  datang dari regol induk padepokan itu. Bahkan mereka yang  semula menggapai regol butulan untukmembuka dari dalam, justu telah terperangkap dalam pertempuran di lambung itu. Sementara itu, pa sukanyang  berada di tengah-tengah telah mengalami kesulitan pula untuk bergerak. Para cantrik terpilih memimpin kawan-kawannya menghadang orang-orang yang menyerang itu dengan beraninya. Beberapa orang cantrik pilihan sempatmembuat lawan-lawannya kebingungan. Beberapa orang perampok dan peny amun yang ditakuti di padang perburuanmereka, tidak terlalu banyak dapat berbuat menghadapi cantrik-cantrik tertua. Kelebihan ilmu mereka, masih dapat diimbangi oleh para cantrik itu. Sementara itu, Mahendra di atas regol padepokan masih sempat bermain-main dengan busurnya. Ia ternyata telah mengambil tempat yang  dianggapnya paling baik untuk membidik. Setiap kali seorang diantara mereka yang menyerang padepokan itu telah jatuh oleh anak panah yang menembus dari punggungnya sampai ke jantung. Ternyata beberapa orang diantara para perampok dan penyamun itu berpendapat, bahwa Mahendra dan para cantrik yang berada di panggungan itu harus dihalau turun. Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka yang  merasa memiliki ilmu melampaui kawan-kawannya telah bergeser dari arena pertempuran mendekati tangga panggungan di atas regol induk. Serangan-serangan anak panah dari atas panggungan itu dengan tangkasnya telah ditangkis. Pedang, golok dan senjatasenjata lainnya di tangan para perampok itu berputaran melindungi tubuhmereka. Tetapi satu dari antara orang-orang yang mempergunakan busur itu ternyata memiliki kemampuan yang luar bia sa. Ju stru orang yang  tertua diantara mereka. Orang yang  dimaksud adalah Mahendra. Anak panah yang  meluncur dari busur Mahendra sama sekali tidak dapat ditangkis. Anak panah itu seakah-akan mampu menembus putáran senjata lawan betapa pun cepatnya. Bahkan jika terjadi benturan, maka senjata lawannya seakan-akan telah terpcntal dan bahkan ada diantara senjata mereka yang  justru terjatuh. Namun, karena jumlah orang-orang itu cukup banyak, maka mereka sempat berlari lari naik ke atas tangga panggunganmeskipun satu dua roboh di tanah. Akhirnya Mahendra menyadari, bahwa ia tidak dapat membunuh semua orang yang  memanjat tangga panggungan di atas regol itu dengan anak panahnya. Mereka akan mendesakmaju danmereka akan segeramenyerangnya. Di saat -saat terakhir, seorang diantara orang-orang yang  naik keatas tangga itu memang terpelanting jatuh. Tetapi orang-orang yang ada di belakangnya telah mendesak maju demikian dekatnya, sehingga senjatanya hampir menggapai tubuh Mahendra. Mahendra sempat menangkis ujung senjata itu dengan busurnya. Namun untuk melawan beberapa ujung senjata ia lebih baikmempergunakan pedangnya. Tetapi Mahendra yang  sudah semakin tua itu tidak sendiri. Ada beberapa orang cantrik yang  meny ertainya. Karena itu, maka Mahendra pun tidak sendiri melawan orang -orang yang menyerang padepokan itu. Sejenak kemudian, telah terjadi pertempuran diantara para cantrik yang  ada di panggungan itu bersama dengan Mahendra, melawan beberapa orang yang  berusaha menghentikan serangan-serangan mereka dengan busur dan anak panah. Beberapa saat lamanya, orang -orang yang  menyerang itu mampu bertahan. Namun ternyata bahwa seorang demi seorang diantara mereka telah terluka dan bahkan terlempar jatuh. Mahendra yang  tua itu sebagaimana dikatakannya, ia masih mampumelindungi dirinya sendiri. Dengan demikian, maka orang-orang yang meny erang Mahendra dan para cantrik di panggungan itupun telah terdesak turun. Mahendra sendiri dan para cantrik-memang tidak ingin lebih lama lagi berada di panggungan. Mereka pun telah memburu orang-orang yang kemudian harus turun dari panggungan itu. Mereka sadar, jika mereka masih saja menyerang, maka mereka akan habis sampai orang yang terakhir. Tetapi demikianmereka sampai di halaman, Mahendra dan para cantrik telah berloncatan pula, sehingga pertempuran pun telah terjadi lagi dengan sengitnya. Tetapi di halaman, orang-orang yangmenyerang padepokan itu sempatmendapat bantuan dari beberapa orang kawannya. Dengan demikian, maka para peny erang.itu tidak lagi sempat maju. Beberapa orang diantara mereka mulaimencari jalan untuk mencapai bangunan induk. Mereka agaknya tidak ingin didahului oleh kawan-kawannya yang  lain yang ternyata berasal dari kelompok yang berbeda. Meskipun mereka ber sama-sama meny erang padepokan itu dan berusaha menghancurkannya, namun diantaramereka telah timbul pula semacam pacuan untuk lebih dahulu menguasai bangunan yang menjadi tempat peny impanan harta benda milik padepokan itu. Yangmereka duga menjadi tempat peny impanan itu adalah bangunan induk padepokan itu. Bangunan yang  terbesar dan menghadap langsung ke halaman depan yang  luas serta pintu gerbang indukyang  telah berhasil mereka pecahkan. Namun agaknya tidak terlalu mudah untuk menembus pertahanan para cantrik. Tetapi orang-orang itu masih juga mempunyai akal yang  licik. Mereka tidak menghiraukan lagi kawan-kawannya sendiri yang bertempur mempertaruhkan nyawa mereka. Beberapa orang diantara mereka benar-benar telah menjadi korban. Dengan saling memberikan isyarat, maka beberapa orang diantara mereka telah berlari- keluar dari arena. Menyusup diantara orang-orang yang sedang sibuk bertempur dan dengan melingkari medan yang  garang, mereka berlari-lari menuju ke bangunan induk padepokan itu. Beberapa orang justru diantara kawan-kawan mereka sendiri berteriak-teriak mengumpat. Tetapi mereka tidak menghiraukannya, sementara kawan-kawannya yang lain tidak lagi mampu melepaskan diri dari tekanan para cantrik yangmenyadari, bahwa beberapa orang telah berhasil lolos. Tetapi para cantrik itu tidakmengejarmereka. Seakan-akan orang-orang itu mereka biarkan saja menyerang dan menguasai bangunan induk padepokan, sementara kawankawan mereka yang mereka akan kehilangan kesempatan untuk ikutmenguasai harta benda padepokan itu mengumpatumpat kasar. Beberapa orang yang  bertempur di paling depan sempat melihat dengan jelas, kawan-kawannya yang ternyata telah berbuat licik. Sementara itu, orang-orang yang menyerang dari sisi kiri dan kanan pun benar-benar telah tertahan. Mereka tidak dapat menembus pertahanan para cantrik dan bahkan merekalahyang  telah terdesakmundur. Dalam pada itu, beberapa orang yang kemudian hampir mencapai pendapa bangunan induk itu telah terkejut. Dan dalam bangunan itu berloncatan beberapa orang cantrik untuk meny ongsong mereka. Dari dalam bangunan induk, mereka telah melihat, beberapa orang berlari-lari langsungmenuju ke bangunan induk itu sehingga mereka tidak dapat tinggal diam. Beberapa orang cantrik yang bertugas di bangunan induk sekaligus merupakan tenaga cadangan itupun telah meny ongsong para penjahat yang telah dengan licik meninggalkan kawan-kawan mereka. Namun ternyata bahwa merekapun telah disongsong oleh ujung-ujung senjata. Dengan demikian, maka mereka tidak akan dapat menghindarkan diri lagi dari benturan kekerasan. Para cantrik yang  berada di bangunan induk itupun segera menyerang orang-orang yang telah mendekati bangunan induk. Dengan tenaga yang masih ada segara mereka berloncatan dengan senjata yang terayun-ay un. Tetapi para cantrik itu tidak kehilangan kewaspadaan. Tidak semua orang telah turun meny ongsong orang-orang yang  datang menyerang. Tetapi beberapa orang diantara mereka masih tetap berada di ruang depan bangunan induk itu. Namun jumlah para cantrik yang  turun itu ternyata sudah cukup untuk menahan gerak maju beberapa orang yang menyelinap dengan licik untuk menggapai bangunan induk itu. Mahisa Amping yang juga ada di bangunan induk itu hampir saja berlari keluar ikut meny ongsong lawan-lawan mereka. Tetapi Mahisa Semu sempat menangkap tangannya sambil bertanya: “Kau akan kemana?” “Bukankah bangunan induk ini mendapat serangan?” bertanya Mahisa Amping. “Kau mendengar pesan yang diberikan kepada cantrikyang  diserahi dan bertanggung jawab atas bangunan induk ini?” Mahisa Semu bertanya pula. “Ya,” jawab Mahisa Amping. “Apa katanya?” bertanya Mahisa Semu selanjutnya. “Hanya beberapa orang cantrik yang ditunjuk,” jawab Mahisa Amping. “Nah, kita tidak ditunjuk oleh pimpinan para cantrik itu. Karena itu, kita harus tetap disini bersama beberapa orang cantrik Iainnya yang  tidak ditunjuk,” berkata Mahisa Semu. “Tetapi diluar ada perang. Apakah kita sampai hati untuk duduk berdiam diri disini?” bertanya anak itu. “Amping,” berkata Mahisa Semu, “kita harusmembiasakan diri sejak semula untuk patuh kepada perintah. Oleh kakang Mahisa Murti dan kakang Mahisa Pukat kita diserahkan kepada pimpinan para cantrik itu disini. Kita harus patuh. Perintah pimpinan para cantrik itu sama dengan perintah kakang Mahisa Murti dan kakangMahisa Pukat.” Mahisa Amping mengangguk-angguk kecil. Tetapi hatinya masih saja tetap bergejolak. Apalagi ketika ia mendengar teriakan-teriakan yang bagaikan mengguncang langit. Ra sarasanya ia inginmeloncatmenghambur turun. Tetapi Mahisa Semu mengamatinya dengan ketat. Sementara itu, beberapa orang cantrikmasih saja berjaga-jaga di dalam ruangan itu. “Mereka dapat memasuki ruangan ini lewat banyak jalan,” berkata Mahisa Semu, “karena itu, maka kita harus berjagajaga disini.” Mahisa Amping mengangguk-angguk. Ia memang melihat diantara para cantrik yang masih ada di bangunan induk itu mengawasi butulan pintu samping. Mereka membiarkan pintu itu sebagian terbuka untuk dapat melihat langsung, jika ada orang yang  mendekati bangunan induk itu dari belakang. Sementara itu satu dua orang cantrik dari pintu butulan dibelakang dapur dapat melihat halaman di belakang bangunan induk itu. Selain mereka yang  ada di bangunan induk, maka para cantrik masih juga ada,meskipun hanya beberapa orang saja, berada di panggungan yang menghadap ke arah belakang. Namun pengawasan mereka tidak hanya keluar dinding padepokan, tetapi ada diantara mereka yang  mengamati halaman dan kebun dibagian belakang padepokan itu. Namun nampaknya orang-orang yang meny erang padepokan itu tidak mempunyai orang yang cukup untuk memasuki padepokan itu dari empat arah. Sementara mereka hanya memilih tiga arah itupun jumlah mereka masih belum menggetarkan Jantung para cantrik meskipun terhitung jauh lebih banyak dari para cantrikyang ada di padepokan itu. Tetapi setelah kekuatan mereka berbenturan, orang-orang yang meny erang padepokan itu benar-benar tidak dapat bergerak maju lebih jauh lebih. Mereka harus bertempur dengan mengerahkan kekuatan dan kemampuan mereka di halaman. Yang menyerang dari samping pun telah tertahan pula. Demikian pula yang menyerang dari arah depan. Mahendra yang  telah berada di halaman telah melibatkan diri dalam pertempuran pula. Tetapi Mahendra justru berada di belakang orang-orang yang  meny erang padepokan itu, yang gerak majunya tertahan oleh para cantrik. Ber sama beberapa orang cantrik, Mahendra telah membuat satu medan pertempuran tersendiri. Meskipun yang dilakukan oleh Mahendra itu bukan hasil perenungannya setelah mengamati medan dengan saksama, bahkan seakan-akan hanya sekedar membuat lawannya sedikit kebingungan, namun akibatnya memang sangat parah bagi lawannya.Orang-orang yang meny erang padepokan itu benarbenar menjadi bingung. Seakan-akan mereka telah ditikam dari depan dan dari belakang. Rasa -rasanya bagaikan dua ujung tombak telah melekat di dada dan di punggung. Sementara itu pa sukan yang datang dari sisi kiri.dan kanan masing-masing sudah tidak berday a sama sekali. Mereka telah mulai terdesak mundur menuju ke pintu butulan yang telah berhasil mereka buka sehingga pasukan mereka sempatmasuk dengan cepat dari tiga arah. Tetapi setelah bertempur di halaman padepokan itu, maka segala sesuatunya seakan-akan telah berubah. Orang-orang yang  datang menyerbu itu ternyata sama sekali tidak berhasil membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ke Pakuwon Sangling. Sementara itu, orang -orang yang sangat tamak itupun tidak berhasil mendapatkan kekayaan padepokan itu, yang mereka sangka disimpan di bangunan induk, karena tidak seorangpun diantara para perampok dan penjahat itu yang sempat memasuki bangunan induk padepokan Bajra Seta itu. Beberapa orang pemimpin dari kelompok-kelompok perampok, peny amun dan penjahat-penjahat yang  merasa sangat ditakuti orang di tempat-tempat lain, memangmenjadi sangat marah. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Ternyata bukan hanya di Sangling mereka kehilangan kesempatan untuk membalas dendam. Tetapi di padepokan yang mereka anggap terpencil dan lemah itu, mereka tidak mampu melepaskan dendam mereka. Apalagi membuat Akuwu Sangling menjadi sakit hati karena kehilangan kedua orang adiknya, sehingga meny esali perbuatannya atau bahkan menjadi sakit danmeninggal. Namun para pemimpin itu harus melihat kenyataan. Para cantrik itu ternyata bukan hanya mampu menggusur sawah dan ladang mereka atau menanami pategalan yang  kering sehingga dapat menghasilkan. Tetapi mereka mampu juga bermain-main dengan senjata tanpa canggung sama sekali. Yang masih saja gelisah adalah Mahisa Amping. Meskipun masih kanak-kanak, tetapi ia merasa telah berlatih dengan sungguh-sungguh di setiap hari, sehingga ia merasa bahwa ia memiliki kemampuan yang cukup untuk turun ke medan. Namun Mahisa Semu tetap pada pendiriannya. Mahisa Amping tidak boleh turun kemedan. Sebenarnyalah, bahwa Mahisa Ampingmemang tidak perlu turun ke medan. Dalam waktu yang  pendek, orang-orang licik yang ingin meny ergap bangunan induk padepokan Bajra Seta itu telah terdesak. Tetapi kelicikan mereka ternyata tidak tanggung -tanggung. Mereka setelah merasa gagal sama sekali uratuk memasuki bangunan induk padepokan Bajra Seta, maka sekali lagi. mereka tidak menghiraukan lagi kawan-kawan mereka. Dengan serta merta, maka beberapa orang yang  masih hidup diantara mereka, serta tidak terluka ditubuhnya, telah meloncat berlari meninggalkan para cantrik. Tetapi mereka tidak berlari kembali ke induk pasukannya, tetapi mereka melarikan diri langsung ke pintu gerbang butulan. Para cantrik memang mengejar mereka. Tetapi mereka sempat untuk lobos lewat pintu gerbang butulan. Para cantrik, yang mengejar mereka, harus berpikir ulang untuk mengejar terus. Orang-orang itu segera meloncat ke pematang sawah, dan berlarimemencar di ataspematang yang membagi bulakyang  luas itumenjadi kotak-kotak kecil. Dalam pada itu,melihat beberapa orang kawannya berlarilari, maka jantung mereka pun menjadi berdebaran. Semula mereka menjadi gelisah, bahwa mereka tidak akan mendapat bagian jika bangunan induk di padepokan itu berhasil dicapai oleh beberapa orang diantara mereka. Orang-orang itu tentu akan dengan cepat merampok harta benda yang  ada di bangunan induk itu. Namun ternyata mereka tidak dapat meny entuh lantai bangunan induk itu. Beberapa korban jatuh dan orang-orang tamak itupunyang tersisa telah berlari tunggang-langgang. Untuk beberapa saat pertempuran masih berlangsung. Namur kemudian ketidak-imbangan pun menjadi semakin jelas. Para cantrik telah mendesak dengan seluruh kemampuan yang ada sehingga orang-orang yang datang menyerang itu semakin lama menjadi semakin menjauhi bangunan-bangunan yang ada di barak itu. Bangunan-bangunan yang  tentu tidak akan tertepas dari pengawasan para cantrik. “Seandainya kami sempatmendekati tempat peny impanan harta benda, maka tempat itupun tentu dijaga kuat-kuat, sehingga kami tidak akan dapat menembusnya,” berkata beberapa orang yang semula juga berpendapat untuk sampai ke bangunan induk. Tetapi mereka benar-benar tidak mempunyai kemampuan untukmelakukannya. Beberapa orang pemimpin kelompok memang telah menyesal bahwa mereka telah melibatkan diri ke dalam pa sukan itu, sehingga dengan demikian mereka telah banyak sekali kehilangan. Kehilangan waktu, kehilangan harga diri dan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. Tetapi hal itu sudah terlanjur terjadi. Mereka tidak akan dapat mengulang lagi. Yang harusmereka pikirkan, apa yang harusmereka lakukan dalam keadaan terjepit itu. Beberapa orang yang  telah melarikan diri itu agaknya dapat menjadi pancingan sikap kawan-kawannya. Karena itu ketika orang-orang yangmenyerang padepokan itu benar-benar telah kehilangan kesempatan,maka beberapa orang pemimpin telah memilih kesempatan sebagaimana telah dilakukan oleh beberapa orang diantara mereka. Dengan demikian, maka beberapa orang telah berlari-lari menuju ke regol. Ya regol samping bahkan kemudian regol induk, tentu menjadi berjejal kembali. Mereka bukan orangorang yangmeny erang padepokan itu dan berusaha memecah pintu.Namun mereka tidak berhasil melakukannya. Para cantrik tidak membiarkan orang-orang itu lari begitu sa ja. Karena itu, maka beberapa orang diantara mereka telah meninggalkan pertempuran dan berlari-lari menuju ke pintu gerbang untuk mencegah para perampok itu begitu saja meninggalkan padepokan. Tetapi ternyata bahwa tidak mudah untukmencegah u saha untuk melarikan diri, sebagaimana tidak mudah bagi para perampok untukmeninggalkan halaman. Tetapi karena para perampok itu tidak mendengarkan peringatan dari para cantrik, maka para cantrik yang  tidak dapat mencegah para penjahat itu melarikan diri, telah berlari-lari ke panggungan. “Jangan lari,” teriak para cantrik sambil mengacukan busur dan anak panah. Tetapi orang-orang yang  melarikan diri itu tidak mempedulikan lagi. Dalam kebimbangan dan tidak tahu apa yang  sebaiknya dilakukan maka para cantrik yang  berada di atas panggungan itupun telah menyerang lagi lawan-lawan mereka dari atas panggungan. Arus para penjahat yang  melarikan diri itu memang sulit untuk dibendung. Satu dua orang diantara mereka telah jatuh dengan luka di punggung. Namun anak panahyang menancap di punggung itu akan dapat menembus sampai ke jantung pula. Demikianlah,maka akhirnya pertempuran itupun mereda. Beberapa orang penjahat telah tertangkap hidup-hidup. Sementara yang lain telah terbunuh di peperangan atau terluka parah sehingga tidak mempunyai kesempatan lagi untukmelarikan diri. Para cantrik memang tidak mengejar lawan-lawan mereka yangmelarikan diri tercerai-cerai. Meskipun ada usaha untuk menangkapmereka sebanyak-banyaknya, namun sudah tentu dalam keterbatasannya. Demikianlah, maka para cantrik itu justru menjadi sibuk untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terbunuh dan yang terluka. Ternyata jumlah korban diantara para cantik terasa cukup banyak pula. Bahkan juga anak-anakmuda yang dikirim oleh padukuhan masing-masing untuk menambah ilmu di padepokan itu tanpa menyatakan menjadi cantrik. Namun kedudukanmerasa tidak berbeda dari para cantrik. Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di bangunan induk pula. Dengan tegas Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menjatuhkan perintah-perintah untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka, terutama yang terluka di pendapa bangunan induk. Sementara itu, orang-orang yang telah menyerbu padepokan itu yang  terluka dikumpulkan di serambi gandok sebelah kiri. Untukmempercepat pekerjaan itu,maka orang -orang yang  menyerah dan tertangkap telah dipekerjakan pula di bawah pengawasanyang ketat. “Kami terpaksa mengikat kaki-kaki kalian,” berkata para cantrik yang  mengikat kaki para tawanan dengan tambangtambang sabut kalapa. Meskipun ikatan itu tidak terlalu pendek, namun dengan demikian, mereka tidak leluasa lagi bergerak dan berlari. Bahkan para cantrik pun telahmempekerjakanmereka pula untukmembawa dan mengubur kawan-kawan mereka sendiri. Beriringan tubuh-tubuh yang  telah membeku itu dibawa ke sebuah kuburan agak jauh dari padepokan. Kuburan yang berada di lereng bukit kecil dan terpisah. Para cantrik yang  memiliki pengetahuan pengobatan pun telah sibuk pula mengobati kawan-kawan mereka yang terluka. Juga mengobati lawan-lawan mereka yang  terluka. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmasih belum tahu, apa yang akan dilakukan oleh padepokan itu terhadap para tawanan. Apakah mereka akan tetap ditawan, dihukum berat atau dilepaskan saja dengan sebelumnya diberikan pengarahanyangmapan kepada mereka. Ketika hal itu mereka tanyakan kepada Mahendra, maka Mahendrapun berkata: “Kita pikirkan nanti. Beberapa saat yang lalu ketika terjadi per selisihan antara padepokan, maka aku tidak berbuat banyak ketika merekamelarikan diri. Tetapi karena kali ini yang  menyerang adalah orang-orang yang menilik ujudnya, adalah orang-orang yang  kasar, bahkan satu dua diantara mereka telah memberikan pengakuan bahwa mereka adalah perampok-perampok, perlu ada pertimbangan lain. Jika mereka dibiarkan saja, apakah itu bukan berarti bahwa mereka mendapat kesempatan lagi untuk melakukan kejahatan bahkan membalas dendam kepada orang-orang yang tidak bersalah sama sekali?” “Bagaimana jika kita memberikan laporan kepada Akuwu Sangling. Menurut pendapatku, sesuai dengan yang mereka katakan saatmereka mulaimenyerang,maka apa yang mereka lakukan itu ada hubungannya dengan dendam mereka kepada kakang Mahisa Bungalan,” berkata Mahisa Murti. “Ya,” sahut Mahisa Pukat, “kita tidak perlu membawa mereka ke Sangling. Kita dapat mengirimkan utusan ke Sangling dan mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi disini.” Mahendra mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah. Aku sependapat. Kita dapat mengirimkan empat cantrik berkuda untuk pergi ke Sangling besok pagi.” Tetapi ampat orang cantrik itu tidak akan berangkat pada hari itu. Langit sudah mulai menjadi suram karena matahari sudah bertengger di punggung bukit. Sesaat lagi, maka senja pun akan segera turun. Para cantrik dari padepokan Bajra Seta itu telah menyelesaikan tugasmereka dengan menyelenggarakan tubuh saudara- saudara mereka, demikian pula mayat orang-orang yang meny erbu padepokan itu pun telah selesai dikuburkan. Namun masih juga ada satu dua orang yang terluka berat, akhirnya tidak rrimpu untuk bertahan hidup. Malam itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menunjuk empat orang cantrik yang akan pergi berkuda menghadap Akuwu Sangling. Cantrik itu akan memberikan laporan tentang apa yang telah terjadi di padepokan Bajra Seta. Mungkin Akuwu Sang-ling akan dapat memberitahukan, apa yang pernah terjadi di Sangling. “Satu dua orang memberikan pengakuan, bahwa yang  terjadi di padepokan Bajra Seta adalah dendam yang  tidak dapat mereka salurkan atas Pakuwon Sangling. Karena itu, mereka ingin menangkap dan membunuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, kemudian membuangmayatmereka di daerah Sangling. Dengan demikian, Akuwu Sangling akan terkejut. dan hatinya menjadi sangat pedih. Sementara para penjahat itu akan memberitahukan, bahwa yang membunuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah beberapa kelompok penjahat yang pernah dihancurkan oleh prajurit Pakuwon Sangling atas perintah Sang Akuwu,” berkata Mahendra kepada keempat orang utusan itu. “Tetapimereka telah gagal.” Keempat orang yang akan pergi ke Sangling itu mengangguk. Mereka mengerti apa yang  harus mereka katakan selengkapnya. Cantrik itu harusmenyampaikan kabar keselamatan kepada Akuwu Sangling, kemudian mohon pertimbangan apa yang sebaiknya dilakukan. Malam itu, keempat orang itupun telah menyiapkan segalagalanya. Merekapun telah memerlukan beristirahat sepenuhnya, agar di keesokan harinya mereka dapat berangkat sebelum fajar. Sementara itu, para tawanan pun telah ditempatkan di satu tempat yang  mudah untuk diawasi. Pintu-pintu cukup kuat untuk menahan mereka. Dinding, atap dan segala sisi padepokan itu diawasi dengan saksama. Meskipun tawanan itu tidak banyak, namun cukup untuk disadap keterangannya tentang niat mereka meny erang padepokan serta hubungan mereka dengan Pakuwon Sangling yangmasih harusdicari kebenarannya. Mahendra memang berharap Mahisa Bungalan akan ber sedia datang. Tetapi ia tidak berpesan akan hal itu kepada para cantrik. Terserah kepada Mahisa Bungalan sendiri, karena Mahendra juga menyadari, betapa sibuknya Akuwu Sangling dengan tugas-tugasnya. Pagi-pagi benar, keempat cantrik yang  mendapat perintah untuk pergi ke Sangling itupun telah bersiap. Mahendramasih berpesan sekali lagi, apa yang  harus mereka katakan kepada Akuwu Sangling. Menjelang matahari terbit, maka keempat orang itupun telah meluncur di atas punggung kuda mereka menuju ke Sangling. Satu perjalanan yang cukup panjang. Sementara itu, di hari itu, masih juga ada seorang cantrik yang tidak dapat bertahan lagi. Namun cantrik itu masih sempat memberikan beberapa pesan yang  dimintanya disampaikan kepada keluarganya. “Kematianku tidak perlu ditangisi,” berkata cantrik itu, “aku telah berbuat sebaik-baiknya bagi padepokan ini. Aku punmereka bahwa hidupku telah berarti.” Mahisa Murti dan Marisa Pukat hanya dapatmenundukkan kepalanya. Cantrik itu masih sangat muda. Tetapi ia harus meninggalkan semuanya yang  dika sihinya. Namun ia merasa cukup bahagia karena ia menganggap bahwa hidupnya telah berarti. Kematiannya bukannya kematian yang sia-sia. Ia telah mengorbankan nyawanya untuk sesuatu yang  dijunjungnya di atas dasar key akinannya. Dalam pada itu, padepokan Bajra Seta memang benarbenar berduka cita atas gugurnya beberapa orang cantrik. Sementara yang lain masih juga berbaring karena lukalukanya. Di hari berikutnya, maka padepokan Bajra Seta telah berbenah diri. Pintu -pintu yang rusak telah diperbaiki, terutama pintu gerbang induk. Para cantrik telah bekerja keras untukmembuat pintu danmemasangnya sekaligus. Sementara itu, Maliisa Amping setiap kali telah menyatakan kekecewaannya bahwa tidak mengalami pertempuran. Sebenarnya anak itu telah merasa bersiap untuk turun ke medan. Tetapi Mahisa Semu selalu mencegahnya. “Kakangmu Mahisa Semu benar,” berkata Mahisa Murti, “kau masih terlalu kecil. Kau tahu, bahwa diantara para cantrik yang  benar-benar terbunuh. Kau tidak dapat menganggap pertempuran seperti itu sebagi satu latihan. Pertempuran itu adalah pertempuran yang keras, ganas dan kasar. Jika kau kelak menjadi lebih besar, maka kau akan dapat mulai mengenal pertempuran yang sebenarnya. Itupun sedikit demi sedikit.” “Tetapi bukankah aku sudah selalu berlatih?,” bertanya Mahisa Amping. “Betapapun banyaknya kau menghirup ilmu, tetapi tenaga da sarmumasih belum mendukung. Juga wadagmu.” Mahisa Amping termangu-mangu sejenak. Namun iapun menyadari, bahwa ia masih terlalu kecil. Mahisa Amping ia sempat memperbandingkan tubuhnya dengan tubuh orangorang yang  berdiri di sekitarnya. Ia masih jauh lebih pendek. Tangannya jauh lebih kecil. Jari-jarinya pun masih terlalu pendek. Sementara itu, karena tenaga dasarnya masih terlalu lemah, betapa pun ia mampu membangunkan tenaga cadangan di dalam dirinya, tetapi batas kemampuan tenaga da sarnya masih belum dapat memberikan tenaga yang besar yang akan dapat dipergunakan untuk turun benar-benar ke dalam pertempuranyang  sengit. Sebenarnyalah, karena para penjahat yang  meny erbu ke padepokan itu bukan orang-orang yang  berilmu sangat tinggi, agaknya Mahisa Amping akan mampu melindungi dirinya sendiri jika ia terjun ke medan. Tetapi bagaimanapun juga, kemungkinan buruk itu akan lebih banyak dapat terjadi atas dirinya. Karena itu, maka rasa-rasanya Mahisa Amping itu tidak sabar lagi untukmenjadi besar. Seandainya mungkin,maka ia ingin mempercepat pertumbuhan wadagnya, sehingga ia akan segeramampu ikut serta berbuat sesuatu bagi padepokan itu. Tetapi tidak seorangpun yang  mampu mempercepat pertumbuhan dirinya secarawadag. Namun dalam pada itu, perist iwa itu telah mendor ong Mahisa Amping untuk lebih giat berlatih, agar pada suatu saat ia tidak mengecewakan orang-orang yang telah membantu mengembangkan ilmunya. Dalam pada itu, maka padepokan Bajra Seta itupun telah menjadi tenang kembali. Gejolak yang  pernah terjadi, lambat laun bagaikan hilang dihembus angin. Orang-orang tua dari para cantrik yang  terpaksa menjadi korban telah datang dengan hati yang pedih. Namun mereka sadari, bahwa maut itu akan datang menjemput anaknya di manapun anaknya itu berada. Demikian pula orang tua anak-anak muda yang ikut meningkatkan ilmu mereka di berbagai bidang dari padukuhan di sekitarnya yang kehilangan anak-anak mereka. Semuanya yang harus terjadimemang harus terjadi. Latihan-latihan pun telah dimulai kembali. Sementara sawah dan kebun serta pategalan tetap mendapat perhatian sepenuhnya. Para cantrik dan anak-anak muda dari padukuhan di sebelah meny ebelah itu mulai bekerja keras untukmeningkatkan kesejahteraan hidup seisi padepokan itu. Di sudut belakang padepokan itu, tiga tungku perapian pande besipun telahmenyala kembali. Namun dalam pada itu, seisi padepokan itu telah menunggu utusanyang mereka kirimkan ke Sangling. Mereka ingin mendengar tanggapan dari Mahisa Bungalan tentang orang-orang yang telah mereka tangkap danmereka simpan di padepokan itu. Namun baru pada hari kelima, sebuah iring-iringan berpacu mendekati padepokan Bajra Seta. Ternyata bahwa laporan itu telah menarik perhatian Mahisa Bungalan sebagai Akuwu di Sangling. Tetapi ia masih harus meny erahkan pimpinan Pakuwonnya kepada beberapa orang kepercayaannya. Baru kemudian Akuwu Sangling itu dapat meninggalkan istananya. Kedatangan Akuwu Sangling, di padepokan Bajra Seta dengan sekelompok pengawal itu telah disambut dengan gembira oleh Mahendra, kedua adiknya dan bahkan para cantrik. Ada diantara para cantrik yang pernah mengenai Mahisa Bungalan, tetapi ada pula para cantrik yang  belum pernahmelihatnya sama sekali. Sejenak kemudian, maka Akuwu Sangling itupun telah diterima oleh para pemimpin padepokan itu di pendapa bangunan induk. Yang pertama-tama ditanyakan oleh Akuwu Sangling adalah pengembaraan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Jadi kalian belum lama kembali ke padepokan ini?” bertanya Mahisa Bungalan. “Ya kakang,” jawab Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. “Jadi kalian biarkan ayah kita bekerja keras untuk memimpin padepokan ini, dan bahkan harus mempertahankan padepokan ini dari serangan-serangan yang menaruh dengki?,” bertanya Mahisa Bungalan pula. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi kepala mereka tertunduk dalam-dalam. Namun, dari para cantrik yang  datang ke Sangling Mahisa Bungalan pun telah mendengar pula, bahwa kedua anakmuda itu ilmunya menjadi semakin tinggi. Mereka datang bersama dengan tiga orang yang semula tidak dikenal sama sekali. Seorang diantaranya adalah kanak-kanak. Tetapi ternyata Mahisa Bungalan tidak bertanya lebih lanjut tentang perjalanan kedua adiknya. Yang ditanyakan kemudian adalah keterangan yang lebih jelas tentang orangorang yang  telah menyerang padepokan itu dan telah menyebut-ny ebut namanya pula. Mahendralah yang  memberikan keterangan tentang mereka. Namun kemudian katanya: “Nanti, sebaiknya kau dapat berbicara dengan mereka yang  tertangkap. Sebagian darimereka terluka parah.” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah ay ah. Aku tidak tergesa-gesa. Aku mempunyai waktu yang cukup. Tetapi aku akan mempergunakannya sepekan saja disini. Rasa -rasanya sudah terlalu lama bagiku.” Mahendra menyadari, bahwa Mahisa Bungalan dapat saja mengatur berapa hari ia akan pergi. Tetapi Mahendra pun mengerti, bahwa tanggung jawabnya sebagai Akuwu lah yang mendorongnya cepat kembali. Karena itu,maka katanya: “Jika yang  sepekan itu sudah kau anggap cukup,maka terserah sajalah kepadamu.” Sebagaimana dikatakannya kepada ay ah dan saudarasaudaranya maka Mahisa Bungalan telah menyiapkan rencana yang disusunnya sesuai dengan rencananya untuk tinggal di padepokan itu sepekan saja, karena yang sepekan itu rasarasanyamemang sudah terlalu lama. Dalam rencananya yang  sepekan, Mahisa Bungalan memang ingin mempergunakan sedikit waktunya untuk melihat tingkat kemampuan kedua adiknya. Tetapi dihari-hari pertama, Mahisa Bungalan telah sibuk dengan orang-oranyang  tertawan. Mahisa Bungalan berbicara denganmereka berganti-ganti. Seorang demi seorang. Sekali-kali suaranya lembut kebapaan. Namun kesempatan lain Mahisa Bungalan telahmembentak dan mengancam. Tetapi pada hariyang  ketiga, semuanya sudah jelas. Mahisa Bungalan telah mampu mengingat kembali apa yang  telah terjadi sehingga orang-orang itu berusaha untuk melepaskan dendamnya atasperguruan Bajra Seta itu. “Mereka adalah orang-orang yang  terusir dari Sangling,” berkata Mahisa Bungalan, “mereka masih beruntung, bahwa lehernya tidak dipenggal disini. Mereka di Sangling telah membuat banyak keresahan. Bahkan mereka benar-benar telah melakukan pembunuhan. Sementara itu, jika berhasil, merekapun akan membunuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat disini. Untunglah bahwa hal itu tidak terjadi sehingga rencana mereka untuk membuat aku menjadi sakit hati telah gagal. Bahkan kalian yang  disini berhasil menangkap meskipun hanya, beberapa orang. Diantara mereka adalah orang-orang yang terluka.” “Mereka adalah perampok-perampok yang tidak memiliki bekal yang cukup untuk pekerjaan mereka,” jawab Mahisa Murti. “ Itu adalah mereka yang  nampak. Mereka yang telah datang ke padepokan ini. Tetapi aku y akin bahwa di atas mereka ada orang-orang yang  memang berilmu tinggi. Merekalah yang tentu mengendalikan orang-orang yang datang menyerbu itu dengan maksud yang  kurang kami ketahui, selain balas dendam.” “Berhati-hatilah untuk seterusnya,” berkata Mahisa Bungalan. “Apalagi nampaknya mereka tidak terdiri dari orang-orang yang lemah hati. Mereka tentu akan mengadukan keadaan yang  mereka alami disini kepada orang yang sangat berpengaruh atas mereka. Apalagi yang datang bukan hanya dari satu kelompok, tetapi beberapa kelompok. Jika ada diantara mereka yang berguru kepada orang-orang berilmu tinggi, maka mereka tentu akan berusaha memancing agar guru-guru mereka mau melibatkan diri kedalam perselisihan ini.” “Tetapi apakah mereka sangat berbahaya ?” bertanya Mahisa Murti. “Mereka tentu lebih berbahaya dari orang-orang ini,” jawab Mahisa Bungalan. Namun katanya kemudian: “Tetapi peristiwa ini juga memperingatkan aku untuk meningkatkan kesiagaan. Jika mereka benar-benar menjadi gila, maka mungkin mereka akan langsungmeny erang Sangling. Setidaktidaknya mereka akan dapatmembuat kekacauan di Sangling. Kekalahan mereka di padepokan ini, tentu menumbuh dendam dan kebencian kepada kita semuanya. Bagi orangorang yang  utuh kesadarannya tentu akan melihat apa yang telah terjadi atas diri mereka dan kawan-kawan mereka. Tetapi bagi orang yang  tidak berkesempatan menilai dirinya sendiri, tentu akan berpikiran lain. Mereka tentu hanya dibayangi oleh dendam dan kebencian semata-mata, sehingga dengan demikian maka langkah-langkah yang mereka ambil pun sama buramnya dengan jiwamereka sendiri.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka pun memang sudah berpikir, orang-orang yang mereka kalahkan itu mempunyai dua pilihan. Jera atau bahkan malahan semakin mendendam sehingga mendorong mereka mengambil langkah-langkah baru yang  tentu akan menjadi lebih keras dan barangkali lebih kasar dari yang pernahmereka lakukan. Namun baik Mahisa Bungalan, maupun adiknya berkesimpulan bahwa mereka harusmenjadi semakin berhatihati dan mempertimbangkan segala kemungkinan yang  dapat terjadi. Sementara itu, selagi Mahisa Bungalan masih ada waktu, maka ber sama-sama dengan ay ahnya, mereka ingin melihat perkembangan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “ Ilmu kami?” Mahisa Murtimemangmerasa heran. Mereka merasa dirinya seperti kanak-kanak yang  sedang berusaha untuk menyadap ilmu sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Amping, sehingga kakaknya ingin melihat tingkat kemampuan ilmunya itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukatyang  telah sanggup mendirikan satu perguruan yang diberinya nama Bajra Seta itu tidak dapat mengelak ketika kakaknya mempersilahkan mereka untuk pergi ke sanggar. Dengan kelengkapan yang dimilikinya,maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah mempersiapkan diri sebaikbaiknya. Keduanya telah membawa sepasang pedang. Yang satu ada pada Mahisa Murti sedang yang  lain ada pada Mahisa Pukat. Mahisa Bungalan terkejut, melihat sepa sang pedang itu. Selama ini ia berada di padepokan itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak pernah membawanya keluar dari bilik mereka, apalagi dengan sengaja menunjukkan kepada Mahisa Bungalan. “Dari mana kau dapatkan senjata kalian itu?” bertanya Mahisa Bungalan. Dengan singkat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menceriterakan asal-usul pedang itu. Juga beberapa kali mereka harus bertempur mempertahankannya. Beberapa orang yang  berilmu telah menginginkan sepasang pedang yang disebut oleh pembuatnya sebagai sepa sang keris itu. “Apakah aku boleh melihat daun pedangmu?” bertanya Mahisa Bungalan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak berkeberatan. Keduanya telah mencabut senjata mereka dari sarungnya. “Luar biasa,” desis Mahisa Bungalan, “sepasang senjata itu memang luar bia sa. Tentu banyak orang yang  telah menginginkannya. Syukurlah jika kalian berdua sempat mempertahankannya.” “Beberapa kali kami mengalami kesulitan. Tetapi Yang Maha Agung ternyata masih melindungi kami berdua,” desis Mahisa Murti. Mahisa Bungalanmengangguk-angguk kecil. Katanya: “Jika demikian, aku telah dapat menduga tingkat kemampuan kalian. Rasa -rasanya aku tidak perlu melihatnya lagi, karena yang dapat kau tunjukkan di dalam sanggar tentu hanya sebagian kecil dari kemampuan kalian.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun Mahisa Bungalan ternyata masih bertanya kepada ayahnya: “Tetapimungkin ayah berpendirian lain?” Mahendra menggeleng. Katanya: “Tidak. Aku juga sudah yakin akan tingkat kemampuannya. Ia telah ditempa oleh pengembaraannya yang  panjang. Selain beberapa orang sempat mendapat pertolongannya, karena kedua adikmu itu telah menjalani laku Tapa Ngrame, maka pengalaman yang dipetikny a cukup berharga bagi bekal hidupnya kemudian.” Ternyata bahwa Mahisa Bungalan telah membatalkan keinginannya untuk melihat kemampuan kedua adiknya didalam sanggar. Kedua pusaka yang  mampu dipertahankannya itu telahmemberikan gambaran kepadanya, bahwa kedua adiknya memang telah mencapai satu tataran ilmu yang  tinggi. Keduanya memang pantas untukmemimpin sebuah padepokan sekaligus sebuah perguruanyang  diberinya nama Bajra Seta. Sebenarnyalah bahwa Mahisa Bungalan masih merasa cemas jika pada suatu saat ayahnya menjadi semakin tua dan tidak mampu lagi membantu kedua adiknya memimpin padepokanyang  telah mereka dirikan itu. Selama itu, ayahnya masih dapat berbuat banyak bagi kepentingan padepokan dan perguruan Bajra Seta. Namun ayahnya tentu tidak akan dapat seterusnya membayangi kepemimpinan kedua adiknya, sehingga kedua adiknya itu pada suatu saat harus dapat berdiri sendiri tanpa ayahnya. Namun ternyata bahwa kedua adiknya telah memiliki kemampuan dan ilmu yang cukup tinggi, sehingga ia tidak lagi perlu merasa cemas akan masa depan padepokan itu. Sebenarnyalah sebuah Perguruan dengan padepokan bagi Mahisa Bungalan bukanlah barang mainan. Kedua adiknya harus bertanggung jawab atas padepokan yang  telah didirikannya. Apalagi Mahisa Bungalan melihat, bahwa di padepokan itu terdapat cantrikyang cukup banyak. Juga anakanak muda yang  tidak dengan sepenuhnya menjadi penghuni padepokan itu. Mereka semata-mata berniat untukmenyadap berbagai macam ilmu yang akan dapat mereka pergunakan untuk membuat padukuhan mereka masing-masing menjadi lebih baik. Hari itu Mahisa Bungalan sempat beristirahat sepenuhnya. Yang dilakukannya sekedar melihat Mahisa Amping dan Mahisa Semu berlatih dibawah bimbingan Mahendra sendiri. Ternyata Mahisa Bungalan menjadi kagum melihat anak itu menguasai unsur-unsur gerak yang  sudah menjadi semakin rumit. Bahkan tenaga anak itu sudah jauh lebih besar dari tenaga anak-anak sebayanya. Bahkan Mahisa Amping telah dapat melakukan tata gerak yang sulit dimengerti dibandingkan dengan tingkat umurnya. Dengan berbisik Mahisa Bungalan telah bertanya kepada ay ahnya: “Apakah ayah sudah menilik akibat dari latihanlatihanyang  terlalu berat itu?” “Aku selalu mengikuti perkembangan pribadiny a, tubuh dan peredaran darahnya. Aku juga selalu menilik bagian dalam tubuhnya yang masih kecil itu. Tetapi menurut penilaianku, tidak ada akibat yang  buruk yang  terjadi atas anak itu selama ia mengikuti latihan-latihan yang berat. Demikian pula Mahisa Semu. Keduanya akan disiapkan menjadi orang-orang yang  memiliki kelebihan di padepokan ini beberapa tahun lagi, sehingga padepokan ini tidak sekedar tergantung kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” jawab Mahendra. Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Tetapi apa yang  dikatakan oleh ayahnya itu tentu juga berlaku bagi Pakuwon Sangling. Ia harus dapat membentuk kekuatan yang dipersiapkan bagimasa depan Pakuwonnya. Tetapi bagi Mahisa Bungalan, masa depan Sangling akan berada di tangan keturunannya. Sekali ia berhasil memasuki satu mata rantai yang  pernah terputus, maka ia akan menjadi ujung dari serangkaianmata rantai bagimasamendatang. “Aku harusmempersiapkan keturunanku untuk menerima warisan, bukan saja kedudukan, tetapi juga tanggung jawab. Keseimbangan antara hak dan kewajibannya,” berkata Mahisa Bungalan di dalamhatinya. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang belum dapat berbicara tentang keturunan karena mereka masih belum beristeri. Tiba -tiba saja Mahisa Bungalan ingin berbicara dengan ay ahnya tentang hari depan kedua adiknya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pada suatu saat tentu akan melangsungkan pernikahannya. Tetapi Mahisa Bungalan masih menunda pertanyaannya. Ia masih melihat bagaimana Mahisa Amping berlatih. Ketika anak itu sampai pada puncak kemampuannya, maka Mahisa Bungalan benar-benar menjadi heran. Anak itu mampu menunjukkan dasar ilmu yang kokoh dari ilmu yang dikembangkan oleh perguruan Bajra Seta. “Aku mengenal sebagian dari unsur gerak dari ilmu yang  mendasari ilmu anak itu. Tetapi da sar-da sar ilmu itu Sudah berkembang dan nampak beberapa unsur yang  sama sekali baru dan asing bagiku,” berkata Mahisa Bungalan kepada ay ahnya. “Kedua adikmu telah menyusun satu rangkaian ilmu dari yang paling da sar, sampai pada tataran pertama yang memberikan warna tersendiri. Tetapi seperti kau katakan, kau tentu mengenal beberapa unsur gerak daripadanya, karena ilmu itu memang bersumber utama dari ilmu yang dikuasai oleh kedua adikmu saat ia mulai belajar olah kanuragan,” jawab ay ahnya. “Tetapi apakah dengan demikian kemampuan susunan gerak dasar yang baru itu sudah cukup teruji?” bertanya Mahisa Bungalan pula. “Sudah,” jawab Mahendra, “dalam pengembaraan, kedua adikmu sempat mengenyam satu susunan ilmu sebagaimana kau lihat pada anak itu. Memang segala sesuatunya masih dalam tingkat mula. Tetapi kedua adikmu dan aku telah mengadakan beberapa penilikan khusus. llmu itu sesuai bagi anak itu. Bahkan bagi dua orang yang datang bersama kedua adikmu itu. Di padepokan ini, segala sesuatunya baru sempat dipelajari di sanggar dengan memperhatikan segala macam akibatnya.” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Katanya: “Syukurlah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sekedar melakukan sesuatu yang  menurut pikirannya baru tanpamenilai pikiran barunya itu.” “Akulah yang lebih banyak menangani anak itu,” berkata Mahendra, “tetapi menurut pendapatku, apa yang  dipelajari anak itu tidak akan menimbulkan akibat buruk atasnya. Anak itu bukan sekedar hadir disini sebagai bahan percobaan. Tetapi apa yang  baru itu benar-benar sudah diperhitungkan.” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Namun dari kemampuan anak itu terbersit satu yang  cerah bagi susunan ilmu perguruan Bajra Seta itu. Dalam pada itu, Mahisa Semu juga mampu menunjukkan kelebihannya. Dengan landasan ilmu yang  disadapny a dari Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatyang  seakan-akan sedang menyusun satu pola susunan dan tataran ilmu bagi perguruan Bajra Seta. “Aku mengucapkan selamat ayah,” berkata Akuwu Sangling. Mahendra tersenyum. Katanya: “Jika kelak terbukti, bahwa kedua anak itu benar-benar memiliki kemampuan lebih dari yang lain dengan landasan ilmu perguruan Bajra Seta, maka kau dapatmemanfaatkannya bagi Pakuwon Sangling.” “Ya ayah,” jawab Mahisa Bungalan, seorang yang memiliki sumber ilmu bukan saja dari Mahendra, tetapi juga dari Mahisa Agni bahkan sampai ke inti ilmu Gundala Sasra. Demikianlah, maka Mahisa Bungalan pun kemudian percaya, bahwa hari-hari yang  semakin buram bagi Mahendra yang tua itu, tidak akan berpengaruh atas perguruan Bajra Seta. Kedua adiknya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, benarbenar telah memiliki bekal yang  cukup untuk berdiri sendiri. Apalagi di hari-hari tuanya, Mahendra masih sempat bersamasama dengan kedua adiknya itu menyusun satu pola bagi bagi perguruanyang  didirikan. “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sekedar menuruti kemauannya saja dengan mendirikan perguruan ini,” berkata Mahisa Bungalan di hatinya, “ia benar-benar telah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga perguruan ini benar-benar dapat disebut sebagai satu perguruan.” Pada hari berikutnya, maka Mahisa Bungalan telah menentukan untuk membawa beberapa orang tawanan terpenting diantara orang-orang yang  mendendamnya itu. Yang lain, Mahisa Bungalan menganjurkan agar dilepaskan sa ja meskipun dengan ancaman-ancaman yang  keras jika mereka masih juga melakukan lagi kejahatan, meskipun kemungkinan untuk itu tipis sekali. “Tetapi orang-orang yang berbahaya diantara mereka akan aku bawa ke Sangling. Terpaksa dengan tangan terikat. Aku tidak mau kehilangan mereka di perjalanan karena dengan demikian akibatnya akan menjadi buruk sekali.” Ketika segala sesuatunya telah disiapkan, maka Mahisa Bungalan pun telah siap pula untukmeninggalkan padepokan itu. Esok pagi-pagi sebelummatahari terbit, ia akan berangkat ber sama para pengawalnya kembali ke Sangling sambil membawa beberapa orang perampokyang  tertawan. Malam ini, Mahisa Bungalan masih berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan ayah dan adik-adiknya. Tetapi sebelum malam larut, Mahendra telah berkata: “Beristirahatlah. Besok kau akanmenempuh perjalanan.” Mahisa Bungalan memang memasuki bilikny a dan berbaring di pembaringan. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justrumelangkahmengelilingi padepokannya. Di depan bilikWantilan, Mahisa Semu dan Mahisa Amping, keduanya berhenti dan perlahan-lahan mengetuk pintu bilik itu. Ternyata yang ada di dalam bilik itu masih belum tidur. Karena itu, maka sejenak kemudian telah terdengar langkah kakimenuju ke pintu. “Marilah,” Wantilanlah yang telah membuka pintunya, “masuklah.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah duduk di dalam ruanganyang tidak terlalu luas itu. Memang tidak ada persoalan khusus yang akan mereka bicarakan. Tiba-tiba saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berbincang-bincang tentang apa saja denganWantilan, Mahisa Semu danMahisa Amping. Namun dalam pada itu, ternyata Mahisa Bungalan telah keluar dari biliknya. la memang menunggu.satu kesempatan untuk berbicara dengan Mahendra tanpa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Kenapa kau belum juga beristirahat?” bertanya ayahnya. “Aku ingin berbicara dengan ay ah tentang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,” jawab Mahisa Bungalan. “Apa yang penting kau bicarakan?” bertanya ayahnya. “Ayah,” desis Mahisa Bungalan, “kedua adikku telah dewasa. Bahkan lewat dewasa. Apakah menurut pertimbangan ay ah, keduanya tidak sepantasnya segeramenikah?” “Ah,” desah ayahnya, “itu lagikah yang  ingin kau bicarakan?” “Nampaknya keduanya tidak akan dapat mencari jodoh mereka sendiri. Keduanya sangat mementingkan kehidupan yang khusus berhubungan dengan olah kanuragan. Keduanya tiba -tiba saja telah terikat oleh sebuah padepokan dan perguruan,” desis Mahisa Bungalan kemudian. “Jadi bagaimana menurut pendapatmu?,” bertanya ay ahnya. “Jika ayahmengijinkan, aku inginmempertemukan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan gadis-gadis yang  pantas untuk mereka jadikan isteri-isteri mereka,” jawab Mahisa Bungalan. “Apakah itu perlu?,” ayahnya justru bertanya, “dahulu, aku tidak pernah mempertemukan kau dengan gadis yang manapun. Namun akhirnya kau juga mendapatkan seorang isteri.” “Tetapi persoalannya jadi berbeda ay ah,” jawab Mahisa Bungalan. “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak memikirkan diri mereka sendiri. Mereka tidak sempat memperhatikan kecantikan dan kelembutan seorang perempuan. Mereka setiap hari berhubungan dengan sanggar, senjata dan orang-orang yangmemerlukan bantuannya. Tanpa dor ongan dari orang lain, maka keduanya akan kehilangan gairah untukmenempuh kehidupanyang  sewajarnya.” “Atau katakan saja keduanya belum menginginkannya. Jika saat itu sudah datang,maka keduanya akan dengan sendirinya memperhatikan seorang perempuan. Kami, di padepokan ini bukannya terpisah mutlak dengan dunia di sekitar kita. Anakanak padukuhan banyak yang  ada di padepokan ini tanpa terikat untuk menjadi cantrik disini. Pada saat yang lain, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga sering pergi ke padukuhan-padukuhan itu untuk bermacam-macam keperluan, karena padepokan ini belum dapat mencukupi segala macam kebutuhannya. Dari keperluan sehari-hari yang paling sederhana sampai yang  paling rumit, padepokan ini masih banyakyang  belum dapatmemenuhinya,meskipun kita sudah berusaha. Karena itu, maka hubungan antara padepokan ini dengan padukuhan-padukuhan di sekitarnya dapat berkembang dengan baik.” “Tetapi hubungan antara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan orang-orang padepokan itu masih dalam rangka peningkatan ilmunya. Bukan, maksudku bukan itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak boleh tenggelam dalam ilmu bercocok tanam, ilmu perbintangan, sejarah dan tugasnya yang lain-lain lagi. Mereka tidak boleh berpikir terus tentang kehidupan masa mendatang. Bagaimana bentuknya, ujudnya dan segalamacam persoalan yang dapat timbul. Tetapi mereka juga harus hidup wajar seperti orang lain. Anak-anak muda yang sebay a dengan mereka, telah dikurniai beberapa orang anak,” berkata Mahisa Bungalan. “Mahisa Bungalan,” berkata Mahendra kemudian, “baiklah. Aku sependapat. Tetapi sudah tentu mereka akan dapat memutuskan mana yang terbaik bagi diriny a sendiri. Aku tidak dapatmenjanjikan apa-apa.” Mahisa Bungalan hanya dapat mengangguk-angguk saja. Namun didalam hati ia masih mengharap bahwa masih akan ada pembicaraan lagi. Namun mereka ayahnya telah berkata: “Beristirahatlah.” Mahisa Bunglan menarik nafas panjang. Ia mengerti maksud ayahnya. Sebagaimana ayahnya ber sikap kepadanya, maka agaknya demikian pula sikapnya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun demikian, Mahisa Bungalan itu masih berkata: “Ayah. Aku adalah Akuwu di Sangling. Aku kira aku akan dapatmembantu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat jika mereka benar-benar ingin memasuki satu dunia yang  lebih lengkap. Perkawinan.” “Tetapi ingat Mahisa Bungalan. Keduanya hidup di sebuah padepokan seperti ini. Keduanya bukan orang yang hidup di satu lingkungan yang  ramai sebagaimana Sangling. Jika keduanya berhubungan dengan gadis-gadis yang  terbia sa hidup dalam lingkungan yang ramai,maka padepokan seperti ini akanmenjadi dunia yang mengungkungnya dalam kesepian dan keterasingan. Kau tentu dapat melihat perbedaan yang sangat jauh dari kehidupan di Sangling dan kehidupan di padepokan ini,” jawab Mahendra. Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata: “Aku mengerti ay ah. Tetapi apakah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar akan menghabiskan seluruh umurnya di padepokan ini? Apakah mereka tidak pernah memikirkan kemungkinan untuk hidup di tempat yang  lebih balk lagi? Di Sangling keduanya tentu akan dihormati. Mereka akan mendapat tempat yang mapan. Bahkan jika mereka menghendaki di Lemah Warah pun mereka akan dapat mendapat kedudukan yang pantas. Sedangkan apa yang mereka dapatkan di padepokan ini?” “Apakah menurut pendapatmu, kedudukan mereka di padepokan ini kurang pantas?,” justru Mahendralah yang bertanya. “Menurut pendapatku ayah,” jawab Mahisa Bungalan, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan dapatmemberikan arti yang lebih besar dan hidup mereka jika mereka berada di tempat yang  lebih ramai dari tempat ini. Tempat yang lebih banyak dihuni orang. Hubungan yang lebih luas serta persoalan-persoalan yang  lebih yang  menyangkut segi-segi kehidupanyang lebih berharga bagi sesama.” “Jangan salah menafsirkan sikap kedua adikmu Mahisa Bungalan. Kedua adikmu disini pun dapat memberikan arti dari hidupnya, bahkan lebih besar dari di tempat-tempat yang ramai. Di tempat-tempat yang  ramai itu telah banyak orangorang yang  dapat memberikan isi dari putaran kehidupan. Tetapi disini tidak. Jarang sekali orang-orang yang  dapat mendorong untuk meningkatkan tataran kehidupan dari orang-orang padukuhan. Jika tidak ada orang-orang yang rela menyerahkan pengabdian seperti kedua orang adikmu, maka tataran kehidupan di padukuhan-padukuhan itu tidak akan berubah, atau katakan, perubahan itu akan datang sangat lambat.” Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. la mengerti sepenuhnya keterangan ayahnya. Namun rasa-rasanya ia masih juga berharap bahwa adiknya tidak terbenam dalam kehidupan yang terasa sempit itu. Dunia terasa tidak lagi sampai ke cakrawala. Tetapi terbatas pada dinding dinding padepokan itu saja. Namun sekali lagi Mahendra berkata: “Sudahlah Mahisa Bungalan, beristirahatlah. Bagaimanapun juga, aku besok akan berbicara dengan kedua adikmu. Aku tahu, bahwa kau sendiri tidak dapat mengatakannya kepada keduanya karena kau tidak ingin terjadi salah paham. Tetapi aku yang mengerti perasaanmu tetapi juga mengerti perasaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan mencoba untuk mencari titik-titik temu dari pendapatmu itu dengan sikap kedua adikmu.” “Sekarang, tidurlah. Adikmu tentu masih melihat-lihat padepokan ini sebagaimana sering dilakukannya pada malam hari,” berkata ayahnya kemudian. Mahisa Bungalan pun kemudian kembali ke biliknya sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmemasuki bangunan induk itu. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada di bilik Wantilan, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mencoba untuk memancing tanggapan mereka terhadap ayah mereka, Mahendra yang telah membimbing terutama Mahisa Amping dan Mahisa Semu, justru lebih banyak dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Kami merasa sangat berterima kasih,” jawab Mahisa Semu. “Aku dahulu jugamulai sebagaimana kalian mulai,” berkata Mahisa Murti. “Aku berharap bahwa aku dan Amping tidak mengecewakannya,” berkata Mahisa Semu pula. “Tentu tidak,” jawab Mahisa Pukat, “ayah menganggap kalian telah berbuat sebaik-baiknya. Ayah berharap bahwa dalam waktu yang direncanakan, kalian telah memasuki tataran-tataran yang  telah disusunnya. Namun agaknya ay ah tidak akan kecewa karena sampai saat ini, kalian telah menunjukkan kemampuan kalian mengikuti rencana ay ah itu.” Keduanya mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Murti bertanya kepada Wantilan: “Bagaimana dengan paman Wantilan?” “Aku telah mendapatkan jauh lebih banyak dari yang  aku harapkan saat aku minta untuk pergi bersama kalian,” jawab Wantilan. Mahisa Murti tersenyum. Katanya: “Mudah-mudahan paman akanmendapat lebih banyak lagi di tempat ini.” “Aku y akin akan hal itu,” jawabWantilan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka sempat berbicara untuk beberapa lama sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmeninggalkan bilikmereka. Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sampai ke bangunan induk, maka baik Mahendra, maupun Mahisa Bungalan telah tidak ada di ruang dalam. Mereka telah berada di bilik masing-masing. Dua orang cantrik yang  duduk di pendapa mengatakan, bahwa bangunan induk itu memang sudah menjadi sepi. “Kalian bertugas disini?” bertanya Mahisa Murti. “Ya,” jawab salah seorang dari kedua cantrik itu, “sampai menjelang dini.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Menjelang dini kedua orang cantrik itu akan digantikan oleh dua orang cantrik yang lain, sehingga kedua orang itu akan sempat beristirahatmenjelang pagi hari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri pun kemudian telah bersiap-siap untuk beristirahat pula. Namun keduanya masih sempat pergi untuk melihat para tawanan yang  telah dipersiapkan untuk dibawa oleh Mahisa Bungalan esok pagi. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak ingin mengganggu mereka sehingga karena itu,maka ia tidak segeramendekat. Dari jarakyang  agak jauh keduanyamelihat bangunanyang  dipergunakan untukmenawan mereka adalah bangunan yang kokoh. Sementara itu, beberapa orang pengawal berada di depan bangunan itu. Bukan sekedar para cantrik, tetapi diantara mereka terdapat tiga orang prajurit pengawal Mahisa Bungalan. Namun ternyata mereka telah menjadi lengah. Para tawanan yang menyadari bahwa esok mereka akan dibawa ke Sangling,makamereka telah berusaha untuk berbuat sesuatu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang  berada di sela-sela pohon perdu di longkangan dua barak yang  berdekatan tidak terlalu jauh dari bangunan yang  dipergunakan untuk menawan para penjahat yang  akan dibawa ke Sangling itu tiba -tiba saja melihat atap bangunan itu bergerak-gerak. Meskipun malam menjadi gelap, tetapi karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah lama berada di kegelapan, serta kemampuan pandang mereka yang  sangat tajam, maka mereka pun telah melihat atas di bagian belakang barak itu bergerak-gerak. Mahisa Murti yang melihat sebuah kepala tersembul dari antara atap ijuk dari bangunan itu, telah menggamit Mahisa Pukatyang  sedangmemperhatikannya juga. Namun kemudian Mahisa Murti itu berbisik, “Kau pergi ke sebelah longkangan itu. Kita harus menjaga dari beberapa arah agarmereka tidak lari ke luar.” “Aku beritahukan kakang Mahisa Bungalan,” desis Mahisa Pukat. “Tidak ada waktu lagi,” jawab Mahisa Murti. Mahisa Pukat tidak membantah. lapun kemudian telah menyusup diantara gerumbul-gerumbul perdu, untuk mengambil arahyang lain dari Mahisa Murti. Namun keduanya juga tidak sempat memberi isyarat apapun kepada para cantrik dan prajurit Sangling yang  berada di depan barak itu sambil minum-minuman hangat dan berkelakar untuk menjaga agar mereka tidak menjadi kantuk. Namun mereka sama sekali tidak mengira bahwa para tawanan itu sempat menemukan kelemahan dari barak yang kokoh kuat itu. Yaitu pada atapnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatyang mengamati barak itu dari tempat yang berbeda telah melihat seorang diantara mereka telah keluar dan dengan sangat berhati-hati merayap di atas atap. Sejenak kemudian seorang kawannya telah merayap pula keluar dari atap itu. Mahisa Murtimenjadi cemas, bahwa jika mereka semuanya yang ada di dalam barak itu merangkak keluar, maka berdua dengan Mahisa Pukat, ia akan mengalami kesulitan untuk menangkap mereka. Kecuali membunuh mereka dari jarak jauh tanpa ampun. Namun jika hal itu dilakukan, maka keinginan kakaknya untukmenyadap keterangan dari mereka akan menjadi urung. Karena itu, maka sebelum orang-orang yang  tertawan itu berlari-larian ke sana kemari dan bahkan mungkin ada diantara mereka yang sempat meloncat keluar dinding padepokan, maka Mahisa Murti telah menempuh jalan yang lebih baik. Karena itu, maka iapun telah merangkak ke sudut barak tersebut. Dengan serta merta Mahisa Murti telah memukul sebuah kentongan kecil untuk memberi isy arat kepada setiap orang yang bertugas agar berhati-hati. Untuk tidak mengejutkan para catrik yang tertidur lelap, maka bunyi kentongan itupun justru dengan nada dara muluk namun patah di tengah. Irama itu diulang sampai beberapa kali. Para petugas dan para prajurit Sangling yang ada di bangunan yang  kokoh itupun mendengar suara kentongan yang aneh itu. Namun dengan demikian,mereka seakan-akan telah diperingatkan alas tugas-tugasnya. “Kita meronda,” berkata salah seorang dari prajurit itu. Tiga orang prajurit Sangling itupun telah memberitahukan kepada para cantrik, bahwa mereka akan meronda. “Aku ingin mendapatkan sumber suara kentongan kecil itu.” “Dekat. Nampaknya dari barak di sebelah,” jawab seorang dari para cantrikyang  bertugas itu. Kentongan kecil itu memang tidak dipukul terlalu keras. Suaranya tidakmengumandang di seluruh padepokan.Namun terdengar dari barak tempat para tawanan itumelarikan diri. Dalam pada itu, para tawanan yang mendengar suara kentongan itupun terkejut. Iramanya yang aneh memang sangat meragukan. Kesannya seperti anak-anak yang sedang bermain-main. Namun bagaimanapun juga, mereka merasa bahwa ada orang yang  telahmelihat Mereka keluar dari atap barak itu. Dengan demikian,maka orang-orang yang telah keluar dari atap barak tawanan itupun dengan cepat berusaha untuk meloncat turun. Namun Mahisa Pukat ternyata bergerak cepat pula. Ia sudah menunggu jika ada diantara mereka yangmeloncat dari atap. Sementara itu, para cantrik dan prajurit Sangling yang  ada dibagian depan barak itu telah mulai bergerak. Dua orang kesebelah kiri dan dua orang kesebelah kanan. Mahisa Murtilahyang  kemudian mendekati dua orang yang  bergerak ke kiri itu, sehingga kedua orang itu terkejut. Dengan serta merta keduanya telah merundukkan tombaknya ke arah dada Mahisa Murti. Namun Mahisa Murti dengan cepat berkata: “Cepat. Pergi kc belakang barak. Beberapa orang telah keluar dari atap. Jangan timbulkan keributan agar tidak membuat padepokan inimenjadi gempar.” Kedua orang itu terkejut. Dengan serta merta merekapun berlari ke belakang barak. Mereka dengan segera memandangi atap barak itu untuk mencari orang yang dikatakan oleh Mahisa Murti. “Disini,” tiba -tiba mereka mendengar suara. Ternyata Mahisa Pukat telah siap di tempat yang  lebih dekat lagi dari barak para tawanan itu. Untuk beberapa saat para tawanan yang ada di atas atap itu menjadi bingung. Sementara itu, Mahisa Murti telah membuka pintu barak dan bersama beberapa orang telah memasuki barak itu. Beberapa orang memang telah ber siap-siap untuk memanjat. Tetapi kehadiran para cantrik dan prajurit ber senjata itu telahmengejutkanmereka. Ada diantara mereka yang telah bersiap untuk melawan. Namun Ujung-ujung tombak para cantrik dan prajurit telah mengurungkan niatmereka. Yang sudah terlanjur keluar dari atap ternyata semuanya enam orang. Semuanya adalah mereka yang  dipersiapkan untuk dibawa ke Sangling esok pagi. Namun dalam pada itu, tanpa menimbulkan keributan di seluruh padepokan, maka beberapa orang cantrik yang lain telah bergerak mengepung barak itu. Seorang cantrik telah memberitahukan kepada para cantrikyang  sedang bertugas di regol agar mereka menjadi berhati-hati dan mengajak empat orang diantara mereka untuk membantu menangkap orangorang yang  telahmelarikan diri. Memang tidak terdengar isyarat apapun. Kentongan kecil Mahisa Murti tidakmembangunkan para cantrik dan prajurit yang telah tertidur. Mereka yang  sedang terbangun pun tidak begitu menanggapi suara kentongan yang tidak memberikan isy arat apa-apa. Bahkan seorang cantrik telah bergeramang: “Siapa yang  bermain-main dengan kentongan malam-malam begini?” Tetapi cantrik itupun segera telah tertidur lagi. Dengan demikian, maka seluruhnya ada lima belas orang cantrik dan prajurityang  ada di sekitar barak itu. Empat orang diantara mereka bersama dengan Mahisa Murti tengah mengikat para tawananyang masih ada didalam barak. Selain mereka yang akan dibawa oleh Mahisa Bungalan, maka para tawanan yang  dianggap berbahaya oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dan tidak akan dilepaskan bersama-sama tawananyang lain, ada pula didalam barak itu. Sementara itu, sebelas orang cantrik yang  lain bersama Mahisa Pukat telah mengepung barak itu. Tetapi sebagian besar dari antara para cantrik itu memang berada dibagian belakang dari barakyang  telah dikoy akkan atapnya itu. “Meny erahlah,” perintah Mahisa Pukat, “kami masih ber sabar dan berusaha untuk tidak membangunkan seisi padepokan ini. Jika mereka terbangun,maka para cantrik dan prajurit Sangling yang marah itu akan berbuat apa saja untuk menumpahkan kemarahan mereka ataskalian.” Enam orang yang telah berada diluar barak lewat atap itu termangu-mangu. Mereka tidak dapat memandang jelas ke arah longkangan di sekitar barak itu. Halamanyang  agak luas di sebelah barak itu ditumbuhi pohon-pohon perdu yang membuat halaman itumenjadi tidak jelas. Keenam tawanan itu kemudian menyadari, bahwa mereka tidak mengenalmedan itu dengan baik, sehingga mereka akan dapat menjadi bingung. Jika mereka nekat melompat turun, makamereka tentu akan diburu seperti orangmemburu tupai. Beberapa saat orang-orang itu masih termangu-mangu. Sementara mereka mendengar bahwa barak itupun telah dibuka dan beberapa orang cantrik atati prajurit telah masuk ke dalamnya. Sementara itu, Mahisa Pukat telah sekali lagi berkata kepada orang-orang yang  ada di atas atap: “Meny erahlah sebelum keadaan berubah.” Keenam orang yang  berhasil keluar dari barak dan bertengger di atas atap itu memang tidakmempunyai pilihan. Jika mereka tidak mau mengerti akan keadaan yang mereka hadapi, maka mereka benar -benar akan dibinasakan dengan cara yang sangat pahit. Karena itu, maka seorang diantara mereka, mewakili kawan-kawannya berkata: “Baiklah. Kamimenyerah.” “Meloncatlah,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Orang-orang itu memang ragu-ragu untuk meloncat dari atap. Namun Mahisa Pukat telah membentak: “Meloncatlah. Atau barak itu akan kami bakar sehingga kalian akan ikut menjadi abu.” Betapapun mereka ragu-ragu, namun mereka memang harus meloncat ketika dua orang cantrik yang  berdiri di sebelah meny ebelah Mahisa Pukat dengan sengaja menunjukkan busur dan anak panah. Bagaimanapun juga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk tidakmembangunkan para cantrik yang  tidak bertugas, namun ternyata satu dua orang telah mendengar keributan itu. Meskipun suara keributan itu kemudian terdiam dan tidak lagi berkelanjutan, tetapi beberapa orang cantrik telah keluar dari barakmereka. Akhirnya, berita tentang orang-orang yang  akan melarikan diri itupun segera tersebar. Beberapa orang cantrik tertua telah tergesa -gesa pergi ke barak para tawanan. Mahendra yang kemudian juga terbangun, bersama Mahisa Bungalan telah pergi ke barak itu juga. Namun pada saat yang demikian, pada saat padepokan itu bagaikan terbangun, keenam orang itu telah berada di dalam barak itu sebagaimana semula. Meskipun demikian, para cantrik dan prajurit yang  bertugas ketika ditanya oleh Mahisa Bungalan, tidak dapat ingkar lagi. Terutama para prajurit. Mereka menunduk dalamdalam saat mata Mahisa Bungalan bagaikan memancarkan api. Pemimpin prajurit yang  bertugas berjaga-jaga itupun segera dimintamemberikan laporan. “Kalian tahu apa jadiny a jika tidak ada kedua adikku itu?” bertanya Mahisa Bungalan. Namun Mahisa Bungalan masih menahan diri untuk tidak memberikan hukuman kepada prajurit yang  menjadi lengah dan tidak mengetahui bahwa enam orang tawanan mereka telah lobs. Dalam pada itu, maka akibat dari usaha keenam orang itu untuk. lari, maka para tawanan pun telah diikat pula kaki dan tangannya. Sedangkanyang  telah berhasil keluar lewat lubang yang dibuat di atap itu, telah diikat kaki dan tangannya yang kemudian diikat pula pada tiang. “Kalian jangan mencoba sekali lagi,” berkata Mahisa Bungalan, “kalian sebaiknya mengucapkan sy ukur bahwa kalian jatuh ke tangan kedua orang adikku. Jika kalian jatuh ke tangan para prajurit di Sangling,maka keadaan kalian tentu akan berbeda.” Keenam orang yang  berusaha untukmelarikan diri itu tidak menjawab. Namun Mahisa Bungalan berkat selanjutnya: “Aku besok hanya akan membawa enam orang itu saja. Mereka pantasuntuk ditempatkan di tempatyang  paling keras, karena mereka telah berusaha untukmelarikan diri.” Keenam orang itu saling berpandangan sejenak. Seorang kawannya yang menurut rencana di keesokan harinya akan dibawa pula ke Sangling ternyata telah dibatalkan, karena orang itu tidak berniat untuk melarikan diri, meskipun kemungkinan lain dapat terjadi. Sejak saat itu, ternyata padepokan itu tidak tertidur lagi. Para cantrik, para prajurit dan para pemimpin padepokan itu menjadi sulit untuk tidur karena peristiwa itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah memerintahkan para cantrikyang bertugas tidak hanya berada di depan barak itu saja. Tetapi mereka harusmembagi daerah pengawasan. Setiap kali hanya dengan meronda berkeliling ternyata masih belummencukupi. Sementara itu, Mahisa Bungalan justru telah memerintahkan pa sukannya untuk berkemas. Besok, di dini harimereka benar-benar akanmeninggalkan padepokan itu. Namun dengan demikian maka dapur pun telah menjadi sibuk pula. Lebih awal dari rencananya. Menjelang-fajar, segala sesuatunya memang sudah bersiap. Para prajurit dan para tawanan. Sementara itu mereka telah mendapatkan tujuh ekor kuda. Ternyata hanya enam saja yang akan dipakai oleh para tawanan. Para petugas di dapur pun kemudian telah memberikan makan dan minum kepada para tawanan yang  akan dibawa oleh Mahisa Bungalan, sementara para prajurit telah makan pula di dapur. “Kau akan berangkat lebih awal?” bertanya Mahendra. “Hanya berselisih waktu beberapa saat,” jawab Mahisa Bungalan, “namun mumpungmataharimasih dalam dibawah cakrawala. Kami akan kembali ke Sangling.” Mahisa Bungalan pun telah minta diri pula kepada Mahisa Amping yang  juga terbangun, Mahisa Semu, Wantilan dan semuanya yang  telahmengerumuninya. Sejenak kemudian, maka para prajurit yang  membawa enam orang itumulai bergerak. Seperti dikatakan oleh Mahisa Bungalan, maka keenam orang itu telah diperlakukan dengan keras. Sambil berkuda, tangan mereka telah terikat. Sikap para prajurit Sangling memang tidak sama sebagaimana sikap para cantrik padepokan Bajra Seta. Sikap para prajurit itu. lebih tegas dan lebih keras. Demikian pula sikap Mahisa Bungalan. Berbeda sekali dengan sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Keenam orang itu menjadi semakin berdebar-debar. Mereka mulai bertanya di dalam hati, seandainyamereka tidak melarikan diri, apakah sikap para prajurit Sangling akan berbeda? Tetapi hal itu sudah terlanjur dilakukannya. Mereka telah mencoba untukmelarikan diri dan gagal. Usaha melarikan diri yang gagal itu ternyata telah menguntungkan seorang kawannya yang batal dibawa ke Sangling.Orang itu bukannya tidak akan melarikan diri. Iapun ikut dalam usaha melarikan diri itu. Tetapi karena ia mendapat giliran terakhir, maka ia belum sempat memanjat dan keluar dari lubang yang telah berhasil dibuat pada atap barak itu. Bahkan bukan hanya ketujuh orang itu Baja. Tetapi kelima orang yang  akan tetap menjadi tawanan padepokan itupun sebenarnya juga akan ikut pulamelarikan diri. Demikianlah dalam keremangan pagi, iring-iringan itu berjalan dengan cepat. Mereka menyusuri jalan-jalan bulak yang panjang dan pendek. Di beberapa padukuhan yangmasih gelap, iring-iringan itu telah mengejutkan orang-orang yang  berada di gardu. Tetapi para peronda itu tidak berani menghentikan orang-orang berkuda itu. Apalagi mereka melihat, enam orang diantara orang-orang berkuda itu terikat tangannya. Mahisa Bungalan yang  berkuda di paling depan tidak menghiraukan orang -orang yang  berada di gardu memandang iring-iringannya dengan penuh pertanyaan. Dan bahkan sebagian dari mereka menjadi camas. Namun tidak seorang pun diantara para per onda itu yang menegur iring-iringan itu atau mempertanyakan orang-orang yang  terikat diantara mereka. Ketika matahari mulaimembayangmenjelang terbit, maka iring-iringan itu sudah menjadi semakin jauh. Iring-iringan itu mulai berpapasan dengan orang-orang yang  pergi ke pasar. Orang-orang yang membawa barang-barang dagangan di atas kepala dan perempuan-perempuan yang menggendong bakul, telah menepi ket ika mereka melihat iring-iringan itu berjalan cepat. Orang-orang itu hanya dapat saling bertanya tentang orang-orang berkuda yang  terikat tangan mereka diantara orang-orang lainyang mengiringinya. Sementara itu, di padepokan Bajra Seta, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah menempatkan dan mengatur kembali para tawanan yang tertinggal. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang langsung menangani orang-orang yang berusaha melarikan diri itu akhirnya mendapat keterangan, bahwa sebenarnya semua tawanan yang ada di barak itu akan melarikan diri. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru mendapat keyakinan bahwa kesimpulan mereka benar. Lima orang diantara orang-orang yang dianggapnya berbahaya itu, memang orang-orang yang  berbahaya ditambah dengan seorang yang  tidak jadi dibawa ke Sangling. Mereka berenam akan ditempatkan di sebuah barak yang  khusus yang akan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Namun sementara itu, mereka telah dipindahkan ke sebuah barakyang tidak terlalu besar. Namun tangan dan kakimereka masih saja harus terikat baik-baik. Meskipun tidak segarang Mahisa Bungalan, namun Mahisa Pukat telah berkata kepada orang-orang yang ternyata juga merencanakan untukmelarikan diri itu. “Siapa yang mencoba untuk sekali lagi melarikan diri, maka akibatnya akan sangat disesali. Kami dapat berbuat apa saja atas kalian tanpa ada keterikatan atas paugeran apapun. Berbeda dengan para prajurit. Mereka harus bertindak berdasarkan pada tugas dan wewenangmereka.” Tidak ada orang yang menjawab. Tetapi wajah-wajah mereka rasa -rasanya sudah menjadi sekeras batu. Namun dengan demikian maka para cantrik padepokan itupun benarbenar tidak boleh lengah menghadapimereka. Ketika kemudian matahari terbit dan memanjat langit semakin tinggi, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memanggil tawanan-tawanan mereka yang dianggap tidak herbahaya. Kepada orang-orang itu Mahisa Murti berkata: “Kami akan melihat dalam beberapa hari ini. Jika kalian benar-benar menjadi baik sebagaimana kami harapkan, maka kami akan membuat pertimbangan-pertimbangan baru terhadap kalian. Mungkin kami tidakmengirimkan kalian ke Sangling, tetapi ke Singasari. Bahkan mungkin ada pilihan lain yang lebih baik bagi kalian.” Orang-orang itu memang masih bertanya-tanya. Setelah peristiwa usaha melarikan diri itu, apakah mereka masih akan diperlakukan dengan wajar atau mereka akan mendapat tekanan lebih berat lagi. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengambil keputusan, orang-orang yang akan dilepaskan itu akan dilihat lagi dengan cara mereka. Orang-orang itu akan dipekerjakan di sawah dan ladang untuk beberapa hari. Hasil dari pengamatan mereka akan menentukan keputusan atasmereka itu. Dalam pada itu, selagi orang-orang yang  tertawan mendapat kesempatan bekerja di sawah dan ladang di bawah pengawasan para cantrik,maka di antara mereka yang terluka pun telah mendapat perawatan dengan baik. Perlahan-lahan luka-luka mereka pun menjadi semakin sembuh. Beberapa orang yang  telah menjadi semakin baik itu, telah dapat ikut membantu bekerja apa saja di kebun dan di pategalan di belakang barak. 'Ternyata sikap para cantrik benar-benar telah mempengaruhi mereka. Sikap yang  baik dan ramah, telah meluluhkan kekerasan hati mereka. Orang di antara mereka yang telah sembuh dari luka-luka mereka telah menyatakan untuk tetap tinggal di padepokan itu apabila diperkenankan. “Kalian tidak dapat berada di padepokan ini,” berkata Mahisa Murti, “tetapi kalian dapat ikut dalam berbagaimacam tuntunan yang diselenggarakan di padepokan ini sebagaimana anak-anakmuda di padukuhan-padukuhan sebelah. “Tetapi di mana kami akan tinggal?” bertanya orang-orang itu. “Jika kalian memang berkeras untuk melakukannya, maka biarlah aku berbicara dengan Ki Buyut. Jika Ki Buyut berkenan memberikan sebidang tanah buat kalian, maka kalian akan dapat tinggal. Kalian dapat menggarap sawah untuk hidup kalian sehari-hari. Sementara itu kalian ikut belajar meningkatkan kemampuan kalian untuk menggarap tanah kalian itu,” berkata Mahisa Murti. Ternyata mereka bersedia melakukannya. Sehingga karena itu, maka Ki Buyut telah memberikan sebidang tanah yang berada di sebuah padang perdu yang luas. “Tetapi padang perdu itu bukan tanah yang subur,” berkata Mahisa Pukat kemudian setelah mendapat persetujuan Ki Buyut. Orang-orang itu memang agak menjadi kecewa. Namun Mahisa Pukat berkata: “Kalian berniat bekerja keras atau tidak?” “Ya,” jawabmereka hampir berbareng. “Jika demikian,maka kalian harus berusaha menaikkan air dari Kali Rangkut itu ke tanah yang  kalian dapatkan. Kali Rungkut memang sebuah sungai yang tidak begitu besar. Tetapi jika kalian berhasil menaikkan airnya, maka kalian akan mendapatkan satu keuntungan yang sangat besar. Seluruh tanah yang kalian dapatkan dari Ki Buyut itu akan dapat kalian airi. Dengan demikian,maka tanah itu tidak lagi akan menjadi tanahyang  tandus,” berkata Mahisa Pukat. Ternyata orang-orang itu dengan hati melakukannya. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengijinkan orang-orang yang  dianggap sebagai orang-orang yang dianggap sebagai orang-orang yang  berbahaya untuk membantu mereka bersama-sama beberapa orang cantrik yang sekaligus mengawasi mereka membangun sebuah bendungan. Kali Rangkutmemang bukan sungaiyang  besar. Karena itu, pekerjaan untukmembendung sungai itupun bukan pekerjaan yang sangat besar.Namun jika mereka berhasil, maka air dari sungai itu akan dapat mengalir ke padang perdu yang  akan dijadikan tanah persawahan. Dengan air itu, maka padang perdu itu tentu akan dapat menjadi tanah per sawahan yang subur. Sementara mereka dapat mengambil pupuk dari kandang-kandang yang  ada di padukuhan-padukuhan serta sampah dari hutanyang  dapat ditanam di lubang-lubang yang dibuat di padang perdu itu, sehingga pada suatu saat, padang perdu itu siap untuk ditanami. Namun ternyata di antara orang-orang yang  tertawan itu masih saja ada yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang tinggi,melampaui para cantrik terpenting di padepokan itu. “Jika aku ingin,” berkata orang yang  batal dibawa ke Sangling, “aku tentu dengan mudah dapat melarikan diri dalam keadaan seperti ini. Dua tiga cantrik yang akan mencegahkan akan dapatmudah aku binasakan.” “Kenapa tidak kau lakukan?” bertanya seorang di antara mereka yang berusaha untuk mencari jalan kehidupan yang lebih baik daripada merampok atau menjadi seorang penyamun. “Aku masih ingat akan keadaan kalian,” bertanya orang yang telahmeny ombongkan diriny a itu. “Apa hubungannya dengan kami?” bertanya yang lain. “Jika seorang saja di antara kita yangmelarikan diri, maka yang tinggal akan hancur. Kepala kalian akan dipecahkan oleh orang-orang padepokan yang  gila itu. Tanpa belas kasihan,” berkata orang itu. “Tetapi yang pernah berusaha melarikan diri namun tertangkap itu, ternyata tidak dihancurkan,” jawab seorang di antara mendengarkannya. “Di sini,” jawab orang itu, “di Sangling mereka akan menjadi jeladren. Tetapi agaknya mereka masih merasa segan untuk membawaku, karena dengan demikian mereka akan menghadapi kemungkinan buruk setiap saat. Terutama di perjalanan, karena aku memang memiliki sifat yang kadangkadang dengan tiba-tiba meledak.” “Apa yang akan kau lakukan,” bertanya kawannya “Tentu saja menunggu kesempatan untuk melarikan diri. Sebaiknya kalian tidak berubah sikap. Kalian adalah penjahatpenjahat yang  sudah banyak dikenal. Karena itu, habiskan umur kalian dalam dunia kejahatan seperti aku.” “Kau telah berputus-asa,” sahut suara seorang yang sudah lebih tua. Tetapi orang itu tertawa. Katanya: “Bukan aku yang  berputus asa. Tetapi kalian. Kalian yang  sudah kehilangan da sar berpijak, sehingga berniat untuk berubah sikap. Tetapi kita dilahirkan untukmenjadi penjahat. Aku terima kodrat ini dengan dada tengadah.” “Jadi kenapa kau meny erah? Kenapa kau tidak berbuat sesuatu agar kau tidak menjadi tawanan waktu itu. Atau lebih baikmati dimedan?” bertanya orang tua itu. Orang yangmasih saja meny ombongkan dirinya itu tertawa semakin keras, sehingga beberapa orang lain dan beberapa orang cantrik berpaling kepadanya. Sejenak orang itu terdiam. Namun kemudian ia berkata: “Aku terpancing oleh keadaan saat itu. Aku juga mencoba untuk tidak membuat para cantrik dan seisi padepokan semakin kehilangan pengendalian diri dan berbuat sewenangwenang.” Yang lain tidak merasa perlu untuk mendengarkan lagi. Mereka lebih menekuni pekerjaan mereka daripada mendengar pembicaraanyang  sama sekali tidak berarti itu. “Kalian tidak mau mendengar aku?” tiba-tiba orang itu menggeram. Tidak seorang yang bertubuh tinggi tegapmenjawab. “Kau akan meny esal,” berkata orang itu selanjutnya, ”kesempatan ini harus kita pergunakan sebaik-baiknya. Kita akan melarikan diri bersama-sama. Jangan hanya aku, meskipun aku mampu melakukannya. Karena dengan demikian, kepergianku seorang diri itu akan membawa malapetaka bagi kalian.” “Aku tidakmau,” bentak orang bertubuh tinggi tegap itu. “Kau belum mengenal aku,” orang yang membual itu mendekatinya. Sambil memegang pundaknya ia berkata selanjutnya, “Jangan memaksa aku untuk menghancurkan lengan dan kakimu.” Tetapi orang itu justru menggeram: “Kita sama-sama pernah tinggal di dalam kekelaman kuasa setan. Jika kau memang ingin berkelahi, marilah kita berkelahi. Aku tidak peduli apakah salah seorang diantara kita akan mati di sawah ini.” “ Iblis kau,” orang itumenjadimarah kau beranimenantang aku. “ Itulah kesalahanmu yang  terbesar. Kau mengira bahwa tidak ada orang yang berani menantangmu. Sekarang, aku tantang kau. Tidak boleh seorangpun yang  memisah sampai kita berhenti sendiri apapun akibatnya,” jawab orang yang tinggi kekar. Orang yang  sombong itu termangu-mangu sejenak. Ia harus melihat keny ataan itu. Tubuh orang itu sangat besar dibanding dengan tubuhnya sendiri. Apalagi sikapny a yang  sudah mengeras Karena itu, maka iapun kemudian berkata: “Aku bukan seorang yang bodoh seperti kau. Aku masih memerlukan tenagaku untuk melarikan diri. Aku tidak mau terjebak kedunguan seperti kau. Bahkan aku menganjurkan agar kalian semua ber sedia melarikan diri bersamaku. Kita akan berlarilarian terpencar sehingga para cantrik akan menjadi bingung.” “Tidak,” geram orang yang  bertubuh tinggi besar itu. “Aku akan mengajak mereka yang  memiliki kemampuan berpikir,” berkata orang itu, ”bukan kau.” Orang yang bertubuh tinggi besar itu menggeram. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa -apa ketika orang yang menghembuskan usaha untuk melarikan diri berpaling daripadanya, dan bahkan kemudian telahmelangkah pergi. Di tempat lain ia juga berbicara dengan dua orang diantara mereka yang  tertawan. Iapun telah mengajak orang-orang itu melarikan diri. “Kita rnelakukan ber sama-sama. Setidak-tidaknya lima orang diantara kita. Jika kita berpencar, maka usaha para cantrik untuk menangkap kami tentu menjadi semakin sulit,” berkata orang itu. Kedua orang itupun merasa berkeberatan.Namun orang itu tiba -tiba telah mengancam: “Jika kau berdua tidak mau melarikan diri, maka kalian akan aku bunuh dalam bilik tahanan.” Kedua orang itu termangu-mangu. Mereka memang bukan orang yang  memiliki keberanian untukmenghadapi ancaman seperti itu. “Bawa dua orang lagi,” geram orang itu, “atau kalian akan mengalami siksaan yang tidak ada henti-hentinya sepanjang kita masih berkumpul di satu bilik.” Kedua orang itumemangmerasa takut terhadap orang yang  mengajaknya melarikan diri itu. Tetapi mereka pun tidak berani untuk dengan serta merta berlari berpencar. Di tempat itu banyak para cantrikyang akan dapatmengejarmereka. Seorang dari kedua orang itu berniat untukmelaporkan diri kepada para cantrik. Tetapi hal itupun tidak berani melakukannya. Dalam keragu-raguan itu orang yang  mengajaknya lari itu berkata: “Cepat, ajak dua orang lagi sebelum aku berubah pikiran. Karena aku pun dapat membunuhmu tidak usah menunggu sampai kerja kita ini selesai hdri ini.” Kedua orang yang termangu-mangu itu hampir saja melakukan perintahnya. Mencari dua orang yang akan diajaknya melarikan diri. Namun seorang diantara mereka ternyata telah sempat berpikir. Karena itu, ketika kawannya telah siap untuk mendekati kawannya yang  lainyang  juga bekerja di tempat itu tetapi agak terpisah, maka orang yang sempat berpikir itu telah mencegahnya. “Kenapa?,” bertanya kawannya. “Kita masing-masing tidak akan dapat melawannya. Tetapi bagaimana jika kita berdua?,” desis orang yang sempat berpikir itu. Kawannya termangu-mangu. Tetapi ketika sekilas ia melihat orang yang  mengajak melarikan diri itu, ternyata tengkuknya telah meremang. Orang yangmengajaknya lari itu rasa-rasanya memandanginya dengan sorot mata hantu yang mengerikan. “Kau takut?,” bertanya kawannya. “Ya,” jawab orang yang  tengkuknya meremang itu. “Kita harus membuat agar kita berkelahi disini. Tetapi ingat. Kita harus berdua. Jika kita sendiri-sendiri, kita akan segera dapat dikalahkan. Tetapi jika kita berdua, maka kita akan sempat bertahan beberapa lama, sehingga para cantrik akan ikut campur sebelum kita mati,” jawab kawannya yang berniat untukmelawan. Kawannya masih ragu-ragu. Sementara itu, orang itu melanglah mendekat sambil berkata: “Kenapa kalian belum pergi kepada mereka. Jika kita terlalu lama berdiam diri tanpa berbuat apa-apa, para cantrik itu akanmemperhatikan kita.” Tetapi orang yang berniat untukmelawan itu berkata tanpa menghiraukan kawannya lagi. “Aku memang berusaha menarik perhatian para cantrik. Aku tidak ingin melarikan diri.” “Setan kau,” geram orang itu “kau tahu apa yang  dapat terjadi atasmu?” “Kami berdua akan melawan. Para cantrik tentu akan ikut campur. Dan kau akan diadili dengan cara yang  khusus,” jawab orang yang menolakmelarikan diri itu. Orang itu memang menjadi sangat marah. Tanpa berkata apapun lagi, maka iapun telah meny erang dengan garangnya. Jari-jarinya yang  mengembang telah langsung menerkam leher orang yang menolaknya itu. Orang yang  menolak untuk melarikan diri itu memang telah bersiaga. Tetapi ternyata bahwa ia tidak sepenuhnya mampu membebaskan diri. Ia memang sempat menahan tangan orang itu sehingga tidak mencengkam lehernya dan memutuskan jalur pernafasannya. Tetapi dorongan yang sangat kuat telah mendesaknya beberapa langkah surut dan bahkan orang itu telah jatuh terlentang. Kesempatan itu tidak disia -siakan oleh orang yang  marah itu. Sekali lagi ia menerkam lawannya yang  memang tidak mampu lagi untukmenghindar. Namun orang yang  semula masih ragu-ragu itu, hampir diluar sadarnya telah melibatkan diri. Kakinya terayun dengan kerasnya menghantam tubuh orang yang telah menjatuhkan dirinya untuk menerkam orang yang  menolak ajakannya untukmelarikan diri itu. Serangan kaki itu demikian kerasnya, sehingga ia telah terpental selangkah dan jatuh berguling.Namun dengan cepat ia telah bangkit berdiri dan siap untukmeny erang lagi. Tetapi pada saat itu, orang yang  hampir saja dicekiknya itupun telah bangkit pula dan berdiri tegak disamping kawannya. Bahkan ia masih sempat berkata “Kita sama-sama pernah menjadi penjahat.” Namun dalam pada itu, para cantrik yang  terkejut melihat peristiwa yang terjadi dengan cepat itu, segera tanggap akan keadaan. Mereka segera berlari-lari mendekati. Namun demikian para cantrik itu masih tetap berhati-hati sehingga beberapa orang yang lain masih tetap mengawasi para tawananyang tengah berada di tempat itu. “Apa yang terjadi?,” bertanya seorang cantrik. “Orang itu memaksa aku dan kawanku melarikan diri. Bahkan aku harus mengajak dua orang lagi ber sama kami,” jawab orang yang menolak pergi itu. “Omong kosong,” jawab orang yang mengajak melarikan diri itu, “keduanya telah menghinakan. Mereka mengatakan bahwa aku pengecut. Enam kawanku telah melarikan diri. Kenapa aku tidak. Aku merasa sangat tersinggung karena aku memang tidak ingin melarikan diri.” “Tidak,” teriak orang yang  semula ragu-ragu untuk melawan, “orang itu memang ingin mengajak kami melarikan diri.” “Jangan mengigau,” berkata orang itu, “aku tidak gila. Aku tahu bahwa saat seperti ini bukan saatnya untuk melarikan diri. Melarikan diri pada saat seperti ini, sama saja artinya dengan membunuh diri. Nah, kalian tidak akan dapat memfitnah aku dengan alasan itu.” Para cantrik yang berdiri mengelilinginya memangmerasa ragu. Namun orang yang bertubuh tinggi kekar dan juga tidak ber sedia melarikan diri itu tiba-tiba telah meny ibak dan melangkah mendekat sambil berkata: “Orang ini memang ingin melarikan diri. sejak di barak itu ia juga sudah. merencanakan untuk ikut melarikan diri. Tetapi ia terlambat karena para cantrik dan prajurit segeramemasuki barak.” “Setan kau. Kenapa kau turut campur? Kau sama sekali tidak mengetahui persoalannya. Aku, meskipun seorang tawanan juga mempunyai harga diri sehingga aku tidak mau dihinakan dengan cara yang sangatmenyakitkan.” Tetapi pernyataan orang yang  bertubuh tinggi tegar itu nampaknya agak meyakinkan para cantrik, sehingga seorang diantara mereka melangkah maju sambil berkata: “Sebaiknya kau berterus terang.” “Semua orang akan memfitnah aku. Apakah kalian percaya?” orang yang  akanmelarikan diri itu justru bertanya. “Aku yang  bertanya kepadamu. Bukan kau yang bertanya kepadaku,” geram cantrik itu. “Aku sudah menjawab,” berkata orang itu, “terserah kepadamu. Apakah kau percaya atau tidak.” Seorang cantrik yang  masih sangat muda menjadi sangat marah. Tetapi ketika ia melangkah maju, kawannya telah mencegahnya. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang  ternyata juga melihat kejadian itu, telah mendekat pula. Dengan nada rendah Mahisa Murti bertanya: “Apa yang telah terjadi disini?” Seorang cantrik telah mencoba menjelaskan persoalannya. Namun orang yang akan melarikan diri itu telah memotong: ”Semua itu fitnah. Aku belum gila untuk melarikan diri di siang hari dan di bawah pengawasan para cantrik.” Tetapi orang yang  diajak melarikan diri menyahut: “Orang itu mengharapkan lima orang diantara kami akan melarikan diri. Kami akan berpencar. Dengan demikian orang itu berharap bahwa ia akan dapat meloloskan diri meskipun keempat orang yang lain akan tertangkap lagi.” Tiba -tiba saja Mahisa Murti berkata: “Aku percaya kepadamu.Orang ini akanmelarikan diri.” Orang itu menggeram. Namun tiba-tiba ia bergeser selangkah surut sambil berkata: “Balk. Aku akan mengakui, bahwa aku memang akan melarikan diri. Tangkaplah jika kalian ingin menangkap aku. Bunuhlah jika kalian ingin membunuh aku. Tetapi sebelumnya aku ingin tahu, apakah benar orang -orang Bajra Seta itu memiliki kemampuan yang tinggi atau karena jumlahnya sajalah yang  terlalu banyak untuk dilawan. Seandainya ada seorang saja diantara para cantrik yangmampu melawan aku,maka aku akan berjongkok sambil menundukkan kepalaku dan menyerahkan leherku untuk dibantai di hadapan kalian dan para tawananyang  lain.” Mahisa Pukat menjadi marah. Tetapi Mahisa Murti menggamitnya ketika Mahisa Pukatmelangkah maju. Bahkan tiba -tiba saja Mahisa Murti berkata “Mahisa Semu akan menyelesaikannya.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian telahmengangguk-anggukmengiakan. Dengan demikian maka sejenak kemudian Mahisa Semu telah berada di dalam lingkaran. Namun agaknya Mahisa Semu masih belum begitu jela s apa yang  terjadi. Baru kemudian ia mengangguk-angguk ketika Mahisa Pukat memberinya penjelasan. “la menantang salah seorang cantrik dari padepokan Bajra Seta. Ia ingin tahu, apakah ada salah seorang cantrik yang dapat mengalahkannya. Karena itu, terserah kepadamu. Kau kami anggap cantrik yang masih muda. Jika melawan kau orang itu sudah tidak dapat mengimbangi, apalagi melawan para cantrikyang  lebih tua darimu.” Mahisa Semu mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah. Jika demikian,marilah. Kita akan mencoba siapakah diantara kita yang lebih baik. Aku berjanji, jika kau dapatmengalahkan aku maka kau akan mendapatkan pengampunan.” Wajah orang itu menjadi cerah. Katanya “Benar katamu? “Aku mohon para pemimpin padepokan ini meny etujui,” berkata Mahisa Semu. “Aku setuju,” jawab Mahisa Murti. Demikianlah kedua orang itupun telah berdiri saling berhadapan. Mahisa Semu memang masih jauh lebih muda dari orang itu. Namun selama ia berada di padepokan itu, ia telah mendapat penanganan khusus dari Mahendra sendiri di bawah pengawasan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sejenak kemudian kedua orang itu telah mempersiapkan diri. Orang yang  melarikan diri itu telah memastikan dirinya untuk dibebaskan dari padepokan itu. Ia merasa bahwa ia bukannya sejenis penjahat-penjahat kecil yang hanya mampu mencuri ayam atau itik di kandang. Tetapi ia adalah seorang perampok dan penyamun yang  ditakuti. Sedangkan cantrik yang ditunjuk untuk melawannya adalah cantrik yang  masih sangat muda, sehingga ia merasa bahwa ia tidak akan mendapatkan kesulitan untukmengalahkannya. Orang itu nampaknya memang ingin menunggu. Ketika Mahisa Semu bergeser orang itupun hanya bergeser pula. Sekali-sekali tangannya bergerak. Tetapi tidak untuk menyerang. Mahisa Semu memang merasakan bahwa sikap orang itu sangat merendahkannya. Orang itu menganggap bahwa Mahisa Semu yang muda itu tidak akan mampu berbuat apaapa. Namun ju stru karena itu, maka Mahisa Semu menjadi sangat berhati-hatimenghadapinya. Beberapa saat keduanya hanya saling bergeser sambil mengamati gerak-gerik lawan. Tetapi tidak seorang pun yang segera mulai meny erang. Bahkan sekali-sekali nampak orang yang akan melarikan diriny a itu tersenyummenyakitkan hati. Mahisa Semu memang tidak telaten. Tetapi ia memperhitungkan kemungkinan yang paling tepat untuk membuat orang itu terkejut dan terbangun. Sebenarnyalah, ketika Mahisa Semu telah menganggap waktunya tepat, justru pada saat orang itu bergeser, maka iapun telah meloncat menyerang. Serangan yang  tidak bia sa dilakukan. Dengan kecepatan yang  tinggi, kaki Mahisa Semu yang  terbuka telah meluncur menangkap dan menjepit tubuh lawannya. Ketika. Mahisa Semu kemudian memutar tubuhnya dengan sekuat tenaganya, maka lawannya itupun bagaikan baling-baling yang berputar pada por osnya. Dengan kerasny a orang itu jatuh terguling. Sementara itu dengan cepat Mahisa Semu melepa skan kakinya dan meloncat bangkit. Kelebihannya waktu sekejap telah memberikan kesempatan sekali lagi. Demikian lawannya itu melenting berdiri,maka kaki Mahisa Semu telah terjulur lurusmengarah ke dada orang itu. Orang itu memang tidak mendapat kesempatan untuk menghindar, bahkan menangkis serangan itu. Karena itu, maka Mahisa Semu telah berhasil mengenai sa sarannya dengan kekuatanyang  sangat besar. Terdengar orang itu mengaduh tertahan.Namun sekali lagi ia terlempar. Bukan sekedar diputar oleh jepitan kaki anak yangmasih terlalu muda itu. Tetapi serangan kaki di dadanya itu rasa-rasanya telahmeretakkan tulang-tulang iganya. Ketika orang itu meloncat bangkit, maka iapun telah ber siaga sepenuhnya. Namun ternyata Mahisa Semu tidak memburunya. Anak muda itu berdiri saja di atas kedua kakinya yang merenggangmemandangi lawannya yang  berdiri tegak pula serta bersiap menghadapi segala kemungkinan. Namun bagaimana pun juga orang itu tidak dapat menyembuny ikan dadanya yang  terasa sangat sakit. Nafa snya menjadi terengah-engah bagaikan tersumbat di tenggorokan. Tetapi hatinya serasa terbakar ketika ia melihat justru anak muda itulah yang  kemudian tertawa sambil berkata: “Marilah Ki Sanak. Bangkitlah. Bukankah kita sudah saling bertaruh. Jika kau menang kau dapat pergi dengan bebas ke mana pun kau suka. Tetapi jika kau kalah, kau sudah mempertaruhkan lehermu.” Orang itu mengeram. Matanya menjadi merah menyala. Giginya gemeretak sementara terdengar ia berkata: “Kau curang. Kaumencari kesempatan saat aku lengah.” “Adalah seorang yang memiliki ilmu dan kemampuanyang  baik pernah menjadi Iengah di pertempuran?” Mahisa Semu justru bertanya. “Kaumemang anak iblis,” orang itu hampir berteriak. Tetapi dengan tenang anak yang  masih sangat muda itu menjawab: “Apakah kaumengetahui ciri-ciri anak iblis?” Orang itu menjadi sangat marah. Karena itu, tanpa dapat mengendalikan dirinya lagi, maka ia pun. telah meloncat menyerang Mahisa Semu. Serangan orang itu memang mengejutkan. Tetapi Mahisa Semu yang sengaja mengungkit kemarahan lawannya telah ber siap sepenuhnya. Karena itu, maka ketika serangan itu benar-benar datang, Mahisa Semumasih sempatmenghindar. Tetapi lawannya tidak memberinya kesempatan. Ia pun dengan cepat memburunya. Orang itu ingin menebus kelengahannya dengan meny elesaikan lawannya yang masih sangatmuda itu secepatnya. Namun yang  terjadi adalah di luar kehendaknya. Setelah bertempur beberapa lamanya, orang itu ternyata masih belum dapat menundukkan Mahisa Semu. Dengan tangkasnya anak muda itu berloncatan menghindari serangan-serangan yang datang beruntun. Sekali-sekali menangkisnya namun kemudian dengan cepat ia membalas serangan-serangan itu dengan serangan-seranganyang  tidak kalah berbahayanya. Dengan demikian maka pertempuran itu menjadi semakin lama semakin sengit. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmenyaksikan pertempuran itu dengan segenap perhatian. Keduanya justru ingin tahu, apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Semu jika ia benar-benar membentur kekuatanyang cukup besar. Namun anak yang masih terlalu muda itu tidak mengecewakan. Beberapa kali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Namun keduanya menarik nafas lega. Meskipun demikian, kemungkinan yang  buruk masih saja dapat terjadi. Ia masih belum tahu, day a tahan siapakah yang lebih tinggi. Jika salah seorang dari keduanya, tenaganya mulai susut lebih dahulu, maka keadaannya akan menjadi gawat. Namun Mahisa Semu memiliki ketangkasan bergerak lebih dari lawannya. Karena itu, maka setiap kali serangan anak muda itulah yang  mengenai lawannya. Namun jika sekali tangan lawannya meny entuh tubuhnya, maka Mahisa Semu memang harusmengakui kekuatan lawannya. Ketika tangan lawannya yang  kuat sempat mengenai pundaknya maka Mahisa Semu memang seakan-akan telah diputar. Dalam kegoncangan keseimbangan lawannya ia telah menyerang dengan kakinya yang terjulur ke samping. Mahisa Semu memang kehilangan kesempatan berusaha untuk menghindar atau menangkis, sementara keseimbangannya sedang goyah. Namun Mahisa Semu tidak ingin tubuhnya dikenai lagi serangan lawannya itu. Karena itu, maka Mahisa Semu pun justru telah menjatuhkan dirinya tepat pada saat kaki lawannya menggapainya. Dengan demikian, maka MahisaSemu telah terhindar dari serangan lawannya itu. Bahkan setelah berguling sekali, maka dengan sigapnya Mahisa Semu telah bangkit dan berdiri tegak di ataskedua kakinya yang renggang. Ketika lawannya itu kemudian meloncat menyerangnya, maka Mahisa Semu telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Dengan demikian, maka Mahisa Semu telah dengan cepat pula bergeser menghindar. Demikianlah, pertempuran antara kedua orang 'itupun menjadi semakin lama semakin sengit. Keduanya bergantiganti menyerang. Orang yang akan melarikan diri itu adalah orang yang  memiliki pengalaman yang luas sekali. Ia telah mengalami berpuluh bahkan beratus kali perkelahian dan pertempuran. Telah berapa jiwa yang  pernah melayang karena kekuatan dan kemampuannya. Jari-jarinya yang  kokoh dan kakinya yang  kuat, telah membuatnya menjadi orang yang sangat ditakuti. Apalagi jika orang itu sempat memegang senjata. Mahisa Semu memang masih terlalu muda bagi lawannya itu. Pengalamannya pun belum begitu luas. Tetapi ia sudah ditempa dalam latihan-latihan yang keras, sehingga landasan ilmunya menjadi semakin kokoh. Menghadapi lawannya yang kuat dan cukup berpengalaman. Mahisa Semu memang harus berhati-hati. Tetapi ia tidak perlu merasa berkecil hati. Mahisa Semu cukupmemiliki bekal untukmelawannya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kadang-kadang memang menjadi tegang. Sekali-sekali Mahisa Semu memang nampak terdesak. Tetapi setelah berloncatan beberapa saat, Mahisa Semu segera menemukan kesempatan untukmengatasinya. Meskipun Mahisa Semu tidak dengan serta merta dapat mengalahkan lawannya, namun ternyata bahwa ia mempunyai kesempatan lebih baik dengan kekayaan unsur-unsur gerak yang dimilikiny a, sehingga ia tidak semata-mata berdasarkan kepada kekuatan kewadagannya saja. Ternyata beberapa saat kemudian, kelebihan Mahisa Semu mulai nampak. Setelah keduanya memeras keringat, serta mengerahkan tenaga dan kemampuan mereka, maka kelebihan daya tahan Mahisa Semu nampak semakin jelas. Agaknya orang yang akan melarikan diri itu telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, bahkan dengan memaksakan diri untuk dapat dengan cepat mengalahkan lawannya yang masih muda itu. Namun ternyata ia tidak berhasil. Karena itu, maka justru tenaga dan kekuatanyalah yang  semakin lama menjadi semakin menyusut. Betapapun tipisny a, tetapi terasa oleh Mahisa Semu, bahwa lawannya telah sampai ke batas kekuatannya. Namun nampaknya lawannya masih belum mengakui keadaannya. Ternyata ia masih menunjukkan kegarangannya. Tangannya menjadi semakin cepat bergerak. Jari-jarinya mengembang dan dengan berteriak keras, orang-orang itu telah menerkam Mahisa Semu seperti seekor harimau yang lapar. Mahisa Semu memang agak terkejut melihat serangan itu. Unsur gerak yang dihadapinya memang berubah dan dengan begitu tiba-t iba menunjukkan satu jenis ilmu dengan unsur gerakyang sangat garang. Namun Mahisa Semu yang terlatih itu tidak segera kehilangan akal. Ia melihat jari-jari yang mengembang itu. Karena itu, maka dengan sigapnya Mahisa Semu telah meloncat menghindarinya. Tetapi ia bukan saja menghindar. Ketika jari-jari itu hampir saja menyambar keningnya, Mahisa Semu justru telah berputar sambilmengayunkan kakinya. Satu serangan yang tiba -tiba pula. Kaki yang terayun dalam putaran itu, justru telah menyambar tengkuk lawannya. Demikian kerasnya, sehingga lawannya itu jatuh terjerembab. Mahisa Semu tidak memburunya. Ketika lawannya itu melenting berdiri, maka Mahisa Semu justru memberinya kesempatan untukmemperbaiki keadaannya. Tetapi tenaga orang itu benar-benar telah susut. Tulangtulangnya terasa sakit dan kulitnya pun telah terkelupas di beberapa bagian anggauta tubuhnya. Bahkan darah telah mulaimengembun di luka -lukanya itu. Namun orang itu sama sekali tidak berniat meny erah. Ia menganggap bahwa diriny a tentu akan mati. Seandainya ia menyerah maka para cantrik akan menuntut taruhan yang telah diucapkannya. Ia harusmerelakan kepalanya dipenggal. Karena itu, maka daripada ia mati sambil menundukkan kepalanya, maka ia akan menjadi lebih berharga jika ia mati dalam pertempuran itu. Dengan demikian, maka orang itu benar-benar telah memaksa diri untukmengerahkan sisa-sisa tenaganya. Sementara itu, ternyata Mahisa Semu masih tetap tegar. Meskipun ia juga mengerahkan tenaga dan kemampuannya, tetapi day a tahan tubuhnya ternyata jauh lebih baik dari lawannya yang  pertahanannya seakan-akan telah menjadi semakin rapuh. Dengan demikian, maka Mahisa Semu menjadi semakin sering mampu mengenai tubuh lawannya. Bahkan kadangkadang telah membuat lawannya seakan-akan kehilangan pijakan. Namun lawannya itu tidak segera menyatakan kekalahannya. Ia masih saja berusaha untukmelawan dengan sisa tenaganya. Meskipun beberapa kali ia terdorong surut. Bahkan kadang-kadang terbanting jatuh. Namun sama sekali tidak timbul niatnya untukmenyerah. Betapapun kuat day a tahan tubuh Mahisa Semu, namun iapun merasa bahwa pada suatu saat tentu akan sampai pada batasnya. Dengan demikian, maka ia harus menyelesaikan lawannya sebelum tenaganya sendirimenjadi su sut. Apalagi beberapa kali tubuhnya pun sudah dikenai oleh lawannya. Beberapa bagian tubuhnya telah merasa ny eri. Bahkan tulang-tulangnya punmerasa sakit. Karena itu, maka pada saat kekuatannya masih utuh, Mahisa Semu inginmemaksa lawannya itumenyerah. Tetapi usahanya sama sekali tidak berhasil. Betapapun juga lawannya terdesak, tetapimasih tetapmelawan. Kesabaran Mahisa Semu semakin lama menjadi semakin tipis. Sementara itu lawannya telah menjadi hampir tidak berday a. Namun ketika Mahisa Semu memberikan kesempatan sekali lagi kepadanya untuk meny erah, maka orang itu justrumengumpatinya. Mahisa Semu hampir kehilangan seluruh kesabarannya. Namun tiba -tiba ia sadar, bahwa tidak pantas baginya untuk membunuh orang yang telah menjadi tidak berdaya sama sekali. Dengan demikian, maka Mahisa Semu tidak lagi berniat membunuhnya. Tetapi ia hanya ingin merendahkan harga diri lawannya yang  sombong dan tidakmaumelihat kenyataan itu. Karena itu,maka serangan-serangan Mahisa Semu tiba-tiba telah mengendor. Ia tidak lagi garang dengan seranganserangannya yang  berbahaya. Bahkan seakan-akan tenaganya punmenjadi semakin susut. Lawannya yang melihat keadaan itu, rasa-rasanya keberaniannyamenjadi semakinmenyala di dalam dadanya. Ia yang sudah bertekad mati. akan membawa anak muda itu ber samanya. Dengan sisa tenaganya, maka perlawanannya yang  sudah hampir terhenti sama sekali itu menjadi bertenaga kembali meskipun hanya merupakan hentakan-hentakan sekejap. Namun hentakan-hentakan itu sama sekali tidak berarti apaapa bagi Mahisa Semu. Meskipun demikian orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu sempat menjadi cemas melihat perlawanan Mahisa Semu yang jugamenurun dengan cepat. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat, bahwa sebenarnya tenaga Mahisa Semu masih cukup besar untuk dengan cepat meny elesaikan pertempuran itu jika dikehendakinya. Namun agaknya Mahisa Semu memang telah merubah sikapnya. Ia tidak ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Apalagi denganmembunuh lawannya. Dalam pertempuran dengan sisa-sisa tenaga yang ada, maka lawan Mahisa Semu itu menjadi semakin sulit. Bahkan bukan lagimengatasi serangan-serangan Mahisa Semu, karena untuk selanjutnya seakan-akan Mahisa Semu tidak lagi pernah menyerangnya. Tetapi lawannya itu mengalami kesulitan karena usahanya untuk memeras sisa -sisa tenaga yang  ada padanya. Sehingga beberapa saat kemudian, maka tenaganya bagaikan telah terkuras habis. Untuk berdiri tegak saja, rasarasanya orang itu sudah tidak sanggup lagi. Jika sekali lagi ia menghentakkan sisa tenaganya dan meny erang Mahisa Semu, maka jika serangannya tidak mengenai sasarannya, maka tubuh itu menjadi terhuyung-huyung terseret oleh ay unan tenaganya sendiri. Dalam keadaan yang  demikian, sentuhan tangan Mahisa Semu yang lemah sekalipun telah dapat mendor ongnya sehingga jatuh tertelungkup. “Bangun ataumeny erah,” geram Mahisa Semu. Orang itu benar-benar telah kehilangan pengamatan diri. Sekali lagi ia mengumpat habis-habisan. Tetapi ia mengalami kesulitan untuk bangkit. Namun orang itupun ternyata berhasil berdiri. Dengan sor ot mata yang bagaikan membara, ia memandang Mahisa Semu yang tersenyum sambil bergerak-gerak di hadapannya. “Marilah,” tantang Mahisa Semu, “jika kau memang sudah menjadi ketakutan, meny erah sajalah. Kau akan dituntut untukmemenuhi janjimu.” Orang itu tidak menjawab. Tetapi sekali lagi ia menghentakkan tenaganya untuk menyerang dengan jarijarinya yang mengembang. Seakan-akan orang itu ingin menerkam mulut Mahisa Semu yang baru saja mengancamnya. Tetapi tangannya tidak meny entuh sesuatu. Bahkan sekali lagi tubuhnya telah diguncang oleh berat badannya sendiri serta sisa kekuatannya yang memang sudah menjadi semakin kering yang  dihentakkannya untukmeny erang lawannya yang masih muda itu. Mahisa Semu sama sekali tidak membalas. Ia hanya bergeser sedikit ke samping dan membiarkan lawannya itu terhuyung-huyung dan jatuh terjerembab. “Kenapa kau tidakmeny erah saja he?,” teriak Mahisa Semu. “Aku koy akkan mulutmu,” geram orang itu sambil berusaha untuk berdiri. “Meny erahlah,” bentak Mahisa Semu. Tetapi orang itu justru telah bangkit dan berdiri pada lututnya. Mahisa Semu sama sekali tidak menyerangnya. Tetapi ia menunggu orang itu bangkit. Bahkan Mahisa Semu yang sebenarnya hampir kehilangan kesabaran itu harusmenahan diri. Ia mempunyai cara ter sendiri untuk menaklukkan lawannya yang  keraskepala itu. Karena lawannya masih berdiri pada lututnya, maka Mahisa Semu pun berkata lantang: “Meny erahlah. Atau bangkitlah. Kita bertaruh. Jika kau menang, maka kau dapat pergi ke mana kau suka. Tetapi jika kau kalah, kau harus menepati janjimu pula. Semua orangmendengar apa yang kau katakan itu.” Orang itu menggeram. Tetapi ia tetap tidakmau mengakui kekalahannya. Karena itu, maka ia masih berusaha untuk berdiri tegak. Betapa sulitnya akhirnya orang itu telah berdiri pula. Sementara Mahisa Semu mendekatinya sambil berkata “Apakah kitamasih akan bertempur terus?” “Tutupmulutmu,” bentak orang itu. “Apakah kaumasih mampu?” bertanyaMahisa Semu pula. “Aku akan membunuhmu,” orang itu berteriak. “Kau tahu arti kata-katamu? Membunuh?,” bertanya Mahisa Semu pula. “Kubunuh kau. Kubunuh,” orang itu berteriak-teriak seperti orang yang  kehilangan ingatan. Dengan serta merta orang itu telah melangkah meny erang Mahisa Semu. Namun tenaganya sudah tidakmendukung lagi, sehingga orang itu pun telah terhuyung-huyung dan jatuh berguling. “Kaumasih belummenyerah?,” bertanya Mahisa Semu. Orang itu masih berusaha untuk bangkit. Denganmemaksa diri ia memang masih dapat bangkit berdiri. Hanya beberapa saat, karena sekali lagi ia terhuyung-huyung dan jatuh terduduk. “Marilah,” berkata Mahisa Semu “jika kau belummeny erah, bangkitlah. Kita akan bertempur terus sampai matahari tenggelam. Bahkan sampai matahari terbit di hari berikutnya. Atau, kau menyerah.” “Bunuh aku, bunuh aku,” orang itu tiba-tiba berteriak, “kenapa kau tidakmaumembunuhku?” “Tentu t idak,” jawab Mahisa Semu, “aku akan memenggal lehermu jika kau sudah meny erah seperti taruhan kita. Tetapi jika kau menang, kau boleh pergi ke mana saja kau kehendaki.” “Bunuh aku. Penggal leherku,” teriak orang itu sambil terduduk di tanah. “Bangkit. Kita bertempur terus. Bukankah kau belum menyerah kalah?,”Mahisa Semu pun berteriak. “Anak iblis. Penggal leherku,” orang itu menjadi seperti orang gila. Tetapi jawab Mahisa Semu: “Hanya jika kau sudah menyerah, Aku akanmemenggal lehermu.” “Setan kau, iblis. Baik, baik. aku meny erah. Penggal leherku,” orang itumasih saja berteriak. Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Baiklah. Jika kau sudah meny erah, maka aku akan segera mengambil keputusan.” “Penggal leherku. Aku akan menelungkup di tanah,“ geram orang itu. “Kau akumaafkan, karena kau sudahmeny erah. Kau bukan seorang yang  berilmu tinggi untuk ditakuti sehingga harus dibunuh. Aku biarkan kau hidup untukmendapat kesempatan merenungi dirimu sendiri, siapakah kau itu. Biarlah kau mengerti arti tantanganmu terhadap salah seorang cantrik dari padepokan ini, sehingga kau tidak lagi merasa dirimu seorang yang  tidak terkalahkan,” jawab Mahisa Semu. “Tidak, bunuh aku. Bunuh aku. Kau akan menjadi pengecut jika kau tidak beranimembunuh aku,”minta orang itu. “Kaulah yang  pengecut karena kau tidak berani melihat keny ataan bahwa dirimu, kau yang merasa berilmu setinggi langit, yang berani menantang salah seorang cantrik padepokan ini, yang dengan berani ingin melarikan diri, ternyata tidak lebih berbahaya dari seekor cacing tanah,” geram Mahisa Semu. “Jangan hinakan aku seperti itu. Seharusnya kau membunuhku jika kau menganggap aku bersalah,” berkata orang itu. “Untuk apa membunuhmu dengan mengotori tanganku? Jika kau cukup berharga untuk dibunuh, maka aku akan membunuhmu,” jawab Mahisa Semu. “Bunuh aku, bunuh aku,” orang itu telah berteriak-teriak benar-benar seperti orang gila. Mahisa Semu yang marah masih akan membuat hati orang itu semakin sakit. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendekatinya. Keduanya telah membimbing Mahisa Semu untukmembawanyamenjauhi orang itu. Tetapi Mahisa Semu masih berkata lantang. “Kalau kau ingin mati,matilah. Tidak pantas aku membunuh orang yang lemah dan tidak berdaya.” “Sudahlah,” berkata Mahisa Murti, “jangan kau hancurkan perasaannya setelah kau remukkan tulang-tulangnya. Ia sudah mengaku kalah danmeny erah.” Tetapi Mahisa Semu menjawab: “Ia membuat hatiku bagaikan terbakar. Ia tidakmaumengakui kekalahannya.” “Tetapi ia sudahmeny erah,” sahut Mahisa Pukat. Mahisa Semu memang terdiam. Tetapi jantungnya terasa bergejolak ketika ia mendengar orang itu berteriak: “Pengecut. Kenapa kau tidak beranimembunuhku.” Hampir saja Mahisa Semu meloncat kembali. Bagaimanapun juga ia mencoba mempergunakan penalarannya, tetapi hatinya benar-benar telah terbakar. Tetapi Mahisa Murti masih membimbingnya dan membawanya menyingkir. Katanya: “Ketahanan tubuhmu memang mengagumkan. Tidak sia -sia kau berlatih dengan tekun. Namun kau pun harusmelatih ketahanan jiwamu. Kau tidak boleh mudah kehilangan akal. Jiwamu tidak boleh cepat terguncang karena kata-kata yang  kau anggap menusuk jantungmu.” Mahisa Semumenundukkan kepalanya. “Kau memangmasih terlalu muda,” berkata Mahisa Pukat, “namun kau harus berlatih. Aku juga sedang melatih diri untuk tidak mudah hanyut dalam arus perasaan. Kita harus selalu mencari keseimbangan antara perasaan dan penalaran, karena jika keduanya tidak seimbang dan berat sebelah,maka sikap kitapunmenjadi tidak seimbang pula.” Mahisa Semu masih menundukkan kepalanya. Ia tidak menjawab sama sekali. Tetapi ia memang mulai berpikir tentang sikapnya terhadap lawannya yang telah dikalahkannya. Tetapi apakah memang lebih baik membunuhnya sehingga persoalannya menjadi selesai dan tuntas? pertanyaan itu memang tumbuh di dalam hatinya. Namun Mahisa Semu pun selalu teringat akan pesan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahkan Mahendra yang  Iebih banyak membentuknya bahwa tidak sebaiknya membunuh lawanyang sudah tidak berdaya. 0oo0dw0oo0


Jilid 093
SEMENTARA ITU, maka para cantrik pun telah membawa tawanan yang masih saja berteriak-teriak minta dibunuh itu kembali ke bilik tahanannya. Namun para cantrik itu tidak mau membuat kesalahan. Meski pun orang itu nampaknya sudah sangat lemah, tetapi para cantrik masih juga mengikatnya pada pembaringannya. Apalagi orang itu bagaikan menjadi gila dan berteriak-teriak tanpa dapat dijinakkan lagi. Namun Mahendra yang  kemudian mendapat laporan tentang orang itu berkata: “Biarkan saja ia berteriak-teriak. Pada satu saat penalarannya akan bekerja kembali, sehingga ia akan terdiam dengan sendirinya. Bahkan ia akan sempat membuat pertimbangan-pertimbangan tentang peristiwa yang baru saja dialaminya.” Nampaknya akibat dari peristiwa itu justru membuat para tawanan yang lain semakin menyadari kekecilan diri mereka. Orang yang dianggap memiliki kelebihan dari yang lain itu, ternyata telah dikalahkan oleh seorang yang masih sangat muda. Dalam pada itu, ketika malam turun, serta para tawanan telah ditempatkan di tempat mereka masing-masing, Mahendra sempat memanggil Wantilan, Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Diantara mereka hadir pula Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan nada dalam Mahendra berkata terutama kepada Mahisa Semu: “Ternyata bahwa kemampuanmu telah meningkat sampai ke tataran yang semakin baik. Kau telah mampu menghadapi seorang yang telah mendapat pengalaman yang  sangat luas di dunia kejahatan. Orang itu tentu telah pernah bertempur dengan berpuluh orang. Bahkan mungkin telah membunuh banyak orang pula. Dan kau ternyata mampumengatasiny a.” Mahisa Semu hanyamenundukkan kepalanya saja. “Tetapi dengan demikian, maka meski pun aku tidak menyaksikannya, tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat melihat pula kekurangan-kekuranganmu,” berkata Mahendra lebih lanjut. “Karena itu, maka aku pun mengetahui pula, di sisi mana kau harus lebih meningkatkan ilmumu, selama ini selain Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, aku telah ikut pula meningkatkan kemampuanmu.” Mahisa Semu mengangguk kecil. Ia justru sangat berterima kasih, bahwa Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat melihat kekurangan-kekurangannya, karena dengan demikianmaka kekurangan-kekurangan itu akan dapat diisi. Tetapi Mahendra itu pun berkata: “Selain kekurangankekurangan dalam olah kanuragan, kau masih mempunyai kekurangan dalam olah kajiwan.” Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Setelah ia sempat merenung, maka ia pun telah melihat betapa jiwanya terguncang menghadapi sikap orang itu. Meski pun ia masih juga sempatmengingat pesan agar ia tidak membunuh orang yang sudah tidak berdaya, namun Mahisa Semu itu seakanakan tidak dapat lagi menguasai dirinya menghadapi sikap lawannya yang  keraskepala itu. “Nah,” berkata Mahendra kemudian, “untuk selanjutnya kau perlu melakukan latihan-latihan yang  lebih banyak. Kau tingkatkan ilmu kanuragan, namun sekaligus kau harus menempa jiwamu agar tidak cepat terguncang.” Mahisa Semu mengangguk. Ia tidak dapat berdiam diri sa ja. Karena itu, maka ia pun telah mengangguk sambil berdesis: “Aku akan melakukan apa pun yang baik bagi diriku dan bagi padepokan ini.” “Bagus,” berkata Mahendra, “aku yakin bahwa dalamwaktu singkat semuanya akan segera teratasi.” Ternyata peristiwa itu telah memberikan satu pengalaman tersendiri bagi Mahisa Semu. Ia telah melihat satu sikap dari seorang yang  menjadi putus asa namun dibebani oleh harga dirinya yang sangat tinggi. Tetapi Mahisa Semu pun telah mendapatkan pengalaman dalam olah kanuragan. Beberapa kali ia telah dikenai serangan-serangan lawannya yang keras dan kasar itu, sehingga Mahisa Semu mampu melihat langsung kelemahankelemahannya. Untunglah bahwa Mahendra telah memberikan tuntunan kepadanya sehingga ia mampu berlatih sebaik-baiknya. Dengan demikian maka day a tahan tubuhnya pun telah menjadi semakin meningkat dan meningkat. Ketika ia kemudian dihadapkan kepada seorang penjahat yang  telah berpengalaman,maka ia sama sekali tidakmengecewakan. Demikianlah, maka para cantrik itu pun dihari-hari berikutnya ber sama orang-orang yang untuk sementara masih disebut tahanan itu telah bekerja dengan keras untuk membuka tanah pertanian dan menaikkan air dari Kali Rangkut. Dengan air itu, maka tanah yang dibuka itu akan menjadi tanah persawahan yang cukup baik, yang  akan dapat dipergunakan sebagai landasan satu kehidupan baru ditempat yang tidak terlalu jauh dari padepokan Bajra Seta itu. Dalam waktu yang  tidak terlalu lama, maka parit-parit induk pun telah siap. Sementara itu, brunjung-brunjung bambu telah diisi dengan batu. Satu-satu brunjung-brunjung bambu itu telah diletakkan menyilang Kali Rangkut yang  tidak begitu besar itu. Para cantrik dan orang-orang yang ingin membuka daerah hunian yang baru itu telah menutup lubang-lubang diantara batu-batu dengan tanah dan slangkrang dedaunan dan ranting -ranting kecil. Dengan demikian,maka air pun perlahan-lahan mulai naik sejalan dengan semakin tinggi bendungan yang  sedang dibangun itu. Sehingga akhirnya, maka bendungan itu pun telah mencapai bibir tanggulyang  tidak begitu tinggi. Dalam kerja yang  terakhir itu, maka hampir semua cantrik di padepokan Bajra Seta telah menyaksikannya kecuali beberapa orang yang  bertugas berjaga-jaga atas segala macam kemungkinanyang  dapat terjadi. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan bahkan Mahendra pun ikut pula menyaksikannya pula. Air yang  semakin tinggi itu masih dipisahkan oleh tanggul setebal lima enam langkah dari parit induk yang siap menampung air yang  akan tumpah. Demikian air mencapai ketinggian yang diharapkan, maka beberapa orang telah menggali sebuah parit kecil pada tanah yangmemisahkan permukaan air itu dengan parit induk. Parit itu tidak terlalu lebar dan tidak dalam. Tetapi air mulai bergerak seperti kepala seekor ular yang menjalar mengikuti arah parit kecil itu. Sehingga pada suatu saat,maka kepala ular yang  menjalar menyusuri parit itu, tumpah kedalam parit indukyang  telah disiapkan. Para cantrik dan orang-orang yang  tertawan di padepokan Bajra Seta itu ber sorak bagaikan meruntuhkan langit. Mereka berteriak-teriak kegirangan sambil bertepuk tangan. Air di Kal Rangkut mulai naik dan masuk ke dalam parit induk. Tanpa digali lagi, maka parit kecil yang menghubungkan permukaan Kali Rangkut dengan parit induk itu semakin lama menjadi semakin besar, meski pun pada suatu saat, sebelum lebar dan dalamnya sama seperti parit induk, parit penghubung itu tidak lagi bertambah lebar dan dalam.Namun arus air cukup besar mengalir lewat parit induk itu. Beberapa orang justru berlari-larimengikuti ujung air yang  mengalir di susukan itu sampai beberapa puluh langkah sambil bertepuk tangan. Dua orang cantrik yang  berlari dengan kencang, telah membuka mulut parit yang lebih kecil yang terletak di pangkal tanah per sawahan itu. Ketika air kemudian mengalir di parit itu, maka keduanya pun telah membuka pematang kotak sawah yang pertama disudut belahan parit itu. Keduanya bersorak-sorak kegirangan, sehingga yang lain, yangmasih berada di bendungan sempat berpaling. Beberapa orang berlari-lari mendekat dan ikut bersorak pula ketika air menjalar memasuki kotak sawah itu dan mulai menebar disela-sela butir tanahyang  kering. Ternyata usaha para cantrik dan orang-orang yang  ditawan di padepokan Bajra Seta itu berhasil. Dengan demikian,maka orang-orang yang  semula hidup dalam dunia yang kelam itu mulai berpengharapan, bahwa mereka akan dapat hidup sebagaimana orang kebanyakan. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berjanji pula atas persetujuan Ki Buyut untukmembagi tanah itu sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga mereka akan dapat hidup dalam lingkungan Kabuyutan itu sebagai warga yang lain tanpa harus selalu dicurigai lagi. Meski pun ada diantara mereka yang masih harus selalu mendapat pengawasan. Namun kawan-kawan mereka yang benar-benar telah menyadari tatanan hidup baru akan dapat mengawasi mereka. Jika mereka melakukan sesuatu yang tidak pantas, maka kawan-kawan mereka itu akan dapat bertindak. Apabila mereka tidak sanggup, maka orang-orang padepokanlahyang akanmelakukannya. Dengan demikian, maka sebuah padukuhan telah tumbuh. Orang-orang yang semula hidup dalam dunia yang  gelap itu telah mulai dengan satu kehidupan baru. Meski pun semula padukuhan itu hanya berisi sekelompok orang laki-laki, namun perlahan-lahan padukuhan itu tentu akan tumbuh menjadi padukuhan sebagaimana padukuhan kebanyakan, karena Ki Buyut sendiri dengan penuh pengertian telah menerima kehadiran padukuhan yang baru itu dengan sadar sepenuhnya apa saja yang  berada di dalam padukuhan itu. Sementara itu, orang-orang padukuhan yang  baru itu sendiri dengan penuh kesadaran atas keadaan mereka, maka mereka telah menyusun satu kekuatan diantara mereka untuk menjaga padukuhan mereka yang baru dari kemungkinankemungkinan buruk. Bekas kawan-kawan mereka pada suatu saat tentu akan mengetahui apa yang telahmereka lakukan. Tetapi mereka tidak cemas. Mereka telah menemukan kawan-kawan yang  semula tidak berasal dari satu kelompok namunyangmerasa bahwa mereka telah memasuki satu dunia baru yang  sama, sehingga mereka telah membangunkan satu ujud kesetia -kawananyang  tinggi. Apalagi orang-orang padepokan Bajra Seta yang bersikap sangat baik kepada mereka. Dalam keadaan terpaksa, maka bukan saja para cantrik, tetapi tentu juga para pemimpin padepokan itu akan bersedia membantu mereka. Sementara itu, selain meningkatkan perkembangan padukuhan baru itu, maka para penghuninya, yang pada umumnya telah meningkatkan pula kemampuannya. Mahisa Murti dan Mahisa Semu sendiri telah menangani mereka dibantu oleh beberapa orang cantrik terbaik. Namun dalam perkembangan kemampuan olah kanuragan mereka, maka orang-orang yang  ada di padukuhanyang  baru itu harus tetap menjadi orang-orang baru dalam tatanan hidup dan pergaulan yang wajar. Di padepokan itu sendiri, Mahendra dengan sungguhsungguh telah menempa Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Keduanya tumbuh dan berkembang dengan baik. Namun karena tingkat umur mereka yang  berbeda, maka langkahlangkah yang  diambil oleh Mahendra untuk meningkatkan ilmu mereka pun telah berbeda. Dalam waktu-waktu tertentu, maka Mahisa Amping telah diberi kesempatan untuk melakukan latihan dengan para cantrik. Bahkan para cantrik yang telah memiliki tataran kemampuanyang cukup. Ternyata bahwa Mahisa Amping yang kecil itu telah menunjukkan kelebihan yang menggembirakan bagi Mahendra. Bagaimana pun juga,maka anak itu agaknya akan menjadi seorangmuridyang  baik. Namun bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, kesibukannya untukmembentuk padepokannya menjadi sebuah padepokan yang besar, masih belum memberikan kesempatan sepenuhnya untukmenangani anak itu. Tetapi baik Mahisa Amping, mau pun Mahisa Semu tidak lagimerasa dirinya sia -sia berada di tempat itu. Justru karena di padepokan itu ada Mahendra. Meski pun Mahendra sudah menjadi semakin tua, tetapi ia masih mampu menangani kedua orang yang  berbeda tingkat umurnya itu. Sedangkan Wantilan yang  berbaur dengan para cantrik, telah merasa mendapat satu tempat yang baik. Perlahan-lahan ia telah berhasil meny esuaikan diri dengan perguruan Bajra Seta. Meski pun ia mempunyai landasan ilmu yang berbeda, namun ia mampu mengembangkannya dengan baik di dalam satu lingkungan perguruan yang sumber ilmunya memang berbeda. Namun dengan petunjuk dan tuntunan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meski pun hanya dalam waktu-waktu tertentu, maka rasa -rasanya ilmunya telah lebur dalam kesatuan ilmu dengan para cantrik dari perguruan Bajra Seta itu. Dari hari ke hari, nampak bahwa padepokan dan perguruan Bajra Seta berkembang dengan bark. Sebagai satu wadah untuk menimba ilmu kanuragan mau pun berbagai macam ilmu yang  lain. Bahkan pengaruhnya meluas sampai ke padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu. Anak-anak muda bergantian masih saja datang ke padepokan Bajra Seta untuk menyadap berbagai macam ilmu. Meski pun dengan demikian kemampuanyang mereka dapatkan tidakmendalam sebagaimana para cantrik, tetapi bagi anak-anak muda itu sudah cukup besar manfaatnya untuk mengembangkan padukuhanmasing-masing. Tetapi diantara anak-anakmuda yang dengan bekerja keras berusaha meningkatkan padukuhan mereka masing-masing, masih juga ada anak-anak muda yang sama sekali tidak menghiraukannya. Karena itu, maka dari padukuhanpadukuhan yang  terdekat sekali pun masih ada pula anakanak muda yang tidak tahu, apakah isi sebenarnya dari padepokan Bajra Seta itu. Sehingga mereka memang merasa heran, bahwa ada juga kawan-kawan mereka sepadukuhan yang setiap hari datang ke padepokan itu. Sebenarnyalah usaha Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sia -sia. Perguruan dan sekaligus padepokan Bajra Seta, namanya menjadi semakin banyak dikenal. Anak-anak muda dari daerahyang  jauh pun datang untuk berguru di perguruan Bajra Seta yang sedangmekar itu. Sementara itu padukuhan yang  baru tumbuh itu nampaknya akan segera berkembang menjadi seperti padukuhan-padukuhan yang  lain. Beberapa orang penghuninya telah berani mengambil keluarga mereka dari tempat yang  jauh meski pun pada umumnya masih dilakukan dengan diam-diam. Beberapa orang telah membawa isteri mereka dan anakanak mereka. Namun memang ada diantara mereka yang belum beristeri. Sedangkan beberapa orang yang dianggap berbahaya, ternyata masih juga berada di padepokan. Orang yang telah berkelahi dengan Mahisa Semu telah menjadi pulih kembali. Tubuhnya telah menjadi kuat dan tidak nampak beka s-bekas kekalahannya. Baik pada wadagnya mau pun pada jiwanya, karena ia masih saja menunjukkan sifat-sifat yang buruk. Kata-katanya bahkan selalu menyakiti hati para cantrik yang  bertugas, sehingga para cantrik itu semakin lama menjadi semakin membencinya. Namun pada itu, para cantrik itu pun menjadi terbiasa melihat sikapnya dan mendengar kata-katanya, sehingga akhirnya para cantrik itu menganggapnya sebagai orang gila saja. Meski pun demikian, setiap kali orang itu masih saja membuat keributan dan menimbulkan kegaduhan. Beberapa orang cantrik kadang-kadang tidak dapat menahan diri sehingga mereka menyakiti orang itu. Tetapi orang itu sama sekali tidakmenjadi jera. Jika hal itu disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka kedua orang anak muda itu selalu berkata: “Biarkan saja orang itu mengigau. Pada suatu saat, ia akan berhenti dengan sendiriny a.” “Tetapi kadang-kadang telinga ini tidak lagi dapat menampungnya,” berkata salah seorang cantrik. “Kita wajib bersyukur, bahwa diantara sekian banyak tawanan hanya seorang saja yang  seakan-akan telah kehilangan dirinya dan menjadi sangat berbahaya,” jawab Mahisa Murti. Para cantrik hanya dapatmengangguk-angguk saja. Sementara itu, seperti yang memang sudah diperhitungkan sebelumnya, akhirnya kawan-kawan dari orang-orang yang membuka padukuhan itu mengetahui apa yang  mereka lakukan. Beberapa orang diantaramerekamenganggap, bahwa orang-orang itu adalah pengkhianat. Justru saat mereka memerlukan kekuatan yang  besar, kawan-kawan mereka itu telah berbuat bagi kepentingan mereka pribadi. Hal itu telah menyalahi paugeran dari setiap kelompok kejahatan. Mereka yang sudah mencebur masuk ke dalamnya, tidak akan dapat lagi keluar dalam keadaan hidup. Karena itu, maka orang-orang yang  ada di padepokan itu harusmati. Namun seperti yang  sudah dilakukan sejak semula, maka orng -orang yang telah membuka padukuhan itu selalu ber siaga sepenuhnya. Mereka telah membangun gardu-gardu di setiapmulut lorong sertamembuat regol-regol dengan pintu yang kuat. Orang-orang yang belum berkeluarga dengan suka rela menyatakan diri untuk setiapmalam berada di gardu-gardu. “Lebih senang tidur di gardu,” berkata seorang anakmuda, “diantara mereka ada teman berbincang. Ada teman bergurau dan di malam-malamyang  dingin sempat merebus jagung. Di rumah seorang diri terasa malamnya bertambah dingin.” Selain kesiagaan yang  tinggi, sejak semula, orang-orang di padukuhan yang baru itu setiap hari telah meningkatkan kemampuan mereka dengan cara yang lebih teratur dari caracara yang mereka tempuh sebelumnya. Sebagai orang-orang yang hidup dalam dunia yang  gelap, mereka meningkatkan ilmu mereka dengan cara yang  kasar dan hanya mereka lakukan di sela -sela kesibukanmerekamelakukan kejahatan. Tetapi di padukuhan itu, setiap hari mereka bergantian masuk ke padepokan. Sebagian diantara mereka pagi hari, kemudian siang hari, sore hari dan ada diantara mereka yang memilih melakukannya di malam hari. Namun mereka menyadari, bahwa ilmu itu akan dapat melindungi mereka sendiri serta keluarga mereka, sehingga mereka telah melakukannya dengan tekun. Hal itulah yang kurang diperhitungkan oleh bekas kawankawanmereka yang menjadi sakit hati. Yang ada pada jantung mereka adalah dendamyangmembara. Karena itu, maka pada satu saat, beberapa kelompok diantaramerelah berkumpul. Namun tidak semua pemimpin kelompok menghiraukan kawan-kawan mereka yang  mereka anggap berkhianat. Ada beberapa orang pemimpin kelompok yang  menjadi tidak peduli lagi. Bahkan ada yang  berterus terang, tidak lagi mempunyai orang yang  cukup untukmelakukan balas dendam seperti itu. “Jika kita bergabung, maka jumlah kita akan menjadi banyak. Sehingga kita tidak akan mungkin gagal,” jawab seorang pemimpin kelompok yang  mendendam sampai ke tulang sungsum. “Meski pun kita berhasil, tetapi apa yang  kita dapatkan? Kepuasan? Sementara itu diantara kawan-kawanku yang sedikit itu ada pula yang  mati, terluka parah dan tertangkap jawab seorang pemimpin kelompok yang  lain.” “Siapa yang  akan menangkap kawan-kawan kita itu? Kita akan memusnahkan mereka. Semua orang akan mati. Dan rasa-rasanya dada ini akan menjadi lapang,” jawab pemimpin kelompok yang  sangatmendendam. Tetapi orang yang merasa kelompoknya semakin kecil itu masih saja berkeberatan. Katanya: “Kami tidak ikut. Bagaimana pun juga kami t idak akan mengorbankan orangorang kami untuk hal-hal yang  tidak memberikan arti langsung pada kehidupan kami.” “Baiklah,” berkata orang yang mendendam, “kami hanya minta agar kalian mengetahui, bahwa kami akan membinasakan semua orang dalam padukuhan yang baru itu. Jika orang-orang kalian ikut binasa, jangan salahkan kami.” “Tidak. Kami tidak merasa berkeberatan. Kami hanya tidak ingin anggauta kami semakin menyusut lagi,” jawab seorang diantara para pemimpin dari kelompok-kelompok yang kecil. Akhirnya orang-orang yang berkumpul itu memutuskan, bahwa segala sesuatunya diserahkan kepada para pemimpin kelompok masing-masing. Apakah mereka akan ikut dalam satu hentakkan balas dendam atau tidak. Meski pun demikian, ternyata kelompok-kelompok yang  mendendam cukup banyak. Mereka akan dapat mengumpulkan banyak orang untuk menghancurkan sebuah padukuhanyang  baru tumbuh. “Mereka harus merasa meny esal,” geram seorang pemimpinyang mendendam itu. Dengan demikian maka mereka pun telah membuat janji diantara mereka. Hari-hari yang  ditentukan untukmelakukan kegiatan itu. Dalam pada itu, para pemimpin dari orang-orang yang  mendendam itu pun telah memperhitungkan kemungkinankemungkinan yang  dapat timbul dari padepokan yang tidak terlalu jauh dari padukuhan tersebut. “Kita harus bergerak cepat,” berkata salah seorang dari antara pemimpin itu, “sebelum bantuan datang, maka padukuhan itu harus sudah hancur. Bahkan seandainya bantuan itu datang dengan cepat, jumlah mereka tentu tidak akan memadai, sehingga kita akan dapat menghancurkan bantuan itu pula.” Dengan demikian maka bantuan dari padepokan itu tidak akan terlalu banyak berpengaruh. Orang-orang yang mendendam itu akan berpacu denganwaktu. Demikianlah, ketika saatnya telah tiba, maka beberapa kelompok orang telah berkumpul. Jumlah mereka ternyata menjadi besar sebagaimana saat mereka meny erang padepokan Bajra Seta. Agaknya kelompok-kelompok yang besar dari para penjahat itu justru menjadi semakin besar, sehingga nampaknya ketenangan hidup pun akan menjadi semakin sempit. “Kita akan bergerak di malam hari. Menjelang fajar kita akan memasuki padukuhan itu. Menghancurkan segala isinya dan membunuh semua orang. Kemudian, kita akan menghilang dengan cepat,” berkata seorang diantara para pemimpinyang mendendam itu. Sementara itu, para pemimpin kelompok yang mendendam itu telah mengancam agar niat itu tidak bocor. Dengan garang para pemimpin itu mengancam: “Jika ada pengkhianat diantara kita, maka nasibny a akan menjadi semakin buruk. Orang itu akan mati dengan cara yang paling tidak disukainya.” Karena itu, maka tidak seorang pun yang  berniat untuk berkhianat. Mereka yang tidak ingin ikut serta, merasa lebih baik tidak melibatkan diri sama sekali. Apalagi untuk berkhianat. Pada hari yang sudah ditentukan, maka orang-orang yang  telah berhimpun itu pun mulai bergerak mendekati padukuhan yang  baru tumbuh itu. Mereka dengan sangat berhati-hati telah melintasi jalan-jalan bulak yang panjang. Mereka sejauh dapat mereka lakukan berusaha untuk menghindari padukuhan-padukuhan. Namun demikian, ada juga beberapa orang petani yang  sedang mengairi sawahnya di malam hari sempat melihat iring-iringan panjang itu. Ketiga orang itu kemudian kembali ke padukuhannya dan menceriterakannya kepada anak-anak muda yang  ada di gardu,maka mereka pun sependapat, bahwa orang-orang itu tentumenuju ke padukuhanyang  baru itu. “Aku mengenal orang-orang yang tinggal di padukuhan itu,” berkata salah seorang anak muda, “meski pun mereka beka s penjahat yang pernah tertangkap saat mereka menyerang padepokan Bajra Seta, namun mereka telah menjadi baik.” “Nampaknya iring-iringan yang  bergerak di malam hari itu memang menuju ke padukuhan itu,” berkata seorang petani yang melihatnya saat ia sedang memanfaatkan air yang mengalir dimalam hari. “Aku akan pergi ke padukuhan itu,” berkata seorang diantara anak-anak muda itu, “kasihan mereka jika tidak mengetahui bahwa bahaya sedang merangkap untuk menerkammereka.” Akhirnya, sembilan orang anakmuda telah ke padukuhan yang akan menjadi sasaran serangan dari para perampok, penyamun dan penjahat-penjahatyang lain itu. Ternyata di padukuhan-padukuhan yang  dilewati, anakanakmuda itu mendapat banyak kawan. Lebih dari dua puluh orang yang dengan diam-diam telah pergi ke padukuhan yang baru tumbuh itu. Dengan bekal pengenalan medan yang lebih baik, serta latihan-latihan kanuragan yang mereka dapatkan dari para cantrik di padepokan Bajra Seta,maka mereka telah mencapai padukuhan yang  mereka maksud lewat jalan pintas tanpa diketahui oleh para penjahat yang  juga merayap semakin dekat itu. Kehadiran anak-anak muda itu memang sangat mengejutkan. Para penghuni padukuhan itu yang  berada di gardu menyangka bahwa anak-anak muda justru akan menyerangmereka. Namun dengan cepat seorang diantaramereka mengangkat kedua tangannya sambil berkata: “Tunggu. Kami datang denganmaksud baik.” Orang-orang yang  ada di gardu itu termangu-mangu. Mereka masih belumy akin bahwa anak-anakmuda itu berniat baik. Tetapi beberapa orang diantara anak-anak muda itu telah bergerak maju. Ternyata mereka dapat mengenali anak-anak muda itu ketika mereka menjadi semakin dekat dengan obor yang dipasang di sebelah gardu itu. “Apa yang  telah terjadi?,” bertanya salah seorang diantara mereka yang mengenali anak-anakmuda itu. Anak muda yang  paling berpengaruh diantara kawankawannya telah maju semakin dekat. Dengan singkat diceriterakannya apa yang  telah diIihatnya, bahwa sebuah iring-iringanyang  panjang telahmendatangi padukuhan itu. “Siapakahmereka?,” bertanya orang yang  ada di gardu itu. “Kami tidak tahu. Tetapi kami mencemaskannya jika mereka berniat buruk,” jawab salah seorang dari anak-anak muda itu. Orang-orang yang ada di gardu itu berpikir cepat. Seorang diantara mereka berkata: “harus segera memberikan isyarat, agar kawan-kawan kita ber siap.” Tetapi kawannyamencegahnya sambil berkata: “Tidak. Jika kita bunyikan kentongan, maka orang-orang yang  berniat buruk itu tahu bahwa kami disini telah bersiap untukmelawan mereka, sehingga mereka menjadi sangat berhati-hati. Tetapi sebaiknya kita bersiap dengan diam-diam. Kita sergap mereka jika mereka memang berniat buruk. Dengan demikian maka mereka akan kehilangan beberapa saat terpenting sebelum pertempuran terjadi. Kita harus benar-benar memanfaatkan saat yang pendek itu.” Ternyata yang  lain pun setuju. Sementara anakmuda yang  memimpin kawan-kawannya itu berkata: “Kami datang untuk membantu kalian.” “Terima kasih,” jawab beberapa orang hampir berbareng. Demikianlah, sejenak kemudian, maka orang-orang yang berada di gardu itu telah berlari-larian untuk mengetuk pintu setiap rumah, sehingga dalam waktu yang  singkat, setiap lakilaki telah bersiap. Dalam waktu yang singkat itu pula orang yang memimpin padukuhan itu telah mengatur, apa yang sebaiknya mereka lakukan untuk mengatasi bahaya yang sebentar lagi akan datang. “Kita sebaiknya tidak menunggu didalam padukuhan,” berkata pemimpin dari mereka yang  menghuni, padukuhan itu, seorang yang  pernah menjadi hantu yang  sangat ditakuti di bulakbulak panjang. Seorang penyamun yang namanya dapat membuat seseorang menjadi pingsan. Namun yang ternyata ia telah mendapatkan terang di hatinya sehingga kelakuannya itu pun telah berubah, justru setelah ia tertangkap oleh para cantrik dari padepokan Bajra Seta. Kawan-kawannya pun sependapat. Mereka akan meny ongsong orang-orang yang  meny erang padukuhan itu dan bertempur di luar padukuhan. “Tetapi kita harus meninggalkan sekelompok kecil kawankawan kita sebagai kekuatan cadangan. Juga untukmengatasi kesulitan jika ada diantara mereka yang sempat menerobos masuk ke dalam padukuhan,” berkata pemimin padukuhan itu. Dengan cepat, ia mengatur kawan-kawannya dan menempatkan mereka di tempat yang paling sesuai untuk menahan arus serangan. Sedangkan delapan orang telah ditempatkan di sudut-sudut padukuhan untuk mengamati lingkaran di seputar padepokan itu di segala arah. Sementara itu malam pun bergerak terus. Ternyata orangorang yang  akan meny erang padukuhan itu tidak langsung menusuk ke dalam padukuhan. Mereka memang merencanakan untuk meny erang padukuhan itu menjelang fajar. Karena itu,maka ketika mereka menjadi semakin dekat, makamereka justru telah berhenti untuk beristirahat. “Kita menunggu disini sampai cahaya fajar mulai nampak,” berkata pemimpin dari orang-orang yang  mendendam itu. Lalu katanya: “Ada beberapa saat untuk beristirahat. Menjelang fajar orang-orang padukuhan itu akan terkejut. Tetapi mereka tidak akan sempat berbuat apa-apa kecuali menyesali pengkhianatan mereka.” Orang-orang yang sudah berada di depan hidung padukuhan itu pun telah menebar di jalan bulak. Mereka berbaring di mana saja tanpa menghiraukan tubuh mereka akan menjadi kotor karenanya. Diatas rerumputan kering. Diatas tanah berdebu atau di mana saja. Namun mereka sama sekali t idak menduga, bahwa pada saat itu, orang-orang padukuhan yang  mereka anggap tidak tahu menahu tentang rencana kedatangan mereka itu pun telah bersiap pula sepenuhnya. Mereka telah merangkakmaju justru mendekati tempat orang-orang yang akan meny erang itu beristirahat. Para pemimpin kelompok-kelompok kecil telah tahu benar, apa yang  harusmereka lakukanmenghadapi lawan mereka itu. Demikianlah, dini hari di padukuhan itu seakan-akan tidak terusik. Anak-anak masih tidur ny enyak. Namun ibu-ibu merekalah yang  menjadi sangat gelisah. Jika suami-suami mereka dan anak-anak muda yang jumlahnya tidak terlalu banyak di padukuhan itu tidak mampu bertahan, maka mereka pun akan menjadi korban. Sementara itu, para penghuni padepokan itu pun telah menunggu di balik pohon perdu yang  tumbuh di tanggul parit kecil yang meny ilang jalan bulak yang menuju ke padukuhan. Mereka memperhitungkan, bahwa orang-orang yang akan menyerang padukuhan mereka akan datangmelalui jalan itu. Meski pun demikian, orang yang  dianggap pemimpin di padepokan itu telah menempatkan beberapa orang di arah yang lain, sehingga apabila perhitungan mereka salah, maka orang-orang yang mengamati keadaan itu harusmemberikan isy arat. Tetapi ketika dua orang diantara mereka merangkak maju menyusuri pepohonan di pinggir jalan, maka mereka pun sempat melihat dalam keremangan dini hari, beberapa orang yang berjalan hilir mudik. Nampaknya orang-orang yang sedang bertugas sementara kawan-kawannya sedang beristirahat. “Apakah orang -orang yang dikabarkan akan meny erang padukuhan itu telah berada disitu?,” desis seorang diantara para pengawas itu. Kawannya mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak berani mendekat. Mungkin mereka akan dapat terjebak dan tidak sempatmemberi isyarat, sehingga akhirnya orang-orang itu dapat memeras keterangan dari mulut mereka, bahwa kedatanganmereka telah diketahui. Karena itu, maka kedua orang itu justru merangkak surut dan memberikan laporan kepada orang yang  dianggap pemimpin dari padepokan itu, bahwa dihadapan mereka terdapat beberapa orang yang  tidakmereka kenal. “Berapa jumlahnya?,” bertanya pemimpin padukuhan itu. “Kami tidak dapat melihat dengan jela s. Kami hanya melihat beberapa orang berjalan hilir mudik. Agaknya mereka adalah orang-orang yang  sedang berjaga-jaga diantara sepa sukanyang  sedang beristirahat,” jawab pengawas itu. Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Katanya: “Mereka tentu menunggu fajar, saat yang  mereka perhitungkan untukmenyerang.” Tetapi pemimpin dari padukuhan itu t idakmembuang satu kesempatan. Beranting diperintahkannya orang-orangnya mendekat. “Setiap saat terdengar isyarat,maka kita harusmeny erang. Kapan pun juga,” berkata pemimpin dari padukuhan itu. Semua orang memang telah bersiap. Bagaimana pun juga mereka memangmenjadi berdebar-debar. Meski pun mereka adalah orang-orang yang telah berpengalaman, namun mereka menyadari, bahwa yang  mereka hadapi adalah juga orangorang yang  berpengalaman. Tetapi orang-orang padukuhan itu serta sekelompok anak muda yang  telah membantu mereka, mempunyai beberapa kelebihan. Mereka bukan saja berpengalaman bertempur, tetapi mereka pun memiliki landasan kemampuan olah kanuraganyang mereka sadap dari padepokan Bajra Seta. Sementara itu, langit pun menjadi semakin cerah. Orangorang yang  menunggu fajar itu pun mulai bersiap-siap. Dua orang pengawas dari padukuhan melihat orang-orang yang semula terbaring dimana pun juga itu mulai bangkit. Sebagian dari mereka masih sempat menggeliat. Sedang yang lain bangkit berdiri untukmencucimuka di parit yang mengalir di pinggir jalan itu. Para pengawasmenganggap bahwa waktunya telah datang. Karena itu, seorang diantara mereka pun telah merayap mundur untuk menyampaikan laporan kepada pemimpin padukuhan itu. “Bagus,” berkata pemimpin padukuhan itu, “kita tidak akan menunggumereka benar -benar bersiap. Karena itu, maka ia pun telah memberikan isyarat dengan melemparkan batu-batu kerikil kepada kawan-kawannya di sebelahmeny ebelahnya. Isy arat itu pun segera dilanjutkan beranting. Untuk meyakinkan bahwa kawan-kawannya telah menerima isyarat itu, maka kawan-kawannya pun telah melemparkan kerikil pula kepada pemimpin padepokan itu. Sejenak kemudian,maka orang-orang padukuhan itu mulai bergeser mendekat. Meski pun langitmulai terang, tetapi hari masih cukup gelap. Tananam di sawah, serta batang-batang perdu di tanggul parit sedikit menghalangi pandangan orangorang yang menunggu fajar itu. Tetapi hampir saja orang-orang padukuhan itu terlambat. Ketika mereka mendekati jalan tempat orang-orang itu beristirahat,maka telah terdengar para pemimpin kelompokkelompok yang mendendam itu mulai meneriakkan aba-aba untuk bersiap-siap. “Sebelum fajar kita bergerak. Padukuhan yang  akan menjadi sa saran kita adalah padukuhan di depan hidung kita itu.“ Orang-orang itu pun mulai bersiap-siap. Sebagian dari mereka masih sibukmencucimuka di parit kecil itu. Pada saat yang  demikian, maka tiba -tiba saja terdengar teriakan aba-aba mengoy ak sepinya pagi. Sebelum mereka menyadari apa yang terjadi, beberapa orang telah berloncatan ke atas tanggul parit, kemudian meloncat menerkam mereka dengan senjata di tangan. Orang-orang yang tiba -tiba saja muncul dari kegelapan itu memang sangat mengejutkan. Dari jarak yang terhitung pendek, orang-orang yang  bagaikan bangkit dari dalam bumi itu telah menggapaimereka denganujung senjata. Beberapa orang sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk berhuat sesuatu. Tiba -tiba saja ketika mereka sadar, maka tubuhnya telah dikoy ak oleh senjata lawannya. Pada hentakkan pertama, beberapa orang telah menjadi korban. Mereka adalah orang-orang yang sangat malang. Tanpa dapat berbuat sesuatu, maka senjata telah menusuk tubuhmereka. Beberapa orang langsung terkapar di tanggul dan di pinggir jalan. Ada yang terbunuh, tetapi ada yang  hanya terluka. Bahkan ada diantara mereka yang  terluka, berpura-pura mati, sehingga ujung pedang lawannya tidakmenukik sekali lagi ke jantungmereka. Tetapi sejenak kemudian, maka orang-orang yang semula berniatmeny erang padukuhan itu telah terlibat sepenuhnya ke dalam pertempuran. Ternyata tusukan orang-orang padukuhan itu telah mampu melukai pasukan yang  telah siap untukmeny erang padukuhan itu. Ketika orang-orang yang meny erang padukuhan itu menyadari apa yang  terjadi, maka keadaan telah menjadi semakin buruk. Tetapi beberapa orang pemimpinnya menyadari keadaan telah berteriak nyaring untuk membangunkan orang-orang yang masih terkantuk-kantuk. “Jangan serahkan lehermu. Marilah, kita harus bangkit,” teriak seorang pemimpin. “Orang -orang itu dengan licik telah menyerang kita begitu tiba -tiba. Mereka sama sekali tidak bertempur sebagaimana seorang laki-laki.” Tetapi pemimpin padukuhan itu berkata pula: “Jangan biarkan orang-orang itu mengotori padukuhan kita. Apalagi dengan darahnya. Karena itu, kita harus bertahan dan bertempur disini.” Dengan demikian maka pertempuran itu pun dengan cepat telah menjadi semakin panas. Orang-orang yang  datang itu telah membawa dendamyang membara. Sementara itu, orangorang padukuhan itu sama sekali tidak ingin hidup mereka dibayangbayangi terus oleh kelompok-kelompok orang yang merasa pernahmenjadi sumber kemampuanmereka. Ternyata bahwa sergapan yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan itu menjadi sangat berarti. Dalam keadaan yang tiba -tiba itu orang-orang padukuhan seakan-akan telah berhasil membuat kemampuan pasukan yang meny erang denganmereka yang harusbertahanmenjadi seimbang. Karena itulah, maka pertempuran yang  terjadi kemudian pun ternyata menjadi sangat sengit. Kedua belah pihak saling mendesak dan saling bertahan.Orang-orang yangmendendam itu benar -benar seperti orang yang kerasukan iblis. Sebaliknya mereka yang  bertahan menjadi seperti harimau yang terluka. Beberapa orang peny amunyang  ada di dalam pasukanyang  datang menyerang telah berteriak-teriak mengancam. Tetapi mereka yang  bertahan ternyata sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan pemimpin padukuhan itu berteriak: “Aku adalah peny amun terbesar pada masanya. Dan kini aku masih tetap yang  terbesar. Terbesar peny esalanku atas tingkah laku dan cara hidupnya masa lalu.” “Persetan dengan kau,” geram salah seorang pemimpin dari pa sukanyang datangmenyerang itu. Sementara pertempuran berlangsung dengan sengitnya, maka para pemimpin dari kelompok-kelompok yang menyerang itu pun seakan-akan tengah mencari orang-orang yang mereka kenal dan pernah berada di dalam gerombolannya. Mereka mencari sampan dendam yang mereka anggap tepat, sesuai dengan keinginan mereka datang ke tempat itu. Tetapi orang yang bertahan pun sulit untuk dapat disibakkan. Dalam pada itu, ternyata jumlah orang-orang yang menyerang padukuhan itu masih lebih banyak, meski pun pada singgungan pertama, beberapa orang diantara mereka langsung terkapar jatuh. Dengan demikian, maka jumlah yang lebih besar itu memang mempengaruhi imbangan kekuatan antara kedua belah pihak. Namun ternyata orang-orang padukuhan itu memiliki kelebihan. Selain mereka mempunyai da sar yang sama selama mereka bertualang di dunia kejahatan, maka orang-orang padukuhan itu telah mendapat tuntunan cukup dalam pertempuran bersama-sama. Perang gelar dan bermain dengan berbagai jenis senjata. Karena itulah, maka orang-orang padukuhan itu nampaknya menjadi lebih mapan dari lawan-lawan mereka. Apalagi orang-orang padukuhan itu telah menjadi lebih banyakmengenalimedan pertempuran. Ternyata baik para peny erang mau pun orang-orang padukuhan itu sama sekali tidak memasang gelar di dalam pertempuran itu. Gelar yang paling sederhana pun tidak. Mereka telah membiarkan orang -orang dari pihak masingmasing bertempur sesuai dengan bekal dan kemampuan mereka masing-masing. Dengan demikian,maka pertempuran itu pun seakan-akan telah terpecah menjadi beberapa putaran arena pertempuran. Namun dengan demikian maka kelebihan dari para penghuni padukuhan itu pun menjadi semakin memberikan arti bagi dalam pertempuranyang menjadi kasar itu. Sementara itu, lebih dari dua puluh orang anak-anakmuda dari padukuhan-padukuhan tetangga yang  dengan suka rela telah membantu orang-orang padukuhan itu, karena mereka tahu, bahwa orang -orang yang tinggal di padukuhan itu sedang dalam satu masa yang  sulit. Mereka sedangmeniti satu masa peralihan untukmenemukan satu dunia yang lebih baik dari yang pernahmereka tempuh semula. Anak-anakmuda itu adalah anak-anakmuda yang memiliki bekal kemampuan yang  juga mereka sadap dari padepokan Bajra Seta. Sehingga dengan bekal kemampuan mereka,maka anak-anakmuda itu telah bertempur dengan garangnya pala. Namun pertempuran itu semakin lama menjadi semakin kasar. Ketika orang-orang yang  menyerang padukuhan itu tidak lagi mengekang maka mereka mulai bertempur dengan cara yang terbiasa mereka lakukan. Ternyata cara-cara itu telah memancing orang-orang padukuhan yang pernah hidup dalam dunia yang sama, untuk bertempur semakin kasar pula. Namun ternyata bahwa kelebihan mereka dalam olah kanuragan telah membuat orang-orang yang meny erang padukuhan itu mengalami banyak kesulitan. Dalam tatanan gerak yang  keras dan kasar, maka bekal yang  mereka peroleh dari Padepokan Bajra Seta menjadi semakin terasa menekan bagi orang-orang yang menyerang padukuhan itu. Unsur-unsur gerak yang  lebih rumit yang  mengandung berbagai kemungkinan dengan sa saran yang  terpilih atas tubuh lawannya, yang  dilakukan dengan keras benar-benar telah mengguncangkan pertahanan lawan-lawanmereka. Dalam kekalutan itu, maka seorang dari antara penghuni padepokan itu memberikan pertimbangan kemungkinan membunyikan isyarat bagi Padepokan Bajra Seta. Mereka tentu akan segera mengirimkan bantuan untuk mengusir orang-orang yang  datangmeny erang itu. Tetapi pemimpin padukuhan itu berkata: “Kita harus berusaha dan berlatih dengan sungguh-sungguh untuk mampu berdiri sendiri. Kita tidak akan selamanya menjadi tanggungan orang lain. Karena itu,maka kita harus mencoba mengatasi kesulitan ini sendiri.” Orang itu ternyata dapat mengerti. Karena itu, maka ia tidak lagi mendesak. Tetapi ia pun segera meloncat turun ke medan pertempuran sambil memutar senjatanya. Sebuah teriakan yang  keras darimulutnya terlontar meninggi seakanakan menggapai langit. Demikianlah, pertempuran itu berlangsung dengan sengitnya. Ternyata bahwa orang -orang padukuhan itu bukanlah kelinci yang  denganmudah dapat ditundukkan serta menyerahkan lehernya untuk dibantai sebagai pengkhianat terhadap kawan-kawan mereka yang pernah bersama-sama menjelajahi padukuhan-padukuhan untuk merampok atau bulak-bulak panjang untuk menyamun serta melakukan kejahatan-kejahatanyang lain. Dalam pada itu, para penjahat yang mendendam dan kemudianmeny erang padukuhan itu memang terkejutmelihat perlawanan para penghuni padukuhan itu. Sejak mereka disergap dengan tiba -tiba dan kemudian harus bertempur dengan mengerahkan segenap kekuatan yang  ada, orangorang yang meny erang itu merasa bahwa mereka telah salah hitung. Mereka mengira bahwa orang -orang padukuhan itu sama sekali t idak mempunyai kekuatan lagi. Mereka yang telah meninggalkan kebiasaan mereka menjelajahi sasaran kejahatan mereka dan hidup menjadi petani, disangkanya tidak lagi mempunyai keberanian untuk menghadapi ujungujung senjata. Namun ternyata mereka justru telah meny ergap lebih dahulu dan kemudian menekanmereka dengan kekuatan yang benar-benar di luar dugaan. Apalagi orang-orang padukuhan yang merasa hidupnya selalu terancam itu, tidak selunak para cantrik di padepokan. Ujung-ujung senjata mereka benar-benar menghunjam sampai ke jantung. Tidak ada usaha untuk menghindari kematian, justru karena orang -orang padukuhan itu merasa dirinya lebih lemah. Korban pun semakin lama menjadi semakin banyak. Yang terbanyak justru dari mereka yang  datang meny erang padukuhan itu. Sementara orang-orang padukuhan yang  telah melakukan latihan dengan baik, serta anak-anak muda yang memiliki dasar ilmu kanuragan itu,masih sempat berpikir dan berusaha untuk melindungi diri mereka berbareng dengan usahamereka untukmenundukkan lawannya. Yang terjadi adalah satu kenyataan. Orang -orang yang  menyerang padukuhan itu untuk melepaskan dendamnya, ternyata sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu. Mereka terpaksa menyerahkan korban dari antara para penjahat yang dianggapmemiliki keberanianyang tinggi. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka keny ataan itu benar-benar telah dibentangkan di hadapan mereka yang sedang bertempur itu. Darah telahmembasahi jalan bulak dan tanah persawahan,mengalir di pematang dan menitik di daun padi. Orang-orang yang  mendendam itu mengumpat tidak ada habis-habisny a. Mereka ternyata tidak berhasil membantai orang-orang yang mereka anggap pengkhianat itu. Bahkan justru kawan-kawanmerekalahyang sudah terbantai di arena. Tanpa para cantrik, maka orang-orang padukuhan itu ternyata masih juga dijangkiti oleh kebiasaan mereka jika keringat apalagi darah telah mengalir. Senjata mereka tentu menggapai sampai ke pusat lawannya. Dengan demikian maka kedua belah pihak telah menjadi semakin garang. Korban pun berjatuhan. Namun karena orang-orang padukuhan itu mempunyai bekal yang lebih lengkap, maka mereka memiliki kesempatan lebih baik untuk tetap hidup dari pada orang-orang yang datangmeny erang. Karena itu, maka semakin lama semakin nampak bahwa pa sukan yang  menyerang padukuhan itu pun susut lebih cepat. Dengan demikian, maka orang-orang yang meny erang padukuhan itu memang tidak mempunyai pilihan lain. Betapa pun mereka berusaha menghentakkan kekuatan dan kemampuan yang  ada di dalam pasukan mereka, tetapi mereka benar-benar t idak mampu mengimbangi orang-orang padukuhan yang  ingin mereka hancurkan karena dendam yang selalu menyengat perasaan mereka. Apalagi jika mereka mendengar bahwa usaha untuk membangun sebuah padukuhan telah berhasil. Perasaan dendam, benci dan iri telah membakar jantungmereka. Namun mereka membentur keny ataan, bahwamereka tidak akan mampu berbuat apa -apa. Bahkan semakin lama korban diantaramereka akanmenjadi semakin banyak jatuh. Karena itu, maka pemimpin yang  mendapat kepercayaan untuk memimpin pasukan itu dalam keseluruhan tidak mempunyai pilihan lain. Dengan hati yang  sangat sakit,maka ia pun telah memberikan isy arat agar seluruh pa sukan itu menarik diri. Perintah itu memang menimbulkan tanggapan yang  berbeda. Ada diantara mereka yang  tidak mau melihat keny ataan. Mereka menganggap bahwa pada akhirnya mereka akan dapatmenghancurkan pa sukanyang  disusun oleh orangorang padukuhan itu. Tetapi sebagian besar dari mereka menyadari, perintah itu adalah satu-satunya kemungkinan yang dapat mereka tempuh jika mereka tidak ingin membunuh diri. Karena itulah maka ketika isy arat itu diperdengarkan sekali lagi, maka orang-orang yang  meny erang padukuhan itu menjadi yakin, bahwa mereka memang harusmenarik diri. Sejenak kemudian,maka medan pertempuran itu bagaikan bergetar.Orang-orang yang meny erang padukuhan itu sedang menghentakkan kekuatan mereka. Dengan demikian, maka mereka akan mendapat ancang-ancang untukmelarikan diri. Ternyata bahwa demikian kesempatan terbuka, orangorang yang meny erang padukuhan itu pun segera ditarik mundur. Mereka pun segera menghambur meninggalkan medan. Mereka dengan sengaja telah berlari bercerai berai, sehingga dengan demikian maka orang-orang padepokan itu memangmenjadi bingung. Kemana mereka harusmengejar. Beberapa puluh langkah orang-orang padukuhan itu berusaha mengejar. Tetapi akhirnya pengejaran itu mereka hentikan setelah orang-orang yang  meny erang padukuhan itu bertebaran ke segala penjuru,menjelajahi kotak-kotak sawah, meniti pematang danmenginjak-injak tanaman. Beberapa saat kemudian, orang-orang padukuhan itu serta anak-anak muda yang membantu mereka telah berkumpul. Beberapa orang korban memang telah jatuh. Bahkan ada pula diantara anak-anak muda yang telah membantu padukuhan itu, bahkan telah memberikan isyarat bahwa padukuhan itu akan mendapat serangan. Berkali-kali pemimpin padukuhan itu mengucapkan terima kasih. Tanpa bantuan mereka, serta tanpa isy arat sebelumnya bahwa padukuhan itu akan diserang, maka padukuhan itu tentu sudah hancur. Mereka tentu sudah dibantai oleh orangorang yang mendendam danmenganggapmereka berkhianat. Meski pun sebelum pertempuran itu terjadi t idak ada peringatan dan tidak ada pembicaraan sama sekali, tetapi orang-orang padukuhan itu tahu pasti apa yang  akan dilakukan oleh orang-orang yang datang itu. Beberapa saat kemudian,maka orang-orang padukuhan itu pun telah berusaha untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang menjadi korban. Hampir pasti, bahwa yang terluka telah tidak bernafas lagi. Orang-orang yang meny erang padukuhan itu memang tidak pernah merasa ragu-ragu untuk membunuh. Namun ketika hal itu disadari oleh orang-orang padukuhan itu, maka mereka pun telah melakukan hal yang sama sebagaimana dahulu selalu mereka lakukan. Mereka hampir tidak pernah meninggalkan dan membiarkan korban-korban mereka untuk tetap hidup betapa mereka menangis dan meminta. Hanya karena keajaiban sajalah bahwa orang dapat tetap hidup setelah bertemu dengan mereka. Apakah itu di bulak-bulak panjang, di jalan-jalan atau di rumah mereka yang dirampok. “Ada beberapa orang yang  masih hidup berkata salah seorang penghuni padukuhan itu. “Kenapa kau masih harus bertanya jawab seorang yang  bertubuh gemuk,” kawan-kawan kita telah mereka bantai dengan keji. Kenapa orang-orang yang  terluka itu tidak diakhiri saja sama sekali. Tetapi mereka terkejut ketika mereka mendengar jawaban bukan dari kawan-kawan mereka yang ada disekitarnya. Katanya: “Kenapa kalian masih tetap hidup meski pun ada diantara kalian yang  terluka saat kalian ditangkap di padepokan?” Orang-orang itu berpaling. Ternyata mereka melihat Mahisa Pukat berdiri tegak sambil memandangi wajah-wajah yang tegang itu. Orang-orang itu menjadi gelisah. Tetapi mereka hanya dapatmenundukkan kepalanya saja. Ternyata Mahisa Pukatmelangkah terus. Ia hanya berhenti sejenakmemandangi orang -orang yang  terbaring diam. Ada di antara mereka yang  memang masih hidup. Tetapi lukanya sudah menjadi sangat parah. Sementara itu di tempat lain Mahisa Murti hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Hampir semua orang yang terbaring sudah tidak bernyawa lagi. Baik orang-orang yang menyerang padukuhan itu, mau pun orang -orang dari padukuhan itu sendiri, ternyata tidak lagi mampu mengekang diri. “Pertempuranyang mengerikan,” desis Mahisa Murti. Sejenak kemudian baik Mahisa Murti mau pun Mahisa Pukat telah menemui pimpinan padukuhan itu. Kedua orang pemimpin dari padepokan yang sedang mekar, Bajra Seta, merasa berkeberatan dengan cara mereka bertempur. “Kami tidak mempunyai pilihan lain,” jawab pemimpin padukuhan itu. “Bahwa kalian harus mempertahankan padukuhan kalian itu, tentu. Tetapi cara kalian bertempur itulahyang  kurang aku setujui,” berkata Mahisa Murti, “kenapa kau terpancing oleh lawanmu untuk bertempur dengan kasar. Apakah kau merasa perlu untuk membunuh orang sebanyak-banyaknya dalam pertempuran itu? Seharusny a kalian minta bantuan para cantrik. Kalian akan dapatmengusir lawan dari padukuhan ini tanpa harus bertempur dengan salingmembantai.” Pemimpin kelompok itu tidak menjawab. Meski pun ia mengangguk-angguk, tetapi ia merasa sulit untuk membayangkan bagaimana pertempuran cara itu terjadi. Namun akhirnya ia pun mengerti apa yang dimaksud oleh Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak bertanya lebih lanjut. Mereka hanya mengelilingi arena pertempuran itu. Kemudian meninggalkan orang-orang padukuhan itu sibuk dengan orang-orang yang  terbunuh dan satu dua yang terluka parah. Namun pada malam harinya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah datang ke padukuhan yang baru saja mendapat serangan itu. Dengan panjang lebar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjelaskan, bahwa perang bukanlah sekedar membunuh dan hilangnya rasa perikemanusiaan. Meski pun hal seperti itu sulit untuk dihindari. Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu sejenak. Tetapi mereka memang harusmengakui, bahwa merekamasih belum dapat mengekang diri mereka sehingga dalam pertempuran yang  baru saja terjadi, mereka masih juga diwarnai dengan sifat-sifatmereka sebelumnya. “Sudahlah,” berkata Mahisa Murti kemudian, “apa yang  terjadi adalah satu peringatan bagi kalian. Adalah kebetulan bahwa lawan kalian adalah orang-orang yang  kasar dan bahkan buas, sehingga kalian telah terpancing untuk melakukannya. Tetapi untuk selanjutnya kalian harus menempatkan diri kalian sebagaimana sikap seseorang yang berakal budi.” Pemimpin padukuhan itu memang sempat minta maaf kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan nada rendah ia berkata: “Kami ternyata masih juga dibayang i oleh sifat-sifat kami dari hidup kamiyang terdahulu.” “ Ingatlah,” berkata Mahisa Murti kemudian, “kalian yang  dahulu, maksudku hidup kalian yang  lama, telah mati. Telah dikuburkan. Kalian harus berada dalam satu dunia yang baru, karena kalian adalah orang baru yang dilahirkan kembali dengan sifat-sifatyang  harus baru sama sekali.” Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyempatkan diri secara khusus berterima kasih kepada anak-anak muda yang telah membantu padukuhan itu mempertahankan diriny a. Bahkan mereka telah dengan suka rela melibatkan diri sejak pertempuran belum dimulai. Di hari berikutnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat diikuti oleh pemimpin padukuhan itu serta beberapa orang yang lain telah memerlukan mendatangi orang tua dari tiga orang korban yang terbunuh di medan pertempuran itu. Sambil menyerahkan tubuh dari korban yang  telah gugur itu, mereka mengucapkan terima kasihyang  tidak terhingga besarnya. “Mereka telah gugur untuk satu perjuangan yang  luhur,” berkata Mahisa Murti, “ada satu pesan tersendiri dari perjuangan mereka, karena sebenarnyalah mereka telah berusaha meny elamatkan sebuah padukuhan dari kehancuran mutlak. Tanpa bantuan mereka maka padukuhan itu tentu sudah menjadi debu.” Orang tua ketiga orang korban itu, terutama ibu-ibumereka memang menangis. Tetapi mereka dapat mengerti arti dari pengorbanan anak-anak muda itu. Mereka dapat membayangkan tanpa pengorbanan mereka, maka yang terjadi adalah pembantaian yang  mengerikan. Padukuhan itu tentu masih tertidur lelap ketika bahaya itu menerkam menjelang fajar. Tetapi karena jasa anak-anakmereka serta beberapa orang kawannyamaka hal itu akhirnya dapat dihindari. Mengorbankan diri untuk keselamatan orang lain memang sangat mahal harganya. Hanya kasih yang  tulus terhadap sesama maka seseorang ber sedia mengorbankan jiwanya bagi keselamatan orang lain, tanpa pamrih selain keselamatan itu sendiri. Karena itu, maka ketiga orang anak muda itu memang pantas untuk mendapat penghormatan yang tinggi. Mereka memang tidak mendapatkan penghormatan dari sepasukan prajurit yang  datang dari Singasari atau Sangling atau Lemah Warah. Tidak pula dari Kediri. Yang menghormatinya hanyalah tetangga-tetangganya saja yang mengetahui apa yang telah terjadi. Namun penghormatan itu tidak kalah nilainya dengan penghormatanyang mana pun juga, karena diberikan oleh orang-orang itu dengan hati yang  bersih, yang  menjadi saksi atas pengorbanan yang  telah diberikan oleh anak-anak muda yang telah gugur itu. Dengan demikian maka di padukuhan-padukuhan yang  lain- pun telah timbul pula suasana berkabung sebagaimana padukuhan yang menjadi sasaran utama dari peny erangan yang didor ong oleh perasaan dendam. Yang sebenarnya dilandasi pula oleh perasaan dengki, bahwa orang -orang yang semula hidup bersama mereka dalam kegelapan, telahmampu mengangkat dirinya dan hidup, dalam satu suasana yang jauh lebih baik. Namun peristiwa itu telah menjadi cambuk bagi orangorang yang tinggal di padukuhan baru itu. Mereka harus lebih ber siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk seperti itu di saatyang lain. Dengan demikian, maka para penghuni padukuhan itu menjadi semakin meningkatkan kesiagaan mereka. Anak-anak mudanya menjadi lebih giat melakukan latihan-latihan yang diberikan oleh para cantrik yang terpilih. Beberapa orang remaja yang mendekati usia dewasanya telah pula ditempa untuk menjadi anak muda yang perkasa. Bahkan anak-anak pun telah mulai dengan pengenalan pada unsur -unsur dasar olah kanuragan. Jika mereka kelak tumbuh menjadi remaja dan apalagi dewasa,makamereka akan dapatmenjadi benteng yang kokoh dari padukuhan mereka. Tetapi yang  terpenting adalah meningkatkan ketahanan padukuhan itu dalam waktu yang  singkat. Setiap saat orangorang yangmendendam dan mendengki itu datang lagi,maka mereka tidak akanmengecewakan. Namun setiap kali Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berkata: “Perang berbeda dengan pembantaian. Meski pun tujuan akhir dari perangmemang kemenangan, tetapi nilai kemenangan itu jangan dikotori oleh tindakan-tindakan yang dapat menyinggung kesadaran kemanusiaanyang  paling dalam.” Sementara itu, ternyata kelompok-kelompok yang berusaha untuk menghancurkan padukuhan yang baru itu, telah saling menuduh bahwa kelompok yang  lain tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh. Meski pun hal itu tidak dilontarkan dengan terbuka, namun masing -masing kelompok merasa bahwa telah timbul perasaan saling mencurigai yang  tajam diantaramereka. Nampaknya persoalan yang  timbul diantara mereka itu merupakan pertanda baik bagi padukuhan yang semakin berkembang itu. Sebab dengan demikian, maka kemungkinan mereka untuk datang dalam kelompok yang besar menjadi semakin kecil. Sementara padepokan Bajra Seta berkembang semakin pesat,maka telah terjadi satu peristiwa yangmengejutkan bagi padepokan itu. Ternyata telah datang utusan dari istana Singasari, Sri Maharaja telah memanggil Mahendra untuk menghadap. Seorang perwira prajurit Singasari yang  datang bersama sekelompok pengawalnya telah menyampaikan perintah itu dengan membawa pertanda kuasa Sri Maharaja. Sebuah tunggul yang berwarna keemasan berbentuk kelopak bunga, dengan kelebet segi tiga dengan lukisan sepa sang naga ular yang salingmembelit. “Kenapa aku harusmenghadap?” bertanya Mahendra, “aku sudah semakin tua. Apa yang dapat aku lakukan dalam keadaan pikun seperti ini?” “Kami hanyalah utusan yang memanggul perintah Sri Maharaja,” jawab perwira yang memimpin sekelompok utusan itu. Mahendra mengangguk-angguk. Ia tidak dapat menolak perintah itu. Dengan rendah hati Mahendra berkata: “Baiklah. Aku akanmenghadap Sri Maharaja di Singasari. Tetapimohon disampaikan sebelumnya, bahwa Mahendra sudah menjadi pikun.” “Kita pergi ber sama -sama Ki Mahendra,”minta perwira itu. Tetapi Mahendra menggeleng. Katanya: “Aku akan menyusul kemudian. Silahkan angger mendahului. Aku masih akan ikut membenahi padepokan ini meski pun kedua orang anakku masih akan tinggal disini dan memimpin padepokan ini.” “Ki Mahendra memerlukan waktu berapa hari? Kami ber sedia untuk menunggu sampai Ki Mahendra selesai membenahi padepokan ini,” berkata perwira yang memimpin utusanyang menjemput Mahendra itu. “Kenapa aku harus pergi bersama kalian?,” bertanya Mahendra. “Perintah Sri Maharaja. Aku kembali bersama ki Mahendra,” jawab perwira itu: “jadi sampai kapan pun sebelum Ki Mahendra dapat berangkat ke Singasari, kami masih akan menunggu. Jika kami kembali Iebih dahulu,maka akan terjadi dua kemungkinan. Kami dihukum karena tidak menjalankan perintah, atau Ki Mahendra yang dianggap menolak perintah.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat mengingkari perintah itu. Ia harus pergi ke Singasari ber sama para prajurit. Mungkin tidak ada yang penting. Mungkin Sri Maharaja sekedar merasa kehilangan Mahisa Agni dan Witantra. Kemudian memanggilnya untuk sekedar berbincang karena Sri Maharaja tahu, bahwa isadalah saudara muda seperguruan Witantra dan seorang yang dekat dengan Mahisa Agni. “Tetapi aku tidak lebih dari seorang pedagang wesi aji dan batu akik, sekali-sekali permata yang  memang mahal harganya,” berkata Mahendra didalam hatinya. Karena itu, maka ia pun kemudian menjawab: “Baiklah Ki Sanak. Jika itu perintah Sri Maharaja, maka aku tidak akan menentangnya. Aku merasa bahwa aku mempunyai kewajiban untukmematuhinya.” “Terima kasih Ki Mahendra,” jawab perwira itu, “tetapi dengan demikian maka kami mohon mendapat tempat untuk tinggal selama beberapa harimenunggu Ki Mahendra.” “Tentu Ki Sanak,” jawab Mahendra, “tetapi mohon diketahui, bahwa tempatnya terlalu sederhana.” “Kami, para prajurit, dapat tinggal di manapun. Bahkan seandainya kami harus berada di longkangan-longkangan sekali pun,” jawab perwira yang membawa pertanda kekuasaan dari Sri Maharaja di Singasari itu. Kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Mahendra telah minta untukmeny ediakan barak khusus bagi penginapan para prajurit dari Singasari itu. Dalam pada itu, dalam pertemuan yang sangat khusus, Mahendra telah minta diri kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Aku harus memenuhi perintah Sri Maharaja. Aku tidak tahu berapa hari aku harus berada di Singasari. Mungkin satu dua hari. Tetapi mungkin agak lama. Aku pun tidak tahu untuk apa aku harus pergi ke Singasari. Mungkin untuk sesuatu yang penting. Tetapi mungkin sekedar mengisi kekosongan sepeninggal kakang Mahisa Agni dan kakang Witantra,” berkata Mahendra kemudian. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapatmenganggukangguk saja, sementara Mahendra telah memberikan pesan kepada mereka tentang padepokan Bajra Seta yang  telah mereka dirikan. “Jangan sia -siakan Padepokan yang  telah berkembang dengan baik ini,” berkata Mahendra, “selain daripada itu, maka kalian berdua jangan tenggelam dalam kesibukan yang berlarut-larut, sehingga kalian tidak sempat meningkatkan ilmu kalian sendiri. Kau sudah tidak lagi mempunyai seorang yang secara khusus menuntun kalian untuk meningkatkan ilmu kalian. Karena itu, kalian harus mampu menguasai diri sendiri serta dengan sungguh-sungguh berusaha meningkatkan dan mengembangkan ilmu kalian. Beruntunglah kalian karena kalian telah mendapat tuntunan dari beberapa orang yang  berilmu sangat tinggi, serta kalian telah mendapatkan pusaka yang  jarang ada duanya. Bekal itu harus kalian kembangkan sebaik-baiknya sehingga kalian tidak akan hanya sekedar berpijak pada apa yang  kau miliki sekarang. Mungkin kakangmu Mahisa Bungalan tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Ia terlalu sibuk dengan tugas-tugasny a, sehingga karena itu, ia tidak dapat setiap kali berada di sanggarnya.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapatmenganggukangguk sertamengiakannya. Namun Mahendra juga berpesan tentang anak-anak yang  telah terlanjur dibawa ke padepokan itu. “Kau tidak boleh menelantarkan Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Keduanya telah kau bawa kemari. Karena itu, maka kau mempunyai kewajiban untuk membesarkan mereka. Bukan hanya tubuhnya, tetapi juga ilmunya. Bukankah pada suatu saat kau memerlukan orang-orang baru yang  pantas untuk ikut memimpin padepokan ini? Aku tahu bahwa keduanya tidak akan dapat menjadi wadah segala macam isi yang ada di dalam dirimu, karena kau tentu masih berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan lain yang  dapat terjadi. Mungkin anak-anak kalian atau anak Mahisa Bungalan yang pantas mewarisi semua kemampuan dan ilmu kalian. Tetapi dengan tuntunan yang  baik, lahir dan batin, kedua anak itu akan dapat ikut serta menciptakan satu suasana yang memungkinkan orang-orang yang  masih bakal lahir untuk menggantikan puncak dari kepemimpinan padepokan ini. Namun tidak mustahil bahwa kau memerlukan sosok perantara.Nah, Mahisa Semu dan Mahisa Amping akan dapat melakukannya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja menganggukangguk. Ia menyadari sepenuhnya apa yang dikatakan oleh ay ahnya itu, sehingga dengan demikian, maka mereka pun telah berjanji kepada diri sendiri untuk melakukan dengan sebaik-baiknya tugas itu. Merekalah yang  telah membawa anak-anak itu ke padepokan itu dengan niat agar pada suatu saat mereka tidak akan kehilangan jalur peningkatan dan pengembangan atas padepokan Bajra Seta itu.” “Tetapi aku masih belum akan berangkat besok,” berkata Mahendra, “aku akan berangkat dua hari lagi. Aku ingin pergi dengan hati yang tenang, karena sebenarnyalah aku ragu-ragu apakah aku akan dapat kembali lagi ke padepokan ini atau tidak.” Wajah Mahisa Pukat menjadi tegang. Dengan nada tinggi Mahisa Murti bertanya: “Kenapa ay ah ragu-ragu untuk dapat kembali? Apakah ada sesuatu yang  dapat menahan ay ah pulang ke padepokan ini?” “Tidak karena kekuatan lainyang  dapatmenahanku. Tetapi bukankah aku sudah tua?,” Mahendra justru bertanya. “Tetapi, pada saatnya ayah akan pulang. Jika ayah ber sedia kembali ke padepokan ini kami mengucapkan terima ka sih. Atau barangkali ay ah berniat pulang ke rumah. Tetapi ke mana pun ay ah akan pergi, maka ayah akan dapat melakukannya,” berkata Mahisa Pukat. “Aku mengerti,” jawab Mahendra, “mudah-mudahan aku akan dapatmelihat padepokan ini lagi.” Di hari berikutnya Mahendra memang mulai berkemas. Dipanggilnya Mahisa Semu dan Mahisa Amping. Dengan singkat Mahendra memberitahukan kepada mereka, bahwa ia akan pergi ke Singasari. “Kenapa Ki Mahendra harus pergi?” bertanya Mahisa Amping. “Aku tidak tahu Sri Maharaja telah memanggilku,” jawab Mahendra. “Bukankah Ki Mahendra tidak berbuat kesalahan?” bertanya Mahisa Semu. “Tidak,” jawab Mahendra, “jika aku dipanggil ke Singasari itu bukan berarti satu hukuman. Saudara tua seperguruanku dahulu juga mengabdi di istana. Tetapi ia telah tidak ada ber sama seorang sahabatnya. Mungkin aku dipanggil untuk mengisi kekosongan di istana. Mungkin diperlukan orangorang tua untuk dapat diajak berbincang-bincang.” Mahisa Semu mengangguk-angguk. Katanya: “Jika demikian, bukankah Ki Mahendra dapat saja setiap saat meninggalkan istana. Kemudian kembali lagi.” “Ya,” jawab Mahendra, “tetapi tenagaku yang  telah menjadi rapuh tidak akanmungkin melakukannya. Aku sekarang cepat menjadi letih.” Mahisa Semu tidak bertanya lebih banyak lagi, sementara Mahisa Amping merasa sangat kehilangan dengan kepergian Mahendra. Justru karena Mahisa Amping sadar sepenuhnya bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan menjadi terlalu sibuk. Dengan demikian maka perkembangan ilmunya pun akan menjadi tersendat kembali. Tetapi Mahisa Amping memang tidak dapat menyalahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Semakin bertambah umurnya, anak itu semakin menyadari, bahwa ia bukan orang yang terpenting di padepokan itu. Ia hanya merupakan bagian kecil dari seluruh isi padepokanyang  semakin besar itu. Mahendra memang selalu memberitahukan kepada Mahisa Amping dan Mahisa Semu, bahwa mereka adalah bagian dari keseluruhan sehinggamereka harusmampu luluh didalamnya, -Keduanya tidak boleh menyalah-artikan, seolah-olah bumi beredar di sekitar diri mereka. Sehingga segala sesuatunya mereka pandang dari sudut pandangan mereka saja dan merasa seakan-akan mereka adalah segala-galanya, sehingga apa yang  ada di sekitarnya harus tunduk kepadamereka. Demikianlah pada hari-hari terakhir Mahendra berada di dalam barak itu, ia masih sempat memberikan petunjukpetunjukyang  sangat berarti bagi keduanya. Dengan demikian maka bagi keduanya, seakan-akan pintu telah terbuka. Mereka akan dengan mudah dapat mengembangkan dan meningkatkan apa yang  telahmerekamiliki. Selain kedua orang anak muda itu, Mahendra juga memberikan banyak pesan kepada para cantrik dan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri. Terakhir Mahendra telah mengumpulkan semua orang di padepokan itu. Bahkan orang-orang yang selalu berhubungan dengan padepokan itu. Anak-anakmuda dari padukuhan-padukuhan sebelum dan isi padukuhan baru yang  telah dihuni oleh orang -orang yang kembali dari jalanyang sesat. Ternyata bahwa apa yang dilakukan oleh Mahendra itu mempunyai pengaruh yang luas. Bukan sekedar pernyataan perpisahan. Tetapi pernyataan perwira yang  memimpin sekelompok prajurit yang  datang menjemput Mahendra ke padepokan itu,merupakan satu pengakuan dari Sri Maharaja di Singasari terhadap padepokan itu. Sehingga dengan demikianmaka kedudukan padepokan itumenjadi sangat kuat dan orang-orang di sekitarnya menjadi semakin menghormatinya. Mahendra memang berharap bahwa dengan caranya, pengakuan itu menjadi semakin tersebar. Orang-orang yang berniat buruk terhadap padepokan itu pun akan membuat perhitungan kembali, karena memusuhi padepokan Bajra Seta, sama artinya denganmemusuhi Singasari yang besar. Demikianlah akhirnya, Mahendra telah minta diri kepada seisi padepokan itu. Ia masih memperingatkan kemungkinankemungkinan buruk dapat terjadi. Namun kepada prajurit ia minta untuk membawa seorang diantara para tawanan yang masih saja berhati batu. Namun orang yang masih saja mengumpat-umpat itu akhirnya meny esal bahwa ia harus ikut ke Singasari. Bukan sekedar dibawa ke Sangling. “Kau akan mendapat tempat yang baik di Singasari,” berkata seorang prajurit kepadanya. Semula tawanan itu masih ber sikap kasar. Kepada prajurit itu ia mengumpat-urrpat. Namun ternyata prajurit itu tidak ber sikap seperti para cantrik yang membiarkannya. Demikian ia mengumpatinya, maka tangan prajurit Singasari itu telah menyambar pipinya. Demikian kerasny a sehingga tawanan itu mengaduh kesakitan. Prajurit itu memang tidak melakukannya dengan sematamata. Bahkan berdesis ia berkata: “Jika kau lakukan sekali lagi, aku cekik kau. Tidak sampai mati. Tetapi setengah mati sa ja, karena aku tidak wenangmembunuhmu.” Tawanan itu meny eringai kesakitan. Ketika prajurit yang  lain lewat ia pun berteriak: “Tolong.” Prajurit itu mendekat. Sambil memandangi kawannya ia bertanya: “Kenapa?” “Prajurit itu memukul pipiku. Sakit sekali,” jawab tawanan itu. Prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian bertanya: “Lalu apa yang  kau ingini?” “Perlakuanyang  baik,” jawab tawanan itu. Diluar dugaan. Prajurit itu menangkap tengkuknya dan membenturkan dahinya ke lantai. Katanya: “Apa lagi?,” Tawanan itu terdiam. Dipandanginya kedua orang prajurit itu dari ujung rambutnya sampai ke ujung kakinya. Namun ia masih saja berdiam diri. Prajurityang  kedua itu kemudian berkata: “Nah, aku sudah tahu apa yang kau lakukan disini. Manja dan terlalu diperlakukan dengan lunak saat-saat kau menarik perhatian para cantrik. Tetapi kau tidak dapat menjadi manja kepada para prajurit. Apalagi mengingat bahwa kau telah diperlakukan terlalu baik, namun masih juga belum sembuh sementara orang lain telah hidup dalam sebuah padepokan yang tenang.” Tawanan itu menggeram. Tetapi ia tidak dapatmengulangi tingkah lakunya. Ketika kedua orang prajurit itu pergi, dan ia sekali lagi mencoba bermanja-manja dengan prajurit yang lain, maka giginya justru berdarah. Prajurit itu dengan tinjunya telah memukulmulutnya. Demikian para prajurit meninggalkannya, maka tawanan itu tiba-tiba telah menangis. Ia benar-benar telahmeny esal. Ia mengira bahwa dengan sikapnya itu, ia akan dapat menakutnakuti para cantrik sehingga ia mendapat perlakuan baik. Namun ternyata akhirnya ia jatuh ke tangan prajurit Singasari yang keras seperti batu. Ketika Mahendra kemudian telah siap untuk berangkat, maka orang itu pun telah dipersiapkan pula. Baginya juga disediakan seekor kuda. Namun tangannya akan diikat meski pun masih memungkinkan memegang kendali. Pinggangnya juga akan diikat dan dengan tali yang panjang, pinggangnya itu akan dihubungkan dengan seekor kuda yang lain, yang ditunggangi oleh seorang prajurit. Kepada prajurit yang mengikat tanggannya orang itu berkata: “Kenapa harus diikat. Aku tidak akan Iari. Dengan diikat aku sulit untukmemegang kendali.” Prajurit yang  mengikatnya berdesis perlahan: “Jangan ribut.Nanti lehermu aku ikat.” “Aku minta lepaskan tali pengikatnya,” minta orang itu dengan sengaja agar Mahendramendengarnya. Mahendra memang mendengarnya. Ia pun berpaling dan bertanya kepada tawanan itu: “Apakah kau ingin tanganmu tidak diikat?” “Ya,” jawab tawanan itu. Prajurit yang mengikatnya memang menjadi berdebardebar. Tanpa diikat tangannya, maka orang itu akan dapat melarikan diri. Keduanya akan dapat dihentakkan dan berlari keluar dari iring-iringan. Namun jawab Mahendra: “Nanti setelah kita sampai di Singasari,maka ikatan tanganmu itu akan dilepaskan.” “Aku berkeberatan,” geram orang itu. “Kau keberatan tanganmu diikat?,” bertanya Mahendra pula. Tawanan itu ragu-ragu. Dipandanginya sor ot mata Mahendra. Namun Mahendra itu berkata: “Kau sudah terlalu lama memuakkan kami, orang-orang padepokan. Sekarang, kau akan dibawa ke Singasari untukmendapatkan angin baru. Mungkin kau lebih senang diperlakukan seperti itu, karena kebaikan para cantrik kau sia-siakan. Kau agaknya mendapat kepuasanyang  tinggi dengan berlaku kasar dan tidak wajar.” Tawanan itu menggeretakkan giginy a. Katanya: “Aku minta, lepaskan ikatan tanganku.” Mahendra t iba-tiba saja meninggalkannya, sementara prajurit yang mengikat tangannya itu berkata: “Aku akan mengikat lehermu. Jika kaumeronta, dan jatuh dari punggung kudamu,maka kau akan langsung ter seret oleh kuda yang  lain dengan taliyang  terikat pada pinggang dan leherrhu.” “Jangan, jangan,” orang itu hampir berteriak. Prajurit itu berkata perlahan-lahan sekali ditelinganya: “Apakah kaumasih mempunyai hak berkata jangan?” Tawanan itu pun benar-benar menyadari, bahwa ia akan memasuki satu dunia yang  penuh kegelapan. Di Singasari, maka ia akan segera menjadi ikan kering yang  dijemur diteriknya panasmatahari. Tetapi ia tidak dapat menarik semua yang pernah dilakukannya sehingga ia tidak jadi dibawa ke Singasari. Semua yang  telah terjadi tidak dapat diingkarinya. Demikianlah, maka pada saat yang  telah ditentukan, Mahendra diiringi oleh para prajurit dari Singasari telah meninggalkan padepokan itu. Rasa -rasanya jantung Mahendra juga berdebaran. Namun Mahendra tidak menunjuk perasaannya itu di wajahnya. Ia meninggalkan regol padepokan sambil terseny um dan dengan wajah tengadah, betapa pun sebenarnya terasa berat berpisah dengan anakanaknya pada hari-hari terakhir dari hidupnya. Tetapi ia memang tidak dapat menolak perintah Sri Maharaja meski pun seandainya di Singasari ia sama sekali tidak berarti apaapa. Sejenak kemudian,maka iring-iringan prajurit itu pun telah menjadi semakin jauh. Mahendra yang sudah menjadi semakin tua masih nampak tegar diatas punggung kuda. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengantar ayahnya sampai keluar regol padepokan. Demikian pula Mahisa Amping dan Mahisa Semu serta beberapa orang yang  lain. Baru setelah iring-iringan itu menjadi jauh, mereka telah kembali memasuki regol padepokan. Pintu pun kemudian telah ditutup pula. Beberapa saat kemudian, padepokan menjadi sepi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih memikirkan kepergian ay ahnya yang  sudah tua. Mereka tidak curiga bahwa prajurit yang menjemput ayahnya itu bukan sebenarnya prajurit Singasari. Keduanya yakin benar bahwa prajurit-prajurit dengan segala macam pertanda serta tunggul beserta kelebetnya telah meyakinkannya. Namun yang mereka pikirkan adalah, untuk apa ay ahnya diperintahkan masuk ke istana. “Apakah sekedar untuk mengisi kekosongan sepeninggal pamanMahisa Agni danWitantra,” desis Mahisa Murti. “Mudah-mudahan ay ah mempunyai arti di Singasari,” gumam Mahisa Pukat pula. Namun akhirnya keduanya menyadari, bahwa mereka tidak sebaiknya memikirkan kepergian ay ah mereka. Tetapi mereka harus segera kembali kepada keny ataanyang mereka hadapi di padepokan itu. Tugas dan tanggung jawab mereka menjadi semakin berat, justru setelah Mahendra meninggalkan padepokan itu. Selain beberapa persoalan yang ditangani Mahendra akan menjadi tugas mereka pula, maka mereka tidak lagi mempunyai seorang yang  selalu diminta pendapatnya. Terutama apabila mereka menghadapi persoalan-persoalanyang meragukan. Namun sepeninggal Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harusdapatmengambil keputusan sendiri. Di hari pertama sepeninggal Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai mengambil alih tugasnya dalam hubungannya dengan peningkatan ilmu Mahisa Amping dan Mahisa Semu. Seperti yang  telah diduga sebelumnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat melakukannya setekun Mahendra sendiri karena kedua orang anakmuda itu mempunyai tugasyang cukup banyak. Namun memenuhi pesan Mahendra, maka meski pun hanya sebentar tetapi keduanya selalumendapat waktu khusus dari Mahisa Murti danMahisa Pukat. Tetapi seperti dipesan oleh Mahendra, kedua orang anak itu tidak semata-mata menggantungkan diri mereka kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi dengan petunjukpetunjuk terakhir yang  diberikan oleh Mahendra,maka kedua orang anak muda itu mampu meningkatkan ilmu mereka masing-maing. Mahisa Amping yang  kecil itu pun mampu melakukannya dengan sebaik-baiknya. Dalam pada itu, kepergian Mahendra dijemput oleh sekelompok prajurit Singasari memang memberikan kesan yang baik bagi padepokan Bajra Seta. Seperti yang  diharapkan, maka orang-orang yangmengenal padepokan itu menganggap bahwa hal itu merupakan pengakuan dari Singasari, atas kelebihan padepokan dan perguruan Bajra Seta. Namun kepergian Mahendra telah mempunyai akibat yang  lain pula. Beberapa orang menganggap kepergian Mahendra telah memperlemah kedudukan padepokan dan perguruan Bajra Seta. Tanpa Mahendra, perguruan itu akan menjadi kerdil karena tidak ada orang yang memiliki kelebihan, yang akan dapat membuat para murid di padepokan itu menjadi orang-orang yang  berarti. “Kedua anak Mahendra itu tentu tidak akan sama seperti ay ahnya,” berkata seseorang yang  mulai menilai padepokan dan perguruan Bajra Seta. “Tetapi kedua anak muda itu juga berilmu tinggi,” jawab yang lain. “Tetapi seberapa tinggi? Itulah yang penting. Semua orang tahu siapa Mahendra. Pedagang wesi aji yang dikenal oleh banyak orang dari banyak negeriyang  selalu dikunjunginya. Ia sama sekali tidak takutmenghadapi perampok dan peny amun di perjalanan, karena ilmunya adalah ilmu yang  benar-benar tuntas,” berkata orang yang  pertama. Namun kawannya menggeleng. Katanya: “Aku tidak berani menilai kemampuan kedua anak muda itu. Nampaknya kita tidakmempunyai bahan dan perbandingan.” Orang-orang itu mengangguk-angguk. Memang tidak ada bahan dan perbandingan yang  dapat dipergunakan untuk menilai kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun seorang diantara orang-orang itu berkata: “Kecuali salah seorang atau keduanya ditantang untuk berkelahi.” Yang lain tertawa. Seorang diantara mereka berkata: “Ah. Kita bukan orang yang mempertaruhkan hidup kita sekedar untuk menjajagi kemampuan orang lain. Aku hanya sekedar memperbincangkan kemampuan kedua anak Mahendra. Tetapi sudah tentu sama sekali tidak bermaksudmenjajagi.” Ketika pembicaraan seperti itu terjadi di sebuah kedai yang  sebenarnya sudah agak jauh dari padepokan Bajra Seta, seorang yang  berbutuh tinggi kekar berkata: “Aku ingin menjajagi kemampuan orang-orang Bajra Seta.” Yang lain memang terdiam. Mereka tahu, orang itu adalah seorang prajurit sandi dari Kediri. Prajurit sandiyang memang kurang berusaha merahasiakan diri. Tetapi kadang-kadang ia bangga dengan kedudukannya sebagai prajurit sandi. Tetapi ada juga orang yang  tidak dikenal justru menyahut: “Bukan orang-orang Bajra Seta. Tetapi anak Mahendra.” “Ya,” jawab prajurit sandi dari Kediri yang bertugas untuk mengamati kekuatan yang terpendam dari Singasari, “aku justru ingin tahu kemampuan anak Mahendra.” Orang-orang yang ada di kedai itu memang lebih baik berdiam diri. Kediri bagi mereka memang memberikan tekanan yang berbeda. Meski pun Kediri juga berada di bawah naungan kuasa Singasari, tetapi orang -orang Kediri kadangkadang terlalu dengan sengaja menunjukkan sikap kurang senang terhadap kepemimpinan Singasari serta orang-orang yang berhubungan dengan istana Singasari. Demikian juga sikap prajurit sandi Kediri itu terhadap padepokan Bajra Seta yang diperbincangkan orang itu. Karena tidak ada orang yangmenyahut,maka tiba-tiba saja ia bertanya tanpa ditujukan kepada seseorang: “Di mana letak padepokan Bajra Seta?” Orang-orang yang membicarakan kekuatan padepokan Bajra Seta tanpa Mahendra itu sebenarnya tidak berniat buruk. Bahkan ada yang  membicarakannya dengan nada kecemasan, bahwa padepokan itu akan mengalami kesulitan sepeninggal Mahendra. Meski pun sebagian terbesar dari orang-orang yang mendengar kepergian Mahendra itu menganggap bahwa padepokan Bajra Seta benar-benar sudah mendapat pengakuan sebagai sebuah padepokan yang  pantas diteladani. Karena itu, tidak seorang pun yang  dengan serta merta menunjukkan dimana letak Bajra Seta itu. Tetapi bagi petugas sandi Kediri itu, usaha menjajagi kekuatan-kekuatan di Singasari akan sangat penting artinya. Meski pun hal seperti itu sebenarnya satu langkah rahasia yang dilakukan oleh Kediri sebagai satu penjajagan, namun orang yang  terlalu sombong dan terlalu yakin akan dirinya sendiri itu justru melakukannya dengan kebanggaan yang dijajakannya. Namun akhirnya ia menemukan juga orang yang mau menunjukkan letak padepokan Bajra Seta. Orang yang  tidak dikenal itu telah berbicara lagi: “Aku tahu letak padepokan Bajra Seta.” “Bagus,” berkata orang bertubuh raksasa itu, “kau dapat membantu aku menunjukkan letak padepokan itu?” “Tentu,” jawab orang yang tidak dikenal itu. Orang-orang yang lain yang  akan di kedai itu saling berpandangan. Namun seorang yang  sudah agak tua, yang tidak senangmelihat sikap orang yang  tidak dikenal itu ju stru bertanya: “Apakah keuntunganmu jika terjadi semacam benturan kekerasan hanya sekedar ingin tahu apakah di padepokan itu ada orang berilmu tinggi atau tidak? Bukankah kita juga sudah mendengar bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang  sekarang memimpin padepokan itu adalah anakanakmuda yang  berilmu tinggi?” “Katanya memang demikian,” jawab orang yang tidak dikenal itu, “karena itu, jika ada orang yang  ingin menjajaginya, apakah salahnya? Jika kita ingin menjajaginya, maka kita dapat datang menemui Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta langsung menantang mereka berperang tanding. Tetapi karena keduanya nampaknya tidak pernah berpisah, maka yang  disebut perang tanding adalah bertempur melawan mereka berdua.” “Aku tidak berkeberatan,” jawab orang bertubuh raksasa itu. “Tetapi memang harus dipertimbangkan baik-baik. Kedua anak itu telah mendapatkan sepa sang pusaka yang tidak ada duanya,” berkata orang yang  tidak dikenal itu. Orang bertubuh raksasa itu tertawa. Katanya: “Apa artinya pusaka? Pu saka adalah benda yang dibuat oleh manusia. Bukankah dengan demikian manusia itu sendiri mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi dari pusaka buatannya itu?” Orang yang  tidak dikenal itumengangguk-angguk. Katanya: “Aku akanmenunjukkan letak Bajra Seta,” ia berhenti sejenak, lalu katanya berterus terang: “Aku mendendam kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sadar atau tidak sadar, mereka telahmembunuh saudara seperguruanku.” “Siapakah saudara seperguruanmu?,” bertanya seseorang. “Sudah terlalu banyak orang yang  dibunuh oleh anak-anak muda itu, sehingga andaikata aku meny ebutnya, ia hanya satu diantara yang  terlalu banyak itu.” Tidak ada yang bertanya lagi. Orang-orang di kedai itu memang tidak ingin melibatkan diri jika benar-benar terjadi sesuatu. Karena itu, maka mereka lebik baik diam dan tidak mencampuri persoalan kedua orang itu. Orang yang  bertubuh raksasa itu dan orang yang  tidak dikenal oleh mereka. Sebenarnyalah bahwa kedua orang itu benar -benar ingin menghubungi padepokan Bajra Seta. Orang yang  dikenal sebagai prajurit sandi dari Kediri itu memang berniat untuk menjajagi kemampuan pimpinan padepokan Bajra Seta yang tertinggal, setelah Mahendra pergi ke Singasari. Orang-orang yang  ada di kedai itu justru telah berharap agar keduanya cepatmeninggalkan kedai itu. Padepokan Bajra Seta masih cukup jauh dari tempat itu. Mereka merasa lega, bahwa beberapa saat kemudian keduanya telah meninggalkan kedai itu menuju ke padepokan Bajra Seta. Padepokan yang semakin mekar dan dikagumi banyak orang. Bahkan diakui sebagai satu padepokan yang langsung dikenal oleh Sri Maharaja di Singasari. Hari itu, orang yang bertubuh raksasa itu masih belum menghubungi orang-orang dari padepokan Bajra Seta. Ia memang bermaksud memasuki padepokan itu di hari berikutnya. “Kau akan menjadi saksi,” berkata orang bertubuh raksasa itu. “Baik,” jawab orang yang  tidak dikenalnya itu, ”jika kau berhasil mengalahkan kedua orang anak muda yang memimpin padepokan itu, maka aku akan merasa bahwa dendamku telah terbalas. Aku harap kau akan bertanding sampai tuntas.” “Aku tidak pernah bertanding seperti anak-anak main binten. Jika aku sudahmemasuki arena perang tanding,maka lawan-lawanku akan keluar dari arena tinggal namanya saja.” berkata orang itu. Orang yang  tidak dikenalnya itu mengangguk-angguk. Ia memang y akin bahwa orang itu memiliki kekuatan dan kemampuan yang sangat besar. Tetapi ia masih memperingatkan: “Tetapi hati-hati dengan anak Mahendra itu.” “ Ia tidak akan lebih baik dari orang-orang lain yang telah aku bunuh di arena. Aku tidak berkeberatan jika keduanya akan maju bersama-sama,” jawab orang bertubuh raksasa dari Kediri itu. Seperti yangmereka rencanakan, di hari berikutnya, setelah keduanya bermalam di sebuah gubug kecil di tengah-tengah sawah, maka mereka telah memasuki pintu gerbang padepokan. Di pintu gerbang keduanya telah menyatakan kepada cantrik yang bertugas, bahwa keduanya ingin bertemu dan berbicara dengan pimpinan padepokan itu. Padepokan Bajra Seta memang bukan padepokan yang  tertutup. Karena itu, kedua orang itu sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk bertemu dengan pemimpin padepokan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menerima kedua orang itu dengan baik. Kedua anakmuda itu sama sekali tidak menyangka bahwamereka akan berhadapan dengan seseorang yangmenantangnya perang tanding. “Kenapa? jawab Mahisa Murti, ”bukankah kami dan padepokan ini tidak pernahmengganggu Ki Sanak?” “Memang tidak,” jawab orang bertubuh raksasa itu, “tetapi penampilan padepokan ini sangatmenyakitkan hati. Sombong dan seakan-akan tidak ada kekuatan dan kemampuan yang mampumengimbangi kemampuan para pemimpinnya.” “Kami tidak mengertimaksud Ki Sanak. Jika kami disebut sombong, apa yang pernah kami lakukan sehingga ada prasangka semacam itu,” jawab Mahisa Murti. “Apa pun jawaban kalian, tetapi aku tahu bahwa kalian merasa tidak terkalahkan. Aku datang ber sama seorang kawanku yang  telah kau lukai hatinya. Seorang saudara seperguruannya telah kau bunuh,” berkata petugas sandi itu. “Jika akumembunuh, tentu ada alasannya. Tetapi siapakah saudara seperguruannya?” bertanya Mahisa Murti. “Kau tidak akan ingat siapa saudara seperguruanku itu,” jawab orang yang  tidak dikenal itu, “satu diantara korban kalianyang tidak terhitung selama pengembaraan kalian.” “Aku tidakmengertimaksud kalian,” jawab Mahisa Murti. “Sudahlah,” berkata orang bertubuh raksasa itu, “aku adalah petugas sandi dari Kediri. Aku memang berniat menjajagi kemampuan kalian disini. Karena itu, aku tantang kalian berdua sekaligus untuk berperang tanding. Perang tanding itu Baru diketahui siapa yangmenang dan siapa yang kalah jika salah satu pihak sudah mati. Karena itu, maka apakah aku yangmati atau kalian berdua yang mati.” “Satu persoalan yang  aneh,” desis Mahisa Pukat, “satu hal yang tidak dapat dimengerti. Kita tidak pernah mempunyai persoalan apa pun juga. Tiba -tiba kau menantang perang dengan cara yang paling keras. Apa sebenarnya yang  kau kehendaki?” “Menghancurkan kesombongan padepokan ini hanya karena Mahendra dipanggil oleh Sri Maharaja Singasari,” jawab orang itu. “Kami juga pernah menjadi petugas sandi dari Kediri,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi kami tidak pernah melakukan tindakan sekadar itu. Bukankah apa yang  kau lakukan itu tidak masuk akal?” “Aku tidak peduli,” jawab orang bertubuh raksasa itu, “kawanku juga ingin membalas dendam.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja termangumangu. Tetapi orang bertubuh raksasa itu berkata: “Kita tidak perlumempertimbangkan apakahyang  kita lakukan itu masuk akal atau tidak. Aku hanya ingin tahu, seberapa jauh kebenaran berita tentang padepokan dan perguruan Bajra Seta yang dengan sombong telah menyatakan diri sebagai sebuah padepokan dan perguruan terbaik hanya karena Mahendra dipanggil ke Singasari.” “Jika kami berkeberatan?,” bertanya Mahisa Murti. “Terserah kepada kalian. Namun aku punya mulut. Kawanku ini menjadi saksi, bahwa perguruan Bajra Seta dipimpin oleh seorang pengecut sepeninggal Mahendra,” jawab orang itu, “bahkan kawanku yang menjadi saksi sekarang setelah ia kehilangan saudara seperguruannya akan berkata bahwa pemimpin perguruan Bajra Seta sama sekali tidak berani mengakui bahwa mereka telah membunuh banyak orang karena ketakutan.” “Satu cara yang baik untuk memancing pertempuran,” berkata Mahisa Pukat yang  menjadi kehabisan kesabaran, “baiklah. Pancinganmu mengena. Aku terima tantanganmu.” “Kalian berdua boleh bertempur berpasangan jika kalian kehendaki. Dua orang anak Mahendra mungkin akan dapat menyamai Mahendra,” berkata orang itu. “Aku akan bertempur sendiri,” jawab Mahisa Pukat. “Aku sudah menduga. Tetapi baiklah. Kau akan meny esal akan kesombonganmu. Tetapi aku tidak berkeberatan saudaramu berdiri di batas arena. Begitu kau hampir mati, saudaramu datangmembantu,” desis orang itu. Darah Mahisa Pukat memang sudah mendidih. Tetapi ia sadar, bahwa menghadapi siapa pun juga, ia t idak boleh kehilangan akal, sehingga pikirannya akan menjadi kabur. Dengan menahan gejolak perasaannya Mahisa Pukat pun berkata: “Biarlah para cantrikmenyiapkan arena.” Demikianlahmaka Mahisa Pukat pun telah memerintahkan para cantrik untuk memasang gawar lawe. Kemudian ia pun mempersilahkan petugas sandi dari Kediri sebagaimana pengakuannya itu turun ke halaman. Sejenak kemudian kedua orang itu telah berada di arena. Orang bertubuh raksasa itu telah meletakkan senjatanya, sebuah pedang yang besar dan berat di pinggir arena. Sementara itu Mahisa Pukatmemasuki arena tanpa membawa senjata apapun. Namun Mahisa Murti yang  ada di luar arena telah membawa sepasang pedangnya yang  bukan pedang kebanyakan itu. Beberapa saat kemudian keduanya telah bersiap. Dengan nada rendah Mahisa Pukat mempersilahkan orang yang ingin membalas dendam itu untuk berada di dalam gawar arena. “Marilah,” berkata Mahisa Pukat, “bukankah kau berniat menjadi saksi.” “Aku disini,” berkata orang itu. Ia masih berada di luar gawar, tetapi ia berada tepat ditepi arena,melekat pada gawar laweyang  terpasang. Mahisa Murti berdiri tidak terlalu jauh dari orang itu. Namun ia tidak menjadi lengah. Mungkin orang itu dapat berbuat curang justru pada saatyang  gawat. Demikianlah, maka sejenak kemudian keduanya telah berhadapan. Orang yang  mengaku petugas sandi dari Kediri itu berkata: “Bersiaplah. Kau akan mati lumat hari ini. Apakah kau tidak ingin mengajak saudaramu untuk bersama-sama mati?” “Tidak,” jawab Mahisa Pukat, “jika aku mati, biarlah ada orang yang  sempatmenangisi aku.” “ Iblis kau,” geram orang itu. “Sayang, tidak ada orang Kediri yang ada disini. Jika ada seorang pun yang melihat apa yang  lakukan,maka kau tentu akan dihukummati,” desisMahisa Pukat. Orang itu tertawa. Dengan nada tinggi ia bertanya: “Kau mulai ketakutan?” Tetapi Mahisa Pukat menjawab: “Tidak. Aku sama sekali tidakmenjadi ketakutan. Tetapi kami, orang -orang padepokan ini tahu pasti sikap orang-orang Kediri.” “Marilah kita mulai, apakah kau sudah siap?,” bertanya orang bertubuh raksasa itu. “Aku sudah siap. Tetapi aku masih ingin berkata bahwa bukan kebiasaan orang -orang Kediri itu meny ombongkan dirinya seperti yang kau lakukan. Apakah benar kau orang Kediri?” bertanya Mahisa Pukat. Orang itu ternyata tidak ingin menjawab. Ia pun sudah ber siap sambil berkata: “Aku akan mulai. Dalam waktu sepenginang, kau sudah akanmenjadimayat. Ter serah kepada saudaramu apa ia ingin mati juga atau tidak. Jika ia ingin turun ke gelanggang aku akan menunggunya.” “Bicaralah tentang apa saja selagi kau sempat,” berkata Mahisa Pukat, “sebentar lagi mulutmu akan terkatub rapat,” jawab Mahisa Pukat. Raksasa itu menggeram. Ia mulai melangkah maju mendekati Mahisa Pukat. Namun Mahisa Pukat bergeser menyamping. Orang itu tidak menjadi ragu-ragu sama sekali. Ia melangkah ke mana saja Mahisa Pukat bergeser tanpa melindungi dirinya dengan sikap apapun. Ia berjalan saja selangkah demi selangkah. Mahisa Pukatmemangmerasa harus sangat berhati-hati. Orang itu tentu merasa terlalu kuat, atau bahkan memiliki ilmu kebal. Akhirnya Mahisa Pukatmemang terdesak ke sudut arena. Ia tidak dapat bergeser lagi tanpa menyentuh gawar lawe yang terentang di sekeliling arena itu. Para cantrik memang menjadi berdebar-debar. Mahisa Murti mengerutkan keningnya sehingga dahinya nampak menjadi tegang. Wantilan termangu-mangu di sebelah Mahisa Semu dan bahkan Mahisa Amping yang  juga berada di pinggir arena nampakmenjadi gelisah. Ketika orang itu masih juga mendesak maju, maka Mahisa Pukat tidak berniat untuk bergeser lagi. Dengan sigapnya ia pun telah meloncatmenyerang orang itu dengan kakinya tepat mengenai dadanya. Orang itu memang tidak menghindar sama sekali. Juga tidak menangkis. Ia ingin menunjukkan betapa kuatnya tubuhnya yang seperti raksasa itu, serta betapa tingginya day a tahannya. Tetapi ternyata Mahisa Pukat yang  telah mengerahkan kekuatan cadangan didalam dirinya itu, benar-benar diluar dugaannya. Kekuatan serangan kakinya benar-benar telah mengguncang pertahanan orang itu, sehingga orang bertubuh raksasa itu telah terlempar dan terbanting jatuh. Orang bertubuh raksasa itu sendiri terkejut. Tidak seorang pun pernah menggoyahkan pertahanannya. Namun pada tendangan pertama, anak muda itu telah dapat menjatuhkannya. Raksasa itu sengaja berguling dua kali. Namun kemudian ia telah melenting berdiri. Tetapi yang  dilakukannya sudah terlanjur membuat Mahisa Pukat menjadi muak. Karena itu, demikian orang itu berdiri tegak Mahisa Pukat justru telahmeluncur sambilmenjatuhkan dirinya. Kedua kakinya mengembang dan dengan sigapnya menjepit kedua kaki raksasa yang  baru saja tegak itu. Dengan sekuat tenaga Mahisa Pukat memutar tubuhnya, sehingga kedua kakinya yang menjepit kedua kaki lawannya telah berputar pula. Sekali lagi orang bertubuh raksasa itu terputar dan terbanting jatuh. Hampir saja kepalanya justru membentur tanahyang keras di halaman padepokan itu. Mahisa Pukat memang melepa skannya. Dengan cepat ia bangkit, sementara lawannya berusaha untuk membuat jarak dengan berguling beberapa kali. Baru kemudian ia meloncat bangkit. Mahisa Pukat ingin melihat akibat serangan-serangannya. Karena itu, ia tidakmemburu orang bertubuh raksasa itu. Orang yang  mengaku petugas sandi dari Kediri itu menyeringai menahan sakit di punggungnya. Namun juga day a tahannya memang luar biasa. Beberapa saat kemudian, maka ia telah dapatmengesampingkan perasaan sakitnya. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun bagaimana pun juga, serangan-serangan Mahisa Pukat yang datang beruntun itu telah menyakiti orang bertubuh raksasa itu. Meski pun orang itu mampu mengkesampingkannya, namun jika tubuhnya yang kesakitan itu tersentuh serangan lagi,maka perasaan sakitnya tentu akan terasa kembali. Sejenak kemudian, orang yangmengaku petugas sandi dari kediri itu pun menggeram: “Ternyata kau mempunyai kemampuan yang cukup, anak muda. Tetapi bagaimana pun juga, kau akan mati di arena ini. Justru karena kau sudah menyakiti aku,maka kematianmu akanmenjadi lebih cepat.” Mahisa Pukat justru tidak menghiraukannya. Ia memanfaatkan kesempatan itu. Ketika raksasa itu seakanakan baru mengigau, maka Mahisa Pukat telah meloncat dengan cepatnya. Tangannya pun telah terjulur lurus mengarah ke dada. Orang itu memang terkejut. Dengan cepat ia bergeser ke samping.Namun Mahisa Pukat telahmemperhitungkannya. Ia justru berputar satu lingkaran penuh. Kakinyalahyang  terayun mendatar saat tubuhnya sedikit terangkat. Satu tendangan yang  keras telah mengenai kening lawannya. Orang bertubuh raksasa itu terhuyung-huyung surut. Tetapi ia berusaha dengan sekuat tenaganya untuk tidak kehilangan keseimbangan dan jatuh terbanting lagi. Orang itumemang tetap tegak berdiri. Tetapi Mahisa Pukat yang berhati-hati tidak memburu dan menyerangnya dengan sertamerta. Orang itu menggeram marah. Wajahnya menjadi tegang. Dengan nada berat ia berkata: “Kau akan meny esali tingkah lakumu. Kau akan mati dengan caraku.” Mahisa Pukat telah siap menghadapi segala kemungkinan. Namun ia telah rnelihat, betapa raksasa itu memiliki daya tahan tubuh yang sangat tinggi. Orang itu ternyata tidak untuk seterusnya membiarkannya mendapat serangan terus menerus. Namun di pertempuran selanjutnya, raksasa itu pun telahmeny erang pula. Betapa pun tinggi daya tahan orang itu, tetapi dadanya sekali-sekali terasa sesak, sementara kepalanya menjadi pening. Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin seru. Kedua belah pihak telah semakin meningkatkan ilmu mereka sehingga serangan telah disambut dengan serangan. Orang bertubuh raksasa itu benar-benar menjadi sangat garang ketika beberapa kali lagi ia masih juga dikenai serangan Mahisa Pukat. Namun ketika sekali ia mengenai Mahisa Pukat di pundaknya dengan tangannya, maka rasarasanya tulang tulang anakmuda itu telah berpatahan. Mahisa Pukatlah yang  harus meloncat mengambil jarak. Untunglah bahwa Mahisa Pukat pun memiliki day a tahan yang sangat tinggi. Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan perasaan sakit itu dapat dikuasainya dan bahkan diabaikannya. Tetapi dengan demikianmaka Mahisa Pukat harusmenjadi lebih berhati-hati. Sementara itu, orang bertubuh raksasa itu melangkah satusatu mendekati Mahisa Pukat. Sikapnya sebagaimana dilakukannya saat mereka mulai bertempur. Orang itu menduga, bahwa Mahisa Pukat tidak lagi berbahaya setelah pundaknya tersentuh tangannya. Tetapi tulang-tulang Mahisa Pukat tidak benar-benar berpatahan. Sejenak kemudian, Mahisa Pukat telah siap menghadapi lawannya yang  garang itu. Karena itu, ketika lawannya menjadi semakin dekat, maka Mahisa Pukat telah membuka serangan. Dikerahkannya segenap kekuatan yang  dibangun pada landasan tenaga cadangan di dalam dirinya. Dengan hentakkan yang  sangat kuat, kaki Mahisa Pukat telah terjulur lurus mengarah ke lambung. Orang yang  bertubuh raksasa itu sama sekali tidak menghindar dan tidak pula menangkis serangan itu. Tetapi sekila sMahisa Pukatmelihat satu ungkapan kemampuan yang tersimpan di dalam diri lawannya itu. Sebenarnyalah ketika kaki Mahisa Pukat mengenai lambung lawannya, ia memangmelihat lawannya itumenahan sakit. Namun hanya sekejap. Kemudian perasaan sakit itu bagaikan leny ap begitu saja dariwajahnya. Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Orang bertubuh raksasa itu masih saja melangkah mendekat, sementara Mahisa Pukat justru bergeser surut. “Kesombonganmu telah membunuhmu anakmuda,” geram orang bertubuh raksasa itu. Mahisa Murti termangu-mangu melihat sikap Mahisa Pukat. Sementara itu Wantilan, Mahisa Semu dan Mahisa Amping menjadi gelisah. Demikian pula para cantrik yang menyaksikan pertempuran itu. Ketika Mahisa Murti berpaling ke arah orang yangmengaku kawan petugas sandi dari Kediri itu, serta yang  merasa mendendam karena saudara seperguruannya terbunuh, nampak betapa wajah orang itumenjadi sangat senang. Sejenak kemudian, pertempuran pun berlangsung kembali dengan cepat. Beberapa kali Mahisa Pukat sempat mengenai lawannya, tetapi lawannya seakan- akan memang menjadi kebal. Bahkan ketika Mahisa Pukat lengah sesaat, tangan orang bertubuh raksasa itu tepatmengenai dadanya. Mahisa Pukat seakan-akan telah terlempar beberapa langkah surut dan jatuh menimpa gawar lawe yang mengelilingi arena diantara para cantrik yang  melingkari arena itu. Tetapi Mahisa Pukat masih dapat bangkit dengan cepat. Dadanya memang terasa sesak. Seakan-akan nafasnya tersumbat di kerongkongan. Beberapa saat ia berdiri tegak. Dengan beberapa tarikan nafas serta pengetrapan tingkat tertinggi daya tahannya,maka nafasnya seakan-akan telahmenjadi pulih kembali. Namun pertempuran itu memang telah mencemaskan para cantrik padepokan Bajra Seta itu. Ketika orang yang mengaku petugas sandi dari Kediri dan bertubuh raksasa itu melangkah mendekatinya lagi, Mahisa Pukat telahmempersiapkan dirinya untuk bertempur kembali. Tetapi kekuatan orang itu memang t idak dapat diimbangi oleh Mahisa Pukatmeski pun ia telah membangunkan tenaga cadangan di dalam dirinya. Bahkan sekali lagi Mahisa Pukat telah terlempar jatuh. Ia tidak lagi dapat meny embunyikan perasaan sakit di punggungnya. Karena itulah,maka Mahisa Pukat tidak ingin membiarkan dirinya dihancurkan oleh orang bertubuh raksasa itu. Beberapa saat Mahisa Pukat membuat pertimbangan. Apakah ia akan menghisap tenaga lawannya itu, atau sekaligus menghancurkannya dengan ilmu yang diwarisinya dari ay ahnya, Bajra Geni. Tetapi Mahisa Pukatmasih menghormati jabatan orang itu, sehingga ia memang tidak ingin membunuhnya. Ia ingin orang itu tetap hidup, tetapi mau tidak mau harus mengakui kelebihannya. Jika hal itu dibawanya dan disampaikannya kepada orang -orang Kediri, maka Kediri harus menilai kembali rencana-rencananya meski pun Mahisa Pukat tahu, bahwa sikap bermusuhan dari Kediri itu hanya dikendalikan oleh beberapa orang saja. Karena itu, maka Mahisa Pukat telah mengetrapkan ilmunya yang  tidak dengan serta merta menghentikan perlawanan lawannya, meski pun ia tidak segera yakin akan dapatmenghentikan perlawanannya. Dengan demikian, maka pertempuran itu pun telah berlangsung selanjutnya. Semakin sengit. Mahisa Pukat berusaha untuk bergerak semakin cepat. Beberapa kali ia mampu mengenai tubuh lawannya meski pun hanya sekedar menyentuhnya. Tetapi ketika ia membentur serangan lawannya, maka Mahisa Pukat telah terlempar sekali lagi sampai keluar gawar. Namun Mahisa Pukat masih juga bangkit dan memasuki kembali arena pertempuran itu. Dengan demikian, maka pertempuran itu pun berlangsung lagi dengan sengitnya. Namun orang bertubuh raksasa itu sempatmenjadi heran melihat ketahanan tubuh anakmuda itu. Beberapa kali ia telah terlempar sampai keluar gawar tali lawe.Namun ia masih juga bangkit dan bertempur lagi. Dengan demikian maka orang bertubuh raksasa itu tidak mau meny ia-ny iakan waktu. Ia pun ingin dengan cepat mengalahkan lawannya sehingga kemenangannya akan menjadi lebih berarti. Karena itu, maka ia pun telah mengerahkan ilmunya pula. Ilmu yang sudah jarang ada duanya. Demikian ilmu itu mulai ditrapkan, maka Mahisa Pukat mulai merasakan kelainan pada tubuh lawannya. Kulit dan dagingnya menjadi semakin lama semakin keras. Bahkan menjadi seperti batu padas. Setiap kali ia berhasil mengenai tubuh lawannya, maka tulang-tulangnya sendirilah yang serasa akan berpatahan. Orang bertubuh raksasa itu semakin lama semakin mendesak Mahisa Pukat yang menjadi gelisah. Ia mulai raguragu apakah ilmunya mampu menembus pertahanan lawannya dan menghisap kekuatan dan kemampuan ilmunya. Bahkan untuk beberapa lama lawannya justru menjadi semakin lama semakin keras. Bukan saja seperti batu padas, tetapi kemudian menjadi seperti batu hitam . Orang itu semakin membiarkan diriny a terbuka. Ia tidak pernah berusaha menghindar atau menangkis serangan Mahisa Pukat. Ilmunya memang berbeda dengan ilmu kebal. Tetapi kekerasan tubuhnya telah melindunginya sebagaimana ilmu kebal. “ Ilmu yang  jarang ada bandingnya,” desis Mahisa Pukat di dalam hatinya. Tetapi Mahisa Pukat merasa bahwa ia pernah bertempur dengan ilmu semacam itu. Pada saat -saat ia semakin terdesak, maka Mahisa Pukat telah merencanakan untuk mempergunakan ilmunya yang diharapkannya akan dapat meny elesaikan lawannya. Namun bagaimana pun juga Mahisa Pukat justru menjadi ragu. Apakah ilmu Bajra Geniny a akanmampu mengoyak kekerasan tubuh orang itu yang  seakan-akan telah berubah menjadi batu hitam itu. Namun dalam keragu -raguan itu, Mahisa Pukatmasih tetap mempergunakan ilmunya untuk menghisap tenaga lawannya yang tubuhnya telahmengeras. Tetapi orang itu masih saja tidakmenghiraukan seranganserangan Mahisa Pukat. Beberapa kali Mahisa Pukat dapat mengenai tubuh orang itu. Tetapi seperti yang  terdahulu, tulang-tulangnya sendirilahyang menjadi sakit. Dalam keadaan yang  demikian, maka Mahisa Pukat mencoba untuk semakin seringmenyentuh lawannya. Sekali ia mencoba menggenggam pergelaran tangan lawannya, menariknya dan membantingnya. Tetapi ia tidak berhasil. Bahkan tangan yang lain dari raksasa itu telah menangkap pundak Mahisa Pukat. Dengan kekuatan raksasa Mahisa Pukat telah diputarnya dan sebelum Mahisa Pukat sempat menghindar, kedua tangan raksasa itu telah mengimpitnya melekat ke dadanya. Mahisa Pukat meronta. Tetapi orang itu memang terlalu kuat. Himpitan batu hitam itu terasa semakin keras menjepit tubuhnya, sehingga nafasnya terasa semakin lama semakin sesak. Tulang-tulangnya gemeretak seakan-akan telah diremukkan oleh himpitan batu hitam itu. Mahisa Murti yang melihat hal itu hampir saja tidak dapat menguasai diri. Hampir saja ia telah meloncat memasuki arena. Demikian pula Wantilan, Mahisa Semu dan bahkan Mahisa Amping dan para cantrik. Sementara itu, orang yang mengakumendendam kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu punmenjadi sangat tegang. Mahisa Pukat sendiri memang tidak akan mampu melepaskan diri dari himpitan kekuatan itu. Ia pun tidak sempat melepaskan kekuatan ilmu Bajra Geni karena tubuhnya yang justru telah terhimpit itu. Satu-satunya ilmu yang masih ditrapkannya adalah ilmunya untuk menghisap kekuatan lawannya. Tetapi Mahisa Pukat merasa seakan-akan sesaat lagi tubuhnya telah akan diremukkan oleh orang bertubuh raksasa itu. Sekilas Mahisa Pukat memang agak menyesal, kenapa ia tidak menghancurkan orang itu dengan ilmu Bajra Geni. Baik yang langsung dibenturkan ke tubuhnya atau dengan kekuatan ilmu yang  dapatmelontarkan kekuatan ilmunya itu dari jarak yang cukup sehingga orang itu tidak dapat menggapainya. Pada saat ia masih berusaha untuk tidak membunuh, ternyata tubuhnya sendiri telah hampir diremukkannya. Namun pada saat-saat terakhir, di mana Mahisa Pukat masih sempat memandang saudaranya sekilas, serta melihat wajah yang cemas itu, himpitan batu hitam itu justru mulai mengendor. Dalam keadaan yang  gawat itu ternyata Mahisa Pukat masih mampu berpikir menghentakkan satu-satunya ilmu yang  masih dapat dipergunakannya itu. Justru sentuhan tubuhnya yang  rapat dengan tubuh lawannya, membuat ilmunya lebih cepat bekerja. Terasa oleh Mahisa Pukat bahwa lawannya yang  bertubuh raksasa itu berusaha menghentak-hentakkan kekuatannya. Ia berusaha untuk menghimpit dan meremukkan tulang-tulang Mahisa Pukat sertamematahkan tulang belakangnya. Namun usaha itu sia-sia. Ketika kemudian Mahisa Pukat dengan sisa kekuatannya mengembangkan tangannya yang terhimpit bersama tubuhnya, maka orang itu tidak mampu lagimempertahankan himpitannya. Karena itu, maka sejenak kemudian, tangannya pun terlepa s dan Mahisa Pukat terhuyung-huyung beberapa langkah surut. Hampir saja ia jatuh terlentang. Namun ia masih mampu bertahan dan kemudian bahkan berdiri tegak.” Dengan serta merta terdengar sorak para cantrik. Bahkan Mahisa Amping sempat menjerit-jerit kegirangan melihat Mahisa Pukatmampumelepaskan dirinya. Orang bertubuh raksasa itu menggeram. Ia merasa tentu ada sesuatu yang tidak wajar. Ia sendiri menjadi bingung, kenapa tenaganya tidak lagi mampu mempertahankan himpitan tangannya atas tubuh anakmuda yang sudah hampir mati lemas itu. Sementara itu Mahisa Pukat telah pulih kembali. Dengan tegar Mahisa Pukat telah menunggunya untuk melanjutkan pertempuran. “Anak iblis kau,” geram orang bertubuh raksasa itu, “seharusny a kau sudahmati.” “Tetapi seperti yang  kau lihat. Aku tidak,” jawab Mahisa Pukat. Orang yang  mengaku sandi dari Kediri itu menggeram. Namun ia pun telah melangkah maju mendekati Mahisa dengan geram ia telah bersiap untuk mencengkam Mahisa Pukat dan meremasnya menjadi debu. Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Ia tahu bahwa kekuatan orang itu sudah tidak memadai lagi. Karena itu, maka ia pun telah membuat perhitunganyang mapan. Ia sama sekali tidak menghindar ketika raksasa itu menerkamnya. Ia memperhitungkan bahwa sentuhan tangan raksasa itu dengan tubuhnya akan sangatmenguntungkan ilmunya. Karena Mahisa Pukat tidak menghindar, maka kedua telapak tangan orang itu dengan serta merta telah menggapai lehernya. Mahisa Pukat sudah memperhitungkan, bahwa serangan orang itu tentu ke arah bagian tubuhnya yang  dianggapnya lemah. Namun ia sudah siap untuk melawannya. Tenaganya tidak akan mampu untuk mencekiknya dalam arti yang sesungguhnya. Ketika kedua tangan orang itu mencengkam leher Mahisa Pukat, maka Mahisa Pukat telah menangkap pergelangan tangannya. Dengan perhitungan yangmatang dihentakkannya ilmunya sekali lagi menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya. Tubuh yang semula menjadi sekeras batu itu benar-benar telah kehilangan kekuatannya. Sebenarnya Mahisa Pukat dengan mudah dapat mengibaskan kedua tangan orang itu dari lehernya, tetapi ia masih membiarkannya sehingga tubuh itu menjadi benar -benar lemah dan tidak bertenaga. Karena itu,maka demikian Mahisa Pukatmelangkah surut, maka orang itu tidak lagi mampu menahan berat badannya sendiri, sehingga ia terjerembab jatuh. Sekali lagi terdengar orang-orang yang berdiri di pinggir arena ber sorak. Demikian kerasnya sehingga langit bagaikan akan runtuh. Dengan sudah payah orang itu memang bangkit berdiri. Namun tubuhnya seakan-akan sudah tidak bertenaga lagi. “Kaumemang anak iblis,” geram orang itu. “Meny erahlah,” desis Mahisa Pukat. “Setan, aku bunuh kau,” orang itu mencoba berteriak. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Tetapi sepertiyang  selalu ia katakan kepada para cantrik bahwa tidak sepantasnya membunuh orang yang  sudah tidak berday a sama sekali itu. Betapa pun kemarahan mendidih didadanya, namun Mahisa Pukat memang tidak ingin membunuhnya. Apalagi sejak semula ia tidak ingin membunuh seorang prajurit sandi dari Kediri. Karena itu, ketika orang itu masih mempunyai tenaga tersisa di dalam tubuhnya,maka Mahisa Pukat berkata kepada kawan orang bertubuh raksasa itu: “Bawa kawanmu pergi sebelum aku berubah pikiran. Dengan mudah aku dapat membunuhnya. Tetapi aku tidak inginmelakukannya.” “Kenapa tidak kau lakukan itu?,” bertanya kawannya. “Aku bukan pembunuh orang-orang yang  tidak berday a,” jawab Mahisa Pukat. “Kau akan meny esal,” sahut kawan dari prajurit sandi itu, “jika kau tidakmembunuhnya sekarang, pada kesempatan lain kaulahyang akan dibunuhnya.” “Aku akan menghadapinya kapan saja,” jawab Mahisa Pukat dengan lantang. Namun kemudian ia pun membentak: “bawa orang itu pergi.” Kawannya termangu-mangu. Sebenarnyalah bahwa sikap Mahisa Pukat sangatmenjengkelkannya. Bahkan Mahisa Pukat itu bertanya: “Atau kau ingin memasuki arena dan membuktikan kekalahan kawanmu?” Orang itu tidak menjawab. Ia pun kemudian mencoba memapah kawannya yang menjadi sangat lemah itu sambil berkata: “Kau benar-benar akan menyesal, bahwa kau tidak membunuhnya.” “Diamlah,” geram Mahisa Pukat, “atau kau yang harus aku bunuh sekarang selagi kau masih mampu melakukan perlawanan?” Orang itumelihat wajah Mahisa Pukatmembara.Namun ia masih menjawab: “Baiklah. Aku pergi sekarang. Aku akan membawanya. Tetapi ingat kata-kataku. Kami akan kembali dan membunuh kalian berdua.” Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia masih saja berusaha untuk tidak kehilangan akal. Karena itu, Mahisa Pukat itu hanya menggeram saja ketika ia melihat orang yang mendendam padepokan itu karena saudara seperguruannya terbunuh melangkah pergi sambil memapah orang bertubuh raksa sa itu. Nampaknya tubuh raksasa itu memang terlalu berat baginya. Namun ia terpaksa memapahnya pergi. Meski pun lambat, namun beberapa saat kemudian, keduanya telah menjadi semakin jauh dari padepokan Bajra Seta. Ketika orang bertubuh raksasa itu sempat memperhatikan keadaan di sekelilingnya, maka ia pun bertanya: “Kita akan pergi ke mana?” “Kita akan mencari tempat untuk beristirahat. Kita akan memasuki hutan itu,” berkata orang yang memapahnya. Orang bertubuh raksa sa itu tidak menjawab. Ia ikut saja dengan sisa tenaga yang tinggal. Beberapa saat kemudian, maka mereka pun telah memasuki hutan yang  tidak terlalu luas. Namun hutan itu cukup buas. Ma sih banyak binatang buas berkeliaran di hutan itu. Sedangkan binatang-binatang yang lain pun berkeliaran di sepanjang rawa-rawa dan sebuah sungai yang mengalir di hutan itu. Bahkan di sungai dan rawa-rawa itu pun masih juga tinggal binatang pemakan daging yang garang. Buaya. Untuk beberapa saat keduanya beristirahat di sejuknya angin yang  menyusup di sela-sela pepohonan hutan. Namun kemudian orang yang mengaku mendendam kepada anakanak Mahendra itu berkata dengan suara gemetar: “Aku tidak mempunyai pilihan lain.” Orang bertubuh raksasa itu terkejut. Ia melihat orang yang  mendendam anak-anak Mahendra itumencabut kerisny a. “Apa yang  akan kau lakukan?,” bertanya orang bertubuh raksasa itu “Aku mendapat tugas untuk membunuhmu,” jawab orang itu “Kenapa? Dan siapa kau sebenarnya?,” bertanya orang yang  sudah tidak berdaya itu. “Sebenarnya aku tidak sampai hati melakukannya. Tetapi karena ini perintah,maka aku harusmelakukannya,” berkata orang itu pula. “Tetapi tunggu,” minta orang bertubuh raksasaa itu, “apa sebabnya hal itu haruskau lakukan?” “Bukankah aku berhadapan dengan prajurit sandi dengan tanda sandinya Lintang Kemukus?” bertanya orang itu. “Ya,” jawab orang bertubuh raksasa itu. “Kau telah terlalu banyakmelakukan kesalahan. Kau tidak dapat lagi dipercaya. Sementara itu terlalu banyak pula yang sudah kau ketahui tentang tugas-tugas prajurit sandi Kediri di daerah Singasari,” berkata orang itu. “Aku tidak tahu yang  kau maksud,” desis orang bertubuh raksasa itu. “Kau telah melanggar sumpahmu sebagai prajurit sandi. Kau telah dengan sengaja menyatakan dirimu sebagai prajurit sandi Kediri. Kau telah dengan terbuka berusaha menjajagi tataran kemampuan orang-orang Singasari. Kau pernah membunuh tiga orang prajurit Singasari yang sedangmeronda sekedar untuk menunjukkan bahwa kau adalah orang yang tidak terkalahkan, meski pun sesudah itu kau harus mencari daerah baru untuk melakukan tugas-tugasmu yang  telah kau nodai sendiri. Di daerah yang baru kau telah melakukan kesalahan yang  sama. Bahkan kau belum mendapat persetujuan dari pimpinanmu untuk bergerak di daerah yang baru itu. Karena itu, maka kau dianggap ju stru membahayakan kedudukan beberapa orang Pangeran di Kediri yang  memberikan tugas kepadamu. Karena mereka adalah orang-orang yang  mempersiapkan diri untuk pada suatu saat bangkitmelawan Singasari,” berkata orang itu pula. “Siapa kau?,” bertanya orang bertubuh raksasa itu. “Aku adalah seorang prajurit sandi dengan pertanda tugasku yang  tentu kau kenal?,” berkata orang itu sambil mengambil sebuah lencana dari kantong ikat pinggangnya. “Kecubung ungu,” desis orang bertubuh raksasa itu: “jadi kaukah itu?” “Ya. Aku menerima tugas langsung dari Pangeran yang  menjadi Panglima dari gerakan ini dengan gelar sandinya Pangeran Anom. Tidak seorang pun pernah mengenalnya kecuali aku. Dan aku pulalah yang  membawa perintah mencarimu,” berkata orang yang  disebut kecubung Ungu. “Kenapa kau dor ong aku untuk bertempur melawan anakanak Mahendra?” bertanya orang bertubuh raksasa itu. “Agar kau tenang di saat-saat terakhirmu, baiklah aku berterus terang. Aku mendapat perintah untukmembunuhmu. Tetapi aku merasa bahwa aku tidak akan mampu melakukannya. Karena itu aku hanya dapat membayangimu dan menjebakmu dengan sifat-sifat sombongmu sendiri agar kau dapat dibunuhnya. Anak-anak Mahendra adalah anakanakmuda yang berilmu sangat tinggi. Tetapi ternyata ia tidak mau membunuhmu dan membiarkan kau hidup. Tetapi kau sudah tidak berdaya, sehingga aku akan dapatmembunuhmu,” jawab Kecubung Ungu. “Setan kau,” geram orang bertubuh raksasa itu. “Maaf Lintang Johar. Bukankah kau sudah beberapa lama menunggu dan mencari kesempatan untuk bertemu dan membunuh Kecubung Ungu? Tetapi kau ternyata terlalu dungu,” desis orang itu. “Kau yang terlalu licik. Tetapi kau adalah pengecut yang  paling besar,” geram raksasa itu. Orang yang disebut Kecubung Ungu itu tersenyum. Katanya: “Aku memang harus licik. Aku menyadari, bahwa ilmuku belum tentu akan dapat membunuhmu. Aku tahu kau memiliki kekebalan tubuh meski pun bentuknya agak lain dengan ilmu kebal. Karena itu, aku mencoba meminjam tangan Mahisa Murti atau Mahisa Pukat untukmembunuhmu. Selain aku tidak perlu memeras tenaga,maka tangannya pun tidak akan ternoda oleh darahmu. Tetapi anak-anakmuda itu ternyata anak-anak keparat yang  yang  malas. Nah, bukankah kelicikanku ada juga gunanya.” “Kau harus berlaku jantan. Beri aku kesempatan beberapa saat sehingga kekuatanku tumbuh kembali,” geram orang bertubuh raksasa itu. “Alangkah bodohnya aku,” jawab Kecubung Ungu, “kau yang sudah terlalu lama menunggu kesempatan untuk membunuhku, tentu akan sangat berterima kasih jika aku memberimu waktu. Tidak Ki Sanak. Aku harusmembunuhmu. Licik atau tidak licik. Aku dapat meny elesaikan tugasku. Kelicikan yang  kau sebut-sebut sebenarnya adalah akal yang cerdik yang  harus dimiliki setiap petugas sandi.” Orang bertubuh raksasa yang bergelar sandi Lintang Johar itu menggeram. Tetapi ia memang tidak mempunyai kesempatan untuk melawan kawannya yang mendapat perintah untuk mem bunuhnya, karena ia dianggap tidak berguna lagi. Selangkah demi selangkah orang itu mendekati Lintang Johar yang  hanya dapat mengumpat-umpat. Namun tangannya seakan-akan tidak lagi mampu bergerak apalagi menangkis serangan orang yang akanmembunuhnya itu. Namun dalam pada itu, ketika orang itu menjadi semakin dekat, terdengar suara dari balik pepohonan hutan: “Jadi, inikah sasaran akhir dendammu karena saudara seperguruanmu terbunuh?” Orang itu terkejut. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahisa Murti berdiri termangu-mangu. Beberapa langkah di sebelahnya, Mahisa Pukat bergeser mendekat. “Kalianmemang keparat,” geram orang itu. “Aku sependapat dengan orang yang kau sebut Lintang Johar itu,” berkata Mahisa Murti, “beri kesempatan kepadanya untukmemulihkan kekuatannya.” Tetapi orang yang disebut dengan gelar sandi Kecubung Ungu itu menggeram: “Aku akan membunuhnya, justru sebelum kekuatannya mulai tumbuh. Aku memang ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian yang  telah membantu aku melakukan tugasku.” “Aku akan melindunginya sampai kekuatannya pulih kembali,” berkata Mahisa Murti, “kemudian terserah kepadamu, Apakah kau masih berniat membunuhnya, atau membiarkan dirimu dibunuhnya.” Tetapi orang itu menggeleng. Katanya: “Kau tidak akan dapatmenghalangi aku.” “Jika kau merasa tidak dapat membunuhnya, sedangkan aku dapat mengalahkannya, apakah kau tidak dapat mengambil kesimpulan akibat dari perbenturan kekerasan diantara kita?” berkata Mahisa Pukat. “Mungkin. Tetapi aku memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang itu. Aku tidak berkepentingan dengan kalian. Aku tidak mendapat perintah untuk membunuhmu,” jawab orang itu. Lalu katanya pula: “Karena itu, aku tidak perlumeny ombongkan diri untukmelawan kalian.” “Tetapi kami sudah bertekad untukmelindungi orang yang  lemah itu,” berkata Mahisa Pukat. “Aku akan membunuhnya,” jawab orang itu. “Nah, meski pun kita t idak mempunyai kepentingan apa pun sebelumnya, ternyata akhirnya kita mempunyai kepentingan yang  berlawanan. Kau akan membunuhnya dan aku akanmelindunginya,” berkata Mahisa Murti. “Jika demikian apa boleh buat,” jawab orang itu, “namun ingat. Mungkin ilmuku kalah dari ilmumu. Tetapi di tanganku tergenggam pusaka yang tidak ada duanya di dunia ini.” “Apa pun yang  kau genggam,” jawab Mahisa Murti, “aku jugamempunyai senjata.” Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia bergeser mendekati orang lemah itu. Mahisa Murtilah yang meloncat mencegahnya. Namun dengan garangnya orang itu telah meny erangnya. Begitu tiba-tiba. Dengan demikian maka pertempuran telah terjadi. Ternyata orang itu memiliki kecepatan bergerak yang luar bia sa. Mahisa Murti yang melawannya segera mengetehui, bahwa orang itu memiliki kemampuan memperingan tubuhnya. Meski pun demikian, t ingkat lima Mahisa Murti yang  memang lebih tinggi, mampu mengimbanginya. Ia mampu mengatasi kecepatan gerak itu sehingga serangan-serangan orang itu tidak segera mengenai sasarannya.


Jilid 094
TETAPI kecepatan gerak orang itu seakan-akan semakin bertambah-tambah. Nampaknya orang itu tidak ingin berlama-lama. Ia ingin dengan cepatmengakhiri pertempuran itu dan kemudianmembunuh orang bertubuh raksasa itu. Sebenarnyalah orang itu memangmemiliki kecepatan gerak yang luas. Bahkan rasa-rasanya orang itu bertempur dengan jarak loncatan-loncatan yang  panjang, sehingga kadang kadang Mahisa Murtimemang terlambat. Namun kemantapan gerak Mahisa Murti kadang -kadang membuat orang itu terdesak. Tetapi dalam pada itu, Mahisa Murti pun mulai mencoba menilai kemampuan orang itu seutuhnya. Satu pertanyaan telah bergejolak di hati Mahisa Murti, kenapa orang itu merasa tidak sanggupmembunuh orang bertubuh raksasa itu. Namun ia telah berani melawan Mahisa Murti meskipun ia tahu bahwa orang bertubuh raksasa itu telah dikalahkan oleh Mahisa Pukat. Sementara orang itu belummengetahui dengan pa sti, apakah kemampuan Mahisa Pukat melampaui kemampuan Mahisa Murti. Namun sebenarnyalah, apa yang diduga oleh Mahisa Murti. Orang itu sama sekali tidak ingin bertempur sampai tuntas. Hanya nampaknya saja ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi ketika Mahisa Murti sempat didesaknya beberapa langkah, maka orang itu pun telah meloncatmenjauh dan bahkan kemudian hilangmenyusup di antara pepohonan hutan. Mahisa Murti memang mencoba memburunya. Namun orang itu bergerak cepat sekali, sehingga beberapa saat kemudian ia pun telah kehilangan jejak. Mahisa Murti memang kecewa telah kehilangan lawannya menyusup ke dalam lebatnya hutan. Ia pun tidak dapat mencegahnya dengan serangannya pada jarak jauh dengan menghentikannya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian telah melangkah kembali ke tempatnya semula. Namun ia menjadi terkejut ketika ia melihat Mahisa Pukat berjongkok di dekat orang yang bertubuh raksasa yang mengaku sebagai petugas sandi dariKediri itu. Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ia pun telah menunjuk sebuah benda kecil yangmelekat di pipi orang itu. Ketika Mahisa Murti kemudian berjongkok pula di sisi orang itu, maka ia pun melihat, bahwa benda kecil yang melekat di pipi orang itu adalah pa ser kecil yang jarumnya tentu beracun keras sekali. “ Ia telah mati,” desisMahisa Murti. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Begitu cepatnya ia melakukannya. Aku juga terlambatmelihat.” “Orang itumemang sangat licik,” berkata Mahisa Murti. “Tetapi ia menganggapnya sebagai satu kecerdikan. Ternyata ia sama sekali tidak meny esali sebutan bahwa ia dianggap seorang yang  licik,” jawab Mahisa Pukat. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun katanya, “Bagaimana dengan orang ini?” “Kita akanmenguburkannya,” sahut Mahisa Pukat. Namun mereka tidak mempunyai alat yang cukup baik untukmenggali tanahyang  lembab di hutan itu kecuali sebilah pisau belati yang  terselip di ikat pinggang raksasa itu. Karena itu,maka dengan lubang yang sempit dan dangkal, maka mayat itu pun kemudian telah ditimbun dengan batubatu yang besar agar tidakmenjadi sasaran binatang buas. Baru kemudian keduanya meninggalkan tempat itu dan kembali ke padepokan. Mahisa Semu dan Mahisa Amping yang meny ongsongnya segera bertanya tentang usaha mereka mengamati tingkah laku orang-orang yang baru saja meninggalkan padepokan itu. Mahisa Murti sempat menceriterakan dengan singkat. Namun katanya kemudian, “Aku akan ke pakiwan.” Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membersihkan diri mereka sebelum mereka memasuki bangunan induk padepokanmereka. Namun dalam pada itu, usaha mereka mengamati kedua orang yang memang dianggap agak menarik perhatian itu telah memberikan sedikit gambaran tentang sikap Kediri. Set idaknya-tidaknya beberapa orang bangsawan di Kediri. Sebagaimana yang mereka ketahui sebelumnya, bahwa Kediri tidak pernah merasa pantas untuk berada di bawah kepemimpinan Singasari. Hampir di setiap masa pemerintahan di Kediri terjadi pergolakan. Beberapa orang di antara para pemimpin Kediri selalu berusaha untukmembuat persoalan dengan Singasari. Setidak-tidaknya mereka berusaha untukmenjajagi kekuatan Singasari. “Apakah hal ini perlu dilaporkan?” bertanya Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Murti menggeleng sambil berkata, “belum sekarang. Kita harus melihat perkembangan lebih luas. Jika kita laporkan sekarang, maka mungkin Singasari akan terlalu awalmelakukan tindakan yang kurang sesuai dengan langkahlangkahyang telah diambil oleh Kediri.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun ia masih bertanya, “Bagaimana jika hal ini kita sampaikan kepada ay ah?” “Ayah sebagai apa?” bertanya Mahisa Murti. “Ya. Kita sampai sekarang tidak mengetahui, apa yang  terjadi dengan ayah di Singasari,” desis Mahisa Pukat. “Kita akan mencari kesempatan yang  paling baik untuk pergi ke Singasari. Kita memang perlu mengetahui, apa yang terjadi atas ayah di Singasari,” berkata Mahisa Murti, “tetapi sudah tentu kita harus mempertimbangkan segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan padepokan kita ini jika kitameninggalkannya.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita memang tidak dapat begitu saja meninggalkan padepokan dan perguruan ini.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sepakat untuk pergi ke Singasari. Tetapi mereka pun sepakat untuk tidak dengan serta merta meninggalkan padepokan serta perguruannya. *** Namun dalam pada itu petugas sandi dari Kediri yang  mendapat tugas untuk membunuh kawannya sendiri tanpa dikenali oleh sa sarannya, telah keluar dari hutan yang lebat dan menemui kawannya yang  lain untuk memberitahukan hasil tugasnya. “Tetapi anak-anak muda di padepokan itu ternyata memang berilmu sangat tinggi. Aku tidak mengetahui bahwa keduanyamengikuti aku danmendengar apa yang aku katakan kepada Lintang Johar. Aku kira tidak seorang pun yang mendengar kecuali petugas yang  dungu tetapi sombong itu. Aku telah mengatakan alasan kenapa ia harus dibunuh. Aku menganggap bahwa semuanya itu akan dibawanya mati tanpa ada orang lain yang  akan mengetahuinya. Tetapi ternyata aku keliru. Kedua anak muda itu mendengar dan mereka hadir untuk melindungi Lintang Johar. Untunglah bahwa sedikit ilmuku mampu untuk mengelabui anak-anak muda itu. Aku sempatmelemparkan paser beracun sangat tajam sebelum aku harusmelarikan diri. Jika aku bertempur terus,maka aku pun tentu akan mati pula, meskipun nampaknya anak-anakmuda itu tidak begitu bernafsu membunuh lawan-lawannya.” Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Ternyata hal ini akan dapat menjadi gawat. Mungkin kedua orang anak muda itu akan sampai juga ke Singasari. Apalagi Mahendra telah berada di Singasari pula.” “Jadi?” bertanya Kecubung Ungu. “Keduanya harus dihancurkan. Lebih baik dengan seluruh padepokannya,” berkata kawannya. “Kita membawa sepasukan prajurit Kediri?” bertanya Kecubung Ungu. “Ternyata kau juga dungu,” jawab kawannya. Lalu katanya, “jangan libatkan prajurit Kediri.” “Lalu?” bertanya Kecubung Ungu. “Mulai kapan kau menjadi prajurit sandi. Kau cukup cerdik meskipun licik, meminjam tangan orang lain untuk membunuh Lintang Johar. Tetapi kau kehilangan akal menghadapi anak-anakmuda itu,” berkata kawannya. “Mungkin akalku sudah habis sekarang,” jawab Kecubung Ungu. Kawannya terseny um. Katanya, “Kita gerakkan sebuah perguruan yang memadai. Jika terjadi benturan, maka persoalannya adalah persoalan antara perguruan. Orang lain tidak akanmenarik gariske Kediri.” Orang yang mempergunakan pertanda Kecubung Ungu itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kau memang selalu lebih cerdik.” “Kau harus lebih memperhatikan segala segi kemungkinan,” berkata kawannya. “Baik. Pikiranmu cemerlang. Kita gerakkan sebuah perguruan. Mungkin Kediri harus mengeluarkan uang, untuk itu dan setumpuk janji-janji,” berkata Kecubung Ungu. “Ya. Kita akan minta salah seorang yang cukup berpengalaman untuk melakukannya. Kita tidak boleh terlambat. Sebelum kedua orang anak muda itu memberikan laporan,” berkata kawannya. “Siapakah yang pantas untukmembujuk sebuah perguruan yang meyakinkan untuk menyerang perguruan Bajra Seta? Alasannya dapat saja dibuat-buat. Tetapi yang penting perguruan itu harusmeyakinkan,” berkata prajurit sandi yang memperkenalkan gelar Kecubung Ungu. “Kita minta Akuwu Kuda Paningal dari Pakuwon Sangotan. Aku mengenalnya dengan baik dan aku y akin bahwa Akuwu Kuda Paningal akan dapat bekerja sama dengan baik untuk kepentingan ini,” berkata kawannya. “Terserah kepadamu. Tetapi laporan tentang tugas-tugas sandi itu harus dipotong sebelum kedua anak muda itu pergi ke Singasari,” berkata kawannya. “Seorang di antara kita harusmengawasi mereka,” berkata Kecubung Ungu, “tentu bukan aku, karena aku telah dikenal bukan saja oleh kedua orang itu. Tetapi para cantrik pun telah mengenal aku pula.” “Baiklah,” berkata kawannya, “kita akan bekerja sebaikbaiknya agar tugas ini dapat berjalan dengan baik. Kita tidak boleh gagal. Meskipun lawan kita terlalu berat. Kita harus melawan orang-orang Kediri yang lemah hati dan terbius oleh sikap baik orang-orang Singasari dan kemudian Singasari sendiri. Tetapi orang -orang Kediri sudah semakin banyak yang bangkit. Jika rencana sebelumnya pernah gagal, itu karena beberapa orangmenjadi ragu-ragu.” Orang yang  berciri sandi Kecubung Ungu itu menganggukangguk. Sementara kawannya berkata lebih lanjut, “Aku akan mencari orang yang akan dapat mengawasi dengan baik padepokan dan perguruan Bajra Seta. Sementara itu, kita akan mempersiapkan rencana yang  besar itu.” Dengan demikian, maka kedua orang itu pun dengan tergesa -gesa telah melakukan langkah-langkah yangmenurut pendapat mereka akan berarti bagi rencana besar beberapa orang pemimpin dariKediri. Yang mereka lakukan pertama-tama adalah menemui Sang Akuwu Kuda Paningal. Seorang Akuwu yang akan bersedia membantu mereka memotong hubungan antara padepokan Bajra Sela dengan Singasari. Namun sementara itu, dua orang prajurit sandi yang  lain telah mendapat perintah untuk mengamati keadaan padepokan itu. Mereka ditugaskan untukmengamati terutama kedua orang anak muda yang memimpin padepokan Bajra Seta. “Mereka tidak akan begitu saja pergi,” berkata petugas sandi yang akan berhubungan dengan Akuwu Kuda Paninggal. “Mereka harus memperhitungkan berbagai segi jika mereka akan meninggalkan padepokannya, karena mereka adalah pemimpinyang  bertanggung jawab.” Sementara itu, ternyata Akuwu Kuda Paningal, sebagaimana diperhitungkan bersedia membantu kedua petugas sandi itu. Ia sependapat bahwa memang sebaiknya tidak perlu menarik langsung jalur ke Kediri. Orang-orang yang y akin akan tujuan perjuangan mereka, maka orang itu tentu akan bersedia menanggung akibat dari setiap langkah yangmereka ambil tanpa harumenarik gariske Kediri. Demikianlah, maka Akuwu Kuda Paningal telah mempersilahkan kedua orang petugas sandi itu tinggal di Pakuwon. Akuwu sendiri telah memanggil dua orang pemimpin dari dua buah perguruan yang  terbaik di Pakuwon itu. “Aku tidak y akin bahwa satu perguruan akan dapat berhasil. Karena itu, agar tidak usah mengulang lagi, aku akan menggerakkan dua perguruan yang  besar yang  sudah jelas berdiri di sisi kita.” berkata Akuwu Kuda Paningal. “ Itu tentu lebih baik Akuwu,” berkata petugas sandi itu, “dengan demikian Bajra Seta akan benar-benar dihancurkan sehingga mereka tidak akan memberikan laporan ke Singasari apa yang telah mereka dengar. Karena jika hal ini didengar oleh Singasari dan mereka mulai melakukan persiapan yang sebenarnya,maka kita justru akan terpukul.” Ketika kedua Pemimpin padepokan itu telah menghadap, maka Akuwu pun telah memberitahukan, bahwa Akuwu akan mintamerekamelakukan tugasyang sangat berat. “Dua buah padepokan aku kira cukup memadai,” berkata Akuwu Kuda Paningal. Empu Angin, salah seorang pemimpin dari kedua perguruan itu dengan serta merta berkata, “Serahkan kepada perguruan kami. Kami akan menghancurkan padepokan itu dan menumpas segala isinya.” Tetapi Empu Pitrang, pemimpin yang  seorang lagi berkata lebih lantang, “Serahkan kepadaku. Aku akan memimpin dengan bijaksana dan bertanggung jawab. Kedua orang anak muda itu akan aku tangkap hidup atau mati.” Akuwu Kuda Paningal ter senyum. Katanya, “Aku memang menjadi bangga bahwa kalian menyatakan kesediaan kalian. Tetapi tentu saja hanya seorang di antara kalian yang  akan memimpin.” “Serahkan kepadaku Sang Akuwu,” berkata Empu Angin. “Akuwu tidak akan pernah melupakan kemampuanku,” sahut Empu Pitrang dengan serta merta. “Ya, y a,” jawab Akuwu Kuda Paningal, “aku akan memilih seorang di antara kalian. Bukan soal apa -apa. Aku y akin akan kemampuan kalian masing-masing. Kalian berilmu tinggi sehingga sulit untuk mengimbangi kemampuan masingmasing. Karena itu akan memilih kalian berdasarkan atas umur kalian. Empu Angin tentu lebih tua dari Empu Pitrang. Karena itu, maka aku minta Empu Angin akan memimpin tugas ini. Aku sama sekali tidak merendahkan Empu Pitrang. Tetapi seperti yang  aku katakan, aku hanya mengingat umur kalian.” Empu Pitrang mengangguk kecil. Katanya, “Apa boleh buat.” “Nah. Kalian akan menjalankan tugas yang  aku bebankan kepada kalian. Ingat, tugas ini adalah tugasnegara. Karena itu, siapa yang tidak melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka akibatnya akan tidak menyenangkan. Bersama kalian, aku akan mengirim sekelompok petugas sandi untuk mengamati apa yang  terjadi dan akan selalu memberikan laporan kepadaku,” berkata Akuwu Kuda Paningal. Kedua orang pemimpin padepokan itu mengangguk. Empu Angin dengan nada tinggi berkata, “Aku akan menjunjung segala tugas dengan sebaik-baiknya.” “Nah,” berkata Akuwu Kuda Paningal, “biarlah petugas sandi dari Kediri yang akan menyertai kalian memberikan sedikit gambaran tentang tugaskalian.” Prajurit sandi yang  bergelar sandi Kecubung Ungu itu pun segera memberitahukan tentang medan yang  akan mereka hadapi. Tentang perguruan Bajra Seta dan tentang para pemimpinnya yang sangat berwibawa dan berilmu tinggi. “Kau sengaja menakut-nakuti kami,” berkata Empu Angin sambil tertawa. “Tidak,” jawabKecubung Ungu. “Ataumerendahkan kami,” sahut Empu Pitrang. “Juga tidak. Tetapi apakah kalian ingin aku mengatakan yang tidak sebenarnya, sehingga kalian tidak dapat menilai kekuatanyang  sebenarnya akan kalian hadapi? Kepura-puraan seperti itulah yang  sering menghancurkan kita sebelum kita mulai dengan satu tugas yang  besar,” sahut Kecubung Ungu, “Aku adalah seorang prajurit. Aku tahu bagaimana bersikap menghadapi kekuatan lawan.” “Baiklah,” berkata Empu Angin, “kami berterima ka sih atas keteranganyang kau berikan.” Namun dalam pada itu, Akuwu Kuda Paningal telah bertanya kepada Empu Angin, “Apakah petugas sandi itu sebaiknya meny ertai kalian ke padepokan Bajra Seta? Orang itu pernah langsung berada di dalam padepokan itu dan karena itu, ia mampu berceritera tentang isi dari padepokan itu.” “Mungkin sebagai petunjuk jalan,” berkata Empu Angin, “dengan kehadirannya,maka kami tidak perlu mencari-cari di mana letak padepokan Bajra Seta.” “Baiklah,” berkata Akuwu Kuda Paningal, “ia akan menyertaimu. Kau dapat berbicara tentang banyak hal dengan petugas sandi itu. Ia tahu benar garis-garis keinginan para pemimpin di Kediri. Meskipun aku juga pernah berbicara langsung dengan mereka, namun petugas sandi itu adalah pengemban perintahmereka langsung.” “Kami sama sekali tidak berkeberatan. Tetapi kami tidak mau dicampuri, cara yang  akan kami ambil untuk menghancurkan padepokan itu,” jawab Empu Angin. Akuwu Kuda Paningal mengangguk-angguk. Katanya kepada Kecubung Ungu, “Kau mendengar langsung dari orang-orang yang  akan memimpin pa sukan menuju ke padepokan dan perguruan Bajra Seta. Lakukan sebagaimana persetujuan kita kali ini.” Demikianlah, maka kedua orang pemimpin padepokan itu telah mempersiapkan diri. Mempersiapkan orang-orangnya yang terpilih. Para cantrik dibawah pimpinan beberapa orang Putut yangmemiliki ilmu yang mencuat lebih tinggi dari para cantrik yang lain. Pada hari yang sudah ditentukan, dua hari setelah perintah Akuwu jatuh, maka kedua pa sukan itu pun telah berangkat dari Pakuwon Sangotan. Petugas sandi dari Kediri yang mendapat gelar sandi Kecubung Ungu itu telah meny ertai mereka sebagai petunjuk jalan. Namun sebagaimana diminta oleh para pemimpin dari kedua padepokan yang terlibat petugas sandi itu tidak boleh mencampuri kepemimpinan Empu Angin dan Empu Pitrang atas para putut dan cantrik mereka masing-masing. Perjalanan yang ditempuh oleh pasukan itu tidak satu perjalanan panjang. Mereka semula berusaha untuk tidak menimbulkan persoalan di perjalanan. Sehingga tidak ada berita yang akan menjalar mendahului pa sukan itu sampai ke padepokan. Namun Empu Angin pun berkata, “Apa salahnya jika mereka tahu bahwa kita akan datang? Biarlah mereka bersiap dan berbenah diri. Namun mereka akan segera kami hancurkan. Bukahkah menurut Kecubung Ungu jumlah kita cukup besar dan menurut perkiraannya lebih banyak dari orang-orang Bajra Seta? “Apakah mereka tidak akan sempatminta bantuan kepada Singasari,misalnya?” bertanya seorang putut. “Tentu tidak. Jaraknya terlalu jauh. Untuk mendapat bantuan dari Singasari diperlukan waktu lebih dari dua hari. Seandainya seorang cantrik berkuda berangkat ke Singsari, maka prajurit berkuda Singasari akan datang setelah padepokan itu menjadi karang abang. Aku memang ingin membakar seluruh padepokan itu dan memusnahkan segala isiny a,” jawab Empu Angin. Pututnya mengerutkan keningnya. Wajahnya membayangkan keragu-raguan. Namun Empu Angin berkata, “Persoalannya adalah persoalan yang  cukup gawat. Jika persoalannya hanya menyangkut padepokan kita dengan padepokan Bajra Seta saja,maka aku tidak akan sampai sejauh itu. Tetapi persoalannya adalah persoalan yang sangat gawat karena taruhannya adalah Kediri dengan isiny a.” Putut itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut. Demikian perjalanan mereka pun semakin lama menjadi semakin mendekati padepokan Bajra Seta. Seperti yang dikatakan oleh Empu Angin, mereka sama sekali tidak perlu cemas bahwa orang-orang Bajra Seta akan mengetahui kedatanganmereka. Mereka itu, maka tanpa raguragu, pa sukan yang datang dari dua padepokan itu pun telah membuat perkemahan untuk bermalam di tempat yang terbuka. Mereka sama sekali tidak berusaha mencari tempat yang  terlindung atau tidak banyak dilihat orang. “Mereka tidak tahu siapa kita dan seandainya tahu pun, kita tidak berkeberatan,” berkata Empu Angin, “besok kita akan meneruskan perjalanan. Kita sudah tidak terlalu jauh lagi. Kita besok akan membuat perkemahan pula di sekitar padepokan itu. Baru hari berikutnya kita akan menghancurkan padepokan Bajra Seta. Beberapa orang putut dan cantrik mencoba untuk memberikan beberapa peringatan tentang bahaya yang mungkin akan meny ergap mereka. Bagaimana pun juga padepokan Bajra Seta adalah padepokanyang  besar. Tetapi Empu Angin dan Empu Pitrang menjadi terlalu yakin akan diri mereka sendiri, sehingga mereka agak mengesampingkan bahaya sebagaimana dikatakan oleh putut dan cantrik itu. “Meny enangkan sekali untuk memberi kesempatan kepada para penghuni padepokan Bajra Seta untuk menjadi cemas dan ketakutan,” berkata Empu Angin. Kehadiran sebuah pa sukan yang besar memang telah menarik perhatian orang-orang padukuhan. Karena itu,maka beberapa orang anak muda telah berusaha untuk melihat sendiri perkemahan itu,meskipun dari kejauhan. Sebenarnyalah mereka melihat satu daerah yang luas yang  diperuntukkan bagi perkemahan itu. Di beberapa tempat nampak beberapa orang berkerumun sambil membuat perapian. “Satu pasukan yang besar,” berkata seorang anak muda kepada kawannya, yang  bersama-sama melihat perkemahan itu dari sebuah bukit kecil t idak terlalu jauh dari padukuhan mereka. “Apakah mereka mendendam kepada orang-orang yang  telah membuat padukuhan baru itu sebagaimana yang terjadi beberapa saatyang  lalu?” desis kawannya. “Mungkin. Tetapi pa sukan itu terlalu besar. Jika padukuhan itu tidak minta bantuan padepokan Bajra Seta, maka padukuhan itu tidak akan mampu bertahan,” berkata anak muda yang pertama. “Tetapi beberapa waktu yang  lalu, mereka mampu mengusir orang-orang yang menyerang padukuhan itu,” sahut yang lain. “Pa sukan yang datang saat itu tidak sebesar sekarang ini. Lihat, berapa kelompok di antara mereka membuat perapian. Yang lain berserakan dimana-mana,” berkata anakmuda yang pertama. “Jadi, apa yang sebaikny a kita lakukan?” bertanya kawannya. “Kita sampaikan hal ini kepada orang-orang di padukuhan baru itu dan sekaligus ke padepokan,” jawab anakmuda yang pertama. Demikianlah, bersama-sama dengan beberapa orang anak muda yang lain mereka telah pergi ke padukuhan baru yang dihuni oleh orang-orang yang semula merupakan tawanan di padepokan Bajra Seta, namun yang benar-benar telah menyadari kesesatan jalan hidup mereka dan berusaha untuk meniti jalan kembali. Bahkan di sepanjang perjalanan, mereka telah memberitahukan kepada padukuhan-padukuhan yangmereka lewati. Beberapa padukuhan ternyata telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap peristiwa itu. Apalagi padukuhanpadukuhan yang telah mengirimkan anak-anak mudanya untuk belajar ke padepokan Bajra Seta. Tetapi agaknya persoalannya masih belum jelas, sehingga mereka tidak segera mengambil langkah-langkah tertentu. Seorang yang  berpengaruh atas anak-anak muda di padukuhan-ny a berkata, “Kita tidak dapat berbuat apa -apa malam ini. Besok pagi-pagi kita akan pergi ke padepokan.” Namun dalam pada itu, beberapa anak muda telah menempuh perjalanan dimalam hari. Mereka telah mendatangi padukuhan baru yang beberapa saat sebelumnya telah membuat serangan dari orang-orang yangmendendam. “Mungkin mereka yang  terusir dari pertempuran saat itu datang lagi membawa kawan-kawan mereka,” berkata anak muda itu kepada orang-orang padukuhan baru itu. Orang yang  dianggap pemimpin dari padukuhan baru itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kenapa mereka masih sa ja mengganggu kami di sini. Sebenarnya kami dapat menempuh jalan kita masing-masing. Kami tidak pernah mengganggu mereka, hendaknya mereka juga tidak mengganggu kami.” Anak-anakmuda itu hanya dapatmengangguk-angguk saja. Namun pemimpin padukuhan baru itu berkata, “Ketika mereka meny erang beberapa waktu yang lampau sementara kami mencoba menghadapi mereka dengan kekuatan kami sendiri, pemimpin padepokan Bajra Seta telah meny esalkan hal itu. Korban ternyata cukup banyak yang jatuh. Sementara kami saat itu juga tidak terkendali lagi.” “Yang datang kali ini jumlah cukup besar,” berkata anak muda itu, “karena itu, maka sebaiknya hal ini disampaikan kepada padepokan Bajra Seta.” “Kami sependapat,” jawab pemimpin padukuhan itu, “agar kami tidak dianggap melakukan kesalahan lagi jika kami menghadapimereka sendiri.” “Agaknya jumlahnya pun sama sekali tidak seimbang,” berkata anakmuda yang mewakili kawan-kawanmereka itu. Demikianlah,maka anak-anak muda itu pun telah pergi ke padepokan bersama dengan beberapa orang padukuhan. Mereka telah bertemu langsung dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “Apakah kalian dapat melihat langsung ke perkemahan itu?” bertanyaMahisa Murti. “Ya,” jawab anak muda yang  melihat perkemahan itu dari bukit kecil didekat padukuhannya. “Terima kasih atas pemberitahuan ini,” berkata Mahisa Murti, “nampaknya mereka terlalu yakin akan kekuatan mereka. Tetapi kami belum dapat mengatakan apa-apa. Namun kami tahu, bahwa kami harus mempersiapkan diri. Jika mereka berkepentingan dengan padepokan kami, maka besok mereka tentu akan maju lagi semakin dekat,” berkata Mahisa Murti. Lalu katanya pula, “Namun kami harus sudah ber siap-siap sejak sekarang. Demikian pula padukuhan baru itu. Jika besok kita dapat mengetahui sasaran utama dari pa sukanyang  besar itu,maka kita akan dapatmempersiapkan diri baik-baiknya. Apakah padepokan ini atau padukuhan itu.” Demikianlah, maka anak-anak muda itu pun telah minta diri. “Kami akan kembali ke padukuhan kami dan ikut bersiapsiap pula.” Mahisa Murti ter senyum. Katanya, “Terima kasih. Tetapi jika yang  datang itu orang-orang yang membawa dendam, kalian harus sangat berhati-hati.” Anak-anak muda itu mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan segala kesulitan dapat di atasi oleh padepokan ini.” Sepeninggal anak-anak muda itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmemangmemberikan perintah-perintah kepada para cantrik. Mereka harus bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Menurut perhitungan sekelompok orang yang tidak diketahui dengan jelas itu tentu tidak akan datang ke padepokan malam itu. Tetapi bagaimanapun juga segalanya harus diper siapkan dengan sebaik-baiknya. “Lipatkan jumlah para cantrik yang berada di panggungan pengawasan. Sehingga mereka dapat berjaga-jaga bergantian,” perintah Mahisa Murti. Sementara itu, semua penjagaan pun semakin ditingkatkan. Pintu-pintu butulan mendapat pengawasan, baik dari panggungan di belakang dinding padepokan, maupun dari dalam padepokan. Apalagi pintu gerbang padepokan itu. Selain padepokan itu, maka di padukuhan baru itu pun telah terjadi persiapan yangmelibatkan hampir semua orang laki-laki. Bahkan mereka yang  rambutnya telah berwarna rangkap, namun masih mampu memegang senjata dengan kokoh, telah ikut pula berjaga-jaga. “Tetapi kita jangan terpancing untuk menghamburkan tenaga tanpa arti,” berkata pemimpin padukuhan itu, “sebagian dari kita harus sempat beristirahat bergantian. Meskipun harus tidur di gardu-gardu.” Dengan demikian maka suasana di padepokan dan di padukuhan baru itu memang menjadi agak tegang. Tetapi dengan hati yang mantap penghuninya telah bersedia menghadapi segala kemungkinan untuk meny elamatkan padepokan dan padukuhan mereka yang  letaknya memang tidak begitu jauh itu. Seperti yang diperhitungkan, maka malam itu memang tidak terjadi sesuatu. Ternyata orang-orang yang  berkemah itu tidur dengan ny enyak semalam suntuk kecuali yang  bertugas berjaga-jaga. Mereka membuat perapian untuk menghangatkan badan mereka. Bahkan beberapa orang di antara mereka telah sempat mengambil ketela pohon yang ditanam di pategalan di dekat tempatmereka berkemah. Pagi-pagi orang-orang itu pun tidak bergegasmeninggalkan perkemahan mereka dan melanjutkan perjalanan. Tetapi dengan seenaknya mereka menunggu makanan mereka dipersiapkan oleh para petugas yang  memang khusus untuk itu. Baru setelah matahari naik, pasukan itu mulai bergerak meneruskan perjalananmereka. “Kita sudah tidak begitu jauh lagi,” berkata petugas sandi dari Kediri yangmempunyai gelar sandi Kecubung Ungu. “Apakah tengah hari kita akan sampai,” bertanya Empu Angin. “Tengah hari kita akan sampai,” jawab Kecubung Ungu. “Bagus,” jawab Empu Angin, “ada kesempatan untuk melihat-lihat padepokan itu sebelum kita menghancurkannya.” “Maksudmu?” bertanya Kecubung Ungu. “Melihat-lihat,” jawab Empu Angin. Kecubung Ungu tidak bertanya lagi. Ia mencoba mengerti maksud Empu Angin. Namun ia pun menangkap sikap yang akan dapatmerugikan diri sendiri. Baik Empu Angin maupun Empu Pitrang terlalu y akin akan kemampuan diri dan kelebihan kekuatan para cantrik padepokan mereka masingmasing, sehingga dengan demikian mereka telah merendahkan kekuatan padepokan Bajra Seta. Tetapi Kecubung Ungu tidak merasa perlu untuk berkalikali memberikan peringatan. Ia sudah pernah memberitahukan kelebihan para pemimpin padepokan Bajra Seta. Dan iamenganggap bahwa itu sudah cukup. Seperti yang  mereka perhitungkan, maka mereka mendekati padepokan menjelangmatahari sampai ke puncak. Beberapa orang di antara mereka mendapat perintah untuk mencari tempat berkemahyang  paling baik. “ Ingat, besok pagi-pagi sebelum matahari terbit kita akan bergerak. Kita akan menyerang mereka dan menghancurkannya,” berkata Empu Angin kepada orang yang mendapat perintah untuk mencari tempat berkemah, “karena itu, tempat berkemah itu jangan terlalu jauh dari padepokan. Sore nanti aku sendiri akan melihat-lihat padepokan itu sambil memperingatkan agar padepokan Bajra Seta bersiapsiapmenghadapi sergapan kami esok pagi-pagi.” Kecubung Ungu seakan-akan tidak peduli lagi terhadap sikap Empu Angin itu. Meskipun sebenarnya ia menjadi cemas. Dalam pada itu, sudah dipersiapkan sejak malam harinya, anak-anak muda dari beberapa padukuhan. Demikian matahari terbit mereka telah pergi ke padepokan untuk mencari keterangan tentang kemungkinan yang bakal terjadi. Tetapi mereka sekaligus telah minta diri karena mungkin mereka tidak akan kembali lebih dahulu menjelang pertempuranyang  dapat saja terjadi setiap saat. Sebelum tengah hari, anak-anak muda itu memasuki padepokan. Beberapa saat lebih dahulu dari kehadiran pa sukanyang akanmeny erang padepokan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menerima mereka dengan baik. Tetapi setiap kali kedua anak muda itu selalu memperingatkan bahwa mereka belum tahu siapakah yang bakal datang. “Kita harus sangat berhati-hati,” pesan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ternyata beberapa saat kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat laporan, bahwa sebuah pasukan yang kuat telah berkemah tidak jauh dari padepokan itu. “Mereka telah datang,” berkata Mahisa Murti. Diperintahkannya beberapa orang cantrik untuk mengamati orang-orang itu. Namun ia selalu berpesan, “berhati-hatilah. Kita tidak tahu, siapakah mereka dan kita pun belum dapat menduga, sejauh manakah kemampuan mereka. Baik secara pribadimaupun sebagai satu kesatuan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah memberikan perintah lewat dua orang cantrik kepada orang-orang yang tinggal di padukuhan agar ber siap sepenuhnya. Mereka harus siap untuk bergerak dengan cepat. Namun mereka pun harus memberikan isyarat jika justru mereka yang menjadi sasaran. “Menilik perkemahan yang mereka buat, mereka nampaknya berkepentingan dengan padepokan ini,” berkata cantrik yangmemberikan laporan. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian berdesis kepada Mahisa Pukat, “Nampaknya ada hubungannya dengan petugas sandi yang terlepas itu. Ia benar-benar ingin memotong laporanyang mungkin akan kita sampaikan tentang sikap beberapa orang pemimpin di Kediri.” “Apakah pasukan itu pasukan Kediri yang tidak mengenakan kelengkapan dan pertanda keprajuritan?” desis Mahisa Pukat. “Memangmungkin. Tetapimungkin juga tidak. Nampaknya Kediri atau katakanlah beberapa orang pemimpin Kediri tentu akan berusaha untuk mencuci tangan seandainya langkahlangkahyang diambil ini gagal,” sahut Mahisa Murti. Mahisa Pukatmengangguk-angguk. Namun ia sadar, bahwa pa sukan itu tentu pasukan yang  kuat, karena mendukung satu usaha yang  besar,menghapus jejak dari satu sikap yang ada di Kediri.” Namun Mahisa Murti masih menunggu laporan orangorangnya yang  diperintahkannya untuk mengamati pasukan yang sedang berkemah itu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyusun semua kekuatan yang  ada di padepokannya. Kedua anakmuda itu tidak dapatmenganggap kehadiran pasukan itu sebagaimana pa sukan dari penjahat yang inginmembalasdendam beberapa saatyang  lalu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga tidak dapat menggantungkan keselamatan padepokannya kepada orang lain. Mereka harus tampil sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, karena mereka tidak akan dapat minta bantuan kepada Pakuwon Sangling atau ke Singsari. Dalam keadaan yang  demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa bahwa hubungan mereka yang  akrab dengan padukuhan di sekitarnya telah memberikan banyak arti bagi padepokannya. Dalam keadaan yang gawat, ternyata padukuhan-padukuhan yang  merasa pernah mendapat bantuan dalam ujud apa pun juga dari padepokan Bajra Seta, telah ikut berusaha memperingan beban padepokan itu. Namun sebenarnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmerasa sangat gelisah dengan anak-anak muda itu. Jika yang  datang adalah sepasukan prajurit Kediri dengan tataran kemampuan yang tinggi, maka anak-anak muda itu harus mendapat sandaran kekuatan dari para cantrik yang  terlatih. Demikian pula sekelompok cantrik yang masih baru, yang  baru mengenal dasar-da sar olah kanuragan. Sementara itu, orang-orang yang  tinggal di padukuhanyang  baru telah menghim pun kekuatan pula. Meskipun tidak terlalu besar, namun mereka yakin bahwa bantuan mereka akan berarti bagi padepokan Bajra Seta.Namun merekamasih mencari cara yang  paling baikyang  dapatmereka pergunakan. Ketika dua orang di antara orang-orang padukuhan yang  baru itu datang ke padepokan untuk mendapatkan perintahperinlah, maka Mahisa Murti berpesan kepada mereka, “bersiap sajalah sebaik-baiknya. Nanti malam, aku akan memberikan petunjuk apa yang harus kalian lakukan. Sementara ini kami sedang berusahamenilai keadaan.” Sebenarnyalah padukuhan itu sudah bersiap. Berbagai macam senjata telah di tempatkan di tempat yang paling mapan. Baik untuk dipergunakan maupun untuk dibawa ke padepokan. Mereka mempunyai beberapa ikat senjata cadangan. Namun mereka pun telah menyiapkan busur dan anak panah. Mungkin senjata jarak jauh itu akan berarti bagi mereka. Namun dalam pada itu, di sore hari, para petugas yang  mengamati keadaan di panggungan di belakang dinding padepokan terkejut ketika mereka melihat sekelompok orang yangmendekati dinding padepokan. Mereka memang berhenti agak jauh. Namun dengan tenangnya mereka berjalan hilir mudik di arah pintu gerbang padepokan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang  mendapat laporan segera naik keatas pintu gerbang. Mereka melihat orang-orang itu yang nampaknya sedang menilai kekuatan dinding dan pintu gerbang padepokan itu. “Mereka tentu bagian dari orang-orang yang  berkemah itu,” berkata cantrik yang  telah mengamati tempat orang-orang yang berkemah tidak jauh dari padepokan itu. “Jika demikian, aku akan turun dan menemui mereka,” berkata Mahisa Murti. Para cantrik termangu-mangu sejenak. Mereka menyadari, bahwa langkah itu sangat berbahaya bagi kedua pemimpin mereka. Namun Mahisa Murti berkata, “Mereka juga hanya sekelompok kecil. Aku juga akan membawa beberapa orang cantrik.” Demikianlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiapsiap untuk keluar dari regol padepokannya. Mahisa Semu telah dibawanya pula bersama Wantilan. Namun Mahisa Amping tidak diijinkan ikut keluar regol padepokan. “Kau melihat saja dari atas pintu gerbang,” berkata Mahisa Murti. Sejenak kemudian, maka pintu gerbang padepokan itu terbuka. Orang-orang yang  sedang melihat-lihat dan dengan sengaja menunjukkan satu sikap yang terlalu y akin akan kemampuan diri, telah terkejut. Apalagi ketika mereka melihat beberapa orang keluar dari padepokan. Tidak lebih banyak dari orang-orang yang dibawanya. Empu Angin memandang sekelompok orang itu dengan mata yang tidak berkedip. Sementara Empu Pitrang berdesis, “Alangkah sombongnya mereka.” “Mereka masih terlalu muda untuk menghadapi bahaya yang sebenarnya sebagaimana sekarang ini,” berkata Empu Angin, “ seperti kanak-kahakyang  tidak tahu, betapa panasnya bara.” “Aku ingin menangkap mereka sekarang,” berkata Empu Pitrang. “Jangan tergesa -gesa. Kita tidakmembawa kekuatan cukup. Jika para cantrik itu menghambur keluar, kita akan mengalami kesulitan.” cegah Empu Angin. “Sementara itu kita panggil orang-orang kita,” jawab Empu Pitrang. “Mereka belum siap, karena mereka baru akan bergerak besok pagi-pagi,” jawab Empu Angin pula. Empu Pitrang tidak berkata lebih lanjut. Namun terdengar giginya gemeretak. Sikap para pemimpin padepokan itu benarbenar telahmeny inggung perasaannya. “Seharusnya mereka tidak berani keluar dari gerbang padepokannya,” geram Empu Pitrang kemudian. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menjadi semakin dekat. Dengan tanpa ragu -ragu, maka kedua anakmuda ber sama beberapa orang cantrik itu berhenti hanya beberapa langkah saja di hadapan Empu Angin dan Empu Pitrang. “Luar biasa,” desis Empu Angin. “Apa yang luar biasa?” bertanya Mahisa Murti. “Ternyata kalian adalah anak-anak muda yang sangat berani,” berkata Empu Angin selanjutnya. “Kenapa?” bertanyaMahisa Murti. “Kalian memang terlalu sombong. Kau kira pada saat seperti ini kami tidak dapat membunuh kalian?” bertanya Empu Angin. Namun jawab Mahisa Murti benar-benar mengejutkan. Katanya, “Tidak. Kalian tidak dapat membunuh kami. Tetapi jika kami mau, kamilah yang  akan dapat membunuh kalian. Kami dapat mengerahkan seluruh kekuatan di padepokan ini langsung meny erang kalian. Betapa pun tinggi ilmu kalian, namun kalian tidak akan mampu melawan.Nah, tanpa kalian, apakah artinya pasukanmu diperkemahan itu? Tetapi kami bukan orang yang licik, yangmeny erang justru kalian sedang dalam puncak kelemahan.” “Setan kau,” geram Empu Pitrang, “jika saja aku tidak mengingat harga diri, maka kalian akan menjadi lumat sekarang ini.” “Sebenarnya apa yang kalian maui?” Mahisa Murti mendahului Mahisa Pukatyang  telah bergeser maju. Mahisa Pukat hanya dapat menarik nafas panjang untuk mengendapkan hatinya yang  bergejolak. “Anak-anak muda,” berkata Empu Angin, “Aku datang untuk melihat-lihat padepokanmu. Aku pun datang untuk memberitahukan kepadamu, bahwa besok kami akan memasuki padepokanmu dan membakar segala isinya. Membunuh segala penghuninya. Maaf, hal ini terpaksa kami lakukan, karena kami merasa wajib untuk melakukan. Kecuali jika kalian memang orang-orang yang  sangat licik dan pengecut, sehingga kalian akan lari mengungsi malam nanti. Kami tidak akan berkeberatan. Tetapi kami akan menutup semua jalan dari dan menuju ke padepokan ini.” Tanggapan anak-anak muda itu pun sangat mengejutkan Empu Angin dan Empu Pitrang. Kedua anak muda itu tetap tenang tanpa menunjukkan kegelisahan dan gejolak perasaannya. Seakan-akan yang dikatakan oleh Empu Angin itu tidak lebih sebuah desah angin didedaunan. “Kau dengar kata-kataku anakmuda?” bentak Empu Angin yangmenjadimarah. “Aku mendengar,” jawab Mahisa Murti, “tetapi belum saatnya membacakan dongeng bagi anak-anak menjelang tidur. Nanti jika matahari terbenam dan wajah sepi bocah telah sampai, ulangi dongeng itu. Anak-anak akan segera tertidur ny enyak.” Empu Pitrang hampir tidak dapat menguasai diri. Tetapi ketika ia bergerak,Mahisa Pukat pun telah bergerak pula. Namun ternyata Empu Angin masih dapat menahan diri. Dengan nada mengancam ia berkata, “Baiklah. Aku akan kembali ke perkemahan. Tetapi ingat, besok pagi-pagi sekali aku sudah datang lagi untuk menghancurkan padepokanmu. Membakar semua bangunan yang ada dan membunuh semua orang di dalamnya.” Tetapi Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Selamat sore Ki Sanak. Besok pagi-pagi kami menunggu kehadiranmu. Sebaiknya jangan terlalu pagi agar kami sempat makan dan minum.” Jantung Empu Pitrang memang akan pecah mendengar kata-kata yang  sangat menyakitkan itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa -apa karena Empu Angin ju stru mengajaknya pergi. Di sepanjang jalan kembli ke perkemahan Empu Pitrang mengumpat-umpat sejadi-jadiny a. Seakan-akan tidak ada kata-kata kotor lagi yang  dapat diucapkan untuk melepaskan kemarahannya yang  bagaikan menyumbat jalur pernafasannya. Tetapi Empu Angin berkata, “besok aku ingin menangkap anak-anak itu hidup-hidup. Mereka tentu akan dapatmenjadi permainanyang meny enangkan sekali.” “Ya. Aku setuju,” berkata Empu Pitrang, “aku memerlukan mereka.” Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yangmasih berada di luar dinding padepokannya telah memerintahkan orang-orang padukuhan baru itu untuk bersiap-siap. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmelihat, betapa pasukan yang  datang itu merupakan pasukanyang  sangat berbahaya. Beberapa orang cantrik terpilih telah diperintahkan pula untuk mengamati keadaan dan memberikan laporan terusmenerus tidak usah menunggu perkembangan apa pun yang terjadi. Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berbicara dengan sungguh-sungguh bersama beberapa orang cantrik tertua, Wantilan dan Mahisa Semu. Kemudian menyusul pula pemimpin dari padukuhan baru yang tumbuh semakin subur itu. Beberapa orang pemimpin kelompok anakanak muda dari padukuhan-padukuhan yang  ada di padepokan itu telah diajak berbicara pula. Namun perintahyang  keluar dari bilik pembicaraan adalah, semua orang harus segera beristirahat. Mereka supay a makan lebih awal dan kemudian tidur barang sejenak. “Kita harus bersiap-siap di tengah malam,” para pemimpin kelompok dari para cantrik itumemberikan perintah. Para cantrik itu pun menduga, bahwa orang-orang yang  sedang berkemah itu dapat saja bergerak di tengah malam. Karena itu, maka mereka harus berhati-hati. Mereka harus mempergunakanwaktu sebaik-baiknya untuk beristirahat. Namun dalam pada itu, di sebuah bangsal para pemimpin padepokan itu masih berunding dengan sungguh-sungguh. Bahkan beberapa saat kemudian, mereka telah berpindah ke sanggar terbuka. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan beberapa petunjuk dan peragaan, apa yang harus mereka lakukan. Bahkan ketika hari menjadi gelap, mereka telah memasang obor-obor untukmenerangi sanggar terbuka itu. “Semua pemimpin kelompok harus memahami,” berkata Mahisa Murti, “kita memiliki satu kelebihan. Kita lebih menguasai medan dari mereka. Sementara itu, para cantrik yang mengamati mereka telah dapat memberikan laporan lebih terperinci. Agaknya mereka dengan sengaja membiarkan perkemahan mereka diawasi. Namun ingat, setelah gelap, mereka pun tentu akan mengawasi semua jalan menuju ke padepokan ini. Mereka tidak akan membiarkan kita mengungsi meninggalkan padepokan ini. Tetapi sekali lagi. Kita lebihmenguasaimedan.” Ketika segalanya sudah jelas, maka pertemuan itu pun telah dibubarkan. Para pemimpin kelompok kemudian kembali ke kelompok mereka masing-masing. Namun mereka tidak memberitahukan apa pun juga kepada para cantrik. Apalagi sebagian dari mereka telah berbaring di pembaringan untuk secepatnya beristirahat. Demikian pula anak-anakmuda yang datang dari padukuhan-padukuhan. Mereka telah mendapat tempat khususuntuk bermalam. Menjelang tengah malam, maka para pemimpin kelompok telah berbenah diri. Sejenak kemudian, maka mereka pun telah mempersiapkan kelompok masing-masing.Mereka harus ber siap untuk bertempur menghadapi lawan yang harus dianggapmempunyai kekuatanyang sangat besar. Selagi kelompok-kelompok itu bersiap, maka sekelompok cantrik terpilih telah bersiap untuk menjalankan tugasnya. Tetapi mereka tidak segera berangkat meninggalkan padepokan itu lebih dahulu. Baru ketika semuanya sudah siap,maka perintah pun telah diberikan berantai. Ternyata para cantrik akan keluar dari padepokan. Mereka akan menempuh jalan yang  berada di luar jangkauan pengawasan orang -orang yang ada di perkemahan. Meskipun demikian, namun beberapa orang akan bertugas untukmendahului setiap jalur jalan yang  akan ditempuh oleh para cantrik itu. Namun perintah itu pun belum jelas benar. Para pemimpin kelompok baru mengumpulkan dan mengatur kelompokkelompokmerekamasing- masing. Malam pun menjadi semakin dalam. Tengah malam pun telah dilewati. Ketika isy arat terakhir telah diberikan, maka beberapa orang pengamat khusus telah keluar dari padepokan. Mereka tidak keluar regol depan. Tetapi mereka mempergunakan, tali turun dari bagian belakang padepokan. Sejenak kemudian maka mereka pun telah meny ebar. Mereka melihat keadaan di sekitar padepokan dengan sebaikbaiknya. Mereka meyakinkan diri bahwa jalan-jalanyang  akan ditempuh oleh para cantrik tidak ada dalam jangkauan pengamatan orang-orang perkemahan. Kelebihan para cantrik denganmenguasaimedan lebih baik dan orang -orang di perkemahan memungkinkan para cantrik yang mengamati keadaan itu melihat lingkungan dengan tuntas. Mereka dapat mengetahui di mana orang-orang yang datang dan mengancam padepokan mereka itu melakukan pengamatan. Seperti yang diperhitungkan, hanya jalan-jalan yang cukup pantas untuk dilalui sebuah iring-iringan sajalah yangmereka amati. Mereka tidak mengamati jalan-jalan setapak atau bahkan pematang-pematang sawah dan lorong -lorong pategalan. Dalam waktu yang ditentukan, maka para pengamat itu telah kembali dan memberikan isyarat kepada para pemimpin padepokan itu untuk mulai dengan sebuah tindakan yang sudah diperhitungkan masak-masak. Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka sebuah regol butulan telah terbuka. Sekelompok kecil cantrik telah keluar dari pintu butulan itu. Sementara itu, kelompok-kelompok yang lain telah keluar pula lewat tiga pintu butulan. Malam itu para cantrik telahmenempuh sebuah perjalanan pendek. Tetapi mereka memang tidak melalui jalan sewajarnya. Mereka justru telah melalui jalan-jalan setapak dan lorong-lor ong di antara pategalan. Sementara itu, di depan setiap kelompok yang menempuh jalan berbeda telah berjalan lebih dahulu dua orang cantrik yang harusmengamati keadaan. Ketika para cantrik itu sampai di tempat masing-masing, barulah mereka tahu apa yang  harus mereka lakukan. Di hadapan mereka nampak perkemahan orang-orang yang  telah berniat untuk menghancurkan padepokan dan perguruan Bajra Seta. Ternyata para cantrik dari padepokan itu justru telah berada di seputar perkemahan orang-orang itu itu meskipun pada jarak yang masih belum terlalu dekat, sehingga belum sampai pada tangkapan pengamatan para petugasmereka. Demikian mereka berada di tempat yang  telah ditentukan, maka para pemimpin kelompok telah memberikan beberapa petunjuk kepada mereka, apa yang  harusmereka lakukan. “Yang akan bergerak lebih dahulu adalah sekelompok cantrik yang  telah terpilih,” berkata seorang pemimpin kelompok, “jika mereka berhasil, maka giliran yang  kemudian adalah kita.” Dengan demikian beberapa saat lamanya para cantrik itu menunggu. Sementara itu, beberapa orang cantrik yang dipimpin oleh Mahisa Semu telah merayap mendekati perkemahan. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan sengaja telah melepaskan Mahisa Semu yang  sudah cukup lama ditempa. Sebelum di padepokan itu, ia sudah mengalami latihan-latihan yang berat di sepanjang perjalanan, sehingga sekaligusmenimba pengalaman. “Hati-hati,” pesan Mahisa Murti, “kalian memiliki pengenalan atasmedan jauh lebih baik darimereka.” Mahisa Semu mengangguk. Katanya, “Aku mohon kakang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta para cantrik berdoa untuk kami.” Mahisa Murti menepuk bahu anak muda itu. Katanya, “’Tentu. Setiap kali kita semuanya berdoa untuk keselamatan kita.” Sejenak kemudian Mahisa Semu telah bergerak bersama sepuluh orang cantrik pilihan. Tugas mereka mengacaukan perkemahan itu. Jika mungkin mereka harus membakar tempat per sediaan makan dan perlengkapan mereka, yang sudah dapat diketahui tempatnya oleh orang-orang yang mengamati perkemahan itu dengan saksama. Sebelas orang telah merangkak mendekati perkemahan. Mereka membawa beberapa buah obor minyak serta beberapa ikat blarak kering. Beberapa kampil biji jarak yang  akan dilemparkan di tempat api yang  sudahmenyala. Dengan sangat hati-hati sebelas orang itu berhasil mendekati perkemahan. Mereka berputar ke arah belakang perkemahan mendekati tempat persediaan bahan makanan dan perlengkapan. Beberapa saat lagi, para petugas di dapur itu tentu sudah akan terbangun. Mereka harus menyiapkan makan bagi para cantrik kedua padepokan yang akan menyerang padepokan Bajra Seta itu. Demikian mereka berada di belakang sebuah gubug kecil tempat mereka menyimpan bahan makanan dan perlengkapan, maka para cantrik itu pun telah membuat api. Dengan batu titikan dan seonggok amput aren. Dengan cepat mereka harusmeniup api yang sepeletik itu sehingga menjadi besar. Seorang harus melindungi api itu sehingga tidak nampak dari lingkungan di sekitarnya. Baru ketika api itu mulaimenyala dan membakar sebuah obor blarakmaka oborobor minyak pun dengan cepat pula menyala. Beberapa onggok blarak yang diletakkan di belakang gubug kecil itu pun dengan cepat terbakar. Sementara itu, sekampil biji jarak kering telah dilemparkan pada nyala apiyang mulaimenjilat. Tetapi ny ala api obor belarak itu tentu akan dengan cepat surut. Namun sebelum api itu surut, maka biji jarak yang dilempar itu pun telah mulai menyala. Demikian pula gubug kecil itu. Namun api itu pun dengan cepat diketahui pula. Beberapa orang yang  bertugaspun berlari-larian sambil berteriak-teriak. Namun beberapa orang cantrik yang  lain telah mendapat tugas mereka masing-masing. Empat orang di antara mereka dengan tangkas telah melepa skan anak panah dari busur mereka. Para petugasyang  sedang berjaga-jaga itu pun tidak sempat berteriak lagi, ketika anak panah para cantrik dari Bajra Seta itu mengenai dadamereka. Meskipun demikian beberapa orang yang lain pun segera telah berlari-larian pula mendekat, namun beberapa anak panah yang menyusul telah sempat memberikan waktu bagi api yang menyala itu membakar gubug kecil dan kemudian menjilat segala isinya. Tetapi perkemahan itu pun kemudian telah terbangun. Semua orang telah bangkit dan bergegas pergi ke tempat api yang menyala semakin besar. Onggokan-onggokan belarak, ranting-ranting kecil yang  diambil dari persediaan di perkemahan itu sendiri, beberapa kampil biji jarak yang telah kering, obor-obor minyak yang dilemparkan pula ke gubug kecil itu dan gubug kecil itu sendiri yang  terbuat dari kayu, bambu dan batang ilalang, telahmembuat api itu dengan cepat menjilat bagaikan ingin menggapai langit, meskipun api itu tidak akan bertahan lama.Namun jika kemudian api itu surut, maka semua per sediaan bahan makanan dan perlengkapan bagi orang-orang yang  sedang berkemah itu telah habis. Tidak ada yang akan dapatmereka makan. Minum pun mereka akan minum air yang  harusmereka lakukan. Demikian api menyala semakin besar, maka pasukan para cantrik dari padepokan Bajra Seta, anak-anak muda dari beberapa padukuhan dan orang-orang padukuhan baru itu pun mulai bergeser mendekat. Tetapi mereka belum mendapat isy arat untuk bergerak. Sementara itu, orang-orang Bajra Seta yang telah berhasil membakar segala per sediaan bahan makan dan perlengkapan itu- pun telah berhasil meloloskan diri. Sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa mereka mengenal medan jauh lebih baik, telah membuat mereka mampu melepaskan diri dari kejaran orang-orang yang ada di perkemahan itu. Empu Angin dan Empu Pitrang hanya dapat mengumpatumpat saja. Dengan nada tinggi Empu Angin berkata hampir berteriak, “besok, pagi-pagi benar kita balas sakit hati kita.” Para cantrik dari perguruan yang  dipimpin oleh Empu Angin dan Empu Pitrang itu memang hanya dapat meny esali kelengahan para petugas, terutama para petugas di dapur. Seorang cantrik hampir tidak dapat menguasai dirinya dan menyerang pemimpin darimereka yang berjaga-jaga di dapur malam itu. Untunglah beberapa orang kawannya sempat meleraimereka. Dalam pada itu, Empu Angin berteriak pula, “Lupakan persediaan makanan yang terbakar itu. Besok kita akan mengambil per sediaan makanan yang lebih banyak dan lebih baik di padepokan. Kita tentu tidak akan pernah kelaparan. Apalagi di sekitar tempat itu terdapat banyak padukuhanpadukuhan yang akan dapat memberikan beras lebih banyak dari yang kita perlukan.” Pernyataan Empu Angin itu memang dapat membuat para cantriknyamenjadi tenang. Sementara itu, petugas sandi Kediri yang ada di dalam perkemahan itu pulamenjadi semakiny akin akan kemampuan para pemimpin padepokan Bajra Seta. Tanpa per sediaan makanan meskipun hanya untuk esok pagi, kekuatan pasukan yang dipimpin Empu Angin dan Empu Pitrang itu tidak akan memiliki ke kuatan utuh. Jika besok pertempuran terjadi, menjelang tengah hari, para cantrik yang  dipimpin oleh Empu Angin dan Empu Pitrang itu tentu sudah mulai dipengaruhi oleh perasaan lapar mereka. Mungkin perasaan lapar itu sendiri akan dapat dilupakan jika mereka menghadapi senjata terhunus. Namun kekuatan mereka tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi jika keringat telahmengalir. Tetapi petugas sandi dari Kediri itu telah menjadi kecewa atas tanggapan kedua orang pemimpin dari pa sukan yang akan menyerang padepokan Bajra Seta itu. Karena itu,maka ia pun justru telah kembali ke pembaringan. Ketika keadaan sudah menjadi tenang serta api pun mulai su sut, para cantrik telah mencari tempat untuk berbaring lagi meskipun waktunya telah hampir habis. Namun rasa-rasanya malam-malam yang dingin itu telah membuat mata mereka melekat kembali. Beberapa saat kemudian, perkemahan itu telah menjadi sepi kembali. Tetapi para petugas telah mendapat perintah untuk lebih berhati-hati. Beberapa saat lagi, para penjaga itu harus sudah membangunkan semua orang di perkemahan itu. Karena tidak ada lagi yang akan dimasak dan dimakan pagi itu, maka para petugas yang  seharusnya berada di dapur, harus ikut bersama para cantrik yang  lain menghancurkan pertahanan padepokan Bajra Seta. Sekaligus mereka akan mendapatkan bahan makanan untuk persediaan mereka selama berada di padepokan itu. Untuk menghilangkan kejengkelan dan kemarahan, maka para cantrik dibawah pimpinan Empu Angin dan Empu Pitrang itu telah dibiarkan tertidur kembali. Menjelang fajar mereka akan dengan cepat dapat mempersiapkan diri, karena mereka tidak perlu lagi menunggu makanan dan minuman mereka. Saat itulah yang  ditunggu oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Suasana di padepokan itu telah diwarnai dengan kecemasan, kemarahan dan dendam. Tetapi Empu Angin dan Empu Pitrang sendiri sama sekali tidak ingin tertidur kembali. Mereka meny esali apa yang terjadi. Tetapi mereka tidak dapat menghukum siapa pun karena dengan demikian hanya akan mengurangi kekuatan pa sukan itu sendiri. Namun sudah terbersit di kepala mereka, jika mereka telah berhasilmenduduki padepokan dan merebut segala persediaan makan dari perbekalan,maka yang  ber salah tentu akan diusut kembali dan hukuman pun tidak akan dapat dihindarkan. Sementara itu, Empu Angin dan Empu Pitrang memang membiarkan orang -orangnya tertidur. Mereka harus melupakan kebakaran yang  baru-saja terjadi serta akibatnya. Nanti, demikian mereka bangun, maka mereka pun harus segera bersiap dan menyerang padepokan Bajra Seta. mPu Angin dan Empu Pitrang tidak mempersiapkan peralatan apa pun untukmemecahkan pintu gerbang. Mereka juga tidak membawa tampar dan tali apa pun untuk memanjat. Keduanya telahmemutuskan untukmembakar saja dinding padepokan, terutama pintu-pintunya. Pintu gerbang dan pintu butulan. Yang mereka persiapkan adalah ranting dan kayu-kayu kering,minyak yang tersisa serta semua oncor dan obor, serta blarak. Mereka ingin membalas kebakaran yang telah terjadi di perkemahan itu. Empu Angin dan Empu Pitrang telah mempersiapkan kelompok-kelompok yang harus melindungi kawan-kawannya yang membakar dinding yang paling lemah serta pintu-pintunya. Mereka telah dipersiapkan dengan busur dan anak panah serta lembing-lembing yang tajam. Menjelang pagi,maka semua orang di perkemahan itu telah dibangunkan. Dengan cepat mereka ber siap. Tidak ada makanan dan tidak ada minuman hangat. Semua per sediaan dan peralatan telah terbakar. Dengan singkat Empu Angin dan Empu Pitrang telah memberikan perintah-perintah. Beberapa orang Putut yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari para cantrik segera tanggap. Beberapa orang cantrik telah ditunjuk untuk membawa kayu-kayu kering, belarak, ilalang kering, minyak yangmasih tersisa serta semua obor dan oncor. Beberapa saat kemudian, maka pasukan itu telah mulai bergerak. Pa sukanyang  telah dibekali dengan kejengkelan dan kecewa, karena sama sekali tidak ada per sediaan makan dan minum. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberikan isyarat kepada para cantrik, anak-anak muda yang bergabung dengan pasukannya serta orang-orang yang berada di padukuhan yang baru itu. Mereka harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Justru saat pasukan lawan itumulai bergerak. Sebenarnyalah, ketika iring-iringan itu lepas dari perkemahan dan merayap di sepanjang jalan menuju ke padepokan,maka perintah Mahisa Murti pun telah dijatuhkan. Para cantrik, anak-anakmuda dari beberapa padukuhan yang ber sama denganmereka serta para penghuni padukuhan yang baru, dengan serta merta telah meny erang iring-iringan yang sama sekali tidak mengira bahwa serangan yang  tiba -tiba itu akan datang. Para petugasyang mengamati keadaan pun telah berada di dalam iring-iringan itu pula, sehingga mereka tidak melihat kedatangan pa sukan yang tiba -tiba saja telah menyerang. Medan pertempuran yang  terjadi memang menjadi panjang. Mahisa Murti memang menghendaki hal yang demikian. Sementara itu, para cantriknya telah mempersiapkan serangan dengan cara yang tidak diperhitungkan sama sekali oleh pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang, yang  jumlahnya memang lebih besar dari pa sukan yang dipimpin langsung oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu. Ketika pa sukan Empu Angin dan Empu Pitrang terkejut mendapat serangan yang tiba -tiba serta dengan serta merta ber siap menghadapi mereka, maka dari sisi yang  lain, beberapa orang cantrik yang bertugas telah meny erang iringiringanyang  panjang itu dengan busur dan anak panah. Beberapa orang di dalam iring-iringan itu tidak sempat berbuat sesuatu. Punggung mereka tiba -tiba saja telah tertembus anak panah. Hampir berbareng, mereka yang terkena anak panah itu pun telah terjatuh di tanah sambil berteriak kesakitan. Bahkan ada di antara mereka yang  justru tidak sempat berteriak lagi. Dalam keadaan yang demikian,maka pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang memang menjadi bingung. Mereka benar-benar tidak mengira bahwa mereka akan menghadapi serangan yang membingungkan itu. Empu Angin dan Empu Pitrang yang telah merendahkan orangorang padepokan Bajra Seta, tidak sempat meny esali diri. Keadaan telah menjadi sangat rumit. Empu Angin yang  berusaha untukmengatasi keadaan telah berteriak, “jangan hiraukan orang-orang licik yang menyerang kalian dengan anak panah dari belakang. Jumlah mereka tidak banyak, yang  berperisai harus berusaha melindungi diri dan kawan-kawannya. Sementara seluruh pa sukan harusmenghadapi serangan dari induk pasukan.” Sebenarnyalah para Putut telah meneriakkan perintah itu sambung bersambung sampai ke ujung. Dengan geram para cantrik itu pun telah berlari-larian meny ongsong serangan dari induk pa sukan yang  dipimpin langsung oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun beberapa orang telah berusaha melindungi kawankawannya dengan perisai. Sementara para cantrik yang dipersiapkan oleh Empu Angin dan Empu Pitrangmelindungi kawan-kawannya yang akan membakar pintu gerbang telah mempergunakan anak panah dan busur mereka untuk melawan serangan yang  datang dari belakang, meskipun mereka harus bergerak mundur mengikuti gerak seluruh pa sukan. Tetapi dengan demikian, maka lontaran anak panah dari pa sukan Empu Angin dan Empu Pitrang itu mampu menyusut tekanan para cantrik dari perguruan Bajra Seta. Sebenarnyalah yang terjadi itu telah menggetarkan jantung Empu Angin dan Empu Pitrang. Ternyata anak-anak muda yang ditemuinya di muka pintu gerbang padepokan Bajra Seta bukan hanya mampu berbicara dengan sombong dan bahkan membual untuk menutupi kelemahannya. Mereka ternyata memiliki keberanian yang luar biasa yang  tidak diperkirakan sama sekali sebelumnya. Bahkan Empu Angin dan Empu Pitrang pun mulai mempertimbangkan pendapat prajurit sandi dari Kediri yang semula dianggapnya tidak lebih dari sikap sangat berhati-hati. Menghadapi serangan yang  tiba -tiba dan tidak diperhitungkan sama sekali itu, Empu Angin dan Empu Pitrang hanya dapatmeny esuaikan diri. Ternyata para cantrik dari padepokan Bajra Sela dalam keremangan fajar telah sempatmenyusun gelar yangmelebar. Empu Angin dan Empu Pitrang sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk bertempur di tempat terbuka. Mereka sejak semula telah mempersiapkan diri untuk mengepung sebuah padepokan dan menghancurkannya. Terakhir kedua pemimpin itu sepakat untuk membakar pintu gerbang padepokan Bajra Seta yang  terbuat dari kayu yang tebal. Namun Empu Angin dan Empu Pitrang memperhitungkan bahwa pintu itu akan dapat dibakarnya ber sama panggungan di atasnya. Demikian pula pintu-pintu gerbang butulanyang lebih kecil. Tetapi justru orang-orang padepokan itulah yang  telah ke luar dari sarang mereka dan meny erang pasukan yang  sedang merayap dalam bentanganyang melebar. Empu Angin dan Empu Pitrang memang berusaha menyusut bentangan itu. Satu-satunya gelar yang  dapat dipersiapkan dalam waktu dekat adalah gelar Emprit Neba. Gelar yang memang paling sesuai dengan sifat dan watak para cantrik kedua padepokan itu. Keras dan ka sar. Terlalu percaya kepada diri sendiri dan kemampuanmereka secara pribadi. Empu Angin dan Empu Pitrang berharap bahwa benturan yang akan terjadi, tentu akan merusak gelar lawan serta memancing mereka untuk bertempur dalam lingkaranlingkaran pertemuran yang  terpecah-pecah. Sehingga akan terjadi perang brubuh. Dalam keadaan yang demikian, maka para cantrikyang melontarkan anak panah dari belakang tidak akan berani menyerang mereka lagi, karena para cantrik itu tidak akan mau memikul akibat bahwa anak panah mereka akan mengenai kawan-kawanmereka sendiri. Demikianlah, maka Empu Angin dan Empu Pitrang pun telah meneriakkan aba-aba kepada seluruh pasukannya untuk menyerang para cantrik dari perguruan Bajra Seta dengan gelar Emprit Neba. Dengan demikian,maka seluruh kekuatan pasukan itu pun telah berlari-larian sambil mengacu-acukan senjata mereka menyerang para cantrik dari perguruan Bajra Seta yang memasang gelarWulan Tumanggal. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang melihat serangan itu pun dengan segera telah memberikan aba -aba untuk mengisi gelar Wulan Punanggal itu dengan gelar yang  lain. Gelar Jurang Grawah, justru pada saat lawan mempergunakan Gelar Emprit Neba. Sementara itu, ketika pa sukan Empu Angin dan Empu Pitrang berlari-larian meny erang, maka para cantrik yang mempergunakan busur dan anak panah telahmempergunakan saat yang  pendek itu untukmengurangi jumlah lawan mereka. Beberapa orangmemang jatuh tertelungkup ketika punggung mereka tertusuk anak panah. Ketika kedua pa sukan itu berbenturan, maka langit pun menjadi semakin terang. Kedua belah pihak menjadi semakin jelas, siapa-siapa yang mereka hadapi. Sebuah perguruan yang harusmembela diri melawan dua perguruanyang  cukup besar di bawah pimpinan Empu angin dan Empu Pitrang. Beruntunglah perguruan Bajra Seta bahwa anak-anakmuda dari beberapa perguruan telah membantu mereka mempertahankan perguruan dan padepokan Bajra Seta. Demikian pula orang-orang yang telahmembangunkan sebuah padukuhan baru. Meskipun jumlah mereka tidak begitu banyak, tetapi mereka adalah orang-orang yang memiliki pengalaman yang  luas ditambah dengan pengetahuan olah kanuragan yang lebih mapan, sehingga dengan demikian, mereka adalah orang -orang yang tangguh menghadapi keadaanyang betapa pun sulitnya. Ternyata Empu Angin dan Empu Pitrang yang langsung turun di arena pertempuran itu, sama sekali tidak mengekang diri. Tanpa ampun, orang-orang yang  menghalangi geraknya telah dilumpuhkannya. Tetapi mereka tidak terlalu lama berkesempatan untuk membantai lawan-lawannya. Dengan segera Mahisa Murti telah menghadapi Empu Angin, sementara Mahisa Pukat telah berada di hadapan Empu Pitrang. Meskipun kedua orang pemimpin padepokan yang  menyerang perguruan Bajra Seta itu telah melihat keny ataan, ketangkasan berpikir dan menentukan sikap dari dari para pemimpin perguruan Bajra Seta, namun melihat kehadiran anak-anak muda itu, keduanya masih saja menganggap mereka masih kanak-kanak. Karena itu, ketika Mahisa Murti berdiri tegak di hadapan Empu Angin,maka Empu Angin itu pun berkata, “sayang . Kau ternyata harusmati muda. Tetapi yang terjadi itu adalah buah dari biji yang pernah kau taburkan. Jika kau tidak dengan sombong mengganggu orang lain, maka kami tidak akan datangmengadilimu sekarang ini.” “Aku tidak tahu apa yang  kau katakan. Aku tidak mengerti yang kau maksud dengan ceriteramu itu,” jawab Mahisa Murti. “Jika demikian, sebaiknya kau mati dalam kedunguanmu. Mungkin kau akan merasa lebih berbahagia karena jika kau mengerti, betapa dungunya kau, maka kau tentu akan menyesal,” berkata Empu Angin. Mahisa Murti memang tidak mengerti maksud Empu Angin. Karena itu maka ia pun tidak menjawab. Tetapi ia sudah mempersiapkan diri sebaik-baiknya untukmelawannya. Sementara itu Empu Pitrang yang  lebih garang dari Empu Angin telah ber siap pula menghancurkan Mahisa Pukat. Dengan kasar ia membentak, “Kau anak iblis, meny erahlah. Kau akan mendapat jalan kematian yang  terbaik. Tetapi jika kau ingin melawan aku,maka kau akan meny esal di saat -saat terakhir dari hidupmu.” Mahisa Pukat memang tersinggung mendengar kata-kata itu. Dengan lantang pula ia menjawab, “Kenapa bukan kau sa ja yang berlutut di hadapanku sambil menunduk? Aku akan memenggal lehermu sepertimemenggal batang pisang.” Empu Pitrang itu menggeretakkan giginya. Dengan garangnya ia pun meloncat meny erang Mahisa Pukat. Senjatanya, sebuah tombak pendek telah berputar dan menyambar dalam ayunan mendatar. Namun ketika Mahisa Pukatmeloncat surut, ujung tombak itu telah mengejarnya. Tetapi Mahisa Pukat cukup tangkas untuk menghindari kejaranujung tombak itu. Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah menjadi semakin sengit. Para cantrik dari perguruan Bajra Seta telah mengetrapkan gelar Jurang Grawah dengan baik. Ketika benturan antara kedua pa sukan terjadi, maka lapisan pertama dari gelar Wulan Tumanggal pasukan perguruan Bajra Seta telah terbuka. Demikian beberapa orang lawan menyusup masuk, maka lapisan pertama itu telah menutup kembali. Sementara itu, maka para cantrik dalam gelar Emprit Neba yang ter serap dalam gelar Jurang Grawah harusmenghadapi lawan pada lapisan berikutnya yang  dengan tiba -tiba saja menyerangmereka. Ketika matahari kemudian memanjat semakin tinggi,maka pertempuran pun menjadi semakin seru. Ternyata di saat benturan kedua pasukan terjadi, para cantrik dari perguruan Empu Angin dan Empu Pitrang telah banyak susut. Kecuali serangan anak panah para cantrik dari arah yang ber seberangan induk pasukannya, maka sergapan yang  tibatiba dari pasukan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, telah sempat menguasai kesempatan-kesempatan pertama dalam pertempuran itu. Selanjutnya gelar tangkap pada pasukan dari perguruan Bajra Seta telah membingungkan lawan-lawan mereka pula. Empu Angin dan Empu Pitrang benar-benar tidakmengira bahwa pasukannya yang dianggapnya cukup tangguh itu akan mengalami kesulitan menghadapi perguruan Bajra Seta yang dipimpin oleh anak-anakmuda. Tetapi Empu Angin dan Empu Pitrang masih mempunyai satu key akinan bahwa kemenangan terakhir akan ada pada mereka. “Jika anak ini telah kehilangan kemampuannya untuk melawan, maka cantrik-cantriknya akan dengan cepat dapat dibinasakannya,” berkata Empu Angin di dalam hatinya. Namun ia masih juga ingin menangkap Mahisa Murti hiduphidup jikamungkin. “Jika aku dapatmenangkapnya hidup-hidup, maka anak itu akan dapat menjadi permainan yang menyenangkan,” berkata Empu Angin di dalamhatinya. Sementara itu Empu Angin ternyata masih belum mempergunakan senjatanya. Ia masih berusaha untuk mengalahkan lawannya, tetapi tidakmembunuhnya. Tetapi ternyata Mahisa Murti bukan anak muda yang  dengan mudah dapat dikuasainya. Bahkan karena Empu Angin masih belum bersenjata, Mahisa Murti pun masih belummempergunakan senjatanya pula. Dengan tangkasnya Empu Angin berloncatan meny erang Mahisa Murti. Semakin lama semakin cepat. Ayunan tangannya rasa-rasanyamenjadi semakin berat pula. “Kenapa kau tidak mempergunakan senjatamu?” bertanya Empu Angin. Jawaban Mahisa Murti memang membuat telinganya menjadi merah. Katanya, “Tanganku lebih tajam dari pedangku.He, kenapa kau juga tidak bersenjata?” mPu Angin mengeram. Namun serangannya pun menjadi semakin garang. Tangannya bergerak berputaran. Namun kemudian menebas dengan cepatnya. Jari-jarinya yang  lurus merapat,mematuk ke arah lambung. Namun dengan tangkas Mahisa Murti berloncatan menghindari serangan-serangan itu. Bahkan tiba -tiba saja dengan gerak berputar kakinya terayun menyambar ke arah kening. Jika mereka berhasil, maka day a tahan orang-orang yang  menyerang padepokan Bajra Seta itu tentu akan dengan cepat su sut. Namun sebenarnyalah, bahwa jumlah pasukan yang  menyerang perguruan Bajra Seta itu memang cepat susut. Dalam laku tangkap Jurang Grawah, setiap kali cantrik dari perguruanyang  dipimpin oleh Empu Angin dan Empu Pitrang itu hilang seorang demi seorang. Tetapi sementara itu, beberapa orang Putut dalam pa sukan yang meny erang perguruan Bajra Seta itu memang memiliki kelebihan dari para cantrik kebanyakan. Cantrik-cantrik terpilih sajalah yang  harus melawan mereka agar Putut-putut yang bagaikan mengamuk itu tertahan. Jika seorang cantrik tidak mampu menahannya, maka dua orang cantrik dari perguruan Bajra Seta ikan bersama-samamenghadapimereka. Sementara itu, seorang di antara para Putut yang memiliki ilmu yang mulai mapan masih saja bertempur melawan Mahisa Semu. Ternyata bahwa ilmu yang  telah diwarisi oleh Mahisa Semu telah cukup dipergunakannya sebagai bekal untukmenghadapi pertempuranyang sesungguhnya. Dengan ilmu pedangnya yang  mapan,maka Mahisa Semu telah menghadapinya dengan darah yang  hampir mendidih. Tongkat baja yang  dipergunakannya sebagai senjata telah terayun-ayun mengerikan. Namun pedang Mahisa Semu pun bergerak cepat sekali. Beberapa kali benturan telah terjadi. Meskipun menghantam tongkat baja yang keras, namun pedang Mahisa Semu sama sekali tidak menjadi cacat, karena pedangnya itu pun telah dibuat dari besi baja pilihan. Pertempuran antara keduanya memang menjadi semakin sengit. Putut itu semakin lama menjadi semakin marah. Ia tidak dengan cepat menguasai lawannya yang masih sangat muda itu. Bahkan sekali-sekali ia justrumulai terdesak surut. “Anak iblis,” Putut itumenggeram. “Kenapa?” bertanya Mahisa Semu, “apakah kau mulai letih?” “Tutup mulutmu,” bentak Putut itu, “atau aku akan mengoy akannya.” “Kau tidak usah terlalu bernafsu,” berkata Mahisa Semu, “nikmati saja kenyataan yang  kau hadapi. Bukankah kita memiliki kesempatanyang sama?” “Aku bunuh kau dengan caraku,” geram Putut itu sambil menghentakkan tongkat bajanya. “Kau atau aku,” sahut Mahisa Semu, “semuanya tergantung sekali kepada Yang Maha Agung.” Putut itu berusaha untuk memaksakan kemampuannya mengakhiri perlawanan Mahisa Semu yang  masih sangat muda itu. Namun Mahisa Semu justru memanfaatkan kemarahan Putut itu untuk memancingnya mengerahkan kekuatannya. Namun ketangkasan permainan pedang Mahisa Semu memang sulit untuk di atasi. Meskipun Putut itu kemudian telah sampai pada tataran tertinggi dari ilmunya. Di induk pasukan Empu Angin masih bertempur melawan Mahisa Murti dengan sengitnya. Keduanya adalah orangorang yangmemiliki kelebihan yang  bahkan di luar penalaran orang kebanyakan. Empu Anginyang mampu bergerak dengan kecepatan yang  sangat tinggi itu, ternyata tidak mampu melampaui tataran kemampuan Mahisa Murti. Namun Empu Angin adalah bukan orang kebanyakan. Di saat yang  paling gawat, maka ia pun telah mengerahkan kemampuannya yang  tertinggi. Tetapi, Mahisa Murti pun telah meningkatkan kemampuannya pula sehingga mampu mengimbangi kecepatan gerak Empu Angin. Dengan demikian maka pertempuran di antara mereka masih saja berlangsung dengan sengitnya. Dalam keadaan yang semakin sulit bagi pasukannya,maka Empu Angin tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus dengan secepatnya menghancurkan lawannya yang  masih muda itu dan menolong seluruh pasukannya yang  semakin terjepit. Empu Angin mengerti bahwa satu-satu orangnya terjebak dalam gelar Jurang grawah yang merupakan gelar rangkapan dari gelar Wulan Tumanggal yang  semakin mencengkam. Kedua ujung gelar itu rasa-rasanya menjadi semakin menjepit pa sukan Empu Angin dan Empu Pitrang yang  memilih gelar Emprit Neba. Ternyata Empu Angin masih memiliki ilmu simpananyang  mendebarkan. Sebagai seorang yang dikagumi dan dihormati oleh seisi padepokannya, maka Empu Angin tidak akan membiarkan dirinya dikalahkan hanya oleh seorang anak muda. Karena itu,maka sejenak kemudian, Empu Angin telah mengetrapkan ilmu simpanannya. Ketika Empu Angin itu semakin terdesak oleh kesulitan atas seluruh pasukannya, maka Empu Angin telah melontarkan ilmu pamungkasny a. Mahisa Murtiyang melihat Empu Angin itu berdiri tegak di atas kedua kakinya, kemudian mengangkat tangan kanannya, telah mempersiapkan diri pula menghadapi lontaran ilmu yang sudah diduganya. Sebenarnyalah, dari telapak tangan Empu Angin itu telah meloncat lidah api, yang menyambar ke arah lawannya bagaikan petir kecil yang  meloncat menyambar dengan dahsy atnya. Mahisa Murti yang  telah ber siapmenghadapi kemungkinan ini telah meloncat menghindar. Loncatan lidah api yang meskipun nampaknya hanya seleret kecil itu ternyata telah mengejutkannya. Lidah api yang tidak mengenainya itu telah menyentuh tanah dan sebuah ledakan telah terjadi. Segumpal tanal bagaikan dilempar ke udara dan runtuh menghambur di sekitarnya. Beberapa orang yang  sedang bertempur di sekitarnya telah menyibak. Bukan saja orang-orang padepokan Bajra Seta, tetapi juga para cantrik dari padepokan Empu Angin sendiri. “Dari iblis mana kau mendapat kemampuan bergerak begitu cepat,” geram Empu Angin. Lalu katanya, “Tetapi bagaimanapun juga kaumampu menghindar, namun akhirnya petirku akan menyambar kepalamu hingga pecah.” Mahisa Murti yang telah melenting berdiri termangumangu sejenak. Ia sadar, bahwa lidah api itu benar-benar akan dapat membakar tubuhnya dan barangkali memecahkan kepalanya sepertiyang  dikatakan oleh Empu Angin itu. Namun sebelum hal itu terjadi, maka Mahisa Murti tentu akan berusahamencegahnya. Dalam pada itu, maka Mahisa Murti itu pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Apakah yang  sebenarnya dapat kau lakukan. Meskipun kau berilmu rangkap tujuh, namun orangorangmu sudah menjadi semakin tidak berdaya. Jika kau mau melihat kenyataan, maka aku kira, kita masih mempunyai kesempatan untuk berbicara.” Tetapi Empu Angin sama sekali t idak mendengarkannya. Sekali lagi ia mengangkat tangannya dan seleret lidah api telah meloncatmenyambar. Namun Mahisa Murti pun cukup tangkas. Dengan kecepatan yang sangat tinggi, ia pun telah meloncat dan berguling di tanah. Kemudian melenting berdiri. Namun sekali lagi tanah tempat Mahisa Murti semula berpijak bagaikan meledak dan menghamburkan gumpalangumpalan tanah ke udara. Para cantrik dari Padepokan Empu Angin yang  semula telah berputus a sa telah bangkit kembali. Meskipun jumlah mereka telah jauh berkurang, namun bahwa pemimpin mereka telah melepaskan ilmu simpanannya, telah membuat para cantrik itu berpengharapan. Menurut pengertian mereka tidak ada orang yang  mampu melepa skan diri dari serangan ilmu Empu Angin itu. Menurut pengalaman para cantrik, yang terlontar dari tangan Empu Angin itu adalah inti dari arus angin yang dahsy at yang  menggumpal menyatu memadat menjadi lidah api yangmenggetarkan. Namun para cantrik yang sempat menyaksikan lontaran ilmu Empu Angin itu pun terkejut. Ternyata pimpinan padepokan Bajra Seta itu mampu menghindarkan diri dari sambaran kekuatan ilmu Empu Angin itu. Meskipun kemudian Empu Angin mengulanginya, tetapi ilmu yang  dahsy at itu ternyata tidakmeny entuh sa sarannya. Empu Angin sendirimenjadi semakinmarah.Namun justru karena itu, maka ia menjadi semakin tergesa -gesa melontarkan ilmunya sehingga bidikannya pun menjadi semakin kurang terarah. Sementara itu, medan pertempuran itu pun benar-benar telah dikuasai oleh para cantrik, dari padepokan Bajra Seta, anak-anak muda padukuhan di sekitarnya dan orang-orang yang tinggal di padukuhan baru. Para cantrik dari dua padepokanyang meny erang padepokan Bajra Seta itu ternyata tidak berdaya lagi. Bukan saja untuk menghancurkan padepokan Bajra Seta, bahkan untuk melindungi diri sendiri pun nampaknyamereka sudahmengalami kesulitan. Namun para penghuni padukuhan baru itu pun ternyata telah terkendali. Tidak seperti saat mereka bertempur melawan orang-orang yang  mendendam kepada mereka. Ber sama para cantrik dari padepokan Bajra Seta maka mereka telah berusaha untuk mengekang diri sejauh dapat mereka lakukan. Sementara itu, Mahisa Pukat yang  bertempur melawan Empu Pitrang telah berusaha memperingatkan pula, bahwa orang-orangnya telah tidak berdaya lagi. “Jika kau dan saudaramu itu terbunuh, maka para cantrik dari perguruan Bajra Seta pun tidak akan berarti apa-apa lagi. Dalam waktu sekejap, mereka akan segera kami bantai sampai orang yang  terakhir,” berkata Empu Pitrang. “Nampaknya kau sempat mengigau meskipun kau tidak tidur,” berkata Mahisa Pukat. Empu Pitrang yang  merasa ter singgung telah melompat sanibil menebas dengan ujung senjatanya. Tetapi Mahisa Pukat dengan tangkas bergeser surut. “Kau pun akan segera mati,” geram Empu Pitrang, “saudaramu tidak akan berumur sampai sepenginang lagi. Apalagi Empu Angin telah melepaskan ilmu pamungkasnya. Saudaramu tentu akan segera menjadi lumat.” Demikian kata -kata itu selesai, terdengar ledakkan ilmu Empu Anginyang melontarkan debu berhamburan. Sementara Mahisa Murti masih berdiri tegak beberapa langkah dari ledakan tanahyangmenghambur itu. “Nah, lihat,” berkata Mahisa Pukat, “ saudarakumasih tetap tegar.” “Tetapi kau tidak akan dapat bertahan,” geram Empu Pitrang. Mahisa Pukat pun telah dengan sungguh-sungguh memperhatikan setiap gerak lawannya yang menurut perhitungannya tentu akan segera sampai pada ilmu pamungkasny a, sebagaimana Empu Angin. Sebenarnyalah bahwa Empu Pitrang pun telah mempertimbangkan untuk membunuh saja anak muda itu dengan ilmu pamungkasny a. Agaknya sulit baginya untuk berusaha menangkap anak itu hidup-hidup. Sebagaimana Empu Angin pun telah melontarkan ilmu tertinggi yang dimilikinya tanpa mempertimbangkan lagi usaha untuk menangkapnya hidup-hidup. Karena itu, ketika Empu Pitrang mendapat kesempatan, maka ia pun telah mengacukan tombaknya ke arah Mahisa Pukat. Dengan satu hentakan ilmu,maka tombak itu seakanakan telah meny emburkan api yang mematuk ke arah tubuh Mahisa Pukat. Mahisa Pukat yang telah bersedia menghadapi serangan itu pun dengan serta merta telah meloncatmenghindar, sehingga api yang meluncur itu tidakmengenainya. Namun Mahisa Pukat pun mengetahui, betapa dahsy atnya serangan itu. Jika api yang  menyembur dan meluncur cepat itu mengenainya, maka tubuhnya tentu akan menjadi hangus terbakar. Namun, dalam keadaanyang  gawat itu Mahisa Pukatmasih mampu menilai bahwa serangan Empu Angin nampaknya lebih berbahaya dari serangan Empu Pitrang. Untuk beberapa saat Mahisa Pukat masih berusaha mengatasi ilmu itu dengan kemampuan ilmu pedangnya. Jika serangan itu datang, maka Mahisa Pukat telah meloncat melenting untuk menghindar. Namun tiba-tiba saja ia telah meloncat meny erang dengan pedangnya yang terjulur panjang. Tetapi ternyata sulit juga bagi Mahisa Pukat untuk menggapai orang itu dengan ujung pedangnya. Sementara itu, pertempuran pun sudah menjadi semakin pa sti. Keseimbangannya telah banyak berubah. Mahisa Semu yang bertempur melawan seorang Putut ternyata menunjukkan kemampuan ilmu pedangnya yang tinggi. Dengan demikian,maka disaat-saat terakhir, Mahisa Semu telah berhasil mendesak lawannya sehingga pada suatu saat, Putut itu tidak lagi mampu mengelakkan serangan Mahisa Semu. Ketika pedang Mahisa Semu terayun dengan deras menyilang, maka ujung pedang itu telah meny entuh dada lawannya. Kulit Putut itu pun telah terkoyak karenanya. Sebuah luka telahmenganga. Namun Putut itu ternyata memiliki daya tahan yang sangat kuat. Meskipun dari lukanya darah telah mengalir, namun ia masih bertempur dengan sengitnya. “Meny erahlah,” berkata Mahisa Semu, “atau kau akan kehabisan darah.” “Persetan,” geram Putut itu, “aku akan memenggal lehermu.” Tetapi ternyata bahwa Mahisa Semu bergerak jauh lebih cepat dari Putut itu. Mulutnya belum lagi terkatub, ujung pedang Mahisa Semu telah menggapai tubuh itu. Meskipun Putut itu meloncat mengelak, tetapi pundaknya masih juga tergores sehingga terluka. Putut itu mengumpat semakin kasar. Namun serangan Mahisa Semumenjadi semakinmenekan pula. Namun Mahisa Semu masih juga memperingatkannya kembali, “Ma sih ada kesempatan untukmeny erah.” Tetapi orang itu sama sekali tidakmau menyerah. Ia ingin mempergunakan saat Mahisa Semu memperingatkannya itu. Dengan serta merta ia meloncat sambil menebas dengan pedangnyamendatar ke arah leher. Jika pedang itu dapat mengenai sasarannya,maka Mahisa Semu benar-benar akan kehilangan kepalanya. Serangan itu ternyata disertai dengan hentakkan kekuatannya yang  tersisa. Meledak dan begitu tiba-tiba. Namun Mahisa Semu yang  telah bersiaga sepenuhnya itu melihat kedatangan serangan itu. Karena itu, dengan tangkasnya, hampir di luar sadarnya, anak muda itu telah mengelak sambil merendah. Namun tangannya telah menjulurkan pedangnya justru meny ongsong loncatan tubuh lawannya yang mengayunkan senjatanya. Yang terdengar adalah jerit kesakitan. Ujung pedang Mahisa Semu yang  teracu lurus ke depan itu telah menghunjam ke tubuh Putut itu justru karena dorongan tubuh Putut itu sendiri. Mahisa Semu pun kemudian dengan tangkasnya meloncat bangkit sambilmenarik pedangnya. Sejenak Putut itu terhuyung-huyung. Namun kemudian iapun telah terjatuh seperti sebatang pohon pisang. Tidak bertenaga sama sekali. Mahisa Semu termangu-mangu sejenak. Ujung pedangnya ternyata sempatmenembus dada orang itu sampai ke jantung. Ketika pedang itu ditarik, maka tubuh itu sudah tidak bernyawa lagi. Sementara itu, maka pasukan Empu Angin dan Empu Pitrang benar-benar sudah tidak mampu lagi mempertahankan dirinya. Karena itu, maka beberapa orang dengan licik justru berusaha untukmenghindari pertempuran. Mereka justru menjauhi para cantrik dan lawan-lawan mereka yang lain. Bahkan kemudian,mereka menjadi putusa sa. Namun ternyata mereka masih mencoba untuk menunggu sambil berusaha meny elamatkan diri mereka. Jika saja Empu Angin dan Empu Pitrang berhasil, maka dalam keadaan yang gawat sekalipun, mereka akan dengan cepat dapat menyapu lawan-lawanmereka. Tetapi yang  terjadi tidak seperti yang dikehendaki. Para cantrik Bajra Seta justru semakin menguasai medan yang mereka kenal dengan baik itu. Gelar Wulan Tumanggal rasa-rasanya menjadi semakin menjepit mereka. Orang-orang yang berusaha menghindari benturan kemampuan dengan para cantrik Bajra Seta dan ber sembunyi di belakang kawan-kawan mereka yang  masih mempunyai keberanian untuk bertempur, tidak mendapat tempat lagi. Karena itu, maka di luar kehendak mereka, maka mereka berusaha untuk tetap hidup dengan mempertahankan diri mereka masing-masing. “Meny erah sajalah,” berkata para cantrik yang telah menguasaimedan. Memang ada di antara mereka yang berpendapat, lebih baik menyerah daripada jantung mereka ditembus oleh ujung senjata. Tetapi hal itu sama sekali tidak dikehendaki oleh Empu Angin maupun Empu Pitrang. Dengan lantang Empu Angin berteriak, “Siapa yang berkhianat akan aku bunuh bersama orang-orang dari padepokan Bajra Seta.” Namun untuk membunuh seorang lawannya yang  masih muda, Empu Angin tidakmampu melakukannya. Serangannya dengan sambaran petir yang mendebarkan jantung itu tidak mampu mengenai sa sarannya. Semakin menghentak-hentak kemarahan di dadanya, serta semakin gelisah Empu Angin karena keadaan pasukannya, maka serangannya justru menjadi semakin jauh dari sasaran. Tetapi Empu Angin benar-benar tidak mau berhenti. Semakin lama serangannya menjadi semakin sering. Bahkan kemudian serangannya datang susul menyusul tidak hentihentinya. Betapa pun Mahisa Murti memiliki kemampuan untuk menghindari serangan itu, namun jika sambaran lidah api yang meloncat dari tangannya itu datang beruntun, susul menyusul,maka Mahisa Murti pun mengalami kesulitan pula. Ia harus meloncat, berguling, melenting berdiri dan menjatuhkan dirinya lagi. Sementara itu nampaknya Empu Angin itu sama sekali tidak berniat untukmeny erah meskipun pa sukannya benar-benar telah dihancurkan. Karena itu, maka Mahisa Murti pun tidak lagi memperpanjang kesempatan lagi bagi Empu Angin. Ia sudah cukup lama menunggu, namun justru serangan-serangannya sa jalahyang menjadi semakin deras datang susul-menyusul. Dengan demikian, maka Mahisa Murti pun akhirnya sampai kepada satu keputusan untukmenghentikan seranganserangan itu. Sementara Empu Angin masih aja menyerang dengan sengitnya, maka Mahisa Murti masih mencoba untuk sekali lagi berteriak, “Empu. Kau sudah kehabisan kekuatan. Meny erahlah.” Namun Empu Angin telah menjawab dengan lontaran ilmunya yang  garang. Serangan lidah api yang meluncur dari telapak tangannya. Mahisa Murti masih juga harus meloncat menghindari serangan itu dengan kecepatanyang sangat tinggi. Namun serangan itu merupakan serangan yang terakhir. Mahisa Murti benar-benar tidak memberi kesempatan lagi kepada Empu Angin yang menganggap bahwa anak muda itu hanya mampu berloncatan menghindari seranganserangannya. Ketika kemudian Empu Angin meny erangnya sekali lagi, Mahisa Murti tidak berusaha untukmenghindarinya. Tetapi ia telah membalas serangan itu dengan serangan pula. Ketika Mahisa Murti kemudian juga mengangkat tangannya, maka ilmunya pun telah meloncat meluncur menyambar serangan Empu Anginyang menyambar ke arahnya. Dengan demikian, dua kekuatan ilmu telah saling berbenturan dengan dahsyatnya di udara. Namun yang getarannya telah memental kembali memukul ke arah sumbernya. Mahisa Murtimemang terdor ong selangkah surut. Dadanya terasa dihentak oleh kekuatan yang  besar, sehingga terasa menjadi sesak. Namun Mahisa Murti dengan cepat berusaha mengatasinya dengan daya tahan tubuhnya yang sangat tinggi. Sementara itu, yang  terjadi pada Empu Angin adalah bencana yang  mengakhiri bukan saja perlawanannya, tetapi juga hidupnya. Dengan kerasnya Empu Angin telah terhempas beberapa langkah surut. Kemudian seakan-akan telah terbanting jatuh berguling beberapa kali. Ia hanya dapat menggeliat. Namun kemudian, nafasny a pun telah terputus di ker ongkongan. Kematian Empu Angin adalah satu pukulan yang  sangat pahit bagi Empu Pitrang. Meskipun ia masih melawan dengan tombak pendeknya dan dengan ilmunya yang garang, namun Mahisa Pukat ternyata tidak dapat ditundukkannya. Semburan api dari senjatanya sama sekali tidak mampu mematahkan perlawanan Mahisa Pukat dengan ilmu pedangnya. Bahkan semakin lama ujung pedang itu menjadi semakin dekat berterbangan seperti seekor ny amuk di telinganya. Mahisa Pukat mempergunakan setiap kesempatan untuk meloncat mengurangi jarak. Meskipun setiap kali Empu Pitrang berusaha menjauh dan meny erang dengan semburan api dari ujung senjatanya, namun ia memang tidak dapat mengatasi kemampuan ilmu pedang lawannya yang masih muda itu. Demikian serangan apinya meluncur lepas dari sa saran, maka Mahisa Pukat telah meloncat dan meny erang dengan ujung pedangnya. Beberapa kali Mahisa Pukat berhasil menekan Empu Pitrang sehingga tidak sempat mempergunakan ilmunya. Namun pada kesempatan lain, ia masih mampu melepaskan diri dari libatan pedang Mahisa Pukat dan kembali meny erang dengan ilmunya yang mendenbarkan itu. Namun Mahisa Pukatmasih mempunyai keyakinan, bahwa ia akan mampu menghentikan perlawanan itu dengan ilmu pedangnya saja, tanpa ilmu pamungkasnya. Tetapi ternyata usaha Mahisa Pukat tidak segera berhasil. Meskipun dalam keadaan yang sulit, namun Empu Pitrang masih juga mampu melepaskan ilmunya yang  akan dapat membakar tubuh Mahisa Pukat. Sementara itu pertempuran yang sebenarnya sudah hampir berhenti sama sekali. Hanya sekelompok orang yang seakanakan berniat untuk membunuh dirinya sajalah yang  masih memberikan perlawanan. Terutama para pengikut Empu Pitrang. Seperti Empu Angin,maka Empu Pitrang sama sekali tidak menghiraukan ketika Mahisa Pukat memberinya peringatan untukmeny erah. Sehingga karena itu,maka Mahisa Pukat pun menjadi jemu untuk bertempur terusberlama-lama. Dengan demikian maka Mahisa Pukat telah merubah niatnya untuk menundukkan lawannya dengan ilmu pedangnya. Selain memerlukan waktu yang panjang,maka jika ia lengah sedikit saja, maka ilmu lawannya akan dapat membakarnya. Karena itu, maka ketika beberapa kali serangan Empu Pitrang harus dihindari dengan loncatan-loncatan panjang serta sekali-sekali menjatuhkan diri dan berguling di tanah, maka Mahisa Pukat pun kemudian telah mengetrapkan ilmunya yang palingmenggetarkan. Dengan tangkas Mahisa Pukat mengelakkan serangan terakhir Empu Pitrang yang  meluncur ke arahnya. Mahisa Pukat yang menjatuhkan dirinya itu berguling sekali. Namun tanpa bangkit lagi, diacukannya ujung pedangnya, mengarah ke tubuh Empu Pitrang. Seberkas sinar yang kehijau-hijauan telah meluncur dari ujung pedang itu menyambar ke arah lawannya. Empu Pitrang melihat serangan itu. Namun, dengan menengadahkan dadanya Empu Pitrang tidak berniat menghindar. Bahkan dengan hentakkanyang dilandasi dengan segenap kekuatannya yang tersisa serta kemampuannya pada puncak ilmunya, Empu Pitrang membentur serangan itu dengan ilmunya pula. Api yang merah meny embur dari ujung senjatanyameny ongsong serangan Mahisa Pukat. Kedua kekuatan ilmu itu pun berbenturan, Empu Pitrang bahkan Sempat berteriak dengan kerasny a, “Kau akanmenjadi lumat karenanya.” Mahisa Pukat masih bertiarap sambil mengacukan ujung pedangnya. Dilihatnya sekejap kemudian benturan yang dahsy at telah terjadi, ia pun merasakan getaran dari benturan itu seakan-akan telah terpentalmenghantam dirinya sendiri. Namun dengan kekuatan day a tahannya, Mahisa Pukat tetap tidak tergeser dari tempatnya, meskipun nafasnya menjadi sesak. Tetapi sementara itu, terdengar teriakan yang bagaikan menghentak langit, Empu Pitrang yang  marah, dendam dan kecewa itu telah terlempar beberapa langkah surut. Namun getaranyang membentur dadanya seakan-akan telah meremas jantung. Ternyata Empu Pitrang pun tidak mampu bertahan. Dadanya seakan-akan telahmenjadi hangus. Karena itu,maka seperti Empu Angin, maka Empu Pitrang pun kemudian terbaring diam. Jantungnya yang  terbakar tidak lagi berdetak di dadanya. Dengan demikian maka pertempuran pun telah berhenti. Satu dua orang cantrik kedua orang yang terbunuh itu,masih sa ja dengan mengamuk sejadi-jadiny a, justru dengan tekad untukmati bersama-sama gurumereka. Namun sejenak kemudian, maka pertempuran itu pun benar-benar telah berhenti. Beberapa orang justru tertawan. Namun dalam keadaan yang  terakhir, justru ketegangan mencengkam di saat-saat kedua pemimpin padepokan yang menyerang perguruan Bajra Seta itu terbunuh, disamping orang-orang yang  sengaja membunuh diri untuk membela kematian pemimpin mereka, ternyata ada juga di antara para cantrik yang  sempat melarikan diri. Di antara mereka yang hilang dari pertempuran adalah petugas sandi dari Kediri yang disebut Kecubung Ungu. Ternyata petugas sandi itu memang licin. Ia masih mampu melepaskan diri dari tangan para cantrik di padepokan Bajra Seta itu. Apalagi ia memang sudah memperhitungkan, bahwa kesombongan Empu Angin dan Empu Pitrang akan meny eret mereka ke dalam kesulitan. Bahkan kemusnahan. Dalam pertempuran itu, ternyata beberapa korbanmemang telah jatuh. Seperti yang terdahulu,maka di antara anak-anak muda yang  dengan suka-rela membantu padepokan Bajra Seta itu pun telah jatuh korban pula. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat menundukkan kepala mereka. Dengan nada dalam Mahisa Murti berkata, “Apa yang  dapat aku katakan kepada keluarga mereka yang gugur? Dahulu aku pernah mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga atas pengorbanan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan itu. Apakah sekarang aku cukup mengulangi pernyataan terima kasih itu? Sementara itu, keluargamereka benar -benar telah gugur di padepokan ini?” “Kita saling memerlukan,” berkata salah seorang di antara pemimpin anak-anak muda dari padukuhan itu, “karena itu, maka kitamemang salingmembantu dan saling berkorban.” “Pengorbanan apa yang  pernah kami berikan kepada kalian?” desisMahisa Murti. “Kami mendapat banyak sekali ilmu dan pengetahuan dari padepokan ini meskipun kami tidak menyatakan diri sebagai cantrik dari perguruan Bajra Seta. Tetapi kamimerasa bahwa kami adalah keluarga dari padepokan Bajra Seta. Sehingga dengan demikian kami memang wajib untuk ikut mempertahankannya.” Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi pengertian semacam itu telah didengarnya sejak semula, mereka ikut dalam kegiatan padepokan Bajra Seta. Tetapi sudah tentu tidak harus dibayar dengan jiwamereka. Untunglah bahwa sebagian besar korban di antara anakanak muda dari padukuhan-padukuhan itu hanya terluka. Namun ada juga yang ternyata telah gugur di pertempuran. Meskipun hanya tiga orang. Sedangkan yang  terluka cukup parah empat orang, sedangkan yang terluka ringan terdapat duabelas orang. Jumlah cantrik padepokan yang  menjadi korban memang lebih banyak. Tetapi itu adalah memang tanggung jawab mereka untukmempertahankan perguruanmereka. Dengan wajah murung Mahisa Murti itu berdesis di telinga Mahisa Pukat, “ Jika hal seperti ini sering terjadi, maka orangorang padukuhan di sekitar padepokan ini akan mengutuk kehadiran padepokan ini, karena setiap saat ada saja anakanakmudamereka yang  terbunuh.” “Kita harus berusaha bahwa jika terjadi benturan kekuatan diwaktu-waktumendatang, kita tidak usahmembiarkan anakanak muda itu berada di padepokan,” berkata Mahisa Pukat, “kita berterima kasih atas kesediaan mereka. Tetapi mereka tidak seharusnya gugur dalam pertempuran seperti ini. Mereka masih muda sehingga mereka merupakan harapan bagi keluarga mereka. Agak berbeda dengan keadaan kita yang memang telah bulat meny erahkan diri bagi sebuah perguruan.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun sekali lagi ia harus menemui orang tua anak-anak muda yang  menjadi korban. Yang gugur,maupunyang luka-luka. Sementara itu, para cantrik pun menjadi sibuk. Mereka harusmengumpulkan kawan-kawan mereka yang  terluka dan yang telah gugur. Demikian pula orang-orang yang tinggal di padukuhanyang  baru itu. Selain itu, para cantrik pun harus mengurus orang-orang yang meny erah. Tetapi juga di antara lawan mereka yang terbunuh dan terluka. Hari itu seisi padepokan memang menjadi sibuk. Baru menjelang tengah malam kesibukan mereka berkurang. Namun mereka masih harus mengawasi para tawanan yang hampir kelaparan, sekaligusmeny ediakan makan dan minum buatmereka. “Jika mereka sempat makan sebelum bertempur, mungkin tenaga mereka akan jauh lebih besar dari yang kita hadapi hari ini,” berkata salah seorang cantrik yang ikut membakar persediaan makanan dan perbekalan pasukan yang hendak menyerang padepokan Bajra Seta itu. “Ya, terutama setelah matahari mencapai puncak langit,” jawab kawannya. Sebenarnyalah bahwa tanpa persediaan makan dan minum menjelang pasukan itu berangkat ke medan, ternyata pengaruhnya cukup besar bagi ketahanan pasukan. Namun dalam pada itu, ketika sebagian besar dari para cantrik beristirahat, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tengah membicarakan per soalan yang  mereka hadapi. Keduanya menyadari, bahwa kehadiran pasukan itu tentu ada hubungannya dengan pendengaran mereka atas sikap Kediri sebagaimana dikatakan oleh petugas sandi yang akan membunuh kawannya sendiri itu. “Kita tidak dapat cukup bahan dari orang-orang yang  tertawan,” berkata Mahisa Pukat, “yang mereka ketahui adalah pemimpin mereka masing-masing. Empu Angin dan Empu Pitrang. Selebihnyamereka tidak tahu apa-apa.” “Ya. Meskipun satu dua di antara mereka sadar atau tidak sadar telah mengatakan hubungan antara serangan mereka dengan sikap Kediri. Tetapi yang  mereka ketahui memang terlalu sedikit,” jawab Mahisa Murti. “Sekarang, bagaimana sikap kita selanjutnya? Apakah kita tidak akan melaporkan hal ini kepada Singasari. Tetapi jika kita pergi ke Singasari, bagaimana dengan padepokan ini sepeninggal kita? Atau seorang dari kita pergi ke Singasari, yang lainmenunggui padepokan ini,” berkataMahisa Pukat. “Mungkin itu adalah satu-satunya jalan,” jawab Mahisa Murti, “salah seorang dari kita pergi ke Singasari.” “Baiklah,” desis Mahisa Pukat, “biarlah aku pergi ke Singasari. Kau tinggal di sini, menyelesaikan persoalan yang sedang kita hadapi. Namun jika terjadi sesuatu, padepokan ini tidak kosong sama sekali.” Mahisa Murtimengangguk-angguk. Katanya, “berapa orang kau perlukan untuk meny ertaimu dalam perjalanan ke Singasari?” “Aku hanya memerlukan Mahisa Semu. Biarlah ia ikut pergi ke Singasari. Sementara paman Wantilan dapat kau jadikan kawan berbincang-bincang di Samping para cantrik yang sudah dianggap memiliki wawasan yang  cukup luas,” jawab Mahisa Pukat. Mahisa Murti termangu-mangu. Rasa -rasanya memang sulit untukmelepas Mahisa Pukat hanya dengan Mahisa Semu pergi ke Singasari justru dalam keadaanyang  gawat itu. Namun agaknya Mahisa Pukat sudah membulatkan hati untuk melakukannya. Ia menolak ketika Mahisa Murti menawarkan beberapa orang cantrik terpilih untuk meny ertai perjalanannya. “Semakin banyak orang akan semakin menarik perhatian,” jawab Mahisa Pukat. Namun akhirnya Mahisa Murti berkata, “Sebaiknya kau membawa sepa sang pedang kita. Jika sepasang pedang itu menyatu,maka kekuatannya akan bertambah. Demikian pula jika kau pergunakan sebagai pintu lontaran ilmumu.” Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Kau memerlukannya. Agaknya padepokan ini masih saja diintai oleh kekuatan-kekuatan yang tidak kita ketahui sebelumnya.” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Pukat berkata, “Agaknya di perjalanan aku akan lebih aman daripada kau yang tinggal di padepokan.” Mahisa Murtimemang tidakmemaksa Mahisa Pukat untuk membawa sepasang pedang. Agaknya Mahisa Pukat merasa bahwa ia cukup membawa sebuah saja dari sepasang pedang itu. Akhirnya kedua anakmuda itu memutuskan bahwa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu akan pergi ke Singasari berselang sehari setelah segala sesuatunya diselesaikan. Sebenarnyalah dihari yang sudah ditentukan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah siap untuk berangkat. Bukan saja siap dengan segala macam bekal yang  diperlukan. Tetapi juga siap untukmelakukan tugasmereka sebaik-baiknya. Satu hal yang  jarang terjadi bahwa Mahisa pukat akan melakukan tugasnya tanpa Mahisa Murti. Demikian pula sebaliknya. Namun keduanya sadar, bahwa mereka tidak akan dapat selalu bersama-sama. Pada suatu saat maka mereka memang harus melakukan tugas yang  berbeda meskipun untuk kepentingan bersama. Mahisa Semu memang merasa bangga, bahwa ia mendapat kepercayaan untuk ber sama-sama dengan Mahisa Pukat melakukan tugas yang penting. Namun Mahisa Semu pun sadar, bahwa ia harus ikut bertanggung jawab agar tugasnya dapat berhasil dengan baik. Sebelum matahari terbit, maka keduanya telah meninggalkan padepokan. Mahisa Murti, Wantilan dan para cantrikmelepaskanmereka sampai ke regol. Dalam keremangan pagi keduanya berpacu menembus kabutyang  turun perlahan-lahan menjelangmatahari terbit di sebelah Timur. Demikian keduanya hilang dari pandangan mereka yang  berdiri diregol padepokan,maka pintu gerbang padepokan itu pun telah ditutup kembali. Mereka yang  tinggal di padepokan hanya dapat berdoa, semoga perjalanan Mahisa Pukat dan Mahisa Semumendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Sementara itu, kedua orang anakmuda yang meninggalkan gerbang padepokan itu meluncur seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka berpacu disepanjang jalan, meskipun tidak terlalu kencang agar kuda mereka tidak cepat menjadi letih. Namun demikian,maka keduanya telah memilih jalanyang  tidak terlalu ramai agar perjalanan mereka tidak banyak mendapat hambatan. Mereka menyadari sepenuhnya, bahwa mereka akan menempuh jalanyang  panjang. Disaat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu berpacu di atas punggung kudanya, maka Mahisa Murti masih saja sibuk dengan para cantrik yang terluka. Bahkan anak-anak muda padukuhan di sekitar padepokan itu yang terluka masih pula di rawat di padepokan itu agar mereka mendapat pengobatan yang baik dan teratur. Sedangkan di antara mereka yang terluka adalah para cantrik dari kedua padepokan yang  telah menyerang padepokan Bajra Seta itu. Namun Mahisa Murti berharap, bahwa para tawanan itu akan dapat bersikap lebih baik dari para tawanan yang terdahulu, yang  terdiri dari para penjahat yang  mendendam. Sedangkan para penjahat itu pun ternyata mampu dijinakkannya. Sehingga karena itu, maka Mahisa Murti pun berharap bahwa para cantrik itu pun akan dapat dijinakkannya pula. *** Ketika kemudian mataharimenjadi semakin tinggi, Mahisa Pukat telah menjadi semakin jauh. Mereka telah berada di lingkungan yang tidak banyak mereka kenal. Namun Mahisa Pukat sebagai pengembara tidak akan menjadi bingung dan kehilangan arah. Ditengah hari saat matahari ada dipuncak langit, maka keduanya telah beristirahat disebuah kedai yang  cukup besar di sudut sebuah pasar yang  ramai. Meskipun matahari sudah tepat berada di atas kepala, tetapi masih saja ada orang yang keluarmasuk pasar itu. Tetapi semakin lama memangmenjadi semakin jarang. Orang-orang yang  berjualan pun mulai membenahi barang -barang dagangannya. Namun demikian kedai itu masih banyak dikunjungi orang. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu ternyata mendapat kedai yang pelay anannya cukup baik. Kuda mereka pun mendapatkan minum air jernih dan mendapat rumput yang segar. Tetapi selagimereka menegukminuman hangat yang telah dihidangkan oleh pelayan kedai itu serta mulai menyuapi mulut mereka dengan nasi yang masih hangat pula, mereka dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang yang  memasuki kedai itu. Seorang anakmuda dengan pakaian yang lebih baik dari orang kebanyakan diiringi oleh tiga orang pengawalnya. Sikap anak muda itu juga menunjukkan bahwa ia memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Sebenarnyalah beberapa orang yang sudah ada di kedai itu serentak bangkit berdiri sambilmembungkuk hormat. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang  tidak mau menimbulkan per soalan telah bangkit pula sebagaimana orang lain sertamembungkuk hormat pula. Tanpa menghiraukan orang-orang yang menghormatinya, anak muda itu pun telah mengambil tempat ditengah-tengah ber sama ketiga orang pengawalnya. Dengan tergopoh-gopoh pelayan kedai itu mendekatinya menunggu perintah anak muda itu. Yang memberikan pesanan kepada pelay an itu ternyata bukan anak itu sendiri. Tetapi seorang di antara para pengawalnya berkata, “Bukankah kau sudah terbiasa dengan kesenangannya? Nah, berikan semangkuk wedang asem. Ingat, jangan terlalu asam. Gulanya gula aren. Bukan gula kelapa. Mengerti.” “Ya,ya Ki Sanak,” jawab pelay an itu. “Kemudian tiga mangkuk wedang sere untuk kami bertiga,” berkata orang itu pula. “Ya. Ya Ki Sanak. Tetapi apakah aku juga harus menyediakan makan?” bertanya pelayan itu. Pengawal itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian bertanya, “Apakah anakmas ingin makan?” “Ya,” jawab anakmuda itu pendek. Orang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian kepada pelayan kedai itu, “Ya. Seperti bia sanya. Nasi hangat. Jangan diberi sayur atau laukyang  pedas.” “Daging ayam yang  basah atau yang  kering?” bertanya pelayan itu. “Kau sudah tahu kebiasaannya,” desis pengawal itu. “Jeroan basah,” berkata pelay an itu. “Nah, ternyata kau masih mengingatnya,” jawab pengawal itu. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sempat memperhatikan sejenak. Tetapi tidak ada masalah apa pun yang  terjadi. Anak muda yang  nampaknya terhormat itu pun tidak berbuat apaapa kecuali duduk diam menunggu pesannya. Para pengawalnya tidak menunjukkan sikap yang menarik perhatian. Seorang dari antara para pengawal itu berpesan minuman dan makanan secarawajar. Sementara itu pengawalnya itu pun berkata, “jangan lupa. Kami pun ingin makan. Tiga mangkuk nasi dengan sambal. Dendeng ragi dan lalapan. Ingat?” “Ya. Ya Ki Sanak,” pelay an itu mengangguk-angguk. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak memperhatikan mereka lagi. Bia sa saja. Tidak ada yangmenarik perhatian. Orang-orang lain yang ada di kedai itu pun nampaknya tidak memberikan perhatian khusus kecuali saat anak muda itu masuk. Mereka berdiri danmenghormat. Termasuk Mahisa Pukat. Tetapi yang menarik perhatian Mahisa Pukat justru orangorang yang ada di kedai itu satu-satu telah meninggalkan tempat dudukmereka. Seorang demi seorang telah membayar makanan dan minuman mereka untuk seterusny a bangkit berdiri dan melangkah keluar lewat pintu samping. Bahkan kemudian kedai itu menjadi hampir kosong karenanya. Dua orang yang telah berhenti di depan pintu pun mengurungkan niatnyauntukmasuk. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yangmasih makan itu pun saling berpandangan sejenak. Namun karena mereka tidak tahu kenapa hal itu terjadi, maka mereka masih saja melanjutkan makan dan minum. Sesaat kemudian, maka pelayan kedai itu pun telah menghidangkan pesanan anak muda dengan ketiga pengawalnya. Minuman dan makan. Mereka nikmati pesanan mereka itu tanpamenghiraukan keadaan di sekitarnya. Anak muda itu ternyata bukan anak muda yang banyak tingkah. Ia terima saja minuman danmakanyang dihidangkan oleh pelay an kedai itu. Nampaknya pelay an itu pun telah terbiasa dengan kesukaan anakmuda itu. Namun yang Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menjadi heran, pelay an itu kemudian telah menghidangkan minuman pula kepada mereka tanpa diminta. Tetapi sebelum Mahisa Pukat dan Mahisa Semu bertanya, pelayan itu telah berbisik, “Akan terjadi kerusuhan di sekitar tempat ini.” “Kenapa?” desis Mahisa Pukat. “Anak muda itu datang untuk memenuhi tantangan sekelompok anakmuda yang lain,” jawab pelayan itu. “Siapakah anak muda itu?” bertanya Mahisa Semu perlahan-lahan. “Putera Ki Buyut,” jawab pelay an itu. Lalu katanya pula sambil memungutmangkuk-mangkuk yang kotor, “Lawannya anak muda saudagar yang kaya dari Kabuyutan sebelah. Daerah ini adalah daerah perbatasan.” “Apakah soalnya?” bertanya Mahisa Semu. “Kedua-duanya masih muda. Kedua-duanya mencintai gadis yang sama. Tanpa sepengetahuan gadis itu, mereka bertaruh di perbatasan ini,” jawab pelayan itu, “karena itu orang-orang lain memilih telahmenyingkir.” Mahisa Pukat masih ingin bertanya lagi. Tetapi pelay an itu sudah menjadi gelisah. Dengan cepat ia benahi mangkukmangkuk kotor dan bahkan mangkuk minuman kedua anak muda itu meskipun masih belum dihabiskan. Tetapi mereka sudah digantiminumanyang  baru. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat berbisik di telinga Mahisa Semu, “Apakahmereka hanya berempat?” Mahisa Semu justru ingin melihat apa yang telah terjadi. Karena itumaka katanya, “Kita duduk saja di sini.” Ternyata Mahisa Pukat mengangguk kecil. Namun dalam pada itu, salah seorang pengawal anak muda itu tiba -tiba saja berkata, “Yang dikatakan oleh pelay an kedai itu memang benar anak-anakmuda.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu terkejut. Ternyata orang itu mengerti apa yang  diberitahukan oleh Pelay an itu. Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Semu memandang pelayanyang membawa mangkuk-mangkuk kotor itu, nampak bahwa pelay an itu pun terkejut. Tetapi pengawal anak muda itu berkata, “Meskipun aku tidak mendengar apa yang  kalian bicarakan, tetapi menilik sikap kalian, maka aku tahu bahwa pelayan itu memberitahukan, bahwa kami sedang menunggu orang yang menantang kami. Agaknya pelay an itu juga minta kalian meninggalkan tempat ini agar kalian tidak terlibat.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak menjawab. Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Jika kalian tidak ingin mengalami kesulitan, sebaiknya kalian memang menyingkir.Orang-orang yangmenantang kami adalah orangorang yang kadang -kadang tidak sempat berpikir panjang. Karena itu, aku pun sependapat dengan pelayan itu, tinggalkan tempat ini jika kalian sudah merasa cukup makan dan minum.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu justru mendjapat kesan yang baik pada orang-orang itu. Anak muda itu memang agaknya tidak peduli kepada keadaan di sekitarnya. Tetapi mungkin karena ia terlalu manja atau sedikit sombong. Tetapi ia bukan orang yang sering membuat kesulitan pada orang lain. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun menjawab, “Terima kasih Ki Sanak. Tetapi perkenankan kami menghabiskan minuman kami.” “Silahkan. Kami memang tidak mengusir kalian,” jawab pengawal itu, “tetapi kami tidak mau meny eret kalian dalam kesulitan karena kalian tidak tahu menahu per soalan yang sedang kami hadapi.” “Terima kasih Ki Sanak,” jawab Mahisa Pukat. Di luar dugaan, anak muda itu justru telah bangkit dan melangkah mendekati Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan ia pun telah duduk bersamamereka. “Sebenarnya aku tidakmenghendaki peny elesaian cara ini,” berkata anakmuda itu. “Apa yang  terjadi?” di luar sadarnya Mahisa Pukat telah bertanya. “Persoalan yang  sebenarnya memalukan. Seorang gadis. Tetapi aku pun merasa malu jika tantangannya tidak aku terima. Ia menantang aku berkelahi. Siapa yang  kalah harus minggir,” jawab anak muda itu. Lalu katanya, “Tetapi jika hal ini diketahui gadis yang  sama-sama kami cintai itu,maka aku justru menduga, bahwa gadis itu akan meninggalkan kami berdua.” “Sebaiknya kau abaikan saja tantangan itu,” berkata Mahisa Pukat. “Mereka akan menghina aku. Bukan saja aku, tetapi seluruh anakmuda di Kabuyutanku, karena aku adalah anak Ki Buyut yang dianggap mewakili semua anak-anak muda di seluruh Kabuyutan.” Mahisa Pukatmengangguk-angguk. Ia memang tidak dapat melihat kemungkinan lain kecualimenerima tantangan itu. Namun dalam pada itu, seorang pengawalnya telah mendekatinya sambil berkata, “Marilah. Duduklah di sana agar anak-anakmuda itu tidak terlibat.” Anakmuda itumenarik nafas dalam-dalam. Katanya sambil bangkit berdiri, “Hati-hatilah. Tetapi sebaiknya kau menyingkir.” “Terima kasih. Nanti jika minumku habis,” jawab Mahisa Pukat. Anak muda itu tidak menghiraukannya lagi. Tetapi ia kembali duduk di tengah-tengah kedai itu. Diteguknya minumannya yang  masih tersisa. Namun kemudian ia duduk sa ja sambilmemandang kekejauhan. Tetapi mereka terkejut ketika tiba -tiba muncul dari pintu samping seorang bertubuh tinggi tegapmembawa tongkat baja yang kehitam-hitaman. “Ternyata kau datang,” geramnya. Anak muda itu berpaling. Dahinya berkerut. Katanya, “Di mana anak itu?” “ Ia ada di sebelah. Ia sudah menunggu,” jawab orang bertubuh tinggi tegap itu. Anak muda itu tidakmenunggu lagi. Ia pun segera bangkit dan melangkah keluar kedai itu lewat pintu samping. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah beringsut pula. Mereka membayar makanan dan minuman mereka. “Kalian akan kemana?” bertanya pelayan kedai itu. “Melihat,” jawab Mahisa Pukat. “Jangan. Lebih baik kau meny ingkir saja. Kau jangan mainmain dengan persoalan seperti ini. Mungkin anak Ki Buyut itu tidak berbuat apa -apa atas kalian. Tetapi para pengawal anak saudagar itu sering berbuat aneh-aneh di sini,” jawab pelay an itu. Tetapi Mahisa Pukatmenjawab, “Terima kasih. Tetapi kami ingin melihat apa yang terjadi. Kamimemang tidak akan ikut campur.” Pelay an itu tidakmencegah mereka lagi. Sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah masih di dalam kedai, tetapi di depan pintu samping. Ternyata seseorang telah memindahkan kuda mereka ke sebelah lain. Agaknya tempat itu akan dipergunakan untuk melakukan perkelahian antara kedua orang anakmuda. Ternyata yang  disebut anak saudagar kay a itu memang seorang yang  berwajah keras. Juga masih muda. Sambil tersenyum ia melangkah ke tengah-tengah halaman samping yang agak luas. “Ternyata kau juga laki-laki,” katanya. Anak Ki Buyut itu tidak menjawab. Ia masih berdiri saja memandangi anakmuda yangmenantangnya itu. “He, kau sudah menjadi tuli atau bisu?” geram anak Ki Saudagar itu. Anak Ki Buy ut itu tidakmenyahut. Namun justru karena itu,maka anak saudagar itu menjadi marah dan berkata, “Baik. Kalau kau tidak dapat lagi mengatakan sepatah kata pun, maka kau akan meny esal, karena kau tidak dapat memberikan pesan apa pun juga kepada pengawal-pengawalmu.” Anak Ki Buyutmasih tetap berdiam diri. Namun tiba -tiba ia ber siaga menghadapi segala kemungkinan. Satu kakinya maju setengah langkah. Kedua tangannya bersilang di depan dadanya sambil sedikitmerendah pada lututnya. “Anak iblis,” geram anak saudagar kay a di Kabuyutan sebelah, “kau kira kuasa ayahmu dapatmenolongmu?” Anak Ki Buyut itu justru maju selangkah sambil mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Sikap itu membuat anak saudagar kaya itu gelisah. Namun kemudian tiba -tiba anak saudagar itu telah menyerang dengan kakinya. Tetapi anak Ki Buyut sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu ketika serangan itu datang, maka anak Ki Buyut itu dengan cepat dapat mengingkarinya. Bahkan ia t idak saja bergeser menyamping. Namun tiba-tiba sa ja ia meloncat maju sambil mengayunkan tangannya mendatar ke samping. Tetapi anak saudagar itu pun telah,mampumengelak pula. Dengan demikian,maka perkelahian di antara kedua orang anak muda itu dengan cepat telah berkembang. Keduanya mengerahkan kemampuan masing-masing. Semakin cepat perkelahian itu berlangsung,maka yang menang akan merasa semakin dihormati oleh anak-anak muda dari kedua Kabuyutan itu. Namun siapakah yang  menang dan siapakah yang  kalah masih belum nampak jelas. Keduanyamasih salingmeny erang dan salingmenghindar. Tiga orang pengawal anak Ki Buyut memperhatikan perkelahian itu dengan seksama. Sementara itu sesuai dengan tantangan anak saudagar itu, pengawal anak saudagar itu juga tiga orang. Termasuk seorang yang  bertubuh raksasa. Sejenak keduanya tenggelam dalam perkelahian yang  sengit. Keduanya masih muda. Keduanya memiliki bekal ilmu yang mapan sehingga dengan demikian maka perkelahian itu semakin lama menjadi semakin sengit. Dalam kekalutan gerak,maka masing -masing telah mampu mengenai tubuh lawannya.Namun pukulan sisi telapak tangan anak Ki Buyut itu telah mampu menggoy ahkan pertahanan anak Ki Saudagar, sehingga hampir saja anak Ki Saudagar itu jatuh terjerembab.Namun ternyata ia cukup tangkas. Ia ju stru telah menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali. Tetapi dengan tangkas pula ia pun telahmelenting bangkit berdiri. Anak Ki Buyut ternyata telah memburunya. Tetapi lawannya sudah siapmenghadapinya. Pertempuran pun telah berlanjut. Keduanya benar-benar mengerahkan segenap kemampuan mereka. Dengan penuh kebencian masing-masing telah berusaha untuk memenangkan perkelahian itu. Tetapi semakin lama ternyata ketahanan tubuh anak Ki Buyut itu nampak lebih baik. Keduanya yang  memiliki kemampuan yang  seimbang itu, telah terpengaruh oleh kelebihan daya tahan tubuh anak Ki Buy ut itu. Karena itu, maka keseimbangan perkelahian itu pun telah berubah. Jika semula keduanya saling meny erang dan saling mempertahankan diri dengan seimbang, lambat laun maka anak Ki Saudagar itu mulai bergeser beberapa langkah surut. Day a tahan anak Ki Buy ut bukan saja mampu mengatasi perasaan sakit dan lelah, namun juga mampu bertahan untuk berkelahi dengan kekuatan dan tenaga yang  hampir tidak berubah. Keringat yang  mengalir dari tubuhnya tidak mempengaruhi kekuatan dan kemampuannya. Karena itu, ketika ketahanan tubuh lawannya mulaimengendor, kekuatan dan kemampuan anak Ki Buyut itu seakan-akan telah meningkat. Anak Ki Saudagar itu sempat mengumpat-umpat. Namun tiba -tiba saja suaranya terputus. Ternyata bibirnya telah tersentuh tangan anak Ki Buyut yang menyerangnya dengan tiba -tiba. Untunglah bahwa sentuhan itu tidak mengakibatkan giginya berpatahan,meskipun terasa sedikit sakit. Para pengawal anak Ki Saudagar dan pengawal anak Ki Buyut yang  masing-masing berjumlah tiga orang memang menjadi tegang. Tetapi setiap kali ketiga orang pengawal anak Ki Buyut itu bersorak kegirangan jika tangan anak Ki Buyut itu mengenai tubuh lawannya. Ketiga orang pengawal anak Ki Saudagar pun berbuat pula demikian. Tetapi sorak yang  menghentak semakin lama semakin sering dilakukan oleh anak Ki Buy ut. Ketiga orang pengawal anak Ki Saudagar itu menjadi cemas. Mereka tidak dapat membiarkan momongan mereka kalah. Karena jika demikian, akibatnya akan buruk sekali bagi mereka. Ki Saudagar tentu akan menjadi sangatmarah. “Kenapa aku tidak berbuat sesuatu,” berkata pengawal anak Ki Saudagar.


Jilid 095
KARENA itu, maka orang bertubuh tinggi tegap itu pun berkata: “Aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku harus mengakhiri kesombongan anak-anak itu.” Orang yang bertubuh tinggi tegap itu pun kemudian telah memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Ia akan bertindak untuk membantu momongannya. Ia tidak peduli apa yang akan dikatakah oleh anak Ki Buyut itu serta para pengawalnya. “Jika para pengawal anak Ki Buyut itu akan ikut campur, kalian dapat meny elesaikan mereka dengan caramu,” berkata orang yang  bertubuh tinggi tegap itu. Tanpa menghiraukan apa-apa lagi, maka orang yang  bertubuh tinggi tegap itu telah meloncat memasuki arena. Ia langsung melangkah ke arah kedua orang anak muda yang sedang berkelahi itu. Tetapi ternyata seorang dari para pengawal anak Ki Buyut itu telah melihatnya. Ia pun segera berlari mencegah orang yang bertubuh tinggi besar itu. “Kita tidak akan ikut campur," berkata pengawal anak Ki Buyut. “Persetan,” geram orang yang  bertubuh tinggi tegap itu “Minggir. Atau kau yang akan aku lumpuhkan lebih dahulu.” “Kau kira aku membiarkan kakiku kau patahkan?,” bertanya pengawal anak Ki Buyut itu. Orang yang bertubuh tinggi tegap itu tidak menjawab. Ia langsungmengayunkan tangannya meny erang pengawal anak Ki Buyut itu. Namun pengawal anak Ki Buy ut yang lebih kecil itu ternyata cukup tangkas. Dengan sigapnya ia telah mengelakkan serangan itu. Bahkan dengan cepat sekali ia telah membalas serangan itu dengan ay unan tangannya, memukul ke arah dada. Orang yang  bertubuh tinggi itu masih sempat bergeser surut. Namun lawannya yang  lebih kecil itu tidak melepaskannya, dengan cepat ia memburunya. Dengan satu loncatan melingkar, kakinya telah terayun menghantam dada orang itu. Serangan kaki itu cukup keras, sementara orang yang  bertubuh tinggi itu tidak sempat menghindar. Karena itu, ketika kaki pengawal anak Ki Buy ut itu mengenai dadanya, maka orang yang  bertubuh tinggi itu telah terdorong beberapa langkah surut. Orang itu memang tidak terjatuh. Bahkan ia masih mampu menguasai keseimbangannya. Namun bahwa tubuhnya telah dikenai oleh serangan lawannya itu, membuatnyamenjadi sangatmarah. Dengan demikian maka perkelahian antara kedua pengawal dari kedua orang anak muda yang  telah berkelahi itu pun semakin lama menjadi semakin sengit pula. Bahkan kemudian kedua orang pengawal yang  lain pun telah berkelahi pula, sehingga delapan orang telah berkelahi di halaman samping kedai itu. Pemilik kedai itu memang menjadi berdebar-debar. Jika perkelahian itu meluas, maka kedainya akan dapat menjadi ajang perkelahian pula. Tetapi pemilik kedai itu berharap bahwa perkelahian itu akan terbatas dengan delapan orang itu saja. Meski pun demikian, ia masih saja merasa cemas. Jika terjadi diantara mereka menjadi korban, maka ia pun tentu akan menjadi sasaran pertanyaan orang-orang dari kedua Kabuyutanyang  bermusuhan itu. Beberapa saat kemudian, maka ternyata bahwa anak Ki Buyut itu semakin mendesak lawannya, anak seorang saudagar kaya di Kabuyutan sebelah. Seorang saudagar kaya yangmempunyai pengaruhyang besar di Kabuyutannya. Sedang para pengawalnya pun nampaknya lebih baik dari para pengawal anak saudagar kaya itu, sehingga dua orang dari ketiga orang pengawal itu berhasil mendesak lawan-lawan mereka pula. Hanya pengawal yang  kebetulan berkelahi melawan orang yang bertubuh tinggi tegap itu harusmemeras keringat untuk dapat bertahan. Orang yang  bertubuh raksasa itu ternyata memiliki day a tahanyang  sangat besar. Tetapi sementara itu, kedua orang pengawal anak saudagar kaya itu semakin tidak mempunyai kesempatan lagi melindungi dirinya. Sebagaimana momongan mereka, maka keduanya pun semakin sering dikenai oleh serangan lawannya. Bahkan salah seorang pengawal anak saudagar kay a itu telah terdorong beberapa langkah surut dan jatuh terbanting di tanah. Tertatih-tatih ia mencoba berdiri. Namun demikian ia berhasil berdiri, lawannya telah meloncat dengan cepatnya menghantam dadanya dengan tumit kakinya. Sekali lagi orang itu jatuh berguling. Meski pun ia masih juga mencoba berdiri, tetapi ia sudah tidak berdaya lagi. Hanya karena orang itu takut dianggap tidak membantu momongannya,maka ia masih mencoba untuk bertahan. Tetapi lawannya sudah tidak menghiraukannya lagi. Ia justru berlari membantu kawannya yang terdesak oleh orang yang bertubuh tinggi tegap itu. Melawan dua orang, maka orang yang bertubuh tinggi tegap itu merasa sangat berat. Beberapa kali tubuhnya telah dikeaai serangan kedua lawannya itu. Ketika kawannya yang sudah tidak berdaya itu mencoba mendekatinya untuk membantu, maka sekali lagi orang itu mendapat serangan di keningnya. Sekali lagi orang itu terdorong dan tidak berhasil mempertahankan keseimbangannya lagi. Ia pun kemudian jatuh untuk ketiga kalinya. Kepalanya yang membentur tanah yang keras, membuatnya sangat pening dan bahkan kemudian segala-galanya menjadi kekuning-kuningan. Dalam waktu dekat, maka anak saudagar kaya dan para pengawalnya menjadi semakin tidak mampu lagi mengatasi kesulitan. Mereka semakin terdesak dan kehilangan kesempatan. Beberapa kali anak saudagar kaya itu harus berloncatan mengambil jarak, sehingga arena pertempuran itu telah bergeser dari tempat semula. Namun anak Ki Buyut itu mendesak terus. Beberapa kali ia sempat mengenai tubuh lawannya. Dan bahkan ia pun kemudian bertanya: “Kapan kita menentukan siapa yang  kalah dan siapa yang menang?” “Persetan kau,” geram lawannya yang menyerangnya denganmengerahkan kemampuannya. Namun lawannya tidak berhasil mendesaknya. Apalagi pula pengawalnya yang tinggal dua orang. Yang bertubuh tinggi tegap itu pun harus berloncatan surut, karena dua orang lawannya membuatnya semakin bingung. Sementara pengawalnya yang seorang lagi juga tidak dapat bertahan lebih lama. Dalam keadaan yang demikian, maka mereka semakin terdesak ke jalan. Mahisa Murti dan Mahisa Semu yang semula melihat perkelahian itu dari pintu samping, telah berpindah. Mereka duduk di dekat pintu depan yang lebih lebar, sehingga mereka dapat menyaksikan pertempuran yang  telah bergeser itu dengan jelas. Sementara itu bukan saja pelayan kedai itu, tetapi juga pemiliknya telah memperingatkanmereka, agar jangan berada di tempat yang  dapat dilihat oleh anak saudagar kaya serta orang-orangnya. “Kenapa?” bertanyaMahisa Semu. “Mereka adalah pendendam,” jawab pemilik kedai itu, “hari ini anak saudagar kaya yang mengandalkan kekayaannya itu mendapat lawan seimbang. Bahkan nampaknya lebih kuat daripadanya. Mudah-mudahan ia menjadi jera dan tidak sewenang-wenang lagi.” “Bagaimana dengan anak Ki Buy ut?,” bertanya Mahisa Semu. “ Ia memang pendiam. Tidak peduli. Tetapi ia bukan orang yang suka mencampuri persoalan orang lain dan tidak terbia sa membuat orang lain mengalami kesulitan. Tetapi agaknya karena ia ditantang,maka ia punmelayaninya.” “Kedai ini terletak di mana? Di daerah Ki Buyut itu atau daerah Kabuyutan lain sebagaimana saudagar kaya itu?” bertanya Mahisa Pukat. “Aku masih berada di daerah Ki Buy ut yang  anaknya berkelahi itu. Tetapi jalan itu adalah batasnya. Jika perkelahian itu bergeser terus, maka mereka akan memasuki Kabuyutan sebelah,” jawab pemilik kedai itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sebenarnyalah perkelahian itu bergeser menyeberangi jalan dan akhirnya terjadi di seberang. Pemilik kedai dan pelayannya yang  tidak berani menyaksikan perkelahian itu dengan terbuka, sempat melihat lewat beberapa lubang dinding di sudut dapurnya. Mereka tidak lagi memperingatkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang nampaknya tidakmenghiraukan peringatan mereka. Dalam pada itu, ketika keadaan anak saudagar kaya dari Kabuyutan di seberang jalan itu semakin sulit, tiba -tiba saja telah terdengar sultan nyaring. Satu isyarat yang  mula-mula memang tidak begitu diketahuimaksudnya. Namun tiba -tiba saja dari balik beberapa gerumbul perdu di seberang jalan, telah muncul beberapa orang anak muda yang dengan serta telah berlari-larianmendekati arena. “Curang,” geram Mahisa Semu. “Ya. Itu sudah diduga,” sahut pemilik kedai yang melihat perkelahian itu dari celah-celah dinding di dapurnya. Anak Ki Buyut itu memang agak terkejut. Demikian pula ketiga orang pengawalnya. Dengan latang anak Ki Buyut itu berkata: “Aku memang sudah curiga. Tetapi aku menyanggahnya sendiri. Apalagi per soalan kita adalah persoalan harga diri. Apakah untuk kepentingan mempertahankan harga diri itu kau ingin mengorbankan harga diri?” “Persetan dengan harga diri,” geram anak saudagar kaya itu. “Aku adalah anak seorang Buyut,” berkata anak Ki Buyut itu, “apakah kau kira ayahku dan seluruh Kabuyutanku akan membiarkan hal ini terjadi?” “Kabuyutanku juga sudah siap. Kita akan bertempur jika kau berusaha untuk menggerakkan orang-orangmu. Ay ahku dapatmengupah orang-orang dari luar Kabuyutan. Tiga orang gegedug yang sekarang juga hadir merupakan contoh dari orang-orang yang  diupah ayahku itu. Jika ayahmu benarbenar ingin berperang, maka Kabuyutanmu akan menjadi karang abang,” ancam anak saudagar kaya itu. Tetapi anak Ki Buy ut itu pun berkata: “Kau kira kami menjadi ketakutan? Jika kau curang kali ini, maka aku akan benar-benar mengerahkan anak-anak muda dan para pengawalKabuyutan.” “Kau kira kau mampu melakukan? Tiga bulan kau akan berbaring di pembaringanmu. Orang-orangku akan membuatmu jera sampai ke anak cucumu,” teriak anak saudagar kaya itu. Anak Ki Buy ut itu tidakmempunyai pilihan. Sebenarnyalah diantara beberapa orang yang muncul dari balik geromboIan itu, terdapat tiga orang yang  bertampang garang. Meski pun tubuhnya tidak sebesar pengawal anak saudagar kaya yang bertubuh raksasa itu, namun nampak disorot matanya, bahwa mereka lebih keras dan kasar. Juga mereka nampaknya memiliki kemampuan dalam olah kanuragan. Anak Ki Buyut itu memang harus berpikir keras. Ada dua pilihan yang  dapat diambilnya. Melawan dengan mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan harga diri, ataumelarikan diri. Sebenarnya anak Ki Buyut itu pun menyadari, seandainya ia melarikan diri dari arena, ia tidak akan direndahkan oleh siapa pun karena lawannyalah yang  curang. Namun rasarasanya seorang laki-laki yang  menghindar dari kesulitan namanya akan tetapmenjadi cacat. Karena apa pun yang  akan terjadi, anak Ki Buy ut itu tidak beringsut dari tempatnya. Sementara itu pemilik kedai itu berteriak tertahan di belakang lubang dinding: “Lari. Kenapa tidak lari saja?” “Ya,” desis Mahisa Pukat, “seharusnya ia meny ingkir dari arena. Itu bukan lari. Tetapi menghindari sikap yang  sangat licik.” “Ya. Bukan melarikan diri. Tetapi menghindari kecurangan,” ulang pemilik kedai itu. Namun tidak seorang pun diantara orang-orang yang  dimaksud itumendengar. Tetapi ternyata ketiga orang pengawal anak Ki Buyut itu pun termasuk orang -orang yang  berani. Ket ika mereka y akin bahwa anak Ki Buyut itu tidak akan meninggalkan arena, maka dengan sertamertamereka pun menyerang lawan-lawan mereka yang masih saja termangu-mangu. Dengan hentakkan yang tiba -tiba saja,maka orang yang  bertubuh raksaa itu sama sekali tidak mampu menghindar. Dua orang pengawal Ki Buyut itu ber sama-sama menghantam dadanya dan lambungnya, sehingga orang yang  bertubuh tinggi besar itu terbungkuk. Namun kemudian pukulan yang terakhir dari kedua orang itu bersamaan membuat raksasa itu jatuh dan pingsan karenanya. Demikian pula seorang pengawal yang lain. Ia pun dengan serta merta telah mendapat serangan yang tidak dapat dihindarinya. Bahkan dua orang yang  telah membuat orang bertubuh tinggi besar itu pingsan, telah ikut menyerangnya sehingga ia punmenjadi pingsan pula. Dengan demikian ampat orang itu telah beba s dari lawanlawannya yang  terdahulu. Namun mereka akan berhadapan dengan lawanyang  jauh lebih berat. “Licik. Kau serangmereka tanpa memberinya peringatan,” geram anak saudagar kaya itu. “Persetan sahut anak Ki Buyut, “kau bawa sekian banyak orang termasuk ketiga orang gegedug itu. Apakah itu bukan sikap yang licik? Curang? Pengecut?” Tetapi anak saudagar kay a itu tertawa. Katanya: “Kau menjadi ketakutan karenanya. Tetapi sudah terlambat. Kau akan dilumpuhkan. Juga bukan kau akan terbaring dan memerlukan pelayanan orang lain. Kau akan dimandikan di pembaringan seperti bay i. Kau akan disuapi dan jika kau sembuh kelak, kau akan menjadi cacat. Jika ay ahmu marah, maka perang akan terjadi. Kabuyutanmu anak hancur lumat.” “Cukup. Kau tidak perlu membual seperti itu. Aku akan menanggung segala akibat dari sikapku,” bentak anak Ki Buyut. “Ada satu cara yang  dapat kau tempuh,” berkata anak saudagar kaya itu, “tinggalkan tempat ini dan untuk seterusnya jangan ganggu gadis itu lagi.” “Kau bukan laki-laki,” geram anak Ki Buyut, “kenapa kau tidak menantang aku berperang tanding sampai tuntas? Kenapa kau melibatkan sekian banyak orang untuk per soalan yang sangat pribadi ini?” “ Itulah kekuasaan uang yang dimiliki oleh keluargaku. Jangan iri. Ayahku kay a raya dan dapat mengupah orang untuk melakukan hal seperti ini,” jawab anak saudagar kaya itu. Lalu katanya “Kenapa kau tidakmelakukannya? Bukankah ay ahmu seorang Buyut yang juga terhitung kaya?” Mahisa Pukat ternyata tidak dapat menahan diri lagi. Ketika anak-anak muda yang bermunculan dari balik gerumbul dengan tiga orang gedebug itu menjadi semakin dekat dan mulai mengepung anak Ki Buyut dan ketiga orang pengawalnya, maka ia pun telah menggamit Mahisa Semu. Bahkan Mahisa Pukat langsungmeloncat ke halaman kedai itu sambil berteriak: “Tidak selamanya uang dapat menguasai keadaan.” Semua orang berpaling kepadanya. Sementara itu Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah melangkah mendekati mereka yang sudah siap untuk bertempur lagi itu. Pemilik kedai itu terkejut bukan buatan. Ternyata kedua orang tamunya itu langsung melibatkan dirinya dalam pertengkaran itu. “Kami berdua, tanpa kekuasaan uang, menyatakan memihak kepada anak Ki Buyut,” berkata Mahisa Pukat sambil melangkah mendekati anak Ki Buy ut dengan tiga orang pengawalnya yang sudah terkepung. Bahkan dengan tidak menghiraukan anak-anak muda yang  mengepung itu, keduanya justru menyibak mereka dan masuk ke dalam lingkaran kepungan itu. “Siapa kau?” geram anak saudagar kaya itu. “Siapa pun aku, kau tidak peduli. Apakah kau akanmembeli namaku dengan uangmu?” bertanya Mahisa Pukat. “ Iblis kau geram anak saudagar,kaya itu apakah kau menyadari, apa yang  kau lakukan?” “Tentu. Aku akan merasa berbahagia dapat membantu orang yang telah diperlakukan dengan curang. Aku tidak peduli apakah kami akan menang atau kalah,” jawab Mahisa Pukat. Wajah anak saudagar kaya itu menjadimerah. Selangkah ia maju sambil berkata: “Kau akan menyesal. Jika aku mengancam akanmembuat anak Ki Buy ut yang tidak tahu diri itu menjadi cacat, maka aku benar-benar berniat membunuhmu. Tidak ada orang yang akan menuntut aku disini. Sekali lagi aku katakan bahwa uang ay ahku akan dapat menyelesaikan segala-galanya.” “Aku tidak takutmati untukmelakukan apa yang  aku yakini kebenarannya,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi sadari, bahwa jika akumati,maka tentu ada diantara kalianyang mati. Aku tidak tahu siapa yang  akan mati diantara kalian. Kau,mungkin kau, kau atau gegedug itu. Ny awaku nilainya sama dengan lima orang diantara kalian. Demikian pula adikku ini. Karena itu, jika kami berdua mati, maka sepuluh orang diantara kalian akan mati.” Ternyata ancaman Mahisa Pukat itu telah menggetarkan jantung anak-anak muda yang mengepung anak Ki Buyut itu. Namun anak saudagar kaya itu berkata kepada ketiga orang gegedug itu: “Selesaikan kedua anak itu. Jangan ragu-ragu. Aku yang bertanggung jawab.” Ketiga orang gegedug itu pun kemudian telah bergeser mendekati Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Ternyata mereka benar-benar berniat untuk membunuh keduanya, karena ketiga orang gegedug itu langsung menggenggam senjata mereka di tangan. Seorang diantara mereka menggenggam sebuah golok yang  besar. Seorang memegang kapak yang bermata rangkap dan seorang lagi membawa pedang yang panjang. Namun tiba -tiba saja Mahisa Pukat pun berkata kepada Mahisa Semu: “Jangan ragu -ragu membunuh mereka bertiga. Kita akan segera menghilang dari tempat ini, sehingga mereka tidak akan dapatmenuntut kita.” “Setan alas,” salah seorang dari ketiga orang gegedug itu mengumpat. Seorang yang bersenjata kapak yang  tajam di kedua sisi itu pun segera meloncat menyerang Mahisa Pukat. Namun anak muda itu sudah benar -benar bersiap. Dengan sigapnya ia meloncat menghindar. Namun gegedug yang membawa golok ttu tidak membiarkannya. Ia pun telah memutar goloknya pula dan langsungmeny erang. Tetapi Mahisa Pukat benar-benar telah bersiap. Dengan sigapnya ia berloncatan menghindari serangan-serangan yang kemudian datang beruntun. Sementara itu, Mahisa Semu pun telah mengenggam pedangnya pula. Yang kemudian berdiri berhadapan dengan anak muda itu adalah gegedug yang ber senjata pedang yang panjang itu. Sejenak kemudian pertempuran antara kedua anak muda dari perguruan Bajra Seta melawan tiga orang gegedug itu pun telah berlangsung dengan sengitnya. Ketiga orang gegedug yangmerasa memiliki kemampuan yang  tinggi itu berusaha untuk dengan secepatnya meny elesaikan kedua orang anak muda itu. Apalagi dua orang diantaranya bertempurmelawan seorang saja. Tetapi ternyata bahwa kedua orang itu tidak segera dapat menguasai Mahisa Pukatyang  telah menggenggam pedangnya pula. Pedang yang terbuat dari besi baja yang seakan-akan bercahaya kehijau-hijauan. Kedua gegedug itu memang tergetar hatinya melihat daun pedang di tangan Mahisa Pukat itu. Namun karena mereka merasa memiliki kemampuan yang  sangat mereka banggabanggakan selama ini, maka mereka pun berusaha dengan cepatmembunuhnya. Mahisa Pukat pun merasakan kesungguhan kedua orang gegedug itu untuk membunuhnya. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun menjadi semakin marah. Ternyata pengaruh uang anak muda yang  tamak itu telah membuat para gegedug itu kehilangan kendali sama sekali. Mereka tidak lagi sempat memikirkan apa yang sedangmereka lakukan itu. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berniat untuk dengan cepatmenyelesaikan para gegedug itu. Mereka harusmenebus kedunguan mereka dengan harga yang  sangatmahal, Adalah diluar dugaan bahwa justru Mahisa Pukatlah yang  dengan cepat menguasai kedua orang lawannya. Pedangnya berputaran dengan cepat, menggapai-gapai. Dalam waktu yang singkat,maka ujung pedang Mahisa Pukat telah melukai seorang diantara kedua gegedug itu. Orang yang bersenjata kapak itu pun telahmengaduh kesakitan ketika luka menganga di pundaknya. Sementara itu, Mahisa Semu pun telah menunjukkan kemampuannya yang tinggi dalam ilmu pedang. Ia pun dengan cepat telah menguasai lawannya. Pedang lawannya yang panjang itu sama sekali tidak mampu mengimbangi kecepatan gerak pedang Mahisa Semu. Karena itu, maka beberapa saat kemudian, maka segores luka telah menyilang di dada lawannya. Ketiga orang yang  telah disebut sebagai gegedug itu menjadi sangat marah pula. Mereka adalah orang-orang yang  sangat ditakuti. Namun menghadapi anak-anak muda itu ternyata mereka tidak mampumengatasiny a. Sementara itu, lawan Mahisa Pukat yang  seorang lagi, yang  ber senjata golok itu pun tidak mampu menghindar atau menangkis ujung pedang Mahisa Pukat yangmematuk dengan cepatnya. Karena itu, maka lambungnya tiba -tiba saja telah terkoyak, sehingga darahnya memancar dari lukanya yang menganga. Anak Ki Buyut dan ketiga orang pengawalnya justru bagaikan membeku. Demikian pula anak saudagar kaya serta anak-anakmuda yang mengepung dan kemudian seakan-akan telah membuat lingkaran pertempuran itu. Dalam keadaan yang demikian itu, maka anak saudagar kaya itu pun telah tersentak dari keheranannya. Ia pun segera melihat keadaan yang  tidakmenguntungkan, sehingga karena itu, maka ia pun segera, berteriak kepada anak-anak muda yangmengepung arena itu: “Jangan seperti orang-orang yang kehilangan akal. Cepat. Lakukan tugas kalian. Aku yang bertanggung jawab atas segala-galanya. Anak-anak muda yang  jumlahnya cukup banyak itu masih sa ja ragu-ragu. Tiga orang gegedug itu ternyata tidak berdaya menghadapi dua orang anak muda yang  tidak mereka kenal yang tiba -tiba saja telah ikut serta dalam pertempuran itu. Tetapi anak saudagar kaya itu sekali lagi berteriak: “Cepat. Lakukan. Siapa yang  tidak mendengar perintahku, akan menyesal kelak.” Ancaman itu memang dapat menggerakkan anak-anak muda itu. Selagi ketiga gegedug itu masih sempat melawan meski pun dalam kesulitan. Apalagi yang terluka di lambungnya. Darah semakin lama semakin banyak mengalir, sehingga akhirnya, orang itu pun telah jatuh terkapar dengan lemahnya. Tiga orang anakmuda telah membawanya menepi, sementara dua orang yang  lain berlari-lari kembali ke arena, seorang diantaramereka telahmerawatnya sedapat-dapatnya. Tinggal dua orang gegedug yang masih ikut dalam pertempuran itu. Namun keduanya sudah terluka. Tetapi ternyata bahwa keduanya masih berbahaya. Apalagi kemudian datang anak-anakmudamembantu mereka. Anak Ki Buyut dan tiga orang pengawalnya pun telah berkelahi lagi. Tetapi lawan-lawan mereka adalah anak-anak muda yang tidak mempunyai bekal terlalu banyak dalam olah kanuragan. Meski pun demikian jumlah mereka yang  banyak itu pun telah berpengaruh pula. Beberapa orang telah membantu kedua orang gegedug yang  terluka itu pula. Namun demikian, anak-anak muda itu tidak dengan cepat mampu rnenempatkan diri dalam satu kerjasama yang  mapan. Bahkan kadang-kadang kedua gegedug itu justru merasa terganggu oleh kehadiran mereka. Tetapi kedua gegedug itu tidak berani mengusir mereka, karena dalam saat-saat tertentu kedua gegedug itu dapat berlindung di balik senjata anak-anak muda itu untuk beberapa saat. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memang menjadi raguragu. Mereka tidak dapatmemperlakukan anak-anakmuda itu sebagai mana kedua orang gegedug yang masih mereka hadapi: Karena itu,maka tata gerak kedua anakmuda itu pun menjadi agak ragu-ragu pula. Namun ketika anak-anak muda itu mulai terasa semakin menekanmereka,maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semumulai menjadi semakin keras pula. Terutama Mahisa Semu. Dengan demikian, maka pedangnya pun berputaran semakin cepat pula. Tetapi yang menjadi sa saran utama bagi Mahisa Semumasih juga gegedug yang  sudah dilukainya itu. Namun gegedug itu pun ternyatamemanfaatkan anak-anak muda itu untuk melindunginya. Tetapi tiba-tiba saja ia telah meloncatmeny erang dengan garangnya. Mula-mula Mahisa Semu memang menjadi sedikit mengalami kesulitan. Namun akhirnya kemudaannyalah yang mulai berbicara dengan bahasa pedangnya. “Bukan salahku,” berkata Mahisa Semu tiba -tiba. Lawanlawannya memang menjadi heran mendengar Mahisa Semu itu tiba -tiba saja telah berkata lantang. Seorang di antara lawan-lawannya itu sempat bertanya: “Apa yang  bukan salahmu? “Saudaraku telah memperingatkan bahwa aku akan membunuh sedikitnya lima orang jika kalian tidak menyingkir,” jawab Mahisa Semu. Ancaman itu membuat anak-anak muda itu ragu-ragu. Tetapi gegedug itu pun berkata: “Jangan hiraukan katakatanya. Ternyata anak itu sudah mulaimenjadi ketakutan.” Namun belum lagi kata-kata itu selesai diucapkan, maka seorang anak muda telah berteriak kesakitan. Ujung pedang Mahisa Semu telah singgah di lengannya. Meski pun luka itu t idak terlalu dalam, namun terasa pedihnyameny engat sampai ke tulang. “Sebentar lagi lehermu,” desis Mahisa Semu. Lawan-lawannya menjadi semakin gentar melihat darah di lengan kawannya itu. Bahkan kemudian Mahisa Semu telah mendesak gegedug itu dan memaksanya berloncatan untuk mengambil jarak. Namun anak-anak muda itu tidak lagi mendesak dan mengurungnya. Mereka mulai merasa cemas bahwa ujung pedang anak muda itu akan melukai mereka di leher seperti yang dikatakannya. Mahisa Semu memang mempergunakan kesempatan itu. Dengan cepat maka pedangnya terayun mendatar. Tetapi Mahisa Semu sendiri terkejut ketika ia melihat sebuah pedang lawannya terlempar jatuh. Sambil berteriak kesakitan anak muda yang  kehilangan senjatanya itu menggenggam pergelaran tangannya. Ternyata darahmengalir cukup deras. “Cepat, rawat lukamu teriak Mahisa Semu. Jika terlambat kau benar -benar akanmati kehabisan darah.” “Aku tidakmaumati,” teriak anakmuda itu. “ Ikat tanganmu agar darahnya tidakmengalir terlalu deras Mahisa Semu pun berteriak. Anak muda yang pergelangan tangannya tersay at pedang itu pun telah berjongkok di luar arena. Dilepasny a ikat kepalanya untuk mengikat tangannya yang berdarah. Namun ternyata darah masih saja tetapmengalir. Sementara itu, Mahisa Semu masih bertempur terus. Karena anak-anak muda yang lain telah menjadi ragu-ragu, maka Mahisa Semu menjadi semakin berbahaya bagi gegedug itu. Sehingga akhirnya gegedug yang dibanggakan oleh anak saudagar yang kay a raya dan yang sudah terluka itu melarikan diri dari arena tanpamenghiraukan apa pun lagi. Anak saudagar kaya itu sempat melihatnya berlari. Iapun berteriak dengan lantang: “Jangan lari. Tunggu.” Tetapi gegedug itu sama sekali tidak berpaling. Bahkan sejenak kemudian, gegedug yang  bertempur melawan Mahisa Pukat pun telah berlari pula. Mahisa Semu dan Mahisa Pukat memang tidak memburu gegedug yang melarikan diri itu. Bagi mereka, sikap itu telah cukupmemberikan bukti bahwa gegedug itu bukan hantu yang harus ditakuti. Ketika kedua orang gegedug itu melarikan diri, anak-anak muda itu pun menjadi semakin ragu-ragu. Namun anak saudagar kaya itu masih berteriak: “Jangan beri mereka kesempatan. Jumlah kita cukup banyak untukmenghancurkan mereka. Namun teriakan itu t idak lagi mampu membangkitkan keberanianyang  cukup. Karena itu,maka anak-anakmuda itu masih saja tetap ragu-ragu. Sementara itu, Mahisa Semu pun berkata kepada lawanlawan yang mengelilinginya: “Tunggu. Aku akan mengobati kawanmu yang  terluka di pergelangan. Berbahaya sekali jika darahnya tidakmau pampat. Anak-anak muda yang  mendengarnya seakan-akan diluar sadar telah beringsut meny ibak. Sementara itu Mahisa Semu berjalan dengan tenangnya mendekati anak muda yang pergelangannya terluka. “Jangan bunuh aku,” anakmdda itu ketakutan. “Lihat pergelanganmu yang  terluka. Ikat dibagian atas lukanya. Bukan pada lukanya itu sendiri,” berkata Mahisa Semu. Tetapi darahnya memang banyak sekali mengalir. Karena itu,makaMahisa Semu punmenjadi cemas. Dari kantung ikat pinggangnya Mahisa Semu mengambil sebuah bumbung bambu kecil berisi obat luka yang  dibawanya dari padepokan Bajra Seta. Dengan obat itu yang ditaburkan sedikit pada lukanya,maka Mahisa Semu berharap bahwa luka itu akan pampat. Ketika obat itu tertabur diatas lukanya, anak itu memang berteriak. Terasa luka itu bagaikan disentuh api. Tetapi kemudian darahnya menjadi semakin pampat, sehingga akhirnya tidak lagimengalir dari luka ifu. “Jangan banyak bergerak,” berkata Mahisa Semu, ”jika kau gerak-gerakkan tanganmu ini, maka darah pun akan keluar lagi dan sulit untuk dipampatkan.” Anakmuda itumengangguk-angguk. “Nah, jangan kau gantungkan tanganmu. Tekuklah pada sikumu dan pegangi pergelangan tanganmu. Tetapi jangan sampai terpijit,” pesanMahisa Semu. Demikian darah di luka anak muda itu pampat, maka Mahisa Semu telah bersiap pula. Sementara itu, anak saudagar kaya itu masih saja berteriakteriak. Katanya: “Kenapa kalian diam seperti patung?” “ Ia sedang mengobati luka kawan kami,” jawab salah seorang. “Jangan hiraukan. Bunuh selagi ia lengah,” teriak anak saudagar yang  bertempur melawan anak Ki Buyut itu. “Kawan kami akan mati pula karena darahnya mengalir terus,” teriak anakmuda itu. “Kalau perlu bunuh sekali anak itu agar tidakmengganggu kalian,” jawab anak saudagar kay a raya itu. Tidak ada lagi yang berteriak. Tetapi jawaban itu benarbenar membuat anak-anak muda itu sakit hati. Sehingga karena itu, maka mereka pun tidak lagi bertempur dengan sungguh-sungguh. Apalagi Mahisa Semu pun tidak lagi ber sungguh-sungguh pula. Demikian pula Mahisa Pukat. Ia bertempur tidak jauh dari anak Ki Buyut dan ketiga orang pengawalnya. Sekali-sekali Mahisa Pukat telah berloncatan mengurangi tekanan yang dilakukan oleh anak-anakmuda yang jumlahnyamemang jauh lebih banyak itu atas anak Ki Buy ut dan ketiga orang pengawalnya. Ketika Mahisa Pukat merasa bahwa nampaknya anak Ki Buyut dan para pengawalnya mulai letih, maka ia pun mulai mendesak lawan-lawannya. Dua orang hampir berbareng telah dilukainya meski pun tidak terlalu dalam. Namun perasaan pedih yang menggigit itu membuatmereka telah mundur dari arena. Demikian pula seorang yang  lain. Kemudian seorang lagi dan seorang lagi. Dengan demikian maka anak-anak muda itu menjadi semakin tidak berday a. Mereka juga merasa ketakutan bahwa pada suatu saat merekalah yang terluka. Bahkan mungkin lebih parah dari kawan-kawannya yang lain. Karena itu, maka anak saudagar kaya itu semakin lama menjadi semakin cemas. Ia sama sekali tidak mengira bahwa ada dua orang anakmuda yang dengan tiba-t iba saja telah ikut campur sehingga rencananya menjadi gagal sama sekali. Ia tidak sempat menyakiti dan bahkan membuat anak Ki Buyut itu menjadi jera. Bahkan anak itu tentu akan menjadi semakin sombongmenurut penilaian anak saudagar kaya itu. Tetapi anak saudagar kaya itu memang tidak dapat berbuat banyak. Anak-anak muda yang dibawanya benar-benar tidak lagi mampu menguasai ketakutan mereka. Ketika sekali lagi ujung pedang Mahisa Pukat melukai seorang diantara anak muda itu,maka yang  lain pun telah berloncatan surut. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Sementara anak saudagar kaya yang  bertempur melawan anak Ki Buy ut itu berteriak: “Kenapa kalian menjadi ketakutan he? Hancurkan mereka.” Tetapi anak-anak muda itu melihat darah di tubuh beberapa orang kawan mereka sehingga tubuh mereka pun menjadi gemetar. Seorang diantara kawan mereka duduk sambilmenangis kesakitan. Seorang lagimerintih tidak putusputusnya. Ada juga diantara yang  telah mengalirkan darah dari tubuhnya itu masih tetap tegar dan siap untuk bertempur. Tetapi kawan-kawannyalah yang tidak lagi sanggup berbuat sesuatu. Meski pun anak saudagar kay a itu beberapa kali mengancam mereka, namun mereka tetap saja berdiri termangu-mangu meski pun di tangan mereka masih tergenggam senjata. Yang kemudian terdengar adalah suara Mahisa Pukat: “Nah, siapa lagi diantara kalian yang  ingin menjadi korban. Mungkin orang berikutnya tidak hanya terluka, tetapi terbunuh. Aku sebenarnya sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk membunuh berapa pun aku mau diantara kalian. Tetapi karena aku tidak ingin melakukannya, maka kalian masih akan tetap hidup. Hanya mereka yang  keras kepala sajalahyang akan aku habisi umurnya.” Anak-anak muda itu pun menjadi semakin ketakutan, sehingga tidak lagi ada yang berani memasuki arena pertempuran. Kawan-kawan anak saudagar yang semula bertempur melawan Ki Buyut bersama pengawalnya pun telah menarik diri pula dari arena. Demikian pula orang-orang yang bertempurmelawan Mahisa Semu. Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat itu pun berkata lantang: “Nah, bukankah sebaikny a yang  berkelahi itu hanya orang-orang yang berkepentingan? Dalam hal ini, anak Ki Buyut itu dengan anak Ki Saudagar kaya itu? Biarlah mereka menyelesaikan persoalan pribadi mereka berdua. Yang lain, yang tidak tahu menahu persoalannya, tidak boleh turut campur. Karena itu, siapa yang merasa tidak berkepentingan, minggir. Atau akan berhadapan dengan aku dan saudaraku.” Suasana menjadi tegang. Anak-anak muda yang  ada di tempat itu memang dicengkam oleh kebimbangan. Namun jika mereka ikut campur, maka mereka memang akan mengalarni kesulitan. Anak muda yang tidak dikenal itu benar-benar mampumelakukan sebagaimana dikatakannya. Anak saudagar kaya itu termangu -mangu sejenak. Ia sadar, bahwa Ia memang tidak akan dapat memaksa kawankawannya. Namun untuk bertempur sendiri melawan anak Ki Buyut itu, ia pun menjadi ragu-ragu. Tetapi anak saudagar kay a itu sadar pula, jika ia menolak berkelahi lagi melawan anak Ki Buyut,maka Ia akan menjadi bahan ejekan kawan-kawannya. Namun anak saudagar kaya itu tidak ingkar, bahwa sebelumnya ia benar-benar tidak mampu mengalahkan anak Ki Buyut itu. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus mengulangi perkelahiannya melawan anak Ki Buyut itu seorang diri. Meski pun ia sudah dikalahkannya, namun ia berharap bahwa anak Ki Buyut itu telahmenjadi letih. Namun sebenarnyalah bahwa ia sendirilah yang  menjadi letih. Karena itu, ketika ia benar-benar harus berhadapan dengan anak Ki Buy ut itu, maka anak saudagar kaya itu hampir-hampir tidak bertenaga lagi. Karena itu, anak itu pun kemudian memperhitungkan, bahwa ia harus mempergunakan sisa tenaganya itu sebaikbaiknya. Ternyata ia telah mengambil satu sikap yang tidak terduga. Anak saudagar kaya itu telah mempergunakan sisa tenaganya itu untukmelarikan diri. Tanpa menghiraukan kawan-kawannya, maka anak saudagar kaya itu pun segerameloncatmelarikan diri. Mahisa Semu sudah siap untuk menyusulnya. Namun Mahisa Pukat berkata: “Sudahlah. Jangan kau kejar anak itu. Ia berlari dengan sangat ketakutan. Jika kau masih juga mengejarnya,maka anak itu akanmati ketakutan.” Mahisa Semu memang urung meloncat mengejar anak saudagar kaya raya itu. Dalam pada itu, Mahisa Pukat telah berdiri berhadapan dengan anak-anak muda yang menjadi ragu-ragu dan cemas akan nasib diri mereka sendiri. Jika anak muda itu ternyata anak muda yang garang, maka mereka akan mengalami nasib buruk. Tetapi Mahisa Pukat tidak berbuat apa -apa. Demikian pula kepada para pengawal anak saudagar kaya itu. Orang yang bertubuh tinggi tegap yang telah duduk di tanah dengan jantung yang berdebaran juga tidak mengalami perlakuan yang kasar. Kepada anak-anak itu ia berkata: “Rawat gegedug yang  agak parah itu. Demikian pula kawan-kawanmu yang  terluka. Namun pada kali lain, kalian jangan menyurukkan diri ke dalam kesulitan seperti ini. Untunglah aku dan saudaraku lagi sabar, jika kami sedang dalam genggaman kesulitan hidup, maka sikap kami akan berbeda.” Anak-anak muda yang masih tinggal itu menjadi sangat gelisah. Tetapi ternyata bahwa kedua orang anak muda yang tiba -tiba saja telah hadir danmelibatkan diri itumemang tidak mengambil tindakan apa-apa sebagaimana mereka katakan. Mereka nampaknya memang bukan orang-orang yang  garang dan kasar sebagaimana gegedug yang telah mereka kalahkan itu. Dalam pada itu maka sekali lagi Mahisa Pukat berkata: “Tinggalkan tempat ini. Rawat kawan-kawanmu yang  terluka. Bawa gegedug serta kawan-kawanmu yang luka itu ke rumah anak saudagar kay a yang  tamak tetapi ternyata sangat licik itu. Aku harap anakmuda itu bertanggung jawab.” Namun tiba -tiba salah seorang anak muda itu berkata: “Bagaimana jika anak Ki Saudagar itu justru marah dan menghukum kami.” “Bagaimana mungkin hal itu dilakukan?” bertanya Mahisa Pukat. “ Ia sangat kerasdan kasar,” jawab anakmuda yang lain. “Bukankah ia seorang diri? Apakah seorang diri ia dapat menghukum kalian semuanya?” bertanya Mahisa Pukat. “ Ia mempunyai uang. Ia dapat mengupah orang untuk menghukum kami,” sahut anakmuda itu. “Dan kalian diam saja? Membiarkan diri kalian dihukum? Dicambuk atau diikat di halaman di bawah terik matahari atau hukuman apa?” bertanya Mahisa Pukat. Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun kemudian yang lain menjawab: “Pernah terjadi kawan kami yang dianggapnya bersalah diikat di belakang seekor kuda yang kemudian berlari-lari di padang rumput.Hanya beberapa saat. Tetapi tubuhnya telah penuh dengan luka-luka. Ketika kemudian tali ikatannya dibuka anak itu sudah tidak dapat berdiri.” “Saat itu apa yang kalian lakukan? Menonton? Atau kalian justru ikut menghukumnya? Apa? Apa yang  kalian lakukan? Kalian semuanya tentu tidak mencegah hal itu terjadi. Kalian merasa ikut senang melihat hukuman itu terjadi karena jiwa kalian tidak lebih dari jiwa budak yang  rendah, yang nilainya tidak lebih dari upah yang pernah kalian terima. Nah, jika sejak hari ini kalian bersatu dan memantapkan diri menjadi anak muda yang  mempunyai harga diri, maka anak itu tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika ia membentak, kalian semuanya harusmembentak. Jika anak itu memukul seorang diantara kalian, maka kalian semuanya memukul. Tetapi jika ada satu saja diantara kalian yang berkhianat terhadap kawankawan kalian dan kembali ke jiwa budak yang rendah, maka kalian memang akan kembali mengalami masa yang buram. Hidup kalian akan selalu di bawah bayang-bayang  anakmuda itu dengan uang dan kekay aannya yang melimpah.” Anak-anak itu mulai berpikir tentang sikap mereka selama itu. Mereka seakan-akan memang selalu berada di bawah bayang an uang anak saudagar kaya itu. Kemudian Mahisa Pukat pun bertanya: “Bagaimana dengan sikap Ki Buyut?” “Ki Buyut tidak pernah menunjukkan sikap yang  tegas. Yang berkuasa di Kabuyutan kami agaknya memang bukan Ki Buyut. Tetapi saudagar yang  kaya raya itu,” jawab salah seorang diantaramereka. “Jika demikian,maka kalian semuanya sebaiknya datang ke rumah Ki Buy ut dan menyampaikan permohonan agar Ki Buyut ber sedia menjadi pemimpin sejati bagi Kabuyutan kalian,” berkata Mahisa Pukat. Anak-anakmuda itu termangu-mangu. Dari wajah mereka Mahisa Pukat dapatmembaca, bahwa agaknya Ki Buyut sukar untuk merubah sikapnya. Agaknya sudah terlalu lama Ki Buyut dibayangi oleh kekuasaan uang yang ditaburkan oleh saudagar kaya itu. “Anak-anak muda,” berkata Mahisa Pukat: “jika demikian, maka adalah saatnya kalian berbuat sesuatu. Anak-anakmuda adalah citra masa depan Kabuyutan. Jika kalian mulai sekarang sudah dibayang i dengan uang,maka kelak, siapa pun yang akan memegang jabatan di Kabuyutan ini, akan selalu dibayangi oleh kekuasaan uang itu pula. Karena itu, kalianlah yang harus merubah keadaan. Kalian wajib menentukan perubahan-perubahan itu sesuai dengan kehendak kalian. Jika kalian bersikap tegas dalam persatuan yang  kokoh, maka kalian tentu akan berhasil.” “Kami yang  ada disini belum seluruh kekuatan anak-anak muda Kabuyutan. Mungkin kawan-kawan kami masih ada yang dapat diperintah dengan uang oleh anak Ki Saudagar itu,” berkata salah seorang anakmuda. “Kalian harus bertindak cepat. Demikian kalian nanti kembali ke padukuhan, hubungi kawan-kawan kalian. Hubungi Ki Buyut dan tentukan langkah-langkah berikutnya. Jika ternyata masih ada anak-anak muda yangmenjual harga dirinya, maka kalian dapat memaksa mereka dengan kekerasan. Jika kalian mengalami kesulitan, maka anak Ki Buyut ini tentu akan ber sedia membantu kalian,” berkata Mahisa Pukat. “Aku tidak berkeberatan,” sahut anak Ki Buyut, “aku sebenarnya juga ingin menawarkan bantuan itu, tetapi aku tidakmendapat kesempatan untuk berbicara.” “Terima kasih,” beberapa orang anak muda yang  semula membantu anak Ki Saudagar itu berbareng menjawab. Nampaknya mereka mengerti apa yang sebaiknya mereka lakukan. Namun dalam pada itu, seorang anak muda yang  nampaknya lebih tua dari kawan-kawannya berkata: “Tetapi ingat. Ki Saudagar itu sendiri adalah seorang yang berilmu tinggi, Sebagai seorang yang  pekerjaannya menempuh perjalanan dari tempat ke tempat dari Kabuyutan ke Kabuyutan, maka adalah seorang yang  berilmu tinggi.” Mahisa Pukatmengerutkan keningnya. Ia pun teringat kepada ayahnya, yang  juga seorang yang  berjual beli wesi aji, batu -batu akik dan permata yang  datang dari satu tempat ke tempat lain. Ayahnya pun memiliki bekal yang cukup untuk melindungi dirinya serta barang-barang yang diperjual belikan itu. “Mungkin Ki Saudagar juga memiliki kemampuan seperti ay ah,” berkata Mahisa Pukat di dalam hatinya. Sementara itu, anak Ki Buyut itu pun berkata: “Jika Ki Saudagar ikut campur, maka biarlah ayahku juga ikut campur.” Anak-anak muda itu termangu-mangu. Namun bagi mereka, baik Ki Saudagar mau pun Ki Buy ut akan dapat menjadi berbahaya. Untuk waktu yang lama, Ki Buy ut seakanakan memang bekerja untuk saudagar itu serta mengabaikan kepentingan orang banyak. Seolah-olah Ki Buyut itu memang hanya mengabdi kepada Ki Saudagar itu saja. Dalam pada itu, selagi anak-anak muda itu masih diombang-ambingkan oleh keragu-raguan mereka terhadap Ki Buyut serta kekuasaan yang  sangat besar dari saudagar yang kaya raya itu, maka jantung mereka bagaikan berhenti berdetak ketika mereka melihat tiga orang yang  berjalan dengan tergesa-gesa ke arahmereka. Ketiganya adalah Ki Buyut, saudagar yang kay a raya itu dan di belakang mereka adalah anak Ki Saudagar yang  telah melarikan diri dari arena. Seorang dari antara anak-anak muda itu berdesis: “ Itu adalah Ki Saudagar serta Ki Buyut sendiri,” “Satu kesempatan,” berkata Mahisa Pukat, “tentukan siakap dan katakan kepada mereka.” Tetapi anak-anak muda yang semula nampak lebih berani ber sikap, justru ketika Ki Buyut dan saudagar kaya itu datang, jantungmereka menjadi berkerut kembali. Sebelum ketiga orang itu sampai ke bekas arena pertempuran itu, Ki Saudagar telah berteriak: “Di mana anak yang sombong, yang  telah dengan licik menghina anak-anak muda sekabuyutan kami.” Tidak seorang pun yang  menjawab. Namun semua orang tahu, bahwa yang  dimaksud adalah Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Karena itu, maka semua orang telah berpaling ke arah mereka berdua. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun menyadari, bahwa mereka berdua akan menjadi pusar kemarahan Ki Saudagar. Tetapi apa boleh buat. Sebenarnyalah, ketika saudagar kay a itu sudah berdiri diantara beberapa orang anak muda yang  kebingungan itu, maka anaknya pun berkata: “Kedua orang itulah yang  telah menghina kami ayah.” “Bagus,” berkata Ki Saudagar, “aku harusmembuatmereka menjadi jera. Aku harus menunjukkan bahwa mereka bukan orang yang  tidak terkalahkan di dunia ini.” “Sama sekali tidak Ki Saudagar,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “apa yang aku lakukan disini adalah sekedar membantu anak-anak muda yang  mengalami perlakuan licik dari anakmu dan kawan-kawannya.” “Bohong,” teriak anak saudagar kaya itu, “ia telahmenghina aku dan kawan-kawanku.” “Bertanyalah kepada setiap orang,” desisMahisa Pukat. Ki Saudagar itu pun memandang berkeliling. Tiba -tiba saja ia mendekati seorang anak muda. Mencengkam pundaknya sambil bertanya: “Siapakah yang  licik dan sombong? Katakan. Anakku atau anak-anakmuda itu?” Anakmuda yang  dicengkam pundaknya itu menjadi sangat ketakutan. Seandainya saat itu ia dicekik sampai mati, tidak akan ada orang yang  beranimenuntut. Karena itu, ketika cengkaman di pundaknya itu menjadi semakin keras, ia pun menjawab dengan suara bergetar: “Yang licik adalah kedua orang anakmuda itu.” Mahisa Pukat tiba-tiba tertawa. Katanya: “Baiklah. Aku tidak menyalahkan kau. Kau sudah lama berada di bawah bayang an kuasanya. Kau tentu tidak dapat dengan serta merta melepaskannya begitu saja.” “Setan kau,” geram Ki Buyut: “kenapa kau membuat daerahku menjadi kisruh. Tanpa kau berdua, Kabuyutan ini adalah Kabuyutan yang tenang. Tetapi setelah kau berdua datang, maka Kabuyutan ini telah menjadi kacau sehingga nampaknya telah terjadi perkelahian.” “Paman,” berkata anak Ki Buy ut seberang jalan, “paman jangan berpura-pura. Paman tentu mengenal aku. Kenapa paman tidak bertanya kepadaku, apa yang  telah terjadi di sini. “Kembalilah ke seberang jalan ngger. Jangan ikut campur. Aku tidak akan menganggapmu ikut bersalah. Justru karena akumengenal orang tuamu. Buyut dari Kabuyutan di seberang jalan.” “Aku akan mendudukkan persoalannya pada keadaan yang  sewajarnya, paman,” berkata anak Ki Buyut itu, “nanti paman akan, dapat menilai apa yang sesungguhnya telah terjadi disini.” “Kau akan memfitnah anakku, he,” geram Ki Saudagar. Tetapi anak Ki Buyut itu menjawab: “Fitnah dan keny ataan itu lain.” Namun dalam pada itu, saudagar kaya itu pun berkata kepada Ki Buyut: “Usir anak itu Ki Buy ut. Ia memang anak seorang Buy ut, tetapi bukan Kabuyutan ini. Ia adalah anak seorang Buyut di Kabuyutan seberang.” “Sekali lagi aku persilahkan kau pergi ngger,” berkata Ki Buyut. “Paman,” jawab anak itu: “yang  mempunyai persoalan disini adalah aku dan anak Ki Saudagar itu. Bukan kedua orang anak muda yang  paman tuduh telah mengacaukan keadaan. Yang mula-mula berkelahi adalah aku dan anak Ki Saudagar itu.” “Cukup,” bentak Ki Saudagar, “jika kau masih tetap memfitnah anakku, maka aku akan dapat mencekikmu. Aku tidak takutmeskipun ay ahmu seorang Buyut sekalipun.” “Soalnya bukan takut atau tidak takut,” jawab anak Ki Buyut itu, “tetapi kita harusmencari kebenaran. Apakah yang sudah terjadi disini.” “Tutupmulut. Atau aku akan menyumbatmulutmu dengan batu?,” teriak saudagar kaya itu. Namun keadaan menjadi semakin tegang, ketika mereka melihat dan seberang jalan beberapa orang telah berdatangan. Diantara mereka adalah Ki Buy ut dari Kabuyutan seberang jalan. “Apa yang terjadi?” bertanya Ki Buy ut, “aku mendapat laporan, bahwa anakku telah berkelahi disini.” “Ya. Anakmu telah menyerang anak-anak muda dari Kabuyutan kami,” jawabKi Saudagar. Tetapi anak Ki Buyut itu berkata: “Bukankah ay ah sudah mengenal Ki Saudagar ini? Apakah ay ah percaya akan katakatanya?” “Aku bertanya kepadamu, apakah yang telah terjadi?” bertanya Ki Buyut kepada anaknya. “Aku telah berkelahi dengan anak Ki Saudagar itu apa pun sebabnya. Tetapi dengan licik ia meninggalkan arena dan memanggil ayahnya,” jawab anak Ki Buy ut. “Kenapa kau tidakmemanggil aku?,” bertanya Ki Buyut. “Sebenarnya aku tidak ingin melibatkan orang-orang tua. Biarlah persoalan kami kami selesaikan sendiri,” jawab anak Ki Buyut. “Tetapi ia sudahmemanggil ayahnya dan Ki Buyut seberang itu pula. Untung ada yang memberitahukan kepadaku apa yang terjadi disini,” geram Ki Buy ut itu. “Jadi Ki Buyut berniat untuk melindungi anak Ki Buyut yang telahmemfitnah anakku he?,” bertanya Ki Saudagar. “Setiap orang tua anak selalu melindungi anak-anaknya. Dan aku pun akan berbuat demikian,” jawabKi Buy ut. “Meski pun anakmu bersalah dan bahkan melakukan kejahatan?,” bertanya Ki Saudagar. “Kalau itu terbukti, tentu saja tidak. Setiap orang tua akan memberikan sedikit hukuman kepada anaknya yang  ber salah dan bahkan melakukan kejahatan. Aku pun akan berbuat demikian dan Ki Saudagar pun sebaiknya berbuat seperti itu pula,” sahut Ki Buy ut. Ki Saudagar itu pun termangu-mangu. Ia tahu bahwa anaknya memang sering melakukan kesalahan-kesalahan. Tetapi ia tidak pernah menghukumnya atau sedikit memberikan pelajaran kepadanya. Bahkan setiap kali Ki Saudagar itu selalu melindungi anaknya apa pun yang diperbuatnya. Apalagi Ki Saudagar itu merasa bahwa ia memiliki uang untukmeny ebarkan pengaruhnya, selebihnya ia pun termasuk. seorang yang  berilmu tinggi. Namun ternyata sejenak kemudian ia pun berkata: “Anakku adalah seorang anak penurut. Ia tidak pernah berbuat sesuatu yang dapat mengganggu orang lain. Karena itu, tentu anakmulah yang mendahului menimbulkan per soalan disini, yang sudah bukan daerahmu.” “Marilah, kita akan melihat kebenaran,” jawabKi Buyut. “Aku akan menjadi saksi,” berkata Mahisa Pukat tiba -tiba: “anak Ki Saudagar itulah yang lebih dahulu menantang. Anak Ki Buyut sedang makan di kedai itu ber sama kami berdua. Kami memang belum mengenalnya waktu itu. Namun kami melihat orang yang bertubuh raksasa itu datang memanggilnya. Maka perkelahian pun terjadi.” “Kau janganmembual,” bentak anak Ki Saudagar. Namun Mahisa Pukat tidak menghiraukannya. Katanya: “Tetapi jika kita biarkan anak Ki Saudagar itu berkelahi melawan anak Ki Buyut, maka anak Ki Saudagar itu akan kalah. Dan itu terbukti. Anak Ki Saudagar kalah dan melarikan diri dari arena, tetapi yang kemudian datang bersama ayahnya dan Ki Buyut.” “Cukup bentak Ki Saudagar, “aku dapat menyumbat mulutmu.” “Kau kira aku tidak dapat menyumbat mulutmu dengan hulu pedangku ini he?,” Mahisa Pukat pun membentak. Bahkan kemudian katanya dengan suara lantang, “kau kira uangmu dan kemampuan ilmumu akan dapat menyembuny ikan kenyataan? Aku menjai muak melihat tampangmu dan caramu mengelabui orang lain untuk melindungi anakmu. Untuk melindungi kesalahan dan kejahatanyang  telah dilakukannya. Tanpa kau sadari kau ajari anakmu menjadi pengecut yang  licik yang tidak akan dapat berdiri diatas key akinan dirinya sendiri.” “Diam,” saudagar itu berteriak. Kemarahannya sudah memanjat sampai ubun-ubunnya: “Kau siapa he? Kenapa kau beranimengumpatiku?Agaknya kau belum tahu siapa aku?” Tetapi Mahisa Pukat pun telah benar-benar menjadi muak melihat kelicikan saudagar kay a itu. Karena itu, maka ia pun menjawab tidak kalah lantangnya: “Siapa pun kau, tetapi aku tidak senang melihat kau dan anakmu yang sangat licik itu memfitnah orang lain. Aku tahu dan melihat sendiri apa yang terjadi disini. Karena itu, maka sebelum kau meny esal, ambil anakmu, bahwa ia pulang dan kau harusmenghukumnya, agar pada kesempatan lain ia tidak bertindak begitu licik, pengecut dan tidak tahu diri.” Wajah saudagar kaya itu menjadi merah. Dengan suara yang bergetar menahan kemarahannya ia berkata: “Kau kira aku hanya dapat mengupah orang untuk membungkam mulutmu? Tidak. Aku sendiri akan dapat melakukannya. Jangan meny esal. Orang-orang yang ada di tempat ini sekarang akan menjadi saksi, bahwa bukan akulah yang telah memulainya. Tetapi kau. Anak ingusan yang tidak tahu diri. Betapa pun tinggi ilmumu, tetapi kau yang baru pandai berjalan kemarin sore telah beranimenghina orang tua.” “Kau lebih dahulumenghina aku,” geram Mahisa Pukat. “Persetan semuanya. Bersiaplah. Aku akan menghajarmu agar kau dapat berbuat lebih sopan terhadap orang-orang tua,” geram saudagar kaya itu. Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun sudah ber siap menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, ia justru telah menyarungkan pedangnya karena Saudagar kaya itu tidak bersenjata. Tetapi saudagar itu tidak begitu memperhatikan pedang Mahisa Pukat. Kemarahannya tidak lagi memberinya kesempatan untukmemperhatikan apa pun juga, selain wajah anakmuda yang  ingin diremasnya itu. Sejenak kemudian keduanya telah ber siap. Mahisa Pukat pun menjadi sangat berhati-hati. Ia sadar, bahwa saudagar itu tentu benar-benar memiliki bekal ilmu yang  tinggi. Karena itu ia tidak akan dapatmenganggapnya sebagai lawan yang  akan sangat mudah diatasiny a. Bahkan mungkin, ia akan menghadapi kesulitan karena ilmu lawannya yang  lebih tinggi daripadanya. Tetapi Mahisa Pukat memang tidak ingin membiarkan sikap yang  semena-mena itu. Setidak-tidaknya yang  dilakukan itu merupakan satu peringatan, bahwa tidak semua orang begitu saja tunduk dan pasrah atas segala langkah yang diambilnya. Saudagar yang  marah itu ternyata tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan garangnya ia mulaimeny erang. Meski pun saudagar itu juga memperhitungkan kemungkinan bahwa lawannya yang  muda itu mempunyai bekal ilmu, namun menilik umurnya maka saudagar itu menganggap bahwa ilmunya tentu belum terlalumatang. Tetapi serangan pertama itu, sama sekali tidak dapat menyentuh sasarannya. Ketika saudagar itu melihat lawannya yang muda itu bergeser menghindar, saudagar itu menggeliat menggapai sa saran. Tetapi anak muda itu dengan cepat pula mampumenghindar lagi. “Anak iblis,” saudagar itu mengumpat. Tiba-tiba saja ia sudah melompat. Kakinya terangkat tinggi,mengarah ke dada Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat telah memiringkan tubuhnya. Dengan tangan kiri ia menekan kaki yang  terjulur itu kesamping. Cukup keras sehingga saudagar itu terputar setengah lingkaran. Namun dengan itu maka dengan satu putaran, tangannya telah terayun mendatar menyambar kening. Memang hampir saja keningnya dapat disentuh oleh serangan saudagar kaya itu. Tetapi ternyata Mahisa Pukat memang cukup tangkas. Sambil menarik satu kakinya surut, Mahisa Pukat memiringkan kepalanya sehingga keningnya luput dari sambaran tangan saudagar itu. Sementara itu, sebelum saudagar itu siap mengatur serangan berikutnya, Mahisa Pukatlah yang ju stru menyerangnya. Kaki anak muda itu berputar menebas lambung. Tetapi saudagar itu pun masih mampu menghindarinya pula. Namun Mahisa Pukat ju stru memburunya. Satu loncatan panjang dengan kaki menyamping. Begitu cepat menggapai dada, sehingga saudagar itu justrumeloncat selangkah surut. Pertempuran yang  baru sejenak itu, membuat saudagar kaya itu semakin marah. Ternyata anak muda itu memang memiliki bekal ilmu yang  cukup tinggi. Sementara Ki Saudagar bertempur melawan Mahisa Pukat, Ki Buyut yang  menguasai lingkungan arena perkelahian itu mulai bergeser mendekati arena. Namun Ki Buyut dari seberang jalan justru berkata: “Sudahlah Ki Buyut. Sebaiknya kita menjadi penonton yang baik. Jika kita melibatkan diri, maka akibatnya akan menjadi sangat buruk. Kabuyutan kita akan saling bermusuhan. Di mana pun orang dari lingkungan Ki Buyut bertemu dengan orang dari lingkunganku, tentu akan berkelahi. Karena itu, sebaikny a kita tidak berbuat apa -apa sekarang ini. Kewajiban kita adalah justru memisahkan mereka yang  berkelahi, jika mereka bersedia.” Ki Buyutmenarik nafas dalam-dalam. Ia mengertimaksud Ki Buy ut seberang jalan, sehingga karena itu, maka ia pun masih saja berdiri termangu-mangu. Sementara itu, pertempuran pun semakin lama menjadi semakin seru. Masing -masing yang  menjajagi kemampuan lawannya, telah mulai meningkatkan ilmunya ke tataran yang semakin lama menjadi semakin tinggi. Namun saudagar kay a itu pun menjadi semakin heran pula terhadap lawannya yang masih muda itu. Sebagai seorang saudagar yang  terbiasa berkeliling dari satu ke tempat yang lain, ia memiliki pengalaman yang  luas. Namun di rumahnya sendiri, tiba-tiba saja telah bertemu dengan seorang anak muda yang mampu bertahan terhadap ilmunya untuk beberapa lama. Bahkan meski pun ia mulai meningkatkan ilmunya, anakmuda itu masih jugamampu mengimbanginya. Ki Saudagar mengumpat kasar. Sementara Mahisa Pukat telah meningkatkan ilmunya pula sehingga saudagar kay a itu tidak segera mampumengalahkannya. Dalam pada itu, kedua orang Buyut yang menyaksikan pertempuran itu pun menjadi berdebar-debar. Mereka menyadari, bahwa kedua orang yang  bertempur itu telahmulai melepaskan kemampuan ilmu masing-masing. Ki Saudagar tidak sekedar bertempur dengan kekuatan wadagnya. Tetapi ia mulaimelepa skan tenaga cadangan di dalam dirinya pula. Namun demikian, anak muda yang melawannya itu tidak segera terlempar dari arena dan jatuh terbanting di tanah. Tetapi anak muda itu masih juga selalu mengimbanginya. Seakan-akan seberapa kekuatan dan kemampuan Ki Saudagar meningkat, anakmuda itu pun mampumengimbanginya pula. Anak saudagar kay a serta anak Ki Buyut diseberang jalan itu pun termangu-mangu pula. Anak saudagar kaya yang terlalu y akin akan kelebihan ay ahnya sehingga membuatnya menjadi sombong dan sewenang -wenang didukung oleh kekay aan yang melimpah, menjadi cemas melihat pertempuran itu. Ia tidak melihat ay ahnya mendesak anak muda itu. Memburunya, memukulnya habis-habisan sehingga anak itu menjadi pingsan. Tetapi beberapa kali justru ayahnya harus berloncatanmenghindari serangan lawannya yang cepat dan berbahaya. Sehingga dengan demikian maka kedua orang yang bertempur itu pun nampaknya saling mendesak dan salingmenghindar. Namun bagi Mahisa Semu, pertempuran itu masih baru berada pada tataran yang paling bawah. Mahisa Pukatmasih akan dapat meningkatkan kemampuannya berlapis-lapis jika ia menghendaki. Tetapi saudagar itu pun masih belum memanjat pada tataran tertinggi dari ilmunya. Ia masih meningkatkan tataran kemampuan selapis demi selapis, sehingga demikian, saudagar itu ingin mengetahuinya, sampai lapisan yang manakah kemampuan anakmuda yang telah beranimenghinanya itu. Namun lapis demi lapis sudah dilaluinya, anak muda itu masih saja mampu mengimbanginya. Bahkan anak muda itu semakin lama justrumenjadi semakin garang. Saudagar itu mulai menjadi gelisah. Ia tidak lagi dapat menganggap anakmuda itu sebagai anak ingusan. Bahkan ia mulai cemas bahwa ia akan mengalami kesulitan menghadapinya. “Anak ini memang aneh,” berkata saudagar itu di dalam hatinya. Dengan demikian, saudagar itu menjadi tidak sabar lagi. Ia tidak lagi meningkatkan ilmunya selapis demi selapis. Dalam kegelisahannya, ia langsung ingin mengetahui, apakah ia akan dapatmengalahkan anakmuda itu atau tidak. Karena itulah, maka tiba -tiba saja serangan saudagar itu menghentak mendesak Mahisa Pukat. Beberapa langkah Mahisa Pukat meloncat surut. Ia tidak siap menghadapi serangan yang  tiba -tiba saja dilontarkan dengan segenap tenaga dan kemampuan. Bahkan telah mengangkat segenap tenaga di dalam dirinya. Namun ternyata bahwa saudagar kaya itu masih harus mengumpat. Mahisa Pukat yang meloncat beberapa langkah surut itu dengan cepat menyesuaikan dirinya. Ia pun telah meningkatkan ilmunya mengimbangi kemampuan saudagar itu. Bahkan Mahisa Pukat yang menyadari, bahwa saudagar itu ingin segera menghabisiny a, maka ia pun telah berusaha mendesaknya pula. Mahisa Pukat pun ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi ternyata bahwa Mahisa Pukat pun harusmenghadapi satu kekuatan ilmu yang tinggi. Saudagar yang menyadari, bahwa kekuatan dan kemampuannya tidak akan mampu mengatasi lawannya yang muda itu, maka ia pun telah membangunkan ilmu pamungkasny a. Dengan tangkasny a saudagar itu telah mengambil jarak. Kemudian berdiri tegak dengan kaki renggang. Kedua tangannya terjulur ke depan, namun kemudian kedua telapak tangannya pun dikatubkannya. Saudagar itu pun kemudian maju selangkah demi selangkah mendekati Mahisa Pukat yang  termangu -mangu. Kedua telapak tangan yang  dikatubkannya itu pun kemudian digerakkannya. Kedua telapak tangan itu saling menggosok perlahan-lahan. Mahisa Pukat melihat asap tipis mengepul dari antara kedua tangan saudagar kaya itu. Bahkan kemudian tangan saudagar itu semakin lama menjadi semakin merah membara. Semua orang yang  melihatnya menjadi berdebar-debar. Anak Ki Buyut itu pun menjadi gelisah. Anak muda itu turun ke gelanggang sekedar membantunya. Namun ialah yang kemudian akan mengalami bencana yang paling berat. Jika tangan yang membawa itu meny entuh tubuhnya,maka bagian tubuh itu pun akan menjadi hangus karenanya, sebagaimana kulit yang tersentuh bara api yang  pariasnya melampaui bara api tempurung kelapa. Tetapi anak Ki Buy ut itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia merasa bahwa ia pun tidak akan dapat menahan ilmu yang mengerikan itu. Bahkan ay ahnya pun tidak. Satu-satunya cara untuk mengalahkannya adalah melawan saudagar kay a itu ber sama-sama. Namun di tempat itu ada pula ki Buyut dari sebelah justru yang menguasai lingkungan tempat pertempuran itu terjadi. Jika ia ikut campur dengan beberapa orang yang  ada, maka orang-orang Kabuyutanya pun akan ikut campur pula. Dengan demikian maka anak Ki Buyut itu menjadi semakin gelisah. Apalagi ia sadar, bahwa ia tidak dapat berbuat apa-apa sama sekali. Tetapi ternyata pertempuran itu segera berakhir. Mahisa Semu memang menjadi berdebar-debar pula melihat tangan yang merah membara. Tetapi ia tidak begitu yakin, bahwa tangan yang  membara itu akan mampu meny entuh tubuh Mahisa Pukat. Mahisa Pukat sendiri memang tidak menjadi gelisah melihat ilmu yang  menggetarkan itu. Baginya, ilmu itu masih belum berada di luar kemungkinan untuk melawannya. Namun Mahisa Pukat masih tidak ingin menghancurkan lawannya dengan ilmunya yang  mampu dilontarkannya dari jarak jauh. Ia pun tidak mempergunakan ilmu yang  dapat menghisap kekuatan ilmu lawannya yang bertangan bara itu. Karena setiap sentuhan akan berarti kulitnya yang  tersentuh akan menjadi hangus. Karena itu, maka untuk melawan ilmu lawannya yang  kemudian bertangan bara itu adalah pedangnya. Sesaat kemudian, Mahisa Pukat itu pun telah menggenggam pedangnya yang berwarna kehijau-hijauan. “Pedangmu akan luluh menjadi gelali,” geram saudagar kaya itu. Mahisa Pukat memang menjadi ragu -ragu. Namun ia pun kemudian yakin akan kemampuan pedangnya. Pedangnya bukan sekedar pedang yang dibuat oleh pande besi di pinggirpinggir pasar yang barangkali memang akan dapat luluh terkena bara yang panasny a melampaui bara tempurung kelapa itu. Tetapi Mahisa Pukat bukan saja pernah menghadapi ilmu seperti itu. Tetapi bahkan dari orang yang tangannyamembara itu terpancar panasnya api bagaikan perapian. Namun saudagar kay a itu tidak memiliki kelengkapan ilmu yang demikian. Ia hanya dapat menjadikan tangannya merah membara. Dalam pertempuran selanjutnya, dengan sengaja saudagar kaya itu telah menyentuh ranting-ranting pepohonan perdu yang tumbuh di sekitar arena pertempuran. Asap pun mengepul dan ranting-ranting itu menjadi hangusberpatahan. Tetapi Mahisa Pukat bukan sebangsa ranting perdu. Karena itu maka tangan saudagar kay a itu tidak dengan serta merta mampu menggapainya sebagaimana ia menggapai rantingranting perdu itu. Bahkan sejenak kemudian,maka pedang Mahisa Pukat pun telah berputaran. Semakin cepat semakin cepat, sehingga menjadi segulung warna kehijauan yang bergerak di sekitar Ki saudagar itu. Dengan demikian maka pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Ki Saudagar dengan ilmunya berusaha untuk benar-benar membunuh Mahisa Pukat. Namun Mahisa Pukat ternyata memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi, sehingga saudagar kaya yang  tangannya membara itu tidak sempat menyentuhnya. Tetapi saudagar kaya itu yakin, jika ia berhasil meny entuh pedang Mahisa Pukat,maka pedang itu tentu akan luluh oleh panasnya bara api pada tangannya itu. Mahisa Pukat yang  y akin pula akan kelebihan pedangnya, justru telah memberikan kesempatan kepada lawannya untuk menyentuh pedangnya. Ketika Mahisa Pukat berusaha untuk menggapai tubuh lawannya dengan ujung pedangnya,maka ia tidak segera menarik pedangnya yang terjulur itu. Dengan serta merta saudagar kaya itu telah menjepit daun pedang itu dengan kedua telapak tangannya yang  membara. Demikian kuatnya, sehingga Mahisa Pukat tidak segera mampumenariknya. Tetapi Mahisa Pukat memang tidak tergesa-gesa. Ia sama sekali tidak mencemaskan daun pedangnya. Betapa pun panasnya tangan saudagar yang  membara itu, namun pedangnya sama sekali tidak terpengaruh karenanya. Bahkan sebenarnya Mahisa Pukat mendapat kesempatan untukmempergunakan ilmunya untukmenghisap kekuatan Ki Saudagar saat ia berusaha menjepit daun pedangnya. Tetapi Mahisa Pukat tidak melakukannya. Jika saudagar itu kehilangan kekuatan dan ilmunya, maka pertempuran pun akan berakhir. Mahisa Pukat tidak akan mendapat kesempatan untuk berbuat apa pun juga terhadap saudagar itu jika ia kemudian jatuh di tanah dengan lemahnya. Karena itu, maka untuk beberapa saat Mahisa Pukat membiarkan lawannya menjepit daun pedangnya. Namun kemudian ia pun bertanya: “Apakah kau sudah yakin bahwa tanganmu tidakmampumeluluhkan baja pedangku. “Persetan kau,” geram saudagar itu. Demikian ia yakin bahwa pedang anak muda itu tidak luluh oleh ilmunya,maka dengan serta merta ia pun telah melepaskannya dan meloncat menyerang tubuh Mahisa Pukat dengan telapak tangannya. Tetapi Mahisa Pukat pun telah bersiap. Karena itu, maka demikian pedangnya terlepas, maka ia pun telah menggerakkan ujung pedangnya itu. Terdengar keluhan tertahan. Saudara kaya itu pun telah melenting surut beberapa langkah. Ternyata bahwa segores luka telahmenganga di lengannya sebelah kiri. Saudagar kaya itu kemudian telah mengumpat kasar. Darah telah mengalir dari lukanya. “Kau akan meny esal atas kesombonganmu,” katanya kemudian. Tetapi Mahisa Pukat justru tersenyum sambil berkata: “Nah. Kau telah terluka. Pikirkan baik-baik apakah kau akan menyerah atau tidak.” Saudagar kaya itu tidak menjawab. Dengan serta merta ia telah menyerang Mahisa Pukat pula.Namun seperti seranganserangan sebelumnya, tangannya yang  membara itu sama sekali tidak dapatmeny entuh kulit anakmuda itu. Sementara itu pedang Mahisa Pukat pun telah berputaran pula semakin cepat. Betapa pun saudagar kaya itu mempercepat irama serangan-serangannya, namun ia tidakmampu bergerak lebih cepat melampaui ujung pedang Mahisa Pukat. Setiap kali, seakan-akan ujung pedang itu telah menahan tata geraknya. Disaat-saat ia meloncat meny erang, maka ujung pedang itu selalu menghadang. Bahkan kemudian mematuk kearah dada saudagar kaya itu, ataumenebas ke arah lehernya. Beberapa kali saudagar itulah yang hampir saja ter sentuh oleh ujung senjata lawannya. Tetapi tangannya yang  bagaikan membara itu sama sekali tidak mampu menggapai kulit anak muda itu. Apalagi setelah ia yakin, bahwa panas ilmunya tidak mampumeluluhkan daun pedang Mahisa Pukat. Sebenarnyalah saudagar kaya itu semakin lama semakin terdesak. Mahisa Pukat yang  memang menjadi marah atas tingkah laku saudagar kaya itu sengaja mendesaknya terus. Meskipun beberapa kali saudagar kay a itu meloncat menghindar, namun ujung pedang Mahisa Pukat seakan-akan selalu memburunya. Seperti seekor lalat yang  berterbangan. Sekali-sekali hingga ke kulit saudagar kay a itu. Ki Saudagar berteriak semakin marah, ketika sekali lagi kulitnya tergores ujung pedang. Tepat pada pundak kirinya. Sehingga luka itu terasa betapa pedihnya. Sambil memburu terus Mahisa Pukat masih juga menawarkan agar Saudagar itu meny erah. Tetapi tawaran itu sama sekali tidak dihiraukannya. Ia tentu akan merasa sangat terhina, jika saudagar kaya itu, meski pun telah menghentakkan ilmunya yang dapat membuat tangannya membara, namun sama sekali tidak berdaya menghadapi seorang anak muda dengan senjata pedangnya. tetapi satu keny ataan bahwa ia memang tidak mampu menembus pertahanan Mahisa Pukat dengan putaran pedangnya yang berwarna kehijau-hijauan itu. Ki Demang dari seberang jalan yang  mengikuti pertempuran menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Anak muda itu ternyata adalah seorang yang  berilmu sangat tinggi:” Anaknya yangmendengar kata-kata itu berdesis: “Aku tidak mengira bahwa pada suatu saat aku dapatmelihat orang-orang berilmu tinggi bertempur denganmengerahkan ilmu mereka.” “Ki Saudagar itu juga berilmu tinggi. Tetapi anakmuda itu jauh melampauinya. Nampaknya ia sama sekali tidak mengalami kesulitan, sementara Ki Saudagar telah mengerahkan ilmunya yang dibanggakannya. Selain bagi anak muda itu, maka ilmu saudagar itu benar-benar ilmu yang sangat berbahaya. Jika saudagar kaya itu benar-benar marah, maka bia sanya telapak tangan dengan ilmu yang demikian itu akan membekas di-dada. Seakan-akan didada lawannya itu telah dibuat lukisan telapak tanganyang membara itu, karena kulitnya yang terbakar. Tetapi yang kini terjadi, adalah kulit saudagar itulah yang dilukisi dengan goresan-goresan saling menyilang dengan ujung pedang.” Sebenarnyalah Ki Saudagar itu berteriak marah sekali ketika pedang Mahisa Pukat menggores dadanya dan meninggalkan goresan meny ilang. Tidak cukup dalam untuk menghentikan perlawanan Ki Saudagar. Tetapi goresan itu membuat jantung Ki Saudagar menjadi bagaikan pecah oleh kemarahanyang menghentak. Tetapi saudagar kaya itu tidak dapat lari dari kenyataan. Ia tidak dapatmenyalurkan kemarahannya itu lewat ilmunya. Ia benar-benar tidak mampu meny entuh kulit lawannya yang masih muda itu. Setiap kali ujung pedang lawannya itu telah menghadang. Bahkan ketika ia terlanjur meloncatmenerkam ke arah wajah lawannya, pedang itu hampir saja terhunjam di dadanya. Namun ia masih sempat menggeliat menghindari ujung pedang yang  tiba-tibamenunggu loncatannya itu. Namun beberapa saat kemudian, maka sekali lagi ujung pedang lawannya yang muda itu melukainya. Daging pahanya telah menganga oleh ujung pedang Mahisa Pukat yang tajamnya melampaui ujung duri landakyang  buas. Ki Saudagar itu meloncat surut. Darah telah melumuri seluruh tubuhnya bercampur dengan keringat yang  bagaikan terperas dari tubuhnya. Tetapi ia tidak mampu mengalahkan lawannya. Bahkan ia benar-benar tidak dapat lari dari kenyataan, bahwa tubuhnya telah terluka di beberapa tempat. Darahnya telah banyak mengalir dan sama sekali tidak ada harapan untuk dapat memenangkan pertempuran itu. Sementara itu, anak Ki Saudagar itu beberapa kali telah mengumpat kasar. Tetapi ia pun harus melihat keny ataan itu pula. Ayahnya yang dibanggakannya itu ternyata tidak mampu berbuat apa-apa menghadapi seorang anakmuda yang  begitu sa ja hadir dalam perkelahian itu. Anak muda yang  kebetulan berada di kedai tempat anak Ki Buyut itu juga singgah untuk menunggunya. Tetapi anak saudagar itu pun tidak dapat berbuat apa -apa pula. Ia hanya dapat menyaksikan, bagaimana ayahnya mengalami kesulitan menghadapi anak muda itu. Bahkan kemudian dengan jantung yang berdebaran ia harus menyaksikan betapa keringat ayahnya telah bercampur dengan darah. Namun akhirnya, tenaga Ki Saudagar itu pun menjadi semakin su sut. Bukan karena kekuatan ilmu Mahisa Pukat yang mampu menghisap kekuatan dan ilmu lawannya, tetapi karena darah yang  semakin banyak mengalir dari lukalukanya. Telapak tangan saudagar kaya itu masih merah membara. Tetapi semakin lama maka bara itu pun menjadi semakin pudar. Namun Mahisa Pukat bukan seorang pembunuhyang  tidak berjantung. Ketika ia melihat lawannya menjadi lemah, ia pun tidak lagi memutar pedangnya. Bahkan kemudian pedangnya itu pun telahmenunduk pula. Saudagar kaya itu masih berdiri tegak. Tetapi kemudian diamatinya telapak tangannya yang  memudar, karena tidak ada lagi tenaganya dan tenaga dalamnya yang  mampu mendukung kekuatan ilmunya itu. “Kau t idakmempunyai kesempatan lagi Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat. Wajah saudagar kaya itu menjadi pucat. Apalagi ketika ia sempat memandang telapak tangannya yang tidak lagi semerah bara. Meski pun masih nampak sisa -sisa kekuatan ilmunya, tetapi tangannya itu tidak lagi mampu membakar kulit lawannya. Seandainya telapak tangan itu meny entuh kulit Mahisa Pukat, maka yang  terasa tidak lebih panas dari panasnya sinar matahari saat itu. “Kau tidak dapat mempergunakan uang dan kekayaanmu untuk menolongmu Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Jawaban Ki Saudagar itu tidak terduga oleh Mahisa Pukat dan bahkan oleh orang-orang yang ada di sekitar arena. Katanya: “Ya. Ki Sanak. Kau benar. Uang dan kekayaänku dalam keadaan seperti ini tidak dapat menolongku. Tidak dapat meny elamatkan aku seandainya kau akan membunuhku. Karena itu,maka aku akan merelakan umurmu kepadamu.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Ki Buyut kedua-duanya. Kalian dengar apa yang dikatakan oleh Ki Saudagar. Ia sudahmenyerah.” Diluar sadar kedua orang Buyut itu punmengangguk. “ Ia punmengakui bahwa uang dan kekayaannya tidak akan dapat menolongnya,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Kedua orang Buyut itumengangguk lagi. “Nah, jika demikian, maka orang yang  dapat menyelamatkannya sekarang dari maut tentu lebih berharga dari uang yang  dimilikinya,” berkata Mahisa Pukat. Kedua orang Buyut itu termangu-mangu. Sementara Mahisa Pukat bertanya kepada Ki Saudagar: “Bukankah begitu Ki Saudagar?” Saudagar kaya itu tidak dapat berbuat lain kecuali menganggukmengiakan. “Baiklah,” berkata Mahisa Pukat: “aku tidak akan membunuhmu. Tetapi ingat kata-katamu, bahwa kau masih menghargai nyawamu lebih tinggi dari uang dan harta bendamu. Karena itu, jika kemudian nyawamu masih tinggal di dalam tubuhmu, kau tidak boleh lagi menyandarkan hidupmu pada harta Benda dan kekay aanmu, seakan-akan dengan kekay aanmu kau dapat berbuat apa saja. Gegedug yang kau upah itu pun tidak dapat meny elesaikan per soalan. Kau sendiri yang  berilmu tinggi, juga tidak dapat berbuat apaapa, padahal harta dan kekayaanmu tidak dapat dihitung lagi.” Saudagar itu mengangguk lagi sambil berkata: “Aku mengerti.” “Karena itu pergunakanlah harta dan kekay aanmu sebaikbaiknya. Ingat, jika kau sekarang mati, kau tidak akan dapat membawanya,” berkata Mahisa Pukat pula. “Ya,” desis saudagar kaya itu. “Baiklah,” berkata Mahisa Pukat. “Ki Buyut dari kedua daerahyang  bertetangga inimenjadi saksi bahwa Ki Saudagar telah merubah sikapnya. Ia tidak lagi bertumpu kepada kekuatanyang  disangkanya tidak dapat dilawan dari harta dan kekay aannya.” Kedua orang Buyut itu mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat pun berkata selanjutnya kepada Ki Saudagar: “Karena itu, kau harus mempergunakan harta kekayaanmu untuk tujuan yang  baik, yang  bermanfaat bagi orang-orang yang didalam hidupnya seakan-akan tidak pernah menikmati kesenangan sama sekali. Bukan sebaliknya kau pergunakan harta dan kekayaanmu untuk menyakiti hati sesamamu yang tidakmempunyai harta dan kekayaan seperti yang  kaumiliki.” Ki Saudagar yang  masih dilumuri keringat bercampur darah itu mengangguk. “Nah,” berkata Mahisa Pukat kepada anak Ki Saudagar itu, “rawat ay ahmu baik-baik. Ia masih diperlukan oleh keluargamu. Ia masih harus bekerja untukmenghidupimu.” Anak saudagar kaya itu termangu-mangu. Ra sa-rasanya harga dirinya benar-benar telah jatuh dan terinjak sama sekali. Namun ay ahnya itu berkata: “Kau dengar kata-katanya?” Anaknya itumengangguk. “Bawa aku pulang.Undang anakmuda itu datang ke rumah kami. Aku ingin menghormati orang yang telah mengalahkan aku dalam usianya yang masih sangat muda itu,” berkata saudagar kay a yang  menjadi sangat lemah itu. Lukanya yang paling dalam justru luka di pahanya. Karena luka di dada, di pundak, lengan dan goresan-goresan lain seakan-akan hanya melukai kulitnya saja meski pun darahmasih jugamenitik dari luka itu. Anaknya masih saja ragu -ragu. Namun akhirnya ia pun berkata: “Ki Sanak. Ayahminta kau ber sedia singgah di rumah kami.” Tetapi Mahisa Pukatmenggeleng sambil menjawab: “Maaf Ki Sanak. Aku dalam perjalananyang  tergesa -gesa. Karena itu, aku tidak dapat singgah meski pun hanya sebentar. Aku mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang  Ki Sanak berikan kepadaku.” “Jangan menolak anak muda,” suara Ki Saudagar itu hampir tidak dapat didengarnya. Namun Mahisa Pukat menjawab: “Kau memerlukan perawatan segera. Pada kesempatan lain aku akan singgah ke rumahmu.” Saudagar itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi wajahnya yang pucat dan lesu itumembayangkan kekecewaan hatinya. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata: “Bawa ay ahmu pulang segera. Janganmenunggu sampai terlambat.” Anaknya pun kemudian memapah saudagar kaya itu. Dua orang dengan sertamerta telah membantunya. Ki Buyutyang merasa berhutang budi kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu pun telah minta kedua anak muda itu singgah. Tetapi ternyata Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu pun dengan terpaksamenolak permintaan itu. “Kami mohon maaf,” berkata Mahisa Pukat berulang kali, “yang kami harapkan, bahwa untuk selanjutnya tidak terjadi sesuatu di Kabuyutan ini. Kedua-duanya. Karena ketenangan dan kedamaian akan dapat menjadi pangkal peningkatan tataran hidup para penghuni kedua Kabuyutan” Kedua orang Buyut itu hanya termangu-mangu saja. Mereka tidak lagi dapat menahan ketika Mahisa Pukat dan Mahisa Semuminta diri untukmelanjutkan perjalanan. Keduanya kemudian masih singgah untuk mengambil kuda-kuda mereka. Namun keduanya terkejut ketika pemilik kedai itu meny ongsong mereka dengan membawa sebungkus makanan. “Jangan menolak,” berkata pemilik kedai itu, “sama sekali tidak ada niat untukmengecilkan arti kalian. Tetapi yang  aku lakukan benar-benar timbul karena niat baik. Aku kagum akan kemampuan kalian berdua. Tetapi lebih kagum lagi, bagaimana kalian mengakhiri pertentangan yang timbul antara kedua Kabuyutan itu.” “Sebenarnya Ki Sanak tidak perlu berbuat demikian,” desis Mahisa Pukat. “Aku mohon maaf. Dan aku mohon, jangan menolak,” berkata pemilik kedai itu. Mahisa Pukat melihat kejujuran yang  terpancar di mata pemilik kedai itu. Karena itu,maka ia pun kemudian berkata: “Baiklah Ki Sanak. Aku berterima ka sih atas bekal yang  Ki Sanak berikan kepada kami.” Demikianlah, sejenak kemudian Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah melanjutkan perjalanannya. Orangorang yang masih berkumpul itu pun melambaikan tangan mereka. Demikian pula kedua orang anak muda itu. Sikap Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah menimbulkan kekaguman kepada orang-orang yang menyaksikannya, apa yang telah dilakukannya. Bahkan saudagar kaya itu pun merasa bahwa sulit baginya untuk menemukan orang-orang seperti itu lagi. Berilmu tinggi tetapi juga berbudi luhur. Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berderap semakin lama semakin jauh. Sehingga akhirnya hilang dari pandangan mata orang -orang yang telah menyimpan kesan tersendiri kepada mereka. Mahisa Semu masih juga berpaling. Tetapi ia pun sudah tidakmelihat lagi tangan-tangan yangmelambai tinggi-tinggi. “Apakah mereka tidak akan ber selisih lagi?,” bertanya Mahisa Semu. “Setidak-tidaknya untuk beberapa saat,” jawab Mahisa Pukat: “tetapi aku berharap bahwa untuk selanjutnya ber selisihan itu tidak akan terjadi lagi. “Aku memang melihat kesungguhan pada kata-kata saudagar kaya itu,” berkata Mahisa Semu. “Jika tidak ada iblismelekat lagi di tubuhnya, ia tentu akan selalu ingat, bahwa ny awanya telah diperpanjang. Ia sendiri merasa bahwa ia akan mati dalam pertempuran itu. Tetapi ternyata ia masih tetap hidup. Keadaan itu tentu sempat mempengaruhi jiwanya sehingga terjadi perubahan sikap yang mendasar,” sahut Mahisa Pukat. Mahisa Semu mengangguk-angguk kecil. Katanya: “Bagaimana dengan anaknya?” “Ayahnya akan memberikan petunjuk kepadanya,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi agaknya sikap anaknya memang lebih keras dari sikap ayahnyameski pun kesalahan utama tetap ada pada ay ahnya yangmemanjakannya.” Mahisa Semu mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti keterangan Mahisa Pukat. Ia pun berharap bahwa anak saudagar kay a itu dapatmenyadari apa yang  sebenarnya telah terjadi. Namun dalam pada itu, Mahisa Semu tiba-tiba berkata: “Kita mempunyai bekal cukup banyak.” “Pemilik kedai itu ternyata orang baik,” desis Mahisa Pukat. Mahisa Semu mengangguk-angguk. Sementara kuda-kuda itu pun berlari mengikuti jalan yang  cukup besar meski pun tidak terlalu ramai. Ketika mereka sudah menempuh jarak yang agak panjang, makamereka pun segera berhenti untukmemberi kesempatan kudamereka beristirahat. Sementara itu langitmenjadi suram. Agaknya mereka tertahan cukup lama untuk mengatasi perkelahian yang hampir saja membakar dua Kabuyutan yang bertetangga. “Kita tidak dapat sampai ke Kotaraja,” berkata Mahisa Pukat. “Kita bermalam di perjalanan?,” bertanya Mahisa Semu. “Ya. Meski pun jaraknya sudah tidak begitu jauh lagi, biarlah kita berhenti,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Keduanya pun kemudian telah berhenti di sebuah banjar padukuhan di padukuhan berikutnya. Kepada penunggu banjar Mahisa Pukat menyatakan permintaannya apakah keduanya dapat berhenti dan bermalam di banjar itu. Penunggu banjar itu ragu -ragu.Namun kemudian orang itu pun berkata: “Baiklah. Tetapi tempatnya tidak begitu baik.” “Ah,” desis Mahisa Pukat: “tempat itu sudah jauh dari pantasbagi kami berdua.” Keduanya kemudian telah mengikat kuda mereka di sebelah banjar padukuhan itu. Oleh penunggu banjar itu, keduanya mendapat tempat di serambi sebelah kanan. Tempatnya memang terbuka sehingga angin malam yang dingin akan berhembusmengipasi tubuh mereka. Namun keduanya memiliki pengalaman mengembara. Mereka terbiasa tidur di mana pun juga. Bahkan di tempattempat terbuka. Dengan demikian maka serambi itu memang cukup pantas bagi keduanya. Apalagi ketika kemudian, setelah malam meny elimuti padukuhan itu, hujan punmulai turun. Semakin lama semakin lebat, sehingga keduanyamerasa sangat berterima kasih dapat berlindung di bawah atap serambi banjar itu. Bahkan atas ijin penunggu banjar itu,mereka telahmenempatkan kuda mereka dibawah teritis sehingga sedikit terlindung dari air hujan yang deras., Di dinginnya malamyang  ba sah, penunggu banjar itu telah membawa ketela rebus kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan ia pun sempat untuk ikut duduk di serambi itu beberapa lama. Penunggu banjar itu heran ketika Mahisa Pukat dan Mahisa Semumembuka bekal yangmereka dapat dari pemilik kedai di tempatyang  hampir saja terbakar oleh permusuhan itu. “Pemilik kedai yang baik,” desis penunggu banjar ketika ia diberi tahu darimana asal bekalmereka itu. “Silahkan Ki Sanak,” Mahisa Pukatmempersilahkan. Disamping ketela rebus yang dibawa oleh penunggu banjar itu, mereka juga menghadapi sebungkus makanan yang bermacam-macam jenisnya. Menjelang tengah malam, maka penunggu banjar itu berkata: “Sudahlah Ki Sanak. Kalian harus beristirahat. Beristirahatlah. Aku juga sudah mulaimengantuk.” Namun sebelum penunggu banjar itu beranjak dari tempatnya, mereka mendengar jerit tertahan seorang perempuan. “Apa itu?,” justru penunggu banjar itu bertanya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu termangu-mangu. Ternyata suara itu terdengar lagi di sela-sela deru air hujan yang lebat diatasbanjar itu. Ternyata beberapa saat kemudian, beberapa orang laki-laki telah memasuki halaman banjar itu dan langsung naik ke pendapa. Mereka telah membawa seorang perempuan yang nampaknya berusaha untukmelawan. Ketika beberapa orang laki-laki itu melihat tiga orang di serambi, maka tiba -tiba saja seorang diantara mereka membentak: “Janganmencampuri persoalan kami.” Ketiga orang itu memang hanya berdiam diri saja. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak tahu, apakahyang  harusmereka lakukan. Sementara penunggu banjar itumenjadi bingung. Dalam pada itu, seorang laki-laki yang  lain berkata kepada perempuan itu: “Aku tidak mau kau tipu lagi. Tunjukkan sekarang, dimana kau simpan barang-barang itu. “Kau jangan membuat aku semakin marah. Kita sekarang berada di banjar yang  agak jauh dari rumah orang-orang padukuhan. Orang -orang di serambi itu pun tidak akan berbuat apa-apa untuk mencegah aku jika aku sudah kehilangan kesabaran,” bentak laki-laki itu. “Aku tidak bersalah,” perempuan itu berteriak. Tetapi suaranya hilang ditelan oleh deru hujanyang  lebat. “Kau jangan ingkar. Selama ini aku berikan apa saja yang  kau minta. Ternyata semua yang aku berikan kepadamu itu kau berikan pula kepada seorang laki-laki. Nah, di mana rumah orang itu? semua barang-barangku tentu tersimpan disana. Aku tahu, laki-laki itu t inggal di padukuhan ini. Tetapi yangmana? “Bohong, semua itu bohong,” teriak perempuan itu pula. “Jika demikian, di mana perhiasan itu?” Perempuan itu masih saja berteriak. Perhiasan itu adalah perhiasanku sendiri. Barang -barang itu barang-barangku sendiri.” “Akumembeli semuanya itu,” jawab laki-laki itu. “Tetapi barang itu sudah kau berikan kepadaku. Barangbarang itu telah menjadi milikku. Terserah kepadaku, apakah barang-barang itu aku jual, atau aku buang ke sungai atau untuk apapun,” suara perempuan itu meninggi. “Kau tidakmenghargai pemberianku,” geram laki-laki itu. “ Itu terserah kepadaku,” jawab perempuan itu. “Kau memang iblis betina. Baik, baik. Jika demikian, kau tidak boleh pulang ke rumah itu lagi. Rumah itu adalah rumahku. Sebenarnya aku ingin memberikan rumah itu kepadamu. Tetapi aku urungkan niatku,” berkata laki-laki yangmarah itu. “Rumah itu sudah rumahku,” teriak perempuan itu. “ Ingat. Jika kau berani menginjakkan kakimu di halaman rumah itu, apalagi ber sama-sama dengan laki-laki itu, maka kau akan aku bunuh bersama-sama dengan laki-laki itu. Sekarang tunjukkan di mana rumahnya. Aku akan menyerahkan kau kepadanya,” teriak laki-laki itu. “Tidak. Kau akan menipuku. Kau akan berbuat jahat kepadanya,” sahut perempuan itu tidak kalah kerasnya. Lalu katanya: “ Jika kau ingin membunuh, bunuh aku.” “Aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah iblis betina seperti kau ini,” jawab laki-laki itu. Lalu katanya kepada kawan-kawannya: “Kita tinggalkan perempuan itu disini. Ia sudah berada di banjar padukuhan laki-laki yang diberinya apa yang aku berikan kepadanya. Aku tidak peduli lagi apa yang akan dilakukannya.” Demikianlah, maka beberapa orang laki-laki itu telah meninggalkan banjar itu menyusup dalam hujan yang lebat. Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan penunggu banjar itu benarbenar tidak mencampuri persoalan mereka. Namun ketika beberapa orang laki-laki itu telah pergi, sedangkan perempuan itu menangis di pendapa banjar, maka penunggu banjar itu pun telahmelangkah naik ke pendapa mendekatinya. “Apa yang  sebenarnya telah terjadi?,” bertanya penunggu banjar itu. “Aku diusirnya dari rumah,” jawab perempuan itu, “ia menuduhyang bukan-bukan.” “Tetapi apakah benar, bahwa barang-barang yang  dibelinya untukmu kau berikan kepada orang lain?,” bertanya penunggu banjar itu. “Barang -barang itu sudah hakku. Terserah kepadaku,” jawab perempuan itu disela -sela isaknya. “Jangan begitu. Kau menyakiti hatinya. Jika ia memberimu apa saja, itu tentu ada pamrihnya,” berkata penunggu banjar itu. “ Ia telah mendapatkan apa yang  ia inginkan dariku. Aku telah memberikan apa yang  ia kehendaki,” jawab perempuan itu. “Tetapi tentu tidak sedangkal itu. Ia tentu memerlukan kesetiaanmu. Apakah ia beristri yang lain?,” bertanya penunggu banjar itu. “Tidak,” jawab perempuan itu. “Jika demikian, maka kau adalah satu-satunya isterinya yang diharapkan setia kepadanya,” berkata penunggu banjar itu. “Aku belum isterinya,” jawab perempuan itu. “Meski pun belum, tetapi ia tentu akan memperlakukan kau sebagai isterinya karena ia memang belum beristri,” berkata penunggu banjar itu. “ Ia tahu bahwa aku tidak ingin menjadi isterinya. Aku menolak ketika ia mengajak aku meresmikan perkawinan,” berkata perempuan itu. “Jika demikian, maka kau memang seorang perempuan yang tidak tahu diri,” geram penunggu banjar itu: “Nah, jika demikian, pergilah kepada laki-laki yang kau beri apa yang  kau terima dari seorang yang  telah kau peras itu.” Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian: “Aku tidak berani. Malam terlalu gelap dan hujan sangat lebat.” “Sebaiknya kau tidak bermalam di banjar ini,” berkata penunggu banjar yang menjadi tidak senang kepada perempuan itu. “Aku takut pergi,” berkata perempuan itu. “Jika demikian, biarlah aku panggil saja laki-laki itu. Aku tentu mengenalnya jika ia penghuni padukuhan ini,” berkata penunggu banjar itu pula. “Kau tidak perlu memanggilnya. Antar saja aku ke rumahnya,” berkata perempuan itu, “bukankah dengan demikian, kau tidak perlumembawa orang itu kemari.” “Aku tidak mau mengantarmu. Aku tidak mau berjalan di malam hari begini dalam keadaan hujan bersamamu,” jawab penunggu banjar itu. Lalu katanya pula: “Sebut nama laki-laki itu.” Perempuan itu ragu-ragu. Namun kemudian ia meny ebut nama: “Panangkil. Namanya Panangkil. “Panangkil?,” penunggu banjar itu terkejut. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi. “Ya, kenapa?,” bertanya perempuan itu. Penunggu banjar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Tidak apa-apa. Tetapi rumahnya agak jauh.” “Karena itu, bawa aku ke sana,”minta perempuan itu. “Tidak. Aku tidak mau,” jawab penunggu banjar itu sekali lagi. Perempuan itu memang menjadi heran, kenapa penunggu banjar itu lebih senang memanggilnya daripada membawanya kepada laki-laki itu. Tetapi bagaimana pun juga ia memaksa, tetapi penunggu banjar itu tetap tidak mau membawanya. Ketika penunggu banjar itu pergimemanggil laki-laki yang  bernama Panangkil itu, maka ia berpesan kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu: “Jangan tidur dahulu. Tolong awasi perempuan itu. Aku akanmemanggil orang yang disebutnya.” Mahisa. Pukat danMahisa Semumengangguk. “Aku akan menunggumu kembali,” desis Mahisa Pukat. Demikianlah, maka penunggu banjar itu pun telah mengenakan caping belarak yang lebar dan turun ke halaman. Malam memang gelap sekali, sehingga sejenak kemudian, penunggu banjar itu sudah tidak nampak lagi sebelum orang itu keluar dari regol halaman. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak beranjak dari tempatnya. Lampu banjar yang  berkeredipan memangmampu menggapai sampai ke serambi. Tetapi perempuan itu tidak dapat melihat dengan jelas, kedua orang yang  berada di serambi itu. Di pendapa perempuan itu duduk kedinginan. Pakaiannya memang basah oleh hujan. Tetapi ia tidak beringsut dari tempat duduknya. Dengan demikian makamereka saling berdiam diri. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidakmenyapanya dan perempuan itu pun tidak berbicara apapun. Namun justru dengan demikian maka uasana terasa menjadi tegang. Ternyata mereka memerlukan waktu yang  agak lama untuk menunggu. Baru beberapa saat kemudian, penunggu banjar itu kembali bersama seorang laki-laki yang bertubuh tinggi tegap dan kekar. “Kakang,” perempuan itu bangkit dan dengan tergesa -gesa meny ongsong itu. Namun nampaknya sikap laki-laki itu dingin sekali, seperti dinginnyamalam itu yang  dibasahi oleh hujanyang lebat. “Aku telah diusir dari rumahku kakang,” berkata perempuan itu. “Kenapa?,” bertanya laki-laki itu singkat. “Hubungan diantara kita sudah diketahuinya. Bahkan ia tahu bahwa barang -barang dan perhiasan yang  diberikan kepadaku telah aku berikan kepadamu,” jawab perempuan itu. “Lalu, sekarang apa yang kau kehendaki?,” bertanya lakilaki itu. Perempuan itu memang menjadi heran mendengar pertanyaan laki-laki yang  bertubuh tinggi, tegap dan kekar itu. Karena itu, maka ia pun justru bertanya: “Kenapa kau bertanya seperti itu? “Jadi, aku harus bertanya bagaimana?,” laki-laki itu masih bertanya lagi. Perempuan itu menjadi semakin heran. Maka katanya: “Aku tidak dapat pulang ke rumahku lagi. Karena itu, maka aku akan ikut ke rumahmu.” “Ke rumahku?,” laki-laki itu membelalakkan matanya: “itu tidakmungkin. Isteriku akanmarah.” “Kau beristri?,” perempuan itu hampirmemekik. “Ya. Kenapa? Kau heran?” laki-laki itu justru bertanya. “Kau tidak pernah mengatakannya sebelumnya,” berkata perempuan itu. “Aku tidak menganggap perlu untuk mengatakan hal itu kepadamu. Aku memang sudah beristri dan beranak tiga orang. Nah, kau sekarang sudah tahu. Karena itu, pulanglah. Jangan ganggu keluargaku,” berkata laki-laki itu. Perempuan itu terkejut mendengar jawaban laki-laki itu. Dengan nada keheranan ia bertanya: “Maksudmu kau tidak maumenerima aku?” “Sudah tentu. Aku sudah beristri dan beranak. Aku mencintai isteri dan anak-anakku. Kau harus mengerti itu,” jawab laki-laki itu. “Tetapi selama ini kau telah menerima pemberianku. Barang-barang berharga dan perhiasan. Semua yang  aku terima telah aku berikan kepadamu,” perempuan itu hampir berteriak. “Terima kasih atas pemberianmu. Isteri dan anak-anakku pun berterima kasih kepadamu,” berkata laki-laki itu. “Gila. Hanya begitukah tanggapanmu atas kedatangankusetelah aku diusir dari rumah itu?,” perempuan itu berteriak semakin keras. “Jadi apa lagi? Kau sudah tidak akan dapat memberi apaapa lagi kepadaku. Kepada keluarganku,” berkata laki-laki itu. “Tetapi, jika akumemberikan barang-barang itu kepadamu, tentu kau tahu maksudku,” perempuan itu menjadi semakin keras berteriak. Tetapi hujan masih saja tercurah dari langit, sehingga suara perempuan itu bagaikan hilang ditelan gemuruhnya buny i hujan. “Ya aku tahu. Dan aku telah memenuhinya. Bukankah itu namanya adil? Aku memberimu apa yang kau perlukan dan kau memberiku apa yang aku sekeluarga memerlukannya. Uang dan perhiasan itu. Isteriku berterima kasih kepadamu,” jawab laki-laki itu. Penunggu banjar itu, bahkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, terkejut mendengar jawaban itu. Seakan-akan sudah diatur sehingga perempuan itu seakan-akan dihadapkan pada jawabannya sendiri. Ternyata laki-laki itu bersikap sebagaimana ia bersikap kepada laki-laki yang telah meninggalkannya di banjar itu. Untuk beberapa saat perempuan itu terbungkam. Namun kemudian ia pun menangis sambil berteriak: “Kau laki-laki iblis. Laki-laki tidak tahu diri.” “Terserahlah,” berkata laki-laki itu masih dalam sikap yang  dingin, “mungkin aku iblis atau tidak tahu diri atau sebutan buruk yang lain, tetapi persoalan diantara kita sudah selesai. Seperti orang yang berjual beli. Setelah barang-barangnya diserahkan dan setelah dibayar oleh pihak lain,maka jual beli itu sah dan selesai.” - Tidak. Kita tidak sedang berjual beli,” tangis perempuan itu. “Sudahlah. Aku akan pulang. Anak dan istriku kedinginan di rumah. Hujan justru menjadi semakin lebat,” berkata lakilaki itu. “Aku tidak mau kau tinggalkan sendiri,” tangis perempuan itu pula. “Aku tidakmengundangmu kemari,” jawab laki-laki itu. Namun penunggu banjar itu ternyata tidak dapat berdiam diri saja. Akhirnya ia pun menengahi: “ Jika kau tidak dapat membawa perempuan itu pulang, bawalah kemana saja.” “Ke mana?” laki-laki itu mengerutkan keningnya. “Jangan tinggalkan perempuan itu di banjar ini,” berkata penunggu banjar itu kemudian. “Aku tidak mempunyai urusan lagi dengan perempuan itu,” geram laki-laki yang  disebut Penangkil itu. “Apa pun persoalan kalian, tetapi bawa perempuan itu ke mana saja. Bagaimana pun juga kau lebih berkepentingan dengan perempuan itu daripada aku,” berkata penunggu banjar itu. Penangkil itu menjadi ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata: “Baiklah. Aku akan membawanya kepada bibi di pinggir padukuhan ini.” “Bibi siapa?” bertanya penunggu banjar itu. “Bibi Rumi. Ia adalah adik ay ahku yang  telah tidak ada,” jawab Penangkil. “Terserah kepadamu,” berkata penunggu banjar itu. “Aku minta diri,” desis Penangkil kemudian. Lalu katanya kepada perempuan itu: “marilah, kita akan pergi ke rumah bibi. Kau akan berada di sana sampai besok. Kemudian kita akan menentukan sikap.” Perempuan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian laki-laki itu telah menarik tangannya turun ke halaman betapaun lebatnya hujan. Keduanya ternyata telahmenuju ke arahyang  lain dari arah rumah laki-laki itu, karena keduanyamemang tidak akan pergi ke rumah laki-laki yang telah menyatakan diriny a beranak dan beristri. Dalam hujan yang  lebat, laki-laki itu telah menarik tangan perempuan itu sambil berkata: “Cepat. Hujan sangat lebat. Kita dapatmenjadi sakit karenanya.” Perempuan itu tidakmenjawab. Tetapi ia berusaha berjalan lebih cepat. Demikianlah, berlari-lari kecil perempuan itu mengikuti laki-laki yang masih saja menarik tangannya. Tangannya begitu kuat sehingga ia tidak dapat terlepas dari genggamannya. “Kita pergi ke mana?” bertanya perempuan itu. “Bukankah sudah aku katakan, kita pergi ke rumah bibi,” jawab laki-laki itu. Perempuan itu pun terdiam. Langkahnya menjadi semakin cepat. Dalam hujan perempuan itu terengah-engah. “Kita berhenti dahulu,”minta perempuan itu. “Sudah tidak begitu jauh. Nanti kita beristirahat. Kau dapat meminjam pakaian bibi dan menghangatkan badanmu di depan perapian sambilmerebusair,” berkata laki-laki itu. Perempuan itu berusaha untuk tetap berlari-lari kecil meski pun kakinya terasamulai letih. Beberapa saat kemudian, perempuan itu terkejut. Ia justru berusaha berhenti sejenak. Meski pun suara hujan masih berbaur dengan suara angin, namun perempuan itu mendengar deru suara air yangmengalir deras. “Suara apa itu?” bertanya perempuan itu. “Sungai. Disitu ada sungai. Rumah bibi memang dekat dengan sebuah sungai. Mungkin sungai itu menjadi banjir karena hujan yang lebat. Nampaknya di bukit hujan sudah turun lebih lama sehingga sungai itumenjadi banjir.” Perempuan itu mulai menjadi ragu-ragu. Namun laki-laki itu menariknya terus. Semakin lama deru sungai yang  memang banjir itu terdengar semakin jela s. Gelap malam memang menjadi semakin pekat. Perempuanyang tidak begitu mengenal daerah itu tidak tahu, bahwa di depan mereka ternyata terdapat sebuah sungai. Tepian sungai itu tidak landai seperti tempat peny eberanganyang sering dilihatnya. Tetapi tebing sungai itu cukup curam. Ketika sekali kilat rnenyambar, maka perempuad itu terkejut. Ia melihat tebing yang  curam menganga. Dibawah nampak sungai yang  meski pun tidak terlalu besar, tetapi airnya sedang banjir. Tentu tidak seorang punyang  akan dapat berenangmenentang arusbanjir itu. Perempuan itu tiba-tiba telah berusaha untuk meronta. Demikian tiba -tiba, sehingga tangannya memang terlepas. Dengan serta merta ia mencoba untuk berlarimenembusgelap dan hujan. Tetapi laki-laki itu berlari lebih cepat. Dengan segera perempuan itu pun telah dikuasainya kembali. “Kau akan lari kemana?,” geram laki-laki itu. “Aku takut,” suara perempuan itu gemetar. “Kau tidak usah takut. Banjir itu akan menjadi kawanmu yang akrab,” berkata laki-laki itu. “Maksudmu?” perempuan itumenjadi semakin ketakutan. “Jangan meny esali perbuatanmu. Kau akan aku lemparkan ke dalam sungai itu,” jawab laki-laki itu. “Tidak. Tidak. Jangan,” perempuan itu berteriak sekuatkuatnya. Tetapi suaranya hilang ditelan deru hujan dan banjir. Laki-laki itu tiba-tiba tertawa. Suara tertawanya seperti suara tertawa iblis dari neraka. Katanya: “Kau sudah tidak mempunyai tempat lagi. Laki-laki itu sudah meninggalkanmu. Dan aku tidak memerlukanmu lagi. Riak banjir itulah yang kemudian akanmemelukmu.” “Jangan. Jangan. Aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggumu,” tangis perempuan itu. Tetapi laki-laki itu membentaknya kasar: “Diam. Kau kira aku akan menjadi bela s kasihan melihat wajahmu itu, he? Wajah iblis betina yang tidak tahu diri. Siapa yang  mau menjadi suamimu? Perempuan laknat yang  hanya pantas menjadi isi neraka. Kau akan merusak keluargaku he? Kau telah memeras laki-laki itu dan sekarang kau akan menyakiti hati isteriku.” Perempuan itu menjadi semakin ketakutan. Ra sa-rasanya tangan-tangan iblis memang sudah mencekiknya ketika tangan-tangan laki-laki itu memegang lehernya. “Kau boleh memilih. Mati aku cekik kemudian aku lemparkan ke sungai, atau aku lemparkan kau hidup-hidup, kemudian mati terbenam ke dalam banjir setelah kepalamu membentur-bentur tebing.He, pilihyang mana,” suara laki itu benar-benar seperti suara iblis. “Kasihani aku. Aku mohon ampun. Aku tidak akan mengganggumu. Biar aku pergi ke mana saja.,” tangis perempuan itumemelas. “Tidak. Selama kau masih hidup, maka kau tentu masih akan membayangi keluargaku. Sekarang adalah kesempatan yang paling baik untukmelemparkanmu ke sungai. Kemudian aku akan pergi ke rumah bibi untuk minta agar ia membantuku.” Perempuan itu memang hampir pingsan karenanya. Sementara Panangkil itu berkata selanjutnya: “Besok bibi akan menjawab setiap pertanyaan, bahwa aku memang telah menitipkan kau kepadanya. Tetapi kau minta ijin ke pakiwan dan tidak pernah kembali lagi. Bibi akan mencarimu dan bertanya kepada semua orang yang  dijumpainya. Dengan demikian setiap orang akan mengatakan bahwa kau telah membunuh diri. Jika kemudian mayatmu diketemukan,maka semua orang akan memandang tubuhmu sambil berdesis bahwa perempuan laknat itu telah membunuh diri. Kau telah menuai benihyang kau tanam sendiri.” “Ampun, ampunkan aku. Aku belum ingin mati,” tangis perempuan itu. “Cukup. Sekarang pilih. Aku cekik kau sampai mati, atau aku lemparkan kau ke sungai itu,” geram laki-laki itu. “Jangan, jangan,” perempuan itu meronta. Tetapi jari-jari laki-laki itu memang telah mencengkam lehernya. Namun laki-laki itu berkata: “Aku tidak mau meninggalkan beka s dilehermu. Aku ingin melemparkan kau saja ke arus banjir.” Perempuan itu kemudian telah diseretnya ke tebing yang  curam. Namun langkah laki-laki itu terhenti. Ketika sekali lagi kilat menyambar, maka dilihatnya seorang laki-laki yang lain berdiri tegak dengan mengenakan caping belarakyang  lebar. “Setan, siapa kau?,” geram Panangkil. “ Ingat-ingat. Namaku Mahisa Pukat. Aku adalah orang yang tadi berada di serambi banjar. Aku memang sedang berteduh. Karena itu aku mengetahui apa yang  kau lakukan. Aku memang sudah curiga melihat sikapmu. Karena itu, aku telah mengikutimu sampai ke tebing yang curam itu,” jawab Mahisa Pukat. “Apa yang akan kau lakukan?,” bertanya Panangkil. “Mencegah pembunuhan ini. Jika kau tidak dapat menerima perempuan itu,maka biarlah ia pergi ke mana saja ia maui. Tetapi jangan kau bunuh dengan cara seperti itu,” jawab Mahisa Pukat. “Buat apa perempuan iblis itu dihidupi? Ia tidak pantas hidup diantara perempuan di padukuhan ini. Ia telah menghinamartabatnya sendiri,” jawab laki-laki itu. “Dan kau? Kau telah melakukan hal yang  sama. Kau telah menghina martabat laki-laki. Jika perempuan itu harus mati menurut pendapatmu, maka kau pun harus mati, karena kau telah membuat kesalahan yang  sama. Kau pun laknat seperti perempuan itu,” Mahisa Pukat pun menggeram. “Kau tidak usah ikut campur per soalanku,” teriak laki-laki itu. Tetapi Mahisa Pukat menjawab dengan nada rendah, “Aku mendengar pembicaraan kalian. Karena itu, aku merasa terpanggil untuk ikut campur, karena kau berlaku tidak adil.” “Cukup,” teriak laki-laki itu, “jika kau tidak mau pergi, maka kau pun akan aku lemparkan ke sungaiyang  banjir itu.” “Kau tidak akan dapat membunuh perempuan itu di hadapan sedikitnya seorang saksi. Jika aku pergi dan kau tetap melemparkan perempuan itu, maka aku akan dapat mengatakan kepada orang-orang padukuhan ini, bahkan kepada Ki Bekel, bahwa kau telah membunuh perempuan itu,” berkata Mahisa Pukat. Panangkil berpikir sejenak. Namun kemudian katanya: “Jika demikian,maka kau pun harus dibunuh.” “Jangan membuat persoalan dengan aku. Sebaiknya lepaskan saja perempuan itu. Biarkan saja ia pergi kemana ia ingin pergi. Ia sudah berjanji tidak akanmengganggumu lagi,” berkata Mahisa Pukat. “Tidak. Aku akan membunuhnya dan membunuhmu pula,” geram laki-laki itu. Mahisa Pukat justru melangkah maju sambil berkata: “Tidak. Kau tidak akanmembunuh siapapun.” Adalah diluar dugaan ketika laki-laki itu tiba -tiba saja telah menyerang Mahisa Pukat. Agar perempuan itu tidakmelarikan diri,maka perempuan itu telah dipukulnya dengan keras sekali sehingga perempuan itu menjadi pingsan. Mahisa Pukat memang sudah bersiaga. Karena itu, maka serangan itu sama sekali tidak mengejutkannya. Penglihatannya yang  tajam melihat bagaimana laki-laki itu berusaha untuk mendorongnya dengan serangan kaki ke tebing sungai. Tetapi serangan itu sama sekali tidak meny entuh sasaran. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat telahmenghindar. Sementara itu, agar perempuan yang  pingsan dalam hujan yang lewat tidakmembahayakan jiwanya,maka Mahisa Semu telah dengan diam-diam mengambil perempuan itu dan membawanya ke bawah pepohonan. Dipangkasnya sebatang pohon pisang untuk melindungi wajah perempuan itu dari guyuran air yang  deras. Namun kemudian Mahisa Pukat telah melemparkan caping belaraknya yang lebar kepada Mahisa Semu sambil berkata: “Pakailah.” “Siapa orang itu ?” bertanya Panangkil. “Aku tidak sendiri di serambi. Kau lihat itu. Biarlah ia menolong perempuan yang kau pukul sampai pingsan itu,” jawab Mahisa Pukat. Panangkil benar-benar menjadi marah. Dengan segenap kemampuannya ia telah meny erang Mahisa Pukat. Namun Mahisa Pukat memang bukan lawannya. Dalam waktu yang terhitung singkat, laki-laki itu telah dikenai beberapa kali oleh serangan Mahisa Pukat sehingga beberapa kali terdengar ia mengaduh. Tetapi laki-laki itu memang keras kepala. Ia masih saja berusaha melawan Mahisa Pukat. Beberapa kali ia berusaha menyerangmeski pun justru tubuhnya sendirilah yang dikenai oleh serangan Mahisa Pukat. “Meny erahlah,” berkata Mahisa Pukat, “kau akan kami bawa ke banjar ber sama perempuan itu. Per soalanmu akan menjadi persoalanyang  akan diselesaikan oleh Ki Bekel.” Tidak. Aku tidak mau,” teriak laki-laki itu, “kau dan perempuan itu harusmati.” Mahisa Pukat menjai tidak telaten. Maka ia pun telah mendesak laki-laki itu dan dengan cepat berhasil menangkap tangannya,memutarnya danmemilinnya dengan kuat. Laki-laki itu berusaha meronta. Tetapi Mahisa Pukat mendorongnya ke tepi tebing itu sambil berkata: “Lihat, arus banjir itu tidak saja mampu menghanyutkan perempuan itu. Tetapi kau pun akan hanyut pula. Kepalamu akanmembenturbentur tebing sebagaimana akan dapat terjadi pada perempuan itu sebelum kau diseret ke laut.” Wajah Panangkil menjadi tegang. Ket ika kilat memancar dengan terangnya,maka Panangkil melihat jela s, banjir yang bergulung -gulung mengalir deras. Tebing yang curam menganga seperti mulut raksasa yang  siap menelannya. Sedangkan suaranya yang  menderu-deru seperti deru nafas iblisdari dasar neraka.” Panangkil tiba-tiba menjadi ketakutan. Ketika Mahisa Pukatmendor ongnya lebih dekat,maka laki-laki itu berteriak: “Jangan-jangan.” “Kau kira aku menjadi belas kasihan kepadamu,” geram Mahisa Pukat. Laki-laki itu seakan-akan telah mendengar suaranya sendiri ketika ia hampir saja melemparkan perempuan itu ke sungai yang sedang banjir itu. Sementara itu Mahisa Pukat berkata selanjutnya: “Tidak ada yang  akan menangisimu jika mayatmu besok diketemukan, laki-laki laknat. Kau telah merendahkan martabat seorang laki-laki dengan memeras perempuan itu. Aku yang juga seorang laki-laki, merasa telah kau khianati karena martabatku pun tentu akan ikut goncang.” Mahisa Pukatmendorong laki-laki itu semakin dekat. Sekali lagi kilat memancar. Dan laki-laki itu menjadi lemah tidak berday a. Kekuatannya seakan-akan telah terhisap habis oleh perasaan takutyang mencengkam. Namun Mahisa Pukat membentaknya: “Bangkit. Aku mendorongmu, atau kau berbuat sebagai seorang laki-laki. Meloncat sendiri kedalam sungai itu.” Tetapi laki-laki itu justru memohon sambil menangis: “Ampun. Akumohon ampun.” “Mohon am pun kepada siapa?,” bertanya Mahisa Pukat. “Kepadamu,” jawab orang itu. “Jika akumengampunimu, kau mau apa?” bertanya Mahisa Pukat. “Aku akan melakukan apa pun,” jawab laki-laki itu. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Mahisa Semu, maka ia melihat perempuan itu sudah sadar dari pingsannya. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berkata: “Marilah. Kita pergi ke banjar. Bukan aku yang akan meny elesaikan per soalan kalian, tetapi Ki Bekel.” “Kau akan melaporkannya kepada Ki Bekel?,” laki-laki itu menjadi cemas. “Ya.,” jawab Mahisa Pukat: “karena Ki Bekel adalah pemimpin dari padukulian ini.” “Jangan,” minta laki-laki itu. “Kau dapat memilih. Persoalan ini akan aku serahkan kepada Ki Bekel, atau kau terjun ke sungai yang  banjir itu,” geram Mahisa Pukat. Panangkil menjadi kebingungan. Kedua-duanya tidak menarik baginya. Namun Mahisa Pukat berkata: “Kau harus memilih salah satu dari kedua pilihan itu.” Panangkil hanya dapat menundukkan kepalanya. Dengan nada berat ia berkata: “Aku tidakmau terjun ke sungai itu.” Demikianlah,maka Panangkil dan perempuan itu pun telah dibawa ke banjar. Penunggu banjar itulah yang  kemudian pergi rumah Ki Bekel untukmengadu. Ternyata Ki Bekel adalah seorang yang benar-benar bertanggung jawab atas tugasnya. Meski pun hujan lebat dan malam dinginnya menusuk tulang, namun Ki Bekel telah pergi ke banjar bersama dua orang peronda yang ada di gardu di depan rumahnya dari antara lima orang peronda. Bahkan sempatmengajak Ki Jagabaya bersamanya. Ketika di banjar ia menerima penjelasan tentang hubungan antara Panangkil dan perempuan itu serta keputusan Panangkil untuk membunuh perempuan itu, maka Ki Bekel pun berkata: “Jadi kau masih saja akan mengacaukan padukuhan kita sendiri, Panangkil. Sudah beberapa kali kau mendapat peringatan dari Ki Jagabaya. Bahkan pernah orangorang padukuhan ini hampir saja beramai-ramai membunuhmu karena tingkah lakumu itu. Sekarang kau telah melakukan satu kesalahan lagi yang bahkan hampir saja menelan korban jiwa. Apakah sebaiknya kau aku serahkan saja kepada orang-orang padukuhan. Mumpung sungai itu sedang banjir? Mungkin kau akan diikat dan dimasukkan ke dalam sungai itu. Orang-orang sepadukuhan akan melihat kau mencoba untuk berenang. Jika kau hanyut, maka tali itu akan ditarik. Tetapi kemudian akan diulur lagi jika sekali lagi mencoba berenang.” “Jangan Ki Bekel. Akumohon maaf,”minta Panangkil. “Sudah berapa kali kau minta maaf kepadaku, kepada Ki Jagabaya dan kepada seisi padukuhan?,” bertanya Ki Bekel. Panangkil tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. “Aku akan bertanya saja kepada rakyat padukuhan ini. Apakah mereka masih bersedia memberikan ampun kepadamu atau tidak. Jika tidak, ter serah kepada mereka,” berkata Ki Bekel. “Jangan Ki Bekel. Jangan dengan cara itu,” minta Panangkil. Ki Bekel termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya kepada kedua orang per onda yang  menyertainya: “Panggil isteriny a. Biar ia tahu apa yang dilakukan oleh suaminya.” “Jangan panggil isteriku, jangan,” minta Panangkil. Tetapi Ki Bekel tetap pada pendiriannya. Dan kedua orang itu pun segerameninggalkan banjar. Ketika perempuan itu dengan pakaian yang basah meski pun ia memakai caping belarak yang  besar, sampai ke banjar, maka ia menjadi heran. Dilihatnya beberapa orang ada di banjar, termasuk suaminya. Ki Bekellahyang kemudian mengatakan kepada perempuan itu apa yang telah dilakukan suaminya terhadap perempuan yang telah berada di banjar itu. Wajah perempuan itu menjadi merah. Tiba -tiba saja ia telah merehut parang per onda yang memanggilnya. Hampir sa ja kepala suaminya telah dipecahkannya dengan parang itu. Untunglah beberapa orang sempatmelerainya. “Biar aku bunuh laki-laki keparat itu,” perempuan itu berteriak sambil menangis. Namun ketika ia melihat perempuan yang telah berada di banjar itu, ia pun telah meronta sambil berteriak pula: “Kaulah sumber dari laknat ini. Kau pun harusdibunuh.” Perempuan yang hampir saja dilemparkan ke sungai yang  banjir itu menjadi ketakutan. Tetapi ia pasrahkan dirinya kepada orang-orang yang ada di banjar itu termasuk Ki Bekel. Sebenarnyalah Ki Bekel telah merampas parang di tangan perempuan itu. Dengan nada seorang pemimpin ia berkata: Kita ingin menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Kita bukan keluarga orang -orang liar yang tidak tahu caranya memecahkan persoalan dengan nalar.” “la telah berkhianat terhadap keluarganya Ki Bekel,” tangis isteri Panangkil. Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya: “Aku mengerti. Tetapi bukankah kau dapat berbicara dengan suamimu?” “Apakah kata-katanya masih dapat dipercaya?,” bertanya isterinya. Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Ia sendiri juga bertanya seperti itu. Apakah kata-katanya masih dapat dipercaya? Tetapi sebagai seorang Bekel ia masih juga mencoba untuk mencari jalan yang  terbaik yang  dapat ditempuh. Karena itu, maka Ki Bekel itu pun berkata: “Sekarang, ajak suamimu berbicara dihadapanku. Ia tahu bahwa aku adalah Bekel dari padukuhan ini. Kata-kata yang diucapkan dihadapanku, tentu akan mengikat. Bukan hanya aku saja saksiny a. Tetapi beberapa orang, termasuk Ki Jagabaya.” Perempuan itu termangu-mangu. Namun kemudian ia bertanya kepada suaminya: “Sekarang apa niatmu? Mencerai aku atau apa?” “Tidak,” jawab Panangkil, “aku tidak ingin menceraimu.” “Kau tidak usah berpura -pura. Jika kau memang sudah jemu beristerikan aku, cerai saja aku. Aku akan membawa semua anak-anakku. Aku masih akan dapat memberi mereka makan serta mendidik mereka untukmenjadi orang baik-baik kelak.” “Tidak. Jangan pergi. Apalagi membawa anak-anak. Aku tidak dapat berpisah dengan anak-anak,” jawab Panangkil. “Tetapi apakah kau mengeri, apa yang telah kau lakukan itu?,” bertanya isterinya. “Aku minta maaf. Aku tidak mempunyai cara lain. Aku sudah tidak berani mencuri karena ancaman Ki Bekel,” jawab Panangkil. “Kau kira aku senang jika kaumencuri?,” geram isterinya. “Satu-satunya jalan adalah memeras orang lain. Aku sama sekali tidak berniat apa pun juga terhadap perempuan itu selain memeras. Aku ingin mencukupi kebutuhan keluargaku sehingga dapat hidup pantas,” jawab Panangkil. “Tidak. Itu sangat memalukan. Besok, apa yang masih ada harus kau kembalikan kepada perempuan itu. Aku berjanji untuk mengganti semua barang -barang dan perhiasan yang telah kau terima dan kau jual untuk menghidupi kami sekeluarga. Aku kira selama ini kau benar-benar berhasil berdagang wesi aji dan batu-batu bertuah, sehingga hidup keluarga kita dapat menjadi semakin baik. Ternyata apa yang kau lakukan adalah perbuatan laknat itu,” teriak perempuan itu tanpa dapatmengendalikan perasaannya lagi. “Akumintamaafkepadamu,” jawab Panangkil. “Sudah berapa kali kau minta maaf kepadaku tetapi masih sa ja kau melakukan kesalahan. Meski pun kesalahan itu tidak sama, tetapi jiwanya sama -sama satu pengkhianatan,” geram isterinya. “Kali ini aku berbicara di hadapan saksi-saksi. Ki Bekel, Ki Jagabaya, anak-anak muda itu dan yang  lain,” sahut Panangkil. Jika aku tidak menepatinya,maka aku tentu akan menerima hukumanyang  paling berat.” Isterinya termangu -mangu sejenak. Sementara Ki Bekel berkata: “Baiklah,maaf dan mengaku ber salah. Ia tidak akan melakukannya lagi dikemudian hari.” Namun isteri Panangkil itu berkata: “Aku ingin mendengar janjinya sekali lagi.” “Berjanjilah sekali lagi,” minta Ki Bekel. “Ya. Akumemang berjanji,” jawab laki-laki itu. “Berjanji apa?,” isterinyamenjerit tinggi. “Aku berjanji untuk tidak mengulangi semua perbuatanku yang buruk. Tidak mencuri lagi dan tidak memeras,” berkata Panangkil. “Hanya itu?,” bertanya isteriny a. “Apalagiyang  harus dikatakan?,” bertanya Ki Bekel. “la berjanji untuk tidak memeras, tetapi ia justru mengawini perempuan itu,” suaranya agakmenurun. Ki Bekel menarik nafas. Katanya: “Ucapkan janjimu selengkap-lengkapnya.” Panangkil termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata: “Aku tidak akan mencuri, tidak akan memeras dan tidak akan berhubungan lagi dengan perempuan itu.” “Nah, Ki Bekel dan Ki Jagabaya menjadi saksi,” desis perempuan itu. “Nah, sebaiknya kau percaya. Aku akan turut mengawasi. Jika ia masih bertabiat buruk,maka aku minta kau ikhlaskan suamimu untuk aku serahkan kepada orang banyak. Hukumannya tidak akan dibatasi dengan paugeran apa pun juga,” berkata Ki Bekel kemudian. Namun ternyata perempuan itu ragu-ragu. Ia memang merasa ngeri mendengar ancaman Ki Bekel itu. Bagaimana pun juga laki-laki jahat itu adalah suaminya. Baiklah,” berkata Ki Bekel, “sekarang pulanglah dengan membawa kesaksian kami. Mudah-mudahan keluargamu menjadi semakin baik.” 


Jilid 096
PEREMPUAN yang  datang ke banjar itu dengan diseret oleh beberapa laki-laki itu agaknya mampu menempatkan dirinya. Ia merasa lebih baik diam saja selama terjadi pembicaraan antara suami laki-laki itu akan dapat menjadi mata gelap. Karena itu, maka yang  dapat dilakukannya adalah menunggu suami isteri itu meninggalkan banjar padukuhan. Demikianlah, maka sejenak kemudian, Panangkil dan isterinya telah meninggalkan banjar itu. Mereka berjalan begitu saja didalam hujan yang lebat dengan taping blarak diatas kepala. Setelah keduanya pergi, maka Ki Bekel mulai berbicara dengan perempuanyang  kedinginan itu. “Nah, sekarang kau bagaimana?” bertanya Ki Bekel. Perempuan itu termenung sejenak. Namun kemudian ia justru telahmenangis. “Kenapa kaumenangis lagi?” bertanya Ki Bekel. Perempuan itu tidak segera menjawab, Namun kemudian sambil mengusap air matanya ia berkata tidak tahu lagi, apa yang harus aku lakukan.” “Kau tentu tahu, akibat yang kau sandang ini adalah hasil perbuatanmu sendiri,” berkata Ki Bekel. Perempuan itu mengangguk. “Nah, sekarang kau harusmencoba mencari peny elesaian,” berkata Ki Bekel pula. Tetapi yang  terdengar adalah isak tangisnya. Katanya: “ Laki-laki itu tidak mau lagi menerima aku di rumahnya. Panangkil ternyata telah menipuku. Aku sudah tidak mempunyai apa-apa lagi.,” “Apakah kau masih mempunyai orang tua?” bertanya Ki Bekel. Perempuan itu mengangguk. Tetapi katanya: “ Ayah dan ibuku sudah tua sekali.” “Tetapi bukankah mereka mempunyai tempat tinggal?,” bertanya Ki Bekel pula. “Ya. Mereka mempunyai tempa tinggal,” jawab perempuan itu. “Jika demikian lebih baik kau kembali saja kepada mereka. Agaknya itu lebih baik daripada kau dilemparkan ke sungai yang banjir itu,” berkata Ki Bekel pula. Perempuan itu berpikir sejenak. Tetapi nalarnya benarbenar buntu. Karena itu,masih sambilmenangais ia berkata: “ Baiklah. Besok aku akan kembali kepada kedua orang tuaku.” “Baiklah,” berkata Ki Bekel: “cobalah untuk memperbaharui cara hidupmu. Kau harus jujur menghadapi setiap orang. Jika kau tidak hidup dalam satu keny ataan sewajarnya, maka kau akan dapat mengalami per soalan seperti sekarang ini.” “Akumengerti Ki Bekel,” jawab perempuan itu. Nah. Biarlah kau diijinkan untuk berada di banjar ini semalam,” berkata Ki Bekel. Lalu katanya kepada penunggu banjar itu: “Apakah isterimu dapat meminjamkan selembar pakaiannya kepada perempuanyang  kedinginan itu?” “Tetapi, tetapi biarlah Ki Bekel yang mengatakan kepadanya. Jika aku sendiri yang mengatakan, maka dapat terjadi salah paham,” jawab penunggu banjar itu. Ki Bekel tersenyum. Ia mengenal keluarga penunggu banjar itu. Maka Ki Bekel itu pun berkata: “Baiklah. Biar aku yang mengatakannya.” Karena Ki Bekel yang  mengatakannya, maka isteri penunggu banjar itu pun tidak berkeberatan untuk meminjamkan pakaiannya sepengadeg. Beberapa saat kemudian, maka Ki Bekel pun telah minta diri bersama bebahu yang meny ertainya. Namun kepada Penunggu banjar itu, Ki Bekel juga menganjurkan agar memberikan pinjaman pakaian bagi kedua anak muda yang jugamenjadi basah kuyup itu. Tetapi malam itu, amben di serambi telah dipergunakan oleh perempuan yang  telah merasa kehilangan segala-galanya itu. Sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Semu terpaksa tidur di pendapa banjar dengan selembar tikar pandan. Terasa dinginnya memangmeresap sampai ke sungsum. Namun bagi kedua anak muda itu, tidur di banjar terasa lebih baik dari pada di tempat terbuka disiram dengan hujanyang  lebat. Namun beberapa saat kemudian hujan pun mulai reda. Ketika Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sempat tertidur,maka fajar punmulaimengintip. Namun meski pun hanya sebentar, tetapi kesempatan itu telah dipergunakan oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sebaik- baiknya. Ketika matahari terbit, maka perempuan yang  tidur di banjar itu pun telahminta diri. Ketika ia akan berganti dengan pakaiannya yang masih ba sah, maka isteri pemilik banjar itu berkata: “Sudahlah, pakai saja pakaianku. Bukan pakaian yang baik dan mahal. Sekedar untuk menahan dingin. Bawa pakaianmu yang  basah. Mungkin dapat kau keringkan di jalan.” Perempuan itu mengucapkan terima kasih. Ternyata ia tidak dapat menahan air matanya, bahwa masih ada orang yang merasa belas kasihan kepadanya, karena ia merasa betapa dosa telah tertimbun didalam dirinya. Tetapi Mahisa Pukat dan Mahisa Semu ternyata masih belum meninggalkan barak. Mereka telah menjemur pakaiannya lebih dahulu. Apalagi semua pakaian yang dibawanya, yang memang hanya selembar dan selembar kain panjang yang  dibawanya selain sebuah celana, telah basah. “Apakah aku diperbolehkan berada di banjar sampai pakaianku kering?” Penunggu banjar itu tertawa. Katanya: “ Tentu saja. Apalagi kau telah berbuat sesuatu di padukuhan ini. Kau telah menghindarkan satu pembunuhan keji. Untuk itu, seisi padukuhan ini tentu akan berterima kasih kepadamu.” “Terima kasih untuk apa? Kami tidak berbuat apa -apa. Hanya sekedar melakukan kewajiban,” sahut Mahisa Pukat. Lalu katanya: “Semoga perempuan itu selamat.” Penunggu banjar itu menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata: “Ya. Setelah kau selamatkan semalam, mudah-mudahan ia selamat sampai ke rumah orangtuanya.” Mahisa Pukatmenangguk kecil Tetapi ia tidakmenjawab. Dalam pada itu, Mahisa Semulah yang sibuk menjemur pakaiannya. Sementara penunggu banjar itu berkata: “Anakanak muda. Maaf bahwa aku tidak dapat berbuat seperti isteriku. Ia dapatmemberikan sepengadeg pakaiannya kepada perempuan itu, karena ia masih mempunyai pakaian yang dapat aku berikan kepadanya.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tertawa. Dengan nada tinggi Mahisa Pukat berkata: “Aku sudah berterima ka sih, bahwa semalam aku tidak kedinginan dengan mengenakan pakaianyang basah kuyup oleh hujan itu.” Penunggu banjar itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian tersenyum pula. Dan bahkan tertawa. Sambil menunggu, ternyata isteri penunggu banjar itu telah merebus ketela pohon pula seperti semalam. Karena itu,maka mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah sempat makan ketela rebus dan minumwedang jaheyang  hangat dengan gula kelapa. Ketika matahari naik sepenggalah, maka pakaian kedua anak muda itu pun telah menjadi agak kering. Karena itu, maka mereka pun segera berganti pakaian. Bahkan mereka sempat mencuci pakaian yang dipinjamnya dari penunggu banjar itu. “Sudahlah,” berkata penunggu banjar itu, “kalian tidak usah mencucinya.” Tetapi Mahisa Pukat menjawab: “Biarlah. Jika matahari terang, pakaian itu akan segera kering.” Penunggu banjar itu tidak mencegah lagi. Nampaknya kedua anakmuda itu tidak mau meninggalakan pakaian yang kotor itu begitu saja setelahmerekamemakainya semalam. Demikianlah,maka beberapa saat kemudian, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah minta diri. Mereka akan melanjutkan perjalanan menuju ke Singasari. Mereka akan menemui Mahendra yang  telah lebih dehulu berangkat ber sama para prajurityang menjemputnya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu berharap bahwa sebelum gelap mereka sudah akan berada di Kotaraja. Meski pun mereka berangkat agak siang, tetapi jarak yang harus ditempuh tidak lagimemerlukanwaktu satu hari penuh. Setelah semalaman hujan turun dengan lebat,maka hari itu justru terasa cerah. Jalan-jalan masih basah. Namun langit nampak bersih. Bahkan tidak berawan. “Air di langit telah habis tercurah semalam,” desis Mahisa Semu. Mahisa Pukat tertawa. Katanya: “Ya. Tidak ada yang tersisa.” Namun ketika mereka melalui jalan yang menjelujur di sebelah tanggul sungai yang  banjir, Mahisa Pukat berkata: “Lihat, jika semalam perempuan itu dilemparkan ke dalam air, mungkin kita akan menemukan mayatnya tersangkut di akar serumpun bambu yang  hampir dihanyutkan banjir itu.” Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Memangmengerikan.Untunglah kita sempatmencegahnya.” “Laki-laki itu nampaknya memang tidak dapat dipercaya,” desis Mahisa Pukat. “Tetapi perempuan itu pun memang perempuan laknat. Ia mengkhianati seorang laki-laki yang  memberi apa saja yang dimintanya,” desis Mahisa Semu, “tetapi ia terbentur pada sikap seorang laki-laki laknat pula.” “Satu pantulan sikap yang  menghukumnya,” berkata Mahisa Pukat tetapi penderitaan batinnya adalah hukuman yang sudah cukup berat.” Mahisa Semu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Ia pun justru merenung tentang perempuan yang hampir saja ditelan oleh banjir yang  sisanya masih nampak. Air sungai itu masih keruh dan deras. Bahkan masih nampak putaran-putaran meski pun tidak sebesar semalam. Ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berpacu di jalan yang semakin rata dan terpelihara baik. Tetapi lewat tengah hari, kedua anak muda itu mulaimerasa haus sehingga keduanya telah singgah disebuah kedai di pinggir jalan. Setelah makan dan minum secukupnya, serta kuda mereka pun telah mendapatminum serta makan,maka keduanya siap melanjutkan perjalanan. Tetapi sepintas mereka masih sempat. mendengar dua orang berkuda yang menambatkan kudanya berbicara diantara mereka. Seorang diantara mereka berkata: “Singa-sari telah tidak lagi sekuat sebelumnya. Semakin lama menjadi semakin kehilangan wibawanya. Justru karena Singasarimerasa terlalu kuat sebelumnya.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidakmendengar apa yang  mereka bicarakan kemudian. Tetapi pembicaraanyang  pendek itu sangatmenarik perhatianmereka. Sambil meneruskan perjalanan, maka Mahisa Pukat berkata: “Satu sikap yang perlu diperhatikan oleh Singasari.” “Mereka menilai Singasari yang  mulai surut,” berkata Mahisa Pukat. “Kita harus menghubungkan dengan kegiatan Kediri sekarang ini,” desisMahisa Pukat. Mahisa Semu mengangguk-angguk. Kepergian mereka ke Singasari antara lain juga karena persoalan yang menyangkut sikap Kediri. Meski pun sikap itu bukan sikap Kediri seutuhnya, namun per soalannya akan menyangkut hubungan selanjutnya antara Singasari dan Kediri. Untuk beberapa saat kedua anakmuda itu terdiam. Mereka seakan-akan sedang menilai keadaan yang nampaknya menjadi semakin suram. Sementara itu, kuda-kuda mereka pun berpacu terus menuju ke Singasari. Langit yang  ber sih mulai digayuti awan yang kelabu. Namun keduanya menduga bahwa hujan lama turun. Bahkan karena angin yang agak kencang dan Selatan, awan itu akan hanyut ke Utara. Beberapa saat kemudian, kedua anak muda itu memperlambat derap kuda-kuda mereka. Dari kejauhan mereka melihat beberapa orang berkuda menuju kearah mereka. Nampaknya sekelompok prajurit yang  sedang meronda. Ketika mereka berpapasan, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berhenti dan menepi. Mereka memberi jalan kepada sekelompok orang berkuda yang  ternyata memang prajurit Singasari. Namun pemimpin dari sekelompok prajurit itu telah memberikan isy arat kepada prajurit -prajuritnya untuk berhenti. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memang menjadi termangu-mangu. Sementara pemimpin sekelompok prajurit itu mendekat sambil bertanya: “Anak-anak muda. Apakah kalian bertemu dengan dua orang berkuda?.” Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudianmenjawab: “Tidak Ki Sanak. Rasa -rasanya kami hari ini tidak berpapasan dengan dua orang berkuda. Memang ada beberapa kali kami berpapasan. Tetapi satu-satu. Nampaknya orang-orang padukuhan yang  pulang dari menjual hasil buminya.” “Bukan,” sahut pemimpin prajurit itu, “bukan itu yang  aku maksud. Tetapi dua orang berkuda seperti kalian yang  sedang menempuh perjalanan.” Tiba -tiba saja Mahisa Pukat teringat kedua orang di kedai itu. Karena itu,maka katanya: “Ki Sanak. Kami memang tidak berpapasan. Tetapi di sebuah kedai kami melihat beberapa ekor kuda tertambat. Apakah mungkin ada diantara mereka itu.” “Kedai yangmana ?” bertanya pemimpin prajurit itu. “Di pinggir jalan ini. Tidak terlalu jauh,” jawab Mahisa Pukat. Pemimpin sekelompok prajurit itu termangu-mangu. Tetapi ia pun kemudian bertanya: “Siapakah anakmuda berdua ini ?” “Kami datang dan padepokan Bajra Seta. Kami akan menemui seorang keluarga kami di Kotaraja,” jawab Mahisa Pukat. Pemimpin sekelompok prajurit itu mengangguk-angguk. Namun katanya kemudian: “Anak-anakmuda. Aku tidak ingin mengganggu perjalananmu. Tetapi kami ingin melakukan tugas kami dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan Singasari. Karena itu, maka aku minta kalian berdua bersedia menunjukkan kepada kami, dimana letak kedai itu.” “Di pinggir jalan ini. Tidak terlalu jauh,” jawab Mahisa Pukat. Tetapi prajurit itu tetap saja berkata: “Kamiminta Ki Sanak tidak berkeberatan membantu sekelompok prajurit dalam tugasnya.” “Tetapi bagaimanakah nantinya, jika kedua orang itu kemudian mendendam kami. Berbeda terhadap karena kalian adalah prajurit.” “Kalian tidak akan diganggu. Apalagi kami hanya ingin kalian menunjukkan kedai itu. Jika perlu kalian tidak usah mendekati kedai itu. Apalagimenunjukkan orangnya,” berkata pemimpin prajurit itu. “Bagaimana mungkin aku dapat menunjukkan orangnya karena aku belum pernah melihatnya,” jawab Mahisa Pukat. Namun pemimpin prajurit itu memang agak memaksa. Katanya: “Aku minta Ki Sanak bersedia membantu prajurit.” Mahisa Pukat tidak mempunyai pilihan lain. Namun ia masih sempat bertanya: “Kenapa kalian cari kedua orang itu ?” “Keduanya orang Kediri yang  katanya mencari saudaranya. Tetapi temyata tidak ketemu,” jawab pemimpin prajurit itu. “Hanya karena kedua orang itu mencari saudaranya di Kotaraja ? Apakah ada keberatannya jika hal itu dilakukan ?” bertanya Mahisa Pukat. “Tentu saja tidak. Jika kami mencarinya tentu ada pertimbangan-pertimbangan lain,” jawab pemimpin prajurit itu. “Tetapi kenapa baru sekarang. Tidak saat kedua orang itu masih berada di Kotaraja?” bertanya Mahisa Pukat pula. “Nampaknya kalian terlalu banyak inginmengerti,” berkata pemimpin prajurit itu. Namun katanya: “Tetapi baiklah aku menjawabnya. Untuk terakhir kalinya,” pemimpin prajurit itu terdiam. Namun kemudian katanya: “Kami baru mendapatkan laporan tentang sikap kedua orang itu setelah keduanya pergi. Kamimendapat tugas untukmencarinya. Nah, jelas. Sekarang kalian tidak usah bertanya lagi. Marilah, kita sudah terlalu banyak kehilangan waktu.” Mahisa Pukat danMahisa Semu tidak dapatmenolak. Mereka pun kemudian memutar kudanya dan berjalan seiring dengan para prajurit. Ternyata mereka belum terlalu jauh dari kedai itu. Karena itu, maka beberapa saat kemudian,maka kedai itu pun sudah mulai nampak. Sementara itu, orang-orang yang ada dikedai itu pun telah melihat debu yang mengepul dari kejauhan. Agaknya mereka dapatmelihat, bahwa yang  datang adalah sekelompok prajurit Singasari. Ketika sekelompok prajurit itu kemudian berhenti di depan kedai itu, maka pemimpin kelompok itu bersama dengan dua orang pengiringnya telah memasuki kedai itu. Ia melihat beberapa orang berada didalam kedai itu. Namun pemimpin sekelompok prajurit itu agaknyamenjadi ragu-ragu. Karena itu, maka ia pun telah memanggil seorang prajurit lagi mendekatinya sambil bertanya: “Yang mana orang yang kaumaksud ?” Prajurit itu memandang setiap orang yang ada didalam kedai itu. Namun tidak seorang pun yang dapat dikenalinya. Bahkan prajurit itu kemudian menggeleng sambil berdesis: “Tidak ada diantaramereka.” Dari pintu samping pemimpin prajurit itu memangmelihat beberapa ekor kuda yang  tertambat. Namun agaknya kuda orang lain. Bukan orang yang  dimaksud. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun kemudian telah sempat mengamati kuda yang  tertambat. Mereka masih melihat kedua ekor kuda dari orang-orang yang telah memperbincangkan kemunduran Singasari. Namun ketika Mahisa Pukat dan Mahisa Semu melihat kedalam kedai itu, mereka tidakmelihat kedua orang penunggangnya. Tetapi Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak mengatakan sesuatu. Mereka tidak beranimemberikan keterangan apapun, karena mereka tidak tahu pasti apakah yang sebenarnya terjadi. Pemimpin prajurit itu telah minta ijin kepada pemilik kedai untuk melihat-lihat isi kedainya. Bahkan sampai ke halaman di belakang kedai itu. Namun mereka tidak melihat orang lain kecuali yang sedangmakan danminum didalam kedai itu. Ketika mereka yakin bahwa yang  mereka cari tidak ada, maka para prajurit itu pun telah meninggalkan kedai itu. Kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, pemimpin prajurit itu pun berkata: “Kamimengucapkan terima kasih anakmuda. Maaf, bahwa kami telah menghambat perjalanan kalian. Kalian telah berusahamembantu tugas kami, para prajurit.” Mahisa Pukat pun mengangguk hormat sambil berkata: “Agaknya itu sudah menjadi kewajiban kami.” Ketika para prajurit itu melanjutkan perjalanan, Mahisa Semu pun berdesis: “Meski pun ketika kami diminta untuk melakukan kewajiban ini kamimerasa agak segan.” Mahisa Pukat tertawa. Katanya: “Kita telah kehilangan waktu. Tetapi kita kemudian dapat berbangga bahwa kita sudah membantu para prajurit.” Mahisa Semu pun tertawa pula. Katanya kemudian: “Beberapa saat lagi, para prajurit itu tentu akan kembali. Mereka tentu tidak akan melakukan pelacakan tanpa ujung. Jika mereka sampai di padukuhan itu dan tidak seorang pun dapat memberikan petunjuk maka mereka tentu akan kembali.” “Ya. Mereka tentu segera kembali.” Mahisa Pukat berhenti sejenak. Lalu katanya: “Tetapi rasa-rasanya kuda-kuda itu masih belum berkurang jumlahnya.Namun kedua orang yang telah berbicara tentang kemunduran Singasari itu telah tidak ada didalam kedai itu.” Mahisa Semumengangguk-angguk. Katanya: “Marilah. Kita melanjutkan perjalanan.” Tetapi ketika mereka sudah siap untuk berangkat, dari pintu kedai itu mereka melihat seseorang turun dari atap rumah itu. Disusul seorang lagimeloncat pula. Ketika keduanya melihat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, maka seorang diantaranya berkata: “Bukankah kedua orang itu yang  berpapasan dengan kita saat kita datang ?” “Bukan berpapasan. Saat itu kita menambatkan kuda kita, keduanyameninggalkan kedai ini,” berkata yang  seorang. “Jika demikian, tentu kedua anak muda itulah yang telah memberitahukan keberadaan kita disini,” geram orang pertama. “Ya. Tentu keduanya,” sahutyang lain. Pemilik kedai itu pun tiba-tiba saja telah keluar pula dari kedainya dan berkata: “Ya. Keduanya adalah anak-anakmuda yang baru saja keluar dari kedai ini. Mereka kembali dengan membawa sekelompok prajurit.” “Anak iblis,” geram salah seorang dari kedua orang itu, “jadi kalian yang telah membawa prajurit-prajurit itu kemari he ?” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu mulai menyadari, bahwa orang-orang itu telah menunjuk kepada mereka. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun berkata: “ Itu tidak benar. Kami hanya mengatakan ada beberapa ekor kuda di kedai ini. Itu pun justru karena mereka bertanya apakah kami bertemu dengan orang-orang berkuda.” “Omong kosong,” geram orang itu, “keriapa kau turut campur persoalan orang lain ?” “Kami tidak sengajamencampurinya.” jawab Mahisa Pukat. “Jadi apa yang  kau lakukan ?” bertanya orang lain. “Kami sekedar memenuhi perintah para prajurit itu untuk menunjukkan kedai ini,” jawab Mahisa Pukat. Kedua orang itu menjadi semakin marah. Seorang diantara mereka pun berkata: “ Jika kau tidak memberikan laporan tentang kami, maka para prajurit itu tentu tidak akan sampai kemari.” “Apa yang aku laporkan tentang kalian ? Apakah kalian melakukan kejahatan disini dan kebetulan aku melihat sehingga aku memberikan laporan tentang kejahatan kalian ? Aku tidak melihat apa-apa. Aku melihat kalian berhenti dan masuk ke kedai ini seperti orang-orang lain. Apa yang  kau laporkan ? Apa yang  aku lihat ? Dan apakah yang sebenamya terjadi ? Sikap kalian justru menimbulkan kecurigaan padaku, bahwa kalian memang melakukan kejahatan,” jawab Mahisa Pukatyang  juga mulaimenjadimarah. Wajah kedua orang itu menjadi merah. Demikian pula pemilik kedai itu. Dengan geram seorang diantara kedua orang itu bertanya: “Siapa sebenarnya kalian berdua ? Petugas sandi atau apa ?” “Aku bukan apa-apa. Aku sedang pergi ke Singasari untuk mengunjungi ay ahku,” jawab Mahisa Pukat. “Kalian memang anakanak yang  malang. Justru karena kalian terlalu banyak mencampuri persoalan orang lain dan karena kalian terlalu banyak tahu tentang kami, maka biarlah kalian berhenti sampai disini. Biarlah ayahmu menunggu sampai batas hidupnya karena ia tidak akanmelihatmu lagi.” “Apa artinya ?” bertanya Mahisa Pukat. “Kau berdua membuat aku marah. Karena itu,maka kalian harusmati,” berkata orang itu. “Begitu mudahnya membunuh orang seperti membunuh seekor ay am untuk di jual di kedai itu,” geram Mahisa Pukat, “kau kira kami ini apa ?” “Jadi kau mau apa ?” bertanya orang itu, “kami sudah sepakat untukmenghukummu. Membunuhmu dan mengubur mayatmu di belakang kedai. Orang-orang yang  ada didalam kedai itu tidak akanmembantumu.” “Mereka akan dapat menjadi saksi perbuatanmu,” desis Mahisa Pukat. “Mereka adalah kawan-kawanku,” jawab orang itu. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Didalam kedai itu ada lima orang. Pemilik kedai dan dua orang pembantunya nampaknya adalah pembantu -pembantu orang-orang itu pula selain kedua orang itu sendiri. Sehingga dengan demikian semuanya ada sepuluh orang. “Janganmeny esali nasibmu yang  buruk,” berkata orang itu, “marilah, pergilah ke belakang kedai itu. Kau akan diperlakukan dengan baik. Kami bersama-sama akan membantu menggali lubang itu. Kemudian kalian berdua berbaring dengan tenang. Kami akan menempatkan ujung pedang kami di dada kalian, tepat diarah jantung. Kami berjanji tidak akan menimbulkan kesakitan pada kalian menjelang kematian kalian.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu benar-benar ter singgung. Mereka tidak lagi berpikir tentang sepuluh orang. Apa pun yang terjadi, mereka tidak mau dihinakan begitu saja. Jika mereka harusmati, maka biarlah mereka mati dengan pedang di tangan. Dengan gigi yang gemeretak Mahisa Pukatmenjawab: “Jika kalian ingin mati, matilah. Ny awaku nilai sama dengan lima orang diantara kalian.” “Anak iblis,” orang itu hampir berteriak, “jadi kau lebih senangmati dalam penderitaan daripada mati dengan tenang.” “Cukup,” bentak Mahisa Pukat, “atau kau memang hanya ingin berbicara, menakut-nakuti kemudian bersembuny i lagi diatap ?” Kedua orang itu tidakmenunggu lagi. Keduanya pun segera ber siap, sedangkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu masih sempatmenambatkan kudanya menepi. Nampaknya memang tidak ada peny elesaian lain. Kedua orang yang dicari oleh para prajurit itu benar-benar akan membunuh Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang dianggapnya telah melaporkan kehadiran mereka kepada para prajurit Singasari. Tetapi Mahisa Pukat pun telah bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.Demikian pula Mahisa Semu. Sejenak kemudian, maka kedua orang itu pun mulai menempatkan diri menghadapi Mahisa Pukat dan yang  lain Mahisa Semu. Dengan lantang seorang diantara mereka berteriak sambil menyerang. “Kaumemilih jalanyang  buruk.” Tetapi Mahisa Pukat yang mendapat serangan itu sudah siap menghadapinya, karena itu maka dengan tangkas pula ia pun telah menghindar. Bahkan sekaligus meny erang. Lawannya menggeliat kemudian berputar. Kakiny a terayun mendatar, namun sama sekali tidak menyentuh Mahisa Pukat yang merendah sambil menyapu kaki lawannya yang lain. Namun lawannya cukup tangkas. Dengan satu kakinya ia telah melentingmenghindari sapuan kaki Mahisa Pukat. Sementara itu Mahisa Semu pun telah bertempur pula. Ia pun telah berloncatan dengan tangkas pula. Meski pun anak muda itu baru mulai, tetapi ia sudah cukup mempunyai pengalaman sehingga ia pun segera meny esuaikan diri dengan serangan-serangan lawannya yang ternyata juga bukan seorang yang  berilmu tinggi. Dalam waktu yang  pendek, baik Mahisa Pukat mau pun Mahisa Semu telah berhasil menguasai lawan-lawannya. Bahkan mereka telah mendesak sehingga lawan-lawannya itu seakan-akan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk bergerak. Mereka setiap kali menjadi bingung menghadapi kecepatan gerak anak-anakmuda itu. Karena itu, maka kedua orang itu pun segera memberi isy arat kepada orang-orang yang  lain yang  ada di kedai itu untukmembantumereka. “ Ingat,” berkata Mahisa Pukat, “nyawaku nilainya sama dengan lima orang diantara kalian. Bahkan lebih. Karena itu, jika kalian ingin membunuh kami berdua, maka kalian pun akan mati. Atau bahkan kalian semua akan mati, dan kami berdua akan tetap hidup.” Kedua orang itu berteriak marah. Sementara kawankawannya, bahkan termasuk pemilik kedai dan dua orang pembantunya telah mengepung Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan ternyata mereka semuanya telah mengacungkan senjata mereka masing2. Beberapa helai pedang, sebuah bindi dan baik pemilik kedai itu mau pun kedua pembantunya ternyata bersenjata kapak. Agaknya mereka memang saudara seperguruan y gmembuka kedai itu untuk tujuan tertentu. “Kau tidak akan dapatmengelak lagi,” geram pemilik kedai itu, “ sebenarnya aku sudah tidak sabar lagi untuk membunuhmu. Mungkin kemenangan kecilmu itu membuatmu berbangga. Tetapi kapak-kapak kami akan mengoy ak leher kalian berdua. Kau tidak usah bermimpi untuk dapat membunuh kami semua. Jika kau berhasil membunuh seorang saja diantara kami, maka kau benar2 seorang anakmuda yang  luar bia sa. Aku akan menyembahmu sampai ke anak cucu.” Mahisa Pukatmengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata: “Kau akan benar-benar menjadi budakku sampai keanak cucu. Aku tidak akan hanya membunuh seorang. Tetapi semuanya. Kecuali kau, karena kau akan menjadi budakku sampai keanak cucumu.” “Anak iblis kau,” pemilik kedai itu menjadi sangatmarah. Ternyata anak-anak muda itu sama sekali tidak menjadi gentar. Bahkan keduanya justru menantang mereka dengan berani. Karena itu, maka pemilik kedai yang  tiba -tiba saja justru mengambil alih pimpinan itu memberi isy arat, agar orangorang yang mengepung kedua orang anak muda itu bergerak semakinmerapat. Mahisa Pukat memperhatikan sepuluh orang yang  telah mengepungmereka itu satu persatu.Wajah-wajah yang garang dan sikap yang kasar. “Ternyata aku berhadapan dengan sekelompok petugas sandi dari Kediri,” berkata Mahisa Pukat. “Kau boleh mengigau apa saja menjelang kematianmu,” geram pemilik kedai itu. Mahisa Pukat tidak menyahut lagi. Ia pun segera mempersiapkan diri menghadapi orang-orang yang telah mengepungnya. Demikianlah, sejenak kemudian bertempuran pun telah terjadi. Pemilik kedai itu telah meny erang dengan garangnya. Disusul oleh kedua orang pelay annya. Sementara itu,yang  lain masih saja termangu-mangu di sekitar arena pertempuran itu. Mereka masih menilai apa yang terjadi. Sementara itu, sebenarnyalah mereka menganggap pemilik kedai dan kedua orang pelay annya itu adalah orang-orang yang  berilmu tinggi, karena sebenarnyalah mereka adalah petugas sandi yang mendapat kepercay aan untuk mengawasi Kotaraja Singasari. Kedai itu tidak lebih dari kedok yang  menyamarkan tempat pertemuan para petugas sandi yang bertugas mengamati Kotaraja Singaraja. Sedangkan pemilik kedai itu adalah orang yangmengatur segala-galanya bagi para petugas sandi itu. Sejenak kemudian, pertempuran pun menjadi semakin sengit. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah bertempur berpa sangan menghadapi ketiga orang yang  bersenjata kapak itu. Namun Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak membiarkan diri mengalami kesulitan sehingga mereka pun mempergunakan pedangmereka pula. Pemilik kedai itu memang sempat terkejutmelihat pedang Mahisa Pukat. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk menilainya, karena Mahisa Pukat ju stru telah meny erangnya. Dalam pertempuran itu, Mahisa Pukat sendiri tidak mengalami kesulitan menghadapi lawan-lawannya. Mahisa Semu pun masih juga mampu bertahan dalam pertempuran itu, karena lawan-lawannya baru tiga orang yang  bergerak. Dua orang yang  bertempur lebih dahulu telah bergeser menepi dan bahkan bergantian menyaksikan pertempuran itu. Namun menurut penilaian Mahisa Pukat, jika yang  lain turun pula ke arena, maka Mahisa Semu akan segera mengalami kesulitan. Tetapi untuk sementara Mahisa Pukat masih belum mengambil langkah-langkah peny elamatan. Ia masih berharap bahwa Mahisa Semu akan mampu mengatasi segala kesulitan yang bakal datang. Sebenamyalah, ketiga orang bersenjata kapak itu juga tidak mampu menekan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan sekali-sekali ketiganya harus berloncatan menjauhi kedua orang anakmuda itu. Pemilik kedai yangmendapat tugas untukmengatur segala sesuatunya mengenai pengamatan atas Kotaraja itu, ternyata tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengalahkannya anak-anak muda yang  semula dianggapnya tidak banyak berarti itu. Karena itu, maka pemilik kedai itu pun telah memberikan isy arat kepada semua orang-orangnya untuk bergerak. “Kita tidak mempunyai banyak waktu,” berkata pemilik kedai itu. Dengan demikian, maka sepuluh orang itu pun telah bergerak bersama-sama. Mereka melangkah dengan hati-hati mendekati pusat lingkaran dengan senjata teracu. “Kita harus dengan cepatmeny eretnya dan menguburnya di belakang kedai ini,” berkata pemilik kedai itu, “sebentar lagi, iring-iringan prajurit itu agaknya akan kembali setelah mereka yakin tidak akanmenemukan apa yangmereka cari.” Serentak sepuluh orang itu pun bergerak. Namun Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun tidak sekedar menunggu. Dengan tangkasnya keduanya justru meloncat menyambar orangorang yang mengepungmereka itu. Dengan demikian maka pertempuran pun segera telah berlangsung dengan sengitnya. Sepuluh orang yang berusaha membunuh kedua orang anak muda itu telah mengerahkan segenap kemampuanmereka. Mereka bukannya orang-orang yang  sama sekali tidak berday a. Itulah sebabnya maka beberapa saat kemudian,maka Mahisa Semu benar-benar mengalami kesulitan. Betapa pun Mahisa Pukat mengerahkan segenap kemampuannya, memancing lawan agar perhatian mereka sebagian terbesar tertuju padanya, namun Mahisa Semu masih saja mengalami kesulitan. Bahkan sejenak kemudian, ujung pedang seorang diantara mereka telah meny entuh kulit Mahisa Semu. Memang tidak menimbulkan luka yang mencemaskan. Tetapi seleret luka itu telah menitikkan darah. Mahisa Semu mengeram oleh kemarahan yang  mulai memanasi darahnya. Tetapi bagaimana pun juga, ia harus mengakui keterbatasannya. Bahkan ilmunya masih jauh dari ilmu yang  dimiliki oleh Mahisa Pukat. Kesepuluh orang lawannya, nampaknya dapat membaca kelemahan kedua orang anakmuda itu. Karena itu, seranganserangan berikutnya justru lebih banyak ditujukan kepada Mahisa Semu. Mahisa Pukat pun mengerti perhitungan lawannya. Karena itu, maka ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali mempercepat pertempuran itu dengan menundukkan lawanlawannya. Ketika Mahisa Semu harus berloncatan mengambil jarak untuk menghindari serangan lawan-lawannya, bahkan tajam kapak pemilik kedai itu juga telah meny entuh kulit Mahisa Semu,maka Mahisa Pukat telah benar-benarmenjadimarah. Ia pun kemudian telah melepaskan ilmunya yang  seakanakan ter sembuny i dibalik kemampuannya dalam ilmu pedang. Mahisa Pukat pun kemudian telah mengetrapkan ilmunya yangmampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya sehingga dengan demikianmaka perlawanan mereka pun akan segeramengendor. Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat pun telah menghentakkan kemampuan ilmu pedangnya. Sambil berloncatan maka pedangnya bergerak menyambar-ny ambar, berputar, kemudian berayun menyilang, mematuk dan sekali-sekali menebaskearah leher. Dengan demikian maka tekanan terhadap Mahisa Semupun sedikit mengendor. Namun beberapa orang telah mendapat kesempatan untuk dengan cepat berusaha menyelesaikan Mahisa Semu lebih dahulu. Mahisa Semu memang harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya untuk menghadapi lawan-lawannya yang mempunyai perhitunganyang justru semakinmenyulitkannya. Mereka justru berusaha sejauh mungkin untuk menekan dan menyelesaikan Mahisa Semu lebih dahulu. Tetapi Mahisa Pukat yang  bagaikan meloncat-loncat berterbangan mengelilingi arena itu memang agak mempersulit gerak lawan- lawannya. Tetapi hampir semuanya diantara mereka berpikir, bahwa dengan caranya itu, Mahisa Pukat tidak akan mampu bertahan untuk waktu yang  cukup lama. Beberapa saat lagi, anakmuda itu tentu akan kehabisan tenaga dan dengan demikian maka mereka akan dengan mudah meny elesaikannya. “Bahkan mungkin kami akan dapat menyelesaikan keduaduanya bersamaan,” berkata pemilik kedai itu dengan para pembantunya yang  tanggap telah memancing agar Mahisa Pukat bergerak lebih banyak. Bahkan ada diantara mereka yang memancing Mahisa Pukat untuk berloncatan dengan langkah-langkah panjang. Dengan demikian mereka mengharap agar Mahisa Pukat dengan cepat kehilangan sebagian besar dari tenaganya. Mahisa Pukat memang berloncatan dengan langkahlangkah panjang. Pedangnya menyambar-nyambar. Setiap kali terdengar dentang senjatanya beradu. Hampir set iap orang diantara sepuluh orang itu, pernah membenturkan senjatanya dengan pedang Mahisa Pukat. Sementara itu Mahisa Semu berusaha untuk meny esuaikan diri dengan langkah-langkah Mahisa Pukatyang panjang dan garang. Sebenarnyalah Mahisa Pukat memang dengan sengaja membiarkan diriny a terpancing dengan gerakan-gerakan panjang. Dengan demikian, maka Mahisa Semu akan mendapat kesempatan bergerak lebih luas, sementara lawannya yang  berjarak jauh, tidak akan menekannya dengan ketat. Sedangkan Mahisa Pukat telah mendapat kesempatan untukmeny entuhmereka seorang demi seorang. Beberapa orang diantara kesepuluh orang itu dengan geramnya telah berusaha untukmenghentikan putaran pedang Mahisa Pukat. Beberapa kali terjadi benturan-bcnturan yang keras. Namun Mahisa Pukat sama sekali tidak berminat lagi untukmelemparkan senjata lawan- lawannya. Meski pun demikian, tetapi sekali sekali Mahisa Semu memang mengalami kesulitan. Segores luka lagi telah menyilang di punggungnya. Tidak terlalu dalam, tetapi memanjangmelintang. Mahisa Pukat benar-benar menjadi cemas. Namun lukaluka ditubuh Mahisa Semu sama sekali tidak mengurangi tenaga dan kemampuannya. Ilmu pedangnya masih mepdebarkan lawan-lawannya, sementara Mahisa Pukat bertempur bagaikan seekor burung sikatan berburu bilalang. Sepuluh orang yang dengan geramnya berusahamembunuh kedua orang anakmuda itu menjadi semakin bernafsu ketika mereka melihat darahyang mengembun ditubuh Mahisa Semu bercampur dengan keringat. Mereka semakin pasti, bahwa mereka akan dapat meny elesaikan kedua orang anak muda yang mereka anggap telah melaporkan kehadiran mereka kepada para prajurit Singasari. Sebenarnyalah, Mahisa Semu memang menjadi semakin terdesak. Selain darahnya yang mengalir, tenaganya pun mulai su sut. Apalagi semakin kuat ia mengerahkan tenaganya,maka darah punmenjadi semakin derasmengalir dari tubuhnya. “Jangan menyesal anak muda,” geram pemilik kedai itu, “kalian berdua akanmati dan akan kami kuburkan di belakang kedai ini. Tetapi karena kalian telah melawan, maka jalan kematian kalian akan menjadi sangat buruk. Mungkin kalian tidak pernah membayangkan bahwa kalian akan mati muda dengan cara yang  mengerikan sekali, karena kalian akan merasakan betapa gelapny a lubang kubur itu. Untuk beberapa saat kalian akan tetap hidupmeski pun kalian telah ditimbuni dengan tanah dan bebatuan.” Mahisa Semu dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menjawab. Namun Mahisa Pukat justru bergerak lebih cepat lagi. Disentuhnya setiap ujung pedang lawan-lawannya dan setiap kali sentuhan itu berusaha diulanginya. Demikianlah, beberapa saat kemudian, ketika keadaan Mahisa Semu menjadi semakin parah, maka beberapa orang diantara sepuluh orang itu merasa aneh dengan dirinya sendiri. Mereka tidak lagi setangkas sebelumnya. Meski pun mereka dapat mengerti bahwa tenaga mereka akan susut, tetapi tentu tidak akan secepat yang terjadi. Satu dua orang yang  luput dari sentuhan senjata Mahisa Pukat memang masih tetap garang. Namun Mahisa Semu tidak lagi merasa betapa beratnya tekanan lawan-lawannya. Ketika tinggal satu dua orang yang  meny erangnya dengan garang, maka Mahisa Semu masih mampu mengatasinya dengan ilmu pedangnya. Sementara itu, Mahisa Pukat berusaha untuk meny entuh pula senjata darimereka yangmasih tetap bertempur dengan garangnya. Mereka yang  masih belum dipengaruhi oleh ilmunya yang mampu meny erap tenaga dan kemampuan lawan-lawannya. Mula-mula mereka sama sekali t idak menghiraukan sentuhan-sentuhan pedang Mahisa Pukat. Mereka mengira bahwa tenaga Mahisa Pukat memang sudah menjadi susut. Karena itu, maka sentuhan- sentuhan pedangnya tidak lagi menggetarkan senjata lawannya. Namun yang terjadi kemudian adalah sama sekali tidak mereka ketahui sebab-sebabnya. Tenaga mereka telah menjadi su sut dengan cepat. Sehingga dengan demikian,maka sepuluh orang itu menjadi tidak berbahaya sama sekali bagi Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Mahisa Pukat sengaja melepaskan ilmunya dan tidak lagi berusaha menghisap sisa tenaga yang ada. Tetapi Mahisa Pukat telah berbisik ditelinga Mahisa Semu - Kita bertahan sampai para prajurit itu kembali “Ya,” jawab Mahisa Semu. “Apakah luka-lukamu berbahaya?” bertanya Mahisa Pukat. “Tidak. Hanya terasa menjadi pedih oleh keringat,” jawab Mahisa Semu “Tenagamumulai susut,” desisMahisa Pukat. “Bukan karena darah yang mengalir terlalu banyak,” jawab Mahisa Pukat. Dengan demikian maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu benar-benar hanya sekedar bertahan. Tetapi sepuluh orang itu tidak lagi terasa garang. Gerak mereka menjadai lamban sekali. Ay unan senjata mereka tidak lagi menimbulkan desir angin. Karena itu,maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak merasa perlu lagi untuk mengerahkan segenap kemampuan mereka.Namun mereka melayani lawan-lawanmereka dengan sekedar bergeser menghindar dan berloncatan. “Jangan lari,” pemilik kedai itumasih berteriak. Mahisa Pukat justru tertawa sambil menjawab: “Apakah kau akan mampu mengejar aku? Aku tidak akan lari. Tetapi kau pun tidak akanmampu menangkap aku.” Pemilik kedai itu menggeram. Rasa -rasanya ia ingin meloncat, menerkam Mahisa Pukat. Tetapi ketika hal itu dilakukan justru ia hampir saja jatuh terjerembab. Sepuluh orang itu rasa -rasanya menjadi kelelahan dan kehilangan tenaga mereka. Karena itu,makamereka pun telah mengumpat-umpat kasar. Apalagi ketika mereka melihat debu dikejauhan. Mereka menyadari bahwa para prajurit itu telah kembali ketika mereka merasa kehilangan jejak buruan mereka. Dengan lantang Mahisa Pukat berkata: “Mahisa Semu. Tahan mereka, sehingga tidak seorang pun yang melarikan diri.” Orang-orang yang bertempur melawan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu memangmenjadi bingung. Satu dua diantara mereka memang ingin melarikan diri. Tetapi Mahisa Semu dan Mahisa Pukat selalu berhasil menahan mereka dan menyeretnya kembali ke arena perkelahian itu. Agaknya sepuluh orang yang menjadi lemah itu tidak juga mampu untuk berlari lebih cepat dari jangkauan tangan Mahisa Semu dan Mahisa Pukat. Ada diantara mereka yang  telah melemparkan senjatanya untuk menyatakan diri tidak terlibat dalam pertempuran itu. Namun Mahisa Semu akan dapat menunjukkan senjatasenjata yang telah dilemparkan itu. Dengan demikian, ketika sekelompok prajurit itu kembali dari perburuan mereka yang gagal, maka mereka heran melihat apa yang  telah terjadi. Pemimpin prajurit itu pun telah bertanya dengan lantang: “Apa yang terjadi disini?” “Ternyata dugaan kami benar,” berkata Mahisa Pukat, “mereka telah mendendam kami dan berusaha untuk membunuh kami berdua.” “Lalu ?” desak pemimpin sekelompok prajurit itu. “Kami terpaksa melawan,” jawab Mahisa Pukat. Pemimpin sekelompok prajurit itu termangu-mangu. Ia memang ragu- ragu untuk mempercayai kata-kata Mahisa Pukat itu. Namun sebelum ia menyatakan sesuatu, prajurit yang  mengenali dua orang buruan itu pun dengan serta merta berkata: “ Itulahmereka. Dua orang yang  kita cari.” “Kenapa tiba -tiba keduanya ada disini ?” bertanya pemimpin sekelompok prajurit itu. “Mereka bersembuny i di atap,” jawab Mahisa Pukat, “sementara itu, ternyata pemilik kedai ini serta orang-orang yang aku kira sedang membeli minuman dan makanan itu adalah kawan-kawan mereka.” Pemilik kedai itu merasa tidak ada gunanya untuk membantah. Anakmuda yang  seorang itu telah terluka. Lukaluka itu akan dapat ikut berbicara tentang dirimereka. Sebenamyalah pemimpin prajurit itu juga melihat luka di tubuh Mahisa Semu. Karena itu maka ia pun dengan cepat dapat mengambil kesimpulan bahwa memang telah terjadi pertempuran di depan kedai itu. Atas permintaan pemimpin prajurit itu, Mahisa Pukat telah menceritakan apa yang telah terjadi. Ia pun menunjukkan luka-luka di tubuh Mahisa Semu. “Jadi kalian berhasil mengalahkan sepuluh orang itu ?” bertanya pemimpin kelompok prajurit itu. “Mungkin hanya satu kebetulan,” jawab Mahisa Pukat. Namun pemimin prajurit itu melihat bahwa sepuluh orang itu seakan-akan sudah tidak berday a lagi untuk meneruskan pertempuran, sementara kedua orang anak muda itu masih kelihatan tegar,meski pun seorang diantara mereka terluka. Namun untuk mey akinkan kenyataan yang dihadapinya, pemimpin prajurit itu pun bertanya: “Siapakah sebenarnya kalian berdua anakmuda.” “Kami datang dari sebuah padepokan yang jauh. Kami ingin mengunjungi ay ahku yang telah lebih dahulu pergi ke Singasari,” jawab Mahisa Pukat. “Siapakah nama ayah kalian. Barangkali aku pernah mengenalnya atau setidak-tidaknya mendengar namanya ?” bertanya pemimpin prajurit itu. “Ayahku seorang pedagang keliling. Namanya Mahendra,” jawab Mahisa Pukat. “Ki Mahendra, adik seperguruan Mahisa Agni danWitantra yang telah tidak ada lagi ?” bertanya pemimpin prajurit itu. “Ya. Agaknya itulah ay ahku. adik seperguruan paman Witantra, bukan paman Mahisa Agni,” jawab Mahisa Pukat. Pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya. “Ya. Aku tahu. Ki Mahendra berada di istana. Aku pun menjadi percaya atas kenyataan yang aku hadapi. Sepantasnya jika kalian dapat mengalahkan sepuluh orang sekaligus. Jika saja kalian bukan anak Ki Mahendra,mungkin akumasih bimbang untukmengakui keny ataanyang  terjadi ini.” Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Namun ia pun berkata: “Terserah orang- orang itu kepada kalian. Jangan dipaksa untuk terlalu banyak bergerak. Mereka memang telah kehilangan sebagian dari kekuatan mereka. Karena itu, maka jika kalian membawanya ke Singasari, kalian tentu memerlukan waktu y g panjang. Mereka akan berjalan lamban dan barangkali harus mengerahkan sisa-sisa tenaga yang masih ada.” Pemimpin sekelompok prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya: “Baiklah. Aku akan membawa mereka ke Singasari. Biarlahmereka membenahi kedainya lebih dahulu.” “Kami akanmendahului kalian,” berkataMahisa Pukat. “Bagaimana dengan luka-luka itu ?” bertanya pemimpin prajurit itu. Mahisa Pukat memandangi Mahisa Semu sejenak. Namun Mahisa Semu pun berkata: “Tidak apa-apa. Bukankah lukaluka itu hanya sekedar goresan-goresan kecil ? “Tetapi biarlah darahnya tidak mengalir lagi,” berkata pemimpin prajurit itu, “aku membawa obat untuk kepentingan sementara.” Namun Mahisa Pukat pun menyahut: “Baiklah. Bukan karena lukanya yang  parah. Tetapi biarlah tidak menarik perhatian banyak orang.” Namun kemudian Mahisa Semu tidak sekedar mengobati luka-luka dengan obat yang  dibawanya sendiri. Tetapi ia sempat pergi ke sumur untuk membersihkan darahnya yang inengotori tubuhnya,meski pun terasa pedih. Selagi Mahisa Semu membenahi dirinya, maka Mahisa Pukat sempat menyaksikan para perajurit yang  menawan sepuluh orang buruan. Dua diantara para tawanan adalah orang yang memang sedangmereka cari. Sedangkanyang  lain, karena mereka terlibat pula,maka mereka pun telah menjadi tawanan pula. Namun melihat keadaan kesepuluh orang yang  sudah menjadi lemah itu, maka para prajurit merasa tidak perlu mengikat tangan mereka. Para prajurit membiarkan saja mereka bebas tanpa terikat tangan dan kakinya. Sepuluh orang itu tidak akan dapatmelarikan diri apalagimelawan. Beberapa orang prajurit memang bertanya-tanya didalam hati, apakah yang  telah terjadi atas kesepuluh orang itu sehingga mereka benar-benar telah kehilangan sebagian besar dari tenagamereka. Tetapi pemimpin para prajurit itu agaknyamengerti, bahwa keadaan itu tentu ditimbulkan oleh satu kekuatan yang belum mereka mengertiyang dipancarkan oleh anak-anakmuda itu. Beberapa saat kemudian, setelah Mahisa Semu selesai, maka Mahisa Pukat pun telah minta diri kepada para prajurit Singasari itu untuk mendahului mereka, karena perjalanan para prajurit itu tentu akan menjadi sangat lamban. Para tawanan itu tidak akan dapat berjalan cepat, meski pun seandainyamereka dilecut sekalipun. Demikianlah, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah ber siap meninggalkan kedai yang  telah ditutup itu. Pemimpin prajurit yang  kemudian mengetahui bahwa Mahisa Pukat itu adalah anak Mahendra, berkata dengan nada rendah, “Kami minta maaf, bahwa kami telah menghambat perjalanan kalian.” Mahisa Pukat tersenyum. Katanya: “Sebenarnya semula aku juga merasa segan untuk kembali sampai ke kedai ini. Tetapi ternyata hal itu ada juga hasilnya, sehingga apa yang  kita lakukan bersama-sama tidak sia-sia.” “Ya,” desis pemimpin prajurit itu, “tetapi tanpa kalian kami tidak akan berhasilmelakukan tugas ini.” Mahisa Pukat tersenyum.Namun ia telah mengajak Mahisa Semu untukmelanjutkan perjalanan. Mahisa Semu punmasih sempat juga minta diri untuk kemudian segera berpacu mengikuti derap kaki kuda Mahisa Pukat. Sementara itu, para prajurit dan sepuluh orang yang  tertawan itu sempat memandangi kedua ekor kuda yang berlarimeninggalkan kepulan debu yang kelabu. “Nah,” berkata pemimpin prajurit itu, “ sekarang baru kalian tahu dengan siapa kalian berhadapan.” Kesepuluh orang itu termangu-mangu. Mereka memang tidak tahu siapakah kedua orang anak muda itu meski pun mereka mendengar pembicaraan antara pemimpin prajurit itu dengan Mahisa Pukat.Orang-orang yang tertawan itu memang belum tahu, siapakah Mahendra itu. Namun pemimpin prajurit itu berkata, “Ketahuilah bahwa anak-anak muda itu adalah anak Ki Mahendra. Ki Mahendra adalah saudara seperguruan dari seorang yang bernama Witantra yang pernah berada di Kediri sebagaimana Mahisa Agni.” Para tawanan itu mulaimerenungkan kata-kata itu. Mereka mulai dapat membayangkan, bahwa Mahendra tentu orang yang memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka anaknya pun memiliki ilmu yang tinggi pula sehingga mereka ber sepuluh tidakmampu sama sekalimenghadapinya. Namun dalam pada itu, pemimpin prajurit itu pun berkata lantang: “Marilah. Kita pun akan segera pergi ke Singasari. Beruntunglah kalian menjumpai lawan sebagaimana kedua orang anak muda itu. Meski pun seandainya mereka kehendakimereka dapatmembunuh kalian semuanya.” Tetapi tiba -tiba pemilik kedai itu berkata: “Mereka dan juga kalian tidak akanmembunuh kami, karena kalianmemerlukan keterangan kami. Namun satu hal yang perlu kalian ketahui, tidak sepatah kata pun akan dapat kalian peras dari mulut kami.” Wajah pemimpin prajurit itu berkerut.Namun kemudian ia pun berkata: “Kami dapat membunuh beberapa diantara kalian. Kami akan dapat mensisakan satu orang atau dua orang atau tiga orang. Tetapi jika kami kehendaki kami akan mensisakan sembilan orang saja. Seorang diantara mereka akan kami bunuh tanpa senjata dan tidakmeny eret orang yang kesepuluh itu dibelakang kaki kuda kami.” Pemilik kedai itu menegang sejenak. Nampaknya ada sesuatu yang ingin diteriakkannya. Namun pemimpin prajurit itu berkata: “Siapkan tali sabut kelapa itu. Siapkan kuda yang paling tegar diantara kuda-kuda kita.” “Kuda Ki Lurah sendiri,” desis seorang prajurit. Pemimpin prajurit itu termangu -mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berdesis: “Ya. Kudaku sendiri.” Wajah pemilik kedai itu menjadi tegang. Tetapi ia tidak mengulangi lagi kata-katanya. Nampaknya ia pun menjadi cemas bahwa para prajurit itu benar-benar akan memperlakukannya dengan kasar. Demikianlah, sejenak kemudian, maka sepuluh orang tawanan itu telah diperintahkan untuk berjalan di depan. Kemudian para prajurit yang berkuda itu mengikutinya di belakang. Mereka berjalan lambat sekali. Para tawanan yang benarbenar nampak lemah dan hampir tidak bertenaga. Namun mereka memang terpaksa untukmenempuh jarak yang  cukup jauh. Para prajurit itu sebenarnya memang tidak telaten. Tetapi mereka tidak dapat memaksa orang-orang itu berjalan lebih cepat meski pun mereka disakiti sekalipun. Bahkan mereka akan dapat menjadi pingsan dan justru tidak dapat melanjutkan perjalanan. Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah mendekati pintu gerbang Kotaraja. Keduanya memang menjadi ragu -ragu. Namun keduanya pun kemudian telah memasuki pintu gerbang induk Kotaraja Singasari. Para petugas yang ada di pintu gerbang telah menghentikannya. Agaknya penjagaan di pintu gerbang itu lebih ketat dari bia sanya. Meski pun Mahisa Pukat sudah lama tidak melalui pintu gerbang itu, namun terasa sikap dan tanggapan para petugas terhadap orang- orang yangmelewati pintu gerbang itu. Namun ternyata Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah tertahan di pintu gerbang. Berhubung dengan laporan tentang dua orang berkuda yang  dicurigai, maka pemimpin prajurit yang bertugas di pintu gerbang telah menaruh perhatian terhadap kedua orang anakmuda itu. Meski pun ciri-ciri yang disebutkan berbeda, tetapi para prajurit itu harus berhati-hati menghadapi para prajurit sandi yang  terbiasa mempergunakan penyamaran. “Duduklah di gardu,” berkata seorang prajurit, “kalian harus menjawab beberapa pertanyaan. Jika jawaban kalian tidak meyakinkan, maka kalian akan dihadapkan kepada prajurit yang  pernah memberikan laporan tentang kehadiran prajurit sandi dari Kediri.” “Bukankah tidak ada masalah antara Singasari dan Kediri ?” bertanya Mahisa Pukat. “Kamilah yang akan bertanya kepada kalian. Bukan sebaliknya,” sahut prajurit itu. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak berniat untuk melakukan tindakan yang dapat menimbulkan per soalan. Karena itu, maka keduanya melakukan apa yang diperintahkan oleh para prajurit itu. Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah duduk di gardu di sebelah pintu gerbang induk Singasari. Mereka telah menambatkan kuda-kuda mereka di belakang gardu itu. Pertanyaan yang pertama, yang  dilontarkan oleh seorang prajurit yang ditugaskan untuk meneliti kedua orang anak muda itu adalah: “Kalian petugas sandi dan Kediri ? “Bukan,” jawab Mahisa Pukat. Anak muda itu masih akan memberikan keterangan. Tetapi prajurit itu memotongnya: “Jawab pertanyaanku saja.” Mahisa Pukat pun terdiam. “Kenapa kau mengamati keadaan Kotaraja Singasari ? Bukankah Kediri termasuk wilayah Singasari?” desak prajurit itu. Mahisa Pukat memang menjadi agak bingung. Namun kemudian ia menjawab: “Kami tidak mengamati Kotaraja. Kami baru akan memasuki Kotaraja.” “Kau tidak perlu berbohong. Kami sudah mendapat keterangan tentang dua orang petugas sandi yang dikirim oleh Kediri. Sikap itu telah membuat Singasari ju stru memperhatikan perkembangan Kediri sekarang ini,” berkata prajurit itu. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sulit baginya untukmemberikan penjelasan karena prajurit itu nampaknya tidak senangmendengar jawaban selain yang  sudah disiapkan di kepalanya. Namun karena itu Mahisa Pukat justru berkata: “Ternyata tidak hanya dua orang yang telah dikirim oleh sekelompok orang di Kediri. Tetapi sepuluh orang.” Prajurit itu terkejut. Tiba -tiba saja ia membentak: “Jadi kau ber sama dengan sepuluh orang datang ke Kotaraja ?” “Bukan aku,” jawab Mahisa Pukat. “Kau janganmencoba untukmempermainkan kami,” geram prajurit itu, “kau tahu bahwa aku dapat membunuh kalian berdua tanpa persoalan apapun.” “ Itukah yang pantas dilakukan oleh seorang prajurit ?” bertanya Mahisa Pukat. Wajah prajurit itu menjadi merah. Tiba-tiba saja ia berteriak-“ Iblis kau. Sebut, siapakah kawan-kawanmu itu.” Beberapa orang prajurit telah tertarik mendengar bentakan-bentakan yang  keras itu, sehingga beberapa orang diantaramereka telahmendekat. “Apa katanya ?” bertanya salah seorang diantaramereka. “ Ia mengaku datang ke Kotaraja bersama dengan sepuluh orang.” jawab prajurit itu. “Sepuluh orang ?” beberapa diantara para prajurit itu bertanya hampir berbareng. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu saling berpandangan sejenak. Namun agaknya Mahisa Semu pun mengertimaksud Mahisa Pukat. Karena itu,maka ia pun hanya berdian did saja. Pemimpin prajurit yang  bertugas yang nampaknya mendengar pula pernyataan Mahisa Pukat itu pun telah melangkah mendekat sambil berkata: “aku minta kau berkata dengan bersungguh-sungguh. Kau tahu akibatnya jika kau mencoba mempermainkan kami. Katakan, apakah benar kau datang ber sama sepuluh orang petugas sandi dan Kediri.” “Bukan kami bersama sepuluh orang. Tetapi petugas sandi dari Kediri itu ada sepuluh orang.” jawab Mahisa Pukat. Wajah pemimpin prajurit itu menjadi tegang. Katanya: “Sekali lagi aku bertanya apakah kau datang bersama sepuluh orang petugas sandi dari Kediri?” Mahisa Pukat justru menjawab tegas: “Tidak.” “Kesabaran kami sudah habis. Tetapi kamimasih mencoba inginmendengar jawabmu,” geram pemimpin kelompok itu. “Aku dapat menjelaskan. Beri aku waktu untuk berbicara, agar per soalannyamenjadi jelas,” berkata Mahisa Pukat. “Bukankan kau sudah berbicara sejak tadi ?” bentak pemimpin prajurit itu. “Aku perlu kesempatan. Tadi aku sama sekali tidak boleh berbicara. Aku hanya boleh menjawab pertanyaan-pertanyaan sa ja. Padahal y g akan aku jelaskan itu termasuk per soalan yang penting,” jawab Mahisa Pukat. “Aku tidak sabar,” teriak seorang prajurit, “biarlah aku mencekikmu.” “Seret anak anak itu ke tengah halaman. Ikat pada tonggak tonggak kayu itu. Kita akan bertanya kepada mereka dengan ditangan,” teriakyang  lain. Mahisa Semu memang menjadi gelisah. Tetapi Mahisa Pukat masih nampak tenang-tenang saja. Bahkan ia berkata: “Dengan siapa sebenarnya aku berhadapan? Dengan prajurit Singasari? Prajurit Kediri atau berhadapan dengan sekelompok orang yang tidak terkendali oleh paugeran apa pun juga sehingga dapat berbuat sesuka hati ?” “Diam kau,” teriak pemimpin prajurit itu. “Bagaimana aku harus diam ? Kalian harusmendengarkan penjelasanku. Sepuluh orang petugas sandi dari Kediri itu sudah tertangkap. Akulah yang menangkap mereka,” Mahisa Pukat pun telah berteriak pula. Para prajurit itu termangu-mangu sejenak. Bahkan mereka saling berpandangan. Namun seorang diantara mereka berkata lantang: “Kau sedangmengigau anak-anakmuda.” “Aku berkata sebenarnya. Tunggulah kawan-kawanmu yang  sedang menggiring sepuluh orang petugas sandi itu. Sekelompok prajurit berkuda itu akan datang dengan membawa para tawanan. Bertanyalah kepada mereka, siapakah yang  telah menangkap para petugas sandi itu,” berkata Mahisa Pukat dengan lantang. Ternyata sikap Mahisa Pukat cukup meyakinkan mereka, sehingga karena itu, maka pemimpin prajurit itu bertanya: “Apakah kau tidak berbohong ? Sekelompok prajurit berkuda memang sedang mengejar para petugas sandi. Tetapi hanya dua orang. Bukan sepuluh.” “Sudah aku katakan, tidak hanya dua orang. Tetapi sepuluh.” jawab Mahisa Pukat. “Bohong,” teriak salah seorang prajurit. “Selesaikan dengan cara yang  sesuai dengan sikap seorang prajurit,” geram prajurityang  lain. “Bagaimana menurut pendapatmu cara yang  sesuai dengan sikap seorang prajurit ?” terdengar seseorang bertanya. Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang perwira dari pasukan berkuda telah berada didalam pintu gerbang. Dua dari pasukan berkuda telah berada di dalam pintu gerbang. Dua orang prajurit yang  bertugas hanya memandanginya dengan bingung. “Apa yang sedang kalian lakukan ?” bertanya perwira prajurit dari pa sukan berkuda yang memimpin sekelompok prajurit berkuda mencari jejak dari orang-orang yang  disangka petugas sandi dariKediri itu. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun mengenali perwira yang berada dipintu gerbang itu. Karena itu, maka keduanya telah melangkah mendekati: “Dimana para tawanan itu ?” “Bersama pasukan kami,” jawab pemimpin prajurit berkuda yang masih duduk dipunggung kudanya, “aku sengaja mendahului mereka. Sebenarnya aku ingin mempersiapkan tempat bagi sepuluh orang petugas sandi dari Kediri itu,” ia berhenti sejenak, lalu, “Apa yang terjadi disini ?” “Nah, aku ingin bertanya,” berkata Mahisa Pukat, “bagaimana jawabmu jika aku berkata bahwa aku dan adikkulah yang  telah menangkap sepuluh petugas sandi dari Kediri itu.” Perwira itu mengerutkan keningnya, sementara para prajurit yang  bertugas diregol itu termangu-mangu. Bahkan mereka menjadi tegang ketika mereka melihat perwira yang masih duduk dipunggung kuda itu terseny um. Kemudian jawabnya: “Ya. Kalian berdualah yang telah menangkap para tawanan itu. Bahkan seorang diantara kalian berdua telah terluka meski pun hanya goresan-goresan tipis ditubuh. Apa sebenarnya yang terjadi.” “Mereka menuduhaku justru petugas sandi dari Kediri,” jawab Mahisa Pukat. Perwira prajurit berkuda itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudian berkata: “Hanya salah paham saja. Lupakan.” “Tunggu,” berkata pemimpin prajurit yang  bertugas di regol, “jika benar orang-orang itu sudah menangkap sepuluh petugas sandi dariKediri,manakah orang-orang itu?” “Sudah aku katakan. Mereka akan segera datang bersama para prajurit berkuda. Aku mendahului mereka untuk menyiapkan tempat bagi para tawanan,” jawab pemimpin pa sukan berkuda itu. “Kenapa kau harus bersusah pay ah menyiapkan tempat bagi mereka ? Bukankah tempat itu sudah ada. Kau tinggal membawanya kesana dan menyerahkan para tawanan itu kepada para prajurit yang bertugas.” “Aku memang akan berbicara dengan para prajurit yang  bertugas,” jawab pemimpin pasukan berkuda yang  memburu petugas sandi itu. “Sebaiknya kau menunggu pa sukanmu dan sepuluh orang tawanan seperti yang kau katakan itu,” berkata pemimpin prajurityang  bertugas itu. Perwira prajurit berkuda itu mengerutkan keningnya. Dengan nada berat ia pun bertanya: “Jadi kau juga mencurigai aku, bahwa aku akan meny elamatkan dua orang yang kau tuduh petugas sandi dan Kediri ini ? Dengan demikian kau pun menuduh bahwa aku telah berkhianat dan berpihak kepada Kediri ? “Tidak sejauh itu,” jawab pemimpin prajurit yang bertugas itu, “aku hanya ingin berhati-hati dengan tugasku.” “Aku tidak mau kalian perlakukan seperti itu,” berkata pemimpin prajurit berkuda itu. Lalu katanya kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, “marilah. Kita masuk ke Kotaraja. Bukankah kau akan berbicara dengan ay ahmu ?.” “Tunggu,” potong pemimpin prajurit yang bertugas, “aku minta kalian menunggu seluruh pasukan berkuda dan sepuluh orang tawanan seperti yang kau katakan.” “Aku tidak peduli,” jawab perwira prajurit berkuda itu, “jika kau memaksa aku menunggu mereka, maka pa sukanku akan menahan kalian dengan tuduhan menghambat tugas yang dibebankan kepada kami, pasukan berkuda. Jika kalian menolak, maka kita akan bertempur. Aku tidak peduli apakah aku akan ditangkap karena telah bertempur dengan sesama prajurit Singasari dan akan diadili. Tetapi akumempunyai harga diri.” “Kami pun mempunyai harga diri,” jawab prajurit yang  bertugas. Tetapi -perwira pasukan berkuda itu berkata kepada Mahisa Pukat danMahisa Semu: “Ambil kuda-kuda kalian.” Keduanya pun kemudian telah mengambil kuda-kuda mereka. Sementara para prajurit yang bertugas telah bersiap pula. Pemimpinnya pun kemudian telah memerintahkan orang-orangnya untuk berpencar. Perwira pasukan berkuda itu pun kemudian berkata kepada Mahisa Pukat: “Kau tadi dapat mengalahkan sepuluh orang hanya berdua. Sekarang, kita bertiga. Disini ada kira-kira sepuluh orang prajurit.” “Kalian akan melawan prajurit yang sedang menjalankan tugasnya ?” bertanya pemimpin prajurityang bertugas di pintu gerbang itu. Tetapi perwira prajurit berkuda itu pun bertanya: “Jadi kau juga akan dengan sengaja menghambat tugasku ?” Kedua belah pihak pun kemudian telah ber siap. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang  juga ter singgung atas perlakuan para prajurit itu temyata tidak berpikir panjang. Mereka pun kemudian telah bersiap pula. “Aku adalah perwira dan pasukan berkuda,” berkata pemimpin sekelompok prajurit berkuda itu, “aku akan bertempur diatas punggung kuda. Jangan menyesal jika terjadi sesuatu ataskalian.” Orang-orang yang  lalu lalang di pintu gerbang induk itu semula tidak memperhatikan apa yang  akan terjadi. Mereka mengira bahwa prajurit-prajurit itu sedang bercakap-cakap seperti bia sa. Atau barangkali sedikit bertengkar tentang persoalan-persoalan kecil yang terjadi diantara mereka. Namun kemudian mereka melihat bahwa pertengkaran itu menjadi semakin bersungguh-sungguh. Apalagi ketika para prajurityang  bertugas dipintu gerbang itumulaimemencar. Namun dalam pada itu, ketika keadaan menjadi semakin panas, mereka telah melihat iring-iringan pasukan berkuda di kejauhan. Mereka maju dengan sangat lambat karena orangorang yang telah mereka tawan tidak dapat berjalan lebih cepat lagi. Perwira pasukan berkuda yang melihat pasukannya di kejauhan itu tiba -tiba telah menggerakkan tali kudanya. Demikian tiba-tiba sehingga kuda itu meloncat dan berpacu dengan kencang. Namun ia masih sempat berteriak: “Anakanakmuda. Tunggu aku disitu.” Para prajurityang  bertugasmemang terkejut. Mereka tidak sempat menahan. Sementara perwira itu berpacu dengan cepatmenuju ke pasukannya yang berjalan lamban. Para prajurit yang  bertugas diregol itu menjadi berdebardebar. Sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Semu berdiri tegak disisi kuda mereka. Namun mereka tidak berniat untuk meninggalkan tempat itu. Untuk beberapa saat suasana menjadi tegang. Beberapa orang prajurityang  bertugas itu menjadi berdebar -debar. Mereka tidak tahu apa yang  akan dilakukan oleh perwira itu. Apakah ia sekedar berlindung di dalam pasukannya, atau ia mempunyai niat lain. Beberapa saat kemudian,maka perwira itu telah sampai ke pa sukannya. Para prajurit yang  berada di regol tidak tahu perintah apa yang diberikannya kepada prajurit-prajuritnya. Namun sejenak kemudian separo dari prajurit berkuda itu pun telah meninggalkan pasukannya, berpacu mengiringi pemimpinnya. Sementara delapan atau sembilan orang yang lain tetapmengawal sepuluh orang yang  sudahmenjadi lemah. Bahkan mereka seakan-akan tidak mampu lagi untuk meneruskan perjalanan. Delapan orang prajurit berkuda telah berpacu ke pintu gerbang kota. Debu yang kelabu mengepul tinggi. Pemimpin prajurit di regol itu berdiri tegak di depan pintu gerbang yang  terbuka lebar. Ia pun segera tanggap, bahwa pemimpin prajurit berkuda itu akan mempergunakan kekerasan. Agaknya ia benar-benar ter singgung mendapat perlakuan dan para prajurit di pintu gerbang. Tetapi segalanya telah terjadi. Pemimpin prajurit di pintu gerbang itu harusmempertanggung jawabkannya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun kemudian sempat juga melihat sekelompok prajurit berkuda berpacu menuju ke pintu gerbang. “Kesalah-pahaman itu telah berkembang,” desis Mahisa Pukat. “Aku akan bertanggung jawab,” geram pemimpin prajurit itu. “Ada seribumacam bentuk pertanggung jawaban,” desis Mahisa Pukat “Kau tidak usah ikut campur,” bentak pemimpin prajurit itu. Mahisa Pukat tidak berbicara lagi. Ia memang tidak sebaiknya mencampuri persoalan para prajurit. Namun dengan demikian Mahisa Pukat mengetahui bahwa diantara para prajurit kadang-kadang dapat terjadi salah paham. Apalagi antar kesatuan sehingga dapat menimbulkan akibat yang justrumerugikan segala pihak. Beberapa saat kemudian, maka para prajurit dan pa sukan berkuda itu telah memasuki pintu gerbang tanpa menghiraukan para prajurit yang  bertugas. Ternyata perwira yangmemimpin sekelompok pasukan berkuda itu seakan-akan tidak melihat para prajurit yang berada di sekitar pintu gerbang itu. Tetapi pemimpin pa sukan berkuda itu berhenti sejenak sambil berkata kepada Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. “Marilah. Kita teruskan perjalanan kita memasuki Kotaraja. Tidak akan ada orang yang menahan kalian. Nanti, kami antarkan kalian kepada ayah kalian, Ki Mahendra.” Para prajurit yang  berjaga-jaga di pintu gerbang saling berpandangan sejenak. Pemimpin prajurit berkuda itu sama sekali tidak menyapa mereka, seakan-akan mereka tidak ada di situ. Namun pemimpin prajurit yang  bertugas diregol itu agaknya juga menahan. Meski pun ia tersinggung oleh sikap itu, tetapi ia menyadari, bahwa pemimpin prajurit berkuda itu telah tersinggung pula oleh sikapnya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu termangu-mangu sejenak. Tetapi keduanya menarik nafas panjang ketika mereka telah memasuki Kotaraja bersama sekelompok prajurit berkuda. Tidak terjadi benturan kekerasan antara kedua kesatuan yang berbeda dan masing-masingmerasa sedang melakukan tugas mereka. “Ternyata para pemimpinnya mampu menahan diri,” berkata Mahisa Pukat hampir berbisik ditelingaMahisa Semu. “Ya. Syukurlah,” sahut Mahisa Semu, “jika terjadi benturan kekerasan,maka kita berdua akan terlibat.” “Kita hanya sebagai saksi,” jawab Mahisa Pukat. “Justru karena itu, kesaksian kita akan dapat tidak menguntungkan bagi salah satu pihak,” berkata Mahisa Semu. “Ya. Mungkin pihak-pihak yang merasa kita rugikan akan mendendam kepada kita,” desis Mahisa Pukat. Keduanya pun terdiam. Mereka telah memasuki Kotaraja tanpa diganggu lagi oleh para prajurit yang  bertugas di pintu gerbang. “Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka mempunyai kekuasaan,” berkata pemimpin sekelompok pa sukan berkuda itu, “aku dapat mengerti, karena itulah yang dapat mereka lakukan.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu mengerutkan keningnya. Namun mereka berkata didalam hati: “Para prajurit di pintu gerbang itu tentu akan berkata lain.” Tetapi sementara itu Mahisa Pukat sempat bertanya: “Bagaimana dengan para prajurit yang membawa para tawanan?” “Sudah jela s. Mereka justru tidak akan diganggu,” jawab pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu. Mahisa Pukat pun mengangguk-angguk. Ia pun yakin, bahwa yang kemudian menyusul di belakangmereka itu tidak akan mengalami gangguan apa pun juga. Sementara itu,maka perwira pa sukan berkuda itu berkata kepada Mahisa Pukat: “Aku akan menghubungi para petugas yang akan menerima para tawanan. Nanti aku antar kau ke istana.” “Terima kasih,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi aku tidak perlu membuatmumenjadi sibuk.” “Tidak. Tidak. Setelah aku meny erahkan para tawanan tugasku selesai,” berkata pemimpin sekelompok pasukan berkuda itu. “Kau tidak membuat taporan?” bertanya Mahisa Pukat. Pemimpin sekelompok pasukan berkuda yang bertugas memburu dua orang petugas sandi dari Kediri dan ternyata justru berhasil menangkap sepuluh orang itu terse-ny um, Katanya: “Tentu. Aku harus membuat laporan kepada Senapati yang  memerintahku. Tetapi itu dapat aku lakukan setelah akumengantarmu ke istana.” “Terima kasih,” jawab Mahisa Pukat Bertiga diiringi beberapa orang prajurit berkuda mereka telah menemui perwira yang  bertugas di barak tahanan. Pemimpin pasukan berkuda itu telah memberitahukan, bahwa ia telah membawa sepuluh orang tahanan. Mereka adalah petugas sandi dariKediri. “Tetapi bukan oleh pimpinan pemerintahan di Kediri apalagi oleh Sri Baginda,” berkata perwira pasukan berkuda itu. “Jadi oleh siapa?” bertanya perwira yang bertugas di barak tahanan itu. “Oleh para pemimpin termasuk para pangeran yang  sejak semula tidak mau tunduk kepada per setujuan yang  telah dibuat antara Kediri dan Singasari. Mereka merasa bahwa tidak sepantasnya Kediri tunduk kepada Singasari,” jawab pemimpin pasukan berkuda itu. “Baiklah,” berkata perwira yang bertugas di barak tahanan, “mereka akan kami tempatkan di bilikyang  khusus.” “Mereka semuanya sepuluh orang,” berkata pemimpin pa sukan berkuda itu, “letakkan mereka di dua atau tiga bilik agar mereka tidak sempat membicarakan rencana-rencana mereka ataumenentukan sikap bersama.” Perwira di barak tahanan itu mengangguk. Jawabnya: “Baik. Semuanya akan kami atur.” Pemimpin pasukan berkuda itu pun kemudian telah memerintahkan para prajurit yang meny ertainya untuk menunggu kawan-kawannya. Ia sendiri akan pergi ke istana untukmengantarkan kedua orang anakmuda itu. Demikianlah maka diantar oleh perwira dari pa sukan berkuda itu Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menuju ke istana. Mereka berkuda menyusuri jalan-jalan kota. Jalan yang  sudah agak lama tidak dilaluinya. Di pintu gerbang samping istana Singasari mereka tidak menemui kesulitan apapun. Perwira dari pa sukan berkuda itu telah menemui pemimpin prajurit yang bertugas dan mengatakanmaksud kunjungan kedua orang anakmuda itu. “Jadi mereka anak-anak Ki Mahendra,” desis pemimpin prajurityang  bertugas itu. “Ya. Mereka ingin menemui ay ahnya,” jawab perwira dari pa sukan berkuda itu. Oleh seorang prajurit yang  bertugas ketiga orang itu pun telah diantarkan ke bangsal yang  diperuntukkan bagi Mahendra di halaman belakang istana. Mahendra agak terkejutmelihat kedatangan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Keduanya serta perwira pasukan berkuda yang mengantar keduanya pun dipersilahkan masuk ke bangsal yang  memang khusus diperuntukkan bagi Mahendra itu. Namun perwira prajurit berkuda itu tidak dapat ikut berbincang bersama mereka. Katanya: “Aku harus memberikan laporan tentang tugasku. Bahkanmungkin kalian berdua akan mendapat beberapa pertanyaan tentang para tawanan itu, karena kalian berdualah yang  sebenarnya telah menangkapmereka.” “Bukan kami,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi kalian. Aku kira keterangan yang demikian akan lebih baik dan tidak akan menyangkut banyak pihak.” Perwira itu tertawa. Katanya: “Para tawanan itu juga punya mulut. Mereka dapatmenceriterakan apa yang  telah terjadi.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Para tawanan itu memang akan dapat berceritera tentang peristiwa yang telah terjadi. Bahkan mungkin dibumbui disana-sini sehingga persoalanmenjadi lain dari peristiwa yang sebenarnya. Adalah bijaksana pendapat perwira pasukan berkuda itu, bahwa sepuluh orang itu harus dipisah-pisahkan, sehingga mereka tidak sempat membuat keterangan palsu yang  telah mereka rancang bersama. Meski pun Mahendra mempersilahkan perwira itu untuk singgah barang sejenak, namun ia telah minta diri karena ia harus memberikan laporan segera tentang tugas yang dibebankan kepadanya. Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah duduk berbincang dengan Mahendra. Yang ditanyakan pertama sekali adalah keselamatan penghuni padepokan Bajra Seta. Baru kemudian keperluan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu datang ke Singasari. Mahisa Pukat pun kemudian telahmenceriterakan apa yang  telah terjadi di padepokan Bajra Seta. Orang-orang yang datang untuk membalas dendam tidak begitu merisaukan. Namun kemudian hubungannya dengan langkah-langkah yang telah diambil oleh orang- orang Kediri atau para pengikutnya. “Tentu bukan karena Sri Baginda di Kediri,” berkata Mahisa Pukat yang  justru pernah bekerja bagi tugas-tugas sandi di Kediri. Mahendra mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat berkata: “Kami ingin memberikan peringatan tentang para petugas sandi Kediri yang  tersebar. Ternyata di Kotaraja hal seperti itu juga terjadi dan sudah dimengerti.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Ya. Para pernimpin di Singasari telah mengetahui kegiatan seperti itu. Memang bukan kegiatan dari Sri Baginda di Kediri. Mereka adalah orang-orang yang  selalu tidak puas dengan keadaan yang berkembang di Kediri sampai saat ini. Bukankah hal seperti ini sudah berlangsung lama ? Dan kau sendiri ju stru pernah berada di lingkungan yang sedang bertentangan di Kediri itu sendiri ?” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya: “Jadi apa yang  akan dilakukan oleh Singasari terhadapmereka. Para petugas sandi itu ?” “Kita memperlakukan mereka tidak sebagai prajurit atau petugas sandi Kediri,” jawab Mahendra. “Maksud ay ah ? Mereka dianggap orang -orang liar atau bahkan pengkhianat ?” Mahisa Pukatmenjadi cemas. Mahendra, menarik nafas d dalam-dalam. Katanya: “Tidak sekeras itu. Tetapi mereka bukanlah petugas atau prajurit dari satu negara yang  sedang berperang dengan Singasari. Kepada para prajurit dan petugas yang meny erah, akan diperlakukan sesuai dengan sikap seorang kesatria yangmenghadapi lawan yang sudah tidak berdaya.” “Jadi, bukankah seperti yang  aku katakan ? Para petugas Sandi itu tidakmendapat perlindungan paugeran sebagaimana seorang prajurit atau petugas satu negara yang tertangkap meski pun sedang bermusuhan ?” desak Mahisa Pukat. “Tetapi para prajurit Singasari masih memperlakukan mereka dengan cukup baik. Namun hukuman yang diberikan kepada mereka adalah hukuman yang paling sesuai dengan langkah-langkahyang  telahmereka ambil,” jawab Mahendra. “Hukumanmati ?” bertanyaMahisa Pukat. “Hanya mereka yang bertanggungjawab,” jawab Mahendra, “tetapi Singasari tidakmudahmenjatuhkan hukuman mati.” Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak dapat mengatakan apa pun terhadap kebijaksanaan yang berlaku di Singasari. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat pun kemudian sempat pula bertanya: “Sementara ini ayah di Singasari telah berbuat apa saja ? Apakah ay ah ditetapkan sebagai hamba di istana ini atau kedudukan lain ?” “Ya. Aku telah menjadi salah seorang hamba diistana ini. Sebagaimana kakang Witantra dan kakang Mahisa Agni, aku ditugaskan untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan atasbeberapa halyang dianggap penting,” jawab Mahendra. “Jadi, jika ayah menganggap ada sesuatu yang  penting, ay ah datang menghadap Sri Maharaja ?” bertanya Mahisa Pukat. Tetapi Mahendra menggeleng. Katanya: “Tidak. Jika Sri Maharaja menganggap perlu berbicara dengan aku,maka aku dipanggilnya.” Mahendra berhenti sejenak, lalu, “memang agak berbeda dengan kakang Mahisa Agni yang telah dianggap keluarga sendiri. Bahkan Sri Maharaja dalam olah kanuragan telah mendapat tuntunan antara lain dari kakang Mahisa Agni. Demikian juga kakangWitantrameski pun jaraknya lebih jauh dari kakang Mahisa Agni. Dan sekarang, jarakku lebih jauh lagi.” “Barangkali Sri Maharaja ingin memberikan kedudukan yang terhormat kepadaku, karena aku adalah orang terdekat dari kakang Mahisa Agni dan kakangWitantra.” “Jika demikian, apakah tidak lebih baik ay ah berada di padepokan ?” bertanyaMahisa Pukat. “Aku juga berpikir demikian. Tetapi sudah tentu tidak dalam waktu dekat. Aku harusmenghormati uluran tangan Sri Maharaja kepadaku. Mungkin uluran itu akan sampai juga ke padepokan Bajra Seta. Setidak-tidaknya restu Sri Maharaja akan dapat mempunyai pengaruh yang  besar diantara perguruan-perguruanyang  lain,” jawab Mahendra. “Tetapi bukankah kita dapatmandiri ? Tanpa bantuan dari siapa pun padepokan dan perguruan Bajra Seta akan tetap tegar,” jawab Mahisa Pukat. “Aku percaya. Tetapi apa salahnya kita menerima uluran tangan Sri Maharaja ? Apakah dengan demikian kita akan merasa terikat oleh kebaikan hati sehingga kita harus berbuat sesuai dengan yang  dikehendaki oleh Sri Maharaja meski pun seandainya, sekali lagi aku katakan, seandainya itu bertentangan dengan nurani kita ?” bertanya ayahnya. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Sementara Mahendra berkata selanjutnya: “Kita tidak u sah dibayangi oleh perasaan seperti itu. Jika Sri Maharaja memberikan restu, tentu dengan niat baik. Kita pun dapat menerimanya dengan baik pula. Seandainya kita kemudian berbuat bagi Singasari sesuai dengan nurani kita, apakah kita merasa bersalah ? Kita memang dapat melihat dan berbicara tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan nurani kita. Tetapi bukankah tidak semuanya yang  dilakukan oleh Sri Maharaja bertentangan dengan nurani kita?” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak segera menawab. “Sudahlah,” berkata ayahnya, “beristirahatlah. Maksud kedatanganmu ke Singasari sudah menjadi pertanda niat baik yang  tumbuh dari hatimu. Bagaimana pun juga, yang kau sampaikan kepadaku akan dapat menjadi bahan pertimbangan. Bahkan akar gerakan dari orang-orang Kediri yang menentang kebijaksanaan Sri Baginda telah menjalar sampai ke padukuhan-padukuhanyang  jauh dariKotaraja.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ternyata justru telah terjadi arus yang  berbalik. Mahisa Pukat ternyata tidak membawa keterangan baru bagi Kotaraja tentang para petugas sandi, tetapi justru membawa berita bahwa petugas-petugas sandi itu telah sampai di padukuhan-padukuhan jauh diluar Kotaraja. Namun kedua-duanya memang hal yang  penting untuk diketahui oleh para pemimpin di Singasari. Dalam pada itu, maka Mahendra pun bertanya kepada anaknya: “Bukankah kau akan berada di Kotaraja barang dua tiga hari?” “Mahisa Murti sendiri di padepokan,” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi ia mempunyai banyak kawan,” desis Mahendra. Mahisa Pukat memang menjadi ragu-ragu. Namun kemudian katanya: “Baiklah. Aku akan berada di Kotaraja dua atau selama-lamanya tiga hari.” Namun satu hal yang tidak diketahui oleh Mahisa Pukat adalah sikap salah seorang prajurit yang berada di pintu gerbang saat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memasuki Kotaraja. Prajurit yang merasa dirinya memiliki kelebihan. Ia tidak percaya bahwa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berhasilmenangkap sepuluh orang petugas sandi itu. “Hanya sebuah lelucon,” katanya kepada kawan-kawannya. “Tetapi para prajurit yang menggiring para tawanan itu juga mengatakan demikian,” jawab pemimpin prajurit yang bertugas, yang  merasa ter singgung oleh sikap perwira pasukan berkuda itu. Namun seorang kawannya berkata: “Aku percaya bahwa hal itu terjadi.” “Kenapa?,” bertanya prajurit yang  tidak percaya itu. “Mereka adalah anak Mahendra,” jawab kawannya itu. “Yang berilmu tinggi adalah Mahendra. Itu pun kita belum pernah nielihat buktinya, apakah benar ilmu kanuragannya yang tinggi atau sekedar karena ia memilik pandangan luas tentang pemerintahan sehingga diangkat menjadi salah seorang penasehat Sri Maharaja,” jawab prajurit yang tidak percaya itu. “Para prajurit dari pasukan berkuda itu tentu tidak akan berbohong. Untuk apa mereka mengatakan bahwa keduanyalah yang  telah menangkap sepuluh orang petugas sandi itu? Bukankah mereka lebih berbangga jika mereka mengatakan bahwa merekalahyang  telah berhasil menangkap para tawanan itu, justru melampaui tugas yang  dibebankan kepada mereka untuk menangkap hanya dua orang diantara para petugas sandi itu?” sahut pemimpinnya. “Tentu kita tidak tahu maksud yang  ter sembunyi dibalik tindakan mereka yang  tidak kita mengerti itu,” jawab prajurit yangmasih tidak percaya itu. Namun pemimpin para prajurit itu berkata: “Sudahlah. Itu bukan persoalan kita. Itu adalah per soalan antara para prajurit dari pasukan berkuda dengan kedua orang itu.” Yang lain mengangguk-angguk. Tetapi prajurityang merasa dirinya memiliki kelebihan itu bergumam hampir tidak terdengar oleh kawan-kawannya: “Aku ingin menjajagi kemampuannya.” Seorang kawannya yang  mendengarnya mengerutkan dahinya.Namun ia pun kemudian tertawa. “Seperti orang yang tidakmempunyai pekerjaan saja. Buat apa kaumelakukannya? Mencari pujian atau kau ingin dengan cepat naik pangkat?” “Tidak. Aku tidak ingin apa-apa. Aku hanya ingin menjadi puas jika aku dapatmengalahkannya,” jawab prajurit itu. Kawan-kawannya menarik nafas dalam-dalam. Namun mereka tidak segera menanggapi sikap prajurit yang merasa dengki itu. Bahkan mereka pun kemudian seakan-akan telah melupakan apa yang  sudah terjadi. Namun dalam pada itu, ketika prajurit yang tidak percaya akan kemampuan Mahisa Pukat itu mendapat kesempatan untuk beristirahat beberapa lama di sore hari, maka ia telah menemui seseorang di Kotaraja. “Apa yang kau ketahui?” bertanya orang itu. “Sepuluh kawan kita tertangkap,” jawab prajurit yang  ternyata adalah salah seorang dari petugas sandi Kediri. “Aku sudah tahu,” jawab orang itu, “mereka adalah orangorang yang  dungu. Mereka dikalahkan oleh dua orang saja.” “Kedua anakmuda itu nampaknyamemang berilmu tinggi. Mereka adalah anak Mahendra,” jawab prajurit itu. “Apakah keduanya akan tinggal di Kotaraja agak lama?” bertanya orang itu. “Aku tidak tahu. Tetapi sekarang mereka berada di istana mengunjungi ayahnya,” jawab prajurit itu. Orang yang ditemuinya itu termangu-mangu sejenak. Namun katanya: “orang itu harus mendapat hukumannya. Kenapa ia ikut campur dalam per soalan kita?” “Aku sudah mengatakan kepada kawan-kawanku di dunia keprajuritan bahwa aku memang ingin mencoba kemampuan anak-anakmuda itu,” berkata prajurit itu. “Jebak orang itu. Kita akan membunuhnya,” berkata orang yang ditemuinya itu. “Kita harusmempunyai satu cara,” berkata prajurit itu pula. “Bukankah orang itu pada suatu saat akan meninggalkan Kotaraja kembali ke rumahnya sendiri?” bertanya orang yang ditemuinya. Prajurit itu mengangguk. Katanya: “Agaknya memang demikian, tetapi kapan.” “Ternyata kau dungu juga seperti sepuluh orang yang  tertangkap itu,” berkata orang yang  ditemuinya itu. “Kenapa ?” bertanya prajurit itu dengan heran. “Kau sudah terlanjur menunjukkan sikap terhadap kedua anak Mahendra itu. Bukankah dengan demikian, jika terjadi sesuatu, kau akan segera dituduhmelakukannya ?” desis orang yang ditemuinya itu. Prajurit itumerenung. Katanya: “Tetapi aku sudah terlanjur mengatakannya. Meski pun demikian, persoalannya bukan persoalan antara Singasari dan Kediri.” “Memang bukan. Tetapi aku berniat menghabisi kedua orang itu. Bukan sekedar mencobai dan menyakitinya,” berkata orang yang ditemuinya itu. Prajurit itu termangu-mangu. Katanya: “Kenapa harus dibunuh?”- “Jangan bodoh. Bukankah karena mereka, sepuluh orang kita sudah tertangkap. Untunglah bahwa sepuluh orang itu termasuk orang- orang yang  telah dipisahkan dari kita, sehingga mereka tidak akan meny ebut nama kita,” berkata orang yang  ditemuinya itu. Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya: “Jika kedua orang itu harus dibunuh, maka aku tidak akan kembali lagi ke lingkungan keprajuritan Singasari.” “Kedudukanmu memberikan keuntungan kepada kita,” desis orang yang  ditemuinya. “Tetapi keterlanjuranku dapat membahayakan keselamatanku.” “Ajak saksi. Biar saksi itu melihat bahwa kau tidak membunuhnya. Tetapi baru kemudian, setelah kau tinggalkan kedua orang itu dalam keadaan yang buruk, kami akan membunuhnya. Dengan demikian kau tidak dapat dituduh membunuh kedua orang itu,” orang itu berhenti sejenak, lalu, “itu kalau kau benar-benar menang atas keduanya. Tetapi jika kau kalah,maka kami tidak akan dapatmembantumu jika kau tidak ingin disebut terlibat dalam pembunuhan itu.” “Sampai kapan kau bertugas di pintu gerbang ?” bertanya orang yang  ditemuinya. “Sepekan. Aku baru mendapatkan dua hari,” jawab prajurit itu. “Jadi masih ada tiga hari lagi,” desis orang yang  ditemuinya, “aku kira anak itu tidak akan terlalu lama di Kotaraja. Ingat, jika kau melihat mereka lewat, kau harus mengikutinya dan ingat, bawa saksi. Kau dapat berterus terang menantangnya. Karena kau akanmenjadi isyarat, bahwa orang yang harus kami bunuh adalah orang yang  kau ikuti dan kau tantang berkelahi. Menang atau kalah, bukan soal bagiku, karena kami akan bertindak atas mereka setelah kau selesai dan meninggalkan orang itu.” Prajurit itu termangu-mangu. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan. Ia sudah terlanjur melakukan satu kesalahan. Karena itu,maka ia harus benar-benar berkelahi. Kalah ataumenang. Sejenak kemudian, prajurit itu telah berada di tugasnya kembali. Ia masih akan bertugas di pintu gerbang itu tiga hari lagi. Namun selama itu, ia harusmengawasi orang-orang yang berlalu lalang di pintu gerbang. Bahkan ia tidak lagi mempergunakan waktu-waktu istirahatnya untuk berjalanjalan atau pergi ke mana pun juga, karena ia memang dianggap belum berkeluarga. Bahkan saat-saat ia mandi pun ia selalu berpesan kepada kawan-kawannya: “Jika kau lihat kedua anak muda itu, hentikan mereka. Aku ingin berbicara dengan mereka. Aku benci melihat kesombongan mereka justru karena prajurit -prajurit berkuda itu menganggap keduanya sebagai pahlawan.” Kawan-kawannya masih saja mentertawakannya. Seorang diantara mereka berkata: “Kenapa kau begitu kasar menaruh perhatian kepada keduanya ? Apakah kau merasa dirugikan ? Apakah keduanya pernah menyakitimu atau mempunyai persoalan khusus denganmu ?” “Tubuhku memang tidak disakiti. Tetapi hatiku yang  tersinggung oleh sikap dan perbuatannya,” jawab prajurit itu. “Bagaimana jika saat anak itu kembali, diiringi pula oleh prajurit berkuda ?” bertanya kawannya. “Aku akan menantangnya langsung. Tentu tidak akan ada orang yang  turut campur. Kalah atau menang bukan lagi persoalan bagiku,” jawab prajurit itu. Kawan-kawannya tidak menghiraukannya lagi. Mereka menganggap prajurit itu baru mabuk tuak. Namun ternyata Ia ber sungguh-sungguh. Setiap saat ia tidak ada di pintu gerbang, ia selalu berpesan wanti-wanti. Sementara itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu masih berada di tempat yang  diperuntukkan bagi Mahendra. Selama kedua anak muda itu berada di Kotaraja, Mahendra memang pernah dipanggil menghadap secara khusus tidak disaat diadakan pa seban. Ada beberapa hal yang dibicarakan. Sementara Mahendra memberitahukan kepada Sri Maharaja, bahwa seorang anaknya dan seorang cantrik dipadepokannya telah datang untukmemberitahukan apa yang telah terjadi di padepokannya. “Jadi jaringan itu sudah merambah ke padukuhan,” desis Sri Maharaja. Mahendra mengangguk hormat sambilmenjawab: “Hamba Sri Maharaja. Agaknya segolongan pemimpin di Kediri benar2 inginmenilai Singasari seutuhnya.” “Baiklah,” berkata Sri Maharaja Singasari, “kita akan menanggapinya. Kita akan berbicara dengan para pemimpin dan panglima di Singasari.” “Hamba Sri Maharaja,” sahut Mahendra. “Namun sebaiknya kau dapat memberikan pesan kepada anakmu agar ia berhati2,” berkata Sri Maharaja pula. “Hamba Sri Maharaja. Untuk padopokan hamba serta lingkungannya,maka anak hamba akan dapat berbuat sesuatu. Tetapi bagaimana dengan daerah2 lain?,” berkata Mahendra kemudian: “tentu Kediri bukan sajamengamati perkembangan terakhir Singasari. Tetapi juga berusaha untuk menanamkan pengaruhnya agar sikap mereka mendapat dukungan, terutama bagi orang2 Kediri dan para Akuwu di Singasari yg mungkin akan dapatmemberikan dukungan kepada mereka.” Sri Maharaja mengangguk-angguk. Katanya kemudian: “Persoalannya memang harus dipecahkan bukan sekedar untuk satu dua tempat. Baiklah paman Mahendra. Kita akan segeramengadakan pertemuan khusus.” “Ya. Tetapi bukankah paman Mahendra tidak akan meninggalkan istana?” bertanya Sri Maharaja. “Tidak. Hamba tidak akan ikut kembali ke padepokan,” jawab Mahendra. “Kapan anakmu akan kembali ke perguruannya?” bertanya Sri Maharaja pula. “ Ia akan berada di Singasari tiga hari tiga malam,” jawab Mahendra. “Baiklah. Padepokanmu akan dapat menjadi salah satu sumber keterangan. Setiap kali aku akan memerintahkan penghubung untuk pergi ke padepokan Bajra Seta. Mungkin ada keteranganyang  dapatmenjadi bahan pertimbangan kami selain bahan-bahan yang tentu akan kami himpun dari para Akuwu, namun juga dari para petugas sandi,” berkata Sri Maharaja. Namun katanya kemudian, “Jika anakmu dan cantrik itu akan kembali ke padepokan, biarlah mereka minta diri kepadaku.” “Hamba Sri Maharaja,” jawab Mahendra, “hamba akan membawamerekamenghadap.” Sebenarnyalah sehari kemudian, menjelang hari keberangkatan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu kembali ke padepokan, mereka telah dibawa oleh Mahendra untuk menghadap. Sri Maharaja telah memberikan kesempatan kepada anak Mahendra itu menjelang sore hari dan diterima di serambi samping. Yang menerima Mahisa Pukat dan Mahisa Semu bukan hanya Sri Maharja, tetapi juga Ratu Angabaya. Kedua -duanya pernah mengenal Mahisa Pukat sebelumnya, sehingga mereka dapat berbicara dengan lancar. Mahisa Semu mash juga ter sendat-sendat ketika satu dua kali ia harus menjawab pertanyaan Sri Maharaja atau Ratu Angabaya. Namun semakin lama, ia pun menjadi semakin rancak juga berbicara. “Kenapa Mahisa Murti tidak kau ajak serta?” bertanya Sri Maharaja. “Ampun Sri Maharaja, Mahisa Murti harus menunggui padepokan kami. Kami tidak dapat bersama-sama meninggalkan padepokan itu dalam suasana seperti ini,” jawab Mahisa Pukat. Sri Maharaja mengangguk-angguk. Ia mengerti bahwa salah seorang diantara kedua anak Mahendra itu harus berada di tempat. Kepada Mahisa Pukat, Sri Maharaja juga menyatakan kesediaannya untuk selalu mengirimkan penghubung. Bukan sa ja antara Mahendra dan anak-anaknya, tetapi terutama laporan-laporan tentang kegiatan padepokan itu serta pengamatan mereka terhadap keadaan lingkungan mereka. Bagaimana pun juga kegiatan segolongan orang- orang Kediri itu harusmendapat perhatian. Seperti yang  dikatakan oleh Mahendra, maka ternyata Sri Maharaja dan Ratu Angabaya menaruh perhatian yang  besar terhadap perkembangan padepokan Bajra Seta, sehingga Sri Baginda itu pun berkata: “Pada saatnya, aku akan mengirimkan sesuatu yang  dapatmembantu mengembangkan padepokan itu. Mungkin alat-alat pertanian, mungkiu perlengkapan lain yang  kalian butuhkan. Sekedar untuk membantu perkembangan padepokanmu meski pun aku tahu bahwa tanpa bantuanku padepokanmu akan berkembang dengan baik. Tetapi usahamu menempatkan orang-orang yang sebelumnya tidak berarti sama sekali bagi kehidupan orang banyak namun yang  akhirnya menyadari kesesatan mereka di sebuah padukuhan adalah usaha yang  sangat baik. Kerenanya mereka patut juga diberi kelengkapanyangmereka butuhkan.” “Ampun Sri Maharaja. Hamba atas nama seisi padepokan serta lingkungan kami, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi aku tidak dapat menyertakan bersamamu besok,” berkata Sri Maharaja kemudian. “Sekali lagi hamba mengucapkan terima kasih,” jawab Mahisa Pukat yang  mempergunakan kesempatan itu untuk mohon diri pula. “Baiklah,” berkata Sri Maharaja, “tetapi hati-hatilah. Keadaan berkembang kearahyang tidak kita inginkan.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu mengangguk dalam-dalam. Dengan tulus mereka masih saja mengulangi ucapan terima kasih atas perhatian Sri Maharaja di Singasari atas padepokan mereka. Demikianlah, maka bersama Mahendra mereka pun telah meninggalkan serambi samping, kembali ke tempat yang diperuntukkan bagi Mahendra,masih di lingkungan istana. Keduanya punmalam itu telah berkemas, karena esok pagipagi keduanya akan meninggalkan Kota raja kembali ke padepokanmereka. Ternyata Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak memperpanjang kehadiran mereka di Kotaraja. Seperti yang sudah mereka rencanakan maka mereka pun akan benarbenar kembali esok pagi. “Aku tidak sampai hati meninggalkan Mahisa Murti terlalu lama,” berkata Mahisa Pukat. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti perasaan Mahisa Pukat. Keduanya jarang sekali berpisah. Karena itu,maka tiga hari tiga malam ditambah perjalanan ke dan dari Kotaraja, bagi Mahisa Pukat tentu terasa lama sekali. Karena itu, maka Mahendra t idak menahannya lagi. Di keesokan harinya, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu benarbenar telahminta diri. Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang menggelisahkan Mahendra. Karena itu maka ia pun berkata: “Ketika kalian memasuki Kotaraja, kalian telah membawa satu per soalan. Kalian telah menangkap sepuluh orang petugas sandi dari Kediri meski pun bukan dari pemerintahan di Kediri. Karena itu berhati-hatilah. Mungkin kawan-kawan mereka telah mendendam.” Mahisa Pukat mengangguk hormat. Sambil mencium tangan ayahnya ia berkata: “Aku mohon dua restu ayah. Aku akan berhati-hati.” Mahendra mengusap kepala anaknya sambil menjawab: “Aku akan selalu berdoa bagi kalian berdua dan sisi padepokan.” Mahisa Semu pun kemudian telah mohon diri pula kepada Mahendra, sementara Mahendra berpesan: “ Jangan lupa mengobati luka-lukamu meski pun nampaknya sudah sembuh.” “Baik Ki Mahendra,” jawab Mahisa Semu. Demikianlah maka keduanya pun telah meninggalkan istana Singasari menyusuri jalan-jalan Kotaraja yang  masih sepi. Matahari masih belum terbit, meski pun langit telah menjadimerah. Ternyata keduanya tidak ingin singgah ke pasar yang  tentu sudah mulai ramai. Keduanya ingin segera meninggalkan Kotaraja,memasuki jalan langsung ke padepokanmereka. Ketika matahari mulai menjenguk cakrawala keduanya telah melintasi pintu gerbang Kotaraja yang  sudah terbuka. Ju stru saat orang yang menunggunya bertugas dihari terakhir. Karena itu, demikian prajurit itu melihat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu lewat, maka dengan serta merta ia telah menghentikannya. “Ada sesuatu yang  ingin aku bicarakan,” berkata prajurit itu. Mahisa Pukat terkejut. Namun ia pun telah berhenti pula ber sama Mahisa Semu. Keduanya segera meloncat turun dari punggung kuda mereka. “Ada apa Ki Sanak ?” bertanya Mahisa Pukat. “Bukankah kalian berdua yang dikatakan oleh perwira prajurit berkuda itu sebagai orang yang  telah menangkap sepuluh orang prajurit sandi dari Kediri,” bertanya prajurit itu. “Aku tidak tahu apakah mereka prajurit atau sekedar orang-orang kebanyakan dalam tugas sandi,” jawab Mahisa Pukat. “Siapa pun mereka, tetapi aku tidak percaya bahwa kalian berdua dapat mengalahkan sepuluh orang, apalagi para petugas sandi yang tentu sudah mendapat latihan khusus,” geram prajurit itu. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Baiklah. Jika kalian tidak percaya, tidak mengapa. Lupakan sa ja.” “Tidak mungkin aku melupakan kesombonganmu saat kau datang bersama perwira pasukan berkuda itu,” jawab prajurit itu. “Kami tidak datang ber sama perwira prajurit berkuda itu,” berkata Mahisa Pukat selanjutnya, “kami berdua datang lebih dahulu, baru perwira itu datang kemudian.” “Ya, itulahyang  aku maksud. Kau kemudianmenjadi sangat sombong danmenyakitkan hati,” berkata prajurit itu. “Maaf, aku tidak sengaja berbuat demikian,” balas Mahisa Pukat. Ia tidak terbiasa menahan diri sejauh itu. Tetapi karena ia tidak ingin berselisih dengan seorang prajurit,maka Mahisa Pukat itu telahmelakukannya. “Terlambat,” jawab prajurit itu. “Jadi apakah maksudmu yang sebenarnya ?” ternyata Mahisa Pukat pun menjadi sulit untuk terlalumenahan diri. “Aku ingin menjajagi kemampuanmu,” jawab prajurit itu. Mahisa Pukat menggeram. Ia mencoba menahan diri, betapa jantungnya seakan-akan hampirmeledak. “Tetapi t idak disini,” berkata prajurit itu, “tunggulah aku berpakaian sejenak. Kita akan pergi ke bulak sebelah atau ke kedai yang  kau maksudkan. Kita akan membuktikan, apakah kau seorang pembohong atau tidak.” “Kenapa sejauh itu ?” berkata Mahisa Pukat, “sebenarnya kau dapatmenghubungi prajurit berkuda itu danmenanyakan kebenaran berita itu. Bukan langsungmembuktikannya.” “Kau takut ?” bertanya prajurit itu. Mahisa Pukatmenarik nafas dalam-dalam. Ia merasa sikap prajurit itu sangat aneh. Bahkan berlebihan. Namun Mahisa Pukat pun tidak ingin dianggap ketakutan menghadapi tantangan itu. Sebenarnyalah yang  menjadi heran bukan hanya Mahisa Pukat saja. Bahkan kawan-kawannya pun menjadi heran. Mungkin saja seseorang tidak percaya bahwa kedua anak muda itu sudah mengalahkan sepuluh orang. Tetapi buat apa harusmembuktikannya? Tetapi prajurit itu justru mengajak dua orang kawannya untukmenjadi saksi. “Lihat, apakah benar orang-orang itu pantas dipercaya,” berkata prajurit itu. Dua kawannya ternyata tidak berkeberatan untuk menjadi saksi. Bahkan keduanya memang ingin melihat apa yang sebenarnya akan terjadi. Pemimpin prajurit yang  bertugas itu pun sebenarnya menganggap sikap prajuritnya itu berlebihan. Tetapi pemimpin prajurit yang  bertugas itu sendiri memang merasa tersinggung atas sikap pemimpin prajurit berkuda yang menganggapnya tidak berarti sama sekali. Karena itu, jika kedua orang anakmuda itumemang orangorang yang  dimanjakan oleh para prajurit berkuda, biarlah mereka tahu bahwa prajuritnya pun memiliki kelebihan sebagaimana kedua orang anakmuda itu. Dengan demikian maka pemimpin prajurityang  bertugas di hari terakhir itu telah memberikan ijin kepada ketiga orang prajuritnya untuk mengikuti kedua orang anak muda itu sampai ke bulak panjang. Ketiga prajurit itu pun kemudian dengan cepat berpakaian. Mereka berjalan mengikuti Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang juga berjalan sambilmenuntut kudanya. Mereka menuju ke bulak panjang yang tidak begitu banyak dilalui orang. Ketika mereka menjumpai simpangan kecil, maka mereka telah berbelok mengikuti aliran sebuah parityang agak besar. Dalam pada itu, dari kejauhan, dua orang yang  ditugaskan untuk mengawasi kedua orang anak muda yang telah menangkap sekelompok petugas Sandi itu hampir menjadi putus asa. Setelah berganti- ganti beberapa kali, maka kedua orang yang bertugas pagi itu melihat dua orang yang membawa kudanya diikuti oleh tiga orang prajurit dari pintu gerbang Kotaiaja. “ Itulahmereka,” desis seorang diantara keduanya. “Aku hampir menjadi gila. Tetapi hari ini adalah hari terakhir kita menunggunya. Jika hari ini keduanya tidak lewat, maka kita menganggap bahwa keduanya memang tidak akan lewat. Apalagi hari ini adalah tugas prajurit itu dihari terakhir sehingga isy arat seperti yang  dilakukannya itu tidak akan dapat diberikannya esok atau hari2 selanjutnya,” sahut kawannya. “Tetapi kita harusmenemukan cara lain. Kedua anakmuda itu harus kita dapatkan. Keduanya benar-benar telah menyebabkan sepuluh orang kawan-kawan kita tertangkap. Apakah kita akan membiarkannya lepas?” berkata orang yang pertama. Kawannya mengangguk-angguk. “Kedua orang anak muda itu memang sudah berdosa besar, sehingga mereka memang harusmemikul hukuman atas dosa mereka itu.” Seperti yang harus dilakukannya,maka kedua orang itu pun telah melepa skan dua ekor burungmerpati dengan sendaren pada ekornya. Kedua burung itu akan terbang tinggi dan kembali ke tempat yang  sudah ditentukan. Di tempat itu pulalah beberapa orang telah bersiapmenunggu isy arat itu. Ketika mereka mendengar suara sendaren, maka seorang diantara mereka pun telah keluar dan turun ke halaman. Ternyata yang  dilihatnya adalah burung merpati yang  telah dibawa oleh kedua orang yang  mengawasi pintu gerbang Kotaraja. “Akhirnya, setelah kita menjadi jemu terhadap pekerjaan ini, kita dapat berhasil. Kedua orang itu tentu sudah keluar dari pintu gerbang Kotaraja, diiringi oleh kawan kita yang bertugas di lingkungan keprajuritan itu sebagaimana dijanjikannya,”-berkata orang itu kepada kawan-kawannya yang ada didalam. “Kita per siapkan sekelompok orang yang  dengan pasti akan dapat membunuh mereka berdua,” berkata seorang yang bertubuh tinggi tegap seperti raksasa. “Semuanya ada limabelas orang,” berkata orang kawannya, “ditambah dengan kedua orang yang mendapat giliran mengawasi pintu gerbang Kotaraja itu.” Jika sepuluh orang itu tidak mampu bertahan melawan keduanya, maka tujuhbelas orang tentu akan mampu membunuh keduanya. Jika kita gagal, maka biarlah kita bersamasama dimusnahkannya. Karena kita memang tidak berharga sama sekali,” berkata orang yang bertubuh tinggi tegap seperti raksasa itu. Demikianlah, dengan cepat mereka pun segera berkemas. Mereka semuanya, lima belas orang, dengan tergesa-gesa telah meninggalkan rumahyang mereka pergunakan itu,menyusuri pematang untukmengambil jalan pintas. Kedua orang yang  memberikan isyarat dengan burung merpati itu telah menunggu mereka dan menunjukkan kemana orang-orang yang mereka cari itu pergi. “Kita menunggu prajurit itu menyelesaikan tugasnya. Kalah atau menang. Kita baru akan datang kemudian,” berkata orang bertubuh raksasa itu. Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka harus menjaga agar prajurit itu tidak terasa terlibat dalam rencana mereka. Saksi-saksi akan mengatakan, bahwa prajurit itu hanya melakukan penjajagan, kemudian meninggalkannya. Kalah atau menang. Yang terjadi kemudian, sama sekali diluar tanggung jawab prajurit itu. Sebenarnyalah bagi kawan-kawannya yang  dilakukan oleh prajurit itu tidak lebih dari satu isy arat, bahwa orang yang diikuti dan kemudian ditantangnya untuk bertempur itulah orang-orang yang  harus dimusnahkan. Beberapa saat kemudian,maka prajurit yangmembawa dua orang saksi itu telah berada di tempat yang dianggap sepi. Jalan kecil atau lebih tepat di atas tanggul parit, prajurit itu kemudian berhenti dan menantang Mahisa Pukat dan Mahisa Semu untuk membuktikan, apakah benar mereka dapat mengalahkan sepuluh orang yang tentu terlatih baik. “Baiklah. Aku seorang diri. Kalian dapat bertempur berdua,” berkata prajurit itu. Tetapi Mahisa Pukat berkata: “Tidak. Aku akan bertempur seorang diri.” “Jangan terlalu sombong. Aku sebenarnya tidak ingin mematahkan lemermu. Tetapi jika kau terlalu sombong,maka kau membuat aku menjadi semakin marah,” berkata prajurit itu. “Terserah saja kepadamu,” berkata Mahisa Pukat, “kau dapatmarah, jengkel, kecewa atau perasaan apa saja.” “Cukup,” geram prajurit itu, “jangan memaksa aku kehilangan kendali sehingga membunuhmu. Aku tidak ingin melakukannya, karena aku hanya ingin membuktikan kemampuanmu.” Mahisa Pukat pun kemudian segera bersiap. Ia tidak mau membiarkan Mahisa Semu menghadapi lawannya itu, sebagaimana diinginkannya. Sambil berbisik Mahisa Pukat berkata: “Jangan. Mungkin ia benar- benar memiliki ilmu yang tinggi.” Mahisa Semu tidak memaksa. Sementara prajurit itu berkata: “Marilah berdua. Sudah aku peringatkan. Jangan terlalu sombong. Kau akan meny esal nanti.” Mahisa Pukat yang  sudah bersiap itu berkata: “Aku akan segera mulai. Jika kau masih berbicara saja, maka kau akan kehilangan waktu yang sangat berharga pada serangan pertama.” “Anak iblis,” prajurit itu mengumpat. Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Tetapi kakinya mulai bergerak meski pun hanya sekedar untuk menggelitik lawannya. Sementara itu lawannya pun segera ber siap pula. Kedua tangannya bergerak dengan cepat. Kakinya berloncatan dengan tangkasny a. Sekali-sekali meloncat mendekat. Kemudian melenting menjauh. Tangannya bersilang di dadanya, namun satu tangannya pun kemudian terjulur dengan telapak tangan menelungkup dan ibu jari terlipat. Sedangkan tangannya yang  lain bergerak mendatar dan telapak tangannya yang  juga menelungkup berada di depan lengannya. Namun kemudian tangan yang terjulur itu ditariknya. Dengan satu loncatan kecil prajurit itu telah merubah sikapnya. Tangannya yang  terjulur kemudian merentang. Seterusny a kedua tangannya pun berputar di depan dadanya, kemudian sambilmemiringkan tubuhnya kedua tangannya itu ber silang di depan wajahnya. Satu gerakan yang manis telah melemparkan prajurit itu langsung melipat kakinya rendahrendah, sehingga prajurit itu terduduk di tanah. Sebelum lawannya berbuat sesuatu, prajurit itu telah melenting berdiri sambilmenjulurkan kakinyameny erang ke arah lawannya. Mahisa Pukat yang berdiri saja sambil menunggu, dengan sigapnya menghindari serangan itu. Demikian orang itu kemudian berdiri tegak, maka Mahisa Pukat langsung meloncatmendekat. Tanpa banyak bergerak, tangannya telah menyusup diantara pertahanan prajurit yang ternyata sangat rapuh itu. Satu pukulan yang keras menghantam bagian bawah dadanya, sehingga serangan itu rasa -rasanya langsung mengenai ulu hati. Prajurit itu membungkuk sambilmengaduh menahan sakit yang menggigit bagian dalam tubuhnya. Namun selagi ia terbungkuk, maka Mahisa Pukat telah mengayunkan tangannya. Dengan sisi telapak tangannya, Mahisa Pukat telah memukul tengkuk prajurit itu. Tidak dengan sepenuh tenaganya. Namun ternyata pukulan itu telah mengakhiri perlawanan prajurit yang belum sempat berbuat sesuatu itu kecuali berloncatan dengan tangan yang berputaranmelingkar lingkar. Prajurit itu jatuh tertelungkup. Terdengar ia mengerang kesakitan. Namun ia sudah tidakmampu bangkit lagi. Kedua orang kawannya yang menjadi saksi dengan tergesa - gesa mendekatinya. Kemudianmenolongnya untuk bangkit. Orang itu memang berusaha untuk bangkit. Tetapi ia tidak mampu berdiri tegak sendiri. Kedua kawannya harus memeganginya danmemapahnya. Bahkan seorang diantara kedua kawannya sempat bertanya: “Apakah penjajaganmu sudah selesai atau baru akan mulai? -Orang itu mengerang kesakitan. Katanya: “Bukankah aku belummati?” “Tentu belum. Kau baru akan mulai menjajagi kekuatan anak muda yang menangkap sepuluh orang petugas sandi, tetapi kau tidak percaya. Nah, anak itu sudah siap. Lakukanlah,” berkata kawannya yang memapahnya. “Jangan gila. Rasa -rasanya leherku patah, seisi dadaku rontoh- semuanya,” berkata prajurit itu. Kedua kawannya menarik nafas panjang. Setelah saling memandang sejenak, maka seorang diantara kedua orang kawannya itu berkata: “Jadi, kau sudah merasa bahwa kau kalah?” “Anak iblis,” geram prajurit itu, “ia curang dan licik. Sebelum aku bersiap, ia sudah menyerang.” “Kaumeny erang lebih dahulu,” berkata kawannya. “ Itulah. Selagi akumeny erang, ia justru memanfaatkan saat seperti itu,” katanya dengan nafas tertengah-engah. “Nampaknya kau sudah menjadi gila,” berkata kawannya yang lain. Kemudian ia pun berkata kepada Mahisa Pukat. “Sudahlah anak muda. Nampaknya ia akan merasa puas, bahwa ia sudah menuruti hatinya, mencoba menjajagi kemampuanmu.” “Baiklah Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat, “aku akan melanjutkan perjalananku. Perjalanankumasih panjang.” “Bawa aku kembali, cepat,” minta prajurit yang  kesakitan itu. Ketiga orang prajurit itu pun kemudian telah meninggalkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang berdiri termangumangu. Sambil terseny um Mahisa Semu berkata: “Kenapa kau menjadi demikian marah kepadanya, sehingga dalam waktu yang sangat singkat, kau sudahmeny elesaikannya?” “Aku benci kepada orang yang  tidak pernah mempercayai kelebihan orang lain. Biarlah ia menyadari, bahwa seharusnya ia tidak berbuat demikian,” jawab Mahisa Pukat sambil memperhatikan ketiga orang prajurit yang  berjalan menjauh. Katanya kemudian, “Nampaknya kedua orang kawannya itu pun tidak menyetujui sikapnya. Mereka justru mengejek kawannya yang  kesakitan itu.” “Ya. Agaknya memang demikian,” sahutMahisa Semu. “Sudahlah. Marilah, kita melanjutkan perjalanan,” ajak Mahisa Pukat tanpamenyadari apa yang sebenarnya terjadi. Namun prajurit yang dikalahkan oleh Mahisa Pukat dalam waktu sekejap itu sama sekali tidak mengira, bahwa kemampuan anak muda itu memang terlalu tinggi. Ia pun sebenarnya merasa malu, bahwa hanya dalam sekejap, ia sudah tidak mampu berbuat apa -apa lagi. Sedangkan sebelumnya ia sudah menantang kedua anak muda itu untuk maju bersama-sama. Namun prajurit itu berkata didalam hati: “Tetapi kawankawanku tentu lebih dari sepuluh orang akan menunggumu berdua. Kalian berdua memang harusmati.” Sebenarnyalah, tujuhbelas orang tengah berjalan menyusuri pematang. Mereka langsung turun ke bulak panjang,mencegat perjalanan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang akan kembali ke padepokan Bajra Seta. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sama sekalimemang tidak menduga bahwa mereka akan menghadapi kesulitan di perjalanan. Meski pun keduanya memang merasa heran atas sikap dan tingkah laku prajurit yang  mencegatnya untuk menjajagi kemampuannya itu. Namun keduanya telah dikejutkan oleh sekelompok orang yang menunggu mereka di pinggir jalan, sebelum keduanya sampai ke kedai tempat sepuluh orang petugas sandi yang ditangkapnya itu berkumpul. “Apalagiyang  akan terjadi,” berkataMahisa Pukat. Mahisa Semu pun mengerutkan keningnya.Namun ia tidak menjawab. “Jika ada jalan simpang, aku memilih melalui jalan simpang itu,” berkata Mahisa Pukat. “Tetapi mereka akan menuduh kami ketakutan,” desis Mahisa Semu. “Aku tidak berkeberatan,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Mahisa Semu tidakmenjawab lagi. Tetapi mereka berdua telah menjadi semakin dekat dengan sekelompok orang yang  berdiri di pinggir jalan itu. “Mudah-mudahan mereka t idak berkepentingan dengan kita,” berkata Mahisa Pukat kemudian. Dengan demikian maka kedua orang anak muda yang  berkuda itu semakin lama menjadi semakin dekat dengan kelompok orang yang  nampaknya memang sedang menunggunya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menjadi yakin, ketika dua orang diantara mereka justru melangkah ke tengah-tengah jalan sambilmengangkat tanganmereka tinggi-tinggi. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memang berhenti beberapa langkah dari kedua orang yang  mengangkat tangannya di tengah jalan itu. “Mendekatlah,” teriak kedua orang yang  berdiri di tengah jalan sambilmengangkat tangannya itu hampir berbareng. Mahisa Murti dan Mahisa Semu sama sekali tidak beranjak dari tempat kudanya berhenti. “Cepat, kemarilah,” bentak salah searang dari kedua orang itu. Tetapi Mahisa Pukat menggeleng lemah sambil menjawab: “Aku tidakmaumendekat.” “ Ini perintah,” geram orang itu. “Seseorang hanya dapat memerintah orang-orang yang  menjadi bawahannya atau menempatkan dirinya dibawah pengaruh orang yang memerintahnya. Sedangkan aku bukan orang dibawah pimpinanmu dan aku tidak sedang dalam pesona wibawamu,” jawab Mahisa Pukat. “Gila kau,” geram salah seorang yang mencegat keduanya itu. Mahisa Pukat tidakmenjawab. Tetapi ia benar -benar tidak maumendekat. Karena itu,maka orang-orang yang mencegatnya tidakmau kehilangan kedua orang anak muda itu. Yang oleh isyarat prajurit yang  bertugas di regol adalah anak muda yang  telah menangkap sepuluh orang kawan-kawanmereka. Dengan demikian maka salah seorang diantara mereka itupun telah memberikan perintah: “Kepung kedua orang anak muda itu.” Orang-orang itu tidak menunggu perintah berikutnya. Mereka pun segera memencar mengepung kedua orang anak muda yang  telah diputuskan untuk mendapat hukuman mati itu. Sebenarnyalah, pemimpin dari orang-orang yang  mengepung Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu pun melangkah maju sambil berkata: “Anak-anak muda. Kalian harus menghadapi pengadilan yang akan memutuskan nasibmu, karena kau telah ikut campur persoalan orang lain.” “Apakahyang kalianmaksud ?” bertanya Mahisa Pukat. “Kalian langsung atau tidak langsung telah meny ebabkan sepuluh kawan-kawan kami ditangkap oleh prajurit Singasari,” berkata pemimpin itu. “Ya,” Mahisa Pukat tidak ingkar, “keputusan apa yang akan kalian ambil ?” “Kalian akan dijatuhi hukuman mati. Kalian tidak perlu melawan, karena hal itu hanya akan menyulitkan masa -masa akhir kalian. Kalian harus mengikhlaskan ny awa kalian. Jika kalian dengan sikap seorang laki-laki menghadapi hukuman itu, maka hukuman yang akan kalian terima adalah hukuman mati dengan cara yang  paling baik. Tetapi jika kalian mencoba melawan,maka nasib kalian akanmenjadi sangat buruk.” “Kami telah mengalahkan sepuluh orang. Jumlah kalian tidak terpaut banyak. Karena itu,maka kami berdua pun akan mengalahkan kalian. Hukuman yang akan kami jatuhkan atas kalian, adalah sama seperti hukuman yang  akan kalian jatuhkan kepadaku. Jika kalian dengan sikap seorang laki-laki menghadapi hukuman itu, maka hukuman yang akan kalian terima adalah hukumanmati dengan cara yang  paling baik.” “Cukup,” teriak pemimpin dari orang -orang yang  mengepung kedua orang anak muda itu, “kalian bukan saja berusaha untuk mengingkari hukuman yang akan kami jatuhkan. Tetapi kalian dengan sombong telah menghina kami. Karena itu,maka hukuman bagi kalian adalah hukuman mati dengan melalui hukuman picis. Kami akan membawa kalian kesarang kami,mengikat pada sebuah patok kay u yang besar. Setiap orang akan mengiris kulit dan dagingmu, kemudian membubuhkan garam dan air jeruk. Baru hari ketiga atau kelima kalian akan benar-benarmati.” Tetapi Mahisa Pukat tertawa. Katanya: “Kalian jangan bertindak terlalu kejam seperti itu. Kalian tidak boleh kehilangan dasar-da sar kemanusiaan kalian.” “Persetan dengan kalian berdua,” geram pemimpin itu. Dengan lantang ia pun telah memerintahkan orang-orangnya untuk bersiap. Sebenarnyalah Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menjadi berdebar-debar juga. Mereka berhadapan dengan sekitar tujuhbelas orang. Satu jumlah yang cukup banyak. Seandainya sa ja Mahisa Pukat dengan tanpa peringatan mendahului mereka. Menghadapi mereka dengan kemampuan ilmunya dilambari pula dengan ilmu yang  mereka sadap dari orang tuanya, dari Akuwu Lemahwarah dan dari beberapa orang lain termasuk landasan kekuatan yang dapat disalurkan lewat senjatanya, maka ia akan dapat membantai lawan-lawannya. Tetapi apakah ia sampai hati untuk berbuat demikian ? Untuk beberapa saat Mahisa Pukat memang termangumangu. Jika ia sekedar mempergunakan ilmu pedangnya serta kemampuannya menghisap kekuatan dan tenaga Iawannya, apakah Mahisa Semu akanmampu bertahan cukup lama ? Selagi Mahisa Pukat sedang termangu-mangu,maka orangorang yang  mengepungnya telah menjadi semakin rapat. Sementara pemimpin dari orang-orang yang meny erangnya itu berkita: “Kau hanya dapat meny esali sikap sombongmu. Tetapi semuanya sudah terlambat. Kau akan menanggung hukumanyang paling gila yang pernah kami lakukan.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun kemudian telah meloncat turun dari kudamereka. Mereka menganggap bahwa bertempur diatas punggung kuda tentu tidak akan menguntungkan. Mereka pun akan sangat sulit untuk memaksa.menembuskepungan itu, karena ujung senjata telah teracu. Karena itu, untuk menghadapi orang-orang yang  mengepungnya, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu akan melawan mereka di atas tanah. Bahkan dengan tidak raguragu keduanya berjalan ke tepi jalan untuk menambatkan kuda-kuda mereka, sementara orang-orang yang mengepungnya justru melangkah mundur. “Jangan biarkan mereka,” teriak pemimpin mereka, “usahakan agar kalian dapatmenangkapmereka hidup-hidup. Kita akan membuat acara kematiannya dengan sebaikbaiknya.” “Kalian hanya akan meny iksa diri,” jawab Mahisa Pukat lantang. Tiba -tiba saja ia mencabut pedangnya sambil berteriak: “Lihat, apa yang aku pegang.” Orang-orang yangmengepungnya memangmelihat sebilah pedang yang  berwarna kehijau-hijauan. Namun pemimpin mereka berteriak: “Pedang yang  tidak ada artinya apa-apa. Tidak lebih dari parang gembala yang sedang mencari kayu dihutan.” Mahisa Pukat memang tersinggung. Beberapa orang telah mengorbankan nyawanya untuk merebut pedang yang  oleh pembuatnya disebut keris itu. Meski pun demikian tidak terpikir oleh Mahisa Pukat untuk menghentakkan ilmunya dengan memutar pedangnya, sehingga orang-orang yang mengepungnya itu akan dibantainya dengan ilmunya. Namun demikian, Mahisa Pukat harusmemikirkan Mahisa Semu yang  tentu akan segera mengalami kesulitan jika separo dari orang- orang itu meny erang Mahisa Semu dan separo menyerang dirinya. Sementara itu pemimpin sekelompok orang itu pun kemudian berrkata: “Janganmenunggu lagi. Kita harus segera bergerak.” Orang-orangnya memang segera bergerak. Tetapi sebelum pertempuran yang  sebenarnya terjadi, maka beberapa orang telah berloncatan dari baik gerumbul-gerumbul perdu. Agaknya orang-orang yang  mengepung Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, bahkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sendiri menjadi sangat tegang serta memusatkan perhatian mereka kepada lawan-lawannya sehingga mereka tidak melihat kehadiran beberapa orangmendekati arena. Kedatangan orang-orang itu memang mengejutkan. Yang kemudian berdiri tegak adalah enam orang dalam pakaian keprajuritan. “Bukankah kau tidak lupa kepadaku?”-bertanya perwira prajurit berkuda yang  bersama Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memasuki gerbang halaman istana Singasari dan mengantarkannya menemui ayahnya. Mahisa Pukat tersenyum. Katanya: “Tentu tidak. Bukankah kita bersama-sama menangkap sepuluh orang petugas sandi dari Kediri itu ?” “Bukankah kita bersama-sama. Tetapi kau berdua.” jawab perwira itu sambil tertawa. Mahisa Pukat sempat tertawa Pula. Katanya: “Sudahlah. Sekarang kita berhadapan lagi dengan sekelompok petugas sandi dari Kediri.” “Kami sudah merasa curiga. Laporan tentang tingkah laku prajurit yang  berpura-pura menjajagi ilmumu yang sebenarnya tidak lebih dari sebuah isy arat, membuat kami harusmengambil langkah-langkah. Ternyata kecurigaan kami itu beralasan. Kalian telah dihentikan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal, yang tentu kawan-kawan dan para petugas sandi itu,” desis perwira prajurit berkuda itu. “Cukup,” pemimpin dari orang-orang yang  menghentikan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu berteriak. “Siapa pun kalian, tetapi jumlah kalian terlalu sedikit untuk melawan kami.”


Jilid 097
“KAU SALAH HITUNG,” jawab perwira itu, “kalian memang dapat menghitung kami berenam dengan enam orang. Tetapi jika kaumenghitung kedua orang anakmuda itu, harus kau sebut sepuluh. Karena itu, maka jumlah kita akan menjadi tidak terpaut banyak. “ Iblis kau,” geram pemimpin dari sekelompok orang itu. “Sudahlah,” berkata perwira prajurit itu: “pilihlah jalan yang paling balk. Meny erah sajalah kepada kami. Kami yang akan memohonkan am pun bagi kalian semua.” “Persetan,” geram pemimpin dari orang-orang yang  telah mencegat perjalananMahisa Pukat dan Mahisa Semu. “Kau tidak dapat memilih,” berkata perwira dari pa sukan berkuda itu. Perwira itu termangu-mangu sejenak ketika mendengar orang itumengumpat kasar. Ternyata orang-orang yang menghentikan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu tidak menunggu lebih lama lagi. Sekali lagi pemimpin mereka meneriakkan aba -ba. Maka serentak orang-orang itu punmulai bergerak. Keenam orang prajurit dari pasukan berkuda itu pun dengan cepat telah berpencar dan meny erang sekelompok orang yang jumlahnya jauh lebih banyak itu. Namun mereka yakin bahwa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu akan dapat mengalahkan mereka. Setidak-tidaknya sepuluh orang diantaramereka. Sebenarnyalah pertempuran pun telah terjadi. Tujuh belas orang itu telah meny erang bersama-sama. Namun prajurit berkuda itu nampaknya memang mempunyai kelebihan dari prajurit kebanyakan. Karena itu, maka mereka berenam benar-benar telah mengacaukan kedudukan tujuh betas orang lawanmereka. Apalagi ketika kemudian Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah ikut pula dalam pertempuran itu. Maka pertempuran itu punmenjadi pertempuranyang  sangat sengit. Mahisa Pukat yang menyadari kedudukannya dalam pertempuran itu, telah mengetrapkan ilmunya yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawannya dengan sentuhan-sentuhan kewadagan atau benturan-benturan senjata. Pertempuran itu pun segera berlangsung dengan sengitnya. Ketika seseorang prajurit dari pasukan berkuda mendekatinya, maka Mahisa Pukat pun segera bergeser menjauh. Seperti dalam pertempuran sebelumnya, maka Mahisa Semu pun harusmengerahkan kemampuannya sehingga anak muda itu tidak dengan cepat hanyut oleh kekuatan ilmu lawannya. Sementara itu, enam orang prajurit berkuda itu pun telah memutar senjata mereka dan setiap kali mematuk lurus atau terayun mendatar, terdengar lawannya mengumpat tidak habis-habisny a. Pertempuran itu pun kemudian telah menjadi pertempuran yang sangat garang. Ternyata orang-orang yang mencegat Mahisa Pukat itu benar-benar inginmembunuh. Mereka tidak lagi dikendalikan oleh paugeran atau perasaan apapun, selain membunuh kedua orang yang telah menyebabkan sepuluh orang kawan mereka tertangkap. Tetapi mereka tidak mengira sama sekali, bahwa enam orang prajurit berkuda telah datang dan melibatkan diri dalam pertempuran itu. Dalam pada itu, maka Mahisa Pukat pun telah berusaha sebanyak mungkin meny entuh senjata lawannya. Ia telah berloncatan dari seorang lawan ke lawan yang  lain. Kemampuannya ilmu pedang telah membantu usahanya untuk melawan dan meny entuh orang-orang yang akan membunuhnya itu. Namun orang-orang yang  ingin membunuh Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu benar -benar orang yang garang. Mereka menyerang sambil berteriak-teriak, mengumpat, bahkan mengucapkan ancaman-ancamanyangmengerikan. Tetapi keenam orang prajurit berkuda itu adalah orangorang yang tangguh. Mereka berpencaran dan berloncatan sambil, memutar pedang mereka, sementara Mahisa Semu yang telah mendalami ilmu pedang, berusaha untuk bertahan karena beberapa orang telah menyerangnya bergantian. Tetapi dalam pada itu, Mahisa Pukat benar-benar mendebarkan jantung. Bukan saja ilmu pedangnya. Tetapi kemampuannya bergerak bagaikan bayang anyang  sulit diikuti oleh pandangan mata kewadagan. Sementara itu, pedangnya yang berwarna kehijauan itu setiap kali berkilat menyambar. Meny ilaukan. Para prajurit berkuda yang  merasa bahwa lawan mereka lebih banyak telah berusaha untukmengurangi jumlah lawan mereka. Karena itu, maka dalam benturan-benturan yang terjadi, ujung-ujung pedang mereka telah pula menggores kulit lawan-lawanmereka. Tetapi bukan saja mereka melukai lawan-lawan mereka. Tetapi ada pula diantaramereka yang terluka. Demikian pula Mahisa Semu. Luka-lukanya yang  lama masih belum sembuh benar. Namun ia telah mengalami lukaluka baru. Beberapa gores senjata lawan telah membuat kulitnya berdarah. Namun sementara itu, ada beberapa orang diantara ketujuh-belas orang itu yang terlalu sering berbenturan senjata dengan Mahisa Pukat. Orang-orang yang demikian itulah yang lebih dahulu mengalami kesulitan. Tenaganya terasa dengan cepat susut, sehingga tangan dan kakinya terasa semakin lama semakin berat. Pemimpin sekelompok orang yang berniat membunuh Mahisa Pukat itu berteriak-teriakmemberikan aba-aba kepada orang-orangnya. Ia melihat beberapa orang tidak lagi dengan sungguh-sungguh bertempur. Seakan-akan mereka menjadi malas dan segan untukmengangkat senjata-senjata mereka. “Jangan menjadi seorang pengecut dengan tiba-tiba. Lawanmu bukan hantu. Lawanmu adalah orang seperti kita yang dapat kita lukai. Lihat, seorang diantara mereka telah menitikkan darah dari lukanya. Bunuh anak itu lebih dahulu, kemudian seorang lagi. Baru kemudian kita membunuh para prajurityang  telahmencampuri urusan orang lain.” “Persetan,” geram pemimpin dari prajurit berkuda itu, “apa punyang  kau katakan, tetapi kalian semua harusmati. - Namun orang itu tidak sempat berteriak lagi. Dengan derasnya Mahisa Pukat telah menyerangnya. Tetapi pemimpin dari orang-orang yang ingin membunuhnya itu telah menangkis serangannya. Bahkan dengan cepat orang itu berusaha untukmeny erang Mahisa Pukat. Mahisa Pukat sama sekali tidak menghindar. Tetapi ia berusahamenangkis serangan itu. Bahkan kemudian memutar pedang dan dengan sigap meloncat sambil menjulurkan pedangnya lurus-lurus ke arah lambung. Tetapi sekali lagi lawannya itu sempatmenangkis serangan Mahisa Pukat. Namun dalam pada itu, seorang yang  lain telah meny erang Mahisa Pukat pula, sehingga Mahisa Pukat harus berloncatan meninggalkan lawannya itu untukmenghadapi lawannya yang baru. Bahkan dua orang bersama-sama. Tetapi Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar ketika ia melihat darah Mahisa Semu mengalir semakin banyak. Meski pun anak muda itu masih tetap bertahan, tetapi darah yang semakin banyakmengalir akanmenyulitkannya. Dalam pada itu, beberapa orang prajurit berkuda yang  bertempur berputaran diantara lawan-lawannya yang  jauh lebih banyak itu kadang-kadang memang merasa heran. Beberapa orang diantara lawan-lawannya justru menjadi tidak lagi segarang sebelumnya. Sebagaimana Mahisa Semu, yang meski pun sudah terluka, namun ia pun merasakan bahwa lawan-lawannya sebagian tidak lagi berbahaya baginya.Orangorang itu tidak lagi mampu mengejarnya jika ia membuat langkah-langkah panjang. Pemimpin sekelompok orang yang ingin membunuh Mahisa Pukat pun menjadi heran terhadap dirinya sendiri. Meski pun demikian iamasih tetap seorang yang  berbahaya. Dalam pada itu, apa yang pernah terjadi, telah terjadi lagi. Lawan-lawan Mahisa Pukat yang telah mengalami sentuhan senjata atau kewadagan, apalagi yang  sudah beberapa kali, maka tenaga dan kemampuannya bagaikan telah dihisap, sehingga mereka telah menjadi lemah dan tidak lagi mampu mengetrapkan ilmunya. Mereka bahkan menjadi bingung dan tidak tahu apa yang  harus dikerjakan selain tubuh mereka menjadi semakin lama semakin lemah. Dengan demikian,maka karena yang  bertempur kemudian bukan hanya Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, maka senjata para prajurit telah dengan mudah menyentuh dan melukai lawan-lawanmereka. Namun demikian Mahisa Pukat berteriak: “Cukup. Mereka tidak perlu dilukai atau disakiti. Biarlah mereka meny erah karena mereka tidak akanmampu lagimelawan.” Sebenarnyalah beberapa orang bahkan telah terduduk lesu. Yang lain kehilangan keseimbangan, sementara ada diantara mereka yang terluka, bukan karena tidakmampumengadakan perlawanan, tetapi sejak mereka baru mulai menghadapi seorang prajurit,mereka tidakmampumempertahankan diri. Para prajurit terkejut mendengar teriakan Mahisa Pukat. Namun mereka pun telah berloncatan mundur. Sementara ketujuh bela s orang yang mencegat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu benar-benar sudah tidak mampu untuk bertahan lebih lama. Memangmasih ada satu dua orang yangmemiliki day a tahan tubuhyang  lebih kuat dari yang lain. Ada pula yang baru sekali meny entuh senjata Mahisa Pukat dengan senjata, sehingga kekuatan dan kemampuannya seakan-akan masih utuh. Tetapi ketika mereka melihat keadaan ger ombolannya, makamerekamemang tidakmempunyai pilihan lain. “Meny erahlah,” berkata Mahisa Pukat, “jika tidak, maka kalian semuanya akan mati. Kalian sudah tidak akan mampu melawan kami. Satu dua diantara kalian sudah terluka. Yang lain kehilangan tekad untuk melawan sebagai seorang lakilaki. Sedangkanyang lain lagimenjadi ketakutan.” Beberapa orang termangu-mangu. Mereka memang menjadi ngeri melihat ujung-ujung senjata kedua orang anak muda yang mereka buru dan para prajurit berkudaa yang tibatiba saja telah datang tanpamembawa kuda. Akhirnya tujuhbelas orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Pemimpinnya yang  masih nampak utuh, sebenarnyalah sudah mulai diraba oleh ilmu yang dahsy at itu. Namun justru karena ia sibuk mengatur orang-orangnya sehingga ia tidak mempunyai banyak kesempatan untuk membenturkan senjatanya dengan senjata Mahisa Pukat. Baru pada kesempatan terakhir, ia telah menangkis serangan anakmuda yang bersenjata pedang berwarna kehijau-hijauan itu. Enam orang prajurit berkuda itu menjadi heran pula sebagaimana orang-orang yang mencegat Mahisa Pukat itu. Para prajurit itu juga tidak tahu apa yang telah terjadi, sebagaimana mereka juga tidak tahu apa yang telah terjadi pada sepuluh orang yang telah ditangkap sebelumnya. Tetapi mereka tidak sempat bertanya. Mahisa Pukat berkata: “Tujuhbelas orang itu akan menjadi tawanan kalian mengenai sepuluh orang yang telah tertangkap lebih dahulu. Bawa mereka ke Kotaraja. Biarlah kawan-kawan mereka yang masih kuat dapatmembantu kawan- kawannya.” “Kaumau apa ?,” bertanya pemimpin prajurit berkuda itu. “Aku akan meneruskan perjalanan. Bukankah kita belum berada di lingkungan bahaya perang sehingga kita tidak usah menjadi cemas,” berkataMahisa Pukat. Pemimpin prajurit berkuda itu menarik nafas dalamdalam. Tetapi sebenarnyalah ia tidak perlu menjadi cemas sehingga berbuat sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Demikianlah, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu masih menunggui sejenak ketika pemimpin sekelompok kecil prajurit itu mempersiapkan lawan-lawan mereka untukmengatur diri. Baru kemudianmereka telah dibawa ke istana. Orang-orang istana itu pun terkejut melihat peristiwa itu sepertimelihat lalat di sekitarnya. Namun pemimpin prajurit berkuda itu masih juga bertahan pada tugasny a sehingga jarang sekali ia membuat kesalahan. Karena itu, maka ia memang mendapatkan kepercayaan yang besar. Juga terhadap sikapnya kepada orang-orang yang telah mencegat kedua anakmuda itu. Namun para pemimpinnya percaya bahwa pa sukan berkuda yang  jumlahnya hanya enam itu mampu mengatasi lawan sebanyak tujuhbelas orang, justru karena bertempur ber sama dengan dua orang anakmuda itu. Tetapi apa yang, telah terjadi dengan kedua orang anak muda itu tidak mendapat banyak tanggapan dan keterangan. Yang penting bagi orang -orang yang mendapat peny erahan para tawanan itu, tujuhbelas orang lagi diantara mereka yang sedang di buru itu ternyata datang dengan kedua tangan terikat, kecualimereka yangmendapat tugas untukmemapah kawannyameski pun tubuhnya sendirimenjadi sangat lemah. Dalam pada itu, Mahendra yang  mendengar laporan itu pula telah bersukur didalam hati, bahwa kedua anak dan cantrik itu selamat. Dari pemimpin pasukan berkuda itu, Mahendramendengar apa yang telah terjadi. Apa pula yang  dilakukan oleh kedua orang anakmuda itu. Mahendra hanyamengangguk-angguk saja. Ia sadar, bahwa Mahisa Pukat tentu sudah mempergunakan ilmunya yang mampumenyerap kekuatan dan ilmu lawannya. Namun peristiwa itu sendiri adalah peristiwa yang  mendebarkan. Jika saja sebelumnya para prajurit berkuda itu tidak mendapatkan keterangan tentang rencana buruk yang akan mencegat perjalanan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, maka keduanya belum tentu akan dapat meloloskan diri. Set idak-tidaknya keadaan Mahisa Semu tentu akan menjadi sangat sulit. Mungkin saja ia terluka parah atau bahkan lebih buruk daripada itu. Sementara itu,maka Mahisa Pukat tentu akan mengerahkan ilmunya untuk melindungi sejumlah kawannya, karena tanpa berbuat demikian, maka nyawanya sendiri akanmelayang. Hampir di luar sadarnya Mahendra yang  berbicara langsung dengan pemimpin prajurit berkuda itu berdesis: “Akumengucapkan terima kasih.” “Aku hanya menjalankan tugas. Ketika kami mendapat laporan tentang hal itu, maka dengan tergesa -gesa kami menyusul kedua orang anakmuda itu.” “Apakah rencana mereka dapat kalian ketahui ?,” bertanya Mahendra. “Tidak tepat seperti itu,” jawab pemimpin pa sukan berkuda, “yang  diberi tahukan kepada kami oleh petugas dipintu gerbang, bahwa seorang diantara kawan-kawannya yang bertugas ada yang  dengan tanpa dapat dikekang, berniat untukmenjajagi kemampuan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Itu adalah satu tindakan yang tidak wajar dilakukan oleh seorang prajurit. Karena itu, maka kami mempunyai prasangka buruk. Mungkin yang dilakukan itu hanya sekedar cara atau jika ia benar -benar ingin melakukannya dengan alasan tertentu, maka langkah itu akan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Kami t idak y akin akan apa yang akan terjadi. Tetapi kami ingin melihat, apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleh prajurit itu. Ternyata bahwa dua orang kami yang mengamati peristiwa itu melihat ada pihak lain yang mengawasi keadaan, sehingga kami ju stru mengawasi orang itu. Ketika mereka melepaskan burung merpati,maka kami pun menyadari apa yang  akan terjadi.” Mahendra pun mengangguk-angguk. Untunglah bahwa pemimpin prajurit berkuda itu berpikir tangkas ketika ia mendapat keterangan tentang seorang prajurit yang  berniat untuk menjajagi kemampuan Mahisa Pukat, sehingga kehadirannya meski pun hanya berenam, namun sudah membatasi per soalan sehingga Mahisa Pukat tidak perlu melakukan pembunuhan semena-mena. Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah melanjutkan perjalanannya kembali ke padepokannya.Namun waktumereka telah banyak tersita. Ketika mereka melewati kedai yang disinggahi saatmereka berangkat, kedai itu nampaknya kosong sama sekali. “Kita berhenti sejenak, kau perlu beristirahat,” berkata Mahisa Pukat. “Kenapa disini ?,” bertanya Mahisa Semu. “Lukamu perlu mendapat perawatan.,” jawab Mahisa Pukat. Keduanya pun kemudian telah turun di depan kedai yang  kosong itu. Ketika mereka kemudian mendor ong pintunya, ternyata pintunya juga tidak diselarak. Bahkan apa yang  ada di kedai itu masih juga sama seperti saat kedai itu ditinggalkan. “Tidak ada seorang pun yang  telah masuk kedalam kedai ini,” berkata Mahisa Pukat. “Sebaiknya kita juga tidak,” berkata Mahisa Semu: “agar kita tidak dituduh melakukan sesuatu dikedai ini.” “Kedai ini sekarang t idak bertuan,” berkata Mahisa Pukat. Lalu: “Pemiliknya sudah ditangkap. Demikian pula orangorang yang  pernah berhubungan dengan pemilik kedai ini.” “Tetapi jika ada orang lain yang  tidak mengetahui persoalannya, kita dikira memasuki tempat yang  tidak semestinya,” desisMahisa Semu. “Jika demikian, kita berada di luar saja. Didalam justru banyak sekali debu. Makanan sudah tidak lagi dapat dimakan. Mangkuk-mangkuk berserakan dan lalat pun berterbangan,” desis Mahisa Pukat. Keduanya pun kemudian telah duduk di tangga samping kedai itu. Mahisa Pukat telah mengobati luka -luka Mahisa Semu. Terutama luka- lukanya yang  baru. Sambil menunggu sejenak, serta memberikan kesempatan kudanya beristirahat, Mahisa Pukat melihat-lihat keadaan di sekeliling kedai itu. Namun tidak ada sesuatu yang sempat menarik perhatiannya. Kedai itu benar-benar kosong dan tidak pernah lagi dijamah orang. Baru sejenak kemudian maka keduanya pun telah bersiapsiap untuk meneruskan perjalanan. Kuda mereka pun telah tidak lagimerasa lelah, apalagi kuda-kuda itu barumenempuh sebagian kecil dari perjalananmereka yang panjang. Demikianlah, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berpacu lagi di atas punggung kudanya. Namun Mahisa Semu telah nampak lebih ber sih. Darah tidak lagi nampakmemerah di tubuhnya. Lukanya pun telahmenjadi pempat pula. Tetapi perjalanan mereka masih cukup panjang, apalagi mereka telah kehilangan waktu lama. Tetapi Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak berpacu terlalu cepat. Apalagi jika mereka mendekati padukuhan atau jalan yang  banyak dilalui orang. Kudanya berlari agak lambat agar tidak menarik perhatian orang atau bahkan menganggu orang -orang lainyang  jugamemakai jalan. Demikian pula ketika mereka sampai di sebuah padukuhan yang cukup besar dan ramai. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah menarik kekang kuda mereka. Dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi mereka memasuki padukuhan yang besar itu. Padukuhan yang  mempunyai jalan-jalan yang  agak lebar dan banyak dilalui orang. Di sebelah meny ebelah jalan, terdapat regol-regol halaman yang cukup baik biar halamanhalaman yang agak luas. Bahkan terdapat satu dua bangunan yang di pagi hari tentu dipergunakan sebagai kedai. Namun meski pun hari telah menjadi semakin sore, masih ada juga satu dua kedai yang terbuka. “Kita singgah untukmakan,” berkata Mahisa Pukat. Mahisa Semu pun merasa sangat haus, sehingga ia pun dengan cepatmenyatakan persetujuannya. Keduanya pun kemudian telah singgah di sebuah kedai yang tidak terlalu besar.Namun di kedai itu Mahisa Pukat dan Mahisa Semu dapat pula membelimakan dan minuman untuk kudamereka. Ternyata minuman dan makanan di kedai itu cukup baik. Harganya pun tidak terlalu mahal. Sementara itu kuda mereka pun telahmendapatminum danmakan secukupnya. Setelahmembayarmakanan dan minuman serta perawatan kuda-kuda mereka, maka kedua orang anak muda itu pun segeramelanjutkan perjalanan. Namun ketika mereka sampai di simpang empat di padukuhan itu, keduanya terkejut sehingga mereka menarik kekang kuda mereka kuatkuat. Kuda Mahisa Semu bahkan telah meringkik sambil mengangkat kaki depannya. Hampir saja Mahisa Semu terjatuh. Untunglah, bahwa tubuhnya seakan-akan telah melekat pada purtggung kudanya itu. Sementara itu, beberapa orang anak muda berkuda dari arah samping memotong jalan dengan tiba-tiba saja tanpa memperlambat laju kuda mereka. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang  berhenti di simpang empatmenjadi berdebar-debar. Sementara itu, beberapa anak muda yangmemotong jalan itu justru tertawa berkepanjangan. Mereka seakan-akan telah meny oraki Mahisa Pukat dan Mahisa Semu yang hampir saja terjatuh dari kudanya. “Anak-anak gila,” Mahisa Semu menjadi marah. Tetapi Mahisa Pukat berdesis: “Sudahlah. Jangan hiraukan. Kita meneruskan perjalanan kita yang  sudah terhambat.” Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan inginmengendapkan gejolak perasaan didadanya. Beberapa orang yang  melihat hal itu pun berhenti termangu-mangu. Seorang yang sudah separo baya mendekati kedua anak muda itu. Katanya: “Untunglah tidak terjadi sesuatu ngger.” Mahisa Pukat mengangguk hormat sambil berkata: “Ya Kiai. Tetapi hati inimasih berdebar-debar.” “Sudahlah. Jangan berurusan dengan anak-anak bengal itu. Mereka adalah anak-anak orang kaya di padukuhan yang terhitung besar ini. Tetapimereka justrumembuat padukuhan inimenjadi selalu kacau,” berkata orang separo baya itu. “Terima kasih atas peringatan itu Kiai,” jawab Mahisa Pukat yang kemudian bersama-sama dengan Mahisa Semu telah minta diri untukmelanjutkan perjalanan. “Justru anak-anak semacam itu harus mendapat peringatan,” berkata Mahisa Semu. “Sudahlah,” berkata Mahisa Pukat, “lupakan.” Namun keduanya masih juga mendengar salah seorang yang berdiri di pinggir jalan berkata: “Kemarin, dua orang anak yang sedang bermain-main juga ter sentuh kuda-kuda yang seperti menjadi liar itu. Untunglah luka-lukanya tidak begitu berat.” Mahisa Semu berpaling. Tetapi Mahisa Pukat berkata: “Marilah. Para bebahu padukuhan ini tentu akan mengurusnya .” Tanpa menghiraukan anak-anak muda itu lagi, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu meneruskan perjalanan mereka. Tetapi baru beberapa langkah kuda mereka bergerak, mereka telah mendengar teriakan-teriakan anak-anak muda itu lagi. Kemudian derap kaki kuda mereka. Sebelum Mahisa Pukat dan Mahisa Semu menentukan sikap, anak-anak muda itu telah muncul lagi di simpang empat. Mereka berbelok searah dengan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Bahkan kemudian beberapa orang anak muda itu telahmendahului Mahisa Semu dan Mahisa Pukat.Namun dua orang diantara mereka sempatmeny entuh kepala Mahisa Semu disu sul teriakan-teriakan riuh dari anak-anak itu. “He, kepalamu cukup keras Ki Sanak,” teriak salah seorang dan mereka sambil berpacu meninggalkan Mahisa Pukat dan Mahisa Semu. Ternyata Mahisa Pukat tidak sempat lagi mengekang Mahisa Semu yang menjadi sangat marah. Tiba-tiba saja Mahisa Semu telah memacu kudanya pulamenyusul beberapa orang anakmuda yang berkuda itu. Mahisa Pukat tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya. Bahkan Mahisa Pukat pun mendengar Mahisa Semu berteriak: “Berhenti kalian anak-anak setan.” Yang terdengar adalah suara tertawa yang meledak. Anakanakmuda itu tertawa berkepanjangan. Namun ketika mereka melihat anakmuda yang  dilewatinya sambil disentuh kepalanya itu berpacu menyusul mereka, maka anak-anak muda itu mulai memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. “Anak itu menjadi gila,” teriak seorang diantara mereka. Kawan-kawannya tidak menyahut. Namun ketika seorang diantaramereka tertawa,maka yang lain pun tertawa pula. “Anak itu berlagak sebagai seorang kesatria yang tidakmau dihinakan dengan disentuh kepalanya,” teriak yang  lain. Kawan-kawannya pun berteriak-teriak tidak menentu. Diantaranya tertawa semakin keras sementara yang lain ber sorak-sorak. Ternyata mereka membuat Mahisa Semu menjadi semakin marah. Dengan menghentakan kendali kudanya, Mahisa Semu berpacu semakin cepat. Di belakangnya, Mahisa Pukat pun mempercepat lari kudanyamenyusul Mahisa Semu. Sementara itu, anak-anak muda yang  telah mengganggu Mahisa Semu itu ternyata tidak berniatmelarikan diri. Tetapi mereka ingin memilih satu tempat yang lebih luas untuk mempermainkan anakmuda yang mengejarnya itu. Anakmuda yang  berpacu dipaling depan itu pun berteriak: “He, kita pergi ke ara -ara amba. Kita dapat bermain-main lebih menyenangkan lagi dengan anak-anak yang  tidak tahu diri itu.” Kawan-kawannya pun berteriak-teriak gembira. Seorang diantara mereka menjerit tinggi: “Kita sudah lama tidak mendapat permainanyangmenarik seperti ini.” Yang lain pun menyahut dengan teriakan-teriakan tinggi. Sementara itu kuda-kuda mereka pun berpacu terus menuju ke sebuah ara -ara yang  luas. Sebuah padang rumput tempat para gembalamenggembalakan kambingmereka. Ketika sekelompok anak muda di atas punggung kuda memasuki lapangan rumput itu,maka para gembala pun telah menggiring kambingmereka menepi. Mereka mengenal anakanak muda itu, sebagai anak-anak muda yang seakan-akan tidak dapat diganggu gugat lagi semua tindakan dan tingkah lakunya. Seakan-akan merekalah yang  memiliki padukuhan yang besar itu dengan segala isiny a. Mereka berbuat apa saja yangmereka sukai tanpamenghiraukan perasaan orang lain. Demikian anak-anak muda itu berada di ara-ara, maka mereka pun segera berpencaran, sehingga Mahisa Semu menjadi agak bingung. Sementara anak-anak muda itu mulai mempermainkannya. Mula-mula mereka ber sorak-sorak dan berteriak-teriak sambil berputar-putar. Dalam kebimbangan Mahisa Semu justru berhenti, sementara Mahisa Pukat telah berada di sampingnya. Dengan gelisah Mahisa Pukat itu berkata: “Sudahlah. Jangan hiraukan mereka.” “Mula-mula aku masih dapat menahan diri,” berkata Mahisa Semu, “tetapi kemudian mereka telah menghinakan aku. Dua orang diantara mereka telah meraba kepalaku. Apakah aku harus, berdiam diri?” Mahisa Pukat termangu-mangu. Ia pun melihat dua orang diantara anak-anak muda itu telah memegang kepala Mahisa Semu. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak dapat memaksa Mahisa Semu untuk menahan diri lagi. Mahisa Semu benarbenar telah tersinggung karena perlakuan anak-anakmuda itu. Sementara itu Mahisa Semu masih berdiam diri di atas punggung kudanya. Anak-anakmuda itu masih saja berteriakteriak. Tetapi mereka pun tidak berlari-larian lagi berputaran. Karena Mahisa Semu berhenti, maka mereka pun telah terhenti pula. Mahisa Pukat yang  melihat Mahisa Semu menahan kemarahannya sehingga dadanya menjadi sakit, ia pun kemudian berkata: “Jika kau ingin berbuat sesuatu atas mereka, kejar seorang diantara mereka. Jangan hiraukan yang lain sampai kaumendapatkannya.” Mahisa Semu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba kedua tumitnya telah meny entuh perut kudanya, sehingga kudanya telah terlonjak. Ketika kemudian kudanya berlari, maka Mahisa Semu langsungmenuju kearah seorang diantara anak-anak muda itu. Anak muda yang  telah meny entuh kepalanya dan mentertawakannya. Anak muda itu terkejut. Ia pun segera menghentakkan kendali kudanya sehingga kudanya pun telah berlari pula, sementara kawan- kawannya pun mulai bergerak. Kuda-kuda mereka mulai berlari-larian berputaran dan berpencaran. Tetapi seperti pesan Mahisa Pukat, maka Mahisa Semu tidak menghiraukannya lagi. Ia telah mengejar seorang saja diantara anak-anak muda itu. Kemana kudanya lari, Mahisa Semu selalu memburunya. Anakmuda itumulaimenjadi cemas. Kawan-kawannya pun demikian. Karena itu, maka kawan-kawannya telah berusaha mengacaukan arah kuda Mahisa Semu dengan sekali-sekali memotong jalan. Namun tekat Mahisa Semu sudah bulat. Ia tidak menghiraukan yang lain. Ia mengejar seorang saja diantara mereka. Ia mengejar kemana anakmuda itu memacu kudanya. Berputar, berbelok, berlari kencang dan segala macam gerak yang lain. Ternyata bahwa kuda Mahisa Semu cukup baik, sehingga semakin lama sasarannyamenjadi semakin dekat. Tetapi beberapa saat kemudian, kuda Mahisa Semu telah berhasil menyusul kuda yang dikejarnya. Dengan tangkasnya Mahisa Semu telah menangkap kendali kuda yang  dikejarnya dan mencoba menariknya. Namun anak muda di atas punggung kuda itu tidak membiarkannya. Dengan cemetinya ia telah memukul tangan Mahisa Semu, sehingga Mahisa Semumanjadi semakin marah. Dengan tidak berpikir panjang maka Mahisa Semua ju stru telah meloncat dari kudanya, menerkam anak muda yang  menyakitinya itu. Bukan saja menyakiti tubuhnya, tetapi jugamenyakiti hatinya. Keduanya pun telah terlempar dari kuda mereka dan jatuh berguling. Ternyata Mahisa Semu yang  memiliki kelenturan tubuh yang terlatih, mampu menempatkan dirinya saat ia terguling. Namun agaknya lawannya tidak memiliki kelenturan tubuh sebagaimana Mahisa Semu, sehingga demikian ia jatuh, maka ia pun telah menyeringai menahan sakit. Ketika Mahisa Semu kemudian meloncat bangkit, maka anak muda itu hanya dapat menggeliat sambil mengaduh kesakitan. Namun dalam pada itu, seekor kuda lain telah menyambar Mahisa Semu. Tetapi anak muda itu sempat meloncat menghindar. Sekali ia berguling, kemudian meloncat bangkit. Sementara itu, beberapa ekor kuda yang  lain pun telah siap menyambar pula. Seakan-akan berurutan satu demi satu, sehingga Mahisa Semu harusberloncatan menghindar. Tetapi ketika salah seorang yang  juga telah meny entuh kepalanya menyambarnya sambil mengayuhkan semeti kudanya. Maka Mahisa Semu dengan cepat menangkapnya. Ia memang ter seret beberapa langkah. Tetapi ketika ia menghentakkan cemeti itu, maka anak muda yang memeganginya telah terseret pula jatuh dari kudanya. Gerak nalurinya kurang cepat tanggap, sehingga ia tidakmelepaskan cemetinya itu. Seperti kawannya, maka demikian ia jatuh, maka punggungnya serasa akan patah. Karena itu,maka ia pun tidak segera dapat bangkit berdiri. Kawan-kawannya menjadi sangat heran. Mereka tidak lagi menyambar-ny ambar dengan kuda mereka. Tetapi orang yang paling berpengaruh diantara mereka telah memberikan isy arat, agarmereka berhenti dan turun dari kuda mereka. Sejenak kemudian, lima orang anakmuda telah mengepung Mahisa Semu, sementara Mahisa Pukat masih duduk saja di punggung kudanya, Ia memang ingin melihat, apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Semu. Mahisa Pukatmelihat anak-anak muda yang  nakal itu t idak terlalu berbahaya. Tetapi ia pun sudah ber siap-siap. Set iap saat diperlukan, ia akan dapat langsung turun ke arena. Sejenak kemudian, orang yang agaknya mempimpin kawan-kawannya itu melangkah mendekati Mahisa Semu sambil berkata: “Ternyata kau anak yang gila. Aku tidak mau kalian menghinakan aku. Kalian telah meny entuh bagian tubuhkan di atas leherku. Itu satu pertanda bahwa kalian memangmenantangku,” jawab Mahisa Semu. “Kau terlalu sombong. Kau mencari kesulitan,” geram anak muda itu. “Bukan aku yang mendahului. Tetapi apakah keuntungan kain dengan sikapmu menghinakan orang lain seperti itu?,” bertanya Mahisa Semu. “Kami sudah terbiasa berbuat apa saja yang  kami senangi - jawab anak muda itu, “ orang lain tidak akan pernah berani melawan kami.” “Tetapi aku tidak takut berhadapan dengan kalian. Kalian telah melakukan satu perbuatan yang  tidak pantas. Kalian mengira bahwa orang lain tidak akan pernah merasa tersinggung. Atau kalian memang berpendapat, bahwa kalian akan dapat mengatasi seandainya ada orang lain yang merasa tersinggung danmenjadimarah?,” bertanya Mahisa Semu. “Ya, kami tidakmau tunduk kepada kepentingan orang lain. Kami dapat berbuat apa saja sesuai dengan keinginan kami. Kami justru akan memukuli orang yang  menjadi marah kepada kami.,” jawab anakmuda itu. Ternyata Mahisa Semu tidak mau berbantah terlalu lama. Di luar dugaan, tiba-tiba saja ia sudah meloncat maju dan menyerang anakmuda yang memimpin kawan-kawannya itu. Satu pukulanyang  sangat keras telah menghantam keningnya, sehingga anak muda itu tidak sempat menghindar dan tidak sempat menangkis serangan itu. Demikian keningnya dikenai pukulan Mahisa Semu, maka ia pun telah terlempar jauh. Beberapa kali ia berguling. Keningnya merasa sangat sakit, sementaramatanyamenjadi berkunang-kunang. Kawan-kawannya yang  melihat serangan itu dengan cepat menanggapi keadaan. Mereka pun berloncatanmemencar. Namun Mahisa Semu telah siap menghadapimereka. Sementara itu anak muda yang  memimpin kawankawannya itu sambil meny eringai telah berusaha untuk bangkit. Ketika ia kemudian berdiri tegak, ternyata kepalanya masih saja terasa sangat pening. Anak-anakmuda itu sama sekali tidakmengira bahwa pada suatu saat mereka akan berhadapan dengan seorang anak muda yang sangat berani. Karena itu, maka mereka tidak segera dapat memutuskan, apa yang harus mereka lakukan selain berusahamengganggu kuda Mahisa Semu. Sementara itu, empat orang kawan-kawannya telah berloncatan meny erang. Sementara pemimpin mereka masih menggeliat. Namun kemudian anak muda yang  menjadi pemimpin diantara mereka itu pun telah siap untuk turun ke gelanggang. Tetapi dua orang kawannya yang terjatuh dari kuda itu masih belum sempat berdiri meski punmereka sudah berusaha. Tetapi punggung mereka rasa-rasanya bagaikan menjadi retak. Mahisa Semu pun kemudian telah berkelahi melawan lima orang anak muda. Dengan tangkasnya ia berloncatan. Meski pun ia baru saja terluka, tetapi Mahisa Semu masih nampak terlalu garang. Anak-anak muda itu berkelahi dengan mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuan mereka. Dengan kasar mereka meny erang bergantian. Bahkan pemimpin anak-anak muda yang  telah mampu mengatasi rasa sakit itu berteriak: “Kenapa kawanmu itu tidak membantumu ? Apakah kalian tidak mempunyai perasaan kesetia -kawanan atau kalian memang anak-anakmuda yang sombong?” Jawab Mahisa Semu memang menyakitkan. Katanya: “Ia akan membantu jika akumenghadapi lawanyang pantas.” “Gila kau anak iblis,” geram pemimpin anak-anakmuda itu. Namun belum lagi mulutnya terkatub, serangan Mahisa Semu telah menyambar bibirnya. Jari-jarinya yang  terbuka dan merapat telah menampar mulut anak muda yang sedang berbicara itu, sehingga tubuhnya terputar ke samping. Anak muda itu mengaduh. Ketika tangannya meraba bibirnya, terasa cairan hangat mengalir dari bibirnya yang pecah. Betapa kemarahan membakar ubun-bunnya. Bibirnya,yang  pecah telah membasahi telapak tangannya dengan darah. Dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin seru. Mahisa Semu berloncatan diantara lawan-lawannya yang ternyata sebagaimana diduga oleh Mahisa Pukat, bukan lawan yang berbahaya. Mereka sama sekali tidak terlatih meski pun pada dasarnyamereka adalah anak-anakmuda yang  kuat. Namun dalam pada itu, Mahisa Semu yang berloncatan telah menyambar mereka seorang demi seorang dengan sentuhan tangan atau kaki. Seorang diantara mereka terdorong beberapa langkah surut. Sementara seorang yang bertubuh kecil dan pendek bagaikan terlempar dan terbanting jatuh. Namun ia masih sempat untuk bangkit kembali dan ikut pula dalam perkelahian itu. Tetapi tiba -tiba anak-anak muda itu justru terkejut ketika melihat darah di tubuh Mahisa Semu. Nampaknya seranganserangan mereka sama sekali tidak berhasil mengenai anak muda itu. Tetapi tiba -tiba saja tubuh itu berdarah. Mahisa Semu semula tidakmenyadari, bahwa luka-lukanya yang telah pempat itu telah berdarah lagi justru setelah ia terlalu banyak bergerak. Untuk beberapa saat mereka terheran-heran. Namun kemudian mereka justru merasa bahwa mereka telah berhasil melukai anak itu tanpamereka sadari. Karena itu, maka pemimpin dari anak-anak muda itu pun berteriak: “Lihat. Tubuhnya telah berdarah. Ia akan segera kehilangan kekuatannya. Ia akan menjadi lemah dan tidak bertenaga lagi untukmelawan kita.” Kelima orang itu pun seakan-akan telah mendapatkan satu kesimpulan bahwa mereka akan segera menyelesaikan pertempuran itu. Tetapi Mahisa Semu pun kemudian menyadari, bahwa luka-lukanya yang telah pempat seakan-akan telah membuka kembali. Karena itu,maka kemarahannya pun telah meledak. Karena yang  ada dihadapannya adalah anak-anakmuda yang telah menghinakannya itu, maka kemarahannya pun telah ditumpahkannya kepada mereka. Sejenak kemudian, maka Mahisa Semu pun telah mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya. Ia ju stru tidak peduli lagi, apakah lukanya akan berdarah semakin banyak. Namun yang diinginkan adalah meny elesaikan anakanak bengal itu secepat-cepatnya. Kecuali darahnya yang mengalir,makamatahari pun menjadi semakin rendah. Namun anak-anak gembala yang  bia sanya sudah pulang, masih ada di ara-ara itu meski pun dari kejauhan.Hanya satu dua diantara mereka benar-benar menjadi ketakutan dan berlari-lari pulang. Ceritera anak-anak gembala itu justru telah berkembang. Beberapa orang ingin melihat apa yang  telah terjadi di ara-ara. Sementara itu, karena Mahisa Semu telah menghentakkan segenap kekuatan dan kemampuannya, maka seranganserangannya pun menjadi semakin garang. Anak-anak muda yang tidak memiliki bekal kanuragan itu memang menjadi bingung. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun tiba -tiba saja seorang diantara mereka telah terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting. Sementara ia belum sempat bangkit, maka seorang lagi telah mengaduh. Kaki Mahisa Semu tepat mengenai perutnya, sehingga anak muda itu terbungkuk kesakitan. Sambilmeloncat kesamping, tangan Mahisa Semu terayun mendatar menghantam kening seorang lagi diantara lawan-lawannya. Kelima orang lawan-lawannya benar-benar menjadi bingung. Pukulan Mahisa Semu datang beruntun. Satu demi satu mereka jatuh dan sulit untuk dapat bangkit kembali. Pernimpin anak-anakmuda itu sekali lagi telah terjatuh pula. Namun Mahisa Semu yang  marah itu tidak puas dengan sekedarmenjatuhkanmereka seorang demi seorang. Kemarahan Mahisa Semu benar -benar sampai ke puncak. Karena itu ket ika lawan-lawannya berjatuhan, maka ia pun telah meloncat menerkam mereka seorang demi seorang. Pemimpin anak anak muda itu ditariknya sehingga bangkit berdiri. Namun sekali ayun tangan Mahisa Semu telah memukul dagu anakmuda itu. Anakmuda itu terlempar dua langkah surut dan kemudian jatuh terlentang. Namun Mahisa Semu masih belum puas. Ia telah menarik anak muda yang  lain. Menariknya berdiri dan memukulnya pula sampai anak muda yang ketujuh. Mereka yang jatuh terguling dari kudanya dan tidak dapat bangkit lagi itu pun telah diperlakukan dengan keras oleh Mahisa Semu. Apalagi kedua orang anak muda yang  jatuh dari kudanya itu adalah anak-anakmuda yang telah meny entuh kepalanya. Anak-anakmuda itu benar-benar tidakmampu berbuat apa apa lagi. Mereka hanya dapatmenyeringaimenahan sakit dan mengerang kesakitan. Mahisa semu itu baru berhentimemukuli anak-anakmuda itu ketika Mahisa Pukat menggamitnya dan berkata: “Sudahlah Mahisa Semu. Tidak sepantasnya kau melakukan hal itu. Apalagimatahari sudah hampir tenggelam. Kita harus melanjutkan perjalanan.” Mahisa Semu menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat ketujuh anak anak muda itu mengerang kesakitan. Tubuh mereka bagaikan telah diremukkan oleh Mahisa Semu. Tulang-tulangmereka bagaikan berpatahan. Namun Mahisa Semu pun menyadari, bahwa ia tidak dapat larut dalam kemarahannya terus-menerus. Karena itu maka sejenak kemudian Mahisa Semu pun melangkah surut. Dilihatnya ketujuh orang lawannya itu telah terbaring diam tanpa dapat berbuat apa-apa lagi selainmengerang kesakitan. Dari kejauhan para gembala menyaksikan semuanya itu. Namun mereka tidak dapat berbuat sesuatu. Apalagi mencarnpuri persoalan itu. Namun sejenak kemudian, orang-orang yang  ada di ara ara itu terkejut. Mahisa Semu dan Mahisa Pukatmelihat beberapa orangmendatangimereka:- “Apakah kita akan melayani mereka?,” bertanya Mahisa Semu. “Kita akan terlalu lama berhenti disini,” jawab Mahisa Pukat. Mahisa Semu pun kemudian bersiul keras-keras. Ternyata kudanya yang  sudah terbiasa mendengar siulnya telah berlarilarimendekatinya. Dengan sigapnya Mahisa Semu pun meloncat ke punggung kudanya. Demikian pula Mahisa Pukat yang masih harus berlari lebih dahulu beberapa langkah, baru kemudian meloncat ke punggung kudanya. Sejenak kemudian, maka keduanya pun telah menghentakkan kendali kudanya meninggalkan ara-ara itu. “Ki Sanak,” teriak seseorang dari antara orang-orang yang  berdatangan. Namun Mahisa Pukat dan Mahisa Semu tidak menghiraukannya lagi. Keduanya berderap semakin lama semakin jauh, sementara langit pun inenjadi semakin gelap. “Darahmumengalir lagi,” desisMahisa Pukat. “Ya,” sahut Mahisa Semu. “Kita harus berhenti untuk mengobatinya lagi,” berkata Mahisa Pukat pula. Mahisa Semu tidak menjawab. Namun mereka masih berpacu terus agar mereka mempunyai jarak yang  cukup. Apalagi jika gelap turun. Seandainya orang-orang padukuhan terutama orang tua anak-anakmuda itu menyusulnya,mereka tentu akan sulit untukmencari jejak. Apalagi ketika Mahisa Semu dan Mahisa Pukat telah mengambil jalan kecil untukmendapat tempat berhenti. Meski pun dalam kegelapan namun Mahisa Pukat sempat mengobati luka-luka Mahisa Semu yang berdarah lagi. “Aku sengaja membiarkan kau berkelahi sendiri,” desis Mahisa Pukat sambilmenaburkan obat di luka Mahisa Semu. Mahisa Semu memang meny eringai menahan pedih dan panas pada lukanya yang tersentuh obat itu. Namun Mahisa Semu mengetahui bahwa obat itu justru telah bekerja di lukanya itu. Seterusny a keddanya telah beristirahat beberapa saat di kegelapan. Mereka ternyata sudah malas untuk meneruskan perjalanan sampai kepadukuhan untuk mencari tempat bermalam. Ternyata mereka lebih senang bermalam di tempat itu juga. Apalagi t idak jauh dari tempat itu terdapat sebuah parit yang airnya sangat jernih. Mahisa Semu yang  menengadahkan wajahnya melihat langit pun terang. Tidak ada awan yang mengalir diudara. Yang nampak adalah bintang2 bergayutan dari cakrawala sampai ke cakrawala. “Nampaknya tidak akan hujan malam ini,” berkata Mahisa Semu sambilmembaringkan tubuhnya di atas sebongkah batu hitamyang besar yang  banyak terdapat di tempat itu. “Ya,” sahut Mahisa Pukat yang duduk sambilmenyilangkan kakinya. Juga di atasbatu yang besar. “Tidurlah. Nanti bergantian,” desis Mahisa Pukat. “Ya. Aku letih sekali,” sahut Mahisa Semu. “Terutama karena darahmu yang mengalir cukup banyak. Bukan karena kau berkelahi dengan anak-anak muda itu,” jawab Mahisa Pukat pula. Mahisa Semu tidak menjawab. Namun ia pun telah memejamkan matanya. Udara memang terasa dingin. Apalagi kemudian embun pun mulai membasahi batu tempat ia berbaring. Tetapi Mahisa Semu itu pun telah tertidur pula. Mahisa Pukatmasih saja duduk di atas sebongkah batu. Ia memang tidak ingin tidur. Ia akan berjaga-jaga sampai dini. Jika Mahisa Semu telah cukup lama tidur, ia hanya ingin tidur seujung pagi saja sebelum meneruskan perjalanan. Dua ekor kuda terikat pada sebatang pohon perdu. Nampaknya tidak ada sesuatu yang akan mengganggu mereka malam itu. Lewat tengah malam, batu tempat Mahisa Pukat duduk itu pun terasa menjadi ba sah oleh embun. Namun Mahisa Pukat tidak beranjak dari tempatnya. Ia sudah terbiasa berada di segala tempat dalam segala suasana. Menjelang dini, Mahisa Pukat justru terkejut. Pendengarannya yang  sangat tajam mendengar desir lembut. Semakin lama semakin dekat, sehingga ketika desir itu diyakini langkah seseorang, Mahisa Pukat pun bangkit dan berdiri di atas batu itu. Katanya tidak terlalu keras: “Marilah. Aku persilahkan Ki Sanakmendekat.” Sejenak suasana justru menjadi hening. Namun kemudian, langkah itu terdengar lagi. Bahkan sesosok tubuh telah muncul dari balik sebongkah batu yang besar. “Ternyata kau benar-benar berilmu tinggi,” desis orang yang datang itu, “kau dengar langkahkumendekat.” “Kau kurang berhati-hati,” sahut Mahisa Pukat, “disini banyak daun kering.” “Baiklah. Aku harus mengakui kelebihanmu,” jawab orang itu. “Siapakah kau ?,” bertanya Mahisa Pukat. “Apakah kau mempunyai hubungan dengan anak-anak muda di ara -ara itu?” Mahisa Pukatmencobamenebak. “Tidak secara langsung,” jawab orang itu. “Maksudmu ?,” bertanya Mahisa Pukat kemudian. “Aku adalah orang yang  dianggap memiliki ilmu terbaik di padukuhan itu. Kalian ternyata sudah memukuli anak-anak muda padukuhan kami. Meski pun aku bukan orang upahan, bahkan aku tidak setuju dengan tingkah laku mereka, namun aku juga tidak setuju dengan caramu. Kalian sudah bertindak sendiri dan langsung,” berkata orang itu. “Jadi apa yang  harus kami lakukan ?,” bertanya Mahisa Pukat. “Jika kau merasa dirugikan, maka kau harus melaporkannya kepada Ki Bekel. Ki Bekel yang  akan menyelesaikan segala persoalan,” jawab orang itu: “jika tidak demikian, maka wibawa para bebahu padukuhan akan leny ap.” “Wibawa bebahu padukuhan itu tidak akan lenyap karena tindakan kami, karena bebahu padukuhan itu sudah tidak mempunyaiwibawa sejak lama,” jawab Mahisa Pukat. “Kenapa ?,” bertanya orang itu. “Apa yang dapat dilakukan oleh bebahu padukuhan terhadap anak- anak muda yang tidak tahu adat itu?. Jika wibawa bebahu padukuhan itumasih utuh,maka tindakan dan sikap seperti itu tentu sudah tidak ada lagi,” jawab Mahisa Pukat. Orang itu merenung sejenak. Namun kemudian katanya: “Ya, Kau benar. Tetapi kau, orang asing di padukuhan kami, janganmenambah parah kedudukan para bebahu itu.” “Kami tidak mempunyai pilihan lain. Anak-anakmuda itu telah menghinakan kami. Karena itu, maka kami harus membela harga din kami,” jawab Mahisa Pukat. “Meski pun wibawa kami sudah lama susut. Tetapi kami tidak mau orang asing menginjak-injak harga diri kami,” jawab orang itu. “Jadi bagaimana menurut penilaianmu. Kalian tidak mau tersinggung, tetapi kalian biarkan anak-anak padukuhan itu menyinggung harga diri orang lain,” berkata Mahisa Pukat. “Kami tidak mau timbul kesan orang asing, bahwa padukuhan kami tidak memiliki kemampuan untuk menjaga harga diri kami. Karena itu, apa pun alasannya, aku ingin menunjukkan bahwa dipadukuhan kami ada kekuatan yang dapat menjaga wibawa dan nama baikny a meski pun kedalam hal itu tidak dapat diberlakukan,” berkata orang itu. “Bukankah pikiranmu terbalik ? Kalian harusmenegakkan wibawa kalian kedalam. Dengan sendiriny a wibawa itu akan memancar keluar,” sahut Mahisa Pukat. “Ki Sanak. Apa pun per soalan yang  kau sebut, maka aku tetap pada pendirianku. Aku ingin membawa kalian berdua kembali ke padukuhan kami. Kalian berdua harus bertanggung jawab atas perbuatan kalian. Baru kemudian kami dapat mengadili danmenghukum orang- orang kami,” berkata orang itu. “Tidak Ki Sanak. Yang harus kau lakukan adalah menghukum anak-anak bengal itu dan memaksa mereka untuk tidak melaktikannya lagi agar pada kesempatan lain bukan kepalamereka yang dipecahkan,” jawab Mahisa Pukat. “Aku kira aku sudah cukupmemberikan alasan kenapa aku mengikuti jejakmu. Hampir saja aku kehilangan. Untunglah, bahwa kemampuanku mengikuti jejak masih juga membawa akumenyusul kalian disini.,” berkata orang itu. Tetapi Mahisa Pukat menjawab: “Aku pun sudah cukup memberikan alasan. Aku tidak akan kembali lagi. Aku akan tetapmeneruskan perjalanan.” >>> Untuk selanjutnya, Mahisa Pukat benar -benar tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya. Ketika sekali lagi Mahisa Pukatmeny erangnya dengan ay unan tanganmengenai kening lawannya,maka lawannya itu pun telah terjatuh lagi. Namun rasa-rasanya tenaga memang tidak mungkin lagi untuk menopang keinginannya mempertahankan dirinya dan apalagimemaksa anakmuda itu kembali ke padukuhan. Karena itu, ketika ia kemudian bangkit, orang itu sama sekali tidak berusaha untuk berdiri. Ia masih saja duduk di tanah dengan kepala tunduk. Mahisa Pukat tidak meny erangnya lagi. Dibiarkannya lawannya itu mengatur pernafasannya sebelum bangkit berdiri. Tetapi lawannya tidak segera berdiri. Bahkan kemudian terdengar ia mengeluhmenahan sakit. Untuk beberapa saat lamanya Mahisa Pukat menunggu. Ketika lawannya itu masih saja duduk, maka ia pun bertanya: “Bagaimana Ki Sanak. Apakah kita masih akan melanjutkan lagi ?” “Anak muda,” berkata orang itu dengan nada yang dalam: “aku harusmengakui bahwa kau memangmemiliki ilmu yang tinggi. Aku pun menyadari, bahwa apa yang kau lakukan belum sampai ke puncak kemampuan kalian. Karena itu, mustahil aku dapat memenuhi keinginan orang-orang padukuhan, agar aku membawa kalian berdua kembali ke padukuhan. “Jika demikian, biarkan aku pergi,” berkata Mahisa Pukat. “Baiklah,” berkata orang itu, “tetapi aku akan tidak berarti lagi di padukuhan. Selama ini hanya akulah yang dapat mengekang orang-orang tua dari anak-anak yang bengal itu. Tanpa kekangan itu, mereka tentu akan berbuat jauh lebih buruk lagi.” “Kenapa ?,” bertanya Mahisa Pukat, “kenapa kau menjadi tidak berarti lagi ? “Aku tidak dapatmeny elesaikan tugasyangmereka berikan kepadaku. Mereka telah minta tolong kepadaku untuk membawa kalian berdua kembali ke padukuhan. Tetapi aku tidak dapat memenuhinya. Mereka tentu menganggap bahwa selama ini aku hanya sekedar pembual saja yang ternyata tidak dapat melakukan sesuatu yang  berarti bagi mereka,” jawab orang itu. Lalu katanya pula: “Tetapi itu harus aku terima.” “Tetapi kau dapatmenunjukkan kelebihanmu.Orang-orang yang tidak menghargaimu lagi, kau tantang saja untuk berkelahi. Jika tidak ada orang yang mampu mengalahkanmu, maka kau akan dapat menepuk dada dan berkata kepada mereka, bahwa kau tetap orang terbaik,” berkata Mahisa Pukat. “Dan mereka akan mencibirkan sambil memperingatkan kepadaku, bahwa aku tidakmampu membawa dua orang anak muda kembali ke padukuhan,” jawab orang itu. “Katakan kepada mereka, bahwa kau tidak berhasil menyusul kami. Katakan bahwa anak-anak muda itu tidak berhenti meskipun malam hari. Mereka berjalan terus sepanjangmalam,” sahut Mahisa Pukat. “Apa pun alasannya, mereka tidak akan lagi menghargai aku. Setidak-tidaknya penghargaan mereka terhadapku akan su sut.” jawab orang itu. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ia memandangi orang itu dengan dahi yang  berkerut. Sementara orang itu masih saja duduk sambilmenundukkan kepalanya. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya: “Baiklah. Aku dan adikku akan mengikutimu kembali ke padukuhan. Tetapi ingat, jika kau tidak berhasil mengendalikan orang-orang padukuhan sehingga mereka akan menghukum aku, maka aku akan melindungi adikku. Mungkin aku dan adikku akan membantai orang-orang padukuhanmu berapa pun jumlahnya.” Orang itu mengangkat wajahnya. Dipandanginya Mahisa Pukat dengan pandangan kosong. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata lantang: “Kau tidak percaya?.” Mahisa Pukat tidak menunggu jawaban orang itu. Dengan serta merta ia pun telah memusatkan nalar budinya. Dengan sigap ia pun kemudian telah menghentakkan tangannya dengan kedua telapak tangannya yang terbuka menghadap ke sebuah batu padas di bawah sebatang pohon. Seleret sinar telah menyambar dari telapak tangan Mahisa Pukat itu. Batu pada s yang  dikenainya seakan-akan telah meledak dan pecah berserakan. Orang itu terkejut sehingga ia terlonjak berdiri. Dipandanginya Mahisa Pukat dan batu yang hancur itu berganti-ganti. Ia seakan-akan tidak percaya kepada penglihatannya. “Aku hanya ingin mengatakan kepadamu, jika orang-orang padukuhanmu itu mau menghukumku, maka yang terjadi adalah seperti batu padas itu. Apalagi seseorang yang  terdiri dari kulit dan daging yang  lunak,” geram Mahisa Pukat. Orang itu tergagap. Katanya: “Baiklah. Jika demikian, aku tidak akan berani membawa kalian berdua kembali ke padukuhan.” “Sudah aku katakan. Jika itu kau perlukan, maka kami tidak berkeberatan. Tetapi jangan perlakukan kami seperti seekor keledai yang  dungu, karena kami akan dapat membunuh seluruh isi padukuhanmu.,” berkata Mahisa Pukat. “Tetapi apakah aku akan dapatmenguasaimereka ?,” orang itu justru bertanya. “Jika kau memang mempunyai wibawa yang  cukup, maka kau akan dapatmelakukannya,” jawab Mahisa Pukat. “Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya dengan nada rendah: “Sudahlah. Aku akan kembali tanpa kalian. Biarlah kalian melanjutkan perjalanan kalian tanpa tergaggu.” “Aku akan kembali ke padukuhanmu,” jawab Mahisa Pukat. Orang itu menunduk. Katanya hampir tidak dapat dide-ngar oleh orang lain: “Aku tidakmengira sama sekali.” Tetapi ternyata orang itu tidak dapat melangkah surut. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah bertekad untuk ikut kembali ke padukuhan. Mereka ingin melihat, apa yang  akan dilakukan oleh orang-orang padukuhan itu terhadap anakanak muda yang  sering menganggu orang yang  lewat di padukuhanmereka. Demikianlah, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah mengikuti orang itu kembali ke padukuhan. Beberapa puluh langkah dari tempat Mahisa Pukat dan Mahisa Semu beristirahat, orang itu menambatkan kudanya. Sejenak kemudian maka ketiga ekor kuda itu telah berpacu kembali ke padukuhan. Ket ikamereka sampai ke ara-aramaka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun terkejut. Ternyata di araara itu telah berkumpul banyak orang padukuhan. Beberapa obor telah terpasangmenerangi satu lingkunganyang  luas. Ketika tiga ekor kuda itu memasuki ara-ara, maka terdengar dengan serta-merta orang-orang padukuhan itu ber sorak. Agaknya mereka menganggap bahwa orang yang menyusul Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu berhasil membawa kembali kedua orang anak muda yang  mereka kehendaki. Sejenak kemudian, Mahisa Pukat dan Mahisa Semu telah berada di tengah ara-ara itu bersama orang yang membawanya kembali. Serentak orang-orang padukuhan itu telah mengurung mereka. Sementara anak-anak muda yang merasa disakiti oleh Mahisa Pukat itu pun berdiri dipaling depan sambil bertolak pinggang. “Serahkan anak itu kepadaku,” teriak anak muda yang  paling berpengaruh diantaramereka. “Serahkan kepada kami. Kami akan menghukumnya,” teriakyang  lain. Dari antara orang-orang padukuhan itu telah melangkah mendekat beberapa orang tua. Seorang diantara mereka berkata: “Anak inikahyang  telahmenyakiti anakku?” Orang yang  membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu memang menjadi berdebar-debar. Namun kemudian katanya daengan nada tinggi. “Aku memang sudah membawa keduanya kembali. Tetapi setelah aku bertemu dan berbicara denganmereka,maka aku telah mendapat kesanyang lain.” “Kesan apa?,” bertanya seorang laki-laki bertubuh raksasa. “Ternyata bahwa apa yang  terjadi tidak seperti apa yang  kalian katakan kepadaku,” jawab orang itu, “aku sudah terlanjur memaksa mereka kembalimeski pun semula mereka berkeberatan. Baru kemudian aku tahu bahwa mereka sama sekali tidak ber salah.” “Siapa yang tidak bersalah? Apakah kau tidak melihat apa yang terjadi atas anak-anak kita?” bertanya orang bertubuh raksasa itu. “ Itu disebabkan karena kesalahan mereka sendiri. Mereka menganggu orang -orang yang sedang lewat. Namun satu ketika mereka terbentur pada kekuatan yang tidak dapat mereka atasi -jawab orang itu.” “Omong kosong,” teriak raksasa itu, “aku tidak percaya. Kau harusberbuat sesuatu.” “Kita harus mendengar yang sebenarnya terjadi. Bukan sekedar memanjakan anak-anak kita. Apakah kita harus menutup mata atas apa yang  seringmereka lakukan? Apakah kita harusmembiarkan dan bahkan melindungi tingkah laku mereka itu? Semakin lama mereka akan menjadi semakin buas,” berkata orang itu. “Cukup,” bentak orang bertubuh raksasa itu. Namun tiba -tiba saja orang yang membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu meloncat turun. Sambil bertolak pinggang ia berkata: “Kau beranimembentak aku he?” Orang bertubuh raksasa itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia melangkah surut ketika orang yang meloncat turun dari kudanya itu melangkahmaju. “Bukan maksudku,” orang bertubuh raksasa itu menjadi gagap. Sementara itu, orang yang  membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu kembali ke padukuhan itu pun kembalimeloncat ke punggung kudanya. Kemudian ia pun berkata lantang: “He orang-orang padukuhan ini. Apakah kalian percaya sebagaimana dikatakan oleh anak-anak muda ini bahwa mereka telah diserang dengan licik? Siapakah diantara kalian yangmelihat apa yang  terjadi? Mungkin para gembala. Tetapi mereka takut mengaku berusaha meredam niat orang-orang padukuhan ini untuk berbuat sesuatu atas anak-anak kalian. Tetapi yang  dilakukan hari ini sudah keterlaluan,” berkata orang itu. “Apa pun yang dilakukan, kau wajib melindunginya,” berkata orang kay a yang lain. “Tidak,” berkata orang itu, “sejak hari ini aku berhenti memberikan perlindungan kepada anak-anak yang  tidak tahu adat itu. Sesudah sekian lama aku mencoba untuk mengendalikan tingkah laku mereka. Namun aku tidak berhasil. Nah, sekarang aku akan minta salah seorang anak muda ini untuk mengatakan apa yang  telah dilakukan oleh anak-anak kalian.” Sebelum seseorang menjawabnya, maka orang itu segera berpaling kepada Mahisa Pukat sambil berkata: “Katakan, apa yang telah terjadi ataskalian.” Mahisa Pukat pun berpaling kepada Mahisa Semu sambil berkata: “Katakan.” Mahisa Semu menggerakkan kudanya beberapa langkah maju. Kemudian ia pun telah menceriterakan apa yang  telah terjadi. Dengan suara lantang ia akhirnya berkata: “Aku merasa ter singgung sekali. Karena itu, maka aku telah melawanmereka berkelahi.” Wajah-wajah pun menjadi tegang. Seorang diantara orang tua anak- anak muda itu berteriak: “Kau dapat mengarang ceritera apa saja. Tetapi tidak seorang pun akan percaya bahwa kau seorang diri dapat menang atas beberapa orang anak-anakmuda kami.” “Aku berkata sebenarnya. Bahkan tentu ada beberapa saksi,” jawab Mahisa Semu: “tingkah laku anak-anak muda yang tidak bertanggungjawab itu sangat menyakitkan hati. Aku berusaha untukmelupakannya denganmeninggalkan araara ini. Tetapi orang yang  kalian upah itu telah menyusulku dan memaksa kami berdua untuk kembali. Ara-ara ini telah mengingatkan aku kepada tingkah laku mereka yang tidak pantas itu. Karena itu, jika kalian tidak percaya bahwa aku telah mengalahkannya, maka biarlah aku mencobanya sekali lagi dihadapan hidung kalian.” Orang-orang itu menjadi ragu -ragu. Namun orang yang  telah menyusul agar Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu kembali berkata: “Aku percaya akan kata-katanya. Aku telah menjajagi kemampuannya. Dan aku tahu benar kemampuan anak-anak muda yang hanya membanggakan diri dalam perlindungan orang lain. Bukan karena kemampuannya sendiri. Nah, aku setuju dengan anak muda itu. Biarlah ia mencoba sekali lagi melawan anak-anak muda yang telah memperlakukannya tidak sepantasnya itu - Tetapi yang meloncat turun dari kudanya adalah Mahisa Pukat sambil berdesis: “Lukamu akan dapat berdarah lagi.” Sebelum Mahisa Semu berkata sesuatu, Mahisa Pukat telah berteriak: “Marilah. Kita akan memperlihatkan kebenaran kata-kata kita masing-masing. Aku tantang anak-anak muda yang berkelompok untukmengganggu orang lain itu berkelahi disini.” Tetapi anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Meski pun mereka sudah berkumpul dalam satu kelompok dan berdiri di paling depan. Bahkan ketika sebelumnya mereka bertolak pinggang,maka tangan-tangan mereka telah terkulai disisi tubuh mereka. “Marilah,” tantang Mahisa Pukat sekali lagi. Orang yang telah datang sambil membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu pun berkata: “Nah, marilah. Buktikan bahwa kalian dapat melindungi diri kalian sendiri. Aku tidak akan turut campur.” Anak-anak muda itu masih saja termangu -mangu. Mereka masih ingat apa yang terjadi atas diri mereka. Tubuh merekapun masih terasa sakit. Bahkan mereka yang terbanting dari kudanya masih merasakan punggung mereka bagaikanmenjadi patah. Orang-orang tua mereka pun termangu-mangu. Mereka pun tahu bahwa anak-anak mereka mengalami luka-luka didalam tubuh mereka. Sementara orang yang mereka banggakan itu tidak bersedia menolong mereka lagi. Sementara itu anak muda itu telah menantangnya lagi: “Marilah. Kita akanmembuktikannya.” Anak-anak muda padukuhan itu yang  biasanya dengan menengadahkan wajah mereka, bahkan sambil tertawa, mengganggu orang lain, tiba -tiba telah menundukkan kepala mereka. Tidak ada lagi yang  bertolak pinggang. Mereka tidak dapat ingkar kepada satu kenyataan, apa yang telah terjadi atas dirimereka sebelumnya. Namun salah seorang dari orang tua mereka tiba-tiba berteriak kepada orang-orang padukuhan itu: “He, seisi padukuhan. Apakah kalian akan membiarkan anak-anak kalian dihinakan orang ? Apakah sama sekali tidak timbul di hati kalian satu sikap yang dapat menjunjung nama padukuhan kalian ? Jika masih ada sedikit saja kebanggaankalian atas padukuhan ini, marilah, kita bersama-sama menangkap kedua orang anak muda itu dan menghukumnya, karena mereka telah menghinakan anak-anak kita. Anak-anak muda yang kelak akan menggantikan kedudukan kita semua.” Ara -ara itu menjadi hening. Beberapa orang memang tersentuh hatinya. Ada semacam dor ongan untuk berbuat sesuatu bagi kepentingan padukuhan mereka. Sementara itu orang itu berkata pula untuk mempertajam kata- katanya sebelumnya: “Apakah kita akan membiarkan padukuhan kita dianggap tidak berday a sama sekali sehingga orang-orang lain akan datang menginjak-injak tanpa ada yang  dapat mencegahnya?” Satu dua orang mulai bergerak. Namun dalam pada itu, orang yang  telahmenyusul Mahisa Pukat dan Mahisa Semu itu berkata tidak kalah lantangnya: “Jika kita berbuat sesuatu, untuk apa sebenarnya? Untuk mempertahankan harga diri padukuhan ini atau sekedar untuk memanjakan anak-anak bengal itu?” “Kita akan mempertahankan nama baik padukuhan ini jika persoalannya memangmenyangkut kepentingan kita bersama. Tetapi apa yang sebenarnya telah terjadi ?. Bukan saja hari ini. Tetapi hari-hari sebelumnya ? Apakah kita, seisi padukuhan ini harus mengabdi kepada beberapa orang anak muda yang tidak mau mengerti akan tata kehidupan orang banyak dan merasa dirinya dapat berbuat apa saja karena uang ? Dengar. Aku adalah orang yang  pernah diupah oleh orang-orang kaya itu untukmelindungimereka. Anak-anak mereka dan wibawa mereka. Tetapi akhirnya aku menjadi muak melihat tingkah laku anak-anak mereka. Bagaimana pun juga mencoba mencegahnya, tetapi karena aku adalah orang upahan mereka, maka kata-kataku tentu akan mereka abaikan begitu saja. Dan sekarang, mumpung ada orang lain yang berbaik hati untuk memberikan sedikit tegoran kepada anak-anak muda itu, maka aku hanya dapat menumpang kepada mereka. Karena itu,maka aku sama sekali tidakmau membantumereka dalam persoalan ini. Jika kalian, orang-orang padukuhan ini akan melindungi mereka, lakukan. Tetapi aku tidak. Bahkan jika terjadi benturan kekuatan antara kalian dengan anak anak muda ini, aku akan berpihak kepada mereka.” Kata -kata itu memang mengejutkan. Tetapi kata -kata itu telah memaksa orang-orang padukuhan itu berpikir. Sementara itu, salah seorang dari orang tua anak-anak muda itu berteriak: “Jadi kalian akan berkhianat seperti orang itu yang  selama ini telah diupah untukmelindungi anak-anak kita ? Tidak. Kalian adalah orang-orang padukuhan yang  tahu diri.” “Siapakah yang telah berkhianat?,” bertanya orang yang  menyusul Mahisa Pukat dan Mahisa Semu: “Apakah aku dapat disebut berkhianat jika aku kemudian menyadari, bahwa apa yang aku lakukan selama ini tidak berarti sama sekali. He, orang-orang padukuhanyang  baik. Apakah aku boleh bertanya kepada kalian, apakah kalian tidak tahu apa yang kalian lihat, kalian dengar dan kalian saksikan sehari-hari t ingkah laku anak-anak muda itu ? Atau aku harus mengulangi pertanyaanku, kalian masih saja berpura-pura laku karena anak-anakmuda itu adalah anak orang- orang kay a ?” Orang-orang padukuhan itu memang menjadi bingung. Sebelum orang tua anak-anakmuda itu berteriak,maka orang itu telah mendahului: “Bukankah setiap hari kalian juga mengeluh karena tingkah lakumereka ? Apakah mereka dapat hidup dalam satu lingkaran pergaulan dengan anak-anak muda padukuhan yang lain ? Dengan para gembala, dengan anak-anak petanimiskin yang  tidak mempunyai kuda seperti mereka ? Anak-anak kalian,misalny a. Nah, jika demikianlah, terserah. Langkahmana yang akan kalian ambil.” Penjelasan itu cukup membuka hati orang-orang padukuhan. Mereka justru melangkah surut dan menjauhi anak-anakmuda yang bengal itu. Tidak ada yang menjawab. Tetapimereka masih melangkah beberapa langkah lagimenjauh. Dengan demikian maka orang yang membawa Mahisa Pukat dan Mahisa Semu kembali ke ara-ara itu berkata: “Baiklah jika kalian menyadari keadaan sepenuhnya. Kalian masih sempat merenungkan apa yang  sebaiknya kalian lakukan. Kedua anak muda itu masih ada disini. Sebelum mereka pergi, kalian harusmengambil keputusan. Juga anakanak muda itu, apakah mereka akan membuktikan kata-kata kedua anakmuda yang  lewat berkuda di padukuhan ini. Sekali lagi melawan mereka berdua atau bahkan seorang saja diantaramereka?” Tidak ada yang  menjawab. Baik anak-anak muda yang  bengal itu mau pun orang tuanya. Karena tidak ada yang menjawab,maka Mahisa Pukat pun berkata: “Jika tidak ada diantara kalianyang  inginmengulangi lagi, maka aku justru menuntut anak-anak muda yang telah mengganggu perjalananku diadili.” “Maksudmu ?,” bertanya salah seorang diantara orang tua anak-anakmuda itu. “Kami berdua telah dihinakan ketika kami lewat,” jawab Mahisa Pukat: “Nah, hukuman apa yang  paling pantas diberikan kepada mereka ?” Orang-orang padukuhan itu termangu-mangu. Sementara orang-orang tua dari anak-anak muda yang bengal itu memangmenjadi berdebar- debar. Karena tidak ada yang menjawab,maka Mahisa Pukat pun berkata: “Para orang tua dari anak-anak yang  tidak tahu adat itu harus mengambil sikap. Apa yang  akan kalian lakukan ? Kalian adalah orang-orang yang paling berkepentingan dengan anak-anak kalian. Memang tidak ada seorang pun dari antara para orang tua yang  tidak ingin melindungi anak-anaknya. Tetapi sudah tentu tidak seorang pun diantara para orang tua yang ingin anaknya kehilangan masa depannya. Nah, jika kalian biarkan anak-anak bengal itu berbuat seperti sekarang, maka mereka adalah anak-anak yang tidak akan dapat bertanggungjawab atas perbuatannya. Mereka akan menjadi anak-anak yang tidak akan berarti sama sekali di masa depan. Mereka akan tersingkir oleh anak-anak orang miskin tetap yang dengan tekun membentuk dirinya dan mengumpulkan bekal bagimasa depannya.” Tidak ada seorang pun yang  menjawab. Sementara itu, Mahisa Pukatyang  telah berada di punggung kudanya kembali itu berkata: “Baiklah. Orang-orang tua di padukuhan ini akan dapat menjelaskan kata-kataku. Atau kalian pun telah mengetahui maksudku. Karena itu, kali ini aku serahkan hukuman anak-anak bengal itu kepada orang tua mereka masing-masing. Tetapi aku yang  sering lewat jalan ini jika aku pergi ke Singasari, akan dapat mengikuti perkembangan dari mereka. Jika mereka masih sering mengganggu orang lain, membuat onar dan bertindak sewenang -wenang karena mereka mempunyai uang,maka aku akan bertindak lagi. Aku adalah salah satu dari per soalan bagimereka yang tidak dapat diselesaikan dengan uang. Padahal persoalan yang  demikian itu akan semakin banyak. Orang-orang padukuhan ini pun akan menilai kembali apakah kalian memang dapat membeli harga diri seluruh penghuni padukuhan ini dengan uang kalian.” Orang-orang itu masih berdiam diri. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata kepada orang yang membawanya kembali: “Aku sudah memenuhi keinginanmu, Ki Sanak. Aku sudah kau bawa kembali kemari. Aku kira per soalanku disini sudah selesai.” Orang itu mengangguk sambil berkata: “Baiklah. Jika kau akan melanjutkan perjalananmu, lanjutkanlah. Jika besok atau lusa atau kapan saja kau lewat jalan ini, kau tidak akan diganggu lagi oleh anak-anak bengal itu. Orang-orang padukuhan ini pun sudah muak terhadap mereka. Orangorang padukuhan ini tentu tidak mau lagi diganggu pula sebagaimana kalian.” Terima kasih,” jawab Mahisa Pukat. Orang itu pun berdesis perlahan: “Akulah yang  harus mengucapkan terima kasih.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu sempat memandangi orang-orang yang  ada di ara-ara. Semuanya menjadi semakin jelas. Obor-obor justru nampak menjadi semakin buram, karena langitmenjadimerah kekuning-kuningan. Namun Mahisa Pukat sempat berdesis: “Ternyata aku tidak sempat beristirahatmalam ini. Aku harus berjalan hilir mudik semalam suntuk.” “Akumintamaaf,” desis orang itu pula. “Tidak. Tidak apa -apa. Aku sudah terbiasa berjaga-jaga semalam suntuk.,” sahut Mahisa Pukat. Sejenak kemudian Mahisa Pukat dan Mahisa Semu pun telah menghentakkan kendali kudanya. Kudanya pun segera meloncat berlari. Derapnya terdengar mengguncang ketenangan pagi. Semakin lama menjadi semakin jauh, sehingga akhirnya hilang dari pendengaran. Namun matahari mulai melontarkan cahayanya menusuk langit yang cerah. Ternyata semalam bahkan sampai pagi hujan tidak turun. Demikianlah, setelah Mahisa Pukat dan Mahisa Semu, hilang dari penglihatan, bahkan suara derap kaki kudanya tidak terdengar lagi, maka orang yang  telah membawanya kembali ke ara-ara itu berkata: “Kita tidak mempunyai persoalan lagi disini. Tetapi apa yang  terjadi disini dapat kita ingat-ingat. Suatu ketika ada juga orang yang mampu mencambuk anak-anak kita. Selama ini suaraku tidak lebih dari suara seekor katak dilebatnya hujan sehingga tidak berday a sama sekali mempengaruhi sikap dan tingkah laku anak-anakmuda padukuhan ini, khususny a anak orang-orang berada. Sekarang terserah kepada orang-orang tua mereka. Apakah mereka akan membiarkan anak-anak mereka mengalami lecutan orang lain yang  lebih parah lagi, atau mereka akan berusaha untuk meluruskan sikap mereka, kemudian membaurkan mereka diantara anak-anak muda di padukuhan ini yang  jumlahnya lebih banyak dari mereka.“ Orang itu berhenti sejenak, lalu: “Juga terserah kepada orangorang padukuhan ini, apakah mereka akan menegor tingkah laku seperti itu, atau membiarkannya karena dibayangi oleh kekay aan orang tuamereka. Aku sendiri, sejak sekarang bukan orang upahan lagi.” Orang itu tidak menunggu pendapat orang lain. Ia pun segera menggerakkan kekang kudanya dengan berlari-lari kecil kuda itu pun meninggalkan ara-ara yang  menjadi semakin terang. Ny ala obor di beberapa tempat itu pun sama sekali sudah tidak berdaya lagi. Di langitmatahari memancar dengan terangnya. Mahisa Pukat dan Mahisa Semu masih meneruskan perjalanan mereka. Sekali lagi Mahisa Pukat berkata: “Aku semalam suntuk tidakmemejamkan mata sama sekali.” “Apakah kita akan beristirahat?,” bertanya Mahisa Semu. “Kita meneruskan perjalanan. Tetapi kita pun harus mengingat kuda-kuda itu yang  kurang beristirahat pula semalam,” jawab Mahisa Pukat. Mahisa Semu mengangguk-angguk. Sementara itu mereka tidak lagi berani memacu kuda mereka, karena jalan menjadi semakin ramai. “Nampaknya kita mendekati sebuah pasar,” berkata Mahisa Pukat yang melihat orang yang  berjalan hilir mudik dengan bebanmerekamasing -masing. Sebenarnyalah, beberapa lama lagi mereka telah sampai ke sebuah pasar yang  ramai. Nampaknya kebetulan hari itu hari pa saran, sehingga pasar itu nampak penuh dengan orang yang berjual beli. Mahisa Pukat dan Semu sempat singgah sebentar di sebuah kedai. Selain untuk membeli makanan dan minuman bagi keduanya, maka kuda-kuda mereka pun agaknya menjadi lapar. Beberapa saat kemudian, maka keduanya telah melanjutkan perjalanan. Mereka berharap bahwa hari itu mereka akan sampai ke padepokan mereka yang sudah beberapa hatimereka tinggalkan. Sebenarnyalah, mereka tidak menemui hambatan apa pun di sisa perjalanan mereka. Karena itu, maka menjelang senja, keduanya telah sampai ke lingkungan padepokanmereka. Ketika keduanya melihat pintu gerbang padepokanmereka, maka rasa -rasanya dadamerekamenjadi bertambah lapang. Mereka merasa akan segera memasuki satu lingkungan yang paling sesuai bagi mereka dan yang  akan dapat memberikan ketenangan dan kedalaman hati. Agaknya orang-orang yang  bertugas telah melihat keduanya mendekati pintu gerbang. Sebelum mereka mendorong pintu, maka pintu gerbang yang memang sudah terbuka sedikit itu, bergerak dan terbuka semakin lebar, sehingga kuda Mahisa Pukat dan kuda Mahisa Semu memasuki pintu gerbang itu. Beberapa orang cantrik yang ada di padepokan itu telah menyambut mereka dengan berbagai macam pertanyaan tentang keselamatanmereka di perjalanan. Mahisa Pukat tidak sempatmenjawabmereka satu persatu. Tetapi sambil ter senyum ia mengangguk-angguk. Demikian pula Mahisa Semu. Dua orang cantrik telah menerima kuda-kuda mereka ketika keduanya meloncat turun. Sementara itu Mahisa Murti pun telah mendapat pemberitahuan akan kedatangan Mahisa Pukat. Karena itu, maka ia pun telahmenyambutnya ditangga pendapa bangunan induk. Sementara Mahisa Amping berlari-lari pula mendapatkan kedua orang yang  dianggap kakaknya itu. Ketika mereka naik tangga pendapa, maka Mahisa Murti yangmempunyai penglihatan tajam itu bertanya: “Kau terluka Mahisa Semu ?” Mahisa Semu menarik nafas dalam2. Katanya: “Hanya sedikit.” “Tetapi kau tidak apa apa ?” bertanya Mahisa Murti pula. “Tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Mahisa Semu. Ketika mereka sudah duduk di pendapa, Mahisa Murti sempat mendengarkan laporan Mahisa Pukat tentang perjalanan mereka. Beberapa hambatan telah terjadi. Bahkan pertempuran yang  semula dirasa tidak seimbang jumlahnya, sehingga Mahisa Semu telah terluka karenanya. “Dua kali kami mengalami kesulitan yang mendebarkan,” berkata Mahisa Pukat. “Syukurlah bahwa kalian selamat,” berkata Mahisa Murti sambilmengangguk-angguk kecil. Namun kemudian Mahisa Pukatlah yang  bertanya tentang padepokan itu. “Tidak terjadi sesuatu,” jawab Mahisa Murti, “ semuanya dapat berjalan sebagaimana seharusnya. “Syukurlah,” berkata Mahisa Pukat yang kemudian juga menceriterakan tentang gerakan sandi dan sekelompok bangsawan dari Kediri. “Ternyatamereka telah berada di segala tempat dan tataran kehidupan. Mereka ada disini, di jalan yang  menuju ke Singasari dan bahkan di Singasari itu sendiri.,” desis Mahisa Pukat. “Agaknya tentang mereka diperlukan satu kegiatan tersendiri yang  khusus ditujukan kepada mereka,” sahut Mahisa Murti. Namun nampaknya Mahisa Murti pun menyadari, bahwa Mahisa Pukat tentu merasa letih. Karena itu, maka katanya: “Baiklah kalian berbenah,mandi atau apapun, sehingga kalian akan dipeisilahkan untukmakan dari kemudian beristirahat.” Mahisa Pukat dan Mahisa Semu memang merasa letih. Ketika mereka mandi, maka makan bagi mereka pun telah disiapkan. Setelahmakan nasi yang masih hangat,maka Mahisa Pukat dan Mahisa Semu masih sempat berbicara serba sedikit dengan Mahisa Murti tentang padepokanmereka. “Mungkin orang-orang Kediri itu pada suatu saat akan memperhatikan padepokan ini,” berkata Mahisa Pukat. “Mungkin sekali, Namun selama ini kita masih sempat berbenah diri sehingga kita akan dapat melayani mereka sebaik-baiknya,” sahut Mahisa Murti. Namun beberapa saat kemudian, Mahisa Pukat benarbenar merasa letih dan mengantuk. Karena itu, maka ia pun segera minta diri untuk masuk ke dalam bilikny a, demikian pula Mahisa Semu. Mahisa Amping yang  belum sempat berbicara panjang dengan keduanya, mengikuti Mahisa Semu ke pembaringannya. Dengan ragu- ragu ia bertanya: “Kau terluka?” Mahisa Semu terseny um sambilmengusap kepala anak itu. Katanya: “Sedikit. Tetapi tidak apa -apa.” “Kakangmengantuk sekarang?,” bertanya anak itu. “Ya. Semalam kami hampir tidak tidur. Siang hari kami menempuh perjalanan yang tersisa. Senja kami baru sampai di sini,” jawab Mahisa Semu. Anak itu mengangguk-angguk. Katanya: “Jika demikian, besok sajalah kau berceritera. Kau tentu letih. Tidurlah.” Mahisa Semu tertawa pendek. Katanya: “Ya. Aku akan tidur. Besok aku akan berceritera panjang jika kau tidak jemu mendengarnya.” “Tentu tidak. Perjalananmu tentu menarik. Aku ingin menempuh perjalanan sejauhyang  kau tempuh,” berkata anak itu. “Apakah perjalanan yang pernah kita tempuh kurang panjang?,” bertanya Mahisa Semu. Mahisa Amping terseny um.Namun ia pun segeraminta diri keluar dan bilik Mahisa Semu. Sejenak kemudian, maka Mahisa Semu pun telah memejamkan matanya. Ia benar-benar letih dan mengantuk sebagaimana Mahisa Pukat, sehingga karena itu,maka sejenak kemudianmereka pun telah tertidur ny enyak. Hari-hari berikutnya, maka seisi padepokan itu sempat menikmati hidup tenang. mereka sempat melakukan kerja yang berarti bagi pedepokan mereka tanpa terganggu. Orangorang yang  tinggal di padukuhan di sekitar padepokan itu, termasuk padukuhan baru yang  dihuni oleh orang-orang yang semula hidup di jalan sesat itu, ikut serta merasa hidup mereka menjadi tenang dan mendapat kesempatan untuk bekerja dengan baik, meningkatkan kemampuan mereka dalam berbagaimacam bidang, terutama bercocok tanam dan memelihara ternak bersama-sama dengan para cantrik di padepokan. Kehidupan di padepokan dan padukuhanpadukuhan di sekitarnya ternyata dapat saling menguntungkan. Kelebihan penghasilan dari para cantrik dapat dijual kepada pedagang di padukuhan-padukuhan di sekitarnya yang akan membawanya ke tempat-tempat yang lebih ramai, bahkan sampai ke Kotaraja, terutama buahbuahan. Kehidupan yang tenang itu ternyata telah diusik oleh kehadiran sekelompok prajurit yang  mengiringi tiga buah pedati yang berjalan lambanmenuju ke padepokan Bajra Seta. Beberapa orang mulai bertanya -tanya, apakah padepokan yang tenang itu akan mulai bergejolak lagi? Yang hembusan kegelisahan dan kecemasannya akan sampai ke padukuhanpadukuhan di sekitarnya? Namun ternyata diantara para prajurit berkuda itu terdapat Ki Mahendra, yang  meski pun sudah nampak semakin tua, tetapimasih juga tangkas di punggung kudanya. Iring-iringan itu telah disambut dengan ramah oleh seisi padepokan. Apalagi setelah mereka tahu, bahwa diantara mereka terdapat Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menyambut mereka dengan tergesa - gesa. Diper silahkannya ay ahnya dan para prajurit untuk naik ke pendapa. Namun Mahendra hanya diiringi oleh empat perwira saja yang naik ke pendapa. Yang lain tetap berada di halaman padepokan. Mereka meny ebar ke tempat yang sedikit terlindung. Namun atas perintah Mahisa Murti, maka oleh para cantrikmereka telah dipersilahkan untuk naik ke serambi gandok kiri dan kanan, duduk di atas tikar yang  dibentangkan di lantai serambi, karena amben-amben bambu yang ada di serambi tidakmenampungmereka. Namun empat orang tetap berjaga-jaga di sekitar tiga buah pedati yang berhenti di halaman. Ternyata Mahendra datang sebagai utusan Sri Maharaja. Sri Maharaja telah memenuhi janjinya. Dikirimkannya tiga buah pedati yang penuh berisi alat-alat pertanian dan sejumlah senjata yang  dianggap bermutu tinggi. Namun yang terpenting bukan hanya itu, bukan hanya alat-alat yang sudah siap untuk dipakai. Tetapi Sri Maharaja telah mengirimkan alat-alat untuk membuat alat-alat pertanian dan senjata dengan cara yang  lebih baik daripada yang  dilakukan oleh para cantrik di padepokan Bajra Seta. “Ada tiga orang ahli yang akan tinggal disini beberapa lama,” berkata Mahendra. “Mereka adalah pande besi kenamaan di istana Singasari. Mereka akan mengajarkan, bagaimana membuat alat-alat dari besi dan baja yang baik.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan isy arat Mahendra minta seorang perwira prajurit Singasari untukmemanggil ketiga orang yang  dimasukkan. Perwira itu ternyata tanggap. Karena itu, maka ia pun bergeser turun dari pendapa untuk memanggil ketiganya dan membawanya naik kependapa pula. “Mereka bertigalah yang aku maksudkan,” berkata Mahendra yang memperkenalkanmereka. “Kami mengucapkan terima ka sih kepada Sri Maharaja. Juga kepada para prajurit yang telah bersedia bersama ayah mengantarkan hadiah dari Sri Maharaja bagi padepokan ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada ketiga orang yang akan tinggal di padepokan kecil dan terpencil ini. Dengan demikian para cantrik, terutama yang  selama ini memang sudah menekuni pekerjaan itu, akanmendapat bimbingan dari tangan-tangan yang memang berwenang,” berkata Mahisa Murti. Namun ia pun kemudian berkata: “Tetapi aku cemas, apakah kerasan tinggal di padukuhan seperti ini.” “Kenapa tidak,” jawab mPu Ananta, orang tertua diantara ketiga orang pande besi itu, ”sebelum kami dipanggil di istana, kami adalah orang padesan yang barangkali lebih sepi dan lingkungan ini.” “Terima kasih mPu,” desis Mahisa Murti sambil mengangguk dalam-dalam. Demikianlah, maka setelah isi ketiga pedati itu diserahkan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memerintahkan para cantrik untukmembongkar isiny a dan membawa ke bangsal khusus yang disiapkan dengan tergesa - gesa. Malam itu, Mahendra dan para prajurit yang  meny ertainya, bermalam di padepokan. Mereka ditempatkan digandok sebelah menyebelah dan di pringgitan. Namun justeru karena mereka adalah prajurit, maka tempat untuk membaringkan tubuh mereka, tidak terlalumenjadi persoalan. Di hari berikutnya, maka mereka pun telah bersiap-siap untuk kembali ke Singasari. Menjelangmatahari terbit, semua prajurit telah bersiap. Mahendra pun telah bersiap pula untuk kembali ke Singasari. “Ketiga pedati itu juga ditinggalkan disini pula,” berkata Mahendra. “Terima kasih,” jawab Mahisa Murti, “pedati-pedati itu akan sangat bermanfaat kami disini. “Peliharalah dengan baik,” pesan ay ahnya. Setelah makan pagi, maka iring-iringan itu pun meninggalkan padepokan. Tiga orang diantara mereka, dipimpin oleh mPu Ananta, tinggal di padepokan untuk membimbing para cantrik yang  mengkhususkan diri sebagai pande besi. Ternyata bahwa ketiga orang yang  tinggal di padepokan itu juga memiliki kemampuan untuk membuat keris. Namun mereka bukan orang terbaik di istana Singasari, meski pun mereka termasuk orang terbaik sebagai pande besi. Di hari berikutnya, kegiatan ketiga orang itu belum dapat dimulai. Hari itu yang  mereka lakukan ber sama para cantrik adalah membenahi dan memasang alat-alat pande besi yang lebih baik dariyang  dimiliki oleh padepokan itu. Selama t iga hari, alat -alat itu telah terpasang. Dengan demikian maka, mPu Ananta dan kedua orang kawannya dapatmulaimemberikan bimbingan kepada para cantrik yang memang sudah memiliki kemampuan sebagai pande besi. Namun juga memberi kesempatan kepada mereka yang belum mengenalnya sama sekali. Hari demi hari dilalui dengan kesibukan yangmeningkat di padepokan itu. Bukan saja para cantrik yang mempelajari keterampilan seorang pande besi. Tetapi justru karena padepokan itu telah menerima alat-alat yang sudah slap untuk dipergunakan pula, maka para cantrik pun menjadi semakin rajin bekerja di sawah. Mereka mempunyai cangkul, sabit, parang dan bajak yang  baru dan lebih baik, sehingga dengan gembira mereka pergi ke sawah. Sementara itu, para cantrik yangmemiliki kemampuan sebagai undhagi pun telah bekerja Iebih keras dengan alat-alat mereka yang baru. Mereka telah berusaha untuk mempercantik padepokan mereka dan membangun bangsal yang baru dan lebih pantas dipergunakan sebagai bangsal peny impanan barang-barang berharga bagi padepokan itu termasuk senjata. Peningkatan kerja di padepokan itu berpengaruh pula terhadap lingkungan di seputarnya. Alat-alat yang ada di padepokan itu menjadi sangat menarik. Apalagi ketika orangorang dari padukuhan di sekitarnya mendapat satu dua alatalat pertanian yang sudah mulai dihasilkan oleh para cantrik di bawah bimbingan ketiga orangmPu dari Singasari itu. Lingkungan hidup di seputar padepokan itu memang menjadi semakin ramai. Peningkatan kemampuan orangorang padukuhan di sekitarnya berarti pula peningkatan kesejahteraanmereka.Hasil sawah punmeningkat. Pekerjaanpekerjaan yang  lain pun dapat dilakukan dengan lebih baik. Bahkan telah tumbuh lingkungan-lingkungan pemukiman yang baru, yangmemang dibuka oleh Ki Buyut bagi keluarga Kabuyutanyang  berkembang dengan pesat itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang ingin, bahwa kehadiran padepokan itu akan berarti bukan saja bagi lingkungan sempit di seputar dinding padepokan. Tetapi juga lingkungan luasdi sekitarnya. Namun yang  lebih menggembirakan bagi padepokan itu, selalu alat-alat pertanian dan alat -alat untuk mengerjakan kayu dan batu,maka para cantrik di padepokan itu pun telah dapat menghasilkan sejenis senjata yang  lebih baik dari senjata yang pernahmereka hasilkan sebelumnya. Senjata yang  dibuat dengan tuntunan para ahli dari Singasari itu menghasilkan senjata yang lebih ringan, namun lebih keras dan hat. Para ahli itu telah memberikan ajaran tentang mencampur logam yang  terbaik untuk membuat senjata.Hasilnya ternyata sangatmemuaskan. Sebilah pedang yang sama besarnya, sama kuatnya dan sama tajamnya, ternyata bobotnya lebih ringan dari pedagang yang mereka miliki sebelumnya. Demikian pula jenis-jenis senjata yang lain. Mata tombak, canggah, trisula dan bahkan bindi-bindi kecil. Para ahli itu pun mengajarkan bagaimana membuat anak panah yang paling baik. Berat bedornya dibandingkan dengan tubuh dan bulu anak panah itu. Kemudian bagaimana membuat busur yang kuat dan lebih lentur. Dengan demikian,maka para cantrik di padepokan itu pun telah berharap untuk mendapatkan jenis-jenis senjata yang lebih baik itu disamping alat-alat yang mampu meningkatkan kesejahteraan hidupmereka. Dalam waktu tiga bulan, maka para cantrik yang  mempelajari tentang cara-cara terbaik membuat senjata dengan hasil yang lebih baik dari yang mereka hasilkan itu, telah mendapat kemajuanyang sangat pesat. Mereka pun telah mendapat berbagai macam petunjuk untuk mengembangkan ketrampilan mereka sehingga apabila mereka benar-benar tekun, maka mereka kelak akan dapat menjadi pande besi yang cukup baik. Dengan demikian, maka padepokan itu menghadapi satu perkembangan yang berganda. Jika mereka telah mampu mengembangkan beberapa jenis senjata,maka tentu dituntut untuk meny esuaikan diri dengan jenis-jenis senjata mereka yang baru. Mereka harus mampu mengembangkan ilmu yang telah mereka pelajari, sehinga senjata yang baru itu akan mampu meningkatkan ketrampilan mereka dalam olah kanuragan dan bermain senjata. Di hari-hari berikutnya, maka para ahli itu telah mencoba melepaskan para cantrik untuk melakukan sendiri. Mereka memilih, menakar perbandingan dan mengerjakan sendiri beberapa jenis senjata.Hasilny a ternyata sangatmemuaskan. Sementara itu,mereka pun telah mampumembuat alat-alat pertanian dan alat-alat untuk mengerjakan kayu lebih baik dari yang mereka buat sebelumnya. Sebagaimana peningkatan jenis senjata yang  menuntut peny esuaian kemampuan para cantrik, maka demikian pula dituntut peningkatan kemampuan penggunaan alat -alat pertanian dan alat-alat untukmengerjakan kayu. Setelah empat bulan lewat, maka para ahli dari Singasari yang dipimpin oleh mPu Ananta itu menganggap bahwa para cantrik itu telah memiliki kemampuan yang  memadai untuk melakukan kerja sendiri tanpa pengawasan mereka Iagi. Sehingga kehadiran ketiga orang itu di padepokan tidak diperlukan lagi. Meski pun demikian ketiga orang itu masih saja tetap berada di padepokan karena menurut pembicaraan mereka dengan Mahendra, jika saatnya dianggap cukup, sekelompok prajurit akanmenjemputmereka. Sementara itu, ketiga orang itu masih sempat menyelesaikan, bagaimana para cantrik berusaha menyesuaikan diri dengan pembaharuan yang terjadi di barak mereka. Para undagimerasa bahwa pekerjaan merekamenjadi semakin baik, sementara waktu pun dapat dihemat. Apa yang dapat mereka lakukan sepekan dengan alat- alatmereka yang lama, maka dengan alat-alat mereka yang  baru, para undagi dapatmelakukannya dala tiga hari saja. Di bidang lain, ketiga orang itu sempat menyaksikan, bagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada di dalam sanggar mereka untuk beberapa hari. Mereka mencoba mengenali jenis-jenis senjata yang dapat dibuat oleh para cantrik. Pedang yang  nampaknya cukup panjang dan besar, ternyata bobotnya tidak seberapa berat. Sementara itu, kelenturannya dan kekuatannya ternyata tidak kalah dengan pedang yang mempunyai ukuran yang sama namun jauh lebih berat dari pedang dengan campuran logamyang  diberitahukan oleh para ahli dari Singasari itu. Juga cara menempa, memanasi dan mencelupnya kedalam cairan yang khusus membuat senjata- senjata itu menjadi jauh lebih baik. Dengan tekun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mempelajari segala jenis senjata yang  dapat dihasilkan para cantrik. Bagaimana mereka meny esuaikan berat, besar dan panjang senjata- senjata itu. Seberapa kekuatan mata senjata itu serta hulu dan tangkainya. Demikian kedua orang anak muda itu mengetahui watak dari berjenis-jenis senjata yang  ada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memutuskan untuk memberikan latihanlatihan khusus bagi para cantrik dalam olah senjata dengan landasan kemampuanyang  telahmerekamiliki. “Tetapi tiga orang ahli dari Istana Singasari itu tidak dapat menunggui latihan-latihanyang  akan dilakukan secara khusus oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, karena sebelum latihanlatihan itu dimulai, sekelompok prajurit telah datang menjemputmereka. Dengan berat hati seisi padepokan itu telah melepas ketiganya di satu pagi yang  cerah. Setelah para prajurit itu bermalam semalam, maka dikeesokan harinya, mereka telah ber siap-siap untuk kembali ke Singasari bersama ketiga orang Mpu yang telah banyak memberikan tuntunan kepada para cantrik di padepokan itu. Tuntunan bukan sekedar mempergunakan alat-alat yang  dibawa dari Singasari, tetapi juga tentang pengetahuan mengenai bahan yang  mereka pergunakan untuk membuat alat-alat pertanian, alat-alat untukmengerjakan pekerjaan kayu dan bahkan senjata. Tetapi ketiga orang mPu itu memang harus kembali ke Singasari. Mereka sudah terlalu lama berada di padepokan itu, sehingga keluarga mereka tentu sudahmenunggu. Karena itu, maka para penghuni padepokan itu memang harusmelepaskan ketiga orangmPu yang  dipimpin oleh mPu Ananta itu kembali ke Singasari. Namun mereka telah meninggalkan ilmu yang  sangat berarti bagi padepokan itu, bahkan bagi padukuhan- padukuhan disekitarnya. Sepeninggal para mPu itu, maka para cantrik justru semakin menekuni pekerjaan mereka. Mereka tidak boleh kehilangan jejak sehingga hasilnya akan kurangmemuaskan. Namun dengan ketekunan yang  tinggi, maka para cantrik itu benar- benar telah menguasai ilmu yang diajarkan oleh para mPu dari Singasari itu. Meski pun mereka masih jauh dari kematangan ilmu mereka sebagaimana ketiga orangmPu itu, tetapi pengetahuan para cantrikyang mengkhususkan diri pada pekerjaan pande besi itu telah cukupmemadai. Bahkan mPu Ananta itu pernah berkata kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat: “ Jika perlu, kalian dapat mengirimkan dua atau tiga orang yang  terbaik diantara para cantrik yang menekuni dan benar- benar berminta dalam pekerjaannya sebagai pande besi, untuk lebih memperdalam ilmunya barang satu dua tahun di Singasari.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tertarik pada tawaran itu. Tetapi mereka harus benar-benar memilih. Satu dua tahun adalah waktu yang lama bagi mereka yang tidak benar-benar berminat pada satu pekerjaan. Namun tentu dirasakan kurang bagi mereka yang benar-benar ingin menguasai satu jenis ilmu yang  penting bagi kehidupan dan kesejahteraan sesamanya. Sepeninggal para mPu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah benar-benar mempersiapkan satu latihan khusus bagi para cantrik. Mereka selain harus membiasakan diri dengan alat-alat yang baru bagai para cantrik yang bekerja di sawah, undhagi dan pekerjaan- pekerjaanyang lain,maka para cantrik itu semuanya harus mulai mengenali jenis-jenis senjata yang baru. Karena itu, maka di padepokan itu telah disusun urutan latihan khusus bagi para cantrik untuk mengenali senjatasenjata itu. Sekelompok demi sekelompok telah mendapat latihan dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun secara khusus Mahisa Semu dan Mahisa Amping mendapat perhatian tersendiri di samping Wantilan. Wantilan yang ternyata memang mempunyai sedikit kelebihan dari para cantrik, termasuk seorang yang mendapat perhatian lebih banyak dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Set iap hari, maka para cantrik bergantian telah mendapat petunjuk tentang senjata -senjata yang  baru yang telah dapat dibuat sendiri oleh para cantrik. Meski pun pada da sarnya ilmu tidak berubah, tetapi mereka wajib meny esuaikan diri dengan watak senjatamereka yang baru. Para cantrik pun dengan tekun mengikuti petunjukpetunjuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan sungguhsungguh mereka mempergunakan setiap kesempatan untuk benar-benar menguasainya. Dalam waktu beberapa bulan,maka para cantrik itu benarbenar telah mengenal dan menguasai watak senjata -senjata mereka yang  baru. Ketika mereka kemudian meningkatkan ilmu mereka,maka mereka pun telah terbiasa berlatih dengan senjata-senjata barumereka. Pada kesempatan tersendiri, Mahisa Amping dan Mahisa Semu pun telah berlatih dengan sungguh-sungguh. Didalam sanggar anak muda itu bukan saja sekedar mengenali senjata mereka, tetapi mereka pun telah meningkatkan ilmu mereka sebagaimana yang mereka lakukan sebelumnya. BahkanWantilan pun telah benar-benar menguasai senjata dari jenis yang  dipilihnya. Wantilan kemudian lebih senang mempergunakan senjata yang berbeda. Trisula bertangkai pendek saja. Ternyata setelah berlatih dengan sungguhsungguh, Wantilan lebih sesuai mempergunakan trisula daripada pedang. Kekuatan kewadagannya yang  berkembang, serta kemampuannya membangkitkan tenaga dalamnya yang semakin tinggi, membuatnya menjadi seorang yang sangat kuat. Meski pun demikian, baik Mahisa Semu, Mahisa Amping, Wantilan mau pun para cantrik, harus juga memiliki ketrampilan dan kemampuan mempergunakan senjata apa sa ja untuk melawan jenis senjata apa saja. Itulah sebabnya disamping mematangkan kemampuan dengan mempergunakan senjata yang  dipilihnya,mereka pun berlatih dengan jenis senjata yang berganti-ganti. “Dengan demikian maka seisi padepokan Bajar Seta itu pada dasarnya mampu mempergunakan segala jenis senjata untuk melawan segala jenis senjata pula. Namun mereka masing-masing mempunyai kemantapan yang berbeda -beda. Mahisa Semu masih saja merasa mapan jika ia mempergunakan pedang. Semenara Mahisa Amping yang  kecil itu nampaknya mulai senang mempergunakan pedang rangkap. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih akan melihat perkembangannya lebih lanjut. Para cantrik pun ternyata memiliki kemantapannya sendiri. Sekelompok tetap mempergunakan pedang. Namun yang  lain mulaimencoba dengan jenis senjata yang lain. Beberapa orang merasa pada puncak kemampuannya dalam olah senjata jika ia memegang sebatang tombak pendek. Namun ada yang  lebih sesuaimempergunakan trisula sebagaimanaWantilan. Namun pada dasarnya, kemampuan para cantrik dengan jenis jenis senjatanya yang  baru menjadi semakin meningkat. Sementara latihan-latihanyang terbiasa mereka lakukan, tidak pernah terhenti, sebagaimana kerja mereka sehari-hari di sawah, ladang, di kolam ikan dan kerja -kerja yang  lain. Dengan demikian, maka perdagangan yang  terjadi kemudian dengan padukuhan-padukuhan disekitarnya menjadi semakin meningkat pula. Hasil yang dibuahkan oleh padepokan itu ternyata dapat disalurkan lewat para pedagang di padukuhan padukuhan disekitarnya. Bukan hanya hasil bumi, hasil kolam kolam ikan dan ternak. Tetapi juga sedikit alat-alat pertanian. Karena itu, maka wajah padepokan Bajra Seta pun menjadi semakin terang. Segala segi kehidupan didalam padepokan itu telah meningkat. Demikian pula padukuhan-padukuhan di sekitarnya, seakan-akan telahmendapat getarannya pula. Namun ternyata bahwa peningkatan kesejahteraan padepokan itu telahmenjadi sorotan beberapa pihak. Ternyata ada diantara mereka yang mengetahui, bahwa perkembangan yang pesat dari padepokan Bajra Seta itu dimulai sejak padepokan itu mendapat tuntunan dari beberapa orang mPu istana Singasariyang menguasai ilmu pande besi. Dari hari ke hari, maka usaha-usaha beberapa pihak untuk mengambil keuntungan dari keadaan padepokan itu menjadi semakin meningkat pula. Yang mula-mula menjadi tujuan mereka adalah menguasai orang-orang yang telah mendapat tuntunan dari paramPu Istana Singasari.. Segala usaha pun mulai dilakukan. Seorang Buyut dari Kabuyutan Bumagara ternyata merasa iri atas perkembangan sebuah padepokan dan padukuhan-padukuhan disekitarnya yang termasuk dalam Kabuyutan Sadresa. Dengan segala cara, akhirnya Ki Buyut Bumiagara dapat berhubungan dengan salah seorang cantrik yang pernah mendapat tuntunan darimPu Ananta. Mula-mula memang tidak ada keinginan apa pun yang  diutarakan oleh Ki Buy ut. Ketika mereka sempat bertemu, saat cantrik itu pergi ke pasar di sebuah padukuhan terdekat, Ki Buyut hanya memujinya sebagai salah seorang cantrik yang terbaik. “Bukankah Ki Sanak mendapat tuntunan langsung dari paramPu yang  datang dari Singasari itu?,” bertanya Ki Buyut. “Ya,” jawab cantrik itu. “Ki Sanak tentu seorang yang  memiliki kepandaian yang  sangat tinggi,” berkata Ki Buyut sambil menunjuk beberapa pande besi yang  berada di pinggir pasar itu yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Lalu katanya pula: “Tidak seperti para pande besi itu.- “Tidak jauh berbeda,” jawab cantrik itu. “Dengan kemampuan para cantrik serta alat-alat yang  dihasilkan, maka pande-pande besi itu dalam waktu singkat akan kehilangan pekerjaanmereka.,” berkata Ki Buyut. “Tidak,” jawab cantrik itu, “kami tidak akan mampu membuat alat-alat pertanian dan alat -alat yang  lain mencukupi kebutuhan seluruh Kabuyutan Sadresa. Apalagi Kabuyutan yang  lain. Bahwa apa yang kami buat mempengaruhi hasil pekerjaan para pande besi memang terjadi. Mereka mulaimeniru bentuk alat-alatyang  kami buat. Itu justru baik, karena meski pun hanya bentuknya, namun manfaatnya telah menjadi lebih tinggi dari alat-alat yang lama.” “Apakah mereka tidak dapat membuat bukan sa ja,bentuknya tetapi juga kekuatan dan kegunaannya menyamai alat-alatyang kalian buat?,” bertanya Ki Buyut. “Tentu tidak,” jawab cantrik itu, “dibutuhkan peningkatan ketrampilan dan juga bahan-bahan yang dipergunakan. Selain itu juga alat-alatnya untukmembuat alat-alat itu. Ki Buyut mengangguk-angguk. Ia memang tidak terlalu banyak bertanya. Tetapi ia terlalu banyakmemuji. Namun pada kesempatan lain, Ki Buyut mulai melangkah lebih maju. Ia mempersilahkan cantrik itu singgah di rumahnya. “0, jadi Ki Sanak datang dari Kabuyutan Bumiagara,” jawab orang itu. “0, Aku mohon maaf Ki Buy ut. Mungkin sikapku kurang pantas,” jawab cantrik itu. “Tidak. Tidak ada yang kurang pantas.,” jawab Ki Buyut: “aku adalah salah seorang pengagummu. Karena itu, aku minta Ki Sanak mau singgah di rumahku barang sebentar. Bukankah Bumiagara tidak terlalu jauh.” Cantrik itu mengerutkan dahinya. Dengan nada tinggi ia berkata: “Bumiagara terhitung jauh dari padepokan kami Ki Buyut.” “Tidak,” jawab Ki Buyut, “aku sering datang ke pasar padukuhan ini yang letaknya tidak jauh dari padepokanmu.” “Memang pa sar ini tidak jauh dari pedepokanku. Tetapi yang aku maksud adalah Bumiagara,” jawab cantrik itu pula. Ki Buy ut tersenyum. Katanya: “Sudah aku katakan. Tidak terlalu jauh. Aku sering datang ke pasar ini tanpa merasa letih. Bukankah tinggal selangkah lagi, aku akan sampai ke padepokanmu. “Tetapi Ki Buyut naik kuda,” jawab cantrik itu. Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya: “Besok, di hari pa saran aku akan membawa seekor kuda buatmu. Aku sendiri akan menjemputmu ke pasar ini. Tetapi sudah tentu kau tidak usah minta ijin kepada siapapun. Aku tahu, kau tentu tidak akan diijinkan. Bukankah tenagamu diperas di padepokan itu ?- “Tidak,” jawab cantrik itu, “sebagaimana Ki Buyut lihat, saat -saat seperti ini aku masih dapat melihat-lihat keadaan pa sar ini.” “Tentu kau bertugas untuk membuat penilaian tentang hasil para pande besi dipasar ini,” desis Ki Buyut sambil tersenyum. Cantrik itu tersenyum pula. “Nah, ingat. Besok dihari pasaran, aku akan datang dengan membawa seekor kuda. Setelah kau berada di Bumiagara sehari, maka kau dapat pulang ke padepokan dengan membawa kuda itu pula. Kau dapat memilikinya untuk selanjutnya,” berkata Ki Buyut. Lalu katanya: “Nah, baru kemudian kau dapat berceritera tentang perjalananmu ke Bumiagara setelah kau pulang. Mungkin kau dimarahi. Tetapi tentu tidak akan menyulitkan kedudukanmu, karena kau sangat diperlukan di padepokan.” Cantrik itu termangu-mangu. Namun Ki Buyut itu telah memberikan sekantung kecil uang kepadanya. “Jangan menolak. Bukan apa -apa. Sekedar ungkapan rasa kekagumanku kepadamu.,” berkata Ki Buyut. Cantrik itu memang ragu-ragu. Namun akhirnya uang itu pun diterimanya juga. Sambil berjalan pulang cantrik itu terseny um sendiri. Ia mempunyai uang banyak. Uang yang  hampir tidak pernah dilihatnya sejumlah yang diberikan oleh Ki Buyut kepadanya. Dan sepekan lagi ia akan mendapatkan seekor kuda. “Apa salahnya,” berkata cantrik itu: “aku tidak merugikan padepokan Bajra Seta. Bahkan kekagumannya kepadaku dan beberapa orang kawanku yang  telah mampu membuat peralatan dan senjata yang  lebih baik, akan mengangkat derajad padepokan Bajra Seta.” Namun ada sesuatu yang  menggelisahkannya. Ia tidak boleh mengatakan hal itu kepada siapapun. Bahkan ia tidak dibenarkan untuk minta ijin meninggalkan padepokannya barang sehari. “Tak apalah,” berkata catrik itu kepada diri sendiri, “ seperti dikatakan oleh Ki Buyut, bahwa aku tidak akan mendapat kesulitan, karena tenagaku memang dibutuhkan. Hanya beberapa orang saja di padepokan itu yang mampu membuat peralatan dan senjata yang lebih baik dari yang pernah dibuat sebelumnya.” Dengan demikian maka cantrik itu pun berketetapan hati untuk tidak mengatakannya kepada siapa pun juga. Ia juga tidak mengatakan kepada kawan-kawannya yang  mempunyai kemampuan sebagaimana diriny a. Dengan demikian maka mereka akan ikut pula untuk mendapatkan pujian dan barangkali uang sehingga ia bukan orang satu-satunya yang akan diterima dengan penuh kekaguman di Kabuyutan Bumiagara. Apalagi setelah ia menerima uang dari Ki Buyut. Maka cantrik itu menjadi semakin berdiam diri agar persoalannya tidak diketahui oleh orang lain. Dalam pada itu, maka selama sepekan cantrik itu menunggu. Ra sa- rasanya ia memangmenjadi gelisah. Tetapi ia tetap bertahan untuk tidak mengatakannya kepada siapa pun bahwa ia telah berhubungan dengan Ki Buy ut Bumiagara. Pada hari yang dijanjikan,maka cantrik itu telah minta ijin untukmelihat-lihat pa sar. Seperti yang  dilakukan sebelumnya ia memang membuat penilaian terhadap kerja para pande besi. Dengan demikian,maka beberapa orang pande besi telah mengenalnya dengan akrab. Selagi ia melihat-lihat pekerjaan para pande besi itu,maka sepertiyang  dijanjikan. Ki Buyut pun telahmenemuinya. “Bukankah aku benar-benar datang ?,” desis Ki Buyut. “Ya Ki Buyut,” jawab cantrik itu, “aku sudah siap. Apakah Ki Buyutmembawa seekor kuda sepertiyang  Ki Buyut katakan ?” “Tentu,” jawab Ki Buyut.: “Kuda itu ada diluar. Aku titipkan dikedai yang paling ujung. Kedai yang  paling besar. Kita akan singgah dikedai itu. Makan dan kemudian meneruskan perjalanan.” Cantrik itu mengangguk. Ketika Ki Buyut kemudian keluar dari pasar, maka cantrik itu pun mengikutinya. Mereka memang pergi ke sebuah kedai sebagaimana dikatakannya. Kedai yang paling ujung dan yang  paling besar diantara beberapa kedai diluar pa sar itu. Beberapa saat mereka makan dan minum. Namun kemudian telah datang pula dua orang kawan Ki Buyut. Dengan nada rendah Ki Buyut berkata: “Mereka adalah bebahu padukuhan.” Ki Buyut tertawa. Katanya: “Bebahu padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara.” Kedua orang bebahu itu pun tertawa juga. Sedangkan cantrik yang semula mengerutkan keningnya itu pun kemudian juga tertawa bersamamereka. Demikianlah,maka cantrik itu telah mendapat kesempatan untukmakan dan minummakanan dan minuman yang  paling baik yang terdapat di kedai yang terbesar di sebelah pa sar itu. Baru kemudian setelah perutnya terasa kenyang , Ki Buyut itu mengajaknya mulai dengan perjalanan ke Kabuyutan Bumiagara. Ketika mereka mencapai jarak yang agak panjang, maka dua orang ternyata telah menunggu, sehingga iring-iringan itu menjadi empat orang dari Bumiagara ditambah dengan seorang cantrik. Perjalanan yang  terasa panjang itu memang melelahkan. Apalagi cantrik itu tidak terbiasa bepergian jauh di atas punggung kuda. Meski pun beberapa kali ia berkesempatan menunggang kuda, namun tidak menempuh jarak yang panjang sebagaimana ditempuhnya saat itu. Di perjalanan mereka terpaksa berhenti untuk memberi kesempatan kepada kuda -kuda untuk minum dan makan rumput segar. Namun cantrik itu pun sebenarnyalah memerlukan istirahat jauh sebelumnya. Tetapi ia agak segan untuk mengatakan bahwa ia merasa lebih dan mulai merasa sakit. Menjelang matahari turun merendah, barulah mereka memasuki padukuhan induk. Cantrik itu nampak menjadi cemasdan bertanya: “Apakah aku hari ini dapat kembali ke padepokan sebeleum malam?” Ki Buyut menggelengkan kepalanya sambil menjawab: “Tentu tidak. Kau lihat matahari telah turun. Jika kau duduk sepenginang saja di Bumiagara,maka matahari akan menjadi semakin rendah. Bagaimana pun kencangnya kau memacu kudamu, kau tentu akan kemalaman di perjalanan.- “Aku akan dapat dihukum,” desis cantrik itu, “aku meninggalkan tugasku terlalu lama tanpa diketahui kemana aku pergi.” “Kau tidak akan dihukum,” jawab Ki Buyut, “percayalah. Kau termasuk orang yang sangat diperlukan.” “Tetapi tidak akan dihukum,” jawab Ki Buyut, “percayalah. Kau termasuk orang yang sangat diperlukan.” “Tetapi jika aku tidak pulang hari ini,” desis cantrik itu. “Kau tidak hanya tidak pulang hari ini. Tetapi kau tidak akan pernah pulang ke padepokanmu sampai kapanpun.,” jawab Ki Buyut. “Apamaksudmu?,” bertanya cantrik itu mulai curiga. Namun mereka telah memasuki pintu gerbang halaman Kabuyutan Bumiagara. “Kau akan menjadi penghuni Kabuyutan ini,” berkata Ki Buyut. Wajahnya tiba -tiba saja telah berubah. Ia bukan lagi seorang yang ramah dan selalu tersenyum. Tetapi wajahnya menjadi gelap dan keras. Cantrik itu mulai menyadari, bahwa ia telah terjebak oleh sikap dan kata-kata yang akrab dan ramah. Bahkan ia semakin menyesal ketika ia menyadari uang yang telah diterimanya dan Ki Buyut Bumiagara. Karena itu,maka tiba-tiba cantrik itu telah menghentakkan kendali kudanya. Demikian kudanya melonjak, maka ia pun telah berusaha memutar kudanya dan berlari ke arah regol halaman. Namun dengan cepat dua orang pengawal Kademangan itu telah menutup pintu sehingga cantrik itu harusmenghentikan kudanya pula. “Kau tidak akan dapat lari,” berkata Ki Buyut sambil tertawa. Tetapi diluar dugaan. Cantrik itu melompat dari kudanya dan dengan serta merta meny erang para pengawal yang menutup pintu gerbang itu. Cantrik dari padepokan Bajra Seta itu adalah orang yang  terlatih dalam olah kanuragan. Dalam keadaan yang terjepit, maka ia tidakmempunyai banyak pertimbangan. Meski pun ia tidak ingin membunuh, namun canyrik itu telah menyerang di tempatyang  berbahaya. Keempat jari-jarinya yang  mengembang merapat, telah menusuk diarah ulu hati seorang diantara kedua pengawal itu. Terdengar teriakan kesakitan. Namun kemudian terdiam. Pengawal itu telah jatuh dan pingsan seketika. Sementara itu ketika kawannya akan membantunya, maka tumit cantrik itu telah menghantam dadanya, sehingga orang itu itu terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Orang itu telah menggeliat kesakitan sambil merintih. Dadanya serasa menjadi sesak. Para pengawal yang  lain, termasuk Ki Buy ut dan keempat orang yang berkuda bersamanya menjemput cantrik itu segera berlari memburu. Namun canrik itu telah sempat membuka pintu dan lari keluar. Ki Buy ut dengan sangat marah berteriak nyaring: “Cepat. Kejar cantrik yang  menjadi gila itu. Tangkap hidup-hidup. Kecuali jika kalian tidak mungkin menangkapnya hiduphidup, maka ia akan mati.” Beberapa orang memang mengejarnya. Namun cantrik itu telah meloncati dinding halaman di rumah seberang. Dan masuk ke kebunyang  ditanami berhagaimacam pepohonan. “Kepung padukuhan induk ini rapat-rapat,” teriak Ki Buyut. Sementara itu, kentongan pun telah berbunyi. Nadanya tiba -tiba saja menjadi titir, seakan-akan ada perampokan atau pembunuhan. Padukuhan induk Bumiagara menjadi ribut. Suara kentonganmembuat seisi padukuhan menjadi cemas. Beberapa orang laki-laki telah mencari senjata seadanya. Tetapi mereka ragu-ragu untukmelangkah keluar pintu meski pun harimasih terang. Tetapi ketika mereka mendengar nama-nama mereka dipanggil oleh tetangga-tetangga mereka, maka mereka pun segera keluar sambil berpesan kepada isteri dan anak-anak mereka yang  dengan segera masuk ke dalam rumah mereka setelah mendengar kentong dengan nada titir, agar ber hatihati. Set iap laki-laki padukuhan itu telah mendengar perintah dari Ki Buyut untuk mengepung padukuhan. Mereka pun segera berusaha melakukannya. Berkelompok -kelompok mereka berusaha untuk keluar dan mengawasi dinding padukuhan. Tetapi tiga orang diantara mereka segera berteriak memanggil kawan-kawan mereka. Mereka menemukan tiga orang tetangga mereka terbaring pingsan. “ Iblis terkutuk,” geram salah seorang bebahu yang hadir di halaman Ki Buyut saat cantrik itumelarikan diri. Dengan diketemukannya tiga orang yang  pingsan itu,maka para bebahu dan Ki Buyut pun mendapat laporan, bahwa cantrik yang mereka cari telah berhasil keluar dari padukuhan itu. Mereka justru telah membuat tiga orangmenjadi pingsan. “Orang itu sangat berbahaya,” geram Ki Buyut: “buny ikan isy arat terus agar padukuhan-padukuhan yang  lain juga membunyikannya. Kirim penghubung berkuda ke padukuhan terdekat dan kemudian beranting, memberitahukan tentang iblisyangmelarikan diri itu.” Demikianlah sejenak kemudian dua orang berkuda telah berpacu menuju ke padukuhan terdekat untukmenyampaikan perintah Ki Buyut kepada Ki Bekel. Tetapi kedua orang penghubung berkuda itu tidak pernah sampai ke padukuhan sebelah. Keduanya telah menjadi pingsan ditengah bulak. Sementara kuda mereka pun telah dilarikan oleh cantrik yangmerasa terjebak itu. Namun bunyi kentongan memang lebih cepat merambat. Tanpa mengetahui apa yang  telah terjadi, maka dipadukuhanpadukuhan yang lain pun telah terdengar suara kentongan. Padukuhan berikutnya dan berikutnya. Akhirnya cantrik itu justru telah meninggalkan kudanya. Ia merasa lebih aman untuk berlari-lari di atas pematang dan menyusuri jalan-jalan setapak di tengah-tengah pategalan. Apalagi . ketika matahari telah bertengger lekat di punggung bukit. Langit punmenjadimerah dan senja pun segera turun. Ki Buyut mengumpat-umpat. Apalagi ketika ia kemudian mendapat laporan, dua penghubungnya telah pingsan di tengah-tengah bulak. Ketika keduanya sadar,maka keduanya tidak dapat menceriteiakan apa yang  telah terjadi atas diri mereka. Mereka hanya merasa seakan-akan mereka terlempar dari punggung kudanya dan jatuh di tanah, sehingga mereka tidak sadarkan diri. “Cantrik itu menjadi gila,” geram Ki Buyut yangmasih saja memerintahkan isy arat kentongan untuk berbunyi terus. Dua orang yang  lain telah diperintahkan untuk menghubungi padukuhan sebelah. “Cantrik itu tentu sudah pergi,” berkata Ki Buyut: “pergilah. Cepat.” Penghubung itu dapatmencapai tujuan dan menyampaikan perintah Ki Buyut kepada Ki Bekel. Demikian padukuhan itu telah mengirimkan dua orang penghubungnya untuk menghubungi padukuhan berikutnya dan berikutnya. Berantingmaka perintah itu segera tersebar. Namun ketika hari menjadi gelap, maka keadaan menjadi semakin sulit bagi Ki Buyut untuk menangkap cantrik itu. Tetapi karena Ki Buyut y akin bahwa cantrik itu masih berada di Kabuyutan,maka ia telah memerintahkan semua jalan-jalan dijaga. Terutama jalan gang keluar Kabuyutan. Sementara itu perintah kepada para pengawal Kabuyutan untuk bersiaga sepenuhnya. Pengawal yang  telah ditentukan dengan cepat telah menuju ke padukuhan induk dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Tetapi cantrik itu ternyata tidak segera diketemukan. Sementara itu, para pemimpin padepokan Bajra sudah sejak siang hari menjadi heran bahwa seorang cantrik yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengolah besi dan baja telah hilang. Sejak ia menyatakan pergi ke pasar,maka ia tidak kembali lagi, sementara cantrik itu tidak ada diantara para pande besi yang sering dihubungi. Tetapi dua diantara pande besi yang  mendengar di sebutsebut nama Ki Buy ut. Katanya: “Cantrik itu tadi pagi memang ada disini. Ia terbiasa memberikan beberapa petunjuk dan menilai hasil kerja kami. Tetapi hari ini ia telah pergi ke kedai ber sama Ki Buyut. “Kedai yang  mana ?,” bertanya seorang cantrik yang  mencari kawannya yang belum kembali itu. “Kami hanya mendengar sekilas pembicaraan mereka,” jawab salah seorang pande besi: “agaknya kedai yang  terbesar dan terbaik.” Cantrik yang  mencari kawannya itu memang menelusuri sampai ke kedai yang  dimaksud. Dan para pelayan dan pemilik kedai itu cantrik itu mendapat keterangan bahwa telah disebut-sebut Kabuyutan Bumiagara. Keterangan yang didapat oleh cantrik itu pun telah disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ber sama beberapa orang yang dianggap berhubungan dengan cantrik yang  dicari itu mereka pun membicarakan langkahlangkahyang sebaiknya diambil. “Kita pergi ke Kabuyutan Bumiagara,” berkata Mahisa Murti. “Jaraknya cukup jauh,” berkata salah seorang cantrik yang  pernah berkunjung ke Kabuyutan itu. “Kita harus mendapat keterangan tentang cantrik yang  hilang itu,” berkata Mahisa Murti. Demikianlah, maka Mahisa Murti pun telah memerintahkan beberapa orang cantrik untuk ber siap. Mereka akan ikut serta ke Bumiagara. Mungkin sesuatu telah terjadi dengan cantrik itu. Mahisa Semu, bahkan Mahisa Amping dan Wantilan telah ikut ber sama dengan mereka. Sekelompok cantrik dan padepokan Bajra Seta telah menuju ke Kabuyutan Bumiagara. Mereka telah mempergunakan kuda yang tersedia di padepokan. Tidak lebih dan sepuluh ekor kuda. Namun dari padukuhan terdekat mereka dapat meminjam dua dan di padukuhanyang  satu lagi tiga ekor kuda yang  cukup baik. Lima belas orang telah berpacu menuju ke Kabuyutan Bumiagara. Diperjalanan Mahisa Murti sempat berkata kepada Mahisa Pukat: “Kita harus segera menambah jumlah, kuda yang  ada di padepokan. Dalam keadaan tertentu ternyata kita memerlukan kuda.” Ya,” jawab Mahisa Pukat, “kemajuan di beberapa bidang yang mampu menumbuhkan kesejahteraan bagi padepokan kita memungkinkan kita menambah jumlah kuda yang  ada di padepokan.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara itu,mereka berpacu semakin cepat. Namun Bumiagara memang cukup jauh. Mereka ternyata kemalaman di perjalanan. Namun mereka hanya brehenti sejanak untuk memberi kesempatan kuda-kuda mereka beristirahat dan minum air jernih di sebuah parit di pinggir jalan. Kemudianmereka telahmelanjutkan perjalanan. Ketika mereka mendekati Kabuyutan Bumiagara, maka Mahisa Murti telah memberi isy arat kepada para cantrik untuk berhenti. “Tugu didepan adalah pertanda batas Kabuyutan Bumiagara.” “Baiklah,” berkata Mahisa Murti: “ sepuluh orang akan tinggal disini termasuk Mahisa Semu yang akan mengawasi Mahisa Amping. Mahisa Pukat, paman Wantilan dan dua orang cantrik akan pergi bersamaku. “Kenapa kita t idak pergi ber sama -sama ?,” bertanya salah seorang cantrik. “Kita tidak inginmembuat Kabuyutan inimenjadi gelisah.” “Jika kita bersama-sama memasuki Kabuyutan ini, maka para penghuninya tentu akan menjadi resah, cemas dan bahkanmungkin ketakutan,” berkataMahisa Murti. “Tetapi bagaimana jika terjadi sesuatu ?,” bertanya cantrik itu. “Bukankah kita membawa panah sendaren ?,” desis Mahisa Murti. Para cantrik itu punmengangguk-angguk. Karena itu,maka mereka tidak bertanya lagi. Lima orang, termasuk Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Wantilan, dua orang cantrikyang  pernah datang ke Kabuyutan itu,melanjutkan perjalanan memasuki Kabuyutan Bumiagara. Namun mereka tidak lupa meny ediakan panah sendaren yang dapatmenjadi isy arat apabila diperlukan. Ketika mereka melewati tugu yang  didirikan dipinggir jalan, merka belum melihat kesiagaan orang-orang Bumiagara. Namun ketika mereka masuk lebih dalam lagi, maka mereka terkejut. Dalam kegelapan disamping empat ditengah-tengah bulak, mereka melihat beberapa orang berdiri bukan saja disebelah meny ebelah jalan, tetapi justru ditengah jalan. Karena itu,makamau tidakmau, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang  berkuda dipaling depan, memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk berhenti. “Siapakah kalian ?,” bertanya salah seorang yang berdiri di tengah-tengah jalan.


Jilid 098
”KAMI INGIN bertemu dengan Ki Buy ut Bumiagara, Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti. “Untuk apa ?,” bertanya orang itu pula. “Kami ingin membicarakan tentang satu hal yang  bagi kami, kami anggap penting,” jawab Mahisa Murti. “Tentang apa ?,” desak orang itu. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya: “Tentang jual beli yang ternyata sampai sekarang masih belum tuntas. Tetapi rasa-rasanya pembicaraan kami hampirmenemukan titik temu,” jawab Mahisa Murti. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang itu berkata: “ Jangan sekarang Ki Sanak. Sekarang sudah terlalu malam untuk berbicara tentang jual beli. Apalagi di kabuyutan ini sedang terjadi sesuatu yang tidakmenarik. “Apa yang terjadi ?,” bertanya orang itu. “Perampok. Seseorang telah merampok di Kabuyutan ini. Karena itu kami harusmenangkapnya. Semua jalan tertutup. Bahkan di tengah-tengah sawah itu pun terdapat orang-orang kami yang  mengawasi. Ra sa-rasanya setiap pematang tidak terlepa s dari pengawasan kami,” jawab orang itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti bertanya: “Hanya seorang ?” “Ya,” jawab orang itu hampir diluar sadarnya. “Hanya seorang berani merampok di Kabuyutan Bumiagara?,” bertanya Mahisa Murti pula. Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya: “Yang kami ketahui baru seorang. Mungkin lebih dari seorang. Karena itu,maka kamiminta Ki Sanak kembali saja. Besok kalian dapat datang lagi kemari untuk bertemu dengan Ki Buyut.” “Maaf Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti, “persoalannya sangat penting. Jual beli itu harus selesai malam ini. Besok pagi-pagi segalanya sudah terlambat.” Tetapi orang itu tetap saja menggelengkan kepalanya. Katanya: “Tidak. Aku sudah menentukan, bahwa kau tidak bolehmemasukiKabuyutan Bumiagaramalam ini.” “Jika demikian, aku akan menunggu disini. Tolong, panggilkan Ki Buyut. Jika kami tidak bertemu malam ini dengan Ki Buyut,maka Ki Buyut akan menjadi sangat kecewa. Mungkin ia akan menimpakan kesalahan kepada kalian,” berkata Mahisa Murti. Orang itu ternyata termangu-mangu. Ia benar-benar menjadi bimbang. Kata-kata anak muda itu rasa-rasanya sangat sangat mey akinkan. Seolah-olah ia akan benar-benar bertanggung jawab jika Ki Buy ut menjadi sangat kecewa karena kelambatan pembicaraan tentang jual beli. Namun orang itu ternyata tetap teguh pada pendiriannya. Katanya kepada anak-anakmuda itu: “Aku sudah mengatakan kepada kalian, bahwa malam ini tidak ada pembicaraan apapun. Kami sedang berusaha menangkap orang yang sangat berbahaya bagiKabuyutan kami.” Mahisa Murti, menjadi semakin ingin berbicara dengan Ki Buyut. Rasa2nya ada hubungannya antara hilangnya seorang cantrik padepokannya dengan per soalan yang  terjadi di Kabuyutan Bumiagara, justru karena seseorang mendengar bahwa cantrik yang hilang itu pergi ber sama -sama orang Bumiagara. Bahkan Ki Buyut Bumiagara sendiri. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata: “Sekali lagi aku minta, beri aku jalan untuk menemui Ki Buyut Bumiagara.” Orang itu justru menjadi marah. Katanya: “Kau akan memaksa ? Apakah kau tidak melihat, bahwa kami, seisi Kabuyutan ini sudah bersiap malam ini. Jika kau berkeras untuk menemui Ki Buy ut, maka kesiagaan ini akan dapat beralih sasaran. Kau akan dapatmenjadi, kambing hitam dari peristiwa yang terjadi di Bumiagara.” Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam.Namun tiba-tiba sa ja ia berkata: “Baiklah Ki Sanak. Jika kalian berkeras tidak memberikan kesempatan aku bertemu dengan Ki Buy ut,maka aku akan kembali. Tetapi sekali lagi, segala tanggung jawab ada pada kalian.” “Ya,” jawab orang itu tegas,meski pun sebenarnya ia masih sa ja ragu-ragu, “aku bertanggung jawab.” “Baik. Katakan, bahwa kami adalah orang-orang dari padepokan Bajra Seta,” desis Mahisa Murti. “He,” -tiba -tiba saja orang itu seperti terbangun dari tidur, “kalian orang-orang Bajra Seta?” “Ya. Kami mempunyai per soalan yang perlu kami selesaikan dengan Ki Buyut,” jawab Mahisa Murti. Orang itu justru menjadi bingung. Dengan gagap ia bertanya: “Apa sebenarnya keperluanmu datang kemari ?” “Kalau aku mengaku orang dari perguruan Bajra Seta, kau tentu sudah tahu, kenapa kami datang kemari,” jawab Mhisa Murti. Untuk sesaat orang itu masih bingung. Ia masih belum tahu apa yang sebaikny a dilakukan. Namun sementara itu telah terdengar derap tiga ekor kuda mendekati tempat mereka. Tiga ekor kuda dari arah pedukuhan. Dengan sigapnya ketiga orang penunggangnya meloncat turun ketika kuda mereka berhenti. Seorang diantaa mereka dengan serta merta memberikan perintah: “Hati-hati. Ada yangmemberikan laporan, bahwa orang yang  kita cari nampak menuju ke tempat ini, atau sekitar tempat ini. Jangan beri kesempatan kepadanya untuk lolos.” Sebenarnyalah cantrik yang diburu itu hampir menjadi putus a sa. Seakan-akan memang tidak ada jalan yang  dapat ditempuh untuk keluar dari Kabuyutan. Meski pun dalam malam hari, namun agaknya seluruh Kabuyutan telah dikepung temu gelang. Tidak ada lubang selembut lubang sarang tikus sekali pun yang dapat dipergunakan untuk meloloskan diri. Namun ternyata dari tempatnya bersembunyi, cantrik itu sempat mendengar pembicaraan antara orang -orang yang berjaga-jaga dengan beberapa orang berkuda. Semula tidak begitu jelas. Namun ketika ia memberanikan diri,menyusup di antara pohon jagung yang subur, maka ia dapat menangkap pembicaraan itu. “Mahisa Murti. Aku kenal suara itu,” katanya didalam hati. Harapannya pun mulai tumbuh. Apalagi ketika ia mendengar pengakuan orang-orang yang datang berkuda itu. Mereka adalah orang-orang Bajra Seta. Cantrik itu berusaha mendekat lagi. Namun dengan demikian batang jagung pun telah bergoyang . Orang-orang yang berdiri di pematang, sempat melihatnya meski pun mereka juga tertarik pada pembicaraan di jalan bulak itu. Karena itu, maka orang-orang yang ada di pematang itu pun segera bergeser sambil berteriak: “Orang itu ada disini.” Orang-orang yang  ada di jalan itu pun berpaling. Orang yang datang berkuda dari padukuhan itu pun berteriak: “Kepung orang itu.” Beberapa orang segera bergerak. Namun sebelum mereka sempat menemukan orang yang  mereka cari, tiba -tiba orang itu telah meloncat dan berlari mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. “ Ini aku,” berkata cantrik itu dengan nafas yang  terengahengah. Kemudian katanya pula: “Aku hampir mati kehabisan nafas. Aku telah dikejar-kejar oleh orang se Kabuyutan.” “Kenapa kau sampai disini?,” bertanyaMahisa Murti. “Aku telah dijebaknya,” jawab cantrik itu. Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Wantilan dan kedua orang cantrik itu pun segera, berloncatan turun dari kuda-kuda mereka. Dengan tenang mereka mengikat kuda -kuda mereka pada batang -batang perdu di pinggir jalan. Namun dalam pada itu, orang-orang Kabuyutan Butniagara lah yang  nampak gelisah. Orang yang datang berkuda, yang agaknya bebahu Kabuyutan itu berkata lantang: “Tangkap orang itu.” “Tunggu Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti: “Orang inilah yang akan aku bicarakan dengan Ki Buy ut. Aku kehilangan orangku yang menurut keterangan yang  aku terima, cantrik padepokan Bajra Seta itu telah dibawa oleh Ki Buyut Bumiagara.” “Cantrikmu bukan barangmati,” jawab bebahu itu, “jika ia sampai disini tentu ada sebabnya.” “Ya. Sebab itulah yang  akan aku tanyakan kepada Ki Buyut Bumiagara,” jawab Mahisa Murti. “Cantrik itu telah menerima upahnya untuk bekerja disini. Tetapi ia melarikan diri,” jawab bebahu itu. “Omong kosong,” teriak cantrik itu, “aku tidak pernah merasa menerima upah dan membuat perjanjian untuk tinggal dan bekerja bagi Kabuyutan Bumiagara. Aku telah dibujuknya untuk datang ke Kabuyutan ini sekedar untuk memperkenalkan diri.” “Tetapi kau terima uang pemberian Ki Buyut itu,” bentak bebahu itu. Tetapi cantrik itu pun membentak: “pemberian itu tidak didasari ikatan apapun. Menurut Ki Buy ut sekedar ungkapan kekagumannya kepadaku yang telah mampu memiliki ilmu yang tinggi di bidangku. Khususnya sebagai pande besi.” “Kau dapat memutar balikkan lidahmu. Tetapi kau sudah menerima uang itu,” geram bebahu itu. Sebelum cantrik itu menjawab, Mahisa Murti pun berkata: “Karena itu, biarlah aku bertemu dengan Ki Buyut untuk mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi.” Tetapi bebahu menggeram: “Meny erahlah. Kalian semua akan kami tangkap.” “Tidak Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti, “aku akan berbicara dengan Ki Buy ut dalam kedudukanyang  sama. Bukan sebagai tawanan. Karena itu, biarlah kami menunggu disini. Ajak Ki Buyut kemari.” “Setan kau,” geram bebahu itu, “apakah kau tidak melihat orang- orang kamiyang  siapmenangkap kalian?” “Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti: “aku tidak ingin terjadi benturan kekerasan diantara kita. Kita dapat berbicara dengan baik untuk mendapatkan pemecahan. Bukankah kita mempunyai kesempatan untuk merenungkan dan mengurai langkah-langkahyang  akan kita ambil?” “Tidak. Ini adalah daerah Kabuyutan Bumiagara. Kau harus tunduk kepada semua ketentuan yang berlaku di Bumiagara,” berkata bebahu itu. “Tetapi Bumiagara berada di daerah Singasari. Segala macam ketentuan dan paugeran tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dan paugeran yang  berlaku di Singasari. Termasuk Kabuyutan Bumiagara,” berkata Mahisa Murti. “Kamilahyang mengetahui apa yang  terjadi,” jawab bebahu itu, “hanya kamilah yang  dapat menjatuhkan keputusan atas sesuatu persoalan. Karena itu, maka meny erahlah. Kalian haruskami tangkap.” Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam.Namun sebelum ia menjawab, Mahisa Pukat telah menjawab: “Kami tidak ber sedia untuk meny erah. Kami hanya bersedia untuk berbicara dengan Ki Buyut. Bahkan jika perlu kami akan menangkap Ki Buyut dan membawatya ke Singasari, karena ia telah menyalahgunakan jabatanriya untuk melakukan sesuatu yang tidak sewajarnya dilakukan oleh seorang Buyut.” Bebahu itu menggeram. Katanya dengan marah: “Kami akan menangkap kalian. Tetapi jika kalian melawan dan kemudian terjadi bencana yang  paling pahit bagi kalian, jangan salahkan kami.” “Nah, kau harus mendengarkan kata-katamu sendiri,” berkata Mahisa Pukat, “kami bukannya orang yang mendahului melakukan kekerasan. Tetapi kami akan mempertahankan hak dan kebebasan kami.” “Persetan,” geram orang itu yang  kemudian memberikan isy arat kepada orang-orangnya. “Aku ulangi perintahku tadi. Tangkap orang-orang itu. Semuanya. Terutama cantrik yang telah mengacaukan Kabuyutan kita.” Orang-orang itu pun segera bergerak. Orang-orang yang  semula berada di pematangan telah brlari-larian mendekat pula. Sementara itu, Mahisa Murti yang tidak melihat kemungkinan lain telah memerintahkan pula kepada cantrik yangmeny ertainya, untukmelepa skan panah sendaren. Demikian orang-orang padukuhan itu mulai berkumpul, maka tiga anak panah sendaren telah meluncur ke udara. Suaranya berdesingmemecahkan sepinyamalam. “Apa yang kau lakukan ?,” bertanya bebahu Kabuyutan itu. “Aku memanggil para cantrik yang  menyertai perjalanan kami. Karena nampaknya kalian ingin mempergunakan kekerasan, kami harusbersiap-siap,” jawab Mahisa Murti. “Nah, bukankah terbukti, bahwa kalian juga bermaksud mempergunakan kekerasan. Terbukti kalian telah membawa pa sukan,” berkata bebahu itu. “Aku tidak ingkar. Tetapi kami sudah berusaha untuk berbuat lebih baik dari mempergunakan kekerasan itu. Kami telah meninggalkan orang -orang kami diluar perbatasan Kabuyutan Bumiagara. Sehingga kami tidak ingin memaksakan kehendak kami dengan kekerasan sejauh kami masih mungkin berbicara dengan baik. Tetapi karena cara yang lebih baik itu tidak dapat kami tempuh,maka kami telah memanggil para cantrik,” jawab Mahisa Murti. “Tetapi ingat, berapa pun kau membawa cantrik dari padepokanmu, namun jumlah kami, laki-laki di seluruh Kabuyutan, tentu jauh lebih banyak dari jumlah cantrikmu,” geram bebahu itu. “Aku percaya,” berkata Mahisa Murti, “tetapi kau pun harus menyadari, bahwa seorang cantrik dari perguruan Bajra Seta, akan dapat melawan sedikitnya sepuluh orang penghuni Kabuyutan Bumagara.” “Omong kosong,” geram bebahu itu. Namun pembicaraan mereka terhenti. Terdengar derap kaki kuda yang  gemuruhmenyusuri jalan itu. Mahisa Semu yang tinggal bersama para cantrik diluar Kabuyutan telah mendengar suara sendaren yangmeluncur di udara, justru melampaui tempat mereka menunggu. Dengan demikian, Mahisa Semu mengerti, bahwa anak panah sendaren itu tentu dilontarkan dari tempat yang  tidak begitu jauh. Mahisa Semu yang berkuda dipaling depan pun segera memberikan isy arat kepada iring-iringan itu untuk berhenti setelah ia melihat beberapa orang berkerumun di tengah dari bahkan di pinggir jalan, di atas tanggul parit dan di pematang. Demikian mereka berhenti, maka para penunggang kuda itu pun segera berloncatan turun. Bebahu itu sempat memperhitungkan para penunggang kuda itu. Sehingga kemudian ia pun berkata: “Tidak lebih dari sepuluh orang.” “Ya,” jawab Mahisa Murti, “tidak lebih dan sepuluh orang. Sementara itu kita berenam disini. Jadi semuanya tidak lebih dan enam bela s orang. Tetapi sudah aku katakan, bahwa setiap orang akan dapat melawan sepuluh orang laki-laki dan Kabuyutan Bumiagara.” “Persetan atas bualanmu. Sekarang meny erahlah. Atau kami akan menghancurkan,” geram bebahu itu. Mahisa Murti termangu-mangu. Jika terjadi pertemptiran, maka tentu akan jatuh korban. Namun ia tidak mempunyai jalan untuk mencegah pertempuran itu. Agaknya orang-orang Bumiagara benar- benar tidak mau melepaskan cantrik yang telah berhasilmereka jebak untuk ikut bersama mereka. Namun Mahisa Murti masih mencoba berusaha. Katanya: “Ki Sanak. Baiklah jika kalian memang berkeberatan untuk membawa aku kepada Ki Buy ut Bumiagara. Jika demikian, sampaikan saja salamku. Kami akan kembali ke padepokan Bajra Seta dengan membawa seorang diantara cantrik kami yang kami ketemukan berada disini.” “0, begitu mudahnya,” berkata bebahu itu: “kalian yang  ketakutanmelihat kesiaagaan kami begitu saja akan membawa perampok itu pergi.?” “Sebenarnya alasan kami bukan itu. Kami tidak ingin jatuh korban terlalu banyak disini. Apalagi di malam hari. Ayunan senjata tidak begitu terkendali, apakah ujungnya akan sekedar menyentuh kulit atau menghujam sampai ke jantung,” berkata Mahisa Murti. “Kau masih juga membual,” berbahu itu pun kemudian berteriak: “kalian menunggu apa lagi. Tangkapmereka semua. Yang melawan, terserah kepada kalian. Apakah akan kalian hidupi, atau terpaksa kalian akhiri kesombongannya,” kemudian terdengar lagi perintahnya lantang: “Cepat. Lakukan.” Orang-orang itu mulai bergerak lagi. Sementara itu, dua orang diantara mereka yang  datang berkuda dari padukuhan telah mendapat perintah untuk kembali ke padukuhan induk dan memberikan laporan tentang orang-orang Bajra Seta yang datang ke Bumiagara. Jumlahnya hanya sekitar limabelas orang. Ketika kedua ekor kuda itu berlari ke padukuhan induk, maka orang-orang Kabuyutan Bumiagara itu mulai menyerang. Sehingga dengan demikian, maka orang-orang dari padepokan Bajra Seta itu pun mulai mempertahankan diri. Namun orang-orang dari perguruan Bajra Seta itu telah mendapat pesan agar mereka berhati-hati dengan senjata mereka jika terpaksa terjadi kekerasan. Mereka tidak datang untuk membunuh para penghuni Kabuyutan Bumiagara apa punyang  terjadi. Tetapi lawan mereka memang terlalu banyak. Sudah tentu itu belum merupakan kekuatan seluruh Kabuyutan, karena orang-orang Kabuyutan itu tersebarmelingkar. Dalam pada itu, maka para cantrik dari perguruan Bajra Seta itu pun telah meny ebar. Memang hanya enambelas orang dengan cantrik yang  diketemukan di Kabuyutan itu. Namun yang enam belas orang itu benar-benar telah menggetarkan orang-orang Bumiagara. Bahkan seorang anak diantara para cantrik itu telah membuat orang-orang Bumiagara kebingungan. Dalam benturan yang  terjadi, maka sulit bagi orang-orang perguruan Bajra Seta untuk menghindarkan diri dari kemungkinan buruk yang  terjadi dengan ujung senjata mereka. Setidak-tidaknya mereka dengan cepat telah melukai beberapa orang penghuni Kabuyutan itu. Namun para cantrik memang masih mampu mengendalikan diri. Apalagi ketika ternyata orang-orang Kabuyutan itu menjadi agak bingung bertempur dalam gelap. Sementara para cantrik sudah mendapat latihan yang cukup, apa yang  perlu mereka lakukan dalam kegelapan.Mata mereka pun menjadi lebih tajam dari penglihatan orang2 Kabuyutan Bumiagara yang  tidak terlatih. Dengan demikian, maka setiap kali memang terdengar seseorang mengaduh kesakitan. Ternyata ujung senjata para cantrik memang telah menggapai kulit daging orang-orang pedukuhan di lingkungan Kabuyutan Bumiagara. Bebahu yang memimpin orang-orang Kabuyutan itu pun segera melihat, bahwa enambelas orang yang memencar itu telah membuat orang-orang Bumiagara kebingungan dan bahkan kemudian ketakutan. Orang-orang yang  jumlahnya cukup banyak itu berdesakan mengepung mereka, namun ketika para cantrik itu bergerak maju, maka orang-orang Kabuyutan itu telah berdesakanmundur ataumeny ibak. “Janganmenjadi pengecut,” teriak bebahu itu. Namun suaranya tenggelam dalam desau angin yang  bertiup semakin kencanag. Sementara di langit awan yang hitam menebar dari ujung cakrawala sampai ke ujung cakrawala. Sementara itu, orang-orang Kabuyutan yang mencoba mengepung ternyata tidak mampu untuk tetap berada dalam lingkaran. Ternyata lingkaran itu tidakmenjadi semakin kecil, justru sebaliknyamenjadi semakin luas. Para cantrik yang  berpegang pada pesan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang tidak menjadi terlalu garang. Mereka seakan-akan hanya menghentak disaat benturan terjadi. Kemudian mereka membiarkan orang -orang Bumiagara yang ketakutan itu mengepung mereka dari jarak yang semakin jauh. Namun sejenak kemudian, telah datang sekelompok pengawal Kabuyutan, bahkan dengan Ki Buyut sendiri sebagai pimpinannya. Demikian mereka mendekat,maka Ki Buy ut itu pun segera berteriak nyaring: “Anak-anak Kabuyutan Bumiagara. Tunjukkan bahwa kalian adalah putra2 terbaik dari Bumiagara. Orang-orang Bajra Seta itu telah datang sendiri kemari. Itu agaknya lebih baik daripada jika kita pergi ke padepokan mereka. Kita. harus menangkap mereka kali ini. Sebenarnya hanya seorang saja yang  telah mengganggu ketenangan Kabuyutan ini. Tetapi karena kawan-kawannya hadir juga sekarang ini, maka kita akan menangkap mereka semuanya.” Memang agak berbeda dengan orang-orang Kabuyutan kebanyakan. Para pengawalmemang lebih sigap dan tangkas. Beberapa orang pengawal yang memang sudah ada di tempat itu sebelumnya, yang  bukan termasuk pengawal pilihan yang harus berada di Kabuyutan, dengan cepat bergabung dengan kawan kawanmereka. Demikian para pengawal itu bergerak, diantara mereka yang telah datang lebih dahulu sempat memberikan peringatan kepada kawan kawan mereka, bahwa para cantrik dari padepokan Bajra Seta itu adalah orang-orang yang berbahaya. Namun para pengawal terpilih yang datang ber sama-sama Ki Buy ut adalah para pengawal yang  telah menjalani latihan sebelumnya, sehingga mereka tidakmerasa gentar sama sekali menghadapi para cantrik dari padepokan Bajra Seta. Karena itu, maka sejenak kemudian para cantrik itu pun harus ber siaga lagi. Para pengawal itu dengan cepat telah menempatkan diri dan meny erang para cantrik dari beberapa jurusan. Sementara itu dibelakang mereka orang2 Bumiagara telah mulai bergerak lagi danmengepung tempat itu dengan rapat. Enambelas orang berada dalam kepungan. Tetapi mereka tidak bertahan sambil berdesak-desakan. Tetapi mereka pun menebar di tempatyang cukup luas. Sebagian diantara mereka berada di kotak-kotak sawah diantara batang jagung yang menjadi rusak berserakan. Demikianlah sejenak kemudian telah terjadi benturan kekuatan. Para pengawal telah meny erang dengan garangnya. Selain mereka merasa pernah mendapat latihan yang  cukup, mereka pun menyadari bahwa jumlah mereka lebih banyak dari para cantrikyang  hanya enambelas orang itu. Namun ketika senjata mereka mulai beradu, maka mereka pun mulai terbangun. Mereka harus membentur keny ataan, bahwa para cantrik itu memang memiliki kelebihan. Bukan sa ja karena senjata mereka lebih baik, tetapi kemampuan mereka olah senjata juga jauh lebih baik, meski pun dibandingkan dengan para pengawal terpilih sekalipun. Yang kemudian menjadi sandaran mereka adalah jumlah yang jauh lebih banyak itu, sehinggamerekameny erang dalam gelombang yang datang beruntun susulmenyusul. Para cantrik yang  menahan serangan itu pun terpaksa mengerahkan kemampuan mereka. Gelombang-gelombang serangan yang datang susul menyusul,membuat para cantrik terhentak-hentak. Namun dengan demikian, maka keadaan itu telah memanaskan hati para cantrik yang masih mencoba menahan diri. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berdiri berjauhan. Mahisa Murti bersama beberapa orang cantrik menahan serangan dari utara, sedangkan Mahisa Pukat menghadap ke selatan. Wantilan ada di barat dan Mahisa Semu ada disisi sebelah timur. Mahisa Amping masih saja berputar -putar didalam lingkaran para cantrik yang menahan serangan dari para pengawal yang semakin lama terasa semakin berat. Apalagi Ki Buyut sendiri selalu saja memberika aba-aba yang dapatmembakar jantung para pengawal. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri merasakan tekanan serangan para pengawal itu, sehingga akhirnyamereka tidak akanmenyalahkan lagi jika para cantrik terpaksa berusaha untuk mengurangi tekanan itu dengan mengurangi jumlah lawan mereka. Dengan demikian, maka setiap kali seorang pengawal terpaksa diusung menjauhi medan. Satu demi satu mereka berjatuhan. Namun yang  lain telah mengisi tempatnya dan hanyut dalam gelombang serangan-serangan yang  semakin deras. Akhirnya ju stru Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi marah oleh seranganserangan itu. Apalagi ketika mereka menyadari bahwa satu dua orang cantrik mulai tersentuh senjata para pengawal sehingga terluka. Pada kesempatan terakhir Mahisa Murti masih berteriak: “Ki Buyut. Aku masih memberikan kesempatan para pengawal menarik diri. Tetapi jika peringatan ini tidak dihiraukan, maka kami akan benar-benar bertempur sebagaimana kami bertempur melawan orang- orang yang datang menyerang padepokan kami. Kami terpaksa tidak lagi mengekang diri sehingga korban akan semakin banyak berjatuhan.” “Gila kau,” Ki Buyut pun berteriak: “Meny erahlah. Jika tidak, maka sudah terbayang, bahwa kalian akan mati sampai orang yang  terakhir.” “Jadi Ki Buyut tidak mau mendengarkan peringatanku?,” bertanya Mahisa Murti. “Persetan dengan kau,” jawab Ki Buyut. Mahisa Murti tidak mempunyai pilihan lain. Maka ia pun kemudian berkata lantang: “Baiklah. Jika demikian, maka kami tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi kemudian.” Mahisa Murti memang tidak memberikan perintah kepada para cantrik untuk bertempur semakin garang. Namun apa yang dikatakannya itu sudah merupakan isy arat untuk melakukannya. Karena itu,maka sejenak kemudian,maka para cantrik itu pun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Sebelum tenaga mereka terkuras habis, maka mereka harus berusaha untuk mengurangi jumlah lawan mereka sebanyakbanyaknya. Jika mungkin tanpa membunuh mereka. Tetapi jika terjadi kecelakaan, apaboleh buat. Demikianlah, maka para cantrik itu benar-benar telah memutar pedangnya, mengibaskan serangan lawan dan kemudian menusukkan pedangnya. Yang lain menangkis serangan, memutar senjata lawannya sehingga terlepas, kemudian ayunan mendatar meny entuh dadanya dan mengoy akkan kulitnya. Namun jika serangan yang datang mendesak dan berbahaya,maka kadang-kadang sabetan pedang para cantrik itu diikuti oleh teriakan seorang pengawal dan kemudian terdiam untuk selamanya. Korban demi korban telah jatuh. Tubuh-tubuh para pengawal telah dibawa menjauhi medan. Beberapa sosok berjajar dibawah pohon- pohon yang tumbuh di pinggir jalan. Beberapa orang memang masih merintih kesakitan. Namun satu dua diantaramereka, sama sekali sudah tidak bernafas. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin marah, ketika seorang diantara para cantrik itu melangkah surut, masuk kedalam lingkaran pertahanan kawan-kawannya. Kemudian terhuyung -huyung dan jatuh berguling di tanah. Dadanya terluka cukup dalam, sehingga darah mengalir semakin deras. Mahisa Amping ternyata cukup tangkas. Ia mengerti apa yang harus dilakukannya. Meski pun ia belum belajar ber sungguh-sungguh, namun ia mengerti bahwa obat luka di kantung ikat pinggang cantrik itu harus dengan segera ditaburkannya. Cantrik itu berdesis menahan pedih. Namun kemudian lukanya terasa semakin sejuk. Darah pun telah menjadi pempat. Namun Mahisa Amping menahannya untuk tetap berdiam diri. “Nanti lukamu berdarah lagi. Hanya jika terpaksa saja kau boleh bangkit,” berkata anak itu. Ternyata cantrik itu menurut. Ia masih saja berbaring diam didalam lingkaran pertahanan para cantrik. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin garang. Dengan isy aratmaka Mahisa Murti telah minta agar Mahisa Pukat pun melepa skan ilmunya, sehingga keduanya akan menghisap tenaga lawan mereka. Dengan demikian, maka kekuatan lawan akan susut dengan cepat. Karena hanya dengan cara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mampu mengurangi jumlah korban para cantrik tanpa harusmembunuh sebanyak-banyaknya. Pertempuran di tengah-tengah bulak itu pun berlangsung semakin sengit. Seorang lagi cantrik padepokan Bajra Seta terdorong jatuh kedalam lingkaran pertahanan para cantrik itu. Meski pun ia segera bangkit lagi, tetapi darah telah mengalir dari luka dipundaknya. Dengan sigap Mahisa Amping telah menahan cantrik itu. Ia pun kemudian telah menaburkan obat pada luka dipundak itu. Seperti cantrik yang lebih dahulu terluka,maka luka dipundak itu rasa - rasanya bagaikan disengat api. Namun kemudian menjadi sejuk dan dingin. Darah pun telah menjadi pempat dan tidak mengalir lagi. Tetapi kepada cantrik itu Mahisa Amping pun berkata: “Jangan terlalu banyak bergerak. Nanti lukamu berdarah lagi.” “Tetapi jumlah mereka terlalu banyak,” berkata cantrik itu. “Beristirahatlah sebentar. Nanti jika terpaksa kau dapat membantu. Tetapi tenagamu masih akan tersisa. Jika kau sejak sekarang bertempur lagi dan darahmu mengalir terus, maka kau akan benar-benar kehabisan darah.,” berkata Mahisa Amping. Cantrik yang terluka itu ternyata menurut petunjuk anak itu. Untuk sementara cantrik itu menunggu sambilmengamati apa yang  terjadi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin cemas. Tetapi keduanya telah mengetrapkan ilmu mereka yang mampumenghisap kekuatan dan tenaga lawan. Dengan demikian, maka diluar pengetahuan para pengawal, mereka telah dengan cepat kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka. Beberapa orang dengan heran merasa seakan-akan mereka telah dengan cepat kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka. Beberapa orang dengan heran merasa seakan-akan mereka telah bertempur sehari semalam tanpa berhenti. Tangan dan kaki mereka menjadi berat dan sulit diay unkan untukmeny erang para cantrik. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru berloncatan sambil memutar pedang mereka. Pedang yang berkilat -kilat memancarkan cahaya kehijau-hijauan. Namun betapa pun kemarahan mencengkam jantung, tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berniatmembantai lawan-lawan mereka. Pedangnya yang  berputaran hanyalah untuk sekedar menyentuh senjata lawan-lawan mereka. Menangkis serangan dan menghisap kekuatan dan kemampuan mereka. Tetapi yang  terjadi kemudian telah mengejutkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Para cantrik yang melihat kawankawan mereka terluka, ternyata menjadi sangat marah. Mereka benar-benar telah kehilangan kendali, sehingga senjata mereka menjadi garang. Para cantrik yang  kehilangan lapisan-lapisan kekuatan dan kemampuannya, tidak mampu melawan ketika ujung-ujung pedang telah terjulur kepada mereka. Karena itu, maka hampir diluar sadarnya, Mahisa Murti berteriak lantang: “Jangan kehilangan akal. Jaga ujung senjata kalian. Jangan menjadi seorang pembunuh yang tidak berjantung.” Suara Mahisa Murti itu memang memberikan sedikit peringatan kepada para cantrik itu. Mahisa Semu pun berusaha untukmengekang diri. Demikian pulaWantilan. Sementara itu, para pengawal memang mulai melihat keny ataan. Kawan-kawan mereka semakin banyak yang terluka. Bahkan yang terbunuh di pertempuran itu. Para cantrik ternyata memiliki kemampuan jauh di atas kemampuan para pengawal. Apalagi mereka yang  senjatanya telah beberapa kali menyentuh senjata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ki Buyut melihat kesulitan yang dialami oleh para pengawal. Jumlah mereka masih jauh lebih banyak. Tetapi mereka seakan-akan tidak mampu mendesak lingkaran pertahanan para cantrik meski pun ada pula beberapa orang cantrik yang terluka. Namun kematian demi kematian telah mewarnai arena itu. Para pengawal ternyata bukan saja kehilangan kekuatan dan kemampuan mereka, tetapi banyak pula yang  kemudian kehilangan nyawamereka. Teriakan Mahisa Murti memang terdengar aneh di telinga Ki Buyut Bumiagara. Mahisa Murti itu agaknya berusaha mengendalikan pembunuhanyang terjadi. Untuk beberapa saat lamanya, pertempuran masih berlangsung. Para cantrik memangmulai menahan diri ketika mereka melihat korban semakin banyak diantara para pengawal. Bahkan ada diantara para korban itu yang  masih belum sempat diangkat dan disingkirkan keluar medan pertempuran. Tetapi Ki Buy ut itu justru curiga, bahwa perintah itu justru perintah sandi sehingga yang  terjadi adalah sebaliknya. Pemimpin dari para cantrik itu mungkin saja ju stru memerintahkan untukmembunuh para pengawal. Namun yang  terjadi memang sebagaimana dikatakan oleh Mahisa Murti. Para cantrikmemang berusahamengekang diri sehinggamereka tidak lagimenjadi sangat garang. Ki Buy ut memang menjadi ragu-ragu mengalami perubahan sikap itu. Bahkan Ki Buyut memang mengira bahwa kemampuan para cantrik sudah menjadi susut. Perintah dari pimpinan para cantrik itu semata-mata satu usaha untuk mengelabui agar para pengawal tidak mengetahui, bahwa sebenarnyalah kekuatan para cantrik menjadi semakin susut. Karena itu, maka Ki Buyut justru telah memberikan perintah sebaliknya dari Mahisa Murti. Katanya: “Kalian, para pengawal Bumiagara yang terpilih, harus mampu menyelesaikan persoalan kecil yang  kita hadapi sekarang ini. Tangkap para cantrik, atau jika mereka melawan, terserah kepada kalian. Tidak seorang pun berkeberatan jika mereka terbunuh di pertempuran ini.” Mahisa Murti yang baru saja mengekang para cantriknya terkejut mendengar perintah itu. Apalagi ketika Ki Buyut berteriak lagi: “Ternyata para cantrik telah kehabisan tenaga. Sama sekali bukan karena kebaikan hatimereka agar mereka tidak membunuh para pengawal, tetapi bahwa mereka sudah tidakmampu lagimelakukannya.” Mendengar perintah itu, maka tiba -tiba saja Mahisa Pukat berteriak: “Apakah kami harus membuktikan, bahwa kami masih mampumembunuh kalian semuanya ?” Teriakan Mahisa Pukat memang terasa menghentak jantung Ki Buyut. Tetapi ia sama sekali t idak y akin akan katakata Mahisa Pukat. Meski pun demikian Ki Buyut tidak menanggapinya. Dengan demikian, maka para pengawal ju stru telah bergerak semakin garang. Mereka bahkan telah meny erang para cantrik sambil berteriak-teriak. Namun yang  terjadi itu justru memaksa para cantrik untuk mempertahankan diri dengan mengurangi jumlah lawan. Sementara mereka yang senjatanya pernah bersentuhan dengan senjata Maliisa Murti dan Mahisa Pukat tenaganya segeramenjadi susut. Karena itu, maka korban pun berjatuhan. Benar-benar semakin lama semakin banyak. Para cantrik yang ada disebelah meny ebelah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakanakan tidak dapat dikendalikan lagi. Beberapa kali Mahisa Murti terutama, telah memperingatkan cantrik-cantrik yang ada di sebelah meny ebelah, agar mereka tidakmenyerang dan membunuh lawan-lawanmereka yang tidak berdaya. Tetapi hal itu memang sulit dilakukan. Apalagi ketika para pengawal itumeny erang dalam jumlahyang  terlalu banyak. Korban yang berjatuhan itu memang membuat para pengawalmenjadi ngeri. Karena itu,maka semakin lama gerak para pengawal itu pun menjadi semakin surut. Para cantrik yang sebenarnya mulai berusaha mengurangi korban dipihak lawan, hatimereka telah terbakar lagi oleh perintah Ki Buyut. Bagaimana pun juga, Ki Buy ut tidak dapat mengingkari keny ataan. Para pengawalnya serta orang-orang Kabuyutan itu, sudah terlalu banyak yang menjadi korban dan terluka parah. Ternyata bahwa ia benar-benar salah hitung. Perintah pimpinan para cantrik itu benar-benar berusaha untuk mengekang agar mereka tidak terlalu banyak menimbulkan kematian. Tetapi segalanya sudah terlanjur terjadi. Namun karena itu, maka Ki Buyut tidak lagi memberikan perintah kepada para pengawalnya untuk meny erang ketika para pengawal itu menjadi ragu -ragu dan bahkan kemudian semakin mengendorkan serangannya. Bahkan kemudian, serangan-serangan itu terhenti sama sekali. Ketika para cantrik mulai bergerak maju, Mahisa Murti telah berteriak: “Cukup. Kita t idak sedang meny erang Kabuyutan Bumiagara. Kita sekedar mempertahankan hidup kita justru karena mereka menyerang kita. Persoalan yang sebenarnya adalah, kita mencari seorang diantara kita yang ternyata memang berada disini. Apa pun yang dilakukannya, kita berhak untuk mengambilnya. Pada kesempatan lain, aku dan Ki Buyut dapat berbicara tentang cantrik itu. Jika ia benar-benar bersalah dan merampok di Kabuyutan ini, maka kita tidak akan segan-segan bertindak.” Ternyata orang-orang Bumiagara tidak ada yangmenjawab. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata: “Kita kembali ke padepokan.” Dengan hati-hati orang orang dari padepokan Bajra Seta itu mengambil kuda-kuda mereka. Ternyata hampir semua cantrik telah terluka, meski pun hanya segores. Namun semuanya, kecuali Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Amping, telahmenitikkan darah dari luka-lukamereka. Sejenak kemudian, para cantrik itu telah berada dipunggung kuda mereka. Namun sebelum mereka pergi, Ki Buyut masih sempat berteriak dengan penuh dendam: “ Ingat orang-orang Bumiagara. Kau telah berhutang ny awa disini. Lain kali kami akan datang dan menebus kekalahan kami. Kalian harus membayar hutang kalian sekaligus dengan bunganya. Bajra Seta seterusnya hanya akan tinggal sebuah nama. Padepokan dan perguruan kalian akan hancur. Para cantrik dan pimpinannya akan tumpas habis sampai orang yang terakhir.” Yang menjawab adalah Mahisa Pukat: “Kami tahu bahwa itu sekedar ancaman untuk membuat kami selalu cemas. Datanglah kepada kami dengan jumlah orang berlipat sepuluh. Kami berjanji bahwa kamilah yang akan menumpas habis orang-orang Bumiagara tanpa tersisa.” Ki Buyut menggertakkan giginya. Namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak dapat memerintahkan orangorangnya untuk meny erang jika Ki Buy ut tidak ingin menambah korban. Demikianlah, para cantrik itu pun segera meninggalkan Kabuyutan Bumiagara. Kuda Mahisa Amping kemudian berisi dua orang dipunggungnya. Cantrik yang mereka cari terpaksa ikut serta dipunggung kuda Mahisa Amping, karena ia tidak mempunyai kuda. Kuda -kuda itu pun kemudian berderap di kegelapan malam. Namun ketika mereka sudah meny eberangi beberapa bulak, mereka pun telah berhenti. Mahisa Murti telah memerintahkan semua yang  terluka dan berdarah, harus diobati agar darah yang mengalir dari luka-luka itu tidak membuatmereka kehilangan terlalu banyak tenaga. Para cantrik itu pun kemudian telah salingmengobati lukaluka mereka. Sementara itu Mahisa Murti berkata: “Aku tidak mengira bahwa hari ini para cantri Bajra Seta harus membunuh begitu banyak pengawal.” Para cantrik itu pun menundukkan kepalanya. Yang dikatakan oleh Mahisa Murti itu memang benar. Mereka telah membunuh sejumlah pengawal dan melukaiyang  lainnya. Namun Mahisa Pukat pun menyahut: “Kesalahan itu tidak dapat seluruhnya dibebankan kepada kita.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya: “Ya. Mereka tidak mau mendengarkan pendapat kita. Namun apa pun sebabnya, kita sudah membantai para pengawal.” “Bukankahmereka yang memaksa kita melakukannya? Jika kita tidak berbuat demikian, maka kita semua telah terbaring diam di Kabuyutan Bumiagara. Bahkan -mungkin tubuh kita sudah tidak berujud lagi.,” sahut Mahisa Pukat. Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Namun tiba -tiba saja cantrik yang menjadi sumber per soalan itu telah memeluk kakinya sambilmenangis: “Akulah yang bersalah. Akulah yang pantasdihukum. Bahkan hukuman mati sekalipun.” “Sudahlah,” berkata Mahisa Murti, “setelah kita berada di padepokan, kita akan mendengarkan ceriteramu, kenapa kau berada di Kabuyutan Bumiagara.” Cantrik itu mencoba menahan desakan peny esalan yang  telah mendorong airmatanyamenitik dari pelupuknya. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata: “Apakah kau sudah bukan seorang laki-laki lagi sehingga kau harus menangis?” Cantrik itu tidak menjawab. Namun ia memang mencoba menahan tangisnya sehingga dadanya terasa sesak. Sejenak kemudian,maka Mahisa Murti pun berkata: “Kita sudah cukup beristirahat serta mengobati luka-luka. Kudakuda kita pun masih cukup segar untuk melanjutkan perjalanan.” “Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun telah meneruskan perjalanan menuju ke padepokan Bajra Seta didalam keremangan gelapnyamalam. Ketika mereka kemudian telah berada di padekokan, Mahisa Murti tidak segera mengusut per soalan cantrik itu. Ia memberikan kesempatan para cantrik untuk beristirahat. Ketika Mahisa Murti melihat Mahisa Amping, maka ia pun bertanya: “Apakah kau letih?” “Tidak,” jawab Mahisa Amping. “Kau sudah sempat tidur?,” bertanya Mahisa Murti pula. “Sudah. Aku sudah tidur ny enyak sekali,” jawab anak itu. “ Itulah sebabnya maka kau tidak lagi merasa letih sekarang,” berkataMahisa Murti pula. Mahisa Amping mengangguk sambil tersenyum. Katanya: “Ya. Aku sempat tidur ny enyak, sehingga perasaan letih itu telah hilang.” “Jadi sebelum tidur, kau juga merasa letih?,” bertanya Mahisa Murti. “Tentu,” jawab anak itu sambilmengerutkan dahinya. Mahisa Murti tersenyum. Sambilmenepuk bahu anak itu ia bertanya: “Jadi sekarang kau sudah siapmemasuki sanggar?” “Ya,” jawab "anak itu. “Bagaimana dengan kakang Mahisa Semu?,” bertanya Mahisa Murti kemudian. “Kakang Mahisa Semu sedang meny embuhkan lukalukanya. Meski pun lukanya hanya dua gores kecil, tetapi luka kecil itu terasa menganggunya,” jawab Mahisa Amping. “Baiklah. Biarlah ia beristirahat dengan baik sebagaimana pamanWantilan,” desisMahisa Murti. “Luka paman Wantilan agak lebih banyak. Bahkan luka dipundaknya agak dalam. Ketika tadi diber sihkan, dari luka itu masih mengalir darah,” jawab Mahisa Amping, “Tetapi bukankah kemudian telah diobati lagi?,” bertanya Mahisa Murti pula. “Ya. Bukan saja sekedar obat tabur. Tetapi pamanWantilan telah minum obat pula,” jawab anak itu. “ Ia akan segera menjadi baik. Demikian pula para cantrik yang lain,” gumam Mahisa Murti kemudian. “Apakah kita jadi masuk ke sanggar?,” bertanya Mahisa Am-ping kemudian. “0,” Mahisa Murti tersenyum: “besok sajalah. Ma sih ada persoalanyang harusaku tangani.” Mahisa Amping memang nampak menjadi kecewa. Tetapi ia tidak dapat memaksa. Karena itu,maka katanya: “Jika kita tidak pergi ke sanggar, biarlah aku pergi ke pintu gerbang.” Pergilah. Tetapi hari ini kau jangan pergi ke mana-mana,” pesan Mahisa Murti. Mahisa Amping pun kemudian meninggalkannya- untuk pergi, ke pintu gerbang yang  dijaga dengan ketat. Bahkan beberapa orang cantrik berada di panggunganyang  ada di atas pintu gerbang dan di sudut-sudut dinding padepokan untuk mengamati keadaan Kepada cantrik yang  berjaga-jaga di pintu gerbang Mahisa Amping berkata: “Aku tidak percaya bahwa mereka benarbenar akan datang.” “Kau jangan kehilangan kewaspadaan,” desis seorang cantrik. “Aku melihat sendiri, bagaimana mereka mengalami kesulitan melawan hanya limabelas orang diantara kita,” desis Mahisa Amping. “Enam belas,” sahut cantrik itu. “Tidak.Hanya liniabelas,” Mahisa Amping bertahan. “Kau tidak menghitung seorang diantara kita yang  sudah berada di Kabuyutan Bumiagara?,” bertanya cantrik itu. Mahisa Amping mengerutkan keningnya. Namun ia pun kemudianmenjawab: “Aku sudahmemperhitungkannya.” “Bagaimana mungkin limabelas?,” bertanya cantrik itu. “Ya.,” jawab Mahisa Amping: “aku sendiri tidak ikut berbuat apa- apa selain membantu mengobati mereka yang terluka.” Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sambil tersenyum ia mengangguk-angguk: “Ya. Sudah tentu jika kau sendiri tidak terhitung.” Mahisa Amping pun tersenyum. Katanya: “Nah, Bukan-kah aku sendiri tidak terhitung.” “Ya. Ya. Ternyata kau juga mampu menghitung.,” sahut cantrik itu. Namun demikian, para cantrik di padepokan Bajra Seta sama sekali tidak menjadi lengah. Segala sesuatu akan dapat terjadi. Sementara itu di Kabuyutan Bumiagara, suasananya menjadi bagaikan berkabut tebal. Air mata membasahi bumi Kabuyutan sebagaimana darah yang  telah memerah di gumpalan tanah. Ki Buyut menjadi sangat gelisah karena beberapa orang bebahu justru telah menyalahkannya. Ki Buyut ternyata telah bertindak menurut kemauannya sendiri. Betapa ia berniat untuk berbuat sesuatu bagi Kabuyutannya, namun akibatnya adalah kematian. Sekitar duabelas orang terbunuh. Yang luka masih lebih banyak lagi. Beberapa orang tiba -tiba saja seakanakan telah menjadi lumpuh. Ketika Ki Buy ut menerima beberapa orang bebahu di rumahnya,maka para bebahu itu dengan tidak langsung telah menuduh Ki Buyutlahyang meny ebabkan semua itu terjadi. “Kita memang bukan lawan dari sebuah padepokan,” berkata salah seorang bebahu, “di padepokan, para cantrik setiap hari berlatih dalam olah kanuragan. Sementara itu, apa yang dilakukan oleh para pengawal? Seandainyamereka cukup sering berlatih, siapakah yang  telah melatih mereka? kami? Para bebahu yang  juga miskin kemampuan dan ilmu kanuragan? Ki Buyut sendiri? Kami tahu, Ki Buyut pernah berguru kepada seorang yang berilmu. Tetapi Ki Buyut sendiri. Sementara orang-orang perguruan itu semuanya memiliki kemampuan. Akibatnya, anak-anak terbaik dari Kabuyutan Bumiagara telah terbunuh. Lainnya terluka parah.” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia memandang wajah-wajah para bebahu, mereka agaknya sependapat bahwa Ki Buyut lah yang telah melakukan kesalahan. Hanya dua orang bebahu yang  ikut merasa ber salah, karena mereka telah meny etujui dan ikut serta merencanakan penculikan cantrik yang dianggap memiliki kemampuanyang tinggi di dalam tugasnya, pande besi. Untuk menebus kesalahannya,Ki Buyut itu pun berkata: “Jangan cemas. Aku akan pergi ke padepokan Bajra Seta. Padepokan itu akan aku hancurkan.” “Siapa yang akan menghancurkan padepokan itu?,” bertanya salah seorang bebahu, “seluruh laki-laki dari kanakkanak sampai kakek- kakek dikerahkan, kita tidak akan mampu mengalahkan padepokan dan perguruan Bajra Seta. Bahkan kita hanya akan meny erahkan leher dan kepala kita. Untunglah bahwa para pemimpin padepokan itu memiliki kesabaran yang  sangat tinggi, sehingga dalam keadaan yang paling gawat sekali pun para pemimpinnya masih memperingatkan, agar para cantrik tidak membunuh membabi buta.” Namun bebahu yang lain segera menyahut: “Tetapi jika kita masih juga memburu mereka sampai ke padepokan mereka, maka keadaannya tentu akan berbeda. Mungkin para cantrik tidak lagi mampu menahan diri, sehingga pimpinan, mereka akan sulit untukmengendalikan mereka. Nah, jika demikian, maka akan terjadi apa yang  dikatakan oleh salah seorang pemimpin mereka yang agaknya telah kehilangan kesabaran, bahwa kitalahyang  akan ditumpas sampai habis.” Ki Buy ut menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya: “ Jadi apa yang kalian kehendaki? “Kita harus mawas diri,” berkata salah seorang bebahu, “kita harusmengakui segala kesalahan yang telah kita perbuat, sehingga kita tidak akan berbuat kesalahanyang  sama dimasa mendatang.” Bahkan bebahu yang lain berkata lebih jelas: “Tentu maksudnya Ki Buyut lah yang harus minta maaf terutama kepada mereka yang  anaknya atau adikny a atau keluarganya yang lain telah gugur. Sebenarnyalah mereka tidak sedang membela Kabuyutan ini, tetapi mereka gugur semata-mata untuk mendukung keinginan Ki Buyut agar disebut seorang yang telah berhasilmenjunjung tinggi derajad Kabuyutan ini.” Tetapi Ki Buyut itu berkata: “Tetapi. Kalian tahu, bahwa akumelakukannya bagiKabuyutan ini. Tidak bagiku sendiri.” “Apa pun tujuannya, tetapi jalan yang  ditempuh adalah jalanyang  salah,” jawab seorang bebahu yang lain. Ki Buyut tidak dapatmenjawab lagi. Jika ia masih membela diri, maka suasana akan menjadi panas, sehingga mungkin akan timbul persoalanyang tidak diinginkan di Kabuyutan itu. Karena itu, maka Ki Buyut itu pun kemudian berkata: “Baiklah. Aku akan meninjau kembali, apakah yang  telah aku lakukan sehingga menimbulkan korban yang tidak sedikit. Aku akan minta maafkepada keluarga para korban. Terutama yang telah gugur.” Para bebahu itu pun menjadi reda. Agaknya Ki Buyut tidak berkeras untuk mempertahankan tindakannya yang menimbulkanmalapetaka itu. Apalagi ketika kemudian ternyata bahwa dihari berikutnya Ki Buyut telah benar-benar datang berkunjung ke rumah keluarga yang  kehilangan anak, adik, atau suaminya atau keluarga yang  lain yang  gugur dalam pertempuran melawan para cantrik dari padepokan Bajra Seta. Bahkan Ki Buyut pun telah berkunjung kepada keluarga mereka yang  terluka berat. Kepada yang  gugur dan terluka berat Ki Buyut telah minta maaf, bahwa karena langkah-langkah yang diambilnya, maka terpaksa beberapa orang putera terbaik dari Kabuyutan Bumiagara harusdikorbankan. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah Ki Buyut tidakmau menerima kenyataan itu begitu saja. Ia memang tidak ingin menambah korban bagi orang-orang Kabuyutannya. Tetapi ia tidak dapat melupakan dendamnya kepada padepokan dan perguruan Bajra Seta. Hampir saja ia justru disingkirkan oleh para bebahu yang  menganggapnya ber salah. Bahkan ia terpaksa datang ke rumah orang- orang yang kehilangan sanak kadangnya untuk mintamaaf. “Aku telah direndahkan,” berkata Ki Buyut. Namun dalam pada itu, Ki Buy ut telah mencari jalan lain untukmenebuskekalahannya. “Jika saja aku pada suatu hari menggiring para pemimpin padepokan Bajra Seta itu kemari tanpa menitikkan setetes darah pun dari antara orang-orang Kabuyutan, ini, maka harga diriku tentu akan segera pulih kembali. Orang-orang Kabuyutan ini akan membuka matanya dan mereka akan tahu siapakah sebenarnya aku ini. Ki Buyut dari Bumiagara,” berkata Ki Buyut didalam hatinya. Karena itu, maka diluar pengetahuan orang-orang Bumiagara, maka Ki Buyut telah berhubungan dengan gurunya. Ia pun telah menceritakan apa yang terjadi di Bumiagara. Gurunyamenarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah gurunya berkata: “Tidak ada padepokan satu pun disekitar tempat ini yang  akan mampu mengalahkan padepokan Bajra Seta. Sementara itu padepokan Bajra Seta pun tidak pernah berbuat sesuatu yang dapat merugikan padepokan yang lain. Para pemimpinnya justru memberi kesempatan kepada anakanakmuda di padukuhan sebelahmeny ebelah untukmenimba ilmu dari padepokan itu tanpa harus menjadi cantrik. Tentu ada sesuatu yang hanya dapat diketahui oleh para murid perguruan Bajra Seta. Tetapi ternyata anak-anak muda dari padukuhan di sebelah-meny ebelah telah mendapat banyak sekali keuntungan dengan kehadiran padepokan itu, sehingga dalam keadaan yang gawat, anak-anak muda di padukuhanpadukuhan itu bersedia untuk berbuat apa saja, bahkan mengorbankan dirinya sebagaimana para cantrik itu sendiri.” Tetapi Ki Buyut itu pun kemudian berkata: “Tetapi bagaimana guru. Aku sebagai seorang Buyut yang  dipercaya, dituakan dan dianggap orang terbaik di Bumiagara harus mengalami peristiwa seperti ini. Meski pun aku, masih dapat bertahan untuk tetap diakui sebagai seorang Buy ut di Bumiagara, tetapi wibawaku sudah jauh susut. Tetapi jika aku dapatmembawa para pemimpin padepokan Bajra Seta sebagai tawanan ke Kabuyutan, maka wibawaku tentu akan pulih kembali. Juga aku sebagai salah seorang murid dari sebuah perguruan. Orang -orang Bumiagara tentu akan menghormati perguruanku lebih dariyang  sudah-sudah.” Namun gurunya tetap menggelengkan kepalanya. Katanya: “Tidak akan ada gunanya. Tidak akan terjadi, bahwa kau akan dapatmembawa para pemimpin padepokan Bajra Seta sebagai tawanan.” “Tetapi tanpa berbuat demikian, kuasaku tidak banyak berarti lagi di Bumiagara,” berkata Ki Buy ut. “Tidak. Jika kau kemudian bekerja keras untuk meningkatkan kehidupan di Bumiagara, maka namamu akan pulih kembalimeski pun perlahan-lahan,” berkata gurunya. “Aku mohon guru. Aku mohon guru membantuku,” berkata Ki Buyut. “Jadi apa yang kau maksud sebenarnya ? Apakah kau akan mengerahkan orang-orang Bumiagara meny erang padepokan Bajra Seta, kemudian aku mengerahkan seisi padepokanku membantumu ? Ingat, kau sudah dianggap membunuh beberapa orang anakmuda terbaik di Ka-buyutanmu. Jika hal itu kau lakukan,maka kau akan membunuh lebih banyak lagi. Bahkan dengan cantrik-cantrik dari padepokanku pula,” jawab gurunya. “Kekuatan Padepokan Bajra Seta tidak sebesar yang guru duga,” desis Ki Buy ut Bumiagara. “Aku lebih tahu dari kau,” jawab gurunya, “ selebihnya, aku tentu tidak akan membantumu karena kau melakukan langkah-langkah yang  keliru. Jika aku membantumu, berarti aku telahmenjerumuskan kau kedalam perbuatanyang  salah.” Ki Buy ut termangu -mangu sejenak. Ia memang mengenal watak gurunya. Jika ia berkata tidak, apa pun yang dikatakannya,maka gurunya tentu akan tetap berkata tidak. Karena itu, maka, Ki Buy ut itu pun tidak merengek lagi kepada gurunya. Namun ia tidak berhenti sampai disitu, Dendamnya kepada padepokan dan perguruan Bajra Seta ternyata sampai ke ubun-ubun. “Apa pun yang harus aku lakukan, maka aku akan tetap berusaha untuk menghancurkan padepokan Bajra Seta. Membawa para pemimpinnya dengan tangan terikat dan memperlakukan mereka tidak lebih dari seekor keledai disini, dihadapan orang-orang Bumiagara, terutama yang pernah kehilangan sanak kadangnya,” geram Ki Buy ut didalam hatinya. Ki Buyut Bumiagara tidak lagimemikirkan gurunya. Ketika kemudian Ki Buyut menyusun rencananya dengan dua orang saudara seperguruannya, maka Ki Buyut pun tidak menyampaikannya kepada gurunya pula. Dua orang saudara seperguruannya ternyata ikut merasa tersinggung karena peristiwa yang  terjadi di Bumiagara. Karena kebetulan keduanya merasa seperguruan serta merupakan saudara seperguruan yang  terdekat dengan Ki Buyut,maka keduanyamenyatakan ikut serta. “Apa yang  dapat kita lakukan hanya bertiga ?,” berkata Ki Buyut kemudian. “Dua orang saudara seperguran kita yang lain, tidak ber sedia membantu kita, karena keduanya sudah mendengar dari guru bahwa guru pun menolak untuk terlibat dalam persoalan ini. -berkata salah seorang saudara seperguruannya.” “Aku menjadi sangat kecewa terhadap sikap guru,” berkata Ki Buyut Bumiagara. “Apa boleh buat,” jawab saudara seperguruannya. Namun seorang diantara kedua orang saudara seperguruan Ki Buyut itu pun berkata: “Aku pernah berhubungan dengan orang-orang Kediri yang tidak puas terhadap keadaan Kediri sekarang. Mereka memusuhi Singasari. Sementara itu, di kalangan mereka, padepokan Bajra Seta adalah padepokan yang dimusuhi. Beberapa kali orang-orang Bajra Seta langsung atau tidak langsung telahmerugikan kedudukan mereka.” “Maksudmu ?” bertanya Ki Buyut. “Kita menghubungi mereka. Kita bekerja sama dengan mereka untukmenghancurkan padepokan Bajra Seta. Mereka mempunyai kekuatan yang besar yang  meski pun tersebar, akan segera dapat dihimpun,” berkata saudara seperguruannya itu. “Lalu apa yang dapatmemancingmereka untukmelibatkan diri selain mereka memang menganggap orang -orang Bajra Seta sebagaimusuhmereka,” bertanya Ki Buyut. “Kau mempunyai simpanan harta kekayaan yang  dapat diper 'gunakan untuk membiayai rencanamu ?,” bertanya saudara seperguruannya pula. Ki Buy ut termangu-mangu. Katanya: “Tidak seberapa. Tetapi tentu ada kekay aan yang besar yang  pantas bagi mereka.” “Kekay aan yang  mana ?,” bertanya saudara seperguruannya. “Kekay aan yang ada di dalam padepokan itu sendiri,” berkata Ki Buyut. Saudara seperguruannya tertawa. Katanya: “Satu akal yang  licik sekali. Kau memang licik. Tetapi mungkin juga akan mereka sepakati.” Namun saudaranya yang  lain berkata: “Tetapi apakah kita sendiri tidak memakai kekuatan sama sekali ? Artinya, kita benarbenar hanya bertiga saja ?” “Aku memang tidak mempunyai kekuatan lagi,” berkata Ki Buyut. “Kau tidak membawa orang-orang dari Kabuyutanmu?,” bertanya saudara seperguruannya yang  lain. “Aku tidak dapat berbicara tentang hal ini dengan orangorang Kabuyutanku. Mereka masih selalu menyalahkan aku. Karena itu aku tempuh jalan ini agar aku dapat memulihkan wibawaku. Jika aku dapat membawa para pemimpin Bajra Seta dengan tangan terikat, maka orang-orang Kabuyutanku akan kembalimempercayai aku sepenuhnya,” jawab Ki Buyut. “Baiklah. Hal ini akan aku bicarakan dengan dua orang kawanku yang  meski pun bukan saudara bersedia, maka kita akan dapat membawa kekuatan meski pun tidak sebesar orang-orang Kediri.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya: “Terima kasih. Semakin cepat hal itu dilakukan, akanmenjadi semakin baik.” Kedua sauadara seperguruannya itu sependapat. Sehingga karena itu, maka ketiga orang itu pun telah bekerja keras untukmelaksanakan rencanamereka. Salah seorang saudara seperguruan Ki Buyut akan menghubungi para petugas sandi Kediri yang berkeliaran di Singasari dengan dukungan kekuatan sekelompok prajurit yang setia kepada usaha untuk memulihkan wibawa Kediri sedang seorang yang  lain akan berhubungan dengan dua orang yang dianggapnya akan dapatmembantunya. “Kali ini padepokan Bajra Seta akan benar-benar kami hancurkan.,” berkata Ki Buyut didalam hatinya. Demikianlah, ternyata saudara-saudara seperguruan Ki Buyut itu berhasil. Orang-orang Kediri telah bersedia membantu Ki Buyut Bumiagara dengan sepa sukan prajurit Kediri. “Prajurit-prajurit itu justru akan berbahaya lagi kita,” berkata Ki Buyut. “Tentu tidak.,” jawab saudara seperguruannya. Apakah mereka semuanya dapat dipercaya ?,” bertanya Ki Buyut. “Tentu,” jawab saudara seperguruannya, “jika aku tidak yakin mereka dapat dipercaya, maka aku tidak akan menghubungimereka.” Ki Buyutmengangguk-angguk. Namun yang tidak mereka ketahui adalah justru guru Ki Buyut menjadi kecewa sekali terhadap sikap muridnya. Apalagi muridnya telah berhubungan dengan orang lain yang tingkah lakunya kurang dapat dipertanggung jawabkan, sehingga justru guru Ki Buy ut itu telah mengadakan peny elidikan langsung atas titgkah laku Ki Buyut sebagai muridnya. Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut dan orang-orang yang akan bekerja sama untuk menghancurkan padepokan Bajra Seta sudah siap untukmeny erang padepokan itu. Orang-orang Bumiagara memang menjadi gelisah. Kehadiran sekelompok prajurit dan sekelompok lagi orangorang dari sebuah padepokan yang  dipimpin oleh seorang tua yang disebut mPu Carang Wregu, mula-mula menumbuhkan berbagai pertanyaan. Mereka menduga bahwa Ki Buyut menjadi sangat marah atas sikap mereka, karena mereka seakan-akan telah memaksa Ki Buyut untukmerendahkan diri dan minta maaf kepada beberapa orang Kabuyutan. Kedatangan orang-orang itu akan dapat dipergunakan oleh Ki Buyut untuk menghancurkan mereka yang  telah berani mengusik kedudukan Ki Buyut. “Tetapi apakah Ki Buy ut akan sampai hati membantai rakyatnya sendiri dengan mempergunakan tangan orang lain?,” bertanya seorang bebahu kepada bebahu yang  lain. “Siapa tahu. Ki Buy ut ternyata adalah seorang pendendam. Mungkin besok atau lusa kita akan diambil untuk tidak kembali lagi ke tengah-tengah keluarga kita,” jawab bebahu yang lain itu. “Aku tidak merasa cemas akan hal itu,” jawab kawannya, “yang aku cemaskan adalah, jika Ki Buy ut memerintahkan orang-orang Bumiagara untuk meny ertai para prajurit dan sekelompok orang yang  datang dari padepokan yang dipimpin mPu Carang Wregu, untuk menyerang padepokan Bajra Seta. Karena kita tahu bahwa isi padepokan itu terlalu kuat untuk dilawan.” Tetapi seorang lain tiba-tiba telah ikut berbicara: “ Itu kalau kita sendiri yang melawan padepokan Bajra Seta. Tetapi kita tahu bahwa sejumlah prajurit itu sudah terlalu kuat untuk sebuah padepokan. Apalagi kehadiran mPu Carang Wregu. Padepokan yang  mana pun tidak akan mampu bertahan.” Bebahu yang  pertama menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab lagi. Ia mengakui bahwa pasukan prajurit Kediri itu memang terlalu kuat. Apalagi bersama-sama dengan para cantrik dari sebuah padepokanyang  cukup besar, yang ingin memiliki alat- alat pande besi sebaik padepokan Bajra Seta yang telahmenerima alat-alat itu dari Singasari. Tetapi ternyata Ki Buyut sama sekali tidak memerintahkan agar orang-orang Bumiagara bersiap. Tetapi ketika Ki Buyut memanggil para bebahu, ia sempat berkata : “Nah, para bebahu Kabuyutan Bumiagara yang  baik hati, yang  jujur dan berbudi luhur, yang telah memaksa aku untuk merendahkan diri karena aku gagal berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan ini dengan cara yang  khusus. Sudah tentu bahwa kalian tidak akan bertindak seperti itu, bahkan akan menyanjungku dan berterima kasih sampai meny entuh langit, jika aku berhasil. Kalian tidak menilai gagasanku serta niat baikku. Yang kalian lihat hanyalah kegagalanku saja. Seharusnya kalian ikut berprihatin, membantuku dan berusaha agar rencanaku itu berhasil dengan baik. Tetapi kalian tidak berbuat demikian. Kalian justru ikut menghancurkan rencanaku. Bahkan harga diriku. Tetapi sekarang kalian lihat. Tanpa kalian aku dapat berbuat sesuai dengan rencanaku, menghancurkan padepokan Bajra Seta, menangkap pemimpinnya dan meny eretnya kemari.” Tidak seorang pun diantara bebahu Kabuyutan Bumiagara yang beranimenjawab. Di Kabuyutan dan di empat rumah di sekitarnya tinggal dua kelompok kekuatan yang cukup besar. Bagi orang-orang Kabuyutan, prajurit Kediri adalah prajurit yang  pilih tanding. Bahkan menurut penilaian mereka, para cantrik padepokan Bajra Seta tidak akan mampu mengimbangi seorang prajurit dengan seorang cantrik. Sementara itu selain para prajurit, masih ada sekelompok cantrik yang  kuat yang akan dapat membantu menghancurkan orang- orang padepokan Bajra Seta. Sebenarnyalah orang Bajra Seta tidak mengetahui bahwa di Bumiagara telah terhimpun kekuatan yang  demikian besar untuk menghancurkan padepokan Bajra Seta. Meski pun mereka masih tetap berhati-hati dan selalu mengawasi keadaan, namun jika kekuatan itu datang ke padepokan Bajra Seta,makamereka pasti tidak akan dapatmenahannya. Sementara itu, mereka tidak terlalu berprasangka buruk terhadap orang-orang Bumiagara, sehingga padepokan itu tidakmengirimkan seseorang untukmengamat-amatinya. Dalam pada itu, cantrik yang telah pergi ke Bumiagara, telah menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan dua orang cantrik yang dituakan di padepokan itu. Ternyata jawaban-jawabannya mey akinkan bahwa cantrik itu menjawab dengan jujur. Bagaimana pun pertanyaan itu diputar balik, namun jawabnya sama sekali tidak bergeser dari keterangan cantrik itu, karena cantrik itu memang berkata sebenarnya. Apa adanya tanpa ditambah dan dikurangi. Karena itu, pertanyaan siapa pun dan berbunyi apapun, jawabnya sama sekali t idak berkisar. “Aku percaya kepadamu,” berkata Mahisa Murti. Dengan demikian maka Mahisa Murti telah membebaskan cantrik itu dari semua hukuman. Namun ia tetap diminta untuk tidak mengulangi perbuatannya, karena perbuatannya ternyata telah mengundang berbagai macam persoalan dan merenggut korban jiwa pula. Cantrik itu menunduk. Ia memangmerasa sangat bersalah. Tetapi apa yang dapat dilakukannya untuk menebus kesalahannya? Dalam pada itu, ketika Ki Buyut Bumiagara telah bersiap sepenuhnya ber sama prajurit Kediri dan sekelompok cantrik dari sebuah padepokan yang dipimpin langsung oleh mPu Carang Wregu, maka guru Ki Buyut itu menjadi sangat berprihatin. Ia sama sekali tidak dapat meny etujui tindakan muridnya itu. Namun ia tidak berhasil mencegahnya. Karena itu, guru Ki Buyut itu menjadi bingung untuk beberapa saat. Ia tidak dapat membiarkan padepokan Bajra Seta dihancurkan oleh dua kekuatan yang besar, yang  telah dihimpun oleh muridnya itu. Jika benar-benar Bajra Seta diserang oleh gabungan kekuatan yang  telah bersiap-siap itu, maka Bajra Seta tentu akan pecah betapa pun tingginya ilmu kedua orang pemimpinnya. Kecuali jumlahnya terpaut banyak, para prajurit memiliki ilmu perang yang cukup dibantu oleh para cantrik yang mendapat tempaan oleh kanuragan sebagaimana para cantrik dari padepokan Bajra Seta. Dalam kebingungannya, maka guru Ki Buy ut itu memutuskan untukmenghentikan saja langkah-langkah yang dianggapnya jauh meny impang dari ajaran-ajaran yang pernah diberikan. Karena itu maka guru Ki Buyut itu justru telah langsung pergi ke Singasari. Ia tahu benar, kepada siapa ia harusmemberikan laporan tentang tingkah laku muridnya itu, karena ia pun tahu benar bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah anak Mahendra. Mahendra yang  ditemuinya memang terkejut. Ia sadar, bahwa kedua anaknya beserta padepokannya ada dalam bahaya. Sehingga dengan demikian maka ia pun telah berusaha untukmenghadap Sri Maharaja di Singasari. Ternyata tanggapan Seri Maraja sangat baik bagi Bajra Seta. Atas perintah Sri Maharaja,maka sekelompok perjalanan dimalam hari. Satu halyang tidak pernah diperhitungkan oleh Ki Buyut Bumiagara. Ia sama sekali tidak mengira bahwa gurunya benar-benar telah tersinggung dengan perbuatannya itu dan mengambil langkah-langkah tertentu untuk mencegah padepokan Bajra Seta dihancurkan. Pada hari yang ditentukan, maka pa sukan yang  besar itu pun telah berangkat. Pimpinan tertinggi pasukan itu berada di tangan Senapati dari Kediri. Senapati yang  memimpin sepa sukan prajurit yang  menjadi landasan perjuangan sekelompok pemimpin di Kediri yang tidak mau tunduk lagi kepada kepemimpinan Sri Baginda di Kediri. Kedua pa sukan itu menempuh perjalanan disaat yang  hampir sama. Pasukan Bumiagara memang berniat untuk sampai di sekitar padepokan itu menjelang pagi. Mereka akan beristirahat sejenak sebelum memukul padepokan Bajra Seta menjelangmatahari terbit. Ternyata prajurit berkuda Singasari telah lebih dahulu datang ke padepokan. Ketika pasukan itu mendekati pintu gerbang, maka seisi padepokan telah terbangun. Para cantrik yang bertugas terkejut melihat pasukan berkuda datang, sehingga mereka telah memberikan isy arat kepada seluruh kekuatanyang ada di padepokan itu untuk bersiaga. Namun Senapati yang  memimpin pasukan berkuda itu telah mengangkat tunggul pertanda utusan Sri Maharaja di Singasari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat tunggul itu. Karena itu, maka diperintahkannya untuk membuka pintu gerbang. Meski pun keduanya cukup berhati-hati. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat diiringi beberapa orang cantrik telah keluar dari pintu gerbang beberapa langkah untukmenemui Senapati dari prajurit berkuda itu. Senapati itu pun segera menjelaskan perintah Sri Maharaja yang diembannya dengan pertanda tunggul kerajaan Singasari serta sebuah kelebet ciri pa sukan berkuda yang datang itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah mempersilahkan pa sukan berkuda itu memasuki dinding padepokan tanpa diketahui oleh banyak orang di padukuhan-padukuhan sekitar padepokan itu, karena mereka datang disaat-saat orang tidur ny enyak. Setengah bermimpi memang ada yang  mendengar derap sepa sukan berkuda lewat. Namun kemudian hilang dengan cepat. Beberapa orang peronda pun melihat iring-iringan prajurit berkuda. Namun tidak seorang pun diantara mereka sempat bertanya. Tetapi orang-orang yang umurnya sudah mendekati setengah abad yang  melihat iring-iringan itu berkata kepada anak-anakmuda digardu: “Tunggul kerajaan Singasari.” “Apakah paman tahu pa sti?,” bertanya seorang anakmuda. “Aku y akin,” jawab orang tua itu. Sementara itu, pasukan Bumiagara lebih banyak menghindari jalan- jalan padukuhan. Mereka lebih banyak menyusuri bulak-bulak dan bahkan memotong jalan lewat sawah dan pategalan. Mereka tidak mau kehadirannya terlalu cepat diketahui, sehingga padepokan Bajra Seta sempat ber siap-siap dan memberi isyarat kepada padukuhanpadukuhan disekitarnya untukmembantunya. Namun dengan demikian, maka pasukan Bumiagara itu sama sekali tidak menyadari, bahwa sekelompok prajurit berkuda dari Singasari telah berada di dalam dinding padepokan Bajra Seta. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat baru mendengar dari Senapati prajurit berkuda dari Singasari itu bahwa akan ada seranganyang datang dari Bumiagara. “Kapan ?,” bertanya Mahisa Murti. “Kami tidak tahu pasti. Tetapi kami mendapat perintah secepatnya berada di padepokan,” jawab Senapati itu. Dengan demikianmaka Mahisa Murti telah memerintahkan agar para petugas yang  mengawasi keadaan di panggungan pada dinding padepokan menjadi semakin hati-hati. Mereka harusmemberikan laporan jika mereka melihat sesuatu yang mencurigakan. Namun Senapati prajurit Kediri yang  memimpin serangan atas padepokan Bajra Seta itu cukup berhati-hati. Ia menghentikan pa sukannya tidak terlalu dekat dengan padepokan, sehingga pasukannya tidak segera terlihat oleh para cantrik meski pun seandainya ada yang meronda berkeliling padepokan. Tetapi demikian langit menjadi semakin merah, maka Senapati itu mulai ber siap-siap. Meski pun ia masih membiarkan pasukannya beristirahat sejenak, namun beberapa orang telah menjadi sibuk. Diantaramereka bertugas untuk membagikan makanan agar mereka tidak menjadi kelaparan jika mereka bertempur untuk waktu yang  lama. Tetapi para petugas tidak ada yang  membawa minum, sehingga mereka telah menunjuk sebuah mata air yang diketemukan oleh salah seorang prajurit sebagai tempat untuk minum. Dinginnya air di dini hari tidak menjadi soal. Seorang yang  memang agak batuk ternyata lebih senang minum air dari mata air dalam dinginnya malam, sehingga gatal-gatal dilehernya justru akan hilang. Menjelang pagi, maka Senapati dari Kediri itu telah mempersiapkan seluruh pasukannya. Sejenak kemudian, maka diperintahkannya para prajurit untuk mendckati padepokan itu dari arah depan dan samping sebelah kanan. Kemudian memerintahkan agar para pengikut mPu Carang Wregu, meny erang dari nisi sebelah kiri dan dari arah belakang. “Pertahanan mereka terkuat tentu berada di bagian depan,” berkata Senapati itu, “Kami akan menghancurkan pintu padepokan itu dan akan meny erang masuk kedalam dinding padepokan. Kami berharap bahwa setelah itu, pasukan dari samping kiri dan kanan akan segera masuk pula. Demikian pula pasukan yang ada di belakang. Pasukan-pasukan itu akan mengacaukan pertahanan padepokan Bajra Seta, sehingga kita masing-masing akan dapatmelakukan tugas dan kepentingan kita sendiri. Kami akan menangkap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sementara mPu Carang Wregu akan mengambil alatalat yang bcrnilai sangat tinggi itu, namun yang bagi kami sama sekali bukan sesuatu yang baru. - Ki Buyut Bumiagara yang  ikut dalam pa sukan yang  menyerang padepokan itu termangu-mangu. Namun sudah tentu bahwa Kabuyutan Bumiagara juga memerlukan alat-alat pande Besi itumeski pun hanya sebagian. Tetapi Ki Buyut masih belum mengatakannya. Bahkan ia sudah merencanakan, jika mPu Carang Wregu membuat keputusanyang  tidak sesuai dengan keinginan Ki Buy ut,maka apa salahnya jika ia mengabil dengan paksa dengan bantuan para prajurit Kediri. Demikianlah, maka sebelum matahari terbit, maka padepokan Bajra Seta itu pun telah dikepung dari segala penjuru. Para pengawas yang  ada dipanggungan pada dinding padepokan dapat melihat sebagian dari mereka. Karena itu, maka ia pun segera melaporkan kepada para cantrik yang bertanggung jawab atas tugaskawan-kawannya di malam itu. Cantrik itu pun segera membagi tugas. Seorang diantara mereka berlari-larimenemui Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sedangkan yang lain telah harus membangunkan semua cantrik yang masih tertidur karena tugas-tugas mereka yang harusmereka lakukan sampaimalam. Dengan cepat para cantrik pun telah bersiap. Karena sebelumnya semuanya sudah diatur dengan tertib, maka pada saat musuh itu benar-benar datang, maka para cantrik tidak menjadi kebingungan. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendirilah yang telah menemui Senapati yang datang dari Singasari. Setelah keduanya memberi tahukan bahwa padepokan itu sudah terkepung, maka Senpati itu pun telah menjatuhkan perintah-perintah. Sekelompok pa sukan berkuda itu pun segera mempersiapkan diri. Namun karena kuda -kuda mereka itu sudah merupakan bagian dari hidup para prajurit berkuda itu, maka beberapa orang mendapat perintah untuk mengamankan kuda-kuda mereka yang  berada di kandang yang tidak terlalu besar sehingga tidak mencukupi untuk menyimpan kuda-kuda para prajurit, sehingga yang  lain hanya diikat pada pepohonan di kebun padepokan itu. Namun makanan bagi kuda-kuda itu cukup tersedia di padepokan itu. Demikianlah, maka para prajurit dari Kediri itu sudah ber siap di dinding halaman bagian depan. Mereka sama sekali tidak menjadi gaduh ketika mereka mendengar berita bahwa padepokan itu sudah terkepung. Untunglah bahwa para prajurit itu sempat beristirahat sejenak setelah para prajurit berkuda menempuh jarak yang cukup panjang. Namun dalam waktu yang  terhitung singkat, para prajurit itu sudah siapmenghadapi segala kemungkinan. Ketika pagi menjadi semakin terang,maka nampaknya pa sukan yang  mengepung padepokan itu semakin bergeser maju. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah berada di panggungan pula. Mereka melihat dan menilai kekuatan pasukanyang  datangmengepung padepokan itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapatkan kesimpulan bahwa pasukan lawanmemang terlalu kuat. Hampir di luar sadarnya,maka Mahisa Murti pun berdesis: “Untunglah, bahwa Singasari telah mengetahui akan hal ini, sehingga mereka mengirimkan sekelompok prajurit untuk membantu kita. Kita harus berterima kasih kepada orang yang telah memberikan laporan tentang serangan yang datang ini,” sahut Mahisa Pukat. “Guru Ki Buyut,maksudmu?,” bertanya Mahisa Murti. “Ya,” jawab Mahisa Pukat pendek. Ia tidak sempat berbincang lebih lama lagi, karena pa sukan yang datang mengepung padepokan itu sudah merayap semakinmendekat. “Nampaknya mereka akan meny ongsong matahari,” gumam Mahisa Pukat. Mahisa Murtimengangguk-angguk.Namun mereka melihat bahwa pa sukan itu telah mempersiapkan alat-alat yang akan mereka pergunakan untukmerusak pintu. Sementara itu, di bagian belakang dan samping padepokan itu pun telah terkepung pula. Di bagian belakang, pasukan yang dipimpin langsung oleh mPu Carang Wregu telah mempersiapkan tangga-tangga pula. Potongan-potongan kayu telah mereka ikat pada dua batang bambu yang cukup panjang yang telah mereka sediakan sebelumnya. Dengan tangga itu mereka berniat untuk memanjat dinding dan memasuki halaman padepokan. Beberapa buah tangga telah mereka persiapkan. Sementara itu, beberapa orang cantrik dibawah pimpinan mPu Carang Wregu itu sudah mempersiapkan busur dan anak panah untuk melindungi para cantrik yang  akan memanjat beberapa buah tangga itu bersama-sama. Mereka berharap bahwa serangan di pintu gerbang dan di sisi padepokan akanmenghisap sejumlah cantrik padepokan Bajra Seta. Dengan demikian, maka pertahanan di bagian belakang itu tentu tidak akan terlalu kuat. Dalam pada itu, para prajurit dari pasukan berkuda Singasari masih belum menampakkan diri. Mereka masih ber siap-siap di dalam dinding padepokan. Namun mereka menunggu saatyang  terbaik untuk tampil. Apalagi jika prajurit Kediri itu berusaha untuk memecahkan pintu gerbang, sehingga para prajurit Singasari dari pasukan berkuda itu akan dapatmenghadapinya langsung. Dari atas panggung kecil, Mahisa Murti selalu memberikan isy arat kepada para prajurit dari Singasari itu. Dengan demikian maka Senapati prajurit Singasari itu tahu pasti, apa yang sedang terjadi di luar padepokan. Para prajurit Kediri dan para cantrik dibawah pimpinan mPu Carang Wregu juga melihat bahwa para cantarik dari padepokan Bajra Seta sudah ber siap. Memang ada semacam keheranan bahwa para cantrik nampaknya suah siap sepenuhnya menyambut kedatanganmereka. Ketika hal itu dikemukakan oleh salah seorang prajurit Kediri, maka Senopatinya telah menjawab: “Mungkin perselisihan yang  terjadi antara padepokan ini dengan Kabuyutan Bumiagara selalu membayangi para pemimpin padepokan ini, sehinggamereka telah menempatkan beberapa orang petugas yang -mengawasi itu telah melihat kita mendekati padepokan itu dalam keremangan fajar. Kesiagaan padepokan ini telah membuat mereka dengan cepat mempersiapkan dirimenanti kedatangan kita.” “Kita akan segera mulai. Betapa pun mereka bersiap, tetapi kekuatan mereka sangat terbatas. Kita tclah berhasil meredam bantuan dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya karena agaknya kehadiran kita tidak mereka kctahui,” berkata Senopati itu. Namun sementara itu para cantrik yang  berada di atas panggungan di dalam dinding padepokan telah ber siap dengan busur dan anak panahnya, sebagaimana sebagian dari prajurit Kediri yang meny impang dari paugeran keprajuritan itu. Dalam pada itu,maka Senopati pa sukan berkuda Singasari yang ada di padepokan itu telah mengisyaratkan agar para cantrik tidak terlalu mencegah para prajurit Kediri yang melawan perintah Sri Baginda di Kediri itu untuk merusak pintu. “Biarlah mereka masuk,” pesan Senopati itu. Namun dalam pada itu, para prajurit Singasari itu pun telah bersiap dibelakang pintu. Sebenarnyalah, sejenak kemudian,maka dua orang prajurit Kediri itu telah melepaskan panah sendaren sebagai isyarat, mereka yang  mengepung padepokan itu akan meny erang ber sama-sama. Ketika pasukan Kediri dan para cantrik dari padepokan yang dipimpin oleh mPu Carang Wregu itu mendekat, maka anak panah para cantrik padepokan Bajra Seta pun mulai meluncur seperti hujan bertaburan di atas para prajurit Kediri. Meski pun sedikit terhambat, tetapi pasukan itumaju terus. Mereka telah melindungi diri dengan perisai atau menangkis anak panah yang meluncur kearah para prajurit, sehingga akhirnya sekelompok diantara mereka berhasil mencapai pintu gerbang. “Cepat. Hancurkan saja pintu gerbang itu,” terdengar perintah bagi para prajurit Kediri yang memang bertugas untukmemecahkan pintu. Dengan mempergunakan kapak, linggis dan parang, mereka telah memotong tali temali pada pintu gerbang dan memecahkan kayu-kayu penguatnya dengan kapak. Sementara itu kawan-kawan mereka yang tengah memecahkan pintu gerbang itu berusaha untuk melindungi mereka. Sebagian berusaha untuk melindungi dengan melontarkan anak panah kepada para cantrik yang  ada di panggungan, sedangkan yang lain melindungi para prajurit yangmerusak pintu gerbang itu dengan perisai atau menebas serangan anak panah itu menepi. Namun seperti diisy aratkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bahwa para cantrik jangan menghentikan sama sekali usaha para prajurit untukmerusak pintu. Dalam pada itu, dibagian belakang, beberapa orang cantrik yang dipimpin oleh mPu Carang Wregu berusaha untuk memanjat dengan tangga-tangga yang  panjang. Tetapi di atas dinding para cantrik berusaha untuk mencegah mereka. Sebagian tangga-tangga itu telah didorong dan dir obohkan. Namun satu dua orang yang memanjat sampai ke ujung tangga, telah terlempar jatuh. mPu Carang Wregu tidak menduga bahwa pertahanan di bagian belakang padepokan itu pun cukup kuat. Seharusnya, menurut perhitungannya, para cantrik dari padepokan Bajra Seta itu sebagian besar akan ditarik ke pintu gerbang utama, karena serangan prajurit Kediri yang  cukup berbahaya. Seorang penghubung mengatakan, bahwa para prajurit Kediri hampir berhasil memecahkan pintu gerbang, sehingga dalam waktu dekat para cantrik padepokan Bajra Seta itu akan terhisap ke halaman depan untuk menahan serangan para prajurit Kediri. “Seharusnya sebagian dari mereka telah meninggalkan dinding padepokan bagian belakang ini,” desis mPu Carang Wregu. “ Itulah kedunguan mereka,” jawab penghubung itu, “jika pintu gerbang itu pecah,mereka tentu terlambat sehingga para cantrik yang  berusaha menahan arus para prajurit itu akan dibantai oleh para prajurit dari Kediri. Sementara itu, para cantrik yang ada di bagian belakang itu barumenyadari bahwa mereka tidak akanmampu bertahan.” “Tetapi kita akan terlambat,” berkatamPu CarangWregu. “Terlambat apa ?,” bertanya penghubung itu. “Alat-alat itu akan dikuasai oleh para prajurit,” jawab mPu CarangWregu. “Mereka tidakmemerlukannya. Di Kediri pun terdapat alatalat seperti itu,” jawab penghubungnya. “Mungkin orang-orang Kediri itu tidak memerlukannya. Tetapi Kabuyutan Bumiagara ?” “Bukankah itu soal yang  mudah dipccahkan ? Seandainya alat-alat itu oleh para prajurit diserahkan kepada Ki Buyut Bumiagara karena mereka sudah menangkap para pemimpin padepokan Bajra Seta, pada suatu saat kita tentu akan dapat mengambilnya. Para prajurit itu tidak akan selamanya berada di Bumiagara. mPu Carang Wregu mengangguk-angguk. Namun sementara itu, para cantrik yang  bertahan di atas panggungan di belakang dinding padepokan, masih saja berada di tempat mereka. Tidak seorang pun yang  beringsut dari tempat mereka,meski pun pintu gerbang utama padepokan itu sudah benar-benar mulai pecah. Sebenarnyalah, para prajurit telah memecahkan pintu gerbang utama padepokan Bajra Seta. Namun demikian ujung pa sukan mereka menembus memasuki halaman padepokan, mereka benar-benar terkejut. Di halaman itu telah ber siap prajurit Singasari. Pertempuran yang sengit pun tidak dapat dielakkan lagi. Para prajurit Kediri yang  terkejut, ternyata telah kehilangan waktu sekejap saat pasukan mcreka berbenturan. Justru hanya beberapa langkah di belakang pintu gerbang. Namun prajurit Kediri yang  dibelakang, yang kurang tanggap atas keadaan yang  mereka hadapi, telah mendcsak kawan-kawannya untuk terusmajumemasuki halaman. Prajurit Singasari memang mengalami kesulitan untuk membcndung arus pasukan Kediri yang  seakan-akan banjir bandang yang memecahkan bendungan. Karena itu, maka para prajurit Singasari justru telah mundur dan mengambil tempat yang lcbih luas di halaman padepokan. Barulah kemudian, pertempuran yang sebenarnya telah terjadi. Namun dalam pada itu, para cantrik yang berada di panggungan pun telah meny erang dengan anak panah dan lembing. Para prajurit Kediri yang sedang bertempur melawan prajurit Singasari itu memang menjadi agak bingung. Yang dapat mereka lakukan kemudian adalah menjauhi dinding padepokan.Namun para prajurit Singasari pun telahmenahan mereka. Beberapa orang prajurit Kediri berusaha untuk memanjat panggungan itu pula, untuk menghentikan serangan para cantrik. Tetapi para cantrik padepokan Bajra Seta memiliki kemampuan seorang prajurit pula, sehingga usaha untuk menghentikan mereka yang  ada di atas panggung tidak semudahyang mereka duga. Dalam pada itu, maka pertempuran pun telah meluas pula dihalaman. Para prajurit Singasarimemang sengaja membuka medan yang  lebih luas, agar prajurit -prajurit Singasari tidak terlalu berjejalan saat mereka bertempur menghadapi para prajurit Kediri. Namun ternyata prajurit Kediri itu telah salah pilih. Mereka sama sekali tidakmengira bahwa didalam padepokan itu telah terdapat prajurit Singasari pula. Seorang penghubung yang  melihat medan itu segera pergi ke bagian belakang padepokan dan memberikan laporan kepada mPu CarangWregu. mPu Carang Wregu mengumpat lirih. Dengan geram ia berkata: “Jadi inilah sebabnya, kenapa para cantrik didinding belakang padepokan itu tidak bergeser sama sekali. Mereka memang tidak perlu membantu kawan-kawan mereka yang berada di bagian depan padepokan ini, karena disana telah hadir prajurit Singasari.” “Jadi apa yang  harus kita lakukan mPu ?,” bertanya salah seorang Putut. “Kita harus berusaha untuk memecahkan pertahanan dibelakang atau disisi padepokan. Kita harus berusaha untuk memasuki dinding padepokan,” jawabmPu CarangWregu. “Bagaimana jika merusak pintu regol samping ?,” bcrtanya Putut itu. “Bagus. Lakukan,” jawabmPu CarangWregu. Putut itu pun kemudian telahmenghimpun beberapa orang secara khusus. Dengan dilindungi oleh beberapa cantrik yang ber senjata busur dan anak panah, Putut itu telah berusaha untukmemecahkan pintu regol samping. Dengan cara yang  sama sebagaimana dilakukan oleh para prajurit Kediri, maka regol samping itu pun sedikit demi sedikit menjadi pecah dan setelah tali-tcmalinya putus serta beberapa bagian kayunya dipecahkan, akhirnya pintu itu memang koy ak. Bahkan kemudian, pintu itu pun telah dirobohkannya. Dalam pada itu, beberapa orang cantrik memang telah ditarik untuk menahan agar orang-orang yang  meny erang padepokan itu tertahan di sekitar pintu butulan. Karena itu, maka pertemuan di halaman samping itu pun menjadi semakin lama semakin sengit. Sebanyak peny erang yang memasuki halaman, maka sebanyak itu pula para cantrik menahannya. Bahkan sebagian kecil dari para prajurit singasari pun telah ditarik pula untuk ikut bertahan di sekitar pintu butulan. Apalagi karena pitu itu terbuka, maka para peny erang seakan-akan telah dihisap oleh pintu itu. Sehingga karena itu, maka di bagian belakang padepokan itu menjadi kosong. Dengan demikian,maka para cantrik yang semula bertahan di dinding belakang itu pun telah turun pula dan membantu mempertahankan diri terhadap orang-orang yang  telah memasuki halaman samping padepokan itu. Dengan demikian, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Namun kehadiran para prajurit Singasari di medan pertempuran di halaman samping itu, telah membuat mPu Carang Wregu menjadi sangat marah. Para cantriknya telah tertahan dan tidakmampu lagimendesakmaju. Karena itu, maka mPu Carang Wregu pun kemudian telah langsung terjun kemedanyang  garang itu. Ternyata mPu CarangWregu adalah seorang yangmemiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Itulah sebabnya,maka lima orang cantrik harusmenghadapinya. Tetapi kelima orang cantrik itu menjadi kehilangan kesempatan ketika mPu Carang Wregu itu mengerahkan kemampuannya serta mempergunakan senjatanya. Sebilah kerisyang lebih besar dari kebanyakan kerisyang lain. Namun sebelum ia menghabisi kelima orang cantrik yang  seakan-akan sudah tidak mempunyai kesempatan lagi itu, terdengar seseorang mencegahnya: “Sebaiknya kau tidak melakukannya.” Sebelum orang itu berpaling, seseorang telah melompat diantara kelima cantrik yang  terdesak itu. Ternyata tiga diantara para cantrik itu sekaligus telah kehilangan senjata mereka. Dua orang lain justru telah terluka. “Siapa kau anakmuda ?,” bertanya mPu CarangWregu. “Mahisa Murti,” jawab anak muda yang telah memasuki lingkaran pertempuran itu. “Apakah kau sedang berusaha untuk membunuh diri ?,” bertanyamPu CarangWregu. Mahisa Murti tidak segera menjawab. Namun ia masih sempat berbicara dengan kedua orang cantriknya yang terluka: “Hati-hati dengan lukamu. Luka itu beracun. Apakah kalian memabwa obat penawar racun ?” Kedua cantrik itu saling berpandangan. Sementara itu pertempuran telah menjalar di sekitarnya. Tiga orang cantrik yang kehilangan senjatanya telah berhasil menggapainya dan bertempur dengan tangkasny a menghadapi para cantrik yang dipimpin oleh mPu CarangWregu. Namun seperti para cantrik yang  lain di padepokan itu, maka kedua cantrik itu pun membawa obat penangkal racun meski pun tidak terlalu banyak. “Cepat, taburkan obat itu keatas luka kalian,” perintah Mahisa Murti. Kedua orang cantrik itu pun kemudian telah meninggalkan medan untuk mendapatkan kesempatan menaburkan obat penangkal racun itu pada luka-luka mereka. Obat yang  telah dibuat oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat atas petunjuk ay ahmereka, Mahendra. mPu Carang Wregu itu pun kemudian berkata sambil mengacungkan senjatanya: “Kau terlalu y akin akan kelebihanmu anak muda. Tetapi sudah saatnya kau akan mati.” “Apa pun yang  akan terjadi, aku adalah pemimpin padepokan ini. Aku harus menghentikanmu sebelum kau menelan korban terlalu banyak,” geram Mahisa Murti. “Kau masih terlalu muda untuk mati. Tetapi jika itu yang  kau kehendaki, apa boleh buat. Tetapi ada orang lain yang menginginkanmu hidup-hidup,” berkata mPu Carang Wregu kemudian. “Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian bertanya: “Siapa yang menghendaki aku hiduphidup? - “Para prajurit Kedirimenghendaki pimpinan padepokan ini hidup-hidup. Pimpinan padepokan ini telah terlalu banyak membuat para petugas sandi dari Kediri kesulitan. Karena itu, maka para pemimpin padepokan ini harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bukan sekedar mati terbunuh dipeperangan,” jawabmPu CarangWregu. Menarik sekali untuk berhadapan dengan para prajurit. Namun seorang saudaraku telah berada di halaman depan padepokan ini. Ia akan menerima para prajurit dari Kediri itu ber sama-sama para prajurit Singasari,” jawab Mahisa Murti. Namun tiba-tiba mPu Carang Wregu tcrtawa. Katanya: “Aku kira padepokan sebesar padepokan Bajra Seta ini tidak memerlukan bantuan darimana pun juga. Ternyata isi padepokan ini adalah para pengecut yang  memerlukan bantuan prajurit Singasari.” “Mereka ternyata datang sendiri Ki Sanak,” jawab Mahisa Murti, “prajurit Singasari tahu pasti apa yang  dilakukan oleh orang-orang Kediri. Baikmereka yang  sejalan dcngan langkahlangkah Sri Baginda di Kediri, mau pun para prajurit Kediri yang telah memberontak dan tidak tunduk kepada Sri Baginda, sehingga membuat langkah-langkah sendiri sebagaimana para prajurityang  datang kemari.” “Kau tidak perlu membuat penilaian atas Kediri,” berkata mPu CarangWregu kemudian: “kau tidak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kau masih terlalu anak-anak untuk berbicara tentang Kediri dan Singasari.” Tetapi Mahisa Murtilah yang  kemudian tcrtawa. Katanya: ”Sejak aku masih ingusan, aku telah ikut serta membantu tugas-tugas sandi bagi Kediri. Kau tidak apa -apa?” Tetapi mPu Carang Wregu kemudian menyahut: “Jangan terlalumcmperbodoh orang lain anakmuda.” “Baiklah. Aku tidak akan menuntut agar kau percaya. Namun yang penting bagiku, meny erahlah,” berkata Mahisa Murti kemudian. “Anak muda,” berkata mPu Carang Wregu: “pertempuran nampaknya menjadi semakin sengit. Jika kau mati atau menyerah atau ditangkap hidup-hidup, nampaknya pertempuran akan segera berakhir.” “Ya. Atau sebaliknya. Jika kau mati, atau menyerah atau tertangkap hidup-hidup, maka orang -orangmu akan kacau balau. Pertempuran pun akan segera selesai.” mPu Carang Wregu pun tidak menjawaba lagi. Tetapi kerisnya yang besar itu sudah mulai mengacu ke dada lawannya. Katanya: “Aku masih akan mencoba menangkapmu hidup-hidup. Kalau aku gagal, maka mayatmulah yang  akan dibawa ke Kediri untuk dijadikan pengewan-ewan.” Mahisa Murti menyadari, bahwa senjata mPu Carang Wregu itu adalah senjata yang  sangat berbahaya. Keris itu adalah keris beracun. Meski pun racun itu sendiri tidak banyak berarti bagi Mahisa Murti, tetapi goresan-goresannya cukup berbahaya baginya, karena ujung keris itu demikian tajamnya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah menarik senjatanya pula, yang  oleh pembuatnya justru juga disebut keris. Namun Mahisa Murti sendiri lebih senangmenyebutnya pedang. mPu Carang Wregu memang terkejut melihat senjata anak muda itu. Besi bajanya adalah besi baja pilihan. Warnanya yang kehijau-hijauan membuat senjata Mahisa Murti itu mendebarkan lawannya. Keduanya tidak banyak berbicara lagi. Tetapi senjata merekalah yang mulai bergerak. Berputaran namun kemudian mematuk dengan cepat, sementara yang  lain tcrayun menebas ke arah leher. Ketika senjata mereka berbenturan, maka sepecik bunga api telah berloncatan. Ternyata bahwa senjata-senjata itu telah terbuat dari besi baja yang sama-sama pilihan. Karena itu,maka pertempuran diantara mereka selanjutnya menjadi semakin lama semakin sengit. Kedua senjata itu menjadi semakin sering beradu dan bunga api pun semakin banyak berhamburan. Dihalaman depan padepokan Bajra Seta, prajurit Singasari bertempur dengan sengitnya melawan prajurit Kediri yang tidak sejalan dengan Sri Baginda di Kediri. Namun prajurit Singasari ternyata cukup tanguh untuk menahan arus serangan prajurit Kediri, sehingga prajurit Kediri itu tidak mampu lagi mendesak prajurit Singasari. Jika semula prajurit Singasari bergerak surut dan memberikan tempat yang lebih luas bagi prajurit Kediri, semata-mata karena prajurit Singasari memang ingin bertempur di arena yang tidak berdesakkan. Mahisa Pukat yang  semula berada di halaman depan, ternyata merasa tidak diperlukan lagi. Karena itu, ia minta Wantilan bersama sekelompok kecil cantrik untuk tetap ber sama-sama dengan prajurit Singasari. Mungkin ada sesuatu yang perlu dilakukan. Sementara itu Mahisa Pukat telah menelusuri dinding padepokan. Ternyata padepokan itu sudah tidak terkepung lagi. Para prajurit Kediri telah memasuki halaman padepokan lewat pintu gerbang utama yang memang sudah terbuka, sementara para cantrik yang dipimpin oleh mPu Carang Wregu telah berada di dalam dinding padepokan pula setelah mereka memecahkan pintu regol samping. Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah melingkari padepokan dan memasuki arena pertempuran melawan para cantrik yang dipimpin oleh mPu Carang Wregu yang telah berada di halaman samping padepokan. Namun disepanjang dinding halaman, para cantrik masih juga berjaga-jaga meski pun jumlahnya t idak banyak. Mereka sekedar mengawasi keadaan, sementara kawan-kawan mereka telah turun ke gelanggang menghadapi para cantrik yang datang meny erang padepokan itu. Mahisa Pukat pun kemudian telah bergabung dengan para cantrik yangmenahan arus serangan dari samping. Sementara itu, di sisi yang  lain darimedan, Mahisa Murti telah bertempur melawanmPu CarangWregu itu sendiri. Kedatangan Mahisa Pukat memang sangat berpengaruh. Para cantrik dari padepokan Bajra Seta yang mulai terdesak oleh para peny eralignya yang  jumlahnya memang lebih banyak, segera bangkit. Mahisa Pukat sendiri kemudian telah menghisap lawan cukup banyak. Tujuh orang cantrik dari padepokan mPu Carang Wregu itu telah mengepungnya dibawah pimpinan seorang Putut. “Tangkap anak itu hidup-hidup,” teriak Putut yang  memimpin sekelompok orang yang mengepung Mahisa Pukat. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun sambil memutar pedangnya ia bertanya: “Untuk apa kalian berusaha menangkap aku hidup-hidup?” “Kau ternyata memang seorang yang  sangatmenarik untuk ditangkap hidup-hidup. Kau akan dapat menjadi permainan yangmeny enangkan bagi para prajurit Kediri, karena kau dan padepokanmu sudah terlalu sering membuat para prajurit Kediri mengalami kesulitan,” jawab Putut itu. “Kau pura-pura tidak tahu?,” justru Mahisa Pukat pun telah bertanya pula. “Sudahlah,” potong Putut itu kemudian: “meny erahlah. Aku tidak akan menyakitimu. Tetapi entah yang  akan dilakukan oleh para prajurit Kediri.” “Adakah kau mengira bahwamasih akan ada prajurit Kediri yang tersisa menghadapi prajurit Singasari ?,” bertanya Mahisa Pukat kemudian. “Persetan kau,” geram Putut itu,” ternyata kau seorang yang  sombong tetapi dungu.” Mahisa Pukat tertawa. Katanya: “Jangan merajuk seperti itu. Jadi kau tidak mau meny erah ?,” bertaya Putut itu kemudian. “Maaf, aku tidak akan meny erahkan diri untuk diikat dan dijadikan pengewan-ewan,” jawab Mahisa Pukat. Putut itu menjadi semakin tersinggung atas sikap Mahisa Pukat. Karena itu, maka ia pun telah menjatuhkan aba-aba sekali lagi kepada para cantriknya. “Tangkap anak ini hidup-hidup.” Para cantrik itu segera berloncatan. Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi cemas. Ia sengaja tidak memanggil cantrik dari padepokan Bajra Seta untuk membantunya. Ia berniatmengatasi ketujuh orang lawannya itu sendiri. Demikianlah, maka Mahisa Pukat pun telah berloncatan dengan pedang yang  berwarna kehijauan itu ditangannya. Set iap kali maka kepungan itu pun menjadi longgar, karena lawan-lawannya berloncatan surut. Dalam keadaan seperti itu, disaat para cantrik dari padepokan Bajra Setamemerlukan dukungan kemampuannya, maka Mahisa Pukat telah bertempur dengan garangnya. Tenaga cadangan di dalam dirinya, kemampuannya dalam olah kanuragan serta ketrampilannya bermain dalam ilmu pedang, telah membuat lawan-lawannya segera mengalami kesulitan. Satu dua orang lawannya telah kehilangan senjata mereka yang  terlempar dari tangan mereka. Sementara itu telapak tangan mereka rasa-rasanya bagaikan telah menyentuh api. Bahkan beberapa saat kemudian, maka seorang diantara mereka telah terdor ong surut beberapa langkah. Ketika tangannya meraba lambungnya, maka terasa tangannya telah menyentuh darahnya yangmengalir dari luka. Orang itu mengumpat. Tetapi lukanya semakin lama justru menjadi semakin terasa pedih Ketika ia bertekad untuk kembali memasuki arena, maka seorang kawannya telah mengaduh tertahan. Pundaknyalah yang telah tergores tajamnya pedang Mahisa Pukat. Dua orang telah terluka. Sementara dua orang yang  kehilangan senjatanya telah berhasil menemukannya kembali. Sementara itu Pututyang memimpin sekelompok kecil cantrik dari padepokan mPu Carang Wregu itu telah mengerahkan kemampuannya pula untukmeny erang Mahisa Pukat. Tetapi serangan-serangan itu tidak segera berhasil. Mahisa Pukat ternyata terlalu tangkas bagimereka. Apalagi pedangnya menjadi sangat berbahaya. Bahkan beberapa saat kemudian, dua orang telah terlempar dari arena pertempuran karena luka-luka mereka didada dan di lambung. Luka -luka itu cukup parah, sehingga kedua orang itu t idak mungkin untuk dapat ikut pula dalam pertempuran itu. Ternyata kehadiran Mahisa Pukat telah memberikan kemungkinan baru dari pertempuran itu. Sementara itu, para cantrik dari padepokan Bajra Seta itu bertempur dengan tangkasnya. Senjata mereka yang  baru, yang tclah berhasil dibuat sendiri oleh para cantrik yang  telah mengkhususkan diri sebagai pande besi, telah membuat para cantrik itu seakan-akan menjadi semakin tangkas dan bahkan ilmu mereka seakan-akan telahmeningkat pula. Beberapa orang cantrik justru sempat memperhatikan senjata di tangan mereka. Pertempuran itu seakan-akan ju stru merupakan ujian bagi senjata-senjata yang  baru mereka buat. Namun ternyata bahwa memang terbukti senjata yang baru itu lebih baik dari yang  lama. Bukan raja penggunaannya, tetapi juga kekuatannya dibandingkan dengan beratnya. Karena itulah,maka para cantrik dari padepokan Bajra Seta itu seakan-akan memiliki ilmu yang lebih tinggi dari yang sebenarnya. Para prajurit Singasari yang bertempur di padepokan itu pun merasa heran atas kemampuan para cantrik. Beberapa orang cantrik termasuk Wantilan bertempur bersama para prajurit di halaman depan padepokan. Para prajurit Kediri yang menyerang padepokan itu lama sekali tidak lebih baik dari para cantrik. Dengan tangkasny a para cantrik itu bermain pedang. Bahkan mereka mampu bergerak sangat cepat, Sementara pedangnya terayun-ay unmenggetarkan. Sebelum mereka mendapatkan jenis pedang yang  baru, maka mereka mempergunakan pedang yang lebih berat namun kekuatan dan ketajamannya tidak lebih baik dari pedang yangmereka pergunakan saat itu. Mahisa Pukatyang  bertempur diantara para cantrik sempat memperhatikan, apakah dengan senjata mereka yang baru para cantrikmampu berbuat lebih baik. Dalam pada itu, Mahisa Murti yang bertempur melawan mPu Carang Wregu ternyata tidak mempunyai banyak kesempatan untukmemperhatikan pertempuran di sekitarnya. mPu Carang Wregu itu ternyata seorang yang berilmu sangat tinggi. Kerisny a yang besar berputaran dengan dahsy atnya. Beberapa kali keris itumeny entuh kulit Mahisa Murti. Bahkan goresan luka telahmulai nampak pada tubuh anakmuda itu. Namun ujung pedang Mahisa Murti pun telah menggapai tubuh mPu Carang Wregu pula. Titik-titik darah telah mengembun di kulitnya. Tetapi sementara itu, mPu Carang Wregu pun berkata sambil tertawa: “Anak muda. Seharusnya kau tidak perlu mengerahkan tenaga untuk bertempur melawan aku. Goresangoresan luka itu sudah cukup berbahaya bagimu. Racun pada ujung kerisku akan membunuhmu. Semakin banyak kau bergerak, semakin cepat racun itu bekerja. Kau telah memberikan kesempatan kepada cantrikmu untuk mengobati luka-lukanya yang beracun. Namun kau sendiri sama sekali tidak mencari kesempatan untuk melakukannya. Karena itu, menyerahlah. Kau diperlukan oleh para prajurit Kediri. Karena itu, mereka ingin menangkap kau hidup-hidup.” “Jika racun itu membunuhku, bagaimana mungkin mereka akan menangkapku hidup-hidup?,” bertanya Mahisa Murti. “Kau tidak akan mati. Aku akan memberi kesempatan kepadamu untuk mengobati luka-lukamu. Jika cantrikmu sa ja memiliki obat penawar racun, maka kau tentu juga mempunyainya,” berkata mPu CarangWregu itu. Tetapi Mahisa Murti pun menjawab: “Aku tidak akan mengobati luka-lukaku meski pun aku tahu bahwa kerismu itu mengandung racun yang  tajam. Jika terlambat mengobatinya, maka kemungkinan untuk hidupmenjadi sangat kecil.” “Jika demikian kenapa kau tidak meny erah saja agar kau sempat mengobati luka-lukamu,” bertanya mPu Carang Wregu. “Kau tentu menjadi gelisah bahwa aku akan mati di pertempuran ini. Jika aku benar-benar mati, maka prajurit Kediri itu akan menghukummu. Tetapi jika prajurit Kediri itu ditumpas oleh prajurit Singasari, maka prajurit Singasarilah yang akan menghukummu,” jawab Mahisa Murti. Tetapi mPu Carang Wregu justru tertawa. Katanya sambil menyerang: “Kau memang pandai memutar kata-kata. Tetapi jika aku harusmembunuhmu, apaboleh buat.” Mahisa Murti harusmelompatmenghindar. Namun ia pun sempat pula berkata: “Kau pun telah terluka.” mPu Carang Wregu tidak menjawab. Tetapi serangannya justru melanda Mahisa Murti semakin deras. Kerisnya berputaran dengan cepat. Namun kemudian terayun mendatar. Menebas kearah leher dan mematuk ke arah jantung. Goresan-goresan di kulit Mahisa Murti menjadi semakin banyak. Tetapi demikian pula pada mPu Carang Wregu itu. Namun mPu Carang Wregu y akin, bahwa perlawanan Mahisa Murti tidak akan berlangsung lama. Anak muda itu tentu akan segera dihabisi oleh racunnya yang menyusup ke dalam aliran darah anakmuda itu. Tetapi dugaan mPu Carang Wregu itu ternyata salah. Setelah bertempur beberapa saat, namun ternyata bahwa Mahisa Murti tidak segera kehilangan tenaganya dan kemudian kehilangan kemampuannya dicengkam oleh racun kerisnya. Bahkan semakin lama anak muda itu justru bertempur semakin garang. “Anak iblis,” geram mPu Carang Wregu: “apakah ia mempunyai penawar racun.” Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun menjawab: “Sebagaimana kau lihat Ki Sanak. Aku masih belummati.” “Bagus,” berkata mPu Carang Wregu: “kau memang anak muda yang  luar bia sa. Ternyata kau memiliki penawar racun sehingga kau tidak tergetar sama sekali meski pun kulitmu sudah terluka.” “Kenapa kau harus menjadi gelisah jika kau juga merasa gelisah karena luka-lukamu?,” bertanya Mahisa Murti. mPu Carang Wregu tidak bertanya lebih lanjut. Namun kemudian ia telah menghentakkan ilmunya. Segenap. kemampuannya telah ditumpahkan untuk mengakhiri perlawanan Mahisa Murti. Bukan saja kemampuannya dalam ilmu olah senjata, tetapi ternyata mPu Carang Wregu adalah seorang yang memang berilmu tinggi. Ketika kerisny a yang besar itu berputar semakin cepat, maka Mahisa Murti pun merasakan, bahwa ayunan kerisnya telah menimbulkan desir angin yang keras. Sentuhan terasa bagaikan menggores kulit. Bahkan ternyata kemudian desir angin yangmeny ertai ayunan kerisny a itu semakin lama terasa menjadi semakin panas. Dengan demikian maka Mahisa Murti pun sadar, bahwa lawannya telah sampai kepada ilmu puncaknya. Beberapa saat Mahisa Murti masih bertahan. Dengan tangkasnya ia berloncatan mengimbangi ilmu lawannya dengan kemampuan ilmu pedangnya. Sementara pedangnya yang berwarna kehijauan berputaran dengan cepatnya. Ternyata ilmu lawannya semakin lama menjadi semakin mapan. Panasyang dilontarkan oleh putaran kerisnya menjadi semakin tajam. Bahkan sentuhan-sentuhan senjata mereka, seakan-akan telah mengalirkan getaran panas merambat ke tangan Mahisa Murti. Beberapa saat kemudian, maka mPu Carang Wregu pun telah mulai mendesak Mahisa Murti yang tidak dapat mengelakkan sentuhan panas ilmu lawannya. Apalagi jika ia menangkis serangan mPu Carang Wregu, maka rasa-rasanya tangannya telahmeny entuh api. Dengan demikian maka Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain. Ia harus mengerahkan day a tahannya untuk mengatasi panasyangmeny entuh telapak tangannya.Namun ia pun telah mengetrapkan ilmunya pula. Sehingga jika terjadi sentuhan yang menyakitkan, ia akan dapat menghisap kekuatan lawannya sedikit demi sedikit. Demikianlah, keduanya telah bertempur semakin sengit. Bentaran kedua senjata yang  termasuk senjata pilihan itu setiap kali telah menimbulkan bunga-bunga api. Bahkan seakan-akan semakin banyakmemercik kearah Mahisa Murti. Panasny a pun seolah-olah semakin lama menjadi semakin tajammenggigit kulitnya. Namun Mahisa Murti harus berjuangmengatasi ra sa pedih dan panas itu. Ia harusmeny entuh senjata lawannya dengan senjatanya. Jika ia tidak berhasil, maka ia tidak akan dapat mengatasi mPu Carang Wregu jika ia tidak mengerahkan kemampuannya untuk melontarkan kekuatan ilmunya yang apalagi dilandasi dengan Aji Bajra Geni. Karena itu, maka betapa pun tangannya merasakan sentuhan bara api, namun Mahisa Murtimasih saja berusaha untukmembenturkan senjatanya. Namun tiba -tiba saja mPu Carang Wregu itu tertawa. Katanya: “Anak muda, jika kau mampu menangkal racunku, maka kau pun akan sia -sia berusaha mengisap ilmuku dengan ilmu licikmu itu. Kau tidak akan dapat mencuri apa pun daripadaku, karena ilmuku sudah mengandung day a tangkal terhadap kemungkinan perampokan seperti itu. Aku mengenali ilmu itu sejak aku berguru, karena musuh guruku itu memiliki kemampuan ilmu sebagai kau miliki sekarang. Meski pun demikian aku tetap mengagumimu. Pada umurmu yangmuda itu, kau sudah menguasai ilmu pencuri itu.Namun sayang, bahwa sejak guruku mengenalinya, guruku telah bekerja keras untukmencari penangkalnya. Dan sekarang, aku mampu menutup getaran kekuatan ilmumu yang menghisap kekuatan dan kemampuanku.” Mahisa Murti hanya dapat menggeram. Ternyata ia tidak dapat mengetrapkan ilmunya untuk menggagalkan mPu CarangWregu. “Karena itu, ngger. Meny erahlah. Aku memang lebih senang dapat menangkapmu hidup-hidup. Seperti yang  kau katakan, aku tidak akan diper salahkan oleh prajurit Kediri yang memang menghendaki kau ter tangkap hidup-hidup,” berkatamPu CarangWregu itu kemudian. Namun Mahisa Murti tidak menjawab. Dengan cepat ia menyerang lawannya. Namun lawanya sudah bersiap menahan serangannya itu. Ketika mereka bertempur kembali, maka Mahisa Murti sekali lagimengalami kesulitan. Selain ilmu olah senjata mPu CarangWregu yang  tinggi, ternyata panas ilmunya pun sangat mempengaruhi pertempuran itu. Ketika sekali lagi ujung keris mPu Carang Wregu meny entuh kulit lengan Mahisa Murti, maka yang terasa tidak saja pedihyang menggigit, tetapi panas yang sangat tajam telah meny engatnya sehingga sakitnya seakan-akan telahmenghunjam sampai ketulang. Dengan demikian Mahisa Murti pun semakin lama menjadi semakin sulit. Ia pun kemudian terdesak beberapa langkah surut. Dengan demikian,maka garis pertempurannya pun ikut bergeser. Mahisa Murti menggeram. Tetapi ilmunya yang mampu menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya, ternyata tidak dapat ditrapkan terhadapmPu CarangWregu. Karena itu, maka Mahisa Murti harus menghadapi kekuatan dan kemampuan ilmu mPu Carang Wregu seutuhnya. Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan para cantrik dari padepokan Bajra Seta masih tetap bertahan. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat mampu bertahan terhadap lawan yang jumlahnya justru seakan-akan bertambah meski pun setiap kali seorang dan bahkan dua orang bersama-sama tersingkir darimedan. Namun dengan demikian, maka beban para cantrik padepokan Bajra Seta menjadi semakin ringan. Lawan mereka pun semakin lama semakin menyusut. Meski pun para cantrik itu juga mampu mengurangi jumlah lawan mereka, namun Mahisa Pukat dapat berbuat lebih cepat. Sementara itu, para prajurit Singasari telah mulai mendesak lawannya. Sekelompok kecil cantrik dari padepokan Bajra Seta yang ada di halaman depan itu seakan-akan tidak lebih dari sekedar saksi, apa yang telah terjadi. Meski pun mereka juga terlibat dalam pertempuran, namun kekuatan cantrik Bajra Seta tidak berada di halaman depan. Karena yang berada di halaman depan para prajurit Singasari telah dapat mengatasi kekuatan prajurit Kediri yang tidak mau tunduk kepada Sri Baginda di Kediri itu. Perlahan-lahan prajurit Kediri telah terdesak. Sekelompok prajurit Singasari telah berusaha untukmenyusup dibelakang pa sukan Kediri untuk menutup pintu gerbang dengan kekuatan prajurit, agar para prajurit Kediri tidak sempat melarikan diri. Namun prajurit Kediri menyadari hal itu. Karena itu,maka mereka pun berusaha untuk bertahan terhadap sekelompok prajurit yang  akan menyusup ke belakang garis pertahanan mereka itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa kekuatan prajurit Singasari masih lebih besar dari kekuatan pasukan Kediri itu. Disisi lain, Mahisa Pukat pun mulai mendesak lawannya. Namun keadaan Mahisa Murti menjadi semakin sulit. Ujung keris lawannya seakan-akan menjadi semakin lekat dengan kulitnya. Meski pun Mahisa Murti memiliki penawar racun, namun luka-lukanya semakin banyakmengeluarkan darah. Pada saat yang paling sulit, maka Mahisa Murti memang tidakmempunyai pilihan lain untukmenghancurkan lawannya itu dari pada dirinya sendiri yangmenjadi korban. Namun dalam pada itu, mPu Carang Wregu masih saja tertawa sambil berkata: “Kenapa kau begitu keras kepala anak muda. Jika kau meny erah sekarang, kau masih mempunyai kesempatan untuk hidup. Meski pun aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh para prajurit Kediri itu atasmu.” Tetapi Mahisa Murti justru berkata: “Aku ingin memperingatkanmu. Sebaiknya kaulah yang  meny erah. Jika tidak maka kau tidak akan keluar lagi dari dinding padepokan ini.” “Apakah kau sedangmengigau? Mungkin karena kau sudah berputus a sa, sehingga syarafmu mulai terganggu,” berkata orang itu. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun lukalukanya terasa menjadi semakin pedih. Sementara lawannya justru sejenak kemudian telah menghentakkan kemampuannya sambil berkata: “Bangunlah jika kau tertidur. Pandangilah langit di atas dan tundukkanlah wajahmu ke bumi. Kau akan segera mati.” Agaknya mPu Carang Wregu itu sudah kehabisan kesabaran. Kerisny a pun berputar semakin cepat. Wajahnya menjadi tegang, sementara sorot matanya menjadi semakin tajam. Tetapi Mahisa Murti pun sudah jemumengalami perlakuan yang buruk itu. Luka-luka terasa semakin pedih. Sementara itu ujung kerismPu CarangWregu semakinmemburunya kemana ia pergi. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berniat pula untuk menghentikan pertempuran itu. Jika ia berhasil, maka ia akan menang. Tetapi jika ia gagal, maka ia akan hancur di padepokannya. Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti pun telah menghentakkan pedangnya. Tangannya memang terasa panas sekali. Namun sesaat ia berhasilmendesakmPu CarangWregu melangkah surut. Tetapi ternyata Mahisa Murti sama sekali tidak mengejarnya. Tetapi ia justru meloncat mundur. Ia mempergunakan waktu yang sekejap itu untuk mempersiapkan diri. Memusatkan nalar budinya untuk membangkitkan ilmunya. Sejenak kemudian, ketika mPu Carang Wregu siap untuk menyerangnya,maka orang itu pun tertegun. Ia melihat bahwa anak amuda itu tentu siap untuk melontarkan ilmu yang jenisnya belum diketahui. “Apakah ia masih mempunyai ilmu yang lain?,” bertanya mPu CarangWregu didalam hatinya. Sebenarnyalah, Mahisa Murti yang  telah terluka itu tidak lagimengendalikan dirinya. Dengan serta merta,maka ia telah melontarkan serangan dengan dahsyatnya. Kedua tangannya memegangi hulu pedangnya yang teracu kearah lawannya yang memiliki kemampuan untuk menangkal ilmunya yang mampumenghisap tenaga dan kemampuan lawannya itu. mPu Carang Wregu terkejut. Ia melihat seleret sinar seakan-akan meluncur dari ujung pedang yang kehijauhijauan itu. Dengan tangkasny a mPu Carang Wregu meloncat menghindari patukan sinar itu. Namun sinar itu ternyata telah menyambar seorang cantriknya sehingga sejenak kemudian telah terdengar jerit kesakitan. Namun suara itu pun dengan cepat terdiam. Cantrik itu tidak terkena tepat pada bagian yang berbahaya. Namun seleret sinar itu hanya menyambar kulit pundaknya.Namun ia telahmenjadi pingsan. Namun Mahisa Murti yang  marah dan yang  telah terluka tidak hanya di satu tempat di tubuhnya, tetapi sudah di beberapa tempat, tidak mau melepaskan sa sarannya. Demikian mPu Carang Wregu berdiri tegak, maka serangan kedua Mahisa Murti telah meluncur dengan derasny a tanpa menghiraukan, siapakahyang berdiri dibelakangnya. Demikian cepatnya serangan kedua itu menyambar sa sarannya,maka mPu CarangWregu yang  baru saja tegak itu tidak mampu lagi menghindarinya. Kerisnya yang telah mampu melukai Mahisa Murti dibeberapa tempat itu tidak mampumenahan serangan yangmeluncur dengan dahsy atnya itu. Karena itu, maka mPu Carang Wregu pun telah terdor ong beberapa langkah surut. Ia mencoba menahan arus serangan itu dengan kerisny a. Tetapi keris itu tidak berarti apa -apa. Seleret sinar itu justru telah mendorong keris mPu Carang Wregu dan melemparkannya beberapa langkah dari tubuhnya yang tcrbanting jatuh. Mahisa Murti termangu-mangu beberapa saat. Ternyata mPu CarangWregu sudah tidak bergerak sama sekali. Para Cantrik Bajra Seta yang menyaksikan itu bersorak gemuruh. Sorak itu ternyata telah sangat berpengaruh bagi para cantrik. Putut yang bertempur bersama beberapa orang cantrik melawan Mahisa Pukat, mendengar sorak itu dan mendengar pula bahwamPu CarangWregu telah terbunuh. Sejenak Putut itu masih melawan. Namun kemudian ia tidak dapat berbuat lain. Kekuatan tempat mereka bertumpu telah patah, sehingga karena itu, maka Putut itu harus mengambil tindakan yang  dapat mengurangi korban yang telah jatuh. Karena itu maka sejenak kemudian telah terdengar isyarat nyaring. Putut itu telah memerintahkan para cantrik untuk meninggalkan pertempuran. Perintah dengan isy arat itu tidak perlu diulangi. Para cantrik memang sudah merasa bahwa mereka tidak akan dapat meneruskan perlawanan tanpa mPu Carang Wregu. Karena itu, maka mereka pun segera menghambur meninggalkan arena pertempuran, berdesakkan melalui pintu regol samping. Namun beberapa orang yang lain dengan tergesa -gesa telah memanjat tangga panggung. Demikian mereka sampai di atas panggungan, maka mereka pun segera meloncat keluar, sementara para cantrik Bajra Seta telah meninggalkan panggungan itu dan bergabung dengan kawankawannya, bertempurmenahan aruspara peny erang. Beberapa orang cantrik yang  meny erang padepokan itu masih harus bertempur sambil bergeser mundur. Namun Mahisa Pukat sendiri kemudian telahmenghentikan seranganserangannya. Anak muda itu tidak sampai hati untuk menyerang dan apalagimembunuh orang- orang yang  dengan wajah pucat dan ketakutan berusaha untuk meny elamatkan diri. Karena itu, maka Mahisa Pukat seakan-akan telah memberikan kesempatan kepada para cantrikyang meny erang padepokannya untukmelarikan diri. Mahisa Murti yang masih berdiri didekat tubuh mPu Carang Wreksa yang terbaring tidak beranjak dari tempatnya. Ia sama sekali tidak memerintahkan untuk mengejar lawanlawan para cantrik dan padepokan Bajra Seta yang  melarikan diri. Namun para cantrik yang meny erang padepokan itu dibawah pimpinan mPu Carang Wreksa itu tidak sempat berbuat banyak terhadap kawan- kawan mereka yang terluka dan apalagi terbunuh di peperangan. Mereka terpaksa meninggalkan kawan-kawan mereka yang  mengerang kesakitan. Satu dua orang diantaramereka yang  terlukamasih juga berteriak memanggil para cantrik itu agar mereka membawanya pergi. Tetapi kesempatan untuk melakukannya ternyata tidak ada sama sekali. Dengan demikian, maka para cantrik yang  meny erang padepokan itu dalam waktu yang singkat telah mengalir keluar dan hilang dari lingkungan dinding padepokan, kecuali yang terbunuh dan terluka parah. Mahisa Pukat pun kemudian telah memberikan perintah, agar. para cantrik itu berkumpul kembali dan membiarkan lawan-lawanmerekamenghilang. Namun sejenak kemudian Mahisa Pukat itu pun berkata: “ Ingat. Di halaman depan,masih terjadi pertempuran.” “Apakah kita harus pergi ke halaman depan,” bertanya beberapa orang cantrik hampir berbareng. Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun ketika Mahisa Murtimengangguk kecil, maka ia pun berkata lantang: “Kita akan hadir di halaman depan. Tetapi sebagian dari kalian harus tinggal. Pintu regol itu rusak dan tidak dapat ditutup kembali. Adalah tugas mereka yang tertinggal disini untuk menjaganya di samping menjaga dan merawat para cantrik yang terluka serta yang telah gugur dipertempuran. Sementara itu, kalian juga harus mengamati lawan- lawan kalian, serta mengumpulkanmereka yang terluka parah.” Seorang cantrik yang  dianggap tua telah mengatur kawankawannya. Sebagian dari mereka pergi ke halaman depan, sementara yang  lain tinggal di halaman samping sambil menjaga regol yang terbuka lebar. “Kedatangan para cantrik itu telahmembuat prajurit Kediri yang bertempur dihalaman depan menjadi semakin gelisah. Mereka yang mulai terdesak itu semakin tidak berpengharapan lagi. Meski pun demikian, namun mereka masih tetap bertahan. Untuk beberapa saat lamanya mereka masih berusaha untuk menunjukkan kemampuanmereka. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat-mengamati keadaan sejenak. Namun kemudian mereka mendapat satu pikiran yang  menurut keduanya akan dapat berarti bagi pertempuran itu. Karena itu,maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berserta beberapa orang cantrik justru telah meninggalkan pertempuran yang  masih berlangsung sengit itu dengan meninggalkan sebagian dari para cantriknya untuk ikut bertempur. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat selain membawa beberapa orang cantrik yang menyertainya juga mengumpulkan beberapa orang yang  lain yang  bertugas di halaman samping padepokan dengap hanya meninggalkan satu dua orang petugas saja. Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus. Namun keadaan para prajurit Kediri menjadi semakin sulit. Mereka semakin terdesak sehingga lingkaran pertempuran pun menjadi semakin sempit. Mereka tidak lagi mampu bertahan ketika prajurit Singasarimendesaknya terus. Akhirnya Senapati prajurit Kediri yang memimpin pa sukan yangmeny erang padepokan itu tidak mempunyai pilihan lain. Mereka harus menyelamatkan pa sukannya. Jika ia bertahan menghadapi prajurit Singasari, maka pa sukannya tentu akan hancur. Senapati itu memang meny esal, bahwa ia terlalu merendahkan kekuatan padepokan Bajra Seta. Ternyata Singasari tidak tinggal diam. Bahkan karena itu, maka Senapati itu menyadari, bahwa Singasari pun memiliki petugas sandi yang  mampu mengamati gerakan-gerakan prajurit Kediri yang  menyimpang dari kebijaksanaan Sri Baginda. Karena itu, maka Senapati itu pun telah memberikan isy arat kepada pasukannya untuk menarik diri kearah regol padepokan yang  rusak itu. Mereka harus secepatnya meninggalkan halaman padepokan itu untuk meny elamatkan difi. Dengan gerakan sepasukan prajurit, maka mereka pun semakin lama menjadi semakin mendekati regol. Sebagian dari prajurit Kediri itu masih bertempur untuk menahan desakan maju prajurit Singsari. Namun mereka sudah mulai bergerak semakin cepatmencari jalan keluar dari halaman itu. Ketika pasukan itu kemudian sampai ke regol, dan sebagian diantara mereka sudah siap untuk bergerak, tiba-tiba mereka terkejut. Ternyata di regol padepokan itu, sekelompok cantrik yang dipimpin langsung oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Murti telah menunggu. Mereka telah keluar dari regol butulan yang telah dirusak oleh pa sukan mPu Carang Wregu yang telah terbunuh di pertempuran itu. Senapati prajurit Kediri itu menjadi kebingungan sesaat. Tetapi sebagai seorang pemimpin pasukan, maka ia harus segera menemukan satu keputusan, apa yang  harus mereka lakukan. 0oo0dw0oo0

Jilid 099
KARENA ITU, maka Senapati itu-pun kemudian telah membuat perhitungan. Baginya lebih baik memecahkan sumbatan regol padepokan itu daripada harus bertahan terhadap pasukan Singasari. Karena itu,maka ia -pun segera memerintahkan prajuritnya untuk menembus penjagaan para cantrik di regol padepokan itu dengan sepenuh kekuatan,meskipun para prajurit itu juga harus menjaga agar mereka tidak dibantai oleh para prajurit Singasari. Dengan demikian,maka hentakan kekuatan prajurit Kediri itu ditujukan kepada para cantrik yang  ada di regol padepokan. Para prajurit Kediri yang  setengah putus a sa itu justru seperti orang yang  sedang mabuk. Mereka tidak lagi mampu berpikir. Yangmereka lakukan seakan-akan sekedarmengikuti perintah yang  diteriakkan oleh pemimpin mereka tanpa memperhitungkan kemungkinan apa-pun juga. Bahkan para Senapati Kediri yangmenentang kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri itu telah memberikan pesan kepada para prajuritnya, bahwa kematian sebenarnya lebih baik daripada mereka harus ditawan oleh lawan, siapa-pun lawanmereka. Pengertian itulah yang  melandasi sikap mereka, apalagi dalam keadaan hampir putus asa. Namun karena itulah, maka hentakkan kekuatan mereka benar-benar mengejutkan. Para cantrik yang ada di regol yang membendung gerak mundur para prajurit Kediri itu terkejut. Para prajurit itu sama sekali tidak menghiraukan lagi senjata yang terjulur. Meskipun mereka juga berusaha menepis ujungujung senjata, namun mereka lebih mendesak dengan perisaiperisai atau bahkan dengan dada mereka ujung senjata yang teracu itu. Dengan demikian, maka sesaat para cantrik itu terdesak. Mereka memang tidak mengira bahwa mereka akan mendapatkan seranganmembabi buta seperti itu. Tetapi dengan demikian regol yang  ditutup dengan kekuatan senjata para cantrik itu seakan-akan menjadi terbuka. Sehingga dengan demikian, maka seperti bendungan yang koyak,maka air-pun segeramengalir dengan derasny a. Para prajurit yang berhasil keluar dari regol utama padepokan itu-pun segeramenghambur berlari bercerai berai. Ketika para cantrik akan mengejar mereka, Mahisa Murti telah memberikan perintah, “Jangan hiraukan mereka yang melarikan diri. Tetapi tahan mereka yang masih ada di dalam regol.” Sebenarnyalah para cantrik itu mengurungkan niatnya untuk mengejar prajurit Kediri yang melarikan diri. Namun mereka kembali berusaha untuk menutup regol agar yang masih ada di dalam tidak dapatmelarikan diri. Dengan demikian, maka para prajurit itu memang mengalami kesulitan untuk keluar dari regol. Para cantrik, termasuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidakmau didorong lagi sehingga para prajurit itu dapat menembus pertahanan mereka. Meskipun demikian, ternyata satu dua orang prajurit memang mampu melepa skan diri. Tetapi kemudian regol itu bagaikan telah tertutupmati, sementara prajurit Singasari-pun telah mendesak mereka dan berusaha untuk menghancurkan mereka. Sementara itu, Senapati prajurit Singasari itu masih sempat meneriakkan aba -aba, “Meny erahlah. Kami masih mempertimbangkan untuk tidakmembunuh para tawanan.” Para prajurit Kediri memang sudah tidak mempunyai pilihan lagi. Senapati prajurit Kediri itu-pun benar -benar tidak mempunyai jalan lain untuk mengakhiri pertempuran itu kecuali menyerah. Jika pa sukan Kediri itu tidak meny erah, maka mereka akan dapat ditumpas habis oleh para prajurit Singasari. Karena itu, dengan perhitungan bahwa beberapa orang di antara mereka telah meloloskan diri sehingga akan dapat memberikan laporan kepada pimpinan mereka yang  lebih tinggi dari antara para pemimpin Kediri yang  tidak mau tunduk kepada Sri Baginda,maka Senapati dari Kediri itu-pun telah memerintahkan para prajuritnya untukmeny erah. Dengan demikian maka pertempuran-pun telah terhenti. Kedua belah pihak telah menahan diri untuk tidak menggerakkan senjata mereka. Namun Senapati dari Singasari itu-pun memerintahkan mereka yang meny erah untukmeletakkan senjata. Tidak ada pilihan lain. Para prajurit Kediri itu -pun telah meletakkan senjatamereka. Dengan demikian, maka para prajurit Kediri itu -pun telah menjadi tawanan Singasari. Mereka harus tunduk kepada segala perintah yang diberikan oleh Senapati dari Singasari. Sementara senjata-senjata mereka telah dikumpulkan di salah satu ruangan di dalam padepokan itu. Dengan peny erahan itu, maka pertempuran di padepokan itu-pun telah selesai. Para tawanan telah digiring dibawa ke pendapa bangunan induk padepokan Bajra Seta diawasi oleh para prajurit Singasari. Sementara itu beberapa orang cantrik telah menjadi sibuk mengumpulkan mereka yang terluka dan mereka yang  gugur di peperangan. Demikian pula para prajurit Singasari. Sedang para tawanan-pun telah diperintahkan untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang  terbunuh dan yang  luka sehingga tidakmampu untuk bangkit dan berjalan sendiri. Namun dalam pada itu, tanpa diduga oleh mereka yang  ada di padepokan Bajra Seta, ternyata beberapa saat kemudian, telah datang beberapa orang anak muda sambil membawa beberapa orang prajurit yang dapat mereka tangkap selagi para prajurit itu melarikan diri. Demikian pula beberapa orang cantrik yang semula dipimpin oleh Empu Carang Wregu. Mereka datang t idak pada waktu yang bersamaan, tetapi mereka datang berurutan. Senapati dari Singasari dan para prajuritnya merasa heran bahwa hal seperti itu telah terjadi. Demikian pula Senapati Kediri yang tertawan. Seperti juga para prajurit Kediri yang lain mereka menjadi berdebar-debar. Jika saja tidak ada seorang-pun di antara mereka yang lepa s, maka tidak ada orang yang dapat memberikan laporan tentang keadaan mereka. Ketika anak-anak muda itu diterima oleh Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para perwira dari Singasari, maka mereka mengatakan, bahwa mereka terlambat menyadari, bahwa padepokan Bajra Seta telah diserang. “Meskipun demikian,” berkata seorang di antara anak-anak muda itu, “Kami tetap mempersiapkan diri untukmenghadapi segala kemungkinan. Dengan hati-hati kami berusaha mendekati padepokan ini. Kami tidak tahu keseimbangan kekuatan antara padepokan Bajra Seta dan para peny erangnya. Namun kami tidakmendengar isyarat apa-pun dari padepokan seandainya padepokan ini memerlukan bantuan. Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja kami melihat beberapa orangmelarikan diri dari padepokan.” “Apakah kalian dapat menangkap semua orang?” bertanya Senapati dari Singasari. “Tidak. Tetapi sebagian besar dari mereka dapat kami tangkap,” jawab anakmuda itu. Senapati dari Singasari itu menarik nafas dalam-dalam. Mereka yang lolos itu tentu akan dapat menyampaikan laporan kepada para pemimpin di Kediri. Tetapi apa boleh buat. Memang sulit untuk dapat menangkap semua orang tanpa seorang-pun yang meloloskan diri. Mahisa Murti-pun kemudian telah mengucapkan terima kasih kepada anak-anak muda itu. Dengan nada dalam ia berkata, “Telah datang sepasukan prajurit dari Singasari, sehingga kami kali ini tidakminta bantuan kalian.” Seorang di antara para pemimpin dari anak-anakmuda itu kemudian berkata, “Sebenarnya kami telah bersiap untuk menyerbu masuk ke dalam padepokan. Kami menjadi cemas bahwa lawan datang terlalu banyak, sehingga padepokan Bajra Seta t idak sempatmembunyikan isy arat.” Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Kami mempunyai beberapa kentongan. Jika kamimemerlukan,maka kami tentu akan dapat membunyikannya. Setidak-tidaknya satu di antara beberapa kentonganyang  tersebar dibeberapa tempat.” “Syukurlah,” sahut anak muda itu, “Apalagi sepa sukan prajurit dari Singasari telah ada di sini. Tetapi darimana Singasari mengetahui mengetahui bahwa akan datang serangan hari ini?” “Sebenarnya kami tidak tahu saat yang tepat. Kami mendapat keterangan dari seseorang, sementara petugas sandi kami juga mendapatkan keterangan, sehingga keteranganketerangan itu dapat kami padukan. Kami berkesimpulan bahwa kami harus datang secepatkan ke padepokan ini. Ternyata kami datang tepat pada waktunya, sehingga kami hampir saja terlambat.” jawab Senapati prajurit Singasari itu. “Jika para prajurit Singasari terlambat, maka penghuni padepokan ini dapat membunyikan isy arat. Kami, anak-anak muda dari padukuhan di sekitar padepokan ini tentu akan segeramembantu.” desis anakmuda itu. “Terima kasih,” sahut Mahisa Murti. Namun dalam pada itu, Senapati dari Singasari itu bertanya, “Apakah kalian juga memiliki pengalaman bertempur?” “Ya. Kami beberapa kali telah ikut bertempur. Padepokan ini seakan-akan merupakan bagian dari Kabuyutan kami. Apalagi kami telah banyakmenyadap ilmu dari padepokan ini. Bukan saja latihan-latihan oleh kanuragan, tetapi juga ilmu yang lain. Kami dapat meningkatkan hasil sawah kami, pategalan kami serta petunjuk tentang perternakan dan membuat kolam-kolam ikan,” jawab anak muda itu, “Karena itu,maka kami dan padepokan Bajra Seta memang tidak dapat dipisahkan lagi. Apalagi padepokan ini-pun telah. beberapa kali menolong meny elamatkan padukuhan-padukuhan di Kabuyutan kami.” jawab anakmuda itu. “Lalu apalagi,” desis Mahisa Pukat sambil ter senyum. Tetapi anak muda itu berkata, “Aku berkata sebenarnya. Singkatnya, kami berhutang budi terhadap padepokan ini. Dan hutang itu semakin lama menjadi semakin besar sehingga tidak akanmungkin terbayar lagi.” Senapati dari Singasari itu mengangguk-angguk. Ia percaya kepada anak muda itu. Terbukti mereka telah datang dalam kelompok yang  cukup besar. Jika anak-anak muda itu tidak merasa berhutang budi, maka mereka tidak akan bersedia untuk melakukan tindakan yang dapat mengancam jiwa mereka sebagaimana peperanganyang  baru saja terjadi. Namun dengan demikian para prajurit Singsari melihat, bahwa sebenarnyalah padepokan Bajra Seta telah mampu menggalang kekuatan yang  cukup besar. Jika mereka sempat mengumpulkan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekeliling padepokan mereka dalam waktu yang  cukup, maka akan dapat disusun satu kekuatanyang  sangat besar. Beberapa saat kemudian, maka anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan itu minta diri untuk menarik sekelompok pasukannya kembali ke padukuhan-padukuhan mereka masing-masing. “Hanya beberapa padukuhan saja yang sempat ikut serta ber sama kami,” berkata salah seorang di antara para pemimpin mereka. “Terima kasih ataskesediaan kalian membantu kami,” desis Mahisa Murti. Sepeninggal anak-anak muda itu, maka para prajurit Singasari telah mengumpulkan para tawanan yang baru saja diserahkan oleh anak-anakmuda itu. Hari itu juga,maka para cantrik dari padepokan Barja Seta dan para prajurit yang  telah gugur, serta para peny erang yang telah terbunuh, telah diselenggarakan sebagaimana seharusnya. Meskipun korban terhitung kecil, tetapi padepokan Bajra Seta benar-benar telah berkabung untuk yang kesekian kalinya. Memang setiap kali pertanyaan telah mencuat dari dasar hati para penghuni padepokan itu, kenapa setiap kali mereka harusmempertahankan diri. Namun ternyata bahwa persoalan yang kadang -kadang tidak diduga sebelumnya telah mencengkam padepokan itu, sehingga akibatnya akan dapat berkepanjangan. Para prajurit Singasari itu tidak tergesa-gesa meninggalkan padepokan Bajra Seta. Mereka masih harus mengatur, apa yang akan mereka lakukan dengan tawanan-tawanan itu. Pada da sarnya para tawanan, terutama para prajurit Kediri, memang harus dibawa ke Singasari. Tetapi bagaimana dengan mereka yang  terluka, yang  tidak mampu melakukan perjalananyang memang agak panjang. “Biarlah untuk sementara mereka ada di sini,” berkata Mahisa Murti. Lalu katanya pula, “Kapan-kapan mereka dapat dijemput. Dalam waktu dua tiga pekan, mereka tentu sudah menjadi lebih baik, sehingga akan dapat melakukan perjalan ke Singasari. Namun jika mereka dibiarkan lebih lama lagi, kami juga tidak berkeberatan.” “Apakah mereka tidak berbahaya?” bertanya Senapati prajurit Singasari. Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Para tawanan itu terdiri dari para prajurit. Namun mereka sama sekali sudah tidak bersenjata. Apalagimereka telah terluka. Karena itu, maka Mahisa Murti-pun berkata, “Kami akan berbuat sebaik-baiknya untuk menjaga mereka agar mereka tidak menjadi berbahaya. Kami dapat menempatkan mereka setelah mereka menjadi agak baik, di tempatyang terpisah.” Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Jika demikian kami akan membawa para tawanan yang mampu menempuh perjalanan ke Singasari. Selebihnya, aku titipkan di sini. Aku dapat meninggalkan sekelompok prajurit untuk membantu mengawasi para tawanan, meskipun makan dan minumnya akanmenjadi beban padepokan Bajra Seta.” Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Seberapa banyaknya makan dan minum bagi sekelompok kecil prajurit.” Senapati itu-pun tertawa pula. Dengan demikian makamereka sepakat, para tawananyang  terluka akan ditinggalkan di padepokan itu. Sekelompok prajurit juga akan ditinggalkan untukmembantumenjaga para tawanan itu. Meskipun mereka terluka, maka para prajurit Kediri itu memerlukan pengawasan dari para prajurit pula yang sedikit banyak akan dapat mengenali tingkah laku mereka. Prajurit Singasari itu setelah bermalam tiga malam di padepokan setelah pertempuran itu berlangsung, telah meninggalkan padepokan itu denganmembawa para tawanan, sebagaimana pernah mereka lakukan. Sebuah iring-iringan yang berjalan lamban, karena para tawanan itu harus berjalan kakimeskipun para prajurit itu berkuda. Dalam pada itu, para prajurit yang  tinggal, telah mengatur diri bersama-sama dengan para cantrikmenjaga para tawanan yang ditinggalkan oleh para prajurit Singasari. Para prajurit itu dalam waktu sebulan akan kembali mengambil para tawanan yang diperkirakan sudah menjadi semakin baik dan. bahkan sudah sembuh dari luka-luka mereka. Namun, selain membantu menjaga para tawanan, maka pemimpin sekelompok prajurit yang ditinggalkan itu telah menganjurkan, agar padepokan Bajra Seta dapat membentuk satu kesatuan yang  terdiri dari anak-anak muda di sekitar padepokan itu. “Susunan kesatuan itu dapatmeniru susunan di lingkungan keprajuritan,” berkata pemimpin kelompok itu. Lalu katanya pula, “Tetapi hanya susunannya saja. Ada-pun ikatan kewajibannya tentu saja tidak seperti di lingkungan keprajuritan. Segalanya dapat dibuat jauh lebih longgar, sehingga tidak mengganggu kerja dan kehidupan mereka sehari-hari. Namun dengan ikatan yang  longgar itu, segala sesuatunya akan dapat dilakukan dengan lancar. Khususnya jika terjadi sesuatu, baik atas padepokan Bajra Seta,mau-pun atas padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan ini, maka kesiagaan itu tentu akan sangatmembantu.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat bertanya, “Apakah maksud Ki Sanak disusun tataran kesatuan di padukuhan-padukuhan?” “Ya. Disetiap padukuhan terdapat seorang pimpinan yang  bertanggung jawab. Kemudian seluruh kekuatan yang  ada dipadukuhan itu dibagi-bagi dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dengan tataran tugas dan kewajiban yang berbeda. Anak-anak muda di kumpulkan dalam satu kesatuan. Orangorang yang sudah berkeluarga tetapi masih muda dan mampu untuk turun ke arena jika diperlukan, dikelompokkan tersendiri. Kemudian orang-orang yang  lebih tua, yang  hanya dipersilahkan untuk tampil dalam keadaan yang sangat terpaksa. Ma sing-masing dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang dapat digerakkan di saat -saat yang  mendesak,” berkata pemimpin sekelompok prajurit Singasari itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. “Mereka memang sependapat dengan pemimpin sekelompok prajurit itu. Tetapi segala sesuatunya juga tergantung pada anak-anak muda di padukuhan-padukuhan. Bahkan segala sesuatunya itu harus mendapat per setujuan dari Ki Buyut sendiri.” “Tetapi kami dapatmencobanya,” berkata Mahisa Pukat. “Ki Buyut seharusnya tidak akan menolak. Sebab, tatanan itu akan menguntungkan Kabuyutan pula. Jika terjadi sesuatu di satu padukuhan,maka dengan isy arat tertentu, padukuhanpadukuhan yang  lain akan dengan cepat dapat membantu. Anak-anakmuda dikirimkan kepadukuhan yang memerlukan, sementara orang-orang muda dan yang  lebih tua dapat berjaga-jaga di padukuhan masing -masing. Dengan demikian, agaknya pengamanan Kabuyutan akan dapatmenjadi semakin rancak.” berkata pemimpin kelompok itu. Lalu katanya, “Sebenarnyalah, bahwa kali ini kebetulan prajurit Singasari mendapat petunjuk datangnya serangan atas padepokan ini. Jika tidak, maka dengan ikatan yang  disu sun di setiap padukuhan,maka mereka akan segera dapatmembantu.” “Ya,” Mahisa Murti-pun mengangguk-angguk pula, “Jumlahnya-pun tentu akan memadai.” ia berhenti sejenak, lalu katanya, “Tetapi hanya beberapa padukuhan terdekat sa jalah yang  telah banyak mengirimkan anak-anak mudanya belajar di padepokan ini. Antara lain dalam olah kanuragan.” “Bukankah padepokan ini dapat menawarkan kepada Ki Buyut untuk mengirimkan anak-anak muda dari padukuhanpadukuhan yang  lain? Meskipun tidak bersama-sama, tetapi sekelompok-sekelompok kecil bergantian tentu sudah cukup baik,” berkata pemimpin sekelompok prajurit itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia mengerti maksud pimpinan prajurit Singasari itu. Jika usaha untuk menyusun tataran kesatuan seperti itu berhasil, maka padepokan itu serta seluruh Kabuyutan akan menjadi satu keutuhan kekuatan yang  cukup memadai. Bukan saja untuk bertempur melawan kekuatan-kekuatan yang ingin menghancurkan padepokan itu, tetapi juga tangan-tangan yang jahat yang ingin merambah seisi Kabuyutan. Mungkin gerombolangerombolan penjahat yang membidik sa saran di dalam lingkungan Kabuyutan itu. Bahkan sampai ke padukuhan yang paling ujung sekali-pun. Ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar ingin mencoba sebagaimana dianjurkan oleh pemimpin prajurit Singasari yang  ditinggalkan di padepokan itu. Di harihari berikutnya maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menghubungi Ki Buyut untukmenyatakan rencananya. Seperti yang diduga oleh pemimpin sekelompok prajurit yang tinggal di padepokan itu, Ki Buyut menyambut rencana itu dengan senang hati. “Aku meny esali tingkah laku Buyut Bumiagara itu,” berkata Ki Buyut ketika ia bertemu dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, “Seharusnya ia berbuat lebih baik. Tetapi ia memilih jalanyang  kasar itu.” “Kami-pun sangat menyesal Ki Buy ut,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi apaboleh buat.” “Ya. Kami dapat mengerti, kenapa angger berdua mengambil jalan itu, karenamemang tidak ada jalan lain yang dapat kalian tempuh,” sahut Ki Buyut. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya menganggukangguk saja. Namun sementara itu, Ki Buy ut telah menyerahkan rencana yang  diajukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu untuk dilaksanakan. “Kami akan membentuk sejauh dapat kami lakukan, karena hal itu akan langsungmenyangkut kedudukan Kabuyutan ini.” berkata Ki Buyut kemudian. Untuk melaksanakan rencana itu, maka atas perintah Ki Buyut, para Bekel-pun telah berusaha untukmembantu sejauh dapatmereka lakukan di padukuhanmerekamasingmasing. Sementara itu Ki Buyut Bumiagara menjadi semakin ber sakit hati atas kegagalan yang dialami oleh para prajurit Kediri dan para cantrik yang dipimpin oleh Empu Carang Wregu. Bahkan Ki Buy ut Bumiagara itu telah mendendam gurunya pula yang  tidak bersedia membantunya, meskipun gurunyalahyang  telahmenghubungi Singasari. Namun untuk sementara Ki Buyut justru harus menerima keadaan itu. Ia sudah merasa beruntung, bahwa ia termasuk salah satu dari antara mereka yang  jumlahnya hanya sedikit, yang berhasil melarikan diri dan tidak tertangkap oleh anakanak muda yang  berusaha untukmembantu padepokan Bajra Seta. Namun dengan demikian, ia percaya, bahwa kekuatan padepokan Bajra Seta memang cukup besar. Tanpa para prajurit Singasari-pun Bajra Seta akan mampu mengerahkan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitarnya sebagaimana dikatakan oleh gurunya. Bahkan Ki Buyut dari Bumiagara itu kemudian selalu dibayangi oleh kecemasan dan ketakutan. Jika Bajra Seta ingin membalas dendam, maka mereka akan dapatmeny erang dan menghancurkan Kabuyutannya. Bukan saja dari padepokan Bajra Seta, tetapi juga prajuritprajurit Kediri yang  dapat saja merasa disurukkan ke dalam perapian. Bahkan juga padepokan yang  dipimpin oleh Empu CarangWregu. Sementara itu saudara-saudara seperguruannya seakanakan telah menghilang dan tidak lagi dapat ditemuinya. Apalagi ketika Ki Buyut Bumiagara mendengar laporan, bahwa padepokan Bajra Seta tengah membenahi bukan saja kekuatan yang  ada di padepokannya, tetapi kekuatan di seluruh Kabuyutan. Para pengawal telah disusun dalam kesatuan-kesatuanyang  tertib dengan tataran yang  mirip dengan susunan tataran kesatuan dilingkungan keprajuritan. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah melupakan tingkah laku Ki Buyut dari Bumiagara. Yang dilakukan sebagaimana disarankan oleh pemimpin sekelompok prajurit Singasari yang tinggal di padepokannya, sekedar untuk berjaga-jaga. Namun dengan demikian, setiap hari kelompok-kelompok kecil dari beberapa padukuhanyang  agak jauh dari padepokan itu telah datang pula untuk mendapat tuntutan dalam olah kanuragan. Namun dalam kenyataannya, mereka tidak sekedar memperoleh tuntunan dibidang olah kanuragan, tetapi juga di bidang-bidang yang lain dari segi-segi kehidupan, sebagaimana anak-anak muda dari padepokanpadepokanyang terdekat. Tetapi tidak semuanya dapat di tangani oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi para cantrik yang  tertua-pun telah membantuinya. Bahkan Mahisa Semu dan Wantilan telah diturunkan pula untuk memberikan latihan-latihan kepada anak-anakmuda itu. Sementara itu Mahisa Amping-pun telah semakin rajin menempa diri. Anak itu menjadi semakin merasa bahwa ia tidak dapat lagi semata -mata menggantungkan diri kepada orang lain untukmengatur waktu dan kesempatan bagi dirinya sendiri. Apalagi pada saat-saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmempunyai banyak kesibukan. Dalam setiap kesempatan dipergunakannya untuk berlatih di dalam sanggar. Bahkan kadang-kadang Mahisa Amping tidak mengenal waktu tenggelam dalam latihan-latihan yang berat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru menjadi cemas melihat anak itu. Keduanya justru harus menghambat, agar Mahisa Ampingmemperhitungkan kemampuanwadagnya. Set iap kali keduanya memberikan petunjuk-petunjuk Mahisa Amping selalu mengiyakannya. Ia -pun nampak ber sungguh-sungguh memperhatikan petunjuk itu. Tetapi jika ia sudah berada di dalam sanggar,maka ia sudah lupa segalagalanya. Apalagi jika ia berusaha untuk meningkatkan kemampuan ilmu pedangnya. Ia -pun telah berlatih khusus dengan luwuknya. Bukan saja dengan pisau belati di tangan. Namun Mahisa Amping memiliki kemampuan yang tinggi untukmeny erang dengan pisau belati dari jarak tertentu. Anak itu bahkan telah berusaha mengembangkan kemampuannya dengan pisau-pisau yang lebih kecil. Bahkan pisau apa saja. Tangannya menjadi sangat terampil untuk melontarkannya. Demikian ia meraba sebilah pisau,maka iapun langsung dapat mengenali keseimbangannya. Jika ia melontarkannya kesasaran, maka pisau itu tentu akan hinggap. Apalagi pisau belatinya sendiri. Pisau belati yang dikenalnya dengan baik. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang berharap agar anak itu benar-benar akan menjadi anak yang bukan saja memiliki kemampuan dalam olah kanuragan, tetapi memiliki kelebihan dari kebanyakan orang. Namun juga bertanggung jawab atas kelebihannya itu. Anak itu selalu menyadari akan dirinya danm kehadirannya sebagai titah Yang Maha Agung. Sementara Mahisa Ampingmeningkatkan kemampuannya, maka setiap hari telah datang ke padokan itu kelompokkelompok kecil dari padukuhan-padukuhan yang  agak jauh. dari padepokan itu. Para Bekel telah mengirimkan mereka sesuai dengan perintah Ki Buyut yang ingin membuat rakyatnya lebih baik dari sebelumnya. Bukan saja dalam olah kanuragan, tetapi juga dibidang -bidang lainnya yang menyangkut segi-segi kehidupan. Termasuk pengetahuan dan ketrampilan yang langsung dapat mereka trapkan dalam kehidupanmereka sehari-hari. Dalam pada itu, kegiatan itu benar-benar telah mencemaskan Ki Buyut Bumiagara. Beberapa orang bebahu telah memberikan laporan kepadanya, bahwa padepokan Bajra Seta dan seisi Kabuyutan telah mempersiapkan diri mereka. Bajra Seta tentu akan segera datang untukmembalas dendam denganmembawa kekuatanyang  sangat besar. “Apakah kalian melihat tanda-tanda itu?” bertanya Ki Buyut. “Tentu,” jawab bebahu itu. “Aku sendiri telah memasuki lingkungan Kabuyutan itu. Kegiatan anak-anak mudanya semakin harimenjadi semakin meningkat.” Ki Buyut Bumiagara memangmenjadi semakin ketakutan. Set iap kali ia mendapat laporan tentang padepokan Bajra Seta, maka jantungnya serasa akan terlepa s. Apalagi ketika pada suatu hari datang dua orang prajurit Kediri. Rasa -rasanya darahnya sudah tidak mengalir lagi di tubuhnya. “Ki Buy ut tidak usaha menjadi ketakutan,” berkata salah seorang di antara kedua prajurit itu, “Aku hanya memberitahukan bahwa hampir semua prajurit yang kita kirimkan ke padepokan Bajra Seta telah tertawan. Adalah satu keuntungan bahwa Ki Buyut mampu meloloskan diri dari tangan para prajurit Singasari dan para cantrik dari padepokan Bajra Seta.” Mulut Ki Buyut Bumiagara bagaikan telah membeku. Sementara prajurit itu berkata, “Kami tidak akan mendendammu. Kami hanya memberitahukan bahwa kekuatan kami telah dihancurkan mutlak di padepokan Bajra Seta. Kekuatanyang  sebenarnya sangat kami butuhkan.” “Sama sekali bukan niatku untuk menyurukkan kekuatan Kediri itu kedalam kesulitan. Aku benar-benar tidak tahu perbandingan kekuatan antara padepokan Bajra Seta dan kekuatan yang telah kami himpun,” berkata Ki Buyut Bumiagara dengan suara gemetar. “Kami juga tidak menuduhmu melakukannya. Kami-pun merasa bahwa kami kurang berhati-hati sehingga kami datang memasuki sarang ular berbisa,” berkata prajurit itu, “Tetapi kami-pun menyadari, bahwa jika kalian tidak menghendaki kami melakukannya, maka kami tidak akan datang ke padepokan Bajra Seta.” “Tetapi, kami hanya sekedar minta tolong. Bukankah kita mempunyai kepentingan bersama?” suara Ki Buy ut itu menjadi semakin gegap. “Kepentingan bersama?” prajurit itu tersenyum. Namun senyumnya itu rasa -rasanya telah menusuk ke dalam jantung Ki Buyut Bumiagara. Tetapi kedua orang prajurit itu tidak lama berada di Bumiagara. Keduanya-pun kemudian minta diri. Seorang di antara mereka berkata, “Jangan dipikirkan lagi apa yang sudah terjadi. Tetapi pikirkanlah apa yang  akan terjadi. Hatihatilahmengambil sikap.” Wajah Ki Buyut menjadi pucat. Tetapi ia tidak dapat menjawab apa-pun juga selain berdiri termangu -mangu sambil memandang kedua orang prajurit yang  melangkah pergi itu. Namun sebenarnyalah, jantung Ki Buy ut Bumiagara seakan-akan telah terhenti berdenyut ketika seorang di antara keduanya berpaling sambil terseny um kepadanya. Ki Buyut Bumiagara tidak tahu pasti, apakah maksud para prajurit itu datang kepadanya. Apakah benar mereka sekedar ingin memberitahukan kekalahan mereka atau justru salah satu langkah y g akan dapatmempunyai akibat buruk baginya dikemudian hari. Namun, kehadiran prajurit -prajurit Kediri itu dapat membuat Ki Buyut semakin gelisah, sehingga untuk beberapa malam Ki Buyut itu selalu dihantui oleh mimpi buruk. Apalagi ketika beberapa hari kemudian, telah datang pula dua orang prajurit Kediri. Tetapi bukan dua orang yang  pernah datang sebelumnya. Dengan jantung yang berdegupan Ki Buy ut telah menemui kedua orang prajurit itu. Seperti kedua orang prajurit yang datang sebelumnya keduanya nampak ramah dan berwajah cerah. Beberapa saat setelah mereka berbincang-pun tidak ada tanda-tanda bahwa kedua orang prajurit itu akan mengambil satu sikap yang dapat mengguncang ketenangan hidup di Kabuyutan Bumiagara. Namun beberapa saat kemudian, maka salah seorang dari antara kedua orang prajurit itu berkata, “Ki Buyut. Kedatanganku kemari, benar-benar tidak ingin mengingatkan apa yang pernah terjadi. Kegagalan Ki Buy ut menangkap seorang cantrik dari Bajra Seta di tengah-tengah Kabuyutan ini sendiri, serta kegagalan pa sukan kami yang pergi ke padepokan Bajra Seta. Namun yang ingin kami sampaikan adalah justru rencana kami selanjutnya. Tentu Ki Buyut Bumiagara tahu, bahwa kami, sebagian prajurit Kediri tidak sependapat dengan sikap Sri Maharaja di Kediri dalam hubungannya dengan Singasari. Karena itu, maka kami berpendapat, bahwa pada suatu saat, yang akan terjadi adalah perang antara Kediri dan Singasari. Namun sebelum perang itu terjadi,maka di Kediri sendiri akan terjadi pergolakan yang berat. Mungkin masih akan terjadi para pemimpin Kediri justru berpihak kepada Singasari.” Ki Buy ut hanya mengangguk-angguk saja, betapa-pun jantungnyamasih saja berdegup keras. “Nah Ki Buyut,” berkata salah seorang prajurit itu, “Pada saat itulah kamimemerlukan bantuan Ki Buyut Bumiagara.” “Bantuan apa yang Ki Sanak maksudkan?” bertanya Ki Buyut dengan suara sendat. “Tentu bukan bantuan prajurit, karena anak-anak padukuhan ini tentu belum memiliki ketrampilanyang  cukup. Meskipun demikian pada saat yang paling gawat, kami memang membutuhkan banyak tenaga. Bukan saja untuk berperang, tetapi untuk membantu peperangan. Misalnya membawa bahan makanan,membawa senjata cadangan, obatobatan dan kepentingan-kepentingan perang yang lain. Kawan-kawan kami yang  dapat membantu melakukan hal itu sudah banyakyang  terbunuh di padepokan Bajra Seta. Karena itu, apabila diperlukan, kami terpaksa minta bantuan Ki Buyut. Jika kelak terjadi perang antara Kediri dan Singasari, maka kami akan datang untuk minta beberapa puluh anakanak muda Bumiagara untuk bersama-sama dengan kami berjuang demi tegaknyawibawa Kediri.” “Tetapi Bumiagara bukan tlatah Kediri,” jawab Ki Buyut dengan ragu -ragu. Kedua prajurit itu tertawa. Yang seorang lagi berkata, “Apa peduliku, apakah Bumiagara termasuk Kediri atau bukan? Bagi kami, apakah anak-anakmuda Bumiagara itu anak-anak muda Kediri atau Singasari, bukanmenjadi soal. Yangmenjadi soal bagi kami adalah, bahwa kami kekurangan tenaga. Bahkan seandainya Bumiagara ini bukan termasuk wilayah Kediri, namun kami akan menganggap daerah ini tetap daerah Kediri.” prajurit itu berhenti sejenak, lalu katanya, “Maksudku, jika daerah ini daerah Kediri, maka kita akan bersama-sama berjuang. Selain tenaga, Bumiagara tentu dapat membantu bahan makanan yang  banyaknya akan kami tentukan kemudian. Kabuyutan ini harus meny erahkan berapa pedati beras dan jagung kepada kami. Namun jika kamimenganggap bahwa Bumiagara adalah daerah Singasari, maka sudah tentu kami akan ber sikap bermusuhan. Bumiagara akan kami jadikan karang abang. Kami dapat membunuh semua isinya, karena kami bermusuhan. Karena dapatmerampas emas dan harta benda yang berharga yang ada di padukuhan ini. Dan apa saja yang ingin kami lakukan akan dapat kami lakukan di daerah musuh kami. Nah, terserah kepada Ki Buyut, Bumiagara akan berdiri di mana.” Ki Buyut benar-benar menjadi bingung. Kedua-duanya bukan pilihan yang menarik. Ia memang menjadi kecewa mengingat akibatyang sangat buruk itu dari satu rencana yang justru gagal sepenuhnya. Tetapi Ki Buyut tidak berani menentang. Jika Bumiagara menentang,maka akibatnya tentu sebagaimana dikatakan oleh prajurit itu. Bumiagara akan menjadi karang abang. Api akan menari-nari di seluruh Kabuyutan, sementara darah akan berceceran di jalan- jalan dan di halaman rumah. Maut akan mencengkam seisi Kabuyutan ini. Salah seorang prajurit yang  melihat Ki Buyut menjadi bingung berkata, “Kami bukannya datang untuk minta persetujuan. Tetapi kami datang untuk memberitahukan keputusan kami yang  harus dan pa sti kami laksanakan. Kami berharap bahwa Kabuyutan Bumiagara akan segera menyesuaikan diri, sehingga pada saatnya seisi Kabuyutan ini tidak akan terkejut lagi.” Ki Buyut benar -benar kehilangan nalar. Untuk beberapa saat ia justru terdiam. Tetapi kedua prajurit itu tidak lama tinggal di Kabuyutan Bumiagara. Dengan sikap yang  tetap ramah dan manis keduanya-pun kemudian minta diri. Sambil membungkuk hormat seorang di antaranya berkata, “Maaf Ki Buy ut. Jangan salah mengartikan kata-kata kami. Pada saatnya kami akan datang menjemput anak-anak muda itu. Selebihnya, kami akan mengambil beras dan jagung sesuai dengan kebutuhan kami.” Sebelum Ki Buy ut menjawab, prajurit yang lain-pun berkata, “Aku mengucapkan terima kasih yang  sebesarbesarnya atas kerja sama yang  selama ini telah kami lakukan. Mudah-mudahan pada masa -masa mendatang, kerja sama itu akan menjadi semakin akrab.” Ki Buyut mulutnya bagaikan membeku. Tetapi kedua prajurit itu nampaknya memang tidak menunggu jawaban. Mereka -pun segera meninggalkan Ki Buyut yang  berdiri mematung. Sepeninggal kedua orang prajurit itu, Ki Buyutmembanting dirinya, duduk di amben bambu di serambi rumahnya. Kepalanya serasa terbakar oleh per soalan yang sangat menyakitkan itu. Apalagi tiba-tiba saja Ki Buyut itu teringat, padepokan Bajra Seta-pun telah meny iapkan pasukan yang besar untuk menghancurkan Kabuyutan Bumiagara. Mereka datang untuk membalas serangan pa sukan Bumiagara yang terdiri dari para prajurit Kediri dan padepokan yang dipimpin oleh Empu Carang Wregu yang  justru terbunuh di padepokan Bajra Seta. Ternyata Ki Buy ut tidak mampu mengatasinya sendiri. Ia - pun kemudian memanggil para bebahu dan menyampaikan gejolak perasaannya itu kepada mereka. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Membunuh diri? Atau apa?” suara Ki Buy ut gemetar oleh getar di dalam dadanya. Para bebahu itu-pun akhirnya merasa kasihan melihat keadaan Ki Buyut yang sangat meny esal atas tindakantindakannya. Karena itu, salah seorang di antara para bebahu itu berkata, “Sebaiknya kitamengurangi lawan. Kita tidak akan dapat berdiri di antara dua kekuatan yang besar. Prajuritprajurit Kediri yang  memberontak itu dan yang lain Padepokan Bajra Seta.” “Maksudmu?” bertanya Ki Buyut. “Nampaknya lebih baik kita meredam permusuhan dengan Padepokan Bajra Seta,” jawab bebahu itu. “Caranya?” desak Ki Buyut. “Kita datang menemui pimpinan Padepokan Bajra Seta. Kita mengaku ber salah dan minta maaf. Permusuhan itu kita anggap saja sudah berlalu,” berkata bebahu itu. Wajah Ki Buyut menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Jadi aku haruspergi ke Padepokan Bajra Seta?” “Ya. Sebaiknya Ki Buy ut menemui pemimpin Padepokan Bajra Seta yang masih muda itu. Ki Buyut dengan ikhlas harus minta maaf dan menghapuskan permusuhan. Dengan demikian, kita tidak harus bersiap-siapmenghadapi dua lawan yang sama-sama sulit untuk dihadapi. Namun setidaktidaknya kita dapat memusatkan perhatian kita ke satu arah sa ja,” berkata bebahu itu. Sementara itu bebahu yang  lain berkata, “Aku sependapat. Bahkan aku berharap Ki Buyut dengan terus terang mengatakan ancaman yang bakal datang dari prajurit-prajurit Kediri yang memberontak itu, sehingga jika kita melakukan persiapan-persiapan, Padepokan Bajra Seta tidak menjadi salah paham.” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Sementara bebahu yang lain lagi berkata, “Tidak ada cara lain untuk menebus kesalahan itu. Ki Buyut tidak dapat sekedar meny esal atau kecewa atau berbagaimacam perasaan yang lain, namun tidak berbuat apa-apa. Karena itu, permintaan maaf kepada Padepokan Bajra Seta itumerupakan salah satu ungkapan dari peny esalan itu.” Ki Buyut memang tidak mempunyai pilihan lain. Karena itu, maka ia-pun berkata, “Baiklah. Jika memang tidak ada pilihan lain. Aku akan datang menemui para pemimpin padepokan itu. Aku akan minta maaf dan berusaha untuk menghapuskan permusuhan. Mudah-mudahan para pemimpin Padepokan Bajra Seta ber sedia. Jika tidak, maka harga diriku akan semakin terinjak-injak.” “Apa artinya harga diri Ki Buyut dibandingkan dengan kepentingan seluruh Kabuyutan,” berkata bebahu yang mulamula minta agar Ki Buyut datang ke Padepokan Bajra Seta, “Jika pada saatnya Kabuyutan ini harus musna oleh prajuritprajurit Kediri yangmemberontak, apa boleh buat. Kita semua akan mati mempertahankan kampung halaman kita. Tetapi berbeda dengan keadaan jika kita harus musna karena kemarahan Padepokan Bajra Seta. Jika para cantrik padepokan itu serta anak-anak muda seluruh Kabuyutan itu datang kemari dengan dendam di hati mereka. Meskipun kita mempertahankan kampung halaman, tetapi kampung halamanyang  telah ternoda oleh ketamakan kita sendiri.” Ki Buyut mengangguk-angguk. “Baiklah. Aku akan pergi. Bahkan besok aku akan pergi ke Padepokan itu. Pagi-pagi benar aku akan berangkat, agar malam hari aku sudah berada di Kabuyutan ini. Itu jika aku tidak ditangkap dan dihukum mati di padepokan itu.” “Aku y akin hal itu tidak akan terjadi,” berkata salah seorang bebahu. Lalu katanya, “Para pemimpin padepokan Bajra Seta dan bahkan para cantriknya bukan pembunuh-pembunuh yang tidak berjantung.” Ki Buyutmengangguk-angguk pula. Namun ia benar-benar berniat untuk pergi ke Padepokan Bajra Seta. Ternyata bahwa dua orang bebanu telah menyatakan diri untuk pergi bersama-sama dengan Ki Buy ut. Bagaimana-pun juga,mereka tidak sampai hati melepaskan Ki Buyut pergi ke Padepokan Bajra Seta tanpa seorang kawan-pun. Seakan-akan Ki Buyut dianggap benar-benar mutlak sebagai seorang yang harus dijauhi. Demikianlah, pagi-pagi benar Ki Buyut dan dua orang bebahu telah berangkat menuju ke Padepokan Bajra Seta. Berkuda mereka bertiga melaju dengan cepat menempuh jalan-jalan padukuhan dan bulak-bulak persawahan. Ketika matahari kemudian terbit, maka ketiga orang itu telah jauh dari Kabuyutan Bumiagara. Namun perjalanan mereka tidak menarik perhatian. Ada beberapa orang lain yang  berkuda menyusuri jalan-jalan yang dilalui oleh Ki Buyut Bumiagara. Para pedagang dan saudagar yang terbiasa pergi ke pasar -pasar yang  agak jauh sekali-pun. Sementara Ki Buyut dan kedua orang bebahunya itu-pun hanya mengenakan pakaian sebagaimana dipakai orang kebanyakan. Ki Buy ut Bumiagara hanya menunduk saja ketika ia berpapasan dengan seorang saudagar yang nampaknya cukup kaya. Dikenakannya ikat pinggang, dengan timang emas dan dihiasi dengan mata berlian. Keris dengan pendok emas dan beberapa butir mata berlian pada ukirannya. Di belakangnya berkuda dua orang yang  agaknya adalah pengawalnya. Keduaduanya bertubuh tinggi tegap, berkumismelintang. Saudagar itu sendiri juga sama sekali-tidak menghiraukan Ki Buyut Bumiagara, karena ia tidak menyangka bahwa yang berpapasan di perjalanan itu adalah seorang Buyut. Demikianlah, ketika matahari semakin tinggi di langit, panasnya-pun semakin terasa gatal di kulit. Bahkan ketika keringatmulaimengalir, terasa panas itu semakinmenggigit. Kuda Ki Buyut berlari semakin cepat. Dan jarak-pun menjadi semakin dekat. Namun Ki Buy ut tidak segera pergi ke Padepokan Bajra Seta. Bersama kedua orang bebahunya, ia telah singgah di sebuah kedai di dekat pasar. Tetapi tidak di kedai yang  pernah dipergunakannya untuk menemui cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang telah dibujuknya untuk pergi ke Bumiagara. Di dalam kedai itu, Ki Buyutmemangmendengar kesiagaan padukuhan-padukuhan se Kabuyutan di sekitar Padepokan Bajra Seta. Seorang yang berambut putih mengatakan, bahwa anaknya setiap hari bersama-sama dengan sekelompok anak muda yang  lain selalu pergi ke Padepokan Bajra Seta untuk berlatih olah kanuragan. Jantung Ki Buy ut memang menjadi berdebar-debar. Kepada salah seorang bebahunya ia berbisik, “Apakah kedatanganku tidak akan merupakan langkah membunuh diri?” “Tidak,” jawab salah seorang bebahunya, “Tanpa key akinan itu, aku tidak akan bersedia mengantar Ki Buyut, karena apapunmasih belum ingin mati.” Ki Buyut hanya dapat mengangguk-angguk saja. Baru sejenak kemudian, ketika Ki Buyut sudah dapat menenangkan hatinya, ketiganya telah meninggalkan kedai itu menuju ke Padepokan Bajra Seta. Kedatangan mereka di Padepokan itu memang sangat mengejutkan. Apalagi Ki Buyut tidak menutupi keny ataan tentang dirinya, bahwa ia adalah Buyut dari Kabuyutan Bumiagara. “Apa maksud Ki Buy ut datang kemari?” bertanya cantrik yang bertugas di regol. Karena cantrik itu tahu, apa yang pernah terjadi antara Padepokan Bajra Seta dengan Kabuyutan Bumiagara meskipun waktu itu ia tidak ikut ke Bumiagara. “Aku ingin berbicara dengan pimpinan kalian di Padepokan ini,” jawab Ki Buyut. Cantrik itu termangu-mangu.Namun kemudian ia berkata, “Baiklah. Kami persilahkan Ki Buy ut menunggu. Seorang di antara kami akanmelaporkannya kepada pimpinan kami.” Ketika hal itu disampaikan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, keduanyamemang terkejut. “Apa yang  dikehendaknya setelah ia gagal menguasai Padepokan ini?” bertanya Mahisa Murti. Mahisa Pukat-pun hanya dapat mengerutkan keningnya, karena ia -pun tidak tahu apa yang  mendorong Ki Buyut itu datang ke padepokan mereka. Namun kedua anak muda itu-pun berkata kepada cantriknya, “Bawa Ki Buyut naik ke pendapa.” Sejenak kemudian, maka Ki Buy ut -pun telah diantar naik kependapa bangunan induk padepokan Bajra Seta bersama kedua orang bebahunya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah siap menerima mereka meskipun dengan hati yang berdebar-debar. Setelahmenanyakan keselamatan perjalanan Ki Buyut serta keadaan Kabuyutan Bumiagara, maka Mahisa Murti-pun bertanya, “Sebenarnyalah kedatangan Ki Buyut di Padepokan Bajra Seta sangatmengejutkanku. Apakah ada hal yang sangat penting sehingga Ki Buyut sendiri memerlukan datang berkunjung ke padepokan ini?” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya dengan nada dalam, “Aku datang untuk meny erahkan diri. Bukan saja aku dan kedua orang bebahu yang datang ber samaku. Tetapi seluruh Kabuyutan Bumiagara.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Kemudian dengan nada ragu Mahisa Murti bertanya, “Apakah yang  Ki Buyut maksudkan dengan menyerah? Apakah Ki Buyut merasakan ada ancaman dari padepokan ini?” Ki Buyutmenarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tahu, setelah serangan yang  gagal atas padepokan ini, maka Padepokan Bajra Seta telah bersiap-siap untuk membalas seranganmu. Aku tahu, padukuhan-padukuhan di seluruh Kabuyutan ini telah mengadakan latihan-latihan khusus bagi setiap orang anak muda. Pada suatu saat, maka Padepokan Bajra Seta dan Kabuyutan ini akan menyusun kekuatan yang sangat besar. Apalagi jika prajurit Singasari datangmembantu, maka Kabuyutan Bumiagara akanmenjadi lumat.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalamdalam. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Ki Buyut telah salah mengerti. Sama sekali bukan maksud kami untuk membalas dendam. Bahkan aku dan seisi padepokan ini telah melupakan permusuhan kami dengan Bumiagara. Karena itu, padepokan ini sama sekali tidak bermaksud meny erang Bumiagara. Apalagi sekedarmembalasdendam.” Ki Buy ut termangu-mangu. Namun seakan-akan ia tidak percaya akan pendengarannya. Mahisa Pukat yangmenangkap kesan di hati Ki Buy ut itu berkata, “Ki Buyut. Kami sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan Bumiagara. Bahwa kami sudah dapat mempertahankan diri, itu sudah cukup bagi kami. Apalagi kekuatan utama dari peny erangan itu adalah prajurit-prajurit Kediri yang  tidakmau tunduk kepada perintah Sri Baginda di Kediri. Prajurit-prajurit yang sudah memberontak terhadap rajanya.” “Jadi apa yang kalian lakukan selama ini?” bertanya Ki Buyut Bumiagara. “Kami memang meningkatkan kemampuan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan yang  ada di Kabuyutan ini. Hal itu kami lakukan sekedar untukmenjaga diri. Kamimasih tetap curiga kepada sikap prajurit -prajurit Kediri yang  telah memberontak itu. Pada suatu saat, jika mereka terdorong menepi oleh prajurit-prajurityang  setia kepada Sri Baginda di Kediri, maka mereka akan dapat mengintai padepokan dan Kabuyutan ini. Bahkan mungkin Kabuyutan-kabuyutan yang lain. Karena itu, maka kami telah mempersiapkan diri dari kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Apalagi jika prajurit Singasari tidak sempat membantu kami. Maka kami harus ber sandar kepada kekuatan kami sendiri,” jawab Mahisa Pukat. Ki Buyut Bumiagara mengangguk-angguk. Ketika ia berpaling kepada kedua orang bebahu yang  meny ertainya, maka keduanya-pun mengangguk-angguk pula. Sementara itu Mahisa Murti-pun berkata, “Ki Buyut. Yakinlah bahwa aku benar-benar tidak berniat untuk bermusuhan terus dengan Bumiagara. Jika Ki Buyut tidak menyerang kami, maka kami sama sekali tidak berniat untuk bertempurmelawan Bumiagara.” “Apa yang  akan dapat aku pergunakan untuk menyerang,” desis Ki Buy ut, “Kekuatan kami tidak ada sehitamnya kuku dibandingkan dengan kekuatan Padepokan Bajra Seta dan apalagi bersama-sama dengan kekuatan seluruh Kabuyutan.” “Jika demikian Ki Buy ut,” berkata Mahisa Murti, “Aku mengatakan yang  sesungguhnya, bahwa kami sudah melupakan apa yang  terjadi. Serangan itu memang melukai hati kami. Apalagi korban telah jatuh pula di antara kami. Tetapi kami sudah berhasil menangkap sebagian besar dari prajurit Kediri dan sebagian besar para cantrik yang mengaku di bawah pimpinan Empu Carang Wregu itu. Juga karena bantuan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan ini. Dan itu sudah cukup bagi kami. Mereka yang meny erang itu akan mendapat hukuman mereka di Singasari. Jika masih ada tawanan yang akan dibawa kemudian setelahmereka sembuh,maka sisa tugas itulah yang sedang kami lakukan.” Ki Buyut Bumiagara mengangguk-angguk. Namun ia -pun kemudian berterus terang kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa sebenarnyalah Bumiagara ada dalam ancaman para prajurit Kediri. Karena itu,maka ia ingin menghapuskan permusuhannya dengan Bajra Seta agar mereka dapat memusatkan perhatianmereka kepada para prajurit Kediri itu. “Kami akan diperas habis-habisan. Tenaga dan bahan makanan,” berkata Ki Buyut Bumiagara, “Karena itu, kami akan memilih melawan mereka meskipun kami akan dihancurkan sama sekali.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya Mahisa Murti berkata, “Mungkin orang-orang Kediri yang  memberontak itu ingin menjadikan Bumiagara landasan untukmeny erang Padepokan Bajra Seta.” Ki Buyut Bumiagara termangu-mangu. Katanya, “Mereka tidak mengatakan demikian meskipun mungkin hal itu dapat sa ja terjadi.” “Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “Jika Bumiagara menghendaki, kami akan berusaha membantu. Kami mempunyai beberapa jenis senjata yang baik, yang  barangkali akan mampu meningkatkan kemampuan perlawanan orangorang Bumiagara.” “Maksud kalian?” bertanya Ki Buy ut. “Kami akan memberikan sejumlah senjata kami yang baru kepada Ki Buyut. Bukankah Ki Buy ut menghendaki sejenis senjata yang baru itu?” bertanya Mahisa Murti. Ki Buyut Bumiagara dan bahkan juga kedua orang bebahu yang meny ertainya terkejut mendengar pertanyaan itu. Mereka seakan-akan tidak percaya kepada pendengarannya. Namun Mahisa Pukat menjelaskan keterangan Mahisa Murti itu, “Kami mempunyai beberapa kelebihan senjata yang baru justru karena kami sekarang dapat membuatnya sendiri. Meskipun sedikit, barangkali kami akan dapat membantu Kabuyutan Bumiagara agar jika benar -benar terjadi benturan kekerasan dengan para prajurit Kediri itu, Bumiagara mampu sedikitnya melindungi diriny a sendiri. Apalagi jika Kabuyutan Bumiagara dapat berbicara dengan Kabuyutan-kabuyutan di sekitarnya. Sehingga bersama-sama Bumiagara tentu tidak akan terlalu mudah untuk ditundukkan. Dengan senjatasenjata yang  baik, maka anak-anak muda Kabuyutan Bumiagara tentu bersedia untuk melatih diri. Karena kemampuan dalam olah kanuragan itu akan sangat berarti bagi kepentingan Kabuyutanmereka.” Ki Buyutmengangguk-angguk. Salah seorang bebahu yang  menyertainya ternyata tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan perasaannya, “Kami benar-benar terkejut mendengar tawaran itu. Ketika kami berangkat, kami sudah minta diri kepada seisi Kabuyutan seandainya kami tidak dapat kembali. Namun ternyata di sini kami justru mendapat tawaran untuk membawa senjata. Ternyata bahwa nalar dan budi kami terlalu kotor dibandingkan dengan nalar dan budi seisi padepokan Bajra Seta. Kami selalu berprasangka buruk, sementara Padepokan Bajra Seta justru sebalikny a.” “Sudahlah,” berkata Mahisa Murti, “Besok kami akan menyediakan senjata-senjata yang kami janjikan. Sebaikny a Ki Buyut atau mungkin utusannya dapat datang membawa sebuah pedati. Namun aku minta salah seorang dari antara kalian bertiga ikut bersama pedati itu, karena kalianlah yang telah kami kenal dengan baik, agar senjata itu tidak jatuh ke tangan orang yang  tidak berhak.” “Kami mengucapkan terima kasih yang  tidak terhingga,” berkata Ki Buy ut, “Besok aku sendiri akan datang bersama dengan kedua orang bebahu yang  hari ini datang bersamaku.” “Baiklah,” jawab Mahisa Murti, “Hari ini kami dapat memilih senjata yang paling sesuai bagi anak-anak muda Bumiagara, namun juga senjata yang  telah mencukupi bagi kebutuhan kami sendiri. Yang aku maksud dengan kami bukannya sekedar para cantrik di Padepokan Bajra Seta. Tetapi juga anak-anakmuda di Kabuyutan ini.” Demikianlah setelah dihidangkan minuman dan makanan, maka Ki Buy ut-pun minta diri. Dengan mantap ia berkata, “Aku akan pulang. Aku akan berbicara dengan seluruh penghuni Kabuyutan Bumiagara, bahwa aku masih dapat pulang dengan utuh. Bahkan aku pulang dengan membawa senjata yang sangat kami butuhkan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya tersenyum saja. Demikianlah Ki Buyut Bumiagara itu-pun segera meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Ia menjadi tergesa -gesa, karena ia ingin segera memberitahukan kepada semua bebahu, semua Bekel dan bahkan semua penghuni Kabuyutan Bumiagara, tanggapan yang  sama sekali tidak terduga dari pimpinan Padepokan Bajra Seta. Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memerintahkan para cantrik untuk meny isihkan beberapa jenis senjata yang dimiliki oleh Padepokan Bajra Seta. Senjata yang telah mereka buat sendiri atas da sar petunjuk dari Singasari. Senjata yang  termasuk ringan, tetapi memiliki kekuatan dan ketajaman yang sama dengan senjata -senjata mereka sebelumnya yang  lebih berat. Dengan ditunggui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri, para cantrik telah menyisihkan dua ikat pedang dengan sarungnya, meskipun bukan sarung yang  baik, tetapi memenuhi kebutuhan. Yang penting bagi mereka adalah pedangnya, bukan sarungnya. Seikat tombak bertangkai pendek. Seikat kapak yang tajam dikedua sisinya. Sejumlah perisai dan sepuluh buah kerisberukuran besar. Sebenarnya belum semua anak muda dari padukuhanpadukuhan di sekitar Padepokan Bajra Seta yang  mendapat bagian jenis senjata-senjata itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata mempunyai perhitungan lain. Kabuyutan Bumiagara dan Kabuyutan di sekitarnya agar bangkit dan menempatkan diri dalam jajaran kekuatan Singasari untukmelawan Kediri, karena tidak dapat dipungkiri bahwa di Kediri memang terdapat kekuatan yang menentang kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri. Kekuatan itulah yang dapatmengancam Singasari dan daerah kuasanya yang luas. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sependapat, bahwa Padepokan Bajra Seta akan mengirimkan lima orang cantrik terpilih untuk memberikan latihan menggunakan senjata-senjata yang baru itu. Pemimpin prajurit Singasari yang  ada di padepokan itu sependapat dengan cara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat membuat pagar menghadapi prajurit Kediri yang  menentang kebijaksanaan Rajanya itu. Apalagi jika Kabuyutan Bumiagara dapat membujuk Kabuyutan di sekitarnya untuk saling membantu jika terjadi pemerasan yang  tentu akan dilakukan oleh prajurit Kediri jika waktunya dianggap sudah tiba. Malam itu juga, semua senjata itu-pun telah disiapkan. Dihari berikutnya Ki Buyut sendiri akan datang untuk mengambil senjata-senjata itu. Sementara para cantrik yang secara khususmempelajarinyamasih terus saja membuat yang baru. Sementara itu Ki Buy ut Bumiagara yang  kembali ke Kabuyutan Bumiagara, tidak sabar menunggu terlalu lama. Karena itu, demikian ia sampai ke Kabuyutan,maka ia segera memerintahkan untukmenyiapkan pedati. “Aku akan segera kembali ke Padepokan Bajra Seta,” berkata Ki Buyut. “Tetapi Ki Buyut harus beristirahat. Besok kita siapkan pedati dan kelengkapannya. Besok malam kita berangkat sehingga pagi-pagi benar kita akan sampai ke Padepokan Bajra Seta” berkata bebahu yang mengiringi. “Baru lusa kita sampai. Bukankah kau dengar, bahwa besok aku akan kembali?” sahut Ki Buyut. “Tetapi para Pemimpin dari Padepokan Bajra Seta akan mengetahui bahwa perjalanan dari Bumiagara memerlukan waktu.” jawab bebahunya. “Bukankah jaraknya tidak terlalu jauh? Kita tidak boleh menyia-ny iakan kesempatan ini,” jawabKi Buyut. Ternyata benar perintah Ki Buyut itu benar-benar tidak boleh tertunda. Malam itu juga telah disiapkan sebuah pedati. “Pedati itu akan merangkak seperti siput. Agak berbeda dengan kecepatan lari seekor kuda,” berkata bebahu itu. “Justru itu kita harus cepat-cepat berangkat,” jawab Ki Buyut, “Jika kita berangkat sekarang, maka besok siang kita baru sampai. Perjalanan ini akan memerlukan waktu lipat sepuluh dengan perjalanan berkuda. Bahkan lebih. Seandainya kita harus bermalam, maka sebaiknya kita bermalam di Padepokan Bajra Seta besok.” Niat Ki Buy ut itu tidak dapat dicegah. Karena itu, maka malam itu juga sebuah pedati telah meninggalkan Kabuyutan Bumiagara dikawal oleh empat orang bebahu dan dua orang yang dianggap memiliki kemampuan untuk melindungi senjata-senjata yang  bakalmereka bawa dari Padepokan Bajra Seta. Sementara itu Ki Buyut sendiri memilih untuk berada di dalam pedati, karena ternyata ia sempat berbaring untuk beristirahat selama perjalanan. Sebenarnyalah pedati itu berjalan lamban sekali. Bebahu yang berada di punggung kuda merasa sangat mengantuk sehingga bergantian mereka tidur di dalam pedati bersama Ki Buyut. Sementara kuda yang tanpa penunggang telah diikat dan berjalan lamban di belakang pedati. Meskipun Ki Buyut tergesa -gesa sampai, namun bebahunya terpaksa minta mereka beristirahat barang sebentar untuk memberi kesempatan kepada lembu yang menarik pedati dan kuda-kuda mereka beristirahat pula. Ternyata lewat tengah hari di hari berikutnya mereka baru sampai ke padepokan Bajra Seta. Mereka harus berhenti sementara itu senjata-senjata yang telah disiapkan segera dimuat ke dalam pedati. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmempersilahkan Ki Buyut untuk bermalam di padepokan itu. “Ki Buyut dan para bebahu tentu letih,” berkata Mahisa Murti. Ki Buyut memang tidak menolak. Tetapi Ki Buyut sudah mengatakan bahwa menjelang fajar, ia akan meninggalkan Padepokan Bajra Seta, agar perjalanan mereka tidak terlalu lama. “Orang-orang Bumiagara sudah menunggu-nunggu,” berkata Ki Buyut. Sebenarnyalah malam itu Ki Buyut, para bebahu dan pengawal yang meny ertainya bermalam di Padepokan Bajra Seta. Tetapi sebelum dini mereka sudah bangun dan bersiapsiap untuk berangkat kembali ke Bumiagara. Dengan demikian, maka lima orang cantrik yang  telah ditunjuk oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiapsiap pula. Mereka akan meninggalkan Padepokan Bajra Seta dan akan tinggal di Bumiagara untuk beberapa lama. Namun mereka tidak berkewajiban untuk mengajarkan dasar -dasar kemampuan olah kanuragan. Mereka hanya mendapat tugas untuk memberi petunjuk penggunaan senjata-senjata itu, meskipun hal itu tidak akan terlepas dari kemampuan olah kanuragan. Sebenarnyalah, sebelum fajar, setelah makan beberapa potong makanan dan menghirup minuman hangat, maka Ki Buyut Bumiagara telah mohon diri untuk kembali ke Bumiagara. Lima orang cantrik dari Bumiagara diperintahkan untuk mengikuti iring-iringan itu dan bahkan tinggal di Bumiagara untuk beberapa waktu. Sebenarnyalah Ki Buyut merasa gembira sekali mendapat perlakuan yang sangat baik, mendapat senjata dan tuntunan cara penggunaannya, sehingga dengan demikian maka Bumiagara akan dapatmembangun dirinya untukmelindungi diri sendiri. Demikianlah, dalam kegelapan menjelang fajar iringiringan itu berjalan sangat lambat. Para bebahu, pengawal dan para cantrik justrumerasa letih, berkuda mengikuti perjalanan pedati yang merayap perlahan-lahan. Sementara itu, Ki Buyut masih juga sempat berbaring di dalam pedati, di antara senjata-senjata yang dibawanya disisa malam itu. Ketika matahari terbit, iring-iringan itu memang sudah agak jauh dari Padepokan Bajra Seta. Namun karena beberapa orang berkuda mengiringnya, maka pedati itu memang menarik perhatian. Perjalanan kembali ke Bumiagara itu ternyata lebih lama dari perjalanan mereka ke Padepokan Bajra Seta. Kecuali pedatinya memang menjadi lebih berat karena muatan yang cukup banyak, terik matahari juga terasa menghambat. Beberapa kali mereka harus, berhenti. Kuda-kuda mereka menjadi haus dan lembu yang menarik pedati itu-pun menjadi lapar pula. Juga orang-orang yang mengiringi. Keringat yang mengucur dari tubuh mereka,membuatmereka cepat merasa haus. Karena itu, ketika matahari turun di sisi Barat langit, mereka berada di bulak panjang yang masih agak jauh dari Kabuyutan Bumiagara. Namun mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa ada beberapa orang yangmemperhatikan pedati yang diiringi oleh beberapa orang berkuda itu. “Sekitar sepuluh orang,” desis seorang di antara mereka. “Mereka bukan prajurit,” berkata yang  lain, “Tetapi agaknya pedati itu memang berisi barang berharga sehingga sekitar sepuluh orang harusmengawalnya.” “Pedati itu akan melewati bulak Larah,” berkata orang yang  pertama. “Aku mengerti maksudmu. Kita menghubungi kawankawan kita yang tinggal di padukuhan Larah” jawab yang lain. Orang yang  lain lagi berdesis, “Mereka adalah orang-orang yang dungu. Apakah mereka belum pernah mendengar tentang padukuhan Larah? Padukuhan tempat tinggal para gegedug, perampok dan peny amun?” “Marilah. Kita mendahului pedati yang maju sangat perlahan seperti siput itu. Kita bersiap di bulak Larah, dengan kawan-kawan kita dari Larah” berkata orang yang pertama. Demikianlah, maka beberapa orang itu telah berjalan dengan cepat, mendahului pedati yang  diiringi oleh beberapa orang berkuda yang  menjadi letih justru karena berjalan sangat lambat. Tetapi setiap kali seorang di antara mereka yang merasa sangat letih ikut naik pedati beberapa saat. Bahkan kadang-kadang Ki Buyut lah yang  naik di punggung kuda. Sais pedati itu justru sering turun dari pedatinya untuk menggeliat. Bahkan kadang-kadang berjalan kaki beberapa ratus patok untukmengurangi penat-penat tubuhnya. Ketika orang-orang itu sempat melampaui pedati yang  berjalan lamban itu,mereka tidak dapatmelihat apa saja yang ada di dalamnya. Tetapi mereka melihat selembar tikar yang besar menutupimuatannya yang  cukup banyak. Seperti yang mereka rencanakan, maka orang-orang itupun telahmenuju ke padukuhan Larahyang  terletak tidak jauh dari jalan yang melewati bulak panjang, yang  juga disebut bulak Larah. Ketika orang-orang itu memberitahukan kepada kawankawannya yang  ada di Larah tentang sebuah pedati yang lewat, maka orang -orang Larah itu-pun segera tanggap. “Berapa orang dibutuhkan?” bertanya seorang gegedug yang namanya cukup membuat orangorang padukuhan Larah mengerutkan lehernya. “Mereka dikawal sekitar sepuluh orang berkuda,” jawab orang yang  datangmengajaknya. “Mereka bukan prajurit?” bertanya gegedug itu lagi. “Bukan. Menilik pakaiannya mereka bukan prajurit,” jawab orang yang mengajaknya. “Kemana kira-kira pedati itu akan pergi?” bertanya gegedug itu selanjutnya. Orang yang  datang,mengajaknya itu menggelang. Katanya, “Aku tidak tahu. Tetapi bukankah jalan ini menuju ke Kabuyutan Bumiagara?” “Kabuyutan sarang pengecut itu? Melawan lima belas orang pendatang saja mereka sama sekali tidak mampu mengatasinya,” berkata gegedug itu. “Mungkin mereka justru menuju ke Bumiagara. Menilik pengawalnya yang  banyak, maka barang-barang yang  dibawa itu tentu cukup penting,” sahut orang yang datang ke padukuhan Larah itu. “Baik. Kita sediakan lima belas orang. Bukankah itu sudah cukup? Orang-orang kita adalah orang-orang yang sudah terbiasa memeras darah. Kita mencoba untuk merampas dengan baik. Tetapi jika mereka bertahan, maka potong saja leher mereka semuanya. Kita akan mendapatkan kuda, pedati dan barang-barang yang  ada di pedati itu,” berkata gegedug itu kemudian. Ternyata dalam waktu singkat orang-orang itu sudah siap. Lima belas orang termasuk orang-orang itu sudah siap. Lima belas orang termasuk orang-orang yang datang untuk memberitahukan tentang perjalanan pedati itu. Tetapi mereka tidak akan menyamun pedati itu di dekat padukuhan mereka sendiri. Tetapi mereka bergerak agak jauh. Mereka menempatkan diri di sebuah tikungan yang  agak menanjak karena perbukitan yang rendah. Namun tikungan itu merupakan tempat yang  sangat baik untuk merampok orang lewat. Bahkan kadang-kadang di siang hari-pun perampokan itu dapat terjadi. Sementara itu, Ki Buyut yang melihat orang-orang yang  melewati pedatinya tidak berkata apa -pun. Namun kemudian ketika ia sadar, bahwa mereka akan lewat di bulak Larah, maka ia-pun berkata kepada para bebahu, “Kita sampai ke bulak Larah.” “Tetapi bukankah kita beberapa kali lewat bulak itu tidak pernah terjadi sesuatu,” berkata bebahu itu. “Tetapi sekarang kita membawa barang-barang yang  berharga. Aku agak curiga melihat orang-orang yang baru saja mendahului kita,” berkata Ki Buyut Bumiagara kemudian. Bebahu yangmeny ertainya ber sama kedua orang pengawal itu-pun segera menyadari bahwa mereka akan sampai ke tempat yang cukup rawan. Mereka -pun tahu benar, bahwa ujung bulak Larah adalah sebuah tikungan yang menanjak lewat sebuah lekuk di perbukitanyang rendah. Karena itu,makamereka-pun segera bersiap. Salah seorang di antara para bebahu itu berkata kepada cantrik yang  tertua yang meny ertai mereka, “Kita memasuki bulak yang  sepi. Apalagi dimalam hari.” Cantrik itu mengangguk-angguk. Sementara bebahu itu berkata, “Biarlah kedua orang pengawal kami berada di belakang kalian. Dua orang bebahu Bumiagara akan berada di depan pedati. Sementara kami dan seorang lagi akan berada tepat di belakang pedati di depan kalian berlima.” Para cantrik itu tidak membantah. Mereka menurut saja, karena pimpinan perjalanan itu berada di tangan Ki Buyut sendiri. Demikian mereka memasuki bulak Larah, maka Ki Buyut tidak lagi lengah. Ia duduk di sebelah sais pedatinya yang menjadi tegang. Kegelapan dan keseny apan membuat suana memang menjadi gelisah, justru karena mereka berada di bulak Larah. Dua orang bebahu berkuda di depan mereka. Jika mereka berkuda terlalu jauh,maka Ki Buy ut segera memperingatkan mereka, agarmereka sedikit menahan diri. Semakin dalam mereka menembus gelapnya bulak Larah, maka jantungmereka serasa berdenyut semakin cepat.Namun hampir sampai ke ujung bulak mereka tidak mengalami sesuatu. “Padukuhan Larah telah lewat,” berkata salah seorang bebahu yang  berkuda di paling depan. “Padukuhannya memang sudah. Bukankah padukuhan di sebelah itu padukuhan Larah? Kita dapat melihat terangnya oncor di regol padukuhan itu,” sahut Ki Buy ut, “Tetapi kita belum lepas dari bulak Larahyang panjang itu.” Bebahu yang  berkuda di depan itu mengangguk-angguk. Beberapa puluh langkah lagimereka akan sampai ke tikungan. Karena itu maka Ki Buyut-pun berkata, “Tikungan itu sering disebut tikungan hitam. Hati-hatilah. Jangan terlalu jauh mendahului kami. Siapkan senjatamu.” “Untuk apa?” bertanya bebahu yang  di depan. “Kita harus berhati-hati,” jawab Ki Buy ut. “Tetapi sebelum kita melihat sesuatu di hadapan kita. Apakah kita harus sudah menarik pedang,” bertanya bebahu itu. “ Ini perintah. Kau dengar?” geram Ki Buyutyang  firasatnya telah meraba sesuatu yang  tidak wajar di hadapannya. Kedua bebahu yang berkuda di paling depan itu tidak menyahut. Ternyata bahwa wibawa Ki Buyut masih tetap tinggi, sehingga keduanya-pun telahmencabut pedangnya. Sikap Ki Buy ut yang  keras itu telah mempengaruhi para bebahu dan para pengawal yang berkuda di paling belakang. Demikian pula para cantrik-pun menjadi semakin berhati-hati. Ki Buyut sendiri kemudian telah berdiri di bagian depan pedati itu, sementara sais pedati yang memegang tali kendali kedua ekor lembu yang menariknya telah menjadi berdebardebar pula. Namun sais itu bukan seorang penakut. Sebagai seorang sais pedati, maka ia dianggap seorang yang memiliki kekerasan tulang sekeras tulang lembunya. Sais itu-pun telah meny iapkan sepotong besi di belakangnya. Setiap saat sepotong besi itu akan dapat dipergunakan. Bahkan untukmelawan pedang sekali-pun. Sejenak kemudian, maka pedati itu-pun telah memasuki sebuah tikungan yang menanjak, di sela -sela perbukitan rendah. Di sebelah meny ebelah jalan terdapat pohon-pohon perdu yang rimbun. Dalam gelapny a malam, maka pohon perdu itu nampak kehitam-hitaman di antara bayangan bongkah-bongkah batu padas. Dua orang bebahu yang berkuda di paling depan itu-pun menjadi semakin berhati-hati. Mereka memegang pedang mereka yang  telah telanjang. Demikian pula Ki Buyut Bumiagara. Sementara sais pedati itu masih belum menggenggam potongan besinya. Tetapi di tangan kanannya ia memegang sebuah cambukyang  besar berjuntai anyaman ijuk yang kuat. Demikianlah, suasana benar-benar menjadi tegang. Kedua orang bebahu yang terdepan memperhatikan setiap gerumbul yang ada di sebelahmenyebelah jalan. Namun salah seorang di antara keduanyamemangmenjadi curiga. Ia melihat salah sebuah di antara gerumbul-gerumbul itu bergerak. Karena itu ia berdesis, “Hati-hati. Aku memang melihat sesuatu.” Kawannya-pun dengan cepat anggap. Ia -pun segera bergeser menjauhi kawannya. Ia -pun siap menghentakkan kendali kudanya untuk mengejutkan orang -orang yang jika benar isy arat kawannya, akan mengganggu perjalananmereka. Ternyata Ki Buy ut Bumiagara-pun melihat pula sebuah gerumbul yang  bergerak. Karena itu, maka ia -pun telah menyiapkan pedangnya dengan baik. Dengan tangannya Ki Buyut memberi isy arat kepada sais yang  duduk di sebelah Ki Buyutyang  berdiri itu, agar ia -pun ber siap pula. Di belakang pedati, hampir setiap cantrik telah melihatnya pula. Karena itu maka mereka-pun justru telahmenjauhi yang satu dengan yang  lain. Cantrik yang berada di paling belakang telah berdesis kepada kedua orang pengawal Ki Buyut, “Mereka berada di belakang setiap gerumbul itu.” Para pengawal itu t idak segera tanggap. Karena itu seorang di antaramereka justru bertanya, “Mereka siapa?” Cantrik itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Yang dicemaskan oleh Ki Buy ut. Maksudku, di belakang perdu itu bersembuny i beberapa orang yang mungkin akan merampok kita. Mereka menyangka bahwa di dalam pedati itu terdapat harta benda yang  sangat berharga.” “Tetapi bukankah barang-barang yang  ada di pedati itu benar-benar berharga?” bertanya pengawalyang  lain. “Ya. Karena itu kita harus mempertahankannya,” jawab cantrik itu. Kedua orang pengawal itu mencoba memperhatikan gerumbul-gerumbul perdu di sebelah meny ebelah jalan dalam kegelapan malam. Namun akhirnya mereka-pun seakan-akan melihat bayangan yang  telah bergerak. Namun sekila s saja. Lalu hilang. Ki Buy ut dan para bebahu yang ada di depan mengerti, bahwa di sebelah menyebelah jalan itu bersembuny i beberapa orang. Namun agaknya mereka menunggu iring-iringan itu masuk ke dalam kepunganmereka. Karena itu, maka setiap orang dalam iring-iringan itu-pun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mereka sadar, bahwa sebentar lagi, beberapa orang akan berloncatan keluar dari belakang gerumbul-gerumbul liar itu dengan senjata di tangan. Sebenarnyalah seperti yang  telah mereka perhitungkan. Ketika iring-iringan itu sudah mulai berbelok dan menanjak disela-sela perbukitan kecil, maka tiba-tiba saja terdengar seseorang berteriak. Meneriakkan aba-aba. Teriakan itu disambut dengan teriakan-teriakanyang  sahut menyahut dari sebelahmenyebelah jalan. Lima belas orang berloncatan dari balik gerumbul menyerang orang-orang berkuda yang mengawal pedati itu. Para cantriklah yang  paling sigapmeloncat dari punggungpunggung kuda mereka. Seorang di antara mereka masih harus menambatkan kendali kuda mereka pada pedati yang juga telah berhenti. Pada tiang dan jari-jari r odanya. Sementara empat orang yang  lain telah berloncatan meny ongsong orang-orang yangmeny erang dari lereng-lereng bukit kecil itu. Para bebahu-pun telah berloncatan turun pula sambil berkata kepada sais pedati itu, “Tambatkan kuda-kuda itu.” Sais pedati itu-pun telah berlari-lari menangkap pedati kuda kedua bebahu yang ada di depan pedati dan mengikat kendali kuda itu pada ujung pasang lembu yang  menarik pedati itu. Sementara Ki Buy ut berkata sambil meloncat turun, “Jaga lembu dan kuda -kuda itu. Ganjal roda pedati agar tidak bergerak.” Kedua orang pengawal di paling belakang ternyata tidak sempat mengikat kuda mereka. Demikian mereka meloncat turun, mereka harus sudah menangkis serangan-serangan yang datangmelanda dengan derasny a. Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran antara orang-orang Bumiagara dan para cantrik padepokan Bajra Seta, melawan para perampok yang ingin merampasbarang-barang yang dibawa dalam pedati itu. Ketika pertempuran itu berkobar dengan sengitnya, maka terdengar suara di antara para perampok itu, “ Jika kalian serahkan barang-barang yang kalian bawa itu dengan baik, maka kami tidak akan menyakiti kalian.” Ki Buyut yang marah menjawab dengan keras pula, “Persetan kalian para perampok. Kalian harus mendapat hukuman atas perbuatan kalian. Agaknya kalian telah melakukan hal seperti ini beberapa kali.” “Jangan sombong Ki Sanak,” teriak pemimpin perampok itu, “Kalian tidak mempunyai kesempatan. Tetapi jika kalian melawan, maka kalian akan mati, tumpas sampai dengan orang yang  terakhir.” “Kami atau kalianlahyang  akan tumpas,” geram Ki Buyut. “Pekerjaan kami melakukan hal seperti ini. Berkelahi, membunuh dan merampok. Karena itu, jangan mencoba menakut-nakuti kami, karena hal itu hanya akan membuat kami tertawa sebelum kami memeras darah kalian sampai tetes terakhir. Besok di tempat ini, orang-orang yang  lewat akan segera berteriak-teriak karena mereka melihat sosok kalian yang  berceceran di tikungan hitam ini,” teriak pemimpin perampok itu. “Tetapi kali ini agak berbeda,” jawab Ki Buy ut, “Yang akan ber serakan di sini adalah mayat kalian. Biarlah orang-orang Larah besok mengambilmayat kalian danmenguburkannya.” “Setan kau,” geram pemimpin perampok itu. Kemarahannya telah mendorongnya untuk meneriakkan perintah, “Bunuh semua orang. Tidak ada ampun bagi seorang-pun di antaramereka.” Tetapi Ki Buy ut yang  marah-pun berteriak pula, “Bunuh mereka semuanya biarlah kawan-kawan mereka menjadi jera untukmelakukan perampokan.” Pertempuran-pun segera meningkat semakin sengit. Kedua belah pihak menjadi marah dan ingin meny elesaikan lawanlawanmereka dengan cepat. Namun para perampok itu kurang menyadari, bahwa di antara iring-iringan itu terdapat lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang  memiliki kemampuan prajurit. Karena itu, maka kelima orang cantrik itu -pun segera berloncatan sambil memutar pedang mereka di antara beberapa orang lawan. Sementara itu, Ki Buyut sendiri telah turun ke dalam pertempuran itu. Dengan tangkasnya ia mengayunkan senjatanyamenghadapi para perampok yangmenyerangya. Tetapi para perampok itu memang lebih banyak jumlahnya. Karena itu, maka para bebahu dari Bumiagara serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta memang harus bekerja keras mengatasi mereka. Apalagi para perampok itu telah bertempur dengan keras dan kasar. Mereka berteriak-teriak dan mengumpat-umpat dengan kata-kata kotor. Tetapi para cantrik sama sekali tidak terpengaruh oleh kekerasan dan keka saran para perampok itu. Mereka mempunyai pengalaman yang  lebih baik dari para bebahu Bumiagara. Bahkan dengan kedua orang pengawal pilihan yangmeny ertai perjalanan Ki Buyut itu. Meny adari akan hal itu, maka para cantrik itu telah memencar. Seorang di antaranya telah berada di depan pedati yang berhenti itu. Seorang di sisi sebelah kiri. Seorang di kanan dan dua orang Di belakang. Demikianlah, pertempuran-pun semakin lama menjadi semakin keras dan ka sar. Para perampok telah kehilangan kesabaran karenamereka tidak segera menguasai lawan-lawan mereka. Biasanya mereka dengan cepat membantai orangorang yang mencoba mempertahankan barang-barangmereka. Namun ternyatamereka tidak dapatmelakukannya saat itu. Pemimpin para perampok yang terdiri dari seorang gegedug yang ditakuti itu berteriak semakin keras menggetarkan udaramalamyang  gelap, “Cepat bunuh mereka. Jangan ragu-ragu.” Namun demikian mulutnya terkatub rapat,maka terdengar salah seorang di antara para perampok itu berteriak kesakitan sambil mengumpat-umpat dengan kata-kata yang  paling kotor. Sementara itu, segores luka telah meny ilang di dadanya, sehingga orang itu telah terdorong beberapa langkah surut. Tetapi kemudian, luka itu tidak menghentikannya. Bahkan justrumembuat orang itu seperti gila. Ki Buy ut Bumiagara sendiri ternyata bertempur seperti banteng yang  terluka. Senjata berputaran dengan cepatnya. Sekali terayun mendatar, kemudianmeny ilang dan berputar di samping tubuhnya. Namun kemudian mematuk dengan cepatnya mengarah ke dada. Cantrik yang  bertempur di depan pedati itu telah mengikat dua orang lawan. Tetapi Cantrik itu benar-benar tangkas. Senjata yang  dipergunakan adalah sebilah pedang yang  ringan. Tetapi dilihat dari ujudnya, pedang itu cukup besar dan panjang. Jika benturan terjadi, maka getar kekuatannya benar-benar telah membuat telapak tangan lawannya terasa panas. Beberapa saat kemudian, maka para cantrik justru mulai mendesak lawan-lawan mereka. Bahkan yang bertempur melawan dua orang pula. Dengan ketangkasan seorang prajurit, maka mereka telah menunjukkan, bahwa para perampok itu tidak akan mampu memaksakan kehendak mereka meskipun dengan kekerasan senjata. Bahkan sekali lagi terdengar seorang di antara para perampok itu mengumpat-umpat ketika ia terdor ong dan jatuh terlentang dilereng bukityang  rendah itu. Demikian ia meloncat bangkit, maka tangannya-pun meraba pundaknya yang terasa hangat oleh darahnya yang mengalir dari luka-lukanya. Tetapi orang itu tidak menghentikan perlawanannya. Ia - pun justru telah berteriak keras-keras sambil berlari menyerang seorang yang  masih bertempur melawan seorang kawannya. Perampok yang terluka itu sama sekali tidak mengekang dirinya lagi. Dengan sepenuh tenaga ia menghambur dan mengayunkan kapaknya yang besarmengarah ke kepala lawan seorang kawannya yang nampak agak terdesak. Ternyata yang  diserangnya itu adalah seorang cantrik yang  bergerak dengan cepat menghindari serangannya. Sambil berjongkok cantrik itu telah menjulurkan pedangnya, seakanakan langsungmenerima tubuh orang yang meny erangnya itu. Sekali lagi terdengar teriakan kesakitan yang terlontar oleh kemarahan dan kebencian yang  sangat. Namun sejenak kemudian suara itu leny ap ditelan oleh suara dentang senjata yang beradu. Sementara itu, ketika cantrikyang berjongkok itu bangkit sambil menarik pedangnya, maka tubuh perampok itu-pun telah terguling jatuh. Tetapi orang itu sudah tidak dapat berteriak lagi untuk selama-lamanya. Dengan demikian maka seorang demi seorang jumlah perampok itu telah susut. Namun seorang di antara mereka telah mampu menyusul lingkaran pertempuran itu dan berlari mendekati pedati yang berhenti itu. Namun ternyata, dengan tidak diduganya, sais pedati itu telah meloncatmeny erangnya. Tidak dengan sepong besi yang masih tergolek di dalam pedati, namun dengan sebuah cambukyang besar dan panjang. Perampok itu dengan cepat bergeser menghindar. Tetapi cambuk itu seakan-akan telah menggeliat. Sais yang setiap hari bermain dengan cambuk itu mampu menggerakkan juntainya yang panjang seperti menggerakkan tangannya sendiri. Karena itu, maka ujung cambuk yang menggeliat itu ternyata telah mematuk lengan perampok yang  berhasil mendekati pedati itu. Perampok itu mengaduh tertahan. Namun ketika ujung juntai cambuk itu dihentakkan sendai pancing, maka sekali lagi orang itu mengaduh menahan sakit. Bahkan ketika ia meraba lengannya, maka lengannya itu seakan-akan telah terkoyak. “ Iblis kau,” geram perampok itu, “Kau sais pedati yang  dungu. Kau kira kau mampumelawan aku?” Sais itu sama sekali tidak menjawab. Ia justru memanfaatkan saat yang baginya sangat baik itu. Selagi perampok itu mengumpatinya, maka tanpa mengucapkan sepatah kata-pun, sekali lagi cambuknyamenggeletar. Perampok itu memang berusaha untuk menghindar. Cambuk itumemang tidakmembelit lehernya, tetapi ujungnya telah menggapai dada perampok itu sehingga orang itu-pun telah berteriakmarah. Namun sais itu tidak memberinya waktu. Dengan cepat ia memburu. Sekali lagi cambuknya telah meledak. Tetapi lawannya sempat menggeliat menghindari sambaran ujung cambuk itu. Dengan demikian maka perampok itu-pun telah mendapatkan waktu untuk menyiapkan pertempuran berikutnya. Kemarahan yang memuncak telah membakar jantungnya. Ia telah dilukai oleh seorang sais yang hanya ber senjata cambuk. Karena itu, maka ia tidak mempunyai keinginan lain pada saat itu kecualimembunuh sais itu. Sais itu -pun telah bersiap sepenuhnya. Setapak demi setapak ia bergeser mendekati pedatinya. Kemudian dengan secepat kilat ia telah mengambil senjatanya yang  lain sepotong besi yang agak panjang. Sementara itu, di lingkaran pertempuran yangmengelilingi pedati itu, terdengar lagi teriakan panjang.Umpatan kasar dan bahkan yang tidak pantas dikatakan. Namun kemudian tubuh itu terguling jatuh. Yang kemudian terdengar adalah erang kesakitan. Perampok yangmendekati pedati itu-pun segera melompat menyerang. Ia sadar, bahwa kawannya telah berkurang seorang lagi. Karena itu, maka ia harus dengan cepat menguasai pedati itu danmembawanyameninggalkan arena. Namun sais itu tidak membiarkannya meny entuh pedatinya. Dengan segenap kemampuannya, maka sais itu telah mempertahankannya dengan sepotong besi. Tetapi memang ternyata bahwa perampok yang sudah terbiasa berkelahi dengan senjata, telah membingungkan sa is itu. Beberapa saat kemudian, maka ia -pun telah terdesak mundur. Bahkan kemudian tubuhnya bagaikan telah melekat pada pedati yang dipertahankannya itu. Sais itu memang meny esal telah mengganti cambuknya dengan sepotong besi. Sebenarnya baginya, cambuk itu akan lebih berarti. Namunyang  kemudian ada di tangannya adalah sepotong besi, sehingga apa-pun yang terjadi, ia harus mempergunakannya sejauh dapat dilakukannya. Tetapi akhirnya, sais itu telah terdesak. Ia tidakmempunyai ruang gerak lagi. Karena itu, maka sais itu-pun hanya dapat pa srah, apa yang akan terjadi atas diriny a,meskipun ia masih mencoba untuk bertarung. Ketika senjata perampok itu terangkat saat sais itu tidak lagimampu berbuat apa-apa,maka sais itu telahmemejamkan matanya. Ia tidak ingin melihat ujung senjata itu terayun dan menghunjam kematanya. Tetapi tiba -tiba justru lawannya itulah yang menjerit ngeri. Ternyata Ki Buyut sempat melihat apa yang akan terjadi atas diri sais itu. Karena itu,maka Ki Buyut-pun segera meninggal lawannya dan berusahamenolong sais itu. “Terima kasih Ki Buyut,” desis Sais itu. Namun Ki Buyut telah berlari lagi ke arena. Bahkan kemudian Ki Buy ut itu telah bertempur melawan pemimpin perampok dan seorang pengawalnya. Ki Buyut memang harus berhati-hati. Kawan pemimpin perampok itu adalah seorang yang berwajah garang. Bertubuh tinggi dan besar dengan kumisyangmelintang. Tetapi ternyata di bagian dari pertempuran itu terdengar lagi pekik kesakitan. Seorang lagi dari antara para perampok itu terlempar jatuh. Meskipun ia masih dapat berguling menjauhi arena, namun ia tidak mungkin lagi untuk melanjutkan perlawanan. Jari-jari tangannya sebelah kanan yang mengenggam senjatanya telah terbabat oleh pedang seorang cantrik. Pemimpin perampok itu menggeram. Kemarahannya telah sampai ke puncak ubun-ubunnya. Ia mengira bahwa para perampok itu tidak akanmengalami banyak kesulitan. Namun yang  terjadi adalah lain. Para pengawal pedati itu adalah orang-orang yang  memiliki ilmu yang  tinggi. Yang ternyata tidak dapat dihancurkan oleh jumlah orang yang lebih banyak. Bahkan satu demi satu orang yang mencegat pedati itu runtuh jatuh ke bumi. Pemimpin perampok itu kemudian tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertempur berdua melawan Ki Buyut. Seorang kawannya harus menarik diri dan bertempur melawan seorang cantrikyang kehilangan lawannya. Karena itu,maka pemimpin perampok itu tidak akan dapat berbuat banyak. Kawan-kawannya telah menjadi jauh su sut. Meskipun dua orang bebahu terluka, bahkan Ki Buyut sendiri. Serta seorang dari antara kedua pengawal itu-pun terluka cukup parah, justru merekalah yang  nampaknya akan menguasai pertempuran. Tetapi, pemimpin perampok itu cepat tanggap pada keadaan di sekitarnya. Karena itu, maka ia -pun telah memberikan isy arat bahwa mereka lebih baik meninggalkan tempat itu daripada membunuh diri sendiri. Dalam waktu yang sangat singkat,maka para perampok itu telah mundur dan kemudian berlari bercerai berai memanjat bukityang  rendah itu. Ketika para bebahu dua pengawal akan mengejar mereka, maka Ki Buyut-pun berteriak, “Cukup. Kita tidak akan memburu mereka sampai kebukit. Kita tidak akan meninggalkan pedati ini, sementara kita tidak tahu apa yang ada di belakang bukit.” Para bebahu dan pengawal itu-pun berhenti pula. Para cantrik ternyata sependapat dengan Ki Buyut, bahwa mereka tidak perlu memburu orang-orang yang melarikan diri, karena mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi kemudian. Mungkin orang-orang itu akan memanggil seisi padukuhan Larah yang sebagian besar masih saling berhubungan darah dan terlibat pula dalam pekerjaanyang  hitam itu. Yang diperintahkan Ki Buyut kemudian adalah, “Kita ber siap dan meneruskan perjalanan. Kawan-kawan kita yang terluka akan ikut naik pedati.” “Tetapi bagaimana dengan tubuh-tubuh mereka yang  terbunuh itu Ki Buyut?” bertanya salah seorang bebahu. Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Kemudian katanya, “Bukannya kami tidak berjantung. Tetapi kawan-kawan mereka tentu akan segera datang kembali untuk mengambil tubuh-tubuhyang  terbaring itu.” Para bebahu itu saling berpandangan. Sementara itu seorang di antara para cantrik berkata, “Tetapi sebaikny a, kita kumpulkan tubuh-tubuh itu dan kita letakkan di tempat yang tidak terlalu dekat dengan jalan itu. Namun yang kita yakini akan diketemukan oleh kawan-kawan mereka.” Ki Buy ut-pun mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Tetapi cepatlah sedikit. Sebelum seluruh padukuhan Larah datangmengepung kita.” “Kita akan bertempur meskipun aku sudah terluka,” berkata bebahu yang  terluka itu. “Aku-pun tidak akan gentar,” berkata Ki Buy ut, “Tetapi bukankah lebih baik jika kita tidak membunuh lagi?” berkata Ki Buyut. Lalu katanya kemudian, “Aku telah menyebabkan pembunuhan-pembunuhan terjadi sebelumnya. Aku tidak mau menambah beban lagi di pundakku. Semakin banyak darah mengalir, rasa-rasanya aku akan semakin dalam terbenam di dalamnya.” Bebahu itu tidak menyahut lagi. Namun ber sama dengan kawan-kawannya dan kedua orang pengawal mereka telah mengumpulkan orang-orang yang  terbunuh dan terluka. Para cantrik-pun tidak membiarkan mereka bekerja terlalu berat, sehingga kelima orang itu telahmembantunya. Beberapa saat kemudian, maka beberapa sosok telah terbaring di antara bebatuan. Di antara masih ada yang merintih karena luka-lukanya. Para cantrik mencoba untuk menaburkan obat diatas luka yang  parah itu untuk mengurangi aliran darah dari luka-lukamereka. “Jangan tinggalkan kami,” rintih seseorang yang terluka parah sehingga tidak mampu ikut menarik diri dari arena pertempuran. “Kami akan meneruskan perjalanan,” jawab cantrik itu, “Kawan-kawanmu akan segera datang.” “Tetapi kami yang terluka parah akan dapat mati di sini,” berkata orang itu. “Tidak. Lukamu sudah pampat. Setidak-tidaknya darahnya tidak lagi mengalir terlalu banyak. Kawan-kawanmu dari padukuhan Larah akan segera kembali mengambilmu dan kawan-kawanmu,” jawab salah seorang cantrik. “Tolong, panggil mereka,” minta orang yang  terluka itu, “Sebelum akumati.” “Maaf, tidak mungkin Ki Sanak. Jika aku pergi ke padukuhan Larah, maka akibatnya akan buruk sekali bagiku. Bagaimana-pun juga aku tidak dapat mengesampingkan pengertian kami tentang padukuhan Larah. Apalagi peristiwa ini terjadi tidak terlalu jauh dari Larah. Bukankah bulak ini yang disebut bulak Larah dan tikungan ini juga sering disebut tingkungan hitam?” “Tetapi jika kau tinggal kami,maka kami akan mati sia -sia. Tolong panggil keluargaku di padukuhan itu.” minta orang itu semakinmendesak. “Di padukuhan Larahmaksudmu?” bertanya cantrik itu. “Ya” jawab orang itu. “Sekali lagi aku minta maaf. Kami tidak berani memasuki padukuhan itu. Justru kami harus segera pergi dari tempat ini. Jika tidak, maka roang-orang Larah akan mengepung tempat ini, dan kami harusmembunuh lebih banyak lagi. Tahankan sedikit. Kawan-kawanmu akan segera datang” berkata cantrik itu. Tetapi orang itumasih saja mengerang. “Kita tidakmempunyai pilihan lain,” berkata Ki Buy ut. Lalu katanya kepada orang yang terluka itu, “ Ingat apa yang  telah terjadi malam ini. Jika lain kali masih ada orang yang dirampok di sini atau dimana-pun dan dilakukan oleh orang Larah, maka kami akan datang dengan pa sukan yang  cukup untuk menghancurkan Larah dan membuat Larah menjadi karang abang. Ingat itu. Kali ini kami masih menghidupimu, agar kau sempatmengatakan pesanku itu.” Ki Buyut tidak menunggu lagi. Ia -pun segera meninggalkan orang-orang yang  terbunuh dan terluka dari antara mereka yangmencegat perjalanannya. Sementara itu, seorang bebahu yang lukanya agak parah telah ditempatkan di dalam pedati. Demikian pula salah seorang di antara kedua pengawal. Ki Buyut sendiri sebenarnya juga terluka, tetapi luka itu tidak berbahaya, sementara Ki Buyut sendiri memang tidak menghiraukannya. Karena itu, maka Ki Buy ut lah yang  kemudian duduk di punggung kuda. Dua orang yang  terluka cukup parah sudah berada di dalam pedati setelah luka-lukanya menjadi pampat oleh obat para cantrik. Demikian pula goresan-goresan pada tubuh orang -orang yang  lain, sehingga sama sekali tidak berdarah lagi. Namun seorang cantrik telah berpesan, “Jangan terlalu banyak bergerak, agar luka-luka itu tidak berdarah lagi.” Dua orang yang  berada di pedati, duduk sambil ber sandar tiang pedati. Tubuh mereka terasa sangat lemah oleh lukalukanya. Namun ketika mereka tersentuh oleh ikatan-ikatan senjata yang berguncang-guncang di dalam pedati yang  kemudian merangkak lagi dengan lambatnya,maka rasa-rasanya jantung mereka justru berdegup semakin cepat. Mereka sadar, bahwa mereka telah terluka saat mempertahankan barang-barang yang sangat berharga itu. Sehingga di sela -sela perasaan sakit yangmasih menggigit, terber sit perasaan bangga pula. Demikianlah, maka pedati itu -pun merayap lewat jalan yang agakmenanjak. Setelah melewati tikungan hitam,maka rasa-rasanya perjalanan pedati itumenjadi semakin lambat. Tetapi mereka tidak dapat berbuat banyak. Pedati itu memang sedangmelintasi jalan yang agak naik. Ki Buyut justru berkuda di paling depan disertai dua orang bebahu. di belakang pedati itu, berkuda kelima orang cantrik dari padepokan Bajra Seta. Kemudian baru seorang bebahu dan seorang pengawal. Malam terasa semakin lama semakin dingin. Namun demikian, orang- orang berkuda itu justru berkeringat. Bukan sa ja karena harusmengendalikan kuda-kuda mereka, namun mereka-pun masih saja merasa sedikit tegang. Ketika seorang pengawal yang  berada di dalam pedati berniat untuk naik di punggung kudanya yang tertambat di belakang pedati yang berjalan perlahan-lahan itu, maka seorang cantrik telah mencegahnya. Katanya, “Tetaplah berada di dalam pedati. Lukamu agak sedikit parah. Biarlah darahnya benar-benar pampat lebih dahulu, agar tidak mengalir lagi dari luka-lukamu itu.” Pengawal itu tidak dapatmemaksa. Ia -pun kemudian tetap duduk di dalam pedati ber sama seorang bebahu yang  lukalukanya memang agak lebih parah dari pengawal itu. Dengan demikian maka perjalanan selanjutnya berlangsung lambat sebagaimana sebelumnya. Ketika jalan tidak lagi menanjak,maka pedati itu berjalan sedikit lebih cepat.Namun perbedaannya tidak banyak. Sementara itu, orang-orang Larah yang melarikan diri, memang langsung pergi ke padukuhannya. Beberapa orang sempat mereka siapkan. Bahkan lebih dari limabelas orang. Namun ketika mereka sampai ke t ikungan hitam,maka pedati dan para pengawalnya sudah tidak ada. “Kita kejarmereka.” teriak seseorang. Gegedug yang semula memimpin kawan-kawannya itu berkata, “Tidak usah.” “Kenapa?” bertanya orang yang  berteriak itu. “Lihat di belakang batu besar itu,” berkata pemimpin itu. Orang yang berteriak-teriak untuk mengejar itu-pun melihat apa yang ditunjukkan oleh pemimpinnya itu. Ternyata darahnya-pun tersirap. Ia melihat beberapa sosok tubuh yang membeku. Namun di antara mereka masih ada yang  tetap hidup danmendapat perawatan dari kawan-kawannya itu. “Nah, bagaimana?” bertanya gegedug itu. Orang itu tidakmenjawab. Tetapi ia menyadari, jikamereka memburu, meskipun mereka tentu akan dapat menyusulnya karena pedati itu berjalan sangat lamban, namun di antara mereka harus ada yang bersedia terbujur mati lagi. Bahkan mungkin jauh lebih banyak, sementara barang-barang berharga itu tidak dapatmerekamiliki. “Jumlah mereka memang hanya berkisar sepuluh orang,” berkata pemimpinnya itu, “Tetapi kemampuan mereka sama dengan kemampuan prajurit. Bahkan ada di antara mereka yang lebih baik lagi.” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Mereka-pun kemudian mengerti bahwa tidak ada gunanya menyusul mereka. “Sebaiknya kita rawat kawan-kawan kita yang  terbunuh dan yang terluka parah itu,” berkata pemimpinmereka. Karena itu,maka mereka tidak lagi berniat untukmengejar pedati yangmembawa barang-barang yang tidak diketahuinya, tetapi tentu barang-barang yang sangat berharga. Ki Buy ut yang  melanjutkan perjalanan telah menjadi semakin jauh dari tikungan hitam. Betapapun lambatnya, maka akhirnya pedati itu telah mendekati Kabuyutan Bumiagara. Ki Buyut yang  berkuda di paling depan itu telah dapat menarik nafas panjang-panjang. Mereka akhirnya mampu kembali dengan selamat di Kabuyutan Bumiagara. Karena itu, ketika iring -iringan itu melintasi sebuah tugu batu sebagai batas Kabuyutan Bumiagara, maka rasa-rasanya titik-titik embunmenyiram jantungmereka yang  panas. “Kita telah berada di Bumiagara,” berkata Ki Buyut lantang sehingga para cantrik-pun ikutmengangguk-angguk gembira. “Kita akan langsungmenuju ke padukuhan induk,” berkata Ki Buyut. Namun dalam pada itu, selagi pedati itu berjalan tertatihtatih menuju ke padukuhan induk, ternyata orang-orang padukuhan Larah telah menentukan tekadny a untuk mencari jejak dan membalas dendam. Malam itu juga, dua orang telah ditugaskan untuk menentukan arah pedati dan para pengiringnya. Mereka harus mengikuti bekas r onda pedati itu sampai kesatu tempat yang meyakinkan, kemana tujuannya. Dua orang yang dianggapmemiliki kemampuanyang  tinggi serta memiliki ketajaman pengenalan, jejak telah mendapat tugas untukmelakukannya. “Berhati-hatilah. Kau tidak boleh tertangkap oleh orangorang itu. Kita memang tidak dapat menutup keny ataan, bahwa pengawal pedati itu memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga kita, dengan jumlahyang lebih banyak, tidakmampu mengalahkanmereka,” berkata pemimpin mereka. Dengan demikian, maka kedua orang itu -pun telah berangkatmenelusuri jejak. Meskipun di dalam gelap, namun mata mereka cukup tajam mengenali jejak pedati yang masih baru. Belum ada jejak lain yang  dapat menghapus jejak roda pedati itu. Apalagi ketika keduanya menjadi semakin dekat dengan Kabuyutan Bumiagara. “Pedati itu pasti menuju ke Bumiagara,” berkata salah seorang dari keduanya. “Marilah. Kita akan mengikuti jejak pedati itu sampai ketempatnya berhenti,” desis yang satu. “Sangat berbahaya,” berkata orang yang pertama. “Kita harus y akin, dimana pedati itu berhenti dan akan lebih baik jika melihat pedati itu dibongkar muatannya. Meskipun barangkali kita tidak dapat mendekat dan apalagi melihat isinya.” “Tetapi dengan demikian laporan kita menjadi lengkap.” berkata yang lain. Kawannya tidak menjawab. Jika ia menolak, maka ia akan dapat dituduh menghambat pekerjaan kawannya, atau bahkan dapat dianggap sebagai seorang pengecut. Dengan demikian maka kedua orang itu telah memasuki lingkungan Kabuyutan Bumiagara pula. “Bukankah kita mempunyai kebiasaan berkeliaran di malam hari?” desis orang yang pertama. “Ya,” sahutyang lain. “Kita mampu memasuki rumah orang tanpa diketahui, sehingga kita -pun akan mampu mengikuti jejak pedati itu sampai dikandangnya,” katanya pula. Kawannya tidak menjawab. Sementara mereka menjadi semakin dalam memasuki Kabuyutan Bumiagara. Jika pedati itu lewat melalui jalan padukuhan, maka keduanya terpaksa melingkari padukuhan itu. Jika mereka menemukan jejak pedati itu,makamereka telahmelanjutkan perjalanan mereka. “Jika kita tidak menemukan jejaknya di mulut lorong yang  kedua, berarti pedati itu berhenti di padukuhan ini,” berkata yang seorang lagi. “Apakah hanya ada dua mulut lor ong? Bagaimana jika jalan itu bercabang di dalam padukuhan? Atau ada simpang empatnya?” bertanya kawannya. “Jika kita memasuki padukuhan itu, maka kita akan mendapatkan jawabnya, sehingga kita akan dapat mengikuti jejak itu lagi. Tetapi kita akan lebih aman jika kita lebih banyak berjalan diluar padukuhan. Apalagi jika ada per onda yang duduk digardu dipinggir jalan itu,” jawab orang yang pertama. “Bukankah sudah terbiasa bagi kita untuk berjalan menyusup kebun dan halaman?” desis kawannya. “Bukankah justru akan lebih lama dari perjalanan kita yang  melingkar ini?” sahutyang  pertama itu. Kawannya tidak menjawab lagi. Tetapi keduanya berjalan terus mengikuti jejak pedati yang  ternyata memasuki padukuhan induk. “Sekarang kita tidak perlu melingkar. Aku y akin, pedati itu berhenti di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara ini.” berkata orang yang pertama itu. Keduanya-pun kemudian dengan sangat berhati-hati memasuki pintu gerbang. Namun mereka-pun dengan segera harus meloncati dinding dan masuk ke halaman sebelah. Beberapa puluh langkah di hadapan mereka terdapat sebuah gardu. Dibawah cahaya oncornya yang menyala cukup terang, mereka melihat beberapa orang duduk berjaga-jaga digardu itu. Tetapi dengan melewati halaman dan kebun yang  gelap, keduanya memasuki padukuhan induk itu semakin dalam. Keduanya sama sekali sudah tidak canggung lagi, karena hal seperti itu telahmereka lakukan beberapa puluh kali. Sekali-sekali keduanya memang mendekati jalan induk padukuhan dan bahkan kemudian turun ke jalan itu untuk melihat, apakah mereka masih tetap dapat mengikuti jejak pedati itu. Sebenarnyalah, akhirnya keduanya melihat sebuah pedati berhenti di sebuah halaman yang  luas. Namun pedati itu sudah terlepas dari sepasang lembunya. Bahkan tidak ada lagi orang yang  sibuk menurunkan barang-barang dari pedati itu. Yang nampak kemudian, beberapa orang telah duduk di pendapa sambil minum-minuman panas. Sementara di serambi gandok, nampaknya ampat orang per onda berjagajaga sambilminumminuman panaspula. “Kita datang terlambat, meskipun kita pasti bahwa kita berhasil menemukan pedati itu. Beberapa ekor kuda masih tertambat di patok- patok bambu itu,” berkata orang yang pertama. Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sayang, kita tidak dapatmelihat apa yang termuat dalam pedati itu.” Namun bagi kedua orang itu, hasil yang dicapainya ternyata cukupmemuaskan. Mereka tidak saja menemukan arah pedati itu, tetapi juga di mana pedati itu berhenti. “Kita kembali untuk memberikan kabar kepada kawankawan kita,” berkata kedua orang itu. Dengan sangat berhati-hati keduanya meninggalkan halaman rumah Ki Buy ut Bumiagara. Sedangkan senjatasenjata yang dimuat dalam pedati itu dengan cepat telah diturunkan dan disimpan di ruang dalam rumah Ki Buy ut itu. Sementara itu, Ki Buyut telahmemerintahkan rumah itu harus dijaga dengan baik sebelum senjata-senjata itu habis dibagibagikan kepada orang-orang yang  dianggap paling berhak menerimanya. Orang-orang Larah yang  sebagian mempunyai kebiasaan buruk, telah mendendam orang-orang Bumiagara yang telah berhasil menggagalkan rencana mereka untuk merampok barang-barang yang  mereka bawa. Bahkan pemimpip perampok dari Larah itu berkata, “Aku sendiri akan datang ke Bumiagara. Aku akan merampok semua isi rumah Buyut Bumiagara itu. Bukankah pekerjaan itu sudah terlalu sering kita lakukan?” “Tetapi kita harus memperhatikan kemampuan orangorang Bumiagara. Seputar sepuluh orang di antara mereka, ternyata tidak dapat kita tundukkan. Padahal kita membawa lima bela s orang kawan,” berkata kedua orang yangmengikuti jejak pedati itu sampai ke rumah Ki Buyut Bumiagara. “Orang-orang Bumiagara tidak berarti apa-apa bagi orangorang Larah. Tentu telah terjadi kesalahan, kenapa kita lima belas orang tidak dapat mengalahkan sepuluh orang Bumiagara. Tetapimungkin juga sepuluh orang itu sendiri dari orang-orang yang paling baik di Kabuyutan itu, sehingga mereka tidak mempunyai kekuatan lebih dari itu,” geram pemimpin perampok yang  terdiri dari orang-orang Larah itu. “Memang mungkin,” jawab yang  lain, “Tetapi Kabuyutan Bumiagara cukup besar. Jika kemudian Bumiagara mengumumkan permusuhan dengan Larah, mungkin kita akan mengalami kesulitan pula.” “Mana mungkin,” jawab gegeduk yang  memimpin para perampok dari Larah itu, “Setiap laki-laki di Larah mampu mempergunakan senjata. Tentu tidak demikian dengan orangorang Bumiagara.” “Ya, aku sependapat,” berkata seorang perampok yang  hampir sepanjang umurnya hidup dalam suasana kekerasan, “Orang-orang Bumiagara tentu terdiri dari para pengecut. Dalam per selisihannya dengan Padepokan Bajra Seta, mereka telah bertumpu pada kekuatan orang lain. Prajurit Kediri yang memberontak dan dari padepokan yang  dipimpin oleh Empu CarangWregu.” Beberapa orang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan menunggu kesempatan itu. Untuk beberapa saat kita tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi pada suatu hari, tiba -tiba saja kita akan muncul di halaman rumah Ki Buyut sebagai sekelompok perampok yang  akan mengakhiri kesombongan orang-orang Bumiagara yang telah meny inggung perasaan orang-orang Larah.” “Tetapi kita harus tahu pasti, apakah prajurit Kediri itu sudah tidak berada di Kabuyutan Bumiagara?” berkata salah seorang di antara mereka. “Tidak. Mereka telah pergi. Bumiagara telah ditinggalkan begitu saja dalam ketakutan menghadapi ancaman dari beberapa pihak,” berkata gegedug yang memimpin kawan-kawannya itu. “Tetapi apakah yang  dibawa orang-orang Bumiagara dengan pedati itu? Dan darimana pula?” desis seseorang. “Aku tidak peduli. Tetapi barang-barang itu tentu barang berharga. Kita akan mengambilnya di rumah Buyut Bumiagara. Kita tidak perlu tergesa -gesa. Kita akan mengumpulkan tiga puluh orang dari Larah ditambah dengan kawan-kawan kita yang terbaik. Kita akan merampok seluruh padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Jika jumlah kita sekitar empat puluh orang dengan orang-orang terbaik,maka Bumiagara tidak akan dapat melawan kita, meskipun isyarat sempat diberikan ke segenap penjuru Kabuyutan,” berkata gegedug itu, “Seandainya jumlah mereka tidak terhitung,maka kita tidak akan mendapat kesulitan untukmelarikan diri. Kita akan memencar, masing-masing dengan lima sampai tujuh orang. Jika mereka berani memburu, maka kita akan membantai orang-orang Bumiagara.” Kawannya mengangguk-angguk. Namun nampaknya gegedug itu memang tidak tergesa-gesa. Ia harus mengumpulkan sejumlah orang untuk meyakinkan agar Bumiagara dapat ditundukkan, dikalahkan dan direndahkan harga diriny a sebagaimana mereka merendahkan harga diri orang-orang Larah dengan menggagalkan rencana mereka merampok pedati. Namun dalam pada itu, Bumiagara telah mempunyai rencana tersendiri. Ki Buyut telah memerintahkan setiap padukuhan untuk meny iapkan anak-anak mudanya. Pada tahap pertama,masing-masing tidak lebih dari lima orang. Tetapi Ki Buy ut Bumiagara sama sekali tidak berpikir tentang orang-orang Larah yang mendendamnya. Jika ia mempersiapkan diri, maka yang  dibayangkan datang menyerang, adalah justru para prajurit Kediri yang sedang memberontak itu. Karena itu, maka Ki Buy ut-pun berkata, “Kita harus meningkatkan kemampuan anak-anak muda Bumiagara dengan diam-diam. Jika para prajurit Kediri mengetahuinya, maka mereka tentu akan semakin cepat datang untuk menghancurkan Kabuyutan ini.” Dengan demikian, maka peningkatan kemampuan anakanak Bumiagara dibagi menjadi beberapa kelompok yang berlatih di sanggar yang berbeda-beda. Tiga atau empat padukuhan menjadi satu, sehingga jumlahnya tidak begitu banyak. Setelah segala persiapan dimatangkan, maka latihanlatihan- pun segera dimulai. Limabelas atau duapuluh orang anak muda berkumpul di sebuah padukuhan yang  ditunjuk. Pada da sarnya mereka harus tetap dapatmelakukan pekerjaan mereka sehari-hari. Pagi hari mereka pergi ke sawah. Kemudian lewat tengah hari mereka sempat beristirahat di rumah beberapa saat. Baru menjelang sore mereka pergi ke tempat yang telah ditentukan tanap menarik perhatian orang banyak. Bahkan kadang-kadang mereka pergi ke padukuhan yang ditunjuk tidak bersama-sama. Demikian pula kegiatan mereka di tempat-tempat mereka berlatih selalu dilakukan di tempat yang tertutup. Mereka terbiasa melakukan di rumah Ki Bekel atau banjar padukuhan bagian belakang yang  terlindung oleh dinding halaman. Yang mula-mula sekali mereka pelajari adalah mempergunakan berjenis-jenis senjata yang  dibawa dari Padepokan Bajra Seta. Lima orang cantrik yang  ikut pergi ke Bumiagara telah di tempatkan di tempat-tempat latihan. Set iap kali mereka bertukar tempat, karena setiap cantrik memberikan latihan khusus serta latihan mempergunakan satu jenis senjata. Kemauan yang  besar serta kesediaan untuk mematuhi segala macam petunjuk, membuat anak-anak muda Bumiagara dengan cepatmeningkat. Mereka dengan sungguhsungguh belajar mempergunakan senjata yang berbeda dengan senjata yang mereka kenal ditempatmereka. Tetapi latihan-latihan dengan senjata yang  dibawa dari Padepokan Bajra Seta itu tidak mematikan kemampuan mereka mempergunakan senjata-senjata dari jenis yang lain. Senjata-senjata mereka sendiri. Bahkan para cantrik itu telah memberikan tuntunan untukmempergunakan senjata apa saja yang dapat mereka ketemukan. Dari senjata yang  paling baik sebagaimana mereka bawa dari Padepokan Bajra Seta sampai dengan mempergunakan sepotong kayu yang  mereka ketemukan di pinggir-pinggir jalan atau carang bambu yang mereka patahkan atau cambuk lembu pedati. Namun ketika mereka sudah meningkat semakin tinggi, maka cantrik-cantrik itu mulai mengarahkan kepada setiap orang yang ikut dalam peningkatan itu untuk memilih dan bahkan mengarahkan anak-anak muda itu untuk memperdalam jenis-jenis senjata tertentu. Ketika mereka menjadi mapan, maka senjata-senjata yang  mereka bawa dari Padepokan Bajra Seta itu-pun segera mereka bagi-bagikan. Ada yang lebih mantapmempergunakan pedang, ada yang lebih mapan bersenjata tombak. Namun ada yangmerasa tenang jika mereka membawa kapak. Tetapi di samping itu, ternyata ada yang memilih senjata cambuk.Orang-orang yang memilih ber senjata cambuk sudah tentu harus membuat cambuk sendiri. Meskipun demikian para cantrik itu-pun mampu memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana membuat cambuk yang baik dari janget yang dirangkap tiga. Namun para cantrik memberikan petunjuk pula, bahwa mereka yang memilih senjata dari jenis cambuk dan senjata lentur lainnya, juga ber siap dengan senjata tajam meskipun pendek. Pisau belati atau keris yang juga harus dipelajarinya dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, maka di setiap padukuhan, sedikitnya ada lima orang anak muda yang  memiliki kemampuan yang semakin tinggi. Bukan saja karena latihan-latihan yang tekun dan ber sungguh-sungguh, tetapi mereka-pun membiasakan diri untuk meningkatkan kemampuan wadag mereka. Pagipagi benar, jika mereka pergi kesawah mendahului orang lain, mereka justru memilih jalan yang agak jauh dan sulit. Mereka berlari-lari menyusuri tanggul sungai sambil memanggul cangkul, menuruni tebing dan naik ke bukit-bukit rendah. Baru ketika matahari terbit mereka sampai disawah. Mereka mempergunakan waktu sedikit untuk menenangkan pernafasan mereka dan beristirahat digardu. Baru kemudian, jika orang-orang lain telah datang, anak-anakmuda itu mulai bekerja di sawah sebagaimana kebia saan mereka sebelumnya. Ketika anak-anak muda yang  lima dari setiap padukuhan itu sudah menjadi semakin baik, maka setiap orang telah mendapat tugas untuk memberikan tuntutan secara khusus kepada dua orang kawannya. Dua orang yang bersedia berlatih dengan sungguh-sungguh. Tetapi ternyata bahwa senjata yang sempat dibawa ke Bumiagara sangat terbatas, sehingga yang mendapat bagian hanya anak-anak muda yang  ikut berlatih pada putaran pertama. Namun mereka akan menjadi tulang punggung kekuatan anak-anakmuda di Bumiagara. Pada tataran yang  semakin meningkat, maka Bumiagara memang banyakmengalami perubahan. Anak-anak mudanya menjadi semakin yakin akan diri mereka sendiri. Apalagi setelah kemampuan dari anak-anak muda yang ikut putaran pertama itu mulaimenjalar, sementara anak-anakmuda yang ikut pada putaran pertama itu masih terus berlatih bersama para cantrik untuk semakin meningkatkan kemampuan mereka. Ketika segala sesuatunya telah menjadi semakin rancak, maka seorang di antara para cantrik itu telah memilih sepuluh anak muda yang  lain khususny a dari padukuhan induk untuk mengadakan latihan tersendiri. Bersama dengan lima orang yang lebih dahulu, maka sepuluh orang di padukuhan induk itu akan menjadi pelindung padukuhan induk. Demikianlah, dengan diam-diam Kabuyutan Bumiagara telah berbenah diri. Setelah sebulan meny elenggarakan latihan-latihan dengan bersungguh-sungguh, maka beberapa orang anak muda telah benar-benar memiliki kemampuan mempergunakan senjata dengan baik. Sementara itu, kemampuan mereka-pun seakan-akan telah menjalar semakin lama semakin luas. Di setiap padukuhan sedikitny a sudah ada lima orang yang  dapat diandalkan. Mereka dengan mempergunakan senjata khusus yang dibawa dari Padepokan Bajar Seta, merupakan tulang punggung kekuatan yang  ada di setiap padukuhan. Sedangkan di hari-hari berikutnya, di padukuhan induk, limabelas orang telah ditempa dengan sungguh-sungguh oleh para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Dalam pada itu, Ki Buyut telah menjadi sedikit tenang menghadapi ancaman para prajurit Kediri yang memberontak itu. Jika mereka kemudian datang untukmemeras tenaga dan bahan makanan yang ada di Kabuyutan itu, maka Kabuyutan Bumiagara akan dapat berbicara pula. Apalagi atas permintaan beberapa orang bebahu, para cantrik telahmemberikan waktunya pula untukmeningkatkan kemampuan mereka. Tujuh orang bebahu Kabuyutan yang masih berusia muda, dan dua orang bebahu di setiap padukuhan. Bahkan ada beberapa orang bekal yang masih belum terlalu tua, ikut pula meningkatkan kemampuan mereka. Sementara itu, anak-anak muda yang  telah mendapat latihan khusus telah menjalarkan pengetahuan mereka dalam olah senjata kepada masing-masing dua orang kawannya. “Seandainya kami akan ditumpas habis oleh para prajurit yang memberontak terhadap kepemimpinan Sri Baginda di Kediri itu benar-benar dilakukan, maka kami tidak akan mati tanpa arti berkata Ki Buyutyang  telahmemiliki sebilah pedang yang besar dan panjang, namun tidak terlalu berat meskipun kekuatan dan kemampuan penggunaannya tidak kalah dengan pedang-pedang sebesar itu, namun beratnya berbaut banyak. Apalagi di setiap hari, kekuatan dan kemampuan anak-anak muda di Kabuyutan Bumiagara itu semakin meningkat. Tetapi yang  tidak diduga -duga itu ju stru terjadi. Orangorang Larahyang menyabarkan dirimenunggu, barangkali ada lagi sebuah pedati yang bakal lewat milik orang-orang Bumiagara, akhirnya telah sampai ke puncaknya. Beberapa orang tidak lagi ingin menunggu lebih lama lagi. Apalagi persiapanmereka telah mantap. Sekitar tigapuluh orang Larah dan sekitarnya dan lima orang gegedug yang  dianggap memiliki ilmu yang t inggi ditambah dengan lima orang kawan gegedug yang  berilmu tinggi itu. “Kita bukan sekedar membalas dendam. Tetapi kita akan merampok padukuhan Induk Bumiagara habis-habisan. Ketika seorang di antara kita lewat padukuhan induk itu,maka orang itu sempat melihat beberapa rumah yang  besar dan terawat baik. Rumah-rumah itu tentu rumah-rumah orang kaya dan meny impan berbagai macam harta kekayaan yang nilainya t inggi. Selama ini kita belum pernah melakukan hal seperti ini. Beramai-ramai memasuki sebuah padukuhan untuk merampok bukan saja rumah seorang yang  kay a raya, tetapi kami akan merampok seisi padukuhan. Kita akan menghancurkan rumah Ki Buy ut Bumiagara setelah semua isiny a kita kuras habis,” berkata gegedug yang memimpin orang-orang Larah. Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Mungkin kita tidak akan menemukan harta benda yang pantas untuk kita bagikan kepada orang sebanyak ini. Tetapi aku tidak berkeberatan untuk melakukannya. Nampaknya memang menarik untuk melakukan satu pekerjaan yang  belum pernah kita lakukan sebelumnya. Bia sanya sekelompok berandal dan perampok tidakmembawa lebih dari sepuluh orang kawan. Namun kita tahu, bahwa selain merampok, kalian nampaknya ingin membalas sakit hati karena usaha kalian untuk merampok pedati lebih dari sebulan yang lalu itu gagal. Bahkan ada di antara kalian yang terbunuh. Sementara orang-orang Bumiagara sama sekali tidakmeninggalkan korban.” “Ya. Kau benar,” sahut pemimpin dari orang-orang Larah, “Sekali ini kita melakukan kerja rangkap. Kita sudah cukup ber sabar sehingga waktunya telah sebulan lewat. Ternyata tidak ada lagi pedati yang  lewat dengan membawa barangbarang berharga.” “Kalianlah yang  dungu,” sahut salah seorang gegedug, “Mereka tidak akanmaumengambil jalan itu lagi.” “Kami sudah memperhitungkan,” jawab pemimpin orangorang Larah, “Kami sudah mengamati tiga jalur jalan yang mungkin dilalui. Tetapi kami telah gagal.” Gegedug itu tertawa. Katanya, “Sekarang kau akan mengambil sendiri di Bumiagara. Baiklah. Kita akan melakukannya di permulaan pekan mendatang, setelah bulan leny ap dari langit. Dalam kegelapan maka kita akan dapat menjadi semakin buas.” “Aku sependapat,” berkata pemimpin orang Larah, “Aku masih akan mengirim orang untuk mengamati keadaan di Bumiagara.” Yang lain mengangguk-angguk. Namun mereka telah sepakat lima hari lagi, mereka akan pergi ke Bumiagara untuk melepaskan dendammereka. Bagimereka, waktu yang  hampir dua bulan itu tentu sudah cukup lama. Bahkan terlalu lama untuk menunggu kesempatan membalas dendam kematian kawan-kawan mereka serta kegagalan mutlak saat mereka berniatmerampas benda -benda berharga. Namun seorang di antara para gegedug yang  siap membantu itu berkata, “Ma sih belum terlalu lama. Untuk sebuah dendam karena kematian seorang kawan, sepuluh tahun-pun bukan hitungan yang  lama. Daripada kita tergesagesa melakukannya, namun hasilnya justru sebaliknya, maka kita lebih baik menunggu untuk beberapa lama, namun dengan satu key akinan.” Orang yang  memimpin kawan-kawannya dari Larah dan sekitarnya itu-pun mengangguk-angguk. Katanya, “Selama dua bulan kita mempersiapkan diri sambil mengamati perkembangan Kabuyutan Bumiagara. Namun agaknya Bumiagara terlalu lelap dalammimpiyang mengasikkan.” “Besok mereka akan segera terbangun,” jawab kawannya yang lain. Sebenarnyalah Bumiagara memang tidak mengira sama sekali, bahwa Larah akan mencoba untuk membalas dendam dan meny erang bahkan merampok padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Namun demikian diluar kehendak mereka mempersiapkan dirimenyambut serangan itu,mereka telah menempa anak-anak mudanya yang disiapkan untuk menghadapi para prajurit Kediri. Meskipun dalam waktu dua bulan olah kanuragan, namun anak-anak muda Bumiagara yang  berlatih dengan sungguhsungguh disetiap hari itu, merupakan peningkatan kemampuan yang  sangat berarti. Mereka telah menguasai senjata mereka masing-masing. Mengenal berbagai macam cara untukmempertahankan diri dan meny erang. Selain anak-anak muda itu, maka beberapa orang bebahu yang pada da sarnya telahmemiliki landasan kemampuan olah kanuragan, menjadi semakin mapan. Dengan senjata yang mereka terima dari Padepokan Bajra Seta, maka mereka merupakan orang yang memiliki ketangkasan yang  tinggi dalam olah senjata dari jenis senjata mereka masing-masing. Kecuali peningkatan kemampuan olah kanuragan, maka day a tahan anak-anakmuda di Kabuyutan Bumiagara itu-pun telah meningkat pula. Di dalam sanggar atau dihalaman belakang rumah para Bekel padukuhan, mereka tidak saja belajar ilmu olah senjata. Tetapi mereka-pun berusaha untuk meningkatkan day a tahanmereka dengan latihan-latihan yang berat, namun teratur dengan tuntutan para cantrik. Diluar latihan-latihan itu, mereka-pun mempergunakan sesaat pagi hari menjelang bekerja di sawah untuk meningkatkan daya tahanmereka pula. Sementara itu, beberapa orang anak muda di hari-hari terakhir melihat orang-orang yang tidak dikenal berjalan hilir mudik di Kabuyutan Bumiagara, terutama di padukuhan induk. Meskipun mereka menjadi curiga, tetapi anak-anak muda itu tidakmengambil tindakan sebelum merekamelaporkannya kepada Ki Buyut atau salah seorang bebahu Kabuyutan. Ketika seorang anakmudamenyampaikan hal itu kepada Ki Buyut,maka Ki Buyut-punmenjadi berdebar-debar. “Apakah nampaknya orang itu seorang prajurit Kediri?” bertanya Ki Buyut. Anak muda itu menggeleng. Katanya, “Agaknya orang itu bukan seorang prajurit. Meskipun orang itu bertubuh tinggi tegap dan kekar, tetapi sikapnya bukan sikap seorang prajurit.” “Awasi jika ada orang yangmencurigakan. Tetapi kita tidak perlu tergesa-gesa mengambil tindakan,” berkata Ki Buyut. Sebenarnyalah di hari berikutnya, seorang anakmuda yang  kebetulan berjalan dengan seorang cantrik Padepokan Bajra Seta yang  ada di Bumiagara itu bertemu lagi dengan orang yang menarik perhatian. Meskipun jalan induk Kabuyutan Bumiagara itumemang ramai dilewati orang dari tempat yang lain, namun sikap orang yang  agaknya memperhatikan keadaan sekelilingnya itu agakmencurigakan. “Kita temui orang itu” berkata anak muda yang  berjalan ber sama seorang cantrik itu. “Jangan,” jawab cantrik itu, “Seandainya orang itu berniat buruk, kita tidak dapatmembuktikannya.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun ketika hal itu dilaporkan kepada Ki Buyut,maka Ki Buy ut menjadi semakin ber sungguh-sungguhmenanggapinya. “Mungkin orang-orang Larah,” berkata cantrik itu, “Menilik sikap dan pandanganmatanya yang  kasar.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Agaknya orang-orang Larah telah mendendam kepada kita.” Karena itulah, maka Ki Buyut memerintahkan untuk meningkatkan kesiagaan. “Tidak usah berlebihan. Tetapi gardu-gardu parondan harus terisi. Alat uatuk memberikan isy arat harus tersedia.” “Namun ada kalanya kita justru tidak mempergunakan isy arat itu,” berkata Ki Buyut, “Mungkin kita ingin menjebak seseorang atau sekelompok orang.” Anak-anakmuda itu -punmengangguk-angguk. Dengan demikian, maka pengawasan di malam hari menjadi semakin meningkat. Tetapi yang  nampak digardugardu tidak lebih dari beberapa orang anak muda yang terkantuk-kantuk. Di hari yang telah direncanakan, maka orang-orang Larah ber sama para gegedug telah berkumpul menjelang senja. Mereka mempersiapkan segala sesuatunya yang akan mereka bawa ke Bumiagara, terutama senjata mereka. Senjata bagi mereka akan dapat berarti nyawa. Dengan dibakar oleh dendam, maka orang-orang Larah telah berangkat menuju ke Bumiagara ketika malam mulai turun. Mereka memecah dirimenjadi beberapa kdompok kecil agar perjalanan mereka tidak menarik perhatian, apabila ada orang yang  kebetulan melihat. Namun beberapa orang di antara mereka sama sekali tidak berkepentingan dengan dendam orang-orang Larah. Bagimereka, Bumiagara memang satu sumber yang akan dapat memberikan banyak kemungkinan. Mungkin uang. Tetapi mungkin juga barangbarang berharga. Orang-orang Bumiagara memang banyak yangmenjadi saudagar yang  berhasil. Mendekati tengah malam, maka orang-orang Larah serta beberapa orang gegedug itu telah memasuki Kabuyutan Bumiagara. Mereka memang memilih mengikuti jalan-jalan bulak dan bahkan menyusuri pematang dan tanggul-tanggul parit untuk menghindari padukuhan-padukuhan, langsung menuju ke padukuhan induk Bumiagara. Namun orang-orang Bumiagara yang  berada di gubuggubug disawah yang  memang dipasang oleh para bebahu, sempatmelihatmereka. Seperti yang  sudah direncanakan,maka mereka-pun segera pergi ke padukuhan terdekat untuk memberitahukan kedatangan kelompok-kelompok yang tidak mereka kenal sebelumnya. “Tentu bukan prajurit Kediri,” berkata salah seorang Bekel yang mendengar laporan itu, “Prajurit Kediri yang memberontak itu tidak akan datang dengan diam-diam. Mereka tentu akan datang dalam ujud pasukan yang utuh.” Kesimpulan Ki Bekel adalah, bahwa yang datang itu tentu orang-orang Larah yang mendendam, sebagaimana diduga sebelumnya. Dengan demikian,maka Ki Bekel bersama lima orang anak muda yang  telah meningkatkan kemampuan mereka, serta memiliki senjata khusus dari Padepokan Bajra Seta telah berangkatmeninggalkan padukuhan mereka. Dengan hati-hati mereka telah menyusuri jalan langsung menuju ke padukuhan induk. Justru memilih jalan yang  akan melintasi beberapa padukuhan. Jalan yang  tentu tidak dipilih oleh orang-orang Larah dan beberapa orang gegedug itu. Di setiap padukuhan, Ki Bekel telah memberitahukan, bahwa beberapa kelompok kecil orang yang  tidak dikenal telah menuju ke padukuhan induk. Padukuhan-padukuhan yang dilewati-pun telah pula menyebar orang-orangnya untuk memberitahukan pula kepada padukuhanyang  lain, sehingga padukuhan-padukuhan itu telah mengirimkan lima anak muda terbaiknya ke padukuhan induk. Namun seperti pesan yang  sampai kepada mereka, agar mereka berhati-hati dan menunggu isy arat untuk memasuki padukuhan induk.

Jilid100
KARENA itulah, maka ketika orang-orang Larah dan para gegedug mendekati padukuhan induk, maka anak-anak mudapun telah berada di belakang mereka pada jarak beberapa puluh patok. “Kita akan memasuki padukuhan dengan diam-diam” berkata pemimpin orang-orang Larah itu. Seperti yang  dikehendaki oleh pemimpinnya, maka orangorang Larah itupun telah memasuki padukuhan induk dengan diam-diam. Mereka berusaha untuk dapat langsungmenuju ke rumah Ki Buyut Bumiagara. Namun, ternyata bahwa mereka tidak dapat meny ergap rumah itu sebagaimana mereka kehendaki. Ternyata didekat re-gol rumah Ki Buyut terdapat sebuah gardu. Satu dua orang yang pernah melihat-lihat keadaan rumah Ki Buyut dimalam hari, dapatmeny ingkir dari pengamatan orang-orang di gardu itu. Namun yang dapat adalah terlalu banyak orang untuk dapat menghindarkan diri dari penglihatan orang-orang di gardu itu. Karena itu, maka pemimpin dari orang-orang Larah itu justru memerintahkan beberapa orangnya untuk menyergap gardu itu dan membungkam orang-orang yang ada di dalamnya. “Jika mereka melawan, apaboleh buat” berkata gegedug itu. Baginya nyawa orangmemang tidak begitu berharga. Sebenarnyalah tiba -tiba saja lima orang telah muncul didepan gardu itu sambilmengacukan senjatamereka. Dengan lantang salah seorang darimereka berkata geram ”Kalian tidak akan dapatmelawan kami. Jika kalian mencoba, maka berarti kalian akan mati. Aku tidak bermain-main. Kematian bagi kami tidak akanmembekas apa-apa” Anak-anak muda itu memang terkejut. Mereka ternyata terlalu asik bermain-main untuk mengusir kantuk, sehingga mereka tidak melihat orang-orang yang  sudah mereka duga sebelumnya itu datang dengan tiba-tiba. Untuk beberapa saat anak-anak muda itu berdiam diri. Sementara orang yang mengancam itu berkata ”Berikan senjata!kalian” Anak-anak muda itu termangu-mangu. Senjata-senjata mereka adalah senjata-senjata yang  diterimanya dari Padepokan Bajra Seta sehingga bagi mereka senjata itu merupakan senjata yang  sangat berarti. Sementara itu, kawan-kawan orang yang mengancam itu telah memasuki halaman Kabuyutan. Mereka meloncati dinding halaman dan langsung turun di halaman samping. Tetapi yang  tidak mereka duga, bahwa mereka ternyata telah berada di belakang gandok tempat para cantrik tinggal selamamereka berada di Bumiagara. Karena itu,maka para cantrikpun telah terbangun. Telinga mereka yang  tajam, telah menangkap langkah orang yang tidak hanya satu dua dibelakang gandok itu. “Mereka telah datang” berkata salah seorang diantara para Cantrik. Karena itu, dengan tangkasnya, para cantrik itu telah ber benah diri. Mereka segera menyangkutkan pedang mereka dilambung. Sejenak mereka mendengarkan derap kaki dibelakang gandok itu dengan saksama. Namun orang-orang itu telah menebar. “Mereka cukup banyak” desis salah seorang darimereka. Kelima cantrik itupun segera membuka pintu bilik mereka dengan sangat berhati-hati. Ternyata belum ada diantara orang-orang yang datang itu di halaman depan. Karena itu, maka berlima merekapun segera berlari keluar dan naik ke pendapa. “Kenapa anak-anak muda yang  berada digardu tidak membunyikan isy arat ?” desis para cantrik. Beberapa orang pengawal yang ada di pringgitan memang terkejutmelihat para cantrik itu. Seorang diantara para cantrik itu berkata ”Ber siaplah. Mereka telah datang.” “Regol halaman itu masih tertutup.” jawab pemimpin sekelompok anakmuda yang ada dipringgitan. “Mereka tidak masuk melalui regol. Tetapi mereka masuk melalui dinding halaman dibelakang gandok.” jawab cantrik itu. Anak-anak muda itupun segera bangkit. Senjata mereka pun dengan cepat telah berada ditangan. Namun cantrik itu berkata ”Kita tidakmau terlambat. Bunyikan isy arat.” Dua orang diantara anak-anak muda itu telah meloncat berlari untuk membuny ikan kentongan yang  tergantung diserambi gandok. Namun langkah mereka terhenti. Ternyata orang-orang yang memasuki halaman samping dibelakang gandok itu telahmulaimengalir ke halaman. “Bangunan Ki Buyut” desis salah seorang cantrikyang  telah mempersiapkan diri. Seorang diantara para cantrik itu telah memukul daun pintu pringgitan. Mula-mula memang hanya perlahan-lahan. Namun ketika orang-orang yang  berada di halaman itu mulai bergerak,maka ketukan pintu itumenjadi semakin keras. Ki Buyutpun terkejut. Dengan cepat ia tanggap. Karena itu, maka iapun telahmempersiapkan diri. Ketika ia berdiri dipintu. Ki Buyut memang ragu-ragu. Karena itu,maka iapun bertanya ”Siapa diluar.” “Kami, para pengawal Ki Buy ut.” jawab salah seorang diantara anak-anakmuda itu. Ki Buyutpun telah membuka pintu. Namun pedangnya telah teracu. “Ada apa ?” bertanya Ki Buyut yang belum melihat beberapa orang yang bergerak di halaman. “Mereka telah berada di halaman” jawab pengawal itu. “Kenapa kalian tidak membuny ikan isyarat ?” bertanya Ki Buyut. “Kami terlambat. Kentongan itu telah mereka kuasai.” jawab pengawal itu. “Ada kentongan kecil di longkangan” desis Ki Buyut. Pengawal itu ragu-ragu, sementara Ki Buyut telah keluar dan berdiri diantara para cantrik.Orang-orang yang  berada di halaman itu mulai bergerak mendekati pendapa. Sementara yang lain telah berada diserambi gandok dan selebihnya mencobamengepung rumah itu. Namun akhirnya pengawal itu masuk kerumah Ki Buyut dan pergi ke pintu butulan. Seorang anakmuda, yang sehari-harimemang bekerja pada Ki Buyut bertanya ”Kaumaumencari apa ?” “Kentongan” jawab pengawal itu. Anak muda yang  juga telah bersenjata itupun membawa pengawal itu ke longkangan. Seorang laki-laki yang sudah separo bay a telah terbangun pula dan bertanya ”Ada apa ?” “Cepat, bangunkan para pembantu di rumah ini” berkata anakmuda itu. Pengawal itupun segera menemukan kentongan kecil yang  tergantung dilongkangan. Namun sebelum ia meng ayunkan pemukul, ia berkata ”Amankan Ny i Buyut dan keluarga yang lain.” “Mereka tidak ada dirumah. Sejak kemarin mereka telah diungsikan. Memang tidak ada yang  tahu.” jawab anak muda itu. Pengawal yang  sudah memegang pemukul kentongan itu mengangguk kecil. Namun tangannyapun kemudian telah terayun memukul kentongan itu dengan nada titir. Orang-orang yang  ada di halaman memang terkejut mendengar suara kentongan itu.Namun suara itu seakan-akan merupakan perintah bagimereka untuk segerameny ergap. Ternyata suara kentongan itu juga mengejutkan orangorang Larah yang mengancam anak-anak muda yang  ada digardu diluar regol rumah Ki Buyut.Namun saatyang sekejap itu telah dimanfaatkan oleh anak-anak muda yang ada di gardu. Seorang dian-tara mereka dengan cepat meloncat kesamping sambil menarik pedangnya. Sedangkan yang lainpun telah bangkit berdiri dilantai gardu yang  agak tinggi itu. Dengan cepat senjata merekapun telah terayun, sementara seorang diantara mereka telah memukul lampu oncor yang dipasang, diemper gardu itu, sehingga oncor itupun telah terjatuh hampir menimpa orang-orang yang sedang mengancam itu. Karena itu,maka orang-orang yang mengancam anak-anak muda itupun berloncatan surut, sehingga oncor itu tidak mengenai danmembakar kulitmereka. Namun dengan demikian,maka anak-anakmuda yang  ada digardu itu telah luput dari tangan mereka. Kegelapan yang tiba -tiba saja mencengkam setelah oncor itu padam, dipergunakan oleh anak-anak muda itu dengan sebaikbaiknya, sehingga sejenak kemudian, mereka telah berada diluar gardu itu. Dengan demikianmaka merekapun telah siap untuk bertempur melawan orang-orang yangmengancam itu. Tetapi dalam .pada itu,maka orang-orang yangmeny erang rumah Ki Buy utpun telah mulai meny erang. Yang ada dipendapa adalah lima orang cantrik, Ki Buyut dan beberapa orang pengawal. Sementara itu, para pembantu Ki Buyut juga sudah ber senjata apa saja yang dapatmereka pegang. Parang, linggis atau kapak pembelah kayu. Namun suara kentongan itu telah terdengar oleh anak-anak muda yang ada di gardu dimulut lor ong. Apalagi ketika dalam kegelapan, seorang anak muda yg berada digardu didepan regol Ki Buyut itupun sempat memukul kentongan pula, sementara yang  lainmulaimemancing pertempuran. Demikianlah, maka pertempuranpun segera berkobar. Diluar dan didalam halaman rumah Ki Buyut.Namun agaknya lima orang cantrik Ki Buy ut dan para pengawal masih terlalu sedikit untuk menghadapi orang-orang yang meny erang padukuhan induk itu. Karena itu,maka para cantrik dan pengawal itupun segera terdesakmundur kepringgitan. Sementara itu, beberapa orang peny erang yang lain berusaha untuk memecahkan pintu seketheng untukmembungkam suara kentongany g dipukul di longlcangan. Meskipun kentongan itu kecil, tetapi suaranya justru melengking tinggi menggetarkan udara malam di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Ternyata pada saat yang demikian, anak-anak muda yang  menunggu isy arat diluar padukuhan telah berlari-lari keregol padukuhan. Namun kemudian bersama dengan anak-anak muda yang berada di regol, mereka telah menuju kerumah Ki Buyut. Kedatangan mereka telah mengejutkan orang-orang Larah dan para gegedug yang  telah ada di halaman rumah itu. Begitu banyak anakmuda yang datang. Namun orang-orang yang datang menyerang itu menganggap bahwa mereka tidak lebih dari anak-anak pedesaanyang hanya pandaimenyabit rumput. Namun setelah senjata mereka mulai beradu, maka anggapan merekapun segera berubah. Apalagi mereka yang telah bersentuhan dengan para cantrik yang  ada dipendapa. Meskipun semula mereka mampu mendesak para cantrik dan Ki Buyut kepringgitan, namun mereka tidak dapat mengingkari, betapa kemampuan para cantrik itu telah mengguncangkan senjata -senjata mereka. Namun ketika anak-anak muda Bumiagara mulai memasuki halaman Ki Buy ut,maka keseimbanganpun segera berubah. Orang-orang Larah itu harus turun lagi dari pendapa untuk melawan anak-anak muda itu. Bahkan mereka yang sedang berusaha merusak pintu sekethengpun harus turun pula ke halaman. Seorang diantara mereka yang meny erang rumah itu telah berusaha memanjat dinding disebelah seketheng dan masuk ke longkangan. Dengan serta merta ia meny erang anakmuda yang masih saja membuny ikan kentongan dan bahkan telah disahut oleh kentongan di gardu-gardu dan rumah-rumah di padukuhan itu sehingga suaranyamenjadi sangat riuh. Namun orang itu ternyata bernasib sangat buruk. Anak muda yang memukul kentongan itu memang meletakkan pemukul kentongannya, namun langsung mencabut pedangnya. Iapun segera menyambut orang itu sehingga keduanyapun segera bertempur di longkangan. Namun dua orang pembantu dirumah Ki Buyut itu telah ikut pula memasuki lingkaran pertempuran. Seorang diantaranya membawa kapak dan yang  lain membawa sepotong besi yang tajam untukmengupas kelapa. Yangmula -mula melukai orang itu adalah anakmuda yang  ber senjata pedang dan yang telah ditempa oleh para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Namun kemudian, orang itu kehilangan keseimbangan ketika ujung pedang anakmuda itu masih saja memburunya. Dalam keadaan yang  demikian, orang itu tidak sempat mengelakkan pukulan yang mempergunakan sepotong besi pengupas kelapa itu, sehingga sepotong besi itu telahmengenai punggungnya. Orang itu mengaduh kesakitan. Tubuhnya langsung jatuh terjerembab. Pada saat itu orang yang  membawa kapak pembelah kayu itu telah mengangkat kapaknya dan diayunkannya keleher ornag yang  belum sempat bangkit itu. Namun ternyata kapak itu bagaikan didor ongmenyamping sehingga tidak mengenai sasarannya. Kapak itu terhunjam dalam-dalam ditanah, hanya sejengkal dari leher orang yang jatuh terjerembab itu. “Kau tidak perlu membunuhnya” berkata anak muda itu kepada orang yang telah mengayunkan kapaknya itu. “Tetapi ia telah meny erang rumah ini” jawab orang yang  memegang kapak itu. “ Ia tidak akan dapat bangkit lagi. Punggungnya tentu sudah patah” berkata anakmuda itu. Anak muda itu masih ragu-ragu. Namun pengawal itu berkata ”Betapapun kuatnya tulang-tulangnya, tetapi dihantam dengan linggis sekuat itu, tentu tidak akan dapat tahan. Jika tulang punggungnya tidak patah, tentu sudah retak.” Anak muda itu mengangguk-angguk. Namun iapun segera mengangkat kapaknya dan melangkah ke seketheng. “Kau akan kemana?” bertanya pengawal itu. “Aku akan turun ke halaman. Aku ingin turut bertempur” jawab orang yang membawa kapak itu. “Kemarilah. Kita keluar lewat ruang dalam. Jangan membunuh diri. Demikian kau keluar lewat seketheng, kepalamu akan dipenggal putus oleh orang-orang yang  sudah berada di luar seketheng itu. Orang yang membawa kapak itu termangu-mangu. Namun kemudian iapun telah mengurungkan niatnya. ”Sebaiknya kalian berjaga-jaga disini. Jika ada orang memanjat dinding di sebelah meny ebelah seketheng itu, hentikan dengan caramu.” “Bagus” berkata orang yang  membawa kapak ”aku akan menyelesaikanmereka.” “Tetapi kau jangan bersikap seperti itu. Kau akan terkejut mengalami kenyataan yang tidak kau duga sebelumnya. Karena itu lebih baik kau bersikap berhati-hati dan mempergunakan penalaranmu dengan baik. Simpanlah sedikit gejolak perasaanmu sehingga ada kese imbangan antara perasaan dan penalaran” berkata pengawal itu. Orang yang membawa kapak itu mengangguk-angguk. Katanya ”Ya. Akumengerti.” Demikianlah pengawal itupun segera masuk ke ruang dalam. Sementara itu, di pendapa telah terjadi pertempuran. Namun pertempuran yang sengit telah terjadi pula di halaman. Anak-anak muda yang  datang dari padukuhanpadukuhan telah berada di halaman itu pula. Demikian pula anak-anak muda yang  telah ditempa secara khusus oleh para cantrik serta para bebahu yang  telahmeningkatkan ilmunya. Para gegedug yang  ada di halaman, memang tertahan oleh para cantrik yangmemiliki kemampuan yang  lebih tinggi dari anak-anak muda Bumiagara. Dengan senjata yang mereka buat secara khusus, maka para cantrik itu seakan-akan memiliki ilmu yang  jauh lebih tinggi dari kemampuan mereka yang sebenarnya. Namun gegedug yang meny erang Kabuyutan Bumiagara yang diminta membantu orang-orang Larah itu adalah orangorang yang telah memiliki pengalaman yang sangat luas. Karena itu, meskipun dengan susah payah, mereka mampu mengimbangi para cantrik yang  terpilih dari Padepokan Bajra Seta itu. Dengan demikian, maka pertempuran pun semakin lama menjadi semakin sengit. Anak-anak muda Bumiagara masih sa ja berdatangan. Bahkan mereka yang masih belum sempat meningkatkan kemampuan telah datang pula ke halaman. Namun kawan-kawan mereka yang telah memiliki senjata khusus yang mereka terima dari Padepokan Bajra Seta itu berusaha untuk menahan mereka agar mereka berjaga-jaga sa ja jika ada diantara lawan-lawan mereka yang akan melarikan diri. Orang-orang Larah yang  datang untukmenebus kegagalan mereka, serta melepaskan dendam atas kematian beberapa orang diantara mereka termasuk yang terluka parah dan menjadi cacat seumur hidupnya, serta rencana mereka untuk merampok seisi padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara, telah mengerahkan kemampuan mereka. Sebagaimana kebiasaan mereka, maka mereka telah bertempur dengan garangnya. Bahkan semakin lama menjadi semakin keras dan kasar. Para gegedug pun telah menghentakkan kemampuan mereka. Mereka memang tidak mengira bahwa di Bumiagara ada anak-anak muda yang  memiliki kemampuan demikian tinggi. Mereka tidak tahu bahwa mereka adalah para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Bahkan juga mereka tidak tahu bahwa diantara anak-anak muda Bumiagara sendiri dengan senjata yang mereka terima dari Padepokan Bajra Seta telah mampu bertempur dengan garangnya. Namun ternyata bahwa orang -orang Larah segera menemui kesulitan. Anak-anakmuda yang berdatangan telah mendesak maju, sementara orang-orang Larah dan para gegedug yang datang tidak mampu mendesak orang-orang yang berada di pendapa. Dengan demikian orang-orang Larah dan para gegedug itu justru telah terjepit. Para cantrik, beberapa pengawal dan beberapa orang bebahu yang kemudian juga telah berdatangan di rumah Ki Buyut telahmendesakmereka dari pendapa. Sementara anak-anak muda telah mengepung halaman itu dan menekan orang-orang Larah dari segala penjuru. Orang-orang Larah dan para gegedug itu memang mulai menjadi gelisah. Namun kegelisahan orang-orang yang  kasar dan bahkan buas itu telah terungkap dalam sikapmereka. Orang-orang yang meny erang padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara itu memang semakin lama menjadi semakin keras, kasar dan bahkan buas. Mereka sama sekali tidak lagi berpijak pada paugeran perang. Apapun yang  dapat mereka lakukan telah mereka lakukan untuk menghalau serangan anak-anak muda yang  masih mereka anggap belum waktunya untuk turun ke medan pertempuran. Namun ternyata mereka memang mampu. Mereka justru telah mengejutkan orang-orang Larah dan para gegedug, karena mereka mampumengimbangi dan bahkan ada diantara mereka yang mendesak lawan mereka. Apalagi para cantrikyang mendesak lawan-lawannya turun dari pendapa. Namun dengan demikian maka para gegedug dan orangorang yang merasa telah terbiasa hidup diantara garangnya tindak kekerasan itu, sama sekali tidak mau melihat keny ataan, bahwa anak-anak muda Bumiagara mampu melawan mereka. Mereka juga tidak tahu bahwa ada lima orang cantrik terpilih dari Perguruan Bajra Seta yang  berada di Kabuyutan itu justru untuk meningkatkan kemampuan anakanak muda di Kabuyutan itu. Kabuyutan yang  pernah minta bantuan beberapa pihak untuk meny erang Padepokan Bajra Seta itu sendiri Lebih-lebih lagi para gegedug yang  datang dengan dada tengadah serta menyatakan kesediaan mereka membantu orang-orang Larah, meskipun dengan pamrih, merampok isi Kabuyutan Bumiagara, khusus di padukuhan induk. Para gegedug itu telah bertempur dengan garangnya bagaikan orang kehilangan nalar. Senjata, mereka terayunayun mengerikan. Seorang diantara mereka membawa canggah yang  ujungnya justru berkait dengan tangkai yang tidak begitu panjang. Kemampuannya mempermainkan senjatanya yang  mengerikan itu, membuat beberapa anak muda terdesakminggir. Namun seorang cantrik yang melihatnya, segera meloncat kearahnya dengan membawa tombak pendek ditangannya. Ketika mulut canggahyang  bercabang dua itu hampir menjepit leher seorang anakmuda,maka dengan tangkasnya cantrik itu telah memukulnya sehingga ujung canggah itu terangkat. Meskipun mata canggah itu masih juga meny entuh dan menyambar ikat kepala anak muda itu, namun kepala anak muda itumasih dapat diselamatkan. Tetapi anak muda itu justru hanya dapat memejamkan matanya. Ketika ikat kepalanya terbang, maka rasa-rasanya kepalanyalahyang  terlepas dari lehernya. Tetapi anak muda itu menyadari keadaannya, ketika seorang kawannya mendorongnya sambil berkata ”Awas. Kau dapat kehilangan kepalamu jika kau termenung saja seperti itu” Anak muda itu meraba kepalanya. Ternyata kepalanya masih ada di tempatnya. Hanya ikat kepalanya sajalah yang terlempar jatuh, sementara rambutnya yang  memanjang terurai kusut. Anak muda itu sempat mengikat rambutnya. Kemudian dengan menggeretakkan giginya menyerbu ke medan pertempuran yang menjadi semakin keras dan ka sar. Namun anak muda yang  kepalanya ternyata masih melekat ditubuhnya itu, justru telah kehilangan rasa takutnya. Senjatanya telah berputar dengan cepatnya. Sambil berteriak, maka ia telah menyerang salah seorang perampok dari Larah itu. Sementara itu, gegedug yang kehilangan korbannya menjadi sangatmarah. Ia merasa berhak untukmendapatkan gantinya. Anak muda yang membawa tombak itu harus dapat dibunuhnya dengan senjatanya yang mengerikan itu. Ia harus dapat menjepit lehernya kemudian memutarnya, sehingga kepala itu akan terlepas dari lehernya. Tetapi ternyata anak muda yang  membawa tombak itu demikian tangkasny a. Setiap 'kali, senjatanya justru berhasil ditepismenepi, sehingga sama sekali tidakmampu meny entuh sa saran. Bahkan semakin lama rasa-rasanya ujung tombak anakmuda itu justru semakin dekat dengan kulitnya. Denganmenggerammarah, orang itu telahmenghentakkan kemampuannya. Namun ternyata lawanya juga,masih mampu mengimbanginya. Bahkan dengan menghentakkan kemampuannya, orang itu telah kehilangan banyak tenaga tanpamenghasilkan apa -apa. Di sebelah lain, dua orang anak muda dari Kabuyutan Bumiagara tengah bertempur dengan seorang gegedug yang bertubuh tinggi berdada bidang dan berkumis lebat Dikening gegedug itu membekas sebuah luka memanjang. Sementara didadanya, nampak pula bekas luka bakar yang  kehitam-hitaman. Dengan kasar orang itu mengumpat-umpat sejadi-jadinya ketika kedua orang anak muda yang  melawannya itu masih sa jamampu bertahan. Namun akhirnya kedua orang anak muda itupun telah mengalami kesulitan pula. Gegedug itu benar-benar seorang yang pilih tanding. Meskipun kedua orang anak muda yang melawanya itu telah mempergunakan senjata yang diterimanya dari Padepokan Bajra Seta, namun ternyata bahwa kemampuan orang itu terlalu tinggi bagi anak-anak muda Kabuy jtan Bumiagara. Ketika kedua orang anak muda itu terdesak, maka seorang telah tampil pula menghampirinya. Bahkan dengan lantang anak muda itu berkata ”Lepaskan orang ini. Di sebelah pendapamasihmemerlukan bantuanmu” Kedua orang anak muda itu meloncat mengambil jarak serta mencari kesempatan untuk berpaling. Ternyata yang datang itu adalah salah seorang diantara kelima cantrik Padepokan Bajra Seta yang  berada di Bumiagara. Karena itu, maka kedua orang anak muda itupun segera meninggalkan lawanya yang  berteriak marah ”Jangan lari tikus-tikus kecil yang  sombong” “Mereka tidak lari” jawab cantrik itu ”sudah menjadi kebiasaan kami untuk berganti lawan. Aku sudah jemu melawan seseorang yang  tidak mampu mengimbangi kemampuanku. Dibiarkannya, senjataku melukainya dibeberapa tempat. Sehingga dengan demikian aku akan mencobamencari lawanyang  lebih mengasikkan.” “Ternyata kau lebih sombong lagi dari kedua cucurut itu” geram gegedug itu. Cantrik itu tertawa. Katanya ”Bumiagara memang tempatnya. Sejak kecil kami telah mendapat latihan untuk meny ombongkan diri, sehingga karena itu, maka kami memiliki kemampuanyang tinggi.” “Apa gunanya kemampuan yang tinggi sekedar untuk meny ombongkan diri?” geram orang itu. “Sedikitnya kami dapatmembuat kau marah” jawab cantrik itu. Orang itu tidak dapat menahan diri lagi. Gegedug yang  bertubuh tinggi dan besar, serta berkumis lebat itu telah meloncat meny erang. Senjatanya memang mendebarkan. Sebuah golok yang  besar dan berat. Cantrik itu ternyata cukup tangkas. Dengan cepat pula ia melentingmenghindari serangan itu. Bahkan pedangnya yang juga terhitung besar dan panjang dengan cepat bergerak pula. Sejenak kemudian keduanya telah bertempur dengan sengitnya. Namun gegedug itu segera mengerahkan kemampuannya untuk mendesak lawannya. Tetapi ternyata cantrik itu tidak membiarkan dirinya didesak terus-menerus oleh gegedug yang  bertubuh raksasa itu. Dengan tangkasnya cantrik itu berloncatan sehingga lawannya justru kadangkadangmenjadi bingung. Gegedug yang  lainpun tidak mampu berbuat banyak. Seorang diantara mereka telah dikurung oleh ampat orang anak-anak muda, sehingga tidak lagi mampu memamerkan kelebihannya diantara kawan-kawannya yang  lain. Bahkan ampat orang anakmuda itu telahmembuatnya terlalu sibuk. Dengan demikian, maka orang-orang Larah dan para gegedug dan kawan-kawannya semakin lama merasa semakin sulit. Kekasaran mereka telah membuat anak-anak muda Bumiagara menjadi semakin marah, sehingga mereka tidak lagi dapatmengekang diri. Beberapa orang Larah telah terluka dan bahkan diantara para gegedug pun telah ada yang  tergores ujung senjata. Gegedug yang bersenjata canggah, ternyata sulit untuk mengimbangi kemampuan lawannya. Anak muda yang sebenarnya adalah seorang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang bersenjata tombak pendek. Ternyata canggah yang mengerikan itu, tidak dapat bergerak secepat tombak pendek. Setiap kali seranganserangan gegedug itu tidak mampu mengenai sasaran. Lawannya dapat berloncatan dengan tangkasnya, sementara tombak pendeknya berputaran, bergetar, terayun dart sekalisekali mematuk dengan garangnya. Benturan-benturan yang terjadi memberikan isyarat kepada gegedug itu, bahwa anak muda yang menjadi lawannya itu ternyata memiliki kekuatan yang sangat sangat besar serta ilmu yang mapan. Namun akhirnya, orang-orang Larah itu tidak lagi melihat kemungkinan untuk dapat mengalahkan orang-orang Bumiagara. Ki Buyut Bumiagara dan para bebahu serta anak-anak muda yang  telah mendapat latihan khususmerupakan lawan yang sangat berat, disamping jumlah mereka yang  memang lebih banyak. Berapapun kuainya dan besarnya kemampuan seorang gegedug, namun menghadapi ampat orang anakmuda yang terlatih dengan senjata yang  khusus, mereka mengalami kesulitan. Sementara itu para cantrik ternyata mampu menghadapi beberapa orang Larah sekaligus. Namun orang-orang Larah itupun tidak lagi melihat kemungkinan untuk melarikan diri. Mereka melihat cahaya api dibalik dinding halaman rumah Ki Buyut Bumiagara. Dengan demikian mereka menyadari, bahwa dibelakang dinding itu terdapat beberapa buah obor yang  dipa sang. Bahkan di belakang dinding halaman samping. Namun ternyata bukan hanya dinding depan dan samping, bahkan di balik dinding kebun di belakang pun telah diny alakan obor pula. Obor -obor itu merupakan isy arat, bahwa halaman rumah Ki Buy ut itu telah dikepung rapat. Tidak ada lagi lubang yang dapat dipergunakan untuk meloloskan diri dari tangan Ki Buyut Bumiagara dan rakyatnya yangmarah. Namun dalam pada itu, Ki Buyut Bumiagara setelah melihat keseluruhan medan pun telah berteriak nyaring ”Masih ada kesempatan bagi kalian yang telah datang menyerbu Kabuyutan ini dengan membawa dendam di hati untukmeny erah.” Tetapi teriakan itu sama sekali tidak mendapat tanggapan. Para gegedug justru telah mengamuk dengan garangnya. Namun merekamemang tidak dapat berbuat banyak. Gegedug yang membawa canggah itu telah terluka didadanya. Darah telah mulai mengalir dari lukanya itu. Sementara gegedug yang melawan ampat orang anak muda yang sudah ditempa oleh para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itupun telah tergores pula di lengan dan punggungnya. Berbeda dengan para gegedug, maka orang-orang Larah sama sekali telah kehilangan keberanian. Apalagimereka yang ditubuhnya telah menganga luka yang  parah. Bahkan ada dian-tara mereka, sengaja atau tidak sengaja, telah terbaring dan tidak akan bangkit lagi untuk selama-lamanya. Karena itu, maka orang-orang Bumiagara yang  semakin lama semakinmenguasaimedan,mampumemilih lawan. Para cantrik dan bebahu Bumiagara telah mampu membedakan, bahwa diantara orang-orang yang  meny erang itu terdapat orang-orang berilmu yang  pantasmendapat perhatian khusus. Yaitu para gegedug yang  terbiasa merampok, merampas dan membunuh. Karena itu, maka merekapun telah menempatkan diri untuk melawan orang-orang yang  garang itu. Sedangkan orang-orang Larah yang  memang termasuk juga kawanan perampok dan pencuri, tetapimereka bukan orang-orang yang ditakuti karena namanya yang bergetar di bulak-bulak panjang dan tempat-tempat yang  sepi. Bahkan memasuki padukuhanpadukuhanyang  dihuni oleh orang-orang yang kaya 'Tetapi para bebahu dan para cantrik sama sekali tidak gentar melihat bagaimana mereka bermain senjata. Bahkan gegedug yang bersenjata canggah itu telah benar-benar terdesak. Canggah yang  dibangga-banggakan itu seakan-akan tidak berarti apa -apa dihadapan cantrik yang bersenjata tombak itu. Karena setiap kali tombak pendek itu, mampu mendahului putaran canggah gegedug itu. Sedangkan yang lainpun hampir tidak mendapat kesempatan lagi. Ruang gerak mereka menjadi semakin sempit. Meskipun mereka tidak mau melihat keny ataan yang sama sekali tidak diduga sebelumnya, namun tubuh mereka memang telah tersentuh oleh senjata. Akibatnya para bebahu dan para cantrik memang menjadi marah pula. Apalagi dalam keadaan yang terdesak itu,mereka sama sekali tidak berniat untukmeny erah. Bahkanmasih juga diantara mereka yang diberi kesempatan untuk meletakkan senjata, justru telah memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang. Seorang bebahu, yang kebetulan adalah Ki Jagabaya terkejut ketika ujung senjata lawannya justru mengenai lengannya pada saat ia berkata ”Letakkan senjata. Meny erahlah, agar kaumendapat pengampunan.” Namun kata-katanya patah karena serangan orang yang  diberikan kesempatanmeny erah itu. Karena itu, maka Ki Jagabaya menjadi sangat marah. Ia tidakmau lagi lengah dan apalagimenawarkan pengampunan. Dengan garangnya, maka ia telah bertempur dengan segenap kemampuannya. Kemampuan yang  memang telah dimiliki ditambah dengan latihan-latihanyang  keras dibawah tuntutan para cantrik di Padepokan Bajra Seta. Apalagi seorang anak muda yang  melihat Ki Jagabaya terluka telah terpancing untuk ikut bertempur ber samanya. Maka lawan Ki Jagabaya itu tidakmempunyai kesempatan lagi. Gegedung yang  telah menjelajahi bulak-bulak panjang itu ternyata tidak mampu melawan kegarangan Ki Jagabaya, orang yang  mendapat kepercayaan dari seisi Kabuyutan Bumiagara untuk menjaga ketenteraman dan ketenangan Kabuyutan. Apalagi Ki Jagabaya telah dibantu oleh seorang anakmuda yang  telahmembatasi ruang gerak gegedug itu. Dengan kemarahan yangmembakar seisi dadanya, apalagi ketika keringatnya membasahi lukanya sehingga lukanya terasa sangat pedih, Ki Jagabaya telah meny erang lawannya tanpa memberinya kesempatan untuk membalas. Dalam keadaan yang  sulit itu, anak muda yang bertempur bersamasama dengan Ki Jagabaya telah menjulurkan senjatanya, sebatang tombak pendek kearah dada gegedug itu. Namun ternyata gegedug itu sempat melihat serangan itu, sehingga dengan tangkasnya ia sempat menghindar. Sambil bergeser kesamping gegedug itu telah merendahkan dirinya. Dengan ayunan mendatar ia telah meny erang anak muda itu ketika tombaknya terjulur tanpa mengenai sa saran. Anak muda itu mengaduh tertahan. Ujung senjata gegedug itu telah menggores lambungnya, sehingga kulitnya telah terkoyak memanjang. Ki Jagabaya melihat sambaran pedang yang  mengenai lambung anakmuda itu. Kemarahannyapun tidak tertahankan lagi. Dengan serta merah ia telah meloncat sambil menjulurkan senjata lurus-lurus kedada Gegedug lawannya. Gegedug yang sedang bergerak untuk berdiri tegak itu tidak sempat menghindar. Ia memang berusaha untuk meloncat. Tetapi Ki Jagabayapun telah meloncat pula memburunya, sehingga ujung senjatanya telah menghunjam kedada gegedug itu. Gegedug itu memang berusaha mengangkat tangannya untukmenangkis serangan itu. Tetapi sama sekali tidak berarti apa-apa. Ujung senjata Ki Jagabaya sudah terlanjur terhunjam dalam-dalam. Orang itu terdorong beberapa langkah mundur. Namun ketika Ki Jagabaya menarik senjatanya, maka orang itupun telah terhuyung-huyung jatuh terjerembab. Sementara itu, pemimpin orang-orang Larah itupun menyadari keadaannya. Tetapimemang tidak ada pilihan lain baginya. Apalagi setelah ia melihat beberapa orang memang telah menjadi korban dan terbunuh di pertempuran. Termasuk beberapa orang diantara para gegedug dan kawankawannya. Karena itu, maka iapun telah dicengkam oleh keny ataan tentang kekalahan yang diderita oleh orang -orang Larah dan para gegedug itu. Betapa ia mencoba mengingkarinya, namun yang terjadi itu telah terjadi. Sementara ia yakin diluar dinding halaman rumah Ki Buyut orang-orang Bumiagara telah menunggu mereka yang mencoba melarikan diri. Mungkin yang berdiri diluar dinding itu tidak lebih dari orang-orang tua yang sudah tidak mampu bertempur atau justru anak-anak remaja yang  baru sekali itu meraba senjata. Namun mereka justru akan dapatmembunuh diantaramereka yang melarikan diri dengan semena -mena. Betapapun sakit hatinya menghadapi kenyataan itu, tetapi ia masih sempat berpikir tentang orang-orang Larah yang sudah tidak berdaya itu. Karena itu,maka iapun telah disentuh oleh sisa -sisa naluri kemanusiaannya. Betapapun juga ia dapat berbuat paling kejam dipertempuran bahkan disaat-saat ia melakukan pekerjaannya sebagai perampok dan peny amun, namun baginya masih lebih baik mengusahakan agar kawankawannya tetap hidup daripada ditumpas dipertempuran itu. Dengan demikian, betapa pedih dadanya ketika ia terpaksa meneriakkan aba-aba agar orang-orang Larah itu meny erah. Namun teriakan yang  lainpun segera terdengar ”Pengecut. Kenapa kau ajari orang-orangmumenjadi licik dan penakut.” Orang itu tidak menjawab. Namun orang-orangnyapun segera meny erahkan diri. Mereka telah melemparkan senjatasenjata mereka dan sama sekali tidak melawan, ketika mereka digiring dikumpulkan didepan gandok sebelah kiri. Tetapi sementara itu, dua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya masih bertempur. Sementara seorang gegedug terluka parah dan ternyata dua orang yang lain tidak lagi dapat tertolong jiwanya. Sambil bertempur dua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya mengumpat-umpat tanpa menghiraukan lagi kemungkinan-kemungkinan yang  dapat terjadi. Bagi mereka menyerah adalah lebih buruk dari mati di pertempuran. Karena itu, maka kedua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya itu sama sekali tidak ingin meny erahkan diri. Bahkan sekali lagi salah seorang dari kedua gegedug itu berteriak ”He orang-orang Larah. Inikah harapan yang  kau janjikan bagi kami? Pengkhianatan ?” Pemimpin orang-orang Larah itu masih tetap tidak menjawab. Ia memang merasa bersalah kepada para gegedug itu. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain, karena ia tidak maumelihat orang-orang Larah itu ditumpas habis. Namun yang  menjawab adalah Ki Buy ut Bumiagara ”Ternyata nalar mereka masih sempat bergerak. Namun ada juga diantara mereka, yang  barangkali justru bukan orangorang Larah,yang  tidakmampu lagimempergunakan otaknya sehinggamerekamemilih membunuh diri.” “Kami bukan pengecut seperti pengkhianat-pengkhianatan itu” teriak gegedug itu. “Mereka bukan pengkhianat” jawab Ki Buyut ”mereka adalah laki-laki jantan yang  berani mengakui kenyataan. Nah, bukankah kalianmenjadi ketakutan melihat keny ataan itu.” “Persetan kau tikus-tikus Bumiagara. Jika kalian inginkan kematian kami, maka kalian harus mengorbankan sepuluh orang bagi setiap jiwa kami.” teriak gegedug itu. Tetapi Ki Buyut Bumiagara tertawa. Katanya ”Pada saatsaat terakhir, kau masih juga berkhayal? Adakah pantas bagi seorang yang pilih tanding seperti kalian itu masih juga berkhayal tentang sebuah pertempuran? Tidak Ki Sanak. Mau tidak mau kau harus melihat kenyataan, bahwa kalian tidak akan dapat banyak berbuat lagi. Karena itu, sebaiknya, menyerahlah.” Namun kedua orang gegedug yang  masih bertahan itu berteriak keras-keras, sehingga suara mereka bagaikar menggapai langit. Orang-orang yang  ada di halaman itu terkejut. Namun jantung merekapun segera berdegupan. Teriakan mereka bagaikan teriakan hantu dari dasar neraka yang  paling dalam. Meskipun demikian, Ki Buyut Bumiagara, para bebahu dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang ada di halaman itu sama sekali tidak menjadi gentar. Dua orang gegedug dan tiga orang pengikutnya yang  kemudian telah bertempur dalam satu kelompok kecil itu, telah terkepung. Ujung-ujung senjata rnereka teracumengarah kepada kelima orang itu. Kedua orang gegedug itu memang termangu-mangu sejenak. Mereka melihat ujung pedang, ujung tombak, trisula bertangkai sepanjang tangkai tombak pendek. Bahkan ada yang bersenjata kapak dan cambuk. Namun agaknyamereka telah benar-benar kehilangan akal, sehingga sekali lagi salah seorang gegedug itu berteriak yang ternyata mereka anggap sebagai aba-aba. Dengan serta mereka kelima orang itu telah bergerak serentak. Senjata -senjata mereka mulai terayun, berputar, mematuk dan berusaha menggapai tubuh orang-orang yang  telah mengepungmereka. 'Tetapi usaha mereka sia -sia. Yang mengepung mereka adalah para cantrik dan para bebahu yang  telah meningkatkan kemampuan mereka bahkan dengan senjata khusus ditangan mereka. Tetapi kedua orang gegedug dan pengikutnya itu telah membuktikan sikapnya. Mereka memang memilih mati daripada meny erah. Sebenarnyalah, orang-orang Bumiagara itu seakan-akan juga tidak dapat memilih. Karena sikap dan pilihan orangorang yang  terkepung itu sendiri, maka ujung-ujung senjata telah mengoyak-kan kulit daging mereka, sehingga akhirnya kelima orang itupun menyusul kawan-kawan mereka yang telah terbunuh dipertempuran. Memangmengerikan. Kematian yang demikian banyaknya. Sementara orang-orang Larah duduk dengan gemetar menyaksikan akhir dari seranganmereka ke Bumiagara. Ki Buyut Bumiagara berdiri mematungmemandangi tubuh yang terbujur lintang di halaman rumahnya. Bagaimanapun juga ia merasa ngeri mengenang apa yang  telah terjadi. Sedangkan kemudian ia masih harus melihat tubuh kawan dan lawanyang terbaringmembeku. Tetapi Ki Buy ut dari Bumiagara itu tidak dapat memutar waktu kembali. Ia hanya dapat meny esali, apa yang telah dilakukannya sejak semula ia memilih mempergunakan kekerasan untukmemenuhi keinginannya. “Seandainya aku tidak mulai dengan berusaha mengambil seorang cantrik dari Padepokan Bajra Seta dengan kekerasan. Seandainya aku tidak berhubungan dengan prajurit Kediri yangmenentang pemerintahannya yang  sekarang. Seandainya aku tidak melakukan itu semua.” keluh Ki Buyut di dalam hatinya. Tetapi ia tidak dapat memutar waktu kembali. Dengan jantung yang  berdebar debar ia mengenang bahaya yang sebenarnya akan datang ke Kabuyutan itu. Prajurit-prajurit Kediri yang  pernahmengancamnya. Sekali lagi Ki Buyut memperhatikan tubuh yang terbaring membeku di halaman rumahnya. Jika prajurit Kediri yang tidak patuh kepada rajanya itu datang, maka kematiankematian itu tentu akan terulang lagi. Bahkan tentu lebih mengerikan lagi. Mungkin seisi Kabuyutan Bumiagara akan ditumpasnya karena Bumiagara tentu tidak akan dengan patuh menundukkan kepalanya untuk diinjak oleh prajuritprajurit Kediriyang  tidak patuh itu. Ki Buyut seakan-akan tersadar darimimpi ketika ia melihat kelima orang cantrik dari padepokan Bajra Seta itu mendekatinya. Bahkan Ki Jagabaya yang  terluka serta para bebahu Kabuyutan itu. Sementara itu beberapa orang pengawal Kabuyutan masih sibuk dengan orang-orang padukuhan Larahyang meny erah. Dengan nada datar Ki Buy ut itupun berkata ”Kumpulkan semua korban pertempuran ini. “Bagaimana dengan orang-orang yang  meny erah?” bertanya seorang pengawal. Ki Buy ut termangu-mangu sejenak. Lalu katanya ”Kumpulkan pulamereka. Kita akanmemikirkan kemudian.” Ternyata Ki Buyut benar-benar menjadi letih. Bukan wadag-ny a. ia masih akan sanggup bertempur beberapa lama lagi. Tetapi nalarnyalah yang  seakan-akan telah menjadi buntu. Karena itu, maka katanya kemudian ”Aku akan berada dipendapa. Aku akanminum.” Para bebahu yang  telah mengenal sifat Ki Buyutpun mengetahui bahwa Ki Buy ut sedang dibebani oleh pikiran yang rumit, sehingga mereka tidak mengganggunya lagi. Bahkan seorang pengawal telah pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman bagi Ki Buyut Bumiagara itu. Namun dalam pada itu, para pengawal Bumiagara telah menjadi sibuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang terluka di pertempuran. Bahkan mereka yang telah gugur. Tubuh-tubuh yang  mulai membeku itu telah dibawa naik ke pendapa dan dibaringkannya di pringgitan. Ki Buyut melihat tubuh-tubuh itu dengan hati yang terasa sangat pahit. Tetapi iapun menyadari bahwa korban korban itu memang harus diserahkan untuk kepentingan kampung halaman mereka. Tanah kelahiran.Namun Ki Buyutpun sadar, bahwa akan jatuh derai air mata para ibu dan gadis-gadis yang kehilangan kekasihnya dimedan pertempuran. Dalam pada itu, dibawah pengawasan para pengawal,maka orang”orang Larah yang menjadi tawanan, harus mengumpulkan kawan-kawan mereka yang  juga terbunuh di peperangan itu. Tetapi bukan sebagai pahlawan yang mempertahankan martabat Tanah Kelahiran. Mereka adalah perampok-perampok yang terbunuh karena mereka telah gagal untukmelakukan pekerjaan mereka. Setelah tugas mereka selesai, barulah Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu naik juga ke pendapa dan duduk dihadapan Ki Buy ut yang telah minum minuman panas beberapa teguk. Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berdesis ”Lalu kita apakan orang-orang Larah yang tertawan itu?” “Apa yang baik menurut pendapat Ki Buyut” berkata Ki Jagabaya. Ki Buyut menganggukangguk kecil. Diluar sadarnya tangannya telah meraih mangkuk minumannya dan mengangkatnya kebibirnya. Setelah meneguk minumannya ia berkata ”Kita akan berhubungan dengan Ki Bekel di Larah.” “Apakah tidak akan terjadi salah paham, sehingga persoalannya justru akan berkembang menjadi semakin buruk?” sahut Ki Jagabaya. “Tidak. Ki Bekel di Larah tentu sudah mengetahui sifat dan kebiasaan orang-orangnya. Ia tentu akan mengerti apa yang telah terjadi disini, dan iapun tentu akan mengakui cacad dan cela padukuhannya.” jawabKi Buyut Bumiagara. Ki Jagabaya dan para bebahu Bumiagara yang lain mengangguk-angguk. Mereka memang sependapat, bahwa Ki Bekel di Larah seharusnya mengetahui, apa yang  telah terjadi di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara, sehingga ia tidak akan justrumembuat per soalannya semakin berkembang. “Ku minta Ki Jagabaya sendiri dan beberapa orang bebahu datang ke Larah dan mengundang Ki Bekel di Larah untuk menyaksikan apa yang  telah terjadi di sini.” Ki Jagabayamengangguk sambilmenjawab,meskipun agak ragu. “Baiklah Ki Buy ut. Aku akan pergi bersama dua orang bebahu dan dua orang cantrik dari padepokan Bajra Seta” Ki Buy ut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Baiklah Ki Jagabaya, kau dapatmembawa dua orang bebahu dan bila ber sedia dua orang cantrik dari padepokan Bajra Seta. Tetapi mereka mewakili anak-anak mudaBumiagara.” “Aku akan menemui mereka” desis Ki Jagabaya. Namun kemudian iapun bertanya ”Kapan sebaiknya kami berangkat?” “Tentu sekarang” jawab Ki Buyut ”segala sesuatunya harus segera menjadi jela s. Jika tertunda, maka keadaannya tentu akan lain. Mungkin Ki Bekel di Larah akan mempunyai tanggapanyang  berbeda” Ki Jagabayapun mengangguk-angguk. Jawabnya ”Baiklah. Aku akan segera berangkat setelah semua persiapan seleseai kami lakukan” Ki Jagabaya kemudian bersama dua orang bebahu yang  ditunjukkan telahmenemui para cantrik dari padepokan Bajra Seta, untukmenyampaikan keinginannya mengajak dua orang dari antara para cantrik itu pergi ke padukuhan Larah untuk mengundang Ki Bekel di Larah datang dan menyaksikan apa yang telah terjadi di Kabuyutan Bumiagara. Ternyata para cantrik itu tidak berkeberatan. Mereka telah menunjuk dua orang diantara mereka untuk pergi bersama Ki Jagabaya ke Larah. Mereka menyadari, bahwa persoalannya memang harusdapat diselesaikan dengan tuntas. Demikianlah,maka sejenak kemudian, lima ekor kuda telah berderapmeninggalkan padukuhan induk Kabuyutan Larah. Mereka berpacu di dinginnya dini hari menuju ke Larah yang letaknyamemang agak jauh dari Bumiagara. Ki Jagabaya memang menjadi berdebar-debar. Kemungkinan salah paham dapat terjadi. Tetapi bagaimanapun juga persoalannya memang harus diselesaikan dengan tuntas. Jika hal itu tidak dilakukan,maka persoalan itu akan tetapmenjadi semacam bara api di dalam sekam. Ketika matahari mulai naik, maka Ki Jabagaya dengan ampat orang pengiringnya telah memasuki padukuhan Larah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tikungan yang menanjak di lereng sebuah bukit kecil yang  dibelah oleh jalan yang menuju ke Bumiagara. Ditempat itu orang -orang Larah pernah gagal merampok orang-orang Bumiagara yang lewat membawa pedati. Kedatangan kelirmu orang Bumiagara dirumah Ki Bekel itu telah membuat Ki Bekel menjadi berdebar-debar. Namun sebenarnyalah bahwa Ki Bekel sudah menduga, tentu terjadi sesuatu di Bumiagara yang  menyangkut orang-orangnya, karena Ki Bekel tahu pasti, apa saja yang  telah dilakukan oleh sebagian dari orang-orangnya. Namun Ki Bekel telah menerima kedatangan Ki Jagabaya dan pengiringnya yang  nampak lebih itu dengan ramah, seakan-akan Ki Bekel tidak tahu apapun juga tentang kemungkinanyang  dilakukan oleh orang-orangnya. Ternyata Ki Bekel memang menunggu, sampai saatnya Ki Jagabaya berkata ”Ki Bekel. Kedatanganku bukan sekedar memperkenalkan diri. Tetapi aku memang membawa persoalanyang barangkali penting Ki Bekel ketahui.” “Persoalan apa Ki Jagabaya?” bertanya Ki Bekel. “Aku yakin bahwa Ki Bekel telah mengenali dengan baik sifat dan tabiat orang -orang Padukuhan yang Ki Bekel pimpin. Karena ternyata mereka mempunyai kebiasaan yang  khusus” berkata Ki Jagabaya. Sambil mengerutkan keningnya Ki Bekel bertanya ”Kebiasaan khusus yang manakah yang  Ki Jagabaya maksudkan?” Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak sempat untuk melingkar-lingkar berbicara. Karena itu, maka iapun kemudian telah mengatakan apa yang  terjadi di Bumiagara serta peristiwa yang mendahuluinya. Percobaan perampokan atas barang-barang yang dibawa oleh orangorang Bumiagara dari Padepokan Bajra Seta Ki Bekel nampak terkejut dan bertanya ”Benarkah yang kau katakan itu?” ”Sudahlah Ki Bekel. Sebaiknya kita tidak usah berpurapura. Jika aku datang kemari, aku bermaksud baik. Aku atas nama Ki Buyut menyatakan, bahwa Kabuyutan Bumiagara ingin agar persoalan ini cepat selesai dan tidak berkepanjangan.” Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Keningnya berkerut semakin dalam. Dengan nada rendah Ki Bekel itupun kemudian berkata ”Baiklah Ki Jagabaya. Seharusny a aku memang tidak usah berpura-pura.” “Nah. Jika demikian aku datang atas nama Ki Buyut Bumiagara untukmengundang Ki Bekel agar ber sedia datang ke Bumiagara. Ki Bekel akan melihat sendiri apa yang telah terjadi. Ki Bekel akan bertemu dan berbicara dengan orangorang Bumiagara dan lebih daripada itu,maka Ki Bekel akan berbicara terutama dengan orang-orang Larah sendiri.” “Kenapa aku harus datang ke Bumiagara?” bertanya Ki Bekel. *** Ki Bekel Larah menarik nafas dalam-dalam, sementara Ki Buyut berkata lebih lanjut ”Agaknya bukan hanya itu. Tetapi beberapa orang Larahmemang telahmenjadi korban.” “Apaboleh buat” berkata Ki Bekel. Lalu hampir kepada diri sendiri. ia berkata ”Aku sudah kehilangan wibawaku di padukuhanku sendiri. Mereka tidak lagi dapat aku kendalikan.” “Tentu ada sebabnya, kenapa hal seperti itu telah terjadi” berkata Ki Buyut Bumiagara. Ki Bekel termangu-mangu. Namun kemudian iapun bertanya ”Apakah Ki Buy ut dapat mengatakan, apakah sebabnya?” “Aku tidak melihat sendiri apa yang telah kau lakukan. Tetapi aku sudah berbicara dengan lebih dari lima orangmu yang tertawan. Aku berbicara dengan mereka dalam waktu yang terpisah. Namun jawaban mereka serupa tentang Ki Bekel. Tetapi Ki Bekel tidak usah marah kepada mereka. Akupun tidak akan mengatakan, yang  manakah lima orang diantara mereka yang telah berbicara tentang Ki Bekel itu. Bahkan kawan-kawan mereka yang  lainpun tidak tahu siapakah diantara kawan-kawan mereka yang  telah berbicara dengan aku.” jawabKi Buyut. Ki Bekel memandang Ki Buyut sekejap. Namun kemudian iapun telahmenundukkan wajahnya sambil berkata ”Aku tidak akan mendendam kepadamereka. Akupun tahu apa yang telah mejeka katakan kepada Ki Buyut. Bukankah mereka mengatakan bahwa pada satu saat akupun seorang perampok seperti mereka. Bahwa aku seorang yang ditakuti sehingga tidak seorangpun berani menentang aku di Kabuyutan Sembaga sehingga aku berhasil merebut kedudukan tertinggi di padukuhan Larah? Namun keadaan sekarang memang sudah berbeda. Buy ut Sembaga telah diganti oleh anaknya yang tidak silau melihat kemampuanku, sehingga akulah yang terpaksa mengalah dan mengikuti petunjuknya, merubah sikap dan kebiasaanku itu.” “Kau sendiri telah melengkapi ceritera orang-orang Larah yang tertawan itu Ki Bekel.” desis Ki Buyut. “Apa salahnya?” berkata Ki Bekel ”tanpa aku lengkapi, maka Ki Buyut tentu sudah mengetahui sebagian besar dari jalan hidupku itu. Bahkan mungkin justru karena keterangannya kurang lengkap, Ki Buy ut akan mempunyai pandanganyang  jauh lebih buruk dariyang  sebenarnya.” Ki Buy ut mengangguk-angguk. Namun kemudian ia bertanya ”Kenapa Ki Bekel yang  ditakuti di Sembaga, kemudian setidak-tidaknya di Larah setelah Ki Buyut di Sembaga berganti orang yang  justru tidak sependapat dengan Ki Bekel. Bukankah dengan dukungan Ki Buyut, Ki Bekel dapat berbuat banyak untuk menegakkan wibawa Ki Bekel?” bertanya Ki Buyut. Ki Bekel mengangkat wajahnya. Sekali lagi dipandangnya wajah Ki Buyut justru dengan pandangan mata yang tajam. Namun kemudian jawabnya lirih ”Ki Buy ut tentu sudah mengetahui jawabnya.” “Tetapi aku ingin mendengar dari Ki Bekel sendiri” jawab Ki Buyut. “ Inikah cara Ki Buyutmenghukumaku?” bertanya Ki Bekel. ”Tidak. Tetapi aku ingin mendapatkan kebenaran jawaban vtfng pernah aku dengar dari orang-orang yang telaha tertawan itu.” sahut Ki Buyut. “Baiklah, jika jawabanku akan dapatmemberikan kepuasan kepada Ki Buyut.” Ki Bekel itupun telah menunduk pula. Katanya ”dalam beberapa hal aku memang telah menyetujui langkah” langkah mereka. Namun tidak dalam segala hal. Mereka sama sekali tidak menghubungi aku ketika mereka berangkat ke Bumiagara.” “Tetapi Ki Bekelmengetahuinya?” desak Ki Buyut. Ki Bekel tidak menjawab. Tetapi kepalanya justru menjadi semakinmenunduk. “Baiklah Ki Bekel” berkata Ki Buy ut kemudian ”jika demikian halnya, maka segala sesuatunya aku kembalikan kepada Ki Bekel. Apakah Ki Bekel ingin menyelesaikan persoalan ini dengan baik atau tidak.” “Aku tidak mempunyai pilihan Ki Buyut. Seharusnya Ki Buyut tidak usah minta pertimbanganku. Sekarang katakan sa ja apa yang dikehendaki oleh Ki Buyut. Sudah tentu aku tinggal menjalaninya, karena setiap usaha untuk menentangnya, berarti aku harus berhadapan dengan dua kekuatan. Kabuyutan Bumiagara dan Kabuyutan Sembaga sendiri,” jawab Ki Bekel. “Baiklah” jawab Ki Buyut. Lalu katanya meneruskan ”Jika demikian, maka aku akan mengambil sikap. Aku percaya kepada Ki Bekel justru karena Ki Bekel tidak lagi berani menentang kekuasaan Ki Buyut di Sembaga” “Aku sudah terjepit oleh keadaan” jawab Ki Bekel ” langkah orang-orang Larah kali ini ternyata akanmembawa perubahan dalam kehidupanmereka selanjutnya.” “Mudah-mudahan Ki Buyut. Tetapi aku yakin, bahwa yang  dikatakan Ki Bekel itu akan benar-benar terjadi” desis Ki Buyut. “Mudah-mudahan Ki Buyut” sahut Ki Bekel. “Jika demikian aku akan menyerahkan orang-orang Larah yang tertawan itu kepada Ki Bekel. Bawalah mereka. Namun dengan pengertian, bahwa mereka akan menjadi jera. Ki Bekel yang mereka takuti akan membina mereka, agar mereka menjadi, orang yang baik” berkata Ki Buyut kemudian. Sementara itu, Ki Bekelpun telah berada diantara orangorangnya yang  tertawan. Dengan pandangan kosong orangorang Larah itu mengikuti langkah dan gerak pimpinan padukuhannya. Mereka sama sekali tidak dapat mengharapkan apapun juga dari Ki Bekel di Larah, karena mereka menyadari, bahwa Ki Bekel tidakmembawa kekuatan apapun untuk membebaskan mereka. Seandainya Ki Bekel datang dengan membawa ancaman, maka merekapun tahu tidak ada kekuatan yang akan mampu membebaskan mereka dari tangan orang-orang Bumiagara. Bagi orang-orang Larah itu, maka kekuatan Kabuyutan Sembaga, meskipun padukuhan Larah itu termasuk Kabuyutan Sembaga. Ketika Ki Bekel kemudian duduk diantara orang-orang Larah yang  berada diserambi gandok itu, maka suasanapun menjadi hening. Bebahu yang mengantarkan Ki Bekel itupun kemudian berkata “Silahkan Ki Bekel. Aku akan kembali ke pendapa .” “Terima kasih Ki Sanak” jawab Ki Bekel ragu. Bebahu itu memang pergi. Namun Ki Bekel sadar, bahwa para pengawal Kabuyutan Larah mengawasi mereka dari kejauhan. Setelah bebahu itu pergi meninggalkan orang-orang Larah itu, maka Ki Bekelpun segera memecahkan keheningan ”Kalian kali ini ternyata gagal.” Pemimpin orang-orang Larah yang datang ke Bumiagara itu menjawab ”Ya.Dan aku sendiri telah terluka .” “Bagaimana dengan para gegedug ?” bertanya Ki Bekel. “Mereka telah disapu bersih. Ternyata Kabuyutan Bumiagara mempunyai kekuatan yang  sangat besar. Jauh dari perhitungan kami semula.” “Apa rencana kalian selanjutnya ?” bertanya Ki Bekel. “Mencari kesempatan untukmembalas dendam. Betapapun kuatnya Kabuyutan Bumiagara, namun kami akan mencari kawan dan mempersiapkan diri jauh lebih matang dari sekarang” jawab pemimpin orang-orang Larah itu. “Bagaimana jika kalian dihukum mati atau diserahkan kepada para prajurit Singasari ?” bertanya Ki Bekel. Wajah mereka menjadi tegang. Seorang diantara mereka bertanya ”Apakah benar mereka akan menghukum mati kita atau meny erahkan kepada para prajurit Singasari ?” “Aku tidak mengatakan demikian. Aku hanya mendugaduga” berkata Ki Bekel. Pemimpin orang-orang Larah yang  menyerang Kabuyutan Bumiagara itu menarik nafas panjang. Katanya ”Ki Bekel jangan menakut-nakuti kami. Aku kira mereka tidak akan berani menjatuhkan hukuman mati atas kami semuanya juga tidak akan meny erahkan kami kepada para prajurit Singasari, karena dengan demikian, mereka harus mempertanggung jawabkan kawan-kawan kami yang  telah mereka bunuh disini.” “Mereka akan mempertanggung jawabkannya. Seandainya disebut bertanggung jawab, maka mereka cukup membuat laporan apa yang telah terjadi di padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara ini. Mereka tidak akan dianggap ber salah meskipun mereka telah membunuh beberapa orang gegedug dan juga orang-orang Larah. Mereka tentu dianggapmembela diri.” Pemimpin orang-orang Larah itu memangmenjadi gelisah. Untuk beberapa saat ia justru terdiam. Pernyataan Ki Bekel itu benar-benar membuatnya berdebar-debar. Namun jantungnya bagaikan terhenti berdenyut ketika ia mendengar Ki Bekel itu berkata ”Dengarlah. Hukuman yang akan dijatuhkan atas kalian justru lebih dari hukuman yang aku katakan itu.” Pemimpin dari orang-orang Larah yang  datang ke Bumiagara itu memandang Ki Bekel dengan wajah yang tegang. Hampir tidak terdengar ia berkata ”Jika kami masih harus menerima hukuman yang lebih berat daripada diserahkan prajurit Singasari atau hukuman mati, hukuman apakah yang  harus kami jalani ? Dan apakah arti kedatangan Ki bekel kemari ? Apakah Ki Bekel tidak dapat berbuat apa-pa sama sekali sehingga akan dapatmemperingan hukuman kami ? Tentu kami tidak akan melupakan ja sa Ki Bekel. Mungkin Ki Bekel dapat mengancam orang-orang Bumiagara dengan kekuatan Kabuyutan Sembaga atau ancaman apapun yang dapatmemperingan hukuman kami.“ Ki Bekel menggeleng. Katanya ”Tidak seorangpun yang  dapatmemperingan hukuman atas kalian.” “Hukuman apa yang  akan mereka bebankan kepada kami ? Kerja paksa seumur hidup atau hukuman picis ?” Ki Bekel menggeleng. Katanya ”Tidak” “Jadi hukuman apa ?” desak orang itu. “Kalian telah dibeba skan dan diserahkan kepadaku” jawab Ki Bekel. “Dibebaskan ?” beberapa orang bertanya bersama-sama. “Ya.” jawab Ki Bekel. “Aku tidak mengerti” desis seorang diantara mereka, nampaknya dalam keadaan seperti ini Ki Bekel masih bergurau. “Aku tidak bergurau. Aku berkata sebenarnya. Kalian telah dibebaskan dan diserahkan kepadaku” jawab Ki Bekel tegas. Orang-orang Larah yang  menjadi tawanan itu termangumangu. Antara percaya dan tidak mereka saling berpandangan. Namun mereka mendengar lagi Ki Bekel itu berkata dengan tegas ”Kalian telah dibeba skan. Ki Buy ut di Bumiagara telah meny erahkan kalian kepadaku. Kalian dengar?” “Apakah artinya itu Ki Bekel? Apakah Ki Buy ut di Bumiagara menyerahkan pelaksanaan hukuman atas kami kepada Ki Bekel atau bahkan memberikan kebebasan kepada Ki Bekel untuk menghukum kami?” bertanya salah seorang dari orang-orang Larahyang tertawan itu. Ki Bekel memandang orang itu dengan mata yang  redup. Dengan nada alam ia kemudian berkata ”Tidak. Itulah yang justru membuat aku selalu merenung tentang kemungkinankemungkinanyang  dapat terjadi ataskalian.” “Maksud Ki Bekel?” bertanya pemimpin orang-orang Larah “Ki Buyut di Bumiagara telah meny erahkan kalian kepadaku. Tidak ada syarat hukuman apapun. Tetapi sy aratnya ju stru sangat berat. Bukan bagi kalian. Tetapi bagi aku” desis Ki Bekel. “Kenapa justru bagi Ki Bekel?” bertanya pemimpin sekelompok orang-orang Larah yang  berusaha merampok di Kabuyutan Bumiagara itu. “Ki Buyut telah membebaskan kalian dari segala hukuman dan meny erahkan kalian kepadaku dengan sy arat, agar orangorang Larah menghentikan kebiasaan buruk yang selama ini kita lakukan” jawabKi Bekel. “Kebiasaan buruk?” desis pemimpin sekelompok orangorang Larah itu. “Ya. Kebiasaan buruk. Merampok, menyamun dan sebagainya” jawab Ki Bekel. “Kebiasaan buruk” desis pemimpin kelompok orang-orang Larah itu ”selama ini kita tidakmeny ebutnya demikian.” Tetapi Ki Bekel dengan cepat menyahut ”Kita memang tidak meny ebutnya demikian. Tetapi kita tidak berhati batu. Kita tahu apa yang baik dan apa yang  buruk, meskipun kita telah membutakan hati kita. Sebenarnyalah kita tahu bahwa apa yang  sering kita lakukan itu adalah satu kebiasaan yang buruk.” Orang-orang Larah itu saling berdiam diri. Namun sebenarnyalah bahwa merekapun mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Ki Bekel itu benar adanya. Sementara itu, Ki Bekelpun berkata selanjutnya ”Nah, adalah bebanku kemudian untuk melaksanakan sy arat yang diberikan oleh Ki Buy ut di Bumiagara itu.” Orang-orang Larah itu termangu -mangu sejenak. Mereka menyadari bahwa tugas Ki Bekel memang menjadi terlalu berat. Apalagi ketika Ki Bekel berkata ”Soalnya bukan hanya menguasai kalian dan orang-orang Larah yang lain, tetapi kalian telah berhubungan dengan orang-orang diluar Larah. Orang-orang yang tentu sulit untuk mengerti seandainya kalian benar-benar berubah. “Apakah kita akan berubah?” tiba -tiba seorang diantara para tawanan itu bertanya. “Bukankah kita justru akan mencari kesempatan untuk menebus kegagalan kita?” bertanya yang lain. ”Kalian jangan berusaha untuk dengan tergesa -gesa menggali kubur kalian sendiri. Kalian sudah mengetahui kekuatan Bumiagara yang  telah menghancurkan kalian sekarang ini. Apalagi jika Bumiagara sudah menghimpun seluruh kekuatannya,maka Larah dan bahkan kekuatan yang akan disusunpun akan dihancurkannya pula. Apalagi jika Kabuyutan Bumiagara benar-benar menghubungi Kabuyutan Sembaga. Maka kita tentu akan menjadi lumat” jawab Ki Bekel. Orang-orang Larah itu mengangguk-angguk. Mereka menyadari kelemahan mereka. Namun seorang diantara mereka bertanya ”Jadi bagaimana sikap Ki Bekel?” “Aku tidak mempunyai pilihan. Jika aku tidak ber sedia memenuhi sy arat Ki Buyut Bumiagara, maka kalian tentu tidak akan diserahkan kepadaku. Karena itu, maka aku telah menyatakan kesediaanku untuk merubah tatanan hidup dan kehidupan di padukuhan Larah. Tentu saja aku tidak dapat melakukannya sendiri tanpa kesediaan kalian untuk membantuku” berkata Ki Bekel itu kemudian. “Apa yang  harus kami lakukan Ki Bekel” bertanya pemimpin sekelompok orang-orang Larah itu. “Membantu aku. Menghentikan segala perbuatan buruk.” jawab Ki Bekel. Beberapa orang saling berpandangan. Namun tidak seorangpunyang menjawab. Namun Ki Bekel itu bertanya sekali lagi ”Aku ingin bantuan kalian. Apakah kalian bersedia menghentikan kelakuan buruk kalian untuk seterusnya. Jawaban kalianlah yang akan aku sampaikan kepada Ki Buyut di Bumiagara. Jika kalian bersedia menghentikan tingkah laku kalian, maka kalian benar-benar akan bebas. Jika tidak,maka kita semuanya akan dihancurkan sama sekali. Bahkan mungkin bersama-sama dengan kekuatan dari Kabuyutan Sembaga sendiri.” “Tetapi kami tidak berdiri sendiri” jawab pemimpin kelompok orang-orang Larah itu. Ki Bekel mengangguk-angguk sambil berkata ”Aku tahu. Karena itu maka sudah aku katakan, bahwa bebanku akan menjadi sangat berat. Tetapi jika kita semuanya berani memanggul beban itu,maka aku tidak akan ragu-ragu.” ”Kematian para gegedug itu tentu akan membawa akibat” desis pemimpin kelompok orang-orang Larah yang tertawan itu. “Aku menyadari. Kawan-kawan mereka, para gegedug yang  lain tentu akan menuntut. Jika kalian tidak ber sedia bersama mereka untuk membalas dendam kepada orang-orang Bumiagara maka mereka justru akan mendendam kalian.” sahut Ki Bekel. Lalu katanya pula ”Kita memang harus memilih. Menghentikan tingkah laku kita yang  buruk, atau berpihak kepada para gegedug yang  mendendam itu. Tetapi kitapun harus mampu memperhitungkan keadaan. Siapakah yang lebih kuat. Para gegedug itu atau Kekuatan Kabuyutan Bumiagara yang  bergabung dengan kekuatan Kabuyutan Sembaga.” “Kita akan benar -benar menghadap kesulitan” desis pemimpin dari orangorang Larah yang tertawan itu. “Masih ada satu hal lagi. Jika kalian bersedia bekerja sama dengan aku, maka persoalan kita dengan Bumiagara sudah selesai. Tetapi jika kalian tidak bersedia maka kalian tentu akan menjalani hukuman yang berat. Setelah kalian selesai dengan hukuman itu, maka kalian akan berhadapan dengan aku dan seluruh Kabuyutan Sembaga. Kalian tentu tahu, siapakah aku dan kalianpun tentu tahu, apa saja yang  dapat aku lakukan. Apalagi dengan dukungan Ki Buyut di Sembaga yang sekarang. Kalian tentu tidak akan mampu berbuat apa-apa meskipun kalian mendapat bantuan dari gegedug darimanapun juga.” ternyata Ki Bekel jugamengancam. Orang-orang Larah yang  tertawan itu memang tidak dapat lagi memilih. Mereka tidak akan mampu melawan niat Ki Bekel yg mereka ketahui memiliki kemampuan jauh lebih besar darimereka semuanya. Karena itu, maka pemimpin orang-orang Larah itupun kemudian berkata ”Kami serahkan segala sesuatunya kepada Ki Bekel.” “Jangan berkata begitu” jawab Ki Bekel ”dengan demikian kau seakan-akan tidak ikut bertanggung jawab atas keputusan kita bersama. Kau akan dapat berkata ’Ki Bekellah yang mengambil keputusan.’ Aku minta kau menjawab dengan tegas. Ya atau tidak. Dengan demikian maka kau ikut bertanggung jawab atas keputusan kita bersama.” Orang-orang Larah itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian pemimpin kelompok itupun berkata ”Baiklah Ki Bekel. Kami sependapat dengan Ki Bekel.” “Sependapat apa ?” bertanya Ki Buyut. Pemimpin orang-orang Larah yang tertawan di Bumiagara itupun menjadi termangu-mangu. Sementara Ki Bekel berkata selanjutnya ”Kau harus berkata dengan tegas” “Baiklah Ki Bekel. Kami sependapat dengan Ki Bekel. Bahwa kami akan merubah tingkah laku kami. Bahkan kami akan membantu Ki Bekel untuk membuat orang -orang Larah bertingkah laku baik.” jawab pemimpin orang-orang Larah yang tertawan itu. “Bagus” jawab Ki Bekel ”dengan demikian kita semuanya akan bertanggung jawab terhadap persetujuan kita. Kita semua akan berusaha agar orang-orang Larah tidak lagi bertingkah laku buruk seperti sebelumnya. Aku akan memulainya ber sama kalian. Kemudian orang-orang lain sepadukuhan. Siapa yang menolak akan dipaksa dengan kekerasan. Agaknya kita memang terbiasa mempergunakan kekerasan. Namun mudah-mudahan lambat laun akan dapat berubah.” Orang-orang Larah itu tidakmenjawab lagi. Memang tidak ada yang lain yang  dapat mereka katakan kepada Ki Bekel di Larahyg sedang dibebani oleh tugasy g berat. “Jika kalian tidak mempunyai pendapat lain, baiklah aku berbicara lagi dengan Ki Buyut di Bumiagara” berkata Ki Bekel. Namun katanya kemudian ”Tetapi akibat dari keputusan ini, kita harus ber siap melakukan apa saja untuk menghadapi para gegedug atau pengikut-pengikut mereka yangmendendam, karena beberapa orang yang  telah terbunuh disini karena merekamembantu kalian.” Orang-orang Larah itu tidak menjawab. Tetapi Ki Bekel tidak menghiraukan lagi. Iapun segera bangkit berdiri dan melangkahmenuju ke pendapa. Seorang bebahu yang  mempersilahkannya duduk berkata ”Ki Buyut baru masuk keruang dalam, sedangkan Ki Jagabaya sedang merawat luka-lukanya. Meskipun tidak parah, tetapi luka-luka itu akan dapat berbahaya jika tidak terawat dengan baik.” “Aku akan menunggu disini” jawab Ki Bekel. Ki Bekel ternyata harus bermalam di Kabuyutan Bumiagara semalam. Pagi-pagi benar Ki Bekel sudahmempersiapkan diri. Demikian pula para tawanan yang  benar-benar telah dibebaskan sebagaimana dikatakan oleh Ki Bekel. Namun dengan satu sarat yang  cukup berat, karena sarat itu menyangkut sikap dan tingkah lakumereka untuk selanjutnya. Ketika matahari terbit, maka Ki Bekel telah membawa orang-orangnya keluar dari Kabuyutan Bumiagara. Dengan ucapan terima kasih yng berulang kali diucapkan, Ki Bekel minta diri kepada Ki Buyut dan para bebahu yang mengantarnya sampai ke regol padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Iring-iringan orang-orang Bumiagara yang  kembali ke padukuhannya itu memang menarik perhatian banyak orang. Tetapi demikian iring -iringan itu lewat, maka orang-orang itupun tidakmenghiraukannya lagi. Tetapi karena orang-orang Larah itu hanya berjalan kaki, maka Ki Bekel dan pengiringnya yang berkuda harus dengan telaten mengikutimereka. Namun akhirnya setelah menempuh perjalanan yang  melelahkan, iring-iringan itu akhirnya sampai pula ke padukuhan Larah. Kedatangan mereka memang sempat mengejutkan. Beberapa orang yang sempat melihat iring-iringan itu segera mengikutinya sampai ke rumah Ki Bekel. Namunmereka tidak tahu apa yang  sebenarnya telah terjadi atasmereka. Satu dua orangmengetahui, bahwa sekelompok orang Larah telah pergi keluar untuk melakukan pekerjaan mereka sebagaimana seringmereka lakukan. Tetapi apa yang  terjadi kemudian itulah yang menarik perhatian mereka. Sehingga karena itu, maka mereka pun berusaha untuk segera dapat mendengar keterangan tentang sekelompok orang yang pulang bersama Ki Bekel itu. Ternyata Ki Bekel tidak menahan orang-orang itu terlalu lama di rumahnya. Setelah ia berbicara beberapa patah kata, mengingatkan sy arat yang  telah dibebankan kepada mereka oleh Ki Buyut di Bumiagara, maka orang-orang Larah itupun segera diijinkannya pulang kerumah merekamasing-masing. Pada saat mereka keluar dari regol halaman Ki Bekel, orang-orang Larah yang lain, yang  ingin segera mengetahui apa yang  telah terjadi, telah meny ongsong orang -orang yang nampak letih itu. Bahkan sebagian darimereka masih nampak ternoda darah pada pakaian mereka. “Apa yang  telah terjadi?” bertanya seseorang kepada seorang yang  telah terluka. “Kami telah dihancurkan” jawab orang itu. “Tetapi kenapa kalian dapat segera pulang? Apakah Ki Bekel telah datang menyusul kalian dan minta kalian dibebaskan” bertanya orang itu pula. Orang yang terluka itu termangu-mangu.Namun kawannya yang bertanya itu mendesak ”Apakah demikian besar pengaruh Ki Bekel, sehingga orang -orang Bumiagara tidak berani menahan dan menghukum kalian jika benar kalian telah dihancurkan?Atau barangkali ada sebab lain?” “Tidak” jawab orang yang  terluka itu ”kami memang dibebaskan. Bukan karena pengaruh Ki Bekel” “Jadi?” Orang yang  terluka itupun segera menceriterakan syarat yang diberikan oleh Ki Buy ut di Bumiagara kepada para tawananyang dibebaskannya. Yang mendengarkan ceritera itu justru mengerutkan keningnya. Dengan nada dalam ia bertanya ”Kalian bersedia melakukannya?” “Disaat itu, kami tidak mempunyai pilihan lain. Tetapi nampaknya Ki Bekel benar-benar akan melaksanakannya” jawab orang yang  terluka itu. “Tetapi bagaimana dengan para gegedung yang terbunuh itu? Mereka tidak berdiri sendiri. Dibelakangnya terdapat kekuatan yang akan dapat mengguncang ketenangan padukuhan Larah” berkata orang yang minta keterangan itu. Orang yang terluka itupun segera memberikan keterangan pula tentang berbagai macam kemungkinan seperti yang dikatakan oleh Ki Bekel. Kawannya itupun menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Kita akan terjepit oleh kekuatan-kekuatan yang  dapat menghancurkan kita” “ Itu adalah tantangan yang harus kita hadapi” jawab orang yang terluka itu. Percakapan merekapun terhenti, karena orang yang terluka itu telah sampai kerumahnya. Namun ia telah memberikan banyak keterangan kepada kawannya yang  telah meny ongsongnya itu. Sebenarnyalah orang-orang Larahpun menjadi gelisah. Mereka seakan-akan telah berdiri disimpang jalanyang  keduaduanyamenuju kesarang serigala. Padahalmereka sudah tidak dapat kembali lagi. Namun nampaknya Ki Bekel tanggap akan kegelisahan orang-orangnya itu. Karena itulah,maka dihari berikutnya ia telah memanggil semua anak-anak muda dan laki-laki yang masih memiliki kemampuan untukmemegang senjata. “Kita harus memilih” berkata Ki Bekel ”dan aku telah memilih berpihak kepada orang -orang Bumiagara yang mempunyai kemungkinan yang besar akan menghubungi Kabuyutan Sembaga. Sehingga dengan demikian, maka kita harusberanimenanggung akibatnya” “Tetapi para gegedug itu juga memiliki kekuatan yang  sangat besar” berkata salah seorang diantara mereka yang ada di pertemuan itu. “Kita bersama-sama akan menghadapi mereka. Jika kita sependapat, maka aku y akin, kita akan memiliki kekuatan yang lebih besar dari para gegedug itu. Kita akan mampu mempertahankan diri menghadapi mereka. Jika ternyata kita mengalami kesulitan, maka kita akan dapat bekerja sama dengan seisi Kabuyutan Sembaga.” “Tetapi apakah mereka masih mempercayai kita?” bertanya orang lain. Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah iapun merasa ragu, apakah Ki Buy ut di Sembaga masih mempercayainya. Namun kemudian ia menjawab ”Segala sesuatunya tergantung kepada kita. Jika kita melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, maka Ki Buyut di Sembaga tentu ber sediamembantu kita.” Ki Bekel berhenti sejenak. Ia nampak merenung dalam. Baru kemudian ia berkata ”Karena itu, aku akan dengan segera memberikan laporan kepada Ki Buy ut di Sembaga. Aku akan melaporkan apa yang  telah terjadi dengan sejujurnya. Aku mengharap bahwa Ki Buy ut akan melihat niat kita yang  jujur itu dan ber sedia membantunya jika kita benar-benar mengalami kesulitan.” Orang-orang Larah itu hanya dapat mengangguk-angguk sa ja. Namun salah seorang dari mereka bertanya ”Tetapi apakahyang  kemudian akan kita makan ber sama keluarga kita ?” Ki Bekel mengerutkan dahinya. Dengan lantang ia menjawab ”Tanah kita masih luas. Hutan kita membentang dari ujung sampai keujung bahkan memanjat lereng pegunungan. Asal kita tahu dirimaka sebagian hutan itu dapat dibuka tanpamenimbulkan akibat buruk. Soalnya, apakah kita mau bekerja keras atau tidak. Bekerja keras mengolah tanah adalah jauh lebih baik darimelakukan pekerjaanyang  kadangkadang harusmempertaruhkan ny awa kita. Meskipun secara wadag kita bekerja keras, tetapi kita akan mendapat ketenangan jiwa. Meskipun kita menjadi letih, tetapi hidup kita akan tenteram. Kita akan mendapatkan kedamaian dihati kita. Kita tidak akanmerasa diburu dan dimusuhi oleh sesama. Dalam keletihan tubuh kita, kita akan dapat tidur ny enyak diantara keluarga kita.” Orang Larah itupun mengangguk-angguk. Mereka mengerti arti kata-kata Ki Bekel. Namun ada pula diantara mereka yang masih saja merasa bahwa kehidupan mereka akan menjadi lebih buruk dimasa mendatang. Mereka tidak akan dapat lagi melihat kilauan permata dan mengkilapnya emas yang dapat mereka rampas dari orang lain. Mereka hanya akan bergulat dengan lumpur dan batu-batu padas. Namun satu pertanyaan akan timbul. Apakah benarmereka akan dapat hidup tenang dan tenteram serta kedamaian hati meskipun wadagmerekamenjadi letih oleh kerja keras. Ketika pertemuan itu kemudian ditutup oleh Ki Bekel dengan janji yang sama-sama mereka ucapkan untukmerubah tatanan hidup mereka serta ber sama -sama menghadapi kemungkinan buruk yang dapat ditimbulkan oleh para gegedug,maka pertemuan itupun segera dibubarkan. “Aku akan menghadap Ki Buy ut di Sembaga” berkata Ki Bekel. Sebenarnyalah, Ki Bekelpun kemudian telah pergi ke Kabuyutan Sembaga untukmenghadap Ki Buyut. Meskipun Ki Buyut tetap mencurigainya, namun Ki Bekel telah diterimanya dengan baik. Dengan jujur Ki Bekel menceriterakan apa yang telah terjadi atas orang -orangnya di Kabuyutan Bumiagara. Dengan jujur pula Ki Bekel menyampaikan niat orang-orang Larah untukmerubah tatanan hidupmereka. “Peristiwa di Bumiagaramerupakan peringatanyang sangat keras bagi kamiKi Buy ut” berkata Ki Bekel kemudian. Ki Buyut yang terhitung masih muda itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Ako sebenarnya sudah jemu memikirkan orang-orang Larah. Aku bahkan sudah memutuskan untuk tidak peduli lagi, apa saja yang  terjadi dan apa yang  diperbuat oleh orang-orang Larah. Bahkan aku sudah bertekad, jika orangorang Larah melakukan satu kejahatan atas padukuhan-padukuhan lain di lingkungan Kabuyutan Sembaga, maka padukuhan Larah akan aku hancurkan sendiri. Tetapi ternyata orang-orang Larah telah mendapat peringatan langsung dari Yang Maha Agung dengan lantaran Kabuyutan Bumiagara.” “Agaknya memang demikian Ki Buy ut. Peringatan itu demikian kerasnya sehingga harus dikorbankan beberapa orang Larah yang  terbunuh di Kabuyutan Bumiagara. Selain itu beberapa orang gegedug yang bersama-sama kami datang di Bumiagara malam itu juga terbunuh” berkata Ki Bekel sambilmenundukkan kepalanya. Ki Buyutmengangguk-angguk. Katanya ”Sokurlah. Mudahmudahan apa yang  dikatakan Ki Bekel itu benar-benar akan mendapat dukungan sepenuhnya dari orang-orang Larah. Tetapi apakah Ki Bekel telah memperhitungkan kawan-kawan dari para gegedug yang  terbunuh itu ? Jika Ki Bekel menolak untuk membalas dendam atas orang-orang Bumiagara, maka dendamnya akan diarahkan kepada orang-orang Larah.” “Ya Ki Buyut.” jawab Ki Bekel ”kami, orang-orang Larah menyadari kemungkinan buruk yang  dapat terjadi. Tetapi kami sudah bertekad untuk menghadapi kemungkinan itu. Namun jika kami mengalami kesulitan, maka sudah sepantasnya kami mohon perlindungan kepada Ki Buy ut di Sembaga.” Ki Buyut mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian katanya dengan nada rendah ”Segala sesuatunya tergantung kepada orang-orang Larah sendiri. Jika orang-orang Larah memegang janjinya,maka aku tidak akan berkeberatan untuk memenuhinya” Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Terima kasih Ki Buyut. Aku berjanji, bahwa Larah akan berubah. Leherku akan aku pertaruhkan untuk itu.'- Namun pembicaraan mereka terputus ketika mereka mendengar derap kaki kuda yang berhenti didepan regol halaman Kabuyutan Sembaga. Ternyata tidak hanya seekor kuda. Tetapi tiga ekor kuda. Orang-orang yang ada di pendapa rumah Ki Buy ut di Sembaga itupun segera bangkit berdiri untuk meny ongsong orang-orang berkuda yang  kemudian menuntun kuda-kuda mereka memasuki halaman. Ki Bekel di Larah terkejut melihat orang itu. Orang itu adalah Ki Buyut di Bumiagara bersama dua orang pengiringnya. Ki Buy ut Bumiagara yang  melihat kehadirana Ki Bekel itupun terseny um sambil berkata ”Ternyata Ki Bekel telah lebih dahulumenghadapKi Buyut di Sembaga.” “Ya. Ki Buyut. Aku ingin menyatakan kesungguhan hatiku untuk memenuhi sy arat yang  diberikan oleh Ki Buyut Bumiagara.” Sementara itu Ki Buyut di Sembaga pun telah mempersilahkan Ki Buyut Bumiagara untuk naik dan duduk di pendapa ber sama kedua orang pengiringnya. Setelah saling memperkenalkan diri, maka merekapun mulai berbicara tentang keperluan Ki Buyut di Bumiagara datang ke Kabuyutan Sembaga. “Adalah kebetulan bahwa Ki Bekel Larah ada disini” berkata Ki Buyut Bumiagara. Ki Buyut di Sembaga pun mengangguk-angguk. Dengan demikian maka iapun segera mengetahui, arah pembicaraan mereka selanjutnya. “Aku mengucapkan terima kasih atas langkah-langkah bijaksana yang telah Ki Buy ut ambil” berkata Ki Buyut Sembaga ”mudah-mudahan, dengan demikian orang-orang Larah benar-benar akan berubah. Selama ini aku telah kehabisan akal untuk mengendalikan tingkah laku orangorang Larah. Bahkan aku pernah berpikir untuk menghancurkan sama sekali padukuhan Larah, Namun ternyata bahwa Ki Buyut Bumiagara dapat membantu kami, orang-orang Sembaga, untuk merubah sikap dan pandangan hidup orang-orang Larah.” “Hanya satu kebetulan Ki Buyut” jawab Ki Buyut Bumiagara ”jika aku datang sekarang ini, maksudku untuk mohon agar Ki Buyut di Sembaga ber sedia untuk ikut mengawasi tingkah laku orang-orang Larah.” “Aku akan melakukannya” jawab Ki Buy ut. Lalu katanya ”Bahkan aku sudah berjanji untuk membantu padukuhan Larah jika kawan-kawan para gegedug yang  terbunuh di Larah mendendam bukan saja kepada orang -orang Bumiagara, tetapi juga kepada orang -orang Larah yang tentu akan dianggap berkhianat jika mereka merubah sikap dan pandangan hidup mereka.” “Sokurlah” jawab Ki Buy ut Bumiagara ”kamipun tentu tidak akan tinggal diam atau membiarkan saja kesulitan yang  akan dialami oleh padukuhan Larah jika para gegedug itu kemudian benar-benar datang untuk melepaskan dendamnya. Namun jarak antara Larah dan Bumiagara memang cukup jauh. Lebih daripada itu Bumiagara sendiri sekarang sedang berada dalam ancaman sekelompok prajurit Kediri yang tidak mau tunduk kepada Sri Baginda di Kediri. Mereka telah mencoba untuk memeras Kabuyutan Bumiagara. Mereka mengancam untuk mengambil padi kami dan bahkan anak-anakmuda kami.” Ki Buyut Sembaga mengangguk-angguk kecil. Namun nampak di wajahnya kerut-kerut yang dalam. Dengan nada rendah Ki Buyut Sembaga itu bertanya ”Untuk apa mereka memeras Kabuyutan Rumiagara?” Pertanyaan itu memangmembuat dahi Ki Buyut Bumiagara berkeringat. Bagaimanapun juga perasaan bersalah masih belum dapat dihapuskannya dari ingatannya. Namun Ki Buy ut Bumiagara itu menjawab ”Aku tidak tahu pa sti, kenapa para prajurit yang  melawan pimpinannya itu memilih Bumiagara. Agaknya karena Bumiagara termasuk Kabuyutan yang  subur dan memiliki anak-anak muda yang sedikit banyakmempunyai kemampuan bermain senjata.” “Lalu, bagaimana sikap Ki Buyut?” bertanya Ki Buyut di Sembaga. “ Itulah sebabnya, kami merasa sangat terpukul dengan serangan yang  dilakukan oleh orang-orang Larah justru saat kami sedang menyusun kekuatan. Kami harus melepaskan beberapa anak muda yang gugur dan sebagian lagi terluka. Namun dengan demikian orang”orang Larah pun telah membentur Kabuyutan yang telah mempersiapkan diri untuk melawan kekuatan para prajurit Kediri itu, sehingga orangorang Larah dapat kami tundukkan dengan cepat. Tetapi sudah tentu kami tidak akan menambah lawan justru kami berada dalam saat yang  gawat. Kami lepaskan orang-orang Larah dengan janji.” Ki Buyut di Sembaga mengangguk-angguk. Katanya ”Aku dapat mengerti, bahwa Bumiagara sedang menghadapi kesulitan. Namun agaknya kami tidak dapat berbuat apapun juga.” “Aku mengertiKi Buyut” jawab Ki Buy ut di Bumiagara ”aku sudah merasa berterima kasih jika Ki Buyut Sembaga bersedia mengawasi orang -orang padukuhan Larah. Kami akan mencoba untuk mengatasi sendiri para prajurit Kediri yang memberontak itu. Aku tahu bahwa itu adalah tugasyang  berat sekali. Namun kami mempunyai harga diri sehingga apapun yang terjadi kami harus menunjukkan bahwa kami akan mempertahankan hak kami dengan segenap kemampuan kami.” “Apakah Ki Buyut sudah menghubungi prajurit Singasari untukmohon perlindungan?” bertanya Ki Buyut di Larah. “Aku akan mencobanya. Tetapi apakah Singasari akan mempercayainya.” Ki Buyut di Sembangapun merenung sejenak. Tetapi kemudian iapun menjawab ”Apakah ada alasan Singasari untuk tidakmempercayainya ?” Ki Buy ut di Bumiagara menarik nafas dalam-dalam. Ia memang tidak dapat segera menjawab pertanyaan itu. Yang terbayang adalah justru apa yang telah dilakukannya. Jika ia menghubungi Singasari, maka Singasari tentu akan mencari sebab, kenapa Bumiagara y g justru menjadi sa saran orang2 Kediri y gmemberontak itu. “Jika Singasari mengetahui, bahwa kami pernah berhubungan dengan orang -orang Kediri yang memberontak itu, maka Singasari tentu akan mengusutnya lebih jauh” berkata Ki Buyut itu didalam hatinya. Namun jawaban y g kemudian diucapkan ”Aku akan mencoba. Ya. Aku harusmencobanya.” “Mudah-mudahan Ki Buyutmendapat perhatian sehinigga Bumiagara tidak mengalami kesulitan. Orang-orang Kediri yang tidak tunduk kepada para pemimpinnya itu tentu mempunyai sikap y g akan dapat membuat Bumiagara mengalami bencana.”berkata Ki Buyut Sembaga. Pembicaraan mengenai orang -orang Kediri yang  tidak tunduk kepada para pemimpinnya itui tentumempunyai sikap yang akan dapat membuat Bumiagara mengalami bencana.” berkata Ki Buyut Sembaga. Pembicaraan mengenai orang -orang Kediri yang  tidak tunduk kepada para pemimpinnya itu, apalagimereka adalah prajurit, telah membuat Ki Buy ut Bumiagara menjadi gelisah. Ia tidak ingin berbicara lebih panjang lagi, karena setiap kali ia meneybut para prajurit Kediri yang  melawan atasannya1 itu, rasa-rasanya jantungnya bagaikan tertusuk duri. Karena itu, setelah Ki Buy ut mendapat hidangan minum dan makanan, iapun segera minta diri. “Agaknya apa yang  akan aku sampaikan, telah Ki Buyut ketahui” berkata Ki Buyut Bumiagara ”bahkan kebetulan sekali Ki Bekel di Larah juga ada di sini. Dengan demkian maka kewajibanku rasa”rasanya memang sudah selesai, sehingga aku dan para pengiringku akanmohon diri.” “Begitu tergesa -gesa ?” bertanya Ki Buyut di Sembaga. Sementara Ki Bekel di Larah berkata ”Aku ingin mempersilahkan Ki Buyut bermalam barang semalam di Larah” “Terima Kasih Ki Bekel” jawab Ki Buy ut Bumiagara ” seperti aku katakan, bahwa mendung sedang bergantung diatas Kabuyutan Bumiagara. Aku tidak dapat terlalu lama meninggalkan Kabuyutanku. Sesuatu akan dapat terjadi setiap saat. Jika kebetulan aku tidak ada di rumah, sementara prajurit Kediri yg melawan atasannya itu datang, maka keadaan Kabuyutan Bumiagara akanmenjadi kalut.” Ki Buyut Sembaga dan Ki Bekel Larah menganggukangguk. Mereka dapat mengerti keberatan Ki Buyut Bumiagara itu. Demikianlah, maka Ki Bekel dan Ki Buy ut Sembaga mengantar Ki Buyut Bumiagara dengan pengiringnya sampai ke regol halaman. Sambil memandang langit Ki Buyut berkata ”Ki Buyut akan kemalaman diperjalanan.” Ki Buy ut Bumiagarapun memandang langit. Matahari telah jauh turun ke Barat. Namun katanya ”Ya. Tetapi aku sudah terbiasa menempuh perjalanan di malam hari.” Demikianlah maka sejenak kemudian tiga ekor kuda telah berpacu membelah padukuhan induk Kabuyutan Sembaga langsung menuju ke Kabuyutan Bumiagara. Disepanjang jalan tidak banyak yang mereka percakapkan. Hanya sekali-sekali Ki Buy ut berbicara disela-sela anganangannya yang menerawang menembus dadanya sendiri. Pendapat Ki Buyut Sembaga memang masuk akal. Agar ia menyampaikan persoalannya kepada para pemimpin di Singasari.Namun Ki Buyut meragukan kemungkinan yang  justru akan dapat menjeratnya dalam kesulitan.. Karena itu, maka katanya kepada diri sendiri ”Aku akan menyelesaikannya sendiri. Jika aku minta pertolongan, maka lebih baik aku pergi ke Padepokan Bajra Seta yg telah dengan pa sti berniat membantu Bumiagara, meskipun aku pernah berniatmenghancurkan Padepokan itu. Apalagi Padepokan itu telah mengirimkan cantrik-cantriknya disertai dengan segerobag senjata untuk Kabuyutan Bumiagara. Sambil menganyam angan-angannya Ki Buyut berpacu terus menuju ke Kabuyutan Bumiagara. Mereka berpacu di kereman-gan senjaj yang  bahkan kemudian gelap malampun telah meny elimuti jalan-jalan yang  dilalui oleh Ki Buyut Bumiagara ber sama pengiringnya. Namun akhirnya ketiga orang itupun memasuki Kabuyutan Bumiagara dengan selamat. Mereka tidak mendapat gangguan apapun juga diperjalanan. Tetapi Ki Buyut harus menghadapi keny ataan yang  mengguncangkan perasaannya ketika ia sampai di rumahnya. Seorang bebahu yang  adadirumahnya, meny ongsongnya dengan tergesa-gesa. “Ada apa ?” bertanya Ki Buyut yang baru saja meloncat dari punggung kudanya bersama kedua orang pengiringnya. “Di gandok ada lima orang yang bermalam” jawab bebahu itu. Ki Buyut mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia bertanya “Siapa ?” “Prajurit-prajurit Kediri” jawab bebahu itu. “Prajurit Kediri ? Maksudmu prajurit Kediri yang  pernah datang kemari ?” bertanya Ki Buyut. “Ya. Mereka yang  melawan atasan mereka” jawab bebahu itu. Jantung Ki Buyut bagaikan berhenti. Ia sadar, bahwa prajurit -prajurit itu tentu datang dengan maksud tertentu sebagaimana pernah mereka katakan. Jika kemudian terjadi kekerasan, maka Bumiagara benar-benar belum siap, apalagi setelah baru saja Bumiagara menyerahkan beberapa orang anak mudanya yang  terbaik karena kedatangan orang-orang Larah dan para gegedug yang ingin merampok padukuhan induk Bumiagara habis-habisan. Karena itu, maka Ki Buy ut itupun berkata ”Sebaiknya aku tidak menemui mereka. Aku akan pergi saja sampai mereka meninggalkan Bumiagara.” “Tetapi Ki Buyut akan pergi ke mana?” bertanya bebahu itu. “Aku akan ber sembunyi disalah satu padukuhan di Kabuyutan ini. Setiap kali aku akan menghubungimu lewat seorang penghubung untuk menanyakan apakah mereka sudah pergi” jawabKi Buyut. “Tetapi itu tidak meny elesaikan per soalan” sahut bebahu itu. “Setidak-tidaknya memberi kesempatan kepada para pengawal dan anak-anakmuda untuk bersiap-siap. Aku akan memimpin langsung persiapan itu dari tempat persembunyianku” berkata Ki Buy ut dengan suara bergetar. Karena sebenarnyalah ia menyadari bahwa ber sembunyi bukan peny elesaian terakhir dari per soalan Kabuyutan Bumiagara dengan para prajurit Kediri yang  tidakmau tunduk kepada atasannya itu. Bebahu yang ada di Kabuyutan itu tidak dapatmembantah lagi. Karena itu maka katanya ”Segala sesuatunya terserah kepada Ki Buyut.” Ki Buy ut memang menjadi ragu -ragu. Namun kemudian iapun berdesis ”Baiklah. Aku akan pergi. Setidak-tidaknya aku sempat berpikir dan mempersiapkan diri untuk berbicara denganmereka.” Namun yang  terjadi tidak seperti yang  dikehendaki oleh Ki Buyut. Demikian ia menarik kudanya, maka pintu bilik pringgitan pun telah terbuka. Dua orang prajurit muncul dari pintu itu. “Selamat malam Ki Buyut” berkata salah seorang dari prajurit itu. Ki Buy ut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian menyahut ”Selamatmalam Ki Sanak.” “Kami sudah lebih menunggu Ki Buyut” berkata prajurit itu ”bahkan kami harus bermalam disini, karena kami bertekad untuk tidak meninggalkan Kabuyutan ini sebelum kami bertemu dengan Ki Buyut. “Marilah” berkata Ki Buyut ”silahkan naik ke pendapa, atau kita akan berbicara besok saja setelah lewatmalam.” Kedua orang prajurit itu saling berpandangan sejenak. Namun keduanya berpaling ke dalam bilik. Agaknya mereka ingin mendapat pertimbangan dari kawan-kawannya yang  ada di dalam. Sementara itu Ki Buyutmasih saja berdiri sambil berharap, agar para prajurit itu memberinya kesempatan berpikir disisa malam itu sebelum ia berbicara dengan para prajurit itu. Namun Ki Buy ut pun menarik nafas panjang ketika salah seorang prajurit itu berkata ”Baiklah. Besok pagi-pagi saja kita berbicara. Agaknya Ki Buyut masih letih dan perlu beristirahat. “Terima kasih atas kesempatan ini Ki Sanak. Silahkan Ki Sanak juga beristirahat” berkata Ki Buyut. Kedua orang prajurit itupun segera kembali memasuki biliknya di gandok. Sementara Ki Buyut pun berkata kepada bebahu itu ”Panggil Ki Jagabaya. Masuk ke serambi samping. Jangan lewat regol depan, tetapi bawalah ia masuk lewat pintu butulan dinding halaman samping sebelah kiri.” “Ki Jagabaya juga belum lama meninggalkan pendapa ini” jawab bebahu itu. “Aku akan berbicara dengannya. Namun sebelum datang kemari, mintalah Ki Jabagaya menemui para cantrik. Aku inginmendengar pendapatnya” pesan Ki Buy ut. Bebahu itupun kemudian telah meninggalkan rumah Ki Buyut, sementara Ki Buy ut pun telah meny erahkan kudanya kepada pengiringnya yang membawa kuda -kuda itu langsung ke kandang. Ki Buyut yang naik ke pendapa itu langsung melewati pringgitan. Beberapa kali ia mengetuk pintu. Demikian pintu dibuka, Ki Buyut pun segera masuk ke ruang dalam. Namun Ki Buyut itu langsungmenuju ke serambi samping. Dalam keadaan demikian,maka Ny i Buy ut Bumiagara tidak dapat banyak berbuat. Namun Ny i Buyut yang gelisah melihat sikap Ki Buyut itu sempat bertanya ”Apakah Ki Buyut tidak makan dahulu?” Ki Buy ut termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Bawamakan itu ke serambi.” “Biarlah nasi dan say urnya dipanasi sebentar. Sudah dingin, karena makan Ki Buyut sudah disiapkan sejak malam turun.” berkata Ny i Buyut. “Tidak usah. Aku akan makan di serambi” jawabKi Buyut. Sambil menghidangkan makan dan minuman yang  sempat dihangatkan sedikit, Ny . Buyut bertanya ”Ki Buyut masih nampak gelisah saja. Bukankah para perampok itu sudah berjanji untuk tidakmelakukannya lagi?” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak ingin membuat keluarganya juga gelisah. Karena itu,maka katanya ”Tidak apa -apa. Aku menunggu Ki Jagabaya. Ada sesuatu yang harusaku bicarakan.” Seperti biasanya, Ny i Buyut memang tidak banyak mencampuri persoalan-per soalan suaminya. Namun bagaimanapun juga sebagai seorang isteri ia merasakan, bahwa Ki Buyutmasih saja dicengkam oleh kegelisahanyang  sangat. Untuk beberapa saat Ny i Buyut masih sibuk melayani Ki Buyutyang  sedangmakan. Tetapi nasi yang  dikunyahnya rasarasanya tidak tertelan. “Aku sudah kenyang” tiba -tiba saja Ki Buyut meletakkan mangkuk nasiny a. “Justru dalam kesibukan, Ki Buyut sebaiknya makan cukup banyak” berkata Ny i Buy ut. Ki Buyut menggelengkan kepalanya. Katanya ”Aku sudah makan di Kabuyutan Sembaga.” Ny i Buyut tidak dapat memaksanya. Jika ia mencoba memaksa,maka Ki Buyut justru dapatmenjadimarah. Karena itu, maka Ny i Buyut itupun segera menyingkirkan mangkuk-mangkuk yang  masih berisi Namun sementara itu, Ny i Buyut sempat membangunkan pembantunya untuk merebus air. “Nampaknya akan ada tamu” bertanya Ny i Buyut. “Bukankah tamunya bermalam di gandok ?” sahut pembantunya. “Maksudku tamu yang lain” desis Ny i Buyut. Pembantunya tidak menjawab lagi. Namun iapun segera mengisi kuali untuk merebus air, sementara apipun telah dinyalakan oleh Ny i Buyut sebelumnya. “Ny i Buyut telah merebus air” desis pembantunya kemudian. “Hanya sedikit, untuk Ki Buy ut” jawabNy i Buyut. Diserambi Ki Buy ut hampir kehilangan kesabaran menunggu kedatangan Ki Jagabaya. Ny i Buyut setelah memberikan beberapa pesan kepada pembantunya, telah menemani suaminya dudukNamun tidak banyakyang mereka percakapkan. Ki Buyut hanya menjawab pertanyaanpertanyaan isterinya sepatah-sepatah. Demikianlah, ketika Ki Buy ut tidak sabar lagi menunggu, bebahu yang diperintahkannya menyusul Ki Jagabaya telah datang melalui pintu butulan yang  tidak diselarak dari dalam Ber sama Ki Buyut telah datang pula seorang dari antara pan cantrik Padepokan Bajra Seta yang  ada di Kabuyutan Bumiagara. “Aku mewakili kawan-kawanku” berkata cantrik itu. Lalu katanya pula ”jika kami datang berlima, maka agaknya akan dapatmenarik perhatian.” “Ya, y a.” Jawab Ki Buyut ”agaknya memang sudah cukup, karena kaumewakili para cantrikyang  lain.” “Mereka tidak mau berkata apa -apa. Mereka hanya akan berbicara dengan Ki Buyut. Karena itu, maka mereka akan menunggu sampai Ki Buyut datang. Kapanpun” jawab Ki Jagabaya. Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya ”Tetapi kita sudah mengetahui, apa yang akanmereka katakan.” “Ya” sahut Ki Jagabaya ”kami menunggu perintah Ki Buyut.” “Bagaimana pendapat kalian ? Apakah kita akan menyerahkan beras dan anak-anak muda kita. Seandainya mereka hanya menuntut beras berapa pedatipun, mungkin kita akan dapat memenuhinya. Tetapi jika mereka minta sejumlah anak-anak muda kita, maka kita tentu akan berkeberatan.” Ki Jagabaya mengangguk-angguk.Namun cantrik yang ada diantara merekapun bertanya ”Apa yang sebenarnya terjadi di Kabuyutan ini ?” Ki Buyut tidak dapat ber sembunyi lagi. Iapun telah menceriterakan apa yang sebenarnya telah terjadi, yang sebagian memang sudah didengarnya. “Sekarangmereka datang untukmenagih hutang yang  telah mereka berikan.” berkata Ki Buyut kemudian. Cantrik itu mengangguk-angguk. Dengan ragu iapun kemudian bertanya ”Apa yang akan Ki Buyut lakukan ?” “Sebenarnyalah aku tidak rela. Itulah sebabnya, kami telah ber siap-siap menempa anak-anakmuda di Bumiagara. Tetapi ternyata bahwa yang  kami hadapi pertama kali adalah orangorang Larah.” “Tetapi pertempuran dengan orang-orang Larah itu dapat dianggap sebagai pemanasan” berkata cantrik itu. “Tetapi prajurit Kediri yang menolak perintah atasannya itu tentu jauh lebih kuat dari orang -orang Larah. Jauh lebih kuat pula dengan orang -orang Bumiagara.” berkata Ki Buyut. “Jika demikian, aku akan kembali ke Padepokan untuk memanggil bantuan agar Bumiagara sempat diselamatkan.” berkata cantrik itu. “Terlambat” jawab Ki Buyut ”mereka telah berada disini. Selain kelima orang itu,maka pasukannya tentu sudah berada disekitar Kabuyutan ini.” Cantrik itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Jagabayapun berkata ”Apapun yang  terjadi, kita akan melawan. Aku akan menghubungi setiap padukuhan, agar mereka bersiap. Kita kumpulkan semua kekuatan yang  ada. Bukan sekedar para pengawal dan anak-anak mudanya saja. Tetapi semua laki-laki yang masih sanggup bertempur akan turun ke medan. Mungkin akan terjadi pembantaian besarbesaran. Tetapi kitamempertahankan harga diri kita.” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Setiap kali maka ia selalu dibayang i oleh perasaan bersalah. Karena itu, maka beberapa saat Ki Buyut justru menundukkan kepalanya dalam-dalam. Agaknya Ki Jagabaya mengerti bahwa ki Buy ut masih saja dihantui oleh perbuatannya sendiri. Karena itu ' maka Ki Jagabaya pun berkata ”Kita tidak perlu meny esali apa yang telah terjadi. Hal itu t idak akan menolong keadaan. Kita harus melihat, apa yang  sekarang sedang kita hadapi.” Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya ”Aku sudah mencoba. Tetapi sulit bagiku untukmelupakannya.” “Ki Buy ut. Jika kita selalu berpaling, maka kita tidak akan bergerak maju. Apapun yang  terjadi, kita harus menghadapi mereka. Bukan sekedar meny esali masa lalu.” berkata Ki Jagabaya. “Akumengerti” berkata Ki Buyut. “Bahkan bukan hanya sekedar harga diri. Tetapi kita harus berbuat apa saja untuk melindungi kampung halaman kita. Apa yang  dilakukan oleh para prajurit yang menolak perintah atasan mereka itu jauh lebih buruk dari perbuatan orangorang Larah. Sehingga kitapun harus melayani mereka. Jika harus jatuh korban yang  tidak terhitung jumlahnya, apabolah buat. Bahkan mungkin seisi padukuhan ini akan mereka bantai. Tetapi kita tidakmati sambil berpeluk tangan. Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah Ki Jagabaya. Siapkan seluruh kemampuan yang ada di Kabuyutan ini. Kita akan melawan sampai orang yang terakhir.” Ki Buyut terhenti sejenak, lalu katanya kepada cantrik Padepokan Bajra Seta itu ”Tinggalkan Kabuyutan ini selagi masih sempat. Keluarlah dari Bumiagara agar kalian tidak ikutmenjadi korban ketamakanku.” Tetapi cantrik itu menggeleng. Katanya ”Aku sudah terlanjur ada disini. Aku akan tetap berada disini.” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Kau seharusnya tidak ikut terlibat.” “Kami sengajamelibatkan diri” jawab cantrik itu. “Jika demikian, aku hanya dapat mengucapkan terima kasih. Hutangku bertimbun terhadap Padepokan Bajra Seta. Tetapi seharusnya kalian tidak usah berkorban dengan mempertaruhkan nyawa.” berkata Ki Buyut “Jangan pikirkan itu Ki Buy ut” jawab cantrik itu ”aku sudah siapmenghadapi segala kemungkinan.”, “Baiklah. Jika demikian, bersiaplah. Baru besok aku akan berbicara dengan para prajurit itu. Mungkin pembicaraan kami akan menemui jalan buntu, sehingga akan terjadi kekerasan.” Berkata Ki Buy ut dengan wajahy gmuram. “Baiklah” berkata Ki Jagabaya ”akumohon diri.” Ber sama cantrik Padepokan Bajra Seta maka Ki Jagabayapun segera meninggalkan rumah Ki Buy ut. Mereka langsung pergi ke padukuhan-padukuhan untuk mempersiapkan segenap kekuatan yang dapat dihimpun di Kabuyutan itu. Ternyata para Bekel di padukuhan-padukuhanpun telah menyediakan diri untuk memimpin pengawal, anak-anak muda dan bahkan setiap orang yang masih sanggup turun kemedan. “Aku akan mengumpulkan mereka menjelang pagi.” berkata para bekel. Namun Ki Jagabaya berpesan agar mereka tidak membuat penduduk menjadi gelisah, karena segala sesuatunya masih belum pasti. “Mereka tidak akan menjadi gelisah. Tetapi mereka justru akan bersiap-siap menghadapi kemungkinan yang  mungkin harusmereka hadapi” berkata para Bekel. Ki Jagabaya tidak berkeberatan.Namun ia berpesan ”Tetapi apa yang  kalian lakukan jangan memancing persoalan. Jika kekerasan harus terjadi, bukan kita yang memulainya.” Ternyata Ki Jagabaya memerlukan waktu yang cukup lama. Ketika ia sampai kerumahnya,maka haripun menjelang pagi. Bahkan Ny i Jagabaya telah sibukmenyiapkanmakan pagi. Ki Jagabaya masih sempat berbaring sejenak. Tetapi matanya tidak mau dipejamkan. Seakan-akan terbayang diangan-angan-ny a, para prajurit Kediri yang  melawan atasannya itu tengah sibuk membantai orang-orang Bumiagara. Kadang-kadang Ki Jagabaya memangmeny esali tindakan Ki Buy ut yang telah menjerumuskan Kabuyutannya kedalam kesulitan. Bahkan mungkin kemusnahan. Tetapi peny esalan itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Para prajurit Kediri yang menolak tunduk kepada pimpinannya itu harus dihadapi dengan kekuatan meskipun akhirnya kekuatan itu akan lebur menjadi debu. Sementara itu, ketika matahari terbit, maka padukuhanpadukuhan diseluruh Kabuyutan Bumiagara sudah siap menghadapi segala kemungkinan. Anak-anak muda tidak pergi kesawah. Tetapi mereka bersiap-siap dirumah mereka masing-masing. Jika terdengar isy arat maka merekapun akan menghambur berkumpul dibanjar. Bukan hanya anak-anak muda dan para pengawal. Tetapi semua laki-laki yang masih sanggup turun kemedan pertempuran. Setelahmembenahi diri,maka Ki Jagabayapun segera pergi ke Kabuyutan. Ketika ia memasuki halaman Kabuyutan, dilihatnya beberapa orang bebahu sudah berada di pendapa. Namun Ki Jagabaya belum melihat Ki Buyut dan juga para prajurit Kediriyang  bermalam di rumah Ki Buyut itu. “Mereka baru makan di dalam biliknya” berkata seorang bebahu yang  duduk di pendapa. Ki Jagabaya mengerutkan dahinya. Dengan heran ia bertanya ”Kenapamerekamakan didalam biliknya ? Bukankah itu tidak biasa ? Kenapa mereka tidak makan ber sama Ki Buyut diruang dalam ?” “Mereka minta makan didalam biliknya. Merekalah yang  minta makan dan minum mereka diantar” jawab bebahu yang semalam juga berada di rumah Ki Buyut itu. “Ki Buyut ada dimana ?” bertanya Ki Jagabaya. “Ki Buyutmasih ada didalam bersama salah seorang cantrik dari padepokan Bajra Seta.” jawab bebahu itu. “Hanya seorang ?” bertanya Ki Jagabaya selanjutnya. “Ya. Yang lain ada diantara para pengawal yang  masih tersebar di padtikuhan induk. Namun set 'jap saat mereka dapat digerakkan. Sementara Ki Jagabaya pergi ke padukuhan-padukuhan, para pengawal di padukuhan induk telah ditangani oleh para cantrik.” jawab bebahu itu pula. Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Iapun telah duduk pula diantara beberapa orang bebahu yang duduk dipendapa. Baru sejenak kemudian Ki Buyut keluar dari ruang dalam dan duduk pula diantara para bebahu. Dengan nada berat ia bertanya ”Apakahmereka belum selesai?” “Nampaknya belum Ki Buyut” jawab seorang bebahu. “Akulah yang  justru menjadi tidak sabar lagi. Aku ingin segera berbicara dengan mereka. Kemudianmenentukan sikap dan biarlah terjadi apa yang  harus terjadi.” berkata Ki Buyut. Para bebahu itupun terdiam. Bahkan kepala merekapun menunduk seakan-akan mereka menghindar dari tatapan mata Ki Buyutyang tajam. Namun mereka tidak perlu menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian, maka lima orang prajurit, lengkap dengan senjata mereka telah keluar dari dalam biliknya. Seorang yang  bertubuh tinggi dan berdada lebar, mengusap kumisnya yang  tebal sementara mulutnya masih berkumatkumitmengunyah sisa makananyang ada didalammulutnya. Ki Buyut berserta beberapa orang bebahu itupun segera bangkit berdirimeny ongsong kelima orang prajurit dari Kediri yangmenentang kebijaksanaan Sris Baginda di Kediri itu. Sejenak kemudian, merekapun telah duduk dii pendapa ber sama Ki Buyutdan para bebahu yang telah lebih dahulu berada di pendapa. “Agaknya kalian sudah menunggu” berkata prajurit yang  tertua diantaramereka. “Ya. Kami sudah beberapa saatmenunggu” jawab Ki Buyut. “Kami sedang menikmati hidangan yang  Ki Buyut berikan. Jarang kami menjumpai masakan yang  demikian lezatnya, sehingga kami terpaksa makan terlalu banyak.” “Ah.Hanya seadanya saja” sahut Ki Buy ut. Para prajurit itu mengangguk-angguk. Sambil memandang berkeliling prajurit yang  tertua diantara mereka itupun berkata ”Agaknya para bebahu berkumpul disini.” “Hanya sebagian saja Ki Sanak” jawab Ki Buyut. Kemudian katanya ” semalam aku belum sempat bertanya, siapakah Ki Sanak berlima dan apakah keperluan Ki Sanak?” “Aku sudah mengatakan siapakah kami kepada para bebahu yang ada disini semalam. Tetapi aku memang belum mengatakan, untuk apa kami datang kemari” jawab prajurit itu. “Ya, mereka telah mengatakan, siapakah Ki Sanak. Tetapi aku masih ingin mey akinkan keterangan bebahu Bumiagara itu.” berkata Ki Buy ut kemudian. “Baiklah. Aku ingin mengulangi keterangan kami tentang diri kami. Kami adalah prajurit-prajurit Kediri. Kami pernah bekerja bersama dengan Ki Buyut melawan Padepokan Bajra Seta. Sementara petugas kamipun pernah datang ke Kabuyutan ini untuk menyampaikan beberapa pesan dari pimpinan kami.” jawab prajurit itu. Lalu katanya ”Nah, dengan demikian, bukankah persoalannya menjadi lebih jelas.” “Ya. Kami ingat. Tetapi silahkan mengatakan, bagaimanakah jela snya tugas Ki Sanak datang ke Kabuyutan ini.” desis Ki Buyutyang jantungnya berdetak semakin cepat. “Baiklah. Baiklah. Nampaknya Ki Buy ut adalah seorang yang sulitmempercayai orang lain atau mungkin seorang yang harus mendapatkan kepastian sebelum menentukan satu keputusan.” berkata prajurit yang  tertua. Lalu setelah mengambil nafas panjang iapun berkata ”Ki Buyut. Kami memandang perlu untuk datang ke Kabuyutan ini pada saat ini. Kami tahu bahwa baru saja Ki Buy ut mengalami cobaan yang berat karena sekelompok datang ke Kabuyutan ini pada saat ini. Kami tahu bahwa baru saja Ki Buyut mengalami cobaan yang berat karena sekelompok perampok telah mencoba untukmerampok Kabuyutan Bumiagara. Untunglah bahwa Bumiagara telah siaga. Lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang ada di Kabuyutan ini telah berusaha untuk meningkatkan kemampuan para pengawal dan anak-anak muda di Kabuyutan ini. Untuk itu, bukan saja Bumiagara yang  berterima kasih tetapi kamipun sangat berterima kasih untuk itu. Karena itu, maka setelah peristiwa dengan orang-orang Larah itu selesai, kamipun dengan segera datang kemari. Kami ingin menagih janji orang-orang Bumiagara beberapa saat yang  lalu. Kami sekarang memerlukan bahan makanan dan tenaga. Semula hanya tenaga untuk mengangkut barang-barang dan perbekalan, karena kamimemang kekurangan tenaga. Tetapi setelah kami ketahui bahwa anak-anak muda Bumiagara justru memiliki kemampuan sebagaimana seorang prajurit, maka kami ju stru semakinmemerlukan mereka.” Jantung Ki Buyut bagaikan berhenti berdeny ut. Ternyata prajurit Kediri yang tidak patuh kepada atasannya itu tahu benar apa yang  terjadi di Bumiagara. Mereka tahu bahwa orang-orang Larah telah meny erang Kabuyutan itu. Merekapun tahu bahwa lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta ada pula di Kabuyutan itu. Karena Ki Buyut tidak segera menjawab, maka orang tertua dari antara orang-orang Kediri itu berkata ”Ki Buy ut tidak usah heran jika aku tahu banyak hal tentang Kabuyutan ini. Karena itu Ki Buyut tidak usah berusaha membohongi kami.” Ki Buyutmasih termangumangu sejenak. Ia memang tidak segera menemukan jawaban atas permintaan orang-orang Kediri yang tidak tunduk kepada Sri Baginda di Kediri itu. Sementara itu orang tertua itu masih berkata pula ”Kami tahu apa saja yang  kalian lakukan. Sekarang Ki Buyut tidak dapat berbuat lain. Ki Buyut hanya dapat memenuhi permintaan kami. Ki Buy ut tidak dapat mengirimkan orang kemanapun untuk minta bantuan. Para Cantrik itupun tidak akan dapat meninggalkan Kabuyutan ini, karena Kabuyutan ini sudah diawasi di segala penjuru.” Ki Buyut Bumiagara kemudian justru mengangguk-angguk. Katanya ”Apa yang  kau katakan benar Ki Sanak. Juga tentang kelima orang cantrik itu.” “Sokurlah jika Ki Buy ut tidak berniat untuk ingkar” berkata orang tertua diantara kelima orang itu ”agaknya per soalan diantara kita akan cepat selesai.” “Aku ingin mendengar, apa saja yang  kau minta dari Kabuyutan Bumiagara ini Ki Sanak ?” bertanya Ki Buyut. “Menurut pengetahuanku, Bumiagara terdiri dari delapan padukuhan. Setiap padukuhan terdiri atas tiga atau ampat padesan sehingga seluruhnya Kabuyutan Bumiagara terdiri lebih dari duapuluh lima padesan. Jika dari setiap padesan aku minta lima orang saja,maka akan terkumpul seratus duapuluh lima orang. Sementara itu Kabuyutan ini mempunyai padukuhan induk yang lebih padat penduduknya dari padesan yang lain. Karena itu,maka aku minta seluruhnya seratus lima puluh orang ber serta seluruh padi yang  tersimpan dilumbung Kabuyutan. Sedangkan setiap orang akan aku minta menurut kerelaan mereka masing-masing, karena kami bukan orang yang dapat berbuat sewenang-wenang terhadap orang lain.” Wajah Ki Buy ut menjadi merah. Ia sadar, bahwa yang  dilakukan itu adalah satu pemerasan. Namun orang-orang Kediri itu tentu benar-benar sudah siaga untuk memaksakan kehendaknya. Sebelum Ki Buyut menjawab, orang tertua itu sudah mendahuluinya berkata ”Maaf Ki Buyut. Yang kami ajukan bukan semacam tawaran yang  dapat diterima oleh Ki Buyut atau barangkali Ki Buyut ingin menawarnya. Yang kami ajukan kepada Ki Buyut adalah satu halyang  sudah pasti harus dipenuhi.” Ki Buyutmengatupkan giginya rapat-rapat. Sementara para bebahu yang  lainpun telah menahan diri untuk tidak mencampuri pembicaraan yang  membuat darah mereka menjadi panas. “Ki Sanak” berkata Ki Buyut kemudian ”permintaan kalian tidakmasuk akal.” “Kenapa ?” bertanya orang tertua diantara kelima orang itu ”kami sudah membuat perhitungan yang  cermat. Kami sudah mempelajari apa saja yang ada di Kabuyutan ini serta apa saja yang terjadi. Karena itu, permintaan kami sudah kami pertimbangkan masak-masak. Karena itu, maka tugas.Ki Buyut adalah memenuhi permintaan kami. Tidak lebih dan tidak kurang. Perlu kami beritahukan bahwa di padukuhanpadukuhan lainpun kami telah me-lakukannya pula. Tetapi karena tidak ada per soalan yang  pornah timbul diantara kami dan padukuhan-padukuhan itu, maka kami hanya minta disediakan bahan makanan dan beberapa orang anak muda yang akanmembawa bahanmakanan itu ke barak kami. Tidak lebih dari ampat atau lima orang. Mungkin sebuah pedati dengan dua ekor lembu. Hanya itu. Tetapi Kabuyutan Bumiagara adalah Kabuyutanyang  telah lama bekerja bersama kami dalam suka dan duka. Karena itu, maka kami mengajukan permintaan khusus yang  agak lain dengan padukuhan atau Kabuyutanyang  lain.” “Kami akanmembicarakannya Ki Sanak” berkata Ki Buy ut. “Permintaan kami tidak untuk dibicarakan seperti sudah aku katakan” jawab orang itu. “Maksudku, tentu harusmenentukan, siapa yang akan pergi ber sama kalian.” sahut Ki Buyut. “Tidak. Aku minta Ki Buyut memanggil para Bekel sekarang. Kemudian memerintahkan mereka datang kembali dengan membawa masing-masing lima orang anak muda. Kemudian akan terkumpul di halaman Kabuyutan ini seratus limapuluh orang anak muda yang  akan ikut bersama kami. Mungkin lima atau enam pedati padi dan jagung serta mungkin ada bahan-bahan lain yang  dapat Ki Buyut sumbangkan kepada kami. Kawan seperjuangan Ki Buyut. Ingat. Jangan berbuat apa -apa yang  dapat meretakkan persahabatan kita. Sebenarnyalah Kabuyutan ini sudah diawasi dari segala sudut. Kami tinggal bersuit saja untuk menggerakkan pasukan kami jika Ki Buyut membuat persoalan. Terus-terangnya Kabuyutan ini telah terkepung rapat.” “ Itukah cara yang  ditempuh oleh seorang sahabat ?” bertanya Ki Buyut. Orang itu tertawa. Katanya ”Apakah kau tersinggung dengan cara yang  kami tempuh ? Apa boleh buat.” Darah Ki Buyut serasa mendidih didalam jantungnya. Tetapi ia tidak boleh tergesa-gesa bertindak. Ia memang percaya bahwa Kabuyutan Bumiagara memang sudah terkepung. “Jika aku tidakmempunyai pilihan lain, baiklah. Aku harus memanggil para bekel untuk berkumpul disini.” berkata Ki Buyut kemudian. “Terima kasih ataskesediaan Ki Buyut” berkata orang itu. “Jika demikian, kami persilahkan kalian beristirahat di gandok. Kami akan mengatur tugas-tugas kami.” berkata Ki Buyut. ”Apa salahnya aku berada disini? Apakah aku mengganggu?” bertanya orang tertua itu. Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian ”Baiklah. Jika Ki Sanak memang ingin menunggui pembagian tugasyang akan kami lakukan.” “Terima kasih atas persetujuan ini Ki Buyut” berkata orang itu sambil ter senyum. Ki Buy utpun kemudian berkata kepada Ki Jagabaya dan para bebahu yang ada dipendapa ”Panggil para Bekel untuk datang kemari. Aku akan berbicara denganmereka.” Ki Jagabaya termangu-mangu sejenak. Agaknya ada yang  ingin ditanyakan. Tetapi kelima orang prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada atasannya itumembuat ragu-ragu. Sementara itu Ki Buyut berkata selanjutnya ”Kita memang tidak mempunyai pilihan. Tetapi kita tetap pada pendirian kita.” Dengan dahi berkerut prajurit tertua itu bertanya ”Apa maksud Ki Buyut ?” ”Sebenarnya sejak semula kami sudah tidak mempunyai pilihan. Tetapi menurut dugaan kami, tuntutan kalian tidak sejauh yang  kalian berikan sekarang. Namun apa boleh buat. Kita tidak dapat berbuat lain” jawabKi Buyut. ”Jangan mencoba untuk melakukan perlawanan meskipun Ki Buyut sudah mempersiapkan anak-anak muda Bumiagara, karena Ki Buyut tidak boleh mengukur kekuatan kami dengan kekuatan orang-orang Larah.” berkata orang itu pula. ”Aku tahu” jawab Ki Buy ut ”karena itu, maka aku perintahkan untuk memanggil para bekel sebagaimana kau minta.” Ki Jagabaya tidak bertanya apapun juga. Ia pun kemudian bangkit bersama beberapa orang bebahu yang ada di pendapa itu. “Kamiminta diri Ki Buyut” berkata Ki Jagabaya. “Baiklah. Lakukan tugas kalian sebaik-baiknya.” pesan Ki Buyut. Sejenak kemudian, maka Ki Jagabaya itupun telah meninggalkan halaman rumah Ki Buyut Bumiagara.Namun ia masih sempat berbicara dengan para bebahu yang pergi ber samanya untuk memanggil para Bekel ”Apa maksud Ki Buyut sebenarnya dengan pesan-pesannya ?” “Aku kira Ki Buyut ingin mengingatkan kita, bahwa kita harus siap melawan, apapun yang terjadi.” jawab salah seorang bebahu. ”Ya. Aku juga berpendirian seperti itu” berkata Ki Jagabaya kemudian” seandainya seisi Kabuyutan ini akan dibantai, apaboleh buat. Kita tidak mau mengorbankan seratus limapuluh orang anak-anak muda kita. Itu sesuatu yang  gila. Yang tidak masuk akal. Kita akan kehabisan orang daripada kita kehilangan seratus limapuluh orang anakmuda, lebih baik kita melawan apapun yang  terjadi. Lima atau sepuluh pedati padi dan jagung bukan soal bagi kami. Tetapi anak-anakmuda itu.” Para bebahu itupun mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata ”Kita akan berbicara dengan para Bekel.” Sejenak kemudian merekapun telah berpisah. Ma singmasing pergi ke padukuhan yang  berbeda untuk memanggil para Bekel. Namun mereka ternyata telah menetapkan satu sikap yang sama, yang  akan mereka sampaikan kepada para Bekel. Beberapa saat kemudian, maka para bebahu itupun telah selesai dengan tugas mereka. Mereka semua telah menghubungi para bekel dengan pesan yang  sama. Para Bekel harus datang ke Kabuyutan namun setelah menyiapkan para pengawal dan anak-anak mudanya. Bahkan semua laki-laki yang masih sanggup bep tempur untuk mempertahankan harga diri serta hak Kabuyutan mereka. Di Kabuyutan, kelima orang prajurit Kediri yang  memberontak itu hampir kehilangan kesabaran mereka. Namun kemudian seorang demi seorang para Bekelpun berdatangan. ”Aku hampir tidak sabar” berkata salah seorang dari para prajurit itu. Ki Buyut hanya berdiam diri saja. Sementara para Bekelpun telah dipersilahkan duduk dipendapa. Beberapa saat kemudian, para Bekelpun telah berada di pendapa. Semuanya hadir. Sementara kelima orang cantrik Padepokan Bajra Seta telah ada di Kabuyutan itu pula, meskipunmereka berada diruang dalam. “Semua sudah berkumpul” berkata Ki Buyut kepada para prajurit itu. ”Kaulah yang berkepentingan dengan mereka Ki Buy ut” berkata prajurityang tertua itu. “Baiklah” sahut Ki Buyut ”aku akan berbicara dengan mereka.” Orang tertua diantara kelima orang itu ter senyum. Katanya ”Mudah-mudahan Ki Buy ut tidak menjadi bingung berbicara dihadapan para Bekel. Tetapi aku yakin bahwa para Bekel sudah tahu apa yang  akan Ki Buyut katakan setelah mereka melihat aku disini. Tetapi sudah tentu bahwa Ki Buyut tidak akan salah lidah meskipun Ki Buy ut telah mempersiapkan anak-anak muda Kabuyutan ini bahkan dengan memanggil lima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta” Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun wajahnya memang nampak menjadi tegang, karena jantungnya yang berdegup semakin keras. Sejenak ia bergeser membetulkan letak duduknya menghadap kepada para Bekel yang juga menunggu perintah Ki Buy ut dengan tegang. Baru sejenak kemudian Ki Buy ut berkata ”Saudarasaudaraku para Bekel di lingkungan Kabuyutan Bumiagara. Hari ini kita mendapat lima orang tamu dari Kediri. Mereka adalah prajurit-prajurit yang pernah bekerja ber sama dengan kita beberapa saat yang  lampau. Kini mereka datang untuk melanjutkan hubungan diantara kita dengan para prajurit Kediri itu” Ki Buy ut menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dilanjutkannya ”Namun cara yang akan ditempuh agak berbeda dengan cara yang pernah kita lakukan. Karena kerja sama yang  sekarang akan kita lakukan sifatnya memang berbeda dengan cara yang  pernah kita lakukan sebelumnya” Ki Buyutpun kemudianmenguraikan apa yang diminta oleh para prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada pimpinannya itu. Mereka memerlukan seratus limapuluh orang dan beberapa pedati beras dan jagung. Bahkan dengan pedatinya dan dengan lembunya sekaligus. Para Bekelpun terkejutmendengar permintaan itu. Seorang diantara mereka dengan serta merta berkata ”Kami tidak merelakannya” Beberapa orang yang  lainpun telah menyatakan sikapnya pula. Bahkan ada pula yang  berteriak ny aring ”Kita menolaknya” Wajah kelima orang prajurit itulahyang  kemudian menjadi tegang. Yang tertua diantara mereka berkata ”Segala sesuatunya ter serah kepada Ki Buy ut. Jika Ki Buyut salah lidah,maka Kabuyutan ini akan lumatmenjadi debu” Ki Buy ut berusaha untuk menenangkan hatinya. Tetapi kegelisahannya telah membuat suaranya menjadi bergetar ”Saudara -saudara para Bekel yang memimpin padukuhanpadukuhan di Kabuyutan Bumiagara. Tegak dan runtuhnya Kabuyutan ini tergantung kepada kalian dan rakyat Bumiagara. Karena itu, maka aku hanya akan mendengarkan suara kalianyang mewakili rakyat Bumiagara” Wajah para prajurit itupiin menjadi semakin tegang. Mereka tidak segera tahumaksud kata-kata Ki Buy ut itu. Sementara itu para Bekelpun telah berteriak-teriak dengan riuhnya ”Kamimenolak. Kamimenolak” Kelima orang prajurit yang  berada di pendapa itu bergeser mendekati Ki Bekel. Seorang diantara mereka berkata ” Ingat Ki Buy ut. Kami tidak sekedar mengancam atau bahkan mainmain. Apa yang  kami katakan akan kami lakukan. Kami benarbenar telah siap” Namun kelima orang itu terkejut ketika Ki Buyut kemudian berkata ”Kabuyutan ini bukan milikku. Kabuyutan ini milik seluruh rakyat, sehingga aku akan tunduk kepada kehendak mereka sementara kalian mendengar sendiri apa yang mereka katakan.”


Jilid101
DENGAN demikian maka aku tidak dapat berkata lain kecualimenirukan apa yang mereka katakan. Mereka ternyata menolak permintaan kalian. Maka akupun harusmenolaknya pula” “Apakah kau sadari sikapmu itu Ki Buy ut?” bertanya orang tertua diantara para prajurit itu. “Aku sadar sepenuhnya Ki Sanak. Dengarlah sekali lagi, bahwa aku sekedar mewakili mereka menyampaikan keputusan mereka. Ternyata mereka telah menolak. Karena itu,maka akupun harusmenolak pula” “Kau jangan menjadi gila, Ki Buyut. Kau harus dapat membuat perhitungan bahwa keputusan itu sama halnya denganmenghancurkan Kabuyutanmu sendiri” “Apapun yang  terjadi Ki Sanak. Permintaanmu memang permintaan yang  gila. Tidak masuk akal dan hanya orangorang yang tidak waras sajalah yang  akan bersedia menerimanya” “Apakah kau tidak akan menyesal?” bertanya orang tertua itu dengan dahi berkerut. “Tidak. Aku tidak akan meny esal. Aku tahu pasti apa yang  aku lakukan” jawabKi Bekel. ”Baiklah. Jika Ki Buyut dan orang-orang Bumiagara sendiri menghendaki hancurnya Kabuyutan ini, maka aku akan melaksanakannya. Aku akan menghubungi Senapati yang memimpin pasukan yang  sudah siap menghancurkan Kabuyutan ini” geram orang tertua dari antara kelima orang prajurit itu “Tidak Ki Sanak” berkata Ki Buyut ”Ki Sanak tidak akan dapat menghubungi mereka. Kami akan menahan Ki Sanak berlima disini” “Gila” orang tertua diantara para prajurit itu berteriak denganmarah. “Apaboleh buat” jawab Ki Buyut ”seandainya Kabuyutan ini akan hancur, biarlah hancur bersama kita dan kalian berlima. Seperti kami,maka kalianpun tidak mempunyai pilihan” “Wajah kelima orang itupun menjadi merah oleh kemarahan yang menghentak jantung mereka. Hampir berbareng mereka bangkit berdiri sambil berkata ”Ki Buyut, kau jangan kehilangan akal. Jika aku tidak kembali hari ini, maka besok pagi-pagi saat matahari terbit, maka Kabuyutan ini akan dihancur lumatkan. Tidak seorangpun yang akan tinggal hidup.” Tetapi jawaban Ki Buyut membuat kelima orang itu semakin marah ”Kalian dan kami memang tidak mempunyai pilihan. Seandainya kami membiarkan kalian pergi, tetapi kami tidak meny erahkan apa yang kalian minta, maka Kabuyutan ini juga akan kalian hancurkan. Karena itu lebih baik, kamimenahan kalian disini. Setidak-tidaknya kami akan dapatmembunuh lima orang dari antara para prajurit Kediri.” “Tetapi hukuman kalian akan menjadi semakin berat jika kami tidak kembali hari ini.” geram prajurityang  tertua itu. “Kami, orang-orang Bumiagara tidak peduli” jawab Ki Buyut. Ketika kelima orang itu hampir bersama-samamenarik senjatanya,maka Ki Jagabaya, para bebahu dan para Bekelpun segera bangkit pula. Merekapun segera menarik senjatasenjatamereka pula. “Jangan bodoh” berkata Ki Buyut ”jika kau mencoba melawan orang-orang Bumiagara yang  sedang marah, maka akibatnya akan sangat pahit bagi kalian. Mungkin kalian akan dapat dihukum picis dihalaman Kabuyutan ini sebelum kawan- kawanmu memasuki halaman rumah ini biarlah mereka melihat tubuh-tubuh kalian yang terikat pada tiang di halaman ini dengan penuh luka.” “Apakah kau kira para prajurit Kediri t idak dapat memperlakukan kalian seperti yang kalian katakan itu ? Kalianpun akan dapat diikat pada tiang-tiang di halaman. Kepanasan di siang hari dan kedinginan di malam hari. Sementara itu, setiap prajurit akan melukai kulit kalian dan membubuhkan garam pada luka itu sampai kalian mati.” geram prajurityang tertua itu. Namun Ki Buyut berkata ”Kalian telah mengajar kami pelaksanaan dari hukum picis itu. Karena itu meny erahlah agar kami tidak perlu melaksanakannya sebagaimana kau katakan.” “Kami adalah prajurit -prajurit yang  terlatih. Meskipun kami hanya berlima, namun kami akan dapat menghancurkan kalian semuanya.” teriak prajurit itu. “Kau jangan mencoba menakut-nakuti kami. Bukankah kau sendiri mengakui, bahwa anak-anakmuda kami telah berlatih seperti prajurit dan kemampuan kami setingkat dengan prajurit pula ? Nah, apakah dengan demikian, kau berlima akan dapat melawan kami, para Bekel dan bebahu Kabuyutan Bumiagara ?” bertanya Ki Buyut. Kelima orang prajurit itu menjadi ragu-ragu. Namun di wajah mereka membayang kemarahan yang membakar jantung. Namun mereka harusmenghadapi kenyataan bahwa dihadapan mereka berdiri lebih dari lima puluh orang. Para Bekel, Ki Buy ut dan para bebahu. Kemudian beberapa anak muda yang tiba-tiba sudah ada di regol halaman Kabuyutan itu. Demikian pula kelima orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Karena itu, maka kelima orang itu memang merasa tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi lawan yang demikian banyaknya. Sambil mengacukan pedang yang  diterimanya dari para para cantrik Ki Buyut berkata ”Letakkan senjata kalian. Jika kalian meny erah maka kalian akan kami perlakukan sebagai tawanan dengan cara yang baik. Tetapi jika kawan-kawanmu datang dengan cara yang  kasar sebelum kami semuanya akan dibantai oleh kawan-kawanmu.” Kelima orang prajurit itu memang menjadi ragu-ragu. Namun kemudian orang yang  tertua diantara mereka meletakkan pedangnya sambil berkata ”Kau akan sangat menyesali perbuatanmu sekarang ini.” “Sudah aku katakan. Kami akan mempertahankan kampung halaman kami dengan segenap kemampuan kami, apapun yang  terjadi. Meskipun seandainya kami harus dibantai, bahkan seisi padukuhan sekalipun, kami sama sekali tidak akanmeny esal.” jawabKi Buyut. Kelima orang prajurit itu akhirnya harus meletakkan senjata mereka dihadapan Ki Buyut dan para Bekel dari Kabuyutan Bumiagara. Betapa sakit hatimereka nampak pada wajah-wajah mereka yang  menjadi merah padam. Namun mereka tidak dapat mengelak. Agaknya orang-orang Bumiagara itu justru telahmenjadi putus asa sehingga mereka tidak dapatmembuat perhitungan lagi. Bahkan condong untuk melakukan bunuh diri ber sama-sama. Demikian kelima prajurit itu meletakkan senjatanya,maka Ki Buy ut itupun berkata ”Mereka adalah tawanan kami.” Lalu katanya kepada Ki Jagabaya ”Tempatkan mereka di bilik gandok itu. Mereka tidak boleh keluar dan melarikan diri dari bilik tahannya. Kami akan menunggu sampai kawan-kawan mereka datang.” “Mereka akan membinasakan seisi padukuhan ini.” geram salah seorang dari para prajurit yang  menentang atasannya itu. Namun Ki Jagabaya dan beberapa orang bebahu telah mendorong mereka sambil berkata ”Masuklah kedalam bilikmu. Kalian masih beruntung, bahwa kalian diperlakukan baik di Kabuyutan ini. Namun jangan menyesal bahwa perlakuan kami akan berubah jika kawan-kawanmu benarbenar datang danmengganggu ketenangan hidup kami.” Para prajurit yang tidak tunduk kepada Sri Baginda di Kediri itu memang terdorong beberapa langkah.Namun orang tertua diantaramereka masih berkata lantang ” Ingat, jika saat matahari terbenam aku belum kembali pada kesatuanku, maka besok pagi-pagi menjelang fajar, padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara ini akan menjadi karang abang. Segala yang hidup akan dimusnahkan. Segala macam bangunan akan dihancurkanmenjadi debu. Kabuyutan Bumiagara tentu hanya tinggal namanya saja, karena bekasnyapun tidak akan dapat dilihat lagi.” “Cukup Ki Sanak” berkata Ki Buyut ”aku sudah memperhitungkan bahwa hal seperti itu akan dapat terjadi. Tetapi sudah tentu kalian t idak akan dapat melihat, karena kalian akan mengalami kesulitan di akhir hidup kalian menjelang peristiwa yang mengerikan itu terjadi atas Kabuyutan Bumiagara. Karena itu, kami persilahkan kalian memasuki dunia antara,menjelang hari-hari terakhir kalian.” “Kalian menjadi gila karena berputus-asa.” geram orang yang bertubuh tinggi tegap dan berkumis lebat. “Kau benar. Kami sedang berputus asa dan sedang ber sama-sama membunuh diri. Tetapi sudah tentu bersama dengan kalian berlima dan beberapa orang prajurit yang akan terbunuh dalam pertempuran yang akan terjadi, betapapun tidak seimbangnya, karena kami akan bertempur tanpa memperhitungkan hidup dan mati. Namun perkenankanlah aku bertanya, apakah kawan-kawanmu akan berani berbuat demikian ? Bukankah kalian sedang membutuhkan banyak tenaga untuk melakukan perlawanan terhadap Sri Baginda di Kediri ? Apakah kalian akan merelakan kawan-kawan kalian terbunuh disini ? Ingat, dengan demikian maka kawan-kawan kalianyang  terbunuh disini akanmenjadi tidak berharga sama sekali bagi perjuangan anda, termasuk kalian berlima. Tentu nilainya akan berbeda dengan kawan-kawan kalianyang  gugur dalam memperjuangkan cita -citakalian apapun ujudnya.” berkata Ki Buyut. Wajah para prajurit itu menjadi merah padam. Namun mereka tidak menjawab lagi. Yang terdengar adalah geram kemarahan dan kebencian. Sementara itu Ki Jagabaya telah mendor ongmereka untuk melangkah lagi menuju kebilik yang  telah disediakan bagi mereka “Kita tidak dapat berbicara dengan orang-orang gila” geram orang tertua diantara para prajurit itu. “Tetapimereka benar-benar akan menyesal” desisyang  lain ”kawan-kawan kita tidak akan sekedar main-main. Mereka berkata sebenarnya.” “Jangan mencoba mempengaruhi kami dengan igauan itu” potong Ki Jagabaya yang mengawalmereka. “Kau dapatmeny ombongkan dirimu sekarang. Tetapi besok kau akan merangkak dibawah kaki kawan-kawanku untuk mohon pengampunan.” geram oranga tertua diantara para prajurit itu. “Apapun yang  akan aku lakukan, kau tidak akan melihatnya” jawab Ki Jagabaya. “Setan kau” geram orang itu. “Tutup mulutmu, atau aku akan menyumbatnya dengan ujung pedangku ?” bentak Ki Jagabaya ”kau tidak akan dapat berbuat apa-apa sekarang.” Para prajurit itupun terdiam. Mereka menyadari, bahwa Ki Jagabaya dan orang-orang Kabuyutan Bumiagara sudah menjadi putus-asa. Mereka sudah tidak mempunyai harapan lagi apapun yang mereka lakukan. Sehingga mereka akan dapat berbuat diluar dugaan. Setelah kelima orang itu dimasukkan kedalam bilik di gandok serta diselarak dari luar serta dijaga dengan rapat, maka Ki Buyutpun telah memerintahkan para Bekel untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kepada para Bekel Ki Buyut berkata ”Kita akan memusatkan pertahanan kita di beberapa pedesaan di Padukuhan induk, sebaiknya keluarga para pengawal, bebahu dan bahkan semuanya diungsikan ke pedesaan-pedesaan di padukuhan induk. Jika yang  dikatakan oleh para prajurit itu benar, maka baru besok pagi para prajurit yang melawan pemerintahan di Kediri itu akan mulai bergerak. Kita masih mempunyai waktu hari ini dan malam nanti untuk mengungsikan isi padukuhan-padukuhan yang lain. Seandainya kita akan ditumpas, biarlah kita lebur menjadi debu ber sama-sama di padukuhan induk. Namun dalam ruang yang  lebih sempit, maka kita akan dapat memberikan perlawanan lebih baik.” Dengan demikian para Bekel itupun segera minta diri. Mereka akan segera mempersiapkan seisi padukuhannya untuk mengungsi, namun sekaligus untuk mempersiapkan perlawanan bersama di padukuhan induk itu. Sebenarnyalah padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara menjadi sangat sibuk. Ki Buy ut dan para bebahu telah memberikan perintah agar setiap orang, setiap keluarga, ber sedia menerima pengungsi dari padukuhan-padukuhan lain dilingkungan Kabuyutan Bumiagara. Bukan hanya sanakkadang saja yang diterima disetiap keluarga, tetapi siapapun yang menyatakan diri untuk menumpang disetiap keluarga. Para Bekelpun telah memerintahkan untuk membawa semua isi lumbung dan apapunyangmungkin dibawa. “Masih ada waktu” berkata para Bekel ”hari ini dan malam nanti. Yang tidak dapat membawa sekaligus, dapat diulang kemudian satu atau dua kali sampai menjelang dini malam nanti.” Kesibukan di Kabuyutan Bumiagara bagaikan sarang semut yang mendapat percikan air. Orang-orang yang hilir mudik dari satu padukuhan ke padukuhan yang  lain untuk menghubungi sanak kadang yang  akan bersama-sama mengungsi ke padukuhan induk. Yang lain harus hilir mudik dari padukuhan-nya ke padukuhan induk karena mereka tidak dapat membawa barang-barang mereka serta bahan pangan sekaligus. Pedatipun beriringan dari satu padukuhan ke padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara dengan mengangkut apa saja yang  dapat dibawa selain bahan pangan dan pakaian. Di padukuhan induk para bebahu telah bersiap mengatur arus para pengungsi di beberapa padesan yang termasuk padukuhan induk. Padesan yang akan dipertahankan sampai kemungkinanyang  terakhir. Dengan demikian maka daerah Kabuyutan Bumiagara serasa menjadi sangat sempit. Sementara itu, anak-anakmuda, para pengawal dan bahkan hampir semua laki-laki telah mempersiapkan diri untuk mempertahankan harga diri mereka sert kampung halaman meskipunmereka akanmusna sama sekali. Sementara itu, perwira dari sekelompok prajurit Kediri yang ada disekitar Kabuyutan Bumiagara itu memang menunggu kelima orang penghubung yang  telah mereka kirim untuk memeras Kabuyutan Bumiagara yang mereka anggap pernah menjerumuskan mereka ke Padepokan Bajra Seta. Mereka sama sekali tidak mengira bahwa Kabuyutan Bumiagara tidak dengan begitu saja meny erahkan apa yang mereka minta. Seratus limapuluh orang dan lima atau enam pedati beras dan jatung. Bahkan orang-orang Bumiagara telah dengan beranimenahan kelima orang penghubung itu. Namun ketika matahari sudah melewati puncak langit, maka perwira yang memimpin sekelompok prajurit Kediri yangmenolak tunduk kepada atasan mereka itu mulai gelisah. “Kenapa mereka belum kembali” berkata perwira itu. “Orang-orang Bumiagara tentu memerlukan waktu” sahut salah seorang pembantunya. “Seharusnya mereka telah kembali dengan membawa seratus limapuluh orang anakmuda dan enam pedatiyang  kita minta itu.” gumam perwira yang memimpin kelompok itu. ”Semalam dan setengah hari adalah waktu yang  cukup panjang. Apalagi anak-anakmuda Bumiagara telah mengalami latihan-latihan yang  cukup baik sehingga mereka memiliki kemampuan prajurit.” “Apakah ada niat orang-orang Bumiagara untuk melawan kita?” bertanya seorang pembantunya yang  lain. “Mustahil. Mereka tahu kekuatan kita. Mereka tentu menyadari bahwa mereka tidak akan mampu melawan kita. Merekapunmengerti bahwa melawan akan berarti kehancuran mutlak.” desis perwira itu. Namun kegelisahan itupun memuncak ketika matahari menjadi semakin rendah. Bahkan ketika malam turun, kelima orang prajurit itu ternyata belum kembali. “Setan orang-orang Bumiagara” geram pemimpin sekelompok prajurit Kediri yang  melawan atasannya itu ”jika malam ini kelima orang kawan kita itu tidak kembali, maka esok pagi-pagi Kabuyutan Bumiagara akan menjadi debu. Mereka, orang-orang Bumiagara telah menjerumuskan kita ke Padepokan Bajra Seta sehinggameny ebabkan beberapa kawan kita gugur. Sekarang mereka menolak dan bahkan menawan kelima orang kawan kita yang lain, seolah-olah mereka memiliki hak dan kemampuan untuk melakukannya. Dengan demikian maka mereka tidak akan mendapat pengampunan lagi. Seluruh Kabuyutan Bumiagara akanmenjadi rata dengan tanah. Semua yang  hidup akan mati dan semua hakmilik yang ada akanmenjadimilik kita.” Namun dalam pada itu seorang diantara pembantunya bertanya ”Apakah kita tidak mempertimbangkan, bahwa dengan demikian kawan-kawan kita akan berkurang lagi. Meskipun kita dapat menumpas seisi Kabuyutan, namun diantara kita tentu ada yang gugur. Apalagi kita tahu bahwa para pengawal Kabuyutan dan anak-anak mudanya memiliki kemampuan prajurit. Meskipun jumlah kita lebih banyak jika kita mengerahkan semua prajurit yang kita bawa, namun agaknya orang-orang Bumiagara sudah kehilangan penalarannya. Mereka akan dapat menjadi liar dan bahkan buaskarenamereka tidak lagi sempat berpikir.” “Jadi, apakah kita harusmembiarkan kawan-kawan kita itu tertawan atau bahkan sudah dibunuh oleh mereka ? Jika kita membiarkannya, maka kebiasaan buruk itu akan berulang. Mereka akan dengan beraninya menghina dan merendahkan harga diri kita.” sahut pemimpinnya. Prajurit itumengangguk-angguk. Katanya ”Akumengerti.” ”Nah, jika demikian kita tidakmempunyai pilihan lain. Kita akan memasuki Kabuyutan Bumiagara besok pagi-pagi benar. Malam ini kita akan mempersiapkan seluruh pasukan kita. Semakin banyak prajurit yang datang ke Kabuyutan itu,maka semakin cepat kita meny elesaikan mereka.” geram pemimpinnya. Sebenarnyalah prajurit Kediri yang  tidak tunduk kepada atasannya itu telah dipersiapkan. Malam itu jugamereka telah menyusun kekuatan. Mereka akan memasuki Kabuyutan Bumiagara dari tiga arah. “Kita akan langsungmenuju ke padukuhan induk. Jika ada perlawanan di padukuhan-padukuhan lain, maka kalian berhak untuk menghancurkan mereka tanpa ragu-ragu. Kita memang akan menghancurkan seluruh Kabuyutan yang  telah menghina kita itu.” Ketika para prajurit itu telah berada di tempat mereka masing-masing, ternyata mereka masih sempat beristirahat beberapa saat. Mereka masih sempat tidur menjelang dini, karena demikian matahari terbit, mereka harus sudah mulai bergerakmenuju ke padukuhan induk. Sementara itu, para pengawal, anak-anakmuda dan bahkan hampir semua orang laki-laki Kabuyutan Bumiagara telah ber siap untuk bertempur sampai batas terakhir. Mereka semua sudah bersiap untuk mati. Bahkan mereka sudah pa srah dan merelakan seluruh keluarga mereka seandainya seisi Kabuyutan itu benar-benar akan dibantai. Sementara itu, para pengawal Kabuyutan Bumiagara atas perintah Ki Jagabaya telah menanam lima buah patok kayu yang kuat di halaman Kabuyutan. Kelimanya telah dipersiapkan dengan beberapa utas tali. “Jika para prajurit itu benar2 meny erang, maka kelima orang prajurit itu akan mati terikat pada patok2 itu” berkata Ki Jagabaya. Namun katanya kemudian ”Tetapi kita akan membunuh mereka setelah orang pertamamemasuki halaman rumah ini. Biarlah mereka melihat apa yang terjadi sebagaimana kita melihat kehancuran Kabuyutan kita. Meskipun lima orang prajurit itu sama sekali tidak seimbang dengan seisi Kabuyutan kita, namun kita sudah menunjukkan harga diri kita sebagai manusia, bukan sekedar cacing tanah yang hanya dapat menggeliat tanpa memberikan perlawanan apapun juga” Sebenarnyalah semalam suntuk Kabuyutan Bumiagara dicengkam oleh kegelisahan dan ketegangan. Namun orangorang Bumiagara memang sudah berbulat hati untuk melakukan perlawanan. Meskipun demikian, hampir di setiap rumah, nampak orang-orang yang dicengkam oleh ketegangan itu berdoa. Perempuan dan kanak”kanak yang  sudah tumbuh menjelang remaja. Mereka masih memohon agar terjadi keajaiban di atas Kabuyutan Bumiagara. Demikian ketika ay am jantan berkokok untukyang  terakhir kalinya, maka semua laki-laki di Bumiagara yang  belum merasa pikun telah bersiaga. Memang sekali-sekali timbul peny esalan atas tingkah laku Ki Buy ut yang ternyata akibatnya sangat parah bagi Kabuyutannya. Namun mereka tidak dapat memutar lajunya matahari. Mereka harus berdiri meny ongsong waktu mendatang. Karena mereka tidak akan dapat kembali ke masa lampau, meskipun apa yang  terjadi adalah kelanjutanmasa lampau itu. Ketika langitmenjadimerah,maka didinding padesanyang  termasuk padukuhan induk, para pengawal telah bersiap dengan busur dan anak panah. Yang lain lembing bambu yang runcing telah siap untuk di lemparkan jika lawan mereka datang. Selain itu, maka dipinggang merekapun tergantung pedang. Sedangkan yang  lain telah mempersiapkan tombak pendek, canggah, kapak dan berbagai jenis senjata yang  lain. Sebenarnyalah saat itu prajurit Kediri yang melawan atasannya itupun sudah bersiap untuk bergerak. Pemimpin mereka telah membakar jantung setiap prajurit untukmenjadi marah pula, sehingga mereka akan dapat berbuat apa saja. Pemimpin itu telah mengatakan kepada para prajuritnya, bahwa kawan-kawan mereka agaknya sudah dibunuh oleh orang-orang Bumiagara. Karena itu, demikian langit menjadi terang oleh lontaran sinar matahari pertama, tanpa perintah lagi, maka tiga kelompok prajurit telah bergerak dari tiga arah menuju ke padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Orang-orang yang  mengamati keadaanpun segera melaporkan gerakan itu. Karena itu, maka pertahanan Kabuyutan Bumiagarapun segerameny esuaikan diri. Sementara itu, Ki Jagabayapun telah memerintahkan kepada para pengawal yang ada di Kabuyutan untuk mengeluarkan dan mengikat kelima orang prajurit yang mereka tahan. Para prajurit itu, meronta-r onta dan bahkan berusaha untuk melawan. Namun mereka tidak berdaya menghadapi anak-anak muda Bumiagara yang  sedang marah itu. Karena itu,maka akhirnya mereka berlima telah terikat erat-erat pada patok-patok yang  ditanam kuat-kuat di halaman rumah Ki Buyut Bumiagara. Sementara itu Ki Buyut sendiri bersama dua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta telah berada didinding desa yang diperhitungkan akan berhadapan dengan pasukan induk para prajurit Kediri yang memberontak terhadap kekuasaan Sri Baginda itu. Adapun cantrik yang  lain telah menyebar ke padesan-padesan yang lain berbaur dengan para pengawal. Mereka dapat memberikan petunjuk kepada para pengawal menghadapi keadaanyang gawat. Beberapa saat kemudian, ketika sinar matahari telah jatuh di atas tanah yang lembab, maka para prajurit itu telah mendekati padesan di padukuhan induk. Disepanjang gerakan mereka melintasi padukuhan-padukuhan lain di Kabuyutan Bumiagara mereka sama sekali tidak menjumpai perlawanan. Namun ketika mereka mendekati padesan di padukuhan induk, maka barulah mereka menyadari, bahwa mereka telah ditunggu oleh orang-orang Bumiagara di dinding padesan. Dengan demikian maka mereka harus menjadi lebih berhati-hati. Mereka sadar bahwa dibalik dinding padesan itu, tentu telah siap ujung -ujung senjata yang  akan menyambut mereka jika mereka meloncati dinding atau memecahkan pintu regol padesan untukmasuk kedalamnya.Namun mereka tahu pa sti, bahwa yang ada dipadesan itu tidak lebih dari anak-anakmuda Bumiagara. Dengan demikian,maka para prajurit itu sama sekali tidak menjadi tegang atau apalagi gentar. Meskipun beberapa orang mengatakan bahwa anak-anakmuda Bumiagara telah berlatih dengan sungguh-sungguh sehingga memiliki kemampuan prajurit, namun pada prajurit itu masih tetap menganggap bahwa mereka masih berada pada tataran yang  lebih rendah dari seorang prajurit yang  sebenarnya. Sehingga dengan demikian,maka yang  akan mereka lakukan di Kabuyutan itu tidak lebih sulit dari menebas rimbunnya semak-semak ilalang. Sementara itu anak-anak muda Bumiagara memang menunggu dibalik dinding padesan. Mereka tidak menunjukkan ujung-ujung anak panah dan lembing. “Tunggu sampai mereka mendekat dan dapat dijangkau oleh lontaran anak panahmu.” pesan seorang diantara para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang ada diantaramereka. Sebenarnyalah anak-anak muda yang  siap mempertahankan Kabuyutan mereka itu dengan jantung yang bergejolak berusaha untuk tetap menguasai diri. Mereka menunggu hingga para prajurit itu mendekat,mencapai jarak lontaran anak panahmereka. Sebenarnyalah para prajurit itu terkejut ketika tiba -tiba saja mereka mendengar teriakan ny aring. Kemudian seperti hujan anak panah telah meluncur dari balik dinding padesan itu. Sebenarnyalah anak panah itu benar-benar anak panah yangmampu menembus kulit mereka. Karena itu, selagi para prajurit itu masih belum menyadari apa yang  terjadi karena terkejut, maka beberapa anak panah telah benar-benar menancap di tubuh mereka. Para prajurit itu telah berteriakmarah. Namun anak panah itu masih saja meluncur dari balik dinding padesan. Tetapi para prajurit itu telah menyadari keadaan. Dengan senjata mereka masing-masing, para prajurit itu berusaha untuk menangkis serangan anak panah itu. Bahkan beberapa orang prajurit yang  berperisai segera maju mendahului kawan-kawannya. Meskipun demikian, anak panah itu masih saja meluncur terus. Namun tidak lagi mampu menahan arus serangan para prajurit Kediri itu. Tetapi para prajurit itu telah terkejut pula ketika yang  meluncur kemudian bukan saja anak panah. Tetapi juga lembing yang  dilontarkan keudara dan jatuh menimpa para prajurit itu seperti jatuhnya serangan dari langit. Para prajurit itu mengumpat-umpat. Korban memang sudah jatuh. Namun dengan demikian maka para prajurit itu menjadi semakin marah dan mendendam. Ra sa-rasanya mereka benar-benar telah siap untuk membunuh dan membantai setiap orang yang mereka temui. Siapapun mereka. Demikianlah, maka sejenak kemudian, para prajurit itu telah mencapai dinding padesan.Hampir bersamaan pula dari ketiga jurusan. Sementara itu, para pengawal, anak-anak muda dan orang-orang Bumiagara yang  lain telah siap pula menerima mereka. Demikian para prajurit itu meloncati dinding, maka ujung-ujung senjatapun telah menyambut mereka. Namun prajurit-prajurit Kediri itu adalah prajurit yang  cukup berpengalaman. Karena itu, maka segera terjadi pertempuran yang  sengit. Para prajurit yang  berpengalaman itu telah diterima dengan garangnya pula oleh orang-orang Bumiagara. Orang-orang yang  sudah tidak berpengharapan lagi. Namun justru karena itu maka mereka telah bertempur bagaikan harimau luka. Orang-orang Bumiagara yang  berjaga-jaga diregol padesanpun telahmemencar pula. Ternyata tidak ada seorang prajuritpunyang mencoba menerobosmasuk lewat regol padesan. Dalam waktu yang singkat, maka pertempuranpun telah terjadi dengan sengitnya. Kedua belah pihak bertempur dengan garang dan tanpa mengekang diri sama sekali. Para prajurit Kediri itu mendendam sampai keujung rambut, sementara orang-orang Bumiagara tidak lagi mengharapkan akan dapat keluar dari lingkaran pertempuran itu. Mereka tentu akan mati membela kehormatan dan martabat tanah kelahirannya. Kampung halamannya yang akan menjadi korban pemerasan dari sekelompok orang yang  telah memberontak terhadap Sri Baginda di Kediri itu. Di padesan dilingkungan padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara yang  menghadap ke arah pasukan induk yang datang meny erang itu, Ki Buyut sendirilah yang memimpin orang-orangnya untuk bertahan. Tanpa mengenal gentar Ki Buyut dengan pedang panjangnya telah bertempur langsung menghadapi para prajurit Kediri itu. Dengan demikian maka orang-orang Bumiagarapun telah mengikuti jejaknya. Bersama dua orang cantrik Padepokan Bajra Seta. Orang-orang Bumiagara itu telah mengamuk seperti orang yang kehilangan nalar. Mereka sama sekali tidak memikirkan lagi, apakah mereka akan menang atau kalah. Yang penting bagi orang-orang Bumiagara adalah mempertahankan harga diri mereka. Sementaramereka sadar, bahwa mereka akan dihancurkan oleh lawan mereka. Lambat atau cepat. Dengan demikian maka pertempuranpun telah terjadi dengan sengitnya, dengan kasar dan bahkan liar. Mereka yang bertempur tidak mempunyai pikiran lain kecuali membunuh sebanyak-banyaknya. Baik para prajurit maupun orang-orang Bumiagara. Namun dengan demikian, segera dapat diketahui bahwa orang-orang Bumiagara segera telah terdesak. Pemimpin prajurit Kediri yang memasuki sebuah desa di padukuhan induk yang dipertahankan anak-anakmuda baik yangmenjadi pengawal atau bukan pengawal bahkan oleh hampir semua laki-laki, yang  dipimpin langsung oleh Ki Buyut bersama dua orang cantrik telah berteriak ”Meny erahlah. Jika kalian menyerah dan bersedia memenuhi permintaan kami maka kami akan mempertimbangkan lagi hukumanyang  telah kami jatuhkan terhadap Kabuyutan ini. Tetapi jika tidak,maka kami akan memusnahkan Kabuyutan ini sehingga yang tinggal hanyalah namanya saja. Semua yang  hidup akan mati. Dan semua yang berujud akan musnah menjadi debu.” Ternyata Ki Buyut mendengar teriakan itu. Karena itu iapun menjawab ”Itu lebih baik bagi kami daripada menyerahkan seratus limapuluh anak muda dari Kabuyutan ini. Satu jumlahyang  tidakmasuk akal sama sekali.” ”Jika demikian, maka kalian akan menyesal.” teriak pemimpin prajurit itu. “Tidak seorangpun akan meny esal” jawab Ki Buyut ”jika kami semua terbunuh, maka tidak akan ada yang sempat menyesali keadaanyang  bagaimanapun buruknya.” “Bagus” teriak pemimpin prajurit yang marah sampai keubun-ubun. Katanya kemudian sambil menggeretakkan giginya ”nampaknya kalian memang menghendaki Kabuyutan kalianmusnah.” Tidak terdengar jawaban.Namun pertempuranpun menjadi semakin garang. Kedua belah pihak benar -benar seperti orang-orang yang  kehilangan akal. Mereka tidak lagi sempat mempergunakan nalar mereka lagi. Mata mereka seakan-akan telah menjadi gelap meskipun mereka masih dapat membedakan kawan dan lawan. Tetapi orang-orang Bumiagara memang tidak mempunyai banyak kesempatan. Arus serangan prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada pimpinan mereka itu bagaikan banjar bandang yang tidak terbendung. Namun dalam pada itu, ketika orangorang Bumiagara sudah sampai ke puncak keputus-asaannya telah terjadi satu keajaiban yang  tidak pernah diduga sebelumnya. Ketika para prajurit Kediri itu mendesak oranag-orang Bumiagara semakin ke dalam memasuki padesan-padesan di padukuhan induk, maka telah terdengar suara sangkakala yang bergaung diudara. Semakin lama terdengar semakin mendekati padesan-padesan di padukuhan induk. Dalam pada itu, beberapa orang prajurit Kediri dan bahkan beberapa orang Bumiagara sempat melihat apa yang  ada diluar padukuhan induk itu. Ketika didesak oleh keinginan untuk mengetahui suara apa yang bergaung itu, maka beberapa orang Bumiagara yang sempat menghindari pertempuran beberapa saat telah memanjat pepohonan. Demikian pula beberapa orang prajurit dari Kediri itu. Mereka sekedar ingin dapat melihat dari atas dinding padesan yang memang tidak terlalu tinggi. Ternyata mereka telah dikejutkan oleh penglihatanmereka. Baik orang-orang Bumiagara, maupun para prajurit Kediri yang tidak patuh kepada atasannya itu. Orang-orang Bumiagara tidak tahu pasti apa yang  sebenarnya mereka lihat karena mereka tidak pernah melihat sebelumnya ciri-ciri khusus dari apa yang mereka lihat. Namun para prajuti Kediri itulah yang  berteriak ”Prajurit Kediri dari pa sukan berkuda khusus.” Pemimpin prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada Sri Baginda itu terkejut. Hampir diluar sadarnya iapun bertanya lantang ”Apa yang  kau katakan?” “Diluar berbaris pa sukan berkuda khusus dengan tunggul Turangga Kencana,” jawab prajurityang sempatmelihat itu. “Janganmengigau” bentak pemimpinnya. “Akumemangmelihatnya” jawab prajurit itu. Pemimpin prajurit Kediri yang tidak tunduk kepada pimpinannya menjadi tegang. Namun dalam pada itu, orangorang Bumiagara yang  melihat pa sukan itu masih belum mengerti arti dari tunggul Turangga Kencana. Mereka juga tidak mengerti ciri-ciri dari Umbul-umbul dan rontek serta kalebet yang dibawa pa sukan berkuda itu. Merekapun tidak mengerti, apakah prajurit yang datang itu kawan atau pihak lain dari para prajurit yang  telah lebih dahulu meny erang Kabuyutan Bumiagara itu. Beberapa kalimasih terdengar suara sangkakala yang justru semakinmelekat di dinding padesasn di padukuhan induk itu. Dengan demikian, maka umbul-umbul, rontek dan kelebet dari pasukan berkuda itu ujungnya telah nampak dari dalam dinding oleh orang -orang yang  bertempur itu dari kedua belah pihak, sehingga pimpinan prajuti Kediri itupun telah melihat pula ciri-ciri dari pa sukan yang  datangitu. Apalagi ketika ia sempat melihat tunggul Turangga Kencana. Maka pemimpin prajurit yang  meny erang Kabuyutan Bumiagara itu percaya, bahwa yang ada diluar dinding adalah pasukan berkuda khususdari Kediri. Karena itu, maka iapun dengan tergesa -gesa membawa kedua orang pengawalnya untuk memanjat dinding untuk berbicara langsung dengan Senapati dari pasukanyang  datang itu. Apakah sebenarnya maksud kedatanganmereka. Demikian ia berdiri diatas dinding, maka Senapati dari pa sukan berkuda itu telah mendekatinya sambil bertanya ”Siapa kau yang  nampaknya ingin berbicara dengan aku? Aku adalah Senapati dari pasukan berkuda ini.” “Apa maksudmu datang kemari?” bertanya pemimpin prajurit itu. Tetapi Senapati dari pa sukan berkuda yang disisinya seorang prajurit yang membawa tunggul Turangga Kencana serta kelebet ciri khusus dari pasukan berkuda itu masih bertanya ”Siapa kau dan apa kedudukanmu ?” “Aku Senapati prajurit Kediri” jawab orang itu. “Dari kesatuan apa ? Kenapa kau tidak menunjukkan ciri kesatuanmu ?” bertanya Senapati dari pasukan berkuda itu. Pemimpin prajurit Kediri itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Apa hakmu menanyakan ciri-ciri kesatuan kami yang  tidak berada dalam satu jalur kepemimpinan dengan kesatuanmu. Panglima pasukan kami tidak tunduk kepada panglima pasukanmu, karena kami tidak dari kesatuan pasukan berkuda khusus yang bertunggul Turangga Kencana.” “Karena itu sebut kesatuanmu dan tunggul ciri pa sukanmu ?” teriak Senapati pasukan berkuda itu. “Tidak ada gunanya” jawab pemimpin prajurit yang berdiri diatas dinding itu. “Jika demikian, maka demi nama baik serta citra prajurit Kediri maka aku perintahkan, atas nama Senapati Agung prajurit Kediri yang mengemban kebijaksanaan Sri Baginda, agar kalian meletakkan senjata, karena apa yang kalian lakukan disini tidak sejalan dengan kebijaksanaannya.” “Kau tidak berhak melakukan apa-apa disini. Seandainya aku melakukan tindakan yang  tidak sesuai dengan kebijaksanaan Senapati Agung di Kediri, maka itu adalah tanggung jawabku.” pemimpin prajurit Kediri yang berdiri di atas dinding itupun berteriak. Lalu katanya pula masih berteriak ”Aku berada di wilayah Singasari.” “Aku datang ber sama beberapa orang perwira Singasari yangmengesahkan tindakanyang  aku ambil. Karena itu kalian harus tunduk kepada perintah kami atau kami akan memaksa dengan kekerasan, karena pasukan kami juga bersenjata seperti kalian.” Senapati itu semakinmenjadimarah. Tetapi pemimpin prajurit yang  menentang perintah Sri Baginda itu nampaknya juga tidak mau tunduk. Ia memang tidak mempunyai pilihan. Seandainya ia meny erah, maka ia akan diadili sebagai seorang pengkhianat, sehingga tidak mustahil bahwa lehernya akan dipertaruhkan. Sedangkan apa yang telah dilakukannya, nampaknya tidak akan dapat dihentikan pula. Pertempuran terjadi dengan sangat garangnya. Namun pemimpin prajurit itu menyadari, jika prajurit Kediri dari pa sukan berkuda itu turun ke medan, maka keadaannya akan menjadi terbalik sama sekali. Yang akan bertempur dengan putus asa bukan lagi orang-orang Bumiagara, tetapi orang -orangnya. Ternyata bahwamimpi buruk itu akan terjadi. Senapati dari pa sukan berkuda itupun kemudian berkata ”Aku perintahkan sekali lagi. Letakkan senjata kalian dan kalian harus berkumpul diluar regol padukuhan.” Sebenarnyalah tidak ada pilihan lain kecuali bersikap seperti orang-orang Bumiagara. Melakukan perlawanan habishabisan. Karena itu, maka katanya ”Jumlah kalian tidak seberapa meskipun kalian merasa bahwa prajurit dari pa sukan berkuda adalah prajurit pilihan. Tetapi itu hanya sebuah mimpi dari prajurit yang jarang melihat medan. Sekarang, kalian akan menghadapi pasukan khusus dari kesatuan pengawal perbatasan. Yang justru sedang mengemban tugasmenyusup dari Singasari memburu kejahatan. Kalian seharusnya mendukung tugas-tugas kami, bukan malahan menghambat pelaksanaannya.” “Kalian tidak usah membual. Jika kalian menjalankan tugas, kalian tentu dapatmenunjukkan pertanda tugaskalian.” “Persetan” geram pemimpin prajurit yang menentang kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri. ” Jangan meny esal jika kalian akan kami hancurkan disini.” Pemimpin prajurit Kediri yang  telah meny erang Bumiagara itu segera memberikan isy arat kepada kedua orang pengawalnya untuk meny iapkan sebagian dari pasukannya untuk menghadapi prajurit Kediri dari pasukan berkuda itu, yangmenurut penglihatannya jumlahnya tidak terlalu banyak. Apalagi pemimpin prajurit itu menganggap bahwa Senapati dari pasukan berkuda itu tidakmengetahui bahwa pasukannya telah dibagi menjadi tiga bagian sementara yang lain telah menyerang dari arahyang  berbeda. Dalam pada itu, Senapati dari pa sukan berkuda itupun segera memerintahkan prajurit-prajuritnya untuk bersiap. Lima orang diantaranya diperintahkan untuk menjaga kudakuda mereka yang  ditambatkan di pepohonan diluar padukuhan. Sementara yang lainpun segera berlari-larian kearah dinding desa yang  tidak terlalu tinggi. Sementara itu sebagian prajurit Kediri yang telah menyerang Bumiagara telah ditarik untuk meny ongsong prajurit berkuda yang datangmenyusul itu. Pemimpin prajurit yangmenyerang Bumiagara itu telahmenempatkan diri untuk menghadapi prajurit Kediri dari pa sukan berkuda yang dinilainya lebih berbahaya. Namun dalam pada itu, dengan ditariknya sebagian dari prajurit Kediri yang  meny erang Bumiagara, maka tekanan terhadap pengawal dan anak-anak muda Bumiagara terasa berkurang. Ki Buy ut dan kedua orang cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang memimpin orang-orang Bumiagara itu merasa dapat sedikit bernafas. Sementara itu anak-anak mudanya masih bertempur dengan garangnya. Sejenak kemudian, para prajurit dari pa sukan berkuda itupun telah meloncati dinding padesan. Demikian mereka meloncat turun maka lawan mereka telah meny ongsongnya. Sementara pemimpin prajurit yang meny erang Bumiagara itu berteriak sengaja untuk mengganggu pemusatan perhatian dan para prajurit berkuda itu. Katanya ”Kau kira bahwa apa yang kau lakukan itu akan meny elesaikan persoalan dan menolong orang-orang Bumiagara? Ketahuilah bahwa pa sukan kami yang besar tidak hanya memasuki padukuhan induk dari satu jurusan. Seandainya kalian dapat mendesak kami di medan ini, namun di medan yang  lain, Bumiagara akan dihancurkan dan bahkan dimusnakan. Sementara itu akan datang gilirannya bahwa kalianpun akan kami musnakan. Pa sukan kami akan dapat kami panggil ke medan ini setiap saat, karena mereka akan dengan cepat menyelesaikan tugas mereka membantai orang-orang Bumiagara.” Namun Senapati yang memimpin prajurit Kediri dari pa sukan berkuda itu justru tertawa. Katanya ”Petugas-petugas sandi kami telah mengetahui segala-galanya yang  terjadi di Bumiagara. Kami memang sedang melacak pa sukan Kediri yang telah melawan kebijaksanaan Senapati Agung di Kediri. Tetapi pada saatnya kami sadari bahwa pasukan kami terlalu kecil, sementara kami tidak sempat lagi untuk kembali ke Singasari. Karena itu, maka kami telah menghubungi Padepokan Bajra Seta yang pada suatu saat juga pernah berhubungan dengan kawan-kawan kalian. Atau bahkan mungkin ada diantara kalian yang  saat itu berhasil melarikan diri dari Padepokan Bajra Seta.” Pemimpin prajurit yang meny erang Bajra Seta itu mengeram. Dengan kemarahan yang menyala didalam dadanya ia menggeram ”Iblis kau. Apapun yang  kau lakukan, kami akan memusnakan kalian pada saatnya nanti.” Dua kelompok gabungan antara prajurit berkuda dan para cantrik Padepokan Bajra Seta telah membantu orang-orang Bumiagara di kedua medan yang  lain. Mereka akan menyelesaikan pertempuran dengan cara mereka. Kedua orang pemimpin Padepokan Bajra Seta telah berada di kedua medan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membagi diri bersama beberapa orang cantriknya. Sehingga akhir dari pertempuran ini telah dapat diduga. Pemimpin prajurit yangmemimpin serangan ke Kabuyutan Bumiagara itu mehggeretakkan giginy a. Namun sudah tidak ada jalan kembali. Sementara orang-orang Bumiagara telah bertempur tanpa kendali. Mereka mengamuk seperti harimau yang terluka. Karena itu, maka pemimpin prajurit yang melawan kebijaksanaan Senapati Agung di Kediri itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali bertempur sampai akhir. Demikianlah maka pertempuranpun telah membakar seluruh padukuhan induk Bumiagara dan berpusat ditiga medan yang semakin lama menjadi semakin sengit. Kehadiran prajurit berkuda dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta telah benar -benar mempengaruhi keseimbangan. Dengan kehadiran mereka, maka sebagian dari prajurit Kediri yang melawan pimpinan mereka itu harus meninggalkan lawanlawan mereka untuk menghadapinya. Mereka yang dengan penuh dendam berniat membantai orang-orang Bumiagara, ternyata harus menghadapi lawan yang  lain, yang memiliki kemampuan prajurit pilihan. Kehadiran prajurit Kediri bersama-sama dengan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu benar -benar satu keajaiban Sebagaimana dimohon oleh orang-orang Bumiagara. Ternyata doa mereka yang ketakutan ditempattempat mereka mengungsi telah didengar oleh Yang Maha Agung, sehingga telah menggerakkan para prajurit Kediri dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta untuk turun kemedan pertempuran. Sebenarnyalah bahwa prajurit Kediri yang  meny erang Kabuyutan Bumiagara itu tidak lagi berpengharapan. Meskipun untuk beberapa saat mereka mampu bertahan, namun mereka segera menemui kesulitan ketika mereka mendapat tekanan dari dua sisi kekuatan yang  ternyata sulit untuk ditahan. Namun pemimpin prajurit yang  melawan perintah atasannya itu berkeras untuk bertempur sampai kemampuan terakhir. Sikap Ki Buy ut Bumiagara yang putus asa itu telah menyelinap kedalam jantungnya sehingga iapun telah melakukannya pula. Daripada mengorbankan harga dirinya apalagi dengan kesadaran bahwa ia akan dibebani tanggung jawab atas peristiwa di Bumiagara itu serta bayangan hukuman yang  akan disandangnya, maka ia memilih untuk bertempur sampai akhir. “Aku tidak mau diperas sampai darahku kering untuk mengaku jalur yang  aku anut sampai ke pimpinan tertinggi dari para pemimpin Kediri yang  sadar akan harga dirinya” berkata pemimpin prajurit itu kepada diri sendiri. Karena itu memilih untukmeny elesaikan tekadnya sampai sekian. Demikianlah pertempuranpun menjadi semakin lama semakin garang, keras dan bahkan menjadi buas dan liar. Orang-orang Bumiagara memang mulai berpengharapan. Tetapi merek-sudah terlanjur bertempur dengan cara yang sudah mereka mulai dalam keputusasaan. Sementara itu, prajurit - prajurit Kediri yang  meny erang Bumiagara itupun kemudian telah dihinggapi perasaan yang  sama dengan orang-orang Bumiagara, sehingga merekapun telah kehilangan kendali perasaan mereka. Sementara itu dikedua medan yang  lain, telah bertempur pula dengan garangnya, para prajurit Kediri dari pasukan berkuda yang  jumlahnya tidak terlalu banyak bergabung dengan para cantrik Padepokan Bajra Seta. Mereka memasuki medan dengan jumlah yang  terbatas. Tetapi mereka adalah prajurit pilihan ber sama para cantrikyang  terpilih pula. Prajurit Kediri yang menentang kebijaksanaan Sri Baginda di Kediri serta telah meny erang Bumiagara karena orangorang Bumiagara menolak untuk diperas itu, harus memeras kemampuan mereka. Meskipun jumlah lawan mereka yang baru tidak terlalu banyak, tetapi dengan membagi kekuatan, maka para prajurit Kediri yangmeny erang Bumiagara itu telah mengalami kesulitan. Dalam pada itu, para pengawal, anak-anakmuda serta lakilaki Bumiagara yang ikut bertempur menjadi berbesar hati ketika mereka menyadari, bahwa telah datang sepasukan prajurit dan para cantrik dari Bajra Seta untuk membantu mereka dapat memperingan beban orang-orang Bumiagara. Bahkan orang-orang Bumiagara telah berpengharapan lagi. Mereka mulaimelihat kemungkinanyang  lain dari kehancuran dan kebinasaanyang  bakal terjadi di Bumiagara. Namun harapan itu sama sekali tidak mengendorkan tekad mereka untuk bertempur dengan sepenuh kemampuan. Ketika sebagian dari lawan mereka harus bertempur menghadapi para prajurit dan cantrik yang datang membantu mereka, maka orang-orang Bumiagara itu telah ber sorak gemuruh. Seakan-akan mereka meneriakkan sorak kemenangan atas lawanmereka,meskipun hal itu belum terjadi. Para prajurit Kediri yang  meny erang Bumiagara itu mengumpat sejadi-jadiny a. Sambil mengayunkan senjata mereka, mereka berusaha untuk mendesak terutama orangorang Bumiagara. Mereka ingin menyelesaikan orang-orang Bumiagara lebih dahulu, meskipun sebagian dari mereka terpaksa menahan arus serangan pasukan yang  baru datang itu. Ternyata para prajurit Kediri dari pasukan berkuda dan para cantrik itu mempunyai kekuatan yang besar meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada pula di kedua pasukan itu. Mahisa Murti di satu medan dan Mahisa Pukat berada dimedanyang lain. Ternyata kedua orang itu sulit untuk ditahanmeskipun oleh sekelompok orang sekalipun. Bersama pasukannya keduanya menerobos pertahanan lawan dan berusaha bergabung dengan orang-orang Bumiagara yang tidak memiliki pengalaman sebagaimana para prajurit. Mereka hanyamemiliki keberanian dan tekad untuk mempertahankan harga diri mereka sebagai orang-orang Bumiagara yang  akan diperas oleh para prajuritprajurit Kediriyang menentang kebijaksanaan Sri Baginda itu. Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, di medan yg lain ternyata mempunyai kebijaksanaan yang  sama yang ternyata agak berbeda dengan Senapati prajurit Kediri yang bertempur melawan pimpinan prajurit yang meny erang Bumiagara itu. Senapati itu berusaha untuk menjepit lawannya dari dua arah. Pasukannya sendiri dari satu arah dan orang-orang Bumiagara dari arahyang  lain. Namun akibatnya hampir sama bagi prajurit yang  menyerang Bumiagara itu. Meskipun para prajurit dari pa sukan berkuda itu tidak berusaha membelah pasukan lawannya dan bergabung dengan orang-orang Bumiagara sekaligus melindungi mereka, namun dengan menghisap sebagian dari para prajurit yang menyerang Bumiagara maka orang-orang Bumiagara itu merasa mendapat kesempatan untukmemberikan perlawanan. Sebenarnyalah bahwa para prajurit Kediri yang meny erang Bumiagara itu mengalami kesulitan yang tidak akan dapat mereka atasi. Pasukan berkuda yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu bersama-sama dengan para cantrik dari Padepokan serta orang-orang Bumiagara merupakan kekuatan yang  sulit untuk dapat dikalahkan. Berbeda dengan pasukan induk para prajurit Kediri yang  menyerang Bumiagara, yang  mengikuti jejak serta perintah pimpinannya yang  pantang meny erah, maka di medan yang lain, para prajurit itu mempunyai sikap yang  lain. Tanpa pemimpin mereka yang  menjadi putus asa dan tidak berpengharapan lagi karena ia merasa bertanggung jawab, serta kemungkinan untuk diperas keterangannya dan bahkan tiang gantungan, maka prajurit-prajurit itu merasa lebih baik menyerah daripada harus dibantai oleh orang-orang Bumiagara. Mereka berharap bahwa para prajurit dari pa sukan berkuda serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu maumelindungimereka. Karena itu, setelah mereka tidakmelihat lagi kemungkinan lain, maka para prajurit yang diserahi pimpinan di kedua medan itu menganggap bahwa menyerah dan minta perlindungan para prajurit pasukan berkuda serta para cantrik adalah jalany g terbaik. Adalah satu hal yang  mereka harapkan bahwa ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah berteriak ”Ma sih ada kesempatan untukmeny erah.” Para prajurit yang  meny erang Bumiagara itu semula memang ragu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yg mempunyai kebijaksanaan yang  sama itu telah mengulanginya, sehingga para prajurit itu segera mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Beberapa orang diantara mereka langsung melepaskan senjata-senjata mereka. Namun yang  lain sempat mengambil jarak. Yang kemudian menjadi sibuk adalah para prajurit dari pa sukan berkuda serta para cantrik. Ternyata sulit sekali bagi mereka untuk menahan arus kemarahan orang-orang Bumiagara. telah timbul harapan untuk dapat mempertahankan Kabuyutan mereka, namun darah mereka tidak segera dapat didinginkan. Tangan mereka yang menggenggam senjata masih saja gemetar sementara jantung mereka masih tetapmembara. Namun para prajurit dari pa sukan berkuda dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta berusaha dengan sungguhsungguh untukmencegah agar tidak terjadi pembantaian atas orang-orang yang  sudahmeny erah itu. Tetapi akhirnya usaha mereka berhasil. Meskipun para prajurit dari pasukan berkuda serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu harus mengancam orang-orang Bumiagara. Berbeda dengan kedua medan yang lain,maka para prajurit yang bertempur di medan yang  langsung dipimpin oleh para Senopati masing-masing, justru tidak dapat dihentikan. Beberapa kali Senopati prajurit dari pa sukan berkuda itu meneriakkan kesempatan untuk meny erah. Tetapi pimpinan prajurit yang  meny erang Bumiagara itu sama sekali tidak menghiraukan. Setiap kali justru meneriakkan perintah kepada para prajuritnya untukmelawan sampai kemungkinan terakhir. “Bagi seorang prajurit” teriak pemimpin prajurit yang  memberontak itu ”dari pada mati di tiang gantungan, lebih baikmati di pertempuran dengan pedang ditangan.” “Tetapi bunuh diri adalah salah satu laku yang  tidak terpuji.” berkata Senopati dari pasukan berkuda itu dengan lantang ”sebagai seorang laki-laki jantan kalian harus berani melihat kenyataan. Kalian harusmengakui bahwa kalian tidak akan dapatmelawan kekuatanyang  nyata-nyata kalian hadapi. Jika kalian ingin berjuang sampaimati, untuk apa sebenarnya kalian berjuang dengan mempertaruhkan nyawa kalian? Untuk tegaknya Kediri atau untukmendapatkan sekedar bekal dan harta benda di Kabuyutan Bumiagara atau untuk melakukan perampokan dan pemerasan di Kabuyutan- Kabuyutan yang lain? Itukah yang  ingin kalian lakukan sebagai seorang prajurit?” “Jangan terpengaruh oleh kata-katanya yang  mencerminkan kecemasannya setelah melihat keperkasaan kita” teriak pemimpin prajurityangmelawan perintah itu. Kadang-kadang memang terbersit keraguan-keraguan dihati para prajurit yang melawan perintah itu. Namun setiap pimpinannya meneriakkan perintah-perintah yang  membakar jantung mereka,maka darah merekapun telah mendidih lagi, sehingga senjata merekapun telah terangkat dan terayun kembali. Namun lawanmerekamemang lebih kuat dan lebih banyak. Para prajurit dari pa sukan berkuda itu, meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak, namun mereka memiliki kemampuan yang tidak kalah dari para prajurit yang memberontak itu. Sementara itu orang-orang Bumiagara yang melawan dengan darahyang  bergelora,merupakan lawanyang  cukup berat. Dengan demikian, maka semakin lama para prajurit itu semakin mengalami kesulitan. Jumlah merekapun semakin berkurang karena setiap kali satu dua diantara mereka jatuh terkulai di tanah. Ada diantara mereka yang  terbunuh, namun ada pula yang  terluka parah sehingga tidak mampu bangkit lagi untuk bertempur. Namun para prajurit itu benar-benar tidak berniat untuk menyerah. Meskipun jumlah mereka semakin susut, tetapi yang masih hidup telah memberikan perlawanan tanpa kendali. Seakan-akan mereka udah tidak mampu lagi berpikir dan membuat perhitungan ataspertempuranyang  terjadi. Senapati dari pa sukan berkuda itu masih saja setiap kali memperingatkan agar para prajurit yang  memberontak itu menyerah saja. Namun suaranya hilang ditelan oleh teriakanteriakan pemimpin prajurit yangmemberontak itu membakar hati para pengikutnya. Sementara pertempuran masih menyala di medan pertempuran antara kedua pasukan induk itu, maka di kedua medan yang lain, keadaannya sudah jauh berbeda. Meskipun para prajurit dari pasukan berkuda dan para cantrik masih harus mengawasi orang -orang Bumiagara yang mendendam, namun agaknya mereka benar-benar telah menguasai keadaan. Karena itu, maka para prajurit dari pasukan berkuda itu telah membagi diri. Sekelompok diantara mereka telah diperintahkan untuk pergi ke pasukan induk. Perintah itu semula diberikan oleh perwira yang memimpin pasukan berkuda yang  bertempur ber sama para cantrik yang  dipimpin oleh Mahisa Murti. Namun iapun telah memerintahkan dua orang untuk menghubungi pasukan di medan yang  lain agar memberikan perintahyang  sama. Dengan demikian maka dua kelompok pasukan berkuda meskipun jumlahnya tidak begitu banyak, tetapi telah menambah jumlah prajurit dari pasukan berkuda yang bertempur di medan yang masih dibakar oleh pertemuran yang semakin liar itu. Dengan putus asa prajurit yang memberontak itu bertempur tanpa perhitungan lagi. Mereka mengamuk seperti orang-orangmabukyang kehilangan akal. Namun kedatangan kelompok-kelompok prajurit dari pa sukan berkuda itu agaknya akan mempercepat peny elesaian. Meskipun dua kelompok prajurit berkuda itu tidak banyak jumlahnya namun kehadiran mereka telah menentukan akhir dari pertempuran itu. Sementara itu pemimpin dari para prajurit yang  memberontak itu telah bertempur tanpa perhitungan lagi. Dengan garangnya ia meny erang Senapati prajurit berkuda yang ternyata telah ber siap sepenuhnya untuk menghadapinya. Namun malang bagi Senapati perajurit yang  telah memberontak itu. Ternyata yang  dihadapi kemudian bukan sa ja Senapati dari prajurit berkuda yangmemiliki kemampuan yang tinggi itu. Dua orang prajurit yang melihat pertempuran itu telah mencampurinya karena keduanya tidak lagi berhadapan dengan lawan setelah dua kelompok prajurit dari pa sukan berkuda dari medan yang lain datang untuk membantu. Dengan demikian, maka perlawanan pemimpin prajurit yang meny erang dan memeras Bumiagara itu tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Ketika ia menjadi semakin terdesak, serta segores luka telah menyilang didadanya, iapun berteriak ”Kalian bukan prajurit sejati. Dengan licik kalian telah bertempur bertiga melawan seorang. Jika kalian benar-benar prajurit sejati, maka kita akan meny elesaikan persoalan kita seorang lawan seorang.” “Kita tidak berperang tanding” jawab Senapati prajurit dari pa sukan berkuda itu. ”Karena itu tidak ada kewajiban untuk bertempur seorang melawan seorang. Dalam perang brubuh, maka siapapun boleh berhadapan dengan siapapun. Kenapa kau tidak memerintahkan prajurit-prajuritmu untuk membantumu sehingga kita dapat berhadapan seorang melawan seorang” ”Setan kau” geram pemimpin prajurit yang  memberontak itu ”kau kerahkan prajurit-prajurit dalam jumlah yang  lebih besar dari prajuritku. Sementara itu orang-orang Bumiagara telah menjadi seperti orang-orang kesurupan” “Jumlah prajuritmu sebenarnya cukup besar. Tetapi seorang demi seorang telah kehilangan kesempatan untuk bertempur terus. Karena itu, meny erahlah. Aku masih memberimu kesempatan” “Persetan. Sudah aku katakan, bahwa aku pantang menyerah. Kematian nampaknya lebih terhormat daripada menjadi seorang tawanan yang  diikat kaki dan tangannya.” jawab pemimpin prajurit yangmemberontak itu. Senapati itupun kemudian telah kehilangan kesabarannya. Karena itu maka iapun telah meneriakkan perintah ”Siapa yang tidak mau menyerah, tidak ada pilihan lain lagi kecuali dibinasakan” Perintah itupun seakan-akan telah mengumandang diseluruh medan pertempuran. Dengan demikian,maka pertempuran itupun segera sampai kepuncaknya. Para prajurit dari pasukan berkuda itu seakanakan memang telah kehilangan kesabarannya, sehingga dengan demikianmaka merekapun benar-benar berniat untuk menyelesaikan lawan mereka sampai orang yang  terakhir jika mereka memang berkeras untuk tidakmaumeny erah. Sementara itu, pemimpin dari para prajurit yang  memberontak itu benar-benar tidak mau menyerah. Dengan garang ia melawan ketiga orang prajurit dari pa sukan berkuda itu. Seorang diantara mereka adalah justru Senapatinya. Namun pemimpin prajurit yang memberontak itu tidak dapat bertahan terlalu lama. Segores lagi luka telah mengoyak lengannya. Kemudian pundaknya dan punggungnya. Tetapi prajurit yang  terluka itu justru menjadi semakin garang. Ia seakan-akan tidak merasa betapa pedih menggigit kulit dagingnya. Bahkan sekali-sekali terdengar ia berteriak marah danmengumpat dengan kasar. Tetapi pada suatu saat, iapun sampai kepada batas kemampuan wadagnya. Ketika darah semakin banyak mengalir serta tenaganya bagaikan telah terperas habis, maka iapun menjadi terhuyung-huyung. Bahkan hampir saja kehilangan kemampuannya untuk berdiri dalam keseimbangannya. Dalam keadaan yang demikian,maka sambil menjulurkan, pedangnya, Senapati pa sukan berkuda itu berkata ”Meny erahlah. Ini kesempatan terakhir bagimu.” Tetapi yang  terjadi memang sangat mengejutkan. Dengan serta merta, serta mempergunakan tenaga terakhirnya, pemimpin prajurit yang telah memberontak itu meloncat kearah ujung pedang yang terjulur untuk mengancamnya itu. Demikian tibatiba sehinggga Senapati dari pasukan berkuda itu tidak sempatmenarik pedangnya. Karena, itu, maka ujung pedang Senapati dari pa sukan berkuda itu telah terhunjam didadanya. Masih terdengar pemimpin prajurit yang memberontak itu berteriak penuh kemarahan dan kebencian. Suaranya bagaikan menggetarkan seluruh padukuhan induk Kabuyutan Bumiagara. Namun suara itupun kemudian seakan-akan telah meluncur naik ke langit dan hilang ditelan mulut-mulut lembahyang menganga di tepi Kabuyutan itu. Sejenak suasana menjadi hening.Orang-orang yang  sedang bertempur itu seakan-akan telah membeku sejenak. Namun kemudian merekapun segera sadar dari mimpi buruk yang telah terjadi itu. Namun ketika pertempuran itu mulailagi, terdengar suara Senapati itu mengumandang ”Letakkan senjata. Tidak ada pilihan lagi bagi kalian tanpa pemimpin kalian itu” Bagi para prajurit Kediri yang  memberontak itu, teriakan Senapati prajurit dari pasukan berkuda itu rasa-rasanya memang menjadi berbeda. Jika semula teriakan yang  selalu disam but oleh pimpinan mereka itu seakan-akan jsutru membakar jantung mereka, namun teriakan yang  terakhir, setelah pimpinan mereka terbunuh dipeperangan, suara itu bagaikan ancaman hukumanmati bagimereka yang tidakmau mendengarnya. Karena itu, maka keberanian yang  menyala dalam keputusasaan itu sekan-akan telahmenjadi redup. Ketika Senapati itu sekali lagi memberi kesempatan, maka mereka tidakmenunggu lagi. Berebutan mereka meny erahkan diri kepada para prajurit dari pasukan berkuda dan ju stru menghindari orang”orang Bumiagara yang  seakan-akan tidak lagimampumenahan diri. Namun prajurit dari pasukan berkuda itupun tanggap akan keadaan. Apalagi mereka yang  datang dari medan yang lain. Dengan tangkasnya mereka berusaha untuk menahan agar orang-orang Bumiagara tidak bertindak diluar kendali. Memang sulit untuk meredakan kemarahan orang-orang Bumiagara yang semula telah berputus-asa. Mereka seakanakan bertempur sambilmemejamkan mata mereka. Namun akhirnya setelah dengan sungguh-sungguh berusaha, prajurit dari pasukan berkuda itu mampu melerai pertempuran itu meskipun di sana-sini justru telah terjadi ketegangan antara orang-orang Bumiagara dengan pasukan berkuda itu sendiri. Namun akhirnya Ki Buyut sendiri telah memerintahkan agar orang-orang Bumiagara segera menyarungkan senjata mereka. “Perang telah selesai” berkata Ki Buy ut ”satu keajaiban telah terjadi. Bumiagara tidak binasa. Kita masih melihat bangunanyang  tegak diatas tanah Bumiagara dan sudah tentu keluarga kita masih melihat bangunan yg tegak diatas tanah Bumiagara dan sudah tentu keluarga kita masih selamat di tempat -tempat pengungsianmereka.” Suara Ki Buyut itu ternyata telah menyentuh setiap hati orang-orang Bumiagara. Karena itu, maka merekapun telah mengendorkan deru jantung didalam dada mereka. Beberapa orang telah menyarungkan senjata mereka meskipun masih ada yang  ragu-ragu. Demikianlah, pertempuran di seluruh medan di Kabuyutan Bumiagara telah benar-benar selesai. Prajurit Kediri yang memberontak dan berniat untuk memeras Kabuyutan Bumiagara telah meny erah setelah mereka mengorbankan kawan-kawan mereka dan bahkan pimpinanmereka. Yang tersisa diantara mereka harusmerelakan diri mereka menjadi tawanan. Mereka sadar, bahwa sebagai orang prajurit yang menentang kebijaksanaan Senapati Agung Kediri, mereka tentu akan mendapat hukuman yang  berat. Namun tanggung jawabmereka sebagian telah dipikul oleh pimpinan mereka yang  telah terbunuh dipeperangan. Bahkan telah membunuh diriny a sendiri dengan mendor ong dirinya sendiri keujung pedang lawannya. Meskipun demikian mereka tidak dapatmelepaskan diri sepenuhnya sertamencuci tangan. Disisa hari itu, padukuhan induk Bumiagara menjadi sibuk. Bukan lagi terjadi pertempuran, tetapi mereka tengah mengumpulkan tubuh anak-anak muda, para pengawal dan bahkan orang-orang yang sudah lebih tua yang gugur dipeperangan. Mereka juga mengumpulkan orang-orang Bumiagara yang  telah terluka. Demikian pula telah dilakukan oleh para prajurit Kediri dari pasukan berkuda. Bahkan juga para tawanan yang  dijaga dengan ketat oleh para prajurit dari pa sukan berkuda. Para prajurit dari pasukan berkuda tidakmenyerahkan pengawasan para tawanan kepada orang-orang Bumiagara. Namun mereka lebih percaya kepada para cantrik dari Padepokan Bajra Seta, karena orang -orang Bumiagara yang  masih saja marah itu akan dapat berbuat sesuatu diluar dugaan terhadap para prajurit yang mereka anggap hampir saja memusnahkan Kabuyutan mereka. Ternyata tugas itu tidak dapat dengan cepat diselesaikan. Ketika langit menjadi gelap, maka obor-oborpun telah dipasang dimana-mana. Juga oncor jarak dan bahkan oborobor berlarak. Sementara itu di pendapa rumah Ki Buyut, Senapati dari pa sukan berkuda, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk dengan beberapa orang bebahu Kabuyutan dan beberapa orang perwira prajurit dari pa sukan berkuda. Berulang kali Ki Buyut mengucapkan terima kasih atas kehadiran prajurit dari pasukan berkuda Kediri serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang  telah meny elamatkan Kabuyutan Bumiagara. Lima orang prajurit Kediri yang datang untuk memeras Kabuyutan Bumiagara itu masih pada tiang di halaman kabuyutan. “Yang terjadi adalah satu keajaiban. Kami sama sekali tidak mengira bahwa kami akan mendapat pertolongan. Kami sudah berputus a sa dan menduga bahwa esok pagi, matahari yang terbit tidak akan dapat melihat lagi Kabuyutan Bumiagara tergelar di muka bumi.Namun ternyata bahwa sampai saat ini Bumiagara masih utuh. Jika ada korbanyang  jatuh, itu adalah tumbal bagi keselamatan Kabuyutan ini. Bahkan bukan saja orang-orang Bumiagara yang  gugur di pertempuran, tetapi juga para prajurit dari pasukan berkuda dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta.” berkata Ki Buy ut itu dengan ber sungguh-sungguh. “ Itu adalah kewajiban kami” berkata Senapati dari pa sukan berkuda itu. Ki Buyut termangu-mangu. Dengan nada dalam ia berkata ”Kami sudah berputus asa. Rasa -rasanya tidak ada yang dapat menolong kami. Kabuyutan ini pasti akan hancur menjadi debu. Semua yang  hidup akan mati dan semua ujud akan lebur. Hanya keajaiban sajalah yang  dapat meny elamatkan Kabuyutan ini. Keajaiban karya Yang Maha Agung sendiri.” “Bersukurlah kepada Yang Maha Agung” berkata Mahisa Murti ”Yang terjadi memang satu keajaiban. Namun, lantaran dari keajaiban ini adalah kerja keras para petugas sandi dari Kediri bekerja sama dengan petugas-petugas sandi dari Singasari.” Ki Buyut menganggukangguk. Sementara itu ia melihat Ki Jagabaya berada di halaman. Lima orang prajurit Kediri yang  datang untuk memeras Kabuyutan Bumiagara itu masih terikat pada tiang di halaman Kabuyutan. Sambil berdiri dihadapan mereka Ki Jagabaya berkata ”Nah, sekarang kalian melihat, bahwa bukan kalian yang menentukan hidup matinya orang-orang Bumiagara. Yang kau duga akan lenyap ber sama leny apnya Kabuyutan Bumiagara ternyata tidak terjadi. Meskipun jatuh korban dari antara orang-orang Bumiagara, bahkan para prajurit Kediri dan para cantrik Padepokan Bajra Seta, namun sebagian besar dari kami masih tetap hidup. Sebaliknya prajurit Kediri yang  memberontak itu, termasuk kalian, yang kalian harapkan akan dapat meratakan Kabuyutan ini dan membawa harta benda yang ada diatasnya sebagai barang rampasan, hanyalah sekedar sebuahmimpi yang buruk.” Kelima orang yang terikat itu tidak berani lagi mengangkat wajah mereka. Mereka tahu apa yang  telah terjadi di Bumiagara. Pasukan Kediri yang  datang bersamanya untuk memeras Kabuyutan itu telah dihancurkanmutlak. Memang masih ada yang hidup diantara mereka, namun mereka telah menjadi tawanan. Mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk bangkit, karenamereka jatuh ketangan para prajurit Kediri yang tiba-tiba saja datang. “Kalian akan digiring sebagai tawanan dengan kaki dan tangan terikat menuju ke Kediri. Jarak yang  panjang. Namun itu adalah akibat yang wajar dari tingkah laku kalian sendiri.” berkata Ki Jagabaya. Kelima orang itu masih tetap menunduk. Sementara Ki Jagabaya masih berkata ”untunglah, bahwa kami belum melaksanakan ancaman kami untuk menghukum kalian dengan hukuman picis. Seandainya hal itu kami laksanakan, maka kalian akan mengalami penderitaanyang sangat.” Yang terdengar adalah desah yang  panjang. Orang-orang itu memangmerasa ngerimembayangkan hukuman picis yang akan ditrapkan atas mereka. Karena itu, disamping kegelisahan bahwa mereka akan menjadi tawanan, ada juga sepercik perasaan sukur, bahwa mereka tidak mengalami hukuman picis. Ki Buy ut yang menyaksikan pembicaraan Ki Jagabaya dengan kelima orang yang lebih banyakmenunduk itu hanya dapat menarik nafas dalam, sementara para perwira Prajurit Kediri dari pasukan berkuda serta salah seorang perwira dari Singasari yang  meny ertai pasukan itu dapat menangkap apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Bumiagara atas mereka. “Merekalah yang telah datang memasuki Kabuyutan untuk menyampaikan tuntutan mereka dalam usaha mereka memeras Kabuyutan ini” berkata Ki Buy ut. “Apakah mereka langsung ditangkap ?” bertanya Senapati pa sukan berkuda itu. “Ya. Kami tidak memberi kesempatan mereka meninggalkan Kabuyutan” jawabKi Buyut. “ Itukah sebabnya maka prajurit-prajurit yang  memberontak itu mempergunakan kekerasan ?” bertanya Senapati itu pula. “Ya. Tetapi kami memang tidak mempunyai pilihan lain” jawab Ki Buy ut ”mereka telah melakukan pemerasan yang tidak masuk akal. Mereka minta beberapa pedati beras. Itu tidak membuat kami kehilangan akal. Namun ketika mereka minta sejumlah anak-anak muda, bahkan tidak tanggungtanggung, maka kami justru kehilangan akal. Kami berniat untukmembunuh diri bersama-sama se Kabuyutan.” “Berapa orang yang diminta ?” bertanya Mahisa Pukat. “Seratus lima puluh” jawabKi Buyut. “Seratus lima puluh” Mahisa Pukatmengulang. Ki Buy ut mengangguk, sementara Senapati pa sukan berkuda itu menggelengkan kepalanya. Katanya ”Memang satu halyang  tidakmasuk akal.” Senapati itupun telah menceriterakan pula bagaimana para petugas sandi Kediri dan Singasari bekerja keras, sehingga mereka dapat mengikuti gerak sepa sukan prajurit Kediri. Namun ternyata perhitungan mereka salah. Pasukan itu terlalu besar untuk langsung disergap oleh para prajurit Kediri. Sementara itu para petugas sandi mendapat keterangan tentang hubungan buruk antara prajurit Kediri yangmemberontak itu dengan Kabuyutan Bumiagara. Karena mereka tidak sempat lagi menghubungi Kediri maupun Singasari, maka mereka telah menghubungi Padepokan Bajra Seta atas petunjuk salah seorang perwira Singasari yang  ikut dalam pasukan berkuda dari Kediri itu. Ki Buy ut mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga ia tidak dapat ingkar, terutama kepada diri sendiri, bahwa ketamakannya telah membawa akibat yang  panjang dan mengerikan. Keinginannya mengambil seorang cantrik dari Bumiagara mengakibatkan berbagai peristiwa yang  minta korban jiwa. Bahkan terlalu banyak. Namun yang sudah terlanjur terjadi itu memang tidak akan dapat dihapuskan dari keny ataan. Di hari berikutnya, maka Bumiagara telah berbenah diri. Orang-orang yang  mengungsi ke padukuhan induk telah dianjurkan untuk kembali ke padukuhan masing-masing. Namun ada diantara mereka yang  sudah tidak lengkap lagi. Anak laki-laki yang diharapkan menjadi lanjaran keluarga mereka, suami yang belum setahun menikah, kakak atau adik, ternyata tinggallah namanya saja. Mereka telah gugur dipertempuran untuk mempertahankan harga diri Kabuyutan Bumiagara serta pemerasan yang  tidak masuk akal. Namun yang gugur itu tidak sebanyak anak-anak muda yang dituntut oleh prajurit Kediri yang telah memberontak itu. Prajurit Kediri serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta tidak tergesa-gesa meninggalkan Kabuyutan itu. Merekamasih diminta untuk ikut berjaga -jaga. Mungkin masih dapat terjadi sesuatu di Kabuyutan itu. Namun para petugas sandi dari Kediri telah meyakinkan, bahwa kekuatan para prajurit yang memberontak itu telah dipatahkan. Bukan hanya di Kabuyutan Bumiagara, tetapi juga di tempat lain. Bahkan di tlatak Kediri sendiri. Tetapi Senapati prajurit dari pasukan berkuda itu berkata ”Tetapi benih perlawanan itumasih belum dapat dileny apkan,” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang  ikut mendengarkan pembicaraan itu mengangguk-angguk. Bahkan seorang petugas sandi dari Singasari dalam pembicaraan terpisah tanpa diketahui oleh para pimpinan prajurit Kediri mengatakan, bahwa benih perlawanan itu masih saja menjadi semacam peletik api didalam sekamnya para bangsawan Kediri. Didalam istana benih-benih itu masih saja terdapat, sehingga tidak mustahil bahwa pergolakan itu akan berkepanjangan. Sementara itu, setelah keadaan menjadi tenang kembali para perwira dari pa sukan berkuda itu serta para petugas dari Singasari yang  mengikuti usaha penangkapan para prajurit yang memberontak itu menganggap bahwa tugas mereka sudah selesai. Karena itu, maka mereka akan segera kembali ke Kediri sambilmembawa para tawanan. “Kami akan mengantar sampai keperbatasan” berkata salah seorang perwira dari Singasari ”agar tidak terjadi salah paham dengan prajurit Singasari jikamereka berpapasan.” Dalam pada itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpuh telah minta diri pula setelah beberapa hari berada di Kabuyutan itu ber sama para prajurit Kediri dari pasukan berkuda serta beberapa perwira prajurit Singasari yang meny ertainya. Para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itupun merasa bahwa tugas merekapun telah selesai pula. Bukan hanya orang-orang Bumiagara yang mengucapkan terima kasih tidak berkeputusan karena mereka merasa telah diselamatkan, namun Senapati dari pa sukan berkuda Kediri itupun mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. “Tanpa bantuan Padepokan Bajra Seta, kami tidak akan dapat meny elesaikan tugas yang  dibebankan atas pundak kami” berkata Senapati dari Kediri itu. “Kamipunmerasa terpanggil untuk tugas ini” jawab Mahisa Murti ”karena itu,maka kamipun merasa sekedar melakukan tugas kami. Diminta atau tidak diminta sepanjang kami ketahui.” Demikianlah, hari itu Bumiagara telah melepaskan para prajurit Kediri dan beberapa orang Prajurit Singasari serta para cantrik dari Padepokan Bajra Seta meninggalkan Kabuyutan. Sepeninggal mereka, maka rasa-rasanya Bumiagara menjadi sepi. Namun kesepian itu telah menggugah para pengawal dan anak-anak mudanya untuk berjaga-jaga sepenuhnya. Sementara regol-regolpun mendapat pengawasanyang bersungguh-sungguh. Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatyang  telah berada di Padepokannya masih saja membicarakan benihbenih perlawanan yang  ada di Kediri. Rasa -rasanya Kediri masih saja sulit menerima kenyataan tentang kedudukan Kediri terhadap Singasari sejak Sri Rajasa berhasil mengalahkan Kediri. Terutama beberapa orang yang  masih sa jamerasa kagum atas kebesaran Kediri di masa lalu. “Apakah Sri Maharaja di Singasari sudah mengetahuinya ?” desis Mahisa Pukat. “Agaknya laporan tentu sudah sampai kepada Sri Maharaja itu. Bahkan mungkin Sri Maharaja telah melakukan langkahlangkah yang  akan dapat mengatasi g ejolak yang  meskipun tidak nampak langsung dipermukaan itu pada suatu saat akan dapat mengguncang bukan saja hubungan antara Singasari dan Kediri, tetapi bahkan lebih dari itu.” sahutMahisa Murti. “Jika kita mendapat kesempatan, kita akan berbicara dengan ay ah” berkata Mahisa Pukat ”rasa-rasanya tidak bertanggungjawab untuk tidak ikut memikirkan hal ini meskipun kita bukan orang-orang yang  berwenang.” “Tetapi kita adalah orang Singasari yang memang mempunyai kewajiban untuk ikut memelihara kelestarian tegaknya Singasari serta hubungan yang  mantap dengan Kediri” desisMahisa Murti. “Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun bagi Mahisa Pukat, kewajiban itu tidak .terlalu mengikat. Karena itu katanya ”Aku sependapat. Tetapi bukankah kita dapat melakukannya tanpa harus meninggalkan tugas kita di padepokan ini?” “Tentu” jawab Mahisa Murti ”kita dapat melakukannya sebagaimana kita melakukan pekerjaan kita sebelumnya. Tetapi kita tidak perlu harus menjadi petugas sandi di Kediri lagi.” Mahisa Pukat tersenyum. Tetapi ia mulai membayangkan sebuah pengembaraan lagi. Bahkan mungkin ditlatah Kediri sebagaimana pernah dilakukannya. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memutuskan untuk memantapkan kedudukan mereka lebih dahulu. Setidak-tidaknya pengakuan atas kehadiran padepokan mereka secara luas. Lebih dari itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa berkewajiban untuk ikut serta ber sama-sama dengan Kabuyutan-kabuyutan disekitar padepokannya untuk menjadikan lingkungan menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Mudah-mudahan tidak ada lagi pertentangan dan benturan kekuatan yang banyakmeny ita tenaga, pikiran, harta benda dan bahkan jiwa” berkata Mahisa Murti. “Ya. Dengan demikian kita mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu yang lebih berarti bagi kesejahteraan hidup kita, Padepokan kita dan sesama kita” sahutMahisa Pukat. Demikianlah,maka di saat-saat terakhir, Padepokan Bajra Seta telah memperluas hubungannya dengan padukuhanpadukuhan, Kabuyutan-kabuyutan dan lingkungan yang semakin luas. Bahkan pengaruh Padepokan Bajra Seta telah meluas sampai ke Kabuyutan Bumiagara. Kabuyutan Sembaga dan Kabuyutan-kabuyutan lain yang  merasakan manfaatnya berhubungan dengan padepokan Bajra Seta. Sementara itu lingkungan pengaruh Bajra Seta itupun nampak menjadi semakin luas. Sawahpun nampak hijau sepanjang musim karena telah dibangun beberapa buah bendungan dan berpuluh-puluh susukan dan anak susukan. Beratus-ratus patok parityangmembelah kota -kota persawahan serta ladang yang semula kering dimusim panas. Dengan demikian lembahpun menjadi hijau seperti permadani yang  dibentangkan dari cakrawala sampai ke cakrawala. Sedangkan lereng-lereng bukitpun telah digarap pula, sehingga menjadi hijau oleh rimbunnya hutan yang memanjat gunung. Padepokan Bajra Seta dan lingkungan disekitarnyapun sempat merasakan betapa mereka hidup dalam ketenangan dan ketenteraman serta kedamaian hati. Namun bukan berarti bahwa mereka tidak mau bekerja keras buat meny ongsong masa depanyang  lebih baik. Sementara itu, di Padepokan Bajra Seta, para cantrik dengan tenang sempat menempa diri. Mempelajari berbagai macam ilmu yang akan memberikan arti bagi kehidupan mereka kelak. Bukan hanya ilmu kanuragan, tetapi juga ilmu yang  lain. Mereka mulai mengenal letak dan tabit bintang-bintang dilangit. Mereka mengenal watak musim dalam hubungannya dengan jenis-jenis tanaman yang sesuai. Mereka mengenal jenis serangga yang dapat menjadi kawan dan lawan dalam bercocok tanam. Dalam keadaan yang  demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmerasa rindu kepada keluarganya. Kepada ay ah mereka dan kepada kakakmereka yang  telah menjadi seorang Akuwu. Karena itu, selagi mereka tidak melihat ancaman dan bahaya atas lingkungan hidup mereka, maka keduanyapun berniat untuk pergi ke Singasari,menemui ayah mereka yang sudah semakin tua. Agaknya ay ah mereka sudah malas untuk bepergian jauh, sehingga karena itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatlah yang sebaiknya mengunjunginya. “Ada baiknya kita juga berbicara dengan ay ah tentang Kediri dan perkembangannya” berkata Mahisa Pukat. “Agaknya kitalah yang justru harus menimba keterangan” sahut Mahisa Murti ”selama ini kita seakan-akan telah terpisah dari para prajurit baik dari Singasari maupun Kediri, sehingga kita tidak mendapat keterangan apapun tentang perkembangan terakhir baik di Kediri maupun di Singasari, atau hubungan antara keduanya” “Kita dapat menemui perwira prajurit Singasari yang  datang ber sama prajurit Kediri dari pasukan berkuda itu. Nampaknya perwira itu percaya kepada kita” berkata Mahisa Pukat. ”Ya. Kita dapatmenemuinya di Singasari. Tetapi kita tidak akan tenggelam kedalam persoalan itu” “Kita dapat berbincang dengan ayah” desis Mahisa Pukat kemudian. Demikianlah, keduanya telah merencanakan untuk berkunjung ke Singasari. Mereka hanya pergi berdua saja tanpa membawa Mahisa Amping, Mahisa Semu maupun Wantilan. Mereka bertiga justru diminta untuk ikut serta mengamati perkembangan Padepokan Bajra Seta selama keduanya pergi. Kepada Mahisa Amping, Mahisa Murti berpesan ”Kau tidak boleh lupa dengan tanaman di halaman Padepokan kita. Jika para cantrik lupa atau terlambat menyiram, maka kewajibanmu untuk mengingatkan mereka. Kau juga harus selalu mengamati sanggar dalam, agar tidak menjadi kotor dan nampak tidak terpelihara. Semua alat dan senjata yang  ada harus tetap bersih, karena aku tahu, bahwa kau, Mahisa Semu dan paman Wantilan akan selalu mempergunakannya” Mahisa Amping mengangguk-angguk sambil menjawab ”Aku akan melakukannya dengan baik kakang” “Kau juga tidak boleh lupa memberimakan beberapa ekor burung diserambi sanggar itu” desis Mahisa Pukat. Mahisa Amping, tertawa. Katanya ”Setiap saat aku mempunyai kesempatan, aku selalu melihat burung-burung itu.” Mahisa Pukat terseny um sambil menepuk bahu anak itu. Katanya ”Kami tidak akan terlalu lama berada di Singasari” Tetapi Mahisa Ampinglah yang kemudian tersenyum. Katanya ”Mungkin kakang tidak terlalu lama berada di Singasari. Tetapi perjalanan kembali dari Singasari akan dapat ditempuh dalam waktu yang  berbulan-bulan. Bahkanmungkin bertahon-tahun.- “Tentu tidak” Mahisa Murti terseny um pula” kami tidak sengaja melakukan pengembaraan. Karena itu, seandainya tertunda diperjalanan juga tidak akan terlalu lama. “Aku pernah ikut dalam perjalanan yang pernah kakang lakukan sebelumnya.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertawa. Dengan nada berat Mahisa Murti menjawab ”Tetapi kali ini t idak. Kami berusaha untuk tidak terlalu lama diperjalanan pulang.” Demikianlah, maka setelah mempersiapkan Padepokan Bajra Seta serta berbenah diri seperlunya,maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun telah meninggalkan Padepokan. Menurut Perhitungannya keadaan sudah menjadi semakin baik. Tata kehidupan di Padepokan dan sekitarnyapun telah menjadi semakin tenang, sehingga suasananya memang memungkinkan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan Padepokannya. Tidak ada hambatan apapun disepanjang perjalanan menuju ke. Singasari. Ketika mereka memasuki lingkungan istana Singasari, maka merekapun segera diantar menuju ke tempat tinggal ay ahnya. Ayahnya menerima kedatangan kedua anaknya dengan gembira sekali. Ia memang sudah agak lama merindukannya, sementara ia sendiri sudah merasa malas untuk bepergian agak jauh. Setelah menanyakan keselamatan kedua anaknya serta Padepokan Bajra Seta, maka Mahendrapun berkata ”Aku mendengar dari Arya Kuda Cemani bahwa kau berdua baru sa ja terlibat dalam pertempuran melawan sepasukan prajurit Kediri yang  telah memberontak dan berusaha memeras sebuah Kabuyutan.” ”Siapakah Arya Kuda Cemani itu ayah ?” bertanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hampir berbareng. “Seorang perwira dari prajurit sandi di Singasari yang  waktu itu mengikuti gerak prajurit Kediri dari pasukan berkuda di tlatah Singasari.” jawab Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murtimasih juga bertanya ”Apakah juga yang disebut Raden KudaWereng ?” “Ya” jawab Mahendra ”Arya Kuda Cemani juga disebut Raden Kuda Wereng. Seorang perwira prajurit sandi yang memiliki kemampuan yg sangat tinggi. Arya Kuda Cemani memang digelari Raden Kuda Wereng. Perwira prajurit sandi itu dianggap memiliki Aji Panglimunan, sehingga pada saat tertentu ia dapat menghilang dari pandangan orang kebanyakan.” “Tetapi apakah Arya Kuda Cemani itu benar -benar dapat menghilang ?” bertanya Mahisa Pukat. ”Aku tidak tahu. Tetapi Raden Kuda Wereng itu senang mengenakan pakaian serba hitam. Ia jarang mengenakan perhiasan yang  apalagi berkilat atau bercahaya, sehingga memberikan kesan bahwa ia adalah orang yang  sangat sederhana. Namun dengan demikian ia tidak mudah terlihat didalam kegelapan atau peny amaran diantara semak-semak dan pohon-pohon perdu.” jawab Mahendra. “Jadi tidak mengatakan demikian. Menurut orang banyak, ia memang memiliki Aji Panglimunan, sehingga ia dapat hilang begitu tiba -tiba tanpa memerlukan kesempatan untuk ber sembunyi” berkata Mahendra kemudian. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja menganggukangguk. Meskipun demikian, keduanya memang masih raguragu karena ayahnyapun tidakmengatakannya dengan tegas. Namun dalam pada itu ayahnyapun berkata ”Besok kita akan pergi kerumahnya. ia sudah pernah membicarakan kalian berdua di medan pertempuran di Kabuyutan Bumiagara. Arya Kuda Cemani tentu senangmenerima kedatanganmu.” Demikianlah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat diminta untuk berada di Singasari untuk beberapa hari. Selain mengunjungi beberapa orang yang  pernah mengenal mereka, maka jika ada kesempatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan diajak untukmenghadap Sri Maharaja Singasari. Sebenarnyalah dihari berikutnya, Mahendra telah mengajak kedua anaknya untuk mengunjungi Arya Kuda Cemani. Seorang Senapati prajurit sandi yang  memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Namun Mahendra itupun berkata kepada kedua anaknya” Meskipun ia berilmu tinggi, namun ia adalah seorang pendiam. Tidak banyak katakatanya. Apalagi ia seorang yang  rendah hati. Ia sama sekali tidak mengagungkan kelebihannya serta kedudukannya. Orang yang  belum mengenalnya tentu menganggapnya sebagai seorang kebanyakan. ” Itulah sebabny a ia tidak begitu nampakmenonjol diantara para prajurit-prajurit” berkata Mahisa Murti sambil mengangguk-angguk. ”Meskipun demikian, terpancar juga wibawanya dari sikapnya itu.” “Seutuhnya ia seorang yang baik” desis Mahendra. Demikianlahmaka setelahmelewati jalan-jalan di Kotaraja, maka merekapun sampai kesebuah rumah yang meskipun tidak terlalu besar tetapi nampak ber sih dan teratur. Sejak mereka memasuki regol halaman, mereka sudah melihat, bahwa baik halamannya maupun rumahnya nampak terpelihara dengan rapi. Beberapa jenis pohon bunga tumbuh di sudut-sudut halaman. Kembang soka, arum dalu dan ceplok piring. Disebelah meny ebelah regolpun tumbuh sepa sang pohon kemuning. Ditempat yang  dipagari dekat seketheng sebelah kanan ditanami sekelompok kembangmelati. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandangi halaman rumah itu dengan dada yang terasa sejuk dan segar. Keduanya juga berusaha mengajari cantrikcantrik di Padepokan Bajra Seta untuk mengatur halaman dengan sebaik-baiknya. Namun ternyata bahwa halaman rumah Raden Kuda Wereng itu nampak demikian asri sehingga langsung meny entuh perasaan kedua anakmuda itu. Ketika orang juru taman melihat kedatangan Mahendra dengan kedua orang anaknya, maka juru taman itupun dengan tergesa-gesa meny ongsongnya. ”Kami ingin bertemu dengan Arya Kuda Cemani” berkata Mahendra. “Silahkan naik kependapa, Ki Sanak” jawab juru taman itu aku akan menyampaikannya kepada tuanku, Arya Kuda Cemani. “Katakan kepada Arya Kuda Cemani, bahwa aku adalah Mahendra dengan dua orang anaknya.” pesan Mahendra. “Baik Ki Sanak” juru taman itu mengangguk hormat. Mahendra dengan kedua anaknya menunggu beberapa saat dipendapa sebelum kemudian Arya Kuda Cemani itu keluar dari pintu pringgitan. Kedatangan Mahendra bersama kedua orang anak lakilakinya ternyata disambut gembira oleh Arya Kuda Cemani. Dengan nada tinggi ia berkata ”Aku kira, kedua orang anak muda ini tidak bersedia singgah dirumahku.” “Dengan senang hati kamimempergunakan kesempatan ini untuk singgah dirumah ini” jawab Mahisa Murti sambil mengangguk. “Kami belum mempunyai kesempatan untuk berbicara panjang ketika kami bertemu di Padepokan Bajra Seta dan selanjutnya langsung menuju ke Kabuyutan Bumiagara.” berkata Arya Kuda Cemani kemudian. Lalu katanya kepada Mahendra ”Aku hanya sempat berbicara beberapa kali dengan kdua anak laki-laki Ki Mahendra. Sehingga agaknya akumasih ingin berbicara lebih panjang lagi. Ma sih ada beberapa hal yang belum sempat aku katakan kepada mereka berdua.” “ Itulah sebabnya, aku membawanya kemari. Biarlah Raden sempat berbicara apa saja yang  masih ter sisa.” desis Mahendra. Raden KudaWereng y g juga bergelar Arya Kuda Cemani itu tersenyum. Katanya ”Aku telah mendengar banyak tentang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Seorang Senapati, yang pernah berada di Padepokan Bajra Seta pernah berceritera tentang keduanya. Ternyata dalam usianya yang masih sangat muda itu, keduamemiliki ilmu yang  sangat tinggi.” “Ah, Raden terlalu memuji mereka. Keduanya sebenarnya tidakmempunyai kelebihan apa-apa.” sahut Mahendra. “Ki Mahendra memang seorang yang  suka merendahkan diri. Tetapi sebenarnyalah bahwa kedua anak muda yang memimpin sebuah padepokan itu memiliki kelebihan yang berjarak sangat jauh dengan anak-anak muda sebay anya. Meskipun di Kabuyutan Bumiagara aku tidakmelihat sesuatu yang mencuat dari kemampuan para prajurit, namun banyak orang yang  telah membicarakan kalian berdua terutama ketika sekelompok prajurit Kediri yang memberontak itu datang ke Padepokan Bajra Seta yang membuat mereka justru mendendam kepada Kabuyutan Bumiagara, karena mereka menganggap bahwa Kabuyutan Bumiagara telah menjerumuskan mereka kedalam bencana. Karena itu, maka mereka datang kembali ke Bumiagara untuk memeras Kabuyutan itu sehingga menjadi kering. Namun usaha itupun telah gagal pula, karena para petugas sandi Kediri yang bekerja sama dengan petugas sandi Singasari dapat menelusuri jejak para prajurit Kediri yang melawan kebijaksanaan Senapati Agung mereka. Namun karena ternyata ada yang  luput dari pengamatan para petugas sandi dan baru disadari kemudian, maka para prajurit Kediri yang  memberontak itu datang ke Padepokan Bajra Seta.” “Padepokan kami juga pernah diselamatkan oleh prajurit Singasari ketika prajurit Kediri yang memberontak itu datang ke Padepokan kami.” jawab Mahisa Murti. Raden Kuda Wereng itu tertawa, katanya ”Sebenarnyalah Padepokan Bajra Seta adalah sebuah padepokan yang mempunyai banyak kelebihan dari padepokan-padepokan yanc lain. Bukan hanya pada segi oleh kanuragan, tetapi para cantrik, dari Padepokan itu mempunyai kelebihan pula dalam ilmu -ilmu yang lain. Bahkan ilmu perbintangan.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukata hanya tersenyum saja. Namun ketika Mahendra akan menjawab, maka pembicaraan merekapun telah terputus. Dari pintu pringgitan seorang gadis keluar sambil membawa hidangan. Minuman hangat dan beberapa potongma kanan. Diluar sadarnya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandangi wajah gadis itu dengan tajamnya. Bahkan hampir tidak berkedip. Namun tiba-tiba keduanya menunduk ketika Raden Kuda Wereng itu berkata ”Anakku perempuan satu -satunya. Dua anakku yang lain adalah laki-laki.” Yang menyahut kemudian adalah Mahendra ”Siapakah namanya?” Raden Kuda Wereng menarik nafas panjang. Iapun kemudian berkata kepada anak gadisny a ”Pamanmu Mahendra ingin tahu, siapa namamu.” Tetapi gadis itu justru tersipu-sipu. Bahkan setelah meletakkan hidangan bagi tamu-tamunya iapun tergesa -gesa meninggalkan pendapa dan masuk kembali ke ruang dalam. Raden Kuda Wereng hanya terseny um saja. Namun kemudian katanya ”Anakku memang pemalu. Ia tidak terbia sa berhubungan dengan orang lain kecuali keluarganya sendiri. Apalagi ibunya memang lebih senang anak gadisnya selalu tinggal di rumah.” “Bukankah hal yang  wajar sekali ?” sahut Mahendra ”namun karena aku tidak mempunyai anak perempuan,maka aku tidak pernah menaruh perhatian berlebihan terhadap anak-anakku. Apalagi setelahmereka menjadi dewasa.” “Tetapi Ki Mahendra telah berhasil mengantarkan anakanak Ki Mahendra pada satu keadaan yang  mantap. Mereka menjadi anak-anak yang mapan. Bukan saja memiliki pengetahuan yang cukup, tetapi mereka juga dibekali dengan sifat dan watak yang baik.” berkata Raden KudaWereng. “Raden telahmemuji lagi” desisMahendra. “Bukan sekedar memuji” jawabRaden KudaWereng ”tetapi bukankah anak laki-laki Ki Mahendra yang tertua menjadi Akuwu di Sangling dan dua yang  lain telah berhasil mendirikan sebuah padepokanyang  terkemuka. Papokan yang masih muda, dipimpin oleh orang-orang yang  masih sangat muda pula, tetapi nama serta pengaruhnya telah menjadi cukup luas. Bahkan telah mendapat perhatian khusus dari Sri Maharaja.” “Tetapi itu bukan satu kelebihan yang  pantas mendapat pujianyang  berlebihan” sahut Mahendra. “Sebenarnyalah aku iri kepada Ki Mahendra” berkata Raden Kuda Wereng ”kedua anakku yang laki-laki tidak memiliki kelebihan apapun juga. Mereka memang telah diterima menjadi calon pfajurit. Tetapi apa yang mereka capai tidak lebih baik dari calon-calon prajurit yang lain. Sebelumnya, ketika keduanya aku serahkan berguru kepada seorang yang  aku anggap memiliki kemampuan yang tinggi, ternyata tidak memenuhi sebagaimana aku harapkan. Karena itu mereka aku tarik kembali dan aku masukkan dalam barak calon prajurit.” “Mereka akan menjadi seorang prajurit yang baik” berkata Mahendfa kemudian. “Mudah-mudahan.” Raden Kuda Wereng menganggukangguk ”meskipun mereka tidak menjadi seorang prajurit pilihan, asal mereka menjadi prajurit yang  baik, itu sudah cukup bagiku.” Sementara itu Mahis Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat langsung ikut berbicara justru karena Raden Kuda Wereng sedangmemperbandingkan kedua anaknya dengan mereka. Namun beberapa saat kemudian. Raden KudaWereng telah mengalihkan pembicaraanmereka. Senapati itu telah bertanya berbagai hal tentang padepokan Bajra Seta.Namun masih juga sekali-sekali membayangkan kekecewaannya atas kedua orang anak laki-lakinya. Dalam pada itu, setelah beberapa lama Mahendra berada di rumah Raden Kuda Wereng, maka iapun telah mohon diri. Namun bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, rasa-rasanya mereka baru sesaat saja duduk di pendapa rumah Raden Kuda Wereng. Mereka mengharap anak gadis Raden Kuda Wereng itu keluar lagi dari ruang dalam. Apalagi ikutmenemuimereka di pendapa. “Raden Kuda Wereng tidak meny ebut namanya” berkata kedua orang anakmuda itu di dalam hatinya. Namun ternyata Raden KudaWereng tidakmelepasmereka pergi. Katanya ”Sudah saatnya makan siang. Aku ingin menjamu Ki Mahendra dengan kedua orang anak laki-lakinya makan. Meskipun hanya seadanya.” Mahendra tidak dapat menolak. Karena itu, maka mereka telah menunggu hidangan makan yang  sedang disiapkan oleh isterinya. Raden Kuda Werengpun kemudian telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk masuk ke ruang dalam. Sementara itu ternyata isterinya dan anak gadisnya tengah mempersiapkan makan bagi ketiga orang tamunya itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalamdalam. Ketika kemudian mereka duduk di ruang dalam itu, maka merekapun melihat gadis itu dengan sigapnya membantuk ibunya mengatur mangkuk-mangkuk di atas tikar pandanyang  putih. Ceting nasi dan tenong”tenong kecil berisi lauk pauk serta mangkuk-mangkukminuman. Beberapa saat kemudian, isteri Raden Kuda Wereng itu telah mempersilahkan tamu-tamunya untuk makan. Namun kemudian katanya ”Tetapi maaf, kami tidak dapat mengantarkan kalian makan. Silahkan makan apa adanya.” Keduanya memang segera meninggalkan ruang dalam. Sementara Raden Kuda Werenglah yang  kemudian mempersilahkan ketiganya untukmakan bersamanya. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat kesempatan untuk memperhatikan anak perempuan Raden Kuda Wereng itu lebih seksama. Menurut penilaian keduanya, gadis itu memang seorang gadis yang cantik, tangkas dan nampaknya meskipun anak seoran Senapati yang terpandang di Singasari, namun gadis itu bukan seorang merasa dirinya lebih terhormat dari orang kebanyakan. “Dengan demikian ternyata bahwa anak gadis Raden Kuda Wereng itu telah mendapat perhatian khusus dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sehingga karena itu, maka setelah keduanya pulang dari rumah Raden Kuda Wereng yang juga bernama Arya Kuda Cemani maka diluar sadar kedua anak muda itu telahmempercakapkan gadis itu. Namun Mahisa Pukatpun kemudian berkata ”Tetapi sampai kita pulang, kita belum tahu nama gadis itu” Meskipun perhatian Mahisa Murti tertarik pula kepada gadis itu, tetapi Mahisa Murti tidak begitu terbuka seperti Mahisa Pukat. Mahisa Murti kadang-kadang hanya terseny um sa ja mendengar Mahisa Pukat dengan berterus terangmemuji gadis itu. “Kau pernah melihat gadis secantik itu?” bertanya Mahisa Pukat. Katanya pula ”Sayang, ia seorang pemalu” Mahisa Murti tersenyum. Katanya ”Gadis itu memang pemalu. Tetapi bukankah itu wajar sekali? Gadis itu tidak sepantasnya berbuat lebih dari yang telah dilakukannya” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Nampaknya gadis itu lebih banyak dikurung didalam rumahnya. Tetapi jika demikian, ia tidak akali mengenal orang lain kecuali ay ah, ibu dan saudara-saudaranya sendiri” “ Itu wajar sekali. Tetapi bukan berarti ia tidak mengenal orang lain. Dalam kesempatan-kesempatan tertentu gadisgadis yang dikurung didalam rumahnya dapat berhubungan dengan orang lain. Dalam keramaian-keramaian atau upacaraupacara yang  dapat dihadirinya. Gadis-gadis itu akan bertemu dan bercanda dengan kawan-kawannya yang  dikenalnya sejak sebelum ia menginjak dewasa. Kawan-kawan bermain dimasa kanak-kanak” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba ia bertanya ”Jika demikian, apakah gadis-gadis itu tidak akan pernahmendapat kawan baru selain kawan-kawan lamanya?” “Kesempatan itu selalu ada” jawab Mahisa Murti. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Namun dalam kediamannya, Mahisa Pukat masih saja mengenang gadis anak Raden Kuda Wereng yang disebut-sebutmemilikiAji Panglimunan itu. Ternyata perhatian anak-anaknya terhadap gadis itu tidak luput dari perhatian Mahendra. Sebagai orang tua ia mengerti, bahwa anak-anaknya telah memperhatikan gadis Raden Kuda Wereng itu.Namun ju stru karena itu, timbul kecemasan dihati Mahendra, bahwa anaknya kedua-duanya tertarik pada seorang gadis. “Agaknya aku terlalu berprasangka” berkata Mahendra di dalam hatinya. Namun justru karena itu, maka Mahendra tidak lagi ingin membawa anak-anaknya kerumah Raden KudaWereng. Kecuali memperhitungkan kedua anaknya yang telah dewasa, iapun memperhitungkan derajad Raden Kuda Wereng, seorang Senapati yang  tepandang. Meskipun Mahendra adalah seorang yang juga dihormati di Singasari karena hubungannya yang dekat dengan Sri Maharaja, namun ia bukan seorang yang  memiliki kedudukan sebagaimana Mahisa Agni danWitantra semasa hidupnya. Dengan demikian, Mahendra sama sekali tidak membicarakan lagi kunjungannya kepada Raden Kuda Wereng. Apalagi berbicara tentang niat untuk berkunjung lagi. Sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang berharap bahwa ay ahnya akan mengajaknya lagi berkunjung. Tetapi ternyata sampai mendekati saat mereka kembali ke padepokan, ayahnya tidak membawanya lagi mengunjungi Raden Kuda Wereng. Bahkan seperti yang  dikatakan oleh ay ahnya, keduanya telah dibawa menghadap Sri Baginda ketika merekamendapat kesempatan. Namun yang tidak disangka-sangka telah terjadi. Arya Kuda Cemani telah meny elenggarakan satu keramaian kecil. Arya Kuda Cemani yang merasa sangat bergembira bahwa kedua anaknya yang  menjadi calon prajurit telah benar-benar diterima dan diwisuda menjadi prajurit telah mengundang beberapa orang sanak kadangnya untuk menyatakan kegembiraannya itu. Ternyata diantara mereka yang  diundang adalah Mahendra dengan kedua orang anak laki-lakinya yang sedang berada di Singasari. Mahendra memang menjadi bingung. Seandainya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mendengar langsung utusan yangmengundangmereka,maka Mahendra akanmengatakan, bahwa kedua anaknya sedang bersiap-siap untuk pulang ke Padepokan. Tetapi ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telahmenyatakan kesediaan mereka untuk datang. Dengan demikian maha Mahendra tidakmempunyai alasan untuk tidak datang ke keramaian kecil itu bersama dengan kedua orang anaknya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang ternyata memang menaruh perhatian yang besar sekali atas undangan itu. Sebenarnyalah, bahwa Mahendra dan kedua anaknya benar-benar telah datang sekali lagi berkunjung kerumah Arya Kuda Cemani. Keramaian itu sendiri, meskipun tidak dikunjungi terlalu banyak orang, namun cukup ramai. Kegembiraan benar-benar meliputi semua yang hadir dalam pertemuan itu. Ternyata bahwa keramaian itu telah memperkenalkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan gadis Arya Kuda Cemani. Gadis yang  disangkanya pemalu itu, ternyata pandai juga meny esuaikan dirinya. Bahkan gadis itu cepat menjadi akrab dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ketika gadis itu kemudian menghidangkan suguhan bagi para tamu, maka tanpa diminta Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah ikut membantunya disamping beberapa orang sanak kadang Arya Kuda Cemani yang terdekat. Kemanakankemanakannya dan beberapa orang tetangga. Meskipun isteri Arya Kuda Cemani telah mempersilahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk duduk saja diantara para tamu, namun keduanya ternyatamasih saja tetapmembantu. “Kalian diundang untuk dilayani disini” berkata gadis itu ”bukan untukmelayani.” Tetapi Mahisa Pukat menjawab ”Apa salahnya kami membantu ? Tamu ternyata terlalu banyak bagi beberapa orang sinoman.” Anak perempuan Arya Kuda Cemani hanya ter senyum saja. Dua orang sepupunya, juga gadis sebay anya, ikut juga tersenyum tanpamengucapkan sepatah katapun. Sementara itu, Mahendra duduk tidak terlalu jauh dariArya Kuda Cemani. Ketika hidangan sudah disuguhkan,maka Arya Kuda Cemani telah menyatakan kepentingannya mengadakan keramaian kecil itu. ”Meskipun sederhana, kami ingin mengungkapkan kegembiraan kami.” Arya Kuda Cemani itupun kemudian telah memanggil kedua anak laki-lakinya untuk dihadapkan kepada sanakkadang serta orang-orang terdekat yang  diundang oleh Arya Kuda Cemani. “Mereka telahmenjadi prajurit” berkata Arya Kuda Cemani kemudian dengan bangga. Yang hadir mengangguk-angguk. Sementara itu Mahendrapun berdesis ”Mereka masih sangatmuda.” “Sebenarnya juga tidak” jawab Arya Kuda Cemani ”tentu umurmereka tidak jauh dari anak-anak Ki Mahendra.” Mahendra hanyamengangguk-angguk saja, sementara Arya Kuda Cemaniminta kedua anaknya duduk diantara para tamu untukmengantarkan mereka makan ber sama. Ternyata beberapa kawan dari kedua anak laki-laki Arya Kuda Cemani itu ikut pula dalam pertemuan itu. Mereka ikut bergembira bersama keluarga Arya Kuda Cemani. Namun dalam pada itu, ketika para tamu sedangmenikmati alunan suara gamelan yang  ngerangin, seorang diri kawan kedua anak Arya Kuda Cemani itu berkata ”He, bukankah kau inginmemperkenalkan kami dengan adik perempuanmu ?” Kedua orang anak laki-laki Arya Kuda Cemani itu tersenyum. Yang tertua diantara mereka berkata ”Kau jangan tergesa -gesa. Hidangan masih akan berlanjut. Baru minuman dan makanan. Nanti kita akan disuguhi makan. Adikku ikut menghidangkan suguhan itu bersama-sama dengan anak-anak muda dan gadis-gadisyang lain.” “Aku tahu” jawab kawannya ”aku sudah melihatnya tadi. Biar saja orang lain menghidangkan suguhan itu. Bukan adikmu.” Tetapi kakak yang tertua itu berkata ” Itu sudah menjadi kesenangannya. Duduk sajalah. Kita makan dahulu. Nanti, setelah makan, aku perkenalkan kau dengan adikku dan gadisgadis sepupuku itu. Kita masih mempunyai banyak waktu.” “Sesudah makan pertemuan ini akan bubar. Kami akan kehilangan kesempatan itu.” “Tidak. Setelah makan, tamu-tamu memang akan bubar. Tetapi anak-anakmuda dan gadis-gadis itu tentu akan tinggal untuk memanfaatkan kesempatan ini. Kesempatan yang jarangmereka dapat. Sementara itu, gamelan itu akan dipukul sepanjangmalam.” jawab anak Arya Kuda Cemaniyang muda. Tamu-tamunya mengangguk-angguk. Meskipun mereka agak kecewa tetapimereka tidakmemaksa. Demikianlah, keramaian kecil itu berlangsung sampai jauh malam. Ternyata orang-orang tua itu dengan telaten menikmati suara gamelanyang mengalunkan gending-gending yang kadang-kadang terdengar lembut menyentuh hati. Namun kemudian menghentak keras sesaat. Tetapi kemudian iramanya kembalimenurun. Namun akhirnya anak-anakmuda itu tidak sabar. Katanya ”Kami akan turun dari pendapa. Kami akan berada di serambi gandok. Ajak adikmu kesana. Juga gadis-gadis yang  lain. Bukankah hidangan sudah semuanya disuguhkan ?” Kedua orang anak Arya Kuda Cemani tidak dapatmengelak lagi. Makan memang sudah dihidangkan. Namun nampaknya tamu-tamu masih menikmati irama gamelan. Tetapi dengan demikian, didapur orang menjadi sibuk lagi untuk membuat hidangan berikutnya didini hari. Demikianlah, beberapa orang anak muda yang juga baru diwisuda menjadi prajurit telah turun dari pendapa dan berkumpul di serambi gandok. Kedua orang anak Arya Kuda Cemanipun kemudian telah pergi ke dapur. Karena mereka tidak melihat adik perempuannya maka yang  ter-tuapun bertanya ”Sasi dimana ibu ?” “Untuk apa kau cari adikmu ? Apakah ada yang masih belummendapat hidangan ?” bertanya ibunya. “Tidak ibu. Beberapa orang kawanku, yang  juga diwisuda ber samaku ingin berkenalan dengan Sa si dan gadis-gadis yang lain.Hanya berkenalan saja ibu.” jawab anaknya yang  tertua. Ibunya termangu -mangu sejenak. Namun kemudian katanya ”Anak-anak yang  menghidangkan minuman dan makanan itu sedang beristirahat digladri kanan. Bawa saja kawan-kawanmu kesana. Jangan ajak adikmu kependapa.” “Mereka sudah tidak berada di pendapa. Mereka ada di serambi gandok.” jawab anaknya yang  tertua. Namun ibunya tetap berkata ”Bawa saja kawan-kawanmu masuk ke gladri. Adikmu tidak sendiri disana.” Kedua orang anak Arya Cemani itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian yang muda berkata ”Marilah. Kita ajak mereka ke gladri. Kita justru akan dapat lebih bebas berbicara, bergurau atau apa saja tanpa mengganggu para tamu.” Kedua orang anakmuda itupun kemudian telahmemanggil kawan-kawannya danmembawanya ke gladri sebelah kanan. Ternyata di gladri terdapat beberapa orang yang sedang duduk-duduk sambil bergurau. Mereka adalah anak-anak muda yang  telah membantu menghidangkan suguhan kepada para tamu yang  ada di pendapa. Karena suguhan berikutnya sedang dipersiapkan, maka mereka mendapat kesempatan untuk beristirahat. Karena mereka terdiri dari anak-anak muda,maka kelompok kecil itu telahmenjadi riuh. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang  ada diantara mereka mula-mula merasa canggung. Meskipun umur mereka masih terhitungmuda meskipun agak lebih tua dari anak-anakmuda yang berkumpul itu, namun pengalaman hidup mereka yang luas serta kedudukan mereka di Padepokan Bajra Seta telah membuat mereka agak terpisah dari kehidupan anak-anak muda itu. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk dapatmeny esuaikan dirinya. Namun bagi Sasi, keduanya yang nampak lebih dewasa dari kawan-kawannya itu justru telah menarik perhatiannya. Sasi yang jarang berhubungan dengan orang lain selain keluarganya sendiri itu seakan-akan telah menemukan seorang kawan yang lain dari kawan-kawannya yang  pandai bergurau saja. Namun kedua orang anak Mahendra itu nampak lebih matang dan kadang-kadang sikapnya memang ber sungguh-sungguh. Karena itu, maka Sasi merasa betapa kedua orang anak muda itu memiliki wibawa yang lebih besar dari kawankawannya. Kedatangan kawan-kawan kedua anak Raden KudaWereng itu menambah gladri itu menjadi semakin ramai. Sa silah yang memperkenalkan kedua kakaknya kepada kawan-kawannya yangmasih belummengenalnya. “Kakakku yang tua bernama Kuda Semedi, sedangkanyang  muda namanya Kuda Semeni.” “ Itulah adikku” berkata Kuda Semedi. Lalu katanya ”Nah, sebaiknya kalian juga memperkenalkan diri. Biarlah pertemuan kecil ini menjadi tidak kalah ramainya dengan pertemuan di pendapa. Sebenarnyalah sekelompok kecil anak-anak muda itu telah meramaikan suasanan di rumah Raden Kuda Wereng. Gladri itu memang menjadi semakin ramai tanpa mengganggu para tamu di pendapa. Kawan-kawan kedua anak Arya Kuda Cemani itupun telah berbaur dengan anakanak muda yang  terdiri dari saudara-saudara Sasi dan kawan-kawannya. Namun dalam pada itu, dalam suasana yang  semakin ramai itu, dalam penglihatan mata hati Sasi, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah anakanak muda yang  lain dari anak-anakmuda yang  ada di gladri itu. Bahkan juga kedua kakaknya dan kawan-kawannya yang telah ditetapkanmenjadi prajurit. Karena itu, maka diluar sadarnya, Sasi justru selalu dekat dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ra sa-rasanya keduanya akan dapat melindunginya jika sesuatu terjadi atas mereka. Beberapa orang kawan Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak memperhatikan lagi secara khusus adik Kuda Semedi dan Kuda Semeni itu, karena mereka telah berbicara dengan riuhnya diantara anak-anakmuda dan gadis-gadis yang lain. Tetapi seorang diantara kawan Kuda Semedi dan Kuda Semeni itu merasa terganggu dengan kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Meskipun ia berusaha untuk mendekati Sasi, namun ternyata Sasi tidakmenghiraukannya sama sekali. Karena itulah, maka anak muda itupun berbisik ditelinga Kuda Semedi ”Siapakah kedua orang anakmuda itu ?” Kuda Semedi menggeleng. Katanya ”Aku belum mengenalnya sebelumnya. Diantara sanak-kadang sendiri, memang terdapat tetangga-tetangga kawan Sasi yang belum aku kenal.” Anak muda yang juga telah diwisuda menjadi prajurit itu berkata ”Kuda Semedi. Terus terang, aku tertarik kepada adikmu. Aku datang untukmengenalnya lebih dekat. Beri aku kesempatan.” “Bukankah aku tidak menghalanginya ?” bertanya Kuda Semedi “Tetapi kedua orang anak muda itu. Nampaknya keduanya daripada yang lain. Apakah ada hubungan khusus antara adikmu dengan salah seorang diantaramereka ?” “Tidak. Tentu tidak, karena aku belum pernah melihat mereka berdua sebelumnya. Atau, barangkali hubungan itu terjadi selama aku berada di barak calon prajurit itu.” sahut Kuda Semedi. “Usahakan agar keduanyameninggalkan gladri ini.” berkata kawan Kuda Semedi itu. Wajah Kuda Semedi menegang. Katanya ”Bagaimana hal itu dapat aku lakukan. Aku tidak tahu bagaimana mereka ada disini. Jangan-jangan aku akan membuat persoalan dengan orang yang  kurang aku kenal.” “Terserah caramu. Tetapi bagaimana usahamu agar Sa si meninggalkan kedua anak muda itu.” berkata kawan Kuda Semedi itu. Kuda Semedi memang menjadi agak bingung. Demikian pula Kuda Semeni. Namun keduanya tidak ingin membuat kawannya itu menjadi kecewa. Apalagi kawannya itu adalah anak Senapati yangmemimpin barak barakmereka. Sasi termangu-mangu sejenak. Sementara Kuda Semedipun berkata ”Mungkin ia seorang Pelay an Dalam. Mungkin sekalisekali Sri Baginda pernah berbicara dengan orang itu. Dengan demikian ia merasa seolah-olah Sri Maharaja telah minta nasehat kepadanya. Bahkan ia berkata kepada orang lain, bahwa ia seorang penasehat Sri Baginda.” ”Entahlah” jawab Sasi ”bertanya kepada ayah. Tetapi anak muda itu telah mendapat suguhan di pendapa. Dan aku tidak merasa perlu utnuk mengantarnya ke dapur atau ketempat lain sertamembawa hidangan khusus kepadanya. Tetapi Kuda Semedi itu berkata ”Tolonglah Sasi. Kau tahu bahwa kedudukan ku sebagai prajurit tergantung kepada ay ahnya.” “Jika kau lakukan tugas-tugasmu dengan baik, maka kau tentu tidak akan mengalami kesulitan dengan kedudukanmu itu.” berkata Sasi pula ”jika Senapatipun itu mempersulit kedudukanmu karena sikap anaknya, maka kau dapat mengatakannya kepada ayah. Ayah bukannya orang yang  tidak berkedudukan sama sekali. Apalagi anak muda itu juga menyangkutkan ayahnya dalam persoalan yang  seharusnya kalian selesaikan sendiri.” “Tetapi hal seperti itu memang sering terjadi Sa si” berkata Kuda Semeni ”jika kau mau membantu kami sedikit saja, maka kita tidak usah membawa -bawa nama ayah dalam persoalanyang kecil ini, Kau mengerti ?” Sasi termangu-mangu. Namun katanya kemudian ”Aku akan membantumu. Tetapi aku hanya akan menghidangkan suguhan itu saja. Kemudian kalian berdua mengawaninya makan. Aku harus menemui saudara-saudara dan kawankawan kita yang  telah membantu menghidangkan suguhan itu.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Kuda Semedi berkata ”Baiklah. Aku akan mengatakan kepadanya. Kau tunggu di pintu serambi.” Kuda Semedipun kemudian telah memberi isy arat kepada kawannya sementara Kuda Semeni telah membawa Sasi keluar pintu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang termangumangnu melihat Sasi menunggalkan ruangan itu. Tetapi mereka tidak dapat mencegahnya. Apalagi anak-anak muda yang duduk disebelah-meny ebelahnya masih saja berbicara kepadanya tanpa menghiraukan Sa si yang  telah pergi. Demikian pula beberapa orang gadis saudara-saudara dan kawan-kawan Sasi. Demikianlah, Sasi telah mempersilahkan Lembu Atak untuk pergi ke serambi belakang dan duduk di atas tikar pandanyang putihyang  bergaris biru, hijau dan merahs Ketika Sasi pergi ke dapur mengambil hidangan, maka Kuda Semedipun berkata ”Aku telah mengatakan bahwa kau masih belum mendapat hidangan, karena itu,maka kau lapar dan inginmakan, tetapi tidak dilihat orang lain.” “Ternyata kau pandai jugamengelabui adikmu.” “Tetapi Sasi tidak percaya. Ia sendiri yang telah menghidangkan makan buatmu di pendapa. Malahan ia berkata bahwa kau telah menggamitnya.” berkata Kuda Semedi. “Aku tidak sengaja meny entuhnya, justru saat aku beringsut ketika ia menghidangkan makan.” jawab Lembu Atak. Namun iapun kemudian bertanya ”Lalu apa lagi alasanmu yang  kau katakan kepada adikmu ?” “Tidak ada. Aku mengatakan terus-terang, bahwa ia ingin mengenalmu lebih dekat.” jawabKuda Semedi. “Dan adikmu tidak berkeberatan ?” bertanya Lembu Atak. “Adikku hanya akan mengambil hidangan buatmu. Kemudian ia akanmempersilahkanmu makan disinimeskipun ia sudah tahu bahwa kau sudah makan.” jawabKuda Semedi. “Buat apa aku makan sendiri disini. Atau barangkali ber sama kalian ?” berkata Lembu Atak sambil bersungut. “Kita menunggu Sasi. Kita akan melihat, apa yang  akan dilakukannya.” desis Kuda Semedi. Lembu Atak tidakmenyahut lagi. Ia menunggu Sasi datang membawa hidangan. Langkahnya telah terdengar memasuki serambi belakang. Sebenarnyalah sejenak kemudian, Sasi memasuki serambi membawa nampan berisi hidangan. Minuman panas, nasi dan lauk-pauknya yang  kemudian diletakkannya didepan Lembu Atak. “Marilah, silahkanmakan. Kakakku berdua akan menemani makan” berkata Sasi sambil bangkit berdiri. “Tunggu” sahut Lembu atak tanpa malu-malu ”kau duduk sa ja disinimenemani akumakan.” “Aku masih akan menemui tamu-tamuku yang ada di gladri” jawab Sasi sambil bergeser menjauh. “Biarlah kakakmu saja menemui tamu-tamu di gladri itu. Bukankah mereka bukan tamu ? Bukankah mereka adalah saudara sepupumu atau bahkan tetangga -tetanggamu ?” berkata Lembu Atak kemudian. “Maaf” berkata Sa si ”aku akan menemui tamu -tamuku yang  jumlahnya jauh lebih banyak dari hanya seorang disini. Apalagi kedua kakakku ada disini pula. Bukankah kau kawan kedua kakakku dibarak prajurit ?” Sasi tidak menunggu lagi. Iapun segera melangkah pergi, sementara Lembu Atak itumemanggil ”Sasi, Sasi.” Sasi memang menoleh. Bahkan mengangkat tangannya. Tetapi ia tidak berhenti. Wajah Lembu Atak menjadi merah. Dengan geram ia berkata kepada Kuda Semedi dan Kuda Semeni ”Kenapa kalian tidak mencegahnya ? Bahkan seakan-akan tidak mempedulikannya ?” “Kami kenal benar watak gadis itu” jawab Kuda Semedi ”jika ia suah berkata tidak, maka kami tidak akan dapat memaksanya. Ia termasuk gadisyang  keraskepala.” “Siapakah kedua orang kawannya itu ?” bertanya Lembu Atak. “Tidak begitu jelas bagiku. Namanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Anak Mahendra, yang menurut Sasi, salah seorang penasehat Sri Maharaja.” jawab Kuda Semedi. “Adikmu telah bermimpi. Atau anak itu telah membohonginya. Hanya ada beberapa orang penasehat di istana.” jawab Lembu Atak. ”Aku juga sudah mengatakannya. Tetapi adikku tidak mau mengerti. Mungkin kawannya itumemang seorang pembual.” “Mulutnyamemang harus disumbat.” geram Lembu Atak. “Kau mau apa ? bertanya Kuda Semedi ”apakah kau akan membuat gaduh pertemuan ini ?” “Tidak” jawab Lembu Atak ”aku belum gila. Ay ahku ada disini pula. Tetapi bukankah mereka akan pulang setelah pertemuan ini selesai ? Jika aku akan membuat perhitungan dengan mereka, tentu tidak dirumah ini dan tentu tidak didepan hidung ayahku. Tetapi di jalan pulang atau dimana sa ja aku dapatmenemukanmereka.” “Tetapi kau juga harus memikirkan Sasi ”berkata Kuda Semeni” ia akan menjadi sangat malu jika terjadi perkelahian karena gadis itu. Seakan-akan telah terjadi semacam rebutan.” “Kenapa Sa si menjadi malu ? Ia dapat menjadi bangga, bahwa dirinya telah diperebutkan oleh anak-anak muda dari lingkungan atas. Bukankah aku anak seorang Senapati ternama di Singasari ? Aku tidak peduli siapakah kedua anak muda itu.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni saling berpandangan sejenak. Namun Kuda Semedipun berkata ”Terserahlah kepadamu. Tetapi kami tidak ikut campur per soalanmu dengan anak-anakmuda itu.” “Jangan cemas. Aku tidak akan membawa-bawa namamu dan nama keluarga disini. Yang penting, persoalanku dengan kedua orang anakmuda itu dapat aku selesaikan dengan cara seorang laki-laki. Mudah-mudahan mereka cukup jantan untukmenanggapi.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni menarik nafas dalamdalam. Tetapi Lembu Atak adalah seorang yang juga keras hati. Apalagi ia sadar sepenuhnya bahwa ay ahnya adalah seorang Senapati yang memiliki wibawa yang  tinggi serta kedudukan yang  kuat. Ia merasa bahwa ia akan dapat ber sandar kepada ayahnya jika ia mengalami kesulitan karena tingkah lakunya. Dengan demikian maka Lembu Atak itu telah mengurungkan niatnya untuk makan karena Sasi tidak mau menemaninya. Karena itu maka iapun berkata kepada Kuda Semedi dan Kuda Semeni ”Aku akan kembali ke pendapa. Mudah-mudahan ayah sudah pulang.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak mencegahnya. Bahkan ketika Kuda Semedi mengantarkan Lembu Atak ke pendapa, Kuda Semeni telah kembali ke gladri menemui kawan-kawannya yang masih bergurau bersama anak-anak muda dan gadis-gadis yang membantu menghidangkan suguhan bagi para tamu. Tetapi ketika mereka mengetahui bahwa Lembu Atak ada di pendapa, maka merekapun telah ikut pergi kependapa pula meskipun sebenarnya mereka masih lebih senang duduk di gladri. Namun demikian mereka berada di pendapa, ternyata Lembu Atak telah menceriterakan kepada kawan-kawannya itu tentang kedua orang anak muda yang  bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Ceriteranya telah ditambah dan dikurangi sehingga menjadi satu ceritera yang  telah menggelitik prajurit-prajurit muda yang  baru saja diwisuda itu. “Apakah mereka tidak tahu, bahwa kami telah melewati sebuah pendadaran yang berat, sehingga kami akan dapat membuatnya menjadi meny esal sepanjang umurnya ?” desis salah seorang diantara para prajuritmuda itu. “Mereka menganggap Sasi telah menjadi hak mereka, sehingga Sasi tidak boleh berhubungan dengan siapapun juga.” berkata Lembu Atak ”bahkan Kuda Semedi dan Kuda Semenipun tidak dapat lagi berbuat sesuatu. Sasi sendiri sebenarnya tidak menginginkan hal itu. Tetapi gadis itu menjadi ketakutan.” ”Kuda Semedi dan Kuda Semeni juga ketakutan ?” bertanya salah seorang diantara prajurit-prajuritmuda itu. “Mereka sama sekali tidak takut” jawab Lembu Atak sambil memandang Kuda Semedi dan Kuda Semeniyang  telah berada di pendapa pula. ”Tetapi Kuda Semedi dan Kuda Semeni telah mencemaskan keadaan adiknya jika adikny a sendiri di rumah, karena Kuda Semedi dan Kuda Semeni akan lebih banyak berada dibarak.” “Bukankah ada ayahnya yang juga seorang Senapati ?” bertanya kawannya yang lain. “Ayahnya adalah seorang Senapati dari prajurit sandi, sehingga tugasnya tidak dapat diperhitungkan waktunya.” jawab Lembu Atak. Lalu katanya pula ”Aku menjadi ka sihan kepadanya.” Kuda Semedi dan Kuda Semenimenjadi bingung. Tetapi ia tahu pasti maksud Lembu Atak yang  membakar hati kawankawannya agarmereka bersedia membantunya. Namun dengan demikian keduanya telah membayangkan bahwa akan terjadi perkelahian diantara anak-anakmuda itu. Seandainya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berani melayani, maka keduanya tentu akan dibuat jera oleh Lembu Atak. Namun itu akan dapat menodai nama prajurit -prajurit muda yang baru saja diwisuda. Tetapi Kuda Semedi dan Kuda Semenimerasa segan untuk memperingatkan Lembu Atak, karena mereka tidak ingin kedudukannyamendapat kesulitan.

Jilid102
KARENA ITU, maka keduanya justru hanya berdiam diri sa ja tanpa berkata apapun juga. Bahkan keduanya terkejut ketika tiba -tiba saja Lembu Atak bertanya kepada mereka ”Bukankah begitu? Dengan gagap Kuda Semedi dan Kuda Semeni menjawab hampir berbareng ”Ya. Begitulah” “Baiklah” berkata seorang kawannya ”kita akan membuat perhitungan. Sebaikny a Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak ikut campur agar Sasi tidak mengalami kesulitan. Jika kedua anak muda itu kemudian justru menjadi gila, maka Sasilah yang akan menjadi sasaran dendamnya.” “Aku akan mencegatnya saat mereka pulang” berkata Lembu Atak dengan garangnya. “Aku sependapat. Tetapi apakah mereka hanya berdua sa ja?” bertanya seorang kawannya. “Aku tidak peduli, dengan siapa saja mereka berjalan pulangmenjelang fajar nanti. Aku akan menantangnya sebagai seorang laki-laki” berkata Lembu Atak kemudian. “Seorang lawan seorang?” bertanya kawannya. “Biarlah mereka berdua. Tetapi jika ternyata mereka membawa banyak kawan, maka aku memerlukan bantuan kalian” geram Lembu Atak itu sambil menghentakkan tangannya. Katanya pula ”Aku akan menghancurkan mereka berdua sehingga mereka tidak akan dapat mengganggu Sasi lagi dengan cara apapun juga.” Ternyata kawan-kawannya sependapat. Namun mereka telah minta agar Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak ikut ber samamereka. Kuda Semedi dan Kuda Semenimemangmerasa beruntung bahwa mereka tidak akan dilibatkan dalam perkelahian itu. Namun lembu Atak itu telah minta kepadanya untuk mendapatkan keterangan jalan manakah yang akan mereka lalui jika mereka pulang. Sebenarnyalah Lembu Atak telah pulang mendahului ay ahnya yang masih duduk di pendapa sambil mendengarkan suara gamelan dan menikmati hidangan panas yang telah disuguhkan untuk melawan udara yang  mulai terasa dingin. Namun ay ah Lembu Atak itu tidak tahu bahwa anaknya tengah merencanakan satu langkah awal yang salah bagi seorang prajurit muda yang  baru saja diwisuda. Ia hanya melihat anaknya itu meninggalkan pendapa untuk kedua kalinya ber sama beberapa orang kawannya. Sementara itu Kuda Semedi dan Kuda Semeni menjadi bingung, apa yang  sebaikny a dilakukannya. Dengan nada cemas, Kuda Semedi berkata ”Kedua anak muda itu sama sekali tidak bersalah. Apakah kita akan membiarkan Lembu Atak mengambil tindakan atas1 mereka, sementara kedua anak muda itu tidak tahu sama sekali persoalannya.” “Kita akan memberi-tahukan kepada mereka, agar mereka mengambil jalan lain” sahut Kuda Semeni. Kakaknya mengangguk-angguk. Katanya ”Satu-satunya jalan. Marilah kita berbicara dengan anak itu. Mereka baru sa jamembantumenghidangkan suguhan ber sama Sasi.” Keduanyapun kemudian pergi ke pringgitan. Namun mereka menjadi ragu-ragu untuk mengatakannya. Jika Sasi mendengarnya maka ia tentu akan menjadi sangat marah karean ia akan merasa malu sekali bahwa telah terjadi keributan karena dirinya yang  sehari-hari jarang keluar rumah sebagaimana diminta oleh ibunya. Bahkan ibu dan ayah merekapun tentu akan merasa ter sentuh pula akibat peristiwa itu. Bahkan jika terjadi salah paham, maka ibu dan ay ah mereka akan dapatmenyalahkan Sasi. Karena itu maka Kuda Semedipun berkata ”Nanti saja. Kita memperhatikan kapanmereka pulang.” “Kita lihat dahulu ke gadri sebelah kanan” ajak Kuda Semeni. Keduanyapun kemudian bergeser lagi langsung masuk melalui pintu pringgitan dan menyelinap ke gadri sebelah kanan. Ternyata Sa si tidak sedang berada di gadri. Agaknya Sasi masih sibuk di dapur menghidangkan minuman dan makanan bagimereka yang ikutmembantu di dapur. “Kebetulan sekali” desis Kuda Semedi. “Kita bicara kepadanya” sahut Kuda Semeni. “Panggil mereka kemari. Cepat. Tetapi jangan menarik perhatian orang lain.” berkata Kuda Semedi kemudian. Kuda Semenipun segera mendekati Mahisa Murti yang  telah kembali duduk ber sama anak-anak muda dan gadisgadis di gladri. Sambil ter senyum ia berbisik ”Ada sedikit persoalanyang ingin kami bicarakan.” Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun Kuda Semeni segera berakta lebih lanjut ”Tentang hidangan yang terlampaui.” “O” Mahisa Murti tersenyum.Namun Kuda Semeni berkata lebih lanjut ”Kita pergi ke dapur.” Mahisa Murtipun segera bangkit dan mengikut Kuda Semeni. Mahisa Pukat hanya termangu-mangu saja. Sementara itu seorang anak muda bertanya ”Apakah perlu dibantu?” “Tidak” jawab Kuda Semeni ”hanya untuk beberapa orang yang sibuk di belakang. Tetapi biarlah saudaramu ikut pula.” Mahisa Murtimemangmemberikan isy arat kepada Mahisa Pukat untukmengikutinya. “Ketika mereka sudah berada di luar pintu gladri, maka Kuda Semedipun berkata ”Disini saja. Kami memang tidak akan kedapur. Juga tidak berbicara tentang hidangan yang kurang” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Namun Kuda Semedipun kemuian telah berkata berterusterang bahwa Lembu Atak akan menunggu mereka diperjalanan pulang. “Sebaiknya kalian ambil jalan lain. Kemana kalian akan pulang?Apakah benar kalian akan pulang ke istana?” bertanya Kuda Semedi. “Ya” jawab Mahisa Murti ”kami sedang mengunjungi ay ah kamiyang  tinggal dibagian belakang istana” “Siapakah ay ahmu? Apakah benar ay ahmu salah seorang Penasehat Sri Maharaja di Singasari?” “Bukan” jawab Mahisa Murti ”pamankulah yang  dahulu pernah menjadi Penasehat Sri Maharaja. Tetapi pamanku telah meninggal beberapa saat yang lalu. Ayahku memang diminta oleh Sri Maharaja untuk tinggal di istana. Jika sekalisekali ay ahku diperintahkan untuk menghadapi dan berbincang dengan Sri Maharaja belum berarti bahwa ayahku adalah Penasehat Sri Maharaja” “Siapakah nama pamanmu?” bertanya Kuda Semedi. “Mahisa Agni” jawab Mahisa Murti. “Mahisa Agni yang  pernah mendapat tugas mewakili Sri Baginda di Kediri?” bertanya Kuda Semedi. “Ya. Kemudian pamanku yang kedua adalah Witantra” jawab Mahisa Pukat. “Juga pernah mendapat jabatan yang sama di Kediri” desis Kuda Semeni. “Darimana kau tahu?” bertanyaMahisa Pukat. “Ayah pernah berbicara tentang kedua orang itu. Ketika kami menjadi calon prajurit, kami mendapat sedikit pengetahuan tentang orang-orang penting di Singasari” jawab KudaSemedi. “Baiklah” berkata Mahisa Murti kemudian ”nanti, aku akan mengambil jalan lain menuju keistana. Mudah-mudahan kami tidak berjumpa” Kuda Semedi dan Kuda Semenipun mengangguk-angguk. Katanya, ”Hati-hatilah. Kawanku itu adalah anak Senapati yang memimpin kesatuanku. Aku memang menjadi segan kepadanya” “Terima kasih. Kami akan berhati-hati” jawab Mahisa Murti. ”Kami memang tidak memiliki kemampuan untuk berkelahi” “Apakah kau bersama ayahmu?” bertanya Kuda Semeni “Ya” jawab Mahisa Murti. “Jika ia adik Mahisa Agni dan Witantra, maka ia adalah seorang yang  berilmu sangat tinggi” Tetapi Mahisa Murti menggeleng. Katanya ”Ayahku memang tidak sebagaimana kedua pamanku. Ayahku bukan seorang yang  berilmu. Ayahku termasuk seorang yang malas di masa mudanya” “Tetapi bahwa ayahmu telah dipanggil dan tinggal pula diistana tentu ada kelebihan apapun pada ayahmu itu” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun Mahisa Murtipun berkata ”Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Aku nanti akan mengajak ay ah untuk beralih jalan, agar kami tidak bertemu dengan Lembu Atak” “Baiklah. Kembalilah ke tempatmu” berkata Kuda Semedi ”tetapi ingat, Sasi jangan sampai mendengarnya agar ia tidak tersinggung karenanya. Anak itu tidak tahu apa -apa, sebagaimana kalian berdua juga tidak tahu apa-apa” Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah kembali ketempat duduknya. Namun bagaimanapun juga niat Lembu Atak dan beberapa kawannya itu telah membuat Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmenjadi berdebar-debar. Pertemuan yang meskipun sederhana namun meriah itupun masih berlangsung. Gamelan masih juga melagukan tembang ngerangin. Semakin jauh malam menjelang dini, maka suara gamelan itumenjadi semakin ngelangut. Namun ketika tengah malam telah lama lewat, maka para tamupun menjadi letih. Minuman hangat dan makanan menjelang dini mampu menahan mereka beberapa saat. Tetapi kemudian, seorang demi seorang telah minta diri meninggalkan pertemuan itu. Mahendrapun tidak ketinggalan. Iapun kemudian telah minta diri pula. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dipanggil pula karena keduanya masih berada di gadri. Sementara itu Kuda Semedi masih sempat mengingatkannya ”Ambil jalan lain. Karena sebenarnyalah, demikian marahnya Lembu Atak kepada kalian.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih sempat minta diri kepada Sasi dan anak-anakmuda serta gadis-gadisyang  ada di gadrai itu. Namun sejenak kemudian, iapun telah meninggalkan rumah Arya Kuda Cemani ber sama ayahnya. Diperjalanan kembali ke istana itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menceriterakan pesan Kuda Semedi dan Kuda Semeni. Dengan nada rendah Mahisa Murtipun kemudian berkata ”Sebaiknya kita memangmemilih jalan lain ay ah. Bukan jalanyang bia sa dilewatimenuju ke istana” “Baiklah” berkata Mahendra ”kita memang harus mengambil jalan lain. Kita harus menghindari benturan kekerasan dalam persoalan seperti yang  kalian hadapi itu. Untunglah Kuda Semedi dan Kuda Semeni sempat memberitahukan kepada kalian.” Seperti yang mereka sepakati maka Mahendra dan kedua orang anaknya telah memilih jalan yang melingkar. Memang agak jauh, tetapi dengan demikian maka mereka memperhitungkan tidak akan bertemu dengan Lembu Atak. Namun dugaan mereka keliru. Ternyata Lembu Atak tidak menunggu mereka lewat. Tetapi mereka menunggu diujung jalan padukuhan sehingga ketika mereka berbelok lewat jalan yang diperhitungkan tidak akan diamati oleh Lembu Atak dan kawan-kawannya, ternyatamereka keliru. Ternyata Lembu Atak yang  bersembuny i diujung jalan, telah mengikutimereka yang memilih jalanmelingkar. “Mereka memang bodoh” desis Lembu Atak kepada seorang kawannya ”mereka memilih jalan yang sepi. Bahkan lewat bulak meskipun tidak terlalu panjang. Tetapi kita mendapat kesempatan lebih luas untuk membuat mereka jera di bulak itu tanpa diganggu oleh orang lain.” “Mereka akan meny esal. Tetapi kenapa mereka memilih jalan itu” bertanya seorang kawannya ”apakah mereka mengetahui bahwa kita akan menunggumereka ?” Lembu Atakmengerutkan keningnya. Katanya ”Tentu Sa si telah menceriterakan apa yang aku lakukan kepada kedua orang anakmuda itu. Sehinggamerekamenjadi ketakutan dan memilih jalan yang  tidak seharusny a dilalui. Mereka tentu sudah mengira bahwa aku menjadi marah karena sikap Sasi. Dan itu membuatmerekamenjadi ketakutan, sehingga mereka telah memilih jalan lain.” Kawan-kawannya tertawa. Sementara itu Mahendra, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah hampir memasuki bulak yang sepi dan jarang dilalui orang dimalam hari. Karena itulah, maka Lembu Atakpun telah mempercepat langkah mereka, sehingga jarak diantara mereka dengan Mahendra dan kedua orang anaknyamenjadi semakin pendek. Namun dalam pada itu, baik Mahendra maupun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengetahui bahwa beberapa orang tengah mengikutinya meskipun jaraknya masih belum terlampau dekat. Ketajaman pendengaran dan penglihatan mereka telah memungkinkan mereka mendengar dan melihat dalam keremangan dini hari, beberapa orang mengendapendapmengikutimereka. “Kita sudah mencoba untuk menghindari pertengkaran” berkata Mahendra ”tetapi ternyata kita tidak berhasil. Mereka ternyata cerdik juga, sehingga mereka sempatmengikuti jalan yang kita anggap aman.” “Apa boleh buat” desis Mahisa Pukat. “Kita masih akan mencoba menghindari kekerasan” desis Mahendra ”perkelahian tidak akanmenguntungkan kita.” “Bukan kita yang mendahuluinya” jawab Mahisa Pukat. “Jadi, apakah anak seorang Senapati dapat berbuat sekehendak hatinya ? Senapati itu sendiri tidak boleh berbuat sekehendak hatinya serta menyalah gunakan jabatannya. Apalagi anaknya.” sahut Mahisa Pukat pula. Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Anaknyapun masih muda sehingga darahnya masih hangat sebagaimana anakanakmuda yang mengikutimereka itu. Dalam pada itu, ketika mereka sudah berada ditengahtengah bulak yang sepi, maka Lembu Atakpun segera menyusul Mahendra dan kedua orang anaknya. Dengan keras Lembu Atak berkata ”Berhenti kau anak-anak yang tidak tahu diri.” Yang pertama berhenti dan berbalik menghadap ke arah anak-anakmuda yang mengikutinya itu adalah Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukatmasih saja berdiam diri. Lembu Ataklah yang  paling dahulu mendekati ketiga orang yangmenunggunya dengan termangu -mangu. “Apakah kau bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ?” bertanya Lembu Atak sambil bertolak pinggang. “Ya” Mahisa Pukatlah yang menjawab sambil melangkah selangkahmaju ”untuk apa kaumenyusul kami ?” “Ternyata kau seorang yang sangat sombong” geram Lembu Atak ”Agaknya kau belum mengenal aku atau Sasi telah mengatakan kepadamu siapa aku ?” “Ya. Aku tahu siapa kau. Tidak ada yang  memberitahukan kepadaku, siapakah kau. Tetapi aku tahu bahwa kau adalah anak seorang Senapati yangmemimpin kesatuanmu yang juga kesatuan Kuda Semedi dan Kuda Semeni, kakak Sasi.” jawab Mahisa Pukat. “Setan kau” Lembu Atak semakin marah melihat sikap Mahisa Pukat. Namun Mahendra segera melangkah maju sambil berkata ”Keduanya adalah anak-anakku ngger. Apakah ada persoalan yang  perlu dibicarakan sehingga angger telah menyusul kami bertiga ? Atau barangkali ada sesuatu yang dapat kami bantu ?” “Kaukah yang bernama Mahendra dan mengaku penasehat Sri Maharaja di Singasari ?” bertanya Lembu Atak. “Sama sekali bukan ngger. Aku bukan penasehat Sri Maharaja di Singasari. Aku tidak lebih dari seorang Pelay an Dalam.” “Aku sudah menduga bahwa kau tentu seorang Pelay an Dalam.” geram Lembu Atak. Lalu katanya ”Nah, sekarang aku minta kedua orang anakmu jangan berani mengganggu Sasi lagi. Gadis itu merasa selalu dibayang i oleh ketakutan karena tingkah kedua orang anakmu itu” berkata Lembu Atak pula. “Apa yangmereka lakukan ?” bertanya Mahendra. Wajah Lembu Atak menjadi tegang. Katanya ”Tanyakan kepada anak-anakmu, bagaimana iamenakut-nakuti Sasi.” “Anakku baru saja mengenal gadis itu, jika yang  kau maksud adalah anak perempuan Arya Kuda Cemani.” jawab Mahendra ”adalah mustahil bahwa anak-anakku telah sempat menakut-nakuti gadis itu.” Lembu Atak memang menjadi agak bingung. Namun kemudian katanya ”Aku tidak peduli. Yang penting, kedua anakmu tidak boleh lagimendekati Sasi” “Apakah hakmu melarang ?” tiba -tiba saja Mahisa Pukat yang hampir tidak dapatmenahan kemarahannya bertanya. ”Persetan kau” geram Lembu Atak ”jika kau berani bertanya lagi, apalagi dengan kasar seperti itu,maka aku pilin lehermu sampai patah.” “Sudahlah anak muda” Mahendra berusaha untuk menengahi ”kau tidak usah memikirkan anak-anakku. Besok atau lusa,mereka sudah akanmeninggalkan Kotaraja.” “Kemana ?” bertanya Lembu Atak. “Mereka selama ini tinggal disebuah Padepokan yang  jauh. Jika mereka kembali ke padepokan, maka untuk waktu yang agak lama mereka tidak akan muncul lagi di Kotaraja ini. Karena itu, lupakan saja mereka. Mereka tidak akan melihat dan apalagi bercakap-cakap dengan gadis yang  kau sebut Sasi itu. Lebih-lebihmenakut-nakutinya.” bertanyaMahendra. Lembu Atak termangu-mangu sejenak. Namun nampaknya sikap Mahisa Pukat sangatmenjengkelkannya. Anakmuda itu sama sekali tidakmenunjukkan perasaan takut. Sebenarnyalah Mahisa Pukat biasanya tidak terlalu mudah tersinggung. Darahnya memang lebih panas dari Mahisa Murti. Tetapi ia lebih banyak menyadari bahwa pertengkaran sebaiknya dihindarinya. Apalagi perkelahian, justru karena ilmunya telahmenjadi semakinmatang. Namun ketika tiba -tiba saja ia dihadapan pada persoalan seorang gadisyang  telah mengetarkan jantungnya,maka rasarasanya kemarahannya begitumudah tergugah. Karena itu,maka tidak sebagaimana biasanya ia merendah, maka saat itu, darahpun terasa cepat menjadi panas. Seperti Lembu Atak, maka timbul pula niat Mahisa Pukat untuk membuat anakmuda itu menjadi jera. Karena itu, ketika ay ahnya mengajaknya meninggalkan tempat itu, hampir diluar sadarnya Mahisa Pukat berkata ”Sasi mempunyai hak untuk berbuat sesuai dengan nuraninya. Juga dalam hal memilih kawan. Tetapi jika tadi kau sebut aku menakut-nakutinya maka aku menganggap bahwa kau telah mencobamemfitnah.” Wajah Lembu Atakmenjadi merah. Ia hampir melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk pergi bersama ayahnya. Tetapi kata Mahisa Pukat itu telah membuat telinganya menjadi panas. Karena itu maka iapun berkata kasar ”Kau ingin mulutmu aku koy akkan ? Kau harusmenyadari dengan siapa kau berhadapan. Aku telah mengalami latihan-latihan yang berat sebagai calon prajurit. Kemudian mengalami pendadaran yang hampir tidak masuk akal. Tetapi aku dapat melampauinya sehingga aku dapat diwisuda menjadi seorang prajurit. Nah, jika kau seorang anak yang sombong,maka kau akan sangatmeny esal.” Tetapi Mahisa Pukat masih menyahut ”Bukan karena kau seorang prajurit yang  memiliki ilmu yang  tinggi yang membuatmu besar kepala. Tetapi kau sadar sesadar-sadarnya bahwa ayahmu adalah seorang Senapati. Kau akan selalu ber sandar kepadanya jika kau mengalami kesulitan. Tetapi nampaknya kau akan kecewa. Jika ayahmu benar-benar seorang Senapati, maka kau justru akan ditangkapnya sendiri karena tingkahmu ini.” “Sudahlah” berkata Mahendra memotong ”marilah. Kita tinggalkan tempat ini.” Namun Lembu Ataklah yang  kemudian tidak mau melepaskannya. Katanya ”Anak itu harus mendapat pelajaran agar ia menjadi jera. Kecuali jika ia bersedia minta maaf kepadaku.” Tetapi sebelum Mahendra memerintahkan kepadanya untuk melakukannya, maka Mahisa Pukat telah mendahului ”Aku tidak merasa bersalah. Kalianlah yang  menyusul kami dan membuat perkara ini. Karena itu, aku tidak akan minta maaf.” “Sudahlah Pukat, sudahlah” potong Mahendra ”apa salahnya kau mintamaaf dan kita pulang dengan tenang.” “Aku dan Mahisa Murti tidak bersalah ayah. Kenapa aku harusmintamaaf.” Mahisa Pukatmasihmengelak. “Murti. Kenapa kau hanya berdiam diri saja ?” bertanya ay ahnya sementara Mahisa Murti justru menjadi bingung. Ia tidak dapat menyalahkan Mahisa Pukat meskipun dengan demikian akan dapatmenghindar, benturan kekerasan. Tetapi harga diri Mahisa Pukat sebagai seorang laki-laki akan direndahkan. Apalagi landasan persoalannya adalah tentang seorang gadis. “Apakah kau dapatmembantu aku, Murti?” desak ayahnya. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Sebaiknya kita saling memaafkan saja. Tidak ada yang  salah diantara kita semuanya. Mungkin hanya sekedar salah paham. Bagaimanapun juga Sa si adalah seorang pribadi yangmandiri. Biarlah ia menentukan sikapnya. Sudah tentu tidak dilandasi ketakutan atau semacam terpaksa untuk menentukan satu sikap. Karena sebenarnyalah satu kemungkinan bahwa mulai besuk Sa si tidak akan mau bertemu kita lagi karena yang  kita lakukan ini telah menyinggung perasaannya sebagai seorang gadis.” Sebenarnyalah bahwa Lembu Atak tersentuh juga oleh kata-kata Mahisa Murti. Mereka yang bertengkar itu sama sekali tidak mengetahui sikap Sasi yang  sebenarnya. Namun menurut penglihatan Lembu Atak, hubungan Sasi dengan kedua orang anakmuda itu terlalu akrab sehingga ia tidakmau meninggalkan mereka dan duduk bersamanya saat Lembu Atak ituminta dihidangkanmakan khususbaginya. Bahkan hatinya yang sudah mulai mendingin itu tiba-tiba telah menjadi panas kembali. Katanya dengan nada tinggi ”Kau jangan mencoba membekukan per soalan ini. Per soalan yang akan aku selesaikan dengan caraku. Cara seorang lakilaki.- Dalam pada itu, Mahendra mencoba menengahinya lagi ”Sudahlah ngger. Seperti yang  sudah aku katakan, besok atau lusa anak”anakku itu akan kembali ke padepokannya. Karena itu, biarlah persoalan yang  kalian bicarakan ini dianggap selesai.” “Tidak” bentak Lembu Atak ”persoalan baru aku anggap selesai jika anak-anakmu minta maaf kepadaku.” Mahisa Pukatlah yang  menyahut dengan serta -merta ”Kami tidak ber salah. Karena itu, kami tidak akan mintamaaf.” “Kaumenantang aku ?” geram Lembu Atak. “Tidak. Tetapi jika terpaksa, aku akan melayani” jawab Mahisa Pukatyang darahnyamulaimenjadi panas pula. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Persoalan anakanak muda itu tidak segera dapat diatasinya. Sementara Mahisa Murti tidakmencegahnya dengan tegas. Karena itu, maka katanya ”Aku sudah mencoba melerai persoalan yang timbul diantara kalian. Tetapi ternyata bahwa kalian tidak mau mendengarkan. Karena itu, ter serah kepada kalian. Aku tidak akan ikut campur. Per soalan anak-anak muda yang ingin kalian selesaikan dengan cara anak muda pula meskipun sebenarnya persoalannya sama sekali tidak jelas dan tidak pantas.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmenyadari bahwa ayahnya tidak sependapat dengan cara yang mereka tempuh. Tetapi ia juga memaklumi bahwa kedua anaknya sedang mempertahankan harga diriny a. Meskipun tidak ada Sasi, tetapi seakan-akan mereka ingin menunjukkan kepada gadis itu, bahwa harga diri mereka tidak mau direndahkan oleh siapapun juga. Mahendra y g tidak sependapat dengan apa yang terjadi itu benar-benar akan meninggalkan tempat itu kembali ke istana. Dibiarkannya kedua orang anak laki-lakinya menyelesaikan persoalan mereka. Apalagi Mahendra sudah terlalu bia sa membiarkan anak-anaknya menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Bahkan termasuk persoalan yang  rumit sekalipun dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Apalagi persoalan yang dihadapinya itu sekedar per soalan antara anak-anak muda. Itupun tidak jelas ujung pangkalnya. Meskipun Mahendra sadar, bahwa persoalan kecil itu akan dapat membengkak jika Lembu Atak meny eret ayahnya kedalam persoalan itu. Apalagi jika ia menanggapinya tanpa menilai kebenarannya lebih dahulu. Lembu Atak sejenak termangu-mangu. Bahkan ia mengira bahwa Mahendra tentu akan melaporkan peristiwa itu kepada para prajurit yang  bertugas. Karena itu, maka iapun segera berkata kepada kawan-kawannya ”Cegah orang itu meninggalkan tempat ini.” Mahendra yang  baru melangkah satu dua langkah memang terkejut. Sebelum ada orang yang  mencegahnya ia sudah melangkah kembali sambil bertanya ”Kenapa aku tidak boleh pergi ?” “Kau akan melaporkan peristiwa ini sehingga para prajurit akan mencegahnya” jawab Lembu Atak. ' “Tidak. Aku akan membiarkan kalian meny elesaikan persoalan kalian sendiri. Sudah aku katakan, aku tidak akan turut campur. Apapunyang terjadi.” berkata Mahendra. Tetapi Lembu Atakmenyahut dengan kasar ”Persetan. Kau harus melihat bagaimana anakmu akan menuai tanamannya sendiri.” Mahendra yang  sudah menjadi semakin tua itu menarik nafas dalam-dalam. Sikap anak muda itu meny inggung perasaannya. Tetapi ia masih menahan diri. Katanya ”Baiklah. Aku tidak akan pergi. Aku akanmelihat, apa yang terjadi.” “Bagus” berkata Lembu Atak. Lalu katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ”Marilah. Aku persilah-kan kalian berdua bersiap. Aku akan menyelesaikan kalian berdua ber sama-sama.- Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata ”Biarlah aku sendiri yang  akan turun ke arena melayanimu. Aku ingin tahu, apakah seorang prajurit muda yang baru saja diwisuda memiliki ilmu yang  tinggi sehingga dengan sombongnya telah menantang kami berdua bersama-sama, karena sebenarnyalah aku sangatmeragukannya.” “Kau terlalu sombong untuk berani menghadapi aku seorang diri.” geram Lembu Atak. Mahisa Pukat tidak menjawab lagi. Tetapi iapun segera maju mendekati Lembu Atak yang  terheran-heran. Sikap Mahisa Pukat sangat menyakinkan. Tanpa ragu-ragu sama sekali meskipun anak muda itu mengetahui, bahwa yang dihadapirya adalah seorang prajurityang  baru saja diwisuda. “Bersiaplah, aku akan segera mulai” justru Mahisa Pukatlah yang berkata. “Setan kau” geram Lembu Atak sambilmempersiapkan diri. Mahisa Pukatlah yang  kemudian meny erang Lembu Atak itu lebih dahulu.Namun demikian serangannya terayun,maka timbullah kesadaran didalam dirinya, bahwa tidak sepantasnya ia berbuat semena-mena terhadap anakmuda itu. Karena itu, maka timbullah niat Mahisa Pukat untuk menjajagi kemampuan lawannya lebih dahulu, serta timbul pula niatnyauntuk sekedar meny esuaikan diri. Dengan demikian maka perkelahian antara Mahisa Pukat dan Lembu Atak itupun telah mulai. Keduanya masih berusaha untuk salingmenjajagi. Lembu Atak sebagai seorang prajurit yang  baru diwisuda setelah menempuh pendadaran yang berat, merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Sementara Mahisa Pukat adalah seorang yangmemang telahy akin akan diriny a. Namun demikian, pada saat-saat perkelahian itu dimulai, Mahisa Pukat justru mulai dapatmenguasai dirinya. Meskipun ia tidak pernahmerendahkan lawanyang  bagaimanapun juga, namun Mahisa Pukat juga berniat untuk mengendalikan dirinya apabila lawannya bukan seorang yang berilmu tinggi. Sebenarnyalah lawannya adalah seorang anak muda yang  baru saja menempuh pendadaran dan dianggap mampu menyelesaikannya dengan baik. Namun tidak lebih dari itu. Karena itu, maka Lembu Atak sebenarnya sama sekali bukan lawan Mahisa Pukat. Mahendra mula-mula menjadi cemas melihat keseimbangan ilmu kedua orang anak muda yang sedang berkelahi itu. Meskipun Mahisa Pukat belum menunjukkan kelebihannya, tetapi Mahendra sudah mengetahui tingkat kemajuan ilmu anaknya. Namun Mahendra itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia mulai y akin, bahwa Mahisa Pukat bukannya tidak mampu mengendalikan dirinya, sehingga anak muda itu tidak bertempur dengan sungguh-sungguh dan tidak pula mempergunakan ilmunya yang  tinggi. Namun bagi para prajurit muda itu, yang  nampak oleh mata mereka dalam keremangan malam adalah dua orang yang bertempur dengan sengitnya. Keduanya salingmendesak dan salingmenghindar sehingga keduanya berloncatan dengan tangkasnya. Para prajuritmuda itu mengira bahwa kedua anakmuda itu telah bertempur dalam keseimbangan kemampuan, karena ternyata untuk beberapa lamamasih belum nampak, siapakah yangmulai terdesak dan kehilangan kesempatan. Ketika keringat Lembu Atak telah membasahi pakaiannya, maka anak muda yang  baru saja diwisuda menjadi seorang prajurit itu menjadi semakin gelisah. Kemarahannya seakanakan telahmenjalar sampai kekepalanya. Namun lawannya itu masih belum mampu dikuasainya. Bahkan semakin lama rasarasanya justru menjadi semakin tangkas. Namun pertempuran itu sendiri memang tidak segera selesai. Mahisa Pukat ternyata dengan sengaja tidak segera mengalahkan Lembu, Atak meskipun hal itu dapat saja dilakukan. Perkelahian yang  nampaknya seimbang itu memang telah membuat Lembu Atak menjadi letih. Dengan demikian kemampuannyapun justrumulaimenyusut. Betapapun ia mengerahkan kemampuannya, namun lawannya masih saja mampu mengimbanginya. Mahisa Murti dan Mahendra masih saja berdiri termangumangu menyaksikan bagaimana Mahisa Pukat membiarkan lawannya masih tetap berkelahi meskipun sebenarnya ia akan dapat dengan cepat meny elesaikannya. Bahkan menghancurkan sama sekali. Lembu Atak semakin lama menjadi semakin gelisah. Meskipun sekali dua kali ia berhasil mengenainya, tetapi lawannya itu telah lebih dari lima belas kali dikenai serangan Glagah Putih.Namun tidak dengan sepenuh tenaga. Meskipun demikian serangan-serangan Mahisa Pukat itu telah menyakitinya. Sedangkan serangan-serangan Lembu Atak yang mengenai Mahisa Pukat seakan-akan tidak terasa olehnya. Kawan-kawan Lembu Atak mula-mula masih saja menganggap keduanya berkelahi dalam keadaan seimbang. Namun semakin lama merekapun mengetahui, bahwa Lembu Atak berada dalam kesulitan. Mereka juga melihat bahwa serangan-serangan Lembu Atak yang mengenai lawannya tidak seimbang dengan serangan-serangan lawannya yang mengenainya. Apalagi ketika kekuatan Lembu Atak mulai menyusut. Beberapa kali Lembu Atak terdorong surut. Lembu Atak semakin gelisah pula mengalami kesulitan yang nampaknya sulit untuk diatasi. Karena itu,maka selagi ia masih belum kehabisan tenaga,maka ia harusmeny elamatkan harga dirinya. Karena itu, maka diluar dugaan, tiba-tiba Lembu Atak itu berkata ” Jangan biarkan anak iblis ini melarikan diri. Ia sudah berusaha mencari kesempatan itu. Karena itu,maka kalian harus turun untuk ikut menjaga agar anak itu tidak sempat lari. Awasi juga yang seorang lagi serta ay ahnya sama sekali.” Kawan Lembu Atak itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian sekali lg |gi Lembu Atak berteriak ”Cepat. Jangan terlambat. Ma suklah ke arena” Beberapa orang kawannya tidakmenunggu lagi. Merekapun dengan sertamerta turun kearena. Lima orang bersama-sama, sementara itu empat orang yang lain menjaga Mahisa Murti dan Mahendra agar tidakmelarikan diri. Mahisa Pukat memang meloncat surut. Tetapi ia tidak melarikan diri. Tetapi ia bergeser ketempatyang lebih luas. Mahisa Murti dan ay ahnya bergeser menepi. Tetapimereka masih tetap berdiam diri menghadapi segala kemungkinan. Namun sebelum keempat orang itu berbuat sesuatu, keduanya sama sekali tidak berniat untuk mencampuri perkelahian antara Mahisa Pukatmelawan enam orang prajuritmuda yang baru saja diwisuda. Meskipun demikian Mahisa Murti telah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Ia tahu bahwa ilmu Mahisa Pukat terlalu tinggi bagi para prajurit itu seorang demi seorang. Namun menghadapi enam orang prajuritmuda yang baru lepa s dari pendadaran tentu akan memaksa Mahisa Pukat untukmerambah ke ilmu simpanannya. Apalagi seorang diri mengalahkan enam orang prajurit muda sekaligus, tentu akan sangat menarik perhatian. Terutama bagi para prajurit itu sendiri, sehingga akan dapatmenumbuhkan ceritera yang bukan-bukan. Jika ceritera yang  bukan-bukan itu sampai ke telinga ay ah Lembu Atak, maka persoalannyapun akan berkembang ke arahyang  bukan-bukan. Karena itu, maka Mahisa Murti tidak akan membiarkan Mahisa Pukat meny elesaikan pertempuran itu seorang diri. Ia harus turun ke arena.Namun Mahisa Murtimasih menunggu, apakahyang  akan akan terjadi. Sebenarnyalah Mahisa Pukat menjadi semakin marah ketika enam orang prajurit bertempur bersama melawannya. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah bergerak semakin cepat. Seperti yang  diduga oleh Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat telah mempergunakan tenaga cadangan di dalam dirinya. Dengan tenaga dalam itu, maka ia menjadi semakin garang. Geraknya bertambah cepat dan kekuatannya justru meningkat. Dalam keadaan yang demikian, maka Mahisa Murti telah melangkah maju sambil berkata ”Nah, biarlah aku ikut serta dalam permainan ini.” “Aku dapat meny elesaikannya sendiri” berkata Mahisa Pukat. Mahisa Murti tidak segera menyahut. Tetapi ia berusaha untuk menembus kepungan para prajurit muda itu atas Mahisa Pukat. Baru kemudian iapun berkata ”Kau bukan seorang Senapati prajurit yang  memiliki ilmu sangat tinggi. Kau tidak boleh bertempur seorang diri” Namun kemudian Mahisa Murti berdesis lemah ”Kita tidak sedangmenunjukkan bahwa kitamemiliki kelebihan.” Mahisa Pukat sebenarnya justru menjadi kecewa karena ia tidak menyelesaikan keenam orang itu seorang diri. Namun ia mulai tanggap maksud Mahisa Murti. Sehingga karena itu maka iapun tidakmenolak. Mahendra yang  berdiri di luar arena menarik nafas dalamdalam. Ketika ia melihat Mahisa Murtimemasuki arena,maka iapun segera tanggap pula. Bahkan ia merasa bersy ukur, bahwa Mahisa Murti tidak membiarkan Mahisa Pukat, tetapi pikirannyapun sejalan dengan pikiran Mahisa Murti sekalipun mereka tidak salingmembicarakannya. Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bertempur melawan keenam orang prajurit muda yang  baru sa ja diwisuda. Sementara itu empat orang yang lain ju stru hanya termangu saja menyaksikan kawan-kawannya bertempur. Bahkan merekapun seakan-akan tidak teringat lagi, bahwa mereka harus mengawasi ay ah kedua orang anak muda yang sedang bertempur itu. Lembu Atak yang menjadi sangat marah itupun kemudian berkata lantang ”Kita tidak usah menaruh bela s ka sihan kepada anak-anak yang  sombong itu. Kita akan menyelesaikannya danmembuatmereka menjadi jera. Bahkan mereka tidak akan berani lagi menampakkan diriny a di Kotaraja ini, karena Kotaraja ini tidak sama seperti hutan belukar sekitar padepokannya.” Namun Lembu Atak ternyata harus melihat keny ataan. Meskipun mereka berenam harus berkelahi melawan hanya dua orang, tetapi Lembu Atak dan kawan-kawannya sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mengenai tubuh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Lembu Atak sendiri bersama kedua orang kawannya berkelahi melawan Mahisa Pukat, sementara tiga orang yang lain melawan Mahisa Murti. Beberapa kali Lembu Atak melihat kesempatan untuk menyerang Mahisa Pukat. Namun serangannya ternyata tidak pernah dapatmengenainya, karena Mahisa Pukat mampu mengelak lebih cepat dari serangan Lembu Atak. Demikian pula kedua orang kawannya. Bahkan ketika ketiga orang itu menyerang bersama-sama dari arahyang  berbeda,mereka dapat kehilangan lawanmereka, karena Mahisa Pukat telah meloncat tinggi-tinggi, sekali berputar di udara, kemudian jatuh tegak pada kedua kakiny a dibelakang Lembu Atak. Ketiga orang lawan Mahisa Pukatmemang terkejut.Namun demikian Lembu Atak berputar, maka Mahisa Pukat telah mempergunakan kesempatan itu. Dengan tangkasny a Mahisa Pukatmelenting. Satu Kakinya telah melayang dan hinggap di dada Lembu Atak. Lembu Atak terdorong beberapa langkah surut. Jika saja kedua kawannya tidak membantunya menahan tubuhnya, maka Lembu Atak tentu sudah jatuh. Lembu Atak itu menggeram. Kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun. Namun ia tidak dapat mengelak dari keny ataan, bahwa anak muda yang  dihadapinya itu ternyata anak muda yang  memiliki ilmu yang lebih baik dari para prajurit muda yang  baru saja diwisuda setelah mereka menjalani pendadaranyang cukup berat. Namun bertiga mereka ternyata tidak dapat dengan segera mengalahkan anakmu da dari padepokan itu. Meskipun demikian Lembu Atak yang  dadanya menjadi sesak itu masih belum mau tunduk kepada keny ataan yang dihadapinya itu. Dengan lantang ia justru berteriak ”Jangan segan-segan bertindak. Bukanlah ayahku seorang Senapati ? Jika terjadi sesuatu karena kita melumpuhkan anak-anak itu, biarlah ayahku bertanggung jawab.” Sebelum kawan-kawannya bergerak lagi, maka terdengar suara Mahisa Pukat ”Nah, bukankah benar kata-kataku, bahwa Lembu Atak itu telah bersandar pada jabatan ayahnya ? Bukan ber sandar pada kepercayaannya kepada diri sendiri ?” “Persetan kau. Kau tidak usahmencoba untukmeringankan bebanmu yang telah kau letakkan dipundakmu sendiri.” geram Lembu Atakyang menjadi semakinmarah. Tetapi Mahisa Pukat justru tertawa berkepanjangan. Demikianlah perkelahian itu berlangsung semakin lama semakin sengit. Lembu Atak dan kawan-kawannya telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Tetapi setiap kali seorang diantara mereka telah terlempar keluar dari arena. Bahkan salah seorang diantara para prajurit muda yang bertempur melawan Mahisa Murti telah terdorong dan terlempar kedalam parityang  sedangmengalir di pinggir jalan di tengah bulak itu. Namun kemudian disu sul oleh Lembu Atakyang bertempur melawan Mahisa Pukat. Bukan saja jatuh kedalam parit yangmengalir, tetapi ia telah terlempar kedalam lumpur di kotak sawahyang  baru saja diairi. Dengan demikian maka Lembu Atak benar-benar menjadi seperti orang mabuk tuak. Sekali lagi ia berteriak kepada kawan-kawannya yang  masih menjagai Mahendra meskipun perhatian mereka sepenuhnya tertuju kepada mereka yang sedang berkelahi ”Marilah kalian berempat. Biarkan orang tua bangka itu melarikan diri. Jika dua orang anaknya dapat kita tangkap dan kita seret ke barak, maka kita akan dengan mudah dapat menangkap orang tua itu dan membawanya sama sekali ke barak. Kita dapat mengerahkan anak-anak itu kepada kawan-kawan kita untuk diadili.” “Apakah kau dan kawan-kawanmu berhak mengadili seseorang ? Apalagi seseorang yang  tidak bersalah sama sekali ?” bertanya Mahisa Murti sambil berkelahi. Yang menyahut adalah Mahisa Pukat ”Ayahnyapun tidak berhak karena ada petugas tersendiri untuk mengadili seseorang.” “Koy akkanmulutmereka” teriak Lembu Atak. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti tidak menyahut lagi. Tetapi mereka telah mempersiapkan diri untuk melawan masing-masing tidak hanya tiga orang. Tetapi lima orang. Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin lama semakin seru. Para prajuritmuda itupun telah mengerahkan kemampuan mereka tanpa ragu -ragu lagi. Dengan kerasmereka meny erang dari segala jurusan. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar licin bagaikan belut. Mereka sama sekali tidak mampu rfieny entuh, apalagi menyakiti dan menangkap keduanya. Meskipun sebenarnya keduanya tidak ingin memamerkan kelebihan mereka, tetapi mereka tidak dapat mengelak lagi, karena mereka harus mempertahankan diri mereka dari serangan masing-masing lima orang. Dengan demikian, maka dengan sendirinya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harusmenunjukkan kelebihan mereka agar mereka dapatmelindungi dirimereka dari serangan-serangan kelima orang lawanmereka. Betapapun kemarahan membakar jantung para prajurit muda itu, namun mereka benar-benar tidak dapat mengingkari keny ataan bahwa mereka berlima tidak mampu melawanmereka seorang-seorang. Semakin lama mereka bertempur, maka semakin sering Mahisa Murti dan Mahisa Pulkatmampu mengenai lawannya. Namun sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah harusmerambah ke dalam ilmunya. Betapapun juga melawan lima orang prajurit muda yang  baru saja mengalami pendadaran adalah satu perlawanan yang sangat berat. Namun dengan mempergunakan tenaga dalam serta memasuki kedalaman ilmunya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih mampu mengatasi masing-masing lima orang lawan. Bahkan beberapa saat kemudian, kelima orang lawan Mahisa Murti dan kelima orang lawan Mahisa Pukat telah mulai kehilangan sebagian dari kekuatannya. Ketika tubuh mereka telah basah oleh keringat, serta wajah mereka telah menjadi biru pengab,makamereka benar-benar harusmelihat keny ataan. Beberapa kali Lembu Atak sendiri terpelanting jatuh. Demikian pula kawan-kawannya. Bahkan seorang diantara mereka yang berkelahi bersama Lembu Atak telah hampir menjadi pingsan. Matanya berkunang-kunang dan duniapun rasa-rasanya telah berputar dan berporos pada dirinya. Sehingga karena itu, ia harus meny ingkir dari arena perkelahian dan duduk dipinggir, jalan sambil memijit -mijit keningnya. Sementara itu seorang yang  bertempur melawan Mahisa Murti, telah mengaduh tertahan ketika tumit Mahisa Murti itu mengenai bibirnya sehingga dari bibir itu telah mengalir darah. Dengan demikian, maka para prajurit itu mulai menjadi gelisah, justru karena keseimbangan perkelahian itu. Betapapun mereka berusaha dengan mengerahkan kemampuan mereka, namun para prajurit itulah yang selalu dikenai oleh serangan-serangan Mahisa Murti ddpt Mahisa Pukat. Sementara itu Mahendra menyaksikan perkelahian itu dengan jantung yang  berdebaran. Bagaimanapun juga segalanya telah terjadi. Bahwa para prajuritmuda itu menjadi pengab di wajahnya bahkan bibir yang  pecah dan berdarah, akan berarti bahwa persoalan itu tentu akan berkepanjangan. Para pemimpin kelompok atau para perwira atasan para prajuritmuda yang  baru saja diwisuda itu tentu akan bertanya, kenapa wajahmereka menjadimerah biru. Namun apaboleh buat. Mahendra tentu tidak akan dapat berdiam diri jika ayah Lembu Atak itu akan ikut campur. Seperti yang diperhitungkan oleh Mahendra dan kedua orang anaknya, maka para prajurit itu mulai menjadi raguragu untuk berkelahi terus. Bahkan Lembu Atakpun mulai mengambil jarak dari Mahisa Pukat. Mahisa Pukat dan Mahisa Murtipun mulai menahan diri. Ketika para prajurit muda itu mulai menjauh, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak lagimemburumereka. Dengan suara yang  bergetar oleh kemarahan yang  membakar jantungnya Lembu Atakpun berkata ”Sayang, langit mulaimenjadimerah, sehingga kami harus segera kembali ke barak. Jika saja ada kesempatan, maka kalian bertiga akan kami seret ke barak.” Ketika Mahisa Pukat akanmenjawab,maka Mahendra telah mendahuluinya ”Kenapa kita tidak melupakan saja apa yang terjadi ?” “Bagaimanapun juga persoalan ini tidak dapat kami lupakan” sahut Lembu Atak ”aku akan meny elesaikan kapan sa ja.” Mahendra hanya dapat menarik nafas ketika Lembu Atak itu berkata kepada kawan-kawannya ”Kita maafkan mereka kali ini. Kita harus segera kembali ke barak.” Sekali lagi Mahendra harus berusaha meredakan gejolak perasaan Mahisa Pukat. Karena itu, ketika Mahisa Pukat masih akan menjawab, Mahendra berdesis ”Sudahlah. Diamlah.” Mahisa Pukat memang harusmenahan diri. Tetapi ia tidak berbicara lagi. Sementara itu Lembu Atak telah mengajak kawankawannya meninggalkan tempat itu. Namun suaranya masih terasa menyakiti telinga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meskipun mereka tidak menanggapinya karena Mahendra selalu mencegahnya. Namun, demikian para prajurit muda itu pergi, Mahendra berkata ”Kau kira bahwa persoalan ini akan mudah terselesaikan?” Tetapi Mahisa Pukat menjawab ”Persoalan ini bukan persoalan antara para prajurit muda dengan kita ay ah, tetapi persoalan ini adalah persoalan anak-anakmuda.” “Aku tahu” jawab Mahendra ”apakah kau dapat membedakan antara Mahisa Pukat dan Mahisa Pukat sebagai pemimpin Padepokan Bajra Seta.” “Orangnya memang tidak ayah. Tetapi persoalannya dapat. Aku y akin bahwa persoalan ini bukan per soalan padepokan Bajra Seta” jawab Mahisa Pukat. “Tetapi apakah Lembu Atak akan dapat berbuat sebagaimana kau lakukan ?” bertanya ayahnya. “Bukankah seharusny a Lembu Atak dapat menempatkan dirinya dan tidak menyangkut kedudukannya ?” desis Mahisa Pukat pula. “Seandainya kau mendapat kesulitan dengan alasan apapun juga, apakah para cantrik dari Padepokan Bajra Seta tidak merasa ter sentuh pula ? Meskipun katakan, bahwa per soalan yang kau hadapi bukan per soalan Padepokanmu ?” sahut ay ahnya. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih akan mengelak, karena ia mempunyai sikap tersendiri. Tetapi ia tidak mau berbantah dengan ayahnya. Jika ayahnya menjadimarah,maka persoalannya akan menjadi lain. Dalam pada itu, maka Mahendrapun kemudian berkata ”Marilah. Kita pulang.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Mereka mengikuti saja ayahnya yangmelangkah dengan cepat menuju ke Istana. Mahisa Murti dan lebih-lebih Mahisa Pukat memang menyesal. Tingkah laku mereka telah membuat ay ahnya yang sudah tua itu menjadi kesal. Karena itu, maka keduanya sehari-harian hampir tidak berbuat apa-apa selain dudukduduk diserambi sambil sekali-sekali masih berbincang tentang sikapmereka. Namun Mahisa Murtipun kemudian berkata ”Sudahlah. Mudah-mudahan tidak ada kelanjutan dari peristiwa ini.” “Tetapi ay ah y akin, bahwa masih akan ada persoalan berikutnya” desis Mahisa Pukat. Ketika mereka kemudian makan bersama ay ah mereka, meskipun ayahnya nampaknya sudah tidak kesal lagi, namun masih ada juga beka s-bekas persoalan yang terjadi diantara kedua anaknya dengan para prajuritmuda itu. “Kita harus siap-siap menghadapi setiap kemungkinan” berkata ayahnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menyahut. Mereka justru menunduk dalam-dalam. Tetapi mereka berharap bahwa persoalannya tidak lagi berkepanjangan. Namun ternyata bahwa dugaan Mahendra itu benar-benar terjadimenjelang senja. Wajah Mahendra menegang. Sambil mengusap keningnya yang basah oleh keringat,maka iapun berkata ”Raden. Kenapa persoalannya menjadi berlarut-larut. Sudah tentu kami tidak akan berani melawan Raden. Apalagi Raden adalah seorang prajurit. Meskipun Raden tidak bertindak atas nama kedudukan Raden, namun Raden tetap seorang Senapati.” “Sudah aku katakan, jangan hiraukan siapa aku” jawab Raden Sawungtuwuh. “Tetapi Raden, ada dua hal yang ingin aku sampaikan kepada Raden. Pertama, Raden telah bertindak dengan tergesa -gesa setelah mendengar laporan anak laki-laki Raden sehingga dengan demikian Raden tidak berusaha melihat kebenaran dari laporan itu. Kedua, aku mohon Raden menilai kembali keputusan Raden itu dalam hubungannya dengan nama baik kesatuan Raden sendiri.” Wajah Raden Sawungtuwuh itu menjadi tegang. Namun katanya ”Kau jangan terlalu banyak bicara. Aku sudah menentukan satu sikap sehingga apapun yang terjadi aku akan bertanggung jawab” “Apa artinya tanggung jawab, Raden ? Jika Raden telah ikut merusak nama baik kesatuan Raden sendiri, justru Raden adalah seorang Senapati ? Ketika anak laki-laki Raden melakukan satu kesalahan yang dapat merusak citra kesatuannya, maka aku masih berpengharapan bahwa Raden akan dapat meluruskannya sebagai pimpinan kesatuan itu. Tetapi ketika Raden juga melakukannya, maka aku menjadi semakin cemas.” “Cukup” potong Raden Sawungtuwuh ”sekarang katakan, aku akan menghukum anak-anakmu. Apakah kau akan melindungimereka atau tidak ?” “Aku akan memberikan laporan kepada Tumenggung Wreda yang  mungkin akan dapat memberikan jalan keluar dari persoalan ini.” berkata Mahendra. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tidak sabar terhadap sikap ay ahnya. Namun mereka harusmenahan diri. Mereka telah membuat ay ahnya kecewa dan mereka meny esal karenanya. Karena itu maka mereka lebih baik berdiam diri menunggu apa yang hendak dilakukan oleh ay ahnya itu. Raden Sawungtuwuh memang harus berpikir ulang mendengar bahwa Mahendra akan memberikan laporan kepada Tumenggung Wreda, Panglima prajurityang  berada di Kotaraja, termasuk kesatuan Raden Sawungtuwuh. Namun kemudian Raden Sawungtuwuh itu berkata ”Dalam hal ini aku tidak berurusan dengan Tumenggung Wreda, karena persoalannya adalah per soalan pribadi.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Raden Sawungtuwuh berkata selanjutnya ”Sudahlah. Kita selesaikan per soalan ini diantara kita. Aku dengar kau mempunyai kedudukanyang  penting didalam istana meskipun belum terlalu lama. Jika kau seorang Pelay an Dalam, maka kaupun termasuk seorang Pelay an Dalam yang sudah berkedudukan tinggi karena menurut pengakuan anakanakmu kau sering dibawa berbincang oleh Sri Maharaja sendiri. Jika kau tidak membual tentang hal itu, maka aku anggap bahwa kaupun tentu memiliki tataran keperwiraan seorang prajurit. Karena itu, aku berharap bahwa kau dapat ber sikap jantan. Kita masing-masing tidak perlu membawa orang lainmaupun kedudukanmereka dalam hal ini.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Sementara ia masih termangu-mangu, Raden Sawungtuwuh itupun berkata ”Sudahlah. Aku minta diri. Lewat wayah sepi bocah, aku tunggu kau dibulak yang semalam kau pergunakan untuk beramai-ramai menyamun anakku meskipun bukan berupa harta benda, tetapi harga dirinya.” Mahendra memang tidak mempunyai kesempatan untuk menjawab. Raden Sawungtuwuh dan seorang pengawalnya telah bangkit dan meninggalkan tempat tinggal Mahendra di bagian belakang istana itu. Mahendra termangu-mangu sejenak. Ia tidak diberi kesempatan untukmemilihmenghadapi Raden Sawungtuwuh. Dengan nada dalam ia berkata kepada kedua orang anaknya ”Kita harus hadir. Tetapi aku akan mencoba untuk melunakkan hatinya.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidakmenjawabmeskipun sebenarnya ia tidak sependapat dengan sikap ayahnya yang terlalu lunak itu. Namun ketiga orang itu terkejut, karena demikian mereka duduk kembali, mereka melihat seseorang yang mendekati serambi. Ketika Mahendra kemudian meny ongsongnya, ternyata orang itu adalah Raden KudaWereng. “Raden” desis Mahendra. “Aku sudah tahu segala -galanya” desis Arya Kuda Cemani yang juga disebut Raden KudaWereng itu. Mahendra tertawa kecil. Katanya ”Aku percaya, karena Raden adalah seorang Senapati dari prajurit sandi Singasari.” “Ah, kau” desis Arya Kuda Cemani. “Marilah, silahkan Raden.” Mahendra mempersilahkan Arya Kuda Cemani itupun kemudian duduk bersama Mahendra dan kedua anaknya. Katanya kemudian ”Anakanakku telah memberi tahukan kepadaku apa yang  telah terjadi dirumahku. Aku memang sangat meny esal. Aku terlambat melerai perkelahian di bulak itu. Nampaknya Ki Mahendra juga tidak berhasil mencegahnya. Namun jsutru karena itu, maka aku telah menyaksikan seluruhnya apa yang terjadi kemudian.” Mahendra menarik nafas panjang. Katanya ”Aku memang tidak berhasil mencegahnya, Raden. Kedua orang anakku ternyata juga keraskepala.” “Mereka juga anak-anakmuda” desis Raden KudaWereng. “Aku memang menjadi bingung. Apakah yang  sebaiknya aku lakukan. Raden Sawungtuwuh juga tidak mau mendengarkan keteranganku tentang anaknya.” sahut Mahendra. “Menurut pendapatku, sebaiknya kalian datang ketempat yang disebut oleh Raden Sawungtuwuh. Aku akan menjadi saksi apa yang terjadi. Menurut pendapatku, Raden Sawungtuwuh adalah seorang yang berpegang teguh pada harga dirinya. Karena itu, maka demikian harga dirinya tersinggung menurut dongeng anaknya, maka ia langsung menanggapinya tanpa diteliti lebih dahulu.” “Tetapi apakah Raden Sawungtuwuh tidak akan mendendam jika kami berusaha untukmempertahankan diri. ?” bertanya Mahendra. “Aku kira justru tidak,” jawab Arya Kuda Cemani ”jika Raden Sawungtuwuh itu kalah,maka ia akan mengaku kalah.” “Mudah-mudahan ia masih tetap pada sikapnya itu.” desis Mahendra sambilmemandang kedua anaknya berganti-ganti. Kedua orang anaknya itu tidak berkata apapun juga. Mereka telahmeny erahkan segala sesuatunya kepada ayahnya. Jika datang perintah bagi mereka, maka mereka akan melakukannya. Dalam pada itu maka Arya Kuda Cemani itupun berkata “Baiklah. Aku minta diri. Aku akan hadir ditempat itu justru setelah kalian mulai dengan permainan yang mengasikkan itu.” Demikianlah, maka sepeninggal Arya Kuda Cemani, maka Mahendra itupun kemudian berkata ”Marilah. Kita bersiapsiap. Sebentar lagi kita akan pergi ke bulak itu. Bukankah Raden Sawungtuwuh minta agar saat sepi bocah kita sudah ada di bulak itu ?” Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun mengangguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata ”Apakah ayah benar-benar akan melayani Raden Sawungtuwuh ?” ”Maksudmu ?” bertanya Mahendra. “Ayah sudah terlalu tua untukmelayani Senapati itu” desis Mahisa Pukat pula. “Apakah kalian merasa mampu untuk melayaninya ?” bertanya ayahnya dengan ragu-ragu. “Persoalan ini adalah per soalan kami” jawab Mahisa Pukat ”karena itu serahkan saja -kepada kami.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Senapati itu tentu akanmerasa tersinggung.” Mahendra termangu-mangu.Namun katanya kemudian “Tetapi aku minta kalian melakukannya ber sama -sama. Maksudku, apapun yang  terjadi, kalian akan melayaninya berdua. Dengan demikian, maka kita sudah mencoba untuk menghormatinya.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murtilahyang mengangguk sambil menjawab ”Baik ay ah. Kami akan melakukannya berdua. Mudah-mudahan dengan demikian Raden Sawungtuwuh itu tidak ter singgung karenanya.” Mahendra mengangguk kecil sambilmenjawab ”Bagus. Jika demikian, marilah. Kita akan pergi ke bulak itu. Kita akan sampai ke bulak itu sesaat sebelum wayah sepi bocah. Biarlah kita menunggu kedatangan Raden Sawungtuwuh itu.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun segera berkemas. Sejenak kemudian, maka mereka bertigapun telah meninggalkan tempat tinggal Mahendra di bagian belakang istana itu. Kepada petugas diregol belakang istana Mahendra mengatakan, bahwa mereka akan pergi kesebuah peralatan kecil di rumah seorang sahabatnya. Sebenarnyalah, ketika mereka sampai dibulak, saatnya memang sudah mendekatiwayah sepi bocah. Karena itu,maka mereka tidak menunggu terlalu lama. Beberapa saat kemudian,maka Raden Sawungtuwuh dan Lembu Atak telah berada ditempat itu pula. “Ternyata kalian cukup jantan”, desis Raden Sawungtuwuh. “Tidak Raden” jawab Mahendra ”aku hanya ingin menjelaskan karena tadi ketika Raden datang ke tempat tinggalku, ada yangmasih belum sempat aku jelaskan.” “Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi” jawab Raden Sawungtuwuh dengan nada datar. “Sekarang disini ada angger Lembu Atak. Raden dapat bertanya kepada angger Lembu Atak, apakahyang  telah terjadi sebenarnya disini.” berkata Mahendra. Namun dengan serta merta Lembu Atak berkata ”Keteranganku tidak berubah meskipun aku harus mengulanginya seribu kali. Apakah kau mengira bahwa aku telah berbohong ? Bukankah kalian menyaksikan apa yang terjadi bahkan mengalaminya sendiri ? Yang aku sampaikan kepada ayah adalah sebagaimana terjadi. Sebagaimana kalian alami itu.” Mahendra menarik nafas panjang. Agaknya memang tidak ada pilihan lain baginya dan bagi kedua orang anaknya. Namun ia masih mencoba bertanya ”Tetapi apakah yang kami saksikan dan bahkan yang kami alami menurut laporanmu kepada Raden Sawungtuwuh sama dengan apa yang kami saksikan dan kami alami? Seandainya kau bersedia mengulangi apa yang  pernah kau laporkan itu dan sama benar seperti yang  kami saksikan dan kami alami, maka kami benarbenar akanmintamaaf.” Namun sikap Lembu Atak benar-benar licik ”Ayah. Orangorang ini agaknya ingin memutar balikkan kenyataan yang terjadi di bulak ini semalam.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam ketika Raden Sawungtuwuh berkata ”Sudahlah. Jangan banyak berbicara lagi. Aku akan menghukum kedua orang anakmu. Terserah kepadamu, apakah kau akan melindunginya atau tidak. Jika kau akan melindunginya, biarlah anakmu meny ingkir dan kau akan turun ke arena. Tetapi jika kau merasa terlalu tua,maka kau dapat minta kedua anakmu membantumu. Bukankah hal itu sudah aku katakan kepadamu?” Namun jawaban Mahendramemangmengejutkan. Katanya ”Baiklah Raden. Jika kedua anakku memang ber salah, hukumlah. Aku tidak akanmelindunginya karena apapun yang akan aku lakukan tidak akan berarti apa -apa.” “Jadi kau akan membiarkan anakmu menerima hukuman itu tanpa berbuat sesuatu?” bertanya Raden Sawurigtuwuh. “Aku memang tidak dapat berbuat sesuatu” jawab Mahendra. “Baiklah” geram Raden Sawungtuwuh ”jika demikian, aku benar-benar akan menghukum anak-anakmu, Jika keduanya laki-laki, maka mereka tentu akan mengakui kesalahan dan menerima hukuman itu.” “Jadi apa yang harus kami lakukan?” bertanya Mahisa Pukat tiba -tiba. “Masih terbuka kesempatan baik. Minta maaf kepada Lembu Atak” jawab Sawungtuwuh. “Kami tidak mau. Dan karena kami tidak bersalah, maka kamipun tidakmau dihukum” jawab Mahisa Pukat tegas. “Mahendra” berkata Raden Sawungtuwuh ”apa katamu tentang anak-anakmu itu.” “Sudah aku katakan. Aku tidak akan melindunginya. Lakukan apa yang Raden ingin lakukan atas mereka” jawab Mahendra. “Bagus” geram Raden Sawungtuwuh ”nampaknya kalian telah sepakat untuk mempermainkan aku. Bersiaplah. Aku akan membuat kalianmenjadi jera.” Namun Mahisa Pukat masih menjawab ”Tetapi ingat Raden. Sudah aku katakan bahwa aku tidak mau dihukum dan tidak pula bersedia untukminta maaf.” Raden Sawungtuwuh tidakmenjawab. Namun iapun segera bergeser dan bersiap untukmenyerang. Lembu Atak memang menjadi tegang. Tetapi ia terlalu yakin akan kemampuan ay ahnya, seorang Tumenggung dan menjabat sebagai seorang Senopati prajurit yang  disegani di Singasari. Seperti juga dugaan ayahnya, maka Lembu Atakpun menganggap bahwa pekerjaan ayahnya itu akan dengan segera selesai. Seperti direncanakan oleh ayahnya, maka ayahnya akan menguasai kedua orang anak Mahendra itu dan memaksanya untukmohon maafkepada Lembu Atak. Dengan paksa dan jika perlu menyakitinya,maka keduanya tentu akan melakukannya meskipun dengan terpaksa. Bahkan jika ay ahnya juga ikut campur,maka ay ahnyapun akan dipaksanya minta maaf pula bukan saja kepada Lembu Atak, tetapi juga kepada Raden Sawungtuwuh itu sendiri. Dengan gerak sederhana Senapati yang berpengaruh itu mulaimemancing bertempuran. Meskipun sebenarnya Raden Sawungtuwuh sendiri merasa bahwa tidak sepantasnya ia bertempur dengan anak-anak yangmasih ingusan itu karena ia seorang Senapati prajurit Singasari. Namun anak-anak itu sangatmenjengkelkan, bahkan juga ayahnya. Karena itu,maka mereka memang perlu mendapat sedikit hukuman agar menjadi jera. Tetapi Raden Sawungtuwuh ikut terkejut melihat bagaimana kedua orang anakmuda itu bergeser. Mereka tidak segera terpancing dalam satu perkelahian. Namun keduanya justru bergeser menyamping. Mahisa Murti yang  tidak banyak berbicara itulah yang  kemudian telah menjulurkan tangannya kearah Raden Sawungtuwuh. Nampaknya, anak muda itupun tidak bersungguh-sungguh, sebagaimana dilakukan oleh Raden Sawungtuwuh. “Anak-anak ini memang keras kepala” geram Raden Sawungtuwuh. Lalu katanya ”Kalian memang harusmendapat hukumanyang lebih berat dari yang aku rencanakan.” Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan tidak mempedulikannya sama sekali. Sikap keduanya bahkan nampak meyakinkan dan siap menghadapi segala kemungkinan. Raden Sawungtuwuh memang tidak sabar lagi. Jantungnya telah berdetak semakin cepat. Sebagai seorang Senapati,maka ia tidakmau menjadi bahan permainan anak-anak. “Mereka benar-benar tidak menyadari, dengan siapa mereka sedang berhadapan” berkata Senapati itu kepada diri sendiri. Meskipun demikian, melihat sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Raden Sawungtuwuh memang sudah menduga, bahwa serba sedikit keduanya tentumemiliki kemampuan. Namun justru karena itu, maka Raden Sawung tuwuh seorang Senapati prajurit Singasari yang  sudah mempunyai nama dikalangannya ingin segera menghentikan perlawanan kedua orang anak itu. Dalam waktu yang  sesingkat-singkatnya Raden Sawungtuwuh ingin menguasai dan memaksa keduanya untukminta maaf. Jika perlu denganmenyakitinya. Karena itu, maka tiba -tiba saja Raden Sawungtuwuh itu telah bersiap untuk sekali loncat, kedua anak muda itu akan terbanting jatuh. Sayang  bahwa sebelumnya Raden Sawungtuwuh belum pernah mendengar nama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Berbeda dengan Raden Sawungtuwuh, Arya Kuda Cemani tahu pasti, seberapa tingkat kemampuan kedua orang anak muda itu. Dengan pengamatannya yang tajam, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat, bahwa Raden Sawungtuwuh telah ber siap untuk menghentakkan kemampuannya dan sekali gerak,menghentikan perkelahian itu. Karena itu, keduanyapun segera bersiap. Mereka tidak ingin dengan serta merta ditundukkan oleh Senapati itu betapapun tinggi ilmunya. Mahendra memperhatikan kedua anaknya dan Raden Sawungtuwuh itu berganti-ganti. Namun orang tua itu menarik nafas dalam-dalam, karena ia tahu, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tanggap akan sikap lawannya. Dengan demikian ketika Raden Sawungtuwuh itu meloncat sambil mengayunkan tangannya dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, maka ia terkejut bukan buatan. Ia berniat untuk dengan ayunan tangannya itu menghentikan perlawanan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi ternyata tangannya tidak meny entuh sasaran sama sekali. Satu pun dari keduanya tidak sempat dijangkaunya dengan ay unan tangannya itu. Ketika kemudian Raden Sawungtuwuh itu berdiri tegak memandang kedua lawannya, maka dilihatnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmasih berdiri tegak dan bersiap sepenuhnya untukmenghadapi segala kemungkinan. Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk kecil. Dengan nada geram ia berkata ”Jadi dengan modal kecepatan gerak itukah kalian sudah berani menghina anakku ? Anak seorang Senapati ?” “Ternyata Raden telah melupakan kesediaan Raden melepas baju SenapatiRaden.” desisMahisa Murti. “Bagus anakyang  sombong. Tetapi janganmeny esal, bahwa karena ini maka aku akan meningkatkan kemampuan ilmuku, sehingga sentuhan tanganku akan menjadi semakin berbahaya bagi kalian.” geram Raden Sawung tuwuh. Mahisa Pukat justru menjadi tidak telaten. Dengan nada rendah ia berkata ”Marilah Raden. Kami sudah siap melayani Raden. Meskipun seandainya Raden tidak sekedar meningkatkan ilmu Raden. Tetapi seandainya sampai kepuncak ilmu sekalipun. “Kau jangan mengigau. Seandainya kau sadar akan katakatamu itu, maka kau tentu akan menyesal sepanjang hidupmu.” geram Raden Sawungtuwuh. “Aku sadar sesadar -sadarnya. Karena itu kami sudah siap untukmenghadapi Raden apapun akibatnya. Kami berpegang pada satu pendirian, bahwa kami tidak pernah melakukan kesalahan.” jawab Mahisa Pukat. Raden Sawungtuwuh tidak dapatmenahan kemarahannya. Tiba -tiba saja ia telahmeloncatmeny erang. Tidak lagi sekedar bermain-main. Tetapi Raden Sawungtuwuh telah bersungguhsungguh. Namun sekali lagi ia terkejut. Kedua anakmuda itu dengan tangkas telah menghindari serangan-serangannya. Keduanya berloncat dengan kecepatan yang mampu mengimbangi kecepatan gerak Raden Sawungtuwuh. Namun dengan demikian kedua anakmuda itu justru telah membakar jantung Raden Sawungtuwuh yang tidak menduga bahwa ia telah berhadapan dengan anakmuda yang  ternyata memiliki kemampuanyang jauh diatasdugaannya. Karena itu, maka Raden Sawungtuwuhpun telah melupakan dengan siapa ia berhadapan. Jika semula ia hanya ingin sekedar menghukum anak-anak muda yang  dianggap telah menghina anaknya, namun kemudian ternyata ia telah mendapatkan lawan yangmampu mengimbangi ilmunya yang justru telah semakin ditingkatkan. Bahkan akhirnya Raden Sawungtuwuhpun lupa, untuk apa dan dengan siapa ia bertempur. Sehingga karena itu, maka ilmunya menjadi semakin lama semakinmeningkat pula. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba sa ja, iapun telah ber siap dan bergeser selangkah. Namun kemudian ia menarik nafas panjang ketika ia melihat orang yang tiba -tiba saja berada disampingnya. “Kau membuat aku terkejut Raden” desis Mahendra. Raden Kuda Wereng terseny um. Katanya ”Ternyata Ki Mahendra memiliki pendengaran yang  sangat tajam. Ki Mahendra mengetahui bahwa aku dengan sangat berhati-hatimelangkah mendekat.” “Hanya kebetulan” desisMahendra. Arya Kuda Cemani yang  juga disebut Raden Kuda Wereng itu menarik nafas dalam-dalam. Senapati yang  hampir selalu berpakaian hitam itu memperhatikan pertempuran itu sambil berdesis ”Aku sudahmenduga.” “Menduga apa ?” bertanya Mahendra. Arya Kuda Cemani tersenyum. Katanya ”Aku sudah menduga, bahwa Raden Sawungtuwuh akan mengalami kesulitan jika ia berniat untuk menghukum kedua orang anak Ki Mahendra. Tetapi ini akan merupakan satu pelajaran bagi Raden Sawungtuwuh, seorang Senopati yang  memiliki pengaruh yang cukup besar di Singasari.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak menjawab. Sementara itu pertempuran antara Raden Sawungtuwuh melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak lagi mengesankan pertempuran antara seorang yang  ingin menghukum yang lain, karena pertempuran itu nampaknya masih saja seimbang. Bahkan Raden Sawungtuwuh telah meningkatkan pula ilmunya sehingga hampir sampai kepuncak kemampuannya. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmasih saja mampu mengimbanginya. Justru keduanya nampak menjadi semakin tangkas dan sigap. Keduanya berloncatan seperti anak-anak kijang direrumputan hijau. Sementara Raden Sawungtuwuh bertempur, Lembu Atak berdiri termangu-mangu. Namun iapun melihat, bahwa ay ahnya tidak segera dapat menguasai kedua orang anak muda itu. Sehingga karena itu, maka jantungnya ju stru menjadi semakin berdebaran. Raden Sawungtuwuh sendiri menjadi gelisah. Ia mulai meragukan laporan anaknya, bahwa ia telah berkelahi melawan kedua orang anakmuda itu dan bahkan dibantu oleh ay ahnya pula. Menurut perhitungannya, jangankan melawan kedua orang anakmuda itu. Kemampuan anaknya masih jauh lebih rendah dari kemampuan salah seorang darimereka. Tetapi Raden Sawungtuwuh itu sudah terlanjur bertempur melawan kedua orang anak muda itu. Bahkan ia telah meningkatkan ilmunya hampir sampai kepuncak. Namun kedua orang anak muda itu masih saja mampu mengimbanginya. Kegelisahannya semakin berubah ketika ia melihat Arya Kuda Cemani ada ditempat itu pula. Seakan-akan Senapati dari pa sukan sandi itu sengaja datang untuk melihat, bagaimana ia telah dipermainkan oleh dua orang anakmuda. Namun kehadiran Arya Kuda Cemani itu ternyata mempunyai akibat tersendiri. Raden Sawungtuwuh tidakmau kehilangan harga diriny a dihadapan Arya Kuda Cemani. Apalagi lawannya tidak lebih dari dua orang anakmuda yang semula hanya berselisih dengan anaknya. Karena itulah maka Raden Sawungtuwuh telah bertekad untuk mengalahkan kedua lawannya itu meskipun ia bukan sa ja meningkatkan ilmunya sampai kepuncak, tetapi jika perlu justrumerambah sampai keilmu andalannya. Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak benar -benar telah bertempur dengan sungguh-sungguh. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun menyadari, bahwa Raden Sawungtuwuh tidak mau begitu saja mereka kalahkan. Namun kedua anakmuda yang  telah menguasai berbagai ilmu serta memiliki pengalaman yang  luas itu tidak berniat untuk kalah atau bahkan harus dihukum tanpa melakukan kesalahan. Namun yang  terjadi kemudian, adalah pertempuran antara dua pihakyang  berilmu tinggi. Raden Sawungtuwuh yang  gelisah itu kemudian masih sempat memperingatkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan lantang ia berkata ”Anak-anak muda. Kali ini aku memberikan kesempatan terakhir. Selanjutnya, aku tidak tahu apakah akibatnya jika aku terpaksa benar -benar bertempur sebagaimana aku ingin menundukkan lawan tanpa banyak pertimbangan. Karena menurut penilaianku kalian benarbenar telah menempatkan diri sebagai lawan yang sebenarnya.” “Maaf Raden” jawab Mahisa Murti ”sebenarnyalah hal ini kami lakukan, karena kami tidakmau diperlakukan tidak adil. Kami ingin mempertahankan kebenaran yang  kami yakini. Bahkan aku ingin memperingatkan, bahwa seharusnya Raden juga berbuat sebagaimana kami lakukan.” Terasa telinga Raden Sawungtuwuh menjadi panas. Karena itu katanya ”Aku tidak mau mendengar sesorah kanak-kanak.” Tetapi Mahisa Pukatmasih juga menyahut ”Sayang Raden. Kedudukan Raden justru telah dikaburkan oleh kenakalan anak Raden. Sementara Raden sama sekali tidakmeneliti lebih jauh apakah ia berkata benar atau tidak.” Raden Sawungtuwuh tidakmenjawab.Namun tiba-t iba saja telah meloncatmeny erang dengan garangnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Ia melihat Raden Sawungtuwuh itu telah menelangkupkan kedua telapak tangannya. Baru kemudian kedua tangannya itu menyambarnyambar. Namun yang terasa adalah udara panas yang bagaikan dihampurkan dari kedua telapak tangan itu. Yang terkejut bukan hanya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mahendra dan Raden KudaWerengpun terkejut. “Kenapa dengan Raden Sawungtuwuh itu” desis Raden Kuda Wereng dengan dahi yang  berkerut ”ia tidak pernah kehilangan pengendalian dirinya. Tetapi menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat rasa-rasanya ia tidak lagi sempat menilai langkah-langkahyang diambilnya.” “Mudah-mudahan sikap yang diambilnya tidak membuat kedua orang anakku juga kehilangan kendali” desis Mahendra. Namun mereka yang ada di luar arena itupun ikut merasakan sentuhan udara panasyang  berhamburan disekitar Raden Sawungtuwuhyang marah itu. Ternyata sikap Raden Sawungtuwuh. itu telah menimbulkan kesan tersendiri bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, sebagaimana kesan pada Mahendra yang  berdiri diluar arena. Bahkan Arya Kuda Cemanipun berdesis perlahan sekali ”Raden. Sawungtuwuh memang seorang Senapati yang ber sikap jantan menghadapi keny ataan seperti kali ini.” “Mudah-mudahan anak-anakku tanggap” desisMahen-dra. Dalam pada itu,maka Lembu Atak itupun telah mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Meskipun sendat terdengar anak muda itu berkata ”Aku minta maaf kepada kalian. Aku memang berbohong kepada ayah.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian terdengar Mahisa Murtimenjawab ”Baiklah. Kami memaafkan kalian. Mudah-mudahan hal seperti ini tidak akan terulang lagi.” Lembu Atak hanya menunduk saja. Sementara Mahisa Pukatmenyambung ”Katakan kepada kawan-kawanmu, bahwa tindakan mereka kurang bertanggung jawab sebagaimana kau lakukan. Apalagi kau dan kawan-kawanmu adalah prajurit.” “Akumengerti” jawab Lembu Atak. Raden Sawungtuwuh yang mendengarnya berkata ”Berapa orang kawanmu yang  bersamamu semalam?” Lembu Atak masih saja ragu-ragu. Tetapi ayahnya mendesak ”Berapa orang?” ”Sepuluh orang ayah.” jawab Lembu Atak yang  tidak dapat mengelak lagi. Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya ”Nah, agaknya aku baru percaya. Setelah aku mengalaminya langsung bertempur melawan keduanya, maka kemampuan mereka tidak dapat diperbandingkan dengan kemampuan kalian. Nanti, demikian kita sampai di barak, aku akan berbicara dengan kau danmereka.” Lembu Atak tidak berani membantah. Kepalanya justru menunduk dalam-dalam. Namun ia sudah membayangkan hukuman yang akan diterimanya di barak nanti. Meskipun sepuluh orang akan mengalaminya, namun karena ia yang bertanggung jawab, maka beban terberat tentu akan dipikulnya. Sementara itu Raden Sawungtuwuh berkata ”anak-anak muda. Aku akan membawa anakku kembali ke barak. Kalian ternyata memang tidak bersalah.” Namun Mahisa Murtimasih menjawab ”Kami juga mohon maaf Raden, karena kami telah mempergunakan ilmu yang kami kuasai untuk mencoba meredam kemarahan Raden.” “Aku mengerti anak-anak muda. Tetapi kalian memang berhak mempergunakannya karena aku juga sudah merambah ke ilmu andalanku“ jawab Raden Sawungtuwuh. Lalu katanya pula ”Akupun merasa bahwa kekuatan dan kemampuanku telah menyusut. Untunglah bahwa aku segera menyadari bahwa aku tidak akan mampu melawan ilmu kalian berdua, sehingga aku segera membebaskan diri dari pertempuran itu.” “Kami tidakmempunyai pilihan lain” desis Mahisa Murti. “Tetapi aku kira, dalam satu dua hari, segala-galanya akan menjadi baik lagi. Bukankah begitu?” bertanya Raden Sawungtuwuh dengan tanpa ragu-ragu. “Ya Raden. Besok semuanya akan pulih kembali.” jawab Mahisa Murti. “Mudah-mudahan sebelum itu aku tidak dikirim ke medan perang dimanapun juga.” berkata Raden Sawungtuwuh pula. Yang menjawab adalah Arya Kuda Cemani ”Kebetulan Singasari tidak sedang berperang melawan negeri manapun juga Raden.” “Tetapi bukankah kita sedang diprihatinkan oleh sebagian prajurit Kediri yang  tidak patuh kepada Sri Baginda di Kediri? Sehingga kelompok-kelompok prajurit itu seringmembuat kita sibukmengatasinya” sahut Raden Sawungtuwuh. Arya Kuda .Cemanimengangguk kecil. Katanya ” Iy a. Tetapi saat ini tidak ada rencana untuk melakukan langkah keprajuritan. Baru saja sepa sukan prajurit Singasari ikut mengatasi pemberontakan prajurit Kediri yang  jumlahnya cukup besar. Namun dengan bantuan Padepokan Bajra Seta yang dipimpin oleh angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, pa sukan Kediri itu dapat dijinakkan.” “Siapakah pemimpin Padepokan Bajra Seta itu?” bertanya Raden Sawungtuwuh. “Kedua orang anakmuda ini” jawabArya Kuda Cemani. Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya ”Aku pernah mendengar nama Padepokan Bajra Seta. Bukankah padepokan yang telah mendapat anugerah pengetahuan tentang pembuatan senjata itu sehingga orang-orang padepokan itumampumelakukannya?” “Ya. Kedua orang anak muda inilah pemimpinnya” jawab Arya Kuda Cemani. Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya ”Pantas keduanya memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun aku tidak mengira bahwa pimpinan Padepokan Bajra Seta itu masih demikian muda. Apakah bukan Ki Mahendra yang pantasmemegang kendali kepemimpinan Padepokan itu?” Mahendra menggeleng. Jawabnya ”Tidak. Merekalah yang  mendirikan, mengurus dan memeliharanya sehingga keberadaannya diakui oleh Sri Maharaja”. Raden Sawungtuwuh mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Sekali lagi aku minta maaf. Aku akan menyelesaikan persoalan kedalam atas prajurit-prajuritku.” Demikianlah maka Raden Sawungtuwuh telah mengajak anaknya untuk kembali ke barak. Namun Lembu Atak yang terpaksa mengakui bahwa ia telah berbohong, semakin dekat dengan barak pasukannya menjadi semakin berdebar-debar. Ia sadar, bahwa ayahnya tentu akanmenghukumnya lebih dari kawan-kawannya yang terlibat dalam perkelahian itu. Sementara itu, Arya Kuda Cemani yang masih berdiri termangu-mangu ditempatnya bersama Mahendra, kemudian telah berkata ”Ia memang seorang Senapatiyang  jujur.Namun sifat dan watak anaknya justru jauh berbeda.” “Kenapa dapat terjadi seperti itu ?” bertanya Mahendra. Arya Kuda Cemanimenggeleng. Katanya ”Entahlah. Tetapi anak-anakkupun kadang-kadang mempunyai tingkah laku yang tidak aku mengerti. Mereka tidak mampu dengan cepat menangkap ilmu yang  diberikan, kepadanya. Bahwa keduanya dapat diwisuda menjadi seorang prajurit benar-benar telah membesarkan hatiku. Namun niatku semula mereka akan aku beri bekal yang  cukup dari sebuah perguruan sebelum mereka memasuki lingkungan keprajuritan.” “Tetapi dilingkungan keprajuritan ilmu mereka akan meningkat pula” berkata Mahendra. “Ya. Meningkat secara umum dan khususny a untuk kepentingan gelar perang bagi satu pasukan. Tetapi secara pribadi akan lebih baik jika mereka mempunyai bekal yang cukup.” jawabArya Kuda Cemani. “Tetapi apakah setelah mereka menjadi prajurit, mereka tidak dapat berlatih secara khusus dibawah tuntunan seorang guru ?” bertanyaMahendra pula. “Memang mungkin, dengan ijin khusus” jawab Arya Kuda Cemani. Lalu katanya pula ”Aku terpaksa menempuh cara itu. Aku sendiri yang akan membimbing mereka untuk beberapa lama. Baru kemudian akan aku serahkan kepada orang lain.” Mahendra mengangguk-angguk.Namun kemudian katanya ”Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan Raden menyaksikan peristiwa yang  baru saja terjadi. Mudahmudahan tidak akan terulang lagi. Apalagi anak-anakku akan segera kembali ke Padepokan Bajra Seta.” “Kapan mereka akan kembali ?” bertanya Arya Kuda Cemani. Mahendra tidak dapat segera menjawab. Namun iapun bertanya kepada kedua anaknya ”Kapan kalian akan kembali ke Padepokan ?” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Namun kemudian Mahisa Murti menjawab ”Kami memang berdua,.... .... dialog terputus tapi dari bukunya emang gitu...... .... justru karena kedua orang anakku sendiri tidak dapat berbuat sebagaimana dapat kalian lakukan.” Dengan hormat kedua orang anak muda itu mengangguk. Yang menjawab adalah justru Mahisa Pukat ”Ya Raden. Kami tentu tidak akan berkeberatan berkunjung kerumah Raden. Kami justru berbangga terhadap Kuda Semedi dan Kuda Semeni yang  dengan jujur telah memberitahukan rencana Lembu Atak. Kamipun telah memenuhi pesannya untuk mengambil jalan lain. Namun ternyata bahwa Lembu Atak sempat mengikuti langkah kami dan mencegat kami ditempat ini.” “Ya. Aku tidak menghukum mereka karena mereka berkata terus terang kepadaku, sehingga aku sempatmenyusul kemari demikian para tamu pergi. Tetapi aku terlambatmeskipun aku masih sempatmelihat sebagian dari peristiwa itu sendiri.” “Baiklah” berkata Mahendra ”malam telah sampai ke dini. Sebaiknya kita pulang. Kapan-kapan aku akan berkunjung kerumah Raden.” “Terima kasih” jawab Arya Kuda Cemani ”aku selalu mengharap kesediaan kalian untuk datang kerumahku.” Demikianlah, maka Mahendra dan kedua anaknyapun segera beranjak dari tempatnya. Sementara itu Arya Kuda Cemani pun melangkah pula kearah yang  berbeda. Namun ketika Mahendra berpaling, maka iapun menggamit kedua orang anaknya ”Orang itu telah hilang. Kita tidak tahu kemana orang itu pergi.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun mereka tidak mengatakan apa-apa karena mereka takut jika kata-kata mereka didengar oleh orang yang dianggap dapat melenyapkan diri itu. Namun ketika mereka sudah memasuki lingkungan istana barulah Mahisa Murti berkata ”Pakaian Arya Kuda Cemani membantunya untuk melenyapkan diri didalam gelapnyamalam.” “Tetapi seseorang memang pernah memiliki Aji Panglimunan.” berkata Mahendra. Kedua orang anaknya mengangguk-angguk, sementara Mahendra berkata selanjutnya ”Sayang, bahwa kedua anaknya ternyata terlalu lamban. Atau ayahnyalah yang  tidak sabar melihat berkembangan kemampuan anak-anaknya sehingga ia menganggap bahwa kedua anaknya tidak memiliki ketajaman dan kecerdasan nalar budi sebagaimana ayahnya.” “Memang mungkin ayah” sahut Mahisa Murti ”ayahnya terlalu cepat ingin melihat anaknya berhasil, sehingga tidak mau mengingat kemampuan nalar budiny a. Akibatnya memang dapat sebagaimana ayah katakan itu.” Mahendra mengangguk-angguk.Namun katanya kemudian demikian mereka sampai dirumah dan telah mencuci tangan dan kaki ”Beristirahatlah disisamalam ini.” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Keduanyapun telah pergi ke pembaringan mereka meskipun keduanya ternyata tidak dapat segera tertidur. Namun keduanya saling berdiam diri karena keduanya asy ik dengan angan-angannyamasing-masing. Ternyata dihari berikutnya, baik Mahisa Murti maupun Mahisa Pukat sama sekali tidak menyinggung lagi tentang rencana mereka untuk kembali ke Padepokan. Seakan-akan mereka telah melupakannya, sementara Mahendrapun tidak menanyakannya pula. Dihari-hari selanjutnya, keduanya memang sering berkunjungan kerumah Arya Kuda Cemani. Kadang-kadang dengan Mahendra. Namun jika hari-hari Kuda Semedi dan Kuda Semeni ada dirumah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah datang berdua saja untuk mengunjungi kedua orang prajuritmuda itu. Namun dengan demikian hubungan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan Sa si menjadi semakin dekat. Sa si yang terbiasa tinggal dirumah saja, merasa bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menghilangkan kesepiannya jika kedua anakmuda itu berkunjung kerumahnya ada atau tidak ada kedua orang kakaknya. Ternyata Arya Kuda Cemani dan isterinya sama sekali tidak berkeberatanmelihat pergaulan anak-anaknya dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan saja Kuda Semedi dan Kuda Semeni, tetapi juga Sasi yang  terbiasa tinggal didalam rumah sa ja. Bahkan ketika hubungan Sasi dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukatmenjadi semakin akrab. Namun dalam pada itu, Mahendralah yang ju stru menjadi gelisah. Sebagai seorang ayah ia dapat merasakan denyut jantung kedua anak laki-lakinya. Tetapi rasa -rasanya sudah terlambat. Mahendra melihat betapa kedua anak laki-lakinya sangat memperhatikan gadis sahabatnya itu. Jika keduanya berdalih mencari Kuda Semedi dan Kuda Semeni dirumahnya, maka Mahendrapun tahu, bahwa sebenarnya mereka ingin bertemu dengan Sasi, karena Kuda Semedi dan Kuda Semeni lebih banyak berada di baraknya daripada dirumahnya. Tetapi untuk sementara Mahendra memang tidak dapat berbuat sesuatu. Ia harus mey akinkan dugaannya. Baru kemudian ia akan memanggil kedua orang anaknya untuk membicarakan hubungan mereka dengan anak Arya Kuda Cemani itu. Bahkan didalam hati Mahendra juga meny esalkan kesempatan yang  seakan-akan sengaja diberikan oleh Arya Kuda Cemani. “Mudah-mudahan hanya sekedar kecemasan seorang tua yang tidakmendasar” berkata Mahendra kepada diri sendiri. Tetapi jantung Mahendra menjadi berdebar-debar ketika pada suatu senja, Arya Kuda Cemani itu datangmenemuinya. Nampaknya memang ada per soalan yang penting yang  ingin dikatakannya kepada Mahendra, karena Arya Kuda Cemani itu sama sekali tidak menanyakan kedua anak Mahendra. Biasanya keduanya dipanggilnya untuk bersamasama berbincang. Ketika Arya Kuda Cemanimulai berbicara dengan sungguhsungguh, maka Mahendrapun mendengarkannya dengan sungguh-sungguh pula. “Ki Mahendra” berkata Arya Kuda Cemani ”aku tidak tahu, apakah pantasatau tidak, bahwa hal ini aku katakan kepada Ki Mahendra. Namun aku berniat baik, sehingga karena itu, aku telah mengkesampingkan apakah hal itu pantasatau tidak.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mulai meraba, bahwa yang akan dibicarakan oleh Arya Kuda Cemani adalah persoalan kedua anaknya dalam hubungannya dengan anak perempuan Arya Kuda Cemani itu. “Ki Mahendra” berkata Arya Kuda Cemani ”aku sebenarnyalah merasa senang, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sering datang kerumahku. Kadang-kadang mereka dapat bertemu dengan Kuda Semedi dan Kuda Semeni, tetapi kadang-kadang tidak. Namun karena dirumah ada Sasi, maka tentu ada orang yang  dapatmenemui mereka. Akupun sama sekali tidak berkeberatan bahwa keduanya sering datang kerumah di saat-saat yang pantas sebagaimana kunjungan kedua anak Ki Mahendra kerumahku.” Mahendra mengangguk-angguk. Sementara Arya Kuda Cemani nampakmenjadi ragu-ragu untuk berkata selanjutnya Namun Mahendra dengan sengaja berdiam diri. Ia menunggu, apapun yang  akan dikatakan oleh Arya Kuda Cemani. Karena Mahendra berdiam diri saja, maka Arya Kuda Cemani itupun berkata selanjutnya ”Namun ada satu hal yang ingin aku sampaikan kepada Ki Mahendra. Justru yang  sering berkunjung ke rumahku itu anak Ki Mahendra berdua. Bagiku keduanya sama-sama baik, sama-sama berilmu tinggi dan katakan, keduanya hampir tidak dapat dibedakan. Namun justru karena itulah aku menjadi khawatir. Ju stru karena keduanya yang hampir tidak dapat dibedakan itu serta sikap mereka yang  hampir tidak dapat dibedakan terhadap Sa si.” Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ternyata apa yang  diduganya adalah benar. Bukan hanya dirinya sajalah yang menjadi cemas, tetapi ternyata Arya Kuda Cemani menjadi cemaspula. Namun dalam pada itu Arya Kuda Cemani itu berkata ”Tetapi sebenarnyalah aku tidak tahu, perasaan apakah yang tersimpah di hati anak-anak muda itu. Mungkin yang aku cemaskan itu sama sekali tidak beralasan.” Mahendra mengangguk-angguk kecil. Ia dapat mengerti sepenuhnya alasan Arya Kuda Cemani, bahwa ia telah datang menemuinya. Sebagai orang tua Arya Kuda Cemani ingin jalan yang dilewati anaknya dapat rancak dan tidak ter sendatsendat karena hambatanyang  datang kemudian. Tetapi Arya Kuda Cemani telah mengatakan bahwa ia tidak tahu pa sti perasaan apakah yang sebenarnya tersimpan didalam hati anak-anakmuda itu. Bahkan Arya Kuda Cemanipun kemudian berkata ”Aku justru cemas, bahwa perasaanku ini tidak lebih dari kesombongan yang  tidak beralasan sama sekali, seolah-olah keluargaku adalah pusat dari segala perhatian.” “Tidak Raden” jawab Mahendra ”aku mengerti sepenuhnya kegelisahan Raden. Sikap hati-hati seorang ay ah bukan sikap yang salahmenurut pendapatku.” “Aku mengucapkan terima kasih atas pengertian Ki Mahendra. Aku mohon maaf jika apa yang  aku katakan itu menyinggung perasaan Ki Mahendra. Apalagi anak-anak Ki Mahendra.” berkata Arya Kuda Cemani kemudian. “Baiklah Raden” berkata Mahendra kemudian ”aku akan membantu Raden sejauh dapat aku lakukan atas anakanakku.” Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Dengan hati-hati ia memberikan sedikit gambaran sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terhadap keluarganya. Bahkan serba sedikit anak-anaknya, Kuda Semedi dan Kuda Semeni juga pernah menyinggung hubungan adikny a dengan kedua anak Ki Mahendra itu. “Sudahlah” berkata Arya Kuda Cemani kemudian ”aku percaya kepada Ki Mahendra, namun perlu aku jelaskan bahwa aku sama sekali tidak berkeberatan untuk menerima kedua anak Ki Mahendra itu datang kerumahku. Dan terusterang akupun tidak berkeberatan jika hubungan itu berlangsung terus. Yang justru aku sampaikan kepada Ki Mahendra adalah, bahwa keluargaku tidak dapatmembedakan antara keduanya.” “Akumengerti sepenuhnya Raden” sahut Mahendra. Demikianlah, maka Arya Kuda Cemani itupun kemudian telah minta diri. Sementara itu sepeninggal tamunya, maka Mahendra semakin dililit oleh per soalan kedua orang anak laki-lakinya. Tetapi ternyata bahwa Mahendra masih belum dapat berbicara langsung dengan kedua orang anaknya. Ia masih menunggu saat yang paling tepat,meskipun ia sadar, bahwa ia harus segera meny elesaikan per soalan itu. Bahkan Mahendra merasa bahwa ia sudah terlambat. Namun dalam pada itu, ternyata Mahisa Murti, yang  lebih banyak mempergunakan penalarannya dari Mahisa Pukat, merasa bahwa hubungannya dengan Sa si memang agal janggal. Sikapny a terhadap gadis itu tidak berbeda dengan sikap Mahisa Pukat, sehingga akan dapat menimbulkan persoalan dikemudian hari. Sadar akan kemungkinan itu, maka Mahisa Murtimulai berpikir untukmencari jalan keluar. Betapapun gejolak perasaannya, namun Mahisa Murti masih ingin tetap berdiri diatas nalarnya. Karena itulah, maka justru sebelum ayahnya mempersoalkan hubungan mereka dengan Sasi, maka Mahisa Murti telah berbicara dengan Mahisa Pukatmeskipun Mahisa Murti berusaha untuk mempergunakan bahasa yang lain dari persoalanyang sebenarnya. Kedatangan Arya Kuda Cemani kerumah ayahnya dan berbicara secara khusus telah memberikan tekanan kepada niatnya untuk keluar dari lingkaran yang akan dapat menjeratnya ber samaMahisa Pukat. Ketika ia mendapat kesempatan, maka Mahisa Murti itupun dengan sungguh-sungguh telah berkata kepada Mahisa Pukat ”Kita sudah terlalu lama berada di Singasari. Sebelum kita berangkat, kita sudah berjanji kepada seisi Padepokan, bahwa kita tidak akan terlalu lama meninggalkanmereka.” Mahisa Pukat mengerutkan dahinya. Katanya ”Bukankah mereka sejak kita berangkat sudah menganggap bahwa kita tidak akan dapat segera kembali? Mereka sudah memperkirakan bahwa kita akan berada di Singasari agak lama.” “Tidak” jawab Mahisa Murti ”menurut perhitunganmereka, kita tidak akan terlalu lama di Singasari. Tetapi kita akan justru lama diperjalanan.” “Bukankah akibatnya sama saja” jawab Mahisa Pukat. Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Tetapi sebaiknya kita segera kembali ke Padepokan. Bukankah sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai pimpinan Padepokan bahwa kita sebaiknya selalu ada ditengah-tengahmereka?” “Ya. Kita akan selalu berada di tengah-tengah mereka. Tetapi apa salahnya bahwa sekali-sekali kita berhak untuk meninggalkan Padepokan?” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar alasan Mahisa Pukat kenapa ia tidak segera mau kembali. Menurut gejolak perasaannya, iapun ingin lebih lama lagi berada di Singasari. Tetapi Mahisa Murti sadar, semakin lama mereka berada di Singasari, maka belitan persoalan dalam hubungannya dengan Sa si akan semakin kuat melilit mereka berdua sehingga sulit untukmengurai kembali. Namun ternyata bahwa Mahisa Pukat tidak ingin segera meningggalkan Singasari. Mahendra menarik nafas panjang. Didalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada Mahisa Murti yang  telah membantunya memecahkan persoalan yang baginya cukup sulit. Namun dalam pada itu, Mahendrapun bertanya ”Kapan kau akan kembali ke Padepokan B ajra Seeta?” “Segera ayah. Dua atau tiga hari ini.” jawab Mahisa Murti. Mahendra mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Pukat nampak gelisah. Ia seakan-akan berdiri dipersimpangan jalan. Ra sa -rasanyamemang sulit untukmengambil sikap. Apakah ia akan ikut Mahisa Murti kembali ke Padepokan atau ia akan tetap tinggal di Singasari. Namun keputusan Mahisa Murti yang pa sti bahwa ia akan kembali seorang diri ke Padepokan Bajra Seta atau bersama ber sama dengan satu dua orang prajurit sebagai kawan berbincang telah membantu Mahisa Pukat untuk mengambil keputusan. Demikianlah maka Mahisa Murtipun dihari berikutnya telah mulai berbenah diri. Sementara Mahendra yang mendapat kesempatan berbicara tanpa kehadiran Mahisa Pukat telah bertanya berterus terang, apakah alasan yang mendorongnya untuk meninggalkan Mahisa Pukat di Singasari. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada dalam ia berkata ”Aku kira ay ah dapat menangkap perasaanku. Aku dan Mahisa Pukat telah memasuki sebuah taman yang sama. Karena itu, maka salah seorang diantaara kami memang harusmenarik diri jika kami tidak ingin saling berbenturan.” “Aku harus mengucapkan terima kasih atas sikapmu itu Murti. Ternyata bahwa kau benar-benar telah berpikir dewasa. Namun itu bukan berarti bahwa kau untuk selanjutnya akan jauh dari seorang perempuan. Karena telah menjadi garis kehidupan, bahwa seorang laki-laki akan menjadi sisihan dari seorang perempuan.” “Aku mengerti ayah” jawab Mahisa Murti ”pada suatu saat tentu akan datang waktunya. Aku harus berusaha menghapus beka syang tergores dalam sekilas waktu didalam hidupku ini.” Mahendra telah menepuk bahu anaknya sambil berkata ”Aku yakin bahwa kebesaran jiwamu akan dapat mengatasi kesulitan perasaanmu.” “Aku mohon restu ayah.” desis Mahisa Murti kemudian. “Baiklah. Dalam tiga hari ini aku akan minta tiga orang prajurit yang akan menemanimu dalam perjalanan kembali ke padepokan Bajra Seta.” berkata ay ahnya. Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi ia mengangguk kecil. Namun di wajahnya membayang perasaannya yang tertikam. Mahendra tidak dapat berbuat sesuatu. Namun sebagai seorang ayah ia tahu, betapa Mahisa Murti telah berusaha untukmengatasi gejolak perasaannya. Ketika Mahendra kemudian meninggalkan Mahisa Murti untuk berbicara dengan Panglima Pa sukan Pengawal agar menugaskan tiga orang prajurit yang dapatmenemani Mahisa Murti di perjalanan, maka Mahisa Pukat telah berbicara dengan Mahisa Murti tentang gadis anak Arya Kuda Cemani itu. Ternyata Mahisa Pukat terlalu sibukmemandang ke dirinya sendiri dalam hubungannya dengan Sasi, sehingga ia tidak dapatmembaca gejolak perasaan Mahisa Murti. Karena itu, maka Mahisa Pukat itupun justru telah minta kepada Mahisa Murti” Sebelum kau kembali ke Padepokan, tolong aku Murti.” “Apa yang dapat aku bantu?” bertanya Mahisa Murti. “Kau tentu tahu hubunganku dengan Sasi” desis Mahisa Pukat Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Ya. Aku tahu. Hubunganmu dengan Sasi telah mengarah pada satu hubungan yang akrab antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.” ”Kau benar” jawab Mahisa Pukat ”namun seperti kau ketahui bahwa aku bukanlah seorang yang dapat mengemukakan perasaanku. Aku lebih berani memasuki lingkaran api pertempuran daripada harus berbicara kepada seorang gadis tentang persoalanyang  rumit itu.” “Tetapi bukankah kau sudah sering berbincang dengan Sasi? Atau katakan bahwa hubunganmu telah menjadi semakin akrab di saat-saat terakhir ini?” bertanya Mahisa Murti. “Ya. Tetapi yang kami bicarakan adalah soal-soal yang tidak ada hubungannya dengan gejolak perasaanku. Bukan persoalan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan” jawab MahisaPukat. “Lalu apa maksudmu dengan pertolonganku?” bertanya Mahisa Murti kemudian. Mahisa Pukat memang menjadi ragu-ragu. Namun betapapun berat lidahnya Mahisa Pukat berkata ”Mahisa Murti. Bukankah kau juga telah bersahabat dengan Sasi? Aku lihat, kaupun sering berbincang-bincang dan bahkan bergurau dengan gadis itu. Karena itu maka aku kira kau akan dapat menolongku, menyatakan perasaanku kepadanya. Aku kira kau tahu yang akumaksudkan.” Jantung Mahisa Murti serasa semakin cepat dan semakin keras berdentang didalam dadanya.Hatinya telah terasa pedih bahwa ia harus menekan perasaannya sendiri dan memberi kesempatan kepada Mahisa Pukat. Namun ternyata Mahisa Pukat justru minta kepadanya untuk menyampaikan perasaannya kepada gadis itu. Untuk beberapa saat Mahisa Murti bagaikan membeku meskipun terasa darahnya semakin cepat mengalir diseluruh jalur-jalur pembuluh darahnya. Namun dengan sekuat tenaga Mahisa Murti menahan gejolak perasaannya itu agar tidak ditangkap oleh adiknya. Dengan demikian maka kesan itu memang tidak nampak diwajahnya. Denganmenahan hati iapun kemudian menjawab ”Mahisa Pukat. Sebagaimana kau ketahui, sampai saat ini aku jarang berhubungan dengan seorang gadis. Seperti kau akupun tidak tahu, bagaimana harusmengatakan kepada Sasi. Selama ini aku berbicara dan bahkan bergurau sebagaimana aku berbicara dan bergurau dengan siapapun yang kita kenal. Tanpa menghiraukan apakah ia laki-laki atau perempuan. Sudah tentu dengan batas-batas kewajaran. Karena itu, aku ragu-ragu, apakah aku akan dapatmelakukannya.” Mahisa Pukat justru mendesaknya ”Tetapi tentu ada bedanya jika kau berbicara bagi orang lain. Seandainya aku memaksa diri untuk mengatakannya, mungkin akan terucapkan pula. Tetapi jika gadis itu menolak,maka aku akan kehilangan harga diriku dihadapannya. Tetapi aku akan sempat mengatur perasaanku jika hal itu aku dengar dari orang lain, tidak langsung darimulut Sasi.” Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tidak dapat mengelak lagi. Jika ia tetap menolak, maka perasaan Mahisa Pukat tentu akan tersinggung. Karena itu betapapun pahitnya, maka Mahisa Murtipun berkata ”Baiklah Pukat. Aku akan mencoba untuk mengatakannya kepada Sasi. Namun demikian aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau sudah berpikir masak-masak ? Bukankah belum cukup lama kau berkenalan dengan gadis itu ?Apakah perasaan yang tersangkut dihatimu itu sudah kau timbang baik dan buruknya ? Kau bentangkan dan kau gulung kembali.” Mahisa Pukatmenarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian. ”Sudah. Aku sudah memikirkannya masak-masak. Sudah tentu aku berharap bahwa kaupun akan segera mendapatkan pasangan bagi hidupmu, sehingga aku tidak harus mendahuluimu. Apa salahnya jika kita pada satu saat ber sama-sama memasuki satu jenjang baru dalam tataran kehidupan kita.” Mahisa Murti mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tetapi ia masih berusaha untukmenekan perasaannya yang  bergejolak semakin cepat. “Baiklah Pukat” berkata Mahisa Murti kemudian ”sebelum aku kembali ke Padepokan Bajra Seta, aku akan menemui dan berbicara dengan Sa si.” “Terima kasih.” desis Mahisa Pukat ”jika satu saat kau mengalami kesulitan seperti aku sekarang ini, maka aku tentu akan menolongmu sebagaimana kau menolong aku sekarang.” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan inginmengendapkan perasaannya yang bergejolak. Namun ternyata kemudian Mahisa Murti tidak dapat membawa beban perasaannya itu seorang diri. Ketika ia mendapat kesempatan, maka Mahisa Murtipun telah menyatakannya kepada Mahendra, ayahnya. Mahendra ternyata ter sentuh pula hatinya. Tetapi ia tidak dapat mencegah Mahisa Pukat. Sehingga karena itu yang dilakukan oleh Mahendra kemudian adalah membesarkan hati Mahisa Murti. “Aku percaya bahwa kau akan mampu melakukannya” berkata Mahendra sambilmenepuk pundak anaknya. Mahisa Murtimengangguk kecil. Sementara itu Mahendra berkata selanjutnya ”Asal semuanya itu kau lakukan dengan ikhlas, maka kau tentu akan dapat meletakkan, sekurang-kurangnya mengurangi beban perasaanmu itu.” “Ya ayah” jawab Mahisa Murti ”aku akan mencobanya.” Dengan demikian, maka Mahisa Murtipun berusaha untuk menemui Sasi tanpa Mahisa Pukat sebelum ia meninggalkan Singasari dan kembali ke Padepokan Bajra Seta. Ternyata ketika Mahisa Murti pergi kerumah Arya Kuda Cemani seorang diri, maka keluarga Sasi merasakan kejanggalan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat seakan-akan tidak pernah berpisah sama sekali. Bukan saja dirumah, mengunjungi kawan-kawannya, bertamu dan bahkan di medan-medan pertempuran. Namun sambil tersenyum Mahisa Murti berkata sebelum Sasi bertanya ”Mahisa Pukat sedang sakit. Tidak terlalu berat. Kepalanya sajalah yang  sedang pening. Ayah sudah memberikan obat untuknya. Nanti sore ia tentu sudah sembuh.” “Sokurlah” sahut Sa si, yang  kemudian mempersilahkan Mahisa Murti untuk duduk di serambi gandok. “Ayah sedang tidak ada” berkata Sasi ”kakang Kuda Semedi dan Kakang Kuda Semeni ada di baraknya.” “Jadi hanya ibu dan para pembantu saja yang  ada dirumah ?” bertanya Mahisa Murti. “Ya” jawab Sasi ”atau barangkali kau mempunyai keperluan dengan ayah ?” “Tidak. Tidak. Aku hanya datang seperti bia sa. Berkunjung” jawab Mahisa Murti dengan sertameita. Ketika Sa si masuk untuk mengambil minuman, ibunya memang bertanya kenapaMahisa Murti hanya sendiri saja. “Mahisa Pukat sedang sakit ibu ?” jawab Sa si. “Sokurlah” desis ibunya. ” Kenapa sokur ?” bertanya Sasi. “Maksudku bukan karena sebab lain” sahut ibunya. ”Bukan justru karena Mahisa Pukat sakit.” ..... kayaknya ada alenia yg ga tercetak dibuku aslinya ..... Sasi menjadi gelisah. Wajahnya nampak menjadi merah. Sementara sikapnyapun terasa kurangmapan. Karena itu, maka Mahisa Murlipun berkata ”Baiklah Sasi. Aku tidak dapat memaksamu untuk menjawab pertanyaanku atas nama Mahisa Pukat. Karena itu, biarlah aku minta diri. Kau dapat mengatur perasaanmu lebih dahulu. Apalagi persoalan ini bukan persoalan untuk sehari dua hari. Tetapi untuk selama-lamanya. Jika kau tergesa -gesa mengambil keputusan dan akhirnya keputusan itu ternyata salah, maka kau akan meny esal untuk waktu yang  berkepanjangan. Karena itu, pikirkan masak-masak. Mungkin besok atau nantimalam aku datang lagi untuk minta diri kepada keluargamu bahwa aku akan segera meninggalkan Singasari. Kau tidak usah memberi jawaban kepadaku dengan kata-kata. Tetapi kau cukupmemberikan isyarat. Jika isyarat itu cukupmey akinkan, maka ayahpun akan segerameny elesaikannya.” Sasi mengusap keringat dikeningnya. Kegelisahannya telah memeras keringatnya. Bukan saja keningnya menjadi basah, tetapi seluruh tubuhnyamenjadi basah oleh keringat. Mahisa Murti tidak menunggu terlalu lama. Iapun segera minta diri sambil berkata ”Aku akan datang lagi untukminta diri” Sepeninggal Mahisa Murti,maka Sasi benar-benar menjadi gelisah. Ia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya. Ia tidak tahu, apakah ia mendengar pernyataan itu dari Mahisa Pukat atau Mahisa Murti sendiri. Baginy a kedua-duanya memiliki banyak per samaan. Ternyata orang tua Sasi membaca kegelisahan perasaan anak gadisny a. Tetapi mereka tidak dapat segera bertanya langsung tentang kegelisahan itu. Arya Kuda Cemani ketika pulang dari tugasnya, telah diberitahukan apa yang terjadi dengan Sasi Sambil menarik nafas dalam-dalam Arya Kuda Cemani itu berdesis ”Apakah ju stru terjadi salah paham, sehingga kedua anak muda itu telah saling mendahului untuk menyatakan perasaannya ?” Ketika ayahnya melihat anak gadisnya merenung sendiri didckat sumur dan bersandar pada dinding pakiwan, Arya Cemani mendekatinya sambil bertanya ”Kenapa kau nampak gelisah, Sasi ?” Sasi hanya menunduk saja. Namun ayahnya mendesaknya ”Apakah tadi Mahisa Murti datang kemari ?” Sasi hanya menunduk saja. Namun ayahnya mendesaknya ”Apakah tadi Mahisa Murti datang kemari ?” Sasi tidak dapat berbohong. Karena itu,maka gadis itupun menganggukkan kepalanya. “Apa yang dikatakannya ?” bertanya ayahnya. Sasi termangu-mangu. Namun kemudian iapun menjawab ” Ia akan datang lagi nanti ayah. Ia akan minta diri kembali ke- Padepokannya.” “Kenapa sendiri ?” bertanya ayahnya pula. Sasi tertegun sejenak. Namun kemudian iapun menjawab pula ”Hanya Mahisa Murti yang  akan kembali ke Padepokannya. Mahisa Pukat masih akan tinggal beberapa lama lagi di Kotaraja.” Arya Kuda Cemani menarik nafas dalam-dalam. Ia justru merasa cemas, bahwa apa yang  dikatakannya kepada Mahendra akan dapat menimbulkan salah paham kepada kedua orang anaknya sehingga hubungan kedua orang ber saudara itumenjadi retak. Tetapi Arya Kuda Cemani tidak bertanya lebih jauh. Ia justru bertanya kepada dirinya sendiri, apakah kata-katanya yang diucapkan kepada Mahendra waktu itu terlalu kasar ? Atau ada sebab lain sehingga Mahisa Murti harus kembali kepadepokannya. Yang dapat dilakukan oleh Arya Kuda Cemani hanya menunggu.Nanti, Mahisa Murti akan datang lagi. Sebenarnyalah lewat senja Mahisa Murti telah datang lagi kerumah Arya Kuda Cemani. Tidak sendiri, tetapi bersama ay ahnya, Mahendra. Kedatangannya telah disambut oleh Arya Kuda Cemani sendiri yangmempersilahkannya duduk dipringgitan. Seperti telah dikatakan oleh Sasi, maka Mahendra juga mengatakan bahwa dalam waktu dekat Mahisa Murti akan kembali ke Padepokan Bajra Seta. “Anak-anakku telah terlalu lama meninggalkan padepokan itu. Para cantrik akan dapatmenjadi gelisah karenanya.” “Tetapi angger Mahisa Pukat tidak kembali bersamanya ?” bertanya Arya Kuda Cemani. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya ” Ia masih ingin tetap berada di Kotaraja untuk beberapa saat.” Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Ia tidak dapat mendesak lebih jauh untuk mengetahui alasan sebenarnya, kenapa kedua orang bersaudara itu akan berpisah. Sementara itu Sasi telah keluar dari pintu pringgitan sambil membawa minuman hangat dan beberapa jenis makanan. Adalah satu kesempatan bagi Mahisa Murti untukmengetahui jawaban bagi Mahisa Pukat. Ketika Sasi meletakkan mangkuk minuman dihadapan Mahisa Murti, maka Mahisa Murti sempat berdesis ”Bagaimana ?” Sasi memandangnya sejenak. Baru kemudian ia memenuhi permintaan Mahisa Murti. Dengan cepat sehingga tidak tertangkap oleh perhatian ay ahnya, Sasipun mengangguk kecil. Namun demikian ia mengangguk,maka iapun dengan cepat meninggalkan pringgitan itu. Jantung Mahisa Murti bagaikan meledak. Ia memang menunggu isyarat itu. Tetapi ketika ia benar-benar menerima isy arat sebagaimana diharapkan, maka rasa -rasanya lantai tempat ia duduk itu telah berguncang. Karena itu maka Mahisa Murti benar-benar harus berjuang untuk bertahan agar ia tidak kehilangan akal. Saat-saat berikutnya, Mahisa Murti memang bagaikan tersiksa. Ia seakan-akan tidak mendengar lagi pembicaraan antara ay ahnya dan Arya Kuda Cemani. Baru kemudian, ketika ayahnya minta diri, Mahisa Murti sempat menarik nafas dalam-dalam. Ra sa-rasanya ia sudah akan terbeba s dari penderitaanyang menghimpit jiwanya itu. Namun ay ahnya masih juga berkata ”Nah, bukankah kau datang untukminta diri? Agaknya kau belum tentu mendapat kesempatan lagi datang kemari.” Mahisa Murti yang sedang gelisah itu kemudian telah memaksa diri untuk minta diri kepada Arya Kuda Cemani. Namun sementara itu Arya Kuda Cemani telah memanggil Sasi dan ibunya untuk ikutmenemui Mahisa Murti yang akan segera meninggalkan Kotaraja kembali ke Padepokan Bajra Seta. ” Mahisa Pukat masih akan tinggal. Ia ingin mengawani ay ah untuk beberapa lama” berkata Mahisa Murti. Arya Kuda Cemani atas nama keluarganya tidak dapat mengatakan apa-apa kecuali ucapan selamat jalan. “Semoga kau selamat sampai ke Padepokan ngger” berkata Arya Kuda Cemanimewakili keluarganya. “Terima kasih Raden” jawab Mahisa Murti dengan suara yang bergetar oleh getar jantung di dadanya. Sasi sendiri tidak mengucapkan kata-kata apapun juga. Tetapi pandanganmatanyamemangmenjadi say u. Demikianlah sejenak kemudian Mahendra dan Mahisa Murti pun meninggalkan rumah Arya Kuda Cemani. Mereka menyusuri jalan yang  gelap yang  hanya kadang-kadang disinari oleh oncor-oncor yang terpasang di regol-regol rumah orang-orang berada. Namun ketika mereka keluar dari regol padukuhan, maka Mahisa Murti pun berkata” Ay ah, silahkan ay ah mengambil jalanyang  biasanya kita lalui. Aku akan mengambil jalan lain. “Kau akan lewat jalan; yagmana?” bertanya Mahendra. “Aku ingin berjalan sendiri” jawab Mahisa Murti. Mahendra hanya dapatmenarik nafasdalam-dalam. Tetapi ia memahami perasaan Mahisa Murti. Sehingga karena itu maka iapun berkata ”Baiklah. Tetapi jangan memaksa aku harusmencarimu. Kau harus segera berada di rumah pula.” “Tentu tidak akan berselisih banyak ayah” jawab Mahisa Murti yang  ternyata memilih jalan melalui bulak yang  pernah dilaluinya ketika ia dicegat oleh Lembu Atak. Mahisa Murtipun kemudian telah hilang didalam gelapnya malam di bulak yang  tidak terlalu panjang. Selangkah demi selangkah kakinya terayun menusuk semakin dalam menghunjam ke kegelapan. Ketika ia berdiri di tengah-tengah bulak, maka Mahisa Murti itupun menghentikan langkahnya. Dipandanginya langit yang biru gelap digayuti oleh bintang gemintang dari cakrawala sampai ke cakrawala. Mahisa Murtimencoba beberapa kalimenarik nafas dalamdalam untuk mengendapkan perasaannya. Namun setiap kali perasaannya yang telah bergejolak itu bagaikan menyala membakar isi dadanya. Tiba -tiba saja Mahisa Murti berdiri tegak diatas kedua kakinya yang  renggang. Kedua tangannya yang mengepal tinju diangkatnya setinggi bahunya. Satu teriakan nyaring telah melengking memecahkan sepinya malam. Geterannya telah terlontar jauh membentur udara malamyang  dingin. Gemanya pun telah ber sahutan dari satu sisi dan sisi yang lain. Namun suaranya ternyata tidak meny entuh telinga siapa pun sehingga teriakannya sama sekali tidakmenarik perhatian seorang pun. Bulak itu memang sepi, sesepi hati Mahisa Murti itu sendiri. Namun dengan demikian rasa -rasanya beban di dada Mahisa Murti berkurang. Meskipun masih terasa betapa pahitnya kenyataan yang harusdihadapi, namun Mahisa Murti telah menemukan kembali keseimbangan jiwanya. Perlahan-lahan Mahisa Murti melangkah kembali menyusuri gelapny a malam di tengah-tengah bulak. Baru setelah jiwanya tenang, Mahisa Murti melihat kunang-kunang yang berkeredipan di daun-daun padi. Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian mendengar gemericik air yang mengalir di parit di tepi jalan yang dilaluinya. Selisih waktu yang diperlukan oleh Mahisa Murti dengan ay ahnya memang tidak terlalu banyak. Ketika ia kemudian naik tangga tempat tinggal Mahendra di bagian belakang istana,maka hatinya tidak lagi terguncang-guncang. Karena itu ketika kemudian ia berbicara dengan Mahisa Pukat, maka dengan hati yang  tatag ia berkata ”Sasi telah memberikan isyarat itu.” “Apa katanya?” bertanya Mahisa Pukat tidak sabar. Ia tidak berkata, apa -apa. Tetapi ia menganggukkan kepalanya yang menurut tangkapanku, ia telahmengiakannya” jawab Mahisa Murti dengan nada datar. “Benar begitu?” desak Mahisa Pukat. “Tentu kau harus mengulanginya. Kau harus meya kinkan dirimu bahwa Sasi tidak berkeberatan. Tetapi kaupun harus meyakinkan Sasi, bahwa kau benar-benar menghendakinya.” .... hihi terjadi pemangkasan dari buku aslinya ga sambung nihh.... Sejenak kemudian Mahisa Murti itupun telah berhadapan dengan orang yang meny ebut diriny a Sardula Mapan. Orangorang yang  ingin menyaksikan perkelahian itupun telah melingkar seakan-akan telah membentuk lingkaran arena perang tanding. Ternyata Sardula Mapan benar-benar merasa ter singgung melihat sikap Mahisa Murti. Anakmuda itu sama sekali tidak menjadi cemas atau gelisah. Ia tetap saja tenangmeskipun ia sudah mendapat keterangan dari pemilik kedai itu pentang seorang yang  bernama Sardula Mapan


Jilid103
PARA PRAJURIT yang berdiri di lingkaran arena itulah yang justrumenjadi berdebar-debar. Meskipunmereka pernah mendengar tentang kelebihan anak muda itu, namun mereka masih belum dapatmey akinkannya. Sejenak kemudian, maka orang yang  meny ebut dirinya Sardula Mapan itupun berkata”Nah, aku memberikan kesempatan terakhir, sebelum aku memilin lehermu.” “Kesempatan apa?” bertanya Mahisa Murti. “Kau memang terlalu sombong anak muda. Tetapi aku masih tetap dalam pendirianku. Aku tidak akan membunuhmu. Aku akan membiarkan kau hidup dan berceritera tentang orang yang  bernama Sardula Mapan” geram orang itu. “Aku tidak akan berjanji apapun” jawab Mahisa Murti ”tetapi jika kau terbunuh juga, itu bukan salahku.” Sardula Mapan memandang Mahisa Murti dengan sorot mata yang menyala. Kemarahannya rasa-rasanya telah membakar ubun-ubunnya. Karena itu, maka iapun mulai bergerakmeny erang Mahisa Murti. Mahisa Murtiyang  telah bersiap sepenuhnya itupun dengan cepat telah menghindar, sehingga serangan lawannya tidak menyentuhnya. Namun serangan-serangan berikutnyapun telah meluncur pula mendesak Mahisa Murti beberapa langkah surut. Ternyata Mahisa Murti memang masih ingin menjajagi kemampuan lawannya. Karena itu, maka ia lebih banyak melayani serangan_serangan Sardula Mapan. Bahkan sekalisekali ia berusaha untuk membentur serangan lawannya itu meskipun tidak sepenuhnya. Namun bahwa Mahisa Murti beberapa kali meloncat mundur itu, bagi lawannya, seakan-akan merupakan satu isy arat bahwa Mahisa Murti berada dalam kesulitan. Meskipun demikian, Sardula Mapan yang  merasa dirinya orang yang  paling ditakuti itupun merasa heran. Meskipun beberapa kali lawannya yangmasih muda itu terdesak, namun beberapa lama pertempuran itu terjadi, ia masih belum dapat mengalahkannya. Karena itu, maka kemarahan Sardula Mapan pun semakin membakar jantungnya. Sehingga dengan demikian, maka iapun telahmeningkatkan serangan-serangannya. Lawannya yang  masih muda itu memang selalu terdesak. Sekali-sekali anakmuda itu meloncatmengambil jarak. Tetapi serangan-serangannya masih belum berhasil mengenai sa sarannya. Anak muda yang terdesak itu masih saja dengan tangkas mampu menghindari serangan-serangannya betapapun cepatnya. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti mulai dapat menduga kemampuan lawannya. Meskipun Mahisa Murti yakin, bahwa ilmu orang yang  meny ebut dirinya Sardula Mapan itumasih akan dapatmeningkat lagi. Demikianlah, maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin cepat. Mahisa Murti masih saja nampak terdesak. Tetapi serangan lawannya belum pernah menyentuhnya. Karena itu, ketika sambil meloncat mengambil jarak, Mahisa Murti sempat meny entuh pundak Sardula Mapan, maka lawannya itu terkejut bukan buatan. Sentuhan itu sendiri tidak menyakitinya. Tetapi bahwa anak muda itu berhasil meny entuhnya, justru saat ia terdesak telah membuatnya gelisah. “Apa sajayang dapat dilakukan oleh anak ini?” pertanyaan itu telah semakinmengganggunya. Ketika Sardula Mapan itu semakin meningkatkan ilmunya bahkan sampai ke puncaknya, maka Mahisa Murti mulai berusaha untukmelawannya dengan sungguh-sungguh. Tetapi karena orang itu memang tidak berniat membunuhnya, meskipun dengan maksud untuk membesarkan namanya, maka Mahisa Murti pun sama sekali tidak berniat untukmelakukannya pula. Yang dilakukan oleh Mahisa Murti kemudian adalah berusaha untuk mengalahkannya. Tetapi tidak untuk membunuh atau menyakitinya ataumembuatnya cacat. Karena itu,maka Mahisa Murti akan memancingnya untuk bertempur semakin cepat dan keras. Tanpa mempergunakan ilmunya untuk menghisap kekuatan dan kemampuan lawan, maka Mahisa Murti akanmembiarkan lawannya. itu kelelahan dan kehabisan tenaga dengan sendiriny a, sehingga perlawanannya pun akan terhenti. Sebenarnyalah, Sardula Mapan yang  marah itu tidak menyadari, bahwa lawannya telah memaksanya untuk mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan loncatanloncatan panjang Mahisa Murti berusaha menghindari serangan-serangan Sardula Mapan. Namun tiba -tiba saja Mahisa Murtilah yang  meloncat meny erang. Bahkan hampir setiap serangan Mahisa Murti tidak dapat dihindari atau ditangkis oleh Sardula Mapan. Ketika pundaknya tersentuh tangan anak muda itu, Sardula Mapan telah merasa tersinggung. Namun kemudian berturut -turut serangan Mahisa Murti itu mengenainya. Tidak terlalu keras. Namun membuatnyamenjadi semakinmarah. Lengannya, dadanya dan bahkan anak muda itu telah memukul keningnya. Kemarahan sardula Mapan telah membuatnya menghen tak-hentakkan kemampuannya. Namun serangannya masih sa ja tidak dapatmeny entuh sasaran. Puncak dari kemarahan Sardula Mapan adalah serangan Mahisa Murti kemudian. Serangan yang datangnya begitu cepat. Justru saat anak muda itu seakan-akan terdesak dan berloncatan surut.Namun tiba -tiba saja ketika Sardula Mapan memburunya, Mahisa Pukat tidakmenghindar. Tetapi dengan cepat ia menepis serangan Sardula Mapan itu kesamping. Tangannya yang  terayun cepat itu bagaikan dilemparkan dengan kekuatan yang  sangat besar, sehingga badannya ikut pula berputar. Kesempatan itu telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh Mahisa Murti. Ia tidak ingin memukul tengkuk lawannya sehingga patah. Tetapi dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, maka tangannya telah menyambar ikat kepala SardulaMapan. Beberapa orangmenyaksikan hal itu terkejut bukan buatan. Beberapa orang justru tidak dapatmenahan desah yang tibatiba saja meluncur darimulutmereka. Mengalami perlakuan itu, maka Sardula Mapan telah meloncat beberapa langkah surut. Wajahnya menjadi merah padam. Bibirnya bergerak-gerak, tetapi oleh kemarahan yang serasa menyumbat dadanya, maka kata-kata yang meluncur darimulutnya adalah suara yg gagap ”Kau, kau, anak iblis.” “Ki Sanak” berkata Mahisa Murti ”sekarang yang  aku pungut baru ikat kepalamu. Tetapi jika kau masih saja memaksaku untuk berkelahi maka pada kesempatan lain, mungkin aku inginmemungut kepalamu.” “Sebenarnya aku tidak ingin membunuhmu. Tetapi kau yang tidak tahu diri itu telah membuat aku merubah keputusanku. Kebaikan hatiku kau salah gunakan. Kau ju stru telah menghinaku. Kau bukan saja mengenai tubuhku dengan serangan-seranganmu, tetapi kau telah berani meny entuh bagian dari kepalaku.” geram orang yang meny ebut dirinya SardulaMapan itu. Tetapi Mahisa Murti justru tertawa. Katanya ”Kenapa kau masih saja merajuk ? Jika kaumarah,marahlah. Apa saja yang ingin kau lakukan, lakukanlah. Tetapi ingat, aku akan melawanmu habis-habisan.” “Semula aku tidak ingin membunuhmu. Tetapi kemudian aku telah merubah keputusanku. Aku akan membunuhmu dengan senjataku yang  jarang sekali aku pergunakan.” berkata orang itu dengan lantang. Mahisa Murti masih saja tertawa. Katanya ”Kau akan menyakiti dirimu sendiri. Aku ingin menasehatkan agar kau urungkan niatmu untuk mempergunakan senjatamu. Karena jika kau tarik senjatamu, maka itu bagiku merupakan satu isy arat agar aku juga menarik senjataku.” Tetapi orang itu tidak menghiraukannya. Ia sudah merasa benar-benar terhina oleh sikap anak muda yang  telah mengambil iakt kepalanya itu langsung dari kepalanya. Karena itu, sejenak kemudian, orang itupun telah menggenggam sebilah keris yang  besar, yang  hampir sebesar dan sepanjang sebilah pedang. Namun dengan demikian Mahisa Murtipun teringat pula akan pedangnya yang disebut oleh pemiliknya sebelumnya dengan sebilah keris. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Senjatanya itu mempunyai pasangan yang dibawa oleh Mahisa Pukat. Tetapi sepa sang senjata itu kemudian terpaksa terpisah karena Mahisa Pukat tidak bersertanya kembali ke padepokan. Dengan demikian, maka kedua orang itupun telah berhadapan kembali. Sardula Mapan itu sudah tidak terkekang lagi. Apalagi ketika Mahisa Murtimelemparkan ikat kepalanya sambil berkata ”Jika kau sayang  akan ikat kepalamu,marilah, aku kembalikan kepadamu.” Orang itu tidak menghiraukannya. Sama sekali tidak ada usahanya untukmenangkap ikat kepalanya yang  dilemparkan oleh Mahisa Murti. Namun yang dilakukannya adalah justru meloncat meny erang dengan garangnya. Kerisny a terjulur lurus langsungmengarah ke dadanya. Tetapi ternyata Mahisa Murti dengan tangkasnya bergeser sambil menangkis serangan itu dengan pedangnya. Ketika terdengar suara berdentang, maka bungampipun telah berhamburan. Orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi semakin cemas. Tetapi mereka merasa heran, bahwa anak muda yang  nampaknya selalu terdesak itu, justru telahmampu mengenai lawannya dan bahkan merampas ikat kepalanya. Sudah tentu hal itu merupakan penghinaan yang  sulit dimaafkan oleh Sardula Mapan. Ternyata bahwa Sardula Mapanpun memiliki kemampuan ilmu pedang yang  tinggi meskipun yang digenggam sebilah keris. Tetapi ujud keris itu memang hampir sebesar dan sepanjang pedang. Dalam pertempuran bersenjata itu, Mahisa Murti masih sa ja nampak terdesak. Namun sekali-sekali sambaran ujung pedangnya telahmengejutkan Sardula Mapan. Sementara itu, Mahisa Murti masih tetap memancingnya agar lawannya itu bertempur dengan mengerahkan tenaga sepenuhnya. Sardula Mapan yang  tersinggung karena Mahisa Murti telah menyambar ikat kepalanya memang telah terpancing. Dengan loncatan panjang ia berusaha menggapai dan mengenai tubuh anak muda itu. Bahkan semakin lama semakin garang. Beberapa kali Mahisa Murti meloncat mundur. Namun demikian Sardula Mapan mendesaknya semakin jauh maka Mahisa Murtipun tiba -tiba menghentakkan ilmu pedangnya dan menyerang lawannya dengan kecepatan yang mengejutkan. Dengan demikianmaka Sardula Mapan itu telah diguncang oleh cara Mahisa Murti melawannya. Sekali-sekali Sardula Mapan berhasil mendesak lawannya. Namun tiba -tiba ia sendirilahyang  justru terdesak. Dengan demikian maka Sardula Mapan telah mengerahkan segenap kemampuannya. Ketika ia merasa mampu mendesak lawannya, maka ia ingin dengan cepat mengakhiri pertempuran itu. Namun lawannya yang  muda itu seakanakan justrumenjadi semakin liat. Bahkan kemudian lawannya itulah yang  mendesaknya, sehingga Sardula Mapan itu juga mengerahkan kemampuannya untuk bertahan. Sebenarnyalah, semakin lama Sardula Mapan memang harus memeras tenaga dan kemampuannya. Disatu saat ia semakin bernafsu untuk segera menang, namun disaat lain ia mengumpat-umpat karena lawannya telah mendesaknya. Kemarahan Sardula Mapan menjadi semakin memuncak ketika ujung pedang Mahisa Murti justru telah meny entuh kulitnya. Segores luka telah tergores dipundaknya. Tidak terlalu dalam.Namun dari luka itu, darah telah mengalir. Kepala Sardula Mapan rasa-rasanya hampir meledak oleh kemarahan yang  membakar jantungnya. Darahnya serasa mendidihmemanasi seluruh kulit dagingnya. Sambil menggeram Sardula Mapan menyerang semakin garang. Sementara Mahisa Murti melayaninya dengan tangkasnya,. Karena itulah, maka sebagaimana diperhitungkan oleh Mahisa Murti, maka tenaga Sardula Mapan memang mulai menjadi su sut. Mahisa Murti sama sekali tidak mempergunakan ilmunya yang mampu menghisap tenaga dan kemampuan lawan. Yang dilakukannya sekedar memaksa Sardula Mapan untuk mengerahkan tenaganya sampai kepuncak kemampuannya. Demikian kekuatan dan kemampuan Sardula Mapan mulai su sut, maka Mahisa Murti justru semakin cepat bergerak. Ujung pedangnya bergerak semakin cepat. Bahkan kemudian seperti seekor lalat yang berterbangan mengelilingi tubuh SardulaMapan dan sesekali hinggap dikulitnya. Sardula Mapan sendiri masih belum menyadari, bahwa tenaga dan dengan sendirinya kemampuannya mulai susut. Kemarahannyalah yang  menghentak-hentaknya untuk memaksakan diri bertempur semakin garang. Namun akhirnya Sardula Mapan tidak dapat menghindari keny ataan itu. Tenaganya yang semakin terkurasmembuatnya semakin kehilangan keseimbangannya. Beberapa kali Sardula Mapan justru terseret oleh serangan-serangannya sendiri yang tidakmeny entuh sasaran. Namun Mahisa Murti tidakmemberinya kesempatan untuk beristirahat. Disaat-saat Sardula Mapan itu terengah-engah, maka Mahisa Murtilah yang  telah menggelitiknya dengan serangan-serangannya. Sesekali ujung pedangnya meny entuh kulit lawannya. Hanya sekedar menggores seleret kecil. Namun ketika keringat meny entuh luka kecil itu, maka perasaan pedihpun telahmeny engat pula. Sambil mengumpat-umpat Sardula Mapan masih berusaha melawan. Namun akhirnya ia tidak dapat mengingkari bahwa kekuatannya sudah hampir habis sama sekali. Beberapa kali ia terhuyung-huyung hampir kehilangan keseimbangan. Namun Mahisa Murti masih membiarkannya bertahan untuk tetap berdiri. Pada saat yang demikian itulah,maka SardulaMapan mulai menyadari sepenuhnya keadaannya. Ia mulai mengerti, bagaimana anakmuda itu memancingnya sehingga tenaganya terkuras habis. Ketika Sardula Mapan meny erang dengan pedang terjulur serta Mahisa Murti begitu saja bergeser kesamping, maka rasa -rasanya Sardula Mapan itu hampir jatuh terjerembab. Jika saja saat itu Mahisa Murti menyerangnya,maka habislah sudah segala-galanya. Tetapi kemarahan Sardula Mapan memang tidak dapat diredamnya. Yang dilakukan oleh Mahisa Murti benar-benar penghinaan yang  tiada taranya. Karena itu maka iapun kemudian berteriak ”Cepat, selesaikan anak ini” Beberapa orang kawannya mulai bergerak. Tetapi demikian mereka melangkah maju, maka seorang dari ketiga orang prajurit yang  menyertai Mahisa Murti berkata lantang ”Ki Sanak. Sebaiknya Ki Sanak tidak u sah turut campur. Biarlah mereka meny elesaikan permainan dengan adil tanpa dicampuri orang lain.” “Persetan kau. Sebaikny a kaulah yang  tidak usah turut campur. Kami adalah kawan-kawan Sardula Mapan yang wajib membantunya jika ia dalam keadaan gawat.” “Bukankah kau dan kawan-kawanmu melihat bahwa kami datang bersama anak muda itu. Jika kau merasa wajib membantu kawanmu, maka kami juga merasa berkewajiban untukmelakukannya.” Kawan-kawan Sardula Mapan memangmenjadi ragu-ragu. Jika saja mereka memiliki kemampuan seperti anakmuda itu, maka mereka memang akan kehilangan kesempatan untuk mengalahkannya. Karena itu, untuk sesaat mereka memang menjadi ragu. Namun agaknya pengaruh Sardula Mapan terhadap mereka cukup besar. Karena itu,maka ketika Sardula Mapan itu sekali lagi berteriak,maka mereka tidak dapatmenolak lagi. Apalagi mereka merasa bahwa jumlah mereka lebih banyak dari jumlah kawan-kawan anakmuda itu. Dalam waktu singkat, lima orang telah bersiap. Berenam dengan Sardula Mapan mereka menghadapi Mahisa Murti dan tiga orang kawannya. Namun sambil tertawa Mahisa Murti berkata ”Kenapa kalian masih berniat untuk berkelahi terus ? Bukankah kita dapatmenganggap bahwa persoalan kita sudah selesai sampai disini ?” “Persetan” geram Sardula Mapan ”kau tidak usah berusaha menyelamatkan diri sesudah dengan sombong kau menghina aku.” “Tetapi apa yang  akan kau lakukan itu justru hanya akan menambah parah perasaanmu. Kau akan merasa lebih terhina lagi, karena kawan-kawanmu tidak akan dapat mengalahkan kawan-kawankumeskipun jumlah kalian lebih banyak.” “Jangan dengarkan” teriak Sardula Mapan ”cepat, lakukan. Apa lagiyang  kalian tunggu ?” Kelima orang itupun segera bergerak semakin dekat. Tetapi ber samaan dengan itu, tiga orang prajurit yang meny ertai perjalanan Mahisa Murti telah melangkah maju pula. Mereka memang tidak mengenakan pakaian keprajuritan. Tetapi mereka tidakmelupakan senjatamereka. Sejenak kedua kelompok itupun berhadapan. Namun Sardula Mapan sendiri seakan-akan telah kehabisan tenaga. Bahkan ditubuhnya terdapat beberapa gores luka yang meskipun tidak terlalu dalam, namun luka itu telah menodai pakaiannya dengan darah. Sejenak kawan-kawan Sardula Mapan itu masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Apalagi ketika mereka melihat ketiga orang kawan Mahisa Murtiyang  nampakmeyakinkan. “Ki Sanak” berkata Mahisa Murti ”sekali lagi aku minta, urungkan niat kalian untuk memperluas persoalan yang sebenarnya tidak terlalu penting ini. Tetapi jika kalian memaksakannya, maka kami akan dapat kehilangan kesabaran, sehingga kamipun akan dapat bertindak semakin keras menghadapi kalian. Aku tahu bahwa kalian bukan orang-orang jahat yang sebenarnya. Tetapi kalian adalah orang-orang yang terlalu yakin akan kelebihan kalian, sehingga kalian sering berbuat sewenang-wenang terhadap orane lain. Karena itu, aku minta hentikan tingkah laku kalian itu sebelum kalian mengalami kesulitanyang  semakin parah.” Sardula Mapan memang menjadi ragu-ragu. Luka-luka ditubuhnya terasa semakin pedih meskipun luka-luka itu tidak terlalu parah. Sementara itu ampat orang yang  telah bersiap, berdiri tegak dihadapannya. Sikap dan tatapan mata mereka yang meyakinkan memang membuat Sardula Mapan dan kawankawannya harus berpikir kembali apakah mereka akan meneruskan niatmereka. Sementara itu Mahisa Murtipun berkata ”Nah, kalian mempunyai kesempatan untukmempertimbangkan sekali lagi niat kalian. Selanjutnya jika kita sudah mulai lagi dengan perkelahian,maka aku tidak akan bertanya lagi, apakah kalian akan menghancurkan diri sendiri atau akan mengambil sikap bijaksana.” Wajah Sardula Mapan menjadi merah padam, sementara luka-lukanya terasa semakin pedih, Namun ia memang raguragu untuk memaksa kawan-kawannya bertempur melawan keempat orang yang  nampaknya memangmemiliki kelebihan. Meskipun jumlah kawan-kawannya lebih banyak, namun mereka tidak memiliki kemampuan sebagaimana Sardula Mapan. Sementara itu, ia sama sekali tidak berdaya melawan anak muda yang sejak semula dikiranya selalu terdesak itu. “ Ia dengan sengaja mempermainkan aku” berkata Sardula Mapan itu didalam hatinya. Dengan demikian Sardula Mapan itu tidakmau menambah kekalahannya lagi. Ia sudah cukup dipermalukan, sehingga nalarnyamasih sempatmemperhitungkan, bahwa perkelahian berikutnya hanya akan meyakinkan orang -orang yang menyaksikannya bahwa ia memang tidak berdaya. Menghadapi anak muda dan kawan-kawannya sama sekali tidak berarti apa-apa. Sementara sebelumnya Sardula Mapan adalah orang yang meskipun diantara mereka sama sekali belum pernahmengenalnya secara pribadi. Karena itu, maka akhirnya Sardula Mapanitu tidak dapat mengingkari keny ataan yang  dihadapinya. Meskipun ia masih tetap berusaha untukmempertahankan harga dirinya. Dengan lantang iapun kemudian berkata ”Ternyata aku tidak sampai hati berbuat lebih jauh. Melihat wajahmu yang masih kekanak-kanakan itu aku memang merasa ka sihan. Karena itu maka kali ini kalian aku ampuni. Kalian boleh pergi sekehendak hatimu. Tetapi ingat, jangan kembali lagi.” Hampir berbareng Mahisa Murti dan ketiga orang prajurit yang  meny ertainya tertawa.Namun Mahisa Murti kemudian menyahut ”Terima kasih Ki Sanak. Tetapi maaf, aku belum ingin pergi. Aku masih meninggalkanmangkuk minuman didalam. Demikian pula kawan-kawanku. Karena itu, kami akan menghabiskannya lebih dahulu.” “Setan kau. Kau memang tidak tahu diri.” geram Sardula Mapan. Lalu katanya ”Tetapi ingat, untuk selanjutnya jangan kembali lagi kemari.” Mahisa Murti masih saja tertawa. Katanya ”Sudahlah Ki Sanak. Kenapa tidak kita hentikan permusuhan ini. Kau tahu bahwa ancaman-ancaman semacam itu tidak ada gunanya sama sekali. Aku harap kau mengetahui bahwa untuk selanjutnya aku akan sering lewat jalan ini. Aku tinggal di Padepokan Bajra Seta, sementara ay ahku berada di Kotaraja. nah, bukankah aku akan sering melewati jalan ini ? Aku akan sering pula singgah di kedai ini dan aku akan selalu bertanya tentang seseorang yang  bernama Sardula Mapan. Apakah ia masih sering datang kemari atau tidak.” Wajah Sardula Mapan menjadi merah. Tetapi ia memang tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu,maka katanya kepada kawan-kawannya ”Kita tinggalkan iblis2 itu. Tidak ada artinya apa-apa jika kita melayaninya. Aku tidakmempunyaiwaktu.” Demikianlah, maka Sardula M;man itupun segera melangkah ke kudanya diikuti oleh kawan-kawannya. Lukalukanya memang tidak terlalu berbahaya. Namun pakaiannya telah ternoda darahnya y gmenitik dari luka-lukanya. Tetapi ketika Sardula Mapan itu akan meloncat ke punggung kudanya, Mahisa Murtimasih berkata ”Baiklah. Aku yang akan membayar harga makanan dan minuman yang telah kalianmakan dan kalian minum di kedai ini.” Telinga Sardula Mapan rasa-rasanya seperti tersengat api. Dengan marah Sardula mapan telah memungut beberapa keping uang dari kantong ikat-pinggangnya. Sambil melemparkan uang itu kepada pemilik kedai itu berkata ”Ambil uang itu. Kelebihannya adalah pertanda kemurahanku.” Pemilik kedai itu hanya termangu -mangu saja. Sebelum ia mengambil uang itu,maka Sardula Mapan itu telah meloncat ke punggung kudanya dan dengan menghentakkan kendalinya, maka kuda yang  tegar itupun segera berlari meninggalkan kedai itu diikuti oleh kawan-kawannya. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang berkeliling ia berkata kepada orang-orang yang berdiri termangu-mangu mengelilingi arena itu ”Ki Sanak. Pertunjukkan sudah selesai. Nah, lupakan apa yang  telah terjadi.” Orang-orang yang termangu-mangu itu bagaikan terbangun darimimpi. Merekapun satu -satu meninggalkan lingkaran itu. Namun dihati mereka masih mengembang kekagumannya kepada anak muda yang telah berhasil mengalahkan Sardula Mapan yang  dikenal sebagai seorang yang  tidak terkalahkan dilingkungannya. Sementara itu Mahisa Murtipun telah mendekati pemilik kedai yang  termangu-mangu sambil berkata ”ambil uang itu. Hitunglah, apakah sudah cukup atau belum. Jika ternyata masih kurang, biarlah aku menggenapinya.” Namun seorang prajurit yangmenyertainya berkata sambil tersenyum ”bukankah kelebihannya pertanda kemurahan hatinya?” Mahisa Murtipun tertawa, sementara pemilik kedai itu tengah memungut dan kemudian menghitung uang yang dilemparkan oleh orang yang  menyebut dirinya Sardula Mapan itu. “Baru separony a” desis pemilik kedai itu. “Baiklah” sahut Mahisa Murti ”nanti yang  separonya lagi biarlah aku yang menambahinya.” “Tidak usah anak muda” berkata pemilik kedai itu. Lalu katanya pula ”Apa yang kalian lakukan telah cukup. Aku tidak mengira bahwa pada suatu saat Sardula Mapan itu dapat dikalahkan oleh seseorang.” “Apakah ia seringmelakukan pemerasan seperti kali ini ?” bertanya Mahisa Murti. “Aku baru mengalami kali ini” jawab pemilik kedai itu ”tetapi aku memang seringmendengar namanya. Ia termasuk seorang yang berada. Tetapimenurut keterangan yang pernah aku dengar, ia memang seringmelakukan hal yang aneh-aneh, justru karena ia merasa-sebagai seorang yang tidak terkalahkan di daerah ini.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian pemilik kedai itupun mempersilahkannya ”Marilah anak muda. Bukankah kalian belum selesaiminum ?- Mahisa Murti dan ketiga orang prajurit itupun masuk kembali kedalam kedai. Mereka masih ingin menyelesaikan makan dan minumyang sudahmereka pesan. Sementara itu beberapa orang yang semula berkerumun di halaman itupun telah meninggalkan kedai itu. Tetapi ada juga diantara mereka yang  masih kembali masuk kedalam kedai sebagaimana Mahisa Murti dan kawan-kawannya. Untuk beberapa saat Mahisa Murti dan ketiga orang kawannya duduk di kedai itu. Namun akhirnya merekapun selesai pula. Namun ketika mereka membayar minuman dan makanan mereka, pemilik kedai itu menolak uang yang diberikan oleh Mahisa Murti atas kekurangan Sardula Mapan dan kawan-kawannya. Seperti yang sudah dikatakannya, maka pemilik kedai itu berkata pula ”Tidak usah anakmuda. Aku berterima kasih atas kebaikan hati kalian. Apa yang  kajian lakukan telah lebih dari cukup. Bukan hanya sekedar untuk aku sendiri, tetapi dengan demikian maka tingkah laku Sardula Mapan itu mudahmudahan dapat berubah, sehingga ia tidak lagi sering menyulitkan orang lain. Ju stru karena ia memiliki kelebihan.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian. ”Baiklah. Aku akan minta diri. Tetapi seperti yang aku katakan, bahwa aku tentu akan sering lewat jalan ini.” Pemilik kedai itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia bertanya ”Jadi Ki Sanak benar-benar akan sering lewat jalan ini? Atau sekedar untuk menakut-nakuti Sardula Mapan?” “Aku benar-benar akan sering lewat jalan ini” jawab Mahisa Murti” bukan sekedar menakut-nakuti Sardula Mapan. Jalan ini menghubungkan tempat tinggalku dan tempat tinggal orang tuaku.” “Baiklah Ki Sanak” berkata pemilik kedai itu ”aku mempersilahkan Ki Sanak selalu singgah di kedaiku.” ”Terima kasih” jawab Mahisa Murti ”agaknya aku tentu akan singgah.” Demikianlah Mahisa Murti dan ketiga orang prajurit dan ketiga prajurit yangmeny ertainya segera meninggalkan kedai itu. Beberapa orang yang  berada di kedai itupun saling bergumammembicarakannya. “Aku mula-mula merasa cemas akan nasibnya” berkata seseorang” aku kira anak muda itu sekedar terdor ong oleh kesombongannya serta darahmudanya saja sehingga ia berani menentang Sardula Mapan. Namun ternyata bahwa ia benarbenar seorang yang berkemampuan sangat tinggi. Ternyata ia justru telah mempermainkan Sardula Mapan. Bahkan melukainya. Nampaknya jika anak itu mau membunuhnya, ia tentu akan dapatmelakukannya.” “Akupun semula merasa cemas” sahut kawannya ”mulamula anak muda itu nampaknya selalu terdesak. Namun ternyata ia hanya sekedar main-main.” Sementara itu Mahisa Murti tengah berlari diatas punggung kudanya menuju ke Padepokan Bajra Seta bersama dengan ketiga orang prajurit yang  menyertainya. Disepanjang perjalanan mereka tidak lagi banyak berbicara. Mahisa Murti yang untuk beberapa lamanya dapat melupakan per soalan pribadiny a, ternyata telah disentuh kembali oleh kepahitan perasaannya sebagaimana ia harus meninggalkan Singasari seorang diri tanpa Mahisa Pukat. Sejak kanak-kanak ia memang jarang sekali terpisah dari saudaranya itu. Namun kini ia terpaksa meninggalkannya justru karena ia tidak ingin mengalami keretakkan. Di perjalanan selanjutnya Mahisa Murti tidak mengalami hambatan lagi. Namun waktu telah banyak tersita oleh permainannya dengan Sardula Mapan. Kehadirannya seorang diri di Padepokannya telahmembuat seisi Padepokan Bajra Seta merasa heran. Meskipun mereka tidak segera bertanya, tetapi terasa bahwa kehadiran Mahisa Murti seorang diri telahmenimbulkan kegelisahan. Bahkan beberapa orang telah saling berbisik tentang ketiga orang yangmeny ertai Mahisa Murti di perjalanan itu. Seorang diantara para cantrik berdesis ”Siapakah mereka bertiga?” Kawannya menggeleng, jawabnya ”Aku tidak tahu.” Namun berbeda dengan para cantrik yang  masih segan menanyakan kesendirian Mahisa Murti, maka Mahisa Amping ternyata telah memberanikan diri untuk bertanya ”Dimanakah kakang Mahisa Pukat. Bukankah tidak terjadi sesuatu atas diriny a?” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Wajahnya yang  muram membuat Mahisa Amping gelisah. Mahisa Semu dan Wantilan yang juga mendengar pertanyaan Mahisa Amping itupun ikut menjadi berdebar-debar. Namun ketika mereka melihat wajah ketiga orang kawan seperjalanan Mahisa Murti, maka rasa -rasanya memang tidak terjadi sesuatu atas Mahisa Pukat. NamunWantilanyang  sudah lebih tua itu bertanya didalam dirinya ”Apakah keduanya telah ber selisih?” Tetapi Mahisa Murti pun kemudian telah memberikan penjelasan kepada seisi Padepokan, kenapa Mahisa Pukat tidak kembali bersamanya meskipun yang dikatakannya tidak sebagaimana yang  telah terjadi. “Mahisa Pukatmasih mempunyai kepentingan di Singasari. Selain menemani ayah yang  sudah tua, maka masih ada kewajiban yang diembannya. Sementara itu, padepokan ini tidak boleh terlalu lama kami tinggalkan, sehingga karena itu, maka aku telah mendahului kembali ke Padepokan. Namun dengan demikian, aku akan sering mondar-mandir untuk menjenguk ay ah dan Mahisa Pukat di Singasari.” Barulah seisi Padepokan itu merasa lega atas penjelasan itu. Meskipun nampaknya penjelasan itu masih belum tuntas, namun seisi Padepokan telah dapat diyakinkan, bahwa tidak ada perselisihan antara kedua anak muda yang  sebelumnya belum pernahmereka lihat saling berpisah itu. Dalam pada itu, ketiga orang prajurit Singasari yang  menyertai Mahisa Murti itu tinggal untuk dua hari di Padepokan. Sebenarnya Mahisa Murti masih menahannya, namun ketiganya merasa bahwa mereka telah cukup lama meninggalkan tugasmereka. “Sebenarnya aku kerasan tinggal disini” berkata salah seorang dari ketiga orang prajurit itu ”disini kehidupan terasa begitu akrab dengan alam. Padepokan ini rasa -rasanya berada di bayang an hijaunya lembah dan hijaunya lereng pegunungan. Tenang dan damai.” Namun Mahisa Murti menyahut ”Tetapi sekali waktu, Padepokan ini terbakar juga oleh perselisihan dengan kekerasan. Betapapun kami mencoba untuk menghindarkan diri dari permusuhan, tetapi kadang-kadang kami masih dipaksa untuk melakukan kekasaran dan kekerasan. Bahkan yang dapatmenimbulkan korban.” Ketiga orang prajurit itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka pun berkata ”Tetapi bukankah kita berhak melindungi diri sendiri?” Sementara Mahisa Murti membenamkan diri dalam kesibukannya, Mahisa Pukat masih saja ter seret oleh arus perasaannya. Hubungannya dengan Sa si menjadi semakin dekat. Apalagi ayah dan ibu Sasi nampaknya tidak berkeberatan melihat hubungan itu. Meskipun Arya Kuda Cemani juga ikutmemikirkan kepergianMahisa Murti kembali ke Padepokannya seorang diri, namun Mahendra telah memberikan penjelasan bahwa tidak terjadi apa -apa diantara kedua anaknya. “Mahisa Murti telah melepa skannya dengan ikhlas” berkata Mahendra pada suatu saat kepada Arya Kuda Cemani. “Jiwanya cukup tegar” desis Arya Kuda Cemani. “Ya. Sementara itu Mahisa Pukat nampaknya tidak memperhatikan gejolak perasaan saudaranya. Tetapi itu lebih baik baginya, sehignga ia tidak usah merasa ber salah” sahut Mahendra. Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Katanya sendat ”Aku mohon maaf, bahwa anakku telah menyakiti hati Mahisa Murti.” “Tetapi bukankah Sa si tidak sengaja melakukannya? Bahkan ia sama sekali tidak menyadari, apa yang telah terjadi atas Mahisa Murti. Sebaiknya Sa sipun tidak usah tahu agar seperti Mahisa Pukat, ia tidak usah ikut merasa bersalah” jawab Mahendra. Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Namun kekagumannyapun semakin bertambah. Mahisa Murti bukan sa ja seorang yang  berilmu sangat tinggi. Tetapi hatinya ternyata seluas lautan tidak bertepi. Namun demikian, harapannya yang  tertumpu kepada Mahisa Pukat juga tidak berubah. Ia berharap agar hubungan antara anaknya dengan Mahisa Pukat dapatmenjadi semakin akrab sehingga keduanya akan sampai pada suatu titik temu untukmembangun hidup kekeluargaan. Meskipun Arya Kuda Cemani tahu, bahwa Mahisa Pukat tidak lebih dari seorang pemimpin Padepokanyang  hidup jauh dari Kota Raja, namun hidup di padepokan itu akan dapat memberikan ketenangan jiwa bagi anaknya. Tetapi ibu Sa silah yang  ternyata telah diganggu oleh gambaran kehidupan yang  akan datang bagi Sasi. Ibunya belum pernah mengalami satu kehidupan lain dari kehidupan yang sedang dijalaninya. Ia tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi dengan Sasi jika ia hidup di dunia yang terpencil, jauh dari keramaian kota. Satu lingkungan yang sepi, terletak di tengah-tengah bulak yang  sangat luas. Dikejauhan nampak hutan yang masih lebat yang  dihuni oleh binatang-binatang buas. Ketika hal itu disampaikan kepada ay ah Sasi, maka Arya Kuda Cemani itu justru bertanya ”Bukankah setiap kali kau menyatakan bahwa kau tidak berkeberatan atas hubungan antara Mahisa Pukat dan anak kita?” “Pada dasarnya aku memang tidak berkeberatan. Aku tahu bahwa angger Mahisa Pukat adalah seorang yang  memiliki kemampuan yang tinggi. Seorang yang cerdas dan baik hati. Tetapi karena itu, apakah angger Mahisa Pukat tidak dapat menempuh satu kehidupan yang lain dari yang ditempuhnya sekarang?” “Maksudmu?” bertanya Arya Kuda Cemani. “Anak-anak kita, yang menurut keterangan ilmunya jauh berada dibawah angger Mahisa Pukat pun dapat menjadi seorang prajurit. Bukankah dengan demikian, maka angger Mahisa Pukat akan mendapat kesempatan yang  lebih baik untuk menjadi seorang prajurit pula? Bahkan dengan kedudukanyang  lebih tinggi pula.” Raden Kuda Cemanimenarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku tidak tahu, apakah angger Mahisa Pukat tertarik atau tidak untuk menjadi seorang prajurit. Tetapi jika Sasi menerima angger Mahisa Pukat, maka ia harus menerima keadaannya seutuhnya. Mahisa Pukat adalah satu diantara dua orang pemimpin Padepokan Bajra Seta. Yang seorang lagi adalah angger Mahisa Murti.” “Aku mengerti” jawab isterinya ”namun jika kemudian Sa si merasa hidupnya tersisih dari kehidupan yang  dijalani sebelumnya, maka ketenangan hidupnya akan goyah. Sasi memang mempunyai beberapa kemungkinan. Ia dapat memaksa diri untuk bertahan namun dengan jantung yang semakin rapuh, atau memberontak sehingga hidup kekeluargaannya akan terganggu.” “Tetapi bukankah itu baru gambaran orang tua yang cemas oleh bayangan-bayang an yang  dibuatnyaa sendiri?” jawab Arya Kuda Cemani. “Tetapi kita tidak dapat mengabaikan perasaan Sa si kemudian. Justru kita harus menilainya sebelum terlambat“ berkata ibu Sasi dengan sungguh-sungguh. “Jadi maksudmu agar aku menyampaikan kepada Mahisa Pukat, apakah ia bersedia untuk menjadi seorang prajurit?” bertanya Arya Kuda Cemani. Isterinya menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia ragu-ragu untukmenjawab. Karena isteriny a tidak segera menjawab, maka Arya Kuda Cemani itupun berkata ”Baiklah. Aku mengerti. Ada dua cara yang dapat kita tempuh. Kita minta angger Mahisa Pukat memikirkan kemungkinan untuk menjadi seorang prajurit atau kita minta agar Sasi memikirkan kemungkinankemungkinan yang  bakal terjadi di kemudian hari. Namun sudah tentu hal ini baru dapat kitaaa lakukan jika kita sudah mendapat satu kepa stian bahwa Mahisa Pukat memang berniat untuk hidup bersama Sasi dan demikian pula sebaliknya. Mudah-mudahan hal ini tidakmenimbulkan salah paham pada keduanya.” Ibu Sasi itu mengangguk-angguk kecil. Namun ia masih berkata ”Sebagaimana Sasi, kita sekarang barumelihat angger Mahisa Pukat sepintas. Katakan, kita baru melihat kulitnya yang nampaknyamemang halusdan lembut.” “Aku” jawab Arya Kuda Cemani ”aku sudah melihat isinya. Aku tidak baru mengenalnya sekarang. Tetapi aku sudah mengenalnya sebelum keduanya datang ke Singasari. Aku tahu apa yang mereka lakukan di Kabuyutan Bumiagara. Bagaimana mereka mampu mengekang diri meskipun mereka dapat berbuat apa saja atas lawan-lawan mereka. Maksudku keduanya itu adalah angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.” “Tetapi kita belum tahu sikapnya terhadap seorang perempuan” jawab isterinya. “Baiklah” berkata Arya Kuda Cemani ”aku akan memenuhi keinginanmu. Aku akan berbicara dengan Sasi dan angger Mahisa Pukat. Tetapi sekali lagi. Kita akan menunggu sampai semuanya menjadi jelas. Jika kita tergesa -gesa, maka Sasi akan dapat mengelakkan setiap pembicaraan. Apalagi jika anak itu masih meragukan sikap angger Mahisa Pukat.” Dengan demikian,maka Arya Kuda Cemani merasa dibebani tanggung jawab atas hari depan anak gadisnya. Tetapi Arya Kuda Cemani tidak akan ingkar. Meskipun sebenarnya tanggung jawab itu terletak pada ayah dan ibunya, namun rasa-rasanya per soalan Sasi dalam hubungannya dengan Mahisa Pukat itu seluruhnya dibebankan kepadanya. Dalam pada itu, hubungan antara Sa si dan Mahisa Pukat berlangsung wajar dan bahkan semakin akrab, meskipun masih tetap dibatasi oleh paugeran yang berlaku. Namun nampaknya pada keduanya sudah terpahat ikatan yang meskipun belum terucapkan. 0odwo0 Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Lembu Atak sama sekali tidak mau menerima kenyataan yang  telah terjadi atas dirinya. Ia bukan saja menjadi sakit hati karena kekalahananya, bahkan bersama sekelompok kawankawannya. Tetapi ia masih mendapat hukuman dari ayahnya di barak. Meskipun ia mendapat hukuman bersama-sama dengan kawan-kawannya pula, tetapi hukuman yang diterimanya ternyata adalah hukumanyang terberat. Karena itu, maka dendamnya telah ditujukan kepada Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Sasi. “Bagaimanapun juga aku harus dapat membalas dendam. Meskipun Sa si sama sekali tidak menghiraukan aku, tetapi dendamku akan aku tumpahkan lewat orang lain.” berkata Lembu Atak kepada kawan-kawannya. “Apa yang  akan kau lakukan?” bertanya salah seorang kawannya yang  jugamendendam. “Apapun” jawab Lembu Atak ”kita mempunyai banyak kawan di Kotaraja ini. Sementara itu, Mahisa Murti menurut pendengaranku telah meninggalkan Kotaraja kembali ke Padepokannya. Bukankah yang  tinggal hanya Mahisa Pukat sa ja.” “Tetapi anak itu berilmu tinggi. Sebagaimana kau lihat, ia mampu mengimbangi ayahmu yang kita anggap orang yang tidak terkalahkan itu.” jawab kawannya. “Omong kosong, kau percaya itu ?” bertanya Lembu Atak. “Bukankah kau sendiri yang  mengatakannya ?” kawannya justru bertanya pula kepadanya. “Kau kira ay ah bersungguh-sungguh ? Aku tahu, ay ah tentu hanya ingin sekedar membuktikan sampai sejauhmana kedua anak itu memiliki kemampuan. Dengan demikian ayah tahu, bahwa aku berbohong. Tetapi jika ayah bersungguh-sungguh kedua orang anak itu tentu-akan menjadi abu.” Kawan-kawannya mendengarkan dengan penuh perhatian. Meskipun apa yang dikatakan Lembu Atak itu agak berbeda dengan ceriteranya yang  terdahulu, yang menyatakan bahwa kedua anak muda yang bernama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu mampu mengimbangi kemampuan ayahnya, namun kawan-kawannya tidakmembantahnya. Apalagi ketika Lembu Atak berkata ”Waktu itu aku sangat kecewa terhadap ayah, sehingga aku menganggap bahwa ay ah tidak mampu mengalahkan kedua anak muda itu. Tetapi kemudian baru aku sadar, bahwa sebenarnya ayah memang tidak ingin menghancurkan keduanya. Ayah hanya ingin mengetahui apakah aku berbohong atau tidak.” Kawan-kawannya masih saja mengangguk-angguk. Sementara itu Lembu Atak berkata ”Kita harus menemukan seseorang yang berilmu tinggi yang  dapat kita benturkan dengan Mahisa Pukat. Lebih baik jika seseorang yang memiliki latar belakang sebuah perguruan, sehingga saudara-saudara seperguruannya bahkan lebih baik jika gurunya turut campur.” “Bagaimana hal itu kita lakukan ?” bertanya kawannya. “Kita perkenalkan orang itu dengan Kuda Semedi dan Kuda Semeni. Biarlah kedua anak itu memperkenalkan orang yang akan kita benturkan dengan Mahisa Pukat dengan adiknya, Sasi.” “Apakah Kuda Semedi dan Kuda Semeni dapat diikut sertakan?” bertanya kawannya. “Kita seret anak itu kedalam kubu kita atau mereka akan kita pencilkan di barak ini.” berkata Lembu Atak. Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka bertanya ”Bagaimana jika ay ahmu mengetahui rencana ini dari siapapun juga ?” Wajah Lembu Atak menegang. Namun kemudian iapun berkata ”Tidak ada yang  berkhianat diantara kita. Tetapi jika ternyata ada, maka hukumannya adalah hukuman bagi seorang pengkhianat.” Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Meskipun ada diantaramereka yang  tidak sependapat, tetapi pikiran itu tidak dapat diungkapkannya. Namun sebagian besar dari mereka sependapat dengan Lembu Atak itu. Kecuali mereka ingin menjadi sahabat terdekat dari Lembu Atak yang kebetulan adalah anak Senapati dari pa sukan itu, juga karena mereka mendendam pula kepada Mahisa Pukat. Mereka akan ikut merasa senang jika Mahisa Pukat hatinya menjadi terluka atau anak itu dihancurkan sama sekali oleh satu kekuatan yang mampu mengatasi kemampuannya. Dengan demikian, maka Lembu Atak dan kawan-kawannyapun telah berusaha untukmenemukan orang yangmereka cari. Namun sebelumnya Lembu Atak dan kawan-kawannya telah memanggilKuda Semedi dan Kuda Semeni. Kuda Semedi dan Kuda Semenimemangmenjadi berdebardebar. Mereka menjadi cemas jika Lembu Atak dan kawankawannya akhirnya mengetahui, bahwa ia telah memberitahukan kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan rencananya di saat di rumah Kuda Semedi dan Kuda Semeni ada keramaian kecil. Tetapi dugaan mereka ternyata keliru meskipun persoalan yang disampaikan kepada mereka tetapmerupakan per soalan yang sangatmenggelisahkan baginya. “Kau tidak boleh berpihak kepada Mahisa Pukat” berkata Lembu Atak ”jika kau tetap berpihak kepadanya, maka kau akan dipencilkan di barak ini. Kau tahu, bahwa kau akan mengalami perlakuanyang  tidak baik.” Kuda Semedi termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian bertanya ”Apa yang kalian kehendaki?” “Aku inginmembalasdendam kepada Mahisa Pukat.” “Apakah kau masih mendendam? Bukankah persoalannya telah dianggap selesai?” bertanya Kuda Semedi. “Siapa yang menganggap persoalan itu selesai?” bertanya Lembu Atak. “Bukankah ayahmu telah meny elesaikan persoalan ini?” jawab Kuda Semedi. “Tidak. Ayahku belum menyelesaikan per soalan ini dengan tuntas. Ay ah hanya ingin mengetahui apakah yang telah dilakukan oleh Mahisa Pukat” jawab Lembu Atak ”tetapi semuanya itu tidak penting. Yang penting, aku inginmembalas dendam kepada Mahisa Pukat. Jangan salah mengerti. Aku tidak ingin membalas dendam kepada Sasi. Selebihnya akau kasihan melihat Sasi berhubungan dengan anak Padepokan itu. Jika hubungan itu terlanjur menjadi semakin jauh,maka Sasi tentu akan meny esal dikemudian hari. Apakah artinya anak Padepokan seperti Mahisa Pukat dan Mahisa Murti itu? Betapapun tinggi ilmunya, tetapi mereka terkurung dalam lingkungan sempit, sepi dan jauh dari keramaian Kotaraja. Kehidupan yang demikian tentu merupakan kehidupan yang menjemukkan. Apalagi Mahisa Pukat dari hari ke hari akan selalu berada di lingkungan para cantriknya.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak menjawab. Mereka memang merenungi kata-kata Lembu Atak. Namun merekapua menyadari bahwa anggapan Lembu Atak itu diwarnai oleh kekecewaan dan dendamnya kepada Mahisa Pukat. Namun demikian Kuda Semedi dan Kuda Semenimemang tidak dapat mengabaikan ancaman Lembu Atak, bahwa mereka berdua akan dipencilkan dari antara kawan-kawannya di barak. Menurut penilaian Kuda Semedi dan Kuda Semeni, hal itu memang mungkin terjadi justru karena Lembu Atak adalah anak Senapati prajurit Singasari di barak itu. Namun dalam pada itu, Lembu Atak itupun berkata ”Pikirkan kalian berdua. Aku tidak akan memaksa kalian. Tetapi aku ingin kalian mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi atas Sasi.” Kuda Semedi dan Kuda Semeni tidak menjawab. Mereka masih saja berdiam diri ketika Lembu Atakmengajak kawankawannyameninggalkanmereka berdua. “Satu pilihanyang  rumit” berkata Kuda Semedi kemudian. “Tetapi ibu juga pernah meny inggung masa depan Sasi. Secara pribadi aku tidak berkeberatan terhadap hubungan Sasi dengan Mahisa Pukat. Tetapi ibu pernah meragukan masa depanmereka.” berkata Kuda Semeni. “Tetapi bukankah ibu tidak berkeberatan terhadap hubungan mereka?” bertanya Kuda Semeni. “Pada da sarnya memang tidak. Tetapi bagaimana masa depan Sa si jika hubungan mereka itu sampai pada satu ikatan perkawinan? Sementara Mahisa Pukat tidak mempunyai pegangan yang mantap bagi masa depannya. Apakah artinya hidup dalam sebuah Padepokan yang  apalagi terpencil?” desis Kuda Semeni. “Bukankah itu persoalan mereka berdua?” sahut Kuda Semedi. “Ya. Itumemang per soalan mereka. Tetapi setidak-tidaknya Sasi sempat memikirkannya. Ia tidak boleh sekedar silau melihat ujud Mahisa Pukat. Kekaguman ay ah atas kemampuannya yang  tinggi dalam olah kanuragan. Tetapi apakah itu sudah cukup bagi kehidupan mereka kelak. Terutama Sasi?” sahut Kuda Semeni. “Jika Sasimenerima masa depanyang  demikian?” bertanya Kuda Semeni. Kuda Semenimenarik nafas panjang sambil berdesis ”Jika demikian apa boleh buat.” 0odwo0 Ternyata Gemak Langkas adalah memang orang yang  sesuai sebagaimana dikehendaki oleh Lembu Atak, meskipun Lembu Atak sendiri setiap kali merasa diremehkan oleh Gemak Langkas. Namun setelah Gemak Langkasmengetahui bahwa Lembu Atak adalah anak Senapati prajurit yang berpengaruh di Singasari, maka iapun mulai sedikit menjaga dirinya. Seperti yang  direncanakan, maka pada saat yang  dianggap tepat, dua orang kawan Lembu Atak telah mengajak Gemak Langkas pergi kerumah Kuda Semedi dan Kuda Semeni, ju stru tanpa Lembu Atak. Karena kehadiran Lembu Atak tentu akan menimbulkan per soalan bagi Sasi. Kuda Semedi dan Kuda Semeniyang mendapat kesempatan untuk tinggal dirumah sehari, menerima kedatangan kawannya dengan senang hati. Meskipun Kuda Semedi sempat berbisik ditelinga Kuda Semeni ”Keduanya adalah kawankawan rapat Lembu Atak.” Tetapi selama keduanya berada di rumah Kuda Semedi dan Kuda Semeni, keduanya sama sekali tidakmeny inggung nama Lembu Atak atau persoalan-per soalan yang menyangkut kepentingannya. Keduanya semakin lama menjadi semakin kehilangan kecurigaan mereka, bahwa kedatangan keduanya itu ada hubungannya dengan Lembut Atak. Kuda Semedi dan Kuda Semeni semula juga tidak menghiraukan ketika kedua orang kawannya itu bertanya tentang adiknya, Sasi. “Sasi ada di belakang” jawab Kuda Semedi. Namun akhirnya Sasi keluar juga untuk menghidangkan minuman dan makanan. Gadis itu tidak merasa segan karena diantara tamu-tamu kakaknya itu tidak ada seorang prajurit yang bernama Lembu Atak. “Duduklah Sasi” minta salah seorang kawan Kuda Semedi ”kau tentu .belum mengenal kawanku ini. Namanya Gemak Langkas. Ia adalah anak seorang saudagar kaya yang rumahnya terletak disebelah Barat Istana.” “Silahkan minum Ki Sanak” Sasi menyahut singkat. Namun kawan Kuda Semedi itu berkata pula ”Marilah. Duduklah. Kenapa kau nampaknya berkeberatan ? Bukankah aku tidak akan menggigitmu.” Sasi memang terseny um. Seny umnya ternyata telah menggetarkan jantung Gemak Langkas. “Maaf Sasi” desis Gemak Langkas ”mungkin aku telah menakut-nakutimu. Bukan maksudku, karena aku tidak tahu bahwa disini ada seorang gadis yang  tidak aku bayangkan sebelumnya.” “Ah, tidak” jawab Sa si. “Jika demikian, duduklah sebentar saja” berkata kawan Kuda Semedi yang satu lagi. Sasimemangmenjadi bimbang. Ia merasa segan juga untuk tidakmemenuhi permintaan tamu-tamu kakaknya. Karena itu, maka Sasipun memandang kakak-kakaknya untuk minta pertimbangan. Ternyata Kuda Semedi dan Kuda Semenipun merasa tidak enak pula jika mereka tidak menanggapi permintaan itu. Karena itu, maka Kuda Semedipun kemudian berkata ”Duduklah sebentar Sasi.” Sasipun kemudian duduk disebelah kedua orang kakaknya dengan kepala tunduk. Ia ju stru merasa bingung, karena ia tidak tahu apa yang harusdiperbuat. Kawan Kuda Semedi yang seorang itulah yang kemudian bertanya kepadanya ”Kau sendirikah yang membuatmakanan itu?” Sasimengangkat wajahnya sedikit. Namun kemudian iapun menjawab ”Bukan. Ibulahyang membuatnya.” “O” tamunya mengangguk kecil ”tetapi bukankah kau membantunyamembuatmakanan itu ?” Sasi mengangguk kecil. Katanya ”Hanya membantu sedikit.” “Nah, jika minuman ini tentu kau yang membuatnya” berkata kawan kakaknya yang seorang lagi. “Ya.” Sasi mengangguk. ”Minumlah” gadis itu mempersilahkan tamu-tamunya. Tamu-tamu itupun kemudian telah meneguk minuman hangat yang dihidangkan oleh Sasi. Dengan menganggukangguk kecil Gemak Langkas berdesis ”Segar sekali. Aku seringminum wedang sere. Tetapi tidak sesegar kali ini.” Susi hanyamenunduk saja. Tetapi ia tidakmenjawab. Ternyata Gemak Langkas pandai juga berbicara tentang makanan dan minuman, sehingga ia mulai lebih banyak berbicara. Sekali-sekali ia meny ebut nama Sasi dan memujinya berkali-kali minumanyang  dihidangkannya. Namun hal itu justru membuat Sasi menjadi gelisah, sehingga iapun kemudian beringsut sambil berkata ”Maaf. Aku masih harusmembantu ibu didapur.” “Masih apa lagi yang  diper siapkan didapur ?” bertanya salah seorang kawan kakaknya. “O, tidak ada. Hanya mencuci mangkuk” jawab Sasi. Dengan demikian maka Sasipun telah meninggalkan tamutamu kakaknya kembali ke dapur.Namun demikian ia bangkit, Gemak Langkas berkata ”Kapan-kapan aku akan datang lagi Sasi. Wedang seremu tentu akan membuat aku selalu ingin meneguknya lagi.” Sasi tidak menjawab, meskipun ia terseny um. Senyum basa -ba si saja. Demikianlah, ketiga orang tamu itu masih berbincang beberapa lama.Namun kemudian merekapun telah minta ciri. Sementara itu Sa simasih saja bersungut-sungut didapur. Ibunya yang  melihat Sasi murah segera bertanya ”Kau kenapa Sasi ? Kenapa dengan kakak-kakakmu ?” ”Tamunya itu ibu” jawab Sa si. “Kenapa dengan tamunya ?” bertanya ibunya. “Seorang diantaranya nampaknya agak kasar” jawab Sa si. “Kawan kakak-kakakmu di lingkungan keprajuritan ?” “Bukan ibu. Tetapi anakmuda itu datang ber sama dengan kedua kawan kakang Kuda Semedi dan kakang Kuda Semeni.” jawab Sa si. Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”sudahlah. Kau jangan terlalu cepatmarah. Mungkin ia tidak bermaksud buruk. Tetapi karena sifat dan tabiatnya,maka nampaknya ia bertabiat kasar. Tetapi kau belum mengenalnya lebih jauh.” “Aku tidak ingin mengenalnya lebih jauh” jawab Sasi. Ibunya tidak menjawab lagi. Sasipun kemudian telah sibuk mencuci mangkuk didapur. Ia memang sering melakukannya meskipun ada juga pembantu dirumahnya. Namun beberapa saat kemudian, Kuda Semenimencarinya didapuruntukmemanggilnya. “Mereka akan berpamitan Sasi” berkata Kuda Semeni. “Kenapa kepadaku ? Bukankah mereka itu tamumu ?” bertanya Sasi sambil ber sungut-sungut. “Mereka ingin pamit kepadamu. Apa salahnya ?” bertanya Kuda Semeni. “Pergilah Sa si” desis ibunya ”kau akan dapat dianggapnya sebagai seorang gadisyang  sombong.” Tetapi Sa si justru berkata ”Katakan kepada tamu-tamumu bahwa Sasi sedang dipingit. Ia tidak boleh keluar apalagi menemui tamu laki-laki.” “Ah, jangan begitu” potong ibunya ”jika mereka orang yang  tidak kami kenal, maka aku akan melarangmu. Tetapi bukankah mereka kawan-kawan kakak-kakakmu ?” ”Yang seorang bukan” jawab Sa si. “Ay olah Sasi, sebentar saja” minta Kuda Semeni. Akhirnya Sasi memang tidak dapat menolak. Iapun kemudianmengikuti kakaknya keluar dari pintu pringgitan. Ketiga orang tamu itu memang hanya minta diri kepada Sasi. Namun anak muda yang  bernama Gemak Langkas itu ber sikap berlebihan sehingga Sa si menjadi semakin kurang senang kepadanya. Tetapi seperti yang  pernah dikatakan,maka iapun berkata lagi ”Sasi, aku akan datang lagi untuk sekedar minum wedang seremu yang  segar. Bukankah kau tidak akanmenolak ?” Sasi justru tidakmenjawab. Kepalanya justrumenunduk. Demikianlah, sejenak kemudian, maka ketiga orang tamu Kuda Semedi dan Kuda Semeni itupun meninggalkan halaman rumah itu. Sementara Sa si telah kembali ke dapur pula. Namun Sasi menyadari, bahwa anak muda yang bernama Gemak Langkas itu tentu benar -benar akan kembali mengunjunginya. Karena itu, ketika kedua kakaknya setelah melepaskan tamunya juga pergi ke dapur, Sa si langsung berkata ”Kenapa kau perkenalkan aku dengan Gemak Langkas.” “Aku tidak berniat demikian Sasi” jawab Kuda Semedi ”yang aku lakukan sebenarnya hanyalah sekedar basa -basi.” “Tetapi ia tentu akan kembali lagi kemari.” berkata Sa si kemudian. “Tetapi bukankah kau sudah cukup dewasa, sehingga kau akan dapatmenanggapinya dengan cara seorang gadis dewasa. Kau dapat menghindarkan dirimu dengan cara yang  baik dari anakmuda itu. Sudah tentu tidak perlu menyakiti hatinya.” Sasi termangu-mangu sejenak. Namun ia tidak menjawab lagi. Meskipun demikian, kedatangan Gemak Langkas telah membuat hatinya gelisah. Itulah sebabny a, maka ketika Mahisa Pukat datangmenemuinya, Sasi telah men-ceriterakan perkenalannya dengan Gemak Langkas. “Menilik sikapnya, Gemak Langkas tentu seorang anak muda yang  kasar. Menurut kakang Kuda Semedi dan kakang Kuda Semeni, Gemak Langkas termasuk seorang anak yang manja. Namun dengan demikian,maka ia bukan seorang yang berpribadi. Meskipun ayahnya seorang saudagar yang  kaya raya, namun itu tidakmenjamin bahwa ia mampumandiri.” Namun Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya ”Kenapa kau menilaiGemak Langkas sampai sejauh itu ?” Pertanyaan itu mengejutkan Sa si. Namun kemudian iapun ber sungut-sungut pula ”Kau justrumentertawakan aku.” “Tidak. Aku tidak mentertawakanmu. Tetapi seharusnya kau tidak menjadi demikian gelisahnya menanggapi perkenalan itu.” sahutMahisa Pukat. Sasi termangu-mangu sejenak. Namun ia sempat berdesis” sahut Mahisa Pukat. ”Sudahlah” berkata Mahisa Pukat kemudian ”sebaiknya kau bicarakan hal ini dengan kedua orang kakakmu. Mereka tentu akan membantumu mengatasi kesulitanmu, jika benar orang itu akan membawa kesulitan atasmu. Bukan berarti aku tidak ber sedia membantumu. Tetapi bukankah aku sekarangmasih berdiri diluar batas keluargamu. Meskipun demikian, jika diperlukan, aku akan melakaukan apa saja yang  pantas aku lakukan.” Sasi menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa mendapat perlindungan dari Mahisa Pukat sehingga hatinyapun menjadi semakin tatag. Karena itu, maka sebagaimana pesan Mahisa Pukat, agar Sasi tidak bersikap keras sehingga akan dapat menimbulkan kesan bahwa Sa si adalah gadisyang  sombong. “Seorang laki-laki yang  mempunyai harga diri berlebihan, mengalami perlakuan yang demikian dari seorang gadis akan dapatmenimbulkan dendam di hatinya” berkata Mahisa Pukat kemudian. “Tetapi bagaimana jika anak muda itu tidak tahu diri?” bertanya Sasi. “Cobalah dengan sikap yang lunak” desis Mahisa Pukat ”kecuali jika anak muda itu seorang anak muda yang tidak tahu diri. Jika demikian, kaumemang harus bersikap tegas.” Sasi mengangguk-angguk. Ia merasa bahwa pesan Mahisa Pukat itu akan dapat dipergunakannya sebagai pegangan. Apalagi kemudian, ketika Sasi berbicara dengan ay ah dan ibunya tentang Gemak Langkas, maka nasehat ay ah dan ibunya ternyata tidak jauh berbeda dengan nasehat Mahisa Pukat sehingga Sasi punmenjadi semakin tenang. “Aku sudah mengenal ayah anak yang  kau sebut bernama Gemak Langkas itu meskipun tidak begitu akrab. Ia memang seorang yang  kaya raya. Namun sifatnya memang kurang disenangi oleh kawan-kawannya. Justru karena ia seorang yang kaya raya, maka ia memang agak sombong. Tetapi kau tidak perlu cemas tentang ay ah anakmuda itu” berkata Arya Kuda Cemani. Dengan demikian, maka Sasi memang tidak menolak kehadiran Gemak Langkas, ketika ia benar-benar telah datang berkunjung ke rumahnya. Justru ketika kakakkakaknya tidak ada di rumah. Demikian pula ayahnya. Namun ketika ia minta pertimbangan ibunya, maka ibunyapun berkata ”Temuilah. Tetapi tidak terlalu lama. Jika ia masih belum juga pergi, biarlah akumemanggilmu.” Demikianlah Sasi dengan berat hati telah menemuiGemak Langkas yang  datang seorang diri. Ternyata Gemak Langkas adalah seorang anak muda yang  memang terbuka. Meskipun ia masih belum terlalu sering berhubungan dengan Sa si, namun seakan-akan ia telah mengenalnya bertahun-tahun. Iapun segera berceritera tentang dirinya sendiri, keluarganya dan kekayaannya. “Sasi” berkata Gemak Langkas itu kemudian ”aku membawa oleh-oleh buatmu. Aku harap kau tidak menolak. Aku memberikan oleh-oleh ini dengan ikhlas tanpa maksud apa-apa.” Wajah Sasi menjadi tegang. Sementara itu, Gemak Langkas telah mengambil sebuah bungkusan kecil dari kantong ikat pinggang kulitnya yang  lebar. Sasi masih saja termangu -mangu. Gemak Langkas pun sekali lagi mendesaknya ”Terimalah Sasi. Memang tidak seberapa, tetapi aku akan merasa berbahagia sekali jika kau maumenerimanya.” Sasi justru menjadi semakin tegang. Tetapi ketika Gemak Langkas beringsutmaju untukmeny erahkan bungkusan kecil itu, Sasi justru bergeser mundur. “ Ini bukan apa-apa Sasi” berkata Gemak Langkas pula. Kemudian sambil membuka bungkusan kecil itu ia berkata ”Lihatlah. Hanya sebuah kalung kecil dengan bandul kecil pula. Bandul itu memang terbuat dari berlian. Sasi, tetap harganya tidak seberapa dibandingkan dengan nilai persahabatan kita.” Namun akhirnya Sa si memberanikan diri untukmenjawab, meski pun ia selalu ingat akan pesan Mahisa Pukat dan pesan ay ahnya. Ia tidak boleh bertindak kasar. “Gemak Langkas” berkata Sa si kemudian ”bukan maksudku untuk menolak kebaikan hatimu. Tetapi aku minta maaf, bahwa aku tidak dapat menerima pemberianmu. Aku tahu, bahwa kau memang tidak mempunyai maksud apa -apa. Namun agaknya berat bagiku, sebagai seorang gadis untuk menerima pemberian seorang anak muda yang baru saja dikenalnya.” Wajah Gemak Langkas menegang. Bandul kalung yang  diberikannya itu adalah bandul bermata berlianyang harganya sangat mahal. Demikian pula kalung emas yang cukup besar itu pun nilainya cukup tinggi. Tetapi Sa si telahmenolaknya. Dengan sungguh-sungguh Gemak Langkas telah mendesaknya sekali lagi. Sambil ber singsut mendekat ia berkata ”Sasi. Kenapa kaumenolak? Sudah aku katakan bahwa benda ini nilainya memang tidak seberapa dibanding dengan nilai per sahabatan kita. Tetapi kali ini memang hanya ini yang dapat aku berikan kepadamu. Mudah-mudahan lain kali aku dapatmembawa oleh-oleh yang lebih baik bagimu, bagi kakakkakakmu dan bagi ayah dan ibumu. Bahkan ay ahku tentu tidak berkeberatan jika ay ah sendiri datang dengan membawa oleh-oleh itu.” “Aku mengucapkan terima kasih yang  tidak terhingga, Gemak Langkas. Tetapi aku mohon maaf, bahwa aku tidak dapat menerima pemberianmu itu. Meskipun aku tahu bahwa kau memberikan benda itu dengan ikhlas dan tidak dengan maksud apa -apa.” Wajah Gemak Langkas menjadi semakin tegang. Rasa - rasanya sia -sia saja ia memaksa Sasi yang nampaknya berhati keras itu. Namun Gemak Langkas ternyata juga seorang yang cerdik. Ia sama sekali tidak kelihatan marah. Katanya ”Baiklah Sasi. Jika kau tidak menyukai benda ini. Aku akan membawanya pulang. Benda ini akan aku kembalikan kepada ay ah dan ibu agar ayah dan ibu membelikan oleh-oleh yang lebih berarti bagimu. Nah, aku minta diri Sasi. Lain kali aku akan datang lagi.” Mulut Sasi justru bagaikan terbungkam. Karena itu, ia sama sekali tidak menjawab. Namun ketika Gemak Langkas bangkit dan melangkah turun kehalaman, maka Sasi itupun telah mengantarnya sampai ke tangga pendapa rumahnya. Demikianlah Gemak Langkaspun pulang sambil membawa benda yang disebutnya sebagai oleh-oleh itu. Demikian ia keluar dari regol halaman rumah Arya Kuda Cemani, maka iapun menggeram sambil memukul telapak tangan kirinya sendiri dengan tangan kanannya. Dengan geram ia bergumam ”Perempuanyang angkuh. Ayahnya sama sekali bukan seorang yang kay a. Tetapi ia menolak pemberianku yang sangat berharga itu. Buat apa ia begitu tinggi menjunjung harga dirinya ?Apakah karena ayahnya seorang Senapati ?” Namun iapun bergumam pula ”Lain kali aku akan datang. Aku harusmenaklukkan gadis itu. Betapa tinggi hatinya, tetapi dengan emas dan berlian, hatinya itu tentu akan luluh.” Sebenarnya bahwa Gemak Langkas telah bertekad untuk pada suatu saatmenundukkan Sasi yang dianggapnya seorang gadis yang angkuh itu. Sementara itu Sa si telah berlari mendapatkan ibunya di dapur. Ibunya terkejut melihat Sasi mengusap matanya yang merah. Dengan geram ia berkata ” Ibu, anak muda itu telah menghina aku.” “Apa yang telah terjadi ?” bertanya ibunya. “ Ia telah membawa oleh-oleh buatku. Sebuah kalung bermata berlian.Dikiranya aku ini apa ?” sahut Sasi. “Anakmuda itu akan memberikan kalung bermata berlian ?” bertanya ibunya. “Ya ibu. Kalung emas dengan bandul emas bermata berlian. Bukankah berarti ia menganggap aku dapat dibeliny a seharga kalung dan bandul bermata berlian itu ?” Ibunya menarik nafas dalam-dalam. Didekatinya Sasi yang  duduk diamben panjang sambil berkali-kali mengusap matanya yang  basah. Ternyata Sa si benar-benar tersinggung oleh tingkah laku Gemak Langkas itu. Sambil duduk disebelahnya ibu Sa si itu berkata ”Sudahlah Sasi. Jangan dipikirkan terlalu dalam. Bukankah kau tidak mau menerima pemberian itu, sehingga kau sama sekali tidak berhutang apapun kepadanya ?” Sasimengangguk kecil. “Nah, sampaikan hal itu nanti kepada ay ahmu dan jika kebetulan kedua kakakmu pulang, katakan pula kepada mereka.” berkata ibunya. Sasimengangguk. Desisnya ”Ya ibu.” “Nah, sekarang kau tidak usah mengingatnya lagi. Bukankah ia sudah pergi ?” bertanya ibunya. Sasimengangguk pula. “Nah, kerjakan apa yang  tadi baru kau kerjakan.” berkata ibunya pula. Sasi tidak menjawab. Namun iapun kemudian telah menyibukkan dirimembantu ibunya kerja di dapur. Yang ditunggu Sasi selain ay ahnya sebenarnyalah bukan kedua kakaknya. Tetapi justru Mahisa Pukat. Ia harus mengatakan kepada anakmuda itu, apa yang  telah dilakukan oleh Gemak Langkas. Ketika lewat tengah hari ayahnya pulang, maka Sasipun langsung melaporkan perlakuan Gemak Langkas itu kepadanya, sehingga ibunyapun berkata ”Sasi. Biarlah ay ahmu beristirahat dahulu.” Tetapi Sa si tidak sabar lagi. Katanya ”Dadaku serasa menjadi sesak, ibu. Ayah harus segera mengetahuinya.” “Ada apa Sasi ? Nampaknya kau menjadi sangat gelisah.” bertanya ayahnya. Sasi memang tidak menunggu lagi. Iapun segera memberitahukan kepada ayahnya, apa yang telah terjadi dengan Gemak Langkas. Ayahnya mendengarkan laporan Sasi dengan sungguhsungguh. Sambil menarik nafas panjang ia kemudian berkata ”Apa yang  kau lakukan sudah benar Sasi. Kau memang tidak boleh menerima pemberian dari siapapun yang  bukan keluarga kita sendiri. Kau sudah cukup dewasa sehingga kau tentu sudah tahu maksud anak muda itu. Tentu bukannya tidak bermaksud apa-apa sepertiyang  dikatakannya itu.” Sasi mengangguk-angguk. Ay ah dan ibunya sudah menyatakan sikapnya. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan itu sudah benar. Namun masih ada seorang lagi yang akan diberitahu tentang persoalan itu.Mahisa Pukat. Seperti yang diharapkannya, maka sore itu Mahisa Pukat memang datang kerumah Sasi. Seperti biasanya, kadangkadang Arya Kuda Cemani menemuinya beberapa saat. Baru kemudian Mahisa Pukat itu ditinggalkannya ber sama Sasi. Meskipun belum dinyatakan secara resmi, namun hubungan anakmuda itu dengan anaknya sudah diketahui oleh orang tua kedua belah pihak. Pada kesempatan itu, Arya Kuda Cemani sebagai seorang tua telah memberitahukan dengan terus terang sikap Gemak Langkas terhadap anak gadisny a. Dengan nada berat Arya Kuda Cemani itu berkata ”Seperti ayahnya, anak itu terlalu yakin akan kekay aanyang melimpah yang dimilikinya. Karena itu, ia menganggap bahwa apapun akan dapat diselesaikan dengan uangnya.Namun lebih dari itu, Gemak Langkas adalah seorang anak muda yang  berilmu. Ia berguru kepada seorang pemimpin padepokan yang berpengaruh. Dengan uangnya, maka gurunyalah yang setiap waktu yang ditentukan datang kepadanya untukmenuntunnya dalam olah kanuragan.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Pemberitahuan dari ay ah Sasi itu kepadanya, oleh Mahisa Pukat dianggap sebagai satu isy arat bahwa Mahisa Pukat harus berhati-hati. Anak muda yang bernama Gemak Langkas itu akan dapat bertindak ka sar jika niatnya dihalangi oleh siapapun juga. Sebagai anak seorang saudara yang kay a, maka semua kemauan Gemak Langkas biasanya pa sti terpenuhi. Mahisa Pukat yang  tanggap akan isy arat itu mengangguk kecil sambilmenyahut ”Aku akan berhati-hatiRaden.” “Aku percaya akan kemampuanmu. Tetapi kau kadangkadang tidak memperhitungkan langkah-langkah licik seseorang. Karena itu, maka kau harus mulai berhati-hati menghadapi orang yang  tidak kau kenal benar tabiatnya.” Mahisa Pukat mengangguk dalam-dalam. Meskipun ia tidak menjawab, namun Raden Kuda Wereng itu tahu pasti, bahwa anakmuda itu memperhatikan setiap kata-katanya. Ketika kemudian Arya Kuda Cemani yang juga disebut Raden Kuda Wereng itu meninggalkan Mahisa Pukat dan Sasi berdua, maka Sa si telah minta kepada Mahisa Pukat agar besok ia bersedia datang sebelum tengah hari. “Mungkin ia akan datang lagi. Menurut perhitunganku atas sifat anakmuda itu,maka besok ia akan datang dan membawa benda yang lebih berharga dari yang dibawanya pagi tadi.” berkata Sasi kemudian. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Besok sebelum tengah hari aku akan datang.” Demikianlah, setelah beberapa saat Mahisa Pukat berada dirumah Sa si, maka iapun telah minta diri. Bukan saja kepada Sasi, tetapi juga kepada kedua orang tuanya. “Kau memang harus berhati-hati ngger” berkata Arya Kuda Cemani. “Baiklah Raden” jawab Mahisa Pukat ”aku akan selalu ingat pesan ini.” “Agar ayahmu tidak terkejut jika terjadi sesuatu, sebaiknya kaupun berceritera pula kepada ayahmu, Ki Mahendra” pesan Arya Kuda Cemani. Mahisa Pukat mengangguk hormat sambil menjawab ”Baiklah. Aku akan berbicara dengan ayah.” Demikianlah,maka seperti pesan Arya Kuda Cemani, ketika Mahisa Pukat sampai dirumah, iapun telah menyampaikan kepada ayahnya, apa yang  telah terjadi dirumah Sasi serta pesan Arya Kuda Cemani kepadanya. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Tetapi bukan berarti bahwa kau harus menghadapi Gemak Langkas dengan kekerasan. Sejauh dapat diatasi dengan cara yang  baik, maka kau harusmencobanya. Hanya dalam keadaan terpaksa kau dapatmempergunakan ilmumu untukmelindungi dirimu. Bukan sekedar untukmenunjukkan kelebihanmu dari Gemak Langkaskepada Sasi. Itu jika kau mempunyai kelebihan.” Mahisa Pukatmengangguk sambilmenjawab ”Ya ayah.” “Hati-hatilah dengan sikapmu. Kau berada ditempat yang  bagimu asing disini. Tatanan kehidupan tentu agak berbeda dengan tatanan kehidupan di Padepokan Bajra Seta dan sekitarnya.” “Akumengerti ay ah” jawab Mahisa Pukat. “Baiklah. Jika kau besok akan datang, datanglah. Tetapi sekali lagi aku pesan, jagalah namamu baik-baik dirumah orang. Kecuali itu, kau memang harus berhati-hati sebagaimana pesan Raden KudaWereng.” pesan ayahnya. “Ya ayah” jawab Mahisa Pukat ”aku mengerti. Demikianlah, maka persoalan Sa si itu telah membuat Mahisa Pukat ikut gelisah. Bagaimanapun juga ia membayangkan bahwa Gemak Langas akan mempergunakan kekerasan, sehingga Mahisa Pukat harusmelayaninya. Tetapi ia memang berpegangan kepada pesan ayahnya, bahwa ia hanya akan membela diri. Te|apimenurut pengertian Mahisa Pukat bahwa membela diri itu termasuk membela harga diri Sa si. Dihari berikutnya, Mahisa Pukat telah berbenah diri saat matahari terbit. Kegelisahannya nampak pada sikapnya yang seakan-akan berdiri diatas bara. Sejak selesai makan pagi, maka Mahisa Pukat telah mondar -mandir saja diserambi depan. Ra sa-rasanya hari berjalan lamban sekali. Matahari dengan malas merayap kelangit. Sehingga Mahisa Pukat hampir tidak sabar menunggu matahari mendekati puncaknya, karena Sasi berpesan agar ia datangmenjelang tengah hari. Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, Maka Mahisa Pukat tidak menunggu lebih lama lagi. Iapun segera minta diri kepada ayahnya untuk segera pergi kerumah Arya Kuda Cemani. Sekali lagi ay ahnya berpesan, agar Mahisa Pukat berhatihati dan tidak tergesa-gesa mengambil sikap sebelum dipikirkanmasak-masak. Dengan jantung yang berdebaran Mahisa Pukat pergi kerumah Sasi sebagaimana diminta oleh gadis itu. Namun iapun berharap bahwa ia akan benar-benar dapat bertemu dengan Gemak Langkas. Bahkan kadang-kadang ia berniat untuk melupakan saja pesan ay ahnya. Ia ingin langsung menantang Gemak Langkas untuk beradu kemampuan. Namun peringatan ay ahnya itu ternyata setiap kali seakanakan terngiang di telinganya. Bahwa bukan menjadi kebiasaannya untuk dengan sengajamencari lawan. Jika kesadaran itu mulai merayap di hatinya,maka Mahisa Pukatpun menjadi tenang. Ia tidak lagi berjalan tergesa -gesa menuju kerumah Sasi. Tetapi ia melangkah dengan sedikit menahan diri sehingga tidakmenarik perhatian orang. Ketika Mahisa Pukatmemasuki regol halaman rumah Sasi, maka jantungnya terasa semakin cepat bergetar. Namun ternyata tidak seorangpun berada di pendapa rumah itu. Karena itu,maka Mahisa Pukat harusmasuk lewat seketeng kiri sebagaimana setiap kali dilakukan jika ia berkunjung kerumah itu dan tidak ada seorangpun yang  melihatnya datang. Seorang pembantu rumah itu yang  melihat Mahisa Pukat segera memberitahukannya kepada Sasi, sehingga sejenak kemudian maka Sasipun telah mempersilahkan Mahisa Pukat untuk duduk dipendapa. “Apakah aku sudah terlambat?” bertanya Mahisa Pukat. “Kenapa terlambat?” bertanya Sasi. “Bukankah kau minta aku datangmenjelang tengah hari?” Mahisa Pukatpun ganti bertanya. “O” Sasi mengangguk-angguk ”ternyata anak muda itu belum datang.Mudah-mudahan ia tidak datang” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian ”Ya. Mudah-mudahan ia tidak akan datang untuk seterusnya.” Namun baru saja mulut Mahisa Pukat terkatub, seekor kuda yang tegar telah memasuki halaman. Penunggangnya ternyata masih belum turun dari kuda itu. Baru setelah kuda itu berhenti tepat didepan tangga pendapa, penunggannya meloncat turun, Sambil menambatkan kudanya, ia berkata nyaring ”Sasi. Aku memenuhi janjiku. Aku datang lagi dengan membawa oleh-oleh yang lebih berarti dariyang  kau tolak itu. Aku harap kau senangmenerimanya.” Sasi masih duduk dipendapa bersama Mahisa Pukat. Namun keduanyapun kemudian berdiri dan gelangkah ke tangga. “Marilah, silahkan naik” Sasi mempersilahkan. Anak muda itu memandang Mahisa Pukat dengan tajamnya. Sementara itu Mahisa Pukat mengangguk hormat sambil berkata ”Marilah, silahkan Ki Sanak.” Wajah Gemak Langkas berkerut. Namun iapun kemudian melangkah naik tanpa menghiraukan Mahisa Pukat. Anak muda itu langsung melangkah ke t ikar pandan yang terbentang dipringgitan. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Untunglah bahwa pesan ayahnya telah terngiang lagi di telinganya, sehingga ia tidak dengan tergesa -gesa melakukan tindakan yang dapatmenimbulkan persoalan. Ketika Gemak Langkas duduk ditikar yang terbentang itu, maka Sasi dan Mahisa Pukatpun telah ikut duduk pula. Namun tiba -tiba saja Gemak Langkas berkata ”Sasi, aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku tidak mempunyai kepentingan dengan orang lain. Karena itu, maka sebaiknya kita hanya berdua saja tanpa orang lain.” “Aku tidak tahu maksudmu Gemak Langkas.” jawab Sasi. “Bukankah sudah jelas? Aku hanya ingin bertemu dengan kau saja. Tidak dengan orang lain. Karena itu, jika disini ada orang lain, aku minta orang lain itu meny ingkir saja” berkata Gemak Langkas tegas. “Jadi maksudmu, aku kau minta untukmengusir tamuku?” bertanya Sasi “Aku hanya mengatakan, aku hanya ingin bertemu dengan kau seorang diri. Terserah caramu, aku tidak akan menentukannya” berkata Gemak Langkas kemudian. Namun Sasi menjawab ”Tidak Gemak Langkas. Aku tidak dapat mengusir tamuku, siapapun orang itu. Jika seseorang datang kepadaku dengan maksud baik, maka aku akan menerimanya dan menemuinya sebagai seorang tamu. Ayah dan ibuku mengajar aku, agar aku menghormati tamu-tamuku sepanjang ia tidak berniat berbuat kurang baik”. Wajah Gemak Langkas menjadi merah. Sementara itu Mahisa Pukat masih berdiam diri. Ia justru tertarik mendengarkan pembicaraan antara Gemak Langkas dengan Sasi. “Sasi” berkata Gemak Langkas kemudian ”kau yang  mempunyai rumah ini. Karena itu, kau yang  mempunyai wewenang untuk mengusir sseorang dari rumah ini. Tentu bukan aku. Karena itu sekali lagi aku minta, biarlah kita berbicara berdua saja. Aku tidak senang ada orang lain yang tentu hanya akanmengganggu saja” Tetapi sekali lagi jawaban Sa si mengejutkan ”Gemak Langkas. Memang bukan kewajiban kami untukmembuat kau senang. Tersereah kepadamu, apakah kau senang atau tidak. Tetapi aku tidak pantas mengusir seorang tamu yang datang dengan niat baik kepadaku. Karena itu maka aku juga tidak mengusirmu seandainya tamuku yang  datang lebih dahulu berkata sebagaimana yang kau katakan.” Telinga Gemak Langkasmemangmenjadi panas. Bahkan ia seakan2 telah kehilangan kekang atas dirinya. Karena itu, maka katanya ”Baiklah. Jika kau tidakmau mengusirnya, aku yang akan mengusir orang itu.” “Kau tidak berhakmelakukannya, Gemak Langkas. Rumah ini bukan rumahku. Bukankah kau sendiri telah mengatakannya” desis Sasi. Sejenak Gemak Langkas justru terbungkam. Namun kemudian katanya ”Aku tidak mau menerima perlakuan ini. Aku akan pergi saja. Oleh-oleh yang  aku bawa akan aku bawa pulang. Pada kesempatan lain aku akan memberikan kepadamu. Tetapi pada kesempatan lain pula, aku akan membuat perhitungan dengan orang ini.” Namun yang dicemaskan Mahisa Pukat itupun memang terjadi. Ketika disore hari Mahisa Pukat sedang berjalan menuju kerumah Sasi, maka tiba-tiba saja seekor kuda yang tegar berlari kencang menyambarnya. Sebenarnya Mahisa Pukat telah berusaha menepi. Namun kuda itu sengaja berlari menepi pula. Bahkan kemudian tangan penunggangnya seakan-akan dengan sengaja menyambar kepalanya demikian kerasnya. Untunglah bahwa Mahisa Pukat selalu berhati-hati menghadapi kesulitan yang tiba -tiba datang. Ketika ia melihat Gemak Langkas berada dipunggung kuda yang  berlari kencang, maka ia sudah ber siap menghadapi kemungkinan buruk itu. Karena itu, ketika kuda itu menyambarnya dengan kecepatan tinggi, maka Mahisa Pukatpun dengan tangkas pula meloncat menghindar. Dengan kecepatan melampaui kecepatan lari kuda itu, Mahisa Pukat berhasil meloncat parit dipinggir jalan itu dan tegak berdiri diatas tanggul diseberang parit yang cukup lebar itu. Beberapa orang perempuan yangmelihatnya terpekik kecil. Namun merekapun menarik nafas panjang serta mengusap dadanya sambil berkata ”Untunglah, anak itu sempat menghindar. Jika tidak, maka ia akan dapat terlempar jatuh dan terluka. Apalagi jika kaki kuda itu menginjaknya.” Sementara itu, Gemak Langkasyang  sempat berpaling dan melihat Mahisa Pukat berdiri ditanggul seberang parit, telah mengumpat kasar. “Kenapa anak iblis itu tidak terlempar” geramnya. Namun Gemak Langkas tidak kembali. Ia melarikan kudanya semakin cepat dan hilang dikelok jalan. Mahisa Pukatpun menarik nafas panjang pula. Bagaimanapun juga terasa debar jantungnya semakin cepat. Namun iapun kemudian telah melanjutkan perjalanan menuju kerumah Sasi. Ketika ia menceriterakan peristiwa itu kepada Sasi, maka Sasipun berkata ”Kau memang harus berhati-hati. Apalagi ia tidak sendiri.” “Ya” jawab Mahisa Pukat. Namun katanya pula ”jika ia mempunyai latar belakang kehidupan di sebuah padepokan, maka akupun seorang penghuni padepokan pula.” “Tetapi disini kau sendiri” berkata Sasi. “Tentu tidak” jawab Mahisa Pukat ”jika aku berada di pihak yang benar maka paugeran dan tatanan yang  berlaku akan melindungi aku.” Sasi mengangguk kecil. Katanya ”Tetapi menghadapi seseorang seperti Gemak Langkas, tatanan dan paugeran sering terlambatmelindungi seseorang.” “Ya.” sahut Mahisa Pukat.Namun katanya ”Tetapi aku juga membawa pedang.” Sasi menarik nafas dalam-dalam. Jika ia terlalu mencemaskan Mahisa Pukat, maka Mahisa Pukat justru akan dapat ter singgung karenanya. Karena itu,maka Sasipun tidak lagimempertanyakan apa yang telah terjadi. Tetapi bagi Mahisa Pukat sendiri, peristiwa itu merupakan peringatan baginya, agar ia menjadi semakin berhati-hati menghadapi anakmuda itu. Ketika Mahisa Pukat kemudian minta diri untuk kem bali ketempat tinggal ayahnya dibagian belakang istana, maka ia minta Sasimenceriterakan hal itu kepada ay ahnya. “Jika terjadi sesuatu, maka ay ahmu telah mengetahui persoalanyang sebenarnya.” berkata Mahisa Pukat. “Aku akan mengatakannya” sahut Sasi. Ketika kemudian Mahisa Pukat berjalan pulang, maka ia menjadi semakin berhati-hati. Jika ia berpapasan dengan seorang yang  duduk diatas punggung kuda, maka iapun memperhatikan orang itu dengan baik. Apakah orang itu Gemak Langkas atau orang lain sekalipun yang memperhatikannya berlebihan. Jantung Mahisa Pukat memang berdesir ketika ia melihat Gemak Langkas duduk diatas punggung kudanya. Tetapi kuda itu berhenti seakan-akan memang menunggunya dipinggir jalan. Mahisa Pukat tidak dapat berhenti dan melangkah kembali. Apalagi darah mudanya yang  memang cepat menjadi panas jika persoalannyamenyangkut Sasi. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun melangkah terus dengan langkahyang  pasti. Ketika Mahisa Pukat melangkah lewat didepan Gemak Langkas yang duduk diatas punggung kudanya, maka Mahisa Pukat sama sekali tidak menunjukkan perubahan langkahnya. Ia berjalan saja seakan-akan tidak menghiraukan sama sekali kehadiran Gemak Langkas itu. Melihat sikap itu hati Gemak Langkas menjadi semakin panas. Namun iapun masih tetap menahan diri. Bahkan Gemak Langkas itupun tersenyum sambil berkata ”He, bukankah kau yang bernama Mahisa Pukat.” Mahisa Pukat memang berhenti. Sambil berputar kearah Gemak Langkas Mahisa Pukatpunmenjawab. ”Ya. Aku Mahisa Pukat.”' “Kau yang bertemu dengan aku dirumah Sasi?” bertanya Gemak Langkas itu pula. “Ya. Kau masih ingat? Aku juga yang  dengan sengaja kau sambar dengan kudamu tadi? Kau masih ingat?” bertanya Mahisa Pukat. Telinga Gemak Langkas menjadi merah. Tetapi ia masih menahan diri. Sambil tersenyum ia berkata ”Ya. Aku masih ingat.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk, katanya ”Nah, sekarang kau agaknya sengajamenunggu aku. Apamaumu?” “Aku hanya ingin bertanya, apakah kau memang laki-laki sejati atau sekedar seorang yang menyandarkan diri para perlindungan orang lain.” Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya ”Aku tahu maksudmu. Kau akan menantang aku? Jadi kau masih menganggap bahwa untuk mendapatkan seorang gadis, lakilaki harus berani berkelahi. Tetapi apakah perkelahian itu akan dapat merubah perasaan seorang gadis ? Jika dua orang anak muda berkelahi, maka dengan sendiriny a gadis itu akan memilihyangmenang dari keduanya?” “Satu jawaban dengan permainan kata yang  manis” sahut Gemak Langkas. Namun katanya kemudian ”Aku tidak peduli apakah Sasi akan memilih kau atau aku atau orang lain. Kalau kau sudahmati,maka ia tidak akanmemilihmu lagi.” “Jadi kau akanmembunuhku?” bertanya Mahisa Pukat. “Tidak. Tetapi aku menantang kau perang tanding. Jika salah seorang dari kita mati, kau atau aku, itu sudah wajar. Bukan berarti satu pembunuhan,” jawabGemak Langkas. “ Itukahyang kau kehendaki ?” bertanya Mahisa Pukat. “ya” jawabGemak Langkas ”kau dapatmembawa dua orang saksi. Aku juga akanmembawa saksi.” Mahisa Pukat memang menjadi ragu -ragu. Namun iapun kemudianmenjawab ”Baik. Aku terima tantanganmu.” “Bagus” desis Gemak Langkas sambil terseny um ”Ternyata kau memang seorang laki-laki. Nanti malam aku tunggu kau ditanggul Sendang Perbatang. Nanti malam langit akan diterangi oleh cahaya bulan meskipun sudah lewat purnama. Tetapi sinarnya masih cukup terang. Di saat bulan terbit, aku sudah berada di tanggul Sendang Perbatang bersama-sama para saksi.” “Baik” jawab Mahisa Pukat ”aku belum pernah melihat Sendang Perbatang. Tetapi aku akan membawa seorang saksi yang akan dapatmengantarku ke sana.” “Bagus” berkata Gemak Langkas kemudian ”jangan ingkar janji. Aku sudah terlanjur menganggapmu laki-laki sejati.” Gemak Langkas tidak menunggu jawaban Mahisa Pukat. Iapun segera memaeuk kudanya meninggalkan Mahisa Pukat yang berdiri termangu-mangu. Namun akhirnya Mahisa Pukat telah kembali lagi ke rumah Sasi. Ia telah mengabarkan rencana perang tanding itu kepada ay ah Sasi. Dengan demikian, maka Arya Kuda Cemani itu mengetahui apa yang terjadi. “Baiklah” berkata Arya Kuda Cemani ”aku akan menjadi saksi pula dalam perang tanding itu. Bawa ayahmu. Ia juga akan dapatmenjadi saksi.” “Tetapi bukankah dapat menimbulkan prasangka buruk jika aku membawa ay ahku sebagai saksi?” bertanya Mahisa Pukat. “Aku berani bertaruh, bahwa Gemak Langkas akan membawa gurunya pula sebagai saksi.” berkata Arya Kuda Cemani. Mahisa Pukatmengangguk-angguk kecil. Katanya ”Baiklah. Nanti aku akanmengajak ayah bersamaku.” “Baiklah. Tetapi aku tidak usah pergi ber samamu dan ay ahmu. Aku akan pergi sendiri. Kita akan bertemu di tanggul Sendang Perbatang.” berkata ayah Sasi. “Tetapi aku belum tahu dimana letak Sendang Perbatang.” desis Mahisa Pukat. “Ayahmu sudah lebih lama berada di sini. Ia tentu sudah tahu dimana letak Sendang Perbatang.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk pula. Namun iapun kemudian segera minta diri. Langit sudah menjadi muram karena senja sudah mulai turun. Ketika hal itu kemudian dikatakan kepada ayahnya, maka Mahendra berkata ”Kau terlalu cepat mengambil keputusan Mahisa Pukat. Apakah kau tidak dapat menghindari peny elesaian dengan cara itu ?” “Ra sa-rasanya tidak mungkin lagi ayah, kecuali jika aku membiarkan diriku dihinakan. Harga diriku direndahkan dibawah telapak kakinya,” jawab Mahisa Pukat. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba untuk sekedar mengerti perasaan anaknya. Kemudaannya memang dapat membuatnya mudah tersinggung. Namun perang tanding bukanlah sekedar permainan. Perang tanding adalah pertarungan denganmempertaruhkan nyawanya. Tetapi anaknya sudah menerima tantangan itu. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak akan pernahmencabutnya. Mahendra memang tidakmempunyai pilihan lain. Ia harus pergimeuhat apa yang terjadi dengan anaknya Memang tidak ada niat Mahendra untuk berbuat licik. Tetapi iapun tidak mau jika lawannyalahyang  berbuat licik. Dengan demikian, maka ketika malam turun, Mahisa Pukatpun telah mempersiapkan diri lahir dan batin. Bersama ay ahnya merekapun segera berangkat ke tanggul Sendang Perbatang. Dilambung Mahisa Pukat tergantung pedang. Seperti yang  dikatakan oleh Arya Kuda Cemani, ternyata Mahendra telah mengetahui letak Sendang Perbatang, sehingga dengan demikian, mereka berdua tidak perlu mencarinya. Ketika kemudian bulan terbit, Mahisa Pukat mengajak ay ahnya berjalan semakin cepat. Mahisa Pukat tidak segeramenjawab. Tetapi ia benar-benar sudah bersiap menghadapi Gemak Langkas. Justru karena Mahisa Pukat belum mengetahui tataran kemampuan Gemak Langkas yang dianggap sebagai seorang anak muda yang berkemampuan tinggi serta yang masih tetap berada dibawah bimbingan seorang guru, maka Mahisa Pukatpun menjadi sangat berhati-hati. Beberapa orang saksi yang  datang ber sama Gemak Langkaspun segera telah turun pula mengelilingi kedua orang anakmuda itu. Mereka seakan-akan telah menyusun lingkaran yangmembentuk sebuah arena perang tanding. Mahendra dan Arya Kuda Cemanipun berdiri pula di lingkaran itu. Namun berjarak beberapa langkah dari para saksi yang dibawa oleh Gemak Langkas termasuk gurunya dan ay ahnya yang kaya raya serta orang y g disebut pamannya, yang kebetulan adalah saudara seperguruan Gemak Langkas. Sedangkan yang  lain adalah prajurit -prajurit muda yang mendendam kepada Mahisa Pukat. Beberapa saat kemudian maka Gemak Langkaspun berkata ”Mahisa Pukat. Apakah kau sudah siap ? Kita perguankan waktu sebaik”baiknya. Kita akan segeramulai. “Aku sudah bersiap sejak aku berangkat dari rumah” jawab Mahisa Pukat. “Setan kau” Gemak Langkas menggeam” kau memang terlalu sombong.” Mahisa Pukat kemudian justru berdesis ”Sombong atau tidak,marilah kita mulai. Bulan sudah semakin tinggi.” Gemak Langkaspun kemudian bergeser mendekat, sementara Mahisa Pukat berdiri tegak dengan sebelah kakinya setengah langkah kedepan serta sedikit merendah pada lututnya. Kedua tangannya terangkat bersusun didepan dadanya. Gemak Langkas tidak bertanya lagi. Iapun mulai bergerak. Kakiny a terangkatmemancing gerak lawan, sementara Mahisa Pukat bergeser kesamping. Dengan cepat Gemak Langkaspun meny erang pula. Namun Mahisa Pukat masih dapat menghindarinya dengan gerakgerak sederhana. Namun Mahisa Pukatpun sadar, bahwa Gemak Langkaspunmasih belum ber sungguh-sungguh. Namun sejenak kemudian, ternyata Gemak Langkas telah berloncatan dengan cepat. Ia mulai berusaha men-jajagi kemampuan Mahisa Pukat, sementara Mahisa Pukatpun berusahamenjajagi kemampuan lawannya. Namun pertempuran itu telah menjadi semakin lama semakin cepat meskipun keduanya masih berusaha saling menjajagi. Dalam benturan-benturan yang  kemudian terjadi, maka keduanya mulai menyadari, bahwa lawan mereka memang memiliki bekal yang cukup tinggi, sehingga keduanyapun menjadi semakin berhati-hati. Namun keduanya mulai meningkatkan ilmu mereka masing-masing. Gemak Langkas yang ditunggui oleh ay ah dan saudara seperguruannya dan bahkan gurunya, hatinya justru berkembang ketika pertempuran itu menjadi semakin cepat. Bagi Gemak Langkas, seakan-akan ia mempunyai kesempatan untuk menunjukkan kepada gurunya bahwa ia merupakan seorang murid yang baik. Namun setiap kali Gemak Langkasmeningkatkan ilmunya, Mahisa Pukatpun telah meningkatkan ilmunya pula, sehingga semakin lama maka pertempuran itupun menjadi semakin cepat dan semakin keras. Namun Gemak Langkas tidak ingin dengan cepat mengakhiri pertempuran. Ia ingin menunjukkan kepada gurunya, bagaimana ia mampu mempermainkan lawannya. Ia berniat untuk menghancurkan Mahisa Pukat sedikit demi sedikit. “Jika ia akhirnya terbunuh di perang tanding ini, maka aku tidak dapat dipersalahkan. Ada beberapa saksi yang  hadir disini yang meyakini bahwa yang  terjadi adalah perang tanding. Bukan satu pembunuhan.” berkata Gemak Langkas didalam hatinya. Sementara itu Mahisa Pukatpun cukup berhati-hati pula. Iapun sadar, bahwa lawannya ingin mempermainkannya. Ju stru karena itu, maka Mahisa Pukatpun berniat melayani niat lawannya. Iapun tidak tergesa -gesa ingin menyelesaikan perang tanding itu. Namun, karena Gemak Langkas masih belum merasa mengatasi ilmu lawannya, maka iapun masih saja semakin meningkatkan ilmunya. Tetapi dalam pada itu, Mahisa Pukatpun telah meningkatkannya pula. Selapis demi selapis sebagaimana dilakukan oleh Gemak Langkas. Yang menjadi gelisah lebih dahulu adalah justru Gemak Langkas. Ketika ilmunya sudah memanjat semakin tinggi, tetapi rasa-rasanya lawannya masih saja mampu mengimbanginya tanpap kesulitan. Jika kecepatan gerak Gemak Langkas meningkat, mahisa Pukatpun telah meningkatkan kecepatan geraknya. Demikian pula kekuatan dan kemampuan ilmunya. Sehingga seakan-akan apapun yang dilakukan oleh Gemak Langkas, Mahisa Pukat mampu melakukannya pula. Dalam pada itu, saudara seperguruan Gemak Langkas dan bahkan gurunyamenyaksikan pertempuran itu dengan hati yg berdebar-debar. Demikian pula ayahnya yang semula selalu membanggakan anaknya yang dianggapnya telah meny erap ilmu yang  tinggi dari perguruannya, karena ay ahnya telah mengeluarkan beay a yang cukup banyak. Sementara itu, Mahisa Pukat justru mulai dapat menduga kemampuan lawannya. Meskipun Mahisa Pukat menyadari, bahwa lawannya belum sampai kepuncak, namun Mahisa Pukat menjadi tidak terlalu silau melihat kemampuannya meskipun Mahisa Pukatmasih tetap berhati-hati. Dalam pada itu, ternyata Gemak Langkas justru menjadi semakin gelisah. Mahisa Pukat itu masih saja mampu mengimbanginya. Namun dengan demikian maka pertempuran itu semakin lama memang menjadi semakin cepat. Gemak Langkas semakin berusaha untuk dapat menekan Mahisa Pukat. Sehingga tanpa disadarinya, maka Gemak Langkas itu telah mengerahkan segala kemampuannya. Ketika Gemak Langkasmenghentakkan ilmunya sampai ke tataran tertinggi,maka Mahisa Pukatmemang terdesak sesaat sebelum ia meny esuaikan ilmunya. Sekejap Gemak Langkas merasa akan segera dapat mengatasi lawannya. Namun sejenak kemudian, ternyata Gemak Langkas kembali digelisahkan oleh kemampuan lawannya. Serangan-serangan Gemak Langkas memang menjadi semakin lama semakin cepat. Tangannya yang  kuat terayunayun dengan cepatnya sehingga seakan-akan serangan Gemak Langkas itu datang dari segala arah. Tetapi Mahisa Pukat dengan tangkas selalu dapat menghindari serangan-serangan itu. Dengan loncatanloncatan pendek Mahisa Pukat rasa -rasanya hanya sekedar bergeser saja. Namun kemudian berputar, menggeliat dan melenting t inggi, sehingga sulit bagi Gemak Langkas untuk dapatmenyentuhnya. Namun yang  tidak terduga sebelumnya itu terjadi. Sebelum Gemak Langkasmampu mengenai tubuh Mahisa Pukat,maka justru serangan Mahisa Pukatlah yang  telah menyusup diselasela pertahanan Gemak Langkas. Gemak Langkas terdorong beberapa langkah surut ketika serangan tumit Mahisa Pukatmengenai lambungnya. Gemak Langkas mengumpat dengan kasarnya. Perutnya terasa menjadi mual. Namun kemarahannyapun serasa telah membakar jantungnya sehingga darahnyapun serasa telah mendidih karenanya. Mahisa Pukat ternyata tidak memburunya. Seakan-akan ia sengaja memberi kesempatan kepada Gemak Langkas untuk memperbaiki kedudukannya sebelum pertempuran itu dilanjutkan. Dengan demikian, maka ayah Gemak Langkas, saudara seperguruannya dan lebih-lebih adanya gurunya, terkejut pula karenanya. Mereka tidak mengira bahwa Mahisa Pukat itu mampu bergerak secepat dan sekuat itu. Ketika mereka melihat Mahisa Pukat terdesak, mereka sudah memastikan bahwa Gemak Langkas akan segera dapat mengakhiri pertempuran itu. Namun ternyata bahwa yang  terjadi kemudian adalah sebaliknya. Justru Mahisa Pukatlah yang telah mengenai lambung Gemak Langkas. “Tetapi itu belum merupakan akhir dari segala-segalanya” berkata guru Gemak Langkasdidalam hatinya. Ternyata bahwa lambungnya yang mual dan sakit itu telah memberinya peringatan, bahwa lawannya memang memiliki ilmu yang  tinggi. Setidak-tidaknya tidak berada dibawah ilmu Gemak Langkas itu sendiri. Dalam pada itu, Gemak Langkasmemangmenjadi semakin marah, tetapi juga semakin gelisah. Namun karena itu, maka Gemak Langkas itupun telah mengerahkan segala-galanya. Puncak dari ilmu dan kemampuannya. Dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin cepat dan semakin keras. Mahisa Pukatpun telah meningkatkan ilmunya untuk mengimbangi lawannya. Keduanya salingmeny erang dan bertahan. Mereka yang menyaksikan pertempuran itupun menjadi berdebar-debar. Gemak Langkas dalam puncak ilmunya ternyata masih belum mampu menguasai Mahisa Pukat. Bahkan serangan-serangannya masih juga belum dapat menembus pertahanan Mahisa Pukat. Jika sekali-kali serangannya mengena, sama sekali tidakmenimbulkan akibat apapun bagi lawannya. Mahisa Pukat seakan-akan hanya sekedar tersentuh tangan atau kaki Gemak Langkas tanpa hentakkan dan kekuatan sama sekali. Apalagi yang  dapat mendorong dan melumpuhkannya. Sebaliknya, beberapa kali Mahisa Pukat berhasil mengenai lawannya. Bukan saja tumitnya, tetapi sisi telapak tangannya yang terayun deras, sempat mengenai pundak Gemak Langkas, sehingga Gemak Langkas mengaduh tertahan. Namun hampir saja tangannya kehilangan kekuatan untuk bergerak. Beberapa saat kemudian, Gemak Langkas benar-benar telah terdesak. Serangan-serangan Mahisa Pukat semakin seringmengenainya. Sehingga seluruh tubuh Gemak Langkas itu serasa menjadi-memar dan ny eri. Dalam keadaan yang demikian, maka dengan cara itu Gemak Langkas tidak akan mungkin memenangkan perang tanding itu. Apalagimenghancurkan kesombongan lawannya. Karena itu, sebagaimana memang telah terpikir sejak ia menantang Mahisa Pukat untuk berperang tanding, bahwa kemungkinan terburuk dalam perang tanding adalah salah seorang darimereka akan terbunuh. Karena itu,maka Gemak Langkaspun telah memutuskan untuk bertempur dengan mempergunakan senjata. Ia memiliki kemampuan ilmu pedang yang  tinggi, sehingga meskipun dalam pertempuran tanpa senjata ia tidak dapatmemenangkan perang tanding itu, namun dalam perang tanding telah dibenarkan pula untuk mempergunakan senjata, sehingga jika salah seorang dari mereka jantungnya terkoyak, maka lawannya tidak dapat dianggap sebagai seorang pembunuh. Karena itu, maka Gemak Langkaspun telah menarik senjatanya. Sebilah pedang panjang. Mahisa Pukat meloncat selangkah surut. Dipandanginya pedang Gemak Langkas. Pedang yang bagus. Kilatan cahaya bulan seakan-akan telah terpantul menyilaukan melampaui terangnya cahaya itu sendiri. “Apa boleh buat” berkata Gemak Langkas ”jika kau tidak terlalu sombong, maka aku tidak akan menarik pedangku. Pedang yang terbuat dari baja putih pilihan yang tajamnya melampaui tujuh kali tajamnya welat pring wulung.” Mahisa Pukat t idak segera menjawab. Ia memang melihat pedang Gemak Langkas adalah pedang yang baik. Namun Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi heran melihat daun pedang yang terbuat dari baja putih itu. Sementara itu Gemak Langkas pun berkata ”Seandainya kau mengakui kekalahanmu,maka aku tidak akan sampai hati menarik pedangku. Tetapi karena kau terlalu sombong dan merasa dirimu mampu mengimbangi ilmuku, maka aku terpaksa menunjukkan kepadamu kemampuan ilmu pedangku. Jika dengan demikian dadamu terkoyak dan jantungmu pecah, sama sekali bukan salahku.” Mahisa Pukatmasih belummenjawab. Ia masih saja berdiri tegak di tempatnya. Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan perang tanding itu menjadi tegang. Ayah, saudara seperguruan dan guru Gemak Langkas pun menjadi tegang pula. Mereka y akin, bahwa pedang Gemak Langkasmerupakan pedang yang jarang ada duanya. Gurunya telah memberikan pedang itu kepada Gemak Langkas. Namun dengan ditukar dengan emas dan permata, tentu saja yang sangatmahal. Ketika Gemak Langkas kemudian menggerakkan pedangnya, maka cahaya bulan yang memantul pada daun pedang itu nampak berkilat membuat mereka yang menyaksikan menjadi berdebar-debar. “Bukankah kau tidak tergesa -gesa Gemak Langkas?” terdengar suara saudara seperguruan Gemak Langkas yang disebut pamannya itu. ”Kau sempat menunjukkan ilmu pedangmu kepada lawanmu.” “Ya”jawab Gemak Langkas”aku tidak tergesa -gesa. Jika luka anak itu menjadi arang kranjang, maka itu sama sekali bukan salahku.” Mahisa Pukat bergeser maju sambil berkata ”Sejak semula kau masih saja bicara bahwa jika terjadi sesuatu itu bukan salahmu. Baiklah, apapun yang  terjadi kau tidak ber salah karena terjadi dalam perang tanding. Jika kau matipun kau juga tidak ber salah, karena hal itu terjadi karena kebodohanmu.” “Setan kau” geram Gemak Langkas ”tarik pedangmu.” Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Dipandanginya lawannya, kemudian orang-orang yang  datang bersamanya. Namun sejenak kemudian maka iapun telah menarik pedangnya pula. Orang-orang yang  berdiri di seputar arena itu terkejut. Mereka menganggap bahwa pedang Gemak Langkas adalah pedang yang  paling baik yang  pernah mereka lihat. Bahkan mereka mengira bahwa lawan Gemak Langkas itu akan kehilangan keberanian melihat ujud pedang yang  terbuat dari baja putih itu, apalagi jika pedang itu digerakkan dibawah sinar cahaya bulan. Namun ketika mereka melihat daun pedang Mahisa Pukat, maka jantung merekapun berdegup keras. Pedang Mahisa Pukat yang  ditimpa cahaya bulan itu nampak bukan saja memantulkan sinar bulan yang kekuning-kuningan. Tetapi bahkan pedang itu bagaikan menyala dengan cahaya yang kehijau-hijauan. “Dari iblis mana ia mendapat senjata itu” geram guru Gemak Langkas. Pernyataan itu membuat ayah Gemak Langkas dan saudara seperguruannya menjadi semakin berdebar-debar. Dengan demikian maka mereka seakan-akan mendengar desah kecemasan guru Gemak Langkasyang dianggapmemiliki ilmu yang sangat tinggi itu. Gemak Langkas sendiri tercenung untuk beberapa saat. Pedang Mahisa Pukat itu membuatnya berdebar-debar. Namun Gemak Langkas itupun kemudian telah membesarkan hatinya sendiri. Katanya didalam hati ”Betapapun tinggi nilai sepucuk senjata, namun orang yang memegangnya jugalahyang menentukan.” Karena itulah, maka Gemak Langkas itu mulai menggerakkan pedangnya. Baja putih itu memang berkilatkilat. Tetapi sekedar memantulkan sinar bulan. Daun pedang itu sendiri t idak bercahaya sama sekali. Namun sejenak kemudian, kedua orang anak muda itu telah mulai memutar perang mereka masing-masing. Gemak Langkas yang  merasa memiliki ilmu pedang yang sangat tinggi, segera mulai menggapai lawannya dengan ujung pedangnya. Tetapi Mahisa Pukat bergeser menyamping sambil merundukkan pedangnya pula. Namun sejenak kemudian, maka kedua ujung senjata itu mulai bersentuhan. Semakin lama. putaran pedang itupun menjadi semakin cepat. Gemak Langkasyang merasa memiliki ilmu pedang itupun berusaha untuk segera menembus pertahanan lawannya. Ia tidak ingin menunda-nunda setiap kesempatan, karena ia mulai merasa bahwa ia tidak akan dapat mempermainkan lawannya itu. Namun pertahanan Mahisa Pukat memang terlalu rapat. Set iap kali Gemak Langkasmelihat kesempatan dan mencoba mempergunakannya, ternyata pedangnya selalu membentur pedangMahisa Pukatyang bercahaya kehijau-hijauan itu. Keringat pun mulai membasahi telapak tangan Gemak Langkas. Namun dengan demikian, maka darahnya pun menjadi semakin panas. Dengan demikian maka pertempuran semakin lama menjadi semakin cepat pula. Gemak Langkas semakin meningkatkan kemampuannya. Berbeda dengan sebelumnya, bahwa ia ingin menunjukkan kelebihannya atas lawannya dan mengalahkannya perlahan-lahan, maka ia justeru berusaha untuk secepatnya menundukkan Mahisa Pukat. Bahkan semakin sulit ia berusahamengenainya,maka Gemak Langkas pun tidak lagi berpikir panjang. Dihentakkannya segenap ilmunya dan satu-satunya keinginannya kemudian adalah membunuh Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat bukan seorang yang  lebih lemah kemampuannya daripada Gemak Langkas. Karena itu, maka meskipun Gemak Langkas sudah sampai ke puncak kemampuannya, namun ternyata bahwa ia tidak dapat memaksa Mahisa Pukat untuk menyerah. Bahkan semakin lama justru Mahisa Pukatlah yang lebih banyak menguasai arena. Ketika dengan garangnya Gemak Langkas meloncat menyerang sambil menjulurkan pedangnya menusuk lewat celah-celah pertahanan Mahisa Pukat, ternyata Gemak Langkas itu salah hitung. Mahisa Pukat sama sekali tidak sedang lengah sehingga pertahanannya menjadi lemah. Demikian serangan itu datang, maka Mahisa Pukat pun dengan cepat menggeliat. Dengan tangkas pula Mahisa Pukat menangkis serangan itu dengan sentuhan menyamping. Gemak Langkas justru terkejut karenanya. Ia tidakmengira bahwa Mahisa Pukat itu masih mempunyai kesempatan untuk menghindar dan justru meny entuh senjatanya. Hampir saja senjatanya justru terlepas. Untunglah, Gemak Langkas sempatmeloncatmengambil jarak. Namun Mahisa Pukatlah yang  kemudian justru memburunya. Pedangnya yang  terjulur bagaikan mampu melihat kemana Gemak Langkas itu mengelak. Gemak Langkas mengumpat kasar ketika sebuah goresan telah meny entuh menggores lengannya. Memang tidak terlalu dalam. Tetapi dari goresan senjata Mahisa Pukat itu, darah telah mulaimengalir. Para saksi yang  dibawa oleh Gemak Langkas memang menjadi semakin tegang. Saudara seperguruannya dan apalagi guru dan ayahnya,menjadi cemasmelihat pertempuran itu. Sebagai seorang yang berilmu, ternyata gurunya melihat kelebihan Mahisa Pukat atas muridnya itu. Ketika muridnya telah sampai ke puncak kemampuannya, ternyata bahwa lawannya masih mampumeningkatkan lebih tinggi lagi. Dengan demikian maka guru Gemak Langkas itupun menjadi gelisah. Jika Gemak Langkas tidak memenangkan perang tanding itu, maka ayahnya akan menjadi sangat kecewa. Ia sudah banyak sekali mengeluarkan uang untuk kepentingan anaknya berguru. Tetapi yang akan terjadi memang demikian. Gemak Langkas semakin lama memang menjadi semakin terdesak. Bukan saja lengannya yang tergores luka. Tetapi kemudian pundaknya juga masih disentuh oleh ujung pedang Mahisa Pukat yang  berwarna kehijauan itu. Pedang yang telah menggetarkan jantung lawannya. Semakin lama Gemak Langkas menjadi semakin menyadari, betapa ia menjadi semakin sulit untuk mengimbangi lawannya. Kegelisahan para saksi yang  dibawa Gemak Langkas pun menjadi semakin memuncak. Para prajurit muda termasuk Lembu Atak pun menjadi gelisah pula. Mereka ingin melihat Mahisa Pukat dikalahkan dan kemudian mereka pun akan dapat ikut melepaskan dendam mereka terhadap Mahisa Pukat. Tetapi mereka melihat bahwa yang terjadi justru sebaliknya. Gemak Langkas yang nampaknya meyakinkan itu ternyata tidak mampu mengimbangi kemampuan Mahisa Pukat. Semakin lama ia justru menjadi semakin terdesak sehingga segores luka telah meny ilang di dadanya. Mahisa Pukat yang  telah dapat menilai kemampuan lawannya justru menjadi semakin tenang. Ia tidak lagi berniat untuk berbuat lebih daripada menghentikan perlawanan Gemak Langkas dan meyakinkan kepada para saksi bahwa ia telah memenangkan perang tanding itu. Meskipun Gemak Langkas telah mengancam akan membunuhnya, namun tidak terlintasniat Mahisa Pukat untukmelakukannya. Mahendra dan Arya Kuda Cemani menarik nafas dalamdalam. Merekapun sudah mendapatkan satu key akinan bahwa Mahisa Pukat akan berhasil memenangkan perang tanding itu. Namun guru Gemak Langkas lah yang jantungnya menjadi bagaikan membara. Ia merasa dipermalukan oleh Mahisa Pukat dihadapan ayah Gemak Langkas yang  telah banyak memberinya uang dan benda -benda berharga. Apalagi setiap kali ay ah Gemak Langkas itu selalu berpaling kepadanya, seakan-akan menuntut atas kegagalan anaknya dalam perang tanding itu. Karena itu bayangan kekalahan Gemak Langkas yang  menjadi semakin jelas itu telah menggelitik gurunya untuk berbuat sesuatu meskipun ia tahu bahwa hal itu tidak akan memberikan kepuasan sepenuhnya kepada ay ah Gemak Langkas. Sekilas ia memandang Mahendra dan Arya Kuda Cemani. Guru Gemak Langkas itu belum tahu tataran kemampuan mereka. Namun keduanya bukan orang yang  namanya melejit diantara orang-orang yang  disegani di Singasari. Apalagi diantara para saksi itu hadir pula prajurit-prajuritmuda dan seorang muridnya yang  lain yang  akan dapat mencegah mereka mencampuri per soalannya dengan Mahisa Pukat. Karena itu sebelum Gemak Langkasmengalami nasib yang  lebih buruk, maka iapun berkata lantang ”Gemak Langkas. Anak itu mempunyai ilmu iblis. Minggirlah. Aku akan menghancurkan ilmu iblisny a. Baru kemudian, kau lawan anak itu bertempur dengan jujur” Lalu katanya kepada para saksi yang lain ”tahanlah jika ada diantara kedua orang saksi yang dibawa anak itu akan berbuat curang.” Tetapi ay ah Gemak Langkas itu menggamitnya dan berkata ”Seorang diantara kedua orang saksi itu adalah Arya Kuda Cemaniyang memiliki Aji Panglimunan.” Guru Gemak Langkas itu mengerutkan keningnya. Namun ternyata ketajaman telinga Mahendra sempat mendengarnya meskipun tidak terlalu keras. Karena itu, maka katanya ”Apakah orang-orang tua akan ikut dalam permainan ini?” Tetapi tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata lantang ”Aku tantang kau, untuk menggantikan Gemak Langkas. Siapakah kau? Benar kau gurunya?” Guru Gemak Langkas itu menggeram. Sementara Mahendra berkata ”Jika ia menginginkan orang-orang tua ikut bermain,maka biarlahyang  tua yangmelayaninya.” Tetapi Mahisa Pukat menggeleng sambil berkata ”Tidak ay ah. Biarlah aku menantangnya untuk berperang tanding. Biarlah mereka melihat bahwa bukan hanya muridnya, tetapi gurunya.” “Aku akan memasuki arena” berkata guru Gemak Langkas” siapapun lawanku.” Arya Kuda Cemani tertawa. Katanya ”Baiklah jika Mahisa Pukat ingin mencoba kemampuan guru Gemak Langkas itu. Tetapi ingat, bahwa kamimasih tetap berdiri disini.” Guru Gemak Langkas itu menggeram. Ia mengertimaksud Arya Kuda Cemani, bahwa iapun akan dapat berbuat sesuatu jika diperlukan. Namun guru Gemak Langkas itu sudah tidak dapat merubah niatnya lagi, karena Mahisa Pukat sudah menantangnya langsung. Karena itu, ia tidak lagi berpikir panjang. Jika ia sudah dapat meny elesaikan Mahisa Pukat, maka bersama-sama dengan mereka yang hadir ditempat itu, mereka akan dapat menguasai kedua orang tua yang datang bersama Mahisa Pukat itu. Namun Mahendrapun menjadi berdebar-debar juga. Ia memangmeyakini kemampuan anaknya. Tetapi ia belum tahu tataran kemampuan guru Gemak Langkas itu. Tetapi Mehendrapun tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Gemak Langkas yang telah terluka dibeberapa bagian dari tubuhnya itu telah bergeser menepi ketika gurunya kemudian hadir di arena perang tanding itu Mahisa Pukat yang  menghadapi guru Gemak Langkas itupun menjadi semakin berhati-hati. Namun sedikit banyak ia sudah dapatmengenal unsur-unsur gerak dari ilmu yang  telah diwarisi darinya oleh gemak Langkas. Ternyata guru Gemak Langkas itu tidak mau membuang banyak waktu. Ia ingin menunjukkan kelebihannya terutama kepada ay ah Gemak Langkas yang  telah memberinya banyak sekali uang dan barang-barang berharga sebagai upahnya melatih Gemak Langkas dalam olah kanuragan, karena ayah Gemak Langkas itu ingin sekali anaknya memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, maka dengan serta merta iapun telah menarik senj atanya pula. Juga sebilah pedang. Pedang yang tidak dapat terpisah dari dirinya. Pedang yang mirip dengan pedang yang telah diberikannya kepada Gemak Langkas. Tanpa banyak berbicara lagi, maka guru Gemak Langk as itupun segera meny erang Mahisa Pukat.Namun Mahisa Pukat telah ber siapmenghadapinya. Tetapi Mahisa Pukat masih juga terkejut mendapat serangan guru Gemak Langkas. Ternyata serangannya datang cepat sekali. Senjatanya yang  berputar, tiba-tiba terjulur mematuk ke arah jantungnya. Mahisa Pukat pun menggeliat menghindari serangan itu. Namun serangan yang datang demikian cepatnya itu, ternyata tidak dapat dihindarinya sepenuhnya. Meskipun ujung pedang itu tidak menyentuh dadanya, namun ujungnya telah tergores di pundak Mahisa Pukat. Memang hanya segoreskecil. Namun keringat Mahisa Pukatmembuat lukanya itumenjadi pedih. Dengan loncatan panjang Mahisa Pukat mengambil jarak. Ketika lawannya itu memburunya, maka Mahisa Pukatpun dengan cepat meloncat lagi menjauh. Namun tidak untuk ketiga kalinya. Demikian lawannya meloncat memburunya, Mahisa Pukat justru bergeser setapak saja. Namun pedangnya terayun deras sekali membentur senjata lawannya. Lawannyalah yang  kemudian terkejut telapak tangannya menjadi pedih. Namun pedangnya tidak terlepas dari tangannya itu. Tetapi untuk selanjutnya Mahisa Pukat yang  telah tergores pundaknya itu tidak membirkan dirinya menjadi sasaran serangan lawannya. Kesempatan berikutnya dipergunakan sebaik-baiknya. Pedangnyalah yang  terjulur meny erang ke arah dada lawannya.


Jilid104
TETAPI dengan tangkas lawannya menggeliat. Kemudian pedangnya berputar cepat sekali. Serangan mendatar telah terayun deras sekalimengarah ke leher Mahisa Pukat. Namun dengan cepat pula Mahisa Pukat merendah, sehingga pedang lawannya itu terbang diatas kepalanya. Pada saat yang bersamaan, sambil berjongkok pada satu kakinya pedang Mahisa Pukat terjulur. Hampir saja pedangnya mampu menusuk bagian bawah ketiak lawannya, tetapi ternyata lawannya. dengan tangkas meloncat menghindar. Mahisa Pukat melenting dengan kecepatan yang  sangat tinggi. Pedangnya menyambar dengan derasnya menggapai tubuh lawannya, sehingga guru Gemak Langkas itu terpaksa meloncat mundur selangkah. Ketika Mahisa Pukat meloncat lagi sambil menjulurkan pedangnya, maka lawannya telah menangkisnya dengan pukulanmenyamping yang  keras sekali. Tetapi sekali lagi lawannya terkejut. Ternyata tenaga Mahisa Pukat telah meningkat dengan cepatnya. Sekali lagi terasa tangannyamenjadi pedih. Namun guru Gemak Langkas itupun meningkatkan ilmunya pula. Sehingga dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin keras. Benturan tenaga yang  semakin besar serta ay unan pedang yangmenimbulkan desir anginyang semakin kuat. Mahisa Pukat mulai memperhatikan desir angin yang  timbul oleh ay unan pedang lawannya. Ra sa-rasanya angin yang menyambarnya berbareng dengan sambaran daun pedang lawannya menjadi tidak wajar lagi. Angin itu terasa terlalu keras dan kuat. Bahkan seakan-akan mengandung duriduri tajam yang menusuk kulitnya, sehingga terasa kulitnya menjadi pedih. “Orang ini tentu sudah mulai merambah ke ilmu simpanannya yang  tinggi” berkata Mahisa Pukat didalam hatinya. Dengan demikian,maka Mahisa Pukatpun semakin berhatihati. Iapun mulai perlahan-lahan meningkatkan kemampuannya pula. Karena itulah, maka sentuhan-sentuhan senjata mereka telah semakin mendebarkan orang-orang yang menjadi saksi dalam perang tanding itu. Bunga api yang  berhamburan membuat jantungmereka berdebaran. Namun ternyata bahwa guru Gemak Langkas itu tidak dapat segera menguasai lawannya. Mahisa Pukat yang masih sangatmuda itu semakin lama seakan-akan menjadi semakin garang. Meskipun ayunan pedang lawannya seakan-akan telah menghamburkan duri-duri lembut yang  tinggi, masih mampu mengatasi rasa sakit dan pedih yang  timbul oleh sembaran angin pedang lawannya. Kemampuan Mahisa Pukat untuk tetap bertahan itu telah membuat lawannya mulai gelisah. Namun guru Gemak Langkas masih belum tuntas. Ilmunya masih mampu berkembang danmeningkat. Karena itu, angin yang menyapu tubuh Mahisa Pukat karena ay unan pedang lawannya itu menjadi semakin meningkat pula. Duri-duri yang tajam itu rasa-rasanya menjadi semakin banyak dan semakin dalam menusuk kulitnya. Dengan demikian maka Mahisa Pukatpun semakin lama menjadi semakin sulit untuk mengatasi serangan lawannya yang semakinmeningkat itu. Karena itu,maka Mahisa Pukat seakan-akan telah terdesak. Beberapa kali ia berusaha menghindari serangan lawannya. Bukan saja sabetan pedangnya, tetapi juga desah anginnya. Sekali-sekali Mahisa Pukat berusaha untukmenghentakkan ilmu pedangnya. Selangkah dua langkah lawannya memang terdesak mundur. Namun, demikian pedangnya berputar, maka anginpun berputar pula. Ujung-ujung duri itu rasarasanya telah berhamburanmenusuk kulitnya. Mahendra dan Arya Kuda Cemanimemangmenjadi tegang. Tetapi mereka mengerti, bahwa Mahisa Pukat masih belum mengembangkanmemanjat ke ilmu-ilmu andalannya. Mahisa Pukat memang masih berusaha untuk mengatasi ilmu lawannya dengan ilmu pedangnya. Namun ternyata Mahisa Pukat tidak mampu melakukannya. Guru Gemak Langkasmemang memiliki ilmu yang cukup tinggi jika hanya dilawan dengan ilmu pedang. Setelah beberapa kali Mahisa Pukat terdesak,maka ia mulai tidak sabar lagi. Apalagi ketika ia mendengar prajurit-prajurit muda yang mendendamnya itu berteriak-teriak dan bahkan ber sorak setiap kali Mahisa Pukat terdesak dan berdesah menahan pedih yangmenusuk-nusuk kulitnya. Kemarahan Mahisa Pukat memang tidak terkendali lagi. Meskipun demikian ia tidak dengan serta merta ingin menghancurkan lawannya. Ia masih mempunyai beberapa pertimbangan, sehingga Mahisa Pukat itu berniat untuk membuat lawannya tidak berdaya tanpamembunuhnya. Karena itu,maka Mahisa Pukat itupun telah mengetrapkan ilmunya yang dapat menghisap ilmu dan kekuatan lawannya untuk sementara. Ilmu itu memang tidak segera nampak dengan sertamerta. Karena itu, setelah Mahisa Pukat mengetrapkan ilmunya, lawannya masih belum merasakan akibatnya. Guru Gemak Langkas itu masih saja meny erang dengan garangnya, sehingga Mahisa Pukat masih harus mengerahkan daya tahannya mengatasi merasa pedih yang seakan-akan menusuk-nusuk kulitnya. Namun Mahisa Pukat sudah mulai berusaha untuk tidak selalu menghindari serangan lawannya, tetapi sekali-sekali ia telah menangkis dan membenturkan pedangnya. Bagaimanapun juga guru Gemak Langkas itu harus mengakui betapa tinggi kekuatan Mahisa Pukat.Namun setiap kali Mahisa Pukatmemangmasih harusmenyeringaimenahan pedih yangmeny engat kulitnya. Dalam beberapa saat kemudian, guru Gemak Langkas masih sempat mendesak Mahisa Pukat. Sambaran angin ayunan pedangnya masih terasa pedih di kulit Mahisa Pukat. Tetapi Mahisa Pukat masih mampu mengatasiny a dengan ketahanan tubuhnya. Bahkan Mahisa Pukat justru berusaha untuk setiap kali membenturkan senjatanya betapapun ia harus berdesah menahan tusukan getaran udara ilmu guru Gemak Langkasyang semakin tajam itu. Untuk beberapa saat guru Gemak Langkas masih sempat tersenyum dan berkata ”Aku terpaksa melakukannya, anak muda. Kau memang keras kepala. Aku harus mengusir ilmu iblis yang  ada didalam dirimu sebelum muridku akan menyelesaikan perang tanding ini. Kau memang tidak mempunyai pilihan lain. Dalam keadaan yang  paling sulit, maka pedangku akan membelah dadamu, sehingga iblis yang tersembuny i di dalam dirimu akan meloncat keluar. Dan kau akan menjadi tidak berday a sama sekali.” Mahisa Pukat tidakmenjawab. Tetapi ia sadar, bahwa ilmu lawannya memang sangat berbahaya baginya. Sentuhan getaran udara karena ayunan pedang itu telah membuat kulit dagingnya terasa pedih. Apalagi jika pedang itu meny entuh tubuhnya lagi. Keringatyang membasahi seluruh wajah kulit Mahisa Pukat memangmembuat lukanya semakin pedih. Namun dalam pada itu, maka Mahisa Pukat pun telah meningkatkan ilmunya pula. Selapis demi selapis, Mahisa Pukat telah menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya pada setiap sentuhan senjata yang terjadi dalam pertempuran itu. Karena itu, maka betapapun terasa tangannya menjadi pedih oleh getaran udara yang  timbul oleh ayunan pedang lawannya, namun Mahisa Pukat masih selalu berusaha menangkis setiap serangan demi serangan. Orang-orang yang  menyaksikan pertempuran itu memang menjadi semakin tegang. Para prajurit muda dan Gemak Langkas yang  sudah terluka itu sempat bersorak setiap kali Mahisa Pukat harus berloncatan mundur. Tetapi untukmembuat benturan-benturan senjata semakin sering terjadi, maka Mahisa Pukat tidak saja menangkis setiap serangan. Tetapi iapun menjadi semakin sering meny erang. Serangan yang  nampaknya memang tidak berbahaya karena setiap kali guru Gemak Langkas itu dapatmenangkisnya. Namun yang  tidak wajar mulai terasa pada guru Gemak Langkas. Ternyata sebelum ia mampu mengoy ak dada anak muda itu, tenaganya mulaimenjadi susut. Mula-mula guru Gemak Langkas itu tidak segera menyadari. Ia memang telah mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya untuk dengan cepat menguasai lawannya sehingga ia mengira bahwa karena itu tenaganya mulai susut. Tetapi beberapa saat kemudian, terasa bahwa susutnya tenaga dan kemampuannya itu melaju terlalu cepat. Sendi-sendi tangan dan kakinya, bahkan punggungnya terasa seakan-akan mulai dibebani dengan batu yang  semakin lama menjadi semakin berat. Karena itulah, maka dalam kegelisahannya, guru Gemak Langkas itu telah menghentakkan sisa tenaga dan kemampuannya. Ia ingin semakin cepat menyelesaikan lawannya yang  ternyata cukup garang itu. Hetakkan itu memang mengejutkan Mahisa Pukat. Beberapa langkah ia meloncat surut. Bahkan ujung senjata lawannya itu telah mampu menyentuh kulit di lambungnya. Perasaan sakit, pedih dan panasmemang terasa menggigit lukanya itu. Jauh lebih pedih, sakit dan bahkan lebih panas dari tusukan getaran-getaran udara yang  timbul karena ayunan pedang itu. Hampir saja Mahisa Pukat kehilangan kendali akalnya. Kemarahannya hampir saja menghentakkan niatnya untuk menghancurkan lawannya sama sekali. Namun niat itupun diurungkannya. Ia sudah melihat usahanya mulai berhasil. Tenaga dan kemampuan lawannya telah menjadi susut, meskipun ia masih mampu mengejutkannya dengan hentakkan sisa tenaganya. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak lagi melepaskan ilmunya yang  lain. Ia hanya meningkatkan ilmu yang  sudah ditrapkannya itu. Sehingga dengan demikian, maka hisapan tenaga dan kemampuan lawannya itupun berlangsung semakin cepat. Guru Gemak Langkas masih mendengar prajurit -prajurit muda itu ber sorak ketika ia berhasil melukai lambung Mahisa Pukat. Namun setelah itu,maka keringat dingin pun mengalir di seluruh tubuhnya. Ia merasa bahwa tenaganya menjadi semakin cepat susut bahkan pedangnya pun rasa-rasanya menjadi semakin berat. “Apa yang telah terjadi?” pertanyaan itu semakin mengguncang jantungnya. Baru kemudian ia menyadari, bahwa ia telah terper osok ke dalam putaran ilmu yang  sangat mendebarkan. Ilmu yang mampumenghisap tenaga dan kemampuan lawannya. Namun semuanya sudah terlambat. Mahisa Pukat yang  terluka itu justru meny erangnya seperti hembusan badai. Pedangnya berputar bagaikan angin pu saran. Sentuhan demi sentuhan telah terjadi. Beberapa kali guru Gemak Langkas memang berusahamenghindar. Tetapi serangan Mahisa Pukat datang begitu cepatnya sehingga kadang-kadang dengan terpaksa guru Gemak Langkas itu harus melindungi dirinya dengan pedangnya. Dan setiap sentuhan berarti bahwa tenaganyamenjadi semakin susut. Guru Gemak Langkas itu menjadi semakin gelisah. Tetapi yang terjadi telah terjadi. Tenaga, ilmu dan kemampuannya telah terhisap semakin dalam. Tidak ada cara untuk menarik surut waktu. Guru Gemak Langkas itu hanya dapat meny esali kelengahannya. Kenapa ia tidak sejak semula menduga bahwa ilmu yang  jarang ada duanya itulahyang dipergunakan oleh anakmuda itu. Memang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya, bahwa Mahisa Pukat yangmasih muda itu memiliki ilmu yang sangat rumit. Namun ilmu itu sudah ditrapkan dan tenaga serta kemampuannya telah terhisap hampir habis. Gemak Langkas, saudara seperguruannya dan ayahnya menjadi sangat tegangmelihat keadaan guru Gemak Langkas itu. Bahkan Lembu Atak dan kawan-kawannyapunmen jadi sangat cemas. Pada saat-saat terakhir mereka melihat guru Gemak Langkas itu tidak berdaya sama sekali. Ia tidak lagi mampu menyerang apalagi dengan kecepatan yang  sangat tinggi. Rasa -rasanya guru Gemak Langkas itu tidak lagi kuat mengangkat pedangnya sendiri. Dalam pada itu, saudara seperguruan Gemak Langkas yang tidak mengerti apa yang telah terjadi, telah meloncat memasuki gelanggang sambil bertanya ”Guru apa yang  terjadi?” “Jangan” berkata gurunya yang  bahkan berjalanpun menjadi tertatih-tatih. ”ternyata ia memiliki ilmu yang  sangat tinggi.” “Tetapi guru sama sekali tidak terluka” berkata muridnya yang tidakmengerti itu. “Anak itu tidak melakukannya. Jika ia mau, ia dapat membunuhku sekarang,” jawab gurunya. “Kenapa hal itu dapat terjadi?” bertanyamuridnya itu. Guru Gemak Langkas itu tidak menjawab. Namun ia masih berusaha untuk berdiri tegak sambil bertanya kepada Mahisa Pukat. ”Apakah kau akan mengakhiri perang tanding ini denganmembunuhku?” “Bukankah kau berkata sendiri, bahwa jika aku mau, aku sudah dapat membunuhmu sekarang?” justru Mahisa Pukatlahyang  ganti bertanya. Guru Gemak Langkas itu menarik nafas panjang. Katanya ”Baiklah aku mengakui kemenanganmu. Aku kalah dalam perang tanding ini. Kau dapatmelakukan apa saja sekehendak hatimu atasku.” “Aku hanya ingin pengakuanmu, bahwa kau meny erah” desis Mahisa Pukat. Ternyata tidak seperti yang  diduga sebelumnya, bahwa orangitu akan mengeraskan hatinya dan menjunjung harga dirinya sehingga tidak mau mengakui keadaannya, apapun yang terjadi. Namun orang itu ternyata kemudian menjawab ”Ya. Aku meny erah. Aku tidak dapat berkata lain, karena keadaanku.” “Guru” Gemak Langkas dan saudara seperguruannya yang  disebut pamannya itu hampir bersama-sama berdesis. “Memang inilah yang terjadi” jawab gurunya. Saudara seperguruan Gemak Langkas itupun kemudian berkata ”Kita datang bersama banyak orang. Aku tidak peduli apakah akan terjadi perang tanding atau tidak. Tetapi guru jangan menyerah. Kita akan bersama-sama bertempur melawan anak itu” “Tidak ada gunanya” jawab gurunya ”jangan hanya kalian yang ada disini. Saudara-saudaramu yang lain kau bawa kemari, tidak akan ada gunanya.” “Tetapi kami tidak dapat mengorbankan nama guru begitu sa ja” berkata saudara seperguruan Gemak Langkas itu. “Kau lihat ayah anak muda itu serta Arya Kuda Cemani?” bertanya gurunya. Saudara seperguruan Gemak Langkas itu termangu-mangu sejenak. Namun iapun menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis ”Apakah kitamenerima kegagalan ini?” “Ya” jawab gurunya. Ayah Gemak Langkas hanya dapat menggeram. Ia tidak cahu apa yang  harus dilakukan. Ia benar-benar menjadi kecewa terhadap guru Gemak Langkas itu. Ia datang ketempat itu untuk melihat betapa tinggi ilmu yang  telah diwarisi oleh anaknya. Namun ternyata bahwa anaknya tidak berdaya. Bahkan gurunyapun tidak mampu melawan anak muda yang bernama Mahisa Pukat itu. Dalam pada itu,maka Mahisa Pukatpun kemudiar berkata dengan nada berat ”Baiklah. Aku tidak ingin membuat persoalan ini berkepanjangan. Jika kau sudah meny erah, maka aku dan saksi-saksi yang datang bersamaku akan segera meninggalkan tempat ini sekarang. Kecuali jika masih ada persoalan lainyang ingin kalian tumbuhkan disini.” “Tidak” jawab Guru Gemak Langkas itu dengan sertamerta. Mahisa Pukatpun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun melangkah mendekati ayah dan Arya Kuda Cemani sambil berkata ”Agaknya persoalannya sudah selesai sampai disini” Kedua orang tua itupun mengangguk. Mahendrapun kemudian berdesis ”Marilah. Kita kembali. Bertiga mereka meninggalkan tempat itu. Demikianmereka lepas dari Sendang Perbatang, maka Arya Kuda Cemanipun berkata ”Kau harus tetap berhati-hati Mahisa Pukat. Aku tidak yakin bahwa guru Gemak Langkas itu ber sikap jujur. Ia hanya ingin meny elamatkan dirinya malam ini. Tetapi selanjutnya, kita masih harus tetapmencurigainya.” “Tetapi nampaknya guru Gemak Langkas itu berkata dengan sungguh-sungguh” desis Mahisa Pukat. “Mudah-mudahan ia jujur” sahut Mahendra. Namun katanya kemudian ”Aku mempunyai pendapat yang sama dengan Raden KudaWereng” Mahisa Pukatmengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah ay ah. Aku akan berhati-hati. Memang masih banyak kemungkinan yang dapatmereka lakukan.” Sambil melangkah menjauh, maka mereka masih saja berbincang tentang sikap guru Gemak Langkas. Demikian cepatnya ia mengakui kekalahannya setelah ia dengan licik memasuki arena perang tanding. Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Iapun kemudian sependapat, bahwa yang  dilakukan oleh guru Gemak Langkas itu adalah satu sikap yang  jujur. Dalam pada itu, sepeninggal Mahisa Pukat dan dua orang yang datang ber samanya sebagai saksi, maka Gemak Langkas yang telah terluka itu bersama dengan saudara seperguruannya berusaha menolong gurunyayang menjadi kehilangan tenaganya. Ayah Gemak Langkas justru berkata dengan nada kurang senang ”Jadi inikah puncak ilmu yang dimiliki oleh anakku setelah aku meny erahkannya kepada seorang guru yang  aku anggap mumpuni dengan beay a yang tidak sedikit?” Guru Gemak Langkas itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata ”Jangankan Gemak Langkas. Akupun dapat dibunuhnya. Anak itu memiliki ilmu yang  sudah jarang ada duanya. Ilmu yang mampu menghisap tenaga dan ilmu lawannya.” “Tetapi kenapa kami tidak boleh berbuat sesuatu?” berkata saudara seperguruan Gemak Langkas. “Tidak ada gunanya” jawab gurunya ”seandainya kita memaksa diri, maka kita justru akan dibinasakan. Bukan saja oleh Mahisa Pukat, tetapi juga oleh kedua orang saksi yang menyertainya. Semula aku mengira bahwa aku dapat mengalahkan Mahisa Pukat, baru kemudian kita akan melawan kedua orang yang lain. Tetapi ternyata yang  terjadi sama sekali berlainan.” “Dan dengan demikian, maka hancurlah nama kita” desis ay ah Gemak Langkas. “Tidak” jawab guru Gemak Langkas ”aku tidak akan berhenti sampai disini. Jika aku dengan serta merta menyatakan diri menyerah, semata-mata hanya karena aku memang tidak melihat cara lain untuk membebaskan diri dari tangan anak muda itu malam ini. Setelah itu, bukankah harimasih panjang?” “Apa yang akan kita lakukan?” bertanya ayah Gemak Langkas. “Bukan lagi sekedar persoalan antara Gemak Langkas dan Mahisa Pukat sebagai anak-anak muda, tetapi persoalannya sudah merambat jauh lebih luas. Jika aku mendendam, berarti seluruh perguruanku mendendamnya. Seisi padepokanku merasa tersinggung karenanya. Sehingga dengan demikian, maka yang akan berhadapan kemudian adalah seluruh padepokanku. Bukankah Maliisa Pukat juga berasal dari sebuah padepokan? Aku akan mencari keterangan tentang padepokannya, sehingga pada suatu saat aku akan menghancurkan padepokannya itu. Meskipun barangkali kita kita tidak segera dan langsung mengalahkan Mahisa Pukat, tetapi kehancuran padepokannya akan dapat membuat hatinya menjadi lebih sakit daripada sekedar kehilangan seorang gadis.” Ayah Gemak Langkas hanya mengangguk-angguk saja. Namun kemudian ia berkata ”Aku ingin melihat anak itu menderita karenanya. Aku sependapat dengan rencana untuk menghancurkan padepokannya itu.” Dengan demikian,maka orang-orang yang  hadir di tanggul Sendang Perbatang itupun segera bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu. Lembu Atak mengumpat tidak habis-habisny a. Ia ingin sekali melihat, bagaimana Mahisa Pukat itu dihancurkan dan dihinakan oleh Gemak Langkas. Namun yang  terjadi justru sebaliknya. Bahkan guru Gemak Langkaspun telah dikalahkannya pula dihadapan muridmuridnya. Dengan dibantu oleh muridnya,maka guru Gemak Langkas itu meninggalkan medan perang tanding yang menghancurkan namanya itu. Prajurit-prajurit muda yang datang ketempat itupun telah kembali pulamenuju ke barakmereka. Sejenak kemudian tanggul Sendang Perbatang itu menjadi sepi. Namun ternyata masih ada seorang yang  berdiri didalam kegelapan dalam pakaiannya yang hitam. Orang itu seakanakan tidak dapat dilihat denganmata wadag. Ternyata orang itu adalah Arya Kuda Cemani yang  telah memisahkan diri dari Mahendra dan Mahisa Pukat. Untuk beberapa saat orangitu termangu-mangu. Ia mendengar sebagian dari pembicaraan guru Gemak Langkas dengan murid”muridnya. Meskipun t idak seluruhnya, tetapi Arya Kuda Cemani itu mengetahui bahwa guru Gemak Langkas memang tidak jujur. Arya Kuda Cemani itupun mendengar serba sedikit per soalan yang  diangkat menjadi persoalan antara dua buah padepokan. Sambil menarik nafas dalam-dalam Arya Kuda Cemani itu berdesis ”Mahisa Murtilah yang akan terancam. Sebaiknya Mahisa Murti mengetahui bahwa sebuah perguruan sedang mengamati perguruan Bajra Seta” Arya Kuda Cemani itu memutuskan untukmemberitahukan hal itu kepada Mahendra agar Mahendra memberikan peringatan kepada Mahisa Murti di padepokan Bajra Seta. “Guru Gemak Langkas itu tentu tidak akan bekerja sendiri” berkata Arya Kuda Cemani kepada diri sendiri. ”Apalagi jika ay ah Gemak Langkas ikut campur dengan kekayaannya. Maka perguruan Bajra Seta akan dapat berhadapan dengan beberapa perguruan yang sebelumnya tidak dikenalnya.” Di hari berikutnya, maka Arya Kuda Cemani itupun telah menemui Mahendra di rumahnya. Dengan singkat diceriterakannya, apa yang telah didengarnya dari orang-orang yang  semalam berada di Sendang Perbatang. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Ternyata persoalannyamenjadi berkepanjangan.” “Kita tidak dapatmenyalahkan anak-anak atau kita sendiri. Tetapi kita memang tidak dapat membiarkan sikap mereka, karena sikap itu dapatmembahayakan anak-anak.” “Baiklah” berkata Mahendra ”biarlah aku minta bantuan dua tiga orang prajurit untuk pergi ke padepokan Bajra Seta. Agaknya aku tidak dapat minta agar Mahisa Pukat pergi ke padepokan. Ia tentu tidak ingin disebutmelarikan diri.” Arya Kuda Cemani ter senyum. Ia tahu alasan Mahendra yang sebenarnya. Bukan karena tidak ingin disebut melarikan diri. Tetapi Mahisa Pukat tentu masih segan meninggalkan Kota Raja. Agaknya iapun merasa tidak dapat meninggalkan Sasi yang  ternyata mendapat banyak perhatian dari anak-anak muda meskipun Sasi termasuk seorang gadis yang jarang keluar dari regol halaman rumahnya. Setelah Gemak Langkas, mungkin Lembu Atak akan menjerat orang lain lagi untuk kepentingan yang sama. Demikianlah,maka Mahendra telah minta tolong tiga orang prajurit yang telah mendapat ijin dari pimpinannya. Tiga orang prajurit yang pernah bersama-sama ke padepokan Bajra Seta dengan Mahisa Murti ketika Mahisa Murtimeninggalkan Kota Raja tanpa Mahisa Pukat. Kedatangan ketiga orang prajurit itu di padepokan Bajra Seta memangmengejutkan Mahisa Murti.Namun ketiga orang prajurit itu pagi-pagi telah meyakinkan, bahwa tidak terjadi sesuatu yang gawat di Kota Raja. “Hanya sebuah permainan kecil” berkata salah seorang dari antara para prajurit itu. “Permainan apa?” namun Mahisa Murti memang segera ingin tahu berita apa yang mereka bawa. Yang tertua diantar ketiga orang prajurit itupun kemudian berkata ”Ada satu peristiwa kecil yang menyangkut padepokan Bajra Seta ini.” “Peristiwa apa?” desak Mahisa Murti. Dengan singkat prajurit itupun menceriterakan apa yang  telah terjadi sesuai dengan pesan Mahendra. Meskipun ia tidak dapat memerinci peristiwa itu sampai persoalan yang sekecil-kecilny a, namun Mahisa Murti cukup tanggap atas persoalanyang harusdihadapi oleh padepokan Bajra Seta itu. Sambil mengangguk-angguk Mahisa Murti berkata ”Jadi asap dari api yang  menyala di Kota Raja itu akan sampai ke padepokan ini?” “Satu kemungkinan” jawab prajurit itu ”karena itu aku datang untuk membawa pesan agar seisi padepokan ini menjadi berhati-hati.” Mahisa Murti tersenyum. Katanya ”Terima ka sih atas peringatan ini. Tanpa peringatan ini, kami akan terkejut karenanya jika benar-benar terjadi sesuatu.” “Mudah-mudahan memang tidak terjadi sesuatu” berkata prajurit itu. Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya ”Bagaimana pun juga Mahisa Pukat dan padepokan ini masih juga satu. Karena itu, maka sentuhan per soalan yang dihadapinya akan menyentuh padepokan ini pula.” Demikianlah, sejenak kemudian maka para prajurit itupun telah dijamu oleh Mahisa Murti. Malam itu, para prajurit itu akan bermalam semalam di padepokan. Nampaknya mereka kerasan tinggal di padepokan yang mempunyai kesan yang tenteram dan damai itu. Namun per soalan-persoalan yang terjadi diluar padepokan itu kadang-kadang telah mengguncangnya, sehingga wajah air yang bagaikan cermin itupun menjadi beriak karenanya. Tetapi para prajurit itu sama sekali tidak mencemaskan keberadaan padepokan itu. Rasa -rasanya padepokan Bajra Seta adalah satu barak prajurit yang  kokoh kuat. Bahkan para penghuni padepokan inimemiliki kelebihan dari para prajurit, karena para cantrik itumemiliki pengetahuan dan ketrampilan pula dalam tugas-tugas yang  lain selain tugas-tugas keprajuritan. Mereka memiliki pengetahuan tentang bercocok tanam. Mereka memiliki pengetahuan untuk berternak. Menjadi pande besi yang  baik terutama yang telah memiliki kemampuan tinggi dalam pembuatan senjata dengan bahanbahan khusus. Bahkan ada diantara mereka yang mempelajari ilmu perbintangan dan kesusasteraan. Bukan saja para penghuni padepokan itu, tetapi juga anakanak muda di padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan itu. Mereka ternyata juga mendapat kesempatan untuk mempelajari olah kanuragan dan ilmu keprajuritan. Dengan demikian maka Padepokan Bajra Seta adalah sebuah padepokan yang memiliki ketahanan yang  sangat tinggi. Bahkan mirip dengan sebuah lingkungan raksasa yang saling dapat memanfaatkan antara padepokan Bajra Seta dan lingkungan sekitarnya. Dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa guru Gemak Langkas tidak tinggal diam. Ia tidak mau mendapat penghinaan yang sangatmenekan perasaannya itu dihadapan banyak pihak. Karena itu, maka yang  dilakukannya kemudian justru didorong oleh harga dirinya yang merasa direndahkan. Ber sama Gemak Langkas yang  kebetulan adalah saudara seperguruannya, mereka telah merencanakan untuk berbuat sesuatu. Dendam Gemak Langkas ternyata telah berkembang menjadi dendam sebuah padepokan. Bahkan Lembu Atak dan prajurit -prajurit muda yang membenci dan mendendam Mahisa Pukat itupun telah ikut membakar nyala api dendam didalam dada Gemak Langkas. Sebenarnya ayah Gemak Langkas telah memperingatkan anaknya, agar Gemak Langkasmenghentikan usahanya untuk membalas sakit hatinya. Tetapi Gemak Langkas ternyata berkeras untuk bekerja ber sama dengan gurunya mengarahkan dendam mereka kepada sebuah perguruan yang bernama Perguruan Bajra Seta. “Melihat kemampuan Mahisa Pukat, maka padepokan itu tentu sebuah padepokan yang  memiliki kemampuan yang tinggi” berkata ayah Gemak Langkas. “Tetapi apakah aku akan membiarkan namaku, nama guruku dan sudah tentu perguruanku dicemarkan ?” bertanya Gemak Langkas. Lalu katanya pula ”Lebih dari itu, per soalan yang paling menyakitkan adalah bahwa Mahisa Pukat yang sombong itu merasa telah memenangkan persoalan yang berhubungan dengan Sasi.” Tetapi pertanyaan ay ahnya sangat mengejutkannya ”Apakah itu satu sikap sombong ? Bukankah ia memang telah mengalahkan kau dan bahkan gurumu dalam perang tanding ? Beruntunglah kau dan gurumu, bahwa anak itu tidak membunuhmu dan tidak pula membunuh gurumu meskipun ia dapatmelakukannya.” Wajah Gemak Langkas menjadi merah. Namun kemudian ia menjawab ”Ayah. Aku tidak lagi memikirkan alasan-alasan. Aku hanya ingin mencari satu kepuasan. Jika aku dapat menghancurkan Mahisa Pukat meskipun bukan wadagnya, aku akan merasa mendapat kepuasan. Jika Padepokan Bajra Seta dihancurkan,maka Mahisa Pukat akan menjadi sakit hati. Aku senang melihat hatinya pecah sebagaimana padepokannya.” “Dan ia akan membalas dendam pula. Kau akan menjadi sa saran dendamnya” berkata ayahnya. “Jika kami dapat menghancurkan padepokannya, apa artinya Mahisa Pukat itu bagi kekuatan kami ? Kami ju stru akan memancingnya danmembinasakannya.” Ayah Gemak Langkasmenarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia tidak lagi dapat menahan niat anaknya itu. Karena itu, maka jalan satu-satunya untuk menyelamatkannya adalah justru membantunya, sehingga ia akan mendapat dukungan kekuatan yang meyakinkan. Tanpa keyakinan itu, maka akibatnya hanya akan semakin parah bagi anaknya. Karena itu,maka ay ah Gemak Langkas yang kaya raya itu, memang harus mengalah kepada keinginan anaknya. Namun ia masih memberinya peringatan ”Gemak Langkas. Ingat, bahwa langkah yang  akan kau ambil itu mempunyai akibat yang jauh. Jika kau ingin membenturkan padepokanmu dengan padepokan Bajra Seta, maka harus sudah diperhitungkan, bahwa akan jatuh korban. Maksudku bukan sekedar orang-orang padepokanmu dan padepokan Bajra Seta akan ada yang terluka dan menitikkan darah. Tetapi ada diantara mereka yang akan mati terbunuh dipeperangan. Tidak hanya satu atau dua. Tetapi mungkin sepuluh atau dua puluh orang dari padepokanmu dan sejumlah itu pula dari padepokan Bajra Seta. Apalagi jika kalian telah benar-benar menjadi mabuk karena bau darah. Maka kalian akan kehilangan kendali diri. Kematian akan menjadi semakin bertambah dan bahkan mungkin salah satu pihak akan dapat tumpaskarenanya.” Gemak Langkas memang mendengarkan pesan ayahnya yang terakhir itu. Bahkan ia sudah mulai memikirkannya. Persoalannya dengan Mahisa Pukat dalam hubungannya dengan Sasi, akan dapat menimbulkan kematian para cantrik dari dua padepokan. Mereka sama sekali tidak mengerti persoalan sebenarnya yang  telah membakar permusuhan antara kedua padepokan itu. Tetapi ketika ia bertemu dengan gurunya, maka persoalannya menjadi lain. Ternyata gurunya telah membakar hatinya pula, agar ia meneruskan niatnya untuk menghancurkan padepokan Bajra Seta. “Apakah kita akan membiarkan nama kita direndahkan ? Para prajurit muda itu akan berceritera kepada setiap orang bahwa kita sama sekali t idakmemiliki apapun juga yang  dapat kita pergunakan untuk berbangga diri dengan perguruan kita.” berkata guru Gemak Langkas. ”Tetapi pertempuran antara dua padepokan akan membawa banyak kematian” berkata Gemak Langkas. “Aku tahu. Tetapi apa artinya kematian dibandingkan dengan harga diri kita. Jika malam itu aku menyerah, bukan berarti bahwa aku takut mati. Seandainya aku tahu bahwa hatimu lemah,maka aku akan membiarkan dirikumatimalam itu.” berkata gurunya pula. Lalu katanya selanjutnya ”tetapi aku masih hidup. Tenaga dan kemampuanku telah pulih kembali. Aku telah mengetahui pula kekuatan dan kelemahan orang-orang Bajra Seta. Aku yakin, bahwa hanya satu orang sa jalah yang memiliki kemampuan ilmu yang  dapat menghisap tenaga dan kemampuan lawannya. Orang itu adalah Mahisa Pukatyang kini berada disini.” Gemak Langkas memang menjadi ragu-ragu. Ia sadar, bahwa gurunya inginmenebuskekalahannya dan bahkan saatsaat harga dirinya dihancurkan oleh Mahisa Pukat dihadapan orang banyak. Apalagi bukan hanya gurunya yang bertekad seperti itu. Saudara-saudara seperguruannya pun berniat untuk menegakkan nama dan wibawa gurunya dihadapan banyak orang. Dengan demikian maka para murid dan bahkan para cantrik dari sebuah padepokan sudah bertekad untuk membalas dendam. Ra sa -rasanya memang tidak ada yang  dapat mencegah. Ayah Gemak Langkas juga tidak. Bahkan guru Gemak Langkas itupun pernah menemuinya dan berkata ”Seisi Padepokan kami telah siap untuk menegakkan harga diri padepokan kami.” “Aku hanya ingin mengingatkan, jika persoalannya ber sumber dari Gemak Langkas, aku minta dihentikan sampai sekian saja.” sahut ayah Gemak Langkas. “Tetapi persoalan itu telah berkembang” jawab guru Gemak Langkas. Lalu katanya pula ”Mahisa Pukat telah menghina aku.” “Aku tidak tahu, apakah yang dilakukan oleh Mahisa Pukat itu harus dicela atau harus dipuji. Jika ia tidakmembunuhmu, bukankah kau harus berterima kasih kepadanya?” “Aku tidak mau diperlakukan begitu?” jawab guru Gemak Langkas. “Tetapi kenapa kau meny erah?” bertanya ayah Gemak Langkas. “Aku ingin hidup untuk membalas dendam. Jika saat itu aku mati, maka untuk selamanya namaku akan tetap direndahkan orang,” jawab guru Gemak Langkas. “Dan keinginanmu terjadi. Kenapa kau merasa terhina?” bertanya ayah Gemak Langkas. ”Kita harus menganggapnya sebagai satu penghinaan” jawab guru Gemak Langkas. Ayah Gemak Langkas merasa bahwa ia tidak lagi mampu mencegahnya lagi. Karena itu, maka segala sesuatunya diserahkannya kepada guru Gemak Langkas yang  memiliki kekuatanyang  cukup besar itu,meskipunmereka masih harus mengamati kekuatan Padepokan Bajra Seta. Demikianlah, guru Gemak Langkas yang di lingkungannya dipanggil mPu Damar benar-benar berniat untuk melakukan pembalasan terhadap Mahisa Pukat yang  sa sarannya ditujukan kepada Padepokannya. Padepokan Bajra Seta. Karena itulah maka seisi padepokan yang dipimpin oleh mPu Damar itupun segera bersiap-siap. Gemak Langkas yang  tidak tinggal di Padepokan Ngancas, telah berada di padepokan itu pula. Biasanya justru gurunya atau orang terpercaya dari Padepokan Ngancas itulah yang datang ke rumah Gemak Langkas. Tetapi di saat-saat yang dianggap genting oleh seisi padepokan itu, maka Gemak Langkas memang telah diminta untuk berada di Padepokan Ngancas ber sama -sama dengan murid-muridmPu Damar yang sudah ter sebar. Di Padepokan itu mereka mendapatkan latihan-latihan secara khusus dari mPu Damar sendiri. Sementara para cantrik yang jumlahnya cukup banyak itupun telah ditempa pula oleh para murid tertua dari perguruan itu. Bahkan satu dua diantara murid-murid tertua itu telah membuat Padepokan-padepokan pula terpencar di beberapa tempat yang berjarak cukup panjang. Merekalah yang  akan menjadi pendukung kekuatan mPu Damar untuk menghadapi Padepokan Bajra Seta. “Kita mempunyai beberapa padepokan” berkata mPu Damar ”kita tentu akan dapatmenggilas Padepokan Bajra Seta yang hanya sebuah Padepokan itu saja.” Tetapi mPu Damar juga tidak bertindak tergesa-gesa. Ia telah memerintahkan dua orang muridnya yang terbaik untuk mengetahui beberapa hal tentang keadaan Padepokan Bajra Seta. Letaknya, kekuatannya, lingkungannya dan jika mungkin tingkat kemampuan para cantriknya. “Kita tidak boleh bertindak tanpa perhitungan agar kita tidak menambah kegagalankegagalan yang  pernah kita alami” berkata guru Gemak Langkas itu. Dengan beberapa perintah dan pesan-pesan maka kedua orang murid mPu Damar yang  dianggap terbaik telah berangkat menuju ke lingkungan di sekitar Padepokan Bajra Seta. Tugas itu memang merupakan tugas yang  sulit. Keduanya belummengenal sa saran pengamatan mereka.Namun dengan penuh kepercayaan akan kemampuan diri, keduanya telah berangkat ke Padepokan Bajra Seta. Namun mPu Damar telah berpesan ” Ingat. Mahisa Pukat mempunyai seorang saudara laki-laki bernama Mahisa Murti. Aku tidak tahu apakah Mahisa Murti juga memiliki kemampuan setingkat Mahisa Pukat. Namun seandainya demikian, kita tidak usah gentar menghadapinya. Kita sudah tahu kelemahannya, sehingga kita pun akan dapat mencari jalan untuk mengatasiny a. Selain satu cara adalah, kita akan menghadapinya dalam kelompok-kelompok kecil. Kedua orang murid terbaik mPu Damar itu mengangguk. Mereka mengerti bahwa gurunya, mPu Damar tidak dapat memenangkan perang tanding melawan Mahisa Pukat sehingga justru telah membakar dendam di hatinya. Dengan demikian maka merekapun sadar, bahwa mereka harusmenjadi sangat berhati-hati, karena yang mereka hadapi adalah sebuah padepokan yang memiliki pemimpin dengan ilmu yang  sangat tinggi. Tetapi tugas mereka hanyalah sekedar mengetahui apa yang ada di padepokan Bajra Seta itu, sehingga karena itu, maka keduanya masih belum perlu untuk membenturkan kemampuan mereka atas orang-orang padepokan Bajra Seta itu. Dengan bekal beberapa pesan dari gurunya, mPu Damar, maka kedua orang murid perguruan Ngancas itu telah berangkat ke padepokan Bajra Seta. Namun sementara itu, para prajurit yang  telah datang menemui Mahisa Murti justru telah kembali ke Singasari. Sehingga dengan demikian maka Mahisa Murtipun telah mendapat keterangan tentang kemungkinan buruk yang dapat datang setiap saatmenerpa Padepokan Bajra Seta itu. Tetapi setelah beberapa lama Mahisa Murti berada di Padepokan Bajra Seta, hatinya telah menjadi lebih tenang. Meskipun kadang-kadang masih terasa gejolak hatinya, namun Mahisa Murti telah mampu untukmenimbang dengan perasaan dan penalaranyang lebih bening. Keterangan yang diterima Mahisa Murti tentang dendam Gemak Langkas kepada Mahisa Pukat yang kemudian berkembang menjadi dendam padepokan Ngancas terhadap Padepokan Bajra Seta, telah mendorong Mahisa Murti untuk ber siap-siap. Meskipun Mahisa Murtimerasa lebih senang jika tidak terjadi sesuatu, namun apa bila serangan itu benar-benar datang, Padepokan Bajra Seta tidak akan membiarkan dirinya dihancurkan. Karena itu, maka Mahisa Murti telah meningkatkan kewaspadaannya. Panggungan di dinding Padepokan telah diperbaiki, sehingga pengamatan dapat dilakukan dengan lebih baik. Pintu gerbang Padepokanpun telah diperiksa dengan teliti, agar pintu gerbang itu tidak mudah untuk dipecahkan. Selaraknya telah dibuat rangkap, sementara panggungan disebelah-meny ebelahnyapun telah dipersiapkan pula untukmenghadapi kemungkinanyang paling buruk. Lebih dari itu, maka secara kewadagan dan kejiwaan, para cantrikpun telah dipersiapkan pula. Latihan-latihan-pun ditingkatkan sementara persenjataan para cantrik itu langsung diperiksa oleh Mahisa Murti sendiri apakah cukupmemadai. Mahisa Semu dan Mahisa Amping secara khusus telah bertanya kepada Mahisa Murti, apakah yang  akan terjadi di Padepokan itu. “Kalian harus bersiap-siap dengan sungguh-sungguh” jawab Mahisa Murti. Lalu katanya ”telah terjadi salah paham antara kakakmu Mahisa Pukat dengan seseorang yang kebetulan memimpin sebuah padepokan. Mereka mendendam kakakmu Mahisa Pukat. Namun mereka tidak dapat berbuat banyak di Singasari, karena para prajurit Singasari akan dapat turut campur. Karena itu, maka mereka, yang mendendam kakakmu Mahisa Pukat itu telah mengerling ke padepokan ini. Nampaknya Padepokan ini akan menjadi sa saran dendam orang yang  terlibat dalam kesalah-pahaman dengan kakakmu Mahisa Pukat itu.” Mahisa Semu dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun bagi Mahisa Amping, per soalan yang  dihadapi oleh Padepokan Bajra Seta itu sulit untuk dimengerti. Bajra Seta yang t idak tahu menahu tentang persoalan y g terjadi di Singasari, justrumenjadi sa saran dendam sebuah Padepokan. Namun tiba-tiba anak itu mengerutkan dahinya. Pandangan matanya jauh menyusup menembus kekejauhan. Seakan-akan diluar sadarnya ia berkata ”Ya, kita memang harusbersiap” Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya ”Kenapa ?” “Mereka agaknya memang akan datang.” jawab Mahisa Amping. Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam. Mahisa Amping kadang -kadangmemangmenunjukkan kelebihan pengamatan firasatnya. Namun Mahisa Amping jarang sekali mengerti, perincian dari penglihatannya itu. Namun Mahisa Murti seakan-akan telah mendapat penjelasan, bahwa kemungkinan buruk itu memang akan terjadi atas Padepokan Bajra Seta, sehingga seisi Padepokan itu memang harusbersiap-siapmenghadapi kemungkinan itu. Karena itu, maka Mahisa Murtipun kemudian berkata kepada Mahisa Semu ”tolong, panggil pamanWantilan.” Beberapa saat kemudian, maka Wantilanpun telah datang menemui Mahisa Murti. Dengan sungguh-sungguh Mahisa Murtiminta agarWantilan mempersiapkan para cantrik untuk ber siaga. “Besok aku akan berbicara dengan para pemimpin kelompok. Tolong paman Wantilan mempersiapkan pertemuan itu.” “Baiklah” berkata Wantilan ”besok, saat matahari sepenggalah para pemimpin kelompok akan berkumpul di pendapa bangunan induk.” “Terima kasih paman” berkata Mahisa Murti selanjutnya ”nampaknya kita memang tidak boleh lengah” Sementara para penghuni Padepokan Bajra Seta bersiapsiap, maka kedua orang cantrik dari Padepokan Ngancas telah berada tidak terlalu jauh dari Padepokan Bajra Seta. Dengan sangat berhati-hati keduanya mulai menghimpun keterangan tentang Padepokan yang akan menjadi sasaran dendam mPu Damar. Namun hal itu telah disadari oleh Mahisa Murti. Bahwa sebelumnya tentu akan ada pengamatan atas Padepokannya. Karena itu, maka Mahisa Murti berusaha untuk melihat kemungkinan itu sendiri. Setiap kali Mahisa Murti telah berada di padukuhan-padukuhan disekitar Padepokannya. Tetapi Mahisa Murti t idak mengatakan kepentingannya kepada anak-anakmuda di padukuhan-padukuhan itu, karena jika demikian maka mereka akan dapat berbuat sesuatu yang mungkin salah langkah. Anak-anak muda di padukuhan-padukuhan di sekitarnya yang ingin membantunya akan dapat salah tunjuk. Mereka dapat dengan serta-merta menuduh orang-orang yang kebetulan tidak mereka kenal sebagai petugas sandi dari padepokan yang mengancam Padepokan Bajra Seta. Bahkan mungkin mereka akan dapat bertindak dengan tergesa -gesa karena darah mudamereka. Kepada para pemimpin kelompok Padepokan Bajra Seta dalam pertemuanyang  diselenggarakan di Padepokan, Mahisa Murtimenekankan agar mereka ber siap sepenuhnya. “Tetapi jangan tergesa -gesa melibatkan anak-anakmuda di luar Padepokan.” pesan Mahisa Murti. ”Mereka akan dapat bertindak terlalu jauh sebelum mereka memahami apa yang terjadi sepenuhnya. Sehingga langkah-langkah yang mereka ambil justru akan dapatmerugikan persiapan kita.” Dengan demikian maka yang dilakukan oleh para cantrik itu adalah persiapan-persiapan yang  terbatas di lingkungan dinding padepokanmereka. Sementara itu, Mahisa Murti yang sering berada di luar padepokan kadang -kadang memang harus menjawab beberapa pertanyaan yang menyangkut keberadaannya di padukuhan-padukuhan itu, karena hal seperti itu jarang sekali dilakukannya. Meskipun Mahisa Murti sering berkunjung kepada anak-anakmuda diluar Padepokan namun tidak begitu sering seperti yang dilakukannya dis-aat-saat terakhir.Namun pertanyaan-pertanyaan itu selalu dijawabnya, bahwa kehadirannya di padukuhan-padukuhan itu semata-mata karena keinginannya untuk berada lebih dekat dengan anakanakmuda di padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan. Mahisa Murti yang  kadang-kadang membawa Mahisa Amping bersamanya itu berusaha untuk dengan cermat mengamati kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan oleh para petugas sandi. Sekali-sekali Mahisa Murti berada di kedai-kedai yang  sebelumnya memang pernah di kunjungi. Bahkan Mahisa Murti menjadi lebih rajin berada di pasar. Duduk di antara pande besidan pedagang-pedagang gerabah. Namun untuk beberapa lama Mahisa Murti tidak melihat orang-orang yang  pantas dicurigainya. Tetapi ketika pada suatu hari ia berada di sebuah kedai ber sama Mahisa Amping, justru di kedai yang berada agak jauh dari padepokannya, serta kedai yang  sebelumnya belum pernah dikunjunginya, ditemukannya sesuatu yang  pantas diperhatikan. Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Amping lewat di depan kedai itu, maka tiba-tiba saja Mahisa Amping menarik tangannya. Demikian Mahisa Murti berhenti, maka Mahisa Amping itu berdesis ”Kita singgah sebentar.” Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Sambil ter senyum ia bertanya ”Apakah kau sudah lapar atau haus? Bukankah harimasih pagi?” “Tidak” jawab Mahisa Amping ”aku tidak lapar dan tidak haus. Tetapi aku ingin singgah sebentar.” Mahisa Murti melihat sesuatu di mata Mahisa Amping. Dahi anak itu berkerut. Bahkan kemudian tanpa menunggu Mahisa Murti, Mahisa Amping telah melangkah masuk ke dalam kedai itu. Tetapi Mahisa Murti yang  mengenal anak itu dengan baik, tidak mencegahnya. Iapun segera mengikutinya dan memasuki kedai itu pula. Pemilik kedai itu memang belum dikenalnya. Sebaliknya pemilik kedai itupun juga belum mengenalnya. Namun, demikian Mahisa Murti memasuji kedai itu, maka iapun mendapat kesan bahwa kedai itu adalah kedai yang  terhitung ber sih dan lengkap. Beberapa tempat duduk memang telah terisi. Di sebuah amben panjang beberapa orang anakmuda sedangmenghirup minuman panas sambil berkelakar. Sedangkan di sudut kedai itu duduk dua orang yang lebih banyak diam dan mengamati keadaan. Mahisa Amping yang mendahului masuk ke kedai itu langsungmencari tempat duduk, tidak jauh dari kedua orang yang telah berada di dalam kedai itu. Mahisa Murti hanyamengikutinya saja. Ia tahu bahwa anak itu melangkah sesuai dengan tuntutan firasatnya. Sehingga karena itu,maka Mahisa Murti menduga, bahwa ada sesuatu yang dikenali oleh firasat Mahisa Amping, namun belum diketahuinya dengan pasti. Beberapa saat kemudian, setelah keduanya duduk, maka keduanya telah memesan minuman yang  digemari oleh Mahisa Amping.Wedang sere dengan gula aren. Sambil menunggu minuman, maka Mahisa Amping nampaknya memperhatikan kedua orang yang telah lebih dahulu berada di kedai itu. Sambil mengunyah makanan keduanya berbicara perlahan-lahan. Masih tentang makanan yangmerekamakan. Tetapi kedua orang itu kemudian mulai memperhatikan Mahisa Amping.Nampaknya Mahisa Amping itu agakmenarik perhatian mereka. Sikap anak itu yang  nampak kekanakkanakan namun mapan. Bahkan ketika kedua orang itu memandang Mahisa Amping yang juga sedang mengamati mereka,makaMahisa Amping itu telahmengangguk hormat. Kedua orang itu tersenyum sambilmengangguk pula. Bahkan seorang di antara mereka sempat berdesis ”Marilah ngger, apakah pesananmu belum siap?” Mahisa Amping tersenyum pula. Tetapi ia justru berpaling kepada Mahisa Murti. Sementara Mahisa Murtilah yang menjawab ”Nampaknya sedang disiapkan Ki Sanak.” Orang itu mengangguk-angguk. Ma sih sambil ter senyum seorang diantara mereka bertanya kepada Mahisa Murti ”Apakah anak ini anak Ki Sanak?” “Ya” jawab Mahisa Murti ”anakku yang sulung.” “O” orang itu mengangguk-angguk ”berapakah saudaranya?” Mahisa Murtipun ter senyum pula. Jawabnya ”Dua.” Mahisa Amping termangu-mangu sejenak. Namun anak itu ternyata tanggap. Ia tidak mengatakan apa-apa ketika Mahisa Murtimengakunya sebagai anaknya. Ternyata sejenak kemudian pelay an kedai itu telah menghidangkan minuman hangat bagi Mahisa Murti dan Mahisa Amping. Namun Mahisa Amping terkejut ketika salah seorang diantara kedua orang itu bertanya ”Siapa namamu ngger?” Mahisa Amping memang menjadi bingung. Jika Mahisa Murti mengatakan bahwa ia adalah anaknya yang sulung, maka namanya tentu bukanMahisa Amping. Karena Mahisa Amping tidak segera menjawab, maka Mahisa Murtilah yang  menjawab ”Kenapa kau diam saja? Namanya Lembu Amping Ki Sanak. Anak ini memang pemalu.” “Nama yang bagus” desis orang itu. “Rumahmu dimana?” bertanya orang itu pula. Mahisa Ampingmemandang kepada Mahisa Murti dengan wajah yang agak tegang. Namun Mahisa Murti berkata ”Jawablah. Kau harusbelajarmenjawab pertanyaan-pertanyaan.” Mahisa Ampingmemandang kedua orang itu dengan raguragu. Katanya ”Rumahku, tiga bulak dari tempat ini. Diseberang bulak panjang dan hutan bambu disebelah.” “O” orang itu mengangguk-angguk. Tetapi seorang yang  lain bertanya lagi ”Hutan bambu Ngerakyang kaumaksud?” “Ya” Mahisa Ampingmengangguk ragu. “Sudah dekat dengan Padepokan Bajra Seta?”desak orang itu pula. Namun Mahisa Murtilah yang menjawab ”Masih berjarak beberapa bulak lagi Ki Sanak. Kami tinggal di padukuhan Ngerak itu. Padukuhan yang  menjadi kepanjangan hutan bambu meskipun diantarai oleh sebuah padang perdu dan padang rumput.” Mahisa Murti berhenti sejenak. Lalu iapun bertanya pula ”Tetapi apakah Ki Sanak sudah pernah pergi ke Ngerak?” Orang itu tersenyum sambil mengangguk ”Ya. Tetapi hanya sekedar lewat saja.” “Kami persilahkan Ki Sanak singgah” berkata Mahisa Murti kemudian. “Terima kasih, Ki Sanak” jawab orang itu. Mahisa Murti yang  kemudian sibuk meniup minuman panasnya agar cepatmenjadi dingin tidak bertanya lagi. Kedua orang itupun terdiam pula untuk beberapa saat. Untuk beberapa lamanya, Mahisa Murti dan Mahisa Amping duduk di kedai itu. Mereka minum dan makan beberapa potong makanan kecil. Namun sekejap-sekejap Mahisa Murti sempat memandangi kedua orang yang  belum dikenalnya sebelumnya itu. Beberapa saat kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Amping merasa, bahwa mereka telah cukup lama duduk di kedai itu. Sementara itu kedua orang yang  telah lebih dahulu berada di kedai itu masih saja duduk sambil sekali-sekali menghirupminumannya. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Amping terkejut ketika mereka akan membayar harga minuman dan makanan yang telah mereka makan salah seorang dari kedua orang itu berkata ”Sudahlah Ki Sanak. Biarlah kami yang membayarnya.” “Ah” sahut Mahisa Murti ”terima kasih. Biarlah kami memenuhi kewajiban kami.” “Jangan” orang itu mencegahnya. Bahkan katanya ”Seringseringlah datang kemari. Aku sering pula berada di kedai ini.” Ketika Mahisa Murti berniat tetap akan membayar harga minuman dan makanannya, orang itu juga tetap mencegahnya. Katanya ”Ki Sanak. Jangan menolak. Bukan apa-apa. Aku senangmelihat anak Ki Sanak ini.” Mahisa Murtimemang tidak dapat memaksanya.Orang itu akan dapat ter singgung karenanya. Namun disamping itu, Mahisa Murti memang menaruh perhatian cukup besar terhadap orang itu. Karena itu,maka Mahisa Murtipun kemudian berkata ”Jika demikian, kami mengucapkan banyak terima kasih Ki Sanak Kami akan sering datang ke kedai ini.” “Baiklah” berkata orang itu ”pada suatu saat aku akan singgah ke rumah Ki Sanak.” “Silahkan Ki Sanak. Silahkan. Kami akan senang sekali menerima kunjungan Ki Sanak.” jawab Mahisa Murti. Demikianlah keduanyapun kemudian telah meninggalkan kedai itu. Mahisa Murti mulai merasakan bahwa firasat Mahisa Amping telah membawanya bertemu dengan orangorang yang menarik perhatian. Namun dalam pada itu, Mahisa Ampingpun bertanya ”Kakangmembuat aku bingung.” “Tetapi kau sudah berbuat sebaik-baiknya” jawab Mahisa Murti. “Tetapi apakah kita akan menemuinya lagi?” bertanya Mahisa Amping. “Ya. Aku berniat bertemu dengan orang-orang itu lagi” jawab Mahisa Murti. “Tetapi bagaimana jika mereka benar-benar akan singgah dirumah yang  kakang sebutkan itu?” bertanya Mahisa Am- Ping- Mahisa Murti ter senyum. Katanya ”Bukankah kita mempunyai banyak sahabat di padukuhan Ngerak?” “Kita akan mengaku salah seorang dari mereka keluarga kita atau kita memang akan membuat rumah di Ngerak?” bertanya Mahisa Amping. Mahisa Murti tertawa. Katanya ”Kita tidak perlu membuat rumah. Jika kita membuat rumah, maka rumah kita akan nampak baru. Sehingga dengan demikian,maka mereka akan dapatmenjadi curiga.” Mahisa Amping mengangguk-angguk. Katanya ”Bukankah aku boleh ikut tinggal di Ngerak?” Mahisa Murti tertawa semakin keras. Katanya ”Kita tidak akan tinggal di Ngerak. Tetapi kita akan sering berada di Ngerak. Kita akan berbicara dengan orang -orang Ngerak, terutama Ki Bekel, bahwa aku adalah penghuni padukuhan Ngerak bersama anakku sebanyak tiga orang. He, bukankah akumenjawab bahwa anakku tiga orang?” Mahisa Ampingpun tertawa. Tetapi ia bertanya ”Mana yang  dua lagi?” “Orang itu tidak akan membuktikan, bahwa aku mempunyai tiga orang anak. Tetapi mudah-mudahan orang itu tidak benar-benarmencari kita di Ngerak.” berkata Mahisa Murti. “Orang itu lupa tidak menanyakan nama kakang” berkata Mahisa Amping kemudian. “Ya. Mungkin mereka sengaja agar tidak terlalu menarik perhatian. Seakan-akan mereka tidak mempedulikan kita?” jawab Mahisa Murti. “Tetapi apakah mereka mempedulikan kita?” bertanya Mahisa Amping pula. “Ya. Dalam hubungannya dengan Padepokan Bajra Seta. Agaknya orang itu menaruh perhatian atas Padepokan Bajra Seta.” Mahisa Amping mengangguk-angguk. Namun ia tidak bertanya lebih jauh. Demikianlah maka keduanya berjalan semakin jauh dari kedai yang  baru pertama kali itu mereka datangi. Namun mereka berdua ternyata tidak langsung kembali ke Padepokan. Mereka ternyata telah pergi ke padukuhan Ngerak untuk bertemu dengan Ki Bekel. Ketika Mahisa Murti menyatakan dirinya untuk disebut orang Ngerak,maka Ki Bekelpun menjadi heran. Namun dalam pada itu, Mahisa Murtipun berpesan. Kepada Ki Bekel yang  sudah dikenal dengan baik oleh Mahisa Murti itupunmengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Mahisa Murtiminta agar Ki Bekel tidakmenyatakan hal itu kepada orang-orang Ngerak. “Kepada mereka Ki Bekel cukupmengatakan bahwamereka harus menganggap aku orang Ngerak. Jika ada orang asing yang bertanya tentang aku, maka mereka harus menjawab, bahwa aku tinggal di Ngerak. Tinggal di rumah Ki Bekel bagian belakang, karena akumasih sanak kadangnya Ki Bekel.” Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Agaknya suatu permainan yang  sulit bagiku. Tetapi aku akan mencoba. Meskipun demikian jika ada satu dua orang yang  terlampaui dan tidakmengetahui permainan ini, akuminta maaf.” ”Jika Ki Bekel memberitahukan kepada seseorang dan minta orang itu mengatakan kepada orang lain yang ditemuinya, maka dalam waktu singkat, pesan Ki Bekel itu akan tersebar. Memang agak sulit untukmengendalikan anakanak. Namun jika orang-orang tua sudah mengetahuinya, maka agaknya sudah cukup.” Ki Bekel mengangguk-angguk. Yang sulit baginya adalah justru tanpa mengatakan per soalan yang sebenarnya kepada orang-orang padukuhan Ngerak. Namun dalam pada itu, Mahisa Murtipun berpesan ”Masih ada yang  harus Ki Bekel beritahukan kepada orang-orang Ngerak. Namaku disini tentu bukan Mahisa Murti. Tetapi Kuda Samekta. Nah, ingat Ki Bekel. Kuda Samekta. Jadi dirumah Ki Bekel tinggal seorang saudaranya sekeluarga dengan tiga orang anak, namanya Kuda Samekta. Sedangkan anaknya yang  sulung namanya Lembu Amping.” Ki Bekel ter senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya ”Lebih mudah untuk menangkap saja orang itu daripada harus bermain demikian rumitnya.” Mahisa Murtipun tersenyum pula. Katanya ”Mudah-mudahan orang itu tidak datang kemari. Aku akan berusaha menjumpainya di kedai itu saja. Yang agak menyulitkan adalah ju stru orang itu telah membayar minuman dan makanan kami, sehingga jika kami datang lagi kekedai itu, tentu dikiranya kami sengaja agar minuman dan makanan kamimereka bay ar pula.” Tetapi Ki Bekel itu menggeleng sambil berkata ”Tidak. Kapan saja kau bertemu lagi dengan orang itu di kedai itu, maka kaulah yang  membayar harga minuman dan makanan mereka. Katakan, bahwa ada baiknya untuk bergantian melakukannya.” Mahisa Murtimengangguk-angguk. Katanya ”Aku setuju Ki Bekel. Ternyata pendapat Ki Bekel itu cukup bagus.” “Seandainyamereka tidakmau?” bertanya Mahisa Amping. Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam. Tetapi justru Ki Bekel yang menjawab ”Kebetulan. Biarlah mereka setiap kali membayar hargamakanan danminuman itu.” Mahisa Murti dan Mahisa Ampingpun tertawa. Namun dalam pada itu, Mahisa Murtipun menyadari bahwa tugas yang diserahkan kepada Ki Bekel itu memang cukup rumit. Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Amping segera minta diri. Mahisa Murti berharap bahwa segala sesuatunya dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan persoalan bagi orang-orang padukuhan Ngerak. Namun dengan demikian,maka hampir setiap hari Mahisa Murti dan Mahisa Amping telah pergi ke padukuhan Ngerak.Bahkan pada hari yang  keempat, keduanya telah pergi kekedai yang baru sekali mereka kunjungi itu. Tetapi di kedai itu Mahisa Murti dan Mahisa Amping tidak bertemu dengan kedua orang yang pernah membayarminuman danmakananmereka. “Kemarin mereka datang kemari” berkata pemilik kedai itu. Karena kedai itu sedang lengang, selain Mahisa Murti dan Mahisa Amping hanya ada dua orang pembeli yang  lain,maka pemilik kedai itu sempat berbicara agak panjang dengan Mahisa Murti dan Mahisa Amping. “Agaknya mereka bukan orang disekitar tempat ini” berkata pemilik kedai itu. “Tetapi nampaknya mereka telah melihat -lihat daerah ini” sahut Mahisa Murti. “Perhatiannya banyak tertuju kepada Padepokan Bajra Seta” berkata pemilik kedai itu. “O” Mahisa Murtimengangguk-angguk. Katanya ”Aku juga pernahmelihat padepokan itu.” “Apakah anehnya ?” pemilik kedai itu justru bertanya ”aku juga sering lewat didekat padepokan itu. Bukankah tidak ada yang aneh ?” “Ya. Tidak ada yang  aneh” jawab Mahisa Murti yang  memperkenalkan diri dengan nama Kuda Samekta. “Tetapi nampaknya kedua orang itu sangatmemperhatikan Padepokan Bajra Seta itu.” berkata pemilik kedai itu pula. Lalu sambungnya ” Ia tertarik kepada bukan saja penghuninya, tetapi juga nama-nama pemimpinnya. Kemampuannya dan jumlah cantrikyang  ada di padepokan itu.” “Untuk apa ?” bertanya Mahisa Murti. “Hanya ingin tahu” jawab pemilik kedai itu ”ia mengaku tertarik setelah melihat Padepokan itu dari dekat. Nampaknya sebuah Padepokanyang  besar dan kuat.” “Apakah Ki Sanak banyak mengetahui tentang Padepokan Bajra Seta ?”bertanya Mahisa Murti. “Tidak” jawab pemilik kedai itu ”letaknyapun tidak terlalu dekat dari sini. Aku telah menyarankan jika ingin mengetahui lebih banyak, sebaiknya ia datang saja ke Padepokan itu dan bertemu dengan pimpinan Padepokan Bajra Seta itu.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia tidak bertanya terlalu banyak agar tidak menimbulkan kecurigaan. Namun keterangan itu sudah cukup baginya untuk mengambil kesimpulan, bahwa memang ada orang yang sedang menyelidiki padepokannya, yang  tentu ada sangkut pautnya dengan keterangan yang  diberikan oleh para prajurit yang khusus datang atas permintaan ayahnya. Namun yang mengejutkan Mahisa Murti adalah justru kehadiran seseorang yang tidak dikenal oleh para cantrik ke Padepokan Bajra Seta. “Siapa yang  dicarinya ?” bertanya Mahisa Murti. “Pimpinan Padepokan Bajra Seta, Mahisa Murti” jawab cantrik itu. Mahisa Murti merasa harus berhati-hati menanggapi kedatangan orang itu. Karena itu,maka katanya ”Aku sendiri akan menerimanya diregol halaman. ”Namun sekali lagi Mahisa Murti terkejut. Orang itu memang tidakmenunjukkan ujud yang meyakinkan sebagai seorang yang  memiliki kelebihan. Orang itu menurut ujudnya tidak lebih dari seorang petani kebanyakanyang berpakaian serba hitam. “Raden KudaWereng” desisMahisa Murti. Orang itu terseny um. Katanya ”Kau masih mengenali aku dalam ujudku seperti ini ngger?” “Tentu” jawab Mahisa Murti ”dalam keadaan apapun aku akan dapatmengenali Arya Kuda Cemani. Apalagi dalam ujud apapun Raden selalu memakai pakaianyang  serba hitam.” Arya Kuda Cemani hanya terseny um saja. Sementara itu Mahisa Murtipun mempersilahkannya memasuki padepokannya. “Sebuah padepokan kecil, kotor dan miskin” berkata Mahisa Murti. “Kau terlalu merendahkan diri” jawab Arya Kuda Cemani ”padepokanmu adalah padepokan yang  terhitung besar di tlatah Singasari.” Demikianlah Arya Kuda Cemani telah diterima dengan gembira oleh Mahisa Murti. Meskipun kehadirannya masih juga bagaikan menitikkan air diatas lukanya sehingga terasa pedih, namun Mahisa Murti masih juga sempat menahan dirinya. Setelah dihidangkan minuman dan makanan, maka Arya Kuda Cemanipun mengatakan kepentingannya datang ke Padepokan Bajra Seta itu. “Aku ingin memberikan keterangan serba sedikit” berkata Arya Kuda Cemani, seorang Senapati dari para petugas sandi di Singasari ”menurut pengamatan para petugas sandi, maka sudah ada tiga buah padepokan yang diper siapkan untuk datang ke Padepokan Bajra Seta.” “Tiga ?” bertanyaMahisa Murti. Arya Kuda Cemani mengangguk-angguk. Katanya ”Padepokan induk yang  dipimpin oleh mPu Damar, guru Gemak Langkas. Sedangkan kedua padepokan yang lain adalah padepokan-padepokan yang  dipimpin oleh muridmuridmPu Damar yang telah dianggapmemiliki kemampuan yang cukup.” Mahisa Murti menarik nafas panjang. Dari para prajurit yang telah datang lebih dahulu Mahisa Murti sudah mendapatkan beberapa penjelasan. Apa yang  dikatakan oleh Arya Kuda Cemani telah melengkapinya, sehingga Mahisa Murti telah mendapat gambaran yang  utuh tentang orangorang serta padepokan-padepokanyangmemusuhinya. Mahisa Murti pun telah mendapat keterangan bagaimana Mahisa Pukatmampu mengalahkan mPu Damar itu di perang tanding. “mPu Damar tidak mengira bahwa angger Mahisa Pukat mampu menghisap tenaga dan kemampuannya. Ia menyadari akan kemampuan ilmu angger Mahisa Pukat kemudian setelah terlambat” berkata Arya Kuda Cemani. Lalu katanya ”Namun agaknya ia akan menjadi lebih berhati-hati. Ia tentu sudah memperhitungkan bahwa angger Mahisa Murti juga memiliki ilmu yang  sama.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Dengan demikian ia memang harusmenjadi sangat berhati-hati menghadapi mPu Damar itu. Namun Arya Kuda Cemani kemudian mengatakan ”Tetapi tidak mustahil bahwa mPu Damar akan mengundang kekuatan diluar padepokannya dan padepokan yang  dipimpin oleh murid-muridnya.” “Terima kasih atas segala keterangan ini Raden” jawab Mahisa Murti ”mudah-mudahan kami dapatmempertahankan diri darimereka yang  berniat buruk itu.” “Satu hal yang sedang aku usahakan” berkata Raden Kuda Cemani kemudian ”jika kita tahu, kapan orang-orang itu akan datang, maka kita akan dapat mempersiapkan penyambutan sebaik-baiknya.” Kepada Raden Kuda Wereng Mahisa Murti juga memberitahukan tentang kedua orang yang  sedang mengamati padepokannya. Nampaknya mereka sedang mengumpulkan bahan untuk meyakinkan langkah-langkah yang akan mereka ambil. Raden Kuda Wereng mengangguk-angguk kecil. Katanya ”Ternyata mereka cukup berhati-hati dengan rencana mereka. Mereka tidak ingin terjebak sekali lagi sebagaimana yang pernah terjadi di Sendang Perbatang itu.” “Namun dengan demikian kami disini harus lebih berhatihatimenghadapimereka” desis Mahisa Murti. “Ya. Aku akan berusaha mengetahui lebih banyak tentang langkah-langkah yang akan mereka ambil” berkata Raden KudaWereng. “Terima kasih Raden” desis Mahisa Murti ”ternyata kami hanya membebani Raden saja.” “Bukankah itu tugasku?” sahut Raden KudaWereng. Mahisa Murtimengangguk-angguk kecil. Sementara Raden Kuda Wereng berkata selanjutnya ”jika saja aku dapat bertemu dengan kedua orang itu.” “Kedua orang yang  sedang mengamati padepokan ini?” bertanya Mahisa Murti. “Ya” jawab Raden KudaWereng. “Aku tidak selalu dapat menemui mereka” jawab Mahisa Murti ”tetapi kita dapatmencobanya.” Dengan demikian maka Raden Kuda Wereng berniat untuk bermalam di padepokan itu agar ia mendapat kesempatan untuk bertemu dengan dua orang yang sedang mengamati padepokan Bajra Seta. Di hari berikutnya, maka Mahisa Murti telah mengajak Raden Kuda Wereng untuk pergi ke padukuhan Ngerak. Ternyata menurut Ki Bekel, memang ada orang yang  sedang mencari seseorang yangmempunyai tiga orang anak. Seorang diantara anak-anaknya adalah Lembu Amping. “Untunglah orang yang  ditanya telah mendengar pesan tentang Kuda Samekta dan anaknya Lembu Amping” berkata Ki Bekel ”tetapi kedua orang itu ternyata tidakmengenal nama Kuda Samekta. Yang dikenalnya adalah justru Lembu Amping.” Namun dengan demikian ternyata bahwa kedua orang itu benar-benar ingin mengenal padepokan Bajra Seta lebih dalamlagi. “Apa jawab orang itu?” bertanya Mahisa Murti kemudian. “Seperti pesanmu. Orang yang  mendapat pertanyaan tentang kau dan anakmu itu telah memberitahukan bahwa kau tinggal di rumahku. Tetapi ternyata ia tidak datang kemari,” jawab Ki Bekel. “Apakah keduanya telah mencurigai aku?” bertanya Mahisa Murti dengan ragu. “Entahlah” jawabKi Bekel. “Baiklah” jawab Mahisa Murti ”aku akan mencarinya di kedai itu. Di tempatmereka seringg singgah.” Demikianlah berdua dengan Raden Kuda Wereng yang  berpakaian seorang petani kebanyakan keduanya pergi ke kedai yang  pernah dikunjungi oleh Mahisa Murti dan MahisaAmping. Tetapi ternyata keduanya tidak sedang berada di kedai itu. Ketika hal itu ditanyakan kepada pemilik kedai, maka pemilik kedai itu menjawab ”Sudah sejak keduanya datang beberapa hariyang  lalu,mereka belum datang lagi kemari.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Kepada Raden Kuda Wereng ia berkata ”Mungkin keduanya menganggap bahwa pengamatan mereka sudah dianggap cukup, sehingga mereka telah kembali ke Singasari untukmemberikan laporan.” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Terima kasih Ki Bekel. Selama ini kami ju stru hanya menggelisahkan rakyat padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan kami.” “Tidak. Tidak. Padepokan Bajra Seta telah memberikan banyak sekali kepada kami. Pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang semakin meningkat. Bahkan juga olah kanuragan” jawabKi Bekel. “Tidak seberapa Ki Bekel, dibandingkan dengan pengorbanan yang harus kalian berikan bagi kami.” desis Mahisa Murti. “Tetapi kehidupan kami menjadi semakin baik sejak Padepokan Bajra Seta berdiri” jawabKi Bekel. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Bekel dan para Bekel yang  lain selalu bertanya Mahisa Pukat selama tidak nampak di Padepokan. “Mahisa Pukat bersama ayah di Singasari untuk sementara” jawab Mahisa Murti ”namun pada suatu saat, ia tentu akan kembali ke Padepokan Bajra Seta.” Demikianlah, maka para Bekel di padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta ternyata dengan cepat telah ber siap pula. Tetapi seperti pesan Mahisa Murti, para Bekel berusaha untuk tidak menggelisahkan rakyat di padukuhan mereka. Dalam pada itu, padukuhan yang khusus dibangun oleh orang-orang yang  pernah memusuhi Padepokan Bajra Seta, namun kemudian justru ditempatkan di padukuhan khusus dan mulai hidup wajar, telah menyatakan diri siap untuk berbuat apa saja jika Mahisa Murtimenghendaki. “Kamimempunyai hutang yang  tidak dapat dibay ar dengan apapun kepada Padepokan Bajra Seta. Bahkan dengan ny awa kami sekalipun. Kamiyang telah diangkat dari kehidupan yang gelap, merasa telah hadir kembali sebagai manusia yang berarti.” “Terima kasih” berkata Mahisa Murti ”kesediaan kalian membantu kami, telahmembesarkan hati kami.” Dengan demikian Mahisa Murtipun menjadi semakin tenang. Meskipun yang  bakal datang mungkin lebih dari tiga padepokan, tetapi Padepokan Bajra Setapun tidak sendiri. Lebih dari tujuh padukuhan yang  menyatakan kesediaannya membantu. Dan itu berarti lebih dari kekuatan dua tiga padepokan yang sedang. Sementara Padepokan Bajra Seta sendiri termasuk padepokan yang besar. Dengan demikian, maka Mahisa Murti berharap bahwa Padepokan Bajra Seta dan padukuhan-padukuhan disekitarnya akan dapat mengatasi jika beberapa padepokan itu benar -benar akan datangmeny erang, apapun alasannya. Namun Mahisa Murti telah berusaha untuk mencari jalan yang sebaik-baiknya, agar beban serangan itu terberat tetap pada Padepokan Bajra Seta. Dalam kesiagaan yang disusun kemudian ber sama-sama antara para pengawal dan anak-anak muda dari padukuhanpadukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta, Mahisa Murti minta agar para pengawal dan anak-anak muda itu tetap berada di padukuhan masing-masing. Pada saat diperlukan akan dilontarkan isy arat dari padepokan kearah padukuhan terdekat. Kemudian isy arat itu akan diteruskan ke padukuhanpadukuhan berikutnya. Isy arat itu berarti bahwa Padepokan Bajra Seta memerlukan bantuan. “Dengan demikian maka kalian akan menyerang lawan dari belakang garis pertempuran. Aku memperhitungkan bahwa beban terberat dari tekanan lawan akan berada pada para cantrik Padepokan Bajra Seta. Namun serangan para pengawal dan anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan akan memperingan beban kami.” Demikianlah, maka segala persiapanpun telah dilakukan. Mahisa Murti memperhitungkan bahwa kekuatan Padepokan Bajra Seta ber sama anak-anak muda dan para pengawal padukuhan disekitar Padepokan menjadi cukup besar. Apalagi anak-anakmuda dan para pengawal itupun pernah mengalami tempaanyang  cukup berat di Padepokan Bajra Seta. Meskipun tidak seberat para cantrik, namun kemampuan anak-anak muda dan para pengawal itu cukup memadai. Apalagi mereka inti para pengawal dari padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta. Dalam masa-masa kesiagaan itupun anak-anak muda dan para pengawal telah memerlukan melakukan latihan-latihan lebih banyak dari kebia saan mereka sehari-hari. Sementara para remaja yang  menjadi semakin mendekati masa mudanyapun mulai menyatakan diri untuk ikut melakukan latihan-latihan dalam olah kanuragan dan mempergunakan senjata. Tetapi para pemimpin pengawal telah memperingatkan bahwa para remaja itu tidak boleh ikut ber sama mereka jika kekerasan itu benar-benar akan terjadi. “Kalian masih harus mematangkan diri” berkata para pemimpin pengawal. Betapa para remaja itu menyatakan kesediaannya, namun mereka tetap tidak diperkenankan ikut. “Jika kalian benar-benar ingin ikutmelindungi padukuhan kalian,maka kalian tetap saja berada di padukuhan. Jika ada diantara orang-orang yang ingin berbuat jahat itu datang ke padukuhan, barulah kalian boleh melibatkan diri.” pesan para Bekel kepada para remaja. Sementara itu, ternyata mPu Damar benar-benar telah mempersiapkan diri untuk pergi ke Padepokan Bajra Setan. Ia telah memerintahkan seseorang secara khusus mengamati, apakah Mahisa Pukat masih berada di Singasari atau tidak. Ternyata Mahisa Pukat itu tidak meninggalkan rumah ay ahnya, sehingga karena itu,maka mPu Damar berpendapat, bahwa Padepokan Bajra Seta sama sekali tidak mengetahui rencananya untukmeny erang. Tetapi mPu Damar tidak hanya bergerak sendirian. Selain Padepokan Ngancas, maka masih ada tiga padepokan lagi yg bergerak bersamanya. Padepokan yg didirikan oleh murid2 mPu Damar. Ketika mereka mendapat pemberitahuan, bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk mencoba ilmu mereka sekaligusmembuktikan kebesaran Padepokan Ngancas, maka mereka menjadi bergembira. Demikian pula setiap cantrik dari padepokan2 itu, seakan-akan mereka mendapat saluran untuk mengalirkan air y g terbendung didalam dirimereka. Sementara itu mPu Damar tidakmenunggu lebih lama lagi. Ketika segala persiapan telah disusun rapi, maka mPu Damarpun benar -benar siap untuk berangkat. Dua orang yg ditugaskan untuk mengamati Padepokan Bajra Setapun telah memberikan laporan lengkap. Mereka memang tidak ingkar, bahwa Padepokan Bajra Seta memang sebuah padepokan yg besar. Tetapi mereka berpendapat, bahwa kekuatany g disusun oleh Padepokan Ngancas cukup memadai untuk menghancurkan Padepokan Seta. Pada hari y g telah direncanakan maka para cantrik dari ampat padepokan yg telah diper siapkan itupun telah berangkat pula. Mereka memilih berjalan di malam hari untuk menghindarkan diri dari perhatian y g berlebihan. Merekapuri berharap bahwa Padepokan Bajra Seta tidak mengetahui lebih dahulu akan kedatangan para cantrik dari Padepokan Ngancas dan ketiga Padepokanyg lain. Mereka sadar, bahwa semalam mereka tidak dapat mencapai Padepokan Bajra Seta. Seandainya dini hari mereka sampai juga, maka mereka tidak sempat beristirahat sama sekali. Karena itu, maka menurut petunjuk kedua orang yg lebih dahulu telah mengamati Padepokan Bajra Seta, mereka akan dapat menunggu dipinggir sebuah hutan y g tidak terlalu lebat. Seandainya ada juga harimau atau binatang buas y g lain berani mengganggu, maka binatang-binatang itu tentu akan bernasib malang. Namun demikian kedua oarng itu masih juga memperingatkan ”Hati-hati dengan ular. Ditempat itu memang terdapat ular meskipun tidak terlalu banyak. Tetapi lebih sulitmelawan seekor ular daripada seekor harimau bagi sekelompok cantrik.” Demikianlah, dengan pesan dan bekal yg cukup, para cantrik dari ampat padepokan y g tidak terlalu besar itu bergerakmenuju Padepokan Bajra Seta. Keberangkatan para cantrik dari keempat padepokan itu tidak luput dari pengamatan Arya Kuda Cemani. Karena itu, maka ia telah memerintahkan dua orang prajurit sandi untuk pergi berkuda mendahului para cantrik dari keempat padepokan yg dipimpin oleh mPu Damar sendiri dari Padepokan Ngancas. Gemak Langkas y g sebenarnya telah mendapat peringatan dari ay ahnya, terpaksa berangkat juga karena ia sadar, bahwa ialah yg telah menyulut api permusuhan antara Padepokan Ngancasdengan Padepokan Bajra Seta. Kedatangan kedua orang petugas sandi itu telah menggetarkan Padepokan Bajra Seta. Ternyata Padepokan itu benar-benar akan mendapat serangan dari kekuatan y g cukup besar. Mahisa Murtimemang tidak dapat ingkar. Meskipun ia juga menyesali peristiwa y g bakal terjadi itu, namun sudah tentu bahwa Padepokan Bajra Seta harusmembela diri sejauh dapat dilakukan. Dengan cepat pula Mahisa Murti sendiri telah menghubungi beberapa orang bekel dipadukuhan-padukuhan disekitarnya. Dengan sangat meny esal Mahisa Murti telah menyeretmereka kedalam benturan kekerasan. “Seperti yg aku katakan, kami akan mengirimkan isyarat jika kami memerlukan bantuan dari padukuhan-padukuhan.” berkata Mahisa Murti kepada para Bekel. Demikianlah, maka segala sesuatunya telah disiapkan sebaik-baiknya. Para petugas sandi itu juga mengatakan, bahwa mereka berangkat dari Singasari hampir bersamaan waktunya dengan keberangkatan para cantrik dari Padepokan Ngancasdan padepokan-padepokanyang  lain. “Kami lebih dahulu datang karena kami berkuda. Siang ini mereka tentu beristirahat di satu tempat” berkata salah seorang petugas sandi itu. “Jika demikian, maka agaknya besok pagi-pagi mereka akan menyerang Padepokan Bajra Seta” berkata Mahisa Murti. “Aku kira memang demikian. Pada saat matahari terbit, mereka akan meny erang Padepokan Bajra Seta. Tetapi sebaiknya sejak malam nanti, segala kemungkinan siap untuk dihadapi.” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Terima kasih untuk keterangan ini. Mudah-mudahan kami dapatmempertahankan diri.” “Aku berhasil mengintai kekuatan mereka” berkata salah seorang petugas itu ”dari segi jumlah, para cantrik yang  akan menyerang Padepokan ini, jumlahnya aku kira lebih banyak, tetapi aku masih belum tahu akan tingkat kemampuan mereka.” “Kami akan berusaha sebaik-baiknya” desis Mahisa Murti. Ternyata kedua orang petugas sandi itu tidak segera kembali ke Singasari. Mereka justru mendapat tugas untuk mengamati pertempuranyang akan terjadi. Namun justru karena itu, maka Mahisa Murti telah minta para cantrik untuk beristirahat sebanyak-banyaknya. Kecuali yang bertugas bergantian, maka para cantrik itu harus cepat pergi tidur. Namun mereka harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya yang  akan dipergunakannya untuk mempertahankan Padepokan Bajra Seta esok pagi. “Kalian harus mampu melepaskan ketegangan di jantung kalian agar kalian dapat tidur nyenyak” berkata Mahisa Murti ”jika tidak,maka kalian tidak akan sempat beristirahat.” Demikianlah,maka sebagian besar dari para cantrik itupun segera lelap demikian malam turun. Sebagian diantara mereka memilih untuk beristirahat dan tidur diatas panggung dibelakang dinding halaman padepokan, diantara setumpuk anak panah dan lembing. Sedangkan beberapa orang kawankawannya bergantian bertugas mengamati lingkungan diluar dinding, karena tidak mustahil terjadi sesuatu sebelum saat yang diperhitungkan itu tiba. Padepokan Bajra Seta memang tidakmenunjukkan sesuatu yang lain dilihat dari luar. Segalanya nampaknya tetap tenang sebagaimana hari-hari sebelumnya. Ketika malam menjadi semakin dalam, sebenarnyalah ada beberapa orang yang mengamati padepokan itu dari kejauhan. Mereka memang tidak melihat persiapan-persiapan apapun juga. Memang mereka melihat satu dua orang cantrik yang berjaga-jaga dipanggungan dibelakang dinding halaman. Namun hal itu pernah dilaporkan juga sebelumnya, sehingga menurut para pengamat itu, penjagaan yang dilakukan dipanggung -panggung dibelakang dinding itu adalah tugastugas seharian. Dengan demikian maka Padepokan Ngancas itu tidak merubah rencana mereka. Sejak malam turun, mereka telah bergerak meninggalkan hutan tempat mereka beristirahat sambil bersembuny i. Mereka kemudian telah menebar mengepung Padepokan Bajra Seta. Mereka tidak lagi merasa perlu untuk bersembuny i-sembuny i justru karena Padepokan Bajra Seta telah terkepung. Seandainya orang-orang Bajra Seta melihat kehadiran mereka, maka yang dapat mereka lakukan tidak lebih dari ber siap-siap dilingkungan mereka. Meskipun demikian semua kegiatan yang dilakukan oleh para cantrik dari Padepokan Ngancas dan tiga padepokan lainnya, dilakukan dengan sangat berhati-hati. Mereka memang berharap bahwa menjelang fajar mereka akan datang meny erang dengan tiba -tiba dan mengejutkan orang -orang Padepokan Bajra Seta. Sementara itu, sebagaimana diperhitungkan oleh Mahisa Murti dan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta, para cantrik dari Padepokan Ngancas dan ketiga padepokan yang lain itu telah meny iapkan berpuluh-puluh tangga bambu. Ternyata selama mereka beristirahat dan ber sembunyi di pinggir hutan, mereka telah menemukan rumpun-rumpun bambu yang dapat mereka buat tangga-tangga yang  siap mereka pergunakan untukmemanjat dinding Padepokan Bajra Seta. Ketika malam kemudian menjadi semakin dalam, maka terjadi pergantian para petugas yang  berjaga-jaga di panggungan dibelakang dinding padepokan. Seorang cantrik yang memimpin penjagaan malam itu telah melaporkan kepada Mahisa Murti, bahwa para petugas telah mulaimelihat kegiatan diluar dinding Padepokan Bajra Seta. Namun seperti yang diperintahkan, maka para cantrik dari Padepokan Bajra Seta tidakmengambil langkah-langkah apapun selain semakin ber siagamenghadapi segala kemungkinan. “Baik” berkata Mahisa Murti ”beristirahatlah sebaikbaiknya, agar tenagamu besok utuh kembali.” Demikianlah, maka Mahisa Murti sendiripun pergi beristirahat pula meskipun ia berpesan bahwa jika ada sesuatu yang penting, ia harusdibangunkan. Yang nampak sibuk kemudian adalah dapur Padepokan Bajra Seta. Para cantrik itu harusmakan lebih dahulu sebelum fajar, sehingga mereka tidak akan bertempur dengan perut lapar. Berbeda dengan kegiatan didapur Padepokan Bajra Seta, maka para cantrik dari Padepokan Ngancas telah mendapat bekal mereka masing-masing. Na si jagung yang akan dapat bertahan sampai dua atau tiga hari tanpa dipanasi lagi. Mereka minum dimana saja ada air ber sih. Bahkan belik-belik kecil dipinggir sungai. Dalam pada itu, maka mPu Damar yang  memimpin langsung keempat Padepokanyang  akanmeny erang Bajra Seta itu telah memberikan pesan-pesan terakhirnya. “Kita akan menebus harga diri kita yang  telah direndahkan oleh Mahisa Pukat, salah seorang pemimpin dari Padepokan Bajra Seta ini. Karena Mahisa Pukat berada di istana bersama ay ahnya, maka sa saran kita, kita arahkan kepada Padepokan Bajra Seta. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita tentu akan dapat menguasai seluruh padepokan ini. Jumlah kita lebih banyak. Kitapun meragukan apakah para cantrik padepokan Bajra Seta memiliki ilmu yang  cukup baik. Bahkan aku mengira bahwa tidak ada seorangpun dari isi Padepokan Bajra Seta yang  memiliki kemampuan dan ilmu sebagaimana Mahisa Pukat. Biarlah besok Mahisa Pukat menangis jika ia mengetahui bahwa Padepokan Bajra Seta telah kita hancur leburkan.” Para cantrikpun tergetar hatinya, sehingga mereka berjanji untuk benar-benar menghancurkan Padepokan Bajra Seta yang sombong itu. Namun demikian,mPu Damar itupunmasih berpesan ”Jika kalian nanti memasuki Padepokan Bajra Seta, kalian harus tetap berhati-hati. Meskipun tidak ada seseorang yang memiliki ilmu setinggi Mahisa Pukat, tetapi kalian sebaiknya menghadapi pemimpin Padepokan Bajra Seta tidak seorang diri. Aku akan berusahamenghadapinya. Seandainya aku tidak menemukannya, tetapi salah seorang dari kalian tiba-tiba berhadapan dengan orang itu,maka usahakanmenghadapinya dengan kelompok-kelompok kecil. Kalian dapat melakukannya, karena kalian tidak sedang berperang tanding.” Demikianlah, waktupun merayap terus. mPu Damar merencanakan untuk meny erang Padepokan Bajra Seta saat matahari mulaimembayang.mPu Damar beharap bahwa jika matahari terbit, maka para pengikutnya sudahmulai berusaha memanjat dinding dengan tangga serta merusakkan pintu gerbang utama. Karena itu, menjelang fajar, mPu Damar telah memerintahkan orang-orangnya menempatkan diri diseputar Padepokan Bajra Seta. Jika kemudian isy arat dilontarkan, makamereka serentak akan bergerak. Gerak-gerik para pengikutmPu Damar itu tidak luput dari pengamatan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Meskipun para cantrik itu tidak melakukan sesuatu, tetapi setiap kali mereka selalu memberikan laporan tentang para pengikutmPu Damar itu. Menjelang fajar, maka para cantrik Bajra Setapun telah siap. perhitungan Mahisa Murti memang tepat. Para peny erang akanmulai bergerakmenjelangmatahari terbit. Mahisa Murti yang telah bangun dan berbenah diri telah siap memimpin langsung perlawanan untukmempertahankan diri. Wantilan telah mendapat perintah untuk berada di belakang. Mahisa Semu disisi sebelah kiri sedangkan disisi sebelah kanan diserahkan kepada seorang cantrik yang dimiliki kepemimpinanyang  tinggi. Setelah memberikan beberapa pesan, serta setelah seisi Padepokan Bajra Seta makan dan minum secukupnya, maka para cantrik pun mulai menebar ditempat tugas mereka masing-masing. Mereka yang  mendapat tugas naik ke panggunganpun telah siap di tangga. Sementara para cantrik yang diper siapkan untukmelindungi pintu gerbang utamapun telah bersiap pula. Dibelakang pintu gerbang utama, sekelompok cantrik telah siap bertahan jika pintu gerbang itu terpaksa pecah. “Kita menunggu isyarat” berkata Mahisa Murti ”pemimpin Padepokan Ngancas itu tentu akan melontarkan isyarat, apapun ujudnya. Demikian isy arat itu diberikan,maka mereka tentu akan bergerak.Nah, kitapun akan bergerak pula.” Para pemimpin kelompok para cantrik di Padepokan Bajra Seta itupun telah siap pula ditempat masing-masing. Ra sarasanya mereka menunggu terlalu lama, sementara langitpun menjadi semakin cerah. Tetapi sebelum cahaya matahari meny entuh ujung langit, maka telah meluncur dari arah depan Padepokan Bajra Seta panah api yang  naik ke udara. Kemudian beberapa yang  lain meluncur ke samping Padepokan Bajra Seta. Panah api itupun kemudian telah ditanggapi pula oleh para pengikut mPu Damar yang  ada disebelah meny ebelah Padepokan. Panah api telah meluncur pula ke arah belakang Padepokan itu. Sekejap kemudian, maka telah terdengar suara gemuruh. Para pengikut mPu Damar disegala arah itupun telah berteriak-teriak nyaring. Mereka berlari-larian dengan membawa tangga-tangga bambu yang  telah mereka persiapkan. Para cantrik yang  ada disebelah-menyebelah pintu gerbangpun terkejut pula. Seakan-akan menguak kegelapan dini, muncul sekelompok orang yang memanggul sebatang kayu yang  besar dengan tali-temali. Kayu yang  seakan-akan bergantung itu telah dipanggul dengan potongan-potongan bambu dan tali temali mendekati pintu gerbang utama. Namun dalam pada itu, para cantrik dari Padepokan Bajra Setapun telah bergerak pula. Dengan tangkasny amereka telah memanjat tangga naik keatas panggungan yang telah disiapkan. Di panggungan itu telah terdapat beberapa tumpuk anak panah dan lembing bambu yang  siap dilontarkan. Karena itu, maka para pengikut mPu Damar juga merasa terkejut ketika tiba -tiba saja panggungan dibelakang dinding padepokan itu telah penuh dengan para cantrik dengan busur ditangan. Tetapi arus serangan para pengikut mPu Damar itu bagaikan banjir bandang yang tidak terbendung. Beberapa orang yang membawa perisai telah menempatkan diri dipaling depan, melindungi mereka yang  membawa tangga bambu untukmemanjat dinding. Sementara itu, para pengikut mPu Damar yang  membawa busur dan anak panahpun telah siap pula melontarkan serangan kebelakang dinding untuk melindungi orang-orang yangmembawa tangga dan kemudian memanjat dinding. Demikianlah, ketika matahari mulai terbit, pertempuran telah terjadi. Dari atas dinding padepokan, anak panah mulai meluncur. Seperti hujan yang semakin lama menjadi semakin deras berterbangan menyambar orang-orang yang berlarilarian menyerang Padepokan Bajra Seta. Tetapi dari luar dindingpun anak panah telah meluncur pula. Meskipun tidak sederas arus anak panah yang  datang dari arah dinding, namun serangan anak panah dari luar itu telah mengganggu para cantrikyang berada dipanggungan. Sementara itu, para cantrik Padepokan Ngancas yang lain sibuk melindungi orang-orang yang  memanggul potongan kayu itu. Mereka telah menepis, menangkis dan melindungi dengan perisai agar orang-orang yang memanggul sepotong kayu yang besar dan panjang dengan potongan-potongan bambu dan bergantung pada tali temali itu tidak terkena anak panah dan lembing. Demikianlah, maka potongan kayu yang besar yang  bergantung pada potongan-potongan bambu yang  dipanggul oleh banyak orang itu telah berada di depan pintu gerbang. Dengan aba-aba yang  melengking tinggi, maka orang-orang yang memanggul kayu itupun membuat ancang -ancang sejenak. Kemudian merekapun berlari bersama-sama menuju ke pintu gerbang. Dengan kerasnya orang-orang itu telah membenturkan sepotong kay u besar dan panjang itu pada pintu gerbang yang tertutup rapat dengan selarak rangkap itu. Sekali dua kali, pintu itu seakan-akan tidak tergetar. Namun orang -orang yangmemanggul kayu itu membenturkan kayunya tidak hanya satu dua kali. Tetapi berpuluh kali sehingga pintu itupun akhirnya berguncang. Tetapi sementara para cantrik Padepokan Bajra Seta menjadi berdebar-debar melihat daun pintu yang besar dan tebal itu mulai berderak, maka anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan di sekitar Padepokan sedang berlarilarimendekati Padepokan. Di bagian-bagian lain dari dinding padepokan itu, para cantrik Padepokan Bajra Seta telah berjuang dengan sepenuh tenaga dan kemampuan untuk menahan arus para para peny erang. Satu dua tangga memang sudah dicoba untuk dipasang. Tetapi dengan bambu-bambu panjang para cantrik dari Padepokan Bajra Seta telah mendorong tangga-tangga itu sehingga roboh. Tetapi arus serangan para cantrik dari Padepokan Ngan-cas dan tiga padepokan yang  lain itu mengalir seperti banjir bandang. Rasa -rasanya sulit bagi para cantrik padepokan Bajra Seta untukmembendungnya.Hujan panah seakan-akan tidak berarti sama sekali bagi mereka. Beberapa orang yang terjatuh, tidak menghalangi arus serangan mereka. Tanggatanggapun mulai diangkat untuk disandarkan pada dinding padepokan. Semakin lama semakin banyak. Dengan tombak dan lembing serta senjata-senjata yang  sudah siap ditangan, para cantrik Padepokan Bajra Seta mencoba menahan gerak maju lawan. Dengan segenap kemampuan para cantrik itu bertempur. Satu dua orang lawan terlempar jatuh dengan dada yang koyak. Namun yang  lain mengalir tidak berkeputusan. Pada saat yang gawat itu, maka tiba-tiba saja terdengar teriakan-teriakan yang  memekakan telinga. Dari segala arah menghambur anak-anak muda dari padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta. Ternyata jumlahmereka cukup banyakmeskipun jauh lebih kecil dari jumlah para cantrik dari keempat Padepokan yang sedangmeny erang padepokan Bajra Seta. Tetapi kedatangan mereka benar-benar mengejutkan para cantrik dari keempat padepokan yang  sedang meny erang Padepokan Bajra Seta itu. Dengan demikian maka perhatian para cantrik dari padepokan-padepokan yang  meny erang Bajra Seta itu telah terbagi. Sebagian darimereka segera berbalik untukmelawan anak-anakmuda yang datangmeny erang itu. Tekanan mereka terhadap kekuatan yang  ada di atas panggungan di belakang dinding padepokan memang berkurang. Para cantrik Padepokan Bajra Seta mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Pada saat para cantrik yang  meny erang itu bimbang mengambil sikap, maka serangan dari atas dinding pun benar-benar bagaikana tertumpah dari langit. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Sementara para pengikutnya ragu-ragu,mPu Damar dengan cepat mengambil keputusan. Ia pun berteriak menjatuhkan perintah setelah melihat jumlah peny erang yang  datang itu ”Tinggalkan padepokan Bajra Seta untuk sementara. Hancurkan orangorang yang  dengan licik menyerang dari belakang. Jumlah mereka tidak begitu banyak. Mereka akan dapat dengan cepat dibinasakan. Jika perlu kita menunda serangan kita terhadap Padepokan Bajra Seta sampai esok.” Perintah itupun telah diteriakkan beranting. Setiap peniimpin kelompok telah meneriakkan kembali perintah itu. Sehingga perintah itu bagaikan mengalir mengelilingi dinding padepokan. Para cantrik yang sudah terlanjur memasang tangga dan bahkan mulai memanjat telah berloncatan turun. Sambil berusahamenangkis anak panahyang mengejarmereka,maka merekapun telah berusaha menjauhi dinding yang digapainya dengan susah payah. Mereka telah merobohkan tangga -tangga yang sebagian telahmereka pasang agar tidak ditarik naik oleh para cantrikyang  berada di panggungan. Namun kebijaksanaanyang  diperintahkan oleh mPu Damar itu memang satu-satunya cara yang paling baik untuk dilakukan pada keadaan seperti itu. Lebih baik mencurahkan perhatian dan langsung meny elesaikan salah satu tugas daripada sebagian-sebagian tetapi tidak segera dapat selesai dengan tuntas. Orang-orang padukuhan yang menyerang para cantrik dari keempat padepokan itu memang terkejut ketika mereka melihat, semua orang dalam pasukan lawan itu telah berbalik menghadapimereka. Sekilas mereka segera menyadari, jika demikian maka kekuatanmerekapun akan dapat dihancurkan sampai lumat. Tetapi anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu tidak berlari meninggalkan arena. Seorang yang  memimpin kelompok yang berada diarah depan padepokan itu berteriak ”Marilah kita bertempur sampai akhir. Sulungmasuk kedalam perapihan. Meskipun kita akan leburmenjadi debu, tetapi kita tentu sudah berhasil mengurangi jumlah mereka sebanyak dapat kita lakukan. Sisa kekuatan mereka tidak akan dapat mereka pergunakan untuk memasuki padepokan Bajra Seta, sehingga kematian kita tentu tidak akan sia-sia.” Teriakan itu telah disambut oleh sorak yang gemuruh bagaikan hendak merobohkan langit. Bahkan sorak itu merambat kekelompok-kelompok yang  ada di samping padepokan. Ternyata Mahisa Murtipun menjadi cemasmelihat keadaan itu. mPu Damar benar-benar mengerahkan semua kekuatan yang dibawanya untuk menghancurkan kelompok-kelompok anak-anak muda dan orang-orang yang  datang dari padukuhan-padukuhan. Meskipun jumlah mereka cukup banyak, tetapi masih jauh lebih sedikit dari jumlah para cantrik yang  datang meny erang Padepokan Bajra Seta. Ber sama dengan para cantrik Bajra Setapun nampaknya jumlah anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu masih berselisih dibanding dengan para peny erang. ”Tetapi selisih itu tidak banyak” desisMahisa Murti. Ketika kedua pasukan itu benar-benar hampir berbenturan, maka Mahisa Murti harus mengambil sikap yang cepat dan berarti bagi Padepokan dan bagi anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu. Karena itu, maka tiba -tiba saja Mahisa Murti itupun telah memberikan perintah ”Semua orang dari Padepokan ini keluar. Kita bertempur diluar dinding Padepokan. Kita tidak dapat membiarkan anak-anakmuda dari padukuhan-padukuhan yang  datang untuk membantu kita itu dibantai habis-habisan.” Perintah itupun dengan cepat menjalar. Semua orang telah meneriakkan aba-aba itu. “Ambil tali dan pergunakan untuk turun disegala arah dari Padepokan ini” perintah Mahisa Murti pula. Bahkan kemudian perintahnya pula ”Buka, pintu gerbang utama. Buka pula gerbang-gerbang butulan.” Perintah itupun segera dilaksanakan. Para cantrikmemang tidak akan sampai hati melihat anak-anak muda dan orangorang padukuhan dibantai sampai habis oleh orang-orang yangmeny erang Padepokan Bajra Seta itu. Sementara mereka datang untuk sekedar membantu meringankan beban Padepokan itu. Sejenak kemudian, maka pintu-pintu gerbangpun telah terbuka. Seperti banjir bandang yang  memecahkan bendungan, maka para cantrikpun menghambur keluar dari padepokan. Yang kemudian terkejut adalah mPu Damar dan para cantriknya yang telah berbalik menghadapi orang-orang padukuhan itu. Mereka tidakmengira bahwa para cantrik dari padepokan Bajra Seta akan keluar dari batas dinding padepokan. mPu Damar memang tidakmempunyai pilihan lain kecuali membuka dua medan. Seperti pedang bermata dua, maka pa sukannyapun harusmenghadapi lawan dari dua arah. Melihat para cantrikmenghambur keluar,maka anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itupun bersorak sekali lagi. Gemuruh suaranya sekali lagi bagaikanmengguncang langit. Sejenak kemudian, maka benturanpun telah terjadi antara pa sukan mPu Damar dan anak-anak muda serta orang-orang padukuhan. Sentuhan dua kekuatan itu telah menggetarkan medan. Ternyata anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu memiliki kemampuan untuk bertempur. Bahkan ada diantara mereka yang  telah memiliki senjata sebagaimana yang dipergunakan oleh para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Senjata yang dibuat dengan cara dan bahan yang khusus. Meskipun senjata itu ujudnya cukup besar dan panjang, tetapi senjata itu tidak begitu berat sebagaimana ujudnya. Tetapi kekuatan pedang itu tidak kalah dari pedang yang  terbuat dari baja pilihan yang berat. Pedang-pedang yang khusus itu ternyata mampu mengejutkan lawan-lawan mereka. Ternyata dengan senjata yang besar itu, anak-anakmuda dan orang-orang padukuhan itu dapatmemutar danmempergunakannya dengan terampil. Kekuatan mPu Damar dan padepokan-padepokan yang  mendukungnya memang mampu menggetarkan dan mendesak anak-anak muda dan orang-orang padukuhan. Namun hanya sebentar. Ketika para cantrik Padepokan Bajra Seta telah menyusul mereka, maka kekuatan merekapun segera telah terbagi. Demikianlah,maka disekitar Padepokan Bajra Seta itupun segera terjadi perang brubuh. Kedua belah pihak sama sekali tidak mempergunakan gelar. Mereka lebih banyak bertumpu kepada kemampuan pribadi, sehingga dengan demikian maka pertempuranpun menjadi benturan kekuatan disepanjang medan. Namun karena latihan-latihan yang  berat maka para cantrik Bajra Seta masih jugamemikirkan kemungkinan untuk saling bekerja ber sama dan saling mengisi disetiap lubanglubang pertempuran. Mereka masih juga mempergunakan penalaran sehingga dalam keadaan tertentu telah terbentuk kelompok-kelompok kecil yang bersama-sama mengatasi kesulitan-kesulitanyang  terjadi dimedan pertempuran. Sementara itu, para cantrik dari Padepokan Ngancas lebih banyak mengandalkan kemampuan pribadi mereka masingmasing. mPu Damar selalu membanggakan cantrik-cantriknya yang  secara pribadi memiliki kelebihan dari kawan-kawannya, sehingga karena itu, maka para cantrik itu seakan-akan telah berlomba untukmenjadi lebih baik dariyang  lain. mPu Damar yang marah itupun kemudian telah meneriakkan berbagai macam perintah untuk membakar jantung para pengikutnya. Perintah-perintahnya yang disambut dan diteriakkan ulang oleh para pemimpin kelompok itupun ternyata mampu didengar oleh para cantrik yang ada di belakang Padepokan Bajra Seta. Tetapi para cantrik dari Padepokan Bajra Seta pun tahu apa yang harusmereka lakukan. Mereka tidakmudah terpengaruh oleh perintah-perintah yang diteriakkan oleh para cantrik dari Padepokan Ngancasyang menyambung perintah-perintah dari mPu Damar. Dengan demikian maka pertempuran di sekitar Padepokan Bajra Seta itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Mahisa Murti yang memperhitungkan bahwa kekuatan utama dari para peny erang itu akan membebani pertahanan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta, ternyata masih belum seluruhnya sebagaimana diharapkan. Ma sih ada kelompokkelompok cantrik dari Padepokan Ngancas dan ketiga padepokan pendukungnya yang  masih saja mengarahkan kekuatan mereka kepada anak-anak muda dan orang-orang padukuhanyang  datangmembantu. Untunglah bahwa anak-anak muda dan orang-orang padukuhan itu tidak terlalu lemah. Mereka telah mengalami latihan-latihan yang  cukup. Apalagi orang-orang padukuhan khususyang pernah bertualang di dunia gelap. Ju stru para cantrik dari Padepokan Ngancas dan ketiga padepokan yang  lain yang kebetulan bertemu dengan orangorang dari padukuhan yang khusus itulah yang  menjadi terkejut. Tiba -tiba saja mereka telah bertemu dengan orangorang yang  bertempur dengan keras. Bahkan ketika keringat mulai membasahi tangannya, maka seakan-akan kebia saan mereka di medan pertempuran menjadi kambuh. Mereka menjadi kasar. Apalagi dengan da sar yang  kasar itu mereka telah mendapat latihan-latihan bagaimana seharusnya mereka mempergunakan senjata. Sehingga karena itu, dalam kekasaran mereka, maka mereka adalah orang -orang yang sangat berbahaya bagi lawan-lawanmereka. Dalam pada itu,maka untuk beberapa langkah,maka anakanakmuda dan orang-orang padukuhan itu memang terdesak. Tetapi para cantrik telah memancing sebagian besar kekuatan lawan agar mereka mengarahkan perlawanan mereka kepada para cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Kelompok-kelompok yang  kuat dari para cantrik itu telah mencoba menusuk memasuki garis pertempuran agar lawanlawan mereka semakin memperhatikan mereka. Dengan menusuk sedalam-dalamnya ke belakang garis benturan,maka para cantrik dari Padepokan Ngancas dan padepokanpadepokan yang  mendukungnya memang merasa semakin terganggu. Karena itu,makamereka tidak dapatmengarahkan perhatian mereka terbesar pada u saha untukmenumpas anakanak muda dan orang-orang padepokan yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Tetapi karena para cantrik dari padepokan Ngancas telah memasuki celah-celah garis pertempuran,maka mereka harus benar-benar membagi perhatian mereka. Termasuk para cantrik yang  berhadapan dengan anak-anakmuda dan orangorang padukuhan itu. Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Suara senjata beradu berdentangan disela-sela teriakan-teriakanyangmembahana. Sementara itu, Gemak Langkas sendiri berada tidak jauh dari gurunya. Ia melihat pertempuran garang telah terjadi di mana-mana. Ia melihat bagaimana pedang mengoy ak dada lawannya dan bagaimana ujung tombakmenghunjam sampai ke jantung. Tubuh Gemak Langkas menjadi gemetar karenanya. Ia tidakmengira bahwa perkenalannya dengan Sa si telahmampu membakar permusuhan yang begitu besar. Meskipun kemudian persoalannya telah berkembang, tetapi yang melepaskan sepeletik bara diatas sekam adalah dirinya. Bara itu kemudian telah berkembang menjadi semakin besar semakin besar, sehingga membakar lumbung. Tetapi semuanya sudah terjadi. Gurunya sama sekali tidak mau mendengarkan pendapat ay ahnya. Bahkan gurunya itu mampumempengaruhi pendapatnya, sehingga ia sendiri telah hanyut ke dalam gejolak yang telah menimbulkan perang yang mendebarkan jantung itu. Kematian demi kematian telah terjadi di sekitar Padepokan Bajra Seta. Tetapi Gemak Langkas telah berada di lidahnya api yang  berkobar. Karena itu ia tidak dapat berbuat lain kecuali harus menyesuaikan dirinya. Karena itulah, maka Gemak Langkas pun kemudian telah menggenggam pedangnya. Sambil berteriak nyaring ia telah berlarimemasuki lingkungan pertempuranyang seru. Sementara itu mPu Damar sendiri yang melihat serangan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta segera menempatkan dirinya. Ia langsung membawa beberapa orang cantriknya yang terbaik untuk melawan kekuatan pasukan induk dari Padepokan Bajra Seta. Di sisi dan belakang padepokan, pertempuran pun telah berkobar pula dengan sengitnya. Anak-anak muda dan orangorang padukuhan memang terdesak pula. Bahkan mereka harus berusaha dengan cepat menjaga jarak karena lawan datang seperti pasir dihamburkan dari tepian. Namun Wantilan yang berada di bagian belakang Padepokan Bajra Seta telah memerintahkan para cantrik untuk lebih cepat menyusul lawan-lawan mereka yang berusaha untuk menghancurkan anak-anakmuda dan orangorang padukuhan yang datang membantu. Dengan demikian maka arus serangan para cantrik dari Padepokan Ngancas dan para pendukungnya itu telah terhambat. Sebagian besar dari mereka harus berbalik lagi untuk menghadapi para cantrik dari Padepokan Bajra Seta yang  memburu mereka sambil ber sorak gemuruh. Dengan demikian maka pertempuranpun telah terjadi dengan sengitnya. Orang-orang dari Padepokan Ngancas dan para pendukungnya harus bertempur menghadapi lawan di kedua arahyang  berlawanan. Pemimpin dari salah satu padepokan yang  mendukung Padepokan Ngancas, salah seorang murid mPu Damar yang dianggap sudah memiliki tingkat ilmu yang cukup,memimpin peny erangan dibagian belakang Padepokan Ngancas itu. Dengan garangnya ia meneriakkan perintah-perintah bagi para cantrik untukmenghancurkan lawan mereka di kedua sisi itu. Wantilan yang  melihat kehadirannya, dengan cepat berusaha untifk langsung menghadapinya. Dimintanya beberapa orang cantrik menyertainya untuk membuka jalan, agar ia dapat langsung bertemu dengan pemimpin pasukan lawanyang ada dibelakang Padepokan Bajra Seta itu. Demikian Wantilan ada didepannya, maka iapun segera berteriak ”He, kaukah yang  memimpin pasukan di bagian belakang iniyang  bertempur seperti harimau terluka?” Orang itu mengerutkan dahinya. Kemudian iapun bertanya ”Siapa Kau?Apakah kau sengajamenghadapi aku?” “AkuWantilan, salah seorang cantrik dari Padepokan Bajra Seta.” jawabWantilan sambilmengangkat pedangnya. “Bagus” kata pemimpin padepokan itu ”Aku Sanggatama, salah seorangmurid terpercaya mPu Damar yangmemimpin Padepokan Sangganala.” “Bagus” jawab Wantilan ”jika demikian, kau dapatmemilih langkah bagi orang-orangmu. Bertempur terus dan hancur atau minggir saja.” “Setan kau Wantilan” geram Sanggatama ”kau kira kau siapa he? Begitu sombongnya kau beranimenghina aku.” Tetapi Wantilan tertawa. Katanya ”Jangan sakit hati” jawab Wantilan ”kita berada dipeperangan.” Sanggatama tidak menjawab. Tetapi ia telah menembus arena langsung menyerang Wantilan yang telah siap menghadapinya. Bahkan Wantilan masih tertawa sambil meloncatmenghindar ”Bagus, seranganmu sangat berbahaya.” “Persetan” geram Sanggatama ”Kau memang terlalu sombong. Jangan meny esali nasibmu bahwa kau tidak akan keluar dari arena pertempuran ini.” “Kau lihat orang-orangmu terjepit.” desisWantilan. “Tidak. Pa sukanku adalah tombak bermata dua. Pangkal dan ujungnya akan menghancurkan lawan.” jawab Sanggatama. Wantilan tidak menjawab lagi. Ia sudah dapat membuat lawannya menjadi sangat marah sehingga tidak dapat lagi menahan gejolak perasaannya. Serangannya datang bagaikan angin pusaran. Tetapi Sanggatama tidak sempat mempergunakan penalarannya sebaik-baiknya karena jantungnya bagaikan terbakar. Sejenak kemudian maka keduanya telah bertempur dengan sengitnya. Sanggatama yang  marah itu meny erang Wantilan dengan segenap kemampuannya. Ia ingin segera menghabisi lawannya yang  sombong itu. Selain dengan demikian ia dapat mengambil lawan yang lain, maka para cantrik Padepokan Bajra Seta yang bertempur dibelakang padepokannya itu akan kehilangan ketegaran jiwani jika pemimpinnya telah dibunuhnya. Sanggatama memang seorang yang  memiliki kemampuan yang tinggi, namun ia telah berhadapan dengan Wantilan. Seorang yang telah ditempa secara khusus oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru karena ia memiliki jalur penguasaan ilmu yang  keliru sebelumnya. Dengan demikian maka Wantilan adalah seorang yang  memiliki bekal yang  cukup untuk menghadapi murid terpercaya mPu Damar itu. Yang bahkan telah memimpin sebuah Padepokanyang  disebutnya Padepokan Sangganala. Dengan demikian maka keduanyapun telah bertempur dengan sengitnya. Beberapa orang cantrik dari kedua padepokan yang  sedang bertempur itu, berusaha untuk menjaga agar pemimpinnya masing-masing agar tidak mendapat serangan tiba -tiba atau dari belakang. Sambil bertempur disebelah-meny ebelah, para cantrik itu tetap mengawasi kedua orang pemimpin yang sedang bertempur dengan sengitnya itu. Sanggatama memang menjadi semakin marah ketika serangan-serangannya tidak segera mampu mengakhiri pertempuran itu. Ternyata Wantilan adalah seorang yang tangkas dan kuat. Ia masih tetap saja mampu mengimbangi kecepatan gerak dan kekuatan Sanggatama yang  semakin meningkat itu. Namun Wantilanpun harus mengerahkan kemampuannya pula. Murid terpercaya mPu Damar itumampu bergerak cepat. Kekuatannyapun telah mengejutkan Wantilan. Namun tidak menjadi gentar karenanya. Pedang Wantilan adalah pedang yang menurut ujudnya terhitung besar dan panjang. Tetapi Wantilan merasa bahwa pedangnya tidak terlalu berat. Apalagi Wantilan yang telah berlatih untuk mempergunakan tenaga cadangannya serta kemampuan untuk membangunnya membuatnya menjadi seorang yang membuat lawannya berdebar -debar. Dengan pedangnya itu, maka jangkauannyapun menjadi cukup panjang, sedangkan kekuatan tenaga dalamnya membuat ayunan pedang itumelepa skan kekuatanyang  sangat besar. Sanggatama ketika melihat pedang yang besar itu, merasa bahwa kecepatannya bermain pedang akan dapatmendahului putaran pedang yang  besar itu, sehingga serangannya akan dapatmenyusupmenggapai tubuhWantilan. Tetapi Sanggatama menjadi heran melihat putaran pedang Wantilan. Meskipun pedang itu cukup besar dan panjang, tetapi Wantilan menggerakkannya dengan tangkas dan cekatan sepertimenggerakkan sebatang lidi saja. Apalagi ternyata pula bahwa ilmu pedang Wantilan cukup memadai untukmelawan ilmu pedang Sanggatama. Dengan demikian maka pertempuran antara Wantilan dan para cantrik Padepokan Bajra Seta melawan Sanggatama dari Padepokan Sangganala itu semakin lama menjadi semakin sengit. Sementara itu, anak-anak dan orang-orang dari padukuhan-padukuhan disekitar Padepokan Bajra Seta yang datang membantu, telah bertempur pula dengan kerasnya. Kemampuan mereka bermain senjata, dialasi dengan kebiasaan mereka sehari-hari bekerja keras di sawah, diladang, dikebun dan di pategalan serta pekerjaan mereka yang lain telah membuat mereka menjadi orang-orang yang tangguh dipertempuran. Tenaga mereka cukup besar sementara ketrampilanmereka ber olah senjata cukup terlatih. Beberapa orang yang  bersenjata kapak yang  besar benarbenar membuat lawan-lawannya berdebar-debar. Kapak itu ditangannya bukan saja disaat-saat mereka berada di medan perang. Tetapi pekerjaan mereka sehari-hari sebagai tukang blandong yang  seringmemotong dan membelah pohon-pohon besar sebagai pekerjaan sambilan disamping bertani, membuat mereka sangat akrab dengan watak kapak-kapak mereka. Sementara itu, beberapa orang jagal lembu dan kerbau yang setiap hari bermain-main dengan parang yang tajamnya melampaui pisau pencukur itupun telah mempermainkan senjatamereka dengan tangkasnya. Disisi lain, Mahisa Semu yang muda itu telah mengejutkan pula para cantrik dari Padepokan Ngancas dan para pendukungnya. Mereka tidakmengira bahwa anakyang masih nampak sangatmuda itu telah memasukimedan pertempuran dengan putaran senjata yang mendebarkan jantung. Yang dihadapi oleh Mahisa Semu adalah para cantrik dari Padepokan Ngancas didukung oleh para cantrik dari Padepokan yang dipimpin oleh Sawung Tunggul, juga salah seorang murid terpercaya dari mPu Damar. Sawung Tunggul juga meny ebut perguruannya dengan perguruan Sawung Tunggulyang  berada di Padepokan Sawung Tunggul. Sawung Tunggul sendiri memang juga masih terhitung muda. Tetapi tidak semuda Mahisa Semu. Bahkan Sawung Tunggul sedikit lebih tua dibandingkan dengan Mahisa Murti. Ketika ia bertemu dengan Mahisa Semu di pertempuran, maka dengan heran ia bertanya ”He, anakmuda. Kenapa kau bermain-main dipertempuranyang  sengit ini?” “Kaumulaimerendahkan aku” sahut Mahisa Semu. “Aku tidak berniat merendahkanmu. Tetapi apakah kerjamu di pertempuran ini?” bertanya Sawung Tunggul. “Aku memang sedang melihat pertempuran ini” jawab Mahisa Semu ”nampaknya para cantrik dari Padepokan Ngancas tidakmempunyai banyak kesempatan.” “Mungkin” jawab Sawung Tunggul ”tetapi disini bukan hanya ada para cantrik dari Padepokan Ngancas.” “Ya. Aku tahu. Ada tiga padepokan yang  mendukung Padepokan Ngancas.” “Antara lain adalah padepokanku. Padepokan Sawung Tunggul, sama seperti namaku sendiri.” “0” Mahisa Semu mengangguk-angguk. Sementara Sawung Tunggul bertanya ”Siapa namamu anakmuda?” “Mahisa Semu” “Apakah kau juga saudaranya Mahisa Murti.” bertanya lawannya yang mulaimemperhatikan Mahisa Semu. “Ya. Aku adiknya” jawab Mahisa Semu. Sebenarnyalah Sawung Tunggulmenjadi berdebar-debar. Ternyata ia telah bertemu dengan saudara Mahisa Murti yang telah didengar namanya, justru karena saudaranya yang lain, Mahisa Pukat pernah mengalahkan gurunya, mPu Damar.

Jilid105
Dalam pada itu, pertempuran pun masih berlangsung dengan sengitnya. Kedua belah pihakmasih saling mendesak. Masing-masing telah mengerahkan segenap kemampuan mereka yang  tersisa. Para cantrik Padepokan Bajra Seta seakan-akan telah menguasai seluruh medan setelah murid kepercayaan Empu Damar tersingkir dari arena pertempuran. Para cantrik dari Padepokan Ngancas dan padepokan-pa sepokan yang mendukungnya sudah tidak memiliki harapan lagi, sehingga mereka lebih banyakmenghindar dari pada mempertahankan diri. Selagi di depan Padepokan Bajra Seta itu masih berlangsung pertempuran sengit, maka Mahisa Amping yang telah menemui anak-anak muda dan orang-orang dari padukuhan yang bertempur di sisi kanan, telah berlari pula ke sisi sebelah kiri. Namun, Mahisa Semu yang memimpin para cantrik dari Padepokan Bajra Seta itu pun telah menjadi sangat letih. Tetapi ketika ia ditemui Mahisa Amping yang menyusup medan,maka Mahisa Semu itu sempat terkejut. “Kenapa kau di sini?” bertanya Mahisa Semu. “Bukankah tugas para cantrik di medan ini sudah tidak begitu berat lagi?” bertanya Mahisa Amping. “Ya. Mereka akan dipaksa untukmeny erah. Kenapa?” “Apakah kakang dapatmengurangi kekuatan di medan ini lagi sebagaimana kakang lakukan sebelumnya?” bertanya Mahisa Amping agak ragu. “Apa maksudmu? Apakah keadaan di sisi kanan masih terlalu sulit?” bertanya Mahisa Semu. “Tidak,” jawab Mahisa Amping, “Tetapi justru pada pa sukan induk.” Mahisa Semu mengerutkan keningnya. Dengan cemas ia bertanya, “Bagimana dengan pasukan induk?” “Ma sih belum nampak bahwa pasukan induk akan dapat menguasai medan. Bahkan kakang Mahisa Murti masih bertempur dengan sengitnya melawan pemimpin pasukan yangmeny erang Padepokan ini,” jawab Mahisa Amping. Mahisa Semu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun segera memerintahkan kepada seorang cantrik penghubungnya, untuk memerintahkan beberapa kelompok cantrik bergeser membantu medan di depan Padepokan. Apalagi ketika Mahisa Semu melihat lawan-lawannya di sisi sebelah kiri itu sudahmulaimeny erah. Dengan demikian maka beberapa kelompok cantrik Bajra Setapun telah bergerak. Meskipun mereka sudahmenjadi letih sebagaimana para cantrik dari kedua belah pihak yang bertempur itu, namun mereka masih juga berlari-larian melingkari sudut Padepokan menuju ke pa sukan induk mereka. Kehadiran beberapa kelompok cantrik Bajra Seta itu sekali lagi telah mengguncang medan. Bahkan kemudian mereka telah menentukan keseimbangan pertempuran. Para cantrik dari Padepokan Ngancas yang semula masih berpengharapan, telah menjadi gelisah. Para cantrik dari sisi sebelah kiri itu langsung memasuki arena dan menusuk pasukan lawan dari samping. Dengan demikian maka para cantrik dari Padepokan Ngancas itu seakan-akan telah terkepung. Di depan mereka para cantrik dari Padepokan Bajra Seta semakin mendesak. Dari sisi lain, anak-anak muda dan orang-orang padukuhan yang menekan mereka semakin kuat. Kemudian datang beberapa kelompok anak-anak muda dan orang-orang padukuhan dari sisi kanan, disusul kemudian beberapa kelompok cantrik dari sisi kiri. Dalam pada itu, maka pertempuran antara Mahisa Murti dengan Empu Damar menjadi semakin sengit. Setiap kali Empu Damar telah melontarkan sejenis senjatanya ke arah Mahisa Murti. Meskipun senjata itu tidak mengenainya, namun sambaran anginnya membuat Mahisa Murti semakin kesakitan. Senjata yang  dilemparkan oleh Empu Damar itu ternyata adalah semacam gelang-gelang baja putih. Senjata yang sangat berbahaya. Jika senjata itu menyentuh kepala,maka kepala itu tentu akan pecah. Bahkan gelang-gelang baja putih itu akan dapat mematahkan tulang-tulang di tubuh lawannya yang dapat dikenainya. Bahkan tulang lengan sekalipun. Jika senjata itu tidak mengenai lawan, maka sambaran anginnya telah cukup menyakitinya. Seakan-akan ratusan duri-duri kecil yang tajam telah mengorek setiap lubang kulitnya. Dengan demikian maka Empu Damar telah berusaha memaksakan kemenangan segera atas Mahisa Murti ju stru karena ia mengetahui bahwa para cantrik dari Padepokan Ngancas telah terdesak, dan bahkan hampir terhimpit di tengah-tengah kepungan para cantrik dari Padepokan Bajra Seta serta anak-anak muda dan orang-orang dari padukuhan di sekitar Padepokan Bajra Seta itu. Karena itu, maka serangan-serangan Empu Damar pun menjadi semakin cepat pula, meskipun keringat telah membasahi seluruh tubuhnya. Dengan lontaran-lontaran senjatanya maka Empu Damar berhasil membatasi serangan-serangan Mahisa Murti. Ju stru karena Empu Damar telah mengetahui bahwa Mahisa Murti sebagaimana Mahisa Pukat memiliki kemampuan untuk menghisap kekuatan dan kemampuan lawannya. “Seandainya aku tahu bahwa Mahisa Pukat memiliki ilmu itu,” berkata Empu Damar di dalam hatinya, “maka aku tidak akan dipermalukannya di hadapan banyak orang. Di hadapan murid-muridku pula.” Dengan dada tengadah Empu Damar menekan Mahisa Murti sehingga Mahisa Murti beberapa kali harus berloncatan surut. Bahkan pada saat-saat terakhir Empu Damar hampir pa sti, bahwa ia akan dapatmengalahkan Mahisa Murti. Mahisa Murti yang  selalu diburu oleh senjata-senjata Empu Damar yang  dilontarkan dengan kekuatan yang sangat besar bahkan dibarengi dengan ilmunya pula sehingga hembusan anginnya telah menyakitinya, akhirnya harusmengambil satu sikap untuk mengatasiny a. Mahisa Murti tidak dapat membiarkan dirinya diburu oleh senjata Empu Damar sehingga setiap kali Mahisa Murti harus berloncatan menghindar dan bahkan sambilmenyeringaimenahan pedih. Sementara itu, pertempuran di sekitarnya memangmenjadi semakin sengit. Bahkan beberapa orang cantrik yang  sedang bertempur harusmengalami nasib buruk. Gelang-gelang baja putih yang dilemparkan oleh Empu Damar sekali-sekali ju stru mengenai para cantrik. Sekali-sekali justru cantrik dari Padepokan Ngancas yang sedang bertempur melawan cantrik dari Padepokan Bajra Seta. Karena itulah, maka Mahisa Murti pun telah memutuskan untuk menghentikan serangan-serangan Empu Damar sebelum gelang-gelang itu mematahkan tulang-tulangnya. Apalagi darah yang  mengembun dari lubang -lubang kulitnya telah menjadi semakin banyak pula. Ketika kemudian gelang-gelang itu menyambarnya lagi, maka Mahisa Murti harus berloncatan menghindarinya sejauh-jauh dapat dilakukan, agar hembusan angin yang menyambar tubuhnya tidak terlalu menyakitinya. Sementara itu, Mahisa Murti sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mendekati lawannya untuk meny erangnya dengan ujung pedangnya yang berwarna kehijau-hijauan. Pada saat-saat yang sulit dibawah ancaman lontaran gelang-gelang baja putih itulah, Mahisa Murti kemudian telah mengerahkan ilmunya yang  lain. Bukan sekedar menghisap tenaga dan kemampuan lawannya, tetapi ia pun harus menyerangnya. Demikianlah, maka ketika sebuah gelang baja putih menyambarnya maka Mahisa Murti telah meloncat ke samping untuk menghindarkan diriny a. Tetapi Mahisa Murti masih harus menyeringai menahan perasaan pedih yang menggigit. Bahkan untuk beberapa saat Mahisa Murti harus mengerahkan daya tahannya untuk mengatasiny a meskipun darah masih saja mengembun dikulitnya. Tetapi, agaknya Empu Damar tidak memberinya kesempatan. Sekali lagi gelang-gelang baja itu menyambarnya. Hampir saja senjata yangmenggetarkan udara itu menyambar keningnya. Namun meskipun Mahisa Murti sempat menghindari sentuhan senjata itu, namun sambaran anginnya benar-benar telah menyakitinya. Mahisa Murti berdesah menahan sakit sambil melenting menjauh. Tetapi angin telah menyambarnya dan perasaan pedihpun semakin menusuk kulit. Belum lagi Mahisa Murti sempat memperbaiki kedudukannya, maka sekali lagi Empu Damar melemparkan gelang-gelang besi bajanya. Gelang-gelang yang memang tidak begitu besar, tetapi Mahisa Murti menyadari bahwa gelanggelang itu sangat berbahaya baginya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun tidak mempunyai kesempatan untuk meloncat menghindar. Yang dapat dilakukannya adalah justrumenjatuhkan dirinya. Gelang-gelang itu memang tidak mengenainya. Tetapi sambaran angin itu masih saja menyakitinya. Dalam keadaan yang  demikian, maka Mahisa Murti tidak mempunyai pilihan lain. Apalagi ket ika melihat bahwa Empu Damar sudah mengambil lagi gelang -gelang baja dari kantong ikat pinggangnya yang  besar. Mahisa Murti tidak mau disakiti lagi. Ia tidak membiarkan darahnya yang  mengembun semakin membasahi kulitnya. Karena itu, maka agaknya memang sudah tiba waktunya Mahisa Murti berusahamengakhiri pertempuran itu. Dengan cepat Mahisa Murti yang  menyiapkan dirinya, memusatkan nalar budinya. Ia tidak merasa perlu untuk bangkit lebih dahulu. Namun sambil berbaring di tanah,maka diacukannya pedangnya ke arah lawannya. Dengan cepat pula Mahisa Murti telah melepa skan kemampuannya meny erang lawannya dari jarak jauh, tepat pada saat Empu Damar siap melontarkan senjatanya. Empu Damar sama sekali tidak mengira bahwa serangan yang dahsy at itu akan datang. Yang diperhitungkan hanyalah ilmu Mahisa Murti yang  dapat menghisap kekuatan dan tenaga lawan. Karena itu, Empu Damar menjadi sangat terkejut melihat seleret sinar bagaikan meluncur dari ujung pedangMahisa Murti. Ternyata serangan Mahisa Murti datang demikian cepatnya. Sebelum gelang-gelang bajanya terlepas dari tangannya, maka serangan Mahisa Murti telah menerpanya. Demikian dahsyatnya, sehingga Empu Damar telah terlempar beberapa langkah surut. Bahkan rasa-rasanya dadanya telah meledak sehingga isi dadanya telah rontok karenanya. Empu Damar yang tidakmenduga akan mendapat serangan yang demikian dahsy atnya, sama sekali tidak sempat berbuat sesuatu. Ia masih sadar ketika ia terbanting jatuh. Bahkan sempat mengumpat kasar. Empu Damar sempat menyadari betapa dahsyatnya ilmu anak muda itu. Selain ilmu yang jarang ada duanya, yang mampu menghisap tenaga dan kekuatan lawan, ternyata ia juga memiliki ilmu yang dahsyat dan keras. Namun Empu Damar sudah tidakmempunyai kesempatan lagi. Lamat-lamat masih terdengar sorak para cantrik Padepokan Bajra Seta membahana. Ia pun samar-samarmasih melihat Mahisa Murti dibawah perlindungan para cantrik melangkahmendekatinya. Tetapi sejenak kemudian, semuanya menjadi gelap. Jantungnya pun terasa berdetak semakin cepat sehingga akhirnya, Empu Damar kehilangan segenap kesadarannya. Bahkan jantungnya pun telah berhenti berdetak pula. Para cantrik dari Padepokan Ngancas menjadi gelisah. Beberapa orang murid Empu Damar yang masih bertahan, termasuk Gemak Langkasmemang menjadi bingung. Mereka tidak dapatmengambil sikap dengan cepat, apalagimengambil alih pimpinan. Kematian Empu Damar benar-benar telah mengguncang jiwa mereka, sehinggamereka tidakmampu lagi mengambil sikap apapun juga. Ju stru karena itu, maka para cantirk dari Padepokan Ngancas itu benar-benar telah kehilangan pegangan. Sebagian dari mereka justru bertempur membabi buta. Tetapi sebagian yang lain dengan serta merta telah melemparkan senjata mereka dan meny erah. Apalagi kekuatan Bajra Seta di depan padepokannya itu semakin bertambah, sehingga akhirnya, orang-orang yang menyerang Padepokan Bajra Seta itu tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Sehingga dengan demikian maka serangan mereka telah dipatahkan dengan mutlak. Dengan demikian,maka para pengikut Empu Damar itu di segala medan telah dikuasai. Mereka berangsur-angsur telah menyerah danmeletakkan senjata mereka. Karena itu,maka sebelummataharimerendah di kaki langit sebelah barat,maka pertempuran itu telah dapat diselesaikan. Tetapi bukan berarti bahwa segala-galanya telah selesai. Ternyata dalam pertempuran itu telah jatuh korban dari kedua belah pihak. Bahkan anak-anak muda dan orang -orang dari padukuhan di sekitar Padepokan Bajra Seta. Para cantrik, anak-anak muda dan orang-orang dari padukuhan sebelah menyebelah bahkan para pengikut Empu Damar yang menyerah masih harus sibuk mengumpulkan mereka yang  terluka dan bahkan terbunuh di peperangan. Mahisa Murti memandangi tubuh yang  membeku berjajar di halaman serta para cantrik yang  terluka yang ditempatkan di pendapa bangunan induk Padepokan Bajra Seta dengan wajahyang sayu. Tidak seorang pun yang  mampu mencegah korban yang  berjatuhan di setiap peperangan. Jika peperangan itu masih berulang, maka tubuh-tubuh yang membeku dan berlumuran darah masih saja akan berhamburan dimedan. Mahisa Murtimenarik nafas dalam-dalam ketika dua orang petugas sandi yang  telah ikut terjun di pertempuran itu mendekatinya. Seorang di antara mereka berkata, “Peperangan selalu berakhir seperti ini.” “Ya,” jawab Mahisa Murti. Katanya selanjutnya, “Tetapi hal seperti inimasih saja terulang apapun alasannya.” Kedua orang petugas sandi itu mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Amping pun telah melangkah dengan ragu-ragumendekat. Ternyata Mahisa Murti telah mendapat laporan tentang anak itu darimereka telah dihubunginya. Bahkan sebelum Mahisa Murti mengatakan sesuatu, Mahisa Amping telah mendahuluinya, “Maaf kakang. Aku telah melakukannya tanpa seijin kakang.” Mahisa Murti tersenyum melihat tingkah anak itu. Katanya, “Baiklah. Kau telah berusaha membantu pertempuran yang telah terjadi dengan caramu. Kau telah berusaha membagi kekuatan para cantrik sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, apa yang kau lakukan mempunyai akibat yang  baik bagi Padepokan kita.” Mahisa Murti berhenti sejenak. Dipandanginya anak yang kemudian menunduk dalam-dalam itu. Katanya selanjutnya, “Tetapi lain kali berhati-hatilah. Jika kau menerobos medan, maka hal itu akan sangat berbahaya bagimu.” Mahisa Amping mengangguk-angguk sambil menjawab, “Ya Kakang. Aku tidak akanmelakukannya lagi.” “Baiklah,” berkata Mahisa Murti sambil membelai kepala anak itu, “kau harus berhati-hati bermain-main dengan peperangan. Kau lihat, betapa ganasny a pertempuran itu. Yang berjajar di halaman itu adalah mereka yang telah menjadi korban. Mereka akan segera diangkat ke serambi sebelum besok pagi dimakamkan. Sedangkan yang  ada di pendapa itu adalahmereka yang terluka parah.” Mahisa Amping mengangguk-angguk kecil. Bukan untuk pertama kalinya iamelihat akibat dari sebuah peperangan. Sejenak kemudian maka Mahisa Murti pun berkata kepada kedua orang petugas sandi dari Singasari itu, “Marilah, kita lihat keadaan Mahisa Semu dan pamanWantilan.” Mahisa Murti pun kemudian bersama-sama dengan kedua orang itu sambil menggandeng Mahisa Amping melihat keadaan Mahisa Semu danWantilan di bilik mereka. Ternyata keadaan Wantilan lebih buruk dari Mahisa Semu. Mahisa Semu memang nampak terlalu letih. Kulitnya juga menjadi merah. Meskipun darah yang  mengembun sudah dibersihkan, namun bekas-bekas terpaan ilmu lawannya masih nampak kemerah-merahan. SedangkanWantilan benarbenar terdapat luka dikulitnya. Di beberapa bagian kulitnya menjadi terkelupas. Perasaan pedih masih saja menggigit di beberapa bagian kulitnya, sehingga Wantilan memerlukan perawatan yang  lebih ber sungguh-sungguh. Dalam pada itu, di antara para pengikut Empu Damar yang menyerah dan menjadi tawanan adalah Gemak Langkas. Betapa peny esalan mencengkam jantungnya. Ia melihat sendiri betapa saudara-saudara seperguruannya terbaring tanpa bernafas lagi. Besok mereka sudah harus dikembalikan kepangkuan bumi tanpa pernah bangkit kembali. Sementara yang  lain lagi terbaring sambil mengerang kesakitan karena luka-lukanya yang parah. Mahisa Murti yang  oleh kedua orang petugas sandi diberitahukan, bahwa Gemak Langkas itulah yangmenjadi api yang kemudian membakar Padepokan Bajra Seta yang meskipun dapat dipadamkan tetapi telah menelan banyak korban itu, telah memanggil-ny a untukmenemuinya. Namun, sejak Mahisa Murti berbicara dengan Gemak Langkas, maka ia telah mendapat kesan bahwa Gemak Langkas merasa sangat meny esal atas segala peristiwa yang telah terjadi itu. “Sejak semula, aku dan ay ahku sudah berusaha mencegah guru untuk melakukan balas dendam,” berkata Gemak Langkas. “Tetapi kami tidak berhasil. Karena aku merasa bahwa aku adalah sebab dari persoalan ini, maka aku merasa mempunyai kewajiban untuk ikut ber sama guru meny erang Padepokan Bajra Seta.” “ Jadi alasan Empu Damar menyerang padepokan ini hanya dendam semata-mata?” bertanya Mahisa Murti. Gemak Langkas termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata, “Ternyata tidak. Meskipun tidak berterus-terang, tetapi guru menganggap bahwa ada sesuatu yang berharga di Padepokan Bajra Seta. Ada sejenis senjata yang  agak lain dari kebanyakan senjata. Dan itu ternyata dalam pertempuran yang terjadi. Senjata para cantrik Bajra Seta mempunyai kelebihan dari senjata kami.” “Hanya karena senjata -senjata itu?” desak Mahisa Murti. Gemak Langkas terdiam sejenak. Ia memang nampak raguragu. Tetapi kemudian katanya, “Ada dua keuntungan yang dapat diambil oleh guru. Karena aku terlibat, serta aku pula sebab utama dari peristiwa ini, maka ay ahku telah ikut membeayai pasukan Ngancas betapapun ayah merasa berkeberatan. Selebihnya, guru berpendapat bahwa di Padepokan Bajra Seta yang besar ini selain senjata tentu terdapat harta benda yang  cukup berharga sehingga akan menguntungkan guru.” Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sudah mengira bahwa di samping alasan yang dikemukakan tentang pembalasan dendam, maka tentu ter sembunyi kepentingan yang  lain. Hal itu dapat dibaca dari sifat Empu Damar. Bukankah kau seorang murid yang  mendapat perhatian sangat besar dari gurumu karena kau mampu mengupahnya lebih dari yang  lain? Bukankah gurumu setiap saat yang  ditentukan justru datang kepadamu untuk mengajarmu dalam olah kanuragan karena kau membayar?” Gemak Langkas mengangguk sambil menjawab, “Ya. Memang demikian. Semakin banyak ayah memberi uang, semakin sering guru datang kerumah.” “Dengan demikian, maka gurumu sama sekali tidak ber sandar pada kewajiban seorang guru. Tetapi yang dilakukan diperhitungkan atas dasar upah semata -mata tanpa pertanggung-jawaban ataskeberhasilanmurid-muridnya.” “Aku barumenyadari kemudian,” desisGemak Langkas. “Dan kau sekarang ter seret dalam arus ketamakan gurumu,” berkata Mahisa Murti kemudian. “Aku meny esal,” desis Gemak Langkas hampir tidak terdengar. Tetapi Mahisa Murti percaya bahwa peny esalan itu terlontar dari da sar hatinya. Meskipun demikian Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain kecuali mematuhi pesan dari kedua orang petugas sandi dari Singasari itu. Para tawanan untuk sementara dititipkan kepada Padepokan Bajra Seta sampai pada saatnya nanti dijemput oleh sepasukan prajurit dari Singasari. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian berkata. “Aku percaya kepadamu Gemak Langkas. Tetapi aku tidak dapatmelepaskanmu dari paugeran.” “Aku tidak akan dapat ingkar,” jawab Gemak Langkas, “apapun yang  harus aku jalani sebagai hukuman atas tingkah lakuku, akan aku jalani. Bahkan seandainya aku harus dihukum mati.” “Tidak, kau tidak akan dihukum mati,” jawab Mahisa Murti. “Akulah yang  menyebabkan segala ini terjadi,” jawab Gemak Langkas. “Tetapi t idak semua kesalahan ada padamu,” desis Mahisa Murti kemudian, “kesalahan terbesar adalah justru pada gurumu. Ia telah memanfaatkan persoalan yang kau sulut untukmemuaskan ketamakannya.” “Terima kasih atas sikapmu. Mudah-mudahan sikap para pemimpin di Singasari sama seperti sikapmu itu. Aku tidak tahu apa yang  akan dikatakan oleh saudaramu, Mahisa Pukat yang mengalami langsung benturan kepentingan dengan aku, sehingga per soalannya telah berkepanjangan dan mungkin kau benar, telah dimanfaatkan oleh guru.” Sementara itu kedua petugas sandi Singosariyang  berada di Padepokan Bajra Seta setelah minta diri kepada Mahisa Murti, langsung pulang kembali ke Singosari untuk menghadap dan memberi laporan kepada pimpinannya y aitu Arya Kuda Cemani. Begitu sampai di Singosari kedua petugas sandi tersebut langsung menghadap Arya Kuda Cemani dan melaporkan seluruh kejadian di padepokan Bajra Seta. Setelah menerima laporan dari kedua petugas sandi tersebut Arya Kuda Cemani menugaskan keduanya untuk segera menemui Ki Mahendra guna menyampaikan seluruh peristiwa peny erangan padepokan Bajra Seta oleh Padepokan Ngancas dan tiga padepokan pendukungnya yang  dipimpin oleh mPu Damar. “Besok pergilah kalian menemui Ki Mahendra untuk menceritakan seluruh kejadian tersebut” (yg ketikan biru ini adalah tambahan ku sendiri krn sepertinya ga nyambung ke alenia berikut ini-Dewi KZ) Kedua petugas sandi itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka menjawab, “Baiklah. Kami besok akan menemuiKi Mahendra di tempat tinggalnya.” Arya Kuda Cemani itu berpikir sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Biarlah aku besok akan datang bersamamu menemui Ki Mahendra dan Mahisa Pukat. Lebih baik mereka mendengar langsung dari kita daripada dari orang lain yang mungkin sudah ditambah atau dikurangi.” Sebenarnyalah di hari berikutnya mereka bertiga telah menemui Mahendra dan Mahisa Pukat di tempat tinggal mereka, di bagian belakang istana Singasari. Dengan hati-hati Arya Kuda Cemani telah menceriterakan apa yang dilakukan oleh kedua orang petugasnya itu. “Biarlah mereka menceriterakan apa yang telah terjadi di Padepokan Bajra Seta,” berkata Arya Kuda Cemani. Dengan tegang Mahendra dan Mahisa Pukat kemudian mendengarkan ceritera kedua orang petugas sandi itu. Apa sa ja yang  telah terjadi di Padepokan Bajra Seta. Mahisa Pukat mendengar peristiwa di padepokan Bajra Seta itu dengan hati yang tegang. Bahkan kemudian dengan lantang ia bertanya, “Kenapa aku tidak diberi tahu sebelumnya? Seharusnya aku juga berada di Padepokan saat itu.” “Maaf ngger,” jawab Arya Kuda Cemani, “ternyata kami salah menilai kekuatan Padepokan Ngancas. Kami tahu bahwa Padepokan Ngancas didukung oleh tiga padepokan sekaligus. Tetapi ternyata jumlah kekuatannya lebih dari yang  kami lihat.” Mahisa Pukat menggeretakkan giginya. Tetapi ia tidak dapat marah kepada Arya Kuda Cemani. Apalagi yang dilakukan Arya Kuda Cemani semata-mata karena Arya Kuda Cemani ingin membantu Padepokan Bajra Seta. Bagaimanapun juga, perbuatan itu dilandasi dengan maksud yang baik. Mahendra lahyang  kemudian berkata, “Kamimengucapkan terima kasih Raden. Seandainya Raden tidakmemberitahukan kedatangan beberapa padepokan yang  meny erang Padepokan Bajra Seta itu, keadaannya tentu akanmenjadi lebih buruk.” “Tetapi kami harus minta maaf kepada Mahisa Murti,” berkata Arya Kuda Cemani, “seharusnya kami dapat berbuat lebih baik.” Tiba -tiba saja Mahisa Pukat memotong pembicaraan itu, “Besok aku akan pergi ke Padepokan.” “Sebaiknya kau pergi besok lusa saja ngger,” minta Arya Kuda Cemani, “besok lusa aku akan mengirimkan sekelompok prajurit untuk menjemput para tawanan. Kami tidak dapat membiarkan para tawanan itu menjadi beban padepokan Bajra Seta.” Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Rasa -rasanya saat itu juga ia ingin terbang ke Padepokan Bajra Seta. Ia ingin melihat akibat dari pertempuranyang  baru saja terjadi. Tetapi ay ahnya berkata, “Agaknya memang sebaiknya kau pergi bersama-sama dengan para prajurit itu Pukat. Bukan karena aku cemaskan kau selama dalam perjalanan. Tetapi agaknya lebih baik kau tempuh perjalananmu tidak seorang diri.” Mahisa Puakt termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian tidak dapatmenolaknya. Demikianlah, seperti yang  telah direncanakan maka Mahisa Pukat pun telah pergi ke Padepokan Bajra Seta bersama sekelompok prajurit yang akan menjemput para tawanan. Dengan jantung yang  gemuruh, seperti derap kaki-kaki kuda para prajurit dalam perjalanan itu, Mahisa Pukat seakan-akan merasa perjalanan itu terlalu panjang. Namun, betapapun terasa perjalanan itu terlalu lama,maka akhirnya iring-iringan itu sampai ke Padepokan Bajra Seta. Mahisa Pukat pun telah meloncat turun dari kudanya.Oleh perasaan yang  bergejolak di dalam jantungnya, juga oleh perasaan bahwa ia adalah peny ebab dari pertempuran yang telah terjadi itu maka Mahisa Pukat pun telah berlarimemeluk saudaranya sambil berdesis, “Maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sini. Para petugas sandi sengaja tidak memberitahukan peristiwa ini kepadaku.” Mahisa Murti pun harus mengatur gejolak perasaannya. Baru kemudian ia menjawab, “Segalanya telah berlalu, Pukat. Ternyata kami mampu bertahan meskipun harus jatuh korban.” “Seandainya aku tahu,” suara Mahisa Pukatmenjadi sangat dalam. “Sudahlah,” berkata Mahisa Murti kemudian, “Yang Maha Agungmasih melindungi padepokan kita.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Sementara itu, Mahisa Murti pun telah mempersilahkan para prajurit untuk naik kependapa. Namun hanya para pemimpinnya sajalah yang kemudian naik, sedangkan yang lain berada di serambi bangunan say ap Padepokan Bajra Seta. Setelah mengucapkan selamat datang, maka para cantrikpun telah menyuguhkan minuman dan makanan kepada para prajurit yang datang untuk menjemput para tawanan di Padepokan Bajra Seta. Namun mereka tidak dapat hari itu juga kembali ke Singasari. Para prajurit itu harus bermalam di Padepokan itu. Baru di keesokan harinya mereka akan kembali ke Singasari. Dalam pada itu,maka Mahisa Pukat pun telahmenanyakan dimana Mahisa Amping yang masih belum dilihatnya sejak ia datang. Tetapi sebelum anak itu dipanggil, maka Mahisa Amping sudah berdiri termangu-mangu dipintu pringgitan bangunan induk Padepokan itu. “Amping,” panggil Mahisa Pukat, “kemarilah.” Mahisa Amping pun dengan ragu-ragumendekat. Demikian ia berdiri didekat Mahisa Pukat duduk, maka tangannya pun telah ditariknya dan anak itu pun didudukannya di sebelahnya. “Kau tidak apa-apa?” bertanya Mahisa Pukat. “Aku tidak apa -apa kakang,” jawab anak itu. Tetapi diluar dugaan anak itu bertanya, “Kemana kakang selama ini? Kenapa baru sekarang kakang datang?” “Kakakmu mempunyai tugas di Singasari,” Mahisa Murtilahyang menyahut. Mahisa Pukat menarik nafas panjang-panjang. Dengan nada rendah ia berkata, “Maafkan aku Amping. Aku tidak dapat ikutmempertahankan Padepokan ini.” Mahisa Amping kemudian berkata, “Meskipun aku tidak apa-apa, tetapi beberapa orang cantrik telah gugur.” “Aku menyesal bahwa aku t idak ada di padepokan waktu itu,” desisMahisa Pukat. “Sudahlah Amping,” berkata Mahisa Murti, “kau sebaiknya justru mengatakan bahwa Yang Maha Agung masih melindungi kita.” Tetapi Mahisa Ampingmasih saja berkata, “Kakang Mahisa Semu dan pamanWantilan terluka.” “He?” jawab Mahisa Pukat berkerut dalam. “Tetapi luka mereka tidak parah,” sahut Mahisa Murti dengan serta merta. “Antarkan aku kepada mereka,” berkata Mahisa Pukat dengan wajahyang  tegang. Mahisa Amping mengangguk. Tetapi Mahisa Murti pun berkata, “Marilah.” lalu katanya kepada para pemimpin prajurit yang  ada dipendapa, “Silahkan duduk dahulu Ki Sanak.Marilah, silahkan minuman danmakanannya.” Sejenak kemudian, maka Mahisa Pukat telah berada di dalam bilik Mahisa Semu. Mahisa Semu memang terluka. Tetapi tidak terlalu parah. Bahkan ia sudah nampak tenaganya sebagian besar pulih kembali. Meskipun demikian, peny esalan semakin mencengkam jantung Mahisa Pukat. Apalagi ketika kemudian ia melihat keadaan Wantilan yang  nampak lebih parah dari Mahisa Semu. Dengan geram Mahisa Pukat pun bertanya, “Dimana para tawanan itu?” Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Untuk apa kau cari para tawanan?” “Aku dengar di antara mereka terdapat Gemak Langkas.” jawabmahisa Pukat. “Ya,” jawab Mahisa Murti. “Aku ingin bertemu dan berbicara dengan Gemak Langkas. Ia adalah sumber dari segala-galanya. Seharusny a ia berani mempertanggung-jawabkan akibat dari perbuatannya. Aku akan menantangnya untuk berperang tanding” “Jika kau sudah mampu mengalahkan gurunya. Jika kau benar-benar menantangnya, artinya sama saja bahwa kau membunuh seorang yang  telah menyerah dan menjadi tawanan.” “Tetapi kau tahu akibat dari perbuatannya itu. Beberapa orang cantrik telah gugur. Beberapa orang anak muda dan orang-orang dari padukuhan di sebelah-meny ebelah padepokan ini telah gugur pula. Bukankah sudah sepantasnya ia mendapat hukuman yang  terberat?” berkata Mahisa Pukat dengan wajahyang  tegang. “Aku sependapat Pukat. Tetapi siapakah yang berhak menjatuhkan hukuman yang  terberat itu?” bertanya Mahisa Murti. Mahisa Pukat termangu -mangu sejenak. Namun kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kalau saja ketika pertempuran itu terjadi aku ada di sini.” “Sudahlah Pukat. Kita semua meny esali apa yang  telah terjadi. Tetapi yang telah terjadi itu tidak akan dapat dirubah lagi. Karena itu, kita harus menerimanya dengan tabah. Apalagi Yang Maha Agung ternyata masih melindungi padepokan ini.” Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi yang terdengar adalah gemeretak giginya. “Marilah,” berkata Mahisa Murti, “kita temui tamu-tamu kita. Para prajurit dari Singasari yang besok akan membawa para tawanan itu ke Kotaraja untukmendapatkan pengadilan.” Mahisa Pukat mengangguk kecil. Tetapi ketika ia berpaling dan memandang mata Mahisa Amping, maka seakan-akan ia sedang bercermin dan melihat kesalahannya sendiri sebagai bebanyang harus dipikulnya. Tetapi seperti yang  dikatakan oleh Mahisa Murti, bahwa yang telah terjadi itu memang telah terjadi. Apapun sikap dan tanggapannya, namun ia tidak akan dapat merubah keadaan yang telah lewat itu, kecualimenyesaliny a. Demikianlah, maka Mahisa Pukat pun ber sama-sama dengan Mahisa Murti telah berada kembali di pendapa menemui para tamumereka dari Singasari. Beberapa saat kemudian, Mahisa Murti pun telah mempersilahkan para prajurit dari Singasari itu untuk beristirahat. Besok pagi-pagi sekali mereka akan menempuh perjalanan kembali ke Singasari. Sebagian dari para prajurit memang segera beristirahat ditempat yang  sudah disediakan. Tetapi beberapa orang yang lain masih ingin berjalan-jalan melihat -lihat padepokan itu dan sekitarnya. Namun mereka esok hari memang harus berangkat sebelum matahari terbit. Para tawanan itu tidak menempuh perjalanan berkuda. Tetapimereka akan berjalan kaki menuju ke Kotaraja. Dalam pada itu, di pendapa bangunan induk Padepokan Bajra Seta, Mahisa Murti duduk berdua dengan Mahisa Pukat. Ternyata Mahisa Pukat menjadi bimbang, apakah besok ia akan kembali ke Singasari atau tidak. Tetapi Mahisa Murti kemudian berkata, “Pergilah. Sebaiknya kau untuk sementara memang tetap berada di Kotaraja. Biarlah aku mengurus Padepokan ini. Percayalah, bahwa aku akan berbuat sebaik-baiknya, sehingga padepokan ini tidak akan mengalami masa surut. Sementara itu di Kotaraja kau dapat menemani ayah yang  sudah menjadi semakin tua. Agaknya ayah merasa lebih senang berada di Singasari daripada berada di Pakuwon Sangling bersama Kakang Mahisa Bungalan.” Mahisa Pukatmasih saja nampak ragu-ragu. Dengan nada dalam ia pun berkata, “Peristiwa yang baru saja terjadi membuat aku merasa bersalah, bahwa aku tidak berada di padepokan.” “Bukan salahmu,” sahut Mahisa Murti, “seharusny a kau dan kita semuanya berterima kasih dan mengucap sukur bahwa Yang Maha Agungmasih melindungi kita.” Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sekilas terbayang wajah Sasi. Mahisa Pukatmemangmerasa lebih tenang jika ia berada dekat gadis itu. Tetapi justru karena itu, ia merasa semakin bersalah. Sementara Mahisa Murti dan para cantrik Padepokan Bajra Seta bertempur mempertaruhkan ny awa, maka ia sendiri berada di Singasari semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan untuk kesenangannya sendiri. Tetapi Mahisa Murti yang  melihatnya bimbang itu pun berkata selanjutnya, “Sudahlah. Jangan terlalu banyak membuat pertimbangan-pertimbangan. Seandainya ada sesuatu yang penting,maka biarlah aku memanggilmu.” Mahisa Pukat mengangguk kecil. Namun ia masih juga berkata, “Rasa -rasanya aku tidak akan dapat meninggalkan Mahisa Semu dan apalagi pamanWantilanyang  terluka cukup berat.” “Tetapi luka-luka mereka akan segera sembuh, karena luka-luka mereka hanya terdapat dipermukaan kulit saja, sebagaimana yang aku alami meskipun tidak sebanyak yang dialami oleh Mahisa Semu dan apalagi pamanWantilan.” Sementara itu, Mahisa Murti pun sempat menceriterakan bahwa agaknya Empu Damar yang sudah dapat dikalahkan oleh Mahisa Pukat itu mampumengenali bahwa Mahisa Murti pun memiliki kemampuan ilmu untuk menghisap kekuatan dan kemampuan lawan meskipun hanya untuk sementara, sehingga Empu Damar selalu berusaha menghindari setiap sentuhan senjata. Bahkan Empu Damar telahmempergunakan senjata jarak jauh berupa gelang-gelang besi baja putih. Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk saja. Sementara Mahisa Murti selalu mendesaknya agar Mahisa Pukat besok kembali ke Singasari ber sama para prajurit yang akan membawa para tawanan yang  dititipkan di Padepokan Bajra Seta. Akhirnya, Mahisa Pukat pun dapat mengatasi keraguraguannya. Apalagi setiap kali ia teringat kepada Sasi. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Besok aku akan kembali ke Singasari. Biarlah aku berkata sejujurnya, bahwa aku ingin tetap berada di Singasari untuk sementara bukan saja karena aku inginmenemani ayah. Tetapi juga karena aku telah terikat karena kehadiran Sasi di dalam perjalanan hidupku.” Jantung Mahisa Murti memang berdesir. Tetapi ia berhasil menekan gejolak perasaan yang hampir sampai kepermukaan dan kemudian mengendapkannya kembali. Mahisa Murti memang sudah berniat untukmelupakan Sa si sama sekali. Demikian, sebelum tengah malam, maka padepokan Bajra Seta telah menjadi sepi. Para prajurit Singasariyang  berada di padepokan itu sudah tidur lelap. Demikian pula Mahisa Pukat telah berada di atas pembaringannya meskipun ia masih belum tertidur. Yang masih berjaga-jaga adalah para cantrik yang sedang bertugas. Mereka berada di regol induk dan regol butulan dan dipanggungan disudut-sudut dinding padepokan. Sementara itu setiap kali dua orang cantrik telah meronda berkeliling halaman di sekitar padepokan mereka yang tertidur ny enyak. Kecuali itu masih ada tiga gardu di kebun belakang padepokan yang ditunggui oleh beberapa orang cantrik. Malam itu terasa betapa lengangnya. Yang terdengar hanyalah suara cengkerik dan bilalang di dedaunan. Dikejauhan terdengar gonggong anjing liar yang  berkeliaran mencarimangsa. Mahisa Pukat yang  tidak segera dapat tidur, akhirnya terlelap juga. Demikian juga Mahisa Murti. Yang ju stru masih beberapa kali bangkit duduk di pembaringannya adalah Mahisa Amping. Anak itu tidak tahu kenapa ia tidak segera dapat tidur seperti bia sanya. Baru ketika orang-orang yang  bertugas di dapur mulai terbangun dan mempersiapkan makan pagi bagi mereka yang akan berangkat ke Singasari beserta para tawanan, Mahisa Amping dapatmemejamkanmatanya. Sementara itu, kesibukan di dapur mirip saat-saat Padepokan Bajra Seta menghadapi serangan. Para petugas di dapur memang harus mempersiapkan makan dan minum bagi banyak orang, termasuk para tawanan. Sebelum matahari terbit, maka nasi pun telah masak. Sementara itu, para prajurit pun telah mempersiapkan diri. Demikian pula para tawanan, betapa pun mereka merasa malas untuk menempuh perjalanan ke Singasari dengan dikawal oleh sepa sukan prajurit. Di sepanjang jalan mereka akan menjadi tontonan. Sedangkan setiap orang akan mengetahui bahwa mereka adalah tawanan yang sedang digiring oleh para prajurit. Tetapi mereka tidak dapat berbuat lain. Bahkan di Padepokan Bajra Seta mereka telah diperlakukan dengan baik, mereka telahmerasa berterima kasih. Sebelum mereka mulai menempuh perjalanan, maka mereka pun telah dibawa ke dapur untuk menerima makan pagi mereka, sementara para prajurit telah dipersilahkan makan di pendapa. Nasi yang masih hangat dengan sayur dan lauk yang masih hangat pula. Sementara para prajurit sedang makan, maka para cantriklah yang  mengawasi para tawanan yang sedangmakan di sebelah dapur. Sejenak kemudian maka semuanya pun telah siap di halaman depan Padepokan Bajra Seta. Para prajurit, para tawanan dan Mahisa Pukat yang  akan pergi ber sama para prajurit itu. Dalam pada itu, meskipun Mahisa Amping belum terlalu lama tidur, namun ia pun telah berada di halaman itu pula. Bahkan ia sempatmendekati Mahisa Pukat sambil berkata, “Di sini kakang Mahisa Murti seorang diri.” Mahisa Pukat mengusap kepala anak itu. Katanya, “Aku tidak akan selamanya berada di Singasari.” Sementara Mahisa Murti pun berkata, “Bukankah sudah aku katakan, bahwa kakakmu Mahisa Pukat sedang menyelesaikan satu tugas di Singasari? Jika segalanya sudah selesai,maka kakakmu Mahisa Pukat akan segera kembali.” Anak itu memejamkan matanya, seolah-olah ia sedang melihat sesuatu. Tidak dengan mata wadagnya, tetapi dengan mata hatinya. “Apa yang  sedang kau renungkan?” bertanya Mahisa Murti. Anak itu menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginyawajah Mahisa Pukat. Tetapi ia tidakmengatakan sesuatu. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti berpandangan sejenak. Anak itu seolah-olah tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh Mahisa Pukat selama ia berada di Singasari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak mengatakan sesuatu. Mereka tahu bahwa anak itu mempunyai kelebihan dengan penglihatan batinnya meskipun kadang-kadang anak itu tidak tanggap akan maknanya. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meyakininya, bahwa jika anak itu menjadi semakin dewasa, maka day a urainya tentu akan menjadi semakin tajam pula. Sejenak kemudian,maka Mahisa Pukat pun telah minta diri kepada Mahisa Murti dan para cantrikyang  juga berkumpul di sisi halaman Padepokan Bajra Seta. Demikian pula para pemimpin prajurit dan bahkan para tawanan. Tanpa diduga, Gemak Langkas telah melangkah mendekati Mahisa Pukat yang berdiri di sebelah Mahisa Murti, sehingga tiba -tiba Mahisa Pukatmenjadi tegang. Namun Gemak Langkas itu kemudian berdesis setelah ia berhenti selangkah di hadapan Mahisa Pukat, “Aku sudah minta maaf kepada Mahisa Murti yang  juga tersentuh akibat dendam yang  menyala di dada guru. Aku merasa masih berhutang jika aku belum minta maaf kepadamu. Bahwa yang terjadi ini memang ber sumber dari kesalahanku. Tetapi api yangmenyala sepeletik kecil itu telah disiram dengan minyak oleh guru.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Gemak Langkas berkata selanjutnya, “Aku mohon maaf sedalam-dalamnya serta aku ingin menyatakan peny esalanku pula. Aku akan patuh mengikuti segala perintah. Di Singasari aku sudah siap menerima segalamacam hukumanyang  paling pantasdiberikan kepadaku.” “Aku mempercayainya,” desis Mahisa Murti, “Gurunya telah memanfaatkan api yang  telah dinyalakannya,yang  hanya sepeletik kecil itu. Empu Damar tidak hanya membawa dendamnya kemari. Tetapi sebenarnyalah bahwa ia ingin merampok Padepokan Bajra Seta. Bahwa persoalan Gemak Langkas adalah semata-mata satu alasan yang tidak masuk akal. Bahkan persoalannya itu akan menelan korban yang cukup banyak.” Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun diluar sadarnya, anak muda itu telah memandang wajah Mahisa Amping yang berkerut. Tetapi kemudian ia berkata kepada Gemak Langkas, “Akupun percaya kepadamu. Aku memaafkan kesalahanmu. Tetapi aku tidak tahu bagaimana sikap para Senapati di Singasari.” “Apapun yang  akan ditimpakan atasku, aku tidak menghiraukannya lagi. Bahwa kau telah memaafkan kesalahanku kepadamu, hatiku telahmenjadi tenang.” “Hutangmu telah kau lunasi,” desisMahisa Pukat. “Terima kasih,” jawab Gemak Langkas, “dengan demikian, aku menjadi lebih tabah menghadapi hukuman apa pun yang akan diberikan kepadaku.” Mahisa Pukat hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia melihat wajah Gemak Langkas yang menjadi terang. Anak muda itu benar -benar merasa bahwa ia tidak mempunyai beban lagi. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyatakan untukmemaafkan kesalahan-kesalahannya. Dalam pada itu,maka baik para prajurit Singasarimaupun para tawanan telah siap untuk berangkat. Para prajurit menempuh perjalanan ke Singasari di atas punggung kuda masing-masing, sementara para tawanan harus berjalan kaki. Para pemimpin prajurit Singasari sepakat untuk membiarkan para tawanan berjalan tanpa terikat tangan apalagi kakinya. Para prajurit telah mengetahui letak Padepokan-padepokan mereka sehingga jika mereka melarikan diri,maka padepokanmerekalahyang akanmenjadi sa saran. Bahkan mungkin para prajurit terpaksa mengambil langkah-langkahyang  lebih kerasuntukmencegah. Demikianlah, sejenak kemudian maka iring-iringan dari Padepokan Bajra Seta itu pun mulai bergerak. Para tawanan yang memandang jalan yang membujur panjang dalam keremangan fajar menjadi berdebar-debar. Mereka harus berjalan menempuh perjalanan yang jauh ke Singasari dalam keadaan yang  pahit. Meskipun mereka tidak terikat, tetapi setiap orang akan mentertawakan mereka sebagai orang-orang yang digiring oleh para prajurit sebagaimana para penjahat. Sementara itu para prajurit pun merasa malas untuk duduk di atas punggung kuda, tetapi kudanya merangkak seperti siputmengikuti iring-iringan para tawanan. Tetapimereka tidak dapatmengelak, karena mereka sedang menjalankan tugas keprajuritan. Sepeninggal para prajurit dan para tawanan, Padepokan Bajra Seta memang terasa menjadi sepi. Apalagi perasaan Mahisa Amping yang kecil itu. Kepergian Mahisa Pukat membuatnya merasa seakan-akan kehilangan. Meskipun sebelumnya Mahisa Pukat sudah berada di Singasari, tetapi ketika Mahisa Pukat kembali hanya untuk sehari, terasa bahwa kepergiannya memang membuat sesuatu hilang dari Padepokan Bajra Seta. Apalagi anak itu pun tahu, bahwa sebenarnya Mahisa Murti pun merasa kehilangan pula. Namun agaknya Mahisa Murti berusaha untuk menyembuny ikan perasaan itu. Diluar sadarnya, maka Mahisa Amping kemudian seakanakan telah mengurung diri di dalam bilik Mahisa Semu dan Wantilan yang terluka. Anak itu menunggui mereka dan melayani keperluanmereka. Mahisa Murti agaknya dapatmelihat pula gejolak perasaan anak itu. Namun bagi Mahisa Murti perasaan itu dalam kadar yang berbeda terdapat pula pada setiap cantrik di Padepokan Bajra Seta. Karena itu, maka Mahisa Murti sendiri harus berusaha meny embuny ikan perasaannya itu. Mahisa Amping jangan sampai melihat lagi bagaimana ia berusaha melarikan diri dari perasaannya, karena hal itu akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak itu. Karena itu,maka Mahisa Murti ingin mengisi perasaannya dan juga perasaan para cantrik dengan langkah-langkah yang berarti. Dipanggilnya setiap pemimpin kelompok cantrik Padepokan Bajra Seta. Dengan jelas Mahisa Murti menunjukkan kelemahan para cantrik menghadapi serangan dari lawanyang  jumlahnya lebih besar. “Kita melihat bahwa para cantrik dari Padepokan Ngancas lebih mementingkan kemampuan mereka secara pribadi. Aku tidak mengatakan bahwa hal itu lebih baik dari cara yang kita tempuh. Namun alangkah baiknya, jika kemampuan kita bertempur dalam kerja sama yang mapan disertai kemampuan secara pribadi yang  lebih tinggi. Meskipun selama ini kita juga memperhatikan kemampuan para cantrik secara pribadi, tetapi aku y akin bahwa hal itumasih dapat ditingkatkan.” Dengan demikian, maka Mahisa Murti telah memerintahkan untuk mempertinggi gelombang latihan para cantrik Padepokan Bajra Seta. Mahisa Murti juga memerintahkan untuk menyusun kembali susunan waktu latihan bagi para cantrik sesuai dengan tataranmereka. “Kita juga harusmengetahui tataran setiap orang di dalam Padepokan ini. Tataran kemampuan tidak dapat diukur dengan waktu seberapa lama mereka berada di padepokan ini. Tetapi sejak pekan mendatang, kita akan menyusun tataran para cantrik menurut kemampuan mereka. Dengan demikian maka latihan-latihan berikutnya akan dapat ditata kembali sesuai dengan pengelompokan para cantrik itu.” berkata Mahisa Murti kemudian. Para pemimpin kelompok itu pun mengangguk-angguk. Mereka sadar, bahwa kerja itu adalah kerja yang  besar bagi Padepokan Bajra Seta. Mereka harusmenilik orang perorang agar mereka dapat menyusun pengelompokan yang paling cermat. Demikianlah,maka sejak saat yang ditentukan, Padepokan Bajra Seta menjadi sibuk. Setiap pemimpin kelompok harus melihat kembali para cantriknya untukmenempatkan mereka pada kelompok-kelompok yang  tepat. Seorang demi seorang mereka harusmenunjukkan kemampuanmereka sejauh dapat mereka lakukan. Dengan demikian,maka seluruh halaman padepokan telah dipergunakan. Bukan saja sanggar tertutup dan sanggar terbuka. Tetapi juga disudut-sudut halaman, kebun dan tempat -tempat terbuka lainnya. Bahkan beberapa kelompok harus melakukannya di luar, karena tidak ada tempat lagi dilingkungan dinding halaman padepokan. Tetapi, di sekitar Padepokan Bajra Seta memang terdapat ara-ara yang cukup luas. Selain tempat untuk menggembala ternak yang terdapat di padepokan itu, ara-ara itu sengaja dibuat untukmemberikan batas antara lingkungan padepokan dan lingkungan di sekitarnya. Ara-ara itu juga memberikan jarak pandang yang  cukup bagi isi padepokan yang  sedang mengawasi keadaan di sekitarnya. Terutama jika ada musuh yangmendatanginya. Namun, ternyata latihan-latihan itu telah menarik perhatian para penghuni padukuhan di sekitar padepokan itu. Bahkan beberapa orang telah datang untuk menanyakan, apakah bahaya masih saja mengancam padepokan itu sehingga seisi padepokan harusmenempa diri. Mahisa Murti yang menemui beberapa orang yang datang itu telah menjelaskan persoalannya. Dengan sungguh-sungguh Mahisa Murti berkata, “Sepengetahuanku, tidak ada ancaman lagi atas Padepokan ini. Kami hanya ingin menutup kelemahan-kelemahan yang kami dapati dalam pertempuran yang baru saja terjadi. Lebih dari itu, kami ingin mengisi perasaan kehilangan setelah kepergian Mahisa Pukat. Setiap kali para cantrik mempertanyakannya meskipun setiap kali aku sudah memberikan jawabnya. Tetapi rasa-rasanya jawabku selalu tidak memuaskan mereka. Latihan-latihan ini akan merampas segala pemusatan perhatian serta nalar budi mereka, sehingga mereka tidak akan selalu teringat kepada kepergian Mahisa Pukat yang  memang sudah cukup lama mengasuhmereka.” Orang-orang padukuhan itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Ya. Agaknya Mahisa Pukat telah terlalu lama pergi.” “Beberapa hari yang  lalu, ia datang kemari bersama para prajurit Singasari yang mengambil para tawanan itu. Tetapi juga hanya sehari sebagaimana para prajurit,” berkata Mahisa Murti kemudian. “Apakah Mahisa Pukat sekarang menjadi seorang prajurit?” bertanya salah seorang darimereka. “Tidak,” jawab Mahisa Murti, “pada saatnya ia akan kembali ke padepokan ini.” Orang-orang itu mengangguk-angguk. Namun seorang di antara mereka berkata, “Jika demikian, apakah kami, laki-laki dari padukuhan sebelah menyebelah diperbolehkan ikut berlatih?” “Bukankah kalian telah melakukan latihan-latihan keprajuritan meskipun tidak sedalam para prajurit?” bertanya Mahisa Murti dengan ragu. “Ya. Tetapi apa salahnya kamimemperdalam kemampuan kami? Dalam keadaan tertentu kami berjanji untukmembantu padepokan ini sejauh dapat kami lakukan,” berkata seorang di antara mereka. “Terima kasih. Telah banyak sekali bantuan yang  kalian berikan kepada kami. Bukan saja tenaga, harta-benda, tetapi lebih dari itu. Kalian telah memberikan anak-anakmuda yang terbaik dari padukuhan-padukuhan di sekitar padepokan ini,” jawab Mahisa Murti. Lalu katanya, “Mereka telah mempertaruhkan nyawamereka.” “Bukankah hal itu kita lakukan timbal balik?” sahut salah seorang di antara mereka. Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Sudah barang tentu kami tidak merasa berkeberatan sama sekali untuk membantu kalian berlatih memperdalam kemampuan kalian. Tetapi kami minta waktu sepekan untuk mengatur dan mempersiapkan tenaga para cantrik agar kami dapat memenuhi keinginan kalian dengan sebaik-baiknya.” “Kapanpun kami mendapat kesempatan, kami mengucapkan terima kasih,” berkata salah seorang dari mereka yang  datangmenemui Mahisa Murti itu. Dengan demikian maka baik Mahisa Murti,maupun orangorang dari padukuhan telah mengatur persiapan untuk melakukan latihan-latihan. Mereka telah membentuk kelompok-kelompok sebagaimana para cantrik di padepokan. Ber sama Mahisa Murtimereka telah mengatur segala macam ketentuan, pembagian waktu dan tempat bagi mereka yang akan berlatih di padepokan Bajra Seta. Dengan demikian maka Mahisa Murti harus meny isihkan tenaga beberapa orang cantrik terbaik untuk memberikan latihan-latihan kepada anak-anakmuda dan orang-orang yang berniat untuk meningkatkan kemampuan mereka. Ternyata bahwa latihan-latihan itu mendapat perhatian yang sangat besar.

 (c) topmdi.net 2011. All Rights Reserved.