[diunduh dari kangzusi.com]
Jilid 1
Tetapi sejenak kemudian,
para pengawal itu telah diherankan lagi oleh kehadiran Mahisa Murti. Ketika ia
menjenguk keruang dalam dan melihat pertempuran itu, maka katanya “Tiga orang
lawanku telah binasa. He, siap yang akan melawan aku lagi?”
Tidak seorangpun yang
datang mendekatinya. Karena itu maka katanya “Jika demikian, akulah yang akan
datang kepada kalian”
Dengan langkah pendek
Mahisa Murti maju mendekati mereka yang sedang bertempur. Tetapi ia justru tidak
mendekati Mahisa Pukat yanag berloncatan sambil memutar tombak pendeknya. Tetapi
ia telah mendekati seorang pengawal yang sedang mempertahankan diri, dan bahkan
sekali-kali mendesak lawannya.
Hampir tidak masuk akal,
bahwa Mahisa Murti telah bergabung dengan salah seorang pengawal yang justru
telah berhasil menguasai lawannya. Dengan gerak yang sederhana dalam putaran
pedang pengawal yang sedang menyerang itu, ternyata Mahisa Murti telah berhasil
melukai lawan pengawal itu.
Segores luka telah
mengoyak lambungnya. Sehingga darahpun telah memancar dari luka itu.
Ketika pengawal yang
bertempur bersamanya itu masih akan menusuk dadanya, Mahisa Murti berkata
“Sudahlah. Masih banyak lawan yang harus kau tangani. Bantulah saudaraku itu”
Pengawal itu menjadi
heran. Mahisa Murti sendiri tidak membantunya. Tetapi ia menyuruhnya melibatkan
diri. Tetapi pengawal itu tidak berpikir panjang, lapun segera menerjunkan diri
ke dalam pertempuran yang garang itu,
bersama Mahisa Pukat
melawan beberapa orang yang bertempur dengan keras dan kasar.
Yang dilakukan oleh
Mahisa Murti adalah seperti yang sudah dilakukannya. Ia mendekati pengawal
lainnya yang masih bertempur melawan seorang diantara mereka yang ingin merampas
benda-benda berharga itu. Seperti yang sudah terjadi, maka dengan mudah Mahisa
Murti telah melumpuhkan seorang diantara mereka yang berniat jahat itu.
Seperti yang terdahulu,
maka pengawal yang telah terbebas dari lawannya itupun telah bergabung pula
dengan Mahisa Pukat.
Sehingga dengan demikian,
maka keadaanpun menjadi semakin gawat bagi orang-orang yang memasuki banjar
dengan niat buruk itu.
Namun Mahisa Murti masih
melakukan sekali lagi. lapun telah membebaskan pengawal yang seorang lagi dari
lawannya dan minta kepada pengawal itu untuk bertempur bersama Mahisa Pukat.
Dengan demikian, maka
orang-orang yang memasuki banjar itu lelah kehilangan harapan untuk dapat
memenangkan pertempuran.
Seorang demi seorang
mereka telah tersentuh senjata. Bahkan orang yang bertubuh tinggi besar itupun
lelah menitikkan darah dari pundaknya yang lerluka.
Mahisa Murti berdiri
bertolak pinggang sambil menyaksikan pertempuran yang sudah mulai menjadi berat
sebelah itu. Apalagi ketika ia melihat seorang lawan telah terlempar dan jatuh
berguling dilantai dengan dada yang berlumuran darah.
“Anak-anak yang meronda
itu masih juga belum bangun” berkata Mahisa Murti seolah-olah tidak menghiraukan
pertempuran itu sama sekali.
“Sumber sirep itu
sebentar lagi akan lenyap sahut Mahisa Pukat sambil bertempur”Cobalah, bangunkan
mereka”
Mahisa Murti mengangguk
angguk Ketika ia yakin bahwa sebentar lagi, Mahisa Pukat dan ketiga orang
pengawal itu akan dapat menguasai lawan mereka sepenuhnya, maka iapun tidak
mencampurinya lagi. Tetapi iapun mendekati peronda yang masih tertidur nyenyak.
Sambil mengguncangkan
tubuh seorang diantara mereka yang tertidur nyenyak itu, Mahisa Murti berusaha
untuk membangunkan mereka. Sementara itu, sumber dari sirep yang tajam itupun
telah kehilangan kekuatannya. Apalagi orang itu telah terluka pula seperti
beberapa orang kawannya.
Karena itu, maka peronda
itupun perlahan-lahan mulai terbangun. Namun iapun segera terlonjak berdiri
ketika ia mendengar hiruk pikuk sisa pertempuran yang sudah hampir selesai itu.
Tetapi yang dilihatnya di dalam banjar itu benar-benar telah mengguncangkan
jantungnya.
“Apa yang terjadi?“
bertanya peronda itu.
“Sebagaimana kau lihat“
jawab Mahisa Murti “pengawai benda-benda berharga dari Pakuwon itu sedang
bertempur mempertahankan benda-benda keramat itu”
Peronda itu meloncat
kearah pintu. Tetapi ia terkejut bahwa tombaknya yang di sandarkannya di pintu
itu telah tidak ada.
“Apa yang kau cari?“
bertanya Mahisa Murti.
“Tombakku” jawab peronda
itu ”Tombakmu sedang dipinjam. Tetapi nanti jika orang-orang yang akan merampas
barang-barang berharga itu telah menyerah, tombakmu akan dikembalikan” jawab
Mahisa Murti. Lalu “sekarang bangunkan kawan-kawanmu. Laporkan hal ini kepada Ki
Buyut”
“Kita tidak mempunyai
Buyut sekarang ini. Baru akan diselenggarakan wisuda” jawab peronda itu.
“Tetapi bukankah ia sudah
memangku kewajiban mengatasi persoalan ini? Jika bukan calon. Buyut yang akan
menerima wisuda, itu, laporkan kepada siapa yang berhak menanganinya” berkata
Mahisa Murti.
Peronda itu segara
mendekati kawannya yang terbaring dimuka pintu. Sejenak kemudian kawannya itupun
telah terbangun pula.
Sejenak ia menjadi
bingung. Dengan ragu-ragu ia bertanya kepada Mahlsa Murti ”Siapa kau?”
“Ya“ sambung kawannya
yang terbangun lebih dahulu ”aku bertanya tentang kau”
“Nanti sajalah. Sekarang
bangunkan kawan-kawan-mu yang lain” jawab Mahisa Murti.
Kedua peronda itupun
kemudian membangunkan seorang kawannya yang tertidur diruang dalam. Kemudian
mereka berlari ke gardu di halaman banjar.
Ketika para peronda itu
sudah terbangun, maka di halaman itupun segera terdengar suara riuh, sementara
beberapa orang diantara mereka berlari-lari ke rumah calon buyut yang akan
diwisuda serta beberapa orang bebahu Kabuyutan lainnya.
“Apa yang telah terjadi?“
bertanya orang yang akan diwisuda itu.
“Aku kurang tahu. Tetapi
telah terjadi pertempuran di dalam banjar” jawab para peronda itu.
Orang yang akan di wisuda
menjadi Buyut menggantikan ayannya itu menjadi bingung. Ia tahu bahwa didalam
banjar itu disimpan benda-benda yang akan dipergunakan dalam upacara wisuda
beberapa hari mendatang.
Karena itu, maka iapun
segera meraih tombaknya dari ploncon diruang dalam. Berlari-lari kecil orang
yang akan diwisuda itupun menuju kebanjar dengan jantung yang berdebaran.
Sementara beberapa peronda akan menghubungi Kabuyutan yang lain.
Ketika orang-orang itu
sampai ke banjar, ternyata pertempuran telah selesai. Tiga orang pengawal dan
para peronda sedang sibuk mengumpulkan orang orang yang terluka, sementara
mereka yang menyerah terpaksa diikat kaki dan tangannya sementara menunggu
penyelesaian.
Sedangkan seorang
diantara para pengawal yang terluka itupun telah berusaha mengobati lukanya
dibantu oleh kawan-kawannya.
“Ada dua orang yang
terbunuh diantara mereka” berkata salah seorang pengawal kepada kawannya yang
terluka.
Dalam pada itu, para
perondapun segera mempersilahkan orang yang akan diwisuda itu masuk kedalam
banjar. Ketika ia melihat para pengawal, maka dengan serta-merta ia bertanya
“Apa yang terjadi?”
Para pengawal itupun
kemudian mempersilahkannya duduk.
Seorang diantara para
pengawal itupun kemudian menceriterakan kembali apa yang terjadi di dalam banjar
ini kepada calon Buyut yang akan di angkat menggantikan ayannya itu dan beberapa
orang bebahu lainnya, yang datang berurutan saling susul-menyusul.
“Ada dua orang anak muda
yang telah menolong kami” berkata salah seorang pengawal itu.
“Apa yang mereka
lakukan?” bertanya calon Buyut itu.
“Mereka membangunkan
kami. Karena itulah maka kami sempat mempertahankan benda-benda itu. Tetapi
ternyata bukan itu saja. Mereka menentukan kemenangan kami ketika mereka membatu
kami yang mengalami kesulitan melawan jumlah lawan yang terlalu banyak. Ternyata
kemampuan kedua anak muda itu jauh melampaui kemampuan kami” jawab pengawal itu.
“Dimana kedua orang anak
muda itu?“ bertanya Ki Buyut.
“Ke pakiwan. Mereka
sedang membersihkan diri” jawab pengawal itu.
“Aku akan memanggilnya”
berkata pengawal yang lain lagi.
Namun pada saat itu,
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meninggalkan banjar itu. Mereka menyelinap
dan meloncati dinding halaman, menyusup dalam kegelapan keluar dari padukuhan
yang hampir saja terkena bencana itu.
Karena itulah, maka
pengawal itu tidak dapat menemukannya di pakiwan dan dimanapun juga di banjar
itu.
Dengan demikian
orang-orang didalam banjar itu menjadi bingung. Bukan saja para pengawal, tetapi
para perondapun telah ikut mencari dua orang anak muda yang telah membantu
mereka bertempur mengalahkan orang-orang yang ingin merampas benda-benda keramat
yang akan dipergunakan dalam wisuda beberapa hari mendatang.
“Mereka pergi ke pakiwan”
berkata seorang pengawal.
“Tidak ada” pengawal yang
lain yang mencarinya ke pakiwan menjawab ”aku sudah mencari bukan saja di
pakiwan. tetapi di halaman samping sudah aku jelajahi sampai kesudut-sudutnya”
“Aneh” berkata seorang
peronda “tidak ada orang lain dihalaman banjar ini. Bahkan sampai keharaman
belakang”
Akhirnya semua orang
telah mencarinya. Ketika para pengawal itu menjadi gelisah, merekapun telah
menengok peti-peti berharga yang mereka tinggalkan. Sekilas terpercik juga
kecurigaan mereka, bahwa kedua orang anak muda itu telah melarikan diri sarnbil
membawa benda-benda keramat yang akan dipergunakan dalam upacara wisuda itu.
Tetapi semuanya masih
berada ditempatnya.
Namun seorang pengawal
yang mulai curiga terhadap kenyataan yang dialaminya itu melihat tombak dan
parang yang tergolek didepan pintu bilik penyimpanan itu. Karena itu, berbisik
ia berkata “Apakah mungkin kedua anak muda itu bukan ujud yang sebenarnya?”
“Maksudmu?“ bertanya yang lain.
“Benda-benda itu adalah
benda-benda yang bukan saja berharga, tetapi juga keramat” desisnya pula ”Ya.
Kenapa?” desak kawannya.
“Apakah, apakah kedua
anak-anak muda itu sebenarnya bukan orang yang sebenarnya?“ pengawal itu
menjawab.
“O“ kawannya
termangu-mangu “maksudmu yang nampak sebagai dua orang anak muda itu sebenarnya
adalah tuah dari benda-benda itu?“ bertanya kawannya.
“Ya. Ketika mereka
kembali ke asal mereka, senjata-senjata yang dipinjamnya dari para peronda itu
ditinggalkannya didepan bilik ini” jawab pengawal itu.
Keterangan itu memang
menarik perhatian. Ketika mereka duduk kembali dan berbincang, maka hal itu
menjadi pokok pembicaraan para pengawal, para peronda dan para bebahu kabuyutan
itu.
“Memang aneh berkata
seorang pengawal hampir tidak masuk akal. Ketika kami tertidur oleh sirep yang
sangat tajam, maka kami telah mereka bangunkan. Mereka berbisik di telinga kami,
yang seolah-olah memberikan kekuatan kepada_kami untuk mengatasi sirep itu.
Ketika kami berhasil sadar sepenuhnya akan keadaan kami, maka orang-orang yang
akan merampas benda-benda pusaka itu mulai memecah pintu, sementara kedua orang
anak muda itu bersembunyi didalam bilik itu juga”
Yang mendengarkan
ceritera pengawal itu mengangguk-angguk.
Kemudian pengawal itu
meneruskan Tetapi ketika kami terdesak dan tidak berpengharapan lagi. maka
keduanyapun telah keluar dari bilik itu dan melihatkan diri sehingga akhirnya
sebagaimana kalian lihai, kami dapat keluar dengan selamat meskipun seorang
kawan kami terluka. Namun ternyata bahwa kami dapat mengalahkan lawan-lawan
kami. Ada yang terpaksa terbunuh, luka-luka parah, selainnya yang menyerah telah
kami ikat tangan kakinya”
Orang yang akan diwisuda
itu menjadi berdebar-debar.
Diluar sadarnya ia
memandangi pintu bilik banjar yang dipergunakan untuk menyimpan barang-barang
berharga itu. Hampir tidak masuk akal bahwa benda-benda itu dapat diselamatkan.
“Apakah aku boleh melihat
benda-benda itu?” bertanya calon buyut yang beberapa hari lagi akan di wisuda.
“Silahkan. Marilah, aku
akan membuka peti itu” sahut salah seorang dari para pengawal itu.
Orang yang akan
menggantikan kedudukan ayahnya itupun kemudian memasuki bilik penyimpanan itu.
Ketika peti kecil yang berada di peti yang besar itu dibuka satu demi satu, maka
orang itu melihat beberapa buah benda berharga. Diantaranya sebuah topeng yang
terbuat dari emas, sebilah keris dalam wrangkanya yang terbuat dari emas
bertreteskan berlian, dan beberapa macam benda yang lain.
“Semuanya masih utuh“
desis para pengawal.
Orang-orang yang berada
di banjar itupun akhirnya mengambil satu kesimpulan, bahwa benda-benda yang
sangat mahal harganya itu memang gawat ternyata pusaka-pusaka itu telah menolong
diri sendiri.
“Tentu diantara
pusaka-pusaka itu ada yang benar-benar memiliki tuah dan dapat menjadikan
dirinya sebagaimana kalian lihat sebagai dua orang anak muda” berkata calon
Buyut yang akan diwisuda itu.
Namun kesimpulan itu
telah membuat orang-orang yang berada didalam banjar itu menjadi semakin
menghormati benda-benda berharga yang disimpan didalam peti itu.
“Kami akan melaporkan
kepada Akuwu apa yang telah terjadi disini” berkata salah seorang pengawal
“mungkin
Akuwu sudah tidak akan
terkejut dan heran, karena Akuwu tentu sudah mengetahuinya.
“Tetapi kita wajib
melaporkannya” berkata pengawal itu.
Para pengawal itu
sepakat, bahwa dua orang diantara mereka dikeesokan harinya akan pergi menghadap
Akuwu, sementara seorang yang lain akan menunggui pusaka itu bersama kawannya
yang terluka dibantu oleh para peronda yang terdiri dari anak-anak muda dari
Kabuyutan itu bersama orang yang akan diwisuda itu sendiri serta para bebahu.
Tetapi menjelang senja para pengawal harus sudah kembali. Demikianlah, maka pada
mulam yang tersisa itu tidak seorangpun lagi yang dapat tidur barang sekejab.
Mereka masih tetap memperbincangkan kemungkinan yang aneh yang terjadi pada
benda-benda keramat itu, seolah olah diantara benda-benda keramat itu ada yang.
dapat mewujudkan dirinya seagai dua orang anak muda.
Ketika fajar menyingsing
dua diantara para pengawal itupun telah siap meninggalkan banjar itu untuk
menghadap Akuwu. Diserahkannya tanggung jawab atas benda-benda itu kepada
seorang diantara. para pengawal itu dibantu oleh orang yang akan diwisuda itu
sendiri bersama para bebahu dan anak-anak muda dari pedukuhan itu.
Sejenak kemudian maka
kedua orang pengawal itupun telah berpacu diatas punggung kuda mereka menuju ke
kata Pakuwon.
Ketika mereka menghadap
Akuwu dan menceriterakan apa yang telah terjadi, maka tidak seperti yang mereka
sangka, maka Akuwu itupun ternyata terkejut bukan buatan. Dengan wajah yang
tegang ia berkata “Kalian mungkin salah menilai benda-benda itu Benda benda itu
memang benda-benda upacara. Tetapi aku yang memiliki
dan menyimpannya sejak
bertahun tahun belum pernah menjumpai peristiwa seperti itu, atau mendengar atau
mengalaminya”
“Ampun tuanku” berkata
salah seorang pengawal itu “hamba benar-benar mengalaminya Dalam keadaan yang
paling sulit, seolah-olah tidakl ada lagi harapan bagi hamba berempat, bahwa
hamba akan dapat keluar hidup-hidup dari banjar itu, dan disaat hamba berempat
menjadi, hampir putus asa bahwa hamba tidak mampu mempertahankan pusaka-pusaka
keramat itu, maka kedua orang anak muda itu telah turun ke arena”
"Mungkin mereka
pengembara seperti yang mereka katakan” berkata Akuwu.
“Kedatangan merekapun
sangat ajaib menurut pertimbangan nalar hamba” jawab pengawal yang lain.
Akuwu mengangguk-angguk.
Ia sudah mendengar semua ceritera tentang kedua orang anak muda itu dari awal
sampai mereka kembali masuk ke dalam peti-peti kecil itu setelah mereka
meninggalkan senjata yang mereka pergunakan di depan pintu bilik penyimpanan
pusaka itu.
“Baiklah” berkata akuwu
itu “meskipun demikian aku tidak segera dapat mempercayai. Tetapi akupun telah
bersukur bahwa kalian telah mendapatkan sebuah pertolongan sehingga nyawa kalian
telah diselamatkan, dan pusaka-pusaka keramat itu tidak lenyap dibawa oleh
sekelompok perampok yang kuat, yang sekarang justru sebagian tersisa telah
menjadi tawanan”
“Tuanku” berkata pengawal
itu “meskipun ternyata pusaka-pusaka itu dapat menyelamatkan diri sendiri, namun
bagaimanapun juga hamba masih mengajukan sebuah permohonan”
“Apa?” bertanya Akuwu.
Karena masih ada beberapa
hari lagi pusaka-pusaka keramat itu berada di padukuhan yang kecil tetapi
ternyata mengundang bahaya itu. hamba mohon agar kawan hamba dapat ditambah
lagi”
Akuwu itu
mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan permohonan pengawal itu. Apalagi ia
kurang mempercayai apa yang telah terjadi menurut ceritera pengawal itu
seolah-olah dari dalam peti itu telah muncul dua orang anak muda yang aneh itu.
“Baiklah” jawab Akuwu
“aku akan menyertakan empat orang pengawal lagi bersamamu”
Demikianlah, maka ketika
dua orang pengawal itu kembali ke banjar, maka ia telah datang bersama empat
orang lainnya, sehingga jumlah para pengawal itu menjadi delapan orang,
sementara seorang diantara mereka terluka. Namun luka itu telah dapat dijaga dan
menjadi semakin baik.
Ketika para pengawal itu
kembali di banjar, mereka telah mendengar ceritera dari antara para peronda,
bahwa malam sebelumnya dua orang anak muda itu telah bermalam di banjar itu
pula.
“Aku melihat sendiri”
berkata peronda itu “meskipun demikian cenderung untuk sependapat, bahwa kedua
orang anak muda itu memang ajaib “
Para pengawal dan peronda
peronda yang lain nampaknya masih tetap pada pendirian mereka. Seandainya malam
sebelumnya kedua orang anak muda itu telah menampakkan dirinya, maka hal itupun
sekedar untuk memperkenalkan diri mereka kepada satu dua orang peronda.
Dalam pada itu, maka
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah berada di luar padukuhan itu meskipun
belum begitu jauh Mereka berdua menjadi ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan
mereka. Jika kelompok penjahat itu ternyata memiliki sejumlah orang lain yang
lebih kuat, dan mereka dengan terang-terangan menyerbu ke padukuhan itu pada
saat wisuda, apakah hal itu tidak akan sangat berbahaya” berkata Mahisa Murti.
“Ya” jawab Mahisa Pukat
“tetapi jika Akuwu hadir, maka itu akan berarti bahwa jumlah pengawal di
padukuhan itu akan berlipat”
“Jika mereka datang
sebelum Akuwu dengan pengawal-pengawalnya datang?“ desis Mahisa. Murti.
Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Katanya “Memang mungkin hal seperti itu terjadi. Bahkan
mungkin malam nanti dan esok pagi-pagi”
Mahisa Murti kemudian
berkata “Kita tidak dapat meninggalkan padukuhan itu. Meskipun kita tidak akan
menempatkan diri kita lagi untuk menghindarkan diri dari keterlibatan yang
semakin jauh”
“Aku sependapat” berkata
Mahisa Pukat “malam nanti kita akan mengawasi padukuhan itu lagi”
Namun dalam pada itu,
ternyata berita mengenai dua orang anak muda yang ajaib itu telah tersebar
semakin luas.
Bukan saja orang-orang di
padukuhan yang di hari berikutnya akan mewisuda seorang Buyut baru menggantikan
ayahnya yang sudah meninggal, tetapi padukuhan-padukuhan lainpun telah
mendengarnya pula.
Ketika Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat berada di dalam sebuah kedai kecil di sebuah padukahan yang
berjarak tiga bulak pendek dan pantang dari padukuhan yang hampir
saja mengalami bencana
itu, maka mereka telah mendengar dongeng tentang dua orang anak muda yang ajaib
yang merupakan perwujudan dan pusaku keramat yang tersimpan di dalam banjar
sebagai salah satu benda, upacara dalam wisuda di hari berikutnya.
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat mendengarkan pembicaraan itu dengan jantung yang berdebaran. Penjual di
kedai itu ternyata telah mempercayainya dengan sepenuh hati. Demikian pula dua
orang pembeli lainnya yang kebetulan bersamaan waktunya dengan hadirnya Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat.
Demikian kedua anak muda
itu meninggalkan kedai itu, maka merekapun tidak dapat menahan gejolak perasaan
mereka. Namun mereka berusaha untuk menahan ledakan tertawa yang hampir tidak
tertahankan.
“Pikiran gila” geram
Mahisa Pukat sambil menahan tertawanya.
“Memang salah kita”
berkata Mahisa Murti “kita pergi dengan diam-diam dan meletakkan senjata itu di
depan pintu bilik penyimpanan. Menurut khayal mereka, seolah-olah kita telah
kembali memasuki peti-peti itu dan meninggalkan senjata yang kita pinjam itu”
“Apakah kita akan
menjelaskan?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Kita akan menunggu
perkembangan keadaan” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Sementara itu merekapun berjalan menuju ke sebuah padang
perdu yang sepi. Sambil menunggu gelap merekapun berbaring di atas rerumputan
kering sambil membicarakan kabar yang membuat keduanya geli.
Sementara itu, di
padukuhan yang akan melakukan wisuda bagi calon buyut yang akan menggantikan
ayahnya itu sudah menjadi ramai. Namun bagaimanapun juga, nampak bahwa padukuhan
itu dibayangi oleh kegelisahan. Orang-orang yang mempersiapkan upacara wisuda di
banjar, sementara yang lain mempersiapkan hidangan dan upacara yang lain, masih
tetap membicarakan niat jahat terhadap orang untuk merampas pusaka yang keramat
itu.
“Tetapi pusaka itu
sendiri telah menyelamatkan dirinya” berkata beberapa orang di antara mereka.
Tetapi karena itu, dalam
kesibukan itu ihasih tetap tercermin kegelisahan. Namun bagaimanapun juga mereka
harus membuat persiapan-persiapan. Di hari berikutnya, menjelang malam, Akuwu
akan datang untuk mewisuda seorang Buyut baru dari padukuhan itu.
Kegelisahan itu telah
memaksa orang-orang sepadukuhan menjadi bersiaga. Setiap laki-laki telah membawa
senjata. Sementara anak-anak muda berjaga-jaga di gardu-gardu.
“Sebenarnya kita tidak
perlu cemas” berkata seorang anak muda.
“Jika perampok-perampok
itu datang dalam jumlah yang jauh lebih besar?“ sahut kawannya,
“Pusaka-pusaka itu
benar-benar bertuah” jawab anak muda yang pertama.
“Jika perampok-perampok
itu mempunyai penawarnya, sehingga pusaka-pusaka itu tidak lagi dapat membuat
dirinya sebagaj dua orang anak muda?“ sahut kawannya.
“Tetapi di sini sekarang
sudah ada delapan orang pengawal. Sementara kita sendiri dapat mengerahkan
anak-anak muda yang jumlahnya tidak terhitung lagi. Bahkan
padukuhan-padukuhan
tetangga sudah bersedia membantu jika kita memberikan isyarat” berkata orang
pertama.
“Ya. Kita akan dapat
bertempur dalam jumlah yang tidak terbatas. Tetapi apakah jumlah itu akan dapat
menjamin kemenangan mutlak? Seandainya kita dapat mengusir para perampok itu,
maka berapa puluh orang diantara kita yang akan menjadi korban dari peristiwa
itu” sahut kawannya.
Namun agaknya kawannya
yang lain sependapat dengan orang yang pertama. Katanya “Semua akibat yang
paling burukpun harus kita pertanggung-jawabkan. Kita tidak dapat mengingkari
lagi tanggung jawab itu“
Anak-anak muda itupun
terdiam. Mereka memang tidak akan dapat berbuat lain. Di hari berikutnya,
menjelang malam Akuwu akan datang. Tengah malam wisuda itu akan berlangsung.
Namun di padukuhan itu telah ada dela pan orang pengawal yang akan melindungi
pusaka keramat yang akan menjadi bagian dari upacara itu. Sementara kehadiran
Akuwupun tentu akan membawa sejumlah pengawal pilihan. Apalagi Akuwu sudah
mengetahui, bahwa ada pihak yang menginginkan merampas benda-benda yang sangat
berharga itu.
Demikianlah, malam itu
seluruh padukuhan itu seolah-olah tidak tertidur barang sekejap. Setiap
laki-laki ikut berjaga-jaga di sekitar rumah masing-masing. Anak-anak muda
berada di gardu-gardu, sementara perempuan-perempuan sibuk menyiapkan hidangan
dan kelengkapan upacara di hari berikutnya, sementara yang lain menyiapkan
minuman dan makanan bagi para peronda yang jumlahnya tidak terhitung di setiap
gardu.
Malam itu, Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat pun mendekati padukuhan itu pula. Dari kejauhan merekapun
melihat obor di regol
padukuhan dan di gardu-gardu. Bahkan di setiap simpang tiga dan simpang ampat.
“Meskipun jumlahnya tidak
terhitung, tetapi jika sirep yang tajam itu mencengkam mereka, maka merekapun
tentu akan tertidur nyenyak” berkala Mahisa Murti.
Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Tetapi katanya “Nampaknya tidak malam ini. Orang-orang yang
akan merampok benda-benda berharga itu tentu masih harus menghitung-hitung lagi.
Apalagi agaknya orang-orangnya yang terbaik telah tertangkap dan terbunuh
sehingga mereka harus menilai lagi keadaan yang akan mereka hadapi.
Mahisa Murti
mengangguh-angguk. Iapun sependapat bahwa malam itu tidak akan terjadi sesuatu.
Meskipun demikian kedua
orang anak muda itu tidak meninggalkan tempatnya. Mereka masih tetap mengawasi
keadaan pedukuhan yang sedang sibuk mempersiapkan upacara wisuda di hari
berikutnya.
“Malam ini semua tenaga
telah dikerahkan” berkata Mahisa Murti “sehingga esok mereka semua akan
kelelahan. Jika menjelang pagi mereka lengah, adalah saat sang paling baik bagi
orang-orang yang berniat jahat datang ke padukuhan ini. Apalagi dilambari dengan
ilmu sirep“
Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Katanya “Ya. Kau benar. Tetapi mudah-mudahan hal itu_tidak
terjadi”
Dengan sabar kedua anak
muda itu menunggu. Namun mereka sempat membagi waktu yang tesisa. Sebelum pagi,
maka Mahisa Pukat mendapat Kesempatan pertama. Baru kemudian Mahisa Murti
memanfaatkan waktu menjelang fajar untuk tidur sambil bersandar sebatang pohon.
Dalam pada itu. ternyata
bahwa orang-orang padukuhan yang semalam suntuk berjaga-jaga itu sebagaimana
diperhitungkan oleh
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, telah kehabisan tenaga. Agaknya hal itupun telah
diperhitungkan pula oleh sekelompok orang yang berniat merampas benda-benda
keramat itu.
Seorang yang bertubuh
tinggi, dengan perut yang besar dan bermata setajam mata burung hantu mengamati
keadaan padukuhan itu dengan saksama.
“Orang-orang bodoh itu
terperangkap oleh kesombongan mereka sendiri” berkata orang berperut besar dan
bertubuh tinggi itu.
Lima belas orang kita
telah terbunuh dan tertangkap berkata salah seorang pengikutnya.
“Agaknya ilmu sirep itu
dapat diatasi oleh para pengawal. Sementara menurut beberapa orang, pasukan itu
dapat menjelma menjadi dua orang anak muda yang telah mengalasi kesulitan para
pengawal itu” berkata orang bertubuh tinggi dan berperut besar itu.
Para pengikutnya
mengangguk-angguk. Merekapun berpendapat bahwa kesulitan yang dialami oleh
kawan-kawannya yang jumlahnya cukup banyak itu hampir melumpuhkan seluruh
kekuatan gerombolan yang semula cukup kuat dan ditakuti.
“Setelah kehilangan lima
belas orang, maka kekuatan kita tinggal separonya” berkata orang bertubuh besar
itu “aku tidak yakin bahwa jika kita mengulangi usaha ini, kita akan berhasil.
Apalagi jumlah pengawal yang ditempatkan di padukuhan ini sudah bertambah dengan
ampat orang. Sehingga mereka menjadi delapan orang”
Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Namun seorang diantara mereka berkata “Tetapi apakah
kesempatan semacam ini dapat terulang”
Orang bertubuh tinggi
berperut besar itu mengangguk-angguk. Katanya “Aku sependapat, bahwa kesempatan
serupa ini akan sulit dicari. Tetapi bagaimana dengan orang kami yang tersisa
tidak lebih daru dua puluh orang. Justru bukan orang-orang terbaik seperti yang
sudah tertangkap itu. Mungkin aku sendiri dapat berbuat cukup banyak. Tetapi
kalian harus mengakui, bahwa kawan-kawan kalian yang terbaik sudah tidak ada
diantara kita.”
“Bagaimana jika kita
berhubungan dengan seseorang” berkata salah seorang pengikutnya
“Tidak ada gunanya” jawab
orang bertubuh tinggi dengan perut besar itu kita tentu akan berebut untuk
menguasai seluruh benda-benda keramat itu. Kita akan hancur sendiri sementara
kekuatan kita sudah larut“
“Jadi bagaimana menurut
pertimbangan Ki Lurah” bertanya seorang pengikutnya.
Orang yang disebut Ki
Lurah itu terdiam. Ia lidak ingin melepaskan benda-benda berharga itu, tetapi ia
tidak cukup kekuatan untuk merampasnya. Sementara mereka meragukan, apakah ilmu
sirep akan dapat dipergunakan”
“Kita dapat mencoba” tiba
tiba saja seorang yang lain berbicara “kita lontarkan ilmu sirap. Jika ilmu itu
tidak berarti bagi para pengawal, kita lidak akan berbuat apa-apa. Tetapi jika
pengawal itu tertidur karenanya, maka kita akan mencuri benda-benda keramat itu”
Orang yang bertubuh
tinggi berperut besar itupun menjawab “Sebentar lagi matahari terbit. Apakah
kita akan dapat membawa peti itu meninggalkan padukuhan ini. Seandainya kita
berhasil mengetrapKan sirep, karena Kebetulan orang-orang padukuhan ini
memang-telah kehabisan tenaga setelah semalam suntuk mereka berjaga-jaga,
sedangkan tanpa ilmu sireppun ada diantara mereka
yang sudah tidak dapat
bertahan dan tertidur di gardu-gardu, dan kita dapat mengambil peti-peti itu,
bukankah akan dapat memancing kecurigaan orang-orang yang akan berpapasan dengan
kita di sepanjang jalan?”
“Kita akan mengambil
sebuah pedati. Mereka tidak akan terbangun dengan segera. Pedati kita tentu
sudah akan meninggalkan padukuhan ini sampai ketempat yang jauh, sehingga mereka
tidak akan dapat melacak perjalanan kita” berkata seorang pengikutnya.
“Bagaimana dengan para
pengawal?“ bertanya orang bertubuh tinggi dan berperut besar?”
“Kita akan membinasakan
mereka dalam tidur” jawab pengikutnya.
Orang yang bertubuh
tinggi berperut besar yang ternyata adalah pemimpin segerombolan perampok yang
besar itu, mengangguk-angguk. Katanya “Agaknya itu lebih baik. Kita akan
membunuh mereka agar mereka tidak akan dapat mengganggu kita untuk seterusnya”
“Ya. Jika mereka masih
kita biarkan hidup, dan jika mereka terbangun terlalu cepat, maka mereka akan
dapat menyusul kita”
“Tentu pedati itu tidak
akan dapat berjalan terlalu cepat” berkata seorang pengikutnya.
“Baiklah” berkata orang
itu “meskipun seorang yang mempunyai ilmu sirep sudah tidak ada lagi diantara
kita, maka kita masih mempunyai seorang yang lain. He, rambut putih. Lakukanlah.
Jangan mengecewakan. Aku yang mempunyai pengetahuan serba sedikit, akan
membantumu”
Demikianlah kedua orang
itupun mulai bersamadi ditempat persembunyian mereka, sementara orang-orang yang
lain mengawasi keadaan. Dalam ketegangan sekali-
kali mereka menengadahkan
wajah mereka. Sebentar lagi, langit akan menjadi merah dan mataharipun akan
segera pecah di ujung Timur.
Namun mereka masih
mempunyai waktu. Sejenak kemudian ilmu mereka telah menyelubungi seluruh
padukuhan.
Dalam pada itu,
orang-orang yang memang sudah kelelahan dan mengantuk itupun dapat bertahan sama
sekali. Bahkan para pengawal yang ternyata juga berjaga jaga semalam suntuk
bersama para peronda dan mereka yang mempersiapkan upacara bagi wisuda di hari
berikutnya menjelang tengah malam, tidak lagi dapat bertahan. Pe rasaan kantuk
mereka ditambah dengan kekuatan sirep yang tajam itu telah membuat mereka
benar-benar kehilangan kesadaran. Bukan saja mereka menjadi tertidur nyenyak,
tetapi mereka seolah-olah telah menjadi pingsan karenanya.
Tetapi ternyata bahwa
pengaruh sirep itu telah menyentuh Mahisa Pukat. Ketika perasaan kantuk yang
sangat menerpa matanya, sementara ia sedang mendapat giliran berjaga-jaga,
karena Mahisa Murtilah yang sedang beristirahat sambil bersandar sebatang pohon,
maka iapun mulai menjadi curiga. Segera iapun mengetrapkan ilmunya untuk
meningkatkan ketahanan tubuhnya bukan saja dari serangan wadag. tetapi juga
sentuhan ilmu yang tidak kasat mata seperti ilmu sirep.
Baru kemudian, iapun
membangunkan Mahisa Murti. Mula-mula ia menemui kesulitan, karena dalam tidurnya
Mahisa Murti telah dibebani ilmu sirep, sehingga tidurnyapun menjadi semakin
nyenyak. Namun akhirnya Mahisa Pukalpun berhasil membangunkannya juga.
Sesaat Mahisa Murti
memerlukan waktu untuk meningkatkan daya tahannya. Baru kemudian ia bertanya
“Apa yang telah terjadi?”
“Aku belum tahu. Tetapi
aku meraskana hadirnya ilmu sirep itu” jawab Mahisa Pukat
Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam katanya “Apakah satu kelemahan yang tidak dapat dimanfaatkan.
Dua malam berturut-turut padukuhan ini mengalami serangan dengan cara yang sama”
“Tetapi dalam keadaan
yang berbeda” jawab Mahisa Pukat.
“Ya, Malam ini para
pengawal dan para peronda mengira bahwa serangan terjadi pada malam pertama itu
tidak akan terjadi lagi. Apalagi malam telah hampir sampai keujungnya. Sebentar
lagi matahari akan terbit” sahut Mahisa Murti.
“Justru disinilah letak
kesalahan mereka” jawab Mahisa Pukat “hal yang tidak terduga, kini benar-benar
terjadi pada saat orang-orang padukuhan itu menjadi letih.
“Sekali lagi kita harus
bertindak” berkata Mahisa Murti.
Kedua orang anak muda
itupun kemudian bersiap-siap. Merekapun kemudian merayap dengan hati-hati,
mendekati banjar tempat penyimpanan pusaka. Namun merekapun terkejut ketika
dihalaman mereka terlihat beberapa orang bersenjata telah siap untuk memasuki
banjar.
“Bukan main” berkata
Mahisa Pukat “apakah para pengawal itu benar-benar telah tertidur lagi seperti
malam kemarin?”
'Merekapun tidak menduga,
bahwa serangan yang demikian akan terulang, justru menjelang pagi hari” sahut
Mahisa Murti.
“Kita tidak mendapat
kesempatan untuk membangunkan mereka malam ini” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Agaknya para penjahat itu telah berada disekeliling banjar.
Bukan saja di halaman depan.
“Apakah yang akan kita
lakukan” bertanya Mahisa Murti kemudian.
“Kita mendekat. Masih ada
kesempatan meskipun sebentar lagi hari akan menjadi terang desis Mahisa Pukat.
Memang tidak ada pilihan
lain. Dengan sungguh-sungguh Mahisa Murti berkata “Mungkin kali ini kita akan
benar-benar bertempur. Kita tidak dapat sekedar bermain-main seperti malam
kemarin. Agaknya kita berdua harus melawan sekian banyak orang tanpa bantuan
orang lain”
Mahisa Pukat menarik
nafas dalam-dalam. Katanya kita memerlukan sentata lagi”
“Kita ambil senjata para
peronda di gardu yang sudah tertidur nyenyak itu” jawab Mahisa Murti.
Dalam pada itu, kedua
orang itu masih mendengar orang yang bertubuh tinggi dan berperut besar
berteriak “Bunuh semua pengawal”
“Jangan ada yang tersisa,
aku tidak yakin bahwa, pusaka itu benar-benar dapai menjadi dua orang anak muda”
“Kita tidak mempunyai
banyak waktu” berkata Mahisa Pukat.
Keduanya kemudian dengan
sangat berhati-hati meloncati dinding halaman dan merayap mendekati gardu.
Ternyata keremangan sisa
malam masih sempat menyelimuti mereka, sehingga orang-orang itu tidak melihat
saat kedua orang anak muda itu memungut senjata dari gardu.
Yang dapat mereka ambil
dari gardu adalah dua batang tombak pendek. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
masing-masing telah mengamati tombak pendek di tangan mereka. Meskipun tombak
itu bukan tombak yang sangat baik, tetapi ternyata tombak-tombak itu akan dapat
dipergunakan untuk melawan senjata para perampok yang jumlah sekitar dua puluh
orang itu.
Dengan cemas Mahisa Murti
dan Mahisa Pukatpun kemudian melihat para perampok yang naik ke pendepa. Mereka
nampaknya sangat yakin, bahwa tidak seorangpun yang dapat lolos dari ilmu sirep
mereka.
Dalam pada itu,
disana-sini para peronda dan orang-orang yang sibuk mempersiapkan upacara wisuda
yang akan diselenggarakan tengah malam berikutnya, tertidur silang melintang.
Beberapa tangkai janur
masih berserakan di pendapa. Sementara di dapur asappun masih mengepul. Tetapi
perempuan-perempuan yang masak, telah tertidur pula dengan nyenyaknya.
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat tidak mempunyai kesempatan lagi untuk mencapai pintu butulan, karena untuk
menuju ketempat itu. ia harus melewati beberapa orang pengikut orang bertubuh
tinggi dan berperut besar itu. Sehingga karena itu, maka iapun telah mengambil
satu sikap yang lain.
Ketika sekali lagi orang
bertubuh tinggi dengan perut yang besar itu berteriak memerintahkan orang
orangnya
segera masuk, maka tiba
tiba saja Mahisa Murti telah muncul dihalaman diikuti oleh Mahisa Pukat.
Yang terdengar kemudian
adalah suara tertawa Mahisa Murti diselingi oleh kata-katanya “Apa yang akan
kalian lakukan Ki Sanak?”
Semua orang terkejut
mendengar suara tertawa itu. Dengan serta merta mereka berpaling dan memandang
ke halaman. Dengan jantung yang berdebar-debar mereka melihat dalam keremangan
sisa malam dua orang anak muda yang berdiri tegak dengan tombak pendek di
tangan.
“Siapa kau?“ bertanya
pemimpin perampok itu.
“Ki Sanak” berkata Mahisa
Murti “beri kami jalan. Kami akan kembali kedalam sarang kami”
“Siapa kau he?” desak
seorang perampok yang menjadi berdebar-debar.
“Aku adalah Kiai Sodor.
Aku akan kembali kedalam selongsongku yang terletak di dalam peti” jawab Mahisa
Murti.
“Aku Kiai Gampar“ desis
Mahisa Pukat “beri kami jalan. Kecuali jika kalian bermaksud jahat. Kami berdua
mendapat tugas untuk mengamati jalannya upacara wisuda dan ikut pula didalamnya.
Itulah sebabnya kami berada disini untuk mengawal saudara tua kami. Topeng Emas
berlian dan bergigi intan”
“Omong kosong” pemimpin
perampok itu berteriak.
“Jangan ganggu kami. Jika
saudara tua kami itu terbangun dan keluar dari petinya, maka akan terjadi
gara-gara. Gunung akan meledak dan berguguran. Lautan dan sungai-sungai akan
meluap. Hujan prahara dan angin topan akan menghancurkan bumi ini”
“Aku tidak peduli” teriak
pemimpin perampok itu ”jangan sangka kami anak-anak kemarin sore yang percaya
kepada igauanmu itu. Lebih baik kalian tunduk dibawah perintah kami, agar kalian
berdua akan dapat kami ampuni”
Mahisa Pukatlah yang
tertawa Sambil melangkah maju ia berkata ”Sudahlah. Jangan membual seperti itu.
Beri kami jalan, atau kami akan memusnakan kalian”
Pemimpin perampok itu
menjadi semakin marah. Dengan garang ia berkata ”Baik. Aku akan membunuh kalian
berdua. Jika benar kalian adalah ujud dari pusaka-pusaka yang kau sebut itu.
maka kalian akan dapat menyelematkan diri kalian”
“Baik” jawab Mahisa Pukat
”jika itu yang kau kehendaki maka kami akan menembus kemampuan kalian semua
sebelum kami akan memasuki selongsong kami masing-masing”
Pemimpin perampok itu
menggeram. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah bersiap-siap
menghadapi segala kemungkinan.
Sebenarnyalah,
bagaimanapun juga, kedua anak muda itu harus menilai lawannya dengan saksama.
Jika malam sebelumnya mereka bertempur bersama ampat orang pengawal dan
lawannyapun tidak sebanyak malam itu, maka saat itu mereka berdua harus
bertempur berdua saja.
Dalam pada itu, maka
pemimpin perampok itupun berkata kepada orang-orangnya “Selesaikan dua orang
anak gila ini. Baru kita menyelesaikan yang lain agar anak-anak gila ini tidak
mengganggu lagi”
Tetapi Mahisa Murti
menyahut ”Marilah, aku sudah siap. Apakah kau kira bahwa ilmu kalian sudah
terlalu
tinggi? Aku dapat menilik
dari ilmu sirep kalian yang tidak berarti apa-apa ini. Dengan demikian, maka
tingkat kemampuan kalianpun tidak akan jauh berbeda dengan tingkat ilmu sirep
kalian ini”
Tetapi pemimpin perampok
itu tidak menjawab. Iapun langsung mendekati Mahisa Murti, sementara para
pengikutnyapun telah memencar. Seorang anak muda yang lain, yang telah mengambil
jarak, telah dikepungnya pula.
Namun nampaknya Mahisa
Pukat memang mempunyai sikap yang agak berbeda dari Mahisa Murti. Demikian
lawan-lawannya mulai mengepungnya, maka iapun telah menyerang mereka dengan
langkah menghentak yang mengejutkan. Hampir tidak dapat dilihat oleh lawannya,
karena mereka memang tidak akan menduga, bahwa Mahisa Pukat akan berbuat
demikian.
Namun dalam hentaknya
yang mengejutkan itu, ujung tombaknya telah tergores pada dada seorang lawan.
Demikian orang itu mengaduh, sambil meloncat surut, maka putaran tombaknya telah
menyambar kepala seorang lawannya yang lain pada pangkalnya.
Sikap Mahisa Pukat
benar-benar telah mengejutkan lawan. Sehingga justru karena itu, maka merekapun
segera bergeser mundur.
Tetapi Mahisa Pukat tidak
memberi mereka kesempatan untuk menilai keadaan sebaik-baiknya, karena Mahisa
Pukatpun telah memburu dengan serangan-serangannya yang cepat pada satu sisi,
sehingga dengan demikian, maka ternyata bahwa Mahisa Pukat telah berhasil
memecahkan kepungannya. Bahkan sekali lagi, seorang lawannya telah mengaduh
karena ujung tombak anak muda itu telah mematuk perutnya.
Sementara itu, Mahisa
Murtipun telah mulai bertempur pula.
Orang yang bertubuh
tinggi dengan perut yang besar itu berada di lingkaran pertempuran untuk
melawannya.
Dengan sikap yang lebih
tenang Mahisa Murti menghadapi lawan lawannya. Ia tidak meloncat-loncat
mengejutkan. tetapi senjatanyalah yang berputar seperti baling-baling melindungi
dirinya dari serangan-serangan senjata mereka yang mengepungnya.
Sebenarnyalah senjata
Mahisa Murti tidak kalah berbahaya dari senjata Mahisa Pukat. Dalam beberapa
saat beberapa orang yang mengepung Mahisa Murtipun mulai menyadari, bahwa anak
muda itu benar-benar anak muda yang luar biasa.
Untuk beberapa saat
Mahisa Murti masih tetap bertahan. Namun sejenak kemudian, maka tangan
lawan-lawannyapun mulai merasa sakit. Benturan-benturan yang terjadi telah
membuat tangan orang-orang yang mengepungnya menjadi pedih. Seorang yang
lenggah, ternyata telah terkejut karena senjatanya seolah-olah telah di renggut
oleh kekuatan yang tidak terlawan dan melejit ke udara, jatuh beberapa langkah
dari arena.
“Gila” geram orang itu.
Namun ia masih mendapat kesempatan untuk mengambilnya.
Tetapi demikian ia
kembali memasuki arena, seorang diantara kawannya telah terdorong surut Bukan
saja senjatanya yang terlepas dari tangannya, tetapi lambungnya telah tergores
ujung senjata anak muda yang berada di dalam kepungan itu.
Sebenarnyalah Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat tidak lagi mendapat kesempatan untuk bermain-main, jika
mereka tidak ingin
mendapat kesulitan. Karena itulah, maka merekapun telah mengerahkan segenap
kemampuan mereka. Bahkan tenaga cadangan merekapun telah mulai tersalur pada
tangan-tangan mereka.
Itulah sebabnya, maka
kekuatan merekapun seolah-olah telah menjadi berlipat. Sentuhan senjata mereka,
bagaikan hantakkan kekuatan yang tidak terlawan.
Dengan kekuatan yang
berlipat dan sikap yang garang Mahisa Pukat benar-benar telah mampu mengacaukan
kepungan lawan-lawannya. Bahkan semakin lama ia semakin mendapat banyak
kesempatan untuk mengurai perlawan orang-oroang yang berusaha mengepungnya lebih
rapat. Setiap kali Mahisa Murti berhasil lolos dari lingkaran yang
mengelilinginya, bahkan setiap kali dengan meninggalkan segores luka pada tubuh
seorang lawan.
Mahisa Murtipun semakin
lama menjadi semakin cepat bergerak. Tombaknya berputaran bagaikan perisai
diseputar tubuhnya. Namun tiba-tiba tombak itu mematuk dengan cepatnya. Jika
seorang diantara mereka yang mengepung mengaduh dan terdorong sulut, maka tombak
itu telah berputar kembali di sekeliling tubuhnya.
Beberapa orang telah
terluka di arena pertempuran. Mahisa pukat ternyata memerlukan arena yang lebih
luas. Sementara Mahisa Marti bertempur ditempatnya menghadapi orang-orang yang
mengurungnya. Namun meskipun Mahisa Murti tetap berada di dalam kepungan namun
lawan-lawannya tidak banyak dapat berbuat atas anak muda itu.
Dengan mengerahkan
segenap ilmunya, maka Mahisa Murtipun berhasil satu persatu mengurangi jumlah
lawahnya. Ketika tombaknya terayun mendatar, maka seorang lawannya memekik
kecil.
Dadanya terkoyak oleh
ujung tombak itu. Bahkan ujung tombak itu masih juga melemparkan senjata seorang
lawannya yang lain dan jatuh beberapa langkah dari padanya.
Dengan tergesa-gesa orang
yang kehilangan senjata itu berlari memungut senjatanya. Namun malang, bahwa ia
tidak memperhatikan kaki Mahisa Pukat. Dengan satu loncatan kecil, orang yang
sedang memungut senjatanya itu telah terlempar jatuh. Justru pangkal tombak
Mahisa Pukat telah menghantam tengkuknya.
Meskipun pangkal
tombaknya itu tidak melukainya, tetapi benturan di tengkuknya telah membuatnya
Sekaligus pingsan.
Demikianlah, dari waktu
ke waktu, orang-orang yang mengepung kedua anak muda itu menjadi semakin
berkurang. Sementara itu langit menjadi semakin terang. Pagipun telah mulai
cerah.
“Aku tidak ingin
kemanungsan” teriak Mahisa Pukat “aku harus segera kembali ke selongsongku
sebelum saudara tua yang garang itu marah. Jika ia terbangun dan tampil di
arena, maka bumi akan terguncang seluruhnya dan gempapun akan menghancurkan
dataran dan lereng pegunungan sebelum gunung itu sendiri akan meledak”
Ancaman itu memang
mengerikan. Orang orang yang tinggal, ternyata tidak dapat mengabaikan ancaman
Mahisa Pukat itu. Bahkan dalam keadaan yang gawat, maka senjata Mahisa Murti
telah menyentuh tubuh orang yang menjadi pemimpin gerombolan yang ingin merampas
benda benda berharga itu.
“Kau adalah pusat dari
bencana ini” berkata Mahisa Murti ”jika kau dapat aku lumpuhkan, maka semuanya
akan tunduk kepadaku”
“Gila” orang itu
menggeram “kau akan mati”
“Kau tidak akan dapat
membunuhku” berkata Mahisa Murti ”aku bukan wadag kasar seperti wadagmu”
Sebenarnyalah orang
bertubuh tingggi dengan perut yang besar itu tidak mampu berbuat banyak.
Kawan-kawannya menjadi semakin berkurang, sementara tubuhnya sendiri telah
terluka.
“Lima orang pengikutnya
telah tergolek di tanah. Tiga diantaranya pingsan. Sementara yang dua keadaannya
sangat gawat.
Meskipun demikian orang
bertubuh tinggi dan dan perutnya besar itu tidak mau segera melihat kenyataan.
Bahkan seperti orang gila iapun telah mengamuk sejadi jadinya. Tetapi dengan
demikian, ia telah kehilangan pengamatan atas tata geraknya sendiri, sehingga
seolah olah ia tidak lagi bertempur atas satu pegangan ilmu yang paling
sederhana sekalipun.
Namun dalam pada itu,
sikap orang bertubuh tinggi dan berperut besar itu sangat menjengkelkannya.
Sehingga karena itu, maka Mahisa Murtipun telah mengambil keputusan untuk
menghentikan sikap gila orang itu. Ketika dengan ayunan senjata yang tidak mapan
orang itu menyerang Mahisa Murti, maka Mahisa Murti masih sempat mengelak
meskipun ia harus menangkis serangan seorang lawannya yang lain.
Namun dalam pada itu.
dengan sikapnya yang tidak terkendali orang itu telah memburunya dan mengayunkan
senjatanya tanpa memperhitungkan akibatnya.
Mahisa Murti tidak lagi
mengelak, tetapi ia sempat mengungkit senjata lawannya dengan tungkai tombaknya,
sehingga senjata itu terjulur tanpa menyentuh sasaran. Pada
saat yang demikian,
Mahisa Murti telah memukul punggung orang itu dengan tangkai tombaknya pula.
Pukulan itu terlalu
keras, sehingga orang bertubuh tinggi itu menjadi tehuyung-huyung. Hampir saja
ia jatuh terjerembab. Namun untunglah bahwa ia masihi sempat menguasai
keseimbangannya.
Dengan berteriak nyaring
itu telah melompat, memutar tubuhnya Sambil mengumpat kasar itu mengangkat
senjatanya.
Namun tepat pada saat
yang sama, tombak Mahisa Murti telah terjulur lurus ke arah lambungnya yang
terbuka.
Orang itu tidak dapat
berbuat apa-apa. Ujung tombak Mahisa Murti telah mengoyak kulitnya meskipun
tidak terlalu dalam Tetapi terasa seolah-olah isi perutnya telah tertumpah.
Melihat orang itu
terluka, pengikut-pengikutnya menjadi semakin gelisah. Bahkan kemudian merekapun
mulai bergeser surut.
Tetapi orang itu
berteriak “Pengecut. Bunuh anak-anak gila itu”
“Omong kosong” geram
orang itu.
Sebenarnyalah bahwa
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengerahkan segenap kemampuannya. Dengan
tenaga cadangan mereka telah mendorong kecepatan dan kemampuan gerak mereka agar
ujung senjata lawan benar-benar tidak melukai kulitnya. Dengan kecepatan gerak
mereka berhasil menghindar dan menangkis setiap serangan dari segala arah.
Bahkan akhirnya, dengan kecepatan puncaknya mereka berdua berhasil mematahkan
perlawanan orang-orang yang bermaksud buruk itu.
Ketika sekali lagi tombak
Mahisa Murti mengenai dada orang bertubuh tinggi itu, maka iapun telah
mengakhiri pertempuran. Orang bertubuh tinggi dengan yang besar itu, akhirnya
jatuh terkapar di tanah. Sekali-kali terdengar orang itu mengerang menahan
pedih. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak terlalu banyak mempunyai
waktu.
Keduanya telah mengikat
orang-orang yang tersiksa dan mengikat mereka pada batang-batang pohon yang
terdapat dihalaman banjar itu. Sementara yang terlalu dan pingsan terpaksa
mereka tinggalkan begitu saja.
“Jika para pengawal
terbangun, maka mereka akan segera merawat mereka” berkata Mahisa Murti. Lalu
sebentar lagi mereka akan terbangun. Sumber kekuatan sirep itu telah
dilumpuhkan, sehingga kekuatan sirep itu sudah tidak berpengaruh lagi”
“Lalu. bagaimana dengan
kita?” bertanya Mahisa Pukat.
“Kita akan meletakkan
senjata-senjata ini seperti malam kemarin” jawab Mahisa Murti.
“Dimuka bilik itu?”
bertanya Mahisa Pukat.
“Ya” jawab Mahisa Murti
singkat.
Dengan tergesa-gesa
keduanya Kemudian memasuk ruang dalam banjar itu. Ternyata pintu banjar itu juga
tidak diselarak seperti malam sebelumnya. Agaknya para peronda dan para pengawal
memang tidak menduga sama sekali bahwa perampok-perampok itu akan kembali.
Menurut perhitungan mereka, kemungkinan yang demikian itu hampir tidak akan
terjadi.
Tetapi ternyata yang
mereka anggap tidak mungkin terjadi itu telah terjadi. Sekali lagi para pengawal
dihadapkan pada satu kenyataan bahwa mereka tidak
berdaya menghadapi
keadaan yang gawat dibawah ilmu sirep yang sangat tajam.
Setelah meletakkan
senjata masing-masing, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Murtipun meninggalkan banjar
itu setelah keduanya menggeser tutup peti yang besar untuk memberikan kesan
bahwa tutup itu telah bergerak.
Hampir saja keduanya
terlambat meninggalkan banjar itu, ketika seorang pengawai tiba-tiba menggeliat.
Namun sebelum orang itu membuka matanya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
berjingkat keluar dari ruang dalam dan dengan tergesa-gesa meninggalkan banjar
itu.
Mereka masih melibat
beberapa orang tertidur di gardu-gardu meskipun matahari telah mulai nampak di
ujung timur. Tanpa menghiraukan mereka, Keduanya berusaha untuk segera menjauhi
banjar dan keluar dari padukuhan yang masih terasa sangat sepi.
Namun kesibukan ayam di
kandang, telah membangunkan beberapa orang disekitar banjar. Pengawal yang
tertidur itu seorang demi seorang telah terbangun pula.
Ketika seorang peronda
dihalaman terbangun pula, alangkah terkejutnya ketika ia melihat apa yang telah
tejadi.
Peronda itu mengusap
matanya yang masih kabur. Seolah-olah ia tidak percaya bahwa ia benar-benar
melihat satu kenyataan. Bukan sekedar mimpi.
Dengan jantung yang
berbedar-berdebar ia membangunkan kawan-kawannya. Seorang demi seorang.
“Siapa mereka?” bertanya
salah seorang dari para peronda itu.
“Kita bertanya kepada
para pengawal” desis salah seorang diantara para peronda di halaman.
Beberapa orangpun
kemudian berlari-lari ke ruang dalam. Mereka melihat para pengawal baru saja
terbangun pula. Bahkan diantara mereka masih ada yang terbaring. Sambil
menggeliat dengan malasnya ia berdesis ”Alangkah neyenyaknya tidurku malam ini”
“He, jadi kalian tertidur
pula?” bertanya seorang peronda.
Pertanyaan itu telah
mendebarkan jantung para pengawal. Bahkan salah seorang diantara para pengawal
itu berkata ”He, apakah kita tertidur”
Pengawal yang pernah
mengalami sirep sebelumnya menjadi pucat. Dengan nada gemetar ia berkata “Sirep
itu telah terulang”
Dengan tidak menunggu
tanggapan, iapun segera meloncat berdiri dan berlari ke bilik penyimpanan.
Sekali lagi la terkejut, la melihat dua batang tombak pendek bersilang dilantai
didepan pintu.
“Senjata siapa?”ia
bertanya kepada diri sendiri. Pengawal itu terkejut ketika ia melihat tutup peti
itu bergeser.
Hampir berteriak ia
berkata ”Peti itu terbuka”
Para pengawalpun telah
berlari-lari ke bilik itu. Bahkan pengawal yang terlukapun telah mendekat pula.
“Pintu ini bergeser”
desis pengawal yang pertama melihat peti itu.
“Lihat isinya” sahut yang
lain.
Dengan dada yang
berdebar-debar mereka membuka tutup peti itu. Namun ternyata peti-peti kecil
didalam peti yang besar itu masih tetap berada ditempatnya. Ketika satu
demi satu peti itu
dilihat, maka isinya masih seperti semula. Demikian pula peti-peti kecil pada
peti yang sebuah lagi.
“Apa yang sebenarnya
terjadi?” bertanya pengawal itu tanpa sasaran.
Namun seorang peronda
telah menjawab Telah terjadi pertempuran di halaman. Beberapa orang terluka,
bahkan ada yang mungkin telah terbunuh. Sementara beberapa orang yang lain
terikat di pepohonan “
“Apakah kau mengigau?”
geram seorang pengawal
”Lihat sendiri” jawab
peronda itu. “Kalian yang melakukannya?” bertanya pengawal itu pula.
“Aku kira kalianlah yang
melakukannya” jawab peronda itu dengan heran.
Sejenak mereka saling
berpandangan. Namun merekapun kemudian telah menghambur berlari ke halaman.
Sebenarnyalah mereka
melihat beberapa orang terbaring ditanah. Darah memerah ditubuh mereka.
Sementara beberapa orang yang lain telah terikat di batang pepohonan.
Dengan serta merta
seorang pengawal berlari kearah seorang diantara mereka yang terikat. Dengan
garang sambil mengacukan pedang ke dada orang yang terikat itu ia bertanya
”Siapa kau, he? Apa maksudmu dan apa yang telah terjadi. Katakan yang
sebenarnya. Jika kau berbohong, maka aku akan memenggal kepalamu tanpa
melepaskan ikatanmu lebih dahulu”
Hentakkan itu telah
menggetarkan nalar orang yang terikat itu, sehingga hampir diluar kehendaknya,
orang itupun telah mengatakan apa yang terjadi atas dirinya.
Sejak mereka memasuki
padukuhan itu, melepaskan sirep dan semuanya yang mereka dengar dan saksikan
pada kedua anak muda yang meyebut diri mereka berasal dari benda-benda keramat
itu, bagaimana kedua orang anak muda itu mengeluh ketika langit menjadi terang,
namun dengan demikian sikap mereka menjadi semakin garang.
“Mereka tidak mau
kamanungsan” bertanya orang yang terikat itu.
“Keduanya bersenjata
tombak pendek?” bertanya pengawal itu.
“Ya” jawab orang yang
terikat.
Pengawal itu menarik
nafas dalam-dalam. Dengan kerut dikeningnya ia berkata ”Sebenarnyalah apa yang
dikatakan oleh orang itu telah terjadi. Kedua anak muda itu telah muncul kembali
pada saat-saat yang paling gawat. Mereka tidak sempat membangunkan kita, tetapi
mereka telah menyelesaikan tugas itu dengan tuntas. Kedua senjata itu terletak
di muka bilik penyimpanan, sedangkan tutup peti itu telah bergeser sedikit Para
pengawal yang lainpun mengangguk angguk. Seorang pengawal yang baru datang
kemudian berkala Semula aku mengira bahwa semuanya itu hanyalah dongeng
ngayawara. Tetapi agaknya apa yang aku anggap dongeng itu telah benar-benar
terjadi”
“Ya. Dua orang anak muda”
desis yang lain ”tetapi kami tidak tahu. Pusaka yang manakah yang telah menjelma
menjadi kedua orang anak muda itu?”
“Topeng emas?” desis yang
lain.
“Topeng itu hanya satu.
Tentu bukan topeng itu” jawab kawannya.
Tetapi mereka tidak
sempat berbantah. Merekapun kemudian menjadi sibuk mengurusi orang-orang yang
terluka dan mengalami
keadaan yang gawat. Bahkan orang bertubuh tinggi dengan perut yang besar itu
ternyata tidak dapat tertolong lagi jiwanya.
Darahnya terlalu banyak
mengalir dari tubuhnya, sementara seorang pengikutnya telah terbunuh pula.
Sementara yang lain masih mempunyai kemungkinan untuk hidup meskipun terluka
parah.
Dalam pada itu,
kegemparan telah terjadi di padukuhan itu.
Orang-orang yang mulai
terbangun setelah dicengkam oleh sirep itupun telah turun ke jalan-jalan. Mereka
mulai membicarakan apa yang telah terjadi. Dan ceritera yang mereka dengar
tentang peristiwa di banjar itupun mulai merambat dari mulut kemulut.
“Luar biasa” berkata
seseorang ”pusaka-pusaka itu benar-benar benda-benda keramat”
“Sungguh diluar akal
bahwa benda-benda didalam peti itu dapat menjelma menjadi dua orang anak muda”
sahut yang lain.
Beberapa orang bahkan
telah pergi ke banjar untuk memastikan ceritera yang mereka dengar. Sementara
itu, orang yang akan di wisuda menjadi Buyut itupun telah berlari-lari kecil
menuju ke banjar bersama beberapa orang kawan-kawannya.
Di banjar ia telah
menemui sesuatu yang memang sangat mengejutkan. Namun ternyata bahwa
barang-barang yang ada didalam peti itu masih utuh.
“Dua malam berturut-turut
kita mendapat cobaan” berkata calon buyut di padukuhan itu.
“Ya. Dua malam
berturut-turut. Memang tidak masuk, akal. Terlebih lebih tentang dua orang anak
muda itu jawab seorang pengawal.
Kesibukan di banjar itu
menjadi semakin bertambah-tambah. Namun mereka tidak akan mengurungkan rencana
untuk melakukan wisuda. Akuwu tentu akan sangat marah, jika persiapan di banjar
itu tidak dilakukan sebagaimana seharusnya.
“Lupakan apa yang telah
terjadi berkata pemimpin pengawal yang berada di banjar itu “kita lanjutkan
segala persiapan yang harus dilakukan menjelang tengah malam nanti. Akuwu tidak
pernah terlambat melaksanakan rencana yang sudah disusun. Apalagi dalam wisuda
itu diperlukan kesungguhan dan upacara sebagaimana seharusnya dilakukan”
Demikianlah, maka orang
orang padukuhan itupun telah kembali kedalam kesibukan mereka, meskipun mereka
masih saja berbincang tentang peristiwa yang terjadi semalam.
“Kita tidak perlu
melaporkannya” berkata seorang pengawal ”malam nanti Akuwu berada disini.
Biarlah malam nanti saja kita melaporkan sekaligus”
Kawan-kawannya
mengangguk-angguk. Namun salah seorang dari mereka berkata malam nanti kita
harus benar-benar bersiap menghadapi segala kemungkinan. Kita tidak boleh
lengah. Seolah-olah yang baru saja terjadi semalam, tidak akan terulang kembali
di malam berikutnya. Kitapun harus siap menghadapi sirep Apalagi saat Akuwu
berada di padukuhan ini”
“Ya. Kita tidak boleh
kehilangan kesadaran sebagaimana terjadi dua malam berturut turut, jika malam
nanti kita di
gilas lagi oleh sirep
itu. maka agaknya tidak akan ada ampun lagi.
Baik dari orang-orang
yang ingin memiliki benda benda berharga itu, maupun oleh benda-benda itu
sendiri, sehingga dua orang anak muda itu tidak akan bersedia muncul kembali”
berkata yang lain.
Dengan demikian, maka
para pengawal itupun telah bertekad untuk berbuat apa saja bagi tugas mereka.
Mereka akan beranggung jawab langsung kepada Akuwu. Seandainya benda-bendas
keramat itu benar-benar telah hilang, maka mereka akan digantung karena
kelengahan mereka.
Pada hari itu, seisi
padukuhan itupun kembali di telan oleh kesibukan di banjar. Mereka melakukan
persiapan-persiapan menjelang wisuda. Sementara perempuan-pun sibuk di dapur.
Namun selain di banjar,
anak-anak muda di padukuhan itu telah bersiap-siap digardu-gardu meskipun
disiang hari Tidak mustahil akan terjadi sesuatu diluar dugaan dan bahkan yang
tidak pernah mereka anggap dapat terjadi.
Di regol masuk padukuhan
itu. beberapa anak muda berjaga-jaga dengan senjata. Mungkin mereka akan
menghadapi peristiwa yang sangat tiba-tiba dan tidak masuk akal. Sementara di
simpang-simpang tiga dan tikungan, anak-anak muda duduk-duduk di pinggir jalan.
Hampir semuanya membawa berbagai jenis senjata yang mereka punyai. Dari tombak
panjang, tombak pendek, pedang sampai ke parang pembelah kayu. Namun
sebenarnyalah mereka masih harus bertanya kepada diri sendiri, seandainya
benar-benar terjadi sesuatu, apakah mereka akan dapat mempergunakan senjata
mereka itu. Tetapi bahwa mereka bersiaga adalah karena merekapun
merasa ikut bertanggung
jawab atas keselamatan benda-benda berharga yang berada di padukuhan mereka,
yang berarti merekapun ikut bertanggung jawab atas terselenggaranya wisuda yang
telah direncanakan. Bahkan seandainya benda-benda keramat itu hilang, tentu
beberapa orang terpenting dari padukuhan itu akan mengalami kesulitan dan harus
mempertanggung-jawabkannya kepada Akuwu bersama-sama dengan para pengawalnya
yang bertugas.
Namun sehari itu. tidak
terjadi sesuatu yang berarti. Kesibukan di padukuhan itupun menjadi semakin
meningkat menjelang sore hari. Seperti yang direncanakan, Akuwu akan datang ke
padukuhan itu menjelang senja. Ia akan berada di padukuhan itu semalam suntuk.
Tengah malam wisuda akan berlangsung. Setelah upacara selesai, akan
diselenggarakan bujana bersama di pendapa banjar sampai semalam suntuk.
Karena itu, maka sebuah
rumah yang paling baik disekitar banjar itu sudah disiapkan. Akuwu setelah
diterima oleh para bebahu banjar itu, akan beristirahat barang sejenak di tempat
yang sudah disiapkan. Baru menjelang tengah malam Akuwu akan hadir di banjar.
Sebenarnyalah bahwa tidak
ada rumah yang memadai yang dapat dipergunakan bagi Akuwu. Tetapi merekapun
mengerti, bahwa Akuwu bukanlah seorang yang tidak dapat menyesuaikan diri. Akuwu
adalah juga seorang Senopati. Karena itu, iapun memiliki sifat seorang prajurit
yang dapat berada di segala macam medan. Bahkan medan yang paling sulit
sekalipun.
Demikianlah, menjelang
saat-saat kehadiran Akuwu di padukuhan itu, suasananya menjadi semakin tenang.
Anak-anak muda menjadi semakin bersiaga. Sementara para
bebahu sudah berkumpul di
pendapa banjar untuk menerima Akuwu yang akan segera hadir.
Sementara itu, di
sepanjang jalan raya yang menjulur ke padukuhan iti, sebuah iring-iringan orang
berkuda sedang melaju. Diantara mereka terdapat Akuwu yang diiringi oleh para
pengawalnya Justru laporan tentang peristiwa yang gawat itu, telah mendorong
Akuwu untuk berhati-hati. Ia tidak hanya diiringi oleh seorang Senopati dan
delapan orang pengawal sebagaimana kebiasaannya menempuh perjalanan didaerahnya
sendiri atau pada saat-saat ia berburu. Tetapi perjalanannya itu merupakan
iring-iringan yang agak lebih besar. Akuwu telah membawa dua orang Senopati dan
lima belas orang pengawal pilihan.
Sebagaimana direncanakan,
menjelang senja Akuwu telah mendekati regol padukuhan yang sedang mempersiapkan
wisuda bagi calon buyut yang akan menggantikan buyut yang terdahulu.
Ketika anak-anak muda
yang berjaga-jaga melihat kehadiran sebuah iring-iringan dengan pertanda sebuah
tunggul dengan sehelai kelebet kecil, maka merekapun segera mengetahui bahwa
yang hadir adalah Akuwu.
Karena itu, merekapun
segera bersiap-siap. Diantara mereka telah dengan tergesa-gesa pergi ke banjar
untuk memberitahukan kehadiran Akuwu itu.
Sementara Akuwu mendekati
regol padukuhan. maka di sebuah gubug kecil ditengah sawah, dua orang anak muda
memandangi iring-iringan itu sambil tersenyum
“Akuwu akan mendengar
dongeng yang aneh itu” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat justru
tertawa. Katanya Sebenarnya aku ingin melihat, bagaimana tanggapan Akuwu tentang
dongeng itu. Bahkan dari
dalam peti itu telah muncul dua orang anak muda yang telah membantu para
pengawal menghadapi sekelompok penjahat.
Bahkan di malam
berikutnya, mereka hanya tinggal menemukan bekas-bekas pertempuran saja“
“Malam nanti kita
memasuki lagi padukuhabn itu berkata Mahisa Murti.
“Tetapi tentu tidak akan
ada peristiwa apapun lagi” “Mungkin kekuatan kelompok penjahat itu benar-benar
telah lumpuh. Tetapi juga karena kehadiran Akuwu yang membawa cukup banyak
pengawal disamping para pengawal yang memang sudah berada di padukuhan itu”
jawab Mahisa Pukat
“Kita akan menonton
wisuda. Tentu banyak orang yang menonton didalam gelapnya malam, atau dibawah
obor yang remang-remang sehingga kita tidak akan dengan mudah dikenali orang”
berkata Mahisa Murti kemudian.
Mahisa Pukatpun setuju.
Mereka akan memasuki padukuhan itu setelah malam hari.
Sementara itu, di
banjarpun telah terjadi kesibukan yang luar biasa. Akuwu yang sudah memasuki
padukuhan itupun segera diikuti oleh orang-orang padukuhan itu, sehingga terjadi
sebuah iring-iringan yang panjang menuju ke banjar.
Namun dalam pada itu,
akan-anak mudapun tidak menjadi lengah. Diantara mereka tetap berada di regol
untuk menjaga segala kemungkinan yang mungkin timbul.
Akuwu kemudian telah
diterima di banjar oleh para bebahu. Dengan disaksikan oleh para penghuni
padukuhan itu, Akuwupun kemudian naik ke pendapa banjar dan duduk diatas sebuah
alas tikar pandan rangkap yang putih.
Ternyata Akuwu
benar-benar seorang prajurit Sama sekali tidak nampak kecanggungan sama sekali
ketika ia duduk diatas tikar. Sementara itu, para bebahu telah menghadapnya
dengan wajah-wajah tunduk
Sejenak kemudian, maka
Akuwupun berkenan mendengarkan laporan segala macam persiapan bagi kelengkapan
wisuda yang akan dilakukan menjelang tengah malam nanti.
Orang yang akan mendapat
wisuda itupun telah memberikan laporan sesuai dengan yang sebenarnya terjadi. Ia
bukan saja melaporkan bahwa persiapan seluruhnya lelah siap. Tetapi dengan jujur
sesuai dengan pengertiannya, ia melaporkan bahwa sekelompok penjahat telah
berniat untuk merampas barang barang keramat yang ada di banjar itu.
“Ternyata kami dan para
pengawal tidak dapat berbuat banyak menghadapi para penjahat itu. lterkata calon
buyut itu” lalu “tetapi tuanku mungkin lelah mendengar, bahwa benda-beda
berharga itu telah menyelamatkan dirinya sendiri. Dua orang anak muda telah
muncul dari dalam peti dan bertempur bersama dengan para pengawal. Sementara
pada malam kedua, justru dua orang anak muda itulah yang benar-benar telah
menyelamatkan bukan saja benda-benda berharga itu, tetapi juga para pengawal
yang tidak dapat melawan kekuatan sirep yang sangat tajam. Karena menurut
keterangan mereka yang tertangkap hidup-hidup dan telah diikat oleh kedua orang
anak muda itu di pepohonan, para penjahat itu berniat membunuh semua pengawal
yang ada di banjar.
Akuwu mengangguk-angguk.
Namun katanya ”Aku yang memiliki benda-benda itu, belum mengetahui bahwa
benda-benda itu dapat menjelma menjadi ujud sebagaimana ujud kita”
“Tetapi menurut penilikan
hamba, demikianlah yang terjadi Akuwu” sahut calon buyut itu.
“Baiklah” berkata Akuwu
”aku tidak akan mempersoalkan itu. Tetapi kenyataan yang terjadi, benda-benda
berharga itu lelah diselamatkan Bukankah begitu?”
“Hamba tuanku.
Benda-benda itu masih tetap berada ditempatnya. Semuanya masih utuh dan akan
dapat dipergunakan sebagai kelengkapan upacara tengah malam nanti” jawab calon
buyut itu.
Akuwu mengangguk-angguk.
Meskipun demikian ceritera tentang benda-benda keramat itu memang menarik
perhatiannya. Tetapi ceritera tentang anak-anak muda itu justru baru didengarnya
saat itu. Meskipun demikian Akuwu tidak bertanya lebjh lanjut. Setelah ia
mendapat kepastian bahwa benda-benda keramat itu masih tetap utuh dan siap
dipergunakan, maka Akuwu itupun berkata ”Aku akan beristirahat. Nanti menjelang
tengah malam upacara akan dimulai. Kedua orang Senopatiku akan mengatur segala
sesuatu. Dimana benda-benda itu diletakkan, dan di mana orang yang akan menerima
wisuda itu harus berada”
Dengan demikian maka
Akuwu itupun meninggalkan banjar. Sebagaimana telah dipersiapkan, maka Akuwu
itupun kemudian telah dipersilahkan singgah dirumah yang dianggap paling baik
disebelah banjar itu. Ternyata Akuwupun tidak kecewa. Akuwu masuk kentang dalam
sebagaimana ia memasuki rumahnya sendiri. Kemudian kepada seorang pengawalnya ia
berkata ”Aku akan beristirahat di amben ini”
Pengawalnya yang sudah
terbiasa melayani Akuwu itupun tidak ragu-ragu pula. Iapun menerima kelengkapan
pakaian Akuwu. Sebilah keris dan ikat kepalanya.
Sebagaimana orang
kebanyakan, Akuwupun kemudian berbaring diatas amben bambu yang dibentangi tikar
pandan yang putih bergaris biru. Nampaknya memang nyaman sekali. Sementara dua
orang pengawal duduk disebelah. Seorang diantaranya mengamati keris pusaka Akuwu
yang dilepas karena Akuwu hendak berbaring.
Sementara itu. di
banjarpun segala persiapan telah diselenggarakan. Pusaka-pusaka yang berada
didalam peti telah dikeluarkan dari peti yang besar. Pusaka-pusaka itu
diletakkan pada sebuah babut yang berwarna merah yang juga dibawa dari istana
Akuwu. Sebuah mangkuk berisi air diletakkan di pinggir babut itu ditaburi dengan
kembang setaman.
Kedua orang Senopati
kepercayaan Akuwu itulah yang mengatur segalanya. Mereka sudah terbiasa
melakukan hal yahng serupa dalam wisuda buyut dipadukuhan-padukuhan lain.
Di paling dekat dengan
mangkuk air itu adalah sebilah keris yang besar, luk tiga belas dan disebelahnya
adalah topeng yang berwarna kuning mengkilap. Topeng wajah seorang laki-laki
yang garang tetapi berwatak kesatria.
Dalam pada itu, kedua
Senopati yang juga mendengar ceritera tentang kedua orang anak muda itu dengan
ragu-ragu memperhatikan topeng dan keris itu. Bahkan salah seorang diantara
mereka berkata ”Apakah kedua pusaka itu yang telah menjelma menjadi kedua orang
anak muda itu?”
“Nampaknya bukan” jawab
yang lain ”bukankah menurut beberapa orang yang melengkapi ceritera itu
mengatakan, bahwa kedua orang anak muda itu telah menyebut kakang atau saudara
tua?”
Senopati yang lain
mengangguk-angguk. Katanya ”Tawanan itu memang mendengar anak-anak muda itu
mengatakan tentang
saudara tua. Bahkan dikatakan bahwa jika saudara tua itu marah, maka seolah-olah
bumi ini mau kiamat”
“Mungkin topeng itulah
yang dimaksud dengan saudara tua” desis Senopati yang pertama.
Yang lain tidak menjawab.
Hal itu akan tetap menjadi teka-teki, karena sudah barang tentu, anak-anak muda
yang sebenarnya adalah pusaka-pusaka itu tidak akan menampakkan diri pada setiap
saat.
Dalam pada itu, saat-saat
wisudapun menjadi semakin dekat. Orang-orang sudah berkerumun disekeliling
pendapa. Mereka akan menyaksikan Sang Akuwu mewisuda anak KI Buyut yang sudah
meninggal itu menjadi seorang Buyut yang baru.
Seperti biasa, maka dalam
wisuda itu Akuwu akan menyentuh air didalam mangkuk itu dengan topeng mas yang
keramat. Kemudian Akuwu akan menarik keris besar luk tiga belas itu dan mencelup
ujungnya kedalam air di-mangkuk itu pula. Baru kemudian, Akuwu.akan memercikkan
air itu kepada pusaka-pusaka lain dalam upacara itu dan sekaligus kepada orang
yang sedang menerima wisuda itu, mengesahkan kedudukan orang itu menjadi Buyut.
Dalam pada itu, Ki Buyut
yang baru itu harus mengenakan topeng itu meskipun hanya sekejap sambil
menunduhkan kepalanya, sementara Sang Akuwu akan meletakkan ujung keris yang
besar itu dikepalanya.
Baru setelah upacara itu
selesai, orang yang menerima wisuda itu sah menjadi seorang Buyut dan bertindak
sebagaimana seorang pemimpin dari Kabuyutannya.
Dalam pada itu, diantara
orang-orang yang berkerumun itu terdapat dua orang anak muda yang memasuki
padukuhan itu tidak melalui regol yang masih dijaga. Diantara orang yang banyak
itu, mereka dapat menyaksikan apa yang akan dilakukan di pendapa.
Apalagi ketika saatnya
teiah tiba. Menjelang tengah malam, maka halaman banjar itu telah menjadi penuh
sesak. Alangkah sulitnya menyibakkan sekian banyak orang di halaman untuk lewat
Sang Akuwu yang akan melakukan wisuda. Para pengawal berialan disebelah
menyebelah dengan senjata terhunus. Sementara dua orang Senopatinya berjalan
selangkah dihadapan Akuwu.
Ketika Akuwu naik tangga
pendapa, maka terdengar ak bagaikan membelah langit. Semua orang yang ada di
halaman itu mengangkat tangan sambil berteriak-teriak sekerasnya. Baru ketika
Akuwu duduk diatas tikar, maka suasana menjadi tenang. Tetapi sejenak kemudian
mereka mulai berdesakan lagi, karena mereka ingin melihat apa yang sednag
dilakukan oleh Akuwu yang sedang duduk itu.
Sejenak kemudian
terdengar sesorah dari babahu tertua di padukuhan itu Kemudian Senapati
kepercayaan Akuwu itupun bergeser mendekati benda benda keramat yang ada diatas
babut berwarna merah itu.
Seorang diantara kedua
Senapati itupun kemudian memberikan beberapa keterangan dan penjelasan.
Sejenak kemudian maka
upacara itupun telah dimulai. Kedua Senapati itu telah membantu Akuwu yang
mewisuda calon Buyut uang menggantikan ayahnya yang telah meninggal.
Dengan singkat Akuwu
memberikan sesurah dan kemudian, petuah-petuah. Kewajiban dan hak seorang
Buyut. Dan kesanggaupan
calon Buyut itu untuk menyanggupinya.
Baru kemudian Akuwu mulai
dengan upacara yang sesungguhnya dari wisuda itu sebagaimana yang selalu
dilakukan oleh Akuwu.
Pada saat terakhir, maka
orang yang menerima wisuda itupun mengenakan topeng yang berwarna kuning
cemerlang itu. Sambil menundukkan kepalanya dan mengenakan topeng itu. orang
yang diwisuda itupun mendapat beberapa percikan air kembang selapanan. Kemudian
Akuwu telah meletakkan keris luk tiga belas diatas kepalanya sambil mengucapkan
beberapa kalimat pendek yang pada dasarnya Akuwu telah mengesahkan kedudukan
orang itu menjadi seorang Buyut.
Pada saat yang demikian,
maka orang-orang yang berada di sekitar pendapa itupun lelah bersorak. Mereka
bergembira karena seiak saat itu mereka telah mempunyai seorang Buyut yang sah.
Demikianlah maka wisuda
itupun selesai, yang akan berlangsung kemudian tinggalah bujana yang akan
diselenggarakan pendapa itu juga sambil berjaga jaga semalam suntuk, termasuk
Akuwu sendiri.
Karena itulah maka
perhatian orang kepada mereka yang berada di pendapa itupun mulai berkurang.
Meskipun orang-orang yang berada di halaman itu tidak segera beranjak pergi,
tetapi mereka tidak lagi dicengkam oleh ketegangan upacara wisuda itu.
Karena itulah, maka
orang-orang dihalaman itupun mulai saling berbicara diantara mereka. Orang-orang
itu mulai memperhatikan siapa yang berdiri disebelahnya. Mungkin tetangga
dekatnya, mungkin orang yang tinggal disudut padukuhan. mungkin orang lain yang
tinggal agak
jauh. Namun pada umumnya
mereka telah saling mengenal.
Tetapi diantara mereka
ternyata telah berdiri dise belah seorang anak muda yang belum dikenalnya Bahkan
seorang anak muda lagi berdiri di sisi anak muda yang pertama.
Dua orang anak muda yang
belum dikenal sama sekali. Karena itu, maka orang itupun tiba-tiba telah
bertanya “He, siapakah kau anak muda?”
Anak muda itu mengerutkan
keningnya. Keduanya tidak segera menjawab. Namun nampak kegelisahan tercermin di
sikap mereka.
“He, siapakah kau?” desak
orang itu.
“He, kau siapa?” orang
itu mendesak lagi.
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat memang menjadi bingung. Bagaimana mereka harus menjawab. Merekapun
menyadari, bahwa pada umumnya orang-orang padukuhan itu tentu sudah saling
mengenal. Sehingga kehadiran mereka tentu merupakan hal yang dapat menarik
perhatian.
Tetapi kedua anak muda
itu tidak sempat berpikir. Beberapa orang disekitarnya telah berpaling pula
kearah mereka dengan tatapan mata bertanya-tanya.
Ternyata orang-orang itu
sama sekali tidak teringat akan ceritera tentang dua orang anak muda yang hadir
dua malam berturut-turut. Menurut gambaran mereka, kedua orang anak muda yang
terdiri dari kekuatan gaib pusaka-pusaka yang berada diatas kabut merah itu,
tentulah anak-anak muda yang gagah, tampan dan berpakaian sangat menarik.
Mungkin wajah mereka bercahaya sedangkan sorot mata mereka bagaikan kilatan
cahaya tatit dilangit. Sedangkan kedua orang anak muda yang berdiri
disebelahnya itu adalah
anak muda dalam pakaian yang kusut dan berwajah muram.
Karena itu. ketika Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat masih termangu-mangu maka orang yang bertanya ke¬padanya
itu telah membentak “He, sebut, siapa kalian he?” “Kami datang dari padukuhan
sebelah” jawab Mahisa Murti di luar sadar.
“Dari padukuhan mana?
Anak siapa? Aku mengenal semua orang disekitar padukuhan ini” jawab orang itu.
Mahisa Murti menjadi
semakin bingung, sementara orang-orang yang berdiri disekitarnya telah
mengerumu¬ninya.
Tiba-tiba seorang
diantara mereka berkata “Apa¬kah kau salah seorang dari perampok-perampok yang
akan mengacaukan wisuda ini seperti dua malam ber¬turut-turut?”
“Tidak. Aku hanya ingin
melihat wisuda ini” jawab Mahisa Murti.
“Tentu kau anggota
perampok itu” geram seorang bertubuh pendek. Lalu “Dengar, kawan-kawanmu telah
kena kutuk pusaka pusaka itu. Kawan-kawanmu telah di¬hancurkan oleh kekuatan
pusaka itu sendiri. Dan sekarang kau datang untuk mencurinya he? Apakah kau
tidak takut kewalat?”
Kedua anak muda itu
menjadi semakin bimbang. Apa¬kah merka akan mengatakan apa yang sebenarnya telah
terjadi. Tetapi sebelum mereka sempat menemukan keputusan, terdengar seorang
berkata “Tangkap saja. Kita serah--kan saja kepada para pengawal”
“ Gila” geram anak-anak
muda itu didalam hatinya.
Tetapi nampaknya
orang-orang itu benar-benar akan melakukannya. Mereka agaknya benar-benar akan
me¬nangkap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Beberapa orang telah
menyibak, ketika ampat orang laki-laki berusaha mengepung kedua orang anak muda.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi bimbang menghadapi orang-orang itu. Namun
akhirnya Mahisa Murti berbisik ditelinga Mahisa Pukat “Kita harus menghindar
dari keadaan yang tidak menguntungkan ini. Aku ingin memukul orang pendek itu
sekali saja” jawab Mahisa Pukat.
“Jangan membuat perkara
disini. Wisuda itu dapat terganggu karena pokalmu itu” jawab Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Pukat tidak
senang melihat sikap orang bertubuh pendek itu. Meskipun demikian ia tidak dapat
membantah niat Mahisa Murti.
Dalam pada itu, maka
empat orang laki laki itu sudah siap menangkap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,
semen¬tara beberapa orang yang berada disekitarnya seolah-olah telah
bersiap-siap untuk membantu keempat orang itu.
“Baiklah berkata Mahisa
Murti” jika kalian tidak senang melihat kehadiranku disini. biarlah aku pergi
me¬ninggalkan halaman ini”
Tetapi jawaban orang
bertubuh pendek itu sangat men¬jengkelkan. Katanya “Kami tidak dapat melepaskan
kau. Kau sudah melihat keadaan di banjar ini. Kau akan memberitahuan kepada
kawan-kawanmu. Sebentar lagi mereka akan datang untuk merampok seisi banjar ini”
Tetapi Mahisa Murti
menjawab “Sudah aku katakan, bahwa kami hanya ingin melihat wisuda itu.
Seandainya
kami bermaksud jahat,
apakah yang akan dapat kami kerjakan. Disini ada sepasukan pengawal disamping
Akuwu sendiri yang tentu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Selain itu anak-anak
muda padukuhan ini berjaga-jaga di segala tempat. Apakah dengan demikian ada
sekelompok orang akan berani mengusik padukuhan ini pada saat yang demikian”
“Persetan” jawab orang
pendek itu “kau pandai mencari alasan untuk membebaskan diri dari tangkapan
kami. Bagaimanapun juga kami akan menangkapmu. Katakan nanti segala ceriteramu
itu kepada para pemimpin kami dan barangkali kepada para pengawal itu.
Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Agaknya orang-orang itu benar-benar akan menangkapnya,
sehingga karena itu. maka iapun harus segera mengambil sikap.
Dalam keadaan yang paling
gawat itu. maka Mahisa Mutripun sempat berbisik “Kita melarikan diri”
Sebenarnya Mahisa Pukat
segan berbuat demikian. Tetapi ia tidak menolak. Agaknya Mahisa Murti
benar-benar tidak ingin mengganggu acara yang ada dipendapa. Karena itu, maka
setelah memberi isyarat kepada Mahisa Pukat. Mahisa Murtipun dengan tiba-tiba
telah menyibakkan orang-orang di sekitarnya diikuti oleh Mahisa Pukat.
Yang dilakukan itu
demikian cepatnya sehingga orang-orang yang berada disekitarnya, terkejut
karenanya, karena mereka tidak menduga hal itu akan terjadi. Beberapa orang
terdorong sehingga hampir lerlentang. Sementara yang lain terdesak kesamping.
“Gila” geram orang
bertubuh pendek.
Namun Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat sudah berlari keluar dari kerumunan orang orang yang berada
dihalaman itu.
Ternyata hiruk pikuk itu
telah menarik perhatian. Beberapa orang segera mendekat. Namun dalam pada itu.
beberapa orang telah sempat mengejar kedua orang anak muda yang berlari itu.
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatpun tidak dapat beriari keluar lewat pintu regol yang dijaga oleh beberapa
orang anak muda. Karena itu. maka merekapun telah berlari meloncati dinding
halaman banjar itu.
Beberapa orang memang
mengejarnya. Beberapa orang dengan susah payah telah meloncati dinding itu pula,
sementara beberapa orang lain telah berlari menghambur keluar regol.
“Ada apa?“ beberapa orang
anak muda bertanya kepada orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu.
Seseorang diantara mereka
telah berceritera tentang orang-orang yang agaknya telah dikirim oleh para
penjahat untuk melihat-lihat kemungkinan dihalaman banjar ini.
Beberapa orang anak muda
tidak sempat bertanya lebih jauh. Merekapun segera berlari menyusul orang-orang
yang sudah terdahulu dengan senjata di tangan.
Ternyata hal itu menarik
perhatian para pengawal yang mengamati keadaan. Dua orang pengawal telah
mendatangi tempat yang ribut itu. Dengan singkat merekapun telah mendapat
keterangan tentang orang-orang yang mencurigakan itu.
Setelah melapor kepada
kawannya, maka kedua orang pengawal itu telah menyusul pula anak-anak muda yang
telah mendahului. Dengan keributan itu. maka upacara
agak terganggu Untunglah
bahwa acara pokok, wisuda itu lelah diselesaikan. Sehingga yang tinggal hanyalah
rangkaian acara yang tidak terlalu penting.
Hal itu telah dilaporkan
pula oleh salah seorang Senapati yang telah mendengarnya, kepada Akuwu. Namun
nampaknya Akuwu tetap tenang duduk ditempatnya. Sehingga karena itu, maka
upacara itupun dapat dilangsungkan sesuai dengan rencana.
Sementara itu Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat dengan sengaja tidak mau meninggalkan orang-orang yang
mengejarnya. Karena itu metika Mahisa Murti menunggunya sejenak dan mengejarnya,
Mahisa Pukat menjawab Aku akan mengajak mereka berlari-lari menjelang dini hari”
“Kenapa tidak kita
tinggalkan saja mereka?“ bertanya Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tidak
menjawab. Tetapi ia tertawa saja.
Sebenarnyalah,
orang-orang yang mengejar mereka tidak tertinggal terlalu jauh dibelakang kedua
anak muda itu.
Mahisa Murti hanya
menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti maksud Mahisa Pukat. Sebenarnya Mahisa
Murti tidak ingin berbuat demikian. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan Mahisa
Pukat. Karena itu keduanya berlari tidak sepenuh kemampuan mereka. Bahkan mereka
telah menyesuaikan kecepatan mereka dengan orang-orang yang mengejar.
Beberapa orang yang
menyusul dibelakang orang-orang yang mengejar kedua anak muda itu telah membawa
obor-obor minyak yang besar. Karena itu, maka malam itupun menjadi riuh, justru
diluar halaman banjar Dihalaman banjar sendiri, keadaannya justru telah menjadi
tenang.
Apalagi ketika
orang-orang dihalaman itu melihat Akuwu tetap tenang-tenang saja. Di sekitar
pendapa itu terdapat para pengawal yang bersiaga.
Bahkan bujana dibanjar
itu berjalan sebagaimana direncanakan. Orang-orang yang berada dihalamanpun
dapat ikut makan bersama dengan Akuwu di pendapat. Tetapi mereka harus mengambil
bagian mereka ditempat lain yang sudah ditentukan.
Dalam pada, itu para
pengawal diluar banjarlah yang berkejaran. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak
menuju keregol padukunan. Mereka tahu bahwa regol itu tentu dijaga. Jika mereka
memaksa diri melalui regol, berarti mereka harus berkelahi. Meskipun tentu tidak
akan ada seorangpun yang dapat menahan mereka, tetapi mereka berniat untuk
menghindari pertempuran.
Karena itu, maka keduanya
teiah berlari menuju ke dinding padukuhan. Tetapi Mahisa Pukat sengaja memilih
daerah yang tidak terlalu jauh dari regol.
“Kenapa disitu?“ bertanya
Mahisa Murti.
“Jika mereka melalui
regol biarlah jaraknya tidak terlalu jauh. sehingga mereka tidak kehilangan
kita. jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tidak
membantah, meskipun sebenarnya ia tidak sependapat. Karena itu, maka merekapun
telah berlari seolah-olah menuju ke regol. Karena itu, maka orang-orang yang
memburunya itu telah berteriak-teriak memberikan isyarat kepada para penjaga
regol.
Orang-orang yang mengejar
itu sengaja tidak membunyikan isyarat kentongan justru karena Akuwu berada
bibanjar, sehingga tidak memberikan kesan menggelisahkan.
Orang-orang yang berada
diregol itupun telah mendengar teriakan-teriakan yang memekakkan telinga. Karena
itu, maka merekapun segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
“Jangan biarkan mereka
lolos“ teriak salah seorang diantara mereka yang mengejar.
Anak-anak muda yang
berada diregol itupun justru memencar. Mereka sudah menggenggam senjata
ditangan.
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat melihat anak-anak muda diregol sudah bersiap. Obor yang tersedia telah
dinyalakan pula disamping obor yang memang sudah menyala diregol itu.
Namun ternyata bahwa
Mahisa Pukat telah berbelok. Ia tidak benar-benar menuju keregol. Tetapi ia
menuju ke dinding disebelah regol. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat meloncat
disusul oleh Mahisa Murti.
Yang dilakukan oleh
anak-anak muda itu sangat mengejutkan. Orang-orang diregol itu tidak mengira
bahwa kedua anak muda itu akan meloncati dinding.
“Jangan sampai lepas”
teriak orang-orang yang mengejarnya.
Bahkan dua orang pengawal
yang ikut diantara anak-anak muda yang mengejar itupun telah sampai keregol
pula. Beberapa orang tidak mengejar kedua anak muda itu, dengan meloncat dinding
padukuhan. Mereka berlari melalui regol dan berusaha memotong arah kedua anak
muda itu diluar dinding.
Namun ternyata bahwa
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah lebih dahulu meloncat turun. Merekapun
kemudian berlari menyusuri dinding padukuhan.
Orang-orang yang
mengejarnya masih saja berlari-lari dibelakang kedua anak muda itu. Sebagaimana
diatur oleh Mahisa Pukat, jarak diantara mereka tidak begitu jauh. Bahkan
seolah-olah orang-orang yang mengejar itu hampir dapat menyusulnya. Tetapi jarak
diantara merekapun telah bertambah lagi.
Kedua pengawal yang ada
diantara mereka yang mengejar itupun kemudian justru berada dipaling depan. Ia
memiliki kemampuan tubuh melampaui orang-orang padukuhan itu. Sesuai dengan
tugas mereka, maka mereka dapat berbuat lebih banyak dari anak-anak muda yang
semakin lama menjadi semakin ketinggalan.
“Berhenti“ teriak salah
seorang dari kedua pengawal itu.
Tetapi Mahisa Pukat dan
Mahisa Murti berlari terus. Ketika mereka sampai disebuah simpang tiga, maka
mereka telah memilih jalan berbelok yang menuju kesebuah bulak yang panjang.
Kedua pengawal itu tidak
berhenti. Mereka masih mengejar terus. Apalagi kadang-kadang seakan-akan mereka
hampir berhasil mengejar kedua anak muda itu. Tetapi dengan kemarahan yang
memuncak mereka harus menyaksikan jarak diantara mereka dengan orang yang mereka
kejaf itu menjadi semakin panjang.
Dibelakang mereka,
anak-anak muda padukuhan itu masih mengejar pula. Ada juga diantara mereka yang
masih membawa obor ditangan.
“Apa yang kau maui Mahisa
Pukat?” bertanya Mahisa Murti.
“Sekedar berkejaran”
jawab Mahisa Pukat.
“Apakah masih belum
cukup?” bertanya Mahisa Murti.
“Biarlah mereka berhenti
dengan sendirinya” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti hanya dapat
menggelengkan kepalanya. Mahisa Pukat agaknya masih marah kepada orang-orang
padukuhan itu, sehingga ia ingin membalas dengan membuat mereka marah pula.
Dengan demikian, maka
sejenak kemudian, mereka telah berkejaran di bulak yang panjang.
Mahisa Murti tidak dapat
berbuat lain, kecuali mengikuti saudera laki-lakinya yang marah itu. Iapun ikut
berlari-lari di sepanjang bulakm sementara dibelakang mereka orang-orang
padukuhan mengejar sambil berteriak-teriak Dj paling depan terdapat dua orang
pengawal yang marah. Apalagi Mahisa Pukat dengan sengaja telah membuat mereka
marah. Sekali sekali ia dengan sengaja membiarkan dirinya hampir tertangkap.
Namun kemudian ia berlari semakin cepat, sehingga jaraknya menjadi semakin jauh.
Seperti yang dikehendaki
oleh Mahisa Pukat, maka orang-orang yang mengejarnya itupun semakin marah.
Mereka berteriak-teriak tidak menentu. Apalagi jika jarak mereka tinggal dua
langkah. Seolah-olah tangan pengawal yang dipaling depan itu dapat menggapai
pundak Mahisa Pukat. Namun usaha mereka sia-sia. Karena Mahisa Pukat pun
kemudian meniadi semakin jauh sambil sekali-kali berpaling.
Mahisa Murti yang
kemudian berada didepan Mahisa Pukat, kadang-kadang terlalu cepat berlari,
sehingga iapun harus menunggu. Tetapi iapun kemudian menjadi tidak telaten.
Katanya kepada Mahisa Pukat “Kita tinggalkan saja mereka”
“Jangan kau rusakkan
permainanku” jawab Mahisa Pukat.
“Apakah keuntunganmu
dengan permainan ini?“ desis Mahisa Murti.
“Mereka akan menganggap
kita sebagaimana mereka. Dan kita akan dapat membuat mereka menjadi lelah. Itu
adalah salah mereka sendiri” jawab Mahisa Pukat.
“Aku akan berlari
mendahului” berkata Mahisa Murti.
“Terserah kepadamu” jawab
Mahisa Pukat. Mahisa Murti menjadi jengkel. Tetapi ia tidak dapat mencegah
tingkah laku Mahisa Pukat itu. Ia benar-benar ingin membalas sakit hatinya
dengan caranya.
Sebenarnyalah,
orang-orang yang mengejarnya menjadi letih. Bahkan pengawal yang berada dipaling
depan itupun menjadi letih. Keduanya merasa bahwa mereka tidak akan dapat
mengejar dan menangkap kedua orang buruan itu dengan caranya. Karena itu maka
merekapun mulai mengancam “Jika kalian tidak berhenti, aku akan melakukan sikap
yang lebih keras” berkata salah seorang dari kedua orang pengawal itu.
“Apa yang dapat tuan
lakukan terhadap kami yang tidak dapat tuan tangkap?“ bertanya Mahisa Pukat
sambil berlari.
“Jangan menyangka kalian
dapat lepas dari tangan kami” bentak pengawal itu.
“Kalian tidak dapat
menyusul kami“ jawab Mahisa Pukat pula
“Sebentar lagi kalian
akan kami ikat” bentak pengawal lain.
Tetai Mahisa Pukat justru
tertawa. Namun sebenarnyalah orang-orang yang mengejarnya tidak dapat
menggapainya.
Namun dalam kemarahan
yang memuncak, pengawal itu ternyata tidak mempunyai pilihan lain kecuali
menghentikan kedua orang yang dikejarnya, atau salah seorang, daripadanya. Jika
salah seorang diantara mereka dapat ditangkap maka yang lainpun akan dapat
ditangkap pula.
Karena itu, maka seorang
diantara kedua pengawal itu telah mencabut pisau belati kecilnya. Sekali lagi ia
meng geram “Aku akan menangkapmu dengan cara yang tidak kau sukai jika kau tetap
tidak mau berhenti”
Mahisa Murti menjadi
curiga. Kata-kata itu tentu bukan sekedar untuk menakuti-nakuti. Karena itu,
maka iapun lelah berhenti menunggu Mahsa Pukat sambil berkata ”Hati-hati. Orang
itu bersungguh-sungguh”
Mahisa Pukatpun mempunyai
perhitungan serupa. Karena itu, sebelum hal-hal yang tidak dikehendakinya
terjadi, sehingga dapat membuatnya menjadi benar-benar marah, maka Mahisa
Pukatpun memutuskan untuk menghentikan permainan itu.
Dengan loncatan panjang,
maka Mahisa Pukatpun mempercepat langkahnya sehingga dengan cepat jarak antara
kedua orang anak muda itu dengan mereka yang mengejarnya menjadi semakin jauh.
Yang terjadi itu demikian
cepatnya, sehingga pengawal itu telah terlambat mengambil sikap. Ketia ia
benar-benar melontarkan pisaunya, maka Mahisa Pukat sudah menjadi semakin jauh.
Karena itu. maka pisaunya ternyata tidak lagi dapat mengejar. Mahisa Pukat yang
berlari semakin kencang
“Anak setan” geram
pengawal itu.
Mahisa Pukat dan Mahisa
Murti tidak menghiraukan lagi. Mereka berlari semakin jauh memasuki ujung bulak
dan kemudian berbelok menuju padang perdu.
Orang-orang yang
mengejarnya ternyata telah kehabisan nafas. Mereka tidak lagi mampu berlari.
Kedua orang pengawal berlari di paling depanpun lelah menjadi kelelahan,
sehingga akhirnya keduanyapun berhenti dengan sendiri, sementara. Orang-orang
lain tertinggal agak jauh dibelakang mereka.
“Mereka adalah penjahat
yang benar-benar berpengalaman” berkata salah seoang dari kedua pengawal itu
“ternyata mereka terlatih, bagaimana mereka harus melepaskan diri”
“Ya. Mereka terbiasa
berlari-lari. Aku tidak mampu lagi” sahut yang lain.
Kedua pengawal itu
berdiri sambil bertolak pinggang. Nafas mereka bekejaran diantara desah
kelelahan. Baru sejenak kemudian, orang-orang yang mengejar dibelakang kedua
pengawal itu mendekat. Sambil menjatuhkan diri diatas rerumputan dipinggir
jalan, salah seorang diantara mereka bertanya “Bagaimana?”
“Kenapa kau bertanya
begitu” bentak salah seorang pengawal yang kelelahan “kau lihat, kami tidak
dapat menangkap mereka?”
Orang itu mengerutkan
keningnya. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Iapun sadar bahwa kedua pengawal itu
tidak berhasil menangkap dua orang yang lari itu.
Sejenak mereka
termangu-mangu. Namun sejenak kemudian pengawal itupun berkata “Kita kembali ke
banjar. Bagaimanapun juga penjahat itu sudah lari. Agaknya mereka tidak akan
berani datang lagi. Mereka
tentu sudah melihat bahwa
seisi padukuhan sudah bersiap sedia. Jika mereka berani datang, dengan jumlah
yang banyak sekalipun, maka mereka akan dimusnahkan. Tetapi dalam pada itu,
kitapun harus berhati-hati”
Demikianlah, maka kedua
orang pengawal dan orang-orang padukuhan yang mengejar Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat itupun segera kembali ke banjar.
Nampaknya Akuwu benar
benar tidak terpengaruh oleh peristiwa itu. Sebenarnyalah Akuwu merasa, bahwa
kehadirannya bersama para pengawalnyaa ditambah para pengawal yang terdahulu,
telah merupakan telah merupakan satu kesatuan yang tidak lemah menghadapi
kekuatan yang manapun juga. Karena itu Akuwu masih tetap duduk tenang menikmati
bujana yang diselenggarakan di banjar. Semalam suntuk.
Dalam pada itu, di padang
perdu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk bersandar batang pepohonan. Terdengar
Mahisa Pukat berdesis ”Aneh”
“Apa yang aneh?“ bertanya
Manisa Murti.
“Keadaan kita” jawab
Mahisa Pukat “orang-orang Kabuyutan itu menganggap kita sebagai penyelamat
mereka, bahkan telah tumbuh satu dongeng yang mendebarkaan, seolah-olah kita
telah muncul dari kekuatan benda-benda keramat itu, namun sekaligus mereka
mencurigai kita dan menganggap kita sebagai penjahat yang perlu mereka buru
seperti memburu seekor binatang buas yang tersesat memasuki padukuhan”
Mahisa Murti tersenyum.
Katanya ”Memang menggelikan. Orang-orang yang mengejar kita tentu tidak pernah
membayangkan bahwa dua orang anak muda yang didengarnya dari dongeng itu seperti
kita sekarang ini”
“Memang menarik. Tetapi
apakah orang-orang yang melihat kita tidak pernah mengatakan, ujud dari dua
orang yang telah mereka anggap ungkapan kekuatan pusaka-pusaka itu?” bertanya
Mahisa Pukat.
“Mungkin juga. Tetapi
bagaimanapun juga., agaknya orang-orang itu mempunyai gambaran lain dari
penglihatan mereka atas kita” jawab Mahisa Murti “apalagi dalam gelap. Agaknya
mereka tidak dapat melihat dengan jelas”
Mahisa Pukat menggeliat.
Sambil menguap iapun kemudian menyilangkan tangannya didadanya. Katanya ”Lelah
juga rasanya berlari-lari. Aku akan tidur”
“Tidurlah” jawab Mahisa
Murti ”agaknya aku sudah sulit untuk tidur di sisa malam ini. Tetapi mungkin
justru siang nanti aku akan dapat tidur nyenyak”
Mahisa Pukat tidak
menjawab. Iapun kemudian memejamkan matanya. Sejenak kemudian, maka iapun sudah
tertidur.
Mahisa Murti yang tidak
dapat tidur, justru berdiri dan berjalan mondar-mandir. Iapun kadang-kadang
tersenyum sendiri mengenang tingkah laku orang-orang Kabuyutan itu.
Berdua dengan Mahisa
Pukat ia mengalami dua anggapan yang saling berlawanan. Sebagai pahlawan dan
sekaligus sebagai penjahat yang diburu.
Dalam pada itu langitpun
menjadi terang. Akuwu dan para pengawalnya telah tidak ada lagi di banjar.
Sebelum mereka kembali, maka mereka masih akan beristirahat. Akuwu akan berada
di rumah yang disediakan baginya. Separo dari para pengawal akan beristirahat
pula, sementara yang lain akan bergantian. Demikian pula dua orang Senopatinya.
Sementara itu. beberapa
orang pengawal telah saling berbincang tentang dua orang penjahat yang tidak
dapat dikejar oleh dua orang diantara para pengawal disertai beberapa puluh
ornag anak-anak muda di padukuhan itu.
“Seandainya dua orang
yang hadir dari pusaka-pusaka itu sempat keluar dari selongsongnya, maka mereka
tentu akan dapat menangkapnya” berkata seorang dari kedua pengawal yang ikut
mengejar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Mereka tentu mempunyai
sandaran ilmu” berkata kawannya ”tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak dapat
ditundukkan. Malam nanti, kita harus berhati-hati. Akuwu agaknya ingin berada
dipadukuhan ini dan meninggalkannya bersama barang-barang berharga itu. Akuwu
tidak ingin meninggalkan barang-barang itu lagi dan baru akan dikembalikan
kemudian meskipun dengan delapan atau sepuluh orang pengawal sekalipun”
“Jadi Akuwu akan bermalam
lagi?” bertanya seorang kawannya.
“Agaknya demikian” jawab
kawannya “tetapi entahlah Senopatipun masih belum pasti. Tetapi agaknya hari ini
Akuwu akan beristirahat penuh sampai malam nanti. Sementara kita akan
menempatkan pusaka-pusaka itu ditempatnya. Kita akan berusaha pedati dari
Kabuyutan ini dan esok kita akan berangkat bersama barang-barang itu”
Pengawal itu
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Akuwu akan ke banjar. Berapa orang yang ada
disana?”
“Empat orang” jawab
kawannya ”tetapi disana penuh dengan anak-anak muda bersenjata”
“Tetapi sebaiknya
pusaka-pusaka itu besok kita bawa kembali” berkata pengawal itu dengan demikian.
Aku wu
tidak akan selalu
digelisahkan oleh kemungkinan-kernungkinan buruk, "meskipun pusaka-pusaka itu
dapat menolong diri mereka sendiri”
Kawannya
mengangguk-angguk saja. sementara pengawal itupun kemudian pergi ke banjar.
Dalam pada itu, meskipun
para pengawal yang mengejar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendengarkan pula
ceritera tentang dua orang anak muda yang diduga keluar dari pusaka-pusaka yang
tersimpan itu dan menjelma menjadi dua orang yang memiliki ilmu yang tidak ada
taranya, namun mereka sama sekali tidak sampai pada pikiran, bahwa dua orang
yang dikejarnya itulah sebenarnya anak-anak muda yang dimaksudkan.
Karena itu, maka keduanya
sama sekali tidak mempunyai arah perhitungan yang demikian.
Tetapi sementara itu,
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mempunyai pertimbangan tentang diri mereka.
Untuk menghindari perhatian orang yang mungkin saja tertuju kepada mereka yang
berdua, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah sepakat, mereka tidak akan
menampakkan diri berdua. Ketika hari itu mereka memerlukan sesuatu, maka Mahisa
Pukatlah yang pergi ke kedai untuk membelinya.
Meskipun Mahisa Pukat
datang sendiri, tetapi agaknya ia sudah menarik perhatian. Untunglah bahwa
pakaiannya memberikan kesan bahwa ia memang seorang pengembara. Karena itu,
ketika pemilik itu bertanya kepadanya, dan dijawabnya bahwa ia memang seorang
pengembara, maka pemilik warung itu tidak mempersoalkannya lebih lanjut.
Namun dalam pada itu,
selagi Mahisa Pukat membeli beberapa potong ketela pohon rebus, ia sempat
mendengar
pembicaraan beberapa
orang yang kebetulan ada di kedai itu.
“Kabuyutan ini sedang
tidak tenang” berkata orang itu.
“Ya.. Justru karena
pusaka-pusaka yang dipergunakan dalam wisuda itu” jawab yang lain.
“Tetapi menurut
pendengaranku, besok barang-barang itu akan dibawa langsung oleh Akuwu” berkata
orang pertama.
“Sukurlah. Tetapi sayang
juga dengan dua orang anak muda itu. Seandainya keduanya bersedia tinggal disini
dan tidak lagi memasuki selongsongnya, maka keduanya akan menjadi pepunden
disini”
“Apa yang mereka ingini
tentu akan dipenuhi, karena keduanya akan dapat menjadi lambang keselamatan.
mana mungkin keduanya tinggal jika pusaka-pusaka itu tidak dibiarkan tinggal
disini. Keduanya dengan sendirinya akan ikut terbawa jika pusaka itu dibawa oleh
Akuwu. Kita tidak akan dapat menahannya denean cara apapun juga”
Mahisa Pukat tidak tahan
mendengarkan pembicaraan itu lebih lama lagi. Karena itu, maka iapun segera
meninggalkan tempat itu. Ketika Mahisa Murti mendengar ceritera Mahisa Pukat,
maka iapun hanya dapat tersenyum. Katanya “Salah kita. Tetapi apakah kita akan
tetap membiarkan anggapan yang keliru tentang diri kita itu?”
“Aku tidak mempunyai
keberatan apa-apa” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Murti menarik
nafas dalam dalam Maka katanya ”Sebenarnya aku merasa kasihan kepada mereka.
Mereka akan dapat tersesat dengan anggapannya itu. Pada suatu saat mereka akan
menyadarkan diri kepada kekuatan benda-benda upacara itu, seolah-olah benda
benda itu
benar-benar mempunyai
kekuatan yang langsung dapat hadir dalam ujud anak-anak muda seperti kita ini”
“Mereka tidak akan
berbuat demikian” jawab Mahisa Pukat ”mereka tidak mempunyai cara untuk
memanggil ujud yang mereka sangka ada didalam benda benda keramat mereka”
“Tetapi mereka akan dapat
mempercayakan segala sesuatunya kepada sikap benda-benda itu sendiri. Justru
mereka menganggap bahwa benda-benda itu akan dapat menyelamatkan diri mereka.
Bukankah hal itu berbahaya? Mereka akah menjadi lengah. Sedangkan barang-barang
itu nilainya tidak terkira. Benda-benda yang terbuat dari emas. tretes berlian
dan logam-logam berharga lainnya. Juga bebatuan yang mereka anggap mempunyai
kekuatan gaib dan kemampuan yang tidak terjadi lagi” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mulai
merenungi kata-kata Mahisa Murti. Namun akhirnya ia mengangguk-angguk sambil
bergumam ”Aku mengerti. Tetapi semuanya sudah telanjur. Jika sejak semula kau
berkata seperti itu, maka aku tentu akan bersikap lain” “Akupun tidak
memikirkannya sebelumnya” jawab Mahhisa Murti.
“Jadi bagaimana menurut
pendapatmu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Memang memerlukan satu
langkah yang tepat. Jika tidak, maka akibatnya akan jauh berbeda dari yang kita
kehendaki” jawab Mahisa Murti pula.
“Apakah yang sebenarnya
kita kehendaki?” desis Mahisa Pukat ”apakah kita akan memberikan keyakinan
kepada mereka, bahwa anggapan mereka tentang dua orang anak
muda itu keliru? Juga
tentang dua orang yang mereka kejar-kejar menjelang pagi di halaman banjar itu?”
“Kita akan memikirkannya”
berkata Mahisa Murti ”kitapun harus tahu, apakah pusaka itu masih tetap berada
di padukuhan itu, atau akan segera dibawa pergi bersama Akuwu”
Memang sulit bagi
keduanya untuk mendapatkan keterangan yang pasti tentang benda-benda berharga
itu. Namun Mahisa Pukatpun mengatakan kepada Mahisa Murti tentu apa yang
didengarnya dari orang di kedai itu, bahwa benda-benda berharga itu akan segera
di bawa bersama Akuwu esok pagi”
“Kita masih mempunyai
waktu untuk merenung cara yang paling baik yang dapat kita tempuh untuk
memberikan keyakinan, bahwa ceritera yang mereka terima sebagai satu kenyataan
itu tidak benar. Tidak ada pusaka yang dapat menjelma menjadi manusia dari
antara pusaka-pusaka yang dipergunakan untuk kelengkapan upacara itu”
Dengan demikian, maka
kedua anak muda itu telah mencoba merenungkan cara yang paling baik untuk
mengatakan kepada orang-orang dipadukuhan itu, atau kepada Akuwu dan para
pengawalnya, bahwa anggapan mereka tentang dua orang anak muda itu keliru.
Namun justru karena itu,
maka kedua orang anak muda itu. tidak meninggalkan tempat itu sehari penuh.
Mereka tidak melanjutkan perjalanan mereka ketempat yang tidak pasti. Tetapi
mereka tetap saja menunggu matahari tenggelam di balik cakrawala.
“Tidak ada cara yang
dapat kita tempuh” berkata Mahisa Murti kecuali malam nanti kita memasuki
padukuhan itu dan berkata terus terang tentang diri kita masing-masing”
“Apakah mereka akan
percaya?” bertanya Mahisa Pukat.
“Para pengawal akan
mengenal kita. Orang-orang yang tertangkap itupun mengenal kita pula” berkata
Mahisa Murti.
“Ya. Mudah-mudahan mereka
tidak melupakan wajah-wajah kita yang hanya dapat mereka lihat sekilas, berkata
Mahisa Pukat kemudian.
“Tetapi rasa-rasanya aku
tidak sampai hati melihat wajah-wajah mereka yang tentu akan menjadi sangat
kecewa melihat kenyataan yang tidak mereka kehendaki” berkata Mahisa Murti
kemudian.
“Jadi rencanamu goyah?
Kau akan membiarkan orang-orang itu tetap pada pendapatnya? Sudah aku katakan,
aku tidak berkeberatan jika anggapan itu masih tetap ada didalam diri mereka.
Meskipun demikian aku dapat mengerti keberatanmu. Karena itu aku setuju untuk
menyatakan kebenaran ini. Sekarang kau sendiri yang menjadi ragu” sahut Mahisa
Pukat.
Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian katanya ”Baiklah. Mungkin memang pahit untuk melihat
kenyataan yang tidak dikehendaki. Tetapi mereka harus berani menatap kenyataan
itu sebagai satu kebenaran. Dua orang anak muda itu bukan tuah dari
pusaka-pusaka yang besok akan dibawa oleh Akuwu kembali ke istananya itu”
“Apakah kita akan
langsung menghadap Akuwu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya. Malam nanti kita
memasuki regol padukuhan. Mungkin kita akan ditangkap. Kita tidak akan melawan.
Jika kita dihadapkan kepada Akuwu, atau kepada Ki Buyut yang baru itu, kita akan
berkata terus terang, apa yang pernah terjadi. Justru karena kita mendengar
bahwa mereka
mempunyai anggapan yang
keliru tentang diri kita. maka kita datang untuk meluruskan kekeliruan itu”
jawab Mahisa Murti
Mahisa Pukat
mengangguk-angguk. Katanya”Baiklah. Aku dapat mengerti. Tetapi kita harus
bersiap menghadapi kemungkinan yang barangkali juga tidak pernah kita duga
sebelumnya Mungkin kita akan menghadapi tindak kekerasan. Bagaimanapun juga, aku
tetap tidak mau dianggap sebagai orang-orang yang dikirim oleh sekelompok
penjahat untuk mengamati padukuhan itu”
“Tentu. Bagaimanapun juga
kita masih mempunyai harga diri.
Apalagi untuk menjalani
hukuman gantung di alun-alun” berkata Mahisa Murti kemudian.
“Akhirnya keduanya
mendapatkan satu kesepakatan. Namun keduanya menyadari, mungkin ada perlakuan
yang kurang menyenangkan bagi mereka. Bahkan mungkin mereka harus berbuat
sesuatu untuk melindungi diri mereka sendiri.
Demikianlah, ketika
langit menjadi suram, keduanyapun telah berkemas. Mereka akan pergi ke padukuhan
yang mempunyai anggapan yang aneh tentang diri mereka berdua. Paada suatu saat
mereka di sanjung karena mereka dianggap sebagai perwujudan dari kesaktian
pusaka-pusaka yang dipergunakan untuk upacara, tetapi pada saat yang lain mereka
diburu seperti memburu binatang buas yang masuk ke padukuhan untuk mencuri
ternak.
Dengan hati yang
berdebar-debar, kedua orang anak muda itu mendekati regol. Dibawah cahaya obor
yang cukup besar, keduanya melihat kesiagaan di regol itu. Disamping anak-anak
muda yang bertugas, ternyata di dalam regol masih terdapat beberapa orang
anak-anak
muda yang hilir mudik.
Mereka ikut membantu kawan-kawan mereka.
“Beberapa langkah dari
regol kedua anak muda itu berhenti. Keragu-raguan masih selalu membayangi
mereka. Namun akhirnya Mahisa Murti berkata “Marilah. Kita berniat baik. Kita
tidak akan merugikan mereka, kecuali jika mereka sendiri memaksa kita berbuat
demikian.
Dengan langkah pasti
kedua anak muda itupun kemudian mendekat regol padukuhan itu sebagaimana judah
mereka duga maka anak-anak muda yang berjaga-jaga di regol itu telah
menghentikan keduanya
“Siapa kalian” bertanya
pemimpin dari anak anak muda itu.
“Kami dua uang kakak
beradik yang merantau tanpa tujuan” jawab Mahisa Murti.
Jawaban itu mengejutkan.
Namun kemudian anak muda itu bertanya pula “Apa maksudmu memasuki padukuhan
kami?” “Kami hanya ingin bermalam saja di padukuhan ini jika kami mendapat
tempat untuk berteduh. Mungkin di serambi banjar atau ditempai-tempat lain”
jawab Mahisa Pukat.
Sebelumnya memang pernah
terjadi. Orang-orang yang sedang merantau atau pejalan yang kemalaman, dapat
bermalam di banjar padukuhan itu Bahkan sekali-sekali dalam satu kesempatan,
kadang-kadang mereka mendapatkan makan atau sepotong ketela rebus dari para
peronda.
Tetapi anak muda itu
menjadi ragu-ragu, justru dalam keadaan yang terasa gawat pada waktu itu.
Beberapa orang
kawannyapun kemudian
telah mengerumuni dua orang anak muda yang mengaku sebagai perantau itu.
Ternyata anak-anak muda
itu tidak cepat menghubungkan kedua orang anak muda yang memasuki padukuhan
mereka itu dengan dua orang anak muda yang hadir di banjar sebagai ujud dari
pusaka-pusaka Akuwu yang dipergunakan dalam kelengkapan wi suda Ki Buyut yang
baru. Atau merekapun tidak cepat menganggap bahwa dua orang itu adalah orang
yang telah dikejar-kejar oleh para pengawal dan orang-orang padukuhan itu
sendiri. Yang tumbuh di hati anak-anak muda pada waktu itu hanyalah sekedar
kecurigaan karena keadaan yang sedang gawat pada waktu itu.
“Maaf Ki Sanak” berkata
pemimpin dari anak-anak muda itu “kedatangan kalian justru pada saat yang tidak
menguntungkan. Padukuhan kami sedang di bayangi oleh kejahatan yang dapat
membahayakan. Karena itu, untuk satu dua hari ini, kami tidak dapat memberikan
kesempatan kepada Ki Sanak berdua untuk bermalam”
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat menjadi termangu-mangu sejenak. Namun kemudian Mahisa Murtipun berkata
”Bukankah kami hanya berdua saja? Apa yang dapat kami lakukan. Sementara itu
kamipun tidak bersenjata. Kami hanya ingin menumpang tidur. Tidak lebih”
Sekali lagi pemimpin dari
anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu. Iapun sependapat dengan Mahisa Murti.
Hanya dua orang anak muda. Apakah yang dapat mereka lakukan? Apalagi jika
keduanya mendapat pengawasan yang ketat. Jika keduanya dibiarkan tidur diserambi
depan banjar, tidak diserambi samping, maka para peronda akan dapat mengawasi
mereka dengan langsung.
Apalagi di ruang dalam
ada beberapa orang pengawal yang juga berjaga-jaga. Selebihnya, pusaka-pusaka
itu sendiri akan mampu melindungi diri mereka.
Selagi pemimpin anak-anak
muda diregol itu merenung, tiba-tiba saja seorang anak muda yang bertubuh pendek
dengan otot yang mencuat di wajah kulitnya telah melangkah maju sambil membentak
”Apakah kalian tidak mendengar bahwa kalian harus pergi?”
Mahisa Pukat mengerutkan
keningnya. Ia tidak senang mendengar kata-kata yang kasar itu. Tetapi ia masih
mencoba menahan diri.
“Ki Sanak” berkata
ppemimpin anak-anak muda itu kemudian ”apa boleh buat. Agaknya kawan-kawanku
berkeberatan”
“Belum tentu” tiba-tiba
saja Mahisa Pukat menyahut ”hanya seorang diantara kawan-kawan Ki Sanak yang
tidak sependapat dengan Ki Sanak, bahwa memberikan tempat bermalam bagi orang
yang kemalaman merupakan satu perbuatan yang terpuji”
Anak muda yang bertubuh
pendek dengan otot-otot yang mencuat kemerah-merahan, kemarahannya nampak
semakin memuncak.
“Kau mencari perkara anak
setan” geram orang bertubuh pendek itu.
Mahisa Murtilah yang
kemudian menyahut ”Sama-sekali tidak, Saudaraku, aku hanya ingin mengatakan apa
yang terakhir olehnya memilik sikap kawan-kawanmu “
Orang bertubuh pendek itu
meloncat maju. Tangannya telah terayun menampar pipi Mahisa Murti.
Mahisa Murti sama sekali
tidak menghindar. Ia menyeringai menahan sakit. Tetapi justru karena daya
tahannya yang tinggi, maka perasaan sakit itupun segera dapat diatasinya.
Mahisa Pukatlah yang
hampir saja menerkam orang itu. Tetapi Mahisa Murti sempat menggamitnya.
Sementara itu. kawan kawan anak muda itupun berusaha melerainya.
“Jangan” berkata pemimpin
dari anak-anak muda itu “jika kita menolak, biarlah kita menolak. Tetapi jangan
menyakitinya. Mungkin mereka benar-benar orang yang memerlukan pertolongan”
Orang bertubuh pendek dan
berotot mencuat menjulur di bermukaan kulitnya itu menggeram. Tetapi ia tidak
memukul lagi.
“Ki Sanak“ berkata
pemimpin anak-anak muda itu “sebaiknya kalian meninggalkan padukuhan ini.
Bermalamlah di padukuhan lain. Mereka yang tidak sedang mengalami kesulitan
seperti kita disini. tentu akan dapat menerima kalian dengan baik”
Tetapi Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat tidak segera pergi. Mereka memang tidak ingin pergi ke
padukuhan-padukuhan yang lain. Mereka ingin bermalam di padukuhan itu.
Dalam ketegangan itu,
tiba-tiba seorang diantara orang-orang padukuhan itu yang datang mengerumuni
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang semalam berdiri disebelahnya dan yang
ternyata telah melarikan diri. Karena itu, maka dengan lantang ia berkata “Orang
itulah yang kita buru semalam”
“He” Orang yang bertubuh
rendah dengan otot-otot di kulitnya itu terkejut.
“Ya. Aku tidak keliru.
Aku berdiri disebelahnya. Meskipun saat itu gelap, dan cahaya obor tidak terlalu
banyak menggapai wajahnya, tetapi aku yakin” berkata orang yang mengenalinya
itu.
“Jika demikian, jelas,
keduanya adalah penjahat-penjahat itu” teriak yang lain.
“Biarlah kita buat
keduanya jera” geram orang bertubuh pendek.
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat termangu-mangu sejenak. Sementara itu Mahisa Pukatpun telah bersiap
menghadapi segala kemungkinan. Namun Mahisa Murti justru berbisik “Kebetulan
sekali. Mereka akan menangkap kita. Kita akan mereka bawa menghadap Ki Buyut”
“Jika mereka berbuat kasar?” bertanya Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu.
pemimpin anak-anak muda diregol itu berkata “Kita tangkap mereka. Telapi jangan
disakiti. Kita akan dapat memperlakukan mereka dengan cara lain. Tentu mereka
mempunyai maksud tertentu bah wa mereka datang kembali malam ini setelah
malam-malam sebelumnya”
Kawan-kawannya memandangi
pemimpin anak-anak muda itu dengan heran. Seorang diantara mereka berkata “Sudah
tentu, maksudnya tentu akan melakukan kejahatan lagi, karena malam kemarin ia
gagal berbuat sesuatu. Mereka tentu sudah mendengar bahwa malam ini adalah malam
terakhir benda-benda berharga itu disini. Karena itu, maka mereka tentu akan
berusaha dengan cara yang lebih kasar lagi dari cara-cara sebelumnya”
“Aku mempunyai
pertimbangan lain” berkata pemimpin anak-anak muda yang berada di regol itu
“mereka datang justru melalui regol ini. Mereka sadar, bahwa diregol ini tentu
banyak penjaganya”
“Itu adalah sekedar cara.
Mereka minta ijin untuk bermalam”
“Tetapi jika kita
mengijinkan, maka mereka akan berbuat jahat” berkata anak muda yang lain.
“Mungkin” jawab anak muda
itu “tetapi biarlah Ki Buyut yang baru itu memeriksanya Mungkin mereka akan
berbuat jahat”
“Tetapi mungkin pula
tidak”
Kawan-kawannya nampaknya
masih belum puas. Tetapi dalam pada itu Mahisa Murti berkata “Kami bersedia
ditangkap dan dihadapkan kepada siapa saja. Kami memang tidak akan berbuat
apa-apa selain mohon tempat untuk bermalam”
Pemimpin anak-anak muda
itupun kemudian berkata “Marilah. Kita akan membawanya menghadap Ki Buyut”
“Ki Buyut tidak ada di
banjar” berkata salah seorang dari anak-anak muda itu “aku baru saja datang dari
banjar”
“Kita akan membawanya
kerumahnya” berkata pemimpin dari anak-anak muda itu.
Demikianlah, maka
anak-anak muda itu tidak dapat memaksakan kehendaknya. Mereka kemudian
membiarkan pemimpin anak-anak muda itu membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
pergi kerumah Ki Buyut diiringi beberapa orang anak-anak muda. Bahkan anak muda
yang ingin berbuat kasar terhadap kedua orang anak muda itupun telah mengikut
pula. Jika ada kesempatan, maka mereka sudah siap untuk bertindak tegas terhadap
kedua orang yang dianggapnya sebagai dua orang penjahat itu.
Ketika mereka sampai
kerumah Ki Buyut yang baru, merekapun segera dibawa naik kependapa, sementara
seseorang diantara mereka
telah mengatakan kepada Ki Buyut yang sedang berada diruang dalam ”Ada apa?”
berkata Ki Buyut.
“Dua orang yang
mencurigakan telah memasuki regol” berkata orang yang menghadap Ki Buyut itu
“mereka sudah kami bawa ke pendapa ini”
“Apa yang telah mereka
lakukan?” bertanya Ki Buyut.
“Belum ada” jawab
pemimpin anak-anak muda yang berada di regol itu.
“Kenapa kalian dapat
menuduh bahwa keduanya adalah penjahat” bertanya Ki Buyut kemudian.
Orang ituun kemudian
menceriterakan apa yang telah terjadi di regol. Bahwa ada orang yang langsung
dapat mengenalinya sebagai orang yang dikejar-kejar pada malam sebelumnya.
“Apakah kalian yakin akan
hal itu?” bertanya Ki Buyut.
“Keduanya tidak
membantah” jawab orang itu.
Ki Buyut kemudian
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan melihatnya dipendapa”
Sejenak kemudian, setelah
membenahi pakaiannya, Ki Buyutpun telah keluar di pendapa. Diantara anak-anak
muda dan orang-orang yang mengikuti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Ki Buyutpun
mulai bertanya tentang beberapa hal kepada kedua orang anak muda itu.
“Siapa namamu?” bertanya
Ki Buyut.
“Namaku Pinta” jawab
Mahisa Murti “saudaraku itu bernama Soma”
“Kalian berasal dari
mana?” bertanya Ki Buyut pula.
“Kami adalah pengembara
Ki Buyut” jawab Mahisa Murti.
Ki Buyut itu
mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya “Apakah benar bahwa kau kemarin
telah dikejar-kejar oleh orang-orang di padukuhan ini?”
Mahisa Murti yang memang
ingin mengatakan yang sebenarnya tentang pusaka-pusaka itu tidak membatah.
Jawabnya “Ya. Akulah yang kemari di kejar-kejar bersama saudaraku”
“Jadi benar bahwa kalian
adalah penjahat-penjahat?” bertanya Ki Buyut pula.
“Tentu tidak Ki Buyut”
jawab Mahisa Pukat “kami bukan penjahat. Sebenarnya kemarinpun kami hanya ingin
bermalam di banjar. Tetapi ternyata banjar itu penuh dengan orang”
“Apa yang dikatakannya?”
bertanya Ki Buyut.
”Mereka mengaku
orang-orang dari padukuhan sebelah” jawab orang itu.
“Benarkah kalian
berhobong?” bertanya Ki Buyut pula.
Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Namun agaknya sudah waktunya untuk menolong orang-orang
Kabuyutan itu yang mempunyai pandangan yang keliru terhadap pusaka-pusaka yang
berada di banjar, yang agaknya telah mempengaruhi pendapat Akuwu pula. Akuwu
yang memiliki benda-benda itu sejak turun tumurun, yang selamanya tidak pernah
memikirkan ceritera yang aneh itu, tiba-tiba telah menjadi ragu-ragu.
“Benar Ki Buyut” berkata
Mahisa Murti “tetapi aku mempunyai alasan. Aku tidak mau ditangkap dan
diperlukan tidak baik. Sebenarnyalah aku ingin mengatakan
sesuatu yang barangkali
mengejutkan bagi Ki Buyut dan orang-orang Kabuyutan ini”
Ki Buyut mengerutkan
keningnya. Namun seorang anak muda telah berkata “Jangan mengatakan yang tidak
benar. Jika kau masih saja mengigau, maka kau akan mengalami perlakuan yang
kurang baik disini”
Mahisa Murti berpaling
kearah orang itu. Namun baginya, saatnya memang sudah tiba. Betapapun
keragu-raguan menggelitik jantungnya, namun ia sudah berniat dengan pasti, untuk
menyampaikan ceritera yang sebenarnya tentang dua orang anak muda yang disangka
ujud dari pusaka-pusaka yang berada di banjar. Karena itu, maka Mahisa Murtipun
kemudian berkata “Ki buyut. Kami berdua kemarin telah menyaksikan wisuda yang
dilakukan oleh Akuwu. Kami berdua ikut merasa bangga bahwa wisuda itu telah
berlangsung dengan baik, selamat dan hidmat. Namun dalam pada itu. kamipun telah
mendengar satu ceritera yang sangat menarik tentang benda-benda keramat yang
menjadi kelengkapan upacara wisuda itu”
“Apa yang menarik”
bertanya Ki Buyut.
“Yang menarik adalah
nilai dari benda-benda itu” sahut seorang anak muda.
“Jangan memotong” berkata
Ki Buyut kemudian. Lalu katanya kepada Mahisa Murti “lanjutkan”
“Ki Buyut' sambung Mahisa
Murti “apakah benar bahwa benda-benda berharga itu dapat menjelma menjadi dua
orang anak muda?”
“Ya” jawab Ki Buyut “para
pengawal telah membuktikannya. Orang-orang yang tertangkap itupun mengatakannya”
“Itulah yang ingin aku
jelaskan. Ceritera itu sama sekali tidak benar” berkata Mahisa Murti.
“Tutup-mulutmu” bentak
seorang anak muda “apakah kau tidak takut kuwalat?”
“Aku dapat menjelaskan”
jawab Mahisa Murti.
“Apa yang dapat kau
jelaskan?” bertanya Ki Buyut.
Mahisa Murti menarik
nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Ki Buyut. Bukan maksudku untuk merusak satu
anggapan tentang pusaka-pusaka itu. Aku menghormati benda-benda keramat itu.
Justru karena itu, maka aku ingin mengatakan yang sebenarnya” Mahisa Murti
berhenti sejenak, lalu ”sebenarnyalah aku ingin bertanya, kecuali yang mengenali
aku pada saat wisuda, apakah ada yang pernah mengenali aku sebelumnya? Kami
berdua pernah bermalam di banjar itu. Para peronda pada waktu itu telah
menempatkan kami diserambi samping. Di malam hari kami telah mendapat makan
hangat bersama seorang laki-laki tua”
Ki Buyut memandang
anak-anak muda yang ada di pendapa itu. Kemudian iapun bertanya “Siapa yang
berada di banjar pada malam sebelum wisuda”
“Dua malam sebelum
wisuda“ potong Mahisa Pukat.
Ternyata tidak seorangpun
yang kebetulan berada di pendapat rumah Ki Buyut itu melihat Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat bermalam di banjar.
Karena itu, maka Ki Buyut
berkata “Tidak seorangpun yang pernah mengenalimu, kecuali pada malam wisuda”
“Baiklah Ki Buyut. Jika
aku mengatakan sesuatu sama sekali bukan terdorong oleh satu sikap sombong.
Tetapi
kami berdua hanya ingin
menempatkan persoalannya pada tempat yang sebenarnya”
“Apa yang ingin kau
katakan?”desak Ki Buyut tidak sabar.
Mahisa Murti
termangu-mangu sejenak. Namun akhirnya iapun mengatakan, apa yang telah
dilakukannya. Ialah yang datang bersaudara laki-lakinya pada saat Kabuyutan itu
di cengkam oleh sirep yang tajam. Ialah yang membangunkan, para pengawal pada
malam pertama, dan ia berdua pulalah yang telah melawan para perampok pada malam
menjelang malam wisuda Sehingga dengan demikian, maka ceritera tentang dua orang
anak muda yang merupakan ujud dari benda-benda keramat itu sama sekali tidak
benar.
“Omong kosong” teriak
seorang anak muda “kau nampaknya benar-benar orang gila”
“Jangan menghina
pusaka-pusaka itu” sahut anak muda yang lain.
“Ki Sanak“ potong Mahisa
Pukat “sebaiknya Ki Sanak menghubungi para pengawal di malam perampokan yang
pertama. Mereka tentu masih mengenal kami berdua”
“Itu adalah pekerjaan
sia-sia” jawab seorang yang lain “kalian memang pantas untuk dihukum dera sampai
kalian jera”
“Aku berkata sebenarnya“
Mahisa Murti menjelaskan. Sementara Mahisa Pukat menyambung “cara yang paling
baik adalah, kalian memanggil ampat orang pengawal yang terdahulu. Mereka
melihat aku dan tentu merekapun mengenal aku. Juga para peronda di malam
sebelumnya. Aku sudah bermalam di banjar itu”
“Omong kosong” teriak
seorang anak muda yang kehilangan kesabaran “kalian ternyata masih juga
mengigau”
“Kami berkata sebenarnya”
jawab Mahisa Pukat “memang tidak ada cara lain, kecuali memanggil para pengawal
itu. Biarlah mereka mengenali kita”
“Ada cara yang lebih
baik” berkata seorang anak muda yang bertubuh raksasa “jika kalian dapat
menunjukkan' kemampuan sebagaimana ditunjukkan oleh kedua anak muda itu, maka
kami akan mempercayaimu. Kami akan mengundang para pengawal untuk membuktikan,
apakah kalian benar-benar orang yang telah menyelamatkan pusaka-pusaka itu di
dua malam berturut-turut”
“Sebenarnya cara itu
tidak perlu” berkata Mahisa Murti “karena menurut pendapatku, ada cara yang
lebih baik, yaitu mengundang para pengawal. Bukankah mereka masih berada di
Kabuyutan ini?”
“Persetan” bantah anak
muda bertubuh raksasa itu “kalian ingin mempermainkan kami. Sudah aku katakan,
aku sendiri_akan mengundang para pengawal itu, jika kalian mampu menunjukkan
sebagian kecil saja dari kemampuan ujud dari benda-benda keramat iiu”
“Ki Sanak” berkata Mahisa
Murti “sebenarnya kami dapat meninggalkan Kabuyutan ini, apapun yang terjadi.
Mungkin kalian akan mendapatkan satu kepercayaan yang sesat tentang benda-benda
upacara itu. Aku tidak peduli. Tetapi aku tidak, dapat membiarkan Akuwu
mempunyai dugaan seperti itu pula”
Ki Buyut merenungi Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat dengan saksama. Sebenarnyalah didalam hatinya timbul
keragu-raguan. Jika kedua anak-anak muda itu bukan dua orang anak muda yang
berada di banjar melawan para
perampok, apakah mereka
berani menyebut dirinya seperti itu. Tetapi jika benar seperti apa yang
dikatakannya, maka ujud kedua orang anak muda itu memang kurang meyakinkannya.
Dalam pada itu orang
bertubuh raksasa itupun berkata “Kau tidak perlu mengada-ada. Yang penting kau
harus membuktikan kata-katamu. Melawan sejumlah perampok bukan pekerjaan yang
dapat disebut begitu saja oleh setiap orang. Apalagi di malam kedua. Dua orang
anak-anak muda telah berjuang tanpa orang lain untuk mematahkan perlawanan para
perampok yang telah berhasil mengetrapkan ilmu sirep mereka yang sangat tajam.
Dan kalian dengan tanpa malu-malu telah menyebut diri kalian sebagaimana dua
orang anak muda itu”
“Kami hanya mengatakan
yang sebenarnya” berkata Mahisa Pukat yang mulai panas “tetapi jika kalian lebih
senang menyebut bahwa dua orang anak muda itu merupakan ujud dari benda-benda
upacara itu, terserahlah. Kami semula memang bermain-main dengan para perampok
dan benda-benda upacara itu. Kami memang memberikan kesan yang demikian,
meskipun pada malam pertama hal itu sama sekali tidak kami sengaja. Kami hanya
akan menghindarkan diri dari keterlibatan lebih jauh. Sehingga karena itu, kami
dengan diam-diam telah menyingkir. Namun ternyata telah timbul dugaan yang
salah. Jika dugaan yang salah itu menjadi semakin berlarut-larut, maka kami
berdua merasa ikut bersalah atas timbulnya kesan yang keliru itu“
“Omong kosong” bentak
orang bertubuh raksasa itu
“kami hanya ingin kalian
membuktikannya. Tidak hanya dengan banyak bicara saja”
“Bagaimana cara yang
sebaik-baiknya untuk membuktikan seperti yang kau maksudkan?” bertanya Mahisa
Pukat yang sudah tidak sabar lagi.
“Kalian harus mampu
berbuat sebagaimana dilakukan oleh kedua orang anak-anak muda itu” jawab orang
bertubuh raksasa.
“Mengalahkan sejumlah
perampok itu? Kau maksudkan, perampok-perampok yang sudah tertangkap itu akan
kau bawa kemari dan kami berdua harus bertempur melawan mereka?” bertanya Mahisa
Pukat.
Tetapi Mahisa Murti cepat
menyahut “Daripada kalian membawa perampok-perampok itu kemari, lebih baik
kalian menghubungi empat orang pengawal yang terdahulu untuk mengenali kami.
Tanpa benturan kekerasan, tetapi maksud kalian sudah terpenuhi”
“Persetan” geram orang
bertubuh raksasa itu “aku tidak perlu memanggil para perampok itu. Jika salah
seorang dari kalian berdua dapat mengalahkan aku, maka aku akan mempercayai
kalian. Bahwa kalian memang pantas untuk menyebut diri kalian seperti yang
kalian katakan”
Mahisa Pukat yang hampir
kehilangan kesabarannya itu bergeser setapak. Tetapi Mahisa Murti nampaknya
masih tetap berusaha menguasai diri. Katanya “Apakah hal itu perlu? Sebenarnya
aku lebih senang jika kalian memanggil para pengawal. Itu saja”
“Kau ulangi sampai seribu
kali” bentak orang bertubuh raksasa itu “aku akan membuktikannya”
Mahisa Murti memandang Ki
Buyut sejenak. Kemudian katanya “Segalanya terserah kepada kebijakanaan Ki
Buyut“
Ki Buyut
mengangguk-angguk. Katanya “Memang sulit untuk mengambil keputusan. Tetapi aku
condong untuk memanggil empat orang pengawal itu, atau membawa kalian berdua
menghadap mereka di banjar”
“Itu tidak perlu Ki
Buyut“ bantah orang bertubuh raksasa itu “seolah-olah kita, isi dari Kabuyutan
ini tidak dapat mengambil sikap sendiri. Kenapa kita harus tergantung sekali
kepada para pengawal yang berada di banjar? Seolah-olah kita tidak mampu berbuat
apa-apa hanya karena pokal anak-anak muda pemimpi ini”
Ki Buyut menarik nafas
dalam-dalam. Lalu katanya “terserahlah kepadamu. Tetapi aku tidak ingin melihat
pertumpahan darah. Jika kau merasa yakin akan pendapatmu, maka kau harus
berhenti. Menang atau kalah”
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat menjadi berdebar-debar. Tetapi jika cara itu yang harus mereka tempuh,
maka merekapun tidak akan berkeberatan.
Namun sebelum Mahisa
Pukat menyatakan dirinya, Mahisa Murti telah mendahuluinya “Baiklah. Aku akan
melayani mu Ki Sanak”
Mahisa Pukat menggamit
Mahisa Murti sambil berbisik “Biar aku sajalah”
Tetapi Mahisa Murti
tersenyum. Katanya “Biarlah kau menyaksikan apa yang terjadi”
Mahisa Pukat menarik
nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Mahisa Murti tidak ingin ia terseret arus
perasaannya. Karena itu maka Mahisa Pukatpun tidak membantahnya lagi. Ia merasa
bahwa Mahisa Murti lebih mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam pada itu, maka Ki
Buyutpun dengan hati yang berdebar-debar telah memberikan kesempatan orang
bertubuh raksasa itu
membuktikan, apakah benar-benar Mahisa Murti mampu menunjukkan kemampuannya
sehingga ia dapat dipercaya, bahwa kedua anak muda itulah yang telah mereka
sangka anak-anak muda yang menjadi ujud dari benda-benda keramat dalam upacara
wisuda itu.
Sebenarnyalah halaman
rumah Ki Buyut itupun telah dicengkam oleh ketegangan. Anak-anak muda dan
orang-orang yang berada di halaman itu telah membentuk sebuah putaran yang akan
menjadi arena perkelahian antara Mahisa Murti dan orang bertubuh raksasa itu.
Orang yang merasa dirinya memiliki kekuatan dan kemampuan melampaui kawan-kawan
dan tetangga-tetangganya di Kabuyutan itu.
Sejenak orang bertubuh
raksasa itu berdiri ter-mangu-mangu. Dihadapannya Mahisa Murti sudab siap
melawannya. Meskipun nampaknya keadaan tubuh mereka tidak seimbang, namun pada
wajah anak muda itu nampak sesuatu keyakinan yang mantap.
Ki Buyut berdiri di
pinggir arena yang dilingkari oleh orang-orang yang ingin menyaksikan, apakah
anak muda itu benar-benar memiliki kelebihan sebagaimana dikatakannya. Mereka
telah mengenal bahwa orang bertubuh raksasa itu memang orang yang disegani di
Kabuyutan itu.
Tetapi agaknya Ki Buyut
tidak akan dapat mencegah orang bertubuh raksasa itu untuk menjajagi kemampuan
Mahisa Murti. Karena itu, maka Ki Buyut itupun berkata didalam hatinya “Biarlah
orang itu sekali-kali mengenal kemampuan orang lain. Jika ia kalah, itu adalah
satu pengalaman yang baik. Tetapi jika ia menang, maka agaknya anak muda itu
benar-benar orang-orang yang sekedar mengaku-aku saja. Karena kemampuan
anak-anak
muda yang disebut sebagai
ujud dari pusaka-pusaka itu benar-benar mengagumkan”
Demikianlah, maka kedua
orang yang berada diarena itupun sudah siap. Ki Buyut yang kemudian melangkah
maju berkata ”Ingat. Aku tidak ingin kalian kehilangan akal. Yang akan terjadi
adalah sekedar penjajakan. Jika salah satu pihak sudah mengaku kalah, maka
perkelahian akan berakhir. Jika anak muda itu kalah, maka segala keterangannya
dianggap tidak benar. Tetapi jika ia menang, maka ia akan menghadap Akuwu untuk
menyatakan dirinya. Tetapi segalanya terserah kepada Akuwu. Apakah Akuwu percaya
atau tidak, bukanlah persoalan kami”
“Baiklah Ki Buyut” sahut
Mahisa Murti “sebenarnyalah jika Ki Buyut membawa kami menghadap, maka kami
tidak perlu melakukan penjajahan seperti ini. Kemudian terserah kepada Akuwu,
apakah Akuwu percaya atau tidak”
“Tutup mulutmu” bentak
orang bertubuh raksasa yang sudah merasa gatal ”Sudah aku katakan. Kalahkan aku
sebelum kau dibawa menghadap Akuwu”
Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku sudah bersiap”
Nampaknya orang bertubuh
raksasa itu sudah tidak sabar lagi. Iapun mulai bergeser. Kemudian merekapun
mulai berputar ditengah tengah arena.
Sesaat kemudian, maka
orang bertubuh raksasa itu mulai menjulurkan tangannya, sekedar untuk memancing
gerak Mahisa Murti.
Namun ternyata Mahisa
Murti telah menanggapi dengan sikapnya yang khusus. Ia memang ingin mengganggu
orang bertubuh raksasa itu. Karena itulah, maka ketika tangannya
terjulur, diluar dugaan,
Mahisa Murti telah menyerang tangan itu. Dengan pukulan sisi telapak tangannya,
Mahisa Murti menghantam lengah orang bertubuh raksasa itu diatas pergelangannya,
karena Mahisa Murti memang tidak ingin merusakkan pergelangan tangan raksasa
itu.
Namun sentuhan sisi
telapak tangan Mahisa Murti itu membuat tangan raksasa itu bagaikan patah.
Terdengar ia mengaduh tertahan. Dengan loncatan panjang ia surut.
Sejenak orang itu berdiri
termangu-mangu. Namun kemudian terdengar ia mengumpat sambil berkata “Anak
iblis. Kau telah berhasil mencuri serangan. Aku tidak menyangka bahwa kau
ternyata sangat licik”
“Apa artinya licik
menurut penilaianmu Ki Sanak“ jawab Mahisa Murti “Bukankah kau sudah mulai, dan
aku menyerangmu dengan terbuka. Tidak dengan sembunyi-sembunyi atau dari
belakang?”
Orang bertubuh raksasa
itu menjadi semakin marah, sementara orang-orang yang menyaksikannya menjadi
berdebar-debar.
Sejenak kemudian, orang
bertubuh raksasa itupun tidak lagi sekedar memancing gerak lawannya. Tetapi
ketika kemudian ia mendapat kesempatan, maka iapun telah benar-benar melantarkan
serangan dengan kakinya.
Mahisa Murti melihat
serangan itu. Karena itu, maka iapun sempat menghindar. Tetapi orang bertubuh
raksasa itu ternyata telah menarik serangannya. Kakinya yang terjulur itupun
kemudian justru menjadi tumpuan kakinya yang lain berputar mendatar.
Serangan itu datang
beruntun. Namun Mahisa Murti tidak menjadi bingung. Iapun masih sempat meloncat
menghindari serangan itu.
Bahkan Mahisa Murti justru mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Agaknya Mahisa Murti
memang memiliki kemampuan gerak yang sangat cepat. Tetapi ia tidak ingin
bersungguh-sungguh menyakiti lawannya. Karena itu, demikian kaki orang bertubuh
raksasa yang berputar itu menjejak tanah, tiba-tiba saja terasa tubuhnya
terdorong oleh tenaga yang kuat pada punggungnya.
Orang bertubuh raksasa
itu tiba-tiba saja telah kehilangan keseimbangannya. Sesaat ia terhuyung-huyung
dan menceba mempertahankan keseimbangannya. Namun akhirnya, ia benar-benar telah
terjatuh terjerembab.
Orang-orang yang
menyaksikannya menjadi berdebar-debar. Ketika orang itu bangkit, maka dibawah
cahaya obor, orang-orang yang berkerumun itu melihat, betapa kemarahan telah
membakar jantung.
“Kau anak iblis” geramnya
“kau menghendaki aku bersungguh-sungguh. Jika aku masih menaruh belas kasihan
kepadamu, karena aku mengingat umurmu yang masih sangat muda. Tetapi ternyata
bahwa kau tidak tahu diri. Kau anggap belas kasihanku itu sebagai satu
kelemahan”
Mahisa Murti mengerutkan
keningnya. Agaknya orang itu memang tidak tahu diri. Karena itu, maka Mahisa
Murtipun harus bersiap-siap untuk menghadapi kemarahannya yang tentu akan
semakin memuncak.
“Aku harus berhati-hati”
berkata Mahisa Murti didalam hatinya “mungkin ia benar-benar kehilangan
pengendalian diri”
Sebenarnyalah orang
bertubuh raksasa itu tidak lagi mengendalikan dirinya. Ia telah bertempur dengan
segenap
kemampuannya. Namun dalam
pada itu, Mahisa Murtipun menjadi semakin mapan, karena kemampuan orang itu
tidak banyak berarti baginya.
Tetapi Mahisa Murti
memang tidak mau menyakiti tubuhnya dan tidak mau membuatnya semakin marah,
karena itu, maka iapun lebih banyak sekedar melayani tingkah laku lawannya yang
marah itu. Seperti yang dikehendaki oleh Mahisa Murti, maka orang itupun
akhirnya menjadi letih dengan sendirinya. Serangan-serangannya yang garang sama
sekali tidak pernah mengenai sasarannya.
Betapa ia berloncatan dan
mengayunkan tangan serta kakinya, namun lawannya bagaikan iblis yang tidak dapat
disentuh oleh wadagnya. Bagaimanapun juga, kemampuan dan tenaga orang bertubuh
raksasa itu memang terbatas. Karena itu, maka semakin ia mengerahkan tenaganya,
maka kemampuannya itupun menjadi semakin cepat larus bagaikan dihembus angin
yang deras.
Akhirnya, kenyataan itu
tidak dapat dihindarinya. Ketika ia menyerang dengan ayunan tangannya dan Mahisa
Murti sekedar bergeser surut setapak sambil menarik dadanya, maka orang itupun
telah terhuyung-huyung terseret oleh ayunan tangan itu sendiri. Hampir saja ia
jatuh terjerembab. Namun Mahisa Murti cepat menahannya.
“Gila” geramnya. Dengan
sisa-sisa kekuatannya ia menyerang dengan kakinya. Tetapi karena kakinya tidak
menyentuh sasaran, maka ia justru terputar tanpa dapat menguasai keseimbangannya
lagi, sehingga sekali lagi Mahisa Murti harus menangkapnya.
Orang itu membentak
kasar. Tetapi ia benar-benar sudah tidak berdaya lagi.
Ki Buyut yang
menyaksikannyapun tersenyum. Ia melihat kelebihan pada anak muda yang mengaku
telah membantu para pengawal melepaskan diri dari kesulitan menghadapi ilmu
sirepyang sangat tajam itu.
“Sudahlah” berkata Ki
Buyut “kita hentikan permainan ini sampai disini”
“Aku akan membuatnya
jera. Ia telah menyakiti hati kita semuanya” jawab orang bertubuh raksasa itu.
Tetapi Ki Buyut masih
saja tersenyum sambil berkata “Jangan bermimpi. Semua orang melihat, bahwa kau
tidak mampu mengimbangi ilmunya. Itupun aku melihat, bahwa anak muda itu belum
mengerahkan segenap kemampuannya. Karena itu, biarlah kita pergi ke banjar. Kita
berbicara dengan para pengawal atau dengan Akuwu sendiri yang esok pagi akan
meninggalkan banjar ini. Aku sependapat dengan anak-anak muda ini, bahwa
sebaiknya kesan tentang benda-benda berharga itu dikembalikan kepada yang
sebenarnya. Namun segalanya masih harus diuji kebenarannya oleh Akuwu atau para
Senopati kepercayaannya”
Beberapa orang yang
berdiri diseputaran arena itu mengangguk-angguk. Mereka tidak melihat gunanya
lagi untuk berbuat sesuatu atas anak-anak muda itu Segala-galanya terserah
kepada keputusan Akuwu. seandainya Akuwu menganggap kedua anak muda itu bersalah
atau justru berterima kasih kepada mereka.
Karena itu, maka Ki Buyut
berkata “Baiklah. Kita akhiri permainan kita disini. Kita akan pergi ke banjar”
Orang bertubuh raksasa
itu tidak menyahut. Ia memang tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia tidak
dapat berbuat apa-apa.
Dengan demikian, maka Ki
Buyutpun kemudian telah membawa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang menyebut diri
mereka bernama Pinta dan Soma ke banjar.
Orang-orang yang
berkerumun di halaman banjar itupun kemudian mengikutinya dalam iring-iringan
yang semakin lama menjadi semakin panjang. Anak-anak muda di gardu-gardu yang
melihat iring-iringan itu lewat dan bertanya apa yang mereka ikuti, maka jawaban
orang-orang yang berada didalam iring-iringan itu memang sangat menarik
perhatian.
Hanya mereka yang sedang
meronda sajalah yang kemudian tinggal di gardu-gardu. Sebenarnya merekapun ingin
mengikuti Ki Buyut ke banjar. Tetapi mereka tidak dapat meninggalkan Kabuyutan
mereka tanpa pengawasan.
Kedatangan Ki Buyut ke
Banjar memang mengejutkan. Beberapa pengawal dan peronda yang bertugas di
luarpun segera ingin tahu, apa yang telah terjadi.
“Aku ingin menghadap
Akuwu jika Akuwu berkenan” berkata Ki Buyut.
Salah seorang Senopati
kepercayaan Akuwu yang sedang berada di banjar untuk mengawasi benda-benda
berharga yang di keesokan harinya akan dibawa kembali oleh Akuwu itupun
termangu-mangu.
Dengan curiga ia bertanya
“Apakah ada kepentingan yang sangat mendesak Ki Buyut?”
“Ya. Aku ingin
menyampaikan sesuatu yang barangkali penting sekali bagi Akuwu dan mungkin akan
dapat merubah pendapat banyak orang tentang benda-benda keramat itu” berkata Ki
Buyut kemudian.
Senopati itu
termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya “Pendapat apakah yang Ki
Buyut maksudkan?”
“Baiklah, aku akan
mengatakannya kepada Akuwu” jawab Ki Buyut.
Senopati itu memaksa Ki
Buyut untuk mengatakan sesuatu kepadanya. Tetapi iapun kemudian pergi kerumah di
sebelah banjar itu untuk menghadap Akuwu yang ternyata belum juga tidur. Ia
masih duduk berbincang dengan Senopati kepercayaannya yang seorang lagi.
Ketika Senopati itu
mengatakan tentang maksud Ki Buyut, maka Akuwu itupun berkata “Bagus sekali ki
Buyut mau menemani aku berbincang. Persilahkan ia datang”
Senopati itupun kemudian
mengajak Ki Buyut langsung menghadap Akuwu, sementara Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat harus menunggu di banjar, dibawah pengawasan beberapa orang pengawal dan
para peronda
Namun dalam pada itu,
seorang pengawal telah mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Dengan ragu-ragu
pengawal itupun duduk disebelah anak muda itu sambil bertanya “Kenapa dengan
kalian berdua?”
Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat berpaling kearah pengawal itu. Segera keduanya mengenal bahwa pengawal itu
adalah salah seorang dari empat pengawal yang berada di banjar itu sebelum
kawan-kawannya datang.
Karena itu, maka Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat kemudian beringsut mendekati pengawal itu sambil bertanya
“He, bukankah kau pengawal yang malam itu mengawasi benda-benda keramat itu?”
Pengawal itu mengerutkan
keningnya. Tetapi ia bertanya “Malam yang manakah yang kau maksudkan?”
“Ketika sekelompok
penjahat akan mengambil benda-benda upacara itu? Bukankah saat itu mereka telah
menyebarkan sirep yang tajam, yang tidak terlawan oleh kalian?” bertanya Mahisa
Pukat.
“Ya. Aku memang tidak
dapat melawan sirep waktu itu” jawab pengawal itu.
“Dan kami berdua telah
membangunkan para pengawal” berkata Mahisa Pukat pula.
“Kalian berdua? Apakah
kalian berdua yang telah menolong kami?” bertanya pengawal heran.
“Ya. Apakah kau tidak
ingat lagi?” bertanya Mahisa Murti.
Pengawal itu
termangu-mangu. Tetapi yang disaksikannya pada waktu itu agak berbeda dengan
lukisan angan-angannya. Pengawal itu menganggap bahwa ujud dua orang anak muda
itu bukannya ujud wadag seperti kedua anak muda yang duduk disebelahnya. Yang
berbicara sebagaimana ia berbicara. Pengawal itu menganggap bahwa anak muda yang
telah ikut bertempur pada malam itu adalah ujud-ujud semu yang tidak dapat
disebutnya sebagai badan wantah seperti kebanyakan orang.
Ternyata bahwa anak-anak
muda yang duduk disebelahnya itu mengaku, bahwa merekalah yang menolong para
mengawal pada malam itu.
“Ya, ternyata kedua anak
muda pada malam itu adalah kalian. AKU sudah terpaku terhadap benda-benda
keramat itu sehingga aku telah lihat sesuatu yang tidak wajar”
Pengawal itu kemudian
berpaling kepada orang-orang di sekitarnya. Beberapa orang memang sedang
memperhatikannya. Seolah-olah mereka memandanginya dengan heran.
(Bersambung 2).
Jilid 2–Bab 01
“HE, APAKAH aku sedang berbicara dengan bantu“ berkata pengawal itu kepada diri
sendiri.
Sejenak pengawal itu termangu-mangu. Namun iapun kemudian meninggalkan Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Didekatinya seorang anak muda yang memandanginya tanpa
berkedip. Dengan ragu-ragu ia bertanya “He, apakah kau melihat dua orang anak
muda yang tadi duduk disebelahku?”
Anak muda yang ditanya itu menjadi heran. Namun ia menjawab.
“Ya, Bukankah mereka masih duduk itu”
Pengawal itu memandang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Keduanya memang masih
berada ditempatnya.
“Kami sedang mengawasinya“ berkata anak muda itu “keduanya adalah anak-anak muda
yang mencurigakan”
“Kenapa?“ bertanya pengawal itu.
“Keduanya mengaku telah berada di banjar pada saat para perampok datang untuk
mencuri pusaka-pusaka itu. Bahkan keduanya mengaku sebagai perujudan benda-benda
berharga yang dipergunakan untuk upacara itu” jawab anak muda itu.
“He“ pengawal itu termangu-mangu “keduanya mengaku demikian? Dan apakah benar
mereka itu kedua anak muda yang telah hadir saat itu?“
“Itulah yang harus mereka buktikan. Mereka ternyata telah menodai kesaktian
benda-benda upacara yang dapat memberikan ujud seperti ujud kita” jawab anak
muda itu. Pengawal itu mengangguk-angguk. Tetapi menurut
penglihatan matanya, keduanya memang anak-anak muda yang telah menolong para
pengawal. Membangunkan para pengawal dari pengaruh sirep yang luar biasa.
“Tetapi mana mungkin?“ pengawal itu bertanya ke pada diri sendiri “jika keduanya
benar-benar ujud manusia wantah seperti aku dan orang-orang ini. apakah mereka
memiliki kemampuan yang luar biasa itu”
Dalam keragu-raguan itu. tiba-tiba halaman itu menjadi riuh. Beberapa orang
telah menyibak. Seorang Senopati yang naik ketangga pendapa berkata “Akuwu
berkenan hadir di pendapa banjar ini”
Semua orangpun telah menepi. Mereka menyaksikan Akuwu naik kependapa diiringi
oleh Senopati yang seorang lagi dengan para pengawal. Kemudian Ki Buyut yang
baru saja diwisuda itupun ikut naik pula ke pendapa dengan langkah
tertegun-tegun.
Ketika Akuwu sudah duduk, maka iapun kemudian bertanya kepada Senopati “Bawa
anak itu kemari”
Senopati itupun kemudian memerintahkan para pengawal yang mengawasi Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat, agar membawa kedua orang anak muda itu menghadap Akuwu di
pendapa.
Sambil berjalan dengan berjongkok keduanya naik ke pendopo bergeser setapak demi
setapak mendekati Akuwu yang duduk menunggu.
Beberapa orang menadi tegang. Para pengawal yang lain, yang pada hari pertama
telah bertempur bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang dapat mengenalinya.
Keduanya adalah anak-anak muda yang telah mereka sebut sebagai penjelmaan dari
benda-benda upacara yang keramat itu.
Namun anak-anak muda itu kemudian menghadap Akuwu dalam ujud wadag sepenuhnya.
Tidak lagi mempunyai pengaruh yang mendebarkan sebagaimana mereka lihat pada
waktu itu
“Tetapi pada waktu itu, akupun menganggap mereka sebagai orang-orang biasa“
berkata salah seorang pengawal di dalam hatinya “baru kemudian ketika mereka
lenyap, tumbuh berbagai macam tanggapan diantara kami”
Para pengawal itu mulai mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Tetapi mereka
memang tidak mengetahui dari mana anak-anak muda itu datang. Apalagi pada
keadaan vang sama dihari berikutnya. Tidak seorangpun yang mengetahui, selain
ceritera dari para tawanan. Namun mereka telah meninggalkan bekas yang membuat
dugaan para pengawal itu semakin kuat. Pada hari yang kedua dari serangan para
perampok itu, para pengawal melihat tutup peti yang agak bergeser.
Dalam pada itu, dalam ketegangan yang mencengkam, terdengar Akuwu bertanya
kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat “Siapakah nama kalian?“
“Hamba bernama Pinta tuanku dan saudara hamba ini bernama Soma” jawab Mahisa
Murti.
“Pinta dan Soma“ desis Akuwu “tetapi apakah kau mengetahui sebabnya, kenapa kau
telah dibawa ke banjar ini?“
Pinta dan Soma memandang Ki Buyut sejenak, seolah-olah hendak bertanya, apakah
Ki Buyut sudah mengatakan kepada Akwu, kenapa mereka berdua berada di Banjar.
Namun agaknya Ki Buyut justru menundukkan kepalanya.
“Aku bertanya kepadamu berdua“ berkata Akuwu kemudian tidak kepada Ki Buyut.
Seandainya Ki Buyut
sudah mengatakan kepadaku, aku akan tetap bertanya kepada kalian, apakah kalian
mengetahui alasannya, kenapa kalian dibawa kemari”
Mahisa Murti membungkuk hormat. Dengan menunduk iapun kemudian berkata “Tuanku,
sebenarnyalah hamba berdua memang memohon untuk dibawa ke Banjar atau langsung
menghadap Akuwu”
Akuwu mengangguk-angguk. Sementara Ki Buyut mengangkat sedikit wajahnya. Namun
Ki Buyut itupun kemudian telah menunduk lagi.
“Jadi kalian sedirilah yang minta agar kalian dibawa ke Banjar ini?“ bertanya
Akuwu kemudian.
“Hamba tuanku” jawab Mahisa Murti.
“Apakah kepentinganmu, sehingga kau berdua mohon agar kau berdua dibawa ke
Banjar ini?“
Mahisa Murti bergeser setapak. Kemudian katanya “Tuanku, memang ada yang ingin
hamba sampaikan kepada tuanku. Mungkin persoalannya pernah dikatakan oleh Ki
Buyut kepada taunku” “Sudah aku katakan. Aku ingin mendengar darimu. Bukan dari
Ki Buyut“ potong Akuwu.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Baiklah tuanku.
Perkenankanlah hamba menyampaikan niat hamba, sehingga hamba menyatakan
keinginan hamba untuk menghadap tuanku” Mahisa Murti sejenak, lalu
“sebenarnyalah hamba telah mendengar satu dongeng yang mendebarkan hamba.
Menurut ceritera yang hamba dengar, bahwa pusaka-pusaka yang dipergunakan
sebagai pelengkap upacara itu dapat menjelma, berujug sebagai dua orang anak
muda. Dongeng itupun mengatakan bahwa dua orang anak muda itu telah terlibat
dalam
pertempuran melawan para perampok. Tuanku, menurut dongeng itu, maka hamba
mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan dua orang anak muda jelmaan dari
benda-benda upacara yang keramat itu, adalah hamba berdua. Karena itu, aka hamba
memerlukan datang menghadap untuk memberikan kesan yang sebenarnya dari
persoalan kedua pusaka itu”
“Jadi bagaimana menurut pendapatmu? Apakah ceritera itu tidak benar?“ bertanya
Akuwu.
Hamba tuanku. Ceritera itu memang tidak benar. Seperti yang sudah hamba katakan,
yang dimaksud dalam ceritera itu adalah tidak memperdulikannya. Tetapi akhirnya
hamba menganggap bahwa ceritera itu akan dapat menyesatkan Akuwu jika Akuwu
mempercayainya. Namun sebenarnyalah kami menganggap bahwa Akuwu yang sudah
mengenal benda-benda upacara itu sejak lama, tidak akan mempercayai dongeng itu”
Akuwu mengangguk-angguk. Namun kemudian bertanya “Tetapi ingat anak muda, bahwa
kedua ujud itu memiliki kemampuan yang mengagumkan. Kedua anak muda itu pada
malam berikutnya mampu melawam sekelompok penjahat yang jumlahnya berlipat ganda
dari jumlah kedua orang anak muda itu”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Memang terasa agak segan untuk mengatakan,
bahwa iapun memiliki kemampuan seperti yang disebut-sebut pada dua orang anak
muda dalam dongeng yang menarik itu.
Tetapi Mahisa Pukatlah yang kemudian berkata “Ampun tuanku. Sebenarnyalah sulit
bagi hamba berdua untuk mengatakan yang demikian. Mungkin akan dapat menumbuhkan
kesan, alangkah sombongnya kami berdua. Tetapi untuk melengkapi keterangan
saudara hamba, maka
biarlah hamba mengatakan bahwa kemampuan yang demikian itu memang ada pada hamba
berdua, karena sebenarnyalah kedua anak muda yang disebut-sebut itu memang hamba
berdua adanya”
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja seorang pengawal mengangguk hormat sambil
berkata “Ampun tuanku, apakah hamba diperkenankan menyampaikan pendapat hamba”
Akuwu memandang pengawal itu sekilas. Kemudian sambil mengangguk Akuwu berkata
Apakah yang akan kau katakan?”
“Tuanku“ berkata pengawal itu “sebenarnyalah menurut penglihatan hamba, kedua
anak muda itu memang dua orang anak kedua orang anak muda yang hadir di Banjar
dan bertempur bersama hamba dan kawan-kawan hamba. Atas pertolongan keduanyalah
maka hamba dapat mempertahankan benda-benda upacara yang keramat itu. Namun
menilik keadaannya sekarang, hamba sangsi, apakah benar kedua orang anak muda
itu benar-benar kedua orang anak muda yang menolong hamba itu seutuhnya”
“Apakah yang kau maksudkan?” bertanya Akuwu.
“Maksud hamba, mungkin yang menghadap Akuwu sekarang hanyalah wadagnya saja.
Wadag yang dipergunakan oleh kekuatan yang tersimpan di dalam benda-benda
keramat itu. Menurut dugaan hamba, kekuatan yang tersimpan itu memang tidak akan
dapat menjelma dalam ujud tubuh wantah seperti kita. Tetapi kekuatan itu agaknya
telah meminjam tubuh anak-anak muda itu. Namun demikian, pada saat peristiwa itu
terjadi, anak muda tersebut tidak kehilangan seluruh kepribadiannya. Sehingga
karena itu, maka ia masih sempat
mengingat apa yang telah terjadi di Banjar itu. Bahkan mereka telah menganggap
bahwa mereka berdualah kekuatan yang sebenarnya untuk mengatasi kesulitan itu.
Keduanya merasa seolah-olah merekalah yang telah memenangkan pertempuran melawan
para penjabat itu” berkata pengawal itu lebih lanjutnya.
Akuwu mendengarkan pendapat pengawal itu sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Namun kemudian katanya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat “Apakah kau
sependapat dengan kata-kata pengawal itu? Bahwa sebenarnya bukan kau dalam
keadaan yang utuhlah yang lelah melakukannya pada malam itu?“
“Ceritera ini sama berbahayanya dengan ceritera yang pertama seolah-olah
benda-benda upacara yang keramat itu dapat menjadikan diri mereka berujud
sebagaimana diri kita“ jawab Mahisa Murti.
“Jadi kau berkeras mengatakan, bahwa kedua orang anak muda itu benar-benar
kalian berdua?“ bertanya Akuwu.
“Hamba Akuwu“ jawab Mahisa Pukat “hanya karena hamba ingin mendudukkan
persoalannya pada keadaan yang setenarnya”
Akuwu mengangguk-angguk. Tetapi seorang diantara para Senopatinnya berkata
“Anak-anak muda. Jika kau berkeras menganggap diri kalian seutuhnya yang telah
bertindak malam itu, maka kau akan mengalami sedikit kesulitan, karena kau harus
membuktikan bahwa kau memang mampu berbuat demikian”
“Kami telah melakukannya“ jawab Mahisa PuKat “dihalaman rumah Ki Buyut, kami
telah mengalami pendadaran. Kami harus berkelahi melawan seorang yang
bertubuh raksasa, sehingga dengan kemenangan kami. maka kami mendapat kesempatan
untuk menghadap Akuwu sekarang ini”
Senopati itu tersenyum. Ternyata Akuwupun tersenyum pula.
Dengan suara datar Akuwu bertanya “Jadi kau berdua telah berkelahi melawan anak
padukuhan ini yang bertubuh raksasa?“
“Hamba tuanku jawab Mahisa Murti“ maksud hamba, hamba sendiri, bukan berdua. Ki
Buyut menjadi saksi”
Akuwu berpaling kearah Senopatinya yang masih saja tersenyum. Katanya “Agaknya
pendapat pengawal itu perlu mendapat perhatian. Meskipun demikian segalanya
masih perlu dibuktikan”
Senopati itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya nepada Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat “Anak muda, apaakah kau dapat membayangkan, kekuatan apakah yang nampak
pada kalian berdua pada waktu itu. Jika kau benar-benar anak muda itu, maka kau
akan mengingatnya, apakah yang menjadi lawanmu. Berapa orang dan apakah kau
dapat membayangkan kekuatan mereka masing-masing. Apakah dengan memperbandingkan
kekuatan itu atas anak muda padukuhan ini meskipun bertubuh raksasa itu sudah
kau anggap cukup?“
“Demikianlah yang dikatakan oleh anak muda itu“ lawab Mahisa Murti.
“Anak muda“ berkata Senopati itu lebih lanjut “pada malam kedua, dua orang anak
muda itu harus bertempur melawan sekitar dua puluh orang penjahat. Diantara
mereka memiliki ilmu sirep yang dahsyat, yang dapat membuat para pengawal yang
terlatih baik itu tertidur
nyenyak. Nah. bayangkan, apakah kau mampu berbuat seperti itu? Atau kau justru
tidak dapat menilai betapa besarnya kekuatan mereka itu”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahisa Pukatlah yang menjawab
“Baiklah hamba berterus terang tuanku, meskipun hamba tidak berniat ingin
menyombongkan diri. Sebenarnyalah hamba berdua pada waktu itu harus berjuang
mengatasi ilmu sirep itu. Kemudian bertempur melawan sejumlah penjahat yang
berniat mengambil benda-benda pusaka yang keramat itu. Hamba tidak tahu,
bagaimana hamba harus membuktikannya. Namun beberapa saksi telah menyatakan,
bahwa sebenarnyalah hamba berdua hadir pada saat-saat yang gawat itu”
Senopati itu masih saja tersenyum. Kemudian katanya kepada Akuwu “Tidak ada cara
lain untuk membuktikannya, tuanku”
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Anak muda. Aku nasehatkan agar kau
tarik pengakuanmu itu sebelum aku memutuskan bahwa kau harus mengalami satu
pendadaran untuk membuktikan kebenaran kata katamu”
Mahisa Murti berkisar sejengkal. Namun Mahisa Pukat langsung saja menjawab
“Apakah hal itu yang dimaksudkan oleh Senopati? Jika memang demikian, maka apa
boleh buat. Hamba berdua akan melakukannya. Kecuali ada jalan lain yang dapat
hamba tempuh”
Senopati itu mengerutkan keningnya Namun Akuwu berkata “Agaknya kalian memang
kehilangan kepribadianmu. Tetapi baiklah, aku akan menyaksikan pendadaran itu.
Mahisa Murti berpaling kearah Mahisa Pukat sekilas. Tetapi ia memang tidak
mempunyai pilihan lain. Satu-
satunya cara untuk membuktikan kebenaran kata-katanya adalah pendadaran itu.
Karena itu. maka katanya “Tuanku. Jika hamba berdua menerima cara ini,
semata-mata karena hamba berdua ingin berbakti kepada Akuwu. Hamba tidak ingin
pendapat Akuwu menjadi sesat atas benda benda berharga milik Akuwu sendiri”
“Terima kasih“ jawab Akuwu “jika benar seperti apa yang kau katakan itu, aku
akan mengucapkan berulang kali terima kasih. Karena sebenarnyalah sejak aku
memiliki benda itu pertama kali. sebagai warisan dari ayahanda Akuwu, aku memang
belum pernah mengalami peristiwa seperti dongeng itu. Tetapi nampak dongeng itu
demikian menariknya, sehingga aku menjadi ragu-ragu karenanya. Dengan demikian
usahamu untuk menegaskannya, aku hargai sebaik-baiknya”
Wajah Mahisa Murti menegang sejenak, la tidak melihat sikap yang keras pada
Akuwu. Tetapi lebih condong pada sikap belas kasihan. Sehingga karena itu, maka
Mahisa Murtipun mengetahui, bahwa Akuwu bukan seorang yang kasar. Tetapi ia
lebih banyak berusaha untuk mengerti perasaan rakyatnya.
Sejenak kemudian, maka Senopati itupun telah memerintahkan kepada para pengawal
untuk membuat arena di halaman. Arena yang akan menjadi tempat pendadaran,
apakah yang dikatakan oleh kedua anak muda itu benar.
Sejenak kemudian, maka Akuwupun berkata “Arena itu sudah siap. Marilah, kita
akan membuktikan. Tetapi sekali lagi aku peringatkan, dua puluh orang penjahat
adalah kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan”
“Tetapi karena tidak ada cara lain untuk membuktikan kebenaran kata-kata hamba,
maka apa boleh buat. Hamba akan melakukannya“ jawab Mahisa Murti.
Sejenak kemudian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun lelah turun kehalaman
Sementara itu, Akuwu dan para Senopatinvapun telah turui pela diikuti oleh Ki
Buyut.
Sejenak kemudian Akuwupun berkata “Aku akan mulai dengan para pengawal. Dua
orang pengawal akan berkelahi melawan dua orang anak muda itu Tetapi aku masih
memberi peringatan kepada para pengawal, agar mereka dapat menjaga diri. Kedua
orang anak muda itu bukan orang-orang hukuman. Mereka berniat baik, tetapi
mereka telah salah langkah. Karena itu, perlakuan kalian terhadap anak muda ini
harus berbeda dengan perlakuan kalian terhadap para penjahat yang sebenarnya”
Demikianlah, dua orang pengawal telah turun ke arena. dua orang pengawal yang
telah salah ikut bersama kedua anak muda itu bertempur. Dengan demikian mereka
akan dapat mengenali tingkah laku dan tabiat keduanya dalam pertempuran.
“Kalian tidak akan membawa senjata“ berkata Akuwu “dan kalian akan berhenti jika
kalian telah meyakini keadaan lawan dan diri sendiri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memandang Akuwu sejenak. Sementara Akuwu
menjelaskan “Jika kalian telah merasa kalah, maka kalian harus menyatakan diri
dengan jujur”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk hormat. Ternyata Akuwu dan Ki Buyut itu
mempunyai sifat yang mirip. Keduanya bukan orang yang senang melihat
kekerasan, meskipun nampaknya Akuwu itu bukannya orang yang tak berilmu.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah berhadapan dengan
dua orang pengawal. Masing-masing akan berkelahi seorang melawan seorang.
“Tuanku“ bertanya Mahisa Pukat “apakah hamba benar-benar harus menunjukkan
kemampuan sebagaimana dilihat pada malam-malam yang dikuasai ooleh sirep itu?”
Akuwu mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Pukat sejenak. Namun kemudian
Akuwu itu mengangguk sambil tersenyum.
“Lakukanlah anak muda“ jawabnya “keyakinanmu akan dirimu memberikan keyakinan
pula kepadaku, bahwa kalian berkata dengan jujur. Seandainya yang kami lihat
kemudian berbeda dengan yang kalian katakan, kalian sama sekali tidak bermaksud
berhobong. Tetapi kalian benar-benar tidak mengerti apa yang Kalian lakukan”
Mahisa Murti mengangguk dalam-dalam. Sementara Mahisa Pukat baru melakukannya
kemudian.
“Hamba mengucapkan terima kasih atas tanggapan Akuwu terhadap, sikap hamba
berdua. Hamba berdua mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ternyata hamba salah
menilai diri hamba berdua”
Demikianlah, maka kedua orang pengawal itupun telah bersiap.
Mahisa Pukat yang berdiri disebelah Mahisa Murti bertanya “Apa yang akan kita
lakukan kakang? Apakah kita akan segera mengakhiri perkelahian?“
“Apakah hal itu tidak akan menyinggung perasaan mereka?“ bertanya Mahisa Murti.
“Tetapi jika di pendadaran ini kita tidak meyakinkan Akuwu. maka pendadaran ini
tentu akan diulang” jawab Mahisa Pukat.
“Baiklah“ jawab Mahisa Murti “kita akan membuktikannya sekaligus. Dengan
demikian pekerjaan kita cepat selesai”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun segera bersiap siap. Mereka akan menghadapi dua
orang pengawal yang terpilih. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah dapat
mengetahui kemampuan kedua orang pengawal itu pada saat mereka bersama bertempur
melawan para penjahat di banjar itu pula.
Beberapa saat lamanya, mereka yang berada di arena itu saling berputaran Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat ternyata telah berpencar. Mereka tidak menghadapi kedua
lawannya dengan berkelahi berpasangan. Tetapi mereka akan menghadapi lawan
mereka seorang dengan seorang.
Dalam pada itu, anak-anak muda dan orang-orang yang berkerumun itupun menjadi
berdebar-debar. Mereka akan melihat perkelahian vang seru. Orang-orang itu
menganggap bahwa para pengawal itu tentu orang terpilih. Orang yang lain dari
orang kebanyakan didalam olah kanugaran. Sementara itu, merekapun menganggap
bahwa dua orang anak muda itu tentu dua orang yang memiliki kemampuan yang
melampaui kebanyakan vang. Apalagi mereka yang telah melihat, bahwa orang
bertubuh raksasa di padukuhan mereka sama sekali tidak berdaya melawan salah
seorang dari kedua orang itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, masing-masing telah menghadapi
seorang lawan. Mereka justru telah tertekad untuk sekaligus meyakinkan Akuwu,
bahwa mereka memiliki kemampuan yang tinggi.
Sejenak mereka masih berputaran. Namun sejenak kemudian, seorang dari kedua
pengawal itu telah meloncat menyerang Mahisa Murti. Namun keadaan Mahisa Pukat
justru berbeda. Karena pengawal yang akan dihadapinya tidak segera menyerang,
maka Mahisa Pukatlah yang kemudian menyerang.
Namun ternyata akibatnya hampir sama. Kedua anak muda itu benar-benar telah
mempergunakan kesempatan itu untuk memerlukan kemampuan mereka, sekedar untuk
menghindari keadaan yang akan menjadi semakin berlarut-larut.
Demikianlah, maka ketika lawan Mahisa Murti menyerangnya, maka Mahisa Murtipun
bergeser selangkah surut Namun tiba-tiba saja ia telah meloncat maju. Bukan
menghantam lawannya dengan tangan atau kakinya. Namun dengan cepat, ia berhasil
menangkap pergelangan tangan lawannya. Hampir tidak dapat diikuti dengan tatapan
mata telanjang, maka tiba-tiba saja tangan lawannya telah terpilin. Tidak ada
kesempatan untuk berbuat sesuatu. Demikian cepatnya.
Sementara itu, Mahisa Pukat yang menyerang lawannya, ternyata dapat dihindari
pada langkah pertama. Tetapi serangan yang pertama, telah disusul oleh serangan
yang kedua. Demikian cepat.
Sehingga pengawal itu tidak sempat mengelak Serangan Mahisa Pukat telah mengenai
lambung lawannya. Dalam keadaan terhuyung-huyung, maka Mahisa Pukat sempat
mendorongnya sehingga jatuh.
Pada saat pengawal itu siap untuk melenting berdiri, Mahisa Pukat telah
berjongkok disampingnya. Tangannya terangkat dan siap menghantam dada orang itu
dengan sisi telapak tangan yang terangkat itu.
“Jangan bergerak“ berkata Mahisa Pukat “persoalan kita akan cepat selesai”
Pengawal itu menggeram. Namun yang tidak diduganya, ternyata Akuwu justru
tertawa. Katanya “Jangan melawan lagi. Kekalahanmu sangat meyakinkan. Demkian
pula kawanmu yang terpilin tangannya. Jika anak muda itu mau, maka tangan itu
akan dapat patah. Tetapi ia menepati janji. Yang terjadi bukan perkelahian yang
sebenarnya”
Para pengawal itu justru bagaikan membeku. Namun Mahisa Murti kemudian telah
melepaskan tangan yang dipilinnya itu perlahan-lahan. Sementara itu, Mahisa
Pukatpun telah bergeser pula dan kemudian bangkit berdiri beberapa langkah dari
pengawal yang dikalahkannya itu.
Orang-orang yang menyaksikan kekalahan kedua pengawal itu hampir tidak percaya
kepada penglihatannya. Seolah-olah mereka belum dapat melihat apa yang terjadi.
Mereka menduga akan terjadi perkelahian yang sengit. Namun belum lagi mata
mereka berkedip, segalanya telah selesai, Kedua pengawal itu telah dinyatakan
kalah. Justru oleh Akuwu sendiri.
Dalam pada itu, orang-orang itupun menunggu dengan tegang. Apakah yang akan
terjadi kemudian.
Sementara itu Akuwupun kemudian melangkah maju sambil berkata “Kailan memang
luar biasa anak muda. Aku hampir percaya bahwa yang telah kalian katakan itu
benar. Kalian adalah anak-anak muda yang telah kalian katakan itu benar. Kalian
adalah anak-anak muda yang hadir malam pertama dan dimalam kedua telah
mengalahkan seluruh kekuatan perampok itu. Yang kalian lakukan itu bukan satu
kebetulan. Yang kailan lakukan itu memang mengagumkan, Kedua orang pengawal itu
benar-benar dapat kalian kalahkan pada langkah langkah pertama”
“Ampun tuanku“ berkata Mahisa Murti “apa yang hamba berdua lakukan, semata-mata
melaksanakan perintah tuanku”
“Ya, ya. Aku tahu. Kalian memang tidak bersalah“ berkata Akuwu.
Sementara itu kedua pengawal yang tidak berdaya itupun telah bangkit. Wajah
mereka menjadi pucat. Ketika Akuwu mendekati mereka, maka kepala merekapun telah
menunduk dalam-dalam.
“Kalianpun tidak bersalah“ berkata Akuwu “kalian tiduk usah merasa berkecil hati
mengalami kekalahan ini. Itu sudah wajar sekali. Kalian memang harus kalah dalam
waktu yang singkat. Bukan karena kalian tidak melaksanakan tugas kalian dengan
baik, atau bukan berarti bahwa kalian adalah pengawal-pengawal yang lemah.
Tetapi lawan kalianlah yang memang terlalu kuat. Karena itu jangan sakit hati.
Kalianpun tidak usah malu Kepada orang-orang padukuhan ini. Sebenarnyalah aku
memberitahukan kepada kalian, bahwa kedua orang anak muda itu mempunyai ilmu
yang penunjul”
Kedua pengawal itu masih menunduk dalam-dalam Sementara itu orang-orang yang
berada dihalaman banjar itupun menjadi berdebar-debar. Namun mereka mengerti apa
yang dimaksudkan oleh Akuwu.
Karena itu, maka merekapun mulai berpikir tentang kebenaran pengakuan kedua
orang anak muda itu, bahwa keduanyalah yang oleh banyak orang disangka ujud dari
pusaka-pusaka yang berada di Banjar itu.
Dalam pada itu, orang-orang di Banjar itupun menunggu, apa yang akan dilakukan
oleh Akuwu kemudian. Meskipun nampaknya Akuwu tidak marah, tetapi kadang kadang
yang terjadi adalah di luar dugaan
mereka, saat orang-orang dan para pengawal yang sedang berada di Banjar itu
menunggu. Apa yang akan dikatakan oleh Akuwu tentang kedua orang anak-anak muda
itu.
Namun seperti yang mereka duga, bahwa sesuatunya memang dapat terjadi. Karena
itu, dengan berdebar-debar mereka menunggu Akuwu itu berkata sesuatu tentang
persoalan yang sedang mereka hadapi.
“Anak-anak muda“ berkata Akuwu itu “kalian memang telah menunjukkan sesuatu yang
luar biasa. Kalian dalam waktu yang sangat singkat telah mengalahkan para
pengawal. Tetapi anak-anak muda. Bukan, maksudku untuk memaksa kalian tunduk
kepada keputusanku. Tetapi aku hanya ingin lebih meyakinkan, apakah aku telah
mengambil satu keputusan yang benar”
Kedua orang anak muda itu termangu-mangu sejenak, sementara Akuwu itu berkata
“Untuk itu, maka aku ingin memperingatkan, bahwa kalian telah mengalahkan para
perampok itu dalam jumlah yang cukup banyak. Karena itu, maka aku ingin melihat
kekuatan kalian yang sebenarnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Apalagi yang harus mereka
lakukan? Apakah mereka harus bertempur melawan jumlah orang sebagaimana mereka
kalahkan pada malam kedua dari perampokan yang telah terjadi di Banjar itu.
“Anak-anak muda“ berkata Akuwu“ aku sendiri bukannya orang yang memiliki ilmu
kanuragan. Aku bukan orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi meskipun
demikian, aku ingin menjajagi langsung kemampuan kalian berdua”
Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang. Keduanya tentu akan
mengalami kesulitan. Jika mereka
benar-benar harus bertempur melawan Akuwu, maka keduanya tidak akan dapat
mengambil satu sikap yang pasti. Apakah mereka harus mengalahkan Akuwu atau
tidak.
Dalam ketegangan itu Akuwupun berkata “Anak-anak muda. Aku tidak bermaksud untuk
menguji kemampuan kalian sampai tuntas. Aku tidak akan mampu melakukannya.
Tetapi dalam satu dua langkah, aku akan dapat mengambil satu kesimpulan. Apakah
yang kalian katakan itu benar-benar dapat aku percaya”
“Tetapi“ Mahisa Murti tergegap “apakah artinya kami berdua bagi Akuwu. Kami sama
sekali tidak akan berani melakukannya”
“Kalian harus melakukannya“ jawab Akuwu “jika tidak, maka untuk seterusnya aku
akan tetap ragu-ragu akan keputusanku yang akan aku jatuhkan saat ini tentang
kalian berdua”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun saling berpandangan. Namun mereka memang tidak
akan dapat ingkar. Karena itu. maka Mahisa Murtipun kemudian berkata “Jika
tuanku memang menghendakinya, apa boleh buat. Tetapi hamba berdua hanya sekedar
ingin melakukan perintah”
Akuwu tersenyum. Katanya “Unggah-ungguhmu utuh anak muda. Marilah, biarlah para
pengawal dan orang-orang Kabuyutan ini melihat, bahwa kalian memang anak-anak
muda seperti yang kalian katakan. Yang telah menyelamatkan Kabuyutan ini dan
benda-benda keramat yang dibawa ke Kabuyutan ini untuk melengkapi upacara wisuda
Ki Buyut yang baru itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat mengelak lagi. Namun dalam pada itu.
ketika Akuwu sendang
mempersiapkan diri, Mahisa Murti sempat berbisik “Kita harus berhati-hati.
Jangan menyakitinya dan jangan menunjukkan kemenangan“
“Apa yang kita lakukan?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Melayaninya saja. Sampai Akuwu Menjadi jemu“ jawab Mahisa Murti.
“Jangan terlalu sombong. Jika Akuwu memiliki ilmu yang sangat tinggi?“ bertanya
Mahisa Pukat.
“Kita akan terkapar disini“ jawab Mahisa Murti. Mahisa Pukat mengerutkan
dahinya. Namun iapun kemudian tersenyum.
Sejenak kemudian Akuwu ternyata sudah siap. Iapun kemudian memasuki arena.
Beberapa orang pengawal berdiri disekeliiing arena dengan tegangnya.
Bagaimanapun juga mereka merasa wajib untuk mengamati keadaan.
“Marilah anak-anak muda“ berkata Akuwu “jangan segan. Lakukanlah apa yang dapat
kalian lakukan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja termangu-mangu. Sementara itu Akuwupun
melihat keraguan anak-anak muda itu, sehingga iapun berkata “Marilah. Aku
mengajak kalian berdua. Tidak seorang demi seorang”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan ragu melangkah memauki arena pula
sebagaimana dilakukan oleh Akuwu. Mereka berdiri pada jarak tiga langkah.
“Jangan ragu-ragu“ berkata Akuwu “sudah aku katakan. Jangan ragu-garu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi bagaimanapun juga,
mereka tidak dapat merasa bebas menghadapi Akuwu.
Namun sejenak kemudian Akuwu itupun telah bergeser. Cepat sekali. Langkahnya
tiba-tiba bagaikan melontarkannya diantara kedua anak muda itu. Dengan cepat
pula ia berputar. Kakinya terayun deras menyambar Mahisa Murti.
Tetapi dengan gerak nalurilah dilembari dengan kemampuan ilmunya, Mahisa Murti
sempat juga melenting selangkah surut, sehingga serangan Akuwu yang tiba-tiba
itu tidak menyentuhnya. Namun dalam pada itu, ternyata sambil menarik kakinya,
Akuwupun sempat meloncat. Tangannya terjulur lurus menghantam dada Mahisa Pukat.
Sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti, maka Mahisa Pukatpun bergeser
kesamping. Tangan Akuwu menyambar sejengkal didepan dada Mahisa Pukat. Hampir
saja Mahisa Pukat memukul tangan itu dengan sisi telapak tangannya. Tetapi
rasa-rasanya ada yang telah mencegahkan, sehingga Mahisa Pukat itupun tidak
berbuat apa-apa.
Karena serangan Akuwu itu tidak menyentuh kedua orang anak muda itu, maka
Akuwupun bergeser seru. Namun Mahisa Pukatlah yang berdiri dipaiing dekat.
Karena itu, maka sekali lagi Akuwu telah melenting dengan tiba-tiba. Cepat
sekali. Seolah-olah tidak dapat dilihat dengan tatapan mata sewajarnya. Sekali
lagi tangan Akuwu terayun. Mendatar mengarah kening.
Mahisa Pukat ternyata memiliki ketangkasan yang mengagumkan. Dengan cepat, ia
merendahkan dirinya, sehingga serangan Akuwu itu tidak mengenainya. Tetapi
sekali lagi serangan Akuwu memburunya. Pada saat Mahisa Pukat merendah, Akuwu
telah menarik tangannya dan menyerang dengan kakinya.
Mahisa Pukat terkejut. Tetapi ia masih sempat berpikir. Ia tidak ingin
membenturkan kekuatannya. Karena itu, maka yang dilakukannya kemudian adalah
menjatuhkan dirinya dan berguling menjauh. Dengan cepat iapun kemudian melenting
berdiri, dan bersiap menghadapi serangan-serangan berikutnya.
Mahisa Murti berdiri saja termangu-mangu. Sebenarnya ia dapat membantu Mahisa
Pukat dengan menyerang Akuwu. Tetapi ia masih tetap ragu-ragu, sehingga karena
itu, ia justru bagaikan penonton yang paling tegang.
Mahisa Pukat yang sudah berhasil lolos dari serangan-serangan beruntun itupun
tidak dapat membalas menyerang Akuwu karena keseganannya. Karena itu, maka yang
dilakukannya hanyalah sekedar menghindarnya saja.
Ternyata Akuwu tidak memburunya. Ia berpaling kepada Mahisa Murti yang berdiri
semakin jauh. Sejenak ia memandang anak muda itu dengan tajamnya. Namun kemudian
katanya “Kalian tidak berusaha untuk menyerangku. Lakukanlah. Aku ingin melihat
kalian dalam kemampuan ilmu yang sebenarnya”
Kedua anak muda itu masih tetap ragu-ragu. Namun Akuwu berkata seterusnya “Jika
kalian tetap ragu-ragu. Maka, aku akan memaksa kalian untuk melakukannya”
Sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjawab, maka Akuwu telah berkisar. Iapun
kemudian meninggalkan Mahisa Pukat dan mendekati Mahisa Murti.
Mahisa Murtipun kemudian mempersiapkan diri. Ia sadar arti dari kata-kata Akuwu
itu. Sementara Mahisa Pukat yang menjadi tegang itupun bergeser pula mengikuti
Akuwu.
Dalam pada itu para pengawal yang berada disekitar arena itupun menjadi tegang
pula. Mereka melihat Akuwu kemudian mempersiapkan dirinya menghadap ke arah
Mahisa Murti. Seolah-olah ia tidak lagi menghiraukan Mahisa Pukat yang berdiri
di belakangnya.
Mahisa Murti memang sudah bersiap. Iapun mulai mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinan untuk menyerang. Jika ia selalu tedesak oleh
serangan-serangan Akuwu yang datang beruntun, maka pertahanan yang paling baik
adalah menyerang dalam setiap kesempatan.
Mahisa Murti tidak mendapat kesempatan untuk membuat pertimbangan-pertimbangan.
Sejenak kemudian Akuwu telah menyerangnya.
Cepat dan keras, sehingga Mahisa Murti harus mengerahkan kemampuannya untuk
mengimbangi kecepatan gerak Akuwu.
Sebenarnyalah Akuwu telah menyerangnya beruntun tanpa ragu-ragu. Seolah-olah
Akuwu benar-benar telah bertempur untuk menentukan menang atau kalah. Untuk
beberapa saat Mahisa Murti memang terdesak surut.
Bahkan hampir saja Mahisa Murti meloncat keluar arena. Namun akhirnya. Mahisa
Murti telah mengambil satu sikap, la tidak ingin menghindar agar tidak
menimbulkan kesan lain pada Akuwu tentang pengakuannya.
Karena itulah, maka akhirnya Mahisa Murti telah memberanikan diri. untuk
membalas serangan Akuwu dengan sebuah serangan rendah pada kakinya.
Akuwu terkejut mendapat serangan balasan. Tetapi ia masih sempat meloncat
menghindari sambaran kaki Mahisa Murti pada betisnya. Namun demikian ia berjejak
di atas
tanah, maka Mahisa Murti sekali lagi menyerang Akuwu pada lututnya dari arah
samping.
Sekali lagi Akuwu terpaksa menghindar Namun loncatannya yang panjang telah
melemparkannya beberapa langkah mendekati Malhia Pukat.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat masih tetap termangu-mangu. Tetapi ia sudah melihat
Mahisa Murti telah mulai menyerang Akuwu meskipun dengan serangan-serangan
rendah.
Sementara itu, maka agaknya Akuwu telah siap menyerang Mahisa Pukat. Dengan nada
datar Akuwu berkata “Aku akan melawan kalian berdua”
Mahisa Pukat tidak sempat menjawab. Serangan Akuwupun datang beruntun. Semakin
lama semakin cepat.
Mahisa Pukatpun mencoba untuk mengurangi tekanan Akuwu dengan menyerangnya pula
pada setiap kesempatan. Tetapi serangan Akuwu itu semakin lama menjadi semakin
cepat, sehingga memaksa Mahisa Pukat untuk bekerja lebih keras untuk
menyelamatkan tubuhnya dari sentuhan serangan Akuwu.
Nampaknya Akuwu berusaha untuk memancing kedua orang anak muda itu untuk
bertempur bersama. Sekali ia menyerang Mahisa Murti. sekali Mahisa Pukat. Namun
kemudian Akuwu telah berhasil menempatkan diri pada satu sisi di arena, sehingga
ia berhadapan langsung dengan kedua orang anak muda itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai merasa bahwa sebenarnyalah
Akuwu memiliki ilmu yang tinggi. Sebagai seorang Akuwu, maka ia tentu melandasi
dirinya pada tataran tingkat yang memungkinkan
mendukungnya pada jabatannya, sebagaimana Akuwu-akuwu yang pernah didengar
namanya.
Dengan demikian maka akhirnya kedua anak muda itu lelah dipaksa untuk
mempergunakan kemampuannya pula melawan Akuwu.
Karena itulah, maka pertempuran itupun telah meningkat menjadi semakin seru.
Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap dibatasi oleh keseganannya
untuk menyerang pada bagian-bagian yang berbahaya pada Akuwu. Namun mereka telah
mulai menyerang pada bagian bawah tubuh Akuwu yang mampu bergerak dengan sangal
cepat dan tangkas.
Tetapi agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar ingin membuktikan bahwa
yang dikatakannya tentang diri mereka adalah benar. Bahwa mereka adalah dua
orang yang dianggap ujud dari kekuatan gaib yang ada di dalam benda-benda
keramat milik Akuwu yang dipergunakan untuk kelengkapan wisuda Ki Buyut yang
baru itu.
Demikianlah, maka kedua orang anak muda itupun telah bergerak secepat Akuwu
bergerak. Meskipun masih dengan sikap yang enggan, namun justru karena mereka
telah bekerja bersama, maka semakin lama menjadi semakin nampak, bahwa Akuwu
mulai mengalami kesulitan.
Tetapi pada keadaan yang sulit, tiba-tiba saja Akuwu berkata Anak-anak muda.
“Jika benar kalian adalah anak-anak muda yang telah mengalahkan para perampok
itu, maka kalian tentu memiliki kebanggaan ilmu yang dapat kalian tunjukkan
kepadaku. Aku akan memaksa kalian untuk berbuat sampai batas kemampuan kalian,
agar aku yakin, bahwa kalian berdua saja dapat bertempur dan
memenangkan pertempuran itu melawan perampok pada jumlah yang berlipa ganda”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika mereka
melihat. Akuwu benar-benar telah meningkatkan kemampuannya pada tata gerak yang
sulit dimengerti oleh kebanyakan orang.
Karena Akuwu nampaknya seolah-olah bersungguh-sungguh maka kedua orang anak muda
itu tidak dapat berbuat lain, kecuali melindungi diri mereka dari
serangan-serangan Akuwu yang keras.
Mahisa Pukatlah yang ternyata lebih dahulu bersikap dari Mahisa Murti Namun
akhirnya Mahisa Murtipun telah melakukannya pula. Karena keduanya masih tetap
merasa segan untuk menyerang pada bagian-bagian yang dapat berbahaya bagi Akuwu.
maka yang dapat mereka lakukan adalah membenturkan kekuatan mereka melawan
kekuatan Akuwu. Kedua orang anak muda, anak dan sekaligus murid Mahendra
dilengkapi oleh Witantra dan unsur ilmu yang lain dari Mahisa Agni itu, maka
keduanya adalah anak-anak muda yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang
mendebarkan.
Itulah sebabnya, maka keduanya telah menempatkan kekuatan mereka tidak untuk
menyerang, tetapi untuk mempertahankan diri terhadap serangan-serangan yang
keras dari Akuwu yang ingin meyakinkan kemampuan kedua orang anak muda itu.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan-benturan kekuatan
diantara Akuwu dengan kedua orang anak muda yang memiliki dasar kemampuan yang
tinggi itu.
Untuk beberapa saat lamanya, pertempuran itu masih berlansung justru semakin
keras dan cepat. Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat yang segan menyerang pada bagian-bagian yang gawat itu telah
mempergunakan kekuatan mereka untuk memaksa Akuwu mengetahui tingkat kemampuan
mereka. Benturan-benturan itu adalah cara menyerang yang lain yang dipergunakan
oleh Mahisa Pukat dan kemudian juga Mahisa Murti. Karena dalam benturan-benturan
itu, akan terasa oleh Akuwu hentakan-hentakan didalam dirinya.
Akuwu adalah seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Tetapi ketika
kemampuannya harus dibenturkan kepada kemampuan dua orang anak muda itu, maka
terasa, bahwa kedua anak muda itu bersama-sama memiliki beberapa kelebihan dari
Akuwu. Kaduanya dalam pertempuran berpasangan, mampu menunjukkan kemampuan
mereka yang mendebarkan. Bahkan benturan-benturan yang terjadi semakin lama
menjadi semakin sering, telah menimbulkan kesan kepada Akuwu, bahwa kedua anak
muda itu benar-benar anak muda yang perkasa.
Sehingga akhirnya, Akuwu tidak dapat ingkar lagi akan satu kenyataan, bahwa ia
berada dalam kesulitan. Meskipun orang-orang yang menyaksikan bahwakah para
pengawal dan Senapatinya belum melihat, tetapi Akuwu. sudh merasakan, kelebihan
kedua anak muda itu sulit untuk dapat diatasinya jika permainan itu akan
diteruskan.
Karena itu, maka sesuai dengan keinginan Akuwu. sekedar untuk menjajagi
kemampuan kedua orang anak muda itu, maka sejenak kemudian, Akuwu yang menjadi
semakin sulit mengatasi kecepatan gerak kedua orang anak muda itupun telah
meloncat jauh surut sambil berkata “Cukup anak-anak muda”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berusaha untuk mendekatinya telah tertegun.
Sementara itu, mereka melihat Akuwu berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum
“Aku sudah berhasil mengetahui tingkat kemampuan kalian”
Kedua orang anak muda itu termangu-mangu. Bahkan para Senapati, para pengawal
dan apalagi orang-orang padukuhan yang menyaksikannya, berdiri tegak dengan
wajah-wajah yang tegang.
“Kalian memang luar biasa“ desis Akuwu “kalian telah menyatakan satu kenyataan
kepadaku”
“Ampun Akuwu“ berkata Mahisa Murti apa yang kami lakukan, adalah sekedar
melayani keinginan Akuwu.
“Ya, ya. Aku mengerti“ berkata Akuwu “dan kalian telah melakukan sebaik-baiknya.
Kalian telah menunjukkan kepadaku bahwa kalian memang memiliki ilmu yang luar
biasa. Kalian telah meyakinkan aku, bahwa apa yang kalian katakan itu benar
semata-mata”
“Ampun Akuwu“ berkata Mahisa Murti “bukan maksud hamba berdua untuk
menyombongkan diri. Tetapi semata-mata karena hamba berdua ingin menempatkan
persoalannya pada tempat yang sebenarnya”
Akuwu tersenyum. Kedua anak muda itu memang sangat menarik hatinya. Keduanya
tangkas dan kuat. Bahkan melampaui dugaan Akuwu sendiri. Dengan penjajagan itu
Akuwu mengerti bahwa anak-anak muda itu tentu memiliki ilmu yang sudah mapan,
sehingga mereka mampu melakukan seperti spa yang mereka katakan.
“Anak-anak muda“ berkata Akuwu “ternyata bahwa aku harus mempercayaimu. Apa yang
dikira, ujud duri benda-benda keramat yang menjadi kelengkapan upncara itu,
adalah kalian berdua”
“Hamba tuanku. Seperti sudah hamba katakan, maksud hamba adalah semata-mata
untuk meluruskan pendapat
yang keliru tentang pusaka-pusaka tuanku itu. Jika pendapat itu tidak
dibetulkan, maka pada suatu saat. Akuwu akan menyesal, karena benda-benda itu
akan dapat hilang dari gedung perbendaharaan istana Akuwu. Para pengawal akan
terlalu percaya bahwa pusaka-pusaka itu akan dapat menyelamatkan diri sendiri,
sehingga seakan-akan tidak memerlukan pengawalan lagi” berkata Mahisa Murti.
“Kau benar anak muda“ jawab Akuwu “dan aku mengucapkan terima kasih. Kalian
telah berbuat sesuatu yang sangat berarti bukan saja bagiku, tetapi juga bagi
seluruh pakuwon. Karena itu, maka sebenarnyalah aku ingin tahu, siapakah kalian
berdua yang sebenarnya dan dari manakah kalian datang?“
Sudah hamba katakan, hamba berdua adalah anak-anak yang kabur kanginan. Hamba
berdua mengembara dari satu tempat ketempat yang lain. Dari lereng pegunungan ke
lereng pegunungan. Dari lembah yang satu ke lembah yang lain” jawab Mahisa
Murti.
“Kau sangka aku percaya?“ Akuwu tersenyum “tetapi baiklah. Agaknya kalian adalah
pengengembara yang sebenarnya. Karena itu, maka aku tidak akan memaksa menyebut
siapakah kalian sebenarnya. Namun demikian, sebaiknya aku mengajukan satu
permintaan kepada kalian. Permintaan yang barangkali dapat kalian terima”
“Maksud Akuwu?“ bertanya Mahisa Murti
“Aku sudah yakin akan kalian. Kalian bukan sekedar wadag yang dipergunakan oleh
kekuatan pusaka-pusaka itu. Tetapi sebenarnyalah kalian memang dua orang anak
muda yang memiliki tingkat ilmu yang luar biasa. Karena itu, agar kekuatan yang
semula disangka terdapat pada pusaka-pusaka itu tetap berada bersamanya, maka
aku. berharap
kalian berdua akan bersedia tinggal bersama aku di istana Pakuwon. Kalian akan
aku anggap sebagai anak-anakku. Dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian
ingini“ berkata Akuwu kemudian “dengan kehadiran kalian berdua, aku berharap
bahwa kalian akan dapat menempa para Senapati dan pengawal, untuk menjadi
Senapati dan pengawal yang memiliki kemampuan yang cukup”
“Ampun tuanku“ lawas Mahisa Pukat “bukanKan di Pakuwon sudah ada tuanku. Apakah
kekurangan tuanku dibanding dengan kami berdua yang tidak berarti apa-apa. Jika
tuanku berkenan, maka tuanku akan dapat menjadikan para Senapati dan pengawal
melampaui kemampuan kami.
Akuwu itupun tertawa. Katanya “Jangan terlalu merendah anak muda. Menilik ujud
dan pakaian kalian dibandingkan dengan kemampuan serta ilmu yang ada pada kalian
berdua, maka aku sudah menduga bahwa kalian adalah orang yang rendah hati. Cara
kalian membantu orang-orang padukuhan ini serta para pengawal, kemudian dengan
diam-diam kalian pergi sebelum kami sempat mengucapkan terima kasih adalah
pertanda bahwa kalian telah berbuat tanpa pamrih dengan sikap yang rendah hati.
Tetapi jangan kau sangka bahwa aku tidak dapat melihat apa yang sebenarnya
tersimpan didalam diri kalian. Dalam keseganan, kalian telah menunjukkan
kepadaku, betapa tinggi ilmumu. Apalagi jika kalian harus benar-benar bertempur
menghadapi lawan”
“Tuanku terlalu memuji, sehingga hamba berdua merasa malu karenanya“ jawab
Mahisa Murti “sebenarnyalah hamba tidak banyak berarti bagi Pakuwon ini. Karena
itu, maka perkenankanlah hamba melanjutkan pengembaraan hamba tanra tujuan,
sebagaimana menurut langkah kaki hamba berdua”
“Aku masih ingin minta kesediaan kalian“ jawab Akuwu “bagaimanapun juga,
kehadiran kalian akan sangat berarti bagi kami”
“Ampun tuanku“ sembah Mahisa Pukat “satu-satunya permohonan hamba berdua saat
ini adalah perkenan tuanku bagi hamba berdua untuk melanjutkan perjalanan kami”
“Kalian jangan bergurau“ jawab Akuwu “setidak-tidaknya kalian memerlukan
bermalam malam ini. Besok kalian akan melanjutkan perjalanan. Tetapi sekali
lagi, aku minta kalian tinggal di istana Pakuwon barang satu dua musim. Dengan
demikian maka kalian akan dapat membuat benteng di Pakuwon kami menjadi teguh.
Bukankah kau lihat, bahwa di padukuhan ini telah hadir sekelompok penjahat yang
kuat. Pada kesempatan lain, mungkin akan tumbuh kekuatan lain yang melampaui
kekuatan yang telah kau hancurkan dalam dua malam itu”
“Hamba yakin, bahwa hal itu tidak akan banyak berarti bagi Akuwu“ jawab Mahisa
Murti “sebaiknya hamba mohon diri. Hamba sudah merasa berhasil karena tuanku
telah meyakini, bahwa sama sekali tidak ada kekuatan yang dapat menjelma menjadi
ujud wadag pada benda-benda milik tuanku, juga kekuatan yang mampu mempergunakan
wadag seseorang bagi ungkapannya. Jika hal ini hamba jelaskan, semata-mata
karena niat baik hamba”
“Aku mengerti. Tetapi kenapa kalian 'tidak mau singgah barang satu dua saat di
istanaku?“ bertanya Akuwu.
“Bukan hamba tidak bersedia“ jawab Mahisa Murti “tetapi sebenarnyalah hamba
ingin melanjutkan perjalanan hamba”
“Malam ini?“ desak Akuwu.
“Hamba tuanku“ jawab Mahisa Pukat.
Tidak ada yang dapat mencegah kedua orang anak-anak muda itu. Ki Buyutpun
mencoba mempersilahkan keduanya untuk bermalam di banjar. Tetapi keduanya
berkeberatan, karena keduanya ingin meneruskan pengembaraan mereka.
Meskipun demikian, Akuwu masih berusaha menunda keberangkatan anak-anak muda itu
beberapa saat. Akuwu memberikan beberapa petunjuk apabila pada suatu saat
anak-anak muda itu ingin singgah di istananya.
“Jika pada suatu saat dalam pengembaraanmu kau lewat didepan istanaku, aku
berharap. Bahwa kalian berdua mau singgah barang sejenak” berkata Akuwu.
“Terima kasih Akuwu“ jawab Mahisa Murti ”memang tidak mustahil bahwa pada suatu
saat, hamba berdua melewat istana Akuwu. Mungkin pada satu putaran pengembaraan
aku memang akan melalui daerah ini lagi. Karena pada suatu saat aku tentu akan
pergi ke Kota Raja yang tidak terlalu jauh dari tempat ini”
“Baiklah“ berkata Akuwu “jika kalian memang tidak ingin aku cegah lagi, apaboleh
buat. Tetapi barangkali kalian berdua mempunyai satu permintaan yang barangkali
dapat kami penuhi. Jika bukan aku, mungkin Ki Buyut atau orang-orang lain di
Kabuyutan ini bagi bekal perjalananmu”
“Terima kasih Akuwu“ jawab Mahisa Murti “kami tidak memerlukan bekal apapun
juga. Kami akan dapat hidup dalam pengembaraan kami karena kami yakin akan
kebaikan hati sesama”
Ki Buyutpun menyahut “Diantaranya adalah tawaran kami jika kalian memerlukan.
Bukan karena kebaikan hati kami, tetapi semata-mata karena kami ingin
mengucapkan terima kasih”
“Terima kasih Ki Buyut“ jawab Mahisa Pukat “kebaikan Akuwu dan Ki Buyut sudah
cukup memberikan kesan tersendiri didalam pengembaraan kami. Sebelum semua
peristiwa ini terjadi, kami telah menerima kebaikan isi Kabuyutan ini. Kami
bermalam di banjar ini dan mendapat makan dan minuman panas di tengah malam yang
dingin sementara kami memang sangat lapar pada waktu itu”
“Baiklah anak-anak muda“ berkata Akuwu “kami hanya dapat berdoa, semoga
perjalanan kalian selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung. Selamat dan
tercapai segala cita-citamu, meskipun aku tidak tahu, apa yang sebenarnya kalian
inginkan dengan pengembaraan kalian. Tetapi menilik sikapmu disini, aku yakin
bahwa kalian bukan orang yang pantas di cemaskan bahwa kalian akan me-rugikan
sesama. Tetapi sebaliknya, kalian telah mempergunakan ilmu kalian yang sulit di
jajagi sampai tuntas itu, untuk kepentingan sesama”
“Akuwu masih saja selalu memuji“ jawab Mahisa Murti “yang hamba berdua lakukan,
semata-mata karena hamba mempunyai kewajiban bagi sesama. Itu sajalah” Mahisa
Murti berhenti sejenak, lalu “Sudahlah. Hamba mohon diri Akuwu”
Akuwu dengan berat kemudian melepaskan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
meninggalkan banjar. Demikian pula Ki Buyut, para Senapati dan para pengawal.
Terlebih-lebih para pengawal yang telah mendapat pertolongan langsung dari kedua
anak muda itu.
Beberapa orang telah melepas kedua orang anak muda itu sampai keregol. Dua orang
pengawal akan mengantarkannya sampai keregol, agar kedua orang anak muda itu
tidak mendapat kesulitan karena para penjaga regol tidak menge-nali mereka.
Untuk beberapa saat, Akuwu dan Ki Buyut yang berdiri di bawah cahaya obor
diregol halaman banjar termangu-mangu. Kedua anak muda itu adalah anak-anak muda
yang aneh bagi mereka.
“Aku yakin, nama-nama itu bukannya nama mereka yang sebenarnya“ berkata Akuwu
tiba-tiba.
“Ya“ desis Ki Buyut “hambapun sudah menyangka, bahwa keduanya bukan pengembaran
kebanyakan. Tentu pengembaraan kedua anak muda itu akan menjadi laku pembajaan
diri mereka masing-masing”
“Mudah-mudahan anak-anak yang baik itu akan tetap menjadi manusia yang baik.
Banyak sekali pengalaman yang akan mereka dapatkan di perjalanan. Dengan
kemampuan mereka, maka mereka akan banyak mendapat kesempatan untuk berbuat
sesuatu. Dan pengalaman itu akan dapat mempengaruhi sikap dan pandangan hidup
mereka“ berkata Akuwu “karena itu, semoga yang mereka temui di perjalanan
mereka, justru mempertegas sikap dan pandangan hidup mereka sebagai
kasatria.yang berbudi”
“Hamba Akuwu“ berkata Ki Buyut “sayang sekali, keduanya tidak mau tinggal di
Kabuyutan ini, atau di Pakuwon ini”
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Namun Akuwu itupun ke mudian berkata “Aku akan
beristirahat”
Akuwupun kemudian pergi ketempat yang sudah disediakan bersama seorang
Senapatinya, sementara Senapati yang lain bersama beberapa orang pengawal dan
para peronda tetap berada di banjar untuk mengamati benda-benda upacara. Apalagi
setelah mereka mengetahui, bahwa benda-benda itu sama sekali tidak dapat
menyelamatkan diri mereka sebagaimana diduga
sebelumnya, seolah-olah benda-benda itu dapat berubah dalam ujud dua orang anak
muda yang perkasa.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di pintu gerbang
padukuhan. Para peronda yang bertugas di pintu gerbang, sama sekali tidak
mengetahui apa yang telah terjadi. Karena itu, mereka tidak memberikan tanggapan
apapun terhadap dua orang yang diantar oleh dua orang pengawal keluar pintu
gerbang.
“Siapa mereka?” berkata seorang pemuda ketika kedua orang pengawal itu kembali
memasuki pintu gerbang.
“Dua orang pengembara“ jawab pengawal itu.
Para peronda itu termangu-mangu sejenak. Lalu “Bukankah orang itu anak-anak muda
yang ditangkap dan dibawa ke rumah Ki Buyut?“
“Mereka kemudian dibawa ke banjar. Untunglah, keduanya adalah anak-anak muda
yang rendah hati. sehingga mereka sama sekali tidak berbuat apa-apa terhadap
orang-orang yang telah berusaha menangkap, kalian memperlakukannya sebagai
orang-orang yang berniat jahat”
Para peronda di pintu gerbang padukuhan itu mengerutkan dahi mereka. Namun
pengawal itupun segera menceriterakan apa yang telah terjadi di banjar dengan
kedua orang anak muda itu.
Para peronda itu mengangguk-angguk. Seorang diantara mereka berkata “Untunglah.
Jika kedua anak muda itu mampu mengimbangi kemampuan Akuwu, bukankah berarti
bahwa keduanya benar-benar memiliki ilmu yang tinggi?“
“Ya. Keduanya telah dapat mengalahkan sekelompok penjahat yang besar di banjar
itu“ jawab salah seorang pengawal.
Anak-anak muda yang meronda itu menjadi kagum. Apalagi ternyata kedua orang anak
muda itu benar-benar dapat mengekang diri sehingga mereka tidak terjerumus ke
dalam satu sikap yang sewenang-wenang meskipun hati mereka telah disakiti.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berada di gelapnya malam
diluar padukuhan. Mereka berjalan di bulak yang panjang menuju ke padang perdu.
“Udara terasa diring“ desis Mahisa Murti. Mahisa Pukat mengangkat wajahnya.
Dilihatnya bintang bergayutan di langit.
“Justru langit bersih“ berkata Mahisa Pukat “agaknya lebih hangat berada di
banjar. Bahkan mungkin kita akan mendapat makanan dan minuman yang hangat”
Mahisa Murti tertawa. Katanya “Menarik. Tetapi kenapa kita pergi juga”
“Itulah sulitnya Kadang kadang harga diri itu dapat merugikan“ jawab Mahisa
Pukat sambil tertawa pula.
“Kalau kita mau mengorbankan harga diri, sekedar untuk mendapatkan nasi hangat,
tentu saja kita akan dapat melakukannya“ desis Mahisa Murti.
“Itulah sulitnya“ jaw»b Mahisa Pukat. Lalu “Tetapi itu adalah laku dari
keprihatinan kita”
“Darimana kau tahu hal itu?“ bertanya-Mahisa Murti.
“He, bukankah ayah dan. paman-paman selalu mengatakan demikian?“ Mahisa Pukat
ganti bertanya.
“Bagus. Artinya kau masih selalu ingat akan pesan ayah dan paman-paman“ jawan
Mahisa Murti.
“Jika tidak, maka barang-barang upacara itu agaknya memang dapat dijual dengan
nilai yang tidak terhingga“ sahut Mahisa Pukat.
Sekali lagi Mahisa Murti tertawa. Mahisa Pukat memandanginya sejenak. Namun
iapun telah ikut tertawa pula.
Ketika keduanya kemudian berbelok kepadang perdu yang sepi dan jarang di datangi
seseorang, maka mereka mulai merasakan kesepian yang mencengkam. Baru saja
mereka melihat banjar padukuhan yang ramai dengan anak-anak muda dan para
penghuni padukuhan yang lain dibawah nyala obor yang terang. Namun kemudian
mereka telah terdampar kedalam gelapnya padang perdu dan dinginnya udara malam.
Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun teiah duduk bersandar
pepohonan perdu yang tumbuh dengan liar dipadang itu. Angin malam berhembus
perlahan-lahan mengusap wajah-wajah mereka yang mulai di bayangi oleh kantuk.
Sebenarnyalah kedua anak muda itu menjadi letih. Mereka harus melayani beberapa
orang dalam perkelahian. Yang terakhir mereka harus melawan Akuwu yang telah
memaksa mereka untuk menitikkan keringat.
“Ternyata perut ini merasa lapar juga“ desis Mahisa Pukat. Mahisa Murti yang
sudah memejamkan matanya menyahut “Malam malam begini, bagaimana kita
mendapatkan makan. Besok pagi pagi kita berburu burung. Agaknya menyenangkan
juga makan daging burung selagi perut merasa lapar.
“Aku akan membeli saja ketela pohon. Kita akan dapat membuat perapian. Ketela
itu kita panggang diatas api, maka kita akan segera menjadi kenyang” guman
Mahisa Pukat.
“Bagus“ jawab Mahisa Murti “kau membeli ketela pohon di pasar. Aku akan mencari
burung”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi matanya mulai terpejam. Namun sementara itu
Mahisa Murti tidak segera tertidur. Ia masih berusaha untuk tetap burjaga-jaga.
Jika Mahisa Pukat sudah cukup lama tidur, maka tentu tidurnya tidak akan terlalu
lelap. Barulah kemudian ia akan tidur menjelang pagi hari.
Ketika matahari mulai membayang. Mahisa Pukatlah yang bangkit lebih dahulu. Ia
melihat langit menjadi merah, sementara Mahisa Murti masih tidur bersandar
puhon. Nampaknya Mahisa Murti masih nyenyak bermimpi.
Mahisa Pukat tidak membangunkannya, tetapi iapun mulai mencari kekayuan dan
dahan-dahan kayu kering yang berpatahan. Perutnya memang sudah terasa lapar
Karena itu. ia benar-benar akan pergi ke pasar yang sudah diketahuinya letaknya.
Baru sejenak kemudian Mahisa Murti terbangun. Ketika ia melihat Mahisa Pukat
sudah mengumpulkan kekayuan dan dahan dahan kering, maka iapun tersenyum. “Aku
memang sudah lapar” berkala Mahisa Pukat Baiklah” jawab Mahisa Murti aku akan
pergi ke sumber air itu sebentar. Kemudian aku akan segera berburu burung”
“Dengan apa?" bertanya Mahisa Pukat.
“Aku masih yakin akan kemampuan bidikku. Aku akan melempar burung-burung yang
hinggap di dahan-dahan yang rendah itu dengan batu” jawab Mahisa Murti.
“Sulit” jawab Mahisa Pukat “mungkin Kau akan dapat mengenai sasaran mati. Tetapi
burung-burung itu akan segera terbang mendengar desir lontaran batumu. Yang
tidak akan terbang adalah ketela pohon atau jagung”
“Aku sependapat” jawab Mahisa Murti tetapi kita harus berhemat”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian tersenyum. Katanya
“Jika kita kehabisan uang, kita akan dapat bekerja apa saja kepada seseorang.
Kita akan mendapatkan uang dengan cara yang baik.
Mahisa Murtipun kemudian tersenyum pula. Katanya “Aku sependapat. Meskipun
demikian, kau jangan terlalu banyak mempergunakan uang yang ada pada kita
sekarang ini”
Mahisa Pukat mengangguk. Katanya “Baiklah. Setelah hari ini, kita akan memasuki
hutan yang memberikan kesempatan kepada kita untuk mencari buah-buahan dan
berburu. He, apakah kita memerlukan busur dan anak panah?”
“Sebaiknya kita memang mempunyai alat berburu. Tetapi bukan busur dan anak
panah. Kita memerlukan sumpit. Alat yang tidak terlalu menarik perhatian, karena
sumpit tidak banyak dipergunakan selain hanya untuk berburu. Kitapun dapat
mempergunakan alat yang lebih sederhana, yang barangkali pernah juga kita
pelajari. Bandil”
“Ya Dengan bandil kita akan dapat berburu binatang di hutan-hutan. Kita hanya
memerlukan tali ijuk yang lemas dan kuat. Aku akan membelinya” berkata Mahisa
Pukat.
“Tidak perlu. Kita aken dapat mencari daun nanas. Aku telah melihat beberapa
batang nanas liar tumbuh di padang
perdu ini. Kita akan membuat saratnya menjadi tampar kecil yang dapat kita
pergunakan untuk membuat bandil. Tetapi baik juga jika kita mempunyai sumpit”
jawab Mahisa Murti.
Tetapi mereka tidak tahu, dimanakah mereka akan mendapatkan sumpit. Meskipun
mereka akan dapat membelinya, namun jarang mereka dapat menemukan seseorang yang
menjual sumpit. Kecuali jika mereka bertemu dengan seorang pemburu yang
mempergunakan sumpit dan bersedia menjual sumpitnya.
Dalam pada itu, maka Mahisa Pukatpun kemudian telah pergi ke pasar untuk membeli
ketela pohon atau jagung, sementara Mahisa Murti sempat mencari daun nanas yang
tumbuh liar di tepi sebuah mata air kecil di tengah-tengah padang perdu. Dengan
pisaunya Mahisa Murti memotong beberapa helai daun nanas dan kemudian mengurut
seratnya. Serat itu akan dijemurnya dan kemudian dianyam menjadi tali yang kuat
dan lemas. Lebih baik dari tampar ijuk untuk dipergunakan sebagai pelempar batu.
Pagi itu, mereka telah menyalakan api di tengah-tengah padang perdu. Merekapun
mengerti, bahwa asap api itu akan menarik perhatian. Tetapi orang-orang yang
melihat asap itupun akan mengira bahwa ada seseorang pencari kayu yang Berada di
padang perdu itu. Jika apinya tidak menjalar dan semakin besar, maka asap itu
tentu tidak akan memaksa orang-orang yang melihatnya untuk mendatanginya.
Sejenak kemudian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun dengan lahapnya telah
makan jagung yang dipanggang di atas api. Beberapa saat mereka duduk di sebelan
perapian, sehingga akhirnya merekapun menjadi kenyang.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murtipun telah menjemur serat dauri nanas yang masih
basah. Ternyata kedua anak muda itu, bersepakat, bahwa mereka pada hari itu juga
akan meneruskan pengembaraan mereka yang terhenti.
Setelah mengemasi diri, maka kedua orang anak muda itupun telah meninggalkan
padang perdu itu. Mahisa Murti membawa serat nanasnya yang akan dibuatnya
menjadi bandil. Sementara Keduanya masih juga berusaha untuk dapat menemukan
seseorang yang mungkin akan dapat memberinya satu atau dua batang sumpit.
Kedua anak muda itu tertegun ketika mereka melintasi sebuah gerumbul bambu di
padang perdu yang lain. Mereka melihat batang-batang bambu cendani yang beruas
panjang. Sejenak mereka tertegun. Namun kemudian Mahisa Pukat berkata “Apakah
kita dapat membuat sumpit sendiri dengan pering cendani ini?“
“Jenis pering cendani yang jarang dijumpai“ berkata Mahisa Murti “ruasnya
panjang sekali. Agaknya bambu ini sengaja disediakan bagi kita untuk membuat
sumpit”
“Atau bambu ini sengaja di tanam orang, setidak-tidaknya dimiliki oleh
seseorang“ berkata Mahisa Pukat “lihat bekas-bekasnya. Beberapa batang bambu
telah dipotong. Bekasnya adalah bekas pisau. Bukan sekedar patah oleh angin atau
binatang-binatang liar vang berlari-larian”
Mahisa Murti memang melihat beberapa batang bambu telah dipotong. Bekasnya
adalah bekas pisau atau semacam kapak kecil. Karena itu, maka katanya “Memang
mungkin sekali. Tetapi agaknya bambu ini tumbuh saja disini tanpa ada orang yang
menanamnya. Tetapi sekelompok orang yang mengetahuinya kemudian telah mengambil
beberapa
batang untuk dibuat sumpit dan kepentingan-kepentingan lain yang sesuai dengan
ruas-ruasnya yang panjang.
“Jika demikian, apa salahnya jika kita mengambil satu atau dua batang Kita dapat
memilih yang sudah tua, lurus dan bernas paling-panjang” berkata Mahisa Pukat.
Keduanyapun kemudian mulai memilih batang bambu cendani yang kecil beruas
panjang. Tetapi cendani yang mereka ketemukan itu agaknya bambu cendani yang
khusus. Ruasnya terlalu panjang bagi bambu cendani yang biasa dijumpainya.
Tetapi keduanyapun memang pernah melihat sumpit bambu cemani yang beruas panjang
seperti jang mereka ketemukan itu.
Namun dalam pada itu. selagi keduanya sibuk memotong bambu cendani itu dengan
pisau-pisau mereka, tiba-tiba saja dua ekor kuda telah berpacu menembus
batang-batang perdu. Nampaknya kedua pununggangnya terkejut juga melihat dua
orang yang sedang sibuk memotong bambu cendani yang khusus itu. Karena itu, maka
seorang diantara mereka telah berkata “Kita dekati mereka”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun terkejut pula. Tetapi mereka tidak dapat
berbuat lain, kecuali berdiri tegak sambil menunggu kedua ekor kuda yang
mendekat itu.
“Apakah mereka yang memiliki pohon bambu cendani ini?“ desis Mahisa Murti.
Dalam pada itu, kedua orang penunggang kuda itu menjadi semakiin dekat. Beberapa
langkah dari kedua orang anak muda itu, keduanya telah berhenti.
“He, siapakah kalian yang telah mengambil ruas-ruas pering cendani ini?“
bertanya seorang diantara mereka, seorang yang bertubuh tinggi besar.
“Kami dalah dua orang bersaudara yang sedang mengembara“ jawah Mahisa Murti.
“Kenapa kalian berani mengambil pering cendani itu?“ bentak yang seorang lagi.
Seorang yang juga bertubuh tinggi, tetapi agak kurus.
“Apakah kami tidak diperkenankan mengambil pering cendani ini?“ bertanya Mahisa
Pukat.
“Rumpun bambu itu milik kami“ berkata orang yang bertubuh tinggi besar.
“Maaf Ki Sanak“ sahut Mahisa Pukat “kami tidak mengetahui bahwa bambu ini ada
pemiliknya. Kami mengira bahwa bambu yang tumbuh di padang perdu ini adalah
bambu liar. Bambu tanpa pemilik sehingga siapapun dapat mengambilnya” “Gila. Kau
kira kau berhak mengambil bambu itu“ bentak orang yang kekurusan.
“Demikianlah Ki Sanak. Tetapi jika bambu ini memang ada pemiliknya, kami mohon
maaf” berkata Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Pukat berkata “Bahkan jika Ki Sanak pemiliknya, maka
perkenankanlah kami berdua mohon diijinkan untuk mendapatkan satu bambu saja
masing-masing. Satu batang bambu itu mempunyai ruas yang cukup panjang sebanyak
tiga atau ampat ruas. Memang pering cendani yang luar biasa”
“Tutup mulutmu“ bentak yang bertubuh tinggi besar “bambu itu tidak boleh diambil
oleh siapapun juga, kecuali kami berdua”
“O“ Mahisa Murti mengangguk dalam-dalam “jika demikian, kami minta maaf. Kami
akan menyerahkan bambu yang sudah terlanjur kami potong”
“O, demikian mudahnya“ jawab orang yang bertubuh kecil “kau kira kau dapat
melakukan kesalahan tanpa mendapat hukuman. He, coba katakan, untuk apa kalian
mencuri bambu cendani itu?“
“Kami ingin membuat sumpit. Kami memerlukan sumpit untuk berburu burung. Dalam
pengembaraan kami, kami memang memerlukan binatang buruan. Namun agaknya bagi
kami, beberapa ekor burung telah cukup untuk menyambung hidup kami”
“Persetan“ geram orang yang bertubuh besar “nampaknya kau memiliki kemampuan
mempergunakan sumpit?”
“Tidak. Tetapi kami akan mencoba” jawab Mahisa Pukat.
“Omong kosong. Kalian tentu pernah belajar mempergunakan sumpit. Jika tidak,
kalian tidak akan mencobanya, karena mempergunakan sumpit memerlukan ketrampilan
tersendiri” jawab orang bertubuh besar itu.
Mahisa Murtilah yang kemudian menjawab “Ki Sanak. Ayahku adalah seorang petani
miskin yang sering juga harus mencukupi kehidupannya dengan berburu burung. Aku
dan saudaraku ini memang pernah mengikutinya sekali dua kali. Dan kamipun pernah
mencoba mempergunakan sumpit. Karena itu, dalam pengembaraan ini kamipun ingin
mempergunakan sumpit sebagaimana ayahku pernah mempergunakan”
Kedua orang berkuda itu saling berpandangan. Namun yang seorang kemudian
bergumam “Kau percaya kepada omongannya?“
Kawannya menggeleng. Katanya “Bagaimanapun juga, mereka telah mencoba mencuri.
Keterangannya itu semata-mata untuk mencoba memperingan kesalahan. Tetapi aku
tidak sependapat dengan ceriteranya”
“Ya“ geram orang bertubuh besar itu “aku memang ingin membawa keduanya. Mungkin
keduanya dapat memberikan keterangan yang berguna bagi kita. Dengan demikian,
maka kita tidak akan pernah mendapat kesulitan lagi dari tikus-tikus kerdil itu”
Kawannya mengangguk-angguk. Lalu katanya “Anak-anak yang malang. Kami telah
mengambil keputusan untuk menangkap kalian. Kami ingin membawa kalian kerumah
kami”
“Kami tidak berbuat kesalahan. Jika kami berani memotong bambu ini, semata-mata
karena kami tidak tahu, bahwa bambu di padang perdu ini ada pemiliknya“ jawab
Mahisa Pukat “menurut pengamatan kami, pepohonan yang tumbuh di padang ini
adalah pepohonan liar. Pandan, nanas, ilalang, pepohonan perdu, dan satu dua
pohon yang agak besar tetapi gersang seperti pohon waru itu. Karena itu, maka
kamipun menyangka bahwa rumpun bambu ini-pun tumbuh liar dan tidak terpelihara”
“Kau dapat mengatakan alasan apa saja” jawab orang bertubuh tinggi kurus itu
“tetapi kami ingin membawa kalian. Kami sudah cukup lama merasa terganggu oleh
orang-orang yang iri terhadap keberhasilan kami”
“Cukup“ bentak orang bertubuh besar itu “jangan menjawab lagi. Kalian harus ikut
kami. Jika tidak, maka kalian akan kami ikat kedua tangan kalian dan kami seret
di
belakang kuda-kuda kami, sehingga kalian terpaksa sampai kerumah kami pula”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun saling berpandangan. Bahkan dengan geram
Mahisa Pukat bergumam “Baru beberapa langkah kami meninggalkan Kabuyutan itu”
“Ya“ Mahisa Murti mengangguk-angguk. Lalu Aku kira, kita masih berada didalam
Pakuwon yang sama.
“Ya” jawab Mahisa Pukat. Tetapi kata-katanya terpotong oleh suara orang bertubuh
besar itu “Apa yang kalian katakan? Jangan mengada-ada. Menyerahlah, agar kalian
tidak mengalami perlakuan yang kasar” “Jangan memaksa begitu Ki Sanak“ berkata
Mahisa Pukat “tingkah laku kalian memaksa kami untuk ingin mengetahui latar
belakang dari sikap kalian”
Kedua orang itu benar-benar menjadi marah, sehingga mereka tidak dapat menahan
diri lagi.
Sejenak kemudian keduanya telah menambatkan kuda-kuda mereka. Dengan langkah
yang pasti keduanya mendekati Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih saja
termangu-mangu.
“Sekali lagi aku memberi kesempatan kepada kalian. Menyerahlah“ berkata orang
yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan.
“Jangan bersikap seperti kalian menghadapi seorang penjahat. Kami tidak berniat
mencuri. Kami tidak tahu bahwa bambu liar itu ternyata ada yang memilikinya.
Sementara itu kamipun sudah bersedia menyerahkan kembali apa yang telah kami
ambil” jawab Mahisa Pukat.
“Tutup mulutmu“ bentak yang berkuda besar “sikap kalian miembuat kami sangat
marah”
“Dan sikap kalian sangat menarik perhatian“ jawab Mahisa Pukat. Lalu tiba-tiba
saja ia bertanya “He, apakah kalian datang dari antara sekelompok penjahat? Atau
sekelompok gerombolan yang mempunyai tujuan tertentu? Jika kalian adalah
orang-orang padukuhan kebanyakan, kalian tidak akan bersikap seperti itu. Bahkan
seandainya kalian adalah pengawal-pengawal sebuah Kabuyutan, kalian tentu akan
dapat bertindak lebih baik”
“Cukup“ orang bertubuh besar itu hampir berteriak “aku memang ingin menyayat
mulutmu”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Orang bertubuh tinggi besar itu melangkah
mendekatinya, sementara kawannya yang lebih kecil meskipun tidak kalah
tingginya, mendekati Mahisa Murti.
“Anak-anak yang malang“ geram yang bertubuh kecil “apaboleh buat. Nasibmu memang
sangat buruk justru karena sikapmu yang kasar”
“Kau aneh Ki Sanak“ berkata Mahisa Murti “apakah sebenarnya sikap kami terlalu
kasar? Apakah Ki Sanak sudah memperbandingkan dengan, sikap Ki Sanak sendiri?”
“Aku dapat berbuat apa saja disini” jawab orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan
itu “tidak ada orang yang dapat mencegah tingkah laku kami. Apakah yang kami
lakukan, adalah keputusan yang tidak dapat diganggu gugat. Juga terhadap kalian”
“Kalian adalah orang-orang yang aneh. Terhadap pengembara seperti kami berdua,
kalian bersikap seolah-olah kalian menghadapi sepasukan pencuri yang tangguh”
berkata Mahisa Murti “Tetapi justru karena kalian bersikap demikian, maka kami
terpaksa mempertahankan diri kami”
“Anak setan“ geram orang bertubuh besar “kalian belum tahu siapa kami”
“Memang belum“ sahut Mahisa Pukat “kami memang belum tahu siapakah kalian yang
sebenarnya? Apakah justru kalian yang harus ditangkap dan diserahkan kepada Ki
Buyut atau bahkan Akuwu”
Orang bertubuh besar itu tidak dapat menahan diri lagi. Tiba-tiba saja ia telah
meloncat sambil mengayunkan tangannya kearah mulut Mahisa Pukat.
Tetapi Mahisa Pukat sudah menduganya. Karena itu, ketika tangan orang itu
terayun, maka iapun bergeser seurut sambil menarik tubuhnya. Dengan demikian
tangan orang bertubuh tinggi besar itu sama sekali tidak menyentuhnya.
Orang bertubuh besar itu menjadi semakin marah. Dengan serta merta iapun telah
bersikap dan langsung menyerang Mahisa Pukat. Tangannya seolah-olah ingin
menerkam wajah anak muda itu dengan jari-jarinya yang terkembang.
Sekali lagi Mahisa Pukat meloncat surut. Namun orang itu ternyata telah
memburunya. Ia tidak sabar lagi untuk dapat benar-benar meremas mulut Mahisa
Pukat. Tetapi ia sudah salah menilai anak muda itu. Mahisa Pukat tidak mudah
untuk disentuhnya, sehingga serangan-serangannya yang beruntun sama sekali tidak
mengenai sasarannya.
Orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan menjadi heran. Justru karena itu ia
tertegun diam. Dipandanginya Kawannya yang bertubuh besar itu. Namun yang tidak
dapat segera menyakiti lawannya sebagaimana dikehendakinya.
Orang bertubuh tinggi itu terkejut ketika ia mendengar Mahisa Murti berkata
“Kawanmu terlalu garang Ki Sanak, sehingga ia kurang dapat mengendalikan
dirinya”
“Diam“ orang bertubuh tinggi itu menggeram. Namun kemudian iapun telah
menghadapi Mahisa Murti sambil berkata “Nasibmu akan menjadi lebih buruk lagi.
Sebentar lagi kawanmu itu akan menjadi lumat. Tetapi kau akan mengalaminya lebih
dahulu. Seandainya kau memiliki kecepatan gerak seperti kawanmu itu, namun
akupun memiliki ilmu yang lebih baik dari kawanku itu”
“Ki Sanak“ berkata Mahisa Murti “sebenarnya persoalan kita tidak pantas untuk di
selesaikan sampai dengan sikap yang paling keras dan korban yang paling besar.
Apakah artinya pering cendani dibandingkan dengan nyawa seseorang”
“Kau memang dungu“ bentak orang itu “bukan nilai sebatang pering cendani. Tetapi
bahwa kalian telah melanggar hak dan harga diri kami. Tidak seorangpun yang
berani menyentuh segerumbul pering cendani yang khusus beruas sangat panjang itu
selain kalian. Karena itu, maka hukuman yang paling berat akan kami berikan
kepada kalian”
“Itu adalah sikap yang sangat cengeng. Apakah kalian tidak dapat bersikap lebih
baik Ki Sanak?“ bertanya Mahisa Murti.
Orang itu tidak menjawab. Tetapi setapak ia maju. Sesaat ia mempersiapkan diri.
Katanya “Aku tidak akan melepaskan anak-anak muda gila seperti kalian”
Mahisa Murtipun sadar, bahwa iapun harus bertempur seperti Mahisa Pukat. Orang
bertubuh tinggi kekurusan itu nampaknya memang mempunyai kelebihan dari orang
yang
bertubuh raksasa yang telah mengerang Mahisa Pukat dengan kasar.
Dalam pada itu, Mahisa Murtipun telah mempersiapkan diri menghadapi segala
kemungkinan. Ia harus berhati-hati menghadapi orang bertubuh tinggi itu, karena
menilik sikapnya, ia tentu memiliki sesuatu yang dapat dibanggakannya.
Selangkah orang itu mendekat. Ketika Mahisa Murti bergeser, maka tiba-tiba saja
orang itupun melenting sam bil menjulurkan tangannya menyerang.
Mahisa Murti yang sudah bersiap sepenuhnya itupun bergeser pula secepat
datangnya serangan, sehingga serangan itutidak mengenainya sama sekali. Tetapi
seperti tatit, orang bertubuh tinggi itu meloncat dengan kaki terjulur
menyamping. Dangan kecepatan dan derasnya serangan itu menyamhar Mahisa Murti.
Tetapi serangan yang cepat itu tidak mangejutkan Mahisa Murti yang sudah
bersiaga menghadapi kemungkinan yang bagaimanapun juga. Karena itu, maka iapun
masih sempat mengelak ke samping sambil menarik tubuhnya.
Lawannya menggeram. Bahwa serangannya sama sekali tidak mengenai sasarannya,
telah membuatnya semakin marah itu, demikian kakinya menyentuh tanah, maka iapun
segera berputar bertumpu pada tumitnya. Sedangkan kaki yang lain menyambar
Mahisa Murti pada lambungnya.
Mahisa Murti mulai berniat untuk menyerangnya kembali. Karena itu. Ketika ia
bergeser surut, tangannya telah dengan cepat disertai dengan mengerahkan
kekuatannya pada tangannya itu, menangkis kaki lawannya. Sambil merendah Mahisa
Murti menempatkan tangannya berjajar rapat di muka dadanya, ditekuk pada
sikunya. Sehingga ayunan kaki lawannya telah membentur
kedua tangan Mahisa Murti yang telah dijadikannya sebagai perisai.
Sebuah benturan yang keras telah terjadi. Mahisa Murti yang belum mengetahui
sepenuhnya kekuatan lawannya, ternyata telah terkejut. Bukan karena ia terlempar
surut,. tetapi justru lawannyalah yang terlempar beberapa langkah dan kemudian
jatuh berguling di tanah berpasir.
Mahisa Murti yang masih berdiri tegak itu memandangi lawannya dengan
termangu-mangu. Ternyata kekuatan lawannya tidak seimbang dengan tingkah lakunya
yang seolah-olah sangat meyakinkan itu.
Tetapi orang itu dengan cepat melenting berdiri. Meskipun demikian, pada
wajahnya nampak betapa ia berusaha menahan sakit pada kakinya yang seolah-olah
telah membentur batu padas di lereng pegunungan.
“Gila“ geramnya.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia sempat berpaling kearah
Mahisa Pukat, maka iapun melihat, bagaimana Mahisa Pukat menguasai lawannya
sepenuhnya.
“Kau sangka bahwa ilmu iblismu itu akan dapat menundukkan aku“ geram orang itu.
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Nampaknya orang itu justru menjadi semakin
marah. Sebenarnyalah orang itupun kemudian bergeser mendekatinya sambil berkata
“Kau telah salah langkah anak muda. Kau sangka bahwa dengan demikian, kau
memiliki kekuatan jauh lebih besar dari kekuatanku” orang itu berhenti sejenak,
lalu “tetapi ketahuilah, bahwa aku belum bersungguh-sungguh. Aku masih berusaha
untuk mengalahkanmu tanpa merontokkan iga-igamu. Namun kau telah mulai dengan
sikap yang kasar. Karena itu, maka nasibmu akan menjadi sangat buruk”
Mahisa Murti tidak menjawab. Ia sudah bersiap menghadapi apapun juga. Apalagi
ketika ia sudah berhasil menjajagi kekuatan lawannya, meskipun barangkali
kekuatan itu masih belum sampai kepuncak kekuatannya.
Tetapi yang dikerahkan oleh Mahisa Murti barulah kekuatan wadagnya sewajarnya.
Iapun masih belum menambah pada kekuatan cadangannya. Karena itu, seandainya
orang itu masih akan meningkatkan kemampuannya, maka Mahisa Murti akan
menghadapinya dengan tanggon.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat telah semakin mendesak lawannya. Orang bertubuh
tinggi besar itu ternyata tidak mampu melawan kecepatan gerak dan kekuatan
Mahisa Pukat. Meskipun Mahisa Pukat masih juga mempergunakan tenaga wajarnya.
Benturan-benturan yang terjadi telah mendesak orang bertubuh tinggi besar itu
sehingga ia sama sekali tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menyerang.
“Menyerahlah“ berkata Mahisa Pukat “aku dapat berbuat baik, tetapi aku dapat
berhuat kasar”
“Gila“ geram orang bertubuh tinggi besar itu “jika demikian kau tentu salah
seorang gerombolan Hantu Jurang Growong”
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan“ jawab Mahisa Pukat “apa artinya Hantu
Jurang Growong”
“Jangan berpura-pura anak muda“ jawah orang bertubuh besar itu “orang-orang dari
Hantu Jurang Growong benar-benar bersikap seperti hantu. Mereka dapat berbuat
baik, tetapi sebenarnyalah mereka berhati iblis. Dan kaupun
dapat berbuat seperti itu. Apalagi menilik rencanamu mencuri pering cendani itu.
Maka aku mengambil kesimpulan, bahwa kalian adalah orang-orang dari Hantu Jurang
Growong”
“Kau membingungkan“ sahut Mahisa Pukat “yang kau maksudkan orang-orang dari
Jurang Growong, atau Hantu dari Jurang Growong”
“Kau memang dungu“ bentak orang itu “yang disebut Hantu Jurang Growong adalah
orang-orang yang menamakan dirinya demikian. Sama sekali bukan hantu. Tetapi
mereka memang memiliki ilmu seperti hantu” orang itu berhenti sejenak. Tetapi
tiba-tiba katanya “he, jangan berpura-pura. Kau salah seorang dari antara
mereka”
Mahisa Pukat tidak segera menjawab. Tetapi ia melihat lawannya mulai dibayangi
oleh kecemasan. Sorot matanya membayangkan ketegangan didalam jiwanya.
“Ki Sanak“ berkata Mahisa Pukat aku bukan orang dari Jurang Growong Aku sama
sekali tidak tahu menahu tentang orang apalagi hantu dari Jurang itu”
“Persetan“ geram orang itu kau harus dibinasakan. Seluruh penghuni Jurang
Growong memang harus dibinasakan”
“Jangan mengigau seperti orang kesurupan“ bentak Mahisa Pukat.
Ternyata orang itu benar-benar terkejut, sehingga ia telah meloncat mundur.
Ketegangan yang membayang disorot mata orang itu telah berubah menjadi
ketakutan.
Mahisa Pukat ingin memanfaatkan keadaan itu. Karena itu sekali lagi ia membentak
“Menyerahlah. Atau kau akan aku cincang disini”
Ketakutan yang sangat telah semakin mencengkam orang bertubuh raksasa itu. Namun
dalam pada itu, Mahisa Murti dan orang bertubuh tinggi kekurusan itu masih saja
bertempur.
Tetapi pertempuran itu tidak berlangsung terlalu lama. Mahisa Murti telah
menguasai lawannya pula. Sejenak kemudian lawannya telah terdesak, sehingga
akhirnya orang bertubuh tinggi kekurusan itu tidak sempat melawan lagi.
Kedua orang itu akhirnya benar-benar harus mengakui keunggulan lawannya.
Meskipun rasa-rasanya nyawa mereka belum terancam, tetapi mereka menyadari,
bahwa mereka sama sekali tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika pertempuran itu
dilanjutkan, maka mereka hanya dapat menggugah kemarahan yang lebih besar saja
dari kedua orang anak-anak muda itu.
Karena itu, maka akhirnya, pada batas tahan tertentu, orang bertubuh tinggi
kekurusan itu meloncat jauh surut sambil berkata “Tunggu Ki Sanak. Aku masih
ingin berbicara”
“Menyerah atau aku akan membunuhmu dengan cara seperti yang kau katakan? Cara
yang kau rencanakan akan kau perlakukan terhadap kami?“ bentak Mahisa Murti
“jika kau menyerah, cepat menyerahlah. Jika tidak, aku akan mengikat tanganmu
dan menyeretmu dibelakang kaki kudamu sendiri“
“Jangan Ki Sanak. Jangan” minta orang itu.
“Jika demikian, menyerahlah” berkata Mahisa Murti pula.
Orang itu ragu-ragu. Agaknya ia masih juga berpikir tentang harga dirinya. Namun
orang itu bergeser surut
ketika Mahisa Murti sekali lagi membentak “Menyerahlah. Cepat. Atau aku akan
kehilangan kesabaranku”
“Baik. Baik“ jawab orang yang kekurusan “aku menyerah”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu terdengar suara Mahisa
Pukat “Nah, kau dengar. Kawanmu telah menyerah. Apakah kau akan tetap bertahan?“
Orang itu tidak dapat lagi menyembunyikan ketakutannya. Karena itu, maka dengan
terbata-bata iapun berkata “Aku, aku juga menyerah”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti berkata “Jika
kalian telah menyerah, maka berikan kedua tangan kalian. Kalian akan kami ikat
pada kuda kalian masing-masing. Kemudian kami akan mencambuk kuda kalian kearah
padang perdu yang liar itu. Nah, kau akan dapat membayangkan, apa yang akan
terjadi atas kalian”
“Jangan. Jangan lakukan itu” minta orang bertubuh raksasa itu.
“Kenapa? Bukankah kalian juga akan memperlakukan kami demikian jika kalian
memenangkan perkelahian ini?“ bertanya Mahisa Murti.
“Tidak“ jawab orang yang kekurus-kurusan “kami tidak akan benar-benar berbuat
demikian. Kami hanya bermaksud menakut-nakuti kalian saja”
“Setelah kalian kami kalahkan, maka kau dapat berkata seperti itu” bantah Mahisa
Murti.
“Tidak. Sebenarnya kami tidak akan berbuat apa-apa. Kami hanya ingin menggertak
saja, agar kalian
menganggap kami orang-orang yang garang dan menakutkan” jawab orang bertubuh
kekurusan itu “sebenarnyalah kami hanya ingin membawa kalian kepadukuhan kami.
“Untuk apa?“ bertanya Mahisa Murti.
“Kalian kami anggap bersalah, karena kalian telah mencuri pering cendani itu”
jawab orang bertubuh kekurusan
Mahisa Murti menarik nafas panjang. Sementara itu Mahisa Pukat telah melangkah
maju sambil bertanya “Kenapa kalian sangat berkeberatan jika seseorang mengambil
satu batang saja pering cendani vang kami sangka tumbuh liar itu?“
Kedua orang itu saling berpandangan. Namun kemudian orang bertubuh kekurusan itu
berkata “Marilah. Aku berharap kalian singgah barang sebentar di padukuhan kami.
“Dan kalian akan mengeroyok kami berdua beramai-ramai” jawab Mahisa Pukat.
“Tidak. Sama sekali tidak“ jawab orang bertubuh tinggi kekurusan.
“Aku tidak akan singgah. Aku akan mengikat kedua tangan kalian masing-masing
dibelakang kuda kalian” berkata Mahisa Pukat. Lalu “Itu sudah menjadi keputusan
kami”
“Jangan. Aku mohon“ suara orang bertubuh raksasa itu menjawab gemetar.
“Karena itu, coba katakan. Kenapa kalian mempertahankan pering cendani itu
sampai dengan mempertaruhkan nyawa kalian. Bukankah sebentar lagi
kalian akan mati diseret kuda-kuda kalian sendiri hanya karena pering cendani
itu?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Sebenarnyalah aku mohon. Jangan bunuh kami“ suara orang yang kekurusan itupun
menjadi gemetar.
Mahisa Murti akhirnya tidak sampai hati untuk menakut-nakuti orang itu lebih
lama lagi. Karena itu, maka katanya kemudian “Baiklah. Aku tidak akan membunuh
kalian. Tetapi katakanlah, apa arti pering cendani beruas panjang ini bagi
kalian”
Orang bertubuh tinggi kekurusan itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya
“Sebenarnya kami minta kalian untuk singgah. Kalian akan mendapat penjelasan
lebih terperinci”
“Sementara itu kau menyiapkan orang-orangmu untuk menangkap aku beramai-ramai
dengan tuduhan, seolah-olah aku termasuk Hantu yang kau sebut dari Jurang
Growong itu”
“Tidak. Aku berjanji“ jawab orang bertubuh kekurusan “Aku akan memperkenalkan
kalian dengan tetangga-tetanggaku. Mereka akan dapat menceriterakan kepada
kalian tentang pering cendani ini”
“Tidak perlu“ jawab Mahisa Murti “katakan menurut pengertianmu tentang pering
cendani itu”
Orang bertubuh kekurus-kurusan itu menarik nafas dalam-dalam. Sejenak diamatinya
wajah kawannya yang tegang. Namun agaknya ia memang tidak mempunyai pilihan
lain, sehingga karena itu, maka katanya kemudian “Baiklah. Tetapi bukankah
kalian hukan orang-orang dari gerombolan Hantu Jurang Growong?“
“Aku belum pernah mendengar nama itu. Seandainya kami orang-orang dari Jurang
Growong, apakah kalian
dapat menolak untul tidak mengatakan sesuatu tentang pering cendani ini?“
bertanya Mahisa Pukat.
Orang itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia menggeleng. Katanya “Kami memang
tidak akan dapat menolak. Tetapi aku kira mereka memang tidak akan bertanya
seperti Itu”
“Baiklah. Katakan apa yang kau ketahui tentang pering cendani itu?“ bertanya
Mahisa Murti.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Tetapi iapun kemudian berkata “Aku memang
harus mengatakannya, siapapun kailan” ia berhenti sejenak, lalu “pada saat
terakhir, kami telah mendapat seorang tamu di padukuhan kami yang telah
memperkenalkan kami dengan pering cendani ini. Bambu ini sebelumnya memang
tumbuh liar tanpa arti sama sekali. Tetapi sejak seorang tamu dari salah seorang
penghuni padukuhan kami itu memberitahukan kemungkinan yang dapat kami lakukan
dengan pering cendani ini, maka kami menganggap bahwa pering cendani itu
merupakan tanaman yang sangat penting artinya”
“Apa yang dikatakan tamu itu?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Tamu itu memperkenalkan satu jenis senjata yang sangat menarik. Sumpit seperti
yang kau sebut-sebut” jawab orang bertubuh kekurusan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada datar Mahisa Murti
bertanya “Jadi kalian mengenal sumpit belum terlalu lama?“
“Baru saja. Kami telah membuat beberapa contoh dan kami sedang mempelajari,
bagaimana kami mempergunakannya“ jawab orang bertubuh kurus itu “karena itu,
maka bagi kami, pering cendani ini sangat penting artinya. Senjata yang
diperkenalkan kepada kami
itu ternyata mempunyai kemungkinan yang jauh lebih baik dari senjata-senjata
seperti yang pernah kami miliki”
“Sungguh menarik“ berkata Mahisa Pukat “bagaimana mungkin Kalian
mempergunakannya sebagai senjata? Kami sudah mengenal sumpit sejak lama. Tetapi
yang kami lakukan, semata-mata sekedar untuk berburu. Dengan sumpit kami memang
dapat membunuh seekor burung. Bahkan mungkin sekedar melumpuhkannya”
“Kami dapat membunuh lawan kami dengan sumpit“ berkata orang bertubuh tinggi
kekurusan itu.
“Bagaimana mungkin. Apakah kau mempergunakan cara tertentu yang belum kami
kenal?“ bertanya Mahisa Murti.
“Aku tidak dapat mengatakannya, karena apa yang kami ketahui itu adalah
satu-satunya cara” jawab orang itu.
“Katakan, bagaimana kau membunuh lawanmu dengan sumpit? Apa yang kalian
lontarkan dengan sumpit itu?“ bertanya Mahisa Pukat.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian iapun bertanya “Apa yang kalian
pergunakan?“
“Kami melontarkan biji-bijian, atau sebutir kecil lempung yang sudah mengeras”
jawab Mahisa Pukat.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata “Kami melontarkan
senjata yang berbahaya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Bukannya mereka tidak
mengerti, tetapi-mereka memang ingin mendengar apa yang dikatakan oleh
orang-orang itu.
“Kami mempergunakan paser-paser kecil“ jawab orang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah mereka
sudah menduga. Orang-orang itu tentu mempergunakan paser-paser kecil yang
ujungnya beracun. Mungkin duri pepohonan, tetapi mungkin pula duri ikan air.
Duri itu telah direndam didalam sejenis racun yang dapat membunuh seseorang yang
terluka karenanya.
“Siapakah tamumu itu sebenarnya?“ bertanya Mahisa Murti kemudian.
“Salah seorang tetangga kami mempunyai seorang saudara yang pernah merantau dan
kini menetap di Kota Raja. Ia datang untuk menengok tetanggaku itu. Ketika ia
mengetahui kesulitan yang kami alami, maka iapun berusaha membantu kami. Ia
memperkenalkan kami dengan senjata pering cendani, karena kebetulan ia melihat
sejenis bambu itu di pinggir padang perdu ini. Tetapi ruasnya tidak sepanjang
pering cendani yang tumbuh disini” jawab orang yang tinggi kekurusan itu.
“Kami mengerti. Pering cendani bagi kalian adalah lambang satu harapan. Tetapi
apa yang sebenarnya telah terjadi, sehingga kalian memerlukan senjata yang lebih
baik dari senjata yang sudah kalian miliki?“ bertanya Mahisa Murti.
Kedua orang itu saling berpandangan Agaknya mereka merasa ragu-ragu untuk
mengatakannya. Namun menilai sikap Kedua anak muda yang sungguh-sungguh dan
tidak memancarkan niat vang buruk itu, orang bertubuh tinggi itupun berkata
“Sudah kami sebut. Hantu Jurang Growong.
“Siapakah yang kalian maksud sebenarnya? Gerombolan perampok? Atau gerombolan
apa?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Mungkin. Kami tidak tahu pasti. Tetapi mereka memang sering melakukan kejahatan
seperti itu “ jawab orang bertubuh besar.
“Dan kalian ingin melawan mereka?“ bertanya Mahisa Murti.
“Ya. Tingkah laku mereka sudah keterlaluan. Kami tidak dapat tinggal diam.
Sementara itu, kami tidak akan dapat melawan mereka dengan senjata pendek. Kami
tidak akan mampu mengimbangi ilmu pedang mereka. Juga kemampuan mereka
mempergunakan tombak dan bahkan bindi” jawab orang yang Kekurusan “karena itu
kami mencari senjata yang berjarak lebih panjang”
“Kenapa kalian tidak mempergunakan panah?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Kami juga sudah mempertimbangkan“ jawab orang itu “tetapi nampaknya kami akan
lebih berhasil dengan mempergunakan sumpit. Selebihnya, kami akan dapat membuat
sumpit jauh lebih banyak dari pada jika kami membuat busur dan anak panah”
“Tetapi kau harus bermain-main dengan racun” sahut Mahisa Murti “bukankah bukan
pekerjaan yang mudah untuk menampung racun dan merendam duri pada racun itu.
Jika duri itu tergores ditangan kalian sendiri, maka kalian-punakan mengalami
nasib yang buruk”
“Ada seorang dukun di padukuhan kami yang mempunyai pengetahuan tentang racun
dan bisa. Ia dapat membantu kami” jawab orang bertubuh tinggi besar.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun kemudian
katanya “Kami lebih senang mempergunakan busur dan panah. Nampaknya lebih
tang-gon dari pada mempergunakan racun. Anak panah memang
dapat melumpuhkan lawan. Tetapi tanpa racun mereka yang terkena anak panah masih
lebih mudah diobati, meskipun lawan sekalipun”
Orang-orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian orang bertubuh tinggi besar itu
bertanya “Tetapi bukankah kita memang ingin membunuh? Dengan racun kita akan
dapat membunuh mereka”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka merasakan ketakutan yang
mencengkam orang-orang itu terhadap yang disebutnya Hantu dari Jurang Growong.
Ketakutan yang sangat itu telah membuat orang-orang itu menjadi garang. Kasar
dan bahkan hampir liar. Tetapi pada saat tertentu, mereka masih menampakkan
sifat-sifat mereka yang sebenarnya.
“Mereka orang-orang padukuhan seperti yang lain“ berkata Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat didalam hatinya. Justru karena itu, maka timbullah keinginan mereka untuk
singgah. Mereka ingin melihat suasana di padukuhan itu dan tamu yang telah
memberikan beberapa petunjuk tentang cara membuat dan mempergunakan sumpit.
Sementara itu, keduanya juga ingin mengetahui serba sedikit tentang orang-orang
yang mereka sebut Hantu dari Jurang Growong itu.
Karena itu, maka Mahisa Murtipun kemudian berkata “KI Sanak. Seandainya kami
bersedia singgah, apakah kalian berdua menjamin bahwa tidak akan terjadi sesuatu
atas diri kami?“
“Kami menjamin keselamatan kalian“ jawab orang bertubuh tinggi kekurusan itu.
“Bukan untuk keselamatan kami“ sahut Mahisa Pukat “tetapi sekedar mencegah agar
kami berdua tidak membunuh terlalu banyak. Karena jika kalian ingin berbuat
sesuatu yang tidak sewajarnya terhadap kami berdua, maka kffmi akan melakukan
satu usaha untuk mempertahankan diri. Akibatnva dapat kau bayangkan. Mungkin
orpng sepadukuhanmu akan mati oleh kami. Sumpit beracun kalian tidak akan
berpengaruh terhadap kami yang mempunyai obat penawar bisa”
Kedua orang itu nampak menjadi berdebar-debar. Sementara itu Mahisa Murti telah
menggamitnya. Tetapi Mahisa Pukat justru tersenyum karenanya.
“Ki Sanak“ berkata orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itu “kami mengerti,
betapa tinggi kemampuan kalian. Karena itu silahkan singgah, kami tidak akan
mengganggu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Namun hampir
bersamaan keduanya mengangguk kecil.
“Baiklah“ berkata Mahisa Pukat “kami akan singgah jika kalian percaya bahwa kami
bukan orang-orang dari Jurang Growong” Mahisa Pukat berhenti sejenak. Namun
kemudian iapun bertanya “He, apakah kalian belum pernah melaporkannya kepada
Akuwu yang memiliki kemampuan dan ilmu tidak ada bandingnya? Selain itu ia
mempunyai pasukan pengawal yang kuat, yang tentu akan dapat menghancurkan Hantu
Jurang Growong itu”
“Kami memang belum pernah melaporkannya“ jawab orang bertubuh tinggi kekurusan
“kehadiran Hantu Jurang Growong itu belum terlalu lama. Dan kami masih harus
meyakinkan, agar kami dapat memberi keterangan yang jelas baru kemudian
melaporkan kepada Akuwu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Bahkan keduanyapun mulai
menimbang, apakah orang-orang yang berniat jahat di banjar Kabuyutan itu juga
orang-orang dari Jurang Growong. Jika demikian, maka kekuatan di Jurang Growong
itu tentu sudah jauh berkurang, setelah beberapa orang dapat ditangkap dan
bahkan ada yang telah terbunuh”
“Tetapi mungkin pula bukan. Nampaknya mereka adalah pendatang baru yang mulai
dengan kegiatan-kegiatan yang mengganggu orang-orang padukuhan “ berkata Mahisa
Murti didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukatpun bertanya kepada diri sendiri “Dimana
letaknya Jurang Growong itu?“
Dalam pada itu, mrka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah sepakat untuK
singgah barang sebentar di padukuhan kedua orang berkuda yang berusaha untuk
memiliki pering cendani itu bagi mereka dan lingkungan mereka sendiri tanpa
memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengambil meskipun hanya sebatang
saja.
Dengan demikian, maka sejenak kemudian, kedua anak muda itupun telah berkemas
untuK mengikuti kedua orang berkuda itu.
“Pakailah kuda kami” berkata orang yang bertubuh tinggi besar “Ya. Biarlah kami
berjalan kaki” berkata yang kekurusan.
“Terima kasih“ sahut Mahisa Murti “biarlah kami berjalankah saja. Kami sudah
terlalu biasa berjalan”
“Silahkan kalian berkuda“ sambung Mahisa Pukat jika kalian ingin mendahului
kami, pergilah. Kami akan menyusul”
“Apakah kalian sudah mengetahui dimanakah letak padukuhan kami?“ bertanya orang
yang bertubuh tinggi kekurusan.
“Bukan soal yang sulit bagi kami“ jawab Mahisa Pukat “kami dapat mengikuti jejak
kuda kalian kemanapun kalian pergi”
Kedua orang itu mengerutkan keningnya. Mereka menjadi semakin kagum terhadap
kedua orang anak muda itu Nampaknya keduanya memang meyakinkan sekali. Namun
keduanya tidak ingin mendahului. Merekapun kemudian berjalan sambil menuntun
kuda mereka bersama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Apakah padukuhan kalian jauh?“ bertanya Mahisa Murti.
“Tidak terlalu jauh. Jika kita sudah keluar dari padang perdu ini, kita sudah
sampai didaerah persawahan dari padukuhan kami” jawab orang bertubuh kekurusan
itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian mengetahui, bahwa letak padukuhan
mereka memang masih dalam lingkungan satu Pakuwon dengan Kabuyutan yang baru
saja mewisuda Buyutnya yang baru”
Demikianlah, kedua anak muda itu mengikuti dua orang yang menuntun kudanya
melintasi padang perdu yang agak luas. Ternyata bahwa di padang perdu itu
terdapat beberapa rumpun pering cendani. Tetapi ruasnya tidak sepanjang pering
cendani yang telah menimbulkan persoalan diantara kedua anak muda itu dengan
orang-orang yang merasa berhak. Pering cendani yang tumbuh di bagian lain dari
padang perdu itu ruasnya memang cukup panjang untuk membuat sumpit, tetapi jauh
lebih pendek dari pering cendani yang khusus itu.
Karena itu, maka pering cendani yang beruas panjang itu telah mendapat perhatian
yang khusus dari orang-orang padukuhan yang sedang berusaha mempersenjatai diri
mereka dengan senjata-senjata yang belum pernah mereka pergunakan sebelumnya.
Beberapa saat empat orang itu berjalan di udara yang terik. Beberapa batang
perdu sempat melindungi tubuh mereka dari sengatan matahari yang meskipun sudah
condong, tetapi panasnya masih terasa membakar kulit.
Namun akhirnya merekapun mencapai pinggir padang perdu itu. Dihadapan mereka
kemudian terbentang tanah persawahan yang subur. Dengan parit yang membelah dan
kemudian menusuk sampai kesagenap bagian tanah persawahan, maka tanamanpun
menjadi hijau segar. Padi dapat ditanam disegala musim, karena tidak tergantung
sekali kepada air yang turun dari langit. Parit yang mengalirkan air yang
diangkat dari sungai yang meskipun tidak terlalu besar, tetapi mengalir cukup
deras.
“Kita sudah memasuki daerah Kabuyutan kami“ berkata orang bertubuh tinggi dan
agak kekurusan itu “padukuhan yang nampak diseberang bulak panjang itu adalah
salah satu dari padukuhan di Kabuyutan kami”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Kau juga tinggal di padukuhan
itu?“
“Tidak“ jawab orang yang kekurusan “aku tinggal di padukuhan dibelakang
padukuhan itu Aku tinggal di padukuhan induk”
“Dan kau?“ bertanya Mahisa Pukat kepada orang yang bertubuh besar.
“Aku juga tinggal di padukuhan induk“ jawab orang bertubuh besar itu.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya “Tetapi sikap kaiian pada
mulanya sama sekali tidak mencerminkan sikap orang-orang padukuhan. Aku
justru mengira bahwa kalian adalah bagian dari berandal atau gerombolan penjahat
yang lain”
“Kami minta maaf“ sahut yang kekurusan “kami berusaha untuk menutupi kekerdilan
kami. Kami telah menjadi sasaran yang menyakitkan hati dari orang-orang yang
menyebut diri mereka Hantu Jurang Growong”
“Dan kalian tidak dapat melawan?“ bertanya Mahisa Pukat. “Terlalu sulit. Mereka
terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan yang tinggi.
Padukuhan-padukuhan diseluruh kabuyutan kami telah menderita karenanya. Bahkan
Kabuyutan-Kabuyutan yang lainpun mengalami nasib yang sama. Karena itu, kami
telah berusaha mencari cara yang paling baik untuk mempertahankan padukuhan dan
Kabuyutan kami” jawab orang yang kekurusan “diantaranya dengan membuat senjata
baru itu”
“Kenapa kaitan mempertahankan pering cendani itu dengan segala macam pengorbanan
Kenapa kalian tidak justru berusaha memberi tahukan kepada tetangga-tetangga
Kabuyutan kalian untuk bersama-sama memanfaatkan pering cendani itu”
“Setelah kami merasa cukup. Sebelumnya kami akan mempertahankannya“ jawab orang
bertubuh besar. Lalu “Ketakutan dan kegelisahan telah membuat kami menjadi
orang-orang yang terlalu mementingkan diri sendiri. Bahkan kemudian kamipun
menjadi buas dan liar. Tetapi pada dasarnya, kami ingin mempertahankan diri kami
dan segala macam milik kami”
Tetapi kalian berdua berani memasuki padang perdu. Bagaimana jika kalian bertemu
dengan orang-orang Jurang Growong?“
Orang bertubuh tinggi kekurusan itu mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian
menjawab “Jarang sekali orang-orang Jurang Growong itu muncul. Apalagi disiang
hari. Tetapi sekali mereka datang, maka mereka tidak akan kembali tanpa membawa
sesuatu yang berharga. Jika perlu mereka tidak segan-segan mengorbankan nyawa
sasarannya”
“Kalian sudah mengenali tabiatnya“ berkata Mahisa Murti “tetapi kalian masih
belum melaporkannya kepada Akuwu. Apakah justru bukan kalian yang telah
bersalah? Jika kalian melaporkan hal ini, maka para pengawal akan segera
bertindak. Dan korbanpun tidak akan menjadi semakin banyak”
“Kami berusaha untuk mengenal mereka lebih banyak. Kamipun belum tahu pasti,
dimanakah sarang mereka“ jawab orang yang kekurusan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi heran. Dengan demikian maka Mahisa
Murtipun bertanya “Bukankah mereka orang-orang yang bersembunyi di Jurang
Growong sehingga mereka disebut Hantu Jurang Growong”
“Mereka memang menyebut nama mereka demikian“ jawab yang bertubuh besar “tetapi
kami belum tahu, dimana letak Jurang Growong Itu”
“He“ kedua anak muda itu menjadi semakin heran. Dengan nada tinggi. Mahisa Pukat
bertanya “Jadi kalian tidak tahu, dimana letaknya jurang yang disebut Jurang
Growong itu?“
Kedua orang itu menggeleng. Yang kekurusan menyahut ”Kami mengenal beberapa
jurang di daerah ini. Tetapi jurang itu bukan tempat yang dapat dihuni orang.
Jurang itu sekedar tebing sungai yang curam dan tinggi. Terdiri dari batu-batu
padas yang membujur panjang. Namun
jurang batu padas itu tidak mempunyai sebuah lekukpun yang pantas untuk tempat
tinggal, bahkan untuk berteduh dari hujan gerimis sekalipun. Apalagi sebuah goa
atau semacamnya yang dapat dipergunakan oleh segerombolan orang-orang yang
menyebut diri mereka Hantu Jurang Growong. Sementara Jurang dilembah sebelah
pebukitan itupun tidak akan dapat dihuni oleh satu orangpun. Apalagi jurang d
lembah itu terdiri dari tanah yang lebih lunak, sehingga setiap kali akan dapat
terjadi bencana tanah longsor”
“Lembah yang mana? Dan apakah di lereng itu sama sekali tidak terdapat
pepohonan?“ bertanya Mahisa Murti.
“Tidak sebatang pohon pun. Menurut sebuah dongeng, di lereng lembah di pebukitan
itu terdapat sebuah hutan cendana. Hutan yang ditumbuhi kayu cendana. Namun
karena setiap hari kayu itu ditebang orang, maka akhirnya hutan dilereng itu
menjadi gundul. Tanahnya menjadi rawan dan setiap kali akan dapat longsor
menimbun daerah dibawahnya” jawab orang, bertubuh kekurusan ”Kayu cendana adalah
sejenis kayu yang mahal”
“Hutan itu tidak dilindungi? Maksudku, apakah Akuwu tidak melarang orang-orang
yang menebangi kayu cendana di hutan itu?“ bertanya Mahisa Murti.
“Akuwu sudah melarangnya. Tetapi orang-orang itu telah mencurinya, sehingga kayu
cendana Itu kini telah habis. Yang tinggal hanyalah beberapa batang saja, yang
diawasi oleh orang-orang yang tinggi dipadukuhan terdekat atas perintah Akuwu.
Bahkan Akuwu telah mengancam hukuman yang sangat berat bagi mereka yang mencuri
kayu cendana. Tetapi agaknya sudah terlambat. Lereng itu sudah menjadi gundul”
jawab orang bertubuh tinggi kekurus-kurusan. “Apakah mereka membawa dua orang
tawanan?“
“Mungkin. Mungkin Ki Jagabaya melihat langsung kedua orang anak muda itu
melakukan kejahatan”
“Apakah sekarang masih ada sisa-sisa pohon cendana itu?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Masih ada beberapa batang pohon“ jawab orang itu “dan Akuwu yang sekaranglah.
yang memerintahkan orang-orang padukuhan terdekat untuk mengawasinya. Agaknya ia
bersikap lebih keras dari Akuwu sebelumnya. Tetapi yang dapat dilakukan
tinggallah menyelamatkan sisa pohon cendana itu. Akuwu yang sekarang tidak dapat
berbuat banyak mengatasi bukit yang lerengnya telah dibersihkan itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya dapat mengangguk-angguk saja Jika mereka
ingin mempersoalkan lereng dan jurang yang gundul itu, maka mereka akan bertemu
lagi dengan Akuwu yang memiliki beberapa macam benda upacara dihari wisuda itu.
Sementara itu, merekapun menjadi semakin dekat dengan padukuhan dihadapana
mereka. Tetapi padukuhan itu bukannya padukuhan induk. Mereka masih harus
melintasi lagi bulak dibelakang padukuhan itu, sebelum mereka memasuki padukuhan
induk.
Ketika mereka memasuki padukuhan itu, maka beberapa orang memperhatikan mereka
dengan heran. Kedua orang yang mereka kenal itu telah menuntun kudanya bersama
dua orang anak muda yang masih asing bagi mereka.
“Siapa mereka?“ bertanya seseorang kepada tetangganya.
“Yang mana?“ tetangganya ganti bertanya.
“Tentu yang dua orang anak muda itu“ jawab yang lain. Lalu “Yang dua orang aku
tidak akan bertanya”
Tetangganya tidak sempat menjawab. Keempat orang itu lewat dihadapan kedua orang
yang sedang berbincang itu. Orang yang menuntun kudanya itu mengangguk kecil
sambil tersenyum. Tetapi mereka tidak berbicara kepada kedua orang di pinggir
jalan itu.
Demikian kedua orang yang menuntun kuda itu menjauh, seorang diantara kedua
orang itu berkata “Apakah mereka membawa dua orang tawanan?“
“Mungkin. Mungkin Ki Jagabaya melihat langsung kedua orang anak muda itu
melakukan kejahatan. Ki Jagabaya sekarang ini nampaknya telah berubah menjadi
sangat keras. Bahkah kadang-kadang kasar” jawab yang lain.
“Ia telah didorong untuk berbuat demikian. Kesulitan demi kesulitan telah
terjadi di padukuhan dan bahkan di Kabuyutan ini. Karena itu, diperlukan sikap
yang keras” berkata yang lain pula.
Kawannya mengangguk-angguk. Ketika mereka berpaling, dua orang yang menuntun
kuda bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu sudah hilang di balik tikungan.
Namun dalam pada itu, seorang diantara mereka bergumam “Kasihan. Mereka masih
sangat muda. Apakah mereka telah terdorong oleh kesesatan yang tidak teratasi
oleh jiwanya, sehingga anak-anak semuda itu telah melakukan kejahatan”
Kawannya mengangguk-angguk. Katanya “Lalu kepada siapa masa depan ini akan kami
percayakan, jika anak-anak muda sebaya kedua anak itu telah terdorong melakukan
kejahatan”
Yang lain menarik nafas dalam-dalam. Sambil beranjak pergi ia berkata “Aku akan
kesawah. Selama ini siang
malam aku berdoa, jika anakku nanti menjadi dewasa, mudah-mudahan ia tidak
terseret kedalam arus yang menyedihkan”
“Ya. Sangat menyedihkan. Mereka memang harus dikasihani. Bukan dimusuhi. Jika Ki
Jagabaya salah langkah, maka akibatnya akan sebaliknya” desis yang lain.
Keduanya kemudian berpisah. Masing-masing pergi ke sawah mereka sendiri yang
terletak diarah yang berbeda.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melalui padukuhan yang
pertama. Mereka kembali berjalan di bulak yang tidak begitu panjang. Padukuhan
berikutnya adalah padukuhan induk dari sebuah Kabuyutan yang subur. .Namun
karena sesuatu, maka telah terjadi beberapa perubahan dalam tata kehidupannya.
Ki Jagabaya dan beberapa orang pembantunya menjadi garang. Kejahatan telah mulai
menjamah padukuhan-padukuhan di Kabuyutan itu.
Orang-orang padukuhan itu memang memerlukan perlindungan Mereka mengerti, bahwa
Ki Jagabaya memang harus bersikap lain menghadapi suasana yang tidak pernah
terjadi sebelumnya. Namun yang kadang-kadang sikap itu justru menakutkan bagi
penghuni Kabuyutan itu sendiri. Ternyata pada suatu kali Ki Jagabaya pernah
berkata “Tentu ada pengkhianat didalam lingkungan kita sendiri. Jika tidak maka
para penjahat itu tidak akan segera mengetahui sasarannya. Apalagi Hantu Jurang
Growong itu belum lama berada di sekitar daerah kita”
Pendapat Ki Jagabaya itu telah membuat hati setiap orang menjadi kecut. Jika
mereka melakukan satu kesalahan yang tidak mereka sadari, maka mereka akan
mungkin sekali menjadi sasaran kecurigaan Ki Jagabaya.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun mengikuti Ki Jagabaya memasuki
padukuhan induk. Mereka langsung dibawa ke banjar Kabuyutan yang terletak di
tengah-tengah padukuhan induk itu.
"Marilah Ki Sanak“ Ki Jagabaya mempersilahkan kedua anak muda itu “silahkan naik
kependapa. Ini adalah banjar Kabuyutan kita”
Kedua anak muda itu termangu-mangu. Sejenak mereka melayangkan pandangan mereka
kesekeliling halaman Kabuyutan itu. Kemudian, dipandanginya gandok disebelah
kiri yang lengang. Namun di gandok yang sebelah kanan, beberapa orang sedang
duduk dengan tegang.
Sekali-sekali kedua anak muda itu mendengar suara orang yang sedang
membentak-bentak. Kemudian terdengar pula keluhan dan tangis.
“Ada apa?“ bertanya Mahisa Pukat hampir diluar sadarnya.
Ki Jagabaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya “Tidak ada apa-apa”
“Jangan bohongi aku“ sahut Mahisa Pukat.
Ki Jagabaya memandangi orang-orang yang berada di-serambi gandok di sebelah
kanan itu,. Iapun mendengar bentakan-bentakan yang kasar dan keluhan yang
tertahan-tahan diantara tangis.
“Katakan Ki Sanak“ desis Mahisa Murti.
“Atau aku akan mengamuk disini?“ sambung Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu, kehadiran Ki Jagabaya, seorang pembantunya bersama kedua
orang anak muda itupun sangat menarik perhatian. Orang-orang yang berada di
serambi gandok itupun ternyata telah memandangi mereka, dengan penuh kecurigaan.
“Duduklah“ Ki Jagabaya mempersilahkan “aku akan memberikan keterangan setelah
aku melihatnya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian duduk di-pendapa. Namun keduanya
nampak gelisah. Mereka melihat orang bertubuh tinggi kekurusan itu melangkah
keserambi gandok.
“Ki Jagabaya membawa tawanan lagi?“ bertanya seorang bertubuh pendek.
“Siapa yang didalam?“ bertanya Ki Jagabaya.
Ki Jagabaya itu tidak menunggu jawaban. Iapun kemudian melangkah masuk.
Dalam pada itu, di tengah-tengah ruangan yang tidak begitu luas di gandok
sebelah kanan itu, seorang anak muda duduk di lantai dengan wajah yang biru
lembab. Seorang yang bertubuh kecil berdiri di sebelahnya dengan garangnya.
“Ia tidak mengaku“ geram orang yang berdiri itu.
“Apa katanya?“ bertanya Ki Jagabaya.
“Ia tidak pernah berhubungan dengan siapapun diluar Kabuyutan ini” jawab orang
bertubuh kecil itu.
Ki Jagabaya melangkah mendekati. Dengan wajah yang garang ia membentak “Jangan
menunggu sampai kepalamu hancur ya? Kau kemari dilihat oleh seseorang, datang
dari jurusan hutan ilalang disebelah padang perdu itu. Kau tentu sudah
berhubungan dengan para penjahat dari Jurang Growong itu”
“Tidak Ki Jagabaya. Aku sama sekali tidak tahu menahu tentang Jurang Growong”
tangis anak muda itu.
“Ingat“ geram Ki Jagabaya “wajahnya akan dapat berbentuk lain. Aku datang dengan
dua orang saksi. Karena itu mengakulah”
Orang yang berada di gandok itu mengeluh. Tubuhnya terasa semakin sakit. Apalagi
ketika ia melihat sekilas, tatapan mata Ki Jagabaya yang bagaikan membakar
jantungnya.
“Cepat“ bentak Ki Jagabaya.
“Aku berkata sebenarnya” tangis orang itu
“Baiklah“ berkata Ki Jagabaya jika la tidak mengaku, aku benar-benar akan
memecahkan kepalanya”
“Jangan, jangan“ anak muda itu berteriak.
“Diam“ tiba-tiba saja tangan orang yang bertubuh kecil yang berdiri di
sebelahnya telah memukul mulut anak muda itu dengan telapak tangannya.
Suara anak muda itu terhentak berhenti. Namun yang terdengar kemudian adalah
keluhan keluhan vang tertahan-tahan.
Sementara itu, tiba-tiba telah terjadi keributan di luar pintu. Ketika Ki
Jagabaya meloncat dan berdiri dipintu, ia melihat tiga orang terbanting
dilantai, sementara beberapa orang yang lain bergeser surut.
“Jadi kegilaan semacam inilah yang terjadi di Kabuyutan ini“ geram Mahisa Pukat.
Wajah Ki Jagabaya menegang. Katanya “Aku hanya sekedar menjalankan kewajiban.
Aku ingin mendengar pengakuan anak ini sebelum aku memberitahukan kepada Ki
Sanak berdua”
“Siapa yang kau maksud dua orang saksi? Kami berdua?“ bertanya Mahisa Pukat
pula.
Ki Jagabaya termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya “Aku hanya ingin
pengakuannya”
“Pengakuan apa? Begitu caramu untuk mendapatkan pengakuan. Kau pukuli orang itu
sampai tidak lagi berpengharapan, sehingga ia akan mengaku. Mengaku sebagaimana
kau kehendaki. Bukan mengaku sebagaimana telah terjadi atas dirinya yang
sebenarnya”
Wajah Mahisa Pukat menjadi semakin tegang. Lalu tiba-tiba ia membentak “He,
orang gila. Yang kau inginkan pengakuan atau kebenaran. Pengakuan yang keluar
dari mulutnya karena kau peras dengan caramu yang kasar dan buas itu belum tentu
kebenaran yang pernah terjadi”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, orang yang bertubuh kecil
berkata “Siapa orang itu Ki Jagabaya? Apakah orang itu justru orang Jurang
Growong, sehingga sudah sewajarnya jika kita akan menangkapnya?“
“Kau akan menangkap aku?“ Mahisa Pukat menjadi semakin marah “Jika kau ingin
mencobanya, marilah. Yang lain pergi untuk menyediakan kelengkapan untuk
menyelenggarakan mayat sebanyak orang yang ingin menangkap aku”
Wajah-wajah itupun menjadi tegang. Sementara Ki Jaga baya melangkah mendekati
Mahisa Pukat sambil berkata “Tidak. Kami tidak ingin menangkap kalian. Tetapi
kami mohon kalian duduk di pendapa. Biarlah kami melakukan tugas kami
sebaik-baiknya”
“Tugas yang gila ini“ sahut Mahisa Pukat. Lalu “Tidak. Aku tidak akan membiarkan
kelaliman ini berlangsung”
Ki Jagabaya menjadi tegang. Namun akhirnya ia berkata kepada orang yang bertubuh
kecil Jaga orang itu baik-baik. Aku akan pergi kependapa”
“Dan jangan kau lakukan lagi kesewenang-wenangan itu“ berkata Mahisa Pukat
“mungkin kalian adalah orang-orang yang mendapat tugas membantu Ki Jagabaya.
Mungkin kalian merasa bahwa apa yang kalian lakukan itu adalah kewajiban. Tetapi
kalian telah melanggar hubungan antara sesama. Kalian memperlakukan sesama kita
dengan cara yang tidak wajar. Kalian seharusnya dapat membayangkkan, bagaimana
jika perlakuan yang demikian itu berlaku atas diri kalian. Seandainya pada suatu
saat, kalianlah yang ditangkap tanpa bersalah. Kalian kemudian dipaksa untuk
mengaku dan menjawab segala macam pertanyaan derigcan jawaban yang sudah
disediakan”
“Siapa anak ini Ki Buyut“ orang yang bertubuh kecil itupun bertanya. Lalu
“Telingaku menjadi panas mendengar kata-katanya. Jika Ki Jagabaya
memperkenankan, aku akan memperlakukan, anak ini dengan caraku, agar ia dapat
menghormati sikap kami disini”
“Tidak perlu“ jawab Ki Jagabaya.
“Ia telah menghina kami” orang bertubuh kecil itu menegaskan “sudah menjadi
kewajiban kami untuk bertindak atas mereka”
“Kalian memang orang-orang gila“ geram Mahisa Pukat “kalian telah melakukan
kewajiban kalian dengan salah. Kau sangka jika kalian dapat memaksa seseorang
untuk mengatakan sebagaimana kau kehendaki, kau sudah melakukan kewajibanmu
dengan baik? Apakah kau sangka dengan sewenang-wenang kalian akan dapat dianggap
seorang pahlawan”
“Tetapi kami tidak dapat berbuat lain disini“ berkata Ki Jagabaya “daerah kami
adalah daerah yang penuh dengan
keadaan yang sangat gawat. Kami tentu tidak akan dapat berbuat lain kecuali
kekerasan”
“Itu adalah satu sikap yang sangat dungu“ potong Mahisa Pukat.
“Dengar“ orang bertubuh kecil Itu menyela “orang itu menyebut kami dungu”
“Kau yang paling dungu“ Mahisa Pukat berteriak.
Namun ternyata orang bertubuh kecil itupun tidak lagi dapat mengendalikan
kemarahannya. Tanpa minta ijin lebih dahulu dari Ki Jagabaya, maka iapun telah
meloncat menyerang Mahisa Pukat.
Namun yang terjadi adalah sangat mendebarkan jantung. Orang bertubuh kecil
itulah yang kemudian terlempar dan jatuh terbanting dilantai gandok membentur
tiang. Sekali ia masih menggeliat. Namun kemudian orang itupun telah pingsan.
“Sudah aku katakan, siapa yang ingin mati, cobalah tangkap aku. berkata Mahisa
Pukat.
Tidak seorangpun bergeser. Telah ada empat orang yang pingsan diserambi gandok
itu.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak dapat mencegah Mahisa
Pukat. Orang-orang padukuhan itu memang memerlukan sedikit peringatan atas sikap
mereka, meskipun Mahisa Murti mengerti, bahwa mereka telah disudutkan oleh satu
keadaan yang tidak menguntungkan.
Dalam pada itu, Ki Jagabayalah yang kemudian melangkah maju sambil berkata “Aku
minta maaf”
“Itu tidak cukup“ jawab Mahisa Pukat “tetapi kalian harus menyadari, bahwa sikap
kalian tidak benar. Kalian
telah bertindak sewenang-wenang apapun alasannya. Jika keadaan padukuhan ini dan
barangkali seluruh Kabuyutan ini, menjadi gawat, bukan satu alasan untuk
menyakiti arang tanpa sebab. Bukan alasan untuk memeras keterangan seseorang
yang tidak mengetahui persoalannya. Dan bukan pula alasan untuk dengan kekerasan
memaksa orang memberikan jawaban atas pertanyaan kita sebagaimana kita kehendaki
tanpa melihat kebenaran itu sendiri”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk. Katanya “Aku mengerti”
“Kalian harus bersikap lebih bijaksana, justru dalam keadaan seperti ini“
berkata Mahisa Pukat
“Tetapi, dengan demikian apakah kami tidak akan menjadi semakin sulit menghadapi
orang orang dari Jurang Growong itu” bertanya Ki Jagabaya.
“Kepada mereka kita akan bertindak tegas. Bukankah seorang tamu di padukuhanmu
telah menunjukkan satu cara untuk melawan mereka?” bertanya Mahisa Pukat “dengan
tulup kalian akan dapat bertahan. Meskipun sebenarnya ada senjata lain yang
tidak memerlukan racun. Busur dan panah, misalnya. Meskipun kalian pernah
mencoba, tetapi ada baiknya kalian mencoba lagi”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti telah memasuki
gandok itu dan melihat keadaan orang yang mengalami nasib yang malang.
“Lepaskan anak ini “ berkata Mahisa Murti kepada Ki Jagabaya.
Ki Jagabaya menjadi ragu-ragu. Namun Mahisa Pukat membentak “Cepat. Atau kami
harus mengambil sikap sebagaimana sikap kalian?“
Ki Jagabaya tidak dapat bersikap lain, kecuali memerintahkan orang-orangnya
untuk melepaskan orang yang mengalami nasib buruk itu.
“Marilah Ki Sanak“ ajak Mahisa Murti yang kemudian membimbing orang itu keluar,
dan kemudian membawanya kependapa. Sementara itu Mahisa Pukat berkata “Rawatlah
kawan-kawanmu yang pingsan. Mereka belum benar-benar mati. Tetapi jika perlu,
aku memang akan membunuh”
Tidak ada yang menjawab Ketika Mahisa Pukatpun menyusul Mahisa Murti kependapa,
maka beberapa orangpun telah merawat kawan-kawan mereka yang pingsan.
“Anak itu luar biasa“ desis seseorang “seolah-olah yang dilakukan itu tidak
dapat Kita tangkap dengan indera kita”
Kawan kawannya mengangguk-angguk. Namun ia berbisik “Jika ternyata mereka adalah
diantara orang-orang yang disebut Hantu Jurang Growong itu, maka kita akan
mengalami nasib yang sangat buruk”
“Aku kira mereka justru bukan dari antara mereka“ berkata yang lain.
“Darimana kau tahu?“ bertanya kawannya.
Orang itu memandang orang yang bertubuh tinggi besar, yang bersama dengan orang
bertubuh tinggi kekurusan, yang ternyata adalah Ki Jagabaya.
Orang bertubuh tinggi besar itu mengangguk sambil berkata “Bukan. Mereka bukan
orang-orang dari Jurang Growong. Mereka telah memaafkan kami di padang perdu
meskipun kami sudah berbuat kasar”
“Mereka berpura-pura“ desis seseorang.
“Tidak. Mereka benar-benar melepaskan kami berdua. Maksudku, aku dan Ki
Jagabaya” jawab orang itu “Ki Jagabayalah yang minta kepada keduanya untuk
singgah. Semula mereka sama sekali tidak ingin memasuki Kabuyutan ini. Mereka
ingin melanjutkan perjalanan, karena keduanya adalah perantau”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Meskipun demikian ada juga diantara mereka
yang masih tetap mencurigai kedua orang anak muda itu.
Sementara itu, dipendapa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk berhadapan dengan
orang yang sudah menjadi biru pengab karena sikap orang-orang Kabuyutan itu.
“Jadi kau tidak tahu benar tentang Hantu Jurang Growong?“ bertanya Mahisa Murti.
“Tidak Ki Sanak“ jawab orang itu dengan suara gemetar karena menahan sakit yang
menyengat diseluruh tubuh “aku tidak tahu menahu”
“Baiklah. Aku percaya. Jika kau mengetahuinya, maka keadaan tubuhmu itu sama
sekali tidak berarti dibanding dengan cacat jiwamu, karena kau sudah berkhianat.
Tetapi jika kau benar-benar tidak tahu dan tidak berhubungan dengan Hantu Jurang
Growong, besarkan hatimu. Kau akan dilepaskan” berkata Mahisa Murti.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara seseorang “Tidak begitu caranya
berbicara dengan seekor serigala anak-anak”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berpaling. Dilihatnya seorang yang mempunyai ciri
yang agak herbeda dengan orang-orang Kabuyutan itu. Orang itu mengenakan pakaian
yang agak lebih baik. serta pengetrapannya yang lebih mapan.
Sejenak kemudian orang itu sudah berdiri di tangga pendapa. Katanya pula “Kau
tidak perlu merubah sikap yang telah diambil oleh para bebahu Kabuyutan ini. Aku
juga tidak, karena kita orang lain disini. Apalagi menurut pendapatku, sikap
keras dan tegas dari para bebahu disini sudah tepat sebagaimana seharusnya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mereka segera
mengetahui, tentu orang itulah yang dimaksud dengan seorang tamu yang telah
memberikan beberapa petunjuk tentang penggunaan sumpit sebagai senjata.
Namun kedua anak muda itu tidak mengira bahwa sikap orang itu ternyata terlampau
kasar menghadapi keadaan. Agaknya orang itu pulalah yang mendorong Ki Jagabaya
dan para bebahu yang lain melakukan kekerasan yang berlebihan.
Karena Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab, maka orang itupun berkata
“Anak anak muda. Serahkan orang itu kembali kepada Ki Jagabaya. Biarlah ia
menyelesaikan tugasnya. Orang itu harus mengaku. Ia benar-benar salah satu dari
sekian banyak orang yang diperalat oleh Hantu Jurang Growong”
“Ki Sanak“ berkata Mahisa Murti “marilah kita berbicara tentang orang ini.
Mungkin kita akan dapat menyebut beberapa bukti tetapi juga beberapa keberatan.
Katakan, bagaimana mungkin Ki Sanak dapat memastikan bahwa orang ini telah
berhubungan dengan yang disebut Hantu Jurang Growong itu”
“Ceriteranya cukup panjang, anak muda“ jawab orang itu “tetapi secara singkat
dapat aku sebut, bahwa ia telah pergi ke tempat yang tidak diketahui. Ia datang
dari arah
yang mencurigakan. Ia datang dari hutan ilalang disebelah padang perdu”
“Apakah dengan demikian sudah cukup alasan bagi kalian untuk menganggap bahwa
orang ini bersalah?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Tentu Ki Sanak“ jawab orang itu “jika tidak berhubungan dengan Hantu Jurang
Growong, ia tidak akan datang lewat hutan ilalang”
Mahisa Pukat mendekati orang itu. Kemudian katanya “Katakan, apa alasanmu, bahwa
kau telah melalui hutan ilalang?“
“Disebelah hutan ilalang terdapat sebuah rawa yang tidak begitu besar. Aku
mencari ikan di rawa itu“ jawab orang itu.
“Apakah hal itu sudah kau katakan?” bertanya Mahisa Murti.
“Sudah Ki Sanak. Sebenarnya bukan aku sendirilah yang sering mencari ikan di
rawa-rawa itu. Orang-orang padukuhanku yang lain telah melakukannya pula”
berkata orang itu dengan gemetar.
“Kau bukan orang padukuhan ini?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Bukan. Aku orang padukuhan sebelah. Tetapi juga termasuk Kabuyutan ini“ jawab
orang itu.
“Nah, Ki Sanak. Bukankah ia sudah mengatakan alasannya, bahwa orang ini mencari
ikan di rawa-rawa dibalik hutan ilalang itu” berkata Mahisa Pukat.
“Dan aku masih membawa sekepis ikan ketika aku ditangkap” orang itu menjelaskan.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya “Aku lebih percaya kepada orang ini. Aku
tidak melihat kelicikan dan kecerdikan disorot matanya. Ia orang sederhana dan
jujur”
“Anak-anak“ berkata orang asing itu kemudian “kau terlalu berani mengambil
keputusan. Tetapi aku berpendirian lain. Orang itu tentu mempunyai hubungan
dengan Hantu Jurang Growong”
“Kaulah yang terlalu berani mengambil keputusan“ jawab Mahisa Pukat.
“Ternyata kau bukan saja terlalu berani mengambil ke-putusan “ geram orang itu
“tetapi kau juga terlalu lancang dihadapanku. Kau harus sadar, bahwa sikapmu itu
akan dapat mencelakaimu”
“Nanti dulu Ki Sanak“ berkata Mahisa Murti “sebaiknya Ki Sanak duduk dengan
baik, dan kitapun dapat berbicara dengan baik”
“Tidak ada gunanya anak-anak“ jawab orang itu “aku hanya minta, serahkan kembali
orang itu kepada Ki Jagabaya. Persoalan diantara kita akan selesai. Kau boleh
pergi kemanapun yang kau inginkan. Sudah tentu, kalian tidak boleh mencuri lagi
pering cendani yang khusus itu. Jika kalian menginginkan untuk membuat tulup
sekedar untuk menangkap burung, maka kau dapat mengambil pering cendani yang
lain, yang ruasnya cukup panjang untuk keperluan itu”
“Maaf Ki Sanak“ jawab Mahisa Murti “persoalannya tidak akan berakhir sampai
sekian. Aku tidak sekedar ingin pering cendani. He, siapakah yang memberitahukan
kepadamu, bahwa aku telah mengambil pering cendani?“
“Aku sudah mengetahuinya“ jawab orang itu.
“Baiklah. Tetapi masalahnya bukan pering cendani. Bukan pula orang ini. Orang
ini tentu hanya salah satu saja dari korban yang pernah mengalami nasib yang
serupa. Menurut dugaanku, setiap orang yang kau curigai akan mengalami nasib
seperti orang ini. Aku tidak tahu, apakah peristiwa semacam ini akan berakhir
dengan kematian. Tetapi sebenarnyalah bahwa perbuatan kalian sama sekali tidak
berarti”
“Kematian adalah peristiwa yang wajar didalam keadaan yang gawat seperti ini.
Jika orang yang berkhianat seperti orang itu tidak dibunuh, maka Kabuyutan ini
akan menjadi semakin parah”
“Persetan“ geram Mahisa Pukat “jadi kalian telah pernah membunuh orang dalam
persoalan seperti ini”
Yang sangat memanaskan hati Mahisa Pukat adalah justru orang itu tertawa.
Katanya “Orang-orang semacam itu pantas untuk berlatih kemampuan bidik dengan
mempergunakan sumpit pering cendani yang beruas panjang itu”
“Gila“ Mahisa Pukat tidak dapat menahan diri lagi. Iapun kemudian bangkit dan
melangkah menuruni tangga pendapa sambil menggeram “Apakah Kabuyutan ini sudah
kehilangan citra kemanusiaannya? He, apakah kalian tidak mempunyai paugeran yang
dapat menjadi landasan untuk menjatuhkan hukuman?“
“Kenapa kau menjadi bingung seperti itu“ orang itu masih tertawa.
“Kalian memang pantas untuk dilaporkan kepada Sang Akuwu. Sang Akuwu adalah
orang yang bijaksana. Ia akan dapat mengambil keputusan yang paling pantas untuk
menghukum kalian semuanya. Jika perlu, Kabuyutan ini akan dapat dimusnahkan”
geram Mahisa Murti.
Orang itu mengerutkan keningnya. Ditatapnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
berganti-ganti. Namun kemudian ia berkata “ Aku tidak yakin akan kata-katamu.
Akuwu tidak akan menerima kalian menghadap. Kalian pantas untuk diusir dari
halaman istana daripada didengar keterangannya”
Mahisa Murtipun kemudian teiah mendekat pula. Katanya “Aku kenal Akuwu dengan
baik. Aku dan saudaraku pernah menerima undangannya untuk singgah diistana. Apa
yang kami berdua katakan tentu akan dipercaya”
“Itu omong kosong yang sangat menggelikan” jawab orang itu “tetapi sebaliknya.
Akuwu akan menerima aku. Aku adalah orang penting di Pakuwon ini”
“Apakah aku harus mempercayaimu?“ potong Mahisa Pukat “ceriteramulah yang
ngaya-wara. Seorang yang mempunyai kedudukan penting tidak akan berbuat seperti
yang kau lakukan itu. Perbuatanmu adalah perbuatan orang yang tidak
berperadaban”
Wajah orang itu menjadi merah. Katanya “Sekali lagi aku peringatkan. Jika
kata-kataku kali ini tidak kalian dengar, maka aku akan mengambil sikap lain.
Sikap yang barangkali paling sesuai untuk mengusir kalian dari tempat ini.
Kemudian kami harus melanjutkan tugas kami memeriksa orang itu. Apakah orang itu
akan mati karena ia berkeras untuk tidak mengakui keadaannya, atau ia kemudian
akan mengaku, itu urusan kami. Apakah kami akan menempatkan orang itu menjadi
sasaran latihan dan meningkatkan kemampuan bidik kami atau sasaran latihan yang
lain. itupun urusan kami”
“Baiklah Ki Sanak“ berkata Mahisa Murti “sebaiknya aku dan saudaraku
mempergunakan cara yang kau pilih”
“Apa maksudmu?“ bertanya orang itu ”Aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Aku
akan melakuKun apa yang ingin kami lakukan. Bahwa kami akan membebaskan orang
itu adalah urusan Kami. Bahwa kami akan berbuat apa saja disini adalah urusan
kami. Kau tidak akan dapat melarang. Jika kau menganggap bahwa kau akan
mempergunakan kekerasan, maka kamipun akan mempergunakan kekerasan”
“Tegasnya, aku tantang kau berperang tanding“ potong Mahisa Pukat ”Kau dapat
memilih senjata yang kau kehendaki. Aku tidak berkeberatan jika kau memilih
senjata sumpit beracun sekalipun”
Sorot mata orang itu bagaikan membara. Bibirnya nampak bergetar sedangkan
giginya gemeretak menahan gejolak perasaannya. Kemudian terdengar ia menggeram
“Anak setan. Kau akan aku bunuh bersama-sama”
“Jangan bicara tentang membunuh, agar tidak menimbulkan rangsang padaku untuk
membunuhmu pula” bentak Mahisa Pukat.
Orang itu menjadi semakin marah. Dengan suara bergetar ia berkata “Kalian adalah
orang-orang Jurang Growong yang ingin membebaskan kawan kalian. Tetapi kalian
akan mati di banjar ini”
Tetapi jawaban Mahisa Pukat justru mengejutkan “Aku mengambil kesimpulan, bahwa
kau adalah salah satu dari Hantu Jurang Growong itu. Kau dengan sengaja telah
menimbulkan kegelisahan di padukuhan dan bahkan Kabuyutan ini Kau telah
menyesatkan orang-orang padukuhan ini untuk mempergunakan sumpit sebagai
pangganti busur dan anak panah, karena bagi Hantu Jurang Growong anak panah jauh
lebih berbahaya dari sumpit yang sulit mempergunakannya. Berlatih membidik
dengan
sumpit adalah jauh lebih sulit dari mempergunakan busur dan anak panah. Aku
menguasai keduanya dan aku dapat memperbandingkannya”
Kata-kata itu bagaikan bara yang menyentuh telinga orang itu. Sementara
orang-orang padukuhan itupun menjadi berdebar-debar. Kata-kata Mahisa Pukat itu
ternyata menjadi perhatian mereka.
Tetapi Mahisa Pukat tidak sempat berkata sepatah katapun lagi. Orang itu dengan
serta merta telah menyerangnya dengan garang. Kedua tangannya mengembang dan
jari-jarinya terbuka. Seolah-olah orang itu hendak menerkamnya sebagaimana
seekor harimau menerkam mangsanya.
Tetapi Mahisa Pukat sudah bersiaga. Iapun sempat meloncat menghindar. Namun
dengan demikian, Mahisa Pukat menyadari, bahwa ia telah berhadapan dengan lawan
yang tangguh, sehingga karena itu. maka iapun tidak mau kehilangan waktu.
Demikian ia bergeser, maka kakinyapun telah berputar bertumpu pada kakinya yang
lain. Demikian derasnya langsung menyerang lambung dalam putaran mendatar.
Serangan Mahisa Pukat itu tidak diduga sama sekali oleh lawannya yang
menganggapnya masih terlalu kanak-kanak. Karena itu, maka orang itu tidak
bersiap untuk menghindarinya. Meskipun ia berusaha juga bergeser, tetapi
serangan Mahisa Pukat datang lebih cepat, sehingga yang dapat dilakukannya
adalah dengan serta merta menangkis sambaran kaki yang kuat itu.
Tetapi benturan kekuatan itu tidak seimbang. Justru karena orang itu menganggap
Mahisa Pukat tidak akan mampu melakukan serangan seperti itu.
Karena itu. maka tangan orang itupun te.lah terdorong oleh kekuatan serangan
Mahisa Pukat, sehingga orang itu terputar setengah lingkaran.
Mahisa Pukat telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Dengan cepatnya
ia melenting. Kakinya terjulur kesamping mendatar dengan lontaran badannya.
Benar-benar serangan yang sangat kuat, dilambari oleh sebagian besar kemampuan
Mahisa Pukat.
Dengan dahsyatnya serangan itu menghantam punggung lawannya yang sedang berusaha
untuk memperbaiki keadaannya setelah terputar oleh dorongan serangan Mahisa
Pukat. Demikian derasnya, sehingga orang itupun telah terdorong dan jatuh
terjerembab.
Untunglah, bahwa iapun memiliki kesigapan, sehingga wajahnya tidak terbanting
mencium tanah. Beberapa kali orang itu berguling. Kemudian dengan sigapnya ia
melenting berdiri.
Mahisa Pukat meloncat maju Namun ia harus berhati hati. Orang itu ternyata
memiliki kemampuan yang tinggi pula. sehingga tubuhnya seolah-olah menjadi liat.
Sejenak kemudian keduanya telah berdiri berhadapan. Keduanya telah siap untuk
menyerang dan diserang. Namun dengan demikian orang itupun mengetahui, bahwa
anak-anak itu memiliki kemampuan yang tidak diduga sebelumnya.
Meskipun demikian, orang itu masih juga sesumbar, katanya “Marilah. Majulah
berdua. Dengan demikian pekerjaanku akan cepat selesai. Kalian memang harus
dibunuh untuk ketenangan padukuhan dan Kabuyutan ini”
“Kata-kataku tadi belum selesai“ sahut Mahisa Pukat “kau tentu orang dari
gerombolan yang disebut Hantu Jurang Growong”
“Kau boleh mengigau apa saja. Tetapi kenyataan akan membuktikan. Marilah, jangan
banyak bicara lagi. Majulah berdua“ geram orang itu.
Mahisa Murti yang berdiri dipinggir arena menyahut “Biarlah seorang diantara
kami menunjukkan kepadamu, bahwa kau bukan orang yang pantas diagungkan disini.
Seorang diantara kami akan dapat mengalahkanmu”
Orang itu menjadi semakin marah. Tetapi ia tidak mau tergesa-gesa. Iapun
kemudian bergeser setapak. Dipersiapkannya ilmunya sebaik-baiknya. Anak-anak itu
benar-benar luar biasa. Untunglah bahwa mereka tidak mau bertempur berpasangan.
Jika benar demikian, maka ia tidak lagi banyak mempunyai harapan.
“Kesombongannya akan menjebaknya dalam kesulitan“ berkata orang itu didalam
hatinya “aku akan dapat membunuhnya seorang demi seorang”
Sejenak kemudian, maka pertempuran diantara kedua orang itupun telah berlangsung
lagi dengan dahsyatnya. Ternyata orang itu telah benar-henar mengerahkan
kemampuannya untuk segera membunuh Mahisa Pukat untuk selanjutnya membunuh
Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Pukat tidak membiarkan dirinya menjadi korban. Iapun-memiliki
kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuan orang itu, sehingga dengan demikian,
maka pertempuran itupun menjadi semakin seru.
Keduanyapun kemudian sampai kepuncak kemampuan mereka. Dengan kecepatan yang
sulit diikuti dengan
tatapan mata wadag. keduanya saling menyerang. Saling mendesak dan saling
bertahan.
Dalam keadaan yang demikian, maka orang itupun merasa bahwa ia tidak akan dengan
cepat mengakhiri pertempuran itu. Sehingga karena itulah, maka akhirnya iapun
telah meloncat surut. Ketika Mahisa Pukat bergeser mendekat, orang itu telah
menarik senjatanya. Sebilah pedang yang panjang.
Mahisa Pukat tertegun. Ia tidak mempunyai senjata panjang. Yang ada padanya
hanyalah sebilah pisau belati di-bawah kain panjangnya. Namun, ia tidak dapat
melawan pedang itu dengan tangannya. Ia sudah menjajagi kemampuan lawannya. Jika
ia memiliki ilmu pedang setinggi kemampuannya bertempur dengan tangannya, maka
ia akan dengan cepat mengalami kesulitan.
Karena itu. meskipun ia hanya mempunyai sebilah pisau belati saja, namun iapun
kemudian mencabut pisau belatinya dan siap menghadapi pedang panjang lawannya.
Terdengar orang itu tertawa. Katanya “Kesombonganmu memang tidak dapat dimaafkan
Dengan senjata mainan seperti itu. kau akan melawan ilmu pedangku”
“Aku tidak ingin menyombongkan diri Ki Sanak“ Jawab Mahisa Pukat “tetapi aku
tidak mempunyai senjata lain. Pisau inilah yang aku pergunakan untuk memotong
pering cendani sehingga timbul persoalan sehingga aku datang kepadukuhan ini”
“Tetapi kau benar-benar akan mati anak muda. Selagi kau masih sempat, lihatlah
betapa cerahnya langit disisa hari ini” berkata orang itu diantara suara
tertawanya.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun iapun berpaling ketika Mahisa Murti
berkata “Pertempuran itu
harus adil. Jika kau hanya membawa sebilah pisau belati pendek Mahisa Pukat,
maka kau sepantasnya membawa dua”
Sebelum Mahisa Pukat menjawab, Mahisa Murti telah melemparkan pisau belatinya
pula kepada saudara laki-lakinya.
Dengan tangkas Mahisa Pukat menangkap pisau itu. Kemudian dengan sepasang pisau
belati di kedua tangannya, maka iapun lelah siap menghadapi lawannya yang
bersenjata pedang panjang.
Orang yang berpedang panjang itupun termangu-mangu sejenak, la melihat kedua
tangan Mahisa Pukat menggenggam sepasang pisau belati dengan sangat meyakinkan,
sehingga dengan maka iapun menduga, bahwa anak muda itu memiliki kemampuan
mempergunakannya.
Sejenak kemudian, maka keduanya telah bersiap. Orang berpedang itu mulai
menjulurkan pedangnya. Memutarnya kemudian dengan cepat menyerang mendatar.
Mahisa Pukat sudah bersiap. Ia sadar, bahwa lawannya berusaha untuk menjajagi
kemampuannya mempermainkan pisau-pisaunya. Karena itu. maka iapun tidak terlalu
banyak berbuat sesuatu. Namun ia justru bersiap-siap menghadapi
serangan-serangan yang sebenarnya.
Sejenak kemudian, maka keduanya telah benar-benar terlibat dalam pertempuran
yang sebenarnya. Senjata mereka berputaran, menyambar, mematuk dengan
dahsyatnya. Mahisa Pukat yang mempergunakan senjata yang lebih pendek, mempunyai
kesempatan lebih kecil untuk menggapai lawannya dengan senjatanya. Namun ia
mampu mempergunakan sepasang pisau belati untuk membentengi dirinya dengan rapat
sekali. Seolah-olah
sepasang pisau belati itu tidak akan mungkin dapat ditembus, meskipun hanya
seujung duri sekalipun.
Orang berpedang itu mulai menyadari, bahwa anak muda itu bukan orang kebanyakan.
Ternyata anak muda yang melawannya itu menguasai ilmu pedang sebaik-baiknya.
Meskipun yang ditangannya adalah senjata pendek, tetapi sepasang senjata pendek
ilu benar-benar mampu melindungi dirinya dengan rapat sekali.
Benturan-benturan pun telah berlangsung dengan dahsyatnya. sehingga bunga apinya
berhamburan.
Dengan kemarahan yang bergejolak didadanya. orang berpedang itu menyerang dengan
kecepatan yang mendebarkan. Senjatanya yang lebih panjang nampaknya memberikan
kemungkinan kepadanya lebih baik dari lawannya. Meskipun demikian, ayunan
senjatanya selalu membentur senjata pendek anak muda yang melawannya itu.
Ketika ia menusuk lurus kearah dada. Mahisa Pukat sempat bergeser sambil memukul
pedang lawannya kesamping. Namun lawannya itu memutar pedangnya justru
ancang-ancang untuk mengayunkannya langsung mengarah kekepalanya.
Mahisa Pukat menyadari, betapa dahsyatnya kekuatan yang mendorong ayunan pedang
itu. Karena itu, maka iapun segera menyilangkan pisau belatinya diatas
kepalanya.
Benturan yang dahsyat telah terjadi. Namun sekali lagi orang berpedang itu
merasa bahwa kekuatan anak muda itu tidak berada dibawah tataran kekuatannya.
Karena itu, maka iapun menjadi gelisah. Anak muda itu memiliki kelebihan. Bahkan
kecepatannya bergerakpun
mulai mencemaskannya. Tetapi orang berpedang itu masih tetap berpengharapan la
masih berharap kelebihan pada senjatanya. Dengan pedang panjang itu ia akan
dapat menjangkau kulit lawannya.
Demikianlah, pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Mahisa Pukat
berloncatan dengan cepatnya. Sementara sepasang pisau belatinya bergetar
bagaikan sayap burung sikatan yang melindungi seluruh tubuhnya.
Mahisa Murti yang berdiri diluar arena menjadi berdebar-debar. Tetapi ia tidak
terlalu mencemaskan keadaan Mahisa Pukat. Ia melihat beberapa kelebihan saudara
laki lakinya. Meskipun demikian putaran senjata lawannya yang lebih panjang itu
membuatnya menahan nafas.
Orang-orang padukuhan itu memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang
berdebaran. Mereka tidak tahu lagi, apa yang dapat mereka lakukan. Pertempuran
itu sudah berada diluar jangkauan kemampuannya untuk mengikutinya. Mereka hanya
melihat loncatan-loncatan panjang, kemudian putaran senjata dan
benturan-benturan yang mendebarkan.
Namun mereka tidak dapat menilai, apa yang akan terjadi dengan kedua orang yang
sedang bertempur dengan dahsyatnya itu.
Sementara itu, seseorang memperhatikan pertempuran itu dengan saksama. Ia adalah
seorang diantara orang-orang padukuhan itu. Ia adalah orang yang mendapat
seorang tamu yang telah memberikan beberapa petunjuk kepada orang-orang
padukuhan itu untuk membuat senjata dari pering cendani”
Namun beberapa lamanya ia telah dicengkam oleh kecemasam. Agaknya orang
bersenjata pedang panjang itu semakin menjadi semakin sulit menghadapi seorang
anak yang masih terlalu muda denaan senjata sepasang pisau belati ditangannya.
“Anak itu berilmu iblis“ berkata orang itu.
Sejenak ia memperhatikan pertempuran itu. Namun kemudian, iapun memperhatikan
Mahisa Murti yang termangu-mangu.
“Anak yang satu itu sudah tidak bersenjata. Pisau belatinya telah diberikan
kepada anak muda yang sedang bertempur itu“ berkata orang itu didalam hatinya
“seandainya anak itu juga memiliki kemampuan seperti anak yang sedang bertempur
itu, maka ia akan mengalami kesulitan melawan pedang panjang.
Sejenak orang itu termangu-mangu. Ia masih dicengkam oleh keragu-raguan.
Tetangga-tetangganya sama sekali tidak mengetahui tentang dirinya sebagaimana
sebenarnya. Ia tidak pernah dikenal sebagai seseorang yang berilmu. Hidupnya
tidak lebih dari seorang petani biasa.
Namun demikian, pada saat yang penting,.ia tidak dapat berdiam diri. Orang yang
menjadi tamunya itu mulai terdesak Nampaknya anak muda yang bersenjata sepasang
pisau belati itu benar-benar akan mengakhiri pertempuran sampai tuntas. Karena
itu, setelah mempertimbangkan beberapa segi. akhirnya ia mengambil keputusan
untuk bertindak cepat, justru pada saat tamunya itu masih mampu berbuat sesuatu.
Bahkan kadang-kadang masih dapat mendesak lawannya yang masih muda itu.
Selangkah demi selangkah ia bergeser mendekati Mahisa Murti. Sebagaimana
orang-orang padukuhan itu, pada saat yang mereka anggap berbahaya itu, sebagian
dari mereka
telah membawa senjata apa saja yang mereka miliki. Karena itu, maka orang yang
mendekati Mahisa Murti itu sama sekali tidak menarik perhatian karena
senjatanya.
Namun ketajaman penggraitan Mahisa Murti seolah-olah telah memperingatkannya,
bahwa seseorang telah mendekatinya dengan maksud tertentu. Karena itu, maka
Mahisa Murti pun menjadi semakin berhati-hati. Bahkan iapun sempat bergeser
tanpa dicurigai oleh orang itu, karena seolah-olah perhatian Mahisa Murti
tertumpah kepada pertempuran diarena. Seolah-olah ia bergeser karena pertempuran
itu memang sangat mendebarkan.
Tetapi Mahisa Murti telah mendekati seseorang yang membawa senjata pula. Senjata
yang barangkali tidak akan dapat dipergunakan oleh pemiliknya. Karena senjata
itu adalah sebatang canggah yang sudah karatan bertangkai kayu gelugu yang sudah
kehitam-hitaman. Namun tangkai itu adalah kayu yang terlalu tua, sehingga
menjadi keras dan liat seperti besi.
Sejenak Mahisa Murti masih menunggu. Mungkin ia keliru. Tetapi ia tetap waspada
menghadapi setiap kemungkinan.
Untuk beberapa saat masih belum terjadi sesuatu atas Mahisa Murti. Orang yang
bergeser mendekatinya itu masih memperhatikan Mahisa Pukat yang bertempur dengan
pisau belati rangkap.
Namun demikian. Mahisa Murtipun masih tetap berhati-hati menghadapinya.
Sementara itu. Mahisa Pukat dan lawannya masih saja bertempur dengan sengitnya.
Sebenarnyalah Mahisa Pukatpun menjadi heran, bahwa di tempat itu ia telah
berhadapan, dengan seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi. “Untunglah, bahwa
kami membawa bekal yang
cukup“ berkata Mahisa Pukat. Karena didalam diri Manisa Pukat tersimpan
kemampuan yang disadapnya bukan saja dari ayahnya, tetapi juga dari pamannya
Witantra yang mempunyai sumber ilmu yang sama dengan ayahnya dan dari orang yang
memiliki sumber ilmu yang berbeda. Mahisa Agni. Namun yang ternyata ilmu yang
bersumber dari perguruan yang berbeda itu telah luluh didalam diri anak-anak
muda itu. Karena itulah, maka iapun telah membuat lawannya itu menjadi heran
pula. Anak muda itu ternyata mampu mengimbanginya. Bahkan dalam beberapa hal,
anak muda itu memiliki kelebihan sehingga ia bahkan dapat mendesaknya.
Sejenak pertempuran itu mencengkam semua orang yang ada dihalaman itu. Namun
sejenak kemudian, arena itu telah dikejutkan oleh sesuatu yang tidak pernah
diduga oleh orang-orang padukuhan itu sendiri.
Pada saat-saat perhatian mereka tercengkam oleh pertempuran yang dahsyat antara
Mahisa Pukat dan lawannya yang bersenjata pedang panjang, tiba-tiba saja
terdengar teriakan nyaring di pinggir arena.
Semua orang telah berpaling. Bahkan yang sedang bertempur itupun telah
terpengaruh pula. sehingga keduanya telah meloncat mengambil jarak.
Pada saat itulah, seseorang telah meloncat sambil menyerang Mahisa Murti dengan
sebilah pedang panjang.
Tetapi serangan itu tidak menggetarkan jantung Mahisa Murti. la telah bersiap
sepenuhnya. Karena itu. maka iapun dengan tangkasnya telah menghindari serangan
itu.
Bahkan dengan kecepatan yang mengherankan, ia telah menyambar canggah ditangan
seseorang yang berdiri termangu mangu.
“Aku pinjam senjatamu“ berkata Mahisa Murti “mungkin kau tidak pernah
mempergunakannya sebelumnya. Entah darimana kau dapat senjata semacam itu”
Orang yang memegang canggah itu hanya berdiri saja mematung. Ketika tangkai
canggahnya lolos dari tangannya, iapun masih tetap berdiri kebingungan
Sementara itu. Mahisa Murti telah meloncat kehalaman. la siap menyongsong
lawannya yang memburunya dengan pedang ditangan.
Namun orang itu mengumpat ketika ia melihat, ditangan Mahisa Murti telah
tergenggam senjata yang akan dapat melawan pedang panjangnya.
“Anak iblis“ geram orang itu.
“Tunggulah Ki Sanak“ berkata Mahisa Murti “apakah alasan Ki Sanak menyerang aku”
“Aku tidak peduli“ geram orang itu “kawanmu telah membuat jantung kami
bergelora. Orang yang melawannya itu adalah tamuku. Aku tidak akan dapat
membiarkannya bertempur tanpa ujung dan pangkal”
“Anak muda itu adalah saudaraku“ jawab Mahisa Murti “tetapi aku tidak mengerti
alasanmu. Kenapa kau sebut bahwa tamumu itu bertempur tanpa ujung dan pangkal?”
“Kau berdua adalah orang-orang yang telah merusak segala usaha kami sepadukuhan
ini untuk mengusut Hantu Jurang Growong. Karena itu. Kalian memang harus
dimusnahkan” jawab orang itu.
Mahisa Murti tidak bertanya lebih lanjut. Orang itu menyerangnya dengan
dahsyatnya.
Orang-orang padukuhan itu menjadi heran. Ternyata tetangga yang mereka anggap
tidak lebih dari mereka sendiri itu, kemudian mampu bertempur dengan dahsyatnya
Ternyata orang itu memiliki ilmu yang tinggi sebagaimana tamunya yang telah
menganjurkan orang-orang padukuhan itu mempergunakan sumpit untuk melawan Hantu
Jurang Growong.
Namun dalam pada itu, ternyata Ki Jagabaya bukan orang yang terlalu bodoh. Jika
untuk beberapa saat ia dapat dipermainkan oleh tamu yang bertempur melawan
Mahisa Pukat itu. kemudian ternyata bahwa ia mampu mengamati keadaan.
Justru karena tetangganya yang disangka tidak memiliki kemampuan ilmu kanuragan
itu kemudian menunjukkan kemampuannya, maka ia menjadi curiga.
“Selama ini ia telah menyembunyikan keadaannya yang sebenarnya” berkata Ki
Jagabaya didalam hatinya.
Baru kemudian Ki Jagabaya sadar, bahwa tetangganya itu pernah meninggalkan
kampung halaman untuk waktu yang lama.
“Tentu selama itu ia berhasil menguasai ilmu yang dahsyat Itu berkata Ki
Jagabaya didalam hatinya “tetapi apakah artinya, bahwa ia telah menyamarkan
dirinya seakan-akan ia tidak lebih dari tetangga-tetangganya?”
Sementara itu, Mahisa Pukat yang menyadari apa yang telah terjadi, ternyata
telah menjadi semakin marah pula. Tetapi latihan-latihan yang tekun telah
membuatnya sadar sepenuhnya, bahwa ia tidak dapat bertempur semata-mata dengan
perasaannya. Ia harus tetap mempergunakan nalarnya untuk melawan pedang panjang
lawannya.
Demikianlah, dihalaman itu telah terjadi dua arena pertempuran. Mahisa Pukat
dengan pisau belati rangkap melawan seorang yang berpedang panjang, sementara
Mahisa Murti juga melawan pedang panjang dengan canggah bertangkai panjang.
Sejenak kemudian, ternyata bahwa Mahisa Murti memiliki kemampuan yang tangguh
untuk mempermainkan senjatanya itu. Dengan canggah bertangkai kayu gelugu itu
Mahisa Murti telah melawan senjata yang berputaran di tangan seorang yang
memiliki ilmu pedang yang tinggi. Namun ternyata bahwa kemampuan Mahisa Murtipun
mampu mengimbangi kemampuan orang itu.
Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Pedang panjang ditangan
orang yang menyamar diri antara tetangga-tetangganya, seolah-olah ia tidak lebih
dari seorang petani kebanyakan itu, ternyata sangat berbahaya.
(Bersambung 3)
Jilid 3
PEDANG itu menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Namun kemudian mematuk dengan
cepat mengarah jantung lawannya.
Tetapi Mahisa Murtipun mempunyai kemampuan untuk bergerak cepat. Canggahnya
berputar pula seperti baling-baling. Dalam benturan senjata, Mahisa Murti
berusaha untuk tidak dengan langsung membenturkan tangkai canggahnya. Ia masih
menjajagi kemampuan kayu gelugu yang meskipun sudah cukup tua dan kering, namun
sudah terlalu lama tidak disentuh tangan. Dengan tangkas, Mahisa Murti selalu
mengelakkan serangan lawannya dan menangkisnya kesamping.
Namun akhirnya iapun semakin percaya kepada kemampuan kayu gelugu, tangkai
canggahnya yang berwarna ke hitam-hitaman itu.
Dengan demikian, maka Mahisa Murtipun menjadi semakin berani. Sekali-kali ia
menangkis serangan lawannya dengan menyilangkan tangkai canggahnya.
Lawannya menjadi semakin marah menghadapinya. Semakin lama semakin nyata pada
lawannya itu, bahwa kemampuan Mahisa Murtipun tidak akan dengan m udah dapat
diatasinya.
Karena itu, maka lawan Mahisa Murti itu telah berusaha dengan mengerahkan
segenap kemampuannya untuk menekan lawannya. Ilmu pedangnya yang dahsyat itupun
kemudian telah sampai kepuncaknya. Kecepatannya bergerak ternyata tidak lagi
dapat di nilai oleh tetangga-tetangganya. Yang dilihat oleh tetangga-tetanganya
itu adalah bayangan yang meloncat berputaran dan kilatan-kilatan cahaya yang
memantul didaun pedang yang berputaran.
Namun setiap kali, cahaya yang memantul dan putaran pedang itu telah membentur
putaran tangkai canggah yang kehitam-hitaman, yang seolah-olah telah berubah
menjadi sebuah perisai yang besar melindungi tubuh Mahisa Murti.
Di arena yang lain, Mahisa Pukat menjadi semakin yakin akan dapat mengalahkan
lawannya. Karena itu ia justru menjadi semakin berhati-hati. Jika ia membuat
satu langkah yang salah, mungkin keadaannya akan segera berubah.
Sepasang pisau belatinya meskipun jauh lebih pendek dari pedang lawannya, namun
mampu bergerak lebih cepat. Kadang-kadang justru berbahaya sekali, melampaui
senjata panjang itu sendiri. Dengan sebilah pisau belati Mahisa Pukat menangkis
pedang lawannya kesamping. Namun pada saat yang bersamaan ia meloncat maju
sambil menyerang dengan pisau belatinya yang lain.
Namun ternyata bahwa lawannya yang semakin terdesak itu, tidak membiarkan pada
suatu saat dirinya akan menjadi sasaran goresan pisau Mahisa Pukat. Bahkan
gejolak kemarahan orang itu telah mendorongnya untuk berbuat lebih jauh lagi
dari sekedar mempergunakan ilmu pedangnya.
Karena itu, ketika ia menjadi semakin terdesak, sebelum kulitnya terluka oleh
senjata lawannya, maka iapun bertekad untuk mempergunakan njatanya yang paling
berbahaya. Senjata yang jarang sekali dipergunakannya.
Pada saat kesempatan, maka lawan Mahisa Pukat itu telah meloncat mundur
mengambil jarak. Dengan cepat, ia telah mengambil sesuatu dari kantong ikat
pinggangnya yang lebar.
Mahisa Pukat terkejut melihat sikap lawannya. Karena itu, maka iapun segera
mengerti, apa yang akan dilakukan. Dengan tangkasnya Mahisa Pukat itu justru
meloncat surut.
Ketika ia melihat tangan lawannya bergerak dan melontarkan sesuatu, maka Mahisa
Pukatpun dengan hati yang berdebar-debar telah meloncat pula menghindarinya.
Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat melepaskan tatapan matanya pada tangan lawannya.
Sekali lagi ia melihat tangan lawannya mengambil sesuatu. Dan sekali lagi tangan
itu terayun dengan derasnya.
Sekali lagi Mahisa Pukat harus melenting menghindari sebuah paser kecil yang
menyambarnya.
“Gila” geram Mahisa Pukat” kau pergunakan senjata-senjata racun itu?”
“Kau akan mati” sahut orang itu “tidak ada orang yang mampu mengobati ketajaman
racun yang terlontar lantaran paser-paser kecilku”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi sekali lagi dan sekali lagi ia harus
berloncatan, la tidak mengabaikan kata-kata lawannya bahwa paser itu telah
direncam pada racun yang sangat tajam, sehingga sentuhan ujungnya akan dapat
mengakhiri pengembaraannya. Dalam pada itu, Mahisa Murtipun melihat apa yang
telah terjadi. Karena itu, maka hatinyapun menjadi terguncang pula. Senjata itu
akan benar-benar berbahaya bagi keselamatan jiwa saudaranya. Karena itu, maka ia
ingin memanfaatkan kelebihannya dari Mahisa Pukat. Ia memiliki senjata panjang
yang justru melampaui panjang senjata lawannya. Karena itu, maka iapun telah
berkata kepada diri sendiri ”Aku harus mampu mempergunakan kesempatan ini
sebaik-baiknya”
Karena itulah, maka Mahisa Murtipun kemudian telah menghentakkan kemampuannya.
Ia tidak lagi dapat bertempur dengan batas imbangan pada kemampuan lawannya,
karena ia melihat Mahisa Pukat yang mendesak
lawannya. Tetapi dalam keadaan yang gawat itu, ia harus berbuat lebih banyak
untuk mempercepat pertempuran itu.
Namun dalam pada itu, lawan Mahisa Murtipun telah mengerahkan kemampuannya pula.
Ia yang sehari-hari dianggap sebagai seorang petani biasa seperti juga
tetangga-tetanganya, ternyata memiliki ilmu yang luar biasa.
Tetapi lawannya adalah Mahisa Murti. Dengan kemampuan yang mengagumkan, iapun
telah memutar senjatanya. Canggah itu benar-benar merupakan senjata yang sangat
berbahaya bagi lawannya. Apalagi ternyata bahwa tangkai canggah itu lebih
panjang dari pedang panjang lawannya.
Karena itu, maka ketika Mahisa Murti benar-benar menghentakkan kemampuannya,
maka iapun mulai berhasil mendesak lawannya. Tetapi lawannyapun mempunyai
perhitungan yang cerdik. Ia tidak melawan Mahisa Murti dengan benturan ilmu yang
sehenarnya. Tetapi ia lebih banyak mengelak dan menghindar. Lawan Mahisa Murti
itu mampu juga mengurai keadaan. Ia mengikat Mahisa Murti dalam pertempuran,
sementara kawannya berusaha untuk membinasakan Mahisa Pukat dengan
senjata-senjata racunnya.
Tetapi Mahisa Murti tidak membiarkan lawannya memperpanjang waktu. Ia dengan
cepat dan tangkas, selalu memburunya. Canggahnya yang berputaran, sekali-kali
mematuk dengan dahsyatnya. Meskipun canggah itu tidak lagi tajam berkilat-kilat
karena karat yang kecoklat-coklatan, namun jika Mahisa Murti berhasil mematuk
leher lawannya dengan canggah itu, maka ia akan dapat mengakhiri pertempuran
itu.
Dengan pedang panjangnya, lawan Mahisa Murti itu masih mampu melindungi dirinya
dan berusaha
memperpanjang waktu dengan loncatan-loncatan panjang menghindari benturan ilmu
yang langsung.
Sementara itu, Mahisa Pukat benar-benar dalam keadaan gawat. Setiap kali ia
harus berloncatan menghindari serangan senjata senjata lembut dari lawannya,
namun yang mengandung racun yang sangat tajam.
Mahisa Pukat sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menyerang dengan
pisau-pisaunya yang pendek. Sehingga dengan demikian, maka ia lebih banyak
menjadi sasaran serangan lawan dari sebuah perkelahian yang tanggon.
Untuk beberapa saat, Mahisa Pukat masih tetap dapat mengelakkan dirinya.
Serangan-serangan paser lawannya, masih selalu dapat dihindarinya. Namun
demikian, keringat Mahisa Pukat telah membasahi seluruh tubuhnya. Tenaganyapun
menjadi semakin susut, karena ia harus mengerahkan kemampuannya untuk
menghindarkan diri dari serangan-serangan lawannya.
Sementara itu, Mahisa Murti masih tetap mendesak lawannya dengan canggahnya.
Tetapi ia tidak dapat segera menggakhiri pertempuran itu. Dengan cerdik lawannya
selalu menghindar, meloncat menjauhinya sambil melindungi dirinya dengan
pedangnya.
Tetapi kemarahan Mahisa Murti kemudian bagaikan badai yang melanda hutan,
ilalang. Serangan senjata panjangnya yang terayun-ayun, berputar dan mematuk,
membuat lawannya bukan saja dengan sengaja meloncat menjauhinya untuk
memperpanjang waktu, namun akhirnya lawannya benar-benar tidak mempunyai
kesempatan lain kecuali menghindar dan menjauhi amukan kemarahan Mahisa Murti.
Dalam tekanan yang semakin berat, lawannya telah bergeser berputaran. Namun
halaman yang luas itu serasa menjadi semakin sempit. Meskipun orang-orang
padukuhan itu yang semula melingkari arena, kemudian berpencar semakin jauh,
namun rasa-rasanya lawan Mahisa Murti itu tidak lagi mempunyai tempat untuk
mengelakkan senjata lawannya.
Setiap saat, terasa angin putaran dan ayunan canggah Mahisa Murti menyambar
kulit lawannya. Bahkan dalam serangan yang cepat mendatar, pedang lawannya
terlambat menangkis serangannya, sehingga canggah yang karatan itu telah
tergores pada kulit lawan Mahisa Murti itu.
Terasa betapa pedihnya. Darah mulai mengalir dari luka. Sementara itu, Mahisa
Murti masih saja menyerangnya beruntun tanpa memberinya kesempatan.
Tetapi luka itu tidak mematahkan perlawanannya. Lawan Mahisa Murti itu masih
mampu berloncatan, mengelak dan menangkis. Sementara itu, ia mengharap kawannya
akan segera menyelesaikan pertempurannya dengan melumpuhkan anak muda yang
seorang lagi.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat masih tetap melawannya meskipun terasa
kemampuan tenaganya menjadi susut. Yang dapat dilakukan kemudian benar-benar
hanya sekedar mengelak sambil menunggu perkembangan pertempuran antara Mahisa
Murti dan lawartnya yang semula hanya dikenal sebagai seorang petani biasa itu.
Atau menunggu sampai paser-paser beracun itu habis sama sekali.
Tetapi agaknya jumlah paser-paser itu cukup banyak tersimpan di kantong ikat
pinggang lawan Mahisa Pukat itu. Satu-satu paser itu di lontarkan. Semakin lama
semakin
cepat. Sementara itu Mahisa Pukat harus memperhatikan tangan lawannya baik-baik.
Dalam keadaan yang semakin sulit, Mahisa Pukat tidak dapat menunggu. Meskipun ia
menyadari, bahwa Mahisa Murti berhasil mendesak-lawannya. tetapi ia tidak tahu
pasti, kapan Mahisa Murti berhasil menguasai lawannya sepenuhnya. Sementara itu
senjata lawannya menyambarnya tanpa henti-hentinya.
Karena itu, Mahisa Pukatpun akhirnya harus mencari pemecahan yang paling baik
yang dapat dilakukannya, dalam pertempuran berjarak panjang itu.
Sementara itu, orang-orang yang memperhatikan pertempuran itupun menjadi semakin
berdebar-debar. Meskipun mereka tidak tahu pastai apa yang terjadi, tetapi
mereka melihat kesulitan yang dialami oleh Mahisa Pukat. Namun justru karena
lontaran-lontaran paser itu, maka orang-orang yang mengitari halaman itupun
telah menyibak untuk menghindari agar paser-paser itu tidak justru tersesat
mengenai mereka.
Demikianlah, maka pertempuran di halaman itupun menjadi semakin menegangkan.
Mahisa Pukat yang berloncatan menghindari serangan paser-paser lawannya akhirnya
harus mengambil satu keputusan untuk melakukan sesuatu yang menentukan.
Namun untuk beberapa saat Mahisa Pukat masih harus menghindari paser-paser kecil
itu. Ia melihat lawannya menjadi semakin garang, sementara pedangnya telah
berpindah di tangan kirinya.
“Aku harus bertindak sekarang” berkata Mahisa Pukat.
Dengan demikian, maka Mahisa Pukatpun telah mengerahkaan segenap kemampuannya.
Meskipun terasa
tenaganya sudah susut, tetapi ia harus bertindak cepat melampaui kecepatan
tanggapan lawannya atas sikapnya itu.
Demikianlah ketika ia meloncat menghindari serangan lawannya, maka iapun telah
mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Demikian kakinya berjejak diatas tanah, maka
iapun telah mengayunkan tangannya dengan sisa kekuatan yang ada padanya.
Ternyata Mahisa Pukat telah menentukan satu pilihan. Ia telah melemparkan
senjata ditangannya, meskipun ia sadar, bahwa jika ia gagal, maka hal itu akan
sangat berbahaya baginya. Pedang panjang lawannya akan dengan mudah mematuknya
justru karena ilmu pedang lawannya cukup baik. sementara tenaganya sudah mulai
susut.
Lawan Mahisa Pukat itu terkejut. Namun ia masih berusaha mengelak. Paser yang
sudah ditangannya tidak sempat dilontarkannya, karena ia harus meloncat
menghindari sambaran pisau belati Mahisa Pukat.
Ternyata orang itu berhasil. Pisau belati Mahisa Pukat meluncur setebal daun di
samping kening lawannya.
Namun segalanya telah diperhitungkan oleh Mahisa Pukat. Dalam keadaan yang
demikian, kedudukan lawannya tentu menjadi lemah. Ia masih dalam sikap mengelak,
ketika pisau yang sebuah lagi telah meluncur menyusul pisau yang pertama.
Demikian cepatnya, melampaui kecepatan anak panah yang terlontar dari busurnya.
Serangan itu sama sikali tidak terduga. Lawan Mahisa Pukat tidak mengira bahwa
pisau yang sebuah lagi itupun telah dilontarkannya. Karena dengan demikian
Mahisa Pukat tidak bersenjata sama sekali.
Tetapi dalam pada itu, perhitungan Mahisa Pukat itu tidak meleset. Orang itu
tidak sempat lagi mengelakkan diri dari sambaran pisau yang kedua yang
dilontarkan dengan sepenuh sisa kemampuan yang masih ada.
Ternyata pisau itu benar-benar berakibat gawat bagi lawannya. Pada saat
terakhir, lawannya masih berusaha untuk beringsut dan bahkan berusaha
mempergunakan pedangnya. Tetapi ia tidak berhasil. Pisau itu tidak terlepas dari
sasarannya meskipun tidak satajam bidikannya, karena usaha lawannya untuk
mengelak.
Tetapi pisau itupun kemudian menghunjam di dada orang bersenjata pedang dan
paser itu, meskipun tidak tepat di arah jantungnya sebagaimana dibidik oleh
Mahisa Pukat.
Meskipun demikian, namun pisau itu telah menentukan akhir dari pertempuran itu.
Perasaan sakit dan pedih yang sangat telah menyengat dada lawan Mahisa Pukat
itu. Ia masih mencoba untuk mengangkat tangannya melontarkan sisa pasernya.
Tetapi urat-uratnya yang terpotong oleh pisau Mahisa Pukat di dadanya telah
menghambat gerak tangan orang itu.
Bahkan kemudian, terhuyung-huyung ia bergeser surut.
Mahisa Pukatpun kemudian berdiri tegak memandanginya. Ia masih melihat pedang
ditangan kiri orang itu berpindah ke tangan kanannya. Tetapi tangan itu sudah
tidak berdaya.
Sejenak kemudian orang itu mulai terhuyung-huyung. Pisau itu menghunjam terlalu
dalam di dadanya, oleh dorongan kekuatan Mahisa Pukat yang tersisa.
Ketika orang itu mengumpat, maka kedua kakinya tidak lagi mampu bertahan.
Sehingga akhirnya, orang itupun tidak mampu lagi bertahan. Ia telah kehilangan
keseimbangan, sehingga akhirnya iapun jatuh pada lututnya.
Dengan tangannya yang lemah ia berusaha untuk menarik pisau itu dari dadanya.
Tetapi ia tidak lagi mempunyai kemampuan melakukannya. Bahkan kemudian kedua
tangannyapun telah menyangga berat badannya untuk beberapa saat. Tetapi akhirnya
iapun jatuh terguling. Darahnya mengalir disela-sela lukanya yang masih
tersumbat oleh pisau belati Mahisa Pukat.
Perlahan-lahan Mahisa Pukat melangkah mendekatinya. Ketika ia berdiri disebelah
orang yang terbujur di tanah. orang itu sama sekali sudah tidak mampu bergerak
lagi.
Dalam pada itu, lawan Mahisa Murtipun tidak dapat mengelakkan diri dari pengaruh
keadaan itu Apalagi ia sudah mulai terluka. Agaknya ia memang tidak akan mampu
mengimbangi kemampuan anak muda yang seorang itu lagi, setelah yang lain
melumpuhkan orang yang selama ini disebut sebagai tamunya dan yang telah berbaik
hati memberikan beberapa petunjuk untuk melawan Hantu Jurang Growong dengan
mempergunakan supit yang terbuat dari pering cendana beruas sangat panjang yang
turn buh di hutan perdu.
Tetapi ia tidak mempunyai satu pilihanpun untuk menyelamatkan diri. la melihat
beberapa orang bergeser menutup kepungan di seputar arena. Bahkan Ki Jagabaya
pun nampaknya telah menentukan satu sikap kepadanya, la tidak dapat lagi
mengelabui tetangga kebanyakan. Sehingga akhirnya, iapun tidak akan lebih lama
lagi bersembunyi di baalik kebohongannya.
Namun bagaimanapun juga, ia masih tetap bertempur melawan Mahisa Murti yang
bersenjata canggah bertangkai panjang. Sementara itu terdengar Mahisa Murti
berkata
”Saudaraku telah mengakhiri pertempuran. Bagaimana dengan kau?”
Orang yang semula disangka tidak lebih dari petani biasa diantara
tetangga-tetangganya itu mengumpat. Ia memang tidak mempunyai pilihan. Namun ia
sama sekali tidak ingin menyerah. Dengan demikian, maka ia akan menjadi
pengewan-ewan. Ia tahu, apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang padukuhan
yang sudah terpengaruh oleh orang yang disebut tamu itu, sehingga apa yang
mereka lakukan terhadap mereka yang sedang diperiksa, benar-benar telah
kehilangan paugeran.
“Aku tidak mau diperlakukan seperti itu” berkata lawan Mahisa Murti itu didalam
hatinya. Namun demikian ia tidak dapat menghindari kenyataan, bahwa ia memang
tidak akan dapat berbuat banyak terhadap lawannya yang masih muda itu. Ujung
canggah lawannya yang karatan itu telah menyayat kulitnya. Bahkan tidak hanya
sekali, tetapi telah terjadi sentuhan berikutnya pula.
Sementara orang itu masih berusaha mempertahankan diri, maka iapun berusaha
untuk melihat kemungkinan lain yang dapat dilakukan. Ketika ia melihat kelemahan
pada lingkaran di halaman itu, maka tiba-tiba saja timbul niatnya untuk
melarikan diri.
Dengan cerdik orang itu bergeser surut. Mahisa Murti yang mendesaknya sama
sekali tidak mengetahui rencana orang itu dengan pasti. Ia merasa bahwa orang
itu terdesak oleh serangan-serangannya yang semakin deras.
Namun, tiba-tiba justru pada saat yang paling baik menurut perhitungan lawan
Mahisa Murti itu, orang itu menghentakkan kemampuannya. Dengan sisa tenaganya,
orang itu justru berusaha menyusup di sela-sela putaran canggah Mahisa Murti.
Mahisa Murti terkejut. Ketika canggahnya terdorong menyamping, tiba-tiba saja ia
melihat lawannya meloncat maju sambil menjulurkan pedangnya. Demikian cepatnya,
sehingga Mahisa Murti tidak dapat berbuat lain, kecuali mengelak sambil bergeser
mundur.
Ternyata saat itulah yang ditunggu oleh lawan Mahisa Murti. Ketika Mahisa Murti
bergeser mundur, orang itu sama sekali tidak memburunya. Bahkan dengan serta
merta, iapun telah meloncat pula meninggalkan arena.
Dengan pedang yang berputaran ia menerobos orang-orang yang berada di halaman
itu. Dengan garangnya ia berteriak menggetarkan setiap jantung, sehingga dengan
demikian, maka orang-orang yang berada didalam lingkaran di seputar arena itupun
menyibak.
Tidak seorangpun yang berani menahannya. Mereka telah melihat apa yang dapat
dilakukan oleh orang yang sehari-hari mereka sangka tidak lebih dari mereka
sendiri. Tetapi yang ternyata telah menunjukkan kemampuan yang mengagumkan.
Karena itu, maka orang itu tidak mengalami kesulitan untuk menemhus kepungan
yang semula menjadi semakin rapat. Namun yang ternyata tidak dapat menahan orang
yang menembus dengan pedang berputaran itu.
Tetapi ternyata adalah diluar dugaan orang yang merasa dirinya telah berhasil
mematahkan kepungan itu. Ketika orang itu benar-benar keluar dari kepungan,
ternyata Ki Jagabaya dan pembantunya yang bertubuh raksasa itu telah siap
menunggunya.
“Gila” geram orang itu.
Tetapi Ki Jagabaya tidak bergeser. Ia justru mengacungkan pedangnya, sebagaimana
dilakukan oleh pembantunya.
Namun, ternyata kemampuan Ki Jagabaya tidak dapat mengimbangi kemampuan orang
itu. Bahkan hampir tidak berarti sama sekali. Dengan sekali tebas, pedang
pembantu Ki Jagabaya itu telah terpental. Kemudian ketika Ki Jagabaya menusuk
lambung orang itu, maka orang itu sempat mengelak. Putaran pedangnya yang cepat,
justru telah melukai pundak Ki Jagabaya sehingga Ki Jagabaya terdorong surut,
sementara pedangnya terlepas dari tangannya.
Untunglah bahwa orang yang melukainya itu tergesa-gesa. Karena itu, orang itupun
tidak sempat menusukkan pedangnya langsung kedada Ki Jagabaya dan pembantunya.
Sekejap kemudian, orang itu telah meloncat pula untuk menghindarkan diri dari
kejaran Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Murti sengaja tidak mengejarnya. Karena pada saat-saat yang gawat
itu, Mahisa Pukat telah dengan cepat mengambil sikap. Ia telah mengambil pedang
lawannya yang tidak berdaya lagi. Waktu yang sesaat, yang telah dipergunakan
oleh lawan Mahisa Murti melukai Ki Jagabaya dan pembantunya, telah dapat
dipergunakan sebaik-baiknya oleh Mahisa Pukat.
Karena itu, orang yang melarikan diri itupun terkejut bukan buatan, ketika ia
sadar, bahwa Mahisa Pukat dengan pedang ditangan, telah berdiri ditengah-tengah
pintu regol.
Namun orang itu ternyata tidak berhenti. Sambil mengacungkan pedangnya ia
berlari seakan-akan ingin menembus pintu yang telah dijaga oleh Mahisa Pukat
itu.
Sementara itu Mahisa Murtipun telab berlari-lari pula mengikuti orang itu.
Mahisa Pukat mengerti apa yang sedang dihadapinya. Orang itu tentu orang yang
telah kehilangan nalarnya. Orang itu telah berbuat diluar perhitungan karena
putus asa. Karena itu, maka Mahisa Pukat tidak akan menghadapinya sebagaimana ia
menghadapi lawan yang tanggon.
Karena itulah, maka orang-orang yang menyaksikannya terkejut ketika Mahisa
Pukatpun kemudian telah meloncat menepi ketika orang itu menjadi semakin dekat
sambil mengacu-acukan pedangnya, seolah-olah Mahisa Pukatpun menjadi ngeri
seperti orang-orang lain yang menyibakkan kepungan.
Ternyata orang yang ingin melarikan diri itu tidak sempat berpikir lagi. Ia
hanya melihat Mahisa Pukat meloncat menepi. Karena itu, maka ia merasa jalannya
telah terbuka. Tanpa menghiraukan kemungkinan-kemungkinan lain, orang itu
berlari sambil menyiapkan pedangnya, menangkis jika Mahisa Pukat menyerang pada
saat ia melintas. Dengan demikian, maka yang diperhatikan oleh orang itu
hanyalah tangan Mahisa Pukat yang menggenggam pedang.
Tetapi Mahisa Pukat justru telah menundukkan pedangnya. Ia sama sekali tidak
akan mempergunakan senjata yang diambilnya setelah terlepas dari tangan
pemiliknya itu.
Namun dalam pada itu, yang tidak terduga sama sekali adalah bahwa Mahisa Pukat
ingin menangkap orang itu hidup-hidup. Ia ingin mendapat sumber untuk memberikan
penjelasan dengan orang-orang yang disebut Hantu Jurang Growong. Apakah mereka
memang ada, atau sekedar
rekaan orang itu untuk membuat padukuhan dan Kabuyutan itu gelisah, sehingga
orang itu dan kawannya yang dengan senjata teiah menimbulkan keresahan itu dapat
mengambil keuntungan karenanya.
Karena itu, ketika orang itu berlari di depannya, Mahisa Pukat tidak
menyerangnya dengan senjatanya, sementara orang yang herlari itu sudah siap
melindungi dirinya dengan pedangnya.
Tetapi diluar dugaan orang itu, Mahisa Pukat justru telah mengait kaki orang
itu. Mahisa Pukat berharap bahwa orang itu akan terjatuh sehingga ia akan dapat
menangkapnya hidup-hidup. Tetapi jika ia menyerang dengan pedangnya, mungkin
akibatnya akan lain.
Sebenarnyalah, ketika kaki orang itu terantuk kaki Mahisa Pukat, maka bagaikan
dihentakkan oleh kekuatan larinya, orang itu telah terpelanting jatuh. Namun
yang tidak diduga oleh Mahisa Pukat, bahwa pedang orang itu telah terlepas dari
tangannya dan adalah sangat mengejutkan, bahwa tajam pedang itu ternyata
menelentang ketika orang yang berlari itu jatuh menimpanya.
Yang terdengar adalah sebuah jerit yang panjang orang itu masih berusaha untuk
bangkit. Tetapi darah yang bagaikan memancar dari dadanya yang luka dengan
goresan memanjang itu, telah membuatnya kehilangankekuatan sama sekali. Demikian
ia tegak berdiri, maka iapun telah terhuyung-huyung dan sesaat kemudian, iapun
telah terjatuh lagi.
Mahisa Pukat sendiri terkejut bukan buatan. Ia tidak mengira bahwa akibatnya
akan sangat tidak terduga. Justru karena itu, maka iapun telah memalingkan
wajahnya
sambil bergumam kepada diri sendiri “Bukan main. Aku tidak sengaja berbuat
seperti itu”
Mahisa Murtilah yang kemudian berlari-lari mendekatinya. Namun ia tidak sempat
berbuat apa-apa. Demikian ia berjongkok disamping orang itu, maka orang itu
telah menarik nafasnya yang terakhir.
Mahisa Murtipun kemudian bangkit berdiri. Ketika ia berpaling, dilihatnya Mahisa
Pukat menundukkan kepalanya di sebelah regol halaman.
“Kau tidak berniat membunuhnya dengan cara itu” ia bergumam. “Bukan salahmu”
berkata Mahisa Murti ”yang terjadi adalah diluar kemampuan kita untuk
mencegahnya”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun telah melangkah
menjauhi orang-orang yang kemudian berkerumun disekitar dua sosok mayat yang
terbaring di halaman banjar itu.
Dalam pada itu. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti itupun berpaling ketika Ki
Jagabaya berkata ”Ki Sanak. Kami persilahkan Ki Sanak duduk”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun ketika terpandang olehnya orang
yang hampir saja mati ketakutan karena mengalami tekanan badan dan dalam
pemeriksaan yang tidak mapan itu, maka iapun telah mendekatinya.
“Kau akan bebas” berkata Mahisa Murti.
Orang itu memandang wajah Mahisa Murti sejenak. Kemudian sambil mengusap air
matanya yang meleleh di pipinya ia berdesis ”Terima kasih Ki Sanak. Aku tidak
tahu, bagaimana aku akan membalas kebaikan budi Ki Sanak”
“Jangan memikirkannya” sahut Mahisa Pukat ”kami melakukannya karena kami merasa
berkewajiban. Tidak ada yang dapat memberikan kepuasan lebih besar daripada
keberhasilan kita melakukan kewajiban”
“Tetapi bagiku, Ki Sanak telah menyelamatkan jiwaku” berkata orang itu ”aku
tidak akan tahan mengalami Siksaan yang tidak berukuran itu”
“Aku minta maaf” berkata Ki Jagabaya dengan nada dalam ”semuanya terjadi diluar
kesadaran. Kami. beberapa orang behahu telah terbius oleh hasutan orang-orang
yang tidak kita ketahui niatnya yang sebenarnya itu. Namun yang menurut
perhitunganku, mereka pulalah yang menyebut dirinya Hantu Jurang Growong. karena
sampai saat ini kejahatan yang terjadi juga dilakukan oleh satu atau dua orang
saja yang mengenakan topeng yang menakutkan itu”
“Orang-orang itu sengaja menimbulkan keresahan Ki Jagabaya” berkata Mahisa Murti
”pengalaman ini hendaklah menjadi pelajaran yang berharga. Kau tidak boleh cepat
terpengaruh oleh sesuatu yang belum pasti, karena kau justru orang yang
seharusnya memegang payung perlindungan bagi rakyat padukuhan ini. Bukan
sebaliknya”
“Ya. ya anak-anak muda” jawab Ki Jagabaya” aku mengerti”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun yang kemudian duduk dipendapa melihat kesibukan
orang-orang padukuhan itu mengurusi kedua sosok mayat yang terbunuh dalam
benturan kekerasan itu. Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun
merasa bahwa orang-orang padukuhan itu tidak lagi membebankan kesalahan kepada
mereka.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murtipun kemudian berkata ”Ki Jagabaya. sebaiknya
kau urusi lukamu itu”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya ”Aku harap kalian berdua
duduk sebentar. Mungkin lukaku memang memerlukan pengobatan”
Dalam pada itu, sepeninggal Ki Jagabaya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk
bertiga saja dengan orang yang mengalami nasib malang itu, yang hampir saja
menjadi korban yang tidak berarti apa-apa karena pengaruh sikap orang-orang yang
membuat isi padukuhan itu menjadi gelisah.
Sementara itu, maka Mahisa Murtipun bertanya ”Ki Sanak. Apakah kau tahu, berapa
orang yang telah mengalami nasib seperti yang kau alami? Apakah pernah terjadi
korban karena keadaan yang sama seperti kau alami?”
Orang itu termangu-mangu. Agaknya ada sesuatu yanp menahannya untuk mengatakan
apa yang sebenarnya pernah terjadi.
“Katakan” desis Mahisa Pukat “kami tidak akan berbuat apa-apa Kami hanya ingin
mengetahuinya. Nampaknya keadaan akan berubah”
Orang itu mengangguk-angguk Katanya kemudian dengan ragu-ragu ”Nampaknya memang
ada Ki Sanak. Tetapi aku tidak tahu. siapakah yang telah melakukannya.
Sepengetahuanku. Ki Jagabaya sebelumnya bukan orang yang demikian kasarnya.
Tetapi pada saat terakhir, ia seperti orang kesurupan. Ia menjadi garang, kasar
dan bahkan buas”
“Apakah kebuasannya itu pernah menelan korban?” desak Mahisa Pukat.
“Aku tidak dapat mengatakannya Ki Sanak. Tetapi kedua orang yang terbunuh itulah
yang sebenarnya membuat padukuhan ini menjadi rusak. Nampaknya keduanya adalah
orang-orang yang dengan penun pengabdian berjuang bagi padukuhan ini. Seorang
penduduk padukuhan ini telah mendapat seorang tamu yang dengan suka rela bekerja
bagi kepentingan kami. Tetapi ternyata bahwa kami telah dikelabuinya” berkata
orang itu.
“Tetapi apakah benar bahwa padukuhan ini sering didatangi oleh mereka yang
disebut Hantu Jurang Growong?” bertanya Mahisa Murti pula.
“Itulah yang telah menyudutkan aku kedalam keadaan yang sangat sulit. Adalah
diluar kehendakku, bahwa pada suatu malam aku bertemu dengan kedua orang itu di
tengah-tengah bulak. Aku menjadi curiga melihat cara mereka berpakaian Namun aku
tidak berprasangka buruk, sehingga aku telah menyapa mereka” orang itupun
kemudian berceritera.
“Kenapa kau berada di tengah bulak di malam hari?” bertanya Mahisa Pukat.
“Aku berada di sawah” jawab orang itu.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara orang itu melanjutkan ”Agaknya kedua
orang itu menganggap bahwa aku telah melakukan kesalahan. Aku telah melihat
sesuatu yang dapat mengancam kedua orang itu”
“Apakah kau pernah berbuat sesuatu, menceriterakan apa kau lihat, atau semacam
itu kepada orang lain?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak. Aku tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun juga. Tetapi aku tidak
tahu apakah sebabnya bahwa
aku kemudian ditangkap dan mengalami perlakuan yang sangat kasar itu Baru
kemudian aku dapat menghubungkan persoalan ini dengan apa yang pernah aku temui
di bulak itu. Jelasnya setelah aku mendengar pendapat kalian tentang kedua orang
itu“ jawab orang yang malang itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Merekapun menjadi yakin, bahwa
yang mereka tiupkan ke telinga orang-orang padukuhan ini dengan sebutan Hantu
Jurang Growong adalah semata-mata satu usaha untuk membuat padukuhan itu
gelisah, kehilangan pegangan dan kemudian timbul tingkah laku dan perbuatan yang
tidak wajar.
Dengan demikian mereka akan dapat mengambil keuntungan tanpa dicurigai, karena
segala kesalahan akan ditimpakan kepada Hantu Jurang Growong yang sebenarnya
tidak ada. Sementara kesan hadirnya Hantu Jurang Growong adalah tingkah laku
kedua orang itu sendiri. Merampas dan merampok. Karena tidak seorangpun yang
pernah melihat wajah-wajah Hantu Jurang Growong.
“Menurut keterangan, siapakah yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri
atas tingkah laku Hantu Jurang Growong yang telah membuat padukuhan ini resah?”
bertanya Mahisa Pukat.
“Tidak ada” jawab orang itu ”Hantu Jurang Growong selalu hadir dengan ujud yang
menakutkan, meskipun mereka tidak membantah bahwa mereka adalah manusia biasa
yang mempergunakan topeng, atau sebangsanya yang memberikan kesan yang
menakutkan. Karena itulah, maka aku menjadi semakin jelas tentang apa yang
terjadi sebenarnya di padukuhan ini”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun mengangguk-angguk pula. Orang yang mengalami
nasib buruk itu ternyata memiliki kemampuan berpikir yang cukup cerdas.
Namun pembicaraan mereka tidak berlanjut, karena Ki Jagabaya yang telah
mengobati lukanya, telah hadir pula di pendapa itu.
Laporan tentang segara peristiwa yang terjadi itu, membuat Ki Buyut sangat
berprihatin. Tetapi ia merasa bersukur bahwa segalanya telah dapat diatasi
justru karena kehadiran dua orang anak muda yang semula tidak mereka kenal.
Karena itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah diminta oleh Ki Buyut
untuk berada di rumahnya. Ki Buyut berharap banwa anak-anak muda itu akan dapat
membantu pulihnya kewibawaan di Kabuyutannya.
Berbeda dengan saat keduanya berada di padukuhan yang baru saja mewisuda
Buyutnya yang baru, maka di Kabuyutan itu keduanya dikenal dengan nama Pratista
dan Narpada.
“Rasa-rasanya aku tidak akan dapat menguasai keadaan” berkata Ki Buyut ketika
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah berada di Kabuyutan. Lalu ”Ki Jagabaya dan
beberapa orang bebahu Kabuyutan ini seakan-akan telah dikuasai oleh pengaruh
yang asing. Mereka tidak lagi mau mendengarkan kata-kataku. Bahkan akulah yang
kemudian tersisih. Ki Jagabayalah yang mengambil alih segala kekuasaannya akan
memerintahkan aku untuk tetap tinggal dirumah”
“Ki Buyut tidak berbuat apa-apa?” bertanya Mahisa Murti.
“Tidak akan ada pengaruhnya” jawab Ki Buyut ”segalanya kemudian aku serahkan
saja kepada Ki
Jagabaya yang berhubungan dengan seorang tamu yang belum kita kenal sebelumnya.
Tamu seorang diantara tetangga kami. Namun yang ternyata keduanya bukan orang
yang pantas dipercaya”
“Demikianlah pernyataan yang kita hadapi, Ki Buyut” sahut Mahisa Pukat.
Sukurlah, bahwa semuanya sudah teratasi” berkata Ki Buyut. Lalu ”Meskipun
demikian, agaknya Ki Jagabaya memang memerlukan perlindungan. Ia telah melukai
hati sebagian dari penduduk Kabuyutan ini. Karena itu, maka ia minta kepada
angger berdua untuk tinggal di sini beberapa lama. Selebihnya, aku yang sudah
terpisah dari kekuasaanku untuk beberapa saat juga memerlukan pengaruh angger
berdua untuk memulihkannya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Mahisa
Pukat bertanya “Selama ini, apakah Ki Buyut sudah mencoba berbuat sesuatu jika
Ki Buyut melihat keadaan yang timpang?”
“Tidak ada gunanya ngger” jawab Ki Buyut.
Mahisa Pukat memandang Ki Buyut sejenak. Namun kemudian katanya ”Seharusnya Ki
Buyut tidak bersikap demikian. Sebelumnya Ki Buyut sudah merasa bahwa pengaruh
Ki Jagabaya memang terlalu besar di Kabuyutan ini. Sehingga ketika Ki Jagabaya
tergelincir. Ki Buyut tidak dapat mencegahnya” “Apa yang dapat aku lakukan?”
bertanya Ki Buyut.
“Ki Buyut adalah orang yang bertanggung jawab atas Kabuyutan ini. Hitam putih
Kabuyutan ini terletak di bahu Ki Buyut. Bukan Ki Jagabaya. Jika terjadi selisih
pendapat antara Ki Buyut dan Ki Jagabaya, maka Ki Buyutlah yang harus mengambil
keputusan” berkata Mahisa Pukat.
Ki Buyut mengangguk-angguk. Tetapi ia menjawab ”Ki Jagabaya mempunyai banyak
pembantu yang mendukung setiap pendapatnya. Karena itu, maka pendapatnyalah yang
setiap kali berlaku di Kabuyutan ini”
“Tentu karena Ki Buyut tidak pernah berbuat sesuatu untuk mengatasinya” berkata
Mahisa Pukat. Lalu ”Maaf Ki Buyut. Tetapi baiklah aku katakan, bahwa Ki Buyut
kurang bersikap tegas. Seandainya Ki Buyut bersikap tegas, maka aku kira
pendukung Ki Buyut akan dapat ikut menentukan. Karena akhirnya segala akibat
dari perbuatan para pemimpinnya, akan ditanggungkan pula oleh para penghuni
Kabuyutan ini, sebagaimana kita lihat”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Katanya ”Aku memang kurang mempunyai keberanian
untuk berbuat demikian. Semula aku memang terlalu percaya kepada Ki Jagabaya,
sehingga segala sesuatunya telah dilakukannya. Tetapi aku tidak pernah menyangka
bahwa pengaruh kedua orang itu telah mencengkamnya terlalu kuat sehingga ia
tidak segera dapat menyadarinya”
“Apakah Ki Buyut pernah memberi peringatan kepada Ki Jagabaya, setidak-tidaknya
membicarakan sikap itu?” bertanya Mahisa Murti.
Ki Buyut termangu mangu sejenak. Namun kemudian iapun menggeleng sambil menjawab
”Tidak ada gunanya.. Sudah aku katakan berulang kali, tidak ada gunanya”
“Tetapi Ki Buyut pernah mencobanya?” desak Mahisa Murti.
Ki Buyut memandang anak-anak muda itu berganti-ganti. Kemudian iapun menjawab
”Belum anak muda”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Merekapun segera menyadari,
bahwa Ki Buyut itu adalah
orang yang terlalu lemah bagi jabatannya. Tetapi karena kedudukan itu adalah
kedudukan turun-temurun, maka Kabuyutan itu tidak mempunyai pilihan lain.
Meskipun demikian, agaknya masih ada kemungkinan bagi masa depan. Ki Buyut telah
melihat akibat yang pahit bagi padukuhannya karena sikapnya.
Meskipun mereka belum sempat berbincang, tetapi keduanya merasa bahwa mereka
berkewajiban untuk membantu Ki Buyut menemukan satu sikap yang lebih baik.
Karena itulah, maka ketika Ki Buyut minta agar keduanya untuk tinggal bersamanya
dan tidak usah berada di banjar, keduanya tidak menolak. Sehingga dengan
demikian untuk seterusnya mereka tidak bermalam di banjar, tetapi diru-mah Ki
Buyut yang berterima kasih sekali atas kehadiran keduanya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk, la dapat membayangkan, apa yang
telah terjadi. Ternyata dua orang itu telah berhasil membuat kesan yang
mengerikan. Mereka dapat memberikan kesan, seolah-olah yang disebut Hantu Jurang
Growong itu terdiri dari berpuluh-puluh orang yang melakukan kejahatan di
mana-mana. Sementara itu iapun dapat membuat orang-orang Kabuyutan itu menjadi
saling mencurigai, membenci dan saling mendendam.
“Luar biasa” tiba-tiba saja Mahisa Murti berdesis yang sebenarnya hanyalah dua
orang saja”
Tetapi Ki Jagabaya menyahut ”Mungkin memang demikian. Kami. penduduk Kabuyutan
inilah yang dungu. Tetapi mungkin dua orang itu benar-benar mempunyai sekelompok
orang yang mereka kendalikan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun dalam pada itu Ki
Jagabaya berkata ”Tetapi aku condong mengatakan bahwa mereka memang hanya
berdua”
“Baiklah Ki Jagabaya” berkata Mahisa Murti ”bagaimanapun juga, sepeninggal kedua
orang itu, kalian dapat menyusun perubahan tata kehidupan di padukuhan ini.
Sementara itu, kalian harus berusaha melenyapkan perasaan takut, saling
mencurigai dan saling mendendam. Ki Jagabaya dan pembantu-pembantunya jangan
lagi melakukan tindakan kekerasan untuk mendapatkan pengakuan seseorang seperti
yang pernah kau lakukan. Sementara orang yang telah mengalami kekerasan itu
belum tentu pernah melakukan kejahatan sekecil ujung kuku sekalipun”
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Pukatpun berkata
”Kau harus memperhatikan orang-orang yang menjadi cacat karena cara-cara yang
sudah kau tempuh Ki Jagabaya” “Ya. Ya. Ki Sanak. Aku benar-benar seperti terbius
oleh kelicikan kedua orang itu. sehingga aku telah melakukan satu kesalahan yang
sangat besar” desis Ki Jagabaya.
“Jika kau melihat tingkah laku Ki Jagabava itu sebagai satu kesalahan yang
besar, artinya bahwa Ki Jagabaya tidak akan melakukannya lagi” sahut Mahisa
Pukat.
“Aku berjanji” desis Ki Jagabaya.
Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Namun akhirnya keduanyapun saling
berpandangan. Sejenak kemudian Mahisa Murti berkata ”Kita dapat melanjutkan
perjalanan”
“Jangan Ki Sanak” cegah Ki Jagabaya ”tinggallah untuk sementara di padukuhan
ini. Aku memerlukan bantuan
kalian untuk memulihkan ketenangan. Aku merasa dosaku sudah terlalu besar,
sehingga aku tidak akan mempunyai kekuatan untuk bangkit lagi di padukuhan ini
tanpa bantuan seseorang selama aku harus membuktikan bahwa aku benar-benar telah
bertaubat”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Ketika mereka kemudian
saling berpandangan, maka Mahisa Murtipun bertanya kepada Mahisa Pukat ”Apa
pendapatmu?”
“Terserah kepadamu” jawab Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Ia mengerti keraguan saudaranya. Tetapi jika
demikian, maka Mahisa Pukat memang mempunyai keinginan betapapun kecilnya untuk
membantu Ki Jagabaya yang mengalami kesulitan.
Bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, persoalan yang dihadapi padukuhan dan
Kabuyutan itu berbeda dengan Kabuyutan yang baru saja mereka tinggalkan.
Penghuni Kabuyutan yang telah mereka tinggalkan masih mempunyai kepercayaan dan
pegangan sepenuhnya atas wibawa Buyut mereka yang baru, sehingga Ki Buyut itu
tidak akan banyak mengalami kesulitan untuk membina dan mengembangkan tata
kehidupan di Kabuyutannya.
Dengan demikian maka padukuhan dan Kabuyutan yang baru mereka tinggalkan itu
tidak akan banyak memerlukan kebijaksanaan khusus untuk memulihkan kepercayaan
yang hilang sebagaimana terjadi di Kabuyutan itu.
Karena itu, atas dasar pertimbangan yang demikian, maka Mahisa Murtipun menjawab
”Baiklah Ki Jagabaya, jika demikian maka aku tidak akan berkeberatan untuk
tinggal barang, satu dua hari. Aku akan berusaha membantu menurut kemampuanku
dan kemampuan
saudaraku agar kewibawaan di Kabuyutan ini dapat pulih kembali”
“Terima kasih Ki Sanak” desis Ki Jagabaya kemudian.
“Jika demikian, maka kalian berdua akan berada di banjar untuk waktu yang tidak
ditentukan. Kami akan menunjuk seseorang untuk menyediakan segala kebutuhan
kalian. Makan, minum dan barangkali pering cendani beruas panjang itu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tersenyum. Katanya ”Baiklah. Kami memang ingin
memiliki satu dua ruas pering cendani yang beruas panjang sekali itu. Tetapi aku
tetap tidak menganjurkan kalian mempergunakan senjata beracun. Aku lebih senang
melihat kalian belajar mempergunakan anak panah dan busur yang dapat kalian buat
dengan kayu berlian. Apakah disini ada kayu berlian?”
“Di hutan ada beberapa pohon berlian yang kami ketahui“ jawab Ki Jagabaya
”kamipun pernah membuat busur dengan kayu berlian itu. Tetapi jika kami
berpaling kepada supit dan paser beracun, itu adalah karena kebodohan kami
sebagaimana kebodohan kami yang lain dalam hubungan kami dengan kedua orang itu”
“Baiklah” berkata Mahisa Murti ”aku akan berusaha untuk menyesuaikan diri
dipadukuhan ini meskipun aku tidak akan lama berada disini”
Ternyata Ki Buyut merasa gembira atas kesediaan itu. Sehingga ia dapat menjadi
agak tenang.
Ki Jagabayapun kemudian telah ikut pula duduk dengan mereka sementara
orang-orang padukuhan itu masih saja sibuk di halaman.
Namun sebelum Mahisa Pukat dan Mahisa Murti mengatakan sesuatu tentang tanggapan
mereka atas
peristiwa yang terjadi di padukuhan itu, Ki Jagabaya telah berkata ”Selama ini,
ternyata Seisi padukuhan ini, bahkan Kabuyutan ini telah dapat dikelabui oleh
dua orang itu. Bukan saja kami telah kehilangan banyak harta benda, bahkan
kabuyutan ini telah dicengkam oleh keresahan yang mengerikan. Aku sendiri telah
menjadi korban kelicikan mereka. Tetapi juga karena kedunguanku sendiri. Aku
agaknya telah mereka bentuk menjadi seekor serigala yang paling bilas di
Kabuyutan ini. justru karena aku adalah jagabaya” Mahisa Murti
mengangguk-angguk. Katanya ”Satu pengalaman yang sangat berguna Ki Jagabaya,
betapapun pahitnya”
Ki Jagabaya mengangguk-angguk Sekilas dipandanginya orang yang bernasib malang,
yang hampir saja kehilangan harapan untuk dapat hidup dan kembali kepada
keluarganya itu.
“Aku minta maaf” berkata Ki Jagabaya ”aku tidak saja bersalah. Tetapi aku sudah
berdosa. Aku telah menyakiti orang yang sama sekali tidak bersalah. Bukan
sekedar mennyakiti, tetapi lebih biadab dari itu”
Mahisa Murti masih akan menyahut. Tetapi Mahisa Pukat telah bertanya lebih
dahulu ”Ki Jagabaya. Apakah dalam persoalan yang serupa, Ki Jagabaya atau
orang-orang Ki Jagabaya pernah membunuh? Memaksa seseorang untuk dengan
menyiksanya sehingga orang itu mati?”
“Tidak, tidak anak muda“ sahut Ki Jagabaya dengan serta merta ”Tetapi jangan
bertanya tentang itu. Aku tidak berani melihat persoalan-persoalan yang telah
terjadi itu”
“Belum Ki Sanak” sahut orang yang tersiksa ”menurut pendengaran kami,
orang-orang Kabuyutan ini, mereka yang mengalami pemeriksaan seperti yang aku
alami itu,
pada umumnya memang tidak mati. Tetapi hampir semuanya menjadi cacat dan tidak
berarti lagi”
“Bukan kehendakku“ sahut Ki Jagabaya ”tetapi kedua orang yang telah mati itu
yang melakukannya. Mereka membuat orang-orang yang dicurigai menjadi cacat
sehingga mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa bagi kepentingan Hantu Jurang
Growong.
“Bagaimana pendapat Ki Jagabaya tentang Hantu Jurang Growong?” bertanya Mahisa
Pukat pula
“Aku seperti orang yang baru saja terbangun dari sebuah mimpi yang mengerikan Ki
Sanak. berkata Ki Jagabaya” betapapun bodohnya aku. tetapi akhirnya aku dapat
melihat apa yang sebenarnya kami, orang-orang padukuhan ini, hadapi pada
saat-saat terakhir ini”
“Itulah yang aku tanyakan” desak Mahisa Pukat.
Ki Jagabaya menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya ”Bagiku sekarang,
semuanya itu ternyata hanyalah permainan yang licik dan kasar.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ternyata Ki Jagabaya itupun kemudian menyatakan
pendapatnya tentang Hantu Jurang Growong seperti yang dikatakan oleh orang yang
bernasib buruk itu. Dengan nada dalam, Ki Jagabaya itupun kemudian berkata
“Sekali lagi aku minta maaf. bahwa aku telah berbuat dosa terhadap beberapa
orang saudara-saudaraku di Kabuyutan ini”
“Tetapi kedua orang itu telah menerima hukumannya” berkata orang yang bernasib
buruk itu.
Ki Jagabaya mengangkat wajahnya. Dipandanginya orang itu sejenak. Kemudian
katanya “kau memaafkan aku?”
“Tentu Ki Jagabaya” jawab orang itu ”kita semuanya telah menjadi korban
kelicikan kedua orang itu. la berhasil membuat kami. seluruh isi Kabuyutan ini
menjadi bingung, gelisah dan kehilangan pegangan”
“Terima kasih” berkata Ki Jagabaya kemudian ”tetapi aku tidak tahu. apa kata
mereka yang sudah terlanjur menjadi cacat. Meskipun bukan tanganku langsung,
tetapi yang terjadi atas mereka adalah sepengetahuanku Aku tidak yakin bahwa
mereka semuanya akan dapat memaafkan aku”
“Mereka semuanya?” potong Mahisa Pukat berapa orangkah yang sudah mengalami
nasib yang sangat buruk itu.
“Tiga orang sudah menjadi cacat” jawab Ki Jagabaya “tetapi kami sudah menyakiti
lebih dari dua puluh orang. Kami memeriksa siapa saja yang ingin kami periksa
dengan menyakiti mereka. Diantara mereka ada yang segera kami lepaskan dengan
peringatan-peringatan, karena mereka kita sebut tidak terlibat langsung dengan
Hantu Jurang Growong. Mereka hanya memberikan peluang terjadi kejahatan, karena
mereka lalai meronda atau tugas-tugas padukuhan lain. Tetapi mereka yang kami
anggap tersangka langsung dengan kegiatan Hantu Jurang Growong itu. kami tidak
memberikan ampun lagi. Kami membuat mereka cacat meskipun sampai saat terakhir
mereka tidak mengaku”
“Nampaknya memang demikian Ki Sanak sambung orang yang hampir saja menjadi
korban itu ”aku menjadi sangat ngeri. Bukan saja oleh kesakitan yang hampir
tidak tertanggungkan, tetapi juga karena ketakutanku bahwa akhirnya aku akan
cacat, karena aku telah dituduh terlibat langsung dalam hubungan dengan Hantu
Jurang Growong”
“Itulah kebodohanku” sahut Ki Jagabaya ”tetapi suasana padukuhan ini benar-benar
dicengkam oleh kegelisahan dan keresahan yang tidak tertanggungkan. Perampokan,
tidak saja dirumah-rumah, tetapi juga beberapa orang telah disamun di
bulak-bulak panjang. Seolah-olah Hantu Jurang Growong itu terdiri dari sejumlah
orang yang memiliki kemampuan yang tidak terlawan”
Dirumah Ki Buyut Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendapat tempat dan pelayanan
yang sangat baik. Namun justru karena itu keduanya merasa kurang mapan. Sehingga
karena itu, maka Mahisa Murtipun pada satu kesempatan berkata kepada Ki Buyut.
“Ki Buyut, perlakukan kami sebagaimana dua orang pengembara yang mendapatkan
tempat bermalam. Kesempatan untuk tidur diserambi gandok sekalipun telah sangat
memenangkan bagi kami berdua. Sementara makanan yang diberikan kepada kami
terasa terlampau berlebih-lebihan. Dengan demikian, kami justru merasa segan dan
kurang mapan”
“Jangan kau hiraukan anak-anak muda” berkata Ki Buyut ”biarlah kami
memperlakukan kalian herdua sesuai dengan sikap kami terhadap kalian berdua.
Meskipun kalian menyebut diri pengembara, tetapi kalian akan dapat memberikan
beberapa peruhahan yang akan sangat herarti hagi kami”
“Kami akan tetap berbuat sesuai dengan tingkat jangkauan kami bagi kepentingan
Kabuyutan Ini, Ki Buyut” jawab Mahisa Murti ”tetapi perlakuan Ki Buyut membuat
kami justru menjadi segan dan kaku”
“Sekali lagi aku minta, jangan hiraukan” berkata Ki Buyut.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah berusaha untuk mencegah sikap
yang justru membuatnya tidak dapat bersikap wajar. Tetapi Ki Buyut ternyata
kurang sependapat.
“Aku tidak peduli lagi” berkata Mahisa Pukat ketika keduanya berada didalam
biliknya aku akan berbuat apa saja sesuai dengan sifat kebiasaanku”
Mahisa Murti tersenyum. Namun katanya ”Kita terikat pada unggah-ungguh. Itulah
sebabnya, maka rasa-rasanya kita justru terbelenggu disini”
Namun cemikian, pada saat-saat tertentu, keduanya minta diri untjk pergi ke
sungai atau kemanapun juga. Pada saat-saat yang demikian, maka keduanya dapat
berbuat apa saja untuk mengendorkan kekuatan tatanan dirumah Ki Buyut”
Tetapi sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mulai tertarik kepada
ceritera tentang hutan pohon cendana yang menjadi gundul. Dengan demikian, maka
hekas pohon cendana itu rasa-rasanya dapat di atur sehingga tidak lagi berupa
tanah terbuka yang akan dapat sedikit demi sedikit menjadi aus.
“Kita dapat melihat tanah gundul dilereng bukit sebelah” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya ”Namun nampaknya Akuwu yang sekarang,
sudah menaruh perhatian yang cukup”
“Pada sisa-sisa pepohonan yang ada. Tetapi nampaknya tidak ada rencana Akuwu
untuk menanam pepohonan yang baru apapun jenisnya untuk menghijaukan lereng yang
gundul itu”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya ”Kita dapat memberitahukan hal itu
kepada Ki Buyut. Jika kita langsung menanganinya, maka kita akan tertahan
ditempat ini untuk waktu yang lama. Kita mungkin akan bertemu lagi dengan Akuwu,
sehingga untuk beberapa saat kita akan menjadi penghuni Pakuwon ini”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Ia sependapat dengan Mahisa Murti, bahwa mereka
berdua hanya dapat memberikan pesan-pesan saja kepada Ki Buyut, karena mereka
tidak berniat untuk tinggal di Kabuyutan itu terlalu lama. Mereka hanya ingin
membantu Ki Buyut dan para bebahu Kabuyutan itu memulihkan wibawanya, setelah Ki
Jagahaya melakukan perbuatan yang telah menyakiti hati rakyatnya, sementara Ki
Buyut yang lemah hati tidak berbuat apa-apa.
Justru karena keadaan yang sudah tersingkap itulah, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat mengetahui, kenapa orang-orang dan para bebahu di Kabuyutan itu tidak
melaporkan persoalan Hantu Jurang Growong itu kepada Akuwu. Agaknya kedua orang
itu pulalah yang telah mempengaruhi mereka untuk tidak melaporkannya kepada
Akuwu, karena jika demikian, maka pasukan pengawal Akuwu akan mengatasi
kekalutan itu, sehingga keduanya tidak akan berkesempatan lagi untuk melakukan
tindakan-tindakan yang nggegirisi yang dapat menakut-nakuti dan membuat rakyat
seisi Kabuyutan menjadi resah.
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu mengikuti perkembangan
keadaan Kabuyutan itu dengan saksama Ki Buyut yang telah melihat akibat pahit
itupun mulai berusaha untuk menyusun tertib pemerintahan di Kabuyutannya. Ia
memanggil para bebahu untuk mengadakan pertemuan. Mereka diminta untuk menilai
apa yang telah terjadi.
“Katakan dengan hati terbuka” berkata Ki Buyut kita akan mengambil pengalaman
ini sebagai satu pelajaran yang berguna”
Beberapa orang semula merasa ragu-ragu, karena mereka merasa cemas, bahwa
perlakuan yang tidak wajar itu akan dapat terjadi pula atas mereka.
Tetapi ternyata kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar memberikan
arti. Para bebahu merasa mereka akan mendapat perlindungan jika ada perlakuan
yang tidak adil atas mereka. Karena itulah, maka merekapun kemudian dapat
menyampaikan isi hati mereka dengan terbuka.
Ki Jagabaya menundukkan kepalanya. Para bebahu yang lainpun melihat, bahwa ia
telah terseret. Meskipun ia berniat untuk membuat Kabuyutannya aman, tetapi ia
telah mengambil langkah yang salah.
“Baiklah” berkata Ki Buyut kemudian ”kita sudah melihat langkah-langkah kita
yang salah. Kita akan berusaha untuk memperbaikinya. Kita akan menjadi
orang-orang baru yang akan memerintah daerah ini dengan sikap yang baru.
Para bebahti itu mengangguk-angguk. Ki Jagabayapun mengangguk-angguk pula.
Bahkan kemudian iapun berkata ”Ki Buyut. Aku tidak akan ingkar, bahwa aku telah
melakukan kesalahan. Tetapi aku mohon dinilai bahwa kesalahanku terletak tidak
pada niat. Tetapi pada cara. sehingga menimbulkan kekalutan dan keresahan”
“Aku mengerti Ki Jagabaya” jawab Ki Buyut ”karena itu aku tidak mengambil satu
tindakan terhadapmu dan terhadap kedudukanmu. Yang kami inginkan adalah
perubahan sikap dan caramu. Tetapi niatmu untuk mengabdi kepada Kabuyutan ini
tetap aku hargai”
“Terima kasih Ki Buyut” berkata Ki Jagabaya.
“Tetapi bagaimanapun iuga,_kau tetap kami anggap pernah melakukan kesalahan.
Karena itu, maka kau harus minta maaf kepada rakyat Kabuyutan ini. Bukan sekedar
sopan santun, tetapi dengan satu kesanggupan didaiam hati untuk menebus
kesalahan yang pernah kau lakukan” berkata Ki Buyut.
Ki Jagabaya mengangguk hormat sambi' menjawab ”Aku mengerti Ki Buyut”
Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyaksikan perubahan
sikap yang terjadi di Kabuyutan itu. Karena itu, maka keduanya merasa bahwa
mereka tidak perlu lagi terlalu lama berada di Kabuyutan itu.
“Kita sudah dapat meninggalkan rumah ini” berkata Mahisa Murti.
“Ya” jawab Mahisa Pukat ”kapan saja kita dapat minta diri. Nampaknya segala
sesuatunya telah dapat diatasi. Ki Jagabaya cukup jantan untuk mempertanggung
jawabkan kesalahannya, dan Ki Buyutpun cukup bijaksana dengan tanpa menghukumnya
secara langsung”
“Tidak ada keberanian Ki Buyut untuk melakukannya” jawab Mahisa Murti ”tetapi
dalam hubungannya dengan persoalan yang dihadapinya kini, adalah kebetulan.
Dengan kelemahannya ia nampak bijaksana”
“Ah” Mahisa Pukat berdesis. Namun iapun kemudian tertawa kecil.
“Kita bermalam satu malam lagi” berkata Mahisa Murti ”besok kita minta diri.
Mudah-mudahan tidak ada lagi yang dapat menghambat kita. Kita akan melanjutkan
pengembaraan. Sementara itu kita dapat berpesan kepada
Ki Buyut untuk memperhatikan lereng yang gundul itu, sehingga tanahnya tidak
akan menjadi semakin aus dimakan air hujan yang bukan saja turun dari langit,
tetapi juga arus dari lereng yang lebih tinggi”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Malam nanti masih ada kesempatan untuk
berbincang dengan Ki Buyut tentang banyak hal. Sekaligus mereka akan minta diri
untuk melanjutkan perjalanan.
Namun dalam pada itu, ketika matahari condong ke Barat, Mahisa Murti yang keluar
dari gandok dan duduk diserambi terkejut melihat seorang gadis yang melintasi
halaman. Selama ia berada di rumah Ki Buyut itu, ia tidak pernah melihat gadis
itu. Memang ada beberapa perempuan di rumah Ki Buyut itu. Selain Nyi Buyut,
beberapa orang pembantunya terdiri dari perempuan dan mungkin juga diantara
mereka terdapat gadis-gadis. Tetapi yang seorang ini belum pernah dilihatnya.
Sambil memperhatikan langkah gadis itu, terasa jantung Mahisa Murti berdegup
semakin keras, sehingga akhirnya gadis itu melangkah naik kependapa dan hilang
dipintu pringgitan.
“Tentu bukan sekedar pembantu Ki Buyut” berkata Manisa Murti dalam hatinya ”jika
gadis itu sekedar pembantunya, maka ia tidak akan masuk lewat pintu itu”
Mahisa Murti terkejut, ketika ia mendengar Mahisa Pukat terbatuk-batuk kecil di
belakangnya. Sambil berpaling ia berkata ”Kau mengejutkan aku”
Mahisa Pukat tersenyum. Katanya ”Apa yang kau perhatikan sehingga kau tidak tahu
aku hadir disini?”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya ”Kau tentu juga
melihatnya”
“Apa?” desak Mahisa Pukat.
“Seorang gadis” jawab Mahisa Murti.
“Darimana kau tahu, bahwa ia seorang gadis. Siapa tahu bahwa perempuan itu
adalah isteri Ki Buyut” jawab Mahisa Pukat.
“Jangan berpikiran gila” potong Mahisa Murti ”gadis tu terlalu muda bagi isteri
Ki Buyut. Mungkin ia anaknya, atau bahkan cucunya”
Mahisa Pukat tertawa. Katanya ”Jangan hiraukan perempuan itu”
“Aku hanya memperhatikannya. Bukankah aku tidak bersalah jika aku melihat
kecantikan seseorang? Seperti aku juga tidak bersalah memperhatikan kecantikan
sekuntum bunga ceplok piring. Bukankah begitu?” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tertawa. Kemudian katanya ”Kau cerdik. Tetapi ingat pesan ayah. Kau
harus belajar dari pengalaman Kakang Mahisa Bungalan. Seorang gadis telah
mengikatnya sehingga pengembaraannya tidak lagi dapat berkisar lebih jauh dari
putaran gadis itu saja”
“Tetapi dengan demikian, ia mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dalam
pengembaraannya itu. He, kau katakan, bahwa kakang Mahisa Bungalan tidak
berkisar jauh dari gadis itu?”
“Ya” jawab Mahisa Pukat.
“Kau keliru. Tetapi seandainya demikian, namun ia justru mendapat pengalaman
yang terlalu hanyak. Bukan saja Pengalaman lahir, tetapi juga pengalaman batin.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa Murti sejenak. Lalu
katanya ”Tetapi bagaimanapun juga, jangan kau abaikan pesan ayah”
“Ah” desah Mahisa Murti ”aku tentu akan selalu mengingatnya. Bukankah aku tidak
berbuat apa-apa. Akupun tidak tahu, apakah gadis itu termasuk keluarga Ki Buyut
atau bukan”
Mahisa Pukat menarik nafas aalam-dalam. Lalu katanya ”Marilah. Kita duduk
didalam saja”
“Udara terlalu panas. Aku akan duduk disini” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun iapun kemudian medangkah masuk ke
dalam gandok, yang disediakan oleh Ki Buyut bagi tempat mereka berdua.
Untuk beherapa saat Mahisa Pukat duduk sendiri didalam gandok itu sambil
bersandar tiang. Diluar sadarnya, iapun mulai menelusuri perjalanannya berdua
dengan Mahisa Murti yang masih terhitung sangat pendek itu. Namun dalam
perjalanan yang pendek itu, mereka ternyata telah mengalami berbagai peristiwa
yang dapat dijadikan bekal dalam hidupnya kelak. Namun kadang-kadang terasa
ngeri juga jika ia memikirkan kemungkinan yang paling buruk dalam
pengembaraannya itu. Meskipun ia mendapatkan pengalaman yang sangat berharga,
tetapi jika jiwanya terampas karenanya, maka pengalaman itu tidak akan berarti
apa-apa baginya.
“Tetapi akau tidak boleh menjadi seorang pengecut” berkata Mahisa Pukat didalam
hatinya.
Namun dalam pada itu ia terkejut ketika ia mendengar suara Mahisa Murti
bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Sambil mengangkat wajahnya ia bergeser.
Dan
didengarnya suara perempuan itu ”Silahkan minum Ki Sanak”
“Ya, ya. Terima kasih” jawab Mahisa Murti. Apakah mangkuk ini harus aku letakkan
didalam atau disini saja?” bertanya perempuan itu.
Dengan gagap Mahisa Murti menjawab ”Baiklah didalam, ah, maksudku disini saja”
“Mangkuk yang satu?” bertanya perempuan itu. “Biarlah disini juga” jawab Mahisa
Murti.
Suara itupun terdiam. Yang didengar oleh telinga tajam Mahisa Pukat dalam
langkah yang menjadi semakin jauh.
Mahisa Pukatpun bangkit dari duduknya dan melangkah keluar. Dilihatnya dua buah
mangkuk minuman panas dan beberapa potong gula kelapa.
“Segarnya” desis Mahisa Pukat ”air sere atau air jahe?”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya ”Kedua-duanya. Air jahe dengan
sere. Terasa sedapnya kayu legi pula didalamnya”
“Kau sudah minum?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tersenyum. Jawabnya ”Belum”
“Darimana kau tahu, bahwa terasa sedapnya kayu legi didalam minuman itu?”
bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti masih tersenyum. Katanya kemudian ”Duduklah. Marilah kita minum”
“Kenapa tidak ditaruh didaiam saja?” bertanya Mahisa Pukat selanjutnya.
“Kita minum diserambi saja” jawab Mahisa Murti.
“Perempuan yang membawa minuman ini tidak mau masuk”
“Bohong” sahut Mahisa Pukat ”kau yang minta kepadanya untuk meletakkan minuman
ini disini”
“Kau dengar pembicaraan kami?” bertanya Mahisa Murti.
Aku mendengar” jawab Mahisa Pukat” siapakah perempuan yang membawa minuman itu?”
“Kau tentu sudah mengintipnya” tebak Mahisa Murti.
“Tidak. Aku duduk saja diamben itu” Mahisa Pukat menjelaskan.
“Salah seorang pelayan Ki Buyut. Seorang perempuan tua yang tadi pagi juga
membawa minuman kita” jawab Mahisa Murti.
“Jangan bohong. Suaranya lain. Tentu bukan perempuan tua itu” bantah Mahisa
Pukat.
“Jadi siapa? Bukankah kau tidak melihatnya?” bertanya Mahisa Murti.
Mahisa Pukat yang duduk disebelah Mahisa Murti itu tersenyum. Jawabnya ”Meskipun
aku tidak melihatnya, tetapi aku dapat membedakan warna suara. Aku yakin, yang
membawa minuman ini tentu perempuan yang kau sangka gadis yang tadi melintasi
halaman, dan yang belum pernah kita lihat sebelumnya”
“Ah darimana kau tahu? Kau belum pernah mendengar suaranya. Kau tentu tidak akan
dapat mengatakan bahwa kau mengenalinya lewat suaranya” sahut Mahisa Murti.
“Aku tidak mengenalinya lewat suara perempuan itu. Tetapi lewat suaramu” jawab
Mahisa Pukat.
“Bagaimana mungkin lewat suaraku?“ bertanya Mahisa Murti heran.
“Suaramu menjadi gagap dan seolah-olah kau menjadi bingung menjawab
pertanyaan-pertanyaannya” tebak Mahisa Pukat.
“Ah desah Mahisa Murti ”kau hanya menduga-duga”
“Katakan, apakah dugaanku salah?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia hanya tersenyum saja sambil mengusap
keringatnya di dahinya.
Dalam pada itu, Mahisa Pukatlah yang kemudian meraih mangkuk berisi minuman
hangat itu. Sambil meneguk isinya ia berdesis ”Merasa segar sekali. Apakah
dengan gula kelapa?”
“Ya, dengan gula kelapa. He, bukankah benar dugaanku, bahwa minuman itu memakai
kayu legi?” bertanya Mahesa Murti.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng sambil menjawab
”Tidak. Minuman ini tidak diberi kayu legi”
“He?” dahi Mahisa Murti berkerut ”tetapi meskipun tidak diberi kayu legi tetapi
minuman itu tetap segar bukan?”
“Ya. Segar sekali. Kenapa kau tidak minum?” bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murtipun kemudian mengambil sepotong gula kelapa Kemudian mengangkat
mangkok berisi minuman hangai itu dan menghirupnya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Pukat berkata “Malam nanti kita akan
minta diri. Bukankah besok
kita akan melanjutkan perjalanan? Bagaimana jika kita minta beberapa ruas pering
cendani yang beruas panjang itu? Dengan supit kita akan dapat berburu burung”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian menjawab ”Kita akan
mengambil beberapa ruas pering cendani itu Pukat. Besok kita akan pergi ke
padang perdu itu. Tetapi dengan demikian kita tidak akan dapat meninggalkan
Kabuyutan ini besok”
“Kenapa? Kita minta diri. Sambil meninggalkan Kabuyutan ini kita mengambil
beberapa ruas pering cendana itu. Jika pada saat kita meninggalkan Kabuyutan
ini, kita sudah menyatakan keinginan kita untuk mengambil pering cendani itu,
maka aku kira kita tidak akan dapat dianggap bersalah, apalagi dituduh mencuri.
Ki Jagabaya tidak akan lagi berbuat seperti itu” berkata Mahisa Pukat kemudian.
Mahisa Murti termangu-mangu sejenak Namun kemudian sambil menggeleng ia berkata
”Kita tidak akan berbuat demikian. Sebaiknya kita mengambil beberapa ruas pering
cendani itu, dan kemudian membawanya ke Kabuyutan ini sehingga dengan demikian
Ki Buyut dan para bebahu Kabuyutan ini tahu, seberapa banyak kita telah
mengambilnya. Dengan demikian, hal itu akan baik pula akibatnya bagi kita. Jika
ternyata ada kerusakan pada rumpun pering cendani itu, bukan kitalah yang telah
merusaknya”
“Jika demikian” jawab Mahisa Pukat ”marilah. Kita sekarang pergi ke padang itu
dan mengambilnya. Malam ini kita dapat menunjukkan kepada Ki Buyut beberapa ruas
paring cendani yang akan kita bawa”
“Kenapa sekarang” sahut Mahisa Murti ”kenapa kau tiba-tiba menjadi begitu
tergesa-gesa? Bukankah
pengembaraan kita masih panjang. Apa artinya satu da hari bagi kita seandainya
kita masih tertahan di Kabuyutan ini. Sekaligus kita dapat melihat, apakah
keadaan di Kabuyutan ini benar-benar sudah mantap”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Bukan aku yang tiba-tiba saja
menjadi tergesa-gesa. He, bukankah kita sudah sepakat untuk meninggalkan
Kabuyutan ini esok pagi setelah malam nanti kita memoerikan beberapa pesan
kepada Ki Buyut tentang lereng yang gundul itu?”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya Namun kemudian sambil menarik nafas dalam
dalam ia berkata ”Sebaiknya kitapun pergi ke lereng bukit yang gundul itu. Kita
tidak saja memberikan pesan, tetapi kita akan dapat memberikan petunjuk-petunjuk
yang berarti bagi mereka”
“Kau keliru Murti” jawab Mahisa Pukat” kita hanya tahu arti keseluruhan dari
tanah yang dihijaukan itu. Tetapi kita bukan orang-orang yang mengerti cara-cara
yang paling baik untuk menanam jenis-jenis pepohonan di lereng itu. Mungkin Ki
Buyut dan orang-orang Kabuyutan ini justru lebih banyak mengetahui”
“Yang aku katakan tidak pernah sesuai dengan pendapatmu. Tetapi baiklah aku
berharap, kau tidak terlalu tergesa-gesa meninggalkan Kabuyutan ini. Masih ada
beberapa persoalan yang dapat kita sumbangkan kepada penghuni Kabuyutan ini”
berkata Mahisa Murti.
“Sebenarnya ada apa dengan kau?” bertanya Mahisa Pukat kaulah yang tiba-tiba
saja merubah sikapnya”
Mahisa Murti tidak segera menjawab. Sementara itu Mahisa Pukat melanjutkan
”agaknya telah terjadi satu gejolak didalam dirimu, sehingga kau sudah berubah
sikap.
Tetapi jika perubahan sikap itu beralasan, aku tidak akan berkeberatan”
“Ya. Aku mempunyai alasan” jawab Mahisa Murti ”bukankah aku sudah mengatakan
beberapa alasan?”
“Bukan alasan yang sebenarnya” jawab Mahisa Pukat.
“Apa yang kau maksud dengan alasan yang sebenarnya?” bertanya Mahisa Murti.
“Tentu kaulah yang tahu. Cobalah bertanya kepada dirimu sendiri. Alasan apakah
yang sebenarnya telah menahan kau disini?” berkata Mahis Pukat.
Mahisa Murti termangu-mangu. Tetapi ia tidak menjawab, sehingga karena itu.
Mahisa Pukatlah yang memberikan jawabnya ”He, bukankah karena kau telah melihat
perempuan yang sebut gadis itu?”
“Ah” desah Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tertawa. Katanya ”Kau tidak usah melingkar-lingkar. Katakan terus
terang. Dan aku akan mencoba mengekang diri agar aku tidak tergesa-gesa
meninggalkan tempat ini. Tetapi sekali lagi aku peringatkan pesan ayah kepada
kita, bahwa kita harus berhati-hati”
Mahisa Murti menarik nafas panjang. Dipandanginya Mahisa Pukat sejenak. Namun
iapun kemudian mengalihkan tatapan matanya ke halaman, sementara langitpun
menjadi semakin terasa dingin karena matahari yang merendah.
Namun dengan demikian, maka Mahisa Pukatpun menyadari, bahwa mereka tidak akan
dapat meninggalkan rumah Ki Buyut esok pagi karena Mahisa Murti agaknya
mempunyai pertimbangan lain.
Meskipun sebenarnya Mahisa Pukat tidak sesuai dengan sikap Mahisa Murti, tetapi
ia tidak ingin mengecewakan saudaranya. Namun demikian, ia memang berniat untuk
selalu memberi peringatan kepada Mahisa Murti agar tidak terjerat oleh satu
keadaan seperti yang di cemaskan oleh ayahnya, justru karena Mahisa Bungalan
pernah mengalaminya. Untunglah bahwa Mahisa Bungalan berhasil menyelesaikan
persoalannya dalam libatan hubungannya dengan Ken Padmi dengan baik. Jika ia
gagal, maka persoalan itu akan dapat membawa nyawanya.
Demikianlah ketika lewat senja, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat duduk-duduk di
pendapa bersama Ki Buyut dan beberapa orang bebahu yang hadir, maka anak-anak
muda itu sama sekali tidak menyinggung rencana mereka untuk minta diri. Yang
mereka katakan hanyalah, bahwa mereka ingin mendapatkan beberapa batang pering
cendani yang beruas panjang.
“Tentu kami tidak akan berkeberatan” berkata Ki Buyut” pering cendani itu tidak
akan banyak artinya lagi bagi kami”
“Tetapi tidak ada jeleknya jika ketrampilan mempergunakan supit itu
dikembangkan” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi kami tidak akan berkelahi lagi melawan Hantu Jurang Growong” jawab
seorang bebahu.
“Sekarang tidak“ jawab Mahisa Pukat ”mungkin lain kali ada pihak lain lagi yang
ingin mengganggu Kabuyutan ini”
“Tetapi, bagaimana dengan anak panah dan busur?” bertanya seorang yang bertubuh,
tinggi besar pembantu Ki Jagabaya.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya ”Bagus. Jika kalian berminat, kalian
dapat menyiapkan justru pada saat-saat kalian mempunyai waktu untuk melatih
diri”
Ki Jagabaya yang juga hadir, mengangguk-angguk. Katanya ”Pendapat yang baik
sekali”
“Bukan saja berlatih mempergunakan busur dan anak panah. Tetapi memperdalam olah
kanuraganpun akan sangat bermanfaat. Pada keadaan yang gawat, baru terasa bahwa
ilmu kanuragan itu kita perlukan” Orang-orang yang berada di pendapa itu
mengangguk-angguk. Mereka memang memerlukan perlindungan. Pada saat-saat yang
gawat sangat terasa, bahwa mereka tidak dapat berbuat banyak untuk melindungi
diri sendiri.
“Anak muda” berkata Ki Buyut tiba-tiba ”bagaimana jika kami minta kalian berdua
untuk tinggal barang beberapa lamanya, sekedar untuk memberikan dasar-dasar
pengetahuan olah kanuragan?”
Mahisa Pukat menjadi ragu-ragu. Namun sebelum ia menjawab, Mahisa Murti telah
mendahului ”Jika hanya untuk beberapa hari saja, kami tidak akan berkeberatan Ki
Buyut. Tetapi, sudah barang tentu, bahwa pada saatnya kami akan meninggalkan
tempat ini untuk melanjutkan pengembaraan kami”
“Ya. Tentu hanya beberapa hari saja. Tetapi yang beberapa hari itu tentu akan
sangat bermanfaat bagi kami” jawab Ki Buyut.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak ingin menyakiti hati
saudaranya. Jika ia bersikap lain, maka persoalannya tentu akan menjadi rumit.
Karena itu. Mahisa Pukat hanya dapat memandangi Mahisa Murti dengan senyum yang
masam.
Demikianlah, ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih akan tetap
berada di padukuhan itu untuk beberapa lama. Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat
telah mengetahui dengan pasti, kenapa Mahisa Murti masih lebih senang tinggal
beberapa lama di padukuhan itu.
Dihari berikutnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai memberikan
beberapa tuntunan olah kanuragan bagi anak-anak muda. Beberapa orang terpilih
telah terbagi menjadi dua kelompok, yang masing-masing dibimbing oleh Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyempatkan diri
mengambil beberapa ruas pering cendani. Mereka telah membuat supit tidak untuk
membunuh seseorang, tetapi mereka pergunakan untuk berburu burung yang banyak
terdapat di pategalan dan di pinggir-pinggir hutan.
Dalam pada itu, pada kesempatan yang lain, Mahisa Murti telah mengenal gadis
yang baru kemudian hadir di rumah Ki Buyut. Ternyata gadis itu adalah anak Ki
Buyut.
“Kenapa kau baru hadir beberapa hari yang lalu?” bertanya Mahisa Murti ketika
keduanya sempat berbicara di serambi gandok, pada saat gadis itu mengantarkan
minuman panas.
“Aku berada di rumah paman” jawab gadis itu ”sebenarnya aku sudah lama ingin
pulang. Tetapi daerah ini justru tidak aman”
“Kau tidak kerasan di rumah pamanmu?” bertanya Mahisa Murti.
“Sebenarnya aku kerasan tinggal di rumah paman. Tetapi pada saat terakhir, aku
mengalami beberapa gangguan, sehingga paman menganggap bahwa lebih baik
aku kembali ke rumah ayah. Apalagi setelah Kabuyutan ini menjadi tenang”
“Gangguan apakah yang kau alami?” bertanya Mahisa Murti.
Gadis itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Bahkan sejenak
kemudian ia berkata ”Sudahlah. Tidak ada apa-apa”
Mahisa Murti masish akan menjawab, tetapi gadis itu sudah lari.
Sebenarnyalah gadis anak Ki Buyut itu sangat menarik perhatian Mahisa Murti.
Dalam setiap kesempatan ia berusaha untuk dapat berbincang tentang apa saja
dengan gadis itu. Apalagi nampaknya gadis itupun telah memberikan banyak peluang
pula kepada Mahisa Murti.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat tidak jemu-jemunya memperingatkan Mahisa
Murti, bahwa mereka baru mulai dengan suatu pengembaraan.
“Kita belum terlalu jauh dari Kota Raja” berkata Mahisa Murti ”jika perjalanan
kita terhenti disini, maka jarak yang pernah kita tempuh dalam pengembaraan ini
untuk mendapatkan pengalaman hidup tidak lebih jauh dari jarak anak-anak bermain
sembunyi-sembunyian di terang bulan.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya iapun berkata ”Baiklaah
Mahisa Pukat. Aku mengerti. Aku akan berusaha menguasai perasaanku. Kita akan
segera melanjutkan perjalanan. Seandainya aku tidak dapat melupakan tempat ini.
maka biarlah kelak aku akan kembali lagi apabila aku masih mendapat kesempatan”
Mahisa Pukat memandang wajah saudaranya yang menjadi buram. Terbersit pula
perasaan iba didalam hatinya. Karena itu. katanya ”Baiklah Mahisa Murti, aku
berjanji, bahwa
dalam perjalanan kita kembali kelak, kita akan berusaha untuk melalui Kabuyutan
ini. Kabuyutan Randumalang”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Jawabnya ”Ya Kita akan mengingat nama Kabuyutan
ini. Kabuyutan Randumalang“
“Dan kita akan selalu teringat kepada nama seorang gadis He. siapa namanya?”
bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti tidak segera menjawab. Tetapi sebenarnyalah ia merasa berat untuk
meninggalkan rumah Ki Buyut itu. Tetapi iapun menyadari, bahwa ia tidak boleh
tinggal terlalu lama di tempat itu.
Karena Mahisa Murti tidak segera menjawab, maka Mahisa Pukat mendesaknya ”Siapa
nama yang sebenarnya gadis itu? Tentu Ireng itu bukan namanya. Bukankah itu
hanya sebutannya saja karena gadis itu berkulit agak kehitaman. Dan nampaknya
justru hitam-hitam manis itulah yang telah menarik perhatianmu”
“Sebut saja dengan Ireng. Aku tidak pernah bertanya siapakah namanya yang
sebenarnya, karena setiap kali aku bertanya, ia selalu menjawab nama
panggilannya itu pula” jawab Mahisa Murti.
Mahisa Pukat tertawa pendek. Katanya ”Baiklah. Aku-pun sudah puas menyebutnya
Ireng. Rara Ireng”
Dalam pada itu, pada saat-saat kedua anak muda itu siap meninggalkan Kabuyutan
itu. maka mereka masih juga memberikan tuntunan olah kanuragan.
Anak-anak muda di Kabuyutan itu. ternyata dengan tekun mengikuti bimbingan itu.
Mereka seolah-olah tidak mengenal letih. Kapan saja mereka justru meminta kepada
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk memberikan latihan-latihan, karena merekapun
sadar, bahwa Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat tidak akan terlalu lama berada di Kabuyutan mereka.
Sebenarnyalah, maka pada suatu saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
menyatakan niatnya untuk meninggalkan Kabuyutan itu. Mereka harus meneruskan
pengembaraan mereka untuk waktu yang tidak ditentukan.
Niat itu telah menumbuhkan kerisauan pada beberapa orang di Kabuyutan itu.
Beberapa orang anak muda ingin menahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat agar mereka
lebih lama lagi tinggal bersama anak-anak muda di Kabuyutan Randumalang. Namun
agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memutuskan, bahwa mereka harus
segera melanjutkan perjalanan.
“Kau akan pergi besok?” bertanya gadis itu.
“Ya Ireng. Aku harus melanjutkan perjalanan kembaraku. Aku tidak dapat tinggal
terlalu lama di satu tempat” jawab Mahisa Murti.
Gadis itu menunduk. Namun ia mengangkat wajahnya ketika tiba-tiba saja Mahisa
Murti bertanya ”Tetapi apakah aku dapat mendengar namamu sebelum aku pergi?”
Gadis itu memandang wajah Mahisa Murti. Lalu katanya Bukankah kau sudah mengenal
namaku?”
“Belum. Aku hanya mengenal sebutan atau panggilanmu sehari-hari. Tetapi namamu
tentu bukan Rara Ireng” sahut Mahisa Murti. Lalu “ Sebelum aku pergi, maka aku
ingin dapat selalu mengingat namamu”
Gadis itu menunduk. Namun kemudian katanya ”Namaku memang Ireng. Tetapi
kadang-kadang paman memanggil aku Widati”
“Widati” desis Mahisa Murti ”aku lebih senang memanggilmu dengan Widati. Bukan
Ireng”
“Tidak. Disini namaku Ireng. Panggil aku dengan Ireng. jawab gadis itu.
“Ya. Disini aku akan tetap memanggilmu Ireng. Tetapi aku akan lebih senang
mengenang namamu Widati. Besok pada suatu saat. jika aku kembali lagi. aku akan
mencari Widati” berkata Mahisa Murti.
Gadis itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Bahkan
sejenak kemudian, maka gadis itupun telah berlari meninggalkan Mahisa Murti yang
termangu-mangu diserambi gandok memandanginya sampai hilang dibalik pendapa.
Mahisa Murti terkejut ketika ia mendengar Mahisa Pukat menegurnya ”Sudahlah.
Agar kau tidak menunda lagi perjalanan kita. Pada saatnya kita akan kembali”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Tanpa berkedip ia masih saja memandangi
pintu yang sudah tertutup. Namun kemudian katanya ”Aku mempunyai perasaan aneh
terhadap gadis itu”
Mahisa Pukat tersenyum. Katanya ”Kau tentu dapat menyebut perasaan apa yang
sebenarnya mencengkammu”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi sebelum ia menjawab Mahisa Pukat telah
berkata ”Karena itu, maka biarlah kita segera meninggalkan tempat ini sebelum
perasaan itu berakar dihatimu. Jika Yang Maha Agung memang mengijinkan, gadis
itu akan menjadi jodohmu, maka pada suatu saat kau akan bertemu lagi dimanapun
juga”
Mahisa Murti mtnsprfguk-angguk Katanya ”Kau benar Mahisa Pukat. Kita memang
harus segera meninggalkan tempat ini”
Ketika kemudian malam turun, untuk terakhir kalinya Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat berbincang-bincang dengan Ki Buyut dan para bebahu Kabuyutan. Pada
kesempatan terakhir itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sekali lagi menyinggung
lereng pegunungan yang menjadi gundul. Keduanya juga memberikan beberapa
petunjuk tentang penggunaan berbagai macam senjata jarak jauh. Keduanya
menganjurkan agar orang-orang Kabuyutan itu lebih banyak mempelajari cara
mempergunakan anak panah dan busur daripada mempergunakan supit. Merekapun
memberitahukan beberapa jenis senjata lontar yang lain. Bandil dan paser. Bahkan
pisau-pisau kecil.
Sebenarnyalah bahwa Ki Buyut dan para bebahu masih ingin menahan kedua anak muda
itu barang satu dua pekan. Tetapi keduanya ternyata telah mengambil satu
keputusan untuk meninggalkan Kabuyutan itu, betapapun berat hati mereka.
Terlebih-Iebih adalah Mahisa Murti.
Demikianlah, maka malam itu, para bebahu dan Ki Buyut sendiri telah mengucapkan
beribu terima kasih kepada kedua orang anak muda itu. Ada keinginan mereka untuk
memberikan sesuatu kepada keduanya sebagai tanda terima kasih orang-orang
seluruh Kabuyutan.
Namun dengan hati-hati Mahisa Murti menjawab ”Terima kasih Ki Buyut. Bukan
berarti aku menolak, tetapi aku masih ingin mengembara. Karena itu, maka hadiah
yang akan aku terima, tentu tidak sewajarnya jika aku bawa berkeliaran tanpa
tujuan”
“Kami mempunyai sepasang cincin dengan sebuah permata yang baik” berkata Ki
Buyut mungkin kalian
berdua pada suatu saat membutuhkannya. Tentu cincin itu tidak akan memberati
beban kalian diperjalanan”
Tetapi Mahisa Murti menjawab ”Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih. Tetapi
biarlah kami menitipkan cincin itu disini”
Ki Buyut mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu ia bertanya ”Apakah dengan
demikian berarti bahwa kalian berdua akan kembali lagi ke Kabuyutan ini?”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun Mahisa Pukatlah yang menjawab ”Ya.
Kami memang berniat demikian. Pada suatu saat yang tidak dapat kami sebutkan,
karena kami sendiri belum dapat menentukan, kami berdua berusaha untuk dapat
singgah di padukuhan ini. Pada saat itu kami akan mengambil barang-barang kami
yang kami titipkan”
“Barang-barang apa saja yang kalian titipkan selain sepasang cincin yang akan
kami serahkan?” Ki Jagabaya bertanya.
Mahisa Pukat tersenyum. Tetapi Mahisa Murti cepat menyahut tidak ada. Memang
tidak ada Beberapa orang saling berpandangan. Tetapi akhirnya mereka tidak
mempersoalkannya lagi.
Meskipun demikian, Mahisa Murti masih saja cemas, bahwa Mahisa Pukat pada suatu
saat akan menyebut hubungannya dengan gadis yang bernama Widati itu. Tetapi
ternyata bahwa Mahisa Pukat tidak tergelincir dengan ucapan ucapannya, meskipun
kadang-kadang Mahisa Murti menjadi tegang juga.
Kedua anak muda itu duduk dipendapa sampai jauh malam, justru karena malam itu
adalah malam terakhir mereka berada di Kabuyutan itu. Tetapi akhirnya Ki
Buyutpun telah mempersilahkan keduanya untuk beristirahat, karena esok harinya
keduanya akan menempuh perjalanan yang tidak diketahui, betapa jauh dan betapa
lamanya.
Malam itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengemasi bekal mereka yang tidak
terlalu banyak, selain sebungkus kecil pakaian yang tidak berarti. Tetapi sesaat
kemudian, ternyata bahwa Mahisa Pukat telah tertidur nyenyak, sementara Mahisa
Murti masih tetap terjaga, meskipun iapun sudah berbaring dipembaringan. Setiap
kali ia memejamkan matanya, justru ingatannya kepada gadis yang bernama Widati
itu serasa menjadi semakin tajam. Namun bagaimanapun juga ia sudah bertekad
bulat untuk meninggalkan padukuhan itu.
Sesaat menjelang dini hari, Mahisa Murti sempat terlena beberapa waktu. Namun
justru Mahisa Pukatlah yang kemudian telah terbangun. Meskipun demikian, Mahisa
Pukat tidak membangunkan Mahisa Murti karena iapun seolah-olah dapat mengerti,
bahwa hampir semalaman Mahisa Murti tidak tidur, ternyata bahwa nampaknya ia
masih lelap menjelang dini hari. Karena bukan demikianlah kebiasaannya.
Karena itu, maka Mahisa Pukatlah yang kemudian mendahului pergi ke pakiwan untuk
membersihkan diri.
Tetapi Mahisa Murti tidak terlalu lama pulas dalam tidurnya. Ia tidak terbiasa
bangun setelah terbit. Karena itu, maka iapun kemudian terbangun juga sebelum
langit menjadi terang.
Namun pada pagi hari itu. keduanya benar-benar telah berniat untuk meninggalkan
tempat itu.
Dengan berat hati, orang-orang Kabuyutan itu telah melepaskan kedua anak muda
itu pergi. Apalagi mereka
yang serba sedikit telah menerima terutama olah kanuragan. Mereka merasa bahwa
yang mereka terima masih terlalu sedikit, sehingga mereka masih memerlukan jauh
lebih banyak lagi.
Tetapi kedua anak muda itu tidak lagi dapat ditahan. Mereka benar-benar siap
meninggalkan Kabuyutan itu. Ketika keduanya sudah berada diregol, maka seorang
gadis berdiri dibawah sebatang pohon kemuning yang tumbuh di halaman. Dengan
wajah yang suram gadis itu memperhatikan kedua anak muda yang sudah siap untuk
berangkat.
Namun adalah diluar kehendaknya, ketika Mahisa Murti tiba-tiba saja sudah
berpaling. Ketika dilihatnya gadis itu berdiri termangu-mangu, maka Mahisa Murti
itupun menarik nafas dalam-dalam.
Ki Buyut mengerutkan keningnya ketika ia melihat sikap anak muda itu. Ketika ia
berpaling kearah pandangan Mahisa Murti, maka dilihatnya anak gadisnya berdiri
dengan kepala tunduk.
Meskipun tidak terucapkan, agaknya Ki Buyut bertanya didalam hatinya, hubungan
apakah yang sudah terjalin antara anak gadisnya dengan anak muda pengembara itu?
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat kemudian berkata ”Ki Buyut, sebagaimana sudah
kami katakan, pada suatu saat kami akan kembali. Seandainya kami tidak akan
mengambil kenangan yang akan diberikan oleh orang-orang di Kabuyutan ini, kami
memang benar-benar akan singgah”
Ki Buyut termangu-mangu sejenak. Namun ketika ia melihat Mahisa Pukat tersenyum
sambil memandangi Mahisa Murti, maka Ki Buyutpun dapat memaklumi, perasaan
apakah yang tersirat di hati anak muda itu.
Karena itu, sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata ”Segala terserah kepada
kehendak Yang Maha Agung.
Mahisa Pukat mengangguk sambil berkata ”Demikianlah Ki Buyut. Tetapi bukankah
kita wenang memohon kepada-Nya?”
“Ya. Kita memang wenang memohon” sahut Ki Buyut.
“Sudah tentu, dengan pengharapan, bahwa permohonan kita akan terkabul” sambung
Mahisa Pukat.
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun kemudian menjawab ”Kita akan
memohon”
Demikianlah, sejenak kemudian, maka kedua anak muda itupun telah meninggalkan
halaman rumah Ki Buyut. Mahisa Murti sempat berpaling dan seleret pandang anak
muda itu telah membentur mata Widati. Namun gadis itu kemudian menunduk
dalam-dalam. Bahkan iapun telah berlari masuk ke ruang dalam.
Ki Buyut hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak berkata apapun juga
tentang anaknya.
Dalam pada itu. maka Mahisa Murti d.in Mahisa Pukatpun kemudian menyusuri jalan
padukuhan induk menjauhi rumah Ki Buyut. Beberapa orang anak muda telah
mengikutinya sampai keregol padukuhan.
Sepeninggal kedua anak muda itu, maka Ki Buyutpun kemudian masuk keruang dalam
”Dilihatnya anak gadisnya duduk tepekur di pembaringannya, sementara pintu
biliknya masih terbuka.
Perlahan-lahan Ki Buyut mendekati anaknya, yang terkejut melihat kehadirannya.
“Ireng, apa yang sebenarnya kau pikirkan?” bertanya Ki Buyut.
Widati menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya ”Tidak ada ayah”
“Jangan kau bohongi orang tua ini Ireng” berkata ayahnya kemudian ”meskipun
tidak kau ucapkan, aku melihat sorot matamu ketika kau memperhatikan kedua anak
muda itu telah membentur mata Widati anak muda yang meninggalkan Kabuyutan ini”
Widati menundukkan kepalanya. Terdengar suaranya lirih” Tidak ada apa-apa ayah”
“Baiklah” berkata ayahnya ”Sukurlah jika tidak ada apa-apa diantara kalian.
Namun demikian, baiklah ayah ingin mengatakan sesuatu serba sedikit”
Widati menjadi tegang. Sementara itu ayahnya berkata lebih lanjut ”Aku tidak
menyesali hubunganmu dengan anak-anak muda. Aku kira hal itu wajar sekali.
Tetapi ternyata bahwa kau tidak kerasan tinggal dirumah pamanmu, justru karena
kau merasa diganggu oleh anak muda yang tidak kau sukai”
Widati tidak menyahut.
“Tetapi bagaimanapun juga, ayah mempunyai satu sikap, bahwa hubunganmu dengan
anak-anak muda itu, harus kau batasi pada hubungan persahabatan saja. Jika
hubungan itu terasa menjadi semakin dalam, maka banyak hal yang harus di amati.
Misalnya, keturunan. Watak dan tingkah laku, juga kemungkinan masa depan.
Mungkin kita bertemu dengan seseorang yang langsung kita kagumi. Tetapi kita
tidak tahu asal usulnya, kita tidak tahu sifat dan tabiatnya yang sebenarnya,
karena kita baru mengenal dalam waktu singkat. Sebab seseorang dapat saja
menyelubungi sifat-sifatnya yang sebenarnya untuk sesuatu maksud”
Wajah Widati menjadi tegang, la mengerti maksud ayahnya. Yang disebut-sebut itu
tentu anak-anak muda yang baru saja meninggalkan Kabuyutan itu, karena
sebenarnyalah Ki Buyut tidak tahu asal-usul anak-anak muda itu. Ki Buyutpun
tidak tahu sifat dan watak yang sebenarnya.
Bahkan Ki Buyut itu berkata lebih lanjut ”Aku dapat memberikan contoh yang jelas
Ireng. Sebelum anak-anak muda itu datang maka seorang tamu di Kabuyutan ini
merupakan orang yang kita kagumi. Sikapnya yang tegas penuh wibawa,
kepandaiannya bermain senjata dan nasehat-nasehatnya yang semula terasa sangat
berarti bagi kita disini. Tetapi ternyata sikap itu adalah sikap yang
terselubung. Sikap yang semu seperti salah seorang tetangga kita sendiri, yang
bersikap semu pula. Seolah-olah ia tidak lebih dari petani biasa seperti
kebanyakan penghuni Kabuyutan ini. Tetapi apa yang sebenarnya kita hadapi”
Widati menundukkan kepalanya. Ia mengerti maksud ayahnya dan iapun tidak
menganggap bahwa yang dikatakan oleh ayahnya itu keliru. Tetapi ada sesuatu yang
bergejolak didalam hatinya. Menurut pendapatnya, salah seorang dari kedua anak
muda itu adalah seorang anak muda yang mempunyai ciri yang terlalu baik. Ramah,
sopan dan mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Menurut seorang kawannya, anak muda
itu tentu tidak ada yang mengalahkan. Tetapi iapun melihat tirai yang
menyelubungi anak-anak muda itu. Mereka tentu tidak mengatakan tentang diri
mereka yang sebenarnya. Karena itu, tentulah beralasan bahwa ayahnya mempunyai
sikap tertentu.
Namun agaknya sulit bagi Widati untuk menghilangkan kenangannya terhadap anak
muda yang seorang. Yang nampaknya lebih lembut dari yang lain. Seolah-olah
segalanya mapan sebagaimana diidamkan pada seorang laki-laki muda. Tetapi Widati
sama sekali tidak menjawab. Sementara itu ayahnyapun berkata selanjutnya
”Seterusnya Widati, kau harus selalu berhati-hati menghadapi masa datang.
Kecuali kau harus dapat menjaga dirimu, maka kaupun harus memperhitungkan apa
yang kira-kira bakal terjadi atasmu”
Widati masih menunduk. Namun terasa degup jantungnya menjadi semakin cepat.
Dalam pada itu, sepeninggalan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, anak-anak Kabuyutan
itupun seolah-olah mendapat kesempatan untuk melihat kedalam diri sendiri. Dua
orang pengembara itu umurnya masih semuda dengan mereka. Tetapi keduanya sudah
memiliki ilmu yang luar biasa. Yang menggelitik hati anak-anak muda itu adalah
pertanyaan salah seorang dari kedua anak muda itu ”Jika kami mampu melakukannya,
kenapa kalian tidak? Apa bedanya?”
Anak-anak-muda itu memang berpikir untuk mencari jawabnya. Anak muda yang
menyebut diri mereka pengembara itu memang mengatakan, mungkin kesempatanlah
yang telah membuat tingkatan mereka demikian. Tetapi untuk seterusnya apakah
anak-anak muda itu tidak dapat berbuat sesuatu untuk menciptakan satu
kesempatan, meskipun tidak sama dan setingkat.
Karena itu, sepeninggalan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, anak-anak muda yang
mengantarkannya sampai ke gerbang padukuhan induk itupun berbicara diantara
mereka”
Kita harus mengembangkan apa yang telah diberikan oleh kedua anak-anak muda itu”
“Ya“ sahut yang lain ”kita dapat berlatih terus. Kita sudah menerima pokok-pokok
unsur yang diperlukan. Jika kita tidak terlalu bodoh, maka kita akan dapat
mengembangkannya meskipun serba sedikit”
“Kita akan mengembangkannya” jawab yang lain lagi. Bahkan katanya kemudian
”Bukan saja olah kanuragan. tetapi pesan-pesannya yang lainpun perlu kita
perhatikan. Kita memang prihatin terhadap hutan dilereng yang gundul itu. Kita
memang cemas menghadapi tanah longsor. Menghadapi banjir seperti yang
dikatakannya itu”
“Ya. Sementara itu kitapun cemas menghadapi kejahatan seperti yang pernah
terjadi. berkata yang lain lagi.
Dengan demikian, maka kehadiran mahisa Murti dan Manisi Pukat yang hanya
beberapa hari saja di Kabuyutan itu telah dapat menumbuhkan kesan yang mendalam,
terutama diantara anak-anak muda. Mereka merasa tersentuh, bahwa pengembara yang
asing bagi Kabuyutan mereka, telah berbuat terlalu banyak terhadap Kabuyutan itu
melampaui apa yang pernah dilakukan oleh anak-anak muda di padukuhan itu
sendiri”
Dengan demikian, maka anak-anak muda itupun telah berjanji kepada diri sendiri,
bahwa mereka akan lebih banyak bekerja bagi Kabuyutan mereka sendiri”
Bekas yang ditinggalkan oleh kedua pengembara itu memang terasa oleh Ki Buyut,
terutama dilingkungan anak anak mudanya. Bukan saja di bidang kewadagan dan ilmu
kanuragan, tetapi ternyata kehadiran mereka telah menggetarkan gejolak jiwa
anak-anak muda di padukuhan itu sendiri.
Meskipun demikian, ia tidak dapat bersikap seperti itu, tanpa penp amatan yang
lebih mendalam, apabila anaknya telah memandang anak muda itu dari segi yang
terlalu
khusus, justru karena anak gadisnya itu sudah menjelang gadis dewasa.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berjalan semakin jauh. Mahisa
Murti sendiri sama sekali tidak pernah berpaling. Justru Mahisa Pukatlah yang
sering berpaling kearah jalur jalan yang panjang yang telah dilewatinya.
Rasa-rasanya jalan itu panjang sekali sehingga malaslah untuk menjalaninya
kembali disatu saat mendatang.
Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat menutup mata. Mahisa Murti agaknya benar-benar
tertarik kepada seorang gadis yang bernama Widati, yang sehari-hari dipanggil
Ireng itu.
Sementara itu Ireng sendiri sedang menelungkup di pembaringannya. Meskipun ia
tidak menjawab sepatah katapun ketika ayahnya memberinya nasehat, tetapi ketika
ayahnya kemudian meninggalkannya, maka ia tidak dapat menahan lagi gejolak
perasaannya. Betapapun juga ia berusaha, namun titik-titik air matanya telah
mengembun dipelupuknya.
Anak muda yang meninggalkan halaman rumah itu tentu bukan orang-orang yang
bertabiat buruk. Seorang diantaranya benar-benar telah memikat hatinya. Namun
agaknya ayahnya kurang sependapat, karena beberapa hal seperti yang
dikatakannya. Terutama bahwa ayahnya sama sekali tidak mengenal asal-usul anak
muda itu.
“Tetapi apakah asal-usul itu mutlak harus ditelusuri?” bertanya Widati didalam
hatinya ”jika seseorang ternyata menunjukkan sikap, sifat dan watak yang baik
serta bertanggung jawab, apakah artinya asai-usul itu Sebaliknya, meskipun
menurut silsilahnya seseorang adalah orang yang terpandang, tetapi orang itu
tidak bersikap dan bersifat
terpuji apalagi tidak bertanggung jawab, apakah artinya nilai asal-usuinya itu?”
Namun demikian Widati tidak berani mengatakannya kepada ayahnya. Iapun tidak
berani pula mengatakannya kepada ibunya, karena menurut dugaannya, ibunya tentu
sudah mendengarnya dari ayahnya, apa yang telah terjadi atas dirinya serta sikap
ayahnya itu sendiri.
Karena itu. ia berusaha untuk membawa beban perasaan nya itu seorang diri.
betapapun beratnya
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memasuki satu daerah yang
mendebarkan. Mereka mulai melintasi lereng pegunungan yang menjadi gersang.
Jaiur-jalur air hujan yang mengalir dengan membawa lapisan tanah nampak semakin
lama agaknya menjadi semakin dalam, sementara pepohonan yang nampak menjadi
semakin jarang.
Mahisa Pukat memperhatikan lereng pegunungan itu dengan hati yang berdebaran.
Terbayang masa-masa mendatang yang panjang. Jika tanah di lereng ini
terus-menerus di hanyutkan oleh air hujan, maka akibatnya akan sangat terasa.
Bukan saja saat-saat air hujan itu mengalir tanpa kendali sehingga dapat
menimbulkan bahaya yang dahsyat di kaki pegunungan itu. namun akhirnya
pegunungan itu benar-benar akan terkelupas sehingga yang tersisa dalah seonggok
batu-batu padas raksasa yang kering dan tandus.
“Belum terlambat” desis Mahisa Pukat.
Mahisa Murti berpaling. Dengan ragu-ragu ia bertanya ”Kau berkata sesuatu?”
Mahisa Pukat mengangguk. Jawabnya ”Ya. Aku mengatakan bahwa usaha menyelamatkan
lereng
pegunungan ini masih belum terlambat. Mudah-mudahan Ki Buyut bersama-sama dengan
Kabuyutan tetangganya disekitar daerah ini akan berhasil mengatasi keadaan ini
dengan satu kesadaran baru”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu. Agaknya
angan-angannya masih saja meloncat kembali ke Kabuyutan yang baru saja
ditinggalkannya.
Mahisa Pukatpun tidak mengatakan apa-apa lagi. Merekapun kemudian melangkah
dengan cepat dilereng pegunungan melintas ke lembah disebelahnya.
Keduanya tidak menghiraukan matahari yang menjadi terik di puncak langit. Ketika
mereka menyuruk dibawah hutan yang tidak terlalu lebat, maka panasnya sinar
matahari tidak begitu terasa membakar kulit.
Meskipun demikian, ketika mereka sampai di pinggir sebuah sungai kecil yang
mengalirkan air yang jernih, maka merekapun memerlukan untuk berhenti barang
sejenak.
Namun Mahisa Murti itupun kemudian berkata ”Kita dapat beristirahat disini.
Disini banyak burung yang dapat kita tangkap dengan supit. sehingga kita tidak
akan kelaparan”
Mahisa Pukat memandang berkeliling. Memang terasa sejuknya udara. Namun ternyata
Mahisa Pukat itu menjawab “Apakah tidak lebih baik kita berjalan terus sampai
saatnya matahari terbenam?”
“Jika kita tidak lagi menemukan tempat sesejuk ini” berkata Mahisa Murti.
“Tentu bukan tempat yang sejuk yang penting bagi kita“ Jawab Mahisa Pukat “jika
demikian, maka kita tidak akan bergeser dari tempat ini”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya ”Baiklah. Nanti kita akan meneruskan
perjalanan”
Demikianlah keduanya memang melanjutkan pengembaraan mereka. Mereka berjalan
menyusuri lereng-lereng pegunungan, lembah lembah dan melintasi padang perdu.
Tetapi sekali-sekali merekapun berjalan melalui daerah berpenghunj yang padat
tanpa menarik perhatian.
Demikianlah mereka melakukan dari hari kehari. Padukuhan demi padukuhan mereka
lalui, sehingga dengan demikian mereka menjadi semakin jauh dari sebuah
Kabuyutan yang menyimpan seorang gadis yang bernama Widati. Seorang gadis yang
belum lama kembali ke rumah orang tuanya setelah beberapa lamanya ia berada di
rumah pamannya.
Tetapi berjalan terus meskipun dalam pengembaraan adalah menjemukan. Mereka
tidak menemukan pengalaman baru yang dapat meningkatkan pengamatan mereka
terhadap kehidupan, sehingga karena itu, maka mereka mulai berpikir lain.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata telah bersepakat untuk mencari tempat
pemberhentian. Mungkin di tempat itu mereka akan mendapatkan pengalaman yang
akan bermanfaat bagi hidup mereka kelak.
Ketika mereka mendekati sebuah padepokan yang besar, maka Mahisa Murtipun
berkata ”Apakah kita akan memasukinya?”
“Ada juga baiknya” berkata Mahisa Pukat ”mungkin kita akan mendapat kesempatan
barang sepekan untuk tinggal di padepokan ini. Beruntunglah kita jika selama
kita tinggal di padepokan itu, kita akan mendapatkan sesuatu”
“Aku setuju” berkata Mahisa Murti ”nampaknya padukuhan ini sebuah padukuhan yang
tenang. Disekitarnya terdapat sawah yang hijau dan pategalan yang subur”
“Mudah-mudahan di padukuhan ini tidak ada seorang gadis yang dapat menyentuh
dasar perasaan yang paling dalam” desis Mahisa Pukat.
“Ah” Mahisa Murti berdesah. Tetapi ia tidak berkata lebih lanjut.
Demikianlah keduanyapun kemudian memasuki jalur jalan menuju ke padukuhan itu.
Padukuhan yang nampak hijau subur dan bahkan terasa ketenangan menyentuh hati
kedua anak muda itu. Sejenak kemudian mereka telah memasuki lingkungan sebuah
padepokan. Ketika mereka sampai dj regol halaman yang luas. maka merekapun
menjadi termangu-mangu.
Sebelum mereka berbuat sesuatu, mereka melihat seorang cantrik yang tergesa-gesa
mendekat. Sambil membungkuk hormat, cantrik itupun Kemudian bertanya ”Ki Sanak,
apakah kepentingan Ki Sanak mendekati regol padepokan kami yang sunyi ini”
Mahisa Murtipun mengangguk pula. Katanya ”Ki Sanak. Kami adalah dua orang
bersaudara yang sedang mengembara. Kami melihat betapa sejuk dan damainya
lingkungan padepokan ini. sehingga rasa-rasanya kami ingin singgah barang
sejenak”
“O, tentu kami tidak akan berkeberatan. Marilah Ki Sanak, aku akan menyampaikan
kedatangan Ki Sanak kepada Empu Nawamula yang untuk sementara memimpin padepokan
ini”
Kedua anak muda itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu-ragu Mahisa Pukat “Kenapa
untuk sementara?”
“Ya. Hanya untuk sementara. Pemimpin padepokan kami yang sebenarnya sudah
meninggal dunia hampir setahun yang lalu. Empu Nawamula adalah adik satu-satunya
dari pemimpin padepokan kami yang telah meninggal itu. Karena tidak ada orang
lain, maka Empu Nawamula untuk sementara diserahi pimpinan padepokan ini,
sementara anak pemimpin padepokan kami yang telah meninggal itu sedang berguru
kepada seorang pertapa yang tidak ada duanya di tempat yang jauh. Jika ia
kembali kelak, maka ialah yang berhak untuk menggantikan kedudukan ayahnya yang
telah meninggal itu” jawab cantrik yang menemui mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan rendah hati Mahisa Murti
berkata “Ki Sanak Apakah kiranya kami diperkenankan untuk singgah barang satu
dua hari di padepokan ini.
“Tentu. Empu Nawamula adalah orang yang baik. Ia tentu tidak akan berkeberatan
untuk menerima kedatangan Ki Sanak berdua” jawab cantrik itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian telah dibawa oleh cantrik itu memasuki
padepokan. Sejak keduanya melangkah di halaman, terasa betapa tenangnya
kehidupan di padepokan itu. Di antara beberapa buah rumah yang terdapat di
padepokan itu terdapat pohon buah-buahan yang rimbun. Pohon jambu air yang
berbuah lebat. Manggis dan Srikaya yang berbuah pula. Agak menyudut, nampak
sebuah belumbang yang besar. Beberapa ekor angsa berenang diairnya yang
kehijauan.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Padepokan itu benar-benar merupakan
sebuah padepokan yang asri.
“Ki Sanak“ bertanya Mahisa Murti “apakah Empu Nawamula tidak mempunyai sebuah
padepokan tersendiri sebelum ia berada di padepokan ini?”
Cantrik itu menggeleng. Jawabnya “Empu Nawamula bukan seorang pemimpin padepokan
Ia tinggal disatu lingkungan yang kecil. Empu Nawamula tenggelam dalam
pekerjaannya bersama tiga orang cantriknya”
“Pekerjaan apa yang dilakukannya? bertanya Mahisa Murti.
“Empu Nawamula adalah seorang ahli membuat keris. Ia memang benar-benar seorang
empu” jawab cantrik itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun mengangguk-angguk. Sementara itu, Mahisa
Murtipun bertanya ”Apakah disini Empu Nawamula juga masih membuat keris?”
“Ya” jawab cantrik itu ”tiga orang pembantunya berada disini pula. Jika kau
melihat asap di kebun belakang yang agak jauh itu, disanalah Empu Nawamula
melakukan tugasnya. Meskipun Empu Nawamula bukan seorang Empu yang banyak
menghasilkan. Tetapi satu dua keris yang dibuatnya merupakan pusaka yang sangat
berharga”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu maka cantrik
itupun telah mempersilahkannya naik kependapa sambil berkata “Silahkan. Aku akan
menyampaikannya kepada Empu Nawamula”
Terima kasih” jawab Mahisa Murti” biarlah aku menunggu disini saja. Aku bukan
seorang tamu yang pantas. Kami berdua hanyalah pengembara yang ingin singgah
barang satu dua hari”
Cantrik itu tidak memaksanya. Dibiarkannya saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
duduk di tangga pendapa, karena mereka memang merasa bukan tamu tamu yang harus
mendapat penghormatan.
Sepeninggal cantrik itu. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang duduk di tangga
pendapa itupun sempat mengamati halaman padepokan yang luas tetapi bersih.
Sekali-sekali terdengar lenguh lembu di kandang di kebun belakang. Sementara itu
terdengar pula suara lesung dengan iramanya yang rampak. Agaknya beberapa orang
perempuan tengah menumbuk padi didekat lumbung padepokan itu.
Namun dalam pada itu. tiba-tiba saja Mahisa Murti berdesis Mahisa Pukat,
rasa-rasanya aku pernah mendengar nama Empu Nawamula. Dimana dan kapan, aku
masih belum berhasil mengingatnya.
“Ya. aku juga pernah mendengarnya. Mungkin pada saat-saat kita ikut ayah yang
sering memperjual belikan batu-batu berharga dan kadang-kadang membawa pula wesi
aji. Agaknya ayah memang pernah berhubungan dengan Empu Nawamula“ jawab Mahisa
Pukat.
“Ya” sahut Mahisa Murti dengan serta merta ”ayah memang pernah menemui seorang
Empu untuk memesan sebilah keris. Bukan untuk ayah sendiri, tetapi untuk Seorang
sahabatnya. Empu itu bernama Nawamula”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Katanya “Ya. Agaknya memang demikian. Jika
Empu itu melihat kita di sini. maka ia akan segera mengenal kita pula. Tetapi
apakah Empu itu bernama Nawamula?”
“Ya. Nawamula. Bukankah kau pernah mendengar nama itu? Tentu Empu Nawamula
adalah Empu yang pernah membual keris untuk ayah. Meskipun keris itu
kemudian disampaikan oleh ayah kepada sahabatnya yang memesannya. Aku sekarang
ingat dengan gamblang. Akupun ingat pula wajah Empu yang sejuk itu”
“Tetapi bagaimana dengan kita? Jika Empu itu mengenali kita?“ desis Mahisa
Pukat.
Sebelum keduanya menemukan pemecahan, terdengar langkah seseorang mendekat.
Ternyata cantrik yang semula mempersilahkannya itu datang pula kepada keduanya
sambil berkata Ki Sanak. Empu mempersilahkan kalian datang ke sanggar. Empu
sedang menyiapkan sebilah keris. Baru sesaat nanti. Empu dapat meninggalkan
pekerjaannya”
Keduanya ragu-ragu. Namun cantrik itu berkata pula “Marilah. Aku sudah
menyampaikan segalanya kepada Empu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat membantah lagi. Keduanyapun kemudian
mengikuti cantrik itu menuju ke bagian belakang padepokan.
Ketika mereka mendekati sebuah perapian yang terbuka, muka cantrik isu berkata
“Itu adalah sanggar khusus Empu Nawamula. Bukan sanggar untuk olah kanuragan.
tetapi sanggar khusus untuk melakukan pekerjaannya, membuat keris.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun keduanya tidak menjawab.
“Silahkan duduk Ki Sanak tantrik itu mempersilahkan sebentar lagi. Empu Nawamula
akan menemui kaiian berdua”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun dipersilahkan duduk di atas sehelai tikar
yang dibentangkan diserambi sebuah rumah kecil dihadapan sanggar Empu Nawamula.
Ketika cantrik itu kemudian meninggalkan mereka, maka Mahisa Murti itupun
kemudian berkata ”Benar. Empu itulah yang pernah kita kenal”
“Ya” Sahut Mahisa Pukat ”aku tidak lupa lagi”
“Apa boleh buat. Bukankah kita tidak berbuat apa-apa? Seandainya pada suatu saat
Empu itu bertemu dengan ayah dan mengatakan kehadiran kita di padepokan ini,
justru sekaligus memberikan kabar keselamatan kami kepada ayah” berkata Mahisa
Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Iapun tidak berkeberatan atas pengenalan mereka
terhadap orang yang untuk sementara memimpin padepokan yang sejuk itu.
Beberapa saat mereka menunggu. Namun akhirnya Empu Nawamula itu meletakkan
alat-alatnya. Kemudian menyeka keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Baru
kemudian Empu itu berpaling kearah kedua orang anak-anak muda yang duduk
diserambi menunggunya.
Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Kemudian iapun melangkah meninggalkan
perapiannya mendekati kedua orang anak yang sedang menunggunya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun serentak berdiri. Sambil membungkuk hormat
keduanya beringsut kesamping.
“Silahkan. Silahkan duduk anak-anak muda” Empu Nawamula mempersilahkan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun termangu-mangu. Namun ketika Empu Nawamulapun
duduk pula di atas tikar itu, maka keduanyapun telah duduk kembali.
Sejenak Empu Nawamula mengamati kedua orang anak muda itu. Kemudian katanya ”Aku
sudah tua ngger. Tetapi
rasa rasanya aku pernah mengenal kalian berdua. Tetapi mungkin aku keliru karena
aku sudah hampir menjadi pikun”
“Mungkin Empu benar” jawab Mahisa Murti ”kami berdua yang sedang mengembara,
tidak menduga, bahwa kami akan berjumpa dengan Empu disini”
“Jadi pengenalanku benar? Tetapi sebut, siapa namamu berdua?” bertanya Empu itu.
“Aku Mahisa Murti Empu dan ini saudaraku Mahisa Pukat” Jawab Manisa Murti.
Empu itu mengerutkan keningnya, la mencoba mengingat nama itu Namun Mahisa
Pukatlah yang kemudian menjelaskan “Kami adalah anak-anak laki-laki dari ayah.
Mahendra”
“O” Empu itu mengangguk-angguk “jadi kalian ariak Muhendra. Aku mengenalnya
dengan baik. Bahkan sudah seperti saudara sendiri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Ternyata Empu itu memang
mengenal ayah mereka, dan iapun pernah melihat keduanya pula.
Dalam pada itu. Empu itupun berkata “Aku ingat sekarang. Aku ingat kalian berdua
memang pernah mengikuti ayah kalian pergi ke gubugku. Tetapi tidak di padepokan
ini”
“Ya Empu” jawab Mahisa Murti ”karena itu. Kamipun tidak menyangka, bahwa kami
menjumpai Empu di padepokan ini”
“Adalah kebetulan sekali” jawab Empu Nawamula ”tetapi kemana sebenarnya kalian
akan pergi?”
“Kami sedang mengembara Empu. Kami tidak mempunyai tujuan tertentu. Kami hanya
ingin melengkapi pengalaman kami menginjak masa dewasa kami” jawab Mahisa Murti.
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Ketika seorang cantrik menyuguhkan minuman
panas dan beberapa potong makanan, maka Empu itupun telah mempersilahkan Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat untuk mencicipinya.
Sejenak kemudian pembicaraan merekapun telah berkernbang. Empu Nawamula telah
menanyakan keselamatan seluruh keluarga Mahendra. Kemudian menanyakan beberapa
hal tentang perjalanan kedua orang anak muda itu.
“Kalian telah membekali hidup kalian kelak dengan pengalaman yang akan sangat
berarti” berkata Empu Nawamula ”ternyata Mahendra mempunyai wawasan yang luas
atas masa depan anak-anaknya”
Kedua anak muda itu hanya menundukkan kepalanya. Sementara itu Empu Nawamula
berkata Anakmas berdua. Sebaiknya kalian berdua tinggal di padepokan ini untuk
satu dua pekan. Selama ini kalian telah menempuh jarak yang panjang. Sepekan dua
pekan akan dapat kalian pergunakan untuk sekedar beristirahat. Sementara itu.
kalian akan dapat menjadi kawan berbincang disini disamping para cantrik”
Adalah kebetulan sekali bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang memang ingin
beristirahat barang satu dua hari setelah menempuh perjalanan yang panjang.
Sementara itu Empu Nawamula telah menawarkan agar mereka berada di padepokan itu
barang satu dua pekan.
Karena itu. maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menolak. Bahkan
dengan terus-terang Mahisa
Murti berkata “Empu. sebenarnyalah kami berdua memang ingin menyatakan keinginan
kami untuk dapat berada di padepokan ini. Seandainya yang memimpin padepokan ini
bukan Empu. kami memang ingin mohon untuk tinggal barang satu dua hari. Tetapi
adalah kebetulan sekali, bahwa Empu yang berada di padepokan ini”
“Ya. Meskipun hanya untuk sementara. Pada saatnya aku harus menyerahkan
padepokan ini kepada yang berhak. Kemenakanku yang sekarang sedang berguru
ditempai yang jauh”
Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menyatakan kesediaannya
untuk tinggal di padepokan itu barang satu dua pekan. Dalam waktu singkat,
keduanya telah dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan di padepokan itu.
sehingga merekapun segera dapat luluh dalam kehidupan para cantrik.
Namun dalam pada itu, pada saat-saat tertentu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah duduk di pendapa padepokan itu untuk berbincang dengan Empu Nawamula pada
saat-saat senggangnya. Terutama di ujung malam. Dengan lampu minyak, mereka
berbicara tentang satu segi kehidupan meloncat kesegi kehidupan yang lain.
Namun akhirnya Empu Nawamula itupun sampai pula kepada persoalan padepokan itu
sendiri.
“Apakah pada suatu saat. Empu juga akan meninggalkan padepokan ini?“ bertanya
Mahisa Murti.
“Tentu ngger” jawab Empu Nawamula aku tidak akan tinggal disini seterusnya. Jika
kemenakanku itu kembali dari perguruannya maka padepokan ini akan aku serahkan
kepadanya”
“Kapan kemenakan Empu itu akan kembali“ bertanya Mahisa Pukat.
“Aku kurang pasti ngger” jawab Empu Nawamula “tetapi pada saat-saat tertentu ia
sering mengunjungi padepokan ini Kadang-kadang sebulan sekali ia kembali dan
tinggal di padepokan ini sekitar dua tiga hari. Kemudian ia kembali ke
perguruannya. Namun sementara itu ia minta agar aku tetap tinggal disini”
“la akan kembali dengan ilmu yang mumpuni” berkata Mahisa Pukat “bukankah itupun
satu usaha untuk membekali hidupnya kelak?”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya ”Tetapi ia bukan
anakku sendiri. Jika ia anakku, maka aku akan berusaha untuk menasehatinya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Terasa pada nada kata-kata
Empu Nawamula, seolah-olah ada penyesalan atas sikap kemenakannya itu”
“Angger berdua” berkata Empu itu selanjutnya “aku sendiri tidak mempunyai anak.
Ketika isteriku meninggal, rasa-rasanya hidup ini menjadi sepi. Aku tidak ingin
kawin lagi dengan perempuan yang manapun juga. Namun akibatnya, aku benar-benar
tidak mempunyai keturunan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ingin mendengar serba sedikit tentang kemenakan
Empu Nawamula. Tetapi mereka tidak berani menanyakannya. Karena itu. mereka
hanya dapat menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Empu itu.
Tetapi Empu itu berkata tentang dirinya sendiri Terasa kesepian kadang-kadang
mencengkam. “Tetapi aku memang sudah berniat demikian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sekilas. Mereka melihat,
terbersit satu perasaan yang kurang mapan di hati Empu itu.
Adalah diluar sadarnya, bahwa Mahisa Murti kemudian berkata ”Empu, kemanakan
Empu itu akan dapat Empu anggap sebagai anak sendiri”
Empu Nawamula itu menggeleng. Katanya ”Ada bedanya ngger. Jika ia anakku
sendiri, aku akan dapat memberinya arah”
“Apa tidak demikian dengan kemanakan Empu itu?”' bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba
saja.
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Bukan maksudku untuk mengeluh.
Kau berdua adalah anak sahabatku yang menurut pengamatanku, kalian telah dapat
berpikir dewasa. Karena itu. aku kira kau akan dapat mengatakan sesuatu yang
akan dapat mengurangi beban perasaanku.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu mangu sejenak Sementara itu Empu Nawamula
itupun berkata selanjinnya ”Ada sesuatu yang kurang sesuai dengan perasaanku.
Kemanakanku itu telah terjerumus kedalam satu perguruan yang menurut pendapatku,
kurang menguntungkan bagi masa depannya”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terkejut. Dengan ragu-ragu Mahisa Murti bertanya
”Perguruan yang bagaimanakah yang Empu maksud? Seandainya perguruan itu bukan
perguruan yang baik, apakah ayahnya pada masa hidupnya tidak pernah
mencegahnya?”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Itulah yang selama ini
memberati perasaanku. Saudara tuaku, ayah anak itu, sudah tidak dapat
mencegahnya lagi
Setiap kali keduanya berselisih, sehingga akhirnya ayah anak itu tidak lagi
mempunyai harapan bagi masa depannya yang terasa sangat gelap. Tingkah laku anak
laki lakinya mempercepat surutnya kesehatannya. Namun agaknya segalanya memang
sudah menjadi guratan takdir. Saudaraku itu meninggal hampir setahun yang lalu
dengan beban yang berat diliatinya karena tingkah laku anaknya. Sebelum
meninggal ia menitipkan padepokan ini beserta anaknya kepadaku. Tetapi apa yang
dapat aku lakukan atas anak itu? Aku dapat mengatur padepokan ini sementara anak
itu belum bersedia memimpinnya. Tetapi untuk mengatur anak itu sendiri, aku sama
sekali tidak mampu. Jangankan aku, ayahnyapun tidak dapat berbuat apa-apa”
“Apakah sebenarnya yang telah dilakukan oleh anak itu. Empu? bertanya Mahisa
Pukat
“Ia berguru kepada seorang pertapa ditempati yang jauh. Pertapa yang menganut
aliran yang kurang dapat dipertanggung-jawabkan” berkata Empu Nawamula.
“Tetapi kenapa ia dapat menjadi murid seorang pertapa yang jauh itu?” bertanya
Mahisa Murti.
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam Katanya “Semuanya terjadi diluar
pengamatan. Nampaknya seorang pertapa dari aliran yang tidak banyak disukai itu
sedang mengembara. Ketika dijumpainya kemanakanku itu. Ia mulai tertarik. Dengan
segala macam cara diluar pengetahuan saudaraku, pertapa itu telah memikat
kemanakanku untuk menjadi muridnya, sehingga akhirnya hal itu terjadi tanpa
dapat dicegah lagi”
“Tetapi apakah tanda-tanda bahwa pertapa itu menganut aliran yang kurang
disukai?” bertanya Mahisa Murti
“Cara-cara pertapa itu memperoleh kekuatan” jawab Emppu Nawamula ”pertapa itu
menganut aliran seperti
yang pernah terdapat di daerah Selatan. Satu aliran yang pernah juga
diceriterakan oleh ayahmu. Mungkin kakakmulah yang pernah menemui satu aliran
yang mempergunakan darah sebagai satu cara untuk menumbuhkan kekuatan di dalam
dirinya”
“Darah?” bertanya Mahisa Pukat dengan serta merta.
“Ya. Meskipun pada tahap pertama pertapa itu mempergunakan darah seekor
binatang. Sebenarnyalah bahwa dengan minum darah kekuatan seseorang dapat tumbuh
dengan cepat. Bahkan mungkin melampaui kekuatan orang kebanyakan. Apalagi
dilambari dengan ilmu kanuragan. Namun minum darah bukan kelajiman yang pantas
dianut. Apalagi dalam perkembangannya kemudian. Pada saatnya untuk mencapai
puncak kemampuannya, ilmu yang demikian akan sampai pada satu pilihan, darah
sesama”
Terasa tengkuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun meremang. Mereka memang
pernah mendengar dari Mahisa Bungalan tentang satu aliran yang membasahi diri
mereka dan senjata-senjata mereka dengan darah manusia disaat bulan bulat
dilangit ”Mengerikan” desis Mahisa Pukat.
“Itulah yang membuat ayah anak itu menjadi sangat prihatin. Tetapi ternyata anak
itu sudah tidak dapat dicegah lagi. Ia lebih percaya kepada gurunya daripada
kepada ayahnya sendiri. Usaha ayahnya untuk menitipkan anak itu kepadaku, sama
sekali tiak berhasil. Menurut anak itu. kemampuanku sama sekali tidak berani
dibanding dengan pertapa yang menjadi gurunya itu. Bahkan menurut kemanakanku
itu, gurunya telah sanggup untuk membuatnya menjadi manusia yang paling kuat
didunia. Manusia yang memiliki ilmu tertinggi diantara sesamanya” berkata Empu
Nawamula.
“Tetapi apakah memang demikian Empu?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku tidak tahu ngger. Tetapi aku yakin, bahwa pertapa itu tidak akan lebih dari
manusia biasa yang mempunyai batas kemampuan” jawab Empu itu ”aku tidak yakin
akan adanya kekuatan yang tidak terkalahkan didunia ini”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Empu Nawamula
melanjutkan ”Selebihnya pertapa itu telah menyediakan sebuah pusaka yang tidak
ada duanya didunia” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih saja mengangguk-angguk.
Namun demikian, mereka mulai dapat membayangkan, apa yang sebenarnya tersimpan
di belakang padepokan yang nampaknya tenang dan damai. Namun yang pada saatnya,
padepokan itu akan menjadi sumber angin prahara yang sulit dikendalikan.
“Angger berdua” berkata Empu itu lebih lanjut ”tingkah laku anak itu benar-benar
telah menyusahkan seluruh keluarganya. Bukan saja karena ia telah menyadap ilmu
yang sesat. Tetapi tingkah lakunya kadang-kadang memang sangat menyakitkan hati.
Untunglah, bahwa ia masih mempunyai rasa segan kepadaku. Betapa tinggi ilmunya,
ia merasa bahwa ia masih belum dapat mengimbangi ilmuku. Karena itu, maka ia
masib menghormatiku menilik sikap lahiriahnya. Aku tidak tahu, apa yang
tersimpan didalam hatinya. Tetapi menilik sikapnya kepada ayahnya dan
kadang-kadang melihat gelagat dan tatapan matanya, ia justru mendendamku. Karena
itu, maka pada suatu saat ia akan datang mengusirku. Mungkin dengan kekuatannya
sendiri, tetapi mungkin ia akan mendapat pertolongan gurunya”
“Dan Empu akan bertahan?” bertanya Mahisa Pukat
“Jika ia berkata kepadaku dengan cara yang wajar, aku akan pergi. Padepokan ini
memang padepokannya. Tetapi jika ia datang dan dengan sikapnya yang gila
mengusir aku seperti mengusir anjing liar, maka aku akan memilih mati disini”
jawab Empu Nawamula. Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa
Murti bertanya ”Apakah ada tanda-tanda bahwa ia akan bersikap demikian?”
“Mungkin aku terlalu berprasangka ngger. Tetapi aku merasa bahwa ia akan datang
dan mengusir aku seperti mengusir seekor anjing” jawab Empu Nawamula ”karena itu
ngger. Aku telah berpuasa seratus hari sebelum aku mulai membuat keris yang
sedang aku kerjakan itu. Aku membuat keris yang menurut niatku, akan menjadi
keris yang mempunyai tuah yang berarti. Sedangkan ujudnya, memang mempunyai
kelebihan dari keris-keris yang pernah aku buat sebelumnya. Keris ini jauh lebih
besar dari keris kebanyakan”
Mahisa-Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tetapi mereka dapat merasa,
betapa ketegangan sebenarnya mencengkam padepokan itu. Namun agaknya Empu
Nawamula berhasil menyembunyikan gejolak perasaannya, sehingga sama sekali tidak
mempengaruhi para cantrik, sementara kemanakannya yang datang pada hari-hari
tertentu itupun tidak berbuat sesuatu yang dapat menimbulkan keresahan, karena
ia masih mempunyai perasaan segan kepada pamannya.
Namun sebenarnyalah bahwa ketenangan itu adalah ketenangan yang semu. Sementara
itu. tiba-tiba saja Empu Nawamula itu berkata, “Angger berdua, sebenarnya aku
tidak perlu mengatakan semuanya itu kepadamu. Tetapi bahwa kalian adalah anak
Mahendra. tiba-tiba saja tumbuh kepercayaanku kepada
kalian, sehingga dengan demikian, aku sudah mengurangi beba perasaanku. Selama
ini seolah-olah tidak ada orang yang pantas aku ajak berbincang. Tiga orang
pembantuku, memang orang-orang yang pantas diajak untuk berbicara. Tetapi mereka
adalah bagian dari aku sendiri, sehingga meskipun aku telah mengatakan kepada
mereka, namun rasa-rasanya beban itu masih saja harus aku pikul betapapun
beratnya. Jika hal ini aku katakan kepada kalian, bukan maksudku, bahwa kalian
harus ikut berprihatin karenanya. Anggaplah bahwa kalian cukup mengetahuinya
saja, karena masalahnya tidak akan menyangkut kalian sama sekali”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murti berkata
“Seandainya aku mempunyai kesempatan untuk membantu, maka aku dan saudaraku
tentu akan membantu. Tetapi kami berdua adalah orang-orang jang tidak berarti”
Empu Nawamula tersenyum. Katanya ”Perbedaan yang sudah aku duga. Kalian tentu
akan mengatakan demikian. Tetapi tidak dengan kemanakanku itu. Ia akan berkata
bahwa ia adalah orang yang paling berarti”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Sementara Mahisa Pukat menyambung ”Kami
hanya mengatakan yang sebenarnya”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Tiba-tiba ia berkata “Sikap kalian telah
menggelitik aku untuk mengukur kemampuan kalian. Benar-benar hanya untuk
mengukur. Aku kenal Mahendra, karena itu aku mempunyai alasan untuk mengetahui
ilmu kalian berdua”
Wajah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi tegang Sekejap mereka saling
berpandangan. Sambil mengangguk hormat Mahisa Murti kemudian berkata ”Tentu
tidak akan
terjadi Empu. Kami berdua tidak akan berani melakukannya. Sebenarnyalah kami
berdua adalah orang-orang yang tidak berilmu. Jika kami mengembara. bahwa kami
ingin melihat dunia ini dengan sikap paling dasar”
Tetapi Empu Nawamula tertawa pendek. Katanya sikapmu menambah keyakinanku, bahwa
Mahendra sudah membekali kalian cukup banyak Anak-anak muda. Bersiaplah. Kita
akan pergi ke sanggar. Mumpung hari telah semakin malam, agar para cantrik tidak
menjadi heran. Kalian tidak usah berpura-pura lagi kepadaku. Tetapi kepada para
cantrik, kau dapat berbuat demikian”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mempunyai kesempatan untuk membantah lagi.
Mereka harus memenuhi permintaan Empu Nawamula. Bahkan akhirnya keduanya berkata
didalam hatinya “Aku kira tidak akan ada ruginya. Justru akan dapat menambah
pengalaman saja”
Demikianlah. Empu Nawamula telah membawa kedua orang anak muda itu kedalam
sanggar. Adalah diluar dugaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, bahwa tiga orang
pembantu Empu Nawamula itu telah hadir pula. Agaknya mereka melihat tiga orang
itu pergi ke Sanggar.
Dengan wajah bertanya-tanya kedua anak muda itu memandang Empu Nawamula. Karena
keduanya tidak tahu, apakah ketiga orang itu termasuk cantrik seperti yang
dimaksudkan oleh Empu Nawamula.
Agaknya Empu itu mengetahui isi hati kedua anak muda itu. Maka katanya
”Anak-anak. Ketiga orang itu adalah pembantu-pembantuku. Dalam olah kanuragan
mereka adalah murid-muridku. Kalian tidak usah mencemaskannya. Mereka dapat
dipercaya sepenuhnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun mengangguk-angguk. Sehingga dengan
demikian, maka mereka tidak menghiraukan lagi ketiga orang yang juga telah
berada dalam sangggar.
“Kita akan mencoba saling menjajagi” berkata Empu Nawamula “menurut
pengertianku, Mahendra adalah orang yang pilih tanding”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Sementara itu Empu itupun berkata
”Bersiaplah. Kita akan segera mulai”
Ternyata bahwa Empu Nawamula sendirilah yang akan langsung menjajagi kemampuan
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan ketiga muridnya.
“Siapakah yang pertama?” bertanya Empu Nawamula.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Baru sesaat kemudian
Mahisa Murti berkata ”Baiklah, aku yang akan memenuhi perintah Empu yang
terdahulu”
Empu itu mengangguk-angguk. Namun iapun kemudian segera mempersiapkan diri.
Sejenak kemudian, maka keduanyapun mulai saling menjajagi. Namun Empu Nawamula
telah berhasil memancing kemampuan Mahisa Murti meningkat dengan cepat.
Sebenarnyalah Empu Nawamula benar-benar ingin menjajagi kemampuan anak muda itu
sampai tuntas. Karena itu. maka iapun telah melakukannya dengan sungguh-sungguh,
sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi ragu-ragu. apakah Empu Nawamula
hanya sekedar untuk memancingnya saja untuk sampai kepuncak ilmunya.
Namun agaknya Empu Nawamula tidak memaksa Mahisa Murti bertempur sampai ke aji
pamungkasnya. Ketika Empu itu sudah mendapat gambaran tentang kemampuan anak
muda itu. maka iapun mulai mengendorkan serangan-serangannya, sehingga akhirnya
berhenti sama sekali.
“Terima kasih” berkata Empu Nawamula ”aku tidak perlu melakukan hal yang sama
atas angger Mahisa Pukat, karena agaknya ilmu kalian berimbang”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnyalah jika ia harus bertempur
pula, maka keadaannya tidak akan jauh berbeda dari yang sudah terjadi.
Dalam pada itu, maka Empu Nawamula berkata ”Aku memang sudah yakin, bahwa kalian
memiliki ilmu yang luar biasa. Aku mengerti, bahwa diatas kemampuan yang nampak
ini kalian tentu masih mempunyai ilmu pamungkas yang benar-benar dapat
dipercaya. Dengan demikian, maka ternyata bahwa kemampuan kalian berada diatas
kemampuan murid-muridku, dalam olah kanuragan”
Mahisa Murti mengusap keringatnya sambil berkata “Sekedar sebagai bekal
perjalanan Empu. Sebenarnyalah bahwa ilmu yang kami kuasai tidak berarti
apa-apa”
“Kalian berdua sungguh sungguh mengagumkan ngger” berkata Empu Nawamula “aku
sudah kagum atas kemampuan ilmu kalian, selebihnya kalian adalah anak-anak muda
yang rendah hati. Dalam usia kalian yang masih sangat muda. kalian sudah
menguasai ilmu yang tinggi. Namun kalian sama sekali tidak menjadi sombong dan
kehilangan pegangan sebagaimana anak-anak muda seumur kalian. Murid-muridku yang
lebih tua dari kalian, masih
harus berlatih untuk beberapa tahun lagi. apabila mereka ingin menyejajarkan
diri dengan kalian”
“Ah. Empu terlalu memuji” desis Mahisa Murti.
“Tidak ngger. Aku tidak sekedar memuji. Tetapi bahwa kalian berdua memiliki
bekal yang cukup, sebenarnyalah kalian akan dengan tenang berada di padepokan
ini. karena apabila pada suatu saat kalian terbentur kepada satu keadaan yang
tidak dikehendaki, maka kalian akan dapat mengatasinya” berkata Empu Nawamula.
Kedua anak muda itu termangu-mangu. Namun Mahisa Murtipun kemudian berkata,
”Empu, jika sekiranya kehadiran kami akan dapat menumbuhkan persoalan, tentu
yang Empu maksud apabila kemanakan Empu itu kebetulan pulang, maka biarlah kami
meninggalkan padepokan ini. Biarlah kami meneruskan pengembaraan kami sambil
melihat-lihat lingkungan yang belum pernah kami kenal sebelumnya”
“Tidak ngger. Jangan pergi. Yang aku maksudkan, hanya apabila kalian dalam
keadaan terpaksa. Tetapi tentu tidak harus terjadi demikian” jawab Empu Nawamula
”sudah aku katakan, bahwa kalian dapat menyembunyikan keadaan angger yang
sesungguhnya terhadap para cantrik dan sudah tentu terhadap kemanakanku itu
apabila kebetulan ia datang. Hanya dalam keadaan terpaksa, jika angger berdua
harus melindungi jiwa kalian, maka aku tidak akan dapat menghalangi apabila
angger terpaksa membela diri. Aku tidak akan menyalahkan angger berdua, meskipun
kalian harus melawan kemanakanku sendiri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi pandangan wajah mereka
menunjukkan keraguan. Sehingga karena itu maka Empu Nawamulapun berkata
”Percayalah, bahwa aku berkata sebenarnya”
“Terima kasih Empu” jawab Mahisa Murti ”jika demikian, maka biarlah kami di
padepokan ini barang dua pekan”
“Jangan kau batasi dengan dua pekan” jawab Empu Nawamula ”kau dapat berada
disini lebih lama lagi. Kau akan hidup sebagaimana para cantrik. Aku lihat
kalian telah berusaha menyesuaikan diri. Kau akan mendapat kesempatan untuk
melihat bagaimana aku membuat keris. Terutama kerisku yang terakhir ini.
Selebihnya, kalian akan menjadi kawan berlatih dari murid-muridku dan aku
sendiri”
Pernyataan Empu Nawamula yang terakhir itulah yang lebih menarik bagi Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat. Dengan demikian mereka akan mengenal satu cabang
perguruan lain dari yang pernah mereka kenal. Apalagi karena mereka telah
mendapat tuntunan, baik dari Mahisa Agni maupun dari ayah mereka Mahendra dan
Witantra, bagaimana mereka harus memperbandingkan ilmu. Merekapun telah berhasil
meluluhkan unsur-unsur yang ada didalam cabang ilmu Witantra dan ayah mereka
Mahendra, sementara mereka menyadap ilmu dari Mahisa Agni. Bahkan sampai pada
ilmu puncak yang berbedapun dapat pula mereka kuasai dengan imbangan yang mapan
dan seolah-olah tidak ada persoalan yang harus dipecahkan didalam penguasaannya.
Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar telah tertarik
untuk tinggal lebih lama lagi. Pada hari-hari berikutnya, mereka justru hampir
melupakan kemanakan Empu Nawamula yang semula mereka anggap akan dapat
menimbulkan persoalan jika ia datang. Namun kemudian Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat telah menempatkan diri mereka sebagaimana para cantrik sehingga seandainya
kemanakan Empu Nawamula itu
benar-benar datang, ia tidak akan menghiraukan kedua anak muda itu lagi,
sebagaimana ia tidak menghiraukan para cantrik yang lain.
Namun dalam pada itu, sebenarnyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat
kesempatan untuk berlatih dengan ketiga orang pembantu Empu Nawamula.
Ternyata bahwa ketiga orang itupun memiliki ilmu yang tinggi meskipun dengan
rendah hati Empu Nawamula mengatakan, bahwa ilmu mereka jauh berada dibawah
tataran ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Tetapi yang paling menarik bagi
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah kesempatan yang diberikan oleh Empu
Nawamula kepada kedua orang anak muda itu untuk berlatih langsung bersamanya.
Dalam beberapa hal, terasa oleh kedua orang anak muda itu, bahwa sebenarnyalah
Empu Nawamula berniat baik terhadap mereka. Ternyata bahwa Empu Nawamula bukan
sekedar berlatih bersama, tetapi dalam beberapa hal Empu Nawamula telah
memperkenalkan mereka dengan unsur-unsur baru yang dapat mengisi kekurangan
mereka.
“Anak-anak” berkata Empu Nawamula pada saat mereka berada di sanggar kemudaan
“kalian telah memberikan gairah kepadaku untuk bekerja lebih keras. Namun lebih
dari itu, kalian berdua memang sangat menarik perhatianku lebih dari
murid-muridku sendiri. Mereka telah lewat usia dewasanya. Karena itu, maka
rasa-rasanya peningkatan ilmu mereka tidak akan dapat bergerak secepat kalian
yang sedang tumbuh. Karena itu. sebenarnyalah, aku ingin menitipkan sesuatu
kepada kalian, agar apa yang sudah aku dapat selama ini tidak begitu saja
dilupakan orang. Meskipun aku tahu, bahwa kemampuanku tidak akan melampaui
ayahmu Mahendra yang perkasa itu, namun dengan meniupkan unsur-unsur
yang ada didalam jalur ilmuku, maka serba sedikit bagian-bagian yang dapat kau
pergunakan itu akan tetap hidup bersama ilmu yang telah kau kuasai lebih dahulu”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menundukkan kepalanya. Apalagi ketika Empu
Nawamula mengatakan ”Anak-anak muda, sebenarnya kemampuan daya serap
murid-muridku tidak setajam kalian berdua. Karena itu, bagaimanapun aku berbuat
bagi mereka, namun tingkat ilmu mereka tidak akan dapat mengimbangi kemampuan
kalian berdua”
“Tetapi mereka juga berilmu tinggi” berkata Mahisa Pukat.
“Tetapi mereka sudah terlalu sulit untuk maju dengan cepat” berkata Empu
Nawamula ”meskipun aku tidak pernah berputus-asa. Aku tetap meningkatkan
kemampuan mereka sesuai dengan kemampuanku sendiri. Namun yang aku cemaskan,
bahwa sebelum aku selesai, maka kesempatanku telah patah, karena aku sadar,
bahwa umur manusia itu tetap terbatas”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Mereka melihat
kecemasan seorang guru yang kurang puas terhadap kerjanya sendiri atas
murid-muridnya. Sehingga dengan demikian maka dengan tidak langsung, maka Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat telah diterima menjadi murid Empu Nawamula itu pula.
Meskipun seperti yang dikatakan oleh Empu itu, bahwa ilmunya memang tidak
melampaui Mahendra, Witantra dan Mahisa Agni, namun ada beberapa hal yang dapat
mengisi bagian-bagian dari ilmu yang sudah dikuasai oleh Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Sehingga dengan demikian, maka kedua anak muda itupun merasa sangat
berterima kasih kepada Empu Nawamula yang merasa hidupnya sangat sepi disaat
saat tertentu.
Namun dalam pada itu, padepokan itu sendiri sama sekali tidak mengalami
perubahan suasana. Tenang dan terasa sejuk.
Sementara itu. Empu Nawamula sendiri, merasa sangat berbahagia bertemu dengan
anak-anak muda yang sangat menarik baginya. Sikapnya dan tingkah lakunya. Dengan
menilik sikap dan tingkah laku, maka Empu Nawamula dapat membaca sifat dan watak
anak-anak muda itu.
Dalam pada itu. akhirnya Empu Nawamula telah menumpahkan segala macam ilmunya
kepada kedua anak muda itu. Seperti yang diduganya, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat ternyata lebih cepat menangkap dan menyadap ilmunya daripada ketiga murid
Empu itu sendiri Meskipun demikian, seperti yang dikatakannya. Empu Nawamula
tidak jemu-jemunya berusaha untuk meningkatkan ilmu ketiga orang muridnya yang
telah sekaligus menjadi pembantunya. Tetapi yang dicapai oleh murid-muridnya itu
tidak sejauh yang dapat dicapai oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Namun ketiga orang murid Empu itu sama sekali tidak menjadi sakit hati ketika
Empu Nawamula berterus terang kepada mereka. Dengan hati-hati Empu itu berkata
”Bukan maksudku mengkesampingkan kalian setelah kedua orang anak muda itu hadir
di padepokan ini. Tetapi aku ingin segera mewariskan ilmuku sampai tuntas. Jika
terjadi sesuatu dengan aku kemudian, maka aku tidak lagi menyembunyikan sesuatu.
Yang aku wariskan adalah utuh seperti yang aku miliki. Aku yakin bahwa dengan
demikian maka ilmu yang aku turunkan nilainya tidak akan susut, justru akan
semakin meningkat. Aku akan sangat bergembira jika kalian dapat menyelesaikan
usaha kalian
untuk menyadap ilmuku dengan baik. Tetapi seandainya sebelum kalian selesai, aku
tidak lagi dapat menuntunmu karena sesuatu hal, maka aku berharap bahwa
anak-anak muda ini akan dapat membantumu. Aku akan memberikan petunjuk kepadamu,
dima-na kalian harus mencarinya, karena ayahnya adalah sahabatku yang baik”
Ketiga orang murid Empu Nawamula itu mengangguk-angguk. Namun mereka merasa,
bahwa mereka seolah-olah sudah sampai pada puncak kemampuan mereka untuk
menyadap tingkat ilmu yang lebih tinggi, sehingga kemajuan merekapun serasa
sangat lambat. Agak berbeda dengan anak-anak muda yang sudah berbekal ilmu itu.
Mereka seolah-olah dapat menyerap dengan cepat dan kemudian menguasainya.
Namun dengan demikian ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat
segera meninggalkan padepokan itu. Dua pekan telah lewat. Tiga pekan, empat
pekan, bahkan dua bulan telah lampau. Keduanya tetap berada di padepokan itu
untuk menerima tuntunan ilmu dari Empu Nawamula. Dengan ilmu itu kedua anak muda
itu dapat melengkapi ilmunya sehingga keduanya seolah-olah telah menjadi semakin
meningkat. Pengalaman mereka dalam kanuragan menjadi semakin banyak sehingga
dengan demikian maka keduanyapun mampu mengembangkan dasar ilmu yang mereka
terima dari Mahisa Agni, Mahendra dan Witantra.
Dalam pada itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, seolah-olah telah tenggelam
didalam kesibukan di padepokan itu. Namun demikian, kegiatan yang dilakukannya
itu masih saja selalu tersembunyi dari pengamatan para cantrik kebanyakan. Hanya
tiga orang pembantu Empu Nawamula itulah yang tahu, siapa sebenarnya Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat.
Meskipun kedua anak muda itu dalam kehidupan mereka sehari-hari berada diantara
para cantrik, namun ternyata bahwa mereka berada dalam satu tataran yang jauh
berbeda. Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih tetap berbaur dengan mereka.
Jika para cantrik itu menerima tuntunan kanuragan, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatpun ikut pula berlatih bersama mereka. Keduanya berusaha untuk dapat
menunjukkan kemampuan yang sama dengan tataran para cantrik itu. Bagaimanapun
juga, ketiga orang pembantu Empu Nawamula itu kadang-kadang merasa segan pula
bahwa diantara para cantrik yang harus dibimbingnya itu terdapat Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat yang sebenarnya memiliki kemampuan melampaui mereka sendiri.
Dalam usaha mewariskan ilmunya. Empu Nawamula telah bekerja dengan keras di
malam hari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun rasa-rasanya telah dibebani satu
kewajiban untuk menerima uluran ilmu yang sangat berarti bagi mereka. Karena
itu, maka merekapun telah bekerja sangat keras untuk dapat menanggapi keinginan
Empu Nawamula dan harapan bagi mereka berdua itu sendiri.
Namun bagaimanapun juga. Empu Nawamula akhirnya merasa puas dengan Usahanya.
Sebagian besar ilmunya telah berhasil diwariskan kepada Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Empu Nawamula sadar, bahwa dengan demikian ilmunya tidak akan dapat
dipisah-pisahkan secara murni lagi pada kedua anak muda itu. Tetapi Empu
Nawamula tidak menyesal. Apalagi setelah lebih dari dua bulan ia bergaul dengan
kedua orang anak muda yang mempunyai sifat yang yang menarik baginya.
Meskipun demikian, pada saat-saat tertentu, Empu Nawamula masih saja
digelisahkan oleh sifat dan watak kemenakannya. Pada suatu saat ia akan datang
ke
padepokan itu. Biasanya anak itu tidak berjarak terlalu lama telah datang untuk
menengok padepokan yang kelak akan dipimpinnya.
Dengan berbagai pesan. Empu Nawamula mempersiapkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
agar kehadiran mereka tidak akan menimbulkan persoalan jika kemenakannya itu
datang. Kedua anak muda itu akan menjadi seolah-olah cantrik kebanyakan diantara
para cantrik yane lain.
Meskipun bagaimanapun juga, terasa juga perbedaan diantara para cantrik yang
lain dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dalam hubungan mereka dengan Empu
Nawamula. Namun hal ini diterima dengan wajar ketika Empu Nawamula
memberitahukan kepada para cantrik, bahwa perlu diadakan bimbingan khusus bagi
kedua anak muda yang datang kemudian itu oleh ketiga orang pembantu Empu
Nawamula agar kemampuannya dalam olah kanuragan dapat segera menyusul dan
kemudian meningkat bersama-sama dengan para cantrik yang lain. Namun dalam pada
itu, setelah untuk waktu yang lebih lama dari kebiasaannya, kemanakan Empu
Nawamula itu tidak datang ke padepokan, maka pada suatu hari, tiba-tiba saja ia
telah muncul di regol halaman bersama dengan dua orang saudara seperguruannya.
Kedatangannya disambut oleh para cantrik dengan penuh hormat. Namun bukan karena
mereka merasa bersenang hati atas kehadiran anak muda itu, tetapi semata-mata
karena para cantrik menjadi ketakutan oleh kehadirannya seperti setiap kali ia
kembali.
“Hati-hatilah dengan anak muda itu” pesan seorang cantrik kepada Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat” putera pemimpin padepokan ini yang telah meninggal setahun
yang lalu, adalah seorang anak muda yang keras hati dan
lebih dari itu, ia mempunyai kebiasaan yang kurang kami senangi”
“Kebiasaan apa?” bertanya Mahisa Murti.
“Tangannya terlalu ringan. Ia sering memukul kawan-kawan kami yang membuat
kesalahan yang barangkali tidak berarti apa-apa” jawab cantrik itu.
“Tetapi pada saatnya ia akan memimpin padepokan ini” berkata Mahisa Pukat.
“Itulah yang kami takuti. Dibawah pimpinan Empu Nawamula padepokan ini terasa
tenang dan sejuk” jawab cantrik itu ”tetapi pada suatu saat padepokan ini tentu
akan menjadi neraka”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Menurut ceritera para cantrik
dan Empu Nawamula sendiri, maka keduanya sudah dapat membayangkan, sifat dan
tabiat anak muda kemanakan Empu Nawamula itu.
Dari hari pertama anak muda itu tidak berbuat apa-apa. Ia hanya berbincang saja
dengan Empu Nawamula di pendapa. Sementara itu anak muda itu justru kelihatan
ramah terhadap beberapa orang cantrik, bahwa mencoba bergurau pula dengan
mereka.
“Nampaknya ia baik” berkata Mahisa Murti kepada seorang cantrik.
“Kadang-kadang ia memang suka bergurau” jawab cantrik itu ”tetapi ia tidak dapat
ditebak. Jika kami berusaha untuk menanggapinya, kadang-kadang ia justru menjadi
marah dan tiba-tiba memukul kami. Justru di kepala sehingga rasanya otak kami
telah bergetar”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk ”Dalam pada itu Mahisa Murtipun
berkata ”Jika demikian, lebih baik kami berdua tidak menampakkan diri saja”
“Itu lebih baik” jawab cantrik itu ”tetapi jika secara kebetulan hal itu
terjadi?”
“Apa boleh buat. Mudah-mudahan kepalaku tidak menjadi sasaran” desis Mahisa
Pukat.
Dalam kegelisahan itu, ternyata salah seorang pembantu Empu Nawamula itu dapat
berceritera kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Katanya ”Agak lama anak itu
tidak datang ke padepokan ini, agaknya ia sedang jatuh cinta”
“He” Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bertanya berbareng ”jatuh cinta”
“Ya. Justru karena itu ia tidak mau meninggalkan gadis itu barang sehari” jawab
pembantu Empu Nawamula itu.
“Tetapi akhirnya iapun meninggalkan gadis itu” berkata Mahisa Murti.
“Ya. Ternyata gadis itu telah pergi” jawab pembantu Empu Nawamula itu.
“Pergi? Kemana? Apakah gadis itu tidak mencintainya?” bertanya Mahisa Pukat.
“Agaknya demikian” jawab murid Empu Nawamula itu ”semalam aku mendengar ia
berbicara tentang gadis itu dengan guru. Katanya Gadis itu telah disembunyikan
oleh pamannya“
“Disembunyikan?” ulang Mahisa Pukat.
“Ya. Selebihnya aku tidak jelas” jawab murid Empu Nawamula itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi termangu-mangu. Namun mereka tidak dapat
bertanya lebih lanjut, karena rnurid Empu Nawamula itu tidak dapat mendengarkan
pembicaraan itu selanjutnya.
“Lain kali dalam satu kesempatan, guru tentu akan menceriterakannya kepada
kalian” berkata murid Empu Nawamula itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, merekapun
menjadi gelisah jika pada suatu saat anak muda itu melihat mereka dan tertarik
justru karena anak muda itu belum pernah melihat mereka sebelumnya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berusaha untuk menyingkir
dari kemenakan Empu Nawamula itu. Apalagi ketika kemudian dihari-hari
berikutnya, keduanya melihat apa yang telah terjadi dan apa yang telah dilakukan
oleb anak muda itu.
Sebenarnyalah bahwa ia seorang anak muda yang ringan tangan. Demikian mudahnya
ia menjadi marah dan menampar para cantrik yang ketakutan. Dalam pada itu,
seperti yang dikatakan oleh salah seorang murid dan sekaligus pembantu Empu
Nawamula, maka pada satu kesempatan, Empu Nawamula telah berceritera kepada
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tentang kemanakannya itu.
“Ia lebih senang menyebut dirinya Singatama daripada namanya sendiri” berkata
Empu Nawamula.
“Siapa namanya sebenarnya?” bertanya Mahisa Murti” bukankah setiap kali Empu
juga menyebut namanya Singatama?”
“Namanya yang sebenarnya bukan Singatama. Ayahnya menyebutnya dengan nama yang
diberikan disaat lahirnya. Sembada”
“Nama yang bagus” desis Mahisa Pukat.
“Tetapi ia tidak senang dengan nama itu. Karena itu, ia sampai saat ini memakai
nama pemberian gurunya, Singatama” jawab Empu Nawamula.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Empu Nawamulapun
berceritera tentang kemanakannya itu, bahwa ia memang sedang jatuh cinta seperti
yang dikatakan oleh salah seorang muridnya.
“Bukankah hal yang wajar jika seorang anak muda mencintai seorang gadis” berkata
Mahisa Pukat.
“Memang wajar sekali ngger” jawab Empu Nawamula ”tetapi yang tidak wajar adalah,
bahwa gadis itu tidak mencintainya”
“O” Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
“Ia mencoba minta nasehatku. apa yang sebaiknya dilakukannya” berkata Empu
Nawamula.
“Lalu apa yang Empu katakan kepadanya?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku berusaha untuk menenangkannya. Aku menasehatinya, bahwa sebaiknya ia
melupakan saja gadis itu. Bukankah masa depan Singatama itu masih panjang,
sehingga pada suatu saat ia akan dapat bertemu dengan gadis yang lain, yang akan
dapat menanggapi perasaannya” jawab Empu Nawamula. Kemudian katanya melanjutkan
”Tetapi anak itu salah paham. Ia menganggap bahwa aku tidak berusaha membantunya
disaat ia dalam kesulitan”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya sifat anak muda itu
benar-benar sulit dikendalikan. Ia tidak pernah mendengarkan nasehat yang baik.
“Tetapi aku tahu persoalannya” berkata Empu Nawamula ”gurunya, pertapa itu
samasekali tidak berusaha mencegah tingkah lakunya yang kurang baik. Aku kira
justru gurunya yang menganjurkannya, agar ia datang kepadaku dan minta
bantuanku”
“Apa yang ia kehendaki Empu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ia justru minta agar aku mencari gadis itu dan melamar kepada orang tuanya bagi
kepentingannya, karena aku adalah satu-satunya orang tua baginya saat ini” jawab
Empu itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Memang agaknya menjadi
kewajiban Empu Nawamula. Tetapi sayang, bahwa persoalannya tidak berjalan dengan
lancar. Gadis itu sudah terlanjur menyatakan sikapnya.
Dalam pada itu, maka Empu itu akhirnya berkata ”Memang terasa sangat sulit
bagiku ngger. Jika aku menolak, maka aku akan mengalami satu peristiwa yang
sangat pahit. Anak itu tentu akan memaksaku dengan caranya, sehingga aku harus
mempertahankan diri. Jika demikian, apakah akan terjadi benturan kekuatan antara
aku dan kemanakanku. Bukankah hal itu berarti satu peristiwa yang sangat
memalukan. Seandainya aku kehilangan pengamatan diri atau sebaliknya sehinga
salah satu diantara kami menjadi korban, maka hal itu akan merupakan satu
malapetaka”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan ragu-ragu Mahisa Murti
bertanya ”Lalu, apa yang akan Empu lakukan?”
“Empu Nawamula menjadi ragu-ragu pula. Namun kemudian katanya ”Sebaiknya aku
memenuhi permintaan itu ngger”
“Empu akan memaksa gadis itu untuk menjadi isteri seseorang yang tidak
dicintainya?” bertanya Mahisa Pukat.
“Bukan begitu” jawab Empu Nawamula ”aku hanya akan melamarnya. Jika orang tuanya
tidak mengijinkan. atau gadis itu berkeberatan, maka aku akan menyampaikannya
kepada Singatama, bahwa lamarannya ditolak”
“Bagaimana jika anak itu menjadi marah?” bertanya Mahisa Murti.
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya ”Bukankah gadis itu seharusnya
mendapat perlindungan?”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Meskipun tidak dikatakan,
tetapi seolah-olah tergetar didalam hati mereka, bahwa mereka berdua mempunyai
kewajiban untuk kepentingan sesama. Mereka harus memenuhi darma seorang
kesatria.
Karena itu, maka Mahisa Pukatpun berkata ”Baik Empu. Jika Empu memang ingin
mencobanya, agaknya dapat dicoba. Tanpa menakut-nakuti dan tanpa memaksa. Tetapi
jika gadis itu atau orang tuanya menolak, maka seperti yang Empu katakan, mereka
memang sewajarnya mendapat perlindungan”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Lalu Katanya ”Kalian ternyata dapat
menanggapi sikapku. Baiklah. Aku terpaksa mempergunakan cara ini. Aku tidak
mempunyai cara lain yang lebih baik”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Tetapi rasa-rasanya mereka
telah membulatkan tekad untuk
melibatkan diri kedalam persoalan yang sebenarnya tidak menyangkut mereka
berdua. Tetapi sepanjang mereka berkepentingan bagi sesama, maka rasa-rasanya
mereka terpanggil untuk melakukannya.
Karena itu, maka keduanyapun berpendapat, bahwa cara yang akan ditempuh oleh
Empu Nawamula itu adalah cara yang paling baik. Jika anak muda yang menyebut
dirinya Singatama itu dapat menerima kenyataan, bahwa ia telah ditolak, alangkah
baiknya. Tetapi seandainya ia berkeras. maka apaboleh buat.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun kemudian menunggu
perkembangan keadaan. Sehingga pada suatu saat Empu Nawamula akan memberitahukan
kepada mereka lebih lanjut.
Sebenarnyalah, bahwa pada akhirnya, rencana Empu Nawamula itupun harus
dilaksanakan. Anak muda yang menyebut dirinya Singatama itu memang memaksa Empu
Nawamula untuk pergi melamar gadis yang dikehendakinya itu.
“Paman dan bertanya kepada paman gadis itu. Aku tidak tahu, dimana gadis itu
telah disembunyikan” berkata Singatama. Lalu ”Selama ini aku masih mencoba
bersabar. Aku memang ingin menempuh jalan yang sebaik-baiknya. Paman yang akan
mewakili orang tuaku datang melamar gadis itu. Aku masih belum menempuh jalan
yang paling singkat, mengambil gadis itu disetujui atau tidak disetujui”
”Baiklah ngger” jawab Empu Nawamula ”aku akan menemui pamannya. Tetapi segala
sesuatunya terserah kepada paman gadis itu”
“Paman sudah cukup berpengalaman” jawab Singatama ”terserah cara yang akan paman
tempuh”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Namun akhirnya ia berkata ”Aku akan
pergi bersama dua orang cantrik padepokan ini, sementara tiga orang pembantuku
masih harus menyelesaikan keris yang telah dipesan oleh seseorang sahabatku”
“Terserah dengan siapa saja paman akan pergi” jawab Singatama ”dan akupun tidak
peduli apakah pembantu paman itu akan membuat keris atau tidur selama paman
pergi”
Empu Nawamula mengangguk-angguk Jawabnya ”Baiklah. Besok aku akan berangkat”
“Semakin cepat semakin baik paman. Aku sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi.
Umurku sudah menjadi semakin tua sementara tidak ada perempuan lain yang dapat
menarik perhatianku kecuali gadis yang telah disembunyikan oleh pamannya itu.
Aku yakin bahwa gadis itu tidak akan menolak. Tetapi pamannyalah yang menjadi
dengki. Agaknya pamannya ingin aku mengambil anak pamannya itu sendiri. Tetapi
aku tidak menyukainya” berkata Singatama.
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Jika benar demikian, gadis itu sebenarnya
menerimanya, tetapi karena pamannya sajalah yang mempunyai pokal tersendiri,
persoalannya akan berbeda.
Dalam pada itu, maka malam itu Empu Nawamula telah mempersiapkan diri. Mahisa
Murti dan Mahisa Pukatpun telah diberitahu pula, bahwa esok pagi mereka akan
berangkat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendapat masing-masing seekor
kuda bagi perjalanan yang akan ditempuhnya.
(Bersambung).
Jilid 4
DEMIKIANLAH, maka ketika fajar menyingsing. Empu Nawamula telah bersiap bersama
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka akan menempuh perjalanan yang cukup
panjang. Empu Nawamula telah mendapat petunjuk dari Singatama, arah manakah yang
harus ditempuhnya, sehingga Empu itu akan sampai pada sebuah padukuhan tempat
tinggal paman gadis yang telah menarik perhatian Singatama itu.
Namun agaknya dua orang cantrik yang telah ditunjuk untuk mengikuti perjalanan
Empu Nawamula itu telah menarik perhatian Singatama.
Ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah siap meloncat kepunggung kudanya,
Singatama yang sudah berada di halaman padepokan itu pula, telah mendekati
keduanya. Diamatinya kedua anak muda itu seorang demi seorang. Dengan nada berat
Singatama itu berkata “Aku belum pernah melihat kedua anak ini”
“Keduanya orang baru di padepokan ini“ sahut Empu Nawamula.
Singatama mengangguk-angguk. Katanya pula “Selama aku berada di padepokan ini,
agaknya keduanya bersembunyi saja. Atau sengaja menghindar. Atau barangkali aku
tidak memperhatikannya”
“Keduanya bekerja seperti kawan-kawannya“ jawab Empu Nawamula “mungkin kau tidak
memperhatikannya”
Singatama mengangguk-angguk. Disentuhnya pundak Mahisa Pukat. Katanya “Nampaknya
tubuhmu kuat seperti seekor banteng muda. He, kau juga seperti seekor anak
gajah. Nampaknya kau mempunyai tenaga yang luar biasa. Tetapi kau tentu agak
malas” katanya pula kepada Mahisa
Murti. Mahisa Pukat dan Mahisa Murti hanya menundukkan kepalanya saja. Mereka
berusaha untuk menahan diri agar tidak timbul persoalan baru diantara mereka.
Mereka cukup rajin“ berkata Empu Nawamuala “untuk memberikan pengalaman kepada
mereka, maka aku akan membawa mereka menempuh perjalanan ini”
“Nampaknya keduanya masih terlalu dungu“ berkata Singatama “tetapi terserah
kepada paman, bahwa paman akan mengajak keduanya”
“Justru karena keduanya masih terlalu hijau, maka aku ingin menunjukkan kepada
mereka, bahwa mereka harus menyesuaikan diri dengan kerasnya kehidupan“ sahut
Empu Nawamula.
“Tetapi jika paman menemui kesulitan di perjalanan, maka paman tidak dapat
berharap, kedua anak-anak ingusan ini akan dapat membantu“ desis Singatama.
Mudah-mudahan perjalananku lancar” jawab Empu Nawamula.
(ceritanya loncat : Emang dari sononya)
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun
merasakan perubahan suasana pertemuan itu. Ki Rangganiti tidak lagi bersikap
kasar. Bahkan kemudian sikapnya menjadi ramah.
Katanya selanjutnya “Ia menganggap bahwa segala yang dikehendakinya tidak akan
dapat di tentang”
“Dan anak itu menghendaki kemanakan Ki Rangganiti?“ sahut Empu Nawamula.
“Ya, Ki Sanak. Ia menginginkan kemanakanku itu. Tetapi ia sama sekali tidak
berbuat sebagaimana
seharusnya. Ia tidak berkenalan dengan kemanakanku sebagai mana sewajarnya
seorang anak muda berkenalan dengan seorang gadis. Tetapi Singatama mulai dengan
mengganggu kemanakanku. Karena itu, maka aku terpaksa selalu mengawasinya.
Setidak-tidaknya orang-orangku selalu bersamanya kemana ia pergi. Akhirnya aku
menjadi cemas, bahwa pada suatu saat aku akan lengah, sehingga kemanakanku itu
akan mengalami kesulitan yang gawat” berkata Ki Rangganiti dengan nada dalam.
“Ki Rangganiti” berkata Empu Nawamula kemudian “ternyata yang aku dengar dari
Singatama agak berbeda. Menurut Sinaatama. la sudah sepakat dengan kemanakan Ki
Rangganiti. Tetapi Ki Rangganitilah yang berkeberatan, karena Ki Rangganiti
mempunyai perhitungan yang lain. Ki Rangganiti menghendaki Singatama berhubungan
saja dengan anak gadis Ki Rangganiti sendiri.
“He“ Ki Rangganiti terkejut. Lalu “Anak itu sudah memutar balikkan kenyataan.
Tetapi sekali lagi aku ingin bertanya, apakah Ki Sanak benar-benar tidak akan
berbuat sesuatu melampaui seorang utusan? Jika Ki Sanak berpendirian bahwa
kemanakan Ki Sanak itu sudah sepakat untuk hidup bersama dengan kemanakanku,
selanjutnya Ki Sanak akan dapat memaksakan kehendak Ki Sanak untuk mengambil
kemanakanku itu”
“Tidak Ki Rangganiti” jawab Empu Nawamula “aku tetap seorang utusan yang tidak
mempunyai kekuasaan lebih dari menyampaikan satu permohonan. Ditolak atau
diterima, aku hanya dapat menyampaikan jawaban itu kepada yang berkepentingan”
Ki Rangganiti mengangguk-angguk, katanya “Jika demikian, baiklah aku katakan,
bahwa yang dikatakan oleh Singatama itu adalah satu ceritera ngayawara. Semuanya
tidak benar. Aku memang mempunyai seorang anak gadis.
Tetapi ia tidak akan aku perbolehkan, apalagi hidup bersama Singatama,
berkenalanpun tidak akan aku ijinkan”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya “Aku percaya kepada Ki Rangganiti. Aku
mengerti, kenapa Ki Rangganiti mengambil satu keputusan untuk menyingkirkan
kemanakannya Ki Rangganiti” Empu Nawamula berhenti sejenak, lalu “Tetapi apakah
di tempatnya yang baru, anak gadis itu cukup mendapat perlindungan?“
Sebenarnya keadaannya tidak jauh berbeda. Disinipun perlindungan yang sebenarnya
kurang memadai. Mungkin kami dapat mencegah usaha yang kasar dari Singatama
sendiri dengan mengerahkan beberapa orang. Tetapi jika pada suatu saat,
Singatama membawa kekuatan yang ada di belakangnya, mungkin kami tidak akan
dapat bertahan. Justru karena itu, maka pertanggungan jawab atas gadis itu
kepada ayahnya akan menjadi terlalu berat bagiku, sehingga akhirnya aku
memutuskan untuk menyerahkan kembali anak itu kepada orang tuanya. Tetapi aku
sudah berpesan, agar mereka berhati-hati mengawasi anak gadisnya. Mungkin untuk
beberapa lamanya, Singatama tidak akan berhasil menemukan gadis itu. Tetapi jika
ia masih selalu memburunya, mencarinya dengan segala cara, mungkin pada suatu
saat ia akan menemukannya”
Empu Nawamula menarik nafa dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia berkata
“Kasihan gadis itu. Apakah rumah orang tuanya cukup jauh dari padukuhan ini?“
Wajah Ki Rangganiti menjadi tegang. Tiba-tiba ia berkata “Aku sudah terpancing
untuk mengatakan bahwa gadis itu ada pada orang tuanya. Itu satu kesalahan.
Tetapi sudah tentu bahwa aku tidak akan mengatakan, dimana rumah orang tuanya.
Maaf, bagaimanapun juga aku masih
belum dapat mempercayai Ki Sanak sepenuhnya dalam hubungannya dengan Singatama”
“Aku mengerti Ki Rangganiti” jawab Empu Nawamula. “karena itu, baiklah aku tidak
akan memaksa untuk mengetahui, dimana rumah orang tuanya”
“Ya. Aku tidak akan mengatakannya. Bahkan aku menyesal bahwa aku sudah
mengatakannya, bahwa ia telah aku kirimkan kembali kepada orang tuanya. Namun
baiklah aku katakan pula, bahwa perlindungan bagi gadis itu akan lebih baik
justru setelah padukuhan ayahnya baru saja mengalami pergolakan. Dengan
demikian, maka orang-orang padukuhan itu akan menjadi berhati-hati. Apalagi aku
sudah memberikan beberapa keterangan tentang Singatama” berkata Ki Rangganiti.
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya sikap Ki Rangganiti,
sehingga karena itu, maka beberapa saat Empu Nawamula tidak mengatakan sesuatu.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatlah yang menjadi gelisah.
Adalah diluar kehendak mereka, jika tiba-tiba saja mereka telah teringat
sesuatu. Pengalaman dari perjalanan mereka yang belum terlalu jauh itu. Karena
itu, adalah juga diluar sadarnya, bahwa tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata
“Apakah gadis itu anak seorang Buyut?“
Wajah Ki Rangganiti tiba-tiba menjadi tegang. Dipandanginya Mahisa Murti dengan
tajamnya. Bahkan kemudian dengan suara bergetar ia berkata “Darimana kau tahu,
bahwa ia anak seorang Buyut? Apakah dengan demikian berarti bahwa kau sudah
mengadakan penyelidikan lebih jauh bagi kepentingan Singatama?“
Mahisa Murti terkejut mendengar pertanyaan itu. Baru kemudian ia sadar, bahwa ia
telah menyebul sesuatu yang
dapat menumbuhkan ketegangan baru. Tetapi ia sudah mengucapkannya. Bahkan
kemudian Empu Nawamulapun memandanginya dengan tatapan mata keheranan.
“Coba katakan” berkata Ki Raganiti “siapa yang mengatakan bahwa kemanakanku itu
anak perempuan seorang buyut?“
Mahisa Murti menjadi gelisah. Tetapi Mahisa Pukatlah yang.kemudian menyahut “Ki
Raganiti. Dalam pengembaraan kami, kami telah singgah di sebuah Kabuyutan. Anak
perempuan Ki BuYut itu ternyata baru saja pulang dari rumah pamannya. Hal itulah
yang telah mempengaruhi jalan pikiran kami, sehingga tidak sengaja saudaraku itu
telah menyebut anak perempuan seorang Buyut”
“Coba katakan, anak Kabuyutan manakah yang kau maksud?“ bertanya Ki Raganiti.
“Tentu saja tidak ada hubungannya dengan ceritera Ki Raganiti” jawab Mahisa
Pukat “Kabuyutan itu terletak ditempat yang cukup jauh”
“Nama Kabuyutan itu“ Ki Raganiti tidak sabar.
“Randumalang” jawab Mahisa Pukat dengan jujur. Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Keterangan Mahisa Pukat yang terus-terang itu justru telah
membuatnya agak tenang. Sehingga dengan demikian, maka iapun akan dapat
mengatakan sebagaimana adanya.
Tetapi adalah diluar dugaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Jawaban Mahisa Pukat
dengan menyebut nama Kabuyutan itu, telah membuat wajah Ki Raganiti menjadi
semakin tegang. Bahkan kemudian dengan suara lantang ia berkata “Anak-anak muda.
Apakah kalian memang dengan sengaja ingin mempermainkan aku. Empu Nawamula telah
mengatakan, bahwa ia hanya sekedar utusan. Semula aku mempercayainya. Tetapi
ternyata bahwa kalian bertiga, datang dengan satu sikap pasti. Bahkan mungkin
kalian telah berhasil menculik gadis itu untuk kepentingan Singatama, sehingga
kehadiran kalian sekarang ini semata-mata adalah satu usaha penghinaan belaka”
Empu Nawrmulapun menjadi bingung. Bahkan kemudian ialah yang bertanya kepada
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat “Aku kurang mengerti, siapakah yang kalian
sebutkan. Mungkin satu pengalaman dalam pengembaraan kalian sebelum kalian
datang ke padepokanku”
“Ya Empu” jawab Mahisa Pukat “kami memang singgah di Kabuyutan Randumalang”
“Jangan menganggap kami orang-orang yang sama sekali tidak berarti. Sudah aku
katakan, bahwa aku sudah mempersiapkan orang-orangku. Sekarang, katakan. Apa
maksud kalian sebenarnya datang kemari. Apakah kalian akan mengatakan, bahwa
kalian telah berhasil menemukan! gadis itu dan menculiknya? Atau kalian
barangkali ingin memeras kami?“
“Jangan berprasangka terlalu buruk Ki Raganiti” berkata Empu Nawamula
“sebenarnyalah aku ingin mendengar, apa yang telah dijumpai oleh kedua orang
anak muda ini”
“Omong kosong” geram Ki Kaganiti “bagaimana mungkin Ki Sanak masih akan bertanya
kepada orang-orang dari padepokan Ki Sanak sendiri”
“Ki Raganiti” berkata Mahisa Murti kemudian “baiklah aku menceriterakan apa yang
aku ketahui tentang seorang gadis. Hal ini sama sekali belum pernah aku
ceriterakan kepada Empu Nawamula di saat-saat aku berada di padepokan, karena
kami berdua menganggap bahwa persoalan ini sama sekali tidak penting dan tidak
ada
hubungannya dengan kehadiran kami di padepokan Empu Nawamula”
Ki Raganiti mengerutkan keningnya, sementara Mahisa Murti menceriterakan
perkenalannya dengan seorang gadis Randumalang yang bernama Widati.
Ketegangan benar-benar mencengkam jantung Ki Raganiti. Namun menilik cara
mengucapkan dan urutan ceriteranya, maka Mahisa Murti telah mengatakan dengan
jujur.
“Ki Raganiti” berkata Mahisa Murti kemudian “menilik sikap Ki Raganiti, maka aku
dapat menduga, bahwa gadis yang Ki Raganiti maksudkan, adalah gadis yang aku
sebutkan. Gadis yang meninggalkan rumah pamannya karena gangguan seorang anak
muda yang tidak disukainya. Jika benar demikian, bahwa Widati yang dipanggil
Ireng itu adalah kemanakan Ki Raganiti yang sedang bersembunyi di rumah orang
tuanya, maka kami berdua minta maaf, karena kami tidak sengaja telah tersangkut
kedalam persoalan itu.
Ki Raganiti menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Empu Nawamulapun berkata
“Sebenarnyalah, bahwa aku sama sekali tidak mengetahui peristiwa yang pernah
dialaminya”
Sejenak Ki Raganiti terdiam. Namun akhirnya ia berkata “Sekali lagi aku telah
salah sangka. Aku percaya akan keterangan anak-anak muda itu. Agaknya kalian
mang pernah singgah di Randumalang”
“Ya” desis Mahisa Pukat “kami beradu di Randumalang justru pada saat Randumalang
sedang bergejolak. Tetapi pada saat kami berada di Kabuyutan itu. muka
pergolakan itu sudah berakhir. Sehingga beberapa hari kemudian aku
melihat anak perempuan Ki Buyut itu telah berada di Kabuyutan”
Ki Raganiti mengangguk-angguk. Katanya “Sebenarnyalah Ki Sanak. Kemanakanku yang
bernama Widati itulah yang telah menimbulkan persoalan dengan Singatama.
Mudah-mudahan ayahnya mempunyai kekuatan untuk melindunginya, apabila pada suatu
saat Singatama dapat menemukannya”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Diluar dugaannya, bahwa gadis yang
dipersoalkan itu justru telah pernah ditemui oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Karena itulah, maka kedua anak muda itupun mengetahuinya di mana gadis itu
menyembunyikan diri dari pengamatan Singatama.
Namun dalam pada itu, Ki Raganiti bertanya “Ki Sanak. Aku tidak dapat ingkar,
bahwa gadis itulah yang sedang bersembunyi. Ternyata bahwa kedua anak muda itu
telah menemukannya. Tentu saja, terserah kepada kalian, apakah kalian akan
mengatakannya kepada Singatama atau tidak. Tetapi sudah tentu bahwa kami
bertekad untuk menyelamatkan gadis itu dari tangan Singatama, dengan cara dan
pengorbanan apapun juga”
Empu Nawamula mengangguk-angguk sambil bergumam “Ki Raganiti. Singatama adalah
kemanakanku. Sudah tentu bahwa aku tidak dapat mencuci tangan akan tingkah
lakunya. Maksudku, bahwa aku tidak akan memenuhi segala keinginannya, tetapi
adalah menjadi kewajibanku untuk mengekangnya, apabila ia sudah melakukan satu
perbuatan yang dapat merugikan orang kami”
Ki Raganiti memandang wajah Empu Nawamula dengan tajamnya. Sejenak ia berusaha
merenungi kata-kata
Empu Nawamula. Baru kemudian ia berkata “Jadi maksud Empu, bahwa niat Singatama
itu harus dicegah”
“Jika benar seperti yang Ki Raganiti katakan, bahwa sebenarnya Widati itu tidak
bersedia menerima Singatama untuk hidup bersama” berkata Empu Nawamula.
“Aku tidak mempunyai cara untuk membuktikannya. Tetapi mungkin kedua anak muda
yang telah mengetahui tempatnya itu dapat bertanya langsung kepada gadis itu”
jawab Ki Raganiti “itupun harus mendapat pengawasan sebaik-baiknya. Karena
bagaimanapun juga. aku berkewajiban melindungi kemanakanku” “Ki Raganiti”
berkata Mahisa Murti kemudian “aku menjadi saksi, bahwa Widati sama sekali tidak
tertarik ke pada Singatama. Aku dapat memastikannya, karena gadis itu kembali
kerumah orang tuanya, karena menghindarkan diri dari seorang anak muda. Menurut
dugaanku, anak muds yang dimaksud adalah Singatama”
Empu Nawamula mengangguk-angguk, sementara Ki Raganiti berkata “Apakah kau
pernah mendengar pengakuannya itu?“
“Ya” jawab Mahisa Murti “Widati pernah mengatakan kepadaku. Meskipun saat itu
keterangannya tidak jelas, tetapi saat ini aku mampu menghubungkan persoalannya”
Ki Raganiti menarik nafas panjang. Katanya “Empu. Bukankah sudah jelas”
“Ya Aku percaya kepada keterangan anak muda ini” jawab Empu Nawamula “karena
itu, maka aku berkesimpulan, bahwa aku harus mencegah Singatama. Sementara itu.
akupun berkesimpulan, bahwa aku harus tetap merahasiakan tempat gadis itu”
Ki Raganiti menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Terima kasih Ki Sanak. Ternyata
bahwa Ki Sanak dapat mengetahui kesulitan yang sedang kami alami”
“Baiklah Ki Raganiti” berkata Empu Nawamula “aku akan kembali ke padepokan. Aku
akan mengatakan kepada Singatama, bahwa lamaranku ditolak. Dan akupun akan
mengatakan, bahwa gadis itu berada ditempat yang jauh dan tidak diketahui,
karena Ki Raganiti telah merahasiakannya”
“Mudah-mudahan Empu dapat mencegah tingkah laku anak muda yang selama ini telah
sangat menggelisahkan keluarga kami” berkata Ki Raganiti.
“Aku akan berusaha” jawab Empu Nawamula. Lalu “Sebaiknya kami minta diri. Kami
akan dapat mengatur, apa yang sebaiknya kami lakukan di sepanjang perjalanan
kami, sehingga saat kami sampai di padepokan, kami akan dapat mennjawab segala
pertanyaan Singatama dengan mapan”
“Jadi, apakah Empu akan kembali sekarang?“ bertanya Ki Raganiti.
“Ya. Kami muhon diri” jawab Empu Nawamula Tetapi ternyata Ki Raganiti
menahannya. Katanya “Hari menjadi malam. Sebaiknya Empu bermalam disini. Besok
Empu dapat kembali setelah hari menjadi terang”
Empu Nawamula tidak dapat menolak. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatpun sama sekuli tidak berkeberatan.
Dalam pada itu, Ki Raganiti yang kemudian mengetahui bahwa tamu-tamunya bukan
orang yang harus dicurigai akan bertindak kasar, telah mengisyaratkan kepada
pembantu-pembantunya untuk memberikan hidangan kepada tamu-tamunya.
Setelah berbicara beberapa lamanya tentang persoalan yang lain, yang tidak
menyangkut gadis yang bernama Widati itu, dan yang berkisar pada kehidupan
sehari-hari, maka pintu pringgitanpun terbuka. Seorang gadis dengan membawa
nampan berisi mimuman dan makanan berjalan sambil bejongkok mendekati mereka
yang sedang duduk berbincang.
“Ini adalah anak gadisku” berkata Ki Raganiti setelah gadis itu masuk kembali
keruang dalam “agaknya gadis inilah yang telah disebut-sebut oleh Singatama“
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya “Singatama memang mengatakannya, bahwa
Ki Raganiti sebenarnya ingin menjodohkan anak gadis Ki Raganiti sendiri. Karena
itu, Ki Raganiti telah menolak Singatama yang menginginkan gadis yang bernama
Widati itu”
“Empu besok dapat bertanya langsung kepada anak gadisku. Ia memilih membunuh
diri daripada harus menjadi isteri seorang anak muda yang bernama Singatama,
sebagaimana akan dilakukan oleh Widati. Karena itu, maka aku harap Empu dapat
menilai keterangan Singatama itu”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Tetapi sebagaimana Ki Raganiti mempercayai
keterangannya dan keterangan kedua anak muda yang bersamanya itu, maka Empu
Nawamulapun percaya kepada keterangan Ki Raganiti.
Dalam pada itu, ketika malam menjadi larut, ketiga orang itupun kemudian
dipersilahkan untuk beristirahat di gandok. Namun dalam pada itu, maka Empu
Nawamula dan kedua orang anak muda yang menyertainya itupun melihat, bahwa di
halaman itu telah bersiap-siap beberapa
orang yang dapat bertindak apabila ketiga orang tamu Ki Raganiti itu berbuat
sesuatu yang bersifat kekerasan.
Namun dalam pada itu, hampir semalam suntuk Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak
dapat memejamkan matanya. Gadis yang bernama Widati itu ternyata telah
menimbulkan persoalan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Sehingga jika
Singatama benar-benar ingin memaksakan kehendaknya, maka Singatama itu tentu
akan berhadapan dengan Mahisa Murti. Jika demikian maka Mahisa Pukatpun tidak
akan melepaskan saudaranya itu berbuat sendiri.
Tetapi dalam pada itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum tahu pasti,
betapa tinggi dan lengkapnya ilmu pertapa yang disebut sebagai guru Singatama.
Bersumber ilmu yang hitam, orang itu tentu mempunyai kemampuan yang sangat
tinggi.
Meskipun tidak saling membicarakannya, kedua anak muda itu rasa-rasanya telah
menjadi kanak-kanak kembali. Sebagaimana pada masa kanak-kanak mereka, jika
mereka gagal untuk melakukan sesuatu, maka merekapun segera berlari kepada
ayahnya untuk membantunya.
Namun demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merasa bahwa mereka telah dibekali
dengan ilmu yang lengkap oleh ayah mereka. Bahkan oleh Witantra dan Mahisa Agni.
Karena itu, maka mereka tidak boleh lagi merengek seperti kanak-kanak. Mereka
harus berusaha memecahkan masalah yang mereka hadapi.
“Tetapi dalam keadaan tertentu, apa salahnya jika ayah mengetahui persoalannya”
berkata kedua anak muda itu didalam hatinya, karena menurut angan-angan mereka,
pertapa yang mengangkat Singatama sebagai muridnya itu adalah seorang yang
memiliki kemampuan yang luar biasa
dalam kesesatan. Disamping orang itu tentu terdapat kekuatan yang mendukungnya.
Satu lingkungan kekuatan hitam yang cukup besar.
Namun demikian, kedua anak muda itu masih harus menunggu perkembangan
pesoalannya. Mereka tidak dapat berbuat tergesa-gesa.
Baru ketika malam hampir menginjak dini hari, kedua anak muda itu dapat tertidur
untuk beberapa saat. Tetapi tidak terlalu lama, karena sebentar kemudian, ayam
jantanpun telah berkokok untuk yang terakhir kalinya di malam itu. Namun yang
sebentar itu telah membuat mereka menjadi segar kembali.
Pagi-pagi benar Mahisa Pukat telah pergi ke pakiwan. Tetapi langkahnya tertegun,
ketika ia melihat seseorang sedang mengambil air di sumur disebelah pakiwan.
Namun Mahisa Pukat menjadi herdebar-debar ketika ia mendengar orang yang
mengambil air itu menyapanya “Apakah Ki Sanak akan pergi ke pakiwan?“
Mahisa Pukat termangu-mangu. Ternyata yang berada di sumur itu adalah gadis sang
semalam menyuguhkan minuman dan makanan di pendapa.
Dengan segan Mahisa Pukatun menjawab pendek “Ya”
“Silahkan” berkata gadis itu sambil melepaskan timba senggol yang sudah hampir
ditariknya. Dengan menjinjing keienting maka gadis itupun meninggalkan sumur
menuju ke pintu dapur di hagian belakang rumahnya yang di batasi oleh sebuah
longkangan.
Mahisa Pukat memandangi gadis itu sampai hilang di balik pintu dapur yang masih
diterangi dengan lampu minyak. Ia sudah melihat wajah gadis itu semalam. Rasa-
rasanya ada sesuatu yang melekat didalam angan-angannya tentang gadis itu.
“Ada beberapa persamaannya dengan Widati” gumam Mahisa Pukat diluar sadarnya.
Tetapi Mahisa Pukat itu menggeleng. Ia berusaha untuk mengusir angan-angannya
tentang gadis itu. Dengan sigapnya iapun kemudian meraih senggot timba dan
sejenak kemudian senggot itupun telah berderit memanjang.
Mahisa Pukat dengan cepat mengisi pakiwan itu sehingga penuh. Baru kemudian
iapun mandi untuk membuat tubuhnya menjadi semakin segar.
Sejenak kemudian, maka Mahisa Murtipun telah menyusulkan. Baru yang terakhir
adalah Empu Nawamula.
Ketika langit menjadi terang, maka ketiga orang itupun telah bersiap Mereka
ingin segera kem bali ke padepokan dan memberitahukan kepada Singatama hasil
pembicaraan mereka dengan Ki Raganiti. Mereka hanya akan mengatakan bahwa Ki
Raganiti tetap tidak setuju dan menolak lamaran Singatma, sementara itu
kemanakannya telah disembunyikan ditempat yang tidak diberitahukannya”
Namun demikian, Ki Raganiti masih menahannya barang sejenak untuk memberikan
hidangan minuman dan makanan hangat di pagi-pagi yang sejuk.
Baru kemudian Empu Nawamula bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah minta
diri.
“Aku mohon maaf Empu” berkata Ki Raganiti “mungkin keputusanku menolak lamaran
kemanakan Empu itu akan menimbulkan persoalan dalam keluarga Empu”
“Aku akan mencoba mengatasinya Ki Raganiti” jawab Empu Nawamula “agaknya itu
memang menjadi kewajibanku”
Ki Raganiti menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, bahwa Singatama tidak akan
begitu saja menerima keputusan atas lamarannya. Anak muda itu tentu akan menjadi
marah. Dan tidak mustahil bahwa ia akan mengambil langkah-langkah tertentu yang
akan dapat menimbulkan persoalan baru.
Dalam pada itu. ketika segalanya telah siap, maka Empu Nawamula dan kedua orang
anak muda yang menyertainya itupun sekali lagi minta diri untuk kembali
kepadepokannya.
Dalam pada itu, diluar dugaan, anak gadis Ki Raganiti itupun telah mengantarkan
tamu-tamunya sampai keregol. Bahkan ketika Mahisa Pukat memandanginya, gadis itu
telah menatapnya pula, sehingga justru karena itu, maka keduanya cepat-cepat
mengalihkan arah tatapan mata mereka ke kejauhan.
Sejenak kemudian, maka Empu Nawamula dan kedua orang cantrik yang khusus itupun
telah meninggalkan rumah Ki Raganiti dengan kesan tersendiri. Bahkan dengan
demikian merekapun menjadi pasti, bahwa Singatama memang ingin memaksakan
kehendaknya untuk memiliki seorang gadis yang bernama Widati, yang sejak
beberapa saat lamanya telah disembunyikan dirumah orang tuanya dari penglihatan
anak muda yang bernama Singatama.
“Apakah kira-kira yang akan dikatakan oleh kemanakan Empu itu“ bertanya Mahisa
murti.
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Sambil memandang hijaunya pepohonan ia
kemudian berdesis “Banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi yang pasti, ia
akan tetap berusaha untuk memiliki gadis itu. Saat ini ia masih berusaha untuk
mencari jalan yang paling baik. Ia minta aku untuk melamar gadis itu baginya.
Tetapi agaknya ia akan dapat bertindak lebih keras. Ia akan dapat berhubungan
dengan gurunya dan kekuatan disekitarnya “'
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukatpun
berkata “Tetapi lingkungan Ki Buyut di Randumalang telah berubah“
“Apa yang berubah?“ bertanya Empu Nawamula.
“Anak-anak muda di Randumalang tidak lagi terlalu lemah. Meskipun serba sedikit
mereka telah memiliki dasar pengetahuan mempergunakan senjata yang setiap hari
tentu akan mereka kembangkan sendiri” berkata Mahisa Pukat “justru karena itu,
mereka akan dapat membantu melindungi anak gadis Ki Buyut yang terancam oleh
kogurangan Singatama itu”
“Mudah-mudahan” sahut Empu Nawamula sambil mengangguk-angguk “tetapi jika
Singatama datang bersama sepuluh orang dan gurunya, maka anak-anak muda
Randumalang itu tidak akan banyak dapat berbuat banyak. Mungkin mereka sempat
mengusir Singatama. Tetapi korban tentu akan terlalu banyak”
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Memang mungkin sekali terjadi. Sepuluh
orang yang garang apalagi guru Singatama yang bersumber pada ilmu hitam itu.
tentu bukan lawan yang akan dapat diatasi oleh anak-anak muda Randumalang.
Sementara itu, mereka bertigapun telah berpacu semakin lama semakin jauh.
Sekali-sekali mereka harus beristirahat. Sehingga ketika matahari mulai
merendah, merekapun menjadi semakin mendekati padepokan mereka.
“Rasa-rasanya perjalanan kembali menjadi lebih pendek” berkata Mahisa Pukat.
“Tetapi bukankah jaraknya tidak berubah?“ bertanya Empu Nawamula.
“Ya. Tentu tidak berubah” sahut Mahisa Pukat.
“Karena itu, perasaan kita bukanlah ukuran yang pasti. Yang terasa pendek,
sebenarnya adalah panjang dan sebaliknya” berkata Empu Nawamula.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Iapun sependapat, bahwa perasaan bukanlah alat
pengukur yang baik. Juga terhadap kebenaran.
Dalam pada itu, semakin mereka mendekati padepokan, maka merekapun menjadi
berdebar-debar. Bahkan Empu Nawamula itupun berkata “Ada beberapa kemungkinan
terjadi di padepokan, ngger. Mungkin kita akan menarik nafas dalam-dalam. Tetapi
mungkin kita akan mengumpat di dalam hati. Mungkin pula kita akan disakiti, jika
tidak tubuh kita, adalah hati kita. Tetapi mungkin pula kita harus membela diri”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi mereka
berpendirian, bahwa mereka bukan sanak bukan kadang Singatama. Karena itu, maka
merekapun tidak akan membiarkan diri mereka disakiti. Apalagi mengalami nasib
yang paling buruk dengan tanpa membela diri sama sekali.
Karena itu, maka kedua anak muda itupun telah mempersiapkan diri lahir dan
batin. Mereka akan menghadapi segala kemungkinan dengah sikap dan landasan
mereka.
Sebenarnyalah, bahwa ketika mereka bertiga melihat regol padepokan, maka jantung
mereka serasa herdetak
semakin cepat. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tiba tiba saja, diluar kehendak
mereka sendiri, keduanya berkuda sebelah menyebelah dibelakang Empu Nawamula.
Seolah-olah mereka telah berjanji didalam diri mereka, bahwa apapun yang akan
terjadi, keduanya akan menghadapi dengan tabah.
Sejenak kemudian, maka mereka bertigapun telah sampai di depan regol padepokan.
Meskipun padepokan itu adalah padepokan sendiri, tetapi ternyata bahwa Empu
Nawamula telah berhenti didepan regol. Sekilas ia berpaling kepada kedua orang
anak muda yang mengikutinya, seolah-olah ingin memberi mereka peringatan, agar
mereka bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak, namun merekapun
benar-benar telah mempersiap kandiri mereka.
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian iapun telah menyentuh
leher kudanya yang kemudian berjalan perlahan-lahan memasuki regol halaman
padepokannya diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Demikian mereka memasuki halaman, maka dengan tergesa-gesa Singatama yang berada
di pendapa, telah menyongsong mereka. Demikian Empu Nawamula meloncat turun
diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, Singatama telah berteriak “Nah,
bukankah paman berhasil? Apa kata kelinci tua itu? Dan bukankah paman telah
diberitahu, dimana gadis itu bersembunyi?“
Empu Nawamula termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya “Biarlah aku duduk
dahulu di pendapa. Biarlah nafasku senggang sehingga aku dapat berkata kalimat
demi kalimat”
“Ah“ desah Singatama “paman mengada ada saja. Apa beratnya mengatakan satu dua
kalimat?“
“Aku lelah sekali. Jika kau mendesak aku begitu, aku tidak akan mengatakannya
sama sekali” jawab Empu Nawamula.
“Gila” geram Singatama “setua paman masih juga merajuk”
Empu Nawamula tidak menjawab. Iapun kemudian mencuci kakinya pada sebuah belanga
yang tersediu di bawah ia sebatang pohon pacar kuning, demikian pula Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat.
“Biarlah kakiku kering. Aku akan duduk di pendapa dan memberi tahukan hasil
perjalananku” berkata Empu Nawamula.
“Berhasil atau tidak. Hanya itu jawab yang ingin aku dengar“ teriak Singatama.
Tetapi Empu Nawamula tidak menghiraukannya. Iapun kemudian melangkah mendekati
pendapa. Di tangga pendapa ia duduk sambil membersihkan telapak kakinya yang
basah dan dilekati oleh debu.
Baru kemudian, Empu Nawamula itupun bergeser ke tengah pendapa padepokan itu
diikuti oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Rasa-rasanya Singatama sudah tidak telaten lagi. Demikian Empu Nawamula dan
kedua anak muda itu mapan, maka sekali lagi ia bertanya mendesak “Bagaimana
hasil perjalanan paman? Aku tidak sabar lagi menunggu”
Dengan sareh Empu Nawamula berkata “Singatama. Cobalah kau bersabar sedikit.
Biarlah nafasku agak teratur. Baru saja aku datang dari perjalanan yang panjang”
“Sudahlah paman. Jika paman menjawab pertanyaanku, maka persoalannya menjadi
jelas. Satu kalimat saja aku kira sudah cukup, sepanjang kalimat paman yang
berisi keluhan tanpa akhir itu” potong Singatama.
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Baiklah. Aku akan mengatakan
hasil perjalananku”
“Cepatlah“ bentak Singatama.
Sikap Singatama itu membuat Empu Nawamula menjadi marah. Bagaimanapun juga ia
menahan diri, tetapi bahwa kemanakannya itu telah membentaknya, rasa-rasanya
jantungnya menjadi semakin cepat berdentang.
Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menjawab “Baiklah. Jika kau ingin cepat,
dengarlah. Lamaranmu telah ditolak”
Jawaban itu bagaikan deru guntur yang menggelegar di langit. Wajah Singatama
menjadi tegang. Namun kemudian warna merah telah membara di sorot matanya.
“Apakah maksud paman?“ anak muda itu bertanya.
“Sudah jelas. Seperti yang kau inginkan. Aku berkata apa adanya. Cepat dan satu
kalimat” jawab Empu Nawamula.
Ketegangan di wajah Singatama menjadi semakin tajam. Tetapi iapun mengerti,
bahwa pamannya mulai kehilangan kesabaran. Karena itu, Singatamalah yang
berusaha mengekang diri, karena ia tidak yakin akan jawaban pamannya.
“Katakanlah sebaik-baiknya paman“ pinta Singatama.
“Sudah aku katakan. Lamaranmu ditolak. Ki Raganiti tidak mau mengatakan di mana
kemanakannya itu, dan
iapun mengatakan bahwa gadis itu lebih baik mati daripada menjadi isterimu”
jawab Empu Nawamula.
Terasa jantung Singatama bagaikan disentuh api. Tetapi wajah dan kata-kata
pamannya agaknya memang meyakinkan.
Karena itu, maka iapun kemudian bertanya “Paman, apakah yang telah paman lakukan
menghadapi sikap Ki Raganiti itu?“
“Apa yang dapat aku lakukan? Aku datang untuk melamar. Dan lamaran itu ditolak.
Apa yang harus aku lakukan kecuali kembali dan mengabarkan kepadamu, bahwa
lamaran itu ditolak?“ jawab Empu Nawamula.
Singatama sekali tidak bersiap menghadapi sikap pamannya itu. Karena itu ia
justru menjadi bingung.
Tetapi sejenak kemudian, maka iapun menggeram. Dengan nada kasar ia bertanya
“Dan paman tidak memaksa Ki Raganiti untuk menunjukkan dimana anak gadisnya?
Paman dapat juga menerima penghinaan itu, bahwa lamaran paman telah ditolak
tanpa kehadiran gadis itu sendiri?“
“Kau membohongi aku” jawab Empu Nawamula “kau katakan bahwa sebenarnya gadis itu
akan menerimamu. Tetapi sudah aku katakan, bahwa gadis itu lebih baik membunuh
diri dari menerima lamaranmu”
“Gila” geram Singatama “padukuhan itu memang harus dimusnahkan. Paman dapat
melakukannya untuk membalas penghinaan itu”
“Kenapa aku berbuat demikian? Aku tidak berhak. Selebihnya ternyata padukuhan
itu telah siap. Aku tidak tahu darimana asalnya. Tetapi sepasukan pengawal telah
membayangi aku” berkata Empu Nawamula “apa lagi yang dapat aku lakukan
menghadapi orang se Kabuyutan?“
Menghadapi sikap pamannya, Singatama justru menjadi bingung. Tetapi ia tidak
dapat menerima jawaban seperti yang dikatakan pamannya itu. Bahkan kemudian, ia
mulai menyesali sikap Empu Nawamula.
Tetapi Singatama juga mengetahui, bahwa pamannya bukannya orang kebanyakan.
Karena itu, jika ia ingin berbuat keras terhadap pamannya, maka ia harus
memperhitungkan segala macam akibat yang dapat terjadi. Karena itu, maka
Singatama itupun berusaha untuk mendapatkan jalan yang paling baik. Dengan nada
tinggi ia berkata “Paman, aku adalah kemanakan paman. Paman tentu mengerti,
bahwa paman seharusnya berusaha membantuku. Juga dalam hubunganku dengan gadis
itu”
“Aku sudah melakukan yang harus aku lakukan” jawab Empu Nawamula “aku sudah
datang melamar. Dan akupun sudah menyampaikan jawabnya. Apalagi yang masih
kurang. Sementara sikapmu sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang
kemanakan. Kau bersikap terlalu kasar, dan menganggap aku sebagai budakmu yang
harus tunduk Kepada segala perintahmu”
Wajah Singatama menegang. Agaknya pamannya telah benar-benar menjadi marah.
Tetapi sifatnya yang angkuh dan bahwa ia tidak pernah mengalami perlakuan yang
demikian, masih juga menggelitik hatinya, sehingga kemudian iapun berkata
“Baiklah paman. Jika paman sudah merasa cukup berbuat untukku, maka aku akan
berbuat sendiri”
“Apa yang akan kau lakukan?“ bertanya Empu Nawamula.
“Aku harus menemukan tempat persembunyian gadis itu. Sebenarnya aku ingin
menghancurkan Kabuyutan itu. Sebenarnya aku ingin bantuan paman dan para cantrik
di padepokan ini, disamping guruku dan cantrik-cantriknya. Aku yakin, bahwa
betapapun besarnya kekuatan yang ada di Kabuyutan itu, kita akan dapat dengan
mudah menghancurkannya” geram Singatama.
Empu Nawamula memandang kemanakannya dengan tatapan mata yang tajam. Dengan
tajam pula ia bertanya “Apa hubungannya penghancuran Kabuyutan itu dengan
keinginanmu memperistri seorang gadis?“
“Orang-orang Kabuyutan itu ikut menghalangi niatku” jawab Singatama.
“Apa yang mereka lakukan?“ bertanya Empu Nawamula pula.
“Bukankah paman mengatakan, bahwa mereka telah membayangi paman, sehingga paman
tidak dapat berbuat apa-apa?“ sahut Singatama.
“Ternyata nalarmu sudah keblinger. Mereka telah melakukan satu kewajiban yang
seharusnya mereka lakukan? Mereka sama sekali tidak ikut campur dalam
persoalanmu dengan gadis yang kau sebut-sebut itu. Tetapi adalah kewajiban
mereka untuk membayangi orang yang dicurigai”
“Apakah paman dicurigai? Kenapa? Bukankah paman tidak melakukan sesuatu?“
bertanya Singatama.
“Aku memang tidak melakukan sesuatu. Tetapi bahwa orang-orang di Kabuyutan itu
mencurigai aku, tentu karena pokalmu sebelumnya. Jika kau berbuat baik dan
sopan, tentu tidak akan terjadi anggapan yang buruk terhadapku. Tetapi dari
mereka aku tahu, apa yang telah kau lakukan.
Sikapmu telah memancing sikap seisi Kabuyutan itu. Karena aku adalah orang yang
kau minta untuk datang ke rumah Ki Raganiti, maka tetangga-tetangganya
menganggap bahwa aku akan bersikap seperti kau juga”
Wajah Singatama menjadi merah menyala. Tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu
terhadap pamannya yang diketahuinya mempunyai kemampuan yang tinggi. Tetapi
dengan demikian, dendamnya kepada pamannya yang sebenarnya sudah tertanam di
hatinya itu menjadi mekar.
“Aku akan mengatakannya kepada guru, bahwa sikap paman sangat menjengkelkan”
berkata Singatama didalam hatinya.
Namun dalam pada itu, ia masih juga berkata “Paman. Jika demikian, maka aku akan
mengambil jalanku sendiri. Seperti yang aku katakan, maka aku akan mencari
tempat tinggal gadis itu. Aku akan mengambilnya. Disetujui atau tidak disetujui”
“Kau harus menghargainya sebagai seorang manusia seperti kau dan aku” berkata
Empu Nawamula “kau tidak dapat berbuat sewenang-wenang. Jika ia dan keluarganya
menolak, maka kau tidak akan dapat berbuat apa-apa”
“Aku bukan seorang yang lunak hati seperti paman” berkata Singatama. Lalu
“Karena itu, aku akan bertindak lebih keras. Aku akan memerintahkan setiap
cantrik di padepokan ini untuk menyebar. Aku akan membatasi kerja mereka
sepekan. Mereka harus berkumpul dan melaporkan hasil perjalanan mereka untuk
mencari seorang gadis yang aku inginkan. Jika semua cantrik masih belum
mendapatkannya, maka aku akan menganggap semuanya bersalah, sehingga aku akan
menghukum mereka menurut caraku. Aku mohon paman tidak ikut campur, karena
cantrik yang berada di padepokan ini adalah cantrik-cantrik
yang berada dibawah kuasaku. Paman hanya mewakili kuasaku disini. Karena jika
paman turut campur, maka aku cemas bahwa gurukupun akan ikut campur pula. Tentu
hatiku tidak akan tenang melihat perselisihan antara paman dan guru, karena
apapun yang akan terjadi atas paman, terasa sakit pula di hatiku”
“Terima kasih” berkata Empu Nawamula “tetapi apakah dengan demikian kau
bermaksud mengancam aku? Aku tahu bahwa gurumu adalah orang luar biasa. Orang
yang tidak terkalahkan. Tetapi akupun bukan orang yang takut dikalahkan. Bahkan
mati sekalipun dalam mempertahankan sikap”
Wajah Singatama menjadi tegang. Ia belum pernah melihat sikap pamannya sekeras
itu. Bahkan pada saat-saat lampau, betapapun juga, pamannya masih menunjukkan
sikap yang lunak dan cenderung memenuhi segala keinginannya.
Tetapi agaknya Empu Nawamula telah benar-benar kehabisan kesabaran menghadapi
kemanakannya. Apalagi ketika ternyata Singatama telah kehilangan dasar
pertimbangan nalar dan martabat kemanusiaannya menghadapi gejolak perasaannya
terhadap seorang gadis, “Jika sekali ini aku juga memenuhi keinginannya, maka
berarti bahwa akupun telah terlibat pada satu sikap yang salah terhadap
kemanusiaan” berkata Empu Nawamula kepada diri sendiri. Sehingga dalam sikap
yang demikian, sementara itu Singatama masih saja selala bersikap kasar, maka
Empu Nawamulapun tidak lagi dapat bersikap lunak.
Namun dalam pada itu, Singatama bukannya mempertimbangkan sikap pamannya sebagai
satu usaha pencegahan terhadap niatnya yang salah, namun justru sebaliknya.
Singatama telah mendendam kepada pamannya
dan sekaligus telah mengambil satu cara tersendiri untuk mendapatkan gadis yang
disembunyikan itu.
Untuk langsung mengambil sikap terhadap Ki Raganiti, bahkan oleh gurunya
sekalipun, Singatama memang masih harus membuat pertimbangan-pertimbangan.
Mungkin Raganiti tidak memiliki kemampuan sama sekali dibandingkan dengan
gurunya. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Empu Nawamula, bahwa Ki Raganiti
tidak berdiri sendiri. Apalagi gurunyapun telah mengatakan kepada Singatama,
agar ia berusaha sejauh dapat dilakukannya, baru kemudian jika ia benar-benar
gagal, gurunya akan turun memasuki persoalannya dengan langsung.
“Kau sudah dewasa“ berkata gurunya persoalannya bukan persoalan yang rumit.
Katakan kepada pamanmu. bahwa kau perlu gadis itu. Dan katakan kepada pamanmu,
bahwa ia harus melamar untukmu”
Pamannya memang sudah melakukannya. Tetapi tidak seperti yang diharapkannya,
bahwa pamannya akan dapat memaksa Ki Raganiti untuk menerima lamarannya, atau
menunjukkan dimana gadis itu disembunyikan. Bahkan pamannya itu sama sekali
tidak merasa gentar ketika ia menyebut-nyebut bahwa gurunya akan dapat mengambil
satu sikap tertentu terhadapnya.
“Paman sudah kehilangan tanggung jawabnya sebagai wakil orang tuaku” berkata
Singatama didalam hatinya “seharusnya paman lebih baik bermusuhan dengan Ki
Raganiti daripada dengan kemanakannya sendiri yang tentu akan dibantu oleh
gurunya”
Tetapi sikap Empu Nawamula sudah jelas. Ia lebih senang menghadapi kemanakan dan
guru kemanakannya
itu daripada memaksakan kehendaknya kepada orang lain yang justru memerlukan
perlindungan.
Dalam kesesakan nalar, Singatama itu berkata kepada diri sendiri “Agaknya paman
benar-benar ingin menyingkirkan aku, dan dengan demikian paman akan memiliki
padepokan ini sepenuhnya. Paman telah membuat perapian untuk membuat keris di
padepokan ini dan menerima cantrik-cantrik baru yang tentu akan berpihak
kepadanya”
Justru karena itu, maka sikap Singatamapun menjadi semakin keras. Ia benar-benar
ingin bertindak sebagaimana di katakannya. Ia akan memerintahkan semua cantrik
untuk menyebar dan mencari gadis yang telah memikat hatinya, kemanakan Ki
Raganiti yang memang bernama Widati.
Karena itu, ketika Empu Nawamula benar-benar sudah bersikap keras, maka
Singatamapun telah mengambil satu langkah yang sebenarnya sangat menyakiti hati
Empu Nawamula.
Singatama yang marah itupun telah mengumpulkan para cantrik tanpa persetujuan
Empu Nawamula. Namun Empu Nawamula tidak mencegahnya. Ia sedang mencari cara
yang paling baik untuk mengatasi persoalan yang justru terasa menjadi semakin
panas.
“Pergilah kalian kemana saja” berkata Singatama “kalian harus kembali dalam
sepekan. Satu diantara kalian harus menemukan, dimana seorang gadis yang bernama
Widati bersembunyi”
Para cantrik itu menjadi berdebar-debar. Mereka belum pernah melihat orang yang
harus mereka cari, dan mereka sama sekali tidak mendapat petunjuk arah yang
dapat menuntun mereka kemana mereka harus pergi.
Tetapi Singatama itu berkata “Tidak ada alasan yang dapat kalian pergunakan
untuk mengelak dari tugas ini. Jika dalam sepekan tidak seorangpun yang dapat
menemukan orang yang aku kehendaki, maka kalian semuanya, seisi padepokan ini
akan aku hukum. Kalian tidak akan dapat melawan aku, karena aku memiliki
kekuatan yang tidak akan dapat kalian lawan. Sementara itu, siapa yang dengan
sengaja melarikan diri dan tidak kembali ke padepokan ini, maka keluarganya akan
mengalami nasib yang buruk, karena sebenarnyalah aku tahu tempat tinggal kalian
dan keluarga kalian”
Perintah itu benar-benar telah menggelisahkan. Tetapi tidak seorangpun yang
berani membantah.
Dalam pada itu, satu-satu petunjuk yang mereka dapat adalah, bahwa gadis itu
adalah kemanakan Ki Raganiti dan sedikit tentang ciri-ciri gadis yang harus
mereka cari.
“Tidak masuk akal” berkata para cantrik didalam hati. Tetapi mereka tidak
berdaya untuk menolak. Jika mereka berani menyatakan pendapat mereka, maka
mereka tentu akan dipukul oleh Singatama tanpa ampun.
Empu Nawamula sendiri tidak membantah atau mencegah perintah itu. Ia tahu, bahwa
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah menemukan gadis itu lebih dahulu sebelum
perintah Singatama itu diberikan. Namun Empu Nawamula masih belum dapat
membayangkan akhir dari persoalan yang bergejolak itu.
Sementara itu, kegelisahan para cantrik itu benar-benar telah menggelisahkan
seisi padepokan. Para murid Empu Nawamula dan para pembantu yang lain yang hidup
di padepokan itu, merasa sangat kasihan kepada para cantrik yang harus memikul
tugas yang sangat berat dengan
ancaman hukuman yang mendebarkan jantung. Tetapi mereka tidak akan dapat
menolongnya.
Tetapi satu hal yang luput dari perhatian Singatama, bahwa mereka tidak mengenal
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebagaimana ia mengenal para cantrik yang lain. Ia
tidak mengenal keluarganya, sehingga seandainya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
itu kemudian tidak kembali lagi ke padepokan, maka Singatama tidak akan dapat
mencari keluarganya.
Namun seandainya ia menemukan keluarga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, apakah
arti Singatama itu bagi Mahen-dra. Bahkan seandainya gurunya melibatkan diri
sekalipun, maka Mahendra tentu tidak akan gentar.
Dalam satu kesempatan, maka Empu Nawamulapun telah bertanya kepada kedua orang
anak muda itu, apakah yang akan mereka lakukan.
“Kami menjadi bingung” jawab Mahisa Murti “apakah yang sebaiknya kami lakukan
menghadapi sikap Singatama itu. Jika kami tidak menemukan gadis itu, maka para
cantrik yang lain akan mengalami satu penderitaan yang tentu akan sangat buruk.
Singatama benar-benar seorang yang memiliki watak yang sulit dimengerti. Tetapi
sudah barang tentu, untuk mengatakan tentang gadis itu kepada Singatama,
akibatnyapun akan dapat menjadi sangat pahit bagi gadis itu”
Empu Nawamula itupun menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya “Sayang,
aku sama sekali tidak dapat memberikan takaran kemampuan guru Singatama itu.
Bukan berarti bahwa aku menjadi cemas menghadapinya. Sudah aku katakan, bahwa
aku tidak takut menghadapi kekalahan. Tetapi jika terjadi demikian, maka aku
tidak
akan dapat melindungi siapapun juga yang akan mengalami nasib yang paling buruk”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun merekapun masih juga
belum mendapat gambaran, apakah yang sebaiknya dilakukan.
“Besok pagi kita harus berangkat. Waktu kita bpiya sepekan. Apakah artinya yang
sepekan itu bagi para cantrik” desis Mahisa Pukat.
“Kita akan berpikir semalam suntuk. Mudah-mudahan besok kita menemukan satu
cara” berkata Mahisa Murti.
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Baiklah. Kita akan berpikir
semalam suntuk”
Sebenarnyalah mereka telah memikirkan cara yang paling baik untuk dilakukan.
Tingkah laku Singatama bukan saja telah menyentuh rasa keadilan, tetapi adalah
satu kebetulan bahwa gadis yang disebut-sebut itu adalah gadis yang bernama
Widati, gadis yang mempunyai arti khusus bagi Mahisa Murti.
Tetapi yang lebih penting lagi, bahwa di belakang Singatama berdiri satu
padepokan yang memiliki corak tersendiri. Satu padepokan yang dipimpin oleh
seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi, tetapi bersumber pada kekuatan hitam
yang mengerikan.
Persoalan yang menyangkut Widati hanyalah satu dari seribu persoalan yang dapat
ditimbulkan oleh padepokan itu. Pada dasarnya segala macam tingkah laku yang
menyimpang dari peradaban akan dapat terjadi.
Padepokan itu akan menjadi sumber yang akan mengalirkan sikap dan tingkah laku
yang merugikan bebrayan manusia disekitarnya. Karena itulah, maka Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat menganggap bahwa
persoalannya sebenarnya tidak terbatas pada persoalan niat Singatama untuk
mengambil Widati saja, tetapi menyangkut sikap isi padepokan itu dalam
keseluruhan
Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berada di serambi
didepan perapian, sempat berbicara panjang tentang rencana yang akan mereka
tempuh.
“Jika kita hanya memotong rencana Singatama kali ini, maka kita baru dapat
membendung salah satu saluran yang bersumber dari padepokan itu. Padahal
padepokan itu tentu akan mempunyai banyak sekali saluran yang akan mengalir
kesekitarnya dengan membawa arus air yang beracun” berkata Mahisa Murti.
“Sayang bahwa kita belum dapat menjajagi kekuatan yang tersimpan didalam
padepokan itu” berkata Mahisa Pukat.
“Tetapi bagaimanapun juga, kekuatan di padepokan itu mempunyai batas. Menurut
pendengaran kita, hanya seorang sajalah yang perlu disegani. Pemimpin padepokan
itu sendiri” berkata Mahisa Murti.
“Tentu ada beberapa orang putut yang mempunyai kemampuan yang pantas
diperhitungkan” berkata Mahisa Pukat.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya “Perhitungan Empu Nawamula memang pantas
diperhatikan. Empu Nawamula sama sekali tidak menjadi gentar Tetapi jika terjadi
sesuatu atasnya, maka akibatnya akan sangat buruk bagi orang-orang yang tersisa.
Sehingga dengan demikian, maka Empu Nawamula perlu membuat perhitungan yang
sebaik-baiknya”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Ketika ia
melihat seorang cantrik berjalan
ke pakiwan, maka iapun berguman “Anak itu tidak dapat tidur”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya “Seperti kita, ia juga gelisah karena
perintah Singatama”
“Tentu banyak diantara para cantrik yang masih belum tertidur” berkata Mahisa
Pukat.
“Ya. Dan kita tidak dapat membantu mereka” sahut Mahisa Murti.
Keduanyapun kemudian saling berdiam diri untuk beberapa saat. Mereka sedang
merenungi, apa yang sebaiknya harus mereka lakukan. Waktu mereka tinggal
sedikit. Esok, mereka akan menyampaikan pendapat mereka kepada Empu Nawamula,
atau sebaliknya Empu Nawamulalah yang menemukan jalan yang paling baik untuk
ditempuh.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata “Mahisa Pukat. Apakah kita
bersalah, jika seandainya kita melibatkan orang lain dalam persoalan ini. justru
dalam satu usaha untuk menumpas langsung sumber dari tindakan yang dapat
mengotori pergaulan manusia itu”
“Maksudmu, kita melaporkannya kepada prajurit Singasari atau katakanlah kepada
kakang Mahisa Bungalan agar ia membawa prajurit segelar sepapan?“ bertanya
Mahisa Pukat.
“Jika demikian, belum tentu usaha itu akan berhasil” jawab Mahisa Murti “sebelum
pasukan itu mengepung padepokan Singatama, mereka tentu sudah berhasil melarikan
diri. Atau berusaha untuk menghapuskan segala macam jejak kejahatan mereka
sehingga para prajurit di Singasari tidak akan dapat bertindak tanpa bukti yang
kuat”
“Lalu apa maksudmu?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Kita melaksanakannya sendiri. Jika kami menyeret lingkungan keprajuritan dan
kita tidak menunjukkan bukti-bukti yang cukup, maka justru kita akan dapat
dituduh memfitnah sebuah padepokan” berkata Mahisa Murti.
“Ya. Dan apakah yang akan kita lakukan?“ Mahisa Pukat tidak sabar. 4- Kita
menghubungi ayah” jawab Mahisa Murti. “ Ayah? Kita ajak ayah, paman Witantra,
paman Mahisa Agni dan beberapa orang lainnya untuk menyerang padepokan itu?“
bertanya Mahisa Pukat “apakah kita dapat menyerang satu padepokan tanpa
menunjukkan alasan yang kuat. Kita tidak mempunyai persoalan apapun juga.
Tiba-tiba saja kita menyerangnya” t- Bukan kita yang menyerang. Biarlah mereka
yang menyerang kita” jawab Mahisa Murti. Mahisa Pukat mengerutkan keningnya.
Tetapi ia menggeleng “Aku tidak mengerti” “ Aku akan minta »;«ii dan sokurlah
jika paman Witantra dan paman Mahisa Murti bersedia melaksanakannya, untuk
menjebak guru Singatama itu” berkata Mahisa Murti. Mahisa Pukat termangu-mangu
sejenak. Tetapi ia belum jelas maksud Mahisa Murti. Maka katanya “Aku kurang
mengerti. Bagaimana kau akan menjebak mereka” “ Kita bujuk semua cantrik yang
besok akan keluar dari padepokan ini untuk berkumpul disebuah padepokan baru.
Kits minta ayah, paman Witantra dan paman Mahisa Agni untuk memimpin padepokan
itu. Dengan demikian, maka padepokan yang baru itu akan menarik perhatian
padepokan Singatama. Ia tentu akan marah karena para cantriknya telah kita
himpun” “ Dalam waktu lima hari?“ bertanya Mahisa Pukat. “ Kita tidak perlu
membuat sebuah padepokan yang sudah jadi. Kita akan memagari sebuah lingkungan
di hutan. Kita bersama para cantrik akan membangun barak-barak untuk
berteduh. Aku kita, tidak akan ada tenggang waktu lama, kita sudah berhasil
memancing persoalan dengan padepokan Singatama” berkata Mahisa Murti. “ Tetapi
bagaimana sikap kita, jika ternyata guruSinga-tama tidak mengambil sikap apapun
juga” berkata Mahisa Pukat. “ Kita bekerja bersama dengan Ki Raganiti dan Ki
Buyut Randumalang”jawab Mahisa Murti. “ Caranya?“ bertanya Mahisa Pukat pula. “
Jika kehadiran para cantrik disini tidak dapat memancing persoalan, maka kita
minta Ki Buyut Randumalang membawa anak gadisnya kemari. Memang perlu
penjelas-an. Tetapi untuk keselamatan gadis itu, dan lebih luas lagi, untuk
keselamatan lingkungan hidup disekitar padepokan itu, aku kira mereka tidak akan
berkeberatan” sahut Mahisa Murti. “ Satu kerja yang besar. Waktunya hanya lima
hari. Aku kurang yakin, bahwa usaha ini akan berhasil” berkata Mahisa Pukat.
Lalu “Tetapi aku. tidak akan segan untuk mencobanya” i “ Jika kau sependapat,
kita temui Empu Nawamula. Kita akan melaporkan rencana ini. Jika Empu Nawamula
setuju, kita akan melakukannya. Kita akan menghubungi para cantrik dan minta
mereka berkumpul disatu tempat sepekan lagi. Sementara itu, kita akan minta
ayah, paman Witantra dan paman Mahisa Agni atau salah seorang diantara me-reka.
Jika kita kemudian berhasil, kita akan menyerahkan para cantrik kembali kepada
Empu Nawamula disini” berkata Mahisa Murti. Mahisa Pukat mengangguk-angguk.
Rencana itu belum jelas dan belum terperinci. Tetapi Mahisa Pukat sudah mendapat
gambaran akan ujudnya. Karena itu, maka iapun sependapat untuk menyampaikannya
kepada Empu Nawamula, untuk selanjutnya menghubungi para cantrik yang sedang
gelisah.
Dengan hati-hati kedua orang anak muda itupun kemudian berusaha menghubungi Empu
Nawamula. Dengan singkat merekapun memberitahukan rencana mereka. “ Apa kalian
akan sempat melakukannya hanya dalam waktu sepekan?“ bertanya Empu Nawamula.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ada juga terasa nada keraguan,
tetapi ia berkata “Kami ber dua akan berusaha sebaik-baiknya Empu. Tetapi sudah
tentu, kami akan memohon untuk mendapat pinjaman dua ekor kuda” Empu Nawamula
mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan mengusahakan dua ekor kuda. Jika
Singatama menanyakannya, biarlah aku yang menjawabnya” Kedua anak muda itu
mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Murtipun bertanya “Empu. Bagaimana
pendapat Empu jika mulai saat ini kami akan menghubungi para cantrik?“ “
Baiklah. Kalian tidak usah menghubungi semua cantrik. Kalian cukup mengatakannya
kepada satu dua orang diantara mereka dengan pesan agar mereka menyampaikannya
pula kepada kawan-kawan mereka” “ Tetapi apakah dengan cara demjkian, tidak akan
mungkin rencana ini sampai ketelinga Singatama?“ bertanya Mahisa Pukat. -]
Tidak. Tidak seorangpun diantara para cantrik yang tertarik untuk bekerja
bersamanya” jawab Empu Nawamula. Dengan demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat itupun menjadi mantap. Seperti yang dikatakan oleh Empu Nawamula, maka
mereka tidak lagi ingin menghubungi semua cantrik, karena dengan demikian maka
bahayanya akan menjadi bertambah besar Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat hanya menghubungi seorang cantrik yang kepanasan di dalam
barak dan duduk dibawah sebatang pohon jam bu. “ Kenapa kau tidak tidur?“
bertanya Mahisa Murti. “ Udara panas sekali” jawab cantrik itu. “ Lebih panas
lagi denyut jantung didalam dada ini” desis Mahisa Pukat. Cantrik itu menarik
nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menanggapinya. Ada semacam ketakutan untuk
mengatakan sesuai dengan perasaannya, karena cantrik itu sudah mengenal
Singatama dengan baik. Namun dalam pada itu Mahisa Murtipun kemudian duduk di
sebelahnya, sementara Mahisa Pukat duduk agak jauh dari keduanya mengamati
keadaan disekelilingnya. Dengan hati-hati Mahisa Murti menyatakan rencananya.
Dengan sungguh-sungguh cantrik itupun mendengarkannya. Namun kemudian dengan
nada cemas cantrik itu berkata “Apa yang dapat kita lakukan? Setelah kita
berkumpul, lalu apakah dengan demikian kita akan dapat menyelamatkan diri jika
Singatama datang menghukum kita? Katakanlah, kita dapat melupakan kemungkinan
Singatama mencari keluarga kita, karena waktu yang sepekan itu kita pergunakan
untuk memberitahukan kepada keluarga kita agar menyingkir, tetapi apakah artinya
kita sendiri berkumpul disatu tem-pat itu?“ Mahisa Murti mengangguk-angguk.
Tetapi kemudian katanya “Kita akan menyusun kekuatan” “ Aku bukan pemimpin Ki
Sanak” jawab cantrik itu “jika kami melakukan seperti yang kau katakan, maka
akan sama artinya bahwa kita akan bunuh di ri” Mahisa Murti termangu-mangu. Ia
dapat mengerti jalan pikiran cantrik itu. Karena itu maka katanya “Ki Sanak.
Singatama bukan iblis yang tidak terkalahkan. Jika kita berani berbuat sesuatu
bersama-sama, maka ia akan dapat kita tundukkan. Aku dan saudaraku telah
bersepakat,
bahwa kita semuanya tentu akan dapat mengalahkannya” “ Seandainya Singatama
dapat kita kalahkan, DuKanKan berarti kita sudah mengundang gurunya untuk
membantai kita semua?“ berkata cantrik itu. “ Jika kita sendiri yang
menghadapinya, memang benar. Tetapi kita percaya kepada Empu Nawamula” berkata
Mahisa Murti ragu-ragu untuk menyebut nama itu. Tetapi kemudian “Seandainya Empu
Nawamula tidak mau melibatkan diri, karena Singatama adalah kemanakannya, maka
aku mempunyai seorang paman yang memiliki ilmu yang tinggi” Cantrik itu menarik
nafas dalam-dalam. Katanya “Kau tidak dapat membayangkan, betapa tingginya ilmu
Singatama dan apalagi gurunya” “ Tetapi kemampuan seseorang tetap terbatas”
jawab Mahisa Murti “aku yakin, bahwa pamanku dan kawan-kawannya akan dapat
mengatasinya, jika kalian benar-benar berniat demikian. Jika kita berani
mempertanggung jawabkan segala tindakan kita, maka kita akan berhasil.
Seandainya tidak, kenapa kita takut mati? Aku orang baru disini. Tetapi aku
tidak mau diperlakukan seperti kalian. Karena itu, aku akan memilih untuk
melawan. Jika dengan demikian aku harus mati, apaboleh buat. Tetapi itu lebih
baik bagi seorang laki-laki” Cantrik itu termangu-mangu. Anak muda itu
menyatakan satu sikap seorang laki-laki. “ He, apakah aku bukan laki-laki?“
cantrik itu bertanya kepada diri sendiri. Sejenak cantrik itu berpikir.
Sementara itu Mahisa Murti berkata “Kita selama ini terlalu merasa kecil,
sehingga kita tidak percaya bahwa didalam diri kitapun tersimpan kemampuan yang
dapat ikut menentukan hari depan kita sendiri. Seandainya kekuatan kita itu
tidak berhasil memecah dinding yang membatasi hari depan kita, maka
biarkan kita berkubur sebagai pejuang yang memperjuangkan masa depan kita
sendiri” Kata-kata cantrik itu benar-benar berpengaruh, sehingga akhirnya
cantrik itu berdesis “Kau dapat aku percaya?“ Mahisa Murti menarik nafas
dalam-dalam. Namun ia mulai berpengharapan bahwa usahanya akan berhasil. Karena
itu. maka Mahisa Murtipun menjadi semakin bergairah untuk mempengaruhinya.
Katanya “Aku menjadi taruhan. Jika harus bertaruh nyawa, maka biarlah aku yang
pertama-tama” “ Baiklah” berkata cantrik itu. Lalu “Sebenarnya akupun telah
menjadi jemu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan. Rasa-rasanya aku ingin
membebaskan diri. Kini baru aku sadar, bahwa bagi laki-laki memang ada pilihan
lain dari ketakutan itu sendiri” “ Nah, percayalah” berkata Mahisa Murti
kemudian “di tempat yang akan kita tentukan kemudian, kita dapat ber temu dan
berkumpul untuk menentukan langkah, maka alangkah baiknya. Kita akan dapat
berbuat sesuatu sebagai sekelompok laki-laki yang mempunyai pribadi yang mantap.
Bukan sekedar budak yang harus melakukan perintah tanpa mengetahui ujung dan
pangkalnya. Bahkan lebih dari itu. Kita telah diperlakukan sebagai seekor kuda
yang berlari kalau dilecuti” Cantrik itu mengangguk-angguk.- Jiwanya tiba-tiba
saja telah bergejolak. Namun ia masih bertanya “Tetapi bagaimana dengan
kawan-kawan kita?“ “ Kita harus memberitahukan kepada mereka sesuatu yang paling
baik kita lakukan” jawab Mahisa Murti “kita akan menentukan satu tempat untuk
bertemu setelah sepekan. Bahkan sebelum itu. Kita akan berkumpul dan membuat
satu padepokan baru. Tentu sikap itu akan menantang kemarahan Singatama. Tetapi
bukankah kita tidak takut lagi menghadapinya. Lebih baik kita lebur menjadi debu
daripada kita dianggap sebagai seekor binatang yang dapat diperlakukan
sewenang-wenang?“ Cantrik itu menganguk-.-.ngguk. Sementara itu Mahisa Murti
berkata “Tentukan, dimana kita berkumpul. Dan be-ritahukan semua cantrik yang
ada di padepokan ini. Besok pagi-pagi aku akan meninggalkan padepokan ini. Aku
akan Snencuri dua ekor kuda dan aku akan meninggalkan padepokan ini untuk
mempersiapkan segala-galanya” “ Tetapi kau benar-benar dapat dipercaya?“ cantrik
itu masih bimbang. “ AKu orang baru disini. Tetapi aku merasa bahwa tanpa
berbuat sesuatu, kita akan benar-benar menjadi budak yang tidak lebih berharga
dari debu” jawab Mahisa Murti. “ Baiklah. Jika demikian aku akan memberitahukan
kepada para cantrik” jawab cantrik itu. “ Tetapi hati-hati. Jika ada seorang
saja diantara para cantrik yang berkhianat, maka kita semuanya akan gagal.
Sebelum aku keluar dari padepokan ini esok pagi, aku sudah narus membukukan
kata-Kataku bahwa aku lebih baik hancur menjadi debu daripada diperbudak oleh
orang lain. Sela ma aku berada disini, aku merasa.alangkah damainya tempat ini.
Tetapi kehadiran Singatama membuat aku menjadi orang yang liar dan berdarah
panas seperti ini” berkata Mahisa Murti. “ Tetapi apa gunanya kau mencuri kuda?
Bukankah lebih baik kau pergi sebagaimana kami pergi. Dengan demikian Cantrik
itu mengangguk-angguk. Jiwanya tiba-tiba saja telah bergejolak. Marnun ia masih
bertanya” Tetapi bagaimana dengan kawan-kawan kita?“ kita tidak akan
meninggalkan kesan apapun juga. Seolah-olah kita memang sedang melakukan tugas
kita seba ik-baiknya” berkata cantrik itu. “ Tetapi tanpa kuda aku tidak akan
dapat mencapai rumah orang yang aku harap dapat bekerja sama dengan kita”
berkata Mahisa Murti “waktu kita hanya sepekan” Cantrik itu termangu-mangu.
Namun iapun kemudian berkata “Terserahlah kepadamu. Tetapi jika kalian
tertangkap esok pagi, aku akan menyesal sekali. Semua rencana tentu akan batal.
Keberanian kita akan lenyap jika pada langkah pertama kita sudah gagal” “ Aku
akan berusaha, agar aku tidak tertangkap” berkata Mahisa Murti. Demikianlah,
maka cantrik itupun telah menyatakan kesediaannya untuk melakukan rencana itu.
Ia akan menghubungi cantri-cantrik yang lain. Setelah mereka menentukan tempat
untuk bertemu setelah mereka meninggalkan padepokan itu dengan batas waktu
sepekan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah meninggalkan cantrik itu.
Seperti yang telah dijanjikan, maka cantrik itupun telah menghubungi seorang
kawannya. Ia mulai menjajagi sikap kawannya itu. Namun akhirnya ia berhasil
mengajak kawannya itu untuk melakukannya. Demikianlah keduanya mulai menghubungi
kawannya yang lain, bertunda dan berurutan, sehingga akhirnya sebelum pagi
mereka semuanya telah mendengar dan menyepakati rencana itu. Kejantanan mereka
ternyata telah tergugah, sehingga mereka memang memilih untuk melawan Singatama
daripada mereka harus menjalani kehidupan tidak lebih dari budak yang tidak
berarti apa-apa selain diperlakukan sebagai seekor-binatang. Dengan demikian,
maka para cantrik itupun tidak lagi dapat tidur nyenyak di sisa malam. Mereka
sudah membayangkan, apa .yang akan terjadi setelah sepekan. Namun dalam pada
itu, mereka telah berdoa, agar kedua anak muda yang akan melarikan diri dengan
dua ekor kuda iitu tidak tercium rencananya oleh Singatama, sehingga keduanya
akan dapat mengalam i nasib yang sangat buruk.
Seperti yang direncanakan, atas pengetahuan Empu Nawamula, maka Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat telah menyiapkan dua ekor kuda. Mereka akan mempertanggungjawabkan
kedua ekor kuda itu. Keduanya tidak akan membebani kesulitan kepada Empu
Nawamula jika Empu Nawamula yang harus mempertanggungjawabkannya. Empu Nawamula
mengagumi sikap AJahisa Murti dan Mahisa Pukat. Bukan saja keberanian mereka
mengambil sikap, tetapi juga karena mereka siap untuk bertanggung jawab atas
sikap mereka. Dalam keheningan pagi, padepokan itu telah dikejutkan oleh derap
kaki kuda. Dua ekor kuda berlari meninggalkan padepokan itu dengan dua orang
penunggangnya. Demikian cepatnya berlalu, sehingga tidak seorangpun yang sempat
mencegahnya. Singatama dan orang-orang yang mengawalnya terkejut. Mereka
berloncatan dari pembaringan dan berlari keluar. Tetapi keheningan telah kembali
mencengkam padepokan itu. Dengan marah Singatamapun mengumpulkan semua cantrik.
Ia ingin segera mengetahui, apakah ada diantara para cantrik itu yang
meninggalkan padepokan. Singatama yang marah itupun segera mengetahui, dua
diantara para cantrik telah lenyap. Dua orang cantrik yang paling baru datang
kepadepokan itu. Jantung Singatama hampir meledak karenanya. Dengan nada lantang
ia berteriak Panggil paman Nawamula”
“Aku disini Singatama” jawab Empu Nawamula “jangan berteriak-teriak begitu. Ada
apa?“
Terasa sentuhan yang tajam di dadanya. Bagaimanapun juga orang tua itu mempunyai
pengaruh yang besar atasnya. Bukan saja karena ia pamannya. Tetapi Singatamapun
tahu
bahhwa pamannya adalah orang yang berilmu tinggi. Sehingga karena itu, maka
iapun harus menahan diri untuk tidak bertindak tergesa-gesa.
Namun dalam pada itu, ketika Empu Nawamula melangkah mendekatinya, Singatama itu
bertanya “Paman, apakah paman yang telah menerima kedua orang anak muda itu di
padepokan ini?“
“Ya. Akulah yang telah menerimanya” jawab Empu Nawamula.
“Apakah paman mengetahui, dimana rumahnya dan siapa saja keluarganya?“ bertanya
Singatama pula.
Empu Nawamula menggeleng. Jawabnya “Belum. Aku tidak mengenal kecuali kedua
orang anak muda itu. Keduanya datang di padepokan ini untuk mohon perlindungan.
Keduanya adalah perantau yang tidak mempunyai tempat tinggal tertentu”
“Paman terlalu memanjakan mereka” bentak Singatama.
“Jangan membentak aku. Akulah yang lebih pantas membentakmu, karena akulah
pengganti orang tuamu” sahut Empu Nawamula. Lalu katanya “Ketahuilah Selama
keduanya berada di padepokan ini, keduanya menunjukkan sikap yang sangat baik.
Mereka sama sekali tidak menunjukkan gejala-gejala seperti yang baru saja
terjadi. Tetapi kedatanganmu dan sikapmu telah merubah segala-galanya. Agaknya
keduanya tidak terbiasa mengalami kekerasan seperti yang kau lakukan”
Wajah Singatama menjadi merah. Tetapi sebelum ia menjawab Empu Nawamula telah
berkata “Apalagi perintah yang kau keluarkan untuk mencari seseorang yang tidak
dikenal dengan batas waktu sepekan. Benar-benar satu perintah yang tidak masuk
akal. Karena itulah agaknya
mereka telah memilih untuk melarikan diri. Celakanya, mereka telah membawa dua
ekor kuda yang paling baik dari padepokan ini”
Singatama menggeretakkan giginya. Dengan nada kesal ia berkata “Persetan dengan
kedua orang itu. Tetapi bahwa mereka telah membawa dua ekor kuda dari padepokan
ini, aku tidak akan pernah melupakan. Jika pada suatu saat aku dapat menjumpai
keduanya, maka aku tidak akan memaafkannya. Aku akan mengambil tindakan yang
paling sesuai dengan kesalahan mereka”
“Terserah kepadamu. Jika kau tidak sedang berada di padepokan ini, maka aku
dapat kau tuntut untuk mempertanggung-jawabkan hilangnya dua ekor kuda. Tetapi
justru kau berada disini, maka tanggung jawab itu tidak seluruhnya terletak di
pundakku” berkata Empu Nawamula.
Singatama hampir tidak dapat mengendalikan dirinya. Tetapi ia masih tetap sadar,
bahwa pamannya adalah orang yang berilmu tinggi. Karena itu, tiba-tiba ia telah
menumpahkan kemarahannya kepada para cantrik. Katanya dengan keras “Persetan
semuanya. Aku tidak mau melihat kelambatan yang akan dapat membuat aku semakin
marah. Kalian, para cantrik yang dungu. Aku tidak mau melihat kau dengan bodoh
berdiri membeku. Sekarang juga kalian harus pergi. Sepekan lagi kalian harus
kembali. Siapa yang tidak kembali akan mengalami hukuman yang sangat berat.
Tetapi jika tidak seorangpun diantara kalian yang membawa gadis yang aku
kehendaki, maka aku tidak akan memaafkan kalian lagi. Tingkah laku kedua orang
cantrik itu membuat kepalaku pening dan darahku mendidih”
Para cantrik itu saling berpandangan sejenak. Namun mereka merasa bersukur bahwa
Singatama tidak berbuat sesuatu yang dapat membuat mereka dalam kesulitan.
“Cepat” teriak Singatama semakin keras. Bersiaplah. Sebelum matahari terbit,
kalian harus sudah meninggalkan padepokan ini. Jika aku masih melihat seseorang
di padepokan ini, maka ia akan aku cekik sampai mati”
Perintah itu tidak diulangi. Para cantrikpun dengan tergesa-gesa telah pergi
kedalam barak mereka untuk membenahi diri dan barang-barang yang akan mereka
bawa dalam perjalanan mereka yang lima hari. Sebagaimana mereka sepakati, maka
merekapun telah membawa senjata yang mereka punyai tanpa menimbulkan kecurigaan
pada Singatama, karena para cantrik itu akan menempuh sebuah perjalanan yang
mungkin akan menjumpai bahaya.
Seperti yang diperintahkan oleh Singatama, maka sebelum matahari terbit,
merekapun telah meninggalkah padepokan itu.
Tetapi justru karena mereka meninggalkan padepokan sebelum matahari terbit dan
dengan tergesa-gesa, maka mereka mendapat kesempatan lebih banyak untuk
menentukan sikap mereka sebagaimana telah mereka bicarakan semalam.
Sambil meninggalkan padepokan, mereka sempat berbicara lebih mantap tentang
rencana mereka. Sementara itu, merekapun berusaha untnk mengelabui Singatama
apabila ia melakukan pelacakan atas para cantrik dengan memencar diri barang
semalam, sebelum mereka akan menuju kesatu tempat yang telah mereka sepakati.
Tetapi para cantrik itu tidak pergi sendiri-sendiri. Mereka telah membentuk
kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang. Bertiga mereka akan
memencar dan akhirnya akan berkumpul kembali tanpa menghiraukan apakah gadis
yang dicari oleh Singatama itu akan dapat ditemukan.
Yang penting bagi mereka, justru kesempatan untuk menghubungi keluarga mereka.
Agaknya ada diantara para cantrik yang menganggap bahwa untuk sementara keluarga
mereka sebaiknya menyingkir saja dari rumah mereka ke tempat yang tidak
diberitahukan kepada para tetangga, agar mereka tidak menjadi sasaran kemarahan
Singatama.
Jika semuanya telah dapat diselesaikan, maka mereka akan kembali lagi ke tempat
kediaman mereka semula.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah jauh meninggalkan padepokan.
Kuda mereka berpacu dengan kecepatan yang tinggi. Sebagai pengembara, merekapun
berusaha untuk mengenali jalan yang mereka tempuh, sehingga mereka akan dapat
menemukan arah kembali ke rumahnya.
“Jarak kita dengan rumah kita belum terlalu jauh” berkata Mahisa Murti “meskipun
demikian, mungkin kita tidak akan dapat mencapai rumah kita pada malam ini”
“Kita akan bermalam di perjalanan” berkata Mahisa Pukat “meskipun dengan seekor
kuda, kita dapat mempersingkat jarak. Tetapi selambat-lambatnya esok kita sudah
berada dirumah. Jika kita bermalam semalam, maka dihari berikutnya kita akan
berangkat. Katakanlah kita akan bermalam lagi semalam di perjalanan. Maka kita
telah mempergunakan tiga malam bagi perjalanan kita”
“Dengan demikian, kita masih mempunyai waktu untuk menyusun diri. Mudah-mudahan
usaha ini berhasil, meskipun kita masih harus mengganggu ketenangan orang tua.
Tetapi masalahnya adalah masalah yang penting, yang menyangkut peri kehidupan
banyak orang” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Setidak-tidaknya kita sudah
berusaha untuk dapat
memberikan keterangan tentang orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak
terpuji itu. Mudah-mudahan ayah tidak menganggap bahwa ternyata kita masih
terlalu kanak-kanak yang merengek dalam kesulitan”
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia yakin, bahwa ayahnya tidak akan
menganggapnya demikian. Persoalan yang dihadapimya saat itu memang persoalan
yang cukup berat, karena mereka harus berhadapan dengan satu padepokan yang
dipimpin oleh seseorang yang menurut pendengaran mereka mempunyai kemampuan yang
sangat tinggi, meskipun bersumber pada ilmu hitam.
Demikianlah, kedua anak muda itu berpacu terus. Sekali-sekali mereka memang
berhenti untuk memberi kesempatan kepada kuda mereka untuk beristirahat, minum
ian makan secukupnya. Sementara kedua anak muda itu justru tidak merasa lapar
sama sekali perlu untuk berhenti dan makan secukupnya, karena mereka harus
mempertahankan keseimbangan tubuh mereka.
Ternyata kedua orang anak muda itu tidak mengalami hambatan disepanjang
perjalanan. Mereka memang harus bermalam di lereng sebuah bukit padas kecil yang
gundul. Hanya ada satu dua batang pohon yang tumbuh dilerengnya. Namun di
sebelah bukit itu mengalir sebatang sungai yang berair sangat bening.
Kedatangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengejutkan Mahendra. Karena itu
maka dengan tergopoh-gopoh ia menyongsong kedua anaknya sambil bertanya langsung
apakah ada sesuatu kesulitan di perjalanan mereka.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak tergesa-gesa. Justru karena sikapnya
itu, maka Mahendrapun menjadi tenang.
Baru setelah duduk, minum dan makan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun mulai
menceriterakan, dorongan apakah yang telah membawa mereka kembali kepada ayahnya
setelah mereka menempuh perjalanan yang masih terhitung sangat pendek.
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya “Kalian telah mengambil langkah yang benar.
Kalian memang tidak sepantasnya menghadapi satu kekuatan yang tidak kalian
ketahui. Bahkan Empu Nawamulapun tidak dapat menentukan apakah ia akan dapat
mengatasi atau tidak. Padahal menurut pengenalanku atas Empu itu, ia adalah
seorang yang memiliki ilmu yang tinggi”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Semenntara itu Mahisa Murtipun
menceriterakan rencana mereka untuk memancing persoalan, sehingga ada alasan
untuk melawan padepokan yang berilmu hitam itu. Yang akan dapat melakukan tindak
sewenang-wenang terhadap pihak lain disekitar daerah pengaruh padepokan itu,
bahkan sampai ke tempat yang jauh.
“Satu contoh telah terjadi ayah” berkata Mahisa Pukat kemudian
“kesewenang-wenangan Singatama terhadap seorang gadis, anak Ki Buyut
Randumalang. Jika keluarganya gagal melindunginya, maka ia akan mengalami nasib
yang sangat buruk. Namun dalam pada itu, tentu kesewenang-wenangan yang lain
akan mungkin saja terjadi, mereka sebaiknya menyingkir saja dari rumah mereka
setempat yang tidak diberitahukan kepada para tetangga, agar mereka tidak
menjadi sasaran kemarahan Singatama. Jika semuanya telah dapat diselesaikan,
maka mereka akan kembali lagi ke tempat kediaman mereka semula”
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah jauh meninggalkan padepokan.
Kuda mereka berpacu dengan kecepatan yang tinggi. Sebagai pengembara,
merekapun berusaha untuk mengenali jalan yang mereka tempuh, sehingga mereka
akan dapat menemukan arah kembali ke rumahnya.
Mahendra mendengarkan keterangan kedua anaknya itu dengan seksama. Sehingga
dengan demikian, maka rasa keadilannyapun telah disentuh pula. Dengan demikian,
maka iapun merasa terpanggil untuk ikut bersama anak-anaknya itu menghadapi satu
kekuatan hitam yang akan dapat mengguncangkan ketenangan hidup bebrayan.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukatpun bertanya “Apakah ayah akan pergi sendiri
atau seperti biasanya, ayah akan bertamasya bersama paman Witantra dan paman
Mahisa Agni?“
“Paman-pamanpun sudah menjadi semakin tua. Tetapi jika aku mengajak mereka, aku
kira merekapun tidak akan berkeberatan” berkata Mahendra.
“Waktu kita sangat sempit, 'ayah” berkata Mahisa Murti.
“Baiklah. Hari ini aku akan menghubungi paman-pamanmu. Jika mereka tidak sedang
terlalu sibuk aku kira mereka tidak akan berkeberatan pergi bersamaku” berkata
Mahendra. Namun kemudian iapun bertanya “Tetapi, dapatkah kau mengatakan, apakah
para pengikut guru Singatama itu jumlahnya terlalu banyak?“
“Itulah yang sulit aku katakan, ayah” jawab Mahisa Murti “tetapi menurut
pendengaranku, padepokan itu berkembang dengan cepat. Dengan demikian, maka
padepokan itu telah berhasil menghimpun kekuatan yang semakin besar dalam
landasan ilmu hitam. Justru karena orang-orang padepokan itu merasa bahwa hidup
dan sikap mereka bebas tanpa kekang sama sekali, dan tidak ada kekuatan yang
akan dapat menghalanginya, maka
padepokan itu menjadi sangat menarik bagi orang-orang yang menganut cara hidup
yang sesat”
“Tetapi bagaimana Singatama itu dapat terjerat?“ bertanya Mahendra.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian menceriterakan hal itu sebagaimana
mereka dengar dari Empu Nawamula. Sehingga orang tua Singatama sendiri menjadi
kehilangan kesempatan untuk memberikan arah bagi sikap hidup anaknya.
Manendra mengangguk-angguk. Ia sudah mempunyai gambaran sikap dari satu
lingkungan yang memang dapat membahayakan sesama. Sehingga karena itu, maka
iapun kemudian berkata “Baiklah. Aku akan menghubungi kedua pamanmu. Kalian
dapat beristirahat barang sejenak disini.
Demikianlah, maka Mahendrapun kemudian meninggalkan rumahnya untuk menghubungi
Witantra dan Mahisa Agni. Agaknya kedua orang itu akan dapat diajak berbuat
sesuatu menghadapi tingkah laku yang menyimpang dari sikap kewajaran hidup
diantara sesama.
Sebenarnyalah yang diharapkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terpenuhi.
Menjelang malam hari keduanya telah datang ke rumah Mahendra untuk memenuhi
permintaannya.
Namun dalam pada itu, Witantrapun sempat berkelakar. Katanya kepada Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat “Ternyata pengembaraan kalian terlalu cepat berakhir”
“Tidak paman” jawab Mahisa Pukat “jika tidak ada persoalan khusus, aku kira aku
masih belum akan kembali Tetapi dalam hal ini. kami berdua merasa bahwa kami
masih terlalu lemah untuk mengatasinya, sementara persoalannya kami anggap cukup
besar untuk ditangani”
Witantra tersenyum. Katanya “Sebenarnyalah kalian memang harus dapat menilai
diri. Adalah tidak ada artinya sama sekali jika kalian memaksa diri untuk
melakukan sesuatu yang sudah kalian ketahui, diluar kemampuan kalian untuk
melakukannya. Karena itu, ketika ayah kalian mengatakan persoalannya kepadaku,
maka akupun merasa tidak berkeberatan untuk pergi bersama kalian”
“Terima kasih, paman” berkata Mahisa Murti “ternyata bahwa kami menghadapi satu
keadaan yang belum dapat kami jajagi”
Tetapi kalian sudah dapat memberikan sedikit gambaran tentang lingkungan yang
akan kita hadapi” berkata Mahisa Agni. Lalu “Karena itulah, maka ayahmu telah
menghubungi kakakmu, Mahisa Bungalan pula”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan serta merta berpaling kepada ayahnya.
Seolah-olah mereka ingin mendapat penjelasan, apakah benar ayahnya telah
menghubungi Mahisa Bungalan yang sudan berada dilingkungan keprajuritan”
Mahendra yang dapat membaca pertanyaan yang terpancar pada sorot mata kedua
anaknya itupun berkata ”Ya. Aku sudah menghubungi kakakmu Mahisa Bungalan.
Kakakmu sebagai seorang prajurit. Ia akan pergi bersama kami dalam tugasnya,
karena jija kami menyelesaikan persoalan ini, kami tidak akan dapat berbuat
sendiri. Kami juga harus menyerahkan orangj.-orang padepokan itu kepada para
prajurit yang berwenang untuk mengambil tindakan selanjutnya”
“Tetapi kami dapat menyerahkan kepada Akuwu yang memerintah langsung daerah itu”
berkata Mahisa Pukat.
“Kau tidak pernah menyebut-nyebut nama Akuwu. Kau juga tidak dapat
menghubunginya untuk mengatasi
persoalan itu. Sementara itu tidak akan ada salahnya, jika prajurit Singasari
akan langsung mengambil tindakan, apabila mereka benar-benar melihat satu bukti
pelanggaran yang dilakukan oleh padepokan itu. Bukan sekedar tuduhan atau
dugaan, bahwa padepokan itu telah melanggar paugeran pergaulan antara sesama
penghuni tlatah Singasari“ jawab Mahendra.
“Tetapi mereka tidak akan terlalu bodoh untuk menjerumuskan diri mereka, jika
mereka mengetahui bahwa mereka berhadapan dengan prajurit Singasari” sahut
Mahisa Pukat “dengan demikian kita justru tidak akan dapat berbuat apa-apa”
Mahendra tersenyum. Ia melihat sikap yang lugu dari kedua orang anaknya. Karena
itu maka katanya “Sudah tentu, Mahisa Bungalan tidak membawa pasukannya dalam
ujudnya sebagai prajurit Singasari”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk Mereka mengerti maksud ayahnya,
sementara merekapun menyadari, bahwa kekuatan padepokan yang akan mereka hadapi
itupun tidak akan dapat diabaikan. Mungkin di padepokan itu tinggal
berpuluh-puluh orang yang memiliki ilmu yang setingkat dengan Singatama, atau
bahkan ada diantara mereka yang telah melampauinya. Sehingga dengan demikian,
maka para cantrik dari padepokan Empu Nawamula yang akan berkumpul itu tidak
akan mampu berbuat sesuatu merkipun mereka akan berdiri disatu pihak dengan
Mahendra, Witantra dan Mahisa Agni.
“Mungkin guru Singatama itupun mempunyai satu dua orang kawan yang setingkat”
berkata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat didalam hati.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murtipun berkata “Baiklah ayah. Nampaknya memang
lebih baik kita berjaga jaga menghadapi kekuatan diluardugaan kita”
“Lebih baik kita menghadapi mereka dengan yakin” berkata Mahendra “selebihnya,
pasukan Singasari tentu juga berkewajiban untuk melakukannya”
Demikianlah maka merekapun telah membenahi diri. Esok pagi mereka akan berangkat
menuju ke tempat yang sudah disepakati oleh Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para
cantrik yang telah mendapat perintah untuk mencari seorang gadis yang bernama
Widati.
Malam itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak segera dapat tidur lelap. Mereka
merasa selalu gelisah. Seolah-olah mereka dibayangi oleh tingkah laku Singatama
yang kasar dan memuakkan.
Di dinihari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah dikejutkan oleh derap kaki kuda
memasuki halaman rumahnya. Ketika mereka menjenguk ke halaman, ternyata Mahisa
Bungalan telah berada di halaman bersama sepuluh orang prajurit yartg berpakaian
orang kebanyakan.
Dengan tergesa gesa kedua anak muda itu telah menemui kakaknya. Dengan gembira
pula Mahisa Bungalan mendengarkan kedua adiknya itu berbicara tentang
rencananya.
“Aku sependapat dengan sikapmu” berkata Mahisa Bungalan “padepokan yang
mempunyai ciri-ciri demikian memang harus dihapuskan. Tetapi sudah tentu, bahwa
kita tidak dapat menuduh tanpa dapat membuktikan. Karena itu, apa yang akan
kalian lakukan akan dapat dengan langsung menjebak mereka, apabila benar-benar
seperti yang kalian katakan, mereka adalah orang-orang yang tidak mengharap lagi
kepentingan dan kebebasan orang lain”
Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka orang-orang yang akan melakukan
perjalanan itu sudah siap untuk berangkat. Menjelang matahari terbit, maka
mereka telah meninggalkan regol halaman.
Tetangga-tetangga Mahendra sudah tidak terkejut lagi jika dirumah itu nampak
beberapa ekor kuda. Merekapun tahu, bahwa Mahisa Bungalan telah menjadi seorang
prajurit, sehingga kawan-kawannya sering datang mengunjungi rumah itu. Atau
kawan-kawan Mahendra sendiri dalam hubungan dengan pekerjaannya, saudagar wesi
aji dan emas permata.
Dalam pada itu, iring-iringan itu tidak seterusnya menempuh perjalanan dalam
satu kelompok. Agar tidak menarik banyak perhatian, maka mereka telah membagi
diri dalam beberapa kelompok kecil. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang
berada di paling depan telah dengan sengaja membuat isyarat sehingga orang-orang
lain yang mengikutinya akan tidak kehilangan jejak.
Seperti pada saat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kembali ke rumahnya, maka
perjalanan itupun harus disekat oleh pekatnya malam. Iring-iringan itupun harus
telah memilih satu tempat yang paling baik untuk bermalam.
Ternyata tidak terjadi sesuatu yang dapat menghambat perjalahan mereka di hari
berikutnya, sehingga mereka dapat berangkat pagi-pagi sebelum cahaya matahari
menembus rimbunnya dedaunan hutan.
Dalam pada itu, agaknya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak dapat memilih ialan
lain kecuali jalan yang pernah mereka lalui. Meskipun mereka tidak menerobos
Kabuyutan Randumalang tetapi mereka telah melintas di padang perdu di daerah
Kabuyutan Randumalang itu pula.
Namun dalam pada itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi cemas, bahwa
pada suatu saat Widati akan dapat diketemukan oleh Singatama. Seandainya tidak
oleh para cantrik di padepokan Empu Nawamula, tetapi oleh para cantrik di
padepokan Singatama sendiri. Jika terjadi demikian, maka keadaan gadis itu akan
menjadi semakin gawat.
Ketika hal itu disampaikannya kepada Mahendra, maka Mahendrapun berkata “Apakah
tidak sebaiknya gadis itu berada didalam perlindungan kita?“
“Apakah ayahnya akan mempercayai kita?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Bukankah kalian dapat menguraikan apa yangrnungkin terjadi?“ bertanya Mahisa
Bungalan.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun akhirnya mengambil satu keputusan untuk membagi
diri. Mahisa Pukat akan meneruskan perjalanan ke tempat yang sudah disepakati
oleh para cantrik, sementara Mahisa Murti akan menempuh perjalanan kembali ke
Randumalang. Untuk meyakinkan Ki Buyut Randumalang, maka Mahisa Bungalan akan
menyertainya bersama Mahisa Agni.
Demikianlah, maka sepuluh orang prajurit yang tidak mengenakan ciri-ciri
keprajuritannya itupun telah dibagi pula. Lima orang bersama Mahisa Pukat dan
lima orang bersama Mahisa Murti.
Kedatangan Mahisa Murti di rumah Ki Buyut bersama beberapa orang telah
mengejutkan. Bahkan Ki Buyut telah mempunyai prasangka buruk. Ia pernah
menasehati anak gadisnya agar anaknya itu memilih kawan, apalagi yang nampaknya
akan dapat menyentuh hatinya. Oleh karena itu maka Ki Buyut menganggap bahwa
anaknya merasa dihalanginya, sehinga Mahisa Murti mengambil langkah-
langkah tertentu untuk menembus batasan yang telah diberikannya kepada anak
gadisnya.
Dengan cemas ia kemudian menerima Mahisa Murti dan beberapa orang yang bersama
di pendapa. Dengan cemas pula ia menanyakan, apakah maksud kedatangan Mahisa
Murti dan beberapa orang itu.
Mahisa Murti melihat kecemasan di sorot mata Ki Buyut. Iapun mengerti, bahwa Ki
Buyut yang merasa dirinya dan bahkan seisi Kabuyutannya itu terlalu lemah untuk
menghadapi Mahisa Muru apalagi dengan beberapa orang yang tentu orang-orang
pilihan, menemui kedatangannya dengan kecemasan.
Karena itu, maka Mahisa Murtipun telah berusaha untuk menjelaskan, maksudnya
dengan sangat hati-hati. Ia mulai dengan pertemuannya dengan seorang anak muda
yang bernama Singatama.
“Aku berada di padepokannya Dengan tidak kami rencanakan sebelumnya, kami telah
bermalam di sebuah padepokan yang ditunggui oleh seorang Empu yang kami kenal.
Namun ternyata bahwa padepokan itu adalah padepokan yang akan menjadi milik
Singatama” berkata Mahisa Murti lebih lanjut.
Dengan terperinci Mahisa Murti menceriterakan pertemuannya dengan Ki Raganiti.
Dari Ki Raganitilah maka Mahisa Murti mengetahui semua persoalannya dengan
jelas. Ternyata bahwa gadis yang disebut-sebut oleh Singatama itu adalah Widati.
Ki Buyut memang tidak segera mempercayainya. Tetapi karena Mahisa Murti dapat
menjelaskan dengan lengkap dan terperinci, maka Ki Buyut mulai condong untuk
mempercayainya bahwa yang dikatakan oleh Mahisa Murti itu benar. Namun untuk
mempercayakan anak gadisnya
kepada anak muda itu, Ki Buyutpun agaknya masih tetap ragu-ragu. Bagi Ki Buyut.
Mahisa Murti adalah anak muda yang asing.
Karena itulah, maka Mahisa Murti tidak dapat menyembunyikan diri lagi terhadap
Ki Buyut itu agar Ki Buyut dapat mempercayainya. Bahkan Mahisa Bungalan yaiig
datang bersamanya kemudian menunjukkan timang keprajuritannya yang berada
dibawah bajunya sambil berkata “Aku adalah seorang prajurit. Beberapa orang yang
ada disini sekarang ini adalah prajurit Singasari pula. Kami sedang berusaha
untuk mengamankan daerah ini dari tangan-tangan orang-orang yang tidak
bertanggung jawab”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Namun demikian, ia masih juga meyakinkan,
bahwa anaknya tidak akan menemui kesulitan, sehingga karena itu, maka katanya
“Baiklah Ki Sanak. Tetapi aku minta, agar aku diijinkan pergi bersama kalian.
Aku dapat menyerahkan pemerintahan di Kabuyutan ini kepada para bebahu yang
lain”
Mahisa Agni yang datang pula bersama Mahisa Murti sama sekali tidak merasa
berkeberatan. Karena itu, maka katanya “Bagi kami Ki Buyut, kesediaan Ki Buyut
akan merupakan penghargaan bagi kami. Bahkan mungkin dalam keadaan yang sulit,
Ki Buyut akan dapat memberikan banyak bantuan kepada kami”
“Ah. Ki Sanak tentu sudah mendengar dari anak muda ini, bahwa aku dan
orang-orang Kabuyutan ini tidak berarti apa-apa didalam olah kanuragan” jawab Ki
Buyut.
“Karena itu Ki Buyut” sahut Mahisa Murti “Widati harus mendapat perlindungan
yang cukup. Singatama akan dapat melakukan segala cara untuk mencapai maksudnya.
Bahkan mungkin dengan cara yang paling kasar”
Dalam pada itu, maka Ki Buyutpun telah membenahi diri. Demikian pula dengan
Widati. Meskipun Widati tertarik kepada Mahisa Murti, tetapi perjalanan itu
membuatnya sangat berdebar-debar. Ia akan berada didalam satu lingkungan yang
tidak diketahuinya. Sekelompok laki-laki yang memiliki ilmu kanuragan yang
tinggi. Meskipun ia akan pergi bersama ayahnya, tetapi ayahnya tentu tidak akan
berarti apa-apa bagi orang-orang itu seandainya mereka bermaksud buruk.
Karena itu, maka ketika mereka mulai dengan perjalanannya, setelah Ki Buyut
menyerahkan pemerintahan Kabuyutan itu kepada para bebahu yang lain, Widati
tidak terpisah dengan sebilah patrem. Ia akan dapat mempergunakan senjata itu
untuk mempertahankan diri. Tetapi juga untuk menghindarkan diri dan kepahitan
yang akan dapat menerkamnya.
Dengan demikian, maka sebuah iring-iringan telah menelusuri jalan yang kadang
kadang terasa sangat sulit. Terutama bagi Widati. Namun Mahisa Murti yang paling
mengetahui, kemana mereka akan pergi, berkuda di paling depan dengan agak
tergesa-gesa.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat telah mendekat tempat yang sudah mereka sepakati.
Meskipun yang sepekan itu masih belum habis, ternyata sudah ada beberapa orang
cantrik yang mendahului sampai ke tempat yang sudah mereka sepakati itu. Bahkan
mereka telah mulai mencari lingkungan yang paling baik untuk disebut sebuah
padepokan baru yang akan di kembangkan untuk memancing persoalan dengan sebuah
padepokan yang memiliki sumber ilmu hitam.
Kedatangan Mahisa Pukat dengan beberapa orang yang belum mereka kenal, telah
disambut oleh para cantrik dengan gembira. Namun mereka menjadi heran, bahwa
diantara orang-orang yang datang itu, tidak terdapat Mahisa Murti.
“Ia akan segera menyusul” berkata Mahisa Pukat “sementara kita akan membenahi
diri”
“Kawan-kawan kita telah menemukan satu lingkungan yang baik bagi sebuah
padepokan. Lingkungan yang sepi yang tidak banyak diketahui orang” berkata
seorang cantrik.
“Dimana?“ bertanya Mahisa Pukat.
“Beberapa ratus langkah dari tempat ini. Ditepi hutan yang tidak terlalu lebat.
Kita akan mendapat banyak kesempatan untuk melakukan banyak kegiatan tanpa
diketahui oleh Singatama” jawab cantrik itu.
Tetapi ternyata Mahisa Pukat tidak sependapat. Katanya “Kau aneh. Kita tidak
sedang bersembunyi. Kita justru sedang memancing persoalan. Karena itu, kita
akan mencari tempat yang justru banyak di ketahui orang, sehingga berita tentang
sebuah padepokan baru yang akan dibangun menjadi segera tersebar. Kitapun akan
mengatakan kepada orang-orang yang kita jumpai, bahkan para pedagang yang akan
kita hentikan karena kita memerlukan untuk membeli barang jualannya, akan kita
beritahu, bahwa para cantrik dari padukuhan Empu Nawamula telah berpindah
kesebuah padukuhan baru yang sedang dipersiapkan”
Wajah para cantrik menjadi tegang. Beberapa orang diantara mereka saling
berpandangan. Namun kemudian seorang diantara mereka berkata “Kau benar. Kita
memang tidak sedang bersembunyi. Semakin cepat bersoalan ini selesai, akan
menjadi semakin baik Kita bukan binatang yang dapat diperlakukan sekehendak hati
Singatama. Karena itu. segeralah terjadi. Mati atau mukti menurut
pengertian kita, para cantrik yang ingin hidup tenang di padepokan sambil
menuntut ilmu kejiwaan dan kenuragan”
Kawannya mengerutkan keningnya. Namun merekapun kemudian mengangguk-angguk.
Bahkan beberapa orang bergumam “Aku sependapat”
Dengan demikian, maka Mahisa Pukatlah yang kemudian bersama beberapa orang
cantrik telah membicarakan tempat yang paling baik yang akan mereka buka untuk
menjadi sebuah padepokan. Padepokan yang hanya akan mereka pergunakan beberapa
saat saja.
Dalam pada itu, Mahendra, Witantra dan para prajurit Singasari segera mencari
tempat untuk beristirahat, sementara Mahisa Pukat dan dua orang cantrik telah
menyusuri tempat disekeliling tempat peristirahatan itu untuk mereka jadikan
satu lingkungan padepokan baru. Justru tempat yang banyak diketahui orang dan
tidak tersembunyi.
Akhirnya mereka menemukan tempat itu. Memang sebuah padang perdu ditepi sebuah
hutan kecil. Tetapi tidak jauh dari sebuah jalan yang menghubungkan satu
padukuhan dengan padukuhan yang lain. Meskipun jalan itu tidak terlalu besar,
tetapi satu dua orang yang lewat dijalan itu akan segera berceritera tentang
sebuah padepokan baru. Ceritera itu akan segera tersebar sehingga akhirnya akan
terdengar oleh Singatama atau orang-orangnya. Apalagi setelah ia menyadari,
bahwa waktu yang sepekan itu telah habis dan orang-orangnya tidak segera
kembali.
Tanpa menunggu Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat dan para cantrik telah mengambil
satu keputusan. Mereka akan mulai membuat patok-patok kayu disekeliling padang
perdu. Mereka akan mengambil satu lingkungan yang tidak
perlu terlalu luas. Didalam pagar yang akan mereka buat. mereka akan mendirikan
barak-barak yang akan mereka pergunakan untuk berteduh.
Ternyata bahwa perjalanan Mahisa Murti yang membawa Widati bersamanya telah
terhambat, sehingga mereka harus bermalam semalam lagi diperjalanan. Dengan hati
yang berdebar-debar Widati sama sekali tidak mau terpisah dari ayahnya dan tidak
pula terpisah dari patrem yang diselipkan di ikat pinggangnya.
Namun malam itu, mereka tidak mengalami sesuatu. Ketika matahari menyingsing,
mereka melanjutkan perjalanan menuju ke tempat yang sudah ditentukan.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat dan para cantrik, bahkan para prajurit yang datang
bersama Mahisa Pukat dalam pakaian orang kebanyakan itu, telah membantu mereka
pula. Yang mula-mula mereka kerjakan, adalah memotong beberapa batang pohon di
hutan yang tidak begitu besar. Mereka mengambil batang dan dahan-dahan yang
rampak, untuk membuat dinding disekeliling tanah yang mereka perlukan. Mereka
memotong dahan-dahan itu setinggi orang, kemudian mereka tanam rapat sehingga
merupakan dinding yang cukup kuat. Apalagi mereka telah mengikat batang dan
dahan-dahan kayu itu dengan lulup.
Tetapi kerja itu ternyata adalah kerja yang besar. Kerja yang sangat melelahkan.
Namun mereka bertekad untuk melanjutkan kerja itu, meskipun kemudian kerja itu
tidak lagi terlalu rapi, karena mereka sadar, bahwa padepokan itu bukannya
padepokan yang sebenarnya.
Ketika Mahisa Murti kemudian sampai ke tempat itu, maka orang-orang yang datang
bersamanya itupun segera membantu Mahisa Pukat. Dengan tidak terlalu
menghiraukan mutu kerja yang mereka lakukan, mereka
ingin segera memberikan kesan, bahwa mereka telah membuat satu lingkungan
kehidupan tersendiri, yang kemudian akan mereka sebut dengan sebuah padepokan.
Pada saat padepokan itu mulai dikerjakan, maka waktu yang sepekan itu telah
habis. Dengan berdebar-debar Singatama menunggu kedatangan para cantrik yang
telah menyebar.
Dihari pertama, Singatama menyangka, bahwa para cantrik masih berada
diperjalanan kembali. Tetapi di hari kedua setelah batas waktu yang sepekan itu,
belum juga ada seorangpun yang datang.
Singatama mulai menjadi gelisah. Tetapi ia masih tetap yakin bahwa tidak
seorangpun dari para cantrik itu yang akan berani mengabaikan perintahnya,
kecuali dua orang cantrik baru yang telah melarikan diri.
“Agaknya belum seorangpun yang menemukan gadis itu” berkata Singatama. Namun
kemudian “Tetapi dapat atau tidak dapat, mereka tentu akan kembali pada
waktunya, meskipun mereka akan dihukum. Bahkan mungkin mereka dapat berharap,
seorang kawannya telah berhasil menemukan gadis yang mereka cari”
Pada hari ketiga, kemarahan Singatama mulai membakar jantung. Dengan nada keras
ia bertanya kepada Empu Nawamula “Paman, kenapa para cantrik tidak seorangpun
yang datang kembali setelah tiga hari berselang dari waktu yang telah aku
berikan”
Tetapi jawab Empu Nawamula memang sangat mengecewakan “Aku tidak tahu. Bukankah
kau berhadapan langsung dengan para cantrik itu”
“Apakah mereka bersama-sama melarikan diri?“ bertanya Singatama.
“Aku tidak tahu. Sebenarnya akupun telah menanti-nanti. Kebun dan halaman
padepokan ini telah menjadi sangat kotor. Kami yang tinggal tidak lagi mampu
membersihkan halaman sluas ini” jawab Empu Nawamula.
“Persetan dengan kebun dan halaman” geram Singatama “aku memerlukan laporan
perjalanan mereka semuanya. Aku memerlukan keterangan tentang gadis itu”
Tetapi Empu Nawamula tidak membiarkannya membentak-bentak. Karena itu iapun
menjawab “Itu urusanmu. Bukan urusanku”
Singatama menggeram. Tetapi ia tidak berani membentak pamannya lagi. Jika
pamannya benar-benar marah dan melakukan kekerasan, ia tidak akan dapat berbuat
banyak. Karena itu, maka yang dilakukannya kemudian adalah menunggu barang satu
dua hari. Jika dalam dua hari para cantrik tidak datang, bahkan seorangpun, maka
jelaslah bagi Singatama, bahwa para cantrik itu memang melarikan diri.
“Aku akan menghukum keluarga mereka” geram Singatama, yang kemudian berkata
kepada pengikutnya “Kita akan memburu keluarga mereka. Jangan berbelas kasihan”
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mulai membuat barak-barak
sederhana. Dengan kayu mereka ambil dihutan dan atap ilalang, maka beberapa
gubug telah berdiri, sekedar untuk berteduh. Usaha mereka untuk menarik
perhatian, ternyata tidak sia-sia. Beberapa orang yang lewat di jalan kecil
tidak jauh dari sebuah padepokan kecil yang mereka bangun itu, telah saling
memperbincangkannya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang dengan sengaja menghubungi orang-orang
padukuhan untuk membeli
makanan, telah mengatakan, bahwa mereka memang sedang menyiapkan sebuah
padepokan. “Kami akan segera menghubungi Ki Buyut di Kabuyutan ini” berkata
Mahisa Murti.
“Kalian nampaknya aneh” berkata seorang penghuni padukuhan diujung bulak “kalian
tidak membuka sebuah padepokan seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang
sebelumnya. Mereka mempersiapkan sebuah padepokan untuk waktu yang lama. Mereka
mengatur lingkungan dengan saksama. Mereka memerlukan tanah yang luas sebagai
tanah garapan. Tetapi kalian membuat sebuah padepokan dengan tergesa-gesa dan
seolah-olah sekedar gubug-gubug yang mirip dengan kandang ayam”
“Semuanya itu baru persiapan” jawab Mahisa Pukat “dengan modal gubug-gubug kecil
itu, kita akan mempersiapkan sebuah padepokan yang baik. Hutan kecil itu akan
kami tebas dan akan kami jadikan daerah persawahan yang subur. sudah tentu
dengan ijin Ki Buyut”
“Ki Buyut tentu tidak akan berkeberatan. Disini hutan masih sangat luas” jawab
orang itu.
Dalam pada itu, dengan sengaja pula Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengatakan,
bahwa orang-orang yang ikut membangun padepokan itu adalah para cantrik dari
sebuah padepokan yang dipimpin oleh Empu Nawamula dan kemenakannya yang bernama
Singatama.
“Tetapi kami tidak ingin kembali lagi ke padepokan itu” berkata Mahisa Pukat
“kami ingin hidup disini. Bahkan seorang adik perempuanku ikut pula bersama
kami. Karena sebenarnyalah sebuah padepokan memerlukan perempuan untuk
menyiapkan makanan dan minuman”
“Juga aneh” sahut orang padukuhan itu “bukankah para cantrik harus mampu menanak
nasi, memasak dengan membuat minuman?“
“Ia. Tetapi bukankah lebih baik hal itu dilakukan oleh seorang perempuan?“
Selebihnya adik perempuanku memang sedang bersembunyi”
Dengan demikian, maka berita tentang padepokan baru itu segera tersebar. Bukan
hanya di satu dua padukuhan. Tetapi telah tersebar semakin lama semakin luas.
Dalam pada itu, meskipun letak padepokain itu tidak terlalu jauh dari sebuah
sumber air dibawah sebatang pohon raksasa dipinggir hutan, tetapi mereka telah
mem buat sebuah sumur pula.
Dengan demikian, maka padepokan itu telah dilengkapi dengan pemenuhan kebutuhan
bagi satu lingkungan hidup, meskipun tidak disiapkan untuk seterusnya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengatur diri
sebaik-baiknya. Para cantrik harus tetap berhati-hati menghadapi perkembangan
keadaan. Segalanya akan dapat berlangsung dengan cepat, sehingga memerlukan
penanganan yang cepat pula.
Sebenarnyalah, yang diharapkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itupun segera
terjadi. Berita tentang sebuah padepokan baru yang dihuni oleh para cantrik yang
melarikan diri dari sebuah padepokan yang lain, telah terdengar oleh Singatama.
Berita itu rasa-rasanya telah membuat darahnya mendidih. Jantungnya bagaikan
berdentang semakin cepat.
“Orang-orang gila yang telah jemu hidup” geram Singatama “aku harus menghukum
mereka”
Kedua orang saudara seperguruan Singatama itupun mempunyai tabiat yang serupa.
Karena itu, berita itu rasa-rasanya telah mendorong mereka untuk segera mencari
padepokan baru itu. Tetapi Empu Nawamula sempat bertanya kepada mereka “Apa yang
akan kalian lakukan?“
“Menghukum mereka” jawab Singatama “yang melawan akan aku bunuh”
“Apakah kau kira para cantrik itu tidak mampu mengadakan perlawanan?“ bertanya
Empu Nawamula.
“Persetan dengan mereka” geram Singatama “kami bertiga akan dapat membunuh
mereka semua. Tidak seorangpun yang akan mampu menyelamatkan diri” kemudian
hampir berteriak Singatama berkata “Mereka memang sengaja menantang aku.
Ternyata gadis yang mereka cari itu sudah dapat mereka ketemukan. Sekarang gadis
itu berada di satu tempat yang mereka sebut dengan sebuah padepokan baru”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mengerti rencana Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat. Namun Empu Nawamula sebenarnya masih juga mencemaskan kedua
anak muda itu. Jika seluruh padepokan yang dipimpin oleh guru Singatama itu
bergerak, apakah padepokan baru itu akan mampu melawannya.
Namun, seperti Empu Nawamula sendiri, maka tekad untuk menghancurkan padepokan
yang berlandaskan pada ilmu hitam itu merupakan bagian dari pengabdian mereka
terhadap sesama. Karena itu, maka mereka memang tidak mempunyai pilihan lain
daripada melawan dengan sepenuh kemampuan dan kekuatan.
Karena itu, maka Empu Nawamula tidak lagi berbuat sesuatu. Dibiarkannya saja
Singatama mengambil satu sikap.
Sebenarnyalah dengan darah yang serasa mendidih, Singatama dengan kedua orang
saudara seperguruannya, benar-benar telah mencari padepokan baru yang
didengarnya lewat orang-orang yang hilir mudik dari satu pasar kepasar yang lain
yang mendengar berita itu sambung bersambung.
Meskipun kedatangan Singatama itu memang diharapkan, namun Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat terkejut juga, ketika seorang cantrik dengan pucat melaporkan
kepadanya, bahwa tiga orang berkuda telah datang.
“Siapa?“ bertanya Mahisa Murti.
“Singatama dengan dua orang saudara seperguruannya” jawab cantrik itu dengan
gemetar.
“He, kenapa kau menjadi pucat dan gemetar?“ bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba.
Cantrik itu tidak menjawab.
Dalam pada itu, Mahisa Pukatpun tertawa sambil berkata “Bukankah kau sudah
bertekad untuk menjadi seorang laki-laki. Apapun yang terjadi tidak akan
menggetarkan tekad itu”
Cantrik itu mengangguk.
Namun mereka tidak mendapat kesempatan untuk berbicara lebih panjang. Sementara
itu terdengar suara orang berteriak di luar pagar “He, orang-orang gila. Apakah
kali-an benar-benar menantang aku?“
Para cantrik yang mendengar suara Singatama itu memang menjadi berdebar-debar.
Bagaimanapun juga mereka tidak dapat menyembunyikan perasaan mereka.
Mereka sudah terbiasa berada dibawah pengaruh ketakutan yang sangat terhadap
anak muda itu.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membuka pintu regol
yang ditutup rapat oleh para cantrik dan diselarak rangkap. Sambil berdiri di
muka pintu Mahisa Murti berkata “He, bukankah kau Singatama?“
“Ya. Aku Singatama. Kaukah cantrik yang telah mencuri dua ekor kuda dan
melarikan diri di dini hari itu?“ bertanya Singatama.
“Ya. Kami berdua memang telah melarikan diri. Tetapi kali ini kami sama sekali
tidak akan melarikan diri” jawab Mahisa Pukat. Lalu “saat itupun sebenarnya kami
tidak melarikan diri. Tetapi kami sedang menyiapkan satu rencana besar bagi
kemanusiaan. Kami sedang mempersiapkan sebuah padepokan untuk menampung para
cantrik yang tidak tahan lagi kau perlakukan dengan sewenang-wenang. Tetapi
lebih dari itu, kami sedang menyiapkan sebuah perlawanan terhadap nafas
kehidupan padepokanmu yang penuh dengan tingkah laku dan tindak tanduk yang
bertentangan dengan peradaban manusia”
“Persetan” geram Singatama “aku tidak perlu sesorahmu. Siapa yang akan melawan
aku? Atau kalian ingin berkelahi berbareng? Marilah, dengan demikian maka
tugasku akan segera selesai. Karena aku tahu, bahwa kalian telah menyembunyikan
gadis yang aku cari itu disini”
Tetapi sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sangat mengejutkan Singatama.
Keduanya sama sekali tidak menjadi gentar. Tetapi keduanya justru tertawa.
“Kau jangan mengumpat-umpat disini” berkata Mahisa Pukat “kau sangka bahwa
dengan demikian, kami akan menjadi ketakutan?. Kami para cantrik telah
bersepakat untuk tidak kembali lagi kepadamu, meskipun kami sudah
berhasil menemukan gadis yang kau kehendaki? Kami telah membawanya ke tempat ini
agar kau tidak akan dapat mengambilnya”
“Gila “Singatama berteriak “aku bunuh kau pertama. Kau orang baru di padepokan
kami, sehingga kau tidak mengetahui tingkat kemampuan Singatama”
“Kau kira, kami akan silau melihat tingkat kemampuanmu? Baiklah. Jika kau ingin
mengambil gadis itu, kau harus menempuh sayembara ini. Sayembara tanding. Jika
kau berhasil mengalahkan kami para cantrik, maka kau akan dapat membawanya
keluar dari padepokan kami” sahut Mahisa Pukat.
Kemarahan Singatama benar-benar telah membakar kepalanya. Dengan kemarahan yang
meluap itu ia berteriak “Bersiaplah untuk mati”
Singatama yang telah meloncat turun dari kudanya diikuti oleh kedua orang
saudara seperguruannya itu setelah mengikatnya pada sebatang pohon perdu, telah
melangkah mendekat sambil berkata “Aku akan membakar padepokan ini”
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan
mereka berdua telah melangkah keluar pintu regol padepokannya. Namun dalam pada
itu, dari dalam regol ia mendengar Mahendra berkata perlahan-lahan “Jika mereka
dapat kau kalahkan, beri kesempatan mereka menyampaikan persoalan ini kepada
gurunya. Dengan demikian, kita berharap bahwa seisi padepokannya akan datang
kemari.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Tetapi mereka tidak menjawab.
Dalam pada itu, Singatama yang marah itu sempat juga menjadi heran. Yang keluar
dari pagar kayu itu hanya dua orang saja. Dua orang cantrik yang telah melarikan
diri dari padepokannya.
“Jangan hanya kau berdua” teriak Singatama “apalagi kalian adalah orang-orang
baru yang tidak berarti. Biarlah semua cantrik datang mengerubutku”
“Mereka hanya akan nonton” berkata Mahisa Murti. Sebenarnyalah, beberapa orang
cantrik telah berdiri berjajar disebelah menyebelah regol di bagian dalam dengan
alas kayu, batu atau dingklik-dingklik kecil. Mereka memang hanya akan menonton
perkelahian yang akan terjadi.
Dengan menunjukkan kelebihan dua orang diantara para cantrik, maka mereka
berharap, bahwa mereka akan dapat memancing kedatangan bukan saja kawan-kawan
seperguruan Singatama, tetapi juga gurunya, yang merupakan sumber penyebaran
ilmu yang tidak pantas bagi kehidupan manusia.
Kemarahan Singatama memang sudah tidak tertahankan lagi. Namun Mahisa Murti
masih berkata “Lihat Singatama. Kali ini dua orang diantara mereka akan
menghadapimu. Kau dapat membayangkan. Jika mereka semuanya keluar dari padepokan
ini, maka kau benar-benar akan menjadi sayatan kulit dan daging”
“Tutup mulutmu” geram Singatama “kau jangan membual saja. Marilah, aku antarkan
kau ke batas maut”
Mahisa Murti tidak menjawab lagi. Tetapi ia berkata kepada Mahisa Pukat “Kau
sajalah yang menjadi saksi. Aku sendiri akan menghadapi Singatama. Biarlah ia
mengerti, bahwa tidak semua orang yang memasuki sebuah padepokan menjadi seorang
cantrik akan dapat diperlakukan sewenang-wenang”
“Aku sobek mulutmu” geram Singatama.
“Yang penting bagiku, bukan menang atau kalah. Tetapi aku sudah menyatakan
diriku. Aku tidak akan dapat diperlakukan sewenang-wenang. Mungkin kau akan
dapat membunuh aku. Wadagku akan terbaring diam. Tetapi kau tidak akan dapat
memperbudak jiwaku. Meskipun tubuhku dapat kau kuasai, tetapi kau tidak akan
dapat mengikat kebebasan jiwaku” berkata Mahisa Murti.
Singatama tidak dapat menahan diri lagi. Dengan langkah panjang ia meloncat,
langsung menyerang Mahisa Murti.
Tetapi Mahisa Murti memang sudah siap. Dengan sigapnya iapun telah mengelakkan
serangan itu, sehingga serangan Singatama sama sekali tidak menyentuh sasaran.
Dalam pada itu, kepala-kepala para cantrik dan orang-orang yang berada di balik
pagar itupun menjadi semakin banyak bermunculan di balik pagar. Mahisa Agni,
Witantra dan Mahendrapun telah melihat perkelahian itu pula, sementara Mahisa
Bungalan yang gelisah, berdiri disebelah pintu. Seolah-olah ia sudah
mempersiapkan diri untuk meloncat ke arena jika diperlukan. Dari sela-sela
batang-batang kayu yang memagari padepokan itu, ia dapat melihat, apa yang telah
terjadi diluar.
Mahisa Pukatpun menjadi tegang. Tetapi ia mempunyai kewajiban untuk mengawasi
dua orang saudara seperguruan Singatama. Jika mereka melibatkan diri. maka
Mahisa Pukat harus mencegahnya.
Sejenak kemudian, maka pertempuran antara Mahisa Murti dan Singatama itupun
menjadi semakin sengit. Keduanya adalah anak-anak muda, dan keduanya memiliki
ilmu yang cukup tinggi meskipun bersumber dan berwarna lain.
Singatama yang marah itu bertempur semakin lama menjadi semakin kasar, sesuai
dengan sifat ilmunya. Namun Mahisa Murti dengan cepat menyesuaikan diri. Ia
melawan kekasaran lawannya dengan kemampuannya bergerak secepat burung sikatan.
Dalam pada itu, di dalam padepokan yang dibuat untuk menjebak Singatama dan
perguruannya itu, seorang gadis sedang menggigil ketakutan. Ia tahu apa yang
telah terjadi diluar. Seorang anak muda yang keras, kasar dan memiliki ilmu yang
tinggi telah datang untuk mencarinya.
“Apakah orang-orang didalam lingkungan pagar ini akan dapat mencegahnya ayah“
bertanya Widati kepada ayahnya yang juga menjadi berdebar-debar.
“Diantara mereka terdapat beberapa orang prajurit Widati. Tanpa mereka, aku
tidak akan membiarkan kau bersama dengan orang-orang yang belum aku kenal dengan
baik” berkata Ki Buyut.
“Tetapi orang-orang ditempat ini berbuat baik ayah. Nampaknya mereka memegang
satu paugeran yang teguh. Namun yang mencemaskan aku, apakah pada suatu saat,
apabila anak muda yang kasar itu datang bersama kawan-kawannya, padepokan ini
akan dapat melawan” bertanya Widati dengan suara bergetar.
“Anak itu hanya datang bertiga” jawab ayahnya.
“Sekarang mereka datang bertiga” berkata Widati “tetapi aku tahu, ia adalah
seorang murid dari satu perguruan yang besar. Jika kali ini ia harus menelan
kekalahan, maka esok atau lusa mereka akan datang bersama banyak orang dan yang
barangkali bersama dengan gurunya pula”
Ki Buyut mengangguk-angguk. Hal itu memang mungkin terjadi. Tetapi untuk
menenangkan anaknya ia
berkata “Widati, di padepokan bayangan ini terdapat sejumlah orang yang terdiri
dari bermacam-macam latar belakang kehidupan. Ada diantara mereka benar-benar
cantrik dari sebuah padepokan. Ada diantara mereka prajurit yang dalam tugas
melindungi orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, seperti yang mungkin
terjadi atas dirimu. Dan ada diantara mereka adalah dua orang perantau yang
pernah berada di Kabuyutan kita. Aku yakin bahwa mereka adalah orang-orang yang
memiliki kemampuan olah kanuragan”
Widati mengangguk-angguk. Tetapi ketika ayahnya bergeser gadis itu berkata
“Ayah, jangan pergi”
“Aku akan melihat apa yang terjadi di luar pagar” berkata ayahnya.
“Jangan tinggalkan aku sendirian“ pinta anaknya.
Ki Buyut mengurungkan niatnya. Tetapi ia mengetahui bahwa yang berada diluar
pagar adalah dua orang anak muda yang pernah berada di Kabuyutan mereka Dua
orang anak muda yang memang memiliki kemampuan yang tinggi. Seningga dengan
demikian maka mereka sama sekali tidak gentar menghadapi Singatama dengan dua
orang seperguruannya.
Dalam pada itu, pertempuran antara Singatama dan Mahisa Murti itupun menjadi
semakin sengit. Keduanya mulai mengerahkan segenap kemampuan yang ada pada
mereka.
Singatama yang kasar itupun menjadi semakin kasar. Kedua tangannya kadang-kadang
nampak mengembang sebagaimana juga dengan jari-jarinya. Dengan teriakan-teriakan
yang keras ia menyerang dengan garangnya.
Tetapi Mahisa Murti mampu mengimbangi dgn kecapaian geraknya. Serangan-serangan
Singatama yang keras dan kasar itu mampu dihindarinya. Bahkan serangan-serangan
Mahisa Murti yang cepat, mampu menembus pertahanan Singatama, sehingga sekali
dua kali, justru Mahisa Murfilah yang mulai mengenainya.
Singatama yang marah itu menggeram. Tata-geraknya menjadi semakin kasar. Tanpa
menghiraukan apapun juga, kekasarannya semakin menjadi-jadi.
Tetapi seperti yang dikatakan oleh Empu Nawamula, bahwa sebenarnyalah Mahisa
Murti masih mempunyai kelebihan dari Singatama itu. Betapapun kasar dan liarnya
serangan-serangan yang datang membadai, namun Mahisa Murti masih selalu dapat
mengatasinya. Meskipun akhirnya serangan-serangan lawannya itu dapat mengenainya
juga, namun Mahisa Murti masih mampu mengenai lawannya lebih banyak lagi.
Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra mengikuti pertempuran itu
dengan saksama. Meraka melihat sesuatu yang agak ialn pada Mahisa Murti. Namun
ketajaman pengamatannya segera mengetahui, bahwa ada unsur-unsur gerak yang baru
terselip dalam tata gerak Mahisa Murti, tanpa merusakkan keseluruhan ilmunya.
Bahkan seolah-oiah mampu mengisi kekurangan yang kadang-kadang terdapat diantara
unsur-unsur gerak anak muda itu didalam perkelahian yang cepat.
“Ia berhasil membuka diri atas pengalaman baru didalam dunia kanuragan” berkata
Mahisa Agni.
Witantra mengangguk-angguk. Katanya “Sama sekali tidak merugikan. Tetapi justru
berhasil meningkatkan kemampuannya dalam keseluruhan”
Mahendra tidak memberikan tanggapan sesuatu. Tetapi ia sependapat, bahwa dengan
demikian, ilmu Mahisa Murti menjadi semakin lengkap.
Dalam pada itu, maka perkelahian yang seru itupun berlangsung semakin cepat.
Keduanya bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Namun dalam pada itu,
sebenarnyalah bahwa kemampuan Mahisa Murti memang lebih tinggi dari Singatama.
Meskipun Singatama bertempur dengan garangnya, namun semakin lama menjadi
semakin jelas, bahwa ia mulai terdesak. Sementara itu, kedua saudara
seperguruannya memperhatikan pertempuran itu dengan seksama. Sekali-sekali
terdengar keduanya mengumpat dengan kasarnya. Namun akhirnya keduanyapun dapat
melihat, bahwa ilmu anak muda yang menyebut dirinya seorang diantara para
cantrik itupun ternyata lebih tinggi dari ilmu yang dimiliki oleh Singatama.
“Gila” geram salah seorang diantara kedua orang itu “tentu ada sesuatu yang
tidak wajar. Jika kedua orang itu benar-benar cantrik di padepokan Empu
Nawamula, maka keduanya tidak akan dapat mengimbangi kemampuan Singatama.
Tetapi kenyataan yang mereka hadapi tidak demikian. Cantrik itu dapat mendesak
Singatama, betapapun Singatama mengerahkan kemampuannya. Bahkan sekali-kali
Singatama telah terdorong oleh serangan Mahisa Murti sehingga kadang-kadang
Singatama harus berloncatan menjauh.
Namun semakin lama, kesulitan Singatamapun mendekati saat yang menentukan.
Serangan Mahisa Murti menjadi semakin cepat. Sekali-sekali Singatama telah
terdorong beberapa langkah oleh serangan Mahisa Murti
yang mengenainya. Bahkan kadang-kadang terdengar Singatama mengeluh tertahan.
Mahisa Murti justru mempergunakan saat-saat yang demikian untuk menekan lawannya
yang kasar itu. Ketika Singatama berusaha meloncat menghindar sejauh-jauhnya
oleh serangan- beruntun, Mahisa Murti telah memburunya. Demikian Singatama
berhasil memperbaiki keadaannya, Mahisa Murti telah menyerangnya dengan kekuatan
yang penuh.
Singatama tidak sempat menghindar lagi. Karena itu, maka serangan Mahisa Murti
itu telah melemparkannya beberapa langkah, sehingga Singatama itupun jatuh
berguling di tanah.
Kedua saudara seperguruannya memperhatikannya dengan jantung yang berdebaran.
Namun mereka tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Dengan serta merta merekapun
telah melangkah mendekat.
Mahisa Pukat yang mengamatinyapun tidak membiarkan mereka melibatkan diri dan
bertiga bertempur melawan Mahisa Murti. Karena itu, maka Mahisa Pukatpun telah
melangkah maju pula sambil berkata “Marilah, jika kalian ingin bermain-main
pula, aku akan melayani kalian”
“Persetan” geram seorang diantara mereka “aku tidak mau bermain-main. Aku akan
mempertaruhkan nyawaku. Kita akan bertempur sampai mati”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Kedua saudara seperguruan Singatama itu
langsung menarik senjatanya. Sebilah pedang yang panjang.
Mahisa Pukatpun tidak mau bertempur tanpa senjata. Karena itu, maka iapun telah
menarik pedangnya pula. Pedang yang telah dipersiapkannya.
Tetapi dalam pada itu, keadaan Singatama benar-benar gawat ketika Mahisa Murti
siap untuk menyerangnya selagi ia berusaha untuk bangkit.
Karena itulah, maka salah seorang saudara seperguruannya tidak membiarkannya
dihancurkan oleh cantrik yang ternyata memiliki kemampuan yang tinggi itu.
Karena itu, maka tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang Mahisa Murti dengan
senjatanya.
Mahisa Murti mengurungkan niatnya untuk menyerang. Ia harus memperhatikan
serangan senjata lawannya yang baru itu.
Sementara itu, saudara seperguruan Singatama yang lain, teiah dengan serta merta
menyerang Mahisa Pukat yang sudah siap untuk melawannya. Karena itu, maka
serangan lawannya itu sama sekali tidak membahayakannya. Bahkan dengan mudahnya
ia mengelak dan bahkan dengan cepat pula, ia menjulurkan senjatanya mengarah ke
lambung lawan.
Pada saat itu, Mahisa Murti tengah meloncat menghindari serangan pedang lawannya
yang baru. Sementara itu Singatamapun telah bangkit pula. Betapa perasaan sakit
di tubuhnya, namun ia masih mampu bangkit dan menggeram “Orang itu memang harus
dibunuh”
Semula Singatama masih ingin menunjukkan kelebihannya dengan bertempur tanpa
senjata. Namun ternyata bahwa ia tidak mampu mengatasi kemampuan lawannya,
sehingga karena itu, maka iapun kemudian telah
menarik senjatanya pula. Sebilah pedang sebagaimana kedua orang saudara
seperguruannya.
Dalam pada itu, Mahisa Pukat yang melihat Singatama juga menarik pedangnya
dengan cepat berusaha untuk menyesuaikan diri. Meskipun kemudian Mahisa Murti
juga menarik pedangnya, namun agaknya mereka harus menempatkan diri dalam
kedudukan yang sama.
Itulah sebabnya, maka Mahisa Pukatpun telah bergeser mendekati Mahisa Murti.
Agaknya Mahisa Murtipun menyadari, hahwa ketiga orang saudara seperguruan itu
memiliki ilmu yang berbahaya pula.
Karena itu, sebaiknya tidak seorang diantara mereka berdua yang harus bertempur
melawan dua orang. Karena itu, maka mereka berdua, tanpa membicarakannya, telah
berusaha untuk saling mendekat. Sehingga akhirnya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
itupun telah bertempur perpasangan melawan tiga orang saudara seperguruan yang
dipimpin oleh Singatama.
Tetapi sebenarnyalah Singatama sendiri sudah mulai menjadi letih. Tubuhnya
terasa sakit di beberapa tempat, karena sentuhan serangan Mahisa Murti.
Tulang-tulangnya serasa retak dan kulitnya menjadi bengkak-bengkak.
Namun demikian, dengan senjata ditangan, ia masih tetap seorang yang berbahaya.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan yang memperhatikan pertempuran itu menjadi
semakin berdebar-debar. Mereka telah memegang, senjata ditangan masing-masing.
Demikianlah maka pertempuran itu menjadi semakin sengit. Singatama dan kedua
orang saudara seperguruannya, bertempur dengan kasar. Senjata mereka berputar
di-antara teriakan-teriakan yang kasar.
Para cantrik yang berada di dalam pagar menyaksikan pertempuran itu dengan
jantung berdebaran. Teriakan-teriakan Singatama dan kedua orang saudara
seperguruannya, rasa-rasanya bagaikan menusuk hati. Bagaimanapun juga, mereka
masih saja selalu dibayangi oleh kecemasan. Meskipun mereka sudah berusaha untuk
tidak menjadi ketakutan, namun rasa-rasanya sikap ketiga orang saudara
seperguruan itu benar-benar mengerikan.
Tetapi merekapun melihat, bahwa dua orang perantau yang datang dan kemudian
menyebut diri mereka cantrik juga bersama yang lain di padepokan Empu Nawamula
itu, dan bahkan dalam latihan-latihan olah kanuragan keduanya tidak menunjukkan
kelebihan dari para cantrik yang lain, ternyata berhasil mengimbangi kemampuan
Singatama dan kedua saudara seperguruannya. Bahkan tiga orang saudara
seperguruan itu tidak mampu mendesak dua orang lawannya yang masih sangat muda
itu.
Sebenarnyalah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berbekal ilmu yang tinggi,
mampu bertahan melawan Singatama dengan dua orang saudara seperguruannya.
Bagaimanapun juga garangnya serangan mereka yang datang bagaikan prahara, namun
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berhasil melindungi diri mereka dengan rapatnya.
Bahkan merekapun sekali-sekali berhasil mendesak lawan-lawannya dengan
serangan-serangan yang berbahaya.
Betapapun garang dan kasarnya Singatama dan kedua saudara seperguruannya, namun
ternyata bahwa kecepatan gerak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membuat
mereka kadang-kadang menjadi bingung dan kehilangan sasaran.
Dengan bertempur berpasangan, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat merupakan
kekuatan yang sulit untuk dipatahkan. Sekali-sekali keduanya terlepas dari
ikatan tata
gerak berpasangan. Dalam kesempatan yang demikian keduanya justru berloncatan
menyerang dengan senjata mereka yang bergetar dengan dahsyatnya.
Demikianlah, semakin lama semakin ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
akan berhasil menguasai ketiga orang lawannya. Singatama yang letih menjadi
semakin letih. Tenaganya telah jauh susut, sementara tubuhnya terasa semakin
lemah dan sakit-sakit.
Dalam keadaan yang gawat, serangan Mahisa Murti justru lebih banyak mengejarnya.
Mahisa Murti yang menganggapnya sebagai pemimpin dari ketiga orang saudara
seperguruan itu, berpendapat, apabila Singatama itu dapat dilumpuhkan, maka
kedua orang saudara seperguruannya tidak akan banyak dapat berbuat.
Karena itulah, maka serangan-serangan Mahisa Murti lebih banyak tertuju kepada
Singatama daripada saudara-saudara seperguruannya.
Semula, Mahisa Pukat tidak begitu menyadari usaha Mahisa Murti. Namun akhirnya
iapun mengetahuinya juga, sehingga karena itu, maka iapun telah melakukan hal
yang serupa.
Karena itulah, maka keadaan Singatama semakin lama menjadi semakin sulit.
Meskipun kedua orang saudara seperguruannya telah bertempur dengan sepenuh
kemampuan mereka, tetapi ternyata bahwa mereka tidak berhasil membendung
serangan Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang datang bergelombang atas Singatama.
Dengan demikian, maka keadaan Singatama yang sudah menjadi sangat letih itu
semakin lama menjadi semakin sulit. Bahkan akhirnya, ia tidak mampu lagi
menghindari ujung senjata Mahisa Murti, sehingga terdengar ia
mengeluh tertahan ketika ujung pedang Mahisa Murti menggores pundaknya.
Singatama meloncat beberapa langkah surut. Kedua orang saudara seperguruannya
telah mencoba untuk melindunginya.
Luka di pundak Singatama itu tidak terlalu dalam. Tetapi darah yang mengalir
dari luka itu telah membuat hatinya menjadi kecut. Apalagi iapun tidak dapat
mengabaikan kesulitan yang semakin lama menjadi semakin mendesaknya bersama
kedua orang saudara seperguruannya.
Sementara itu. selagi Singatama merenungi lukanya, serangan Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat telah datang mem-badai, sehingga kedua orang lawannyapun telah
terdesak surut. Bahkan tiba-tiba saja seorang diantara mereka mengumpat kasar
ketika terasa segores luka di lengannya.
“Anak setan” geramnya. Tetapi lukanya itu kemudian telah mengalirkan darah.
Demikianlah ketiga saudara seperguruan itu semakin lama menjadi semakin
terdesak. Tidak ada lagi kesempatan bagi mereka untuk bertahan lebih lama lagi.
Serangan-serangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat semakin lama menjadi justru
semakin cepat.
Dalam keadaan yang demikian, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
merubah sikap mereka. Keduanya tidak lagi bertempur berpasangan pada jarak dekat
dan kadang-kadang beradu punggung. Tetapi keduanya justru telah berpencar.
Keduanya menghadapi lawan mereka pada jarak beberapa langkah setelah ketiga
orang lawan mereka menjadi sangat lemah.
Pada saat yang demikian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sebenarnya mempunyai
kesempatan yang cukup untuk segera mengakhiri pertempuran. Bahkan seandainya
mereka ingin membunuh lawan mereka.
Menghadapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang kemudian berpencar, Singatama dan
kedua orang saudara seperguruannya menjadi bingung. Apalagi ujung-ujung senjata
kedua anak muda itu telah menyentuh tubuh mereka pula.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak melupakan tujuan mereka yang
sebenarnya. Apalagi dengan kehadiran ayah dan paman-paman mereka. Bahkan Mahisa
Bungalan dengan beberapa orang prajurit Singasari dalam tugas mereka.
Yang penting adalah memancing sekelompok orang dari sebuah padepokan yang telah
menumbuhkan kegelisahan. Dengan kekalahan Singatama dan kedua orang saudara
seperguruannya, maka orang-orang padepokan itu tentu akan menjadi marah. Mereka
akan terjebak kedalam satu langkah yang dapat menjadi bukti tingkah laku mereka
yang tidak menghormati hak dan kebebasan orang lain. Jika mereka memaksa untuk
mengambil Widati yang berada di lingkungan padepokan baru itu, maka hal itu akan
menjadi salah satu bukti bahwa mereka bertindak sewenang-wenang.
Dengan ilmu yang ada pada mereka, dan kelebihan mereka atas orang lain. ternyata
telah mereka pergunakan untuk melawan hubungan antara sesama. Tetapi justru
untuk me-nindas dengan tanpa menghiraukan peradaban
Karena itu, maka bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, yang penting bukannya satu
kepuasan yang akan mereka
peroleh dengan melumpuhkan Singatama. Tetapi mereka lebih mementingkan rencana
mereka yang lebih besar.
Itulah sebabnya, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak segera mengakhiri
pertempuran. Bahkan kemudian seolah-olah keduanya telah kesempatan kepada
Singatama dan saudara seperguruannya, atau salah seorang diantara mereka, untuk
meninggalkan arena.
Dalam pada itu, Singatama memang melihat, bahwa tidak ada lagi kemungkinan
baginya untuk memenangkan kelahian itu. Setiap kali ia hanya dapat mengumpat.
Tetapi justru ujung senjata lawannyalah yang telah menyentuh tubuhnya.
Dengan demikian, maka tidak ada pilihan lain baginya, dari menyingkir
sejauh-jauhnya. Jika ia masih tetap dapat hidup, maka kemungkinan-kemungkinan
yang lain masih akan dapat terjadi. Mungkin ia mempunyai satu cara untuk dapat
mengambil gadis yang telah membuatnya hampir gila itu. Karena itulah, maka
selagi kedua saudara seperguruannya sibuk melayani Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat, maka dengan serta merta, Singatama telah melompat meninggalkan arena.
Dengan sisa tenaganya ia berlari menuju ke kudanya yang tertambat.
Mahisa Muuti dan Mahisa Pukat sengaja tidak mengejarnya. Dibiarkannya Singatama
melepaskan diri untuk menyampaikan persoalannya kepada gurunya sehingga akan
dapat membangkitkan kemarahan seisi perguruannya.
Namun agaknya kedua orang saudara Singatama tidak mendapat kesempatan untuk
lari. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak terlalu menahan mereka. Tetapi tubuh
mereka memang telah terlalu letih. Luka-luka yang tergores di kulit mereka,
lelah mengalirkan darah. Sehingga dengan
demikian. rasa-rasanya mereka tidak lagi dapat melarikan diri. meskipun Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat membiarkannya.
Tetapi yang seorang itu sudah cukup. Namun demikian Mahisa Murti dan Mahis Pukat
itu masih berkata didalam hati “Mudah-mudahan Singatama dapat sampai ke
padepokan”
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang terpaksa melukai
lawannya, tidak ingin membuat mereka sama sekali tidak berdaya. Tetapi dalam
perkelahian yang seru, mereka memang sulit untuk berbuat sebaik-baiknya, karena
kemungkinan yang sebaliknya dapat terjadi. Bahkan bagaimanapun juga ujung
senjata lawannya itu setajam ujung pedangnya pula
Dalam pada itu, kepergian Singatama telah menghentikan pertempuran yang sengit
itu. Kedua orang saudara seperguruan Singatama tidak mampu lagi memberikan
perlawanan, sehingga karena itu, maka merekapun telah melepaskan senjata mereka.
“Kalian menyerah?“ bertanya Mahisa Murti.
Salah seorang dari kedua orang itu menjawab dengan nada dalam “Ya. Kami
menyerah”
“Baiklah” berkata Mahisa Murti “masuklah kedalam halaman padepokan kami”
Kedua orang itu tidak membantah. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memungut
senjata mereka, dan menggiring kedua orang itu memasuki halaman padepokan yang
mereka bangun itu.
Beberapa orang cantrik yang melihat akhir dari perkelahian itu menjadi
berdebar-debar. Singatama ternyata
dapat dikalahkan. Bahkan dua orang anak muda itu berhasil mengalahkan tiga orang
saudara seperguruan.
Ketika kedua orang yang dikalahkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu
memasuki regol, maka beberapa orang segera mengerumuninya. Dengan wajah yang
tegang, Mahisa Bungalan mendekati mereka sambil berkata “Ternyata kalian bukan
orang yang pantas disegani”
Kedua orang itu tidak menjawab. Mereka memang sudah kalah. Sementara tubuh
mereka terasa sakit dan nyeri.
Dalam pada itu, Mahisa Agnilah yang berkata “Biarlah luka-luka itu diobati”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian menyerahkan kedua orang itu kepada
Mahisa Agnii dan Witantra yang temudian akan mengobati luka-luka mereka.
Namun dalam pada itu, ternyata beberapa orang cantrik justru menjadi cemas
karena Singatama telah terlepas. Seorang cantrik dengan suara bergetar berkata
ke pada Mahisa Murti “Kenapa kau biarkan-orang itu pergi?
“Kita sudah dua orang saudara seperguruannya” jawab Mahisa Murti.
“Tetapi ia akan mengatakannya kepada gurunya, kepada seisi padepokannya. Mereka
akan segera datang dan menggilas kita yang berada disini” berkata cantrik itu.
“Kau sudah dijangkiti oleh ketakutanmu lagi” jawat Mahisa Murti
“Tetapi aku berkata sebenarnya” jawab cantrik itu.
“Bukankah kita dengan sengaja mengundang mereka untuk datang kemari? Kau tidak
usah takut, Kau melihat
sendiri, bahwa Singatama bukan orang yang tidak terkalahkan”
Cantrik itu mengangguk-angguk. Tetapi rasa-rasanya hatinya menjadi sangat cemas.
Bahkan beberapa orang ka wannyapun merasakan hal yang sama.
Tetapi Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan orang-orang yang datang bersama mereka,
sama sekali tidak menunjukkan kecemasan. Nampaknya mereka benar-benar telah siap
menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu, sebenarnyalah dendam dihati Singatami telah membakar jantungnya.
Ia tidak lagi kembali ke padepokannya yang untuk sementara dipimpin oleh
pamannya Empu Nawamula, tetapi ia langsung kembali ke perguruannya. Singatama
sadar, bahwa ia tidak dapat mencapai padepokannya dalam waktu dekat.
Padepokannya memang cukup jauh. Tetapi kemarahan dan dendam yang menyala telah
mendorongnya untuk berpacu secepat-cepatnya betapapun beberapa gores luka
terdapat di tubuhnya.
Sementara itu, selagi Singatama memerlukan waktu dua malam untuk kembali lagi
kepadepokan itu, apabila ia benar-benar ingin melakukannya, Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat sempat berbicara dengan para cantrik. Mereka sempat mengungkit
kembali harga diri mereka sebagai laki-laki.
“Apakah kalian akan kembali ke telapak kaki Singatama. Atau kalian ingin
menghargai martahat kalian sendiri?“ bertanya Mahisa Murti. Lalu “Bukankah kita
sudah bertekad. Dan kita sudah mulai melangkah”
Tetapi seorang cantrik berkata “Tetapi kau sendiri telah membuat kami salah
tebak. Kau bukan seseorang yang lemah seperti kami, sehingga kau mampu
mempertahankan
dirimu. Tetapi kami tidak memiliki ilmu seperti kau, meskipun di padepokan
seolah-olah kau tidak lebih dari kami para cantrik”
“Itu bukan apa-apa” jawab Mahisa Pukat “yang penting adalah keteguhan jiwa kita.
Seandainya pendapat kalian itu benar, bahwa kami memiliki kelebihan dari kalian,
tetapi jika kalian bersama-sama bergerak, maka kalianpun akan merupakan kekuatan
yang tidak mudah dikalahkan, kecuali jika kalian memang berjiwa kelinci. Jika
kalian sudah menjadi ketakutan sebelum kalian mulai, maka kalian benar-benar
akan digilas oleh kawan-kawan dan saudara-saudara seperguruan Singatama. Apalagi
jika gurunya akan datang bersamanya pula. Tetapi jika kalian menghadapinya
dengan wajah tengadah, maka seandainya kalian harus mati, maka kalian mati
sebagai laki-laki. Itu tentu lebih baik daripada kalian masih akan tetap hidup
tetapi dalam tingkat martabat seekor lembu yang harus menarik pedati”
Para cantrik itu mengangguk-angguk. Jiwa kejantanan mereka tergugah kembali,
meskipun mereka tidak dapat menyingkirkan kecemasan mereka seluruhnya.
Sementara itu, selain memberikan keteguhan jiwa para cantrik Mahisa Murti dan
Mahisa Pukatpun telah mengatur persiapan sebaik-baiknya dengan Mahisa Bungalan.
Para cantrik selain harus bekerja sebagaimana dilakukan di padepokan, apalagi
sebuah padepokan yang baru yang dibuat dengan tergesa-gesa di tempat yang kurang
memenuhi persyaratan, merekapun harus mengawasi keadaan di sekitar pagar
padepokan mereka.
Kecuali kegelisahan para cantrik, ternyata Wigatipun menjadi sangat gelisah. Ia
sadar, bahwa ia telah diumpamakan untuk satu tujuan pengabdian. Namun
bagaimanapun juga, ia tidak dapat melepaskan kepentingan pribadinya. Setelah
beberapa hari ia berada diantara laki-
laki yang tidak dikenalnya dengan baik kecuali ayahnya, maka kegelisahan-nyapun
menjadi semakin meningkat pula. Apalagi ketika ia sadar, bahwa Singatama yang
dikalahkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu dengan sengaja telah dibiarkan
lepas untuk memancing kedatangan saudara-saudara seperguruannya.
“Ayah” berkata Widati kepada ayahnya “apakah orang-orang itu tidak pernah
mencemaskan keadaan kita seandainya yang datang kemudian ternyata tidak
terlawan?“
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku kurang tahu Widati. Tetapi
menilik sikap dan tingkah laku mereka, nampaknya mereka adalah orang-orang yang
berpengalaman. Mereka tentu memperhitungkan, bahwa sebesar-besarnya sebuah
perguruan, maka kekuatan itu tidak akan dapat mengalahkan kekuatan yang mereka
siapkan disini”
“Tetapi mereka belum tahu dan belum pernah menjajagi kekuatan yang tersimpan di
perguruan anak muda yang bengis itu” sahut Widati.
“Kemungkinan yang salah itu memang ada Widati berkata Ki Buyut kemudian “tetapi
baiklah kita percayakan segalanya kepada orang-orang yang sudah jauh lebih
berpengalaman dari kita sendiri. Apalagi menurut keterangan mereka, Singatama
telah menyebarkan orang-orangnya untuk mencarimu. Jika kau dapat mereka
ketemukan dari rumah, maka kau benar-benar tidak akan mendapat perlindungan yang
memadai”
Widati mengerutkan keningnya. Namun iapun mulai membayangkan, seandainya ia
berada di Kabuyutan, sementara sekelompok orang yang dipimpin oleh Singatama itu
datang untuk mengambilnya, maka
keluarganya, bahkan orang se-Kabuyutan tidak akan dapat menyelamatkannya. Bahkan
mungkin akan jatuh korban sia-sia. Tetapi di padepokan yang dibuat dengan
tergesa-gesa itu, ia berada dilingkungan orang-orang yang memang dengan sengaja
bersiap menghadapi segala kemungkinan. Apalagi diantara mereka terdapat prajurit
Singasari.
Dalam pada itu, sebenarnyalah kedatangan Singatama dalam keadaannya di
padepokannya, telah menumbuhkan kegelisahan dan kemarahan. Apalagi ketika
kemudian Singatama sempat mengatakan dengan tergesa-gesa dan gagap, apa yang
telah terjadi dengan dua orang saudara seperguruannya.
Seorang Putut yang telah memiliki ilmu yang lebih baik dari Singatama itupun
menggeram. Namun kemudian katanya “Sebaiknya semuanya itu kau sampaikan langsung
kepada guru. Mungkin guru dapat mengambil satu sikap”
Singatama mengangguk-angguk. Nampaknya ia memang sudah tidak sabar lagi.
sehingga iapun bertanya “Dimana guru?“
“Di sanggar. Pergilah. Guru baru beristirahat. Tetapi berita penting ini wajib
segera didengarnya” jawab Putut itu.
Singatamapun kemudian pergi ke sanggar. Dengan ragu-ragu ia mengetuk pintu
sanggar itu.
“Siapa?“ bertanya seseorang dari dalam sanggar dengan suara yang dalam dan
bergetar.
“Aku guru” jawab Singatama “aku mempunyai persoalan yang penting untuk aku
sampaikan kepada guru”
Terdengar langkah mendekati pintu. Kemudian, pintu itupun telah dibuka.
“Kau” desis seorang tua yang berada didalam sanggar itu “masuklah. Kau tentu
akan berceritera tentang kegagalan. Tetapi tidak apa. Aku memang ingin
mendengarnya”
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Sebenarnyalah aku memang
ingin menyampaikan beberapa keluhan guru”
“Tentang gadis itu?“ bertanya gurunya.
“Ya guru” jawab Singatama
“Katakanlah. Ceritera mengenai perempuan selalu menarik” berkata orang tua itu.
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian duduk di sebuah amben kayu.
Dengan wajah yang tegang ia berkata “Aku terjebak guru”
“Terjebak? Apa maksudmu?“ bertanya gurunya.
Singatama itupun kemudian menceriterakan apa yang telah terjadi. Bahwa
cantriknya telah berpindah kepadepokan lain. Bahwa Empu Nawamula sama sekali
tidak menguntungkan baginya dan akhirnya iapun menceriterakan apa yang telah
terjadi di luar pagar sebuah padepokan baru, sehingga ia telah terluka sementara
dua orang saudara seperguruannya telah tertawan.
Gurunya mendengarkan pengaduan Singatama dengan seksama. Dengan caranya
Singatama sengaja membakar hati gurunya, karena jika gurunya kemudian marah dan
berniat untuk membalas sakit hati perguruannya, maka Singatama berhadap bahwa
padepokan baru itu tidak akan dapat bertahan.
Sebenarnyalah babwa Singatama berhasil menggelitik telinga gurunya Apalagi
ketika gurunya mendengar bahwa dua orang muridnya telah tertawan.
“Kenapa mereka tidak mati saja atau bersamamu menyingkir dari keadaan itu,
tetapi untuk datang kembali dan menghancurkan apa yang kau sebut sebuah
padepokan itu. Padepokan yang nampaknya sekedar pelarian cantrik-cantrikmu itu”
“Ya guru. Apa yang disebut padepokan itu sama sekali tidak memenuhi syarat
sebuah padepokan. Halamannya dibatasi dengan pagar kayu yang dibuat dengan
tergesa-gesa. Beberapa barak yang tidak lebih dari kandang ternak” jawab
Singatama. Kemudian “tetapi dengan bodoh, cantrik-cantrik dari padepokanku itu
telah berada ditempat itu. Mereka mencoba menentang perintahku untuk mencari
gadis yang bernama Widati itu. Yang ternyata bahwa gadis itu dapat diketemukan
dan disembunyikan dalam tempat yang mereka sebut padepokan itu”
Gurunya mengangguk-angguk. Katanya “Mereka sengaja mencari perkara. Mereka
sengaja memancing persoalan dengan kita. Dengan demikian, maka sebenarnya yang
terjadi itu adalah satu tantangan. Aku tidak percaya bahwa yang ada di tempat
yang disebut padepokan itu hanyalah para cantrik. Tetapi tentu ada orang lain
pula disana. Mungkin pamanmu Empu Nawamula. Mungkin pula orang lain kawan
pamanmu itu”
Singatama menganguk-ahgguk. Katanya “Memang mungkin guru. Karena itu segalanya
terserah kepada guru”
Orang tua itu mengangguk-angguk. Meskipun sikapnya tetap tenang, tetapi nyala
matanya menunjukkan gejolak jantungnya. Ceritera Singatama yang telah dibumbui
dengan beberapa macam keterangan, telah membuatnya marah.
Tetapi ternyata ia tidak tergesa-gesa. Ia masih bertanya kepada Singatama.
keadaan dari apa yang disebut
padepokan itu. Iapun bertanya tentang kemampuan dua orang yang telah mengalahkan
tiga orang murid padepokan itu. termasuk Singatama.
“Tidak ada orang lain yang menyaksikan perkelahian itu?“ bertanya gurunya.
“Para cantrik, tetapi dari dalam pagar. Mereka menyaksikan dari balik pagar
kayu” jawab Singatama
“Selain para cantrik?“ desak gurunya.
Singatama termangu-mangu. Namun kemudian katanya “Mungkin memang ada seperti
yang guru katakan. Tetapi ketika pertempuran itu berlangsung, tidak ada
seorangpun yang keluar dari lingkungan pagar dari apa yang mereka sebut
padepokan itu”
Guru Singatama menganggu-angguk. Meskipun ia masih belum pasti, tetapi
keterangan Singatama yang dengan sengaja ingin membakar kemarahan gurunya itu,
berhasil mendorong Jurunya untuk menentukan sikap. Katanya “Kita akan pergi ke
tempat itu”
“Kita semuanya, guru?“ bertanya Singatama.
Gurunya mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Kau memperkecil arti gurumu.
Apakah gurumu seorang diri dan kau sendiri tidak akan mengalahkan
cantrik-cantrik dungu itu?”
“Cantrik-cantrik itu memang tidak berdaya. Aku bertiga akan sanggup
melakukannya. Tetapi tiba-tiba saja ada orang baru yang juga menjadi cantrik
dipadepokanku yang untuk sementara dipimpin Oleh paman Empu Nawamula, yang
ternyata memiliki kemampuan yang sangat tinggi” jawab Singatama.
“Kedua orang itu bukan apa-apa bagiku“ berkata guru Singatama “tetapi yang harus
aku perhitungkan adalah kehadiran orang yang justru menjadi pendorong keadaan
ini. Mungkin memang pamanmu Nawamula itu sendiri. Kedua cantrik itu agaknya
memang dibuat oleh Nawamula. Aku tidak akan gentar, dan akupun yakin dapat
mengalahkan Nawamula. Tetapi mungkin ia masih mempunyai tangan-tangan selain dua
orang cantrik itu”
“Aku kurang tahu guru” jawab Singatama “karena itu, maka kau kira kita lebih
baik memperhitungkan kemungkinan yang paling buruk yang dapat terjadi”
“Baiklah. Kita akan datang dengan kekuatan penuh. Aku akan membawa para Putut
dan murid-muridku terbaik disini” berkata guru Singatama.
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Iapun tersenyum dalam hati. Dengan demikian
apa yang disebut padepokan itu tentu akan dapat dihancurkannya. Dengan demikian,
maka selain ia dapat membela sakit hatinya, ia akan dapat membawa gadis yang
telah membuatnya gelisah siang dan malam.
Demikianlah, maka guru Singatama itupun segera memerintahkan para muridnya
bersiap. Kepada mereka, guru Singatama menceriterakan apa yang sudah terjadi.
“Dua orang diantara kita telah ditawan oleh para cantrik dungu itu. Mereka
agaknya tidak dapat membayangkan, kekuatan apa saja yang tersimpan di padepokan
ini” berkata guru Singatama.
Dengan nada marah, guru Singatama itu memberitahukan niatnya untuk datang ke
tempat yang disebut padepokan itu, untuk membebaskan dua orang keluarga
perguruannya dan sekaligus membalas sakit hati mereka.
“Aku tidak mau penghinaan seperti itu dimaafkan” berkata guru Singatama.
Para muridnya yang lainpun ternyata telah membakar pula hatinya. Mereka serentak
menyatakan persetujuan mereka dengan sikap gurunya.
“Tetapi aku tidak akan tergesa-gesa berangkat hari ini” berkata gurunya “aku
harus mencari hubungan dengan pusat kekuatan kita. Darah dan api”
Demikianlah, maka Singatama tidak mendesak gurunya untuk segera berangkat.
Ternyata gurunya akan mengadakan satu upacara sebelum berangkat.
“Kerja kita kali ini agaknya bersungguh-sungguh” berkata guru Singatama itu
“karena itu, kita harus bersungguh-sungguh pula. Kita akan menghadapi kekuatan
yang belum kita ketahui dengan pasti. Mudah-mudahan kita akan mendapat petunjuk
dari sumber kekuatan kita. Darah dan api”
Dengan demikian, maka keberangkatan mereka baru dapat dilakukan dikeesokan
harinya, setelah pada malam harinya mereka mengadakan satu upacara.
Sebagai kebiasaan mereka, maka para putut dan cantrik mempersiapkan sebuah
perapian yang besar. Menjelang senja, dua orang diantara para putut telah pergi
ke padukuhan yang terdekat. Mereka mengambil seekor kerbau jantan yang besar dan
tanpa cacat. Mereka sama sekali tidak menghiraukan, apakah pemiliknya memberikan
dengan aikhlas atau tidak. Setiap kali mereka mengatakan upacara, maka hal yang
serupa itu mereka lakukan.
Ketika malam turun, maka segala peralatan sudah disiapkan. Api sudah dinyalakan,
dan kerbau jantan yang
besar itu diikat pada sebatang pohon dengan tali yang sangat kuat, sehingga
tidak mungkin untuk melepaskan diri.
Ketika api mulai dinyalakan, maka guru Singatama itu mulai membaca mantera.
Suaranya meninggi seperti asap api yang menjulang kelangit. Kemudian menurun
rendah. Tetapi tiba-tiba menghentak pula mengejut kan. Sesaat kemudian, maka
terdengar ia berkata “Murid-murid dari perguruan api dan darah. Waktunya telah
tiba. Persiapkan dirimu untuk menghadapi tugas yang berat. Mencuci kehinaan yang
tercoreng diwajah perguruan ini. Sekarang, cucilah senjatamu dengan darah, dan
sentuhlah api yang menyala dengan ujung senjatamu yang berdarah itu. Besok kita
akan melakukan tugas suci dari perguruan ini. Sementara pedangku akan aku
sucikan besok dengan darah musuh-musuhku”
Demikian guru Singatama itu terdiam, maka para putut-pun telah melangkah
mendekati kerbau yang terikat dengan senjata telanjang diikuti oleh para cantrik
yang lain.
Peristiwa yang mengerikan itu selalu terjadi disetiap mereka melakukan upacara,
sehingga kerbau itupun akan mati terkapar kehabisa darah. Sementara para putut
dan cantrik telah kembali mengerumuni api sambil menyentuh lidah api yang
menjilat dengan ujung senjata mereka yang basah oleh darah.
Dalam pada itu, Singatama sebagai murid terdekat dari gurunya itupun telah
menyentuh lidah api itu dengan senjatanya pula, sehingga dengan demikian ia
merasa bahwa senjatanya akan menjadi jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
Apalagi ketika kemudian gurunya itu masih sekati lagi mengucapkan
mantera-mantera sementara murid-muridnya
masih melingkari api yang menyala sambil mengacungkan senjata masing-masing
Malam itu, para cantrik hampir tidak tertidur sama sekali. Upacara itu kemudian
diakhiri dengan minum tuak sehingga hampir semua orang menjadi mabuk karenanya.
Dalam keadaan mabuk itulah, baru seisi padepokan itu tertidur dengan gelisah.
Di pagi hari berikutnya, masih terasa kepala mereka menjadi pening. Namun
rasa-rasanya mereka bagaikan mendapat kekuatan baru. Disaat mereka sudah siap
untuk berangkat meninggalkan padepokan tiupun, guru mereka sekali lagi masih
memberikan pesan-pesan yang dapat membakar jantung mereka.
Baru sejenak kemudian, maka merekapun telah berloncatan kepunggung kuda dan
sambil bersorak-sorak bagaikan hendak memecahkan langit mereka berangkat menuju
ke tempat yang disebut sebuah padepokan yang baru. Ternyata merekapun .idak
dapat mencapai sasaran di hari itu juga. Mereka harus bermalam semalam di
perjalanan. Ketika di hari berikutnya matahari terbit, maka iring-iringan itupun
mulai bergerak lagi. Kuda kuda itupun mulai berpacu menuju ke tempat dua orang
diantara mereka sedang tertawan.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dengan berdebar-debar menunggu
orang-orang yang mereka tunggu. Menurut perhitungan, maka saatnya telah lewat.
Sehingga dengan demikian maka Mahisa Pukat yang hampir tidak sabar itupun
bergumam “Apakah mereka tidak akan kembali lagi?“
“Kita akan menunggu barang satu dua hari lagi” sahut Mahisa Murti “aku kira
mereka sedang mempersiapkan
diri. Mungkin merekapun sedang menunggu satu dua orang diantara mereka yang
pergi, atau karena persoalan-persoalan lain”
Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi keduanya tetap sadar, bahwa mereka tidak
boleh lengah sama sekali. Setiap saat bahaya akan datang. Mungkin siang. Mungkin
malam.
Karena itu, tidak putus-putusnya setiap kejap mata, ada beberapa orang yang
bertugas mengawasi keadaan. Mereka berada disudut-sudut pagar halaman apa yang
mereka sebut dengan padepokan itu.
Dalam pada itu, para cantrik yang semula adalah cantrik pada padepokan Singatama
itupun menjadi gelisah. Mereka harus melakukan sesuatu yang kurang pasti.
Apalagi jika mereka membayangkan bahwa pada suatu saat, Singatama yang marah itu
akan datang dengan seisi sebuah padepokan yang besar dengan para penghuninya
yang keras dan kasar.
Meskipun pada saat-saat tertentu, hati mereka menjadi pasti, bahwa mereka tidak
akan membiarkan diri mereka untuk diperbudak dengan cara yang paling pahit,
namun pengaruh ketakutan yang sudah terlalu lama menekan jantung mereka, tidak
dapat dengan mudah dihindarinya.
Demikianlah, saat yang mendebarkan itupun datang. Ketika dari kejauhan seorang
cantrik yang bertugas di sudut apa yang mereka sebut padepokan itu melihat debu
yang mengepul di udara, maka tiba-tiba saja tubuhnya menjadi gemetar. Ia tidak
akan salah lagi, bahwa yang datang itu tentu sekelompok murid dari padepokan
Singatama.
“O, jika yang datang itu gurunya, maka kami tentu akan di bantainya disini”
katanya didalam hati.
Hampir saja ia tidak kuasa memberikan pertanda apapun juga. Namun seolah-olah
diluar sadarnya, maka tangannya
telah menyentuh kentongan kecil dengan sepotong carang bambu.
Suara kentongan itu hanya lirih saja. Tetapi dua orang prajurit Singasari yang
kebetulan lewat disamping tempat cantrik itu berjaga-jaga telah mendengarnya.
Karena itu, dengan tergesa-gesa iapun mendekati cantrik yang gemetar itu. Dengan
lantang salah seorang prajurit itu bertanya “Apa yang kau lakukan? Kau
memberikan isyarat?“
Cantrik itu masih saja berdebar-debar. Bahkan semakin lama terasa menjadi
semakin keras memukul dinding jantungnya. Tanpa mendapat jawaban dari cantrik
itu, maka kedua orang prajurit itupun melihat sekelompok orang-orang berkuda
mendekati apa yang mereka sebut padepokan itu.
“Agaknya mereka telah datang” desis salah seorang dari mereka “sebuah pasukan
yang cukup besar”
“Itulah mereka“ terdengar suara cantrik itu bergetar “mereka datang untuk
menghukum kita”
Kedua orang prajurit itu memandang cantrik itu dengan tajamnya. Namun merekapun
segera mengetahui, bahwa cantrik itu telah disentuh lagi oleh kecemasan yang
sangat.
“Jangan biarkan lehermu ditebas oleh orang-orang itu” desis salah seorang
prajurit.
“Mereka akan membunuh kita” berkata cantrik itu pula. Jika kita biarkan kepala
kita dipenggalnya, maka mereka tentu akan melakukannya” jawab seorang diantara
kedua prajurit itu “tetapi aku tidak. Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu
memotong kepalaku. Karena itu, aku akan melakukannya sebelum mereka melakukan
atasku”
Cantrik itu mengerutkan keningnya. Namun ia tersentuh juga oleh kata-kata itu.
Apalagi ketika yang seorang lagi dari kedua prajurit itu berkata “Kami bukan
budak-budak Yang setia dan memberikan jantung untuk ditusuk sampai lembus. Kami
adalah laki-laki yang siap untuk mati, tetapi sebagai laki-laki. Bukan sebagai
seekor kerbau yang dungu.
Cantrik itu tidak menjawab. Tetaoi sulit baginya untuk dengan tiba-tiba merubah
sikapnya. Meskipun demikian sikap para prajurit yan tidak dalam ujud dan pakaian
prajurit itu agak membuatnya menjadi tenang.
Namun dalam pada itu. seorang diantara kedua prajurit Singasari itulah yang
kemudian telah memukul isyarat, sehingga seisi apa yan mereka namakan sebuah
padepokan itupun telah mendengarnya.
Para cantrik yang berjaga-jaga dtempat lainpun sebenarnya telah melihat
kehediran sepasukan berkuda mendekat. Tetapi seperti kawan-kawan mereka yang
lain, maka merekapun menjadi ragu-ragu. Dengan memberikan isyarat itu, maka
mereka merasa bahwa kesalahan mereka menjadi semakin besar, sehingga hukuman
yang akan dijatuhkan atas merekapun menjadi semakin berat.
Tetapi ternyata bahwa isyarat itu sudah berbunyi, siapa pun yang membunyikan.
Dalam pada itu, aka Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun segera meneriakkan aba-aba.
Mereka sadar, bahwa tanpa dorongan dari luar dirinya, para cantrik itu tidak
akan berani berbuat apa-apa. karena itu, maka terdengar suara Mahisa Pukat
lantang “Lihat, mereka sudah datang. Siapa yang masih ingin tetap hidup sebagai
seorang yang bebas untuk menentukan pilihannya sendiri didalam perjalanan
hidupnya, marilah bersama-sama mempertahankan martabat kita sebagai manusia.
Kita
bukan seekor binatang yang akan selalu tunduk, betapapun tubuh kita selelu
didera dengan cambuk dan tongkat. Tetapi kita adalah manusia sebagaimana
rneraka”
Para cantrik itu termangu-mangu. Namun kesibukan para prajurit yang datang di
tempat itu dengan ujud sebagai orang kebanyakan telah mendorong mereka untuk
berbuat sesuatu.
-oo00oo-
Bersambung jilid 005
Jilid 5
“SIAPKAN senjata kalian“ teriak Mahisa Murti. “mereka menjadi semakin dekat.
Kecuali yang dengan sengaja ingin membunuh dirinya, biarlah mereka mulai
meratapi nasibnya sejak sekarang”
Bagaimanapun juga, kata-kata dan sikap Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta
orang-orang yang datang bersama mereka telah membangunkan para cantrik itu dari
ketakutan mereka. Karena itu, maka beberapa orang diantara merekapun telah
menggenggam hulu pedang mereka sambil menghentakkan perasaan sendiri “Akupun
seorang laki-laki”
Sikap itu ternyata berpengaruh atas kawan-kawan mereka. Seorang demi seorang
mulai menengadahkan kepala mereka, sementara orang-orang berkuda itupun menjadi
semakin dekat.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun telah menemui Ki Demang di
Randumalang untuk mempersilahkannya berdiri sebuah planggrangan bambu yang telah
tersedia di sebelah pintu gerbang, agar mereka melihat dan tampak dari luar
dinding apa yang mereka sebut padepokan itu.
“Aku takut ayah” desis Widati.
“Percayalah kepada mereka” jawab ayahnya “nampaknya mereka bersungguh-sungguh.
Bukan saja karena persoalan yang melibat dirimu, tetapi yang dilakukan oleh
orang-orang ini adalah satu usaha yang lebih luas. Padepokan yang selalu
melakukan tekanan terhadap lingkungan di sekitarnya itu memang tidak selayaknya
lagi mendapat kesempatan untuk berkembang. “Tetapi aku takut ayah” desis Widati
kemudian “jika
ternyata mereka berhasil memecahkjn dinding kayu ini ayah. Nampaknya dinding ini
tidak terlalu kuat”
“Mudah-mudahan kita yang berada di dalam dinding kayu ini akan berhasil bukan
saja bertahan, tetapi kemudian menangkap mereka dan mernadamkan segala kegiatan
mereka yang melawan hubungan antar sesama manusia itu” berkata ayahnya.
Namun bagaimanapun juga Widati masih tetap menggigil. Ia sadar, bahwa ia akan
dipergunakan untuk memancing agar persoalan diantara kedua padepokan ini akan
menjadi semakin masak untuk meledakkan satu pertempuran dan sekaligus meyakinkan
para prajurit Singasari bahwa sifat dan walak orang-orang padepokan yang datang
itu memang patut disesalkan dan bahkan sepantasnya untuk dihentikan.
Karena itu, maka sejenak kemudian, dengan tubuh yang gemetar Widati bersama
ayahnya telah berdiri di atas sebuah pelanggrangan bambu di sebelah regol,
sehingga mereka akan nampak oleh orang-orang yang berada di luar regol.
Sebenarnyalah, maka iring-iringan itupun menjadi semakin dekat. Mereka langsung
berkerumun di depan regol yang sudah tertutup rapat. Namun beberapa orang
penghuni apa yang mereka sebut sebuah padepokan itu telah berada di sebelah
menyebelah regol, berdiri di atas pelanggrangan yang memang sudah disiapkan.
Singatama yang melihat Widati ada diantara mereka itupun menggeram. Dengan suara
bergetar ia berkata “Mereka memang sengaja menghina aku dan barangkali kita
semuanya”
“Kenapa” bertanya gurunya.
“Perempuan itu adalah perempuan yang aku inginkan. Para cantrik aku perintahkan
untuk mencari dan mengambil perempuan itu. Tetapi perempuan itu telah berada
diantara para cantrik dan tidak pernah mereka serahkan kepadaku”
Dalam padu itu, Mahisa Murti yang berdiri di sebelah Widati itupun kemudian
berkata lantang “He. Singatama. Kenapa kau datang kembali”
Singatama menggeram. Katanya “Jangan terlalu sombong anak iblis. Aku datang
untuk menyatakan kepada kalian, bahwa kalian adalah orang orang yang tidak tahu
diri”
“Aku telah mengalahkanmu” berkata Mahisa Murti.
Wajah Singatama menjadi merah. Dengan suara bergetar oleh kemarahan yang
memuncak ia berkata “Sekarang aku datang untuk membuktikan bahwa aku adalah
murid sebuah perguruan yang besar”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara yang tiba-tiba menurun, ia
berkata “Singatama. Aku sengaja membawa Widati sekarang ini, agar kau dapat
mendengar sendiri sikapnya. Jika persoalan ini bermula dari hubungannya dengan
Widati, maka aku kira, persoalan ini dapat dikembalikan kepada masalahnya tanpa
menimbulkan korban yang sebenarnya tidak perlu”
“Apa maksudmu? Kau akan menyerahkan gadis itu kepadaku” bertanya Singatama.
“Masalahnya tidak pada menyerahkan atau tidak menyerahkan” jawab Mahisa Murti
“tetapi masalahnya adalah, apakah Widati bersedia atau tidak? la mempunyai
wewenang untuk menentukan sikapnya. Mungkin ia akan menyatakan kesediaannya.
Jika demikian maka tidak akan
ada persoalan lagi diantara kita. Tetapi jika Widati menolak lamaranmu. maka kau
tidak akan dapat memaksanya”
“Persetan“ geram Singatama “ia akan menerima lamaranku. Ia memang sudah
menerimanya. Tetapi mungkin kalian telah mengancamnya. Mungkin di belakang gadis
itu sekarang, seseorang berdiri dengan ujung pedang di punggungnya”
“Jangan berbicara seperti orang dungu” jawab Mahisa Murti” berkatalah dengan
wajar. Bukankah kita masih dapat menghargai pendapat seseorang? Apakah caramu
itu akan merubah kebenaran atas sikap Widati?”
“Persetan” geram Singatama “aku tidak peduli. Berikan gadis itu kepadaku. Kalian
akan mendapat pengampunan”
“Inilah yang harus kau pertimbangkan” jawab Mahisa Murti “apakah kau dapat
bersikap lebih baik, atau kau memang termasuk seseorang yang selalu memaksakan
pendapat terhadap orang lain. Bahkan telah melanggar hak menentukan sikap
sebagaimana seorang gadis yang bernama Widati”
“Kau licik. Berikan gadis itu kepadaku. Ia akan menjawab, dengan jujur jika ia
terlepas dari ancamanmu” teriak Singatama.
Wajah Widati menjadi tegang. Kemarahan dan ketakutan telah berbaur di dalam
dirinya. Dalam pada itu, Singatama berkata “Jangan memperpanjang persoalan.
Serahkan gadis itu kepadaku”
“Kau yakin bahwa ia akan menerimamu dengan ikhlas?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku yakin“ teriak Singatama lebih keras.
Sejenak Mahisa Murti merenung. Namun tiba-tiba katanya “Baiklah. Aku akan
menyerahkan gadis ini kepadamu”
Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Semua orang yang mendengarnya terkejut,
termasuk Widati sendiri. Sehingga dengan serta meria ia telah berteriak di luar
sadarnya “Tidak. Aku tidak mau”
Jawaban itu telah mencengkam setiap jantung. Singatama yang berada di sebelah
gurunyapun tercenung sejenak mendengar suara Widati yang melengking itu.
Dalam pada itu, tiba-tiba saja Widati telah memeluk ayahnya sambil berkata
diantara isaknya “Aku tidak mau ayah. Aku tidak mau”
Mahisa Pukat yang termangu-mangu telah melangkah mendekati Mahisa Murti dengan
tatapan mata yang tegang. Hampir saja ia bertanya, apakah maksud Mahisa Murti
sebenarnya.
Namun sementara itu, Mahisa Murti telah berkata “Kata-kata itulah yang aku
tunggu. Aku ingin membuktikan, bahwa dengan-serta merta gadis itu menolak untuk
aku serahkan kepadamu. Nah, Singatama. Apakah kau tahu artinya?”
“Anak iblis“ teriak Singatama “kau licik. Kau sudah mempersiapkan permainan ini
dengan sempurna. Kau ancam gadis itu untuk bermain sebaik-baiknya dalam
peranannya sendiri”
"Kau masih juga bermimpi Singatama” jawab Mahisa Murti “semuanya sudah jelas.
Karena itu, aku minta kau kembali saja”
“Tidak. Aku akan menghancurkan kalian semuanya. Aku, atas persetujuan guru, akan
membunuh kalian semua.
Semalam senjata kami sudah dilekati oleh darah. Sekarang, senjata kami akan
menjadi merah oleh darah kalian” geram Singatama
Dalam pada itu, maka guru Singatamapun bergeser selangkah maju. Dengan tenang ia
berkata “Aku puji kemampuan kalian mempermainkan perasaan muridku. Aku kagum
atas kecerdikanmu anak muda. Tetapi apakah kau tidak berpendapat, bahwa
sebaiknya, permainan ini diakhiri?”
“Siapa kau?” bertanya Mahisa Murti.
“Aku adalah guru Singatama” jawab orang itu “namaku tidak penting bagimu. Tetapi
orang memberi aku panggilan yang aneh, yang sebenarnya aku kurang senang. Mereka
menyebutku Pulung Geni. Aku tidak tahu apa artinya. Tetapi aku tidak menolak
untuk dipanggil Empu Pulung Geni”
“Jadi kau guru Singatama. Dan kau telah terlibat pula dalam tindak kekerasan
seperti ini” bertanya Mahisa Murti “aku berharap bahwa kau akan berusaha untuk
mencegah tindak sewenang-wenang dari muridmu. Tetapi kau justru melibatkan diri
kedalamnya”
Orang yang disebut Empu Pulung Geni itu tertawa. Katanya “Kau memang senang
bergurau anak muda. Ada-ada saja yang kau ucapkan untuk memancing kegembiraan.
Aku senang mendengar guraumu yang segar itu”
“Aku bersungguh-sungguh“ Mahisa Murtilah yang kemudian hampir berteriak.
Tetapi orang yang disebut Empu Pulung Geni itu justru tertawa semakin keras.
Wajah Mahisa Murti telah membara. Namun yang lebih
tidak sabar lagi adalah Mahisa Pukat. Dengan lantang ia berteriak “Kau sangka
leluconmu itu baik?”
“O“ guru Singatama itu masih tertawa “kau jadi marah? Ternyata kau tidak mampu
bergurau seperti kawanmu itu. Nampaknya kau bukan seorang periang. Tetapi
seorang pemarah”
“Tutup mulutmu. Apa maumu sebenarnya“ teriak Mahisa Pukat semakin keras”
Tetapi Empu Pulung Geni itu sama sekali tidak merubah sikapnya. Ia masih saja
dengan tenang dan tertawa menanggapi sikap Mahisa Pukat. Katanya “Sebenarnya
kita dapat bersahabat. Terutama kawanmu yang pandai bergurau itu. Jika kalian
menyerahkan gadis itu dan dua orang muridku yang kau tawan dengan sikap yang
curang, maka persoalan diantara kita sudah selesai. Kalian bebas untuk kembali
ke padepokan yang untuk sementara dipimpin oleh Empu Nawamula, tanpa perasaan
takut untuk di hukum, meskipun tingkah laku kalian sampai saat ini memang perlu
dipertimbangkan” Kemarahan Mahisa Pukat telah tidak terkendali lagi. Justru
karena itu, maka mulutnya bagaikan terbungkam. Tubuhnya bergetar dan sorot
matanya bagaikan melontarkan api.
Karena itu. maka Mahendra merasa perlu untuk menolong kedua anaknya itu. Kedua
anak-anak muda yang telah terpancing oleh sikap orang yang disebut Pulung Geni
itu. Karena itu, maka ia kemudian mendekati Mahisa Murti sambil berkata
“Tenanglah anak-anak. Jangan terbawa oleh arus perasaanmu Kalian, aku mencoba
menjawabnya.
Ketika kemudian Mahendra berdiri pula disisi Mahisa Murti di atas sebuah
pelanggrangan bambu, maka guru Singatama itu memandanginya dengan tajamnya.
Bahkan
kemudian dengan nada datar ia bertanya “Siapa kau? Apakah kau juga akan turut
campur?”
“Tidak Ki Sanak” jawab Mahendra “aku hanya ingin menolong anak-anak ini untuk
dapat mengendapkan perasaannya, agar ia dapat menjawab pertanyaanmu dengan baik”
Empu Pulung Geni menganguk-angguk. Katanya “Baiklah. Ajarilah anak-anak itu
berpikir bening. Sebenarnya ia tidak dirugikan oleh tindakan Singatama, karena
ia bukan keluarga gadis itu. Ia tidak bersangkut paut dan tidak wajib untuk ikut
mencampurinya. Jika ia melepaskan diri dari keterlibatannya, maka ia tidak akan
mengalami sesuatu yang akan dapat membuatnya menyesal”
Mahisa Murti sudah akan berteriak. Tetapi Mahendra mendahului “Terima kasih Ki
Sanak. Aku juga akan memberinya nasehat seperti itu. Tetapi manakah yang lebih
baik. Tingkah laku anak-anak muda ini dengan muridmu yang bernama Singatama itu.
Anak-anak ini melibatkan diri justru karena ia merasa tersinggung rasa
keadilannya melihat tingkah laku muridmu yang bernama Singatama, karena
Singatama telah memaksakan kehendaknya atas seorang gadis yang bernama Widati
ini”
Empu Pulung Geni mengangguk-angguk. Katanya “Pertanyaanmu tepat sekali Ki Sanak.
Tetapi bagaimanakah jika kita bersetuju untuk tidak saling mengganggu. Soal
hubungan antara Singatama dan gadis itu, biarlah diselesaikan oleh Singatama dan
keluarganya”
“Jika hal itu terjadi, maka anak-anak muda ini merasa, bahwa mereka tidak
bermanfaat bagi sesama di dalam hubungannya dengan sikap seseorang yang
memaksakan kehendaknya atas orang lain” jawab Mahendra, lalu
“persoalan ini sebenarnya adalah persoalan manusia. Bukan persoalan yang dapat
dibatasi antara dua belah pihak yang memaksakan kehendaknya dan yang tidak
mempunyai kemampuan untuk mengdakkan diri dari paksaan itu, meskipun akibatnya
adalah penderitaan”
“Jadi kalian benar-benar dengan sadar melibatkan diri kedalam persoalan ini”
bertanya Empu Pulung Geni.
“Benar Ki Sanak” jawab Mahendra “persoalannya tidak terbatas pada persoalan
seorang gadis. Tetapi dengan demikian kami akan melihat pada pokok persoalannya.
Kami tidak sependapat bahwa seseorang dibenarkan untuk memaksakan kehendaknya
atas orang lain berdasarkan kepada kekuatan dan kekerasan. Yang nampak sekarang
disini adalah keinginan Singatama untuk mengambil gadis itu. Tetapi di tempat
lain dan dalam kesempatan lain, kalian akan dapat berbuat jauh lebih banyak.
Mungkin kalian ingin memaksakan kehendak kalian untuk mendapatkan perempuan,
harta benda, kekuasaan dan akhirnya dunia ini ingin kau miliki”
Empu Pulung Geni mengangguk-angguk. Sementara itu. darah Singatama bagaikan
sudah mendidih. Ia tidak mengerti, kenapa gurunya masih saja bersabar menghadapi
orang-orang di dalam lingkungan dinding kayu itu.
“Baiklah Ki Sanak“ berkata.Empu Pulung Geni “agaknya aku sudah tidak mempunyai
pilihan lain. Soalnya bukan sekedar gadis itu. Tetapi kalian sudah menghina
perguruan kami dengan menawan dua orang diantara kami. Apalagi jika keduanya
ternyata telah kalian bunuh, maka kalian benar-benar akan menyesal”
“Jadi, apakah kalian ingin mengurungkan niat kalian” bertanya Mahendra.
“Tidak Ki Sanak” jawab guru Singatama itu dengan tenang “kami akan membakar
padepokanmu dan membunuh semua orang yang ada di dalam barak yang kau sebut
padepokan itu. Kami akan mempergunakan darah kalian sebagai darah manusia yang
pertama bagi sebuah upacara. Biasanya kami mempergunakan darah binatang. Tetapi
pada saatnya, kami memang harus mempergunakan darah manusia” Mahendra
mengangguk-angguk. Sejenak ia memperhatikan orang-orang yang menebar di luar
dinding apa yang di sebutnya padepokan itu.
“Jumlah mereka terlalu banyak bagi penghuni sebuah padepokan” berkata Mahendra
di dalam hati.
“Apa yang sedang kau pikirkan Ki Sanak” tiba-tiba saja Empu Pulung Geni
bertanya.
Dalam keadaan yang demikiai Mahendra masih sempat tersenyum sambil menjawab
“Tidak apa-apa. Aku sedang menghitung orang-orangmu”
“Terlalu banyak” bertanya Empu Pulung Geni.
“Cukupan untuk menghancurkannya hari ini” jawab Mahendra.
Anak-anak muda dikedua belah pihak sudah tidak telaten lagi mendengar
pembicaraan itu. Namun Empu Pulung Geni masih dengan sareh berkata “Anak-anak.
Bersiaplah. Kita akan segera mulai”
Para Putut dan cantrik dari padepokan orang yang disebut Empu Pulung Geni itupun
segera mempersiapkan diri. Merekapun kemudian menebar di bagian depan apa yang
disebut sebuah padepokan. Nampaknya mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk
memecah dinding kayu yang tidak begitu tinggi itu, atau bahkan meloncatinya.
Namun dalam pada itu, Mahendrapun telah memberikan isyarat kepada Mahisa
Bungalan untuk bersiap. Mereka berada di belakang pintu regol yang tertutup.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah meninggalkan tempatnya
berusaha untuk membangkitkan keberanian para cantrik yang masih saja ragu-ragu.
“Kita sudah berada di ujung tombak“ berkata Mahisa Murti “terserah kepada kita.
Apakah kita akan membiarkan tombak itu menghunjam di perut kita, atau kita akan
menghindarinya”
Ternyata dalam keadaan yang paling gawat, para cantrik itu sadar, bahwa mereka
harus berusaha menyelamatkan jiwa mereka masing-masing. Karena itu, maka Mahisa
Pukatpun berkata “Nah, sekarang kalian bersiap di dalam dinding. Jika mereka
meloncat kedalam atau berusaha merusak dinding, maka adalah menjadi kewajiban
kalian untuk menghalau mereka”
Dalam pada itu, maka Empu Pulung Genipun kemudian berkata tanpa kesan kemarahan,
bahkan lebih mirip dengan aba-aba dalam permainan “Lakukanlah anak-anak, kalian
dapat berbuat apa saja. Bahkan membakar padepokan itu sampai lebur menjadi abu.
Jika Singatama masih menginginkan perempuan itu, biar perempuan itu sajalah yang
hidup. Tetapi jaga, agar kalian dapat menyelamatkan kedua orang saudaramu yang
tertawan. Tetapi jika keduanya sudah terbunuh, maka aku minta kedua anak muda
yang menawannya itu kalian tangkap hidup-hidup. Jangan beri kesempatan mereka
membunuh diri, karena keduanya adalah wadag yang paling baik untuk mengantarkan
upacara”
Sikapnya memang sangat menarik perhatian. Tetap Mahendrapun sepenuhnya dapat
menguasai dirinya,
sehingga katanya kepada orang-orang yang berada di dalam dinding “Bersiaplah.
Permainan akan segera dimulai”
Sebenarnyalah kedua belah pihak sudah bersiap. Para murid Empu Pulung Geni sama
sekali bersikap lain dari gurunya. Bahkan merekapun merasa heran, bahwa gurunya
bersikap terlalu sabar menghadapi orang-orang di dalam padepokan itu. Karena
itu, maka tiba-tiba saja mereka telah bergerak dengan hentakan yang mengejutkan.
Mereka berteriak bersama dalam nada yang tinggi, seolah-olah hendak meruntuhkan
langit.
Satu suasana yang jauh berbeda dengan sikap Empu Pulung Geni.
Namun Mahendra, Witantra dan Mahisa Agnipun segera dapat membaca sikap yang
sebenarnya dari perguruan yang sedang mereka hadapi itu.
Dalam pada itu, para cantrikpun segera bersiap di belakang dinding. Sementara
Widati yang menggigil ketakutan dibimbing oleh ayahnya masuk kedalam barak.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memerintahkan empat orang
cantrik untuk mengamati gadis itu dan melindunginya jika di luar dugaan, satu
atau dua orang menyusup sampai ke tempatnya. Sementara di lingkungan apa yang
mereka namakan padepokan, lima orang cantrik selalu berjaga-jaga. Untuk
ketenangan hati Mahisa Murti, maka seorang dari prajurit pilihan telah berada
bersama dengan para cantrik itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian pertempuran itupun telah berkobar. Para
cantrik yang berada di dalam dinding dengan ujung tombak dan pedang berusaha
mencegah saudara-saudara seperguruan Singatama untuk memasuki dinding. Dipimpin
oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berdiri berseberangan di sebelah
menyebelah regol, para cantrik yang merasa dirinya tidak mempunyai pilihan lain
daripada mempertahankan hidupnya itupun telah menentukan satu sikap yang pasti.
Dengan demikian, maka benturan kekuatanpun tidak dapat dihindari lagi.
Ujung-ujung senjata mulai berbicara di dinding apa yang disebut sebuah padepokan
itu.
Namun dalam pada itu, adalah di luar dugaan guru Singatama yang disebut Empu
Pulung Geni itu, ketika tiba-tiba saja pintu regol terbuka. Dengan serta merta,
sekelompok orang dari dalam regolpun berlari-larian keluar dengan senjata
telanjang di tangan.
Mereka adalah para prajurit Singasari yang dipimpin langsung oleh Mahisa
Bungalan.
Sergapan yang tiba-tiba itu benar-benar mengejutkan para pengikut Empu Pulung
Geni. Sejenak, mereka justru menyibak karena senjata yang berputaran. Namun
beberapa saat kemudian ternyata merekapun telah berhasil menguasai diri mereka
kembali.
Mahisa Agni dan Witantra masih mengamati pertempuran itu dari dalam dinding,
sementara Mahendra tidak sampai hati membiarkan Mahisa Bungalan keluar tanpa
pengamatannya, apabila tiba-tiba saja ia harus berhadapan dengan Guru Singatama.
yang menurut perhitungan Mahendra, tentu seorang yang berilmu sangat tinggi.
Dalam pada itu, maka Mahisa Agni dan Witantra memperhatikan pertempuran itu
dengan hati yang berdebar-debar. Di luar dugaan, maka Mahisa Agnipun berdesis
“Apakah kau yakin, bahwa yang kita hadapi sekarang ini sebuah padepokan?”
Witantra mengerutkan keningnya. Jawabnya “Memang mungkin sebuah padepokan.
Tetapi sebuah padepokan yang khusus”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata “Sebuah padepokan
yang memang sangat menarik perhatian. Padepokan yang memiliki sebuah kekuatan
yang besar Bahkan mungkin belum semua kekuatan dikerahkan.
Witantra tidak menjawab. Diamatinya pertempuran yang menjadi semakin dahsyat.
Orang orang yang datang menyerang itu benar-benar orang-orang yang kasar dan
keras. Namun mereka memang memiliki kelebihan dari sebuah padepokan biasa dan
cantrik-cantriknyapun memiliki ilmu yang cukup baik. Lebih baik dari para
cantrik di padepokan Empu Nawamula”
“Lebih baik dan lebih Banyak“ berkata Witantra “cantrik-cantrik dari padepokan
Empu Nawamula ini masih dibayangi oleh ketakutan, sementara kemampuan mereka
memang masih pada tataran permulaan”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya “Untunglah bahwa Mahisa Bungalan datang
bersama sekelompok prajurit yang dapat membantu kedudukan Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat”
“Tetapi yang sangat menarik adalah padepokan itu sendiri“ berkata Witantra “aku
condong mempunyai dugaan, bahwa padepokan itu bukan sebuah padepokan yang biasa
kita jumpai”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Sementara itu pertempuranpun menjadi semakin
seru. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kekuatannya.
Sebenarnyalah bahwa pasukan Empu Pulung Geni benar-benar merupakan sebuah
pasukan yang sangat
menggetarkan. Mereka bertempur dengan kasar dan keras. Mereka berteriak-teriak
dengan liar dan mempergunakan cara apapun untuk menguasai lawannya.
Namun prajurit Singasari di bawah pimpinan Mahisa Bungalan itupun memiliki
pengalaman yang luas. Karena itu, maka mereka tidak menjadi bingung menghadapi
pasukan Empu Pulung Geni.
Para Putut dari padepokan Empu Pulung Geni itupun telah memencar Mereka memimpin
para cantrik dengan sasaran yang berbeda. Ada diantara mereka yang berusaha
memasuki dinding. Tetapi sebagian dari mereka terpaksa bertempur menghadapi
pasukan yang dipimpin oleh Mahisa Bungalan, yang justru keluar dari batas
dinding apa yang disebut padepokan itu.
Namun dalam pada itu ternyata, bahwa usaha para pengikut Pulung Geni memasuki
dinding padepokan itu, semakin lama menjadi semakin mendesak. Meskipun sebagian
diantara mereka harus menghadapi sekelompok prajurit Singasari yang tidak
mempergunakan ujud keprajuritannya, namun yang lain berhasil mengguncangkan
pertahanan para cantrik dari padepokan yang dipimpin oleh Empu Nawamula.
Ternyata bahwa para pengikut Empu Pulung Geni memang mempunyai kelebihan
sehingga mereka memaksa para cantrik dari padepokan Empu Nawamula yang memang
masih selalu dibayangi oleh keraguan dan ketakutan, untuk menjadi semakin
berdebar-debar.
“Kita tidak dapat tinggal diam“ berkata Mahisa Agni.
“Baiklah” jawab Witantra “kita akan membagi diri. Aku disini. dan kau berada
disebelan regol”
Dengan demikian, maka di sebelah rnenyebelah regol terdapat Mahisa Murti dan
Mahisa Agni. Sementara
diseberang yang lain Witantra dan Mahisa Pukat. Dengan mereka, maka para cantrik
berusaha untuk mengusir lawan mereka yang berusaha untuk memanjat dan meloncat
dinding.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih muda itupun bertempur dengan sepenuh
hati. Karena itu, lawan mereka yang secara kebetulan berhadapan dengan kedua
anak muda itu disaat mereka berusaha meiianjat dinding, terpaksa harus meloncat
surut dengan luka di tubuh.
Apalagi setelah Mahisa Agni dan Witantra ikut serta berusaha menghalau mereka,
meskipun dengan cara yang agak berbeda dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Namun demikian, Mahisa Agni dan Witantra masih tetap mengamatii cara yang
dipergunakan oleh Empu Pulung Geni dan orang-orangnya untuk memecahkan apa yang
disebut padepokan itu. Kekuatan yang ada pada Empu Pulung Geni benar-benar satu
kekuatan yang besar. Seandainya Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak disertai
oleh Mahisa Bungalan dengan sekelompok pasukannya, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat akan mengalami kesulitan.
Sementara itu, meskipun di pihak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sudah disertai
sekelompok prajurit dibawah pimpinan Mahisa Bungalan, namun mereka tidak segera
dapat menyelesaikan kewajiban mereka. Ternyata pertempuran itu menjadi semakin
seru. Empu Pulung Geni ternyata mampu mempertahankan garis pertempuran dekat
dengan dinding apa yang disebut padepokan itu.
Mahisa Agni dan Witantra masih saja berusaha untuk menilai lawan sambil berusaha
mengusir mereka. Bahkan perkiraannya sampai pada satu kesimpulan, bahwa
padepokan Empu Pulung Geni itu tentu bukan sekedar
sebuah padepokan yang menurut laporan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dan yang
telah disaksikannya sendiri, sering memaksakan kehendaknya atas orang Lain.
“Tentu lebih dari itu“ berkata Manisa Agni di dalam hatinya sebagaimana pendapat
Witantra.
Dalam pada itu, Empu Pulung Geni sendiri ternyata masih belum terjun kedalam
peperangan. Ia memperhatikan dengan seksama apa ying terjadi. Dengan cermat ia
mengamati tingkah laku para pengikutnya dan lawan-lawannya. Seorang Putut yang
paling tua di dalam padepokannya, mendampinginya dengan senjata telanjang di
tangan.
“Aneh“ berkata Empu Pulung Geni “aku tidak percaya bahwa yang bertempur di luar
dinding itu juga para cantrik dari padepokan Singatama yang untuk sementara
dipimpin oleh Empu Nawamula”
Putut yang berdiri disampingnya itupun mengangguk-angguk. Katanya “Aku
sependapat Empu. Mereka terlalu baik bagi seorang cantrik. Mereka lebih baik
dari cantrik-cantrik kita. Bahkan jauh lebih baik”
Empu Pulung Geni mengerutkan keningnya ketika ia melihat, bagaimana Mahisa
Bungalan bertempur menghadapi lawan-lawannya.
“Anak muda itu aneh“ berkata Empu Pulung Geni. Lalu “Ia memiliki kemampuan yang
sangat tinggi. Jika kau biarkan ia bergerak, maka ia akan menjadi pembunuh yang
tidak dapat dicegah lagi”
Putut itu mengangguk. Ia melihat dua orang putut yang lain bertempur di
ujung-ujung arena. Sementara itu, Singatama sendiri tengah berusaha dengan
sepenuh hati untuk dapat memasuki apa yang disebut padepokan itu.
Agaknya Singatama berkeras hati untuk dapat mengambil gadis yang diinginkannya.
Tetapi memasuki apa yang disebut padepokan itu ternyata tidak terlalu mudah.
Apalagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta Mahisa Agni dan Witantra berada di
dinding itu pula.
Putut yang semula mendampingi Empu Pulung Geni itupun kemudian berusaha
mendekati Mahisa Bungalan. Sejenak ia memperhatikan anak muda itu.
Namun-kemudian iapun bergeser maju sambil berdesis “Kau luar biasa anak muda”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Dipandanginya orang yang menyapanya itu.
Sementara Putut itu berkata pula “Apakah kau termasuk salah seorang cantrik dari
padepokan Nawamula?”
Sejenak Mahisa Bungalan termangu-mangu. Namun kemudian jawabnya “Ya. Aku adalah
seorang cantrik”
Tetapi Putut itu tertawa. Katanya “Kau jangan berbohong. Aku tahu, bahwa para
cantrik tidak akan berani melakukan hal seperti ini tanpa orang lain berdiri di
belakangnya. Agaknya kau termasuk salah seorang yang telah menghasut para
cantrik itu untuk memberontak terhadap Singatama”
Mahisa Bungalan tidak segera menjawab. Dipandanginya Putut yang berdiri
dihadapannya itu. Nampaknya orang itu memang cukup meyakinkan.
“Siapa kau” tiba-tiba saja Mahisa Bungalan bertanya.
“Aku adalah salah seorang pembantu Empu Pulung Geni” jawab Putut itu “aku adalah
Putut tertua dari padepokannya. Aku mendapat perintah oleh Empu Pulung
Geni, agar aku menghentikan tingkah lakumu yang sewenang-wenang”
"O“ Mahisa Bungalan menjawab “aku sama sekali tidak merasa berbuat
sewenang-wenang. Aku berbuat wajar sebagaimana dilakukan oleh seseorang di
peperangan. Jika kau sempat melihat, orang-orangrnu telah bertempur dengan
kasarnya. Bahkan liar dan tidak terkendali. Dengan demikian aku dapat melihat
watak dari padepokanmu. Padepokan yang dipimpin oleh orang yang disebut Empu
Pulung Geni itu”
Putut itu mengangguk-angguk. Katanya “Pengamatanmu tajam sekali Ki Sanak”
“Tingkah laku Empu Pulung Geni sama sekali bertentangan dengan wataknya yang
sebenarnya. Demikian pula kau“ berkata Mahisa Bungalan kemudian “kesabaran
kalian bukan kesabaran yang sebenarnya. Tetapi merupakan satu bagian darai
perhitungan kalian yang cermat”
Putut itu mengangguk-angguk. Katanya “Kau benar Ki Sanak. Tetapi bukan berarti
bahwa pendapatmu itu akan mempengaruhi kami dalam keseluruhan. Kami memang kasar
dan bahkan buas. Karena itu, kalian akan mati dan berkubur di tempat ini”
Mahisa Bungalan tidak menjawab ”Tetapi iapun segera bersiap untuk bertempur.
Dalam pada itu, pertempuranpun telah menyala semakin besar dan seru. Senjata
berdentangan dan darahpun mulai menitik dari luka.
Sementara itu, Mahendra yang berada di arena di luar regol apa yang disebut
padepokan itu, masih belum bertempur dengan sungguh-sungguh. Ia masih tetap
berada
diantara para prajurit Singasari yang memulas diri, sebagaimana orang
kebanyakan. Namun Mahendra tetap mengawasi, apa yang akan dilakukan oleh Empu
Pulung Geni.
Dalam pertempuran yang semakin sengit itu, Mahisa Bungalan telah terlibat
kedalam pertempuran dengan Putut tertua dari perguruan Empu Pulung Geni.
Ternyata Putut tertua itu memang memiliki ilmu yang tinggi. Ilmu yang bersumber
dari alam yang gelap dengan ujud yang kasar dan keras.
Tetapi Mahisa Bungalan telah membekali diri dengan ilmu yang mantap. Karena itu,
sejenak kemudian mulai nampak bahwa Mahisa Bungalan mampu mengimbangi tingkat
ilmu Putut tertua dari perguruan Empu Pulung Geni.itu.
Sementara itu, para pengikut Empu Pulung Geni yang lain masih belum berhasil
memasuki dinding padepokan. Para cantrik yang berada di dalam dinding, ternyata
mulai dibasahi oleh keringat dan kepercayaan kepada diri sendiri. Karena itu,
maka merekapun bertempur semakin mantap. Mereka berusaha menghalau setiap orang
yang berusaha meloncati dinding yang tidak begitu tinggi itu dipimpin oleh
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Namun dalam pada itu. Empu Pulung Geni menjadi semakin cemas melihat
perkembangan dari pertempuran itu.
Karena itu, maka ia merasa wajib untuk segera ikut menerjunkan diri kedalam
kobaran api pertempuran yang menjadi semakin menyala. Mahisa Bungalan menjadi
semakin garang menghadapi lawannya. Sehingga sejenak kemudian, maka Putut tertua
dari perguruan Pulung Geni itu semakin terdesak.
“Anak iblis” geram Putut itu di dalam hatinya “anak ini memiliki ilmu yang
tinggi”
Sebenarnyalah, meskipun Putut itu mengerahkan segenap kemampuannya, namun ia
menjadi semakin terdesak pula, seperti para cantrik yang lainpun telah semakin
terdesak pula oleh para prajurit Singasari, sementara kawan-kawan mereka masih
belum berhasil memasuki halaman apa yang disebut padepokan itu.
Namun dalam pada itu, Widati benar-benar menjadi ketakutan. Ia merasa diumpankan
untuk memancing perselisihan. Jika orang-orang di dalam lingkungan apa yang
disebut padepokan itu gagal bertahan, maka ia akan menjadi barang rampasan yang
jauh lebih tidak berharga dari apabila ia menerima lamaran Singatama.
Dengan hati yang berdebaran ia melihat para cantrik yang mengawalnya. Nampaknya
para cantrik itupun telah bersiaga sepenuhnya. Tetapi wajah mereka agak kurang
meyakinkan, bahwa merekapun siap menghadapi setiap kemungkinan.
Namun apabila di muka barak itu lewat seorang yang sebenarnya adalah prajurit
Singasari yang mendapat tugas untuk membantu para cantrik mengawasinya,
rasa-rasanya hatinya menjadi tenang. Sikap orang itu jauh lebih meyakinkan dari
sikap para cantrik yang ada disekitarnya, Tetapi tanpa para cantrik itu, hatinya
tentu akan menjadi lebih ketakutan lagi.
Sementara itu, sorak dan teriakan di muka apa yang disebut padepokan itu menjadi
semakin gemuruh. Orang-orang dari perguruan Pulung Geni bertempur sambil
berteriak-teriak. Kadang-kadang kasar dan bahkan mengumpat-umpat.
Dalam pada itu, Empu Pulung Geni sudah menjadi semakin dekat dengan orang-orang
yang sedang bertempur. Wajahnya kadang-kadang menegang. Namun kemudian wajah itu
kembali menjadi tenang.
“Orang ini memang luar biasa“ berkata Mahendra di dalam hatinya. Sehingga dengan
demikian, maka Mahendrapun bergeser semakin mendekati orang yang disebut Empu
Pulung Genii itu.
Ketika Empu Pulung Geni berhenti sejenak sambil mengamati pertempuran, maka
Mahendra bertempur beberapa langkah saja dari padanya tanpa menarik
perhatiannya.
Sementara itu Singatama berusaha dengan sekuat-kuat kemampuannya untuk menembus
pertahanan para cantrik dengan memecah dinding. Beberapa orang saudara
seperguruannya telah berusaha untuk membantunya. Mereka berteriak-teriak
memanggil nama dua orang saudara seperguruannya yang tertawan. Namun
sebenarnyalah yang lebih penting bagi Singatama adalah Widati.
Tetapi mereka menghadapi perlawanan yang gigih dari para cantrik. Dengan berdiri
di atas alas kayu dan bambu, para cantrik berusaha mengusir para pengikut Pulung
Geni dengan senjata mereka.
Dalam pada itu, dua orang saudara seperguruan Singatama yang tertangkap, masih
tetap di sekap dalam sebuah ruang di dalam barak itu diawasi oleh para cantrik
yang berada di antara barak-barak itu bersama seorang prajurit Singasari yang
ditugaskan bersama mereka disamping para cantrik yang menunggui Widati. Namun
mereka merasa heran, bahwa mereka justru mendapat perawatan yang baik. Luka-luka
mereka telah diobati dan
mereka sama sekali tidak diperlakukan dengan kasar. Sekali-sekali mereka memang
dibentak dan dimaki, Tetapi yang mereka alami itu sama sekali tidak berarti,
sebagaimana mereka memperlakukan orang lain.
Justru karena itulah, telah timbul berbagai pertanyaan di dalam hati mereka
tentang sikap dan tingkah laku mereka sendiri sebelumnya, yang mereka anggap
sebagai sikap yang wajar dan akan dilakukan oleh setiap orang. Namun ternyata
bahwa mereka telah menjumpai satu sikap dari sekelompok orang yang berbeda
sekali dengan sikap mereka dan orang orang dilingkungan perguruan mereka.
Dalam ketegangan yang semakin memuncak, maka Empu Pulung Geni tidak dapat lagi
menahan dirinya. Dengan pasti ia telah mencabut pedangnya. Pedang yang besar dan
bertajam ganda. Pedang yang dibuat dengan khusus sebagaimana seseorang membuat
keris.
Sikap Empu Pulung Geni memang menumbuhkan ketegangan tersendiri. Mahisa Agni dan
Witantra sempat menyaksikannya, bagaimana Pulung Geni itu menarik pedangnya dan
mengangkatnya di atas kepalanya. Pamor dari pedang itu nampak berkilat sesaat
diantara kehitaman tubuh pedang itu sendiri.
“Bukan main” desis Witantra, sebagaimana Mahisa Agni dan Mahendra yang mengagumi
ujud pedang Empu Pulung Geni itu.
“Pedang itu akan dapat membantai lawan-lawannya“ berkata Mahendra di dalam
hatinya. Karena itu, maka iapun bergeser semakin dekat. Ia merasa wajib untuk
menghalangi pembantaian yang dapat dilakukan oleh Pulung Geni Orang yang
bersikap terlalu tenang dan dalam. Namun menilik pengamatan Mahendra, orang itu
justru menyimpan sikap iblis di dalam dirinya.
Tetapi Mahendra yang bertempur diantara para prajurit yang menyamar sebagaimana
kebanyakan orang itu tertegun ketika tiba-tiba saja ia melihat seseorang yang
muncul dari balik gerumbul perdu. Agaknya pertempuran itu telah merampas segala
perhatiannya, sehingga Mahendra tidak melihat kapan orang itu bersembunyi di
belakang sebuah gerumbul yang tidak terlalu jauh dari ajang pertempuran itu.
“Empu Nawamula” desis Mahendra di dalam dirinya. Tetapi ia tidak menyebutnya,
sementara agaknya Empu Nawamula juga tidak menduga, bahwa Mahendra berada
diantara mereka yang bertempur itu. Karena itu. Empu Nawamula sama sekali tidak
memperhatikan orang-orang yang sedang terlibat di dalam pertempuran.
Perhatiannya sepenuhnya ditujukan kepada Empu Pulung Geni.
Dengan langkah yang mantap, Empu Nawamula mendekati Empu Pulung Geni yang
agaknya terkejut pula melihat kehadiran orang itu. Dengan ragu-ragu ia
memperhatikannya. Sementara itu langkah Empu Nawamula itupun menjadi semakin
mantap.
Dalam pada itu, di luar sadarnya. Singatama telah melihat pula orang yang datang
itu ketika dengan tidak sengaja ia berpaling kearah gurunya untuk menyatakan
kekesalannya oleh kegagalannya untuk meloncati dinding yang tidak terlalu tinggi
itu. Dengan demikian, maka di luar sadarnya pula ia telah memanggil pamannya
“Paman Nawamula”
Empu Nawamula memandang kearah kemanakannya itu dengan sorot mata kemarahan.
Tetapi ia tidak sempat berbicara kepada kemanakannya karena Empu Pulung Geni
telah menegurnya “Empu Nawamula. Kenapa Empu datang kemari?”
Empu Nawamula memandang Empu Pulung Geni dengan tajamnya. Kemudian katanya “Aku
ingin melihat bagaimana seorang guru memanjakan muridnya yang paling
dikasihinya”
Wajah Empu Pulung Geni menjadi tegang. Tetapi sejenak kemudian ia tersenyum “Aku
tahu, bahwa muridku itu adalah kemanakan seorang Empu yang mumpuni. Karena itu,
aku ingin membuat anak itu mumpuni pula seperti pamannya. Nampaknya usahaku
hampir berhasil. Ia sudah memiliki ilmu yang barangkali sejajar dengan ilmu
Empu. Hanya karena kemanakan Empu itu kurang berpengalaman, maka ia masih
memerlukan waktu untuk mengetrapkan ilmunya sebagaimana seorang yang berilmu
tinggi”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Jadi menurutmu, Singatama
telah memiliki ilmu sebagaimana aku miliki?”
“Ya” jawab Empu Pulung Genii singkat.
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya “Apakah kau bermaksud mengatakan, bahwa
dengan demikian maka kau, gurunya memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi dari
ilmuku?”
“Aku tidak mengatakankannya. Tetapi kau dapat memperbandingkan Sendiri. Ilmumu
setingkat dengan ilmu muridku. Meskipun muridku yang bernama Singatama itu
adalah muridku yang sangat aku kasihi karena ia memiliki kemungkinan masa depan
yang sangat cerah, namun ia bukan muridku yang memiliki ilmu tertinggi saat ini”
sahut Empu Pulung Geni.
“Bagus sekali” desis Empu Nawamula “jika demikian sepantasnyaian bahwa aku harus
berguru kepadamu untuk
beberapa tahun, agar aku mampu mengimbangi muridmu yang terbaik”
“Aku tidak berkeberatan Empu. Tetapi minggirlah. Aku akan bertempur melawan
orang-orang sombong ini” jawab Empu Pulung Geni.
Tetapi Empu Nawamula justru menjawab “Tunggu Ki Sanak. Aku masih ingin berbicara
tentang rencanaku untuk berguru. Apakah kau sama sekali tidak menaruh
perhatian?”
“Jangan bicarakan sekarang justru dalam kesibukan seperti ini” jawab Empu Pulung
Geni.
“Maksudku, apakah kau tidak ingin melihat, sampai di mana batas kemampuan calon
muridmu. Dengan demikian kau akan dapat menentukan tingkat yang manakah yang
akan kau pakai sebagai landasan untuk mulai dengan latihan-latihan olah
kanuragan yang akan kau berikan. Atau Putut yang manakah yang paling pantas
untuk menangani seseorang dalam tataran tertentu setelah kau mengetahuinya”
“Sudahlah“ berkata Empu Pulung Geni “katakan saja bahwa kau menantangku. Aku
kira dengan demikian kerjaku akan lebih cepat selesai. Aku akan membunuhmu
kemudian membunuh orang-orang yang sombong, yang aku kira adalah karena
bujukanmu bahwa mereka telah meninggalkan padepokan”
“Kau salah Ki Sanak” jawab Empu Nawamula “aku sama sekali tidak membujuk mereka.
Tetapi aku tidak sampai hati membiarkan mereka akan menjadi sasaran ketamakanmu
sehingga kau akan membantai mereka tanpa ampun”
“Itu adalah hukuman yang paling pantas buat mereka“ sahut Empu Pulung Geni.
“Itulah sebabnya aku hadir disini. Sudah sehari semalam aku menunggu disekitar
tempat ini. Aku yakin bahwa kau tentu akan datang untuk membantai para cantrik
atas pengaduan muridmu. Tetapi lebih dari itu, kau tentu akan menunjukkan
kemampuanmu untuk menakut-nakuti berbagai pihak, agar mereka tidak berani
melawanmu “ berkata Empu Nawamula.
“Sudahlah” geram Empu Pulung Geni “jangan banyak bicara. Aku akan mulai. Dan kau
akan terbunuh disini. Jika kau mati, aku harus minta maaf kepada Singatama,
karena kau adalah pamannya. Tetapi aku memang tidak mempunyai pilihan lain”
Empu Nawamulapun segera bersiap untuk menghadapi Empu Pulung Geni. Sementara
itu, Singatama justru menjadi termangu-mangu. la akan menyaksikan gurunya dan
pamannya akan bertempur untuk saling membunuh. Ia tahu, bahwa gurunya adalah
orang yang mumpuni. Namun iapun tahu, bahwa pamannya adalah orang yang pilih
tanding. Tetapi menurut penilaiannya, gurunya adalah orang yang tidak
terkalahkan.
Sejenak kemudian, maka keduanyapun telah bergeser. Sementara itu, Mahisa
Bungalan yang tidak mengerti, siapakah yang datang, berusaha untuk membatasi
diri. Ia membiarkan kedua orang itu menentukan sikap mereka masing-masing. Jika
mereka akan bertempur, biarlah mereka bertempur. Ia sendiri masih mempunyai
tugas untuk menyelesaikan para pengikut Empu Pulung Geni itu.
Yang kemudian memperhatikan kedua orang itu dengan seksama adalah Mahendra.
Meskipun ia masih berada
diantara mereka yang bertempur, tetapi ia mampu melakukannya.
Dalam pada itu, maka Empu Pulung Genipun segera bergeser mendekati lawannya. Ia
sudah terlanjur membawa pedang ditangannya. Pedang yang memilki kelebihan dari
pedang-pedang kebanyakan. Karena itu. iapun telah berniat untuk dengan pedangnya
mengakhiri perlawanan Empu Nawamula.
“Aku tidak akan menyarungkan pedangku lagi sekedar untuk menjajagi kemampuan
Empu gila ini“ berkata Empu Pulung Geni dalam hatinya. Karena itu, maka sejenak
kemudian, maka pedangnyapun telah terayun. Katanya “Empu Nawamula. Menurut
pendengaranku kau adalah seorang ahli membuat senjata. Karena itu, kau tentu
dapat menilai pedangku ini. Pedang yang dibuat khusus dengan tuah yang khusus
pula. Karena itu, sebelum Empu tersentuh oleh pedangku, sebaiknya Empu tidak
meneruskan niat Empu untuk mencampuri perkara ini”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Katanya “Luwuk ditanganmu itu memang sebuah
senjata yang luar biasa. Jarang aku melihat senjata segawat senjatamu. Pamornya
bagaikan menyala, sementara tajamnya yang ganda kau ulasi dengan warangan yang
berbahaya.
“Karena itu. minggirlah“ berkata Empu Pulung Geni.
Tetapi Empu Nawamula tidak menghindar. Bahkan kemudian iapun telah menarik
sebilah keris lewat di atas punggungnya Sebilah keris yang tidak juga seperti
kebanyakan keris. Keris itu terlalu besar dan panjang.
“Ki Sanak” berkata Empu Nawamula “aku memang sudah menyiapkan senjata khusus
untuk menghadapi senjatamu. Meskipun aku belum sempat mematangkan warangan pada
kerisku seperti warangan pada luwukmu
itu, tetapi sentuhan warangan kerisku ini cukup untuk mengantarkan menjelajahi
daerah maut”
Empu Pulung Geni mengerutkan keningnya. Keris itu memang luar biasa. Bukan saja
ukurannya yang teramat besar, tetapi juga buatannya dan keris itu seolah-olah
memancarkan cahaya kebiru-biruan.
“Saat aku mulai dengan pembuatan keris ini“ berkata Empu Nawamula “aku telah
mesu diri. Mengurangi makan dan minum. Juga mengurangi tidur dan beristirahat.
Ternyata aku berhasil menyelesaikan keris ini dua hari yang lalu meskipun kelak
masih harus aku matangkan lagi dengan berbagai laku. Tetapi saat ini keris ini
sudah cukup untuk melawan luwukmu itu”
Empu Pulung Geni memandang lawannya dengan tajamnya. Namun tiba-tiba saja ia
mengayunkan pedangnya. Tidak terlalu keras. Tetapi langsung mengarah ke kening
Empu Nawamula.
Empu Nawamula terkejut. Karena itu dengan serta merta, ia menangkis serangan itu
dengan kerisnya yang besar dan panjang.
Ketika dua bilah senjata itu berbenturan, maka bunga api-pun telah memercik ke
udara. Seolah-olah kedua bilah senjata itu telah menyala dan memercikkan api
yang berwarna merah kebiruan.
Empu Pulung Geni melangkah surut. Dengan tegang diamatinya senjata Empu
Nawamula. Senjata yang baru dua hari siap. Namun ternyata keris itu nampaknya
telah menjadi sebilah keris yang cukup berbahaya.
Demikianlah kedua orang itupun segera terlibat kedalam satu pertempuran yang
sengit. Empu Pulung Geni
menyerang lawannya bagaikan badai yang menghantam tebing pegunungan. Beruntun,
susul menyusul.
Tetapi ternyata Empu Nawamula adalah seorang yang memiliki kecepatan bergerak
yang mengagumkan. Betapapun dahsyatnya serangan Empu Pulung Geni, namun Empu
Nawamula masih selalu dapat mengelakkannya, menangkis dan bahkan dengan cepat ia
dapat membalas menyerang kembali.
Untuk beberapa saat keduanya berputaran, saling menyerang, desak mendesak.
Keduanya memiliki kelebihan yang sulit dicari bandingnya. Sementara senjata
ditangan mereka adalah senjata yang dapat dibanggakan.
Mahisa Bungalan yang sempat menyaksikan pertempuran itu menjadi berdebar-debar.
Ternyata keduanya adalah orang-orang yang luar biasa. Keduanya memiliki ilmu
yang tinggi dan senjata yang jarang ada duanya.
Mahendrapun menarik nafas dalam-dalam. Ia adalah seorang yang berilmu sangat
tinggi. Namun menyaksikan pertempuran kedua orang itu, ia masih juga
berdebar-debar.
Demikian pula Mahisa Agni dan Witantra yang masih berada di dalam lingkungan
dinding apa yang disebut padepokan itu. Keduanya ternyata kagum juga melihat dua
orang tua yang bertempur dengan senjata masing-masing yang memiliki kelebihan
dari senjata lainnya.
Pertempuran itu telah menarik perhatian Singatama, sehingga seolah-olah ia
menghentikan usahanya untuk meloncati dinding meskipun saudara-saudara
seperguruannya tidak berbuat demikian. Ia tertarik untuk menyaksikan pertempuran
antara guru dan pamannya. Pertempuran yang dalam waktu yang singkat telah
meningkat menjadi sangat dahsyatnya.
Dalam pada itu, Empu Nawamulapun telah melawan Empu Pulung Geni dengan sangat
hati-hati. ia melihat sikap lawannya yang nampaknya tenang dan sabar menghadapi
perkembangan keadaan. Tetapi sikap itu bukan sikapnya yang sebenarnya. Empu
Pulung Geni telah berusaha mengekang diri dan mempergunakan nalarnya
sebaik-baiknya menghadapi orang-orang yang dianggapnya sangat berbahaya. Namun
dalam pertempuran yang menjadi semakin dahsyat itupun segera terasa, bahwa Empu
Pulung Geni bukannya orang yang tenang dan sabar. Semakin lama, maka sikapnyapun
semakin jelas, bahwa Empu Pulung Geni adalah orang yang kasar dan keras.
Sekali-sekali terdengar juga Empu Pulung Geni itu berteriak sambil mengayunkan
pedangnya. Namun Empu Nawamula ternyata mampu mengimbangi kekasaran gerak
lawannya dengan kecepatannya. Sehingga dengan demikian pertempuran itu menjadi
semakin lama semakin seru.
Dalam pada itu, pertempuran antara kedua orang Empu itu tidak luput dari
perhatian Mahisa Bungalan. Meskipun ia sendiri masih harus bertempur dengan
murid terpercaya dari perguruan Empu Pulung Geni itu, namun ia selalu berusaha
untuk sekali-sekali dapat menilai apa yang telah terja di dengan dua orang tua
itu.
Ternyata bahwa kemampuan keduanya cukup berimbang. Pertempuran itu semakin
menjadi sengit. Senjata-senjata mereka berbenturan dan memercikkan bunga api.
Kaki mereka berloncatan dengan cepat, sehingga seolah-olah tidak menyentuh
tanah. Sementara angin putaran senjata mereka telah mengguncang dedaunan
gerumbul di sekitar arena pertempuran.
Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam ketika ia hampir saja tergores ujung
senjata lawannya. Namun dalam
pada itu. iapun segera mengambil satu sikap. Ia harus mempercepat usahanya untuk
menyelesaikan pertempuran itu. Karena itu, maka dengan menggeretakkan giginya
Mahisa Bungalan bertempur semakin cepat. Bahkan para prajuritnyapun telah ikut
berbuat demikian pula.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan semakin mendesak lawannya dan bahkan kemudian
dengan pasti telah menguasainya. Sedangkan para prajuritnyapun telah mendesak
lawan-lawan mereka beberapa langkah surut.
Dengan demikian, maka pengaruh pertempuran itupun terasa pada mereka yang
berusaha memecahkan dinding. Ketika kawan-kawan mereka terdesak, maka mereka
yang ingin memecah dan meloncati dinding itupun mulai menjadi gelisah.
Dalam keadaan yang demikian, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah
memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya. Dengan cermat mereka memperhitungkan
kemungkinan untuk mengembangkan pertempuran itu.
Karena itu, ketika pasukan lawan di luar dinding itu semakin terdesak oleh
pasukan Mahisa Bungalan, maka Mahisa Murtipun telah meneriakkan aba-aba, agar
para cantriklah yang kemudian memburu keluar dengan meloncati dinding.
“Kita mempunyai kesempatan lebih luas untuk melakukannya “ teriak Mahisa Murti.
Para cantrik menjadi ragu-ragu. Tetapi Mahisa Murti telah mendahului meloncati
dinding yang tidak begitu tinggi, justru keluar.
“Mahisa Pukat melihat saudaranya telah meloncat keluar. Jika ia tidak berbuat
serupa, maka Mahisa Murti akan mengalami kesulitan. Karena itu, maka iapun
segera
meloncat pula sambil memerintahkan para cantrik untuk melakukannya pula.
Dalam keragu-raguan, para cantrik menyaksikan beberapa orang lawan mulai
mengepung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Betapapun juga mereka telah merasa
terikat dalam sikap, sehingga sejenak kemudian ternyata beberapa orang
cantrikpun telah berloncatan pula keluar dinding apa yang disebut padepokan itu.
Bahkan akhirnya semua cantrik yang berada di dalam dinding itupun telah berada
di luar. kecuali para cantrik yang harus mengawasi Widati, para cantrik yang
harus mengamati seluruh padepokan itu bersama seorang prajurit, tetap berada di
dalam halaman padepokan.
Dengan demikian, maka pertempuran yang sengitpun telah terjadi seluruhnya di
luar dinding apa yang disebut padepokan itu. Kekuatan Mahisa Bungalan dan para
prajuritnya ternyata sangat mempengaruhi medan. Diantara mereka justru telah
menebar dan menyatu dengan para cantrik, sementara yang lain berusaha mendesak
lawan-lawan mereka semula.
Mahisa Agni dan Witantrapun sudah berada di luar dinding pula. Mereka berada
diantara para cantrik. Namun semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan
Mahendra.
“Ternyata keduanya adalah orang-orang yang tangguh” desis Witantra disamping
Mahendra.
Mahendra berpaling sejenak kearah kedua Empu yang sedang bertempur itu.
“Pulung Geni memang sangat berbahaya” desis Mahendra.
“Sesuai dengan niat Mahisa Bungalan” jawab Mahisa Agni “mereka harus dihentikan.
Kegiatan padepokan merekapun harus dihentikan pula”
Dengan demikian, maka pertempuran itupun menjadi semakin jelas. Apalagi ketika
Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra ikut pula, meskipun tanpa menarik perhatian,
karena mereka bertempur sebagaimana yang lain bertempur. Namun dengan caranya
sendiri, ketiga orang itu telah berhasil memperlemah pertahanan lawan mereka.
Dalam pada itu. Empu Pulung Geni semakin lama menjadi semakin tidak dapat lagi
mengendalikan diri. Wataknya yang sebenarnya akhirnya melonjak pula dalam
ujudnya yang mendebarkan. Semakin lama Empu Pulung Geni itupun menjadi semakin
garang. Teriakan-teriakannya menjadi semakin keras dan tingkah lakunyapun
menjadi semakin keras dan kasar. Namun dengan demikian, ia menjadi semakin
berbahaya pula. Kekuatannya bagaikan bertambah oleh hentakkan-hentakkan kekuatan
dibarengi dengan teriakan-teriakan nyaring.
Tetapi Empu Nawamulapun telah meningkatkan kemampuannya pula sampai ke puncak.
Ia menjadi semakin cepat bergerak. Dengan cekatan ia berusaha mengimbangi
tingkah laku lawannya. Namun kemudian Empu Nawamula tidak lagi banyak membentur
kekuatan Empu Pulung Geni yang bagaikan berlipat. Ia berusaha menghindari
benturan-benturan langsung. Namun dengan cepat menyusup pertahanan lawan dengan
serangan-serangan yang berbahaya.
Ternyata bahwa kedua tajam senjata kedua Empu itu masih belum berhasil menyentuh
lawannya Keduanya adalah senjata yang luar biasa. Meskipun keduanya tentu
membawa obat penawar racun, tetapi pengobatan itu tentu juga memerlukan waktu.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan serta para prajurit yang menyertainya menjadi
semakin cepat mendesak lawan-lawan mereka. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa
Pukatpun telah mengerahkan segenap kemampuan mereka. Betapa garang dan kasarnya
lawan-lawan mereka, namun ternyata bahwa mereka tidak dapat mengimbangi
kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, seorang melawan seorang. Karena itulah,
maka mereka berusaha untuk mengurung kedua anak muda itu dalam kepungan.
Singatama yang telah mengetahui tingkat kemampuan kedua anak muda itu, telah
memimpin beberapa orang untuk bersamanya membatasi gerak Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat. Dengan senjata teracu beberapa orang bersama-sama telah mengepungnya.
Namun dalam pada itu. di luar perhitungan mereka, maka dibagian lain dari arena
itu, beberapa pengikut Empu Pulung Geni telah terdorong surut dengan luka
ditubuh mereka. Meskipun luka-luka itu tidak terlalu parah, tetapi luka-luka itu
telah memperlemah mereka.
Ternyata bahwa Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra telah melakukan hal yang
serupa. Mereka melukai lawan-lawan mereka. Tidak terlalu parah, tetapi memaksa
mereka menyingkir untuk mengobati luka mereka. Namun bagaimanapun juga,
luka-luka itu telah menghambat perlawanan mereka, karena setiap kali, darah yang
telah pampatpun akan mengalir lagi jika mereka terlalu banyak bergerak.
Dengan demikian, maka para cantrik dari padepokan yang untuk sementara dipimpin
oleh Empu Nawamula, dan yang kemudian menyingkir kedalam apa yang mereka sebut
padepokan itu, tidak lagi terlalu banyak mengalami kesulitan. Meskipun pada
dasarnya secara pribadi, kemampuan saudara-saudara seperguruan Singatama lebih
baik, tetapi dalam keseluruhan, ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta
para cantrik itu mampu mendesak lawan mereka Apalagi Mahisa Bungalan dan para
prajurit yang menyertainya.
Empu Pulung Geni yang bertempur melawan Empu Nawamula itupun akhirnya tidak
dapat lagi mengingkari satu kenyataan, bahwa para pengikutnya ternyata tidak
berhasil mengalahkan lawan-lawan mereka, apalagi menghancurkannya dan mengambil
seorang gadis dari apa yang disebut padepokan itu dan sekaligus membebaskan dua
orang diantara murid-muridnya yang tertawan.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan dan para prajuritnya benar-benar berusaha untuk
melumpuhkan para pengikut Empu Pulung Geni. Meskipun mereka berusaha menghindari
pembunuhan, karena mereka ingin menangkap lawan-lawan mereka hidup-hidup dan
membawa mereka ke Singasari, namun kadang-kadang para prajurit itu tidak dapat
menahan senjata mereka yang terlanjur menghunjam kedalam tubuh lawan, menggores
jantung, sehingga lawan mereka itupun kemudian terkapar tidak bernafas lagi.
Empu Pulung Geni hanya dapat mengumpat kasar. Ternyata ia tidak dapat
mengalahkan Empu Nawamula dengan cepat. Bahkan kemudian ia harus mengakui, bahwa
Empu Nawamula itupun mampu mengimbangi kemampuannya. Kerisnya yang besar dapat
mengimbangi pedang kebanggaannya, sehingga dengan demikian maka Empu Nawamula
yang mampu bergerak dengan cepat itu, sama sekali tidak akan dapat didesaknya.
Menyadari keadaannya, serta keadaan para pengikutnya, maka Empu Pulung Geni
harus cepat mengambil satu sikap. Jika ia terlambat, maka seluruh pengikut yang
datang
bersamanya itu akan dihancurkan oleh lawan yang ternyata memiliki banyak
kelebihan.
Dengan demikian, maka tidak ada pilihan lain dari Empu Pulung Geni selain
menghindar dari pertempuran. Karena itu. maka dalam satu kesempatan. Empu Pulung
Geni telah meloncat meninggalkan lawannya sambil bersuit nyaring. Satu isyarat
bagi para pengikutnya, bahwa mereka tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.
Isyarat itu tidak perlu diulangi. Para pengikutnya yang kecemasan itupun memang
tidak lagi mempunyai harapan. Sehingga karena itu, maka dengan serta merta, para
pengikutnyapun telah berloncatan untuk mencari kesempatan meninggalkan medan.
Tetapi Mahisa Bungalan dan para prajurit Singasari tidak membiarkan mereka
terlepas. Karena itu. maka merekapun telah berusaha untuk mencegah sejauh
mungkin. Bahkan beberapa orang prajurit telah berusaha mengejar lawan-lawannya
yang melarikan diri sampai jauh dari dinding apa yang disebut padepokan itu.
Namun dalam pada itu, ada juga diantara mereka yang berhasil lolos dari kejaran
lawan-lawan mereka. Empu Pulung Geni sendiri berhasil lepas dari tangan Empu
Nawamula. Bahkan ia masih sempat meneriakkan ancaman “Empu, pada saatnya kau
akan mati di tanganku”
Sementara itu, Singatamapun telah menghindarkan diri dari tangan Mahisa Murti.
Meskipun demikian, banyak diantara mereka yang tidak lagi sempat melepaskan
diri. Bagaimanapun juga, mereka terpaksa melepaskan senjata mereka dan menjadi
tawanan.
Empu Nawamula yang semula berusaha untuk mengejar Empu Pulung Geni terpaksa
menghentikan usahanya,
sebagaimana beberapa orang prajurit Singasari. Beberapa orang, termasuk Empu
Pulung Geni dan Singatama berhasil mencapai kuda-kuda mereka dan dengan
kecepatan yang sangat tinggi, kuda-kuda itu berpacu menjauh.
Namun dalam pada itu. ternyata Mahisa Bungalan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
berhasil menguasai sebagian besar dari lawan-lawan mereka, sehingga dengan
demikian, maka merekapun yakin bahwa kekuatan padepokan Empu Pulung Geni sudah
lumpuh sama sekali.
“Ia harus membangun kekuatan baru untuk waktu yang lama” berkata Mahisa Bungalan
kepada para prajuritnya.
Sementara itu, Empu Nawamula telah kembali mendekati apa yang disebut padepokan
itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian menyongsongnya, setelah ia
memerintahkan para cantrik untuk menguasai para tawanan sepenuhnya.
Namun Empu Nawamulapun kemudian terkejut ketika ia melihat seseorang, yang
pernah dikenalnya mendekatinya. Sambil tersenyum orang itupun berkata “Kau
memang luar biasa Empu”
“Mahendra” desis Empu Nawamula “kau berada disini”
Mahendrapun tertawa sebagaimana Empu Nawamula. Katanya “Aku memperhatikan,
bagaimana kau bertempur melawan Empu Pulung Geni. Ternyata bahwa kau memiliki
ilmu yang tidak ada duanya”
“Ah. Kau masih juga senang memuji” desis Empu Nawamula “jika aku tahu kau ada
disini, aku tidak akan memaksa diri untuk datang ke tempat ini. Bahkan mungkin
kau berhasil menangkap orang yang menyebut dirinya Empu Pulung Geni itu”
“Tentu tidak” jawab. Mahendra “ia bergerak terlalu cepat dan tidak terduga”
“Ia sempat mengancamku” jawab Empu Nawamula.
“Aku mendengar. Pada suatu saat ia akan membunuh Empu“ berkata Mahendra.
“Karena itu, aku harus selalu berhati-hati. Nampaknya ia tidak bermain-main atau
asal saja berteriak. Ia membawa dendam yang tidak ada taranya“ berkata Mahisa
Bungalan.
Empu Nawamula memandang anak muda itu sambil berkata “Kau juga luar biasa anak
muda. Siapakah kau sebenarnya? Kau tentu bukan seorang cantrik dari padepokanku”
“O“ Mahendralah yang menyahut. Lalu “Aku memang ingin memperkenalkan beberapa
orang yang datang bersamaku ke tempat ini. Anak ini bernama Mahisa Bungalan.
Salah seorang dari tiga orang anakku yang ada disini”
“O, jadi anak ini saudara angger Mahisa Murti dan Mahisa Pukat“ sahut Empu
Nawamula.
“Ya. Kakaknya” jawab Mahendra.
Empu Nawamulapun menganggukkan kepalanya, sementara Mahisa Bungalan mengangguk
pula dengan hormatnya. Sementara itu, Mahendrapun berkata “Selain anakku itu,
aku datang bersama saudara-saudaraku. Mahisa Agni dan Witantra. Keduanya adalah
orang-orang yang namanya pernah dikenal di Kediri, sebagai orang yang mendapat
kekuasaan pada masa kekuasaan Sri Rajasa di Singasari”
Empu Nawamulapun telah mengangguk hormat pula sebagaimana Mahisa Agni dan
Witantra. Sementara itu.
Empu itupun berkata “Kedatanganku ternyata telah sia-sia. Aku kira aku telah
berjasa menyelamatkan para cantrik dari kekasaran dan kebuasan Empu Pulung Geni
dan pengikutnya. Ternyata apa yang aku lakukan tidak berarti apa-apa. Bahkan
seandainya aku tidak hadir disini, Empu Pulung Geni tentu sudah dapat
dibinasakan”
“Jangan diulang lagi“ sahut Mahendra “Marilah. Kita akan berbicara di dalam
padepokan ini. Padepokan yang sejak esok pagi sudah tidak akan berarti lagi”
“Aku mempersilahkan kalian singgah di padepokanku. Meskipun tidak terlalu dekat,
tetapi agaknya akan lebih baik daripada kalian berada disini. Selebihnya, akan
menenangkan hatiku, karena jika datang pembalasan dari Empu Pulung Geni, maka
aku akan dapat berlindung diantara kalian.
Mahendra tertawa. Katanya “Jangan Empu kira, kami tidak melihat apa yang
terjadi. Tetapi kita akan dapat berbicara lebih panjang. Sekali lagi kami
mempersilahkan Empu untuk singgah”
Empu Nawamula tidak menolak. Iapun kemudian bersama dengan Mahendra memasuki
regolapa yang dinamakannya padepokan diikuti oleh orang-orang lain. Ternyata
bahwa Empu Nawamula kagum juga melihat apa yang disebut padepokan itu. Meskipun
sederhana, tetapi nampak bahwa barak-barak yang ada di dalamnya cukup bersih dan
terpelihara.
Dalam pada itu, Widati yang ketakutan, hampir menangis ketika ia mengetahui
bahwa pertempuran telah selesai. Bahwa isi apa yang disebut padepokan itu
berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Bahkan menangkap sebagian besar diantara
mereka. Rasa-rasanya ia telab
terbebas dari tajamnya ujung duri yang sudah melekat di jantungnya.
“Bersukurlah anakku“ berkata ayahnya.
Namun demikian Widati masih juga berkata “Tetapi bagaimana kemudian ayah. Apakah
mereka telah benar-benar dilumpuhkan, ian tidak akan dapat bangkit kembali?”
Pertanyaan itu ternyata telah mendebarkan jantung ayahnya pula. Tetapi ia masih
juga menjawab untuk menenangkan anaknya “Tetapi setidak-tidaknya kau sekarang
terlepas dari penderitaan yang paling pahit dan bahkan maut”
Widati tidak menjawab.
Dalam pada itu. Empu Nawamulapun kemudian telah duduk bersama dengan Mahendra,
Mahisa Agni dan Witantra, sementara beberapa orang telah mengambil kudanya yang
disembunyikannya di belakang sebuah gerumbul. Bahkan para cantrik itu dapat pula
menangkap beberapa ekor kuda yang ditinggalkan oleh para pengikut Empu Pulung
Geni atau para pengikut yang tertangkap
Tidak banyak yang dibicarakan oleh orang-orang tua itu. Namun mereka kemudian
sepakat untuk meninggalkan tempat itu dan memasuki padepokan Empu Nawamula.
“Bagaimana jika ia kembali” bertanya Mahisa Murti.
“Mudah-mudahan tidak segera“ jawab Empu Nawamula “sementara itu para cantrik
sudah mendapatkan ilmu kanuragan yang memadai. Selama ini, kanuragan seolah-olah
sekedar untuk mengisi waktu mereka yang tertuang saja. Bukan satu ilmu yang
dituntut dengan sungguh-sungguh. Tetapi agaknya sekarang telah terbukti, bahwa
mereka memerlukan ilmu yang lebih baik”
Namun dalam pada itu, mereka tidak sempat untuk berbicara terlalu panjang.
Merekapun seeera dituntut uatuk mengobati para cantrik yang terluka.
Bagaimanapun juga, dalam benturan kekuatan telah jatuh beberapa orang korban.
Babkan ada diantara mereka yang dengan berat hati harus dilepaskan untuk
selama-lamanya.
Hari itu, orang-orang dari apa yang mereka sebut padepokan kecil itu telah
bekerja dengan keras. Bukan saja para cantrik dari padepokan Empu Nawamula,
tetapi merekapun harus mengobati para pengikut Empu Pulung Geni, yang dengan
heran telah mengalami perawatan yang tidak berbeda dengan lawan-lawan mereka.
“Mereka tidak membunuh kita” desis salah seorang dari mereka.
Tetapi kawannya menjawab “Ini adalah pemhunuhan yang paling keji. Mereka
mengobati luka-luka kita. Tetapi sesudah kita sembuh mereka akan memerlukan kita
dengan sangat kejam”
Kawannya mengerutkan keningnya. Tetapi menilik sikap lawan mereka yang telah
menawan mereka, agaknya mereka mempunyai sikap yang lain dari lingkungan mereka
sehari-hari. Meskipun demikian, mereka masih belum berani membayangkan, apa yang
sebenarnya akan terjadi atas diri mereka.
Dalam pada itu, di tempat lain, Mahisa Bungalan telah berbincang dengan
orang-orang tua, termasuk Empu Nawamula. Sebagaimana ia berangkat mengikuti
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka Mahisa Bungalan telah berniat untuk membawa
orang-orang yang berhasil ditangkap itu ke Singasari ”Mereka akan mendapat
perlakuan sewajarnya dan dari mereka akan dapat di tarik satu keterangan yang
lebih luas tentang padepokan mereka.
“Silahkan“ berkata Empu Nawamula “tetapi tentu tidak dengan tergesa-gesa. Aku
masih ingin mempeisilahkan kalian untuk singgah”
“Ayah dan kedua paman akan singgah bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat” jawab
Mahisa Bungalan “tetapi kami akan membawa mereka kembali ke Singasari”
“Kenapa begitu tergesa-gesa” bertanya Empu Nawamula.
“Atas dasar perhitunganku, maka dalam waktu singkat Empu Pulung Geni tentu belum
akan bertindak lagi. Karena itu, maka kami akan merasa aman untuk membawa para
tawanan ke Singasari”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu, Mahendralah yang menyahut
“Bagaimanapun juga, aku. tidak dapat melepaskan kau sendiri membawa
orang-orangnya Empu Pulung Geni, nampaknya seorang yang sangat licik. Mungkin ia
akan muncul dengan tiba-tiba. Karena itu, biarlah aku ikut pergi ke Singasari.
Biarlah kakang Mahisa Agni dan Witantra tinggal bersama Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat untuk sementara”
Ternyata Empu Nawamula tidak dapat mencegahnya. Karena itu, maka Mahendra telah
memutuskan untuk kembali ke Singasari menyertai Mahisa Bungalan, karena
bagaimanapun juga, ia tidak sampai hati melepaskan anaknya yang akan membawa
para tawanan para pengikut Empu Pulung Geni. Jika empu Pulung Geni tiba-tiba
saja mengganggu iring-iringan itu, meskipun hanya dengan beberapa pengikutnya
yang tersisa, maka Mahisa Bungalan akan mengalami kesulitan, karena menurut
pengamatannya. Empu Pulung Geni adalah seseorang yang
memiliki ilmu yang sangat tinggi. Apabila dengan keamanan dan keliarannya. Maka
Empu Pulung Geni benar-benar seorang yang sangat berbahaya.
Dengan demikian, maka Mahendrapun kemudian telah bersiap-siap bersamaan Mahisa
Bungalan dan para prajurit Singasari. Mereka akan berangkat ke Singasari dengan
membawa para tawanan Hanya mereka yang terluka parah, akan tinggal dan akan
dibawa oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ke padepokan Empu Nawamula. Pada
saatnya, prajurit Singasari akan mengambil mereka dan mereka akan dikumpulkan
kembali dengan kawan-kawan mereka. Karena itulah, maka di hari berikutnya,
Mahisa Bungalan telah meninggalkan apa yang disebut padepokan itu mendahului
orang-orang lain yang akan singgah kepadepokan Empu Nawamula. Dengan cermat
Mahisa Bungalan telah mengatur para prajuritnya yang akan membawa para tawanan
kembali ke Singasari. Berbeda dengan saat mereka berangkat, maka agar perjalanan
mereka tidak mengalami gangguan dan menarik perhatian, karena mereka membawa
tawanan, maka Mahisa Bungalan telah memerintahkan mereka untuk mengenakan
tanda-tanda keprajuritan mereka. Mahisa Bungalan sendiri telah mengenakan
pakaian keprajuritannya dengan pertanda kebesaran pasukannya. Ia telah memasang
kelebet pada sepucuk tombak yang dipakainya sebagai tunggal. Ia berharap bahwa
dengan demikian, maka mereka tidak akan mendapat banyak gangguan. Adalah wajar
bahwa sepasukan prajurit Singasari telah membawa sejumlah tawanan.
Mungkin iring-iringan itu akan bertemu dengan sepasukan pengawal dari sebuah
pasukan. Tanpa mengenakan pakaian keprajuritan Singasari, maka akan
dapat timbul masalah antara mereka dengan para pengawal dari Pakuwon yang
mencurigai mereka karena mereka telah membawa sekelompok orang yang tertawan.
Demikianlah, maka Mahisa Bungalanpun kemudian telah minta diri kepada
paman-pamannya, kepada adik-adiknya dan kepada Empu Nawamula. Namun sementara
itu, maka iapun telah menyatakan akan kembali ke padepokan Empu Nawamula untuk
mengambil sisa para tawanan yang terluka parah.
Ketika iring-iringan itu meninggalkan apa yang disebut sebagai padepokan itu,
maka Widati telah mengeluh disisi ayahnya. Dengan suara dalam ia berkata “Apa
yang dapat akau lakukan ayah. Seorang perwira prajurit itupun masih harus
memperhitungkan kehadiran Empu Pulung Geni. Apalagi aku. Bahkan kita. Singatama
dapat saja setiap saat datang kerumah kita. Adalah sangat mengerikan jika ia
datang bersama dengan gurunya yang terlepas dari tangan Empu Nawamula, bahkan
menurut pendengaranku, ia masih juga sempat mengancam”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti kecemasan anak gadisnya. Namun
dalam pada itu, ia berkata “Singatama belum mengetahui, dimanakah rumah kita”
Widati mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil mengangguk ia berkata “Ya
ayah. Singatama belum tahu, di manakah rumah kita. Meskipun demikian,
rasa-rasanya aku ngeri juga untuk kembali”
Ayahnya menarik nafas dalam-dalam. Setelah merenung sejenak maka iapun berkata
“Widati. Sebenarnya aku agak berkeberatan untuk mengatakan. Tetapi terdorong
oleh satu keinginan untuk mencari perlindungan. Bagaimana pendapatmu jika untuk
sementara kira ikut bersama dengan
orang-orang yang tinggal ini pergi ke padepokan Empu Nawa mula?”
Widati menundukkan wajahnya. Sebenarnya ia senang sekali melakukannya. Kecuali
ia akan mendapatkan perlindungan untuk sementara, juga karena ia mengetahui,
bahwa anak muda yang sebenarnya bernama Mahisa Murti itu akan pergi ke Padepokan
itu juga.
“Bagaimana pendapatmu Widati” bertanya ayahnya.
Widati masih saja menunduk.
“Katakan pendapatmu Widati” desak ayahnya.
Dengan nada dalam Widati menjawab “Segalanya terserah kepada pertimbangan ayah.
Mana yang baik bagi ayah, akupun menganggapnya baik juga” Ayahnya
mengangguk-angguk. Katanya “Jika demikian, maka biarlah kita pergi ke padepokan
itu. Pada sualu saat yang baik, kita akan kembali ke Kabuyutan kita”
Widati tidak menjawab lagi. Namun jantungnya menjadi berdebar-debar.
Demikianlah, maka ketika Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta Mahisa Agni dan
Witantra merasa tidak berkeberatan untuk pergi ke padepokan Empu Mawamula, maka
merekapun telah mengambil satu keputusan, bahwa setelah mereka selesai berkemas
dan memungkinkan untuk meninggalkan tempat itu bersama mereka yang terluka, maka
mereka akan pergi ke padepokan Empu Nawamula.
Sebagaimana di harap oleh Ki Buyut, maka Empu Nawamula itupun telah
mempersilahkannya pula untuk singgah. Sehingga tanpa diulangi, Ki Buyut menjawab
“Terima Kasih Empu. Meskipun sebenarnya aku ingin sekali segera kembali ke
Kabuyutan yang sudah terlalu lama aku tinggalkan, namun rasa-rasanya ada semacam
kecemasan bahwa Singatama akan menemukan tempat tinggal kami. Meskipun Singatama
dan gurunya sudah tidak mempunyai kekuatan lagi bagi kalian, tetapi bagi kami,
mereka tetap hantu yang sangat menakutkan”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Ia dapat mengerti, betapa Ki Buyut itu akan
dibayangi oleh ketakutan selama Singatama atau Empu Pulung Geni masih
berkeliaran.
Karena itu maka katanya “Kita harus menemukan pemecahan Ki Buyut. Tetapi baiklah
Ki Buyut dan anak perempuan Ki Buyut berada bersama kami di padepokan untuk satu
dua hari. Mungkin kita akan menemukan satu pemecahan yang paling baik”
Demikianlah, maka pada saat-saat kemudian, orang-orang seisi apa yang disebut
padepokan itu telah mengemasi diri. Mereka juga mengobati yang terluka
sebaik-baiknya, agar dalam waktu yang dekat, mereka dapat bersama-sama menempuh
perjalanan menuju ke padepokan Empu Nawamula. Padepokan yang benar-benar sudah
berujud padepokan.
Tetapi bagaimanapun juga Empu Nawamula selalu ingat, bahwa padepokan itu bukan
haknya. Yang seharusnya memiliki padepokan itu adalah Singatama. Namun ia tidak
akan sampai hati melepaskan padepokan itu kepada pemiliknya, selama Singatama
masih diliputi oleh pikiran-pikirannya yang gelap.
“Mudah-mudahan pengalamannya kali ini akan berarti bagi hidupnya. Ia akan
melihat, bahwa seseorang tidak akan dapat memaksakan kehendaknya kepada orang
lain. Karena di dunia ini ada kekuatan yang merasa wajib menghalangi tindak
sewenang wenang seperti itu” berkata Empu Nawamula di dalam hatinya.
Selama orang-orang seisi padepokan itu berkemas, maka Mahisa Murti dan Mahisa
Pukat sempat menghubungi orang-orang padukuhan terdekat sebagaimana selalu
dilakukannya. Ternyata bahwa orang-orang dipadukuhan itupun menaruh perhatian
atas peristiwa yang baru saja terjadi atas padepokan yang baru saja dibuka itu.
“Kami memperhatikan dari jauh apa yang telah terjadi” berkata salah seorang dari
orang-orang padukuhan terdekat “kami melihat sekelompok orang yang kemudian
telah berkelahi dengan para penghuni padepokan itu”
“Ya” jawab Mahisa Murti “mereka ingin merampas hak dan wewenang kami”
“Tetapi bukankah tidak terjadi sesuatu atas kalian” bertanya yang lain.
“Kami bersyukur, bahwa kami semuanya berhasil mengusir mereka. Meskipun demikian
ada juga kawan-kawan kami yang terluka. Bahkan ada diantara kami yang menjadi
sangat parah. Mudah-mudahan dengan segala usaha, mereka akan dapat tertolong dan
dapat tetap bersama kami” sahut Mahisa Pukat.
“Tetapi kami lihat, sebagian dari kalian telah meninggalkan padepokan. Bahkan
kami melihat satu pertanda dari satu lingkungan yang resmi, karena kami melihat
kelebet pada tunggul yang dibawa oleh kawan-kawan kalian yang mendahului kalian”
bertanya seorang yang sudah berambut putih, yang nampaknya memiliki pengalaman
yang lebih banyak dari kawan-kawan mereka.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun akhirnya Mahisa Murti
berkata “Mereka membawa lawan-lawan kami yang tertangkap untuk menghadap para
pemimpin keprajuritan di Singasari”
“Singasari“ orang berambut putih itu berdesis “apakah mereka prajurit
Singasari?”
“Ya” jawab Mahisa Murti.
Orang berambut putih itu mengangguk-angguk. Diantara bibirnya terdengar ia
bergumam “Sukurlah. Kalian telah tertolong”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya orang berambut putih
itu memiliki satu pengalamanan yang lebih luas dari tetangga-tetangganya,
sehingga ia mengenali pertanda keprajuritan yang dibawa oleh Mahisa Bungalan.
Dalam pada itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengatakan pula kepada
para penghuni padukuhan itu, bahwa pada satu saat yang pendek, apa yang
disebutnya sebagai padepokan itu akan ditinggalkannya.
“Apakah kalian akan membuat padepokan yang lebih baik” bertanya salah seorang
penghuni padukuhan itu.
“Ternyata seorang Empu yang baik telah memberikan kesempatan kepada kita untuk
tinggal di padepokannya” jawab Mahisa Murti.
“Sukurlah. Kalian akan mendapat tempat yang lebih baik dari yang kalian huni
sekarang ini” berkata yang lain.
Namun dalam pada itu, salah seorang dari mereka bertanya “Lalu, apakah padepokan
kalian itu akan kalian bongkar?”
Mahisa Murti menggeleng. Katanya “Tidak. Justru kami ingin menyerahkan apa yang
kami sebut padepokan itu kepada kalian. Terserah, apakah padepokan itu akan
kalian pergunakan untuk apa? Mungkin untuk satu lingkungan peternakan, atau
untuk kepentingan apapun juga”
“O“ orang-orang padukuhan itu mengangguk-angguk. Dalam pada itu orang berambut
putih itu berkata “Terima kasih Ki Sanak. Kami akan menerima dengan senang hati.
Ada satu hal yang barangkali dapat kami lakukan dengan apa yang pernah kalian
sebut sebagai padepokan itu”
“Terserahlah kepada kalian” berkata Mahisa Pukat pula “jika kami harus
meninggalkannya, maka apa yang pernah kami anggap sebagai padepokan itu, tidak
akan menjadi sia-sia”
Ternyata bahwa orang-orang padukuhan itu merasa berterima kasih juga kepada
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Barak-barak di lingkungan apa yang disebutnya
padepokan itu akan dapat dimanfaatkan oleh mereka.
Dalam pada itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih beberapa hari tinggal di
padepokan mereka. Sementara itu mereka yang terluka parahpun menjadi berangsur
baik. Tetapi ternyata bahwa ada diantara mereka, baik dari pihak kawan-kawan
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maupun diantara para pengikut Empu Pulung Geni
yang tidak lagi dapat tertolong jiwanya.
Karena itu, dengan hati yang sangat berat, para cantrik dari padepokan Empu
Nawamula harus melepaskan kawan-kawan mereka untuk selama-lamanya.
Demikianlah, ketika saatnya tiba, maka seisi padepokan kecil itu telah siap
untuk meninggalkan tempat itu. Mereka akan menempuh satu perjalanan yang cukup
panjang, menuju ke sebuah padepokan yang pernah menjadi landasan langkah yang
menentukan bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Tetapi perjalanan yang panjang itu merupakan satu langkah untuk menuju ke satu
masa yang diharapkan akan
menjadi lebih baik baik para cantrik yang akan kembali ke padepokan mereka
semula.
Ternyata bahwa perjalanan itu sama sekali tidak mengalami hambatan. Meskipun
para cantrik itu tetap bersiaga, karena Empu Pulung Geni yang terlepas dari
tangkapan Empu Nawamula, bahkan yang sempat mengancamnya pula, akan dapat muncul
setiap saat.
Dengan pasti iring-iringan itu mendekati padepokan yang untuk sementara dipimpin
oleh Empu Nawamula. Meskipun mereka ternyata terhalang oleh gelapnya malam yang
turun, namun iring-iringan itu sama sekali tidak berhenti untuk bermalam di
perjalanan. Jika mereka harus berhenti, adalah sekedar untuk beristirahat.
Tetapi mereka bertekad untuk mencapai tujuan.
Widati mengalami kelelahan yang membuat seluruh tubuhnya terasa sakit. Tetapi ia
tidak mengeluh. Ia tidak mau menjadi hambatan yang dapat dipersalahkan apabila
terjadi sesuatu diperjalanan mereka.
Ternyata bahwa mereka memasuki regol padepokan Empu Nawamula sebelum tengah
malam. Perjalanan yang terhitung tidak terlampau cepat itu mereka selesaikan
dengan hati yang lega. Seolah-olah mereka telah terlepas dari satu ancaman yang
dapat mengganggu mereka setiap saat di perjalanan.
“Marilah” berkata Empu Nawamula “inilah padepokan yang untuk sementara harus aku
pimpin. Padepokan yang sebenarnya harus diwarisi oleh Singatama”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki regol itu dengan hati yang gelisah.
Rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat mereka menjadi berdebar-debar. Meskipun
mereka tidak melihat kelainan yang nampak pada saat-saat
mereka memasuki regol, namun padepokan yang lenggang itu rasa-rasanya telah
mencekam jantungnya.
Tetapi memang ada yang menarik perhatian. Pendapapa-depokan itu masih diterangi
oleh lampu minyak sebagaimana jika pendapa itu sedang dilangsungkan satu
pertemuan atau jika ada tamu yang mengunjungi padepokan itu. Namun adalah
menjadi kebiasaan, bahwa di malam hari yang telah larut, lampu itu akan
dikecilkan.
“Apa ada seseorang yang mengunjungi padepokan ini“ bertanya Empu Nawamula di
dalam hatinya.
Dalam pada itu, ternyata bahwa satu diantara murid Empu Nawamula yang nampaknya
mendapat giliran berjaga-jaga, telah melihat kehadiran iring-iringan itu.
sehingga iapun telah menyosongnya.
“Empu” desis orang itu.
“Ya, aku dan para cantrik” jawab Empu Nawamula.
“Silahkan Empu” berkata murid itu sambil menerima kendali kuda Empu Nawamula.
Dalam pada itu; maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat-pun telah mendekatinya sambil
bertanya “Bukankah kalian dalam keadaan baik di padepokan ini?”
“Ya anak muda” jawab murid Empu Nawamula itu “kami dalam keadaan baik. Justru
kami mencemaskan keadaan kalian. Ternyata kalian telah kembali dengan selamat”
“Tetapi ada yang terpaksa kami lepaskan untuk selamanya” jawab Mahisa Pukat.
Murid Empu Nawamula itu memandangi gurunya dengan tajamnya. Sementara Empu
Nawamula
mengangguk sambil berdesis “Kami tidak kuasa berbuat apapun juga atas takdir
yang telah memungut mereka”
Murid empu Nawamula itu mengangguk-angguk kecil. Namun kemudian terdengar
suaranya lirih “Memang ada seorang tamu di padepokan ini Empu”
“Siapa” bertanya Empu Nawamula.
“Singatama” jawab murid Empu Nawamula itu. Semua orang yang mendengar jawab itu
terkejut. Mahisa Pukat telah terloncat mendekat sambil mengulang “Singatama?”
“Ya anak muda. Ia datang seorang diri ke padepokan ini” jawab murid Empu
Nawamula itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berpaling kearah Mahisa Agni dan Witantra,
sementara Widati bergeser mendekati ayahnya dengan jantung yang berdebaran.
“Untuk apa ia datang kemari” bertanya Empu Nawamula.
“Empu dapat bertanya sendiri” jawab muridnya itu “ia ada di dalam bilik dirumah
induk. Aku tidak tahu. apakah ia sudah tidur atau belum”
Empu Nawamula memandang pendapa padepokan yang kosong itu. Namun ia tahu, bahwa
di salah satu bilik di rumah induk itu terdapat seorang anak muda yang bernama
Singatama.
Sementara Empu Nawamula termangu-mangu, maka pintu pringgitan di belakang
pendapa itupun terbuka. Seorang anak muda melangkah keluar perlahan-lahan.
Singatama.
“Gila” geram Empu Nawamula “apakah ia memang ingin membunuh diri?”
Empu Nawamula tiba-tiba saja telah melangkah dengan tergesa-gesa mendekati
kemanakannya. Wajahnya menjadi tegang, dan sorot matanya memancarkan gejolak
perasaannya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukatpun kemudian mengikutinya dan membiarkan kudanya di
halaman. Namun seorang cantrik kemudian telah menarik kendali kuda itu dan
mengikatnya pada patok-patok yang terdapat dihalaman. Demikian pula Mahisa Agni
dan Witantrapun telah mengikat kuda-kuda mereka. Sementara itu, para cantrik
menjadi sibuk. Sebagian mengikat kuda-kuda mereka, sedang yang lain mengawasi
para tawanan dan membantu kawan-kawan mereka yang terluka.
Sesaat kemudian suasana dicengkam oleh ketegangan. Ketika Empu Nawamula sampai
ke tangga pendapa, maka iapun naik dengan wajah yang semakin tegang.
“Kenapa kau berada disini Singatama” bertanya Empu Nawamula.
Singatama menundukkan kepalanya. Namun kemudian katanya “Paman, aku persilahkan
paman duduk sejenak. Aku akan mengatakan sesuatu yang barangkali memerlukan
waktu untuk dicernakan”
Empu Nawamula menjadi ragu-ragu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
telah berada di pendapa pula.
“Mungkin keteranganku agak panjang paman” berkata Singatama.
Bagaimanapun juga, Singatama adalah kemanakannya. Apalagi agaknya Singatama
tidak akan dapat berbuat curang karena kekuatannya sudah dihancurkan. Meskipun
demikian Empu Nawamula itu berkata kepada Mahisa
Murti dan Mahisa Pukat “Biarlah para cantrik itu berjaga-jaga”
“Aku tidak akan berbuat sesuatu paman” berkata Singatama yang agaknya mengetahui
perasaan Empu Nawamula.
Empu Nawamula tidak menjawab. Tetapi iapun kemudian duduk di atas tikar yang
sudah terhampar, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memperingatkan
kepada para cantrik untuk berhati-hati.
“Amati para tawanan sebaik-baiknya” berkata Mahisa Murti.
“Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Keadaan tubuh mereka belum
memungkinkan” desis Witantra.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun bagaimanapun juga, mereka memang tidak
boleh dibiarkan begitu saja tanpa pengamatan.
Dalam pada itu, Empu Nawamula yang duduk di pendapa bersama Singatama telah
bertanya “Apa yang akan kau katakan?”
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya “Aku menyesal paman.
Ternyata bahwa karena sikapku, maka hal yang tidak perlu itu telah terjadi.
Bahkan mengakibatkan beberapa orang korban jatuh dari kedua belah pihak”
Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Sementara Singatama berkata selanjutnya
“Yang terjadi itu benar-benar telah menyentuh perasaanku. Seolah-olah hatiku
menjadi terbuka, sehingga aku dapat melihat tembus ke masa laluku”
“Apa yang kau lihat” bertanya Empu Nawamula.
“Kegelapan” jawab Singatama “aku sangat menyesal. Tetapi apakah masih ada
kesempatan untuk memperbaiki ketelanjuran itu”
Empu Nawamula tidak menjawab. Dipandanginya kemanakannya seolah-olah ingin
melihat sampai ke dasar jantung.
Namun dalam pada itu, tidak jauh dari padepokan itu, Empu Pulung Geni duduk di
atas sebuah batu di dalam bayangan kelam sambil berkata di dalam hatinya
“Mudah-mudahan Singatama berhasil mengelabui hati pamannya. Dengan itu tidak
boleh membakar jantungku sendiri. Aku harus mendapat kesempatan untuk
membunuhnya, kapan saja”
Gejolak perasaan Empu Pulung Geni rasa-rasanya tidak dapat dikendalikan lagi.
Tetapi Empu Pulung Geni sadar, bahwa ia harus mempergunakan nalarnya
sebaik-baiknya. Dengan memperalat Singatama ia sudah membuat perhitungan yang
mapan, bahwa Empu Nawamula harus dibunuhnya.
“Jangan kau racun dengan cara apapun“ pesan Empu Pulung Geni kepada Singatama
“aku sendiri harus dapat menghunjamkan pedangku ke jantungnya selagi jantungnya
masih berdetak. Dengan demikian, maka tuah luwukku itu akan bertambah-tambah.
Darah seorang yang memiliki ilmu yang setinggi ilmu Empu Nawamula, akan sangat
berarti bagiku”
Dengan pesan itulah, Singatama memasuki padepokannya yang untuk sementara masih
dipimpin oleh pamannya, Empu Nawamula.
Sementara itu, Singatama masih duduk dengan kepala tunduk Ternyata ia telah
memainkan peranannya dengan baik sekali, sehingga akhirnya Empu Nawamula berkata
“Aku akan melihat Singatama. Apakah yang kau katakan itu benar-benar memancar
dari ketulusan hatimu”
“Aku tidak mempunyai kemampuan untuk mengatakannya paman” berkata Singatama
kemudian “tetapi aku berharap paman masih mempunyai sisa kepercayaan kepadaku”
“Baiktah“ Empu Nawamula mengangguk-angguk “aku sekarang datang bersama para
cantrik. Kau harus dapat menyesuaikan dirimu, sehingga kau akan merasa satu
dengan mereka. Jika masih ada tanda-tanda bahwa kau belum dapat melepaskan diri
dari pengaruh ilmu hitammu, maka aku akan mengambil satu jalan yang paling baik.
Jika kau benar-benar menghendaki dirimu terlepas dari cengkeraman ilmu terkutuk
itu, maka aku akan menolongmu”
Singatama mengerutkan keningnya. Meskipun ia tidak benar-benar ingin melepaskan
diri dari pengaruh gurunya, namun ia bertanya “Apakah paman dapat berbuat
demikian?”
“Tentu” jawab pamannya.
“Caranya” bertanya Singatama.
Empu Nawamula termangu-mangu. Tetapi nampaknya Singatama benar-benar tertarik
kepada rencananya. Karena itu, maka iapun menjawab “Aku dapat mengosongkan
dirimu. Tetapi dengan demikian kau akan benar-benar menjadi kosong. Kau
kehilangan semua kemampuanmu”
“Dan aku sama sekali menjadi orang yang tidak berarti?” bertanya Singatama.
“Untuk sementara” jawab Empu Nawamula “karena sesudah itu, semisal sebuah
jambangan yang kosong, maka jambangan itu akan dapat diisi dengan air yang baru.
Menurut keinginan. Yang jernih atau justru yang lebih kotor”
Singatama mengangguk-angguk. Namun katanya “Tetapi dengan demikian aku
memerlukan waktu yang lama untuk dapat memulihkan kemampuanku”
Empu Nawamula mengangguk. Jawabnya “Itu adalah satu ujian bagi kesungguhan
hatimu. Kau memang memerlukan waktu dua atau tiga tahun untuk mempelajari
dasar-dasar olah kanuragan yang baru. Tetapi tata gerak dasarnya memang tidak
akan banyak berbeda. Yang lain adalah watak dan sifat gerak serta landasan ilmu
itu sendiri sehinngga kemampuan cadangan yang muncul di dalam diri kita
mempunyai warna yang berbeda pula”
Singatama menganguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, seolah-olah memang
memancar dari dasar jiwanya “Paman. Seandainya aku tetap memilih ilmuku yang
sekarang, tetapi aku sudah berjanji untuk melakukan hal-hal yang baik, apakah
tidak akan sama saja artinya?”
“Memang agak berbeda Singatama” jawab pamannya “meskipun kau mendasari tingkah
lakumu kemudian dengan maksud baik, tetapi cara yang kau pergunakan masih saja
caramu sekarang, mungkin sekali akan dapat berakibat sebaliknya. Untuk mencapai
satu tujuan yang baik dengan mempergunakan segala cara, termasuk cara yang tidak
baik, atau mempergunakan ilmu yang mempunyai watak dan sifat tidak baik, maka
akibatnyapun akan dapat sebaliknya dari yang dikehendaki”
Singatama mengangguk-angguk. Namun katanya “Baiklah paman. Aku akan
memikirkannya. Tetapi yang sudah aku mulai adalah satu penyesalan. Mungkin aku
akan rnendapatkan satu cara. yang dapat merubah, bukan saja sifat dan watakku,
tetapi juga sifat dan watak ilmuku”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Kemudian katanya “Baiklah. Aku akan melihat,
apakah kau berhasil menaklukkan dirimu sendiri atau apakah lebih sulit menguasai
dirinya sendiri daripada menguasai orang lain” Empu Nawamula berhenti sejenak,
lalu “Para cantrik sekarang telah kembali ke padepokan ini. Kau akan mendapatkan
kawan-kawanmu kembali dengan sifatmu yang baru. Aku tidak akan menempatkanmu
diantara mereka dalam ujud lahiriah, karena sebenarnya kaulah yang memiliki
padepokan ini. Tetapi secara batiniah, kau harus satu dengan para cantrik”
“Paman” berkata Singatama “secara lahiriahpun, aku akan menyesuaikan diri dan
menyatu dengan mereka. Aku akan tidur bersama mereka dan aku akan bekerja
sebagaimana mereka bekerja”
Empu Nawamula memandangi kemanakannya sejenak. Lalu katanya “Sukurlah. Baiklah,
pergilah kepada mereka dan nyatakan dirimu sebagaimana kau kehendaki. Mereka
masih berada di halaman untuk mendapatkan kepastian sikapmu”
Empu Nawamulapun kemudian mengajak Singatama berdiri di tangga pendapa. Dengan
lantang ia berbicara kepada para cantrik “Anak-anakku, para cantrik. Kau tentu
masih menunggu, untuk mengetahui maksud kedatangan Singatama di padepokan ini.
Kalian tentu mencurigainya dan bahkan mungkin ada yang mendendamnya. Baru saja
kalian bertempur melawan Singatama dan kawan-kawannya beberapa saat lalu”
Para cantrik itupun saling berpandangan. Mahesa Murti dan Mahisa Pukat merasa
heran juga mendengar kata-kata Empu Nawamula, sementara Mahisa Agni dan Witantra
mendengarkan keterangan itu dengan berdebar-debar.
Dalam pada itu. Empu Nawamula melanjutkan “Para cantrik sebaiknya kalian
mendengar sendiri, apa yang akan dikatakan oleh Singatama, sebagaimana dikatakan
kepadaku”
Singatama mengerutkan keningnya. Kemudian iapun berdesis “Biarlah paman saja
yang mengatakannya”
“Katakanlah sendiri. Mereka akan mendengar langsung isi hatimu. Mereka akan
menjadi saksi, apakah kau benar-benar mungucapkan kata-kata sebagaimana kau
ucapkan di dalam hatimu itu” berkata Empu Nawamula Singatama termangu-mangu.
Namun iapun kemudian berdiri di tangga pendapa itu sarnbil memandangi para
cantrik yang berdiri dalam keremangan malam.
Ternyata ada juga keragu-raguan dihati Singatama. Para cantrik itu akan menjadi
saksi, apakah yang dikatakan itu benar-benar sebagaimana kata nuraninya. Justru
karena Singatama sendiri menyadari, bahwa yang akan dikatakan itu justru
bertentangan dengan kata hatinya yang sebenarnya, maka rasa-rasanya setiap
pasang mata para cantrik itu menghujam langsung memandang kearah jantungnya.
Namun dalam pada itu, perlahan-lahan Singatama berhasil mengatasi gejolak
didadanya. Dengan ragu-ragu ia mulai berkata “Para cantrik. Aku mohon, kalian
masih bersedia mendengarkan kata-kataku”
Tidak seorangpun yang bergerak. Seolah-olah semua telah membeku.
Sementara itu Singatama melanjutkannya “Telah aku katakan kepada paman Nawamula,
bahwa aku berusaha untuk memandang satu kenyataan yang tidak dapat aku ingkari
lagi”
Para cantrik mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh Singatama dengan
jantung yang berdebar-debar. Sesaat kemudian, maka Singatamapun mulai mengatakan
maksudnya, sebagimana dikatakannya kepada pamannya. Dengan nada yang meyakinkan,
Singatama minta maaf kepada para cantrik dan berniat untuk hidup diantara
mereka.
Ternyata bahwa Singatama bukan saja seorang yang garang dan bengis serta
mementingkan dirinya sendiri. Iapun mampu untuk membuat dirinya memelas dan
beriba-iba. Sehingga dengan demikian, maka ia telah berhasil menyentuh hati para
cantrik padepokan Empu Nawamula.
Namun dalam pada itu. Empu Nawamula Kemudian berkata “Marilah, kita terima
Singatama. Tetapi dengan sikap yang tidak mutlak. Maksudku, kita akan melihat,
apakah ia benar-benar dapat dipercaya. Baru setelah kita yakin, maka kita akan
menganggapnya sebagai seseorang yang memang pantas untuk memimpin padepokan ini,
yang memang sebenarnya adalah haknya”
Para cantrik itupun mengangguk-angguk. Sama sekali tidak terkilas di dalam
angan-angan mereka, kepalsuan yang tersimpan di balik wajah Singatama yang
memelas itu, yang seolah-olah telah menjadi putus asa dan kehilangan segala
harapan untuk meneruskan sikapnya.
Apalagi nampaknya Empu Nawamulapun mempercayainya, sehingga meskipun masih juga
dengan sikap hati-hati, namun Empu Nawamula telah menerimanya.
Demikianlah, maka sejenak kemudian, Empu Nawamula itupun berkata “Baiklah. Kita
semuanya memang letih sekarang ini. Karena itu, kembalilah ke tempat kalian
semula. Kalian tentu masih dapat mengenali
bilik dan barak kalian masing-masing. Kecuali beberapa orang yang kami anggap
sebagai tamu”
Widati menjadi bardebar-debar. Agaknya Singatama belum melihatnya, karena ia
berdiri di belakang ayahnya yang memang berada di dalam kegelapan. Namun dalam
pada itu, Witantrapun berbisik di telinga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat
“Bukahkan kau pernah berada di padepokan ini pula?”
“Ya paman” jawab Mahisa Murti.
“Kau sudah mempunyai tempat disini” bertanya Witantra pula.
“Sudah paman” jawab Mahisa Murti selanjutnya.
“Bawa kami ke bilik kalian. Biarlah kami tinggal bersama kalian saja” desis
Mahisa Agni yang agaknya mengerti maksud Witantra.
Namun dalam pada itu. Mahisa Murti bertanya “Tetapi bagaimana dengan Ki Buyut
dan anak gadisnya?”
Witantrapun termangu-mangu. Pertanyaan itu tidak akan dapat dijawabnya. Tetapi
sementara itu Empu Nawamulapun berkata “Ada beberapa orang tamu yang kita terima
sekarang ini. Diantaranya adalah Ki Buyut bersama anak gadisnya”
“O” Widati berpegangan baju ayahnya.
“Jangan takut Widati” berkata ayahnya “segalanya masih akan dapat di atasi.
Disini ada dua orang anak muda yang nampaknya tidak terlalu mementingkan diri
sendiri”
Widati mengerutkan keningnya. Ia masih ingat, bagaimana ayahnya melarangnya
bergaul terlalu dekat dengan anak-anak muda yang belum diketahui lebih jauh lagi
tentang sifat-sifatnya itu.
Singatama yang mendengar keterangan pamannya itu terkejut. Hanya ada seorang
gadis yang diketahuinya berada di dalam apa yang disebut padepokan kecil itu.
Gadis itu adalah Widati. Jika yang dimaksud gadis anak Ki Buyut itu adalah
Widati, maka hal itu akan dapat merupakan satu masalah baru baginya, karena la
sama sekali tidak menyangka, bahwa gadis itu akan ikut pula ke padepokan Empu
Nawamula itu.
Namun dalam pada itu, bagaimanapun juga Singatama masih berusaha untuk menguasai
dirinya sendiri sebaik-baiknya. Betapapun jantungnya bergejolak, tetapi ia
berusaha untuk tidak memberikan kesan yang demikian. Karena itu, ia sama sekali
tidak menyahut. Bahkan ia berkata kepada pamannya tentang dirinya sendiri,
seolah-olah tidak menghiraukan bahwa pamannya telah menyebut seorang gadis
“Paman,apakah aku boleh tetap berada di bilik di ruang dalam, atau aku harus
berada di tempat lain?”
“Kau tetap berada disitu” berkata pamannya “biarlah tamu-tamu kita berada di
rumah sebelah”
Singatama mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Ia
merasa bahwa ia sudah dapat mengatasi gejolak perasaannya yang paling berat.
Dalam pada itu, para cantrikpun telah pergi ke bilik masing-masing, setelah
mereka menempatkan kuda-kuda mereka di kandang, yang sebagian adalah kuda-kuda
yang dapat mereka rampas dari kawan-kawan Singatama. Sementara beberapa orang
yang bertugas, telah menempatkan para tawanan di tempat yang dengan tergesa-gesa
disiapkan.
Mahisa Agni dan Witantrapun kemudian telah bersiap untuk mengikuti Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat kedalam
biliknya. Sementara Ki Buyut dan anak gadisnya telah dipersilahkan untuk berada
di rumah sebelah.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tiba-tiba saja telah
berpikir lain. Jika kedua pamannya itupun dapat dianggap tamu dan berada di
rumah sebelah, maka keadaan Widati tentu akan menjadi lebih baik.
Karena itu, maka ketika Empu Nawamula mempersilahkan mereka juga pergi kerumah
sebelah, maka merekapun tidak membantahnya.
Meskipun demikian, Mahisa Agni dan Witantra masih tetap dalam sikapnya yang
sederhana. Bahkan Empu Nawamula sendiri belum dapat menjajagi, betapa tinggi
sebenarnya ilmu kedua orang itu. Meskipun ia sudah mendengar beberapa hal
tentang Mahisa Agni dan Witantra, namun dalam pertempuran yang baru saja
terjadi, kedua orang itu sama sekali tidak menunjukkan satu kelebihan.
Namun di dalam hati Empu Nawamula itupun berkata “Juga Mahendra telah membaurkan
diri dengan para cantrik yang para prajurit kebanyakan, sehingga aku tidak
segera mengenalinya”
Bahkan dalam pada itu, Singatama memang agak kurang memperhatikan kehadiran
kedua orang tamu itu. Menurut anggapan Singatama, maka keduanya dihormati,
karena usia mereka yang tua, sebagaimana Ki Buyut yang hadir bersama anaknya.
Meskipun Singatamapun kemudian mengetahui, bahkan kedua orang tua itu adalah
paman Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Bahwa pamannya telah dapat menerimanya untuk tinggal bersamanya di padepokan
itu, maka Singatama merasa tugasnya yang pertama telah dapat diselesaikannya
dengan sebaik-baiknya. Sedang tugasnya yang berikut
adalah mencari kesempatan untuk mempersilahkan gurunya dengan diam-diam memasuki
padepokan itu dan membunuh dengan tangannya sendiri Empu Nawamula. Agaknya Empu
Pulung Geni yang mendendam itu tidak lagi memilih cara yang baik dan jantan
untuk menghadapi Empu Nawamula.
Sementara itu, Empu Pulung Geni masih saja berkeliaran disekitar padepokan itu.
Ia harus dapat meyakinkan diri, bahwa Singatama telah dapat diterima kembali
oleh pamannya, dan bukan sebaliknya, bahwa Singatama mendapat bencana.
Satu dua pengikutnya yang lepas dari tangan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan para
cantrik telah diperintahkannya untuk kembali ke padepokan dan mempersiapkan sisa
orang yang ada untuk kerja berikutnya yang akan diberitahukan kemudian.
Ternyata bahwa di hari pertama, Singatama belum berhasil memberikan penjelasan
kepada gurunya, karena ia masih merasa sulit untuk keluar dari padepokan. Tetapi
ia sudah memberikan satu isyarat sebagaimana telah disepakati. Singatama telah
meletakkan tiga buah batu disisi kanan regol, berjajar.
Ketika pada malam hari yang gelap. Empu Nawamula lewat di jalan yang menjelujur
di depan regol padepokan itu dengan sangat hati-hati, maka ia melihat isyarat
itu. Meskipun ia belum dapat bertemu dan berbicara dengan Singatama, namun ia
sudah dapat mengetahui bahwa Singatama telah berhasil. “Sampai kapan aku harus
menunggu” geram Empu Pulung Geni. Tetapi iapun menyadari, bahwa Singatama harus
berhati-hati. Anak muda itu harus mendapatkan kesempatan yang sebaik-baiknya
untuk melakukan kewajiban yang berat. Bukan saja di dalam langkah-langkah
kewadagan untuk mengatur Empu Pulung Geni dapat memasuki bilik Empu Nawamula di
malam hari, kemudian membangunkannya tetapi tidak memberinya kesempatan untuk
melawan, sehingga dengan demikian Empu Nawamula dapat dibunuh dengan menyadari
sepenuhnya bahwa pembunuhnya adalah Empu Pulung Geni. Tetapi Singatama harus
berjuang untuk menindas perasaan segannya terhadap orang yang bernama Empu
Nawamula itu, karena orang itu adalah pamannya sendiri.
“Aku yakin, Singatama akan dapat melakukannya” berkata Empu Pulung Geni kepada
diri sendiri “pekerjaan ini sebenarnya bukan satu kewajiban yang langsung
berkaitan dengan kewajibanku. Tetapi aku harus melakukannya. Harga diriku telah
dihancurkan oleh Empu Nawamula dan cantrik-cantriknya”
Karena itulah, maka ia telah berhasil mengekang diri. Menunggu sampai saatnya
Singatama memberikan jalan baginya untuk dengan diam-diam memasuki bilik Empu
Nawamula.
Dalam pada itu, Widati benar-benar merasa tersiksa untuk tinggal di padepokan
itu. Tetapi sebagaimana dikatakan oleh ayahnya, kembali ke rumahnyapun sangat
berbahaya. Mungkin Singatama benar-benar belum mengetahui rumah itu. Tetapi jika
dugaan itu salah dan Singatama datang kepadanya, maka itu berarti malapetaka.
Karena itu. maka untuk beberapa saat lamanya. Widati harus menekan perasaannya,
karena ia masih harus tinggal di padepokan itu.
Sebenarnyalah, kehadiran Widati di padepokan itu telah menyiksa Singatama pula.
Hampir saja ia tidak dapat menahan diri. Namun ketika ia menyadari, bahwa ia
mendapat tugas dari gurunya dan sekaligus merasa bahwa
dirinya terlalu kecil di hadapan Empu Nawamula. maka iapun selalu berusaha untuk
dapat mengendalikan dirinya.
Namun pada saat-saat tertentu. Singatama berusaha untuk berjalan lewat halaman
depan rumah yang diperuntukkan bagi Widati. dengan harapan untuk dapat
melihatnya barang sekilas. Tetapi ternyata bahwa Widati tidak pernah dijumpai
berada di serambi depan maupun serambi samping. Sehingga dengan demikian, maka
Singatama selalu menjadi kecewa. Namun bagaimanapun juga. Singatama berusaha
untuk menahan perasaan kecewanya.
Dalam pada itu, dengan dorongan keinginan yang kuat untuk memenuhi perintah
gurunya. Singatama selalu berusaha untuk bersikap baik. Tidak pernah ia
memperlakukan para cantrik dengan kasar. Bahkan ia telah berada dalam satu
lingkungan sikap dengan para cantrik. Singatama bekerja sebagaimana para cantrik
bekerja. Dengan demikian, muka kepercayaan terhadap Singatamapun semakin lama
menjadi semakin besar.
Empu Nawamula sendiri telah memberinya tugas yang semakin besar diantara para
cantrik Apalagi Empu Nawamula masih tetap menganggap, bahwa Singatama memang
berhak atas padepokan itu apabila saatnya dianggap tepat.
Dalam keadaan yang demikian itu. Ki Buyut yang melihat anak gadisnya selalu
diliputi oleh kemurungan dan kecemasan, pada satu malam telah berbincang dengan
Mahisa Agni dan Witantra. apakah yang sebaiknya dilakukannya.
“Apakah aku harus membawanya pulang?“ bertanya Ki Buyut.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan ragu ia menjawab
“Bagaimana pendapat Ki Buyut tentang Singatama?”
“Aku jarang menemuinya. Tetapi menilik sikap Empu Nawamula. agaknya ada kemajuan
berpikir pada anak itu. Agaknya ia benar-benar ingin memperbaiki hidupnya” jawab
Ki Buyut.
“Aku juga menduga demikian” desis Witantra “agaknya ia benar-benar telah
menyesal”
“Bagaimana pendapat Ki Sanak, jika aku mengajak anakku pulang?“ bertanya Ki
Buyut aku mempunyai beberapa pertimbangan. Pertama. Singatama agaknya belum
pernah melihat rumahku. Kedua, ia sudah menyadari kesalahan-kesalahan yang
pernah dilakukannya sebelumnya”
“Dalam waktu dekat ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Bagaimana menurut pendapat Ki Sanak?” bertanya Ki Buyut.
Mahisa Agni termangu-mangu. Namun kemudian katanya. Menurut penglihatanku,
memang terdapat perubahan pada anak muda itu. Tetapi aku ingin menyarankan, agar
Ki Buyut masih tetap berada di padepokan ini untuk beberapa hari. Jika kita
sudah yakin benar, maka kita akan dapat menentukan sikap dengan mantap dan
dengan hati yang tenang”
Ki Buyut menarik nafas dalam-dalam. Kecemasan memang masih ada terselip di
hatinya. Persoalan Singatama bukan persoalan yang dapat di tentukan oleh
sikapnya satu dua hari saja. Meskipun nampaknya anak muda itu sudah menjadi
jinak, tetapi pengaruh perasaan seorang anak muda terhadap seorang gadis
kadang-kadang membuat seseorang
tidak dapat dimengerti. Bahkan kadang-kadang seseorang telah melakukan sesuatu
yang menurut pertimbangan nalar tidak akan pernah dilakukan.
Karena itu maka katanya “Baiklah Ki Sanak. Aku akan tinggal di padepokan ini
beberapa hari lagi. Meskipun aku sadar, bahwa orang-orang di Kabuyutanku tentu
sedang menunggu aku, tetapi kecemasan itu agaknya telah mencegahku untuk
tergesa-gesa kembali ke Kabuyutanku, betapapun Kabuyutanku menunggu
kedatanganku”
Mahisa Agni dan Witantra menyadari betapa beratnya hati orang tua itu. Ia merasa
bertanggung jawab atas satu wilayah yang ditinggalkannya. Tetapi ia tidak ingin
membiarkan anaknya menemui kesulitan yang parah.
Dalam pada itu. selagi Ki Buyut, Mahisa Agni dan Witantra sedang berbincang,
ternyata sebuah bayangan telah melintas dengan cepat di kebun belakang padepokan
itu. Ketika bayangan itu mencapai dinding padepokan, maka dengan ringannya
bayangan itu meloncat naik dan kemudian turun di bagian luar dari padepokan.
Demikian bayangan itu hilang dibalik dinding, maka telah terdengar suara burung
hantu berkumandang memecah kesepian malam. Namun suara burung itu bagaikan
hanyut oleh angin malam yang sejuk, hilang tanpa gema. Yang kemudian terdengar
adalah desir angin itu sendiri.
Di luar dinding, bayangan itu tercenung membeku. Namun kemudian bayangan itu
melintas diantara gerumbul-gerumbul perdu di luar dinding padepokan. Dengan
pasti bayangan itu menuju ke hutan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu.
diantarai oleh sebuah bulak yang agak luas disambung dengan sebidang padang
perdu yang tidak terlalu panjang. Demikian bayangan itu
menginjak padang perdu, maka sekali lagi mengumandang suara burung hantu
dikesenyapan malam.
Ternyata isyarat itu tidak sia-sia. Sejenak kemudian terdengar suara yang
serupa. Suara burung hantu dari pinggir hutan yang tidak terlampau lebat itu.
Arah suara itulah yang Kemudian dituju oleh bayangan yang keluar dari padepokan
itu.
“Aku kau biarkan terlalu lama menunggu disini” berkata orang yang menirukan
suara burung hantu di pinggir hutan itu. Lalu “Hampir saja aku kehilangan
kesabaran dan bertindak sendiri. Hari-hari rasanya terlalu panjang. Melampaui
panjangnya tahun”
“Aku tidak dapat berbuat lebih cepat Guru” berkata orang yang datang itu ”Aku
terikat oleh satu keadaan. Jika aku tergesa-gesa, mungkin aku justru akan
mengalami kesulitan. Karena itu aku memilih terlambat, tetapi meyakinkan,
daripada cepat tetapi gagal”
Orang yang berada di pinggir hutan itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian
“Baiklah Singatama. Katakan, apa yang telah terjadi di padepokan itu. Apakah kau
melihat satu kemungkinan untuk melakukan rencanaku semula”
Singatama menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Aku masih belum dapat
mengatakan dengan pasti guru. Tetapi aku akan mencoba untuk berbuat
sebaik-baiknya”
“Apakah ada kesulitan yang mungkin tidak dapat teratasi” bertanya gurunya.
“Guru” berkata Singatama “kesulitan yang utama adalahh datang dari diriku
sendiri”
“Aku mengerti Singatama. Empu Nawamula adalah pamanmu“ sahut Empu Pulung Geni.
“Guru. Tetapi ada kesulitan lain” jawab Singatama. Lalu “di padepokan itu
tinggal seorang gadis yang telah membuat hatiku selama ini gelisah. Gadis yang
aku cari selama ini”
Empu Pulung Geni menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Usahakan untuk mengekang
perasaanmu. Kau harus dapat membedakan persoalan yang paling besar yang kita
hadapi sekarang. Meskipun jika kita dapal menyelesaikan yang besar itu. yang
kecilpun akan terlesaikan juga”
“Maksud guru” bertanya Singatama.
“Jika Nawamula telah dapat dilenyapkan, maka padepokan itu akan segera, kau
kuasai. Tidak seorangpun, yang akan berani menentangmu. Ayah gadis itupun tidak”
“Bagaimana dengan dua orang anak muda yang ada di padepokan itu guru” bertanya
Singatama
“Jangan risau. Aku akan membunuh mereka, demikian Nawamula terbunuh” jawab Empu
Pulung Geni.
“Dan dua orang pamannya yang kini tinggal di padepokan itu pula” bertanya
Singatama lebih lanjut.
“Apakah mereka memiliki kelebihan” Empu Pulung Geni justru bertanya.
Singatama merenung sejenak. Kemudian sambil menggeleng ia berkata “Menurul
penglihatanku, tidak ada lebihnya pada kedua orang itu. Ketika kita bertempur di
luar apa yang disebut padepokan itu. kedua orang itu sama sekali tidak
menunjukkan kelebihan apapun juga meskipun
mereka ikut meloncat keluar dan bertempur diantara para cantrik”
Empu Pulung Geni menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Semuanya akan dapat
diselesaikan dengan baik. Aku akan membunuh Empu Nawamula. Kemudian orang-orang
yang tidak berarti itu akan dengan mudah aku bantai pula. Tanpa mereka, apakah
kesulitanmu untuk mengambil gadis itu. Sementara itu. kita akan dapat melakukan
satu tugas yang memang dibebankan kepada kita”
Singatama mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata “Bukankah tugas itu
tidak terlalu tergesa-gesa?”
“Memang tidak. Tugas ini termasuk satu tugas untuk satu tujuan yang jauh. Bukan
untuk tujuan esok seperti keinginanmu mengambil gadis itu” jawab Empu Pulung
Geni. “Karena itu, kita dapat menunggu. Tugas itu akan kita lakukan kemudian”
“Bukankah hutan itu tidak akan berubah. Bukit itu juga tidak akan lari.
Sementara hujan baru akan turun di musim hujan mendatang”
“Aku mengerti Singatama jawab Empu Pulung Geni “tetapi jika kerja itu masih juga
belum dimulai, maka kita masih belum dapat mengatakan, bahwa kita telah
melaksanakan perintah itu”
Singatama menarik nafas dalam-dalam.
Sementara Empu Pulung Geni berkata “Pemerintahan Ranggawuni nampaknya terlalu
kuat. Tetapi kita akan dapat merintis sejak sekarang untuk memperlemah
kedudukannya. Kita tidak akan dapat mengimbangi kekuatan prajuritnya yang
tersebar. Tetapi kita dapat memperlemah susunan dan kesejahteraan masarakatnya”
Singatama mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berguman “Satu kerja yang baru
akan nampak hasilnya setelah satu keturunan lewat”
“Mungkin aku tidak akan dapat melihat hasilnya” berkata Empu Pulung Geni “tetapi
kau, anak cucuku, akan melihat, betapa Kediri dapat berdiri lagi dengan
megahnya. Tidak lagi sebagai satu negara yang takluk di bawah pemerintahan apa
yang sekarang disebut Singasari, satu perkembangan dari Pakuwon kecil yang
disebut Tumapel”
Singatama mendengarkan dengan seksama ketika gurunya melanjutkan “Jika
hutan-hutan di lereng gunung dan perbukitan yang menghadap Kotaraja Singasari
itu ditebang sampai gundul, maka Singasari akan ditimpa bencana. Bukan hanya
sekali dua kali. Tetapi disetiap musim hujan. Banjir bandang dan kerusakan
tanaman di sawah, di pategalan dan di kebun-kebun. Bendungan akan pecah dan
jalan-jalan akan terputus. Dengan demikian, maka Singasari akan selalu terganggu
oleh amukan alam yang tidak terkendali. Sementara itu, Kediri dapat bersiap-siap
untuk menentukan satu saat bahwa Singasari akan dapat dihancurkan. Jika tidak
pada masa pemerintahan sekarang, tentu paria masa pemerintahan berikutnya”
Singatama mengangguk-angguk. Tetapi saat itu ia tidak begitu tertarik kepada
beban gurunya itu. Ia lebih memikirkan hari esok bagi dirinya sendiri. Jika
gadis itu dapat segera diambilnya, maka ia akan merasa bahwa hidupnya menjadi
lengkap.
Karena itu, maka katanya “Jika demikian guru. Yang manakah yang akan guru
lakukan lebih dahulu. Membunuh paman Nawamula dan mengambil gadis itu, atau
bersiap-siap dengan pekerjaan guru yang sebenarnya dapat dilakukan dalam jangka
panjang”
“Sudah aku katakan Singatama, aku akan membunuh Empu Nawamula itu dahulu.
Sementara itu, gadis itu akan dapat kau ambil pula dari padepokan itu” jawab
gurunya.
“Baiklah guru“ sahut Singatama “Aku akan mencari kesempatan itu. Tetapi
kesempatan itu tidak terlalu mudah. Kadang kadang aku tidak tahu, dimanakah
paman tidur. Mungkin di biliknya. Mungkin di sanggar, tetapi mungkin di
perapiannya bersama dengan murid-murid khususnya”
“Kau harus dapat menunjukkan dengan tapat. Pada suatu saat jika kesempatan itu
datang kau harus memberi isyarat. Tetapi kau harus berusaha, agar jangan terlalu
lama. Pekerjaanku yang kemudian sudah menunggu. Pekerjaaan besar bagi masa
mendatang itu. Sehingga dengan demikian, maka sebenarnya waktu kita tidak
terlalu panjang, berkata gurunya kemudian.
Singatama mengangguk-angguk. Katanya “Aku akan berusaha. Tetapi sudah barang
tentu bukan sekedar menunjukkan dimana paman tidur. Seandainya pada saat itu
guru berusaha untuk memasuki biliknya atau sanggarnya atau perapian, sementara
paman Nawamula dapat melihat kehadiran guru, bukankah akibatnya justru akan
mempersulit kedudukan guru”
“Aku mengerti dan aku tidak akan ingkar, bahwa aku tidak akan dapat membunuh
Empu Nawamula jika ia sempat melawan. Tetapi kau tentu mempunyai akal. Mungkin
kau akan dapat membuka pintu biliknya atau sanggarnya, sehingga mempermudah
pekerjaanku. Aku harus berdiri disisinya. pada saat ia masih tidur. Aku akan
membangunkannya dengan ujung pedangku di depan wajahnya, sehingga ia tidak
mendapat kesempatan melawan, tetapi ia mengerti bahwa akulah yang datang untuk
membalas dendam” geram Empu Pulung Geni.
Pekerjaan itu memang sulit. Tetapi Singatama yang sudah berhasil menyusup di
lingkungan padepokan itu tentu akan mendapatkan satu cara untuk melakukannya.
Apalagi menurut gurunya, sepeninggal Empu Nawamula, maka tidak akan ada lagi
orang yang berarti, yang akan dapat mencegahnya mengambil gadis itu. Dua anak
muda yang mengalahkannya itupun tentu tidak akan berarti apa-apa bagi gurunya.
Murid-murid Empu Nawamulapun tidak akan berbahaya. Tetapi untuk mendapat
kesempatan memberikan jalan kepada gurunya memasuki bilik atau sanggar pamannya
itu adalah pekerjaan yang sangat berat meskipun ia bertekad untuk melakukannya.
Untuk beberapa saat lamanya, Singatama masih berbincang dengan gurunya. Namun
kemudian katanya “Baiklah guru. Aku akan kembali ke padepokan. Mudah-mudahan
dalam waktu dekat aku dapat melakukannya. Sebenarnya akupun sudah terlalu lama
menunggu satu kesempatan untuk mengambil gadis itu. Apalagi aku tahu, bahwa
gadis itu tidak akan terlalu lama berada di padepokan. Pada suatu saat gadis itu
tentu akan dibawa pulang oleh ayahnya”
“Bukankah itu akan lebih baik” berkata gurunya “dengan sangat mudah kau akan
dapat mengambilnya”
“Tetapi aku belum pernah tahu, dimanakah rumahnya” jawab Singatama “justru pada
saat para cantrik aku perintahkan untuk mengambil gadis itu atau untuk
mengetahui tempatnya, mereka telah melakukan satu perbuatan yang terkutuk”
“Sudahlah” berkata gurunya “jangan mengumpat. Kita semuanya telah melakukan satu
kesalahan sehingga kita terjebak ke dalam satu kesulitan. Hampir semua orang
kita tertawan. Tetapi justru karena itu, aku berharap kau akan dapat membantuku
melepaskan dendam yang membara di jantung ini”
Singatama kemudian minta diri kepada gurunya yang akan tetap menunggu sampat
kesempatan itu datang.
“Tetapi guru jangan berada terlalu jauh dari padepokan Ku” minta Singatama.
“Apakah setiap malam aku harus melakukannya? Mengintai kesempatan yang tidak
pasti datangnya” bertanya Empu Pulung Geni.
“Tetapi jika kesempatan itu datang, dan guru tidak ada di tempat, maka kita
harus menunggu lagi untuk satu kesempatan yang lain” berkata Singatama.
Gurunya mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan berada di dekat
padepokanmu. Tetapi kau harus berbuat lebih cepat”
Singatama menyanggupinya untuk berusaha. Karena itu, maka sejenak kemudian, anak
muda itupun telah meninggalkan gurunya, kembali ke padepokannya
Demikian Singatama sampai di luar dinding, maka iapun berusaha untuk berbuat
dengan sangat berhati-hati. Ketika ia yakin, bahwa tidak ada seseorang yang akan
dapat melihatnya, maka iapun telah meloncat dinding dibawah bayangan sebatang
pohon yang rimbun. Kemudian dengan sangat hati-hati ia memasuki halaman belakang
padepokannya.
Sejenak kemudian, Singatama sudah berada di dalam biliknya. Tidak seorangpun
yang mengetahuinya bahwa ia telah meninggalkan padepokan itu untuk menemui
gurunya dan berbicara tdhtang satu usaha untuk membunuh Empu Nawamula yang
menganggap bahwa kemanakannya itu sudah menemukan kembali jalan menuju ke
kehidupan yang sewajarnya, meskipun ia masih belum menyatakan
sikapnya yang pasti tentang ilmu hitamnya yang harus ditanggalkannya.
Namun dalam pada itu pertemuannya dengan gurunya, telah mendorongnya untuk
bekerja lebih giat. Segala usaha harus dilakukannya. Bukan saja karena
kesetiaannya kepada gurunya, tetapi juga didorong oleh keinginannya untuk segera
menguasai gadis yang bernama Widati itu. yang tidak diduganya, akan berada pula
di padepokannya.
Malam berikutnya, Singatama sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk
mengetahui dimana gurunya berada. Yang dilihatnya adalah orang-orang tua, paman
kedua orang anak muda yang paling dibencinya itu berbincang di rumah sebelah
bersama Ki Buyut, ayah Widati. Karena itu. malam itu Singatama sama sekali tidak
dapat berbuat apa-apa.
Namun di malam berikutnya, ia mendapat akal. Ketika senja turun, maka ia telah
berkata kepada pamannya “Paman, apakah paman mempunyai waktu barang beberapa
saat malam nanti?”
“Untuk apa?” bertanya Empu Nawamula.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan” jawab Singatama “tidak tentang apa-apa.
Tetapi tentang diriku sendiri”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Aku sekarang sudah tidak
mempunyai pekerjaan apapun juga Singatama Jika kau ingin mengatakan sesuatu,
marilah kita duduk di penclapa.
Singatama mengerut kau keningnya. Jawabnya “Bagaimana jika malam nanti paman.
Mungkin aku akan dapat mengatakan pengalamanku sendiri dengan leluasa. Tidak
diganggu oleh hilir mudiknya para cantrik yang menyalakan lampu”
Empu Nawamula berpikir sejenak. Kemudian katanya “Baiklah. Aku akan menyediakan
waktu bagimu”
“Terima kasih paman. Nanti tengah malam aku mohon paman bersedia mengatakan
sesuatu tentang diriku sebagaimana paman kehendaki” berkata Singatama.
Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun mengangguk-angguk.
Ketika Singatama kemudian meninggalkannya, maka Empu Nawamulapun berdesis
“Apakah anak itu benar-benar ingin melepaskan ilmu hitamnya?”
Namun dalam pada itu, ternyata Singatama telah mempunyai rencananya sendiri.
Karena itu, ketika malam menjadi semakin pekat, maka iapun dengan
mengendap-endap telah pergi ke kebun belakang. Dengan hati-hati sekali, iapun
kemudian meloncat keluar padepokan.
Sejenak ia menunggu. Ketika ia yakin, bahwa tidak ada seorangpun didekatnya.
maka terdengar satu isyarat dari mulutnya. Suara burung hantu. Beberapa saat
Singatama nrenunggu. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar suara
yang sama dari arah Kegelapan.
Sejenak ia masih memperhatikan suara itu. Namun kemudian ternyata bahwa suara
isyarat itu tentu suara gurunya. Karena itu. maka sekali lagi ia menyahut dengan
suara burung hantu yang ngelangut.
Sebenarnyalah, seperti yang diharapkannya, ternyata gurunya telah mendekatinya.
Dengan suara rendah hampir berbisik ia bertanya “Apakah kesempatan itu sudah kau
dapat sekarang?”
“Guru” berkata Singatama “sulit untuk mengetahui dimana paman tidur. Seandainya
aku mengetahuinya,
maka untuk dapat memasuki tempat itupun agaknya terlalu sulit pula”
“Lalu. apa maksudnya memanggil aku sekarang” bertanya gurunya.
“Aku mempunyai satu cara. jika guru sependapat” desis Singatama.
“Cara bagaimana” bertanya gurunya pula.
“Aku telah minta paman untuk berbicara berdua saja. Aku akan minta paman untuk
berbicara di tempat yang sepi. Apakah kesempatan itu sudah cukup? bertanya
Singatama.
Empu Pulung Geni termangu-mangu. Namun kemudian ia berkata Agaknya kau belum
mengerti. Bukankah dengan demikian aku masih harus berkelahi melawan Empu
Nawamula? Apalagi di padepokannya. Dalam waktu sekejap, maka semua orang di
dalam padepokan itu telah mengepungku”
“Bukan begitu guru” berkata Singatama “selagi paman berbicara dengan
sungguh-sungguh, guru dapat merunduknya. Dengan demikian, maka guru akan
mendapat kesempatan untuk menguasainya lebih dahulu dan kemudian membunuhnya,
setelah Empu Nawamula menyadari dengan siapa ia berhadapan”
Empu Pulung Geni mengangguk-angguk. Katanya “Tetapi apakah kau benar-benar akan
mendapat tempat yang menyendiri?”
“Aku akan mohon kepada paman Nawamula” berkata Singatama “ tetapi tidak
disanggar. -
“Jika terpaksa disanggar? bertanya Empu Pulung Geni.
“Tidak apa-apa guru. Aku akan berusaha agar pintu sanggar tidak diselarak dari
dalam. Jika Empu Nawamula menyadari, seseorang memasuki sanggar, maka aku akan
lebih dahulu mengancamnya agar paman tidak bergerak. Tetapi aku mohon
paman-cepat mengambil sikap sebelum perutku dibelah oleh paman Nawamula”
Empu Pulung Geni menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Pekerjaanku masih cukup
banyak. Aku masih harus mencari tempat itu. Sementara itu. para cantrik
berkeliaran di halaman.
“Tidak guru” jawab Singatama “di malam hari hanya tiga tiga orang cantrik yang
bertugas. Itupun berada di halaman depan menqawasi regol. Sementara itu, guru
tentu akan mendengar suaraku berbincang dengan paman Nawamula. sebagai isyarat
dimana kami berada”
Empu Pulung Geni mengangguk-angguk. Katanya “Baiklah. Aku akan mencoba. Tetapi
kau harus cukup berhati-hati”
Singatama mengangguk-angguk. Iapun menyadari bahwa pekerjaan itu bukannya
pekerjaan yang mudah. Ia harus berbuat dengan hati-hati dan kesiagaan yang
tinggi, sehingga bukan justru dirinyalah yang akan menjadi korban.
Dalam pada itu, maka Singatamapun berkata “Sudahlah guru. Aku akan kembali. Aku
persilahkan guru memasuki halaman dan bersembunyi di tempat yang paling baik
menurut pendapat guru” “Aku belum mengetahui tempat-tempat yang terbaik untuk
bersembunyi di kebun padepokanmu, karena aku belum pernah mengamati halaman dan
kebun padepokanmu dengan baik” jawab Empu Pulung Geni.
“Nanti, guru akan menemukannya. Pada tepat tengah malam, aku mahon paman
Nawamula untuk berbicara berdua saja. saat itu tiba menurut pengamatan paman
atas bintang-bintang, biarlah paman mulai mencari, dimana aku dan paman
berbicara berkata Singatama.
Empu Puiung Geni tidak menjawab. Iapun kemudian meninggalkan gurunya dan
meloncat memasuki kebun belakang. Namun dalam pada itu, gurunyapun telah
mengikutinya pula.
Karena tengah malam masih beberapa saat lagi, Singatama sempat kembali ke
biliknya tanpa diketahui oleh orang lain. Karena itu, maka iapun merasa bahwa
rencananya tentu akan dapat dilakukannya. Tengah malam ia akan memanggil
pamannya. Jika pamannya tidak berkeberatan, ia akan mengajak pamannya duduk di
pinggir belumbang.
“Para cantrik tentu akan terkejut melihat paman Nawamula esok pagi terapung di
belumbang itu menjadi mangsa ikan. Tetapi ikan-ikan itupun akan mati, karena
racun luwuk guru yang menyentuh paman Nawamula terlalu keras, sehingga ikan-ikan
yang menggigit kulit pamanpun akan mati pula” berkata Singatama di dalam
hatinya.
Demikianlah, rasa-rasanya malam merambat terlalu lambat. Singatama merasa
terlalu lama menunggu. Ketika ia keluar dari biliknya dan pergi ke pendapa, maka
dilihatnya seorang cantrik yang duduk terkantuk-kantuk, sementara dua orang yang
lain sedang berjalan memutari halaman padepokan. Perlahan-lahan ia melangkah
menuruni tangga pendapa. Dipandanginya bintang yang berhamburan di langit.
“Hampir tengah malam“ ia berdesis. Namun kemudian “tetapi paman dimana?”
Perlahan-lahan Singatama kembali masuk ke ruang dalam lewat pringgitan.
Dilihatnya pintu butulan di bagian samping ruang dalam tertutup rapat. Singatama
sendirilah yang menyelaraknya setelah ia memasuki ruang itu dengan diam-diam.
Namun ternyata bahwa Singatama tidak perlu gelisah terlalu lama. Sejenak
kemudian ia mendengar suara Empu Nawamula berbicara dengan cantrik yang sedang
terkantuk-kantuk itu.
“Dua orang kawanku sedang nganglang Empu“ lapor cantrik itu.
“Jangan lengah” berkata Empu Nawamula “meskipun nampaknya tidak akan terjadi
sesuatu, tetapi kau harus tetap berhati-hati”
“Ya Empu” jawab cantrik itu sambil berusaha membuka matanya lebar-lebar.
Ketika Empu Nawamula memasuki ruang dalam, Singatama sudah menunggunya. Ia duduk
di sebuah amben diruang tengah.
“O“ sapa Empu Nawamula “apakah kau bermaksud berbicara sekarang?”
“Ya paman. Aku rasa, hari telah tengah malam” jawab Singatama.
“Baiklah. Kita dapat duduk disini tanpa diganggu oleh siapapun juga” berkata
Empu Nawamula.
Tetapi Singatama mengerutkan keningnya. Dipandanginya pintu pringgitan,
seolah-olah ia ingin
mengatakan bahwa di pendapa ada seorang cantrik padepokan.
Tetapi Empu Nawamula yang seolah-olah mengetahui apa yang ingin dikatakannya itu
justru berkata “Cantrik itu tidak akan tahu, apa yang kita perbincangkan disini.
Karena itu. Katakanlah”
Namun ternyata Singatama menggelengkan kepalanya. Katanya “Paman, ada satu hal
yang sangat penting yang ingin akan aku katakan. Satu rahasia yang sangat gawat
tentang ilmu yang selama ini aku miliki. Yang menurut paman, ilmu itu harus
dihapuskan. Hal itulah yang ingin aku perbincangkan dengan paman” berkata
Singatama.
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya “Menurut
pendapatmu, dimanakah sebaiknya kita berbicara agar tidak akan terganggu?”
“Di kebun, paman” jawab Singatama “aku akan dapat memperagakan beberapa tata
gerak yang mungkin perlu untuk memperjelas keteranganku”
Empu Nawamula termangu-mangu sejenak. Namun ia masih bertanya “Di halaman
belakang, di mana?”
“Bagaimana jika dipinggir belumbang” bertanya Singatama.
Empu Nawamula berpikir sejenak. Tetapi ia masih bertanya “Kenapa di Pinggir
belumbang?”
“Tidak apa-apa paman. Tetapi suasananya akan menyegarkan” jawab Singatama
kemudian. Lalu “Dengan demikian, pikiranku akan menjadi bertambah bening.
Sehingga dengan demikian, apa yang ingin aku katakan akan dapat aku katakan
dengan gamblang, sehingga tidak terjadi salah paham”
Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian mengangguk sambil
menjawab “Baiklah. Kita akan pergi ke belumbang. Mudah-mudahan kolam itu akan
benar-benar dapat memberikan kesegaran baru bagi kita”
Keduanyapun kemudian pergi ke belakang seperti yang diminta oleh Singatama.
Dengan demikian, maka Singatama mengharap bahwa gurunya akan sempat merunduk
Empu Nawamula. Dengan berlindung pada dedaunan dan rumpun-rumpun perdu, Empu
Pulung Geni akan dapat mendekati pamannya yang sama sekali tidak menduga, bahwa
seseorang akan merunduknya. Apalagi orang itu adalah Empu Pulung Geni. Seorang
yang memiliki nama menggetarkan.
Tetapi rupa-rupanya Empu Pulung Geni telah kehilangan harga dirinya karena
dendam yang membara di jantungnya. Ia lebih senang membunuh Empu Nawamula untuk
melepaskan dendamnya daripada mempertahankan harga dirinya.
Dalam pada itu, Singatamapun telah membayangkannya, bahwa gurunya akan meloncat
dari balik sebuah gerumbul yang rimbun sambil mengacukan pedangnya. Sementara
Empu Nawamula terkejut dan berpaling gurunya akan tertawa sambil berkata “Aku
Empu Pulung Geni yang sedang dibakar oleh api dendam. Sadarilah, bahwa akulah
yang telah berbasil membunuhmu”
Empu Nawamula tidak akan sempat berbuat apa-apa. Pedang gurunya akan segera
menghunjam ketubuh Empu Nawamula, sehingga pamannya itu akan mati. Singatama
menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu, keduanya telah berada ditepi kolam.
“Kita duduk ditepi kolam paman” berkata Singatama.
Empu Nawamula merenung sejenak. Namun kemudian iapun melangkah dekat ke tepi
kolam dan duduk membelakangi air yang bening yang bergetar oleh dedaunan yang
menguning yang runtuh dari dahannya.
“Kita duduk disini paman“ minta Singatama “kenapa paman duduk terlalu menepi?”
Tetapi Empu Nawamula menjawab “Wajah air itu terasa sangat menyegarkan. Aku akan
duduk disini. Kemarilah Singatama. Mendekatlah”
Singatama menjadi berdebar-debar. Pamannya duduk membelakangi air, sehingga
sulit bagi Empu Pulung Geni untuk merunduknya dari belakang.
“Gila” geram Singatama “apakah paman menyadari niatku untuk menjebaknya?”
Tetapi pertanyaan itu telah dijawabnya sendiri “Tentu tidak. Hanya satu
kebetulan. Tetapi kebetulan yang pantas diumpati”
“Duduklah Singatama“ pamannya kemudian mempersiapkan “kita dapat berbincang
disini tanpa diganggu orang lain. Kau dapat mengatakan apa saja yang ingin kau
katakan tanpa didengar orang lain pula”
Namun dalam pada itu kegelisahan telah mencengkam jantung Singatama. Tetapi ia
tidak mempunyai kesempatan untuk merubah sikap duduk pamannya yang nampaknya
memang sudah mapan sekali.
Karena itu, maka perlahan-lahan Singatamapun duduk dihadapan pamannya. Dengan
jantung yang berdebaran ia berusaha untuk mengatasi kesulitannya.
“Guru tentu mempunyai perhitungan sendiri” berkata Singatama di dalam hatinya
“jika ia merasa sulit untuk melakukannya sekarang, biarlah ia mengambil
kesempatan yang lain. Aku akan berbicara dengan guru esok”
Dengan demikian maka Singatamapun harus menyesuaikan diri. Meskipun rasa-rasanya
ia sedang duduk di atas bara, tetapi ia bertahan untuk tetap duduk.
“Singatama” berkata pamannya “apa yang ingin kau katakan? Katakanlah, agar
persoalan ini cepat selesai”
“Paman” berkata Singatama “bukankah paman pernah berkata bahwa mungkin sekali
ilmuku dapat dilepaskan sehingga aku akan menjadi kosong dan bersih”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya “Benar Singatama. Ilmu hitammu
memang dapat ditanggalkan. Kau akan menjadi bersih. Dengan demikian maka kau
akan siap menempuh satu kehidupan baru”
Singatama mengangguk-angguk. Namun ia menjadi semakin gelisah. Apa yang akan di
katakannya dan akan dilakukannya jika gurunya mengurungkan niatnya untuk
membunuh Empu Nawamula karena keadaan yang tidak memungkinkan.
Namun dalam pada itu, meskipun dengan tergagap, Singatama masih dapat menemukan
bahan pembicaraan “Guru. Sebenarnya aku ingin melakukannya. Tetapi bagaimanakah
dengan aku pada masa-masa kosong itu? Apakah aku menjadi orang yang sama sekali
tidak memiliki kemampuan membela diri?”
“Bukan begitu Singatama” berkata pamannya “kau masih akan tetap memiliki
ketrampilan dasar ilmu kanuragan. Tetapi benar-benar ketrampilan wadag. Kau
tidak akan mampu membangkitkan tenaga cadanganmu,
karena pada dasarnya, tenaga cadanganmu sudah terisi dengan watak ilmu hitam.
Untuk sementara, kau memang banyak kehilangan. Tetapi kau akan dapat mulai
dengan satu babak baru dalam hidupmu, khususnya dalam ilmu kanuragan”
Singatama mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Apakah paman tidak mempunyai satu
carapun yang dapat ditempuh selain mengosongkan diriku”
Empu Nawamula menggelengkan kepalanya. Katanya “Kau harus mengikhlaskan ilmumu.
Tetapi dengan dasar ketrampilan wadagmu yang masih kau kuasai, maka kau akan
dapat dengan cepat mengisi kekosongan itu dengan ilmu kanuragan dalam wataknya
yang baru”
Singatama mengangguk-angguk. Namun kegelisahannya menjadi semakin memuncak
ketika ia melihat pada gerumbul diarah samping Empu Nawamula bergerak.
“Agaknya guru telah menemukan tempat ini” desis Singatama di dalam dirinya
“tetapi apakah guru dapat melakukan dari arah itu”
Tetapi Singatama berusaha untuk menenangkan dirinya. Katanya kepada diri sendiri
“Guru tahu apa yang baik dilakukannya”
Namun dalam pada itu, untuk sesaat Singatama telah terdiam. Keringatnya mulai
membasahi keningnya. Sementara itu, Empu Nawamulapun berkata “Singatama. Masih
ada kesempatan. Ibarat orang yang tersesat, maka langkahmu masih belum terlalu
jauh. Karena itu, kembalilah anakku”
Terasa sesuatu berdenyut di jantung Singatama. Dalam keadaan yang tegang itu, ia
mendengar suara pamannya. Pamannya. Yang duduk dihadapannya itu memang
pamannya. Saudara kandung orang tuanya. Tetapi Singatama bukan seorang anak yang
dekat dengan orang tuanya. Bukan saja wadagnya, tetapi juga hatinya. Anak itu
seakan-akan tidak lagi mempunyai satu ikatan yang mantap dengan ayah dan ibunya.
Namun dalam pada itu, suara Empu Nawamula didengarnya lagi “Yang aku tidak tahu
Singatama. Apakah yang sebenarnya kau cari dengan pengabdianmu kepada ilmu hitam
itu. Jika kau ingin memiliki kemampuan yang tinggi, maka kau dapat melihat
sendiri, bahwa ilmu gurumu bukan ilmu yang tidak terkalahkan. Karena itu, kenapa
kau tidak mencari saja kemampuan ilmu kanuragan lewat jalan yang lebih baik”
Jantung Singatama menjadi semakin berdebaran. Disaat yang menegangkan itu, ia
dapat membayangkan kembali, apa yang sudah terjadi atasnya. Sikap pamannya dan
sikap orang-orang di padepokan itu. Disaat ia dianggap orang yang paling jahat,
ia masih dapat diterima kembali oleh pamannya karena ia menyatakan diri untuk
bertobat. Rasa-rasanya pamannya sama sekali tidak pernah mendendamnya. Jika
pamannya membentaknya, marah dan mengancam itu adalah semata-mata sikapnya
sebagai seorang tua.
Sekilas terbayang orang yang sudah tidak ada. Sepercik pertanyaan tiba-tiba saja
mengguncang jantungnya “Apakah ayahku meninggal terlalu cepat karena aku?”
Dalam pada itu. Empu Nawamula masih berkata selanjutnya “Singatama. Sebenarnya
kau tidak terlalu tergesa-gesa untuk mengambil satu sikap. Kau masih sempat
memikirkannya. Dan kau akan menjadi semakin jelas melihat, langkah yang paling
baik yang dapat kau tempuh. Kau masih mudah. Menilik gelar lahiriah, kau masih
akan memiliki hari depan yang panjang. Karena itu,
bukankah kau masih mempunyai kesempatan untuk memilih. Memilih dengan tepat
setelah kau pikirkan masak-masak”
Degup jantung Singatama terasa memukul dinding dadanya semakin keras. Pada saat
yang demikian, Empu Pulung Geni menggeretakkan giginya. Sebenarnya ia menyadari,
bahwa kedudukannya agak kurang menguntungkan, karena ia tidak dapat merunduk
dari belakang. Tetapi harus dari samping.
Namun didorong oleh dendamnya yang hampir meledakkan jantungnya serta mendengar
keterangan Empu Nawamula yang akan dapat menggoyahkan kesetiaan Singatama yang
muda itu, maka rasa-rasanya Empu Pulung Geni tidak lagi dapat menahan diri.
“Tingkat perbedaan ilmuku dengan ilmu Empu Nawamula tidak terlalu jauh. Kalau
aku sempat meloncat dan mengancamnya, maka aku akan dapat menguasainya dengan
sebaik-baiknya” berkata Empu Pulung Geni di dalam hatinya.
Karena itu, maka Empu Pulung Geni tidak lagi berniat menunda rencananya. Ia
harus dapat membunuh Empu Nawamula. Baru ia akan dapat melakukan tugasnya dengan
tenang, mengemban kewajiban yang disepakati oleh sekelompok orang-orang yang
tidak puas dengan keadaan di atas Tanah Kediri dan Singasari
Tetapi Empu Pulung Geni masih menunggu satu kesempatan yang baik. Jika Empu
Nawamula sedang dengan sungguh-sungguh memberikan petunjuk-petunjuk kepada
Singatama, maka perhatiannya tentu akan tertuju kepada anak itu sepenuhnya.
Ternyata Empu Pulung Geni tidak perlu menunggu terlalu lama. Ketika Empu
Nawamula sedang berbicara
dengan sareh kata demi kata, kalimat demi kalimat, maka dorongan dendam di
jantung Empu Pulung Geni tidak tertahankan lagi.
Karena itu, maka iapun aaggra bersiap dengan hati-hati. Namun demikian, ternyata
bahwa dedaunan di gerumbul tempatnya bersembunyi masih juga bergerak.
Tetapi untunglah, bahwa Empu Nawamula tidak melihatnya. Karena seperti yang
diperhitungkan oleh Empu Pulung Geni, bahwa perhatiannya sepenuhnya tertuju
kepada Singatama.
Empu Pulung Geni masih menunggu sesaat. Ketika saat yang paling baik itu datang,
maka iapun telah siap untuk meloncat.
Tetapi yang sesaat itu ternyata sangat menentukan. Yang sesaat itu telah
memberikan kesempatan kepada Singatama yang bimbang untuk mengambil keputusan.
Karena itu, ketika tiba-tiba saja ia melihat dedaunan yang bergoyang, maka
dengan serta merta anak muda itu berteriak “Paman, hati-hati”
Peringatan Singatama itu telah menyengat naluri Empu Nawamula. Dengan serta
merta iapun telah meloncat tepat pada saat Empu Pulung Geni meloncat pula dari
balik gerumbul sambil mengacungkan senjatanya. Tetapi Empu Nawamula sudah tidak
ada lagi ditampatnya, sementara Singatamapun telah melenting berdiri dan
meloncat menjauh.
Empu Pulung Geni berdiri dengan wajah yang tegang Sorot matanya bagaikan menyala
memandang Singatama yang berdiri termangu-mangu.
“Maaf guru“ suaranya terbata-bata “aku tidak dapat mengingkari perasaanku. Paman
selalu memaafkan
kesalahanku. Karena itu, aku tidak dapat membiarkannya mengalami bencana dengan
satu keadaan yang tidak adil. Sekarang, terserah kepada guru dan paman. Aku
tidak akan dapat ikut campur”
“Anak iblis” geram Pulung Geni “kau telah berkhianat. Dan kau tahu, hukuman yang
paling baik bagi seorang pengkhianat”
Terasa juga jantung Singatama bergetar. Ia tahu apa arti kata-kata gurunya. Ia
tahu, bahwa di lingkungannya tidak pernah didengarnya kata pengampunan.
Karena itu, maka iapun sadar, bahwa hukuman yang akan di bebankan kepadanya oleh
gurunya tentulah hukuman mati.
Ternyata Singatama menjadi ngeri juga. la teringat kepada upacara yang setiap
kali dilakukan. Sementara mereka masih mempergunakan tubuh seekor binatang untuk
membasahi senjata mereka sebelum dipergunakan. Tetapi bagaimana jika dirinya,
yang dianggap oleh gurunya itu sebagai seorang pengkhianat mengalami nasib
seburuk seekor binatang?
Selagi Singatama dicengkam oleh kegelisahan, terdengar suara Empu Nawamula
“Pulung Geni. Apakah arti perbuatanmu itu? Bukankah dengan demikian kau telah
mengotori harga dirimu dengan satu perbuatan yang licik sebagaimana dilakukan
oleh para pengecut”
“Aku tidak peduli” geram Empu Pulung Geni “jika muridku itu tidak berkhianat,
kau telah mati oleh tanganku”
“Tetapi aku masih hidup sekarang ini” jawab Empu Nawamula “kita telah
berhadapan. Marilah. Kita akan mengulangi pertempuran diantara kita, seorang
melawan seorang”
Memang tidak ada pilihan lain. Karena itu. maka Empu Pulung Genipun segera
bersiap, sementara Empu Nawamulapun telah memcabut senjatanya pula.
“Ikutlah bertempur bersama pamanmu pengkhianat” geram Empu Pulung Geni.
Tetapi Singatama melangkah surut sambil menjawab “Tidak guru. Aku sama sekali
tidak akan berani ikut campur”
“Jangan panggil lagi aku guru bentak Empu Pulung Geni “kau bukan lagi muridku”
Singatama tidak menyebut Namun yang kemudian berbicara adalah Empu Nawamula
“Sudahlah. Jangan kau umpati lagi anak itu, kau sekarang berhadapan dengan aku.
Marilah kita yang tua-tua ini membuat perhitungan”
Empu Pulung Geni sama sekali tidak menjawabnya lagi. Dengan serta-merta iapun
kemudian meloncat menyerang.
Tetapi Empu Nawamula telah bersiap. Dengan demikian, maka iapun masih sempat
menghindar sambil berkata “Ah. kau terlalu tergesa gesa”
Empu Pulung Geni tidak menghiraukannya, bahkan serangannyapun menjadi semakin
cepat. Pedangnya menyambar mendatar. Ketika dengan kerisnya yang besar Empu
Nawamula menangkisnya, maka pedang itupun telah berputar dan mematuk kearah
jantung.
Namun Empu Nawamula bergeser selangkah kesamping. Ujung pedang Empu Pulung Geni
sama sekali tidak mengenainya. Bahkah Empu Pulung Genilah yang kemudian harus
meloncat surut, menghindari serangan Empu Nawamula.
Demikianlah perkelahian antara kedua orang itupun semakin lama menjadi semakin
cepat. Keduanya bergerak bagaikan tidak menyentuh tanah. Namun seperti yang
pernah terjadi, maka Empu Pulung Geni memang tidak akan mampu mengimbangi
kemampuan Empu Nawamula. Apalagi dengan kecemasan bahwa para cantrik dan seisi
padepokan akan terbangun dan kemudian beramai-ramai mengepungnya.
Dalam pada itu. pertemupuran itupun semakin lama menjadi semakin sulit untuk
membatasi diri. Benturan senjata dan kadang-kadang hentakan yang tidak
terkekang, lelah menggetarkan sepinya malam di padepokan itu.
Para cantrik yang berada di pendapa memang tidak segera mendengar pertempuran
yang terjadi di kebun belakang, di dekat blumbang yang terpisah. Namun merekapun
kemudian mendengar bunyi bentakan-bentakan yang aneh yang tidak segera mereka
ketahui artinya.
Bukan hanya cantrik yang sedang berjaga-jaga, tetapi dirumah sebelah, Mahisa
Agni dan Witantrapun telah mendengarnya pula.
“Suara apa itu agaknya” desis Mahisa Agni.
Witantra bangkit dari pembaringannya. Sejenak ia mempernatikan suara yang lemah
sekali menembus dinding.
Namun Mahisa Agnipun kemudian bangkit pula sambil mengerutkan keningnya. Katanya
“Aku agak curiga”
“Ya. Kita lihat, apakah yang terjadi” sahut Witantra. Sesaat kemudian keduanya
segera membenahi diri dan keluar dari rumah itu. Mereka sama sekali tidak
membangunkan Ki Buyut yang juga berada di rumah itu bersama anak perempuannya.
Namun ketika keduanya
akan meninggalkan rumah itu untuk melihat apakah yang telah terjadi, ternyata
hampir berbareng keduanya tertegun
“Bagaimana dengan gadis itu” desis Mahisa Agni.
“Ia perlu diawasi. Mungkin terjadi sesuatu yang dapat mengancam keselamatannya “
sahut Witantra.
“Tunggulah disini” berkata Mahisa Agni “aku akan melihat apakah yang terjadi.
Agaknya telah terjadi sesuatu yang perlu mendapat perhatian”
“Baiklah” berkata Witantra “aku akan berada di dalam”
Ketika Mahisa Agni meninggalkan tempatnya, Witantra justru kembali masuk ke
dalam untuk mengamati keadaan, justru karena dirumah itu ada Widati.
Dengan tergesa-gesa Mahisa Agni menyusuri longkangan diantara barak-barak para
cantrik. Tetapi ia tidak segera menemukan sesuatu. Apalagi suara yang
mencurigakan itupun tiba-tiba saja tidak didengarnya lagi.
“Apa yang telah terjadi“ bertanya Mahisa Agni kepada diri sendiri “kemana suara
itu tiba-tiba saja telah diam”
Tetapi ketajaman pendengaran Mahisa Agni telah membawanya untuk pergi ke
belumbang. Suara itu agaknya bersumber dari pinggir blurnbang.
Meskipun suara itu sudah tidak terdengar lagi, namun Mahisa Agni tidak
mengurungkan niatnya. Dengan hati-hati ia mendekati blumbang yang sudah menjadi
sepi.
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat pepohonan perdu dan
ranting-ranting yang berpotongan.
“Tentu telah terjadi pertempuran disini” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
Sejenak Mahisa Agni termangu-
mangu la menyesali kelengahannya bahwa ia sama sekali tidak mengetahui adanya
pertempuran itu.
Namun dengan demikian, maka Mahisa Agni menjadi semakin berhati-hati. Sesuatu
akan dapat terjadi setiap saat.
Untunglah bahwa Witantra tetap berada di rumah itu” berkata Mahisa Agni di dalam
hatinya, “mungkin gadis itulah yang menjadi sasaran.
Tetapi menilik bekas-bekas pertempuran itu. Mahisa Agni dapat mengambil
kesimpulan, bahwa pertempuran itu terjadi antara orang-orang yang berilmu
tinggi, meskipun hanya sebentar.
Dalam keragu-raguan itu Mahisa Agni mendengar suara lamat-lamat “Nampaknya dua
orang sedang berbicara perlahan-lahan”
Karena itu, maka dengan sangat hati-hati Mahisa Agnipun mendekati suara itu.
Mungkin suara itu akan dapat memberikan jawaban atas peristiwa yang terjadi di
tepi belumbang itu.
Ketika ternyata yang sedang berbicara itu adalah Empu Nawamula dengan Singatama.
Dengan nada rendah Singatama berkata “Ampun paman. Sebenarnyalah, aku terlibat
dalam kecurangan ini. Tetapi menurut pendapatku, guru memang hanya seorang diri”
“Tetapi nampaknya kau sudah menemukan satu keputusan yang akan sangat berarti
bagi hidupmu kelak Singatama. Justru pada saat terakhir. Pada saat yang paling
sulit bagimu. Jika saat itu kau tidak menemukan satu kebenaran tentang dirimu,
mungkin akhir peristiwa ini akan berbeda” sahut Empu Nawamula.
“Tetapi yang aku lakukan tidak sebanding dengan kesalahan-kesalahan yang telah
menodai hidupku” desis Singatama.
“Masih ada kesempatan. Sudah aku katakan” jawab Empu Nawam pula.
Mahisa Agni yang serba sedikit dapat menangkap peristiwa yang sedang terjadi.
Namun demikian kakinya berdesir didedaunan yang runtuh di tanah, Empu Nawamula
telah bergeser sambil mempersiapkan diri.
“Aku Empu” desis Mahisa Agni.
“O“ Empu Nawamula menarik nafas panjang “kenapa Ki Sanak berada disini?”
“Aku mendengar suara-suara yang mencurigakan” jawab Mahisa Agni.
“Jadi kau mendengarnya Ki Sanak?” bertanya Empu Nawamula.
Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian iapun menjawab “Ya. Aku
sedang pergj ke pakiwan ketika aku mendengar suara yang mencurigakan. Karena itu
maka aku mencoba untuk melihat apa yang terjadi. Tetapi tiba-tiba suara itu
telah terdiam dan ketika aku menelusuri kebun padepokan ini, aku telah menemukan
kalian berdua”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Sesuatu telah terjadi
Untunglah, bahwa Yang Maha Penyayang masih melindungi aku”
Dengan singkat, Empu Nawamula menceriterakan apa yang telah terjadi. Kemudian
“Ternyata seperti saat ia
datang, maka dengan licik Empu Pulung Geni itupun meninggalkan padepokan ini”
Mahisa Agni menjangguk-angguk. Dengan menyesal ia mengulangi “Empu Pulung Geni
itu berhasil meninggalkan padepokan ini”
“Ya. Aku tidak dapat menangkapnya. Ternyata ia memiliki kemampuan untuk berlari
sangat cepat dan meloncati dinding Halaman padepokan ini. Aku menjadi ragu-ragu
mengejarnya, karena menurut perhitunganku, kecepatanku berlari tidak akan dapat
melebihinya”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi bahwa Empu Pulung Geni itu terlepas dari
tangan Empu Nawamula, berarti bahwa bencana masih akan selalu mengintip
padepokan itu.
Tetapi ternyata bahwa Singatama telah menemukan satu kesadaran tentang dirinya.
Pada saat yang tidak terduga-duga, Singatama merasa bahwa orang yang bernama
Empu Nawamula itu adalah pamannya.
Ternyata bahwa setitik demi setitik, tetesan kasih sayang Empu Nawamula telah
berhasil meluluhkan hati anak itu perlahan-lahan. Bahwa Empu Nawamula tidak
menghukumnya dan bahkan menerimanya kembali sebagai kemanakannya, telah membuat
goncangan di hati anak muda itu.
Hampir di luar sadarnya Mahisa Agnipun berkata “Namun agaknya Empu telah
mendapatkan gantinya. Angger Singatama telah menemukan dirinya yang selama ini
hanyut dalam arus yang kelam. Bagi Empu Nawamula, hal itu tentu satu kurnia yang
luar biasa”
“Ya Ki Sanak” jawab Empu Nawamula “sekarang aku benar-benar telah menemukan
kemanakanku yang hilang.
Ia telah membuktikan, bahwa di dalam kegelapan hati, masih juga ada sumber
cahaya yang dapat dikembangkannya. Akhirnya, hatinya telah menjadi terang
kembali”
“Sukurlah” berkata Mahisa Agni “namun masih ada satu tantangan bagi angger
Singatama. Bagaimana dengan ilmu hitam yang lelah ada di dalam diri”
Empu Nawamula mengerutkan kuningnya. Katanya kemudian “Masih ada satu cara untuk
mengatasinya. He, Ki Sanak, kau mengerti kesulitan itu?”
Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun Kemudian katanya “Bukankah
Empu Nawamula sendiri pernah menyinggung akan hal itu”
Empu Nawamula mengerutkan keningnya. Kemudian katanya “Ya. Aku memang pernah
mempersoalkan sebelumnya. Tetapi segalanya masih juga tergantung kepada
Singatama”
“Paman” berkata Singatama kemudian “mumpung hatiku sedang terang. Aku bersedia
membersihkan diri. Bahkan aku mohon paman segera dapat melakukannya, sebelum aku
mengambil keputusan lain. Jika kegelapan itu mencengkam jantungku lagi, mungkin
aku akan kehilangan kesempatan itu”
Empu Nawamula menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya “Baiklah. Kita akan
pergi ke Sanggar” Lalu katanya kepada Mahisa Agni “Maaf Ki Sanak. Aku
persilahkan Ki Sanak kembali ke pondok Ki Sanak. Aku akan berada di sanggar
hanya dengan kemanakanku saja”
“Baik Empu” jawab Mahisa Agni “nampaknya hal itu memang hanya penting bagi Empu
dan Singatama saja”
Empu Nawamula mengangguk-angguk. Sementara Mahisa Agnipun telah kembali ke rumah
yang dihuninya di padepokan itu.
Sementara Singatama pergi ke Sanggar, maka Empu Nawamula telah memerintahkan
para cantrik agar membangunkan kawan-kawan mereka. “Kalian harus mengamati
halaman dan kebun padepokan ini dengan baik. Baru saja ada orang memasuki kebun
ini tanpa kalian ketahui. Bahkan bukan orang kebanyakan” berkata Empu Nawamula
kepada para cantrik yang bertugas. Lalu “Karena itu, panggillah semua cantrik
dan beri mereka tugas malam ini. Mungkin orang itu kembali justru pada saat aku
berada di sanggar. Dalam keadaan yang paling gawat, sebelumnya aku dapat keluar
dari sanggar, maka ketiga muridku dan kedua anak muda yang bernama Mahisa Murti
dan Mahisa Pukat itu akan dapat membantu kalian”
“Baik Empu” jawab para cantrik yang sedang bertugas.
Demikianlah, ketika kemudian Empu Nawamula memasuki sanggar bersama Singatama,
maka para cantrik di padepokan itupun telah dibangunkan. Mereka harus
berjaga-jaga, karena baru saja ada orang yang memasuki halaman padepokan dengan
maksud Buruk.
“Kita harus mengawasi seluruh halaman padepokan“ berkata cantrik yang mendapat
tugas dari Empu Nawamula.
Para cantrik itupun kemudian telah mengatur diri, termasuk Mahisa Murti dan
Mahisa Pukat. Mereka berada di setiap sudut halaman. Namun bagaimanapun juga,
ada diantara para cantrik itu yang tidak dapat menahan matanya untuk tidak
terpejam.
-oo00oo-